You are on page 1of 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demam Tifoid Demam tifoid merupakan penyakit demam sistemik akut dan menyeluruh yang disebabkan oleh Salmonella enterica subspesies enterica serotipe Typhi (Dorland, 2002). Penyakit ini awalnya diberi nama demam tifoid karena secara klinis mirip dengan penyakit tifus meskipun secara patologis dapat dibedakan dengan jelas karena dihubungkan dengan pembesaran plak Peyeri dan nodus limfa mesentrikus (Fauci dkk., 2008). Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Gejala klinis penyakit ini bervariasi dari sakit ringan dengan demam yang tidak tinggi, badan terasa tidak enak dan batuk kering hingga gejala klinis yang berat dengan rasa tidak nyaman (nyeri) pada bagian abdomen dan berbagai komplikasi lainnya (WHO, 2003). Bakteri dari genus Salmonella sudah menjadi salah satu patogen yang sering menyebabkan penyakit gastrointestinal akut (Musher, 2004). Meskipun Salmonella typhi hanya bisa hidup pada manusia, yang berarti tidak memiliki vektor lain, bakteri ini dapat menyebabkan penyakit demam tifoid yang mudah menular dan menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah. Oleh karena itu, demam tifoid termasuk salah satu penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang nomor 6 tahun 1962 tentang wabah (Widodo, 2009).

2.1.1 Etiologi Salmonella, yang termasuk anggota dari famili Enterobacteriaciae, merupakan bakteri gram negatif yang berbentuk basil (batang). Bakteri ini berukuran 2-3 ± 0,4 - 0,6 μm, bergerak dan merupakan bakteri anaerob fakultatif yang berarti bakteri ini dapat tumbuh dalam kondisi ada dan tidak adanya oksigen. Salmonella tidak membentuk spora, tidak memiliki kapsul dan tidak

5

Antigen ini digunakan untuk serotipe S. 2006) . Antibodi yang terbentuk dan menetap lama dalam darah dapat memberi petunjuk bahwa individu tersebut merupakan karier atau pembawa kuman. antigen ini juga terdapat pada S. Antigen ini merupakan antigen permukaan dan bersifat termolabil. 3. typhi. fase 1 dan fase 2. Typhi dan S. Paratyphi C) dan antigen flagela H. Salmonella dibagi menjadi kelompok A-I berdasarkan antigen somatik ini. Aglutinasi untuk antigen O di dalam tubuh berlangsung lebih lambat dan bersifat kurang imunogenik namun mempunyai nilai diagnosis yang tinggi. Selain S. 2008. typhi di laboratorium klinis. tetapi bakteri ini memproduksi H2S (yang dapat digunakan sebagai identifikasi bakteri tersebut di laboratorium). Salmonella.. memproduksi asam pada fermentasi glukosa. typhi. Antigen ini rusak dengan pendidihan dan alkohol tetapi tidak rusak oleh formaldehid. alkohol dan asam. mereduksi nitrat dan tidak memproduksi sitokrom oksidase. antigen permukaan Vi (yang hanya dimiliki S. Terdapat dua bentuk antigen H. Hanya salah satu dari kedua protein H ini yang disintesis pada satu waktu. dublin. paratyphi C dan S. Hal ini tergantung dari rangkaian gen mana yang ditranskripsikan menjadi mRNA. 2. Antigen Somatik ( O ) Merupakan kompleks fosfolipid protein polisakarida dari dinding sel luar bakteri yang tahan terhadap pendidihan. Ketiga antigen ini penting untuk tujuan taksonomi dan epidemiologi dari Salmonella yang masing-masing akan dijelaskan lebih rinci sebagai berikut: 1.6 memfermentasikan laktosa. Fauci dkk. Antigen Vi Antigen Vi (polisakarida kapsul) adalah antifagosit dan faktor virulensi yang penting untuk S. seperti Enterobacteriaceae lain. Anggota dari subspesies Salmonella diklasifikasikan ke dalam >2400 serotipe berdasarkan antigen somatik O (komponen dinding sel lipopolisakarida (LPS)). (Levinson. 2008. Antigen Flagel ( H ) Merupakan protein termolabil dan bersifat sangat imunogenik. Titer antibodi yang timbul oleh antigen O ini selalu lebih rendah dan titer antibodi H. Menkes.

