Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata

Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

DAMPAK PENINGKATAN HARGA BERAS TERHADAP
POLA PENGELUARAN PANGAN PADA BEBERAPA
STRATA PENDAPATAN
(Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan.
Desa Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Serdang)




SKRIPSI




Oleh :

ARIEF FADILLAH
030304028/AGRIBISNIS




















DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
P R O G R A M S T U D I A G R I B I S N I S
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2007
DAMPAK PENINGKATAN HARGA BERAS TERHADAP
POLA PENGELUARAN PANGAN PADA BEBERAPA
STRATA PENDAPATAN

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

(Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan.
Desa Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Serdang)




SKRIPSI



Oleh :

ARIEF FADILLAH
030304028/AGRIBISNIS


Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan


Disetujui Oleh,
Komisi Pembimbing









Dr. Ir. Tavi Supriana, MS
Ketua Anggota
Ir. Lily Fauzia, MSi





DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
P R O G R A M S T U D I A G R I B I S N I S
F A K U L T A S P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2007




Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

RINGKASAN


ARIEF FADILLAH (030304028) dengan judul skripsi
“DAMPAK PENINGKATAN HARGA BERAS TERHADAP POLA
PENGELUARAN PANGAN PADA BEBERAPA STRATA PENDAPATAN”
(Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun Kotamadya Medan
dan Desa Pantai Labu Pekan Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang).
Penelitian skripsi dibimbing oleh Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, M.S sebagai Ketua
Komisi Pembimbing dan Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si sebagai Anggota Komisi
Pembimbing. Penelitian dilakukan bulan Mei 2007 di Kelurahan Sei Mati
Kecamatan Medan Maimun Kotamadya Medan dan Desa Pantai Labu Pekan
Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang yang dilakukan secara purposive
dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut memiliki populasi dimana terdapat
semua strata pendapatan.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak peningkatan harga
beras terhadap pola pengeluaran pangan menurut strata pendapatan dan daerah,
menghitung elastisitas permintaan beras terhadap harga, dan pengetahuan
masyarakat mengenai program diversifikasi pangan.
Pengambilan sampel dilakukan secara acak bertingkat (Stratified Random
Sampling). Strata pendapatan dalam penelitian ini yaitu tingkat pendapatan rumah
tangga yang terdiri strata I (≤ Rp 1.000.000 per bulan), strata II (Rp. 1.001. 000 –
Rp 1.999.000 per bulan ) dan strata III ( ≥ Rp 2.000.000 per bulan). Sampel
sebanyak 100 rumah tangga terdiri dari 56 rumah tangga strata I, 29 rumah tangga
strata II dan 15 rumah tangga strata III.
Dari hasil penelitian disimpulkan :
1. Peningkatan harga beras menyebabkan semakin besarnya proporsi
pengeluaran pangan untuk beras dengan semakin rendahnya strata pendapatan.
2. Peningkatan harga beras menyebabkan proporsi pengeluaran pangan untuk
beras lebih besar pada daerah pedesaan daripada daerah perkotaan.
3. Peningkatan harga beras tidak memberi perubahan yang besar terhadap jumlah
beras yang dikonsumsi, namun memberi perubahan yang besar terhadap
kualitas beras yang dikonsumsi.
4. Elastisitas permintaan beras rumah tangga berpendapatan rendah lebih elastis
daripada rumah tangga berpendapatan tinggi.
5. Elastisitas permintaan beras rumah tangga di daerah pedesaan lebih elastis
daripada daerah perkotaan.
6. Pengetahuan masyarakat tentang program diversifikasi pangan masih rendah.











Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

RIWAYAT HIDUP


ARIEF FADILLAH, lahir pada tanggal 11 April 1985 di Banda Aceh.
Anak pertama dari empat bersaudara dari keluarga Bapak Nazlan S. Lubis dan Ibu
Farida.
Pendidikan yang pernah ditempuh adalah sebagai berikut :
1. Tahun 1991 masuk Sekolah Dasar di SD Geuceu 1 Aceh Besar Nanggro Aceh
Darusalam (NAD) hingga kelas V, kemudian melanjutkan kelas VI di
SD Negeri 064988 Medan dan tamat tahun 1997.
2. Tahun 1997 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 2
Medan dan tamat tahun 2000.
3. Tahun 2000 masuk Sekolah Menengah Umum di SMU Negeri 2 Medan dan
tamat tahun 2003.
4. Tahun 2003 di terima Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi
Agribisnis, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleski Penerimaan
Mahasiswa Baru (SPMB).
5. Bulan Mei 2006 melaksanakan penelitian skripsi di Kelurahan Sei Mati
Kecamatan Medan Maimun Kotamadya Medan dan Desa Pantai Labu Pekan
Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang.
6. Bulan Juni – Juli 2007 melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa
Sitinjo Kecamatan Sitinjo Kabupaten Dairi.








Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan
karunia-Nyan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya.
Skripsi merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana
pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sumatea Utara dengan judul “Dampak
Peningkatan Harga Beras terhadap Pola Pengeluaran Pangan pada Beberapa Strata
Pendapatan” ( Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun
Kotamadya Medan dan Desa Pantai Labu Pekan Kecamatan Pantai Labu
Kabupaten Deli Serdang ).
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, M.S sebagai Ketua Komisi Pembimbing.
2. Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si sebagai Anggota Komisi Pembimbing.
3. Ibu Ir. Lily Fauzia, M.Si sebagai Ketua Departemen Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Ir. Luhut Sihombing, M.P sebagai Sekretaris Departemen Sosial
Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
5. Seluruh Staf Pengajar dan Pegawai Departemen Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak Japar K. sebagai Lurah Sei Mati Kecamatan Medan Maimun
Kotamadya Medan yang telah banyak memberi data dan informasi untuk
pembuatan skripsi penulis.
7. Bapak Muslim S. sebagai Kepala Desa Pantai Labu Pekan Kecamatan Pantai
Labu Kabupaten Deli Serdang yang telah banyak memberi data dan informasi
untuk pembuatan skripsi penulis.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

8. Seluruh masyarakat Kelurahan Sei Mati dan Desa Pantai Labu Pekan yang
telah menerima dan membantu penulis dengan memberi data dan informasi
untuk penulisan skripsi penulis.
9. Rekan-rekan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian yang telah membantu
dalam penulisan skripsi ini.
Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih buat orang tua tercinta
Nazlan S. Lubis dan Farida buat bimbingan dan perhatian serta pengorbanan yang
telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membanguan dari
pembaca demi penyempurnaan skripsi ini di masa yang akan datang.

Medan, September 2007


Penulis






















Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

DAFTAR ISI


RINGKASAN ................................................................................................. i
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................. v
DAFTAR TABEL .......................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. ix

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Identifikasi Masalah ....................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................ 6
1.4 Kegunaan Penelitian ....................................................................... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA
PEMIKIRAN
2.1 Tinjauan Pustaka ............................................................................ 8
2.2 Landasan Teori ............................................................................... 13
2.3 Kerangka Pemikiran ....................................................................... 17
2.4 Hipotesis Penelitian ........................................................................ 19

III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian .............................................. 20
3.2 Metode Pengambilan Sampel .......................................................... 21
3.3 Metode Pengumpulan Data ............................................................. 22
3.4 Metode Analisis Data ..................................................................... 23
3.5 Definisi dan Batasan Operasional ................................................... 24

IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK
SAMPEL
4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ............................................................ 27
4.2 Karakteristik Sampel ...................................................................... 37

V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pola Pengeluaran Pangan menurut Strata Pendapatan ..................... 40
5.2 Pola Pengeluaran Pangan menurut Daerah ...................................... 46
5.3 Elastisitas Permintaan terhadap Harga pada Komoditi Beras ........... 51
5.4 Pengetahuan Masyarakat mengenai Diversifikasi Pangan ............... 55
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan .................................................................................... 57
6.2 Saran .............................................................................................. 57

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

DAFTAR TABEL


NO JUDUL Hal.

1. Produksi Beras Sumatera Utara menurut Kabupaten Tahun 2005 ............... 2
2. Gambaran Tingkat Konsumsi Bahan Pangan Di Propinsi Sumatera Utara
dan Indonesia Tahun 2005.......................................................................... 2
3. Perkembangan Harga Eceran Beras di Indonesia Tahun 2000-2006
(Rupiah/kg) ................................................................................................ 4
4. Persentase Rumah Tangga Miskin pada Kecamatan Pantai Labu
Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Bantuan Langsung Tunai (BLT)
Tahun 2005 ................................................................................................ 20
5. Persentase Rumah Tangga Miskin pada Kecamatan Medan Maimun
Berdasarkan Distribusi Beras Miskin Tahun 2006 ...................................... 21
6. Distribusi Populasi dan Sampel di Kelurahan Sei Mati dan Desa Pantai
Labu Pekan Tahun 2007 ............................................................................. 22
7. Distribusi Penggunaan Lahan Kelurahan Sei Mati Tahun 2007 .................. 29
8. Distribusi Penggunaan Lahan Desa Pantai Labu Pekan Tahun 2007 ........... 29
9. Distribusi Penduduk Kelurahan Sei Mati menurut Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2007 ................................................................................................ 30
10. Distribusi Penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut Umur dan Jenis
Kelamin Tahun 2007 .................................................................................. 31
11. Distribusi Penduduk Kelurahan Sei Mati menurut Jenis Pekerjaan
Tahun 2007 ................................................................................................ 32
12. Distribusi Penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut Jenis Pekerjaan
Tahun 2007 ................................................................................................ 33
13. Distribusi Penduduk Kelurahan Sei Mati menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2007 ................................................................................................ 34
14. Distribusi Penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut Tingkat Pendidikan
Tahun 2007 ................................................................................................ 35
15. Sarana dan Prasarana di Keluranan Sei Mati Tahun 2007 ........................... 36
16. Sarana dan Prasarana di Desa Pantai Labu Pekan Tahun 2007 .................... 36
17. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur Tahun 2007 .......................... 37
18. Distribusi Sampel menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2007 ...................... 37
19. Distribusi Ukuran Keluarga Sampel Tahun 2007 ........................................ 38
20. Distribusi Sampel menurut Pekerjaan Kepala Keluarga Tahun 2007........... 38
21. Distribusi Sampel menurut Pengeluaran untuk Pangan Tahun 2007 ............ 39
22. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan dan Non Pangan
Rumah Tangga menurut Strata Pendapatan ................................................ 40
23. Rumah Tangga menurut Proporsi Pengeluaran Pangan Berdasarkan Strata
Pendapatan ................................................................................................. 41
24. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan untuk Beras menurut
Strata Pendapatan ....................................................................................... 42
25. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kuantitas Beras
yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut Strata
Pendapatan ................................................................................................. 43


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

26. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kualitas Beras
yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut Strata
Pendapatan ................................................................................................. 45
27. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan dan Non Pangan
Rumah Tangga menurut Daerah ................................................................. 46
28. Persentase Rumah Tangga menurut Proporsi Pengeluaran Pangan
Berdasarkan Daerah ................................................................................... 47
29. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan untuk Beras menurut
Daerah ....................................................................................................... 48
30. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kuantitas Beras
yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut Daerah .......... 49
31. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kualitas Beras
yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut Daerah .......... 50
32. Elastisitas Permintaan Beras menurut Strata Pendapatan Tahun 2007 ......... 51
33. Elastisitas Permintaan Beras menurut DaerahTahun 2007 .......................... 52
34. Persentase Rumah Tangga yang Mengetahui Program Diversifikasi
menurut Strata Pendapatan ........................................................................ 55
35. Persentase Rumah Tangga yang Mengetahui Program Diversifikasi
menurut Daerah .......................................................................................... 56






























Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

DAFTAR GAMBAR


NO JUDUL Hal.

1. Kurva Engel ............................................................................................... 16
2. Skema Kerangka Pemikiran ....................................................................... 19
3. Kurva Permintaan Beras pada Strata I, Strata II dan Strata III..................... 53
4. Kurva Permintaan Beras pada Daerah Pedesaan dan Daerah Perkotaan ...... 54



































Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

DAFTAR LAMPIRAN


NO JUDUL Hal.

