Editorial

Psikobuana Volume 1 Nomor 3 ini menghadirkan enam buah artikel. Artikel pertama ditulis oleh Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren, dengan judul “Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia”. Sebagaimana kita ketahui, harian Kompas pada 28 Maret 2008 memaparkan hasil survei yang dilakukan aktivis gerakan nasionalis pada 2006, bahwa 80% mahasiswa memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara, 15,5% memilih aliran sosialisme dengan berbagai varian sebagai acuan hidup, sedangkan hanya 4,5% responden yang masih memandang Pancasila tetap layak sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Penelitian itu dilakukan di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Dalam konteks ini, artikel Putra dan Wongkaren sangat penting karena mereka kini menyediakan sebuah alat ukur berupa skala psikologis yang sudah teruji yang dapat mengenali para fundamentalis Islam di Indonesia secara lebih memadai—dibandingkan dengan alat ukur dari Barat. Dengan selangkah lagi memikirkan bersama bagaimana alat ukur ini digunakan secara efektif serta bagaimana hasil ukur disikapi, kita berharap bahwa karya mereka mampu memberikan sumbangsih menuju gerakan pencegahan ekstrimisme ideologis yang disinyalir marak berkembang di kampus-kampus. Artikel kedua ditulis oleh Meilisha Djati Arum dan A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, dengan judul "Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri”. Kesehatan perempuan merupakan sesuatu yang penting, terlebih lagi perempuan, khususnya di Indonesia, dewasa ini dapat menjadi pemimpin (khalifah). Oleh karenanya, artikel hasil penelitian dari Arum dan Mangkunegara tersebut dapat kita pandang berkontribusi terhadap upaya penyadaran dan edukasi terhadap perempuan untuk mengembangkan intensi yang kuat guna memelihara kesehatan payudara, organ vital perempuan. Sebab, pemeliharaan kesehatan ini berarti juga pemeliharaan kehidupan yang lebih luas. Artikel ketiga ditulis oleh Juneman, Pengurus Ikatan Psikologi Sosial Himpunan Psikologi Indonesia, dengan judul ”Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial". Selanjutnya, Lukman Sarosa Sriamin menyampaikan pemikirannya yang berjudul ”Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya ’Sane Society’ Fromm”. Sriamin memang menyayangkan bahwa Fromm tidak dilahirkan sebagai orang Indonesia. Namun demikian, ia melihat bahwa masyarakat yang diidamkan Fromm merupakan suatu posibilitas, bukan hanya mimpi, dan Pancasila dari Indonesia adalah jawab untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, Bonar Hutapea serta Rendy Wirawan dan Eunika Sri Tyas Suci masing-masing menyampaikan hasil penelitiannya mengenai ”Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari Kepribadian” serta ”Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang Sudah Menerbitkan Karyanya”. Penyunting

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3

ISSN 2085-4242

Daftar Isi
Editorial Penyunting Daftar Isi Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri Meilisha Djati Arum dan A. A. Anwar Prabu Mangkunegara Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial Juneman Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya "Sane Society" Fromm Lukman Sarosa Sriamin Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari Kepribadian Bonar Hutapea Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang Sudah Menerbitkan Karyanya Rendy Wirawan dan Eunike Sri Tyas Suci Panduan Bagi Penulis Indeks i

ii

151–161

162–172

173–189

190–198

199–209

210-218

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 151–161

ISSN 2085-4242

Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia
Idhamsyah Eka Putra dan Zora A. Wongkaren
Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
The purposes of this study are to adapt and modify RFS (Religious Fundamentalism Scale) and IFS (Intratextual Fundamentalism Scale) in order to develop ISFS (Islamic Fundamentalism Scale). Moreover, this study is to find the coefficient correlation between IFS and prejudice towards Christians. Data were derived from 311 Muslim participants who were given a questionnaire. The results show that the items coefficient reliability of the ISFS is .86 and the items coefficient validity is between .37 and .64. Therefore, the ISFS is considered effective enough as an Islamic fundamentalism measuring tool. The research results also indicate that there is significant correlation between Islamic fundamentalism and prejudice towards Christians. Further, this research exhibits the Islamic fundamentalism as an independent variable in prejudice prediction towards Christians. Recommendations for further researches are about the relationship between Islamic fundamentalism and prejudice towards other believers, certain races and or ethnicities, homosexuals, and other psychological variables such as social identities, social dominance orientation, and authoritarianism in prejudice. Keywords: religious religious orientation fundamentalism, prejudice, authoritarianism,

Dalam psikologi sosial, diskriminasi dan prasangka merupakan kajian yang banyak diteliti terutama setelah perang dunia pertama dan kedua. Setidaknya laporan terakhir dalam pangkalan jurnal PsycINFO (2010) menunjukkan 1.424 artikel jurnal yang memberikan judul prasangka dan sekitar 5.103 artikel jurnal yang memiliki kata kunci prasangka. Data tersebut belum termasuk jumlah buku, tesis, disertasi, artikel konferensi. Tokoh-tokoh awal psikologi seperti Thorndike, Lewin, Ash, dan Allport pun ikut memberikan kontribusi terhadap berbagai kajian di seputar isu tersebut. Prasangka menjadi suatu topik
151

yang banyak ditelaah karena konflik sosial, perang, dan penindasan antara lain diakibatkan oleh prasangka. Prasangka dapat muncul dari berbagai sebab, antara lain karena deprivasi relatif (Davis, 1959), identitas (Tajfel & Turner, 1979), konflik sosial (Bar-Tal & Teichman, 2005), orientasi dominansi sosial (Sidanius & Pratto, 2001), sifat otoriter (Adorno, FrenkelBrunswik, Levinson, & Sanford, 1950; Altemeyer, 1981), ancaman (Greenberg, Solomon, & Pyszczynski, 1997), dan agama (Allport, 1954). Faktor terakhir yang disebut sebagai penyebab prasangka, yaitu agama,

152

PUTRA DAN WONGKAREN

menarik untuk ditelaah secara mendalam. Hal ini karena unsur ajaran setiap agama yang mempromosikan nilai-nilai kebaikan dan kemuliaan (termasuk tidak memiliki prasangka negatif terhadap sesama atau manusia lain) untuk dijadikan pedoman bagi pemeluknya agar mencapai ketenangan dan kesejahteraan hidup, justru malah menjadi faktor prasangka. Berkaitan dengan agama sebagai determinan prasangka, Allport dan Ross (1967) membuktikan bahwa orang beragama dengan orientasi ekstrinsik cenderung memiliki prasangka negatif terhadap penganut lain. Orang beragama dengan orientasi intrinsik cenderung tidak mendukung prasangka terhadap penganut lain. Orientasi keberagamaan ekstrinsik berarti agama dimanfaatkan. Agama berguna untuk mendukung kepercayaan diri, memperbaiki status, bertahan melawan kenyataan, atau memberi sanksi pada suatu cara hidup. Orang dengan orientasi keberagamaan ekstrinsik menemukan bahwa agama bermanfaat dalam banyak hal, dan menekankan imbalan yang akan diperolehnya. Sebaliknya, orientasi keberagamaan intrinsik berarti agama dihayati. Iman dipandang bernilai pada dirinya sendiri yang menuntut keterlibatan dan mengatasi kepentingan diri. Orientasi keberagamaan intrinsik meletakkan motif orientasi di bawah keterlibatan yang komprehensif (Allport, 1960, dalam Crapps, 1993). Dua kecenderungan ini muncul karena, menurut Allport (1954), agama selain mengajarkan kebaikan juga mengajarkan kekerasan dan intoleransi. Kondisi ini memberikan potensi munculnya dua sisi pandang yang berbeda mengenai agama, yakni di satu sisi menciptakan kebaikan, dan di sisi lain menciptakan kejahatan. Di samping Allport dan Ross, beberapa

peneliti seperti Duck dan Hunsberger (1999) serta Cannon (2001) turut memberikan dukungan dan menguatkan hasil temuan mereka. Namun demikian, beberapa penelitian terakhir mengenai orientasi intrinsik dan ekstrinsik membuktikan tentang lemah atau tidak kuatnya konsep yang diberikan Allport dan Ross. Beberapa temuan menunjukkan bahwa orang dengan orientasi intrinsik juga menunjukkan dukungannya terhadap prasangka terhadap penganut lain (Herek, 1987; Lough, 2005; Spilka, Hood, & Gorsuch, 1985). Hasil dari penjelasan-penjelasan tersebut menunjukkan adanya faktor lain yang terlewat atau belum terpikir, yang menjadi determinan sesungguhnya dalam mengukur hubungan antara agama dan prasangka. Menurut Altemeyer (2003), hal lain yang belum terpikirkan tersebut adalah kefanatikan. Dengan kata lain, kefanatikan menurutnya merupakan penyebab sesungguhnya dalam mengukur hubungan antara agama dan prasangka. Kefanatikan ini menurutnya muncul di dalam fundamentalisme agama. Altemeyer sendiri menjelaskan fundamentalisme agama adalah suatu keyakinan kuat tentang ajaran agama yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan berperilaku. Lebih jelas, Altemeyer dan Hunsberger menjelaskan:
The belief that there is one set of religious teaching that clearly contains the fundamental. Basic intrinsic, essential, inerrant truth about humanity and deity; that this essential truth is fundamentally opposed by forces of evil which must be vigorously practice of the past; and that those who believe and follow these fundamental teachings have a special relationship with the deity. (Altemeyer & Husberger, 1992)

KONSTRUKSI SKALA

153

Senada dengan Altemeyer, Taylor dan Horgan (2001) mengartikan fundamentalisme agama sebagai suatu ideologi yang berangkat dari latar belakang keyakinan agama yang kuat dan kehidupan agama yang dijalankan dengan sangat serius. Berangkat dari pemahaman tersebut, Altemeyer dan Hunsberger (1992) membuat alat ukur yang disebut dengan skala fundamentalisme agama (religious fundamentalisme scale/RFS). Pada beberapa penelitian dengan mayoritas sampel beragama Kristen, RFS menunjukkan hubungan yang kuat dengan prasangka ras maupun etnis (Smith, Stones, Peck, & Naidoo, 2007), prasangka terhadap agama yang berbeda (Altemeyer, 2003; lihat juga Raiya, Pargament, Mahoney, & Trevino, 2008; Rowatt, Franklin, & Cotton, 2005), dan dukungan kekerasan terhadap homoseksual (Bizumic & Duckitt, 2007; Laythe, Finkel, & Kirkpatrick, 2001). Meskipun RFS telah menunjukkan kekonsistenannya dalam menguji hubungan fundamentalisme agama dengan prasangka, Hood, Hill, dan Williamson (2005) berpendapat bahwa penjelasan Altemeyer dan Hunsberger (1992) mengenai fundamentalisme agama perlu dikoreksi dan dikembangkan. Menurut mereka, hal mendasar dari fundamentalisme agama tidak sekedar keyakinan yang kuat, melainkan juga bagaimana keyakinan tersebut dimaknai dan dipahami. Pemaknaan dan pemahaman ini terkait erat dengan bagaimana seseorang menempatkan, menggali, dan mempelajari kitab sucinya. Fundamentalis agama cenderung memahami kitab suci secara literal dan tertutup untuk didiskusikan dan dinegosiasikan pada kitab lain. Model pemahaman kitab suci tersebut oleh Hood, Hill, dan Williamson (2005) disebut dengan model intratekstual yang berlawanan

dengan model intertekstual yaitu bentuk pemahaman Al-Qur’an yang terbuka untuk didiskusikan dan ditafsirkan. Kitab suci sebagai dasar ajaran biasanya oleh fundamentalis agama digunakan untuk memahami dirinya dan untuk memahami seluruh yang ada, yang sifatnya mutlak dan tidak berubah. Mereka yakin bahwa isi kitab suci adalah suatu yang dipastikan benar dan akurat sifat kebenarannya. Menurut mereka, inti pengukuran fundamentalisme agama terletak pada pemahaman mengenai kitab suci. Untuk mengakomodasi gagasan ini dan mengujinya secara empiris, mereka membuat alat ukur skala intratekstual fundamentalisme (Intratextual Fundamentalism Scale/IFS). Pertanyaan yang muncul setelah membaca keterangan mereka adalah apakah alat ukur yang dikembangkan mereka akan cocok diukur pada agama Islam. Jika mengamati konsep fundamentalisme agama dan memahaminya secara khusus, maka IFS yang dikembangkan oleh mereka akan bermasalah ketika diuji pada agama Islam. Dasar Islam tidak hanya berasal dari kitab suci Al-Qur’an tetapi juga pada As-Sunnah yang merekam segala perbuatan dan ucapan Muhammad, dan pola pengajaran atau pemahaman yang diberikan (Lewis, 1993). Menurut Taylor dan Horgan (2001), beberapa pemahaman yang khas dimiliki fundamentalisme Islam adalah (1) Islam merupakan agama yang universal, (2) ajarannya dapat menjelaskan dan menyelesaikan segala aspek kehidupan, (3) memiliki hukum dan aturan yang jelas, (4) Muhammad telah memberikan contoh pemerintahan yang baik di Madina, atau biasa disebut sebagai zaman keemasan Islam. Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kerangka konseptual yang dikembangkan Hood, Hill, dan

154

PUTRA DAN WONGKAREN

Williamson (2005) belum dapat mengukur fundamentalisme Islam yang sebenarnya. Penelitian ini berupaya untuk (1) mengadaptasi dan memodifikasi alat ukur fundamentalisme agama Altemeyer dan Hunsberger (1992), serta Hood, Hill, dan Williamson (2005), dan (2) mengembangkannya menjadi sebuah alat ukur fundamentalisme Islam berdasarkan penjelasan Lewis (1993) serta Taylor dan Horgan (2001). Setelah skala pengukuran fundamentalisme Islam terbentuk, alat tersebut akan diuji keterkaitannya dengan prasangka.

Metode
Partisipan Partisipan penelitian ini adalah orang yang beragama Islam dengan rentang usia 14 sampai dengan 32 tahun, dengan M = 17,74, dan Median = 17 tahun. Partisipan berjumlah 311 orang dengan komposisi jenis kelamin laki-laki 43% dan perempuan 54%. Instrumen Instrumen pertama adalah Skala Fundamentalisme Agama. Penelitian ini menggunakan Skala Fundamentalisme Agama yang dikembangkan oleh Altemeyer (2003) dengan terlebih dahulu diterjemahkan dan diadaptasi. Bentuk alat ukur ini berupa pernyataan yang diajukan dalam 6 pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju), dengan tidak mengondisikan pilihan netral. Beberapa contoh pernyataannya adalah (1) "Menelaah Al-Qur’an secara kritis dengan mempertanyakan unsur-unsur di dalamnya

adalah bentuk pembangkangan terhadap sabda Tuhan", (2) "Tuhan telah memberikan manusia pedoman hidup yang lengkap menuju kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang harus diikuti sepenuhnya", (3) "Pada dasarnya terdapat dua macam manusia: Muslim yang akan diberi ganjaran surga dan yang tidak." Instrumen kedua, Skala Fundamentalisme Intratekstual, merupakan terjemahan dan adaptasi oleh Putra (2007). Bentuk alat ukur ini berupa pernyataan yang diajukan dalam 6 pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju), dengan tidak mengondisikan pilihan netral. Beberapa contoh pernyataannya adalah (1) "AlQur’an adalah satu-satunya pedoman atau acuan manusia jika ingin selamat", (2) "Al-Qur’an adalah pedoman yang sempurna sehingga tidak boleh mempertanyakan unsur-unsur di dalamnya". Instrumen ketiga, Skala Fundamentalisme Isla, adalah alat ukur yang dibuat berdasarkan pengembangan dan adaptasi dua alat ukur, yakni skala fundamentalisme agama dengan skala fundamentalisme intratekstual, untuk disesuaikan dan mengukur fundamentalisme Islam yang sesungguhnya. Bentuk alat ukur ini berupa pernyataan yang diajukan dalam 6 pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju), dengan tidak mengondisikan pilihan netral. Instrumen keempat, alat ukur Prasangka terhadap Pemeluk Kristen, dibangun berdasarkan adaptasi dari pengukuranpengukuran mengenai prasangka. Bentuk alat ukur ini berupa pernyataan yang diajukan dalam 6 pilihan tingkat respons, yakni dari 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai dengan 6 (Sangat Setuju), dengan tidak mengondisikan pilihan netral. Contoh pernyataan yang diajukan adalah (1)

KONSTRUKSI SKALA

155

"Kehadiran umat Kristen di Indonesia memiliki segi positif", (2) "Saya senang bersahabat dengan siapa saja, bahkan dengan orang Kristen sekalipun", dan (3) "Kehadiran umat Kristen di Indonesia sangat menguntungkan".

Hasil
Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa beberapa instrumen yang diadaptasi dari alat ukur skala fundamentalisme agama dan skala fundamentalisme intratekstual tidak kuat nilainya ketika diuji pada umat Islam. Item-item yang tidak kuat tersebut seperti (1) "Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan yang kedudukannya berada di atas kitab-kitab dan teks-teks lain", dan (2) "Manusia boleh berpikir kritis pada hal-hal lain selain ayat-ayat AlQur’an”. Sebaliknya, item-item baru yang bukan hasil adaptasi dan merupakan penjabaran konsep Islam Fundamentalisme dari salafisme pemurnian Islam memberikan nilai yang kuat sebagai bagian dari Skala Fundamentalisme Islam. Hasil perhitungan validitas dan reliabilitas pada Skala Fundamentalisme Islam menunjukkan nilai reliabilitas & = 0,86 dengan koefisien validitas yang diperoleh r = 0,37 sampai dengan r = 0,64. Analisis faktor dilakukan untuk menguji item-item yang mengukur fundamentalisme Islam dan prasangka terhadap pemeluk Kristen. Hasil analisis faktor, sebagaimana nampak dalam Tabel 1, menunjukkan bahwa item-item yang diajukan menunjukkan kecocokannya terhadap sesuatu yang diukur, yaitu fundamentalisme Islam dan prasangka terhadap pemeluk Kristen. Hasil uji ini menunjukkan bahwa adaptasi alat ukur dan penambahan itemitem yang sebelumnya tidak disertakan di dalam skala fundamentalisme agama dan skala

fundamentalisme intratekstual sangat sesuai untuk mengukur fundamentalisme Islam. Uji korelasi antara fundamentalisme Islam dengan prasangka terhadap pemeluk Kristen menunjukkan hubungan positif (r = 0,25). Hasil ini berarti semakin kuat fundamentalisme Islam seseorang maka akan semakin kuat juga prasangkanya terhadap Kristen. Uji regresi menunjukkan fundamentalisme Islam memberikan kontribusi secara signifikan (p < 0,01; ß = 0,071; R² = 0,064; F = 20,863) pada prasangka terhadap pemeluk Kristen, sebagaimana nampak dalam Tabel 2. Arti dari signifikansi tersebut adalah bahwa fundamentalisme Islam merupakan salah satu faktor penyebab munculnya prasangka terhadap pemeluk Kristen. Besarnya pengaruh yang diberikan adalah sebesar 6,4%.

Diskusi, Kesimpulan, dan Saran
Alat Ukur dan Skala Fundamentalisme Islam Mendukung penjelasan Lewis (1993) serta Taylor dan Horgan (2001), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) keyakinan bahwa permasalahan sosial akan selesai dengan menjalankan pemerintahan Islam seperti zaman Muhammad, (2) keyakinan mengenai Islam yang harus satu dan tidak memiliki perbedaan, serta (3) kebenaran Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai suatu pedoman utama yang harus ditafsirkan seperti apa adanya, telah terbukti menjadi bagian dalam fundamentalisme Islam. Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa alat ukur yang dikembangkan oleh Altemeyer (2003) serta Hood, Hill, dan Williamson (2005) tidak dapat diadaptasi langsung tanpa menambahkan pemahaman mengenai sunnah Muhammad, pemerintahan, dan hukum.

156 PUTRA DAN WONGKAREN Tabel 1. Konten Item dan Muatan Analisis Faktor Fundamentalisme Islam dan Prasangka Terhadap Pemeluk Kristen Fundamentalisme Islam Al-Qur’an tidak dapat ditafsirkan ulang untuk disesuaikan dengan bukti-bukti sejarah dan ilmu pengetahuan Sebagai pedoman yang diturunkan Tuhan Yang Maha Tahu, Al-Qur’an telah menjabarkan secara lengkap tentang kebijaksanaan, kebenaran, dan kehidupan, sehingga tidak terlalu perlu mempelajari pedoman dari teks lain Al-Qur’an adalah pedoman yang sempurna, sehingga tidak boleh mempertanyakan unsur-unsur di dalamnya Kebenaran dari Al-Qur’an tidak akan lekang oleh waktu, sehingga dapat diaplikasikan pada semua generasi tanpa perlu ditafsirkan kembali Al-Qur’an tidak bisa berkompromi dengan pernyataan-pernyataan dari teks atau sumber lain Al-Qur’an adalah satu-satunya pedoman atau acuan manusia jika ingin selamat Jika ada ketidaksejalanan antara sains dengan Al-Qur’an, maka yang harus menyesuaikan adalah sains, sehingga Al-Qur’an tidak mesti ditafsirkan ulang Agama Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah satu-satunya jalan hidup yang mulia Hanya ada satu pedoman kebenaran, yaitu Al-Qur’an, sehingga orang yang tidak berpedoman dengan Al-Qur’an tidak akan menemukan kebenaran hakiki Menelaah Al Quran secara kritis dengan mempertanyakan unsur-unsur di dalamnya adalah bentuk pembangkangan terhadap sabda Tuhan Pada dasarnya terdapat 2 macam manusia: muslim (pemeluk agama Islam) yang akan diberi ganjaran surga, dan yang tidak Al-Qur’an berisi kebenaran-kebenaran dasar yang perlu diterima secara absolut dan mutlak Ajaran Islam tidak akan pernah dapat disandingkan apalagi berkompromi dengan kepercayaan-kepercayaan lain Al-Qur’an harus ditafsirkan seperti apa adanya, tidak perlu disesuaikan dengan konteks jaman dan tempat Al Qur’an dan As-Sunnah telah mengatur seluruh hidup manusia sehingga tidak diperlukan tambahan dasar hokum lain karena kesannya mengada-ada atau bid’ah Al Quran dan As Sunnah sudah cukup untuk menjawab semua permasalahan manusia dari ekonomi, politik, hingga rumah tangga Sistem pemerintahan yang pernah diterapkan Muhammad SAW dapat diterapkan kapan saja dan di mana saja Hanya dengan menerapkan sistem pemerintahan yang pernah diterapkan Muhammad SAW, rakyat akan sejahtera Islam tidak mengenal perbedaan, Islam harus satu; satu pemikiran, pemahaman, dan penafsiran .446 .507 .542 .600 .373 .502 .506 .565 .573 .435 .497 .559 .545 .557 .580 .563 .554 .496 .531

KONSTRUKSI SKALA

157

Prasangka terhadap umat Kristen Kehadiran umat Kristen di Indonesia memiliki banyak segi positif (R) Saya senang bersahabat dengan siapa saja, bahkan dengan orang Kristen sekalipun (R) Kehadiran umat Kristen di Indonesia sangat menguntungkan (R) Orang Kristen di Indonesia boleh menjadi pemimpin bahkan Presiden sekalipun (R) .535 .362 .530 .568

Item adaptasi yang tidak cocok diberikan untuk Fundamentalisme Islam Tidak ada satu buku atau alkitab pun yang memuat secara lengkap tentang dasar-dasar kebenaran yang mendalam tentang hidup Sumber utama kejahatan di muka bumi ini adalah syaitan, yang dengan kebrutalan selalu menentang Tuhan Lebih penting untuk menjadi orang yang berhati mulia/lembut dalam kesehariannya, daripada untuk menjadi penganut 1 agama yang paling benar Ketika terdapat konflik antara sains dan kitab suci, yang benar adalah sains karena berdasarkan fakta-fakta empiris Seluruh agama di muka bumi ini memiliki kelemahan atau kesalahan dalam ajarannya Catatan. R = item yang nilainya harus dibalik -.435 -.439

-.238

-.187

Tabel 2. Hasil Regresi dan Korelasi untuk Memprediksi Prasangka terhadap umat Kristen Variabel ß Fundamentalisme Islam Catatan. R2 = .064; F = 20.863**; T = 4.863
P P P P

.071

Std. Error of the Estimate 3.69634

**
P P

p < .01. sebagai satu kesatuan bangunan dalam fundamentalisme Islam. Contoh-contoh item yang tidak dapat dipakai itu adalah (1) "Sumber utama kejahatan di muka bumi ini adalah setan, yang dengan kebrutalan selalu menentang Tuhan", (2) "Seluruh agama di muka bumi ini memiliki kelemahan atau kesalahan dalam ajarannya", dan (3) "Lebih penting untuk menjadi orang berhati mulia atau lembut dalam

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengukuran fundamentalisme agama yang dibuat oleh Altemeyer belum cukup kuat mengukur gejala fundamentalisme yang ada di Islam. Beberapa item Skala Fundamentalisme Agama (Religious Fundamentalisme Scale/RFS) yang telah diterjemahkan dan diadaptasi, terbukti tidak cukup kuat dipakai

158

PUTRA DAN WONGKAREN

kesehariannya, daripada untuk menjadi penganut satu agama yang paling benar". Beberapa item yang tidak terpakai ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan karakter atau budaya dalam masing-masing agama yang satu sama lainnya sehingga alat yang dikembangkan Altemeyer (2003; lihat juga Altemeyer & Hunsberger, 1992) hanya sesuai pada agama tertentu saja. Hal lain yang dapat menjadi alasan mengapa tidak semua item alat ukur RFS yang dikembangkan Altemeyer tidak dapat menjelaskan gejala fundamentalisme Islam adalah karena tidak sesuai dengan budaya Islam di Timur, Indonesia. Item yang dikembangkan oleh Altemeyer seperti, "Lebih penting untuk menjadi orang berhati mulia atau lembut dalam kesehariannya, daripada untuk menjadi penganut satu agama yang paling benar," merupakan item yang tidak relevan atau tepat diberikan pada wilayah atau daerah yang memiliki nilai religiusitas yang tinggi seperti Indonesia ini. Dapat dipastikan setiap muslim yang ada di Indonesia akan memilih pendapat tidak setuju karena dalam konsep masyarakat religius, hal yang paling pertama dilakukan untuk menjadi orang berhati mulia adalah dengan beragama itu sendiri. Argumen ini didukung penemuan Cohen dan Hill (2007) yang menunjukkan adanya pemahaman religiusitas yang berbeda diantara budaya yang individualistis dengan budaya yang lebih menekankan kebersamaan atau kolektivistis. Budaya individualistis akan menekankan pemahamannya pada pencapaian personal, keunikan atau kekhasan, dan pengaturan personal. Sementara itu, budaya kolektivistis lebih menekankan ikatan kelompok (Cohen & Hill, 2007). Berbeda dengan Altemeyer, alat ukur yang

dikembangkan oleh Hood, Hill, dan Williamson (2005)—setelah diterjemahkan dan diadaptasi sesuai dengan bahasa Indonesia—menunjukkan bahwa model penafsiran intratekstual sangat kuat menjadi bagian dari alat ukur fundamentalisme Islam. Hal ini menerangkan bahwa penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan oleh fundamentalis agama bersifat tertutup dan tidak dapat didiskusikan. Hal lain yang menarik dibahas adalah permasalahan generalisasi konsep pemahaman fundamentalisme agama. Telah ada kesepakatan pada para peneliti (misalnya, Altemeyer & Hunsberger, 1992; Altemeyer, 2003; Hood dkk., 2005, Taylor & Horgan, 2001) bahwa fundamentalis agama adalah mereka yang memiliki pola keyakinan tunggal yang ajek (konsisten) mengenai dunia berdasarkan ajaran atau kitab sucinya, tanpa ada tawar menawar. Kesepakatan ini tidak berarti mengartikan bahwa ideologi kelompok fundamentalis pada setiap agama akan sama. Jika tiap-tiap ajaran agama memiliki konsep, pengajaran, dasar ajaran, dan keyakinan yang berbeda-beda, maka dapat dipastikan ideologi yang muncul di dalam individu atau kelompok yang disebut fundamentalis adalah berbeda-beda pula. Hasil penelitian ini menunjukkan dan membuktikan bahwa untuk mengukur fundamentalisme Islam tidak dapat diukur melalui alat ukur skala fundamentalisme agama dari Altemeyer dan Hunsbeger (1992; lihat juga Altemeyer, 2003) atau skala fundamentalisme intratekstual oleh Hood, Hill, dan Williamson (2005) dengan begitu saja menerjemahkan dan mengadaptasinya. Alat-alat tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan konsep fundamentalisme Islam sehingga dapat menyentuh dan mengukur secara mendalam dan lebih tepat.

KONSTRUKSI SKALA

159

Prasangka Temuan penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara fundamentalisme Islam dengan prasangka terhadap pemeluk Kristen. Hasil saat ini mendukung dan memperkuat temuan-temuan sebelumnya yang menerangkan adanya hubungan yang positif antara fundamentalisme agama dengan prasangka (Altemeyer, 2003; lihat juga Raiya, Pargament, Mahoney, & Trevino, 2008; Rowatt, Franklin, & Cotton, 2005). Hal ini menerangkan bahwa orang-orang yang memiliki fanatisme pada pemahaman ayat AlQur’an, As-Sunnah Muhammad, model pemerintahan masa lalu, dan satu kebenaran mutlak akan memiliki kecenderungan memiliki prasangka. Temuan penelitian ini juga menunjukkan hasil bahwa fundamentalisme merupakan salah satu prediktor atau faktor penyebab munculnya prasangka terhadap pemeluk Kristen. Akan tetapi, prasangka terhadap pemeluk Kristen hanya dihasilkan 6,4% dari fundamentalisme Islam. Hal ini menunjukkan bahwa munculnya prasangka terhadap pemeluk Kristen lebih besar disebabkan oleh faktor-faktor lain. Artinya bahwa fundamentalisme Islam tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya prediktor dalam mengukur prasangka terhadap pemeluk Kristen. Faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan tersebut adalah identitas sosial, orientasi dominansi sosial (ODS), dan otoritarianisme. Tajfel dan Turner (1979) menerangkan bahwa melalui suatu identitas seseorang dapat memahami dan membangun nilai-nilai positif. Identitas adalah hal yang sifatnya di luar personalitas atau sangat bersifat sosial. Di dalam identitas sosial, individu-individu yang mencirikan dirinya sebagai satu identitas

kelompok akan membentuk solidaritas sebagai perwujudan ikatan kebersamaan. Efek dari pembentukan identitas ini adalah pengagungan yang berlebih terhadap kelompok dan menghina atau merendahkan orang-orang yang berasal dari kelompok lain. Penjelasan ini menerangkan bahwa orang dengan identitas agama yang kuat akan memiliki prasangka yang negatif terhadap pemeluk agama lain. Orientasi dominansi sosial merupakan konsep yang dikembangkan oleh Sidanius dan Pratto (2001). Pemahaman dasarnya adalah bahwa kehidupan sosial memiliki struktur sosial yang sifatnya hierarki. Kondisi hierarki sosial ini membentuk dua model struktur kelompok berbeda, yaitu (1) kelompok superior sebagai kelompok pemegang kuasa atau yang memiliki dominansi, dan (2) kelompok inferior sebagai kelompok rendah atau lemah. Bagi individu atau kelompok yang memegang pemahaman seperti ini, orang dari kelompok lain bernilai lebih rendah atau bahkan tidak memiliki nilai. Otoritarianisme awalnya dikembangkan sebagai suatu bentuk kepribadian (Adorno, Frenkel-Brunswik, Levinson, & Sanford, 1950; Altemeyer, 1981) sebelum Duckitt (2001) mengembangkan dan menyimpulkan bahwa sikap otoritarian berangkat dari suatu ideologi. Biasanya orang yang memiliki ideologi otoritarian adalah mereka yang bersifat konservatif, menolak hal yang baru, tidak menyukai perbedaan, dan menekankan pada satu pemahaman. Individu atau kelompok yang memiliki kecenderungan otoritarian akan memandang yang memiliki pemahaman berbeda sebagai suatu ancaman dan keburukan. Orang yang berbeda ini dianggap akan merusak kestabilan pemahaman sehingga akan membentuk suatu dunia yang kehancuran atau tidak menentu. Orang beragama yang

160

PUTRA DAN WONGKAREN

menganggap bahwa ajarannya yang paling benar dan agama lain sebagai suatu ancaman maka dapat dipastikan mereka akan memiliki prasangka yang negatif pada orang dari agama lain. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguji hubungan fundamentalisme Islam dengan prasangka terhadap ras atau etnis tertentu, jender, dan homoseksualitas, di samping perlu juga mempertimbangkan faktor yang dapat mengontrol hubungan fundamentalisme dengan prasangka (misalnya, identitas sosial, orientasi dominansi, dan otoritarianisme).

Bibliografi
Adorno, T. W., Frenkel-Brunswik, E., Levinson, D. J., & Sanford, R. M. (1950). The authoritarian personality. New York: Harper. Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice (3rd ed.). Boston: The Beacon Press. Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal religious orientation and prejudice. Journal of Personality and Social Psychology, 4, 432-443. Altemeyer, B. (1981). Right-wing authoritarianism. Canada: University of Manitoba Press. Altemeyer, B. (2003). Why do religious fundamentalists tend to be prejudiced? The International Journal for the Psychology of Religion, 13(1), 17-28. Altemeyer, B., & Hunsberger, B. E. (1992). Authoritarianism, religious fundamentalism, quest, and prejudice. International Journal for the Psychology of Religion, 2, 113-133. Bar-Tal, D., & Teichman, Y. (2005). Stereotypes and prejudice in conflict. New
P P

York: Cambridge universisty press. Bizumic, B., & Duckitt, J. (2007). Varieties of group self-centeredness and dislike of the specific other. Basic and Applied Social Psychology, 29(2), 195-202. Cannon, C. E. (2001). The influence of religious orientation and white racial identity on expressions of prejudice. Disertasi, tidak diterbitkan, University of Marryland Coll Park, US. Cohen, A. B., & Hill, P. C. (2007). Religion as culture: Religious individualism and collectivism among American Catholics, Jews, and Protestants. Journal of Personality, 75(4), 709-742. Crapps, R. W. (1993). Dialog psikologi dan agama (A. M. Hardjana, Penerj.). Yogyakarta: Kanisius. Davis, J. A. (1959). Group decision and social interaction: A theory of social decision schemes. Psychological Review, 80, 97-125. Duck, R.J. & Hunsberger, B. (1999). Religious orientation and prejudice: The role of religious proscription, right-wing authoritarianism, and social desirability. The International Journal for the Psychology of Religion, 9, 157-179. Duckitt, J. (2001). A dual-process cognitivemotivational theory of ideologi and prejudice. Dalam Zanna, M. P. (Ed.), Advances in Experimental Social Psychology, 33, 41-113. Greenberg, J., Solomon, S., & Pyszczynski, T. (1997). Terror management theory of selfesteem and cultural worldviews: Empirical assessments. Advances in Experimental Social Psychology, 29, 139. Herek, G. M. (1987). Religious orientation and prejudice: A comparison of racial and sexual attitudes. Personality and Social

KONSTRUKSI SKALA

161

Psychology Bulletin, 13(1), 56-65. Hood, R. W., Hill, P. C., & Williamson, P. (2005). The psychology of religious fundamentalism. New York-London: The Guilford Press Laythe, B., Finkel, D.,& Kirkpatrick, L. A. (2001). Predicting prejudice from religious fundamentalism and right-wing authoritarianism: A multiple-regression approach. Journal for the Scientific Study of Religion, 40, 1-10. Lewis, B. (1993). Islam and the West. New York: Oxford University Press. Lough, J. (2005). Religious orientation, social conservatism, traditional values, and authoritarianism as predictors of prejudice. Disertasi, tidak diterbitkan, George fox University. Putra, I. E. (2007). Pengaruh orientasi keberagamaan, ideologi politik, fundamentalisme, orientasi dominasi sosial terhadap intoleransi politik: Studi pada kelompok agama Islam. Tesis, tidak diterbitkan, Universitas Indonesia, Depok. Raiya, H. A., Pargament, K. I., Mahoney, A., & Trevino, K. (2008). When Muslims are perceived as a religious threat: Examining the connection between desecration, religious coping, and anti-Muslim attitudes. Basic and Applied Social Psychology, 30(4), 311-325. Rowatt, W. C., Franklin, L. M., & Cotton, M. (2005). Patterns and personality correlates of implicit and explicit attitudes toward Christians and Muslims. Journal for the Scientific Study of Religion, 44(1), 29-43. Sidanius, J., & Pratto, F. (2001). Social dominance. Cambridge: University Press. Smith, T. B., Stones, C. R., Peck, C. E., & Naidoo, A. V. (2007). The association of

racial attitudes and spiritual beliefs in postapartheid South Africa. Mental Health, Religion & Culture, 10(3), 263-274. Spilka, B., Hood, R. W., & Gorsuch, R. L. (1985). The psychology of religion: An empirical approach. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall. Tajfel, H. & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. Dalam Austin, W. G., & Worchel, S. (Eds.), The social psychology of intergroup relations (h. 3347). Montley, CA: Brooks/Cole. Taylor, M., & Horgan, J. (2001). The psychological and behavioural bases of Islamic fundamentalism. Terrorism and Political Violence, 10(4), 37-71.

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 162–172

ISSN 2085-4242

Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri
Meilisha Djati Arum dan A. A. Anwar Prabu Mangkunegara
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
The objective of this study is to find how attitude, subjective norm and perceived behavioral control (PBC) play in women's intention prediction for performing breast cancer early detection by breast self-examination (BSE) technique. The theory used is the theory of planned behavior (TPB). This is a quantitative research with ex-post-facto field study design and the research instrument was an attitude scale. Using the accidental sampling technique, there were 120 female students of the Mercu Buana University - Jakarta as participants of this study. The results of multiple regression analysis showed that: a) attitude, subjective norm and perceived behavioral control (PBC) was interactively influential for the intention prediction; b) attitude and perceived behavioral control (PBC) independently and significantly are able to predict the intention; and c) subjective norm alone is not significantly able to predict the intentions. Keywords: theory of planned behavior, intention, attitude, subjective norm, perceived behavioral control, breast self examination (BSE)

Pada tahun 2008 data statistik Globocan (Global burden of cancer) International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan bahwa 292.600 jiwa penduduk Indonesia menderita kanker (kasus baru). Dari jumlah tersebut sebanyak 39.831 jiwa dari wanita Indonesia menderita kanker payudara (“Most frequent cancers”, 2010). Kanker payudara menempati urutan pertama dalam jumlah penderita dari seluruh jenis kanker yang ada pada penduduk Indonesia. Dari data tersebut didapatkan informasi jumlah insiden penemuan kasus baru kanker payudara sebesar 36,2 jiwa per 100.000 jiwa per tahun dengan jumlah kematian sebanyak 18,6 jiwa per 100.000 jiwa

per tahun dari seluruh penyakit kanker yang diderita wanita di Indonesia. Kanker payudara adalah tumbuhnya sel abnormal di payudara yang tidak mengenal batas volume serta bisa menyebar. Benjolan di payudara disebut jinak jika tetap di tempatnya, dan ganas jika menjalar ke organ lain, seperti ke paru-paru, hati, tulang, atau otak (“Dicanangkan, program nasional”, 2008). Menurut Kementerian Kesehatan, salah satu alasan semakin berkembangnya penyakit kanker payudara adalah rendahnya cakupan deteksi dini (“Dicanangkan, program nasional”, 2008). Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker
162

PERAN SIKAP, NORMA

163

payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia (16,85%). Hal ini sesuai dengan estimasi Globocan IARC tahun 2002 ("Jika tidak dikendalikan", 2010). Data statistik ini memberikan pemahaman tentang dampak dari penyakit pada populasi wanita dan menyoroti perlunya strategi pencegahan yang efektif. Data lain yang mendukung estimasi Globocan IARC diperoleh dari sumber data bidang rekam medis Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) pada pasien rawat jalan. Data ini menyebutkan bahwa kanker payudara menempati urutan tertinggi dalam jumlah penderita dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 dibandingkan dengan jenis kanker lainnya. Jumlah penderita kanker yang paling banyak diderita pada tahun 2007 adalah kanker payudara (Ca mammae) sebanyak 437 kasus dari data pasien rawat jalan di RSKD (“10 besar kanker”, 2007). Cakupan umur para penderita kanker payudara juga melebar. Jika dahulu para penderita yang datang pertama kali ke rumah sakit terdeteksi mengidap kanker payudara umumnya berumur 40-46 tahun. Namun dewasa ini, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mencatat seorang wanita muda berumur 24 tahun telah didiagnosis mengidap kanker (“Dicanangkan, program nasional”, 2008). Deteksi dini kanker payudara dapat menggunakan metode SADARI (pemeriksaan payudara sendiri). Tujuan dari SADARI secara rutin adalah untuk merasakan dan mengenal lekuk-lekuk payudara sehingga jika terjadi perubahan dapat diketahui segera (Damanik, 2008). Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin memiliki berbagai keuntungan seperti efektivitas biaya, tidak invasif, merupakan metode deteksi dini yang sederhana, serta dapat melangsungkan hidup

yang lebih baik (Kurebayashi, 1994, dalam Mason & White, 2008). Untuk hasil yang lebih komprehensif, selanjutnya SADARI dilengkapi dengan pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga medis profesional, pemeriksaan ultrasonografi (USG) atau dengan mammografi. Kemungkinan penderita kanker payudara untuk sembuh lebih tinggi apabila kanker diketahui pada stadium satu. Pada kondisi ini penderita kanker payudara tidak perlu melakukan operasi pengangkatan payudara. Itu sebabnya, deteksi sedini mungkin melalui SADARI sangat penting. Masalahnya, di Indonesia umumnya seseorang baru diketahui menderita penyakit berisiko tinggi ini setelah menginjak stadium lanjut. Sedikitnya pengetahuan ditambah rasa takut dan malu menjadi penyebab utama wanita terlambat menyadari telah terkena kanker payudara. Padahal dengan menyadari adanya kelainan pada area payudara, risiko penyakit ini bisa dihindari dengan penanganan yang tepat. Rendahnya unjuk perilaku masyarakat khususnya wanita untuk melakukan deteksi dini kanker payudara yang dapat dilaksanakan dengan SADARI menjadi konsen peneliti. Penelitian tentang prediktor intensi melakukan SADARI belum banyak dilakukan—kalau bukan tidak ada—di Indonesia, khususnya dimensi yang menyangkut psikologi sikap. Penelitian ini bermaksud untuk mengisi kesenjangan ini. Penelitian ini mengadopsi sebuah pendekatan berbasis teori untuk memeriksa keyakinankeyakinan yang mendasari dalam pemahaman kita tentang bagaimana keyakinan yang seseorang pegang pada akhirnya dapat mempengaruhi keputusan perilaku mereka. Teori perilaku terencana (Theory of Planned Behavior/TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen

164

ARUM DAN MANGKUNEGARA

dapat digunakan sebagai dasar teoretis yang bermanfaat untuk memahami berbagai perilaku termasuk SADARI (Mason & White, 2008). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis terhadap intensi melakukan SADARI berdasarkan TPB pada wanita berumur antara 18 sampai dengan 30 tahun. Penelitian ini memeriksa Sikap, Norma Subjektif dan Persepsi Kendali Perilaku (PBC) melalui keyakinan-keyakinan behavioral, keyakinan normatif, dan keyakinan kendali terkait dengan keterlibatan wanita dalam melakukan SADARI. Keyakinan-keyakinan itu hendak diketahui kontribusi perannya, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, terhadap perilaku SADARI. Diharapkan bahwa penelitian ini dapat menjadi masukan bagi Pemerintah maupun lembaga-lembaga di masyarakat (terutama lembaga pendidikan dan lembaga kesehatan) untuk menyusun serta mengembangkan kebijakan-kebijakan dan program-program konkret dalam rangka meningkatkan intensi (niat) dan perilaku SADARI melalui pemahaman dan modifikasi keyakinan individu dan masyarakat seputar SADARI.

Teori Perilaku Terencana
Adanya ketidaksesuaian antara sikap dan perilaku sudah diketahui oleh para ahli sejak lama. LaPiere (1934, dalam Albarracin, Blair & Zanna, 2005) dengan penelitiannya mengenai hubungan sikap dan perilaku menunjukkan bahwa tidak terdapat konsistensi antara sikap dan perilaku aktual. LaPiere bersama seorang teman keturunan China berkeliling Amerika Serikat, mendatangi 251 restoran, hotel, dan tempat umum lainnya. Dari semua tempat yang dikunjungi, hanya satu kali mereka ditolak.

Enam bulan kemudian, ia mengirim surat kepada semua tempat yang sudah dikunjunginya dengan pertanyaan apakah mereka mau menerima tamu dari ras China. Dari 128 yang membalas surat, 90 persen menjawab tidak (Sarwono, 2002). Pemahaman para ahli psikologi sosial mengenai hubungan sikap-perilaku telah berkembang pesat sejak publikasi dari penelitian LaPiere yang dipaparkan di atas. Penelitian LaPiere dan pengembangan selanjutnya dipandang sebagai bukti dari inkonsistensi antara hal yang dikatakan orang (sikap) dengan hal yang dilakukan orang. Guna tidak sekedar memahami, namun juga untuk dapat memprediksi perilaku, Ajzen dan Fishbein (dalam Azwar, 2003) mengemukakan teori tindakan beralasan (Theory of Reasoned Action/TRA). TRA mengatakan bahwa sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya terbatas hanya pada tiga hal. Pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga oleh norma-norma subjektif (subjective norms) yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. Ketiga, sikap terhadap suatu perilaku bersama norma-norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu. Sebagaimana nampak dalam Gambar 1, secara sederhana teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya (Azwar, 2003).

PERAN SIKAP, NORMA

165

Gambar 1. Teori tindakan beralasan (Azwar, 2003) TRA kemudian diperluas dan dimodifikasi oleh Ajzen (dalam Azwar, 2003). Modifikasi ini dinamai Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior/TPB). Kerangka pemikiran TPB dimaksudkan untuk mengatasi masalah kontrol volisional yang belum lengkap dalam teori terdahulu. Inti TPB berada pada faktor Intensi perilaku. Namun determinan intensi tidak hanya dua (Sikap terhadap perilaku yang bersangkutan dan Norma-norma subjektif) melainkan tiga dengan diikutsertakannya aspek Persepsi Kendali Perilaku (perceived behavioral control/PBC). Dalam TPB, keyakinan-keyakinan (beliefs) berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu, normanorma subjektif, dan pada persepsi kendali perilaku (PBC). Ketiga komponen ini berinteraksi dan menjadi determinan bagi intensi, yang pada gilirannya akan menentukan apakah perilaku yang bersangkutan akan dilakukan atau tidak (Gambar 2).

Gambar 2. Teori perilaku terencana (Ajzen, 2005)

Ajzen dan Fishbein (1975, dalam Hagger & Chatzisarantis, 2005) berhipotesis bahwa intensi mengindikasikan derajat perencanaan yang direncanakan seseorang pada perilaku mendatang dan menggambarkan seberapa keras seseorang menghendaki untuk mencoba serta seberapa banyak upaya yang mereka perkirakan untuk dikeluarkan dalam menampilkan perilaku. Sikap adalah disposisi untuk berespons secara positif (favorable) atau negatif (unfavorable) terhadap benda, orang, institusi atau kejadian (Ajzen, 2005). Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh total rangkaian keyakinan (belief) keperilakuan yang aksesibel yang mengaitkan perilaku dengan berbagai hasil dan atribut-atribut yang lain. Dengan perkataan lain, seseorang yang yakin bahwa sebuah tingkah laku dapat menghasilkan outcome yang positif, maka ia akan memiliki sikap yang positif, begitu juga sebaliknya. Selanjutnya, Ajzen (2005) mendefinisikan norma subjektif sebagai tekanan sosial yang dipersepsikan oleh seseorang untuk melibatkan diri atau tidak melibatkan diri dalam sebuah perilaku. Ajzen mengasumsikan bahwa norma subjektif ditentukan oleh total rangkaian keyakinan normatif (normative belief) yang dapat diakses berkenaan dengan harapanharapan yang berasal dari referent atau orang/kelompok yang berpengaruh bagi individu (significant others) seperti orang tua, pasangan, teman dekat, rekan kerja atau lainnya, tergantung pada perilaku yang terlibat. Norma subjektif tidak hanya ditentukan oleh referent, tetapi juga ditentukan oleh motivation to comply. Secara umum, individu yang yakin bahwa banyak referent yang membuat dirinya termotivasi untuk mengikuti, berpikir bahwa dirinya harus menampilkan perilaku, akan merasakan tekanan sosial untuk melakukannya.

166

ARUM DAN MANGKUNEGARA

Sebaliknya, individu yang yakin bahwa kebanyakan referent akan tidak menyetujui dirinya menampilkan perilaku tertentu maka hal ini akan menyebabkan dirinya memiliki subjective norm yang menempatkan tekanan pada dirinya untuk menghindari melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 2005). Gambar 2 menunjukkan dua hal penting dari TPB. Pada gambar di atas terdapat dua jalur hubungan antara Persepsi Kendali Perilaku (PBC) dan Perilaku: (1) garis penuh dengan perantara intensi, dan (2) garis putus-putus tanpa melalui intensi. Hal penting pertama, teori ini berasumsi bahwa PBC memiliki implikasi motivasional pada intensi. Orang yang percaya bahwa dirinya tidak memiliki sumber daya atau kesempatan untuk menampilkan perilaku tertentu cenderung tidak membentuk intensi yang kuat untuk melakukannya walaupun jika ia memiliki sikap yang favorabel terhadap perilaku itu dan ia percaya bahwa orang-orang terdekatnya (important others) akan mendukung unjuk perilakunya itu. Hal ini menggambarkan bahwa asosiasi antara PBC dan Intensi tidak ditengahi oleh Sikap dan Norma Subjektif. Hal ini digambarkan oleh panah yang menghubungkan PBC dan Intensi (Ajzen, 2005). Hal penting kedua adalah posibilitas hubungan langsung antara PBC dan perilaku yang digambarkan dengan panah putus-putus. Dalam banyak kejadian unjuk, perilaku tidak hanya tergantung pada motivasi untuk melakukannya, namun juga pada kendali yang cukup kuat terhadap perilaku yang hendak diramalkan. Kontrol perilaku aktual (actual behavioral control) merupakan derajat sejauh mana seseorang memiliki keterampilan, sumber-sumber daya, dan prasyarat-prasyarat lain yang dibutuhkan untuk menampilkan

sebuah perilaku. Kesuksesan unjuk perilaku bergantung tidak hanya pada intensi yang favorabel, tetapi juga bergantung pada tingkat kendali perilaku yang cukup (sufficient). Sejauh PBC itu akurat, maka PBC juga dapat menjadi wakil (proxy) dari kontrol perilaku aktual, serta dapat digunakan untuk meramalkan terjadinya perilaku (Ajzen, 2006). Penelitian dewasa ini menunjukkan bahwa penambahan konstruk PBC secara umum sungguh-sungguh meningkatkan prediksi dari intensi dan perilaku, khususnya apabila perilaku yang dicakup merupakan perilaku yang tidak dapat dikontrol secara sempurna oleh individu (Semin & Fiedler, 1996).

Metode
Partisipan Populasi dalam penelitian ini adalah 120 mahasiswi aktif Universitas Mercu Buana Jakarta berusia 18-30 tahun. Sebelum melakukan pengambilan data lapangan melalui kuesioner penelitian, peneliti melakukan tahap elisitasi keyakinan-keyakinan yang menonjol (salient beliefs) dengan sampel terpakai sebanyak 40 orang. Desain dan Analisis Penelitian ini adalah ex post facto field study atau penelitian non-eksperimental. Penelitian ini menggunakan desain korelasional. Analisis regresi berganda (multiple regression) digunakan untuk melihat signifikansi prediksi variabel Sikap, Norma Subjektif dan Persepsi Kendali Perilaku/PBC terhadap Intensi wanita melakukan SADARI.

PERAN SIKAP, NORMA

167

Material dan Prosedur Penelitian ini menggunakan dua alat ukur. Alat ukur pertama digunakan pada tahap elisitasi untuk melihat salient beliefs tentang perilaku SADARI dari partisipan. Sedangkan alat ukur kedua adalah skala yang digunakan untuk mengukur determinan-determinan intensi (sikap, norma subjektif dan PBC) serta intensi melakukan SADARI. Tahap elisitasi diperlukan untuk mengidentifikasi keyakinan behavioral, keyakinan normatif dan keyakinan kendali yang dapat diakses. Elisitasi dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan partisipan deskripsi singkat mengenai SADARI. Kemudian partisipan diberikan kuesioner terbuka yang berupa serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku SADARI. Respons yang didapat dari partisipan digunakan untuk mengidentifikasi salient beliefs pribadi, yaitu keyakinan yang unik/menonjol dari masing-masing partisipan penelitian, atau untuk membangun sebuah daftar modal salient belief. Modal salient belief dijadikan dasar untuk membangun alat ukur kedua yang digunakan untuk mengukur Sikap, Norma Subjektif, PBC, dan Intensi. Tahap elisitasi ini dilakukan pada 57 orang dengan karakteristik yang sama dengan populasi, namun hanya 40 orang yang memenuhi syarat. Peneliti menggunakan daftar pertanyaan berdasarkan pedoman yang dicontohkan Ajzen (2006) untuk menggali salient beliefs partisipan. Berikut adalah daftar pertanyaan yang diajukan peneliti kepada partisipan penelitian: (1) Behavioral beliefs (“Apa sajakah keuntungan yang Anda yakini dengan melakukan SADARI?”, “Apa sajakah kerugian yang Anda yakini dengan melakukan

SADARI?”, “Adakah konsekuensi lain yang Anda hubungkan dengan melakukan SADARI?”), (2) Normative beliefs (“Siapa sajakah orang-orang/kelompok yang mendukung Anda melakukan SADARI?”, “Siapa sajakah orang-orang/kelompok yang menghambat Anda melakukan SADARI?”, “Siapa sajakah orang-orang/kelompok yang muncul dalam pikiran Anda saat Anda berpikir tentang melakukan SADARI?”), (3) Control Belief (“Faktor/keadaan apa sajakah yang akan membantu/memudahkan Anda melakukan SADARI?”, “Faktor/keadaan apa sajakah yang akan menyulitkan Anda atau tidak memungkinkan Anda melakukan SADARI?”, “Apakah ada hal lain yang muncul dalam pikiran ketika Anda berpikir tentang kesulitan melakukan SADARI?”). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang merupakan metode self-report, yakni partisipan diminta untuk memberikan respons sesuai dengan keadaan dirinya. Alat ukur ini berupa satu kuesioner, disusun berdasarkan panduan dari Ajzen (2006), yang terbagi menjadi 5 bagian, yaitu: Pertama, Skala Sikap yang terdiri atas 2 sub-skala, yaitu Behavioral Belief dan Outcome Evaluation. Skala Sikap uji coba terdiri atas 12 butir untuk masing-masing sub-skala (A1 = behavioral beliefs/keyakinan akan konsekuensi perilaku, dan A2 = outcome evaluation/penilaian terhadap hasil perilaku). Contoh pernyataan untuk skala A1: (1) SADARI akan memunculkan bayangan rasa takut telah terjadi suatu penyakit pada payudara saya, (2) SADARI memunculkan rasa dosa karena menimbulkan rangsangan, (3) SADARI hanya mendapatkan hasil yang tidak akurat mengenai kondisi payudara saya. Pilihan respons bergerak dari 1 (Sangat Tidak Setuju)

168

ARUM DAN MANGKUNEGARA

sampai dengan 7 (Sangat Setuju). Contoh pernyataan untuk skala A2: (1) Bagi saya, munculnya bayangan rasa takut telah terjadi suatu penyakit pada payudara saya …, (2) Bagi saya, munculnya rasa dosa akibat menimbulkan rangsangan pada badan ...., (3) Bagi saya, ketidakakuratan pengetahuan mengenai kondisi payudara …. Pilihan respons bergerak dari 1 (Sangat Buruk) sampai dengan 7 (Sangat Baik). Kedua, Skala Norma Subjektif uji coba terdiri atas 5 butir untuk masing-masing subskala (B1 = normative belief/keyakinan normatif, dan B2 = motivation to comply/motivasi untuk mengikuti norma). Contoh pernyataan untuk skala B1: (1) Sahabat saya akan menyetujui saya melakukan SADARI, (2) Ibu dan/atau ayah saya mengharapkan saya melakukan SADARI, (3) Pacar saya mendukung saya melakukan SADARI. Contoh pernyataan untuk skala B2: (1) Harapan ibu dan/atau ayah saya membuat saya melakukan SADARI, (2) Persetujuan sahabat saya meneguhkan saya melakukan SADARI, (3) Dukungan pacar saya memegang peran penting bagi tindakan saya melakukan SADARI. Ketiga, Skala Persepsi Kendali/PBC Perilaku uji coba terdiri atas 12 butir untuk masing-masing sub-skala (C1 = keyakinan kendali/control belief, dan C2 = power perceived/daya atau kekuatan yang dipersepsikan dari faktor kendali). Contoh pernyataan untuk skala C1: (1) Keadaan yang tenang dan sedang sendirian adalah keadaan yang mendukung untuk melakukan SADARI, (2) Waktu luang yang tersedia menjadi faktor pendukung untuk melakukan SADARI, (3) Mengingat langkah-langkah SADARI menjadi hal yang mendukung untuk melakukan SADARI. Contoh pernyataan untuk skala C2:

(1) Saya mampu menciptakan keadaan yang tenang dan sendirian untuk melakukan SADARI, (2) Waktu luang yang tersedia akan mendorong saya untuk melakukan SADARI, (3) Saya mampu mengingat langkah-langkah SADARI. Keempat, Skala Intensi uji coba (Skala D) terdiri atas 4 butir. Contoh pernyataan untuk skala D: Saya berniat untuk melakukan SADARI secara rutin minimal 1 (satu) kali dalam sebulan. Kelima, Kuesioner data diri (Kuesioner E) yang terdiri dari untuk mengetahui gambaran demografis dan psikografis partisipan penelitian. Selanjutnya, instrumen penelitian yang sudah teruji digunakan untuk penelitian lapangan yang melibatkan 120 partisipan. Semua tahapan ini dilakukan di lingkungan UMB. Partisipan pada tahap elisitasi, uji coba dan penelitian lapangan merupakan tiga kelompok partisipan yang berbeda. Artinya, partisipan yang sudah mengikuti salah satu tahap dipastikan tidak mengikuti tahap lainnya.

Hasil
Berdasarkan data, peneliti membagi usia partisipan menjadi 4 kelompok. Total jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 120 orang. Gambaran umum partisipan menunjukkan bahwa usia partisipan yang terbesar adalah pada rentang usia 18-20 tahun (40%) dan 21-23 tahun (42,50%), dengan M usia = 21,38 tahun dan SD = 0,25 tahun. Sedangkan kelompok usia terkecil berada di rentang usia 27-30 tahun (6,67%). Berdasarkan data, seluruh partisipan tidak pernah menderita kanker payudara dan tidak ada keluarga intinya juga bukan penderita kanker. Jumlah partisipan penelitian yang terkena paparan pengetahuan SADARI dan yang tidak pernah terkena

PERAN SIKAP, NORMA

169

paparan pengetahuan SADARI jumlahnya hampir seimbang. Yang pernah terpapar pengetahuan SADARI sebanyak 46,67% dan yang tidak pernah terpapar sebanyak 53,33%. Hasil uji validitas dan reliabilitas alat ukur adalah sebagai berikut: (1) Skala Sikap menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ = 0,771) setelah mengeliminasi 2 butir yang tidak valid, (2) Skala Norma Subjektif menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ = 0,876) tanpa mengeliminasi satu butir pun, (3) Skala PBC ini menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ = 0,877) setelah mengeliminasi 5 butir yang tidak valid, (4) Skala Intensi ini menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (/ = 0,855) tanpa mengeliminasi satu butir pun. Sebelum dilakukan analisis regresi, diuji terlebih dahulu korelasi antara masing-masing variabel bebas (prediktor) dengan variabel terikat (kriterion). Hasil menunjukkan terdapat korelasi Pearson antara Sikap, Norma Subjektif, dan PBC dengan Intensi masingmasing dengan p < 0,01. Artinya bahwa seluruh prediktor/variabel bebas dapat menjadi kandidat model regresi berganda. Selanjutnya, dilakukan analisis regresi berganda, dengan hasil sebagai berikut. Sebagaimana nampak dalam Tabel 1, regresi berganda menunjukkan hasil koefisien determinasi ganda R2 = 0,313, F(3; 230,771) = 17,618; p < 0,01. Hal ini berarti bahwa 31,3% dari variasi Intensi dapat dijelaskan oleh Sikap, Norma Subjektif, dan PBC sebagai prediktornya; sedangkan variasi sisanya dijelaskan oleh prediktor lain yang tidak diperhitungkan dalam penelitian ini. Berdasarkan koefisien Beta pada Tabel 1, penelitian ini menemukan bahwa Sikap (ß = 0,202; p < 0,05) secara sendirian signifikan untuk memprediksi Intensi. Temuan
P P

penelitian ini mengandung makna bahwa semakin positif Sikap untuk melakukan SADARI, maka Intensi untuk melakukan SADARI semakin tinggi pula. Selanjutnya, Norma Subjektif (ß = 0,124; p > 0,05) secara sendirian tidak signifikan untuk memprediksi Intensi. Persepsi Kendali Perilaku/PBC (ß = 0,426; p < .05) secara sendiri signifikan memprediksi Intensi. Temuan penelitian ini mengandung makna bahwa semakin tinggi persepsi kendali perilaku/PBC untuk melakukan SADARI, maka Intensi melakukan SADARI semakin tinggi pula. Untuk mengetahui kontribusi efektif dari masing-masing prediktor, dilakukan analisis regresi ganda stepwise. Sebagaimana nampak dalam Tabel 2, hasil menunjukkan bahwa: (1) Sumbangan efektif prediktor Sikap dan PBC secara bersama adalah 30,5%, berdasarkan hasil R2 = 0,305; (2) Sumbangan efektif prediktor PBC adalah 26,5%, berdasarkan hasil R2 = 0,265; (3) Sumbangan efektif prediktor Sikap adalah 4%. Hal ini diperoleh dari 30,5% (kontribusi Sikap dan PBC) dikurangi dengan 26,5% (kontribusi PBC); (4) Sumbangan efektif prediktor Norma Subjektif adalah 0,8%. Hal ini diperoleh dari 31,3% (kontribusi Sikap, PBC, Norma Subjektif) dikurangi dengan 30,5% (kontribusi Sikap dan PBC). Jadi, sumbangan efektif terbesar dalam memprediksi Intensi berasal dari PBC, yakni 26,5%. Dengan perkataan lain, sumbangan relatif prediktor ini dibandingkan dengan prediktor lainnya adalah sebesar 84,67% (yaitu: proporsi 26,5% dari 31,3%).
P P P P

Diskusi, Kesimpulan, dan Saran
Penelitian ini menemukan bahwa Sikap, Norma Subjektif dan PBC secara interaksional berpengaruh dalam memprediksi intensi wanita

170

ARUM DAN MANGKUNEGARA

Tabel 1. Hasil Analisis Regresi Ganda untuk Memprediksi Intensi (n = 120) Variabel B SE B Sikap .013 Norma subjektif .009 Persepsi kendali perilaku .028 2 ** Catatan. R = .559; R = .313; F = 17.618 , df = (3, 230.771)
P P P P

ß .005 .008 .007 .202* .124 .426**
P P

**
P P

p < .01.

Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Ganda dengan Metode Stepwise Model R R2 Adjusted R2 1 .515a .265 .259 b 2 .552 .305 .293 a. Prediktor: (Constant), Persepsi_Kendali b. Prediktor: (Constant), Persepsi_Kendali, Sikap
P P P P

Std. Error of the Estimate 3.71092 3.62573

untuk melakukan SADARI. Hal ini sekali lagi mengkonfirmasi keberlakuan teori perilaku terencana (planned behavior) yang dikemukakan oleh Ajzen (1991, dalam Mason & White, 2008). Hasil penelitian ini juga memperlihatkan bahwa Norma Subjektif secara sendirian tidak bermakna dalam memprediksi intensi wanita melakukan SADARI. Hal ini dapat dipahami dan dijelaskan dengan mempertimbangkan fakta bahwa sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah para wanita dewasa muda yang hidup di kota besar metropolitan Jakarta. Emile Durkheim (1960) mengungkapkan bahwa perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma, yang akhirnya mengakibatkan runtuh atau simpang siurnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Hal ini disebut sebagai kondisi anomi. Norma dan nilai dengan demikian menjadi relatif, khususnya dalam Era Posmodern sekarang ini (Bauman, 1993).

Maka, tidak mengherankan apabila Sikap dan PBC yang lebih memiliki lokus pada pribadi, apabila diperbandingkan dengan Norma Subjektif yang lebih memiliki lokus pada significant others dan tokoh panutan, dalam penelitian ini ditemukan lebih memegang peranan dalam menentukan intensi wanita melakukan SADARI. Besarnya kontribusi relatif PBC, yakni 84,67% kembali mengkonfirmasi bahwa pemikiran pribadi, dibandingkan dengan pemikiran orang lain dalam Norma Subjektif, memegang peran yang penting. Temuan penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian-penelitian sebelumnya yang mengaplikasikan teori perilaku terencana. Misalnya, Armitage dan Conner (2001, dalam Hagger & Chatzisarantis, 2005) mengungkap bahwa Norma Subjektif memang memainkan peran dengan bobot yang kurang dalam hal memprediksi Intensi, apabila dibandingkan dengan peran Sikap dan Persepsi Kendali Perilaku. Menurut mereka, hal ini mungkin

PERAN SIKAP, NORMA

171

disebabkan karena orang-orang yang membentuk Intensi berdasar atas norma-norma, yang disebut sebagai “orang-orang yang dikendalikan secara normatif” (normatively controlled individuals) merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat. Oleh karena itu, untuk mayoritas orang, target intervensi untuk memodifikasi niat wanita untuk melakukan SADARI bukanlah Norma Subjektifnya melainkan Sikap dan Persepsi Kendali Perilakunya. Selanjutnya, menurut Ajzen (1991, dalam Hagger & Chatzisarantis, 2005), Sikap dan Persepsi Kendali Perilaku dapat diubah dengan memodifikasi sistem keyakinan dominan yang mendasarinya (underlying belief systems, modal salient belief). Yang dimaksud dengan “modal belief” dalam hal ini adalah keyakinankeyakinan yang terungkap dengan frekuensi yang cukup tinggi terkait dengan target perilaku (SADARI) dalam populasi yang diteliti. Oleh karena itu, apabila hasil penelitian ini hendak ditransfer penerapannya dalam populasi wanita yang lain (suku bangsa lain, jenjang pendidikan yang lain, daerah/wilayah yang lain, kelompok usia yang lain), maka konsekuensinya adalah bahwa pengguna (user) hasil penelitian ini hendaknya kembali melakukan elisitasi sistemsistem keyakinan yang menonjol dalam populasi yang bersangkutan. Dengan perkataan lain bahwa penelitian ini memberikan temuan yang penting bahwa Sikap dan Persepsi Kendali Perilaku serta interaksi Sikap-Persepsi Kendali Perilaku-Norma Subjektif memainkan peran dalam meramalkan intensi. Namun demikian, dalam rangka intervensi sosial, sistem keyakinan dalam populasi harus diidentifikasi kembali, agar intervensi efektif. Untuk populasi dengan karakteristik seperti dalam penelitian ini, dalam hal mana sikap

wanita melakukan SADARI adalah lemah (secara sendirian), maka menarik sekali untuk merancang intervensi dalam rangka melakukan perubahan sikap ini. Untuk konstruk yang sudah kuat, misalnya dalam penelitian ini adalah Persepsi Kendali Perilaku, maka urgensi kebutuhan untuk melakukan intervensi justru tidak begitu penting. Dengan perkataan lain, penelitian ini memberikan tantangan terapan untuk merancang intervensi pengubahan sikap. Dalam hal ini, Ajzen (1991, dalam Hagger & Chatzisarantis, 2005) mengungkapkan bahwa penampilan persuasif dan komunikasi persuasif merupakan intervensi yang cukup efektif.

Bibliografi
10 besar kanker tersering di RS Kanker Dharmais rawat jalan (kasus baru) tahun 2007. (2007). Diakses dari http://www.dharmais.co.id/index.php/statisti c-center.html pada 10 Desember 2009. Ajzen, I. (2005). Attitudes, personality, and Ed.). Milton-Keynes, behavior (2nd England: Open University Press/McGrawHill. Ajzen, I. (2006). Constructing a TPB questionnaire: Conceptual and methodological considerations. Diakses dari http://people.umass.edu/aizen/pdf/tpb.measu rement.pdf pada pada 10 Desember 2009. Albarracin, D., Blair, T. J. & Zanna, M. P. (2005). The handbook of attitudes. Dalam Ajzen, I. & Fishbein, M., The Influence of attitudes on behavior. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. Azwar, S. (2003). Sikap manusia: Teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bauman, Z. (1993). Postmodern ethics. Oxford:
HT TH P P HT TH

172

ARUM DAN MANGKUNEGARA

Blackwell Publishers Ltd. Brown, C. (2006). Social psychology. London: Sage Publications. Damanik, C. (2008). Deteksi kanker payudara sendiri pun bisa!. Diakses dari http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/ 12/13331334/deteksi.kanker.payudara.sendi ri.pun.bisa pada 10 Desember 2009. Dicanangkan, program nasional deteksi kanker rahim dan payudara. (2008, 21 April). Dicanangkan, Program Nasional Deteksi Kanker Rahim dan Payudara. Kompas. Diakses dari http://www.kompas.com/read/xml/2008/04/ 21/09585380/dicanangkan.program.nasionai .deteksi.kanker.rahim.dan.payudara pada 10 Desember 2009. Durkheim, E. (1960). The Division of Labor in Society. (G. Simpson, Penerj.) New York: The Free Press. Hagger, M., & Chatzisarantis, N. (2005). Social psychology of exercise and sport. Berkshire: Open University Press. Jika tidak dikendalikan 26 juta orang di dunia menderita kanker. (2010) Diakses dari http://www.depkes.go.id/index.php/berita/pr ess-release/1060-jika-tidak-dikendalikan26-juta-orang-di-dunia-menderita-kanker.html pada 10 Januari 2010. Mason, T. E., & White, K. M. (2008). The role of behavioral, normative and control beliefs in breast self-examination. Women & Health, 47(3), 39-46. Most frequent cancers: Women. (2010). Globocan 2008 Fast Stats. Diakses dari http://globocan.iarc.fr/factsheets/population s/factsheet.asp?uno=360#WOMEN pada 10 Januari 2010. O'Connor, R.C. & Armitage, C.J. (2003). Theory of planned behaviour and
HT TH HT T HT TH HT TH

parasuicide: An exploratory study. Current Psychology, 22, 247-256 Sarwono, S. W. (2002). Psikologi sosial: Individu dan teori-teori psikologi sosial. Jakarta: Balai Pustaka. Semin, G. R. & Fiedler, K. (1996). Applied social psychology. London: Sage Publications.

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 173–189

ISSN 2085-4242

Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial
Juneman
Ikatan Psikologi Sosial, Himpunan Psikologi Indonesia
The writer of this article tried to clear up urban transport problems using social psychology approach. The first major problem is about traffic jam, which is analyzed by the concept of Tragedy of the Commons (Hardin, 1968). The second major difficulty is the traffic accidents which are analyzed by the risk theories of Wilde (1982, 1998), Summala (1974, 1997), and Fuller (2000). The writer also delivers the influence of illusion of control, optimism bias, and locus of control on risk taking decision. Moreover, the writer offers three solutions for each of the problems and the solutions are intended for individual level, cultural level and structural level. It is expected that this writing will give a theoretical contributions in the subject of transportation psychology in Indonesia. Transportation psychology is a relatively new field of applied psychology in Indonesia, and there is not much yet attention and development given to this particular subject. It is also expected that this writing gives ideas for transportation policies made by the governmental officers, especially in Indonesia's big cities. Keywords: traffic-jam, traffic accidents, transportation psychology, tragedy of the commons, risks theory, urban transport policies

Dua masalah utama yang sering terjadi pada dunia transportasi di kota besar, seperti Jakarta, adalah (1) kemacetan, dan (2) kecelakaan lalu lintas. Ungkapan Cahyo Wardana, warga Pamulang, Tangerang Selatan berikut ini (“Jakarta Mengarah”, 2009) mewakili keluhan hampir seluruh warga kota besar mengenai permasalahan yang pertama:
Saya ini kerja di kota, tetapi pola berangkatnya seperti petani di desa. Sebelum matahari terlalu tinggi, saya harus segera meninggalkan rumah. Saya harus meninggalkan rumah sebelum pukul 06.00
173

agar dapat sampai di kantor sebelum pukul 08.00. Jika berangkat sesudah pukul 06.20, saya butuh waktu tiga jam untuk menempuh perjalanan 27 kilometer ke kantor.

Menurut Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia, Bambang Susanto (2006), berkebalikan dengan keyakinan umum, untuk pusat kota, yang diperlukan adalah mengelola kebutuhan (transport demand management) dan bukannya menambah jalan baru. Jalan baru di tengah kota dianggap akan membangkitkan lalu lintas baru (latent

174

JUNEMAN

demand), yang pada akhirnya justru akan menambah kemacetan. Permasalahan lainnya adalah kecelakaan lalu lintas. Angka kecelakaan lalu lintas pada 2009 mencapai 19.000 kasus. Menurut Menteri Perhubungan Jusman Sfafii Djamil di Jakarta (“Angka Kecelakaan”, 2009), jumlah ini naik dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 18.000 kasus. Sebanyak 70 persen penyumbang kecelakaan adalah kendaraan roda dua. Berdasarkan data yang diperoleh dari Polda Metro Jaya, sedikitnya empat orang tewas setiap harinya akibat kecelakaan lalu lintas di Jakarta, dan setiap harinya terjadi sekitar 20 kasus kecelakaan di seluruh wilayah Jakarta (“Di Jakarta”, 2009). Umumnya korban kecelakaan merupakan pengendara sepeda motor. Sementara itu, angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus Trans Jakarta (busway) mengalami peningkatan tiap tahun, dalam hal mana angka kecelakaan hingga Oktober 2009 menembus 268 kasus (“Sepanjang 2009”, 2009). Faktor utamanya adalah semua koridor busway tidak steril karena dimasuki kendaraan lain. Mencermati fenomena transportasi kota di atas, psikologi sosial sebagai "Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari rangsang-rangsang sosial" (Shaw & Costanzo, 1970) sangat berkepentingan untuk memainkan perannya dalam memahami (dalam dimensi ontologis) sekaligus menawarkan pemecahan masalah (dalam dimensi aksiologis) atas “permasalahan kronis” yang menjangkiti kota-kota besar di Indonesia tersebut.

Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas merupakan salah satu

masalah utama dalam dunia transportasi di kota besar. Waktu tempuh untuk jarak yang sama dari waktu ke waktu mengalami penambahan. Masalah klasiknya adalah bahwa pertambahan jalan tidak sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Sebagai contoh, angka kepemilikan sepeda motor setiap tahunnya mengalami kenaikan yang signifikan. Jika pada 2005 jumlah sepeda motor mencapai 4,4 juta unit, kini di tahun 2009 jumlah kendaraan roda dua ini naik menjadi 7,3 juta unit (“Di Jakarta”, 2009). Pada kebanyakan wilayah, jalan memang merupakan milik bersama warga kota (public goods) yang bebas digunakan oleh siapa saja. Namun, kerap kali jalan digunakan secara tidak tertib sehingga mengurangi nilainya bagi setiap orang. Setiap orang ingin menggunakan jalan secara berlebihan. Sementara itu, tidak ada insentif finansial sekecil apapun sekiranya orang tidak melakukan penggunaan jalan secara berlebihan. Setiap individu berupaya untuk tiba di tempat tujuannya dengan kendaraannya secepat mungkin dengan melalui rute-rute tercepat. Pada awalnya, setiap tambahan pengendara di jalan tidak memperlambat lalu lintas. Hal ini karena terdapat kemungkinan momen-momen “kelancaran lalu lintas kecilkecil” yang cukup untuk menampung pengendara tambahan. Kendati demikian, pada sejumlah fase kritis, setiap tambahan pengendara mengakibatkan pengurangan kecepatan rata-rata dari semua kendaraan. Pada akhirnya, terdapat terlalu banyak pengendara sehingga lalu lintas padat-merayap. Masalah ini dapat ditinjau dari kacamata psikologi sosial sebagai contoh modern dari gejala The Tragedy of the Commons (Tragedi Bersama) yang dikemukakan oleh Garret Hardin (1968). Guna memahami Tragedi

MASALAH TRANSPORTASI

175

Bersama, mari kita simak ilustrasi berikut ini. Bayangkan diri Anda berada dalam sebuah lingkungan pedesaan dengan kampungkampung yang dikelilingi oleh padang rumput di mana para gembala dapat bebas menggembalakan dombanya. Padang rumput, yang merupakan tempat bersama (the commons) itu, tersedia bagi semua gembala tanpa pembatasan. Bayangkan bahwa padang rumput tersebut menampung domba-domba dalam jumlah maksimum tertentu. Terdapat jumlah rerumputan yang cukup untuk seluruh domba tersebut untuk terberi makan dengan baik. Menambahkan satu domba lagi saja akan mengurangi jumlah makanan bagi dombadomba yang lain. Namun demikian, tiap-tiap gembala berpikir bahwa meningkatkan jumlah gembalaannya akan merupakan hal yang menguntungkan. Lebih banyak domba yang digembalakan berarti dapat dihasilkan lebih banyak wol dan lebih banyak penghasilan bagi gembala. Terdapat pula kerugian bila hal ini dilakukan, yakni jumlah makanan akan berkurang sedikit bagi domba-domba yang lain, termasuk domba gembalaannya sendiri. Namun, ketidakuntungan ini kelihatannya kecil karena tersebar merata diantara domba-domba. Jadi, dari sudut pandang masing-masing gembala, perolehan yang didapatnya besar, sementara kerugian yang diakibatkan oleh tindakannya adalah kecil. Tragedi terjadi ketika semua gembala melakukan hal yang sama, karena “kerugian yang kecil-kecil” tadi kemudian lalu meningkat menjadi “bencana” bagi setiap orang. Berdasarkan kacamata psikologi sosial di atas, maka setiap pengendara yang (1) berupaya untuk mencari jalan pintas atau jalan tercepat, (2) tidak mau berkorban untuk melalui jalan dengan rute normal atau yang agak lebih

panjang, (3) mencoba mengambil keuntungan dengan melanggar lampu lalu lintas saat tidak ada polisi yang mengawasi, (4) “tidak mau rugi” dengan menggunakan setiap ruas jalan apapun yang bisa digunakan (termasuk trotoar pejalan kaki) untuk dilalui atau pun untuk tempat parkir, (5) setuju untuk memanfaatkan jasa pungli (pungutan liar) untuk mempercepat waktu tempuh, demikian juga (6) penggunaan kendaraan individual yang bersifat masif (tidak mau beralih menggunakan transportasi masal umum) sementara tidak selalu ada pertambahan jalan, (7) supir angkutan umum yang ngetem beberapa saat untuk mencari penumpang, maupun (8) calon penumpang yang memberhentikan kendaraan umum bukan di halte yang semestinya, sesungguhnya telah bersama-sama “berkonspirasi” untuk menjamin waktu tempuh berkendara yang lebih panjang bagi setiap orang. Puncak tragedi bersama yang dapat kita bayangkan adalah bahwa semua kendaraan di Jakarta akan terjebak kemacetan sesaat setelah keluar dari rumah pada tahun 2014 (“Jakarta Mengarah”, 2009).

Kecelakaan Lalu Lintas
Kecelakaan lalu lintas dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, misalnya kondisi kendaraan, lingkungan, dan pengendara, serta interaksi antar faktor-faktor tersebut. Namun demikian, karakteristik pengendara menyumbang proporsi terbesar. Hal ini sesuai dengan analisis Lewin (1982), bahwa faktor manusia berkontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas sampai dengan 90%. Tidak semua kecelakaan ini disebabkan oleh kekhilafan atau kekeliruan (error). Seringkali pengendara secara sengaja menyimpang dari perilaku

176

JUNEMAN

berkendara yang aman (Reason, Manstead, Stradling, Baxter, & Campbell, 1990). Penyimpangan ini mungkin disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti misalnya kebutuhan sehari-hari (misalnya: berupaya untuk memenuhi janji di suatu tempat), karakteristik kepribadian (misalnya: kepribadian yang suka mencari sensasi), motivasi, dan bias-bias kognitif. Penyimpangan dari perilaku berkendara yang aman ini meningkatkan risiko sampai ke titik yang tidak terduga, bergantung pada komponen atau sifat dari peristiwa kecelakaan itu sendiri. Risiko dan perubahan perilaku yang dihasilkannya merupakan konsep inti dalam penelitian tentang keamanan (safety). Risiko adalah setiap situasi yang dapat berakhir dengan hasil negatif, dan melibatkan dua komponen, yakni (1) kemungkinan hasil negatif, dan (2) tingkat beratnya hasil negatif (van der Pligt, 1996). Dalam mempelajari risiko, konstruk ini biasanya dipelajari sebagai sebuah konstruk subjektif dan multi-aspek. Penelitian-penelitian psikometris pada akhir 1970-an (Fischoff, Slovic, Lichtenstein, Read, & Combs, 1978; sebagaimana dikutip dalam Kobbeltvedt, Brun, & Laberg, 2004) membuktikan adanya sembilan aspek dari persepsi risiko, yakni (1) ketidaksengajaan paparan (involuntariness of exposure), (2) kesegeraan akibat (immediacy of effects), (3) ketiadaan pengetahuan yang akurat mengenai tingkat risiko (lack of precise knowledge about risk levels), (4) ketiadaan pengetahuan ilmiah (lack of scientific knowledge), (5) ketidakmampuan mengendalikan (uncontrollability), (6) kebaruan (newness), (7) potensi katastrofik (catastrophic potential), (8) perasaan cemas atau takut (feeling of dread), dan (9) konsekuensi mematikan (fatal consequences). Kesembilan

aspek ini dapat dirunut kepada dua faktor, yakni (1) risiko yang ditakuti (dread risk), dan (2) risiko yang tidak diketahui (unknown risk). Risiko yang ditakuti dicirikan oleh persepsi tentang aspek no. (5), (7), (8), dan (9). Risiko yang tidak diketahui dicirikan oleh bahaya yang tidak teramati, bahaya yang tidak diketahui, serta bahaya baru. Faktor risiko yang ditakuti ditemukan berkorelasi tinggi dengan persepsi risiko apabila dibandingkan dengan faktor risiko yang tidak diketahui. Pada masa yang lalu, pendekatan yang dilakukan untuk mengurangi kecelakaan utamanya difokuskan pada ukuran-ukuran rancang-bangun. Dengan perkataan lain, dengan memperbaiki atau meningkatkan infrastruktur, merancang jalan-jalan yang lebih aman, serta mewajibkan penggunaan sabuk pengaman dan helm SNI, diharapkan mengurangi tingkat fatalitas kecelakaan sampai derajat tertentu. Lebih jauh lagi, tindakan-tindakan regulatif juga dilakukan dengan menjadikan penggunaan sabuk pengaman sebagai kewajiban, pembatasan jumlah alkohol yang diperbolehkan ketika berkendara, serta pembatasan kecepatan laju kendaraan. Namun demikian, baik intervensi rancang-bangun maupun pengaturanpengaturan hukum dapat berinteraksi dengan efek pilihan-pilihan pribadi pengendara serta pilihan-pilihan yang tidak diniatkannya dalam mempengaruhi perilaku berkendaranya (Rothengatter, 2002). Dengan perkataan lain, faktor manusia tidak dapat dikontrol tanpa upaya untuk memahami faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi perilaku pengendara dan persepsi pengendara. Pengendara mengadaptasikan perilaku mereka menurut kebutuhan situasi dengan mempertimbangkan persepsi risiko dan persepsi tuntutan tugas mereka (Rothengatter &

MASALAH TRANSPORTASI

177

Huguenin, 2004). Menurut Schlag (1999), pencegahan kecelakaan serta peningkatan keamanan berlalu lintas ini termasuk dalam area psikologi transportasi dan lalu lintas. Terdapat tiga teori yang mengupas perilaku kompensatori pengendara: (1) Risk homeostasis theory (teori homeostasis risiko) dari Wilde (1982), (2) Zero risk theory (teori nol risiko) dari Summala (1974)—yang selanjutnya berkembang menjadi model hierarkis tentang adaptasi perilaku (1997), dan (3) Task capability model (model kapabilitas tugas) dari Fuller (2000). Kompensasi risiko (risk compensation) merupakan perilaku adaptif dalam merespons perubahan-perubahan dalam risiko yang dipersepsikan seseorang. Apabila orang meyakini bahwa risikonya meningkat, maka ia akan mengambil tindakan pengamanan untuk mengurangi efek negatif dari situasi yang melibatkan risiko. Sebaliknya, jika orang mempersepsikan risiko itu rendah dan merasa aman, ia akan berperilaku kurang waspada serta siap menghadapi atau berkonfrontasi dengan situasi bahaya. Persoalan pokok dalam kompensasi risiko adalah persepsi tentang perubahan dalam tingkat risiko, yang akan menghasilkan perubahan perilaku (Hedlund, 2000). Bilamana pengendara merasa memiliki kebutuhan untuk mengadaptasikan perilaku mereka? Teori Homeostatis Risiko Gerald J. S. Wilde dalam Teori Homeostatis Risiko (1982) menghipotesiskan bahwa kita semua memiliki “tingkat risiko sasaran” (target risk level) serta mengukur risiko seperti sebuah termostat risiko. Perilaku berisiko melibatkan untung-rugi (costs and benefits). Tingkat risiko

sasaran merupakan keuntungan bersih (net benefit) dari risiko yang diniatkan (intended risk). Dengan perkataan lain, tingkat risiko sasaran merupakan fungsi utilitas/kegunaan ekonomis dalam rangka memaksimalkan pencapaian bersih yang dikaitkan dengan dugaan kerugian dan keuntungan dari alternatif berisiko serta alternatif aman. Teori ini berasumsi bahwa orang membuat penilaian tentang risiko secara berkelanjutan. Apabila risiko yang dipersepsikan (perceived risk, subjective risk) tidak kongruen dengan tingkat risiko sasaran (target risk), maka orang akan mengadaptasikan perilaku mereka untuk memperkecil bahkan menghapus kesenjangan (sampai dengan nol) di antara keduanya. Jadi, apabila tingkat risiko yang dipersepsikan (subjective risk) lebih rendah daripada yang dapat diterimanya, maka orang cenderung untuk terlibat dalam tindakan yang meningkatkan keterpaparan mereka terhadap risiko. Misalnya, apabila saat berkendara, hari mulai hujan, maka orang akan melambatkan kendaraannya untuk mengurangi kemungkinan celaka. Namun, apabila matahari bersinar kembali, mereka akan mempercepat laju kendaraannya sampai dengan titik di mana mereka merasa nyaman; hal ini menggambarkan tingkat risiko sasaran mereka. Contoh lainnya adalah pada tingkah laku pengendara melintasi rel kereta. Pada saat pengendara melihat dari jauh bahwa palang lintasan kereta belum benar-benar menutup (atau bahkan tidak ada palang), pengendara akan memiliki suatu peningkatan persepsi keamanan (penurunan persepsi risiko bahaya) untuk melintasi rel kereta. Persepsi tersebut akan berimplikasi pada peningkatan kecepatan, yang hasilnya adalah suatu persepsi subjektif keuntungan (dapat berhasil melintasi rel) yang

178

JUNEMAN

sesungguhnya justru secara objektif tidak aman. Teori Wilde mencakup sebuah lingkaran umpan balik (feedback loop) antara perilaku dan pencapaian (outcome), sebagaimana nampak dalam Gambar 1. Dengan demikian, perilaku pengendara yang penuh kehati-hatian tercermin dalam tingkat kerugian (injury rate), sementara tingkat kerugian juga tercermin dalam perilaku pengendara. Risiko sasaran merupakan konsep kunci dalam kausalitas sirkular ini. Teori ini menyatakan bahwa untuk mengurangi tingkat kerugian (meningkatkan perilaku aman), maka tingkat risiko sasaran yang ingin diambil oleh seseorang harus dikurangi (Wilde, 1998). Teori Nol-Risiko

keeping), menyeberang (crossing management), dan bermanuver (maneuvering). Tingkat pemrosesan psikologis ini membedakan antara kontrol perseptual-motor dan pengambilan keputusan serta tingkat pemantauan (supervisory monitoring level). Model ini menyatakan bahwa “semakin tinggi tugas dalam taksonomi fungsional, semakin sering pengambilan keputusan sadar dan pemantauan diterapkan”. Kontrol perhatian (attention control) berada di antara kedua proses tersebut dan diterapkan baik top-down maupun bottomup. Kontrol kecepatan dan kontrol waktu terletak di tengah kubus karena kedua faktor ini menentukan mobilitas dan merupakan tujuan motivasional utama berkendara. Model Kapabilitas Tugas

Teori nol-risiko berfokus pada determinan motivasional, khususnya penilaian risiko subjektif pengendara dan perilaku kompensatori yang ingin diambil oleh mereka (Naatanen & Summala, 1974). Summala memperluas pendekatan teoretis nol-risiko pengendara dari sejumlah aspek. Model hierarkis adaptasi perilaku tugas pengendara dari Summala mempertimbangkan perubahan dalam sistem lalu lintas (changes in the traffic system) dalam menilai reaksi pengendara. Model ini dibangun dari kubus tugas tiga-dimensi (Summala, 1997). Model ini memandang tugas berkendara (driving task) sebagai interaksi antara (a) hierarki fungsional, (b) tingkat pemrosesan, dan (c) taksonomi fungsional. Dimensi hierarki fungsional memiliki kisaran dari kontrol kendaraan sampai dengan keputusan pergi (trip decisions) dan pilihan kendaraan. Dimensi taksonomi fungsional perilaku mencakup keterampilan berkendara, seperti melewati liukan jalan (lane

Model kapabilitas tugas dari Fuller (2000) membedakan antara kompetensi pengendara dan kapabilitas pengendara. Kompetensi merupakan pencapaian keterampilan pengendara, yang mencakup keterampilan kontrol, keterampilan persepsi bahaya, dan keterampilan antisipasi serta defensif. Kapabilitas merupakan kemampuan pengendara untuk mentransfer tingkat kompetensinya dalam situasi tertentu. Sejumlah besar hasil penelitian yang dipublikasi dalam jurnal-jurnal, seperti Accident Analysis and Prevention, Ergonomics, Safety Science, Human Factors, dan Transportation Research, menggambarkan keterbatasan umum manusia dalam hal: persepsi pengendara, pengambilan keputusan pengendara, dan eksekusi respons. Jurnal-jurnal tersebut menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor individual dan faktor temporer yang dapat juga mempengaruhi seberapa efektif dan seberapa

MASALAH TRANSPORTASI

179

aman pengendara melakukan tugas mereka. Faktor-faktor tersebut mulai dari pendidikan dan pengalaman, alkohol dan agresi, sampai dengan kantuk dan stres. Faktor-faktor itu juga berkontribusi terhadap instabilitas kinerja pengendara, dan dapat berinteraksi dengan motivasi sesaat dari pengendara. Mengendarai kendaraan dapat digambarkan sebagai tugas kendali dinamis (dynamic control task) dalam hal mana pengendara harus menyeleksi informasi yang relevan dari sejumlah besar masukan visual, untuk membuat keputusan dan menjalankan respons kendali yang tepat guna mencapai mobilitas yang aman. Meskipun terdapat situasi-situasi di mana pengendara harus bereaksi terhadap sejumlah peristiwa tak terduga (misalnya, seorang anak yang tiba-tiba keluar dari belakang sebuah kendaraan yang sedang diparkir), namun utamanya pengendara menjalankan tindakan yang direncanakan yang dibentuk oleh harapanharapan mereka tentang bentangan jalan, pejalan kaki, dan skenario lalu lintas di depan mereka, serta realitas yang mereka amati secara aktual. Dari Gambar 2 di atas, kita dapat melihat faktor-faktor kuncinya adalah lingkungan, yang disusun oleh jalan dan kondisi fisik seperti adhesi permukaan dan visibilitas jalan, pengguna jalan yang lain dengan siapa pengendara mungkin berinteraksi, serta tampilan/display informasi, kontrol, dan karakteristik operasional dari kendaraan yang dikendalikan oleh pengendara. Pengendara sendiri memiliki dua unsur tugas yang penting, yakni posisi di jalan dan kecepatan. Pada saat melaksanakan tugasnya, pengendara membawa dalam dirinya karakteristik konstitusional tertentu, kapabilitas biologis yang menjadi unsur kinerja individual.

Misalnya, ambang stimulus (jumlah energi minimum dalam sebuah stimulus yang dibutuhkan untuk dapat dideteksi kehadirannya oleh pengendara), kecepatan pemrosesan informasi, waktu reaksi, dan ketajaman penglihatan. Banyak dari unsur-unsur ini bervariasi secara sistematis sebagai fungsi dari usia. Berdasarkan karakteristik konstitusional ini, pengendara juga membawa dalam dirinya pengetahuan dan keterampilan yang berasal dari pendidikan dan pelatihan, yang dikembangkan dan diasah dengan pengalaman kumulatif. Secara bersama-sama, pendidikan dan pelatihan serta pengalaman kumulatif ini menentukan batas atas dari kapabilitas pengendara, yang disebut sebagai kompetensi pengendara. Namun demikian, pengendara tidak selalu mampu untuk beroperasi pada tingkat kompetensi ini. Yang dapat dilaksanakan oleh pengendara pada momen waktu tertentu dapat dipengaruhi oleh sejumlah variabel yang disebut faktor-faktor manusia (human factors). Faktor-faktor ini mencakup kelelahan, kantuk, emosi, stres, distraksi, efek alkohol dan obatobatan, serta motif-motif (seperti agresi). Faktor-faktor manusia tersebut berinteraksi dengan kompetensi pengendara untuk menghasilkan kapabilitas (Fuller & Santos, 2002). Gambar 3 dan Gambar 4 berturut-turut menunjukkan tuntutan tugas pengendara dan kapabilitas pengendara. Apabila kita mengintegrasikan kedua gambar tersebut, maka dapat dihasilkan model jembatan antar keduanya, yang kita sebut task-capability interface model (model jembatan tugaskapabilitas), sebagaimana nampak dalam Gambar 5. Berdasarkan model ini, apabila kapabilitas melampaui tuntutan tugas, maka pengendara

180

JUNEMAN

mampu untuk melaksanakan tugasnya secara aman. Namun jika kapabilitas lebih rendah daripada tuntutan tugas, maka akan terjadi tabrakan atau kehilangan kendali. Perkecualian terhadap hal ini adalah ketika pengguna jalan yang lain membuat manuver defensif atau meloloskan diri, misalnya seorang pejalan kaki melompat keluar dari jalan yang sedang dilalui kendaraan si pengendara yang kehilangan kontrol ini. Manuver semacam itu mengubah secara efektif tuntutan tugas pada sebuah momen kritis. Pertanyaan berikutnya adalah, setelah kita mengetahui unsur-unsur kunci yang berkontribusi terhadap model ini, lalu apakah yang memberikan energi kepada model ini? Apakah yang membuat model ini bergerak? Guna menjawab pertanyaan ini, Fuller menyampaikan sebuah hipotesis kerja sebagai berikut. Bahwa untuk hampir seluruh waktunya, pengendara berkendara sedemikian rupa untuk mencapai mobilitasnya, untuk mencapai tujuan perjalanannya, dan sementara itu memastikan bahwa kesulitan tugas tetap berada dalam batasbatas yang dapat diterima. Jadi, apabila hal-hal menjadi sangat hectic (sibuk dan cepat) di jalan, terlalu menuntut, maka pengendara akan melambatkan laju kendaraannya. Apabila tugas terlampau mudah, maka pengendara meningkatkan laju kendaraannya, sehingga menjadi lebih menantang. Hal ini disebut sebagai homeostasis tugas-kesulitan (taskdifficulty homeostasis). Dalam proses ini, (1) kapabilitas pengendara, sebagaimana yang dipersepsikan oleh pengendara itu sendiri, serta (2) motivasi pengendara untuk melibatkan diri dalam tingkat kesulitan tugas tertentu, secara bersama-sama menentukan rentang kesulitan tugas yang menjadi sasaran pengendara. Interaksi dinamis

antara pengendara dengan bentangan jalan dan skenario lalu lintas menentukan kesulitan tugas objektif. Kedua hal ini (kesulitan tugas objektif dan sasaran kesulitan pengendara) kemudian diperbandingkan. Jika kesulitan melampaui (atau: diantisipasi untuk melebihi) sasaran kesulitan pengendara, maka pengendara mengambil tindakan untuk mengurangi tingkat kesulitan (misalnya dengan memperlambat laju kendaraan). Di sisi lain, jika kesulitan yang dipersepsikan lebih rendah daripada sasaran, maka pengendara mengambil tindakan untuk meningkatkan tingkat kesulitan (misalnya dengan mempercepat laju kendaraan). Ringkasnya, model Fuller menyatakan bahwa kesulitan tugas (task difficulty) berasal dari kesenjangan antara upaya pengendara untuk merespons tuntutan tugas dan tingkat kapabilitas yang tersedia (Gambar 6). Apabila tuntutan tugas melebihi kapabilitas pengendara, maka tugas dipersepsikan sebagai sulit dan berisiko. Hasil dari ketidaksesuaian ini dapat menjadi sebuah kecelakaan. Guna mengelola kesulitan tugas, pengendara dapat memodifikasi tuntutan tugas atau kapabilitasnya. Kelemahan Teori Risiko Ketiga teori risiko yang dikemukakan di atas mencoba untuk menjelaskan perilaku pengendara dan bagaimana mereka menangani risiko dalam berlalu lintas. Teori-teori tersebut tidak mempertimbangkan apakah prakiraan risiko pengendara akurat ataukah tidak. Kenyataan bahwa pengendara tetap mengalami kecelakaan meskipun terdapat peningkatan dalam hukum, regulasi, dan rancang-bangun mengindikasikan bahwa pengendara gagal untuk mengestimasi risiko secara akurat. Terdapat kesenjangan antara risiko yang

MASALAH TRANSPORTASI

181

dipersepsikan dan risiko objektif. Estimasi atau prakiraan risiko mengalami bias oleh prosesproses kognitif, konteks, serta karakteristik personal dan kultural. Meskipun pengendara nampaknya sadar terhadap risiko yang terkait dengan tingkah laku tertentu, mereka gagal untuk memperkirakan secara akurat kekuatan (magnitude) risiko bagi diri mereka sendiri. Teori atribusi dapat membantu untuk memahami mengapa pengendara memiliki kecenderungan untuk memiliki bias estimasi. Riset atribusi menyatakan bahwa proses atribusi (sebagai istilah payung untuk upaya individu untuk mencari hubungan kausal dari peristiwaperistiwa yang terjadi di sekitarnya) diwarnai oleh sejumlah kekeliruan dan bias sistematis. Kekeliruan dan bias ini mungkin disebabkan oleh keterbatasan sistem kognitif, faktor-faktor motivasional, atau keduanya. Salah satu bias ini adalah bias melayani diri sendiri (self-serving bias), yang merupakan kecenderungan untuk menginterpretasikan dan menjelaskan hasil dengan cara-cara yang menguntungkan (favorable) bagi diri sendiri. Self-serving bias memiliki dua faset: (a) bias peningkatan diri (self-enhancement bias), dan (b) bias perlindungan diri (self-protective bias). Bias peningkatan diri bertanggung jawab bagi hasilhasil yang sukses, sedangkan bias perlindungan diri menolak untuk bertanggung jawab bagi hasil-hasil negatif (Blaine & Crocker, 1993). Dengan mengaplikasikan konsep selfserving biases pada penilaian risiko menyatakan bahwa orang memiliki kecenderungan untuk membuat atribusi terhadap disposisi apabila mereka memperoleh hasil positif sebagai hasil dari peristiwa yang melibatkan risiko (riskinvolving). Sebaliknya, orang tidak suka membuat atribusi disposisional bagi hasil-hasil negatif dari peristiwa berisiko. Kegagalan

dalam mengasosiasikan perilaku dan risiko akan menimbulkan persistensi (kegigihan) dalam mempertahankan perilaku berisiko khususnya apabila hasilnya tidak negatif. Taylor dan Brown (1988) menyatakan bahwa sifat alami self-serving dalam hal prakiraan risiko mungkin disebabkan oleh keyakinan kontrol yang dilebih-lebihkan dan bias optimisme. Dengan perkataan lain, kontrol dan optimisme yang bersifat overestimasi atau superior menimbulkan reduksi dalam persepsi risiko dan meningkatkan kecenderungan perilaku pengambilan risiko. Oleh karena itu, pengaruh ilusi kendali, bias optimisme, dan lokus kendali terhadap perilaku pengambilan risiko perlu dipertimbangkan.

Rekomendasi Intervensi untuk Masalah Kemacetan Lalu Lintas
Tingkat Individual Orang perlu ditingkatkan kesadarannya tentang dilema sosial. Orang tidak selalu menyadari bahwa perilaku mereka berkonsekuensi negatif terhadap banyak orang lain, dalam hal ini kemacetan lalu lintas dan polusi lingkungan yang diakibatkan oleh masifnya penggunaan kendaraan pribadi. Penelitian menunjukkan bahwa semata-mata pemberian informasi tentang dilema sosial dapat mempengaruhi secara kuat keputusan orang (Komorita & Parks, 1994). Karenanya, perlu disampaikan pesan bahwa jalan akan lancar, waktu tempuh akan menjadi lebih pendek, apabila sejumlah orang berkontribusi dengan perilakunya masing-masing. Artinya, kontribusi satu-dua orang saja tidak akan

182

JUNEMAN

memiliki pengaruh yang signifikan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Namun demikian, perasaan tiadanya efikasi personal (keyakinan akan keberhasilan kontribusi pribadi) ini merupakan salah satu rintangan utama bagi individu untuk bekerjasama, terutama dalam dilema sosial dengan jumlah orang yang besar (Kerr, 1996). Apabila sejumlah pengendara kendaraan pribadi dapat dipersuasi untuk menggunakan transportasi publik (ketimbang mobil pribadi, misalnya), maka pengendara yang lain (“free-riders”) akan menikmati keuntungan karena lalu lintas yang kurang macet. Hal ini akan menginspirasi orang untuk menggunakan kendaraan pribadinya kembali. Ditambah lagi, penggunaan mobil memberikan sejumlah keuntungan langsung, khususnya terciptanya perasaan akan kebebasan dan kemandirian serta kenyamanan. Oleh karena itu, perlu diadakan kampanye informasi publik yang berkelanjutan yang tidak hanya menekankan pentingnya warga berkontribusi dengan perilakunya, tetapi juga menekankan bahwa kontribusi dari masing-masing individu memang sungguh-sungguh dapat “membuat perbedaan hasil”. Individu dapat diedukasi untuk mengubah orientasi nilai, dari pro-diri menjadi pro-sosial (van Vugt dalam Messick & McClintock, 1968). Pro-diri berarti orang memaksimalkan pencapaian/keuntungannya sendiri, sedangkan pro-sosial berarti orang memaksimalkan pencapaian kolektif/bersama. Orientasi prososial ini hendaknya dikombinasikan dengan faktor krusial lain dalam sosial dilema, sebagaimana dinyatakan oleh Dawes (1980), yakni bahwa orang harus memiliki sejumlah alasan untuk percaya bahwa orang lain tidak akan bertingkah laku defektif. Tingkah laku defektif maksudnya adalah tingkah laku yang

melestarikan terjadinya Tragedi Bersama. Bahwa meskipun perbedaan dalam hasil (payoffs) memang selalu menguntungkan pelaku defektif tidak peduli apa yang dilakukan orang lain, namun orang perlu percaya bahwa hasil absolut (absolute payoff)—tiadanya kemacetan—selalu lebih tinggi apabila semua orang bekerjasama untuk mengatasi kemacetan lalu lintas ini, misalnya dengan bersama-sama menggunakan transportasi publik. Kepercayaan ini harus terus dibangun terus-menerus. Memang tidak mudah, tetapi mungkin. Tingkat Kultural Kita perlu memperkuat norma dalam situasi dilema sosial. Dalam situasi dilema sosial yang terjadi di dunia nyata, seperti dalam berlalu lintas ini, keputusan sebagian besar dibuat secara anonim. Dengan demikian orang dapat secara mudah menyangkal tanggung jawabnya dalam menciptakan atau memecahkan permasalahan. Solusi terhadap hal ini adalah dengan membuat menonjol norma sosial yang menekankan kerja sama. Contoh: (1) Penghargaan untuk “kota nol kemacetan atau nol kecelakaan”; hal ini menciptakan perbandingan sosial (social comparison) dan perlombaan yang sehat antar kota; (2) Program anti-kemacetan dan anti-kecelakaan diselenggarakan pada tingkat komunitas, sehingga orang lebih berkomitmen untuk memecahkan masalah yang terjadi pada lingkungan di depan matanya (direct environment); (3) Program pengawasan masyarakat, dalam hal mana para pelanggar, misalnya pengendara motor yang berupaya menyeberang, menaikkan motornya pada jembatan penyeberangan (yang seharusnya hanya untuk pejalan kaki) dilaporkan secara

MASALAH TRANSPORTASI

183

langsung ke polisi terdekat agar dapat diidentifikasi dan dihukum. Agar kemacetan dapat dikurangi karena adanya pungutan liar (pungli) di jalan-jalan yang memperlancar kendaraan tertentu saja, maka di samping perlu diusahakan adanya polisi yang tegas di jalan-jalan yang rawan pungli; maka perlu dibangun suatu budaya masyarakat yang menolak pungli. Masyarakat perlu kompak untuk menolak pungutan liar, tidak memanfaatkan "kesempatan dalam kesempitan". Dengan demikian, transaksi pungli menjadi "mau untung jadi buntung" (pembalikan manfaat). Tingkat Struktural Strategi lain yang dapat digunakan untuk mengatasi kemacetan lalu lintas adalah dengan menerapkan reward untuk tingkah laku yang mendukung teratasinya tragedi bersama dan punishment untuk tingkah laku yang tidak mendukung. Penggunaan transportasi publik dapat dipromosikan dengan memberikan reward berupa keringanan pajak (tax benefits) bagi orang-orang yang memiliki dan rutin menggunakan kartu busway atau kereta. Di samping itu, punishment dapat dilakukan dengan menaikkan pajak mobil mewah atau pajak bahan bakar mobil. Keberhasilan dari intervensi ini sangat bergantung pada besarnya reinforcement (reward dan punishment) serta konsistensi pemberiannya (van Lange & Messick, 1996). Hal yang penting juga adalah bahwa bentuk insentif harus bermakna bagi orang. Misalnya, dalam hal moda transportasi, penelitian van Vugt, Meertens, & van Lange. (1995) menunjukkan bahwa para pelaku bisnis akan berubah dari menggunakan mobil menjadi

menggunakan transportasi publik apabila hal ini lebih efisien dan memberikan status yang baik. Misalnya, busway yang digunakan cepat, aman, dan terdapat kesan mewah (dengan adanya televisi, koneksi internet, dll). Hal ini dapat dipahami karena suasana yang demikian merupakan suasana yang kongruen dengan konsep diri para pelaku bisnis pada umumnya. Solusi struktural terakhir adalah dengan mengeliminasi (baik sebagian atau pun seluruhnya) interdependensi antar orang dalam situasi dilema sosial. Dalam literatur dilema sosial, strategi ini disebut privatisasi (Messick & Brewer, 1983). Jadi, orang yang lebih mampu, jika menggunakan BBM, tidak diberlakukan tarif normal/rata-rata (flat rate tariff), melainkan dikenakan biaya sesuai dengan penggunaannya. Penggunaan yang semakin banyak berarti harga yang dibayar harus semakin mahal.

Rekomendasi Intervensi untuk Masalah Kecelakaan Lalu Lintas
Tingkat Individual Berdasarkan teori mutakhir dari Fuller (2000), serta Fuller dan Santos (2002), nampak bahwa keamanan berkendara terancam apabila terdapat kesenjangan antara kesulitan tugas yang dipersepsikan pengendara (perceived task difficulty) dengan kesulitan tugas objektif (objective task difficulty), khususnya ketika pengendara menganggap remeh kesulitan tugas objektif. Solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberikan pengendara informasi yang jelas, ilmiah, dan andal, yang mencakup informasi mengenai kecepatan, jurusan kendaraan, tingkat adhesi jalan, serta hal-hal lain apa pun yang berpotensi menjadi bahaya.

184

JUNEMAN

Gambar 1. Model homeostatis dari Wilde (1982, h. 212)

Gambar 2. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tuntutan tugas bagi pengendara (Fuller & Santos, 2002, h. 4)

MASALAH TRANSPORTASI

185

Gambar 3. Determinan kapabilitas pengendara (Fuller & Santos, 2002, h. 5)

Gambar 4. Kemungkinan hasil dari jembatan antara tuntutan tugas dan kapabilitas pengendara (Fuller & Santos, 2002, h. 6)

186

JUNEMAN

Gambar 5. Model Jembatan Tugas-Kapabilitas (Fuller & Santos, 2002, h. 7)

Gambar 6. Homeostatis kesulitan tugas (Fuller & Santos, 2002, h. 8)

MASALAH TRANSPORTASI

187

Tingkat Kultural Dari sisi kultural, Wilde (1985) telah memberikan empat pendekatan untuk mengurangi tingkat risiko sasaran pengendara (baca: mengurangi kejadian kecelakaan), yakni (1) meningkatkan penghargaan kepada perilaku aman (misalnya, dengan memberikan insentif), (2) menghukum perilaku yang berisiko atau tidak aman, (3) menurunkan keuntungan dari perilaku berisiko (misalnya, jangan memberikan sebutan “hebat” / heroism kepada perilaku tersebut), dan (4) menurunkan konsekuensi negatif dari perilaku aman (misalnya, jangan membiarkan terjadinya kehilangan waktu / time loss pada para pengendara yang berperilaku aman). Selanjutnya, Wilde dan Robertson (2002) menambahkan dua pendekatan lagi, yakni (1) memberikan penghargaan kepada pengendara yang tidak mengalami kecelakaan (misalnya, mengenakan premi asuransi yang lebih murah kepada pengendara yang tidak pernah melakukan klaim asuransi; hal ini disebut “noclaim bonus”), dan (2) menghukum pengendara yang mengalami kecelakaan. Namun demikian, teori ini tidak memperhitungkan regulasi/peraturan keamanan lingkungan, seperti rancangan jalan dan kendaraan (Hedlund, 2000; Rothengatter, 2002). Hal ini dapat dipahami karena asumsi teori ini adalah bahwa modifikasi lingkungan atau pengaturan perilaku pengendara tanpa mempengaruhi tingkat risiko sasaran adalah kesia-siaan belaka. Tingkat Struktural Menurut Fuller dan Santos (2002), ketika tuntutan tugas (demands of the task) melampaui kapabilitasnya, dan pada saat yang sama

pengendara tidak dapat melakukan apa-apa untuk mereduksi tuntutan tugas atau pun untuk meningkatkan kapabilitasnya, maka pengendara akan memilih untuk menghindari kondisi tersebut (kondisi tuntutan tugas yang berlebih). Hal ini menjelaskan paradoks mengapa intervensi keamanan yang bersifat membuat tugas menjadi mudah (misalnya meluruskan jalan yang tadinya berbentuk kurva) justru menyebabkan perilaku berisiko seperti peningkatan kecepatan oleh pengendara. Berdasarkan pengetahuan tersebut, maka intervensi keamanan yang bersifat membuat tugas nampak menjadi lebih sulit (misalnya, liukan/putaran “S”, leher jalan, pintu gerbang, penyempitan jalan) patut dipertimbangkan. Jadi diperlukan rancangan yang membuat tugas nampaknya lebih sulit daripada kesulitan objektifnya, sehingga pengendara dapat memperlambat laju kendaraannya. Hal ini dapat dikombinasikan dengan paparan peringatan data statistik kejadian kecelakaan lalu-lintas yang diletakkan di jalan. Pendekatan kombinatif ini diperlukan karena, sebagaimana dinyatakan oleh Baron, Byrne, dan Branscombe (2005), pesan-pesan yang berbingkai negatif (negatively framed) sebagai strategi preventif dan ditolak orang. Hal ini disebabkan karena pesan-pesan yang mencemaskan, dan menimbulkan afeksi ketakutan seperti itu bersifat mengancam diri (self) seseorang, sehingga dapat mengaktifkan mekanisme pertahanan (defense mechanism) dalam rangka mempertahankan citra diri (selfimage) yang positif; selanjutnya, hal ini mengganggu kemampuan orang untuk menaruh perhatian pada sebuah pesan untuk mengingat bahaya dari perilakunya.

188

JUNEMAN

Bibliografi
Angka kecelakaan lalu lintas meningkat. (2009, 25 Juni). Liputan 6. Diakses dari http://berita.liputan6.com/sosbud/200906/23 4785/Angka.Kecelakaan.Lalu.Lintas.Tahun. Ini.Meningkat, pada 5 Januari 2010. Baron, R.A., Byrne, D., & Branscombe, N. (2005). Social psychology (Edisi ke-11). Boston: Allyn & Bacon. Blaine, B & Crocker J. (1993). Self-esteem and self-serving biases in reactions to positive and negative events: An integrative review. Dalam Baumeister, R. F. (Ed.). Self-esteem: The puzzle of low self-regard (h. 55-85). New York,USA: Plenum Press. Dawes, R.M. (1980). Social dilemmas. Annual Review of Psychology, 31, 169-193. Di Jakarta, setiap hari empat orang tewas akibat kecelakaan lalin (2009, 21 Desember). Republika. Diakses dari http://www.republika.co.id/berita/breakingnews/metropolitan/09/12/21/97040-dijakarta-setiap-hari-empat-orang-tewasakibat-kecelakaan-lalin, pada 5 Januari 2010. Fuller, R. (2000). The task-capability interface model of the driving process. Recherche, Transports, Sécurité, 66, 47-59. Fuller, R., & Santos, J. A. (2002). Human factors for highway engineers. Emerald Group Publishing. Hardin, G. (1968, 13 Desember). The tragedy of the commons. Science, 162(3859), 12431248. Hedlund, J. (2000). Risky business: Safety regulations, risk compensation, and individual behavior. Injury Prevention, 6, 82-90. Jakarta mengarah pada kemacetan total. (2009, 19 Juni). Kompas.com. Diakses dari

http://nasional.kompas.com/read/2009/06/1 9/06125151/jakarta.mengarah.pada.kemacet an.total, pada 5 Januari 2010. Kerr, N. L. (1996). Does my contribution really matter: The role of efficacy in social dilemmas. European Review of Social Psychology, 7, 209-240. Kobbeltvedt, T., Brun, W., & Laberg, J.C. (2004). Measuring and modelling risk in a naturalistic setting. Journal of Risk Research, 7, 789-810. Komorita, S. S. & Parks, C. D. (1994). Social dilemmas. Dubuque, IA: Brown & Benchmark. Lewin, I. (1982). Driver training: A perceptualmotor skills approach. Ergonomics, 25, 917924. Messick, D. M. & Brewer, M. B. (1983). Solving social dilemmas: A review. Review of Personality and Social Psychology, 4, 1144. Beverly Hills, CA: Sage. Messick, D. M., & McClintock, C. G. (1968). Motivational bases of choice in experimental games. Journal of Experimental Social Psychology, 4, 1–25. Naatanen, R. & Summala, H. (1974). A model for the role of motivational factors in drivers’ decision-making. Accident Analysis and Prevention, 6, 243-261. Reason, J., Manstead, A, Stradling, S.G., Baxter, J., & Campbell, K. (1990). Errors and violations on the roads: A real distinction? Ergonomics, 33(10/11), 13151332. Rothengatter, J. A. (2002). Drivers’ illusionsno more risk. Transportation Research Part F, 5, 249-258. Rothengatter, T. & Huguenin, R. D. (2004). Introduction. Dalam Rothengatter, T., & Huguenin, R. D. (Eds.), Traffic and

MASALAH TRANSPORTASI

189

transport psychology (h. 3-7). Amsterdam, Netherlands: Elsevier. Schlag, B. (Ed.). (1999). Empirische verkehrspsychologie [Empirical traffic psychology] . Lengerich, Berlin: Pabst Science Publishers. Sepanjang 2009, angka kecelakaan "busway" 268 kasus (2009, 25 Desember). Kompas.com. Diakses dari http://female.kompas.com/read/2009/12/25/ 13281751/Sepanjang.2009.Angka.Kecelaka an.Busway.268.Kasus, pada 5 Januari 2010. Shaw, M. E., & Costanzo, P. R. (1970). Theories of social psychology. McGrawHill, New York. Summala, H. (1997). Hierarchical model of behavioural adaptation and traffic accidents. Dalam Rothengatter, J. A., & Carbonell Vaya, E. (Eds.), Traffic and transport psychology: Theory and application. Oxford: Pergamon. Susanto, B. (2006). Tol di tengah kota: Solusi atau masalah baru? Dalam Verdiansyah, C., Politik kota dan hak warga kota. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Taylor, S. E. & Brown, J. D. (1988). Illusion and well-being: A social psychological perspective on mental health. Psychological Bulletin, 103(2), 193-210. van der Pligt, J. (1996). Risk perception and self-protective behavior. European Psychologist, 1(1), 34-43. van Lange, P. A. M. & Messick, D. M. (1996). Psychological processes underlying cooperation in social dilemmas. Dalam Gasparski, W., Mucki, M. & Banathy, B. (Eds), Social agency: dilemmas and educational praxiology (vol.4). New Brunswick: Transaction. van Vugt, M., Meertens, R. M. & van Lange, P.

A. M. (1995). Car versus public transportation? The role of social value orientations in a real-life social dilemma. Journal of Applied Social Psychology, 25, 258-278. Wilde, G. J. S. (1982). The theory of risk homeostasis: Implications for safety and health. Risk Analysis, 2, 209-225. Wilde, G. J. S. (1985). The use of incentives for the promotion of accident free driving. Journal of Studies on Alcohol, 10, 161-167. Wilde, G. J. S. (1998). Risk homeostasis theory: An overview. Injury Prevention, 4, 89-91. Wilde, G. J. S., & Robertson, L. (2002). For and Against: Does risk homoeostasis have implications for road safety. British Medical Journal, 324, 1149-1152.

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 190–198

ISSN 2085-4242

Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya "Sane Society" Fromm
Lukman Sarosa Sriamin
Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
It is wisely advised that Indonesians need to think of sane and insanity society while they enjoy growing development. As a developing country, Indonesia is known to be located between two oceans and two big continents and inevitably is an open "conflicting" area for several parties. The parties are conflicting for ideological reasons, economical reasons, technological reasons and other reasons which may influence a society's behavior. Alienation and insanity might inevitably come as consequences for Indonesia. The Indonesia development, however, is designed for socalled "a whole Indonesian," and the development basis is the Pancasila. It is now questioned if the Pancasila a perfect basis for prosperous healthy society and if it is a right basis for mentally health personality development. In order to answer these questions, the writer tried to trace the problems in Indonesian society development and Erich Fromm's ideas on sane society. It is found that there were complimentary themes between Indonesians need and Fromm's ideas. Keywords: Pancasila, sane society, existential needs, Fromm

Erich Fromm dilahirkan di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1900 dan mempelajari psikologi dan sosiologi di Universitas Heidelberg, Frankfurt dan Munich. Setelah memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas Heidelberg pada tahun 1922, ia memperdalam psikoanalisis di kota Munich dan Berlin Psychoanalytic Institute. Banyak dari karangankarangannya yang bersumber pada pengetahuannya tentang sejarah, sosiologi, seni sastra, dan filsafat. Tema inti dari karangan-karangan Fromm adalah bahwa manusia merasa dirinya sepi dan terisolir karena dia terpisah dari alam dan manusia lainnya. Kondisi isolasi ini tidak dapat ditemukan pada spesies lain, dan merupakan

kondisi yang membedakan manusia dengan hewan. Seorang anak akan memperoleh kebebasan dari ikatan-ikatan dengan orang tuanya dengan suatu akibat ia akan merasa terisolir dan tidak berdaya. Menurut Fromm, manusia telah mendapatkan kebebasan yang lebih besar selama ini, namun juga merasa sepi. Kebebasan menjadi suatu kondisi yang negatif, dan manusia berusaha untuk membebaskan dirinya. Manusia dapat keluar dari dilema ini dengan menyatukan dirinya dengan orang lain dalam semangat cinta dan kerjasama. Atau, ia dapat memperoleh rasa aman dengan tunduk pada suatu otoritas dan konformitas sosial. Pada satu pihak, manusia dengan kebebasannya dapat mengembangkan suatu masyarakat yang lebih
190

PANCASILA SEBAGAI

191

baik, namun pada pihak lain manusia membentuk ikatan-ikatan baru. Jadi, ada suatu hubungan antara masyarakat dengan perkembangan eksistensi manusia. Bagi Fromm, manifestasi dari kebutuhan-kebutuhan manusia serta cara-cara ia menyadari dan mengaktualisasikan potensi-potensi ditentukan oleh susunan dan aturan-aturan masyarakat di mana ia hidup. Perkembangan kepribadian seseorang berkembang sejalan dengan kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh kondisi masyarakat. Penyesuaian diri manusia terhadap masyarakatnya biasanya mempresentasikan suatu kompromi antara kebutuhan-kebutuhan diri manusia dengan tuntutan-tuntutan luar masyarakat. Tuntutantuntutan masyarakat ini kadang kala bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga menyebabkan frustasi. Individu menjadi terpisah dari situasi kemanusiaannya dan merintangi pemuasan dari kebutuhan-kebutuhan dasar eksistensinya. Fromm menunjuk pada suatu fakta bahwa bila masyarakat mengalami suatu perubahan, misalnya dari feodalisme ke kapitalisme, maka perubahan-perubahan ini akan menyebabkan perubahan sosial anggota-anggotanya. Struktur karakter yang lama sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi masyarakat yang baru. Hal ini akan mengakibatkan penderitaan dan alienasi. Ia terpisah dari ikatan-ikatan tradisionalnya dan merasa kehilangan pegangan sampai saatnya ia mengembangkan suatu ikatan-ikatan baru. Selama masa transisi inilah ia mudah menjadi korban dari berbagai ideologi, paham-paham pemikiran yang menawarkan kepadanya suatu pelarian dari rasa sepinya. Masalah hubungan masyarakat dengan individu merupakan pokok tema yang diulangulang oleh Fromm dalam karya-karyanya.

Masyarakat yang diusulkan Fromm (1955, h. 314) tergambar dalam pernyataannya, sebagai berikut: A society in which man relates to man lovingly, in which he is rooted in bonds of brotherliness and solidarity, rather than in the ties of blood and soil; a society which gives him the possibility of transcending nature by creating rather than by destroying, in which everyone gains a sense of self by experiences himself as the subject of his powers rather and devotion exists without man’s needing to distort reality and to worship idols.

Hubungan Manusia - Kesehatan Mental Sane Society
Menurut Fromm (1947), eksistensi manusia mempunyai ciri-ciri, sebagai berikut. Pertama, nalar (reason). Dibandingkan dengan hewan yang menyandarkan diri pada kekuatan instingnya, maka keterbatasan biologis manusia dapat diatasi dengan nalarnya. Dengan nalar manusia mempunyai kesadaran akan dirinya dan mempunyai imajinasi yang merupakan sebab dari kualitas-kualitas kemanusiaannya. Kedua, disharmoni. Pada saat yang sama manusia adalah bagian tetapi juga terpisah dari alam. Ketiga, dikotomi yang bersifat eksistensial dan kesejarahan. Kedua macam dikotomi ini tidak terelakkan oleh manusia. Dikotomi eksistensial berarti manusia berdiri antara hidup dan mati. Dikotomi kesejarahan mengandung arti bahwa disamping manusia dapat menciptakan sesuatu namun ia juga menjadi korban hasil ciptaannya itu.

192

SRIAMIN

Semua manusia ditandai oleh ciri-ciri yang sama seperti ketiga hal tersebut diatas ini. Akan tetap dalam persamaannya, terkandung pula keunikan. Keunikan ini disebabkan karena setiap orang mempunyai caranya masingmasing untuk mengaktualisasikan masalah eksistensinya, melalui nalarnya. Nalar mempunyai sifat perspektif yang tidak hanya meraih hal-hal yang praktis dan relevan, tetapi juga “with the essential, with and the universal (1947, h. 109)”. Perkembangan individu akan dapat dicapai sepenuhnya bila ia mengikuti “nature of life” atas dasar “human existence” secara dinamis. Namun demikian, banyak individu yang tidak dapat mencapai tingkat perkembangan diri dengan mempergunakan nalarnya. Ia menjadi kurang dinamis, statis, mengalami hambatanhambatan dan kesukaran-kesukaran. Hal ini bila diasumsikan secara klinis merupakan manifestasi dari ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutantuntutan masyarakatnya. Dalam hal ini, Fromm mempertanyakan asumsi yang mengatakan bahwa manusianya lah yang tidak dapat memenuhi tuntutan masyarakatnya. Apakah bukan justru masyarakatnya yang tidak sehat? Pandangan “social relativism” mengandung arti bahwa suatu masyarakat itu normal (dalam arti sehat), bila masyarakat itu berfungsi (Fromm, 1955, h. 21). Pandangan ini relatif sifatnya. Fromm mempertanyakan: “Apakah bisa dikatakan masyarakat tersebut sehat kalau dalam masyarakat tersebut terdapat banyak kejahatan, orang bunuh diri, pembunuhan dan sebagainya? Apakah tidak ada suatu kriteria patologi yang universal?” Menurut Fromm, ada, yaitu yang disebutnya “normative humanism” (Fromm 1955, h. 22). Pendekatan “normative humanism” ini,

didasarkan atas dasar suatu asumsi bahwa, sebagaimana terdapat dalam semua masalah. Ada penyelesaian yang salah dan tepat, memuaskan atau tidak memuaskan atas masalah eksistensi manusia. Menurut Fromm (1955, h. 23): Mental health is achieved if man develops into full maturity according to the characteristic and laws of human nature. Mental illness consists in the failure of development. Dari premis tersebut, kesehatan mental bukan berarti dapatnya individu menyesuaikan diri terhadap tata sosial masyarakat; melainkan terhadap suatu kriteria yang universal, berlaku untuk semua orang, yang memberikan jawaban yang memuaskan terhadap masalah eksistensi manusia. Dalam hal ini, fungsi masyarakat adalah menciptakan suasana dalam mana setiap manusia dapat memanifestasikan eksistensinya dan tidak mendiktenya. Di samping itu, pengertian kesehatan mental disini bukan sebagai kesehatan jiwa belaka, melainkan pula mempunyai arti terhadap proses perkembangan kemanusiaan. Kesehatan mental ini bersumberkan pada kondisi-kondisi eksistensi manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Fromm: Mental Health is characterized by the ability to love and to create, by the emergence from incestuous ties to clan and soil, by sense of identity based on one’s experience of self as the subject and agent of one’s power’s by the grasp or reality inside and outside or ourselves, that is, by the development of objectivity and reason. (Fromm, 1955, h. 68)

PANCASILA SEBAGAI

193

Dalam menetapkan eksistensinya ini, ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Kebutuhan ini lebih merupakan alternatif-alternatif, lebih merupakan kemungkinan-kemungkinan pilihan. Kemungkinan mana yang dipilih oleh sebagian besar individu, akan menentukan corak masyarakat dimana ia bertempat tinggal. Corak masyarakat yang terbentuk ini, sebaliknya, akan mempengaruhi tingkat perkembangan individu yang bersangkutan. Tingkat perkembangan individu tersebut oleh Fromm dibagi menjadi tiga macam. Pertama, “sane”, yaitu suatu tingkat perkembangan dimana individu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan eksistensinya secara optimal karena kondisi masyarakat memungkinkan. Kedua, “defect”, yaitu tingkat perkembangan yang dicapai oleh individu tidak optimal, yang dialami oleh sebagian besar anggota masyarakat karena kondisi masyarakat yang tidak memungkinkan. Ketiga, “neurosa”, yaitu individu sama sekali tidak berkembang secara optimal dalam memenuhi kebutuhankebutuhan eksistensinya. Hal ini disebabkan karena kondisi-kondisi masyarakat yang ada bertentangan dengan “human nature” anggota masyarakatnya (Fromm, 1947, h. 57; Fromm, 1955, h. 23-28).

Kemungkinan-Kemungkinan Bagi Terbentuknya Sane Society
Untuk menentukan eksistensinya, manusia harus memenuhi kebutuhannya. Pada tiap kebutuhan, seperti yang dikatakan oleh Fromm, ada kemungkinan (alternatif). Ada dua macam cara untuk merealisasikannya. Cara mana yang akan dipilih, akan menentukan corak dan kondisi masyarakat, dan selanjutnya akan

menentukan derajat perkembangan individu. Dari derajat perkembangan yang dicapainya ini, dapat ditentukan apakah seseorang itu sehat mental ataukah tidak. Kemungkinan-kemungkinan kebutuhan itu adalah sebagai berikut. Pertama, “Relatedness atau narcissism”. Keterikatan seseorang dengan dunia lingkungannya melalui cinta yang produktif akan membentuk kondisi dimana seseorang dapat memiliki kebebasan dan integritas, dan juga sekaligus bersatu dengan manusia lainnya. Sedangkan, “narcissism” merupakan bentuk “insanity”, karena manusia tidak dapat mengalami realitas sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana dibentuk dan ditentukan oleh alam pikirannya sendiri. Individu itu tidak bereaksi atas dasar realitas, tetapi atas dasar pikiran dan perasaannya sendiri. Kedua, “Transcendence: creativeness atau destructiveness”. Kemampuan manusia untuk mentransendensikan dirinya dari alam dan lingkungannya dapat berakibat adanya kreativitas, kemampuan mencipta atau penghancuran hidup itu sendiri. Ketiga, “Rootedness: brotherliness atau incest”. Manusia dapat memilih, apakah ia akan mengakarkan dirinya kepada persaudaraan antar manusia pada umumnya; ataukah hanya kepada lingkungan kecilnya saja, yaitu keluarga, suku, bangsa dan Negara secara ekstrim. Bila yang terakhir yang dipilih, maka manusia tidak dapat menghayati dirinya sendiri maupun orang lain dalam realitas kemanusiaannya. Keempat, “Sense of identity: individuality atau herd conformity”. Identitas sebagai “aku” merupakan persyaratan untuk membentuk konsep tentang diri (self), karena manusia tidak hanya sekedar harus hidup, tetapi memang hidup. Identitas yang mendasarkan diri pada

194

SRIAMIN

keanggotaan suatu kelompok hanyalah merupakan identifikasi status dan bukan identifikasi individual dalam arti kata yang sebenarnya. Kelima, “Frame of orientation and devotion: reason atau irrationality”. Kerangka orientasi dan pengabdian ini diperlukan manusia untuk mengarahkan dirinya kepada dunia secara intelektual, emosional dan “sensual” (sensing). Elemen-elemen ini diekspresikan dalam hubungannya dengan suatu objek, kepada siapa atau apa manusia itu mengabdikan dirinya, sehingga akan memberi makna tertentu pada eksistensi manusia. Kerangka orientasi dan pengabdian ini dapat dimisalkan sebagai sistem-sistem agama di dunia, aliran-aliran filsafat, dan sebagainya. Masalahnya adalah apakah kerangka ini diterima secara rasional berdasarkan kemampuan nalar manusia atau hanya diterima secara irasional saja.

Pancasila dan Sane Society
Manusia selalu dihadapkan pada ketakutan akan keterpisahan, ketidakberdayaan dan kesendirian. Oleh karena itu, manusia berusaha menemukan bentuk keterikatan baru yang menghubungkan dirinya dengan alam, sehingga ia mendapatkan rasa aman. Bentuk keterikatan yang baru ini harus diciptakannya sendiri, seperti yang dikatakan oleh Fromm (1955, h. 31), “by making the world a human one by becoming truly human himself.” Kemanunggalan manusia dengan alam semesta ini, tidak hanya berdasarkan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan untuk instingnya saja, tetapi yang penting adalah adanya jawaban atas eksistensinya sebagai manusia. Sesuai dengan pendapat Fromm,

bahwa dengan adanya kesadaran akan dirinya, imajinasi dan nalar, manusia sadar bahwa ia harus mendapatkan eksistensinya sebagai manusia. Dalam usaha untuk menetapkan eksistensinya ini terdapat beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi; kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah “relatedness, transcendence, rootedness, sense of identity, frame of orientation and devotion.” Eksistensi manusia Indonesia yang merdeka tidak didasarkan atas pandangan-pandangan yang sudah ada di dunia ini. Eksistensi manusia Indonesia ditegakkan atas dasar kebutuhan kodrat manusiawinya, yang dapat ia penuhi dari situasi kondisi Indonesia itu sendiri. Seperti yang sebagaimana dikatakan Bung Karno, “Kami tidak mungkin meminjam falsafah hidup orang lain” (Adams, 1966, h. 300). Panggilan tradisi Indonesia yang menukik jauh sampai ke dasarnya telah mengeluarkan lima butir mutiara yang indah, Pancasila. Diharapkan bahwa Pancasila dapat menjadi jiwa manusia Indonesia, menjadi falsafah hidup manusia Indonesia, dalam mengembangkan eksistensinya untuk mencapai kebutuhankebutuhannya. Hingga saat ini ternyata harapan tersebut dapat dipenuhi, yaitu dengan adanya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang merupakan badan perwakilan manusia Indonesia: Sesungguhnya sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia, serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. (Abdulgani, 1976)

PANCASILA SEBAGAI

195

Dalam alam kemerdekaan itulah manusia Indonesia akan dapat memanifestasikan kebutuhannya serta akan dapat pula menyadari dan mengaktualisasikan potensi-potensinya. Dengan adanya Pancasila ini, masyarakat tidak mengalami perubahan karakter sosial anggotaanggotanya. Manusia Indonesia juga tidak terpisah dari ikatan-ikatan tradisionalnya karena Pancasila itu sendiri berasal dari tradisi manusia Indonesia. Pada sila yang pertama, yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tiap manusia Indonesia mempunyai kebebasan untuk menjalankan ibadatnya, untuk menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Ketuhanannya adalah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang menghormati satu sama lain. Kebutuhan akan “Frame or orientation and devotion” terpenuhi dengan adanya sila ini dalam Pancasila, sehingga manusia Indonesia dapat mengarahkan dirinya kepada dunia secara intelektual, emosional, dan sensual. Dengan melalui hal ini pula, dapat dipenuhi kebutuhan manusia untuk manunggal dengan alam. Sila selanjutnya, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, berarti bahwa: Manusia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, yang sama hak dan kewajiban-kewajiban asasinya, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama dan kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. (Departemen Penerangan RI, 1978, h. 14).

Hal ini mengandung asumsi bahwa manusia Indonesia pertama-tama adalah seorang manusia, sama seperti manusia yang lain di muka bumi ini. Ia tidak dapat dipisah-pisahkan dari keberadaannya di antara manusia lain. Ia menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, tidak membedakan seperti yang disebut dalam kutipan diatas. Ia tidak terpaku hanya pada kebangsaannya saja atau pada keluarganya saja, pada kelompoknya, pada warna kulitnya atau pada manusia yang sejenis kelamin dengannya. Manusia menuju pada pengembangan dari nalarnya dan cinta, dengan membuat suatu dunia yang berdasarkan solidaritas kemanusiaan dan keadilan. Dengan ditimbulkannya perasaan bersaudara terhadap semua manusia, maka akan tercapai dunia yang manusiawi. Hal tersebut sesuai seperti yang dikatakan Fromm (1955, h. 60): The person who has not freed himself from the ties to blood an soil is not yet fully born as a human being; his capacity for love and reason are crippled; he does not experience himself nor his fellow man in their and his own-human reality. Implikasi dari sila kedua dan pernyataan Fromm tersebut di atas adalah bahwa hanya dengan membangun suatu dunia yang didasarkan atas solidaritas umat manusia dan keadilan, hanya atas pengarahan pada rasa persaudaraan yang universal, maka manusia dapat mengubah dunia ini menjadi dunia yang mempunyai makna manusiawi. Dalam hal ini, kebutuhan “rootedness” terpenuhi. Kebutuhan manusia akan “sense of identity” merupakan kebutuhan bagi setiap orang agar dia bisa merasakan dan menghayati ke-“aku”annya. Kebutuhan manusia Indonesia untuk

196

SRIAMIN

menunjukkan statusnya, identifikasinya sebagai manusia Indonesia, sebagai bangsa Indonesia, tercakup dalam sila Persatuan Indonesia. Inilah “nationale staat” Indonesia seluruhnya yang telah berdiri di jaman Sriwijaya dan Majapahit (7, hal. 47-48). Akan tetapi rasa kebangsaan tidaklah dimaksudkan untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tertinggi dan berada diatas segala bangsa di muka bumi. Fromm (1955, h. 63) mengatakan, “Nation, religion, class and occupation serve to furnish a sense of identity.“ Ini merupakan identitas dalam arti luas. Bangsa Indonesia hidup, berada, di antara bangsa lain berdasarkan persaudaraan. Atas dasar identitas manusia Indonesia yang khas, ia dapat mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. Kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan “transcendence” dengan adanya imajinasi dan kemampuan berpikir pada manusia, ia mempunyai dorongan untuk berusaha melampaui peranannya sebagai makhluk yang diciptakan. Manusia ingin menetapkan eksistensinya dengan menjadikan dirinya sebagai pencipta. Fromm (1955, h. 41) mengatakan: Man can creates life. This is miraculous quality which he indeed shares with all living beings, but with the difference that he alone is aware of being created and of being a creator. Dalam mencipta terkandung pengertian akan adanya aktivitas, suatu tanggungjawab dan pemeliharaan. Pengertian ini ada pada cinta; cinta sebagai suatu aspek yang produktif. Pada sila keempat, sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dibicarakan

mengenai pembahasan permasalahan yang sedemikian rupa sehingga diperoleh pengertian yang mendasar terhadap masalah yang dibicarakan. Akan lebih mudah dicapai kata mufakat apabila cara pemecahan masalah lebih berdasarkan kepada kecintaan, kesadaran dan kepentingan terhadap bangsa. Dengan demikian, manusia Indonesia dapat memenuhi kebutuhannya untuk mentransendensikan dirinya, sehingga dapat timbul adanya kreativitas serta kemampuan untuk mencipta dengan penuh kesadaran. Selanjutnya, kebutuhan yang lain yang terdapat pada manusia adalah kebutuhan “relatedness”. Menurut Fromm, kebutuhan ini timbul karena manusia merasakan keterpisahannya dengan alam, kesendirian dan ketidakberdayaannya. Cara yang seharusnya ditempuh manusia adalah cinta, sehingga dapat mencapai kemanunggalannya dengan alam. “Productive love always implies a syndrome of attitudes; that of care, responsibility, respect and knowledge“ (Fromm, 1955, h. 38). Dengan cinta, manusia melibatkan dirinya dalam dirinya seseorang, dan juga memenuhi kebutuhankebutuhan yang ada pada diri orang tersebut. Manusia dapat melihat sesuatu diluar dirinya secara objektif, melihat sebagaimana adanya, tanpa kehilangan identitas dirinya, akan tetapi utuh sebagai manusia. Kebutuhan seperti itu tercakup pula dalam sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam sila itu disebutkan mengenai kesejahteraan bagi manusianya, bagi rakyatnya, bukan hanya Badan Perwakilan Rakyat, akan tetapi juga kesejahteraan sosial, sandang pangan rakyatnya. Keadilan sosial berarti adanya pemerataan hak, rasa kekeluargaan, sehingga dapat dihindarinya kehendak untuk memperalat orang lain untuk kepentingannya sendiri.

PANCASILA SEBAGAI

197

Manusia Indonesia menyadari hak serta kewajibannya. Hak miliknya tidak dipergunakan untuk usaha-usaha pemerasan terhadap orang lain. Juga dapat dipupuk adanya sikap kerja keras dan sikap menghargai hasil kerja orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama.

Diskusi
Berdasarkan seluruh analisis yang dikemukakan di atas, maka diajukan proposisi bahwa dalam Pancasila tercakup pula pengertian dan tujuan manusia Indonesia untuk mencapai suatu kepribadian yang sehat mental. Dari sudut kesehatan mental, Pancasila dapat dijadikan landasan selanjutnya bagi terbentuknya suatu masyarakat yang sehat (“sane society”) bagi masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai dasar Negara berisikan faktor-faktor landasan di atas mana Negara Republik Indonesia didirikan. Pancasila juga merupakan suatu ungkapan dari cara hidup suatu bangsa. Kebutuhan-kebutuhan eksistensial manusia yang diajukan oleh Fromm, merupakan kemungkinan-kemungkinan dengan mana suatu kondisi masyarakat terbentuk. Kondisi masyarakat yang terbentuk akan menentukan corak kehidupan individuindividunya. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan gambaran dari manusia Indonesia yang berTuhan; Tuhan kepada siapa manusia itu terutama mengabdi dan mengarahkan hidupnya di dunia ini. Sila ini dapat ditinjau dari kebutuhan akan kerangka orientasi dan pengabdian yang diajukan Fromm. Kebutuhan ini, menurut Fromm, diperlukan untuk memberi makna dan kedudukan pada eksistensi manusia. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab melambangkan bahwa manusia Indonesia

adalah hanya sebagian saja dari seluruh umat manusia lainnya di bumi ini. Ini sejalan dengan pemikiran Fromm yang berpijak pada pandangan bahwa ‘rootedness’ yang benar adalah yang berdasarkan persaudaraan. Sila Persatuan Indonesia berarti bahwa manusia Indonesia tidak dapat dilepaskan dari Tanah Air yang melingkunginya, yang memberikannya ciri khas dan membedakannya dari bangsa-bangsa lain di dunia. Ini berarti bahwa identitas Indonesia tidak mengikuti suatu cara hidup yang sama atau meniru bangsa lain. Berarti pula, identitas ini merupakan individualitas, bukan identitas yang didasarkan atas “herd conformity” sebagaimana dikatakan Fromm. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan berarti bahwa siapa pun yang menjadi pimpinan hendaknya menyadari kreativitasnya, sebagai rakyatnya. Atau dengan perkataan lain, kemampuan “transcendence”-nya bukan menghancurkan, tetapi untuk mengembangkan kreativitas dan mengaktualisasikan potensi-potensi yang ada dalam diri seseorang, seperti yang dikatakan Fromm. Akhirnya, sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia memiliki arti bahwa dalam mengejar suatu kebutuhan hendaknya setiap orang ingat akan adanya orang lain yang memiliki kebutuhan yang sama dengan dirinya. Hal ini berarti bahwa meskipun kemampuan dan hasil yang dicapai berbeda-beda, namun seseorang harus merasa terikat dengan orang lain. Kurang sepantasnyalah jika hanya memikirkan dirinya sendiri, seperti yang diuraikan Fromm.

198

SRIAMIN

Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa bila kebutuhan (yang benar) yang memungkinkan tercapainya suatu “sane society” yang dipilih, maka wargawarga yang hidup dalam masyarakat itu dapat mencapai perkembangan kemanusiaannya secara optimal. Warga tersebut mempunyai mental yang sehat. Konsep “sane society” dari Fromm dapat diproyeksikan ke Pancasila. Dapat ditarik adanya suatu analogi dari sila-sila Pancasila dengan kebutuhan-kebutuhan (dan kemungkinan yang benar) yang seharusnya diambil oleh manusia untuk menerapkan eksistensinya di dunia ini. Sungguh berbahagialah bangsa Indonesia mempunyai Pancasila. Sayang sekali, Fromm tidak dilahirkan sebagai orang Indonesia.

Bibliografi
Abdulgani, R. (1976). Pengembangan Pancasila di Indonesia. Jakarta: Yayasan Idayu. Adams, C. (1966). Bung Karno: Penyambung lidah rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung Agung. Departemen Penerangan RI. (1978). Pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila (Ekaprasetia pancakarsa) dan GBHN. Fromm, E. (1947). Man for himself: An Inquiry into the psychology of ethics. Connecticut: Fawcett Premier Books. Fromm, E. (1955). The sane society. New York: Holt, Rinehart & Winston.

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 199–209

ISSN 2085-4242

Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari Kepribadian
Bonar Hutapea
Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI
Indonesian athletes get reasonably the same guidance and training. Unfortunately they show different level of achievement, regarding particularly the frequency and quality of their achievement. It is argued that achievement motivation level differences and personality type are influential enough for the achievement differences. The purpose of this research is to find the achievement motivation differences between the introvert Kempo athletes and the extrovert ones in the DKI Jakarta Province. The sampling technique was simple random sampling, The valid and reliable achievement motivation scale and Eysenck Personality Inventory (EPI) were given to 120 participants. Independent sample t-test statistical technique showed that there were no significantly achievement motivation differences among the athletes, based on their personality type (t = 1.201; p > .05). Keywords: achievement motivation, personality, athletes, kempo

Pembinaan olahraga dan pelatihan peningkatan kemampuan secara fisik, kognisi, maupun emosi diberikan kepada tiap atlet dalam rangka mencapai prestasi. Penyediaan sarana, fasilitas, hingga faktor pelatih yang berkualitas menjadi perhatian utama. Para atlet dalam bidang olahraga yang sama diberikan program latihan yang sama dan diberikan perlakuan yang sama, menggunakan fasilitas berlatih secara bersama, dan terkadang dilatih oleh pelatih yang sama. Namun, pada hasil akhir atau prestasi yang dihasilkan pada tiap diri atlet berbeda. Seorang atlet dapat memenangkan pertandingan berkali-kali, sedangkan lainnya tidak. Menurut Smith (dalam Satiadarma, 2000),
199

motivasi memiliki peran yang penting dalam mempengaruhi prestasi atlet. Gill (1986) menyatakan bahwa motivasi untuk berprestasi (achievement motivation) adalah orientasi individu untuk tetap berusaha memperoleh hasil terbaik semaksimal mungkin dengan dasar kemampuan untuk tetap bertahan sekalipun gagal, dan tetap berupaya menyelesaikan tugas sebaik-baiknya karena merasa bangga untuk mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Maka, perbedaan prestasi atlet didasari oleh adanya perbedaan motivasi berprestasi pada tiap diri individu. Dalam teori hirarki kebutuhan Maslow dinyatakan bahwa individu akan menampilkan suatu perilaku karena adanya kebutuhan akan

200

HUTAPEA

suatu hal tertentu. Kebutuhan tersebut akan menimbulkan dorongan, kehendak, dan niat untuk melakukan suatu perbuatan. (Gunarsa, 2004). Selanjutnya, Satiadarma (2000) menyatakan bahwa kebutuhan individu bersifat spesifik pada individu yang bersangkutan dan pada saat yang spesifik pula. Hal ini disebabkan manusia adalah makhluk yang kompleks, yang berespon secara berbeda dan unik terhadap kebutuhan dan situasi yang dihadapi. Menurut Eysenck (Suryabrata, 2003, h. 291), struktur kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan, disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hirarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingan, dan kepentingan ini bersumber dari kebutuhan. Demikian pula bahwa kebutuhan individu dipengaruhi oleh faktor kepribadian. Dengan adanya kepribadian yang berbeda dalam bereaksi terhadap kebutuhan yang dihadapi, maka terdapat suatu studi mengenai klasifikasi tingkah laku dalam teori kepribadian yang berusaha membedakan kepribadian yang satu dengan yang lain melalui tipologi kepribadian. Menurut Eysenck (Suryabrata, 2003), dalam kepribadian, tipe adalah organisasi di dalam individu yang lebih umum, lebih mencakup luas. Perhatian pokok Eysenck tertuju kepada dimensi-dimensi dasar atau tipetipe kepribadian, yang bertujuan menemukan dimensi-dimensi primer kepribadian, yang akan memungkinkan penyusunan tipologi yang cukup baik dan tahan uji. Lebih lanjut Eysenck menemukan dua faktor dasar kepribadian, yaitu “neuroticism” dan “introversion-extroversion”. Sebagai hasil akhir penyelidikan, Eysenck membuat pencandraan mengenai introvert dan ekstravert. Penggolongan tipe kepribadian menjadi extrovert dan introvert dipandang sederhana tapi merupakan dimensi pokok yang

didefinisikan dengan teliti dan jelas. Sebagaimana individu pada umumnya, masing-masing atlet juga merupakan gambaran dari salah satu tipe-tipe kepribadian. Setiap tipe kepribadian memiliki cara yang khas dalam berespon terhadap kebutuhan dan situasi yang dihadapi yang mempengaruhi motivasi atlet untuk berprestasi. Menurut Satiadarma (2000) atlet adalah individu yang memiliki keunikan tersendiri. Atlet memiliki bakat tersendiri, pola perilaku dan kepribadian tersendiri serta latar belakang kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik pada dirinya. Anshel (1990) mengemukakan beberapa hambatan perolehan data standar baku untuk menentukan aspek kepribadian yang menjamin sukses seorang atlet besar. Kemungkinan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti adanya perbedaan spesifikasi bidang olahraga yang berkaitan erat dengan perbedaan spesifikasi kepribadian atlet yang menggeluti bidang olahraga tersebut. Untuk itu, diperlukan adanya penelitian yang lebih spesifik terhadap cabang olahraga yang dikaji. Dalam penelitian ini, subyek yang akan diteliti adalah atlet olahraga cabang Kempo di Provinsi DKI Jakarta. Atlet Kempo adalah atlet cabang bela diri (martial art) yang semula berasal dari India yang kemudian berkembang pesat di daratan Cina, dan kini berpusat di Jepang. Di Indonesia sendiri Kempo berkembang pada tahun 1966 dengan terbentuknya PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia), dan sejak tahun 1976 pada PON IX di Jakarta, Kempo termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Olahraga Kempo memiliki nama asli Shorinji Kempo dan atlet Kempo disebut Kenshi. Olahraga Kempo memiliki ciri bertahan yang dipengaruhi oleh dasar falsafah untuk

STUDI KOMPARATIF

201

tidak menyakiti terlebih dahulu. Berdasarkan doktrin ini, mempengaruhi pula susunan beladiri Kempo, sehingga gerakan teknik selalu dimulai dengan mengelak atau menangkis serangan dahulu, baru kemudian membalas. Selanjutnya disesuaikan menurut kebutuhan, yakni menurut keadaan serangan lawan (“Falsafah Shorinji”, 2006). Hal ini disebabkan kempo merupakan olahraga yang sedang berkembang pembinaan dan pelatihannya, meskipun olahraga tersebut sudah ada sejak lama. Olahraga Kempo di DKI Jakarta sejak tahun 1977 telah mengirim binaannya dalam Kejuaraan Nasional Atlet Kempo maupun dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), dan selalu menjadi juara umum. Namun beberapa tahun terakhir provinsi DKI Jakarta menghadapi kesulitan untuk keluar menjadi juara umum dalam kejuaraan nasional, dan hanya beberapa atlet yang meraih prestasi dan menjadi juara pertama pada kejuaraan tersebut (“Sejarah Shorinji”, 2006). Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap pelatih atlet Kempo di Dojo Rawasari, bahwa prestasi yang maksimal sulit diraih disebabkan sulitnya menyatukan serta menyeragamkan visi tiap individu dalam berkempo. Kendala utama disebabkan oleh diri tiap individu yang bervariasi dimana pelatih menghadapi kepribadian yang berbeda baik dari segi temperamen dimana atlet mudah terpancing secara emosional, ada pula atlet yang enggan berlatih, atau bahkan yang sangat ingin mendisiplinkan diri sehingga cenderung memaksakan diri atau ingin menonjolkan diri. Hal ini membuat pelatih menyadari pentingnya pembinaan psikologis pada diri atlet, khususnya dalam upaya meningkatkan motivasi berprestasi atlet. Peningkatan motivasi berprestasi melalui

pemahaman mendalam terhadap faktor kepribadian menjadi sesuatu yang menarik dan penting terutama bagi para pelatih dan atlit. Kremer dan Scully (Satiadarma, 2000) mengemukakan bahwa motivasi mengacu pada adanya kebutuhan individu yang dilandasi oleh kepribadian individu yang bersangkutan. Sedangkan menurut Anshel et. al. (Satiadarma, 2000) bahwa salah satu sumber motivasi adalah orientasi pelaku (trait centered/ participant centered orientation). Orientasi ini mengemukakan bahwa sumber motivasi terletak pada diri individu yang bersangkutan. Jadi, motivasi merupakan bentuk kecenderungan pribadi. Segi kepribadian yang difokuskan dalam penelitian ini adalah tipe extrovert dan introvert. Dengan demikian permasalahan dalam penelitian dapat dirumuskan dengan pertanyaan, “Apakah ada perbedaan motivasi berprestasi antara individu tipe kepribadian introvert dengan individu tipe kepribadian extrovert pada atlet Kempo Provinsi DKI Jakarta?”

Motivasi Berprestasi
Woodwoth (2001) mendefinisikan motif sebagai “…a state or set of the individual which disposes him for certain behaviour and seeking certain goal.” Dari pendapat Woodwoth ini dapat dipahami bahwa motif menentukan perilaku. Dengan memahami esensi dari motif, maka dapat lebih mudah memahami definisi motivasi secara lebih mendalam. Menurut Gunarsa (2004), motivasi merupakan suatu kekuatan atau tenaga pendorong untuk melakukan sesuatu hal atau menampilkan sesuatu perilaku tertentu. Perumusan singkat dalam kaitan dengan olahraga, diberikan oleh G. H. Sage (dalam

202

HUTAPEA

Gunarsa, 2004) sebagai berikut: “motivation can be defined simply as the direction and intensity of one’s effort”.Yang dimaksudkan dengan arah usaha dalam hal ini adalah situasi yang menarik dan membangkitkan minat individu sehingga ada upaya individu untuk mendekatinya, sedangkan intensitas adalah besarnya upaya individu untuk dapat mendekati situasi atau kondisi yang diminati. Senada dengan pendapat tersebut, Alderman (dalam Satiadarma, 2000) mendefinisikan motivasi sebagai suatu kecenderungan untuk berperilaku secara selektif ke suatu arah tertentu, dan perilaku tersebut akan bertahan sampai sasaran perilaku dapat dicapai. Sifat selektif dari perilaku berarti individu yang berperilaku membuat suatu keputusan untuk memilih tindakannya. Arah tertentu dari perilaku artinya tindakan yang dilakukan memiliki suatu tujuan sesuai dengan keinginan. Adapun yang dimaksud dengan konsekuensi adalah suatu kondisi negatif yang diperoleh individu jika tidak melakukan perilaku tersebut. Gill (1986) mendefinisikan motivasi untuk berprestasi (achievement motivation) sebagai orientasi individu untuk tetap berusaha memperoleh hasil terbaik semaksimal mungkin dengan dasar kemampuan untuk tetap bertahan sekalipun gagal, dan tetap berupaya untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya karena merasa bangga untuk mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Hampir senada denga itu, motivasi berprestasi menurut Gunarsa (2004) adalah sesuatu dorongan yang harus ada dan penting sekali untuk mencapai keberhasilan. Lebih lanjut McClelland (1967) menyatakan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu usaha mencapai sukses yang bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi, dalam suatu ukuran keunggulan dan motivasi itu muncul ketika

individu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Motivasi untuk berprestasi adalah motivasi untuk berhasil mencapai sukses yang meliputi: (1) standar mengungguli tugas, yaitu berusaha mengerjakan tugas sesuai dengan kesempurnaan tugas, (2) standar keunggulan diri, yaitu berusaha mencapai prestasi melebihi yang sudah dicapai sebelumnya, dan (3) standar individu lain, yaitu berupaya mencapai prestasi melebihi prestasi individu lain. Dalam konteks olahraga, motivasi berprestasi menjadi faktor penentu (determinan) yang amat penting dan menentukan agar mendapat hasil terbaik, berprestasi lebih baik daripada sebelumnya, sanggup bersaing dan unggul, mampu mengatasi rintangan serta memelihara semangat tinggi. McClelland (dalam Munandar, 2001) menemukan bahwa individu dengan dorongan prestasi yang tinggi berbeda dari individu lain dalam keinginan kuat untuk melakukan hal-hal dengan lebih baik. Individu dengan motivasi berprestasi yang tinggi mencari kesempatankesempatan dimana individu tersebut memiliki tanggung jawab pribadi dalam menemukan jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah. Individu tersebut lebih menyukai pekerjaanpekerjaan dimana terdapat tanggung jawab pribadi, akan memperoleh balikan, dan tugas pekerjaan memiliki resiko yang sedang (moderate). Individu yang memiliki kebutuhan berprestasi yang tinggi bukan pemain judi (gambler), tidak suka berhasil secara kebetulan. Tujuan-tujuan yang ditetapkan merupakan tujuan yang tidak terlalu sulit dicapai dan juga bukan tujuan yang terlalu mudah dicapai. Tujuan yang harus dicapai merupakan tujuan dengan derajat kesulitan menengah (moderate). Lebih lanjut McClelland menyatakan karakteristik individu dengan motivasi

STUDI KOMPARATIF

203

berprestasi yang tinggi menurut McClelland sebagai berikut: (1) Keinginan menjadi yang terbaik; (2) Menyukai pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi; (3) Membutuhkan umpan balik setelah melakukan suatu pekerjaan; (4) Resiko pemilihan tugas moderat; (5) Kreatif-inovatif dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan.

Tipe Kepribadian Extrovert dan Introvert
Kepribadian menurut Allport (dalam Suryabrata, 2003) organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Dalam maksud meramalkan, pengertian kepribadian yang diajukan Cattel (dalam Suryabrata, 2003) yakni: “…..that which permits a prediction of what a person will do in a given situation.” Artinya, kepribadian adalah sesuatu yang memungkinkan suatu prediksi terhadap apa yang akan manusia lakukan dalam situasi tertentu. Dalam konteks psikologi olahraga, kepribadian dimaksudkan untuk meramalkan perilaku-perilaku terkait olahraga. Dalam hal ini motivasi berprestasi. Chaplin (2002, h. 522) mengemukakan definsi tipe (type) sebagai berikut: (1) Satu pengelompokan individu yang bisa dibedakan dari individu lain karena memiliki satu sifat khusus; (2) Individu yang memiliki semua atau paling banyak ciri-ciri khas dari suatu kelompok; (3) Satu pola karakteristik yang berperan sebagai satu pembimbing untuk menempatkan individu dalam kategori; (4) Ekstrimitas dari rangkaian kesatuan, atau dari distribusi, seperti yang ditunjukkan dalam tipe agresif, atau tipe sosial. Sedangkan menurut Eysenck (dalam Suryabrata, 2003) tipe (type)

adalah organisasi di dalam individu yang lebih umum, lebih mencakup lagi. Intinya, tipe merupakan kategori kepribadian berdasarkan karakteristik yang sama berdasarkan sifat-sifat khusus tertentu. Rorschach (dalam Chaplin, 2002) mendefinisikan introversiveness (introversivitas) sebagai kepribadian seseorang yang menampilkan suatu fungsi imajinatif yang berkembang dengan baik, dan mengurangi reaktivitasnya terhadap dunia luar. Individu introversif mereaksi lebih banyak dengan sistem syaraf otak dan otonomis daripada dengan sistem otot atau urat berjalur. Jung (dalam Suryabrata, 2003) menguraikan individu dengan tipe kepribadian introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di dalam diri sendiri. Orientasi terutama tertuju ke dalam: pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakan terutama ditentukan oleh faktor-faktor subyektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik; jiwa tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan individu lain, kurang dapat menarik hati individu lain. Penyesuaian dengan batin sendiri baik. Bahaya tipe introvert ini ialah bila jarak dengan dunia obyektif terlalu jauh, sehingga individu lepas dari dunia obyektifnya. Eysenck (dalam Suryabrata, 2003) menjelaskan tipe kepribadian introvert dicirikan sifat-sifat tenang, konsisten, terkontrol, berpikir sebelum bertindak, pasif, moody, cemas, rigid, sober, pesimis, reserved, unstable, dan pendiam. Sedangkan seorang ekstravert sifatnya sosial, lebih banyak berbuat daripada berkontemplasi (merenung, berpikir), dan seseorang dengan motif-motif yang dikondisionir oleh karakteristik ekstraversi. Jung (dalam Chaplin, 2002) menguraikan bahwa ekstraversi-introversi sebagai satu

204

HUTAPEA

dimensi kepribadian bipolar, di mana orang dibagi dalam tipe-tipe tertentu. Ektraversi ditandai dengan pengarahan keluar, dan pribadi pada ujung ekstrim yang satu; sedang introversi mengarah ke dalam, dan ada pada ujung ekstrim lainnya. Individu yang ekstravert terutama dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia di luar diri. Orientasi terutama tertuju keluar; pikiran, perasaan, serta tindakan terutama ditentukan oleh lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non-sosial. Individu extrovert bersikap positif terhadap masyarakat; hati terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan individu lain lancar. Lebih lanjut, menurut Eysenck (dalam Ermida, 2001) individu dengan kepribadian ekstravert digambarkan memiliki ciri-ciri memimpin, berani menerima tantangan, responsif, agresif, menyukai kesenangan, minat sosial tinggi, optimis, aktif, dan menyukai perubahan.

Motivasi dan Kepribadian Atlet
Motivasi yang mengacu pada adanya kebutuhan individu dilandasi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan (Kremer & Scully, dalam Satiadarma, 2000). Karenanya, motivasi tidak bisa digeneralisasikan bagi semua individu melainkan harus ditinjau secara khusus dari satu individu ke individu lain. Tinjauan kepribadian secara khusus ini disebut sifat, yang kemudian peranannya untuk membuat identifikasi dimensi-dimensi dasar atau tipe-tipe kepribadian. Lebih lanjut, Cox (dalam Satiadarma, 2000) mengemukakan bahwa beberapa studi kepribadian, salah satu karakteristik yang menentukan kesuksesan atlet adalah tingginya kebutuhan untuk berprestasi. Kebutuhan ini dikenal sebagai Achievement Motivation

(motivasi berprestasi). Dalam kaitannya dengan hal ini Atkinson dan McClelland (dalam Satiadarma, 2000) mengajukan teori motivasi yang didasari oleh pemenuhan kebutuhan (need achievement theory) di mana salah satu komponennya adalah kepribadian individu. Menurut Satiadarma (2000) atlet adalah individu yang memiliki keunikan tersendiri. Atlet memiliki bakat tersendiri, pola perilaku dan kepribadian tersendiri serta latar belakang kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik pada dirinya. Dengan keunikan yang dimiliki masing-masing atlet, maka untuk mengklasifikasikan tiap kepribadian ditetapkan istilah tipe kepribadian. Kepribadian menurut Eysenck (dalam Suryabrata, 2003) tersusun atas tindakan-tindakan, disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hirarkis, dan yang menjadi sorotan utama adalah tipe (type). Perbedaan sifat yang terkandung dalam tipe kepribadian extrovert dan introvert sebagaimana dijelaskan dari perspektif Eysenck di atas mengarah kepada perbedaan motivasi. Atlet dengan tipe extrovert yang ditandai dengan ciri-ciri memimpin, berani menerima tantangan, responsif, agresif, menyukai kesenangan, minat sosial tinggi, optimis, aktif, dan menyukai perubahan tampaknya lebih termotivasi untuk berprestasi dibandingkan dengan tipe introvert yang ditandai dengan ciri sifat-sifat tenang, konsisten, terkontrol, berpikir sebelum bertindak, pasif, moody, cemas, rigid, sober, pesimis, reserved, unstable, dan pendiam. Berdasarkan uraian di atas, maka layak diduga bahwa ada keterkaitan antara motivasi berprestasi dengan tipe kepribadian. Individu dengan tipe kepribadian extrovert diduga lebih termotivasi untuk berprestasi.

STUDI KOMPARATIF

205

Metode
Penelitian ini bersifat non eksperimental dan merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatif yang mencoba menjelaskan mengapa dan bagaimana hubungan antar dua aspek situasi atau fenomena (Kumar, 1996). Partisipan Populasi dalam penelitian ini adalah atlet Kempo Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah mereka yang telah menjadi atlet sekurang-kurangnya 6 bulan. Pertimbangan ini dibuat dengan anggapan bahwa atlet tersebut sudah mendapatkan pembinaan dan latihan yang relatif cukup dan sama dengan atlet lainnya. Demikian pula dengan fasilitas, sarana, dan pelatih relatif sama atau sekurangkurangnya mengalami dilatih dengan orang yang berbeda-beda dalam kurun waktu yang tidak terlampau singkat. Sampel atlet yang akan diambil tidak dibatasi pada jenis kelamin tertentu dengan pertimbangan bahwa motivasi berprestasi tak hanya didominasi pria saja sebagaimana seringkali diyakini banyak pihak sebagai salah satu karakteristik stereotip peran jenis kelamin. Kriteria utama yang harus dipenuhi adalah usia yakni 16 tahun ke atas. Hal ini didasari pertimbangan bahwa instrumen yang dipakai untuk mengukur kepribadian mensyaratkan demikian. Adapun jumlah atlet yang sesuai dengan kriteria sampel ini adalah 202 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Simple Random Sampling. Teknik ini dipilih dengan mengasumsikan bahwa populasi relatif homogen atau tidak cukup bervariasi.

Sebagai hasil dari sampling tersebut, berdasarkan Nomogram Harry King maka 117 individu yang akan dijadikan sampel penelitian dan dibulatkan menjadi 120 individu. Hal ini lebih aman dilakukan dalam penelitian daripada kurang dari 117 sampel (Sugiyono, 2003) sebab jumlah sampel sebesar 117 adalah jumlah minimum yang dipersyaratkan sebagai representasi populasi. Instrumen Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah skala psikologi yang diisi oleh subjek penelitian. Skala yang digunakan merupakan skala data interval berupa skala model Likert untuk mengetahui tingkat motivasi berprestasi atlet Kempo Provinsi DKI Jakarta. Sedangkan untuk mengetahui individu bertipe kepribadian introvert atau extrovert, digunakan skala yang bersifat nominal dimana kategorisasi dilakukan berdasarkan dua dimensi yang berbeda, bukan dimensi yang sama. Tujuannya agar menempatkan responden pada kategorisasi tertentu (tidak berjenjang) berdasarkan konsep teoritik yang diperoleh. Skala motivasi berprestasi ini berasal dari teori McClelland (1967) yang terdiri dari lima karakteristik yaitu keinginan menjadi yang terbaik, menyukai pekerjaan-pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi, membutuhkan umpan balik setelah melakukan suatu pekerjaan, resiko pemilihan tugas moderat, dan kreatif-inovatif dalam melakukan suatu pekerjaan. Dalam skala motivasi berprestasi pada atlet Kempo ini terdapat 20 pernyataan yang mendukung objek sikap (favorable) dan 20 pernyataan yang tidak mendukung objek sikap (unfavorable). Jadi jumlah keseluruhan dari masing-masing pernyataan dalam skala motivasi berprestasi

206

HUTAPEA

pada atlet Kempo sebanyak 40 item. Urutan pernyataan (item) diacak. Karena alat ukur ini berupa skala Likert maka terdapat lima pilihan respon yang masing-masing mewakili skor. cara pemberian nilai yang digunakan dalam kelompok pernyataan yang mendukung (favorable) dengan kelompok pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable). Respon-respon untuk skor-skor tersebut adalah: skor 5 untuk respon Sangat Sesuai, skor 4 untuk respon Sesuai, skor 3 untuk respon Netral, skor 2 untuk respon Tidak Sesuai, dan skor 1 untuk respon Sangat Tidak Sesuai. Semua skor ini berlaku untuk kelompok pernyataan mendukung (favorable) dan sebaliknya bagi kelompok pernyataan tak mendukung (unfavorable). Eysenck Personality Inventory (EPI) untuk mengkategorikan tipe kepribadian responden ke dalam tipe ekstravert atau introvert. penilaian kategori nominal didasarkan pada skor mean responden. Alat tes EPI merupakan inventori dari H.J. Eysenck yang menguraikan tipe-tipe kepribadian ke dalam tipe stable introvert, stable extrovert, unstable introvert dan unstable extrovert, dalam skala EPI ini terdapat 23 item yang mengindikasikan posisi subjek dalam dimensi stable – unstable, 24 item yang mengindikasikan subjek ke dalam dimensi extrovert dan introvert, dan 9 item untuk mengetahui kejujuran subjek dalam menjawab. Cara penilaian EPI berpedoman pada kriteria jawaban Eysenck Personality Inventory yang diterbitkan oleh “Urusan Reproduksi dan Distribusi Alat-Alat Tes Psikologi” (URDAT) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jawaban subjek dalam skala EPI ini dibatasi dalam jawaban “Ya” dan “Tidak” dengan memberikan tanda silang (X) di kolom “Ya” apabila jawaban subjek adalah ya dan di kolom “Tidak” apabila jawaban subjek adalah tidak.

Subjek dalam mengerjakan tes ini diminta langsung menjawab setelah membaca pernyataan dalam skala sesuai dengan keadaan diri subjek. Pemberian skor adalah 1 untuk jawaban “Ya” pada pernyataan yang berkode aE (affirmative extraversion), aN (affirmative neuroticism), aL (affirmative lie), dan pemberian nilai 1 untuk jawaban “Tidak” pada pernyataan yang berkode nE (neglected affirmative extraversion), nN (neglected affirmative neuroticism), nL (neglected affirmative lie). Nilai diberikan pada kolom L, E, N yang sesuai dengan huruf belakang dari pengkodean pernyataan. Pengklasifikasian tipe kepribadian berdasarkan atas nilai norma yaitu 14 untuk dimensi E dan N. Nilai rata-rata untuk Extraversion adalah 13-15. Jika skor E subjek 14 ke atas maka subjek tersebut memiliki kecenderungan extrovert, dan jika skor E subjek berada pada 12 ke bawah maka subjek memiliki kecenderungan introvert. Pada dimensi N juga berlaku hal yang sama, jika skor subjek 14 ke atas maka subjek memiliki kecenderungan neurotik (lebih ke arah unstable pada dimensi N) dan jika skor 14 ke bawah maka subjek cenderung stabil (lebih ke arah stable dalam dimensi N). Untuk penilaian kejujuran jika subjek pada dimensi L memiliki skor di bawah 3 berarti subjek tergolong jujur dan jika skor L di atas 5 maka subjek tersebut tidak menjawab dengan jujur. Skala Eysenck Personality Inventory (EPI) ini dapat dikenakan untuk subjek berusia 16 tahun ke atas. Analisis Peneliti menggunakan piranti lunak SPSS versi 12.0 for Windows untuk mengolah data dalam penelitian ini. Berikut adalah teknik pengolahan yang digunakan peneliti: (1)

STUDI KOMPARATIF

207

Statistik deskriptif untuk mendapatkan mean, skor maksimum responden, skor minimum responden, dan standard deviation; (2) Uji perbedaan dilakukan dengan independent sample t-test, karena t-test dalam hal ini digunakan untuk menguji dua kategori yang berdiri sendiri (independent). Dalam penelitian ini dua kategori yang berdiri sendiri yaitu tipe kepribadian introvert dan tipe kepribadian extrovert.

Hasil
Peneliti mengujicobakan (try out) instrumen berupa skala motivasi berprestasi pada 30 partisipan pada Februari 2010 dengan teknik incidental sampling. Sedangkan untuk skala tipe kepribadian tidak diadakan uji coba karena skala Tipe Kepribadian dari Eysenck (EPI) telah terstandardisasi dan merupakan skala baku. Uji validitas skala motivasi berprestasi menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson. Kualitas item dilihat dari corrected item-total correlation. Apabila lebih besar dari 0,3 maka dianggap sebagai item yang baik (valid). Dari 40 item diperoleh hasil 30 item yang memenuhi kriteria baik, di mana semua indikator terwakili dengan jumlah relatif sama. Uji korelasi antar faktor dilakukan menguji kesahihan antar faktor dalam setiap skala dengan konstraknya untuk mengetahui jika faktor dalam skala yang dibuat sudah mampu mengungkap konstrak yang telah didefinisikan dan juga untuk melihat jika ada faktor yang tumpang tindih (overlapping) dengan faktor lain yang ada dalam skala tersebut. semua faktor mempunyai hubungan yang signifikan, yang berarti faktor-faktor yang dikemukakan di dalam skala tersebut saling memiliki keterkaitan. Berdasarkan hasil analisa korelasi

antar faktor, tidak ada faktor yang digugurkan karena dianggap merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan faktor dalam skala yang sama. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik Cronbach Alpha Dari uji reliabilitas yang dilakukan terhadap skala motivasi berprestasi didapat hasil sebesar 0,87 dan tergolong dalam kategori reliabel menurut kaidah reliabilitas Guilford dan Fruchter. Penelitian dilakukan di Sekretariat PERKEMI Propinsi DKI Jakarta yang berlokasi di Gelanggang Olahraga Rawamangun. Penelitian dilakukan dengan cara memberikan dua buah skala kepada atlet Kempo dan kepada pihak pelatih Kempo yang kemudian disebar kepada atlet Kempo, yaitu skala motivasi berprestasi yang terdiri dari 30 item dan Eysenck Personality Inventory (EPI) Form A yang terdiri dari 56 item untuk mengukur tipe kepribadian. Berdasarkan analisis tipe kepribadian menggunakan skala EPI, diperoleh hasil sebanyak 62 atlet (51,67%) bertipe kepribadian introvert, 51 atlet (42,5%) bertipe kepribadian extrovert dan 7 atlet (5,83%) netral dengan skor E = 13. Analisis data terhadap perbedaan motivasi berprestasi antara atlet Kempo tipe kepribadian introvert dengan atlet Kempo tipe kepribadian extrovert di Provinsi DKI Jakarta menggunakan t-test diperoleh nilai t sebesar 1,201 dan p sebesar 0,232 (p > 0,05). Jadi, tidak ada perbedaan motivasi berprestasi antara atlet Kempo tipe kepribadian introvert dengan atlet Kempo tipe kepribadian extrovert di Provinsi DKI Jakarta.

Diskusi dan Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan motivasi berprestasi ditinjau dari tipe kepribadian. Berbeda dari dugaan

208

HUTAPEA

semula bahwa dengan melihat perbedaan ciriciri dan sifat-sifat dalam tipe extrovert dan introvert diduga akan terdapat pula perbedaan dalam motivasi berprestasi. Atlet berkepribadian extrovert dengan berani menerima tantangan, responsif, agresif, menyukai kesenangan, minat sosial tinggi, optimis, aktif, dan menyukai perubahan diyakini lebih terdorong meraih prestasi lebih tinggi dan lebih intens. Khusus bagi olahraga Kempo yang menuntut ketangguhan mental dan fisik sebagai suatu macam olahraga bela diri (martial art). Tidak signifikannya perbedaan ini mungkin terjadi karena terdapat variabel lain yang menjadi mencampuri (intervening) karena tidak dikontrol oleh peneliti. Variabel yang dikontrol hanyalah lamanya menjadi atlet dan keanggotan resmi. Padahal variabel lain seperti jenis kelamin kemungkinan berperan. Beberapa ahli misalnya Lips dan Colwill (1978) menyatakan bahwa dalam berbagai aspek psikologis terdapat perbedaan antara pria dan wanita. Pria ditemukan lebih termotivasi meraih prestasi khususnya untuk olahraga kompetitif dan mengandalkan kekuatan fisik. Untuk olahraga sejenis bela diri sejauh ini pria jauh lebih mendominasi dalam jumlah maupun partisipasi dalam kejuaraan dan pertandingan. Hal ini juga kemungkinan terkait dengan peran jenis kelamin (gender role). Rasa berkompetisi tampaknya masih tetap bagian dari tipikal jender maskulin dan diasosiasikan dengan jenis kelamin laki-laki. Hal lain yang juga dianggap berperan dalam mencampuri mengapa keterkaitan antara kepribadian dengan motivasi berprestasi kurang signifikan adalah karena perbedaan tipikal kepribadian, sengaja atau tidak, telah dinetralisir oleh pola pelatihan dari pihak

pengurus maupun pelatih yang berusaha menyeragamkan pikiran dan visi tiap individu dalam berlatih maupun bertanding. Sehingga perbedaan individu tidak terlalu ditonjolkan dalam cabang olahraga ini, meskipun tidak memungkiri adanya perbedaan karakteristik antara individu satu dengan yang lain. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Weinberg dan Gould (dalam Satiadarma, 2000) bahwa menurut teori Orientasi Interaksional (Interactional Orientation), motivasi tidak hanya dikaji berlandaskan pada individu yang terkait (atlet yang bersangkutan), juga tidak hanya dilandasi oleh faktor situasional, melainkan bagaimana interaksi kedua aspek ini berlangsung. Berdasarkan paradigma tersebut, ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan dalam meningkatkan motivasi atlet. Dalam pribadi atlet misalnya terdapat aspek kebutuhan, minat, sasaran, dan kepribadian atlet itu sendiri yang kesemuanya perlu mendapat perhatian. Dalam faktor situasional, gaya kepemimpinan, fasilitas, dan hasil yang pernah diperoleh memiliki peran signifikan sebagai pembangkit motivasi atlet. Berbagai faktor yang ada ini harus saling mendukung untuk bisa membangkitkan motivasi atlet untuk berprestasi. Namun disamping itu juga perlu diperhatikan bahwa atlet yang menjadi subyek pembinaan berada dalam suatu situasi yang tertentu pula. Berdasarkan pernyataan di atas bahwa orientasi interaksional merupakan suatu interaksi antara faktor pribadi dengan faktor situasional yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka meningkatkan motivasi berprestasi atlet. Tiap aspek dalam faktor pribadi atlet maupun aspek yang berasal dari faktor situasional mempengaruhi motivasi berprestasi pada atlet.

STUDI KOMPARATIF

209

Bibliografi
Anshel, M. H. (1990). Sport psychology: From theory to practice. Arizona: Gorsuch Scarisbrick Publishers Chaplin, J. P. (2002). Kamus lengkap psikologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Ermida. (2001). Sikap terhadap pembelian produk secara online (e-commerce) ditinjau dari tipe kepribadian ekstravert–introvert. INSAN, Media Psikologi, 3(3). Falsafah Shorinji Kempo. (2006). PERKEMI.or.id. Diakses dari http://www.perkemi.or.id/index.php?get=Ar ticle&view=135, pada 5 Januari 2010. Gill, D. L. (1986) Psychological dynamics of sport, Illinois: Human Kinetic Publishers, Inc Gunarsa, S. D. (2004). Psikologi olahraga prestasi. Jakarta: Gunung Mulia. Lips, H. M. & Colwill, N. L. (1978) The psychology of sex differences. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Munandar, A. S. (2001). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI Press). Satiadarma, M. P. (2000). Dasar-dasar psikologi olahraga. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Sejarah Shorinji Kempo. (2006). PERKEMI.or.id. Diakses dari http://www.perkemi.or.id/index.php?get=Ar ticle&view=135, pada 5 Januari 2010. Suryabrata, S. (2003). Psikologi kepribadian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Woodwoth. (2001). Encyclopaedia of Psychology 1 (In 4 Volume). Delhi: Sports Publication.

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 210–218

ISSN 2085-4242

Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang Sudah Menerbitkan Karyanya
Rendy Wirawan dan Eunike Sri Tyas Suci
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
The Japanese style comics began its popularity in Indonesia in 1991. The Indonesians are attracted to the translated Japanese comics and Japanese style drawing. This phenomenon is visible according to the increasing numbers of schools and books which offer courses on Japanese style comics' creation. In order to join in a comic competition, a comic artist has to deliver great effort and motivation. Effort and motivation are important part in self-efficacy. This research is a qualitative description study and the data were gathered through depth-interview which was delivered to five experienced comic artist whose comics have been published. The research results showed that personal and others' experiences are the most influential factor for self-efficacy. Most comic artists perceived that their starting point and or deeper self-efficacy were from others' success. Other's failure (as models), however, also shape the artists' self-efficacy. Unfortunately, the artists get less social persuasion as another factor of self-efficacy. Temporarily though, the artists' self-efficacy also shaped by physical and psychological situations. Further considerations are advisable for diverse artists and delivery of this research findings to young comic artist to improve their self-efficacy efficiently. Keywords: self-efficacy, comic artists, comics, Japanese style comics

Mulai tahun 1991, komik Jepang terjemahan masuk dan akhirnya mendominasi pasar komik Indonesia. Banyak penerbit komik ternama memilih untuk memberikan proporsi yang besar kepada komik-komik ini (Kulsum, 2007; "Mendidik anak", 2003). Selain komik Jepang terjemahan, gaya menggambar komik Jepang juga mulai menarik perhatian kaum muda Indonesia. Hal ini ditunjukkan dari meningkatnya jumlah buku dan lembaga yang

menawarkan pendidikan dalam membuat komik bergaya Jepang. Terlepas dari gayanya, komikus Indonesia sebenarnya memiliki kompetensi yang baik. Selalu ada komik yang bagus dan menarik muncul dalam sayembara setiap tahunnya ("Mendidik anak", 2003). Hal ini juga terlihat dari beberapa komik yang berhasil memenangkan lomba internasional (Lesmana, 2008; Marsiela, 2007) atau yang berhasil
210

GAMBARAN FAKTOR

211

menembus pasar internasional (Komunikasi personal dengan ilustrator sebuah penerbit di Bandung, 1 Juni 2009; Wibowo, 2007). Walaupun demikian, menerbitkan komik di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Pasar komik Indonesia masih melihat komik Indonesia “seperempat mata” (Komunikasi personal dengan editor sebuah penerbit di Jakarta, 11 Juni 2009) sehingga penerbit juga membatasi penerbitan komik lokal mereka. Cara menerbitkan secara mandiri pun dirasa sulit bagi komikus yang memiliki keterbatasan dana dan kemampuan mendistribusikan. Untuk menghadapi situasi ini, para komikus dituntut untuk memiliki kemauan berusaha lebih dan kemampuan untuk menghadapi kegagalan. Sayangnya, beberapa forum yang ditemukan menunjukkan bahwa hal tersebut kurang terlihat pada “calon komikus”. Mereka lebih memilih untuk tidak menggambar atau menerbitkan komik lagi. Ketiga hal tersebut dapat ditingkatkan melalui peningkatan efikasi diri (self-efficacy), yaitu keyakinan bahwa seseorang mampu menyelesaikan sebuah tugas atau aktivitas dengan sukses untuk mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura, 1977). Peningkatan ini dirasa penting karena komik dapat digunakan dalam berbagai pembelajaran lainnya. Dengan memahami gambaran keempat faktor pembentuk efikasi diri diharapkan komikus lokal dapat meningkat efikasi dirinya dalam membuat dan menerbitkan karyanya. Menyadari pentingnya efikasi diri pada komikus Indonesia dalam menerbitkan hasil karyanya, peneliti tertarik untuk melihat bagaimanakah gambaran faktor-faktor pembentuk efikasi diri dalam membuat dan menerbitkan komik bergaya Jepang pada para komikus yang sudah menerbitkan karyanya. Hal

ini penting diketahui agar menjadi model bagi komikus muda yang belum mempunyai pengalaman dalam penerbitan.

Komik dan Proses Psikologis
Komik merupakan semua gambar atau lambang yang diatur dengan urutan tertentu dan menimbulkan kesan kesinambungan dengan tujuan tertentu (McCloud, 2001). Menurut McCloud (2001), komik lebih banyak berada pada dunia makna/ide/gagasan daripada dunia realita. Komik sendiri tidak dapat “berjalan” tanpa adanya proses internal (proses psikologis) dari pembacanya. McCloud (2008) juga menambahkan bahwa komik Jepang memiliki beberapa kekhasan yaitu penggambaran wajah yang ikonik (penggambaran yang lebih dekat dengan dunia ide daripada dunia kenyataan atau realita), perancangan karakter yang matang, transisi antar panel yang unik, penggambaran latar belakang yang realistik, rincian dunia nyata yang detil, kematangan genre (jenis cerita), penggunaan garis gerak subjektif, serta penggunaan ekspresionisme untuk memunculkan efek emosi. Membuat komik merupakan proses yang memuat perencanaan isi dan tampilan komik, serta pembuatan komik itu sendiri secara teknis (pemetaan berdasarkan Haraguchi, 2003; McCloud, 2001; McCloud, 2008; The Society for The Study of Manga Techniques, 2000a; The Society for The Study of Manga Techniques 2000b). Perencanaan isi memuat perencanaan plot, penokohan, dan setting dari komik tersebut. Perencanaan tampilan komik memuat pemilihan momen (adegan), bingkai (sudut pandang; pengambilan momen), citra (gaya menggambar), kata (tulisan), dan alur (bagaimana mata “dipaksa” untuk mengikuti

212

WIRAWAN DAN SUCI

semua elemen lainnya). Proses pembuatan komik secara teknis memuat pembuatan name (“rencana komik”), pembuatan sketsa, penintaan, dan pewarnaan. Berdasarkan formatnya, komik dalam penelitian ini akan dibagi ke dalam dua kategori, yaitu komik tunggal (komik yang dikerjakan sendiri oleh seorang komikus) dan komik kompilasi (komik yang memuat beberapa hasil kerja lebih dari satu komikus). Berdasarkan cara menerbitkan, penerbitan komik dalam penelitian ini akan dibagi menjadi menggunakan penerbitan (percetakan dan pendistribusian dilakukan oleh penerbit) dan penerbitan mandiri (percetakan dan pendistribusian dilakukan oleh dua pihak yang berlainan atau oleh komikus itu sendiri). Setiap cara memiliki prosedur, serta kelebihan dan keuntungan masing-masing.

Efikasi Diri
Terkait dengan efikasi diri pada komikus dalam menerbitkan hasil karyanya, efikasi diri itu sendiri merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk mengevaluasi dirinya sendiri (self-reflectiveness) dan memiliki peran yang sentral dalam “agen perubahan” yang dimiliki manusia (Bandura, 1982; Bandura, 1986; keduanya dalam Bandura, 1989). Efikasi diri adalah keyakinan seseorang bahwa ia mampu melakukan suatu perilaku dengan sukses untuk mencapai hasil yang diinginkan (Bandura, 1977) atau penilaian atas kemampuan seseorang dalam mengontrol dirinya sendiri dan lingkungannya (Bandura, 2001). Efikasi diri memiliki beberapa kontribusi dalam kehidupan seseorang. Bandura (1977; 1989) berpendapat bahwa efikasi diri akan mempengaruhi pemilihan perilaku atau aktivitas

yang akan dilakukan, besar usaha yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, besar usaha yang akan diberikan untuk menghadapi kegagalan atau hambatan, serta besar kemampuan untuk bertahan ketika mengalami kegagalan dan hambatan (didukung juga oleh penelitian oleh Schunk, 1989, dalam Pintrich & Schunk, 1996). Bandura (1977; 1989) menyatakan bahwa ada empat faktor pembentuk efikasi diri, yaitu pengalaman sendiri (enactive experience), pengalaman orang lain (vicarious experience), persuasi sosial (social persuasion), dan keadaan fisik dan/atau psikis (physical and emotional state). Secara umum, keberhasilan yang dialami diri sendiri dan/atau dialami model, serta adanya persuasi verbal akan meningkatkan efikasi diri sedangkan keadaan fisik/psikis akan meningkatkan efikasi diri ketika keadaan ini ada pada tingkat sedang (tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah).

Metode
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menggunakan data kualitatif berupa narasi dan bertujuan untuk memberikan gambaran. Penelitian ini juga termasuk dalam jenis noneksperimental. Perlu diketahui, penelitian ini meneliti faktor-faktor pembentuk efikasi diri, dan bukan efikasi diri itu sendiri. Secara teoritis, faktorfaktor pembentuk efikasi diri dalam terdiri dari empat hal, yaitu pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, persuasi sosial, dan keadaan fisik/psikis seseorang yang berkaitan dengan keyakinan seseorang mengenai kemampuannya dalam melakukan sebuah atau seperangkat perilaku. Dalam membuat dan

GAMBARAN FAKTOR

213

menerbitkan komik, faktor pembentuk efikasi diri tersebut berkaitan dengan keyakinan seorang komikus bahwa ia mampu membuat dan menerbitkan komiknya. Faktor pengalaman sendiri merujuk kepada kegagalan atau keberhasilan yang dialami oleh komikus yang mempengaruhi keyakinan komikus akan kemampuannya. Faktor pengalaman orang lain merupakan kegagalan atau keberhasilan yang dialami oleh model yang menurut komikus memiliki pengaruh terhadap keyakinan akan kemampuannya. Faktor persuasi sosial berisi sugesti yang diberikan oleh orang lain kepada komikus, baik sugesti yang memperkuat maupun yang memperlemah keyakinan komikus terhadap kemampuannya. Faktor yang terakhir, faktor keadaan fisik/ psikis adalah keadaan fisik atau psikis pada suatu waktu yang mempengaruhi keyakinan komikus akan kemampuannya. Subjek penelitian ini adalah lima orang komikus yang sudah pernah menerbitkan komiknya setidak-tidaknya satu kali dan mengaku menggunakan gaya membuat komik Jepang. Kelima komikus ini dikelompokkan berdasarkan jenis komik dan cara penerbitan yang mereka pakai. Hal ini berbeda dengan perencanaan awal yang ingin mengkategorikan komikus berdasarkan jenis komik dan cara penerbitan secara terpisah karena ternyata beberapa komikus yang menjadi subjek penelitian membuat lebih dari satu jenis komik baik berdasarkan format maupun cara menerbitkan. Untuk menggali pengalaman komikus, peneliti memilih untuk mewawancarai para komikus secara mendalam berdasarkan panduan wawancara yang sudah disusun berdasarkan keempat faktor pembentuk efikasi diri. Dari dua strategi dasar dalam melakukan analisa tulisan

(Flick, 2002), peneliti merasa metode analisis yang bertujuan untuk membentuk kategori (tema) lebih sesuai dengan tujuan penelitian daripada metode yang bertujuan membangun struktur baru sebuah kasus dengan menjabarkan dan menginterpretasikan data. Dengan demikian, peneliti memilih untuk menggunakan analisis tema (thematic analysis), yaitu suatu metode dalam menemukan dan menganalisis pola (tema) dari data yang ditemukan (Braun & Clarke, 2006).

Hasil dan Diskusi
Peneliti melakukan wawancara terhadap lima komikus, yaitu (bukan nama sebenarnya) Miss, Spawn, Captain, Miracle, dan Mari. Data dan jenis komik yang dibuat oleh kelima komikus ini dapat dilihat pada Tabel 1 dan Tabel 2. Berdasarkan wawancara mendalam, peneliti menemukan bahwa pada awalnya semua komikus bergerak dari faktor yang sama, yaitu pengalaman pribadi. Mereka mengatakan bahwa sejak kecil mereka sudah memiliki kecenderungan untuk menggambar yang berarti sejak awal mereka sudah sering menggambar. Hal ini diperkuat dengan komik yang mereka baca. Keberadaan komik-komik ini menumbuhkan rasa keyakinan bahwa mereka dapat menggambar dengan “citra” yang sama dan membuat komik secara keseluruhan. Selain komik, ada juga yang terpengaruh oleh keberadaan keluarga mereka. Misalnya, keyakinan Miss dan Miracle juga bertambah karena mereka memiliki kakak yang sudah membuat komik sebelum mereka. Pada proses pembuatan komik, faktor yang terlihat mendominasi semua komikus adalah pengalaman pribadi mereka masing-masing.

214 Tabel 1. Latar Belakang Subjek Jenis kelamin Wanita Usia 24 Status Belum pernikahan menikah Pendidikan D2 Sekretaris

WIRAWAN DAN SUCI

Pria 24 Belum menikah S1 Desain Komunikasi Visual Creative designer pada graphic design agency

Pekerjaan saat ini

Guru menggambar

Wanita 26 Belum menikah S1 Teknik Informatika D2 Digital Studio Guru menggambar dan designer

Wanita 24 Menikah SMA

Wanita 29 Belum menikah D1 Komputer Akuntansi Guru menggambar

Guru menggambar

Tabel 2. Jenis Komik dan Penerbitan Jenis komik Komik tunggal Komik kompilasi Jenis penerbitan Melalui penerbit Miss Miracle Mari Miracle Mari Mandiri Spawn Miss Captain

Misalnya, Captain dan Spawn yang berhasil memenangkan lomba membuat komik dan memilih untuk mengembangkan atau mengeksplorasi gaya mereka sendiri daripada meniru atau mencontek gaya orang lain. Contoh lainnya adalah Mari yang memperbaiki gaya menggambarnya atas kegagalan yang ia terima sebelumnya. Kemudian, Miss dan Miracle juga secara spesifik merasa tidak mampu menggunakan name berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya. Faktor pengalaman orang lain Mari juga mendapatkan beberapa keyakinan akan kemampuannya dari komikus lainnya, seperti kemampuan untuk ikut mendapat pujian editor. Efikasi diri Captain dan Miracle juga dipengaruhi oleh pengalaman orang lain, yaitu dalam membuat komik dengan keterampilan

tingkat tinggi dan membuat komik dengan tema yang lain. Faktor pengalaman orang lain yang sangat terlihat menonjol terlihat pada Miss. Walaupun kegagalan yang ia alami sempat membuatnya tidak yakin akan mampu membuat komik, keberadaan teman-temannya, apalagi adik kelasnya, yang sudah berhasil menerbitkan membuatnya kembali yakin bahwa ia dapat menerbitkan komiknya (yang pada akhirnya berujung pada keyakinan bahwa ia dapat membuat komik; akan dibahas lebih lanjut pada bagian berkaitan dengan penerbitan komik). Dalam pemilihan format, kebanyakan komikus memilih berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Walaupun demikian, pemilihan format ini tidak didasarkan pada kegagalan pada format lainnya. Keyakinan mereka

GAMBARAN FAKTOR

215

semakin bertambah seiring dengan keberhasilan mereka dalam membuat (dan menerbitkan dengan sukses) komik-komik mereka. Persuasi sosial tidak banyak didapatkan oleh para komikus. Hanya Miss dan Miracle yang merasa mendapat persuasi verbal dalam hal membuat komik. Miss mendapatkan persuasi verbal dari teman-temannya ketika ia berusaha kembali membuat dan menerbitkan komik, sedangkan Miracle mendapatkan persuasi verbal yang sejenis dari kakaknya. Berbeda dari Miss, Miracle juga mendapat dukungan verbal dari suaminya mengenai pemilihan tema yang ia buat. Walaupun tidak terlihat menonjol, keadaan fisik/psikis juga mempengaruhi keyakinan para komikus dalam membuat komik. Keadaan ini sifatnya sementara, sehingga tidak mempengaruhi efikasi diri pada situasi lainnya. Bagaimana akhirnya para komikus merasa yakin dengan pilihan mereka dalam menerbitkan komik didapat dari faktor pengalaman orang lain. Miss dan Spawn, misalnya, sejak awal mendapat keyakinan mereka untuk mampu menerbitkan dengan cara mereka masing-masing berdasarkan pengalaman orang lain. Sebaliknya, Captain, Miracle, dan Mari merasa yakin menerbitkan dengan cara mereka tanpa adanya referensi pengalaman orang lain. Sedikit berbeda, keyakinan Captain untuk mampu menerbitkan komik berkualitas baik melalui penerbit sangat tergantung dengan syarat dan ketentuan yang diajukan penerbit tersebut. Dapat dikatakan bahwa keyakinan dalam memilih cara menerbitkan sebagian komikus dipicu dari pengalaman orang lain sedangkan sebagian lainnya tidak. Pengalaman pribadi mereka juga memiliki dampak terhadap keyakinan atas kemampuan

mereka. Keberhasilan mereka dalam menerbitkan komik pertama kali tentu memiliki dampak yang besar terhadap keyakinan mereka. Hal ini terutama berpengaruh kepada komikus yang sudah mengalami kegagalan besar sebelumnya seperti Miss dan Mari. Kegagalan sebelumnya tentu berpengaruh pada persepsi akan “menerbitkan” itu sendiri. Sesuai dengan teori Bandura, penyelesaian tugas yang dianggap sulit akan lebih meningkatkan efikasi diri daripada penyelesaian tugas yang tidak dianggap sulit. Setelah ditelaah, dukungan orangtua dengan bentuk “membiarkan” maupun “tidak memperbolehkan” (tidak setuju) tidak terlalu banyak mempengaruhi keyakinan para komikus secara umum terhadap kemampuan mereka dalam membuat dan menerbitkan komik. Adapun pengaruh yang muncul sepertinya bersifat tidak bertahan lama. Miss, Captain, dan Mari, misalnya, tetap secara sembunyisembunyi membuat komik, bahkan Mari sempat mencoba menerbitkan komiknya saat ayahnya masih melarangnya. Satu-satunya dukungan sosial yang benarbenar meningkatkan efikasi diri dalam menerbitkan komik didapat Captain dari ayahnya. Berbeda dari orangtua subjek lainnya yang tidak mendukung atau memperbolehkan anaknya berkecimpung di dunia komik, ayah Captain sejak awal mengatakan bahwa apa pun yang anaknya tekuni dapat menghasilkan uang. Hal ini merupakan pemberian sugesti bahwa seseorang dapat hidup hanya dari komik. Namun secara umum Nampak bahwa pengalaman pribadi para komikus mengarahkan mereka kepada rendahnya keyakinan bahwa mereka mampu hidup hanya dari membuat dan menerbitkan komik. Semua komikus mengalami pengalaman bahwa penghasilan

216

WIRAWAN DAN SUCI

yang mereka dapat tidaklah banyak. Salah satu kejadian yang mempengaruhi keyakinan komikus dalam menerbitkan komiknya adalah keberhasilan mereka sendiri. Semakin banyak komik yang sudah berhasil diterbitkan, mereka semakin yakin akan kemampuannya menerbitkan komik mereka. Spawn dan Captain memilih untuk mencetak (bukan memfotokopi) komik mereka meskipun lebih mahal. Hal ini berkaitan dengan keberhasilan mereka menjual beberapa komik serupa sebelumnya. Pada Mari, ia merasa yakin mampu mulai menerbitkan komiknya menggunakan penerbit lain berdasarkan pengalaman temannya yang sudah lebih dulu melakukan hal tersebut. Setelah melihat faktor dan proses pembentukan efikasi diri, peneliti melakukan analisa perbandingan antara data di lapangan dengan teori yang sudah dikemukakan oleh Bandura. Proses pembentukan efikasi diri paling banyak terjadi melalui faktor pertama dan kedua, yaitu pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain. Sesuai teori yang diajukan Bandura, baik keberhasilan maupun kegagalan seseorang memiliki pengaruh terhadap keyakinan seseorang. Walaupun demikian, tidak semua kegagalan berakhir pada menurunnya efikasi diri komikus. Hal ini sesuai dengan penjelasan Bandura bahwa ada beberapa karakteristik seperti kemungkinan adanya harapan yang tinggi dan tidak optimalnya kinerja seseorang pada saat itu yang pada akhirnya membuat kegagalan tersebut tidak terlalu berarti. Faktor kedua yang juga banyak membentuk efikasi diri adalah faktor pengalaman orang lain. Pengalaman orang lan ini dirasa peneliti lebih banyak menjadi “pemicu” atau referensi untuk “titik awal” (starting point) efikasi diri

yang tidak pernah dipikirkan atau dialami sebelumnya. Tidak ada komikus yang luput dari adanya hal baru dalam hidup mereka, seperti cara menerbitkan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, keterampilan menggambar yang lain, dan tema cerita yang baru. Meskipun demikian, tetap ada pengalaman baru yang dijamah oleh para komikus tanpa adanya referensi dari pengalamannya sendiri, maupun pengalaman orang lain. Selain sebagai “titik awal”, pengalaman orang lain juga dapat meningkatkan efikasi diri komikus. Peneliti mengamati bahwa “orang lain” yang dijadikan model oleh para komikus secara umum memiliki kesamaan karakteristik dengan komikus, namun lebih kompeten (sudah pernah mengalami keberhasilan sebelumnya). Jadi umumnya keyakinan para komikus kebanyakan dipengaruhi oleh keberhasilan orang lain. Tidak banyak kejadian yang dikaitkan komikus dengan pengalaman kegagalan (atau ketidakkompetenan) orang lain. Persuasi sosial bukan merupakan faktor pembentukan efikasi diri yang sering didapat oleh para komikus. Namun begitu, beberapa persuasi sosial yang didapat oleh komikus berkaitan dengan kemampuan menggambar, pemilihan tema, dan kemampuan untuk menerbitkan mereka. Keadaan fisik/psikis juga mempengaruhi keyakinan komikus atas kemampuan mereka dalam membuat komik. Namun demikian, karena sifatnya yang sementara, perubahan ini tidak mempengaruhi keyakinan tersebut dalam jangka panjang. Hal yang menarik untuk dikemukakan adalah bahwa penelitian menemukan adanya beberapa hasil analisa yang berbeda dari teori yang diajukan Bandura. Misalnya, Bandura mengatakan bahwa karakteristik model yang kompeten lah yang dapat meningkatkan efikasi

GAMBARAN FAKTOR

217

diri dan keberhasilan melakukan tugas yang sulit dapat meningkatkan efikasi diri. Dalam penelitian ini, ada komikus yang efikasi dirinya meningkat setelah melihat keberhasilan model yang kurang kompeten dan ada yang efikasi diri-nya menurun setelah menyelesaikan tugas yang sulit.

Kesimpulan dan Saran
Secara umum dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling dominan dalam pembentukan efikasi diri adalah faktor pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain. Pada faktor pengalaman orang lain, kebanyakan komikus mendapatkan “titik awal” dan/ atau penambahan efikasi diri dari keberhasilan yang dialami oleh orang lain. Namun, ada juga kegagalan orang lain (model) yang ikut membentuk efikasi diri komikus. Kegagalan maupun keberhasilan pribadi komikus banyak memiliki andil dalam pembentukan efikasi diri. Persuasi sosial merupakan faktor tidak banyak didapat oleh komikus. Beberapa komikus mendapatkannya dari teman atau orangtua mereka. Walaupun sifatnya sementara, efikasi diri komikus juga dibentuk oleh keadaan fisik dan psikis pada situasi tertentu. Saran untuk pengembangan penelitian ke depan adalah perlu adanya latar belakang dan landasan teori disusun dengan menggunakan data yang lebih lengkap. Selain itu perlu adanya batas-batas komik bergaya Jepang yang lebih jelas. Terakhir, pemilihan subjek sebaiknya lebih beragam, terutama dalam hal tempat berdomisili dan jenis kelamin.

Bibliografi

Bandura, A. (1977). Self efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191-215. Bandura, A. (1989). Social cognitive theory. Dalam R. Vasta (Ed.), Annals of child development (Vol. 6): Six theories of child development (h. 1-60). Greenwich, CT: JAI Press. Bandura, A. (2001). Social cognitive theory: An agentic perspective. Annual Review of Psychology, 52, 1-26 Braun, V. & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in Psychology. Qualitative Research in Psychology, 3, 77-101. Flick, U. (2002). An introduction to qualitative research (2nd ed.). Sage Publication. Haraguchi, S. (Ed.). (2003). Manga techniques (Vol. 5): How to draw Japanese manga. S.E. Inc. Kulsum, U. (2007, 26 November). Masih dalam Dekapan "Manga". Kompas. Lesmana, J. (2008, Februari). Second international manga award. Animonster, 107, 93. Marsiela, A (2007, 14 Januari). Dari Ajang "24 Hour Comics Day": Komikus Indonesia Tembus Dunia. Suara Pembaruan. McCloud, S. (2001). Memahami komik. (S. Kinanti, Penerj.). (Cet. ke-3). Jakarta: Gramedia. (Karya asli diterbitkan tahun 1993) McCloud, S. (2008). Membuat komik: Rahasia bercerita dalam komik, manga, dan novel grafis. (Alpha Febrianto, Penerj.). (Cet. ke2). Jakarta: Gramedia. (Karya asli diterbitkan tahun 2006) Mendidik Anak dengan Komik, Mengapa Tidak? (2003, Mei). Familia, 15-18. Pintrich, P. R., & Schunk, D. H. (1996).

218

WIRAWAN DAN SUCI

Motivation in education: Theory, research, and application. Prentice Hall. The Society for The Study of Manga Techniques. (2000a). How to draw Manga: Power up MANGA techniques for beginners and beyond (Vol. 2), compiling techniques. Graphic-sha publishing co. Ltd. The Society for The Study of Manga Techniques. (2000b). How to draw Manga: Power up MANGA techniques for beginners and beyond (Vol. 3), compiling application and practice. Graphic-sha publishing co. Ltd. Wibowo, M. A. (2007, 27 April). Rei Ikaza: Karyanya hingga Amerika. Suara Merdeka.

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3, 219–220

ISSN 2085-4242

Panduan Bagi Penulis Jurnal Psikobuana (Judul, 22 point Centered)
Nama penulis, lengkap, tanpa gelar, tanpa posisi
Nama dan alamat lembaga (12 point centered)
Abstract is written in English and Indonesian, limited to 200 words, and written in single paragraph. Abstract should contain goal, research method, and short description of result. (11 point, use block format, no indentation). Keywords: written inline, three to ten words (10 point).

Dokumen ini ditulis sebagai pedoman format final artikel Jurnal PsikoBuana. Bagian pendahuluan ini tanpa menggunakan heading "Pendahuluan" atau "Latar Belakang".

Panduan Bagi Penulis
Isi artikel memerhatikan gagasan tematik yang dipersiapkan Sidang Penyunting untuk jurnal nomor berikutnya, yang dapat dilihat dalam situs web www.psikobuana.com Revisi artikel hanya akan diterima dalam bentuk softcopy, dengan mengikuti format cetak (dokumen ini), selambatnya 10 (sepuluh) hari kerja setelah surat pemberitahuan revisi. Penyunting tidak berkewajiban mengembalikan artikel yang tidak dimuat. Kepastian pemuatan/penolakan /revisi dilakukan secara tertulis. Manuskrip orisinal beserta tiga eksemplar salinannya dikirimkan dalam format soft copy (Microsoft Word atau OpenOffice Writer) melalui media cakram kompak ke alamat surat Sidang Penyunting, atau melalui surat elektronik dengan alamat penyunting@psikobuana.com

Artikel ditulis pada kertas A4, huruf Times New Roman ukuran 12, spasi 1,25, rata kiri-kanan, tidak melebihi 15 halaman. Penulisan naskah pada umumnya mengikuti kaidah-kaidah yang tertuang dalam Publication Manual of the American Psychological Association (APA) 6th ed. (2009). Heading tanpa penomoran dengan maksimal dua peringkat sub-heading:

Ini Heading
Ini Sub-Heading Peringkat 1 (Italicize, Flush Left, Capitalize Keywords)
Teks dalam paragraf ini diberi indentasi first line dengan spasi atas ganda. Apabila sub-heading peringkat satunya adalah "Prosedur Pengumpulan dan Analisis Data", maka teks dalam paragraf ini menerangkan hal tersebut. Badan utama artikel hasil penelitian berisi: (a) pendahuluan (memuat latar belakang & pernyataan masalah, tinjauan pustaka, kerangka berpikir, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis yang hendak diuji), (b) metode (memuat rancangan penelitian, gambaran partisipan, serta prosedur pengumpulan dan analisis data), (c) hasil (memuat hasil uji hipotesis, yang dapat menyertakan tabel, grafik, dan sebagainya), (d) pembahasan (memuat interpretasi

Format, Sistematika, Tabel, dan Gambar
219

220

PANDUAN BAGI PENULIS

dan evaluasi terhadap hasil penelitian, serta ulasan problem-problem terkait yang dipandang dapat memengaruhi hasil penelitian), dan (e) kesimpulan, implikasi, dan rekomendasi. Artikel hasil pemikiran meliputi: (a) pendahuluan (latar belakang, tujuan, ruang lingkup), (b) bahasan utama (terbagi dalam beberapa bagian), dan (c) penutup atau kesimpulan dan rekomendasi. Tabel dan gambar harus diberi caption (judul/keterangan) menggunakan huruf besar di awal kata (Title Case untuk tabel dan Sentence case untuk gambar), serta dengan penomoran yang berurutan. Caption tabel diletakkan di atas, sedangkan gambar di bawah. Tabel dan gambar simetris di tengah (centered), dan dibuat ukurannya tidak terlalu kecil. Usahakan penggunaan gambar dua warna (hitam-putih), dan hilangkan garis tepi gambar. Gambar disertakan dalam bentuk soft-copy dalam format JPEG. Sumber gambar disebutkan di bagian bawah gambar apabila bukan karya sendiri. Izin penggunaan atau bukti kepemilikan gambar harus disertakan apabila gambar tersebut dimiliki hak ciptanya oleh orang lain. Penulisan hasil olah statistik seperti contoh berikut: F(2, 116) = 2,80, p < 0,05 untuk ANOVA; atau t(60) = 1,99, p < 0,05 untuk uji-t; 2 (4, N = 90) = 10,51, p < 0,05 untuk kai kuadrat, dan sejenisnya.

berasal dari sumber primer (laporan penelitian, artikel jurnal ilmiah). Contoh penulisan bibliografi:

Bibliografi
Alison, L., Bennell, C., Mokros, A., & Ormerod, D. (2002). The personality paradox in offender profiling: A theoretical review of the processes involved in deriving background characteristics from crime scene actions. Psychology, Public Policy, and Law, 8(1), 115-135. Canter, C. (2003). Mapping murder: The secrets of geographical profiling. UK: Virgin Books. Harter, S., Waters, P. L., & Whitesell, N. R. (1997, April). Level of voice among adolescent males and females. Paper presented at the bi-annual meeting of the Society for Research in Child Development, Washington, D. C. Johnson, E. (1995). The role of social support and gender orientation in adolescent female development. Disertasi, tidak diterbitkan, University of Denver, Denver, CO. Murphy, H. B. M. (1976). Notes for a theory of latah. Dalam Lebra, W. P. (Ed.), Culture-bound syndromes, ethnopsychiatry, and alternative therapies. Honolulu: The University Press of Hawaii. National Council Against Health Fraud. (2001). Pseudoscientific psychological therapies scrutinized. NCAHF news, 24(4). Ditemukembali pada 18 Februari 2009, dari http://www.ncahf.org/nl/2001/7-8.html Petition for the recognition of police psychology as a proficiency in professional psychology. (2008). Ditemukembali pada 18 Februari 2009, dari http://www.apa.org/crsppp/APA%20Police %20Psychology%20Proficiency%20PetitionFinal.pdf Shaw, M. E., & Costanzo, P. R. (2002). Teori-teori psikologi sosial (Sarlito W. Sarwono, Penerj. & Peny.). Jakarta: RajaGrafindo Persada. (Karya asli diterbitkan tahun 1970) Taylor, C., & Clara, S. (2005, April). A New Brain for Intel. Time Magazine, 9-10.

Cara Mengacu dan Bibliografi
Penulisan acuan mengikuti format APA (2001). Contoh cara mengacu: Kotter (1995, h. 152) mengingatkan, "Setiap fase dari tahapan itu hendaknya dilalui," namun .... Subagyo ("Kesalehan Lingual," 2008) berargumen bahwa kekerasan verbal .... Sejumlah penulis (Harter, 1990, 1993; Harter, Whitesell, & Waters, 1997; McIntosh, 1996a; McIntosh, 1996b) menyampaikan kesimpulan yang serupa mengenai .... Bibliografi, terbatas pada sumber yang dirujuk, disusun urut berdasarkan abjad. Utamakan pustaka termuktahir (terbit sepuluh tahun terakhir), dan yang

Psikobuana 2010, Vol. 1, No. 3

ISSN 2085-4242

Indeks
Indeks Subjek
Budaya
KADIR, HATIB ABDUL, "Menafsir Fenomena Latah sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Melayu (Suatu Kajian Psikoantropologi)," 1(1), 49-59, Juni 2009. Edukasi SARAGIH, SEPTA LESTARI, dan AMITYA KUMARA, "Penggunaan Strategi Belajar Bahasa Inggris Ditinjau dari Motivasi Intrinsik dan Gaya Belajar," 1(2), 110-128, Oktober 2009. Sosial JUNEMAN, "Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(3), 173-189, Februari 2010. KOENTJORO, dan BEBEN RUBIANTO, "Radikalisme Islam dan Perilaku Orang Kalah Dalam Perspektif Psikologi Sosial," 1(1), 64-70, Juni 2009. MARKUM, M. ENOCH, "Pengentasan Kemiskinan dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(1), 1-12, Juni 2009. PUTRA, IDHAMSYAH EKA, dan ZORA A. WONGKAREN, "Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia," 1(3), 151-161, Februari 2010. SRIAMIN, LUKMAN SAROSA, "Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya Sane Society Fromm", 1(3), 190-198, Februari 2010. Forensik JUNEMAN, "Mempertanyakan Pemrofilan Kriminal sebagai Sebuah Ilmu Psikologis," 1(1), 13-28, Juni 2009. Kesehatan ARUM, MEILISHA DJATI, dan A. A. ANWAR PRABU MANGKUNEGARA, "Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri," 1(3), 162-172, Februari 2010. SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Gambaran Perilaku Jajan Murid Sekolah Dasar di Jakarta," 1(1), 2938, Juni 2009. Kesenian RISTARGI, LISA, "Dinamika Psikologis Sutradara Teater Peserta Festival Teater Jakarta," 1(2), 8692, Oktober 2009. Komunitas SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Himpsi Jaya 20052007, Apa yang Telah Kau Kerjakan? Sebuah Evaluasi Tentang Kinerja Organisasi Profesi Psikologi wilayah Jakarta", 1(2), 93-109, Oktober 2009. WIRAWAN, RENDY, dan EUNIKA SRI TYAS SUCI, "Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang Sudah Menerbitkan Karyanya", 1(3), 210-218, Februari 2010.

INDEKS

Olahraga HUTAPEA, BONAR, "Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari Kepribadian", 1(3), 199-209, Februari 2010. KUSUMAWARDHANI, RENI, "Pendampingan Psikologis Bagi Atlet Cilacap dalam Pekan Olah Raga Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 di Solo (Studi Preliminer)," 2(2), 73-85, Oktober 2009. Pengukuran WIDHIARSO, WAHYU, "Koefisien Reliabilitas Pada Pengukuran Kepribadian yang Bersifat Multidimensi," 1(1), 39-48, Juni 2009. Perkembangan VAN TIEL, JULIA MARIA, "Permasalahan Deteksi dan Penanganan Anak Cerdas Istimewa Dengan Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa Ekspresif (Gifted Visual-spatial Learner)," 1(2), 129-147, Oktober 2009. Terapi SUTANTO, LIMAS, "Menyimak Kritik Bandler," 1(1), 60-63, Juni 2009.

H HUTAPEA, BONAR, "Studi Komparatif Tentang Motivasi Berprestasi Pada Atlet Kempo Propinsi DKI Jakarta Ditinjau Dari Kepribadian", 1(3), 199-209, Februari 2010. J JUNEMAN, "Mempertanyakan Pemrofilan Kriminal sebagai Sebuah Ilmu Psikologis," 1(1), 13-28, Juni 2009. JUNEMAN, "Masalah Transportasi Kota dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(3), 173-189, Februari 2010. K KADIR, HATIB ABDUL, "Menafsir Fenomena Latah sebagai Emosi Kebudayaan Masyarakat Melayu (Suatu Kajian Psikoantropologi)," 1(1), 49-59, Juni 2009. KOENTJORO, dan BEBEN RUBIANTO, "Radikalisme Islam dan Perilaku Orang Kalah Dalam Perspektif Psikologi Sosial," 1(1), 6470, Juni 2009. KUMARA, AMITYA lihat Saragih, Septa Lestari. KUSUMAWARDHANI, RENI, "Pendampingan Psikologis Bagi Atlet Cilacap dalam Pekan Olah Raga Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 di Solo (Studi Preliminer)," 2(2), 73-85, Oktober 2009. M MANGKUNEGARA, A. A. ANWAR PRABU lihat Arum, Meilisha Djati. MARKUM, M. ENOCH, "Pengentasan Kemiskinan dan Pendekatan Psikologi Sosial," 1(1), 1-12, Juni 2009. P PUTRA, IDHAMSYAH EKA, dan ZORA A.

Indeks Pengarang
A ARUM, MEILISHA DJATI, dan A. A. ANWAR PRABU MANGKUNEGARA, "Peran Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kendali Perilaku Dalam Memprediksi Intensi Wanita Melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri," 1(3), 162-172, Februari 2010.

INDEKS

WONGKAREN, "Konstruksi Skala Fundamentalisme Islam di Indonesia," 1(3), 151-161, Februari 2010. R RISTARGI, LISA, "Dinamika Psikologis Sutradara Teater Peserta Festival Teater Jakarta," 1(2), 8692, Oktober 2009. RUBIANTO, BEBEN lihat Koentjoro. S SARAGIH, SEPTA LESTARI, dan AMITYA KUMARA, "Penggunaan Strategi Belajar Bahasa Inggris Ditinjau dari Motivasi Intrinsik dan Gaya Belajar," 1(2), 110-128, Oktober 2009. SRIAMIN, LUKMAN SAROSA, "Pancasila Sebagai Landasan Terbentuknya Sane Society Fromm", 1(3), 190-198, Februari 2010. SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Gambaran Perilaku Jajan Murid Sekolah Dasar di Jakarta," 1(1), 2938, Juni 2009. SUCI, EUNIKA SRI TYAS, "Himpsi Jaya 20052007, Apa yang Telah Kau Kerjakan? Sebuah Evaluasi Tentang Kinerja Organisasi Profesi Psikologi wilayah Jakarta", 1(2), 93-109, Oktober 2009. SUCI, EUNIKA SRI TYAS lihat Wirawan, Rendy. SUTANTO, LIMAS, "Menyimak Kritik Bandler," 1(1), 60-63, Juni 2009. V VAN TIEL, JULIA MARIA, "Permasalahan Deteksi dan Penanganan Anak Cerdas Istimewa Dengan Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa Ekspresif (Gifted Visual-spatial Learner)," 1(2), 129-147, Oktober 2009. W WIDHIARSO, WAHYU, "Koefisien Reliabilitas

Pada Pengukuran Kepribadian yang Bersifat Multidimensi," 1(1), 39-48, Juni 2009. WIRAWAN, RENDY, dan EUNIKA SRI TYAS SUCI, "Gambaran Faktor-faktor Pembentuk Efikasi Diri Dalam Membuat dan Menerbitkan Komik Bergaya Jepang Pada Komikus yang Sudah Menerbitkan Karyanya", 1(3), 210-218, Februari 2010. WONGKAREN, ZORA A. lihat Putra, Idhamsyah Eka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful