Jamban keluarga merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan

mengumpulkan kotoran/najis manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut
disimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan
mengotori lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang dalam praktek sehari-hari bercampur
dengan air, maka pengolahan kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan pengolahan
air limbah. Oleh sebab itu pengolahan kotoran manusia, demikian pula syarat-syarat yang dibutuhkan
pada dasarnya sama dengan syarat pembuangan air limbah (Depkes RI, 1985.
Sementara menurut Kusnoputranto (1997), terkait dengan pengolahan ekskreta manusia dan aspek
kesehatan masyarakat, terdapat dua sistem pengolahan yang digunakan, yaitu: a). Sistem kering (night
soil) seperti Pit Latrine, composting toilets, cartage systems, composting; b). Sistem basah (sewage),
seperti aquaprivy dan septick tank.
Sedangkan syarat jamban sehat menurut Depkes RI (1985), antara lain :
1. Tidak mencemari sumber air minum. Letak lubang penampungan kotoran paling sedikit berjarak
10 meter dari sumur air minum (sumur pompa tangan, sumur gali, dan lain-lain). Tetapi kalau
keadaan tanahnya berkapur atau tanah liat yang retak-retak pada musim kemarau, demikian juga
bila letak jamban di sebelah atas dari sumber air minum pada tanah yang miring, maka jarak
tersebut hendaknya lebih dari 15 meter;
2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus. Untuk itu tinja harus
tertutup rapat misalnya dengan menggunakan leher angsa atau penutup lubang yang rapat;
3. Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya, untuk itu
lantai jamban harus cukup luas paling sedikit berukuran 1×1 meter, dan dibuat cukup
landai/miring ke arah lubang jongkok;
4. Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat dan
tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada setempat;
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang;
6. Cukup penerangan;
7. Lantai kedap air;
8. Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah;
9. Ventilasi cukup baik;
10. Tersedia air dan alat pembersih.
Berdasarkan bentuknya, terdapat beberapa macam jamban menurut beberapa ahli. Menurut Azwar
(1983), jamban mempunyai bentuk dan nama sebagai berikut :
1. Pit privy (Cubluk): Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah sedalam 2,5
sampai 8 meter dengan diameter 80-120 cm. Dindingnya diperkuat dari batu bata ataupun tidak.
Sesuai dengan daerah pedesaan maka rumah kakus tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding
bambu dan atap daun kelapa. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.
2. Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine): Jamban ini hampir sama dengan
jamban cubluk, bedanya menggunakan ventilasi pipa. Untuk daerah pedesaan pipa ventilasi ini
dapat dibuat dari bambu.
3. Jamban empang (fish pond latrine): Jamban ini dibangun di atas empang ikan. Di dalam sistem
jamban empang ini terjadi daur ulang (recycling) yaitu tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan
dimakan orang, dan selanjutnya orang mengeluarkan tinja, demikian seterusnya.
4. Jamban pupuk (the compost privy): Pada prinsipnya jamban ini seperti kakus cemplung, hanya
lebih dangkal galiannya, di dalam jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan
sampah, daun-daunan.
5. Septic tank: Jamban jenis septic tank ini merupakan jamban yang paling memenuhi persyaratan,
oleh sebab itu cara pembuangan tinja semacam ini yang dianjurkan. Septic tank terdiri dari
tangki sedimentasi yang kedap air, dimana tinja dan air buangan masuk mengalami dekomposisi.
Jamban bentuk septic tank sebagai bentuk jamban yang paling memenuhi syarat, tinja mengalami
beberapa proses didalamnya, sebagai berikut :
1. Proses kimiawi: Akibat penghancuran tinja akan direduksi sebagian besar (60- 70%), zat-zat
padat akan mengendap di dalam tangki sebagai sludge Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-
sama dengan lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup
permukaan air dalam tangki tersebut. Lapisan ini disebut scum yang berfungsi mempertahankan
suasana anaerob dari cairan di bawahnya, yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dan
fakultatif anaerob dapat tumbuh subur, yang akan berfungsi pada proses selanjutnya.
2. Proses biologis: Dalam proses ini terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan
fakultatif anaerob yang memakan zat-zat organik alam sludge dan scum. Hasilnya selain
terbentuknya gas dan zat cair lainnya, adalah juga pengurangan volume sludge, sehingga
memungkinkan septic tank tidak cepat penuh. Kemudian cairan influent sudah tidak
mengandung bagian-bagian tinja dan mempunyai BOD yang relatif rendah. Cairan influent
akhirnya dialirkan melalui pipa.
Reference, antara lain : Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Azwar, A. 1983. Mutiara, Jakarta.
dan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Direktorat Jenderal PPM & PL. 2003,
Kriteria, Standard, dan
Komponen Sanitasi Jamban
Sanitasi sesuai nomenklatur MDGs adalah pembuangan tinja. Termasuk dalam pengertian ini meliputi
jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenis tempat
pembuangan akhir tinja. Sedangkan kriteria akses terhadap sanitasi layak jika penggunaan fasilitas
tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis ‘latrine’ dan tempat
pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah (SPAL).
Sedangkan kriteria yang digunakan JMP WHO-UNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria,
yaitu ‘improved’, ‘shared’, ‘unimproved’ dan ‘open defecation’. (Depkes RI, 2010).
Jamban merupakan fasilitas atau sarana pembuangan tinja. Menurut Kusnoputranto (1997),pengertian
jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran
sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab suatu
penyakit serta tidak mengotori permukaan. Sedangkan pengertian lain menyebutkan bahwa pengertian
jamban adalah pengumpulan kotoran manusia disuatu tempat sehingga tidak menyebabkan bibit
penyakit yang ada pada kotoran manusia dan mengganggu estetika.
Rekan-rekan Sanitarian tentu sudah paham, bahwa dampak buruk jamban terhadap penularan penyakit,
menyangkut transmisi penyakit dari tinja. Berbagai penyakit menular seperti hepatitis A, polio, kholera,
dan lainnya merupakan penyakit yang terkait dengan akses penyediaan jamban. Dan sebagai salah satu
indikator utama terjadinya pencemaran karena tinja ini adalah bakteri E.Coli. Sebagaimana rekan-rekan
Sanitarian ketahui escherichia colihidup dalam saluran pencernaan manusia.

Sanitasi Jamban Sehat
Diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya proses penularan penyakit antara lain kuman penyebab
penyakit, sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab, cara keluar dari sumber, cara berpindah dari
sumber ke inang (host) baru yang potensial, cara masuk ke inang yang baru, serta inang yang peka
(susceptible). Sedangkan proses pemindahan kuman penyakit dari tinja sampai inang baru dapat melalui
berbagai perantara, antara lain air , tanah , makanan, tangan, atau serangga.
Fungsi jamban dari aspek kesehatan lingkungan antara lain dapat mencegah berkembangnya berbagai
penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. Sementara dampak serius membuang kotoran di
sembarang tempat menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara karena menimbulkan bau.
Pembuangan tinja yang tidak dikelola dengan baik berdampak mengkawatirkan terutama pada kesehatan
dan kualitas air untuk rumah tangga maupun keperluan komersial.
Selain menyangkut perilaku buang air besar masyarakat yang belum semuanya menggunakan jamban,
kita juga dihadapkan pada masih banyaknya jumlah jamban yang tidak memenuhi standar. Banyak di
masyarakat jamban unimproved atau jamban yang tidak sehat. Sebagai Sanitarian kita harus paham
berbagai informasi terkait jamban, baik kriteria maupun prosedur pemeliharaannya, diantaranya
persyaratan pembuangan tinja. Menurut Kumoro (1998), terdapat beberapa bagian sanitasi pembuangan
tinja, antara lain :
Rumah Kakus: Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkunagn sekitar, harus memenuhi syarat
ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi disesuaikan dengan keadaan tingkat ekonomi
rumah tangga.
Lantai Kakus: Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik, kuat
dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga disesuaikan dengan bentuk rumah
kakus.
Tempat Duduk Kakus: Fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan tinja, harus
kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah diangkat.
Kecukupan Air Bersih: Jamban hendaklah disiram minimal 4-5 gayung, bertujuan menghindari
penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih. Juga agar menghindari kotoran tidak
dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.
Tersedia Alat Pembersih: Tujuan pemakaian alat pembersih, agar jamban tetap bersih setelah jamban
disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai agar tidak
berlumut dan licin. Sedangkan peralatan pembersih merupakan bahan yang ada di rumah kakus didekat
jamban.
Tempat Penampungan Tinja: Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang berfungsi sebagai
tempat mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksi lubang harus kedap air dapat terbuat dari pasangan
batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran lingkungan.
Saluran Peresapan: Merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang lengkap,
berfungsi mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur tinja.
Selain Sanitasi tinja diatas, kita juga harus paham berbagai jenis jamban keluarga. Menurut Azwar
(1990), terdapat beberapa jenis jamban, antara lain :
1. Jamban cubluk (Pit Privy): adalah jamban yang tempat penampungan tinjanya dibangun
dibawah tempat injakan atau dibawah bangunan jamban. Fungsi dari lubang adalah mengisolasi
tinja sedemikian rupa sehingga tidak dimungkinkan penyebaran dari bakteri secara langsung ke
pejamu yang baru. Jenis jamban ini, kotoran langsung masuk ke jamban dan tidak terlalu dalam
karena akan menotori air tanah, kedalamannya sekitar 1,5-3 meter (Mashuri, 1994).
2. Jamban Empang (Overhung Latrine): Adalah jamban yang dibangun diatas empang, sungai
ataupun rawa. Jamban model ini ada yang kotorannya tersebar begitu saja, yang biasanya dipakai
untuk makanan ikan, ayam.
3. Jamban Kimia (Chemical Toilet): Jamban model ini biasanya dibangun pada tempat-tempat
rekreasi, pada transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang dan lain-lain. Disini tinja
disenfeksi dengan zat-zat kimia seperti caustic soda dan pembersihnya dipakai kertas tissue
(toilet paper). Sedangkan jamban kimia ada dua macam, yaitu tipe lemari (commode type), dan
tipe tangki (tank type). Jamban kimia sifatnya sementara, karena kotoran yang telah terkumpul
perlu di buang lagi.
4. Jamban Leher Angsa (Angsa Trine): Jamban leher angsa merupakan jamban leher lubang closet
berbentuk lengkungan, dengan demikian akan terisi air gunanya sebagai sumbat sehingga dapat
mencegah bau busuk serta masuknya binatang-binatang kecil. Jamban model ini adalah model
yang terbaik yang dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.
Menurut Depkes RI (2004), terdapat beberapa syarat Jamban Sehat, antara lain :
1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 10-15 meter dari sumber
air minum.
2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.
3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah di
sekitarnya.
4. Mudah dibersihkan dan aman penggunannya.
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna.
6. Cukup penerangan
7. Lantai kedap air
8. Ventilasi cukup baik
9. Tersedia air dan alat pembersih.
Manfaat dan Fungsi Jamban Keluarga
Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi syarat
kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :
1. Melindungi kesehatan masyarkat dari penyakit
2. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan saran yang aman
3. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit
4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan
Sedangkan prosedur pemeliharaan jamban menurut Depkes RI (2004) adalah sebagai berikut:
1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering
2. Di sekeliling jamban tidak ada genangan air
3. Tidak ada sampah berserakanan
4. Rumah jamban dalam keadaan baik
5. Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat
6. Lalat, tikus dan kecoa tidak ada
7. Tersedia alat pembersih
8. Bila ada yang rusak segera diperbaiki
Refference, antara lain :
 Azwar, A, 1990, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara, Jakarta.
 Kusnoputranto, H, 2000. Kesehatan Lingkungan, FKM-UI Jakarta
 Riskesdas 2010
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 Bidang Sanitasi
Ruang lingkup sanitasi dalam laporan Riskesdas 2010 ini meliputi pembuangan tinja, pembuanganair limbah,
dan pembuangan sampah. Berikut garis besar hasil Riskesdas Sanitasi sebagaimana uraian berikut
(Sumber Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Tahun 2010).
Pembuangan Tinja
Pembuangan tinja (tempat buang air besar/BAB) yang dalam nomenklatur MDGs sebagai sanitasimeliputi jenis
pemakaian/penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan dan jenistempat pembuangan akhir
tinja. Dalam laporan MDGs 2010, kriteria akses terhadap sanitasi layakadalah bila penggunaan fasilitas
tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yangdigunakan jenis ‘latrine’ dan tempat pembuangan
akhir tinjanya menggunakan tangki septik atausarana pembuangan air limbah atau SPAL. Sedangkan kriteria
yang digunakan JMP WHO-UNICEF2008, sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu ‘improved’, ‘shared’,
‘unimproved’ dan ‘open defecation’. Dikategorikan sebagai ‘improved’ bila penggunaan sarana pembuangan
kotoran nyasendiri, jenis kloset latrine dan tempat pembuangan akhir tinjanya tangki septik atau SPAL.
 Secara nasional, di sebagian besar rumah tangga di Indonesian menggunakan fasilitas
tempat Buang Air Besar (BAB) milik sendiri (69,7%). Akan tetapi, masih terdapat rumah tangga yang
tidak menggunakan fasilitas tempat BAB yaitu sebanyak 15,8 persen.
 Menurut tempat tinggal, persentase rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB
milik sendiri lebih tinggi di perkotaan (79,7%) dibandingkan dengan di perdesaan
(59,0%). Sebaliknya persentase rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB 4 kali
lebih tinggi di perdesaan (25,2%) dibandingkan dengan di perkotaan (6,7%).
Sejalan persentase rumah tangga yang BABmenggunakan fasilitas umum, lebih
banyak di perdesaan (7,2%) dibandingkan dengan perkotaan (5,3%); sedangkan
persentase rumah tangga yang menggunakan fasilitas BAB bersama relatif sama di
perkotaan dan perdesaan.
 Berdasarkan jenis kloset yang
digunakan, secara nasional sebagian besar (77,6%) adalah jenis latrine/ leher
angsa. Secara nasional jenis kloset cemplung/cubluk sebanyak14,3 persen dan
plengsengan sebesar 6,4 persen.
 Menurut tempat tinggal, persentase rumah tangga menggunakan jenis kloset leher
angsa dimana di perkotaan relative lebih tinggi 88,1 persen dinadingkan dengan
di perdesaan 63,5 persen. Sedangkan persentase rumah tangga yang
menggunaan jenis kloset plengsengan, cemplung/cebluk maupun yang tidak
memiliki fasilitas BAB lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan.
Persentase rumah tangga yang menggunakan jenis kloset cemplung/cebluk
di perdesaan 4 kali lebih tinggi (25,6%) dibandingkan dengan di perkotaan (5,9%).
 Rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas BAB di perdesaan 3 kali lebih tinggi (2,8%)
dibandingkan dengan di perkotaan (0,9%).
 Secara nasional tempat pembuangan akhir tinja sebagian besar rumah tangga di
Indonesia (59,3%) menggunakan septic tank. Sebesar 16,4 persen masih melakukan
pembuangan tinja di sungai/danau, dan (11,7%) di lubang tanah.
 Persentase tempat tinggal yang menggunakan tanki septik lebih tinggi (75,1%) di
perkotaan dibandingkan (42,5%) di perdesaan demikian dengan
yangmenggunakan SPAL relatif lebih banyak (3,5%) di perkotaan dibandingkan
(2,2%) di perdesaan.
 Persentase rumah tangga dengan tempat penbuangan akhir tinja di kolam/sawah,
sungai/danau, lubang tanah, pantai/kebun dan lainnya relatif lebih banyak di
perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.
 Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi tingkat
pengeluaran rumah tangga, maka semakin meningkat persentase rumah tangga
yang menggunakan septic tank dan SPAL. Sebaliknya, semakin rendah pengeluaran
rumah tangga maka semakin rendah persentase tempat pembuangan akhir tinja di
kolam/sawah, sungai/danau, lubang tanah, pantai/kebun dan lainnya.
 Secara nasional, persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap
pembuangan tinja layak, sesuai dengan laporan MDGs adalah sebesar 55,5 persen.
 Berdasarkan tempat tinggal, akses terhadap pembuangan tinja yang layak sesuai
dengan MDGs, di perkotaan telah mencapai 71 ,4 persen, sedangkan di perdesaan baru
38,5 persen.
 Secara nasional, cara buang air besar sebagian besar rumah tangga di
Indonesia (51,1%) tergolong improved.
 Berdasarkan tempat tinggal, di perkotaan cara buang air besar dengan
kategoriimproved lebih tinggi (65,8%) daripada di perdesaan (35,3%).
Sebaliknya open defecation jauh lebih tinggi di perdesaan (27,6%) daripada di
perkotaan (7,5%).
 Berdasarkan tingkat pengeluaran, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga
per kapita, maka semakin meningkat pula persentase cara buang air besar
kategori improved, serta semakin rendah persentase dengan kategoriopen
defecation (BAB sembarangan).
Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Data sarana pembuangan air limbah yang terdapat dalam Riskesdas 2010 ini meliputi
cara pembuangan dilihat dari ketersediaan saluran pembuangannya.
 Air limbah rumah tangga, secara nasional sebagian besar (41,3%) dibuang
langsung ke sungai/parit/got dan sebanyak 18,9 persen dibuang ke tanah (tanpa
penampungan). Hanya 13,5 persen rumah tangga yang memiliki SPAL.
 Menurut tempat tinggal, persentase rumah tangga tertinggi yang memiliki SPAL
lebih tinggi di perkotaan (18,7%) dibandingkan di perdesaan (7,9%), demikian
dengan yang memiliki penampungan tertutup di pekarangan lebih tinggi di
perkotaan (7,3%) dibandingkan di perdesaan (5,5%).
Pembuangan Sampah
Data pembuangan sampah yang ada dalam Riskesdas 2010 ini adalah cara
pembuangannya. Dikategorikan ‘baik’ apabila rumah tangga pembuangannya diambil
petugas, dibuat kompos dan dikubur dalam tanah. Sedangkan bila dibakar, dibuang ke
sungai atau sembarangan dikategorikan kurang baik.
 Untuk penanganan sampah, secara nasional umumnya rumah tangga di Indonesia
dilakukan dengan cara dibakar (52,1%) dan diangkut oleh petugas (23,4%).
 Menurut tempat tinggal, di perkotaan cara penanganan sampah yang menonjol adalah dengan cara
diangkut petugas (42,9%), sedangkan di perdesaan yang paling umum adalah dengan cara
dibakar (64,1%). Baik di perkotaan (0,5%) maupun perdesaan (1,7%), hanya sedikit yang penanganan
sampahnya dibuat kompos.
 Berdasarkan kemungkinan adanya pencemaran terhadap air maupun udara, penanganan
sampah dikategorikan sebagai ‘baik’ dan ‘kurang baik’.Penanganan sampah secara nasional
belum dilaksanakan secara baik, yaitu baru mencapai 28,7 persen.
 Rumah tangga dengan penanganan sampah yang baik di perkotaan (46,6%) lebih
tinggi daripada di perdesaan (9,6%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga
per kapita, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakintinggi pula
persentase rumah tangga dengan penanganan sampah baik.
Kesehatan Perumahan
Data perumahan yang disajikan dalam Riskesdas 2010 ini adalah data jenis penggunaan
bahan bakar untuk memasak dan kriteria ‘rumah sehat’. Jenis bahan bakar untuk
memasak berkaitan dengan kemungkinan terjadinya ‘indoors air pollution’, dimana
dikategorikan ‘baik’ bila menggunakan jenis gas, minyak tanah dan listrik. Sedangkan untuk
menilai kriteria ‘rumah sehat’ mengacu pada beberapa kriteria yang ada dalam Kepmenkes
RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Dalam Riskesdas 2010 ini, kriteria ‘rumah sehat’ yang digunakan bila memenuhi tujuh
kriteria, yaitu atap berplafon, dinding permanen (tembok/papan), jenis lantai bukan tanah,
tersedia jendela, ventilasi cukup, pencahayaan alami cukup, dan tidak padat huni (lebih
sama dengan 8m
2
/orang).
 Secara nasional 60 persen rumah tangga di Indonesia menggunakan listrik, gas, dan minyak
tanah sebagai bahan bakar untuk memasak, sementara sisanya masih menggunakan arang, kayu
dan lainnya.
 Berdasarkan tempat tinggal, penggunaan bahan bakar untuk memasak jenis listrik, gas dan
minyak tanah di perkotaan (82,7%), sedangkan di perdesaan lebih banyak penggunaan bahan bakar
untuk memasak jenis arang, kayu bakar dan lainnya (64,2%).
 Hanya 24,9 persen rumah penduduk di Indonesia yang tergolong rumah
sehat.Persentase tempat tinggal yang memenuhi kriteria rumah sehat lebih tinggi di perkotaan
(32,5%) daripada di perdesaan (16,8%).
Hasil lengkap Riskesdas bidang sanitasi dan kesehatan lingkungan dapat dibaca pada laporan lengkap
Riskesdas 2010, Badan Litbangkes Kemenkes RI Tahun 2010.