BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Dalam tiga dasa warsa terakhir ini pengakuan dunia terhadap pentingnya peran perempuan dalam pembangunan semakin meningkat, karena perempuan merupakan kelompok yang mewakili separuh dari penduduk dunia. Dari sisi pembangunan, perempuan merupakan lebih separuh dari pelaku pembangunan dan lebih separuh dari pemanfaat hasil pembangunan. Sebelum Dekade Wanita PBB dikumandangkan pada tahun 1975-1985, posisi dan peran perempuan telah diperhatikan oleh pemerintah negara dunia ketiga dan oleh organisasi internasional seperti WHO dan UNICEF. Peranan perempuan pada masa itu terbatas pada upaya peningkatan kesejahteraan keluarga dan tidak dikaitkan dengan kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Perempuan menjadi sasaran program pembangunan di bidang kesehatan dan program “belas kasihan” yang menganggap perempuan perlu dikasihani. ( Slamet Widodo, 2008). Berdasarkan data statistik penduduk, jumlah perempuan di Indonesia sebanyak 50,3% dari total penduduk. Hal ini berarti di Indonesia jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Melihat jumlah perempuan yang demikian besar maka potensi perempuan perlu lebih diberdayakan sebagai subyek maupun sebagai obyek pembangunan bangsa. Peranan strategis perempuan dalam menyukseskan pembangunan bangsa dapat dilakukan dalam banyak hal melalui: a. Peranan perempuan dalam keluarga, dimana perempuan merupakan benteng utama dalam keluarga. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dimulai dari peran perempuan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya sebagai generasi penerus bangsa. b. Peranan perempuan dalam Pendidikan : Jumlah perempuan yang demikian besar merupakan aset dan problematika di bidang ketenaga kerjaan. Pengelolaan potensi perempuan melalui bidang pendidikan dan pelatihan maka tenaga kerja perempuan akan semakin menempati posisi yang lebih terhormat untuk mampu mengangkat derajat bangsa. c. Peranan perempuan dalam bidang ekonomi : Pertumbuhan ekonomi akan memacu pertumbuhan industri dan peningkatan pemenuhan kebutuhan dan kualitas hidup. Di sektor ini perempuan dapat membantu peningkatan ekonomi keluarga melalaui berbagai jalur baik kewirausahaan maupun sebagai tenaga kerja yang terdidik. d. Peranan perempuan dalam pelestarian lingkungan: Kerusakan lingkungan yang semakin parah karena proses industrialisasi maupun pembalakan liar perlu proses reboisasi dan perawatan lingkunga secara intensif. Dalam hal ini perempuan memiliki potensi yang besar untuk berperan serta didalamnya. (Lembaga Informasi Negara, 2001).

e. Peranan perempuan dalam bidang kesehatan: sudah tidak diragukan lagi kiprahnya, berkat peran perempuan diberbagai profesi kesehatan, perempuan mempunyai andil yang cukup besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Masih banyak peran-peran yang lain, yang menuntut keterlibatan perempuan didalamnya. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang (developing country) dan sedang giatnya melaksanakan pembangunan di segala aspek kehidupan. Sebagai amanat konstitusi, pembangunan dilaksanakan guna mewujudkan masyarakat sejahtera dalam suasana yang damai, sekaligus berusaha mengejar ketertinggalannya untuk menjadi negara yang maju dan berperadaban. Keterlibatan kaum perempuan dalam pembangunan bangsa Indonesia sebenarnya sudah sejak lama dimulai, secara eksplisit dengan gencarnya dilaksanakan ketika lembaga Kementerian Peranan Wanita didirikan secara resmi akhir tahun 70-an. Realitasnya tidak dapat dipungkiri bahwa peran kaum perempuan dalam pembangunan sedemikian besarnya, ikut serta menentukan arah dan keberhasiIan pembangunan nasional Indonesia. Konsep pembangunan kemampuan peranan perempuan yang dipergunakan, berkembang menjadi pemberdayaan perempuan yang berarti meningkatkan kualitas dan peran perempuan pada semua aspek kehidupan baik secara langsung atau tidak langsung melalui penciptaan situasi-situasi yang kondusif sebagai motivator dan akslerasi proses pembangunan. Karls (1995) dalam Dwi Astuti Imam Sudjarwo (2007), memandang bahwa pemberdayaan kaum perempuan sebagai suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar, kekuasaan dan pengawasan dalam pembuatan keputusan dan tindakan transformasi agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan kaum laki-laki. Diakui selama ini ada anggapan bahwa kualitas perempuan dalam pembangunan masih sangat rendah, yang menyebabkan peran kaum perempuan tertinggal dalam segala hal. Salah satu indikator integrasi perempuan dalam pembangunan adalah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan disemua bidang lapangan kerja sebagai politikus, PNS, karyawan, buruh perusahaan termasuk petani, hingga tahun 1998 saja mencapai 40,2 persen (Dwi Astuti Imam Sudjarwo, 2007). Kondisi ini dapat dipahami begitu besar andil perempuan dalam pembangunan nasional yang diprediksi akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Meskipun Women In Development Approach (WID) yang diperkenalkan oleh United States Agency for International Development (USAID) bahwa perempuan merupakan sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan sumbangan ekonomi dalam pembangunan. Ini berarti bahwa perempuan dan pembangunan telah menjadi sorotan dunia internasional termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam kajian yang lebih komprehensif. Hubeis (1985) mengatakan, analisis

alternatif peran perempuan dalam mendorong pembangunan dapat dilihat dari tiga aspek yakni: a. peran tradisi atau peran domestik yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Perempuan yang berhasil mengelola rumah tangga dengan baik akan menjadi inspirasi dan motivator bagi pelaku pembangunan, b. peran transisi yang berkaitan dengan garapan lahan pertanian atau bekerja di usaha keluarga dan c. peran kontemporer. Perempuan memiliki peran di luar rumah tangga atau disebut wanita karier. Peran-peran ini menunjukkan bahwa perempuan baik langsung maupun tidak langsung mempunyai kontribusi yang besar terhadap pembangunan bangsa. Pemerintah telah menempatkan kaum perempuan sebagai partner yang manis bagi pembangunan. Isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang berkembang berkisar dalam suatu pemikiran bahwa perempuan sebagai sumber daya pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women In Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan nasional. Konsep ini memberikan porsi kepada kaum perempuan untuk lebih eksis meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan menuju bangsa yang sejahtera dan penuh kedamaian. Pendekatan Women In Development, partisipasi perempuan dalam pembangunan mensyaratkan adanya kemampuan teknis dan profesional yang dibutuhkan. Ini berarti bahwa potensi dan kapabilitas teknis kaum perempuan harus ditingkatkan melalui: a. upaya mengintegrasikan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, tanpa banyak mempersoalkan sumber-sumber yang menyebabkan mengapa perempuan dalam masyarakat bersifat inferior, sekunder dan dalam hubungan subordinasi terhadap laki-laki. Indikator integrasi perempuan dalam pembangunan diukur dari TPAK perempuan, akses pendidikan, hak-hak politik, kewarganegaraan dan sebagainya, b. menempatkan perempuan sebagai pelaku penting dalam masyarakat sehingga posisi perempuan akan menjadi lebih haik, asumsinya perempuan telah dan selalu menjadi bagian dari pembangunan nasional, dan c. konstruksi sosial yang membentuk persepsi dan harapan serta mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan yang menyebabkan rendahnya kedudukan dan status perempuan harus dihilangkan. Peran perempuan dalam pembangunan bangsa Indonesia sangat besar, perempuan merupakan komponen terbesar dari penduduk dan merupakan aset bangsa yang potensial dan kontributor yang signifikan dalam pembangunan bangsa baik sebagai agen perubahan maupun subyek pembangunan. Kondisi ini akan dapat

diwujudkan apabila hak dan kebutuhannya dipenuhi serta kualitasnya ditingkatkan. Apa lagi dengan dikeluarkannya Inpres No.9 Tahun 2000 tentang Pengarus Utamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang secara nyata telah berhasil meningkatkan kesejahteraan perempuan (Detty Rosita,2010). Kebijakan pemerintah dibidang pengarus utamaan gender ditetapkan dan dilakukan pemerintah tidak dapat dipisahkan dari upaya secara keseluruhan yaitu mewujudkan visi kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan dibidang pemberdayaan perempuan dan gender. Kebijakan tersebut merupakan dukungan perangkat, sehingga percepatan pembangunan perempuan dapat terlaksana dengan baik. Selain itu komitmen internasional dibidang pembangunan perempuan juga turut mempengaruhi komitmen pemerintah dan masyarakat untuk lebih bersungguh-sunggguh memperhatikan kemajuan peran dan tanggung jawab perempuan dalam pembangunan. Strategi pengarus utamaan gender dan proses pembangunan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan fungsional semua SKPD, baik dilingkup pusat maupun pemerintah daerah. Pada rapat kerja (raker) presiden RI di istana Tampak Siring, Bali pada tanggal 19-21 April 2010 yang juga dihadiri oleh seluruh Gubernur bersama jajarannya, pengarus utamaan gender juga menjadi bahasan pada kelompok kerja yang membidangi MDG’s (Millenium Development Goals). MDG’s merupakan sebuah paket yang berisi tujuan yang mempunyai batas waktu dan target terukur untuk menanggulangi kemiskinan, kelaparan, pendidikan, diskriminasi perempuan, kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit dan perbaikan kualitas lingkungan. Dalam hal ini, meskipun berbagai upaya meningkatkan kedudukan, peran dan kualitas perempuan dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender serta pencapaian target MDG’s yang dilakukan selama ini telah menghasilkan berbagai kemajuan terutama dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan. (buanasumsel | Apr 29, 2010) 2. Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu: a. Untuk mengetahui perkembangan PHC di indonesia b. Untuk mengetahui pengertian PHC c. Untuk mengetahui peran serta masyarakat PHC d. Untuk mengetahui peran dan kedudukan kader kesehatan dalam PHC