You are on page 1of 20

Kasus Permintaan Pengobatan Minimal pada Pasien Karsinoma Kolon Stadium Terminal

Billy Jeremia Tando* (kelompok A2) NIM : 10.2010.011 07 Januari 2014 Email : billytando@yahoo.co.id Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana jl. Arjuna Utara no. 6, Jakarta Barat No. Telp : (021)56942061 *Mahasiswa Semester Tujuh Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Pendahuluan
Hak asasi manusia merupakan suatu hak yang melekat pada dirinya semenjak ia sudah ada di dunia ini. Seseorang mempunyai hak-hak yang harus dihormati oleh setiap manusia lainnya. Salah satu contoh hak asasi manusia adalah hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai, hak untuk mengeluarkan pendapat, dan lain-lain. Dalam bidang kesehatan seorang pasien berhak untuk mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas dari penyelenggara medis. Pasien berhak menuntut dokter atas suatu tindakan medis yang tidak bertanggung jawab. Pasien mempunyai hak autonomi, yaitu pasien berhak untuk menentukan nasibnya sendiri atau berhak untuk memutuskan tindakan medis apa yang akan dilakukan terhadap dirinya. Euthanasia adalah suatu tindakan pencabutan nyawa manusia dengan cara yang tidak sakit atau dengan sakit yang minimal. Euthanasia menjadi suatu topic pembicaraan yang menarik, yaitu dengan memperdebatkan apakah euthanasia diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Banyak yang mendukung dan banyak pula yang tidak mendukung tindakan euthanasia ini. Euthanasia juga menjadi suatu perdebatan dalam bidang kedokteran. Banyak pertanyaanpertanyaan yang dilontarkan, seperti apakah boleh mencabut alat bantu yang menopang

kehidupan pada pasien yang sangat parah? Apakah boleh mengikuti keinginan pasien kanker yang sudah terminal untuk menghentikan pengobatannya? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali muncul dan menjadi perdebatan. Pada makalah ini akan disinggung kasus mengenai pasien kanker kolon stadium terminal yang meminta pengobatan minimal.

Pembahasan
Euthanasia
Pengertian euthanasia ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negative, dan biasanya tindakan ini dilakukan oleh kalangan medis. Sehingga dengan hal demikian akan muncul yang namanya euthanasia positif dan euthanasia negative dan berikut adalah contoh-contoh tersebut:1  Seseorang yang sedang menderita kangker ganas atau sakit yang mematikan, yang sebenarnya dokter sudah tahu bahwa seseorang tersebut tidak akan hidup lama lagi. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi justru menghentikan pernapasannya sekaligus.1 Hal tersebut adalah contoh dari yang namanya euthanasia positif yang dilakukan secara aktif oleh medis. Berbeda dengan euthanasia negative yang dalam proses tersebut tidak dilakukan tindakan secara aktif (medis bersikap pasif) oleh seorang medis dan contohnya sebagai berikut;1  Penderita kanker yang sudah kritis, orang sakit yang sudah dalam keadaan koma, disebabkan benturan pada bagian kepalanya atau terkena semacam penyakit pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Atau orang yang terkena serangan penyakit paruparu yang jika tidak diobati (padahal masih ada kemungkinan untuk diobati) akan dapat mematikan penderita. Dalam hal ini, jika pengobatan terhadapnya dihentikan akan dapat mempercepat kematiannya.  Seorang anak yang kondisinya sangat buruk karena menderita kelumpuhan tulang belakang atau kelumpuhan otak. Dalam keadaan demikian ia dapat saja dibiarkan (tanpa diberi pengobatan) apabila terserang penyakit paru-paru atau sejenis penyakit otak, yang mungkin akan dapat membawa kematian anak tersebut.1

Dari contoh tersebut. "penghentian pengobatan" merupakan salah satu bentuk eutanasia negatif.2 Euthanasia memang dilarang di Indonesia. teman. Euthanasia aktif. 5. mempercepat kematian dengan cara menolak memberikan/mengambil tindakan pertolongan biasa. dalam praktiknya tidak mudah menjerat pelaku euthanasia pasif yang banyak terjadi. sering disebut juga sebagai merey killing. dll. yaitu a. Euthanasia tidak sukarela. dll. terutama untuk euthanasia aktif dapat dipidana paling lama 12 (dua belas) tahun penjara. baik langsung maupun tidak langsung yang mengakibatkan kematian. 3. kebenaran. santai. anak-anak yang menderita penyakit seperti itu tidak berumur panjang. mempercepat kematian atas persetujuan atau permintaan pasien. Beberapa contoh pertanyaan di dalam bioetika adalah: Apakah seorang dokter berkewajiban secara moral untuk memberitahukan kepada seorang yang berada dalam stadium terminal bahwa ia sedang sekarat? Apakah membuka rahasia kedokteran dapat dibenarkan secara . atau menghentikan pertolongan biasa yang sedang berlangsung. Kebutuhan fisiologis yang dipenuhi dalam makan dan minum. mempercepat kematian sesuai dengan keinginan pasien yang disampaikan oleh atau melalui pihak ketiga. 4. c. Kebutuhan psikologis yang dipenuhi dengan rasa kepuasan. cinta. Menurut gambaran umum. maka menghentikan pengobatan dan mempermudah kematian secara pasif (eutanasia negatif) itu mencegah perpanjangan penderitaan si anak yang sakit atau kedua orang tuanya. Euthanasia sukarela. Akan tetapi. istirahat.3 Bioetika adalah salah satu cabang dari etik normative diatas.2 Kaidah Dasar Bioetik Pada dasarnya manusia memiliki 4 kebutuhan dasar. Kebutuhan kreatif dan spiritual yang dipenuhi dengan melalui pengetahuan.1 Menurut Kartono Muhammad. Euthanasia nonvolountary. b. mengambil tindakan secara aktif. Kebutuhan sosial yang dipenuhi melalui keluarga. 2. Euthanasia pasif. mempercepat kematian tanpa permintaan atau persetujuan pasien. euthanasia dapat dikelompokkan dalam 5 kelompok yaitu: 1. dan komunitas. Bioetik atau Biomedical ethics adalah etik yang berhubungan dengan praktek kedokteran dan atau penelitian di bidang biomedis. serta d. atau atas keputusan pemerintah.

sedangkan teleologi lebih ke arah penalaran dan pembenaran kepada azas manfaat. meskipun bertentangan dengan keinginannya?3 Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Ke-4 kaidah dasar moral tersebut adalah:3 1.moral? Apakah aborsi ataupun euthanasia dapat dibenarkan secara moral? Apakah dapat dibenarkan membuat suatu peraturan perundang-undangan yang mewajibkan seseorang untuk menerima tindakan medis yang bersifat life-saving. deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri. Prinsip benificience Merupakan prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke baikan pasien. Prinsip non-maleficience Merupakan prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. 4.3 Beauchamp dan childress menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral dan beberapa rules dibawahnya. 3. terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Penilaian baik-buruk dan benarsakah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori dontologi dan teleologi. sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau akibatnya. Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama. melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat) 2. Prinsip otonomi Merupakan prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “above all do no harm”. Prinsip justice . Prinsip moral ini kemudian melahirkan doktrin informed consent. Secara ringkas dapat dikatkan bahwa. Dalam beneficience tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja. tradisi dan budaya.

Sebagaimana diuraikan pada pendahuluan. nilai-nilai dalam etika profesi tercermin dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. privacy (menghormati hak privasi pasien). Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis.3 Aspek Medikolegal Dalam mengobati pasien penting untuk membuat informed consent dan rekam medis.3 Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar.Yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice).3 Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada dokter. Informed Consent berfungsi untuk meminta izin pasien untuk melakukan suatu tindakan medis tertentu dengan segala risikonya. Rekam medis harus dibuat agar dapat diketahui tindakan-tindakan medis apa saja yang sudah dilakukan dan mengetahui perkembangan penyakit pasien. melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain: .3 Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis. profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku. Informed Consent Informed consent adalah suatu proses yang menunjukan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien. namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi „pemimpin‟ dari kewajiban dalam hukum kedokteran. jujur dan terbuka). Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum. sedangkan kode etik kedokteran berisikan „kontrak kewajiban moral‟ antara dokter dengan peer-groupnya. dan bertemunya tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Sumpah dokter berisikan suatu „kontrak moral‟ antara dokter dengan tuhan sang penciptanya. confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). yaitu masyarakat profesinya.

Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai usia 21 tahun atau telah perna menikah. yaitu pemeberi consent haruslah sebagai kapasitas untuk membuat keputusan (medis). dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. yaitu disclosure(pengungkapan) dan understanding (pemahaman). sehingga kemampuan membuat keputusannya terganggu.3 2.Informed consent memiliki 3 element. Secara hukum seseorang dianggap cakap )kompeten) adalah apabila telah dewasa. Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai element. 1986). seberapa “baik” informasi harus diberikan kepada pasien. Information elements. Diantaranya keputusan tertentu (keputusan yang reasonable berdasarkan alasan yang reasonable). Element ini terdiri dari 2 bagian. yaitu:  Standar Praktek kerja Profesi Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria ke – adekuat – an informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenaga medis (constumary practices of a profesional community – faden dan Beauchamp. dapat dilihat dari 3 standar. Pengertian “ berdasarkan pemahaman yang adekuat” membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa agar pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. Standar ini terlalu mengacu kepada nilai – nilai yang ada di dalam . yaitu:3 1. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila ia mempunyai penyakit mental sedemikian rupa atau perkembangan mentalnya terbelakang sedemikian rupa. oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suatu kontinuum. Treshold elements. Dalam hal ini. sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak sadar di bawah pengampunan.

padahal mungkin bermakna dari sisi sosial/ pasien. Consent Elements Element ini juga terdiri dari dua bagian. Sebaliknya dari standar sebelumnya. irrasionalis dan imaturitas Banyak ahli yang megnatakan bahwa apabila element ini tidak dilakukan maka dokter dianggap telah lalai melaksanakan tugasnya memeberi informasi yang adekuat. kebebasan) dan authorization (persetujuan).3 3. Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasan tersebut di atas tidak sesuai dengan nilai .  Standar Subjektif Bahwa keputusan harus didasarkan atas nilai – nilai yang dianut oleh pasien secara pribadi. standar ini sangat sulit dilaksanakan atau hampir mustahil.nilai sosial setempat. sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien tersebut dalam membuat keputusan. tanpa memperhatikan keingintahuan dan kemampuan pemahaman individu yang diharapkan menerima informasi tersebut. Sub element pemahaman 9understanding) dipengatuhi oleh penyakitnya.  Standar pada reasonable person Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya. yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan pada umumnya orang awam.komunitas kedokteran. misalnya : risiko yang “ tidak bermakna” (menurut medis) tidak diinformasikan. Adalah mustahil bagi tenaga medis untuk memahami nilai – nilai yang secara individual dianut oleh pasien. . yaitu voluntariness (kesukarelaan.

Consent dapat diberikan: a. dan consent . umumnya pada tindakan yang invasif atau yang beresiko memperngaruhi kesehatan pasien secara bermakna. Pernyataan tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari. namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktek sehari – hari. Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya. mispresentasi ataupun paksaan. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat darurat dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya. tidak dapat dianggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan dilakukan. Bahwa ahli masih berpendapat bahwa melakukan persuasi” tidak berlebihan” masih dapat dibenarkan secara moral. Proxy – consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu sendiri. Permenkes tentang persetujuan Tindakan Medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memeperoleh persetujuan tertulis. baik secara lisan maupun tertulis. Dinyatakan (expressed)   Dinyatakan secara lisan Dinyatakan secara tertulis. dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memebrikan consent secara pribadi. Pasien juga harus bebas dari “ tekanan” yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah – olah akan “dibiarkan” apabila tidak menyetujui tawarannya.3 b. namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukan jawabannya.Kesukarelaan mengharuskan tidak adanya tipuan. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti.3 Infomed conset memiliki lingkup terbatas pada hal – hal yang telah dinyatakan sebelumnya. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya.

2. Suatu kasus telah membuka mata orang Indonesia betapa riskannya proxy consent ini. seperti computer. kewajiban untuk mencegah perbuatan yang bersifat bunuh diri atau self inlficted . Pasien yang tidak kompeten memberikan consent. Seorang yang dianggap sudah pikin. dll. clinical privilege. microfilm. pemeriksaan dan catatan segala kegiatan para pelayan kesehatan atas pasien dari waktu ke waktu. Proxy consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan ketat. saudara kandung.3 Rekam Medis Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Rekam Medis (RM) adalah kumpulan keterangan tentang identitas. Hak menilah terapi lebih sukar diteroma oleh profesi kedokteran daripada hak menyetujui terapi. artinya masih dapat ditolak atau tidak diterima oleh dokter.tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasen apabila ia mampu memberikannya (baik buat pasien. yaitu 1. dan integritas etis profesi dokter.4 . Umumnya urutan orang yang dapat memberikan proxy – consent adalah suami/istri.3 Pengaruh konteks Doktrin informed consent tidak berlaku pada 5 keadaan. Catatan ini berupa tulisan ataupun gambar. 3. dan orang dalam keadaan terminal seringkali tidak dianggap „cakap‟ menerima informasi yang benar-apalagi membuat keputusan medis. ancaman terhadap kesehatan masyarakat. orang yang dianggap memiliki mental yang lemah untuk dapat menerima kenyataan. Keadaan darurat medis. hasil anamnesis. dan rekaman suara. yaitu ketika seirang kakek – kakek menurut dokter yang teah mengoperasinya hanya berdasarkan persetujuan anaknya. kwajiban melindungi pihak ketiga. anak. Hal ni karena dokter akan mengalami konflik moral dengan kewajiban menghormati kehidupan.3 Contextual circumstances juga sering kali mempengaruhi pola perolehan informed consent. 4. dan 5. orang tua. Banyak keluarga pasien melarang para dokter untuk berkata benar kepada pasien tentang keadaan sakitnya. Banyak ahli mengatakan bahwa hak menolak terapi bersifat tidak absolut. bukan baik buat orang banyak). pelepasan hak memberikan consent. padahal ia tidak pernah dalam keadaan tidak sadar atau tidak kompeten. dan belakangan ini dapat pula berupa rekaman elektronik.

Sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan.4 Bila ditelusuri lebih jauh. d. Melindungi kepentingan hokum bagi pasien. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian dan pendidikan. keuangan. serta sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan. RM mempunyai aspek hokum kedisiplinan dan etik petugas kesehatan. h. pemeriksaan. tindakan. mutu serta manajemen rumah sakit dan audit medic. f.Dalam Permenkes No. perkembangan penyakit dan pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di rumah sakit. disebut pengertian RM adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien. studi. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medic pasien.749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang RM.4 Secara umum kegunaan RM adalah: a. kerahasiaan. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam memberi pelayanan. pengobatan. dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. g. Sebagai dasar analisi. b.4 Isi RM Di rumah sakit didapat dua jenis RM. pengobatan dan perawatan pasien. yaitu : RM untuk pasien rawat jalan Termasuk pasien gawat darurat. e. RM memiliki informasi pasien. antara lain :   Identitas dan formulir perixinan (lembar hak kuasa) Riwayat pasien (anamnesis) tentang o Keluhan utama . rumah sakit maupun dokter dan tenaga kesehatan lainnya. evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan yang harus diberikan kepada pasien c.

dan lain-lain.o Riwayat sekarang o Riwayat penyakit yang pernah diderita o Riwayat keluarga tentang penyakit yang mungkin diturunkan    Laporan pemeriksaan fisik. (2) Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi dan menghormati pasien. RM untuk pasien rawat inap Memiliki informasi yang sama dengan yang terdapat dalam rawat jalan. scanning. (3) Tenaga kesehatan. dengan tambahan. MRI.      Persetujuan tindakan medic Catatan konsultasi Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya Catatan observasi klinik dan hasil pengobatan Resume akhir dan evaluasi pengobatan Aspek Hukum Praktek Dokter Pasal 53 UU Kesehatan (1) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hokum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. foto rontgen. untuk kepentingan pembuktian. dapat melakukan tindakan medic terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. (4) Ketentuan mengenai standar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Diagnosis dan/atau diagnosis banding Instruksi diagnostic dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat kesehatan yang berwenang.5 . termasuk pemeriksaan laboratorium.

(3) Ketentuan mengenai pembentukan. Pasal 7 Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya. fungsi.5 Pasal 55 UU Kesehatan (1) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kerja. diancam jika kemudian orang itu meninggal. tidak memberi pertolongan yang dapat diberikan padanya. dalam setiap praktik medisnya. menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. . dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. tanpa selayaknya menimbulkan bahaya bagi dirinya atau orang lain.5 KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) Pasal 1 Setiap dokter harus menjunjung tinggi.Pasal 54 UU Kesehatan (1) Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin. disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. dan tata kerja MDTK ditetapkan dengan Kepres. tugas.5 Pasal 531 KUHP Barangsiapa ketika menyaksikan bahwa ada orang yang sedang menghadapi maut. (2) Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan. Pasal 7a Seorang dokter harus.

Pasal 7b Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya. Tindakan medic adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa diagnostic atau terapeutik. (1) Semua tindakan medic yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Persetujuan Tindakan Medik (Permekes No. Puskesmas. klinik atau prakter perorangan/bersama.5 Pasal 2. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medic yang bersangkutan serta risiko yang dapat ditimbulkannya. Dokter adalah dokter umum/dokter spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang bekerja di rumah sakit. (2) Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. c. . dalam menangani pasien Pasal 7c Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien. dan hak tenaga kesehatan lainnya. & berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter/ kompetensi. hak-hak sejawatnya. b. Tindakan invasive adalah tindakan medic yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh. atau yang melakukan penipuan/penggelapan. dan harus menjaga kepercayaan pasien Pasal 7d Setiap dokten harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. d. 585/MenKes/Per/IX/1989 Pasal 1 a. Persetujuan tindakan informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medic yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi.5 Pasal 5. (1) Setiap tindakan medic yang mengandung risiko tinggi harus dengan persetujuan tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. (4) Dalam hal-hal sebagaimana dimaksud ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat pasien.(4) Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien. (2) Tindakan medic yang tidak termasuk sebagaimana dimaksud dalam pasal ini tidak diperlukan persetujuan tertulis.5 Pasal 3. (2) Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya. (2) Informasi diberikan secara lisan. baik diminta maupun tidak diminta. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat diberikan secara nyata atau secara diam-diam. baik diagnostic maupun terapeutik. cukup persetujuan lisan.5 Pasal 4. (1) Informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medic yang akan dilakukan. (1) Informasi tentang tindakan medic harus diberikan kepada pasien. . (3) Dalam hal-hal sebagaimana dimaksud ayat (2) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang perawat/paramedic lainnya sebagai saksi.5 Pasal 8. (3) Informasi harus diberikan secara jujur dan benar kecuali bila dokter menilai bahwa hal itu dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien.

5 Pasal 9 (1) Bagi pasien yang berada di bawah pengampunan (cura tele) persetujuan diberikan oleh wali/curator. persetujuan diberikan oleh orang tua/wali/curator.5 Kematian dan Perlukaan Akibat Kealpaan .5 Pasal 15 Hal-hal yang bersigat teknis yang belum diatur dalam Peraturan Menteri ini.5 Pasal 13 Terhadap dokter yang melakukan tindakan medic tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administrative berupa pencabutan surat izin prakteknya. (2) Pemberian persetujuan tindakan medic yang dilaksanakan di rumah sakit/ klinik.5 Pasal 14 Dalam hal tindakan medic yang harus dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah dimana tindakan medic tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. (2) Pasien dewasa sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah yang telah berumur 21 tahun (duapuluh satu) tahun atau telah menikah. maka persetujuan tindakan medic tidak diperlukan. maka rumah sakit/ klinik yang bersangkutan ikut bertanggung jawab.5 Pasal 12 (1) Dokter bertanggung jawab atas pelaksanaan ketentuan tentang persetujuan tindakan medic. ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik.(1) Persetujuan diberikan oleh pasien dewasa yang berada dalam keadaan sadar dan sehat mental. (2) Bagi pasien dewasa yang menderita gangguan mental.

5 Pasal 360 KUHP (1) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka-luka berat. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun. dan Hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan.5 Etika Kedokteran . maka pidana ditambah dengan sepertiga dan yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencaharian dalam mana dilakukan kejahatan.5 Euthanasia dan Bunuh Diri Pasal 344 KUHP Barangsiapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati.Pasal 359 KUHP Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan matinya orang lain. diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun kalau orang itu jadi bunuh diri. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun.5 Pasal 361 KUHP Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dlama menjalankan suatu jabatan atau pencaharian. diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun atau kurungan paling lama enam bulan atau denda paling tinggi 300 rupiah. menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu. (2) Barangsiapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian selama waktu tertentu.5 Pasal 345 KUHP Barang siapa dengan sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri.

sifat volunter sikap dan keputusannya.3 Etik pada Akhir Kehidupan Persoalan yang dihadapi para professional kesehatan pada akhir kehidupan tidak kalah pelik disbanding dengan persoalan di awal kehidupan. siapa dan bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis. yaitu memperbaiki. Quality of life Merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran. Apa. Contextual features Dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi keputusan. non-maleficence dan autonomy. yaitu : 1. yang berkaitan dengan beneficence. yang berarti cerminan kaidah autonomy.3 2. pemahaman atas informasi. Pertanyaan etika pada topik ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada dokrin informed consent. terutama menggunakan kaidah beneficence dan non-maleficence. Siegler.3 3. siapa pembuat keputusan bila pasien tidak kompeten.Pembuatan keputusan etik. “apa sikap dokter bila pasien meminta terapi minimal?” yang kemudian . kerahasiaan. budaya. seperti faktor keluarga.3 4. ekonomi. dan Winslde ( 2002 ) mengembangkan teori etik yang menggunakan 4 topik yang esensial dalam pelayanan klinik. Persoalan dapat berupa masalah sederhana seperti “bolehkah kita menghentikan terapi cairan dan nutrisi pada pasien?” hingga ke persoalan yang lebih rumit. Penilaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari sisi etiknya. terutama dalam situasi klinik. agama. alokasi sumber daya dan faktor hukum. nilai dan keyakinan yang dianut pasien. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi pasien. seperti “seberapa jauh peran keluarga dalam membuat keputusan medis terhadap pasien?”. dapat juga dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral. Medical indication Dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Patient preferrences Memperlihatkan nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya. menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani. Jonsen.

yang dikenal sebagai anjuran “to refuse to treat those who or overmastered by their diseases. Reseksi abdomino-perinealdan kolostomi untuk lesi-lesi rectum yang sangat rendah. e.6 Pembedahan/intervensi (paliatif) a. b. f. physician assisted death. masalah futility dan brain death. c. Reseksi anterior untuk tumor sigmoid dan rectum.3 Tindakan medis yang diketahui sebagai tindakan sia-sia (futile) saat ini dipertimbangkan untuk tidak lagi dilanjutkan dan secara moral dapat dibenarkan apabila tindakan tersebut dihentikan. physician assisted suicide. euthanasia. Pembedahan bypass (pintas) atau pembuatan stoma untuk kanker inoperable yang menyebabkan obstruksi. Prosedur Hartmann atau reseksi dengan anastomosis primer untuk pembedahan daryrat pada tumor kolon sisi kiri.3 Prosedur Terapi Pembedahan (berpotensi kuratif). Hemikolektomi kiri (dengan persiapan usus) untuk lesi-lesi pada kolon desenden. melainkan pertimbangan yang telah ada pada jaman Hippocrates. g. Reseksi mungkin dilakukan untuk metastasis hati atau paru yang secara anatomis dapat direseksi tanpa bukti penyebaran penyakit lain. realizing that in such cases medicine is powerless”. b. Pertimbangan ini sebenarnya bukan pertimbangan baru.dihubungkan dengan isu tentang letting die naturallu. Reseksi tumor dengan tepi adekuat untuk mencakup kelenjar getah bening regional. Prosedur: a. Reseksi terbuka pada tumor (dengan anastomosis atau stoma) untuk kanker simtomatik atau yang menyebabkan obstruksi walaupun terdapat metastasis. Namun demikian keputusan bahwa suatu tindakan medis adalah tindakan sia-sia haruslah diambil dengan pertimbangan yang ketat. . Hemikolektomi kanan yang diperluas untuk lesi-lesi pada kolon transversum. Hemikolektomi kanan (dengan atau tanpa persiapan usu) untuk lesi-lesi yang berasal dari sekum sampai fleksura hepatica. d.

terutama euthanasia aktif dapat dikenakan pidala penjara paling lama 12 tahun (KUHP 344). Reseksi transanal untuk kanker rectum inoperable. karena kasih sayang. Euthanasia dapat dibagi menjadi euthanasia aktif dan pasif. Informed consent dilakukan atas dasar hal-hal tersebut. Segala suatu tindakan medis yang akan . dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. Kasus pemberian pengobatan minimal pada pasien kanker kolon stadium terminal merupakan salah satu tindakan euthanasia pasif. d. serta pasien meminta sendiri untuk mendapatkan pengobatan minimal. yaitu autonomy. dan biasanya tindakan ini dilakukan oleh kalangan medis. Sedangkan pada euthanasia pasif dokter tidak memberikan tindakan apapun sehingga dapat mempercepat kematian. . seperti yang tertera pada salah satu kaidah bioetik. Euthanasia di Indonesia dilarang yang sebagaimana terdapat pada pasal 344 KUHP. Dikatakan euthanasia pasif karena dokter seakan-akan mempercepat kematian pasien tersebut dengan cara hanya memberikan pengobatan yang minimal. Sebagai tenaga kesehatan. Stent intraluminal untuk kanker yang menyebabkan obstruksi6 Penutup Euthanasia adalah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. Keputusan dokter untuk memberikan pengobatan minimal ini harus dikaji terlebih dahulu dari segi etik ataupun hokum. Pada kasus ini pasien menderita kanker kolon yang sudah terminal yang kemungkinan untuk hidupnya kecil. Hal-hal tersebut juga harus menjadi pertimbangan seorang dokter dalam membuat keputusan. Akan tetapi tidak mudah menjerat pelaku euthanasia pasif yang banyak terjadi. Pasien berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. baik dengan cara positif maupun negative.c. dokter diharuskan untuk memperbaiki kualitas dari kesehatan pasiennya. Di Indonesia euthanasia dilarang. Membiarkan pasien meninggal yang sebenarnya pasien tersebut masih bisa ditolong merupakan tindakan yang tidak etis bagi dokter dan dapat dipidanakan. Pasien berhak untuk menentukan tindakan medis apa yang dapat dilakukan pada dirinya. Pada kasus ini pasien meminta untuk diberi pengobatan yang minimal. Dokter tidak dapat memaksakan pendapatnya sendiri pada pasien. Pada euthanasia aktif dokter mengambil tindakan secara aktif yang mengakibatkan pada kematian.

pada tanggal 8 Januari 2014. 4.com/klinik/detail/cl2235/pengaturan-euthanasia-di-indonesia . pada tanggal 8 Januari 2014. Pengaturan Euthanasia di Indonesia. Diunduh dari : http://www. Edisi ke-1. Hanafiah MJ.dilakukan harus melalui persetujuan dari pasien itu sendiri.stikku. Syamsu Z. At a glance ilmu bedah. 3. kemungkinan pasien untuk bertahan. pasien juga harus mentandatangani surat keterangan tersendiri. Jika pasien menolak tindakan medis yang akan dilakukan.hukumonline. dokter harus mempertimbangkan beberapa hal. Pasien itu sendiri harus dipastikan sudah dewasa dan dalam keadaan sehat mental sebelum ia mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. 2007: 113.pdf . Jakarta: EGC.ac. 2. Siswaja TD. dan status mental pasien. Borley NR. Dalam kasus ini. Edisi ke-4. Jakarta: Erlangga. Dokter dapat menyetujui untuk memberikan pasien pengobatan yang minimal dengan alas an penyakitnya sudah parah dan kemungkinan untuk hidup kecil. Sampurna B. 2009: 66-8 5. yaitu tingkat keparahan dari penyakit pasien. Jakarta : FK UI . Bagian kedokteran forensik FK UI.id/wp-content/uploads/2011/02/EUTHANASIA-PERSEPETIFMEDIS-DAN-HUKUM-PIDANA-INDONESIA. Amir A. 1997 6. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Diunduh dari: http://www. Euthanasia Persepetif Medis dan Hukum Pidana Indonesia. Grace PA. Bioetik dan hukum kedokteran: pengantar bagi mahasiswa kedokteran dan hukum. . 2007. Edisi ke-3. Jakarta: Pustaka Dwipar.Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. akan tetapi harus disertakan persetujuan dari pasien itu sendiri Daftar Pustaka 1.