You are on page 1of 113

PROGRAM

PENGENDA
LIAN
INFEKSI
NOSOKOMI
AL
RUMAH SAKIT
UMUM
BUDI LUHUR
CIREBON

Dr. H. Hakiki Akbari


6/19/2008
KATA PENGANTAR
Rumah sakit sebagai suatu institusi yang melayani pengidap penyakit
sangat rentan terhadap terjadinya penularan penyakit. Penularan penyakit
bisa terjadi pada siapa saja yang berada di lingkungan RS, Dokter,
Paramedik, Karyawan lain, Pasien, Penunggu pasien atau pengunjung
pasien.
Karenanya penting sekali bagi RSBL untuk mempelajari bagaimana
proses infeksi terjadi, jasad renik apa saja yang sering menginfeksi, serta
nagaimana menangani kasus infeksi nosokomial. Sebab bila sampai terjadi
penularan infeksi di RS akan cukup sulit mengatasinya, karena umumnya
kuman sudah resisten terhadap banyak antibiotika. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka dibuatlah program Pengendalian Infeksi
Nosokomial yang dimaksudkan untuk mebuat aturan-aturan dan kegiatan
yang diaksudkan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya infeksi
nosokomial di RSBL.

Program pengendalian infeksi nosokomial pada dasarnya terintegrasi


dengan program lain sedemikian rupa sehingga tercipta Patient Safety di
RSBL.
Buku ini merupakan pedoman yang berlaku di RSBL tentang usaha
mengendalikan Infeksi Nosokomial. Semoga bisa dilaksanakan dengan
baik.

Cirebon 19/6/08

dr. H. Hakiki Akbari

Direktur
BAB I. PENGENDALIAN POTENSI INFEKSI

RUANG LINGKUP

I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN CARRIER SEHAT


A. Kebijakan Pakaian Seragam Tenaga Keperawatan RSBL
B. Kebijakan tentang Alat Perlindungan Perorangan (APP) di RSBL
C. Kebijakan Cuci Tangan
D. Kebijakan Pemeriksaan Kesehatan rutin Tenaga Kesehatan RSBL
E. Kebijakan tentang Penunggu Pasien
F. Kebijakan tentang Waktu Besuk
G. Kebijakan tentang penerimaan Tamu RSBL
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN PENDERITA PENYAKIT MENULAR
A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara Aerogen
B. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara hematogen
C. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara enterogen
D. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara urogenik
E. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara kontak kulit
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN HEWAN DI RSBL
A. Kebijakan tentang Pengendalian Lalat
B. Kebijakan tentang Pengendalian Nyamuk
C. Kebijakan tentang Pengendalian Tikus
D. Kebijakan tentang Pengendalian hewan lain
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN SUMBER INFEKSI INANIMATE
A. Kebijakan tentang Pengendalian Sampah
B. Kebijakan tentang Pengendalian Limbah
C. Kebijakan tentang pengendalian Permukaan
D. Kebijakan tentang pengendalian Linen
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN LINGKUNGAN
A. Kebijakan tentang Ruang dan Bangunan
B. Kebijakan tentang Udara
C. Kebijakan tentang Pencahayaan
D. Kebijakan tentang Kebisingan
E. Kebijakan tentang suhu ruangan
F. Kebijakan tentang Penyediaan Air Bersih dan Drainase
G. Kebijakan tentang batas lahan RSBL
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN INFEKSI MAKANAN DAN MINUMAN
II. PROSEDUR PENGENDALIAN INFEKSI DI KAMAR OPERASI
III. PROSEDUR PENGENDALIAN INFEKSI DI KAMAR BERSALIN
Rumah Sakit Pengendalian Infeksi dari Kemungkinan Carrier Sehat

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

I. ROSEDUR TETAP PENGENDALIAN INFEKSI DARI KEMUNGKINAN CARRIER


SEHAT

Pengertian : Prosedur kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka


pengendalian sumber infeksi dari carrier sehat

Carrier sehat adalah orang yang mengidap kuman dalam tubuhnya,


namun tidak merasa sakit, tidak menunjukkan gejala penyakit,

Sasaran :

• Karyawan / tenaga kesehatan


• Penunggu pasien
• Pengunjung pasien
• Tamu RS

Kebijakan :

1. Semua tenaga kesehatan RSBL agar menjaga hygiene pribadi dan


melaksanakan prosedur tetap pelayanan medik dan keperawatan
yang sudah ditetapkan dengan baik
2. Semua tenaga kesehatan RSBL agar mengedepankan self protection
dan patient safety secara seimbang dan disiplin
3. Dilakukan check up dan penapisan rutin bagi seluruh karyawan
terhadap kemungkinan infeksi
4. Dilakukan pembatasan penunggu pasien di ruang rawat inap
5. Dilakukan pembatasan waktu kunjungan
6. Dilakukan pembatasan akses bagi tamu RS
Ruang Lingkup:

A. Kebijakan Pakaian Seragam Tenaga Keperawatan RSBL

○ Kepada Setiap Tenaga keperawatan diberikan 3 tipe seragam, masing-masing 2


pasang dengan warna yang berbeda : Putih, Biru, hijau, batik dan UGD
• Seragam Putih dipakai hari senin dan Kamis
• Seragam Hijau dipakai hari selasa dan jumat
• Seragam biru dipakai hari Rabu dan Sabtu
• Seragam Batik dipakai tiap hari minggu
• Seragam UGD jika dinas di UGD
• Desain seragam dinas lengan hingga 1/3 tengah lengan bawah bagi
wanita, celana panjang tidak boleh melebihi mata kaki.
○ Tenaga Keperawatan diwajibkan memakai seragam yang sudah dicuci bersih
setiap kali berdinas
○ Tenaga keperawatan dapat menggunakan fasilitas laundry RSBL tanpa dipungut
Biaya.
○ Bagian Laundry melakukan Pencucian pakaian sesuai SOP Laundry yang sudah
ditetapkan
○ Bila seragam dinas dibawa pulang setelah dipakai, agar segera direndam dan
dicuci untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyebaran kontaminasi
keluar RS
○ Disediakan sepatu dinas masing-masing 1 pasang, warna putih untuk wanita
dan hitam untuk pria, tidak bertali
○ Sepatu disimpan di RSBL, dipakai setiap kali berdinas. Dilarang memakai
sepatu secara bergiliran. Dilarang membawa sepatu dinas ke luar RSBL. Sepatu
dibersihkan dan dicuci secara rutin 1 minggu sekali.
○ Jilbab berwarna putih bersih agar mudah mudah mendeteksi kontaminasi bila
terjadi, di ikat rapi ke belakang atau di desain sedemikian rupa sehingga tidak
terurai ke dada sehingga mengurangi resiko kontak dengan kontaminan.

A. Kebijakan tentang Alat Perlindungan Perorangan (APP) di RSBL

a. Hand Gloves / Handschoen


○ Handschoen yang digunakan di RSBL tdd 3 macam : Handschoen Baru dan
steril, Handschoen daur ulang dan telah melalui proses dekontaminasi dan
Desinfeksi Tigkat Tinggi, dan Hanschoen non steril
○ Handschoen daur ulang dibuat setelah pemakaian handschoen baru selesai
dipakai. Handschoen segera dicuci dengan larutan chlorine 0,5% sebelum
dilepas dan di rendam dengan larutan tersebut selama 10 menit. Setelah itu
dibilas dengan air mengalir dari wastafel atau spoolhoek sambil di cek ada
kebocoran atau tidak. Setelah dikeringkan dengan diangin-angin diberi
talcum powder sedikit, Kemudian dilakukan desinfeksi Tingkat tinggi dengan
mengukusnya dalam wadah khusus dalam keadaan terlipat seperti
handschoen baru selama 1 jam dengan air mendidih. Proses pendauran
ulang handschoen ini dilakukan di ruang Verbedding, dilanjutkan DTT di
Ruang pusat Sterilisasi.
○ Setelah selesai, maka handschoen dipindahkan ke dalam wadah handchoen
yang sudah disterilisasi
○ Handschoen daur ulang juga dapat disterilisasi dengan autoclaf dalam wadah
tromol
○ Selalu periksa adanya kebocoran pada handschoen daur ulang sebelum
dipakai.
○ Handschoen daur ulang dibatasi pemakaiannya untuk melakukan bedah
minor atau tindakan keperawatan seperti memasang IV catheter, memasang
urine catheter, atau NGT. Khusus untuk pasien pengidap penyakit menular
secara hematogen seperti pengidap HBV, HCV atau HIV, sebaiknya
memakai Handschoen baru.
○ Handschoen daur ulang dibatasi pemakaiannya hingga 3 kali pemakaian.
Setelah 3 kali pemakaian harus diafkir dan dibuang. Caranya, setiap nakes
menghitung pemakaian handschoen oleh dirinya. Jika ia memakai
handschoen daur ulang , maka handschoen ketiga yang selesai ia pakai
harus segera dibuang kedalam tempat sampah infeksius.
○ Semua handschoen yang bocor harus dibuang ke tempat sampah infeksius.
○ Cara memakai handschoen memakai prinsip skin to skin, glove to glove
○ Setelah selesai menggunakan handschoen, maka sebelum dilepas, di cuci
dulu dengan larutan chlorin 0,5% lalu di lepas dan direndam selama 10
menit . Setelah itu dibilas di air mengalir pada wastafel atau spoelhoek..
Selalu perhatikan tangan pasca melepas handschoen. Adakah tanda-tanda
kebocoran handschoen pada tangan. Bila hendak didaur ulang, maka
prosedur sesuai ketentuan di atas. Bila hendak diafkir, maka langsung
dimasukkan kedalam tempat sampah infeksius.
○ Bila handschoen terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HBV, HCV
atau HIV, langsung dibuang sebagai sampah infeksius

a. Apron / Celemek
○ Apron disediakan di ruangan-ruangan : Kamar Operasi, Kamar bersalin,
UGD, High Care Unit, dan Ruang rawat inap
○ Apron dipakai sesuai standar pemakaian APP (Tabel 1)
○ Setelah selesai dipakai, maka pengelolaannya sesuai prosedur pengelolaan
linen kotor
○ Semua apron pasca operasi atau persalinan dianggap terkontaminasi cairan
tubuh pasien
○ Bila apron terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HIV, langsung
dibuang sebagai sampah infeksius atau sesuai dengan pengelolaan linen
kotor / infeksius
a. Masker
○ Masker disediakan di ruangan-ruangan : Kamar Operasi, Kamar bersalin,
UGD, HCU, Rawat inap, Rawat Jalan
○ Masker yang digunakan di RSBL tdd: Masker Dipossable, dan masker
reusable.
○ Masker dispossable digunakan hanya sekali pakai. Setelah dipakai langsung
dibuang di tempat sampah infeksius.
○ Masker reusable terbuat dari kain. Tersedia dalam tromol khusus dalam
keadaan steril dan siap pakai. Setelah dipakai maka pengelolaan sesuai
prosedur pengelolaan linen kotor.
○ Bila masker reusable terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HBV,
HCV atau HIV, langsung dibuang sebagai sampah infeksius
○ Standard pemakaian masker sesuai Tabel 1

a. Goggle
○ Goggle disediakan di Kamar Operasi,Kamar Bersalin, UGD, dan HCU
○ Standard pemakaian seperti pada Tabel 1
○ Semua goggle dianggap terkontaminasi cairan tubuh pasien
○ Bila kontaminasi tidak jelas, maka goggle di bersihkan dengan larutan
chlorine 0,5%
○ Bila Kontaminasi jelas atau pasien dengan HBV/HCV/HIV, maka goggle
direndam dulu dalam chlorine 0,5% selama 10 menit, kemudian dibilas
dengan air mengalir dicuci dengan detergent dan di keringkan dengan cara
diangin2.

a. Pelindung Kaki
○ Pelindung kaki disediakan di Ruang Kamar operasi, Kamar bersalin, UGD,
HCU
○ Pelindung kaki standar yang digunakan di RSBL tdd : Sepatu sendal khusus
berpenutup jari dan sepatu boot
○ Pelindung kaki tidak boleh dibawa keluar ruangan tempatnya disimpan /
disediakan.
○ Setiap orang yang masuk ruangan tersebut harus mengganti alas kaki
dengan pelindung kaki yang disediakan.
○ Setelah dipakai maka tergantung tingkat kontaminasi, bila masih bersih dan
tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien bisa langsung disimpan kembali,
bila sedikit kotor dan tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien dapat di cuci
dengan detergent di spoolhoek
○ Bila terkontaminasi cairan tubuh pasien harus dibersihkan dengan larutan
chlorin 0,5% bila contaminasi banyak sekali, maka alas kaki direndam
dengan chlorine 0,5% selama 10 menit kemudian dibilas, lalu dicuci dengan
detergent, di keringkan dengn diangin-angin
a. Penutup Kepala / Head Cover (HC)
○ Penutup kepala disediakan di OK ,UGD, dan Kamar bersalin
○ HC yang digunakan di RSBL tdd: HC Dipossable untuk dan HC reusable
○ HC dispossable digunakan hanya sekali pakai. Setelah dipakai langsung
dibuang di tempat sampah infeksius.
○ HC reusable terbuat dari kain. Tersedia dalam tromol khusus dalam keadaan
steril dan siap pakai. Setelah dipakai pengelolaannya sesuai prosedur
pengelolaan linen kotor
○ Bila HC reusable terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HIV, langsung
dibuang sebagai sampah infeksius
○ Standard pemakaian HC sesuai Tabel 1

a. Pakaian Khusus
○ Pakaian khusus disediakan di Kamar Operasi, Kamar bersalin, dan HCU
○ Pakaian khusus standard yang ada di RSBL tdd : Pakaian Khusus Kamar
Operasi, Pakaian pelindung di HCU dan Kamar bersalin
○ Pakaian khusus Kamar Operasi tidak boleh keluar dari zona hijau sesuai
SOP . Pakaian Pelindung HCU dan Kamar bersalin tidak boleh dibawa
keluar ruangan.
○ Setiap orang yang masuk ruangan OK harus mengganti pakaiannya dengan
pakaian khusus yang disediakan. Setiap orang yang masuk HCU dan Kamar
bersalin harus memakai pakaian pelindung yang disediakan
○ Setelah dipakai maka tergantung tingkat kontaminasi, bila masih bersih dan
tidak terkontaminasi cairan tubuh pasien bisa langsung disimpan kembali,
bila kotor dan atau terkontaminasi cairan tubuh maka pengelolaannya sesuai
prosedur pengelolaan linen kotor. Atau dapat juga langsung dibuang sebagai
sampah infeksius bila terkontaminasi cairan tubuh pasien penderita HCV,
HBV atau HBV.
a. Tabel Standar Pemakaian Aalat Perlindungan Perorangan (APP) di RSBL

TABEL 1
Jenis Pajanan Contoh APP standard

• Resiko Rendah Injeksi Tanpa Handschoen


• Tidak terpajan Ganti balutan Dengan handschoen
langsung dengan pada pasien
darah/cairan tubuh HBV/HCV/HIV double

• Resiko sedang Rectal touche Handschoen


• Kemungkinan tidak Vaginal touche ± Apron
besar terpajan Insersi IUD, laminaria Alas kaki
darah/ cairan tubuh Pasang DC, NGT
• Tak ada cipratan Mengambil sample cairan
tubuh
Bedah minor
Puntie pleura, Ascites,
Pericardiocentesis
Ceceran darah
Bedah minor

• Resiko besar Bedah mayor Handschoen


• Kemungkinan besar Persalinan Apron
terpajan darah / Masker
cairan tubuh Goggle
• Ada Cipratan Pelindung kaki
• Perdarahan massif
A. Kebijakan Cuci Tangan

a. Kebijakan cuci tangan ini harus diikuti oleh semua orang yang berada di dalam
lingkungan RSBL : Pasien, Dokter, Perawat, Karyawan, Penunggu pasien,
Pengunjung RS

b. Cuci tangan wajib dilakukan pada saat :


• Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien atau benda yang
terkontaminasi cairan tubuh pasien.
• Sebelum dan sesudah melakukan tindakan asepsis / antisepsis
• Sebelum dan sesudah melakukan pemeriksaan luka dan dressing care
• Sebelum dan sesudah menyentuh bahan / sample pemeriksaan laboratorium
• Jika tangan diduga kotor diantara dua tindakan/pemeriksaan fisik pasien
• Segera setelah masuk atau meninggalkan ruangan/RS
• Segera setelah memeriksa pasien dengan penyakit kulit menular
• Segera sebelum memakai handschoen dan setelah melepas Handschoen
• Sebelum dan sesudah makan
• Sebelum dan sesudah memberikan obat
• Segera setelah Keluar dari toilet untuk BAB/BAK
• Segera setelah membersihkan instrumen/ linen/ APP

a. Standard Alat Cuci tangan di RSBL


• Air mengalir dari air tanah yang sudah ditampung, atau air PDAM, yang
keduanya sudah secara rutin diperiksa dan lulus uji air dari Dinas
Kesehatan / KLH
• Wastafel dilengkapi siphon dan saluran air berukuran standard wastafel yang
secara rutin dipelihara kebersihan dan kelancaran alirannya oleh bagian
Pemeliharaan RSBL
• Keran air yang mudah dibuka tutup dan tidak berkarat
• Sabun cair Antiseptik dalam botol dispenser yang dibersihkan setiap isi ulang
• Lap tangan dispossable dalam bentuk tissue gulung atau tissue lipat
• Tersedia tempat sampah domestik

a. Standard Teknik Cuci tangan di RSBL


• Buka keran air. Usahakan membuka keran dengan bagian tangan atau
lengan yang bersih
• Biarkan air mengalir sejenak
• Bilas tangan satu persatu. Alirkan air mengaliri lengan bawah ke tangan dan
jari-jari.
• Ambil sabun cair secukupnya dengan bagian tangan yang dianggap bersih
tampung di telapak tangan satunya.
• Balurkan sabun ke seluruh tangan hingga 1/3 distal lengan bawah. Lakukan
bergantian satu tangan oleh tangan lainnya.
• Lakukan 7 langkah mencuci tangan :
• Gosok – gosokan kedua telapak tangan dan sela jari, Gosok-gosokan
telapak tangan yang satu kepunggung tangan yang lain serta jari-jari secara
bergantian, Bersihkan buku-buku jari tangan yang satu oleh tangan lainnya,
Gosok-gosokkan ujung jari tangan yang satu pada telapak tangan yang
lainnya secara bergantian, Gosok sekitar ibu jari tangan yang satu oleh
tangan yang lainnya, gosok-gosokkan sekitar pergelangan tangan yang satu
oleh tangan yang lain secara bergantian
• Semua proses berlangsung selama minimal 10 detik.
• Bilas dengan air mengalir dari ujung jari tangan hingga ke lengan
bawah.bergantian kiri dan kanan.
• Biarkan air dari lengan menetes dulu diatas wastafel.
• Tutup Keran air
• Keringkan tangan dan lengan yang basah dengan Tissue Kering yang
tersedia.
• Buang tissue ke dalam tepat sampah domestik yang tersedia.

A. Kebijakan Pemeriksaan Kesehatan rutin Tenaga Kesehatan RSBL

a. Setiap Calon karyawan baru RSBL harus memenuhi syarat-syarat kesehatan sbb :
• Pemeriksaan fisik oleh dokter dinyatakan sehat yang disahkan dengan Surat
Keterangan Sehat
• Tidak mengidap penyakit Paru kronik dan menular yang diperkuat dengan
hasil Foto Rontgen Thorax yang dinyatakan tidak ada kelainan oleh dokter
radiolog
• Bila dicurigai dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan sputum Gram / BTA
• Tidak mengidap penyakit potensial kronik yang menular secara hematogen
yang diperkuat dengan hasil pemeriksaan laboratorium untuk HbsAg, Anti
HBs, Anti HCV dan HIV negatif.

a. Pemeriksaan diulang setiap tahun 1 kali


b. Bila setelah bekerja hasil check up menunjukkan adanya hasil positif untuk penyakit
menular non spesifik, maka karyawan dikonsultasikan dengan dokter konsulen
terkait, untuk selanjutnya diterapi dan selanjutnya di evaluasi kelayakan bekerjanya.
c. Bila positif mengidap penyakit paru menular kronik spesifik /TBC maka karyawan di
konsultasikan dengan dokter konsulen paru untuk mendapatkan therapi. Karyawan
dapat bekerja kembali setelah hasil sputum BTA negatif 3 X, untuk selanjutnya
dievaluasi kelayakan bekerjanya.
d. Bila positif mengidap penyakit potensial kronik yang menular melalui cairan tubuh
seperti Hepatitis B maka penderita dikonsultasikan kepda konsulen interna untuk
mendapatkan pengobatan. Karyawan dapat bekerja kembali bila hasil pemeriksaan
HbsAg dan HbeAg negatif untuk kemudian dievaluasi kelayakan bekerjanya
e. Bila karyawan positif mengidap Hepatitis C, atau HIV (+), maka karyawan diminta
untuk mengundurkan diri sesuai ketentuan yang berlaku

A. Kebijakan tentang Penunggu Pasien

a. Pasien rawat inap RSBL diperbolehkan untuk ditemani / ditunggui oleh kerabatnya
b. Jumlah penunggu pasien di ruangan rawat inap dibatasi hanya 2 orang saja Per
pasien.
c. Penunggu pasien yang lain harus menunggu di luar ruangan rawat inap. Disediakan
ruang lobby dan community center untuk kerabat pasien lainnya menginap
d. Penunggu pasien harus ikut menjaga kebersihan ruangan rawat inap dan lingkungan
RSBL
e. Penunggu pasien harus ikut mematuhi peraturan yang berlaku di RSBL baik
peraturan umum maupun menyangkut program pengendalian infeksi nosokomial.
f. Penunggu pasien dilarang merokok di lingkungan RSBL. Disediakan tempat khusus
untuk merokok (smoking area)
g. Anak kecil dibawah usia 10 tahun dilarang masuk area rawat inap dan dilarang
menginap di area rawat inap RSBL disediakan Kids centre untuk tempat menginap
anak yang letaknya diluar area rawat inap.
h. Penunggu pasien yang sedang mengidap penyakit menular dilarang menunggui
pasien di ruang rawat inap dan diwajibkan memeriksakan diri pada dokter untuk
diberi pengobatan.
i. Penunggu pasien di ruang rawat inap dapat menggunakan fasilitas toilet yang
tersedia di ruangan rawat inap.
j. Kerabat pasien di luar ruang rawat inap dapat meggunakan fasilitas toilet umum
yang tersedia.
k. Penunggu pasien di ruang rawat inap dihimbau /sebaiknya tidak membawa makanan
dari luar lingkungan RSBL. Makanan dari luar lingkungan RS bila ada dalam ruang
rawat inap harus dalam keadaan tertutup dan atau disimpan di dalam kulkas /
bedside cabinet yang tersedia.
l. Paramedik dan pembantu paramedik berhak melakukan tindakan yang diperlukan
terhadap penunggu pasien serta makanan serta pakaian dan perilaku penunggu
pasien dalam rangka menjaga kebersihan ruang rawat inap.
m. Penunggu pasien dapat mengunakan fasilitas cuci yang tersedia di ruangan rawat
inap atau memakai jasa laundry RSBL dengan tarif.
n. Penunggu pasien dilarang menjemur / meletakkan linen basah di dalam ruangan
rawat inap. Linen basah dan pakaian yang hendak dijemur diletakkan di ruang yang
sudah disediakan.
A. Kebijakan tentang Waktu Besuk

a. Jam Kunjungan pasien dibatasi hanya 6 jam dalam satu hari, terbagi dalam dua
kelompok waktu :
• Pukul 09.00 - 11.00 WIB
• Pukul 15.00 – 19.00 WIB
a. Jumlah pengunjung pasien di ruangan rawat inap dibatasi hanya 2 orang saja.
b. Pengunjung pasien yang lain harus menunggu di luar ruangan rawat inap.
Disediakan ruang lobby dan community center untuk kerabat pasien lainnya
menginap / menunggu
c. Pengunjung pasien harus ikut menjaga kebersihan ruangan rawat inap dan
lingkungan RSBL
d. Pengunjung pasien harus ikut mematuhi peraturan yang berlaku di RSBL baik
peraturan umum maupun menyangkut program pengendalian infeksi nosokomial.
e. Pengunjung pasien dilarang merokok di lingkungan RSBL. Disediakan tempat
khusus untuk merokok (smoking area)
f. Anak kecil dibawah usia 10 tahun dilarang masuk area rawat inap dan dilarang
menginap di area rawat inap, disediakan kids centre untuk anak2 menginap
g. Kerabat pasien di luar ruang rawat inap dapat meggunakan fasilitas toilet umum
yang tersedia.

A. Kebijakan tentang penerimaan Tamu RSBL

a. Tamu RSBL yang tidak bermaksud berobat, tidak bermaksud mengunjungi/


mengantar pasien atau utusan pihak berwenang dalam rangka inspeksi, tidak
mendapatkan akses ke area rawat inap.
b. Tamu RSBL tersebut tetap harus mematuhi peraturan RSBL baik peraturan umum
maupun dalam rangka pengendalian infeksi nososkomial.
Rumah Sakit Pengendalian Infeksi dari Penderita Penyakit Menular

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN PENDERITA PENYAKIT MENULAR

A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara aerogen

1. Penderita infeksi saluran nafas non spesifik


○ Bila pasien dirawat dengan diagnosa infeksi saluran nafas non spesifik /
non TBC maka kepadanya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan
sesuai indikasi medis.
Penunggu pasien di himbau untuk memakai masker yang disediakan RS
Tenaga Kesehatan di himbau untuk memakai masker yang disediakan
RS
○ Bila penunggu pasien mengalami infeksi saluran nafas nonspesifik,
sedangkan pasien tidak, maka penunggu tersebut sebaiknya tidak
menunggui pasien di ruang rawat inap, diminta untuk memakai masker di
lingkungan RS, serta diminta untuk memeriksakan diri kepada dokter RS
untuk mendapat pengobatan
○ Bila Karyawan RS mengalami infeksi saluran nafas non spesifik, maka ia
diwajibkan memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapatkan
pengobatan, serta di wajibkan memakai masker selama berdinas.

1. Penderita Infeksi saluran nafas spesifik


○ Bila pasien dirawat dengan diagnosa infeksi saluran nafas TBC maka
kepadanya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai indikasi
medis.
Penunggu pasien di himbau untuk memakai masker yang disediakan RS
Tenaga Kesehatan di himbau untuk memakai masker yang disediakan
RS
Bila diperlukan pasien dipisahkan dari pasien lain / di rawat di dalam
ruang isolasi
○ Bila penunggu pasien mengalami infeksi saluran spesifik TBC,
sedangkan pasien tidak, maka penunggu tersebut sebaiknya tidak
menunggui pasien di ruang rawat inap, diminta untuk memakai masker di
lingkungan RS, serta diminta untuk memeriksakan diri kepada dokter RS
untuk mendapat pengobatan
○ Bila Karyawan RS mengalami infeksi saluran nafas spesifik / TBC,maka
ia diwajibkan memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapatkan
pengobatan, serta di wajibkan untuk cuti sakit hingga hasil pemeriksaan
sputum BTA negatif 3 X.

A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara hematogen

1. Kegiatan penapisan / screening terhadap kemungkinan infeksi Hepatitis B,


Hepatitis C dan HIV
○ Kegiatan screening dilakukan bertahap. Untuk sementara kegiatan
screening dilakukan pada pasien dengan resiko penularan infeksi tinggi,
seperti pasien dengan rencana operasi atau persalinan
○ Kegiatan screening dilakukan oleh paramedik menggunakan formulir
Penapisan Infeksi hematogen segera setelah pasien datang di UGD atau
di unit rawat jalan
○ Kriiteria yang dicari dalam screening antara lain :
Faktor Kondisi asal pasien : Pasien berasal / lama tinggal di
Indramayu, Papua, Luar negeri : Eropa, Emerika, Thailand, lama di
Rumah Tahanan/ Lembaga permasyarakatan
Faktor Pekerjaan : Pasien bekerja di tempat hiburan malam,
PSK, pasangan PSK, Waria, Anak Jalanan, Bekerja di Instansi
kesehatan, Laboratorium
Faktor Riwayat Penyakit : Pernah mengalami transfusi darah,
pernah sakit kuning, penyakit infeksi yang tidak sembuh2, penyakit TBC/
pneumonia luas dan berat
Faktor Budaya/ Kebiasaan : Berganti-ganti pasangan hidup/ pasangan
seksual, penyalah guna obat psikotropika, pengguna narkotika suntik,
peminum alkohol, Bertato , homoseksual, biseksual.
Faktor rencana pengobatan : Pasien rencana persalinan, pasien
rencana operasi dengan resiko perdarahan
○ Bila terdapat 3 atau lebih dari kriteria diatas maka sudah menjadi indikasi
untuk dilakukan screening

1. Kebijakan bagi penderita Hepatitis B dan atau Hepatitis C


○ Bila pasien rawat di diagnosa terinfeksi Hepatitis B dan atau Hepatitis C,
maka pada pasien dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai
indikasi medis
○ Penunggu pasien disarankan untuk memakai Handschoen non steril
yang disediakan RS bila kontak fisik dengan pasien. Handschoen
disimpan penunggu dan tidak boleh dipakai bergantian. Diganti setiap
hari dan dibuang di tempat sampah infeksius. Wajib cuci tangan setelah
kontak fisik dengan pasien.
○ Semua kegiatan medis dan Keperawatan terhadap pasien yang
dilakukan tenaga kesehatan RS wajib menggunakan handschoen dan
bila diperlukan Apron. Handschoen dibuang sebagai sampah infeksius.
Apron dekontaminasi,desinfeksi, sterilisasi
○ Bila penunggu pasien mengalami infeksi Hepatitis B atau C, sedangkan
pasien tidak, maka penunggu tersebut dilarang menunggui pasien di
ruang rawat inap tidak tinggal di lingkungan RS kecuali bersedia dirawat,
serta diminta untuk memeriksakan diri kepada dokter RS untuk
mendapat pengobatan
○ Bila Karyawan RS mengalami infeksi hepatitis B atau C , maka ia
diwajibkan memeriksakan diri kepada dokter RS untuk mendapatkan
pengobatan, serta di minta untuk mengundurkan diri sesuai ketentuan
perundangan yang berlaku .

1. Kebijakan bagi penderita HIV (+)


○ Bila pasien rawat jalan didiagnosa HIV (+) maka pasien dirujuk ke RS
Pemerintah
○ Bila pasien Rawat inap didiagnosa HIV (+), maka dirawat di Ruang
Rawat Isolasi
○ Penunggu pasien disarankan untuk memakai Handschoen non steril
yang disediakan RS bila kontak fisik dengan pasien. Handschoen
disimpan penunggu dan tidak boleh dipakai bergantian. Diganti setiap
hari dan dibuang di tempat sampah infeksius. Diwajibkan cuci tangan
setiap setelah kontak fisik dengan pasien.
○ Semua kegiatan medis dan Keperawatan terhadap pasien yang
dilakukan tenaga kesehatan RS wajib menggunakan handschoen dan
bila diperlukan Apron. Handschoen dibuang sebagai sampah infeksius.
Apron didesiinfeksi, dekontaminasi, sterilisasi
○ Penanganan materi lain seperti sampah, cairan tubuh, linen, sama
dengan penanganan pasien lain.

A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara enterogen


○ Bila pasien rawat di diagnosa mengalami diare, disentri, atau cholera maka
pada pasien dilakukan pemeriksan dan pengobatan sesuai indikasi medis
○ Membantu pasien BAB sesuai SOP , cuci tangan sesuai petunjuk hingga
bersih sesudah membantu BAB
○ Pengelolaan faeces dan atau muntahan sebagaimana petunjuk buku ini
○ Linen yang terkontaminasi faeces harus segera diganti, pengelolaan linen
kotor sesuai SOP
○ Pengelolaan makanan sesuai SOP
○ Menyuapi pasien sesuai SOP, cuci tangan sebelum dan sesudah menyuapi
○ Bila penunggu pasien mengalami diare, disentri atau cholera, maka ia
dilarang menunggui pasien di ruang rawat inap, diwajibkan segera
memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan
pengobatan bila perlu dirawat inap.
○ Bila Karyawan RS mengalami diare, disentri atau cholera,maka diwajibkan
segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuks segera mendapatkan
pengobatan. Bila perlu Cuti sakit, atau dirawat inap, Wajib mematuhi
ketentuan tentang cuci tangan.
○ Penggunaan toilet sebagaimana petunjuk buku ini.

A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara urogenik


○ Bila pasien rawat di diagnosa mengalami UTI maka pada pasien dilakukan
pemeriksan dan pengobatan sesuai indikasi medis
○ Membantu pasien BAK sesuai SOP , cuci tangan sesuai petunjuk hingga
bersih sesudah membantu BAK
○ Memasang Urine catheter sesuai SOP cuci tangan sesuai petunjuk
○ Pengelolaan urine sebagaimana petunjuk buku ini
○ Linen yang terkontaminasi urine harus segera diganti, pengelolaan linen
kotor sesuai SOP
○ Bila penunggu pasien mengalami UTI maka ia diwajibkan segera
memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan
pengobatan bila perlu dirawat inap.
○ Bila Karyawan RS mengalami UTI maka diwajibkan segera memeriksakan
diri kepada dokter RS untuk segera mendapatkan pengobatan. Bila perlu
Cuti sakit, atau dirawat inap.
○ Penggunaan toilet sebagaimana petunjuk buku ini.

A. Kebijakan tentang penderita penyakit menular secara kontak kulit


○ Selama dirawat di RSBL pasien hanya memakai pakaian dan linen yang
disediakan oleh RS, termasuk disini : Baju / celana, sarung, selimut, bantal,
dll
○ Bila pasien rawat di diagnosa mengalami Tinea, Herpes Zoster, Varicella, dll
maka pada pasien dilakukan pemeriksaan dan pengobatan sesuai indikasi
medis
○ Membantu pasien mengganti baju sesuai SOP , cuci tangan sesuai petunjuk
hingga bersih sesudah membantu mengganti pakaian
○ Pengelolaan urine sebagaimana petunjuk buku ini
○ Pasien dimandikan sesuai SOP
○ Pakaian harus diganti setiap hari
○ Pengelolaan linen kotor sesuai SOP
○ Bila penunggu pasien mengalami Tinea, Herpes zoster atau varicella maka
ia diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera
mendapatkan pengobatan bila perlu dirawat inap. Diberi penerangan untuk
selanjutnya sesuai petunjuk dokter.
○ Bila Karyawan RS mengalami Tinea, Herpes zoster, atau varicella dll maka
diwajibkan segera memeriksakan diri kepada dokter RS untuk segera
mendapatkan pengobatan. Bila perlu Cuti sakit, atau dirawat inap.

A. Kebijakan tentang isolasi Pasien


1. Standar Ruang Isolasi RSBL
○ Letak ruangan tidak di jalur lalu lintas kegiatan medis, tidak banyak
dilalui orang, tidak disediakan ruang berkumpul di depan ruangan
○ Pencahayaan sesuai standard
○ Dilengkapi kamar mandi / toilet
○ Dekat dengan ruang jaga paramedik

1. Pasien yang harus / perlu di rawat di ruang isolasi


○ Pasien yang berpotensi tinggi menularkan penyakit secara aerogen :
TBC batuk aktif, Pneumonia dengan batuk aktif
○ Pasien yang berpotensi menularkan penyakit berbahaya : HIV,
SARS, Hep B
○ Pasien dengan gaduh gelisah : Pasien dengan delirium, amok,
schizoprenia
○ Pasien yang berpotensi mengganggu kenyamanan pasien lain :
pasien dengan gangren , berbau busuk
○ Pasien dengan Tetanus
Rumah Sakit Pengendalian Infeksi dari Binatang

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN BINATANG DI RSBL

A. Pengendalian lalat
○ Secara fisik
Pengaturan pintu ruangan agar lebih sering tertutup
Mencegah penumpukan sampah domestik, Pengelolaan sesuai SOP
Mencegah kontaminasi benda lain oleh cairan tubuh pasien
Menjaga agar makanan selalu dalam keadaan tetutup
Merawat luka dengan baik
Sanitasi toilet yang baik
○ Secara kimia
Penggunaan Pestisida spray
○ Cara lain
Penggunaan fly paper, Fly stick
Penggunaan lampu anti lalat

A. Pengendalian Nyamuk
○ Secara Fisik
Penggunaan Kawat kasa pada lubang jendela
Pengaturan pintu yang lebih sering tertutup
Pencegahan penumpukan linen dalam ruangan
Pengaturan hygiene pasien dan penunggu pasien
Penggunaan kelambu bagi pasien
Pengurasan tempat penampungan air
○ Secara Kimia
Penggunaan pestisida spray
Pemberantasan sarang nyamuk / penggunaan bubuk abate
Bekerjasama dengan PKM setempat dalam rangka PSN
○ Cara Lain
Penggunaan lampu anti nyamuk

A. Pengendalian Tikus
○ Secara Fisik
Menutup semua lubang pada dinding
Pencegahan penumpukan sampah domestik
Pengaturan penyimpanan makanan
Sanitasi ruangan yang baik
○ Secara Kimia
Memakai racun tikus
○ Cara lain
Penggunaan Paper stick
Penggunaan perangkap tikus
A. Pengendalian hewan lain
Pengendalian Kucing
○ Menutup semua lubang pada dinding
○ Pencegahan penumpukan sampah domestik
○ Pengaturan penyimpanan makanan
○ Menangkap dan membuang kucing
Rumah Sakit Pengendalian Infeksi dari Inanimate/Benda mati

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN SUMBER INFEKSI INANIMATE

A. Kebijakan tentang Pengendalian Sampah

1. Sampah Rumah sakit adalah bahan yang tidak berguna lagi, tidak digunakan,
ataupun bahan yang dibuang
2. Sampah RSBL dibedakan menurut potensi infeksinya :
• Sampah Domestik dibedakan sesuai kemudahan pembakarannya
○ Sampah domestik kering/non organik yaitu sampah yang berasal
dari benda mati biasanya berasal dari kegiatan sehari-hari RS
seperti kertas, plastik, kotak minuman, kardus, dll
○ Sampah domestik basah /organik : yaitu sampah yang berasal dari
benda hidup / yang dapat membusuk seperti sisa makanan, daun,
buah, kulit buah, rumput dll
• Sampah Infeksius
○ Sampah Infeksius adalah semua sampah dari hasil kegiatan
perawatan dan pengobatan pasien, baik yang kontak langsung
dengan tubuh pasien atau cairan tubuh pasien ataupun tidak kontak
langsung, seperti, tabung syringe, botol infus, catheter urine, urine
bag, NGT , Verband,dll
• Sampah Radioaktif
○ Sampah radioaktif adalah sampah yang dihasilkan dari hasil
kegiatan radiologi
• Sampah Sitotoksik
○ Sampah Sitotoksik adalah sampah yang termasuk bahan beracun
berbahaya terutama jika kontak dengan tubuh seperti formalin, dll
• Benda tajam
○ Benda tajam adalah sampah yang berbentuk tajam yang biasanya
dipakai untuk tindakan invasif kepada pasien seperti jarum suntik,
jarum IV catheter, Jarum Spinal, Jarum Jahit bedah bisturi dll

1. Standard Tempat sampah di RS Budi Luhur

• Tempat sampah berbentuk tabung meninggi dilengkapi tutup yang


memudahkan kita membuang sampah ke dalamnya tanpa mengotori
tangan, sebagian dilengkapi dengan Kenop pembuka yang digerakkan
dengan cara menginjaknya.
• Tempat sampah terbuat dari plastik yang kuat, warna tidak diitentukan,
bagian dalamnya rata / kicin , tidak bertekstur yang dapat menambah
kemingkinan menempelnya kotoran.
• Tempat sampah ada beberapa ukuran :
Ukuran kecil untuk disediakan di setiap wastafel dan pada trolley perawatan
Ukuran sedang untuk disediakan di dalam tiap ruangan rawat inap dan unit
– unit pelayanan
Ukuran besar untuk disediakan di beberapa tempat di koridor, dan
lingkungan RS serta di ruang verbedding.
• Tempat sampah di wastafel terdiri dari tempat sampah domestik
Tempat sampah di ruangan-ruangan rawat inap dan unit-unit pelayanan
terdiri dari tempat sampah domestik dan tempat sampah infeksius
Tempat sampah di koridor dan lingkungan RS terdiri dari Tempat sampah
domestik
Tempat sampah di ruang verbedding terdiri dari tempat sampah domestik,
tempat sampah infeksius ,tempat sampah cytotoksik, dan kotak
penampung benda tajam
Tempat sampah di bagian radiologi terdiri dari tempat sampah domestik
dan tempat sampah radioaktif
• Tempat sampah domestik terdiri dari 2 tempat sampah : Tempat sampah
kering/anorganik dan tempat sampah basah/organik
• Bagian dalam tempat sampah dilengkapi dengan Kantung sampah
sedemikian rupa sehingga sampah yang dibuang kedalam tempat sampah
tersebut ditampung dengan baik oleh kantung sampah tersebut.
Kantung sampah untuk tempat sampah domestik berwarna hitam
Kantung sampah untuk tempat sampah infeksius berwarna Putih
Kantung sampah untuk tempat sampah radioaktif berwarna merah
Kantung sampah untuk tempat sampah cytotoksik berwarna Biru
Namun demikian pemakaian warna yang seragam / hitam, masih
diperbolehkan mengingat keterbatasan logistik
• Diberi petunjuk yang jelas pada tempat sampah mengenai nama tempat
sampah dan jenis sampah yang ditampungnya.
• Tempat penampungan benda tajam terbuat dari bahan plastik atau kardus
yang tahan tusukan

1. Tempat pengumpulan sampah sementara


• Tempat pengumpulan sampah infeksius sementara bertempat di ruang
verbedding.
• Tempat pengumpulan sampah domestik sementara bertempat di area
tungku pembakaran

1. Tempat pengolahan sampah akhir


• Tungku pembakaran
Lokasi : Halaman belakang RSBL
Fungsi/peruntukan : Pembakaran sampah domestik
Spesifikasi
Ukuran : 5 x 1 meter
Komposisi : beton
Bagian
Cerobong : Beton, tinggi 3 m
Bagian atas : Untuk pembakaran sampah domestik basah
Bagian bawah : Untuk pembakaran sampah kering

• Incinerator
Merk : Tesena Model TSN 9605IC
Kapasitas : 0,5m3/jam atau 70kg/jam
Temperatur maksimum : 1200oC
Burner : 1 buah
Blower : 1 buah
Dimensi : 250 cm X155cmX255cm
Cerobong : 6m
Daya Listrik : 220V/1500Watt 50Hz
Tangki Bahan Bakar : 60 liter solar

1. Prosedur Pengumpulan sampah di RSBL

a. Sampah di masukkan ke dalam tempat sampah sesuai jenisnya :


Sampah domestik dimasukkan ke dalam tempat sampah domestik berisi
kantung sampah berwarna hitam
Sampah infeksius dimasukkan ke dalam tempat sampah infeksius berisi
Kantung sampah berwarna Kuning
Sampah radioaktif , beracun / berbahaya dimasukkan ke dalam tempat sampah
radioaktif berisi Kantung sampah berwarna merah
Sampah cytotoksik dimasukkan ke dalam tempat sampah cytotoksik berisi
kantung sampah berwarna Ungu
Benda tajam dimasukkan kedalam tempat tahan tusukkan. Selalu memegang
benda tajam menggunakan alat seperti pinset,needle holder atau klem.
b. Petugas Bagian Pemeliharaan Berkeliling memeriksa seluruh kantung sampah
di RSBL setiap pagi sesuai jadwal kerjanya, sambil membawa trolley sampah
• Kantung sampah domestik yang sudah penuh 2/3 nya diambil dan
diganti dengan kantung baru yang sama warnanya. Atau kantung yang
sudah berbau busuk dan atau mengundang lalat diambil dan diganti
dengan yang baru.
• Kantung sampah infeksius setiap hari diganti dengan yang baru. Tidak
boleh ada penumpukan sampah infeksius di ruangan2. Beritahukan
kepada pasien dan keluarganya bahwa sampah akan diambil.
• Sampah radioaktif dikelola oleh petugas radiologi /lab/ farmasi
• Sampah cytotoksik dikelola oleh paramedik dan atau petugas lab
• Benda tajam dikelola oleh paramedik.

a. Sampah dikumpulkan di tempat penyimpanan sementara


• Sampah domestik dibakar setiap hari di tungku pembakaran
• Sampah infeksius dikumpulkan di ruang verbedding hingga penuh 2/3
kantung sampah besar. Bila sudah penuh 2/3nya. Kantung sampah
diambil dan diganti yang baru. Kantung sampah dikirim ke bagian
incinerator.
• Sampah radioaktif selanjutnya dikemas dan diangkut sesuai dengan
ketentuan dan peraturan yang berlaku, diserahkan ke BATAN untuk
penanganan lebih lanjut
• Sampah cytotoksik bila sudah penuh 2/3 dikirim ke bagian incinerator
• Sampah benda tajam dikumpulkan dalam wadah tahan tusukan hingga
penuh 2/3nya. Setelah itu dikirim ke bagian incinerator.
• Semua tempat penyimpanan sementara dibersihkan dan didesinfeksi
setiap kali dikosongkan

1. Prosedur pembakaran sampah domestik di Tungku Pembakaran


• Petugas pemeliharaan menyiapkan tungku pembakaran. Bersihkan dari
sisa2 pembakaran
• Masukkan kantung sampah domestik kering ke bagian bawah tungku.
• Dengan bantuan minyak tanah atau solar maka sampah kering dibakar
• Setelah api menyala cukup besar , masukkan kantung sampah
domestik basah ke bagian atas tungku
• Pelihara api menyala sampai semua sampah terbakar habis.
• Tunggu sampai api benar-benar padam, bila perlu dibantu dengan air
• Tutup pintu tungku rapat2

1. Prosedur pembakaran sampah di Incenerator


• Pelaksana pembakaran incinerator adalah petugas bagian pemeliharaan
yang sudah terlatih dan sudah mendapat sertifikat pelatihan
penggunaan Incinerator.
• Buat berita acara pembakaran sampah dalam buku catatan dimana
tercantum tanggal, jumlah sampah, berat, asal sampah, jenis sampah,
pelaksana pembakaran
• Secara teknis pembakaran tidak dilakukan sampai sampah yang
terkumpul sudah cukup banyak / mendekati 70 kg
• Bila belum mencapai berat / jumlah sampah yang cukup, maka sampah
yang terdapat dalam kantung2, disimpan di bagian penyimpanan
sementara.
• Mulai pembakaran :
○ Pelaksana pembakaran incinerator adalah petugas bagian
pemeliharaan yang sudah terlatih dan sudah mendapat sertifikat
pelatihan penggunaan Incinerator.
○ Periksa Ruang pembakaran, bersihkan dari sisa2 pembakaran.
Periksa ulang kondisi stop kontak, tangki bahan bakar dan
kompresor
○ Masukkan kantung2 sampah kedalam ruang pembakaran
○ Tutup pintu ruang pembakaran, kunci dengan kuat
○ Isi tangki bahan bakar dengan Solar kurang lebih 20 L
○ Hubungkan aliran listrik dengan stop kontak incinerator. Pindahkan
Saklar pada posisi ON
○ Putar Timer yang diinginkan sesuaikan dengan jumlah sampah
yang akan dibakar. Maksimal waktu pembakaran adalah 2 jam.
Standard waktu pembakaran adalah 1 jam untuk sampah 70 kg.
○ Tekan tombol pengatur diluar ruangan yang mengacu pada
sampah yang akan dibakar, Lampu Indikator Burner 1 akan
menyala
○ Tekan tombol pengatur suhu didalam ruangan yang dikehendaki,
lampu Burner 2 akan menyala. Suhu standard untuk pembakaran
sampah infeksius adalah 1000oC
○ Incinerator akan bekerja secara otomatis dan mesin akan berhenti
bekerja dengan sendirinya.
○ Tunggu sampai incinerator dingin, periksa ulang ruang pembakaran,
kondisi tangki, kompresor, stop kontak,kabel2 dll

1. Pengolahan sampah organik dengan pembuatan kompos


• Saat ini sedang dipelajari tentang bagaimana mengolah sampah organik
menjadi kompos. Diharapkan, dapat terlaksana sistem Zero Waste
production, dimana sampah non organik habis dibakar di tungku
pembakaran, sampah organik dibuat kompos, serta sampah infeksius habis
dibakar di incinerator
1. Skema Pengolahan sampah :
R. MedRec/
Administrasi Tempat
/ Sampah Domestik / Kantung Plastik Warna Hitam TPA
TPS Tungk
Kantor
u RS
Dapur / Kantin
TPA
Umum
R. Perawatan /
Watsus
Tempat Sampah Infeksius / Kantung Plastik Warna Kuning

INCINERAT
R. Poliklinik / UGD

TPS

OR
R. Operasi / Tempat Sampah Cytotoksik / Kantung Plastik Warna Ungu
R.Bersalin

Laboratorium

Farmasi
Tempat Sampah Bahan Beracun Berbahaya / Kantung Plastik Warna Merah

BATAN
TPS
Laundry dll

Radiologi

A. Kebijakan tantang Pengendalian Limbah


1. Pengertian Limbah adalah air buangan dan tinja yang berasal dari Rumah sakit yang
kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun, dan radioaktif
yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan
2. Limbah menurut asalnya dapat dibedakan menjadi 2 macam :
• Limbah yang berasal dari tubuh manusia : Urine, faeces, darah, muntahan,
secreta (dahak, ingus,pus)
• Limbah yang berasal dari kegiatan medis : cairan chlorine, larutan savlon,
larutan antiseptik, desinfektan, sisa obat cair, dll
• Limbah yang berasal dari kegiatan sehari-hari : air mandi, cucian piring, dll
• Limbah air hujan
1. Menurut pengelolaannya, dibedakan menjadi :
• Limbah yang masuk saluran air dan dikelola melalui Unit Pengolahan Limbah
(UPL)
• Limbah yang dikelola dalam septic tank : Faeces
• Limbah air hujan melalui saluran drainase

1. Standard saluran air limbah menuju UPL RSBL :


• Merupakan saluran - saluran yang mengarah pada satu tempat,yaitu UPL
• Merupakan saluran tertutup semi permanen, terbuat dari Pipa Paralon
berkualitas baik. Saluran yang terdapat di luar tanah diberi warna merah
• Terdapat bak-bak kontrol di tempat2 tertentu

1. Standard Ruang Toilet / Kamar mandi RSBL


• Terdapat di semua ruang rawat inap dan unit pelayanan RSBL
• Menurut pemakainya, dibagi atas :
○ Toilet ruangan rawat inap, diperuntukkan bagi pasien dan penunggu
pasien
○ Toilet pengunjung, diperuntukkan bagi pengunjung, terbagi atas toilet
pria dan wanita
○ Toilet Karyawan diperuntukkan bagi karyawan RS
• Luas ruangan disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas lahan
• Lantai terbuat dari keramik, dan tidak licin
• Jamban duduk terbuat dari keramik dilengkapi reservoar air minimal 5 L dan
siphon penahan bau
• Jamban jongkok terbuat dari keramik dilengkapii siphon penahan bau
• Pembuangan air dilengkapi sipon penahan bau
• Tersedia bak mandi atau shower sesuai kebutuhan
• Lubang udara berhubungan dengan ruang bebas
• Terdapat tanda peringatan untuk menjaga kebersihan, dan penghematan air

1. Standard Spoolhoek RSBL


• Bukan tempat cuci tangan
• Terdapat di unit pelayanan UGD, Poliklinik, OK, VK, HCU, Verbedding, Dapur
• Terbuat dari Stainless steel, dilengkapi tutup lubang, dan siphon
• Tersedia air bersih dengan keran yang mudah dibuka tutup dan tidak
berkarat
• Tersedia tanda peringatan bukan tempat cuci tangan

1. Standard saluran faeces


• Toilet duduk dilengkapi reservoar air minimal 5 L dan siphon penahan bau
• Toilet jongkok dengan siphon penahan bau
• Pipa Paralon dibawah tanah diameter minimal 3 Inch

1. Standard Septic Tank RSBL


• Komposisi semen, pasir dan Batu bata.
• Terdiri dari 2 ruangan penampung feces dan 1 reservoar air yang terhubung
dengan saluran limbah menuju UPL, 1 lubang udara yang menuju lahan
terbuka
• Dimensi tergantung kapasitas ruangan dan perkiraan pemakai toilet
• Kapasitas tergantung dimensi septic tank

1. Standard Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)RSBL

• IPAL berfungsi mengolah limbah cair non tinja sebelum dibuang ke badan air
lingkungan
• Lokasi IPAL berada di blok / area pengolahan limbah ( lihat denah master
plan / site plan)
• IPAL terdiri dari :
○ Bak Pengumpul ( slump well ) : berfungsi untuk menampung limbah
cair dari seluruh kegiatan RS sebelum diolah pada unit selanjutnya.
Pada bak ini akan terendap partikel2 kasar dan mudah mengendap.
Bak pengumpul terdiri dari beberapa bak, dimana inlet dan outlet
sama tingginya.
○ Bak Sedimentasi awal : berfungsi untuk mengendapkan partikel2
kasar yang belum terendapkan di bak pengumpul. Pada bak ini
diberikan koagulan untuk menambah sedimentasi. Bahan koagulan
yang digunakan akan ditentukan kemudian.
○ Bak Filtrasi : Berfungsi menyaring partikel halus yang mungkin lolos
dari bak pengendap. Jenis Filtrasi yang digunakan adalah Slow sand
filter. Bahan yang digunakan untuk filter adalah Pasir silika, kwarsa,
kalsit, magnetit, kerikil, dan arang.
○ Bak Aerasi : Berfungsi mensuplai oksigen dan juga penambahan
tawas sehingga tercampur secara homogen antara limbah cair
dengan air dan bahan kimia sehingga memudahkan untuk
diendapkan. Diharapkan bisa menghilangkan gas yang tidak
diinginkan dalam air serta menghilangkan kotoran seperti Fe, Mn,
rasa dan bau. Permberian oksigen dilakukan dengan menggunakan
blower selama beberapa jam. Dilakukan pada siang hari sehingga
diharapkan suhu air meningkat, dan bak aerasi dibuat lebih luas.
○ Bak Klorinasi : Berfungsi membunuh kuman patogen, oksidasi Fe dan
Mn, menghilangkan rasa dan bau, menghilangkan warna, mengontrol
lumut. Bahan yang digunakan adalah chlorine.
○ Bak penampung akhir / Bak resapan : Berfungsi menampung limbah
cair yang terolah dan meresapkan ke media tanah sebagai media
akhir.
○ Bak Resapan dapat digantikan dengan Clear well ( kolam terbuka)
sengan indikator pemeliharaan ikan, kemudian air dialirkan ke badan
air ke saluran kota, sehingga air libah RS bergabung dengan limbah
lainnya dan limbah rumah tangga warga sekitar.

• Proses pengolahan melalui IPAL dilakukan setiap hari


• Pengolahan melalui IPAL dilaksanakan oleh petugas pemeliharaan yang
sudah dilatih secara internal.

1. Prosedur Pembuangan limbah:


• Faeces dari pasien/penunggu/pengunjung/karyawan sendiri dalam toilet
diguyur air yang banyak, minimal 5 L, hingga faeces benar-benar masuk
seluruhnya dan tidak timbul lagi
• Faeces dari pasien dalam pispot dialirkan dengan air kedalam toilet
kemudian diguyur air yang banyak, minimal 5 L, hingga faeces benar-benar
masuk seluruhnya dan tidak timbul lagi. Pispot dibersihkan diatas Spoolhoek
hingga bersih. Petugas cuci tangan dengan sabun antiseptik.
• Urine dari pasien/penunggu/pengunjung/karyawan sendiri dalam toilet
diguyur air yang banyak, minimal 2 L, hingga urine benar-benar masuk
seluruhnya dan tidak berbau/berwarna. Guyur sekitar toilet untuk
membersihkan cipratan di lantai.
• Urine dari pasien dalam Urinal dialirkan dengan air kedalam toilet kemudian
diguyur air yang banyak, minimal 2 L, hingga Urine benar-benar masuk
seluruhnya dan tidak berbau/berwarna. Urinal dibersihkan diatas Spoolhoek
hingga bersih. Petugas cuci tangan dengan sabun antiseptik
• Cairan tubuh : Darah, cairan ascites, cairan pleura, pus, secreta, dahak,
ingus, muntahan, dibuang ke dalam spoelhoek, diguyur air yang banyak.
Cuci tangan dengan sabun antiseptik di wastafel.
• Sisa obat cair / infus dibuang melalui spoolhoek, diguyur air.

1. Skema Pengolahan Limbah

Kamar Operasi SUMBER AIR


PDAM / SUMUR
RESERVOIR POMPA
Kamar Bersalin RESERVOIR

Poliklinik
SUMBER AIR
PDAM /
SUMUR
UGD KAMAR MANDI /
POMPA
WC

Dapur LAIN - LAIN

Laundry DRAINASE

Verbedding
SEPTIC TANK

Ruang Perawatan
/ wastafel /
spoolhoek

Laboratorium

IPAL
Radiologi

BIDANG RESAPAN /
CLEAR WELL

BATAN
BADAN AIR
2. Diagram alir IPAL RSBL

Bak kontrol Sumber


Limbah
Cair
Sedimenta
si 1

Koagulasi /
flokulasi

Sedimenta
si 2

Aerasi Blower

Filtrasi

Netralisasi

Klorinasi Clear Well

Badan Air

A. Kebijakan tentang Pengendalian Permukaan


1. Pengertian permukaan : Seluruh permukaan dari Sarana/ Prasarana/
peralatan yang potensial menampung droplet dan mikroorganisme dan banyak
berhubungan dengan pasien/penunggu/karyawan/pengunjung.
2. Ruang lingkup Permukaan : Permukaan Kaca, permukaan meja makanan,
permukaan meja kerja, permukaan bedside cabinet, permukaan trolley, permukaan
lantai, permukaan peralatan / instrumen
3. Prosedur pengendalian permukaan :
• Permukaan Lantai :
○ Petugas Pelaksana adalah petugas bagian pemeliharaan dibantu
karyawan lainnya. Pada dasarnya seluruh karyawan RSBL
bertanggung jawab atas kebersihan ruangan yang menjadi tanggung
jawabnya.
○ Jadwal mengepel lantai : setiap hari , dua kali sehari, pagi dan sore
○ Ruang lingkup : seluruh lantai di seluruh ruangan RSBL dengan
Prioritas : Ruang rawat inap, Koridor, Poliklinik, UGD, Toilet/ Kamar
mandi
○ Air pembersih adalah air bersih ditambah larutan pembersih yang
bersifat antiseptik atau dicampur Kaporit sesuai petunjuk desinfeksi
pada bab III (larutan chlorine 0,5%)
○ Prosedur :
Kain Pel bersih dicelupkan ke dalam ember berisi air pembersih
Kain Pel di peras secukupnya
Dengan menggunakan tongkat pel kain pel diusapkan merata pada
lantai sambil digosokkan bila ada noda kotor
Kain pel dicelupkan ke dalam ember untuk dibilas dan diperas
Kain Pel kembali diusapkan ke lantai demikian seterusnya sampai
seluruh lantai dibersihkan atau sampai air dalam ember keruh hingga
tidak bisa membilas kain pel lagi.
Bila sudah selesai, air sisa dalam ember dibuang melalui spoolhoek di
ruang verbedding atau ruang pemeliharaan, kain pel dicuci diatas
spoolhoek.
Pelaksana memakai sarung tangan karet dan cuci tangan di wastafel
○ Peralatan di simpan di ruang pemeliharaan / verbedding
• Permukaan lain :
○ Petugas Pelaksana adalah petugas bagian pemeliharaan dibantu
karyawan lainnya. Pada dasarnya seluruh karyawan RSBL
bertanggung jawab atas kebersihan ruangan yang menjadi tanggung
jawabnya.
○ Persiapkan larutan Chlorine 0,5 % dan lap bersih. Petugas memakai
hand gloves karet rumah tangga /non steril
○ Setelah permukaan disiapkan dari benda2 diatasnya, maka lap
bersih dicelupkan kedalam larutan chlorine 0,5% kemudian diperas.
Secukupnya.
○ Usapkan lap tersebut ke permukaan secara merata.
○ Bilas lap dalam larutan tersebut dan peras lagi sehingga lap bisa
digunakan kembali.
○ Bila sudah selesai, air sisa dibuang lewat spoolhoek. Kain lap
dibersihkan di atas spoel hoek. Sarung tangan dibersihkan diatas
spoolhoek.
○ Peralatan disimpan di ruang pemeliharaan
○ Petugas cuci tangan diatas wastafel.

A. Kebijakan tentang Pengendalian Linen


1. Pengertian Linen adalah segala jenis aset RS yang terbuat dari kain
2. Secara umum Linen terdiri atas :
• Linen Kelengkapan pakaian
• Linen Kelengkapan Tempat tidur
• Linen Pelengkap ruangan
• Linen Kelengkapan tindakan

Linen Kelengkapan Pakaian terdiri dari :


• Baju Pasien dewasa pria
• Baju pasien dewasa wanita
• Baju Pasien anak
• Sarung
• Pakaian Pelindung
• Pakaian khusus ruang OK pria
• Pakaian khusus ruang OK wanita
• Masker kain
• Head cap kain

Linen Kelengkapan tempat tidur terdiri dari :


• Seprai putih
• Seprai warna
• Selimut tipis bergaris
• Selimut tebal warna
• Laken
• Handuk alas kepala
• Sarung bantal
• Sarung guling

Linen Kelengkapan Ruangan terdiri dari :


• Gordyn jendela tipis
• Gordyn jendela tebal pendek
• Gordyn Jendela tebal panjang
• Gordyn penyekat
Linen Kelengkapan tindakan terdiri dari :
• Pakaian Operasi
• Apron
• Duk kecil
• Duk sedang
• Duk Besar
• Duk Bolong kecil
• Duk bolong sedang
• Duk Bolong besar

1. Dilihat dari potensi infeksinya, Linen dibagi dalam tiga kategori :


• Linen Non Infeksius
Yaitu Semua linen yang tidak berhubungan langsung dengan tubuh pasien
dan tidak terkontaminasi oleh cairan tubuh pasien
Contoh : Gordyn, tirai,kelambu, taplak meja, (yg tidak kontak dg tubuh atau
cairan tubuh pasien )

• Linen Infeksius non kontaminasi


Yaitu Linen yang berhubungan langsung dengan tubuh pasien namun tidak
terkontaminasi cairan tubuh pasien
Contoh : Pakaian pasien, selimut, seprai,sarung, dll yang tidak terkena
cairan tubuh pasien

• Linen Infeksius Terkontaminasi


Yaitu Linen yang langsung berhubungan dengan tubuh pasien ataupun tidak,
yang terkontaminasi cairan tubuh pasien
Contih : Duk, jas operasi, atau linen lain yang terkontaminasi cairan tubuh
pasien (darah, urine, muntahan, sputum, faeces, dll)

• Khusus untuk pasien dengan Hepatitis B , Hepatitis C dan atau HIV, maka
semua linen infeksius dianggap terkontaminasi.

1. Standard Ruang penyimpanan Linen


• Ruang penyimpanan Linen merupakan ruangan penyimpanan barang-barang
milik RS yang terbuat dari kain yang tidak sedang dipakai / didistribusikan ke
ruangan-ruangan.
• Lokasi berdekatan dengan ruang laundry dan ruang penyetrikaan /
perbaikan/ packing.
• Luas Ruangan disesuaikan denga kebutuhan. Merupakan suatu ruangan
tertutup, dengan ventilasi dan pencahayaan yang cukup.
• Dibuat aman terhadap hewan tikus, ngengat, nyamuk, laba-laba.
• Terdapat lemari rak dilengkapi pintu – pintu yang selalu tertutup

1. Standard Fasilitas Laundry RSBL

A. Standard Prasarana / Ruangan Laundry RSBL


• Lokasi ruangan laundry bisa dijangkau oleh unit lain dengan mudah ( sesuai
dg masterplan RS ) , Tidak berdekatan dengan ruangan rawat inap pasien,
dan tidak dijalan lintas.
• Lantai terbuat dari plester yang kuat, rata, tidak licin, dan kemiringan
memadai
• Tersedia saluran pembuangan air kotor sistem tertutup, dengan ukuran,
bahan, dan kemiringan yang memadai
• Tersedia Ruangan / area penirisan / pengeringan linen yang baru dicuci
• Tersedia ruangan – ruangan :
○ Ruang Linen kotor
○ Ruang linen bersih
○ Toilet
○ Gudang untuk menyimpan alat2 laundry dan alat kebersihan
• Pintu masuk ruang laundry untuk linen kotor berbeda dengan pintu keluar
linen yang bersih. Ada jalur transport tertentu agar linen bersih tidak terinfeksi
lagi linen kotor
A. Standard sarana Laundry RSBL
• Tersedia Kran air bersih dengan kualitas dan tekanan yang cukup
• Tersedia pencahayaan yang cukup ±200 Lux
• Tersedia alat-alat kebersihan
• Tersedia jalur listrik yang aman dari cipratan air
• Tersedia wastafel
A. Standard Peralatan dan Obat-obatan di Unit Laundry RSBL
• Tersedia mesin cuci yang dapat mencuci berbagai jenis linen
• Tersedia bahan 2 yang diperlukan untuk melakukan Proses Dekontaminasi,
desinfeksi dan Pencucian biasa sebagaimana yang dijelaskan pada Bab II
• Tersedia sikat dan pengaduk cucian
A. Standard Sumber daya manusia di unit Laundry RSBL
• Petugas bagian pemeliharaan yang sudah dilatih secara internal tentang
pengelolaan linen

1. Standard Pengelolaan Linen Kotor di RSBL

A. Pengumpulan Linen Kotor


• Linen kotor segera diambil dan dimasukkan kedalam wadah / ember besar
bertutup . Jangan dibiasakan menaruh linen kotor di lantai.
• Wadah linen kotor dibedakan sesuai jenis linen menurut potensi infeksiusnya
: Linen infeksius disimpan pada ember khusus linen infeksius. Sedangkan
linen non infeksius disimpan pada embernya sendiri.
• Contoh : Pasca operasi, semua duk yang terkena darah dimasukkan ke
ember khusus jangan ditaruh dilantai. Segera buka jas operator/asisten /
instrumenter dan segera masukkan ke ember . Disediakan ember di ruang
ganti baju. Baju OK dimasukan ke ember di ruang ganti baju.
• Tutup ember dengan baik. Usahakan linen tidak ada yang menyembul
keluar. Segera transport ke bagian laundry. Dengan trollry khusus.
• INGAT ! selalu gunakan pelindung tangan / handschoen setiap memegang
linen terkontaminasi. Selalu mencuci tangan sesudah menyentuh linen
terkontaminasi.

A. Transport Linen kotor dalam ember tertutup menggunakan trolley khusus dengan
jalur yang sudah ditentukan, langsung ke ruang laundry. Jangan berhenti atau
mampir ke mana-mana.

B. Masuk ke ruang laundry melalui pintu masuk linen kotor. Taruhlah ember tertutup
pada ruangan linen kotor. Lakukan serah terima dengan petugas laundry.

C. Petugas laundry mempelajari linen yang terkumpul. Selalu memisahkan linen


non infeksius, dan linen infeksius. Hitunglah jumlah linen seluruhnya yang akan
dicuci. INGAT Selalu memakai APP standard ruangan laundry.

D. Perhatikan bagan sbb :

SKEMA ALUR PENGELOLAAN LINEN KOTOR

LINEN KOTOR
Linen Non Linen
Infeksius Potential
Infeksius

DEKONTAMINAS
I

DESINFEKSI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN , PERBAIKAN, PENYETRIKAAN, PACKING

Linen Non Tindakan Linen Tindakan

STERILISASI DI
PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN
E. Penjelasan mengenai proses dekontaminasi, desinfeksi dan sterilisasi, dijelaskan
pada Bab II.
F. Proses dekontaminasi, desinfeksi, pencucian biasa dilakukan di ruang laundry
dalam bak-bak cuci yang tersedia. Sterilisasi dilakukan di Pusat Sterilisasi RSBL.
G. Pada pelaksanaannya, Petugas laundry bertugas hingga ke proses pengeringan.
Proses Perbaikan, Penyetrikaan, Packing dilakukan bersama-sama antara
Paramedik , Pembantu Paramedik dan petugas Laundry. Proses Sterilisasi
Dilakukan oleh Paramedik. Distribusi dilakukan oleh Masing masing Kepala
Ruangan, dengan sepengetahuan kepala unit Linen, melalui buku distribusi.
Penyimpanan dilaksanakan di ruang penyimpanan Linen oleh Kepala unit Linen.

Rumah Sakit Pengendalian Sumber Infeksi Lingkungan

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN LINGKUNGAN

A. Kebijakan tentang Ruangan dan Bangunan

1. Lingkungan , ruang dan bangunan RS harus selalu dalam keadaan


bersih, mudah dibersihkan, dan tersedia fasilitas sanitasi yang
memenuhi persyaratan kesehatan
2. Lingkungan , ruang danbangunan Rumah sakit tidak memungkinkan
sebagai tempat bersarang dan berkembangbiaknya serangga,
binatang pengerat dan binatang pengganggu lainnnya.
3. Bangunan RS harus kuat , utuh, terpelihara, mudah dibersihkan,
dan dapat mencegah penularan penyakit serta kecelakaan
4. Tata ruang dan penggunaannya harus sesuai dengan fungsinya,
serta memenuhi persyaratan kesehatan.
5. Konstruksi :
• Lantai
○ Lantai terbuat dari bahan yang kuat, yang kedap air,
permukaan rata, tidak licin dan mudah dibersihkan
○ Lantai yang selalu kontak dengan air, kemiringannya
harus cukup ke arah saluran limbah / drainase
○ Lantai harus selalu bersih, dibersihkan 2 x sehari,
tingkat kebersihan memenuhi syarat

• Dinding
○ Permukaan dinding harus rata, berwarna terang, dicat
tembok, dan mudah dibersihkan
○ Permukaan dinding yang selalu terkena percikan air
harus dilapisi bahan yang kuat dan kedap air

• Ventilasi
○ Ventilasi dapat menjamin peredaran udaradi dalam
kamar dengan baik
○ Tersedia lubang udara yang cukup dan dibersihkan
secara berkala
○ Dapat dilengkapi Exhauster Fan, Kipas angin dan atau
AC

• Atap
○ Atap harus kuat, dan tidak menjadi tempat perindukan
serangga dan tikus atau binatang lainnya.
○ Kerangka atap perlu diresidu dulu agar tahan terhadap
rayap.
○ Pemeriksaan secara berkala terhadap kemungkinan
kebocoran

• Langit-langit
○ Kuat, berwarna terang dan mudah dibersihkan
○ Tinggi minimal 2,5 m dari lantai
○ Kerangka kayu dibuat anti rayap

• Pintu
○ Pintu harus kuat, dapat mencegah masuknya serangga ,
tikus dan binatang pengganggu lainnya.
○ Menggunakan cat anti rayap
○ Dilengkapi shutter otomatis
○ Dibuat sedemikian rupa sehingga pembukaan pintu
dapat diminalisir, misalnya dengan membagi pintu
menjadi 2 bagian, 1 bagian cukup untuk dilewati 1
orang saja. Bagian lain lebar, dibuka jika ada bed atau
trolley yang melewati.
○ Tersedia lubang kaca sehingga paramedik dapat
mengawasi ruangan tanpa harus selalu membuka pintu.

