You are on page 1of 10

Nama: Julaiha M Mk: kep.

Komunitas III BAHASA CHINA

Npm: 115200026 Makalah tentang Suku China

Budaya Cina (Tionghoa: ; Hanzi tradisional: ; Tionghoa: Zhnggu wnhu) adalah satu dari budaya paling tua dan kompleks di dunia .Wilayah penyebaran dominan budaya ini meliputi daerah geografis yang luas dengan kebiasaan dan tradisi yang sangat bervariasi antara kota dan provinsi di Cina. Bahasa Tionghoa memiliki banyak varian vokal atau lisan, namun secara tertulis hanya satu. Variasi tersebut tergantung kedaerahan, sehingga bisa dikatakan sebagai bahasa daerah atau dialek.Sekitar 1/5 penduduk dunia menggunakan salah satu bentuk bahasa Tionghoa sebagai penutur asli, maka jika dianggap satu bahasa, bahasa Tionghoa merupakan bahasa dengan jumlah penutur asli terbanyak di dunia. Bahasa Tionghoa (dituturkan dalam bentuk standarnya, Mandarin) adalah bahasa resmi Tiongkok dan Taiwan, salah satu dari empat bahasa resmi Singapura, dan salah satu dari enam bahasa resmi PBB

KERAJINAN SUKU CHINA DI SINGKAWANG Singkawang juga terkenal dengan kerajinan keramiknya. Pusat kerajinan keramik berada di Desa Sakok yang terletak 7km dari pusat kota Singkawang. Walaupun dibuat dengan teknologi yang sederhana, kerajinan keramik singkawang tidak kalah kualitasnya dengan Guci-guci buatan cina. Motif khas dari Guci-guci ini antara lain, bunga, mangkok, naga, sketsa hingga tulisan cina. Warna-warna alam yang terdapat di keramik berasal dari bahan alami seperti abu karang, tanah laut, campur bubuk kerang, abu kayu dan tanah merah. RELIGIUS Sembahyang kubur itu sendiri diyakini sebagian besar kalangan Tionghoa merupakan penghormatan dan bhakti leluhur yang masih hidup di dunia terhadap mereka yang telah meninggal dunia.Tradisi sembahyang kubur sampai dengan tradisi sembahyang rampas, bagi masyarakat kota Singkawang khususnya Tionghoa mungkin di anggap hal yang biasa saja, tetapi kaca mata orang luar dalam hal ini wisatawan akan menjadi suatu daya tarik sendiri.

DALAM PERAYAAN

Tahun Baru Imlek, yaitu: perayaan terpenting bagi orang teonghoa perayaan tahun baru Imlek di mulai di hari pertama bulan pertama (pennggalan Tionghoa) dan berakhir dengan Cao Go Meh di tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama) malam tahun baru Imlek di kenal sebagai chuxi, berarti malam pergantian tahun, biasanya di rayakan dengan merayakan pesta kembang api.

Festival lampion adalah festival dengan hiasan lentera yang di rayakan setiap tahunnya pada hari ke-15 bulan pertama (menurut penaggalan Tionghoa) festival inilah yang menandai berakhirnya perayaan tahun baru imlek.

Cap go meh, yaitu: melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan imlek bagi komunitas tionghoa.pada tanggal ini juga merupakan bulan penuh pertama dalam tahun baru tersebut.perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan.

Ada juga perayaan festival lampion warna warni dengan bentuk yang bermacam macam dan dengan warna yang unik juga. Hal yang paling sering kita temui saat imlek adalah bagi bagi angpau. Angpau adalah Uang yang diberikan orang dewasa pada anak kecil di dalam sebuah amplop yang berwarna merah dengan cover China.

Mitologi dan kepercayaan Sebagian besar budaya Cina berdasarkan tanggapan bahwa adanya sebuah dunia roh. Berbagai metode penelahan telah membantu menjawab pertanyaan, dan dijadikan pun alternatif kepada obat. Budaya rakyat telah membantu mengisi kekosongan untuk segala hal yang tiada penjelasannya. Kaitan antara mitos, agama dan fenomena yang aneh memang rapat sekali. Dewa-dewi menjadi sebahagian tradisi, antara yang terpenting termasuk Guan Yin , Maharaja Jed dan Budai. Kebanyakan kisah-kisah ini telah berevolusi menjadi perayaan tradisional Cina . Kebanyakan kisah-kisah ini telah berevolusi menjadi perayaan tradisional Tionghoa . Konsep-konsep lain pula diperluas ke luar mitos menjadi lambang kerohanian seperti dewa pintu dan singa penjaga. Konsep-konsep lain pula diperluas ke luar mitos menjadi lambang kerohanian seperti dewa pintu dan singa penjaga. Di samping yang suci, turut dipercayai yang jahat. Di samping yang suci, turut dipercaya yang jahat. Amalanamalan seperti menghalau mogwai dan jiang shi dengan pedang kayu pic dalam Taoisme adalah antara konsep yang diamalkan secara turun-temurun. Praktek seperti menghalau mogwai dan Jiang shi dengan pedang kayu pic dalam Taoisme adalah konsep yang

dilaksanakan secara turun-temurun. Upacara penilikan nasibCina masih diamalkan pada hari ini selepas bertahun-tahun mengalami perubahan. Upacara penilikan nasibCina masih dilaksanakan pada hari ini setelah bertahun-tahun mengalami perubahan. Budaya China sangat dipengaruhi oleh tiga kekuatan besar. Tiga kekuatan yang membentuk budaya China adalah Confucianisme, Taoisme dan Buddhisme. Tiga kekuatan ini menghasilkan budaya humanisme yang membuat gaya hidup China jadi sangat praktis dan juga tenang dalam menghadapi situasi sulit. Contohnya dalam 4000 tahun dalam sejarah China, ribua peperangan telah berkecamuk tetapi tak satupun yang disebabkan perselisihan agama. Tiga ajaran ini saling memuji alih-alih bertentangan satu sama lain. Karakteristik utama ajaran Confusianisme terdiri dari dua komponen yaitu prinsip humanism e, prinsip logis dan tak berlebihan. Humanisme mencakup sikap sopan , murah hati, tulus, rajin dan baik hati. Taoismen yang dilahirkan oleh Lao Tzu lebih bersifat metafisik dan abstrak dibanding dengan Confusianisme. Dalam hal pengajaran Taoisme melibatkan bagaimana seuatu hal terjadi dan bagaimana sesuatu hal itu bekerja. Buddhismen berasal dari India yang berkembang sejak 250 SM. Buddhisme bertujuan untuk membimbing ras manusia menuju kedamaian dengan mengurangi atau menghentikan penderitaan dan pengembangan moral yang baik. Buddha mengajarkan Doktrin Karma dan Jalan menuju Nirwana. Doktrin Karma yang merujuk ke kelahiran kembali berasal dari pengetahuan tentang pengalaman hidup seseorang sebelumnya. Jalan menuju Nirwana merujuk kepada berakhirnya penderitaan universal dan pencapaian kebahagiaan abadi melalui pemahaman spiritual. Perbedaan nyata di antara ketiga kekuatan pembentuk adalaha Confusianisme menganut paham humanisme ( kemanusiaan), Taoisme menganut paham naturalism (kekuataan alam) dab Buddhismen menganut paham spiritualisme(kerohanian)

Ketiga ajaran ini tidak bersifat religious secara kaku dalam semua upaya membentuk hidup dengan menggunakan metafisik dan epistemologi yang berbeda. Karena budaya dapat berubah sesuai dengan lingkungan baru, selama abad ke 11 ajaran Taoisme dan Buddhisme berasimilasi ke Confusianisme menjadi satu kesatuan yang mencakup ketiganya. Neo Confucian dan Post Confucianisme. Ajaran ini merupakan system yang dominan yang tetap menjadi pengaruh besar dalam pemikiran bangsa China

Sastra
Musik

Alat Musik Tradisional Alat musik tradisional Cina secara sederhana dapat digolongkan sebagai berikut: Alat musik gesek Erhu = Rebab China, badannya menggunakan kulit ular sebagai membran, menggunakan 2 senar, yang digesek dengan penggesek terbuat dari ekor kuda Gaohu = Sejenis dengan Erhu, hanya dengan nada lebih tinggi Gehu = Alat musik gesek untuk nada rendah, seperti Cello Banhu = Rebab China, dengan badan terbuat dari batok kelapa dengan papan kayu sebagai membrannya Alat musik petik Alat musik ini memiliki banyak senar, cara memainkannya dengan memukul Liuqin = Alat musik petik kecil bentuknya seperti buah pir dengan 4 senar Yangqin = dengan stik bambu sebagai pemukulnya Pipa = Alat musik petik berbentuk buah pir dengan 4 atau 5 senar Ruan = Alat musik petik berbentuk bulat dengan 4 senar Sanxian = Alat musik petik dengan badan terbuat dari kulit ular dan dengan leher panjang, memiliki 3 senar Guzheng = Kecapi yang memiliki 16 - 26 senar Konghou = Harpa China Alat musik tiup Dizi = Suling dengan menggunakan membran getar Suona = Terompet China Sheng = Alat musik yang menggunakan bilah logam dengan tabung-tabung bambu sebagai penghasil suara Xiao = Suling Paixiao = Pipa pen Alat musik pukul ( perkusi ) Paigu = Gendang yang terdiri dari satu set 4 atau lebih. Dagu = Tambur besar. Chazi = Simbal, cengceng. Luo = Gong. Muyu = Kecrek terbuat dari kayu.

Seni
Pakaian bangsa China Sejarah kehadiran kaum China bermula dengan berkembangnya Melaka sebagi pusat perdagangan, diikuti Pulau Pinang dan Kula Lumpur. Kehadiran mereka ini membawa bersama bukan sahaja barangan dagangan untuk tukaran, tetapi jua adat resam, budaya dan corak pakaian tradisional mereka yang kemudiannya disesuaikan dengan suasana tempatan. Busana klasik China yang asalnya berlapis-lapis, sarat dengan sulaman benang emas dan sutera, kini masih boleh dilihat dengan diubahsuai mengikut peredaran masa dan kesesuaian. Jubah Labuh, Cheongsam, Baju Shanghai dan Samfoo kekal dipakai di dalam majlis dan upacara. Kebanyakannya masih dihasilkan dari negeri China menggunakan pabrik sutera dan broked yang berwarna terang dengan ragamhias benang emas dan perak.

Bahasa Bahasa China lisan terdiri daripada sebilangan dialek Cina sepanjang sejarah. Ketika Dinasti Ming, bahasa Mandarin baku dinasionalkan. Sengguhpun begitu, barulah ketika zaman Republik China pada awal abad ke-20 apabila kelihatan apa-apa hasil yang nyata dalam memupuk satu bahasa seragam di China. Pada zaman kuno, bahasa China Klasik menjadi standard penulisan selama beribu-ribu tahun, tetapi banyak terhad kepada golongan sarjana dan cendekiawana. Menjelang abad ke-20, jutaan rakyat, termasuk yang di luar kerabat diraja.

Busana
Pakaian bangsa China Sejarah kehadiran kaum China bermula dengan

berkembangnya Melaka sebagi pusat perdagangan, diikuti Pulau Pinang dan Kula Lumpur. Kehadiran mereka ini membawa bersama bukan sahaja barangan dagangan untuk tukaran, tetapi jua adat resam, budaya dan corak pakaian tradisional mereka yang kemudiannya disesuaikan dengan suasana tempatan. Busana klasik China yang asalnya berlapis-lapis, sarat dengan sulaman benang emas dan sutera, kini masih boleh dilihat dengan diubahsuai mengikut peredaran masa dan kesesuaian. Jubah Labuh, Cheongsam, Baju Shanghai dan Samfoo kekal dipakai di dalam majlis dan upacara. Kebanyakannya masih dihasilkan dari negeri China menggunakan pabrik sutera dan broked yang berwarna terang dengan ragamhias benang emas dan perak.Arsitektur Saat imlek,banyak orang orang yang mempercantik Rumah nya dengan vas bunga yang berwarna warni yang melambangkan pembaruan.

Masakan
Hidangan atau masakan yang sering ada saat Imlek adalah Ikan,Ayam,Mi,dan lainnya. Masing masing makanan memiliki makna atau simbolisasi tersendiri. Beberapa makanan dan minuman terkenal di Singkawang adalah Kopi Tarik, Bubur Pedas Warung Bendahre, Choi Pow Phan, Liang Tea, Sotong Pangkung, Mie Panjang Umur, dan Bubur Gunting.

Tradisi mengikat kaki


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Kaki yang terikat

Tradisi mengikat kaki (Tionghoa: ; Hanzi tradisional: ; Tionghoa: chnz, berarti "kaki terbalut") adalah tradisi yang dipraktikkan kepadawanita sebelum awal abad-20.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Sejarah 2 Metode 3 Latar belakang tradisi mengikat kaki 4 Penolakan terhadap tradisi mengikat kaki 5 Referensi

Sejarah[sunting | sunting sumber]


Asal-usul praktik ini tak diketahui secara jelas, namun diperkirakan tradisi ini telah mulai ada sejak zaman Dinasti Xia. Catatan sejarah mengenai tradisi ini mulai ditemukan sejak zaman Dinasti Song. Tradisi ini dibangun atas dasar pandangan masyarakat bahwa berkaki kecil adalah lambang kecantikan seorang wanita. Di zaman Dinasti Song, tradisi ini hanya dipraktikkan oleh wanita dari kelas menengah dan atas. Sampai pada zaman Dinasti Ming baru dipraktikkan secara luas oleh wanita dari suku Han. Tentunya ada beberapa pengecualian di beberapa etnis tertentu semisal etnis Hakka di mana kaum wanitanya harus turun membantu di ladang.

Di zaman Dinasti Qing, kekaisaran mengeluarkan beberapa kali larangan untuk mengikat kaki, namun karena pengaruh tradisi ini sangat dalam sehingga larangan ini tidak begitu diindahkan di kalangan suku Han. Sedangkan tradisi ini tidak begitu populer di kalangan suku Manchu.

Metode[sunting | sunting sumber]

Perbedaan kaki normal (kiri) dan kaki yang diikat (kanan)

Pengikatan kaki biasanya telah mulai diterapkan pada anak perempuan yang telah mencapai umur 5-8 tahun. Pengikatan kaki ini dilakukan ibu sang anak atau para dayang-dayang yang berpengalaman. Kecuali jari jempol, keempat jari lainnya diikat ke bawah telapak kaki dengan kain panjang. Kain panjang tadi kemudian dijahit untuk mencegah pertumbuhan keempat jari tadi yang selanjutnya memengaruhi pertumbuhan telapak kaki.

Latar belakang tradisi mengikat kaki[sunting | sunting sumber]


Tradisi mengikat kaki berdasar kepada beberapa latar belakang budaya di zaman kuno di Cina. Ini yang menyebabkan walaupun praktik ini sangat tidak manusiawi terhadap wanita, namun tetap dapat bertahan selama ribuan tahun dalam sejarah kebudayaan Cina. Beberapa unsur budaya yang melatar-belakangi tradisi ini adalah:

Kecantikan Moral Etnis Seksualitas

Penolakan terhadap tradisi mengikat kaki[sunting | sunting sumber]


Dinasti Qing merupakan dinasti pertama yang mengeluarkan peraturan larangan terhadap tradisi ini. Namun karena kuatnya akar tradisi ini di kalangan suku Han, maka larangan ini tidak menunjukkan pengaruh yang berarti. Wanita dari beberapa kalangan seperti etnis Hakka yang diharuskan turun ke ladang untuk bercocok tanam tidak melaksanakan tradisi ini. Wanita dari suku Manchu juga tidak menerapkan tradisi ini secara luas. Di Cina bagian selatan, wanita suku Hui yang beragama Islam dilarang melakukan tradisi mengikat kaki oleh imam setempat karena dianggap menyalahi ciptaan tuhan.[1] Sebelumnya, di zaman Dinasti Song dan Ming, ada beberapa sastrawan dan cendekiawan menyatakan keberatan mereka atas tradisi ini dalam beberapa tulisan sastra.

Pemberontakan Taiping juga melarang dengan tegas tradisi mengikat kaki ini dikarenakan pemberontakan ini berazaskan ajaran Kristiani yang menolak banyak tradisi Cina yang dianggap kuno. Di samping itu, pemberontakan Taiping juga didominasi oleh etnis Hakka. Di penghujung Dinasti Qing, banyak cendekiawan dan negarawan yang menganggap bahwa tradisi ini merupakan penghambat bagi kemajuan bangsa Cina karena melemahkan kedudukan dan kontribusi wanita dalam masyarakat. Setelah jatuhnya Dinasti Qing dan berdirinya Republik Cina pada tahun 1911, tradisi ini mulai ditinggalkan oleh wanita di kota besar di pesisir. Ini kemudian pelan-pelan menjalar ke pedalaman. Sampai pada tahun 1950-an, hanya tinggal beberapa dusun di Yunnan di mana kaum wanitanya masih menerapkan tradisi ini.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Tradisi Masyarakat Cina Bagi Ibu Hamil

Vemale.com - Tiap negara memiliki tradisi masing-masing, tak terkecuali di Cina. Masyarakat Cina memiliki kepercayaan turun temurun mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan wanita hamil supaya tidak membawa keburukan baik bagi bayi itu atau keluarganya. Berikut beberapa tradisi Cina yang dihimpun babyzone.com. Salah satu kepercayaan mereka adalah dalam suatu ritual, suami harus menggendong istri dengan melangkahi wadah berisi arang yang terbakar saat memasuki rumah. Hal ini dilakukan adar proses persalinan berjalan dengan lancar. Selain itu, wanita yang sedang hamil harus senantiasa menjaga pikiran dan tingkah lakunya. Mereka percaya bahwa apa yang dipikirkan dan dilakukan, termasuk pandangan ibu, akan

mempengaruhi banyi di kandungan. Wanita yang hamil akan menghabiskan banyak waktu untuk membaca puisi dan sebelum tidur mereka membaca cerita yang bagusmenghindari bergosip, tertawa terbahak-bahak, serta mudah marah. Mereka dilarang melakukan hubungan seksual selama hamil. Masyarakat Cina juga melarang hal-hal tertentu seperti melakukan pekerjaan konstruksi seperti memalu dan menggergaji karena hal itu akan membuat bayi mereka mengalami cacat mental. Wanita hamil juga dilarang menghadiri pemakaman dan hendaknya tidur dengan pisau yang diletakkan dibawah kasurnya untuk mencegah arwah jahat. Jika di beberapa tradisi ada pesta saat kehamilan untuk menyambut bayi, masyarakat Cina justru menghindari hal itu. Pesta hanya diadakan saat bayi sudah lahir. Kebudayaan dan tradisi kuno mempercayai bahwa tugas utama wanita adalah melahirkan. Wanita Cina harus kuat menghadapi proses persalinan. Wanita hamil di Cina akan mengonsumsi beberapa minuman herbal untuk membantu menguatkan fisik saat melahirkan.
Tahun Baru Imlek atau juga disebut Sin Tjia merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (bahasa Tionghoa: ; pinyin: zhng yu) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chx yang berarti "malam pergantian tahun".

Di China daratan, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam. Perayaan tahun baru China ini biasanya identik dengan tradisi bagi-bagi ang pao, barongsai, dan masih banyak lagi. Berikut ini, lima tradisi unik seputar Imlek. 1. Membersihkan Rumah Sehari sebelum perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa akan berbondong-bondong membersihkan rumah. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol buang sial dan membuka keberuntungan. Sebaliknya, tepat saat perayaan tahun baru China, menyapu rumah adalah hal yang pantang dilakukan. Menurut kepercayaan, hal ini akan membuang rejeki atau keberuntunga 2. Makan Ikan Jangan heran saat menjelang Imlek, harga ikan bandeng bisa melambung. Hal ini dikarenakan ikan adalah simbol kebahagiaan dan keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Namun, ikan yang dihidangkan tidak boleh dibalik. Jadi, kalau bagian atasnya sudah habis. Anda tak boleh mengambil daging di sisi lainnya dengan membalik ikan. Menurut tradisi, ikan juga tidak boleh dihabiskan sekaligus pada hari itu, melainkan disisakan untuk keesokan harinya. Tradisi ini melambangkan nilai tambah untuk tahun berikutnya.

3. Bagi-bagi Angpau Salah satu tradisi yang melekat pada Imlek adalah angpau. Istilah angpau sendiri berasal dari bahasa Hokkian yang berart ang (merah) dan pau (bingkisan/amplop). Kenapa harus berwarna merah? Dalam kebudayaan Tionghoa, warna merah dianggap sebagai simbol kebaikan dan kesejahteraan. Warna ini juga dipercaya mampu membawa kebahagiaan dan semangat yang bersumber pada nasib baik. 4. Barongsai atau liong naga Barongsai atau juga sering disebut liong naga, merupakan tarian khas China yang berasal dari masa Dinasti Chin - sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Tarian tradisional China ini dilakukan oleh satu tim yang terdiri dari dua orang - dengan memakai kostum menyerupai singa. Singa merupakan simbol hewan yang diyakini memiliki daya magis dalam kebudayaan China. Menurut tradisi Tionghoa, barongsai juga dipercaya dapat menolak bala dan melimpahkan rejeki. 6. Pantang makan bubur Saat perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa dilarang makan bubur. Karena menurut tradisi, bubur adalah simbol kemelaratan atau kemiskinan.

1.

^ James Legge (1880). The religions of China: Confucianism and Toism described and compared with Christianity. LONDON: Hodder and Stoughton. hlm. 111. Diakses June 28, 2010.(Original from Harvard University)

Di Taiwan sendiri, sewaktu zaman pendudukan Jepang, tradisi ini bersama dengan tradisi toucang dan mengisap candu dianggap sebagai 3 tradisi tidak sehat yang dilarang secara ketat. http://www.vemale.com/kesehatan/24107-tradisi-masyarakat-cina-bagi-ibu-hamil.html http://id.wikipedia.org/wiki/Tradisi_mengikat_kaki http://www.jendelacito.info/2014/01/5-tradisi-unik-saat-imlek.html