You are on page 1of 4

Hama Pada Tanaman Cabai Merah Hama utama yang menyerang tanaman cabai merah di lahan Kodokan, Desa

Papahan, Karangnyar adalah thrips, lalat buah dan ulat buah. Ketiga hama ini sering menimbulkan permasalahan pada lahan cabai merah milik petani. 1. Thrips (Thrips parvispinus Karny) Hama thrips daun juga dikenal dengan nama hama putih karena nimfa atau larvanya berwarna keputih-putihan. Tubuh thrips dewasa berukuran sekitar 1 mm, berwarna kuning coklat. Hama ini dapat menghasilkan telur tanpa melalui pembuahan, jumlah telur yang dihasilkan sekitar 10-120 butir, yang diletakkan secara berpencar di bawah daun. Pada daun muda, gejala serangan ditandai dengan adanya noda keperakan yang tidak beraturan. Luka ini terjadi karena dimakan oleh serangga. Noda keperakan lebih lanjut berubah menjadi coklat tembaga dan menyebabkan daun mengeriting ke atas. Pada musim kemarau populasi serangan hama ini sangat tinggi dan penyebarannya dibantu oleh tiupan angin, karena serangga dewasa tidak dapat terbang.Pengendalian dilakukan secara kimia dengan menyemprotkan insektisida ataupun secara biologi dengan menempatkan musuh alaminya, yakni kumbang Coccinellidae, tungau predator, dan kepik Anthocoridae. 2. Lalat buah (Bactrocera dorcalis Hendel.) Lalat buah termasuk serangga polifag atau mempunyai banyak inang. Serangga ini menyerang buah cabai ditandai dengan adanya titik hitam pada pangkal buah. Buah cabai membusuk dan akhirnya rontok. Serangga betina dewasa meletakkan telurnya dengan jalan menusukkan ovipositornya ke dalam buah. Larva lalat buah memiliki kemampuan melentingkan badannya sehingga mampu meloncat ke mana-mana. Pada siang hari, kadang-kadang larva tersebut terlihat di daun dan bunga cabai. Larva ini kemudiaan keluar dari buah dan membentuk puva didalam tanah. Pada saat pengamatan dilakukan pada 10 tanman sampel, ditemukan beberapa hama lalat buah yang sedang hinggap pada buah cabai merah. Hinggapnya lalat buah pada buah cabai merah merupakan saat lalat buah tersebut meletakkan telur ke dalam bagian buah cabai merah tersebut. Sehingga, telur lalat buah tersebut nantinya akan menetas didalam buah cabai yang akan menyebabkan buah busuk karena adanya larva lalat buah yaitu ulat buah pada buah cabai. Sehingga buah cabai tersebut tidak dapat dipanen. 3. Ulat buah (Helicoverpa armigera Hubner.) Ulat buah pada cabai merah merupakan larva dari lalat buah. Ulat ini menyerang buah cabai sejak cabai masih hijau. Buah yang terserang ulat buah ini, pada permukaan buah terlihat adanya lubang. Jika buah cabai dibelah, ulatnya akan terlihat, ulat buah ini berwarna putih dan dapat melentingkan tubuhnya. Ulat hidup dalam buah, membuat buah menjadi busuk dan akhirnya rontok. Dari pengamatan di lapang diketahui bahwa intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama setiap minggunya menurun, hal inni disebabkan tanaman cabbai merah sudah tidak produksif lagi dan banyak yang mati. Sehingga hama tidak tertarik lagi untuk menyerang tanaman cabai merah tersebut. Tindakan penanganan yang telah dilakukan oleh petani adalah dengan cara kimiawi menggunakan pestisida. Penanganan hama ini dilakukan petani saat tanaman memperliahtkan gejala tanaman yang terkena serangan hama, sehingga tidak ada tindakan preventif atau pencegahan terhadap serangan hama tanaman ini oleh petani. KONDISI LINGKUNGAN YG MEMPENGARUHI OPERKEMBANGAN HAMA?????

Cara pengendalian hama yang telah dilakukan oleh petani cabai merah adalah secara kimiawi dengan menggunakan pestisida. Pestisida merupakan senjata yang paling ampuh bagi petani cabai merah untuk melindungi tanaman dari serangan hama sehingga kemerosotan hasil dapat dikurangi. Pestisida yang digunakan adalah pestisida Curacron dan juga menggunakan perangsang lalat buah jantan yaitu Methyl eugenol. Menurut konsep pengendalian hama terpadu, pestisida merupakan salah satu komponen pengendali. Prinsip penggunaannya harus kompatibel dengan komponen pengendali yang lain, efisien, tidak meninggaklkan residu dalam jangka waktu yang lama, serta aman bagi lingkungan. Hama merupakan salah satu masalah penting yang diperhatikan dalam usaha produksi tanaman secara umum karena hama mampu menurunkan produksi secara signifikan baik kualitatif maupun kuantitatif. Demikian juga halnya pada tanaman cabai yang sebagaian besar produknya dikonsumsi dalam keadaan segar, namun petani masih mengandalkan insektisida kimia sintetis untuk mengendalikan hama. Penggunaan insektisida kimia sintetis oleh petani merupakan masalah yang sangat perlu dipertimbangkan terutama dampak residu terhadap lingkungan, kesehatan manusia dan terhadap mahluk hidup lainnya serta satwa-satwa liar. Oleh karena itu, harus dicari cara alternatif yang lebih aman dalam pengendalian hama antara lain dengan mengusahakan budidaya pertanian organik yang pada prinsipnya meminimalkan input produksi seperti pupuk dan pestisida dari senyawa kimia sintetis. Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penyakit umumnya lebih banyak menyerang tanaman pada musim hujan, termasuk penyakit pascapanen. Oleh karena itu, cabai ditanam pada musim kemarau, yaitu pada bulan Juli, dan dipanen pada bulan September. Hama utama pada cabai adalah wereng (Empoasca sp.), Thrips sp., kutu daun (Aphis sp., Myzus persicae), lalat putih (Bemisia tabacci), dan lalat buah (Dacus dorsalis). Belalang, ulat (Spodoptera litura), dan kepik perisai (Nezara viridula) hanya menimbulkan kerusakan ringan. Thrips dan kutu mengisap cairan daun sehingga daun menjadi kuning, menggulung atau keriting, dan kering. Kerusakan tanaman yang ditimbulkan rendah, sehingga tidak menimbulkan kerugian hasil. Makin tua umur tanaman cabai, tajuk makin merapat. Kondisi ini sesuai bagi hama untuk berkembang biak karena terhindar dari panas matahari langsung, kelembapan tinggi, suhu tidak terlalu panas, dan makanan tersedia. Oleh karena itu, hama yang menyerang tanaman cabai juga makin beragam. Makin banyak populasi dan jenis hama, musuh alaminya pun makin beragam. Musuh alami berperan dalam menekan populasi hama. Makin banyak jumlah musuh alami, makin efektif mengendalikan hama. Musuh alami dapat berupa predator dan parasitoid. Predator yang ditemukan pada pertanaman cabai di lahan Kodokan milik petani antara lain adalah imago (serangga dewasa) Coccinela dan larvanya (merupakan predator yang ganas), arachnida (laba-laba), dan semut. Parasitoid yang ditemukan termasuk dalam ordo Hymenoptera (tabuhan). Parasitoid ini berwarna oranye kemerahan, ukuran tubuh kecil, aktif bergerak, dan mempunyai alat untuk meletakkan telur yang cukup panjang sehingga cepat mematikan hama. Coccinela merupakan pemangsa kutu-kutuan. Arachnida merupakan predator segala jenis hama yang berukuran kecil. Dinamika populasi hama pada pertanaman cabai merah cukup stabil, tidak terjadi lonjakan populasi yang mencolok. Keterpaduan praktek budi daya tanaman sehat dan PHT berdasarkan ekologi mampu menjaga kunci utama PHT yaitu monitoring populasi hama dan intensitas kelestarian musuh alami hama. serangan penyakit secara rutin sebagai dasar keputusan perlu/tidaknya penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir dalam pengendalian OPT. Berdasarkan hasil monitoring rutin

OPT, ternyata penerapan berbagai teknik pengendalian dan budi daya tanaman sehat mampu menekan serangan hama dan penyakit. Meskipun hal ini belum diterapkan oleh petani cabai merah di daerah Kodokan, Papahan, Karanganyar. Pengendalian hama Trhips dan lalat buah pada tanaman cabai yang sudah dilakukan oleh petani cabai merah ini adalah dengan mkenyemprotkan insektisida secara langsung saat petani meliahat adanya gejala pada tanaman cabai merah, apabila tidak ditemukan gejala kerusakan pada tanaman cabai maka tidak dilakukan penyemprotan. Tanaman cabai di lahan Kodokan, juga ditemukan serangan hama patek (cendawan antreknusa). Kendati areal yang diserang masih kecil, namun hujan yang turun terus disertai angin dan udara yang sangat lembab, hal ini mempercepat penyebaran dan perkembangan hama tersebut. Pengamatan pada beberapa tanaman cabai menunjukkan, serangan hama yang paling parah terjadi yang disebabkan oleh hama Trhips saat musim kemarau sedangkan saat musim penghujan hama yang lebih dominan adalah lalat buah dengan larvanya yaitu ulat buah yang menyerang buah cabai merah. Tanaman cabai yang diserang oleh Trhips ditandai dengan daun yang keriting, pucat, layu dan akhirnya mati. Cara menyerang hama ini adalah dengan menghisap cairan yang ada pada daun. Pengendalian yang telah dilakukan petani untuk mengurangi intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama Trhips adalah dengan sanitasi kebun yaitu membersihkan rumput dan gulma, dan dengan penyemprotan pestisisda. Hama ini umumnya menyebar lewat angin dan iklim yang kelembabannya tinggi, serta melalui manusia. Orang yang masuk ke areal yang sudah diserang dan masuk lagi ke areal yang bersih, maka bisa dipastikan areal bersih itu juga akan terkena serangan hama Trhips. Hama lalat buah menyerang buah cabai baik yang masih muda maupun yang sudah tua. Serangan hama ini menyebabkan pertumbuahn buah cabai terganggu dan gugur sebelum masak. Serangan pada buah masak menyebabkan buah tidak berwarna merah, tetapi menjadi kehitam-hitaman dan mengeras. Serangan hama lalat buah dapat menurunkan hasil panen cabai merah. Lalat bhuah muncul saat musim penghujan, yang penyebarannya terjadi melalui lalat dewasa yang meletakkan telurnya dalam buah, selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva. Larva inilah yang merusak daging buah cabai dan menyebabkan buah membusuk tanpa ada bagian yang dapat dimanfaatkan.