BLOK XIII: SISTEM UROPOETIKA

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

RUPTUR GINJAL

Oleh Ika Nurfitria Tauhida H1A 008 011

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2010

tulang vertebra. Mekanisme terjadinya cedera diperkirakan terjadi akibat tekanan dari pusat trauma menjalar ke parenkim ginjal. Tembakan pistol dan tusukan pisau menyebabkan sebagian besar trauma tajam pada ginjal. perkelahian. Tulang iga maupun prosesus vertebra yang patah dapat menembus parenkim ginjal atau vaskularisasi ginjal. Kecelakaan kendaraan dengan kecepatan tinggi dapat menyebabkan cedera ginjal berat dan menyebabkan kerusakan vaskular yang berat pula. antara lain1:  Grade 1 (yang paling umum) : kontusio ginjal atau perdarahan dari parenkim ginjal.1 Klasifikasi berdasarkan patologis dari trauma ginjal. Ginjal terlindung dengan baik oleh otot-otot lumbar yang padat. pinggang. 1 . atau punggung merupakan mekanisme yang paling umum terjadi.1 Patologi & Klasifikasi Temuan Patologis Awal Laserasi akibat trauma tumpul biasanya terjadi pada permukaan transversal ginjal. Luka pada visera abdomen terjadi pada 80 % trauma tajam pada ginjal.RUPTUR GINJAL AKIBAT TRAUMA Trauma pada ginjal merupakan trauma yang paling sering pada sistem urinarius. tulang iga. ginjal dapat bergerak ke atas atau ke bawah. terhitung 80-85 % dari semua trauma ginjal. yang menyebabkan peregangan secara tiba-tiba pedikel ginjal dan terkadang robek total atau sebagian. dan visera pada anterior.  Grade 2 : laserasi parenkim ginjal ke dalam korteks ginjal. luka yang berada pada daerah pinggang dapat dipertimbangkan telah terjadi cedera ginjal sampai terbukti benar.2 Etiologi Trauma tumpul secara langsung pada abdomen. terjatuh. tetapi gross hematuria dapat terjadi namun jarang. Hematoma perirenal biasanya kecil atau sedikit. Umumnya hematuria mikroskopis. 1. Trauma dapat terjadi akibat kecelakaan kendaraan. Trombosis akut pada arteri renal dapat menyebabkan terkelupasnya intima bersamaan dengan peregangan secara tiba-tiba. dan olahraga tertentu. Trauma ginjal terjadi pada kira-kira 1-5 % semua kasus trauma. Pada trauma akibat kecepatan yang tinggi. Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 3 : 1.

trombosis arteri renalis utama atau segmen vena renalis. perlukaan vena renalis atau arteri renalis utama akibat trauma tajam. 2. atau perlukaan arteri dengan perdarahan berlanjut. serta. hidronefrosis dan pembentukan abses. Urinoma: laserasi dalam yang tidak dapat diperbaiki sehingga mengakibat ekstravasasi urin yang persisten dan komplikasi akhir seperti massa perinefrik renal yang besar. hingga akhirnya. Hidronefrosis: hematoma luas pada retroperineum dan berhubungan dengan ekstravasasi urin. dapat terjadi akibat fibrosis perinefrik yang menutupi ureteropelvic junction. hal ini yang dapat menyebabkan hipertensi vaskular renal pada kurang dari 1 % kasus. Grade 3 : laserasi parenkim ginjal menembus melalui korteks ginjal dan mengenai bagian medula ginjal. 2 . Fibrosis di sekeliling daerah trauma dilaporkan juga dapat membuat arteri renalis konstriksi dan menyebabkan hipertensi renal. atau keduanya akibat trauma tumpul. namun tidak sering. Hipertensi vaskular renal: suplai aliran darah jaringan dapat berkurang pada trauma. sehingga menyebabkan hidronefrosis. Fistula arteriovenosa: dapat terjadi setelah trauma tajam. 3. Temuan Patologis Akhir1 1.  Grade 5 (“shattered kidney”) : laserasi grade 4 yang multipel. atau keduanya. Perdarahan dapat terjadi secara signifikan sebagai akibat dari hematoma retroperitoneal yang luas. 4.  Grade 4 : laserasi parenkim ginjal menembus hingga sistem kalises ginjal. peregangan pedikulus ginjal.

Gambar 1 : A. Grade II : tanpa penyebaran (non-expanding). C. B. 1 3 . D. laserasi segmen pembuluh darah juga dapat terjadi. Grade I : kontusio atau dengan hematoma subkapsula tanpa laserasi parenkim. Grade IV : laserasi parenkim menembus hingga sistem kalises ginjal. hematoma perirenal ringan atau laserasi kortikal dengan kedalaman < 1 cm tanpa ekstravasasi urin. Grade III : laserasi parenkim menyebar melalui corticomedullary junction tanpa ekstravasasi urin.

G.Gambar 2 : E. Grade V : trombosis arteri renalis utama. dikenal dengan“shattered kidney”. H. Grade V : laserasi mayor yang multipel. Grade V : peregangan arteri renalis atau vena atau keduanya. menunjukkan adanya pengelupasan intima dan trombosis daerah distal. 1 4 . Grade IV : trombosis arteri renalis tanpa laserasi parenkim ginjal (iskemia parenkim). F.

mengkontrol perdarahan eksternal dan resusitasi syok. Pelvis renal yang tidak menyempit (dilatasi). 6 5 . Untuk menilai pasien trauma setelah kecelakaan kendaraan bermotor. pemeriksaan fisik dilakukan bersamaan dengan saat menstabilkan kondisi pasien. Laserasi parenkim dapat menyebar ke dalam sistem kolektivus intrarenal yang berdilatasi. kecelakaan kenderaan bermotor berkecepatan tinggi) atau benturan langsung ke daerah ginjal. laparotomy) dibutuhkan untuk membuktikan diagnosis. horseshoe atau ginjal ektopik. mudah untuk ruptur setelah peningkatan tekanan intraabdominal secara tiba-tiba. dan hidronefrosis. informasi yang penting antara lain ukuran senjata tajam untuk menusuk serta tipe dan caliber senjata untuk menembak. Ketika trauma ginjal menjadi suspek. Anomali sebelumnya yang paling sering antara lain kista dan tumor.Penegakkan diagnosis  Penilaian Emergensi Awal Penilaian awal pada pasien trauma harus termasuk membebaskan jalan napas. urinoma merupakan komplikasi tersering. peluru yang memiliki kecepatan tinggi berpotensial menyebabkan kerusakan yang lebih ekstensif. pemeriksaan lanjutan (CT scan. Pada banyak kasus. perirenal dengan sedikit lemak. 2  Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Indikator yang memungkinkan terjadinya trauma ginjal yaitu peristiwa rapid deceleration (terjatuh. 6 Pasien dengan ginjal yang abnormal sebelumnya menyebabkan tingkatan kerusakan ginjal yang lebih tinggi dengan energi trauma yang ringan dan lebih memerlukan operasi daripada pasien tanpa ginjal yang abnormal sebelumnya. dan proteksi otot dan tulang yang kurang. jika dibutuhkan. Anak-anak memiliki ginjal yang relatif lebih lebar dan lebih berlobul-lobul. Pada kasus lainnya. Keabnormalan ginjal sebelumnya meningkatkan resiko untuk terjadinya luka tumpul renal dan dua sampai lima kali lebh sering pada anak-anak daripada orang dewasa. kronologis kejadian perlu ditanyakan yaitu kecepatan kendaraan dan apakah pasien merupakan pengendara atau pejalan kaki. Pada trauma tajam. 2 Kerusakan ginjal akibat trauma tumpul pada abdomen kira-kira dua kali lebih sering pada anak-anak dan sering lebih parah. karakteristik dari obstruksi ureteropelvic junction.

pertimbangan khusus harus pada penyakit ginjal yang sudah dialami sebelumnya. merupakan hal-hal yang dilaporkan dapat berkomplikasi menjadi kerusakan ginjal minor. Persentasi kasus antara 4 – 22 %. Patologi penyakit ginjal sebelemunya harus dicatat. pinggang dan daearah abdomen atas. 2 6 . atau daerah tembusnya peluru. Trauma tumpul pada punggung. antara lain: 2  Hematuria  Nyeri pinggang  Flank ecchymoses  Flank abrasions  Patah iga  Distensi abdomen  Massa pada abdomen  Abdominal tenderness  Pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan laboratorium Pasien trauma dievaluasi dengan pemeriksaan laboratorium berkala. dapat terlihat trauma tajam dengan jelas bila ada luka tusuk pada daerah toraks bawah di bagian punggung. Syok didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik < 90 mmHg yang ditemukan pada waktu tertentu selama evaluasi pasien dewasa. 2 Kestabilan hemodinamik merupakan standar primer dari penanganan semua trauma ginjal. Urinalisis. Adanya penyakit ginjal yang sudah dialami sebelumnya menyebabkan kerusakan ginjal lebih mudah terjadi setelah trauma. Hidronefrosis akibat keabnormalan ureteropelvic junction. daerah toraks bawah atau abdomen atas dapat menyebabkan trauma ginjal.Riwayat medis diusahakan sedetail mungkin. pingggang. Pada fase awal resusitasi. organ yang sudah tidak berfungsi normal sebelumnya memiliki efek negatif terhadap prognosis pasien dengan trauma. kalkuli. pemeriksaan hematokrit dan kreatinin merupakan pemeriksaan yang paling penting dalam mengevaluasi pasien trauma ginjal. kista dan tumor renal. ukuran atau besarnya luka tidak menggambarkan dengan akurat kedalaman luka tersebut. Pada pemeriksaan fisik. Pada luka tusuk. Tanda vital harus dicatat selama evaluasi diagnostik. Beberapa temuan pada pemeriksaan fisik yang dapat mengindikasikan ke kemungkinan keterlibatan ginjal.

dan temuan ini dengan jelas terbukti pada CT scan. Hematuria menggambarkan adanya kuantitas sel darah merah yang abnormal dalam urine dan biasanya merupakan indikator awal terjadinya kerusakan ginjal. Sedangkan untuk pemeriksaan radiologi pada anak dengan trauma ringan dan hematuria mikroskopis masih kontroversial. Kekakuan pada pinggang atau ekimosis dan trauma multisistem yang parah berhubungan dengan kerusakan ginjal yang signifikan dan membutuhkan pemeriksaan radiologi. seperti gangguan pada ureteropelvic junction. Hematuria dapat tidak ada pada pasien dengan obstruksi ginjal yang rusak atau dengan peregangan ureter total. Kerusakan ginjal mayor. tetapi tidak cukup spesifik maupun sensitif untuk membedakan kerusakan mayor dan minor. luka pada pedikulus renal atau trombosis segmen arteri dapat terjadi tanpa adanya hematuria. 2 Hematuria merupakan tanda adanya kerusakan ginjal. 2 Pada sebagian besar pasien trauma yang dievaluasi pada 1 jam pertama. Penurunan hematokrit dan kebutuhan untuk transfusi darah secara tidak langsung merupakan tanda derajat kehilangan darah dan. 6 Pemeriksaan hematokrit secara berkala merupakan metode evaluasi lanjutan pada pasien trauma. Hematuria mikroskopik pada trauma didefinisikan sebagai lebih dari 5 sel darah merah tiap lapang pandang besar. 2 Walaupun derajat hematuria tidak berhubungan dengan tingkatan kerusakan ginjal. meskipun tidak didapatkan hematuria. gross hematuria mengindikasikan terjadinya kerusakan mayor pada sekurangnya 25 % pasien. Peningkatan kreatinin biasanya menggambarkan patologi ginjal sebelumnya.Urinalisis dipertimbangkan sebagai pemeriksaan dasar untuk evaluasi pasien dengan suspek trauma ginjal. penting untuk dilakukan decision-making process. selama melihat respons pasien dengan resusitasi. pemeriksaan kreatinin menggambarkan fungsi ginjal sebelum trauma. Hipotensi dengan hematuria mikroskopis merupakan prediktor terjadinya kerusakan ginjal yang signifikan pada orang dewasa tetapi tidak pada anak-anak. Tidak berhubungan dengan derajat kerusakan. 2 7 . Hematokrit awal dan tanda vital menentukan kebutuhan resusitasi emergensi. sedangkan gross hematuria merupakan hematuria yang dapat terlihat kasat mata.

dan infark kecil. 5) Luka intra-abdomen yang luas dengan hematuria mikroskopik atau dipstick. tetapi juga integritas sistem kolektivus dan ureter. Kerusakan mayor meliputi ruptur ginjal (masceration). Pengambilan gambar ginjal dilakukan pada 2.4: 1) Trauma tajam pada pinggang atau abdomen pada semua kasus dengan hematuria (mikroskopik maupun makroskopik) 2) Trauma tumpul pada orang dewasa dengan gross hematuria. laserasi kecil. Kerusakan minor meliputi hematoma. 3 Banyak pasien dengan luka tajam pada abdomen mengalami hematuria mikroskopik atau dipstick. Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologi memegang peranan yang penting untuk mengidentifikasi 80-90 % pasien trauma yang tidak membutuhkan operasi. Pemeriksaan yang dipilih untuk mengevaluasi pasien trauma dengan kemungkinan kerusakan ginjal adalah contrast-enhanced CT scan. dan peregangan pedikel ginjal. terdapat kriteria dilakukannya pemeriksaan radiologi pada pasien dengan suspek trauma ginjal oleh McAninch untuk mengurangi kebutuhan pengambilan gambar ginjal pada semua pasien dengan trauma abdomen 2. tanpa adanya kerusakan ginjal yang signifikan. Pada beberapa pasien trauma dengan kondisi tidak stabil. yang menentukan kebutuhannya) dan tekanan darah sistolik < 90 mmHg. 3) Trauma tumpul pada orang dewasa dengan hematuria mikroskopik atau dipstick (adanya perdarahan. yang dapat mengevaluasi tidak hanya parenkim ginjal dan vaskularisasinya. “one-shot IVP” terkadang dilakukan dalam ruang emergensi. Untuk itu. laserasi dan fraktur dari parenkim ginjal dan kerusakan pada sistem kolektivus ginjal dapat terlihat. penggunaan kontras pada kedua ginjal memperlihatkan tombosis arteri dan peregangan pedikel. bukan jumlah. 5 8 . sedangkan ekstravasasi urine dari sistem kolektivus dapat dilihat selama fase ekskresi contrasted study. 6) Tiap anak dengan luka pada pinggang atau abdomen dengan derajat hematuria manapun (mikroskopik maupun makroskopik). trombosis vaskular. Perdarahan akut dapat dievaluasi dengan baik dengan CT scan non-kontras. CT scan merupakan pemeriksaan radiologi primer untuk mengevaluasi trauma ginjal. 4) Deceleration injury (tanpad dipengaruhi ada atau tidak adanya hematuria). Kontusio.

tidak invasif. USG berguna untuk penilaian cedera tumpul. 2 9 . serta fungsi normal ginjal pada sisi kontralateral. Selama evaluasi pasien dengan trauma tumpul. USG (Ultrasonografi) Pemeriksaan USG merupakan pemeriksaan radiologi terpopuler untuk evaluasi awal trauma abdomen. termasuk kedalaman dan lokasi laserasi ginjal dan adanya cedera abdomen. efisien dan berkualitas tinggi pada mayoritas kasus. dan membuktikan adanya dan lokasi ginjal kontralateral. 2  CT scan (Computed tomography) CT scan merupakan gold standard penilaian radiologi pada pasien stabil dengan trauma ginjal. memperlihatkan keseluruhan retroperitoneum dan hematoma. CT scan lebih akurat menentukan lokasi cedera. sedangkan pada IVP sensitivitasnya tetap pada tinggi untuk semua derajat keparahan. Pemeriksaan ini cepat. Pemeriksaan ini menyediakan informasi mengenai cedera ginjal untuk membuat keputusan pada waktu kritis saat urgent laparotomy. dan secara simultan menyediakan penampakan daerah abdomen dan pelvis bersamaan. sensitivitas USG menurun bila derajat keparahan trauma meningkat. USG dapat mendeteksi laserasi renal namun tidak dapat dengan jelas menilai kedalaman maupun ukuran cedera (derajat keparahan trauma) dan tidak menyediakan informasi fungsi ekskresi ginjal atau urine leakage. harga minimal untuk mendeteksi cairan peritoneal tanpa perlu terpapar radiasi. USG dapat digunakan untuk follow-up rutin adanya lesi parenkimal atau hematoma. Pemeriksaan ini aman. Pemeriksaan ini mendemonstrasikan anatomi superior secara detail. USG lebih sensitif dan spesifik dibandingkan IVP pada trauma ginjal minor. mudah mendeteksi kontusio dan devitalized segments. 2  One-shot intraoperative IVP Pasien tidak stabil yang membutuhkan intervensi operatif yang segera (dan mereka yang tidak bisa menggunakan CT scan) harus menjalani pemeriksaan oneshot IVP. dengan abnormalitas ginjal yang telah ada sebelumnya. CT scan lebih sensitif dan spesifik dibandingkan IVP. Pada suatu studi. Pada pasien dengan status hemodinamik yang stabil. USG atau angiografi. CT scan umumnya berguna untuk mengevaluasi cedera traumatik.

Eksploras ginjal Hematoma retroperitoneal Pulsatile atau meregang Berhubungan dengan luka yang membutuhkan laparotomy IVP tidak normal 10 .Evaluasi Trauma Tumpul Ginjal pada Pasien Dewasa 2 Suspek trauma tumpul ginjal pada pasien dewasa Penentuan kestabilan hemodinamik Stabil Tidak Stabil Gross hematuria Hematuria mikroskopik Rapid deceleration injury atau luka mayor Emergensi Laparotomy One-shot IVP Pemeriksaan radiologi Grade 3-4 Grade 1-2 Observasi Stabil IVP normal Grade 5 Observasi. Antibiotik. Bed rest. Hct berkala.

Hct berkala. Antibiotik.Evaluasi Trauma Tajam Ginjal pada Pasien Dewasa 2 Suspek trauma tajam ginjal pada pasien dewasa Penentuan kestabilan hemodinamik Stabil Tidak Stabil Pemeriksaan radiologi Emergensi Laparotomy One-shot IVP Grade 1-2 Grade 3 Grade 5 Observasi Observasi. Berhubungan dengan luka yang membutuhkan laparotomy Stabil IVP normal Hematoma retroperitoneal Eksploras ginjal Pulsatile atau meregang IVP tidak normal 11 . Bed rest.

 Visualisasi yang buruk atau keabnormalan kerusakan ginjal lainnya pada pemeriksaan one-shot IVP.  Adanya peregangan atau pulsatile hematoma perirenal. penanganan trauma ginjal biasanya dipengaruhi oleh keputusan untuk mengeksplorasi atau mengobservasi kaitan dengan luka pada abdomen. resusitasi lengkap. tanpa dipengaruhi oleh jenis kerusakan. Gambaran radiologi ginjal yang tidak jelas dan keabnormalan ginjal yang telah ada sebelumnya atau tumor yang 12 . walaupun begitu. walaupun terdapat sebuah laporan bahwa pasien dengan status hemodinamik yang stabil tetapi dengan kerusakan parenkim ginjal grade 5 (”shattered kidney”) setelah trauma tumpul dapat selamat ditangani secara konservatif. blood urea nitrogen (BUN). Beberapa tahun terakhir. sepertinya telah disadari bahwa sebagian besar kerusakan mayor dapat sembuh dengan terapi non-operatif. Namun. yang diidentifikasi dari eksplorasi laparotomy (dapat ditemukan grade 5 kerusakan vaskular namun cukup jarang).1  Eksplorasi Ginjal Tujuan penanganan pasien dengan trauma ginjal adalah untuk mengurangi morbiditas dan untuk mempertahankan fungsi ginjal.  Grade 5 kerusakan vaskular renal. kerusakan ini berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya komplikasi dan pada akhirnya membutuhkan operasi selanjutnya. Walaupun begitu. dan dipublikasikan hanya beberapa laporan sejumlah kecil pasien. kebutuhan transfusi. Indikasi dilakukannya eksplorasi ginjal. antara lain 2:  Ketidakstabilan hemodinamik (life-threatening) akibat perdarahan renal merupakan indikasi mutlak untuk eksplorasi ginjal. Sejak kerusakan ini sangat jarang.Tatalaksana  Penanganan Emergensi Tujuan dari penanganan awal yaitu penanganan cepat terhadap syok dan perdarahan. dan evaluasi luka-luka yang ada. Kebutuhan untuk eksplorasi ginjal dapat diprediksi dengan akurat melalui nomogram. Penanganan kerusakan ginjak mayor dengan ekstravasasi urine dan devtalised fragments masih kontroversial. dimana digunakan untuk mengetahui tipe luka. Ekstravasasi persisten atau urinoma biasanya dapat sukses ditangangi dengan teknik endourologi. kreatinin. dan tingkat kerusakan (grading).

penanganan non-operatif dilakukan hanya setelah hemodinamik pasien telah stabil sempurna. tetapi studi akhirakhir ini menunjang terapi konservatif. Walaupun begitu. terapi suportif dengan bed-rest. Penanganan konservatif primer berkaitan dengan menurunnya angka kebutuhan nefroktomi tanpa meningkatkan morbiditas. Luka tusuk pada ginjal 13 . cedera ureter. 2 Luka tajam secara tradisional ditangani secara bedah. 2 Semua kerusakan ginjal grade 1 dan 2 dapat ditangani secara non-operatif. Pasien yang didiagnosis dengan ekstravasasi urine pada cedera tunggal dapat ditangani tanpa intervensi mayor dan resolution rate > 90 %. pasien stabil harus diketahui dengan lengkap mengenai ukuran ataupun derajat cedera. hidrasi dan antibiotik merupakan tindakan inisial yang terbaik. sedangkan cedera pada daerah abdomen lebih sering grade 1. walaupun beberapa data menunjukkan bahwa beberapa pasien ini dapat ditangani dengan terapi konservatif. Kerusakan jaringan akibat cedera tembakan dengan kecepatan tinggi. hanya 20 % dengan trauma tumpul yang perlu. Penanganan nonoperatif untuk luka tembak pada ginjal pada selektif pasien stabil memiliki angka kesuksesan yang tinggi. Terapi untuk grade 3 masih kontroversial. Perdarahan persisten merupakan indikasi utama dilakukannya rekonstruksi ginjal.1 %). 2 Mayoritas pasien cedera ginjal grade 4 dan 5 memerlukan eksplorasi ginjal dan nefrektomi. atau laserasi pelvis renal. Walaupun hampir semua pasien grade 4 dengan trauma tajam membutuhkan eksplorasi ginjal. Pada pasien yang stabil.didiagnosis secara insidental membutuhkan tindakan operatif walaupun setelah trauma ginjal yang relatif kecil (minor). 2  Tindakan Non-Operatif Penanganan non-operatif menjadi penatalaksanaan pilihan untuk sebagian besar trauma ginjal. Kegagalan terapi konservatif rendah (1. 2 Jika daerah luka tusukan pada posterior linea aksilaris anterior. 88 % cedera ginjal dapat ditangani secara non-operatif. Luka tembakan pada ginjal harus dieksplorasi hanya jika melibatkan hilum atau berhubungan dengan tandatanda seperti perdarahan berkelanjutan. Cedera pada daerah pinggang lebih sering merupakan grade 3. baik akibat trauma tajam maupun tumpul. akan lebih ekstensif dan membutuhkan nefrektomi. Tembakan dengan kecepatan rendah dan luka tusuk dengan derajat ringan dapat ditangani secara konservatif dengan hasil yang baik. Pada semua kasus cedera ginjal berat.

2  Tindakan Operatif Rekonstruksi ginjal memungkinkan untuk sebagian besar kasus. nefrostomi perkutan atau retrograde stenting untuk dekompresi.yang menyebabkan cedera ginjal mayor (grade 3 atau lebih tinggi) lebih tidak dapat diprediksi dan lebih sering terjadi komplikasi. ekstravasasi urine. kemudian. Pada 80% kasus trauma tajam. Pengecualian yang jarang untuk hal ini ketika staging telah selesai dan hanya ada kerusakan parenkim minor. khususnya pada trauma tumpul ginjal 14 . antara lain 1. ketidakstabilan hemodinamik. Trauma tumpul: kerusakan ginjal minor akibat trauma tumpul terhitung 85% kasus dan biasanya tidak membutuhkan operasi. berhubungan dengan kerusakan organ.2 Tindakan operatif pada jenis trauma. bukti tidak bekerjanya parenkim ginjal dan kerusakan pedikulus ginjal (kurang dari 5% semua kerusakan ginjal). Risiko berkaitan dengan meningkatnya grade. Angka keseluruhan pasien yang menjalani nefrektomi selama eksplorasi yaitu sekitar 13 %. dan selanjutnya endoskopik atau operasi terbuka. Trauma tajam: trauma tajam harus dieksplorasi secara bedah. Perdarahan berhenti secara spontan dengan bed rest dan hidrasi. dan angka lebih tinggi pada kebutuhan transfusi. 2. eksplorasi renal hanya merupakan kelanjutan dari prosedur ini. Intervensi diperlukan hanya pada perdarahan yang persisten atau urine leakage. tanpa ekstravasasi urine tercatat.2: 1. Jika quantitative radionuclide scintigraphy menunjukkan fungsi yang minimal pada ginjal hidronefrotik yang terluka setelah 4–6 minggu dekompresi. Ekstravasasi urin dari laserasi parenkim termasuk juga sistem kalises (Grade IV) dari ginjal yang normal sebelumnya biasanya tertangani dengan bed rest. Kasus-kasus dimana operasi diindikasikan yaitu pada pasien dengan perdarahan retroperitoneal yang persisten. Pengambilan gambaran radiologis ulang 2-4 hari setelah trauma meminimalkan risiko komplikasi. nefrectomi diperlukan. nilai derajat keparahan trauma dan mortalitas. Kerusakan grade IV pada ginjal dengan obstruksi sebelumnya membutuhkan retrograde urography untuk diagnosis. membutuhkan operasi. biasanya pasien dengan trauma tajam. 6  Post-operative care dan follow-up Pasien yang sukses diterapi secara konservatif memiliki beberapak risiko komplikasi.

hematokrit menurun secara tidak jelas. 15 . Pembentukan abses perinefrik biasanya paling baik ditangani dengan drainase perkutan. walaupun penilaian hipertensi renovaskular yang laten perlu dilanjutkan bertahun-tahun. hidronefrosis. hipertensi. paling banyak pada laki-laki dewasa muda. 2 Trauma ginjal jarang menyebabkan hipertensi. ekstravasasi urine dan urinoma. infeksi. walaupun manfaat untuk pasien belum dibuktikan dalam literatur. fistula arteriovenosa. Hidronefrosis membutuhkan bedah koreksi atau nefrektomi. pemeriksaan radiologi. urinalisis. 2 Nuclear reanl scans berguna untuk mendokumentasikan perbaikan fungsional pasien setelah rekonstruksi ginjal sebelum keluar dari rumah sakit. pembentukan kalkulus. 2  Tatalaksana komplikasi 1    Urinoma retoperitoneal atau abses perinefrik membutuhkan drainase bedah yang segera.grade 3-5. walaupun drainase terbuka terkadang dibutuhkan. Untuk mendeteksi banyak komplikasi (delayed complication). Komplikasi Komplikasi awal terjadi dalam bulan pertama setelah trauma dan dapat terjadi perdarahan. yang dapat berlanjut menjadi nefroktomi ketika jaringan yang rusak sulit untuk direkonstruksi. atau nyeri pinggang yang signifikan. Embolsisasi angiografik selektif adalah terapi pilihan. CT scan harus selalu dilakukan pada pasien dengan demam. Follow-up harus dilanjutkan hingga perbaikan terdokumentasi dan temuan laboratorium telah stabil. Frekuensi hipertensi post-trauma kira-kira kurang dari 5 % kasus yang dipublikasikan. excretory urogram direkomendasikan dalam 3 bulan trauma ginjal mayor. 2 Follow-up harus mencakup pemeriksaan fisik. dan pseudoaneurysms. sepsis. Komplikasi akhir antara lain perdarahan. manfaat CT scan berulang setelah trauma tidak pernah berkembang dengan memuaskan. pielonefritis kronik. 2 Perdarahan retroperitoneal yang terlambat biasanya terjadi dalam beberapa minggu setelah trauma dan bisa menjadi life-threatening. hipertensi. Hipertensi malignan membutuhkan perbaikan vascular atau nefrektomi. pengukuran tekanan darah secara berkala dan pemeriksaan laboratorium serum untuk fungsi ginjal. Walaupun begitu. abses perinefrik. Penanganan komplikasi secara perkutan dapat mengurangi risiko kerusakan ginjal daripada re-operation. fistula urinarius.

Hipertensi yang dimediasi-renin dapat terjadi selama komplikasi. devitalized fragments dan fistula arteriovenosa.Hipertensi dapat terjadi secara akut sebagai akibat dari penekanan eksternal oleh hematoma perirenal (“page kidney”). etiologinya antara lain trombosis aretri renalis. 2 Prognosis Dengan follow-up yang hati-hati. trombosis segmental arterial. Hipertensi biasanya tergantung-renin dan berkaitan dengan kerusakan parenkim. sebagian besar kerusakan ginjal memiliki prognosis yang baik. stenosis arteri renalis (“goldblatt kidney”). atau secara kronis karena pembentukan jaringan parut yang kompresif (“goldblatt kidney”). Follow-up excretory urography dan monitoring tekanan darah dapat memastikan deteksi dan penanganan yang sesuai untuk hidronefrosis maupun hipertensi. dengan perbaikan yang spontan dan kembali ke fungsi ginjal. 1 16 .

Salah satunya yaitu case-report oleh Mohammadi dkk. termasuk 8 hematoma bilateral. ditemukan ruptur ginjal tanpa trauma. Polyarteritis nodosa (PAN) merupakan vaskulitis nekrotik sistemik yang mengenai arteri-arteri berukuran kecil dan sedang. infark renal multipel. Penting untuk diingat bahwa pasien PAN dengan nyeri pinggang atau abdomen. tetapi perdarahan retroperitoneal spontan merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada PAN. tanpa disertai riwayat trauma pada ginjal maupun abdomen. PAN dapat mengenai arteriola renalis pada kira-kira 80 % kasus. Keterlibatan ginjal dapat menyebabkan microanuerysms. 7 17 . hipotensi dan takikardi dapat merupakan kasus hematoma perirenal diikuti ruptur ginjal secara spontan. nefrektomi sesegera mungkin terkadang dapat menyelamatkan nyawa. Terdapat juga beberapa laporan mengenai penanganan yang sukses pada beberapa kasus dengan embolisasi arterial selektif. sistem urogenital hampir selalu terlibat. patologi testikular dan insufisiensi renal termasuk dalam kriteria diagnostik PAN. dimana ditemukan kasus ruptur ginjal spontan pada pasien dengan polyarteritis nodosa. 7 Prognosis PAN sangat dapat membaik dengan kortikosteroid dan siklofosfamide. 7 Pada PAN. Ruptur ginjal spontan dan hematoma perirenal merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada PNA. dengan kira-kira 60 % laporan kasus. Keterlibatan testikular dapat dilihat dari nyeri skrotal akut atau nyeri ringan pada massa testis.RUPTUR GINJAL AKIBAT NON TRAUMA Pada beberapa case-report. Pada kasus perdarahan retroperitoneal masif akut. proteinuria dan insufisiensi renal.

2001. Essential Radiology: Clinical Presentation. et. 2nd ed. & McAninch. 2006. Potts. Spontaneous Kidney Rupture in a Patient with Polyartertis Nodosa. Available from: http://www. Gunderman. N. Rupture of a Ureteropelvic Junction-Obstructed Kidney in a 15-year-old Football Player. Pathophysiology.. R.Daftar Pustaka 1.. BIOS Scientific Publishers Limited: Oxford. 17th ed. Mohammadi. Smith. Guidelines on Urological Trauma. S. 6. et.al. European Association of Urology. M. Tanagho. 3. Brewster.org/ 7. & Ebadzadeh. Djakovic. Trauma Cases from Harborview Medical Center. New York: Thieme. 2004.ajronline. 11 (4): 270-272. JW. Imaging. A. M. 2006. EA.. 2008. 2. 2009. Urology: A Handbook for Medical Students. M. Gharaati.al.sid. 2003. New Jersey: Humana Press. New York: The McGraw-Hill Companies. 4. Available from: http://www. M. JRMS. Smith’s General Urology.ir/ 18 . AJR: 180. Essential Urology: A Guide to Clinical Practice. 5.