Tugas Material Teknik

Klasifikasi heat treatment
DOSEN :
DEDY MASNUR, S.T., M.Eng











DISUSUN OLEH:


Kelompok : 5


1. AHMAD SYAIFUDIN
2. HAROYAN
3. KRIST MAMRE SARAGIH
4. MADI HARTO SILALAHI
5. SAHAT P SIMARMATA


PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2014

i

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Puji syukur kita ucapakan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan
rahmat-Nya kepada kita semua dan salawat beriring salam kita sampaikan kepada
junjungan Nabi besar Muhammad SAW karena berkat perjuangan Beliaulah kita
dapat merasakan kehidupan yang penuh dengan ilmu dan teknologi seperti saat
sekarang ini. Penulis memanjatkan puji syukur Alhamdulillah yang tak terhingga
padaNya. Hanya dengan kehendak-Nya semata penulis dapat menyelesaikan
penulisan dan penyusunan Makalah Material Teknik.
Dengan Rahmat Allah SWT yang tidak pernah berhenti mengalir pada
makhluknya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah yang berjudul
“UJI TARIK DAN UJI KEKERASAN”. Laporan ini disusun agar pembaca
dapat memperluas ilmu tentang Material Teknik.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam
penulisan Makalah ini, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun untuk kebaikan kita semua dan untuk penulis khususnya.
Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca, Amin.Wasssalam.

Pekanbaru, 5 Maret 2014



Penulis










ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ...........................................................................................................................iv
BAB I .......................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ......................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................................... 2
BAB II ......................................................................................................................................... 3
TEORI DASAR ............................................................................................................................. 3
2.1 UJI TARIK ............................................................................................................ 3
2.1.1 Sifat Mekanik Material ....................................................................................... 5
2.1.2 Sifat Sifat Tarik .................................................................................................. 6
2.1.3.Kurva Tegangan-Regangan ................................................................................ 8
2.2 UJI KEKERASAN .............................................................................................. 13
2.2.1 Metode Pengujian Brinnell ............................................................................... 15
2.2.2 Metode Pengujian Vickers ............................................................................... 17
2.2.3 Metode Pengujian Rockwell ............................................................................ 18












iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Alat uji tarik ............................................................................................ 3
Gambar 2. 3 Kurva tegangan dan regangan titik Y merupakan titik luluh .................. 6
Gambar 2. 4 kekuatan tarik dan titik patah .................................................................. 7
Gambar 2. 5 keuletan ................................................................................................... 7
Gambar 2. 6 Kurva tegangan regangan ....................................................................... 8
Gambar 2. 7 Mekanisme perpatahan ......................................................................... 11
Gambar 2. 8Perpatahan ulet ...................................................................................... 12
Gambar 2. 9 perpatahan ductile ................................................................................. 12
Gambar 2. 10 Patahan Brittle .................................................................................... 13
Gambar 2. 11 Alat uji kekerasan ............................................................................... 14
Gambar 2. 12Pengujian kekerasan ............................................................................ 15
Gambar 2. 13 Pengujian Brinell ................................................................................ 16
Gambar 2. 14Perumusan untuk pengujian Brinell .................................................... 17
Gambar 2. 15 Pengujian Vickers ............................................................................... 18
Gambar 2. 16 Bentuk indentor Vickers ..................................................................... 18
Gambar 2. 17Pengujian Rockwell ............................................................................. 19
Gambar 2. 18 Prinsip kerja metode pengukuran Rockwell ....................................... 20


















iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Rockwell Hardness scales ............................................................................ 20







































1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Banyak material yang terdapat di sekitar kita, dan telah menjadi bagian
dari pola berpikir manusia bahkan telah menyatu dengan keberadaan kita. Apakah
hakikat bahan atau material itu? Bahan dengan sendirinya merupakan bagian dari
alam semesta, secara terperinci bahan adalah benda yang dengan sifat-sifatnya
yang khas dimanfaatkan dalam bangunan, mesin, peralatan atau produk. Seperti :
logam, keramik, semikonduktor, polimer, gelas, dielektrik serat, kayu, pasir, batu
berbagai komposit dan lain-lain.Pada dasarnya bahan atau material mempunyai
beberapa sifat yangdiklasifikasikan menjadi sifat mekanik, sifat fisik dan sifat
kimia.
Kekuatan suatu struktur desain material sangat dipengaruhi oleh sifat fisik
materialnya, oleh karena itu diperlukan pengujian untuk mengetahui sifat-sifat
tersebut, salah satunya adalah pengujian tarik (Tensile test). Dalam dunia
manufaktur pengetahuan tentang sifat-sifat fisik suatu bahan sangat penting,
khususnya dalam mendesain dan menentukan proses manufakturnya. Pengujian
tarik merupakan jenis pengujian material yang paling banyak dilakukan karena
mampu memberikan informasi representatif dari perilaku mekanis material.
Pengujian tarik sangat simple, relatif murah dan sangat memenuhi strandar. Pada
dasarnya percobaan tarik ini dilakukan untuk menentukan respons material pada
saat dikenakan beban atau deformasi dari luar (gaya-gaya yang diberikan dari
luar, yang dapat menyebabkan suatu material mengalami perubahanstruktur, yang
terjadi dalam kisi kristal material tersebut). Dalamhal ini akan ditentukan seberapa
jauh perilaku inheren, yaitusifat yang lebih merupakan ketergantungan atas
fenomenaatomic maupun mikroskopik dan bukan dipengaruhi bentuk danukuran
benda uji.
Makna nilai kekerasan suatu material berbeda untuk kelompok bidang
ilmu yangberbeda, bagi insinyur metalurgi kekerasan adalah ketahanan material
terhadappenetrasi sementara untuk para insinyur disain nilai tersebut adalah

2

ukuran daritegangan alir, untuk insinyur lubrikasi kekerasan berarti ketahanan
terhadapmekanisme keausan, untuk para insinyur mineralogi nilai itu adalah
ketahanan terhadapgoresan, dan untuk para mekanik work-shop lebih bermakna
kepada ketahanan materialterhadap pemotongan dari alat potong. Begitu banyak
konsep kekerasan material yangdipahami oleh kelompok ilmu, walaupun
demikian konsep-konsep tersebut dapatdihubungkan pada satu mekanisme yaitu
tegangan alir plastis dari material yang diuji.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai brikut :
1. Memahami kurva tegangan-regangan hasil uji tarik dari beberapa jenis
logam
2. Mendeskripsikan titik-titik penting (batas proporsionalitas, batas elastis,
titik luluh, daerah necking dan sebagainya) dalam kurva tegangann
regangan yang menjelaskan.
3. Mengetahui macam-macam metode pengujian kekerasan serta aplikasinya
4. Mengetahui prosedur dan standar pengujian kekerasan
5. Mengetahui kelebihan dan kekurangan metode – metode pengujian
kekerasan
6. Mengetahui angka kekerasan suatu bahan.
7. Mengetahui pengaruh perlakuan panas terhadap kekerasan bahan.
8. Mengetahui salah satu cara pengukuran kekerasan.











3

BAB II
TEORI DASAR

2.1 UJI TARIK
Kekuatan suatu struktur desain material sangat dipengaruhi oleh sifat fisik
materialnya, oleh karena itudiperlukan pengujian untuk mengetahui sifat-sifat
tersebut, salah satunya adalah pengujian tarik (Tensile test). Dalam
duniamanufaktur pengetahuan tentang sifat-sifat fisik suatu bahansangat penting,
khususnya dalam mendesain dan menentukanproses manufakturnya.
Uji Tarik merupakan salah satu pengujian untuk mengetahui sifat-sifat
suatu bahan. Dengan menarik suatu bahan akan dapat diketahui bagaimana bahan
tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu
bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki
cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi (highly stiff).
Banyak hal yang dapat dipelajari dari hasil uji tarik. Bila suatu bahan
(dalam hal ini suatu logam) dilakukan penarikan secara terus-menerus sampai
putus, maka akan didapatkan profil tarikan yang lengkap berupa kurva. Kurva ini
menunjukkan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahan panjang. Profil ini
sangat diperlukan dalam desain yang memakai bahan tersebut


Gambar 2. 1 Alat uji tarik

4

Pengujian tarik merupakan jenispengujian material yang paling banyak
dilakukan karena mampumemberikan informasi representatif dari perilaku
mekanismaterial. Pengujian tarik sangat simple, relatif murah dan
sangatmemenuhi strandar. Pada dasarnya percobaan tarik ini dilakukanuntuk
menentukan respons material pada saat dikenakan bebanatau deformasi dari luar
(gaya-gaya yang diberikan dari luar,yang dapat menyebabkan suatu material
mengalami perubahanstruktur, yang terjadi dalam kisi kristal material tersebut).
Dalamhal ini akan ditentukan seberapa jauh perilaku inheren, yaitusifat yang lebih
merupakan ketergantungan atas fenomenaatomic maupun mikroskopik dan bukan
dipengaruhi bentuk danukuran benda uji.
Hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan
antara beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan
panjang bahan tersebut. Ini disebut daerah linier atau linear zone. Di daerah ini,
kurva pertambahan panjang terhadap beban mengikuti aturan Hooke yaitu rasio
tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan.
“Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan”
“Strain adalah pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan”
Jika dirumuskanmaka,
 Stress (Tegangan Mekanis): σ = F/A , F = gaya tarikan, A = luas
penampang
 Strain (Regangan): ε = ΔL/L , ΔL = Pertambahan panjang, L = Panjang
awal
Maka, hubungan antara stress dan strain dirumuskan:

E = σ/ε

E adalah gradien kurva dalam daerah linier, di mana perbandingan
tegangan (σ) dan regangan (ε) selalu tetap. E diberi nama "Modulus
Elastisitas" atau "Modulus Young". Kurva yang menyatakan hubungan
antara strain dan stress seperti ini sering disingkat dengan kurva SS (SS curve).

5

Prinsip pengujian ini yaitu sampel atau benda uji denganukuran dan
bentuk tertentu diberi beban gaya tarik sesumbuyang bertambah besar secara
kontinyu pada kedua ujungspecimen tarik hingga putus, bersamaan dengan itu
dilakukanpengamatan mengenai perpanjangan yang dialami benda uji.Tegangan
yang dipergunakan pada kurva adalah teganganmembujur rata-rata dari pengujian
tarik. Pada spesimen panjangbagian tengahnya biasanya lebih kecil luas
penampangnyadibandingkan kedua ujungnya, agar patahan terjadi pada
bagiantengah. Panjang ukur (gauge length) adalah daerah dibagiantengah dimana
elongasi diukur atau alat extensometerdiletakkan untuk pengukuran. Data yang
diukur secara manual,yakni diameter specimen luas penampang A, dan data
yangterekam dari mesin tarik, berupa beban F yang diberikan (loadcell) dan strain
ε yang terbaca (extensometer), direduksi menjadikurva tegangan-regangan.
2.1.1 Sifat Mekanik Material
a). Batas proposionalitas (Proportionality Limit)
Dedefinisikan sebagai daerah dimana tegangan dan regangan mempunyai
hubungan proporsionalitas satu dengan lainnya. Setiap penambahan tegangan
akan diikuti dengan penambahan regangan secara proporsional dalam hubungan
Linier Pada kurva tegangan-regangan pada gambar 2.1 diatas, titik P merupakan
batas proposionalitas.
b). Batas elastis (elastic limit)
Didefinisikan sebagai daerah dimana bahan akankembali kepada panjang
semula bila tegangan luardihilangkan. Daerah proporsionalitas merupakan bagian
daribatas elastik. Bila beban terus diberikan tegangan maka bataselastis pada
akhimya akan terlampaui sehingga bahan tidakkembali seperti ukuran semula.
Batas elastis merupakan titikdimana tegangan yang diberikan akan menyebabkan
terjadinya deformasi plastis untuk pertama kalinya.Kebanyakan material teknik
mempunyai batas elastis yang hampir berhimpitan dengan batas
proporsionalitasnya.



6

c). Titik Luluh (Yield Point) dan Kekuatan Luluh (YieldStrength)
Didefinisikan sebagai batas dimana sebuah materialakan terus mengalami
deformasi tanpa adanya penambahanbeban. Tegangan (stress) yang
mengakibatkan bahanmenunjukkan mekanisme luluh ini disebut tegangan
luluh(yield stress).

Gambar 2. 2 Kurva tegangan dan regangan titik Y merupakan titik luluh
Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logamlogam ulet dengan struktur
kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial solid solution dari atom-atom
karbon, boron, hidrogen dan oksigen. Interaksi antar dislokasi dan atom-atom
tersebut menyebabkan baja ulet seperti mild steel menunjukan titik luluh bawah
(lower yield point) dan titik luluh atas (upper yield point).

2.1.2 Sifat Sifat Tarik
1. Luluh dan Kekuatan Luluh
Titik luluh terjadi pada daerah dimana deformasi plastis mudah terjadi pada
logam grafik σ-ε berbelok secara bertahap sehingga titik luluh ditentukan dari awal
perubahan kurva σ-ε dari linier ke lengkung. Titik ini di sebut batas proporsional (
titik p pada gambar). Pada kenyataannya titik p ini tidak bisa ditentukan secara pasti.
Kesepakatan di buat dimana di tarik garis lurus paralel, dengan kurva σ-ε dengan
harga ε = 0.002. Perpotongan garis ini dengan kurva σ-ε didefinisikan sebagai
kekuatan luluh τy.


7

2. Kekuatan Tarik
Setelah titik luluh, tegangan terus naik dengan berlanjutnya deformasi plastis
sampai titik maksimum dan kemudian menurun sampai akhirnya patah.
Kekuatan tarik adalah tegangan maksimum pada kurva σ-ε . Hal ini berhubungan
dengan tegangan maksimum yang bisa di tahan struktur pada kondisi tarik

Gambar 2. 3 kekuatan tarik dan titik patah
3. Keuletan
Mengukur derajat deformasi plastis pada saat patah. Bahan yang
mengalami sedikit atau tidak sama sekali deformasi plastis di sebut rapuh.

Gambar 2. 4 keuletan



8

4. Resilience
Adalah kapasitas material untuk menyerap energi ketika mengalami
deformasi elastis dan ketika beban dilepaskan, energi ini juga dilepaskan.
Modulus resilience, Ur : adalah energi regang persatuan volume yang diperlukan
sehingga material mendapat tegangan dari kondisi tidak berbeban ketitik luluh.
Material yang mempunyai sifat resilience adalah material yang mempunyai
tegangan luluh tinggi (σ
y
) dan modulus elastisitas rendah. Contoh : alloy untuk
pegas.

2.1.3.KurvaTegangan-Regangan
Kurvategangan-reganganmerupakan kurva standar ketika melakukan
eksperimen uji tarik. Kurva yang menyatakan hubungan antara strain dan
stress seperti ini sering disingkat dengan kurva SS (SS curve).



Gambar 2. 5 Kurva tegangan regangan

Keterangan gambar :
1. Pada pembebanan dari nol sampai mencapai titik proporsional limit, grafik
masih merupakan garis lurus. Pada daerah proporsional limit ini, apabila
besarnya pembebanan dibawah rentangan proporsional limit maka benda uji

9

hanya mengalami deformasi plastis. Jadi jika gaya itu ditiadakan maka benda
uji akan masih dapat kembali ke panjang mula-mula. Elastic limit merupakan
batas antara deformasi elastik dan deformasi plastik. Bila besarnya
pembebanan melampau elastik limit ini maka grafik yang terbentuk ini
merupakan garis lengkung. Karena antara nol hingga proporsional
limit merupakan garis lurus, maka berlaku hubungan Tegangan dibagi dengan
Regangan sama dengan Konstant, sama dengan Modulus Elastisitas(Young
Modulus).
2. Apabila tegangan sudah mencapai titik Yields Stress maka benda uji sudah
mulai nampak adanya pengecilan penampang. Dan ternyata pula pada titik
tersebut benda uji mengalami pertambahan panjang dengan sendirinya
walaupun besarnya beban tidak ditambah. Yields Stress dapat juga disebut
dengan Yeild Point (Batas Lumer). Tetapi pada umumnya banyak logam yang
tidak memiliki titik atau batas lumer yang jelas, terutama pada logam-logam
yang rapuh. Pada diagram Tegangan-Regangan dari jenis logam tersebut titik
lumer ditentukan dari harga tegangan dimana benda uji dari logam tersebut
memperoleh perpanjangan (pertambahan panjang) permanen sebesar 0,2%
dari panjang mula-mula. Tegangan ini biasanya dimanakan “Tegangan Net
0,2” dan merupakan dasar untuk menentukan Yield Stress.
3. Apabila pembebanan sudah mencapai titik Ultimate Stress (Batas Patah)
maka tegangan ini merupakan tegangan tarik maksimum yang mampu
ditahan oleh benda uji tersebut. Pada titik tersebut, benda uji sudah
menunjukan gejala-gejala patah berupa retakan-retakan. Retakan-retakan
yang sudah mulai timbul pada titik Ultimate Stressakan semakin bertambah
besar dan akhirnya benda uji akan patah pada titik Fracture Stress.

Istilah mengenai sifat-sifat mekanik bahan dengan berpedoman pada hasil
uji tarik seperti pada Gambar 2.3:

 Batas elastic σ
E
(elastic limit), Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik
A, kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi

10

semula (tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan “nol” Tetapi
bila beban ditarik sampai melewati titik A, hukum Hooke tidak lagi berlaku.
 Batas proporsional σ
p
(proportional limit). Titik di mana penerapan hukum
Hooke masih bisa ditolerir. Tidak ada standarisasi tentang nilai ini. Dalam
praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas elastis.
 Deformasi plastis (plastic deformation). Perubahan bentuk yang tidak kembali ke
keadaan semula.
 Tegangan luluh (yield stress). adalah tegangan mekanis pada titik ini.
 Tegangan tarik maksimum (UTS, Ultimate Tensile Strength) merupakan besar
tegangan maksimum yang didapatkan dalam uji tarik.

Perlu untuk diingat bahwa satuan SI untuk tegangan (stress) adalah Pa
(Pascal, N/m
2
) dan strain adalah besaran tanpa satuan.Selanjutnya akan kita bahas
beberapa istilah lain yang penting seputar interpretasi hasil uji tarik.

Kelenturan (ductility)
Merupakan sifat mekanik bahan yang menunjukkan derajat deformasi plastis yang
terjadi sebelum suatu bahan putus atau gagal pada uji tarik. Bahan disebut
lentur (ductile) bila regangan plastis yang terjadi sebelum putus lebih dari 5%,
bila kurang dari itu suatu bahan disebut getas (brittle).
Derajat kelentingan (resilience)
Derajat kelentingan didefinisikan sebagai kapasitas suatu bahan menyerap energi
dalam fase perubahan elastis. Sering disebut dengan Modulus
Kelentingan (Modulus of Resilience), dengan satuan strain energy per unit
volume (Joule/m
3
atau Pa). Dalam Gbr.1, modulus kelentingan ditunjukkan oleh
luas daerah yang diarsir.
Derajat ketangguhan (toughness)
Kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase plastis sampai bahan tersebut
putus. Sering disebut dengan Modulus Ketangguhan (modulus of toughness).
Dalam Gbr.5, modulus ketangguhan sama dengan luas daerah dibawah kurva
OABCD.

11

Pengerasan regang (strain hardening)
Sifat kebanyakan logam yang ditandai dengan naiknya nilai tegangan berbanding
regangan setelah memasuki fase plastis.
Tegangan sejati , regangan sejati (true stress, true strain)
Dalam beberapa kasus definisi tegangan dan regangan seperti yang telah dibahas
di atas tidak dapat dipakai. Untuk itu dipakai definisi tegangan dan regangan
sejati, yaitu tegangan dan regangan berdasarkan luas penampang bahan secarareal
time.

2.1.4.ModePatahan Material
Sampel hasil pengujian tarik dapat menunjukkan beberapatampilan
perpatahan seperti ditunjukkan oleh Gambar di bawahini :

Gambar 2. 6 Mekanisme perpatahan
Pengamatan kedua tampilan perpatahan ulet dan getasdapat dilakukan baik
dengan mata telanjang maupun denganbantuan stereoscan macroscope.
Pengamatan lebih detil dimungkinkan dengan penggunaan SEM (Scanning
ElectronMicroscope).
a. Perpatahan Ulet
Perpatahan ulet umumnya lebih disukai karena bahan ulet umumnya lebih
tangguh dan memberikan peringatan lebihdahulu sebelum terjadinya kerusakan.

12


Gambar 2. 7 Perpatahan ulet
Tampilan foto SEM dari perpatahan ulet diberikan oleh Gambar berikut :


Gambar 2. 8 perpatahan ductile

b. Perpatahan Getas
Perpatahan getas memiliki ciri-ciri mempunyai ciri-ciri yang berbeda
dengan perpatahan ulet. Pada perpatahan getas tidakada atau sedikit sekali terjadi
deformasi plastis pada material.Perpatahan jenis ini merambat sepanjang bidang-
bidangkristalin membelah atom- atom material. Pada material yanglunak dengan
butir kasar akan ditemukan pola chevrons atau fanlike pattern yang berkembang
keluar dari daerah kegagalan.Material keras dengan butir halus tidak dapat
dibedakansedangkan pada material amorphous memiliki permukaan
patahan yang bercahaya dan mulus.

13


Gambar 2. 9 Patahan Brittle
2.2 UJI KEKERASAN
PengujianKekerasanadalahsatudarisekianbanyakpengujian yang dipakai,
karenadapatdilaksanakanpadabendauji yang
keciltanpakesukaranmengenaispesifikasi.
Kekerasan (Hardness) adalahsalahsatusifatmekanik (Mechanical
properties) darisuatu material. Kekerasansuatu material
harusdiketahuikhususnyauntuk material yang
dalampenggunaanyaakanmangalamipergesekan (frictional force)
dandinilaidariukuransifatmekanis material yang diperolehdari DEFORMASI
PLASTIS (deformasi yang diberikandansetelahdilepaskan,
tidakkembalikebentuksemulaakibatindentasiolehsuatumendasebagaialatuji.
Dalamhalinibidangkeilmuan yang
berperanpentingmempelajarinyaadalahIlmuBahanTeknik (Metallurgy
Engineering). Mengapadiperlukanpengujiankekerasan? Di
dalamaplikasimanufaktur, material terutamasematadiujiuntukduapertimbangan:
yang manapunkerisetkarakteristiksuatu material
barudanjugasebagaisuatucekmutuuntukmemastikanbahwacontoh material
tersebutmenemukanspesifikasikualitastertentu .

14


Gambar 2. 10 Alat uji kekerasan
Kekerasan suatu bahan mempunyai banyak arti tergantung pihak-pihak
yang telah berpengalaman dan mencoba mendefinisikan kekerasan. Definisi
kekerasan secara umum adalah ketahanan material terhadap deformasi akibat
penetrasi di permukaan.
Beberapa definisi yang di pakai untuk menyatakan kekerasan bahan adalah :
 Ketahanan terhadap goresan, merupakan cara yang lama dalam usaha
pengukuran kekerasan suatu material. Pengukuran dilakukan dengan cara
menggoreskan material yang lebih keras, dalam hal ini digunakan intan.
Kekerasan material di urut dalam sepuluh skala yang pertama di
kemukakan oleh Mohs.
 Ketahanan terhadap deformasi plastis terhadap lekukan (cara penekanan),
yaitu kekerasan di ukur dengan pemberian beban lokal melalui sebuah
penekanan (indentor). Cara yang sering digunakan adalah cara penekanan
Brinell,Vikers,Rockwell, Meyer dll.
 Besarnya energi yang diserap pada pembebanan dinamik.

15

Kekerasan suatu bahan sangat di pengaruhi oleh unsur paduannya. Nilai
kekerasan ini juga dapat berubah bila bahan mengalami proses pengerjaan dingin
(cold work) dan perlakuan panas.
Kekerasan juga didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk
menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Didunia teknik, umumnya
pengujian kekerasan menggunakan 3 macam metode pengujian kekerasan, yakni :
1. Brinnel (HB / BHN)
2. Rockwell (HR / RHN)
3. Vikers (HV / VHN)

Gambar 2. 11Pengujian kekerasan


2.2.1 Metode Pengujian Brinnell
Pengujian kekerasan dengan metode Brinnel bertujuan untuk menentukan
kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap bola baja
(identor) yang ditekankan pada permukaan material uji tersebut (speciment).
Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan bagi material yang memiliki kekerasan
Brinnel sampai 400 HB, jika lebih dari nilai tersebut maka disarankan
menggunakan metode pengujian Rockwell ataupun Vickers. Angka Kekerasan
Brinnel (HB) didefinisikan sebagai hasil bagi (Koefisien) dari beban uji (F) dalam

16

Newton yang dikalikan dengan angka faktor 0,102 dan luas permukaan bekas luka
tekan (injakan) bola baja (A) dalam milimeter persegi. Identor (Bola baja)
biasanya telah dikeraskan dan diplating ataupun terbuat dari bahan Karbida
Tungsten. Jika diameter Identor 10 mm maka beban yang digunakan (pada mesin
uji) adalah 3000 N sedang jika diameter Identornya 5 mm maka beban yang
digunakan (pada mesin uji) adalah 750 N. Dalam Praktiknya, pengujian Brinnel
biasa dinyatakan dalam (contoh ) : HB 5 / 750 / 15 hal ini berarti bahwa kekerasan
Brinell hasil pengujian dengan bola baja (Identor) berdiameter 5 mm, beban Uji
adalah sebesar 750 N per 0,102 dan lama pengujian 15 detik. Mengenai lama
pengujian itu tergantung pada material yang akan diuji. Untuk semua jenis baja
lama pengujian adalah 15 detik sedang untuk material bukan besi lama pengujian
adalah 30 detik.

Gambar 2. 12 Pengujian Brinell

17


Gambar 2. 13 Perumusan untuk pengujian Brinell
Dimana :
D = Diameter bola (mm)
d = impression diameter (mm)
F = Load (beban) (kgf)
HB = Brinell result (HB)
Pengujian kekerasan brinell menggunakan bola baja dengan diameter 10
mm dan beban 3000 kg. Hal ini sesuai dengan ASTM E 10 yang menggunakan
beban 3000 kg untuk hard metal, 1500 kg untuk intermediate hardness, dan 500
kg untuk soft material. Beban di berikan kepada spesimen selama 30 detik,
kemudian diameter di ukur dengan menggunakan mikroskop untuk menentukan
harga kekerasan brinell.
Angka kekerasan brinell (BHN) =

(

)

2.2.2 Metode Pengujian Vickers
Pengujian kekerasan dengan metode Vickers bertujuan menentukan
kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap intan
berbentuk piramida dengan sudut puncak 136 Derajat yang ditekankan pada
permukaan material uji tersebut.

18


Gambar 2. 14 Pengujian Vickers


Gambar 2. 15 Bentuk indentor Vickers
Pengujian kekerasan dengan metode vickers menggunakan indentor
berupa pyramid intan yang membentuk sudut 136
o
(ASTM E 92). Masa indentor
berfariasi antara 1 – 120 kg. Uji keras vikers diterima secara luas untuk keperluan
riset maupun penelitian karena nilai kekerasan vikers menyediakan rentang nilai
yang luas. Sehingga vikers ini dapat di gunakan pada material lunak dan material
yang keras sekalipun. Harga kekerasan vikers atau VHN (Vickers Hardness
Number) adalah :
VHN =

2.2.3 Metode Pengujian Rockwell
Metode pengujian kekerasan yang paling banyak dipakai adalah metode
Rockwell. Terdapat dua macam pembebanan dalam pengujian kekerasan
Rockwell, yaitu beban minor dan beban mayor. Beban minor sebesar 10 kg, dan
beban mayor yang besarnya bervariasi antara 60, 100, dan 150 kg. Selain variasi

19

pada beban mayor, dapat pula dilakuakan variasi pada jenis dan dimensi
indentornya. Prosedur pengujian Rockwell ini di standarkan menurut ASTM E 18.
a. Skala yang umum dipakai dalam pengujian Rockwell adalah :
HRa (Untuk material yang sangat keras)
b. HRb (Untuk material yang lunak). Identor berupa bola baja dengan
diameter 1/16 Inchi dan beban uji 100 Kgf.
c. HRc (Untuk material dengan kekerasan sedang). Identor berupa Kerucut
intan dengan sudut puncak 120 derjat dan beban uji sebesar 150 kgf.
Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell bertujuan menentukan
kekerasan suatu material dalam bentuk daya tahan material terhadap benda uji
(speciment) yang berupa bola baja ataupun kerucut intan yang ditekankan pada
permukaan material uji tersebut.

Gambar 2. 16 Pengujian Rockwell

Untuk mencari besarnya nilai kekerasan dengan menggunakan metode
Rockwell dijelaskan pada gambar 2.17, yaitu :
1. benda uji ditekan oleh indentor dengan beban minor (Minor Load F0)
setelah itu ditekan dengan beban mayor (major Load F1) pada langkah 2

20

dan pada langkah 3 beban mayor diambil sehingga yang tersisa adalah
minor load dimana pada kondisi 3 ini indentor ditahan seperti kondisi pada
saat total load F yang terlihat pada Gambar 2.17.
Besarnya minor load maupun major load tergantung dari jenis material yang akan
di uji, jenis-jenisnya bisa dilihat pada Tabel 1.


Gambar 2. 17 Prinsip kerja metode pengukuran Rockwell


Tabel 1 Rockwell Hardness scales
Scale Indentor
F0
(kgf)
F1
(kgf)
F
(kgf)
E

Jenis Material Uji
A Diamond
cone
10 50 60 100 Exremely hard materials, tugsen
carbides, dll
B 1/16" steel
ball
10 90 100 130 Medium hard materials, low dan
medium carbon steels,
kuningan, perunggu, dll
C Diamond
cone
10 140 150 100 Hardened steels, hardened and
tempered alloys
D Diamond
cone
10 90 100 100 Annealed kuningan dan tembaga
E 1/8" steel
ball
10 90 100 130 Berrylium copper,phosphor
bronze, dll
F 1/16" steel
ball
10 50 60 130 Alumunium sheet
G 1/16" steel
ball
10 140 150 130 Cast iron, alumunium alloys
H 1/8" steel
ball
10 50 60 130 Plastik dan soft metals seperti
timah
K 1/8" steel 10 140 150 130 Sama dengan H scale

21
































ball
L 1/4" steel
ball
10 50 60 130 Sama dengan H scale
M 1/4" steel
ball
10 90 100 130 Sama dengan H scale
P 1/4" steel
ball
10 140 150 130 Sama dengan H scale
R 1/2" steel
ball
10 50 60 130 Sama dengan H scale
S 1/2" steel
ball
10 90 100 130 Sama dengan H scale
V 1/2" steel
ball
10 140 150 130 Sama dengan H scale

22

DAFTAR PUSTAKA

Callister W.D.,”Material Science and Engineering : An Introcuction”, Jhon
Willey & Sons.
Dieter.,G.E.,”Mechanical Metelurgy”,Mc-Graw-Hill Book Co
www.alatuji.com/article/detail/3/what-is-hardness-test-uji-kekerasan
www.drajadestu.name/2010/05/pengujian-kekerasan-material.html