You are on page 1of 17

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Apotek adalah salah satu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Dimaksud dengan sediaan farmasi adalah obat, obat tradisional dan kosmetika. Sedangkan perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan(1). Sebagai suatu tempat yang salah satunya memiliki fungsi penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan tentunya tidak terlepas dari pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan, yakni pengadaan. Pengadaan barang yang sebelumnya tentu sudah direncanakan. Dua hal tersebut tidak terlepas dari tugas seorang Apoteker yang berpraktek disuatu apotek. Apoteker bertugas merencanakan dan mengadakan obat maupun alat kesehatan yang dibantu oleh asisten apoteker. Proses perencanaan dan pengadaan tersebut dapat disesuaikan dan diprediksi berdasarkan momen, even atau pun musim tertentu yang akan terjadi(2). Seiring berkembangnya zaman, berkembang pula ilmu pengetahuan merupakan peluang sekaligus tantangan bagi seorang apoteker dalam melakukan manajemen pengelolaan obat di apotek. Penelitian-penelitian dan penemuanpenemuan obat baru pun semakin berkembang pesat. Adanya penemuan baru yang diteliti tersebut diharapkan memperoleh obat dengan efek farmakologi yang lebih baik dibanding dengan obat yang sebelumnya telah ada tentunya diharapkan pula obat-obat baru tersebut pun memiliki efek samping yang lebih rendah sehingga keamanan dalam penggunaannya menjadi lebih baik. Masyarakat di Indonesia pada umumnya lebih percaya pada obat-obat yang sudah lama dikenal sehingga pantas saja pemasaran obat-obat baru cenderung rendah. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan mengapa apotek tidak serta merta secara langsung membeli obat-obat baru tersebut pada distributor. Oleh karena hal tersebut diperlukanlah suatu metode atau sistem

Dengan kata lain. Sedangkan bagaimana penerimaan obat-obat konsinyasi. apotek hanya membayar barang yang terjual saja. Konsinyasi adalah suatu metode pengadaan yang aman bagi apotek dalam melakukan proses pengadaan obat-obat baru. perlu kiranya dilakukan pengkajian tentang penerimaan maupun penolakan obat-obat konsinyasi. B. maka tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk mengetahui manajemen pengelolaan obat di apotek dalam hal pengadaan obat konsinyasi. Dengan metode konsinyasi ini apotek tidak perlu khawatir apabila ternyata obat tersebut tidak diminati dipasaran karena obat tersebut dapat dikembalikan pada distributor dalam jangka waktu tertentu dan pembayaran dilakukan setelah obat tersebut sudah laku dijual. Oleh karena hal-hal yang telah disebutkan di atas. Tujuan Berdasarkan latar belakang di atas.pengadaan untuk mengatasi hal tersebut. . kapankah obat konsinyasi dapat menajadi obat reguler dan kapan kah obat konsinyasi ditolak menjadi pertanyaan yang menarik untuk dikaji.

dimana unsur-unsur tersebut mempunyai fungsi pokok / sebagai pengarah dalam menentukan kebijakan kedepan. keuangan atau . pada dasarnya terdiri dari 4 fungsi dasar yaitu seleksi dan perencanaan. manajemen obat di apotek adalah bagaimana cara mengelola tahap-tahap dan kegiatan tersebut agar dapat berjalan dengan baik dan saling mengisi sehingga dapat tercapai tujuan pengelolaan obat yang efektif dan efisien agar obat yang diperlukan oleh dokter dan pasien selalu tersedia setiap saat dibutuhkan dalam jumlah cukup dan mutu terjamin untuk mendukung pelayanan yang bermutu(3). distribution dan use). Pada dasarnya. Manajemen obat merupakan serangkaian kegiatan kompleks yang merupakan suatu siklus yang saling terkait. procurement. pengadaan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA DMC (Drug Management Cycle) adalah suatu siklus manajemen obat yang didalamnya terdapat masing-masing unsur pokok yaitu (selection. distribusi serta penggunaan. Siklus manajemen obat didukung oleh faktor-faktor pendukung manajemen (management support) yang meliputi organisasi.

mengurangi jumlah jenis obat dan meningkatkan efisiensi obat yang tersedia. Proses penyeleksian perbekalan farmasi menurut WHO dapat didasarkan pada kriteria berikut:       Berdasarkan pola penyakit dan prevalensi penyakit (10 penyakit terbesar). 1. Seleksi dan Perencanaan Seleksi atau pemilihan obat merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang ada di apotek. Setiap tahap siklus manajemen obat yang baik harus didukung oleh keempat faktor tersebut sehingga pengelolaan obat dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Obat-obat yang telah diketahui penggunaannya (well-known). Semua ini bertujuan untuk mendapatkan ketersediaan dan penggunaan obat yang lebih rasional. Efektif dan aman berdasarkan bukti latar belakang penggunaan obat Memberikan manfaat yang maksimal dengan resiko yang minimal. bentuk dan dosis.finansial. identifikasi pemilihan terapi. Adanya proses seleksi obat mengurangi obat yang tidak memiliki nilai terapeutik. dan sistem informasi manajemen (SIM). menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial. dengan profil farmakokinetik yang baik dan diproduksi oleh industri lokal. . termasuk manfaat secara financial. Setelah itu menentukan terapi standar untuk memilih obat standar yang digunakan dan terapi non obatnya. tahap-tahap seleksi obat pertama kali harus membuat daftar masalah kesehatan yang umum dialami. Menurut WHO. Tahap ketiga melihat daftar obat esensial yang ada untuk kemudian dibuat daftar obat yang berguna. Sedapat mungkin sediaan tunggal. Jaminan kualitas termasuk bioavaibilitas dan stabilitas. Untuk dapat menyeleksi suatu perbekalan farmasi yang nantinya akan direncanakan harus terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data yang dapat memberikan gambaran tentang kebutuhan perbekalan farmasi apotek. sumber daya manusia (SDM). Siklus pengelolaan obat dinaungi atau dibatasi oleh bingkai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat.

kesamaan persepsi antara pemakai obat dan penyedia anggaran. Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat dan perbekalan kesehatan menentukan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Perencanaan obat didasarkan atas beberapa faktor. koordinasi antara penyedia anggaran dan pemakai obat dan pemanfaatan dana pengadaan obat dapat lebih optimal(5).  Berdasarkan jenis penyakit yang sedang mewabah.  Persediaan terakhir stok barang. Sedangkan menurut DOEN ada tambahan kriteria seleksi obat yaitu menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan pasien. Serta diharapkan bermanfaat untuk: menghindari tumpang tindih penggunaan anggaran. penggunaan dan perencanaan.(1) Perencanaan merupakan proses pemilihan jenis. antara lain :  Obat yang paling banyak dipakai. obat mudah diperoleh. daftar kebutuhan anggaran obat(4). praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan. Metode yang lazim digunakan untuk menyusun perkiraan kebutuhan obat di tiap unit pelayanan kesehatan adalah : a. jumlah. estimasi kebutuhan obat lebih tepat. Perencanaan obat di apotek umumnya dibuat untuk mengadakan dan mencukupi persediaan obat di apotek. Metode konsumsi . Tujuannya adalah untuk menetapkan jenis dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar. harga perbekalan farmasi sesuai kebutuhan & anggaran untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang sesuai dengan output berupa daftar perencanaan kebutuhan obat. sehingga dapat mencukupi permintaan obat melalui resep dokter ataupun penjualan secara bebas.  Berdasarkan musim dan cuaca. Perencanaan adalah langkah pertama dalam pengadaan yang merupakan proses untuk menentukan berapa banyak produk yang diperlukan serta memperkirakan faktor keuangan yang diperlukan untuk membeli barang tersebut. keterpaduan dalam evaluasi. memiliki rasio resikomanfaat yang paling menguntungkan.

dan penyesuaian dengan alokasi dana yang tersedia. analisis data untuk informasi dan evaluasi. pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun. perhitungan perkiraan kebutuhan obat dan penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana. penerimaan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pengumpulan data dan pengolahan data. Metode ini didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya.menyediakan pedoman pengobatan. sisa stok. Adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit.penyakit . Langkah-langkahnya:  Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur . obat hilang/rusak. Metode ini merupakan pilihan pertama dalam perencanaan dan pengadaan karena lebih mudah dan cepat dalam perhitungan namun kurang tepat dalam penentuan jenis dan jumlah. menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit. kadaluarsa. serta mendukung ketidakrasionalan dalam penggunaan(6). stok awal. b. Sedangkan data yang perlu dipersiapkan: daftar obat. pengobatan lebih rasional namun tentunyaa perhitungan lebih rumit. kekosongan obat. Metode epidemiologi Yaitu dengan menganalisis kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Metode ini lebih akurat dan mendekati kebutuhan yang sebenarnya. dan perhitungan perkiraan kebutuhan obat. pengeluaran. tidak dapat digunakan untuk semua penyakit. analisa data untuk informasi dan evaluasi. Perlu memperhatikan perkembangan pola penyakit.Yaitu dengan menganalisis data konsumsi obat tahun sebelumnya. waktu tunggu. perlu diperhatikan: pengumpulan dan pengolahan data.menghitung perkiraan kebutuhan obat. Langkah yang perlu dilakukan adalah menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani. stok pengaman dan perkembangan pola kunjungan(5). waktu tunggu dan stok pengaman.

Permintaan atau pengadaan obat adalah suatu proses pengumpulan dalam rangka menyediakan obat dan alat kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan di apotek. obat. Pengadaan Pengadaan adalah suatu pelaksanaan untuk memenuhi kebutuhan operasional yang telah ditetapkan di dalam fungsi perencanaan. frekuensi dan lama pemberian obat menggunakan pedoman pengobatan yang ada. Metode campuran. 2. Donasi/hibah. menjaga kestabilan penganggaran. menjamin kualitas mengadakan penganggaran. penentuan sistem pengadaan/tender. secara tender/secara langsung dari pabrik. penentuan kebutuhan. melalui pembelian. yaitu merupakan gabungan dari metode konsumsi dan metode epidemiologi(7). Produksi/pembuatan sediaan farmasi. c. produksi atau pun sumbangan/hibah.     Menyiapkan data populasi penduduk Menyediakan data masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada. Pengadaan obat merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan dibutuhkan melalui:    Pembelian. Pengadaan dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah dilakukan berdasarkan epidemiologi.Tujuannya adalah agar tersedi obat dan perbekalan kesehatan dengan jenis dan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan . konsumsi atau gabungan keduanya dan disesuaikan dana/budget yang ada untuk menghindari stock out yang menumpuk. Menghitung jenis. Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan datang(5). jumlah. dosis. Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang sudah direncanakan dan disetujui.

Pembelian ini dilakukan bila modal terbatas. Pengadaan obat ini dilakukan dengan cara pembelian. berkaitan dengan pengendalian persediaan barangyang dilakukan dengan cara membandingkan jumlah pengadaan dengan penjualan tiap kurun waktu. 2) Terencana. Berhasil atau tidaknya usaha banyak tergantung pada kebijakan pembelian. ED cepat. Mendapatkan perbekalan farmasi dengan harga yang layak. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kartu stok. Pembelian/pemesanan dalam jumlah yang direncanakan untuk waktu tertentu. misalnya karena adanya pengaruh wabah suatu penyakit. Cara melakukan pembelian dapat dilakukan antara lain sebagai berikut: 1) Terbatas (Hand to mouth buying). pengiriman barang terjamin dan tepat waktu. misalnya satu minggu. mempertimbangkan waktu/musim tertentu. dilakukan pada sediaan farmasi yangdiperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan dalam kurun waktutertentu. dan PBF berada tidak jauh dari apotek. dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan untuk mengantisipasi akan adanya kenaikan harga dalam waktu dekat atau . dan pengiriman tidak setiap hari. PBF berkunjung tidak tiap hari. Biasanya dilakukan oleh apotek yang mempunyai pelanggan tetap. Cara pembelian ini erat hubungan dengan pengendalian persediaan barang. barang laku/fast moving. proses berjalan lancar dan tidak memerlukan tenaga serta waktu berlebihan(6). misalnya berada dalam satu kota/wilayah sehingga lead time cepat dan selalu siap melayani kebutuhan obat sehingga obat dapat segera dikirim. Mutu obat dan perbekalan kesehatan terjamin serta obat dan perbekalan kesehatan dapat diperoleh pada saat diperlukan(3). Pengawasan stok obat/barang sangat penting untuk mengetahui obat/barang mana yang laku keras dan mana yang kurang laku. 3) Spekulasi. pembelian/pemesanan (order) dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam jangka waktu yang pendek. Selanjutnya dilakukan perencanaan pembelian sesuai dengan kebutuhan per item. Pengadaan secara intuisi. jarak apotek jauh dari PBF/PBF di luar kota sehingga lead time panjang. dengan mutu yang baik.pelayanan kesehatan.

Apotek bisa untung jika barang tersebut fast moving cepat laku atau solusi lain beli dalam jumlah besar namun bonusnya bagi dengan apotek lain jadi kerja sama dengan apotek lain. Kekurangan metode ini sangat mungkin terjadi barang kosong. Cara seperti ini biasanya dilakukan pada produk baru. Pembelian/pemesanan dilakukan dengan pertimbangan diskon. biasanya meode ini dipilih untuk barang yang mahal. Meskipun pembelian secara spekulasi memungkinkan mendapatkan keuntungan yang lebih besar tetapi cara ini mengandung resiko yang besar untuk obat-obat dengan waktu kadaluarsa yang relative pendek dan yang bersifat slow moving. Konsinyasi . Metode spekulasi harus dipertimbangkan kecepatan aliran barang karena bisa jadi apotek rugi karena harus membeli dalam jumlah besar akibat mengejar diskon. Apotek hanya membayar barang yang terjual. Dimana apotek menerima titipan barang yang akan dijual dalam waktu maksimal 3 bulan. dengan harapan ada kenaikan harga dalam waktu dekat atau dikarenakan adanya diskon atau bonus. Jadi. Cara pembelian ini dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan. Pembayaran dilakukan jika barang terjual. PBF menitipkan barang baru (produk baru) ke apotek. pembelian dalam jumlah kecil/terbatas. jika sudah laku terjual baru kemudian dibayar ke PBF dan jika tidak laku dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati maka barang dapat dikembalikan. Penjualan konsinyasi dalam pengertian seharihari dikenal dengan sebutan penjualan dengan cara penitipan. baru memesan atau membeli. jika sedang butuh. lama laku.karena ada diskon atau bonus untuk pembelian jumlah besar. bonus atau ada kemungkinan kenaikan harga sehingga barang menumpuk. adanya penawaran bonus barang dan ada kemungkinan kenaikan harga. solusinya Spekulasi terencana yiatu boleh spekulasi tapi untuk obat fast moving). (Kekurangan: obat menumpuk. 4) JIT (just in time). 5) Konsinyasi Yaitu pemilik barang menitipkan barang kepada apotek. sedangkan sisanya dapat diperpanjang masa konsinyasinya. dan keluarnya sedikit.

Penerima titipan barang tersebut (konsinyi) selanjutnya bertanggungjawab terhadap penanganan barang sesuai kesepakatan(8). penjualan pada masa-masa yang lalu kurang menguntungkan. Harga produk tetap dapat dikontrol karena kepemilikan masih ditangan konsinyor d. harga barang menjadi mahal dan membutuhkan investasi cukup besar bagi pihak penjual jika ia harus membeli produk yang bersangkutan. Pihak yang menyerahkan barang (pemilik) disebut consignor (konsinyor) atau pengamanat sedang pihak yang menerima atau penjual titipan barang disebut consignee (konsinyi) atau komisioner. Produk konsinyasi tidak ikut disita jika terjadi kebangkrutan pada penjual sehingga resiko kerugian dapat ditekan oleh produsen atau distributor c. Metode konsinyasi mempunyai keuntungan-keuntungan tertentu dibandingkan dengan metode lain. Penjual tidak dibebani resiko menanggung kerugian bila gagal dalam penjualan produk konsinyasi e. Konsinyasi merupakan suatu cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat dijamin oleh suatu produsen atau distributor terutama bila: Produk yang bersangkutan baru diperkenalkan sehingga permintaan produk tidak menentu dan belum terkenal. adapun keuntungan dengan metode konsinyasi ini antara lain: a. hak atas barang tersebut melekat pada pihak pengirim (konsinyor). Penjual tidak mengeluarkan biaya operasi penjualan konsinyasi karena semua biaya diganti oleh konsinyor . b. Menurut Alimsyah dan Padji.merupakan penyerahan fisik barang-barang oleh pemilik kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjual dan biasanya dibuatkan persetujuan mengenai hak yuridis atas barang-barang yang dijual oleh pihak penjual. konsinyasi adalah barang-barang yang dikirim untuk dititipkan kepada pihak lain dalam rangka penjualan dimasa mendatang atau untuk tujuan lain.

Biasanya dilakukan pada pembelian obat narkotika dari PBF Kimia Farma/psikotropik ataupun pembelian obat-obatan dengan tunai/yang memberikan bonus (spekulasi). atau berbulan-bulan (untuk PBF dari luar kota) setelah barang dating.f. yaitu pembayaran pembelian dengan jatuh tempo/tenggang waktu (21-45 hari) yang biasanya dilakukan 21 hari. biasanya tidak ada diskon.   Cash/tunai. Penggunaan (Use) . biasanya ada diskon (missal 5%). mungkin ada diskon pada pabrik tertentu tergantung kebijakan pabrik. yaitu obat yang dititip jual oleh distributor dan pembayaran dilakukan setelah barang sudah laku di jual di apotek. Biasanya ada diskon 1-1. jika sudah laku terjual baru kemudian dibayar ke PBF dan jika tidak laku dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati maka barang dapat dikembalikan. Distribution Proses penyaluran obat dari IFRS/apotek ke pasien untuk menjamin ketersediaanobat bagi pasien dan mutu obat yang terjagaProses penyaluran obat dari IFRS/ apotek ke pasien untuk menjamin ketersediaan obat bagi pasien dan mutu obat yang terjaga. Konsinyasi. Penjual berhak mendapat komisi dari hasil penjualan Adapun metode-metode pembayaran obat di apotek diantaranya:  Kredit.  COD (Cash On Delivery). 4. PBF menitipkan barang baru (produk baru) ke apotek. 1 bulan/28 hari. pembayaran dilakukan jika barang terjual. Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi sebab penjual hanya berfungsi sebagai penerima dan menjual saja g. barang yaitu pembayaran secara langsung cash ketika dating/diterima. pembayaran dengan jangka waktu jatuh tempo maksimal 2 minggu.5% disamping diskon cash 5%. 3. h.

Penggunaan obat merupakan proses yang meliputi peresepan oleh dokter. cocok untuk pasien dan biaya terjangkau. aman. Penggunaan obat dikatakan rasional apabila memenuhi kriteria obat yang benar. indikasi yang tepat.Yang didalam nya terdapat diagnose. tepat pelayanan. serta ditaati oleh pasien. Penggunaan obat rasional diharapkan dapat mengurangi angka kejadian medication error (ME) dan dapat membuat biaya yang harus ditanggung pasien jadi seminimal mungkin khususnya terkait dengan biaya obat. dispensing dan pengguanaan yang tepat untuk pasien. cara pemakaian dan lama yang sesuai. sesuai dengan kondisi pasien. pelayanan obat oleh farmasi serta penggunaan obat oleh pasien. obat yang manjur. ketepatan dosis. . peresepan .

36 Tahun 2009 yaitu meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi. Khususnya dalam pengadaan obat serta alat kesehatan di apotek tersebut. Baiknya pengadaan produk (obat dan alat kesehatan) akan mempermudah kinerja dimana pengadaan dilakukan berdasarkan perencanaan yang telah dilakukan berdasarkan epidemiologi. penyimpanan dan pendistribusian obat. Pekerjaan kefarmasian menurut UU Kesehatan No. Pihak yang menyerahkan barang (pemilik) disebut consignor (konsinyor) atau pengamanat . menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Manajemen pengelolaan obat yang baik sangat diperlukan demi keberlangsungan suatu apotek. pelayanan informasi obat serta pengembangan obat. konsumsi atau gabungan keduanya dan disesuaikan dana atau budget yang ada untuk menghindari stock out yang menumpuk. pelayanan obat atas resep dokter. pengamanan. Konsinyasi merupakan penyerahan fisik barang-barang oleh pemilik kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjual dan biasanya dibuatkan persetujuan mengenai hak yuridis atas barang-barang yang dijual oleh pihak penjual.BAB III PEMBAHASAN Apotek adalah suatu tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian. pengadaan. bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Salah satu cara pengadaan produk di apotek adalah dengan melakukan pembelian dengan cara konsinyasi. Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan perlu mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban menyediakan. penyaluran sediaan farmasi. Penjualan konsinyasi dalam pengertian seharihari dikenal dengan sebutan penjualan dengan cara penitipan.

Pengadaan obat konsinyasi dapat pula berdasarkan pola peresepan obat oleh dokter praktik di apotek bersangkutan serta produk-produk pasar yang menjanjikan seperti produk teh. sedangkan sisanya dapat diperpanjang masa konsinyasinya. ketika selama periode . namun sedikit saja bahkan jarang distributor yang mau melakukan hal tersebut. Hendaknya semua produk konsinyasi yang ditawarkan harus memiliki izin edar yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). madu dan produk herbal lainnya. Apotek hanya membayar barang yang terjual. Dinas Kesehatan dan memiliki nomor registrasi obat sehingga obat tersebut aman bagi pasien yang akan menggunakan obat tersebut. selanjutnya dapat diadakan kembali menjadi produk reguler yang berarti tidak menjadi produk konsinyasi kembali. Bahkan jika terjadi kesepakatan antara apotek dengan PBF atau distributor bahwa produk tersebut tetap dapat diadakan dengan konsinyasi hal tersebut akan lebih menguntungkan bagi apotek.sedang pihak yang menerima atau penjual titipan barang disebut consignee (konsinyi) atau komisioner. Tidak selalu produk baru atau produk yang ditawarkan oleh distributor atau PBF diterima apotek sebagai barang konsinyasi. Sebaliknya. Produk konsinyasi biasanya terbatas saja jumlahnya. hal tersebut tidak lain dimaksudkan untuk menghindari kerugian dari distributor atau PBF jika produk tersebut ternyata sepi peminat. PBF atau distributor menitipkan barang baru (produk baru) ke apotek. jika sudah laku terjual baru kemudian dibayar ke PBF dan jika tidak laku dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati maka barang dapat dikembalikan. misalnya produk berupa botol atau tube cukup 3 buah saja tiap jenisnya sedangkan untuk produk berupa dus hanya 1 dus saja untuk tiap jenisnya. Cara seperti ini biasanya dilakukan pada produk baru. produk konsinyasi dapat pula ditolak untuk dikonsinyasi kembali atau bahkan ditolak menjadi produk reguler. Pembayaran dilakukan jika barang terjual. Produk konsinyasi yang ternyata diminati konsumen atau bahkan produk tersebut terjual habis pada periode konsinyasi baik karena meningkatnya permintaan konsumen atau pun pola peresepan dokter praktik yang sering meresepkan produk tersebut.

tentunya hal tersebut jarang terjadi karena jika konsinyasi berlangsung terus menerus PBF atau distributor akan menanggung rugi untuk produk-produk yang diretur. baik itu kredit.konsinyasi produk tersebut tidak diminati konsumen atau dirasa produk tidak memberi keuntungan bagi apotek selama produk tersebut dikonsinyasi. Namun ada kalanya ketika produk ditolak menjadi produk reguler ternyata pada waktu tertentu permintaan konsumen tinggi atau bahkan pola peresan dokter praktik sering menggunakan obat tersebut maka produk sangat mungkin untuk diorder kembali dengan cara pembelian obat reguler. Pada dasarnya konsinyasi merupakan cara pengadaan dan pembayaran yang menguntungkan bagi apotek. Karena apotek hanya membayar produk yang terjual saja sedangkan retur dapat dilakukan untuk produk yang tidak terjual. . Namun konsinyasi tidak selamanya dapat dilakukan pada suatu produk kecuali memang sudah tercapai kesepakatan tersendiri dengan PBF atau distributor untuk meneruskan konsinyasi. COD maupun tunai.

Sebaliknya. .BAB III Kesimpulan Konsinyasi merupakan cara pengadaan dan pembayaran yang menguntungkan bagi apotek. ketika produk tersebut tidak diminati konsumen atau dirasa tidak memberi keuntungan bagi apotek. Cara seperti ini biasanya dilakukan pada produk baru dapat pula berdasarkan pola peresepan obat oleh dokter praktik di apotek bersangkutan serta produk-produk pasar yang menjanjikan. produk konsinyasi dapat ditolak untuk menjadi produk reguler. Produk konsinyasi yang memiliki banyak peminat dapat diadakan kembali menjadi produk reguler.

Anonim. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesi No.com/2012/10/persiapan-pretes-pkpa-apotek. 2.DAFTAR PUSTAKA 1. 2004. 1121/MENKES/SK/XII/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik dan Perbekalan kesehatan Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar. 2003. 5. Jakarta. 2008. 3. Available at: http://hadi kurniawanapt. Jakarta Anonim. 2004. Buku Kamus Istilah Keuangan dan Perbankan. Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Komunitas di Apotek Kita Farma Binjai. Jakarta Juliyanti. Epidemiologi Perencanaan Dan Pelayanan Kesehatan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. 2008. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes RI. Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara) Anonim. Raja Grafindo Persada . :Makassar Aliminsyah. Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. 2014. diakses 12 Maret 2014 Anonim. PT. 2008. Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.html. Jakarta Anonim. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 6. Jakarta Amiruddin Ridwan. 8. 4.blogspot. 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. Drug Management Cyrcle. 7. Padji. Keputusan menteri Kesehatan No.