You are on page 1of 131

Artikel - Pemikiran Mubyarto - Juli 2007]

M. Husein Sawit

USULAN KEBIJAKAN BERAS DARI BANK DUNIA: RESEP YANG


KELIRU

ABSTRAK

Kebijakan perberasan Indonesia telah menjadi perhatian buat sejumlah lembaga


internasional, seperti Bank Dunia. Lembaga ini telah lama mengeritik dan
menintervensi sejumlah kebijakan pembangunan ekonomi, termasuk kebijakan
perberasan. Tampaknya, kelakuan Bank Dunia belum banyak berubah di era
desentralisasi dan demokrasi. Seharusnya yang diberi peran besar adalah
masyarakat sipil, partai politik, DPR/DRPD, Pemda, dan peneliti dalam merancang
kebijakan publik. Itu bukan lagi menjadi domain peneliti, apalagi ahli asing. Dalam
makalah ini dibahas tentang kelemahan cara pandang Bank Dunia terhadap
kebijakan beras di Indonesia, terutama yang dikaitkan dengan kemiskinan.
Kelemahan itu mencakup pengukuran kemiskinan yang terlalu sempit, dan bias
jangka pendek, bukan melihat kemiskinan manusia yang bersifat struktural dan
kronis. Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi pembangunan, bahwa
kemiskinan di negera-negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan
pangan. Itu konsep pengentasan kemiskinan yang keliru. Yang benar adalah gerakan
sektor riil, ciptakan lapangan kerja, serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor
pertanian di mana penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Industri
padi/beras adalah salah satu diantaranya. Bukan membuat harga beras murah.

Pendahuluan

Sejak akhir 2006, Bank Dunia semakin sering mengeritik pemerintah tentang
kenaikan harga beras, baik terbuka maupun tertutup. Akhir-akhir ini, Bank Dunia
semakin aktif melobi dan menawarkan resep buat pemerintah, agar Indonesia
menempuh privatisasi lembaga pangan, melepas cadangan beras nasional ke swasta,
dan liberalisasi impor, mendorong agar swasta diperankan sebagai stabilisator harga
dalam negeri. Lembaga pemerintah seperti Bulog dianggap tidak becus dalam
melaksanakan fungsinya. Mereka yakin sekali, pasar dapat menyelesaikan instabilitas
harga, maupun kemiskinan (World Bank 2007).

Perilaku Bank Dunia di Indonesia tampaknya belum berubah, belum belajar dari
kekecewaan masyarakat Indonesia atas keambrukan ekonomi, terjerat hutang luar
negeri, serta terlalu banyaknya sumberdaya alam, perbankan dikuasai oleh perusahaan
asing. Pendapat Bank Dunia termasuk juga berbagai hasil penelitiannya, tidak
kredibel di mata masyarakat luas di Indonesia. Di Makasar misalnya, Bank Dunia
terpaksa harus menghilangkan atribut Bank Dunia di kantor di mana proyek mereka
ada. Sebelumnya, hampir setiap hari ada saja demonstrasi ke kantor proyek Bank
Dunia, sehingga mereka tidak nyaman bekerja.

Sebaik apapun saran Bank Dunia, masyarakat Indonesia pasti mencurigainya, ini
akibat dari reputasi mereka masa lalu. Itu akibat dari peri laku mereka sebagai salah
satu lembaga perusak ekonomi, termasuk ekonomi Indonesia (Perkin 2004). Tujuan
makalah ini adalah untuk menilai kelemahan cara pandangan yang bias tentang
kebijakan beras Bank Dunia.

Domain Publik bukan Domain Peneliti

Bank Dunia seharusnya memahami benar, tentang cara-cara menyusun kebijakan


publik di era demokrasi, tidak boleh didikte oleh segelintir para ahli. Pada era
sentralisasi Orba, para teknokrat dan birokrat –dibantu oleh tenaga ahli asing-
berperan besar dalam mendikte kepentingan masyarakat banyak. Namun dalam era
demokrasi, peran masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan publik-seperti
kebijakan beras- haruslah lebih besar.

Kebijakan beras itu adalah domain kebijakan publik. Kebijakan beras harus mendapat
dukungan luas dari masyarakat sipil, DPR, pemerintah daerah, tidak boleh didikte
oleh peneliti, apalagi oleh lembaga asing yang kurang memahami rumah tangga
petani dan masyarakat desa secara mendalam. Disamping itu, apabila saran-saran
mereka diterapkan pemerintah, diperkirakan itu akan sulit diimplementasi di
lapangan, apabila kurang dukungan publik, kurang dukungan Pemda, serta akan selalu
dipersoalkan oleh DPR/DPRD.

Kebijakan beras yang mereka susun itu (Bank Dunia 2007) melulu mengacu ke
literatur asing. Dari total hampir 100 jumlah literatur, hanya 3-4 literatur yang ditulis
oleh orang Indonesia asli. Padahal, banyak studi tentang padi/beras yang telah
dilakukan oleh para ahli bangsa Indonesia, tetapi diabaikan tanpa dipakai sebagai
bahan rujukan. Ini menunjukan juga bagaimana miskinnya Bank Dunia dalam
memahami pikiran para ahli Indonesia.

Namun mereka mencoba mempengaruhi sejumlah menteri ekonomi yang beraliran


neo liberal. Bank Dunia juga rajin menyampaikan gagasan perubahan kebijakan beras
pada berbagai forum sejak akhir 2006, baik dengan cara mengundang sejumlah ahli
Indonesia ke markas mereka di Jakarta. Atau mengadakan seminar di luarnya, seperti
di lembaga PBB (CAPSA) di Bogor. Namun, mereka menghindari diskusi terbuka
dengan masyarakat luas (civil society) atau dengan para pakar Indonesia di luar kubu
mereka.

Bank Dunia langsung menyampaikan gagasannya ke tingkat pengambilan keputusan


tentang kebijakan beras ke Kantor Menko Perekonomian atau ke sejumlah menteri
lain yang sealiran dengan Bank Dunia. Penulis juga kaget, ada power point tentang
kebijakan beras Bank Dunia disiapkan untuk SBY. Ini keterlaluan.
Net Konsumen? Data Susenas vs data Tingkat Usahatani

Bank Dunia mengatakan bahwa telah terjadi kenaikan jumlah orang miskin yang
cukup serius sejak harga beras naik. Itu buruk buat penduduk miskin, karena sebagian
besar petani adalah net konsumen. Pandangan ini adalah keliru.

Pola panen padi adalah musiman, mereka surplus pada MPR (musim panen raya) dan
MPG (musim panen gadu), dan defisit hanya pada MP (musim paceklik). Tetapi, data
SUSENAS BPS memperlihatkan sebaliknya, sebagian besar petani padi adalah net
konsumen. Data SUSENAS haruslah dianalisa dengan hati-hati dalam kaitannya
dengan estimasi produksi musiman dan pengeluaran musiman. SUSENAS menaksir
tahunan berdasarkan hasil penelitian seminggu, kemudian dikalikan menjadi tahunan.
Hasilnya adalah defisit produksi (net consumer), seolah-olah terjadi sepanjang tahun.
Data itulah yang dipakai Bank Dunia untuk mempertahankan argumentasinya.

Namun, hasil studi intensif yang dilakukan oleh Sumaryanto dkk (2002) di DAS
Brantas dilaporkan sebaliknya. Para petani mengelola usahatani padi untuk MH, MK1
(musim kemarau pertama) dan MK2, masing-masing seluas 0.35 Ha, 0.33 Ha, dan
0,23 Ha per petani. Luas ini adalah umum dijumpai pada usahatani pangan, khususnya
padi di Indonesia. Mereka melaporkan bahwa konsumsi per kapita sebesar 107
Kg/kap/tahun (Table 1). Ini adalah jumlah yang dikonsumsi langsung oleh rumah
tangga tani, belum termasuk konsumsi tidak langsung seperti makan di warung, pesta,
tempat kerja dll.

Table 1. Per kapita konsumsi beras oleh petani miskin dan petani tidak miskin di DAS
Brantas, Jawa Timur: 1999/2000.

Petani Miskin Petani Tidak Miskin TOTAL


Kg./ Kg./ Kg./
Wilayah
% RT % RT HH
kapita Kapita Kapita
Hulu 42.5 106.6 57.5 120.5 120 114.6
Tengah 53.0 109.2 47.0 102.2 200 105.9
Hilir 56.9 105.1 43.1 101.7 160 103.6
Total 51.7 107.2 48.3 107.5 480 107.3

Note: RT=Rumah tangga

Sumber: Sumaryanto dkk (2002)

Rataan produksi padi sekitar 462 Kg/kapita/tahun. Terungkap adanya


marketablesurplus 1) sekitar 354 Kg/kap/tahun. Marketable surplus di musim hujan
lebih tinggi dari MK1, namun negatif pada MK2. Pada MK2, banyak petani tidak
tanam padi karena kekurangan air, sehingga luas usahatani merosot (Sumaryanto dkk
2002). Oleh karena itu, tidaklah tepat untuk mengasumsikan bahwa semua petani
sempit sebagai net konsumen sepanjang tahun. Yang benar adalah mereka net
produsen pada dua musim pertama, atau hanya net konsumen di musim paceklik
(MK2). Keputusan konsumsi dan pengeluaran bergantung pada asumsi itu. Oleh
karena itu, asumsi net konsumen untuk petani padi adalah tidak didukung oleh data
empiris.

1) Marketable surplus adalah produksi dikurangi konsumsi rumah tangga yang sedang
dipelajari

Terabaikan Peran Non-Food Services

Seterusnya, laporan Bank Dunia (2007) itu juga terlalu sempit dalam melihat industri
beras yaitu hanya sebagai industri penghasil padi/beras untuk tujuan komersial belaka.
Mereka tidak menilai peran pangan, khususnya beras yang menghasilkan non-food
services. Itu menyangkut stabilitas politik, stabilitas ekonomi, distribusi pendapatan,
penyerapan tenaga kerja. Harga beras yang berlaku di pasar belum memperhitungkan
non-food services yang ia berikan ke publik (Dillon dkk 1999). Konsumen seharusnya
perlu membayar harga beras lebih tinggi dari tingkat harga pasar, sekiranya non-food
services itu diperhitungkan.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa padi/beras adalah industri kunci dalam
pembangunan, khususnya pembangunan perdesaan. Kalau suatu industri yang erat
kaitannya ke depan dan kebelakang, menyerap tenaga kerja yang begitu besar,
pengangguran tinggi, terutama di perdesaan, maka industri itu harus dianalisa
keterkaitannya yang luas, tidak dianalisa secara parsial. Oleh karena itu, industri
padi/beras harus dilihat dengan hati-hati dan bijaksana, jangan bias ke jangka pendek.

Kembali ke harga, sebagai salah satu insentif buat pelaku usaha, namun itu bukanlah
satu-satunya insentif buat mereka. Peningkatan produktivitas dan efisiensi, merupakan
insentif lain yang tidak boleh dibaikan, itu terkait dengan non-price incentive. Insentif
harga dan non-harga akan saling memperkuat, bukan saling menggantikan. Oleh
karena itu, insentif non-harga tidak ampuh manakala harga gabah/beras terlalu rendah,
tidak mampu menutupi ongkos produksi.

Tingkat kemiskinan yang dikaitkan dengan harga beras, merupakan cara pandang
sempit. Itu hanya cara hitung menghitung, amat jangka pendek dan ad hoc sifatnya.
Kita jangan mengorbankan kepentingan jangka panjang, hanya sekedar untuk
mencapai kepentingan jangka pendek. Adalah hampir tidak mungkin, kemiskinan
jangka panjang dapat dikurangi secara berkelanjutan, manakala industri beras/padi
redup.

Keredupan ini, tidak dengan sendirinya akan tergantikan oleh komoditas lain, seperti
hortikultura. Kita tidak boleh menghambat suatu industri yang punya keunggulan
komperatif, dipaksakan untuk keluar dari industri itu, padahal industri lain belum kuat
terbangun. Pengembangan hortikultura misalnya, akan berisiko tinggi dan instabilitas
harga yang besar, karena infrastruktur pemasaran dan distribusi yang masih amat
lemah. Apabila mereka beralih ke sektor lain dalam kondisi infrastruktur itu belum
diperkuat, maka akan menggiring petani sempit untuk menanggung risiko yang tinggi.
Itu tidak akan mampu mengurangi jumlah orang miskin secara berkelanjutan.
Itu mengingatkan pengalaman Mexiko dalam meliberalisasi komoditas jagung sebagai
makanan utama mereka, dan petani jagung dialihkan ke kentang. Namun petani
Mexiko tidak beralih ke tananam kentang, mereka pindah ke kota. Sebagian juga
bermigrasi ke AS (IATP 2007a dan Albert 2004). Penanganan kentang berbeda
dengan jagung, terutama dalam penyimpanan, karena pemerintah belum menyiapkan
infrastruktur yang layak untuk itu. Yang terjadi adalah peningkatan kemiskinan dan
pegangguran di perdesaan Mexiko.

Pada saat kita mengabaikan sektor kunci seperti sub-sektor padi/beras, maka risikonya
menjadi besar. Pada situasi pengangguran tinggi dan penggangguran tidak kentara di
desa amat menonjol, itu akan menambah kemiskinan dan akan mendorong
bertambahnya urbanisasi. Perkotaan akan menerima beban dan akibatnya, seperti
kekumuhan, kriminalitas dan keresahan sosial yang terus bertambah. Itu buah dari
urbanisasi yang berlebih, mengabaikan peningkatan pendapatan serta lapangan kerja
di perdesaan.

Perdagangan tentu tidak dapat menyelesaikan semua itu, apalagi kemiskinan.


Mengotak atik harga pangan agar dibuat murah, sama saja memberi obat penghilang
rasa rasa sakit sementara (pin killer), tetapi tidak menyembuhkan penyakit itu sendiri.
Penyakit utama adalah lapangan kerja yang terbatas, produktivitas rendah, insentif
untuk bekerja di sektor pertanian merosot. Insentif harga adalah salah satu yang tidak
boleh diabaikan untuk itu. Demikian juga, pada saat harga beras turun murah yaitu
terjadi pada periode import surge yang tinggi periode 1998, 2002, dan 2003, ternyata
jumlah orang miskin tetap tidak berkurang secara signifikan. Namun, pada saat harga
beras naik, harga beras dianggap sebagai faktor penyebabnya, tidak sebaliknya. Itu
amat tidak realistis.

Hampir tidak pernah dijumpai dalam literatur ekonomi, bahwa kemiskinan di negera-
negara berkembang dapat diatasi dengan memurahkan pangan. Itu konsep
pengentasan kemiskinan yang keliru. Yang benar adalah gerakan sektor riil, ciptakan
lapangan kerja, serta tingkatkan produktivitas terutama di sektor pertanian di mana
penduduk miskin banyak menggantungkan hidupnya. Industri padi/beras adalah salah
satu diantaranya. Bukan membuat harga pangan atau beras murah sehingga menjadi
tidak wajar buat petani.

Harga Beras dan Kemiskinan: Keganjilan Analisa

Kelemahan lain kaitan harga beras dengan kemiskinan yang dibuat Bank Dunia, telah
dibahas dengan baik oleh Sugema (2006). Ia mengatakan bahwa Bank Dunia keliru
dalam menyimpulkan hubungan itu. Beras memang besar kontribusinya dalam inflasi,
23%. Namun peran non-beras jauh lebih tinggi mencapai 77%.

Ia juga menyebutkan bahwa hasil penelitiannya dan penelitian lain seperti yang
dilakukan UNIDO dan UNSFIR, menemukan bahwa angka kemiskinan BPS amat
sensitif dari pengaruh inflasi. Penyebab inflasi tidak sama dengan komponen inflasi.
Harga beras adalah komponen inflasi, yang belum tentu penyebab inflasi itu sendiri.
Ia juga mengatakan bahwa adalah keliru kalau memfokuskan pengentasan kemiskinan
dari sisi pengeluaran dan harga. Rendahnya pengeluaran keluarga miskin akibat dari
ketidakmampuan mereka untuk memperoleh pendapatan yang layak. Peningkatan
pendapatan dari pekerjaan yang mereka tekuni, meningkatkan produktivitas kerja,
mendorong aktivitas padat kerja adalah solusi yang tepat untuk atasi kemiskinan
(Sugema 2006).

Juga penting untuk disikapi secara kritis adalah cara pengukuran tingkat kemiskinan
itu sendiri. Pengukuran kemiskinan sebelum krisis terlalu banyak bersandar pada
kemiskinan pendapatan berdasarkan indikator konsumsi. Belum banyak memberikan
perhatian pada konsep Sen (2000) tentang kemiskinan non-pendapatan. Sen
mengatakan bahwa poverty as capability deprivation. Kemiskinan sebagai
kehilangan/ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan,
perumahan, pendidikan dan pangan. Dimensi kemiskinan Sen terfokus pada non-
income poverty, bukan kemiskinan pengeluaran.

Tingkat kemiskinan itu tidak sensitif terhadap harga maupun inflasi. Atas dasar inilah
kemudian UNDP merancang kemiskinan manusia, bukan kemiskinan pendapatan.
UNDP telah membuat indek tentang itu, yang disebut Human Development Index. Ini
seharusnya menjadi acuan kita. Laporan tentang kemiskinan manusia telah dilakukan
di Indonesia dengan bantuan UNDP sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2004
misalnya, dilaporkan tentang Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan
Manusia, diterbitkan oleh BPS, Bappenas dan UNDP.

Dengan konsep ini Dhanani dan Islam (2000) misalnya, menghitung kemiskinan
manusia di Indonesia sebesar 25%, bandingkan dengan kemiskinan pendapatan BPS
hanya 11% pada 1996. Sayang, konsep kemiskinan manusia kurang dipakai sebagai
acuan dalam penyusunan program pembangunan daerah maupun nasional. Sehingga
Indonesia amat terkebelakang di antara negara ASEAN dalam menyediakan dana
untuk kesehatan yang terkait dengan harapan hidup, kematian bayi, akses terhadap air
minum yang bersih, juga dana untuk pendidikan.

Oleh karena itu, kalau konsep kemiskinan manusia yang dipakai, maka harga beras
atau pangan tidaklah sensitif sebagai penyebab kemiskinan. Capability poverty terkait
dengan kemiskinan struktural dan kronis. Itu hanya mungkin dipecahkan oleh
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pertumbuhan yang pro-poor, serta adanya
intervensi pemerintah yang terarah ke orang miskin.

Impor Beras dari AS tidak Penting?

Bank Dunia (2007) juga mengatakan bahwa ekspor beras AS berpengaruh kecil ke
Asia, tentunya juga ke Indonesia. Ekspor beras AS banyak ditujukan ke Amerika
Latin. Kalaupun diekspor ke Asia, jenis berasnya berbeda, sehingga harga pasar jenis
itu tidak terkait sama sekali (almost completely disconnected) dengan beras lokal. Ini
untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak perlu kuatir dengan beras yang penuh
subsidi berasal dari AS tidak akan berpengaruh besar ke pasar beras dalam negeri.
Namun, data memperlihatkan bahwa impor beras Indonesia dari AS cukup tinggi
diantara negara maju yang mengekspor beras ke Indonesia. Impor beras dari AS
meningkat di era liberalisasi dan era tarif. Pada 1996, hanya 9 ribu ton, meningkat
menjadi 75 ribu ton pada 1999. Pada 2001 dan 2003, adalah tahun-tahun tertinggi
impor beras dari AS yaitu mencapai masing-masing 178 ribu dan 108 ribu ton,
terbesar selama 10 tahun terakhir.

Setelah Indonesia menerapkan batasan impor beras sejak 2004, impor beras dari AS
menurun drastis, hanya 2 ribu ton pada 2005 (Tabel 2). AS berperan penting dalam
impor beras ke Indonesia. Hampir separoh impor beras ke Indonesia yang datang dari
negara maju berasal dari AS. Beras dari AS yang murah harganya, dipakai oleh para
pedagang untuk dicampur (oplos) dengan beras lokal, sehingga menghasilkan jenis
beras baru dengan harga yang lebih murah. Atau itu telah memperbesar stok Bulog,
sehingga berkurang pula kemampuannya untuk menyerap pengadaan beras/gabah
dalam negeri.

Tabel l 2. Impor Beras Indonesia dari Negara Maju dan AS: 1996-2005
(MT)
Tahun USA Negara Maju Lain Total Negara Maju
1996 9,031 6,980 16,011
1997 0 12,352 12,352
1998 22,072 17,756 39,828
1999 74,956 385,725 460,681
2000 49,409 46,975 96,384
2001 177,889 1,522 179,411
2002 13,393 33,158 46,551
2003 107,608 25,231 132,839
2004 16,767 7,327 24,094
2005 2,184 9,081 11,266
Rataan:

Jumlah (MT) 47,331 54,611 101,942


Persen (%) 48 52 100

Sumber: Data dasar berasal dari data impor beras bulanan BPS

Impor itu dalam bentuk food aid melalui WFP, program PL480 dengan kredit lunak
dan jangka panjang. Kredit lunak dan jangka panjang sesungguhnya juga merugikan
pemerintah Indonesia, karena Indonesia harus membayar harga beras yang jauh lebih
mahal dari harga beras di luar program. Ini sering dikeluhkan oleh berbagai penjabat
di berbagai depertemen, seperti Departemen Keuangan, Bappenas. AS “memaksa”
agar Indonesia mau menerima program PL480. Apabila tidak berhasil meyakinkan
Bulog misalnya, mereka akan ke departemen lain, atau ke penjabat tertinggi seperti
Presiden atau Wakil Presiden. Apabila telah disetujui, selanjutnya yang memutuskan
kedatangan beras itu adalah AS. Umumnya didatangkan pada musim panen raya. Itu
telah berpengaruh negatif terhadap tingkat harga beras/gabah di dalam negeri.
Pemerintah tidak berdaya untuk itu.
AS tentu mampu menjual beras dengan harga murah ke Asia. AS melalui Farm Bill
2002 misalnya memberikan subsidi terhadap 20 komoditas petanian. Namun, subsidi
terbesar ditujukan ke 5 komoditas utama yaitu beras, kapas, gandum, jagung and
kedelai (IATP 2007b). Inilah yang menyebabkan mengapa sejumlah negara
berkembang sulit bersaing dan terpuruk, seperti petani jagung Meksiko, petani kapas
di Afrika ( Husein Sawit, 2007).

AS mensubsidi sejumlah komoditas pangan, itu banyak kaitannya dengan kepentingan


korporasi raksasa. Korporasi AS itu merambah dunia, seperti Cargill (beroperasi di 63
negara), Mosanto (61 negara), Tyson Foods (80 negara) dan Archer Danniels Midland
yang beroperasi di Amerika Latin, Negara Pasifik, Afrika, Kanada, Eropa.

Hasil penelitian IATP (2007b) menyebutkan bahwa AS melalui lembaga WTO dan
Bank Dunia memaksa negara berkembang untuk menurunkan tariff dan membuka
pasar, sehingga memuluskan MNCs milik AS untuk melakukan kegiatan bisnis
pangan secara global. AS tentu ngiler melihat potensi pasar di sejumlah negara Asia,
seperti China, India dan Indonesia. Disana banyak penduduk yang memerlukan
pangan, permintaan berbagai jenis pangan yang terus meningkat seiring dengan
kemajuan ekonomi. Itu yang mereka ingin rebut.

Penutup

Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. Yang merasakan akibat dari
implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita, petani kita, masyarakat
kita. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya, tetapi itu sekedar melaksanakan
pesan sponsor. Kita telah terperangkap dengan hutang luar negeri dan SDA milik
bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. Kita semakin sulit keluar dari
kemiskinan dan kepapaan, padahal kita berada di negara yang kaya.

Sayang para pengambilan keputusan, banyak diantara para birokrat kurang memahami
politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional, seperti Bank
Dunia dan IMF. Dalam tataran perundingan multilateral misalnya, mereka juga jarang
memihak negera berkembang, mereka jelas memihak negara kaya dan korporasi
internasional (MNCs). Itulah yang harus disikapi dangan bijaksana dan hati-hati.

Daftar Bacaan
Albert, H (2004), “ The US Farm Bill and Cotton Cultivation: Is the WTO
undermining Rural Development?”, Agriculture and Rural Development, 11 (2)

BPS, Bappenas, UNDP (2004), Ekonomi dari Demokrasi: Membiayai Pembangunan


Manusia Indonesia, UNDP: Jakarta

Dillon, HS, M.H. Sawit, P.Simatupang dan S.R. Tabor (1999),”Rice Policy: A
Framework for the Next Millennium”, Report for Internal Review Only for Bulog
(November 1999)

Dhanani, S dan I. Islam (2000), “Poverty, Inequality and Social Protection: lessons
from the Indonesian crisis”, Working Paper: 00/01, UNSFIR, UNDP

Husein Sawit, M. (2007), Liberalisasi Pangan: Aksi dan Reaksi dalam Putaran Doha
WTO, Lembaga Penerbit FE Univ. Indonesia (akan terbit)

IATP (2007a), “A Fair Farm Bill for the World”, a series of papers on the 2007 US
Farm Bill, Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota

IATP (2007b), “ A Fair Farm Bill for America”, a series of papers on the 2007 US
Farm Bill, Institute for Agriculture and Trade Policy (IATP): Minnesota

Perkins, J (2004), Confessions of an Economic Hit Man, Penguin Books Ltd: London

Sen, A. (2000), Development as Freedom, Oxford University Press: New Delhi

Sugema, I (2006), “Inflasi, Kemiskinan, dan Beras”, Kompas, 23 November 2006

Sumaryanto, M. Siregar and Wahida M(2002), “Socio Economic Analysis of

Farm Household in Irrigated Area of Brantas River Basin”, Research report as a part
of the study Irrigation Investment, Fiscal Policy, and Water Resource

Allocation in Indonesia and Vietnam , collaboration of IFPRI-CASERD-Kimpraswil-

Jasa Tirta.

World Bank (2007), “Issues in Indonesian Rice Policy”, draft March 2007

Oleh: Dr. Ir. M. Husein Sawit

[Artikel - Th. I - No. 1 - Maret 2002]

Mubyarto
EKONOMI RAKYAT INDONESIA

I. DEFINISI

Pertanyaan amat penting dihadapan kita sekarang, pada pertemuan pertama seri seminar 6
bulan pendalaman ekonomi rakyat, adalah apakah kita perlu mengawali dengan sebuah
definisi ekonomi rakyat yang akan kita dalami dalam pertemuan-pertemuan mendatang.
Memang kami (panitia) berambisi bahkan sebelum pertemuan terakhir tanggal 2 Juli 2002,
semua peserta seminar, atau sebagaian besar, sudah akan benar-benar mengerti dan
memahami apa yang dimaksud dengan ekonomi rakyat dan bagaimana kita bersikap
terhadapnya. Keinginan kita yang lain tentu saja adalah untuk menghilangkan kesan amat
keliru bahwa kata atau konsep ekonomi rakyat (dan ekonomi kerakyatan) adalah konsep
yang baru lahir bersamaan dengan gerakan reformasi menjelang dan setelah lengsernya
Presiden Soeharto (1997-98). Berkali-kali, dan dalam berbagai kesempatan, saya mendapat
pertanyaan apakah konsep ekonomi rakyat atau ekonomi kerakyatan yang akan didalami ini
sama dengan konsep Adi Sasono saat menjabat Menteri Koperasi pada Kabinet Habibie.
Pada saat pertemuan pakar-pakar ekonomi di Bank Indonesia Semarang tanggal 17 Januari
lalu, seorang doktor ekonomi menanyakan pada saya ”mengapa bapak menggunakan istilah
ekonomi rakyat, tidak demokrasi ekonomi, misalnya seperti dalam era Orde Baru?”

Harus diakui pertanyaan yang bertubi-tubi tentang ekonomi rakyat seperti ini bersumber pada
salah mengerti bahwa seakan-akan konsep ekonomi rakyat ini ditemukan dan diperkenalkan
oleh Adi Sasono atau Mubyarto atau Sajogyo, dan alasan pengenalannyapun tidak ilmiah
tetapi hanya untuk tujuan politik yang ”populis”, yaitu untuk ”memenangkan pemilu”. Saya
sungguh tidak percaya atau sulit untuk percaya bahwa mereka itu, para cerdik-pandai, belum
pernah mendengar atau membaca istilah ekonomi rakyat sebelum munculnya gerakan
reformasi 1997/1998. Yang benar adalah bahwa mereka mungkin pernah mendengarnya,
dan mengerti bahwa ekonomi rakyat adalah sektor kegiatan ekonomi orang kecil (wong cilik)
yang juga sering disebut sektor informal. Tetapi karena tahun 1997 seorang konglomerat
yang sangat berkuasa merasa ”jijik” terhadap istilah ekonomi rakyat, maka semua orang
”yang tidak terlalu berkuasa” merasa perlu pula untuk ”merasa asing” dengan istilah itu. Lalu
apa ganti istilah yang lebih dapat diterima atau lebih terhormat? Istilah itu adalah ekonomi
kerakyatan. Istilah ekonomi kerakyatan lebih sedikit lagi orang menggunakan, dan yang
sedikit ini termasuk Sarbini Sumawinata (1985). Tetapi karena istilah ekonomi kerakyatan ini
dikenalkan kembali tahun 1997 oleh seorang konglomerat yang “sangat berkuasa” untuk
mengganti istilah ekonomi rakyat yang tidak disukainya, maka berhasillah konsep itu masuk
TAP MPR yaitu TAP Ekonomi Kerakyatan No. XVI/1998. Dan istilah ekonomi kerakyatan ini
kemudian semakin dimantapkan dalam banyak TAP-TAP MPR berikutnya termasuk
kemudian UU No. 25/2000 tentang Propenas. Bahwa konsep Ekonomi Kerakyatan ini
merupakan konsep politik yang “dipaksakan” nampak kemudian dari penggunaannya yang
simpang siur. Dan puncak dari kesimpangsiuran ini berupa keraguan Presiden Megawati
dalam pidato kenegaraan 16 Agustus 2001.

Demikian dalam seminar ini kami tidak lagi akan menggunakan istilah ekonomi kerakyatan
tetapi ekonomi rakyat, suatu istilah baku yang sudah dimengerti siapapun, tentunya mereka
yang mau mengerti. Di Fakultas-fakultas Pertanian dikenal istilah smallholder, terjemahan
dari perkebunan rakyat, disamping istilah-istilah pertanian rakyat, perikanan rakyat,
pelayaran rakyat, industri rakyat, dan tentu saja perumahan rakyat. Sayang saya tidak
secara tegas menjawab pertanyaan konglomerat yang disebutkan diatas pada waktu berkata,
”Pak saya kan rakyat juga?” Seharusnya waktu itu saya menjawab ”Ya, tapi, mengapa Anda
tidak tinggal di perumahan rakyat, bersama rakyat-rakyat yang lain”?

Mudah-mudahan akan jelas bagi kita semua bahwa istilah ekonomi rakyat adalah istilah
ekonomi sosial (social economics) dan istilah ekonomi moral (moral economy), yang sejak
zaman penjajahan dimengerti mencakup kehidupan rakyat miskin yang terjajah. Bung Karno
menyebutnya sebagai kaum marhaen. Jadi ekonomi rakyat bukan istilah politik ”populis”
yang dipakai untuk mencatut atau mengatas namakan rakyat kecil untuk mengambil hati
rakyat dalam Pemilu. Ekonomi Rakyat adalah kegiatan atau mereka yang berkecimpung
dalam kegiatan produksi untuk memperoleh pendapatan bagi kehidupannya. Mereka itu
adalah petani kecil, nelayan, peternak, pekebun, pengrajin, pedagang kecil dll, yang modal
usahanya merupakan modal keluarga (yang kecil), dan pada umumnya tidak menggunakan
tenaga kerja dari luar keluarga. Tekanan dalam hal ini adalah pada kegiatan produksi, bukan
konsumsi, sehingga buruh pabrik tidak masuk dalam profesi atau kegiatan ekonomi rakyat,
karena buruh adalah bagian dari unit produksi yang lebih luas yaitu pabrik atau perusahaan.
Demikian meskipun sebagian yang dikenal sebagai UKM (Usaha Kecil-Menengah) dapat
dimasukkan ekonomi rakyat, namun sebagian besar kegiatan ekonomi rakyat tidak dapat
disebut sebagai ”usaha” atau ”perusahaan” (firm) seperti yang dikenal dalam ilmu ekonomi
perusahaan.

Patut diingat dan dicatat terus menerus bahwa kegiatan dalam seminar kita ini, baik pikiran-
pikiran yang sudah matang maupun yang masih pada tahap awal selama 6 bulan mendatang
adalah benar-benar kegiatan seminar, yang seluruh pesertanya dapat dan bahkan perlu
menyumbang pendapat/pikiran, sehingga pada akhir seminar pada bulan Juli nanti, konsep
ekonomi rakyat benar-benar sudah menjadi konsep yang matang dan mantap.

II. EKONOMI RAKYAT SEBAGAI ASET NASIONAL

Dengan judul tulisan sebuah perintah ”Para Penguasa dan Penasehat Ahli, Bacalah ini!”,
Direktur Kepustakaan Populer Gramedia, Parakitri T Simbolon menulis ”wawancara Imajiner”
dengan pakar ekonomi Peru yang bukunya sedang populer dimana-mana. Mengapa?
Bukunya The Mystery of Capital (2000) memang sedang diulas dan disambut secara luar
biasa karena ketepatan diagnosisnya tentang ”teka-teki kemiskinan di negara-negara dunia
ketiga dan eks negara sosialis”. Karena imajiner maka juga dibuat diagnosis imajiner tentang
”rahasia modal” di Bali yang mewakili masyarakat Indonesia. Di Bali ”anjing lebih pintar dari
manusia” (dan dengan “bahasa Kwik Kian Gie,” pakar lebih ”bego”!), karena anjing dapat
membedakan kepemilikan (aset) tuan masing-masing melalui perbedaan gonggongannya.

Hernando De Soto 10 tahun lalu menulis buku yang juga menyakinkan berjudul The Other
Parth yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia seharusnya ”Ekonomi Rakyat.” Tetapi
karena istilah ekonomi rakyat dianggap kata “haram” dan ”berbau komunis”, maka kata
tersebut diterjemahkan ”Masih Ada jalan Lain : Revolusi Tersembunyi di Negara Dunia
Ketiga”, yang kiranya tidak pernah dibaca oleh pakar-pakar ekonomi Indonesia yang “terlalu
pintar” untuk memberikan perhatian pada ekonomi rakyat yang ”tidak ada apa-apanya”.
”Wong orang sudah bicara tentang globalisasi yang serba canggih kok bicara tentang
ekonomi rakyat”“! Puncak rasa ”jijik” terhadap istilah ekonomi rakyat dipicu oleh konglomerat
yang anak Penguasa karena sangat murka disebut “Batara Kala yang serakah” (Makassar,
1997). Demikian dalam waktu 6 bulan (September 1997 - Maret 1998), konglomerat
bersangkutan, yang sangat berkuasa, bersumpah ”menghapus kata ekonomi rakyat dari
GBHN 1993”, dan sejak itu muncullah kata atau istilah yang dianggap lebih terhormat yaitu
ekonomi kerakyatan. Sayangnya, pemerintahan Habibie, yang tinggal menerima saja
konsep ini terpaksa menelan pil pahit dianggap keliru dan ”berpolitik terlalu populis” yaitu
“memusuhi konglomerat untuk membela rakyat”. Hasilnya, pakar-pakar ekonomi Neoklasik /
Neoliberal menghujat konsep ekonomi kerakyatan sebagai konsep politik yang ”ideologis”,
yang tak ilmiah, dan tak sesuai dengan sistem ekonomi pasar (bebas) yang mereka
gandrungi, dan yang dianggap satu-satunya sistem ekonomi yang ”benar” sejak runtuhnya
tembok Berlin 1989.

Demikianlah rupanya pakar-pakar ekonomi kita di Indonesia memang tidak membaca, tidak
mau tahu, apalagi menerapkan konsep-konsep ”ekonomi rakyat” yang disampaikan
Hernando De Soto. Itulah sebabnya, Parakitri T. Simbolon ”memerintahkan” para penguasa
dan penasehat ahli Indonesia untuk membaca wawancara imajinernya dengan Hernando De
Soto tentang rahasia ekonomi rakyat Indonesia sebagaimana dlihat dari kacamata ekonom
Peru. Kita ragu apakah perintahnya akan dipatuhi.

Modal Mati. Konsep kunci De Soto adalah bahwa aset atau hak milik di Negara-negara
berkembang tidak dapat dimanfaatkan alias mati (dead capital). Modal yang mati ini berupa
rumah di tanah yang tidak jelas pemiliknya, perusahaan yang tidak berbadan hukum, dan
industri tersebar yang tidak dilihat investor. Karena tidak tercatat maka kekayaan laksana
”berlian” seperti itu tidak siap dialihkan jadi modal sosial. Di Indonesia pelaku-pelaku ekonomi
(rakyat) yang modalnya kecil, bahkan gurem, berasal dari pinjaman koperasi yang kecil-kecil,
arisan kampung, pegadaian, atau dari keluarga dekat, tidak dianggap sebagai investasi
karena investasi harus merupakan kredit besar berasal dari Bank. Demikian dalam
persamaan Keynesian ekonomi makro (Y = C + I + G), rakyat kecil dianggap hanya
berkonsumsi (C), sedangkan I (investasi) hanya dapat dilakukan pengusaha besar. Maka
sejak krisis moneter 1997-1998 pakar-pakar ekonomi arus utama selalu menyatakan di
Indonesia tidak ada lagi investasi, karena para investor ”sedang klenger”, dan bahkan para
pengusaha nasional dan investor-investor asing melarikan modal mereka ke luar negeri yang
ditaksir mencapai USD 10 milyar per tahun (Anwar Nasution, 2001). Mereka yang bukan
pakar ekonomi disuruh percaya adanya “pelarian modal besar-besaran” ini agar untuk
menahannya, atau untuk menarik kembali modal tersebut, pemerintah harus memberikan
perangsang khusus berupa tax holiday atau tingkat suku bunga tinggi atau perangsang lain.
Jika hal ini dilakukan maka terjadilah yang paling dikhawatirkan De Soto, modal dan
kekayaan dalam negeri yang potensial lebih diabaikan (dimatikan) lagi.

Kebiasaan menganggap enteng pemodal dalam negeri (domestik) terutama dari ekonomi
rakyat (kecil), dan kekaguman pada modal asing, makin menonjol setelah dibukanya pasar
uang dan pasar modal di Jakarta (BEJ, 1977). Mengapa? Karena dalam BEJ berkumpul para
”fund manager” dari seluruh dunia yang pekerjaan utamanya memang “berdagang uang” dan
melipatgandakan nilai uang mereka. Makin besar untung mereka sebagai pedagang uang
makin besar penghasilan mereka. Uang atau modal yang dijualbelikan di BEJ ini bisa secara
keliru dianggap sebagai “investasi asing yang riil”, dan penarikannya ke luar negeri dianggap
pelarian modal (capital flight), padahal sebenarnya tidak demikian. Banyak modal asing ini
sekedar diperdagangkan di Jakarta dan tidak pernah diinvestasikan disektor riil.

Dari trilyunan dolar Amerika yang diperjualbelikan sehari-hari, hanya 5 % yang berkaitan
dengan perdagangan dan transaksi ekonomi substantif lainnya. Sembilan puluh lima persen
sisanya terdiri dari spekulasi dan arbitrase, saat para pedagang yang memiliki sejumlah
besar uang mencari keuntungan yang cepat dari fluktuasi nilai tukar dan perbedaan suku
bunga.2)

2) Giddens, Anthony, ”The Third Way, Jalan Ketiga”, Pembaharuan Demokrasi sosial, Gramedia, 1999, hal 172

“Prospek” Indonesia Masa Depan. Banyak ilmuwan Indonesia ”merasa bisa” meramalkan
masa depan Indonesia tanpa secara sungguh-sngguh menjelaskan mengapa kita mempunyai
masalah yang kita hadapi sekarang. Jika ilmuwan kita ”meramal” ke depan dan memberikan
resep-resep kebijakan agar masa depan itu lebih baik, tanpa menerangkan ”sejarah”
terjadinya masalah riil yang kita hadapi sekarang, maka tentulah ilmuwan yang bersangkutan
menyusun ”asumsi-asumsi” yang jika, dan hanya jika (asumsi-asumsi terpenuhi), kebijakan-
kebijakan yang dianjurkan akan dapat berjalan. Namun, jika ilmuwan menggunakan terlalu
banyak asumsi yang tidak realistis, maka berarti ilmuwan yang bersangkutan hanya berteori
(berpikir deduktif), padahal banyak teori-teori ekonomi yang berasal dari Barat ini sering keliru
atau tidak tepat bagi Indonesia.

Demikian ilmu ekonomi sebenarnya akan lebih bermanfaat jika dapat ”menjelaskan” berbagai
sebab-akibat dari fenomena masyarakat, dan dari penjelasan-penjelasan tersebut
masyarakat dapat mawas diri dan mengoreksi kekeliruan-kekeliruan yang telah dibuat di
masa lalu. Mawas-diri dan mengoreksi merupakan syarat bagi ditemukannya tindakan atau
kebijakan yang lebih baik di masa datang. Dianjurkan kepada para cerdik-pandai terutama
pakar-pakar ekonomi untuk lebih menahan diri dan tidak terlalu suka “meramalkan” masa
depan dengan analisis atau pernyataan-pernyataan remedial (dengan resep-resep atau obat-
obat) tanpa data-data empirik kenyataan masa lalu dan masa sekarang.

Dalam bidang ekonomi, kesalahan paling mendasar adalah sangat tidak memadainya rasa
nasionalisme para pemimpin ekonomi kita. Perwujudan rasa nasionalisme yang rendah (lebih
kagum globalisasi) sama dengan rendahnya rasa percaya diri, yang dalam krisis moneter
1997-1998 hampir hilang sama sekali. Maka mengembangkan rasa percaya diri, bahwa
bangsa Indonesia akan mempunyai kemampuan mengatasi masalah-masalah ekonomi yang
dihadapi dengan upaya sendiri, mutlak diperlukan. Hernando De Soto dengan menyakinkan
menunjuk pada ”berlian” di negara-negara berkembang yang tak pernah dikenali oleh
pemerintah maupun para perencana pembangunan. Inilah potensi domestik, yaitu kekuatan
“ekonomi rakyat” yang telah terbukti tahan-banting dalam situasi krismon, dan telah
menyelamatkan ekonomi Indonesia dari kehancuran total. Bahwa ekonomi Indonesia hanya
mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) satu tahun saja pada tahun 1998, dan mulai
tahun 1999 dan seterusnya sudah tumbuh positif (meskipun kecil), hendaknya dicatat
sebagai bukti bahwa sektor ekonomi rakyat dalam waktu pendek telah pulih kembali
meskipun ekonomi sektor modern masih menghadapi kesulitan.

Penutup. Kami selalu menahan diri dan tidak tertarik menulis ”prospek masa depan”, dengan
alasan yang kami ajukan diatas yaitu bahwa tugas ilmuwan lebih baik ”menjelaskan” bukan
”meramal”. Menyusun prospek dalam bidang ekonomi lebih perlu lagi untuk tidak dilakukan
secara gegabah karena teori-teori ekonomi yang ada, yang berasal dari Barat, pada
umumnya tidak realistis, karena banyak menggunakan asumsi-asumsi yang sulit dipenuhi.
Satu contoh kekeliruan fatal dari teori ekonomi Neoklasik/Neoliberal dari Barat sudah terjadi
yaitu ketika krismon 1997-1998 diramalkan “tidak mungkin terjadi di Indonesia”. Dewasa ini
pakar-pakar ekonomi bersilang pendapat tentang bisa tidaknya krisis ekonomi ala Argentina
menyerang Indonesia. Dalam hal seperti ini kami selalu menolak untuk membuat ramalan.
Yang kiranya cukup jelas adalah bahwa para pemimpin ekonomi Indonesia baik dari
kalangan pemerintah, dunia bisnis, atau dari kalangan pakar, kami himbau untuk berpikir
keras menyusun aturan main atau sistem ekonomi baru yang mengacu pada sistem sosial
dan budaya Indonesia sendiri. Jika Pancasila kita terima sebagai ideologi bangsa, maka kita
tidak perlu merasa ragu-ragu mengacu pada Pancasila lengkap dengan lima silanya dalam
menyusun sistem ekonomi yang dimaksud.

Sistem Ekonomi Pancasila mencakup kesepakatan ”aturan main etik” sebagai berikut:

1. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa: Perilaku setiap warga Negara digerakkan oleh
rangsangan ekonomi, sosial, dan moral;

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab: Ada tekad seluruh bangsa untuk mewujudkan
kemerataan nasional;

3. Persatuan Indonesia: Nasionalisme ekonomi;

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan


/perwakilan: Demokrasi Ekonomi; dan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia: Desentralisasi dan Otonomi Daerah.

Demikian ”prospek” masa depan ekonomi Indonesia, pada hemat kami sangat tergantung
pada kesediaan untuk menerima dan melaksanakan ”aturan main etik”, (ada yang
menyebutnya sebagai ”kontrak sosial”). Apapun namanya, sebaiknya kita tinggalkan aturan
main, atau sistem ekonomi kapitalis liberal (atau Neoliberal) yang sejauh ini dianggap ”tak
terelakkan”. Kita harus berani mengelak dari nasehat-nasehat dari luar, atau dari pakar-pakar
yang terlalu silau atau terlalu yakin akan kebenaran teori-teori ekonomi dari luar. Indonesia
harus percaya diri menyusun aturan main yang paling cocok bagi kepribadian Indonesia.
III. EKONOMI RAKYAT DI MATA TEKNOKRAT

1. Sajogyo dan Widjojo Nitisastro

Pada tahun 1978 dalam sebuah artikel ilmiah populer di harian Kompas berjudul Garis
Kemiskinan dan Kebutuhan Minimum Pangan, Sajogyo, yang sosiolog, ”mengambil oper”
peranan pakar ekonomi dengan menetapkan garis kemiskinan pada tingkat pendapatan
pertahun setara 240 kg nilai tukar beras / orang. Sajogyo menghitung ada 42,7 juta orang
miskin (36,4%) di Indonesia (1970), yang 6 tahun kemudian (1976) turun persentasenya
menjadi 33,4 %, meskipun dalam jumlah orang meningkat menjadi 45,1 juta. Peranan
sebagai ekonom ini dilakukan Sajogyo sejak 1976 ketika mengeluh mengapa ekonom
Indonesia tidak menanggapi hasil penelitian tentang kemiskinan di Sriharjo yang 3 tahun
sebelumnya (1973) sudah dibahas dimana-mana di kalangan ilmuwan ekonomi pertanian
internasional. Sajogyo kecewa ekonom Indonesia lebih banyak memikirkan masalah-masalah
makroekonomi perdagangan dan keuangan internasional (konglomerasi dan globalisasi), dan
tidak menyediakan waktu memikirkan ekonomi rakyat atau nasib penduduk miskin yang
jumlahnya banyak dan senantiasa meningkat.

Pada tahun 1966, Widjojo Nitisastro, yang Dekan Fakultas Ekonomi, dengan dukungan
rekan-rekannya dan mahasiswa FE-UI, mengumandangkan tekad melaksanakan pasal-pasal
23,27,33, dan 34 UUD 1945, dan bertekad mengamalkan Pancasila dan perbaikan ekonomi
rakyat. Rumusan hasil kesimpulan seminar mahasiswa FE-UI selanjutnya menjadi landasan
TAP No. XXIII/MPRS/1966.

Pada tahun 1933, Bung Hatta yang sarjana ekonomi tamatan Sekolah Tinggi Ekonomi di
Nederland(1932), menulis kata pengantar dalam majalah Daulat Rakyat sebagai berikut :

Tani sendiri tidak berkuasa lagi atas padi yang ditanamnya. Padi masak orang lain yang
punya. Produksi tinggal di tangan bangsa kita, tetapi distribusi atau pejualan sudah ditangan
bangsa asing. Bertambah banyak perpecahan produksi, bertambah kuasa kaum pembeli dan
penjual, semakin terikat ekonomi rakyat.3)

3) M. Hatta, Kolektivisme Tua dan Baru, Daulat rakyat, No. 25, 10 Oktober 1933

Demikian jika tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin ekonomi kita di masa lalu begitu
bersemangat memihak kepetingan ekonomi rakyat dan berpikir atau bekerja keras
mengangkat derajat orang kecil yang miskin, adalah aneh jika ekonom-ekonom muda masa
kini begitu percaya dan menggantungkan diri pada konsep pertumbuhan ekonomi dan begitu
mengagung-agungkan persaingan bebas yang dianggap hasilnya pasti akan ”menetes ke
bawah”. Prinsip demokrasi ekonomi dan asas kekeluargaan, misalnya, yang dirumuskan Hata
dan dibela oleh Widjojo dkk, sekarang dianggap tidak relevan lagi setelah globalisasi.

2. Selo Soemardjan

Selo Soemardjan yang menerima Anugrah Hamengkubuwono IX tanggal 19 Januari 2002


menyampaikan orasi ilmiah di Pagelaran Keraton Yogyakarta dengan Judul Pluralisme
Budaya Indonesia (Suatu Tinjauan Sosiologis). Dari orasi dengan judul yang sangat netral
dan sederhana terungkap keprihatinan mendalam tentang mulai pudarnya nasionalisme
Indonesia, yaitu kesetiaan pada pluralisme budaya (kebhinekaan). Patriotisme dan
nasionalisme seperti yang diikrarkan Pemuda-pemudi Indonesia tahun 1928 sekarang hampir
hilang karena suku-suku bangsa di pelosok-pelosok seluruh Indonesia mulai pudar
kepercayaannya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berpusat di Jakarta.

Namun yang kini lebih memprihatinkan lagi bukanlah makin pudarnya rasa nasionalisme
suku-suku bangsa kecil-kecil yang jauh dari Jakarta, tetapi makin pudarnya rasa nasionlisme
para pakar yang menganggap paham globalisme lebih kuat atau lebih benar ketimbang
ideologi nasional. Maka Pancasila dan UUD yang telah disepakati para pendiri Republik
Indonesia tahun 1945 juga mulai dipertanyakan karena dianggap tidak lagi relevan atau
ketinggalan zaman. Mencontoh negara-negara lain yang lebih maju dari Indonesia yang
menganggap sistem ekonomi kapitalisme sebagai satu-satunya jalan ke kemajuan, maka
”tidak perlu lagi Indonesia “terikat” pada atas kekeluargaan atau kegotong-royongan yang
terpancar dari Pancasila”.

Demikian dari uraian sosiologis Selo Soemardjan tentang pergolakan etnik di daerah-daerah
yang sudah berlangsung 4 tahun terakhir, dan keluhan Sajogyo tentang tidak cekatannya
pakar-pakar ekonomi menanggapi masalah kemiskinan dan ekonomi rakyat di Indonesia,
pakar-pakar ekonomi perlu benar-benar mawas diri. Kami sendiri berpendapat
ketidaktajaman cara berpikir pakar-pakar ekonomi, dan menurunnya rasa nasionalisme,
disebabkan ilmu ekonomi telah kita jauhkan dari ilmu sosiologi. Ilmu ekonomi ala
Samuelson yang semakin kuantitatif harus kita akui sebagai ”biangkeladi” dari kekeliruan ini.
Dan yang paling fatal ilmu ekonomi Neoklasik Barat kini kita pelajari dan kita ajarkan sebagai
agama (Robert Nelson, Economics as Religion, 2001)

3. Ekonomi Moral

Jika disadari bahwa buku Smith tahun 1759 berjudul The Theory of Moral Statements,
padahal kita hanya mengajarkan ke pada mahasiswa kita buku ke duanya yaitu The Weath
of Nations (1776), kiranya kita para dosen ilmu ekonomi harus mengaku ”berdosa” atau
paling sedikit mengakui kekeliruan kita. Mengapa mahasiswa ekonomi hanya memahami
manusia sebagai ”homo ekonomikus”, dan bukan sebagai ”homo moralis” atau ”homo socius”
? Itulah, karena ilmu ekonomi kita ajarkan sebagai ilmu yang super spesialistik, yang
matematik, sehingga sifatnya sebagai ilmu sosial menjadi hilang. Memang Kenneth Boulding
telah berjasa mengingatkan bahwa ilmu ekonomi dapat dipelajari sebagai :

(1) ilmu ekologi;

(2) ilmu perilaku;

(3) ilmu politik;

(4) ilmu matematik;

(5) ilmu moral.

Tetapi berapa banyak di antara kita yang membahasnya atau menyinggung di ruang kuliah
sebagai ilmu moral? Sangat sedikit, karena kita lebih suka menganggap ilmu ekonomi
sebagai ilmu positif (positive science), dan cenderung mengejek ekonom lain yang
mengajarkannya sebagai ilmu yang normatif (normative science). Terhadap konsep Ekonomi
Pancasila yang pernah mencuat di wacana nasional, ada Ekonom Senior kita yang mengejek
bahwa “tidak ada gunanya mengajarkan ilmu surga di dunia”

Karena tidak banyak manfaatnya lagi mengingatkan kritik-kritik radikal terhadap ilmu ekonomi
seperti Paul Ormerod dalam The Death of Economics (1994), (karena buku seperti ini pasti
sudah ”disingkirkan” sejak awal), maka buku klasik Kenneth Boulding diatas kiranya lebih
tepat untuk dikutip.

Our graduate schools may easily be producing a good deal of the ”trained incapacity”, which
Veblen saw being produced in his day, and this is a negative commodity unfortunately with a
very high price.4)

4) Boulding, Kenneth, E. Economics as a Science, Tata McGraw-Hill, Bombay 1970, op. cit.hal 156

Kami sangat khawatir kita tidak terlalu peduli apakah sarjana-sarjana ekonomi yang kita
hasilkan akan merupakan ”trained incapacity” atau bukan? Mudah-mudahan melalui diskusi-
diskusi ini makin banyak dosen di fakultas-fakultas ekonomi yang tersadar, berpikir, dan
menjadi peduli pada misi pendidikan kita sekarang dan di masa depan. Jika tidak kita patut
bertanya, Quo Vadis Fakultas Ekonomi Kita?

IV. PENUTUP

Ekonomi Rakyat adalah kancah kegiatan ekonomi orang kecil (wong cilik), yang karena
merupakan kegiatan keluarga, tidak merupakan usaha formal berbadan hukum, tidak secara
resmi diakui sebagai sektor ekonomi yang berperanan penting dalam perekonomian nasional.
Dalam literatur ekonomi pembangunan ia disebut sektor informal, “underground economy”,
atau “ekstralegal sector”. Alfred Marshall bapak ilmu ekonomi Neoklasik (1890) memberikan
definisi ilmu ekonomi sebagai berikut :

Economics is a study of men as they live and move and think in the ordinary business of life.
But it concerns itselft chiefly with those motives which affect, most powerfullly and most
steadily, man’s conduct in the business part of his life.5)

5) Alfred Marshall, Principles of Ecoomics, Macmillan, 1948, op.cit. hal 14

Ekonomi kerakyatan menunjuk pada sila ke-4 Pancasila, yang menekankan pada sifat
demokratis sistem ekonomi Indonesia. Dalam demokrasi ekonomi Indonesia produksi tidak
hanya dikerjakan oleh sebagian warga tetapi oleh semua warga masyarakat, dan hasilnya
dibagikan kepada semua anggota masyarakat secara adil dan merata (penjelasan pasal 33
UUD 194).

