You are on page 1of 27

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ............................................................................................................ i DAFTAR GAMBAR ............................................. Error! Bookmark not defined. DAFTAR TABEL ................................................................................................... ii DAFTAR BAGAN ................................................ Error! Bookmark not defined. BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 2 2.1 Definisi perdarahan pascapersalinan .................................................. 2 2.2 Klasifikasi perdarahan pascapersalinan ............................................. 2 2.3 Faktor predisposisi dan etiologi perdarahan pascapersalinan ............ 3 2.4 Gejala-gejala ...................................................................................... 4 2.5 Prognosis ....................................................................................... 4

2.6 Komplikasi perdarahan pascapersalinan ............................................ 5 2.7 Penangan umum ................................................................................. 5 2.8 Atonia uteri ....................................................................................... 8 2.9 Perlukaan Jalan Lahir Akibat Persalinan ......................................... 11 2.9.1 Perlukaan vagina ..................................................................... 11 2.9.2 Perlukaan perineum................................................................. 12 2.9.3 Perlukaan serviks uteri ............................................................ 12 2.10 Retensio plasenta ............................................................................ 13 2.11 Inversio uteri .................................................................................. 20 2.11 Gangguan koagulasi ....................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 25

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan perdarahan atonis dengan perdarahan karena robekan jalan lahir1........................................................................................................ 5 Tabel 2.2 Jenis uterotonika dan cara pemberiannya2 .............................................. 6 Tabel 2.3 Penilaian klinik perdarahan pascapersalinan .......................................... 7

satu per empat kematian ibu disebabkan oleh perdarahan pascapersalian. Bila perdarahan pasca persalinan tidak menyebabkan kematian. kejadian ini sangat mempengaruhi morbiditas nifas karena anemi akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga sangat penting untuk mencegah perdaraha yang banyak. Perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab penting kematian ibu.BAB I PENDAHULUAN Perdarahan pasca persalinan secara tradisional ialah perdarahan yang melebihi 500 cc pada kala III. ¼ dari kematian ibu disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan .

inkreta dan perkreta) 2 . ialah perdarahan ≥ 500cc setelah 24 jam persalinan. ialah perdarahan ≥ 500cc pada 24 jam pertama setelah persalinan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi perdarahan pascapersalinan Perdarahan pascapersalinan secara tradisional adalah perdarahan yang melebihi 500cc pada kala III.1 2. Perdarahan pascasalin dini ( 4T’s )     Tonus ( Atonia Uteri ) Trauma ( Laserasi Jalan Lahir . ruptura uteri. 2. Perdarahan pascasalin lambat Sisa plasenta ( akreta. episiotomi yang luas) Tissue ( Jaringan Plasenta Tertinggal ) Thrombin ( Kelainan Koagulasi ) b.2 Klasifikasi perdarahan pascapersalinan Klasifikasi perdarahan pascapersalinan:1 1. Klasifikasi menurut etiologi a. Perdarahan pascapersalinan lambat. Perdarahan pascapersalinan dini.

dan emboli air ketuban.2.3 Faktor predisposisi dan etiologi perdarahan pascapersalinan Faktor predisposisi dan etiologi perdarahan pascapersalinan. solusio plasenta. atau anak besar       Partus lama Partus presipitatus Induksi persalinan dengan oksitosin Paritas tinggi Infeksi korion Riwayat atonia uteri. Retensi plasenta   Kotiledon tertinggal. sindroma HELLP. preeklamsia. plasenta suksenturiata Plasenta akreta. Perdarahan atonis dapat terjadi pada kala III maupun kala IV. 2. kematian janin dalam kandungan. hidramnion. misalnya pada kasus trombofilia. dan rupture uteri) 3. Gangguan koagulasi Jarang terjadi tetapi dapat memperburuk keadaan diatas. dan perkreta. Perdarahan dari tempat implantasi plasenta: a. antara lain:1 1. (episiotomi yang luas. laserasi jalan lahir. b. seperti kehamilan kembar. inkreta. 3 . Hipotonis sampai atonia uteri   Anestesi umum Overdistensi uterus. Trauma traktus genitalis.

telapak tangan.5 Prognosis Wanita dengan perdarahan pascapersalinan seharusnya tidak meninggal akibat perdarahannya. bingung. Perdarahan per vaginam 2. sekalipun untuk mengatasinya perlu dilakukan histerektomi.1 4 . 2. Nadi cepat dan lemah. frekuensi pernapasan 30x/menit atau lebih. Bernapas cepat. d.4 Gejala-gejala Gejala-gejala umum pada perdarahan pascapersalinan antara lain:1 1. e. systole 90 mmHg atau lebih rendah. Fundus uteri naik (jika pengaliran darah keluar terhalang oleh bekuan darah atau selaput janin) 4. Pasien tampak ketakutan. frekuensi nadi umumnua 110x/menit atau lebih. dan di konjungtiva. Tekanan darah rendah. Konsistensi rahim lunak 3. tampak lebih jelas di seputar mulut. atau kesadaran menurun sampai tidak sadar.2. gelisah. Berkeringat c. Pucat. b. f. Tanda-tanda syok:2 a.

atrofi payudara. superinvolusi uterus.1 2.2. yaitu: kegagalan laktasi. amenore.1 Tabel 2. Sindrom Sheehan Perdarahan banyak kadang-kadang diikuti dengan sindrom Sheehan. dan insufisiensi korteks adrenal. Diabetes insipidus Perdarahan banyak pascapersalinan dapat mengakibatkan diabetes insipidus tanpa disertai defisiensi hipofisis anterior. hipotiroidi.7 Penanganan umum Penanganan umum pada perdarahan pascapersalinan:2   Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk) Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan) 5 .6 Komplikasi perdarahan pascapersalinan 1.1 Perbedaan perdarahan atonis dengan perdarahan karena robekan jalan lahir1 Perdarahan atonis Robekan jalan lahir  Kontraksi uterus lemah  Kontraksi uterus kuat  Darah berwarna merah tua  Darah berwarna merah muda karena berasal dari vena karena berasal dari arteri  Biasanya timbul setelah persalinan operatif 2. rontok rambut pubis dan aksila.

2 mg IM setelah 15 menit Bila masih diperlukan. lakukan uji beku darah.   Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat Segera lakukan penilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi.2 Jenis uterotonika dan cara pemberiannya2 Jenis dan Cara Dosis dan cara pemberian awal Oksitosin IV: 20 unit dalam 1l larutan garam fisiologis dengan tetesan cepat IM: 10 unit IV: 20 unit dalam 1 l larutan garam fisiologis dengan 40 tetesan per menit Ergometrin Misoprostol IM atau IV (lambat): Oral atau rectal 0. Tabel 2.    Bila perdarahan terus berlangsung. eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir.   Atasi syok Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah. beri uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infuse 20 IU dalam 500 cc NS/RL dengan 40 tetesan per menit). Cari penyebab perdarahan dan lakukan tindakan spesifik. beri IM/IV setiap 2-4 jam 6 400 mg 2-4 jam setelah dosis awal .2 mg 400 mg Dosis lanjutan Ulangi 0.  Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap. Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pascapersalinan (di ruang persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung). lakukan pijatan uterus. Pasang kateter menetap dan pantau masuk-keluar cairan.

