You are on page 1of 50

i

TUGAS AKHIR

ESTIMASI BIAYA, WAKTU DAN MUTU ANTARA
RUMAH BERDINDING BATU BATA DAN BERDINDING
EXPANDABLE POLYSTYRENE (EPS)

(STUDI KASUS PADA PROYEK RUMAH TINGGAL TIPE 36 SENDANG
MULYO SEMARANG)

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan
Tingkat Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Katolik Soegijapranata



Disusun Oleh :

Insan Kurniawan 03.12.0030
Hartanto Wahyu S 03.12.0059



FAKULTAS TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2008
Perpustakaan Unika
v
DAFTAR ISI

halaman
HALAMAN J UDUL……………………………………………………… i
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………. ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………….. iii
LEMBAR ASISTENSI…………………………………………………… iv
DAFTAR ISI……………………………………………………………… v
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………... vi
DAFTAR TABEL………………………………………………………… vii
DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………… viii
ABSTRAKSI................................................................................................ ix
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………........…… 1
1.2 Permasalahan……………………………………........….. 2
1.3 Batasan Masalah………………………………........……. 3
1.4 Tujuan Penelitian Tugas Akhir…………………………... 3

BAB II TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Umum………………...…………………………... 4
2.2 Rencana Anggaran Biaya………..…………………….…. 5
2.3 Perkiraan Biaya dan Anggaran……….…………………... 6
2.4 Pengendalian Proyek………………………….………….. 8
2.4.1 Pengendalian Biaya……………………………….. 9
2.4.2 Pengendalian J adwal………………………………. 10
2.5 J enis Material Sebagai Bahan Perbandingan……………… 10
2.5.1 EPS (Expandable Polystyrene)……………………. 10
2.5.1.1 Uji Kelayakan dan Mutu EPS Sebagai
Material Bangunan.......................................... 11
Perpustakaan Unika

2.5.2 Batu Bata…………….…………………………...... 14
2.6 Faktor Tenaga Kerja………………………………………. 15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Uraian Umum……………………………………………. 17
3.2 J enis Penelitian................................................................... 17
3.3 Populasi dan Sample.......................................................... 18
3.4 Pengumpulan Data.............................................................. 18
3.5 Teknik Pengukuran Data..................................................... 18
3.6 Metodologi Penelitian......................................................... 19
3.7 Kerangka Pemikiran........................................................... 20

BAB IV ANALISA DATA
4.1 Uraian Umum................................................................... 21
4.2 Material............................................................................ 22
4.2.1 Batu Bata............................................................. 22
4.2.2 Expandable Polystyrene (EPS)............................ 23
4.3 Perencanaan Sumber Daya Manusia (Man Power)........ 24
4.3.1 Produktivitas Tenaga Kerja................................ 25
4.3.2 Perkiraan Tenaga Kerja di Lapangan................. 25
4.3.3 Tenaga Kerja Periode Puncak............................ 26
4.4 Mutu............................................................................... 28
4.1.1 Metode Pengendalian Mutu............................... 29
4.5 Waktu............................................................................. 31
4.6 Biaya.............................................................................. 32

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................... 40
5.2 Saran............................................................................. 41

Perpustakaan Unika
ix
Abstraksi

Material untuk bangunan semakin berkembang pada masa sekarang ini. Telah
ditemukan Expandable Polystyrene (EPS) sebagai material baru untuk
diaplikasikan ke dalam bangunan. EPS sangat cocok apabila digunakan sebagai
material dinding bangunan bertingkat, karena dinding EPS memiliki kuat tumpu
yang besar sehingga dapat dipergunakan sebagai bearing wall. Tujuan penelitian
ini akan membandingkan tentang pembangunan rumah dinding EPS type 36
dengan pembangunan rumah dinding bata type 36 Perumahan Permata Sendang
Mulyo. Adapun variabel yang diteliti adalah variable biaya, waktu, dan mutu.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental
longitudinal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh perbedaan jumlah biaya dan
waktu pengerjaan antara kedua rumah yang diteliti. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa biaya keseluruhan RAP rumah dinding EPS sebesar
Rp. 52.024.345,00, sedangkan untuk biaya keseluruhan RAP rumah dinding bata
sebesar Rp. 37.644.820,00. Waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
pembangunan rumah dinding EPS adalah 56 hari, sedangkan untuk rumah
dinding bata membutuhkan waktu pelaksanaan 51 hari. Kedua bangunan rumah
memiliki mutu bangunan dengan karakteristik berbeda. Penelitian ini juga
membahas material dan jumlah tenaga kerja dalam pelaksanaan kedua rumah.
Pembangunan rumah dinding EPS membutuhkan jumlah tenaga kerja lebih
banyak dibandingkan dengan pembangunan rumah dinding bata.

Kata kunci: expandable polystyrene, bata, biaya, waktu, mutu, man power

Perpustakaan Unika
Bab I – Pendahuluan
Insan Kurniawan 03.12.0030
Hartanto Wahyu S 03.12.0059
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pekerjaan konstruksi dewasa ini sudah semakin maju dan berkembang
dengan pesat. Berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan konstruksi bergantung pada
tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu:
1. metode pelaksanaan: metode pelaksanaan memerlukan perencanaan yang
matang sehingga pekerjaan konstruksi dapat berjalan dengan lancar dari
awal sampai pada akhir pelaksanaan,
2. tenaga kerja: tenaga kerja adalah seseorang atau individu yang memiliki
kecakapan tertentu dalam bidang konstruksi dan hal lain yang berkaitan,
bekerja kepada seseorang atau pihak lain untuk melakukan pekerjaan
sesuai dengan kecakapannya dan dalam aturan pekerjaannya telah diatur
sesuai dengan kesepakatan bersama,
3. material: material itu sendiri adalah bahan-bahan yang dipergunakan
dalam suatu proyek konstruksi. Hal-hal yang berhubungan dengan material
konstruksi adalah pengadaan material itu sendiri. Pengadaan material
mencakup pembelian peralatan, perlengkapan, material, tenaga kerja dan
segala macam bentuk jasa, yang dipergunakan untuk proses konstruksi,
Selain tiga hal yang disebutkan diatas, besarnya dana yang dipergunakan
untuk pekerjaan konstruksi juga sangat berpengaruh terhadap berhasil atau
tidaknya suatu proyek konstruksi. Biaya pembangunan yang akan dikeluarkan
dalam pekerjaan konstruksi hendaknya direncanakan dengan baik, sehingga
nantinya dapat sesuai dengan kualitas bangunan yang dihasilkan. Harga material
yang semakin mahal menyebabkan biaya pembangunan semakin membengkak.
Banyak hal dilakukan untuk mensiasati keadaan tersebut, sehingga besarnya biaya
pembangunan dapat di minimalkan. Salah satu cara untuk mendapatkan keadaan
tersebut yaitu mengganti batu bata dengan material lain yang nantinya di harapkan
dapat menekan biaya pembangunan. Penggunaan batako untuk pasangan dinding
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
2
Bab I – Pendahuluan
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

belum mengurangi harga secara signifikan. Penggunaan bambu dan kayu sebagai
pengganti batu bata belum berkembang dengan baik karena mutu dan kualitasnya
masih belum sebaik batu bata. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan bahan
alternatif lain untuk dinding yaitu dengan Expandable Polystyrene (EPS). EPS
adalah sejenis styrofoam yang biasa dipergunakan sebagai alas barang-barang
elektronik yang di kemas dalam kardus tetapi sudah memiliki ketebalan tertentu
untuk material bangunan. Penggunaan EPS pada pekerjaan konstruksi masih asing
di Indonesia, tetapi sudah ada negara lain yang menggunakannya untuk keperluan
konstruksi. Cina sudah memanfaatkan EPS untuk material alas jalan raya. Dengan
tulangan besi wiremess (tulangan baja yang dirangkai dengan las) berdiameter
4 mm pada kedua sisinya, EPS akan menjadi material yang kuat dan kokoh untuk
diterapkan sebagai material dinding. Ada dua jenis EPS yang bisa diterapkan
menjadi material bangunan. EPS single panel, bisa dipakai untuk pembangunan
rumah tinggal maksimal 4 lantai. Sedangkan EPS double panel, bisa dipergunakan
untuk membangun gedung maksimal 20 lantai.

1.2 Permasalahan
Hal yang menjadi permasalahan dewasa ini yaitu material bangunan yang
semakin mahal menyebabkan membengkaknya biaya pembangunan. Material
bangunan yang murah tetapi tetap menjaga mutu dan kualitasnya, adalah solusi
yang tepat pada masa sekarang ini. Selain material, waktu pelaksanaan konstruksi
juga memiliki andil terhadap membengkaknya biaya konstruksi. Dengan alasan
diatas, dapat disimpulkan bahwa tuntutan waktu, biaya dan mutu material sangat
berpengaruh terhadap jalannya pekerjaan konstruksi. Evaluasi terhadap bahan
material sangat diperlukan untuk menanggapi masalah tersebut, salah satunya
dengan menggunakan material EPS. Dalam penulisan ini akan di uraikan
perbandingan penggunaan material batu bata dengan EPS untuk pekerjaan dinding
pada rumah type 36. Dengan semakin mahalnya bahan material saat ini, EPS
diharapkan dapat menjadi solusi yang tepat untuk menghemat waktu dan biaya
konstruksi tanpa mengurangi mutu yang dihasilkan.

Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
3
Bab I – Pendahuluan
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

1.3 Batasan Masalah
Laporan tugas akhir ini dibatasi hanya membahas mengenai mutu, biaya,
dan waktu. Pembahasan tersebut mencakup keseluruhan aspek bangunan pada
rumah type 36 berdinding EPS dibandingkan dengan rumah type 36 menggunakan
dinding batu bata. Peneliti disini membandingkan faktor efisiensi, dari segi mutu,
biaya dan waktu antara penggunaan EPS dan batu bata.

1.4 Tujuan Penelitian Tugas Akhir
Penelitian bertujuan, antara lain:
1. membandingkan dan mengevaluasi penggunaan EPS dengan batu bata
yang diterapkan pada dinding rumah tinggal type 36, dari segi biaya,
waktu, dan mutu,
2. menentukan tingkat efisiensi penggunaan EPS terhadap biaya, waktu, dan
mutu konstruksi.



Perpustakaan Unika
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
Hartanto Wahyu S 03.12.0059
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Uraian Umum
Dalam setiap perjalanan proyek konstruksi peran manajemen konstruksi
sangat penting sekali. Karena pada prinsipnya sebuah proyek membutuhkan
pengaturan-pengaturan yang selanjutnya disebut dengan Manajemen Proyek dan
Manajemen Konstruksi.
Dalam proses awal konstruksi, unsur yang paling penting adalah perkiraan
biaya. Pada tahap awal, perkiraan biaya dipergunakan untuk mengetahui seberapa
besar biaya yang diperlukan untuk membangun proyek. Perkiraan biaya memiliki
fungsi dengan spektrum yang amat luas, yaitu merencanakan dan mengendalikan
sumber daya, seperti material, tenaga kerja, waktu. Soeharto, I., (1990)
mengklarifikasikannya ke dalam sasaran proyek dan tiga kendala (triple
constraint). Kendala tersebut berupa faktor biaya, waktu dan kualitas. Perubahan
yang terjadi pada salah satu faktor akan berdampak pada faktor yang lainnya dan
sangat sulit untuk mencegah pengaruhnya. Ketiga sasaran proyek itu antara lain:
1. anggaran: setiap proyek memiliki suatu batasan anggaran yang telah
ditentukan sehingga proyek tersebut harus diselesaikan dengan biaya yang
tidak melebihi anggaran,
2. jadwal: proyek dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang
telah ditentukan sehingga proyek tersebut dalam penyelesaiannya tidak boleh
melebihi batas waktu yang telah ditentukan,
3. mutu: hasil akhir dari kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria
yang telah ditentukan pada persyaratan yang telah disepakati bersama.




Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
5
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059










(Sumber:Soeharto,I, 1990)

2.2 Rencana Anggaran Biaya
Rencana Anggaran Biaya memiliki arti sebagai berikut:
1. rencana : himpunan planning termasuk detail/penjelasan dan tata cara
pelaksanaan pembuatan sebuah bangunan, terdiri dari bestek dan
gambar bestek,
2. anggaran : perkiraan/perhitungan biaya suatu bangunan berdasarkan bestek
dan gambar bestek,
3. biaya : jenis/besarnya pengeluaran yang ada hubungannya dengan
borongan yang tercantum dalam persyaratan yang terlampir.
Sehingga Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah merencanakan bentuk
bangunan yang memenuhi syarat, menentukan biaya, dan menyusun tata cara
pelaksanaan teknik dan administrasi.
Rencana Anggaran Biaya (RAB) bertujuan untuk memberikan gambaran
yang pasti mengenai bentuk/konstruksi, besar biaya, dan pelaksanaan/
penyelesaian.





Gambar 2.1 Ketergantungan biaya, mutu, dan waktu
Biaya
Waktu Mutu
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
6
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

2.3 Perkiraan Biaya dan Anggaran
Perkiraan biaya dibedakan dari anggaran di mana perkiraan biaya
terbatas pada tabulasi biaya yang diperlukan untuk suatu kegiatan tertentu proyek
atau proyek secara keseluruhan. Sedangkan anggaran merupakan perencanaan
terinci atas perkiraan biaya dari sebagian atau keseluruhan proyek yang dikaitkan
dengan waktu (time-phased).
Menurut Soeharto, I., (2002) perkiraan biaya erat hubungannya dengan
analisis biaya, yaitu pekerjaan yang menyangkut pengkajian biaya kegiatan-
kegiatan terdahulu yang akan dipakai sebagai bahan untuk menyusun perkiraan
biaya.
Dengan kata lain, menyusun perkiraan biaya berarti melihat masa depan,
memperhitungkan dan mengadakan perkiraan atas hal-hal yang akan dan mungkin
terjadi. Sedangkan analisis biaya menitikberatkan pada pengkajian dan
pembahasan biaya kegiatan masa lalu yang akan dipakai sabagai masukan.
Perkiraan biaya dikenal sebagai cost engineering, adalah bidang kegiatan
engineering di mana pengalaman serta pertimbangan engineering dipakai dalam
menerapkan prinsip-prinsip teknik dan ilmu pengetahuan pada masalah perkiraan
biaya, pengendalian biaya, dan profitabilitas (Soeharto, I, 2002).
Sistematika penyusunan perkiraan biaya dan anggaran sebagai berikut:
1. definisi lingkup
sebelum membuat perkiraan biaya, jadwal, dan anggaran perlu diketahui lebih
dahulu definisi lingkup proyek serta parameter yang membatasinya. Bagi
pemilik, definisi lingkup ini dihasilkan dari studi kelayakan kemudian
dirumuskan lebih lanjut pada tahap pengembangan dan perencanaan.
Sedangkan bagi kontraktor, definisi ini diperoleh dari dokumen lelang.
2. uraian aktivitas
setelah mengidentifikasi lingkup, langkah selanjutnya adalah menentukan
aktivitas atau kegiatan yang diperlukan untuk mewujudkan lingkup tersebut.
Kemudian dilakukan penelitian atas kemungkinan aktivitas tersebut dikerjakan
secara paralel sehingga dapat menghemat waktu.

Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
7
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

3. sumber daya
untuk merealisasikan proyek menjadi deliverable, diperlukan sumber daya
baik berupa human (tenaga kerja, tenaga ahli, dan lain-lain), dan non-human
(material, peralatan dan lain-lain).
4. perkiraan biaya
setelah dilakukan pengkajian sumber daya yang diperlukan, selanjutnya dapat
disusun perkiraan biaya untuk pengadaannya, seperti berapa biaya pengadaan
peralatan, material dan tenaga kerja. Ini semua diperhitungkan ke jumlah uang
yang diperlukan.
5. jadwal aktivitas
aktivitas merupakan perencanaan urutan kegiatan dalam rangka
merealisasikan lingkup proyek. Adapun variabel yang diteliti adalah variabel
yang dapat dikerjakan secara paralel ataupun seri, disamping membuat
perkiraan berupa lamanya pelaksanaan masing-masing aktivitas yang
bersangkutan.
6. anggaran
mengkaitkan perkiraan biaya dan waktu yang menjelaskan kapan biaya
tersebut digunakan selama siklus proyek, akan diperoleh anggaran. (time-
phased budget)








Gambar 2.2 Proses Penyusunan Perkiraan Biaya dan Anggaran
(Sumber: Soeharto,I,1990)


Definisi
lingkup
proyek
Menyusun jadwal
aktivitas
Keperluan
sumber daya
Perkiraan biaya
Uraian aktivitas
Anggaran
proyek
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
8
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Harga kontrak adalah harga yang tercantum dalam dokumen kontrak, yang
telah disetujui bersama antara kontraktor dan pemilik proyek. Laba adalah
anggaran yang dibebankan kepada proyek sebagai laba bersih dan dimasukkan ke
dalam kas perusahaan. Cadangan manajemen adalah sejumlah biaya yang
dicadangkan untuk keperluan menutup eskalasi dan kontijensi.

2.4 Pengendalian Proyek
Syarat penting untuk menuntun keberhasilan suatu proyek adalah
pengendalian yang tergantung terhadap faktor-faktor waktu, biaya, dan mutu.
Pengendalian perlu penanganan sungguh-sungguh dari pihak manajemen
disamping juga butuh keterlibatan seluruh aparat dari berbagai tingkat organisasi
dalam perusahaan. Pada dasarnya upaya pengendalian merupakan proses
pengukuran, evaluasi, dan membetulkan kinerja proyek. Untuk proyek konstruksi,
ada tiga unsur yang perlu selalu dikendalikan dan diukur, yaitu:
1. kemajuan (progress) yang dicapai dibandingkan terhadap kesepakatan
kontrak,
2. pembiayaan terhadap rencana anggaran,
3. mutu hasil pekerjaan terhadap spesifikasi teknis.
Suatu pengendalian proyek yang efektif ditandai oleh hal-hal sebagai berikut:
1. tepat waktu dan peka terhadap penyimpangan. Metode atau cara yang
digunakan harus cukup peka sehingga dapat mengetahui adanya
penyimpangan selagi awal. Dengan demikian, dapat diadakan koreksi
pada waktunya sebelum persoalan berkembang menjadi besar sehingga
sulit diadakan perbaikan,
2. bentuk tindakan yang tepat dan benar. Untuk maksud ini diperlukan
kemampuan dan kecakapan menganalisis indikator secara akurat dan
objektif,
3. terpusat pada masalah atau titik yang sifatnya strategis, dilihat dari segi
penyelenggaraan proyek. Dalam hal ini diperlukan kecakapan memilih
titik atau masalah yang strategis agar penggunaan waktu dan tenaga
dapat efisien,
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
9
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

4. mampu mengetengahkan dan mengkomunikasikan masalah dan
penemuan, sehingga dapat menarik perhatian pimpinan maupun
pelaksana proyek yang bersangkutan, agar tindakan koreksi yang
diperlukan dapat segera dilaksanakan,
5. kegiatan pengendalian tidak lebih dari yang diperlukan. Biaya yang
dipakai untuk kegiatan tidak boleh melampaui faedah atau hasil dari
pekerjaan tersebut sehingga perlu dikaji suatu perencanaan
pengendalian dan membandingkannya dengan hasil yang akan
diperoleh,
6. dapat memberikan petunjuk berupa perkiraan hasil pekerjaan yang
akan datang yang sangat diperlukan oleh pengelola proyek untuk
menentukan langkah pelaksanaan berikutnya.
Waktu atau jadwal merupakan salah satu sasaran utama proyek.
Keterlambatan akan mengakibatkan berbagai bentuk kerugian antara lain
penambahan biaya, denda akibat keterlambatan, kehilangan kesempatan produk
yang dihasilkan memasuki pasaran, yang semuanya akan mempengaruhi pada
biaya proyek keseluruhan dan berpengaruh langsung pada arus kas proyek
tersebut. Sedangkan pengendalian biaya itu sendiri meliputi segala aspek yang
berkaitan dengan hubungan antar dana dan kegiatan proyek, mulai dari proses
memperkirakan jumlah kebutuhan dana, memilih sumber serta macam
pembiayaan, pengendalian alokasi pemakaian biaya, sampai kepada akuntansi dan
administrasi pinjaman.

2.4.1 Pengendalian Biaya
Menurut Soeharto, I., (1995), pengendalian biaya adalah merupakan
langkah akhir dari suatu proyek, yaitu mengusahakan agar penggunaan dan
pengeluaran biaya sesuai dengan perencanaan, berupa anggaran yang telah
ditetapkan.
Dalam hubungannya dengan pendanaan, pengendalian biaya memegang
peranan penting sehingga koreksi-koreksi pembiayaan harus dilaksanakan secara
kontinyu agar pelaksanaan proyek dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala-
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
10
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

kendala yang berarti, terselesaikan sesuai dengan tata kala yang direncanakan,
serta menghasilkan suatu produk dengan mutu yang diharapkan.
Salah satu bentuk pengendalian biaya pada pelaksanaan proyek dapat
disajikan berupa laporan evaluasi koreksi sebagai alat pengendali proyek dalam
bidang keuangan berhubungan erat dengan tingkat likuiditas kontraktor.
Penerimaan ini didasarkan pada uang muka dan angsuran, sedangkan pengeluaran
adalah jumlah yang dikeluarkan kontraktor selama masa konstruksi, dibedakan
atas biaya langsung dan biaya tak langsung.

2.4.2 Pengendalian Jadwal
Seperti diketahui, waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses
konstruksi selalu diterakan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh
penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri.
Penetapan jangka waktu proyek terikat erat dengan pembiayaannya bahkan saling
tergantung. Sehingga pengendalian waktu pelaksanaan konstruksi umumnya
dilakukan bersamaan dan tidak terlepas dari pengendalian biaya. Selama
berlangsungnya tahap konstruksi fisik, kontraktor bertanggung jawab untuk
menyiapkan jadwal rencana kerja yang menunjukkan kelayakan metode
pelaksanaan terutama berkaitan dengan sumber daya, kemudian dicantumkan
dalam dokumen kontrak. J adwal yang ekonomis bagi suatu proyek, yang
didasarkan atas biaya langsung untuk mempersingkat waktu penyelesaian
komponen-komponennya.

2.5 Jenis Material Sebagai Bahan Perbandingan
2.5.1 Expandable Polystyrene (EPS)
Sebuah sistem konstruksi yang sudah terbukti handal yakni menggunakan
bahan EPS. EPS ini dapat digunakan untuk struktur bangunan bertingkat maupun
tidak bertingkat, dengan menggunakan panel yang terdiri dari satu lembar EPS,
berfungsi sebagai insulator suhu dan suara, yang dilapisi dengan 2 lembaran
wiremess yang di las.
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
11
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

EPS diproduksi dengan menggunaka mesin-mesin berteknologi canggih.
Tekhnologi ini telah terbukti berhasil dan tersebar luas di seluruh dunia.
Keberhasilan teknologi EPS ini sangat didukung oleh keunggulan-keunggulan
sistemnya. Keunggulannya yaitu :
1. EPS dengan 2 lembaran wiremess di kanan kirinya tahan terhadap gaya
axial dan lateral, yang membuatnya tahan menghadapi bencana alam
gempa maupun badai,
2. kuat, ringan, dapat dipasang dengan mudah sehingga hemat waktu dan
biaya,
3. hemat energi, menginsulasi panas dan meredam suara.
Bahan baku EPS berasal pengolahan minyak mentah yaitu Naphtha.
Bahan baku utama Naphtha adalah olefins dan aromatics. Olefins crackers
mendapat ethylene, propylene, butadiene, dan benzene di dapat dari aromatics.
Ethylene dan benzene ini akan diproses lagi menjadi ethylbenzene dan bila
diproses lagi menjadi styrene monomer. Styrene monomer inilah bahan baku
utama dalam pembuatan EPS.

2.5.1.1 Uji Kelayakan dan Mutu EPS Sebagai Material Bangunan
Menurut Setiawan, A., (2007) EPS dapat diterapkan sebagai bahan
pengganti material banguanan. Pernyataan tersebut diperkuat dengan
dilakukannya percobaan untuk mengetahui intensitas beban lentur dan intensitas
beban tumpu.
Pada percobaan intensitas beban lentur, percobaan dilakukan dengan
meletakkan beban kubus beton di atas benda uji yang bertujuan untuk
memberikan beban awal sebesar 300 kg/m
2
. Penambahan air tiap 10 cm,
mengindikasikan penambahan beban sebesar 100 kg/m
2
. Lendutan akibat beban
layan pada benda uji diukur dengan menggunakan dial gauge.



Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
12
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059















Gambar 2.3 Hasil Uji Kapasitas Lentur
(Sumber: Setiawan, A., 2007)

Benda uji telah dibebani hingga mencapai batas plastisnya. Berdasarkan
syarat lendutan ijin, beban maksimum yang dapat dipikul adalah 350 kg/m
2

(untuk tebal 8,5 cm) dan 850 kg/m
2
(untuk tebal 11 cm). Dengan
memperhitungkan beban mati tambahan sebesar 100 kg/m
2
dan faktor beban (1,2
untuk beban mati ; 1,6 untuk beban hidup) maka direkomendasikan beban layan
pelat adalah sebesar :
a) 150 kg/m
2
(untuk tebal 8,5 cm)
b) 450 kg/m
2
(untuk tebal 11 cm)
Pada percobaan intensitas beban tumpu, pemberian beban tumpu yang
bekerja pada benda uji yaitu melalui suatu hydraulic jack yang terhubung dengan
manometer yang dapat mengukur beban uji yang bekerja. Beban dari hydraulic
jack diratakan pada benda uji dengan menggunakan beberapa kayu yang disusun
vertical. Deformasi arah lateral diukur dengan menggunakan dial gauge.
Grafik Beban vs Lendutan (tebal 8,5 cm)
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6
Lendutan (mm)
B
e
b
a
n

(
k
g
/
m
2
)
Dial 1/4L Dial 1/2L
Grafik Beban vs Lendutan (tebal11 cm)
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
1000
1100
1200
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4
Lendutan (mm)
B
e
b
a
n

(
k
g
/
m
2
)
Dial 1/4L Dial 1/2L
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
13
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059















Gambar 2.4 Hasil Uji Kapasitas Tumpu
(Sumber: Setiawan, A., 2007)

Beban tumpu terpusat yang dapat dipikul oleh panel dinding EPS adalah
sebesar 5825 kg, atau setara dengan beban merata sebesar 2900 kg/m.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan:
1. pelat EPS memiliki kapasitas lentur sebesar 150 kg/m
2
(untuk tebal
panel 8,5 cm) dan 450 kg/m
2
(untuk tebal panel 11 cm),
2. konstruksi dinding EPS dapat digunakan sebagai dinding struktur
(bearing wall) dengan kapasitas tumpu ultimit sebesar 2900 kg/m.






0
50
100
150
200
250
300
0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5 5 5,5 6 6,5 7 7,5 8
Lendut an (mm)
(
B
e
b
a
n

T
u
m
p
u
,

k
g
/
c
m
2
)
Tebal 8,5 cm Tebal 11 cm
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
14
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

2.5.2 Batu Bata
Batu bata terbuat dari tanah liat/lempung yang berasal dari tanah sawah
yang subur. Proses pembuatannya mulai dari penggalian tanah, pencampurannya
dengan air atau bahan lain jika perlu, dan pemberian bentuknya diperoleh dengan
menggunakan cetakan-cetakan dari kayu yang telah mempunyai ukuran tertentu.
Pengerjaanya dilakuka dengan menggunakan tangan, selanjutnya dibakar dengan
menggunakan suhu yang cukup tinggi sampai matang.
J adi bata atau batu bata merah adalah batu buatan yang berasal dari tanah
liat yang dalam keadaan lekat dicetak, dijemur beberapa hari sesuai dengan
peraturan kemudian dibakar sampai matang, sehingga tidak dapat hancur lagi bila
direndam dalam air.
Bata sebagai suatu unsur bangunan harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
1. semua bidang-bidang sisi harus datar,
2. mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dan menyiku,
3. tidak menunjukkan gejala retak-retak dan perubahan bentuk yang
berlebihan,
4. bila diketok bersuara nyaring,
5. panjang bata = 2 lebar +siar (1 cm),
6. penyimpangan ukuran untuk panjang maksimum 3% , lebar maksimum
4% dan tebal maksimum 5%
7. kuat desak bata yang banyak terdapat dalam perdagangan di Indonesia,
dibagi dalam 3 golongan, yaitu :
a. Mutu tingkat I : kuat desak rata-rata lebih dari 100 kg/cm
3

b. Mutu tingkat II : kuat desak rata-rata antara 100-80 kg/cm
3

c. Mutu tingkat III : kuat desak rata-rata antara 80-60 kg/cm
3

Bentuk standart bata merah adalah prisma segi empat panjang, bersudut
siku dan tajam, permukaan rata dan tidak menampakkan adanya retak-retak yang
merugikan.

Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
15
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Tabel 2.1 Ukuran Standart Bata Merah Pejal


Modul
Ukuran, mm
Tebal Lebar Panjang
M – 5a 65 90 190
M – 5b 65 140 190
M - 6 55 110 230
(Sumber : PUBI-1982)

Tabel 2.2 Kekuatan Tekan rata-rata dan Koefisien Variasi yang
Diizinkan untuk Bata Merah Pejal



Kelas
Kekuatan tekan rata-rata minimum dari 30 buah
bata yang diuji
Koefisien variasi
yang diijinkan dari
data-data kuat
tekan bata yang
diuji,%


Kg/cm
2


N/mm
2

25 25 2,5 25
50 50 5 22
100 100 10 22
150 150 15 15
200 200 20 15
250 250 25 15
(Sumber : PUBI-1982)

Bata merah pejal tidak boleh mengandung garam yang dapat larut
sedemikian banyaknya sehingga pengkristalannya dapat mengakibatkan lebih dari
50% permukaan bata tertutup tebal oleh bercak-bercak putih.

2.6 Faktor Tenaga Kerja
Menurut Ibrahim, B., (1993) yang dimaksud dengan tenaga kerja adalah
besarnya jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan
dalam satu kesatuan pekerjaan.
Menurut Barrie, D.S., (1987) salah satu aspek yang paling sulit dalam
mempersiapkan suatu perkiraan biaya-wajar, perkiraan definitif terperinci, atau
anggaran pengendalian yang didasarkan pada suatu perkiraan, adalah mengenai
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
16
Bab II – Tinjauan Pustaka
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

komponen tenaga kerja. Pendekatan yang mendasar adalah membagi biaya tenaga
kerja ke dalam dua macam komponen utama dan kemudian mengembangkannya
secara terpisah-pisah. Komponen-komponen ini adalah harga-harga yang
dinyatakan dalam uang dan produktifitas. Kedua hal tersebut diperlukan dalam
menentukan biaya tenaga kerja. Metode ini sekaligus menghitung besar biaya
untuk tenaga kerja, namun banyaknya jumlah tenaga kerja tidak dapat diketahui.
Secara teoritis, menurut Soeharto I., (1997) keperluan rata-rata jumlah
tenaga kerja dapat dihitung dari total lingkup kerja proyek yang dinyatakan dalam
jam-orang atau bulan orang di bagi dengan kurun waktu pelaksanaan. Hitungan
sederhana ini tentu tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Dikarena
pekerjaan konstruksi menunggu material hasil kegiatan pembelian, sedangkan
pembelian baru bisa mulai bila paket yang disediakan oleh ahli desain engineering
telah selesai. Lagi pula hasil guna tenaga kerja umumnya berbeda-beda. Oleh
karena itu, untuk merencanakan tenaga kerja proyek yang realistis perlu
diperhatikan bermacam-macam faktor, diantaranya yang terpenting adalah sebagai
berikut ini;
a. produktifitas tenaga kerja,
b. tenaga kerja periode puncak,
c. jumlah tenaga kerja kantor pusat,
d. perkiraan jumlah tenaga kerja konstruksi di lapangan,
e. meratakan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak yang paling
tajam.





Perpustakaan Unika
Bab III – Metodologi Penelitian
Insan Kurniawan 03.12.0030
Hartanto Wahyu S 03.12.0059
17

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Uraian Umum
Metodologi merupakan suatu cara atau langkah yang ditempuh dalam
memecahkan suatu masalah dengan cara mempelajari, mengumpulkan data,
menganalisa data yang telah didapatkan. Penelitian suatu kasus perlu adanya
metodologi yang berfungsi sebagai dasar acuan untuk studi pustaka maupun
pengumpulan data yang diperlukan.
Penelitian dalam penyusunan tugas akhir ini adalah penelitian lapangan
yang bertujuan untuk mempelajari dan mengamati secara intensif terhadap objek
penelitian. Penelitian ini menggunakan percobaan atau riset sehingga nantinya
menghasilkan gambaran lengkap dan kesimpulan mengenai data-data yang
dihasilkan dari penelitian.

3.2 Jenis Penelitian
J enis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian eksperimental
longitudinal. Peneliti mencoba bereksperimen dengan membandingkan dua
sample bangunan, yaitu bangunan berdinding bata dan bangunan berdinding EPS
pada rumah type 36. Dua bangunan tersebut memiliki karakteristik dan ukuran
yang sama, perbedaan hanya terletak pada pondasi dan dinding yang
dipergunakan pada kedua bangunan. Perbedaan dari kedua bangunan tersebut
nantinya akan menghasilkan data penelitian.
Data yang diperoleh dipadukan dengan landasan teori dari tinjauan pustaka
kemudian diklasifikasikan sesuai dengan kriteria yang ditinjau untuk diolah.
Perpaduan ini diharapkan mampu memperoleh data/pemecahan yang dapat
diambil sebagai kesimpulan dari hasil penelitian.



Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
18
Bab III – Metodologi Penelitian
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

3.3 Populasi dan Sample
Populasi penelitian ini adalah proyek perumahan Bukit Sendang Mulyo di
kota Semarang. Sedangkan pengambilan sample dilakukan pada pembangunan
rumah tinggal Blok 45C.

3.4 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk mencari informasi dan melengkapi
penulisan laporan penelitian. Sumber data adalah sample atau subjek penelitian.
Mengamati secara langsung data di lapangan dan melakukan observasi.
Berdasarkan tujuan dari penelitian ini maka data yang akan dikumpulkan sudah
memiliki kejelasan sasaran yaitu hal-hal yang berhubungan dengan estimasi biaya,
mutu dan waktu antara kedua sample yang diteliti. Materi yang dipergunakan
sebagai data primer adalah:
1. penelitian lapangan untuk mengamati secara langsung sample dari
penelitian dalam waktu yang belum ditentukan,
2. literatur, baik teori maupun hasil penelitian terdahulu, buku-buku dan
internet.
3.5 Teknik Pengukuran Data
Pengukuran data pada penelitian ini menggunakan data perhitungan
Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) dari proyek rumah dinding bata maupun
rumah dinding EPS. Perhitungan RAP tersebut berasal dari data perhitungan
PT. Fasat Indonusa. Data perhitungan RAP kemudian akan diolah sehingga dapat
menghasilkan kesimpulan penelitian berupa perbandingan biaya dan waktu antara
rumah dinding bata dan rumah dinding EPS. Pengamatan lapangan juga dilakukan
untuk mendapatkan hasil penelitian berupa mutu bangunan, tenaga kerja, dan
material.




Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
19
Bab III – Metodologi Penelitian
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

3.6 Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Method Productivity
Delay Model (MPDM). Metode pengukuran ini menggunakan model Ogelsby,
Parker dan Howell yang diadopsi oleh Soemardi et. al (1998). Berdasarkan
kriteria-kriteria tersebut, Soemardi (Krishna, 1997), menilai bahwa metode
MPDM mempunyai peringkat paling tinggi dibandingkan metode lainnya. Metode
pengukuran berdasarkan data historis dapat digunakan sebagai alternatif yang
menarik dan strategis. MPDM pada penelitian ini adalah masukan berdasarkan
data historis, yaitu model pengukuran berdasar laporan harian, mingguan, bahkan
bulanan.



Gambar 3.1 Bagan Alir Metode Penelitian
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
20
Bab III – Metodologi Penelitian
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

3.7 Kerangka Pemikiran
Pada proses pelaksanaan proyek konstruksi, misalnya pembangunan
gedung, jembatan, rumah tinggal dan instalasi pabrik dibutuhkan rencana
anggaran biaya yang tepat sehingga tidak terjadi over budget dalam pelaksanaan.
Dalam proses pengendalian pelaksanaan konstruksi diperlukan adanya jadwal
kerja (time schedule).
J adwal kerja (time schedule) merupakan bahan pengendali yang sangat penting
didalam penyelenggaraan proyek konstruksi. Dengan adanya time schedule,
menjadikan segala pekerjaan sudah terjadwal sesuai dengan volume pekerjaan
yang dibutuhkan. Apabila time schedule tidak dapat mengendalikan pekerjaan
pada proyek tersebut maka biaya yang dikeluarkan pada proyek tersebut juga ikut
tidak terkendali. Selain time schedule, laporan progrees pekerjaan juga merupakan
alat yang penting untuk mengukur prestasi pekerjaan pelaksana di lapangan,
sehingga diharapkan dapat diketahui kemajuan/keterlambatan serta masalah yang
terjadi di lapangan. Berdasarkan situasi yang terjadi dilapangan, sample berskala
kecil sehingga tidak diperlukan adanya laporan progrees berupa laporan harian ,
laporan mingguan, dan laporan bulanan.



Perpustakaan Unika
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
Hartanto Wahyu S 03.12.0059
21

BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Uraian Umum

Berdasarkan data-data yang sudah diperoleh dari pengamatan sebelumya,
maka selanjutnya data-data tersebut dapat diolah sesuai dengan tujuan awal
penelitian. Material bangunan sebagai alat pembanding akan dibahas lebih dalam
untuk memudahkan pengolahan data. Perencanaan adalah proses yang mencoba
meletakkan dasar tujuan dan sasaran termasuk menyiapkan segala sumber daya
untuk mencapainya. Manajemen proyek dibutuhkan untuk merencanakan
keberadaan tenaga kerja. J umlah tenaga kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan
sehingga pelaksanaan proyek dapat berjalan secara efektif dan efisien. Biaya,
mutu, dan waktu adalah tiga unsur dari pekerjaan konstruksi yang tidak bisa
dipisahkan satu sama lain. Ketiganya merupakan syarat mutlak yang harus ada
didalam merencanakan suatu pekerjaan konstruksi.
Pembangunan rumah dinding EPS pada kawasan perumahan Permata
Sendang Mulyo merupakan pekerjaan konstruksi yang tidak lepas dari ketiga
aspek diatas. Dinding EPS oleh produsennya diharapkan dapat digunakan sebagai
pengganti material yang sudah ada untuk diterapkan pada bangunan. Harapan
tersebut berupa hasil keseluruhan dari pelaksanaan yang lebih efektif dan efisien
dari segi biaya, mutu, dan waktu apabila dibandingkan dengan penggunaan
material bangunan lain. Batu bata sebagai material bangunan yang lebih dahulu
ada, memiliki spesifikasi yang sudah teruji dan dikenal luas oleh masyarkat.






Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
22
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

4.2 Material

Pemilihan material yang tepat pada suatu bangunan dapat menciptakan
kekokohan dan kenyamanan yang ditimbulkan oleh bangunan itu sendiri. Tujuan
dari pemilihan material bangunan yang tepat, diharapkan dari pembangunan
tersebut menghasilkan jenis bangunan yang tidak hanya memiliki estetika yang
baik tetapi juga memiliki ketahanan dan kekuatan yang baik pula.
Pembangunan rumah Permata Sendang Mulyo menggunakan material
bangunan yang tidak berbeda dengan material bangunan pada umumnya. Material
yang digunakan tetap harus sesuai dengan aturan dan teknik pengerjaan yang tidak
berbeda dengan pembangunan rumah pada umumnya. Hanya saja, peneliti disini
akan menitik beratkan pembahasan pada dua material yang dibandingkan yaitu
batu bata dan EPS.

4.2.1 Batu Bata
Batu bata merupakan material bangunan yang sangat umum digunakan
untuk pasangan dinding. Batu bata memiliki karakteristik sebagai isolator panas
yang cukup baik. Sifat dari batu bata lainnya adalah memiliki sifat peredam suara
yang baik dengan kekuatan redam antara 58-61 dB. Batu bata memiliki umur
ekonomis panjang apabila pada kedua sisi dinding diberi plesteran berupa
campuran spesi. Sedangkan batu bata yang tidak terdapat plesteran dinding pada
kedua sisinya memiliki umur ekonomis yang lebih pendek, karena akan mudah
berlumut dan lapuk. Produksi batu bata di Indonesia masih dilakukan secara
tradisional dengan menggunakan alat-alat seadanya. Karena hanya diproduksi
secara tradisional, maka mutu yang dihasilkan nantinya tidak seragam. Setiap
daerah penghasil batu bata memiliki karakteristik batu bata yang berbeda,
sehingga semuanya bergantung pada keinginan dan keyakinan dari konsumen.
Ukuran bata (panjang, lebar, dan tebal) pada daerah-daerah tempat pembuatannya
belum seragam, sehingga memungkinkan pembeli dan pembuat (penjual) terlebih
dahulu mengadakan perjanjian mengenai ukuran bata yang akan digunakan untuk
material bangunan.
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
23
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Batu bata yang digunakan untuk pembangunan perumahan Permata
Sendang Mulyo berasal dari daerah Penggaron dengan ukuran panjang 210 mm,
lebar 100 mm, dan tebal 40 mm. Ukuran tersebut sesuai dengan persyaratan
umum bahan bangunan di Indonesia. Batu bata akan digunakan sebagai material
pasangan dinding pada keseluruhan bangunan perumahan Permata Sendang
Mulyo, baik pada rumah type 21 maupun pada rumah type 36.

4.2.2 Expandable Polystyrene (EPS)
Sebelumnya, EPS hanya dikenal sebagai pelindung alat-alat elektronik
yang di kemas dalam kardus. Seiring dengan berjalannya waktu, EPS mulai
diterapkan sebagai bahan material sebagai pengganti material bangunan yang
sudah ada. Pemasangan dinding EPS tergolong mudah, yaitu dengan cara
menjepit EPS dengan sepasang rangkaian besi wiremess pada kedua sisinya.
Pemberian plesteran dilakukan tiga tahap. Penyemprotan plesteran setebal 1 cm
pada tahap pertama bertujuan agar plesteran dapat efektif terserap sempurna oleh
EPS. Pada tahap ini, EPS dibentuk agar dapat berdiri tegak lurus dengan dibantu
oleh penyangga dari balok kayu. Pada tahap kedua juga dilakukan penyemprotan
setebal 1 cm yang bertujuan agar EPS kaku (rigid) sehingga dapat berdiri tegak
lurus tanpa alat penyangga. Pada tahap ketiga dilakukan lagi penyemprotan
setebal 1 cm untuk kemudian dilakukan penghalusan pada kedua permukaan. Alat
yang digunakan sebagai penyemprot dinamakan sprayer. Penggunaan EPS
sebagai material dinding memiliki beberapa keuntungan, anatar lain:
a. pemasangan panel lebih cepat dan ringan,
b. struktur dinding EPS ringan sehingga bisa mengurangi volume
pondasi,
c. baik digunakan sebagai insulator panas,
d. memiliki karakteristik sebagai peredam suara dengan kekuatan redam
42-44 dB, ( Sumber : data PT. SIP)
e. material EPS dibuat oleh pabrik dengan alat yang modern sehingga
mutu dan kualitasnya terjamin.
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
24
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Pembangunan rumah berdinding EPS pada lokasi Perumahan Permata
Sendang Mulyo bertujuan sebagai rumah percontohan dan bahan study. Pemilik
proyek adalah PT. SIP (Semangat Inti Pemenang) sebagai perusahaan yang
memproduksi EPS di Semarang. Rumah dinding EPS Sendang Mulyo
menggunakan EPS dengan density 14 kg/cm
3
yang memiliki karakteristik lebih
lunak dan mudah menyerap material cair, terutama air. EPS memiliki tebal 5 cm
dengan diapit oleh tulangan wiremess diameter 4 mm. Ukuran EPS dari pabrik
memiliki dimensi panjang 3 meter dan lebar 1 meter untuk kemudian dapat
dipotong sesuai kebutuhan. Tebal keseluruhan dinding EPS pada perumahan
Sendang Mulyo adalah 11 cm dengan rincian 5 cm merupakan tebal EPS, dan 6
cm adalah tebal plesteran ( masing-masing sisi 3 cm).

4.3 Perencanaan Sumber Daya Manusia (Man Power)
Salah satu sumbar daya yang menjadi faktor penentu keberhasilan
penyelenggaraan proyek adalah tenaga kerja. J enis dan intensitas kegiatan suatu
proyek berlangsung secara cepat sepanjang siklusnya, sehingga penyediaan
jumlah tenaga, jenis keterampilan, dan keahlian harus mengikuti tuntutan
perubahan yang sedang berlangsung. Bertolak dari pernyataan tersebut,
perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terinci harus meliputi
perkiraan jenis dan kapan tenaga kerja yang bersangkutan dibutuhkan.
Secara teoritis, keperluan rata-rata jumlah tenaga kerja dapat dihitung dari
total lingkup kerja proyak yang dinyatakan dalam jam-orang atau bulan-orang
dibagi dalam kurun waktu pelaksanaan. Rumus hitungan ini tentunya tidak sesuai
dengan kenyataan yang sesungguhnya karena akan timbul pemborosan dengan
mendatangkan banyak tenaga kerja pada awal pekerjaan. Macam-macam faktor
yang perlu diperhatikan dalam perencanaan tenaga kerja proyek adalah :
a. produktivitas tenaga kerja,
b. perkiraan tenaga kerja konstruksi di lapangan,
c. tenaga kerja periode puncak,
d. jumlah tenaga kerja kantor pusat.
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
25
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Pembangunan Perumahan Sendang Mulyo menggunakan faktor pertama
sampai ketiga saja, mengingat pada proyek tersebut tidak membutuhkan tenaga
kerja di kantor pusat.

4.3.1 Produktivitas Tenaga Kerja
Dalam melaksanakan pekerjaannya, para tenaga kerja (tukang) dipilih oleh
mandor atau pelaksana proyek. Mandor atau pelaksana proyek akan
mempertimbangkan faktor produktivitas yang dihasilkan sebelum memilih pekerja
proyek. Proyek Perumahan Permata Sendang Mulyo memiliki pekerja (tukang)
yang rata-rata sudah bekerja sama dengan pelaksana proyek dalam kurun waktu
yang lama, sehingga sudah timbul rasa saling percaya antara pekerja dan
pelaksana proyek. Rasa saling percaya ini tentunya akan memberikan dampak
yang baik dalam pelaksanaan proyek. Sebagian besar pelaksanaan proyek
Perumahan Permata Sendang Mulyo selesai sesuai dengan waktu yang talah
ditentukan.

4.3.2 Perkiraan tenaga kerja di lapangan
Memperkirakan jumlah tenaga kerja dalam suatu proyek membutuhkan
pengalaman. Cara sederhana dalam memperkirakan tenaga kerja adalah total
pekerjaan dibagi dengan produktivitas kerja setiap harinya. Secara matematis
rumus ini bisa dipakai, namun tetap saja diperlukan pengalaman dalam
memperkirakan jumlah tenaga kerja di lapangan.
Pada pembangunan rumah berdinding EPS dan dinding bata Perumahan
Permata Sendang Mulyo diperoleh data perkiraan tenaga kerja dilapangan dalam
setiap item pekerjaan. J umlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam setiap
pekerjaan tidak sama, bergantung pada besarnya volume pekerjaan per hari:





Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
26
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Tabel 4.1 Perkiraan Jumlah Tenaga Kerja Setiap Pekerjaan

No

Jenis Pekerjaan
Rumah Berdinding
Bata
Rumah
Berdinding EPS
Jumlah Tukang &
Tenaga
Jumlah
Tukang & Tenaga
1 Persiapan 1 Tukang
1 Tenaga
1 Tukang
1 Tenaga
2 Pondasi dan galian 3 Tukang
4 Tenaga
1 Tukang
2 Tenaga
3 Pekerjaan pasangan, cor kolom, cor
ring, pasang kusen.
5 Tukang
6 Tenaga
6 Tukang
7 Tenaga
4 Kap, rangka atap 3 Tukang
3 Tenaga
3 Tukang
3 Tenaga
5 Pasang pintu, daun jendela, kaca,
pengunci dan penggantung, plin
kaca
2 Tukang
1 Tenaga
2 Tukang
1 Tenaga
6 Genteng 3 Tukang
3 Tenaga
3 Tukang
3 Tenaga
7 Plesteran dan aci 3 Tukang
3 Tenaga
Sudah termasuk
pekerjaan pasangan
8 Sanitasi 1 Tukang 1 Tukang
9 Pasangan lantai 2 Tukang
2 Tenaga
2 Tukang
2 Tenaga
10 Pekerjaan kamar mandi 1 Tukang
1 Tenaga
1 Tukang
1 Tenaga
11 Pekerjaan plafon 1 Tukang
2 Tenaga
1 Tukang
2 Tenaga
12 Pekerjaan listrik 2 Orang 2 Orang
13 Finishing cat 4 Tenaga 4 Tenaga
(Sumber : PT. Fasat Indonusa)

4.3.3 Tenaga Kerja Periode Puncak
Tenaga kerja periode puncak adalah keadaan dimana pada suatu ketika
terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja (periode sibuk) yang membutuhkan paling
banyak tenaga kerja. Pengetahuan mengenai periode puncak berguna bagi
merencanakan kapasitas fasilitas penampungan dan arus dana (cash flow)
pembiayaan proyek. Selama pembangunan Perumahan Permata Sendang Mulyo
tidak terjadi jumlah tenaga kerja periode puncak yang signifikan. Hal ini
dikarenakan proyek Perumahan Sendang Mulyo berskala kecil (rumah type 36).
Apabila terlalu banyak jumlah pekerja, maka area kerja akan menjadi sempit dan
pelaksanaan menjadi tidak optimal. Untuk lebih jelasnya, akan disajikan data
kebutuhan tenaga kerja selama berlangsungnya proyek dalam bentuk diagram.
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
27
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

0
2
4
6
8
10
12
14
16
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49 51 53 55
Hari Kerja Proyek
J
u
m
l
a
h

T
e
n
a
g
a

K
e
r
j
a
Jumlah Tenaga Kerja per Hari Rumah Dinding Bata Jumlah Tenaga Kerja per Hari Rumah Dinding EPS


Gambar 4.1. Grafik Tenaga Kerja Periode Puncak Rumah Dinding EPS dan
Rumah Dinding Bata
(Sumber : PT. Fasat Indonusa)

Grafik diatas menunjukkan jumlah tenaga kerja per hari dalam
pelaksanaan pembangunan rumah dinding EPS dan dinding bata. Peningkatan
jumlah tenaga kerja pada kedua rumah terjadi pada awal pelaksanaan proyek.
Keadaan tersebut bisa terjadi karena pada awal proyek terdapat volume pekerjaan
yang besar sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja. J umlah tenaga kerja
periode puncak pada pembangunan rumah dinding EPS terjadi pada hari ke-6,
tepatnya ketika terdapat pekerjaan pasangan dengan jumlah 14 orang tenaga.
Pekerjaan pasangan dinding EPS lebih banyak membutuhkan tenaga kerja
dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja pada pekerjaan pasangan dinding bata.
Perlu dilakukan kerja sama antar tenaga kerja karena pemasangan dinding EPS
tidak dapat dilakukan sendirian. Pemberian spesi pada kedua sisi dinding
dilakukan setelah rangkaian EPS berikut tulangan wiremess selesai terpasang.
J umlah tenaga kerja pada rumah dinding EPS akan berangsur turun setelah hari
ke-24 pelaksanaan proyek. Selanjutnya, jumlah tenaga kerja akan disesuaikan
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
28
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

dengan besarnya volume pekerjaan yang masih tersisa. Pada pembangunan rumah
dinding bata terjadi jumlah tenaga kerja periode puncak pada hari ke-17 dengan
jumlah tenaga kerja 13 orang. J umlah tenaga kerja pada rumah dinding bata akan
berangsur turun setelah hari ke-36 pelaksanaan proyek. Rumah dinding bata
membutuhkan lebih banyak tenaga kerja pada pekerjaan pondasi karena pondasi
yang digunakan adalah pondasi menerus.
Bentuk grafik kebutuhan tenaga kerja periode puncak pada proyek
berskala besar umumnya berbentuk trapesium dengan periode puncak berada di
tengah dan memiliki pertambahan jumlah tenaga kerja yang stabil. Berbeda
dengan proyek Perumahan Permata Sendang Mulyo yang memiliki periode
puncak berada di awal proyek, serta penambahan jumlah tenaga kerja tidak stabil.
Terjadinya keadaan tersebut banyak dipengaruhi oleh skala proyek yang kecil.

4.4 Mutu
Persyaratan mutu juga termasuk sebagai sasaran pengelolaan proyek selain
unsur biaya dan waktu. Dalam hubungan ini, suatu peralatan, material, dan cara
kerja dianggap memenuhi persyaratan mutu apabila dipenuhi semua persyaratan
yang ditentukan dalam kriteria dan spesifikasi. Dengan demikian, produk yang
dihasilkan, yang terdiri dari komponen peralatan dan material yang memenuhi
persyaratan mutu, diharapkan dapat berfungsi secara memuaskan selama kurun
waktu tertentu atau dengan kata lain siap untuk dipakai.
Langkah pertama untuk mengetahui mutu suatu obyek adalah
mengidentifikasi obyek, kemudian mengkaji sifat obyek tersebut agar memenuhi
ketentuan atau kesepakatan di awal. Kegiatan pengendalian mutu sifatnya
berkesinambungan dari awal sampai akhir proyek, sehingga subbidang
pengendalian mutu dapat mengikuti secara penuh perkembangan proyek dalam
aspek mutu produk atau instalasi maupun unit-unit bagian dari instalasi. Catatan
mengenai hasil pengamatan dan perbaikan akan merupakan data historis yang
sangat besar manfaatnya bagi kegiatan pemeliharaan dikemudian hari.


Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
29
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

4.4.1 Metode Pengendalian Mutu
Metode dalam pengendalian mutu tergantung pada jenis obyek dan
ketepatan yang diinginkan. Penerapan aplikasi dalam hubungannya dengan proyek
Perumahan Permata Sendang Mulyo adalah dengan menggunakan tiga metode,
antara lain:
1. pengujian awal material
Tahap awal metode ini dalam pengendalian mutu proyek Perumahan
Permata Sendang Mulyo, yaitu dengan melakukan uji kelayakan material EPS
yang akan diaplikasikan untuk material dinding bangunan. Pengujian dinding EPS
dilakukan di laboratorium fakultas teknik sipil Universitas Katolik Soegijapranata
Semarang. Benda uji berupa EPS yang sudah di rangkai dengan besi wiremess
berdiameter 4 mm, kemudian dilapisi campuran spesi setebal 3 cm pada kedua
sisinya. Pengujian dilakukan dengan percobaan untuk mengetahui intensitas beban
lentur dan intensitas beban tumpu. Pada percobaan intensitas beban lentur, didapat
rekomendasi beban layan pelat sebesar 150 kg/m
2
(untuk tebal 8,5 cm) dan 450
kg/m
2
(untuk tebal 11 cm). Pada percobaan intensitas beban tumpu dapat
disimpulkan:
a. pelat EPS memiliki kapasitas lentur sebesar 150 kg/m
2
(untuk tebal panel
8,5 cm) dan 450 kg/m
2
(untuk tebal panel 11 cm),
b. konstruksi dinding EPS dapat digunakan sebagai dinding struktur (bearing
wall) dengan kapasitas tumpu ultimit sebesar 2900 kg/m.
Berdasarkan hasil pengujian diatas, maka EPS layak dipergunakan sebagai
material bangunan khususnya material untuk dinding. EPS efektif digunakan
sebagai material dinding pada bangunan bertingkat karena dapat digunakan
sebagai dinding struktur.




Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
30
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Pengujian batu bata tidak dilakukan di laboratorium. Pengujian batu bata
dilakukan di lapangan dengan mengamati kelayakan struktur bata yang di
datangkan dari Penggaron. Bata yang memiliki karakteristik baik digunakan untuk
material pasangan dinding, sedangkan sisa bata lainnya digunakan untuk
pekerjaan pasangan non struktural seperti pagar. Ciri yang bisa diterapkan untuk
memilih bata berkualitas baik adalah:
a. ukuran bata normal,
b. tidak ditemukan retak pada tubuh bata,
c. memiliki warna yang baik dan tidak ditumbuhi lumut.
Lapisan spesi pada kedua dinding memiliki komposisi campuran yang
sama yaitu 1 semen berbanding 8 pasir. Perbedaan terletak pada tebal spesi yang
diberikan. Dinding bata menggunakan tebal spesi 2 cm, sedangkan untuk dinding
EPS menggunakan tebal spesi 3 cm. Lapisan spesi pada sudut-sudut bangunan
rumah EPS menggunakan komposisi campuran 1 semen berbanding 5 pasir.

2. pengawasan dalam tahap pelaksanaan proyek
Pada tahap ini dilakukan pengawasan terhadap kinerja para pekerja
(tukang) setiap harinya. Pengawasan dilakukan langsung oleh pelaksana dan
sesekali dibantu dari pihak owner. Setiap kemajuan dari item pekerjaan dicatat
untuk kemudian disusun sebagai laporan yang ditujukan kepada owner.

3. pengawasan pada hasil akhir proyek
Pengawasan pada tahap ini dilakukan ketika proyek telah selesai. Uji
hammer dicoba untuk mengetahui kelayakan dari kedua material dinding dari segi
kekuatan. Pengujian alat hammer dilakukan setiap satu minggu sekali, dimulai
pada tanggal 19, 26 Desember 2007, dan 2, 9, 16 J anuari 2008 atau tepatnya
sekitar dua bulan setelah kedua rumah selesai dikerjakan. Cara kerja pengujian
adalah setiap titik pada rumah dinding EPS maupun rumah dinding bata akan
ditembak dengan alat hammer sebanyak tiga kali. Hasil dari penembakan hammer,
kemudian akan dirata-rata sehingga didapat nilai uji hammer pada setiap
minggunya. Berikut ini adalah tabel penyajian data uji hammer:
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
31
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Tabel 4.2 Data Uji Hammer

No Tanggal Pengujian Rumah Dinding Bata Rumah Dinding EPS
3 hasil uji Rata-Rata 3 hasil uji Rata-Rata
1 19 Des 2007
25 kg/cm
2

27 kg/cm
2

25 kg/cm
2


25,66 kg/cm
2

6 kg/cm
2

10 kg/cm
2

9 kg/cm
2


8,33 kg/cm
2

2 26 Des 2007
26 kg/cm
2

24 kg/cm
2

19 kg/cm
2


23 kg/cm
2

7 kg/cm
2

14 kg/cm
2

6 kg/cm
2


9 kg/cm
2

3 2 J an 2007
23 kg/cm
2

24 kg/cm
2

13 kg/cm
2


20 kg/cm
2

13 kg/cm
2

5 kg/cm
2

14 kg/cm
2


10,7 kg/cm
2

4 9 J an 2007
18 kg/cm
2

15 kg/cm
2

23 kg/cm
2


18,67 kg/cm
2

11 kg/cm
2

9 kg/cm
2

5 kg/cm
2


8,33 kg/cm
2

(Sumber : Perumahan Permata Sendang Mulyo)

Setelah dilakukan empat kali, penembakan alat hammer pada dinding EPS
dan dinding bata tidak menunjukkan angka yang signifikan sehingga pengujian
hammer tidak bisa dilakukan pada kedua dinding.
Pengamatan yang dilakukan pada keseluruhan rumah sampai pada saat
karya tulis ini disusun atau tepatnya sampai pada tanggal 25 januari 2008 tidak
terdapat kerusakan apapun. Untuk mengamati ketahanan terhadap perubahan
cuaca pada dinding EPS, diperlukan pengujian lanjutan dalam kurun waktu yang
belum bisa ditentukan.

4.5 Waktu
Perencanaan waktu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pekerjaan
proyek. Tuntutan untuk mempercepat waktu pekerjaan dengan kualitas hasil
pekerjaan yang baik sangat mutlak dibutuhkan pada masa sekarang ini. Perencana
dituntut untuk dapat jeli dalam menentukan waktu dan biaya yang ekonomis. Hal
ini tidak berbeda dengan pembangunan Perumahan Permata Sendang Mulyo. Dari
data yang telah terkumpul, baik rumah berdinding EPS maupun batu bata
memiliki waktu pengerjaan yang relatif sama, karena memiliki luas dan type yang
sama yaitu type 36. Perbedaan waktu pengerjaan terletak pada pemasangan panel
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
32
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

dinding dan pondasi. Perbedaan waktu pemasangan antara dinding EPS dan batu
bata disebabkan karena EPS masih merupakan material yang jarang dipakai dalam
proyek pembangunan sehingga para pekerja (tukang) belum menguasai benar cara
pemasangan yang efektif terhadap waktu. Pekerjaan pondasi juga terdapat
perbedaan waktu, hal ini disebabkan karena perbedaan volume galian dan
pasangan pondasi. Rumah dinding EPS menggunakan pondasi tipe setempat.
Rumah dinding bata menggunakan pondasi tipe menerus sehingga volume galian
dan pekerjaan pasangan pondasinya cenderung lebih besar dan membutuhkan
waktu pengerjaannya yang lebih lama.
Kendala lain pengerjaan rumah berdinding EPS adalah tidak tersedianya
alat semprot (sprayer) campuran plesteran, sehingga waktu pengerjaan tidak
optimal.
Waktu pelaksanaan rumah dinding EPS selama 56 hari, sedangkan rumah
dinding bata memiliki waktu pelaksanaan selama 51 hari. Terdapat selisih waktu
yang kecil yaitu 6 hari. Penjelasan lebih lanjut, dapat dilihat dari gambar time
schedule rumah dinding EPS dan rumah dinding bata pada halaman lampiran.

4.6 Biaya
Perkiraan biaya memegang peranan penting dalam penyelenggaraan
proyek. Pada taraf pertama dipergunakan untuk mengetahui berapa besar biaya
untuk membangun proyek, selanjutnya memiliki fungsi dengan pengertian yang
sangat luas yaitu merencanakan dan mengendalikan sumber daya seperti material,
tenaga kerja, maupun waktu. Meskipun kegunaannya sama, namun untuk masing-
masing organisasi peserta proyek penekanannya berbeda-beda. Bagi pemilik,
angka yang menunjukkan jumlah perkiraan biaya akan menjadi salah satu patokan
untuk menentukan kelanjutan investasi. Untuk kontraktor, keuntungan finansial
yang diperoleh tergantung pada seberapa jauh kecakapannya didalam
merencanakan anggaran biaya. Sedangkan untuk konsultan, angka tersebut
diajukan kepada pemilik sebagai usulan jumlah biaya terbaik untuk berbagai
kegunaan sesuai perkembangan proyek dan kredibilitasnya terkait dengan
kebenaran atau ketepatan angka-angka yang diusulkan.
Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
33
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Pembangunan perumahan Permata Sendang Mulyo juga tidak lepas dari
perhitungan perkiraan anggaran proyek. Pembangunan 1 unit rumah type 36
berdinding batu bata diperkirakan menghabiskan dana sekitar 40 juta. Biaya
tersebut nantinya akan dilimpahkan ke dalam harga jual rumah tersebut.
Sedangkan pada pembangunan rumah contoh berdinding EPS type 36,
perhitungan perkiraan biaya yang dipakai berkisar antara 50 juta yang
pembiayaannya dibebankan kepada PT. SIP selaku pemilik proyek. Berbedaan
perkiraan biaya tersebut disebabkan karena perbedaan harga antara material batu
bata dan EPS yang terpaut jauh. Untuk batu bata, per meter persegi dihargai
Rp.30.000,00. Sedangkan untuk EPS, per meter perseginya dihargai
Rp.50.000,00. Harga tersebut belum termasuk tulangan wiremess yang digunakan
untuk penguat rangkaian dinding EPS. Sebagian besar produksi EPS dilakukan
dengan memanfaatkan BBM, sehingga harga EPS bergantung dengan harga
BBM. Ketika harga BBM naik, maka dapat dipastikan harga EPS juga ikut naik.
Data anggaran biaya yang digunakan untuk membandingkan antara
pembangunan rumah berdinding batu bata dan rumah berdinding EPS pada
penelitian ini adalah menggunakan rencana anggaran pelaksanaan (RAP). RAP
rumah dinding EPS dan rumah dinding bata dibuat oleh PT. Fasat Indonusa selaku
pemilik proyek. Unsur-unsur biaya yang terdapat didalam RAP pembangunan
rumah Permata Sendang Mulyo antara lain:
1. biaya pembelian material dan peralatan,
2. biaya pembelian peralatan kerja,
3. upah tenaga kerja,
Berikut ini merupakan data perhitungan (RAP) antara rumah type 36
dinding batu bata dan rumah type 36 dinding EPS:








Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
34
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Tabel 4.3 Rencana Anggaran Pelaksanaan Rumah Dinding EPS

RENCANA ANGGARAN PELAKSANAAN
PROYEK RUMAH TYPE 36 DINDING EPS
PT. FASAT INDONUSA
No. Uraian Pekerjaan Sat Volume Harga J umlah J umlah total
Satuan
I Persiapan ls 1,00 100.000 100.000 100.000
II Galian tanah untuk pondasi dan lain lain m3 2,02 10.000 20.160 20.160
III Pek. Pasangan :
a. Pasangan batu belah 1:8 m3 2,02 220.000 443.520
b. Pasangan dinding styrhofoam m2 195,00 77.500 15.112.500
15.556.020
IV Beton :
a. Sloof 12x10
- Besi Ø 10 mm( Ø 8,2mm) btg 22,00 35.000 770.000
- Besi Ø 6 mm- 20 cm( Ø 5,1 mm) btg 18,00 11.000 198.000
- Bekisting papan 1/20, 40 % lbr 54,00 2.400 129.600
- Beton 1 : 3 : 5 m3 0,65 300.000 195.000
upah pengerjaan m' 53,60 5.000 268.000
1.560.600
b. Kolom8x8
- Besi Ø 8 mm( Ø 7,3 mm) btg 28,00 24.000 672.000
- Besi Ø 6 mm- 15 cm( Ø 5,1 mm) btg 15,00 11.000 165.000
- Bekisting papan 1/20, 40 % lbr 70,00 2.400 168.000
- Beton 1 : 3 : 5 m3 0,45 300.000 135.000
upah pengerjaan m' 70,00 5.000 350.000
1.490.000
d. Ringbalk 6x8
- Besi Ø 8 mm( Ø 7,3 mm) btg 14,00 24.000 336.000
- Besi Ø 6 mm- 15 cm( Ø 5,1 mm) btg 7,00 11.000 77.000
- Bekisting papan 1/20, 40 % lbr 84,00 2.400 201.600
- Beton 1 : 3 : 5 m3 0,40 300.000 120.000
upah pengerjaan m' 84,00 5.000 420.000
1.154.600
4.205.200
V Kayu / kap & listplank
1. Rangka atap baja ringan
baja ringan m2 65,00 115.000 7.475.000
2. Dak beton Kanopi teras m2 3,75 120.000 450.000
3. List plank 2,5/20,4m' m' 20,00 20.000 400.000
8.325.000
Plafon dan Kosen
VI a. Plafon Gypsumboard rangka hollow 2/4 m2 50,00 65.000 3.250.000
b. Kosen :
Roster bh 19,00 11.000 209.000
Boven ; 1 bh m' 2,40 30.000 72.000
PJ 1 ; 1 bh m' 10,74 30.000 322.200
P1 ; 3 bh m' 14,46 30.000 433.800
J 1 ; 1 bh m' 6,58 30.000 197.400
J 2 ; 2 bh m' 8,00 30.000 240.000
Upah pengerjaan pasang kosen bh 8,00 12.500 100.000
4.824.400
VII Penutup atap
a. Gentheng beton m2 70,00 22.000 1.540.000
b. Genteng kerpos m' 8,00 35.000 280.000
c. Liaman atap 0
- pasangan dinding styrhofoam m2 3,90 77.500 302.250
- Plesteran acian t=3cm m2 15,27 17.500 267.225
- Sponengan m' 34,06 1.500 51.090
2.440.565

Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
35
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

VIII Plesteran dinding
a. Plesteran dan acian dinding t=3cm m2 370,00 17.500 6.475.000
b. Sponengan m' 180,00 1.500 270.000
c. Profilan motif kolom bh 2,00 12.500 25.000
d. Profilan dinding atas m' 5,00 6.000 30.000
6.800.000
IX Daun pintu, J endela, Kaca dll
a. Daun Pintu PJ 1 bh 1,00 300.000 300.000
b. Daun J endela PJ 1 bh 2,00 100.000 200.000
c. Daun Pintu P1 bh 3,00 235.000 705.000
d. Pintu PVC km bh 1,00 235.000 235.000
e. Daun J endela J 2 bh 4,00 100.000 400.000
f. Kaca BV bh 1,00 30.000 30.000
g. Engsel 4" set 5,00 9.500 47.500
h. Engsel 3" set 6,00 7.000 42.000
i. Hak angin 8" bh 12,00 4.000 48.000
j. Grendel jendela 2" bh 6,00 3.000 18.000
k. Handle J endela bh 6,00 3.000 18.000
l. Handle Pintu Utama bh 1,00 37.500 37.500
m. Handle Pintu Ruang tidur bh 3,00 35.000 105.000
n. Handle KM bh 1,00 17.500 17.500
g. Upah pengerjaan bh 12,00 20.000 240.000
2.443.500
X Pekerjaan Penutup Lantai dan dinding
a. Keramik lantai putih motif asia tile 30x30 m2 33,00 51.000 1.683.000
b. Keramik lantai wana gelap asia tile 30x30 m2 5,00 54.000 270.000
c. Keramik Lantai KM Mulia 20x20 m2 2,00 54.000 108.000
d. Keramik dinding Mulia 20x20 m2 8,25 47.000 387.750
e. Keramik bak mandi 20x20 mulia m2 4,00 47.000 188.000
f. Batu tempel andesit m2 12,50 140.000 1.750.000
4.386.750
XI Sanitasi
a. Saluran air bersih
Pipa pvc 3/4" induk m' 9,00 1.500 13.500
Pipa pvc 1/2" pembagi m' 1,00 2.250 2.250
Tee 3/4" ke 1/2" bh 1,00 1.500 1.500
Dop 3/4" bh 1,00 1.500 1.500
Kran 1/2" bh 1,00 8.000 8.000
Sok 3/4" bh 1,00 1.500 1.500
b. Instalasi air kotor
Pipa PVC 4" aw m' 18,00 15.000 270.000
Tee 4" d bh 2,00 10.500 21.000
Floor drain 4" bh 1,00 5.000 5.000
Avor bak 3/4" bh 2,00 2.000 4.000
c. Instalasi air Limbah
Pipa PVC 4" aw m' 7,00 15.000 105.000
Keni 4" bh 1,00 6.500 6.500
Klosed duduk semimonoblok bh 1,00 175.000 175.000
Buis beton Ø 1 m' bh 1,00 150.000 150.000
Tee 3" bh 1,00 5.000 5.000
Pipa pvc 3" m' 2,00 25.000 50.000
819.750
XII Pekerjaan listrik
Pemasangan Instalasi listrik titik 6,00 86.500 519.000
519.000
XIII Finishing cat m2 36,00 44.000 1.584.000
1.584.000
TOTAL 52.024.345

(Sumber : PT. Fasat Indonusa)



Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
36
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Tabel 4.4 Rencana Anggaran Pelaksanaan Rumah Dinding Bata

RENCANA ANGGARAN PELAKSANAAN
PROYEK RUMAH DINDING BATA TYPE 36
PT. FASAT INDONUSA
No. Uraian Pekerjaan Sat Volume Harga J umlah J umlah total
Satuan
I Persiapan ls 1,00 100.000 100.000 100.000
II Galian tanah untuk pondasi dan lain lain m3 19,50 10.000 195.000 195.000
III Pek. Pasangan :
a. Pasangan batu belah 1:8 m3 12,50 220.000 2.750.000
b. Pasangan dinding bata 1:8 m2 195,00 30.000 5.850.000
8.600.000
IV Beton :
a. Sloof 18x12
- Besi Ø 8 mm( Ø 7,3mm) btg 22,00 24.000 528.000
- Besi Ø 6 mm- 20 cm( Ø 5,1 mm) btg 18,00 11.000 198.000
- Bekisting papan 1/20, 40 % lbr 54,00 2.400 129.600
- Beton 1 : 3 : 5 m3 1,17 300.000 351.000
upah pengerajaan m' 53,60 5.000 268.000
1.474.600
b. Kolom12x12
- Besi Ø 8 mm( Ø 7,3 mm) btg 28,00 24.000 672.000
- Besi Ø 6 mm- 15 cm( Ø 5,1 mm) btg 15,00 11.000 165.000
- Bekisting papan 1/20, 40 % lbr 70,00 2.400 168.000
- Beton 1 : 3 : 5 m3 1,00 300.000 300.000
upah pengerajaan m' 70,00 5.000 350.000
1.655.000
d. Ringbalk 15x12
- Besi Ø 8 mm( Ø 7,3 mm) btg 14,00 24.000 336.000
- Besi Ø 6 mm- 15 cm( Ø 5,1 mm) btg 7,00 11.000 77.000
- Bekisting papan 1/20, 40 % lbr 84,00 2.400 201.600
- Beton 1 : 3 : 5 m3 1,50 300.000 450.000
upah pengerajaan m' 84,00 5.000 420.000
1.484.600 4.614.200
V Kayu / kap & listplank
1. Rangka atap ;
a. Balok 6/12, 2m' btg 32,00 19.440 622.080
b. Usuk 5/7, 2m' btg 72,00 7.000 504.000
c. Reng 3/5 btg 110,00 3.000 330.000
Upah pengerjaan m2 65,00 10.000 650.000
2. Dak beton Kanopi teras m3 0,60 1.350.000 810.000
3. List plank 2,5/20,4m' m' 20,00 20.000 400.000
3.316.080
VI Plafon dan Kosen
a. Plafon Gypsumboard rangka hollow 2/4 m2 15,00 65.000 975.000
b. Plafon Ternit monex rangka 4/6 1x1 m' m2 35,00 25.000 875.000
c. Kosen :
Roster bh 19,00 11.000 209.000
Boven ; 1 bh m' 2,40 30.000 72.000
PJ 1 ; 1 bh m' 10,74 30.000 322.200
P1 ; 3 bh m' 14,46 30.000 433.800
J 1 ; 1 bh m' 6,58 30.000 197.400
J 2 ; 2 bh m' 8,00 30.000 240.000
Upah pengerjaan pasang kosen bh 8,00 12.500 100.000
3.424.400
VII Penutup atap
a. Gentheng beton m2 70,00 22.000 1.540.000
b. Genteng kerpos m' 8,00 35.000 280.000
c. Liaman atap 0
- pasangan bata m2 3,90 30.000 117.000
- Plesteran acian t=2cm m2 15,27 15.000 229.050
- Sponengan m' 34,06 1.500 51.090
2.217.140

Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
37
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

VIII Plesteran dinding
a. Plesteran dan acian dinding t=2cm m2 340,00 15.000 5.100.000
b. Sponengan m' 180,00 1.500 270.000
c. Profilan motif kolom bh 2,00 12.500 25.000
d. Profilan dinding atas m' 5,00 6.000 30.000
5.425.000
IX Daun pintu, J endela, Kaca dll
a. Daun Pintu PJ 1 bh 1,00 300.000 300.000
b. Daun J endela PJ 1 bh 2,00 100.000 200.000
c. Daun Pintu P1 bh 3,00 235.000 705.000
d. Pintu PVC km bh 1,00 235.000 235.000
e. Daun J endela J 2 bh 4,00 100.000 400.000
f. Kaca BV bh 1,00 30.000 30.000
g. Engsel 4" set 5,00 9.500 47.500
h. Engsel 3" set 6,00 7.000 42.000
i. Hak angin 8" bh 12,00 4.000 48.000
j. Grendel jendela 2" bh 6,00 3.000 18.000
k. Handle J endela bh 6,00 3.000 18.000
l. Handle Pintu Utama bh 1,00 37.500 37.500
m. Handle Pintu Ruang tidur bh 3,00 35.000 105.000
n. Handle KM bh 1,00 17.500 17.500
g. Upah pengerjaan bh 12,00 20.000 240.000
2.443.500
X Pekerjaan Penutup Lantai dan dinding
a. Keramik lantai putih motif asia tile 30x30 m2 33,00 51.000 1.683.000
b. Keramik lantai wana gelap asia tile 30x30 m2 5,00 54.000 270.000
c. Keramik Lantai KM Mulia 20x20 m2 2,00 54.000 108.000
d. Keramik dinding Mulia 20x20 m2 8,25 47.000 387.750
e. Keramik bak mandi 20x20 mulia m2 4,00 47.000 188.000
f. Batu tempel andesit m2 12,50 140.000 1.750.000
4.386.750
XI Sanitasi
a. Saluran air bersih
Pipa pvc 3/4" induk m' 9,00 1.500 13.500
Pipa pvc 1/2" pembagi m' 1,00 2.250 2.250
Tee 3/4" ke 1/2" bh 1,00 1.500 1.500
Dop 3/4" bh 1,00 1.500 1.500
Kran 1/2" bh 1,00 8.000 8.000
Sok 3/4" bh 1,00 1.500 1.500
b. Instalasi air kotor
Pipa PVC 4" aw m' 18,00 15.000 270.000
Tee 4" d bh 2,00 10.500 21.000
Floor drain 4" bh 1,00 5.000 5.000
Avor bak 3/4" bh 2,00 2.000 4.000
c. Instalasi air Limbah
Pipa PVC 4" aw m' 7,00 15.000 105.000
Keni 4" bh 1,00 6.500 6.500
Klosed duduk semimonoblok bh 1,00 175.000 175.000
Buis beton Ø 1 m' bh 1,00 150.000 150.000
Tee 3" bh 1,00 5.000 5.000
Pipa pvc 3" m' 2,00 25.000 50.000
819.750
XII Pekerjaan listrik
Pemasangan Instalasi listrik titik 6,00 86.500 519.000
519.000
XII Finishing cat m2 36,00 44.000 1.584.000
1.584.000
TOTAL 37.644.820

(Sumber : PT. Fasat Indonusa)



Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
38
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

Berdasarkan data RAP antara rumah dinding batu bata dengan rumah dinding EPS
diatas, dapat disimpulkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan
rumah berdinding EPS lebih mahal daripada pembangunan rumah dinding bata.
Biaya keseluruhan RAP rumah dinding EPS sebesar Rp. 52.024.345,00,
sedangkan RAP untuk rumah dinding bata sebesar Rp. 37.644.820,00. Terdapat
selisih biaya pembangunan sebesar Rp. 14.379.525,00. Selisih biaya tersebut
banyak dipengaruhi oleh perbedaan harga material EPS dengan material bata.
Material EPS memiliki harga satuan per m
2
sebesar Rp. 77.500,00 ( sudah
termasuk harga wiremess per m
2
dan biaya pasang ), sedangkan material bata
memiliki harga satuan per m
2
sebesar Rp. 30.000,00 ( sudah termasuk biaya
pasang ).
Berikut ini adalah rekapitulasi RAP kedua rumah yang dibuat dalam
bentuk grafik:
Tabel 4.5 Rekapitulasi Anggaran dan Biaya Rumah Dinding EPS
dan Dinding Bata
REKAPITULASI ANGGARAN DAN BIAYA
PROYEK RUMAH DINDING EPS DAN BATA TYPE 36
PT. FASAT INDONUSA
No. Uraian Pekerjaan Rumah Dinding EPS Rumah Dinding Bata
I Persiapan 100.000 100.000
II Galian tanah untuk pondasi dan lain lain 20.160 195.000
III Pek. Pasangan : 15.556.020 8.600.000
IV Beton : 4.205.200 4.614.200
V Kayu / kap & listplank 8.325.000 3.316.080
VI Plafon dan Pintu 4.824.400 3.424.400
VII Penutup atap 2.440.565 2.217.140
VIII Plesteran dinding 6.800.000 5.425.000
IX Daun pintu, J endela, Kaca dll 2.443.500 2.443.500
X Pekerjaan Penutup Lantai dan dinding 4.386.750 4.386.750
XI Sanitasi 819.750 819.750
XII Pekerjaan listrik 519.000 519.000
XIII Finishing cat 1.584.000 1.584.000
Total 52.024.345 37.644.820

(Sumber : PT Fasat Indonusa)

Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
39
Bab IV – Analisa Data
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

0
2.000.000
4.000.000
6.000.000
8.000.000
10.000.000
12.000.000
14.000.000
16.000.000
18.000.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Satuan Pekerjaan
J
u
m
l
a
h

H
a
r
g
a

S
a
t
u
a
n

P
e
k
e
r
j
a
a
n
Grafik Rekapitulasi Biaya Rumah Dinding EPS Grafik Rekapitulasi Biaya Rumah Dinding Bata

Gambar 4.2 Grafik Rekapitulasi Anggaran dan Biaya Rumah Dinding EPS
dan Rumah Dinding Bata
(Sumber : PT. Fasat Indonusa)

Berdasarkan gambar tabel diatas, dapat dilihat bahwa perbedaan harga
yang paling mendasar adalah pada pekerjaan pasangan. Pada pekerjaan pasangan
dinding EPS membutuhkan perkiraan biaya sebesar Rp. 15.556.020,00, sedangkan
pada pekerjaan pasangan dinding bata membutuhkan perkiraan biaya sebesar
Rp. 8.600.000,00. Terdapat perbedaan harga pekerjaan kap dan lisplank pada
kedua rumah. Perbedaan harga tersebut tidak bisa dijadikan pertimbangan, karena
kedua pekerjaan tersebut menggunakan material yang berbeda. Pekerjaan kap dan
lisplank pada rumah dinding EPS menggunakan material baja ringan, sedangkan
pada rumah dinding bata menggunakan material kayu. Terdapat harga pekerjaan
pada rumah dinding bata yang melampaui harga pekerjaan rumah dinding EPS,
yaitu pada pekerjaan pasangan beton. Perbedaan harga antara dua pekerjaan
tersebut sebesar Rp. 409.000,00.
Perpustakaan Unika
Bab V – Penutup
Insan Kurniawan 03.12.0030
Hartanto Wahyu S 03.12.0059
40

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data antara rumah type 36 dinding EPS dan
rumah type 36 dinding bata, maka dapat diambil beberapa kesimpulan ditinjau
dari segi biaya, waktu, dan mutu:
1. pembangunan rumah type 36 dinding bata membutuhkan biaya yang lebih
rendah dari pada pembangunan rumah type 36 dinding EPS. Terdapat
perbedaan biaya pembangunan sebesar Rp. 14.379.525,00. Perbedaan
biaya yang besar tersebut lebih dipengaruhi oleh harga EPS yang lebih
mahal dari pada harga bata,
2. pembangunan rumah type 36 dinding bata membutuhkan waktu
pengerjaan yang lebih cepat dari pada pembangunan rumah type 36
dinding EPS. Rumah dinding EPS membutuhkan waktu pengerjaan selama
56 hari, sedangkan pembangunan rumah dinding bata membutuhkan
waktu pengerjaan selama 51 hari. Terdapat selisih 5 hari dalam waktu
pengerjaan. Selisih waktu 5 hari relatif kecil, tetapi pada pembangunan
rumah dinding EPS lebih banyak melibatkan tenaga kerja dibandingkan
dengan pembangunan rumah dinding bata sehingga berpengaruh terhadap
biaya. Faktor yang mempengaruhi perbedaan lama pengerjaan antara lain:
a. tidak tersedianya alat semprot adukan spesi (sprayer) pada
dingding EPS,
b. kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja dalam
mengaplikasikan EPS sebagai material dinding, terutama pada
tahap pemasangan dan pekerjaan plesteran.


Perpustakaan Unika



Laporan Tugas Akhir
41
Bab V – Penutup
Insan Kurniawan 03.12.0030
HartantoWahyu S 03.12.0059

3. berdasarkan hasil penelitian pada awal proyek, dinding EPS memiliki kuat
lentur dan kuat tumpu yang lebih baik dibandingkan dengan dinding batu
bata. Dinding bata memiliki ketahanan terhadap pergantian cuaca,
sedangkan ketahanan terhadap cuaca pada dinding EPS belum diketahui
sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut.

5.2 Saran

1. penggunaan material EPS lebih efektif apabila dipergunakan sebagai
material bangunan bertingkat. Material EPS dapat digunakan sebagai
dinding konstruksi (bearing wall) dan plat lantai sehingga dapat
mengurangi dimensi balok dan kolom suatu bangunan bertingkat,
2. perlu disediakan alat semprot campuran spesi (sprayer) untuk pelaksanaan
pekerjaan pasangan dinding EPS sehingga dapat maksimal terutama dari
segi mutu dan waktu pelaksanaan pekerjaan,
3. perlunya ketepatan dalam pemilihan tenaga terlatih sehingga pekerjaan
pasangan dinding EPS dapat berjalan secara efektif dan efisian.



Perpustakaan Unika
x
DAFTAR PUSTAKA

Dipohusodo I., (1996), Manajemen Proyek dan Konstruksi Jilid I dan II, Kanisius
(Anggota IKAPI), Yogyakarta.

Barrie S.D., (1987), Manajemen Konstruksi Profesional, Erlangga, J akarta

Ibrahim B., (1993), Estimate Real of Cost, Bumi Aksara , J akarta

Setiawan A., (2007), Kemajuan Terkini Penelitian Klaster Sains dan Teknologi,
Semarang

Soeharto I., (1990), Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional,
Erlangga, J akarta.

Soeharto I., (1995), Studi Kelayakan Proyek Industri, Erlangga, J akarta.

Soeharto I., (1997), Manajemen Proyek, Erlangga, J akarta.

Soeharto I., (2002), Studi Kelayakan Proyek Industri, Erlangga, J akarta.







Perpustakaan Unika
Lampiran 3


Pemasangan EPS sebagai material dinding



Pemasangan EPS untuk dinding bagian atas


Perpustakaan Unika

















Gambar pembangunan rumah dinding bata





Uji hammer


Perpustakaan Unika


Hasil jadi rumah dinding EPS





Hasil jadi rumah dinding bata
Perpustakaan Unika
Lampiran 4 Uji Kuat Tekan Bata


Uji kuat tekan bata

Empat contoh bata yang diambil dari Perumahan Permata Sendang Mulyo diuji
kuat tekannya. Ukuran bata yang digunakan memiliki dimensi panjang 210 mm,
lebar 100 mm, dan tebal 40 mm.

Tabel Hasil Uji Kuat Tekan Bata


No

Benda Uji

Berat Bata

Hasil Uji Kuat Tekan Bata
1 Bata 1 1,25 kg
201 kg/cm
2

2 Bata 2 1,22 kg
196 kg/cm
2

3 Bata 3 1,37 kg
205 kg/cm
2

4 Bata 4 1,20 kg
202 kg/cm
2

(Sumber : Laboratorium Teknik Sipil UNIKA)

Berdasarkan pedoman dari Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia
(PUBI-1982), hasil uji kuat tekan bata diatas dapat disimpulkan bahwa material
bata yang dipakai sebagai material dinding pada Perumahan Permata Sendang
Mulyo adalah bata kelas 200 dengan kekuatan tekan sebesar 200 kg/cm
2
.
Perpustakaan Unika