You are on page 1of 11
Menurut Shirvani, ranah {domain} Perancangan Kota mencakup ruang-ruang antar bangunan, ruang yang diciptakan untuk masyarakat, yang berkaitan dengan kualitas fisik lingkungan. Selain itu, Shirvani juga menetapkan delapan elemen fisik dalam perancangan kota, seperti: a. Tata guna lahan (Land Use), yang merupakan elemen kunci Perancangan Kota, sebagai rencana dasar dua dimensi, dimana ruang tiga dimensi dibentuk. Disini ia menyarankan suatu perencanaan fungsi bersifat campuran (Mix Use), sehingga akan terjadi suatu kegiatan 24 jam per hari, dan meningkatkan sistem infrastruktur kota. b. Tata bangunan (Building Form and Massing), yang berkaitan dengan bentuk fisik bangunan, seperti: ketentuan tinggi bangunan, kepejalan bangunan (Bulk), garis sempadan, penutupan lahan atau amplop bangunan (yang meliputi KLB dan KDB), disamping hal-hal mengenai gaya arsitektur, skala, bahan dan warna bangunan. c. Sirkulasi dan perparkiran (Circulation and Parking). Kriteria ideal dari elemen sirkulasi untuk dapat membentuk suatu lingkungan adalah: Jalan harus merupaka" elemen ruang terbuka, yang enak dipandang. Jalan tersebut mampu mernberikan orientasi yang jelas bagi para pengemudi, serta dapat membuat lingkungan yang dilaluinya mudah dikenali. Adanya kerjasarna dari sektor umum dan swasta, dalam mencapai tujuan tersebut. Sedangkan masalah perparkiran, memiliki dua pengaruh langsung terhadap kualitas lingkungan, yang meliputi kelangsungan aktivitas koja, dan dampak visual terhadap bentuk fisik dan struktur kola. d. Ruang terbuka (Open Space) , mencakup semua unsur landscape (jalan, crotoar dan sejenisnya), taman, dan ruang rekreasi didaerah perkotaan. Dimana ruang terbuka hendaknya menjadi bagian integral dari Perancangan Kota, bukan hanya merupakan akibat dari penyelesaian arsitekturnya. e. Jalur pejalan kaki (Pedestrian Ways), sebagai sarana bagi pejalan kaki dan sebagai sarana pendukung kegiatan (sektor informal, seperti: kaki lima, dsb), yang sekaligus dapat menghidupkan ruang-ruang terbuka kota. f. Aktivitas pendukung (Activity Support ), meliputi semua penggunaan dan kegiatan yang berlangsung di dalam ruang-ruang terbuka kota. g. Rambu, papan reklame, dan Iain-lain (Signage), seoagai suatu elemen visual yang merupakan alat bantu untuk berorientasinya masyarakat pemakai ruang kota, perlu diatur agar tercipta keserasian melalui keseimbangan antara kepentingan umum dan privat, dampak visual yang tidak berlebihan, sekaligus mengurangi kesemrawutan dan persaingan dengan rambu-rambu lalu lintas, yang memang sangat diperlukan. h. Preservasi dan konservasi (Preservation), yang meliputi perlindungan terhadap tempat tempat atau aset kota yang sudah ada, disamping bangunan-bangunan bersejarah. Shirvani, Hamid. 1985. The Urban Design Process. New York: Van Nostrad Reinhold Company, Inc. Menurut Hamid Shirvani terdapat 8 elemen fisik perancangan kota, yaitu: Tata Guna Lahan (Land Use) Prinsip Land Use adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga kawasan tersebut berfungsi dengan seharusnya. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Tata Guna Lahan merupakan rancangan dua dimensi berupa denah peruntukan lahan sebuah kota. Ruang-ruang tiga dimensi (bangunan) akan dibangun di tempat-tempat sesuai dengan fungsi bangunan tersebut. Sebagai contoh, di dalam sebuah kawasan industri akan terdapat berbagai macam bangunan industri atau di dalam kawasan perekonomian akan terdapat berbagai macam pertokoan atau pula di dalam kawasan pemerintahan akan memiliki bangunan perkantoran pemerintah. Kebijaksanaan tata guna lahan juga membentuk hubungan antara sirkulasi/parkir dan kepadatan aktivitas/penggunaan individual. Terdapat perbedaan kapasitas (besaran) dan pengaturan dalam penataan ruang kota, termasuk di dalamnya adalah aspek pencapaian, parkir, sistem transportasi yang ada, dan kebutuhan untuk penggunaan lahan secara individual. Pada prinsipnya, pengertian land use (tata guna lahan) adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah-daerah pada suatu kawasan tersebut seharusnya berfungsi. (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Bentuk dan Massa Bangunan (Building Form and Massing) Bentuk dan massa bangunan ditentukan oleh tinggi dan besarnya bangunan, KDB, KLB, sempadan, skala, material, warna, dan sebagainya. Prinsip-prinsip dan teknik Urban Design yang berkaitan dengan bentuk dan massa bangunan meliputi: Scale, berkaitan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, dan dimensi bangunan sekitar. Urban Space, sirkulasi ruang yang disebabkan bentuk kota, batas, dan tipe-tipe ruang. - Urban Mass, meliputi bangunan, permukaan tanah dan obyek dalam ruang yang dapat tersusun untuk membentuk urban space dan pola aktifitas dalam skala besar dan kecil. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Building form and massing membahas mengenai bagaimana bentuk dan massa-massa bangunan yang ada dapat membentuk suatu kota serta bagaimana hubungan antar-massa (banyak bangunan) yang ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan antar-massa seperti ketinggian bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk bangunan, fasad bangunan, dan sebagainya harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur, mempunyai garis langit – horizon (skyline) yang dinamis serta menghindari adanya lost space (ruang tidak terpakai). Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan penampilan bangunan, yaitu : ketinggian bangunan, kepejalan bangunan, KLB, KDB, garis sempadan bangunan, langgam, skala, material, tekstur, warna. (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Sirkulasi dan Perparkiran Sirkulasi kota meliputi prasarana jalan yang tersedia, bentuk struktur kota, fasilitas pelayanan umum, dan jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat. Semakin meningkatnya transportasi maka area parkir sangat dibutuhkan terutama di pusat-pusat kegiatan kota (CBD). (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan mengkontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian way, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan). Sirkulasi di dalam kota merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan karena dapat membentuk, mengarahkan, dan mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Selain itu sirkulasi dapat membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas dan lain sebagainya. Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai pengaruh visual pada beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang parkir yang paling sedikit memberi efek visual yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam perancangan kota. (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Ruang Terbuka (Open Space) Open space selalu berhubungan dengan lansekap. Lansekap terdiri dari elemen keras dan elemen lunak. Open space biasanya berupa lapangan, jalan, sempadan, sungai, taman, makam, dan sebagainya. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Berbicara tentang ruang terbuka (open space) selalu menyangkut lansekap. Elemen lansekap terdiri dari elemen keras (hardscape seperti : jalan, trotoar, patung, bebatuan dan sebagainya) serta elemen lunak (softscape) berupa tanaman dan air. Ruang terbuka biasa berupa lapangan, jalan, sempadan sungai, green belt, taman dan sebagainya. Dalam perencanan open space akan senantiasa terkait dengan perabot taman/jalan (street furniture). Street furniture ini bisa berupa lampu, tempat sampah, papan nama, bangku taman dan sebagainya. Menurut S Gunadi (1974) dalam Yoshinobu Ashihara, ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dengan alam dengan memberi “frame”, jadi bukan alam itu sendiri (yang dapat meluas tak terhingga). (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Pedestrian Sistem pejalan kaki yang baik adalah: Mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota. Meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala manusia. Lebih mengekspresikan aktifitas PKL dan mampu menyajikan kualitas udara. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan kota dan pola-pola aktivitas sertas sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kota di masa mendatang. Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat mengimbangi dan meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut : Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana komersial. Street furniture (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Perpapanan (Signages) Perpapanan digunakan untuk petunjuk jalan, arah ke suatu kawasan tertentu pada jalan tol atau di jalan kawasan kota. Tanda yang didesain dengan baik menyumbangkan karakter pada fasade bangunan dan menghidupkan street space dan memberikan informasi bisnis. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Aktivitas pendukung adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk, lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan pendukungnya. Aktivitas pendukung tidak hanya menyediakan jalan pedestrian atau plasa tetapi juga mempertimbangkan fungsi utama dan penggunaan elemen-elemen kota yang dapat menggerakkan aktivitas. Meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang terbuka publik, karena aktivitas dan ruang fisik saling melengkapi satu sama lain. Pendukung aktivitas tidak hanya berupa sarana pendukung jalur pejalan kaki atau plaza tapi juga pertimbangankan guna dan fungsi elemen kota yang dapat membangkitkan aktivitas seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi, alun-alun, dan sebagainya. (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Pendukung Kegiatan Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang public suatu kawasan kota. Bentuk activity support antara lain taman kota, taman rekreasi, pusat perbelanjaan, taman budaya, perpustakaan, pusat perkantoran, kawasan PKL dan pedestrian, dan sebagainya. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Penandaan yang dimaksud adalah petunjuk arah jalan, rambu lalu lintas, media iklan, dan berbagai bentuk penandaan lain. Keberadaan penandaan akan sangat mempengaruhi visualisasi kota, baik secara makro maupun mikro, jika jumlahnya cukup banyak dan memiliki karakter yang berbeda. Sebagai contoh, jika banyak terdapat penandaan dan tidak diatur perletakannya, maka akan dapat menutupi fasad bangunan di belakangnya. Dengan begitu, visual bangunan tersebut akan terganggu. Namun, jika dilakukan penataan dengan baik, ada kemungkinan penandaan tersebut dapat menambah keindahan visual bangunan di belakangnya. (Sumber: Tugas Perancangan Kota, Universitas Diponegoro) Preservasi Preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada dan urban space, hal ini untuk mempertahankan kegiatan yang berlangsung di tempat itu. (Sumber: Perancangan Kota, Urban Desain) Preservasi dalam perancangan kota adalah perlindungan terhadap lingkungan tempat tinggal (permukiman) dan urban places (alun-alun, plasa, area perbelanjaan) yang ada dan mempunyai ciri khas, seperti halnya perlindungan terhadap bangunan bersejarah. Manfaat dari adanya preservasi antara lain: Peningkatan nilai lahan. Peningkatan nilai lingkungan. Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena aspek komersial. Menjaga identitas kawasan perkotaan. Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi. Hamid shirvani (1985), mengklasifikasikan elemen urban design dalam delapan kategori sebagai berikut : 1. Tata Guna Lahan ( Land Use) Pada prinsipnya land use adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga secara umum dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah pada suatu kawasan tersebut seharusnya berfungsi. Land use bermanfaat untuk pengembangan sekaligus pengendalian investasi pembangunan. Pada skala makro, land use lebih bersifat multifungsi / mixed use. Beberapa keuntungan dan kelemahan dalam penataan land use menggunakan pendekatan fungsional adalah : a. Menjamin keamanan dan kenyamanan atas dampak negatif karena saling pengaruh antar zona. b. Pengelompokan kegiatan, fungsi dan karakter tertentu pada tiap zona yang terpisah mempermudah penataan dan perencanaan land use mikro (horizontal maupun vertikal). c. Memudahkan implementasi dan kontrol. d. Terpisahnya masing-masing zona menjadikan jarak antar berbagai kegiatan jauh, dibutuhkan sarana transportasi yang lebih memadai untuk mengantisipasi terjadinya kepadatan lalu - lintas yang tinggi pada jam-jam berangkat-pulang kerja. e. Terjadi kesenjangan keramahan kawasan, memunculkan perbedaan yang tinggi pada harga lahan. f. Kepadatan zona tidak seimbang, pemanfaatan lahan tidak optimal. 2. Bentuk Dan Massa Bangunan (Building Form And Massing) Bentuk dan masa bangunan tidak semata - mata ditentukan oleh ketinggian atau besarnya bangunan, penampilan maupun konfigurasi dari masa bangunannya, akan tetapi ditentukan juga oleh : a. Besaran Bangunan b. Intensitas bangunan : BCR dan FAR. c. Ketinggian bangunan. d. Sempadan Bangunan e. Ragam - Fasade f. Skala g. Material h. Tekstur, dan i. warna 3. Sirkulasi dan Parkir (Circulation And Parking ) Masalah sirkulasi kota merupakan persoalan yang membutuhkan pemikiran mendasar, antara prasarana jalan yang tersedia, bentuk struktur kota, fasilitas pelayanan umum dan jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat. Diperlukan suatu manajemen transportasi yang menyeluruh terkait dengan aspek-aspek tersebut. Di sebagian besar negara maju sudah dicanangkan atau digencarkan penggunaan moda transportasi umum (mass transport) dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Selain penghematan BBM. Langkah ini akan membantu pengurangan pencemaran udara kota berupa partikel beracun (CO2 misalnya) maupun kebisingan dan bahaya lalu lintas lainnya. Kebijakan ini mengarah terciptanya suatu lingkungan kota menuju kondisi minimalis transportasi (zero transportation). Selain kebutuhan ruang untuk bergerak, moda transport juga membutuhkan tempat untuk berhenti (parkir). Kebutuhan parkir semakin meingkat terutama di pusat-pusat kegiatan kota (CBD). Sarana pergerakan, atau sirkulasi, merupakan media bagi manusia dalam melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karenanya, keberadaan sarana pergerakan pada suatu ruang kotajalur jalan dan system pergerakan tidak terlepas dari tata bangunan dan ruang ruang terbuka, serta kondisi masyarakatnya. Elemen sirkulasi dalam urban design merupakan alat yang sangat menentukan struktur lingkungan urban, karena dapat membentuk, mengarahkan dan mengontrol pola aktivitas dalam kota. Teknik perancangannnya meliputi tiga prinsip utama: a. Jalan harus menjadi elemen ruang terbuka visual yang positif b. Jalan harus mampu memberikan orientasi kepada pengemudi dan membuat lingkungan tersebut terbaca secara informatif. c. Sektor publik dan privat harus membina hubungan untuk mencapai sasaran ini. A. Pola, Struktur dan Perlengkapan Jalan a. Secara garis besar pola jaringan jalan terdiri dari Pola Papan Catur, Radial, Lingkaran, dan Culdesac b. Struktur jalan terdiri dari : i. Badan Jalan ( daerah sirkulasi kendaraan ) ii. Bahu Jalan ( daerah sirkulasi pejalan kaki, tempat perlengkapan jalan, utilitas dan penghijauan ) c. Perlengkapan jalan terdiri dari : i. Penerangan jalan ii. Rambu lalu lintas iii. Halte iv. Telepon Umum v. Bangku-bangku vi. Tanaman vii. Papan Reklame B. Aspek Lalu Lintas Kelancaran, keamanan dan kenyamanan suatu jalur jalan sangat ditentukan oleh kondisi lalu lintas yang menyangkut : a. Rambu rambu lain b. Arah lalu lintas c. Kecepatan lalu lintas d. Kepadatan lalu lintas e. Jenis moda angkutan f. Kondisi jalan g. Perparkiran C. Perparkiran Perparkiran merupakan unsur pendukung system sirkulasi kota, yang menentukan hidup tidaknya suatu kawasan ( kawasan komersial, kawasan pusat kota, dll ). Perencanaan tempat parkir menurut Irvine ( Shirvani, 1981 ), harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Keberadaan strukturnya tidak mengganggu aktifitas di sekitarnya, mendukung kegiatan street level dan menambah kualitas visual lingkungan b. Pendekataan program penggunaan berganda ( time sharing ) c. Pengadaan tempat parkir khusus bagi suatu perusahaan atau instansi yang sebagian besar karyawannya berkendaraan. d. Parkir progresif (semakin lama parkira, semakin mahal pula biaya parker) Lokasi kantong parkir seyoganya ditempatkan pada jarak jangkau yang layak bagi para pejalan kaki. Sistem perletakan parkir diharapkan dapat secara maksimal mempersingkat jarak jalan kaki menuju jalur pedestrian. Masalah perpakiran memiliki dua pengaruh langsung terhadap kualitas lingkungan yaitu: a. Kelangsungan hidup aktivitas komersial. b. Dampak visual terhadap bentuk fisik kota. Dua hal penting yang harus diperhatikan dalam setiap agenda urban design adalah akses terhadap daerah milik pribadi dan area parkir. Penyediaan area parkir yang memadai dengan dampak visual terkecil sangat penting dalam keberhasilan urban design. Beberapa cara mengatasinya adalah: a. Penyediaan lokasi parkir disuatu area yang secara struktur tidak didesain untuk penyediaan area parkir. Dalam hal ini perlu adanya regulasi yang menetapkan keharusan untuk merencanakan area parkir dalam bagian dari perencanaan struktur yang baru. b. Multiple use program, yaitu memaksimalkan penggunaan parkir yang telah ada dengan cara membuat program yang memungkinkan berbagai penggunaan dan menarik orang-orang berbeda pada saat yang berlainan. c. Packege plan parking yaitu sebuah bisnis besar atau beberapa bisnis dapat bergabung untuk membentuk districts perparkiran atau menyediakan beberapa blok terpisah untuk area parkir sepanjang hari. d. Urban edge parking yaitu area parkir yang dibuat di tepi suatu wilayah kota. Prinsip utama dalam mendesain jaringan transportasi (jalan raya) sebagai bagian urban space adalah adalah bahwa jalan seharusnya didesain menjadi ruang terbuka yang memiliki pemandangan yang lebih baik antara lain : j. Bersih dan elemen lansekap yang menarik. k. Persyaratan ketinggian dan garis sempadan bangunan yang berdekatan dengan jalan. l. Pengaturan parkir dipinggir jalan dan tanaman yang berfungsi sebagai penyekat jalan. m. Meningkatkan lingkungan alami yang terlihat dari jalan. 4. Ruang Terbuka ( Open Space ) Ruang terbuka bisa menyangkut lansekap; elemen keras (hardscape yang meliputi : jalan, trotoar dsb) serta elemen lunak (softscape) berupa taman dan ruang rekreasi dikawasan kota. Elemen- elemen terbuka juga menyangkut lapangan hijau, ruang hijau kota, pohon-pohonan, pagar, tanamtanaman air, penerangan, paving, kios-kios, tempat-tempat sampah, air minum, sculpture, jam dsb. 5. Area Pedestrian ( Pedestrian area ) Sistem pedestrian yang baik akan mengurangi keterikatan terhadap kendaraan dikawasan pusat kota, mempertinggi kualitas lingkungan melalui sistem perancangan yang manusiawi, menciptakan kegiatan pedagang kaki lima yang lebih banyak dan akhirnya akan membantu kualitas udara di kawasan tersebut. 6. Tanda-tanda ( signage ) Tanda- tanda petunjuk jalan, arah kesuatu kawasan tertentu pada jalan tol atau di jalan kawasan pusat kota semakin membuat semarak atmosfir lingkungan kota tersebut. Peraturan yang mengatur tentang tanda-tanda tersebut sebagian kota Indonesia masih belum sepenuhnya diatur hingga pada masalah teknis. Akibatnya perkembangan papan-papan reklame terutama, mengalami persaingan yang berlebihan,baik dalam penempatan titik-titiknya, dimensi atau ukuran billboardnya, kecocokan bentuk, dan pengaruh visual terhadap lingkungan kota. Rambu-rambu yang terdesain dengan baik turut mendukung karakter dari penampilan gedung sekaligus menghidupkan jalanan, selain memberikan informasi barang dan jasa bisnis pribadi (Long Beach dalam Arifiani, 2001). 7. Pendukung Kegiatan ( activity support ) Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk, lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan-kegiatannya. Pendukung kegiatan tidak hanya menyediakan jalan, pedestrian atau plaza, tetapi juga harus mempertimbangkan fungsi utama dan penggunaan elemen-elemen kota yang dapat menggerakkan aktivitas, misalnya : pusat perbelanjaan, taman rekreasi, pusat perkantoran, perpustakaan, area PKL, dsb. Bentuk, lokasi dan karakter area spesifik akan menarik fungsi, penggunaan dan aktivitas yang spesifik pula, sehingga suatu aktivitas cenderung berlokasi ditempat yang paling sesuai dengannya. 8. Konservasi ( Concervation ) - Perlindungan Konservasi suatu individual bangunan harus selalu dikaitkan dengan keseluruhan kota. Konsep tentang konservasi kota memperhatikan aspek : bangunan-bangunan tunggal, struktur dan gaya arsitektur, hal yang berkaitan dengan kegunaan, umur bangunan atau kelayakan bangunan Beberapa kategori konservasi : a. Preservasi ( Preservation ) - Pelestarian Menjaga dan melestarikan bangunan kuno dari kerusakan, pembongkaran dan perubahan apapun. Dalam preservasi tidak boleh mengganti elemen aslinya dengan lainnya. b. Konservasi ( Concervation ) Suatu strategi atau kegiatan menangani secara preventif terhadap kehancuran bangunan kuno. Memperbaikinya agar dapat bertahan lebih lama dengan mengganti beberapa elemen yang sudah rusak dengan elemen baru seperti aslinya. c. Rehabilitasi ( Rehabilitation ) Mengembalikan bangunan-bangunan kuno yang tidak berfungsi menjadi lebih berfungsi dengan merestorasi utilitas yang diperlukan dan meningkatkan esensi kegunaanya. d. Revitalisasi ( Revitalitation ) Merupakan bagian konservasi melalui pengembangan fungsi. Secara fisik bangunan di konservasi tetapi fungsi yang dikembangkan biasanya berbeda dengan fungsi aslinya. e. Peningkatan ( Improvement ) Kegiatan yang dapat meningkatkan nilai, penampilan, tingkat kenyamanan, utilitas yang memenuhi standar teknis, dan tingkat efisiensi baik secara fisik, sosial budaya, nilai ekonomi bangunan maupun kawasan kota.