• Instalasi
○ Pemasangan jaringan instalasi air bersih, air limbah,
listrik, Oksigen, Suction, sistem penghawaan, sarana
komunikasi dll harus rapi, aman dan terlindung.
1. Perbandingan jumlah tempat tidur dan dengan luas lantai untuk
ruang perawatan :
Ruang bayi
• Ruang perawatan minimal 2m2 per Bed
• Ruang isolasi minimal 3 m2 per bed
Ruang dewasa
• Ruang perawatan minimal 4,5m2 per bed
• Ruang isolasi minimal 6 m2 per bed

A. Kebijakan tentang pengendalian Udara


• Pengendalian udara indoor
○ Disiplin melaksanakan prosedur pengendalian
penularan infeksi dari penderita penyakit yang menular
secara aerogen.
○ Isolasi pasien yang potensial tinggi mencemarkan udara
dengan penyakit yang dideritanya.
○ Isolasi pasien dengan penyakit yang menimbulkan bau
tak sedap.
○ Pembersihan Ruangan dilakukan rutin sehari dua kali,
pagi dan sore.
○ Pembersihan lantai ruangan perawatan dilakukan
setelah jam makan, jam kunjungan, atau segera bila
diperlukan.
○ Menghindari pembersihan ruangan yang menimbulkan
debu, terutama bila dalam ruangan masih ada pasien
yang menginap.
○ Lubang angin disediakan agar menjamin penggantian
udara. Luas lubang angin minimal 10% luas lantai.
Dilengkapi kawat kasa. Dibersihkan secara berkala.
○ Pada ruangan yang kekurangan lubang angin
disediakan exhaust fan.
○ Udara di dalam Ruang Operasi, Ruang Bersalin dan
High Care Unit dibuat sedemikian rupa sehingga selalu
berada dalam tekanan positip saat digunakan, dengan
cara menggunakan AC, ruangan tertutup, dan
meminimalkan potensi penampungan debu dalam
konstruksi ruangan.
○ Menghindari penumpukan sampah dalam ruangan yang
dapat menimbulkan bau
○ Menghindari penumpukan makanan yang cenderung
cepat membusuk. Menutup makanan dalam wadah /
tempat tertutup.
○ Menghindari pemakaian /penumpukan linen kotor yang
dapat menimbulkan bau
○ Menghindari padatnya penunggu pasien dalam ruangan,
maksimal 2 orang penunggu pasien dalam ruangan.
○ Menjaga sanitasi toilet dalam ruangan.
• Pengendalian udara outdoor
○ Jalur lalu lintas kendaraan bermotor dan parkir
diletakkan jauh dari area rawat inap.
○ Dipasang papan peringatan untuk kendaraan bermotor
agar Jalan Perlahan dan larangan membunyikan klakson
○ Asap incinerator dialirkan ke udara bebas dengan
cerobong asap setinggi 6 meter.
○ Incinerator diletakkan jauh dari area rawat inap.
○ Menambah jumlah tanaman perdu di area terbuka RSBL
dalam bentuk taman.
○ Menambah tanaman hias dalam pot di seluruh bagian
RSBL.
○ Sampah diletakkan dalam wadah tertutup dan dibuang
setiap hari.

A. Kebijakan tentang pencahayaan


• Standard Pencahayaan di ruangan-ruangan :
No Ruangan Satuan Terang Keterangan
(lux)

1 Ruang Inap saat tidak 100 – 200 Sedang


tidur

2 Ruang Inap saat tidur Max 50

3 Ruang Operasi 300 – 500 Sejuk

4 Meja Operasi 10.000 – 20.000 Tanpa


bayangan

5 Ruang Bersalin 300 – 500 Sejuk


6 Ruang Tindakan 300 – 500
Kebidanan

7 Recovery Room 300 – 500 Sejuk

8 High Care Unit 300 – 500 Sejuk

9 High Care Unit saat Max 300


tidur

10 Ruang Isolasi 0,1 – 0,5 Biru

11 Laboratorium 300 – 500 Sedang

12 Radiologi 75 – 100

13 Koridor Min 60 Malam

14 Koridor rawat inap saat Max 100 Malam


tidur

15 Kantor Min 100

16 Apotik Min 200

17 Dapur Min 200

18 Toilet Min 100

19 Laundry Min 200

20 Area Parkir Min 300

• Kebijakan menyalakan lampu


○ Lampu ruangan rawat inap dinyalakan mulai pukul 17.30,
atau sebelumnya bila diperlukan.
○ Lampu ruangan rawat di kurangi pada pukul 22.00 saat
waktu tidur, bila diperlukan, pasien bisa menggunakan
lampu yang disediakan di setiap Cubicle.
○ Lampu ruangan rawat inap di matikan pada pukul 05.30
atau lewat bila diperlukan.
○ Lampu koridor di luar rawat inap dinyalakan pukul 17.30
s/d 05.30 atau sesuai kebutuhan.
○ Lampu koridor di area rawat inap dinyalakan mulai pukul
17.30, atau sebelumnya bila diperlukan.
○ Pada waktu tidur atau pukul 22.00 lampu koridor di area
rawat inap dikurangi, atau di ganti dengan lampu dinding
yang intensitasnya lebih kecil.
○ Lampu di ruangan2 yang tidak terpakai dimalam hari,
tidak dinyalakan.
○ Lampu di ruangan2 yang membutuhkan penerangan di
siang hari dapat dinyalakan sesuai kebutuhan
○ Lampu di area taman, halaman, dan area parkir dinyalakan
mulai pukul 17.30 s/d 05.30 , atau sesuai kebutuhan.
○ Lampu di ruangan isolasi tergantung pasien yang
menginap di dalamnya. Bila pasien yang di rawat di ruang
isolasi adalah pasien Tetanus, maka lampu yang
dinyalakan hanya lampu ruangan berwarna biru yang
intensitasnya kecil. Sedangkan bila pasien yang menginap
bukan pasien tetanus, maka aturan menyalakan lampu
sebagaimana ruang rawat inap lainnya.
• Setiap tindakan medis harus mendapatkan pencahayaan yang
cukup, baik melalui lampu ruangan, lampu operasi, ataupun
lampu sorot
• Semua penerangan oleh lampu, baik outdoor maupun indoor
tidak boleh menyilaukan, intensitas cahaya disesuaikan
peruntukannya
• Dilakukan pembersihan secara berkala sesuai program
pemeliharaan
• Dilakukan Penggantian lampu yang tidak berfungsi dengan baik
• Jaringan instalasi listrik diperiksa secara berkala sesuai
programpemeliharaan

A. Kebijakan tentang Kebisingan


• Bel ruangan pemanggil perawat diletakkan di ruangan perawat.
Di siapkan lampu penunjuk ruangan pasien yang memanggil /
menekan bel.
• Jalur jalan kendaraan keluar masuk RS terletak jauh dari area
ruang rawat inap, dipasang papan peringatan untuk tidak
menghidupkan klakson dan berkendara perlahan.
• Dipasang papan peringatan di lingkungan RS : Harap Tenang
• Semua Karyawan dilarang berbicara keras, tertawa keras.
• Dibuat program terpadu RS Bersih , Tenang dan Asri.
• Generator listrik diletakkan jauh dari Area rawat inap, diletakkan
dalam ruangan khusus di bawah tanah dilengkapi peredam
suara.
• Pengunjung dan penunggu pasien di area rawat inap dibatasi,
dan dihimbau untuk menjaga ketenangan RS.
• Semua roda-roda trolley, Bed pasien , dan brankar di periksa
secara berkala hingga tidak menimbulkan derit.

A. Kebijakan Tentang suhu ruangan


• Suhu standar Ruangan- ruangan

No RUANGAN SUHU (Co) KELEMBABAN


(%)

1 Operasi 22 – 25 50 – 60

2 Bersalin 22 – 25 50 – 60

3 Recovery 24 – 25 50 – 60

4 Perawatan ibu – bayi 26 – 27 40 – 50

5 HCU 26 – 27 40 – 55

6 Rawat inap 26 – 27 40 – 55

7 Isolasi 22 – 25 40 - 55

• Dipasang thermometer ruangan dan hygrometer ruangan untuk


mengawasi suhu dan kelembaban ruangan
• Bila suhu ruangan melebihi batas atas standar maka diusahakan
menurunkan suhu ruangan dengan beberapa cara menurut
prioritas : Mengurangi kepadatan dengan membatasi
pengunjung / penunggu pasien, menyalakan kipas angin /
exhaust fan, membuka jendela – jendela, menyalakan AC
• Kebijakan tentang kipas angin
○ Kipas angin disediakan di ruang rawat inap kelas II dan
Kelas III
○ Kipas angin di ruang rawat inap kelas II disediakan di tiap
cubicle dengan jenis wall fan
○ Kipas angin di ruang rawat inap kelas III disediakan 1
ceiling fan untuk 4 cubicle
○ Kipas angin dinyalakan bila diperlukan.
○ Pada kegiatan medis tertentu tidak boleh menyalakan
kipas angin : mengganti balutan, memandikan pasien
• Kebijakan tentang Air Conditioner /AC
○ AC disediakan di ruangan rawat inap kelas I, Ruang
Operasi, Ruang bersalin, Ruang HCU, Ruang UGD
○ AC dinyalakan bila diperlukan
○ AC dibersihkan secara berkala sesuai program
pemeliharaan

A. Kebijakan tentang Penyediaan air bersih dan drainase


• Penyediaan air bersih di RSBL berasal dari 2 sumber : Air PDAM
dan air tanah
• Air PDAM disalurkan dari pipa air PDAM ke ruangan2 yang
memerlukan melalui pipa2 tertutup, langsung keluar melalui
kran, tanpa melalui reservoir air.
• Air tanah diambil dari beberapa titik melalui pompa penyedot,
kemudian ditampung dalam masing-masing reservoir , kemudian
dialirkan ke ruangan-ruangan melalui pipa2 tertutup.
• Pipa2 tertutup pengalir air dapat terbuatdari pipa besi ataupun
pipa paralon bermutu.
• Reservoir standar terbuat dari bahan fiber glass atau metal
tahan karat dengan kapasitas minimal 1000 L. Diletakkan
dengan posisi beberapa meter diatas tanah menggunakan
penyangga terbuat dari besi.
• Saat ini, terdapat 3 titik penyedotan air tanah menggunakan
pompa penyedot :
○ Titik 1
Lokasi : Ruang rawat inap dekat OK
Merk Pompa : MODERN, Type SMP 130W, buatan
Jepang
Daya hisap : 10 m
Supply : Reservoir 1, Reservoir 2, Reservoir
3
○ Titik 2
Lokasi : Belakang RS, Dekat R. 19
Merk Pompa : Shimizu Type PS 130W buatan
jepang
Daya hisap : 35 m
Supply : Membantu pengisian Reservoir 2
dan 3

○ Titik 3
Lokasi : Ruang Laundry
Merk Pompa : Sanyo Type PH 260 buatan Jepang
Daya hisap : 14 m
Supply : Laundry dan Reservoir 2

• Saat ini ada 3 reservoir air, yaitu :


○ Reservoir 1
Lokasi : Ruang perawatan, dekat OK
Komposisi : Fiberglass
Kapasitas : 1500L
Supply : Ruang Rawat inap R 23, R.20, R. 19,
Ruang Radiologi , Ruang VK, HCU, Area taman
Rawat inap

○ Reservoir 2
Lokasi : Belakang RS dekat dapur
Komposisi : Stainless steel
Kapasitas : 1000 L
Supply : OK, R.9, R.10, R.11, R.14, R.15, R.16,
R.17, Dapur, Laundry
○ Reservoir 3
Lokasi : Lantai 2 gedung poliklinik
Komposisi : Stainless steel
Kapasitas : 1000 L
Supply : Lantai 2 gedung poliklinik

• Akan dilakukan penilaian kembali efektifitas dari ketiga pompa


dan ketiga reservoir dalam rangka meningkatkan mutu
penyediaan air bersih di RSBL
• Dilakukan kegiatan2 pemeliharaan secara periodik sesuai
program pemeliharaan.
• Dilakukan penilaian mutu air bersih secara berkala yang
dilakukan oleh dinas Kesehatan / Kantor Lingkungan Hidup kota
Cirebon
• Drainage air hujan terpisah dengan saluran air limbah ,
merupakan saluran2 tertutup dan terbuka dengan dimensi
minimal 30 cm X 50 cm, berlapis semen dengan permukaan
licin / rata , tingkat kemiringan baik, terdapat beberapa bak
kontrol dan dibersihkan secara berkala.

A. Kebijakan tentang Batas lahan RS


• Bahwa lahan milik RS Budi Luhur sebagaimana tercantum dalam gambar
adalah seluas 17000 m2
• Bahwa lahan yang aktif dipakai operasional RSBL tidak seluruhnya, dan harus
diberi batas yang jelas dan dilindungi dengan tembok pengaman sehingga bebas
dari masuknya hewan, serta pengelolaan lingkungan lebih mudah
• Lahan lainnya yang tidak secara aktif dipakai operasional RSBL dapat dipakai
berbagai aktifitas yang dianggap tidak mengganggu dan aman bagi operasional
RSBL
• Senantiasa dilakukan tindakan pemeliharaan terhadap seluruh lahan milik RSBL
sesuai program pemeliharaan
Area
aktif
RSBL
Area
Pengemb
angan
RSBL
Area
Support
RSBL

Rumah Sakit Pengendalian Sumber Infeksi Makanan dan Minuman

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur
I. PROSEDUR TETAP PENGENDALIAN INFEKSI MAKANAN DAN MINUMAN

Pengertian : Prosedur kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka


pengendalian sumber infeksi dari carrier sehat

Sasaran :

• Karyawan / tenaga kesehatan


• Penunggu pasien
• Pengunjung pasien
• Tamu RS

Kebijakan :

Prosedur / Kebijakan :

A. Pengertian
• Ruang lingkup makanan di RSBL :
○ Makanan yang disajikan dari dapur kepada pasien maupun karyawan RS
○ Bahan makanan baik yang terolah atau belum terolah
○ Bahan tambahan pada makanan
○ Minuman
• Ruang lingkup Pengawasan :
○ Kemungkinan infeksi dari makanan
○ Kemungkinan infeksi dari alat masak
○ Kemungkinan infeksi dari alat makan
○ Kemungkinan infeksi dari individu
○ Kemungkinan intoksikasi dari toksin dari makanan
○ Kemungkinan intoksikasi dari toksin bakteri
○ Kemungkinan intoksikasi bahan kimia

A. Diagram Alur Makanan di RSBL

PENERIMAAN BAHAN MAKANAN

BAHAN KERING BAHAN BASAH

PENYIMPANAN

PENCUCIAN
MAKANAN SEGAR

PERACIKAN

PENGOLAHAN

PEWADAHAN

PENYAJIAN

PENCUCIAN PERALATAN DESINFEKSI PERALATAN

SAMPAH PENYIMPANAN PERALATAN

B.1. PENGADAAN / PENERIMAAN BAHAN MAKANAN

Kebijakan :
• Sumber bahan makanan hendaknya dipilih yang berkualitas baik, tempat-tempat
memperoleh bahan mentah harus diketahui oleh kepala dapur / gizi dan secara
berkala dievaluasi kinerja dan kualitasnya
• Bahan makanan dibawa ke dapur dengan trolley khusus dan melewati jalur yang
sudah ditentukan. Usahakan tidak melewati ruangan rawat inap atau ruangan
yang potensial infeksi lainnya.
• Bahan makanan di periksa dan diseleksi kembali.
• Bahan makanan yang belum terolah harus dalam keadaan segar, tidak rusak
atau berubah bentuk, warna, dan rasa, tidak berbau busuk, tidak berjamur, bila
kotor harus dibersihkan dengan air terlebih dahulu, tidak mengandung bahan
yang dilarang seperti formalin, boraks, pestisida, melamin, dll
• Bahan makanan dalam kemasan (terolah) harus mempunyai label dan merk,
terdaftar di Depkes dan mempunyai nomor daftar,kemasan tidak rusak, pecah,
atau robek atau kembung, belum kadaluwarsa, kemasan digunakan hanya untuk
satu kali penggunaan.
• Bahan makanan berasal dari tempat resmi yang dievaluasi kinerja dan
kualitasnya.

B.2. PENCUCIAN

Kebijakan :

• Bahan makanan harus dicuci :


○ Sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan
○ Lauk air tawar, lauk air laut, daging2an
○ Dll
• Pencucian dengan menggunakan air mengalir di bersihkan dan dibilas berkali-
kali
• Pelaksana harus memakai sarung tangan dan atau mencuci tangan sebelum
dan sesudah mencuci bahan makanan
• Pencucian bahan makanan dengan bahan pembersih tidak dianjurkan
• Tempat penyimpanan bahan makanan yang sudah dicuci harus bersih

B.3. PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN

Kebijakan :

• Tempat penyimpanan bahan makananharus selalu terpelihara dan dalam


keadaan bersih, terlindung dari debu, bahan kimia berbahaya, serangga dan
hewan lain
• Tentang penyimpanan bahan makanan kering :
○ Semua tempat penyimpanan bahan makanan hendaknya berada
dibagian tinggi untuk mencegah genangan air dan menjaga
kelembabannya.
○ Tidak boleh ada kebocoran pada genteng atau atap yang menyebabkan
tetesan air mengenai tempat p[enyimpanan bahan makanan
○ Tidak boleh ada drainase yang potensi macet di sekitar ruang tempat
penyimpanan bahan makanan untuk menghindari meluapnya air.
○ Semua bahan makanan disimpan pada rak yang baik, dengan ketinggian
terbawah dari lantai 20 – 25 cm.
○ Bahan makanan disimpan pada wadah-wadah yang selalu dibersihkan
secara berkala dan berpori-pori
○ Suhu ruangan dijaga kurang dari 22oC dan Kelembaban 40%atau
kurang.
○ Ruangan harus anti tikus, anti serangga.
○ Penyimpanan bahan selain bahan makanan tidak diperbolehkan.

• Tentang penyimpanan bahan makanan dalam Referigerator / Kulkas / Freezer


○ Tersedia ruang yang memadai untuk meniris potongan2 dari freezer.
○ Standar teknik meniriskan bahan makanan dari freezer ada 3 cara : 1.
Langsung memasak bahan makanan beku 2. Meniriskan makanan beku
dengan merendam bahan makanan dengan air mendidih 3. Meletakkan
bahan makanan beku dengan air mengalir
○ Rak dalam reefrigerator dan isinya disusun sedemikian rupa sehinga
tidak berdesakan, agar aliran udara dingin dapat mencakup semua bahan
makanan dengan baik
○ Syarat ruangan sama dengan ruangan dapur dan ruang penyimpanan
bahan makanan

B.4. PERACIKAN DAN PENGOLAHAN BAHAN MAKANAN

• Pengolahan harus dilakukan oleh penjamah makanan dengan sikap dan perilaku
yang hygienis :
○ Tidak merokok selama mengolah makanan
○ Tidak makan atau mengunyah
○ Tidak memakai perhiasan berlebihan
○ Tidak menggunakan peralatan atau fasilitas kerja yang bukan
peruntukannya
○ Tidak mengerjakan kebiasaan2 yang jorok / menjijikkan seperti
mengorek2, mencungkil, mengupil, menggaruk, menjilat, atau meludah
○ Semua kegiatan pengolahan makanan harus dilakukan secara terlindung
dari kontak langsung dengan tubuh
○ Perlindungan kontak langsung dengan makanan jadi dilakukan dengan
menggunakan sarung tangan plastik, penjepit makanan, sendok, garpu,
dan sejenisnya
○ Tenaga pengolah makanan harus selalu melakukan pemeriksaan
kesehatan berkala minimal 6 bulan sekali sesuai prosedur dalam buku ini.
Prosedur juga berlaku bila tenaga pengolah makanan mengalami sakit.
• Tenaga dapur / gizi selalu berupaya untuk menjaga kebersihan diri dan
kebersihan lingkungan kerja dengan cara :
○ Menempatkan makanan pada wadah dan tempat yang layak terutama
makanan yang mudah rusak
○ Selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum bekerja dan setelah
keluar dari kamar mandi / WC sebagaimana diatur dalam buku ini
mengenai cuci tangan
○ Selalu memakai pakaian kerja dan pakaian pelindung
○ Selalu bersifat teliti dan hati-hati dalam menangani makanan

B.5. PENGANGKUTAN MAKANAN

• Makanan jadi yang siap saji tidak boleh diangkut bersama dengan bahan
makanan mentah
• Makanan diangkut dengan kereta dorong yang tertutup, bersih dan anti karat
(stainless steel), dan permukaan dalamnya mudah dibersihkan
• Pengisian kereta dorong tidak boleh sampai penuh, agar masih tersedia udara
untuk ruang gerak
• Perlu diperhatikan jalur khusus yang terpisah dengan jalur untuk mengangkut
bahan / barang kotor

B.6. PENYAJIAN MAKANAN

• Makanan jadi yang siap saji harus diwadahi dan disajikan dengan peralatan yang
bersih dan sudah melalui proses desinfeksi sesuai prosedur
• Penyajian dilakukan dengan perilaku penyaji yang sehat dan berpakaian bersih
• Sebaiknya dalam tata hidang, disiapkan segera dan tidak lama menunggu di
santap. Beri waktu tidak lama kepada penderita untuk menyantapnya agar
makanan tidak makin beresiko terpapar mikroorganisme.
• Letak makanan sebaiknya satu bidang, bila dgigunakan bidang yang berbeda /
bertingkat, maka jenis makanan basah berada di bawah dari makanan kering
• Selalu menyediakan makanan contoh dari menu yang dihidangkan hari ini
sebagai bahan pemeriksaan bila terjadi masalah yang diakibatkan makanan.
A. PERALATAN PENGOLAHAN MAKANAN

C.1. PERALATAN MAKANAN DAN MINUMAN


• Peralatan yang digunakan untuk penyajian makanan yang langsung dimakan
oleh karyawan, pasien atau pengunjung
• Bahan untuk peralatan harus terbuat dari bahan yang kuat , tidak mudah retak,
penyok, gompel , robek atau pecah
• bagian permukaan tempat makanan atau yang kontak dengan makanan
haruslah halus, tidak ada sudut mati dan mudah dibersihkan,
• tidak mudah larut dalam makanan,
• tidak mengandung bahan beracun atau logam berat lain seperti : Timah, Arsen,
Tembaga, Seng, cadmium atau antimon
• Kebersihan peralatan harus djaga dengan baik, pencucian dan penyimpanan
harus sesuai prosedur

C.2. PERALATAN MASAK DAN WADAH MAKANAN


• Peralatan yang digunakan untuk mengolah makanan mentah atau membawa
makanan matang
• Peralatan makanan mentah terpisah dengan peralatan makanan jadi
• Peralatan masak dan wadah makanan sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat
dan tidak larut dalam makanan seperti stainless steel
• Semua peralatan harus mempunyai tutup
• Peralatan yang bukan logam harus dari bahan yang kuat dan setelah rusak
harus langsung dibuang
• Penyimpanan peralatan masak dan wadah pada rak harus teratuur dan
sebaiknya mendapatkan sinar matahari

C.3. PENCUCIAN PERALATAN


• Pisahkan segala kotoran atau sisa-sisa makanan yang terdapat pada alat/barang
seperti, gelas, mangkok dll ke tempat yang telah disediakan untuk itu.
Selanjutnya sampah tersebut dibuang bersama sampah dapur lainnya sesuai
prosedur pengelolaan sampah.
• Piring dan alat yang telah dibersihkan sisa makanan, ditempatkan pada tempat
piring kotor.
• Setiap piring/alat yang dicuci direndam pada bak pertama. Cara ini dimaksudkan
untuk memberi kesempatan peresapan air ke dalam sisa makanan yang masih
menempel, sehingga mudah untuk membersihkan selanjutnya.
• Setelah direndam untuk selama beberapa saat, maka piring mulai dibersihkan
dengan menggunakan detergen pada bak pencuci tersebut. Penggunaan sabun
sebaiknya dihindarkan karena sabun tidak dapat menghilangkan lemak.
• Cara pencucian dilakukan dengan menggosok bagian-bagian yang terkena
makanan, dengan cara menggosok berulang kali sampai tidak terasa licin lagi.
Bilamana masih licin akan menempel sisa-sisa bau yang belum bersih.
• Setelah pencucian dirasa cukup, maka langsung dibilas dengan air
pembersih/pembilas yang mengalir, sambil digosok dengan tangan dan tidak lagi
terasa sisa-sisa makanan atau sisa-sisa detergen.
• Piring atau gelas yang telah dicuci dibilas dengan air kaporit untuk disinfeksi,
langsung direndam ke dalam air bak kaporit 50 ppm selama 2 menit kemudian
ditempatkan pada tempat penirisan.
• Sedangkan untuk disinfeksi dengan air panas, disyaratkan suhu 82º C untuk
selama 2 menit atau 100º C selama 1 menit.
• Cara memasukkan piring/gelas ke dalam air panas, tidak boleh langsung dengan
tangan, tetapi sebelumnya dimasukkan ke dalam rak-rak khusus untuk
didisinfeksi.
• Piring dan alat makan yang telah selesai melalui proses disinfeksi ditempatkan
pada rak-rak anti karat ( stainless steel ) sebagai tempat penirisan/pengeringan
dengan cara terbalik atau miring sampai kering dengan bantuan sinar matahari
atau sinar buatan dan tidak boleh dilap dengan kain. Untuk itu bagian yang
menempel ke permukaan piring atau bibir gelas harus dijaga kebersihannya
dengan cara disinfeksi.
• Piring atau gelas yang akan dipakai tidak perlu dilap atau digosok kain lap,
karena menjadi kotor kembali. Bilamana dilap gunakan kain lap ( tissue ) sekali
pakai.

C.4. PENYIMPANAN PERALATAN


• Semua peralatan yang kontak dengan makanan harus disimpan dalam keadaan
kering dan bersih.
• Cangkir, mangkok, gelas dan sejenisnya cara penyimpanannya harus dibalik.
• Rak-rak penyimpanan peralatan dibuat anti karat, rata dan tidak aus/rusak.
• Laci-laci penyimpanan peralatan terpelihara kebersihannya.
• Ruang penyimpanan peralatan tidak lembab, terlindung dari sumber pencemaran
dan binatang perusak.

A. TATA RUANG DAN BANGUNAN INSTALASI DAPUR / GIZI

D.1. LOKASI
Terhindar dari sumber pencemaran, terutama yang berasal dari tempat sampah, WC,
bengkel cat dan sumber pencemaran lain.

D.2. SYARAT BANGUNAN DAN FASILITAS DAPUR


1) Halaman
Halaman bersih, tidak banyak lalat, dan tersedia tempat sampah yang memenuhi
syarat kesehatan, tidak terdapat tumpukan barang-barang yang dapat menjadi
sarang tikus. Pembuangan air kotor (limbah dapur dan kamar mandi) tidak
menimbulkan sarang serangga, jalan masuknya tikus dan dipelihara
kebersihannya. Pembuangan air hujan lancar, tidak menimbulkan genangan-
genangan air.

2) Konstruksi
Bangunan untuk kegiatan pengolahan makanan harus memenuhi persyaratan
teknis konstruksi bangunan yang berlaku.

3) Lantai
Permukaan lantai rapat air, halus, kelandaian cukup, tidak licin, dan mudah
dibersihkan.

4) Dinding
Permukaan dinding sebelah dalam halus, kering/tidak menyerap air dan mudah
dibersihkan. Pada permukaan dinding yang sering terkena percikan air, harus
dilapisi bahan kedap air yang permukaannya halus, tidak menahan debu,
setinggi 2m, dan berwarna terang.

5) Langit-langit
Langit-langit harus menutup seluruh atap bangunan, tinggi langit-langit sekurang-
kurangnya 2,4 m diatas lantai.

6) Pintu dan Jendela


Seluruh pintu dan jendela pada bangunan yang dipergunakan untuk memasak
harus membuka ke arah luar. Semua pintu dibuat menutup sendiri dan
dilengkapi peralatan anti lalat, seperti kasa, tirai, pintu rangkap dan lain-lain.

7) Pencahayaan
Intensitas pencahayaan harus cukup untuk dapat melakukan pemeriksaan dan
pembersihan serta melakukan pekerjaan-pekerjaan secara efektif. Di setiap
ruangan tempat pengolahan makanan dan tempat mencuci tangan intensitas
pencahayaan sedikitnya 200 lux pada bidang kerja. Semua pencahayaan tidak
boleh menimbulkan silau dan distribusinya sedemikian sehingga sejauh mungkin
menghindarkan bayangan.

8) Ventilasi / Penghawaan
Bangunan atau ruangan tempat pengolahan makanan harus dilengkapi dengan
ventilasi yang dapat menjaga kenyamanan suhu dan kelembaban dalam
ruangan, ventilasi juga harus cukup untuk mencegah udara dalam ruangan
terlalu panas, mencegah kondensasi uap air atau lemak pada lantai, membuang
bau, asap dan pencemaran lain dari ruangan. Tungku dapat dilengkapi dengan
sungkup asap (hood) alat perangkap asap, cerobong asap, saringan dan saluran
serta pengumpl lemak. Semua tungku terletak dibawah sungkup asap.

9) Dapur formula bayi ( dapur susu )


Dapur susu dibuat ruangan khusus (ruangan berdinding kaca) yang “bebas” dari
micro-organisme pathogen, dan tidak dipakai untuk kegiatan lain. Tenaga
penjamah makanan di dapur susu mempunyai baju dan atribut khusus yang steril
(barak short, tutup kepala, masker dan sarung tangan). Semua peralatan dan
perlengkapan harus steril (botol susu, tempat / wadah dan pengaduk).

10) Ruangan pengolahan makanan


Luas ruang pengolahan makanan harus cukup untuk bekerja agar terhindar dari
kemungkinan terkontaminasinya makanan dan memudahkan pembersihan,
dengan luas 2 m² untuk setiap pekerja. Ruang pengolahan makanan tidak boleh
berhubungan langsung dengan WC, peturasan, dan kamar mandi. Untuk
kegiatan pengolahah dilengkapi sedikitnya meja kerja, lemari tempat
penyimpanan bahan dan makanan jadi yang terlindung dari gangguan serangga,
tikus dan hewan lainnya.
11) Fasilitas pencucian peralatan dan bahan makanan
Pencucian peralatan harus menggunakan bahan pembersih/detergen. Pencucian
bahan makanan yang tidak dimasak harus menggunakan larutan kalium
permanganat 0,02% atau dalam rendaman air mendidih dalam beberapa detik.
Peralatan dan bahan makanan yang telah dibersihkan disimpan dalam tempat
yang terlindung dari kemungkinan pencemaran oleh tikus, serangga dan hewan
lainnya.

12) Tempat Cuci Tangan


Tersedia tempat cuci tangan yang bersih dan terpisah dengan tempat cuci
perakatan maupun bahan makanan yang dilengkapi dengan kran, saluran
pembuangan tertutupm bak penampungan, sabun dan pengering. Jumlah tempat
cuci tangan disesuaikan dengan banyaknya karyawan (penjamah makanan).
Untuk sebuah tempat cuci tangan dipergunakan maksimal 10 orang, dengan
tambahan 1 (satu) buah setiap penampahan 10 orang atau kurang, dam terletak
sedekat mungkin dengan tempat kerja.

13) Air minum dan air bersih


Air bersih/minum harus tersedia cukup untuk seluruh kegiatan penyelenggaraan
pengolahan makanan. Kualitas air harus memenuhi persyaratan sesuai
denganperaturan yang berlaku.

A. PETUGAS PENGELOLA MAKANAN


Semua penjamah makanan harus selalu memelihara kebersihan pribadi (personal
hygiene) dan terbiasa untuk berperilaku sehat selama bekerja. Hal-hal yang diperhatikan
dalam kebersihan pribadi :
• Mencuci tangan, hendaknya tangan selalu dicuci dengan sabun : sebelum
bekerja, sesudah menangani bahan makanan mentah/kotor atau terkontaminasi,
setelah dari kamar kecil, setelah tangan dibunakan untuk menggaruk, batuk atau
bersin dan setelah makan atau merokok.
• Pakaian, hendaknya memakai pakaian khusus untuk bekerja. Pakaian kerja
harus bersih, yang sudah usang jangan dipakai lagi.
• Kuku dan perhiasan, kuku hendaknya dipotong pendek dan dianjurkan untuk
tidak memakai perhiasan sewaktu bekerja.
• Topi/penutup rambut, semua penjamah hendaknya memakai topi atau penutup
rambut untuk mencegah jatuhnya rambut ke dalam makanan dan mencegah
kebiasaan mengusap/menggaruk rambut.
• Merokok, penjamah makanan sama sekali tidak diijinkan merokok selama
bekerja baik waktu mengolah meupun mencuci peralatan. Merokok merupakan
mata rantai antara bibir dengan tangan dan kemudian ke makanan di samping
sangat tidak etis.
• Lain-lain, kebiasaan seperti batuk-batuk, menggaruk-garuk, mencet jerawat,
merupakan tindakan yang tidak higienis. Kebiasaan ini akan mengkontaminasi
tangan dan pada gilirannya mengkontaminasi makanan.
I. PENGENDALIAN INFEKSI DI KAMAR OPERASI

A. TATA RUANG DAN BANGUNAN KAMAR OPERASI


• LOKASI
○ Lokasi OK dan VK harus mudah di capai dari bagian lain dan satu sama lain

• BENTUK
○ Sudut-sudutnya todak boleh tajam, baik sudut lantai, dinding maupun langit
– langit
○ Dinding, lantai dan langit-langit terbuat dari bahan yang keras, tidak berpori,
tahan api, kedap air tidak mudah kotor, tidak licin, tidak mempunyai
sambungan, warna terang.\, mudah dibersihkan dan tidak ada tempat
menampung debu
• UKURAN
○ Ukuran minimal 30 – 40 m2, maksimal 55 – 60 m2 tinggi plafon minimal 2,5
m, maksimal 3,65 m
• PINTU
○ Sebaiknya bentuk pintu sliding, namun bila pintu swing, maka pintu harus
selalu tertutup dengan menggunakan penutup otomatis
○ Ukuran pintu minimal 1,2 X 2,10 m
○ Pintu harus selalu terawat, dan tidak boleh mengeluarkan suara

• JENDELA
○ Harus ada kaca tembus pandang agar orang dari luar dapat melihat
keadaan di dalam kamar bedah tanpa harus masuk

• VENTILASI
○ Memakai AC dilengkapi filter dan sistem ultraclean luminay airflow
○ Suhu diatur antara 19 – 22 oC dan kelembaban udara 50 – 60 %

• SISTEM PENERANGAN
○ Lampu ruangan memakai lampu pijar putih tertanam di dalam langit-langit
sehingga tidak menampung debu dan mudah dibersihkan
○ Pencahayan ruangan sesuai peraturan pencahayaan pada buku ini
○ Lampu operasi merupakan lampu khusus yang terdiri dari beberapa lampu
yang fokusnya dapat diatur, tidak panas, terang, tidak menyilaukan dan tidak
menimbulkan bayangan

• SISTEM GAS
○ Sistem gas sebaiknya dibuat sentral memakai sistem pipa
○ Sistem pipa melalui bawah lantai atau diatas langit-langit
○ Dibedakan sistem pipa O2 dan Nitrogen Oksida
• SISTEM LISTRIK
○ Harus ada sistem penerangan darurat dan sistem listrik cadangan
○ Bila dalam kamar bedah ada beberapa titik penyambungan aliran listrik,
maka sebaiknya dibedakan sirkuitnya sehingga bila terjadi gangguan listrik
pada satu titik, maka bisa dipindahkan ke titik lainnya

• SISTEM KOMUNIKASI
○ Harus ada sistem komunikasi dengan ruangan lain di dalam RS dan ke luar
RS
• SISTEM PENGAIRAN
○ Harus selalu siap mengalir. Harus punya sumber air tersendiri
• INTRUMENTASI
○ Semua peralatan harus mobile, mempunyai roda atau diletakkan diatas
trolley beroda
○ Semua alat sebaiknya terbuat dari stainless steel dan mudah dibersihkan
○ Prosedur penanganan instrumen di bahas kemudian

A. SISTEM ZONASI DI KOMPLEKS OK-VK

KM Sphk
VK RR R inst OK 1
HW

Koridor
R. Sterilisasi

OK 2 RGP
R. Duduk
RG

Dpr
R. Istirahat
KM

• ZONA 1 : Zona Bebas terbatas ditandai dengan warna hijau


• ZONA 2 : Zona Bersih (Clean Zone) ditandai dengan warna kuning
• ZONA 3 : Zona Semi Steril ditandai dengan warna oragne
• ZONA 4 : Zona Steril ditandai dengan warna merah

No Variabel Zona 1 Zona 2 Zona 3 Zona 4 KET

1 Pakaian -Pakaian luar -Pakaian luar Petugas OK -Tim Operasi


OK masih OK masih boleh wajib memakai memakai jas
boleh dipakai dipakai. Tidak pakaian operasi
boleh lebih khusus OK
-Pakaian dalam dari zona lengkap -Petugas OK
khusus OK ini. Pergantian dengan memakai
tidak boleh pakaian OK – masker dan Handschoen
lebih luar dari Pakaian Luar head cover
zona ini OK disini
2 Alas Kaki -Alas Kaki luar Alas kaki OK Alas Kaki Alas Kaki
OK masih bisa harus mulai Khusus OK khusus OK
di pakai. Tidak dipakai saja saja
boleh lebih
dalam dari zona
ini, pergantian
alas kaki luar-
OK disini

-Alas Kaki OK
tidak boleh lebih
luar dari zona ini

3 Bed Boleh masuk Hanya sampai Tidak boleh Tidak boleh


Pasien Recovery Room masuk masuk
boleh masuk

4 Brankar Boleh masuk. Boleh masuk Boleh masuk Boleh masuk


OK Tidak boleh untuk keluar
lebih luar dari lagi
zona ini

5 Petugas Boleh masuk Boleh masuk Boleh Masuk Tidak boleh


luar OK dengan masuk
memakai
pakaian
pelindung,
masker dan
head cover

6 Lain2 -Berbatas Pintu Berbatas pintu Syarat tata


dari luar dengam zona / Ruangan
kompleks OK ruangan lain sesuai
standard
-Berbatas Pintu
dari Zona /
ruangan lain

A. PERSIAPAN TINDAKAN OPERASI


1. Persiapan Pasien Operasi
A. Serah terima pasien

Rumah Sakit Serah Terima Pasien Pra & Pasca Operasi

Budi Luhur 29/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

Pengertian : Tata cara serah terima pasien yang akan dioperasi antara
perawat ruangan dan staf kamar operasi.

Tujuan :

– Diketahui program pengobatan dan pelaksanaan operasi oleh


petugas ruangan dan kamar operasi agar pelaksanaan
operasi bisa berhasil dengan baik dan mengutamakan
keselamatan pasien.
– Menyiapkan obat-obatan, alat-alat, darah dan persiapan
khusus lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang
pelaksanaan operasi tersebut.
Kebijakan : Petugas ruangan dan petugas kamar operasi bertanggung
jawab atas persiapan pasien calon operasi ini.

Prosedur :

1. Petugas ruangan mengetahui jadwal operasi


2. Petugas ruangan mempersiapkan area operasi sesuai prosedur yang berlaku.
3. Petugas ruangan mengisi berita acara.
4. Petugas ruangan mempersiapkan semua catatan medik pasien termasuk
surat izin operasi untuk dibawa bersama pasien ke ruang operasi.
5. Petugas ruangan menyertakan perlengkapan penunjang operasi misalnya :
persediaan obat-obatan atau persediaan darah yang diperlukan saat operasi
dilakukan yang akan dibawa bersama pasien ke kamar operasi.
6. Setengah jam sebelum jadwal operasi atau setelah ada panggilan dari
petugas kamar operasi, pasien dibawa ke kamar operasi dengan memakai
tempat tidur yang dipakai di ruangan.
7. Serah terima pasien pra operasi dilakukan di ruang transfer.
8. Petugas ruangan menyerahkan pasien disertai berita acara serah terima
yang ditanda tangani oleh petugas ruangan dan petugas kamar operasi dan
ditulis dalam buku register kamar operasi.
9. Petugas kamar operasi memeriksa kelengkapan berita acara, kelengkapan
identitas, catatan medik pasien, keadaan umum pasien, surat izin tindakan
dan kelengkapan penunjang lainnya seperti obat-obatan dan persediaan
darah.
10.Kejadian khusus dan pengobatan selama operasi berlangsung dicatat dalam
berita acara oleh asisten operasi / omloop.
11.Setelah operasi selesai, asisten menyiapkan berita acara, catatan medik
pasien.
12.Pasien dipersiapkan untuk serah terima dengan petugas ruangan.
13.Serah terima dilakukan di ruang transfer, petugas kamar operasi
menyerahkan pasien beserta semua kelengkapannya yang ditandai dengan
penandatanganan berita acara serah terima pasien pasca operasi.

A. Persiapan fisik
Pasien harus dalam kondisi aman untuk dilakukan operasi yang
ditandai oleh
○ Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil
pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen
RSBL menunjukkan kondisi dalam batas toleransi
○ Dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap, meliputi
pemeriksaan laboratorium hematologi, kimia klinik, dan lainnya,
pemeriksaan radiologi, pemeriksaan EKG, dan pemeriksaan lain
yang diperlukan dengan hasil pemeriksaan penunjang dalam
batas normal atau dalam batas toleransi / aman
○ Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen penyakit dalam dan
atau dokter konsulen anestesi dan atau dokter konsulen lainnya
menyatakan pasien dapat dioperasi
○ Bila diperlukan dilakukan persiapan terhadap pasien untuk
menunjang kelancaran operasi, seperti pemasangan infus,
lavement, puasa, istirahat total, pemasangan Supportif seperti
O2, Foley catheter, NGT , dll.
○ Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian
dari RS, bersih.
○ Diberikan antibiotik perioperatif sesuai petunjuk dokter

A. Persiapan mental
○ Pasien harus memahami maksud dan tujuan operasi serta resiko
yang harus dihadapi dalam menjalani operasi ini. Lakukan
Informed Consent sesuai prosedur.
○ Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar tegar
menghadapi tindakan operasi yang akna dijalaninya. Pasien
diminta untuk berdoa menurut keyakinannya masing-masing.
○ Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung
secara moril.

A. Persiapan area operasi

Pengertian : Tata cara mempersiapkan area pada tubuh pasien yang akan
dilakukan operasi.

Tujuan : Menyiapkan area operasi untuk menghindari dari infeksi nosokomial.

Kebijakan :

– Adanya rencana operasi yang ditentukan oleh dokter


operator yang diketahui oleh dokter ruangan, petugas
ruangan dan bagian keuangan.
– Petugas ruangan yang bertanggung jawab atas persiapan
pasien calon operasi ini.
Prosedur :

1. Petugas ruangan mengetahui rencana operasi dari pasien tersebut.


2. Petugas ruangan mengetahui jenis operasi yang akan dilakukan sehingga
bisa mengetahui area mana yang perlu dipersiapkan.
3. 2 jam sebelum jadwal operasi ditentukan, petugas ruangan mempersiapkan
area operasi.
4. Selain itu diperhatikan higiene pasien : mulut, kuku, rambut dan kulit.
5. Persiapkan area operasi dengan dilakukan pencukuran di area operasi yang
cukup luas dengan mempertimbangkan keperluan untuk perluasan luka
operasi.
6. Pencukuran menggunakan pisau cukur searah dengan rambut kemudian
dicuci dengan sabun sampai bersih.
7. Setelah dilakukan pencukuran, pasien dimandikan dan dikenakan pakaian
khusus dan memakai tutup kepala.
8. Perhiasan, gigi palsu, kontak lens dan lain-lain harus sudah ditanggalkan dan
diserahkan pada keluaga.

A. Persiapan Kamar Operasi


Pembersihan Rutin
Pembersihan Harian
• Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks OK – VK di
bersihkan dan di desinfeksi
• Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti
penyediaan air bersih, kelistrikan, pencahayaan, ventilasi,
dsb
• Setelah dibersihkan dilakukan sterilisasi ruangan dengan
lampu ultraviolet secara terus menerus hingga saat
dibersihkan keesokan harinya.
• Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penanggung
jawab adalah Kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Mingguan
• Seluruh permukaan dinding Kamar Operasi dibersihkan
dengan air mengalir dan didesinfeksi
• Lantai dibersihkan dengan air mengalir / disemprot , dicuci
dengan detergent, di keringkan dan didesinfeksi
• Seluruh permukaan lain seperti permukaan lampu operasi,
trolley anestesi, Kabel-kabel dan selang , cuff, Tabung O2,
Tabung N2O, meja obat, kursi, AC dll dibersihkan dan
didesinfeksi
• Kamar mandi dibersihkan
• Semua peralatan sterilisasi dibersihkan
• Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali .
• Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung
jawab adalah kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Bulanan

• Dilakukan Pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsi


serta inventarisasi dan kondisi sarana fisik bangunan,
prasarana dan peralatan serta obat-obatan di kompleks OK
– VK
• Semua bahan medis yang disterilisasi kering diperiksa
kapasitas formalinnya
• Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan

Pembersihan pra dan pasca operasi


Pembersihan Pra Operasi
• Bila jadwal operasi dilaksanakan setelah dilakukan
pembersihan rutin maka ruangan bedah tidak perlu
dibersihkan lagi
• Bila jadwal operasi sebelum dilaksanakan pembersihan
rutin, maka segera dilakukan pembersihan ruangan
Operasi dan sekitarnya.

Pembersihan Pasca Operasi


• Cipratan pada dinding dibersihkan dan didesinfeksi
• Lantai dibersihkan dan di desinfeksi
• Meja Operasi dibersihkan dan didesinfeksi. Bebaskan
pengunci roda, lantai dibawah meja operasi dibersihkan
dan didesinfeksi. Roda meja operasi digelindingkan ke
atas cairan desinfektan bolak balik. Setelah selesai semua,
kembalikan meja operasi ke posisi semula dan kunci
rodanya.
• Semua kabel dan selang alat yang beada di dalam
ruangan bedah dibersihkan
• Alat-alat penunjang seperti suction, cauter meja instrumen
bila terkontaminasi cairan tubuh pasien dibersihkan dan
dibawa keluar OK. Hati hati kontaminasi roda. Bila perlu
roda dibersihkan sebelumnya.
• Setelah selesai, ruangan operasi ditutup dan lampu UV
dinyalakan
• Bersihkan koridor dan ruangan lainnya
• Penanggung Jawab adalah paramedik yang bertugas di OK

Persiapan lain pra operasi

• Nyalakan AC suhu dibawah 27o C


• Nyalakan lampu penerangan
• Siapkan lampu operasi
A. Persiapan instrumen, Linen dan peralatan lain
Persiapan Instrumen
• Persiapan instrumen dilakukan oleh instrumenter dibantu oleh Omloop
dan Asisten dua. Bila Operasi cito, maka persiapan dapat dilakukan
oleh paramedik jaga rawat inap
• Instrumenter mengetahui rencana tindakan operasi.
• Bila diperlukan instrumenter bisa melihat langsung pasien sehingga
mendapatkan gambaran tentang segala kebutuhan di ruang operasi
• Instrumen , dan omloop berbagi tugas mempersiapkan instrumen, alat
dan ruangan
• Instrumen yang akan dipakai dikeluarkan dan disusun pada trolley.
• Jenis instrumen dan jumlah disesuaikan standar .
• Instrumen diperiksa kelayakan pakainya. Pastikan kebersihannya.
• Instrumen dikelompokkan per jenis instrumen.
• Pastikan semua kunci instrumen terbuka.
• Lakukan sterilisasi
• Sterilisasi dapat dilakukan dengan steam pressure (autoclave) atau dry
heat ( UV+panas) sesuai prosedur.
• Siapkan nampan yang sudah dialasi duk steril, Siapkan Trolley yang
sudah dialasi Duk steril berlapis
• Keluarkan instrumen, letakkan pada nampan kemudian pindahkan
pada trolley.
• Susun sedemikian rupa sehingga instrumen mudah disediakan secara
berurutan sesuai urutan tindakan.
• Tutup trolley denganduk sehingga instrumen diatas trolley tertutup
seluruhnya.

Persiapan Linen
• Instrumenter dibantu omloop menyiapkan sejumlah linen sesuai
kebutuhan jenis tindakan operasi
• Jenis linen disesuaikan dengan standar
• Lakukan sterilisasi. Sterilisasi linen harus sudah selesai sebelum
instrumen
• Nampan dan Trolley diberi alas linen steril. Bila perlu berlapis 2.
• Letakkan linen pada trolley
• Tutup trolley dengan linen steril

SKEMA ALUR PENGELOLAAN INSTRUMEN

TINDAKAN

Instrumen pasca
tindakan

DEKONTAMIN
ASI

PROSES PENCUCIAN BIASA

PENGERINGAN
Packing / set Non packing

STERILISASI DI
PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN
Skema pengelolaan Linen

SKEMA ALUR PENGELOLAAN LINEN KOTOR

LINEN KOTOR

Linen Non Linen


Infeksius Potential
Infeksius

DEKONTAMINAS
I

DESINFEKSI

PROSES PENCUCIAN BIASA


PENGERINGAN , PERBAIKAN, PENYETRIKAAN, PACKING

Linen Non Tindakan Linen Tindakan

STERILISASI DI
PUSAT STERILISASI

DISTRIBUSI

PENYIMPANAN

A. Persiapan Personil Kamar Operasi

Pengertian : Tata cara menjadwalkan operasi pasien.

Tujuan : Terlaksana operasi pada waktunya.

Kebijakan : Waktu operasi adalah kesepakatan antara operator dan anestesi.


Pelaksana pengaturan penjadwalan adalah paramedik.

Prosedur :

1. Dokter operator menentukan pasien untuk dioperasi, memberitahukan


paramedik tentang waktu operasi.
2. Paramedik melaporkan kepada dokter anestesi untuk meminta persetujuan
waktu operasi.
3. Paramedik mengatur / mengusahakan kesepakatan waktu antara dokter
operator dan dokter anestesi.
4. Jika waktu operasi sudah disepakati, paramedik memberitahukan staf kamar
operasi lainnya.
5. Paramedik mengusahakan staf kamar operasi selengkap mungkin.
6. Staf kamar operasi segera mempersiapkan operasi.

Penunjukkan personil kamar operasi


1. Paramedik jaga menentukan paramedik yang akan ditugaskan
di kamar operasi
2. Diusahakan paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang
sudah berpengalaman di kamar operasi
3. Diusahakan Paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang
sedang tidak tugas jaga rawat inap /UGD
4. Diusahakan paramedik yang ditunjuk adalah paramedik yang
sedang tidak libur
5. Paramedik yang ditugaskan di OK datang paling lambat 30
menit sebelum jadwal operasi.
6. Jika diperlukan paramedik jaga ruang rawat inap/UGD
membantu menyiapkan instrumentasi dan ruangan OK
7. Selalu konfirmasi dan pastikan semua siap hadir tepat pada
waktunya

Pembagian tugas personil OK

1. Scrub Nurse ( Instrumenter)

Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril


mengelola semua kebutuhan instrumentasi sebelum, selama
dan setelah operasi

Tanggung jawab : menjaga keutuhan dan efisisensi derah


steril dengan menyediakan instrumen dan supply steril yang
diperlukan

Syarat :
– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
– Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan
dan kemungkinan kegawatan
– Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
– Mengenal karakteristik operator
Tugas :

Sebelum Operasi

– Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat


termasuk benang jahit, jarum, juga ketersediaan
obat2an anestesi, dan cairan
– Memeriksa ulang kesiapan instrumentasi , pastkan
susunan berdasarkan urutan tindakan operasi.
– Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan
sarung tangan steril dengan teknik yang benar
– Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
– Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan
antiseptik kulit. Berdiri pada disisi operator / asisten
satu saat melakukan antiseptik kulit.
– Membantu menutup pasien dengan duk steril
– Menyiapkan dan memberikan instrument

Selama Operasi

– Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba


membaca keperluan operator satu langkah lebih
dahulu.
– Selalu tersedia kasa di daerah operasi. Sediakan pada
wadah tertentu seperti nerbekken.
– Ingat! Kelompokkan kasa dalam satu ikatan dengan
jumlah yang tertentu. Buka lah bundel satu persatu bila
diperlukan agar tidak tercampur satu sama lain. Hitung
selalu kasa yang tersedia di area operasi dan kasa yang
sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah terpakai pada
tempat sampah infeksius
– Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
– Instrumen tidak boleh menumpuk tapi harus tersusun.
– Jangan biarkan darah mengering pada instrumen
– Meminta supply alat tambahan kepada omloop
– Bila sarung tangan bolong atau robek atau tertusuk,
segera diganti
– Posisi tubuh harus tegak, tidak bolah bersandar pada
meja instrumen.
– Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa ,
instrumen, jarum.
Pasca Operasi

– Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril ,


keringkan dengan kasa kering
– Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dan
kasa steril dan difixir dengan plester / Hypafix
– Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai
tertinggal
– Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan
chlorine 0,5%, biarkan selama10 menit. Rendam secara
sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit instrumen
yang direndam.
– Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam
– Sebelum dicabut, kanul dan selang harus selalu di
spooling / bilas dengan air chlorine 0,5% dan air bersih
– Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum
dilepaskan. Jangan lepas handschoen sebelum semua
pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai
prosedur buku ini.
– Bila ada spesimen yang sudah disiapkan Omloop, dicek
kembali .

1. Asisten utama (asisten satu)

Pengertian : Petugas yang mebantu operator


melaksanakan operasi

Tanggung jawab : terlaksananya operasi dengan baik dan


aman.

Syarat :
– Dokter/Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
– Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan
dan kemungkinan kegawatan
– Mampu mengelola pasien gawat
– Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
– Mengenal karakteristik operator
– Teliti dan cekatan
– Diutamakan berpengalaman

Tugas :
Sebelum operasi
– Berkomunikasi dengan operator mengenai rencana
tindakan operasi dan kemungkinan komplikasi
– Memastikan identitas pasien dan kelengkapan
administrasi
– Memeriksa pasien yang akan di operasi
– Memastikan kelengkapan instrumen dan peralatan
– Memastikan kesiapan kegawatan
– Memastikan kesiapan anestesi
– Memastikan kesiapan fasilitas ruangan operasi
– Membantu memposisikan pasien
– Membantu operator melakukan antiseptik
– Membantu operator menutupi pasien dengan duk steril
– Berkomunikasi dengan anestesi tentang kesiapan
tindakan operasi dan kondisi pasien
– Cuci tangan bedah dan mengenakan jas operasi

Selama Operasi

– Membantu operator dalam setiap tindakan yang


dilakukan
– Memberikan lapang pandang yang baik pada area
operasi dan bersih sepanjang operasi
– Memantau dan meminimalisir perdarahan
– Mengawasi kondisi pasien dan berkomunikasi dengan
anestesi
– Mengawasi kinerja instrumenter dan asisten dua
– Mengantisipasi kebutuhan operator baik kebutuhan
personal maupun kebutuhan tindakan operasi
selangkah di depan operator
– Bertindak sebagai manajer dari tim pendukung operasi

Sesudah operasi

– Membantu menutup luka, membersihkan pasien


– Membantu anestesi mengamankan pasien
– Membantu transport pasien
– Memberikan penjelasan kepada keluarga pasien
– Berkomunikasi dengan operator tentang follow up
pasien

1. Asisten madya (asisten dua)


Pengertian : Petugas Kamar operasi yang secara steril
membantu operator dan asisten utama selama operasi

Syarat :
– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS
– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik

Tugas :

Sebelum Operasi

– Bersama omloop menyiapkan instrumen dan alat-alat


termasuk benang jahit, jarum, juga ketersediaan
obat2an anestesi, dan cairan
– Melakukan cuci tangan bedah,memakai jas operasi dan
sarung tangan steril dengan teknik yang benar
– Bila tersedia meja mayo, maka siapkan meja mayo
– Membantu dokter atau asisten satu dalam tindakan
antiseptik kulit. Berdiri pada disisi operator / asisten
satu saat melakukan antiseptik kulit.
– Membantu menutup pasien dengan duk steril

Selama Operasi

– Memperhatikan jalannya operasi dan mencoba


membaca keperluan operator satu langkah lebih
dahulu.
– menghitung selalu kasa yang tersedia di area operasi
dan kasa yang sudah terpakai. Buang Kasa yang sudah
terpakai pada tempat sampah infeksius
– Menjaga agar daerah operasi selalu rapi dan kering
– Membantu sehingga Instrumen tidak boleh menumpuk
tapi harus tersusun.
– Sebelum menutup luka, hitung kembali kasa ,
instrumen, jarum.

Pasca Operasi

– Membersihkan luka operasi dengan Na Cl 0,9% steril ,


keringkan dengan kasa kering
– Luka operasi ditutup dengan kompres betadine dan
kasa steril dan difixir dengan plester / Hypafix
– Lepaskan duk, periksa duk klem jangan sampai
tertinggal
– Rendam instrumen dalam waskom plastik berisi larutan
chlorine 0,5%, biarkan selama10 menit. Rendam secara
sekaligus jangan menambah sedikit-sedikit instrumen
yang direndam.
– Bisturi di buang di tempat sampah benda tajam
– Membantu malakukan spooling / bilas kanul dan selang
dengan air chlorine 0,5% dan air bersih
– Cuci handschoen dengan chlorine 0,5% sebelum
dilepaskan. Jangan lepas handschoen sebelum semua
pekerjaan selesai. Pengelolaan handschoen sesuai
prosedur buku ini.
– Membantu kegiatan omloop dan instrumenter

1. Circuler (Omloop)

Nama jabatan : Sirkuler / Omloop

Pengertian : Petugas kamar operasi yang tidak steril (


tidak memakai jas operasi tidak memakai
handschoen steril)

Tanggung jawab: membantu memenuhi seluruh kebutuhan


kamar operasi, operator, anestesi, instrumenter dan
pasien sebelum, selama dan sesudah operasi.
Membantu team yang steril dengan supply yang
steril

Syarat :

– Paramedik/bidan terlatih secara intern RS


– Menguasai betul / fasih teknik aseptik antiseptik
– Mengenal dengan baik teknik operasi yang dilakukan
dan kemungkinan kegawatan
– Mengenal dengan baik instrumentasi yang diperlukan
dan letak penyimpanan instrumen dan bahan medik
lain dalam kompleks OK
– Cekatan dan inisisatif

Tugas :

Sebelum Operasi

– Cuci tangan bedah tapi tidak memakai jas dan


handschoen steril. Handschoen dapat yang steril tapi
tidak dijaga sterilitasnya.
– Memeriksa kebersihan ruangan , membersihkan
ruangan jika belum dibersihkan
– Membantu mempersiapkan instrumen bersama
instrumenter
– Identifikasi pasien dan serah terima pasien, memastikn
kelengkapan administrasi
– Membantu transport pasien senyaman mungkin
– Mengganti pakaian pasien
– Membantu memposisikan pasien di meja operasi
– Menyambungkan alat 2 ke supply listrik,
menyambungkan selang dan kabel steril dengan alat
yang non steril spt suction atau diatermi
– Membantu team steril mengenakan apron, jas operasi,
sepatu goggle
– Mengisi buku catatan operasi, catatan pasien, formulir
pemeriksaan, dsb
Selama Operasi

– Melihat jalannya operasi dan selalu memenuhi alat ,


supply atau instrumen yang dibutuhkan team
– Menghitung kasa yang dipakai
– Memperhatikan kebutuhan pasien semisal pasien
kedinginan, infus habis , posisi dsb
– Selalu berkomunikasi dengan seluruh tim . Bila keluar
ruangan agar memberitahukan instrumenter
– Menerima spesimen dengan baik dan mengelolanya
dengan benar
– Membantu kebutuhan personal tim steril seperti
menghapus keringat, menghapus cipratan darah,
membenahi pakaian , menyediakan alas kain pada
lantai dsb
– Menjaga agar ruang operasi selalu bersih , rapi, dan
nyaman

Setelah Operasi

– Menyediakan waskom chlorine 0,5% untuk cuci


handschoen operator, melepaskan jas operasi
– Memasangkan plester pada kasa/dressing
– Membersihkan pasien dari darah dan kotoran lainnya
dari tubuh.
– Memakaikan pakaian pasien dengan baik
– Transport pasien ke ruang pemulihan bersama penata
anestesi atau serah terima pasien dengan petugas
rawat inap.
– Menyiapkan laporan operasi, formulir pemeriksaan, atau
resep , serta konsumsi untuk operator
– Membantu instrumenter membersihkan alat dan
instrumen
– Membersihkan ruangan operasi dan menyiapkan
ruangan operasi

A. Transport Pasien

• Pasien diantarkan ke Ruang operasi oleh paramedik


ruangan rawat inap
• Tergantung kondisi pasien, pasien dapat diantar dengan
membawa bed atau dengan kursi roda
• Dilakukan serah terima berita acara tindakan operasi
antara paramedik ruangan dengan petugas OK, besaerta
status pasien dan obat-obatan yang diperlukan
• Petugas OK memeriksa kembali kelengkapan administrasi
dan identitas pasien
• Setelah dinilai lengkap, pasien dibawa ke koridor transport
pasien untuk kemudian dipindahkan ke brankar OK
• Lakukan pemindahan senyaman mungkin
• Setelah pasien diatas brankar, possikan senyaman
mungkin, bed pasien dikeluarkan. Pasien dibawa ke koridor
ruang recovery
• Ganti semua pakaian dengan duk bersih, lepaskan semua
perhiasan, beri penutup kepala, lakukan senyaman
mungkin sesuai tata krama. Tenangkan pasien.
• Setelah selesai, pasien ditransport ke ruang operasi,
pindahkan pasien ke meja operasi senyaman mungkin.
Posisikan senyaman mungkin.
• Semua suportif diperiksa kelancarannya : IV line, urine
catheter, O2, Pasang manset Tekanan darah, pasang pulse
oxymetri, nyalakan pulse oksimeter/ECG Monitor

a. Pelaksanaan Operasi

Surgical Scrub

Pengertian :

Adalah cara cuci tangan bedah yang dilakukan sebelum operasi

Tujuan :

Mencegah terjadinya infeksi dari tangan kepada pasien selama


operasi

Kebijakan :

– Cuci tangan dilakukan ditempat cuci tangan khusus


– Air yang digunakan adalah air tanah yang mengalir dan
sudah teruji secara biologis
– Antiseptik yang digunakan adalah Chlorhexidine tanpa
diencerkan

Prosedur :

1. Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan


2. Pastikan bagian lengan pakaian OK tidak terlalu dekat ke siku
3. Buka keran, biarkan air mengalir sejenak
4. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, alirkan air
sedemikian rupa sehingga seluruh permukaan jari-jari,
telapak tangan, punggung tangan, pergelangan dan lengan
bawah terbasuh dan air mengalir ke arah siku
5. Lakukan pada lengan yang satunya.
6. Keluarkan Chlorhexidine secukupnya dengan tangan satu dan
menampungnya dengan tangan lainnya
7. Lakukan tujuh langkah pencucian tangan :
– Gosok-gosokkan kedua telapak tangan
– Gosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan jari
saling terkait diantara jari sedemikian rupa sehingga
sela jari terkena
– Gosok-gosok punggung tangan yang satu dengan
telapak tangan yang lain , kaitkan jari diantara jari
tangan yang lain sehingga sela jari terkena, lakukan
secara bergantian
– Letakkan punggung jari-jari tangan yang satu dengan
telapak tangan yang lain dengan jari saling mengunci
lalu gosok-gosok sedemikian rupa sehingga ujung jari-
jari tangan yang satu membersihkan buku-buku jari
tangan yang lain
– Gosok-gosok ibu jari tangan yang satu dengan telapak
tangan yang lain secara berputar, lakukan bergantian
– Kuncupkan tangan yang satu sehingga semua ujung jari
bertemu, lalu gosok-gosokkan ke telapak tangan yang
satunya, secara berputar ke kiri dan ke kanan, lakukan
bergantian
– Gosok-gosok seluruh permukaan pergelangan tangan
hingga sepertiga tengah lengan bawah oleh telapak
tangan yang lain, lakukan bergantian
1. Seluruh proses 7 langkah tadi dilakukan selama 1 menit, bisa
dibagi2 per langkah atau lagkah tadi dilakukan berulang2
2. Biarkan keran air terbuka dan air mengalir sepanjang proses
cuci tangan tadi
3. Dengan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bilaslah seluruh
tangan dan lengan dengan air mengalir sedemikian rupa
sehingga seluruh permukaan terbasuh dan buih dari
antiseptik terbasuh
4. Lakukan 7 langkah cuci tangan seperti diatas dengan
antiseptik chlorheksidin sekali lagi.
5. Tutup keran dengan menggunakan siku
6. Pertahankan posisi tangan lebih tinggi dari siku, bila perlu
jabatkan kedua tangan. Posisi tangan jangan terlalu tinggi
jangan terlalu dekat dengan wajah.
7. Kenakan jas operasi dan Handschoen dengan lengan dan
tangan masih terbalur antiseptik

Surgical gown

1. Pakaian OK dan APP tim operasi sesuai prosedur


2. Jas wajib dipakai pada setiap operasi sedang hingga besar/
luar biasa
3. Setelah cuci tangan selesai, dan petugas sudah di dalam
ruang operasi, buka Ikatan jas operasi
4. Kenakann jas dengan memasukkan tangan dan lengan
kedalam lengan jas yang sesuai. Genggam ujung lengan jas
dengan tangan.
5. Biarkan omloop mengikatkan tali di bagian belakang jas
6. Ikatlah tali pada lengan jas sehingga ujung lengan jas melekat
pada pergelangan
7. Kenakan Handschoen dan posisikan tangan selalu diatas
pusar
8. Ingat, walaupun sudah memakai jas, bagian pusar ke bawah
tetap dianggap non steril.

Handgloving

1. Kenakan Handschoen secara hand to hand Glove to glove


2. Handschoen selalu dalam keadaan bagian lengan terlipat
keluar.
3. Ambil handshoen kanan dengan tangan kiri dengan
memegang bagian lipatan handschoen kanan yang
merupakan sisi yang melekat ke kulit
4. Masukkan tangan kanan hingga semua jari masuk ke
tempatnya masing masing. Lepaskan tangan kiri dan biarkan
handschoen masih dalam keadaan terlipat ditangan kanan
5. Ambil handschoen kiri dengan menggunakan tangan kanan
yang sudah memakai handschoen dengan mengaitkan jari
tangan kanan ke dalam lipatan, yaitu sisi yang kelak akan
menghadap ke luar, tidak melekat ke kulit
6. Masukkan tangan kiri hingga jari-jari masuk ketempatnya
masing masing. Dengan jari tangan kanan yang masih
mengait ke lipatan handschoen kiri, lipatan kemudian di buka
sedemikian rupa sehingga bagian lengan handschoen
menutupi sepertiga distal lengan bawah tangan kiri.
7. Jari tangan kiri mengait ke lipatan handschoen kanan pada
sisi yang kelak menghadap keluar, kemudian membuka
lipatan sedemikian rupa sehingga sepertiga distal lengan
bawah kana tertutup handschoen
8. Posisikan tangan diatas pusar

Posisikan tubuh pasien

• Posisi Anestesi
○ Anestesi Umum
Bila dilakukan anestesi umum, maka sebelum anestesi umum
pasien sudah diposisikan terlentang. Posisikan senyaman
mungkin. Ikat tungkai pada bagian atas lutut. Posisi lengan
terlentang dan terikat pada penyanggah.
○ Anestesi spinal
Bila dilakukan anestesi spinal, maka posisi anestesi spinal adalah
duduk dengan tungkai lurus ke depan atau uncang-uncang pada
kedua sisi bed operasi, tangan diletakkan pada bed atau tungkai
dengan posisi palmar diatas, lemas, kepala tertunduk.
○ Posisikan pasien sesuai kebutuhan operasi setelah anestesi
selesai.

• Posisi Terlentang
○ Setelah proses anestesi selesai, maka posisi lengan disesuaikan
kebutuhan apakah akan terlentang dan terikat pada
penyanggah, atau terlipat dibawah kepala, atau lurus disamping
tubuh pasien, Tungkai biasanya lurus dan terikat pada bagian
atas lutut, tambahan-tambahan lain semisal penyanggah bahu,
penyanggah panggul dsb disesuaikan kebutuhan

• Posisi Litothomi
○ Posisi bokong pasien pada batas bagian badan dan tungkai bed
operasi. Siapkan penyanggah tungkai di sisi kiri dan kanan batas
tersebut.
○ Letakkan pelindung / pad pada penyanggah tungkai, lalu
letakkan bagian belakang lutut pada penyanggah, sedemikian
rupa sehingga bagian perineum terekspos dengan baik dan
tungkai terposisikan dengan nyaman.
○ Posisikan lengan terlentang dan terikat pada penyanggah
○ Tutup pasien dengan baik

• Posisi miring
○ Posisi pasien miring kiri atau kanan sedemikian rupa sehingga
area operasi terekspos dengan baik, jalan nafas dan anestesi
tidak terganggu, dan posisi pasien stabil tidak dapat jatuh ke
posisi depan atau belakang.

• Posisi tengkurap
○ Idem posisi miring.

Antiseptik area operasi

• Dengan bantuan sponge clamp / klem kassa / penser klem,


balurkan Betadine ke area operasi menggunakan kassa steril
• Bila area operasi dinilai kotor , terkontaminasi, misal pada
fraktu daerah ekstremitas, terutama tungkai, apalagi fraktur
terbuka, area operasi dapat dicuci dulu dengan NaCl 0,9%
steril dengan atau tanpa larutan savlon sebelum dibalur
betadine. Pencucian dilakukan oleh omloop menggunakan
handschoen non steril.
• Balurkan mulai titik tengah area operasi berputar kekiri atau
ke kanan terus makin luas sedemikian rupa sehingga area
yang terbalur betadine cukup luas dan jauh dari area operasi.
• Bila terpaksa membalur dengan arah lurus, maka balurkan
menjauh area operasi.
• Betadine yang dibalurkan harus cukup banyak, tidak tipis-
tipis. Pada area operasi pembaluran dapat dilakukan berkali-
kali disertai sedikit tekanan agar kasa sekaligus berfungsi
membersihkan kulit juga.
• Buanglah kasa ke tempat sampah bila betadine yang terdapat
pada kasa tinggal sedikit. Ganti kasa dengan yang baru
sebelum memulai membalur lagi.
• Daerah sela-sela selangkangan dbalur terakhir. Klem kasa
yang sudah dipakai membalur daerah selangkangan tidak
boleh dipakai lagi sebelum disteril ulang,
• Setelah selesai antisepsis, klem kasa dipisahkan dengan alat
lain dan dianggap non steril.
• Bila sudah ditutup dengan duk, betadine pada area operasi
dibersihkan dengan alkohol 70%

Menutup area operasi

• Setelah Proses antisepsis selesai, batasi area operasi dengan


duk steril.
• Pertama tutup bagian tungkai hingga batas bawah area
operasi. Pada posisi lithotomi tutup bagian alas bokong dan
bagian bawah bed.
• Bila menggunakan duk bolong, maka langkah selanjutnya
hanya memakai duk bolong ini.
• Bila menggunakan duk biasa, maka setelah bagian tungkai,
maka tutup bagian atas pasien hingga batas atas area
operasi. Hati-hati duk menutupi wajah pasien
• Setelah itu tutup bagian samping tubuh pasien hingga batas
lateral area operasi kiri dan kana. Fiksasi duk dengan doek
klem. Posisikan doek klem supaya tidak menonjol /
mengganggu pelaksanaan operasi.
• Lapisi bagian bawah dengan duk satu lagi sehingga bila
bagian bawah dipakai menyimpan instrumen tidak mudah
melorot atau basah dan terkena bed operasi.
Beberapa petunjuk selama operasi

• Menggunakan hak
○ Agar tercipta lapang pandang yang baik sisi luka perlu ditarik ke
arah luar atau atas.
○ Gunakan hak yang sesuai dengan ukuran luka operasi dan
kedalaman lapang pandang yang dibutuhkan. Contoh untuk
ekstirpasi FAM mungkin hanya dibutuhkan hak Gigi atau
langenbeck kecil saja. Untuk Hernia mungkin perlu hak Roche
dan langenbeck saja, Untuk hysterctomy pada yang kurus bisa
hanya blaas hak saja atau hak cangku / langenbeck besar pada
orang gemuk dsb.
○ Selalu lepaskan hak dari area operasi bila tangan operator
masuk, karena selain bisa menghalangi tangan juga
menyebabkan sakit pada tangan operator
○ Perhatikan arah operator , gerakkan / pindahkan hak untuk
memberi lapang pandang yang lebih baik bila diperlukan

• Membersihkan darah
○ Untuk darah yang menggenang, gunakan suction dengan canul.
○ Untuk perdarahan yang banyak dan cepat dapat menggunakan
suction tanpa kanul. Hindari tangan terlalu dekat dengan area
operasi / menghalangi pandangan.
○ Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang sempit /
dangkal, gunakan kasa depper kecil / terlipat pada klem kasa
○ Untuk perdarahan yang merembes pada daerah yang dalam /
luas, gunakan kasa depper besar / tak terlipat / bendera pada
klem kasa. Gunakan hanya 1 kasa saja untuk mencegah
ketinggalan.
○ Menggunakan kasa depper adalah dengan di tekan-tekankan,
bukan di usap / gosokan pada luka karena gesekan bisa
menimbulkan kembali perdarahan, terutama pada daerah yang
rapuh
○ Ingat usahakan selalu area operasi dalam keadaan yang kering
dan bersih.
○ Gunakan kasa untuk membersihkan area operasi dan instrumen
dari bekuan darah.

• Menghentikan perdarahan
○ Harus pro aktif dalam menghentikan perdarahan. Bedakan
perdarahan yang merembes dari jaringan, mengalir dari
pembuluh vena dan menyemprot dari pembuluh arteri
○ Perdarahan yang merembes dari jaringan yang robek / di sayat,
berasal dari pembuluh darah kecil. Coba lakukan pembersihan
dengan kasa. Biasanya lama-kelamaan berhenti sendiri.bila
masih, coba lakukan penekanan dengan kasa selema beberapa
detik.
○ Bila tampak perdarahan mengalir, atau tidak berhenti dengan
tekanan, mungkin berasal dari pembuluh vena yang ukurannya
kecil sampai besar. Darah yang mengalir biasanya lebih gelap
dan tidak ada pullsasi. Gunakan klem untuk menjepit pembuluh
darah. Biarkan beberapa saat. Bila perdarahan berhenti, maka
tidak perlu dijahit/ cauter. Tapi bila masih ada perdarahan, maka
jepit ulang dengan klem untuk selanjutnya dijahit / diikat/ atau
dibakar dengan cauter.
○ Pengikatan / penjahitan perdarahan pada bagian tubuh yang
menetap dalam tubuh menggunakan plain gut atau chromic gut.
Untuk bagian tubuh yang akan dibuang, menggunakan silk/seide.
○ Cauterisasi dengan menempelkan ujung pen pada klem. Tekan
tombol coagulate untuk membakar pembuluh darah selama
beberapa detik hingga tampak bagian yang dijepit menghitam.
Hindari klem atau cauter menempel pada jaringan epidermis
kulit. Lepskan klem, perhatikan apakah perdarahan berhenti.

• Tentang Jarum
○ Selalu memegang benda tajam seperti bisturi atau jarum
dengan alat, baik pinset,klem atau naldfulder.
○ Jarum dapat dipakai kembali sedangkan bisturi harus dibuang
ditempat sampah benda tajam.
jenis jarum menurut mata jarumnya
○ Jarum taper bermata jaru bulat, bila ditusukkan tidak merobek
jaringan yang ditembusnya. Digunakan untuk menjahit jaringan
lunak dibawah jaringan kutis. Kecuali pada jaringan yang keras
seperti cervix uteri, kelenjar payudara yang displastik, bisa
dipakai jarum cutting dengan pengawasan perdarahan.
○ Jarum Cutting bermata jaru segi tiga, bila ditusukkan akan
merobek jaringan yang ditembusnya sehingga bisa menimbulkan
perdarahan. Digunakan untuk menjahit kulit atau jaringan yang
keras.
○ Jarum non traumatik, yaitu jarum yang langsung terhubung
dengan benang diujung belakang /pangkalnya. Tidak memiliki
lubang jarum sehingga dapat menembus jaringan dengan mulus.
Misal jarum pada benang dalam kemasan sachet.
○ Ekor benang pada lubang jarum jangan terlalu pendek sehingga
mudah lepas atau terlalu panjang sehingga mengganggu
penjahitan. Standar panjang ekor benang adalah 4 – 5 cm.

• Tentang benang
○ Mengambil benang dalam kaset harus menggunakan naldfulder
atau klem . tarik sebanyak 2 kali panjang naldfulder atau kira-
kira 40cm. Atau sesuaikan dengan kebutuhan / karakter
operator.
○ Mengambil benang dari sachet juga menggunakan naldfulder.
Buka lipatan dan ambil jarum dengan nalfulder, dan tarik hingga
benang keluar seluruhnya.
○ Secara umum benang operasi dibagi menjadi 2 golongan besar
yaitu benang absorbable ( dapat diabsorpsi) dan non absorbable
( tidak diabsorpsi)
○ Benang yang dapat diabsorpsi dapat dicerna tubuh untuk
kemudian hancur oleh proses radang / inflamasi / reaksi tubuh
sendiri sehingga hubungan antar 2 sisi bisa saja lepas . Jangka
waktu penghancuran ini berbeda beda berkisar antara 3 hari
hingga 3 bulan.
○ Benang yang non absorpsi tidak dapat dicerna tubuh. Bisa
bertahan di dalam tubuh selama bertahun-tahun karena bersifat
Inert ( tidak menimbulkan / merangsang reaksi tubuh) digunakan
untuk kulit atau jaringan dibawah kulit yang sukar sembuh.
○ Contoh benang absorpsi adalah plain gut, chromic gut ,
Polyglycolic acid (dexxon / Atramat / polysorb) poligaktin ( Safil,
safi quick)
○ Contoh benang non absorpsi adalah silk / seide, nilon (monosof ,
Dermalon ), Polypropylen ( Prolene , mersilene)
○ Ukuran benang bermacam-macam, pemakaiannya tergantung
kebutuhan / jenis operasinya.

• Tentang gunting
○ Semua instrumen yang memiliki bagian yang diperuntukkan jari
seperti gunting, klem, dsb di pegang dengan memasukkan ibu
jari pada lubang yang satu dan jari manis pada lubang yang lain.
Jari telunjuk dan tengah menopang instrumen dan membantu
mengarahkan instrumen
○ Dalam hal gunting, untuk menjaga agar tangan tidak goyah yang
bisa berakibat fatal, maka jari pada tangan kiri ikut membantu
menopang gunting saat pengguntingan dilakukan

a. Pasca Operasi

Pengelolaan Pasien

Perawatan luka operasi

• Segera setelah selesai tindakan operasi, area operasi dicuci bersih


dengan NaCL 0,9% steril. Pembersihan dilakukan mulai dari luka
sayatan meluas kesekitarnya.
• Luka operasi ditutup dengan kasa kompres betadine , lalu kasa steril
polos. Fixasi kasa dengan Hypafix atau plester
• Setelah masuk rawat inap perawatan luka sebagaimana standar
asuhan keperawatan

Membersihkan Pasien dan memberikan pakaian


• Setelah area operasi dan sekitarnya dibersihkan pasien dipindahkan ke
brankar dengan hati-hati.
• Bersihkan bagian tubuh pasien yang menempel pada bed operasi
dengan air bersih dan washlap. Miring-mairingkan pasien
untukmencapai bagian itu.
• Sambil dibersihkan, pakaian pasien diiapkan. Kenakan pakaian pada
pasien, beri sarung atau kain bersih, serta selimuti ia.
• Pasien pindah ke bed pasien dalam keadaan sadar / tidak, pakaian dan
tempat tidur rapi.

Recovery Room (RR) dan Pengawasan di ruang rawat inap

• Tempatkan pasien dalam RR sampai pasien sadar betul.


• Petugas OK melaksanakan tugas pasca operasi sambil mengawasi
pasien. Setelah selesai atau setelah pasien stabil dan sadar betul ,
pasien ditranfer ke rawat inap.
• Kemungkinan lain adalah setelah selesai operasi pasien langsung
ditransfer ke rawat inap dan ditempatkan di HCU untuk beberapa jam
sampai pasien sadar betul dan diawasi petugas rawat inap. Bila sudah
sadar betul / stabil, dapat dipindahkan ke ruangan inapnya.

Pengelolaan Linen

• Segera dekatkan waskom berisi Chlorine 0,5%, untuk cuci handschoen


operator. Mintalah operator melepaskan handschoen untuk direndam
pada waskom tsb.
• Segera buka jas operasi operator. Letakkan didalam ember linen kotor
berpenutup.
• Semua duk dimasukkan ke ember linen kotor. Jangan biasakan
menjatuhkan duk di lantai.
• Jika ada kain alas kaki dilantai juga dimasukkan ke dalam ember tsb.
• Jika apron terbuat dari plastik saja dan tidak ada bagian yang
menyerap cairan tubuh pasien cukup dibersihkan dengan cairan
chlorine saja. Tapi bila terbuat dariparasit dan atau ada bagian yang
menyerap cairan tubuh pasien, harus diperlakukan sebagaimana linen.
• Pakaian OK setelah berganti pakaian diletakkan didalam ember. Jangan
dibiasakan berserakan dilantai
• Penutup kepala dan masker dibuang kedalam tempat sampah
infeksius. Selanjutnya Transport Linen kotor dalam ember tertutup
menggunakan trolley khusus dengan jalur yang sudah ditentukan,
langsung ke ruang laundry. Jangan berhenti atau mampir ke mana-
mana.
• Linen diolah di ruang laundry sesuai prosedur.

Pengelolaan Instrumen

• Segera rendam instrumen kedalam larutan chlorine 0,5% yang


terdapat dalam wadah / ember plastik.
• Sebaiknya instrumen direndam sekaligus, jangan sedikit-sedikit.
• Rendam selama 10 menit. Bila instrumen direndam sedikit-sedikit,
maka hitungan 10 menit sejak instrumen terakhir dimasukkan.
• Rendam sampai seluruh instrumen terendam seluruhnya, jangan lupa
membuka pengunci instrumen
• Untuk selang dan atau kanul, maka sebelum direndam dilakukan
spooling dulu dengan larutan chlorine 0,5% untuk kemudian direndam
selama 10 menit.
• Setelah 10 menit lakukan pencucian dengan detergent dan pembilasan
dengan air bersih mengalir dan penyikatan jika diperlukan. Untuk
kanul dispooling dengan air detergent dan dispooling dengan airbersih
dan dibilas.
• Keringkan dengan menggunakan handuk bersih atau dianginkan
menggunakan hairdryer
• Bila instrumen termasuk dalam packing, maka setelah kering
dilakukan packing kembali dan dilakukan sterilisasi segera. Bila
instrumen tidak termasuk yang di packing maka instrumen disimpan
dalam lemari kaca yang dilengkapi kantung karbon hidrophilik dan
penerangan sekaliguss pemanasan dengan lampu pijar 10 Watt.

Pengelolaan Peralatan dan Fasilitas

• Bed Operasi
○ Seluruh permukaan bed operasi dibersihkan dengan chlorine
0,5%
○ Buka kunci roda, dan pindahkan bed agar lantai dibawah bed
bisa dibersihkan. Gulirkan roda diatas genangan larutan chlorine
bolak balik, keringkan lantai, kemudian kembalikan bed ke
tempat semula dan di kunci roda

• Trolley
○ Perlakuan sama dengan bed operasi.
○ Trolley diletakkan di ruang peralatan

• Brankar dan standar


○ Perlakuan sama dengan bed operasi.
○ Standar diletakkan di ruang peralatan, brankar di koridor
transport / RR

• Lampu Operasi
○ Seluruh permukaan lampu operasi dibersihkan dengan chlorine
0,5%
○ Periksa adakah bola lampu yang rusak. Segera laporkan kepada
bagian pemeliharaan untuk segera diganti.

• Alat anestesi
○ Permukaan trolley di bersihkan dengan chlorine 0,5%
○ Vaporizer ditutup, O2 dan N2O ditutup.
○ Facemask di bersihkan denganchlorine 0,5%
○ Selang, canule, ETT, mayo diperlakukan sebagaimana instrumen.

• Monitor EKG
○ Matikan monitor ECG, cabut kabel dari stekker
○ Gulung dengan bai semua kabel dan letakkan pada
gantungannya.

• AC
○ Matikan AC
Pengelolaan Ruangan

• Lantai dibersihkan dengan chlorine 0,5%


• Dinding dibersihkan dengan chlorine 0,5%
• Tempat cuci tangan diperiksa kebersihannya
• Spoolhoek diperiksa kebersihannya
• Ruang ganti pakaian dan Ruang dokter diperiksa kebersihannya
• Kamar mandi diperiksa
• Ruang instrumen diperiksa
• Ruang RR diperiksa
• Ruang sterilisasi diperiksa.

Pengelolaan spesimen

Hal-hal yang harus diperhatikan pada penanganan specimen adalah


label yang benar, pengawetan (preserverasi) dan pengiriman yang
benar, sebab bila pemberian label yang salah atau specimen tertukar
dapat berari menentukan diagnose yang salah untuk dua orang pasien.
Hilangnya specimen dapat berarti tidak dapat menentukan diagnose
atau harus dilakukan pengambilan specimen baru dengan
kemungkinan tidak mendapatkan specimen yang sama jenisnya
dengan yang hilang.
Oleh karena itu semua specimen harus diamankan kecuali dokter
memintanya untuk membuang.
A. Prosedur penanganan specimen
1. Tangani specimen dengan hati-hati
2. Instrumenter mengkonfirmasikan lagi dengan dokter mengenai
sifat specimen dan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan,
kemudian periksa ulang dengan om loop sebelum menyerahkan
kepada on loop.
3. Om loop menyimpannya ke dalam tempat yang tepat, seperti
kantong plastik, stoples dan sebagainya yang steril.
4. Berikan label yang memuat :
a. Nama pasien
b. Nomor C.M. ( Catatan Medik )
c. Tanggal Operasi
d. Nama specimen
1. Apabila diambil lebih dari satu specimen, specimen-specimen itu
harus diberi nomor label sesuai dengan urutan diangkatnya dan
tempatkan dalam tempat yang terpisah kecuali dokter meminta
untuk menyimpan dalam satu wadah.
2. Organ-organ yang solid seperti : hati, limpa, uterus, dan lain-lain
biasanya dipotong dahulu oleh Dokter sebelum disimpan pada
tempat yang sudah berisi pengawet.
3. Organ yang berbentuk pipa seperti : jaster, Colon, Vesica Winara
harus dibuka dulu agar bahan pengawet mengenai sisi luar dan
dalamnya.
4. Jangan membuat trauma pada jaringan specimen seperti biopsi
nosofaringeal.
5. Tidak boleh memasukkan dengan paksa ke dalam tempat yang
sempit.
6. Jangan membuang specimen kecuali Dokter memintanya untuk
dibuang.

A. Prosedur khusus Penanganan Specimen untuk Pemeriksaan Histologi


1. Rendam specimen dalam formalir 10% (0 cc larutan formalir
kadar 40% dalam 90 cc air )
2. Tutup rapat-rapat tempat specimen tadi untuk mencegah
penguapan bahan pengawet.

A. Prosedur Khusus penanganan Specimen Untuk Kultur.


1. Simpan dalam stoples atau tabung pemeriksaan / test tube yang
steril oleh instrumenter.
2. Tidak boleh diberi bahan pengawet, karena jaringan harus dalam
keadaan segar dan seperti asalnya.
3. Idealnya specimen untuk kultur dikirim segera kalau tidak
specimen tersebut harus disimpan oleh kotak yang bersuhu
ruangan, untuk mempertahankan agar jumlah bakteri tetap
sampai kultur dilakukan.
A. Prosedur Khusus Penanganan Specimen untuk Frozen Section
1. Pastikan bahwa bagian ahli, Patologi sudah diberitahu
sebelumnya, biasanya sehari sebelumnya diberitahu oleh dokter
ahli bedah yang akan mengoperasi pasien.
2. Perintahlah seseorang untuk bersiap-siap pergi mengantarkan
specimen ke bagian Patologi Anatomi.
3. Ingatkan dokter untuk mengisi formulir Histologi dengan tepat,
misalnya riwayat klinis dan penemuan operasi.
4. Simpan specimen dalam wadah yang sudah diberi label. Untuk
pemeriksaan ini tidak perlu bahan pengawet.
5. Tuliskan nomor telepon yang harus dihubungi oleh ahli oleh
patologi pada sebelah kanan atas formulir sehingga hasil dapat
diperoleh dengan cepat.
6. Specimen dikirimkan ke Laboratorium P.A.
7. Catatkan hasil pemeriksaan dengan nama pasien nomor catatan
medik, bila cocok laporkan segera ke dokter.
8. Jika specimen dikembalikan ke kamar bedah, rendam specimen
itu dalam formulir tandai pada tempat specimen itu “Frosen
section sudah dilakukan”.

A. Prosedur Khusus Penanganan Specimen Untuk Difoto.


1. Tempatkan specimen pada sebuah tempat yang datar, kalau
perlu yang dilapisi duk.
2. Sebelum dilakukan pemeriksaan specimen tidak boleh diberi
bahan pengawet.

A. Prosedur khusus Penanganan Benda Asing.


1. Simpan dalam kotak kontainer seperti stoples, kemudian
kembalikan pada pasien, benda asing ini dapat berupa : tulang
ikas, gigi palsu, dan sebagainya.
2. Benda asing jika perlu dibungkus dengan kertas kasa, kemudian
masukkan ke dalam wadah/stoples, catat dalam buku catatan
benda asing, kemudian serahkan kepada polisi sebagai tanda
polisi mengambilnya ia harus menandatangani catatan tadi.
3. Data yang dibentuk dalam tubuh dimasukkan ke dalam kantong
plastik tanpa bahan pengawet dan diberi label. Tanyakan pada
dokter apakah data tersebut diperlukan oleh analisa atau
diserahkan ke keluarganya.

Catatan :
• Semua specimen harus dikirimkan dengan formulir yang tepat dan
sudah ditandatangani.
• Specimen pada bagian yang menular misalnya : Hepatitis B harus
ditangani lebih hati-hati.
• Simpan specimen ini pada stoples yang berlabel khusus, sehingga
orang-orang yang menanganinya akan lebih hati-hati.

I. PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI KAMAR BERSALIN

Pengertian : Prosedur kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka


pengendalian sumber infeksi di kamar bersalin

Sasaran :

• Karyawan / tenaga kesehatan

1. TATA RUANG DAN BANGUNAN


Lihat tata ruang dan bangunan Kamar operasi

2. SISTEM ZONASI
Lihat sistem zonasi kompleks OK dan VK

3. TATA TERTIB DI KAMAR BERSALIN


a) Persiapan kamar bersalin

Pembersihan Rutin

Pembersihan Harian
• Setiap hari seluruh permukaan lantai kompleks OK – VK di
bersihkan dan di desinfeksi
• Setiap hari dilakukan pemeriksaan prasarana seperti
penyediaan air bersih, kelistrikan, pencahayaan, ventilasi,
dsb
• Setelah dibersihkan dilakukan sterilisasi ruangan dengan
lampu ultraviolet secara terus menerus hingga saat
dibersihkan keesokan harinya.
• Pelaksana adalah tim pemeliharaan, dan penaggung jawab
adalah Kepala OK dan Kepala VK

Pembersihan Mingguan
• Seluruh permukaan dinding Kamar Bersalin dibersihkan
• Lantai dibersihkan dengan dan didesinfeksi
• Seluruh permukaan lain seperti permukaan lampu ,
trolley , Lemari, bedside cabinet, Kabel-kabel dan selang ,
cuff, Tabung O2, meja obat, kursi, AC dll dibersihkan dan
didesinfeksi
• Kamar mandi dibersihkan
• Semua peralatan sterilisasi dibersihkan
• Dilakukan rutin dan teratur seminggu sekali .
• Pelaksana adalah tim pemeliharaan dan penanggung
jawab adalah kepala OK

Pembersihan Bulanan

• Dilakukan Pemeriksaan dan penilaian kondisi dan fungsi


serta inventarisasi dan kondisi sarana fisik bangunan,
prasarana dan peralatan serta obat-obatan di kompleks OK
– VK
• Semua hasil pemeriksaan dilaporkan di rapat bulanan

Pembersihan Pra dan Pasca Persalinan


• Bila pasien masuk VK setelah dilakukan pembersihan rutin
maka ruangan bersalin tidak perlu dibersihkan lagi
• Bila pasien masuk VK sebelum dilaksanakan pembersihan
rutin, maka segera dilakukan pembersihan ruangan
bersalin dan sekitarnya.
• Pasca persalinan semua permukaan yang terkontaminasi
dibersihkan dan di desinfeksi

a) Persiapan pasien bersalin


A. Persiapan fisik
Pasien harus dalam kondisi aman dan sehat untuk melakukan
persalinan yang ditandai oleh
○ Dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan hasil
pemeriksaan fisik oleh dokter ruangan dan atau dokter konsulen
RSBL menunjukkan kondisi dalam batas toleransi
○ Dokter Ruangan dan atau dokter konsulen Kebidanan
menyatakan pasien dapat melaksanakan persalinan normal
○ Bila diperlukan dapat dilakukan pemasangan Supportif seperti
O2, IV line
○ Pasien dalam keadaan bersih, bila perlu sudah mandi, pakaian
dari RS, bersih.

A. Persiapan mental
○ Pasien harus memahami teknik yang benar dari persalinan dan
memahami tentang segala kemungkinan yang harus dihadapi
dalam persalinan ini. Lakukan Informed Consent sesuai prosedur.
○ Pasien di tenangkan dan diberi penyuluhan yang baik agar
tegar . Pasien diminta untuk berdoa menurut keyakinannya
masing-masing.
○ Keluarga pasien diminta selalu mendampingi dan mendukung
secara moril.
○ Perlakukan sesuai peraturan Tatakrama di RSBL

A. Persiapan jalan lahir


○ Tidak ada persiapan khusus jalan lahir untuk persalinan normal

A. Persiapan personil kamar bersalin

• Pelaksana Observasi / Penolong Persalinan


Pengertian :
Adalah petugas yang memeriksa pasien, memeriksa kehamilan, mengobservasi
kemajuan persalinan, menolong persalinan, melakukan asuhan Bayi Baru lahir,
dan mengelola kala IV

Syarat :
Bidan/ dokter/Spesialis terlatih
Memahami /fasih asuhan persalinan normal
Memahami/fasih tindakan aseptik / antiseptik
Mampu melakukan resusitasi BBL
Mampu melakukan Episiotomy dan Penjahitan
Mengenal tanda-tanda bahaya persalinan
Mampu menangani kegawatan persalinan

Tugas :
• Melakukan anamnesa,
• Melakukan pemeriksaan fisik
• Menegakkan diagnosa
• Melakukan konsultasi
• Melakukan observasi
• Mellengkapi formulir SOAP dan Partograf
• Menolong persalinan kala II
• Melakukan Asuhan BBL
• Melakukan Resusitasi BBL
• Melakukan Inisiasi Menyusu Dini
• Mengelola perdarahan dan perlukaan pasca persalinan
• Memantau Kala IV
• Membuat Laporan

• Asisten Penolong
Pengertian :
Adalah petugas yang membantu penolong melaksanakan tugasnya

Syarat :
Paramedik / Bidan terlatih
Memahami proses asuhan persalinan normal
Memahami/fasih tindakan aseptik / antiseptik
Mampu membantu melakukan resusitasi BBL
Mampu membantu tindakan Episiotomy dan Penjahitan
Mengenal tanda-tanda bahaya persalinan
Mampu membantu penenganan kegawatan persalinan
Mengenal betul ruangan bersalin dan letak alat / obat
Tugas
• Membantu anamnesa,
• Membantu pemeriksaan fisik
• Membantu melakukan observasi
• Sebagai asisten persalinan kala II
• Membantu Asuhan BBL
• Membantu resusitasi BBL
• Membantu Inisiasi Menyusu Dini
• Membantu pengelolan perdarahan dan perlukaan pasca persalinan
• Membantu memantau Kala IV
• Melakukan pembersihan ruangan, desinfeksi, pengelolaan sampah dsb
Rumah Sakit Prosedur Pelayanan Pasien Bersalin

Budi Luhur 01/KEP/SOP No Revisi

PROSEDUR TETAP Tanggal terbit Ditetapkan

Direktur

Prosedur Tetap Pelayanan Pasien Bersalin di RSBL

Tujuan :

• Terlaksana pelayanan persalinan normal yang aman dan sesuai standar


• Ibu dapat melahirkan dengan selamat dan terawasi dengan cermat
• Bayi dapat lahir dengans elamat dan terawat dengan baik
Kebijakan :

• Tata laksana persalinan normal mengacu pada Standar asuhan persalinan normal
JNPK-KR
• Pelayanan persalinan normal dilaksanakan oleh setidaknya seorang bidan terlatih dan
seorang asisten
• Semua Kegiatan pelayanan harus tetap sesuai dengan standar kerja, standar profesi
dan kode etik yang berlaku di RSBL
• RSBL mendukung program IMD, RS. Sayang Ibu dan Sayang Bayi

Prosedur

1. Pasien datang ke RS melalui Poliklinik atau UGD


2. Pasien dapat langsung masuk ruangan / VK setelah itu dilakukan pendaftaran atau
sebaliknya.
3. Pasien yang belum inpartu dan atau pasien dengan kala I masuk ke Ruang rawat
Kebidanan (R23), sedangkan pasien dengan Kala II masuk ke Ruang Bersalin/VK
4. Pasien diganti pakaiannya dengan pakaian
5. Siapkan Bed sesuai dengan aturan
6. Semua pasien rujukan kebidanan dilakukan pemasangan infus RL dengan Transfusion
set dan IV canule 20 F atau sesuai kebutuhan
7. Bidan jaga segera memeriksa pasien dan melakukan penapisan
8. Konsultasikan pasien kepada Konsulen/ Spesialis Kebidanan
9. Bila diputuskan untuk persalinan normal, maka penatalaksanaan selanjutnya sesuai
standar pelayanan kebidanan / asuhan persalinan normal oleh Bidan
10. Segera konsultasikan pasien kepada Konsulen bila terjadi :
○ Perdarahan pervaginam yang mencurigakan
○ Ketuban pecah bercampur mekonium
○ Ada tanda-tanda gawat janin
○ Ada tanda-tanda infeksi
○ Fase aktif kala I kepala 5/5 pada primipara
○ Tali pusat menumbung
○ Presentasi ganda
○ Gejala shock
○ Fase laten > 8 jam grafik partograf dikanan garis waspada
1. Bila pembukaan hampir lengkap dan kemajuan persalinan baik, serta kondisi ibu dan
janin baik, pasien segera dipindah ke kamar bersalin / VK
2. Asisten segera menyiapkan ruangan , alat dan bahan medis lainnya
3. Dilakukan asuhan persalinan kala II
4. Konsultasikan kepada konsulen Kebidanan apabila :
○ Kala II > 1 jam pada multipara
○ Kala II > 2 jam pada primipara
1. Bila diputuskan untuk :
○ Vaccuum Ekstraksi, maka lakukan VE sesuai prosedur
○ Sectio Caesaria, maka lakukan SC sesuai prosedur
○ Lahir normal, maka dilakukan asuhan persalinan normal, asuhan BBL dan
pengawasan kala IV
1. Pasca persalinan,Asuhan BBL dan pengawasan kala IV dilakukan di VK.
2. Inisiasi menyusu dini dan imunisasi dilakukan di VK
3. Setelah kondisi stabil pasca pengawasan kala IV, pasien dipindahkan ke rawat inap
kebidanan
4. Pasca persalinan normal, pengawasan ibu dan bayi setidaknya dilakukan selama 24 jam

ASUHAN PERSALINAN NORMAL

DI KAMAR BERSALIN

RUMAH SAKIT UMUM BUDI LUHUR

PENATALAKSANAAN KALA I

1. Lakukan pengumpulan data subyektif dengan melakukan anamnesa dan catat data
subyektif pada kolom Subyektif lembaran SOAP
2. Lakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan mencatatnya dalam kolom data obyektif
pada lembaran SOAP

3. Tata Cara mengukur tinggi fundus Uteri (TFU) : ukur panjang jarak tepi atas symphisis
pubis sampai puncak fundus uteri dengan menggunakan meteran kain

4. Tata Cara pemeriksaan abdomen cara Lloyd


○ Lloyd I dengan kedua tangan meraba puncak fundus untuk menentukan tinggi
fundus uteri dan isi fundus uteri. Bedakan puncak terisi Bokong, Kepala atau
Kosong
○ Lloyd II Dengan kedua tangan meraba sisi kiri dan kanan perut ibu untuk
menentukan bagian-bagian keci dan bagian besar janin. Bagian kecil
menunjukkan sisi tangan dan kaki, sedangkan bagian besar menunjukkan
punggung janin
○ Lloyd III Dengan kedua tangan meraba bagian terendah janin. Bila kedua tangan
arah menyempit kemungkinan bagian terendah masih tinggi, sedangkan bila
kedia tangan mengarah melebar kemungkinan kepala sudah masuk panggul
○ Lloyd IV dengan satu tangan kanan bagian terendah dipegang dengan ibu jari
dan jari lainnya serta dicoba untuk digerakkan. Bila bergerak bagian terendah
belum masuk panggul, sedangkan bila tidak bergerak, bagian terendah sudah
masuk panggul

1. Tata cara menilai kontraksi uterus :


Palpasi uterus sekitar umbilicus dengan sedikit tekanan. Catatlah berapa kali uterus
berkontraksi dalam setiap 10 menit. Catatlah berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap
kali kontraksi, serta Nilailah kekuatan kontraksi secara kualitatif dengan mencoba
menekan jari – jari pada daerah pemeriksaan saat kontraksi berlangsung.

2. Tata Cara menghitung Denyut Jantung Janin (DJJ) :


Letakkan monoaural atau probe doppler pada daerah punggung janin. Gunakan jelly
bersih untuk menambah sensitifitas doppler. Dengarkan DJJ mulai sebelum atau selama
puncak kontraksi. Dengarkan selama 60 detik atau setidaknya 30 detik setelah kontraksi
berakhir. Dengarkan DJJ di lebih dari satu kontraksi.Bersihkan jelly setelah selesai
pemeriksaan.
Cara lain adalah dengan menghitung DJJ dalam setiap 5 detik 3 kali , dengan selang 5
detik. Jumlahkan ketiga hasil pemeriksaan, dan kalikan dengan 4.
Interpretasi
DJJ normal bila DJJ antara 120 – 160 kali permenit
DJJ waspada bila 120>DJJ>160 kali permenit
DJJ bahaya bila 100>DJJ>180 kali permenit
DJJ ireguler bila perbedaan perhitungan per 5 detiknya selisih 2deti atau lebih

3. Tata cara mengukur Penurunan Kepala janin


Dengan salah satu tangan dan jari-jari rabalah kepala janin bila presentasi kepala.
Interpretasi :
Bila kepala teraba dengan 5 jari : Penurunan kepala 5/5 : Kepala belum masuk Panggul
Bila kepala teraba dengan 4 jari : Penurunan Kepala 4/5: Kepala di Hodge I-II
Bila Kepala teraba dengan 3 jari :Penurunan Kepala 3/5 : Kepala di Hodge II-III
Bila Kepala teraba dengan 2 jari :Penurunan Kepala 2/5 : Kepala di Hodge III(+)
Bila kepala teraba dengan1 jari :Penurunan kepala 1/5 : Kepala di Hodge III-IV
Bila kepala tak teraba : Penurunan Kepala 0/5 : Kepala di Hodge IV

4. Tata Cara melakukan Pemeriksaan Dalam ( Vaginal Touche/VT)


• Cuci tangan bersih dan memakai handschoen sesuai prosedur
• Posisikan ibu terlentang dengan kedua tungkai terlekuk pada lutut,sedemikian
rupa sehingga perineum / vulva terekspos. Ingat selalu untuk menutupi ibu
semaksimal mungkin.
• Basuh vulva dengan Kasa steril dan NaCl 0,9% steril, oleskan dengan arah atas
ke bawah, sisi kiri ,sisi kanan dan tengah vulva
• Nilai secara visual kondisi vulva, cairan yang keluar dari vulva
• Buka labia dengan ibujari dan jari manis tangan kiri, masukkan jari telunjuk dan
jari tengan tangan kanan secara perlahan .
• Nilai Kapasitas panggul terutama pada primipara, dengan cara mencari
Promontorium, dan jarak antara promontorium dengan batas bawah symphisis,
raba linea innominata, kelengkungan sacrum dan penonjolan spina ischiadica
• Nilai mukosa vagina : apakah ada jaringan parut, bagaimana kondisi cairan
dalam vagina
• Nilai cervix dan pembukaan serta penipisan cervix
• Nilai kondisi selaput Ketuban dan air ketuban
○ Jika selaput utuh Kode U
○ Jika Cairan ketuban jernih Kode J
○ Jika Cairan Ketuban berdarah Kode D
○ Jika Cairan ketuban Mekoneal Kode M
○ Jika cairan ketuban kering Kode K
• Tentukan bagian terendah janin, nilai penurunan janin, serta posisi bagian
terendah janin.

• Nilai adanya Moulage


○ Jika tidak ada moulage Kode 0
○ Jika ada kedua sisi hanya bersentuhan Kode 1
○ Jika ada moulage masih bisa dipisahkan Kode 2
○ Jika ada moulage tidak bisa dipisahkan Kode 3

• Nilai adakah bagian terkemuka atau menumbung


• Jika sudah selesai, keluarkan tangan dengan perlahan
• Cuci handschoen dan rendam dalam chlorine 0,5%
• Cuci tangan dan keringkan
• Posisikan ibu ke posisi yang lebih nyaman, Beri penjelasan kepada ibu dan
keluarganya

1. Konsultasikan dengan Spesialis Kebidanan


2. Bila diadviskan untuk persalinan normal, maka prosedur berlanjut.
3. Catat diagnosa pada kolom assesment pada lembaran SOAP
4. Buat perencanaan penanganan sesuai kondisi pasien, catat dalam kolom perencanaan
pada lembaran SOAP.
5. Bila pasien masuk dalam fase aktif, maka pemeriksaan dilanjutkan ke lembar Partograf
Bila pasien masuk dalam fase laten, pemeriksaan dilanjutkan pada lembar observasi.
6. Observasi DJJ, nadi, dan His setiap 30 menit
Observasi Tekanan darah, suhu dan urine setiap 4 jam
Pemeriksaan dalam diulang pada jam ke 4. Catat semua data dalam lembaran kedua
SOAP sampai 30 menit sebelum jam ke 4.
7. Pada jam ke 4 ulangi seluruh pemeriksaan dan dicatat pada lembaran catatan SOAP
8. Bila hasilnya pasien memasuki fase aktif, maka pemeriksaan selanjutnya pada lembar
partograf. Bila hasilnya pasien masih dalam fase laten maka observasi dilanjutkan lagi
pada lembar observasi sampai 30 menit sebelum jam ke 8
9. Pada jam ke 8 seluruh pemeriksaan diulangi lagi dan dicatat pada lembaran catatan
SOAP
10. Konsultasikan hasilnya dengan konsulen Kebidanan.
11.Bila hasilnya Sectio maka dilanjutkan ke prosedur Sectio Caesaria. Bila advisnya untuk
terus melanjutkan, maka prosedur berlanjut.
12.Bila pasien masuk ke dalam fase aktif, maka pemeriksaan selanjutnya dicatat dalam
lembaran partograf. Bila pasien masih dalam fase laten, kemungkinan besar konsulen
akan mengadviskan untuk Sectio cesaria.
13. Catat kemajuan persalinan dalam partograf sesuai petunjuk APN.
14. Segera konsultasikan dengan kosulen Kebidanan bila :
○ Ada tanda-tanda gawat janin
○ Penurunan kepala tidak ada kemajuan
○ Pembukaan cervix tidak ada kemajuan / grafik di kanan garis waspada
○ Ada tanda-tanda gawat ibu

PENATALAKSANAAN KALA II

1. Bila pembukaan lengkap / hampir lengkap, pasien segera dipindahkan ke kamar


bersalin / VK
2. Penolong dan asisten segera mempersiapkan ruangan, tempat tidur, trolley alat, meja
resusitasi, obat-obatan dan bahan medis lain, serta Alat Perlindungan Perorangan
(APP)
3. Persiapan Ruangan
○ Bila ruang bersalin dipakai sebelum jadwal pembersihan rutin, harian, maka
segera dilakukan pembersihan rutin harian
○ Bila dipakai setelah dilakukan pembersihan rutin, maka tidak perlu dibersihkan
lagi
○ Nyalakan lampu
○ Nayalakan AC, atur suhu 27oC
○ Periksa kelancaran air kran
○ Semprotkan pewangi ruangan

1. Persiapan tempat tidur


○ Standar lapisan tempat tidur : Matras, seprai, laken, penutup laken, alas /
selendang pasien, pasien, selimut
○ Semua komponen Bed dalam keadaan bersih
○ Posisikan ibu senyaman mungkin

1. Persiapan trolley
○ Gelar paket partus set diatas trolley. Perhatikan label pensterilan tidak boleh
lebih dari 7 hari. Bila lebih, harus disteril ulang
○ Siapkan paket linenpartus. Perhatikan label sterilisasi terakhir.
○ Masukan bahan medis lain secara aseptik
○ Standar susunan trolley :

○ Paket Partus set terdiri dari :


– Klem 2 buah
– Amniotome 1 buah
– Gunting Episiotomy 1 buah
– Gunting benang 1 buah
– Needle holder 1 buah
– Pinset anatomis 1 buah
– Kom kecil 2 buah
– Kom sedang 2 buah
– Nerbekken 2 buah
– Jarum Taper 1 buah
– Jarum Cutting 1 buah
– Nelaton 1 buah

○ Paket linen partus terdiri dari :


– Duk alas bokong 2 buah
– Flanel pembungkus bayi 1 buah
– Handuk besar 1 buah
– Baju bayi lengan panjang 1 buah
– Popok bayi 1 buah
– Celana panjang tutup 1 buah
– Sarung tangan 1 buah
– Topi bayi 1 buah

○ Bahan Medis yang ditambahkan :


– Kasa steril 1 bundel
– NaCl 0,9% steril 1 buah
– Handschoen 4 pasang
– Oxitocin 1 amp
– Methergin 1 amp
– Vitamin K1 1 amp
– Lidocain 1 amp
– Salep tetrasiklin 1 buah
– Syringe 3cc 2 buah
– Syringe 5 cc 1 buah

1. Persiapan Meja Resusitasi


○ Siapkan alas selimut
○ Siapkan gajal bahu
○ Siapkan lampu sorot 60 watt
○ Siapkan suction pump
○ Siapkan O2
○ Siapkan Ambu bag

1. Persiapan Alat Perlindungan Perorangan


○ Apron 2 buah
○ Goggle 2 buah
○ Masker 2 buah
○ Sepatu 2 pasang
○ Pelindung kepala 1 buah

1. Persiapan Sarana pendukung


○ Tempat sampah infeksius
○ Wadah sampah benda tajam
○ Washkom + Chlorine untuk handschoen
○ Ember besar berpenutup untuk linen kotor
○ Spoolhoek, wastafel dan air mengalir

1. Persiapan Larutan Chlorine


○ Larutan chlorine disiapkan di wadah untuk merendam alat, wadah untuk
mencuci handscoen, dalam wadah untuk mengela permukaan .
1. Pimpinan Kala II
Ibu Bidan / Penolong Asisten

Ibu ingin • Menyiapkan trolley


mengedan beserta isinya
• Cek Visual, bila tanda-tanda • Cuci tangan
lengkap ada, minta asisten • Pasang handschoen
menyiapkan alat +siapkan oxitocin one
• Pasang APD hand
• Cuci tangan • Siapkan bengkok di
• Pakai handschoen Ki+Ka perineum
• Sediakan Kassa
• Sediakan amniotome,
pegang bengkok
• Bersihkan vulva dengan kassa
• Uang air ketuban ke
+NaCl steril
spoolhoek, kassa ke
tempat sampah infeksius
• Pemeriksaan dlam +/- Amniotomy
• Siapkan doptone, siapkan
jelly dan kassa
• Cuci hanschoen, lepas, cuci
tangan
• Bantu posisikan ibu.
• Cek DJJ

• Jelaskan pada ibu dan posisikan


ibu

Kepala janin • Pakai Handschoen


crowning
• Pimpin meneran s/d lahir kepala

• Cek lilitan • Sediakan Kainflanel,


sediakan handuk besar di
• Tunggu putaran paksi luar perut ibu
• Cek DJJ diantara his
• Lahirkan bahu • Siap-siap kalau lilitan perlu
dipotong
• Sanggah Susur, lahirkan bayi

• Bayi ditaruh diperut ibu+Penilaian


BBL

• Hangatkan , keringkan,rangsang
taktil BBL

• Oxitocin 1 amp IM *

• Potong Umbilikus, pasang


umbilical klem • Posisikan umbilikus
sebebas mungkin
• Posisikan IMD +/- metode • Siap-siap barangkali perlu
kangguru resusitasi
• Siapkan Spuit Oxitocin,
• Lakukan PTT + dorong uterus bila perlu lansung berikan
dorsokranial oxitocin IM atau IV*
• Siapkan Klem dan gunting
• Placenta lepas, laksanakan dan umbilical klem
perlahan

• Massase uterus 15”

• A • Bantu posisikan bayi IMD


dan cara kangguru
• CekPlasenta • Bila >15” siapkan oksitosin
II bila >30” siapkan
• Cek Robekan
manual. Bantu hitung
• Cek Kontraksi minta ibu bantu detik.
massase • Bantu tampung plasenta

• Hecting bila ada robekan

• Bersih-bersih Ibu
• Siap-siap barangkali atoni
• Kain disimpan diember • Dalam pikiran “methergin?
berpenutup IV?gastrul?RL? HES?
Guyur?
• Ibu dibersihkan dengan washlap • Siapkan kassa, saksikan
dan NaCl, keringkan dengan kelengkapan plasenta,
washlap bersih simpan placenta
• Siapkan barangkali
• Ganti Alas Ibu hecting
• Bericontoh massase
• Cuci Handschoen, lepaskan,
Cucitangan • Asistensi hecting
• Lakukan pemantauan kala
• Pantau kala IV IV bila sudah 15 menit
• Siapkan Kain bersih Ibu,
• Isi laporan dan lengkapi Partograf bantu beresin kain ibu
• Beberes Trolley
• Rendam alat dalam
chlorine,
• Kasa dibuang ke tempat
sampah infeksius
• Jarum di tempat benda
• Pakai Handschoen bersihkan dari tajam
1 jam post talc atau formalin • Benang bersihkan dengan
partum • Beri pakaian pada bayi chlorine dan disimpan
• Vit K 1 strip pada tempatnya
• Ukur panjang bayi • beberes ruangan
• Beri salep mata • Cuci alat dan tiriskan
• Selimuti bayi, timbang bayi • Cuci Handschoen, Lepas,
• Berikan pada ibu, disisi ibu,atau cucitangan
disusui atau metode kangguru • Pake rubber glove, Cuci
handschoen, bilas dan
• Pantau kala IV sampai jam ke tiriskan
dua post partum • Bila alat sudah keringbisa
dimulai sterilisasi
• Siapkan Perlengkapan
bayi, bantu memakaikan
• Siapkan vit K dalam spuit
• Siapkan meteran, sipakan
salep, siapkan timbangan

• Pindahkan ibu setelah 2


jam stabil

1. Pengelolaan Peralatan pasca persalinan


• Idem pengelolaan instrumen pasca operasi
1. Pengelolaan Linen Pasca persalinan
• Idem pengelolaan linen infeksius
1. Pengelolaan sampah dan limbah
• Idem pengelolaan sampah dan limbah
1. Pengelolaan benda tajam
• Idem pengelolaan sampah benda tajam
1. Pengelolaan handschoen
• Idem pengelolaan handschoen
1. Pengelolaan ruangan Bersalin
• Idem pembersihan ruangan pasca persalinan
BAB II. DEKONTAMINASI, DESINFEKSI ,
STERILISASI

A. DEFINISI

Dekontaminasi
Adalah sustu proses / kegiatan yang berusaha menghilangkan kontaminasi suatu
benda oleh benda lain yang potensial menjadi sumber infeksi yang sekaligus juga
membasmi sebagian mikroorganisme sehingga kita dapat menangani secara aman

Desinfeksi
Adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme
penyebab penyakit yang mencemari benda mati atau instrumen. Tindakan serupa pada
kulit disebut Antisepsis

Sterilisasi
Adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme termasuk
endospora bakteri

B. DEKONTAMINASI
C. DESINFEKSI
D. STERILISASI