Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita

By Stefanus Tay Sep 17, 2008 Pembahasan 0.1 Pendahuluan 0.2 Kenapa orang tidak percaya inkarnasi 0.3 Mengapa inkarnasi? Dengan menggunakan “argument of fittingness” atau argumen kelayakan. 0.4 Tuhan ingin mengkomunikasikan kebaikan-Nya 0.5 Kasih, pengampunan, keadilan, dan kebijaksanaan Tuhan adalah penyebab Inkarnasi. 1 Manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari misteri Inkarnasi. 1.1 Inkarnasi untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. 1.2 Tegaknya kebaikan dan kembalinya harkat dan jati diri manusia sebagai akibat dari Inkarnasi. 1.3 Inkarnasi memperkuat iman, pengharapan, dan kasih manusia. 1.4 Dengan inkarnasi, Tuhan tidak hanya memberikan perintah, namun juga jalan. 1.5 Kesimpulan

Pendahuluan
Waktu saya tinggal di Amerika, saya sering menanam sayur-sayuran. Suatu saat, saya melihat bahwa tanaman kol sudah mulai besar dan siap dipetik. Akhirnya saya petik, namun alangkah terkejutnya saya, karena menemukan beberapa ulat di sela-sela kol. Ketika saya melihat kejadian ini, saya membayangkan bagaimana seandainya kalau saya menjadi ulat itu. Karena manusia mempunyai akal budi, derajatnya pasti lebih tinggi daripada ulat tersebut. Tidak ada orang yang mau menjadi ulat, walaupun diberikan harta yang berlimpah atau diberikan segala kuasa di dunia ini, karena ulat mempunyai keterbatasan yang begitu banyak dan harkatnya begitu rendah jika dibandingkan dengan manusia. Jadi, jika seandainya manusia dapat menjadi ulat, itu sama saja dengan ia merendahkan diri serendah-rendahnya. Namun kalau kita renungkan, penjelmaan Tuhan menjadi manusia sebenarnya lebih buruk daripada manusia menjadi ulat. Namun, dalam misteri Inkarnasi, Tuhan rela untuk merendahkan diri-Nya sehabis-habisnya untuk menyelamatkan manusia, mahluk yang dikasihi-Nya, agar manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan dalam Kerajaan Surga. Kita dapat katakan bahwa Inkarnasi adalah satu misteri terbesar yang dilakukan oleh Tuhan. Misteri ini tidak dapat dipahami hanya dengan pemikiran manusia, karena ini menyangkut pikiran dan tindakan bebas yang dilakukan oleh Tuhan. Pertanyaannya apakah Tuhan menjadi manusia, atau Inkarnasi adalah suatu keharusan untuk menyelamatkan umat manusia? Memang, Inkarnasi bukanlah suatu keharusan yang mutlak, karena Tuhan juga dapat menyelamatkan manusia dengan cara yang lain. Namun, kita dapat mengatakan bahwa Inkarnasi adalah suatu keharusan yang relatif, karena itu adalah cara yang paling layak dan sempurna (the most fitting way and the most perfect) untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan dari jurang yang tak terseberangi antara Tuhan dan manusia, yang diakibatkan oleh dosa.

Kenapa orang tidak percaya inkarnasi
Ada banyak orang, aliran kepercayaan, dan agama yang mempertanyakan kenapa Tuhan harus menjelma menjadi manusia. Beberapa keberatan yang diajukan antara lain adalah: Mereka percaya akan Tuhan yang abstrak dan tidak mempunyai kepribadian. Ini merupakan suatu kepercayaan bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi, namun merupakan suatu bentuk “energi”. Kalau ini benar, maka tuhan seperti ini menjadi kurang sempurna dibandingkan dengan milyaran mahluk ciptaannya. Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan mempunyai pribadi, berarti kita mempercayai bahwa Tuhan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, yang melakukan segala sesuatu secara bebas berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya.[1] Dengan prinsip “kita tidak dapat memberi sesuatu yang kita tidak punya,” maka kalau Tuhan tidak mempunyai kepribadian – tidak punya akal budi/ pikiran dan keinginan – maka Ia tidak dapat memberikan akal budi kepada manusia. Dan Tuhan yang berkepribadian sebenarnya dapat dibuktikan dengan akal budi, walaupun akal budi tidak dapat mengetahui bahwa ada tiga kepribadian di dalam Tuhan atau yang kita percayai sebagai Tritungal Maha Kudus. Hal ini hanya dapat diketahui melalui wahyu Tuhan di dalam Kitab Suci.

