F1x.

2 Sindrom ketergantungan
 Gambaran utama yang khas dari sindrom ketergantungan ialah keinginan(baik yang diresepkan atau tidak) untuk mengunakan zat psikoaktif, alkohol dan tembakau.  Ketergantungan dibagi dua: ketergantungan perilaku: menekankan pada aktivitas mencari-cari zat(seperti euforia,depresi,dll) Ketergantungan fisik: menekankan pada efek fisik(seperti kejang, nistagmus,dll)

. dan/atau tanda fisik dari keadaan putus zat ketika obat itu dihentikan. Sindrom ketergantungan dapat juga terjadi terhadap bahan/zat yang spesifik (seperti tembakau dan diazepam). atau golongan zat tertentu (seperti opioid) atau aneka ragam zat (seperti pada individu yang cenderung ada dorongan kompulsif untuk menggunakan obat apapun yang tersedia dan menunjukan gejala tertekan. agitasi.

3 atau F1x. terbukti orang tersebut menggunakan zat atau golongan zat yang sejenis dengan tujuan untuk menghilangkan atau menghindari terjadinya gejala putus zat.Pedoman diagnostik Diagnosis ketergantungan yang pasti ditegakkan jika ditemukan tiga atau lebih gejala dibawah ini dialami dalam masa setahun sebelumnya: a) Adanya keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan zat. . c) Keadaan putus zat secara fisiologis (lihat F1x. b) Kesulitan dalam mengendalikan perilaku menggunakan zat sejak awal.4) ketika penghentian penggunaan zat atau pengurangan. usaha penghentian atau tingkat penggunaannya.

upaya perlu diadakan untuk memastikan bahwa pengguna zat sungguh-sungguh atau diharapkan untuk menyadari akan hakikat dan besarnya bahaya.Lanj Pedoman diagnosis d) Adanya bukti toleransi. e) Secara progresif mengabaikan alternatif menikmati kesenangan karena penggunaan zat psikoaktif lain. meningkatnya jumlah waktu yang diperlukan untuk mendapatkan atau menggunakan zat atau pulih dari akibatnya. seperti gangguan fungsi hati karena minum alkohol berlebihan. berupa peningkatan dosis zat psikoaktif yang diperlukan guna memperoleh efek yang sama yang biasanya diperoleh dengan dosis lebih rendah (contoh yang jelas dapat ditemuakn pada individu dengan ketergantungan alkohol dan opiat yang secara rutin setiap hari menggunakan zat tersebut secukupnya untuk mengendalikan keinginannya). f) Terus menggunakan zat meskipun ia menyadari adanya akibat yang merugikan kesehatannya. . keadaan depresi sebagai akibat penggunaan yang berat atau hendaya fungsi kognitif akibat menggunakan zat.

 Syarat diagnosis ini mengecualikan pasien pasca bedah yang mendapatkan opioida untuk menghilangkan rasa nyeri dan kemudian menunjukan tanda-tanda keadaan putus obat bila zat tidak diberikan. namun mereka sebenarnya tidak menginginkan untuk melanjutkan penggunaan zat.  Termasuk: alkoholisme kronis dipsomania adiksi obat .

Diagnosis sindrom ketergantungan dapat ditentukan lebih lanjut dengan kode lima karakter berikut: • F1x. dll) • F1x.22 kini dalam pengawasan klinis atau dengan pengobatan pengganti[ketergantungan terkendali] (misalnya dengan metode methadone. penggunaan koyo/permen karet nikotin(nicotin gum) atau “nikotin patch”) • F1x.25 penggunaan berkelanjutan • F1x. • F1x.26 penggunaan episodik[dipsomania] .komuniti terapeutik.23 kini abstinen tetapi mendapat terapi aversif atau obat penyekat(misalnya naltrexon atau disulfiram). dalam lembaga pemasyarakatan.20 kini abstinen • F1x.24 kini sedang menggunakan zat[ketergantungan aktif] • F1x.21 kini abstinen tetapi dalam lingkungan terlindung( misal dalam rumah sakit.