Demikian ekonomi rakyat memegang kunci kemajuan ekonomi nasional di masa depan, dan
sistem ekonomi Pancasila merupakan “aturan main etik” bagi semua perilaku ekonomi di
semua bidang kegiatan ekonomi.

Prof. Dr. Mubyarto : Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro
Ekonomika

Makalah disampaikan pada Pertemuan I Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, YAE-Bina Swadaya, di Financial Club,
Jakarta, 22 Januari 2002.

BACAAN
Boulding, Kenneth, E. Economics as a Science, Tata McGraw-Hill, Bombay 1970

Lunati, M. Teresa, Ethical Issues in Economics from Altruism to Cooperation to Equality, St.
Marten’s Press, New York, 1997.

Mubyarto, membangun Sisem Ekonomi, BPFE, 2000

---------, Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis Ekonomi, BPFE,
2001

---------, Amandemen Kostitusi dan Pergulatan Pakar Ekonomi, Aditya Media, 2001.

---------, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan Peranan Ilmu-ilmu Sosial, YAE, 2002

Nagvi, Syed Nawab Haider, Ethics and Economics, An Islamic Synthesis, The Islamic
Foundation, London, 1981.

Nelson, Robert H, Economics as Religion, from Samuelson to Chicago and Beyond,


Pennsylvania State UP, 2001

Svedberg, Richard, Max Weber and the Idea of Economic Sociology, Princeton UP,
Princeton, 1998

Weber, Max, The Protestant Ethics and the Spirit of Capitalism, Charles Scribner, New York,
1905

Wilson, Rodney, Economics, Ethics, and Religion, Macmillan, 1997.

Artikel - Th. I - No. 1 - Maret 2002]

Bambang Ismawan
EKONOMI RAKYAT: SEBUAH PENGANTAR

PENDAHULUAN

Ekonomi rakyat beberapa waktu terakhir menjadi istilah baru yang banyak didiskusikan dalam
berbagai forum dan oleh banyak pihak. Bukan tanpa alasan ekonomi rakyat seolah-olah
menjadi trendsetter baru dalam wacana pembangunan. "Ambruknya" ekonomi Indonesia
yang selama lebih dari tiga dasawarsa selalu dibanggakan oleh pemerintah, memaksa
berbagai pihak meneliti kembali struktur perekonomian Indonesia. Berbagai kajian yang
dilakukan berhasil menemukenali satu faktor kunci yang menyebabkan keambrukan ekonomi
Indonesia yaitu ketergantungan ekonomi Indonesia pada sekelompok kecil usaha dan
konglomerat yang ternyata tidak memiliki struktur internal yang sehat. Ketergantungan
tersebut merupakan konsekuensi logis dari kebijakan ekonomi neoliberal yang
mengedepankan pertumbuhan dengan asumsi apabila pertumbuhan tinggi dengan sendirinya
akan membuka banyak lapangan kerja, dan karena banyak lapangan kerja maka kemiskinan
akan berkurang. Kebijakan ekonomi tersebut ternyata menghasilkan struktur ekonomi yang
tidak seimbang.

Didalam struktur ekonomi yang tidak seimbang tersebut, sekelompok kecil elit ekonomi --
yang menurut BPS jumlahnya kurang dari 1% total pelaku ekonomi -- mendapatkan berbagai
fasilitas dan hak istimewa untuk menguasai sebagian besar sumber daya ekonomi dan
karenanya mendominasi sumbangan dalam PDB, pertumbuhan ekonomi, maupun pangsa
pasar. Manakala elit ekonomi tersebut mengalami problema keuangan sebagai akibat
mismanajemen dan praktek-praktek yang tidak sehat maka sebagai konsekuensi logisnya
berbagai indikator seperti PDB dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan kemerosotan.(1)

(1) Data BPS tahun 1998 memperlihatkan sektor usaha besar dan konglomerat yang berjumlah 0,2% dari seluruh total
pelaku ekonomi memberikan sumbangan terhadap PDB dan ekonomi sebesar kurang lebih 80%. Kondisi ini menyebabkan
krisis finansial yang dialami beberapa usaha besar dan konglomerat segera berdampak pada kinerja perekonomian nasional.

Namun struktur ekonomi yang timpang tersebut ternyata juga merupakan blessing in disguise
bagi Indonesia. Sebagian besar pelaku ekonomi yang selama ini posisinya marjinal, informal,
tidak mendapatkan fasilitas, justru lebih mampu bertahan. Para pelaku ekonomi inilah yang
sering disebut dengan ekonomi rakyat.

EKONOMI RAKYAT

Dalam wacana teori ekonomi, istilah ekonomi rakyat memang tidak dapat ditemui. Hal ini
memang karena ekonomi rakyat sebagai sebuah pengertian bukan merupakan turunan dari
mazhab atau school of thought tertentu melainkan suatu konstruksi pemahaman dari realita
ekonomi yang umum terdapat di negara berkembang. Suatu realita ekonomi dimana selain
ada sektor formal yang umumnya didominasi oleh usaha dan konglomerat terdapat sektor
informal dimana sebagian besar anggota masyarakat hidup.

Dalam konteks Indonesia, ekonomi rakyat seringkali dihadapkan secara diametral dengan
usaha besar dan konglomerat. Pembedaan ini memiliki rujukan akademis yang sudah sangat
panjang mengenai adanya dualisme ekonomi di Indonesia, suatu konsepsi yang dirumuskan
oleh Boeke jauh sebelumnya. Pembedaan ini juga dipertegas dengan klasifikasi data BPS
yang mengelompokkan pelaku ekonomi Indonesia kedalam dua kelompok, yaitu yang
pertama adalah usaha besar dan konglomerat sedangkan yang kedua adalah usaha kecil,
menengah, dan koperasi.

Apabila perhatian lebih jauh ditujukan kepada sektor kedua, yaitu usaha kecil, menengah,
dan koperasi yang jumlahnya menurut BPS sekitar 36 juta usaha, pada kenyataannya bagian
terbesar yaitu sebesar 34 juta jiwa adalah usaha mikro, baru diikuti oleh usaha kecil,
koperasi, dan usaha menengah. Sektor ini pada tahun 2000 menyerap 99,6% tenaga kerja
Indonesia.(2) Dengan demikian kalau kita membicarakan ekonomi rakyat, perlu dijadikan
catatan bahwa sebagian terbesar dari pelaku ekonomi di dalamnya adalah usaha mikro yang
menyerap tenaga kerja sangat besar dan secara hipotetis menjangkau lebih dari 136 juta
jiwa.

(2) Urata, Sujiro., 2000. Policy Recommendation for SME Promotion in The Republic of Indonesia. JICA

Kegiatan-kegiatan yang digeluti pelaku ekonomi rakyat secara kasar dapat dikelompokkan
menjadi:

a) Kegiatan-kegiatan primer dan sekunder - pertanian, perkebunan, peternakan,


perikanan (semua dilaksanakan dalam skala terbatas dan subsisten), pengrajin kecil,
penjahit, produsen makanan kecil, dan semacamnya.

b) Kegiatan-kegiatan tersier - transportasi (dalam berbagai bentuk), kegiatan sewa


menyewa baik perumahan, tanah, maupun alat produksi.

c) Kegiatan-kegiatan distribusi - pedagang pasar, pedagang kelontong, pedagang kaki


lima, penyalur dan agen, serta usaha sejenisnya.

d) Kegiatan-kegiatan jasa lain - pengamen, penyemir sepatu, tukang cukur, montir, tukang
sampah, juru potret jalanan, dan sebagainya.(3)

(3) Hart, Keith, 1973. Informal Income Opportunities and Urban Employment in Ghana, dalam Journal of Modern African
Studies.

Kegiatan primer seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan selama beberapa
dasawarsa terakhir mendapatkan tekanan struktural dari pemerintah sebagai akibat kebijakan
yang menekankan pada pertumbuhan industri dan menuntut upah buruh yang rendah. Upah
buruh rendah hanya dapat tercapai apabila salah satu komponen utamanya yaitu makan juga
rendah. Sebagai akibatnya kegiatan primer ditekan untuk menyediakan pangan murah yang
diperlukan bagi pertumbuhan industri. Orientasi pada industri juga menyebabkan berbagai
kegiatan di masyarakat seperti pengrajin, penjahit, produsen makanan dan semacamnya
karena skalanya yang terbatas tidak mendapatkan perhatian bahkan tidak dilihat sebagai
aktifitas ekonomi yang perlu dipertimbangkan.

Dalam kegiatan yang dikelompokkan sebagai tersier, transportasi baik orang maupun barang
banyak diusahakan sendiri oleh rakyat. Hal ini merupakan gejala umum pada negara
berkembang seperti telah disinyalir oleh Hernando de Soto.(4) Negara memang telah
mengusahakan berbagai sarana transportasi namun dalam kenyataannya transportasi yang
diusahakan sendiri oleh rakyat tetap lebih dominan (meskipun seringkali illegal). Kegiatan
sewa menyewa seperti misalnya tempat tinggal (baik kamar maupun rumah) di kota dan
tanah atau pekarangan di desa adalah kegiatan yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi dan
tidak banyak tercatat. Di kota besar seperti Jakarta, kegiatan ini telah secara efektif
mendorong datang dan berkembangnya banyak wirausaha mikro seperti penjual bakso dan
pedagang keliling lainnya dari berbagai daerah.

(4) De Soto, Hernando., 1991. Masih Ada Jalan Lain. Yayasan Obor. Jakarta (terj.)

Kegiatan-kegiatan distribusi merupakan salah satu kegiatan yang paling populer bagi
ekonomi rakyat karena relatif mudah dikerjakan, tidak menuntut keterampilan khusus, dan
memiliki margin keuntungan yang relatif besar. Kegiatan distribusi juga merupakan tempat
perputaran uang yang besar dan cepat. Melalui kegiatan distribusi yang sebagian besar
dilaksanakan secara informal (tanpa ijin) berbagai produk baik yang dihasilkan oleh
perusahaan besar maupun usaha rumah tangga mampu menjangkau masyarakat secara
efektif.

Berbagai kegiatan jasa lain yang diungkap diatas, dalam kenyataannya merupakan suatu
“jaring pengaman sosial”(5) bagi kelompok masyarakat bawah yang menggantikan ketiadaan
pelayanan dasar yang semestinya disediakan oleh pemerintah. Sebagian besar masyarakat
pada kegiatan ini berada dalam tahapan bertahan hidup (survival) dan menjadikan aktifitas
yang dijalaninya sebagai persiapan untuk masuk kedalam kegiatan ekonomi lain yang lebih
“mapan” meskipun beberapa yang lain menjadikan kegiatan mereka sebagai profesi dan
mereka mampu menghidupi keluarganya secara relatif “memadai”. Memperhatikan keunikan
kegiatan jasa ini, tindakan pemerintah terutama pemerintah daerah untuk “menertibkan” atau
“mengatur” kegiatan-kegiatan ini pada kenyataannya sering kali merusak “jaring pengaman
sosial” yang secara riil telah mampu menyediakan pekerjaan pada masyarakat bawah.

(5) Terminologi ini dipakai tidak dalam pengertian baku structural adjustment program, melainkan merujuk pada kewajiban
pemerintah untuk menyediakan berbagai kebutuhan dasar seperti tertulis didalam UUD 1945

KARAKTERISTIK EKONOMI RAKYAT

Sebagai sebuah entitas ekonomi yang cakupannya sangat besar dan luas, karakteristik yang
dimiliki ekonomi rakyat sangat beragam, tergantung dari jenis kegiatan yang dimaksud.
Meskipun demikian, kiranya dapat digambarkan beberapa karakteristik dasar sebagai berikut:

Informalitas. Sebagian besar ekonomi rakyat bekerja diluar kerangka legal dan pengaturan
(legal and regulatory framework) yang ada. Ketiadaan maupun kelemahan aturan yang ada
atau ketidakmampuan pemerintah untuk mengefektifkan peraturan yang ada (yang seringkali
merugikan pelaku usaha kecil) menjadi ruang yang membuat ekonomi rakyat bisa
berkembang. Beberapa upaya intervensi yang dilakukan pemerintah dalam kenyataannya
justru dapat "mematikan" ekonomi rakyat seperti terlihat pada kasus yang menjadi persoalan
nasional yaitu pengaturan tata niaga cengkeh dan jeruk di Kalimantan Barat. Hernando de
Soto dalam bukunya yang terakhir The Mystery of Capital berpendapat bahwa situasi
informalitas sektor ekonomi rakyat ini menjadi penyebab “mati”-nya kapital yang dimiliki
ekonomi rakyat, dalam artian tidak bisa dipergunakan untuk kapitalisasi dan transaksi
ekonomi. Hal ini untuk sebagian memang benar karena informalitas ekonomi rakyat
menyebabkan mereka tidak bisa mengakses lembaga keuangan formal dan terpaksa harus
berhubungan dengan sumber pinjaman informal yang mengenakan bunga sangat tinggi.
Pada sisi lain seperti diungkap diatas, formalisasi ekonomi rakyat juga menyimpan bahaya.

Mobilitas. Aspek informalitas dari ekonomi rakyat juga membawa konsekuensi tiadanya
jaminan keberlangsungan aktifitas yang dijalani. Berbagai kebijakan pemerintah dapat secara
dramatis mempengaruhi keberlangsungan suatu aktifitas ekonomi rakyat. Dalam merespon
kondisi yang demikian, sektor ekonomi rakyat merupakan sektor yang relatif mudah dimasuki
dan ditinggalkan. Apabila pada aktifitas ekonomi tertentu terdapat banyak peluang maka
dengan segera akan banyak pelaku yang menerjuninya. Sebaliknya apabila terjadi
perubahan yang mengancam keberlangsungan jenis usaha tertentu maka dengan segera
para pelakunya akan berpindah ke jenis usaha yang lain. Situasi ini tentu saja tidak terjadi
dengan aktifitas primer seperti pertanian dimana para pelakunya jarang meninggalkan
aktifitas pertaniannya. Mekanisme yang dikembangkan untuk menjawab tantangan ekonomi
akibat berbagai situasi eksternal adalah melakukan diversifikasi aktifitas ekonomi pada
bidang-bidang off-farm.

Beberapa pekerjaan dilakukan oleh satu keluarga. Salah satu karakteristik lain adalah
bahwa dalam satu keluarga terutama yang berada pada strata bawah umumnya keluarga
tersebut melalui anggotanya terlibat pada lebih dari satu aktifitas ekonomi yang dapat
digolongkan sebagai ekonomi rakyat. Mudah dipahami mengapa ini terjadi. Ketidakamanan
dan keberlanjutan yang sulit diramalkan dalam ekonomi rakyat membuat pelakunya harus
membuat beberapa alternatif yang dapat menggantikan apabila satu aktifitas ekonomi tidak
terpaksa terhenti. Apabila tidak terjadi sesuatu maka akumulasi keuntungan pendapatan dari
beberapa aktifitas ekonomi sangat mereka butuhkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan
dasar.

Kemandirian. Salah persepsi yang berkembang di masyarakat tentang ekonomi rakyat


membuat berbagai pihak baik secara sengaja maupun tidak membatasi interaksi dengan
sektor ekonomi rakyat. Dari pihak pemerintah, berbagai kegiatan yang berhubungan dengan
ekonomi rakyat masih terus berbentuk proyek baik yang menggunakan label penanggulangan
kemiskinan maupun pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Dari lembaga keuangan
sebagai contoh yang lain, dengan berbagai peraturan dan prinsip keberhati-hatian
(prudentialitas) membatasi kemungkinan berhubungan dengan sektor ekonomi rakyat. Sektor
ekonomi rakyat masih selalu diyakini sebagai “unbankable” dan “high risk”, suatu keyakinan
yang perlu dikritisi mengingat pengalaman yang terjadi dengan sektor usaha besar dan
konglomerat beberapa tahun terakhir.

Hubungan dengan sektor formal. Meskipun ekonomi rakyat dilekatkan dengan predikat
informalitas, dalam kenyataannya ekonomi rakyat memiliki hubungan yang sangat erat
dengan sektor formal. Hubungan yang dapat disebut sebagai “the dark side of the formal
sector” ini karena seringkali hubungan ini tidak diakui karena berarti sektor formal bekerja
sama dengan entitas yang "illegal" mengambil wujud konkrit seperti: penggunaan penjual
koran eceran oleh berbagai perusahaan penerbitan, penyediaan makanan murah oleh
warung tegal bagi para pekerja di berbagai perusahaan maupun pabrik, penggunaan
pedagang eceran di kampung-kampung untuk menyalurkan berbagai produk perusahaan
maupun pabrik. Berbagai contoh yang lain masih dapat dipaparkan, namun satu hal yang
jelas adalah ekonomi rakyat dengan satu dan lain cara secara nyata memiliki hubungan dan
bahkan mendukung sektor formal.

PENUTUP

Amat menyesakkan bahwa meskipun berbagai bukti telah dipaparkan secara transparan
mengenai arti strategis ekonomi rakyat dalam perekonomian nasional, para pengambil
keputusan tetap meletakkan ekonomi rakyat di pinggiran dan pada tataran retorika semata.
Situasi ini merupakan akibat dari kuatnya dominasi pemikiran neoliberal dan persepsi yang
terbatas mengenai pertumbuhan dan pemerataan. Dipersepsikan bahwa hubungan
pertumbuhan dan pemerataan sebagai trade off. Berpihak pada ekonomi rakyat diartikan
hanya menekankan pemerataan dan mengabaikan pertumbuhan. Persepsi ini harus dikritisi.
Kritik yang pertama, pada saat ini kajian yang mendalam terhadap masalah pembangunan
telah membawa pada kesimpulan bahwa hubungan pertumbuhan dan pemerataan bukan
dalam bentuk trade off melainkan justru saling memprasyaratkan. Pertumbuhan ekonomi
untuk dapat berlanjut harus mulai memperhatikan variable-variabel pemerataan yang dapat
menciptakan apa yang disebut broad based growth. Sebaliknya pengalaman berbagai negara
terutama negara sosialis menunjukkan bahwa pemerataan tanpa dibarengi dengan
pertumbuhan bukan merupakan suatu pemerataan yang sehat.

Kritik kedua adalah asumsi yang mendasari persepsi yang berkembang bahwa sektor
ekonomi rakyat adalah sektor yang lemah, tradisional, tidak memiliki kemampuan, tidak
memiliki daya saing dan karenanya untuk memberdayakan sektor ini akan membutuhkan
alokasi sumber daya dan waktu yang amat besar. Terhadap asumsi ini ada dua sikap, yaitu:
pertama, apabila untuk memberdayakan ekonomi rakyat diperlukan alokasi sumber daya dan
waktu yang besar, hal tersebut merupakan sesuatu yang pantas mengingat ekonomi rakyat
merupakan sektor dimana sebagian besar pelaku ekonomi berada dan mempengaruhi bagian
terbesar dari masyarakat. Kedua, dalam kenyataannya ekonomi rakyat selama ini hidup dan
berkembang dalam situasi tertekan, lemah, dan tidak diuntungkan. Karenanya, perlakuan
yang adil dan proporsional cukup memadai untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya
ekonomi rakyat. Perlakuan semacam ini dapat dimulai dengan melibatkan sektor ekonomi
rakyat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan perekonomian nasional. Sesuatu
yang sebenarnya sangat sederhana tetapi yang ternyata sampai dengan saat ini masih sulit
diwujudkan.

Drs. Bambang Ismawan, MS., Ketua Yayasan Bina Swadaya, Sekretaris Jenderal Gema
PKM (Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro) Indonesia dan HKTI (Himpunan
Kerukunan Tani Indonesia)
Makalah dipresentasikan untuk SeminarPendalaman Ekonomi Rakyat, Jakarta 22 Januari 2002.

[Artikel - Th. I - No. 1 - Maret 2002]

Mubyarto
EKONOMI RAKYAT, PERBANKAN ETIK, DAN KRISIS MONETER
1997/1998

JIKA di media masa setiap hari diberitakan ”ekonomi Indonesia semakin terpuruk”, dan ”tidak
ada tanda-tanda akan mengalami pemulihan pada tahun 2002”, maka data yang kami
peroleh dari kantor daerah BRI Yogyakarta 1997-2001 menarik untuk disimak. Data
penabung dan nilai tabungan masyarakat pada cabang BRI di seluruh DIY selama 5 tahun
(1997-2001) menunjukkan kenaikan terus menerus, rata-rata 18,5 % dan 31,2 % (tabel 1)

Dari kenaikan jumlah penabung dan nilai tabungan setiap tahun yang cukup besar tersebut
(lebih besar dari laju inflasi tahunan (+ 20%) kiranya sulit untuk menyimpulkan telah terjadi
resesi atau keterpurukan ekonomi berkepanjangan yang selalu dilaporkan media masa.
Memang laju kenaikan jumlah penabung dan nilai tabungan menurun pada tahun 2000
(masing-masing 6% dan 7,1%) tetapi tahun 2001 meningkat kembali menjadi masing-masing
32,8 % dan 30,1%. Bahwa nilai tabungan meningkat ”luar biasa” yaitu 65,7% pada puncak
krisis moneter tahun 1998, juga menunjukkan bahwa krismon ”berdampak positif” pada
ekonomi rakyat di Yogyakarta antara lain karena harga-harga hasil-hasil pertanian,
perkebunan, dan perikanan, mengalami kenaikan lebih tinggi dari komoditi yang dibeli
petani/pekebun/nelayan sehingga ”surplus” pendapatan mereka kemudian ditabung.

PERANAN EKONOMI RAKYAT

Buku Mystery of Capital karangan ekonom Peru Hernando de Soto yang terbit tahun 2000,
selama tahun 2000-2001 diulas secara luas di kalangan internasional tetapi rupanya tidak
cukup mendapat perhatian di Indonesia. Buku ini menyingkap ”rahasia” kemiskinan di
negara-negara berkembang, dan menerangkan mengapa (sistem ekonomi) kapitalisme yang
memenangkan perang melawan sosialisme di dunia Barat, ”membangkrutkan” Soviet UNI
tahun 1991, tidak berkembang atau akan selalu gagal berkembang di negara-negara miskin
seperti Peru atau Indonesia.

Adapun alasan utama kapitalisme (akan) gagal di dunia ketiga adalah bahwa sistem ekonomi
modern ini baru menyentuh sebagian kecil perekonomian, sedangkan sebagian besar yang
merupakan sektor ekonomi (perekonomian) rakyat berjalan dengan, pola kerja dan
mekanisme sendiri terlepas dari apa yang terjadi pada sebagian kecil sektor industri modern
di kota-kota besar. Sektor ekonomi rakyat ini dalam literatur disebut sektor informal,
”underground economy”, atau ”extra legal economy”, yang tak pernah diperhitungkan
peranannya. Bahkan jika pemerintah Indonesia kini menggunakan istilah ”UKM”(Usaha Kecil
dan Menengah), sektor ekonomi rakyat yang sebagian besar tidak dapat dikategorikan
sebagai ”usaha” tidak masuk dalam kelompok UKM.

PERBANKAN DAN EKONOMI RAKYAT

Jika dalam tabel 1 diperlihatkan hampir 30% penduduk propinsi DIY menjadi penabung di BRI
dapat diduga bahwa sebagian besar keluarga di DIY sudah menggunakan jasa perbankan
dalam kehidupan ekonominya, karena disamping BRI ada juga Bank BNI, BPD, dan sejumlah
Bank Swasta yang beroperasi di Yogyakarta sampai di ibukota kabupaten.

Kondisi yang amat berbeda ditemukan di kabupaten Lamongan propinsi Jawa Timur, yang
hanya 45 km dari Surabaya. Di desa Pucangro, kecamatan Kalitengah, 4 Kelompok Simpan
Pinjam (KSP) dengan anggota 255 anggota (232 wanita) mampu menyerap atau kredit
sebesar Rp 238 juta, dan tidak menggunakan jasa perbankan, karena saldo kasnya selalu
dapat dibuat ”nol”. Krisis moneter 1997-1998 lebih memperkecil lagi peranan Bank sehingga
perhitungan PDRB kabupaten Lamongan menunjukkkan sektor keuangan non-Bank
menjadi 50 kali lebih besar nilainya dibanding sektor keuangan Bank, masing-masing pada
tahun 2000 mencapai Rp 9,9 milyar dan Rp 201 juta, sedangkan sebelum krismon masing-
masing Rp. 9,1 Milyar dan Rp. 729 juta untuk tahun 1997, dan Rp. 5,8 milyar serta Rp. 3,2
milyar pada tahun 1995 (harga konstan 1993). Demikian kiranya jelas bahwa jika di DIY,
Bank berperanan sangat penting dalam ekonomi rakyat, di Lamongan sebaliknya, ekonomi
rakyat ”menjauhi” jasa pelayanan perbankan. Data empirik dari lapangan ini perlu
memperoleh perhatian besar dunia perbankan yang rupanya sedang menghadapi masalah
besar karena krismon. Krismon yang telah ”menghancurkan” sektor perbankan, sehingga
sebagian besar Bank Swasta dirawat di rumah sakit Bank (BPPN), memang mengharuskan
dunia perbankan mengoreksi diri. Barangkali ada benarnya bahwa deregulasi atau liberalisasi
perbankan tahun 1983 dan 1988 telah ”kebablasan” sehingga penciutan bank kembali ke
tingkat sebelum 1988 memang harus dilakukan. Perbankan sebagai ”urat nadi”
perekonomian (agent of development) sejak krismon telah berubah menjadi ”beban”
perekonomian nasional. Sektor perbankan telah menjadi korban konglomerasi ekonomi yang
terlalu menekankan pada pertumbuhan sektor bisnis modern yang sangat kapitalistik,
sekaligus dengan mendesak peranan ekonomi rakyat. Sektor ekonomi rakyat sesungguhnya
dapat dibantu perkembangannya oleh sektor perbankan. Tetapi dalam kondisi krismon yang
melumpuhkan dunia perbankan, sektor ekonomi rakyat ternyata tidak ikut mati melainkan
menjadi lebih percaya diri, dan melalui daya tahan yang kuat kini justru lebih tumbuh dan
berkembang.

PERBANKAN ETIK

Ace Partadiredja dalam pidato pengukuhan Guru Besar di UGM tahun 1981 yang berjudul
Ekonomika Etik mendambakan lahirnya ilmu ekonomi (ekonomika) yang tidak serakah
dengan terlalu mementingkan alam benda. Artinya ajaran Adam Smith tentang manusia yang
”homo ekonomikus” (Wealth of Nations, 1776) perlu ”dikoreksi” dengan ajaran sebelumnya
(Theory of Moral Sentiments, 1759) yang menekankan kecintaan manusia pada masyarakat
tempat ia hidup. Itulah semangat ”tepa selira” yang cukup dikenal dan dihayati di Indonesia.

Salah satu pertimbangan etik yang penting dari perbankan di Indonesia mestinya diarahkan
pada upaya mengurangi kemiskinan sebagaimana sudah cukup lama dikumandangkan Bank
Dunia (sejak 1975). Meskipun dalam kenyataan slogan penanggulangan kemiskinan ini tidak
mudah mewujudkannya, namun perbankan di Indonesia perlu sungguh-sungguh
menerapkannya dalam upaya pengembangan perbankan etik.

Pengembangan Bank Syariah di Indonesia jelas bertujuan menerapkan perbankan etik yaitu
tidak sekedar menjual jasa atau produk perbankan dengan mengenakan bunga, tetapi
”bekerjasama dengan klien” untuk memperbaiki kesejahteraan atau meningkatkan kehidupan
ekonomi klien. Di Indonesia Bank-bank desa seperti BKK di Jawa Tengah atau Lumbung
Piteh Nagari di Sumatera Barat, yang dibentuk dari bawah besama klien, adalah Bank-bank
etik yang dimaksud. Namun sayangnya sejak liberalisasi perbankan 1983, 1988, dan 1992,
Bank-bank yang demikian telah ”dimatikan” atau “dikerdilkan”. Pengalaman krisis perbankan
1997/1998 yang sampai kini belum teratasi telah memberikan pelajaran pahit, mudah-
mudahan berharga, bagi dunia perbankan Indonesia. Pelajaran berharga itu adalah tidak lagi
mengembangkan sistem perbankan kapitalistik yang mendahulukan kepentingan bisnis
pemilik Bank, bukan kepetingan klien dan masyarakat luas.

PENUTUP

David Cole yang bersama Betty Slate menulis buku ”Building A Modern Financial System:
The Indonesia Experience" (1996, 1998) pernah berkata bahwa di Indonesia sejak liberalisasi
perbankan memang tidak sekedar terlalu banyak Bank, tetapi ”terlalu banyak bank yang tidak
dapat diawasi perkembangannya”. Meskipun mungkin artinya sama tetapi tidak dapat
diawasinya perkembangan Bank secara baik jelas mengakibatkan otoritas moneter
kehilangan wibawa mengawasi kondisi dan praktek kegiatan ekonomi keuangan secara
keseluruhan. Jika ketelanjuran ini disadari kiranya tidak ada jalan lain pemerintah bersama
Bank Indonesia yang kini sudah ”independen” harus mampu ”mengatur” kembali. Artinya
suasana persaingan ”liberal” dengan pemihakan pemerintah pada kelompok-kelompok
konglomerat tertentu harus di hentikan dan diganti pemihakan penuh pada ekonomi rakyat
yang telah terbukti tahan banting. Perbankan harus menyadari kekeliruannya yang selama ini
telah tidak menomorsatukan perkembangan ekonomi rakyat yang justru berakibat
ditinggalkan oleh perlaku-pelaku ekonomi rakyat itu sendiri (kasus Lamongan). Memang
perubahan misi dan orientasi ini tidak akan mudah, namun harus dilakukan.

Prof. Dr. Mubyarto : Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM dan Ketua Yayasan Agro
Ekonomika

Makalah disampaikan pada diskusi panel ”Pemulihan Kembali Fungsi Perbankan sebagai Lembaga Intermediasi di Bidang
Keuangan", Institut Bankir Indonesia (IBI), 14 Februari 2002

[Artikel - Th. I - No. 3 - Mei 2002]


Hery Nugroho

PERJALANAN PANJANG EKONOMI INDONESIA:


DARI ISU GLOBALISASI HINGGA KRISIS EKONOMI

Bila tidak menarik pelajaran dari kesalahan-kesalahannya, maka negara yang bersangkutan
akan terkutuk untuk mengulangi kembali sejarah tersebut. 1)

1) George Santayana, seperti dikutip oleh Humala M.T. Oppusunggu dalam Berhentilah
Bicara!: Seruan bagi Ekonom Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta 2000, halaman vii.

PENDAHULUAN

Penulis sengaja mengutip kata-kata bijak yang dilontarkan oleh seorang sastrawan dan filsuf
termasyhur Amerika berdarah Hispanik, George Santayana, semata-mata karena kalimat
bijak itu sangat tepat (precise) untuk menjadi sebuah "peringatan" (warning) bagi bangsa
yang tengah berada dalam kesulitan ini.

Bangsa Indonesia, sepanjang sejarahnya telah melalui berbagai pembabakan. Mulai dari era
kejayaan Nusantara lama (Sriwijaya dan Majapahit), yang tak lama setelah keruntuhannya
segera disambut oleh era kolonialisme yang menyakitkan, sampai dengan era kemerdekaan
yang di dalamnya juga telah terisi dengan lembaran-lembaran sejarah perekonomian yang
kelam. Sesungguhnya, sejarah telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita
semua.

Jika suatu bangsa dengan sengaja berani melupakan catatan faktual sejarah, maka bangsa
itu tidak akan pernah mencapai kemakmuran dan kecerdasan. Bahkan sangat mungkin akan
menjadi sebuah blunder, yang dapat menjerumuskan bangsa itu ke tataran yang lebih hina
dari seekor keledai. Bukankah seekor keledai yang bodoh sekalipun tidak pernah terantuk
batu yang sama?

SEPINTAS PEMBABAKAN EKONOMI INDONESIA

Berdasarkan pengalaman sejarah, sistem ekonomi pasar selalu mengalami pasang surut
yang dapat digambarkan dalam sebuah kurva konjungtur ekonomi. Kurva tersebut terdiri dari
beberapa bagian, antara lain: masa pertumbuhan, masa puncak kemakmuran (peak of
wealth), masa kemunduran, masa keterpurukan (peak of crises). Setelah krisis dapat teratasi,
maka akan disambung dengan masa pemulihan (recovery), pertumbuhan, dan seterusnya
hingga membentuk seperti gelombang sinus.

Ditinjau dari periode waktunya, masing-masing babak memiliki durasi yang hampir konsisten,
yaitu membentuk siklus waktu yang relatif tidak jauh berbeda antara gelombang satu dengan
lainnya. Oleh karena itu, gabungan dari gelombang-gelombang siklus ekonomi tersebut dapat
ditarik menjadi kesimpulan yang dikenal dengan konjungtur perekonomian.

Berdasarkan pengalaman sejarah Indonesia sejak era kemerdekaan sampai sekarang,


panjang gelombang tersebut dapat dikategorikan dalam gelombang jangka pendek (tujuh
tahunan) dan gelombang jangka panjang (35 tahunan). Gelombang jangka pendek tujuh
tahunan dapat diringkas sebagai berikut. 2)

1945 - 1952 Ekonomi Perang


1952 - 1959 Pembangunan Ekonomi Nasional

1959 - 1966 Ekonomi Komando

1966 - 1973 Demokrasi Ekonomi

1973 - 1980 Ekonomi Minyak

1980 - 1987 Ekonomi Keprihatinan

1987 - 1994 Ekonomi Konglomerasi

1994 - 2001 Ekonomi Kerakyatan

2) Mubyarto, "Siklus Tujuh Tahunan Ekonomi Indonesia (1931-1966-2001-2036)", dalam


Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 3, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, 2000, halaman 246.

Masing-masing tahap dalam siklus tersebut telah ditandai dengan ciri-ciri khusus yang tidak
terdapat pada periode sebelum dan sesudahnya. Misalnya, pada periode Ekonomi
Konglomerasi, periode ini dipicu oleh liberalisasi sektor perbankan, yang disusul dengan
tumbuhnya imperium usaha konglomerasi yang bermunculan seperti cendawan di musim
hujan.

Pada periode tersebut ditandai dengan pembangunan ekonomi bersifat sentralistis, rezim
penguasa yang otoriter, serta birokrasi yang korup. Pembangunan yang "kebablasan"
tersebut akhirnya mengantar bangsa besar ini ke arah periode krisis yang menyakitkan.
Salah satu dampak positif yang ditimbulkan dari krisis ekonomi adalah tumbuhnya kesadaran
akan kekeliruan strategi pembangunan yang dilakukan selama ini. Oleh karena itu, periode ini
segera disambung dengan babak baru yang lebih membuka peluang bagi masyarakat untuk
mengembangkan ekonominya secara mandiri, dengan didukung oleh iklim dan perhatian
negara yang memadai. Era ini dikenal dengan era ekonomi kerakyatan.

Paper pendek ini tidak akan menyorot pembabakan tersebut secara keseluruhan, tetapi
hanya akan difokuskan pada dua isu besar yang pernah mengemuka, yaitu isu globalisasi
ekonomi dan pembahasan pada periode krisis ekonomi. Dua isu besar ini sangat relevan
untuk diangkat, sehubungan dengan besarnya pengaruh yang ditimbulkan bagi kehidupan
ekonomi bangsa Indonesia. Isu globalisasi telah membuat "kalang kabut" negara-negara
berkembang yang tidak memiliki infrastruktur ekonomi yang memadai. Di lain pihak, isu
globalisasi ini menjadi semacam "bahan bakar" bagi negara-negara maju untuk
meningkatkan ekselerasi pertumbuhan ekonomi dan penetrasi ke pasar internasional.

ISU GLOBALISASI

Salah satu refleksi dari kegagapan bangsa Indonesia dalam menyikapi sejarah ekonominya
adalah ketika dihadapkan pada isu santer yang dikenal dengan globalisasi, yang di dalamnya
terkandung sejumlah obsesi, tantangan, konsekuensi, dan harapan akan kehidupan di masa
depan. Globalisasi ekonomi hanya membuat makmur sebagian kecil orang (atau negara) di
dunia ini, tetapi lebih banyak orang (bangsa/negara) yang dibuat susah, repot dan capek.
Melelahkan. 3)

3) Mubyarto, Membangun Sistem Ekonomi, PT BPFE Yogyakarta, 2000, halaman 42.

Jika kita mau belajar dari sejarah, globalisasi sebenarnya bukanlah fenomena baru dalam
kancah panjang ekonomi Indonesia. Jauh hari sebelum muncul nation state, arus
perdagangan dan migrasi lintas benua telah berlangsung sejak lama. Jauh hari sebelumnya,
perdagangan regional juga telah membuat interaksi antarsuku bangsa terjadi secara alamiah,
natural.

Dua dekade menjelang Perang Dunia I, arus uang internasional telah mempererat ikatan
antara negara-negara Eropa dengan Amerika Serikat, Asia, Afrika, dan Timur Tengah. Pasar
modal mengalami booming di kedua sisi Atlantik. Sementara itu, bank dan investor-investor
swasta sibuk mendiversifikasikan portofolionya, dari Argentina terus melingkar Pasifik hingga
ke Singapura. Namun demikian, sejalan dengan siklus ekonomi dan politik dunia, gelombang
globalisasi pun juga mengalami pasang surut. Salah satu kekuatan yang melatarbelakangi
adalah adanya tarik-menarik antara paham internasionalisme dengan paham nasionalisme
atau bahkan dengan isolasionisme.

Dicermati dari segi intensitas dan cakupannya, sebenarnya gelombang globalisasi yang
melanda seluruh dunia sejak dekade 1980-an telah jauh berbeda dari gelombang yang sama
pada periode sebelumnya. Proses konvergensi akibat dari globalisasi dewasa ini praktis telah
menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan, yang tidak saja merambah di segala bidang
(ekonomi, sosial, budaya, politik, dan ideologi), melainkan juga telah menjamah ke dalam
tataran sistem, proses, pelaku, dan events. Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa
prosesnya selalu berjalan dengan mulus. Ada kecenderungan bahwa gelombang globalisasi
yang dahsyat menerpa itu ternyata juga disertai dengan fragmentasi. 4)

4) Clark, Ian (1997). Globalization and Fragmentation: International Relations in the Twentieth
Century. Oxford & London: Oxford University Press, halaman 1-2.

Dewasa ini, banyak ekonom dan kritisi yang memandang bahwa globalisasi merupakan
keniscayaan sejarah, oleh karena itu terjangan arusnya tak mungkin dapat dibendung lagi.
Pandangan semacam ini muncul sebagai reaksi atas pendapat sebagian ekonom yang justru
prihatin terhadap kecenderungan perkembangan ekonomi dunia yang kian tak menentu dan
sangat rentan dengan gejolak. Terutama akibat dari arus finansial global yang semakin "liar".
Padahal, kita semua tahu bahwa tidak semua negara memiliki daya saing (dan daya tahan)
yang cukup untuk terlibat langsung dalam kancah lalu-lintas finansial global, yang tak lagi
mengenal batas-batas teritorial negara, dan cenderung semakin sulit untuk dikontrol oleh
pemerintah sebuah negara yang berdaulat.

Globalisasi juga dikhawatirkan akan memunculkan suatu bentuk eksploitasi baru, yaitu
eksploitasi oleh financial-driven economies terhadap good-producing economies. Kelompok
pertama memiliki keleluasaan yang sangat besar dalam merekayasa bentuk-bentuk transaksi
keuangan yang sifatnya "semu". Artinya, transaksi yang mereka lakukan sebenarnya tidak
memberikan kontribusi produktif bagi peningkatan kesejahteraan riil masyarakat. Ini semua
terjadi karena "uang" dan "aset finansial" lainnya saling diperdagangkan sebagaimana halnya
sebuah komoditas. 5)

5) Michel Chossudovsky, The Globalisation of Poverty: Impacts of IMF and World Bank Reforms. London & New
Jersey: Zed Books., 1997, halaman 332

Bagaimanapun juga, sektor finansial tidak pernah terlepas kaitannya dengan sektor riil.
Keberadaan sektor finansial, dengan segala bentuk kerumitan instrumen dan berbagai
lembaga keuangan yang menopangnya, tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Sehebat dan
secanggih apa pun sektor finansial itu, pada intinya mereka tetap merupakan fasilitator bagi
eksistensi sektor riil.

Jika dalam kenyataan kini makin nampak bahwa kedua sektor ini telah mengalami lepas
kaitan (decoupling), maka masyarakat tinggal menunggu waktu akan datangnya kehancuran
peradaban. Atau (minimal) bersiap-siap untuk hidup dalam kegemerlapan artifisial dengan
segala konsekuensinya. Oleh karena itu, tidak ada cara lain bagi kita untuk sungguh-sungguh
mengupayakan terbentuknya suatu tatanan baru, yang menempatkan kembali sektor finansial
pada fungsinya yang hakiki. Sayangnya, dewasa ini kita hidup dalam alam realitas yang
sudah terlanjur menempatkan uang dan perangkat finansial lainnya sebagai suatu komoditas.
Telah banyak negara yang tersungkur dan terseret oleh arus permainan kapitalisme finansial
yang berperilaku semakin "buas". Suatu perekonomian yang menapaki tahap demi tahap
perkembangan, yang telah ditumbuhkan oleh peluh keringat berjuta-juta rakyatnya, tiba-tiba
saja bisa diluluh-lantakkan dalam sekejap dengan cara mengguncang nilai mata uangnya
(Lenin=s dictum) hingga tersungkur tanpa kekuatan untuk membela diri. 6)

6) Milton Friedman, Capitalism and Freedom: The Classic statement of Milton Friedman=s
Economic Philosophy, The University of Chicago Press, Chicago and London, 1982, halaman
39.

Sebetulnya, kesadaran akan bahaya kapitalisme dengan sosok seperti sekarang ini sudah
mulai tumbuh. Di antaranya justru datang dari kalangan pemikir Barat sendiri, termasuk para
pemikir di lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia. 7)
Anehnya, justru kesadaran seperti itulah yang saat ini kurang muncul di negara kita (dan
negara berkembang pada umumnya) sehingga secara "sukarela" mereka mau menerjunkan
diri ke dalam ajang permainan yang sangat "buas" ini.

7) Jeffrey E. Garten,"Why the Global Economy is Here to Stay." Business Week, March 23,
Washington, 1998, halaman 9.

Pemikiran-pemikiran alternatif sebagaimana sudah sangat sering dilontarkan oleh ekonom


seperti Prof. Dr. Mubyarto atau juga oleh para "ekonom kontemporer" lain seperti Hartojo
Wignjowijoto, atau Prof. Dr. Sritua Arief, nampaknya perlu diwartakan dan ditawarkan kepada
masyarakat dunia, untuk benar-benar menciptakan tatanan ekonomi yang lebih sehat. Tentu
saja, gagasan bagi terbentuknya tatanan baru itu membutuhkan waktu dan pengkajian yang
cermat. Target awal yang paling penting dari semua itu adalah memunculnya kesadaran
masyarakat akan rapuh dan rentannya sistem yang berlaku sekarang ini.

Sistem ekonomi yang berlaku sekarang ini nyata-nyata telah mendorong perilaku konsumtif
masyarakat dan telah menyeret begitu jauh perekonomian nasional untuk tumbuh secara
instant. Hanya negara-negara kaya dengan perangkat kelembagaan ekonomi politik yang
mantaplah yang bisa mengeliminasikan dampak-dampak negatif dari gelombang pergerakan
finansial global ini.

Negara-negara yang kuat tidak perlu lagi bergelimangan peluh untuk menghasilkan barang
dan jasa guna memenuhi kebutuhan rakyatnya. Mereka cukup melakukan rekayasa finansial
yang menghasilkan kemelimpahan dana untuk membeli berbagai macam kebutuhan fisiknya.
Sebaliknya, negara-negara yang menghasilkan produk riil (barang) tidak pernah bisa
menikmati hasil yang layak. Sebelum peluh mereka mengering, nilai uang riil yang dihasilkan
itu telah disedot oleh gejolak kurs dan tercekik oleh tingginya suku bunga. Bukankah hidup di
dunia seperti ini sungguh sangat berisiko bagi peradaban umat manusia itu sendiri?

Perilaku ekonomi yang "tidak wajar" seperti itu tidak hanya dilakukan oleh para aktor pasar
finansial internasional seperti George Soros, tetapi juga telah meracuni para pelaku bisnis di
Indonesia. Hampir semua imperium bisnis di Indonesia telah melakukan beragam rekayasa
finansial, sehingga memungkinkan mereka menjelma dalam bentuk gurita konglomerasi
secara instant. Langkah mereka semakin mulus setelah disangga oleh sistem politik yang
otoriter dan birokrasi yang korup.

KRISIS EKONOMI

Di tengah dinamika ekonomi global yang terus-menerus berubah dengan akselerasi yang
semakin tinggi sebagaimana digambarkan di atas, Indonesia mengalami terpaan badai krisis
yang intensitasnya telah sampai pada keadaan yang nyaris menuju kebangkrutan ekonomi.

Krisis ekonomi - yang dipicu oleh krisis moneter - beberapa waktu yang lalu, paling tidak telah
memberikan indikasi yang kuat terhadap tiga hal. Pertama, kredibilitas pemerintah telah
sampai pada titik nadir. Penyebab utamanya adalah karena langkah-langkah yang ditempuh
pemerintah dalam merenspons krisis selama ini lebih bersifat "tambal-sulam", ad-hoc, dan
cenderung menempuh jalan yang berputar-putar.

Selain itu, seluruh sumber daya yang dimiliki negeri ini dicurahkan sepenuhnya untuk
menyelamatkan sektor modern dari titik kehancuran. Sementara itu, sektor tradisional, sektor
informal, dan ekonomi rakyat, yang juga memiliki eksistensi di negeri ini seakan-akan
dilupakan dari wacana penyelamatan perekonomian yang tengah menggema.

Kedua, rezim Orde Baru yang selalu mengedepankan pertumbuhan (growth) ekonomi telah
menghasilkan crony capitalism yang telah membuat struktur perekonomian menjadi sangat
rapuh terhadap gejolak-gejolak eksternal. Industri manufaktur yang sempat dibanggakan itu
ternyata sangat bergantung pada bahan baku impor dan tak memiliki daya tahan. Sementara
itu, akibat "dianak-tirikan", sektor pertanian pun juga tak kunjung mature sebagai penopang
laju industrialisasi. Yang saat itu terjadi adalah derap industrialisasi melalui serangkaian
kebijakan yang cenderung merugikan sektor pertanian. Akibatnya, sektor pertanian tak
mampu berkembang secara sehat dalam merespons perubahan pola konsumsi masyarakat
dan memperkuat competitive advantage produk-produk ekspor Indonesia.

Salah satu faktor terpenting yang bisa menjelaskan kecenderungan di atas adalah karena
proses penyesuaian ekonomi dan politik (economic and political adjustment) tidak
berlangsung secara mulus dan alamiah. Soeharto-style state-assisted capitalism nyata-nyata
telah merusak dan merapuhkan tatanan perekonomian. Memang di satu sisi pertumbuhan
ekonomi yang telah dihasilkan cukup tinggi, namun mengakibatkan ekses yang ujung-
ujungnya justru counter productive bagi pertumbuhan yang berkelanjutan.

Ketiga, rezim yang sangat korup telah membuat sendi-sendi perekonomian mengalami
kerapuhan. Secara umum, segala bentuk korupsi akan mengakibatkan arah alokasi sumber
daya perekonomian menjurus pada kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan tidak
memberikan hasil optimum. Dalam kondisi seperti ini pertumbuhan ekonomi memang sangat
mungkin terus berlangsung, bahkan pada intensitas yang relatif tinggi. Namun demikian,
sampai pada batas tertentu pasti akan mengakibatkan melemahnya basis pertumbuhan.

Selanjutnya, praktik-praktik korupsi secara perlahan C tapi pasti C telah merusak tatanan
ekonomi dan pembusukan politik yang disebabkan oleh perilaku penguasa, elit politik, dan
jajaran birokrasi. Keadaan semakin parah ketika jajaran angkatan bersenjata dan aparat
penegak hukum pun ternyata juga turut terseret ke dalam jaringan praktik-praktik korupsi itu.

Hancurnya kredibilitas pemerintah yang dibarengi dengan tingginya ketidakpastian itu telah
menyebabkan terkikisnya kepercayaan (trust). Yang terjadi dewasa ini tidak hanya sekadar
pudarnya trust masyarakat terhadap pemerintah dan sebaliknya, melainkan juga antara pihak
luar negeri dengan pemerintah, serta di antara sesama kelompok masyarakat. Yang terakhir
disebutkan itu tercermin dengan sangat jelas dari keberingasan massa terhadap simbol-
simbol kekuasaan serta kemewahan dan terhadap kelompok etnis Cina, seperti yang dikenal
dengan peristiwa Mei 1998.

Sementara itu, krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat dilihat dari respons
masyarakat yang kerap kali berlawanan dengan tujuan kebijakan yang ditempuh pemerintah.
Misalnya, kebijakan pemerintah yang seharusnya berupaya menggiring ekspektasi
masyarakat ke arah kanan, justru telah menimbulkan respons masyarakat menuju ke arah
kiri, dan sebaliknya. Faktor lainnya adalah semakin timpangnya distribusi pendapatan dan
kekayaan, sehingga mengakibatkan lunturnya solidaritas sosial.

PENUTUP
Tumbangnya imperium konglomerasi membuat indikasi di atas semakin kuat. Bahwa sosok
kerajaan bisnis yang dibangun di atas fondasi semu dan tumpukan utang, menjadi tidak
berdaya menghadapi krisis ekonomi. Sampai titik ini pun, pemerintah nampaknya belum juga
bangkit kesadarannya, bahwa menyelamatkan sektor modern dengan cara "habis-habisan"
(all out dan at all cost) seperti yang terus dilakukan selama ini mengandung konsekuensi
yang teramat riskan. Pemerintah masih terobsesi dan selalu disugesti seakan-akan hanya
dengan sektor modern itulah bangsa berdaulat ini dapat kembali bangkit dari
keterpurukannya.

Di luar semua itu, sesungguhnya terdapat kekuatan yang luar biasa yang justru telah
menyelamatkan negeri ini dari kebangkrutannya, yaitu ekonomi rakyat. Di atas kertas,
perekonomian bangsa ini seharusnya sudah "gulung tikar" sejak angka-angka statistik
ekonomi pada periode krisis (1997-1999) menunjukkan kecenderungan yang terus
memburuk. Nyatanya, kondisi "sekarat" itu hanya terjadi pada sektor-sektor yang memang
mampu tercatat dan terefleksikan dalam angka-angka statistik itu. Di luar angka-angka itu,
yang tidak mampu dicatat oleh sistem statistik yang ada, sesungguhnya masih menyimpan
potensi, kekuatan, dan daya tahan yang sangat besar.

Akankah pemerintah masih terus-menerus menutup mata terhadap eksistensi ekonomi


rakyat? Atau akan terus-menerus meyakini wacana yang selalu digembar-gemborkan oleh
para ekonom Neo Klasik bahwa pertumbuhan yang terjadi saat ini adalah karena sumbangan
konsumsi (driven consumption) orang-orang berduit? Kiranya sejarah telah membuktikan,
bahwa memuja dan memanjakan sektor modern secara "membabi-buta" hanya akan
menghasilkan konklusi akhir yang menyedihkan, yang rasa pahitnya tidak hanya dikecap oleh
sekelompok orang, tetapi seluruh komponen bangsa ini akan turut merasakannya.

Bila bangsa ini cukup cerdas untuk menterjemahkan hikmah krisis ekonomi, secara tidak
langsung (blessing in disguise) seharusnya peristiwa menyakitkan ini justru dapat menjadi
pelajaran yang dipetik hikmahnya. Kesimpulannya, pengabaian (ignoring) eksistensi ekonomi
rakyat dan sektor tradisional sudah tiba saatnya untuk segera dihentikan. Percayalah.

Hery Nugroho, SE : adalah mahasiswa Program Magister Ekonomika Pembangunan UGM


Angkatan XVI, konsentrasi Pembangunan Daerah. Sejak 1992 bekerja sebagai staf Peneliti
pada Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (d/h PAU Studi Ekonomi), Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.

Paper ini ditulis untuk memenuhi tugas dalam rangka mata kuliah Kebijakan Pembangunan Daerah/Ekonomi Indonesia oleh
Prof. Dr. Mubyarto

DAFTAR PUSTAKA
Boyer, Robert, and Daniel Drache, eds. (1996). States Against Market: The
Limits of Globalization. London & New York: Routledge.

Chossudovsky, Michel (1997). The Globalisation of Poverty: Impacts of IMF


and World Bank Reforms. London & New Jersey: Zed Books.

Clark, Ian (1997). Globalization and Fragmentation: International Relations in


the Twentieth Century. Oxford & London: Oxford University Press.

Cox, Robert W., ed. (1997). The New Realism: Perspectives on


Multilateralism and World Order. London: MacMillan Press Ltd for The
United Nations University.

Dicken, Peter (1992). Global Shift: The Internationalization of Economic


Activity. Socond edition. London: Paul Chapman Publishing Ltd.

Friedman, Milton, (1982), Capitalism and Freedom: The Classic statement of


Milton Friedman=s Economic Philosophy, The University of Chicago
Press, Chicago.

Garten, Jeffrey E. (1998). "Why the Global Economy is Here to Stay."


Business Week, March 23, Washington.

Hanggi, Heiner (1997). "ASEM and the Construction of the New Triad." Paper,
presented to the ASEASUK Conference Asia and Europe, organized
by School of Oriental and African Studies, University of London,
London, April 2-3, 1998.

Heywood, Paul, ed. (1997). Political Corruption. Oxford, U.K.: Blackwell


Publishers for The Political Studies Association.

Holm, Hans-Henrik, and George Sorensen, eds. (1995). Whose World Order?
Uneven Globalization and the End of The Cold War." Boulder, Col.:
Westview Press.

Hopkins, Terence K., et.al. (1996). The Age of Transition: Trajectory of the
World-System, 1945-2025. London & New Jersey: Zed Books.

Lindsey, Lawrence B. (1998). "The Real Economic Globalists." Far Eastern


Economic Review, March 26, Hongkong.

Martin, Hans-Peter, and Harald Schumann (1998). The Global Trap:


Globalization and the Assault on Prosperity and Democracy. London &
New York: Zed Books Ltd.

Mubyarto, (1998). Reformasi Sistem Ekonomi, Aditya Media, Yogyakarta.

----, (2000). Membangun Sistem Ekonomi, Penerbit PT BPFE Yogyakarta.


----, (2001). Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca
Krisis Ekonomi, Penerbit PT BPFE, Yogyakarta.

----, (2001). Amandemen Konstitusi dan Pergulatan Pakar, Aditya Media,


Yogyakarta.