Namun demikian, Lima cara pembuktian dari St. Thomas Aquinas, terutama cara yang keempat dapat membuktikan Tuhan yang berkepribadian. Ada yang percaya bahwa menjelmanya Tuhan menjadi manusia adalah merupakan kontradiksi. Sesuatu dikatakan kontradiksi kalau sesuatu “to be and not be at the same way at the same time” atau “ada dan tidak ada dengan cara yang sama dan pada waktu yang sama.” Sebagai contoh, seseorang tidak bisa pergi berenang dan ke gereja pada waktu yang bersamaan dengan cara yang sama. Namun, Inkarnasi tidaklah merupakan kontradiksi. Akan menjadi kontradiksi kalau Tuhan menjadi Tuhan dan berhenti menjadi Tuhan. Namun Gereja Katolik tidak mengajarkan hal demikian tentang doktrin Inkarnasi. Gereja percaya bahwa Tuhan tetap Tuhan, namun mulai ada di dalam sejarah umat manusia, dengan cara menjadi manusia. Tuhan tidak dapat menjadi bukan Tuhan, walaupun Tuhan dapat melakukan segala sesuatu, karena Tuhan tidak dapat mempertentangkan diri-Nya sendiri. Dengan pemikiran ini, maka tidaklah bertentangan jika Tuhan menjelma menjadi manusia, bahkan sifat-sifat Tuhanlah yang menjadikan Inkarnasi sesuatu yang hanya dapat dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan. Kalau kita percaya bahwa Tuhan dapat melakukan segala sesuatu dan kita masih berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, maka kita yang sebenarnya mempertentangkan Tuhan. Keberatan yang lain datang dari sebagian orang yang berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, karena hal tersebut sama saja dengan merendahkan derajat Tuhan yang maha kuasa dan besar. Namun misteri Inkarnasi membuktikan sebaliknya, bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan telah menunjukkan bagaimana Dia mengasihi kita dengan kasih-Nya yang tidak terbatas, sehingga kita seharusnya lebih mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita. Dalam keseharian kita, bukankah dibutuhkan kekuatan dan kebesaran hati bagi seseorang yang ‘dari kalangan atas’ untuk merendahkan diri dan ikut solider dengan orang-orang jelata? Bayangkanlah kebesaran Tuhan Yesus yang dinyatakanNya, dengan menjelma menjadi manusia! Ia yang mengatasi segala waktu, masuk ke dalam waktu, Ia yang luar biasa besar dan tiada terbatas mengosongkan diri hingga menjadi setitik sel (embryo) dalam rahim Bunda Perawan Maria. Juga ‘kebesaran’ seseorang yang mengundang rasa kagum, tiada berarti jika tidak diimbangi kasih, bukan? Dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin kita melihat dengan kagum pada sosok artis atau aktor tertentu. Namun tentu saja kita akan lebih mengasihi orang tua kita dibandingkan dengan para aktor atau artis, bukan karena orang tua kita lebih cakap dari aktor atau artis, namun karena orang tua kita telah mengasihi kita dengan kasihnya yang besar, yang terbukti dengan segala pengorbanan yang dilakukan oleh mereka untuk kebahagiaan kita.

Mengapa inkarnasi? Dengan menggunakan “argument of fittingness” atau argumen kelayakan.
Argument of fittingness adalah suatu metode yang didahului oleh iman. Kita percaya terlebih dahulu, kemudian dengan akal budi kita mencoba untuk menguak misteri iman, sehingga misteri iman tersebut dapat memberikan arti yang lebih dalam. Metode ini adalah “iman yang mencari pengertian atau faith seeking understanding.” Sebagai contoh, kita dapat melihat dalam kehidupan sehari-hari, pada saat kita dimarahi oleh ayah

kita. Yang pertama kita lakukan adalah sikap yang percaya kepada ayah kita, bahwa dia mengasihi kita. Dari situ kita mencoba mencerna, kenapa ia bersikap demikian. Dan kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa ayah kita marah karena untuk melindungi kita dari bahaya, atau karena dia tidak mau kita tersesat, dan seterusnya. Dengan cara yang sama kita akan mencoba untuk menguak misteri Inkarnasi. Kita akan melihatnya dari dua sisi, yaitu dari sisi manusia dan dari sisi Tuhan, karena memang diperlukan kerjasama antara manusia dan rahmat Tuhan untuk mengembalikan harkat manusia yang hilang karena dosa manusia. Namun tentu saja kita melihat rahmat Tuhan adalah yang paling utama dalam keselamatan manusia.

Tuhan ingin mengkomunikasikan kebaikan-Nya
Kalau kita melihat dari perspektif Tuhan, maka kita akan melihat bahwa Inkarnasi adalah memang sudah layak dan seharusnya karena sifat dari Tuhan sendiri. Kita tahu, secara prinsip segala sesuatu akan bertindak sesuai dengan sifat dan hakekat dari sesuatu itu, sebagai contoh: batu kalau dilepaskan akan jatuh, tanaman kalau diberi air dan sinar secukupnya akan bertumbuh, atau manusia bertindak sesuai dengan akal budi dan keinginan bebasnya. Atau, seorang ibu akan mengasihi anaknya dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya. Nah, di dalam Tuhan, hakekat yang ada bukan hanya menjadi bagian dari Tuhan, namun Tuhan adalah hakekat tersebut, seperti: Tuhan adalah Kebaikan, Kebenaran, Keindahan, dan Kasih. Kita juga dapat menerapkan prinsip penting yang lain, yaitu “bonum diffusivum sui” atau “kebaikan akan menyebar dengan sendirinya“, sama seperti panas yang akan menyebarkan hawa panasnya ke segala arah, atau lilin yang bercahaya dalam kegelapan. Dan kalau Tuhan adalah Kebaikan (dalam pengertian yang absolut dan sempurna), maka kebaikan ini akan tersebar dan mencoba menjangkau setiap orang. Pertanyaannya, bagaimana Tuhan dapat mengkomunikasikan kebaikan ini? Cara yang pertama adalah dengan cara yang sempurna dan absolut, yang hanya ada dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Manusia hanya dapat berpartisipasi di dalamnya, dan partisipasi ini akan mencapai kesempurnaanya pada saat kita berada di surga. (Mengenai Tritunggal Maha Kudus akan ditulis dalam artikel yang terpisah). Kedua, adalah dengan cara yang terbatas, yaitu partisipasi dari semua mahluk ciptaan. Ini adalah pembuktian ke empat dari St. Thomas Aquinas tentang keberadaan Tuhan. Kita melihat adanya keteraturan di alam ini dan keindahan dari alam dan segala isinya. Ketiga, adalah dengan melalui rahmat kekudusan. Ini yang kita dapatkan pada waktu kita dibaptis, dimana hakekat kita diaangkat ke supernatural, yaitu partisipasi di dalam kehidupan Tuhan. Namun cara ini hanya dimungkinkan setelah Tuhan sendiri menjadi manusia, mengambil dosa manusia, dan memberikan jalan untuk bersatu dengan Tuhan kembali. Cara yang ke-empat adalah dengan cara yang yang paling agung dan mulia, yaitu dengan cara mengambil sifat tersebut dan membuatnya menjadi satu kesatuan dengan diri-Nya. Inilah yang dilakukan oleh Tuhan dalam misteri Inkarnasi, karena Tuhan sendiri menjadi manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Dengan cara ini, maka manusia tidak hanya berpartisipasi

dalam kehidupan Tuhan, namun Tuhan yang berinkarnasi telah membuat kemanusiaan menjadi satu dengan kepribadian Tuhan. Dengan menjadi manusia, Tuhan tidak hanya menyucikan kemanusiaan Yesus, tetapi seluruh umat manusia, karena sifat ke-Tuhanan yang mengatasi segala sesuatu. Oleh karena Tuhan adalah baik, dalam pengertian yang sempurna dan absolut, maka Tuhan akan mengambil cara yang paling sempurna dan luhur. Sama seperti hakekat lilin kecil hanya mungkin menerangi satu ruangan kecil, namun sebaliknya matahari mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menerangi seluruh bumi. Dan cara yang yang paling sempurna dan luhur yang dipakai oleh Tuhan adalah melalui misteri Inkarnasi. Dari sini kita dapat menyimpulkan, karena sifat kebaikan Tuhan yang sempurna dan juga mengkomunikasikannya secara sempurna, maka Inkarnasi adalah cara yang paling agung dan sempurna untuk mengkomunikasikan kebaikan Tuhan.

Kasih, pengampunan, keadilan, dan kebijaksanaan Tuhan adalah penyebab Inkarnasi.
Kita dapat memberikan argumen yang lain tentang kelayakan Inkarnasi, yaitu melalui sifat Tuhan yang lain, yaitu kasih, belas kasihan, maha adil, dan maha bijaksana. Adalah sudah selayaknya bahwa Tuhan yang yang sempurna dan maha mulia mengkomunikasikan segala sifat-sifat-Nya dengan cara yang paling sempurna. Dan misteri Inkarnasi ini memang sesuai dengan cara Tuhan yang sempurna dan menjadi manifestasi dari kesempurnaan sifat Tuhan. Yesus telah menunjukkan kesempurnaan belas kasihan dan kasih-Nya kepada umat manusia melalui penderitaan-Nya, yang mencapai puncaknya di kayu salib. Dalam kasih-Nya kepada umat manusia, Tuhan telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan umat manusia (Yoh 3:16). Tuhan juga telah menunjukkan keadilan-Nya yang begitu besar dan tak terselami. Karena manusia tidak dapat membayar dan menghapuskan dosa yang telah diperbuatnya, maka Tuhan sendiri, melalui Tuhan yang menjadi manusia, membayar semua dosa yang telah diperbuat manusia. Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa tidak cukup untuk manusia meminta ampun kepada Tuhan? Kita melihat contoh dalam kehidupan kita, kalau kita membuat kesalahan kepada rekan sekerja, maka kita dapat meminta maaf secara langsung. Namun kalau kita dengan teman-teman kita membuat suatu hal yang begitu konyol, misalkan membakar bendera negara lain, yang menjadi simbol dan harkat dari negara tersebut, maka tidak cukup untuk meminta maaf secara pribadi. Karena yang dirugikan adalah suatu negara, yang harkatnya jauh lebih tinggi dari kita, maka permasalahannya tidak akan selesai kalau pribadi yang bersalah meminta maaf. Namun, kalau seseorang yang mempunyai harkat yang sama dengan negara tersebut, contohnya: menteri luar negeri, duta besar, atau presiden meminta maaf kepada negara yang dirugikan, maka masalahnya akan selesai dan keadilan dapat ditegakkan. Pada saat manusia berbuat dosa, maka manusia telah melawan Tuhan, suatu martabat yang jauh lebih tinggi dan tak terbatas dibandingkan dengan manusia. Agar keadilan dapat ditegakkan secara sempurna, maka seseorang yang mempunyai harkat yang sama harus mewakili manusia untuk

mempersatukan kembali hubungan yang dirusak oleh dosa. Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia mengambil sifat manusia, sehingga Ia dapat mewakili manusia dan sekaligus Tuhan menjadi satu-satunya sosok yang memungkinkan untuk mempersatukan hubungan antara Tuhan dengan manusia. Tuhan juga dapat mengkomunikasikan kebijaksanaan-Nya dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan mengutarakan-Nya secara langsung kepada manusia, dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Kita melihat bagaimana Yesus memberikan kebijaksanaan-Nya dengan perumpamaan dan juga dalam bahasa yang dimengerti manusia. Dengan Inkarnasi, Tuhan menunjukkan kekuatan-Nya, seperti melakukan banyak mukjijat termasuk adalah membangkitkan orang mati, dan terutama adalah Kebangkitan-Nya semdiri dari kematian. Jadi kita melihat, bahwa dengan Inkarnasi, Tuhan telah memilih jalan yang paling sempurna untuk menyatakan kebaikan, kasih, belas kasihan, keadilan, dan juga kekuatan-Nya kepada umat manusia. Tuhan telah menawarkan dan memberikan jalan yang terbaik sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, yaitu persatuan kembali dengan Tuhan untuk selamanya.

Manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari misteri Inkarnasi
Sekarang, mari kita melihat “argument of fittingness” dari sisi manusia. Dengan misteri Inkarnasi, maka manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari Inkarnasi, terutama dari penderitaan Kristus. St. Thomas membagi argumentasi kelayakan ini menjadi dua, yaitu membebaskan manusia dari dosa dan menegakkan kebaikan.

Inkarnasi untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa
Tujuan utama dari Inkarnasi adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Misteri ini, seperti yang telah dipaparkan di atas, membuka suatu misteri kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia. Namun misteri ini juga menunjukkan sisi paling gelap dari dosa, dimana kita dapat melihat manifestasinya dari penderitaan Kristus. Jadi penderitaan Kristus di kayu salib menunjukkan akan besarnya kasih Tuhan dan pada saat yang bersamaan menunjukkan kegelapan dan keburukan dosa. Melihat dua hal tersebut di atas, maka manusia perlu menanggapinya dengan menghindari dosa dengan segala kekuatannya dengan cara bekerjasama dan bergantung kepada rahmat Tuhan yang

mengalir dari penderitaan Kristus. Dan ini berlaku bagi masing-masing pribadi dari kita, karena Yesus datang dan berkorban untuk menebus dosa-dosa yang kita buat, sehinggga kita juga memperoleh keselamatan abadi.

Tegaknya kebaikan dan kembalinya harkat dan jati diri manusia sebagai akibat dari Inkarnasi
Melalui misteri Inkarnasi, maka kebaikan ditegakkan dan juga menunjukkan akan martabat manusia yang begitu tinggi, karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan mengambil sifat manusia dalam diriNya. Dengan ini, manusia seharusnya melihat Kristus dengan kerendahan hati dan mencoba dengan segenap kekuatan untuk berusaha hidup kudus. Misteri ini menyadarkan kita, bahwa tanpa Kristus datang ke dunia ini, kita semua akan masuk ke dalam api neraka. Pengertian yang mendalam tentang misteri Inkarnasi akan mencegah manusia untuk melakukan dosa yang sama dengan dosa Adam yaitu dosa kesombongan, yang membawa manusia kepada jurang kehancuran. Sama seperti kegelapan yang dapat ditanggulangi dengan terang, maka kesombongan hanya dapat ditanggulangi dengan kerendahan hari, dimana mencapai puncak kesempurnaannya pada misteri Inkarnasi Tuhan Yesus, karena Seorang Pencipta mengambil sifat dari ciptaannya dan Sang Pencipta merendahkan diri-Nya dalam keterbatasan ciptaan-Nya. Dan yang lebih luar biasa adalah Sang Pencipta menyediakan diri-Nya untuk mati untuk menyelamatkan ciptaan-Nya pada waktu ciptaan-Nya masih berdosa. (Rom 5:8).

Inkarnasi memperkuat iman, pengharapan, dan kasih manusia
Aspek lain dari Inkarnasi yang berhubungan dengan kebaikan adalah diperkuatnya iman, pengharapan, dan kasih umat manusia. Iman mensyaratkan manusia untuk memberikan dirinya – akal budi: pemikiran dan keinginan – secara bebas kepada kebenaran. Adakah cara yang lebih sempurna untuk memberikan diri kepada kebenaran daripada Kebenaran itu sendiri, yang datang dalam rupa manusia dan berbicara secara langsung kepada umat manusia? Yesus berkata “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 14:6). Apa yang lebih menguatkan manusia kalau dibandingkan dengan kehadiran Yesus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, Sang Kehidupan dan Sang Terang, yang berbicara, membimbing, dan memberikan terang sehingga manusia lepas dari belenggu kegelapan? Karena obyek dari pengharapan adalah kebaikan di masa depan, maka Inkarnasi memberikan keyakinan akan pengharapan yang nyata. Inkarnasi, sebagai manifestasi kasih, memberikan pengharapan yang pasti akan kebahagiaan yang akan dialami oleh manusia, jika manusia bekerja sama dengan rahmat Allah dan pada saat yang bersamaan, Inkarnasi memberikan jalan yang pasti untuk membawa manusia kepada kebaikan di masa depan, yaitu kebahagiaan yang abadi di surga. Rasul Paulus mengatakan “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh

telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9). Hakekat dari kasih adalah bergembira akan sesuatu yang baik yang ada pada diri orang yang dikasihinya dan juga mengharapkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihinya. Dari definisi ini, kita dapat melihat bahwa Inkarnasi adalah perwujudan kasih yang sempurna, karena Tuhan masih melihat bahwa ada sesuatu yang baik dari diri manusia, walaupun manusia telah berdosa and Tuhan mengharapkan yang terbaik terjadi pada kita, dengan memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita manusia. Dengan demikian, Inkarnasi memungkinkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Dengan inkarnasi, Tuhan tidak hanya memberikan perintah, namun juga jalan
Waktu saya mau pergi ke perpustakaan di salah satu pusat kota di Amerika saya tersesat. Kemudian saya berhenti dan bertanya kepada seseorang yang berada di depan salah satu pertokoan. Dan orang tersebut menerangkannya dengan fasih, seperti: dari sini belok ke kiri, kemudian setelah melewati dua lampu merah belok kanan, dan kira-kira 200 meter dari pom bensin belok kanan, dan belokan pertama terus belok kiri, dan kita-kira 200 meter dari situ, letak perpustakaan ada di sebelah kanan. Saya berterimakasih atas kebaikan orang itu, namun saya bingung, karena terlalu banyak belokan dan tanda yang harus saya ingat. Menyadari kebingungan saya dan tahu saya orang asing di situ, maka orang tersebut berkata “Mari, ikuti mobil saya, saya akan tunjukkan jalan untuk ke perpustakaan.” Mendengar perkataan tersebut, saya tersenyum lebar, karena tahu bahwa saya tidak akan tersesat lagi dan pasti akan menememukan perpustakaan yang saya cari. Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Dia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Dengan menunjukkannya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dan dengan mengikuti teladan-Nya, maka manusia juga berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “we are sons in the Son of God,” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.

Kesimpulan
Kita melihat bahwa sebetulnya Tuhan dapat menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa tanpa melalui Inkarnasi. Namun hakekat Tuhan yang Maha baik, Maha benar, Maha kasih, dan bijaksana membuat Tuhan untuk memilih jalan yang paling sempurna dalam menyatakan sifat-sifatNya. Dan Inkarnasilah yang menjadi pilihan Tuhan. Kita tidak dapat membuktikan secara persis

alasannya, karena ini adalah misteri Tuhan yang tidak terselami, namun kita dapat menggunakan “argument of fittingness” untuk melihat bahwa memang semuanya itu sudah selayaknya terjadi dan membuat kita terkesima akan keajaiban Tuhan. Melalui Inkarnasi, kita dapat melihat bahwa Tuhan kita tidak saja Allah yang besar, yang memberikan perintah-perintah untuk keselamatan umat manusia, namun lebih daripada itu, Tuhan kita adalah Allah yang dekat berserta kita (Immanuel), yang menjadi teladan bagi kita semua untuk mengikuti perintah-perintah tersebut, sehingga manusia dapat mengikuti dan menjalankan perintah-perintah Tuhan dengan lebih baik. Dalam keterbatasan pemikiran manusia, mari kita bersama-sama mensyukuri karya perbuatan Tuhan yang terbesar, yaitu Inkarnasi. Dan dengan hati yang terbuka, marilah kita kembali mengundang Yesus yang telah datang ke dunia untuk juga datang dan meraja di hati kita masingmasing. Saudaraku, mari kita menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha besar namun juga Immanuel, Allah beserta kita.

CATATAN KAKI: Lebih tepatnya bukan Tuhan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, namun Tuhan adalah Sang Akal budi dan Kehendak bebas, karena di dalam Tuhan tidak dibedakan “essense” dan “accident“. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat kasih namun Tuhan adalah Kasih. Karakter inilah yang diwahyukan oleh Tuhan kepada nabi Musa, pada waktu Tuhan menyatakan siapa diri-Nya, yaitu “Aku adalah Aku” (Kel 3:14- I am Who I am).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful