POTENSI DAN PENGEMBANGAN WILAYAH

KABUPATEN KOTABARU, KALIMANTAN SELATAN

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Geografi Pengembangan Wilayah
Yang Dibimbing oleh Ibu Sumarmi

Disusun Oleh:
Wahyu Wardani
106351400649

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
Maret 2008
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya
perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat
komperhensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, dan budaya (Misra R.P,
Regional Development ,1982). Pada dasarnya pendekatan pengembangan wilayah
ini digunakan untuk lebih mengefisiensikan pembangunan dan konsepsi ini tersus
berkembang disesuaikan dengan tuntutan waktu, teknologi dan kondisi wilayahnya.
Banyak cara untuk mengembangkan wilayah mulai dari penggunaan konsep
(alat) pembangunan sektoral, bassic need approach , development poles (poles
de croissance) yang digagas oleh F. Perroux (1955), growth center yang digagas
oleh Friedman (1969) sampai kepada pengaturan ruang secara terpadu melalui
proses pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) secara sinergi dengan
pengembangan sumberdaya manusia dan lingkungan hidup untuk mencapai
pembangunan yang berkelanjutan. Yang terkahir inilah yang disebut dengan
penataan ruang dan sesuai Undang Undang (UU) No.24/1992 tentang penataan
ruang.
Di Indonesia, dengan keluarnya undang undang ini maka pengembangan
wilayah dilaksanakan melalui alat penataan ruang. Ruang adalah wadah berbagai
kegiatan sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan, dan
mencakup ruang daratan, lautan, dam udara beserta sumber daya alam yang
terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta mahluk
hidup lainnya. Sedangkan Penataan Ruang (UU No. 24/92, pasal 1) mencakup
proses : (1) Penyusunan rencana tata ruang, (2) pemanfaatan ruang yaitu kegiatan
pelaksanaan pembangunan melalui serangkaian penyusunan program pembangunan,
dan (3) pengendalian pemanfaatan ruang yaitu kegiatan pengawasan dan penertiban
pelaksanaan pembangunan (termasuk didalamnya pemberian ijin lokasi dan
investasi) agar sesuai dengan rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang sendiri
adalah produk pengaturan Struktur dan Pola pemanfatan ruang. Struktur mengatur
sistem pusat-pusat kegiatan beserta jaringan prasarana secara hirarkhis, dan pola
pemanfaatan ruang adalah mengatur wilayah dengan satuan-satuan (deliniasi ruang)
yang fungsional sesuai dengan tujuan rencana dan sesuai dengan kondisi daya
dukung dan daya tampung sumber dayanya.
Kabupaten Kotabaru merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang
memiliki potensi alam yang sangat tinggi baik dari segi tambang, pariwisata, hutan,
maupun kekayaan alam lainnya. Oleh karena itu perlu sekali dilakukan pengelolan
yang maksimal agar hasil dari sumber daya yang ada pun dapat dimaksimal. Agar
pengelolaan sumber daya yang ada di Kabupaten Kotabaru dapat maksimal, maka
perlu sekali dilakukan penataaan ruang yang baik berdasarkan potensi wilayahnya.
Dengan adanya penataan ruang baik maka diharapkan hasil dari potensi wilayah
yang adapun dapat maksimal yang sangat berperan penting dalam pengembangan
wilayah.
Walaupun Pemerintah Kabupaten Kotabaru telah memiliki sistem penataan
ruang sendiri namun dalam pelaksanaannya masih kurang maksimal sehingga perlu
sekali didakan evaluasi terhadap penataan ruang yang merupkan aspek penting
dalam pengembangan wilayah di Kabupaten Kotabaru. Oleh karena itu dengan
adanya makalah ini dapat memberikan masukan kepada pihak-pihak terkait
khusunya Pemerintah Kabupaten Kotabaru.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah letak dan kondisi geografis Kabupaten Kotabaru?
2. Bagaimanakan potensi dan pengembangan wilayah di Kabupaten Kotabaru?
3. Apa saja masalah yang terdapat dalam pengembangan wilayah Kabupaten
Kotabaru dan bagaimana solusinya?
C. Tujuan
1. Mengetahui letak dan kondisi geografis Kabupaten Kotabaru.
2. Mengetahui potensi dan pengembangan wilayah yang ada di Kabupaten
Kotabaru.
3. Mampu mengidentifikasi masalah yang terdapat dalam pengembangan
wilayah Kabupaten Kotabaru dan memberikan solusi terhadap masalah
tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Wilayah
1. Letak Geografis
Kabupaten Kotabaru adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi
Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Kotabaru.
Kabupaten ini memiliki luas wilayah 13.044,5 km² dan berpenduduk sebanyak
256.302 jiwa (BPS 2004) dengan nelayan laut sebanyak 15.961 jiwa. Motto: "Sa-
ijaan" (bahasa Banjar).Letak Kotabaru pada 01°21'49" sampai dengan 04°10'14"
Lintang Selatan dan 114°19'13" sampai dengan 116°33'28" Bujur Timur, terletak
tepat pada posisi tengah/poros (Barat-Timur dan Utara-Selatan) Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Dalam konteks regional, Nasional dan Internasional. Kotabaru memiliki
keunggulan kompetitif karena posisi yang strategis yaitu berada pada pusat
persilangan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan potensial menjadi alternatif
gerbang transit paling efesien dalam lalu lintas pelayaran internasional di Asia
Fasifik. Posisi strategis ini juga didukung pada bagian selatan Kabupaten Kotabaru
terdapat Laut Jawa yang merupakan lalu lintas perairan antara Barat dan Timur
Indonesia dan pada bagian Timur terdapat Selat Makasar yang merupakan jalur ke
wilayah Utara menuju ke Negara tetangga antara lain Malaysia, Brunai, Filipina
maupun Korea dan Jepang.
Iklim Kabupaten Kotabaru dipengaruhi oleh dua musim, yakni musim
kemarau dengan suhu udara maksimum rata-rata 30,5-32,9 derajat Celcius dan
intensitas penyinaran matahari rata-rata 33 - 84 % dan musim hujan dengan suhu
udara minimum rata-rata 22,7-24,7 derajat Celcius dan kelembaban nisbi 78 88 %.
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson, rata-rata curah hujan berkisar 0,9-
13,5 mm dengan jumlah hari hujan berkisar 5 28 hari.

2. Luas Wilayah
Luas Kabupaten Kotabaru adalah 9.422,46 km2 terletak di sebelah tenggara
Ibukota Propinsi Kalimantan Selatan, dan merupakan wilayah kabupaten yang
memiliki lahan terluas dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Propinsi
Kalimantan Selatan (25,21 % Kalimantan Selatan). Sebagian wilayahnya terdiri dari
beberapa pulau dan sebagian lagi wilayah daratan yang terletak di Pulau Kalimantan.
Ibukota Kabupaten Kotabaru terletak di Pulau Laut dengan Ibukota Kotabaru.
Secara administratif, Kabupaten Kotabaru mempunyai 18 Kecamatan dan
tahun 2006 dimekarkan menjadi 20 Kecamatan yang tersebar dalam bentuk pulau-
pulau (Lihat gambar 1) dan 195 kelurahan/desa. dengan batas-batas administrasi
sebagai berikut:
Utara : Kabupaten Pasir (Tanah Grogot), Kalimantan Timur
Selatan : Kabupaten Tanah Bumbu dan Laut Jawa
Barat : Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan
Banjar dan Tanah Laut
Timur : Selat Makassar
Wilayah Kabupaten Kotabaru terdiri dari 45 pulau besar dan kecil, yang
terbesar adalah Pulau Laut, dan diantaranya ada beberapa pulau yang dapat
dikategorikan sebagai pulau besar yaitu Pulau Sebuku, Pulau Kunyit, Pulau Sewangi.
Gambar 1. Peta Persebaran Wilayah Administratif Kab. Kotabaru
Keterangan Nama-Nama Kecamatan :
1. Kecamatan Pamukan Selatan 11. Kecamatan Kelumpang Selatan
2. Kecamatan Pamukan Utara 12. Kecamatan Kelumpang Hilir
3. Kecamatan Pamukan Barat 13. Kecamatan Pulau Laut Utara
4. Kecamatan Sungai Durian 14. Kecamatan Pulau Laut Tengah
5. Kecamatan Kelumpang Barat 15. Kecamatan Pulau Laut Timur
6. Kecamatan Sampanahan 16. Kecamatan Pulau Sebuku
7. Kecamatan Kelumpang Utara 17. Kecamatan Pulau Laut Barat
8. Kecamatan Kelumpang Tengah 18. Kecamatan Pulau Laut Selatan
9. Kecamatan Kelumpang Hulu 19. Kecamatan Pulau Laut Kepulauan
10. Kecamatan Hampang 20. Kecamatan Pulau Sembilan

Topografi wilayah Kabupaten Kotabaru beragam, mulai dari datar,
bergelombang sampai berbukit. Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut, 92,38%
wilayah terletak pada ketinggian antara 0 125 m yang digunakan untuk kegiatan
budidaya (perikanan, pertanian, perkebunan dan kehutanan) dan 7,62 % sebagai
kawasan lindung. Berdasarkan kelerengannya, 76,38 % wilayah terletak pada
kelerengan 0 15 %, 17,66 % wilayah pada kelerengan 15 40 % dan 5,96% pada
kelerengan lebih dari 40 %.
Berdasarkan RTRW Kabupaten Kotabaru ( Perda nomor 2 tahun 2002 ) dari
luasan wilayah 942.246 Ha, penggunaan lahan di Kabupaten Kotabaru
dikelompokkan untuk kampung/pemukiman (9.679 Ha),Industri dan pertambangan
(15.859 Ha),pertanian (10.583 Ha),Kebun/perkebunan (165.228 Ha), semak,
alangalang, rumput (318.956 Ha). Hutan (409.689 Ha), perairan darat dan lain-lain
(12.250 Ha).

3. Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten kotabaru pada tahun 2004 berdasarkan data dari
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotabaru berjumlah 256.302 jiwa dengan
pertumbuhan sebesar 2,4 % pertahun, sebagian besar tersebar di wilayah Kecamatan
Pulau Laut Utara berjumlah 71.077 jiwa dan sebaran terkecil di wilayah kecamatan
Kelumpang Barat berjumlah 4.461 jiwa. Keadaan penduduk di Kabupaten Kotabaru
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1. Keadaan penduduk di Kabupaten Kotabaru
Banyaknya
No. Kecamatan Luas (Km2) Desa/ Rumah
Penduduk
Kelurahan Tangga
1. Pulau Sembilan 4,76 5 1.161 5.570
2. Pulau Laut Barat 398,82 21 4.071 17.722
3. Pulau Laut Selatan 485,19 15 3.748 17.282
4. Pulau Laut Timur 642,81 14 3.138 13.065
5. Pulau Sebuku 225,50 8 1.536 6.288
6. Pulau Laut Utara 159,30 21 16.237 71.077
7. Pulau Laut Tengah 337,64 7 1.950 8.123
8. Kelp. Selatan 279,66 9 2.399 8.818
9. Kelp. Hilir 281,20 8 3.985 15.055
10. Kelp. Hulu 553,44 10 3.185 12.050
11. Kelp. Barat 589,15 6 1.111 4.461
12. Hampang 1.684,64 7 1.980 8.560
13. Sungai Durian 1.042,38 7 2.001 7.436
14. Kelp. Selatan 349,29 12 2.971 11.634
15. Kelp. Selatan 279,45 7 1.401 5.825
16. Pamukan Selatan 391,87 11 3.290 13.042
17. Sampanahan 488,89 10 2.254 9.049
18. Pamukan Utara 1.228,47 17 5.976 21.245
KOTABARU 9.422,46 195 62.394 256.302
Sumber : Kotabaru dalam Angka, BPS 2004

4. Potensi Kabupaten Kotabaru
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotabaru mengalami peningkatan yang
berarti, dilihat dari PDRB dari tahun 2000 2004 yang mencapai 9,13 % per tahun.
Keadaan ini diprediksikan makin terus meningkat sejalan dengan meningkatnya
jumlah investasi yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Kotabaru. Struktur
ekonomi Kabupaten Kotabaru pada akhir tahun 2004 berdasarkan harga berlaku dari
PDRB sejumlah Rp. 3.765.772 juta adalah pertanian (38,42 %), pertambangan dan
penggalian (15,37%), industri pengolahan (9,01%), listrik,gas dan air minum
(0,23%), bangunan (4,31%), perdagangan,restoran dan hotel (15,30%),
pengangkutan dan komunikasi (11,59%), keuangan (1,07%) dan jasa (4,71%).
Membaiknya ekonomi kabupaten Kotabaru terlihat dari makin tumbuhnya
jasa perdagangan, khususnya perdagangan luar negeri (ekspor). Nilai devisa dari
ekspor komoditi (udang beku, ikan beku,hasil hutan kayu, batubara,clinker dan lain-
lain) mencapai US $ 480.019.517,86 (tahun 2003). Nilai ekspor ini akan terus
meningkat sejalan dengan meningkatnya komoditi ekspor di kabupaten Kotabaru,
baik yang telah ada maupun pengembangan komoditi olahan lainnya di sektor
kelautan, kehutanan, perkebunan dan pertambangan.
Namun sejak beberapa kecamatan, yaitu 5 (lima) kecamatan yang meliputi
Kecamatan Satui, Kecamatan Kusan Hulu, Kecamatan Kusan Hilir, Kecamatan
Sungai Loban dan Batu Licin di Kabupaten Kotabaru berdiri sendiri sebagai
Kabupaten Tanah Bumbu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kotabaru pada tahun
2005 turun sebesar 5.09% dengan nilai PDRB Kabupaten Kotabaru berdasarkan atas
harga yang berlaku pada tahun 2005 mencapai 3.846,04 Milyar Rupiah, sedangkan
PDRB atas dasar harga konstan mencapai 2.848,76 Milyar Rupiah. Sedangkan rata-
rata pertumbuhan ekonomi tahun 2001-2005 jika dengan pertambangan adalah
sebesar 5,69% per tahun dan sebesar 5,09% per tahun tanpa pertambangan. Tetapi
PDRB Kabupaten Kotabaru masih menempati urutan ke dua terbesar setelah Kota
Banjarmasin dengan menyumbang 17,75% terhadap total PDRB Propinsi
Kalimantan Selatan.
4.1. Sumber Daya Manusia (SDM)
Jumlah penduduk Kabupaten Kotabaru Tahun 2004 tercatat sebanyak
256.302 orang. Dengan pertumbuhan sekitar 2,4 % pertahun, maka prediksi jumlah
penduduk Kabupaten Kotabaru pada tahun 2007 sekitar 275.00 orang dan pada tahun
2010 diperkirakan mencapai 295.000 orang.
Tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Kotabaru kendatipun relative masih
rendah, namun Pemerintah Kabupaten kotabaru terus berupaya untuk meningkatkan
mutu pendidikan, antara lain dengan meningkatkan berbagai fasilitas pendidikan
yakni melakukan rehabilitasi gedung-gedung sekolah dasar dan sekolah menengah
dan untuk pemerataan kesempatan belajar dibangun gedung-gedung baru dibeberapa
tempat. Saat ini telah dilakukan pembebasan pungutan SPP terhadap murid SD dan
SLTP yang secara bertahap akan dilakukan sampai dengan tingkat SLTA.
Perkembangan kesehatan masyarakat di Kabupaten Kotabaru cukup baik, hal
ini ditunjang dengan banyaknya sarana atau fasilitas yang disediakan oleh
Pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Pembangunan bidang agama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
upaya untuk meletakkan landasan moral, etik dan spiritual yang kokoh dalam rangka
membangun SDM yang religius. Dalam bentuk fisik, pembangunan bidang agama
mengacu pada tersedianya bantuan untuk pembangunan atau rehabilitasi tempat
peribadatan, penyediaan kitab suci, rehabilitasi balai siding pengadilan agama,
rehabilitasi kantor-kantor agama, dan lain sebagainya. Kabupaten Kotabaru memiliki
penduduk yang mayoritas beragama Islam yakni 95,72 %, Protestan 2,44 %, Katolik
0,82 %, Hindu 0,68 % dan Budha 0,53 %. Dengan jumlah tempat ibadah 429 mesjid,
683 mushola, 6 gereja katolik, 24 gereja protestan, 41 pura dan 1 vihara.
4.2. Sumber Daya Alam
a. Sumber Daya Hutan dan Perkebunan
Total luas tata guna hutan Kabupaten Kotabaru adalah 450.679.952 Hektar,
sebagian besar yaitu 250.577.716 Hektar digunakan sebagai lahan Hutan Produksi
Tetap (HPT) yang digunakan untuk pengusahaan hutan alam dan hutan tanaman
terealisir 119.451,18 Hektar. Di bidang perkebunan lahan untuk 20 investor telah
dicadangkan seluas 132.886,75 Hektar, dan baru 17 investor yang telah merealisir
perkebunannya dengan luas 102.206 Hektar. Produksi kayu bulat terbesar adalah
jenis akasia yaitu sebesar 143 ribu Meter Kubik dan kayu sengon sebesar 93 ribu
Meter Kubik. Total produksi kayu olahan adalah sekitar 86 ribu Meter Kubik dengan
produksi terbesar olahan kayu gergaji sebesar 52 ribu Meter Kubik. tanaman
perkebunan terutam,a kelapa sawit dan karet dikelola oleh perusahaan besar maupun
perkebunan rakyat dan PTP. Luas tanaman perkebunan tanaman kelapa sawit yang
dikelola oleh perkebunan rakyat adalah sebesar 10 ribu Hektar dengan hasil produksi
sekitar 11 ribu Ton buah kelapa sawit. sedangkan hasil produksi buah kelapa sawit
yang dikelola oleh perusahaan adalah 794 ribu Ton.
b. Sumber Daya Pertanian dan Peternakan
Beberapa sentra pengembangan tanaman pangan (padi dan palawija) dan
pisang terdapat di beberapa kecamatan dengan potensi lahan yang relative luas yang
saat ini baru dimanfaatkan 10.592 Ha. Saat ini sedang dipersiapkan lahan seluas
10.000 Ha untuk mendukung program ketahanan pangan. Demikian pula potensi
peternakan cukup besar, baik untuk peternakan sapi/kerbau maupun unggas dengan
ketersediaan lahan yang relatif luas.
Luas areal panen padi di Kabupaten Kotabaru tahun 2005 adalah 17.105
hektar dengan produktivitas sebesar 3,65 Ton per Hektar, yang dikembangkan di
kecamatan Pulau Laut Timur dan Kecamatan Kelumpang Utara. Disamping hasil
pertanian berupa padi, tanaman pangan lain yang banyak dihasilkan adalah ketela
pohon dengan produksi sebesar 37.369 Ton. Luas tanaman sayur-sayuran adalah
sekitar 1.300 Hektar dengan hesilproduksi 4.380 Ton dan produktivitassebesar 3,37
Ton per Hektar.
Sektor peternakan di Kabupaten Kotabaru memiliki populasi ternak sapi
sebesar lebih kurang 7.000 ekor, kerbau 15.000 ekor Kambing 1.4000 ekor, ayam ras
dan itik lebih kurang 2,2 juta ekor.
c. Sumber Daya Kelautan atau Perikanan
Di bidang kelautan atau perikanan, luas laut 38.490 km², pantai sepanjang
825 km yang digunakan untuk perikanan laut,umum, kolam dan budidaya air payau
(tambak), termasuk juga budidaya rumput laut. Beberapa komoditi ekspor yang
dihasilkan adalah udang, ikan tuna, ikan tongkol, ikan cakalang dan lainnya sebesar
66.340 ton/tahun. Disamping itu potensi kelautan diperkaya dengan pulau-pulau
kecil atau sedang berjumlah 94 pulau yang kaya akan potensi laut (terumbu karang,
kerang mutiara dan lain-lain).
Potensi lestari ikan di Kabupaten Kotabaru mencapai 98 Ton/Tahun, selain
itu potensi ikan kerapu mencapai 10,2 Ton/Tahun, udang 15 Ton/Tahun, kepiting
dan rajungan 220 Ton/Tahun, ikan bawal 93 Ton/Tahun, ikan asin 220,5 Ton/Tahun,
lobster 96 Ton/Tahun, dan rumput laut 447 Ton/Tahun serta terdapat juga potensi
karang laut. Rumah tangga perikanan laut tercatat sbanyak 4.149 rumah tangga
dengan perahu motor berjumlah 3.341 unit. Sedangkan jumlah rumah tangga
perikanan darat, tambak dan kolam sebanyak 1.411 rumah tangga dengan perahu
jenis jukung sebanyak 251 buah.
d. Sumber Daya Mineral
Kabupaten Kotabaru memiliki potensi pertambangan yang besar yaitu
Batubara 2.820,5 juta ton, Nikel 42.534 juta ton, Migas 179,89 juta barel
(terindikasi), Emas 8.785.118,84 gram, Biji besi 86.120.700 ton, Batu gamping 855
juta ton, Marmer 23.930.000 ton, Kalsidon 3.112.600 m3, Fosfat 4.125 ton, Pasir
kuarsa 112.500 ton, Peridotite 7.993.000 ton, Batu andesit 316.500.000 ton, Batu
lempung 577 juta ton, Kaolin 200.000 m3, lain-lain seperti Chorimite, Tanah laterir,
Tanah liat dan Tanah uruk. Sebagian potensi tambang yang terdapat di Kabupaten
Kotabaru sudah dieksploitasi, seperti Batubara, Kapur, Emas dan biji besi sehingga
menghasilkan devisa yang cukup besar.
Investasi besar di sektor pertambangan yang telah ada adalah PT. Arutmin
Indonesia, PT. Bahari Cakrawala Sebuku, PT. Sebuku Iron Lateric Ores, PT.
Indocement Prakasa di Tarjun Kecamatan Kelumpang Hilir. Disektor industri agraris
berdiri pula perusahaan pembuat veneer beserta pembibitan albasia yaitu PT. Induk
Albasia Makmur di Kecamatan Pulau Laut Barat, perkebunan kelapasawit dan
industri pembuatan CPO oleh perusahaan besar seperti Minamas Group, Smart
Group dan PT. SKIP. Dalam bidang industri perkebunan luas lahan yang sangat
besar di Kabupaten Kotabaru sebesar 642 ribu Hektar, sebagai pendukung produksi
perusahaan-perusahaan yang akan beroperasi telah merealisasikan usahanya yang
akan mencapai 120 ribu Hektar lahan perkebunan dan pabrik.
e. Sumberdaya Air
· Air Hujan
Curah hujan tertinggi adalah Nopember- April, sedangkan bulan-bulan
dengan curah hujan rendah adalah Mei Oktober. Kelem-baban udara berkisar
antara 78 88 %. Kelembaban terendah terjadi pada bulan Agustus dan tertinggi
pada bulan Januari. Temperatur rata-rata tertingg 32,9 ° C dan terendah 22,7°C.
· Air Permukaan
Di Kabupaten Kotabaru banyak mengalir sungai-sungai besar dan kecil yang
dimanfaatkan sebagai sarana pengairan dan sumber air baku untuk air minum bagi
penduduk di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Sungaisungai tersebut antara lain
Sungai Mandin, Sungai Jupi, Sungai Serongga, Sungai Sampanahan, Sungai
Manunggul, Sungai Cengal, Sungai Cantung, Sungai Bandilan Besar, dan Sungai
Bangkalaan.
· Air Bawah Tanah
Kedalaman air tanah bervariasi, yaitu antara 50 meter sampai 500 meter di
bawah permukaan bumi. Potensi air tanah yang tinggi terletak di Kecamatan
Kelumpang Hulu, Sungai Durian, dan Pamukan Selatan. Sedangkan potensi air tanah
yang rendah pada umumnya berada di daerah-daerah di Pegunungan Meratus, Pulau
Laut, Pulau Sebuku, dan pulau-pulau lainnya.
f. Sumber Daya Wisata
Di bidang pariwisata, Kabupaten Kotabaru mempunyai potensi yang besar,
berupa potensi wisata pantai, sumber air panas, goa, wisata bahari, dan gunung. Dari
potensi wisata tersebut, yang sangat prospektif dikembangkan adalah jenis objek
wisata alam dan wisata budaya. Wisata alam dapat berupa pantai (Sarang Tiung,
Tamiang dan Pulau Cinta), Terumbu Karang (Teluk Tamiang Kec. P. Laut Barat),
Sumber Air Panas dan Air Terjun, Penyu bertelur (di pulau Birah-birahan, Samber
Gelap), Pulau Manti (memiliki pasir putih dan air yang jernih) dan Goa (Sugung,
Tamuluang, Batu Batulis dan Tangkinang). Wisata budaya yang ada di Kabupaten ini
adalah lomba perahu katir (Pulau Laut Selatan) dan acara adat Babalian Dewa
(Hampang).
4.3. Sumber Daya Buatan
Beberapa potensi sumber daya buatan di Kabupaten Kotabaru yan bernilai
strategis dan mendukung peningkatan pembangunan, antara lain :
a. Jalan Lingkar Pulau Laut dan Jalan Poros Serongga - Sengayam
Dengan berfungsinya sebagian jalan lingkar Pulau Laut makadaerah-daerah
yang tadinya terpencil kini sudah dapat dihubungkan dan dapat mendukung
kelancaran arus orang dan barang ke penjuru kota diPulau Laut, demikian pula jalan
poros Serongga-Sengayam memperlancar perhubungan dari Kota Kotabaru
kewilayah perbatasan kabupaten Kotabaru dan sebaliknya.
b. Pelabuhan Batubara Mekar Putih
Pelabuhan ini terletak di selatan Pulau Laut Kabupaten Kotabaru. Pelabuhan
ini mampu disandari kapal berbobot mati s/d 200.000 DWT. Kapasitas muat batubara
ke kapal mencapai 4.000 ton/jam. Pelabuhan ini mempunyai panjang dermaga 300
meter, berada sejauh 1,7 km dari pantai, dengan kedalaman air rata-rata 18 meter.
c. Pelabuhan Batubara Tanjung Pemancingan
Pelabuhan ini terletak di ujung utara Pulau Laut yaitu di Tanjung
Pemancingan. Pelabuhan ini dapat disandari kapal berbobot mati s/d 50.000 DWT.
Pelabuhan ini telah dipergunakan sebagai pelabuhan ekspor batubaru keberbagai
negara seperti Jepang, Australia, Amerika, dan lain sebagainya.
d. Pelabuhan Laut Stagen
Pelabuhan ini akan berfungsi sebagai pelabuhan laut alternatif untuk
menggantikan fungsi Pelabuhan Kotabaru dalam memberikan pelayanan jasa
pelabuhan. Dimasa mendatang Pelabuhan Stagen akan dikembangkan menjadi
Pelabuhan Samudera karena posisinya yang strategis (terlindung dari laut) dan
memiliki kedalaman alur yang memungkinkan bersandarnya kapalkapal dengan
tonase yang besar.
e. Pelabuhan Laut Tarjun
Pelabuhan ini berfungsi sebagai pelabuhan bongkar muat semenperusahan
Indocement Tunggal Prakasa (ITP) dan letaknya sangat strageis karena berada di
lokasi kawasan industri Tarjun.
f. Pelabuhan Khusus Lain dan Penyeberangan
Pelabuhan khusus lain yang ada di Kabupaten Kotabaru adala pelabuhan
untuk aktivitas pertambangan, Kehutanan dan perkebunan, letaknya tersebar baik
yang ada di Pulau Kalimantan maupun di Pulau Laut dan Pulau Sebuku. Untuk
pelabuhan penyeberangan ada dua, yaitu menghubungkan Tanjung Serdang (P.Laut)
- Batulicin dan Stagen Tarjun.
g. Bandar Udara
Bandar udara stagen mampu didarati pesawat Kalstar (Fokker 27) dengan
penumpang kurang lebih 45 orang untuk melayani penerbangan antara Banjarmasin
dan Kotabaru dan sedang dikembangkan agar dapat didarati pesawat dengan badan
yang lebih besar. Lapangan terbang juga ini digunakan untuk kegiatan yang melayani
penerbangan khusus dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kotabaru. Selain
bandara stagen, di Kabupaten Kotabaru terdapat bandara lain, yaitu di Mekarputih
dan Pulau Sebuku.
h. Kawasan Industri Atau Kawasan Ekonomi Khusus Mekar Putih.
Dalam Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru kawasan
Mekar putih berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan industri, bahkan
sebagai kawasan ekonomi khusus untuk wilayah Kalimantan Selatan.

B. Peraturan Pemerintah Kabupaten Kotabaru Mengenai Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru
1. Visi Dan Misi Pengembangan Wilayah
Pembangunan Kabupaten Kotabaru mempunyai visi sebagai berikut
terwujudnya pembangunan Kabupaten Kotabaru yang demokratis, efisien dan
berkeadilan melalui paradigma baru .
Misi pengembangan Kabupaten Kotabaru adalah:
1. Melanjutkan, meningkatkan dan menyempurnakan pembangunan sarana dan
prasarana yang sudah ada.
2. Menyelenggarakan dan meningkatkan usaha di berbagai sektor pembangunan
guna mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah untuk pembiayaan
pembangunan dalam rangka otonomi dan memenuhi hajat hidup orang banyak.
3. Mengelola sumber daya alam yang berwawasan lingkungan secara partisipatif
sesuai dengan karakteristik wilayah untuk mendapatkan manfaat yang optimal
bagi negara dan masyarakat.
4. Memberdayakan sumber daya manusia melalui lembaga perekonomian
masyarakat untuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian.
5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pelayanan
kesehatan, pendidikan formal dan informal, serta sosial keagamaan.
6. Menciptakan demokrasi yang sehat dan dinamis serta penegakan supremasi
hukum dan hak asasi manusia.

2. Strategi Pengembangan Wilayah
a. Strategi Pengembangan Kabupaten
Pasal 14:
Pembangunan Kabupaten Kotabaru pada dasarnya merupakan tanggung
jawab dan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, baik pemerintah, swasta,
maupun masyarakat. Dengan keterbatasan dana dan aparat, pemerintah lebih
berperan sebagai pengarah agar kegiatan pembangunan lebih berdaya guna dan
berhasil guna bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat umum, melalui
menyusun strategi dalam pengembangan Kabupaten Kotabaru yang lebih
menekankan peningkatan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelaksanaan
pembangunan.
b. Strategi Pengembangan Sektoral
Pasal 15:
Strategi pengembangan sektoral meliputi:
1. Sektor pertanian, kehutanan dan kelautan dan pertambangan merupakan sektor
unggulan perekonomian Kabupaten Kotabaru.
2. Sektor perdagangan, industri pengolahan, pengangkutan dan komunikasi serta
restoran dan perhotelan merupakan sektor penunjang gerakan pembangunan dan
perekonomian.
3. Sektor bangunan serta listrik dan air minum dikembangkan untuk mendukung
pembangunan Kabupaten Kotabaru.
4. Pengembangan sektor sebagaimana yang dimaksud dalam angka 1 s/d 3 harus
diikuti oleh kajian lingkungan yang sesuai dengan Peraturan dan
Perundangundagan yang berlaku.
c. Strategi Pengembangan Prasarana
Pasal 16:
Strategi pengadaan prasarana untuk pemanfaatan sumber air dengan tingkat
prioritas dan metode sebagai berikut:
1. Pengadaan air untuk tanaman pangan adalah dengan mengembangkan saluran
irigasi terutama untuk lahan-lahan produktif.
2. Pengadaan air untuk industri skala besar terutama diarahkan untuk memanfaatkan
sumber air permukaan dan sumber air bawah tanah dengan pengadaan dan
pengelolaan mandiri.
3. Pengadaan air untuk sektor perdagangan, perhubungan, perkantoran dan rumah
tangga dilakukan terutama oleh pemerintah melalui PDAM.
4. Pengembangan sumber daya air untuk pembangkit tenaga listrik. Strategi
pengembangan sumber daya energi listrik melalui pengembangan:
a. Pusat-pusat pembangkit berdasarkan SatuanWilayah Pembangunan.
b. Pembangkit listrik berskala kecil dengan basis energi tersedia setempat
seperti tenaga air, angin, matahari, batubara dan energi lainnya.
Pasal 17:
Pengembangan sistem prasarana utama yang terdiri dari sistem jaringan
transportasi darat, laut dan udara untuk meningkatkan aksesbilitas antara kota-kota
dengan lokasilokasi potensial dan membuka isolasi daerah-daerah terpencil, serta
memperlancar hubungan dengan luar propinsi.
Pasal 18:
1. Keseluruhan jaringan perhubungan darat yang direncanakan untuk dibangun
beserta jalan yang telah ada sebagai berikut:
a. Jalan arteri primer yang menghubungkan Banjarmasin (KalimantanSelatan)
ke Tanah Grogot (Kalimantan Timur) melalui Sungai Danau, Pagatan, Batu
licin, Sungai Kupang, Magalau, Buluh Kuning dan Sengayam.
b. Jalan arteri primer yang menghubungkan Kandangan ke Batulicin melalui
Kecamatan Batulicin dan Kusan Hulu.
c. Jalan arteri primer yang menghubungkan Pamukan Utara ke Amuntai (Hulu
Sungai Utara) melalui Sengayam ke Halong.
d. Jalan kolektor primer yang menghubungkan Pagatan ke Magalau melalui Sei.
Loban, Lasung dan Hampang.
e. Jalan kolektor primer yang menghubungkan Kotabaru ke Berangas melalui
Tanjung Serdang, Mekar Putih, Tanjung Seloka (Jalan Lingkar Pulau Laut).
f. Jalan kolektor primer yang menghubungkan Magalau ke Tanjung
Samalantakan melalui Gunung Batu Besar, Sampanahan dan Sepapah dan
yang menghubungkan lintas ke Batulicin-Kaltim dengan Pudi serta Tanjung
Samalantakan dengan Tanjung Batu.
g. Jalan kolektor primer yang menghubungkan Magalau ke Bakau melalui
Sungai Durian.
h. Jalan lingkar Batulicin yang menghubungkan Tanah Merah-Sarigadung-Jalan
Kodeco.
i. Jalan lintas tengah dari Pelabuhan Samudera Batulicin ke Sarigadung.
j. Jalan arteri primer yang menghubungkan Batulicin dengan Pengaron
Kabupaten Banjar melalui Kecamatan Kusan Hulu.
k. Dalam jangka panjang rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan
Pulau Laut dengan daratan Kalimantan dan Pulau Laut dengan Pulau Sebuku.
2. Rencana-rencana yang akan ditetapkan dalam sistem transportasi laut sebagai
berikut:
a. Pembangunan fasilitas-fasilitas penunjang Pelabuhan Samudra di Stagen,
Batulicin, Terminal Batubara dan peti kemas di Mekar Putih, Pelabuhan
Batubara di Tanjung Pemancingan, dan Pelabuhan IKC di Tarjun.
b. Pembangunan fasilitas penunjang pelabuhan samudera baik yang khusus
maupun yang umum.
c. Pengembangan penyebrangan Berangas-Pulau Sebuku.
d. Dalam jangka panjang perlu pengembangan pelabuhan rakyat untuk
mendukung kegiatan pelayaran rakyat khususnya di kota-kota yang terletak di
tepi pantai sebagai tempat melakukan kegiatan ekonomi khususnya
pemasaran ikan dan hasil bumi lainnya.
3. Sistem Transportasi Udara:
a. Pengembangan pelabuhan udara Stagen agar dapat didarati pesawat jenis
Fokker.
b. Pengembangan pelabuhan udara Lontardi dekat pelabuhan Terminal Batubara
Mekar Putih.
c. Rencana Pembangunan Pelabuhan Udara berskala internasional di Kabupaten
Kotabaru untuk mendukung fungsi Kabupaten Kotabaru sebagai salah satu
pusat pengembangan di Kalimantan Selatan.
Pasal 19:
Pemenuhan kebutuhan prasarana telekomunikasi untuk Kabupaten Kotabaru
disesuaikan dengan Satuan Wilayah Pengembangan, Peningkatan prasarana
telekomunikasi untuk mendukung kegiatan pemerintahan, perdagangan dan jasa,
rekreasi dan hiburan serta sekolah.
Pasal 20:
Pengembangan pemukiman diarahkan pada peningkatan peran serta
masyarakat dan swasta dalam pembangunan kota serta peningkatan kemampuan
manajerial pemerintah dalam pembangunan perkotaan guna mengefektifkan
operasional produk rencana tata ruang kota yang telah disusun.
d. Strategi Pengembangan Sumber Daya Alam
Pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya alam harus secara berkeadilan
dan berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang
sejalan dengan makin meluasnya tuntutan masyarakat untuk memperoleh kualitas
lingkungan hidup yang makin baik.
e. Strategi Pengembangan Kegiatan Ekonomi
1. Strategi pengembangan industri terutama dikembangkan berbagai jenis industri
sebagai berikut:
a. Jenis industri yang menunjang pemanfaatan sumber daya alam yang potensial
seperti perkebunan tanaman pangan, perikanan, kehutanan dan
pertambangan.
b. Industri yang mengolah hasil dari pemanfaatan sumber daya alam sehingga
mempunyai nilai tambah.
c. Industri yang menggunakan bahan baku melimpah di daerah.
d. Industri yang menggunakan teknologi sederhana dan keahlian tenaga kerja
yang tidak tinggi untuk membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi usaha
masyarakat.
2. Strategi pengembangan sektor perdagangan yang terutama menunjang hasil
produksi daerah dan mendorong perkembangan sektor lainnya.
f. Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia
Strategi pengembangan penduduk dalam hal ini pada dasarnya menekankan
untuk mengarahkan penduduk pada pengembangan sektor-sektor potensial dari
sumber daya alam Kabupaten Kotabaru. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan
tenaga kerja untuk pengembangan wilayah, dilakukan dengan peningkatan
pendidikan kejuruan sesuai dengan potensi wilayah baik melalui pendidikan sekolah
maupun luar sekolah.
3. Konsep Pengembangan Tata Ruang
a. Konsepsi Pengembangan Kawasan Lindung dan Budidaya
Pasal 24:
Konsep pengembangan kawasan lindung diarahkan pada:
1. Pemantapan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya masing-masing baik
untuk melindungi kawasan bawahannya, melindungi kawasan setempat, kawasan
yang memberi perlindungan terhadap flora-fauna dan ekosistemnya dan kawasan
yang rawan terhadap bencana.
2. Pengendalian pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya secara terbatas pada
kawasan lindung agar tidak mengganggu dengan fungsi lindung yang telah
ditetapkan.
Pasal 25:
Konsep pengembangan kegiatan budidaya baik produksi maupun permukiman
adalah:
1. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan-kegiatan budidaya baik produksi maupun
pemukiman secara optimal sesuai dengan kemampuan daya dukung lingkungan.
2. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan budidaya agar tidak terjadi
konflik penggunaan ruang antar kegiatan/sektor.
3. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya diutamakan yang berdampak luas
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
b. Konsepsi Pengembangan Ruang Berdasarkan Satuan Wilayah Pembangunan
(SWP)
Pasal 26:
Terdapat 4 Satuan Wilayah Pembangunan untuk Kabupaten Kotabaru, yaitu:
1. SWP Pamukan, meliputi Kecamatan Pamukan Selatan, Pamukan Utara,
Sampanahan, dan Sungai Durian, berdasarkan potensi utama di bidang produk
kehutanan, perkebunan, peternakan, pertambangan dan galian dengan pusat SWP
di Kota Manggalau.
2. SWP Kelumpang, meliputi Kecamatan Kelumpang Tengah, Kelumpang Hulu,
Kelumpang Selatan, Kelumpang Utara, dan Hampang berdasarkan potensi utama
yaitu di bidang pengembangan pertambangan, galian, perkebunan, peternakan
dan kehutanan dengan pusat SWP di Kota Sungai Kupang.
3. SWP Kusan, meliputi Kecamatan Batulicin, Kusan Hulu, Kusan Hilir, Satui dan
Sei. Loban berdasarkan potensi utama meliputi bidang pengembangan pertanian
tanaman pangan, perkebunan, peternakan, pertambangan, pariwisata, aneka
industri dan industri kecil yang menunjang pertanian tanaman pangan dengan
pusat SWP di Kota Batulicin.
4. SWP Pulau Laut, meliputi semua kecamatan di Pulau Laut dan Pulau Sebuku
serta Pulau Sembilan, berdasarkan potensi pengembangan di bidang produksi
perikanan, perkebunan, pertambangan, peternakan dan kehutanan dengan pusat
SWP di Kotabaru.
c. Konsepsi Pengembangan Permukiman
Pasal 27:
Konsepsi pengembangan permukiman dimaksudkan untuk lebih memudahkan
pelayanan fasilitas, pengadaan prasarana kota, kemudahan aliran barang dan orang.
Berdasarkan arahan dari Revis RTRW Kabupaten Kotabaru maka hirarki pusat
pemukiman adalah sebagai berikut:
1. Hirarki Pusat Pemukiman I adalah Kota Kotabaru dan Batulicin.
2. Hirarki Pusat Permukiman II adalah Kota Pagatan, Sungai Danau, Mekar
Putih/Lontar, Sungai Kupang, Magalau, Gunung Batu Besar dan Tanjung Batu.
3. Hirarki Pusat Pemukiman III adalah Salino, Tanjung Seloka , sungai Bali, Pulau
Sembilan dan Bakau.
4. Hirarki Pusat Pemukiman IV adalah Ibukota Kecamatan lainnya dan desa-desa
potensial.
Pusat pemukiman selanjutnya adalah desa-desa pusat pertanian dan pusat
kegiatan ekonomi lainnya.
d. Konsepsi Struktur Tata Ruang
Pasal 28:
Konsepsi dan struktur tata ruang Kabupaten Kotabaru, berdasaran kendala dan
potensial setiap lahannya, adalah sebagai berikut:
1. Pola pemanfaatan ruang kawasan lindung sebagai wilayah yang merupakan
limitasi bagi perkembangan fisik ataupun kegiatan untuk menjaga kelestarian
lingkungan dan sumber daya air.
2. Pola pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya secara terbatas di kawasan
lindung dilakukan dengan sangat hati-hati dan harus berdasarkan pengkajian
yang mendalam dan dengan pengendalian yang sangat ketat agar tidak
mengganggu fungsi lindung yang telah ditetapkan.
3. Pola pemanfaatan kawasan budidaya, terdiri dari budidaya pertanian dan non
pertanian. Wilayah belakang yang mempunyai karakteristik basah diarahkan
untuk budidaya pertanian lahan basah serta perikanan. Sedangkan wilayah
belakang yang mempunyai karakteristik pegunungan/dataran tinggi diarahkan
untuk pertanian lahan kering, yaitu perkebunan. Sedangkan kegiatan budidaya
non pertanian seperti industri, perdagangan dan jasa, pemukiman dan prasarana
sosial.
4. Pola jaringan transportasi utama wilayah, yaitu peningkatan ruas dan kualitas
jaringan jalan utama regional dan jalan-jalan yang menghubungkan pusat-pusat
dengan wilayah belakang.
e. Konsepsi Jaringan Jalan dan Prasarana Lain
Pasal 29:
Konsepsi pengembangan jaringan jalan dikembangkan untuk memperlancar
hubungan antar Kabupaten, menghubungkan pusat-pusat pemukiman dan pusat
kegiatan seperti industri, pertambangan, perkebunan, perikanan, perdagangan:
1. Pola jaringan jalan dari utara ke selatan yang menghubungkan Kabupaten
Kotabaru dengan wilayah Kalimantan Timur dan Banjarmasin melalui Tanah
Laut.
2. Pembangunan dan peningkatan jalan penghubung baru dari Sengayam ke Halong
Kabupaten Hulu Sungai Utara, dari Sungai Kupang ke Kabupaten Hulu Sungai
Tengah, dari Batulicin ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Batulicin ke
Kabupaten Banjar.
3. Pola jalan lingkar Pulau Laut dari Kotabaru melalui Lontar, Tanjung Seloka dan
Berangas.
4. Pola lingkar barat yang menghubungkan Kecamatan Satui, Kusan Hulu,
Hampang dan Kelumpang Hulu.
5. Pola jaringan jalan wilayah utara yang ditarik dari Kecamatan Hampang ke
Tanjung Batu dan dari Magalau ke Gunung Batu Besar.
Pasal 30:
Konsepsi pengembangan pelabuhan laut:
1. Pengembangan Pelabuhan Laut Stagen untuk mendukung kegiatan perdagangan
berskala nasional dan internasional.
2. Pengembangan Pelabuhan Laut Batulicin untuk mendukung kegiatan
perdagangan berskala regional, lokal dan antar pulau.
3. Pengembangan Pelabuhan Mekar Putih, Tanjung Pemancingan dan IKC untuk
mendukung ekspor batubara, semen dan peti kemas.
4. Pengembangan pelabuhan laut lainnya untuk mendukung perdagangan skala
lokal (pelabuhan rakyat) dan pelabuhan khusus untuk mendukung kegiatan
pengangkutan batubara.
Pasal 31:
Konsepsi pengembangan Pelabuhan Udara:
1. Pengembangan Pelabuhan Udara Internasional untuk mendukung kegiatan
perdagangan Kalimantan Selatan wilayah timur.
2. Pengembangan Pelabuhan Udara Stagen untuk mendukung pengurusan
administrasi serta kegiatan ekonomi.
3. Peningkatan Pelabuhan Udara di Mekar Putih untuk mendukung kegiatan ekspor
batubara dan peti kemas.
Pasal 32:
Konsepsi pengembangan energi listrik adalah:
1. Sumber-sumber pembangkit energi listrik di wilayah Kabupaten Kotabaru
dikembangkan berdasarkan SWP.
2. Sistem penyediaan energi listrik di daerah Kabupaten Kotabaru didasarkan pada
asumsi energi listrik menurut tipe rumah.
3. Pengembangan pembangkit energi listrik berskala besar PLTA maupun PLTU
untuk menambah kapasitas terpasang dan kapasitas terpakai mendukung
Kabupaten Kotabaru sebagai pusat pengembangan Kalimantan Selatan.
4. Pengembangan pembangkit listrik skala kecil berbasis energi setempat untuk
wilayah terpencil dan terisolir.
Pasal 33:
Konsepsi pengembangan BBM adalah:
1. Pusat utama di Kota Kotabaru.
2. Pusat kedua masing-masing bertempat di Sungai Danau untuk Satuan Wilayah
Kusan, Tanjung Batu untuk Satuan Wilayah Kelumpang, Gunung Batu Besar
untuk Satuan Wilayah Pamukan dan Mekar Putih untuk Satuan Wilayah Pulau
Laut.
Pasal 34:
Konsepsi pengembangan Prasarana Kebutuhan Air:
1. Kebutuhan air untuk irigasi yaitu dengan memanfaatkan daerah aliran sungai
masing-masing kawasan pertanian.
2. Pemenuhan kebutuhan air untuk industri skala besar diarahkan untuk
memanfaatkan sumber air permukaan terdekat dan air bawah tanah.
3. Pemenuhan kebutuhan air untuk kawasan industri, perdagangan, jasa,
fasilitasumum dan permukiman diarahkan menggunakan jasa PDAM dan PSAB
pedesaan.
4. Pengembangan kebutuhan air pada angka (1) sampai (3) diatas dikelola dengan
baik dan pengaturannya.

4. Strategi Pengembangan Kawasan Prioritas
Pasal 35:
Kawasan-kawasan prioritas yaitu:
1. Daerah yang dapat dikatakan terisolir maupun terpencil yaitu:
a. Kawasan Pantai Timur Kabupaten Kotabaru yang terletak di Pulau
Kalimantan sepanjang pesisir Selat Makasar, dimana kota-kota yang berada
di tepi pantai merupakan kota hirarki IV.
b. Pulau Sembilan
c. Pulau Sebuku
d. Wilayah perbatasan dengan Kalimantan Timur khususnya wilayah
Kecamatan Pamukan Utara.
1. Kawasan yang berperan menunjang kegiatan sektor-sektor strategi/unggulan.
2. Kawasan yang pertumbuhannya cepat.
3. Kawasan kritis yang perlu dipelihara fungsi lindungnya, untuk menghindarkan
kerusakan lingkungan.
Pasal 36:
Strategi pembangunan kawasan prioritas yaitu:
1. Meningkatkan hirarki kota.
2. Meningkatkan fungsi dan peran kota sebagai pusat pelayanan.
3. Meningkatkan kegiatan ekonomi berdasarkan potensi yang dimilikinya.
4. Membangun akses jalan dan pengembangan sarana dan prasarana pendukung
lainnya.
5. Meningkatkan interkoneksi dengan kota lain dengan diiringi peningkatan sarana
perhubungan.
6. Khusus untuk kawasan kritis perlu adanya penerapan sanksi dan rehabilitasi
lahan kritis.

5. Alokasi Pemanfaatan Ruang
a. Kawasan Lindung
Kawasan Lindung di Kotabaru terdiri dari:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, yang mencakup
Kawasan Lindung yang terletak di Kecamatan Satui, Kusan Hulu, Batulicin,
Hampang, Pamukan Utara, Sungai Durian, Pulau Laut Utara, Pulau Laut Timur,
Pulau Laut Selatan dan Pulau Laut Barat.
2. Kawasan perlindungan setempat, yang terdiri dari:
a. Kawasan sempadan pantai yang meliputi dataran sepanjang tepian yang
lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100
meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
b. Kawasan sempadan sungai yang meliputi kawasan selebar 100 meter di
kirikanan sungai besar.
c. Kawasan sekitar danau atau waduk di Kecamatan Pulau Laut Utara
ditetapkan 50 meter dari tepi waduk.
d. Kawasan sekitar mata air di Kecamatan Pulau Laut Utara, Pamukan Utara,
Kelumpang Utara, Sampanahan dan sebagainya, meliputi kawasan sekurang-
kurangnya radius 200 meter disekitar mata air.
3. Kawasan pantai berhutan bakau terletak di Kecamatan Batulicin, Kelumpang
Selatan, Kelumpang Hulu, Kelumpang Tengah, Sampanahan, Sungai Durian,
Pulau Laut Timur, Pulau Laut Utara, Pamukan Selatan dan Pulau Sebuku.
4. Pemanfaatan kawasan lindung sebagai kawasan budidaya dapat dilakukan secara
sangat terbatas dan berdasarkan pengkajian yang mendalam serta tidak
berpengaruh terhadap fungsi lindung yang telah ditetapkan.
b. Kawasan Budidaya
Pasal 38:
Kawasan Budidaya dapat dikelompokkan dalam:
(1). Kawasan Hutan Produksi
(2). Kawasan Pertanian
(3). Kawasan Pariwisata
(4). Kawasan Pertambangan
(5). Kawasan Perindustrian
(6). Kawasan Pemukiman
(7). Kawasan Laut dan pesisir.
Pasal 39:
Kawasan Hutan Produksi terdiri dari:
1. Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang terletak di Kecamatan Satui, Kusan
Hulu, Batulicin, Hampang, Sungai Durian dan Pamukan Utara.
2. Kawasan Hutan Produksi Tetap yang terletak di Kecamatan Pulau Laut Barat,
Pulau Laut Selatan, Pulau Laut Timur, Pulau Laut Utara, Satui, Kusan Hulu,
Batulicin, Kelumpang Hulu, Hampang, Sungai Durian, Kelumpang Tengah,
Kelumpang Utara, Sampanahan, Pulau Sebuku dan Pamukan Utara.
Pasal 40:
Kawasan Pertanian terdiri dari:
1. Kawasan Pertanian Lahan Basah, terletak di Kecamatan Batulicin, Pulau Laut
Timur, Pulau Laut Selatan, Pamukan Utara, Pamukan Selatan, Sampanahan,
Kusan Hulu, Kusan Hilir, Satui dan Pulau Laut Utara.
2. Kawasan Pertanian Tanaman Lahan Kering diarahkan pada Kecamatan Satui,
Sungai Loban, Kusan Hulu, Hampang, Kelumpang Tengah, Sampanahan, Sungai
Durian, Pamukan Utara dan Pamukan Selatan.
3. Kawasan Tanaman Keras (Tahunan/Perkebunan), diarahkan pada lokasi-lokasi
pertanian tanaman keras tersebar di seluruh kecamatan.
4. Kawasan Perikanan, dikembangkan di Kecamatan Pulau Laut Utara, Pulau Laut
Timur, Pulau Laut Selatan, Pulau Laut Barat, Kusan Hilir, Sungai Loban,
Pamukan Selatan, Sampanahan, Kelumpang Tengah, Kelumpang Utara,
Kelumpang Selatan, Pulau Sebuku dan Pulau Sembilan.
5. Kawasan Peternakan, dikembangkan di beberapa kecamatan yaitu Kecamatan
Batulicin, Pulau Laut Barat, Pulau Laut Selatan, Kusan Hilir, Satui dan Sungai
Loban.
Pasal 41:
Kawasan Pariwisata terdapat di beberapa kecamatan, yaitu:
1. Kawasan wisata pantai terletak di Kecamatan Kusan Hilir, Pulau Laut Utara,
Pulau Laut Selatan, Pulau Laut Barat, Pulau Sebuku, dan Pulau Sembilan.
2. Kawasan wisata alam terletak di Kecamatan Kelumpang Hulu, Batulicin,
Hampang, Pulau Laut Utara dan Kelumpang Selatan.
3. Kawasan wisata sejarah/makam raja-raja dan ulama terletak di Kecamatan Pulau
Laut Utara, Pamukan Utara, Kelumpang Tengah, Sampanahan, Kusan Hilir,
Sungai Durian dan Kelumpang Hulu.
Pasal 42:
Pengembangan kegiatan industri di wilayah Kabupaten Kotabaru diarahkan pada
Kecamatan Pulau Laut Barat, Pulau Laut Utara, Batulicin, Kelumpang Selatan,
Kelumpang Hulu, Pamukan Utara, Pulau Laut Timur dan Kelumpang Tengah.
Pasal 43:
Kawasan Pertambangan dialokasikan pada:
1. Pertambangan Batugamping/semen terletak di Kecamatan Kelumpang Selatan
dan Kelumpang Hulu.
2. Pertambangan lainnya yang terletak di bawah permukaan bumi tidak
dialokasikan secara khusus dalam eksploitasinya dapat dialihfungsikan sementara
(pinjam pakai).
Pasal 44:
Kawasan pemukiman yang diperuntukan pengelompokan perumahan penduduk
termasuk di dalamnya sarana/prasarana sosial ekonomi, bagi penduduk dengan
dominasi kegiatan non pertanian. Kriteria yang digunakan adalah:
1. Dominasi penggunaan lahan adalah pemukiman perkotaan.
2. Memperhitungkan kecenderungan perkembangan pembangunan pemukiman
3. Memperhitungkan daya tampung perkembangan penduduk dan
fasilitas/prasarana yang dibutuhkan.
4. Mempertimbangkan usaha-usaha/kebijaksanaan yang ada.
5. Mengalihkan penggunaan pertanian lahan kering yang berada terjepit di sekitar
pemukiman perkotaan yang ada menjadi pemukiman perkotaan.
6. Mempertimbangkan sentral pemerintahan, perdagangan dan ekonomi.
Pasal 45:
Kawasan laut dan pesisir:
1. Kawasan laut adalah batas 4 mil dari pantai yang pemanfaatannya untuk berbagai
budidaya pantai dan kegiatan perikanan lainnya.
2. Untuk menjaga kelestarian sumber daya laut maka daerah terumbu karang dan
kawasan hutan bakau dilindungi dari kegiatan eksploitasi.
6. Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Pasal 46:
Penyusunan dan pelaksanaan program-program serta proyek-proyek di
kawasan budidaya dan kawasan lindung, yang diselenggarakan oleh instansi
Pemerintah, Swasta, masyarakat harus berdasarkan pada pokok-pokok kebijaksanaan
sebagaimana dimaksud dalam BAB IX Peraturan Daerah ini.
Pasal 47:
Peta rencana alokasi pemanfaatan ruang, struktur tata ruang dan kawasan
prioritas dengan skala 1:100.000 serta Buku RTRW Kabupaten Kotabaru (Buku
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru) dengan sistematika tersebut
pada pasal 4 Peraturan Daerah ini sebagaimana terlampir merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 48:
RTRW Kabupaten bersifat terbuka untuk umum dan ditempatkan di Kantor
Pemerintah Daerah dan tempat-tempat yang mudah dilihat oleh masyarakat.
Pasal 49:
Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi mengenai RTRW
Kabupaten secara cepat, tepat dan mudah.

7. Pengendalian dan Pengawasan
Pasal 50:
1. Pengendalian Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotabaru
diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap
pemanfaatan ruang.
2. Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk
pelaporan, pemantauan dan evaluasi.
3. Penertiban terhadap pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang
diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
4. Keterpaduan pelaksanaan RTRW Kabupaten Kotabaru dikoordinasikan oleh
Bupati Kotabaru.
Pasal 51:
1. Pengendalian pembangunan fisik di Kawasan Budidaya dilakukan melalui
kewenangan perijinan yang ada pada instansi Pemerintah Daerah.
2. Pelaksanaan tindakan penertiban dilakukan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan
RTRW Kabupaten.
3. Pemantauan dan pencegahan segala kegiatan pembangunan yang bertentangan
dengan Peraturan Daerah ini, menjadi wewenang Bupati Kotabaru.

C. Masalah Pengembangan Wilayah di Kabupaten Kotabaru Serta Solusinya
1. Jalur dan Sarana Transportasi
Kabupaten Kotabaru memiliki wilayah administratif yang menyebar, maka
agar dalam aksesibilitas dan hubungan antar daerah di Kabupaten Kotabaru dapat
maksimal dan berlangsung dengan baik maka harus dibuat jalur dan sarana
transportasi yang memadai. Saat ini untuk jalur perhubungan antar daerah baik skala
kecamatan maupun kota di Kabupaten Kotabaru sangat minim sekali. Sehingga
untuk keperluan yang berkaitan dengan perhubungan memerlukan waktu yang lama.
Walaupun sekarang ini sudah dibuat jalur lingkar pulau laut dan jalan poros serongga
sengayam yang bisa mempersingkat waktu perjalanan. Karena sebelum jalan ini
dibuat hubungan antar daerah dilakukan melalui jalur laut yang dalam waktu tertentu
resiko gelombang besar sering terjadi dan membutuhkan waktu yang lama. Namun
jalur perhubungan ini tidak memadai karena jalannya yang bergelombang, karena
sering dilalui alat-alat berat milik perusahaan batubara maupun sawit yang beroperasi
di wilayah Kabupaten Kotabaru sehingga jalannya rusak. Selain itu jembatan-
jembatan yang berada di jalur ini juga umumnya sudah tidak layak karena banyak
jembatan yang sudah berlubang dan lapuk sehingga bahayanya sangat tinggi.
Selain masalah tersebut untuk perhubungan antar wilayah di Kabupaten
Kotabaru juga kadang harus lewat daerah tetangga, seperti jalur perhubungan
sengayam (Pamukan Barat) dan Pamukan Utara harus melalui wilayah Kabupaten
Pasir, Kalimantan Timur, karena Kabupaten Kotabaru tidak memiliki jalur yang
menghubungkan wilayah tersebut. Selain itu walaupun Kabupaten Kotabaru
memiliki jalur penyeberangan Stagen-Tarjun yang menghubungkan antar wilayah
pulau laut dengan wilayah yang berada di pulau besar Kalimantan, namun masih
banyak masyarakat yang melewati jalur Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, karena
sedikitnya kapal penyeberangan yang beroperasi di jalur Stagen-Tarjun sehingga
waktu tunggunya sangat lama, selain itu juga untuk masuk pelabuhan penyeberangan
Tarjun harus melalui jalan berbatu selama ± tiga puluh menit.
Solusi untuk masalah ini sebaiknya dilakukan rehabilitasi ulang lagi terhadap
jalur transportasi yang ada di Kabupaten Kotabaru, dengan melakukan pengaspalan
kembali yang lebih permanen, karena pengaspalan yang dilakuan sebelumnya lebih
bersifat pengerasan tanah. Selain itu juga jembatan yang berada di jalur lingkar Pulau
Laut dan jalan poros Serongga-Sengayam di perbaiki ulang dengan membuat
jembatan dari beton, karena umumnya jembatan yang ada di jalur ini terbuat dari
kayu dan besi tua. Agar jalan yang berada di lingkar pulau laut dan poros Serongga-
Sengayam tidak cepat rusak maka untuk angkutan alat berat perusahaan-perusahaan
yang beroperasi di wilayah Kabupaten Kotabaru harus membuat jalur transportasi
sendiri atau jalur khusus untuk alat berat yang bisa disediakan Pemerintah Kabupaten
Kotabaru dengan bekerjasama dengan perusahaan yang bersangkutan seperti yang
dilakukan pemerintah Kabupaten Pasir dengan membuat jalur alat berat yang berada
didaerah Petangis dan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Pasir Utara. Untuk
jalur penyeberangan Stagen-Tarjun dilakukan penambahan kapal penyeberangan
yang berkapasitas lebih besar, agar tidak terjadi pengantrian penumpang dan
melakukan perbaikan jalan yang berada di jalur Serongga-Tarjun. Dan agar wilayah
Kecamatan Pamukan Utara dengan Kecamatan Pamukan Barat dan Kecamatan
Sungai Durian dapat ditempuh dengan cepat maka dibuat Jalan Poros yang
menghubungkan ketiga kecamatan tersebut dan kecamatan lain dengan membuka
jalur barat-timur Pamukan Barat dan Pamukan Utara yang dihubungkankan dengan
jalur jalan Poros Serongga-Sengayam, dan mambuat jembatan layang yang dapat
menghubungkan antara Pamukan Utara dan Sungai Durian karena kedua wilayah ini
dipisahkan oleh sungai sehingga untuk transportasi antar daerah harus menempuh
jalan memutar melewati Pamukan Barat. Selain itu untuk jalur laut yang meng
hubungkan antar daerah khusunya antar Pulau Laut dengan Pulau Sembilan dibuat
alat transportasi kapal yang melayani khusus jalur tersebut seperti Surabaya-Madura,
karena selama ini belum ada jalur transportasi khusus untuk kedua pulau ini sehingga
apabila ada keperluluan maka sarana transportasinya adalah kapal barang yang tidak
memiliki jadwal pelayaran tertentu.

2. Jaringan Listrik dan Telekomunikasi
Jaringan listrik dan telekomunikasi merupakan salah satu faktor yang sangat
vital dalam pembangunan suatu daerah, karena dengan adanya jaringan listrik dan
telekominikasi yang baik maka informasi antar daerahpun akan lebih mudah didapat.
Namun untuk beberapa wilayah di Kabupaten Kotabaru kebutuhan ini masih belum
sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat Kabupaten Kotabaru, karena masih banyak
wilayah yang belum dialiri listrik dan jalur telekomunikasi atau telepon. Sampai saat
ini pembangunan sarana listrik dan telekomunikasi di Kabupaten Kotabaru masih
terpusat di pusat pemerintahan saja. Sehingga untuk daerah-daerah terpencil di
Kabupaten Kotabaru untuk mendapatkan fasilitas listrik masyarakatnya membuat
jaringan listrik sendiri dengan cara swadaya yang dayanya sangat kecil karena hanya
menggunakan mesin diesel kecil. Selain itu untuk telekomunikasi di Kabupaten
Kotabaru juga demikian karena masih banyak wilayah yang tidak mendapatkan
sinyal telepon, bahkan hal ini tidak hanya terjadi di wilayah terpencil saja namun
juga di wilayah yang dekat dengan pusat kota seperti daerah Gunung Sari (Stagen)
juga sulit untuk mendapatkan sinyal telepon atau hp padahal daerah ini jarak dengan
pusat kota sangat dekat sekitar ± 18 km.
Solusinya adalah pemerintah daerah Kabupaten Kotabaru harus berupaya
membangun sarana dan prasarana listrik yang ada di wilayah Kabupaten Kotabaru
dengan bekerjasama dengan pihak PLN dan Telkom. Agar nantinya semua
Masyarakat daerah Kabupaten Kotabaru bisa merasakan jaringan listrik dan
telekomunikasi dengan baik. Sehingga dalam perkembangan informasi masyarakat
daerah Kabupaten Kotabaru khususnya di daerah terpencil dapat memperoleh dan
menyampaikan informasi dengan cepat. Untuk mengurangi keterbatasan kebutuhan
jaringan listrik mungkin pemerintah Kabupaten Kotabaru dapat membuat
pembangkit listrik dengan tenaga air (PLTA). Dengan menggunakan bendungan
yang terdapat di daerah Pulau Laut dan bekerjasama dengan pihak PLN. Karena
suplai air di bendungan ini sangat besar yang kemudian listriknya bisa dialirkan
kedaerah Pulau Laut maupun daerah lainnya yang menjangkau. Selain dapat
menambah pasokan listrik juga dapat menghemat pengeluaran BBM.
Sedangkan untuk kebutuhan jaringan telekomunikasi pemerintah Kabupaten
Kotabaru bisa bekerjasama dengan pihak telkom ataupun swasta seperti telkomsel,
indosat, maupun yang lainnya untuk memberikan kemudahan dalam membuka atau
memperluas jaringan telekomunikasinya. Sehingga dengan adanya kerjasama yang
baik maka diharapkan dapat memberikan keuntungan baik bagi pemerintah maupun
bagi perusahaan terkait. Karena selama ini untuk menyampaikan informasi yang
penting dari pusat kedaerah ataupun sebaliknya membutuhkan waktu yang sangat
lama, karena harus menempuh jarak yang jauh. Dengan adanya jaringan listrik dan
telekomunikasi yang baik maka diharapkan informasi yang ada lebih cepat diterima
dan dikembangkan baik melalui fax, email, maupun dengan jaringan telpon dan lain-
lain yang bisa mempercepat proses penyampaian informasi.

3. Kebutuhan Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer masyarakat yang harus
dipenuhi oleh suatu pemerintah yaitu dengan cara menyediakan sarana pendidikan
yang layak dan memadai. Dalam suatu pembangunan tingkat pendidikan masyarakat
menjadi salah satu indikator yang sangat penting dalam mengukur perkembangan
masyarakat suatu wilayah apakah sudah maju atau tidak. Dengan adanya pendidikan
yang baik di suatu wilayah maka diharapkan sumber daya manusia yang ada di
wilayah tersebut juga menjadi lebih berkualitas. Dengan kualitas sumber daya
manusia yang tinggi maka diharapkan pula pemanfaatan sumber daya alam yang ada
di daerah tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik dan maksimal dengan
memanfaatkan sumber daya manusia yang ada diwilayah tersebut.
Di Kabupaten Kotabaru khususnya didaerah terpencil sarana pendidikan
seperti guru, alat tulis, dan bahan ajar menjadi salah satu faktor yang sangat terbatas.
Sehingga kegiatan belajar mengajar dibeberapa daerah di Kabupaten Kotabaru tidak
dapat berlangsung dengan maksimal. Banyak sekolahan yang masih kekurangan guru
karena pada umumnya guru-guru yang ada di Kabupaten Kotabaru adalah guru yang
berasal dari luar daerah seperti Jawa yang pada umumnya tujuan mereka mengajar di
Kalimantan adalah untuk mendapatkan gelar PNS, yang kemudian setelah mengajar
beberapa tahun pindah lagi ke daerah asalnya sehingga kebutuhan guru tetap tidak
terpenuhi. Disamping itu juga masih ada sekolahan yang belum memiliki guru tetap,
karena sebagian besar gurunya merupakan tenaga kerja honorer dari sekolahan
negeri lainnya. Selain itu masalah lainnya adalah sulitnya mendapatkan bahan ajar
seperti buku pedoman, bahkan karena keterbatasan buku tersebut buku-buku lama
dari kurikulum yang lama pun masih banyak yang dipakai sebagai bahan acuan
belajar mengajar. Mungkin untuk daerah perkotaan atau kecamatan sarana ini sudah
mulai terpenuhi namun untuk mendapatkan bahan ajar lain sangat sulit karena buku
yang ada terbatas.
Solusi untuk masalah ini adalah, untuk mengurangi kekurangan guru
diharapkan pemerintah Kabupaten Kotabaru memberikan beasiswa pendidikan untuk
melanjutkan kuliah sebagai tenaga pengajar kepada putra daerahnya dan setelah
selesai langsung diangkat sebagai tenaga pengajar di wilayah tersebut. Selain itu
dalam melakukan pengangkatan pegawai negeri sipil diutamakan dari putra daerah
Kabupaten Kotabaru sendiri. Sekarang ini cara ini sudah di tempuh namun masih
kurang sosialisasi kepada masyarakat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang
perguruan tinggi, sehigga masih perlu diadakan sosialisasi yang lebih baik lagi
mungkin cara yang sudah ditempuk pihak pemerintah Kabupaten Kotabaru samapi
saat ini adalah dengan cara membebaskan biaya pendidikan dari SD-SMA. Selain itu
kepada guru yang mengajar di daerah atau desa terpencil juga diberikan insentif yang
lebih tinggi dibandingkan denga daerah perkotaan atau kecamatan. Untuk masalah
keterbatasan buku pelajaran pemerintah Kabupaten Kotabaru dapat bekerjasama
dengan salah satu atau beberapa pihak penerbit untuk menyediakan kebutuhan buku
dan menyalurkannya secara merata ke daerah-daerah di Kabupaten Kotabaru yang
digunakan sebagai acuan belajar mengajar.

4. Kawasan Lindung dan Budidaya
Dalam perencanaan pola pemanfaatan ruang perlu diidentifikasi dan deliniasi
kawasan lindung dan kawasan budidaya agar kelestarian yang ada di suatu daerah
tetap terjaga sehingga tidak menimbulkan kerusakan lingkungan dan dampak negatif
lainnya. Di kawasan Kabupaten Kotabaru khususnya untuk pengelompokan kawasan
ini masih belum maksimal dan bahkan masih ada yang belum dilakasanakan.
Kawasan penting yang ada di Kabupaten Kotabaru yang perlu dilindungi
adalah kawasan Pulau Laut. Karena Pulau Laut secara langsung adalah sebagai
penyangga daratan bagian pesisir timur-sealatan pulau besar Kalimantan yang secara
geografis berfungsi sebagai penyangga abrasi pantai teritorial daratan sisi pesisir
sebelah tenggara pulau besar Kalimantan yang memberikan kontribusi terhadap garis
pantai diwilayah Kalimantan. Selain itu Pulau Laut juga memiliki kakayaan hasil
tambang yang melimpah karena hampir sebagian besar wilayah Pulau Laut
berpotensi sebagai area pertambangan batubara. Pulau Laut juga memiliki
keanekaragaman hayati yang beragam yang merupakan miniatur hutan tropis, karena
sebagian besar hutan tropis terdapat di Pulau Laut. Namun semua kekayaan alam
yang ada di Pulau Laut tersebut kini semakin berkurang akibat aktivitas
penambangan dan penebangan hutan yang merusak tatanan ekosistem di Pulau Laut.
Kekayaan alam khususnya hutan dan tambang di wilayah Pulau Laut
harusnya dilindungi agar tidak menimbulkan kerusakan ekologi, karena hutan di
wilayah Pulau Laut merupakan area yang sangat vital bagi ketersedian air, khusunya
untuk ketersediaan air bersih bagi separuh penduduk Kabupaten Kotabaru yang
mendiami wilayah Pulau Laut. Oleh karenanya menjadi penting untuk
mempertahankan ekosistem Pulau Laut dari aktivitas pertambangan dan penebangan
hutan, karena sudah banyak lubang-lubang besar akibat penambangan dan
penebangan hutan yang ada di wilayah Pulau Laut yang tidak direklamasikan dengan
baik, yang dikhawatirkan selain merusak lingkungan juga dapat mengakibatkan
Pulau Laut hilang tenggelam dihantam oleh gelombang laut. Karena untuk proses
reklamasi atau memulihkan hutan-hutan yang rusak membutuhkan waktu sedikitnya
lima belas tahun untuk rehabilitasi.
Solusi untuk masalah ini adalah Pemerintah Kabupaten Kotabaru harus
membuat aturan dan hukuman yang tegas untuk melarang kegiatan penambangan
dan penebangan hutan diwilayah pulau laut dan menetapkan pulau laut sebagai
kawasan lindung dan budidaya yang bukan hanya sebuah peraturan tertulis yang
berada diatas kertas putih dan terus diabaikan dalam pelaksanaanya, karena
umumnya kegiatan illegal Mining dan Illegal Loging yang ada di wilayah Kabupaten
Kotabaru juga melibatkan oknum-oknum tertentu. Dan walaupun pemerintah
kabupaten ingin membuka investasi janganlah disektor-sektor ekstraktif ini, karena
pengembangan wilayah Pulau Laut masih bisa melalui sektor-sektor lain seperti
kelautan, pariwisata, perkebunan, kehutanan, pendidikan dan pusat pemerintahan,
atau bahkan sebagai tempat penelitian. Selain itu pemerintah juga harus mendorong
masyarakat Kabupaten Kotabaru khususnya yang berada di wilayah Pulau Laut
untuk menjaga lingkungan hidup dan kelestarian hutan seperti yang di tumbuhkan
pada masyarakat Bali untuk menjaga lingkungannya serta reboisasi kawasan hutan
kritis sedini mungkin karena rusaknya lingkungan hidup juga dapat merusak tatanan
sosial kemasyarakatan.
Untuk kawasan budidaya di Kabupaten Kotabaru juga perlu dibangun karena
juga berfungsi sebagai faktor pendukung pembangunan di Kabupaten Kotabaru.
Kawasan ini berfungsi sebagai kegiatan yang berpotensi ekonomiyang tidak
memberikan dampak kerusakan lingkungan. Untuk Pulau Sembilan, Kecamatan
Pamukan Selatan, dan Pulau Laut bagian selatan maupun utara dapat di tetapkan
sebagai kawan budidaya kelautan karena wilayah ini memiliki potensi ekonomi yang
besar dibidang kelautan, hal ini mungkin dapat didukung dengan membuat pabrik
penolahan ikan, karena sampai saat ini Kabupaten Kotabaru yang memiliki sumber
daya laut yang melimpah masih belum mempunyai pabrik pengolahan ikan. Untuk
wilayah yang berada di utara pulau besar Kalimantan seperti wilayah Kecamatan
Pamukan Barat, Sungai Durian, Pamukan Utara dan sekitarnya dapat ditetapkan
sebagai kawasan budidaya perkebunan dan kehutanan, seperti sawit, karet dan lain-
lain yang mamiliki komoditi ekspor yang tinggi. Bahkan mungkin untuk wilayah ini
perlu dibuat pabrik industri pengembangan biofuel yang mendukung kebijakan
nasional dalam rangka mengurangi impor minyak dan penghematan devisa negara,
karena ketersediaan bahan baku utama berupa minyak sawit dan potensi
pengembangan jarak pagar diwilayah ini relatif besar.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

DAFTAR RUJUKAN
Djakapermana, Ruchyat Deni.2003.Penataan Ruang Wilayah Pulau
Kalimantan Sebagai Konsepsi Pengembangan Wilayah dengan
Mengoptimalisasikan Pemanfaatn SDA dan Lingkungan. Bogor:ITB
http://id.kotabarukab.go.id/potensi_daerah.html
http://id.kotabarukab.go.id/peta_administrasi.html
http://id.kotabarukab.go.id/wilayah_geografis.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kotabaru
Proposal BPPD Kabupaten Kotabaru Tahun 2006

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful