Tradisi Penyalinan Mushaf Al-Qur’an di Aceh

Ali Akbar, Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta Pada mulanya adalah Aceh Penulisan mushaf Al-Qur’an telah dimulai sejak abad ke-7 M (abad pertama Hijri). Empat atau lima salinan pertama Al-Qur’an pada masa Khalifah Usmān bin ‘Affān yang dikirim ke beberapa wilayah Islam, pada tahun 651, selanjutnya menjadi naskah baku bagi penyalinan Al-Qur’an-disebut Rasm Usmānī. Dari naskah itulah kemudian, pada abad-abad selanjutnya, semua salinan Al-Qur’an dibuat. Di Nusantara, penyalinan Al-Qur’an diperkirakan dimulai dari Aceh, sejak sekitar abad ke-13, ketika Pasai, di pesisir ujung timur laut Sumatra, menjadi kerajaan pertama di Nusantara yang memeluk Islam secara resmi melalui pengislaman sang raja, yaitu Sultan Malik as-Saleh. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam sejak awal atau pertengahan abad ke-13 merupakan hasil dari proses islamisasi daerahdaerah pantai yang pernah disinggahi para pedagang Muslim sejak abad ke-7, dan seterusnya. Meskipun demikian, kita tidak menemukan Al-Qur’an dari abad ke-13 itu, dan Al-Qur’an tertua dari kawasan Nusantara yang diketahui sampai saat ini berasal dari akhir abad ke-16. Penyalinan Al-Qur’an secara tradisional berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang berlangsung di berbagai kota atau wilayah penting masyarakat Islam masa lalu, seperti Aceh, Riau, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Ternate, dan lain-lain. Warisan penting masa lampau tersebut kini tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, kolektor, pesantren, masjid, serta ahli waris, dan paling banyak berasal dari abad ke-19.

Khazanah Al-Qur’an Nusantara Penyalinan Al-Qur’an dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat Islam, baik para penyalin profesional, santri, maupun para ulama. Pada awal abad ke-19 Abdullah bin Abdul Kadir al-Munsyi memperoleh uang dari menyalin Al-Qur’an. Para santri di berbagai pesantren menyalin Al-Qur’an terutama untuk kepentingan pengajaran. Sementara, beberapa ulama terkenal juga dikatakan pernah menyalin Al-Qur’an. Penyalinan juga dilakukan oleh para ulama atau pelajar yang tengah memperdalam

juga merupakan pusat studi Islam. Belanda. Banda Aceh. karena perjalanan sejarah. mengoleksi 23 buah. serta Wereldmuseum. mengoleksi satu buah. dan Dayah Tanoh Abee. Sultan Alauddin Syah. Pada abad ke-16 sampai 19 M. Perpustakaan Nasional RI mengoleksi 7 buah Al-Qur’an Aceh. Perpustakaan Nasional Malaysia. museum. Aceh Besar. sejumlah AlQur’an juga dimiliki oleh perorangan yang merupakan ahli waris keluarga. Selain tiga lembaga tersebut. Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. baik di dalam mapun di luar negeri. Universiteitsbibliotheek. Al-Qur’an Aceh dalam berbagai koleksi dunia Al-Qur’an dari Aceh-yang mudah dikenali dari bentuk. 32 di antaranya Al-Qur’an 30 juz. Di Jakarta. Rijkmuseum voor Volkenkunde. masing-masing mengoleksi satu buah Al-Qur’an dengan hiasan khas Aceh. mengoleksi 7 buah. mengoleksi 6 buah. Amsterdam. Di Aceh sendiri. Indonesia. diperkirakan masih banyak terdapat Al-Qur’an dari Aceh yang tidak tercatat. di antara kekayaan AlQur’an Nusantara itu. tiga lembaga penting yang mengoleksi sejumlah naskah Al-Qur’an. mengoleksi sekitar 70-an naskah Al-Qur’an. Jl. . Seulimum. Di luar data ini. Jl. memperlihatkan bahwa naskah Al-Qur’an di Indonesia dapat dikatakan masih cukup banyak.20 Banda Aceh. dan Nijmeegs Volkenkundig Museum. yaitu sekitar 300 naskah. motif dan warna hiasannya-kini telah menjadi koleksi berbagai lembaga di dalam dan luar negeri. naskah-naskah Al-Qur’an Nusantara banyak disimpan di lembaga-lembaga pemerintah di Malaysia. Kuala Lumpur. serta data lainnya. serta beberapa tempat lain. Universitas Leiden mengoleksi 7 buah Al-Qur’an Aceh. maupun pesantren. masjid. Ujong Mesjid. Di luar negeri. dan Islamic Art Museum Malaysia. Sudirman no. Utrecht. mengoleksi 4 buah Al-Qur’an Aceh. Koninklijk Instituut voor de Tropen. sejak tahun 2003 hingga 2005. Leiden. Universiteitsbibliotheek van Amsterdam. Keberadaan Al-Qur’an di berbagai wilayah dan lapisan masyarakat itu menunjukkan bahwa penyalinanan Al-Qur’an pada masa lampau cukup merata di Nusantara. yaitu Museum Negeri. dimiliki baik oleh pribadi. Namun. Mekah selain berfungsi sebagai tempat menunaikan haji.ilmu agama di Mekah. Kuala Lumpur. Sementara di negeri Belanda. Inventarisasi dan penelitian mengenai Al-Qur’an yang dilakukan di berbagai daerah oleh Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI. Dewasa ini. di Aceh. Rotterdam. naskah-naskah di Indonesia diperkirakan tetap merupakan yang terbanyak. mengoleksi 20 Al-Qur’an.

sebagaimana tradisi iluminasi Al-Qur’an di dunia Islam. tamat). berbeda dengan Al-Qur’an dari negeri-negeri Islam di kawasan Timur Tengah. to make bright. motif hiasan. kadangkadang juga berisi permulaan Surah al-Isra’ atau permulaan Surah al-Kahf. Pembagian itu kadang-kadang tampak cukup tegas. Hal ini berbeda dari tradisi penyalinan Al-Qur’an di Nusantara lainnya. dan terdapat di hampir seluruh AlQur’an Nusantara. dan tidak terlalu banyak ragam geometris. Di dalam Al-Qur’an. Ragam hias yang digunakan terutama adalah ragam hias floral (tetumbuhan) dan geometris. sama dengan tradisi lain di Nusantara dan dunia Islam. dan akhir Al-Qur’an. naskah-naskah Al-Qur’an yang beriluminasi di awal juz ke-16 banyak yang mengesankan seakan-akan Al-Qur’an itu dibagi menjadi dua bagian. karena di akhir juz 15 banyak yang ditandai dengan semacam garis khusus dalam bentuk segi tiga. tengah. kedua surah terakhir AlQur’an. bahkan kadangkadang dibubuhi kata tamm (selesai. Iluminasi di bagian tengah Al-Qur’an. iluminasi biasanya menghiasi bagian awal. Adapun iluminasi di akhir Al-Qur’an. tidak semua naskah Al-Qur’an Aceh beriluminasi di bagian tengah. hampir bisa dipastikan berisi permulaan juz ke-16. Afrika Utara. Iluminasi khas itu biasanya terdapat di bagian awal. tidak fungsional menjelaskan teks seperti ilustrasi. meskipun kedua bagian itu selalu dalam satu jilid. Hiasan di ketiga tempat ini merupakan bagian yang sangat penting dalam seni naskah Al-Qur’an. karena iluminasi tengah Al-Qur’an. Iluminasi dua halaman simetris di awal Al-Qur’an berisi Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah. dan Persia yang banyak menggunakan ragam hias geometris. dan pewarnaannya. Dalam tradisi Aceh. selain berisi permulaan juz ke-16 itu. atau sebagai “penerang” bagi teks yang disajikan. berisi Surah al-Falaq dan Surah an-Nas. demikian juga dan Nusantara. Namun.Gaya iluminasi khas Aceh Iluminasi (illumination)-dari akar kata illuminate. Tradisi pemberian iluminasi di bagian ini terdapat di dalam Al-Qur’an dari berbagai daerah Nusantara. juz 1-15 dan juz 16-30. di samping floral. khususnya dalam tradisi penyalinan Al-Qur’an di Aceh. Ada sebagian Al-Qur’an yang hanya beriluminasi di awal dan akhir naskah. berarti to light up. dan akhir Al-Qur’an. dan biasanya mudah diidentifikasi dengan jelas melalui pola dasar. tengah. Al-Qur’an dari Aceh memiliki gaya khas. dan berfungsi semata “menerangi”. to decorateyaitu hiasan naskah yang bersifat abstrak. Namun. Al-Qur’an Nusantara kebanyakan menggunakan ragam hias floral. dan merupakan tradisi penting penyalinan Al-Qur’an di dunia Islam pada umumnya. .

Pola dan motif sulur dalam iluminasi Aceh bervariasi. Pola dasar iluminasi Al-Qur’an khas Aceh biasanya dicirikan dengan (1) bentuk persegi. Bugis. dan dalam pewarnaan dapat dikatakan selalu seragam. di Aceh terdapat suatu gaya tulisan khas yang sangat unik. tetapi warna kertasnya itu sendiri. Warna ini khususnya digunakan dalam pola iluminasi mushaf Aceh yang berbeda. Meskipun demikian. sejauh ini belum dapat diidentifikasi adanya suatu gaya tulisan khas Aceh yang bisa dianggap baku. kuning. sehingga mudah dikenali. dan ada pula dalam naskah hikayat. Jawa. namun tidak menggunakan tinta atau cat putih. Banten. yang menonjol ke atas dan ke bawah. dan diberi warna merah. Lombok. yang sering menjadi kata pertama dalam suatu teks. Dalam naskah selain Al-Qur’an biasanya muncul pada kata kumulai atau al-kalam. hitam. karena di kawasan terjauh dari pusat Islam ini. dengan garis vertikal di sisi kanan dan kiri. namun secara umum memperlihatkan standar pola tertentu. dan (4) hiasan sepasang “sayap” kecil di sebelah kiri dan kanan halaman iluminasi. (3) hiasan semacam kuncup di ujung masing-masing kubah tersebut. Sebenarnya ini merupakan gejala umum di Nusantara. Warna lain yang digunakan pula. Kata pembuka itu memperoleh perhatian khusus dari penyalin. serta Patani dan Terengganu di Pantai Timur Semenanjung Malaysia. namun juga dalam naskah-naskah keagamaan selain Al-Qur’an. nisf (setengah juz). dan putih.Beberapa gaya iluminasi terpenting seni mushaf Nusantara yang saat ini sudah teridentifikasiberdasarkan kajian dan observasi-di antaranya adalah gaya Aceh. biasanya dalam bentuk lancip atau lengkungan. (2) bentuk semacam kubah atau mahkota di bagian atas. dan sumun (seperdelapan juz) yang terletak di sisi luar halaman teks Al-Qur’an. adalah biru. Warna yang dipakai terutama adalah merah. dan huruf Arab telah dipakai selama berabad-abad. tulisan Arab tampaknya tidak pernah benar-benar menjadi suatu “disiplin” seni tulis-menulis-berbeda dengan kawasan dunia Islam pada umumnya. dan huruf kaf-nya sering dihias sedemikian rupa. meskipun jarang. namun dengan struktur pola yang berbeda. dan sisi luar. kaligrafi unik khas Aceh muncul pada tulisan juz. Dalam naskah Al-Qur’an. bawah. rubu’ (seperempat juz). Kaligrafi berhias Meskipun Aceh telah memiliki tradisi yang panjang dalam penyalinan naskah. . Iluminasi khas tersebut tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an.

7 Agustus 2008] Diposkan oleh Khazanah Mushaf Nusantara di 13:44 Sumber: http://angga.ac. tulisan yang merupakan “tanda pembacaan Al-Qur’an” itu tampak tidak mengutamakan keterbacaan.* [Artikel ini pada awalnya merupakan brosur Pameran Mushaf Al-Qur'an di Banda Aceh. Komposisi itu sangat mungkin digubah oleh iluminator naskah. komposisi tulisan itu tidak mudah dibaca. dan dengan beberapa penyempurnaan pernah dimuat di Harian Republika.blog. sebagai bagian dari dekorasi mushaf. 29 Juni 4 Juli 2008. Dilihat dari segi huruf.id/ (1 Mei 2012) . namun lebih mengedepankan ekspresi artistik tertentu.uns.Dalam sebagian naskah. melainkan sekadar memberikan tanda bahwa di tempat tersebut terdapat tanda pembacaan. dan itu dilakukan dengan suatu komposisi artistik tertentu. Namun. tampaknya memang bukan keterbacaan itu yang ingin dicapai penulisnya. sesuai dengan motif hiasan floral khas Aceh. bukan oleh penyalin teks Al-Qur’annya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful