ETIOLOGI Otitis media akut bisa disebabkan oleh bakteri dan virus.

Bakteri yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumaniae, diikuti oleh Haemophilus influenza, Moraxella catarrhalis, Streptococcus grup A, dan Staphylococcus aureus. Beberapa mikroorganisme lain yang jarang ditemukan adalah Mycoplasma pneumaniae, Chlamydia pneumaniae, dan Clamydia tracomatis. Broides et al menemukan prevalensi bakteri penyebab OMA adalah H.influenza 48%, S.pneumoniae 42,9%, M.catarrhalis 4,8%, Streptococcus grup A 4,3% pada pasien usia dibawah 5 tahun pada tahun 1995-2006 di Negev, Israil. Sedangkan Titisari menemukan bakteri penyebab OMA pada pasien yang berobat di RSCM dan RSAB Harapan Kita Jakarta pada bulan Agustus 2004 – Februari 2005 yaitu S.aureus 78,3%, S.pneumoniae 13%, dan H.influenza 8,7%. Virus terdeteksi pada sekret pernafasan pada 40-90% anak dengan OMA, dan terdeteksi pada 20-48% cairan telinga tengah anak dengan OMA. Virus yang sering sebagai penyebab OMA adalah respiratory syncytial virus. Selain itu bisa disebabkan virus parainfluenza (tipe 1,2, dan 3), influenza A dan B, rinovirus, adenovirus, enterovirus, dan koronavirus. Penyebab yang jarang yaitu sitomegalovirus dan herpes simpleks. Infeksi bisa disebabkan oleh virus sendiri atau kombinasi dengan bakteri lain. PATOFISIOLOGI Otitis media akut terjadi karena terganggunya faktor pertahanan tubuh. Sumbatan pada tuba Eustachius merupakan faktor utama penyebab terjadinya penyakit ini. Dengan terganggunya fungsi tuba Eustachius, terganggu pula pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah sehingga kuman masuk dan terjadi peradangan. Gangguan fungsi tuba Eustachius ini menyebabkan terjadinya tekanan negatif di telingah tengah, yang menyebabkan transudasi cairan hingga supurasi. Pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Makin sering anak-anak terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi dan anak terjadinya OMA dipermudah karena: 1. morfologi tuba eustachius yang pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal; 2. sistem kekebalan tubuh masih dalam perkembangan; 3. adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa dan sering terinfeksi sehingga infeksi dapat menyebar ke telinga tengah. Beberapa faktor lain mungkin juga berhubungan dengan terjadinya penyakit telinga tengah, seperti alergi, disfungsi siliar, penyakit hidung dan/atau sinus, dan kelainan sistem imun. KLASIFIKASI Ada 5 stadium OMA berdasarkan pada perubahan mukosa telinga tengah, yaitu: 1. Stadium Oklusi Stadium ini ditandai dengan gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif telinga tengah. Membran timpani kadang tampak normal atau berwarna suram. 2. Stadium Hiperemis

timpanometri. Stadium penyembuhan. adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga. Stadium Resolusi Pada stadium ini membran timpani berangsur normal. Pada remaja atau orang dewasa biasanya selain nyeri terdapat gangguan pendengaran dan telinga terasa penuh. yang dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: kemerahan pada gendang telinga. kejang-kejang dan sering memegang telinga yang sakit. Pada anak –anak umumnya keluhan berupa rasa nyeri di telinga dan demam. 3. Pada bayi gejala khas adalah panas yang tinggi. Beberapa teknik pemeriksaan dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis OMA. dan 5. 3. anak gelisah dan sukar tidur. . stadium supurasi. cairan yang keluar dari telinga. 5. perforasi membran timpani kembali menutup dan sekret purulen tidak ada lagi. DIAGNOSIS Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut: 1.Penyakitnya muncul mendadak (akut). Stadium Supurasi Stadium ini ditandai edem yang hebat telinga tengah disertai hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani sehingga membran timpani tampak menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat. otoskop pneumatik. nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal. membrane timpani tampak hiperemis disertai edem. 2. Ada juga yang membagi OMA menjadi 5 stadium yang sedikit berbeda yaitu: 1. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di antara tanda berikut: menggembungnya gendang telinga. 2. Biasanya ada riwayat infeksi saluran pernafasan atas sebelumnya. serta cairan di liang telinga. 4. 3. seperti otoskop. dan timpanosintesis. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. Ditemukannya tanda efusi di telinga tengah. 4. perubahan warna gendang telinga menjadi kemerahan atau agak kuning dan suram. stadium komplikasi. stadium eksudasi. Stadium Perforasi Pada stadium ini terjadi ruptur membran timpani sehingga nanah keluar dari telinga tengah ke liang telinga. terbatas /tidak adanya gerakan gendang telinga.Dengan otoskop dapat dilihat adanya gendang telinga yang menggembung. diare.Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di sebagian atau seluruh membran timpani. Gejala yang timbul bervariasi bergantung pada stadium dan usia pasien. Adanya tanda / gejala peradangan telinga tengah. stadium kataralis.

TERAPI Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Antibiotika diberikan apabila penyebab utamanya adalah kuman. Bila pasien alergi terhadap penisilin bisa diberikan eritromisin. Timpanometri punya sensitivitas dan spesifisitas 7090% untuk deteksi cairan telinga tengah. Terapi awal diberikan penisilin intramuscular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat dalam darah. atau eritromisin 40 mg/kg BB per hari Pada stadium supurasi selain diberikan antibiotika. Antibiotika yang dianjurkan adalah dari golongan penisilin atau ampisilin. Untuk mengkonfirmasi penemuan otoskopi pneumatik dilakukan timpanometri. idealnya harus disertai dengan mirigotomi. Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H202 3% selama 3-5 hari . bermanfaat pada anak yang gagal diterapi dengan berbagai antibiotika. Gerakan gendang telinga yang berkurang atau tidak ada sama sekali dapat dilihat dengan pemeriksaan ini.Jika konfirmasi diperlukan. gangguan pendengaran sebagai gejala sisa.5ºC rektal. Menurut beratnya gejala. Terapi pada stadium presupurasi ialah antibiotika. larutan fisiologis (untuk >12 Tahun dan orang dewasa). Pada stadium perforasi sering terlihat secret banyak keluar dan kadang terlihat secret keluar secara berdenyut (pulsasi). atau keduanya. diikuti aspirasi dan kultur cairan dari telinga tengah. dan kekambuhan. Sedangkan OMA tidak berat apabila terdapat otalgia ringan dan demam dengan suhu kurang dari 39ºC oral atau 39. atau tidak demam. bukan virus atau alergi. obat tetes hidung dan analgetika. atau amoksisilin 40 mg/kg BB per hari dibagi dalam 3 dosis. dengan miringotomi gejala –gejala klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat dihindari. ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/Kg BB per hari dibagi dalam 4 dosis. Pada stadium oklusi pengobatan terutama dilakukan bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachii. Timpanometri juga dapat mengukur tekanan telinga tengah dan dengan mudah menilai patensi tabung miringotomi dengan mengukur peningkatan volume liang telinga luar. Pemberian antibiotika dianjurkan selama 7 hari. Timpanometri merupakan konfirmasi penting terdapatnya cairan di telinga tengah. Timpanosintesis. untuk itu diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0. Pemeriksaan ini meningkatkan sensitivitas diagnosis OMA. umumnya dilakukan dengan otoskopi pneumatik.5ºC rektal. tetapi tergantung kerjasama pasien. Namun umumnya diagnosis OMA dapat ditegakkan dengan otoskop biasa. bila membrane timpani masih utuh. atau pada imunodefisiensi. OMA berat apabila terdapat otalgia sedang sampai berat. sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang. Selain itu sumber infeksi harus diobati. Timpanosintesis merupakan standar emas untuk menunjukkan adanya cairan di telinga tengah dan untuk mengidentifikasi patogen yang spesifik. OMA dapat diklasifikasi menjadi OMA berat dan tidak berat. sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung. Timpanometri dapat memeriksa secara objektif mobilitas membran timpani dan rantai tulang pendengaran. atau demam dengan suhu lebih atau sama dengan 39ºC oral atau 39. Pada anak.5% dalam larutan fisiologis (untuk <12 Tahun) atau HCl efedrin 1% dala.

maka membrane timpani berangsur normal kembali. Greenberg D. Djaafar ZA. Edisi keenam. Biasanya secret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari. sekret tidak ada lagi dan perforasi membrane timpani menutup.65-9. Jakarta: FKUI. .p. Kelainan telinga tengah. Pada stadium resolusi. DAPUS Broides A. Givon-Lavi N.serta antibiotika yang adekuat. Dalam: Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Dagan R.49:1641–7. Leibovitz E. Acute otitis media caused by Moraxella catarrhalis: Epidemiologic and clinical characteristic. Clinical Infectious Diseases 2009. Restuti RD.2007. Helmi.