typhi untuk tumbuh yakni 37°C dengan pH antara 6-8. typhi yang baru saja diisolasikan. Pada agar darah terlihat koloninya besar bergaris tengah 2 sampai 3 mm. Selain itu. debu dan (seperti telah disebutkan sebelumnya) bakteri ini tidak memiliki reservoir lain selain manusia. sampah. manitol dan maltosa dengan disertai pembentukan asam tetapi tanpa pembentukan gas. jernih. pendidihan dan khlorinisasi. tingkat kesadaran pasien memang benar akan menjadi berkabut (samar-samar) (Brusch. 2012). Salah satu yang paling spesifik yakni kapsul polisakarida Vi (seperti yang telah dijelaskan sebelumnya) yang ada pada 90% S. pasteurisasi. bulat agak cembung. es. Suhu optimum yang dibutuhkan S. Bakteri ini dapat dibunuh dengan pemanasan (suhu 60°C) selama 1520 menit. 2003. Kapsul ini memiliki agen proteksi melawan sifat bakterisidal dari serum pasien yang terinfeksi dan menjadi dasar untuk membuat salah satu vaksin yang tersedia secara komersial.(WHO.. tidak membuat indol tetapi reaksi metil merah positif. S. bakteri ini memiliki tes serologis positif untuk antigen lipopolisakarida O9 dan O12.7 Demam tifoid disebabkan oleh penyebaran bakteri Salmonella enterica serotipe Typhi. Pada perbenihan Mac Conkey dan Deoksikolat sitrat koloninya tidak meragikan laktosa sehingga tidak berwarna. atau secara singkat dapat disebut Salmonella typhi. Pada stadium lanjut dari demam tifoid. typhi dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas. Jika bakteri ini tumbuh di dalam kaldu akan . yang berarti asap atau kabut halus yang dipercaya dapat menyebabkan penyakit dan kegilaan. Salmonella typhi meragikan glukosa. Parry dkk. Pada perbenihan bismut sulfit Wilson dan Blar tumbuh koloni hitam berkilat logam akibat pembentukan H2S. 2002) Salmonella typhi termasuk bakteri yang memproduksi endotoksin yang berarti toksin baru dikeluarkan ketika bakteri ini mati dan dinding selnya luruh. serta antigen protein flagela Hd. Bakteri ini tidak menghidrolisis urea. Antigen Vi ini juga terdapat pada bakteri lain tetapi tidak sama persis secara genetik. seperti di dalam air. Salmonella typhi memiliki ciri khas yang unik. licin dan tidak menyebabkan hemolisis. typhos. typhi sendiri diperoleh dari bahasa Yunani kuno. Nama S.

berbagi makanan dengan piring yang sama dan tidak ada toilet di dalam rumah. Demam tifoid juga dikaitkan dengan umur yang masih muda. bakteri ini akan berkembang biak dan menyebar hingga ke darah (CDC. 2012) Penelitian yang dilakukan Vollaard dkk. Seseorang yang menderita demam tifoid akan membawa bakteri tersebut di aliran darah dan traktus intestinalnya. typhi terjadi paling sering yakni melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh tinja pasien atau karier demam tifoid yang asimptomatik. Kondisi yang menurunkan baik asam lambung (umur <1 tahun. Makanan dan minuman ini juga dapat terkontaminasi urin pasien meskipun lebih jarang terjadi. tidak ada sabun untuk mencuci tangan. typhi dimakan atau diminum. penyakit aklorihida) atau perubahan integritas intestinal (penyakit radang usus. yang dinamakan karier. Menkes.. Pekerja kesehatan terkadang tertular setelah terpapar dengan pasien yang terinfeksi atau selama mengolah spesimen klinis dan kultur dari bakteri tersebut. Sekali S. konsumsi antasid. Transmisi dari tangan ke mulut akan terjadi jika seseorang menggunakan toilet yang terkontaminasi dan mengabaikan higiene tangan setelahnya. Baik orang yang sakit dan karier memiliki S. typhi di feses (tinja) mereka.(Fauci dkk. di Jakarta (2004) menyatakan bahwa faktor risiko untuk demam tifoid sebagian besar tercakup di dalam rumah. Penularan S.2 Transmisi dan Faktor Risiko Demam Tifoid Salmonella typhi sangat beradaptasi dan hidup hanya pada manusia.8 terjadi kekeruhan menyeluruh sesudah dieramkan semalam tanpa pembentukan selaput. 2005). 2009.000 organisme.1. Hasil penelitian oleh Levine dkk.(Campbell dan Reece. (2001) dalam Brusch memberikan hasil bahwa lebih dari 50% sukarelawan yang sehat terinfeksi oleh S. Brusch. operasi . berjenis kelamin perempuan dan penggunaan es batu. 2006) 2. Sebagian kecil orang yang telah sembuh dari demam tifoid. 2008. masih tetap membawa bakteri tersebut. diantaranya yakni: adanya penderita demam tifoid baru di dalam rumah. typhi ketika menelan sedikitnya 100. Transmisi secara seksual dengan sesama pasangan lelaki juga pernah dilaporkan.

atau perubahan flora usus akibat penggunaan antibiotik) akan meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi oleh Salmonella.9 gastrointestinal sebelumnya.. 2004) 2. Pasien biasanya relatif tidak memiliki atau hanya sedikit gejala pada masa inkubasi awal ini. Di organ-organ retikuloendotelial. Salmonella memiliki fimbrae yang terspesialisasi yang menempel ke epitelium jaringan limfoid di ileum (plak Peyeri). tempat utama dimana makrofag lewat dari usus ke sistem limfatik. 2008. Di lamina propria. Bila respons imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik. Salmonella meninggalkan sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan . Bakteri ini kemudian dibawa ke kelenjar getah bening mesenterika. mikroorganisme ini akan berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Vollaard dkk. bakteri yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Dosis yang dapat menginfeksi yakni 103-106 colony-forming units. Patofisiologi Demam Tifoid Selanjutnya melalui duktus torasikus.1. Salmonella dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plak Peyeri ileum distal. Gambar 1.3 Patogenesis Semua infeksi Salmonella dimulai dengan masuknya bakteri tersebut melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. (Fauci dkk. maka Salmonella akan menembus sel-sel epitel (terutama sel-M) dan selanjutnya ke lamina propria. Sebagian bakteri dimusnahkan dalam lambung dan sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak.

serosa usus dan dapat mengakibatkan perforasi. Gejala yang paling terlihat yakni demam terus-menerus (38.40.10 bakteremia yang kedua kalinya disertai dengan tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.. 2008) . 2008. dan bersama cairan empedu diekskresikan secara intermiten ke dalam lumen usus. 2009) 2. Typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. 2008. typhi tersebut dan imunitas serta kesehatan dari pejamu. Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neruopsikiatrik.5°C) yang bisa berlanjut hingga empat minggu jika tidak diobati. Onset gejala lambat dengan demam dan konstipasi lebih sering mendominasi dibandingkan diare dan muntah. gangguan mental dan koagulasi. mialgia. hiperplasia jaringan dan nekrosis organ). sakit kepala. Durasi waktu ini tergantung banyaknya terpajan S.4 Manifestasi Klinis Masa inkubasi dari S. berkembang biak.1. berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka pada saat fagositosis Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala inflamasi sistemik seperti demam. sakit perut. makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasia jaringan (S. Levinson. malaise. kardiovaskular. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga ke lapisan otot. Proses yang sama terulang kembali. Di dalam hati. bakteri masuk ke dalam kandung empedu. Widodo. Sebagian bakteri dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi setelah menembus usus. (Fauci dkk.8°C . typhi rata-rata antara 10-14 hari tetapi bisa juga berjarak 3-21 hari. Di dalam plak Peyeri. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah disekitar plak Peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia akibat akumulasi sel-sel mononuklear di dinding usus. Diare mungkin muncul pada awal onset tetapi biasanya hilang ketika demam dan bakteremia muncul. instabilitas vaskular. (Fauci dkk. pernapasan dan gangguan organ lainnya..

Bibir kering dan terkadang pecah-pecah. sore dan malam lebih tinggi. intensitas demam semakin tinggi bahkan terkadang terus-menerus. terutama di regio epigastrik. Lidah kelihatan kotor dan ditutupi oleh selaput putih. Pada minggu berikutnya. Penderita umumnya sering mengeluh nyeri perut. demam khas tifoid seperti ini tidak selalu ada. Pada awal onset. nyeri otot. Akan tetapi. Gangguan Kesadaran Pada umumnya terdapat gangguan kesadaran yang berupa penurunan kesadaran ringan. mual dan muntah. Gangguan Saluran Pencernaan Pada penderita sering ditemukan bau mulut yang tidak sedap karena demam yang lama. Bila pasien membaik maka pada minggu ketiga suhu badan berangsur turun dan dapat normal kembali pada akhir minggu. . Pada awal sakit sering terjadi meteorismus dan konstipasi. 2. Di bawah ini merupakan gejala klinis yang sering pada demam tifoid. Pagi lebih rendah atau normal. Ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor tetapi pada penderita anak jarang ditemukan. gejala delirium lebih menonjol. anoreksia. selanjutnya suhu tubuh sering turun naik. 3. tidak jarang penderita sampai pada kondisi somnolen dan koma atau dengan gejala-gejala psikosis (Organic Brain Syndrome). demam kebanyakan samar-samar. Pasien seperti ini bisa masuk kedalam keadaan tifoid yang dikarakteristikkan dengan gangguan kesadaran. Pada minggu selanjutnya kadang-kadang juga timbul diare. Demam Demam merupakan gejala utama tifoid. Pada penderita dengan tifoid toksik. Sering didapatkan kesadaran apatis dengan kesadaran seperti berkabut. disertai mual dan muntah. diantaranya adalah: 1. Intensitas demam makin tinggi dari hari ke hari yang disertai gejala lain seperti sakit kepala yang sering dirasakan di area frontal. pegal-pegal. Beberapa pasien mengalami diare encer yang buruk berwarna hijau kekuningan (pea soup diarrhea).11 Kumpulan gejala-gejala klinis tifoid disebut juga dengan sindrom demam tifoid. insomnia. Bila klinis berat.

Sepuluh persen pasien demam tifoid yang tidak diobati akan mengeksresikan S. Brusch. atau koma) dengan atau tanpa disertai kelainan neurologis lainnya dan dalam pemeriksaan cairan otak masih dalam batas normal. Perdarahan gastrointestinal (10-20%) dan perforasi intestinal (1-3%) sering terjadi diminggu ketiga atau keempat akibat dari hiperplasia. rose spot jarang ditemukan dibandingkan dengan epistaksis. perforasi intestinal dan tifoid ensefalopati. Rose spot ini biasanya muncul pada 30% pasien diakhir minggu pertama dan menghilang tanpa jejak setelah 2-5 hari. typhi ditinja hingga 3 bulan mendatang dan . serta gejalagejala klinis yang berhubungan dengan komplikasi yang terjadi. batuk kering. Banyak komplikasi yang bisa terjadi. Pada anak.(Menkes. Biasanya relaps ini lebih ringan dibandingkan gejala awalnya dan S. tetapi yang paling penting yakni perdarahan gastrointestinal. Relaps terjadi pada 5-10% pasien. serta pemilihan dari terapi antibiotik. Bradikardia Relatif dan Gejala Lain Bradikardia relatif tidak sering ditemukan. typhi yang diisolasi dari pasien merupakan S. faktor virulensi strain S. typhi dengan strain dan kerentanan antibiotik yang sama. biasanya dua sampai tiga minggu setelah demam sembuh. Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan pada demam tifoid adalah rose spot (makula yang berwarna rose) yang biasanya ditemukan di regio abdomen atas. Kedua komplikasi ini mengancam jiwa dan membutuhkan tindakan yang cepat. Hati terasa kenyal dan nyeri tekan.12 4. stupor. Hepatosplenomegali Hati dan atau limpa sering ditemukan membesar. pernah terpajan sebelumnya dan vaksinasi). terapi antasida. delirium. somolen. 2012) Demam tifoid akan berkembang menjadi penyakit yang berat bergantung pada faktor pejamu (imunitas yang menurun (immunosuppresion). Penyakit yang berat ini terjadi pada 10-15% pasien dan biasanya terjadi pada pasien yang telah sakit lebih dari dua minggu. 2006. Tifoid ensefalopati merupakan sindrom klinis demam tifoid yang berupa gangguan atau penurunan kesadaran akut (kesadaran berkabut. 5. typhi dan inokulum. ulserasi dan nekrosis dari plak Peyeri ileocecal yang merupakan tempat awal dari infiltrasi Salmonella. apatis.

Menurut WHO (2003) terdapat beberapa cara-cara yang lebih spesifik yang dapat membantu upaya pencegahan demam tifoid. Pendidikan mengenai kesehatan merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mempengaruhi perubahan perilaku (WHO. yakni melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh Salmonella typhi. Di Indonesia. yang secara lengkap akan dijelaskan dibawah ini: 1. Pencegahan berdasarkan hal ini dapat dilakukan dengan menjamin akses untuk mendapatkan air bersih dan mempromosikan kebiasaan makan yang aman dan sehat. 2002. mulai dari Salmonella typhi sebagai agen penyebab penyakit. 3. faktor pejamu dan faktor lingkungan. Rute penularan utama demam tifoid. karier dan akut. Mencegah penularan secara langsung dari pasien terinfeksi S. Tindakan pencegahan demam tifoid mencakup banyak aspek.5 Pencegahan Demam tifoid termasuk penyakit menular yang berpotensi menimbulkan wabah sehingga perlu diadakannya suatu tindakan pencegahan. (Fauci dkk.1. typhi dan mengatasi faktor yang berperan terhadap rantai penularan. yakni: 1. 2006).. Parry dkk.13 1-4% akan menjadi pembawa kronis yang asimptomatik. 2. 2003). Widodo.. yakni orang yang mengeksresikan S. . 2008. Air Bersih Demam tifoid merupakan penyakit yang penjalarannya dapat melalui air sehingga tindakan pencegahan utama yang didapat dilakukan yakni memastikan adanya akses ke air bersih. Mengidentifikasi dan mengobati secara sempurna pasien demam tifoid asimtomatik. terdapat 3 strategi besar yang menjadi program pencegahan demam tifoid. Proteksi dini pada orang yang berisiko tinggi tertular dan terinfeksi (Menkes. 2009) 2. typhi baik di urin dan di tinja selama lebih dari 1 tahun.

Mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan atau memakan makanan. Bila terdapat karier demam tifoid. 4. c. Pada fasilitas kesehatan. kerang dan es. Tindakan kebersihan dasar di bawah ini harus dilakukan selama epidemi: a. Indikasi vaksinasi adalah bila: hendak mengunjungi daerah . Hanya memakan makanan yang sudah dimasak dan masih panas atau dipanaskan kembali. Fasilitas pembuangan limbah manusia (feses) yang tepat harus tersedia pada semua komunitas. Penanganan dan pengolahan makanan yang tepat merupakan hal yang terpenting. Jika terjadi wabah. tindakan isolasi bagi pasien dan melakukan tindakan disinfeksi. Menghindari makanan mentah. Pengumpulan dan pengolahan limbah. Pendidikan Kesehatan Pendidikan kesehatan penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pada hal-hal yang berperan dalam pencegahan seperti telah disebutkan di atas. 3. semua pekerja harus berulang kali dididik mengenai perlunya kebersihan pribadi yang baik ditempat kerja. b. termasuk Salmonella typhi. terutama saat musim hujan harus diterapkan. Karier baru dapat melanjutkan pekerjaannya (dalam hal makanan) hingga mereka memiliki tiga tes kultur tinja negatif yang setidaknya masing-masing berjarak satu bulan. pengawasan keamanan makanan harus diperkuat di restoran dan juga penjaja makanan di pinggir jalan. demikian juga di daerah lain. 5. orang ini tidak boleh diikutsertakan dalam aktivitas yang termasuk mengolah dan menyiapkan makanan. Sanitasi Sanitasi yang baik berkontribusi dalam menurunkan risiko transimisi semua patogen diare. Vaksinasi Vaksinasi belum dilakukan secara rutin di Amerika Serikat.14 2. Keamanan Makanan Makanan yang terkontaminasi merupakan salah satu cara penularan demam tifoid.

mengontrol proliferasi dan diferensiasi sel epitel.. Lactobacillus merupakan salah satu bakteri yang termasuk mikroflora normal di usus. mentega dan produk fermentasi susu yang lain. Contoh makanan yang mengandung probiotik. yakni memfermentasikan sisa serat yang tidak tercerna dan mukus endogen. Streptococcus thermophilus digunakan sebagai probiotik untuk meningkatkan pencernaan laktosa pada orang dengan intoleransi laktosa (de Vrese dkk. orang yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas laboratorium atau mikrobiologi kesehatan (Widodo.15 endemik. 2008). (2004). Flora normal dari usus ini memiliki banyak fungsi. Di lain hal. didefinisikan oleh Codex Alimentarius (1992) dalam Adolfsson dkk. adalah suatu produk susu koagulasi yang merupakan hasil dari fermentasi asam laktat oleh bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Dewasa ini. . sayuran yang difermentasi seperti kim chi dan sauerkraut dan produk fermentasi kacang kedelai seperti miso dan tempe (Mahan dan Escott-Stump. memproduksi vitamin K. Kolonisasi oleh bakteri ini di traktus gastrointestinal bahkan dimulai dari ketika bayi baru lahir dan muncul dalam beberapa hari. semakin banyak penelitian yang membuktikan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung mikroorganisme (seperti probiotik) akan memberikan manfaat untuk kesehatan. membangun homeostasis sistem imun dan sebagai proteksi melawan patogen (Guarner dan Malagelada. 2001). absorpsi ion-ion. kefir.2 Yogurt Traktus gastointestinal diperkirakan memiliki 100 spesies bakteri yang berbeda. 2. Makanan atau konsentrat yang mengandung organisme hidup yang berperan dalam lingkungan mikroorganisme yang sehat tersebut dan menekan mikroorganisme yang berpotensi berbahaya dinamakan probiotik. Terdapat banyak spesies bakteri baik yang berkembang dan beradaptasi untuk tinggal dan tumbuh di dalam usus manusia.. 2009). Yogurt. 2010). diantaranya: yogurt (dengan kultur aktif dan hidup). 2003). Selain Lactobacillus dan Streptococcus. baik merupakan bakteri baik ataupun bakteri patogen yang bersimbiosis secara kompleks (Narayan dkk.

. penyakit diare (Narayan dkk.. Beberapa penelitian yang menggunakan yogurt. 2. Bakteri ini dapat ditemukan di tanah. 1998 dalam Holzapfel dkk. LAB biasanya ada pada habitat yang kaya akan nutrisi. Beberapa spesies LAB merupakan penghuni rongga mulut manusia.. tidak menghasilkan katalase. penyakit radang usus. Meydani dan Russell. konstipasi.. kanker kolon. 2010). 2001). Beberapa strain dari Lactobacillus tidak hanya memproduksi asam laktat tetapi juga substansi antimikroba lain seperti hidrogen peroksida dan bakteriosin (Olmos dan Oberhelman. tidak memiliki sitokrom dan terbiasa hidup di lingkungan nonaerob tetapi masih bisa tumbuh dalam lingkungan aerob.1 Bakteri Asam Laktat LAB merupakan bakteri gram positif. seperti pada berbagai produk makanan dan bahan tumbuhan.. Asam laktat merupakan produk akhir fermentasi utama pada bakteri ini (Axelsson. 2001). Bakteri ini memerlukan media dan nutrisi yang kompleks untuk tumbuh. traktus intestinal dan vagina yang mungkin memiliki pengaruh baik pada ekosistem mikroorganisme tempat tersebut (Holzapfel dkk. kotoran dan makanan ternak. infeksi Helicobacter pylori (bakteri gram negatif) (Wang dkk.. . 2001). tidak membentuk spora. Manfaat dari konsumsi yogurt untuk fungsi gastrointestinal ini kemungkinan besar karena efek yang dimediasi melalui mikroflora di usus. pupuk.16 bakteri dari spesies Bifidobacterium juga sering digunakan sebagai probiotik dalam yogurt (Wang dkk. spesies LAB terpisah. 2004).2. 2001). lewat usus besar dan peningkatan respon imun gastrointestinal (Adolfsson. 2004) dan alergi. Bakteri-bakteri tersebut termasuk bakteri penghasil asam laktat atau lebih dikenal dengan istilah Lactic Acid Bacteria (LAB). tetapi bisa tahan terhadap asam dan memiliki kemampuan untuk melakukan fermentasi. atau keduanya menunjukkan manfaat kesehatan yang menjanjikan untuk beberapa kondisi gastrointestinal tertentu. air. 2004). termasuk intoleransi laktosa (de Vrese dkk.

2004).. seperti LAB.. Pada akhirnya. 2006. 1999 dalam Guarner dan Malagelada.17 2. 2003). 2003). karbon dioksida. 2005) tempat perlekatan pada brush border sel-sel epitel usus (Guarner dan Malagelada. bakteriosin yang dibentuk oleh spesies Lactobacillus terbukti dapat menghambat pertumbuhan dari Escherichia coli O157:H7 (EHEC). 1994 dalam Adolfsson. asam organik (asam laktat). pejamu (dalam hal ini adalah manusia) akan memberi nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri tersebut sehingga terjadi hubungan simbiosis yang mencegah kelebihan nutrisi yang tidak diinginkan. untuk menempel dan mengikat erat pada jaringan brush border di usus kemungkinan merupakan hal yang penting yang dapat mencegah patogen yang berbahaya untuk masuk ke dalam mukosa gastrointestinal (Bernet dkk. Meydani dan Russell. hidrogen peroksida. Beberapa faktor lain juga telah diidentifikasi yang turut berperan dalam menghambat antimikroba pada spesies LAB. Ogawa 2001). Interaksi mikroflora normal dan probiotik mencegah kolonisasi mikroorganisme patogen (Sullivan dan Nord. salah satunya yakni Clostridium difficile yang merupakan bakteri gram positif.2. Penelitian yang ditinjau ulang oleh Hickson (2011) menunjukkan probiotik juga mencegah terjadinya diare karena penggunaan antibiotik yang disebabkan oleh bakteri. . Selanjutnya. Secara in vitro. bakteri tersebut dapat menghambat pertumbuhan dari kompetitor mereka dengan memproduksi zat antimikroba yang dinamakan bakteriosin (Brook. Secara in vitro. seperti produksi pH yang rendah karena pembentukan laktat akibat fermentasi gula. Kemampuan mikroflora usus yang tidak patogen.2 Mekanisme Pertahanan Probiotik Yogurt Bakteri yang menghuni usus merupakan pertahanan yang penting melawan kolonisasi oleh mikroba dari luar dan juga mencegah invasi jaringan oleh patogen. bakteri gram negatif yang menyebabkan diare hemoragik yang akut (Moghaddam dkk. Beberapa mekanisme terlibat dalam pembentukan pertahanan ini. bakteri memperebutkan Gambar 2.

. 2006). 2004). Meydani dan Russell. seperti bakteriosin tetap stabil dalam keadaan antara pH 3 dan10 (Moghaddam dkk. Daya hambat ini tidak terjadi pada pH basa ataupun netral. Asam laktat yang diproduksi probiotik di dalam yogurt khususnya bertanggung jawab dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi (Rubin dan Vaughan. yakni Lactobacillus bulgaricus. Membran luar bakteri merupakan membran lipopolisakarida yang merupakan penghalang sekaligus pelindung agar substansi makromolekul (seperti bakteriosin dan enzim) tidak dapat masuk.L-Lactic acid) yang diukur dalam percobaan ini berkisar antara 15-150 mM dan pertumbuhan Salmonella typhi mulai terlihat jelas dihambat pada konsentrasi 30 mM. diasetil. apabila tumbuh di karbohidrat yang sudah dimetabolisme dapat menurunkan pH hingga 3. Asam laktat mampu melemahkan permeabilitas dinding bakteri dengan cara merusak membran luar bakteri tersebut. Bakteri yogurt lainnya. (2005). 2000).0 dan menghasilkan L(+)-laktat.2).5 ± 0. 2003). Asam laktat dapat menembus masuk ke dalam periplasma bakteri melalui protein porin pada membran luar karena asam laktat termasuk molekul yang larut dalam air.. Konsentrasi asam laktat (D.5 sampai 5. senyawa antimikroba lainnya pada yogurt. memberikan hasil bahwa pertumbuhan Salmonella typhi dapat dihambat oleh asam laktat yang dihasilkan bakteri yogurt apabila pH mediumnya dalam keadaan asam (pH 4. yakni Streptococcus thermophilus dapat menurunkan pH hingga 4.0. L. Percobaan yang dilakukan oleh Fayol-Messaoudi dkk. dan hidrogen peroksida dapat masuk ke dalam membran sitoplasma (Alakomi dkk. Bakteri yogurt. 1979). Asam laktat ini akan merusak lipopolisakarida sehingga mengganggu permeabilitas membran luar tersebut yang menyebabkan zat antimikroba lain seperti bakteriosin.18 etanol dan diasetil (Adolfsson. . Bakteri ini tumbuh baik pada suhu 37-40°C (Ray. bulgaricus ini tumbuh baik pada suhu 45°C dan memfermentasikan laktosa untuk menghasilkan asam laktat D(-) dalam jumlah yang besar. Selain asam laktat.

1. 2. Penicillin-binding protein menghapus alanin terminal dalam proses pembentukan cross-linked dengan peptida di dekatnya.3 Seftriakson Antibiotik yang digunakan sebagai kontrol positif pada penelitian ini adalah seftriakson. salah satunya golongan sefalosporin. yakni peptidoglikan. mempertahankan bentuk dan integritas sel. 2008).3. yakni asam Nasetilglukosamin dan asam N-asetilmuramik. Antibiotik ini tersedia dalam bentuk powder hingga reconstitute untuk injeksi (0.3. Dinding sel bakteri terbentuk dari polimer kompleks polisakarida dan polipeptida yang saling bertautan (cross-linked).2 Dosis dan Sediaan Seftriakson diberikan dengan dosis 1-2 g/hari selama 7-14 hari secara intravena untuk pasien demam tifoid dewasa (Fauci dkk. sebuah enzim). Hal ini akan menghambat reaksi transpeptidase sehingga sintesis peptidoglikan berhenti dan menyebabkan kematian sel. Antibiotik β-laktam hanya dapat membunuh bakteri ketika mereka tumbuh dan mensintesis dinding sel secara aktif (Katzung. Polisakarida berisi gula amino yang berganti-ganti. dan mencegah sel lisis dari tekanan osmotik yang tinggi. .25. Seftriakson ini termasuk golongan antibiotik sefalosporin generasi ketiga dan merupakan antibiotik spektrum luas untuk bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. 10 g per vial) (Katzung. 2. Peptida ini berakhir di D-alanilD-alanin. 2. memiliki struktur yang analog dengan senyawa D-ala-Dala dan dapat berikatan secara kovalen dengan tempat aktif PBP. 0.5. Seftriakson merupakan salah satu pilihan antibiotik untuk pengobatan demam tifoid (Fauci dkk. 2009).. Dinding sel bakteri secara utuh membungkus membran sitoplasma.1 Aktivitas Antimikroba Seftriakson bekerja dengan cara menganggu sintesis transpeptidase dinding sel bakteri dengan cara berikatan dengan Penicillin-binding protein (PBP. Antibiotik β-laktam. Cross-linked ini memberikan dinding sel struktur yang kokoh. 2009)..19 2. 2008). Terdapat lima asam amino peptida yang berhubungan dengan gula N-asetilmuramik.

pH rendah.20 2. Kerangka Teori . dan hidrogen peroksida kompetisi dalam hal nutrisi dan tempat tumbuh merusak permeabilitas membran luar Salmonella typhi bakteriosin dan hidrogen peroksida masuk ke sitoplasma sel menghambat pertumbuhan Salmonella typhi Bagan 1.4 Kerangka Teori Yogurt mengandung bakteri probiotik memproduksi asam laktat memproduksi bakteriosin.