----, (2001). "Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Demokrasi Ekonomi",


dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 1, Fakultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

----, (2001). "Mengatasi Krisis Moneter Melalui Penguatan Ekonomi Rakyat",


dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 2, Fakultas
Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

----, (2001). "Siklus Tujuh Tahunan Ekonomi Indonesia (1931-1966-2001-


2036)", dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No. 3,
Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

----, (2001). "Survey Ekonomi Jawa Timur: Kasus Kabupaten Pacitan dan
Lamongan", dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 16 No.
4, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

----, (2002). Pemberdayaan Ekonomi Rakyat dan Peranan Ilmu-ilmu Sosial,


Yogyakarta.

Oppusunggu, H.M.T, (2000). Berhentilah Bicara!: Seruan bagi Ekonom


Indonesia, Penerbit Djambatan, Jakarta.

Ruigrok, Winfried, and Rob van Tulder (1995). The Logic of International
Restructuring. London & New York: Routledge.
[Artikel - Th. I - No. 3 - Mei 2002]

Didik J. Rachbini

UTANG LUAR NEGERI DAN EKONOMI RAKYAT

PENGANTAR

Apakah ada hubungan antara utang luar negeri dengan ekonomi rakyat? Jawabannya
tentu saja tidak bisa dikatakan tidak karena utang pemerintah pada saat ini, khususnya
utang luar negeri, sudah berperan sebagai faktor, yang mengganggu APBN. Bahkan
faktor gangguan yang berasal dari utang luar negeri tersebut sudah menampakkan signal
negatif pada pertengahan 1980-an ketika terjadi transfer negatif. Utang pokok dan bunga
yang dibayar kepada negara donor dan kreditor ketika itu sudah lebih besar dari utang
yang diterima oleh pemerintah.
Hubungan utang dengan ekonomi rakyat terlihat pada dimensi APBN sekarang ini, yang
sulit dijelaskan sebagai bentuk anggaran suatu pemerintahan yang normal. APBN
dengan beban utang yang berat, baik utang luar negeri maupun utang dalam negeri,
merupakan simbol ketidakwajaran dari instrumen kebijakan ekonomi negara ini. Dalam
keadaan seperti ini, maka ekonomi masyarakat sangat terganggu.
Pada satu sisi, utang luar negeri Indonesia sudah menjadi beban kronis dari APBN
sehingga anggaran negara tersebut tidak memiliki ruang yang memadai untuk manuver.
Anggaran pengeluaran habis terkikis oleh pengeluaran untuk utang luar negeri. Dengan
demikian, APBN Indonesia sudah menjadi instrumen yang sulit bergerak, kartu mati, dan
bahkan mengganggu ekonomi nasional secara keseluruhan.
Pada sisi lain, APBN sendiri merupakan instrumen kebijakan pemerintah, yang sangat
penting. Tetapi sekarang instrumen tersebut sudah menjadi kartu mati, yang tidak bisa
dipakai secara leluasa untuk kepentingan ekonomi masyarakat luas, termasuk
kepentingan ekonomi rakyat.
KARTU MATI APBN
Rasio Utang Indonesia terhadap pendapatannya (PDB) bukan hanya melewati batas
aman sekitar 50 persen, tetapi telah melewati rekor negeri miskin dimanapun di dunia ini.
Bayangkan, rasio utang terhadap pendapatannya mencapai tidak kurang dari 120 persen.
Itu berarti bahwa pendapatan seluruh penduduk selama setahun tidak cukup untuk utang
tersebut.
Setiap penduduk kini memiliki utang luar negeri tidak kurang dari 750 sampai 800 dollar
AS. Itu juga berarti bahwa setiap keluarga menanggung beban utang sekitar 4000 dollar
AS. Sementara itu, pendapatannya rata-rata hanya sekitar 600 dollar AS per kapita atau
sekitar 3000 dollar AS per keluarga. Jadi, utangnya jauh lebih banyak dari pada
pendapatan rata-rata setiap penduduk selama setiap setahun.
Negara-negara Amerika Latin, yang dianggap sebagai model kelompok negara yang
terjebak utang (“debt trap”), hanya mempunyai rasio utang terhadap PDB antara 30-40
persen. Angka ini sudah dianggap gawat dan pemerintah di negara-negara ini sudah
merasa perlu melakukan langkah-langkah politik terhadap anggarannya.
Indikator utang Indonesia pasca krisis lebih buruk dari kelompok negara Amerika Latin
tersebut. Negeri ini memiliki sudah rasio utang terhadap PDB sampai 130 persen. Tetapi
pemerintah, Tim Ekonomi, Menteri Keuangan sangat merasa biasa dan tidak perlu usul
pemotongan utang (“haircut”) atau langkah-langkah lain, yang dapat meringankan rakyat.
Seolah-olah tidak ada apa-apa dan kebijakan utang dijalankan seperti masa normal.
Pembayaran utang apa adanya diajukan ke DPR dengan konsekwensi menguras
anggaran dengan jumlah pengeluaran yang begitu besar.
Karenanya, pemerintah mengajukan usul kepada DPR untuk membayar cicilan pokok
dan bunga utang tidak kurang dari 70 trilyun. Sementara itu, utang yang hendak diperoleh
dari kreditor hanya 34,7 trilyun rupiah. Jadi, ada defisit atau “negatif outflow” tidak kurang
dari 35 trilyun rupiah. Sementara itu, anggaran pembangunan langsung yang diharapkan
dapat dinikmati masyarakat hanya 47,1 trilyun rupiah atau 14 persen saja terhadap total
belanja negara. Jadi, APBN 2002 ini betul-betul habis hanya untuk bayar utang, bayar
gaji pegawai negeri yang tidak produktif, dan menambal subsidi.
Dalam kondisi sangat darurat ini, maka DPR tidak bisa lagi hanya berbicara dengan
retorika anggaran berdasarkan pembukuan biasa, tetapi sudah sangat perlu berbicara
dengan nurani. Apakah layak hak rakyat terhadap anggaran musnah untuk membayar
utang najis tersebut? Sekarang ini pula saatnya untuk mengukur nyali anggota dewan
terhormat. Jadi, mesti dihindari kegenitan retorika teknokrat yang hampa politik, dengan
mengajukan secara tegas keputusan yang berpihak pada rakyat.
Dalam rangka menyelamatkan APBN, maka pemerintah bersama DPR harus mengambil
keputusan-keputusan yang penting. Keputusan tersebut perlu dilakukan berdasarkan
kepentingan maayarakat luas, termasuk di dalamnya hak ekonomi rakyat.
Keputusan pertama dan utama adalah pernyataan politik secara formal bahwa anggaran
sudah gawat dan telah melanggar batas-batas hak ekonomi rakyat atas anggaran yang
terkuras untuk membayarnya. Utang yang dibuat oleh regim yang korup di masa lalu
tidak bisa dibayar begitu saja. Rakyat harus dibela hak-haknya untuk mendapatkan
kucuran anggaran pembangunan yang layak.
Keputusan kedua adalah menetapkan pengurangan pembayaran utang setidaknya
separuh dari yang diajukan pemerintah dari hampir 70 trilyun rupiah (cicilan pokok 41,5
trilyun rupiah, cicilan bunga 27,4 trilyun rupiah) menjadi 30 trilyun rupiah. Keputusan ini
diminta untuk dilanjutkan oleh pemerintah dengan diplomasi ekonomi kepada negara
kreditor, dengan menyampaikan aspirasi rakyat, yang disalurkan oleh DPR.
Keputusan ketiga, meminta pemerintah (tim ekonomi) secara kreatif untuk mengurangi
pembayaran utang melalui berbagai kombinasi kebijakan (diplomasi ekonomi), yakni : a)
diplomasi penjadwalan ulang dengan kreditor, b) mengusulkan skema-skema “Debt
equity swap” (untuk lingkungan, program kemiskinan, kemanusiaan, dll), c) mengajukan
pemotongan utang (karena Indonesia tanpa Jakarta sudah miskin berat).
Keputusan keempat, panitia anggaran mengalokasikannya untuk keperluan-keperluan
yang sangat penting bagi pembangunan masyarakat. Dengan demikian, maka anggaran
pembangunan langsung bisa ditingkatkan lebih besar lagi, termasuk mengurangi defisit.
Jika tim ekonomi tidak mampu, maka DPR dan partai-partai memikir ulang posisi
eksekutif, yang bertanggung jawab terhadap bidang ekonomi dan fiskal ini. Sebaiknya
diminta orang-orang yang berkemampuan politik dan diplomasi ekonomi yang baik,
dalam rangka keberpihakkan kepada rakyat.

MEMASUNG EKONOMI RAKYAT


Peningkatan pajak sulit bermanfaat jika harus dimasukkan pada APBN yang bocor. Rasio
pajak terhadap PDB juga telah meningkat, sampai 13 persen, tetapi hanya tersisa sangat
sedikit untuk pembangunan langsung. Masyarakat kehilangan haknya atas anggaran
publik sehigga akses terhadap program kesehatan, pendidikan, pangan dan infrastruktur
sosial lainnya berkurang sangat drastis.
Peningkatan deviden BUMN untuk APBN sama saja. Sumbangan trilyunan rupiah untuk
APBN terkuras untuk membayar utang luar negeri, yang jumlahnya tidak kurang dari 70
trilyun (cicilan pokok dan bunga). Jumlah ini sudah memperhitungkan kemungkinan
penjadwalan utang. Jika angka penjadwalan diperhitungkan, maka beban utang luar
negeri yang jatuh tempo pada tahun diperkirakan mencapai 100 trilyun. Belum lagi beban
utang domestik dan pengeluaran rutin lainnya, yang tidak bisa dihindari. Jadi, kunci
persoalan adalah beban utang luar negeri, yang telah melampaui batas kemampuan
suatu negara untuk melayaninya. Bahkan jumlah beban pembayaran utang tersebut telah
memasung hak ekonomi masyarakat luas atas anggaran publiknya.
Pemerintah telah bermain-main dengan nasib rakyat, yang mutlak mempunyai hak
terhadap anggaran publik tersebut. Tetapi praktek kebijakan publik dan implementasi
anggaran dari regim yang korup telah menghilangkan kesempatan tersebut. Tim ekonomi
hanya mempunyai visi teknis fiskal belaka, bahwa utang itu merupakan kewajiban negara
untuk membayarnya. Padahal, kerugian paling besar terbebankan kepada masyarakat
luas.
Tidak ada sama sekali visi ekonomi politik dari tim ekonomi pemerintah untuk membela
kepentingan masyarakat luas, dengan cara membebaskan sebagian beban utang, yang
merupakan produk dari praktek kebijakan yang disortif dan praktek korupsi yang meluas
pada masa regim yang lalu. Korupsi di sini termasuk birokrat asing, yang juga sangat
menikmati keuntungan super normal dari proyek-proyek utang luar negeri, yang biasa
di-“mark up”. Usaha diplomasi untuk membagi beban resiko di masa lalu tidak dilakukan
sehingga resiko kesalahan rancangan utang dan kesalahan prakteknya di lapangan
hanya dibebankan kepada pihak Indonesia.
DPR nampaknya juga bermain-main dengan anggaran publik ini karena tidak memiliki
konsep yang matang untuk membebaskan APBN 2002 dari beban utang, yang mencekik
leher. Bahkan pembicaraan tentang APBN di DPR pada pertengahan Oktober tahun yang
menjadi “deadlock” dan hanya menghasilkan skema penjadwalan utang, yang tidak
memberi ruang cukup bagi APBN untuk berfungsi sebagai instrumen kebijakan yang
positif.
Itu juga berarti bahwa partai, yang berkuasa, juga mempertaruhkan nasib politiknya pada
teknokrat, yang hampa politik. Negara dan masyarakat mempunyai hak untuk tidak
membayar sebagian utang yang najis, penyimpangan yang dilakukan dalam keputusan
kebijakan dan implementasinya di lapangan. Tetapi pembelaan atas kesalahan kebijakan
publik ini tidak nyata sehingga pembahasan berjalan apa adanya.
Pendekatan para teknokrat hanya bersifat teknis fiskal belaka, dengan akibat yang mesti
ditanggung oleh masyarakat luas. Padahal masalahnya adalah “political economy”, yang
harus dijalankan dengan tindakan politik, diplomasi ekonomi, dan bahkan tindakan
kolektif dari “stake holders”, yang berkepentingan terhadap APBN.
Jika transaksi utang individu perusahaan, maka kewajiban pihak yang melakukan
transaksi membayarnya. Transaksi utang individu ini berbeda dengan transaksi utang
publik dimana pihak yang tidak memutuskan ikut menanggung resiko dan beban atas
kesalahan pengambilan keputusan tersebut. Karena itu, syarat adanya transaksi pada
domain publik adalah transparansi, akuntabilitas, dan demokrasi.
Utang luar negeri adalah keputusan politik, yang berada pada domain publik. Ini berbeda
dengan transaksi individu atau pertukaran swasta. Pada kebijakan publik prasyarat-
prasyarat keterbukaan, transparansi, demokrasi dan tahapan yang baik merupakan
bagian dari elemen yang penting. Jika prasyarat itu tidak ada, maka transaksi tersebut
pasti merugikan publik. Utang luar negeri juga merupakan keputusan publik, yang
prasyarat-prasyaratnya sangat tidak memenuhi standar, tetapi dijalankan dengan pola
pemerintahan yang tertutup dan otoriter.
Potensi untuk memperbaiki mekanisme kebijakan publik tersebut mati karena sifat
pemerintahan, yang sangat represif. Akibatnya, ribuan proyek yang berjalan dengan
anggaran dari utang luar negeri sangat penuh dengan praktek korupsi, “mark up”, dan
perburuan rente. Proyek-proyek menjadi tidak efisien dan negara menanggungnya
dengan beban pembayaran yang mahal dan mencekik tadi.
Transaksi publik yang menyimpang dan dinodai praktek korupsi pemerintah dan birokrasi
dapat dituntut untuk tidak dibayar begitu saja. Dalam kasus utang luar negeri, praktek
korupsi juga dilakukan oleh birokrat asing dan perusahaan pelaksananya. Publik dan
masyarakat luas memiliki hak untuk melindungi anggarannya dari praktek seperti itu. Visi
seperti ini yang tidak dimiliki pemerintah dan DPR, yang tengah membahas APBN 2002.
Jika itu dilakukan, maka pemerintah ini tidak jauh berbeda dengan Orde Baru, yang
mempermainkan hak rakyat atas anggaran. Resikonya, ekonomi masyarakat, program
kesehatan, pendidikan, pembangunan infrastruktur sosial, dan pembangunan lainnya
tidak bisa dijalankan.
Anggaran dikuras untuk membayar utang luar negeri tidak kurang dari 69 trilyun rupiah.
sedangkan utang yang diterima hanya sekitar 34 trilyun rupiah. keadaan “negative
outflow” seperti ini telah terjadi sejak 1986, tetapi dibiarkan semakin memburuk.
Pertanyaannya, mengapa ada hak rakyat atas anggaran tersebut tidak dipertimbangkan?
Mengapa hanya hak kreditor saja uang dihitung? Jawabnya terletak pada visi pemerintah
dan teknokrat pengambil keputusan tidak menimbang hak ekonomi politik rakyat atas
anggaran tersebut. Kelopmok ini memang hampa politik

PENUTUP
Demikianlah, pembahasan masalah utang luar bluar negeri ini dilakukan dengan
mengaitkan dimensi utang yang sudah menjadi jebakan (debt trap”) dalam kaitannya
dengan anggaran publik dan ekonomi rakyat yang lebih luas. Utang yang besar telah
menjadi beban anggaran, yang pada gilirannya menjadi beban publik, termasuk di
dalamnya adalah ekonomi rakyat.

Prof. Dr. Didik J. Rachbini : Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana (UMB)

Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Utang Luar Negeri, Jakarta, 23
April 2002.
[Artikel - Th. I - No. 3 - Mei 2002]

Revrisond Baswir

UTANG DAN IMPERIALISME

“If you are, roughly, in the 20 percent of the income scale, you are likely to gain something
from neoliberalism and the higher you are up the ladder, the more you again.”

-Susan Goerge-

MASALAH utang yang dihadapi Indonesia benar-benar telah sampai pada batas mencekik
leher. Betapa tidak? Selain memikul beban utang luar negeri sebesar 150 milyar dolar AS
(per Desember 1998), Indonesia kini juga memikul beban hutang dalam negeri sebesar
Rp650 triliun. Dengan demikian, secara keseluruhan Indonesia kini menanggung beban
utang sekitar Rp2.100 trilyun!

Padahal, akibat volume utang luar negeri sebesar 150 milyar dolar AS itu, terdiri dari utang
pemerintah sebesar 85 milyar dolar AS dan utang swasta sebesar 65 milyar dolar AS,
Indonesia kini praktis terpuruk menjadi negara pengutang terbesar nomor lima di dunia.
Urutan pertama hingga keempat, dengan volume utang luar negeri sebesar 232, 183, 159,
dan 154 milyar dolar AS, diduduki oleh Brazil, Rusia, Mexico, dan Cina.

Walaupun demikian, karena Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih kecil daripada
PDB Brazil, Rusia, Mexico, dan Cina, masalah utang luar negeri yang dihadapi Indonesia
sangat berbeda dengan masalah utang luar negeri yang dihadapi oleh keempat negara
tersebut. Dengan volume PDB sebesar 120 milyar dolar AS pada tahun 1998, rasio nilai kini
utang luar negeri terhadap volume PDB Indonesia pada tahun tersebut tercatat sebesar 169
persen. Perhitungan rasio yang sama untuk Brazil , Rusia, Mexico, dan Cina, masing-masing
berjumlah sebesar 29, 62, 39, 15 persen (lihat Tabel 1).

Negara-negara yang rasio nilai kini utang luar negeri terhadap PDB-nya setara dengan
Indonesia pada umumnya terletak di Afrika. Kelompok negara yang saya sebut sebagai
“negara miskin yang terjebak utang” ini dipimpin oleh Kongo, yaitu dengan rasio nilai kini
utang luar negeri terhadap PDB sebesar 280 persen. Urutan kedua, ketiga, keempat, dan
kelima, masing-masing diduduki oleh Angola, Nikaragua, Kongo Demokratik, dan Zambia,
yaitu dengan rasio nilai kini utang luar negeri terhadap PDB sebesar 270, 262, 196, dan 181
persen. Indonesia, dengan rasio nilai kini utang luar negeri terhadap PDB sebesar 169
persen, menempati urutan keenam (lihat Tabel 2).
Kondisi utang luar negeri yang sudah setara dengan sejumlah negara Afrika itulah
sesungguhnya yang terungkap pada tindakan Indonesia meminta penjadualan ulang
pembayaran pokok utang kepada Paris Club I, II, dan III. Walaupun demikian, Indonesia
tertap tidak bisa mengelak dari kewajiban membayar bunganya. Sebagaimana tampak pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2001, dari total APBN sebesar Rp340
triliun, Rp23,8 triliun digunakan untuk membayar bunga utang luar negeri. Jika ditambah
dengan bunga utang dalam negeri sebesar Rp61,2 triliun, praktis 26,32 persen APBN 2001
habis terpakai untuk membayar bunga utang.

Gambaran yang lebih kurang serupa juga tampak pada APBN 2002. Dari total APBN 2002
sebesar Rp332,5 triliun, yang digunakan untuk membayar bunga utang luar negeri berjumlah
Rp27,4 triliun. Jika ditambah dengan bunga utang dalam negeri sebesar Rp59,6 triliun,
volume APBN 2002 yang dipakai untuk membayar bunga utang meliputi 26,17 persen.

Dampak pembayaran utang yang lebih dari seperempat volume APBN itu adalah pada
membengkaknya defisit anggaran negara. Sebagaimana tampak dalam APBN 2001, defisit
anggaran negara tercatat sebesar Rp 54,3 triliun. Tindakan yang dilakukan pemerintah untuk
menutupi defisit anggaran negara itu antara lain adalah menggenjot penerimaan pajak,
menjadualkan dan membuat utang luar negeri baru, mengurangi subsidi, menjual aset
perusahaan swasta yang dikuasai Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dan
melakukan privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN),

Jika dicermati secara terliti, jelas sekali kelihatan betapa tindakan yang ditempuh pemerintah
dalam menutup defisit anggaran negara yang disebabkan oleh himpitan beban utang itu,
hampir seluruhnya bersifat membebani rakyat. Pertanyaannya, tidak adakah jalan lain yang
dapat ditempuh oleh pemerintah untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh beban
utang tersebut selain mensosialisasikannya kepada rakyat banyak? Jawabannya sangat
tergantung pada konsepsi utang yang dianut oleh pemerintah serta cara pandang mereka
terhadap kedudukan utang dalam konstruksi sosial dan ideologis yang menyertai proses
pembuatan utang tersebut.

UTANG NAJIS

Berbicara mengenai konsepsi utang, selama ini banyak yang tidak menyadari bahwa
konsepesi utang yang dianut oleh pemerintah Indonesia cenderung sangat didominasi oleh
pandangan para ekonom neoliberal. Sesuai dengan pandangan umum yang dianut oleh para
pengikut Reagan dan Thatcher tersebut (Goerge, 1999), pembuatan utang pada dasarnya
ditujukan untuk mencapai dua hal: Pertama, untuk menutup kesenjangan antara tingkat
tabungan masyarakat dengan kebutuhan investasi (saving investment gap). Kedua, khusus
untuk utang luar negeri, untuk memanfaatkan suku bunga murah yang ditawarkan oleh
berbagai paket pinjaman yang ditawarkan oleh sindikat negara-negara kreditur dan lembaga
keuangan multilateral tersebut.

Berdasarkan kedua tujuan itu, jelas sekali kelihatan betapa konsepsi utang para ekonom
neoliberal tersebut sangat dipengaruhi oleh paradigma pembangunan ekonomi yang mereka
anut. Dalam pandangan para ekonom neoliberal, pembangunan memang cenderung
tumpang tindih dengan pertumbuhan ekonomi, kecenderungan ini sejalan dengan pandangan
mereka yang meletakkan pertumbuhan ekonomi di atas pemerataan. Sebagaimana sering
mereka kemukakan, “Jika tidak ada pertumbuhan, apa yang mau diratakan?”

Dengan paradigma pembangunan seperti itu, diakui atau tidak, ekonom neoliberal
sesungguhnya dengan sadar menempatkan investasi dan investor di atas berbagai
pertimbangan lainnya. Dalam bahasa sederhana, paradigma pembangunan ekonom
neoliberal pada dasarnya bertumpu pada semboyan, “investor first, people second.”
Kecenderungan inilah antara lain yang dibahasakan melalui ungkapan “bersahabat dengan
pasar,” yang sangat populer tersebut.

Artinya, keputusan-keputusan ekonomi para ekonom neoliberal, mulai dari menyusun


kabinet, memilih orientasi kebijakan, dan merumuskan program, pertama-tama harus dilihat
dari sudut pengaruhnya terhadap “kepercayaan” para investor. Setiap keputusan ekonomi
yang mendapat respon negatif dari para investor, harus segera dihentikan.

Celakanya, sebagai ekonom sekalipun, para ekonom neoliberal cenderung mengabaikan


berbagai variabel lainnya yang wajib untuk dipertimbangkan dalam membuat utang luar
negeri. Sehubungan dengan tingkat bunga misalnya, para ekonom neoliberal cenderung
pura-pura tidak tahu bahwa beban utang luar negeri tidak hanya terbatas sebesar angsuran
pokok dan bunganya.

Karena dibuat dalam mata uang asing, tidak dapat tidak, pembuatan utang luar negeri harus
memperhatikan pula tingkat depresiasi mata uang nasional dan kemungkinan terjadinya
gejolak moneter secara internasional. Dengan kata lain, dalam kondisi stabil, tingkat bunga
utang luar negeri mungkin lebih murah daripada tingkat bunga pinjaman domestik. Tetapi jika
terjadi gejolak moneter seperti dialami Indonesia pada tahun 1998, tingkat bunga efektif utang
luar negeri dalam denominasi rupiah justru dapat lebih besar dari pada tingkat bunga
domestik.
Sejalan dengan itu, para ekonom neoliberal juga cenderung mengabaikan kapasitas
kelembagaan yang dimiliki sebuah negara dalam mengelola dan memanfaatkan utang.
Padahal, sebagai sebuah keputusan yang akan berdampak pada timbulnya kewajiban untuk
membayar pokok dan bunganya, pembuatan utang luar negeri harus disertai dengan
perhitungan yang cermat mengenai manfaat yang akan diperoleh dari keputusan tersebut.

Intinya, kapasitas mengelola dan memanfaatkan utang harus dapat menjamin meningkatnya
kemampuan sebuah negara dalam membayar utang. Tetapi para ekonom neoliberal
cenderung memandang kapasitas mengelola dan memanfaatkan utang ini sebagai sesuatu
yang tidak perlu mendapat perhatian. Sebab itu, walaupun Indonesia terkenal sebagai negara
juara korupsi (lihat Tabel 3), tidak aneh bila Hadi Soesastro pernah berucap, “Hanya orang
bodohlah yang menolak utang luar negeri.”

Saya tidak tahu persis siapa sesungguhnya yang bodoh. Yang pasti, jika ketidakstabilan
moneter yang menandai sistem keuangan global dan perilaku korup rezim yang berkuasa
diabaikan begitu saja oleh para ekonom neoliberal dalam membuat utang luar negeri,
menjadi mudah dimengerti jika sebagian besar ekonom neoliberal tidak mengenal konsepsi
utang najis (odious debt). Padahal, konsep yang diperkenalkan oleh Alexander Nahum Sack
pada tahun 1927 ini, sangat penting artinya dalam menetukan metode penyelesaian beban
utang luar negeri yang dipikul Indonesia.

Sebagaimana dikemukakan Sack (sebagaimana dikutip dalam Adams, 1991), “if a despiotic
incurs a debt not for the needs or in the interrest of the State, but to strengthen its despotic
regime, to repress the population that’s fights againts it, etc., this debt is odious for the
population of all the State. This debt is not an obligation for the nation; it is a regime’s debt, a
personal debt of the power that has incurred it, consequently it falls with the fall of this
power.”

Konsep utang najis yang diperkenalkan Sack itu tidak datang dari negeri antah berantah,
melainkan dibangun berdasarkan preseden sengketa utang-piutang antar negara yang
pernah terjadi jauh sebelum ia memperkenalkan konsep tersebut. Sebagaimana
dikemukakan Adams, negara pertama yang menerapkan konsep utang najis itu dalah
Amerika Serikat (AS), yaitu ketika negara itu mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat
Cuba dari penjajahan pemerintah Spanyol tahun 1898. menyusul beralihnya penguasaan
Cuba daari Spanyol ke tangan AS, maka pemerintah Spanyol segera mendeklarasikan
bergesernya tanggunggjawab untuk melunasi utang luar negeri Cuba yang dibuat semasa
pemerintahan pendudukan Spanyol itu kepada AS.
Tetapi AS secara tegas menolak penggeseran tanggungjawab untuk melunasi “utang-utang
Cuba” tersebut. Dalam jawabannya kepada pemerintah Spanyol, AS antara lain mengatakan,
“They are debts created by the government of Spain, for its own purposes and through its
own agents, in whose creation Cuban had no voice.” Sebab itu, AS berpendapat, utang-utang
tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai utang penduduk Cuba, (dengan demikian) juga
tidak bersifat mengikat bagi pemerintah Cuba berikutnya.

Dilihat dari konsep utang najis sebagaimana diperkenalkan Sack tersebut, dapat disaksikan
bahwa sesungguhnya terbuka peluang yang sangat lebar bagi pemerintahan Indonesia pasca
Soeharto untuk setidak-tidaknya tidak membayar seluruh utang luar negeri yang dibuat
semasa rezim Soeharto. Sebagaimana diketahui, rezim Soeharto yang terguling pada tanggal
21 Mei 1998 itu, yaitu menyusul berlangsungnya perlawanan panjang mahasiswa sejak
pertengahan 1990, adalah sebuah rezim yang otoriter dan korup.

Sebagai sebuah rezim yang otoriter, pemerintahan Soeharto seringkali membuat utang
secara bertentangan dengan kepentingan rakyat. Sebaliknya, tidak jarang pemerintahan
Soeharto justru membuat utang untuk menindas rakyat. Bahkan, sebagai sebuah rezim yang
korup, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sebagian utang luar negeri yang dibuat
oleh rezim Soeharto, justru diselewengkan oleh para pejabatnya untuk memperkaya diri
mereka sendiri dan para kroninya. Dalam taksiran Bank Dunia, volume utang luar negeri yang
diselewengkan rezim Soeharto meliputi sekitar 20 - 30 persen dari total utang luar negeri
yang dibuat rezim tersebut (World Bank, 1997).

Pendek kata, karena sebagian utang luar negeri yang dibuat oleh rezim Soeharto tidak
dinikmati oleh rakyat, sesungguhnya tidak ada sedikit pun alasan bagi setiap pemerintahan
Indonesia Pasca Soeharto untuk mensosialisasikan dampak beban utang najis tersebut
kepada rakyat banyak. Sebaliknya, adalah kewajiban setiap pemerintahan yang memihak
kepada rakyat untuk meminta pertanggungjawaban para kreditur atas kesalahan mereka
menyalurkan utang-utang itu. Caranya tentu bukan dengan meminta penjadualan ulang (debt
reschedulling), melainkan dengan meminta pemotongan utang (debt reduction).

UTANG DAN KAPITALISME

Masalahnya, selain tidak mengenal konsep utang najis, dan sejalan dengan semboyan yang
mereka anut, para ekonom neoliberal memang menghindari segala tindakan yang mereka
pandang dapat merusak kepercayaan para investor. Artinya, terlepas dari penerapan konsep
utang najis atau konsep lain yang memungkinkan dilakukannya pemotongan utang, tuntutan
pemotongan utang sejak semula memang bertentangan dengan garis pemikiran para
ekonom neoliberal.

Sebagaimana sering mereka kemukakan, tuntutan pemotongan utang dapat menyebabkan


semakin merosotnya kepercayaan para investor kepada Indonesia. Bahkan, sebagaimana
dikemukakan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-jakti, tuntutan
pemotongan utang dapat berakibat diembargonya perekonomian Indonesia oleh negara-
negara kreditur.

Dengan sikap seperti ini, para ekonom neoliberal sesungguhnya sudah memiliki jawaban
terhadap hampir semua persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia, bahkan jauh sebelum
mereka melakukan riset dan analisis. Kuncinya sederhana, “how to make a market friendly
decision?” Jika dikaitkan dengan persoalan utang luar negeri, menjadi mudah dimengerti jika
para ekonom noeliberal cenderung memaksakan cara pandang mereka yang cenderung
melihat utang semata-mata sebagai sebuah fenomena ekonomi.

Artinya, para ekonom neoliberal cenderung tidak peduli terhadap konstruksi sosial dan
ideologis yang menyertai proses pembuatan utang tersebut. Padahal, sebagaimana dapat
disaksikan secara empiris, tidak ada transaksi utang yang terjadi di ruang hampa. Transaksi
utang senantiasa terjadi dalam suatu konstruksi sosial dan ideologis tertentu. Artinya, untuk
memahami konsepsi utang lebih jauh, penyelidikan mengenai siapa yang membuat,
memberi, dan paling banyak mendapat manfaat dari transaksi utang-piutang tersebut tidak
dapat dielakkan.

Dilihat dari sudut negara penerima, jawabannya sangat jelas. Utang luar negeri pasti dibuat
oleh rezim yang berkuasa. Walaupun pembuatan utang harus mendapat persetujuan dari
lembaga perwakilan rakyat, tetapi para anggota lembaga perwakilan rakyat pun seringkali
tidak berada dalam posisi yang siap untuk mengkritisi dampak dan resiko pembuatan utang-
utang itu.

Sebaliknya, sebagai komponen dari kelas yang berkuasa, tidak sedikit anggota lembaga
perwakilan rakyat yang justru turut memiliki interest pribadi terhadap pembuatan utang-utang
tersebut. Selanjutnya, jika dilihat dari sudut penikmat utang-utang itu, selain para politisi dan
pejabat pemerintah, pihak berikutnya tentulah para kroni dari kekuasaan yang bersangkutan,
baik yang bergiat sebagai pengusaha, sebagai konsultan, maupun peneliti.

Yang membedakan para pembuat dan penikmat utang luar negeri sektor publik ini dengan
para pembuat utang pribadi adalah, mereka pada umumnya sanagt sadar bahwa beban
utang itu sama sekali tidak melekat kepada diri mereka sebagai pribadi. Karena utang dibuat
atas nama negara, soal siapa yang akan menanggung beban utang tersebut tidak terlalu
penting bagi mereka.

Mereka lebih tertarik untuk untuk melihat utang luar negeri sebagai sarana untuk mewujudkan
ambisi-ambisi mereka. Celakanya, ketiba tiba masanya untuk membayar angsuran pokok dan
bunga hutang, mereka serta merta—atas nama kepentingan bangsa dan negara,
menemukan solusi untuk mensosialisasikan beban utang itu kepada rakyat banyak.

Hal yang lebih kurang serupa terjadi pada pihak pemberi utang. Selain diberikan oleh bank-
bank komersial dan lembaga-lembaga keuangan multilateral, sebagaian utang luar negeri
juga diberikan oleh para penguasa di negara-negara tersebut. Memang benar, sebagaimana
di negara penerima utang, keputusan memberi utang juga harus mendapat persetujuan dari
lembaga perwakilan rakyat di masing-masing negara yang bersangkutan.

Tetapi dengan pertimbangan ekonomi dan politik tertentu, para politisi dan pejabat
pemerintah negera-negara pemeberi utang ini, termasuk melalui wakil-wakil mereka yang
duduk di lembaga keuangan multilateral, biasanya sepakat untuk memberi sejumlah utang
kepada sejawat mereka di negara-negara penerima utang tertentu.

Salah satu pertimbangan ekonomi yang mereka pakai biasanya adalah, sesuai dengan sifat
mengikat yang melekat pada sebagian besar utang luar negeri, adanya kebutuhan untuk
memasarkan produk-produk mereka sendiri ke negara-negara penerima utang. Artinya, jika
dilihat dari segi penikmat, penikmat utang di negara-negara pemberi hutang lebih kurang
serupa dengan di negara-negara penerima hutang. Mereka biasanya terdiri dari para politisi
dan pejabat pemerintah, serta para kroninya yang bergiat di berbagai bidang usaha:
pengusaha produsen, pengusaha jasa, konsultan, peneliti, dan lembaga pendidikan.

Sebagaimana di negara-negara penerima utang , kelas yang berkuasa di negara-negara


pemberi utang ini pada umumnya sadar bahwa dampak pemberian utang itu sama sekali
tidak melekat kepada diri mereka secara pribadi. Celakanya, jika suatu saat terdapat
sejumlah utang yang tidak dapat ditagih, sebagaiman antara lain terjadi dalam kasus 41
negara penerima Heavily Indebted Poor Countries (HIPC) Initiatives, mereka pun akan serta
merta akan mensosialisasikan segala dampak yang ditimbulkan oleh penghapusan utang itu
kepada seluruh anggota masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disaksikan bahwa masalah utang luar negeri tidak dapat
disederhanakan semata-mata sebagai sebuah fenomena ekonomi. Dilihat dari sudut
konstruksi sosial dan ideologis, utang luar negeri sangat mudah berubah menjadi instrumen
yang mempertemukan kepentingan kelas yang berkuasa di negara-negara penerima utang,
di negara-negara pemberi utang, dan antar keduanya.

Karena para anggota kelas yang berkuasa sangat menyadari bahwa secara pribadi mereka
tidak terikat terhadap dampak transaksi utang itu, tetapi sebaliknya dapat dengan mudah
mensosialisasikannya kepada rakyat banyak, maka utang luar negeri sangat mudah bergeser
menjadi instrumen kelas yang berkuasa untuk memenuhi ambisi-ambisi pribadi mereka,
dengan tujuan untuk menguras rakyat banyak. Pendek kata, utang luar negeri mustahil dapat
dipisahkan dari konstruksi sosial dan ideologis yang bernama kapitalisme.

IMPERIALISME UTANG

Dengan memahami utang luar negeri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kapitalisme,
maka dilihat dari sudut kepentingan rakyat banyak, setiap komponen utang luar negeri
sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar untuk digolongkan sebagai utang najis.
Persoalannya adalah, sejauh manakah rakyat banyak telah diminta pendapatnya dalam
membuat utang. Dan sejauh mana pula dapat dibuktikan bahwa rakyat banyak memang telah
turut diuntungkan oleh transaksi pembuatan utang tersebut.

Baik ditinjau dari sudut negara-negara miskin penerima utang, maupun dari sudut negara-
negara kaya pemberi utang, melebarnya kesenjangan kaya-miskin di seluruh dunia adalah
sebuah fenomena yang tidak terbantahkan. Sebagaimana ditaksir oleh Noam Chomsky
dalam kasus Indonesia, sekitar 95 persen manfaat utang luar negeri sesungguhnya hanya
dinikmati oleh sekitar 50 orang (Chomsky, 2000). Hal yang lebih kurang serupa terjadi pula di
AS (lihat tabel 4).

Tetapi jauh lebih penting dari persoalan kesenjangan internal yang terjadi pada sebuah
negara, dampak yang paling parah dari kapitalisme adalah melebarnya kesenjangan antara
negara-negara kaya dengan negara-negara miskin dan menengah di dunia. Sebagaimana
dilaporkan oleh Bank Dunia, saat ini terdapat sejumlah kecil negara kaya dengan total
penduduk sebesar 891 juta jiwa dengan total PDB sebesar 22,9 triliun dolar AS.

Pada sisi yang lain, terdapat sejumlah negara miskin dan menengah dengan total penduduk
sebesar 5,08 milyar jiwa, dengan total PDB sebesar 6,3 triliun dolar AS. Artinya, rata-rata
PDB perkapita 891 juta penduduk negara kaya berjumlah sebesar 25 ribu dolar AS.
Sementara rata-rata PDB per kapita 5,08 milyar penduduk negara miskin dan menengah,
hanya berkisar sekitar 1,250 dolar AS.
Celakanya, bila dilihat dari sudut hubungan utang-piutang, negara-negara kaya pada
umumnya berada pada posisi memberi utang. Sebaliknya, hampir semua negara miskin dan
menengah berada pada posisi penerima utang. Volume total utang luar negeri negara-negara
miskin dan menengah pada tahun 1998 berjumlah sebesar 2,4 triliun dolar AS.

Artinya, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, rata-rata penduduk negara-negara


miskin dan menengah menanggung utang luar negeri per kapita sebesar 480 dolar AS.
Dengan kondisi seperti itu, dapat dibayangkan betapa senjangnya tingkat kemakmuran dan
beban hidup rata-rata penduduk di negara kaya yang berjumlah sebesar 891 juta tersebut,
dengan tingkat kemakmuran dan beban hidup mayoritas penduduk dunia.

Tetapi itu belum seberapa. Kondisi Indonesia justru jauh lebih parah daripada kondisi rata-
rata penduduk negara-negara miskin dan menengah tersebut. Jumlah penduduk Indonesia
pada tahun 1998 tercatat sebesar 207 juta jiwa. Sedangkan total PDB-nya hanya berjumlah
sebesar 120 miliar dolar AS. Dengan demikian, PDB perkapita penduduk Indonesia pada
tahun 1998 hanya berkisar sekitar 600 dolar AS. Padahal, jika dihitung utang luar negeri
perkapita penduduk Indonesia, dengan total utang luar negeri sebesar 150 miliar dolar pada
tahun 1998, utang luar negeri perkapita yang ditanggung olah seluruh penduduk Indonesia
berkisar sekitar 750 dolar AS (lihat Tabel 5).

Pada akhir tahun 2000, kondisi ekonomi Indonesia memang sudah mengalami perubahan.
Dengan total PDB sebesar 142 miliar dolar AS, dan total utang luar negeri sebesar 141 miliar
dolar AS, perbandingan antara PDB dengan utang luar negeri perkapita Indonesia relatif
setara pada tingkat 700 dolar AS.

Sebagaimana masalah utang luar negeri tidak dapat hanya dilihat sebagai fenomena
ekonomi, maka kesenjangan ekonomi yang menandai perekonomian dunia itu, tidak dapat
tidak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pola hubungan anatar negara di dunia.
Dengan tingkat kesenjangan PDB perkapita yang terentang antara rata-rata 1.250 dolar AS
(belum termasuk beban hutang luar negeri perkapita sebesar 480 dolar AS) dan 25.000 dolar
AS (sekitar 20 kali lipat), terjalinnya suatu hubungan antar negara yang bersifat saling
tergantung menjadi sulit diwujudkan.
Sebaliknya, terbangunnya suatu pola hubungan antar negara yang bersifat hegemonik, yaitu
dari negara-negara kaya terhadap negara-negara miskin dan menengah, menjadi sulit
dielakkan. Lebih-lebih, negara-negara kaya berada pada posisi memberi utang, sedangkan
negara miskin dan menengah berada pada posisi menerima utang. Berangkat dari pola
hubungan yang sangat tidak seimbang tersebut, bergesernya utang luar negeri dari sekadar
instrumen kelas berkuasa untuk menguras rakyat banyak, menjadi instrumen penaklukan
negara bangsa (imperialisme), menjadi sulit dihindarkan.

Negara-negara kaya tampaknya sangat menyadari kenyataan tersebut. Sebab itu, tidak aneh
jika melalui posisi dominan mereka di berbagai lembaga perdagangan dan keuangan
multilateral, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Bank Dunia (WB), Bank
Pembangunan Asia (ADB), dan Dana Moneter Internasional (IMF), serta melalui dominasi
perusahaan transnasional (TNC) yang mereka miliki dalam transaksi keuangan dan
perdagangan global, negara-negara kaya cenderung memaksakan berbagai agenda mereka
kepada seluruh dunia.

Dalam kasus tertentu, seperti dialami oleh Afghanistan, imperialisme bersenjata memang
masih bisa terjadi. Tetapi secara masif, abad ke-21 ini sesungguhnya ditandai oleh terjadinya
imperialisme ekonomi oleh sejumlah kecil negara kaya—termasuk dengan menggunakan
jerat utang, terhadap seluruh dunia.

Yang paling celaka tentulah nasib Indonesia. Selain termasuk ke dalam kelompok negara-
negra miskin yang terjebak utang, terhitung sejak mengalami krisis moneter pada
pertengahan 1997, Indonesia kini praktis berada di bawah penaklukan negara-negara kaya
melalui tangan IMF. Terus terang, saat ini sulit bagi saya untuk menentukan siapakah
sesungguhnya yang berkuasa di Indonesia: Presiden, DPR, atau negara-negara kaya yang
diwakili oleh IMF.

Menyadari kenyataan tersebut, saya kira sudah tiba masanya bagi segenap komponen
bangsa ini untuk berpikir secara sungguh-sungguh mengenai paradigma baru kemerdekaan.
Terus menumpuk utang baru sembari mensosialisasikan utang najis kepada rakyat banyak,
saya kira bukanlah tanda yang sehat bagi sebuah negara merdeka. Di tengah-tengah situasi
seperti itu, bagaimana mungkin kita dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat?

Drs. Revrisond Baswir, MBA : Staf Pengajar Fakultas Ekonomi UGM

Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Utang Luar Negeri, Jakarta, 23
April 2002.

Daftar Bacaan
Adams, Patricia. 1991. Odious Debt: Loose Lending, Corruption, and the Third World’s
Environmental Legacy. Eartscan: Canada

Chomsky, Noam. 2000. Jubilee 2000. htpp://www.zmag.org/

Goerge, Susan. 1999. A Short History of Neoliberalism: Twenty Years of Elites Economics
and Emerging Opportunities For Structural Change, http://www.millenium-round.org/

Transparency International. 2001. Corruption Perception Index 2001.


http://www.transparency.org/

World Bank. 1997. Memoranda on Corruption in Indonesia: Confidential World Bank


Indonesia Resident Staff Views Regarding the Problem of “Leakage.”
http://www.parliament.uk/

World Bank. 2001. World Development Report 2000/2001: Attacking Poverty. Oxford
University Press: New York.

[Artikel - Th. I - No. 3 - Mei 2002]


Frans Seda

KRISIS MONETER INDONESIA

KRISIS moneter Indonesia disebabkan oleh dan berawal dari kebijakan Pemerintah Thailand
di bulan Juli 1997 untuk mengambangkan mata uang Thailand “Bath” terhadap Dollar US.
Selama itu mata uang Bath dan Dollar US dikaitkan satu sama lain dengan suatu kurs yang
tetap. Devaluasi mendadak dari “Bath” ini menimbulkan tekanan terhadap mata-mata uang
Negara ASEAN dan menjalarlah tekanan devaluasi di wilayah ini.

Indonesia, yang mengikuti sistim mengambang terkendali, pada awalnya bertahan dengan
memperluas “band” pengendalian/intervensi, namun di medio bulan Agustus 1997 itu
terpaksa melepaskan pengendalian/intervensi melalui sistim “band” tersebut. Rupiah
langsung terdevaluasi. Dalam bulan September/Oktober 1997, Rupiah telah terdevaluasi
dengan 30% sejak bulan Juli 1997. Dan di bulan Juli 1998 dalam setahun, Rupiah sudah
terdevaluasi dengan 90%, diikuti oleh kemerosotan IHSG di pasar modal Jakarta dengan
besaran sekitar 90% pula dalam periode yang sama. Dalam perkembangan selanjutnya dan
selama ini, ternyata Indonesia paling dalam dan paling lama mengalami depresi ekonomi. Di
tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot menjadi –13,7% dari pertumbuhan
sebesar +4,9% di tahun sebelumnya (1997). Atau jatuh dengan 18,6% dalam setahun.

Sampai sekarang, sudah lima tahun, pemulihan pertumbuhan ekonomi belum mencapai
tingkat pra-krisis (tahun 1996/97).

MENGAPA?

Selama dekade sebelum krisis, Ekonomi Indonesia bertumbuh sangat pesat. Pendapatan
per kapita meningkat menjadi 2x lipat antara 1990 dan 1997. Perkembangan ini didukung
oleh suatu kebijakan moneter yang stabil, dengan tingkat inflasi dan bunga yang rendah,
dengan tingkat perkembangan nilai tukar mata uang yang terkendali rendah, dengan APBN
yang Berimbang, kebijakan Ekspor yang terdiversifikasi (tidak saja tergantung pada Migas),
dengan kebijakan Neraca Modal yang liberal, baik bagi modal yang masuk maupun yang
keluar. Kesuksesan ini menimbulkan di satu pihak suatu optimisme yang luar biasa dan di
lain pihak keteledoran yang tidak tanggung-tanggung. Suatu optimisme yang mendorong
kebijakan-kebijakan ekonomi dan tingkat laku para pelaku ekonomi dalam dan luar negeri,
sepertinya lepas kendali. Kesuksesan Pembangunan Ekonomi Indonesia demikian memukau
para kreditor luar negeri yang menyediakan kredit tanpa batas dan juga tanpa meneliti
proyek-proyek yang diberi kredit itu. Keteledoran ini juga terjadi dalam negeri. Dimana
kegiatan-kegiatan ekonomi dan para pelakunya berlangsung tanpa pengawasan dan tidak
dilihat “cost benefit” secara cermat. Kredit jangka pendek diinvestasikan ke dalam proyek-
proyek jangka panjang. Didorong oleh optimisme dan keteledoran ini ekonomi didorong
bertumbuh diatas kemampuannya sendiri (“bubble economics”), sehingga waktu datang
tekanan-tekanan moneter, Pertumbuhan itu ambruk!

Sementara itu terjadi pula suatu perombakan yang drastis dalam strategi Pembangunan
Ekonomi. Pembangunan Ekonomi yang selama ini adalah “State” dan “Government-led”
beralih menjadi “led by private initiatives and market”. Hutang Pemerintah/Resmi/Negara
turun dari USD. 80 milyar menjadi USD. 50 milyar di akhir tahun 1996, sementara Hutang
Swasta membumbung dengan cepatnya. Jika di tahun 1996 Hutang Swasta masih berada
pada tingkat USD. 15 milyar, maka di akhir tahun 1996 sudah meningkat menjadi antara
USD. 65 milyar – USD. 75 milyar.

Proses Swastanisasi/Privatisasi dari pelaku utama Pembangunan berlangsung melalui


proses liberalisasi dengan mekanisme Deregulasi diliputi visi dan semangat liberal. Dalam
waktu sangat singkat bertebaran bank-bank Swasta di seluruh tanah air dan bertaburan
Korporasi-Korporasi Swasta yang memperoleh fasilitas-fasilitas tak terbatas. Proses
Swastanisasi ini berlangsung tanpa kendali dan penuh KKN. Maka ketika diserang krisis mata
uang, sikonnya belum siap dan masih penuh kerapuhan-kerapuhan, terlebih dunia
Perbankan dan Korporasi. Maka runtuhlah bangunan modern dalam tubuh Ekonomi Bangsa.
Dan kerapuhan ini ternyata adalah sangat mendalam dan meluas, sehingga tindakan-
tindakan penyehatan-penyehatan seperti injeksi modal oleh Pemerintah, upaya-upaya
rekapitalisasi, restrukturisasi Perbankan dan Korporasi-Korporasi sepertinya tidak mempan
selama dan sesudah 5 tahun ini. Sektor Finansial dan Korporasi masih tetap terpuruk.
Rapuhnya sektor-sektor modern ini adalah dalam hal organisasi, manajemen, dan mental
orang-orang/para pelakunya, dalam hal bisnis serta akhlak dan moral. Suatu kerapuhan total
dan secara institusional pula!

Apa implikasi dari runtuhnya sektor modern dari bangunan ekonomi kita ini? Peningkatan
Pengangguran, Peningkatan Kemiskinan dan Hutang Nasional. Dan hal-hal ini langsung
mengena pada nasib ekonomi Rakyat kita.

Namun akibat-akibat negatif ini dihadapi rakyat banyak dengan suatu Resistensi dan
Kreativitas Ekonomi yang militan. Sektor tradisional yang selama ini dianggap sebagai sektor
yang tidak penting/prioritas, malahan dianggap sebagai penghambat dari pertumbuhan
Ekonomi, bukan saja menampung reruntuhan-reruntuhan dari ambruknya sektor modern,
namun juga memainkan peran sebagai pengganti dari peranan sektor modern yang ambruk
itu. Dan yang mengesankan adalah peran dari asas kekeluargaan. Mereka yang di-PHK-kan
ditampung dalam sektor tradisional dan sektor informal dan merupakan bagian dari
Resistensi Ekonomi Rakyat dalam krisis ini.

Maka para pakar/pengamat yang selama ini meragukan berfungsinya asas kekeluargaan
seperti yang tercantum dalam Pasal 33 UUD-45, itu perlu “pulang kampung” untuk melihat
dan mengalami bahwa asas kekeluargaan itu betul-betul hidup di kalangan masyarakat dan
sungguh-sungguh merupakan asas solidaritas yang berfungsi dalam kehidupan ekonomi
rakyat.

Resistensi, kreativitas ekonomi rakyat, produktivitas sektor tradisional dan berfungsinya asas
kekeluargaan, merupakan kekuatan ekonomi yang riil yang telah mampu menahan
kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh krisis itu, dan malahan telah mampu pula
mengangkat pertumbuhan ekonomi kembali pada permukaan pertumbuhan ekonomi dengan
pertumbuhan +13,7% dengan tercapainya tingkat +0% di tahun 1999, dilanjutkan dengan
pertumbuhan +4,8% di tahun 2000, yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pra
krisis (1997, +4,9%). Tentu tidak semuanya oleh Ekonomi Rakyat. Dalam bahasa resmi
Ekonomi, pemulihan ekonomi selama 2 tahun itu disebabkan oleh peningkatan ekspor (non
Migas), oleh investasi dan konsumsi. Dalam hal ekspor dan konsumsi, peranan ekonomi
Rakyat adalah menonjol. Dalam hal ekspor, cukup berperan ekspor hasil Perkebunan rakyat,
sehingga di Manado yang unggul dalam hal cengkeh itu – “dia orang bilang, di Jakarta resesi,
di Manado resepsi, no!”. Juga dalam hal konsumsi yang kecuali dipenuhi oleh import, juga
oleh produksi dalam negeri, hasil kegiatan rakyat.

Masalahnya adalah mengapa ekonomi Nasional jatuhnya begitu dalam, dalam setahun, tetapi
juga dapat cepat pulih dalam 2 tahun berikutnya. Jatuhnya demikian dalam di tahun 1998,
menunjukkan betapa rapuhnya dan paniknya sektor Finansial dan Korporasi, alias sektor
modern dari bangunan ekonomi kita. Dan seperti telah dikatakan, begitu rapuhnya sehingga
dengan segala “inset” dari modal, energi dan konsentrasi sampai sekarang sektor ini belum
dapat berfungsi kembali normal. Dan cepat kembalinya pemulihan ekonomi selama dua
tahun berikutnya dikatakan adalah berkat ekonomi Rakyat. Apakah hanya karena itu saja?
Tentu tidak hanya itu saja. Faktor kepercayaan pada programa ekonomi Pemerintah dalam
kerjasama dengan IMF dan hilangnya panik ekonomi turut bermain peran. Namun secara riil,
peran ekonomi Rakyat seperti yang telah digambarkan itu memang besar!

Tetapi antara ekonomi Rakyat/Ekonomi Tradisional dan Ekonomi Modern tidak perlu
diadakan dikhotomi. “Dual economy” nya Prof. Boeke, adalah suatu kenyataan dan
merupakan dua kekuatan ekonomi yang perlu diintegrasikan menjadi sokoguru dari
bangunan ekonomi Nasional yang modern.
Krisis Ekonomi yang kita alami dewasa ini menunjukkan bahwa keserakahan sektor modern
akan kredit, fasilitas dan perluasan kegiatan, dan kurang adanya Pengawasan, adanya KKN,
itulah yang telah menjerumuskan Ekonomi bangsa ke dalam keterpurukan yang
berkelanjutan ini.

Disebabkan oleh Politik Isolasi Nasional dan menumpuknya Defisit APBN dari tahun ke tahun
sedari tahun 50-an dan selama penggalan pertama tahun 1960-an, maka di tahun 1965-66
terjadi suatu krisis ekonomi Nasional yang merisaukan, yang telah menumbangkan ORDE
LAMA (Demokrasi Terpimpin) dan dibentuknya ORDE BARU.

Pemerintah/Negara mengambil peran untuk keluar dari krisis tersebut, malahan melanjutkan
perannya sebagai Pelaku Utama Pembangunan sesudah krisis itu. Sehingga Pembangunan
selama itu disebut “Government/State led development”. Hal ini terjadi bukan karena ideology
(Sosialisme) melainkan karena kondisi pragmatis, dimana pada waktu itu tidak ada
perusahaan Swasta, dan kalau ada berada dalam kondisi sangat lemah.

Dibawah Pimpinan Negara/Pemerintah, maka Pembangunan dan peningkatan pendapatan


Nasional dan per kapita maju pesat. Jika era Demokrasi Terpimpin sebelumnya adalah era
dimana Politik menjadi Panglima (upaya pembentukan dari suatu Sistim Politik Nasional)
maka era ORBA dapat dinamakan sebagai era dimana Ekonomi menjadi Panglima (dan
upaya-upaya untuk membentuk suatu Sistim Ekonomi Nasional).