Penyulit Syok Bekuan darah serviks atau telentang menghambat aliran ke luar Total 1200 mg atau 3 dosis Nyeri kontraksi Asma Diagnosis Atonia Uteri pada posisi akan darah Darah segar yang mengalir Pucat segera setelah bayi lahir Lemah (P3) Menggigil Uterus berkontraksi dan keras Plasenta lengkap Plasenta belum lahir setelah 30 menit Perdarahan segera(P3) Uterus berkontraksi dengan keras Robekan jalan lahir Tali pusat putus akibat Retensio plasenta traksi berlebihan Inversion uteri akibat tarikan Perdarahan lanjutan Plasenta atau sebagian Uterus berkontraksi tetapi Tertinggalnya selaput (mengandung tinggi fundus tidak sebagian plasenta pembuluh darah) tidak berkurang lngkap Perdarahan segera (P3) Uterus tidak teraba Neurogenik syok Lumen vagina terisi massa Pucat dan limbung Tampak tali pusat (bila plasenta belum lahir) Sub-involusi uterus Anemia Nyeri tekan perut bawah Demam dan pada uterus Perdarahan (sekunder P2S) Lokia mukopurulen dan berbau (bila disertai infeksi) Inversion uteri Endometritis atau sisa fragmen plasenta (terinfeksi atau tidak) 7 . indikasi atau cepat atau bolus vitium kordis.3 Penilaian klinik perdarahan pascapersalinan Gejala dan Tanda Uterus tidak berkontraksi dan lembek Perdarahan segera setelah anak lahir (Perdarahan Pascapersalinan Primer atau P3). hati-hati hipertensi Tabel 2.Dosis Tidak lebih dari 3 l Total 1 mg atau 5 maksimal larutan dengan dosis perhari oksitosin Kontra Pemberian IV secara Preeclampsia.

Biasanya disebut atonia uteri apabila uterus gagal untuk berkontraksi lima belas detik setelah dilakukan rangsangan taktil terhadap fundus uteri. atau menderita penyakit menahun 8 . Regangan rahim berlebihan karena kehamilan gemeli. Kehamilan grande multipara 4. Pemberian misoprostol peroral 2-3 tablet (400-600ug) segera setelah bayi lahir. Faktor predisposisi 1.8 Atonia uteri Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus/ kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep 3.2. karena hal ini dapat menurunkan insidensi pedarahan paska persalinan akibat atonia uteri. anemis. atau anak terlalu besar. 2. padahal kontraksi uterus diperlukan untuk konstriksi pembuluh darah besar yang terbuka akibat pelepasan plasenta. polihidramnion. Perdarahan karena atonia uteri dapat dicegah dengan : Melakukan secara rutin management aktif kala III pada semua wanita yang bersalin. Atonia uteri dapat pula diartikan sebagai kelelahan pada otot uterus sehingga tidak mampu lagi berkontraksi. Ibu dengan keadaan umum yang jelek.

Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya. Infeksi intrauterin (chorioamnionitis) 7.    Berikan transfuse darah bila sangat diperlukan Lakukan uji beku darah untuk konfirmasi system pembekuan darah Bila semua tindakan di atas telah dilakukan tetapi masih terjadi perdarahan lakukan tindakan spesifik sebagai berikut o Pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar  Kompresi bimanual eksterna 9 .  Pastikan plasenta lahir lengkap (bila ada indikasi sebagian plasenta masih tertinggal lakukan evakuasi sisa plasenta) dan tidak ada laserasi jalan lahir. Kriteria diagnosis dari atonia uteri adalah :      Kontraksi rahim buruk Perdarahan banyak Tidak ada perlukaan jalan lahir Tidak ada sisa plasenta Pada umumnya disertai tanda-tanda syok hipovolemik Penatalaksanaan   Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri Sementara dilakukan pemasangan infuse dan pemberian uterotonik. lakukan kompresi bimanual.5. Myoma uteri yang menggganggu kontraksi rahim 6.

Pertahankan kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti. akan menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri femoralis. 10 . Perhatikan perdarahan yang terjadi. pertahankan hingga uterus kembali berkontraksi atau dibawa ke fasilitas kesehatan rujukan.  Kompresi bimanual interna Uterus ditekan diantara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh darah dalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme kotraksi). Genggam tangan kanan kemudian tekankan pada daerah umbilicus. tunggu hingga uterus berkontraksi kembali. pertahankan posisi tersebut. tegak lurus dengan sumbu badan hingga mencapai kolumna vertebralis. Pantau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang. Bila belum berhasil coba dengan kompresi bimanual interna.Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang melingkupi uterus. kompresi diteruskan.  Kompresi bimanual aorta abdominalis Raba arteri femoralis dengan ujung jari tangan kiri. Penekanan yang tepat. Apabila perdarahan tetap terjadi coba kompresi aorta abdominalis.

diikat dan luka ditutup dengan jahitan catgut lapis demi lapis sampai perdarahan berhenti. Jika terdapat robekan yang berdarah atau robekan yang lebih besar dari 1 cm.1 2. Semua sumber perdarahan yang terbuka harus di klem.3 Secara klinis diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan langsung menggunakan spekulum untuk mencari sumber perdarahan dengan ciri warna darah yang merah segar dan pulsatif sesuai denyut nadi. Robekan pada klitoris atau sekitarnya dapat menimbulkan perdarahan banyak. Robekan vagina umumnya terjadi sebagai akibat regangan jalan lahir yang berlebihan dan tiba-tiba ketika janin dilahirkan.o Pada rumah sakit rujukan   Ligasi arteri uterine ovarika Histerektomi 2. Robekan vagina sepertiga bagian atas umumnya merupakan lanjutan robekan serviks uteri.1 Perlukaan vagina Perlukaan pada dinding depan vagina sering terjadi di sekitar orifisium urethrae eksternum dan klitoris.9.9 Perlukaan Jalan Lahir Akibat Persalinan Setelah persalian buatan atau jika ada perdarahan. robekan tersebut hendaknya dijahit.3 11 . dan darah yang keluara berwarna merah muda harus dilakukan pemeriksaan dengan spekulum. walaupun kontraksi uterus baik.

Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan langsung.9. Pencegahan luka perineum yang tidak terarah dapat diminmalisir dengan melakukan episiotomi.3 2.9.3 Perlukaan serviks uteri Robekan serviks bisa menimbulkan perdarahan banyak. Secara klinis akan terdapat perdarahan yang bersifat arterial atau yang merembes. Perlukaan ini dapat terjadi pada persalinan normal. Tingkat perlukaan pada perineum dapat dibagi dalam:3  Tingkat I: bila perlukaan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit perineum.2 Perlukaan perineum Merupakan tempat perlukaan tersering. tetapi tersering pada tindakan persalinan buatan dengan pembukaan yang belum lengkap serta pada partus presipitatus diamana pembukaan juga belum lengkap tetapi kontraksi rahim telah kuat dan sering.  Tingkat III: perlukaan yang lebih luas dan dalam hingga muskulus sfingter ani eksternus terputus di depan. Umumnya perlukaan perineum terjadi pada tempat dimana muka janin menghadap.  Tingkat II: perlukaan lebih dalam dan luas ke vagina dan perineum dengan melukai fasia serta otot-otot diafragma urogenitale. Sifat perlukaan dapat unilateral maupun bilateral. khususnya bila jauh ke lateral sebab tempat itu terdapat ramus desendens dari arteria uterina. 12 .2.

Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena:  Fungsional: Kontraksi uterus tidak kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta adhesive)  Patologi anatomi: Plasenta melekat erat pada dinding uterus karena vili korialis menembus desidua sampai miometrium atau peritoneum (plasenta akreta atau perkreta) b. terus ke bawah. sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian uterus bawah yang menghalangi keluarnya plasenta (inkarseratio plasenta) 13 . Jika hanya sebagian kecil yang terlepas maka cukup dijahit. Bibir serviks dijepit dengan cunam atraumaik. Plasenta lepas tapi belum dilahirkan yang disebabkan karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau salah penanganan kala III.Diagnosis dengan pemeriksaan in spekulo. maka luka dijahit dari ujung yang paling atas. Bila sifat robekan memanjang. periksa jika sebagian besar serviks telah lepas maka bagian tersebut dipotong. kemudian diperiksa secara cermat. Penyebab: a. Lalu perlukaan dirawat untuk menghentikan perdarahan. Pada robekan serviks bentuk melingkar.  Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir.10  Retensio plasenta Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus.3 2.

Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang mencapai /memasuki miometrium 4. Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan dinding serosa dinding uterus (perinemum) 5. Plasenta akreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium (atau disebut plasenta akreta bila implantasi menembus desidua basalis dan menembus Nitabuch layer) 3.Jenis retensio plasenta 1. Plasenta adhesive adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi fisiologis 2. Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum uteri karea adanya konstriksi ostium uteri Gejala Konsistensi uterus Tinggi fundus Bentuk uterus Perdarahan Tali pusat Ostium uerti Separasi plasenta Plasenta inkarserata Keras 2 jari dibawah pusat Agak globuler Sedang Terjulur Konstriksi Sudah lepas Plasenta akreta Cukup Sepusat Diskoid Sedikit/tidak ada Tidak terjulur Terbuka Melekat seluruhnya 14 .

gejala klinik dan 15 . Untuk prosedur tersebut berikan analgetik (tramadol 100 mg IV atau Pethidine 50 mg IV) dan sedatif (diazepam 5 mg IV) pada tabung suntik yang terpisah anamnesis.Syok Jarang Jarang sekali kecuali akibat inversio oleh tarikan kuat pada tali pusat Plasenta inkarserata  Adalah tertahannya plasenta dalam cavum uetri disebabkan konstriksi ostium uteri.  Tentukan diagnosis kerja melalui pemeriksaan  Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk menghilangkan konstriksi serviks dan melahirkan plasenta  Pilih fluothane atau eter untuk konstriksi serviks yang kuat tetapi siapkan oksitosin 20 IU dalam 500 ml NS?RL dengan 40 gtt/min untuk mengantisipasi gangguan kontriksi yang disebabkan oleh bahan anestesi tersebut  Bila prosedur analgetik tidak tersedia tetapi seviks dapat dilalui oleh cunam ovum maka lakukan manuver sekrup untuk melahirkan plasenta.

cegah aspirasi bahan muntahan. muntah. Pada pemeriksaan dalam sulit ditentukan tepi plasenta karena implantasi yang dalam. tinggi fundus uteri. dan rujuk kerumah sakit rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif 16 . vertigo. Pengamatan dan perawatan lanjutan meliputi pemantauan tanda vital. Tambahan pemantauan yang diperlukan adalah pemantauan efek samping atau komplikasi dari bahan-bahan sedative. hipo/atonia uteri. stabilisasi pasien. halusinasi. analgetik atau anestesi umum (mual. dan perdarahan paska tindakan. kontraksi uterus. Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar adalah menentukan diagnosis. mengantuk) Plasenta akreta  Adalah implantasi jongjot korion plasenta menembus desidua sampai berhubungan dengan miometrium. pusing/vertigo.  Tanda penting untuk diagnosis dari pemeriksaan luar adalah ikutnya uterus/fundus apabila tali puast ditarik.

17 .

Antibiotik yang dipilih adalah ampisilin dosis awal 1 g IV dilanjutkan dengan 3x1 g oral dikombinasikan dengan metronidazol 1g supositoria dilanjutkan 3x500 mg oral. yang paling penting untuk hemostasis adalah kontraksi dan retraksi miometrium untuk menekan pembuluh dan menutup lumennya. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan paska persalinan lanjut. arteri-arteri dan vena-vena uteri yang mengangkut dari dan ke plasenta terputus secara tiba-tiba. sebagian besar pasien-pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan perdarahan setelah 6-10 hari pulang kerumah dan subinvolusi uterus Berikan antibiotika karena peradarahan juga merupakan gejala metritis. Dengan terlepasnya plasenta.Sisa plasenta Perdarahan postpartum yang dini maupun yang lanjut dapat terjadi karena tidak keluar dengan komplitnya plasenta setelah janin lahir sehingga inspeksi plasenta setelah persalinan harus dilakukan secara rutin. Penemuan secara dini hanya dimungkinkan dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada sebagian besar kasus plasenta terlepas secara spontan dari tempat implantasinya dalam waktu beberapa menit setelah janin lahir. Potongan plasenta atau bekuan darah besar yang melekat akan menghambat kontraksi dan retraksi miometrium yang efektif sehingga hemostasis di tempat implantasi terganggu. 18 . Di tempat implantasi plasenta.

Dengan diberikan antibiotika tersebut. bila perlu lakukan pemasangan kateterisasi kandung kemih.  Pastikan kandung kemih sudah kosong. lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Manifestasi klinik  Pendarahan  Kontraksi tidak baik  Pada pemeriksaan dalam teraba sisa plasenta Penanganan  Jika plasenta terlihat dalam vagina. 19 . berikan sulfas ferrous 600 mg/hari selama 10 hari. Bila kadar Hb < 8 gr% berikan transfusi darah.  Jika plasenta belum keluar berikan oksitosin 10 unit im (jika belum dilakukan pada penanganan aktif kala 3). lakukan evakuasi sisa plasenta denganAVM atau dilatase dan kuretase.  Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus terasa kontraksi lakukan penarikan tali pusat terkendali. minta ibu untuk mengedan sehingga dapat merasakan plasenta dalam vagina lalu keluarkan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen. Bila kadar Hb ≥ 8 gr%.

disebut inversion uteri inkomplit. bila terjadi kegagalan pembentukkan pembekuan darah setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati. Inversion uteri jarang terjadi. tetapi jika terjadi. sehingga usaha pelepasan plasenta dapat menyebabkan perdarahan berat atau perforasi uterus yang biasanya membutuhkan tindakan histerektomi.  Jika perdarahan terus berlangsung.  Untuk melepaskan plasenta yang melekat kuat mungkin merupakan plasenta akreta. 2. coba untuk melakukan pengeluaran plasenta secara manual. Keadaan ini disebut inversion uteri komplit. Jika hanya fundus menekuk ke dalam dan tidak ke luar ostium uteri. Penyebab Inversio Uteri Tiga faktor diperlukan untuk terjadinya inversio uteri: 1. disebut inversio prolaps. uterus terputar balik sehingga fundus uteri terdapat dalam vagina dengan selaput lendirnya sebelah luar. dapat menimbulkan syok yang berat. Jika traksi tali pusat belum berhasil. lakukan uji pembekuan darah sederahana. 20 . Tonus otot rahim yang lemah. Jika uterus yang berputar balik itu keluar dari vulva.11 Inversio uteri Pada inversio uteri.

dan tarikan pada tali pusat). Reposisi manual dalam anestesi umum sesdudah syok teratasi (secara Johnson). inversion uteri dapat terjadi saat batuk. Syok. prognosis akan berangsur baik. 3. Fundus uteri sama sekali tidak teraba atau teraba tekukan pada fundus. juga karena perasat Crede. Prognosis Makin lambat keadaan ini diketahui dan diobati makin buruk prognosisnya. Tekanan atau tarikan pada fundus (tekanan intraabdominal. Terapi 1. baiknya plasenta jangan dilepaskan dulu sebelum uterus di reposisi karena dapat menimbulkan perdarahan 21 . Kadang-kadang tampak sebuah tumor yang merah di luar vulva ialah fundus uteri yang terbalik atau teraba tumor dalam vagina.2. Atasi syok dengan pemberian infuse Ringer Laktat dan bila perlu transfuse darah. tekanan dengan tangan. 3. atau mengejan. tetapi jika pasien dapat mengatasi 48 jam dengan inversion uteri. Oleh karena itu. bersin. Kanalis servikalis yang longgar. Jika plasenta belum lepas. Gejala-Gejala 1. 2. 2.

terjadilah gangguan pembekuan darah. yaitu: Fase I : Pada pembuluh darah terminal (arteriol. 2. dilakukan reposisi operatif. Cara-Cara Inversio Uteri 1. 3. diberi drip oksitosin dan dapat juga dilakukan kompresi bimanual.11 Gangguan koagulasi Jika perdarahan masih berlangsung. 22 . Jika kadar fibrinogen dalam darah turun di bawah 100 mg per 100 cc (critical point). Kadar fibrinogen pada wanita yang hamil. sedangkan semua penyebab diatas sudah disingkirkan maka perlu dipikirkan adanya gangguan pembekuan darah. Abdominal – Haultain dan Huntington. Jadi pada fase I turunnya kadar fibrinogen disebabkan oleh pemakaian zat tersebut. Kadang-kadang dipertimbangkan histerektomi. kapiler. Jika reposisi manual tidak berhasil. maka fase I disebut juga koagulopati konsumtif. Akibatnya peredaran darah kapiler terganggu. di bawah 150 mg per 100 cc disebut hipofibrinogenemi. biasanya antara 300 – 700 mg dalam 100 cc. Biasanya koagulopati terjadi dalam 2 fase. Setelah reposisi berhasil. 2. Pemasangan tampon rahim dilakukan supaya tidak terjadi lagi inversion. dan venol) terjadi pembekuan darah. Salah satu contohnya adalah hipofibrinogenemi. Vaginal – Kustner (forniks posterior) dan Spenelli (forniks anterior).banyak. disebut disseminated intravascular clotting.

Fibrinolisis yang berlebihan akan lebih menurunkan kadar fibrinogen sehingga terjadi perdarahan patologis. hematokrit Faktor pembekuan darah Waktu perdarahan Masa pembekuan Trombosit Fibrinogen3 Penatalaksanaan:  Rawat bersama dengan bagian penyakit dalam  Transfusi darah segar  Heparin 23 .1 Manifestasi klinis     Kontraksi baik Tidak ada perlukaan jalan lahir Tidak ada sisa jaringan Terdapat gangguan faktor perdarahan Pemeriksaan Penunjang       Hemoglobin.Fase II : Pada fase ini. sebenarnya merupakan usaha tubuh untuk membuka kembali peredaran darah yang tersumbat dengan cara fibrinolisis.

Pemberian O2 2.Pemberian infus heparin akan menghambat DIC baik oleh abruptio placenta maupun penyebab lain dengan syarat keadaan vaskularisasi tidak terganggu 2. Posisi kaki lebih tinggi dari kepala ( trendelenberg ) 5.1. Infus Cairan Kritstaloid (bisa sampai 4 L per jam ) 3. perbaiki kausalnya 24 . Berikan selimut untung menghindari hipotermia 6. Apabila terdapat indikasi miringkan kepala untuk mencegah aspirasi 7. Setelah pasien stabil. Sambil menunggu keadaan stabil dapat diberikan antibiotik dan menyiapkan darah 8. Pemasangan cairan Kateter 4.2 Penanganan Umum Perdarahan Pascapartum 1.

Saifuddin. et al. Jakarta. Adriaansz. Jakarta. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal Edisi 1 Cetakan ke-4. Jakarta. Wirakusumah (ed. Rachimhadhi (ed. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Waspodo (ed. Williams Obstetrics 22nd Edition.DAFTAR PUSTAKA 1. 2005 4. Obstetri patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Edisi 2 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.). 25 . 2005 2.). Wiknjosastro. 2006 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Martaadisoebatra.). Cunningham FG. Inc. United States of America : McGraw-Hill Companies. Leveno KJ.Ilmu Kebidanan Edisi ke-3 Cetakan ke-7.: 2005. Saifuddin. Wiknjosastro. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Gant NF. Sastrawinata.