ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN GANGGUAN KONJUNGTIVA

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Pengertian KonjungtivitisKonjungtivitis adalah infeksi atau inflamasi pada konjungtiva mata dan
biasa dikenal sebagai “pink eye”.Konjungtivitis biasanya tidak ganas dan bisa sembuh
sendiri.Dapat juga menjadi kronik dan hal ini mengindikasikan perubahan degenerative atau
kerusakan akibat serangan akut yang berulang.Klien sering datang dengan keluhan mata
merah.Pada konjungtivitis didapatkan hyperemia dan injeksi konjungtiva, sedangkan pada
kojungtiva hanya iritasi konjungtiva dan biasanya terjadi karena mata lelah, kurang tidur, asap,
debu, dan lain-lain.

Konjungtivitis inflamasi dapat terjadi karena terpapar alergen atau iritan dan tidak
menular.Konjungtivitis infeksi lebih banyak disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dan
mudah menular.Penyebab tersering meliputi bakteri, virus dan klamidia.Sedangkan penyebab
yang kurang sering adalah alergi, penyakit parasite dan yang jarang adalah infeksi jamur atau
occupational irritant.Bentuk idiopatik dapat berhubungan dengan penyakit sistemik tertentu
seperti ertema multipormis dan penyakit tiroid.
Konjungtivitis terbagi dalam tiga jenis, yaitu konjungtivitis alergi atau vernal, infeksi atau
bacterial, dan viral.


Konjungtivitis Alergi
Infeksi ini bersifat musiman dan berhubungan dengan sesitifitas terhadap serbuk, protein hewani,
bulu, makanan atau zat-zat tertentu, gigitan serangga dan atau obat (atropine dan antibiotic
golongan mycin. Infeksi ini terjadi setelah terpapar zat kimia seperti hair spray, tatarias, asap
rokok. Asma, demam kering dan eczema juga berhubungan dengan konjungtivitis alergi.Gejala
jenis konjungtivitis ini adalah edema konjungtiva ringan sampai berat, sensasi terbakar dan
injeksi vaskuler.Lakrimasi kadang-kadang terjadi.Rasa gatal adalah yang paling parah pada
bentuk konjungtivitis ini.Kadang-kadang didapatkan rabas seperti air.

Konjungtivitis Infektis
Jenis konjungtivitis ini juga berhubungan dengan “pink eye” dan mudah menular. Wabah “pink
eye” dapat terjadi pada populasi yang padat dan dengan standar kesehatan yang rendah.
Penyebab infeksi ini adalah staphylococcus aureus.dapat juga terjadi setelah terpapar
haemophilus influenza atau N. gonorhoea. Dapat terjadi bersamaan dengan morbiliparotitis
epidemika, bleferitis, obstruksi duktus nasolakrimalis, karena penyinaran cahaya (konjungtivitis
elektrika). Gejalanya, dilatasi pembuluh darah, edema konjungtiva ringan, epifora dan rabas pada
awalnya encer akibat epifora tetapi secara bertahap menjadi lebih tebal atau mucus dan
berkembang menjadi purulent yang menyebabkan kelopak mata menyatu dalam posisi tertutup
terutama saat bangun tidur pagi hari. Dapat ditemukan kerusakan kecil pada epitel kornea.

Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus(yang paling sering adalah
keratokonjungtivitis epidemika) atau dari penyakit virus sistemik seperti mumps dan
mononucleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel sehingga disebut juga
konjungtivitis folikularis.Gejalanya, pembesaran kelenjar limfe preaurikur, fotopobia dan sensasi
adanya benda asing pada mata.Epiofora merupakan gejala terbanyak. Konjungtiva dapat menjadi
kemerahan dan bias terjadi nyeri periorbital.

Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dilakukan dengan smear konjungtiva yang akan menunjukkan bahwa predominan
monocyte (jika disebabkan oleh virus), sel polimorfonukelar (neutrophil) jika disebabkan oleh
bakteri eosinophil(jika disebabkan oleh alergi). Kultur dan uji sensitivitas dilakukan untuk
melakukan terapi.
Terapi pada infeksi bakteri adalah dengan antibiotic (sulfonamid topikal), pada infeksi virus
dengan sulfonamide/antibiotika tetes mata spectrum luas untuk mencegah infeksi sekunder,
sedangkan untuk infeksi alergi diberikan vasokonstriktor tetes seperti nafazolin, kompres dingin,
dan antihistamin oral.

Patofisiologi
Konjungtiva karena lokasinya, terpapar pada banyak mikroorganisme dan factor lingkungan lain
yang mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi permukaan mata dari substansi luar.Pada
film air mata unsur berairnya mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris dan kerja
memompa dari palpebral secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air mata
mengandung substansi anti mikroba termasuk lisozim.Adanya agens perusakmenyebabkan
kerusakan pada epitel konjungtiva yang diikuti edema epitel, kematian sel eksfoliasi, hipertropi
epitel atau granuloma.mungkin pula terdapat edema pada stroma konjungtiva melalui epitel ke
permukaan.Sel-sel ini kemudian bergabung dengan fibrin dan mucus dari sel goblet, membentuk
eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan tepian palpebral pada bangun tidur.
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva
posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah
limbus. Pada hyperemia konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertropi
papilla yang sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensasi
ini merangsang sekresi airmata.Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh daah yang
hyperemia dan menambah jumah airmata.Jika klien mengeluh sakit pada iris atau badan silier
berarti kornea terkena.

Proses Keperawatan

Pengkajian
Anamnesis
Kaji gejala yang dialami klien sesuai dengan jenis konjungtivitis yang terjadi, meliputi gatal dan
rasa terbakar pada alergi; sensasi benda asing pada infeksi bakteri akut dan infeksi virus; nyeri
dan fotofobia jika kornea terkena; keluhan peningkatan produksi airmata; pada anak-anak dapat
disertai dengan demam dan keluhan pada mulut dan tenggorok. Kaji riwayat detail tentang
masalah sekarang dan catat riwayat cedera atau terpajan lingkungan yang tidak bersih.
Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik (inspeksi) untuk mencari karakter/tanda konjungtivitis yang meliputi :
1. Hiperemi konjungtiva yang tampak paling nyata pada fornix dan mengurang kea rah limbus.
2. Kemungkinan adanya secret :
a. Mukopurulen dan berlimpah pada infeksi bakteri, yang menyebabkan kelopak mata lengket
saat bangun tidur.
b. Berair/encer pada infeksi virus.
3. Edema konjungtiva
4. Blefarospasme
5. Lakrimasi
6. Konjungtiva palpebra (merah,kasar seperti beludru karena ada edema dan infiltrasi).
7. Konjungtiva bulbi, injeksi konjungtiva banyak, kemosis, dapat ditemukan pseudo membrane
pada infeksi pneumokok.Kadang-kadang disertai perdarahan subkonjungtiva kecil-kecil baik di
konjungtiva palpebral maupun bulbi yang biasanya disebsbkan pneumokok atau virus.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan visus, kaji visus klien dan catat derajad pandangan perifer klien karena jika terdapat
secret yang menempel pada kornea dapat menimbulkan kemunduran visus/melihat halo.

Diagnosis dan Intervensi Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman yang berhubungan dengan edema dan iritasi konjungtiva ditandai
dengan peningkatan eksudasi, fotofobia lakrimasi dan rasa nyeri.
Tujuan, klien akan :
1. Melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri/fotofobia/eksudasi.
2. Menunjukkan perbaikan keluhan.
Intervensi Keperawatan :
a. Kompres tepi palpebral (mata dalam keadaan tertutup)dengan larutan salin kurang lebih
selama 3 menit.Rasional: melepaskan eksudat yang lengket pada tepi palpebral.
b. Usap eksudat secara perlahan dengan kapas yang sudah dibasahi salin dan setiap pengusap
hanya dipakai satu kali.Rasional: Membersihkan palpebral dari eksudat tanpa menimbulkan
nyeri dan meminimalkan penyebaran mikroorganisme.
c. Beritahu klien agar tidak menutup mata yag sakit.Rasional: Mata tertutup merupakan media
terbaik bagi pertumbuhan mikroorganisme.
d. Anjurkan klien menggunakan kacamata (gelap).Rasional: Pada klien fotofobi, kacamata gelap
dapat menurunkan cahaya yang masuk pada mata sehingga sensitivitas terhadap cahaya
menurun. Pada konjungtivitis alergi, kacamata dapat mengurangi ekspose terhadap allergen atau
mencegah iritasi lingkungan.
e. Anjurkan pada klien wanita konjungtivitis alergi agar menghindari atau mengurangi
penggunaan tatarias hingga semua gejala konjungtivitis hilang. Bantu klien mengidentifikasi
sumber allergen yang lain. Tekankan pentingnya kacamata pelindung bagi klien yang bekerja
dengan bahan kimia iritan.Rasional: Mengurangi expose allergen atau iritan.
f. Kaji kemampuan klien menggunakan obat mata dan ajarkan klien cara menggunakan obat tetes
mata atau salep mata.Rasional: Mengurangi resiko kesalahan penggunaan obat mata.
Kolaborasi dalam pemberian:
a. Antibiotik.Rasional: Mempercepat penyembuhan pada konjungtivitis infektif dan mencegah
infeksi sekunder pada konjungtivitis viral. Tetes mata diberikan pada siang hari dan salep mata
diberikan pada malam hari untuk mengurangi lengketnya kelopak mata pada pagi hari.
b. Analgesik ringan seperti asetaminofen.Rasional: mengurangi nyeri seperti nyeri periorbital
pada konjungtivitis viral.
c. Vasokonstriktor seperti nafazolin.Rasional: Mengurangi dilatasi pembuluh darah pada
konjungtivitis alergi.
d. Antihistamin oral.

2. Resiko tinggi penuaran penyakit pada mata yang lain atau pada orang lain yang berhubungan
dengan keterbatasan pengetahuan klien tentang penyakit.
Tujuan, klien akan:
1. Mempunyai pengetahuan yang adekuat tentang tindakan pencegahan penularan.
2. Melakukan tindakan pencegahan penularan penyakit.
3. Tidak terjadi penularan penyakit pada mata yang lain atau orang lain.
Intervensi keperawatan
a. Beritahu klien untuk mencegah pertukaran sarung tangan, handuk dan bantal dengan anggota
keluarga yang lain. Klien sebaiknya menggunakan tisu, bukan saputangan dan tissue ini harus
dibuang setelah pemakaian satu kali saja.Rasional: Meminimalkan resiko penyebaran infeksi.
b. Ingatkan klien untuk tidak menggosok mata yang sakit atau kontak sembarangan dengan
mata.Rasional: Menghindari penyebaran infeksi pada mata yang lain dan pada orang lain.
c. Beritahu klien tentang tekhnik cuci tangan yang tepat.Anjurkan klien untuk mencuci tangan
sebelum dan sesudah melakukan pengobatan dan gunakan saputangan atau handuk bersih.
Beritahu klien untuk menggunakan tetes atau salep mata dengan benar tanpa menyentuhkan
ujung botol pada mata/bulu mata klien. Rasional: Prinsip higienis perlu ditekankan pada klien
untuk mencegah replikasi kuman sehinnga penyebaran infeksi dapat dicegah.
d. Bersihkan alat yang digunakan untuk memeriksa klien.Rasional: Mencegah infeksi silang pada
klien yang lain.
3. Resiko tinggi cedera yang berhubungan dengan penurunan lapang pandang.
Intervensi keperawatan:
a. Bersihkan secret mata dengan cara yang benar.Rasional: Sekret mata akan membuat
pandangan kabur.
b. Perhatikan keluhan pengelihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan
salep mata.Rasional: Memberikan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya
sesaat setelah penggunaan obat mata.
c. Gunakan kacamata gelap.Rasional: Mengurangi fotofobia yang dapat mengganggu
pengelihatan klien.
Evaluasi
Fokus evaluasi adalah:
Resolusi infeksi
Klien mempunyai pengetahuan yang adekuat tentang tindakan mengontrol
ketidaknyamanan,infeksi dan medikasi.

TRAKOMA
Trakoma adalah bentuk konjungtivitis dengan jaringan parut yang terjadi bilateral, kronik dan
disebabkan oleh Clamidia trachomatis infeksi ini merupakan penyebab utama kebutaan.Infeksi
ini banyak terdapat di afrika, beberapa daerah asia, suku aborigin dan Brazil Utara. Prevalensi
dan keparahan penyakit bergantung pada standard hidup klien, hygiene personal, iklim, usia saat
terkena serta frekwensi dan jenis infeksi mata bacterial yang sudah ada. Insiden lebih tinggi
tercatat di iklim panas, lembab karena praktik kebersihan masih dibawah standar.Infeksi ini
dapat mengenai semua umur terutma remaja dan anak-anak.Periode inkubasi 5-14 hari.Bentuk
akut lebih infeksius daripada bentuk sikatriks.Infeksi juga menyebar melalui kontak langsung
atau bahan kontak. Umumnya dari anggota keluarga yang lain. Vektor serangga khususnya lalat,
juga dapat menular sebagai penular.Gejalanya, epifora, fotofobia, edema kelopak mata dan
kelopak mata, drainase berlebihan, jaringan parut kelopak mata dan kelopak mata berputar ke
dalam menyebabkan bulu mata mengabrasi kornea.Terdapat bentuk folikel pada konjungtiva
palpebral dekat tarsus superior dan pada limbus kornea.Iritasi merangsang pannus (membrane
fibrovaskuler yang timbul dari limbus dengan lengkung-lengkung vaskuler meluas ke atas
kornea, pertumbuhan pembuluh darah baru dari marjin kornea-sklera. Komplikasi trachoma
adalah parut konjungtiva yang akan mengubah lapisan air mata, menyebabkan entropion dan
trikiasis dengan segala akibatnya yaitu ulkus kornea, infeksi bacterial kornea dan parut kornea.

Manajemen Kolaboratif
a. Kultur dan smears untuk menentukan organisme penyebab.
b. Terapi oral dengan tetrasiklin atau eritromisin selama 3-4 minggu yang juga diikuti obat
topical jika obat sistemik tidak dapat digunakan/ditoleransi oleh klien. Jaringan parut
konjungtiva kebanyakan terjadi dan dapat menutup akses pada system lakrimalis yang pada
akhirnya mengubah lapisan air mata. Dapat terjadi infeksi dan ulserasi kornea.
c. Koreksi bulu mata yang membalik ke dalam untuk mencegah parut trakoma lanjut.
d. Fokus intervensi keperawatan adalah membuat/memperbaiki kondisi sanitasi:
1. Kontrol populasi lalat (populasi sekitar).
2. Gunakan air hangat untuk membersihkan wajah dan mata.
3. Jangan bertukar baju mandi/handuk dan cuci dengan air panas.
4. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh mata (terutama jika terdapat rabas).
5. Jika drainase keras menjadi masalah, gunakan kompres hangat lembap.
6. Cegah memasuki tempat ramai sampai infeksi sembuh.