Di tahun 1980-an, didesak oleh kebutuhan akan modal, efisiensi, dan teknologi yang lebih
meningkat untuk menjaga agar Pembangunan Ekonomi berkelanjutan mantap meningkat,
dan di bawah pengaruh globalisasi, maka terjadi proses Swastanisasi dari Pembangunan.
Proses tersebut ditandai oleh suatu proses Liberalisasi dan mekanismenya adalah
Deregulasi/Ekonomi.

Masalahnya adalah mengapa pada waktu itu proses Deregulasi tidak diarahkan langsung
kepada Ekonomi Rakyat. Ada keraguan di kalangan Pemerintah pada waktu itu terhadap
kemampuan Ekonomi Rakyat sebagai penggerak utama dari roda Pembangunan.

Ekonomi Rakyat masih perlu diberdayakan, dan pemberdayaan itu dilakukan melalui “link
and match” dengan sektor Swasta. Melalui pemberdayaan sektor Swasta maka
diharapkan/dianggap Ekonomi Rakyat akan pula dapat diberdayakan. Jika Pembangunan
selama ini adalah “top down” maka proses ini tidak langsung beralih ke sistim “bottom up”,
namun melalui sistim (peng)antara “middle down” dan “middle up”. Kita tahu apa yang telah
terjadi. Bukan proses “memberdayakan”, melainkan proses “memperdayakan”. “Up” dan
“down” diperdayakan oleh si “middle”. Maka terjadilah krisis ekonomi yang berkelanjutan ini.

Masalahnya sekarang adalah, apakah dalam kondisi krisis dewasa ini, sudah tiba waktunya
kita beralih ke Ekonomi Rakyat, melihat peran ekonomi rakyat selama krisis ini seperti yang
telah diuraikan itu. Memang ideal, jika bisa begitu. Namun sesuatu yang ideal, tidak lalu harus
diidealisasikan, Makna dari suatu ideal adalah bukan sekedar pada idealismenya, namun
pada kemampuan untuk merealisasikan apa yang dianggap ideal itu.

Telah dikemukakan bahwa kemampuan Resistensi Ekonomi Rakyat adalah pada tingkat
“subsistence economy”. Ekonomi Rakyat adalah pula ekonomi “from hand to mouth”. Apa
yang dihasilkan, dihabiskan! Tidak ada kelebihan untuk melanjutkan dan mendinamisasikan
kegiatan. Jika hal itu diperlukan maka dilaksanakan melalui hutang. Sebab itu peran “lintah
darat” besar dalam ekonomi Rakyat.

Ini semua dikemukakan tidak dengan maksud untuk memojokkan ekonomi Rakyat, namun
untuk mengungkapkan kenyataan yang dihadapi yang perlu diperbaiki agar tugas Nasional
yang diserahkan kepada Ekonomi Rakyat dapat terlaksana dengan baik dan penuh prospek
dan perspektif. Apa tugas Nasional itu? Mengatasi Pengangguran, mengatasi Kemiskinan,
mengatasi Hutang. Ketiga target ini memang mengena pada kepentingan ekonomi Rakyat!
Suatu tantangan bagi ekonomi Rakyat! Menghadapi tugas besar/tugas nasional ini, para
pelaku ekonomi Rakyat perlu di”upgrade”.

Disamping tugas besar Nasional yang berjangka itu, ada pula tugas Nasional yang
mendesak! Dewasa ini, terlebih sesudah kejadian 11 September 2001 di Amerika Serikat,
kita mengalami kemerosotan investasi dan eksport termasuk Pariwisata. Dalam bahasa
ekonominya adalah bahwa kita mengalami kemerosotan dari “external demand”. Kondisi ini
perlu diimbangi dengan menciptakan/mengaktifkan “domestic demand” yakni “demand” akan
investasi dan konsumsi. Potensi untuk itu ada di dalam Negeri karena masih cukup
pendapatan dalam negeri dan simpanan dalam negeri yang tersembunyi dan terpendam.
Memang ada pendapatan dan simpanan dalam negeri yang lari keluar, tetapi sebagian besar
masih “berkeliaran” di dalam negeri. Mereka tidak menjadi efektif (“effective demand”) antara
lain karena ketidakpastian hukum dan keamanan. Maka dari itu programa hukum dan
kesesuaian harus menunjukkan prioritas bagi Pemerintah. (Hukum dan keamanan ini juga
dituntut oleh para investor asing!). Penciptaan dari “domestic demand” ini mungkin, karena
pasar dalam negeri yang besar dan luas. Nah, dalam kontekst ini peran ekonomi Rakyat
dapat difokuskan, di”upgrade” dan ditingkatkan.

Hanya jangan dikira jika semua rakyat sudah menjadi Subyek Ekonomi, maka dengan
sendirinya Kesejahteraan Rakyat tercapai. Seperti halnya dalam bidang moral dan agama.
Jangan disangka jika setiap anggota masyarakat itu bermoral tinggi dan sungguh-sungguh
menghayati agamanya, maka masyarakat dengan sendirinya bermoral dan beragama.
Diperlukan suatu Institusi dan pendekatan secara Institusional.

Selama ini kita telah bicara banyak mengenai Ekonomi Rakyat dan Ekonomi Kerakyatan. Apa
itu? Ekonomi Rakyat mempunyai dua aspek integral. Aspek orientasi kepada kepentingan
rakyat banyak dan aspek rakyat sebagai Subyek dalam Ekonomi Negara. Dalam hal
Ekonomi Kerakyatan maka jelas orientasinya pada kepentingan ekonomi Rakyat banyak,
namun tidak selamanya rakyat harus menjadi Subyek Ekonomi. Dalam hal Ekonomi Rakyat,
maka baik orientasi pada kepentingan dalam ekonomi, maupun Subyek dalam ekonomi
adalah rakyat. Hanya seperti telah diuraikan itu, perlu diingat, bahwa kalaupun Rakyat sudah
menjadi Subyek Ekonomi, maka tidak dengan sendirinya kesejahteraan Nasional tercapai.
Sebab kesejahteraan Nasional bukanlah somasi/jumlah dari kepentingan masing-masing
rakyat. Diperlukan suatu Institusi yang mengarahkan kepada kepentingan rakyat dan
kesejahteraan Nasional. Diharapkan bahwa Institusi yang demikian itu adalah antara lain
Pemerintah dan Parlemen.

Rakyat sebagai Subyek Ekonomi seperti halnya dengan Korporasi-Korporasi besar/maju,


memerlukan perlindungan/kepastian Hukum dan iklim usaha, memerlukan akses ke modal,
teknologi dan Pasar. Hal-hal ini perlu diciptakan oleh Institusi itu.

Masalah ini perlu ditekankan melihat pengalaman-pengalaman dari usaha-usaha rakyat kecil
di kota-kota yang lazim dinamakan Kaki Lima yang dikejar-kejar itu. Mereka dianggap
sebagai “underground economics”, pengganggu ketertiban umum, sebagai usaha yang
“inferior”. (Sementara menurut suatu penelitian, mereka sehari dapat memperoleh antara Rp.
10.000 - Rp. 20.000, melebihi pendapatan orang yang sama di sektor formal). Dilupakan
bahwa mereka memenuhi kebutuhan masyarakat. Disitulah letak fungsi ekonomi mereka.
Mereka perlu dibimbing, diberi pendidikan, penjelasan-penjelasan dan insentip-insentip.
Mereka perlu diberi pengertian bahwa untuk berusaha secara berkelanjutan diperlukan tertib
usaha. Untuk menjamin tertib usaha, mereka tidak boleh mengganggu ketertiban umum dan
harus tunduk pada peraturan (hukum) umum! Pengertian yang diperlukan, bukan
penggusuran!

Pemberdayaan ekonomi Rakyat dewasa ini diperlukan pula untuk membina kader-kader
Pelaku Ekonomi Generasi baru menggantikan Generasi Pelaku Ekonomi yang sudah
tumbang ini. Mereka sendiri tadinya juga berasal dari usaha ekonomi rakyat, usaha/pedagang
kecil dan menengah. Namun suatu Generasi Pelaku Ekonomi Nasional yang bersih, tidak
dimanjakan dengan subsidi, proteksi dan fasilitas, apalagi dengan KKN, tangguh mental dan
professional dalam berusaha.
Ini berarti pula perlu dikembangkan suatu sistim mobilitas vertikal secara sehat dan mandiri
dalam masyarakat dunia usaha! Dewasa ini hal ini diblokir oleh tidak selesai-selesainya
proses penyehatan Perbankan dan Korporasi.

Kembali kepada masalah Krisis Moneter dan Pemulihan kembali Ekonomi Nasional. Telah
dikemukakan betapa terpuruknya Ekonomi kita dan betapa rapuhnya sektor modern kita,
terlebih sektor Finansial dan Korporasi. Dengan segala upaya dan energi serta bantuan luar
negeri, kita belum saja melihat titik terang. Lima (5) tahun krisis ekonomi adalah sudah terlalu
panjang dan karena sifatnya multidimensional maka ia dapat menggerogoti secara meluas
dan mendalam sendi-sendi kita hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Jika hal ini
dikaitkan dengan bahaya-bahaya proses desintegrasi sosial, regional dan nasional maka
krisis ekonomi yang berkepanjangan ini dapat membawa Bangsa, Negara dan Masyarakat
kita kepada kehancuran total. Maka dari itu krisis ini perlu segera diatasi!

Dalam hal ini kita berhadapan dengan suatu Dilema Fundamental yang “persistent” sekali.
Dilemanya adalah di satu pihak ada tuntutan untuk penyelesaian dulu semua kebobrokan-
kebobrokan dari masa lalu, baru melangkah maju, di lain pihak ada urgensi, kita maju ke
depan (termasuk upaya penyelesaian krisis), dan sambil berjalan ke depan kita secara
selektif menyelesaikan kebobrokan-kebobrokan dari masa lalu.

Untuk mengatasi Dilema Fundamental ini diperlukan suatu Konsensus Politik secara
Nasional, yang berfokus pada pilihan politik untuk me-Rekonsiliasikan keperluan
penyelesaian secara tuntas masalah-masalah dari masa lalu dengan kepentingan bangsa
dan Negara untuk maju ke depan dan yang didukung oleh semua pihak. Dengan adanya
Konsensus Politik secara Nasional itu, barulah kita dapat menyusun suatu Programa
Nasional untuk cepat keluar dari krisis dan mulai memulihkan kembali Pertumbuhan Ekonomi
Nasional yang mampu memberantas Pengangguran, Kemiskinan, Kebodohan, dan Hutang
Nasional. Sebab disitulah letak kepentingan mendesak dari ekonomi rakyat kita, Hic et nunc!

Drs. Frans Seda : Penasehat Ekonomi Pemerintah, mantan Menteri Keuangan

Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Krisis Moneter Indonesia, Jakarta,
9 April 2002

[Artikel - Th. I - No. 3 - Mei 2002]


Bayu Krisnamurthi

KRISIS MONETER INDONESIA DAN EKONOMI RAKYAT

PADA setiap diskusi mengenai ekonomi rakyat, sangat sulit untuk tidak berusaha
mendefinisikan yang dimaksud dengan ekonomi rakyat. Sayangnya, usaha pendefisnian
tersebut banyak yang berakhir justru dengan perdebatan atas definisinya daripada esensi
penguatan atau pemberdayaan ekonomi-rakyatnya sendiri. Padahal perdebatan mengenai
definisi ekonomi rakyat sebenarnya tidak terlalu produktif, karena pada dasarnya hampir
semua pihak telah sepaham mengenai pengertian apa yang dimaksud dengan “ekonomi
rakyat” tanpa harus mendefinisikan (Krisnamurthi, 2001). Namun guna memperoleh
perspektif yang sama mengenai diskusi yang akan dilakukan berkaitan dengan judul diatas 1)
maka makalah ini bermaksud untuk mendiskusi krisis moneter dalam konteks ekonomi
rakyat: bagaimana posisi ekonomi rakyat ketika krisis ekonomi terjadi, apakah sebagai sebab
atau penerima akibat; dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah kesalahan serupa
terulang dimasa depan. Oleh sebab itu tetap perlu dilakukan terlebih dahulu, penyampaian
persepsi makalah ini atas ekonomi rakyat tanpa bermaksud untuk terlalu menekan pada
usaha pendefinisian.

1) Sebenarnya, Panitia Seri Seminar ini hanya memberi judul “Krisis Moneter Indonesia”.
Penulis menambahkan merubah judul agar lebih terlihat konteksnya dikaitkan dengan
ekonomi rakyat.

Ekonomi rakyat adalah “kegiatan ekonomi rakyat banyak” (Krisnamurthi, 2001). Jika
dikaitkan dengan kegiatan pertanian, maka yang dimaksud dengan kegiatan ekonomi rakyat
adalah kegiatan ekonomi petani atau peternak atau nelayan kecil, petani gurem, petani tanpa
tanah, nelayan tanpa perahu, dan sejenisnya; dan bukan perkebunan atau peternak besar
atau MNC pertanian, dan sejenisnya. Jika dikaitkan dengan kegiatan perdagangan, industri,
dan jasa maka yang dimaksud adalah industri kecil, industri rumah tangga, pedagang kecil,
eceran kecil, sektor informal kota, lembaga keuangan mikro, dan sejenisnya; dan bukan
industri besar, perbankan formal, konglomerat, dan sebagainya. Pendeknya, dipahami
bahwa yang dimaksud dengan “ekonomi rakyat (banyak)” adalah kegiatan ekonomi yang
dilakukan oleh orang banyak dengan skala kecil-kecil, dan bukan kegiatan ekonomi yang
dikuasasi oleh beberapa orang dengan perusahaan dan skala besar, walaupun yang disebut
terakhir pada hakekatnya adalah juga ‘rakyat’ Indonesia.

Perspektif lain dari ekonomi rakyat dapat pula dilihat dengan menggunakan perspektif jargon:
“ekonomi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” (Krisnamurthi, 2000). “Dari rakyat”,
berarti kegiatan ekonomi itu berkaitan dengan penguasaan rakyat dan aksesibilitas rakyat
terhadap sumberdaya ekonomi. Rakyat menguasai dan memiliki hak atas sumberdaya
untuuk mendukung kegiatan produktif dan konsumtifnya. Dalam hal ini, sumberdaya ekonomi
yang dimaksud adalah segala sumberdaya yang dapat digunakan untuk menjalankan
penghidupan, baik sumberdaya alam, modal, tenaga kerja (termasuk tenaga kerjanya
sendiri), ketrampilan, pengetahuan, juga sumberdaya sosial (kelompok, masyarakat)
sumberdaya jaringan (‘network’), informasi, dan sebagainya.

“Oleh rakyat”, berarti proses produksi dan konsumsi dilakukan dan diputuskan oleh
rakyat. Rakyat memiliki hak atas pengelolaan proses produktif dan konsumtif tersebut.
Berkaitan dengan sumberdaya (produktif dan konsumtif), rakyat memiliki alternatif untuk
memilih dan menentukan sistem pemanfaatan, seperti berapa banyak jumlah yang harus
dimanfaatkan, siapa yang memanfaatkan, bagaimana proses pemanfaatannya,
bagaimana menjaga kelestarian bagi proses pemanfaatan berikutnya, dan sebagainya.
“Untuk rakyat”, berarti rakyat banyak merupakan ‘beneficiaries utama dari setiap kegiatan
produksi dan konsumsi. Rakyat menerima manfaat, dan indikator kemantaatan paling
utama adalah kepentingan rakyat.
Dalam hal ini perlu pula dikemukakan bahwa ekonomi rakyat dapat berkaitan “dengan
siapa saja”, dalam arti kegiatan transaksi dapat dilakukan juga dengan “non-ekonomi-
rakyat”. Juga tidak ada pembatasan mengenai besaran, jenis produk, sifat usaha,
permodalan, dan sebagainya. Ekonomi rakyat tidak eksklusif tetapi inklusif dan terbuka.
Walaupun demikian, sifat fundamental diatas telah pula menciptakan suatu sistem
ekonomi yang terdiri dari pelaku ekonomi, mekanisme transaksi, norma dan kesepakatan
(“rule of the game”) yang khas, yang umumnya telah memfasilitasi ekonomi rakyat untuk
survive dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakatnya.

Berdasarkan pemahaman diatas, maka ekonomi rakyat memiliki dimensi yang luas. Dalam
ekonomi rakyat, pelakunya melakukan kegiatan produksi dan konsumsi. Mereka adalah
orang-orang yang bekerja sendiri dan juga mereka yang bekerja menerima upah. Mereka
adalah kegiatan usaha formal (berijin usaha, seperti koperasi atau CV atau bentuk badan
hukum lain) dan juga sangat banyak yang informal atau nono-formal. Umumnya mereka
berskala mikro dan kecil tetapi juga terdapat beberapa yang berskala menengah. Mereka
memiliki kemandirian dalam mengambil keputusan dan tidak hanya tergantung pada pihak
lain (apakah itu bank, pemilik saham, atau entitas lain). Mereka bisa berada dalam kegiatan
ekonomi tradisional tetapi juga tidak sedikit yang bergerak dalam sistem ekonomi modern.
Mereka sebagian besar hanya beroperasi secara lokal, tetapi beberapa diantaranya juga
memiliki kemampuan dan daya saing internasional yang handal. Mereka bisa melekat pada
badan usaha pemerintah atau swasta. Dan yang terpenting adalah mereka berbasis pada
manusia, keluarga, dan masyarakat; dari pada hanya sekedar angka-angka uang (modal)
atau produk.

Dengan pemahaman diatas pula, dapat dinyatakan bahwa ekonomi Indonesia sebenarnya
adalah berbasis ekonomi rakyat. Ekonomi rakyat (banyak) mencakup 99 % dari total jumlah
unit usaha (business entity), menyediakan sekitar 80 % kesempatan kerja, melakukan lebih
dari 65 % kegiatan distribusi, dan melakukan kegiatan produksi bagi sekitar 55 % produk dan
jasa yang dibutuhkan masyarakat, 60 % diantaranya berada di daerah pedesaan, 65 %
berusaha dibidang pertanian dan kegiatan lain yang terkait, dan menjadi basis dari 63 %
konsumsi domestik, serta tersebar merata diseluruh wilayah Indonesia. Hanya saja,
ketimpangan distribusi aset produktif (formal) – yang sekitar 65 %-nya dikuasai oleh 1 %
pelaku usaha terbesar – menyebabkan kontribusi nilai produksi (GDP) dan ekspor kegiatan
ekonomi raktyat relatif lebih kecil. Peran ekonomi rakyat juga teraktualisasi pada masa krisis
multidimensi saat ini. Jika memang disepakati bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2000
sebesar 4,5 % terutama disebabkan oleh tarikan konsumsi, baik konsumsi domestik maupun
konsumsi asing (ekspor) – terutama karena kegiatan investasi dan pengeluaran pemerintah
yang sangat terbatas – maka dapat diduga bahwa peran ekonomi rakyat sangat signifikan.
Hal ini tersebut didasari oleh argumentasi bahwa rumah tangga yang menggantungkan
kehidupannya dari kegiatan ekonomi rakyat adalah konsumen terbesar, bahkan bagi produk
yang dihasilkan kegiatan ekonomi besar. Daya produktif kegiatan ekonomi rakyatlah yang
mampu mendorong peningkatan konsumsi, termasuk terjaga maraknya berbagai kegiatan
‘masal’ dari ekonomi riil – seperti mudik Lebaran dan naik haji. Indikasi lain dapat pula
ditunjukkan oleh peningkatan kegiatan (tabungan dan penyaluran kredit) hampir diseluruh
lembaga keuangan mikro, peningkatan penjualan kendaraan bermotor roda dua, peningkatan
jumlah berbagai produk pertanian, tetap hidupnya pasar-pasar tradisional pada saat krisis,
dan sebagainya.

Namun demikian perspektif ‘dari, oleh, dan untuk rakyat” tersebut diatas juga
mengetengahkan gambaran suram dari ekonomi rakyat di Indonesia. Penguasaan dan akses
terhadap sumberdaya oleh rakyat (banyak) masih sangat banyak menghadapi masalah.
Perlindungan hukum atas usaha masih lemah, hak atas tanah masih menjadi sesuatu yang
sangat didambakan, posisi rebut-tawar (bargaining position) dalam penguasaan sumberdaya
hampir selalu berada pada titik yang terendah. Bahkan sumberdaya yang tadinya dikuasai
oleh rakyat, dengan mudah berpindah tangan. Kisah konversi lahan pertanian produktif milik
rakyat menjadi lapangan golf, real estate mewah, dan kawasan industri bagi MNC merupakan
bentuk ketidak-berdayaan penguasaan sumberdaya oleh rakyat. Sebaliknya saat lahan HPH
yang telah digunduli dan tidak lagi produktif, “non-ekonomi-rakyat” meninggalkannya begitu
saja sering kali justru dengan tinggalan masalah adanya konflik kepentingan diantara rakyat
sendiri. Perbandingan ketersediaan sumberdaya ‘publik’ seperti listrik, air, dan telpon yang
tidak seimbang antara alokasi untuk bagi kegiatan ekonomi rakyat dan non-ekonomi rakyat,
juga menggambarkan situasi suram aspek “dari rakyat” tersebut.

Rakyat juga sering dibatasi kemampuannya untuk mengambil keputusan. Infrastruktur

fisik dan kelembagaan yang dibangun cenderung mengarah pada penyeragaman proses

pengambilan keputusan yang dirancang tidak oleh rakyat sendiri. Infrastruktur irigasi yang

hanya memfasilitasi teknologi lahan sawah, misalnya, telah membatasi kemampuan

petani mengembangka usahataninya. Tidak ada infrastruktur irigasi yang dirancang untuk

memfasilitasi petani mengembangkan hortikultura atau peternakan. Kelembagaan

koperasi yang diseragamkan menjadi KUD, atau hilangnya kelembagaan panen

tradisional, atau hilangnya kelembagaan lumbung desa, semua akibat introduksi

teknologi dan kelembagaan serba seragam, serta sistem keuangan yang “memaksa”

rakyat menerima sistem yang mensyaratkan berbagai hal tidak sesuai dengan kondisi

naturalnya, juga merupakan fakta-fakta lain yang menunjukkan kemampuan “oleh-rakyat”

menjadi sangat terbatas. Rakyat juga memiliki akses yang sangat terbatas terhadap

informasi dan teknologi, yang pada gilirannya membuat kemampuan pengambilan

keputusan menjadi jauh lebih terbatas.

Aspek “untuk rakyat” menghadapi situasi yang lebih jauh tertinggal. Melalui sistem
perbankan yang terpusat, selama 30 tahun dana yang disedot dari pedesaan 2,5 kali lebih
besar dari dana yang disalurkan kembali ke pedesaan. Kontribusi pertanian dalam bentuk
pangan yang murah dan tenaga kerja yang lebih terdidik, merupakan manfaat yang dirasakan
oleh kegiatan-kegiatan “non-ekonomi-rakyat” sebagia bagian dari strategi “keunggulan
komparatif” berbasis tenaga kerja murah. Mungkin tidak sekejam tanam paksa, tetapi
pengembangan kegiatan ekonomi berbasis buruh murah telah berjalan lama sejak
penjajahan hingga kini. Kemampuan sektor informal kota dalam menyediakan lapangan
pekerjaan dan sistem distribusi kebutuhan pokok dengan murah dan efisien telah pula
menjadi manfaat besar bagi “non-ekonomi-rakyat” dalam mengembangkan sistem kerja yang
tidak memihak pada buruhnya.

Intinya, terdapat ketidak-adilan dalam pengembangan ekonomi. Non-ekonomi-rakyat telah


mendapat banyak kemudahan dan dukungan, karena dipandang lebih sesuai dengan
kepentingan-kepentingan tertentu. Kemudahan dan dukungan tersebut kemudian Kelompok
“non-ekonomi-rakyat” telah banyak mendapat dukungan dari elite pemerintah, dan telah
mengembangkan ketergantungannya pada kelompok tersebut sehingga menjadi kelompok
“elite penguasa-pengusaha”. Dalam hal ini kelompok “non-ekonomi-rakyat” menjadi rentan
terhadap perubahan yang terjadi pada elite penguasa tersebut. Pada saat yang sama sistem
pengembangan yang penuh dengan “dukungan yang distortif” telah tersebut telah menjadikan
“non-ekonomi-rakyat” menjadi lebih terkait dengan ekonomi global. Keterkaitan dengan
pasar dunia, baik pasar barang, pasar uang, dan pasar modal; telah menyebabkan kegiatan
“non-ekonomi-pasar” menjadi kegiatan dengan “banyak pengambil keputusan” dalam dunia
yang tidak berbatas dan masih rentan. Sebaliknya, “ekonomi rakyat” yang tidak mendapat
kesempatan untuk itu, memang mengalami sangat banyak kesulitan untuk berkembang dan
memberi kesejahteraan bagi pelakunya. Dukungan yang relatif kecil dari pemerintah-
penguasa telah menjadikan pelaku ekonomi rakyat tidak sangat tergantung pada kondisi
elite. Kondisi yang “terbatas” terhadap akses ke pasar global juga sekaligus memberi
‘kekebalan’ kepada ekonomi rakyat untuk tidak mudah terpengaruh atas kondisi yang terjadi
didunia internasional, atau bahkan yang terjadi secara nasional. Hal inilah yang kemudian
menjadi preposisi dasar dalam melihat posisi ekonomi rakyat dalam krisis moneter yang
belum lama terjadi dan masih terasa hingga saat ini.

Sebelum membahas krisis moneternya sendiri, ada baiknya disampaikan dahulu perspektif
struktur kelembagaan ekonomi Indonesia pada saat krisis akan terjadi 2) seperti dapat dilihat
pada Gambar 1 berikut ini.

2) Struktur kelembagaan ekonomi tersebut sebenarnya hingga saat ini masih belum banyak
berubah (diubah), walaupun struktur yang demikian itulah krisis ekonomi Indonesia menjadi
begitu parah dan sulit diselesaikan.

Gambar diatas secara skematik menunjukkan bahwa ekonomi rakyat dalam perspektif seperti
Indonesia juga terdapat dinegara-negara lain. De Soto (2000) menjelaskan bahwa dibanyak
negara, ekonomi rakyat yang ‘berbeda’ sistem dan mekanismenya dengan ekonomi berbasis
kapital yang dikenal oleh ‘masyarakat barat’ merupakan basis kegiatan ekonomi negara yang
bersangkutan. Demikian pula dengan “non-ekonomi-rakyat” yang dapat diidentifikasikan
sebagai kelompok kapital global.

Tanpa bermaksud membatasi aktivitas ekonomi dalam dimensi ruang yang kaku, Gambar 1
menunjukkan bahwa

(1) Arus moneter (uang tunai dan modal) dari kegiatan ekonomi rakyat ke kegiatan ‘non-
ekonomi-rakyat’ memiliki volume yang jauh lebih besar dari pada arus sebaliknya. Hal ini
terjadi melalui sistem perbankan, penyedian pangan murah, penyediaan buruh murah,
penyediaan lahan/property murah, dan posisi ekonomi rakyat yang menjadi pasar bagi
produk dan jasa. Kondisi tersebut berlangsung akibat dominasi paduan pengusaha-
penguasa, sistem legal-formal yang “bias-against” ekonomi rakyat, dan kemampuan
menguasai informasi sebagai sarana untuk promosi. Singkatnya, ekonomi rakyat telah
mensubsidi ‘non-ekonomi-rakyat’ dan terjadi fenomena “double squeezed economy”
melalui penyediaan sumberdaya oleh rakyat dan rakyat dijadikan pasar.

(2) Hubungan antara “non-ekonomi rakyat” lokal dengan kapitalisme global juga merupakan
hubungan yang timpang. Pada tahun 1990-an, kapitalisme global tengah berbenah diri
untuk menghadapi abad yang baru yang ditandai oleh dua fenomena besar, yaitu WTO
dan mata uang Euro (Soros, 1998). Dan hal ini membuat mereka sedang berada pada
situasi yang rentan. Sebagai usaha mengantisipasi hal tersebut modal besar dari para
kapitalis global tersebut dialirkan ke kegiatan ekonomi yang dianggap paling menjanjikan,
yaitu Asia. Akibatnya modal, dalam bentuk hutang, mengalir “door-to-door” dengan
derasnya, baik dalam bentuk modal tunai, tawaran saham dan investasi, maupun aliran
input produksi, barang konsumsi, teknologi, bahkan tenaga kerja. Dalam lingkup
domestikpun hutang modal dan hutang konsumsi juga mengalir kesana kemari dengan
sangat cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. Sebaliknya, penggunaan (utilization)
dari modal tersebut belum berjalan dengan baik, karena sebagian dari proses relokasi
industri baru berjalan pada tahap awal.

(3) Aliran moneter dari kapitalme global ke ekonomi rakyat Indonesia relatif kecil. Hal ini
terutama karena kerangka kelembagaannya tidak berkesesuaian (not-compatible).
Kalaupun ada, hanya dalam bentuk dana-dana pinjaman lunak pemerintah yang banyak
kembali ke “negara donor” atau bocor ditengah jalan dari pada diterima oleh ekonomi
rakyat.

(4) Hubungan ekonomi rakyat Indonesia dengan ekonomi rakyat di negara lain juga berjalan
lambat dan tersendat, terutama karena infrastruktur dan institusi perdagangan modern
memang dikuasai oleh para pelaku “non-ekonomi-rakyat”. Hubungan Selatan-Selatan
atau diantara negara-negara Non-Blok secara langsung hampir selalu lebih mahal
dibandingkan dengan menggunakan ‘jasa’ negara ketiga yang mampu menyediakan
layanan infrastruktur perdagangan secara lebih efisien (Isaak, 1995).

Dalam format seperti diataslah situasi ekonomi saat krisis moneter melanda Indonesia. Krisis
moneter yang diawali oleh krisis nilai tukar tersebut sebenarnya telah lama diperkirakan dan
telah diduga meningkat peluangnya saat pergantian abad (lihat Soros, 1998, Giddens, 1998,
atau Ormerod, 1994, atau bahkan Marx (1849) dalam Magnis-Suseno, 1999). Ketika nilai
tukar jatuh, maka “non-ekonomi-rakyat” di Indonesia langsung terpukul telak oleh dua hal
yang sangat ‘mematikan’: membengkaknya nilai hutang dolar dalam rupiah dan mahalnya
biaya produksi yang selama ini berbasis input impor. Perusahaan-perusahaan tidak dapat
lagi menunjukkan kinerja keuangan yang sehat, tidak dapat mengembalikan hutang, dan
pada gilirannya menghancurkan sistem perbankan.

Sampai pada tahap ini ekonomi rakyat masih belum merasakan dampak negatif yang terlalu
besar dari krisis moneter. Bahkan banyak diantaranya yang mendapat ‘rejeki dolar’ karena
harga produk yang dihasilkannya melonjak tinggi sejalan dengan peningkatan nilai dolar,
seperti yang dirasakan para petani coklat dan para pengrajin yang memiliki konsumen di luar
negeri. Hal tersebut terutama juga karena struktur kelembagaan yang diuraikan diatas.
Lemahnya keterkaitan ekonomi rakyat dengan kapitalisme global yang menjadi sumber dari
krisis moneter tersebut, telah menjadi ‘blessing in disguised’ bagi ekonomi rakyat.

Namun ketika krisis moneter berlanjut menjadi krisis ekonomi (pertumbuhan ekonomi
menurun, inflasi meninggi, banyaknya pegawai di PHK, meningginya harga pangan impor,
pengurangan subsidi BBM, dan sebagainya) maka ekonomi rakyat mengalami tekanan yang
semakin berat. Pada tahap inipun sebenarnya daya ‘survival’ ekonomi rakyat sangat tinggi.
Dengan cepat terjadi perubahan-perubahan yang mendasar. Produk yang diimpor diganti
dengan produk lokal atau produk impor yanglebih murah (fenomena motor Cina atau
maraknya produk elektronik lokal dan impor yang “mereknya tidak dikenal sebelumnya”).

Tekanan menjadi semakin berat lagi setelah krisis ekonomi juga memicu krisis sosial politik
dan keamanan, serta serangkaian pilihan kebijakan dalam usaha untuk mengatasi krisis yang
justru menempatkan ekonomi rakyat sebagai pihak yang dikorbankan. Perbankan dan ‘non-
ekonomi-rakyat’ yang notabene menjadi penyebab krisis berusaha ‘diselamatkan’ dengan
menggunakan dana trilyunan rupiah dari sumberdaya negara yang telah sangat terbatas,
sebaliknya kegiatan ekonomi rakyat seolah ditinggalkan. Mencari hutang baru dan
menerapkan sistem legal-formal-konvensional seperti menjadi hal yang dipaksakan harus
ada, padahal kedua hal itu justru telah menunjukkan kemampuan menghadapi tekanan
eksternal yang berat. Sebaliknya sistem ekonomi rakyat yang nyata-nyata telah mampu
bertahan bahkan telah lebih berkembang selama krisis justru tidak diabaikan. Dalam kondisi
rawan keamananpun, kegiatan ekonomi rakyat juga menjadi kegiatan yang paling rentan dan
menderita, saat elite politik berdebat saling mengkritik dan membangun perbedaan
pendapat.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa ekonomi rakyat merupakan korban dari krisis
moneter yang terjadi belum lama ini, terutama akibat timbulnya berbagai masalah setelah
krisis terjadi (bukan oleh krisis moneter itu sendiri) dan akibat pilihan kebijakan yang
diterapkan sebagai usaha mengatasi krisis. Oleh karenanya, yang harus dilakukan terutama
adalah untuk merubah pendekatan kebijakan yang tidak memihak kepada ekonomi rakyat.
Atau setidaknya yang perlu dikembangkan kebijakan yang ‘not-against’ atau netral terhadap
ekonomi rakyat. Beberapa koreksi yang perlu dilakukan, karena selama ini kebijakan
ekonomi sering kali membawa ciri-ciri sebagai berikut (Krisnamurthi, 2001):

a. Pertimbangan dalam penetapan kebijakan tersebut seringkali memang tidak atas dasar
kepentingan kegiatan ekonomi rakyat. Misalnya, pembentukan tingkat bunga melalui
berbagai instrumen moneter lebih didasarkan pada kepentingan ‘balance of payment’ dan
penyehatan perbankan; atau dilihat dari pemanfaatan cadangan pemerintah yang sangat
besar bagi rekapitalisasi bank, padahal bank tidak (dapat) melayani kegiatan ekonomi
rakyat; atau penetapan kebijakan perbankan sendiri yang penuh persyarakatan yang
tidak sesuai dengan kondisi objektif ekonomi rakyat, padahal mereka adalah pemilik-
suara (voter) terbanyak yang memilih pada pembuat keputusan. Dalam hal ini,
mengingat lamanya pengaruh lembaga internasional (WB, IMF, dll) patut pula diduga
bahwa perancangan pola kebijakan tersebut juga membawa kepentingan internasional
tersebut. Demikian juga, berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah daerah dalam
rangka otonomi daerah juga telah mengindikasikan pertimbangan yang tidak berorientasi
ekonomi rakyat. Otonomi seharusnya juga berarti perubahan

b. Kebijakan pengembangan yang dilakukan lebih banyak bersifat regulatif dan merupakan
bentuk intervensi terhadap kegiatan yang telah dilakukan oleh ekonomi rakyat. Inovasi
dan kreativitas ekonomi rakyat, terutama dalam mengatasi berbagai kelemahan dan
keterbatasan yang dihadapi, sangat tinggi. Namun banyak kasus yang menunjukkan
bahwa kebijakan yang dikembangkan lebih banyak membawa norma dan pemahaman
dari “luar” dari pada mengakomodasi apa yang sudah teruji berkembang dalam
masyarakat. Posisi lembaga keuangan mikro dalam sistem keuangan nasional
merupakan salah satu contoh terdepan dalam permasalahan ini.

c. Kebijakan pengembangan yang dilakukan cenderung bersifat ‘ad-hoc’ dan parsial.


Banyaknya kebijakan yang dilakukan oleh banyak pihak sering kali bersifat kontra
produktif. Seorang Camat atau kepala desa atau kelompok masyarakat misalnya, sering
kali harus menerima limpahan pelaksanaan ‘tugas’ hingga 10 atau 15 program dalam
waktu yang bersamaan, dari berbagai instansi yang berbeda dan dengan metode dan
ketentuan yang berbeda. Tumpang tindih tidak dapat dihindari, pengulangan sering
terjadi tetapi pada saat yang bersamaan banyak aspek yang dibutuhkan justru tidak
dilayani.

d. Mekanisme penghantaran kebijakan (delevery mechanism) yang tidak apresiatif juga


merupakan faktor penentu keberhasilan kebijakan. Kemelut Kredit Usaha Tani (KUT)
merupakan contoh kongkrit dari masalah mekanisme penghantaran tersebut. Demikian
pula sikap birokrasi yang ‘memerintah’, merasa lebih tahu, dan ‘minta dilayani’
merupakan permasalahan lain dalam implementasi kebijakan. Sikap tersebut sering kali
jauh lebih menentukan efektivitas kebijakan.

e. Banyak kebijakan yang bersifat ‘mikro’, padahal yang lebih dibutuhkan oleh ekonomi
rakyat adalah kebijakan makro yang kondusif. Dalam hal ini, tingkat bunga yang
kompetitif, alokasi kebijakan fiskal yang lebih seimbang sesuai dengan porsi pelaku
ekonomi, dan kebijakan nilai tukar, disertai berbagai kebijakan pengaturan (regulative
policy) tampaknya masih jauh dari harapan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Perbaikan atas pola kebijakan tersebut diatas harus segera dilakukan. Jika tidak, peluang
untuk keluar dari krisis akan semakin kecil, bahkan akan terbuka kembali peluang terjadinya
krisis berikutnya yang sangat mungkin akan lebih luas dampaknya bagi kehidupan sosial
ekonomi masyarakat. Jika memang belum dapat dilakukan kebijakan yang mendukung
ekonomi rakyat, atau juga masih kesulitan untuk membuat kebijakan yang netral terhadap
ekonomi rakyat, minimal jangan buat kebijakan yang merugikan ekonomi rakyat, atau jangan
buat kebijakan apapun dan biarkan ekonomi rakyat berkembang dengan kemampuannya
sendiri. Yakinlah, rakyat Indonesia mampu melakukan hal itu.-

Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi: Direktur Pusat Studi Pembangunan, Institut Pertanian Bogor
(IPB)

Makalah disampaikan dalam Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat, Krisis Moneter Indonesia, Jakarta,
9 April 2002

PUSTAKA

1. De Soto, Hernando. 2001. The Missing Ingredient. CIDA Forum on Knowledge and
Information. (www.idrc.ca/library/forum/desoto.html)

2. De Soto, Hernando. 2000. The Mystery of Capital, Why Capitalism Triumphs in the
West and Fails Everywhere Else. Basic Books, New York.

3. Giddens, Anthony. 1998. The Third Way, The Renewal of Society Democracy.
Blackwell Publisher. MA.

4. Krisnamurthi, Bayu. 2001. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Mencari Format


Kebijakan Optimal. Makalah pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat : Strategi
Revitalisasi Perekonomian Indonesia. CSIS- Bina Swadaya, Jakarta 21 Februari 2001;
telah pula dipublikasikan dalam Jurnal Ekonomi Rakyat (online, www.ekonomi-
rakyat.org)

5. Krisnamurthi, Bayu. 2000. Ekonomi Rakyat dan Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan
Laut. Makalah pada Lokakarya Pengelolaan Sumberdaya Pantai dan Laut,
Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta, Nopember 2000.

6. Ormerod, Paul. 1994. The Death of Economics. Cambridge University Press.


London.

7. Magis-Suseno, Franz. 1999. Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke


Perselisihan Revisionisme. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

8. Soros, George. 1998. The Crisis of Global Capitalism. Open Society Endangered.
Little Brown Company. London.

[Artikel - Th. I - No. 5 - Juli 2002]


Manifesto Politik Ekonomi Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

PEMBANGUNAN INDONESIA YANG BERKEADILAN SOSIAL

I. Duabelas seri Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat (SPER) selama 6 bulan (Januari
– Juni 2002) telah memperdalam pemahaman tentang pengertian ekonomi rakyat dan
peranannya dalam pembangunan Indonesia. Duabelas sesi SPER membahas topik-
topik sebagai berikut:

1. Pembukaan: Pengertian Dasar Ekonomi Rakyat,


2. Ekonomi Rakyat dan Kemiskinan,
3. Sistem Ekonomi Indonesia,
4. Ekonomi Moral dan Etika Bisnis,
5. Sejarah dan Politik Pertanian Indonesia,
6. Krisis Moneter Indonesia,
7. Utang Luar Negeri dan Pembangunan,
8. Otonomi Daerah,
9. Koperasi,
10. LKM (Lembaga Keuangan Mikro),
11. Keswadayaan.

II. Sejarah ekonomi bangsa selama masa penjajahan 3,5 abad menggambarkan
eksploitasi sistem kapitalisme liberal atas ekonomi rakyat yang berakibat pada
pemiskinan dan distribusi pendapatan dan kekayaan masyarakat yang sangat pincang.
Struktur sosial ekonomi yang tak berkeadilan sosial ini, melalui tekad luhur proklamasi
kemerdekaan, hendak diubah menjadi masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan
Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,
Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh
Rakyat Indonesia.

III. Dengan warisan sistem ekonomi dualistik dan sistem sosial-budaya pluralistik, bangsa
Indonesia membangun melalui “eksperimen” sistem sosialis dan sistem kapitalis dalam
suasana sistem ekonomi global yang bernaluri pemangsa (predator). Eksperimen
pertama berupa sistem ekonomi sosialis (1959-66) gagal karena tidak sesuai dengan
moral Pancasila dan pluralisme bangsa, sedangkan eksperimen kedua yang
“demokratis” berdasar sistem kapitalisme pasar bebas (1966 – 1998) kebablasan
karena paham internasional liberalisme cum neoliberalisme makin agresif menguasai
ekonomi Indonesia dalam semangat globalisasi yang garang. Krisis moneter yang
menyerang ekonomi Indonesia tahun 1997 merontokkan sektor perbankan-modern
yang keropos karena sektor yang kapitalistik ini terlalu mengandalkan pada modal
asing. Utang-utang luar negeri yang makin besar, baik utang pemerintah maupun
swasta, makin menyulitkan ekonomi Indonesia karena resep-resep penyehatan ekonomi
dari ajaran ekonomi Neoklasik seperti Dana Moneter Internasional (IMF) tidak saja tidak
menguatkan, tetapi justru melemahkan daya tahan ekonomi rakyat. Sektor ekonomi
rakyat sendiri khususnya di luar Jawa menunjukkan daya tahan sangat tinggi
menghadapi krisis moneter yang berkepanjangan. Ekonomi Rakyat yang tahan banting
telah menyelamatkan ekonomi nasional dari ancaman kebangkrutan.

IV. Krisis sosial dan krisis politik yang mengancam keutuhan bangsa karena meledak
bersamaan dengan krisis moneter 1997 bertambah parah karena selama lebih dari 3
dekade sistem pemerintahan yang sentralistik telah mematikan daya kreasi daerah dan
masyarakat di daerah-daerah. Desentralisasi dan Otonomi Daerah untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat daerah dalam pembangunan ekonomi, sosial-budaya, dan politik
daerah, menghadapi hambatan dari kepentingan-kepentingan ekonomi angkuh dan
mapan baik di pusat maupun di daerah. Ekonomi Rakyat di daerah-daerah dalam
pengembangannya memerlukan dukungan modal, yang selama bertahun-tahun
mengarus ke pusat karena sistem perbankan sentralistik. Modal dari daerah makin
deras mengalir ke pusat selama krisis moneter. Undang-undang Otonomi Daerah dan
Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah dikembangkan melalui kelembagaan ekonomi
dan keuangan mikro, dan peningkatan kepastian usaha di daerah-daerah. Kepastian
usaha-usaha di daerah ditingkatkan melalui pengembangan sistem keuangan Syariah
dan sistem jaminan sosial untuk penanggulangan kemiskinan, dan pengembangan
program-program santunan sosial, kesehatan, dan pendidikan.

V. Krisis Moneter juga menciptakan suasana ketergantungan ekonomi Indonesia pada


kekuatan kapitalis luar negeri, lebih-lebih melalui cara-cara pengobatan Dana Moneter
Internasional (IMF) yang tidak mempercayai serta mempertimbangkan kekuatan
ekonomi rakyat dalam negeri khususnya di daerah-daerah. Kebijakan, program, dan
teori-teori ekonomi yang menjadi dasar penyusunannya didasarkan pada model-model
pembangunan Neoklasik Amerika yang agresif tanpa mempertimbangkan kondisi nyata
masyarakat plural di Indonesia. Pakar-pakar ekonomi yang angkuh, yang terlalu
percaya pada model-model teoritik-abstrak, berpikir dan bekerja secara eksklusif tanpa
merasa memerlukan bantuan pakar-pakar non-ekonomi seperti sosiologi, ilmu-ilmu
budaya, dan etika. Strategi pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan
makro dengan mengabaikan pemerataan dan keadilan telah secara rata-rata menaikkan
peringkat ekonomi Indonesia dari negara miskin ke peringkat negara berpendapatan
menengah, namun disertai distribusi pendapatan dan kekayaan yang timpang, dan
kemiskinan yang luas. Reformasi ekonomi, politik, sosial-budaya, dan moral, membuka
jalan pada reformasi total mengatasi berbagai kesenjangan sosial-ekonomi yang makin
merisaukan antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin, antara daerah-daerah
yang maju seperti Jawa dan daerah-daerah luar Jawa yang tertinggal.

VI. Kemerosotan Etika Pembangunan khususnya di bidang hukum dan bisnis modern
berkaitan erat dengan pemaksaan dipatuhinya aturan main global yang masih asing dan
sulit dipenuhi perusahaan-perusahaan nasional. Aturan main globalisasi dengan paham
Neoliberal yang garang terutama berasal dari ajaran “Konsensus Washington” telah
menyudutkan peranan negara-negara berkembang termasuk Indonesia. KKN (Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme) merupakan jalan pintas para pelaku bisnis untuk memenangkan
persaingan secara tidak bermoral yang merasuk pada birokrasi yang berciri semi-feodal.
Etika Ekonomi Rakyat yang jujur, demokratis, dan terbuka, yang menekankan pada
tindakan bersama (collective action) dan kerjasama (cooperation), merupakan kunci
penyehatan dan pemulihan ekonomi nasional dari kondisi krisis yang berkepanjangan.
Inilah moral pembangunan nasional yang percaya pada kekuatan dan ketahanan
ekonomi bangsa sendiri.

VII. Mengingat berbagai konstatasi di atas, kami yang mewakili:

1. Pusat P3R-YAE (Pusat Pengkajian dan Pengembangan


Perekonomian Rakyat – Yayasan Agro Ekonomika)
2. Komisi Ilmu-ilmu Sosial – AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan
Indonesia)
3. Bina Swadaya
4. Perhepi (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia)
5. ISI (Ikatan Sosiologi Indonesia)
6. Gema PKM (Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro
Indonesia),

Yang telah bahu-membahu melaksanakan Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat di


Jakarta selama 6 bulan sejak 22 Januari hingga 2 Juli 2002 menyampaikan :
MANIFESTO POLITIK EKONOMI PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT, sebagai
berikut:

A. Sistem Ekonomi Nasional


Sistem Ekonomi Nasional Indonesia adalah Sistem Ekonomi Kerakyatan yaitu
ekonomi berasas kekeluargaan yang demokratis dan bermoral dengan pemihakan
pada sektor ekonomi rakyat. Pemihakan dan perlindungan pada ekonomi rakyat
merupakan strategi memampukan dan memberdayakan pelaku-pelaku ekonomi
rakyat yang sejak zaman penjajahan dan setengah abad Indonesia Merdeka selalu
dalam posisi tidak berdaya. Prasyarat sistem ekonomi nasional yang berkeadilan
sosial adalah berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan
berkepribadian di bidang budaya.
B. Paradigma Pembangunan
Moral Pembangunan yang mendasari paradigma pembangunan Indonesia yang
berkeadilan sosial mencakup:

1. peningkatan partisipasi dan emansipasi rakyat laki-laki dan


perempuan serta otonomi daerah;
2. penyegaran nasionalisme ekonomi melawan ketidakadilan;
3. pendekatan pembangunan berkelanjutan yang multidisipliner dan
multikultural;
4. pencegahan kecenderungan disintegrasi nasional;
5. pengkajian ulang pendidikan dan pengajaran ilmu ekonomi dan
ilmu-ilmu sosial di universitas.
6. penghormatan HAM dan masyarakat.

C. Kebijakan dan Strategi:

1. Ketetapan Hati. Pemerintah dan wakil-wakil rakyat senantiasa berketetapan


hati meningkatkan taraf kehidupan masyarakat terutama ekonomi rakyat di
daerah-daerah terpencil yang menggunakan sumberdaya alam setempat,
dengan kekuatan modal sendiri, teknologi tepat guna, dan pasar terbatas.

2. Kemiskinan. Kemiskinan mewarnai ekonomi rakyat sejak zaman


penjajahan. Meskipun selama era Orde Baru kemiskinan absolut mulai
berkurang, namun kemiskinan relatif meningkat karena perbedaan yang
makin besar dalam peningkatan kesejahteraan kelompok-kelompok
masyarakat. Kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan
yang adil berpihak dan bersasaran pada kelompok yang paling miskin.

3. Pengangguran. Penduduk miskin di Indonesia bukanlah penganggur penuh,


tetapi bekerja namun dengan pendapatan rendah. Mereka itulah pelaku-
pelaku ekonomi rakyat yang memerlukan dukungan program-program
pemberdayaan. Program-program pemberdayaan yang diprakarsai
pemerintah dikembangkan menjadi program-program milik kelompok-
kelompok swadaya masyarakat yang mandiri, dengan bantuan dana bergulir
dari pemerintah, LSM, atau sumber-sumber dana lain.

4. Perbankan. Industri perbankan sebagai lembaga keuangan intermediasi


yang telah berkembang cepat melalui kebijakan deregulasi (1983–93),
dibenahi sungguh-sungguh agar tidak memperdaya tetapi benar-benar
memberdayakan ekonomi rakyat. Melalui pengembangan program-program
keuangan mikro, perbankan dikaitkan dengan lembaga-lembaga keuangan
asli masyarakat berdasarkan adat setempat yang sudah lama diterapkan
kelompok-kelompok masyarakat kecil.
5. Kebijakan pertanian yang memihak petani. Program pembangunan yang
berhasil meningkatkan produksi pertanian terutama pangan, patut
dipertimbangkan untuk kembali dilaksanakan, dengan reformasi Agraria,
pengelolaan sumberdaya alam, dan perbaikan dasar tukar (term of trade)
komoditi-komoditi pertanian, termasuk komoditi ekspor perkebunan yang
dihasilkan daerah-daerah tertentu di luar Jawa.

6. Hubungan Keuangan Pusat Daerah. Dalam era otonomi daerah diperlukan


hubungan keuangan yang adil, imbang, dan harmonis, antara pusat dan
daerah. Program-program pembangunan daerah mengembangkan potensi-
potensi ekonomi dari daerah-daerah yang kaya sumbedaya alam, dengan
sekaligus tidak meninggalkan daerah-daerah yang miskin sumberdaya alam
namun berpotensi besar dalam sumberdaya manusia.

7. Pengelolaan Perdagangan Bebas. Proses meningkatnya perdagangan


bebas sebagai konsekuensi dan kaitan eratnya dengan globalisasi yang
makin garang mengharuskan Indonesia mengelola secara hati-hati
perdagangan luar negerinya dan meningkatkan kerjasama ekonomi-
perdagangan dalam negeri. Perdagangan ekspor-impor penting sekali, tetapi
yang tidak kalah penting adalah melancarkan hubungan dagang antardaerah
di Indonesia sendiri dalam rangka negara kesatuan yang kuat dan utuh.
Keterpaduan hubungan ekonomi-perdagangan antardaerah merupakan kunci
kemampuan dan ketahanan ekonomi nasional.

VIII. PENUTUP

(1). Krisis moneter (Krismon) dan krisis multidimensi yang mencakup berbagai bidang
kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat, tidak seharusnya dijadikan alasan
ekonomi Indonesia menjadi makin tergantung pada utang dan kepentingan-
kepentingan ekonomi luar negeri. Sebaliknya, daya tahan ekonomi Indonesia
semakin dikukuhkan di perdesaan dan daerah-daerah luar Jawa. Dalam masa
dekat hubungan ekonomi pusat-daerah dan antardaerah dalam rangka otonomi
daerah ditingkatkan, diserasikan, dan diselaraskan. Peningkatan daya tahan
ekonomi nasional yang berlandaskan ekonomi rakyat lebih mendesak ketimbang
peningkatan daya saing yang liberal-kapitalistik. Gerakan koperasi sebagai
wadah kegiatan ekonomi rakyat makin digalakkan agar berperan makin besar
dalam memajukan perekonomian nasional yang tangguh.

(2). Manifesto Politik Ekonomi Pemberdayaan Ekonomi Rakyat merupakan


manifestasi kesadaran akan kekeliruan “eksperimen” sistem ekonomi yang tidak
mempercayai rakyat. Penelitian demi penelitian ke daerah-daerah dan desa-desa
di seluruh Indonesia menunjukkan betapa krisis moneter yang berkepanjangan
tidak menghancurkan ekonomi Indonesia, dan betapa ramalan akan terjadinya
“kiamat” dalam perekonomian Indonesia benar-benar keliru. Pesimisme
berlebihan tentang masa depan perekonomian Indonesia sebaiknya tidak
dibiarkan. Sebaliknya optimisme yang penuh kewaspadaan akan menjamin
tercapainya sasaran pembangunan nasional menuju terwujudnya masyarakat
yang adil dan makmur berdasar Pancasila.

(3). Melalui pengkajian ulang model pembangunan ekonomi Neoklasik ala Amerika
yang kapitalistik, neoliberal, dan non-kultural, Indonesia dapat menghindari
proses imperialisme intelektual yang tanpa disadari telah mempertukarkan tiga
setengah abad penjajahan fisik dengan tiga setengah dasawarsa penjajahan
Neoliberal. Sungguh sulit membayangkan masa depan bangsa jika cendekiawan
muda Indonesia tidak menyadarinya dan tidak mampu menyiasatinya.

Jakarta, 02 Juli 2002


[Artikel - Th. I - No. 7 - September 2002]

Yaumil Ch. Agoes Achir

JAMINAN SOSIAL NASIONAL INDONESIA

Latar Belakang

Jaminan Sosial Nasional adalah program Pemerintah dan Masyarakat yang bertujuan
memberi kepastian jumlah perlindungan kesejahteraan sosial agar setiap penduduk dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya menuju terwujudnya kesejahteraan sosial bagi seluruh
masyarakat Indonesia. Perlindungan ini diperlukan utamanya bila terjadi hilangnya atau
berkurangnya pendapatan.

Jaminan sosial merupakan hak asasi setiap warga negara sebagaimana tercantum dalam
UUD 1945 Pasal 27 ayat 2. Secara universal jaminan sosial dijamin oleh Pasal 22 dan 25
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia oleh PBB (1948), dimana Indonesia ikut
menandatanganinya. Kesadaran tentang pentingnya jaminan perlindungan sosial terus
berkembang, seperti terbaca pada Perubahan UUD 45 tahun 2002, Pasal 34 ayat 2, yaitu
“Negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat….”.

Perlindungan jaminan sosial mengenal beberapa pendekatan yang saling melengkapi yang
direncanakan dalam jangka panjang dapat mencakup seluruh rakyat secara bertahap sesuai
dengan perkembangan kemampuan ekonomi masyarakat. Pendekatan pertama adalah
pendekatan asuransi sosial atau compulsory social insurance, yang dibiayai dari kontribusi/
premi yang dibayarkan oleh setiap tenaga kerja dan atau pemberi kerja. Kontribusi/ premi
dimaksud selalu harus dikaitkan dengan tingkat pendapatan/ upah yang dibayarkan oleh
pemberi kerja. Pendekatan kedua berupa bantuan sosial (social assistance) baik dalam
bentuk pemberian bantuan uang tunai maupun pelayanan dengan sumber pembiayan dari
negara danbantuan sosial dan masyarakat lainnya.

Beberapa negara yang menganut welfare state yang selama ini memberikan jaminan sosial
dalam bentuk bantuan sosial mulai menerapkan asuransi sosial. Utamanya karena jaminan
melalui bantuan sosial membutuhkan dana yang besar dan tidak mendorong masyarakat
merencanakan kesejahteraan bagi dirinya. [1] Disamping itu, dana yang terhimpun dalam
asuransi sosial dapat merupakan tabungan nasional. Secara keseluruhan adanya jaminan
sosial nasional dapat menunjang pembangunan nasional yang berkelanjutan. Pengaturan
dalam jaminan sosial ditinjau dari jenisnya terdiri dari jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan
kerja, jaminan pemutusan hubungan kerja, jaminan hari tua, pensiun, dan santunan
kematian.

[1] Australia, sejak tahun 1992, telah menerapkan asuransi sosial wajib.

Sebenarnya, selama dekade terakhir di Indonesia telah ada beberapa program jaminan sosial
dalam bentuk asuransi sosial, namun baru mencakup sebagian kecil pekerja di sektor formal.
Dari 95 juta angkatan kerja, baru 24,6 juta jiwa memperoleh jaminan sosial, atau baru 12%
dari jumlah penduduk. Sementara di Thailand dan Malaysia masing-masing mencapai 50%
dan 40% dari total penduduk. [2] Krisis ekonomi yang menyebabkan angka pengangguran
melonjak dengan tajam telah menimbulkan berbagai masalah sosial ekonomi. Dalam kondisi
seperti ini jaminan sosial dapat membantu menanggulangi gejolak sosial.

[2] Kantor Menko EKUIN bekerjasama dengan LPUI Kajian Kebijakan Jaminan Sosial, Desember 2002
Fakta tersebut membuktikan bahwa amanat UUD pasal 27 ayat 2 sebagian besar belum
dapat dilaksanakan sehingga langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya diperlukan,
antara lain dengan menyusun suatu Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN).

Menyadari masih terbatasnya jangkauan jaminan sosial yang ada dan beberapa kekurangan
dalam pengaturan dan penyelenggaraannya, serta betapa pentingnya peran jaminan sosial
dalam pemberian perlindungan utamanya di saat berkurangnya pendapatan maka dianggap
perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui penerbitan Undang-undang yang
akan mengatur Substansi, Kelembagaan dan Mekanisme Sistem Jaminan Sosial yang
berlaku secara nasional. Sistem Jaminan Sosial yang akan dibangun ini haruslah sifatnya adil
dengan tingkat kepercayaan publikyang tinggi dan transparan dalam penyelenggaraannya.

Putusan Sidang Tahunan MPR RI tahun 2001 menugaskan kepada Presiden


untukmembentuk Sistem Jaminan Sosial Nasional dalam rangka memberikan perlindungan
sosial yang lebih menyeluruh dan terpadu. Untuk itu Presiden mengambil inisiatif menyusun
Rancangan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional. Presiden dengan Kepres No. 20 tahun
2002 membentuk Tim SJSN. Kepres ini didahului dengan Keputusan Sekretaris Wakil
Presiden No. 7 Tahun 2001, semasa Ibu Presiden sebagai Wakil Presiden.

Saat ini Tim SJSN telah melakukan pembahasan yang cukup mendalam tentang substansi,
kelembagaan, mekanisme dan program-program jaminan sosial. Sistem Jaminan Sosial
Nasional yang akan dibangun bertumpu pada konsep asuransi sosial..

Substansi

Sistem Jaminan Sosial Nasional yang akan disusun adalah suatu sistem yang berdasarkan
pada asas gotong royong melalui pengumpulan iuran dan dikelola melalui mekanisme
asuransi sosial. Pelaksanaannya diatur oleh suatu Undang-Undang dan diterapkan secara
bertahap sesuai dengan perkembangan dan kemampuan ekonomi Nasional serta
kemudahan rekruitmen dan pengumpulan iuran secara rutin.

Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan prosentase tertentu dari pendapatan. Cakupan


kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok masyarakat yang mampu
mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai pada kelompok masyarakat
yang rentan dan tidak mampu, dimama iuran sebagian atau sepenuhnya dibayarkan oleh
pemerintah.

Karena Jaminan Sosial Nasional tersebut diwujudkan melalui mekanisme asuransi sosial
maka manfaat yang akan diperoleh peserta tergantung pada besarnya iuran. Manfaat yang
diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang kebih besar dari waktu
ke waktu.

Jaminan Sosial Nasional tersebut perlu diatur agar bersifat wajib untuk seluruh tenaga kerja,
baik di sektor formal maupun informal, baik yang berpendapatan besar maupun kecil
sehinggan dapat terwujud asas kegotong-royongan dan redistribusi pendapatan dari yang
kaya ke yang miskin. Cakupan kepesertaan dilakukan secara bertahap dimulai dari kelompok
masyarakat yang mampu mengiur dan secara bertahap diupayakan menjangkau sampai
pada kelompok masyarakat yang rentan dan tidak mampu, dimana iuran sebagian atau
sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah. Karena ada unsur wajib bagi semua pekerja
tersebut maka diperlukan adanya Undang-Undang untuk mengaturnya. Namun, secara
sukarela pekerja dapat mengikuti program lain dengan kontribusi yang lebih besar dan
memperoleh manfaat yang lebih banyak pula (asuransi komersil).

Pengelolaan Jaminan Sosial Nasional menganut prinsip Wali Amanah, yang mewakili
stakeholder dalam hal ini peserta/ pekerja, pembekerja, dan pemerintah pengumpulan dan
pengelola iuran perlu ditunjang oleh keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas dan efisiensi.
Penyelenggaraan dilakukan non-for-profit. Pengertian non-for-profit bukanlah berarti tidak
perlu mengembangkan atau menginvestasikan dalam rangka meningkatkan akumulasi dana
yang ada, tetapi hasil yang diperoleh nantinya akan dikembalikan atau dimanfaatkan
sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta (merupakan going concern asuransi sosial).

Program-Program SJSN

Program-program pokok SJSN yang akan dikembangkan disesuaikan dengan konvensi ILO
No. 102 tahun 1952 yang juga diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia, yaitu Program Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan (JPK), Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Program
Jaminan Pemutusan Hubungan Kerja (JPHK), Program Jaminan Hari Tua (JHT), Program
Pensiun, dan Program Santunan Kematian.

Mekanisme SJSN

Mekanisme penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi pengaturan


kepesertaan, iura, santunan/ manfaat, dan investasi. Perluasan cakupan kepesertaan
dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi ekonomi negara dan masyarakat, serta
kemudahan dalam rekruitmen dan pengumpulannya secara rutin.

Besarnya iuran/ premi dihitung berdasarkan analisis aktuaria yang disesuaikan dengan
programmanfaat yang akan diberikan, struktur dan trend demografi serta resiko yang
dihadapi, ditetapkan dalam prosentase tertentu terhadap upah dengan mempertimbangkan
kemampuan/ pendapatan penduduk. Iuran/ premi ditanggung bersama oleh pemberi kerja
dan pekerjanya.

Pelayanan santunan dan klaim disesuaikan dengan besarnya iuran dan jenis program yang
diikuti. Manfaat yang diberikan harus cukup berarti sehingga mendorong kepesertaan yang
lebih besar dari waktu ke waktu.

Dana iuran/ premi/ kontribusi peserta yang terkumpul perlu dikelola dan diawasi oleh suatu
Dewan Wali Amanah (Board of Trustee) dan hanya digunakan untuk kepentingan pesertanya
sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Sebagian dana yang terkumpul
perlu diinvestasikan dan dikembangkan seaman mungkin. Karena prinsip “non-for-profit”,
maka hasil investasi tersebut akan dikembalikan dan digunakan sebesar-besarnya untuk
kepentingan peserta.

Untuk dapat menjamin efektifitas dan efisiensi penyelenggaraannya, diperlukan adanya


dukungan Sistem Informasi Manajemen serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang
handal. Dalam pengelolaannya, perlu menerapkan “good corporate governance”
(transparency, objectivity, accountibility, dan responsibility).

Kelembagaan

Dalam rangkan menjamin pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional diperlukan


suatu lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menjabarkan Undang-undang SJSN,
mengkoordinir, memonitor, dan mengawasi pelaksanaan program-program, pengelola dana
dan investasi serta pemasyarakatan program Jaminan Sosial Nasional sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.

Lembaga ini berada langsung di bawah Presiden dibantu Dewan Menteri yang terkait dan
beranggotakan wakil pemerintah, wakil pekerja, wakil pemberi kerja dan pakar di bidangnya.

Selama Undang-undang SJSN disiapkan maka lembaga-lembaga yang ada dapat


melanjutkan kegiatannya, untuk kemudian setelah Undang-undang SJSN rampung dan
dilaksanakan maka program-program yang sejalan dapat menyesuaikan dengan Undang-
undang SJSN tersebut selama masa transisi yang akan ditetapkan. Tidak tertutup
kemungkinan munculnya lembaga penyelenggaraan lain.
Penutup

Tim SJSN beranggotakan wakil dari berbagai instansi pemerintah, LSM dan Pakar. Konsep
awal SJSN tersebut di atas juga telah menghimpun masukan dari beberapa serikat pekerja
dan asosiasi pengusaha. Diharapkan masukan-masukan guna memperkaya konsep awal
tersebut sebagai bahan penyusunan Naskah Akademik yang kemudian akan dituangkan
dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Diharapkan RUU SJSN
dapat dirampungkan sebelum bulan Desember 2002.

Prof. Dr. Yaumil Chairiah Agoes Achir, Ketua Tim Sistem Jaminan Sosial SJSN Nasional,
Deputi Sekretaris Wakil Presiden, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasionan
(BKKBN)

Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Menggalang Masyarakat Indonesia Baru yang Berkemanusiaan”.
Diselenggarakan oleh Ikatan Sosiologi Indonesia, tanggal 28 Agustus 2002 di Bogor.
[Artikel - Th. I - No. 9 - November 2002]

Mubyarto

EKONOMI RAKYAT INDONESIA PASCA KRISMON

Pendahuluan
Selama 5 bulan (Juni-Oktober 2000) Pusat Penelitian Kependudukan UGM bekerjasama
dengan RAND Corporation Santa Monica mengadakan Survei Aspek Kehidupan Rumah
Tangga Indonesia (SAKERTI) di 13 propinsi dengan mewawancarai 10.000 keluarga atau
43.000 orang. Survei yang telah diadakan untuk ketigakalinya ini mewawancarai
keluarga-keluarga yang sama (panel) yang menjadi sampel sejak Sakerti 1 (1993) dan
Sakerti 2 (1997). Pada tahun 1998 khusus untuk meneliti dampak krismon yang sedang
berlangsung, dilaksanakan Sakerti 2+ dengan mengambil 25% sub-sampel. Penemuan-
penemuan Sakerti 2+ yang telah disebarluaskan melalui beberapa tulisan antara lain oleh
Elizabeth Frankenberg, James Smith, dan Kathleen Beegle (1999) mengejutkan banyak
pihak karena berbeda dengan “anggapan umum”. Namun sejumlah peneliti lain seperti
kelompok SMERU menemukan hal-hal yang sejalan dengan penemuan Sakerti 3
khususnya dalam dampak krismon yang tidak terlalu parah terhadap kehidupan
keluarga/perorangan. Kami sendiri yang mengadakan kunjungan lapang ke berbagai
desa selama 1998-1999 juga mencatat pernyataan banyak warga desa bahwa “krisis ini
belum apa-apa dibanding krisis yang lebih berat pada jaman Jepang, awal kemerdekaan,
dan krisis ekonomi tahun 1965-66". [1]

[1] Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Yogyakarta , Aditya Media, hal 129-139.

Demikian keparahan krismon 1997 yang menjadi polemik nasional selanjutnya tenggelam

karena pendapat yang lebih condong ke “dampak yang parah” lebih populer agar tidak

menghambat peluncuran program-program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lebih-lebih

yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Program-program JPS adalah program

untuk menolong penduduk miskin yang sedang dalam kesusahan sehingga tidaklah

dianggap bijaksana menyebarluaskan penemuan kajian-kajian yang menyimpulkan

dampak krismon tidak parah. Peneliti-peneliti Indonesia yang jujur melaporkan kenyataan

dari lapangan terpaksa mengendalikan diri “demi kemanusiaan”. Namun kemudian

mereka merasa terpukul membaca komentar penerima hadiah Nobel Ilmu Ekonomi tahun

1998 Amartya Sen yang menyindir mereka yang telah membesar-besarkan dampak krisis

koneter di Asia Timur.

It may wondered why should it be so disastrous to have, say, a 5 or 10 percent fall in gross
national product in one year when the country in question has been growing at 5 or 10
percent per year for decades. Indeed, at the aggregate level this is not quintessentially a
disastrous situation. (Sen, 1999: 187)

Setelah laporan Sakerti 2+ sedikit dilunakkan “demi kemanusiaan”, kini Sakerti 3 yang
dilaksanakan 3 tahun setelah krisis dan 2 tahun setelah Sakerti 2+, ternyata memperkuat
penemuan-penemuan Sakerti 2+. Tanpa diduga, dampak yang “menyingkirkan” berita “krisis
belum apa-apa” ini merugikan penduduk miskin dan bertentangan dengan kepentingan
melidungi dan memajukan ekonomi rakyat, karena telah dimanfaatkan secara licik oleh
kelompok tidak miskin yaitu golongan ekonomi kuat dan sektor industri modern dalam rangka
menuntut pemerintah menyelamatkan kebangkrutan mereka dan lebih khusus lagi dalam
rangka membenarkan kebijakan penalangan (bail out) utang-utang melalui BLBI (Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia), yang mulai dikucurkan tahun 1998. Adalah kepentingan para
penerima BLBI untuk mengesankan bahwa krisis ekonomi masih terus berjalan, dan makin
parah, agar pemerintah tetap tidak dapat bersikap keras pada mereka untuk membayar
utang-utang besar yang macet sejak awal krismon. Utang-utang besar yang macet menjadi
amat berat karena banyak utang dalam bentuk valuta asing yang tidak dijamin sehingga jika
ekonomi Indonesia sudah dianggap pulih dari kondisi krisis, mereka para pengutang akan
kehilangan alasan untuk tidak membayarnya. Inilah alasan “tersembunyi” untuk terus
memojokkan pemerintah yang sayangnya memperoleh dukungan pakar-pakar ekonomi
makro yang tidak pernah meninggalkan meja komputernya dan tidak pernah mau
menerapkan metode analisis induktif-empirik dengan cara datang ke daerah-daerah meneliti
kehidupan ekonomi riil (real-life economics). Mereka membesar-besarkan dampak krisis
dengan menyebutkan pengangguran yang mencapai 40 juta orang, pelarian modal asing US
$ 10 milyar per tahun dan lain-lain.

Hasil-hasil Sakerti 3

1. Kemiskinan. Di 13 propinsi yang disurvei angka kemiskinan perkotaan menurun


selama 1997-2000 dari 13,3% menjadi 11,3%, sedangkan di perdesaan menurun dari
20,1% menjadi 18,7% (tabel 1). Penurunan angka kemiskinan di perdesaan terjadi di
Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Bali, Sumut, dan Jatim (rata-rata 8,0%), sedangkan
penurunan kemiskinan di perkotaan yang relatif lebih kecil terjadi di Jatim, Jateng,
Sulsel, dan Jabar (rata-rata 4,9%). Lebih besarnya penurunan tingkat kemiskinan di
perdesaan khususnya di propinsi-propinsi luar Jawa menunjukkan adanya perbaikan
dasar tukar (term of trade) antara harga-harga yang diterima dan yang dibayar
produsen. Di propinsi-propinsi Jatim, Jateng, dan Sulsel, angka-angka kemiskinan di
perkotaan juga menurun yang berarti penduduk perkotaanpun masih mampu
menghasilkan barang-barang yang harga jualnya meningkat lebih cepat ketimbang
harga barang-barang yang dibeli rumah tangga. Bahwa ada kenaikan angka
kemiskinan di perdesaan di Jabar, Jateng, dan DIY (rata-rata 3,3%) dan bahkan
11,9% di NTB, mungkin menandakan kurangnya komoditi pertanian “tradisional” yang
harganya terangsang naik oleh krismon. Pendapatan riil rumah tangga yang ditaksir
dengan median pengeluaran riil per kapita selama 1997-2000 mengalami kenaikan
cukup signifikan sebagai berikut:

2. Kesempatan Kerja. Berbeda dengan kesan umum telah terjadinya pengangguran


besar-besaran sejak krismon 1997-98, Sakerti 3 melaporkan adanya peningkatan
kesempatan kerja pria dari 79% (1997) menjadi 84% (2000) dan untuk wanita dari
45% menjadi 57%. Khusus untuk kerja upahan/bergaji kenaikannya untuk pria dari
74,5% menjadi 77,0% sedangkan untuk wanita dari 36,7% menjadi 42,2%. Yang
cukup signifikan adalah kenaikan persentase kesempatan kerja keluarga tanpa gaji
terutama wanita yang naik dari 19,2% menjadi 25,5%, meskipun untuk pria naik lebih
kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%. Arti kenaikan angka-angka ini jelas bahwa
krismon yang pada umumnya menurunkan kegiatan sektor modern/formal, ditanggapi
dengan meningkatnya kegiatan ekonomi/ industri sektor tradisional/ informal/ekonomi
rakyat, khususnya dengan mempekerjakan lebih banyak wanita atau ibu yang
sebelumnya tidak bekerja. Kesimpulan kita jelas bahwa selama 1997-2000 telah
terjadi “pergeseran” kesempatan kerja dari sektor ekonomi modern ke sektor ekonomi
rakyat, dan tidak benar adanya pengangguran besar-besaran akibat PHK.

The economic crisis has resulted in both negative and positive consequences for the
Javanese. It has resulted in a rapid rise in prices of basic items which place them beyond the
capacity of many poor people and has reduced employment opportunities in the formal
sector. On the other hand, it has resulted in the emergence of many new small enterprises
which had previously been destroyed by the economic monopolies and import of mass-
produced commodities under the New Order. [2]

[2] Jessica Poppele, Sudarno Sumarto, dan Lant Pritchett, 1999, Social Impacts of the Indonesian Crisis; Agus Dwiyanto,
1998, Krisis Ekonomi: Respon Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah, Pelajaran dari Tiga Desa di Jawa, PPK-UGM; Lea
Jellinek & Bambang Rustanto, “Survival Strategies of the Javanese During the Economic Crisis” (Survey Report), World
Bank, Jakarta, 28 Agustus 1999, dikutip dalam Mubyarto (1999), ibid., hal 134.

3. Standar Hidup dan Kesejahteraan. Sakerti 3 menanyakan bagaimana keluarga


menilai tingkat kesejahteraan mereka selama dan sebagai akibat krismon. Hasilnya
sungguh mengejutkan karena berbeda dengan anggapan umum telah terjadinya
kemerosotan kesejahteraan dan standar hidup akibat krismon, 87% responden
menyatakan standar hidup mereka tidak berubah (tetap) atau bahkan membaik, dan
yang melaporkan memburuk hanya 13%. Mengenai kualitas hidup, 83,9% responden
menyatakan memadai (69,4%) atau lebih dari memadai (14,5%), yang berarti bahwa
keluarga yang merasakan kualitas hidup mereka tidak memadai hanya 16,1%.
Tentang kualitas hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan pangan, 90,7%
menyatakan memadai atau lebih dari memadai, sedangkan tentang pemeliharaan
kesehatan, 85% menyatakan memadai dan 4% menyatakan lebih dari memadai.

Dari 3 ukuran kesejahteraan rakyat yang dilaporkan Sakerti 3 kesimpulan kita tidak
meragukan lagi bahwa orang Indonesia mempunyai cara-cara khas menanggapi krisis
moneter atau krisis ekonomi. Munculnya krismon berupa kenaikan harga-harga umum besar-
besaran tidak serta merta menurunkan kualitas atau standar hidup mereka tetapi mereka
menemukan berbagai cara untuk menanggapinya. Cara-cara menang-gapi krismon yang
khas dan berbeda-beda inilah yang bagi para pakar ekonomi ortodok (konvensional) tak
terpikirkan, dan hanya dapat diketahui/ditemukan melalui penelitian-penelitian lapangan yang
serius. Sakerti 1, 2, dan 3 memberikan perhatian khusus pada mekanisme bertahan hidup
(coping strategies) dan menanggapi krisis seperti itu.

Metode Menanggapi Krismon

Orang Indonesia yang dikenal kuat menganut asas kekeluargaan dalam segala aspek
kehidupannya dapat diamati menerapkan asas atau etika hidup ini di saat terjadi krismon
yang datang secara sangat tiba-tiba. Asas hidup kekeluargaan ini yang diperkuat oleh
semangat percaya diri dan kepercayaan pada kekuasaan Tuhan berakibat pada sikap bahwa
krismon tidak lain daripada “percobaan” dan “peringatan” pada bangsa Indonesia agar
menyadari aneka kekeliruan dan penyimpangan yang telah dilakukan.

Sakerti 3 seperti halnya Sakerti 1, 2, dan 2+ sebelumnya, menemukan fakta-fakta menarik


tentang metode dan sikap menanggapi krismon secara tepat sehingga tidak mengakibatkan
kejutan atau gangguan besar pada konsumsi keluarga dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
dasar kesehatan dan pendidikan terutama bagi anak-anak.

Salah satu cara paling mudah dan paling sering dilakukan keluarga Indonesia saat-saat
menghadapi krisis adalah dengan “mengatur kembali” pengeluaran/belanja keluarga dengan
cara menunda pengeluaran-pengeluaran yang dianggap dapat ditunda misalnya pembelian
pakaian, alat-alat rumah tangga dan pengeluaran-pengeluaran upacara, yang ditaksir
berkurang dengan sepertiga. [3] Selain itu suatu keluarga dapat memutuskan “menitipkan”
sebagian anggota keluarga pada keluarga lain yang lebih mampu, atau secara umum sangat
biasa terjadi pinjam-meminjam uang tanpa bunga antarkeluarga (sebrakan) untuk menutup
pengeluaran pokok yang tidak dapat ditunda.

[3] Elizabeth Frankenberg, James P Smith and Duncan Thomas, “Economic Shocks, Wealth and Welfare”, makalah belum
diterbitkan, Rand, February 2002, h. 13

Di pihak lain jika pada saat krismon pengeluaran-pengeluaran meningkat sekali, setiap
keluarga dengan cara masing-masing berusaha bekerja lebih keras atau lebih lama
(melembur) agar pendapatan bertambah. Rata-rata keluarga sejak terjadi krismon
menambah waktu kerja 25 jam per minggu, sedangkan per orang pekerja bertambah 10
jam per minggu. Jika satu keluarga bekerja mandiri maka dalam kondisi krisis anggota
keluarga yang sebelumnya tidak bekerja, secara spontan ikut bekerja tanpa gaji. Sakerti
3 secara meyakinkan melaporkan bertambahnya kerja tanpa gaji untuk wanita dari 19,2%
menjadi 25,5% meskipun untuk pria jauh lebih kecil yaitu dari 6,1% menjadi 7,9%.

Terakhir, tetapi ternyata sangat menonjol di Indonesia, adalah kemampuan untuk


memobilisasi kekayaan/aset apapun yang dimiliki keluarga untuk mempertahankan (smooth
out) tingkat pengeluaran keluarga. Sakerti 2+ menemukan fakta-fakta menarik bahwa hampir
setiap keluarga termasuk yang miskin memiliki kekayaan atau aset yang dapat dijual atau
digadaikan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran pokok yang tidak dapat dihindarkan.
Lebih dari 90% keluarga di perdesaan dan 70% keluarga di perkotaan mempunyai rumah
yang tidak beralih pemilikannya selama krisis, yang berarti meningkatnya pengeluaran karena
krisis selalu dapat ditutup dengan cara menambah pendapatan, tidak dengan menjual rumah
atau aset-aset berharga lainnya. Tentang pemilikan aset-aset lancar seperti uang tunai atau
surat-surat berharga, juga dilaporkan sangat besar peranannya dalam menghadapi krisis,
karena 25% keluarga perdesaan dan 40% keluarga perkotaan memilikinya dan persentase
yang lebih besar bahkan dilaporkan memiliki kekayaan berupa emas terutama dalam bentuk
perhiasan yang sangat mudah digadaikan atau diperjual-belikan. Rumah-rumah gadai
bertambah ramai dan pasar emas dilaporkan sangat dinamis/aktif saat krisis. Harga emas
mengalami kenaikan 4 kali selama krisis, lebih tinggi ketimbang kenaikan harga-harga umum.
Emas ternyata merupakan simpanan andalan bagi banyak keluarga Indonesia untuk berjaga-
jaga menghadapi krisis. Bagi keluarga-keluarga paling miskinpun disamping ternak yang
hampir selalu dimilikinya, perhiasan dari emas sangat mudah ditemukan.

Kesimpulan

Sebagaimana sudah sering dikemukakan oleh para peneliti ekonomi rakyat, meskipun
Indonesia merdeka sudah berusia 57 tahun dan pembangunan ekonomi “Orde Baru” sudah
berlangsung 31 tahun (1966-97) yang mampu meningkatkan pendapatan riil rata-rata bangsa
Indonesia 10 kali, tokh dalam kenyataan perekonomian Indonesia masih tetap bersifat
dualistik, sebagaimana dikemukakan J.H. Boeke tahun 1910. Ekonomi dualistik adalah
ekonomi yang tidak homogen tetapi hampir di semua sektor terpilah menjadi 2 yaitu sektor
ekonomi modern/formal dan sektor ekonomi tradisional/informal. Yang kedua disebut Bung
Hatta tahun 1931 sebagai sektor (kegiatan) ekonomi rakyat. Memang sangat tidak tepat dan
menyesatkan menyebut sektor ekonomi rakyat sebagai sektor informal, karena sektor ini
justru sudah lebih tua dan sudah merupakan kegiatan ekonomi “formal” jauh sebelum
datangnya para pengusaha/pemodal/kapitalis Belanda ke Indonesia, yang sebagian besar
baru beroperasi sesudah UU Agraria (Agrarische Wet) tahun 1870. Karena para
pemodal/pengusaha Belanda yang datang sesudah 1870 ini pada umumnya berbentuk NV
(PT) yang besar dengan kantor-kantor dan kebun-kebun besar, dengan membayar pajak-
pajak yang besar, maka mereka dianggap perusahaan-perusahaan formal, sedangkan yang
sangat kecil/gurem inilah yang disebut ekonomi rakyat, yang lokasinya dapat tidak tetap atau
sering pindah, dan disebut sektor informal.

Krisis moneter 1997-98 jelas lebih dulu dan lebih mudah memukul telak sektor ekonomi
modern/ formal lebih-lebih perusahaan yang berutang besar dalam nilai nominal dolar, yen,
atau valuta asing lainnya. Krisis moneter yang dimulai dengan depresiasi rupiah dan
apresiasi dolar sangat memukul perusahaan-perusahaan yang berutang dolar atau valuta
asing lain dan memukul impor karena harga rupiah barang-barang impor melonjak sesuai
apresiasi dolar. Namun karena hampir semua sektor masih bersifat dualistik, sektor
tradisional/ekonomi rakyat tidak terpengaruh krismon, atau terpengaruh secara tidak berarti.
Dampak negatif krismon terhadap ekonomi rakyat dapat dihindari atau disikapi sedemikian
rupa hingga tidak dirasakan dampaknya, dengan cara-cara atau ”seni” khas ekonomi rakyat,
yang dikenal dengan istilah strategi penyikapan (coping strategy) baik dalam produksi,
perilaku berkonsumsi, atau sekedar strategi bertahan hidup (survival strategy).

Sakerti 1, 2, 2+, dan 3 secara meyakinkan mengungkapkan bagaimana 10.000 lebih keluarga
dan 43.000 orang yang diwawancara menanggapi krismon dengan cara-cara mereka, yang
tidak dikenal dan tidak termuat dalam buku-buku teks ilmu ekonomi terbitan Amerika. Sakerti
mampu mengungkap perilaku ekonomi riil rakyat Indonesia (real life economics) yang melalui
analisis mendalam akan menghasilkan ilmu/ teori ekonomi rii. [4]

[4] Paul Ekins and Manfred Max-Neef (eds), 1992, Real-life Economics, Routledge, London-New York.

Sejak Pemerintah Indonesia mengundang “dokter ekonomi” IMF yang dianggap dokter
spesialis bagi penyakit negara-negara berkembang yang terkena krisis keuangan, ekonomi
Indonesia terkesan menjadi sangat tergantung pada utang-utang baru dari IMF dan negara-
negara “donor” anggota CGI. Sakerti 3 menemukan kenyataan ekonomi Indonesia, lebih-lebih
ekonomi rakyatnya, tegar dan kuat, yang telah tumbuh 3-4% per tahun sejak tahun 2000
sampai tahun 2002 ini. Memang teori ekonomi makro-ortodoks yang tidak mau mengakui
atau tidak mengerti ekonomi rakyat, menganggap pertumbuhan ekonomi 4% “terlalu rendah”
yang tidak mampu menyerap tenaga kerja lama dan menganggur maupun tambahan tenaga
kerja lebih dari 2 juta per tahun. Maka ekonomi Indonesia “harus tumbuh” minimal 7% per
tahun dan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi para ekonom tidak pernah merasa perlu
mempermasalahkan keadilan dalam distribusi pendapatannya. Tak pernah terpikir pada
mereka seandainya perekonomian tumbuh hanya 3-4%, tetapi lebih banyak disumbang dan
dengan demikian juga dinikmati ekonomi rakyat, sebenarnya akan lebih adil dan
berkelanjutan ketimbang pertumbuhan 7% seperti sebelum krismon, tetapi hanya dinikmati
sekelompok kecil ekonomi kuat, yang akhirnya menjadi “bom waktu” yang meledak seperti
yang terjadi 1997 tanpa dapat diperkirakan sebelumnya.
Demikian kiranya jelas bahwa tulisan ini berusaha meyakinkan tidak akan terjadi
kebangkrutan atau kelumpuhan ekonomi nasional jika Indonesia memutuskan secara sepihak
untuk tidak lagi mencari utang-utang baru dari luar atau bahkan dalam negeri. Tanpa ikatan
kerjasama dengan IMF, pemerintah dan bangsa Indonesia dapat memusatkan perhatian
pada usaha dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat, sektor ekonomi rakyat
banyak yang sejak krismon 5 tahun lalu tidak saja tidak hancur tetapi malah telah
menunjukkan ciri khasnya yaitu tahan banting dan mampu menunjukkan keandalan dan
kemandiriannya. Bukti-bukti dari Sakerti 3 telah sangat memperkuat berbagai data penelitian
lapangan optimistik sebelumnya. Bangsa Indonesia harus percaya diri. Jika pada saat
proklamasi kemerdekaan tahun 1945 bangsa Indonesia memiliki rasa percaya diri amat besar
untuk merdeka secara politik, kinilah saatnya kita memiliki rasa percaya diri di bidang
ekonomi. Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925 di Negeri Belanda (dipimpin
oleh Moh. Hatta) dapat kita jadikan acuan rasa percaya diri itu. [5]

[5] Sartono Kartodirdjo, Multi-dimensi Pembangunan Bangsa, Kanisius, 1999, hal. 18

1. Pemerintah dipilih dari dan oleh rakyat Indonesia;


2. Perjuangan itu tidak memerlukan bantuan dari pihak manapun;
3. Perjuangan itu hanya dapat berhasil bila pelbagai unsur rakyat Indonesia bersatu.

Prof. Dr. Mubyarto: Guru Besar FE - UGM

Makalah untuk Seminar "Indonesia Bersatu Menyongsong Era Global", Festival Bhinneka Tunggal Ika-
Indonesia Satu, Surabaya, 29 Oktober 2002.

Daftar Pustaka

Dhanani, Shafiq and Inayatul Islam, Poverty, Inequality and Social Protection: Lessons From
The Indonesian Crisis. UNSFIR, Jakarta, April 2000

Hardjono, Joan. The Micro Data Pictures: Results of a SMERU Social Impact Survey in the
Purwakarta-Cirebon Corridors, SMERU Final Report, July 1999

Mishra, Satish C. “Sistemic Transition in Indonesia: The Crucial Next Steps”, UNSFIR,
September 2002

Mubyarto. 1999. Reformasi Sistem Ekonomi: Dari Kapitalisme menuju Ekonomi Kerakyatan,
Aditya Media, Yogyakarta

Mubyarto. 2001. Prospek Otonomi Daerah dan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis
Ekonomi, BPFE, Yogyakarta

Mubyarto and Daniel W. Bromley, 2002. A Development Alternative for Indonesia, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.

Sartono Kartodirdjo, 1999. Multi-dimensi Pembangunan Bangsa, Kanisius, Yogyakarta

World Bank. “Indonesia: Constructing A New Strategy for Poverty Reduction”, Report No.
23028, Ind, October 29, 2001.

[Artikel - Th. I - No. 10 - Desember 2002]


Mubyarto

MEMBANGUN PEREKONOMIAN RAKYAT NUSA TENGGARA


TIMUR

Pendahuluan

Gubernur Piet Tallo yang alumni Fakultas Hukum pernah menolak julukan miskin bagi
daerahnya. “Mungkin warga NTT belum se-makmur saudara-saudaranya dari daerah lain,
tetapi propinsi ini sedang mengeksplorasi berbagai potensi tambang dan kekayaan alam lain
yang kelak akan membantu mengubah nasibnya”.

Sebagai salah satu dari 4 propinsi “termiskin” di Indonesia berdasarkan tingkat PDRB
perkapitanya, yang seluruh desanya dinyatakan sebagai desa IDT pada tahun 1996, survei
BPS tahun 1997 menempatkan NTT pada urutan nasional ke-6 (79,5 % berhasil dalam aspek
ekonomi). Di antara 4 propinsi “termiskin” ini hasil lengkap survei BPS-1997 dilihat pada tabel
1.

Tabel 1: Tingkat Keberhasilan Pokmas IDT Menurut Bidang (%) di 4 Propinsi

Propinsi Ekonomi Partisipasi Kemandirian Kelembagaan Keseluruhan


NTT 79,5 88,0 64,4 75,6 76,9
NTB 71,1 88,7 63,8 91,2 78,7
Maluku 32,9 96,7 23,5 57,9 52,8
Irja 31,6 86,5 5,30 32,6 39,0

Sumber: RI, Pidato Pertanggungjawaban Presiden, Maret 1998

Dalam pertemuan terbatas di Kupang tanggal 20 Januari 2001, wakil LSM dan sejumlah
dosen Undana menyatakan optimisme terhadap masa depan ekonomi NTT. Meskipun tahun
1998 terjadi kontraksi ekonomi minus 2,73%, tetapi ekonomi rakyat yang masih agraris
berdaya tahan tinggi dan justru merasa diuntungkan oleh krisis moneter tahun 1997. Secara
keseluruhan ekonomi NTT sudah pulih dari krisis. Namun khusus tentang prospek otonomi
kebanyakan pakar masih merasa cemas. Bahkan pemahaman tentang pengertian otonomi
daerah sendiri masih cukup rancu, yang menonjol di antaranya berupa kerisauan
menurunnya wibawa pemerintah daerah propinsi di mata pejabat-pejabat kabupaten/kota.
Bahwa OTDA penuh diletakkan di kabupaten/kota, dan di propinsi hanya merupakan otonomi
terbatas, rupanya dianggap sebagai perubahan amat fundamental yang terkesan
menghapuskan kekuasaan dan fungsi kooordinatif dari pemerintah propinsi atas
kabupaten/kota dalam lingkungan propinsi. Kesan demikian tentu mengganggu pelaksanaan
pemerintah daerah.

Perekonomian Daerah

Jika tahun 1996 dan 1997 pertumbuhan ekonomi NTT cukup tinggi (masing-masing 8,22%
dan 5,62%), pada tahun krisis (1998) mengalami kontraksi –2,73%, tidak tinggi dibanding
kontraksi –4,64% untuk wilayah-wilayah luar Jawa, dan jauh lebih rendah dibanding kontraksi
–11,8% (Jawa-Bali) atau –13,4% (5 propinsi Jawa). Maka dapat dimengerti seperti halnya
wilayah-wilayah lain di luar Jawa, adanya bagian-bagian masyarakat yang “menikmati krisis”
dengan kemakmuran yang meningkat. Data-data pertumbuhan PDRB per kabupaten/kota
yang lebih lengkap selama Repelita VI terlihat pada tabel 2.

Tabel 2: Pertumbuhan PDRB Per Kabupaten/Kota se Propinsi NTT

No. Kabupaten/kota 1998 1999 2000 Rata-rata 1994


- 2000
1. Sumba Barat -0,42 0,42 2,94 3,10
2. Sumba Timur -3,24 -1,21 1,57 3,54
3. Kupang -2,40 4,62 5,13 5,83
4. Timor Tengah Selatan -2,75 3,22 4,54 4,75
5. Timor Tengah Utara -6,28 6,57 3,67 4,11
6. Belu -3,63 2,04 2,91 4,97
7. Alor -2,50 -0,44 4,33 4,05
8. Lembata - - 2,01 -
9. Flores Timur -1,03 5,37 4,95 5,72
10. Sikka 0,22 0,91 4,42 5,20
11. Ende -6,69 1,72 4,71 3,68
12. Ngada -0,54 3,43 6,72 5,49
13. Manggarai 0,08 1,18 3,83 3,72
14. Kota Kupang -8,51 6,18 4,61 0,18
NTT -2,73 2,73 3,98

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa kontraksi ekonomi rata-rata kabupaten/kota se-propinsi
cukup merata dengan angka tertinggi di kabupaten Ende (-6,69%) dan TTU (-6,28%) dan
kontraksi terendah adalah di Manggarai yang masih tetap tumbuh positif meskipun kecil
sekali (0,08%). Namun menjadi tanda tanya mengapa kontraksi ekonomi yang tertinggi di
kabupaten Ende rupanya tidak terkait dengan data perbankan yang justru meningkat yaitu
simpanan dan tabungan berjangka masing-masing naik 19,2 kali (dari Rp 2,8 milyar ke Rp
53,6 milyar) dan 6 kali (dari Rp 21,7 milyar ke Rp 129,7 milyar).

Data dari Bank Indonesia propinsi NTT 1993-2000 menunjukkan kenaikan penghimpunan
dana “luar biasa” yaitu 19,7% pertahun, yang paling tinggi adalah kenaikan pada awal krisis
ekonomi yaitu dari Rp 899,20 milyar (1997/98) menjadi Rp 1.554,69 milyar (1998/99)
kenaikan 73%. Kenaikan paling tinggi adalah penghimpunan dana di kabupaten Ende (105%)
dan Kabupaten Kupang (79%). Kenaikan nilai penghimpunan dana di Ende yang luar biasa
ketika krismon, rupanya berlanjut sampai sekarang (2000), sehingga dana perbankan Ende
yang hanya Rp 40,9 milyar tahun 1993/94 (urutan ke-4 dari 7 wilayah) kini menjadi no.3 di
Propinsi NTT melampaui wilayah Ngada dan Manggarai. Pada bulan Oktober 2000 dana
yang dihimpun perbankan Ende mencapai Rp 210,82 milyar melampaui Ngada/Manggarai
yang hanya mencapai Rp 162,31 milyar. Yang menarik untuk dicatat adalah ketimpangan
ekonomi antardaerah yang relatif “ringan”. Dana yang dihimpun perbankan di Ibukota
propinsi (Kupang) “hanya” 54,5% dari dana perbankan di seluruh propinsi NTT (Oktober
2000) hanya sedikit meningkat dibanding pangsa tahun 1993/94 sebesar 48,9%. Jumlah
dana perbankan yang dihimpun bulan Oktober 2000 seluruh NTT mencapai Rp 2,08 trilyun
naik 4,7 kali dari nilainya pada tahun 1993/94 (Rp 439 milyar).

Peningkatan dana masyarakat Ende berupa simpanan dan tabungan berjangka (Rp 183,3
milyar, Oktober 2000), tidak “dikembalikan” sebagai kredit yang dibutuhkan masyarakat
setempat tetapi dikirim ke luar daerah (Jakarta). Kredit yang diberikan hanya Rp 37,2 milyar
(20%) lebih rendah dari persentase kredit yang diberikan pada tingkat propinsi (28,6%).
Alasan yang biasanya diajukan adalah tidak adanya usaha-usaha “produktif” yang memenuhi
syarat untuk didanai dengan kredit bank, meskipun disadari bahwa syarat-syarat ini adalah
syarat-syarat kredit komersial formal yaitu 5 C (collateral, character, capacity, condition dan
capital). Syarat-syarat formal ini diakui terlalu kaku, yang oleh BI setempat dalam proyek
PHBK (hubungan Bank dan kelompok swadaya) dan KKPA (Kredit Koperasi Pada Anggota)
telah diabaikan.

Pimpinan Bank Indonesia yang hadir dalam diskusi di Kupang tidak melihat adanya
kejanggalan ini karena menurutnya dalam “sistem ekonomi pasar bebas” perilaku modal
keluar masuk daerah, bahkan ke luar negeri sekalipun, tidak dapat diatur. Dana bank yang
harus dibayar bunganya kepada penabung tidak mungkin dibiarkan diam (idle). Kantor Pusat
setiap bank akan harus mengembangkannya, dan yang paling mudah dalam situasi ekonomi
sekarang (krismon) adalah dibelikan SBI yang bunganya menarik. Sebenarnya jika Bank
Umum di daerah mau bekerja keras, akan ditemukan usaha-usaha kecil ekonomi rakyat yang
mau dan mampu membayar tingkat bunga pasar. Tetapi sering dikatakan bahwa bank-bank
tidak memiliki tenaga dan pengalaman untuk menyalurkan kredit kecil atau kredit mikro
seperti ini.

Analisis perekonomian daerah kembali ke lingkaran awal. Ekonomi daerah yang miskin tetap
selalu tertinggal. Bahkan kenaikan pendapatan yang diperoleh dari dan selama krismon tidak
dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi rakyat lebih lanjut. Dalam otonomi daerah
“lingkaran setan” seperti ini perlu diputus. Dunia perbankan setempat bersama Pemerintah
Daerah harus sungguh-sungguh berkoordinasi untuk mengubah hukum ekonomi kapitalisme
liberal menjadi hukum ekonomi kerakyatan. Di daerah harus ada kebijakan khusus yang
merangsang investasi. Jika masyarakat kecil (ekonomi rakyat) mulai tertarik menggunakan
jasa perbankan yang mudah dalam bentuk simpanan dan tabungan berjangka, pihak
perbankan harus juga berubah dalam melayani ekonomi rakyat dalam kebutuhan kredit yang
mudah dan murah, dengan meninggalkan kriteria pemberian kredit formal yang kaku.
Program pemberdayaan ekonomi rakyat akan berkembang melalui program kredit mikro ala
Grameen Bank yang berhasil di Bangladesh dan sudah “ditiru” di banyak negara termasuk di
Indonesia. BRI dengan kredit Unit Desanya sebenarnya sudah maju jauh sebelum Grameen
Bank, tetapi rupanya tetap saja belum mampu mengatasi kebijakan kredit yang lebih berpihak
pada sektor industri modern dan usaha-usaha besar di kota-kota.

Program Pemberdayaan ekonomi rakyat

Jika di sejumlah propinsi program IDT sudah “dilupakan” atau sudah “diganti” program lain
seperti PPK (Program Pengembangan Kecamatan) di kabupaten Kupang, program IDT
masih berjalan baik. Pendamping Sarjana yang diangkat dan digaji Pemda masih banyak
yang aktif. Seorang SP2W, Hendrikson Adoe (30 th), yang hadir pada pertemuan dengan 2
Pokmas IDT di Kalurahan Babau kecamatan Kupang Timur, meyakinkan masih perlunya
pendamping bagi Pokmas-Pokmas IDT, yang diangkat serta digaji oleh Pokmas yang
didampinginya. Ibu Johanna Maxi, pimpinan LSM Bina Swadaya Kupang yang
mengkoordinasi 12 pendamping menyatakan dapat dikembangkannya program
pendampingan ini dengan syarat pendamping yang bersangkutan mendampingi paling sedikit
20 Pokmas secara sungguh-sungguh dan purna-waktu. Ditaksir sekitar 10% dari SHU
Pokmas cukup memadai untuk menggaji Pendamping yang bersangkutan. [1]

[1] Pendamping Bina Swadaya mendapat gaji (terendah) Rp 275.000 per bulan ditambah biaya operasional Rp 50.000 per
bulan, uang jalan jika berdinas keluar (Rp 7.500/hari), dan dilengkapi sepeda motor. Gaji pendamping yang tinggi ini masih
disubsidi kantor Bina Swadaya sampai sekitar 50%.

Program IDT di 2 desa Oebelo, Kupang tengah, dan desa Babau, Kupang Timur, memang
berjalan baik. Di desa Oebelo antara 25-35% penerima dana IDT benar-benar telah mentas
dari kemiskinan yang melilitnya. Sedangkan di desa ke-2 yaitu Babau berhasil sekitar 30%.
Kegagalan 70% program di desa pertama bukanlah karena ketidaksungguhan anggota tetapi
karena musibah menjalarnya penyakit ternak babi pada tahun pertama. Di desa Babau
sekitar 30% telah berhasil mengubah program IDT menjadi Koperasi Simpan Pinjam yang
segera memperoleh status badan hukum.
Salah satu kunci keberhasilan program IDT di NTT adalah dukungan penuh dan konsisten
dari Pemda, baik Pemda propinsi maupun Pemda kabupaten/kota, antara lain melalui
pengembangan program pendampingan dengan dana APBD. Program pendampingan ini
akan jauh lebih berhasil lagi, jika Pemda (dhi PMD) serius memantau pelaksanaannya.
Dalam kenyataan, cukup banyak pendamping yang bermutu dan memihak pada penduduk
miskin. Dalam pada itu 2 jenis pendamping lainnya (yang tidak purna-waktu) seperti aparat
desa, dan tokoh-tokoh masyarakat setempat, serta penyuluh-penyuluh dari berbagai dinas
sektoral, sulit diharapkan mencurahkan perhatian pada Pokmas IDT dan anggota-
anggotanya. Dana Rp 600.000 yang disediakan sebagai BOP (Biaya Operasional
Pemantauan) pada desa sulit dilihat hasilnya, lebih-lebih setelah dipadukan ke dalam dana
bantuan Desa sejak TA 1996/97.

Otonomi Daerah dan Otonomi Desa

Otonomi Daerah dan prospek pelaksanaannya di Propinsi, kabupaten, dan desa-desa di NTT
cukup baik meskipun masih ditemukan berbagai masalah. Bahwa Pemda kabupaten/kota kini
lebih besar wewenangnya ketimbang propinsi, karena yang pertama menerima otonomi
penuh, sedangkan yang ke dua otonomi terbatas, memang benar tercantum dalam pasal-
pasal UU No.22/1999. Namun yang belum jelas adalah implikasinya dalam penyusunan
program-program untuk melaksanakan wewenang tsb. Misalnya dalam program-program
penanggulangan kemiskinan ala IDT, apakah pemikiran ke arah perbaikan dan
penyempurnaan program IDT termasuk program pendampingan kini merupakan tanggung
jawab penuh Pemda kabupaten? Jika ya, apa tugas dan tanggung jawab Pemda propinsi
(atau PMD) dalam hal ini?

Yang lebih sulit lagi adalah memikirkan kelanjutan program-program penanggulangan


kemiskinan pada tingkat desa. Misalnya seorang ketua Pokmas Simson Misa (49 th, tamatan
SD) dari desa Babau, Kupang Timur, dengan polos menanyakan “Apakah setelah Otda
masih akan ada tamu seperti Pak Mubyarto yang mengevaluasi program-program penanggu-
langan kemiskinan seperti IDT dan PPK?” Pertanyaan demikian diajukan karena ada
pernyataan bahwa dalam Otda “semua program penanggulangan kemiskinan harus dibuat
sendiri oleh kabupaten”, dan program-program ini harus lebih baik dibandingkan program-
program yang disusun secara nasional seperti IDT oleh Bappenas dan Depdagri. Karena
mereka lebih dekat dengan rakyat, tidak ada alasan program yang bersangkutan tidak sesuai
dengan aspirasi rakyat.

Program-program pembangunan yang disusun Pemda kabupaten/kota bersama DPRD


memang harus makin banyak yang berasal dari desa/kelurahan, dan disusun oleh BPD
(Badan Perwakilan Desa) yang di antara tugas dan kewajibannya adalah meningkatkan
kesejahteraan rakyat berdasarkan demokrasi ekonomi (pasal 22 dan 101). Jelas di sini
bahwa rakyat atau warga desa sendirilah, melalui BPD, yang setelah dilaksanakannya OTDA
dapat menyusun, melaksanakan, dan menilai program-program penanggulangan kemiskinan
dan pembangunan perdesaan pada umumnya. Tamu-tamu, atau pakar-pakar dari pusat atau
propinsi, tetap dapat datang untuk mengadakan kajian-kajian, tetapi warga desa sendirilah
yang pada tingkat akhir akan meluncurkan program-program yang diinginkannya, dan yang
dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat. OTDA seharusnya tidak difokuskan
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan
pemerataan dan keadilan menuju terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kesimpulan

Menyaksikan ketekunan dan kesungguhan masyarakat dan aparat Pemda propinsi dalam
melaksanakan program IDT di propinsi NTT, kita melihat program penanggulangan
kemiskinan sudah mencapai tahap gerakan masyarakat sebagaimana dirancang program ini
pada awal peluncurannya. Sudah tercapainya tahap gerakan masyarakat (GEMA) antara lain
terbukti dari sambutan Pokmas IDT di seluruh propinsi untuk menghimpun kembali dana IDT
yang berada di Pokmas-Pokmas untuk dijadikan semacam Bank Desa pada tingkat
kecamatan.
Meskipun pendirian Bank Desa pada tingkat kecamatan dengan dana IDT yang sudah
bergulir di Pokmas ini belum tentu dapat dianggap kemajuan, tetapi akan menjadi indikator
tercapainya kemandirian keuangan desa seperti UPK (Unit Pelayanan Keuangan) dalam
Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Memang dalam membangun kelembagaan
Bank Desa ini profesionalisme dalam pengelolaannya harus prima, dan dilaksanakan dengan
koordinasi penuh dengan Bank Indonesia setempat, disamping sikap pemihakan pejabat
Pemda yang jelas pada kepentingan ekonomi rakyat. Konsep dasar program IDT adalah
makin mendekatkan lembaga perkreditan dan pendanaan pembangunan masyarakat desa
pada penduduk desa. Setiap usaha untuk meningkatkan skala ekonomi lembaga ini demi
efisiensi harus lebih menguntungkan ekonomi rakyat.

Otda yang juga berarti otonomi desa perlu memperoleh perhatian Pemda dan DPRD
kabupaten dalam bentuk penyusunan Perda-Perdanya. Sikap dan tradisi demokrasi yang
tinggi pada masyarakat NTT harus dimanfaatkan untuk segera membentuk BPD. Jika BPD
berhasil menghimpun tokoh-tokoh muda masyarakat desa yang profesional, seperti mantan
SP2W, maka ini merupakan salah satu kunci percepatan pemberdayaan ekonomi rakyat
desa. Satu kendala yang selalu disinggung dalam diskusi-diskusi kecil adalah kondisi
multietnik masyarakat NTT yang kurang mendukung kerukunan warga desa, lebih-lebih
dengan membanjirnya pengungsi dari Timor Timur sejak September 1999. Untuk mengubah
kondisi multietnik menjadi faktor dinamika masyarakat, pemerintah daerah perlu membentuk
badan/lembaga khusus untuk menanganinya. Jika masalah multietnik ini benar-benar dapat
digarap secara transparan dan profesional, maka rasa optimisme Gubernur yang disebutkan
pada awal tulisan ini pasti makin berkembang. Dan NTT tidak akan lagi diartikan sebagai
“Nasib Tak Tentu” tetapi “Nasib Terpancar Terang”.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM
(PUSTEP-UGM)

Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT, tgl. 26 Nopember 2002. di Hotel
Kristal, Kupang.
[Artikel - Th. I - No. 10 - Desember 2002]

Frits O FanggidaE

EKONOMI KERAKYATAN DI NTT: ANTARA REALITAS DAN HARAPAN

Realitas Pelaku Ekonomi Kerakyatan di NTT

Rakyat adalah suatu konsep politik yang netral. Komsep ini tidak mempersoalkan perbedaan
orang dalam kepelbagaian sosial, ekonomi dan budayanya. Semuanya sama. Ketika konsep
rakyat diimbuhkan dengan konsep ekonomi politik yang tidak lagi netral, karena berbagai
perbedaan pelaku ekonomi mulai diperhitungkan. Dalam kajian ini, konsep ekonomi
kerakyatan yang digunakan juga tidak bersifat netral, yaitu hanya menunjuk pada pelaku
ekonomi kecil (gurem) yang tersebar di sudut-sudut jalan perkotaan maupun di pelosok
perdesaan.

Di NTT, pelaku ekonomi sebagaimana dimaksud pada umumnya terdiri dari petani kecil,
peternak kecil, nelayan kecil dan pengrajin kecil di perdesaan dan para pelaku sektor informal
perkotaan. Bagi para petani yang kebetulan memiliki wilayah yang cocok untuk komoditas
perkebunan seperti Cengkeh, Kopi, Vanili, Jambu Mete, tingkat ekonomi mereka cukup
memadai. Di Sabu dan Rote, sebagian pelaku ekonomi kecil di pesisir pantai dikabarkan
mengalami kemajuan berkat budidaya rumput laut. Di Apui (Alor), sejumlah kelompok tani
yang menanam vanili mendapat penghasilan yang cukup besar lantaran harga komoditas ini
cukup tinggi. Namun bagi para petani yang mengandalkan tanaman pangan dengan wilayah
yang relatif kering, tingkat ekonomi mereka memprihatinkan. Para peternak di TTS,
betapapun daerah ini dikenal sebagai gudang ternak (sapi), tidak menunjukkan status
ekonomi yang lebih baik ketimbang para petani yang menanam tanaman pangan. Demikian
juga para nelayan kecil di pesisir pantai Flores, Sumba, Alor dan Timor, kondisi mereka tidak
dapat digolongkan mampu secara ekonomis.

