Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur

1 Pendahuluan
Gempa bumi (earthquake) adalah salah satu peristiwa alam yang dapat menimbulkan bencana, yang pada umumnya terjadi akibat rusak atau runtuhnya gedung, rumah, atau bangunan buatan manusia. Lapisan kulit bumi dengan ketebalan 100 km mempunyai

temperatur relatif jauh lebih rendah dibanding dengan lapisan dalamnya ( mantel dan inti bumi ), sehingga terjadi aliran konveksi dimana massa dengan temperatur tinggi mengalir ke daerah temperatur rendah atau sebaliknya. Teori aliran konveksi ini sudah lama berkembang untuk menerangkan terjadinya pergeseran pelat tektonik yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi tektonik. Disamping itu kita juga mengenal gempa vulkanik, gempa runtuhan, gempa imbasan, dan gempa buatan. Gempa vulkanik disebabkan oleh desakan magma ke permukaan, gempa runtuhan banyak terjadi di pegunungan yang runtuh, gempa imbasan biasanya terjadi di sekitar dam karena fluktuasi air dam, sedangkan gempa buatan adalah gempa yang dibuat oleh manusia seperti ledakan nuklir atau ledakan untuk mencari bahan mineral. Skala gempa tektonik jauh lebih besar dibandingkan dengan jenis gempa lainnya, sehingga efeknya lebih banyak terhadap bangunan. Hampir setiap tahun bencana gempa bumi terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Walaupun bencana ini berpengaruh sangat besar terhadap perekonomian regional dan pembangunan, kelihatannya masih sangat sedikit usaha-usaha yang dilakukan untuk mengantisipasi, mempersiapkan, atau mengurangi pengaruh bencana dari gempa-gempa yang akan datang. Sepanjang sejarah manusia, gempa bumi telah menimbulkan banyak korban jiwa serta harta benda di seluruh dunia. Bencana ini pada umumnya disebabkan oleh gagalnya bangunan-bangunan buatan manusia. Sampai saat ini manusia belum dapat berbuat banyak untuk mencegah terjadinya gempa bumi, meskipun demikian manusia dapat berihtiar dan berusaha untuk mengurangi dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh bencana gempa. Oleh karena itu, salah satu upaya nyata untuk mengurangi atau mencegah pengaruh gempa bumi yang akan datang adalah dengan memberikan ketahanan gempa yang cukup terhadap bangunan-bangunan tersebut. Secara geografis, kepulauan Indonesia berada di antara 60 LU dan 110 LS, serta diantara 950 BT dan 1410 BT, serta terletak pada perbenturan tiga lempeng kerak bumi yang disebut triple juntion, yaitu : Lempeng Eurasia, Lempeng Pasific, dan Lempeng Indo

Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur

1

Australia (Gambar 4.1). Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan dengan lempeng Pasific di utara Irian dan Maluku Utara. Di sekitar lokasi pertemuan antara lempeng ini, akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi, sehingga energi yang terkumpul akan dilepaskan berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini akan menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsoran, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber gempa, jenis tanah di lokasi bangunan, dan kualitas dari bangunan. Benturan tiga lempeng tektonik bumi yang terjadi di Indonesia membuat kawasan ini berpola tektonik yang sangat komplek. Oleh karena itu di Indonesia terdapat berbagai jalur rawan tektonik yang dapat menimbulkan gempa tektonik, dan sebagian besar bersifat merusak. Gempa bumi tektonik dapat digolongkan sebagai bencana alam geologi, karena bencana ini ditimbulkan oleh bencana alam dengan karakteristik yang spesifik yaitu terjadi secara cepat dan mendadak, tanpa dapat diramalkan terlebih dahulu intensitas besar dan arahnya, serta waktu kejadiannya. Pada akhir abad ke 20 ini sangat banyak gempa yang terjadi di Indonesia. Gempagempa yang terjadi ini umumnya menyebabkan bencana yang mengakibatkan korban jiwa dan kerugian harta benda. Tidak kurang dari belasan gempa bumi besar telah melanda Indonesia, dan beberapa diantaranya mencapai magnitude > M=6 pada Skala Richter, bahkan ada yang disertai dengan gelombang pasang (Tsunami) seperti gempa yang terjadi di Sumbawa, Flores, dan Banyuwangi. Kita tidak bisa melupakan gempa-gempa hebat yang terjadi di Bali (1976), Flores (1992), Halmahera (1994), Liwa (1994), Banyuwangi (1994), Kerinci (1995), Biak (1996), Pandeglang (1997,1999), Sukabumi (2000), Bengkulu (2000), Papua (2004), Bali (2004), dan Kepulauan Alor (2004). Beberapa gempa bahkan dirasakan dampaknya di Jakarta, sehingga mendorong kita semua untuk memperhatikan fenomena gempa lebih serius. Terjadinya gempa bumi di beberapa wilayah di Indonesia mengingatkan kita bahwa, kepulauan Indonesia termasuk daerah yang rawan terhadap bencana gempa. Distribusi gempa bumi besar yang bersifat merusak dengan magnitude M > 6 pada Skala Richter yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1900 sampai dengan 1996, diperlihatkan pada Gambar 4.2. Dari distribusi gempa besar yang pernah terjadi, terlihat bahwa kawasan Indonesia khususnya sebagian Sumatera dan Jawa, serta hampir seluruh wilayah Indonesia

Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur

2

bagian timur yang meliputi kepulauan Bali, NTT, dan NTB adalah daerah yang rawan bencana gempa.
110 mm / yr Lempeng Eurasia

Lempeng Pasifik

71 mm / yr

Lempeng Indo-Australia

Gambar 1. Lingkungan tektonik Indonesia terdiri dari tiga lempeng tektonik; Indo-Australia, Pasifik dan Eurasia yang bergerak relatif terhadap lainnya (lihat arah panah). Batas lempeng tektonik merupakan daerah konsentrasi aktifitas gempa bumi yang diplot sebagai garis hitam dan segi tiga. Garis tebal merupakan sesar aktif, sedangkan lingkaran adalah stasiun seismograf (Sumber : Badan Metereologi dan Geofisika).

Lempeng Eurasia

Lempeng Pasifik

Lempeng Indo-Australia

Gambar 2. Distribusi lokasi gempa bumi besar yang pernah terjadi tahun 1900 s/d 1996 dengan magnitude M > 6 pada Skala Richter (Sumber : Badan Metereologi dan Geofisika).

Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur

3

Kerusakan maupun kerugian yang diakibatkan bencana gempa cukup besar, baik dari kerusakan sarana dan prasarana, serta hancurnya banyak rumah penduduk di suatu wilayah permukiman. Lebih parah lagi adalah, sebagian besar dampak diakibat gempa adalah kerusakan dari bangunan rumah sederhana yang dihuni oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Sementara itu banyaknya korban jiwa maupun luka-luka akibat terjadinya gempa mengindikasikan kurangnya antisipasi dan kesiapsiagaan masyarakat akan terjadinya bencana gempa. Untuk itulah diperlukan upaya terpadu pengurangan dampak bencana gempa yang melibatkan seluruh potensi masyarakat. Untuk dapat mengurangi bencana yang diakibatkan oleh gempa, beberapa usaha yang dapat dilakukan manusia diantaranya adalah : Memahami tingkah laku alam, sehingga manusia dapat mengikuti keinginan alam, dengan demikian manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis dan selaras dengan alam. Mencoba untuk memperkirakan kapan suatu gempa tektonik atau gempa vulkanik akan terjadi. Usaha-usaha ini telah mendorong berkembangnya suatu disiplin ilmu yang dikenal dengan Peramalan Gempa (Earthquake Prediction). Mencoba untuk mempelajari perilaku dari suatu struktur atau konstruksi bangunan jika diguncang gempa, dengan harapan akan dapat direncanakan dan dibangun struktur atau konstruksi bangunan yang tahan terhadap pengaruh gempa. Usaha ini telah mendorong lahirnya suatu disiplin ilmu yang disebut Rekayasa Gempa (Earthquake Engineering). Ilmu ini merupakan bagian dari ilmu Teknik Sipil.

Indonesia merupakan kawasan rawan gempa tektonik, dengan intensitas kegempaan yang cukup besar. Dalam 50 tahun terakhir ini, tidak kurang dari belasan gempabumi besar telah melanda kawasan ini, dan beberapa diantaranya mencapai magnitude gempa M=7 pada Skala Richter. Sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang banyak dimanifestasikan pada sektor properti seperti pembangunan gedung-gedung bertingkat dalam jumlah yang besar, pengaruh gempa dapat menambah kerawanan akan jatuhnya korban jiwa dan harta benda, bila perencanaan struktur bangunan terhadap gempa tidak ditangani dengan memadai.

Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur

4

Kedalaman dan magnitude gempa di Indonesia. tahun 1991 s/d 2000 (Sumber : Badan Metereologi dan Geofisika ). Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 5 .Gambar 3.

bangunan rangka baja sederhana. fasilitas pembangkit tenaga listrik atau tenaga nuklir. Bangunan-bangunan ini pada umumnya menggunakan bahanbahan dan sistem struktur yang modern. melainkan mengikuti cara-cara yang diperoleh dari hasil pengamatan tingkat laku bangunan sejenis yang mengalami gempa bumi di masa lalu.2 Konstruksi Engineered Dan Non-Engineerred Rekayasa struktur bangunan tahan gempa merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan manusia untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh bencana gempa. struktur jembatan dan jalan layang. bangunan tembokan (bata. dan pelaksanaannya tidak dibantu Arsitek atau Ahli Bangunan. Rekayasa struktur bangunan di daerah rawan gempa. agar kerugian material / harta benda dan jatuhnya korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin. syarat-syarat minimum untuk prosedur perencanaan struktur bangunan tahan gempa telah tercantum di dalam beberapa peraturan yang berlaku. Yang termasuk kategori pertama adalah. seperti beton bertulang dan baja. bangunan beton bertulang sederhana. Bangunan yang termasuk kategori ini pada umumnya disebut bangunan tradisional. Bangunan tradisional pada umumnya mempunyai ketahanan yang cukup baik terhadap gempa. bangunan yang dibangun menurut tradisi dan disesuaikan dengan budaya dan bahan bangunan yang tersedia di daerah tersebut. Bangunan Non-Engineered Construction dapat dibagi menjadi dua katergori. Di Indonesia. Kearifan tradisional. yaitu Engineered Construction dan Non-Engineered Construction. bangunan-bangunan yang ada dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan proses perencanaan dan pelaksanaannya. serta bahan bangunan yang dipakai untuk bangunan tradisional pada suatu wilayah merupakan bukti dari keselerasan hidup berdampingan secara harmonis antara manusia dengan dengan alam. Pola permukiman manusia. memerlukan filosofi dan antisipasi yang tepat dengan menggunakan spesifikasi atau peraturan yang berlaku. pengalaman dan keahlian Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 6 . Engineered Construction adalah bangunan yang direncanakan berdasarkan perhitungan struktur. Non-Engineered Construction adalah bangunan yang dibangun secara spontan berdasarkan kebiasaan tradisional setempat. bangunan kayu dan bambu. Pada dasarnya. batako) yang memakai perkuatan (kolom dan balok praktis) maupun yang tidak memakai perkuatan. Non-Engineered Construction mencakup bangunan tradisional. cara-cara tradisional. Sebagai contoh dari Engineered Construction adalah struktur bangunan gedung bertingkat. dan bendungan. dan dilaksanakan atau dibangun di bawah pengawasan para Ahli Bangunan. batu.

Sistem struktur bangunan tradisional ini terdiri dari saka (kolom) dan balok sunduk dengan penguat pasak. Dari pengalaman gempa yang terjadi di Indonesia. maupun di pedesaan. Gambar 4. dan negara-negara belum. Di Indonesia. Bangunanbangunan tersebut terutama mencakup bangunan tembokan (bata. tanpa mendapatkan bantuan dari Arsitek atau Ahli Bangunan. batu. Jumlah perbandingan masing-masing kategori bangunan agak berbeda untuk negaranegara maju. baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan. kegagalan atau kehancuran struktur dari bangunan kategori kedua inilah yang sering menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda.yang berkembang selama berabad-abad. mampu menghasilkan karya bangunan tradisional yang tahan terhadap pengaruh gempa. Engineered Construction pada umumnya hanya terdapat di kota-kota besar. negara-negara sedang berkembang. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 7 . Struktur tradisional ini cukup kuat menahan gempa Karangasem 2 Januari 2004 Bangunan tradisional ini lambat laun hilang dan digantikan dengan bangunan NonEngineered Construction yang termasuk kategori kedua yaitu bangunan rumah tinggal sederhana atau bangunan komersial yang dibangun oleh pemilik bangunan atau tukangtukang setempat. sedangkan NonEngineered Construction tersebar baik di kota-kota besar atau kecil. Bangunan tradisional dengan Arsitektur Bali. Bangunan-bangunan tersebut pada umumnya dibangun dengan tidak memperhatikan prinsip-prinsip yang diperlukan agar memiliki ketahahan yang baik terhadap gempa. batako) atau bangunan beton bertulang sederhana. Di Indonesia bangunan-bangunan ini banyak dijumpai di daerah permukiman penduduk. Bangunan Non-Engineered Construction kategori yang kedua ini merupakan bangunan yang paling banyak dibangun di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia.

gempa Nabire di Papua (Februari 2004) . Batasan untuk mendapatkan fungsi tersebut dalam kaitannya dengan ketahanan bangunan terhadap pengaruh gempa bumi. Suatu gempa dapat secara efektif mencari dan menemukan kelemahan-kelemahan suatu struktur bangunan. Untuk memperoleh informasi mengenai ragam kerusakan dari bangunan-bangunan pada saat terjadi gempa. kurangnya pengawasan. yaitu gempa Karangasem di Bali (Januari 2004). Hal ini berlaku untuk bangunan Engineered Construction maupun Non-Engineered Construction. atau pelaksanaan yang tidak memadai. di bawah ini diuraikan secara singkat 3 gempa besar yang pernah terjadi di wilayah Indonesia Timur selama tahun 2004. dan gempa Alor di NTT performance bangunan yang terobservasi pada saat terjadi gempa dimasa Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 8 . serta ekonomis dalam biaya pembangunannya. Kebanyakan kegagalan struktur hasil dari pengamatan kerusakan akibat gempa masa lampau. Penelitian kerusakan bangunan akibat gempa di masa lampau dan pengaruhnya pada berbagai macam struktur. Sedangkan pada Non-Engineered Construction orientasinya lebih dititik beratkan pada kriteria “ penyelamatan korban jiwa “ pada saat terjadi gempa. karena orientasinya adalah penyelamatan korban jiwa dan juga harta benda. Sejak beberapa tahun yang lalu. 3 Pelajaran Dari Kerusakan Bangunan Akibat Gempa Setiap gempa bumi yang merusak selalu memberikan pelajaran baru untuk diteliti. pada saat struktur bangunan digoncang gempa. biasanya dikaitkan dengan pertimbangan biaya dan risiko yang dapat diterima. dapat memberikan informasi yang jelas untuk peningkatan pengetahuan mengenai rekayasa struktur bangunan tahan gempa. erat kaitannya dengan kekurangan-kekurangan pada bangunan yang didirikan. aman bagi keselamatan jiwa dan harta benda. Ini terutama sekali benar untuk bangunan-bangunan Non-Engineered Construction. karena untuk bangunan ini perencanaan tahan gempanya kebanyakan hanya berdasarkan lampau. Inspeksi lapangan terhadap bangunan yang rusak akibat gempa adalah cara yang paling efektif untuk memperoleh informasi tersebut. agar struktur bangunan mempunyai performance yang baik pada saat terjadi gempa. tapi kedua kategori bangunan ini sesungguhnya harus dapat berfungsi dengan baik pada saat terjadi gempa. batasan atau kriteria desain untuk Engineered Construction didasarkan pada kriteria performance based design.Meskipun berbeda dalam proses perencanaan dan pelaksanaannya. apakah itu disebabkan karena perencanaan yang tidak benar.

Karangasem (V-VI MMI).9 pada Skala Richter. Lokasi kerusakan terparah terjadi di kota Nabire. Getaran yang terasa terjadi selama 10 detik dengan durasi catatan signal gempa selama 5 menit. dengan kedalaman gempa 33 kilometer. terjadi banyak gempa susulan berkekuatan di atas 5.6 SR.340 LS dan 15. Sebelumnya. sebagai pelajaran akan ditinjau juga kerusakan-kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa Bengkulu.70 LS dan 1020 BT. Gempa yang terjadi memiliki tipe gempa utama yang diikuti dengan gempa susulan (after shock). Hal seperti ini jarang terjadi di Indonesia. yang merupakan kota terpadat penduduknya di wilayah tersebut. sehingga daerah tersebut porak-poranda. pada 20 Oktober 1979 di Karangasem juga pernah terjadi gempa yang mengakibatkan 7 orang tewas.31.870 BT. dengan kedalaman gempa 33 kilometer. dengan intensitas hingga 6-7 Skala MMI. dan merupakan salah satu gempa besar dan merusak dengan kekuatan gempa utama (main shock) M=7. dan Denpasar (IV-V MMI). Dari hasil catatan USGS (US Geological Survey National Earthquake Information Center). dan 250 orang luka ringan. bahkan di Lombok dilaporkan seorang meninggal dunia. ribuan bangunan termasuk tempat ibadah (pura dan masjid) retak dan roboh. Guncangan paling keras dirasakan hampir di seluruh daerah di kawasan Pulau Bali bagian timur dan Pulau Lombok bagian barat. maka tidak terjadi kerusakan dan korban jiwa yang lebih parah. Berdasarkan analisis Pusat Gempa Regional III. Pusat gempa (epicenter) berada pada koordinat 4.1 Gempa Karangasem-Bali ( Januari 2004 ) Jumat pagi. 3. Adapun magnitude atau besarnya energi yang terpancar dari pusat hiposentrumnya memiliki kekuatan 6. Selain gempa-gempa yang terjadi di wilayah Indonesia Timur.(Nopember 2004). Data resmi dari pemerintah menyatakan bahwa 37 orang tewas. 110 luka Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 9 .1 WITA sepanjang Kepulauan Bali-Lombok merasakan kerasnya guncangan gempa. Guncangan gempa dirasakan di Ampenan (IV-V MMI). Kerugian akibat gempa di Karangasem tercatat puluhan orang luka-luka.59. pusat gempa berada pada koordinat 8. Jum’at pagi pukul 04.2 Gempa Nabire ( Februari 2004 ) Gempa Nabire di wilayah Papua terjadi pada 6 Februari 2004.05 WIT di daerah " leher burung " Papua diguncang gempa berkekuatan 6.1 pada Skala Richter. Karena pusat gempa berada di laut (Selat Lombok) kurang lebih 27 kilometer sebelah timur Kota Karangasem. 34 orang luka parah. 2 Januari 2004 pukul 4. Gempa Bengkulu terjadi pada 4 Juni 2000. Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III.9 pada Skala Richter (SR). 3.

Pusat gempa diperkirakan berada di Laut Banda. Sebagian besar bangunan-bangunan yang ada di Karangasem. Untuk gedung sekolah. Gempa yang terjadi di Kepulauan Alor pada 12 Nopember 2004 ini lebih besar dari pada gempa sebelumnya yang pernah terjadi pada tahun 1991. NTT). pukesmas. Transportasi ke pulau paling timur Flores putus total. dan di Kepulauan Alor. 3. dan kerusakan pada prasarana transportasi (jalan. dan 75 rusak ringan. maupun di Kepulauan Alor seperti rumah tinggal. Akibat guncangan dahsyat ini. pada posisi 3. di Nabire. Gedung perkantoran yang mengalami rusak ringan sebanyak 117.30 hingga 10 WIT. 118 orang luka berat. sejumlah fasilitas umum rusak berat. Sedangkan kerugian material berupa 4203 rumah penduduk rusak berat. di Karangasem. Kawasan paling parah akibat guncangan gempa terletak di Kenari Lang. termasuk gedung DPRD Nabire yang baru saja diresmikan. instansi pemerintah. Kerusakan-kerusakan infrastruktur yang terjadi akibat gempa di Bengkulu (2000). Untuk membangun gedung SD saja yang rusak akibat gempa diperlukan biaya sebesar Rp 58 miliar. jembatan. dan 130 rusak total. Kabupaten Alor berada di palung antara Flores dan Provinsi Maluku (37 km di timur Kota Kalabahi. sekolahan. 4863 rumah rusak ringan. Merupakan gempa yang sangat dangkal hiposenternya.135. dermaga. 63 rusak total. 153 rusak berat. Setelah sempat berhenti sebentar. kerusakan non-struktural pada bangunan rangka sederhana. dan 119 orang luka ringan. Kerugian fisik yang diakibatkan oleh gempa Nabire ini tidak kurang mencapai Rp 360 miliar. jalan-jalan retak. kelurahan Kalabahi Barat. Kerusakan lainnya yang terjadi akibat gempa adalah rusaknya bandara udara. yakni 5. dan 60 buah rusak ringan. dapat dikelompokkan menjadi 4 macam. Gempa mulai terasa pukul 6. Bandara Mali Alor tidak bisa didarati pesawat karena landasan retak-retak. tidak jauh dari kota Nabire. 143 buah rusak berat. Akibat gempa ini 27 orang meninggal dunia. gempa susulan terjadi hingga pukul 17. dengan Frekuensi terjadi gempa setiap 20 menit. Bangunan-bangunan ini pada Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 10 . ibu kota Kabupaten Alor.50 BT. yaitu kerusakan pada bangunan Non-Engineered Construction.3 Gempa Alor ( Nopember 2004 ) Gempa berkekuatan 6 pada Skala Richter mengguncang Kabupaten Alor pada tanggal 12 Nopember 2004. 14 gedung sekolah. Bangunan ibadah yang mengalami kerusakan berjumlah 16 buah rusak total. dan 150 orang cedera. 98 rusak berat.360 LS .berat.4 SR. termasuk dalam kategori bangunan Non-Engineered Construction. yaitu 10 kilometer. dan puluhan bangunan serta sejumlah rumah penduduk. pelabuhan udara).00 WIT. jembatan putus. Gempa di Nabire adalah gempa tektonik dengan tipe inland earthquake. kerusakan struktural pada bangunan Engineered Construction. di Nabire.

Gambar 5. Kerusakan-kerusakan pada bangunan akibat penggunaan mutu bahan dan pengerjaan konstruksi yang buruk (Gempa Nabire. Terpisahnya bagian dinding pada sudut-sudut bangunan atau pertemuan. gempa Nabire dan gempa Alor. Keretakan pada dinding. Kehancuran pada pojok-pojok dinding bangunan. pada umumnya sama dengan kerusakan bangunan akibat gempa yang terjadi di Bengkulu tahun 2000.umumnya adalah bangunan tembokan satu atau dua lantai dengan dinding terbuat dari pasangan batu bata atau batako. Kerusakan-kerusakan pada bangunan tembokan yang terjadi akibat gempa Karangasem. Retak-retak diagonal pada dinding bangunan yang terjadi pada siar-siar dan/atau unsur-unsur penyusun dinding. di tempat-tempat yang terdapat bukaan besar pada bangunan. Kerusakankerusakan tersebut adalah : Hancur atau rubuhnya dinding akibat beban gempa yang bekerja tegak lurus bidang dinding. Februari 2004) Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 11 . Rangka atap terlepas dari dudukannya Retak dan kegagalan pada sambungan atau pertemuan antara kolom dan balok Kerusakan bangunan akibat penggunaan mutu bahan dan pengerjaan konstruksi yang buruk.

Juni 2000) (Gempa Gambar 8. Kerusakan ini disebut kerusakan akibat soft first story. (Gempa Bengkulu.Gambar 6. Kegagalan kolom menahan gaya geser yang besar di bagian atas. karena adanya perbedaan kekakuan yang besar antara lantai tingkat. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 12 . Retak dan kegagalan pada sambungan pertemuan antara kolom dan balok Bengkulu. Rangka atap terlepas dari dudukannya. Juni 2000). karena tidak diangkur dengan baik (Gempa Bengkulu. Juni 2000) Gambar 7.

Kerusakan non-struktural adalah kerusakan pada elemen-elemen bangunan yang tidak difungsikan untuk menahan beban. serta jarak antar tulangan geser (sengkang) yang dipasang terlalu besar. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 13 . Kegagalan kolom menahan gaya geser yang besar. detail penulangan yang tidak benar pada pertemuan antara unsur-unsur perkuatan. dengan demikian kerusakan ini tidak mempengaruhi kekuatan struktur dari bangunan secara keseluruhan. Kerusakan non-struktural pada umumnya meliputi : Penutup atap (genteng) melorot dari dudukannya. Sebagai contoh untuk hal ini adalah : tidak adanya unsurunsur perkuatan untuk bidang-bidang dinding yang luasnya ≥ 6m2 . Dinding pengisi dan dinding façade rusak atau roboh karena dinding-dinding ini tidak diangkur pada elemen-elemen struktur penahan beban. Kerusakan struktural adalah kerusakan yang terjadi pada elemen-elemen bangunan yang difungsikan untuk menahan beban. Kerusakan dari elemen-elemen struktural dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan dari bangunan. diameter dan total luas penampang tulangan yang dipasang terlalu kecil. atau bahkan dapat menyebabkan keruntuhan dari bangunan. Rusaknya kolom-kolom utama dari struktur bangunan. Rangka plafond rusak atau plafond terlepas dari rangkanya. Kerusakan ini disebut kerusakan akibat soft first storey. atau dinding tidak diberi balok-balok dan kolom-kolom praktis. seperti balok-balok dan kolom-kolom utama dari struktur bangunan. Kerusakan ini disebut short column effect.Penyebab utama dari kerusakan-kerusakan di atas adalah karena pengerjaan bangunan yang tidak mengikuti persyaratan minimal dari detail konstruksi yang harus dipenuhi untuk bangunan di daerah rawan gempa. pada umumnya disebabkan oleh : Kegagalan kolom menahan gaya geser yang besar di bagian atas dan di bagian bawah kolom karena gaya geser terpusat akibat perbedaan kekakuan yang besar antara lantai tingkat. Kerusakan akibat gempa dapat berupa kerusakan non-struktural atau kerusakan struktural. Kegagalan kolom menahan gaya geser yang besar pada bagian kolom yang berada diantara 2 bukaan jendela.

yang terputus akibat terlepasnya balok jembatan dari pilar dan jatuh. telah sangat mengejutkan dunia karena begitu besarnya. tidak mustahil negara tersebut akan langsung bangkrut karenanya. highway Osaka-Kobe. Gempa Kobe yang terjadi pada jam 05:46 pagi waktu Jepang dengan lokasi epicenter 34.0°E. Bila kita bandingkan dengan RAPBN 1995/1996 negara kita yang berjumlah 78. telah memberikan pelajaran baru bagi kita. 60 orang hilang. dan selebar 2 km. tetapi juga harta benda. dan 150.3. Gempa dahsyat ini ternyata juga telah meruntuhkan banyak bangunan gedung bertingkat serta jalan layang yang terbuat dari struktur baja. bahwa bukan saja jiwa manusia yang harus diamankan. Gambar 9. adalah setara dengan empat kali RAPBN kita. Dapat dibayangkan jika gempa seperti itu melanda negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.4 Gempa Kobe di Jepang ( Januari 1995) Peristiwa Gempa Kobe di Jepang pada tanggal 17 Januari 1995.787 rumah hancur atau terbakar dalam wilayah seluas 150 hektar. yang tentunya sudah diantisipasi dan direncanakan aman terhadap pengaruh gempa.6° N dan 135. yang dinamakan Gempa Kuat Hanshin.024 trilyun rupiah.2 pada Skala Richter yang terjadi hanya selama lebih kurang 20 detik. mencapai 140 milyar dollar AS atau sekitar 315 trilyun rupiah. maka kerugian finansial yang telah diderita Jepang oleh Gempa Kobe tersebut. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 14 . Wilayah yang mengalami kerusakan berat meliputi daerah sepanjang 25 km.815 orang cedera. 26. struktur beton dan struktur komposit. telah mengakibatkan korban meninggal lebih dari 5270 orang. Bagian dari Jembatan-layang. Kerugian finansial yang telah diderita Jepang oleh Gempa Kobe dengan magnitude gempa M=7.

Kota Kobe yang merupakan kota pelabuhan modern yang telah dibangun selama 130 tahun. Gambar 11.783 mengalami rusak ringan. Kerusakan pada lantai pelataran pelabuhan peti kemas akibat liquefaction Jika hal ini tidak terjadi di Jepang. ternyata hancur oleh gempa yang berlangsung hanya 20 detik.949 bangunan diantaranya hancur total. dimana 54.000 orang kehilangan tempat tinggal. mungkin orang tidak akan begitu heran. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 15 . dan 31. Musnahnya rumah tinggal mengakibatkan sekitar 300. Pilar jembatan jalan layang mengalami kerusakan akibat kombinasi antara gaya tekan dan geser. Selama ini orang terlanjur menganggap bahwa Jepang adalah negeri yang sudah menguasai kiat untuk meredam gempa dengan menggunakan teknologinya yang maju. Secara resmi Pemerintah Daerah Kobe telah mengumumkan bahwa 94.Gambar 10.109 bangunan gedung di kota Kobe telah mengalami rusak berat. Gempa juga telah mengakibatkan pelabuhan besar kontainer Kobe mengalami hancur total dan tidak dapat berfungsi.

sehingga 8. Gambar 12. lintasan jalur kereta api cepat dan kereta api lokal. dokter dan perawat tewas seketika. termasuk gedung rumah sakit Kobe yang berlantai delapan. pelabuhan.000 ton mengalami kebocoran. banyak ahli gempa dari Jepang dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa.2 pada Skala Richter Di lokasi fasilitas LPG Higashi-Nada-Ku. Akan tetapi. serta beberapa gedung bertingkat yang konon telah dibangun atas dasar standar konstruksi nasional. kerusakan yang terjadi pada kawasan metropolis di California Selatan tersebut tidak akan terjadi di Jepang. jaminan keamanan tadi terbukti hanya tinggal sebuah kata. Getaran gempa yang berarah vertikal lebih sulit diantisipasi pangaruhnya terhadap kekuatan struktur. ternyata tidak mampu meredam Gempa Kuat dengan magnitude M=7. sebuah tangki gas berkapasitas 20. Jalan layang.9 pada Skala Richter. Bahkan ketika Los Angeles di Amerika Serikat diguncang Gempa Kuat setahun sebelumnya. Di gedung rumah sakit Kobe ini puluhan pasien. Jalur kereta api cepat shinkansen di Kobe yang direncanakan tahan terhadap gempa berkekuatan M=7.Penggunaan standar konstruksi nasional untuk struktur bangunan tahan gempa di Jepang. ternyata rusak berat hanya dalam waktu 12 detik akibat pengaruh gempa yang berarah vertikal.2 pada Skala Richter. ketika gempa datang mengguncang. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 16 . Rumah Sakit Kobe runtuh akibat gempa berkekuatan M=7.000 warga sekitarnya perlu dievakuasi. memberikan jaminan keamanan bahwa bangunan-bangunan di perkotaan mampu untuk menahan gempa hebat. dengan demikian gempa berarah vertikal lebih berbahaya pengaruhnya dibandingkan dengan gempa yang berarah horisontal yang dapat menimbulkan gerakan-gerakan menyamping pada struktur bangunan. Tidak sedikit bagunan bertingkat tinggi yang runtuh sepenuhnya atau miring.

Isao Sakamoto dari Fakultas Teknik Universitas Tokyo. tentu bukan hanya diberikan di bidang konstruksi saja. juga telah menjamin bahwa bila guncangan gempa mencapai magnitude M=5 pada Skala Richter. demikian pernyataan yang dikatakan oleh Prof. Hal ini mungkin akan menyebabkan diadakannya peninjauan secara radikal terhadap langkah-langkah untuk mengantisipasi pengaruh gempa. gedung bertingkat. Jalan layang. tidaklah diperlukan.Gambar 13. Beberapa korban bahkan banyak yang meninggal bukan disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan. Gempa Kobe juga telah menghancurkan keyakinan dari masyarakat Jepang bahwa negeri itu mampu untuk menahan goncangan gempa yang hebat. Kerusakan pada fasilitas jalur kereta api cepat shinkansen di Kobe Jaminan-jaminan keamanan seperti di atas. Kerusakan yang terjadi pada suatu kawasan padat penduduk atau Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 17 . “Masalah terpenting yang perlu dikaji kembali adalah standar-standar konstruksi bangunan“. menunjukkan tidak pernah terjadi gempa yang hebat. Perusahaan Osaka Gas misalnya. Meskipun dari data sejarah kegempaan selama 100 tahun atau lebih. melainkan karena mengisap gas yang berbahaya ini. Pernyataan dari perusahaan gas kaliber raksasa ini tentunya wajar untuk dipercaya oleh masyarakat. gas akan berhenti secara otomatis dan oleh karenanya kecemasan masyarakat terhadap kebocoran gas. pelabuhan. Tetapi ketika getaran gempa Kobe telah mencapai magnitude M=7.2 pada Skala Richter. belum tentu anggapan tersebut sepenuhnya benar. ada kemungkinan pada suatu saat dapat terjadi Gempa Kuat yang dapat menghancurkan wilayah yang luas serta menimbulkan kerugian harta dan jiwa dalam jumlah sangat besar. banyak kalangan yang menyangsikan bahwa sungguhkah gas memang berhenti secara otomatis. jalur kereta api serta pipa gas. bahwa suatu wilayah yang dianggap tidak mempunyai risiko dilanda Gempa Kuat. bukanlah satu-satunya bangunan yang porak poranda akibat gempa kuat yang melanda Kobe. Gempa Kobe mengingatkan semua pihak.

tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan frekuensi terjadinya gempa saja. Jakarta termasuk di dalam wilayah atau zona gempa 4 yang termasuk wilayah dengan pengaruh kegempaan sedang. Penentuan tingkat risiko terjadinya gempa untuk suatu wilayah. Penggunaan standar bangunan sangat penting untuk menjamin bahwa bangunan tersebut aman untuk dihuni. 4 Risiko Gempa di Indonesia Berdasarkan akibat-akibat yang dapat ditimbulkan oleh bencana gempa di Indonesia. seperti halnya banjir. Dengan mengetahui sejarah kegempaan suatu daerah yang diperoleh dari pengamatan atau rekaman gempa yang pernah terjadi di masa lalu. agar bangunan mempunyai ketahanan yang baik terhadap pengaruh gempa. Sudahkah para ahli struktur dan ahli gempa di Indonesia memikirkan langkah-langkah pengamanan seperlunya untuk menghadapi kemungkinan seperti gempa yang terjadi di Kobe ?. berkat sifat-sifat dari peristiwa gempa yang pernah terjadi sebelumnya. Aspek rekayasa gempa sangat perlu diterapkan pada rekayasa struktur. Seperti halnya dengan Gempa Kuat yang terjadi di Kobe yang tidak diduga sebelumnya. Apakah ketentuan tersebut perlu ditinjau ulang ?. gempa kuat dengan magnitude M=7 pada Skala Richter dengan pusat gempa berjarak 300 km dari lokasi yang ditinjau. sebagaimana halnya pada beberapa bencana alam lainnya. maka perlu adanya upaya-upaya untuk menekan bahaya bencana yang diakibatkan oleh gempa.kota industri yang sudah dipenuhi bangunan-bangunan penting. maka kejadian seperti ini dapat saja terjadi di mana saja termasuk Indonesia. Di dalan standar gempa yang berlaku di Indonesia. dalam suatu kurun waktu tertentu. Hal ini disebabkan karena tingkat risiko gempa diukur berdasarkan kerusakan struktur yang ada pada suatu lokasi. tetapi juga tergantung pada jarak pusat gempa (epicenter) dari lokasi yang ditinjau. Tingkat risiko gempa pada suatu wilayah diartikan sebagai probabilitas atau kemungkinan terlampauinya respon pergerakan tanah yang maksimum pada wilayah tersebut. secara analitis dimungkinkan. belum tentu menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 18 . Peristiwa terjadinya gempa dapat direpresentasikan dengan suatu model matematik dan teori probabilitas. yang tidak hanya tergantung dari besarnya gempa. khususnya di kota-kota besar yang banyak memiliki gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan layang. Tingkat risiko gempa pada suatu wilayah atau zona. serta kondisi tanah pada lokasi tersebut. Sebagai contoh. tingkat risiko atau peluang terjadinya gempa pada suatu wilayah dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus-rumus matematika dan statistik. akan sangat sulit dibangun kembali seperti semula.

dan Gempa Rencana untuk keperluan prosedur perencanaan struktur didefinisikan sebagai berikut : 4. Demikian pula halnya pengaruh beban gempa pada struktur bangunan yang terletak di atas tanah lunak dan di atas tanah keras.1 Gempa Ringan Gempa Ringan adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 92% (RN = 92%). jika risiko terjadinya suatu gempa selama umur rencana bangunan sudah tertentu. yaitu Gempa Ringan. berdasarkan teori probabilitas dapat dinyatakan dalam suatu persamaan matematika sebagai berikut : N RN = 1– 1– 1 TR x 100% dimana : RN TR N = Risiko terjadinya gempa selama umur rencana (%) = Periode ulang terjadinya gempa (tahun) = Umur rencana dari bangunan (tahun) Pada perencanaan struktur bangunan tahan gempa. periode ulang gempa. Hubungan antara umur rencana bangunan. dapat juga berlainan. Konsep keamanan dari suatu struktur terhadap pengaruh gempa. ini berarti bahwa pada saat terjadi gempa elemen-elemen struktur bangunan tidak diperbolehkan mengalami kerusakan struktural maupun kerusakan nonstruktural. mempunyai periode ulang (return period) yang tertentu pula. dan risiko terjadinya gempa. Gempa Sedang. tetapi dengan pusat gempa yang berjarak 50 km. Gempa Ringan. maka gempa dengan kekuatan atau intensitas tertentu. Gempa Kuat.gempa dengan magnitude M=5 atau M=6 pada Skala Richter. Akibat Gempa Ringan ini struktur bangunan harus tetap berperilaku elastis. penampang dari elemen-elemen pada sistem Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 19 . Pada saat terjadi Gempa Ringan. Gempa Sedang dan Gempa Kuat. Karena gempa merupakan peristiwa probabilistik. harus dikaitkan dengan risiko atau peluang terjadinya (incidence risk) gempa tersebut selama umur rencana (design life time) dari struktur bangunan yang ditinjau. atau gempa yang periode ulangnya adalah 20 tahun (TR = 20 tahun). Dengan demikian. perlu ditinjau 3 taraf beban gempa. dari lokasi yang ditinjau. agar tetap mempunyai kinerja yang baik pada saat terjadi gempa. maka periode ulang dari gempa tersebut sudah tertentu pula. untuk merencanakan elemen-elemen dari sistem struktur.

atau gempa yang periode ulangnya adalah 500 tahun (TR = 500 tahun). atau gempa yang periode ulangnya adalah 75 tahun (TR = 75 tahun). maka dapat dianggap bahwa selama umur rencananya. dengan kerusakan struktur yang berat tetapi masih berdiri dan dapat diperbaiki. struktur bangunan pasti akan akan mengalami Gempa Ringan. tidak dipergunakan beban yang diakibatkan oleh Gempa Kuat sebagai dasar perhitungannya. Karena risiko terjadinya Gempa Ringan adalah 92%. 4. Akibat Gempa Sedang ini struktur bangunan tidak boleh mengalami kerusakan struktural.4 Gempa Rencana Karena beban pada struktur yang diakibatkan oleh gempa merupakan beban yang tidak pasti. Gempa Sedang akan menyebabkan struktur bangunan sudah berperilaku tidak elastis. Gempa kuat akan menyebabkan struktur bangunan berperilaku tidak elastis. Akibat Gempa Kuat ini struktur bangunan dapat mengalami kerusakan struktural yang berat. dan akan berdeformasi lebih lanjut secara tidak elastis (inelastis) jika terjadi gempa yang lebih kuat. namun diperkenankan mengalami kerusakan yang bersifat non-struktural. 4. tetapi tingkat kerusakan struktur masih ringan dan dapat diperbaiki dengan biaya yang terbatas. atau risiko terjadinya Gempa Ringan adalah 100% (RN = 100%). 4. atau gempa yang periode ulangnya adalah 2500 tahun (TR = 2500 tahun). namun struktur harus tetap berdiri dan tidak boleh runtuh sehingga korban jiwa dapat dihindarkan. Gempa Rencana adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 10% (RN = 10%). Desain struktur terhadap pengaru Gempa Kuat akan menghasilkan bangunan yang tidak ekonomis.3 Gempa Kuat Gempa Kuat adalah gempa yang peluang atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 2% (RN = 2%).struktur dianggap tepat mencapai kapasitas nominalnya. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 20 .2 Gempa Sedang Gempa Sedang adalah gempa yang peluan atau risiko terjadinya dalam periode umur rencana bangunan 50 tahun adalah 50% (RN = 50%). maka untuk menentuklan besarnya beban gempa yang akan digunakan di dalam perencanaan. untuk perencanaan struktur bangunan terhadap pengaruh gempa digunakan Gempa Rencanan. Di dalam standar gempa yang baru dicantumkan bahwa.

Gempa Sedang dan Gempa Kuat dengan periode ulang 20. Peluang atau risiko terjadinya gempa pada struktur bangunan selama umur rencananya dapat dihitung dengan menggunakan rumus probabilitas di atas. oleh tingkat daktilitas yang dimiliki struktur. struktur bangunan selama umur rencananya diperkirakan akan dibebani berulang kali oleh Gempa Ringan dan Gempa Sedang.5 Beban Gempa Nominal Besarnya beban Gempa Nominal yang digunakan untuk perencanaan struktur ditentukan oleh tiga hal. yaitu oleh besarnya Gempa Rencana. Pemilihan periode ulang 500 tahun yang dipilih sebagai dasar perhitungan beban Gempa Rencana untuk keperluan perencanaan struktur. dan oleh nilai faktor tahanan lebih yang terkandung di dalam struktur. didasarkan pada tingkat probabilitas terjadinya gempa yang dapat diterima yaitu 10%. hal ini perlu kiranya menjadi perhatian bagi para perencana struktur. kemudian digunakan untuk mendimensi penampang dari elemen struktur berdasarkan metode LRFD (Load Resistance Factor Design) sesuai dengan standar desain yang berlaku. dan puntir atau torsi yang bekerja pada tiap-tiap elemen struktur. gaya normal. Dalam filosofi perencanaan struktur bangunan tahan gempa.Dengan menggunakan Gempa Rencana ini. Berdasarkan kemungkinan terjadinya Gempa Ringan. Gempa Sedang : TR = 75 tahun. mengingat umur efektif rata-rata struktur bangunan di Indonesia adalah sekitar 50 tahun. maka akan didapatkan besarnya risiko terjadinya gempa pada struktur bangunan adalah : RN Gempa Ringan = 92% ≅100%. RN Gempa sedang = 50%. dan RN Gempa Kuat = 2%. yang mempunyai periode ulang lebih kecil dari 75 tahun. ternyata tingkat risiko gempa yang dapat terjadi pada struktur-struktur bangunan di Indonesia selama umur rencananya adalah cukup besar. Serta struktur selama umur rencananya diharapkan mampu menahan sekali terjadinya Gempa Kuat dengan periode ulang 2500 tahun. dan 500 tahun. struktur dapat dianalisis secara elastis untuk mendapatkan gaya-gaya dalam yang berupa momen lentur. 4. gaya geser. 75. dan Gempa Kuat : TR = 2500 tahun. Konsep Pembebanan Dua Tingkat mempunyai pengertian bahwa. Jika periode ulang terjadinya Gempa Ringan : TR = 20 tahun. Gaya-gaya dalam ini setelah dikombinasikan dengan dengan gaya-gaya dalam yang diakibatkan oleh beban mati dan beban hidup. dikenal suatu konsep pembebanan gempa yang disebut Pembebanan Dua Tingkat. serta umur rencana rata-rata bangunan di Indonesia adalah N=50 tahun. Berdasarkan pedoman gempa yang berlaku di Indonesia yaitu Perencanaan Ketahanan Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 21 .

sedangkan I2 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan umur rencana gedung tersebut. Gempa Rencana ini akan menyebabkan struktur bangunan gedung mencapai kondisi di ambang keruntuhan. tetapi masih dapat berdiri sehingga dapat mencegah jatuhnya korban jiwa. maka menurut teori probabilitas Gempa Rencana ini mempunyai periode ulang 500 tahun. maka probabilitas terjadinya gempa tersebut selama kurun waktu umur rencana Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 22 .I Wt R Dimana. besarnya beban gempa horisontal V yang bekerja pada struktur bangunan. Untuk berbagai kategori bangunan gedung. tergantung pada probabilitas terjadinya keruntuhan struktur bangunan gedung selama umur rencananya. monumen dan bangunan monumental sama-sama memiliki fungsi biasa. tanpa sesuatu keistimewaan.I2 Dimana I1 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan periode ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa itu selama umur rencana gedung. kekhususan atau keutamaan dalam fungsinya. maka sekuran-kurangnya 25% dari beban hidup rencana harus diperhitungkan Beban tetap total dari seluruh peralatan dalam struktur bangunan gedung harus diperhitungkan 5. maka harus diperhitungkan tambahan beban sebesar 0. pengaruh Gempa Rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan Struktur (I) menurut persamaan : I = I1. I adalah Faktor Keutamaan Struktur menurut Tabel 1. C adalah nilai Faktor Respon Gempa yang didapat dari Respon Spektrum Gempa Rencana menurut Gambar 2 untuk waktu getar alami fundamental T.1 Faktor Keutamaan Struktur Dengan probabilitas terjadinya Gempa Rencana adalah 10% dalam kurun waktu umur rencana bangunan gedung 50 tahun. Karena gedung-gedung bertingkat.5 kPa Pada gudang-gudang dan tempat penyimpanan barang.Gempa Untuk Struktur Rumah dan Gedung (SNI 03-1726-2002). ditentukan menurut persamaan : V = C . dan Wt ditetapkan sebagai jumlah dari beban-beban berikut : Beban mati total dari struktur bangunan gedung Jika digunakan dinding partisi pada perencanaan lantai..

6 1.gedung ditetapkan sama sebesar 10%. fasilitas radio dan televisi Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya seperti gas. sehingga berlaku I1 = 1. yaitu sekitar 50 tahun.6 1. instalasi air bersih. Tetapi umur rencana dari gedung-gedung tersebut berbeda-beda.0 1.6 1. tangki di atas menara).0 1.5. Cerobong. karena berbagai alasan dan tujuan pada umumnya mempunyai umur kurang dari 50 tahun. Gedung-gedung penting pasca gempa (rumah sakit. pusat penyelamatan dalam keadaan darurat. produk minyak bumi. instalasi air bersih.4 1.2 Daktilitas Struktur Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi besar kecilnya beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan adalah daktilitas struktur.0 1. gedung-gedung yang membahayakan lingkungan bila rusak berat akibat gempa (tempat penyimpanan bahan berbahaya) atau membahayakan bangunan di dekatnya bila runtuh aibat gempa (cerobong. mempunyai umur manfaat tidak berbeda dengan gedung-gedung dengan fungsi biasa.5 4. Tetapi probabilitas terjadinya gempa tersebut selama kurun waktu umur gedung harus dibedakan dan semuanya harus kurang dari 10%.5 1. berikut perkaliannya I. pembangkit tenaga listrik.0. asam. sehingga berlaku I2 = 1. pembangkit tenaga listrik.0 1.0 1. fasilitas radio dan televisi).0 1.6 1. mempunyai masa layan yang panjang. sehingga I1 > 1 karena periode ulang gempa tersebut adalah lebih dari 500 tahun.4 1. tangki di atas menara Faktor Keutamaan I I1 I2 1. Tabel 1. Gedunggedung dengan jumlah tingkat lebih dari 30. Kombinasi I1 dan I2 untuk beberapa kategori gedung ditetapkan dalam Tabel 1. Faktor Keutamaan untuk berbagai kategori gedung dan bangunan Kategori gedung/bangunan Gedung umum seperti untuk penghunian. Gedung-gedung dengan jumlah tingkat sampai 10. Monumen dan bangunan monumental Gedung penting pasca gempa seperti rumah sakit.0 1. bahkan harus dilestarikan untuk generasi yang akan datang. sehingga I2 > 1 karena perode ulang gempa tersebut adalah lebih dari 500 tahun. bahan beracun. Beberapa standar perencanaan Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 23 . sehingga I2 < 1 karena periode ulang gempa tersebut adalah kurang dari 500 tahun. monumen dan bangunan monumental.0. perniagaan dan perkantoran. pusat penyelamatan dalam keadaan darurat.

Asumsi yang dianut divisualisasikan dalam diagram beban-simpangan (diagram V-δ) yang ditunjukkan dalam Gambar 14. Asumsi ini adalah konservatif. untuk mendefinisikan tingkat daktilitas struktur. Diagram beban (V) .0 ≤ µ = Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 24 . dengan simpangan struktur gedung pada saat terjadinya pelelehan pertama (δy). sehingga memiliki faktor daktilitas struktur (µ) yang relatif lebih besar dari pada yang diasumsikan Gambar 14.ketahanan gempa untuk struktur gedung.simpangan (δ) dari struktur bangunan gedung Faktor daktilitas struktur (µ) adalah rasio antara simpangan maksimum (δm) struktur gedung akibat pengaruh Gempa Rencana pada saat mencapai kondisi di ambang keruntuhan. karena dalam keadaan sesungguhnya struktur bangunan gedung yang daktail memiliki δm yang relatif lebih besar dibandingkan struktur bangunan gedung yang elastis. menggunakan asumsi constant maximum displacement rule. Asumsi ini menyatakan bahwa struktur bangunan gedung yang bersifat daktail dan struktur bangunan gedung yang bersifat elastik penuh. akibat pengaruh Gempa Rencana akan menunjukkan simpangan maksimal δm yang sama dalam kondisi diambang keruntuhan. yaitu : δm ≤ µm δy 1.

Dalam Tabel 2 dicantumkan nilai R untuk berbagai nilai µ yang bersangkutan. sedangkan Rm adalah faktor reduksi gempa maksimum yang dapat dikerahkan oleh sistem struktur yang bersangkutan.0 adalah nilai faktor daktilitas untuk struktur bangunan gedung yang berperilaku elastik penuh. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 25 .6 ≤ R = µ. maka berlaku hubungan sebagai berikut : Vn = Vy Ve = f1 R dimana f1 adalah faktor kuat lebih beban dan bahan yang terkandung di dalam struktur bangunan gedung dan nilainya ditetapkan sebesar f1 = 1. dengan ketentuan bahwa nilai µ dan R tidak dapat melampaui nilai maksimumnya. dan Vy adalah pembebanan yang menyebabkan pelelehan pertama di dalam struktur gedung.6 adalah faktor reduksi gempa untuk struktur gedung yang berperilaku elastik penuh. maka berlaku hubungan sebagai berikut : Vy = Ve µ Jika Vn adalah pembebanan Gempa Nominal akibat pengaruh Gempa Rencana yang harus ditinjau dalam perencanaan struktur gedung. µ = 1.Pada persamaan ini. maka dengan asumsi bahwa struktur gedung daktail dan struktur gedung elastik penuh akibat pengaruh Gempa Rencana menunjukkan simpangan maksimum δm yang sama dalam kondisi di ambang keruntuhan.6 dan R disebut faktor reduksi gempa yang nilainya dapat ditentukan menurut persamaan : 1.f1 ≤ Rm R = 1. Jika Ve adalah pembebanan maksimum akibat pengaruh Gempa Rencana yang dapat diserap oleh struktur gedung yang bersifat elastik penuh dalam kondisi di ambang keruntuhan. sedangkan µm adalah nilai faktor daktilitas maksimum yang dapat dikerahkan oleh sistem struktur bangunan gedung yang bersangkutan.

0 5. berikut faktor reduksi maksimum Rm yang bersangkutan.0 8.5 3.4 3.0 2.4 7.0 4. Dalam Tabel 3 ditetapkan nilai µm yang dapat dikerahkan oleh beberapa jenis sistem dan subsistem struktur gedung.0 3.0 1.5 2.6 6.5 Daktail parsial Daktail penuh Nilai faktor daktilitas struktur gedung µ di dalam perencanaan struktur gedung dapat dipilih menurut kebutuhan.Tabel 2. tetapi tidak boleh diambil lebih besar dari nilai faktor daktilitas maksimum µm yang dapat dikerahkan oleh masing-masing sistem atau subsistem struktur gedung.8 5.0 4.6 2.2 4.2 8. Parameter Daktilitas Struktur Gedung Taraf kinerja struktur gedung Elastis penuh µ 1.3 R 1.5 4.5 5. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 26 .

Beton bertulang dengan SRPMK beton bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) d. Rangka pemikul momen biasa (SRPMB) a.8 5. Beban lateral dipikul rangka pemikul momen terutama melalui mekanisme lentur) 5.2 4.6 3.2 2.6 3. Dinding penumpu atau sistem bresing memikul hampir semua beban gravitasi. Dengan SRPMK baja b. faktor kuat lebih struktur (f1) dari beberapa jenis sistem dan subsistem struktur bangunan gedung Sistem dan subsistem struktur gedung 1.5 3.5 2.5 4.2 3.5 8. Rangka batang baja pemikul momen khusus (SRBPMK) 1. Rangka bresing biasa a. 3) kedua sistem harus direncanakan untuk memikul secara bersama-sama seluruh beban lateral dengan memperhatikan interaksi/sistem ganda) 5.5 2.7 1. Dinding penumpu dengan rangka baja ringan dan bresing tarik 3.3 3. Beton bertulang dengan SRPMM beton bertulang 2.6 7. Baja b.8 4.8 2.8 2.2 2.2 2.6 4.1 4.8 f1 2. Beton bertulang dengan SRPMK beton bertulang b. Baja dengan SRPMB baja c.Tabel 3.5 2. Baja b.8 4.2 6.6 2. Dinding geser beton bertulang 2.0 4.2 2.2 2.8 Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 27 .5 2.2 2.8 2. Beton bertulang 2.8 2. Beton bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 1. Sistem rangka gedung (Sistem struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Sistem rangka pemikul momen (Sistem struktur yang pada dasarnya memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap.8 2. Sistem dinding penumpu (Sistem struktur yang tidak memiliki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Rangka pemikul momen menengah beton (SRPMM) 3. Rangka pemikul momen khusus (SRPMK) a.4 6.6 5.8 2.2 6.5 4. Beton bertulang dengan SRPMM beton bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 4. Baja dengan SRPMK baja b. Baja dengan SRPMB baja µm 2. Beton bertulang 4.0 3.0 5. Beban lateral dipikul dinding geser atau rangka bresing) Uraian sistem pemikul beban gempa 1.6 4. Sistem ganda (Terdiri dari : 1) rangka ruang yang memikul seluruh beban gravitasi.5 2. Baja b.6 8. Dinding geser a. Baja b.8 2.8 2.5 4.8 7. Rangka pemikul momen harus direncanakan secara terpisah mampu memikul sekurangkurangnya 25% dari seluruh beban lateral.2 2.5 4.0 8. Rangka bresing konsentrik khusus a. Beban lateral dipikul dinding geser atau rangka bresing) 2. RBE baja a.0 2.4 2.8 2.8 2.5 4. Rangka bresing konsentrik khusus a.8 1.5 5.8 Rm 4.2 6. Faktor daktilitas maksimum (µm).6 4.0 5.2 2. 2) pemikul beban lateral berupa dinding geser atau rangka bresing dengan rangka pemikul momen.8 2. Dinding geser beton bertulang berangkai daktail 6. Dengan SRPMB baja 3.5 5.8 2. Rangka bresing di mana bresingnya memikul beban gravitasi a.2 5.2 2.8 3. Baja 5. Rangka bresing eksentris baja (RBE) 2.5 6.8 2.8 2.8 4.3 3.7 2.6 2. Dinding geser beton bertulang kantilever daktail parsial 1.3 8.6 4.0 2.8 2. faktor reduksi gempa maksimum (Rm ).8 2. Dinding geser beton bertulang 3. Beton bertulang dengan SRPMB saja c.5 6.1 4. Beton bertulang (tidak untuk Wilayah 5 & 6) 4. Dinding geser beton bertulang kantilever daktail penuh 7.8 2.8 2.3 6. Baja dengan SRPMK baja b. Rangka bresing biasa a.

0 3.8 2. Sistem struktur gedung kolom kantilever (Sistem struktur yang memanfaatkan kolom kantilever untuk memikul beban lateral) 6. bagian yang kritis dari elemen-elemen struktur akan berbeda pula. Pembebanan gempa tidak penuh tetapi biaksial atau sembarang dapat menimbulkan pengaruh yang lebih rumit terhadap struktur gedung ketimbang pembebanan gempa penuh tetapi uniaksial. Untuk ini perlu dilakukan analisis struktur dengan meninjau pengaruh dari beban gempa pada masing-masing arah dari struktur. Rangka terbuka beton bertulang dengan balok beton pratekan (bergantung pada indeks baja total) 4.3 Arah Pembebanan Gempa Jika besarnya beban gempa sudah dapat diperkirakan. Berapa kemungkinan arah gempa yang akan ditinjau pada analisis. artinya pengaruh gempa dapat datang dari sembarang arah.5 8.8 2. Dalam kenyataannya arah datangnya gempa terhadap bangunan tidak dapat ditentukan dengan pasti. Rangka terbuka baja 2. 1984) menetapkan bahwa.5 5. 5 & 6) 1. Untuk berbagai arah gempa yang bekerja. Dinding geser beton bertulang kantilever daktail parsial 3.8 4. sehingga bangunan jelas memiliki sistem struktur pada dua arah utama bangunan yang saling tegak lurus. Dinding geser beton bertulang berangkai daktail penuh 5.8 2. perhitungkan arah gempa dapat dilakukan lebih sederhana. Bila bentuk denah dari bangunan tidak simetris atau tidak beraturan.4 5.5 5.5 2. Subsistem tunggal (Subsistem struktur bidang yang membentuk struktur gedung secara keseluruhan) Sistem struktur kolom kantilever 1.4 2. 4.5 8.3 6. Rangka terbuka beton bertulang 3. sepenuhnya tergantung pada perencana struktur. Sistem interaksi dinding geser dengan rangka 7.2 5. arah gempa yang biaksial dapat disimulasikan dengan meninjau beban Gempa Rencana yang disyaratkan oleh peraturan.8 5.5.8 2.2 2 Beton bertulang biasa (tidak untuk Wilayah 3. Jika bentuk denah dari bangunan simetris dan teratur. maka sulit untuk menentukan arah beban gempa yang paling menentukan. Besarnya beban gempa pada struktur dapat diperhitungkan dengan menjumlahkan 100% beban gempa pada satu arah dengan 30% beban gempa pada arah tegak lurusnya.5 2. bagaimana menentukan arah beban gempa terhadap bangunan. bekerja pada ke dua arah sumbu utama struktur bangunan yang saling tegak lurus secara simultan. Untuk mengantisipasi kondisi ini Applied Technology Council (ATC. maka pertanyaan selanjutnya adalah.2 3. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 28 .3 5.

serta frekuensi kejadian gempa per tahun di daerah sumber gempa. Peta Wilayah Gempa Indonesia dibuat berdasarkan analisis probabilistik bahaya gempa (probabilistic seismic hazard analysis). dan Wilayah Gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan paling tinggi.03 g. 0. dimana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah. 0. besar kecilnya beban gempa. tergantung juga pada lokasi dimana struktur bangunan tersebut akan didirikan.25 g dan 0. Dengan percepatan batuan dasar ini.10 g. Jadi beban gempa yang disyaratkan tersebut merupakan pengaruh dari gempa yang bukan Gempa Rencana. Hasil analisis probabilistik bahaya gempa ini diplot pada peta Indonesia berupa garisgaris kontur percepatan puncak batuan dasar dengan periode ulang 500 tahun (periode ulang Gempa Rencana).6 Wilayah Gempa Dan Spektrum Respon Salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan adalah faktor wilayah gempa. Sebagai daerah sumber gempa. Di dalam Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 29 . baik sumber gempa pada zona subduksi. magnitudo gempa di sumber gempa. 0. yang kemudian menjadi dasar bagi penentuan batas-batas wilayah gempa.15 g. maka ditetapkan percepatan puncak muka tanah (Ao) untuk Tanah Keras. yang nilai rata-ratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 15 dan Tabel 4. Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah Ao untuk Wilayah Gempa 1 yang ditetapkan dalam Gambar 15 dan Tabel 4. Percepatan batuan dasar rata-rata untuk Wilayah Gempa 1 s/d 6. dan jarak dari tempat yang ditinjau sampai sumber gempa. Dengan demikian. distribusi magnitudo gempa di daerah sumber gempa. 0.20 g. ditetapkan juga sebagai percepatan minimum yang harus diperhitungkan dalam perencanaan struktur gedung untuk menjamin kekekaran (robustness) minimum dari struktur gedung tersebut. Pembagian Wilayah Gempa ini. fungsi perambatan gempa (atenuasi) yang memberikan hubungan antara gerakan tanah setempat. Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1. lokasi sumber gempa. Data masukan untuk analisis pembuatan peta gempa adalah. telah ditetapkan berturutturut adalah sebesar 0. Tanah Sedang dan Tanah Lunak seperti yang tercantum pada Tabel 4. maupun sumber gempa pada sesar-sesar aktif yang sudah teridentifikasi. yang telah dilakukan untuk seluruh wilayah Indonesia berdasarkan data seismotektonik mutakhir yang tersedia saat ini. sumber gempa dangkal pada lempeng bumi.30 g. ditinjau semua sumber gempa yang telah tercatat dalam sejarah kegempaan di Indonesia. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun.

38 Diperlukan evaluasi khusus di setiap lokasi Untuk menentukan pengaruh Gempa Rencana pada struktur gedung.10 0.20 0.03 0.12 0.30 0. dan T adalah waktu getar alami struktur gedung yang dinyatakan dalam detik. terdapat suatu ketentuan yang berkaitan dengan kekekaran struktur gedung. standar gempa SNI 2002 ini boleh dikatakan memelihara kontinuitas kegempaan regional lintas batas negara. yaitu berupa beban geser dasar nominal statik ekuivalen pada struktur bangunan gedung beraturan.33 0.04 0.25 0.32 0. harus diperhitungkan terhadap faktor respons gempa sebesar 0. Dengan menggunakan kriteria ini. Dalam gambar tersebut C adalah Faktor Respons Gempa yang dinyatakan dalam percepatan gravitasi.8/7 = 0. Dengan demikian. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 30 .18 0. yaitu bahwa setiap struktur gedung harus diperhitungkan terhadap beban-beban horisontal nominal pada taraf masing-masing lantai tingkat sebesar 1.28 0.015. Hasil ini selaras dengan peraturan yang ditetapkan di Singapura.05 0.28 0.5% dari beban mati nominal lantai tingkat tersebut.34 0.15 0.08 0. maka suatu struktur bangunan gedung bertingkat rendah (gedung dengan periode getar T yang pendek) yang terletak di Wilayah Gempa 1 dan di atas Tanah Sedang dengan faktor reduksi gempa misalnya sekitar R = 7 (struktur dengan daktilitas sebagaian / parsial).36 0. untuk masing-masing Wilayah Gempa ditetapkan Spektrum Respons Gempa Rencana C-T seperti ditunjukkan dalam Gambar 2. jadi tidak lagi seperti menurut standar SNI 1989 yang lama.15 0.peraturan bangunan negara tetangga kita Singapura yang berbatasan dengan Wilayah Gempa 1.36 0. dan gaya geser dasar nominal sebagai respons dinamik ragam pertama pada struktur bangunan gedung tidak beraturan. dimana Wilayah Gempa 1 merupakan daerah yang bebas gempa sama sekali.23 0.13 x 0.30 Percepatan puncak muka tanah Ao (‘g’) Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Tanah Khusus 0. Tabel 4.24 0.13 I/R = 0. Percepatan puncak batuan dasar dan percepatan puncak muka tanah untuk masing-masing Wilayah Gempa Indonesia Wilayah Gempa 1 2 3 4 5 6 Percepatan puncak batuan dasar (‘g’) 0.20 0.

adalah suatu diagram yang memberikan hubungan antara percepatan respons maksimum (= Faktor Respons Gempa) C dan waktu getar alami T sistem SDK akibat Gempa Rencana. dimana untuk harga T yang meningkat akan menunjukkan nilai yang mula-mula meningkat dulu sampai mencapai suatu nilai maksimum. Bentuk dari Spektrum Respons yang sesungguhnya menunjukkan suatu fungsi yang acak. sebagai fungsi dari faktor redaman dan waktu getar alami sistem SDK tersebut. Kondisi T = 0 mengandung arti.2 detik terdapat berbagai ketidakpastian. Dari berbagai hasil penelitian ternyata. sehingga Am = 2.2 detik.2 detik C ditetapkan harus diambil sama dengan Am. Karena itu untuk 0 ≤ T ≤ 0. bahwa sebagai pendekatan yang baik waktu getar alami sudut Tc untuk jenis-jenis Tanah Keras.2 detik ≤ T ≤ Tc. Selanjutnya. Sedangkan untuk T > Tc. dimana sistem SDK tersebut dianggap memiliki rasio redaman kritis sebesar 5%. berkaitan dengan kecepatan respons maksimum yang bernilai tetap. Berbagai hasil penelitian menunjukkan. Dengan demikian. Untuk mempermudah penggunaan. Tanah Sedang dan Tanak Lunak Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 31 . C bernilai tetap C = Am.Secara umum Spektrum Respons adalah suatu diagram yang memberi hubungan antara percepatan respons maksimum suatu sistem Satu Derajat Kebebasan (SDK) akibat suatu gempa masukan tertentu. Idealisasi fungsi hiperbola ini mengandung arti. bahwa untuk 0 ≤ T ≤ 0. bahwa Am berkisar antara 2 Ao dan 3 Ao. untuk 0. untuk T = 0 percepatan respons maksimum menjadi identik dengan percepatan puncak muka tanah (C = Ao). bahwa sistem SDK tersebut adalah sangat kaku. dari berbagai hasil penelitian juga ternyata. baik dalam karakteristik gerakan tanahnya sendiri maupun dalam sifat-sifat daktilitas sistem SDK yang bersangkutan. C mengikuti fungsi hiperbola C = Ar/T. Spektrum Respons C-T yang ditetapkan untuk masing-masing Wilayah Gempa. untuk T > Tc. bahwa untuk T > Tc kecepatan respons maksimum yang bersangkutan bernilai tetap. sehingga getaran dari sistem tersebut sepenuhnya akan mengikuti gerakan tanah. Am dan Ar masing-masing adalah percepatan respons maksimum atau Faktor Respons Gempa maksimum dan pembilang dalam persamaan hiperbola Faktor Respons Gempa C pada Spektrum Respons Gempa Rencana. Dalam hal ini Tc disebut waktu getar alami sudut. Spektrum Respons C-T yang digunakan di dalam SNI Gempa 2002 telah diidealisasikan sebagai berikut : untuk 0 ≤ T ≤ 0. Spektrum Respons berkaitan dengan percepatan respons maksimum yang bernilai tetap. C meningkat secara linier dari Ao sampai Am.5 Ao merupakan nilai rata-rata yang dianggap layak untuk perencanaan. kemudian akan turun lagi secara asimtotik mendekati sumbu-T. Dengan demikian untuk T ≤ Tc.

85 0.42 0.60 0. Am Ar 0.30 0.6 detik dan 1.13 0. Tabel 5.50 0.70 0.30 0.75 0.54 Tanah Lunak Tc = 1.75 0.5 det Am Ar 0.50 0.42 Tanah Sedang Tc = 0.95 Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 32 .23 0.5 detik.33 0.20 0.85 0.08 0.10 0. Dalam Tabel 5.45 0.20 0.55 0.90 0.dapat diambil sebesar berturut-turut 0.90 0.95 0. Am Ar 0.05 0.6 det.83 0.83 0.23 0. nilainilai Am dan Ar dicantumkan untuk masing-masing Wilayah Gempa dan masing-masing jenis tanah.15 0.50 0.38 0.35 0. 0.70 0.0 det. Spektrum Respons Gempa Rencana Wilayah Gempa 1 2 3 4 5 6 Tanah Keras Tc = 0.0 detik.90 0.

terdiri dari 6 Wilayah Gempa Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 33 .Gambar 15. Peta kegempaan Indonesia.

Spektrum Respon Gempa Rencana Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 34 .Gambar 16.

Dari kedalaman batuan dasar ini gelombang gempa tersebut kemudian merambat ke permukaan tanah sambil mengalami pembesaran (amplifikasi). maka pengaruh Gempa Rencana di permukaan tanah harus ditentukan dari hasil analisis perambatan gelombang gempa dari kedalaman batuan dasar ke permukaan tanah. yaitu Tanah Keras. dan tidak ada lapisan batuan lain di bawahnya yang memiliki nilai SPT<N = 60. dan kekuatan geser tanah Su (shear strength of soil). bergantung pada jenis lapisan tanah yang berada di atas batuan dasar tersebut. yaitu kecepatan rambat gelombang geser vs. Tanah Sedang. Tanah Lunak. mengingat data nilai N merupakan data standar yang selalu diketemukan dalam laporan hasil penyelidikan geoteknik suatu lokasi. Tanah Sedang dan Tanah Lunak dapat ditentukan berdasarkan tiga kriteria. atau Tanah Lunak. Karena itu. Untuk menetapkan jenis tanah yang dihadapi. Ada dua kriteria yang dapat digunakan untuk mendefinisikan batuan dasar. apabila untuk Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 35 . sedangkan untuk mendapatkan nilai vs diperlukan percobaan-percobaan khusus di lapangan. ada empat jenis tanah dasar harus dibedakan dalam memilih harga C. Menurut SNI Gempa 2002. maka jenis suatu tanah yang dihadapi harus didukung paling tidak ada 2 kriteria tadi. Batuan dasar adalah lapisan batuan di bawah permukaan tanah yang memiliki nilai hasil Test Penetrasi Standar (SPT) paling rendah N = 60. paling tidak harus tersedia 2 dari 3 kriteria tersebut. nilai rata-rata berbobot dari ke-3 kriteria tersebut harus dihitung sampai kedalaman tidak lebih dari 30 m. dimana kriteria yang menghasilkan jenis tanah yang lebih lunak adalah yang menentukan. Apabila tersedia ke-3 kriteria tersebut. Dalam praktek definisi yang pertama yang umumnya dipakai. yaitu berdasarkan nilai hasil Test Penetrasi Standar N. Dari berbagai penelitian ternyata. maka kriteria yang menentukan adalah yang menghasilkan jenis batuan yang lebih lunak. dan Tanah Khusus. bahwa hanya lapisan setebal 30 m paling atas yang menentukan pembesaran gerakan tanah di permukaan tanah. atau lapisan batuan yang memiliki kecepatan rambat gelombang geser vs yang mencapai 750 m/detik. Jenis tanah ditetapkan sebagai Tanah Keras. dan tidak ada lapisan batuan lain di bawahnya yang memiliki nilai kecepatan rambat gelombang < 750 m/detik. Apabila tersedia ke-2 kriteria tersebut. Definisi dari jenis Tanah Keras. nilai hasil Test Penetrasi Standar N. atau berdasarkan besarnya kecepatan rambat gelombang geser vs. Dengan adanya pembesaran gerakan ini. Tanah Sedang.7 Jenis Tanah Dasar dan Perambatan Gelombang Gempa Gelombang gempa merambat melalui batuan dasar di bawah permukaan tanah.

setiap profil dengan tanah lunak yang tebal total lebih dari 3 m. dan Su < 25 kPa Tanah Khusus Diperlukan evaluasi khusus di setiap lokasi Dalam Tabel 6 di atas. dengan PI > 20. v s. wn ≥ 40%. dipenuhi syarat-syarat seperti yang tercantum dalam Tabel 6. Jenis-Jenis Tanah Jenis tanah Tanah Keras Tanah Sedang Tanah Lunak Kecepatan rambat gelombang geser rata-rata v s (m/det) v s ≥ 350 Nilai hasil Test Penetrasi Standar rata-rata N N ≥ 50 15 ≤ N < 50 N < 15 Kuat geser tanah rata-rata S u (kPa) S u ≥ 100 175 ≤ v s < 350 v s < 175 50 ≤ S u < 100 S u < 50 Atau.lapisan setebal maksimum 30 m paling atas. Tabel 6. N dan S u adalah nilai rata-rata berbobot besaran tanah dengan tebal lapisan tanah sebagai besaran pembobotnya. yang harus dihitung menurut persamaanpersamaan sebagai berikut : m ∑ ti vs = i =1 m ∑ t i / v si i =1 m ∑ ti N = i =1 m ∑ t i / Ni i =1 m ∑ ti Su = i =1 m ∑ t i / S ui i =1 Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 36 .

tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi dengan ketebalan lebih dari 3 m. vsi adalah kecepatan rambat gelombang geser melalui lapisan tanah ke-i. dan m adalah jumlah lapisan tanah yang ada di atas batuan dasar. Dalam analisis perambatan gelombang gempa ini. karena terjadi interaksi antara respons unsur-unsur bangunan dengan respons struktur secara keseluruhan. Analisis respons dinamik yang sesungguhnya dari unsur-unsur bangunan tersebut terhadap gerakan vertikal tanah akibat gempa sangat rumit. Yang dimaksud dengan jenis Tanah Khusus dalam Tabel 6. lempung sangat peka. Sui adalah kuat geser tanah lapisan ke-i. adalah jenis tanah yang tidak memenuhi persyaratan yang tercantum dalam tabel tersebut. lapisan lempung dengan 25 kPa < Su < 50 kPa dan ketebalan lebih dari 30 m. mirip dengan lokasi tempat Tanah Khusus yang ditinjau berada. Selanjutnya. mengalami kerusakan berat akibat percepatan vertikal gerakan tanah. yang termasuk dalam jenis Tanah Khusus adalah tanah yang memiliki potensi likuifaksi yang tinggi. permasalahan ini disederhanakan dengan meninjau pengaruh percepatan vertikal gerakan tanah akibat gempa sebagai beban gempa vertikal nominal statik ekuivalen. gerakan gempa di permukaan tanah harus ditentukan dari hasil analisis perambatan gelombang gempa. pasir yang tersementasi rendah yang rapuh. PI adalah Indeks Plastisitas tanah lempung. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 37 . Dapat dimengerti. lempung sangat lunak dengan PI > 75 dan ketebalan lebih dari 10 m. yang kondisi geologi. bahwa komponen vertikal gerakan tanah akibat gempa akan relatif semakin besar jika semakin dekat letak pusat gempa dari lokasi yang ditinjau. maka sifatnya harus dievaluasi secara khusus di setiap lokasi dimana jenis tanah tersebut ditemukan. Karena sifat dari jenis Tanah Khusus tidak dapat dirumuskan secara umum.dimana ti adalah tebal lapisan tanah ke-i. dan seismotonik. topografi. wn adalah kadar air alami tanah. tanah gambut. bahwa banyak unsur-unsur bangunan yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap beban gravitasi. dan Su adalah kuat geser lapisan tanah yang ditinjau. percepatan vertikal gerakan tanah ditetapkan sebagai perkalian suatu koefisien Ψ dengan percepatan puncak muka tanah Ao. Di samping itu. Oleh karena itu. accelerogram gempa harus diambil dari rekaman getaran akibat gempa yang ada atau yang didapatkan dari suatu lokasi. 8 Pengaruh Gempa Vertikal Pengalaman dari Gempa Northridge (1994) di Amerika dan Gempa Kobe (1995) di Jepang telah menunjukkan. Pada jenis Tanah Khusus. Menurut beberapa standar gempa. Ni nilai hasil Test Penetrasi Standar lapisan tanah ke-i.

balok transfer pada struktur gedung tinggi yang memikul beban gravitasi dari dua atau lebih tingkat diatasnya. termasuk beban hidup yang sesuai. Koefisien ψ untuk menghitung faktor respons gempa vertikal Cv Wilayah Gempa 1 2 3 4 5 6 ψ 0. sedangkan I adalah Faktor Keutamaan gedung menurut Tabel 1. dan tidak tergantung pada waktu getar alami serta tingkat daktilitasnya. Dalam persamaan ini faktor reduksi gempa dianggap sudah diperhitungkan. Ao adalah percepatan puncak muka tanah menurut Tabel 4. Tabel 7. kanopi dan balok kantilever berbentang panjang. dalam arah vertikal respon struktur dianggap sepenuhnya mengikuti gerakan vertikal dari tanah. Beban gempa ini harus ditinjau bekerja ke atas atau ke bawah yang besarnya harus dihitung sebagai perkalian antara Faktor Respons Gempa Vertikal (Cv) dengan beban gravitasi.8 Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 38 .5 0. yang berupa beban gempa vertikal nominal statik ekuivalen. Faktor Respons Gempa Vertikal dihitung menurut persamaan : Cv = ψ Ao I Dimana koefisien ψ tergantung pada Wilayah Gempa tempat struktur bangunan gedung berada dan ditetapkan menurut Tabel 7.5 0. serta balok beton pratekan berbentang panjang.5 0. harus diperhitungkan terhadap komponen vertikal gerakan tanah akibat pengaruh Gempa Rencana. Persamaan di atas menunjukkan bahwa.Unsur-unsur struktur bangunan gedung yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap beban gravitasi seperti balkon.7 0.6 0.

tetapi masih harus memenuhi kriteria persyaratan bangunan pada umumnya. biaya pelaksanaan atau pembangunan konstruksi. Dalam kaitannya dengan perencanaan struktur bangunan tahan gempa. syarat-syarat minimum untuk prosedur perencanaan struktur bangunan tahan gempa telah tercantum di dalam beberapa peraturan yang berlaku. fasilitas pembangkit tenaga listrik atau tenaga nuklir. Engineered Structures adalah struktur-struktur bangunan yang memerlukan tenaga ahli di dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Sebagai contoh dari Engineered Structures adalah struktur gedung bertingkat. sesuai yang tercantum di dalam standar bangunan (building code) yang ada. Untuk struktur bangunan gedung persyaratan-persyaratan ini tercantum di dalam beberapa pedoman yaitu : Tatacara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI-03-2847-2002) Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 1726-2002) Tatacara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung (SNI-03-1729-2002) Sedangkan untuk struktur jembatan atau struktur jalan layang (fly over). struktur jembatan dan jalan layang. Begitu juga sebaliknya. yaitu Engineered Structures dan Non-engineered Structures. agar kerugian harta benda serta jatuhnya korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin. bendungan serta bangunan air. Sedangkan Non-engineered Structures adalah struktur-struktur bangunan yang direncanakan dan dilaksanakan tanpa bantuan tenaga ahli. memerlukan filosofi dan antisipasi yang tepat dengan menggunakan spesifikasi atau peraturan yang berlaku. ketentuan mengenai persyaratan desain struktur terhadap pengaruh gempa. Makin tinggi tingkat kekuatan dari struktur bangunan terhadap pengaruh gempa. struktur bangunan diklasifikasikan menjadi dua jenis struktur. Di Indonesia. akan tetapi akan semakin kecil biaya yang diperlukan untuk perbaikan jika bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa. Perencanaan struktur bangunan di daerah rawan gempa. dan lainlain. dan biaya perawatan atau perbaikan jika terjadi kerusakan.9 Struktur Bangunan Tahan Gempa Perencanaan serta rekayasa struktur bangunan tahan gempa merupakan salah satu cara untuk mengantisipasi pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh gempa. Pada suatu proyek bangunan Teknik Sipil. pada umumnya biaya yang diperhitungkan meliputi biaya untuk perencanaan. makin kurang kuat struktur bangunan terhadap gempa. maka akan Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 39 . maka akan semakin besar biaya yang diperlukan untuk pembuatan konstruksi bangunan. tercantum di dalam pedoman atau manual Sistem Manajemen Jembatan-1992.

tetapi akan semakin besar biaya yang harus disediakan untuk perbaikan jika bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat gempa. atau bahkan keruntuhan dari bangunan.semakin kecil biaya yang diperlukan untuk pembuatan konstruksi bangunannya. Ini berarti bahwa struktur harus dirancang dengan tingkat daktilitas yang tinggi. dapat disimpulkan juga bahwa. Dari beberapa segi pertimbangan tersebut di atas. Pada saat terjadi Gempa Kuat. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 40 . 1984). Dari segi konstruksi. kerusakan berat. kemungkinan terjadinya risiko kerusakan pada bangunan merupakan hal yang dapat diterima. pada saat terjadi Gempa Ringan. tetapi keruntuhan total (collapse) dari struktur yang dapat mengakibatkan terjadinya korban yang banyak. sehingga pada saat terjadi Gempa Kuat struktur mempunyai kemampuan untuk mengalami deformasi yang besar tanpa mengakibatkan keruntuhan. Menurut saran dari Applied Technology Council (ATC. adalah tidak ekonomis untuk mendesain suatu struktur bangunan yang tetap berperilaku elastis pada saat terjadi Gempa Kuat. Komponen non-struktural dari struktur bangunan diperkenankan mengalami kerusakan. Agar didapatkan struktur bangunan yang kuat terhadap pengaruh gempa tetapi juga ekonomis. tetapi komponen struktural harus tetap utuh pada saat terjadi Gempa Sedang. tetapi struktur bangunan secara keseluruhan tidak boleh runtuh. perlu ditinjau tingkat kerusakan yang dapat terjadi pada bangunan pada saat terjadi gempa. maka merupakan suatu hal yang tidak wajar. harus dihindari. Perencanaan struktur bangunan seperti ini akan menyebabkan struktur bangunan menjadi sangat mahal. Dari persyaratan di atas. akan tetapi terjadinya korban jiwa harus selalu dihindarkan. Jadi pada persyaratan struktur bangunan tahan gempa. struktur bangunan tahan gempa harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut : Struktur bangunan harus tetap utuh dan tidak mengalami kerusakan yang berarti. Kerusakan yang terjadi pada bangunan dapat berupa kerusakan ringan. komponen non-struktural dan komponen struktural dari sistem struktur diperbolehkan mengalami kerusakan. perlu dirancang struktur yang berperilaku daktail pada saat terjadi Gempa Kuat. Kerusakan struktur bangunan pada saat terjadi Gempa Kuat diijinkan. atau bahkan tidak mungkin untuk membuat konstruksi bangunan yang tidak mengalami kerusakan sama sekali pada saat terjadi gempa.

struktur bangunan diperkenankan mengalami kerusakan. yang tidak bersifat terus menerus bekerja pada struktur bangunan. dapat mengurangi pengaruh dari gaya gempa yang masuk ke dalam struktur. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 41 . Dari kedua alasan tersebut. Struktur bangunan harus direncanakan sebagai struktur yang daktail. tetapi secara keseluruhan struktur bangunan tidak boleh runtuh. Elemen-elemen struktural dari bangunan seperti balok dan kolom.Kemampuan dari struktur bangunan untuk mampu berdeformasi di atas batas elastisnya. Hal ini dimaksudkan agar keselamatan jiwa manusia harus dapat terjamin. melalui mekanisme terbentuknya sejumlah sendi-sendi plastis pada struktur dengan cara yang terkontrol. Untuk mendapatkan struktur bangunan seperti yang disyaratkan oleh ATC. suatu struktur bangunan yang didirikan di daerah rawan gempa. 1984). Akibat pengaruh Gempa Kuat. struktur tidak akan runtuh melainkan akan berdeformasi plastis. ditetapkan suatu taraf beban Gempa Rencana yang lebih kecil dari beban gempa sesungguhnya yang mungkin terjadi selama umur rencana dari struktur bangunan. sehingga pada saat terjadi Gempa Kuat struktur bangunan mempunyai kemampuan untuk menyerap dan memancarkan energi gempa melalui deformasi plastis. harus mampu menahan Gempa Kuat tanpa mengalami keruntuhan. akan dipancarkan keluar melalui kemampuan mekanisme perubahan bentuk yang besar dari struktur. Menurut saran dari Applied Technology Council (ATC. di dalam peraturan perencanaan bangunan tahan gempa yang berlaku di Indonesia. sehingga jika kekuatannya terlampaui pada saat terjadi Gempa Kuat. harus direncanakan dengan tingkat daktilitas yang cukup. Perencanaan Kapasitas pada struktur bangunan dimaksudkan untuk mendapatkan sifat daktilitas yang memadai bagi struktur-struktur bangunan yang dibangun di daerah rawan gempa. atau dapat dikatakan bahwa beban gempa merupakan beban sementara yang bekerja pada struktur bangunan. Berdasarkan pertimbangan ini. Hal ini dapat diterima dengan dua alasan yaitu : Beban gempa adalah beban dinamik dengan arah bolak-balik. maka dapat diharapkan adanya korban jiwa dapat dihindarkan. saat ini telah dikembangkan suatu cara perencanaan struktur tahan gempa. Dengan demikian keruntuhan dari struktur secara keseluruhan dapat dihindari. Energi gempa yang masuk ke dalam struktur. Dengan terhindarnya struktur bangunan dari keruntuhan. jelas bahwa persyaratan yang paling penting pada perencanaan struktur bangunan tahan gempa adalah daktilitas struktur. yang disebut Perencanaan Kapasitas (Capacity Design).

lebih-lebih karena beban gempa merupakan beban dinamis yang arahnya bolak-balik. maka struktur tersebut akan patah atau runtuh. maka pada tahap awal. atau struktur tidak dapat kembali kepada bentuknya yang semula. maka deformasi pada struktur akan hilang pula (deformasi menjadi nol). Jika beban diberikan pada arah yang berlawanan dengan arah beban semula. meskipun terjadi deformasi yang permanen. Jika beban yang bekeja terus bertambah besar. Deformasi elastis adalah deformasi yang apabila bebannya dihilangkan. pada struktur yang daktail. dan besarnya akan sebanding dengan besarnya beban. Dari uraian di atas tampak bahwa. Pada kondisi plastis ini struktur akan mengalami deformasi yang bersifat permanen. Jika beban tersebut dikurangi besarnya sampai dengan nol. Hubungan antara beban dan deformasi yang terjadi pada struktur. Pada kenyataannya. artinya bila struktur mengalami perubahan bentuk atau berdeformasi sebesar 1 mm oleh beban sebesar 1 ton. jika suatu beban bekerja pada struktur. Pada struktur yang daktail. tetapi struktur tidak mengalami keruntuhan. maka struktur tidak akan runtuh. maka deformasi tersebut tidak akan hilang. beban yang besar akibat gempa tidak akan menyebabkan keruntuhan dari struktur. sehingga jika beban yang bekerja dihilangkan. maka hanya sebagian saja dari deformasi yang hilang (deformasi elastis = δe). Pada struktur yang daktail (ductile) atau liat. maka jika beban yang bekerja pada struktur sedikit melampaui batas maksimum kekuatan elastisnya. dianggap elastis sempurna berupa hubungan linier. Perilaku deformasi elastis dan plastis dari struktur diperlihatkan pada Gambar 17. Beban gempa yang besar akan menyebabkan deformasi yang permanen dari struktur akibat rusaknya elemen-elemen dari Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 42 . Pada struktur yang bersifat getas (brittle). struktur akan berdeformasi secara elastis. Pada kondisi seperti ini struktur mengalami deformasi elastis. maka struktur akan berdeformasi sebesar 2 mm jika dibebani oleh beban sebesar 2 ton. dan struktur akan kembali kepada bentuknya yang semula. maka deformasi tersebut akan hilang. maka deformasi struktur akan negatif pula. Deformasi plastis adalah deformasi yang apabila bebannya dihilangkan. Dengan demikian pada struktur akan terjadi deformasi elastis dan deformasi plastis. jika beban yang ada melampaui batas maksimum kekuatan elastisnya.10 Daktilitas Struktur Pada umumnya struktur Teknik Sipil dianggap bersifat elastis sempurna. maka setelah batas elastis dari bahan struktur dilampaui. tetapi struktur akan mengalami deformasi plastis (inelastis). sedangkan sebagian deformasi akan bersifat permanen (deformasi plastis = δp). struktur kemudian akan berdeformasi secara plastis (inelastis).

Pada kondisi seperti ini. Dengan demikian sistem struktur yang bersifat daktail dapat membatasi besarnya energi gempa yang masuk pada struktur. Energi gempa yang bekerja pada struktur bangunan.b.a. energi yang dihamburkan akibat adanya pengaruh redaman dari struktur. Deformasi plastis (inelastis) pada struktur 43 Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur . akan dirubah menjadi energi kinetik akibat getaran dari massa struktur. namun secara keseluruhan struktur tidak mengalami keruntuhan. sehingga pengaruh gempa dapat berkurang. Deformasi elastis pada struktur δe+δp δp V≠ 0 V=0 Gambar 17. dan energi yang dipancarkan oleh bagian-bagian struktur yang mengalami deformasi plastis. δe δe=0 V≠ 0 V=0 Gambar 17.struktur seperti balok dan kolom. walaupun elemen-elemen struktur bangunan mengalami kerusakan.

maka dapat dilakukan dua cara sbb. Struktur bangunan yang didesain berperilaku plastis pada saat terjadi Gempa Kuat. Di dalam peraturan. disebut Struktur Tidak Daktail.1 Kemampuan Struktur Menahan Gempa Kuat Beban gempa sebenarnya yang bekerja pada struktur bangunan dapat melampaui beban gempa rencana yang tercantum di dalam peraturan. gaya normal. elemen-elemen dari struktur akan mengalami kerusakan. disebut Struktur Daktail. yang dibangun pada wilayah dengan pengaruh kegempaan kuat. Dengan demikian. struktur ini masih bersifat elastis pada saat terjadi Gempa Ringan atau Gempa Sedang. dan torsi) yang terjadi pada elemen-elemen struktur seperti balok dan kolom. maka pada saat terjadi Gempa Kuat. Jika struktur mempunyai kemampuan untuk dapat berdeformasi plastis cukup besar. maka hal ini dapat mengurangi sebagian dari energi gempa yang masuk ke dalam struktur. Pada saat terjadi Gempa Kuat. jika terjadi Gempa Kuat. maka gaya-gaya dalam (momen lentur. struktur bangunan ini memerlukan biaya yang sangat mahal.10. Membuat struktur bangunan sedemikian rupa sehingga mempunyai batas kekuatan elastis yang hanya mampu menahan Gempa Sedang saja. dan terletak pada wilayah dengan pengaruh kegempaan ringan sampai sedang. Struktur bangunan yang didesain tetap berperilaku elastis pada saat terjadi Gempa Kuat. Meskipun pada saat terjadi Gempa Kuat struktur ini tidak mengalami kerusakan yang berarti. Struktur bangunan yang dirancang tetap berperilaku elastis pada saat terjadi Gempa Kuat adalah tidak ekonomis. Dengan demikian. : Membuat struktur bangunan sedemikian kuat. struktur bangunan harus dirancang agar mampu untuk berdeformasi secara plastis. namun pada saat pembuatannya. Penggunaan sistem struktur portal tidak daktail masih dianggap ekonomis untuk bangunan gedung bertingkat menengah dengan ketinggian tingkat antara 4 s/d 7 lantai. dapat melampaui gaya-gaya dalam yang sudah diperhitungkan. gaya lintang. Agar struktur bangunan mempunyai kemampuan yang cukup dan tidak terjadi keruntuhan pada saat terjadi Gempa Kuat. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 44 . bahkan secara keseluruhan struktur dapat mengalami keruntuhan. sehingga struktur bangunan tetap berperilaku elastis pada saat terjadi Gempa Kuat. Jika hal ini tidak ditinjau di dalam perencanaan. Penggunaan sistem struktur portal daktail cukup ekonomis untuk bangunan gedung bertingkat menengah sampai tinggi. besarnya beban gempa rencana yang diperhitungkan bekerja pada struktur bangunan adalah Gempa Sedang. sehingga tidak memerlukan biaya perbaikan yang besar.

tetapi tidak mengalami keruntuhan pada saat terjadi Gempa Kuat.11 Perencanaan Kapasitas (Capacity Design) Dari penjelasan di atas. Karena sendisendi plastis yang terbentuk pada struktur portal akibat dilampauinya Beban Gempa Rencana dapat diatur tempatnya. maka dalam hal ini perlu diketahui mekanisme kelelehan yang dapat terjadi pada sistem struktur portal. maka mekanisme kerusakan yang terjadi tidak akan mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan secara keseluruhan. (b) Mekanisme leleh pada kolom Kedua jenis mekanisme kelelehen atau terbentuknya sendi-sendi plastis pada struktur portal adalah : Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 45 . Pada struktur beton bertulang. Karena pada prosedur Perencanaan Kapasitas ini terlebih dahulu harus ditentukan tempat-tempat di mana sendi-sendi plastis akan terbentuk. untuk mendapatkan struktur bangunan yang cukup ekonomis. Pada prosedur Perencanaan Kapasitas ini. Sedangkan elemen-elemen lainnya. Gambar 18. disarankan untuk merencanakan struktur bangunan dengan menggunakan cara Perencanaan Kapasitas. dapat terlebih dahulu dipilih dan ditentukan tempatnya. ditunjukkan pada Gambar 4-18 di bawah. tempat-tempat terjadinya deformasi plastis yaitu tempattempat dimana penulangan mengalami pelelehan. maka sistem struktur harus direncanakan bersifat daktail. Untuk mendapatkan sistem struktur yang daktail. elemen-elemen dari struktur bangunan yang akan memancarkan energi gempa melalui mekanisme perubahan bentuk atau deformasi plastis. direncanakan dengan kekuatan yang lebih besar untuk menghindari terjadinya kerusakan. Dua jenis mekanisme kelelehan yan dapat terjadi pada sistem struktur portal akibat pembebanan gempa. disebut daerah sendi plastis. Mekanisme leleh pada struktur portal akibat beban gempa : (a) Mekanisme leleh pada balok.

sering juga disebut perencanaan struktur dengan kondisi desain Kolom Kuat – Balok Lemah (Strong Column–Weak Beam). maka dalam perencanaan portal daktail pada struktur bangunan tahan gempa.a) Mekanisme Kelelehan Pada Balok (Beam Sidesway Mechanism). Kerusakan-kerusakan yang terjadi pada kolom-kolom bangunan. Karena hal tersebut di atas. Pada struktur dengan kolom-kolom yang lemah dan balok-balok yang kuat (strong beam– weak column). Di Indonesia. merupakan keadaan keruntuhan struktur bangunan yang lebih terkontrol. sehingga daktilitas yang diperlukan oleh kolom agar dapat dicapai daktilitas dari struktur yang disyaratkan. maka perlu adanya upaya-upaya untuk menekan bahaya bencana yang diakibatkan oleh gempa. deformasi akan terpusat pada tingkat-tingkat tertentu. yaitu keadaan di mana sendi-sendi plastis terbentuk pada kolom-kolom dari struktur bangunan pada suatu tingkat. 12 Mitigasi Bencana Gempa Berdasarkan akibat-akibat yang dapat ditimbulkan oleh bencana gempa di Indonesia. kegagalan dari kolom pada suatu tingkat akan mengakibatkan keruntuhan dari struktur bangunan secara keseluruhan. yaitu keadaan dimana sendi-sendi plastis terbentuk pada balok-balok dari struktur bangunan. akan lebih sulit diperbaiki dibandingkan jika kerusakan terjadi pada balok. Pemilihan perencanaan struktur bangunan dengan menggunakan mekanisme ini membawa konsekuensi bahwa kolom-kolom pada struktur bangunan harus direncanakan lebih kuat dari pada balok-balok struktur. sulit dipenuhi. sehingga dengan demikian sendi-sendi plastis akan terbentuk lebih dahulu pada balok. akibat penggunaan kolom-kolom yang kuat (Strong Column–Weak Beam). karena alasan-alasan sebagai berikut : Pada Column Sidesway Mechanism. upaya-upaya ini telah dilakukan secara struktural melalui pelembagaan yang khusus menangani bencana secara keseluruhan. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 46 . Jadi mekanisme kelelehen pada portal yang berupa Beam Sidesway Mechanism. mekanisme kelelehan yang dipilih adalah Beam Sidesway Mechanism. akibat penggunaan balok-balok yang kaku dan kuat (Strong Beam– Weak Column) Pada perencanaan struktur portal daktail dengan metode Perencanaan Kapasitas. b) Mekanisme Kelelehan Pada Kolom (Column Sidesway Mechanism).

Dalam upaya mitigasi terhadap bahaya gempa. Di dalam buku Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 1726 . Banyak kasus di Indonesia menunjukkan bahwa. 12. maka sekiranya standar ini diterapkan dengan baik. 12. Dengan adanya standar konstruksi bangunan yang memadai. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 47 . beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut : 12. dapat diketahui tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap ancaman gempa. Menurut pedoman tersebut.2 Standar Konstruksi Bangunan Penyusunan standar bangunan (building code) sangat penting untuk menjamin bahwa bangunan tersebut aman untuk dihuni. Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa dengan taraf beban gempa yang berlainan. telah dicantumkan zona atau wilayah kegempaan untuk Indonesia. sehingga seringkali gempa masih menimbulkan kerusakan yang cukup besar. Penerapan standar konstruksi bangunan dengan ketat hendaknya merupakan suatu kewajiban bagi semua pihak yang terlibat. sekolahan dan lain-lain. akibat yang ditimbulkan oleh gempa dapat ditekan seminimum mungkin. bangunanbangunan umum seperti rumah sakit dan sekolahan merupakan bangunan yang mudah dihancurkan oleh gempa. Teknologi rekayasa struktur bangunan tahan gempa sudah diketahui.3 Pendeteksian Dan Pemonitoran Gempa Pendeteksian dan pemonitoran gempa dilakukan oleh Badan Meterologi dan Geofisika yang bernaung di bawah Departemen Perhubungan. maka jika terjadi gempa. Pada wilayah gempa ini perlu diperlihatkan tempattempat yang sering dilanda gempa. Perlu dicantumkan juga magnitude dari gempa yang sudah pernah terjadi sebelumnya.2002). Dewasa ini pemonitoran gempa dapat dilakukan dengan menggunakan Jaringan Telemetri.1 Penyusunan Peta Wilayah Gempa Dengan adanya peta wilayah gempa yang akurat. seperti bangunan rumah sakit. Jadi sesungguhnya sebelum terjadinya bencana. banyak langkah yang sudah dapat ditempuh. masalah bencana biasanya mendapatkan perhatian setelah terjadinya bencana tersebut. yang mungkin dapat memberikan gambaran besarnya intensitas gempa yang akan datang. dan karenanya bencana tersebut seharusnya tidak datang secara mengejutkan. namun karena berbagai alasan teknologi ini belum dapat diterapkan sepenuhnya. terutama bagi bangunan-bangunan umum yang dipergunakan oleh banyak orang. dengan memanfaatkan Satelit Palapa. sehingga statistik kemungkinan terjadinya kembali gempa pada tempat tersebut dapat diperkirakan dengan lebih baik.Seperti juga yang terjadi di negara lain. sementara bangunan lainnya masih mampu bertahan.

Medan. 12. untuk dapat menghindari bencana yang diakibatkan oleh pengaruh gempa. atau bangunan-bangunan Teknik Sipil lainnya yang mampu bertahan terhadap pengaruh gempa. oleh karena usaha ini merupakan upaya satu-satunya yang berada di tangan manusia. standar atau pedoman ini juga berguna untuk memperkuat struktur-struktur bangunan yang sudah ada. Upaya ini perlu dilakukan karena adanya hubungan yang erat antara gempa dengan keadaan geologi suatu wilayah. Ujung Pandang. dapat dikeluarkan standar-standar atau pedoman-pedoman untuk membuat struktur bangunan rumah. Dengan mempelajari sifat-sifat gelombangnya dan menganalisis mekanisme dari pusat gempa. yang sebelumnya tidak dirancang tahan terhadap pengaruh gempa. Dengan diketahuinya sifat-sifat tektonik ini. merupakan lembaga utama yang melakukan kegiatan penelitian.4 Penyelidikan Seismotektonik Penyelidikan seismotektonik dimaksudkan untuk mengetahui sifat kegempaan dalam kaitannya dengan kondisi geologi. Pusat Penelitian Bangunan dan Pemukiman (Puslitbang Pemukiman) Departeman Pekerjaan Umum di Bandung. Dari hasil penelitian.Dari sejumlah 55 stasiun pemantauan gempa. maka akan dapat diperkirakan mengenai kemungkinan gempa yang akan datang. dan Denpasar. dengan tidak mengurangi faktor sosial dan faktor ekonomi dari daerah yang bersangkutan. Selain itu. dan Jayapura. maka akan dapat diketahui sifat-sifat tektonik suatu wilayah. Pusat Gempa Regional yang terletak di Ciputat. Dengan jaringan pemantauan ini. gedung. selain itu pihak dari perguruanperguruan tinggi banyak juga yang melakukan penelitian mengenai masalah ini. gempa dengan magnitude M=2 pada Skala Richter ke atas. 27 diantaranya telah diintegrasikan di dalam Jaringan Telemetri. Ke 27 stasiun ini dilengkapi dengan Jaringan Telemetri melalui satelit yang bertindak sebagai Pusat Gempa Regional yang terletak di Ciputat. sudah dilengkapi dengan peralatan untuk menentukan lokasi terjadinya gempa. Informasi yang dikirim dari Pusat Gempa Regional diterima oleh Pusat Gempa Nasional yang berada di Jakarta. Denpasar. 12.5 Penelitian Bangunan Tahan Gempa Penelitian mengenai rekayasa bangunan tahan gempa sangat penting dilakukan. Medan. dapat dideteksi oleh semua statsiun pemantauan gempa yang sudah diintegrasikan. Aspek Rekayasa Gempa Pada Desain Struktur 48 .