1. Karakteristik Sampel pada Strata I, Strata II dan Strata III .......................... 59
2. Persentase Proporsi Pengeluaran Pangan dan Beras Rumah Tangga
Strata I ....................................................................................................... 61
3. Persentase Proporsi Pengeluaran Pangan dan Beras Rumah Tangga
Strata II ...................................................................................................... 62
4. Persentase Proporsi Pengeluaran Pangan dan Beras Rumah Tangga
Strata III ..................................................................................................... 62
5. Kebutuhan dan Jenis/Merk Beras Rumah Tangga Strata I........................... 63
6. Kebutuhan dan Jenis/Merk Beras Rumah Tangga Strata II ......................... 64
7. Kebutuhan dan Jenis/Merk Beras Rumah Tangga Strata III ........................ 64
8. Persentase Proporsi Pengeluaran Pangan dan Beras Rumah Tangga
Daerah Perkotaan ....................................................................................... 65
9. Persentase Proporsi Pengeluaran Pangan dan Beras Rumah Tangga
Daerah Pedesaan ........................................................................................ 66
10. Kebutuhan dan Jenis/Merk Beras Rumah Tangga Daerah Perkotaan .......... 67
11. Kebutuhan dan Jenis/Merk Beras Rumah Tangga Daerah Pedesaan ........... 68
12. Permintaan Beras dan Elastisitas Permintaan Beras Rumah Tangga
Strata I ....................................................................................................... 69
13. Permintaan Beras dan Elastisitas Permintaan Beras Rumah Tangga
Strata II ...................................................................................................... 70
14. Permintaan Beras dan Elastisitas Permintaan Beras Rumah Tangga
Strata III ..................................................................................................... 70
15. Permintaan Beras dan Elastisitas Permintaan Beras Rumah Tangga
Perkotaan ................................................................................................... 71
16. Permintaan Beras dan Elastisitas Permintaan Beras Rumah Tangga
Perkotaan ................................................................................................... 72
17. Hasil Kuesioner mengenai Program Diversifikasi Pangan pada Rumah
Tangga Strata I ........................................................................................... 73
18. Hasil Kuesioner mengenai Program Diversifikasi Pangan pada Rumah
Tangga Strata II ......................................................................................... 74
19. Hasil Kuesioner mengenai Program Diversifikasi Pangan pada Rumah
Tangga Strata III ........................................................................................ 74
20. Hasil Kuesioner mengenai Program Diversifikasi Pangan pada Rumah
Tangga Daerah Perkotaan........................................................................... 75
21. Hasil Kuesioner mengenai Program Diversifikasi Pangan pada Rumah
Tangga Daerah Pedesaan ............................................................................ 76
22. Perhitungan Elastisitas Permintaan terhadap Harga menurut Strata
Pendapatan dan Daerah .............................................................................. 77






Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Beras merupakan salah satu padi-padian paling penting di dunia untuk
konsumsi manusia. Beras merupakan pangan pokok. Sebanyak 75% masukan
kalori harian mayarakat di negara-negara Asia tersebut berasal dari beras. Lebih
dari 59% penduduk dunia tergantung pada beras sebagai sumber kalori utama
(Chils, 2004).
Secara umum masalah pangan global tidak dicirikan oleh tidak cukupnya
produksi pangan dalam arti absolut. Akan tetapi, masalah utama terletak pada
tidak meratanya produksi pangan dunia. Produksi pangan dunia umumnya
terpusat di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Dengan tidak
meratanya produksi pangan dan terpusat di negara-negara maju, maka dapat
dipahami mengapa negara-negara yang sedang berkembang, yang umumnya padat
penduduk dan berpenghasilan rendah sangat menggantungkan kebutuhan
pangannya dari negara-negara maju (Amang, 1995).
Kenyataan di atas mendorong setiap negara berusaha memenuhi
kebutuhan pangan dalam negeri dengan berbagai cara, seperti mendorong
produksi dalam negeri atau melalui perdagangan dunia. Namun tidak semua
negara mampu mengatasi masalah pangan. Sementara negara maju melaju dengan
surplus produksi yang besar, di negara berkembang dan miskin terjadi kekurangan
pangan. Hal ini pada akhirnya mendorong adanya masalah pangan (Amang,1995).
Beras merupakan bahan pokok yang sampai saat ini masih dikonsumsi
oleh sekitar 90% penduduk Indonesia dan menyumbang lebih dari 50% kebutuhan
kalori serta hampir 50% kebutuhan protein (Amang, 1995).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Pulau J awa menghasilkan sekitar 56% produksi padi di Indonesia,
sedangkan selebihnya dihasilkan oleh Pulau Sumatera (22%), Sulawesi (10%),
Kalimantan (5%), dan pulau-pulau lainnya (7%). Dengan pola sebaran produksi
seperti itu, maka Pulau Jawa masih tetap berperan sebagai penyangga produksi
beras nasional (Malian, dkk, 2004).
Produksi beras Sumatera Utara sebagian besar berasal dari Kabupaten Deli
Serdang, Serdang Bedagai, Langkat, Labuhan Batu, dan Tapanuli Selatan.
Produksi padi Sumatera Utara tahun 2005 menurut kabupaten dapat lihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Produksi Beras Sumatera Utara menurut Kabupaten Tahun 2005.

No. Kabupaten Produksi (Ton)
1. Deli Serdang 339.484
2. Serdang Bedagai 346.300
3. Labuhan Batu 379.506
4. Langkat 361.624
5. Tapanuli Selatan 363.318
Sumber : BPS, 2006

Tingkat konsumsi beras per kapita di Sumatera Utara sebesar 133,23
kg/kapita/tahun, sedangkan tingkat konsumsi beras per kapita di Indonesia sebesar
111,95 kg/kapita/tahun. Gambaran mengenai konsumsi bahan pangan di Indonesia
dan Propinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Gambaran Tingkat Konsumsi Bahan Pangan Di Propinsi Sumatera
Utara dan Indonesia Tahun 2005.

No. Bahan Pangan
Tingkat Konsumsi
(kg/kapita/tahun)
Perbandingan
Sumatera Utara
dengan Nasional Sumatera Utara Nasional
1 Beras 133,23 111,95 >
2 Daging 11,13 6,94 >
3 Telur 9,92 7,30 >
4 Minyak Goreng 9,87 8,47 >
5 Sayur-sayuran 44,60 55,70 <
6 Buah-buahan 24,65 31,86 <
Sumber : Lubis, 2005

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa tingkat konsumsi beras Sumatera
Utara lebih tinggi 19 % dari tingkat konsumsi beras Indonesia. Hal yang sama
juga terjadi untuk bahan pangan daging, telur, dan minyak goreng.
Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya kebutuhan bahan pangan
pokok adalah tingginya jumlah penduduk. Di sisi suplai, produksi pangan relatif
tetap. Hal ini menyebabkan terjadinya ekses permintaan. Permintaan beras yang
tinggi sementara suplai tetap, akan menyebabkan terjadinya peningkatan harga
beras di pasaran.
Kota Medan berpenduduk 2.102.142 jiwa dengan tingkat konsumsi beras
0,28 kg/kapita/hari atau 102,2 kg/kapita/tahun. Jadi, untuk penduduk Medan yang
berjumlah 2.102.142 jiwa dibutuhkan 214.838.912,4 kg/tahun atau 214.838,9
ton/tahun. Untuk hitungan per bulan diperlukan 17.903,242 ton dengan konsumsi
per hari sebanyak 596,7 ton. Hal ini dijelaskan Kepala Disperindag Medan
Basyrul Kamaly melalui Waspada (24 Januari 2007). Angka tersebut
menunjukkan tingkat konsumsi beras warga Medan sangat tinggi.
Kabupaten Deli Serdang hingga saat ini merupakan salah satu lumbung
beras dan memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi Propinsi Sumatera Utara.
Produk kelompok tanaman bahan makanan, misalnya produksi beras pada tahun
2003 sebanyak 472.837 ton sementara kebutuhan beras sebanyak 325.885 ton
sehingga terjadi surplus sebanyak 146.952 ton. Jumlah Penduduk Deli Serdang
tahun 2004 sebanyak 1.526.763 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 2,74 %
dan kepadatan rata – rata 616 jiwa / Km
2
. J ika kebutuhan beras masyrakat 325.885
ton/tahun, maka konsumsi beras masyarakat Deli Serdang sebanyak 213
kg/kapita/tahun (http://www.deliserdang.go.id).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Harga beras terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Peningkatan harga beras selama tahun 2000-2006 sekitar 11% per tahun.
Perkembangan harga eceran beras di Indonesia selama Tahun 2000-2006 dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perkembangan Harga Eceran Beras di Indonesia Tahun 2000-2006
(Rupiah/kg)

TAHUN 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
JAN 2,417.30 2,393.74 2,962.82 2,848.32 2,818.08 3,334.61 4,121.51
PEB 2,510.13 2,447.13 3,056.71 2,869.62 2,846.73 3,399.03 4,435.58
MAR 2,427.28 2,483.94 2,905.70 2,868.15 2,831.13 3,439.18 4,453.55
APR 2,442.20 2,486.30 2,853.39 2,801.97 2,825.32 3,384.25 4,319.54
MEI 2,474.02 2,466.20 2,862.08 2,756.70 2,829.23 3,358.19 4,388.10
JUN 2,489.48 2,483.46 2,820.26 2,753.30 2,809.14 3,336.98 4,478.76
JUL 2,477.59 2,518.58 2,763.38 2,701.12 2,749.92 3,356.35 4,475.80
AGT 2,421.81 2,543.68 2,691.08 2,711.57 2,847.53 3,394.92 4,532.52
SEP 2,381.23 2,586.85 2,665.26 2,781.33 2,875.07 3,460.05 4,524.08
OKT 2,350.62 2,625.19 2,729.29 2,784.82 2,892.17 3,672.01 4,521.12
NOP 2,349.97 2,690.34 2,795.78 2,775.38 2,913.13 3,779.59
DES 2,348.97 2,719.64 2,806.97 2,777.95 2,971.70 3,831.33
RATA-2 2,424.22 2,537.09 2,826.06 2,785.85 2,850.76 3,478.87 4,425.06
Persentase peningkatan
per tahun
4,66% 11,39% -1,42% 2,33% 22,03% 27,20%
Sumber : www.bulog.co.id

Tingkat konsumsi beras yang tinggi menjadi permasalahan serius bagi
masyarakat Sumatera Utara yang mayoritas mengonsumsi beras sebagai makanan
pokok. Tingkat konsumsi yang tinggi menyebabkan ketergantungan masyarakat
terhadap beras menjadi tinggi. Hal ini menyebabkan naik turunnya harga beras
akan berpengaruh terhadap pola konsumsi. Harga beras di pasar tradisional Medan
untuk jenis IR64 masih berkisar Rp 4.900 s/d Rp 5.200 per kg, jenis KKB
mencapai Rp 5.800 per kg, Arias Rp 5.500 per kg, Ramos Rp 5.700 per kg, beras
merah Rp 7.000 per kg, Pulut Rp 6.200 per kg (Waspada, 31 Januari 2007).


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Peran beras belum tergantikan oleh sumber karbohidrat lainnya. Meski
sudah ada Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1974 yang disempurnakan menjadi
Inpres Nomor 20 Tahun 1979 soal Penganekaragaman Menu Makanan Rakyat
(Kompas, 22 Desember 2006).
Diversifikasi pangan merupakan masalah yang hingga saat ini belum dapat
diatasi secara baik. Ketergantungan masyarakat terhadap bahan pangan beras terus
meningkat, sedangkan konsumsi pangan lain (non beras) masih rendah. Hal ini
disebabkan berbagi faktor, misalnya faktor sosial, ekonomi maupun budaya.
Gagalnya program diversifikasi menyebabkan jumlah kebutuhan beras dalam
negeri tidak pernah menurun.
Meningkatnya harga beras menyebabkan turunnya daya beli masyarakat.
Penurunan daya beli dapat menyebabkan menurunnya tingkat konsumsi dari sisi
kuantitas dan atau kualitas khususnya bagi kelompok masyarakat yang
berpendapatan rendah. Oleh karena itu, penelitian tentang dampak peningkatan
harga beras terhadap pola konsumsi beras penting untuk dilakukan.
Penelitian ini terkait dengan masalah konsumsi dan permintaan beras di
Sumatera Utara dikaitkan dengan adanya peningkatan harga dikaji menurut strata
pendapatan rumah tangga dan menurut daerah. Hal ini sangat diperlukan bagi para
pengambil kebijakan dalam memprediksi kebutuhan beras penduduk serta dampak
apabila terjadi peningkatan harga dan atau pendapatan terhadap pola konsumsi
beras di daerah penelitian.
Dari berbagai studi tentang pangan di Indonesia, kajian yang menelaah
pola pengeluaran pangan menurut kelompok pendapatan dan mengkaitkan dengan
perubahan harga masih terbatas, khususnya di Sumatera Utara. Oleh karena itu

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

studi ini bermaksud untuk mengisi keterbatasan tersebut dengan memfokuskan
kajian pada masalah pola pengeluaran pangan berdasarkan kelompok pendapatan.

1.2. Identifikasi Masalah
Setelah dilihat dari uraian pada latar belakang maka dapat disimpulkan
beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana dampak peningkatan harga beras terhadap pola pengeluaran
pangan rumah tangga menurut strata pendapatan di daerah penelitian?
2. Bagaimana dampak peningkatan harga beras terhadap pola pengeluaran
pangan rumah tangga pedesaan dan perkotaan di daerah penelitian?
3. Bagaimana elastisitas permintaan beras rumah tangga menurut strata
pendapatan di daerah penelitian?
4. Bagaimana elastisitas permintaan beras rumah tangga pedesaan dan perkotaan
di daerah penelitian?
5. Bagaimana pengetahuan masyarakat mengenai program diversifikasi pangan
di daerah penelitian?

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dampak peningkatan harga beras terhadap pola
pengeluaran pangan rumah tangga menurut strata pendapatan di daerah
penelitian.
2. Untuk mengetahui dampak peningkatan harga beras terhadap pola
pengeluaran pangan rumah tangga pedesaan dan perkotaan di daerah
penelitian.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

3. Untuk mengetahui elastisitas permintaan beras rumah tangga menurut strata
pendapatan di daerah penelitian.
4. Untuk mengetahui elastisitas permintaan beras rumah tangga pedesaan dan
perkotaan di daerah penelitian.
5. Untuk mengetahui pengetahuan masyarakat mengenai program diversifikasi
pangan di daerah penelitian?

1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan di kemudian hari dapat dipergunakan
sebagai :
1. Sumbangan pemikiran dalam kajian konsumsi terkait dengan pola pengeluaran
pangan khususnya beras.
2. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi policy maker dalam
mengambil kebijaksanaan penetapan harga pangan maupun proyeksi
kebutuhan pangan di masa mendatang.
3. Sebagai bahan referensi dan studi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.


















Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN
KERANGKA PEMIKIRAN


2.1. Tinjauan Pustaka
Pangan adalah komoditas strategis karena merupakan kebutuhan dasar
manusia. Pangan tidak saja berarti strategis secara ekonomi, tetapi juga sangat
berarti dari segi pertahanan dan keamanan, sosial, dan politis (Hasan, 1998).
Tanaman padi (Oryza sativa L.) diduga berasal dari Asia. Terdapat sekitar
20.000 varietas padi di dunia. Tanaman padi tradisional di Asia yang beriklim
tropis bersifat tinggi dan lemah, dengan daun-daun yang melengkung ke bawah
dan masa dormansinya lama (Juliano, 1994).
Pangan pokok umumya banyak mengandung karbohidrat sehingga
berfungsi sebagai sumber kalori utama. Di Indonesia, di antara bahan pangan
bekarbohidrat, yaitu padi-padian, umbi-umbian, dan batang palma, beras
merupakan sumber kalori yang terpenting bagi sebagian besar penduduk. Beras
diperkirakan menyumbang kalori sebesar 60-80% dan protein 45-55% bagi rata-
rata penduduk (Juliano, 1994).
Kebijakan harga merupakan instrumen pokok kebijaksanaan pengadaan
pangan. Tujuan kebijakan harga dilakukan, diantaranya : (a) melindungi produsen
dari kemerosotan harga pasar yang biasanya terjadi pada musim panen, (b)
melindungi konsumen dari kenaikan harga yang melebihi daya beli khususnya
pada musim paceklik serta (c) mengendalikan inflasi melalui stabilitas harga.
Kebijakan harga memiliki dua sisi yang menunjang bidang produksi dan sisi lain
yang menyangkut bidang distribusi dan konsumsi (Amang, 1995).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Di negara-negara berpenghasilan rendah, terutama di daerah perkotaan,
dua pertiga bagian dari jumlah pengeluaran mereka digunakan untuk konsumsi
makanannya. Masalah ekonomi, sosial, dan politik dapat meningkatkan inflasi
(harga-harga makanan naik) dan ini merupakan suatu hal yang serius. Inflasi
harga pangan dapat mengakibatkan kegagalan dalam segi perluasan pemasaran
makanan baik di dalam negeri maupun bahan makanan impor sehingga sukar
untuk mengatur laju pertumbuhan permintaan bahan makanan terutama untuk
bahan makanan yang mempunyai nilai komersial (Suhardjo, 1996).
Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses
pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau
jasa-jasa ekonomis yang dapat dipengaruhi lingkungan. Dalam hubungannya
dengan perilaku konsumen dapat dicirikan menurut kelas sosial. Kelas sosial
tinggi (berpendapatan tinggi) memiliki kecenderungan membeli barang-barang
yang mahal, sedangkan kelas sosial rendah cenderung membeli barang dengan
mementingkan kuantitas daripada kualitasnya (Mangkunegara, 2002).
Lingkungan di luar sistem keluarga juga berperan kuat dalam
kecenderungan pemilihan pangan. Orang tidak dapat melepaskan diri dari kontak
sosial, budaya, ataupun masyarakat sekitarnya. Berbagai budaya terkait dapat
membentuk pola konsumsi pangan penduduk pada masyarakat tertentu. Walaupun
secara umum sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi beras sebagai
makanan pokok, tetapi masing-masing suku memiliki kebiasaan pangan yang
berbeda (Marwanti, 2000).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Konsep diversifikasi pangan bukan suatu hal baru dalam peristilahan
kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia. Konsep diversivikasi telah
banyak dirumuskan dan diinterprestasikan oleh para pakar. Kasryno et al. (1993)
memandang diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya
dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pertanian di
bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat. Diversifikasi mencakup aspek
produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi. Sementara itu, Soetrisno (1998)
mendefinisikan diversifikasi pangan secara lebih sempit. Soetrisno
mendefinisikan diversifikasi hanya dalam konteks konsumsi pangan yaitu sebagai
upaya menganekaragamkan jenis pangan yang dikonsumsi, mencakup pangan
sumber energi dan zat gizi sehingga memenuhi kebutuhan akan pangan dan gizi
sesuai dengan kecukupan baik ditinjau dari kuantitas maupun kualitasnya. Secara
lebih tegas, Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi
hanya terbatas pangan pokok, diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai
pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi
bahan pangan non beras.
Diversifikasi konsumsi pangan terkait dengan upaya mengubah selera dan
kebiasaan makan. Karena itu, pokok kegiatan ini berupa peningkatan
pengetahuan, sosialisasi, dan promosi mengenai pola pangan beragam, bergizi,
berimbang. Dengan mengonsumsi pangan yang lebih beragam, bergizi, dan
kandungan nutrisi yang berimbang, maka kualitas kesehatan akan semakin baik.
Hasil ikutannya adalah konsumsi beras per kapita diharapkan menurun
(Suryana dan Mardianto, 2002).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Beberapa faktor yang menjadi kendala terhambatnya diversifikasi
konsumsi pangan adalah : (1) rasa beras memang lebih enak dan mudah diolah,
(2) ada konsep makan yang keliru, belum dikatakan makan kalau belum makan
nasi, (3) beras sebagai komoditas superior, (4) ketersediaan beras melimpah dan
harganya murah, (5) pendapatan rumah tangga masih rendah, (6) teknologi
pengolahan dan promosi pangan non beras (pangan lokal) masih terbatas, (7)
kebijakan pangan yang tumpang tindih, dan (8) adanya kebijakan impor gandum,
jenis pengembangan produk (product development) cukup banyak dan promosi
yang gencar (Ariani dan Ashari, 2003).
Tuntutan kebutuhan beras akibat peningkatan pendapatan masyarakat
rendah sampai menengah jauh lebih besar dari pada peningkatan pendapatan
masyarakat berpendapatan tinggi. Hal ini dapat dimengerti karena angka
elastisitas pendapatan bagi yang berpendapatan rendah sampai menengah (sekitar
40%) jauh lebih besar dari yang berpendapatan tinggi (sekitar 10-20%). Dikaitkan
dengan komposisi penduduk yang 80 % tergolong berpendapatan rendah sampai
menengah, maka permintaan terhadap beras setiap tahun meningkat. Itulah
sebabnya dalam neraca bahan makanan yang diterbitkan oleh BPS angka
konsumsi per kapita rata-rata selalu meningkat (Amang, 1995).
Dari sisi konsumsi, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pola
konsumsi dipengaruhi oleh harga dan tingkat pendapatan. Ariani et. al. (2000)
dalam penelitiannya menyebutkan bahwa beras tetap menjadi bahan pangan
pokok bagi lebih dari 95 % penduduk, bahkan rumah tangga yang tadinya dikenal
mengonsumsi bahan pangan pokok non beras (jagung,ubi-ubian dan sagu) dengan
meningkatnya pendapatan, pola konsumsi pangan mereka mulai bergeser ke beras.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Penelitian yang dilakukan oleh Malian, dkk (2004) menyebutkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi beras adalah jumlah penduduk, impor
beras tahun sebelumnya, harga jagung pipilan di pasar domestik, harga beras
domestik dan nilai tukar riil.
Sementara itu, Rachman (2000) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa
permintaan (hampir) semua jenis pangan di pedesaan KTI lebih responsif terhadap
perubahan harga dibandingkan di kota, kecuali untuk umbi-umbian, sayuran, dan
minyak goreng. Secara umum terlihat semakin tinggi tingkat pendapatan semakin
kurang responsif permintaan komoditas pangan terhadap harga pangan yang
bersangkutan, kecuali untuk susu, sayuran, dan makanan jadi, permintaan akan
semakin responsif terhadap perubahan harga untuk kelompok pendapatan rendah
ke sedang, sedangkan permintaan makin kurang responsif untuk kelompok
pendapatan sedang ke tinggi.
Telah banyak kajian yang menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga
mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan. Hasil kajian yang dilakukan oleh
Simatupang dan Ariani (1997) yang menggunakan data Susenas 1996 dengan
indeks Entropy menunjukkan bahwa diversifikasi sumber konsumsi energi dan
protein selalu lebih tinggi pada kelompok pengeluaran (proyeksi pendapatan)
tinggi. Hal ini berarti peningkatan pendapatan berasosiasi kuat dengan
diversifikasi sumber konsumsi zat gizi. Rumah tangga dengan pendapatan tinggi
akan berupaya memenuhi tuntutan kualitas sehingga konsumsi beras menurun dan
akan beralih pada pangan yang mahal, seperti pangan hewani atau makanan jadi.
Pada rumah tangga dengan pendapatan rendah, peningkatan pendapatan justru
meningkatkan konsumsi beras dan mengurangi atau beralih dari pangan pokok,

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

seperti jagung dan ubikayu. Dalam kasus beras, peningkatan pendapatan akan
meningkatkan konsumsi beras dan pada tingkat pendapatan tertentu, konsumsi
beras akan menurun.
Berbagai studi empiris mengenai pola konsumsi dan permintaan pangan di
Indonesia menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan keragamannya berbeda
menurut daerah (kota,desa), musim, dan karakteristik sosial ekonomi
(Teklu dan Johnson, 1986).

2.2. Landasan Teori
Teori utilitas (utility theory) dalam ekonomi mikro memberikan landasan
analisis untuk melihat bagaimana sikap seseorang konsumen menentukan
alternatif-alternatif di antara komoditi yang tersedia berdasarkan harga dan
pendapatan yang dimilikinya agar kepuasannya tetap dapat dipertahankan.
Gambaran akhir dari sikap tersebut secara total dan kuantitatif dicerminkan dalam
angka elatisitas silang yang telah memadukan aspek pendapatan, harga, jumlah,
dan jenis komoditi sekaligus (Amang, 1995).
Pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang diminta, dapat
dijelaskan melalui dua efek, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan. Efek
substitusi adalah perubahan kuantitas suatu barang yang diminta jika ada
perubahan harga, sedangkan pendapatan diasumsikan tetap. Efek pendapatan
adalah perubahan kuantitas suatu barang yang dikonsumsi jika terjadi perubahan
pendapatan riil, dengan asumsi harga tetap (Arsyad, 1999).
Menurut Joesron (2003), elastisitas permintaan dapat dibagi menjadi tiga
yaitu elastisitas permintaan terhadap harga, elastisitas permintaan terhadap
pendapatan, dan elastisitas harga silang.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

1. Elastisitas Permintaan terhadap Harga
Elastisitas permintaan terhadap harga menjelaskan perubahan jumlah yang
diminta sebagai akibat perubahan harga.
Ed = Persentase perubahan jumlah barang yang diminta
Persentase perubahan harga
P P
Q Q
Ed
/
/


=

Suatu permintaan bersifat tidak elastis apabila koefisien elastisitas
permintaannya berada di antara nol dan satu. Hal ini berarti persentase perubahan
harga lebih besar daripada persentase perubahan jumlah barang yang diminta.
Permintaan bersifat elastis terjadi apabila permintaan mengalami perubahan
dengan persentase yang melebihi persentase perubahan harga. Nilai koefisien
elastisitas permintaan yang bersifat elastis adalah lebih besar dari satu.
2. Elastisitas Permintaan terhadap Pendapatan
Elastisitas permintaan terhadap pendapatan menjelaskan perubahan jumlah
yang diminta sebagai akibat perubahan pendapatan.
Ei = Persentase perubahan jumlah barang yang diminta
Persentase perubahan pendapatan
I I
Q Q
Ei
/
/


=
Pada barang-barang normal, kenaikan pendapatan konsumen dapat
menyebabkan kenaikan permintaan. Terdapat hubungan yang searah antara
perubahan pendapatan dengan perubahan jumlah barang yang diminta sehingga
nilai koefisien elastisitas pendapatan untuk barang-barang normal adalah positif.
Pada barang-barang inferior, terjadi pengurangan permintaan apabila pendapatan
meningkat sehingga nilai koefisiennya adalah negatif.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

3. Elastisitas Harga Silang
Elastisitas permintaan silang merupakan suatu koefisien yang
menunjukkan besarnya perubahan permintaan suatu barang jika terjadi perubahan
terhadap harga barang lain.
Ec = Persentase perubahan jumlah barang X yang diminta
Persentase perubahan harga barang Y
Py Py
Qx Qx
Ec
/
/


=
Nilai elastisitas silang berkisar antara tak terhingga yang negatif hingga
tak terhingga yang positif. Barang-barang komplementer elastisitas silangnya
bernilai negatif, sedangkan nilai elastisitas silang untuk barang-barang substitusi
adalah positif.
Kedudukan beras dalam pangsa pengeluaran rumah tangga yang menonjol
dapat ditunjukkan oleh nilai elastisitas silang antara beras dengan komoditas
pangan lainnya. Harga beras mempunyai pengaruh yang besar bagi konsumsi
komoditas pangan lainnya. Sebaliknya, perubahan harga-harga komoditas non-
beras berpengaruh relatif kecil terhadap konsumsi beras (Harianto, 2001).
Apabila daya beli konsumen meningkat, permintaan beras akan
meningkat, bersamaan dengan itu, terjadi penurunan permintaan pangan
berkabohidrat lain yang dianggap ”inferior”. Kenaikan pendapatan selanjutnya
akan diikuti penurunan permintaan beras. Bersamaan dengan itu, terjadi kenaikan
keragaman dan jumlah pangan sumber protein dan vitamin yang dikonsumsi
(Haryadi, 2006)


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Q
y
Q
x

Pendapatan
Kurva Engel
ICC
Q
x
I I’ I’’ I I’ I’’
Meningkatnya pendapatan seseorang menyebabkan terjadinya perubahan
dalam susunan makanannya. Proporsi pengeluaran pangan yang besar tidak
menjamin konsumsi pangan yang lebih beragam. Akan tetapi, pola konsumsi
pangan cenderung berubah dengan naiknya pendapatan (Harper,1986).
Pola konsumsi komoditas pangan utama beserta kaitannya dengan tingkat
pendapatan sudah cukup banyak dikaji. Namun, ada dua hubungan pada tingkat
mikro yang secara konsisten dapat dibuktikan. Kedua hubungan tersebut secara
ringkas disebut Engel’s Law dan Bennett’s Law. Engel’s Law menyatakan bahwa
proporsi anggaran rumah tangga yang dialokasikan untuk membeli pangan akan
semakin kecil pada saat tingkat pendapatan meningkat (Harianto, 2001).
Hukum Engel menyatakan bahwa semakin rendah pendapatan keluarga,
maka semakin besar proporsi dari pendapatan tersebut yang dibelanjakan untuk
makanan. Selain Hukum Engel, ada juga Kurva Engel yaitu sebuah garis yang
menunjukan hubungan antara berbagai kuantitas suatu barang yang akan dibeli
konsumen dengan berbagai tingkat pendapatan, ceteris paribus (Arsyad, 1999).








Gambar 1. Kurva Engel

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Aspek lain yang akan terpengaruh oleh perubahan harga beras adalah
tingkat inflasi dan pengeluaran rumah tangga. Sampai saat ini pangsa rata-rata
pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi beras mencapai 27,6 % sehingga
kenaikan harga beras akan mempengaruhi konsumsi rumah tangga(Harianto,2001)
Pola konsumsi makanan sangat berbeda dari daerah ke daerah, karena
dipengaruhi oleh agama, adat istiadat, tingkat urbanisasi, dan faktor-faktor
lainnya. Penduduk miskin, biasanya mengkonsumsi makanan yang lebih murah
dan menu biasanya tidak (kurang) bervariasi. Sebaliknya pada penduduk yang
berpenghasilan tinggi, umumnya mengkonsumsi makan yang harganya lebih
tinggi. Akan tetapi, penghasilan yang tinggi tidak menjamin tercapainya gizi yang
baik ( Suhardjo, 1996 ).

2.3. Kerangka Pemikiran
Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk dapat
mempertahankan hidup, karenanya masalah pangan yang terkait dengan
penyediaan, distribusi, harga, konsumsi, permintaan, dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya merupakan topik yang menarik untuk dikaji.
Meningkatnya harga pangan yang berarti pula menurunnya daya beli
masyarakat dapat mengakibatkan menurunnya tingkat konsumsi dari sisi kuantitas
dan atau kualitas khususnya bagi kelompok masyarakat yang berpendapatan
rendah.
Pola pengeluaran pangan rumah tangga dapat berubah karena adanya
perubahan tingkat pendapatan dan harga-harga dapat membantu memperkirakan
dampak dan pengaruh kebijakan yang terkait dengan target dan sasaran yang akan
tercapai.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Konsumsi dan permintaan terhadap suatu komoditi dipengaruhi oleh
tingkat harga komoditi yang bersangkutan, harga komoditi lain yang memiliki
hubungan dengan komoditi tersebut, tingkat pendapatan dan selera. Dalam
analisis jangka pendek dapat diasumsikan tidak terdapat perubahan selera, oleh
karena itu konsumsi dan permintaan suatu komoditi ditentukan oleh tingkat harga-
harga dan pendapatan.
Apabila harga-harga di suatu wilayah diasumsikan homogen, dengan
demikian dapat dihipotesiskan bahwa penduduk yang memiliki tingkat
pendapatan berbeda akan memiliki pola pengeluaran yang berbeda pula. Oleh
karenanya adalah penting untuk mengetahui bagaimana pola pengeluaran pangan
dari berbagai strata pendapatan penduduk yang berbeda. Selain itu mengingat pola
pengeluaran pangan dipengaruhi pula oleh kondisi geografis, maka pemilahan
menurut perkotaan dan pedesaan juga penting untuk dilakukan.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa tingkat konsumsi beras
penduduk (rumah tangga) ditentukan oleh tingkat pendapatan dan harga pangan
beras.
Dalam penelitian ini, Pengelompokan rumah tangga dibedakan menurut
wilayah yaitu daerah perkotaan dan daerah pedesaan. Selanjutnya dilakukan
pengelompokan kembali menurut strata pendapatan yaitu strata I
(≤ Rp 1.000.000 per bulan), strata II (Rp. 1.001.000 – Rp 1.999.000 per bulan ),
dan strata III ( ≥ Rp 2.000.000 per bulan).




Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Dari strata pendapatan tersebut, dapat diketahui apakah program
diversifikasi pangan yang dicanangkan pemerintah dapat terlaksana sesuai
harapan. Hal ini untuk menjaga ketersediaan pangan secara nasional. Secara
skematis kerangka pemikiran dapat digambarkan pada Gambar 2.













Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran



2.4. Hipotesis Penelitian

1. Elastisitas permintaan beras rumah tangga berpendapatan rendah lebih elastis
daripada rumah tangga berpendapatan tinggi.
2. Elastisitas permintaan beras rumah tangga di daerah pedesaan lebih elastis
daripada daerah perkotaan.
Harga Beras
Permintaan Beras
dan
Pola Konsumsi

Pendapatan Rendah
≤ Rp 1000.000
Pendapatan Sedang
Rp 1.001.000-Rp 1.999.000
Pendapatan Tinggi
≥ Rp 2.000.000
Daerah Perkotaan Daerah Pedesaaan

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

IV. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN
KARAKTERISTIK SAMPEL


4.1 Deskripsi Daerah Penelitian
4.1.1. Letak dan Keadaan Geografis
Kelurahan Sei Mati
Kelurahan Sei Mati terletak di Kecamatan Medan Maimun, Kotamadya
Medan, Provinsi Sumatera Utara. Secara geografis Kota Medan terletak pada
3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu
topografi Kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian
2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.
Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut
Stasiun Sampali berkisar antara 23,3
o
C - 24,4
o
C dan suhu maksimum berkisar
antara 30,9
o
C - 33,6
o
C. Hari hujan di Kota Medan pada tahun 2004 rata-rata per
bulan 19 hari dengan rata-rata curah hujan per bulannya 171,2 mm.
Kelurahan Sei Mati memiliki luas 23 Hektar (0,23 km
2
) atau 0,087 % dari
keseluruhan wilayah Kota Medan. Secara administratif Kelurahan Sei Mati
mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
• Di Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Suka Raja
• Di Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Kampung Baru
• Di Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Medan Polonia
• Di Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Medan Kota




Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Desa Pantai Labu Pekan
Desa Pantai Labu Pekan terletak di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten
Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Topografi daerah berupa daratan pesisir
pantai dengan ketinggian 10 meter di atas permukaan laut. Desa Pantai Labu
Pekan mempunyai iklim tropis dengan keadaan suhu rata-rata 27,8
o
C dan curah
hujan rata-rata per tahunnya 33 mm.
Desa Pantai Labu Pekan memiliki luas 717 Hektar (7,17 km
2
). Desa ini
berjarak 0,5 km dari ibukota Kecamatan Pantai Labu, 12 km dari ibukota
Kabupaten Deli Serdang, dan 47 km dari ibukota Provinsi Sumatera Utara. Secara
administratif Desa Pantai Labu Pekan mempunyai batas-batas wilayah sebagai
berikut :
• Di Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Paluh Sibaji
• Di Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Perkebunan Ramunia
• Di Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pematang Biara
• Di Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Pantai Labu Baru

4.1.2. Tata Guna Tanah/Lahan
Kelurahan Sei Mati
Pola penggunaan tanah di kota Medan sangat beragam jenisnya. Penggunaan
tanah menurut fungsinya terdiri dari bangunan permukiman, perkantoran,
pemerintahan, bangunan pendidikan, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, dan
fasilitas umum. Gambaran umum tata guna lahan Kelurahan Sei Mati menurut
jenis penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 7.



Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Tabel 7. Distribusi Penggunaan Lahan Kelurahan Sei Mati Tahun 2007
No Penggunaan Lahan Luas (km
2
) Persentase (%)
1 Pemukiman 0,18 78
2 Pekuburan 0,01 4
3 Perkarangan 0,01 4
4 Perkantoran 0,02 9
5 Prasarana Umum 0,01 4
Jumlah 0,23 100
Sumber : Monografi Kelurahan Sei Mati

Dari Tabel 7 dapat diketahui bahwa 78 % luas lahan digunakan untuk
pemukiman penduduk. selebihnya 22 % luas lahan digunakan untuk perkantoran,
perkuburan, dan prasarana umum lainnya.
Desa Pantai Labu Pekan
Penggunaan lahan di Desa Pantai Labu Pekan menurut fungsinya terdiri
dari pemukiman warga dan bangunan umum, perkebunan, perladangan, dan jalan.
Gambaran umum tata guna lahan Desa Pantai Labu Pekan menurut jenis
penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Distribusi Penggunaan Lahan Desa Pantai Labu Pekan Tahun 2007
No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Permukiman 87,3 12,18
2 Perkantoran 1.5 0,21
3 Sekolah 4 0,56
4 Pertokoan 2 0,28
5 Pasar 0,5 0,07
6 Tempat Ibadah 1 0,14
7 Pekuburan 1,5 0,21
8 Pertanian 59 8,23
9 Perkebunan 500 69,74
10 Perikanan 60 8,37
11 Jalan 0,2 0,03
Jumlah 717 100,00
Sumber : Monografi Desa Pantai Labu Pekan

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Dari Tabel 8 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan lebih banyak
digunakan untuk areal pertanian (ladang, kebun, dan tambak) yaitu sebesar 619
Ha atau sekitar 86,34 % dari total luas lahan. Selebihnya 13,66 % luas lahan
digunakan untuk pemukiman, pertokoan, sekolah, dan prasarana umum lainnya.

4.1.3. Keadaan Penduduk
4.1.3.1. Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Kelurahan Sei Mati
Berdasarkan monografi Kelurahan Sei Mati tahun 2007, penduduk
Kelurahan Sei Mati saat ini mencapai 13.138 jiwa, dengan jumlah kepala keluarga
2.950 KK. Distribusi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat
dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Distribusi Penduduk Kelurahan Sei Mati menurut Umur dan Jenis
Kelamin Tahun 2007

No
Golongan
Umur
Jenis Kelamin
Jumlah
(J iwa)
%
Laki-laki
(J iwa)
Perempuan
(J iwa)
1 0 - 12 bulan 69 78 147 1,12
2 13 bln - 4 Thn 682 769 1.450 11,04
3 5 - 6 tahun 649 731 1.380 10,50
4 7 - 12 tahun 715 806 1521 11,58
5 13 - 15 tahun 577 651 1228 9,35
6 16 - 18 tahun 659 743 1.402 10,67
7 19 - 25 tahun 494 558 1052 8,01
8 26 - 35 tahun 709 800 1.509 11,49
9 36 - 45 tahun 693 782 1.475 11,23
10 46 - 50 tahun 413 466 879 6,69
11 51 - 60 tahun 331 373 704 5,36
12 61 - 75 tahun 141 160 301 2,29
13 >76 tahun 42 48 90 0,69
Jumlah 6.175 (47 %) 6.963 (53 %) 13.138 100
Sumber : Monografi Kelurahan Sei Mati

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Dilihat dari Tabel 9, Kelurahan Sei Mati dihuni 13.138 jiwa yang terdiri
dari 6.175 jiwa laki-laki (47%) dan 6.963 jiwa perempuan (53%). Usia produktif
(15-59 tahun) sebanyak 7.021 jiwa (53,44%) dan usia tidak produktif sebanyak
6117 jiwa (46,56 %).
Desa Pantai Labu Pekan
Berdasarkan monografi Desa Pantai Labu Pekan tahun 2007, penduduk
Desa Pantai Labu Pekan saat ini mencapai 3.658 jiwa, dengan jumlah kepala
keluarga 767 KK. Distribusi penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin
dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Distribusi Penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut Umur dan
Jenis Kelamin Tahun 2007

No
Golongan
Umur
Jenis Kelamin
Jumlah
( Jiwa)
%
Laki-laki
(J iwa)
Perempuan
(J iwa)
1 0 - 12 bulan 93 99 192 5,25
2 13 bln - 4 Thn 79 74 153 4,18
3 5 - 6 tahun 148 122 270 7,38
4 7 - 12 tahun 167 160 327 8,94
5 13 - 15 tahun 190 145 335 9,16
6 16 - 18 tahun 168 168 336 9,19
7 19 - 25 tahun 178 205 383 10,47
8 26 - 35 tahun 209 192 401 10,96
9 36 - 45 tahun 182 147 329 8,99
10 46 - 50 tahun 170 136 306 8,37
11 51 - 60 tahun 165 136 301 8,23
12 61 - 75 tahun 138 107 245 6,70
13 >76 tahun 43 37 80 2,19
Jumlah 1.930 (52,8%) 1.728 (47,2%) 3.658 100
Sumber : Monografi Desa Pantai Labu Pekan


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Dilihat dari Tabel 10, Desa Pantai Labu Pekan dihuni 3.658 jiwa yang
terdiri dari 1.930 jiwa laki-laki (52,8%) dan 1.728 jiwa Perempuan (47,2%). Usia
produktif (15-59 tahun) sebanyak 2.056 jiwa (56,21%) dan usia tidak produktif
sebanyak 1.602 jiwa (43,79 %).

4.1.3.2. Penduduk menurut Jenis Pekerjaan
Kelurahan Sei Mati
Distribusi penduduk Kelurahan Sei Mati menurut jenis pekerjaan dapat
dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Distribusi Penduduk Kelurahan Sei Mati menurut Jenis Pekerjaan
Tahun 2007

No Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Buruh 420 20,15
2 Pegawai Negeri 312 14,97
3 Perajin 5 0,24
4 Pedagang 1.105 53,02
5 Penjahit 10 0,48
6 Tukang Batu 3 0,14
7 Tukang Kayu 1 0,05
8 Peternak 1 0,05
9 Montir 2 0,10
10 Dokter 10 0,48
11 Sopir 15 0,72
12 Becak 35 1,68
13 TNI 45 2,16
14 Pengusaha 120 5,76
Jumlah 2.084 100,00
Sumber : Monografi Kelurahan Sei Mati
Dari Tabel 11 dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk Kelurahan
Sei Mati bekerja sebagai pedagang yaitu sebesar 1.105 orang (53,02%). Kemudian
diikuti buruh 20,15%, pegawai negeri 14,97%, dan selebihnya bekerja pada
berbagai bidang usaha (11,86%).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Desa Pantai Labu Pekan
Distribusi penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut jenis pekerjaan
dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Distribusi Penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut Jenis
Pekerjaan Tahun 2007

No Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Buruh Tani 31 7,0
2 Pemilik Perkebunan 1 0,2
3 Buruh Kebun 10 2,2
4 Peternak 17 3,8
5 Buruh Ternak 50 11,2
6 Nelayan 112 25,2
7 Pemilik Kolam 2 0,4
8 Pemilik Tambak 2 0,4
9 Buruh Nelayan 50 11,2
10 Usaha kecil 1 0,2
11 Buruh Ind. Rumah Tangga 30 6,7
12 Pegawai Negeri Sipil 11 2,5
13 Guru 11 2,5
14 TNI 2 0,4
15 Mantri / Perawat 6 1,3
16 Bidan 5 1,1
17 Pegawai Swasta 2 0,4
18 Pensiunan PNS 20 4,5
19 Warung 15 3,4
20 Pedagang 9 2,0
21 Angkutan Umum 15 3,4
22 Angkutan Sepeda Motor 35 7,9
23 Tukang Jahit 5 1,1
24 Tukang Cukur 3 0,7
Jumlah 445 100,00
Sumber : Monografi Desa Pantai Labu Pekan



Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Dari Tabel 12 dapat diketahui bahwa mayoritas penduduk Desa Pantai
Labu Pekan bekerja di sektor pertanian, seperti nelayan 112 orang (11,2%), buruh
nelayan 11,2%, buruh ternak 11,2%, dan buruh tani 7%. Selebihnya bekerja pada
berbagai bidang usaha.

4.1.3.3. Penduduk menurut Tingkat Pendidikan
Kelurahan Sei Mati
Distribusi penduduk Kelurahan Sei Mati menurut tingkat pendidikan dapat
dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Distribusi Penduduk Kelurahan Sei Mati menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2007

No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Buta Huruf 12 0,6
2 Tidak Tamat SD 273 13,4
3 SD 370 18,1
4 SMP 525 25,7
5 SMA 715 35,0
6 D 1 35 1,7
7 D 2 20 1,0
8 D 3 40 2,0
9 S 1 32 1,6
10 S 2 16 0,8
11 S 3 4 0,2
Jumlah 2.042 100,00
Sumber : Monografi Kelurahan Sei Mati
Dari Tabel 13 dapat diketahui bahwa penduduk Kelurahan Sei Mati
mayoritas memiliki tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 715 orang (35%).
Kemudian diikuti SMP 25,7% dan SD 18,1%.




Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Desa Pantai Labu Pekan
Distribusi penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut tingkat pendidikan
dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Distribusi Penduduk Desa Pantai Labu Pekan menurut Tingkat
Pendidikan Tahun 2007

No Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 Buta Huruf 30 8,5
2 Tidak Tamat SD 33 9,3
3 SD 87 24,6
4 SMP 130 36,8
5 SMA 67 19,0
6 D 1 - D 3 6 1,7
Jumlah 353 100,0
Sumber : Monografi Desa Pantai Labu Pekan
Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa penduduk Desa Pantai Labu Pekan
mayoritas memiliki tingkat pendidikan SMP yaitu sebanyak 130 orang (36,8 %).
Kemudian diikuti SD 24,6% dan SMA 19%.

4.1.4. Sarana dan Prasarana
Kelurahan Sei Mati
Sarana dan prasarana sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan
masyarakat. Semakin baik sarana dan prasarana akan mempercepat laju
pembangunan. Sarana dan prasarana di Kota Medan saat ini sangat baik, hal ini
dapat dilihat dari jenis sarana dan prasarana yang tersedia baik dan cukup
memadai. Sarana dan prasarana yang ada di Kelurahan Sei Mati dapat dilihat dari
Tabel 15.




Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Tabel 15. Sarana dan Prasarana di Keluranan Sei Mati Tahun 2007
No Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)
1 Koperasi 1
2 Supermarket 1
3 Mesjid 3
4 Musholla 6
5 Gereja Katolik 1
6 Balai Pengobatan 1
7 Apotik 1
8 Posyandu 12
9 Praktek Dokter 3
10 SD 5
11 TK 1
12 TPA 1
Jumlah 36
Sumber : Monografi Kelurahan Sei Mati
Desa Pantai Labu Pekan
Sarana dan prasarana yang terdapat di Desa Pantai Labu Pekan dapat
dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Sarana dan Prasarana di Desa Pantai Labu Pekan Tahun 2007
No Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)
1 Koperasi 1
2 Mesjid 2
3 Langgar 4
4 Vihara 4
5 Puskesmas 1
6 Posyandu 2
7 SD 3
8 SMP 2
9 SMA 1
10 Apotek 2
11 Praktek Bidan 3
12 Pasar 1
Jumlah 26
Sumber : Monografi Desa Pantai Labu Pekan




Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

4.2. Karakteristik Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang dibagi atas tiga
strata. Stara I yaitu rumah tangga yang mempunyai besar pendapatan lebih kecil
atau sama dengan Rp 1.000.000 per bulan. Strata II yaitu rumah tangga yang
mempunyai besar pendapatan Rp 1.001.000 – Rp 1.999.000 per bulan. Stara III
yaitu rumah tangga yang mempunyai besar pendapatan Rp 2.000.000 ke atas
per bulan. Untuk mengetahui lebih jelas karakteristik sampel dapat dilihat pada
tabel-tabel berikut ini :
Tabel 17. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur Tahun 2007

No.
Kelompok Umur
(Tahun)
Frekuensi (Orang)
Jumlah
(Orang)
Strata I Strata II Strata III
1 ≤ 30 7 6 2 15
2 31 - 40 20 9 8 37
3 41 - 50 14 7 3 24
4 51 - 60 10 7 2 19
5 >60 5 0 0 5
Jumlah 56 29 15 100
Rata-rata (tahun) 43,39 41,55 38,53 41,16
Sumber : Analisis Data Lampiran 1

Dari Tabel 17 dapat diketahui bahwa pada strata I, strata II, dan strata III,
jumlah sampel paling banyak pada kelompok umur 31-40 tahun dengan rata-rata
umur sampel 43,39 tahun pada strata I, 41,55 tahun pada strata II, dan 38,53 tahun
pada strata III.
Tabel 18. Distribusi Sampel menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2007

No. Tingkat Pendidikan
Frekuensi (Orang)
Jumlah
(Orang)
Strata I Strata II Strata III
1 ≤ SD 8 1 0 9
2 SMP 25 12 0 37
3 ≥ SMA 23 16 15 54
Jumlah 56 29 15 100
Sumber : Analisis Data Lampiran 1

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Dari Tabel 18 dapat dilihat bahwa pada strata I, sampel paling banyak
berpendidikan SMP yaitu 25 orang (44,64%). Pada strata II, SMA (55,17%).
Pada strata III, SMA (100%).
Tabel 19. Distribusi Ukuran Keluarga Sampel Tahun 2007

No.
Ukuran Keluarga
(orang)
Frekuensi (Orang)
Jumlah
(Orang)
Strata I Strata II Strata III
1 ≤ 4 30 10 6 46
2 5 - 6 17 10 8 35
3 ≥ 7 9 9 1 19
Jumlah 56 29 15 100
Rata-rata 4,73 6,00 4,93 5,22
Sumber : Analisis Data Lampiran 1

Dari Tabel 19 dapat diketahui bahwa pada strata I, rata-rata ukuran
keluarga sampel adalah 4,73 orang. Pada strata II, 6 orang. Pada strata III, 4,93
orang.
Tabel 20. Distribusi Sampel menurut Pekerjaan Kepala Keluarga Tahun 2007

No.
Pekerjaan Kepala
Keluarga
Frekuensi (Orang)
Jumlah
(Orang)
Strata I Strata II Strata III
1 PNS/TNI/Pensiunan 5 0 1 6
2 Pegawai Swasta 1 1 1 3
3 Wiraswasta/Pedagang 18 13 5 36
4 Petani/Nelayan/Peternak 19 8 0 27
5 Tukang Becak 5 1 0 6
6 Lain-lain 8 6 8 22
Jumlah 56 29 15 100
Sumber : Analisis Data Lampiran 1

Dari Tabel 20 dapat diketahui bahwa pada strata I, pekerjaan utama
sampel adalah petani/nelayan/peternak yaitu 19 orang (33,92%). Pada strata II,
Wiraswasta 44,82%. Pada strata III, Wiraswasta 33,33%.



Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Tabel 21. Distribusi Sampel menurut Pengeluaran untuk Pangan Tahun 2007
No.
Pengeluaran Pangan
(Rupiah/Bulan)
Frekuensi (Orang)
Jumlah
(Orang)
Strata I Strata II Strata III
1 ≤ 250.000 1 0 0 1
2 251.000 - 350.000 2 0 0 2
3 351.000 - 450.000 2 0 0 2
4 451.000 - 800.000 49 14 3 66
5 >800.000 2 15 12 29
Jumlah 56 29 15 100
Sumber : Analisis Data Lampiran 1

Dari Tabel 21 dapat dilihat bahwa pada strata I, pengeluaran untuk pangan
berkisar Rp 451.000 – Rp 800.000 per bulan yaitu 49 orang (87,5%). Pada strata
II, pengeluaran untuk pangan >Rp 800.000 per bulan yaitu 15 orang (51,72%).
Pada strata III, pengeluaran untuk pangan > Rp 800.000 per bulan yaitu
12 orang (80%).














Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Pola Pengeluaran Pangan menurut Strata Pendapatan
Persentase proporsi pengeluaran untuk kebutuhan pangan dan non pangan
rumah tangga menurut strata pendapatan dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan dan Non Pangan
Rumah Tangga menurut Strata Pendapatan

No. Strata Pendapatan
Proporsi Pengeluaran (%)
Jumlah (%)
Pangan Non Pangan
1 Strata I 73,23 26,77 100,00
2 Strata II 57,09 42,91 100,00
3 Strata III 40,15 59,85 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 2, 3, dan 4.

Berdasarkan Tabel 22 dapat dilihat bahwa pada strata I, rata-rata proporsi
pengeluaran untuk pangan sebesar 73,23 % dari total pendapatan. Pada strata II,
sebesar 57,09 %. Pada strata III, sebesar 40,15 % dari total pendapatan.
Hasil penelitian menunjukkan semakin rendah strata pendapatan suatu
rumah tangga, maka semakin besar proporsi pengeluarannya pada kebutuhan
pangan dibanding dengan kebutuhan non pangan. Sebaliknya semakin tinggi
strata pendapatan suatu rumah tangga, maka semakin besar proporsi
pengeluarannya pada kebutuhan non pangan dibanding dengan kebutuhan pangan.
Walaupun dalam Rupiah menunjukkan nilai yang semakin besar dengan semakin
tingginya strata pendapatan.
Kondisi empirik ini sesuai dengan Hukum Engel yang menyatakan bahwa
proporsi anggaran rumah tangga yang dialokasikan untuk membeli pangan
semakin kecil dengan semakin tingginya tingkat pendapatan (Harianto, 2001).

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Ukuran rumah tangga sampel tidak jauh berbeda pada setiap strata sekitar
5 – 6 orang (Tabel 19). Proporsi pengeluaran pangan berkaitan dengan ukuran
rumah tangga, tetapi hasil penelitian menunjukkan perbedaan proporsi
pengeluaran pangan tidak dipengaruhi oleh ukuran rumah tangga melainkan
dipengaruhi oleh strata pendapatan.
Persentase rumah tangga menurut proporsi pengeluaran pangan dari total
pendapatan rumah tangga berdasarkan strata pendapatan dapat dilihat pada
Tabel 23.
Tabel 23. Persentase Rumah Tangga menurut Proporsi Pengeluaran Pangan
Berdasarkan Strata Pendapatan

No.
Strata Pendapatan
Rumah Tangga
Jumlha Rumah Tangga dengan
Proporsi Pengeluaran Pangan (%) Jumlah (%)
<50% ≥ 50%
1 Strata I 5,36 94,64 100,00
2 Strata II 24,14 75,86 100,00
3 Strata III 80,00 20,00 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 2, 3, dan 4.

Berdasarkan Tabel 23 dapat dilihat bahwa pada strata I, sebesar 5,36 %
rumah tangga mengalokasikan lebih kecil dari 50 % pendapatannya untuk pangan,
sisanya 94,64 % lebih besar atau sama dengan 50 %.
Pada strata II, sebesar 24,14 % rumah tangga mengalokasikan lebih kecil
dari 50 % pendapatannya untuk pangan, sisanya 75,86 % lebih besar atau sama
dengan 50 %. Pada strata III, sebesar 80 % rumah tangga mengalokasikan lebih
kecil dari 50 % pendapatannya untuk pangan, sisanya 20 % lebih besar atau sama
dengan 50 %.
Hasil penelitian menunjukkan, semakin rendah strata pendapatan maka
semakin besar jumlah rumah tangga dengan proporsi pengeluaran pangan lebih
besar atau sama dengan 50 % dari total pendapatan. Sebaliknya semakin tinggi

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

strata pendapatan maka semakin kecil jumlah rumah tangga dengan proporsi
pengeluaran pangan lebih besar atau sama dengan 50 % dari total pendapatan
Persentase rata-rata proporsi pengeluaran pangan untuk beras menurut
strata pendapatan dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan untuk Beras
menurut Strata Pendapatan

No.
Strata Pendapatan
Rumah tangga
Rata-rata Proporsi Pengeluaran
Pangan untuk Beras (%)
Persentase
Peningkatan
(%)
Sebelum Naik
(Nov-Des 2006)
Sesudah Naik
(Jan-Feb 2007)
1 Strata I 35,34 41,77 18,19
2 Strata II 26,21 31,05 18,47
3 Strata III 21,81 26,67 22,28
Rata-rata 30,67 36,39 18,65
Sumber : Analisis Data Lampiran 2, 3, dan 4.

Berdasarkan Tabel 24 dapat dilihat bahwa pada strata I, rata-rata proporsi
pengeluaran pangan untuk beras sebelum peningkatan harga sebesar 35,34 %,
sedangkan sesudah peningkatan harga sebesar 41,77 % dengan persentase
peningkatan sebesar 18,19 %. Pada strata II, rata-rata proporsi pengeluaran
pangan untuk beras sebelum peningkatan harga sebesar 26,21 %, sedangkan
sesudah peningkatan harga sebesar 31,05 % dengan persentase peningkatan
sebesar 18,47 %. Pada strata III, rata-rata proporsi pengeluaran pangan untuk
beras sebelum peningkatan harga sebesar 21,81 %, sedangkan sesudah
peningkatan harga sebesar 26,67 % dengan persentase peningkatan sebesar
22,28 %.
Hasil penelitian menunjukkan semakin rendah strata pendapatan maka
semakin besar proporsi pengeluaran pangan untuk beras, tetapi persentase
peningkatan proporsi beras sebelum dan sesudah peningkatan harga menunjukkan
nilai yang semakin kecil dengan semakin rendahnya strata pendapatan.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Rumah tangga strata I memiliki proporsi beras yang lebih besar karena
rumah tangga lebih memprioritaskan beras dalam pola makanannya. Pada strata
III, rumah tangga lebih memperhatikan lauk-pauk dalam pola makanannya.
Persentase peningkatan proporsi beras semakin tinggi dengan semakin
tingginya strata pendapatan. Rumah tangga strata I memilih mengganti kualitas
daripada menurunkan kuantitas beras yang dikonsumsi saat terjadi peningkatan
harga beras sehingga pengeluaran untuk beras mengalami peningkatan yang kecil.
Rumah tangga strata III tetap mempertahankan kuantitas dan kualitas beras yang
dikonsumsi saat terjadi peningkatan harga sehingga pengeluaran untuk beras
mengalami peningkatan yang besar.
Rata-rata proporsi beras dari total pengeluaran pangan sebelum
peningkatan harga sebesar 30,67 %, sedangkan sesudah peningkatan harga sebesar
36,39 %. Sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya yang terdiri dari
lauk-pauk, sayur-sayuran, buah-buahan, teh, kopi, gula, bumbu dapur, minyak
goring, dan lain-lain.
Persentase rumah tangga yang mengalami perubahan kuantitas beras yang
dikonsumsi akibat peningkatan harga beras menurut strata pendapatan dapat
dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kuantitas
Beras yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut
Strata Pendapatan

No.
Strata Pendapatan
Rumah Tangga
Respon Rumah Tangga terhadap
Peningkatan Harga (%)
Jumlah
(%)
Berubah Tidak
1 Strata I 10,71 89,29 100,00
2 Strata II 6,90 93,10 100,00
3 Strata III 0,00 100,00 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 5, 6, dan 7.


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Berdasarkan Tabel 25 dapat dilihat bahwa pada strata I, sebesar 10,71 %
rumah tangga mengalami perubahan jumlah konsumsi beras akibat dari
peningkatan harga beras, dengan penurunan jumlah konsumsi beras per hari
sebesar 0,5 kg atau per bulan sebesar 15 kg. Sisanya, 89,29 % rumah tangga tidak
mengalami perubahan jumlah konsumsi beras.
Pada strata II, sebesar 6,9 % rumah tangga mengalami perubahan jumlah
konsumsi beras akibat dari peningkatan harga beras, dengan penurunan jumlah
konsumsi beras per hari sebesar 0,5 kg atau per bulan sebesar 15 kg. Sisanya, 93,1
% rumah tangga tidak mengalami perubahan jumlah konsumsi beras. Pada strata
III, sebesar 100 % rumah tangga tidak mengalami perubahan jumlah konsumsi
beras.
Hasil penelitian menunjukkan dampak peningkatan harga beras terhadap
pola pengeluaran pangan. Semakin rendah strata pendapatan maka semakin besar
rumah tangga yang mengubah kuantitas beras yang dikonsumsi. Pada rumah
tangga strata III, peningkatan harga beras tidak mengubah kuantitas beras yang
dikonsumsi.
Peningkatan harga beras tidak hanya mempengaruhi jumlah beras yang
dikonsumsi, namun juga jenis atau kualitas beras. Persentase rumah tangga yang
mengalami perubahan kualitas beras yang dikonsumsi akibat peningkatan harga
beras menurut strata pendapatan dapat dilihat pada Tabel 26.









Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Tabel 26. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kualitas
Beras yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut
Strata Pendapatan

No.
Strata Pendapatan
Rumah Tangga
Respon Rumah Tangga terhadap
Peningkatan Harga (%)
Jumlah
(%)
Berubah Tidak
1 Strata I 64,29 35,71 100,00
2 Strata II 34,48 65,52 100,00
3 Strata III 0,00 100,00 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 5, 6, dan 7.

Berdasarkan Tabel 26 dapat dilihat bahwa pada strata I, sebesar 64,29 %
rumah tangga mengalami perubahan kualitas beras akibat dari peningkatan harga
beras, dengan sebagian besar berubah dari beras jenis IR 64 menjadi beras
Bulog/Raskin. Sisanya, 35,71 % rumah tangga tidak mengalami perubahan
kualitas beras.
Pada strata II, sebesar 34,48 % rumah tangga mengalami perubahan
kualitas beras akibat dari peningkatan harga beras, dengan sebagian besar berubah
dari beras jenis IR 64 menjadi beras Bulog. Sisanya, 65,52 % rumah tangga tidak
mengalami perubahan kualitas beras. Pada strata III, sebesar 100 % rumah tangga
tidak mengalami perubahan kualitas beras akibat dari peningkatan harga beras.
Hasil penelitian menunjukkan dampak peningkatan harga beras terhadap
pola pengeluaran pangan, yaitu semakin rendah strata pendapatan maka semakin
besar rumah tangga yang mengubah kualitas beras yang dikonsumsi. Pada rumah
tangga strata III, peningkatan harga beras tidak mengubah kualitas beras yang
dikonsumsi.
Peningkatan harga beras terhadap pola pengeluaran pangan tidak memberi
perubahan terhadap jumlah beras yang dikonsumsi, tetapi memberi perubahan
terhadap kualitas beras yang dikonsumsi. Hal ini terjadi karena rumah tangga

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

lebih memilih mengganti kualitas beras daripada mengurangi jumlah beras yang
dikonsumsi.
Hasil penelitian menunjukkan rumah tangga strata I merespon setiap
perubahan harga karena terbatasnya pendapatan yang dialokasikan untuk
memenuhi kebutuhan pangannya, sedangkan rumah tangga strata III, kebutuhan
(minimal) pangan sudah terpenuhi sehingga perubahan harga tidak memberi
respon terhadap permintaan beras baik kuantitas maupun kualitasnya..
Meningkatnya respon perubahan harga oleh strata II ke strata I didorong
untuk memenuhi kebutuhan pangan yang belum tercukupi. Sementara itu,
menurunnya respon terhadap perubahan harga dari strata II ke strata III
dikarenakan kebutuhan pangan sudah tercukupi sehingga pendapatan dialokasikan
pada pengeluaran yang lain (non pangan).

5.2. Pola Pengeluaran Pangan menurut Daerah
Persentase proporsi pengeluaran untuk kebutuhan pangan dan non pangan
rumah tangga menurut daerah dapat dilihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan dan Non Pangan
Rumah Tangga menurut Daerah

No. Daerah
Proporsi Pengeluaran (%)
Jumlah (%)
Pangan Non Pangan
1 Perkotaan 59,86 40,14 100,00
2 Pedesaan 68,15 31,85 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 8 dan 9.

Berdasarkan Tabel 27 dapat dilihat bahwa, pada daerah perkotaan,
proporsi pengeluaran untuk pangan sebesar 59,86 %, sedangkan untuk non pangan
sebesar 40,14 %. Untuk daerah pedesaan, proporsi pengeluaran untuk pangan
sebesar 68,15 %, sedangkan untuk non pangan sebesar 31,85 %.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Hasil penelitian menunjukkan proporsi pengeluaran pangan rumah tangga
daerah perkotaan lebih kecil dibanding daerah pedesaan. Rumah tangga di daerah
perkotaan memberikan proporsi yang lebih besar pada kebutuhan non pangan,
seperti biaya listrik, air, pendidikan, dan sebagainya dibandingkan rumah tangga
di daerah pedesaan.
Persentase rumah tangga menurut proporsi pengeluaran pangan dari total
pendapatan rumah tangga berdasarkan daerah dapat dilihat pada Tabel 28.
Tabel 28. Persentase Rumah Tangga menurut Proporsi Pengeluaran Pangan
Berdasarkan Daerah

No. Daerah
Jumlah Rumah Tangga dengan
Proporsi Pengeluaran Pangan (%) Jumlah (%)
<50% ≥ 50%
1 Perkotaan 30,91 69,09 100,00
2 Pedesaan 11,11 88,89 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 8 dan 9.

Berdasarkan Tabel 28 dapat dilihat bahwa pada daerah perkotaan, sebesar
30,91% rumah tangga mengalokasikan lebih kecil dari 50% pendapatannya untuk
pangan, sisanya 69,09 % lebih besar atau sama dengan 50%. Pada daerah
pedesaan, sebesar 11,11 % rumah tangga mengalokasikan lebih kecil dari 50%
pendapatannya untuk pangan, sisanya 88,89 % lebih besar atau sama dengan 50%.
Hasil penelitian menunjukkan jumlah rumah tangga yang memiliki
proporsi pengeluaran pangan di atas atau sama dengan 50% lebih besar pada
daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan. Hal ini dikarenakan pada daerah
pedesaaan, mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, seperti petani,
nelayan, dan buruh tani yang membutuhkan energi yang lebih besar dibandingkan
daerah perkotaan yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai wiraswasta.
Kebutuhan energi yang tinggi sejalan dengan tingginya konsumsi pangan.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Persentase rata-rata proporsi pengeluaran pangan untuk beras menurut
daerah dapat dilihat pada Tabel 29.
Tabel 29. Persentase Rata-Rata Proporsi Pengeluaran Pangan untuk Beras
menurut Daerah

No. Daerah
Rata-rata Proporsi Pengeluaran
Pangan untuk Beras (%)
Persentase
Peningkatan
(%)
Sebelum Naik
(Nov-Des 2006)
Sesudah Naik
(Jan-Feb 2007)
1 Perkotaan 27,25 33,21 21,87
2 Pedesaan 34,84 40,29 15,64
Rata-rata 30,67 36,39 18,65
Sumber : Analisis Data Lampiran 8 dan 9.

Berdasarkan Tabel 29 dapat dilihat bahwa pada daerah perkotaan, rata-rata
proporsi pengeluaran pangan untuk beras sebelum peningkatan harga sebesar
27,25 %, sedangkan sesudah peningkatan harga sebesar 33,21 % dengan
persentase peningkatan sebesar 21,87 %. Pada daerah pedesaan, rata-rata proporsi
pengeluaran pangan untuk beras sebelum peningkatan harga sebesar 34,84 %,
sedangkan sesudah peningkatan harga sebesar 40,29 % dengan persentase
peningkatan sebesar 15,64 %.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata proporsi pengeluaran pangan untuk
beras lebih besar pada daerah pedesaan daripada daerah perkotaan. Namun,
persentase peningkatan proporsi beras lebih kecil pada daerah pedesaan daripada
daerah perkotaan.
Rumah tangga daerah perkotaan memiliki proporsi beras yang lebih kecil
karena pola konsumsi makanan yang lebih bervariasi daripada di daerah pedesaan.
Daerah perkotaan banyak terdapat alternatif sumber karbohidrat lainnya sehingga
pola konsumsi makanan tidak didominasi oleh beras.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Rumah tangga di daerah pedesaan memilih mengganti kualitas daripada
menurunkan kuantitas beras yang dikonsumsi saat terjadi peningkatan harga beras
sehingga pengeluaran untuk beras mengalami peningkatan. Hal yang sama juga
terjadi pada rumah tangga di daerah perkotaan. Namun, persentase peningkatan
proporsi beras lebih kecil pada daerah pedesaan daripada daerah perkotaan.
Persentase rumah tangga yang mengalami perubahan kuantitas beras yang
dikonsumsi akibat peningkatan harga beras menurut daerah dapat dilihat pada
Tabel 30.
Tabel 30. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kuantitas
Beras yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut
Daerah

No. Daerah
Respon Rumah Tangga terhadap
Peningkatan Harga (%)
Jumlah
(%)
Berubah Tidak
1 Perkotaan 7,27 92,73 100,00
2 Pedesaan 8,89 91,11 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 10 dan 11.

Berdasarkan Tabel 30 dapat dilihat bahwa pada daerah perkotaan, sebesar
7,27 % rumah tangga mengalami perubahan jumlah konsumsi beras akibat dari
peningkatan harga beras, dengan penurunan jumlah konsumsi beras per hari
sebesar 0,5 kg atau per bulan sebesar 15 kg. Sisanya, 92,73 % rumah tangga tidak
mengalami perubahan jumlah konsumsi beras.
Pada daerah pedesaan, sebesar 8,89 % rumah tangga mengalami
perubahan jumlah konsumsi beras akibat dari peningkatan harga beras, dengan
penurunan jumlah konsumsi beras per hari sebesar 0,5 kg atau per bulan sebesar
15 kg. Sisanya, 91,11 % rumah tangga tidak mengalami perubahan jumlah
konsumsi beras.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Hasil penelitian menunjukkan dampak peningkatan harga beras terhadap
pola pengeluaran pangan, yaitu jumlah rumah tangga yang mengubah kuantitas
beras yang dikonsumsi lebih besar pada daerah pedesaaan dibanding daerah
perkotaan.
Peningkatan harga beras tidak hanya mempengaruhi jumlah beras yang
dikonsumsi, namun juga jenis atau kualitas beras. Persentase rumah tangga yang
mengalami perubahan kualitas beras yang dikonsumsi akibat peningkatan harga
beras menurut daerah dapat dilihat pada Tabel 31.
Tabel 31. Persentase Rumah Tangga yang Mengalami Perubahan Kualitas
Beras yang Dikonsumsi Akibat Peningkatan Harga Beras menurut
Daerah

No. Daerah
Respon Rumah Tangga terhadap
Peningkatan Harga (%)
Jumlah
(%)
Berubah Tidak
1 Perkotaan 38,18 61,82 100,00
2 Pedesaan 55,56 44,44 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 10 dan 11.

Berdasarkan Tabel 31 dapat dilihat bahwa pada daerah perkotaan, sebesar
38,18 % rumah tangga mengalami perubahan kualitas beras akibat dari
peningkatan harga beras, dengan sebagian besar berubah dari beras jenis IR 64
menjadi beras Bulog/Raskin. Sisanya, 61,82 % rumah tangga tidak mengalami
perubahan kualitas beras.
Pada daerah pedesaan, sebesar 55,56 % rumah tangga mengalami
perubahan kualitas beras akibat dari peningkatan harga beras, dengan sebagian
besar berubah dari beras jenis IR 64 menjadi beras Bulog/Raskin. Sisanya, 44,44
% rumah tangga tidak mengalami perubahan kualitas beras.



Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Hasil penelitian menunjukkan dampak peningkatan harga beras terhadap
pola pengeluaran pangan, yaitu jumlah rumah tangga yang mengubah kualitas
beras yang dikonsumsi lebih besar pada daerah pedesaaan dibanding daerah
perkotaan.
Rumah tangga di daerah pedesaan lebih merespon setiap perubahan harga
dibanding daerah perkotaan. Penduduk pedesaan yang mayoritas bekerja sebagai
petani, nelayan, dan buruh tani membutuhkan kalori yang tinggi sehingga
kebutuhan beras juga tinggi. J ika terjadi peningkatan harga, terbatasnya anggaran
untuk beras membuat penduduk pedesaan lebih memilih mengganti atau
menurunkan kualitas berasnya daripada mengurangi jumlah beras yang
dikonsumsi. Hal yang sama terjadi di daerah perkotaan, tetapi dengan respon yang
lebih kecil dibandingkan di daerah pedesaan.

5.3 Elastisitas Permintaan terhadap Harga pada Komoditi Beras
Kedudukan beras dalam pola pengeluaran pangan rumah tangga dapat
ditunjukkan oleh nilai elastisitas permintaan terhadap harga. Nilai elastisitas yang
kecil menunjukkan bahwa peningkatan harga tidak besar pengaruhnya terhadap
jumlah beras yang dikonsumsi. Elastisitas permintaan beras terhadap harga
menurut strata pendapatan dapat dilihat pada Tabel 32.
Tabel 32. Elastisitas Permintaan Beras menurut Strata Pendapatan Tahun 2007

No.
Strata
Pendapatan
Harga (Rp/kg)
Jumlah Konsumsi Beras
(kg/hari/keluarga)
Elastisitas
Permintaan
(E
d
)
Sebelum
Naik
Sesudah
Naik
Sebelum
Naik
Sesudah
Naik
1 Strata I 4.499,39 5.424,73 1,46 1,42 -0,133
2 Strata II 4.594,66 5.495,27 1,61 1,58 -0,095
3 Strata III 5.211,11 5.875,56 1,5 1,5 0,000
Sumber : Analisis Data Lampiran 12, 13, 14, dan 22.


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Berdasarkan Tabel 32 dapat dilihat bahwa elastisitas permintaan komoditi
beras pada strata I adalah – 0,133, pada strata II E
P
=– 0,095, sedangkan pada
strata III E
P
=0. Keragaman besaran nilai elastisitas permintaan menurut strata
pendapatan secara umum menunjukkan bahwa semakin tinggi strata pendapatan
maka elastisitas permintaannya semakin inelastis.
Elastisitas permintaan beras terhadap harga menurut daerah dapat dilihat
pada Tabel 33.
Tabel 33. Elastisitas Permintaan Beras menurut DaerahTahun 2007

No Daerah
Harga (Rp/kg)
Jumlah Konsumsi Beras
(kg/hari/keluarga)
Elastisitas
Permintaan
(E
d
)
Sebelum
Naik
Sesudah
Naik
Sebelum
Naik
Sesudah
Naik
1 Perkotaan 4.633,45 5.580,26 1,35 1,33 -0,072
2 Pedesaan 4.667,11 5.488,51 1,69 1,64 -0,168
Sumber : Analisis Data Lampiran 15, 16, dan 22.

Berdasarkan Tabel 33 dapat dilihat bahwa elastisitas permintaan komoditi
beras daerah perkotaan adalah - 0,072, sedangkan elastisitas permintaan komoditi
beras daerah pedesaan adalah - 0,168. Hal ini menunjukkan elastisitas permintaan
beras di daerah perkotaan lebih inelastis dibanding daerah pedesaan.
Nilai elastisitas permintaan untuk komoditi beras menghasilkan tanda
koefisien yang sesuai dengan hukum permintaan. Dalam hal ini elastisitas
permintaan bertanda negatif yang menunjukkan apabila ada perubahan harga dari
suatu komoditas respon perubahan jumlah komoditas yang diminta dengan arah
yang berlawanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi strata pendapatan
secara umum kebutuhan (minimal) beras sudah terpenuhi sehingga peningkatan
harga tidak memberikan respon terhadap permintaan beras. Apabila dibedakan

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

menurut daerah, terlihat permintaan beras di daerah pedesaan lebih responsif
terhadap perubahan harga di bandingkan daerah perkotaan.
Secara agregat elastisitas permintaan komoditas beras bersifat inelastis.
Inelastisitas ini dapat diinterpretasikan bahwa komoditas beras merupakan barang
kebutuhan. Artinya seberapa besarpun persentase peningkatan harga, jumlah beras
yang dikonsumsi mengalami penurunan dengan persentase yang kecil. Sebaliknya
rumah tangga tidak akan mengkonsumsi beras dalam jumlah yang lebih banyak
jika harga komoditi tersebut mengalami penurunan.
Kurva permintaan beras menurut strata pendapatan rumah tangga
ditunjukkan oleh Gambar 3. Selanjutnya, kurva permintaan beras menurut daerah
ditunjukkan pada Gambar 4.





6000

5000


4000

3000

2000

1000

0 0,5 1,0 1,5 2,0

Gambar 3. Kurva Permintaan Beras pada Strata I, Strata II, dan
Strata III






Kuantitas (Kg)
Harga
(Rupiah)
Ket : Strata I
Strata II
Strata III

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009




6000

5000


4000

3000

2000

1000

0 0,5 1,0 1,5 2,0

Gambar 4. Kurva Permintaan Beras pada Daerah Pedesaan dan
Daerah Perkotaan

Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa kemiringan kurva permintaan
beras semakin curam dengan semakin tingginya strata pendapatan. Selanjutnya,
Gambar 4 menunjukkan kemiringan kurva permintaan beras lebih curam pada
daerah perkotaan dibandingkan daerah pedesaan.
Inelastisnya komoditi beras tidak terlepas dari perilaku sosial budaya
masyarakat. Beberapa masyarakat mempunyai konsep makan “merasa belum
makan kalau belum makan nasi”, walaupun sudah mengkonsumsi macam-macam
makanan termasuk roti, mie, baso, sate, dan sebagainya; sebaliknya dikatakan
sudah makan, walaupun hanya makan nasi dan lauk-pauk yang sederhana.
Beras mempunyai banyak kelebihan dibandingkan jagung dan ubikayu.
Dalam komposisi zat gizi, kandungan energi dan protein beras adalah sekitar 360
Kalori dan 7-9 gram per 100 gram bahan, lebih tinggi daripada jagung dan ubi
kayu. Selain itu beras mempunyai cita rasa yang lebih enak walaupun dikonsumsi
dengan lauk-pauk seadanya, disamping lebih mudah cara mengolah dan lebih
praktis, tidak diperlukan waktu yang lama.
Kuantitas (Kg)
Harga
(Rupiah)
Ket : Perkotaan
Pedesaan

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Kuatnya paradigma masyarakat yang menganggap beras sebagai
komoditas yang superior atau prestisius sehingga masyarakat menjadikan beras
sebagai makanan pokok yang memiliki status sosial lebih tinggi. Image beras dan
perubahan gaya hidup yang diikuti perubahan gaya makan sehingga orang gengsi
mengkonsumsi jagung dan ubikayu karena komoditas tersebut sudah mempunyai
trade mark sebagai barang inferior. Jagung dan ubikayu tidak lagi sebagai
makanan pokok, tetapi makanan selingan atau snack sehingga jumlah yang
dikonsumsi juga terbatas.

5.4. Pengetahuan Masyarakat mengenai Diversifikasi Pangan
Pada tahun 1960-an, pemerintah sudah menganjurkan konsumsi bahan-
bahan pangan pokok selain beras. Kemudian pada tahun 1974, pemerintah juga
mencanangkan kebijakan diversifikasi untuk lebih menganekaragamkan jenis
pangan dan meningkatkan mutu gizi makanan masyarakat melalui Intruksi
Presiden (Inpres) No. 14 dan disempurnakan pada Inpres No. 20 tahun 1979.
Namun pelaksanaannya belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini
terkait banyaknya kendala yang dihadapi, salah satunya adalah minimnya
sosialisasi program diversifikasi.
Persentase rumah tangga yang mengetahui program diversifikasi menurut
strata pendapatan dapat dilihat pada Tabel 34.
Tabel 34. Persentase Rumah Tangga yang Mengetahui Program Diversifikasi
menurut Strata Pendapatan

No.
Strata Pendapatan
Rumah tangga
Pengetahuan Rumah Tangga
Mengenai Diversifikasi (%) Jumlah (%)
Tahu Tidak tahu
1 Strata I 0,00 100,00 100,00
2 Strata II 10,34 89,66 100,00
3 Strata III 40,00 60,00 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 17, 18, dan 19.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Berdasarkan Tabel 34 dapat dilihat bahwa pada strata I, 100 % rumah
tangga tidak mengetahui tentang program diversifikasi. Pada strata II, 10,34 %
rumah tangga mengetahui tentang program diversifikasi, sisanya 89,66 % rumah
tangga tidak mengetahui. Pada strata III, 40 % rumah tangga mengetahui tentang
program diversifikasi, sisanya 60 % rumah tangga tidak mengetahui.
Persentase rumah tangga yang mengetahui program diversifikasi menurut
daerah dapat dilihat pada Tabel 35.
Tabel 35. Persentase Rumah Tangga yang Mengetahui Program Diversifikasi
menurut Daerah

No. Daerah
Pengetahuan Rumah Tangga
Mengenai Diversifikasi (%) Jumlah (%)
Tahu Tidak tahu
1 Perkotaan 12,73 87,27 100,00
2 Pedesaan 4,44 95,56 100,00
Sumber : Analisis Data Lampiran 20 dan 21.

Berdasarkan Tabel 35 dapat dilihat bahwa pada daerah perkotaan, 12,73 %
rumah tangga mengetahui tentang program diversifikasi, sisanya 87,27 % rumah
tangga tidak mengetahui. Pada daerah pedesaan, 4,44 % rumah tangga mengetahui
tentang program diversifikasi, sisanya 95,56 % rumah tangga tidak mengetahui.
Hasil penelitian menunjukkan banyak rumah tangga yang tidak
mengetahui tentang program diversifikasi konsumsi baik menurut strata
pendapatan maupun menurut daerah. Hal ini terkait banyaknya kendala yang
dihadapi pemerintah dalam menyosialisasikan program diversifikasi.





Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
7. Peningkatan harga beras menyebabkan semakin besarnya proporsi
pengeluaran pangan untuk beras dengan semakin rendahnya strata pendapatan.
8. Peningkatan harga beras menyebabkan proporsi pengeluaran pangan untuk
beras lebih besar pada daerah pedesaan daripada daerah perkotaan.
9. Peningkatan harga beras tidak memberi perubahan terhadap jumlah beras yang
dikonsumsi, tetapi memberi perubahan terhadap kualitas beras yang
dikonsumsi.
10. Elastisitas permintaan beras rumah tangga berpendapatan rendah lebih elastis
daripada rumah tangga berpendapatan tinggi.
11. Elastisitas permintaan beras rumah tangga di daerah pedesaan lebih elastis
daripada daerah perkotaan.
12. Pengetahuan masyarakat tentang program diversifikasi pangan masih rendah.

6.2. Saran
Besarnya peranan beras dalam pola pengeluaran pangan rumah tangga
mengindikasikan bahwa intervensi kebijakan pemerintah di bidang perberasan
tetap diperlukan. Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia berpendapatan
rendah dan berada di daerah pedesaan yang memiliki respon yang kuat terhadap
perubahan harga, maka diperlukan kebijakan mengenai stabilitas harga beras.
Pemberian subsidi pada komoditi beras kepada masyarakat berpendapatan
rendah merupakan solusi yang tepat dalam menekan respon kenaikan harga beras.

Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Hal ini harus sejalan dengan program pemantapan swasembada beras untuk
menjaga ketersediaan dan ketahanan pangan.
Pengembangan makanan tradisional Indonesia sebagai salah satu upaya
diversifikasi perlu dilakukan, mengingat negara Indonesia memikili
keanekaragaman sumberdaya pangan yang mencakup bahan pangan maupun
makanan
Upaya diversifikasi pangan tersebut tidak hanya dari segi produknya saja,
tetapi juga struktur makanan yang dikonsumsi. Perubahan struktur ini merupakan
antipasi terhadap semakin selektifnya masyarakat dalam memilih pangan dengan
meningkatnya pendapatan.
Penelitian mengenai perberasan dan pangan masih terbatas. Untuk itu,
penulis mengharapkan kepada para mahasiswa dan peneliti lainnya agar
melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pola pengeluaran pangan, pola
konsumsi pangan, pengolahan pangan, diversifikasi pangan, dan sebagainya yang
terkait masalah perberasan dan pangan.















Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

DAFTAR PUSTAKA



Amang, B., 1995. Kebijakan Pangan Nasional, PT Dharma Karsa Utama, J akarta.

______, 1995. Pengendalian Pangan dan Harga, PT Dharma Karsa Utama, J akarta.

______, 1995. Sistem Pangan Nasional, PT Dharma Karsa Utama, J akarta.

Ariani, M. Handewi PS., Sri Hastuti S, Wahida, M.Husein Sawit, 2000. Dampak
Krisis Ekonomi terhadap Konsumsi Pangan Rumah Tangga, Laporan Hasil
Penelitian, Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Departemen Pertanian.

______, M., dan Ashari, 2003. Arah, Kendala dan Pentingnya Diversifikasi
Konsumsi Pangan di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Pertanian FPAE. Volume 21 No. 2.

Arsyad, L., 1999. Ekonomi Mikro : Ikhtisar Teori & Soal Jawab, Edisi 2. BPFE-
Yogyakarta.

Black, J .A., and D.J . Champion, 1992. Metode dan Masalah Penelitian Sosial.
Penerjemah : E. Koeswara, dkk. PT Eresco, Bandung.

Childs,N.W., 2004. Production and Utilization of Rice. In: Rice: Chemistry and
Technology (E.T.Champagne,ed.,2004). Third Edition. American Association
of Cereal Chemists, St.Paul,Minnesota.

Harianto, 2001. Pendapatan, Harga, dan Konsumsi Beras, Dalam : Bunga Rampai
Ekonomi Beras (Suryana,A. dan S.Mardianto, 2001) LPEM FEUI, J akarta.

Harper, Laura J ..1986. Pangan, Gizi, dan Pertanian. Penerjemah Suhardjo, UI-Press,
J akarta.

Haryadi, 2006. Teknologi Pengolahan Beras, Gadjah Mada Univerity Press,
Yogyakarta.

Hasan, I. 1998. Sambutan Penutupan Menteri Negara Urusan Pangan pada
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. LIPI, J akarta.

J oesron, T.S., dan M. Fathorrozi, 2003. Teori Ekonomi Mikro, Salemba Empat,
J akarta

J uliano, B.O., 1994. Criteria and Test for Rice Grain Quality. In: Rice Chemistry and
Technology (B.O.J uliano,1994). American Association of Cereal Chemists,
St.Paul, Minnesota.

Kasryno, F., M. Gunawan, dan C.A. Rasahan. 1993. Strategi Diversifikasi Produksi
Pangan. Prisma, No. 5. Tahun XXII. LP3ES, J akarta.


Arief Fadillah : Dampak Peningkatan Harga Beras Terhadap Pola Pengeluaran Pangan Pada Beberapa Strata
Pendapatan (Studi Kasus : Kelurahan Sei Mati Kec. Medan Maimun Kodya Medan. Desa Pantai Labu Pekan
Kec. Pantai Labu Pekan Kec. Pantai Labu Kab. Deli Sedang), 2007.
USU Repository ©2009

Kompas (J akarta), 22 Desember 2006. Impor Beras (Lagi?)

Lubis, A.E., 2005. Perencanaan Korporasi Peningkatan Ketahanan Pangan di
Propinsi Sumatera Utara. Disampaikan dalam seminar sehari Strategi
Penguatan ketahanan Pangan, 4 J uni 2005, Fak. Pertanian USU, Medan.

Malian, A.M., Sudi Mardianto dan Mewa Ariani, 2004. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Produksi, Konsumsi dan Harga Beras Serta Inflasi Bahan
Makanan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
J urnal Agro Ekonomi, Volume 22 No.2.

Mangkunegara, A.P., 2002. Perilaku Konsumen, PT Refika Aditama, Bandung.

Marwanti,Dra., 2000. Pengetahuan Masakan Indonesia, Adicita Karya Nusa,
Yogyakarta.

Pakpahan, A. dan S.H. Suhartini. 1989. Permintaan Rumah Tangga Kota di
Indonesia terhadap Keanekaragaman, J urnal Agro Ekonomi, 8(2), Pusat
Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Bogor.

Simatupang, P dan M. Ariani. 1997. Hubungan Antara Pendapatan Rumah Tangga
dan Pergeseran Preferensi terhadap Pangan, Majalah Pangan. No.33, Vol.
IX, J akarta.

Singarimbun, M. dan Sofian Effendi, 1995. Metode Penelitian Survei, LP3ES,
J akarta.

Soetrisno, N. 1998. Ketahanan Pangan. Dalam F.G. Winarno, S. Tsauri, Soekirman,
D.S. Sastrapradja, A. Soegiarto. M. A. Wirakartakusumah, Mien A. Rifai, F.
J alal, A. Suryana, M.A. Husaini, M. Atmowidjojo, dan S. Koswara (Eds.).
Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. LIPI, J akarta.

Suhardjo, 1996. Perencanaan Pangan dan Gizi, Bumi Aksara, J akarta.

Suryana, A. dan S. Mardianto, 2002. Ketahanan Pangan, Mati-Hidupnya Suatu
Bangsa. http//www.gigihnusantaraid@yahoo.com

Teklu, T. and S.R. J ohnson. 1986. A Review of Consumer Demand Theory and Food
Demand Studies on Indonesia. Report No.2 – CEAT Project in Indonesian.
Food and Agriculture Policy Research Institute.

Waspada (Medan),24 januari 2007. Disperindag : Beras Bulog Sebenarnya Bisa
Rp 3.030 Per kg.

_______(Medan). 31 J anuari 2007 Medan Tertinggi Dapat OP Beras Medan.



Sign up to vote on this title
UsefulNot useful