Para pelaku ekonomi kecil di sektor informal perkotaan juga memperlihatkan kondisi yang
relatif sama, walaupun mungkin pendapatan nominalnya lebih besar dari para peternak kecil,
petani kecil dan nelayan kecil di perdesaan. Kecuali beberapa pelaku ekonomi informal yang
berasal dari Jawa, Sulawesi dan Sumatra yang pada umumnya berusaha di pusat kota,
kinerja ekonomi mereka terbilang cukup baik. Data makro tentang pendapatan per kapita
penduduk di berbagai kabupaten di NTT bisa menjelaskan kondisi ekonomi para pelaku
ekonomi kecil tersebut.

Tampilan fisik usaha para pelaku ekonomi kecil ini juga memperihatinkan. Selain berjualan
secara individual di pasar, mereka juga menggelar hasil usahanya di pinggir jalan secara
darurat. Mungkin juga tidak setiap hari mereka bisa berjualan di pasar atau pinggir jalan
karena pola produksinya yang bersifat musiman. Unit usaha industri kecil atau rumah tangga
yang paling menonjol di NTT adalah industri tenun ikat. Sejumlah kelompok usaha yang
dibina intensif dengan kondisi SDM yang relatif baik menunjukkan perkembangan yang baik,
namun tidak sedikit kelompok dan usaha individu menjadikan industri tenun ikat sebagai
pekerjaan sampingan dengan postur usaha yang serba kekurangan. Tampaknya program-
program pengentasan kemiskinan atau pemberdayaan ekonomi seperti IDT, PDMDKE dan
berbagai skim program/ pendanaan lainnya belum menyentuh mereka atau mungkin
sentuhannya sudah hilang sama sekali.

Inilah kondisi riil pelaku ekonomi kerakyatan di NTT. Pada tataran political will pemerintah,
pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kekurangan ini ingin ditempatkan sebagai pelaku
ekonomi utama, fondasi perekonomian daerah dan sejumlah julukan yang membanggakan.
Pemerintah, dari pusat sampai daerah, telah melakukan banyak hal untuk memajukan
mereka, tetapi kondisinya tetap seperti kita saksikan saat ini, sebagian besar dalam kondisi
serba miskin.
Data ekonomi makro Indonesia bahwa share pelaku ekonomi kecil ini cukup kelihatan. Para
pengamat ekonomi memuji pelaku ekonomi kecil ini sebagai lentur dan tahan terhadap
konjungtus dan krisis ekonomi. Pujian demikian tidak salah, namun pelaku ekonomi kecil
semacam ini pasti buka di NTT. Pada titik inilah kita harus membedakan secara jelas petani
kecil, peternak kcil, nelayan kecil, pelaku industri rumah tangga kecil dan pelaku ekonomi
sektor informal perkotaan di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia dengan NTT.
Lingkungan ekonomi makro dan mikronya sangat kontras berbeda. Suatu isyarat bahwa
suatu kebijakan pengembangan yang berhasil di Jawa dan kota besar lainnya di Indonesia
belum tentu berhasil di NTT.

Menurut hemat saya, menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan yang serba kecil dan
kekurangan di NTT sebagai pemain ekonomi yang utama atau sebagai fondasi ekonomi
daerah, masih membutuhkan waktu yang relatif lama dan yang lebih penting dari itu,
membutuhkan wawasan dan perlakuan baru terutama dari para penentu dan pelaksana
kebijakan pada tingkat pemerintahan. Secara teoretis, kita mengenal cukup banyak konsep
pemberdayaan usaha kecil seperti kemitraan, bapak angkat, inti-plasma dan sebagainya.
Konsep-konsep ini telah diadopsi sedemikian rupa ke dalam berbagai program
pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta, tetapi belum
berhasil mengeluarkan para pelaku ekonomi kecil dari lingkaran yang serba kekurangan.

Jauh dari Permintaan dan Miskin Kelembagaan

Salah satu persoalan yang menjadikan pelaku ekonomi kerakyatan di perdesaan NTT sulit
berkembang adalah bahwa mereka jauh dari permintaan (pasar). Jauh bukan hanya dalam
arti fisik saja, tetapi lebih penting adalah aksesibilitas. Mereka memasuki pasar pembeli
(buyer market) secara individual tanpa dukungan kelembagaan yang memadai. Akibatnya,
posisi tawar mereka sangat lemah. Petani Vanili di Apui (Alor) yang baru saja menikmati
harga vanili yang tinggi, saay ini mulai merasakan bahwa harga vanili sangat ditentukan oleh
pembeli (pedagang skala menengah dan besar). Para peternak di TTS sudah sejak lama
takluk dengan para pembeli (pedagang). Penghasil rumput laut di Rote dan Sabu juga mulai
merasakan betapa fluktuasi harga yang terjadi sulit mereka kendalikan. Sementara itu
sebagian nelayan di Pulau Timor secara perlahan-lahan telah bertransformasi menjadi buruh
nelayan.

Para pembeli memiliki organisasi yang solid. Mereka bahu-membahu menjalin kekuatan
untuk menguasai dan mendikte harga pasar. Organisasi pembeli yang kuat tersebut tidak
bisa dilawan oleh para petani secara individual. Organisasi harus dilawan dengan organisasi
pula, agar tercapai keseimbangan posisi tawar di pasar. Apakah koperasi sebagai lembaga
ekonomi yang dekat dengan para petani, nelayan, peternak, pengrajin dan pedagang kecil
dapat menjadi organisasi ekonomi yang diandalkan untuk meningkatkan posisi tawar mereka
di pasar? Sangat sulit untuk mengatakan Ya. Kita masih membutuhkan wadah ekonomi lain
atau sekurang-kurangnya cara penanganan pasar sedemikian rupa sehingga aksesibilas
pasar dan posisi tawar mereka dapat ditingkatkan. Dalam kaitan ini menarik untuk disimak
lebih lanjut langkah Pemda Kabupaten Kupang. Dua Perusahaan Daerah, masing-masing
bergerak di bidang kelautan dan agribisnis didirikan sebagai outlet bagi para pelaku ekonomi
kecil. Sekiranya langkah ini mampu meningkatkan posisi tawar para pelaku ekonomi kecil dan
mampu meningkatkan kinerja ekonomi mereka, maka inilah salah satu langkah yang dapat
dipertimbangkan untuk direplikasi pada daerah lain.

Formasi Ekonomi Makro dan Mikro

Salah satu keuntungan pelaku ekonomi kecil dan sektor informal perkotaan di Jawa dan kota
besar lainnya adalah struktur ekonominya telah terdiversifikasi dengan baik sehingga
hubungan fungsional antar sektor ekonomi (pertanian, industri, perdagangan, perhubungan
dan lembaga keuangan) telah terjadi dengan baik. Kondisi ini sangat kondusif bagi para
pelaku ekonomi kecil. Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif tinggi serta
kompetisi yang baik antar sektor ekonomi menjadikan outlet bagi produk pelaku ekonomi
kecil cukup tersedia dengan insentif harga yang memadai. Demikian juga pada tataran
ekonomi mikro, dinamika dunia usaha yang relatif tinggi menjadi media pembelajaran yang
efektif dalam pembentukan perilaku ekonomi yang rasional dan produktif. Sikap
kewiraswastaan mereka terbentuk dalam dinamika dunia usaha yang tinggi, bukan melalui
pelatihan-pelatihan formal. Inilah formasi ekonomi makro dan mikro yang sangat kondusif
bagi pelaku ekonomi kecil di Jawa dan kota besar lainnya untuk berkembang.

Di NTT, struktur ekonomi belum terdiversifikasi dengan baik menjadikan hubungan fungsional
antar sektor ekonomi belum terjalin baik. Share sektor pertanian sangat menonjol sementara
share sektor industri sangat kecil. Pada sisi lain share sektor perdagangan dan perhubungan
sedikit agak menonjol. Dari kondisi semacam ini dapat dibayangkan bahwa yang
diperdagangkan adalah komoditas pertanian tanpa penglahan yang berarti. Ciri pasar
komoditas semacam ini adalah harga relatif rendah dan inferior terhadap komoditas hasil
olahan yang diimpor dari luar. Para pelaku ekonomi kecil tidak menikmati nilai tambah dari
komoditas yang dihasilkan.

Dalam kondisi semacam ini, pengembangan pelaku ekonomi kecil membutuhkan perubahan
yang cukup berarti pada formasi ekonomi makro dan mikro. Perlu ada kebijakan untuk
percepatan perubahan struktur ekonomi NTT agar keterkaitan fungsional antar sektor
ekonomi dapat tercipta. Berkembangnya sektor ekonomi sekunder dan tersier menjadi
prasyarat bagi pengembangan dunia usaha pada aras ekonomi mikro. Menjadi persoalan
adalah bagaimana percepatan perubahan struktur ekonomi ini dapat terjadi. Secara teoretis,
perubahan struktur ekonomi akan terjadi bila aliran investasi pada sektor industri pengolahan
(sekunder) meningkat. Sektor rkonomi tersier adalah sektor yang melayani. Karena itu sektor
ini akan menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi pada sektor primer dan
sekunder.

Berkembangnya sektor ekonomi sekunder akan menciptakan peluang bagi dinamika dunia
usaha. Perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaan merupakan fungsi dari dinamika dunia
usaha. Jangan dipaksakan dengan berbagai pelatihan kewirausahaan bila formasi ekonomi
makroo dan mikro tidak kondusif. Dorong perkembangan dunia usaha melalui percepatan
perubahan struktur ekonomi, agar tercipta media pembelajaran yang luas bagi pelaku
ekonomi kecil untuk mematangkan perilaku ekonomi atau sikap kewirausahaannya. Melalui
pendekatan semacam ini diharapkan pelaku ekonomi kerakyatan dapat berkembang menjadi
fondasi ekonomi yang kokoh bagi perekonomian daerah.

Ancangan Perencanaan

Berbagai perubahan yang diinginkan terhadap pelaku ekonomi kecil butuh perencanaan yang
baik dan perencanaan yang baik muncul dari suatu visi pengembangan usaha kecil yang
jelas pula. Pertanyaannya, adakah visi kita yang jelas tentang usaha kecil? Cukupkah
dokumen perencanaan yang ada (Poldas, propeda dan Renstra) memberi tempat bagi
pengembangan usaha kecil secara terpadu dan berkesinambungan? Bagaimana strateginya
menjadikan usaha kecil sebagai sokoguru perekonomian daerah?

Sampai sejauh ini kita belum melihat adanya visi yang jelas tentang pelaku ekonomi kecil,
selain retorika tentang mereka. Menurut hemat saya, Kepala Daerah harus berani
merumuskan visi yang jelas tentang pengembangan pelaku ekonomi kerakyatan. Bila
pemerintah menginginkan pelaku ekonomi kecil menjadi fondasi perekonomian daerah, maka
Kepala Daerah harus berani merumuskan visi bahwa dalam jangka waktu lima atau 10 tahun
mendatang, PDRB NTT akan didominasi share pelaku ekonomi kecil. Visi semacam ini
diperlukan agar ada komitmen dan daya paksa untuk menjabarkan visi tersebut dalam
perencanaan yang baik.

Berkaitan dengan representasi pengembangan usaha kecil dalam dokumen perencanaan


yang ada, harus diakui bahwa format perencanaan standar yang ada saat ini (Poldas,
Propeda dan Rentra) tidak memungkinkan rencana pengembangan pelaku ekonomi kecil
sebagai inti dari pengembangan ekonomi rakyat diakomodasi dengan baik. Karena itu perlu
terobosan dari sisi perencanaan. Rencana Pengembangan Pelaku Ekonomi Kecil dapat
dijadikan subsidiary plan dari Propeda atau Renstra yang keabsahannya dilegitimasi juga
oleh Perda. Subsidiary plan adalah produk perencanaan sejumlah instansi yang berkaitan
langsung dengan usaha kecil yang penyusunannya dikoordinasi Bappeda dan melibatkan
representasi pelaku ekonomi skala menengah dan besar. Dari segi pendanaan tidak ada
masalah, karena dalam format APBD yang baru, yang menggunakan program sebagai
nomenklatur generik serta format pengusulan untuk mendapatkan pembiayaan
dekonsentrasi, pembiayaan terhadap subsidiary plan tersebut dapat diakomodasi.

Subsidiary plan tersebut paling kurang berisikan lima hal pokok yaitu Visi dan Misi, strategi
yang digunakan, program-program lintas instansi yang akan dilaksanakan, pembiayaan dan
guide line pengelolaannya. Untuk itu diperlukan suatu pengkajian mendalam mengenai
eksistensi pelaku ekonomi kecil saat ini. Seluruh program yang berkaitan dengan mereka
perlu dievaluasi tuntas dan yang paling penting mesti ada wawasan baru tentangnya.
Misalnya dalam perumusan kebijakan fiskal daerah (APBD), sebagian dari pos belanja modal
yang dianggarkan dapat diarahkan sebagai kapitalisasi pelaku ekonomi kecil. Denganstrategi,
pedekatan, program aksi dan pengelolaan yang jelas, kapitalisasi pelaku ekonomi kecil
tersebut dapat menjadi pemicu bagi berkembangnya aktivitas usaha pelaku ekonomi kecil.

Perlu Regulasi bagi Pelaku Ekonomi Kecil

Esensi regulasi adalah untuk menciptakan keteraturan, kepastian hukum dan komitmen yang
jelas dalam pengembangan UKM. Bila urusan-urusan ekonomi lainnya diregulasi oleh
Pemerintah Daerah, maka perangkat hukum dalam bentuk Perda tentang pelaku ekonomi
kecil atau UKM perlu dibuat. Perda ini sangat penting, terutama bagi pelaku UKM untuk
menuntut dan mengontrol pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam mengembangkan
UKM. Tanpa Perda ini, wacana tentang UKM ibarat macan ompong. Gaungnya kedengaran
keras di mana-mana, tetapi ia tak punya gigi. Demikianlah beberapa pokok pikiran tentang
pengembangan ekonomi kerakyatan di NTT. Semoga berguna. Sekian.

Frits O FanggidaE – Dosen Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW)
Kupang

Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT, tgl. 26 Nopember 2002. di Hotel Kristal, Kupang.
[Artikel - Th. I - No. 10 - Desember 2002]

Fredrik Benu

EKONOMI KERAKYATAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT:


SUATU KAJIAN KONSEPTUAL

Ruang Ekonomi Kerakyatan Indonesia

Saat mendapat tugas untuk mebahas konsep ekonomi kerakyatan dalam kaitan dengan
makalah Prof. Mubyarto tentang “Ekonomi Kerakyatan dalam Era Globalisasi dan Otonomi
Daerah”, saya mencoba untuk menangkap (baca: memahami) makna kata ‘rakyat’ secara
utuh. Akhirnya saya sampai pada pemahaman bahwa rakyat sendiri bukanlah sesuatu obyek
yang bisa ‘ditangkap’ untuk diamati secara visual, khususnya dalam kaitan dengan
pembangunan ekonomi. Kata rakyat merupakan suatu konsep yang abstrak dan tidak dapat
di’tangkap’ untuk diamati perubahan visual ekonominya. Kata rakyat baru bermakna secara
visual jika yang diamati adalah individualitas dari rakyat (Asy’arie, 2001). Ibarat kata
‘binatang’, kita tidak bisa menangkap binatang untuk mengatakan gemuk atau kurus, kecuali
binatang itu adalah misalnya seekor tikus. Persoalannya ada begitu banyak obyek yang
masuk dalam barisan binatang (tikus, kucing, ular, dll.), sehingga kita harus jelas mengatakan
binatang yang mana yang bentuk visualnya gemuk atau kurus. Pertanyaan yang sama harus
dikenakan pada konsep ekonomi rakyat, yaitu ekonomi rakyat yang mana, siapa, di mana
dan berapa jumlahnya. Karena dalam dimensi ruang Indonesia semua orang (Indonesia)
berhak untuk menyandang predikat ‘rakyat’. Buruh tani, konglomerat, koruptor pun berhak
menyandang predikat ‘rakyat’. Sama seperti jika seekor kucing digabungkan dengan 100
ekor tikus dalam satu ruang, maka semuanya disebut binatang. Walaupun dalam
perjalanannya seekor kucing dapat saja menelan 100 ekor tikus atas nama binatang.

Ilustrasi di atas saya sampaikan untuk membuka ruang diskusi tetang ekonomi kerakyatan
dalam perspektif yang terarah dalam kerangka mengagas pikiran Prof. Mubyarto. Kita harus
jelas mengatakan rakyat yang mana yang seharusnya kita tempatkan dalam ruang ekonomi
kerakyatan Indonesia. Selanjutnya, bagaimana kita memperlakukan rakyat dimaksud dan
apakah perlakuan terhadapnya selama ini sudah benar. Atau apakah upaya menggiring
rakyat ke dalam ruang ekonomi kerakyatan selama ini sudah berada dalam koridor yang
benar.

Dalam konteks ilmu sosial, kata rakyat terdiri dari satuan individu pada umumnya atau jenis
manusia kebanyakan. Kalau diterjemahkan dalam konteks ilmu ekonomi, maka rakyat
adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragaan ekonomi yang relatif sama. Dainy
Tara (2001) membuat perbedaan yang tegas antara ‘ekonomi rakyat’ dengan ‘ekonomi
kerakyatan’. Menurutnya, ekonomi rakyat adalah satuan (usaha) yang mendominasi ragaan
perekonomian rakyat. Sedangkan ekonomi kerakyatan lebih merupakan kata sifat, yakni
upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia
usaha. Dalam ruang Indonesia, maka kata rakyat dalam konteks ilmu ekonomi selayaknya
diterjemahkan sebagai kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha
berskala kecil dalam permodalannya, sarana teknologi produksi yang sederhana, menejemen
usaha yang belum bersistem, dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. Karena
kelompok usaha dengan karakteristik seperti inilah yang mendominasi struktur dunia usaha di
Indonesia.

Ekonomi Kerakyatan dan Sistem Ekonomi Pasar

Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi
disekelilingnya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif artifisial apapun, atau dengan
kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumberdaya alam, sumberdaya
manusia, serta peluang pasar. Perlu dipahami bahwa dalam ruang ekonomi nasional pun
terdapat sejumlah aktor ekonomi (konglomerat) dengan bentuk usaha yang kontras dengan
apa yang diragakan oleh sebagian besar pelaku ekonomi rakyat. Memiliki modal yang besar,
mempunyai akses pasar yang luas, menguasai usaha dari hulu ke hilir, menguasai teknologi
produksi dan menejemen usaha modern. Kenapa mereka tidak digolongkan juga dalam
ekonomi kerakyatan?. Karena jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak merupakan
representasi dari kondisi ekonomi rakyat yang sebenarnya. Atau dengan kata lain, usaha
ekonomi yang diragakan bernilai ekstrim terhadap totalitas ekonomi nasional. Golongan yang
kedua ini biasanya (walaupun tidak semua) lebih banyak tumbuh karena mampu membangun
partner usaha yang baik dengan penguasa sehingga memperoleh berbagai bentuk
kemudahan usaha dan insentif serta proteksi bisnis. Mereka lahir dan berkembang dalam
suatu sistem ekonomi yang selama ini lebih menekankan pada peran negara yang
dikukuhkan (salah satunya) melalui pengontrolan perusahan swasta dengan rezim insentif
yang memihak serta membangun hubungan istimewa dengan pengusaha-pengusaha yang
besar yang melahirkan praktik-praktik anti persaingan.

Lahirnya sejumlah pengusaha besar (konglomerat) yang bukan merupakan hasil derivasi dari
kemampuan menejemen bisnis yang baik menyebabkan fondasi ekonomi nasional yang
dibangun berstruktur rapuh terhadap persaingan pasar. Mereka tidak bisa diandalkan untuk
menopang perekonomian nasional dalam sistem ekonomi pasar. Padahal ekonomi pasar
diperlukan untuk menentukan harga yang tepat (price right) untuk menentukan posisi tawar-
menawar yang imbang. Saya perlu menggaris bawahi bahwa yang patut mendapat
kesalahan terhadap kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama regim orde baru
adalah implementasi kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang tidak tepat dalam
sistem ekonomi pasar, bukan ekonomi pasar itu sendiri. Dalam pemahaman seperti ini, saya
merasa kurang memiliki justifikasi empirik untuk mempertanyakan kembali sistem ekonomi
pasar, lalu mencari suatu sistem dan paradigma baru di luar sistem ekonomi pasar untuk
dirujuk dalam pembangunan ekonomi nasional. Bagi saya dunia “pasar” Adam Smith adalah
suatu dunia yang indah dan adil untuk dibayangkan. Tapi sayangnya sangat sulit untuk diacu
untuk mencapai keseimbangan dalam tatanan perekonomian nasional. Karena konsep
“pasar” yang disodorkan oleh Adam Smit sesungguhnya tidak pernah ada dan tidak pernah
akan ada. Namun demikian tidak harus diartikan bahwa konsep pasar Adam Smith yang
relatif bersifat utopis ini harus diabaikan. Persepektif yang perlu dianut adalah bahwa
keindahan, keadilan dan keseimbangan yang dibangun melalui mekanisme “pasar”nya Adam
Smith adalah sesuatu yang harus diakui keberadaannya, minimal telah dibuktikan melalui
suatu review teoritis. Yang perlu dilakukan adalah upaya untuk mendekati kondisi indah, adil,
dan seimbang melalui berbagai regulasi pemerintah sebagai wujud intervensi yang
berimbang dan kontekstual. Bukan sebaliknya membangun suatu format lain di luar
“ekonomi pasar” untuk diacu dalam pembangunan ekonomi nasional, yang keberhasilannya
masih mendapat tanda tanya besar atau minimal belum dapat dibuktikan melalui suatu kajian
teoritis-empiris.

Mari kita membedah lebih jauh tentang konsep ekonomi kerakyatan. Pengalaman
pembangunan ekonomi Indonesia yang dijalankan berdasarkan mekanisme pasar sering
tidak berjalan dengan baik, khusunya sejak masa orde baru. Kegagalan pembangunan
ekonomi yang diragakan berdasarkan mekanisme pasar ini antara lain karena kegagalan
pasar itu sendiri, intervensi pemerintah yang tidak benar, tidak efektifnya pasar tersebut
berjalan, dan adanya pengaruh eksternal. Kemudian sejak sidang istimewa (SI) 1998,
dihasilkan suatu TAP MPR mengenai Demokrasi Ekonomi, yang antara lain berisikan tentang
keberpihakan yang sangat kuat terhadap usaha kecil-menengah serta koperasi. Keputusan
politik ini sebenarnya menandai suatu babak baru pembangunan ekonomi nasional dengan
perspektif yang baru, di mana bangun ekonomi yang mendominasi regaan struktur ekonomi
nasional mendapat tempat tersendiri. Komitmen pemerintah untuk mengurangi gap
penguasaan aset ekonomi antara sebagian besar pelaku ekonomi di tingkat rakyat dan
sebagian kecil pengusaha besar (konglomerat), perlu mendapat dukungan dari berbagai
pihak. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya struktur ekonomi yang berimbang antar
pelaku ekonomi dalam negeri, demi mengamankan pencapaian target pertumbuhan (growth)
(Gillis et al., 1987). Bahwa kegagalan kebijakan pembangunan ekonomi nasional masa orde
baru dengan keberpihakan yang berlebihan terhadap kelompok pengusaha besar perlu
diubah. Sudah saatnya dan cukup adil jika pengusaha kecil –menengah dan bangun usaha
koperasi mendapat kesempatan secara ekonomi untuk berkembang sekaligus mengejar
ketertinggalan yang selama ini mewarnai buruknya tampilan struktur ekonomi nasional.
Sekali lagi, komitmen politik pemerintah ini perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Hal yang masih kurang jelas dalam TAP MPR dimaksud adalah apakah perspektif
pembangunan nasional dengan keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini
masih dijalankan melalui mekanisme pasar? Dalam arti apakah intervensi pemerintah dalam
bentuk keberpihakan kepada usaha kecil-menengah dan koperasi ini adalah benar-benar
merupakan affirmative action untuk memperbaiki distorsi pasar yang selama ini terjadi karena
bentuk campur tangan pemerintah dalam pasar yang tidak benar? Ataukah pemerintah mulai
ragu dengan bekerjanya mekanisme pasar itu sendiri sehingga berupaya untuk
meninggalkannya dan mencoba merujuk pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang
baru ?. Nampaknya kita semua berada pada pilahan yang dilematis. Mau meninggalkan
mekanisme pasar dalam sistem ekonomi nasional, kita masih ragu-ragu, karena pengalaman
keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara maju saat ini selalu merujuk pada
bekerjanya mekanisme pasar. Mau merujuk pada bekerja suatu mekanisme yang baru
(apapun namanya), dalam prakteknya belum ada satu negarapun yang cukup
berpengalaman serta yang paling penting menunjukkan keberhasilan nyata, bahkan kita
sendiri belum berpengalaman (ibarat membeli kucing dalam karung). Bukti keragu-raguan ini
tercermin dalam TAP MPR hasil sidang istimewa itu sendiri, dimana demokrasi ekonomi
nasional tidak semata-mata dijalankan dengan keberpihakan habis-habisan pada usaha kecil-
menengah dan koperasi, tapi perusahaan swasta besar dan BUMN tetap mendapat tempat
bahkan mempunyai peran yang sangat strategis.

Bagi saya, sebenarnya keragu-raguan ini tidak perlu terjadi, jika kita semua jernih melihat dan
jujur untuk mengakui bahwa kegagalan-kegagalan pembangunan ekonomi nasional selama
ini terjadi bukan disebabkan oleh karena ketidakmampuan mekanisme pasar mendukung
keberhasilan pembangunan ekonomi nasional, tetapi lebih disebabkan karena pasar sendiri
tidak diberi kesempatan untuk bekerja secara baik. Bentuk campur tangan pemerintah
(orde baru) yang seharusya diarahkan untuk menjamin bekerjanya mekanisme pasar guna
mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional, ternyata dalam prakteknya lebih
diarahkan pada keberpihakan yang berlebihan pada pengusaha besar (konglomerat) dalam
bentuk insentif maupun regim proteksi yang ekstrim. Pengalaman pembangunan ekonomi
nasional dengan kebijakan proteksi bagi kelompok industri tertentu (yang diasumsikan
sebagai infant industry) dan diharapkan akan menjadi “lokomotif “ yang akan menarik
gerbong ekonomi lainnya, pada akhirnya bermuara pada incapability dan inefficiency dari
industri yang bersangkutan (contoh kebijakan pengembangan industri otomotif). Periode
waktu yang telah ditetapkan untuk berkembang menjadi suatu bisnis yang besar dalam skala
dan skop serta melibatkan sejumlah besar pelaku ekonomi di dalamnya, menjadi tidak
bermakna saat dihadapkan pada kenyataan bahwa bisnis yang bersangkutan masih tetap
berada pada level perkembangan “bayi”, karena dimanjakan oleh berbagai insentif dan
berbagai bentuk proteksi.

Saya juga kurang setuju dengan pendapat bahwa mekanisme pasar tidak dapat menjalankan
fungsi sosial dalam pembangunan ekonomi nasional. Pendapat seperti ini juga tidak benar
secara absolut. Buktinya negara-negara maju yang selalu merujuk pada bekerjanya
mekanisme pasar secara baik, mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan
ekonominya secara baik pula. Sudah menjadi pengetahuan yang luas bahwa negara-negara
maju (termasuk beberapa negara berkembang, seperti Singapura) mempunyai suatu sistem
social security jangka panjang (yang berfungsi secara permanen) untuk membantu kelompok
masyarakat yang inferior dalam kompetisi memperoleh akses ekonomi. Justru negara-
negara yang masih setengah hati mendorong bekerjanya mekanisme pasar (seperti
Indonesia) tidak mampu menjalankan fungsi sosial dalam pembangunan ekonominya secara
mantap. Sebenarnya sudah banyak program jaminan sosial temporer semacam JPS di
Indonesia, namun pelaksanaannya masih jauh dari memuaskan, karena kurang mantapnya
perencanaan, terjadi banyak penyimpangan dalam implementasi, serta lemahnya
pengawasan.

Fungsi sosial dapat berjalan dengan baik dalam mekanisme pasar, jika ada intervensi
pemerintah melalui perpajakan, instrumen distribusi kekayaan dan pendapatan, sistem
jaminan sosial, sistem perburuhan, dsb. Ini yang namanya affirmative action yang terarah
oleh pemerintah dalam mekanisme pasar (Bandingkan dengan pendapat Anggito Abimanyu,
2000).

Jadi yang salah selama ini bukan mekanisme pasar, tetapi kurang adanya affirmative action
yang jelas oleh pemerintah demi menjamin bekerjanya mekanisme pasar. Yang disebut
dengan affirmative action seharusnya lebih dutujukkan pada disadvantage group (sebagian
besar rakyat kecil), bukan sebaliknya pada konglomerat. Kalau begitu logikanya, maka
kurang ada justifikasi logis yang jelas untuk mengabaikan bekerjanya mekanisme pasar
dalam mendukung keberhasilan pembangunan ekonomi nasional. Apalagi dengan merujuk
pada suatu mekanisme sistem ekonomi yang baru. Ini sama artinya dengan “sakit di kaki,
kepala yang dipenggal”. Bagi saya, harganya terlalu mahal bagi rakyat jika kita mencoba-
coba dengan sesuatu yang tidak pasti. Pada saat yang sama, rakyat sudah terlalu lama
menunggu dengan penuh pengorbanan, untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi
nasional yang dapat dinikmati secara bersama.

Perlu dicatat, bahwa disamping obyek keberpihakan selama pemerintah orde baru dalam
kebijakan ekonomi nasionalnya salah alamat, pemerintah sendiri kurang mempunyai acuan
yang jelas tentang kapan seharusnya phasing-out process diintrodusir dalam tahapan
intervensi, demi mengkreasi bekerjanya mekanisme pasar dalam program pembangunan
ekonomi nasional. Akibatnya tidak terjadi proses pendewasaan (maturity) terhadap obyek
keberpihakan (dalam mekanisme pasar) untuk mengambil peran sebagai lokomotif
keberhasilan pembangunan ekonomi nasional.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang salah atau kurang sempurna dengan konsep
ekonomi kerakyatan?. Sejak awal saya katakan bahwa semua pihak perlu mendukung
affirmative action policy pada usaha kecil-menengah dan koperasi yang diambil oleh
pemerintah sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Pembangunan harus dikembangkan dengan
berbasiskan ekonomi domestik (bila perlu pada daerah kabupaten/kota) dengan tingkat
kemandirian yang tinggi, kepercayaan diri dan kesetaraan, meluasnya kesempatan berusaha
dan pendapatan, partisipatif, adanya persaingan yang sehat, keterbukaan/demokratis, dan
pemerataan yang berkeadilan. Semua ini merupakan ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan yang
kita tuju bersama (Prawirokusumo, 2001). Kita akan membahas lebih jauh tentang
kekurangan konsep ekonomi kerakyatan yang di dengungkan oleh pemerintah pada sub-
pokok bahasan di bawah ini.

Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Perlu digarisbawahi bahwa ekonomi kerakyatan tidak bisa hanya sekedar komitmen politik
untuk merubah kecenderungan dalam sistem ekonomi orde baru yang amat membela kaum
pengusaha besar khususnya para konglomerat. Perubahan itu hendaknya dilaksanakan
dengan benar-benar memberi perhatian utama kepada rakyat kecil lewat program-program
operasional yang nyata dan mampu merangsang kegiatan ekonomi produktif di tingkat rakyat
sekaligus memupuk jiwa kewirausahaan. Tidak dapat disangkal bahwa membangun ekonomi
kerakyatan membutuhkan adanya komitmen politik (political will), tetapi menyamakan
ekonomi kerakyatan dengan praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil (saya tidak
membuat penilaian terhadap sistem JPS), adalah sesuatu kekeliruan besar dalam perspektif
ekonomi kerakyatan yang benar. Praktek membagi-bagi uang kepada rakyat kecil sangat
tidak menguntungkan pihak manapun, termasuk rakyat kecil sendiri (Bandingkan dengan
pendapat Ignas Kleden, 2000). Pendekatan seperti ini jelas sangat berbeda dengan apa
yang dimaksud dengan affirmative action. Aksi membagi-bagi uang secara tidak sadar
menyebabkan usaha kecil-menengah dan koperasi yang selama ini tidak berdaya untuk
bersaing dalam suatu mekanisme pasar, menjadi sangat tergantung pada aksi dimaksud.
Sebenarnya yang harus ada pada tangan obyek affirmative action adalah kesempatan untuk
berkembang dalam suatu mekanisme pasar yang sehat, bukan cash money/cash material.
Jika pemahaman ini tidak dibangun sejak awal, maka saya khawatir cerita keberpihakan yang
salah selama masa orde baru kembali akan terulang. Tidak terjadi proses pendewasaan
(maturity) dalam ragaan bisnis usaha kecil-menengah dan koperasi yang menjadi target
affirmative action policy. Bahkan sangat mungkin terjadi suatu proses yang bersifat counter-
productive, karena asumsi awal yang dianut adalah usaha kecil-menengah dan koperasi yang
merupakan ciri ekonomi kerakyatan Indonesia tumbuh secara natural karena adanya
sejumlah potensi ekonomi disekelilingnya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif
artifisial apapun, atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan
sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta peluang pasar. Modal dasar yang dimiliki
inilah yang seharusnya ditumbuhkembangkan dalam suatu mekanisme pasar yang sehat.
Bukan sebaliknya ditiadakan dengan menciptakan ketergantungan model baru pada
kebijakan keberpihakan dimaksud.

Selanjutnya, pemerintah harus mempunyai ancangan yang pasti tentang kapan seharusnya
pemerintah mengurangi bentuk campur tangan dalam affirmative action policynya, untuk
mendorong ekonomi kerakyatan berkembang secara sehat. Oleh karena itu, diperlukan
adanya kajian ekonomi yang akurat tentang timing dan process di mana pemerintah harus
mengurangi bentuk keberpihakannya pada usaha kecil-menengah dan koperasi dalam
pembangunan ekonomi rakyat. Isu ini perlu mendapat perhatian tersendiri, karena sampai
saat ini masih banyak pihak (di luar UKM dan Koperasi) yang memanfaatkan momen
keberpihakan pemerintah ini sebagai free-rider. Justru kelompok ini yang enggan mendorong
adanya proses phasing-out untuk mengkerasi mekanisme pasar yang sehat dalam rangka
mendorong keberhasilan program ekonomi kerakyatan. Kita semua masih mengarahkan
seluruh energi untuk mendukung program keberpihakan pemerintah pada UKM dan koperasi
sesuai dengan tuntutan TAP MPR. Tapi kita lupa bahwa ada tahapan lainnya yang penting
dalam program keberpihakan dimaksud, yaitu phasing-out process yang harus pula
dipersiapkan sejak awal. Kalau tidak, maka sekali lagi kita akan mengulangi kegagalan yang
sama seperti apa yang terjadi selama masa pemerintahan orde baru.

Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di NTT

Kita telah membahas tentang konsep ekonomi kerakyatan dalam pembangunan ekonomi
nasional melalui program-program keberpihakan pemerintah terhadap UKM dan Koperasi.
Masih ada masalah lain yang perlu dibahas dalam hubungan dengan internal condition UKM
dan Koperasi. Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa permasalahan umum yang
dihadapi oleh UKM dan Koperasi adalah: keterbatasan akses terhadap sumber-sumber
permbiayaan dan permodalan, keterbatasan penguasaan teknologi dan informasi,
keterbatasan akses pasar, keterbatasan organisasi dan pengelolaannya (Asy’arie, 2001).

Komitmen keberpihakan pemerintah pada UKM dan Koperasi di dalam perspektif ekonomi
kerakyatan harus benar-benar diarahkan untuk mengatasi masalah-masalah yang disebut di
atas. Program pengembangan ekonomi rakyat memerlukan adanya program-program
operasional di tingkat bawah, bukan sekedar jargon-jargon politik yang hanya berada pada
tataran konsep. Hal ini perlu ditegaskan, agar pembahasan tentang ekonomi kerakyatan
tidak hanya berhenti pada suatu konsep abstrak (seperti pembahasan tentang konsep
‘binatang’ di atas), tetapi perlu ditindalanjuti dengan pengembangan program-program
operasional yang diarahkan untuk mengatasi persoalan keterbatasan akses kebanyakan
rakyat kecil. Ini adalah suatu model pendekatan struktural (structural approach).

Pada era otonomisasi saat ini, konsep pengembangan ekonomi kerakyatan harus
diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada
tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Namun demikian perlu
ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak
harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam
perspektif ‘regionalisasi’ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi, keunggulan,
peluang, dan karakter sosial budaya.

Pada tingkat regional NTT, masih terdapat persoalan mendasar yang ‘mengurung’ para
pengusaha kecil-menengah dan Koperasi (termasuk di dalamnya berbagai bentuk usaha di
bidang pertanian) untuk melakukan rasionalisasi dan ekspansi usaha. Sekalipun sudah
banyak program pemberdayaan ekonomi yang langsung menyentuh rakyat di tingkat bawah
telah dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga non-pemerintah
(NGOs), tetapi sebagian besar rakyat kecil masih sulit untuk mengaktualisasikannya dalam
ragaan usaha mereka. Tingkat pencapaian tertinggi yang paling banyak diperoleh dari
program-program dimaksud adalah hanya terbatas pada tumbuhnya kesadaran berpikir dan
hasrat untuk maju. Tetapi ada semacam jarak antara kesadaran berpikir dan realitas
perilaku (Bandingkan dengan pendapat Musa Asy’arie, 2001). Sekedar sebagai
pembanding disajikan data realisasi dan tunggakan Kredit Usaha Tani (KUT) selama periode
1996-2000. Jumlah realisasi KUT yang telah disalurkan pada petani sejak tahun 1996
sampai tahun 2000 kurang lebih 35, 6 milyar dengan jumlah tunggakan (pokok+bunga)
sebesar kurang lebih 26,1 milyar (Laporan Gubernur NTT, 2002). Atau dengan kata lain
tingkat keberhasilan KUT di NTT hanya mencapai kurang dari 26 %. Selanjutnya, data yang
diperoleh dari Biro Perekonomian Seta NTT menunjukkan bahwa sejak ditetapkannya TAP
MPR tentang demokrasi ekonomi yang menekankan adanya keberpihakan yang jelas
terhadap UKM dan Koperasi di Indonesia, jumlah KK miskin di NTT malah mengalami
kenaikan yang cukup murad sebesar 55 % selama periode 1998-2002.

Persoalan mendasar yang mengurung ini, mungkin ada kaitannya dengan sistem nilai budaya
yang sudah mengakar pada diri pelaku ekonomi rakyat di NTT secara turun temurun. Sistem
nilai budaya ini yang banyak mendeterminasi perilaku aktor ekonomi rakyat di NTT, termasuk
di dalamnya cara pandang tentang usaha, cara pandang tentang tingkat keuntungan, cara
pengelolaan keuangan, sikap terhadap mitra dan kompetitor, strategei menghadapi resiko,
dsb. Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa program
pemberdayaan ekonomi rakyat, khususnya di NTT, sebaiknya dimulai dengan program
rekayasa sosial-budaya (socio-cultural engineering) untuk merubah inner life dan
mengkondisikan suatu tatanan masyarakat yang akomodatif terhadap tuntutan pasar untuk
maju. Ini adalah suatu model pendekatan lain yang disebut pendekatan kultural (cultural
approach).

Fredrik Benu – Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Kupang

Makalah disampaikan pada Seminar Pemberdayaan Ekonomi Rakyat di Provinsi NTT, tgl. 26 Nopember 2002. di Hotel
Kristal, Kupang.
PUSTAKA

Abimanyu, Anggito. 2000, Ekonomi Indonesia Baru, kajian dan alternatif solusi menuju
pemulihan, Elex Media Komputindo, Jakarta.

Asy’arie, Musa. 2001, Keluar dari Krisis Multi Dimensi, Lembaga Studi Filsafat Islam,
Yogyakarta.

Gillis, Malcolm; Perkins, Dwight, H., Roemer Donald R. 1987, Economics of Development, 2nd
Ed. W.W.Norton & Companny, New York.

Kleden, Ignas. 2000, Persepsi dan Mispersepsi tentang Pemulihan Ekonomi Indonesia,
Pokok-Pokok pikiran dalam Menggugat Masa Lalu, Menggagas Masa Depan Ekonomi
Indonesia, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, 2002, Laporan disampaikan pada kunjungan Menteri
Pertanian Republik Indonesia di Propinsi Nusa Tenggara Timur, tidak dipublikasikan.

Prawirokusumo, Soeharto. 2001, Ekonomi Rakyat, Kosep, Kebijakan, dan Strategi, BPFE,
Yogyakarta.

Simanjuntak, Djisman, S. 2000, Ekonomi Pasar Sosial Indonesia, dalam Menggugat Masa
Lalu, Menggagas Masa Depan Ekonomi Indonesia, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Tara, Azwir Dainy, 2001, Strategi Membangun Ekonomi Rakyat, Nuansa Madani, Jakarta.

[Artikel - Th. I - No. 12 - Februari 2003]


Mubyarto

EKONOMI RAKYAT SEPANJANG TAHUN 2002

Tahun 2002 adalah tahun yang benar-benar istimewa bagi ekonomi rakyat. Betapa tidak.
Para ekonom makro pengritik pemerintah “dengan bangga” menunjukkan data BKPM
(Persetujuan investasi pemerintah) yang anjlog 57% untuk modal dalam negeri dan 35%
untuk modal asing dibanding tahun 2001. Data penurunan penanaman modal yang sangat
besar ini, sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi nasional makin terpuruk atau
sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan (recovery). Data-data ini diperkuat
lagi oleh “taksiran” pelarian modal ke luar negeri sebesar rata-rata US $ 10 milyar per tahun
sejak krismon 1997.

Yang licik atau tidak jujur (unfair) dari analisis makro ekonomi ini adalah tidak dengan
menyebutkan secara jelas dan eksplisit bahwa ekonomi Indonesia selama 2002 telah tumbuh
3,5%. Jika saja mereka mau menyebutkan fakta ini memang mereka akan terpaksa mengakui
kekeliruan teori ekonomi yang selalu mereka tonjolkan bahwa tanpa investasi tidak mungkin
ada pertumbuhan ekonomi. Hukum atau teori ekonomi ini ternyata sama sekali tidak terbukti
sepanjang tahun 2002. Investassi tidak berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, karena
ternyata dalam kondisi investasi merosot ekonomi tumbuh 3,5%. Analisis makroekonomi
(Neoklasik Ortodok) memang di sini menjadi buntu karena tidak ada yang dapat
menerangkan mengapa ekonomi dapat tumbuh tanpa investasi. Dalam kondisi bingung inilah
Chatib Basri seorang ekonom muda Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia lalu menunjuk
adanya ekonomi tersembunyi (hidden economy) yang sulit diraba, sulit dimengerti, dan sulit
diterangkan.

Bagi kelompok ekonom lain yang membela dan memihak ekonomi rakyat, yang dalam tulisan
yang sama oleh ekonom senior FE-UI (Kompas, 19 Januari) disebut kelompok ekonom
populis yang “tidak realistis” dan “tidak ilmiah”, ekonomi tersembunyi ini sangat jelas tidak
tersembunyi. Inilah ekonomi rakyat yang dipahami oleh semua orang kecuali pakar-pakar
ekonomi keblinger. Bung Hatta, yang ekonom Sumatera saja mengerti apa itu ekonomi rakyat
dan pada majalah “Daulat Rakyat” tahun 1931 menulis “Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya”.
Bahwa ekonom-ekonom modern zaman sekarang pura-pura tidak mengerti ekonomi rakyat
dan mengatakan itu sebagai ekonomi tersembunyi (hidden economy) memang mudah
dipahami karena pakar-pakar ekonomi ini sudah tercekoki oleh teori-teori ekonomi Neoliberal
dari Barat yang hanya “bergaul” dengan fakta-fakta ekonomi modern, ekonomi industri,
ekonomi pasar uang/modal. Pergaulan mereka semakin sempit karena waktu mereka banyak
tersita oleh komputer/internet yang mampu memberikan data-data kuantitatif dari seluruh
dunia. Sungguh sangat kontradiktif, globalisasi yang arti harafiahnya adalah perluasan
wawasan ternyata telah menyempitkan pendangan para ekonom makro Neoliberal hingga
ekonomi rakyat di depan mata dianggap ekonomi tersembunyi.

Pada tanggal 18 Maret 2002 Redaktur JER bersama Menteri Koperasi & UKM bertemu
Presiden Megawati di Istana Negara untuk melaporkan hasil lokakarya “Ekonomi Kerakyatan”
tanggal 11 September 2001. Presiden menyambut baik hasil-hasil seminar yang antara lain
menyimpulkan pemihakan Presiden pada Ekonomi Kerakyatan meskipun di muka umum
tidak terkesan demikian. Presiden menyatakan antara lain bahwa ekonomi rakyat tidak
mungkin mengalami krisis berkepanjangan, karena daya tahan yang sangat tinggi. Daya
tahan yang tinggi inilah yang menyebabkan ekonomi rakyat cepat pulih dari krisis “laksana
baju bolong-bolong yang merajut kembali sendiri”. Saat itu kami usulkan agar Presiden
secara terbuka menunjukkan keberpihakan ini, beliau menjawab: “Bapak-bapak saja, karena
kalau saya bersikap demikian, para elit di sekitar saya serta merta akan menentangnya, dan
saya akan terlalu sibuk berdebat dengan mereka, maka saya lebih baik tutup mulut”. Sikap
dan jawaban Presiden yang demikian tentu saja mengecewakan kita, karena sepertinya
perjuangan kita membela ekonomi rakyat tidak pernah akan berhasil. Presiden kita ternyata
tidak bersama kita.
Sidang tahunan MPR-RI bulan Agustus 2002 merupakan tonggak sejarah bagi ekonomi
rakyat ketika MPR memutuskan menarik kembali kesepakatan sebelumnya (ST-2000) untuk
menghapus asas kekeluargaan dari pasal 33 UUD 1945. ST-MPR 2002 memutuskan
mempertahankan asas kekeluargaan bahkan mempertahankan keseluruhan (3 Ayat) pasal
33 tanpa amandemen apapun. Ini berarti kemenangan para pembela ekonomi rakyat yang
sejak Mei 2001 sebenarnya telah “dinyatakan kalah” karena 5 dari 7 pakar ekonomi dalam
BP-MPR setuju untuk menghapus asas kekeluargaan untuk digantikan dengan asas
keadilan, efisiensi, dan demokrasi ekonomi. Secara lengkap rumusan pasal 33 baru hasil ST-
2000 berisi 5 ayat sebagai berikut:

1. Perekonomian disusun dan dikembangkan sebagai usaha bersama seluruh rakyat


secara berkelanjutan berdasar atas keadilan, efisiensi, dan demokrasi ekonomi,
untuk mewujudkan kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia;
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai dan/atau diatur oleh negara berdasarkan asas keadilan dan
efisiensi yang diatur dengan undang-undang;
3. Bumi, air, dan dirgantara, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai dan atau diatur oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat, yang diatur dengan undang-undang;
4. Pelaku ekonomi adalah koperasi, badan usaha milik negara, dan usaha swasta
termasuk usaha perseorangan;
5. Penyusunan dan pengembangan perekonomian nasional harus senantiasa menjaga
dan meningkatkan tata lingkungan hidup, memperhatikan dan menghargai hak
ulayat, serta menjamin keseimbangan dan kemajuan seluruh wilayah negara.

Demikian menggusur kata asas kekeluargaan dengan memasukkan kata demokrasi ekonomi,
keadilan, dan efisiensi, rupanya dianggap memadai dan tidak melanggar asas kerakyatan.
Tetapi jika ke 5 ayat baru pasal 33 ini dianggap cukup untuk menghidarkan sistim
kapitalisme, liberalisme, dan sosialisme, maka penghapusan penjelasan seluruh pasal 33
masih tetap berbahaya karena tidak lagi ada ketentuan tentang “mendahulukan kepentingan
masyarakat, bukan kemakmuran orang seorang”. Lagipula menyebutkan koperasi sebagai
salah satu pelaku ekonomi, disamping BUMN dan usaha swasta, sebenarnya merupakan
salah kaprah yang sulit dimaafkan. Koperasi bukan pelaku ekonomi. Pelaku ekonomi tetap
saja perorangan sebagai produsen ataupun konsumen, dan pemerintah, sedangkan koperasi
adalah wadah organisasi tempat bergiatnya ekonomi rakyat. Hanya orang seorang adalah
pelaku ekonomi yang instinknya bekerja keras berusaha mencapai tujuan, sedangkan
organisasi koperasi adalah wadah kegiatan yang menjadi alat untuk memperjuangkan
kepentingan ekonomi anggota-anggota koperasi.

Dalam sidang tahunan (ST) MPR-2002 para politisi kita berdebat keras melaksanakan
amandemen UUD 1945 yang dikenal dengan amandemen ke-4. Memang amandemen yang
paling penting menyangkut bidang politik yaitu tentang pemilihan presiden apakah melalui
MPR yang selama ini berjalan atau melalui pemilihan langsung. Ternyata yang menang
adalah cara pemilihan yang kedua yaitu pemilihan presiden langsung meskipun tetap tidak
ada jaminan dapat terpilihnya presiden yang benar-benar mampu mempersatukan seluruh
bangsa untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan bangsa yang makin komplek
termasuk ancaman disintegrasi bangsa yang amat nyata.

Mungkin karena perhatian amat besar pada masalah pemilihan presiden atau katena
perjuangan yang gigih dari segelintir teman-teman kita di MPR seperti Prof. Sri-Edi Swasono,
mayoritas anggota nampaknya menyadari kekeliruan pendapat yang ingin menggusur asas
kekeluargaan. Hasilnya cukup melegakan karena asas kekeluargaan tidak jadi digusur dan
ketiga ayat pasal 33 dipertahankan utuh tanpa perubahan apapun meskipun ada tambahan
ayat 4 dan 5 sebagai “kompromi” yang memasukkan kata “efisiensi berkeadilan”. Tetapi
sekali lagi tetap merupakan kekeliruan dan kerugian besar bagi bangsa Indonesia dan sistem
serta praksis perekonomian, karena MPR memutuskan menghapus seluruh penjelasan pasal
33 termasuk di antaranya hilangnya kata bangun perusahaan koperasi dan pengertian
lengkap demokrasi ekonomi yang menekankan pada keharusan mendahulukan kepentingan
masyarakat.

Bulan-bulan setelah selesainya ST MPR 2002 terjadi perdebatan menarik tentang perlakuan
yang dianggap tepat pada para konglomerat atau eks-konglomerat yang mbandel tidak mau
(bukan tidak mampu) membayar utang yang ratusan trilyun. BPPN yang merupakan rumah
sakit raksasa untuk menyelamatkan sektor perbankan dari kebangkrutan total menghadapi
dilema. Di satu pihak BPPN diperintahkan MPR dan UU tentang Propenas untuk
“membereskan” segala utang ini dalam 5 tahun, termasuk juga melaksanakan komitmen
pada LoI-IMF, yaitu melalui restrukturisasi perusahaan yang sakit dan penjualan aset-
asetnya. Tetapi TAP MPR yang sama dan UU No 25 tentang Propenas juga tegas-tegas
memerintahkan pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan, bukan lagi sistem ekonomi
konglomerasi yang terbukti telah menyulut bom waktu berupa krisis moneter 1997. Dilema ini
berkepanjangan karena pada setiap kasus seperti penjualan BCA atau Indosat selalu muncul
masalah masa depan sistem ekonomi Indonesia, apakah tetap patuh pada pelaksanaan
amanat pasal 33 UUD yang nasionalistik atau sistem ekonomi Neoliberal yang kini
menguasai ekonomi dunia. Pelaksanaan sistem ekonomi kerakyatan yang (harus) memihak
rakyat berkali-kali terbentur atau berbenturan dengan kepentingan kelompok (vested interest)
yang ingin tetap menguasai perekonomian Indonesia seperti masa-masa sebelum krismon.

Dilema sangat berat ini menjadi terbuka lebar pada kasus kenaikan serentak harga-harga
BBM, Tarif dasar listrik, dan telepon awal Januari 2002, yang mendapat reaksi keras dari
rakyat, lebih-lebih dengan pernyataan pembelaan Presiden di Bali tanggal 12 Januari.
Presiden dengan tegas dan terus terang menyatakan pilihan kebijakan yang “tidak populis”
(tidak memihak rakyat) karena dianggap “konstruktif” dalam jangka panjang. Tentu saja
pernyataan ini mendapat reaksi makin keras karena tidak saja kebijakan yang demikian
melawan TAP MPR dan UU Propenas tentang sistem ekonomi kerakyatan, tetapi juga secara
nyata sangat memberatkan kehidupan ekonomi rakyat. Pemilihan kebijakan yang tidak
populis inilah yang kemudian memperkuat demonstrasi mahasiswa yang selanjutnya
menuntut Presiden dan Wakil Presiden mundur karena tidak lagi merasa dipihaki. Presiden
dan Wakil presiden yang sangat didambakan memihak rakyat tidak lagi dipihak mereka (atau
melawan mereka) sehingga tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya.

Inilah nasib ekonomi rakyat yang cukup suram dan merisaukan. Berbagai upaya untuk
memihakinya selalu kandas ditengah jalan karena kepentingn-kepentingan yang mapan
bercokol (vested interest) selalu berusaha keras pula untuk menyabotnya demi kepentingan
mereka, sehingga Direktur Utama BRI Rudjito menyatakan di DPR “vested interest lebih
tinggi dari interest rate” (yang sudah cukup tinggi!). Pada forum sama di DPR-RI tanggal 28
Januari Nyoman Muna dan Bambang Ismawan mengusulkan dikembangkannya “microcredit
wholesaler” (pemasok modal besar untuk ekonomi rakyat) tetapi yang harus dijaga benar-
benar agar tidak dicegat oleh pemangsa (predator) yang akan memangsa kredit-kredit mikro
ini untuk mereka sendiri. Dalam kaitan ini Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan
Menengah) perlu berhati-hati karena UKM inilah salah satu wadah kelompok yang sangat
mudah diselundupi sehingga menjadi pemangsa (predator) barbagai program kredit bagi
ekonomi rakyat. Bahaya ini sungguh jelas terlihat karena definisi kredit UKM adalah nilai
kredit antara Rp 50 juta dan Rp 500 juta yang jelas bukan kelompok ekonomi mikro yang
miskin.

Usulan Filipina dalam AIPO-ASEAN (Organisasi antar Parlemen ASEAN) untuk membentuk
Bank Penanggulangan Kemiskinan (ASEAN Poverty Alleviation Bank), dikawatirkan makin
melembagakan kehidupan predator-predator kredit mikro bagi penduduk/warga miskin yang
haus kredit di negara-negara ASEAN. Di Indonesia sejarah dan praktek BRI sudah dukup
meyakinkan sebagai Bank bagi penduduk miskin terutama di perdesaan. Dan praktek
perbankan BRI dengan unit-unit desanya dapat didukung kegiatan BPR dan Koperasi yang
dikembangkan berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang sudah tumbuh di mana-
mana secara mandiri dengan modal tabungan anggota. Praktek-praktek BRI ini sebenarnya
sudah ditiru/direplikasi di sejumlah negara Asia seperti India tetapi rupanya kurang mendapat
perhatian di negeri sendiri.
Kiranya menjadi jelas bagaimana kehidupan ekonomi rakyat sepanjang tahun 2002 sampai
awal 2003 ini. Pertumbuhan ekonomi nasional yang dilaporkan BPS 3,5% jelas-jelas
merupakan sumbangan ekonomi rakyat yang dapat diandalkan ketahanannya. Ekonomi
rakyat bukanlah ekonomi tersembunyi (hidden economy) tetapi ekonominya wong cilik yang
dapat dengan mudah dilihat dan ditemui di mana-mana di sekitar kita, di desa-desa maupun
di kota-kota. Menjamurnya pedagang kaki lima di mana-mana di kota-kota besar dan kecil,
adalah indikator penemuan ekonomi rakyat pada habitatnya yang benar, ketika ekonomi
sektor industri modern makin tertutup dan bermasalah. Jika pemerintah menganggap
menjamurnya pedagang kaki lima sebagai masalah yang memusingkan, ditinjau dari para
pelaku ekonomi rakyat ia merupakan pemecahan masalah (solution). Dan jalan keluar atau
pemecahan masalah ini sama sekali tidak memperoleh bantuan modal dari pemerintah atau
bank-bank pemerintah, tetapi semuanya dengan modal mereka sendiri. Ekonomi rakyat
menjadi pendukung utama perekonomian nasional, meskipun hampir tidak pernah dipihaki
kebijakan-kebijakan pemerintah. Pemulihan ekonomi nasional dari krisis yang
berkepanjangan justru terletak pada ekonomi rakyat.

Prof. Dr. Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM
(PUSTEP-UGM)
[Artikel - Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan - November 2003]

Setyo Budiantoro

MANUSIA, KEBEBASAN, DAN PEMBANGUNAN

Mengingat masa kelam Orde Baru yang se-ring disebut ”orde pembangunan”, membuat
pedih. Timbul pertanyaan mengganjal, apakah pembangunan akan selalu membawa
destabilisasi? Sebuah proses yang mengakibatkan disparitas sosial-ekonomi membesar
akibat laju modernisasi dan industrialisasi, serta menguntungkan sebagian kecil masyarakat?
Timbul pula pertanyaan yang menggelisahkan, apakah sebuah ketakterhindaran (inevitability)
historis, pembangunan selalu mengorbankan kebebasan manusia?

Rasanya masih seperti kemarin, jargon pembangunan begitu ”suci” sehingga atas namanya
menjadi ”sahih” merampas hak-hak asasi manusia. Tentu belum kering dari ingatan, berbagai
kasus yang mentorpedo rasa keadilan seperti Kedung Ombo, Nipah, Jenggawah, dan
berbagai penggusuran yang mengatasnamakan ”pembangunan”. Berkecamuk pertanyaan,
apakah untuk mencapai kesejahteraan harus selalu ada ”tumbal” (jer basuki mawa bea)?

Sayup-sayup, kini terdengar suara lain dan mulai terdengar nyaring. Suara tersebut antara
lain dari Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi tahun 1998. Menurutnya pembangunan
bukanlah proses yang dingin dan menakutkan dengan mengorbankan darah, keringat serta
air mata, at all cost. Pembangunan, ujar Sen, adalah se-suatu yang "bersahabat".
Pembangunan, seharusnya merupakan proses yang memfasilitasi manusia mengembangkan
hidup sesuai dengan pilihannya (development as a process of expanding the real freedoms
that people enjoy).

Asumsi dari pemikiran Sen, bila manusia mampu mengoptimalkan potensinya, maka akan
bisa maksimal pula kontribusinya untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian,
kemakmuran sebuah bangsa dicapai berbasiskan kekuatan rakyat yang berdaya dan
menghidupinya. Menurut Sen, penyebab dari langgengnya kemiskinan, ketidakberdayaan,
maupun keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas.

Diakibatkan keterbatasan akses, ujar Sen, manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tak
ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya. Akibatnya, manusia hanya menjalankan apa
yang terpaksa dapat di-lakukan (bukan apa yang seharusnya bisa dilakukan). Dengan
demikian, potensi manusia mengembangkan hidup menjadi terhambat dan kontribusinya
pada kesejahteraan bersama menjadi lebih kecil. Aksesibilitas yang dimaksud Sen adalah
terfasilitasinya kebebasan politik, kesempatan ekonomi, kesempatan sosial (pendidikan,
kesehatan, dan lain-lain), transparansi, serta adanya jaring pengaman sosial.

Temuan lapangan di Indonesia, tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Amartya
Sen. Lesson learned yang diperoleh dari Yayasan Pemulihan Keberdayaan Ma-syarakat
(konsorsium 27 ja-ringan dan ornop besar yang membantu masyarakat keluar dari krisis),
menyimpulkan, pe-nyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang
pemenuhan kehidupan manusiawi. Pada dimensi ekonomi, akibat distribusi akses sumber
daya ekonomi yang tak merata menyebabkan rakyat miskin tak dapat mengembangkan
usaha produktifnya. Pada dimensi politik, akibat rakyat miskin sangat sulit mengakses dan
terlibat berbagai kebijakan publik, maka kebijakan tersebut tak menguntungkan mereka.

Tesis yang dikemukakan Sen agar tercapainya kesejahteraan, yaitu melalui kebebasan
sebagai cara dan tujuan (Development as Freedom). Hal itu, tak jauh berbeda dengan apa
yang dikemukakan Soedjatmoko (Development and Freedom). Freedom menurut
Soedjatmoko merupakan kebebasan dari rasa tak berdaya, rasa ketergantungan, rasa
cemas, rasa keharusan untuk mempertanyakan apakah tindakan-tindakan mereka diizinkan
atau tidak diizinkan oleh yang lebih tinggi ataupun adat kebiasaan (misalnya: patriarki, sikap
nrimo,dan lain-lainnya).

Untuk memecahkan hal tersebut, diperlukan aspek emansipatoris. Yaitu aspek pembebasan
masyarakat dari struktur-struktur yang menghambat, sehingga memungkinkan masyarakat
memperkembangkan kemampuan atas dasar kekuatan sendiri (self reliance). Dengan
demikian, terfasilitasilah kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri
(humanitas expleta et eloquens).

Pembangunan, dengan demikian berarti merangsang suatu masyarakat sehingga gerak


majunya menjadi otonom, berakar dari dinamik sendiri dan dapat bergerak atas kekuatan
sendiri. Tidak ada model pembangunan yang berlaku universal. Dalam jangka panjang, suatu
pembangunan tak akan berhasil dan bertahan, jika pembangunan tersebut bertentangan
dengan nilai-nilai dasar yang dianut masyarakat.
Selama Orde Baru, secara sadar maupun tak sadar, telah terjadi ”kesalahan” besar yang
dibuat bersama-sama. Dari tahun ke tahun, lembaran buku GBHN dan Pelita yang
dicanangkan pemerintah makin tebal. Masyarakat profesi, para pakar maupun berbagai
organisasi masyarakat, berlomba-lomba merumuskan berbagai persoalan, lalu diserahkan
pada pemerintah.

Dengan demikian, masyarakat telah ”menyerahkan” kemandirian yang dimiliki, sehingga


pemerintah semakin memiliki kekuatan, legitimasi, dan kedaulatan untuk melakukan berbagai
hal (bahkan menjadi leviathan). Tragisnya, masyarakat merasa lega karena tak mengerjakan
apa-apa, sebab semuanya telah diserahkan pada pemerintah. Meski sebenarnya, telah
”melumpuhkan” diri sendiri.

Pemerintah yang makin percaya diri, lalu merumuskan berbagai program dan proyek untuk
dikerjakan. Feasibility studies (baca: penelitian pesanan) lalu dikerjakan oleh para ”intelektual
tukang” maupun konsultan asing, untuk mengkreasi dan menjustifikasi urgensi adanya
berbagai proyek. Lalu, utang pun digelontorkan. Berbagai proyek tiba-tiba bertebaran.
Masyarakat pun melalui desas-desus akhirnya mengetahui dan mahfum, siapa di balik
proyek. Tentu, tak jauh dari lingkaran kekuasaan.

Sebagai sebuah proyek, tentu mempunyai batas waktu. Dan akhirnya, dengan berakhirnya
berbagai proyek dan usailah sudah semuanya. Dalam waktu singkat, berbagai proyek yang
ada terbengkalai. Rakyat yang tak dilibatkan dalam proses, meski proyek tersebut ”ditujukan”
untuk mereka, namun akibat tak ada rasa memiliki, rakyat pun tak peduli.

Begitulah, secara umum kondisi rakyat Indonesia menjadi lemah, terlemahkan, dan
dilemahkan. Keberdayaan rakyat (civil society), lalu tertinggal. Namun, apakah rakyat benar-
benar mengalami kelumpuhan sepenuhnya? Agaknya tidak. Krisis ekonomi, justru
menunjukkan ”kedigdayaan” rakyat.

Pukulan krisis, membuat pertumbuhan ekonomi merosot -13,7% (1998), padahal tahun
sebelumnya tumbuh +4,9%. Dengan kata lain, dalam satu tahun ekonomi Indonesia anjlok
-18,6%. Namun dua tahun kemudian, ekonomi nasional telah tumbuh 4,8% (Seda, 2002).
Anehnya, pada masa itu sedang terjadi capital flight sekitar $ 10 miliar per tahun, usaha-
usaha besar ambruk, sedangkan investasi asing tak mau masuk akibat situasi sosial politik
yang belum menentu.

Fenomena ini tentu membingungkan penganut ekonomi ortodoks, sebab dalam hitungan
makro ekonomi mereka, hal ini tak mungkin terjadi. Dan akhirnya disadari, usaha-usaha
ekonomi rakyat yang sering disebut usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ternyata
telah menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan krisis. ”Investasi ekonomi rakyat”
(underground economy) yang kerap dipandang dengan sebelah mata, ternyata justru
menunjukkan kekuatannya.
***

Babakan sejarah yang pahit itu, kini secara berangsur telah ditinggalkan. Setidaknya,
babakan itu menyadarkan bahwa orientasi production centered development yang
menekankan pertumbuhan, investasi asing dan haus akan utang luar negeri, ternyata
memiliki banyak kelemahan. Kue pembangunan ternyata hanya dikuasai sebagian kecil
masyarakat, sementara kesenjangan melebar, dan pembangunan pun rapuh tak berakar
(bubble economy).

Tujuan pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan bersama, maka cara untuk


mencapainya pun seharusnya melalui upaya-upaya pencapaian kesejahteraan bersama.
Cara sudah seharusnya konsisten dengan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mencapai
demokrasi, tak ada jalan lain kecuali memakai cara-cara yang demokratis. Demikian pula,
untuk mencapai kehidupan yang manusiawi, tentu harus dicapai dengan cara yang
manusiawi pula.

Memfokuskan diri pada kesejahteraan rakyat, tentunya harus melalui jalan dari pembangkitan
kekuatan rakyat itu sendiri atau dalam terminologi Korten disebut people centered
development. Produksi juga merupakan bagian penting dalam pendekatan ini, namun bukan
tujuan utama. Ikhwal menetapkan tujuan utama (goal), merupakan hal strategis yang tidak
netral dan bebas nilai, sebab akan mempengaruhi paradigma (mindset) berpikir, metodologi
dan pengorganisasian pencapaian tujuan. Pendekatan people centered development,
menekankan pertumbuhan manusia (aktualisasi potensi manusia), pemerataan,
keberlanjutan (sustainability), dan semangat kemandirian masyarakat sendiri.

Agenda ke Depan

Kini kita menghadapi persoalan konkret. Usaha-usaha besar, karena mendapat berbagai
privilese tumbuh dengan cepat, namun kemudian ambruk. Usaha-usaha ekonomi rakyat,
memang terbukti mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia dari krisis, namun tetap berjalan
tertatih-tatih karena keterbatasan akses. Begitulah, dengan segala kekuatan dan
kelemahannya, setidaknya kedua modal itulah yang kini kita miliki.

Menyadari adanya dua modal tersebut, perlu ada transformasi agar kedua sektor usaha
tersebut bisa berkembang (dual track), yaitu melalui pemberian akses dan peluang yang
sama pada kedua sektor usaha tersebut. Dengan cara demikian, sektor usaha besar yang
hidup dari kronisme, rente ekonomi dan fasilitas, mau tak mau harus berkompetisi secara
sehat, sebab bila tidak akan jatuh. Sementara usaha besar yang berusaha secara wajar dan
kompetitif, akan bisa terus berkembang. Sedangkan untuk usaha mikro, kecil dan menengah
(UMKM), agar bisa memanfaatkan berbagai akses dan peluang yang ada, diperlukan pula
adanya upaya peningkatan kapasitas (capacity building).

Dan perlu disadari, akibat adanya ”dualisme ekonomi” sektor kecil ini tak memiliki
kemampuan untuk memanfaatkan berbagai institusi modern. Bahkan seringkali, sektor
modern justru makin meminggirkan mereka. Salah satu institusi modern yang sangat sulit
diakses oleh UMKM, adalah perbankan.

Meski memobilisasi tabungan dari masyarakat luas, namun pelayanan pembiayaan bank
lebih dimanfaatkan sektor besar. Akibatnya, acapkali institusi modern ini justru meningkatkan
adanya kesenjangan. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan berbagai institusi modern yang
dimodifikasi sedemikian rupa, sehingga dapat kompatibel dengan nilai-nilai dan budaya
setempat agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas.

Demikianlah, dengan berbagai keterbukaan dan peluang, di mana masyarakat mempunyai


kebebasan untuk memilih, maka masyarakat dapat mengembangkan berbagai potensi
produktif mereka. Dengan demikian, pembangunan akan berkembang secara dinamik
berdasar kekuatan masyarakat sendiri. Bila masyarakat telah tumbuh dan berdaya, maka
pembangunan akan berurat berakar (rooted) pada rakyat, sehingga makin kuat dan kokoh
menyangga bangsa ini.

(Dimuat di Sinar Harapan, 29 April 2003)

Oleh: Setyo Budiantoro -- Direktur Kajian Ekonomi dan Pembangunan Center for Humanity
and Civilization Studies (CHOICES) dan staf Ketua LSM Bina Swadaya.
[Artikel - Th. II - No. 8 - Nopember 2003]

Aloysius Gunadi Brata

DISTRIBUSI SPASIAL UKM DI MASA KRISIS EKONOMI


PENDAHULUAN

Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari
perekonomian suatu negara ataupun daerah, tidak terkecuali di Indonesia. Sebagai
gambaran, kendati sumbangannya dalam output nasional (PDRB) hanya 56,7 persen dan
dalam ekspor nonmigas hanya 15 persen, namun UKM memberi kontribusi sekitar 99 persen
dalam jumlah badan usaha di Indonesia serta mempunyai andil 99,6 persen dalam
penyerapan tenaga kerja (Kompas, 14/12/2001). Namun, dalam kenyataannya selama ini
UKM kurang mendapatkan perhatian. Dapat dikatakan bahwa kesadaran akan pentingnya
UKM dapat dikatakan barulah muncul belakangan ini saja.

Setidaknya terdapat tiga alasan yang mendasari negara berkembang belakangan ini
memandang penting keberadaan UKM (Berry, dkk, 2001). Alasan pertama adalah karena
kinerja UKM cenderung lebih baik dalam hal menghasilkan tenaga kerja yang produktif.
Kedua, sebagai bagian dari dinamikanya, UKM sering mencapai peningkatan
produktivitasnya melalui investasi dan perubahan teknologi. Ketiga adalah karena sering
diyakini bahwa UKM memiliki keunggulan dalam hal fleksibilitas ketimbang usaha besar.
Kuncoro (2000a) juga menyebutkan bahwa usaha kecil dan usaha rumah tangga di Indonesia
telah memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja, meningkatkan jumlah unit
usaha dan mendukung pendapatan rumah tangga.

Alasan yang ketiga yang dikemukakan Berry dkk di atas sangat relevan dalam
konteks Indonesia yang tengah mengalami krisis ekonomi. Aspek fleksibilitas tersebut
menarik pula dihubungkan dengan hasil studi Akatiga berdasarkan survei di Jawa Barat,
Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Utara dan Sumatra Utara. Temuan Akatiga tersebut
seperti dikutip Berry dkk (2001) adalah bahwa usaha kecil di Jawa lebih menderita akibat
krisis daripada luar Jawa, begitu pula yang di perkotaan bila dibandingkan dengan yang di
pedesaan.

Sementara itu, berdasarkan data PDRB, krisis ekonomi telah menyebabkan propinsi-
propinsi di Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang lebih besar ketimbang daerah-daerah
lain di Indonesia (lihat gambar berikut). Lima propinsi di Jawa seluruhnya adalah lima besar
propinsi di Indonesia yang mengalami kemorosotan ekonomi terparah. Pada tahun 1998, saat
ekonomi Indonesia mengalami kontraksi terparah, hanya Papua saja yang pertumbuhan
ekonominya masih positif sedangkan propinsi-propinsi lainnya mengalami kontraksi. Pada
tahun tersebut, seluruh propinsi di pulau Jawa mengalami kontraksi ekonomi yang jauh lebih
parah daripada propinsi-propinsi lainnya (lihat juga Akita dan Alisjahbana, 2002).
Demikianlah, selain ekonominya mengalami kontraksi terparah, usaha kecil di
propinsi-propinsi di pulau Jawa juga lebih menderita akibat krisis ekonomi. Sementara itu,
menurut hasil analisis Watterberg, dkk (1999), dampak sosial dari krisis ekonomi amat
terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan di Jawa, serta sejumlah propinsi di Indonesia bagian
Timur. Dengan kata lain, terdapat indikasi adanya dimensi spasial dari krisis ekonomi yang
terjadi sejak pertengahan tahun 1997.

Dalam konteks UKM, salah satu pertanyaan yang menarik untuk dimunculkan adalah
apakah krisis ekonomi betul-betul membawa pengaruh pada dinamika spasial UKM? Tulisan
ini hanya mengamati salah satu aspek saja dari dinamika spasial UKM, yakni distribusi
spasialnya. Dapat dikemukakan bahwa selama ini sejumlah studi sudah dilakukan untuk
mengamati distribusi spasial industri manufaktur, khususnya yang berskala besar dan
menengah, misalnya Azis (1994), Hill (1996), Kuncoro (2000a), Sjöberg dan Sjöholm (2002).
Namun, pengamatan serupa terhadap UKM tampaknya masih belum banyak dilakukan
(Kuncoro, 2000b).

BERTAHAN DENGAN UKM

Krisis ekonomi, apalagi yang sangat parah, tentu telah menyulitkan masyarakat
dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukanlah hal yang mengejutkan kalau
pengangguran, hilangnya penghasilan serta kesulitan memenuhi kebutuhan pokok
merupakan persoalan-persoalan sosial yang sangat dirasakan masyarakat sebagai akibat
dari krisis ekonomi. Hasil survei yang dilakukan Bank Dunia bekerjasama dengan Ford
Foundation dan Badan Pusat Statistik (September-Oktober 1998) menegaskan bahwa ketiga
persoalan itu oleh masyarakat ditempatkan sebagai persoalan prioritas atau harus segera
mendapatkan penyelesaian (Watterberg dkk, 1999). Dengan kata lain, ketiga hal itu
merupakan persoalan sangat pelik yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
Kondisi ketenagakerjaan pada masa krisis kiranya dapat memberikan gambaran
dampak sosial dari krisis ekonomi (Tabel 1). Tingkat pengangguran mengalami kenaikan dari
4,9 persen pada tahun 1996 menjadi 6,1 persen pada tahun 2000. Krisis ekonomi juga telah
membalikkan tren formalisasi ekonomi sebagaimana tampak dari berkurangnya pangsa
pekerja sektor formal menjadi 35,1. Dengan kata lain, peran sektor informal menjadi terasa
penting dalam periode krisis ekonomi. Sektor informal sendiri merupakan sektor dimana
sebagian besar tenaga kerja Indonesia berada.

Sementara itu, belakangan ini banyak diungkapkan bahwa UKM memiliki peran
penting bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi. Dengan memupuk UKM diyakini pula
akan dapat dicapai pemulihan ekonomi (Kompas. 14/12/2001). Hal serupa juga berlaku bagi
sektor informal. Usaha kecil sendiri pada dasarnya sebagian besar bersifat informal dan
karena itu relatif mudah untuk dimasuki oleh pelaku-pelaku usaha yang baru. Pendapat
mengenai peran UKM atau sektor informal tersebut ada benarnya setidaknya bila dikaitkan
dengan perannya dalam meminimalkan dampak sosial dari krisis ekonomi khususnya
persoalan pengangguran dan hilangnya penghasilan masyarakat.

UKM boleh dikatakan merupakan salah satu solusi masyarakat untuk tetap bertahan
dalam menghadapi krisis yakni dengan melibatkan diri dalam aktivitas usaha kecil terutama
yang berkarakteristik informal. Dengan hal ini maka persoalan pengangguran sedikit banyak
dapat tertolong dan implikasinya adalah juga dalam hal pendapatan. Bagaimana dengan
anjloknya pendapatan masyarakat yang tentu saja mengurangi daya beli masyarakat
terhadap produk-produk yang sebelumnya banyak disuplai oleh usaha berskala besar?
Bukan tidak mungkin produk-produk UKM justru menjadi substitusi bagi produk-produk
usaha besar yang mengalami kebangkrutan atau setidaknya masa-masa sulit akibat krisis
ekonomi. Jika demikian halnya maka kecenderungan tersebut sekaligus juga merupakan
respon terhadap merosotnya daya beli masyarakat.
Gambar di atas—disusun berdasarkan Hasil Survei Usaha Terintegrasi yang
dilakukan BPS—kiranya dapat berguna untuk memberikan gambaran bagaimana peranan
UKM bagi masyarakat di masa krisis.[1] Survei tersebut terbatas hanya pada UKM yang
tidak berbadan hukum sehingga hasilnya dapat juga merefleksikan sektor informal. Seluruh
sektor ekonomi dicakup oleh survei tersebut, kecuali sektor pertanian. Oleh karena tidak
mencakup sektor pertanian, maka hasil survei tersebut akan lebih mencerminkan UKM di
perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Hal ini
menjadi penting karena Watterberg dkk (1999) juga menyimpulkan bahwa dampak sosial
dari krisis ekonomi lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan.

[1] Data UKM tersebut bersumber dari publikasi BPS berjudul Profil Usaha Kecil dan Menengah Tidak Berbadan Hukum
Indonesia tahun 1998 dan tahun 2000.Hasil survei tersebut hanya mencakup UKM non-pertanian yang tidak berbadan
hukum sehingga secara konseptual hasil survei tersebut juga merefleksikan sektor informal kendati secara terbatas
(www.bps.go.id). Oleh karena tidak mencakup sektor pertanian, maka data yang ada di sini barangkali pula lebih
mencerminkan UKM di perkotaan mengingat sektor pertanian sebagian besar berada di wilayah pedesaan. Perlu
ditambahkan bahwa pada tahun 1997 tidak ada survei. Selain itu, untuk tahun 1999 dan 2000 tidak ada data untuk Propinsi
Maluku. Selanjutnya, yang dimaksud dengan UKM dalam tulisan ini adalah sebagaimana definisi UKM tersebut.

Secara umum, hasil survei BPS di atas menunjukkan beberapa kecenderungan


menarik. Dari gambar 1 tampak bahwa jumlah unit usaha UKM cenderung berkurang. Jumlah
unit usaha pada tahun 2000 masih tetap lebih sedikit dibandingkan sebelum krisis ekonomi.
Hal yang sama juga terjadi pada jumlah tenaga kerja. Hanya saja, penurunan jumlah tenaga
kerja tidaklah setajam penurunan jumlah unit usaha. Oleh karena itu, tenaga kerja yang
diserap oleh masing-masing unit usaha secara rata-rata justru mengalami kenaikan. Hal ini
merupakan salah satu indikasi bahwa UKM sebetulnya juga mempunyai keunggulan dalam
menyerap tenaga kerja di masa krisis ekonomi. Krisis ekonomi rupanya telah mempertinggi
kemampuan masing-masing UKM untuk menyerap tenaga kerja. Dengan kata lain, sektor
tersebut telah turut berperan dalam mengatasi persoalan pengangguran yang diakibatkan
oleh krisis ekonomi.

Data-data tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa UKM memiliki kemampuan


untuk menjadi pilar penting bagi perekonomian masyarakat dalam menghadapi terpaan krisis
ekonomi. Hal ini tidak lepas dari kemampuan UKM untuk merespon krisis ekonomi secara
cepat dan fleksibel dibandingkan kemampuan usaha besar (Berry dkk, 2001). Namun
demikian, ada pendapat bahwa sektor informal tidaklah memberikan perbaikan secara berarti
terhadap taraf hidup para pekerjanya. Hidup di sektor informal hanyalah hidup secara
subsisten (Basri, 2002).
DISTRIBUSI SPASIAL UKM

Pertanyaan awal yang perlu diperjelas di sini adalah apa indikator UKM yang
digunakan. UKM pada dasarnya adalah aktivitas ekonomi sementara aktivitas ekonomi
sendiri secara umum dapat diindikasikan oleh tenaga kerja maupun nilai tambahnya (Sjöberg
dan Sjöholm, 2002). Dalam tulisan ini, indikator yang akan digunakan adalah tenaga kerja
UKM disertai jumlah unit usahanya sebagai pelengkap.[2]

[2] Dalam konteks industri manufaktur, penggunaan tenaga kerja dan nilai tambah secara bersama-sama sebagai indikator
aktivitas ekonomi dapat mencegah terjadi kesimpulan yang bias oleh karena perbedaan distribusi spasial dari industri-
industri yang berbeda dimana ada yang bersifat padat tenaga kerja dan ada yang padat modal (Sjöberg dan Sjöholm, 2002).
Namun dalam konteks UKM, bias itu mungkin tidak terlalu besar mengingat sebagian besar lebih mengandalkan tenaga
kerja, termasuk yang tidak dibayar (lihat, Kuncoro, 2000a).

Seperti juga industri manufaktur besar dan menengah, distribusi spasial UKM dalam
kurun waktu 1996-2000 juga terpusat di Pulau Jawa. Pada tahun 1996, sekitar 66 persen
UKM Indonesia berada di Jawa (Tabel 2). Sejak terjadi krisis ekonomi, UKM justru makin
memusat di Jawa, yakni menjadi sekitar 68 persen dari seluruh unit usaha UKM yang ada di
Indonesia. Dari lima propinsi di Jawa, hanya DKI Jakarta saja yang cenderung mengalami
penurunan andil, sedangkan Jawa Tengah mengalami peningkatan secara sinambung.
Selain propinsi-propinsi Jawa, hanya Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan saja yang
andilnya dalam jumlah UKM cukup tinggi.

Selain dari jumlah unit usaha, distribusi spasial tersebut tentu perlu pula dilihat dari
sisi tenaga kerja. Tabel 2 juga menunjukkan bahwa krisis ekonomi mulanya menurunkan
pangsa pulau Jawa, namun mulai tahun 1998 pangsa Jawa kembali meningkat sampai
menjadi 66 persen pada tahun 2000. Sedangkan Sumatera justru sebaliknya, yakni
meningkat pada tahun 1998 namun kemudian terus menurun sampai menjadi kurang dari 16
persen pada tahun 2000.

Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih kuat, perkembangan penyebaran regional


dari UKM dapat dilihat dari konsentrasi spasialnya. Konsentrasi spasial di sini menunjuk
kepada terkonsentrasinya UKM pada beberapa daerah saja. Sebagai contoh, dalam
studinya yang mengukur trend konsentrasi spasial industri di Indonesia 1976-1995, Kuncoro
menggunakan Indeks Entropi Theil (Kuncoro, 2000a). Sedangkan untuk kasus industri
manufaktur Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg dan Sjöholm (2002) menggunakan indeks
Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser.

Kuncoro menemukan bahwa sampai sebelum tahun 1988, konsentrasi spasial


industri memiliki pola menurun, namun sejak memasuki periode deregulasi, konsentrasi
spasial tersebut justru mengalami peningkatan. Dicatat pula bahwa peningkatan konsentrasi
spasial jauh lebih mencolok di Jawa daripada Sumatera maupun pulau-pulau lainnya di
Indonesia. Masih menurut Kuncoro (2002b), dalam kasus Indonesia, deregulasi
perdagangan bersama dengan serangkaian deregulasi yang diterapkan justru memperkuat
konsentrasi spasial industri manufaktur.

Sedangkan untuk kasus industri manufaktur Indonesia 1980 dan 1996, Sjöberg dan
Sjöholm (2002) menggunakan indeks Herfindahl dan indeks Ellison-Glaeser terhadap data
tenaga kerja maupun nilai tambah yang dihasilkan industri manufaktur. Kesimpulan yang
diperoleh tidak jauh berbeda dengan temuan Kuncoro. Dari analisisnya, Sjöberg dan
Sjöholm memukan bahwa tingkat konsentrasi spasial industri manufaktur dalam kurun waktu
1980-1996 tidaklah berkurang. Ditambahkan pula bahwa liberalisasi perdagangan yang
dimulai tahun 1983 telah gagal menurunkan tingkat konsentrasi industri manufaktur.

Kendati ukuran konsentrasi spasial yang digunakan berbeda, kedua studi tersebut di
atas memperoleh kesimpulan yang relatif serupa. Dalam tulisan ini ukuran konsentrasi
spasial yang digunakan adalah indeks Herfindahl yang diterapkan baik terhadap data unit
usaha maupun jumlah pekerja UKM. Hasil perhitungan indeks Herfindahl tersebut disajikan
dalam Gambar 3.

Sebelum krisis, tingkat konsentrasi spasial unit usaha UKM adalah 0,126. Sebagai
perbandingan, indeks Herfindahl industri manufaktur Indonesia tahun 1996 adalah 0,190
(Sjöberg dan Sjöholm, 2002). Hal ini tidak berubah banyak pada satu tahun setelah terjadi
krisis ekonomi. Namun pada tahun 1999 konsentrasi spasial unit usaha UKM mengalami
peningkatan cukup tinggi dan belum menurun secara berarti pada tahun 2000. Namun jika
dilihat dari tenaga kerja, setelah krisis justru terjadi penurunan tingkat konsentrasi spasial
kendati relatif kecil. Tahun 1999 dan 2000, indeks Herfindahl pekerja UKM meningkat
menjadi lebih dari 0,12. Hal ini memberikan indikasi bahwa sejak terjadi krisis ekonomi, ada
kecenderungan menguatnya konsentrasi spasial UKM di Indonesia. Kendati demikian,
peningkatan konsentrasi spasial tersebut sebetulnya relatit tidak terlalu besar.
PENUTUP

Sejak terjadi krisis ekonomi 1997, UKM memainkan peran dalam mengatasi
persoalan ketenagakerjaan. Data yang ada menunjukkan bahwa peran tersebut cukup
penting. Namun demikian bagaimana penyerapan tenaga kerja oleh UKM dari aspek spasial
tampak masih kurang teramati. Dalam tulisan ini yang diamati barulah soal distribusi spasial
UKM dan belum sampai pada determinan dari dinamika spasial UKM itu sendiri.

Dari analisis dapat disimpulkan bahwa sampai dengan tahun 2000, UKM (non
pertanian yang tidak berbadan hukum) masih tetap terkonsentrasi di pulau Jawa, baik dilihat
dari sisi jumlah usaha maupun jumlah pekerjanya. Terdapat pula indikasi menguatnya
konsentrasi spasial UKM tersebut sejak krisis ekonomi melanda Indonesia. Indikasi tersebut
kiranya masih perlu dilengkapi dengan upaya mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi dinamika spasial UKM sebagaimana dilakukan dalam studi-studi terhadap
idustri manufaktur pada umumnya.***

Oleh: Aloysius Gunadi Brata -- Lembaga Penelitian Universitas Atmajaya, Yogyakarta


(UAJY).

PUSTAKA
Akita, T dan A. Alisjahbana, 2002, “Regional Income Inequality in Indonesia and the Initial
Impact of the Economic Crisis”. Bulletin of Indonesian Economic Studies 38 (2): 201-
222.

Azis, I. J., 1994, Ilmu Ekonomi Regional Dan Beberapa Penerapannya di Indonesia. Jakarta,
LP-FEUI.

Basri, M. C., 2002, “Wajah Murung Ketenagakerjaan Kita”. Kompas, 25 November.

Berry, A., E. Rodriquez, dan H. Sandeem, 2001, “Small and Medium Enterprises Dynamics
in Indonesia.” Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384.

Hill, H., 1996, Transformasi Ekonomi Indonesia Sejak 1966: Sebuah Studi Kritis dan
Komprehensif. Yogyakarta, PAU-UGM dan Tiara Wacana.

Kompas, 2001, “Memupuk UKM, Menuai Pemulihan Ekonomi”. 14 Desember 2001.

Kuncoro, M., 2002a, Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri
Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Kuncoro, M., 2002b, “A Quest for Industrial Districts: An Empirical Study of Manufacturing
Industries in Java.” Makalah disajikan dalam lokakarya Economic Growth and
Institutional Change in Indonesia during the 19th and 20th Centuries, Amsterdam 25-
26 Februari.

Sjöberg, Ö dan F. Sjöholm, 2002, “Trade Liberalization and the Geography of Production:
Agglomeration, Concentration and Dispersal in Indonesia’s Manufacturing Industry.
SSE/EFI Working Paper Series in Economic and Finance No 488.

Suryahadi, A., W. Widyanti, D. Perwira, S. Sumarto, 2003, “Minimum Wage Policy and Its
Impact on Employment in the Urban Formal Sector”, Bulletin of Indonesian Economic
Studies Vol 39 No 1, 29-50.

Watterberg, A., S. Sumarto, L. Prittchett. 1999. “A National Snapshot of the Social Impact of
Indonesia’s Crisis”. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol 35 No 3, 145-152.

[Artikel - Th. II - No. 8 - Nopember 2003]


Vincent Gaspersz dan Esthon Foenay

KINERJA PENDAPATAN EKONOMI RAKYAT DAN


PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI PROVINSI NUSA
TENGGARA TIMUR

Strategi pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan berdasarkan


pertumbuhan melalui pemerataan dengan prinsip membangun dari apa yang dimiliki rakyat
dan apa yang ada pada rakyat, dengan titik berat pembangunan yang berlandaskan pada
pembangunan ekonomi rakyat, pendidikan rakyat, dan kesehatan rakyat. Strategi
pembangunan yang menjadi pilihan tersebut memerlukan langkah-langkah operasional yang
terukur dan disesuaikan dengan paradigma baru pembangunan (Esthon Foenay, Pos Kupang
11 September 2001 hlm. 4 & 7).

Salah satu tujuan pembangunan ekonomi daerah Nusa Tenggara Timur adalah
meningkatkan standar hidup layak yang diukur dengan indikator pendapatan per kapita riil
masyarakat (Peraturan Daerah Provinsi NTT No. 9 Tahun 2001 Tentang Program
Pembangunan Daerah Tahun 2001-2004, hlm. 19). Pendapatan per kapita dan pengeluaran
per kapita dapat dijadikan sebagai indikator kemajuan pembangunan ekonomi di Nusa
Tenggara Timur.

Kinerja pendapatan per kapita penduduk diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga
konstan tahun 1993 dibagi dengan jumlah penduduk tengah tahun. Pendapatan per kapita
dari Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan harga konstan 1993 pada tahun 2001 adalah
sebesar Rp 732.100 per tahun atau Rp 61.008 per bulan atau berdasarkan harga yang
berlaku pada tahun 2001 adalah sebesar Rp 1.811.696 per tahun atau Rp 150.975 per bulan
(NTT dalam Angka Tahun 2001, hlm. 469). Jika menggunakan nilai kurs $US 1 = Rp 9000-
an (rata-rata nilai kurs pada tahun 2001), maka pendapatan per kapita NTT pada tahun 2001
atas dasar harga yang berlaku adalah setara dengan $US 200-an.

Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Global 2002 (UNDP 2002)
terhadap 173 negara di dunia, diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi adalah
dari negara Luxembourg yaitu sekitar $US 50 ribu ($US 50,061) dan terrendah (pendapatan
per kapita terrendah) adalah dari negara Sierra Leone yaitu $US 490. Hal ini berarti secara
kasar dapat disimpulkan bahwa pendapatan per kapita penduduk NTT yang sebesar
$US 200-an—katakanlah berkisar $US 200 - $US 300, masih lebih rendah daripada
pendapatan per kapita penduduk negara termiskin di dunia (Sierra Leone) yang
sebesar $US 490.

Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS,


BAPPENAS, dan UNDP 2001) diketahui bahwa kinerja pendapatan per kapita tertinggi
(PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) pada lingkup provinsi di Indonesia adalah dari
Provinsi DKI Jakarta yaitu Rp 5.943.000 per tahun atau Rp 495.250 per bulan dan terrendah
adalah dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Rp 712.000 per tahun atau Rp 59.333 per
bulan, atau hanya sekitar 12 persen daripada pendapatan per kapita penduduk DKI Jakarta.
Kinerja pendapatan per kapita di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling rendah
(paling buruk) di Indonesia. Kinerja pendapatan per kapita lingkup kabupaten/kota
tertinggi (PDRB real per kapita—tanpa minyak dan gas) adalah dari Kota Madya Jakarta
Pusat (Provinsi DKI Jakarta) yaitu Rp 15.820.000 per tahun atau Rp 1.318.333 per bulan
dan terrendah adalah dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (Provinsi Nusa Tenggara Timur)
yaitu Rp 497.000 per tahun atau Rp 41.417 per bulan, atau hanya sekitar 3,14 persen
daripada pendapatan per kapita penduduk Jakarta Pusat. Terdapat dua kabupaten di NTT
yang memiliki kinerja pendapatan per kapita terrendah di Indonesia (ranking 293 dan
294 dari 294 kabupaten yang dipelajari), yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan
(pendapatan per kapita Rp 497.000 per tahun—ranking 294 dari 294 kabupaten di
Indonesia) dan Kabupaten Sumba Barat (pendapatan per kapita Rp 501.000 per tahun—
ranking 293 dari 294 kabupaten di Indonesia).

Kinerja pendapatan per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur


pada tahun 2001 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat tujuh kabupaten di NTT
yang memiliki kinerja pendapatan per kapita per tahun lebih rendah daripada rata-rata
Provinsi NTT (Rp 732.100), diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp
474.053), (2) Manggarai (Rp 521.105), (3) Timor Tengah Selatan (Rp 550.057), (4) Timor
Tengah Utara (Rp 650.591), (5) Alor (Rp 706.009), (6) Sikka (Rp 717.262), dan (7) Ngada
(Rp 761.149). Sedangkan enam kabupaten di NTT memiliki kinerja pendapatan per kapita
lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 732.100), diurutkan dari yang tertinggi
adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.985.951), (2) Kabupaten Kupang (Rp 852.857), (3)
Sumba Timur (Rp 840.636), (4) Ende (Rp 812.039), (5) Flores Timur (Rp 778.680), dan (6)
Ngada (Rp 761.149).

Kinerja pengeluaran per kapita penduduk secara rata-rata dapat juga digunakan
sebagai variabel proxy (mewakili) dalam mengkaji kinerja tingkat pendapatan ekonomi
penduduk dan distribusi pendapatan penduduk. Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari
penduduk Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp
1.125.240 per tahun atau Rp 93.770 per bulan (NTT dalam Angka Tahun 2001, hlm. 129).
Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan di NTT adalah sebesar Rp 1.728.408 per
tahun atau Rp 144.034 per bulan, sedangkan pengeluaran per kapita dari penduduk
pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.015.380 per tahun atau Rp 84.615 per bulan. Hal ini
berarti pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar
Rp 713.028 (70,22%) daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di
NTT. Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90,15% penduduk
NTT (3.493.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.000
per bulan atau kurang dari Rp 5.000 per hari. Kelompok penduduk yang memiliki tingkat
pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.000 per hari
ini terbanyak berada di daerah pedesaan NTT yaitu sebanyak 3.104.959 orang (94,72%),
sedangkan yang berada di daerah perkotaan NTT adalah sebanyak 388.339 orang
(65,04%). Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di
Nusa Tenggara Timur, terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya
(94,72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang
dari Rp 5.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.
Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa
Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari
mayoritas penduduk di NTT.

Berdasarkan studi dari Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001 (BPS,


BAPPENAS, dan UNDP 2001) diketahui bahwa rasio Gini (indeks Gini) dari pengeluaran
rumahtangga di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 1999 adalah rendah yaitu 0,28,
yang menunjukkan telah terjadi pemerataan pengeluaran rumahtangga pada tingkat
pengeluaran yang rendah seperti diungkapkan di atas.

Kinerja pengeluaran per kapita dari kabupaten-kabupaten di Nusa Tenggara Timur


pada tahun 1999 atas dasar harga konstan 1993 adalah terdapat sebelas kabupaten di NTT
yang memiliki kinerja pengeluaran per kapita lebih rendah daripada rata-rata Provinsi NTT
(Rp 576.900), diurutkan dari yang terrendah adalah: (1) Sumba Barat (Rp 437.640), (2)
Sikka (Rp 440.010), (3) Timor Tengah Selatan (Rp 472.900), (4) Alor (Rp 485.960), (5) Timor
Tengah Utara (Rp 487.560), (6) Belu (Rp 494.650), (7) Ende (Rp 501.270), (8) Flores Timur
(Rp 528.820), (9) Kabupaten Kupang (Rp 557.710), (10) Sumba Timur (Rp 566.540), dan
(11) Ngada (Rp 566.540). Hanya terdapat dua kabupaten di NTT yang memiliki kinerja
pengeluaran per kapita lebih tinggi daripada rata-rata Provinsi NTT (Rp 576.900), diurutkan
dari yang tertinggi adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp 1.202.180) dan (2) Manggarai (Rp
579.380).

Berdasarkan kenyataan di atas, maka pembangunan ekonomi kerakyatan di masa


mendatang seyogianya memprioritaskan pada beberapa kabupaten di NTT yang masih
menunjukkan kinerja rendah dalam indikator pendapatan ekonomi masyarakat yaitu: Timor
Tengah Selatan, Sumba Barat, Timor Tengah Utara, Manggarai, Belu, Alor, dan Kabupaten
Kupang.

Kinerja Produktivitas Tenaga Kerja di NTT

Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya memandang dari sisi output, maka
produktivitas memandang dari dua sisi sekaligus, yaitu: sisi input dan sisi output. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input
dalam memproduksi output (barang dan/atau jasa).

Kinerja produktivitas tenaga kerja regional di Nusa Tenggara Timur diukur


berdasarkan rasio produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten tahun 2001 atas dasar
harga konstan 1993 dengan jumlah tenaga kerja yang ada di kabupaten itu pada tahun 2001.

Kinerja produktivitas tenaga kerja di Nusa Tenggara Timur pada tahun 2001 atas
dasar harga konstan 1993 adalah sebesar Rp 1.717.650. Kinerja produktivitas tenaga kerja
dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah terdapat 10 kabupaten
yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih rendah daripada rata-rata
produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.717.650), diurutkan berdasarkan
produktivitas tenaga kerja terrendah, adalah: (1) Sumba Barat (Rp 1.017.750), (2) Manggarai
(Rp 1.148.580), (3) Timor Tengah Utara (Rp 1.281.730), (4) Belu (Rp 1.406.250), (5) Ngada
(Rp 1.523.980), (6) Timor Tengah Selatan (Rp 1.534.660), (7) Flores Timur (Rp 1.575.030),
(8) Sikka (Rp 1.597.360), (9) Alor (Rp 1.652.970), dan (10) Ende (Rp 1.703.280). Hanya
terdapat tiga kabupaten yang memiliki kinerja produktivitas tenaga kerja regional lebih tinggi
daripada rata-rata produktivitas tenaga kerja tingkat Provinsi NTT (Rp 1.717.650), diurutkan
berdasarkan produktivitas tenaga kerja tertinggi, adalah: (1) Kota Madya Kupang (Rp
7.367.030), (2) Kabupaten Kupang (Rp 1.962.140), dan (3) Sumba Timur (Rp 1.942.080).

Dari 34 sektor produksi yang didefinisikan dalam Tabel Input-Output Nusa Tenggara
Timur 2001 (BPS NTT, 2002) diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja tertinggi berada
dalam sektor lembaga keuangan bukan bank yaitu sebesar Rp 35.187.590 (atas dasar harga
yang berlaku tahun 2001), sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam
sektor industri pupuk, kimia dan barang dari karet yaitu sebesar Rp 469.710 (atas dasar
harga yang berlaku tahun 2001). Hal ini berarti bahwa tingkat ketimpangan antara
produktivitas tenaga kerja sektoral tertinggi (sektor lembaga keuangan bukan bank—Rp
35.187.590) dan produktivitas tenaga kerja sektoral terrendah (sektor industri pupuk, kimia
dan barang dari karet—Rp 469.710) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 75 kali atau
7.500 persen, yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari sektor lembaga
keuangan bukan bank adalah 75 kali lipat (7500%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja
terrendah dari sektor industri pupuk, kimia dan barang dari karet.

Dari 13 kabupaten/kota yang dipelajari, diketahui bahwa produktivitas tenaga kerja


tertinggi berada dalam Kota Madya Kupang sebesar Rp 7.367.030 (atas dasar harga
konstan 1993), sedangkan produktivitas tenaga kerja terrendah berada dalam Kabupaten
Sumba Barat yaitu sebesar Rp 1.017.750 (atas dasar harga konstan 1993). Hal ini berarti
bahwa tingkat ketimpangan antara produktivitas tenaga kerja regional tertinggi (Kota Madya
Kupang—Rp 7.367.030) dan produktivitas tenaga kerja regional terrendah (Kabupaten
Sumba Barat—Rp 1.017.750) di Nusa Tenggara Timur adalah sekitar 7,24 kali atau 724
persen, yang berarti tingkat produktivitas tenaga kerja tertinggi dari Kota Madya Kupang
adalah 7,24 kali lipat (724%) daripada tingkat produktivitas tenaga kerja terrendah dari
Kabupaten Sumba Barat.

Berdasarkan hasil studi ini direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas


tenaga kerja dari kabupaten-kabupaten di NTT melalui melakukan transformasi struktur
produksi atau menurunkan tingkat kontribusi dari sektor-sektor primer terhadap PDRB
kabupaten itu. Hal yang paling memungkinkan adalah mengembangkan sektor-sektor
agribisnis yang mampu mengaitkan secara terpadu dan terintegrasi dari agribisnis hulu, “on-
farm”, dan hilir. Dengan demikian telah jelas bahwa strategi perubahan struktur produksi dari
sektor-sektor produksi yang memberikan kontribusi terhadap PDRB, melalui
mengembangkan sektor agribisnis dari hulu, “on-farm”, sampai hilir, di masa mendatang
akan mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja regional.

Peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui perubahan struktur produksi terhadap


PDRB, akan memberikan konsekuensi lebih lanjut berupa peningkatan pendapatan ekonomi
masyarakat, yang pada akhirnya akan mampu mewujudkan kemandirian masyarakat
membiayai kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Hal ini akan mampu mewujudkan cita-cita
jangka panjang berupa mewujudkan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang mandiri, maju,
dan sejahtera, sesuai dengan visi dari pembangunan daerah Nusa Tenggara Timur.

Prof. Dr. Vincent Gaspersz adalah Guru Besar Ekonomi Manajerial pada Program
Pascasarjana Unika Widya Mandira, Kupang dan Universitas Trisakti, Jakarta yang saat ini
bermukim di Vancouver, Canada.

Ir. Esthon Foenay, M.Si adalah Kepala BAPPEDA Provinsi Nusa Tenggara Timur yang
bermukim di Kupang, NTT.

DAFTAR PUSTAKA
BAPPEDA NTT dan Program Pascasarjana UNIKA WIDYA MANDIRA. 2002. Perencanaan
Sumber Daya Manusia Tingkat Makro di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Laporan
Studi Kerjasama Bappeda NTT dengan Program Pascasarjana Universitas Katolik
Widya Mandira, Kupang.

BPS, Bappenas, dan UNDP. 2001. Laporan Pembangunan Manusia Indonesia 2001—
Menuju Konsensus Baru: Demokrasi dan pembangunan manusia di Indonesia.
Publikasi Bersama oleh BPS, Bappenas, dan UNDP, Jakarta 2001.

BPS Jakarta-Indonesia. 2001. Penduduk Nusa Tenggara Timur—Hasil Sensus


Penduduk Tahun 2000. Badan Pusat Satatistik, Jakarta.

BPS NTT. 2001. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2000. Badan Pusat Statistik Provinsi
NTT, Kupang.

BPS NTT. 2002. Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2001. Badan Pusat Statistik Provinsi
NTT, Kupang.

BPS NTT. 2002. Tabel Input-Output Nusa Tenggara Timur 2001—Klasifikasi 35 Sektor.
Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Kupang.

Foenay, Esthon. 2001. Perspektif Perencanaan dan Paradigma Baru Pembangunan.


Artikel dalam Pos Kupang 11 September 2001, hlm. 4 dan 7.

Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2001. Peraturan Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Timur Nomor : 8 Tahun 2001 tentang Pola Dasar Pembangunan
Daerah Tahun 2001-2004. Kupang.

Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2001. Peraturan Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Timur Nomor : 9 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah
(PROPEDA) Tahun 2001-2004. Kupang.

Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2002. Peraturan Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Timur Nomor : 6 Tahun 2002 tentang Rencana Strategis
Pembangunan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2002-2004. Kupang.

[Artikel - Th. II - No. 8 - Nopember 2003]


Mubyarto

MENGEMBANGKAN EKONOMI RAKYAT SEBAGAI LANDASAN


EKONOMI PANCASILA

I . Kemiskinan Penduduk Pribumi di Jaman Penjajahan

Pierre Van der Eng, [2] seorang sejarawan Belanda menulis tentang strata ekonomi

penduduk di jaman penjajahan. Pada tahun 1930, dua tahun setelah Sumpah Pemuda,

51,1 juta penduduk pribumi (Indonesia) yang merupakan 97,4% dari seluruh penduduk

yang berjumlah 60,7 juta hanya menerima 3,6 juta gulden (0,54%) dari pendapatan

“nasional” Hindia Belanda, penduduk Asia lain yang berjumlah 1,3 juta (2,2%) menerima

0,4 juta gulden (0,06%) sedangkan 241.000 orang Eropa (kebanyakan Belanda)

menerima 665 juta gulden (99,4%). Sangat “njomplangnya” pembagian pendapatan

nasional inilah yang sulit diterima para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang

bersumpah tahun 1928 di Jakarta. Kemerdekaan, betapapun sangat “mahal” harganya,

harus dicapai karena akan membuka jalan ke arah perbaikan nasib rakyat dan bangsa

Indonesia.

[2] Pierre Van der Eng, Indonesia’s Economy and Standard of Living in the 20th Century dalam Grayson Lloyd & Shannon
Smith, 2001, Indonesia Today, ISEAS, Singapore, hal. 194.

Kini setelah Indonesia merdeka 58 tahun, ketimpangan ekonomi tidak separah ketika

jaman penjajahan, tetapi konglomerasi (1987-1994) yang menciptakan ketimpangan

ekonomi luar biasa, sungguh-sungguh merupakah “bom waktu” yang kemudian meledak

sebagai krismon 1997. Dalam 26 tahun (1971-1997) rasio pendapatan penduduk daerah

terkaya dan daerah termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983) dan 9,8

(1997), dan Gini Rasio meningkat berturut-turut dari 0,18 menjadi 0,21 dan 0,24.[3]

[3] Van der Eng, idem, hal. 197.

Terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi (7% pertahun selama 3 dekade, 1966-1996)

“tidak diridhoi” Allah SWT dan krismon “diturunkan” untuk mengingatkan bangsa

Indonesia.
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan

kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah)

tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah

sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan

negeri itu sehancur-hancurnya. (Q.S. 17 Al Israa’: 16)

II. Krisis Moneter Mengembangkan Keuangan Mikro

Sejak terjadinya krisis moneter (krismon) yang berakibat langsung pada ditutupnya 16 bank

swasta nasional tanggal 1 Nopember 1997, lembaga keuangan mikro berkembang pesat,

terutama di perdesaan. BRI yang merupakan lembaga keuangan mikro terbesar di Indonesia

yang memiliki 3.825 unit-unit desa di seluruh Indonesia berkembang luar biasa. Di Propinsi

DIY jumlah penabung bertambah rata-rata 16,2% per tahun selama 1997 – 2002 dari 457.496

menjadi 950.978 orang. Dan dana tabungan meningkat 26,3% per tahun dari Rp.263 milyar

menjadi Rp.788 milyar (tabel 2), berarti setiap orang memiliki tabungan di BRI sebesar Rp.

828.368,-. Penduduk Propinsi DIY tahun 2002 adalah 3,1 juta orang.

Demikian data-data mikro dari lapangan ini, yang tidak pernah dilihat dan dianalisis oleh para

ekonom makro, menunjukkan betapa keliru kesimpulan telah “hancur leburnya” ekonomi

Indonesia. Ekonomi rakyat Indonesia tidak pernah mengalami krisis serius meskipun sempat

kaget, sehingga tidak memerlukan pemulihan. Kesan masih adanya “krisis ekonomi”

sekarang ini sengaja ditiupkan dan dibesar-besarkan oleh eks-konglomerat dan para

pembelanya termasuk teknokrat. Konglomerat ingin melepaskan diri dari kewajiban

membayar utang pada bank-bank pemerintah (BLBI dan obligasi rekap). Masyarakat dan

pers kita hendaknya waspada dalam hal ini. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan berbicara tentang
pemulihan ekonomi (economic recovery) jika yang akan kita pulihkan justru kondisi ekonomi

sangat timpang “pra-krisis” yang dikuasai konglomerat dan menjepit ekonomi rakyat.

Keuangan Mikro bukan hal baru bagi Indonesia. Yang baru adalah kesadaran dan pengakuan

tentang peranan besar yang dimainkannya dalam perekonomian rakyat dan perekonomian

nasional. Kenyataan ini mempunyai implikasi besar terhadap teori tentang peranan modal

nasional dan upaya-upaya penguatannya dalam pembangunan ekonomi bangsa. Jika ada

pakar ekonomi asing mengatakan “the only way for Indonesia’s economic recovery is mass

capital inflow from abroad”, maka jelas kami menolak fatwa yang cenderung “ngawur”

tersebut.

Fakta tentang peranan besar keuangan mikro dalam perekonomian nasional hendaknya

menyadarkan pemerintah tentang perlunya mengkaji ulang teori ekonomi perbankan

modern. Kesediaan pemerintah menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan sebesar

Rp.650 trilyun untuk “menyelamatkan perbankan modern”, yang bunganya sangat

memberatkan APBN, jelas merupakan kebijakan keliru yang tidak berpihak pada

kebijakan pengembangan keuangan mikro dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

III. Ekonomi Rakyat sebagai Penyelamat Ekonomi Nasional

Jika Ahmad Syafii Ma’arif dan Franz Magnis-Suseno (2003) berbicara keras tentang
kerusakan bangsa Indonesia yang “hampir sempurna”, sehingga tinggal tunggu waktu dibawa
masuk jurang, maka dilihat dalam perspektif ekonomi diartikan bahwa krisis ekonomi dewasa
ini sudah amat parah, yang jika dibiarkan pasti akan mengakibatkan kebangkrutan
perekonomian nasional. Meskipun orang tidak pernah lupa menyebutkan bahwa krisis yang
melanda bangsa Indonesia dewasa ini sudah berciri multidimensi, tokh yang paling sering
disebutkan di media massa adalah sebagai krisis ekonomi, bukan krisis politik, krisis hukum,
atau krisis moral. Sebabnya tidak lain karena selama 3 dekade Orde Baru, pembangunan
ekonomi sudah menjadi “agama”, dengan peranan yang amat dominan dari (perusahaan-
perusahaan) konglomerat. Kini ketika konglomerat sudah rontok, yang sulit dibayangkan
untuk bangkit kembali karena utang-utang yang sangat besar, maka ekonomi Indonesia
secara keseluruhan dikatakan sudah dalam keadaan krisis parah.

Bahwa ekonomi nasional dianggap masih dalam kondisi krisis, faktor-faktornya antara lain
adalah kurs dollar yang masih 3 kali lebih tinggi dibanding sebelum krisis moneter Juli 1997,
bank-bank masih belum mengucurkan kredit ke sektor riil, dan pemerintah terperangkap
dalam beban utang dalam dan luar negeri yang sangat berat. Benarkah faktor-faktor ini
cukup? Mengapa inflasi yang sudah benar-benar terkendali sejak 1999 yang kini (2003)
berada sekitar 6%, dan pertumbuhan ekonomi yang sudah positif (3-4% pertahun), tidak
dianggap sebagai faktor-faktor yang seharusnya tidak lagi menggambarkan kondisi krisis
ekonomi? Ekonomi yang krisis adalah ekonomi yang pertumbuhannya terus-menerus negatif
dan inflasi merajalela lebih dari 50% per tahun.
Memang pakar-pakar ekonomi makro kita pada umumnya masih mampu berargumentasi dan
menunjuk belum adanya investasi terutama investasi asing sebagai salah satu penyebab
pertumbuhan ekonomi rendah. “Jika pertumbuhan ekonomi hanya ditopang oleh konsumsi
maka pertumbuhan ekonomi tidak akan berkelanjutan”, kata mereka. Benarkah?

Diagnosis ekonomi yang bersifat pesimistik masih jauh lebih kuat dibanding diagnosis
optimistik, karena pada umumnya pakar-pakar ekonomi kita lebih banyak menggunakan data-
data makro sekunder dan tersier di bidang keuangan. Sebaliknya data-data mikro sektor
ekonomi rakyat, yang memang tidak tercatat dalam statistik, tidak pernah masuk dalam
perhitungan. Inilah yang oleh para ekonom makro yang keblinger disebut dengan ekonomi
illegal atau hidden economy.

Ekonomi rakyat di manapun di daerah-daerah benar-benar sudah bangkit, tidak sekedar


menggeliat. Usaha-usaha ekonomi rakyat yang disebut (secara tidak tepat) sebagai UKM
(Usaha Kecil Menengah) berkembang di mana-mana dengan pendanaan mandiri atau melalui
dana-dana keuangan mikro seperti pegadaian, koperasi atau lembaga-lembaga keuangan
mikro “informal” di perdesaan. Misalnya, selama 1995-2002 kredit yang disalurkan Perum
Pegadaian meningkat dengan 5,6 kali (560%), dan jumlah orang yang menggadaikan
(nasabah) naik 368% (Tabel 2). Di Yogyakarta, anggota KOSUDGAMA (Koperasi Serba Usaha
Dosen-dosen Gadjah Mada) yang kini beranggota 5332 orang (74% diantaranya anggota luar
biasa, bukan dosen UGM), anggotanya meningkat lebih dari 5 kali lipat selama periode krisis
(1998-2002), dengan nilai pinjaman meningkat 11 kali lipat (1116%) dari Rp. 1,04 milyar
menjadi Rp. 11,57 milyar (Tabel 3). Satu Baitul Maal (BMT Beringharjo) di kota Yogyakarta
dalam periode relatif singkat (1995-2002) telah meningkat omset pinjamannya dari Rp. 50,9 juta
menjadi Rp. 5,2 milyar dengan anggota naik dari 393 menjadi 1333 (Tabel 4). Selain itu
Koperasi BINA MASYARAKAT MANDIRI yang didirikan 28 “orang gila” tanggal 28 Oktober
1998 di Jakarta, telah membantu 24.873 penduduk miskin di seluruh Indonesia dengan
pinjaman Rp. 39 milyar, padahal pada tahun 1999 baru Rp. 440 juta untuk 917 orang (tabel 5).
Dapat disimpulkan bahwa kondisi “amat gawat” yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini
tidak terletak dalam bidang ekonomi khususnya ekonomi rakyat, tetapi dalam bidang politik,
hukum, dan moral. Korupsi yang makin merajalela yang “menyebar” dari pusat ke daerah-
daerah bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah bukanlah “krisis ekonomi” tetapi
krisis moral, sedangkan “kerusakan bangsa” yang diklasifikasi sebagai “hampir sempurna”
oleh Syafii Ma’arif adalah kerusakan dalam bidang tatakrama atau etika politik, bukan
kerusakan ekonomi Indonesia. Disinilah kekeliruan fatal pakar-pakar ekonomi makro yang
sejak krismon 1997 menyatakan ekonomi Indonesia telah “mati secara aneh dan tiba-tiba”
(the strange and sudden death of a tiger)[4]. Jika ekonomi Indonesia telah diibaratkan
sebagai harimau (tiger) yang sudah mati sejak krismon 1997-1998, lalu apa yang terjadi
dengan orang-orangnya? Apakah mereka (bangsa Indonesia) juga ikut mati? Inilah tidak
realistisnya analisis ekonom yang memberikan konsep-konsep ekonomi abstrak dari
manusia-manusia ekonomi (homo ekonomikus) tanpa merasa perlu membumikannya. Yang
benar manusia adalah juga homo socius dan homo ethicus.[5]

[4] Hal Hill dalam buku pertama tahun 1993 memuji-muji ekonomi Indonesia sebagai The Southeast Asia’s emerging giant,
tetapi kemudian pada tahun 1999 menyebutnya telah mati, the strange and sudden death of a tiger.

[5] Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments, 1759.

Kerusakan ekonomi bangsa memang hampir sempurna, tetapi bukan kerusakan ekonomi
rakyat. Yang rusak adalah ekonomi konglomerat yang pada masa-masa jayanya terlalu
mengandalkan pada modal asing yang murah, tetapi setelah terjadi apresiasi dolar 6 kali lipat
secara tiba-tiba maka konglomerat-konglomerat tersebut telah benar-benar hancur
berkeping-keping. Apakah kondisi ekonomi konglomerasi seperti ini akan kita pulihkan? Pasti
tidak. Indonesia sebaiknya tidak usah berbicara tentang pemulihan ekonomi (economic
recovery). Ekonomi siapa yang akan dipulihkan? Ekonomi konglomerat jangan dipulihkan.

Demikian, berbeda dengan pandangan pakar-pakar ekonomi arus utama (main stream),

kerusakan ekonomi yang dialami sektor modern/ konglomerat tidak perlu diratapi, dan

kita tidak perlu mati-matian memulihkan kondisi ekonomi pra-krisis yang sangat timpang.

Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang demokratis, menunjuk pada asas ke-4

Pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/perwakilan, dimana ekonomi rakyat mendapat dukungan pemihakan

yang sungguh-sungguh dari pemerintah. Bahwa sejauh ini pakar-pakar ekonomi arus

utama menolak konsep ekonomi kerakyatan, bahkan juga ekonomi kekeluargaan, yang

hendak digusur dari pasal 33 UUD 1945, adalah karena mereka secara a priori

menganggap ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi pasar, tetapi dituduh sebagai

sistem ekonomi “sosialis-komunis” ala Orde Lama 1959-1966. Pandangan dan

pemihakan mereka pada konglomerat yang liberal-kapitalistik memang amat sulit diubah

lebih-lebih setelah (istilah mereka) ”Uni Sovyet pun kapok dengan sosialisme, dan RRC

juga sudah menjadi kapitalis”. Sudah pasti mereka “keblinger” karena paham sosialisme

tidak pernah mati, dan ekonomi RRC tumbuh cepat bukan karena meninggalkan paham

sosialisme tetapi karena amat berkembangnya ekonomi rakyat. Ekonomi Indonesia akan

tumbuh cepat seperti ekonomi RRC jika mampu mengalahkan virus korupsi yang

tumbuh subur sejak awal gerakan reformasi yang telah benar-benar melenceng.
IV. Revolusi Mewujudkan Ekonomi Pancasila

Tanggal 12 Agustus 2002 UGM mendirikan PUSTEP (Pusat Studi Ekonom Pancasila) yang
kemudian disambut pembentukan Komisi Ad Hoc Kajian Ekonomi Pancasila pada Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Pendirian PUSTEP-UGM ini
kemudian diikuti pembentukan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PSEK) di Universitas
Sarjanawiyata Taman Siswa tanggal 16 Agustus 2003 semuanya berkehendak
menyumbangkan teori-teori dan ilmu ekonomi (asli) Indonesia yang benar-benar memberi
manfaat pada masyarakat/ bangsa Indonesia khususnya wong cilik.

Ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang masih harus diciptakan untuk
mengganti sistem ekonomi yang kini “dianut” bangsa Indonesia. Bibit-bibit sistem ekonomi
Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama
pada masyarakat perdesaan dalam bentuk usaha-usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.

Seorang pengemudi ’speed boat’ Zamrani (26 th) yang hanya tamat SD 6
tahun menegaskan “Ekonomi Pancasila dalam Aksi” di dalam pelayanan jasa
transpor di Sungai Mahakam Kaltim, yaitu di antara 79 ‘speed’ dan 60 taksi
yang semuanya dimiliki warga Kota Bangun. ‘Speed’ hanya melayani
penumpang Melak-Kota Bangun pulang-pergi (Kutai Barat dan Kutai
Kartanegara), sedangkan taksi Kijang dan lain-lain kendaraan “mini-bus” untuk
jurusan Kota Bangun-Tenggarong-Samarinda, dan Balikpapan. “Bagi-bagi
rezeki” ala ekonomi rakyat di Kota Bangun inilah bukti nyata telah
diterapkannya asas-asas ekonomi Pancasila di Kalimantan Timur.

Adapun mengapa praktek-praktek kehidupan riil dan kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu
pada sistem (aturan main) ekonomi Pancasila ini tersendat-sendat, alasannya jelas karena
politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan berpihak pada konglomerat.
Ketika terjadi krismon 1997-1998, meskipun keberpihakan pemerintah pada konglomerat
belum hilang, tetapi gerakan ekonomi kerakyatan yang dipicu semangat reformasi
memberikan iklim segar pada berkembangnya sistem ekonomi Pancasila yang berpihak pada
ekonomi rakyat.

Pembentukan PUSTEP UGM tepat waktu untuk mengisi kevakuman sistem ekonomi
nasional, ketika sistem ekonomi kapitalis liberal di Indonesia sedang digugat, dan sistem
ekonomi kerakyatan sedang mencari bentuknya yang tepat dan operasional. Sistem ekonomi
kerakyatan merupakan sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila yang diragukan dan tegas-
tegas ditolak oleh teknokrat “keblinger”, yang begitu silau dengan sistem ekonomi kapitalis
liberal dari Barat (Amerika). PUSTEP UGM bertekad melakukan kajian-kajian kehidupan riil
(real life) sehingga dapat membakukan ilmu ekonomi tentang kehidupan riil (real-life
economics) dari masyarakat/bangsa Indonesia.

Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu
menjadi satu realiteit, ... janganlah lupa akan syarat untuk
menyelenggarakannya ialah perjuangan, perjuangan, sekali lagi perjuangan.
Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu
perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam
Indonesia merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus, hanya lain
sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-
sama sebagai bangsa yang bersatu padu, berjuang terus menyelenggarakan
apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila (Soekarno, 1 Juni 1945)

Jika Ahmad Syafii Ma’arif dan Franz Magnis-Suseno di dalam Seminar “Meluruskan Jalan
Reformasi”, mengibaratkan bangsa Indonesia sudah mendekati “jurang kehancuran”, maka
reformasi lebih-lebih yang bersifat tambal-sulam jelas tidak akan memadai. “Kapal” Indonesia
harus dibalikkan arahnya. Itulah revolusi bukan sekedar reformasi.

Kompleksitas krisis multidimensi sekarang dan beratnya beban kesulitan mengatasi dan
mengakhirinya membuat tekad membangun masa depan harus diwujudkan dalam tindakan-
tindakan besar dan inisiatif tingkat tinggi. Tindakan besar yang dimaksud adalah suatu
tindakan fundamental, yang secara moral setara dengan revolusi, atau bahkan perang.
Justru inilah suatu bentuk nyata ”jihad akbar” yang tidak menuntut pengorbanan
pertumpahan darah, tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme dan subjektivisme,
suatu bentuk pengorbanan psikologis. Jihad akbar adalah jenis perjuangan berat melawan
diri sendiri, suatu perjuangan yang memerlukan keberanian menyatakan apa yang benar
walaupun pahit karena bertentangan dengan kepentingan pribadi atau kelompok.[6]

[6] Nurcholish Madjid, Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan Moral, Seminar UGM, 25-27 September 2003.

11 Oktober 2003

Oleh: Prof. Dr. Mubyarto -- Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi
Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.

[1] Makalah untuk Seminar Ekonomi Masa Depan Indonesia Pasca IMF, KOPMA-UGM, 11 Oktober 2003.
Bacaan

1. Ahmad Syafii Ma’arif, 2003, Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi, Moral,
dan Pendidikan, Seminar Nasional, Universitas Gadjah Mada.

2. Chang, Ha-Joon, 2001, Joseph Stiglitz and The World Bank; The Rebel Within,
Anthem Press.

3. De Soto, Hernando, 2000, The Mystery of Capital, Black Swan, London.

4. Franz Magnis-Suseno SJ, 2003, Kembalikan Moralitas Bangsa, Seminar Nasional,


Universitas Gadjah Mada.

5. Lloyd, Grayson & Shannon Smith, 2001, Indonesia Today, ISEAS, Singapore.

6. Masri Singarimbun & D.H. Penny, 1976, Penduduk dan Kemiskinan di Pedesaan
Jawa, Bhratara, Jakarta.

7. Mubyarto, 1999, Reformasi Sistem Ekonomi, Aditya Media, Yogyakarta.

8. Mubyarto, 2000, Membangun Sistem Ekonomi, BPFE, Yogyakarta.

9. Mubyarto dan Daniel W. Bromley, 2002, A Development Alternative for Indonesia,


Gadjah Mada Press, Yogyakarta.

10. Nurcholish Madjid, 2003, Meluruskan Jalan Reformasi: Perspektif Ideologi dan
Moral, Seminar Nasional, Universitas Gadjah Mada.

11. Soekarno, “12 Kali Tepuk Tangan di BPUPKI: Lahirnya Pancasila, Pidato pertama
tentang Pancasila yang diucapkan pada tanggal 1 Juni 1945 oleh Bung Karno”, 2003,
Panitia Pusat “Silaturahmi Kebangsaan 2003”.

12. Stiglitz, Joseph E, 2002, Globalization and Its Discontents, WW. Norton, New York.
[Artikel - Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan - Maret 2004]

Awan Santosa

RELEVANSI PLATFORM EKONOMI PANCASILA MENUJU


PENGUATAN PERAN EKONOMI RAKYAT

Pemilu 2004 sudah pasti akan diwarnai dengan ‘pertarungan politik’ antar parpol, sekaligus
juga antar kandidat calon presiden, caleg, dan antar calon anggota DPD. Hasilnya bisa jadi
kekuasaan tetap dipegang ‘pemimpin lama’, atau mungkin pula akan muncul penguasa-
penguasa baru, partai baru, dan orang-orang yang baru pula. Lalu, akan berubahkah nasib
ekonomi bangsa kita? Tidak dapat dipastikan, kecuali ada ‘janji-janji’ perubahan kebijakan
ataupun program ekonomi yang lebih banyak bersifat parsial dan konvensional dari partai
peserta pemilu. Saya setuju dengan Khudori (2004) bahwa momen Pemilu 2004 selayaknya
bukan saja memungkinkan pergantian orang atau partai melainkan pergantian ideologi atau
moral ekonomi yang mengarah pada ciri neoliberal-kapitalistik dewasa ini. Bukan berganti
menjadi apa-apa, melainkan kembali ke ideologi atau moral ekonomi Pancasila, sebuah
ideologi ekonomi yang ‘ke-Indonesia-an’.

Tulisan ini menjawab pragmatisme atau ketidaktahuan banyak orang sehingga mereka
bertanya-tanya, relevankah Ekonomi Pancasila dalam memperkuat peranan ekonomi rakyat
dan ekonomi nasional di era global (isme) kontemporer? Mereka skeptis, bukankah sistem
ekonomi kita sudah mapan, makro-ekonomi sudah stabil dengan indikator rendahnya inflasi
(dibawah 5%), stabilnya rupiah (Rp 8.500,-), menurunnya suku bunga (dibawah 10%). Lalu,
apakah tidak mengada-ada bicara sistem ekonomi dari ideologi yang pernah ‘tercoreng’, dan
tidak nampak wujudnya, tidak realistis, dan utopis? Mereka ini begitu yakin bahwa masalah
ekonomi (krisis 97) adalah karena ‘salah urus’ dan bukannya ‘salah sistem’, apalagi dikait-
kaitkan dengan ‘salah ideologi’ atau ‘salah teori’ ekonomi. Tidak dapat disangkal, KKN yang
akut memberi sumbangan besar bagi keterpurukan ekonomi bangsa ini. Namun, krisis di
Indonesia juga tidak terlepas dari berkembangnya paham kapitalisme disertai penerapan
liberalisme ekonomi yang ‘kebablasan’. Akibatnya, kebijakan, program, dan kegiatan ekonomi
banyak dipengaruhi paham (ideologi), moral, dan teori-teori kapitalisme-liberal.

Disinilah relevansi platform (istilah penulis) Ekonomi Pancasila, sebagai ‘media’ untuk
mengenali (detector) bekerjanya paham dan moral ekonomi yang berciri neo-liberal
kapitalistik di Indonesia. Profesor Mubyarto merumuskan Ekonomi Pancasila sebagai sistem
ekonomi yang bermoral Pancasila, dengan lima platform sebagai manifestasi sila-sila
Pancasila yaitu moral agama, moral kemerataan sosial, moral nasionalisme ekonomi, moral
kerakyatan, dan moral keadilan sosial. Ekonomi Pancasila merupakan prinsip-prinsip moral
(ideologi) ekonomi yang diderivasikan dari etika dan falsafah Pancasila. Oleh karena itu,
selain berisi cita-cita visioner terwujudnya keadilan sosial, ia juga mengangkat realitas sosio-
kultur ekonomi rakyat Indonesia, sekaligus ‘rambu-rambu’ yang bernilai sejarah untuk tidak
terjerumus pada paham liberalisme dan kapitalisme. Gagasan Ekonomi Pancasila mulai
dikembangkan Profesor Mubyarto sejak tahun 1981 dalam suatu polemik tentang sistem
ekonomi nasional sampai saat ini. Inilah platform ekonomi yang lebih awal lahir daripada
gagasan Amitai Etzioni tentang ‘ekonomi baru’ yang berdimensi moral dalam bukunya The
Moral Dimension: Toward a Newf Economics, Free Press 1988). Penerapan platform
Ekonomi Pancasila secara utuh (multi-sektoral) dan menyeluruh (nasional) menempatkan
Indonesia sebagai negara yang menganut sistem ekonomi khas Indonesia yaitu Sistem
Ekonomi Pancasila.
Lalu, apa bukti platform Ekonomi Pancasila relevan dengan kondisi sosial-ekonomi kita saat
ini? Di tengah pesatnya perkembangan ilmu (ideologi) ekonomi global yang sudah semakin
mengarah pada ‘keyakinan’ layaknya agama (Nelson, 2001), rasanya tidak sulit mengamati
ekses dari kecenderungan global tersebut di Indonesia. Relevansi Ekonomi Pancasila dapat
‘dideteksi’ dari tiga kontek yang berkaitan yaitu cita-cita ideal pendiri bangsa, praktik ekonomi
rakyat, dan praktek ekonomi aktual yang ‘menyimpang’ karena berwatak liberal, individualis,
dan kapitalistik. Semua itu terangkum dalam kajian lima platform Ekonomi Pancasila yang
bersifat holistik dan visio-revolusioner (Mubyarto, Ekonomi Pancasila, 2003).Kita mulai dari
platform pertama Ekonomi Pancasila yaitu moral agama, yang mengandung prinsip “roda
kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial, dan moral”. Pada
awalnya founding fathers kita merumuskan ‘politik kemakmuran’, ‘keadilan sosial’, dan
‘pembangunan karakter’ (character building) bangsa yang dilandasi semangat penerapan
ajaran moral dan agama. Itu berarti pembangunan ekonomi harus beriringan dengan
pembangunan moral atau karakter bangsa, dan ditujukan untuk menjamin keadilan antar
sesama makhluk ciptaan Allah, tidak sekedar pembangunan materiil semata. Inilah moral
ekonomi rakyat yang tidak sekedar mencari untung, melainkan memperkuat silaturahmi,
menegakkan hukum-hukum Allah (syari’ah), dan memperhatikan kepentingan sosial. Asalkan
tidak malas untuk turun ke desa-desa atau ke pelaku ekonomi rakyat, tidak sulit untuk
menemukan praktek ekonomi bermoral ini.

Relevansi platform Ekonomi Pancasila dalam hal ini dikuatkan akutnya perilaku ekonomi di
Indonesia yang sama sekali mengabaikan moral, etika, bahkan agama. Lihat saja korupsi
yang sudah membudaya dan melembaga karena tidak pernah diperhatikan secara serius,
kecuali saat-saat terakhir menjelang Pemilu 2004 dengan pembentukan KPTPK. Ada lagi
maraknya ‘penjarahan alam’ berupa penebangan hutan secara liar (llegal logging) yang
terlalu lama ‘didiamkan’ sehingga berakibat banjir, tanah longsor, dan kekeringan di sebagian
wilayah di Jawa, Sumatara, dan pulau lainnya. Yang masih panas-panasnya adalah
maraknya ‘pornoaksi’ dangdut erotis lewat media TV yang memang ‘dibiarkan’ di alam
kebebasan (liberalisme) saat ini. Tanpa peduli moral, agama, dan dampak sosial bagi
masyarakat, para penyanyi, produser, perusahaan (iklan), dan stasiun TV, mengeruk ‘rente’
dari kegiatan ekonomi (bisnis) mereka. Masih ada juga penggusuran orang miskin,
pengabaian nasib TKI, dan ribut-ribut soal ‘pesangon’ BPPN atau DPRD di berbagai tempat.
Kondisi itu menegaskan perlunya ‘revolusi moral ekonomi’ menuju pengejawantahan platform
Ekonomi Pancasila, yang bermoral dan tidak sekuler.

Platform kedua adalah “kemerataan sosial, yaitu ada kehendak kuat warga masyarakat untuk
mewujudkan kemerataan sosial, tidak membiarkan terjadi dan berkembangnya ketimpangan
ekonomi dan kesenjangan sosial”. Gagasan ini sudah lama tertuang dalam bagian penjelasan
Pasal 33 UUD 45 yang sudah diamandemen dalam konsep ‘kemakmuran masyarakatlah
yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang’. Sampai saat ini masih sulit meyakini
realisasi semangat tersebut karena setiap upaya ‘memakmurkan ekonomi’ ternyata yang
lebih merasakan dampaknya tetap saja ‘orang besar’ baik pengusaha ataupun pejabat
pemerintahan. Masih saja ketimpangan sosial-ekonomi susah untuk diperkecil. Di puncak
piramida yang menguasai mayoritas kue nasional dihuni segelintir manusia. Sebaliknya, di
dasar piramida yang kuenya kecil diperebutkan puluhan juta orang (Khudori, 2004).

Zakat yang sudah diformalkan (UU) dan pajak sebagai instrumen pemerataan ternyata belum
mampu berbuat banyak, padahal potensi untuk itu sangat besar. Banyak orang yang memiliki
kekayaan milyaran (termasuk calon-calon presiden kita, Tempo, 2004), namun banyak pula
yang pendapatannya pas-pasan sekedar untuk bertahan hidup. Itulah kita, hidup di ‘negara
kaya’ (SDA) yang ‘miskin’ (terlilit utang), tetapi masih mampu menampilkan gaya hidup
mewah, eksklusif, dan glamour dari sebagian elit warganya. Lihatlah pesta-pesta bernilai
ratusan juta semalam yang sering diadakan ‘selebriti’, termasuk juga acara-acara pejabat
yang sering menyentak hati karena dipaksakan untuk tetap ada dan mewah. Dalam pada itu,
kita masih saja berbicara pertumbuhan ekonomi mau 4%, 5%, atau 7%, tanpa berupaya
keras memprioritaskan pemerataannya ataupun berusaha sedikit lebih ‘sederhana’ di tengah
kemiskinan yang menjerat kurang lebih 36 juta rakyat Indonesia. Kita dapat belajar pada
ekonomi rakyat kita, terutama di perdesaan, yang masih memegang prinsip kebersamaan
dan solidaritas sosial-ekonomi dalam kegiatan mereka. Ekonomi Pancasila berfungsi sebagai
platform ekonomi yang memperjuangkan pemerataan dan moral kemanusiaan melalui upaya-
upaya ‘redistribusi pendapatan’.

Platform ketiga adalah “nasionalisme ekonomi; bahwa dalam era globalisasi makin jelas
adanya urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri”.
Platform ini sejalan dengan konsep founding fathers kita, khususnya Bung Karno dan Bung
Hatta, perihal ‘politik-ekonomi berdikari’ yang bersendikan usaha mandiri (self-help), percaya
diri (self reliance), dan pilihan kebijakan luar negeri bebas-aktif. Kemandirian bukan saja
menjadi cita-cita akhir pembangunan nasional, melainkan juga prinsip yang menjiwai setiap
proses pembangunan itu sendiri. Ini mensyaratkan bahwa pembangunan ekonomi haruslah
didasarkan pada kekuatan lokal dan nasional untuk tidak hanya mencapai ‘nilai tambah
ekonomi’ melainkan juga ‘nilai tambah sosial-kultural’, yaitu peningkatan martabat dan
kemandirian bangsa (Swasono, 2003). Oleh karena itu pokok perhatian seharusnya diberikan
pada upaya pemberdayaan ekonomi rakyat sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Ekonomi rakyatlah yang bersifat mandiri, tidak ‘menyusahkan’ atau ‘membebani’ ekonomi
nasional di saat krisis, sehingga ‘daya tahan’ ekonomi mereka tidak perlu diragukan lagi.

Lalu, kenapa saat ini nasionalisme ekonomi seakan-akan telah dianggap tidak penting, tidak
relevan, dan tidak perlu diperjuangkan? Lihat saja, petani dan peternsk kecil kita begitu
‘menjerit’ di saat ada impor beras, gula, dan paha ayam. Apa gunanya kampanye cinta
produk dalam negeri bila pemihakan terhadap pelaku ekonomi rakyat sebagai produsen lokal
masih setengah hati. Lagi pula, mengapa kita ragu untuk melakukan ‘proteksi’ terhadap
petani kita di saat Amerika, Jepang, negara-negara Eropa memberikan perlindungan kepada
petani-petani mereka. Lebih lanjut, justru investasi (asing) dan privatisasi BUMN yang saat ini
begitu dipercaya sebagai ‘dewa’ pertumbuhan ekonomi dengan melupakan begitu saja sifat
pemodal besar untuk mencari tempat yang menguntungkan bagi investasi mereka. Dengan
begitu pelarian modal (capital flight) atau relokasi industri adalah wajar bagi mereka, dan
memang tidak ada kamus ‘nasionalisme ekonomi’ atau ‘nasionalisme modal’ dalam istilah
mereka. Ada kesan kuat bahwa interaksi yang timpang (sub-ordinatif) dengan lembaga asing
seperti IMF dan CGI (terkait dengan jebakan utang) telah ‘mengaburkan’ pentingnya
kemandirian ekonomi bangsa yang ditopang oleh semangat nasionalisme ekonomi.

Platform keempat adalah “demokrasi ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan;


koperasi dan usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan
masyarakat”. Prinsip ini dijiwai oleh semangat Pasal 33 UUD 1945 yang kini sudah berganti
menjadi UUD 2002 (amandemen keempat). Perubahan ini telah menghilangkan seluruh
penjelasan UUD 1945 termasuk penjelasan Pasal 33 yang berisikan prinsip-prinsip
demokrasi ekonomi dan landasan konstitusional koperasi. Oleh karena itu, upaya penegakan
demokrasi ekonomi nampaknya berhadapan dengan upaya-upaya untuk memperjuangkan
pasar bebas, yang menjadi senjata penganut paham liberalisme dan kapitalisme. Isu-isu yang
kemudian dicuatkan diantaranya adalah privatisasi BUMN dan liberalisasi impor.

Pemilu 2004 setidaknya merupakan manifestasi demokrasi politik, namun bagaimana dengan
manifestasi demokrasi ekonominya? Penghapusan ‘koperasi’ dari penjelasan UUD 45 dan
memasukkan ideologi ‘persaingan’ dan ‘pasar bebas’ dalam pasal 33 merupakan runtutan
dari kebijakan privatisasi BUMN yang ditentang banyak kalangan. Beralihnya pemilikan
BUMN ke investor swasta melalui privatisasi dikhawatirkan justru memperpuruk
kesejahteraan ekonomi rakyat (Baswir, 2001). Kita patut prihatin jika aset-aset yang
menguasai hajat hidup orang banyak terus ‘diobral’ ke pemodal besar apalagi pemodal asing
(kasus Indosat). Jika dasar dan pengertian demokrasi ekonomi (dalam penjelasan Pasal 33 )
sudah ‘dihapuskan’, maka dengan platform Ekonomi Pancasila kita berusaha keras untuk
mengembalikan hakekat demokrasi ekonomi atau sistem ekonomi kerakyatan dengan ciri
‘produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-
anggota masyarakat’.

Platform kelima (terakhir) adalah “keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil antara
perencanaan nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas, dan
bertanggungjawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Tujuan
keadilan sosial juga mencakup keadilan antar wilayah (daerah), yang memungkinkan seluruh
wilayah di Indonesia berkembang sesuai potensi masing-masing. Oleh karena itu
pengalaman pahit sentralisasi politik-ekonomi era Orde Baru dapat kita jadikan pelajaran
untuk menyusun strategi pembangunan nasional. Inilah substansi Negara Kesatuan yang
tidak membiarkan terjadinya ketimpangan sosial-ekonomi antardaerah melalui pemusatan
aktivias ekonomi oleh pemerintah pusat, dan di pusat pemerintahan. Paradigma yang
kemudian dibangun adalah pembangunan Indonesia, bukannya pembangunan di Indonesia
seperti yang dilakukan Orde Baru dengan paham developmentalism yang netral visi dan misi
(Swasono, 2003).

Meskipun otonomi daerah telah mendorong kemandirian dan kreativitas Pemda dalam
membangun wilayah mereka, namun masih saja mereka merasa kesulitan untuk menggali
sumber-sumber penerimaan daerah. Langkah yang lazim diambil adalah optimalisasi PAD
melalui pemberlakuan Perda-Perda yang justru kadang ‘bertentangan’ dengan peraturan di
atasnya seperti halnya hasil kajian Depdagri menunjukkan ada sekitar 7000 perda yang
dinilai tidak layak diterapkan (Sunarsip, 2004). Keadaan ini dimungkinkan karena masih juga
terjadi ketimpangan antarwilayah, antara pusat dan daerah di Indonesia. Otonomi daerah dan
desentralisasi fiskal yang dimaksudkan untuk mengoreksi sentralisasi ekonomi dan
pemerintahan praktis tidak mengubah sedikitpun perimbangan penerimaan negara di
Indonesia. Pusat tetap memungut 95 persen, sedangkan PAD seluruh daerah di Indonesia
tetap hanya 5 persen. Otonomi hanya mengubah sedikit sisi belanja. Sebelum otonomi pusat
membelanjakan 78 persen, kini pusat membelanjakan 70 persen (Khudori, 2004).

Demikian, momentum Pemilu dan Sidang Umum 2004 merupakan saat yang tepat untuk
mengoreksi kekeliruan sistem dan paham ekonomi kita, untuk kemudian merombaknya
dengan kembali ke Sistem Ekonomi Pancasila. Gagasan para pendiri bangsa kita yang
sejalan dengan praktek ekonomi rakyat dan menentang keras praktek ekonomi yang neo-
liberal-kapitalistik kiranya menyadarkan kita akan perlunya perombakan sistem ekonomi
tersebut. Inilah relevansi lima platform Ekonomi Pancasila yang dapat menjadi panduan
(guidance) bagi pergantian sistem dan ideologi ekonomi menjadi ekonomi yang lebih
bermoral, berkerakyatan, dan berciri ‘ke-Indonesia-an’, sehingga lebih menjamin upaya
pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pertanyaannya, sadarkah para capres, caleg, dan calon pejabat pemerintahan lainnya akan
kebutuhan adanya platform ekonomi yang khas Indonesia ini? Seandainya mereka (dan
partainya) memiliki platform ekonomi tersendiri, kiranya dapat diperdebatkan dengan platform
Ekonomi Pancasila. Bangsa kita benar-benar membutuhkan platform ekonomi yang utuh,
komprehensif, bernilai historis, dan visio-revolusioner. Bukannya platform ekonomi yang
konvensional, parsial, dan ‘eksklusif’ dari bidang bidang lain seperti politik, budaya, dan
hukum. Seruan memberantas korupsi atau ‘anti politisi busuk’ saja belum cukup tanpa
disertai reformasi (revolusi?) ideologi dan moral ekonomi liberal-kapitalistik yang
menumbuhsuburkan praktek korupsi dan kejahatan ekonomi (economic crime) lain di
Indonesia. Apakah Pemilu dan Sidang Umum 2004 akan mampu menjawab kebutuhan ini?

Yogyakarta, 5 Februari 2004


[Artikel - Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan - Juli 2004]

Mubyarto

CAPRES/CAWAPRES DAN EKONOMI RAKYAT

Pendahuluan

Menyimak secara serius pernyataan-pernyataan para Capres/Cawapres di media elektronik


tentang program-program ekonomi yang dijanjikan kepada rakyat untuk dilaksanakan, jika
mereka terpilih, dengan segala maaf saya harus menyatakan sangat prihatin. Pada umumnya
para Capres/Cawapres belum memahami benar apa itu ekonomi rakyat, dan karena belum
jelas pemahaman mereka mengenai ekonomi rakyat, maka sulit diharapkan dapat
dirumuskannya program-program kongkrit bagaimana mengembangkannya, dan yang sangat
sering diucapkan bagaimana memberdayakannya.

Yang lebih sering kita dengar justru bukan konsep tentang ekonomi rakyat, tetapi ekonomi
kerakyatan, yang menurut mereka harus diberdayakan juga. Maka mereka dengan
bersemangat menyatakan akan menyusun dan melaksanakan program pemberdayaan
ekonomi kerakyatan padahal ekonomi kerakyatan sebagaimana tercantum jelas dalam
Propenas (UU No. 25/2000) adalah sistem ekonomi. Sistem ekonomi dapat dikembangkan
dan yang jelas dilaksanakan, tidak diberdayakan, karena yang diberdayakan adalah
orangnya, pelakunya, yaitu ekonomi rakyat.

Tentang Ekonomi Rakyat

Bung Hatta dalam Daulat Rakyat (1931) menulis artikel berjudul Ekonomi Rakyat dalam
Bahaya, sedangkan Bung Karno 3 tahun sebelumnya (Agustus 1930) dalam pembelaan di
Landraad Bandung menulis nasib ekonomi rakyat sebagai berikut:

Ekonomi Rakyat oleh sistem monopoli disempitkan, sama sekali didesak dan
dipadamkan (Soekarno, Indonesia Menggugat, 1930: 31)

Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945,
maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang
berarti merakyat. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis
lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Jadi
ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Pengertian demokrasi
ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33
UUD 1945 yang berbunyi:

Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan
anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan
bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai
usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang
sesuai dengan itu ialah koperasi.
Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua
orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak,
tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang
banyak ditindasinya.
Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada
di tangan orang-seorang.
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah
pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Memang sangat disayangkan bahwa penjelasan tentang demokrasi ekonomi ini sekarang
sudah tidak ada lagi karena seluruh penjelasan UUD 1945 diputuskan MPR untuk dihilangkan
dengan alasan naif, yang sulit kita terima, yaitu “di negara-negara lain tidak ada UUD atau
konstitusi yang memakai penjelasan”.

Bagaimana memberdayakan ekonomi rakyat

Jika kini telah diyakini bahwa yang harus diberdayakan adalah ekonomi rakyat bukan
ekonomi kerakyatan, maka pertanyaan lugas yang dapat diajukan adalah bagaimana (cara)
memberdayakan ekonomi rakyat.

Jika ekonomi rakyat dewasa ini masih “tidak berdaya”, maka harus kita teliti secara
mendalam mengapa tidak berdaya, atau faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
ketidakberdayaan pelaku-pelaku ekonomi rakyat itu. Untuk menjawab pertanyaan inilah
kutipan pernyataan Bung Karno di atas sangat membantu, yaitu ekonomi rakyat menjadi
kerdil, terdesak, dan padam, karena sengaja disempitkan, didesak, dan dipadamkan oleh
pemerintah penjajah melalui sistem monopoli, dan (sistem) monopoli ini dipegang langsung
oleh pemerintah, atau diciptakan pemerintah dan diberikan kepada segelintir perusahaan-
perusahaan konglomerat. Dari keuntungan besar yang diperolehnya kemudian konglomerat
memberikan “bagi hasil” kepada pemerintah atau lebih buruk lagi kepada “oknum-oknum
pejabat pemerintah”. Inilah salah satu bentuk korupsi melalui koneksi dan nepotisme yang
kemudian disebut dengan nama KKN.

Cara yang paling mudah memberdayakan ekonomi rakyat adalah menghapuskan sistem
monopoli, yang pernah “disembunyikan” dengan nama sistem tata niaga. Misalnya tataniaga
jeruk Kalbar atau tataniaga cengkeh Sulut. Padahal yang dimaksudkan jelas sistem monopoli
yang pemegang monopolinya ditunjuk pemerintah yaitu BPPC untuk cengkeh dan Puskud
untuk Jeruk Kalbar. Itulah yang pernah kami katakan bahwa “di Indonesia pernghapusan
monopoli tidak memerlukan UU Anti Monopoli seperti di AS tetapi jauh lebih mudah dan lebih
sederhana yaitu dengan menerbitkan sebuah SK (Surat Keputusan) dari Presiden atau
Menteri Perindustrian dan Perdagangan untuk mencabut monopoli yang sebelumnya
memang telah diberikan pemerintah”.

Cara lain yang juga sudah sering kami anjurkan adalah pemberdayaan melalui pemihakan
pemerintah. Jika pemerintah bertekad memberdayakan petani padi atau petani tebu
misalnya, pemerintah harus berpihak kepada petani. Berpihak kepada petani berarti
pemerintah tidak lagi berpihak pada konglomerat seperti dalam kasus jeruk dan cengkeh,
yang berarti petani jeruk dan petani cengkeh memperoleh “kebebasan” untuk menjual kepada
siapa saja yang mampu memberikan harga terbaik.

Khusus dalam kasus petani padi, yang terpukul karena harga pasar gabah dibiarkan merosot
di bawah harga dasar, keberpihakan pemerintah jelas harus berupa pembelian langsung
gabah “dengan dana tak terbatas” sampai harga gabah terangkat naik melebihi harga dasar
yang telah ditetapkan pemerintah.

Demikian pemberdayaan dan pemihakan pada ekonomi rakyat sangat mudah


pelaksanaannya kalau kita terapkan langsung pada ekonomi rakyat, bukan pada ekonomi
kerakyatan, yang terakhir ini berarti sistem atau aturan main, yang tidak dapat diberdayakan.

Dengan digantinya oleh pemerintah istilah ekonomi rakyat dengan UKM (Usaha Kecil dan
Menengah) yang sebenarnya sekedar menterjemahkan istilah asing SME (Small and Medium
Enterprises), yang tidak mencakup 40 juta usaha mikro (93% dari seluruh unit usaha), maka
segala pembahasan tentang upaya pemberdayaan ekonomi rakyat tidak akan mengena pada
sasaran, dan akan menjadi slogan kosong.

Bahkan ada Capres/Cawapres yang secara sangat keliru menyamakan sektor ekonomi
rakyat dengan sektor informal, yang hanya diartikan sebagai pelaku-pelaku ekonomi yang
tidak berbadan hukum yang selalu “melanggar hukum” sehingga harus “ditindak”. Dan
dengan definisi ini kemudian diajukan program pemberdayaan sektor “UKM” dengan
secepatnya menjadikan atau “mentransformasi” sektor informal menjadi sektor formal. Jelas
usulan program seperti ini tidak masuk akal dan menunjukkan ketidakpahaman
Capres/Cawapres yang bersangkutan tentang ekonomi rakyat yang menyangkut hajat hidup
160 juta orang Indonesia yang sebenarnya sudah jauh lebih tua dibanding sektor formal,
sektor informal sebaiknya justru yang disebut sektor formal.

Penutup

Tidak terlalu sulit bagi para Capres/Cawapres untuk mengkampanyekan program-program


yang benar-benar dapat memberdayakan ekonomi rakyat asal pengertian ekonomi rakyat
dipahami secara benar. Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik yang telah tergeser,
terjepit, dan tersingkir, ketika pemerintah Orde Baru memprioritaskan kebijakan, strategi, dan
program-programnya pada tujuan pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus dengan
mengabaikan atau menunda pemerataannya. Kini dengan paradigma baru yang
menomorsatukan pemerataan dan keadilan sesuai asas-asas ekonomi Pancasila, maka
pemberdayaan ekonomi rakyat harus dijadikan kebijakan, strategi, dan program-program
utama.

Kami anjurkan para Capres/Cawapres tidak memilih menggunakan istilah “UKM” yang salah
kaprah, dan lebih baik mengunakan istilah ekonomi rakyat yang setiap orang yang “tidak
terpelajar” pun mengerti persis artinya, yang merupakan istilah dan konsep yang sudah
dipakai Bung Karno dan Bung Hatta sejak zaman pergerakan kemerdekaan.

Oleh: Prof. Dr. Mubyarto -- Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi
Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.

Makalah Seminar Publik Peningkatan Kualitas dan Partisipasi Politik Rakyat Dalam Pemilu, Yogyakarta, 1 Juli 2004.

[Artikel - Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan - Oktober 2004]


Mubyarto

SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU


ORANG KAYA?

The greatest threat to the equilibrium of the environment comes


from the way the economy is organized... ever increasing
growth and accumulation (Ravaioli, 1995: 4)

1. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup kita rusak,
siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang
hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi kayu-kayu yang
diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian dijual lagi untuk ekspor,
yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling bersalah dalam proses
perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya
orang-orang miskin saja, sedangkan orang-orang kaya adalah “pahlawan
pembangunan”.

2. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran manusia secara
sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...” atau “penduduk
miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan
hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”,
kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin
bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk hidup. Penduduk miskin
tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak
peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.

3. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan,
disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam jumlah
besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula.
Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap
sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan, bukan karena orang-orang
miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan
yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. Adalah
sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”.

4. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana,


yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu
ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan
itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet.
Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri, tidak ada
subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa
yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan
melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, bukan dengan “menggusurnya”
setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi ”pemecahan” masalah kemiskinan.

5. Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan kemiskinan dan


pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan lingkungan yang
berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama ini kiranya salah dan
tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-
sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil jika para
peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat “serakah”
dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di
Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini.
Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang
populis dan mengacu pada ideologi Pancasila dengan lima cirinya sebagai berikut:

(1) Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi,


sosial, dan moral;

(2) Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan kemerataan sosial
yaitu tidak membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi
dan kesenjangan sosial;

(3) Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya
urgensi terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh, dan mandiri;

(4) Demokrasi Ekonomi berdasar kerakyatan dan kekeluargaan; koperasi dan


usaha-usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan
masyarakat;

(5) Keseimbangan yang harmonis, efisien, dan adil, antara perencanaan


nasional dengan desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas, dan
bertanggung jawab, menuju pewujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.

6 Oktober 2004

Oleh: Prof. Dr. Mubyarto -- Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi
Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.

Makalah untuk lokakarya terbatas (Expert Workshop), Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, 6 Oktober 2004.

Daftar Pustaka

Ravaioli, Carla & Paul Ekins, 1995, Economist and the Environment, Zed Books
[Artikel - Ekonomi Rakyat dan Reformasi Kebijakan - November 2004]

Mubyarto

MENGAPA BANK SULIT MEMBERDAYAKAN EKONOMI


RAKYAT?

Pendahuluan

Memberdayakan ekonomi rakyat di daerah terpencil Kutai Barat ternyata merupakan


perjuangan berat bagi siapapun. Bahkan mereka yang percaya perbankan merupakan “agent
of development” yang berperan kunci dalam memberdayakan ekonomi rakyat bisa “kecele”
menyaksikan kenyataan pahit sulitnya bank bermitra akrab dengan pelaku-pelaku ekonomi
rakyat yang miskin, baik di wilayah Ulu Riam di Mahakam Ulu, di kampung-kampung
pegunungan, maupun di dataran rendah sepanjang Sungai Mahakam. Meskipun Pemda
Kabupaten Kutai Barat sudah menunjuk Bank BPD Melak menyalurkan dana UMKM kepada
usaha-usaha kecil “ekonomi rakyat” sebesar Rp 7,5 milyar dari dana APBD, tokh penerima
dana-dana DPM (Dinas Pemberdayaan masyarakat) ini masih belum merasakan adanya
perhatian dan perlakuan khusus terhadap mereka sebagai pihak-pihak yang berhak
menerima perlakuan “istimewa” karena kemiskinannya.

Yulius Seran (37 th) adalah seorang penyandang cacat yang setiap hari menunggu
dagangan “rupa-rupa” di pinggir jalan dekat Linggang Bigung. Ia “marah” ketika permintaan
pinjaman Rp. 15 juta hanya diberi Rp. 7 juta padahal yang Rp. 8 juta sudah dijanjikan pada
seorang teman yang sanggup membuatkan sepeda motor khusus agar ia dapat
menggunakannya untuk berbelanja ke Melak sebulan sekali.

Meskipun belakangan diketahui Yulius Seran seorang yang jujur dan patuh mengangsur
kreditnya setiap bulan, tokh Bank BPD tidak tergerak meluluskan sisa kredit yang dimintanya.
Rupanya meminjamkan kredit kepada seorang miskin seperti Yulius Seran belum cukup
meyakinkan pejabat bank “sebagai jalan melancarkan jalan baginya masuk surga”.

Bank adalah Mitra Orang Kaya

Sejak 3 tahun terakhir (2001-2003) jumlah dana masyarakat yang disimpan di 2 bank di
Melak (BRI dan BPD) meningkat rata-rata 12,0% pertahun, yaitu dari Rp. 214,2 milyar (2001)
menjadi Rp. 256,0 milyar (2002) dan Rp. 272,4 milyar (2003). Yang menarik persentase
kenaikan dana pihak ke-3 yang disimpan di bank-bank ini sama sekali tidak diikuti kenaikan
yang sepadan dalam jumlah kredit yang diberikan kepada pengusaha-pengusaha di Melak.
LDR (Loan Deposit Ratio) meskipun cenderung naik tetapi hanya sebesar berturut-turut 2,2%
(2001), 10,8% (2002), dan 13,8% (2003) dan sampai dengan September 2004 adalah 32,1%.
Rupanya kalau tidak ada kredit “UMKM” yang disalurkan dari dana APBD Pemda kabupaten,
tidak ada tanda-tanda perbankan “bersemangat” menyalurkan kredit kepada pengusaha-
pengusaha di Melak, lebih-lebih kepada usaha-usaha kecil ekonomi rakyat.

Memang ironis. Di satu pihak usaha-usaha kecil lari ke “rentenir” dengan membayar bunga
tinggi, tetapi di pihak lain orang-orang kaya menyimpan uang mereka di bank dalam bentuk
deposito dengan menerima bunga “menarik”. Para pelepas uang dan deposan menikmati
pendapatan bunga tinggi, dan sebaliknya orang miskin harus membayar bunga tinggi kepada
orang-orang kaya.
Jika ekonomi rakyat dapat diberdayakan melalui kredit lunak sehingga kesejahteraannya
meningkat, mengapa Pemda tidak terdorong untuk mengambil langka-langkah demikian
dalam GSM (Gerakan Sendawar Makmur) dengan menyalurkan kredit mikro sebanyak
mungkin kepada usaha-usaha ekonomi rakyat yang membutuhkannya. Ternyata kunci
penyebabnya terletak pada diberlakukannya sistem ekonomi kapitalis yang telah dipilih oleh
pemerintah pusat. Dalam sistem ekonomi kapitalis segala upaya dilakukan untuk melindungi
kepentingan para pemodal/pemilik uang, yang dengan memberikan jaminan rasa aman pada
para pemilik modal ini. Maka ada lembaga penjaminan kredit, dan dalam kaitan penyaluran
kredit UMKM ada lembaga KKMB (Konsultan Keuangan Mitra Bank), yang dibiayai oleh
sebagian bunga kredit yang dibayar penerima kredit (debitor). Mengapa tidak ada Konsultan
Keuangan Mitra Ekonomi Rakyat (KKMER) meskipun jelas ekonomi rakyat inilah yang paling
membutuhkan jasa konsultan, bukan justru bank yang sebenarnya tidak memerlukan
konsultan keuangan itu.

Kalau perangsang dan perlindungan kepada para pemilik modal dalam sistem ekonomi
kapitalis ini belum dianggap cukup, Bank Indonesia sudah sejak lama mengeluarkan SBI
(Sertifikat Bank Indonesia) yang menjanjikan bunga menarik kepada dunia perbankan untuk
menyimpan dana-dana yang dihimpunnya dari daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Penetapan tingkat bunga yang menarik selalu dijadikan alasan mudah bagi dunia perbankan
untuk tidak menyalurkan dananya sebagai kredit kepada dunia usaha. Bunga SBI ini pernah
mencapai 17,5% pertahun yang tentu saja menjadi alasan sangat kuat bagi setiap bank untuk
mengirimkan dana-dana pihak ke-3 yang dihimpun di bank-bank di daerah-daerah di seluruh
Indonesia untuk dikirim ke Jakarta. Inilah faktor penyebab rendahnya nilai LDR (Loan Deposit
Ratio) di setiap daerah, sehingga ketika banyak daerah-daerah miskin/tertinggal berteriak
mengharapkan kredit yang murah dan mudah, tokh dana-dana perbankan yang terhimpun di
daerah-daerah seperti itu justru dikirim ke kantor pusat bank yang bersangkutan. Bank-bank
yang lebih banyak mengirim dana-dana dari daerah-daerah ke kantor pusat selalu mudah
menerangkan perilaku keliru ini karena “kesulitan menemukenali” proyek-proyek ekonomi dan
bisnis yang bankable yang dapat didanai, padahal yang benar bank-bank ini memang merasa
lebih aman menggunakan dana-dana yang dihimpun dengan dibelikan SBI.

Jelas kiranya dari analisis ini bahwa perbankan di Indonesia tidak lain daripada lembaga
pencari/pengejar untung, dan sama sekali bukan agent of development. Jika bank-bank kita
lebih banyak merupakan perusahaan yang menomorsatukan pendapatan bunga, agar dapat
membayar jasa bunga deposito yang menarik kepada deposan, bahkan termasuk tambahan
hadiah-hadiah menarik seperti mobil dan rumah-rumah mewah, maka amat sulit menjadikan
bank sebagai penggerak kegiatan ekonomi rakyat. Akibatnya bank juga tidak mungkin
berperan sebagai lembaga yang mendukung upaya-upaya besar pemberantasan kemiskinan.

Kesimpulan

Kasus “kecil” perilaku perbankan di Kabupaten Kutai Barat dengan kemiskinan 42% tahun
2003-2004 menarik dijadikan contoh betapa besar hambatan yang dihadapi dalam program-
program pemberantasan kemiskinan. Jika suatu daerah miskin sebagian warga
masyarakatnya sudah berhasil “menjadi kaya” sehingga mampu menyimpan dana-dana yang
dikumpulkannya di bank setempat, kiranya masuk akal bagi perbankan untuk memanfaatkan
dana-dana tersebut bagi pemberdayaan ekonomi rakyat dan yang pada gilirannya mampu
memberantas kemiskinan. Proses tolong-menolong antar pemilik modal dan ekonomi rakyat
yang membutuhkan modal ini dalam era otonomi daerah seharusnya berkembang dengan
baik dan bergairah. Tetapi mengapa hal ini tidak terjadi? Dari analisis tersebut bisa dibuktikan
bahwa alasan pokoknya adalah karena sistem ekonomi kapitalis-liberal/neoliberal sudah
dijadikan pegangan pokok pemerintah pusat/ daerah yang diterapkan di mana-mana di
seluruh Indonesia. Dalam sistem ekonomi kapitalis, para pemilik modal (kapitalis) merupakan
pihak yang paling dipuja dan dihormati, yang kepentingannya paling dilindungi. Dari sinilah
berkembang kepercayaan perlunya penciptaan iklim merangsang agar para pemodal
(investor) asing bersedia datang ke Indonesia atau ke daerah-daerah tertentu untuk
menanamkan modalnya.
Sebenarnya segera dapat dikenali satu kontradiksi. Jika suatu daerah berusaha menarik
investor, yaitu mereka yang memiliki modal, mengapa modal yang terhimpun di bank dari
orang-orang kaya setempat malah dikirim keluar daerah, dan justru tidak diputarkan atau
ditanamkan dalam usaha-usaha setempat. Fenomena kontradiktif ini sampai kapan pun tetap
tidak akan berubah, kecuali jika kita berani mengubah sistem ekonomi kita dari sistem
ekonomi kapitalis menjadi sistem ekonomi Pancasila. Dalam sistem ekonomi Pancasila
kebijakan perbankan tidak diarahkan untuk melindungi para pemilik modal secara berlebihan
tetapi harus diubah menjadi upaya total pemberdayaan ekonomi rakyat dengan ukuran hasil
akhir makin terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Oleh: Prof. Dr. Mubyarto -- Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi
Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM.