ASPEK RADIOLOGI PADA KELAINAN

TEMPOROMANDIBULAR JOINT






Pembimbing:
dr. Kemas. H. M. Sani, Sp.Rad



Oleh:
M. Anugerah Yusro
04101001044






DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN RADIOLOGI
RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014



HALAMAN PENGESAHAN

Refrat dengan judul “ Aspek Radiologi Pada Kelainan Temporomandibular Joint”

Oleh:
M. Anugerah Yusro
04101001044

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat untuk mengikuti
Kepanitraan Klinik di Departemen Radiologi Rumah Sakit Mohammad hoesin
Palembang/Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.





Palembang, April 2014
Pembimbing

dr. Kemas. H. M. Sani, Sp. Rad

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiran Allah SWT atas rahmat, taufik dan karuniah-Nyalah
sehingga saya dapat menyelesaikan menyelesaikan referat yang berjudul “Aspek
Radiologi Pada Kelainan Temporomandibular Joint” sebagai salah satu syarat
dalam mengikuti Kepanitraan Klinik di Departemen Radiologi RSMH
Palembang/Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Saya ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan, saran, serta dukungan dalam proses penyelesaian referat ini, khususnya
kepada dr. Kms. H. M. Sani, Sp. Rad sebagai pembimbing.
Refrat ini telah saya susun berdasarkan berbagai referensi kedokteran
antara lain buku dan journal kedokteran. Saya menyadari bahwa terdapat
kekurangan dalam refrerat ini. Oleh karena itu, saya sebagai penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar referat ini dapat lebih baik
di masa mendatang. Semoga referat ini bermanfaat sebagai sumber ilmu
pengetahuan bagi kita semua.




Palembang, April 2014


M. Anugerah Yusro




BAB I
PENDAHULUAN

Temporomandibular Joint (TMJ) belum banyak dikenal orang awam,
padahal bila sendi ini terganggu dapat memberi dampak yang cukup besar
terhadap kualitas hidup
1
. Sendi temporomandibula atau Temporomandibular Joint
(TMJ) adalah suatu persendian yang sangat kompleks di dalam tubuh manusia.
Selain gerakan membuka dan menutup mulut, sendi temporomandibula juga
bergerak meluncur pada suatu permukaan (ginglimoathrodial)
2
. Selama proses
pengunyahan sendi temporomandibula menopang tekanan yang cukup besar. Oleh
karena itu, sendi temporomandibula mempunyai diskus artikularis untuk menjaga
agar kranium dan mandibula tidak bergesekan. Sendi tempromandibula
mempunyai peranan penting dalam fungsi fisiologis dalam tubuh manusia.
Identifikasi anatomi maupun radioanatomi dari struktur persendian ini merupakan
suatu hal yang sebaiknya dapat dipahami secara baik
3
.
Temporomandibular joint (TMJ) disorder adalah suatu gangguan yang
sering ditemukan dalam paktek dokter gigi sehari-hari. Penderita dengan
gangguan ini akan merasa tidak nyaman walaupun gangguan ini jarang disertai
dengan rasa sakut yang hebat. Penyakit ini sering dijumpai pada sebagian besar
orang dewasa, sepertiga orang dewasa melaporkan adanya satu atau lebih tanda-
tanda dari gangguan pada daerah TMJ yang meliputi rasa sakit pada rahang, leher
sakit kepala dan bunyi kliking pada sendi mandibula
4
. Temporomandibular joint
(TMJ) disorder ada beberapa jenis yaitu diantaranya ankilosis, dislokasi
mandibula, hiperplasia kondilus, hipoplasia kondilus, dan fraktur kondilus
5
. Untuk
menegakan diagnosis kelainan pada Temporomandibular joint diperluan
pemeriksaan Roentgen, Computed Tomography (CT), dan Magnetic Resonance
Imaging (MRI)
6
.
Pencitraan diagnostik tidak hanya penting dalam menegakan diagnostik
suatu kelainan Temporomandibular joint (TMJ), tetapi dapat merekam tahapan
proses patologi penyakit
7
. Hal ini menjadi dasar untuk mengikuti hasil proses
pengobatan serta menentukan penatalaksanaan berikutnya pada pasien.
Melihat trend pada kelainan Temporomandibular joint (TMJ) di Indonesia
yang semakin meningkat, dan pentingnya pencitraan dalam menentukan kelainan
Temporomandibular joint (TMJ), maka akan dibahas kelainan radiologis yang
ditemukan pada Temporomandibular joint (TMJ).





















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Anatomi Temporomandibular joint (TMJ)
Temporomandibular joint (TMJ) adalah persendian yang
menghubungkan condylus dari mandibula dengan dengan bagian-bagian
squamous dari tulang temporal. Condylus berbentuk elips dengan sumbu
memanjang arah mesiolateral (gambar 1 dan gambar 2)
8
.











Gambar 1. Tampak bawah dan tampak atas anatomi condylus.
(Sumber: Snell S Richard.2006. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa
Kedokteran. Ed.6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 730-740)


Gambar 2. Tampak Lateral anatomi condylus.
(Sumber: American Association of oral and Maxillofacial Surgeons
(AAOMS). 2014. http://www.aaoms.org/conditions-and-treatments/the-
temporomandibular-joint-tmj/, diakses 9 April 2014)
Sendi pada tulang temporal tersusun dari articular fossa yang berbentuk
konkaf dan articular eminence yang berbentuk konveks (gambar 3)
8
.

Gambar 3. Sendi tulang temporal.
(Sumber: Snell S Richard.2006. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa
Kedokteran. Ed.6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 742-745)













Gambar 4. Normal Anatomi dari Temporomandibular joint (TMJ).
(Sumber: http://www.chiro.org/rc_schafer/Monograph_13.shtml, diakses 8
April 2014)

II.2. Gambaran Radiologi Temporomandibular joint (TMJ) normal.
Pada foto roentgen normal pada Temporomandibular joint (TMJ)
didapatkan yaitu pada posisi mulut tertutup, tampak epicondylus kanan
dan kiri terletak di dalam fossa mandibula kanan dan kiri sedangkan pada
posisi mulut terbuka, tampak epicondylus kanan dan kiri terletak di dalam
fossa mandibula kanan dan kiri, celah TMJ kanan dan kiri baik, dan
pneumatisasi air cell mastoid anan kiri baik
9
.

Gambar 5. Foto roentgen posisi mulut tertutup dan mulut terbuka.
(Sumber: http://radiopaedia.org/cases/tmj-open-closed-mouth-x-rays ,
diakses 8 April 2014)

Anatomi TMJ yang dapat terlihat secara radiografi meliputi komponen
dasar dari sendi temporomandibula yaitu
10
:

 Komponen mandibula, termasuk kepala kondilus
 Potongan Sendi Temporomandibular
 Komponen tulang temporal termasuk Fossa Glenoidalis dan
Eminensia Artikularis
 Kapsul di sekitar persendian

Gambar 6. A. Komponen tulang pada persendian dilihat dari samping
B.Kepala kondilus dilihat dari aspek anterior C.Basis rahang
dilihat dari bawah. Fossa glenoidalis (yang ditunjukkan oleh
anak panah) dan angulasinya terhadap bidang koronal.
(Sumber: Quinn, Peter. D. 1998. Color Atlas of Temporomandibular joint.
St. Louis: Mosby, Inc.)

Gambar 7. Diagram potongan sagital kanan TMJ yang menunjukkan
komponen-komponennya
(Sumber: Pertes, R.A. and Gross, S.G. 1995. Clinical Management of
Temporomandibular Disorders and Orofacial Pain. Illinois: Quintessence
publishing Co, Inc.)

Klinisi juga perlu mengetahui jenis dan luasnya pergerakan
sendi dan bagaimana gambaran dari sendi yang berubah karena
berbagai gerakan tersebut. Untuk mendapatkan gambaran
radiografi dapat dilakukan dalam beberapa teknik pemotretan yaitu
: transkranial, transfaringeal, panoramik, tomografi, computed
tomography (CT )
11
.
Pada CT-Scan normal potongan sagital pada
Temporomandibular joint (TMJ) didapatkan
12
:
Pada mulut tertutup:
TMJ kanan – kiri : posisi meniscus ( articular disc ) normal , tidak
tampak displacement , bentuk dan intensitas meniscus normal ,
tidak tampak lesi , tidak tampak joint effusion .
Posisi condylus mandibula didalam fossa mandibula simetris.
Intensitas tulang normal , permukaan condylus mandibula reguler ,
tak tampak lesi.
Pada mulut terbuka:
TMJ kanan – kiri : meniscus ( articular disc ) masih tampak kontak
dengan condylus Mandibula , tidak tampak deformitas meniscus .
Posisi candylus tampak didaerah eminensia articularis.























Gambar 8. Normal CT Scan sagital dengan jaringan lunak pada
TMJ (A), dan tempat tulang (B). Pada gambar ini,
artikular ditunjukan pada panah besar = tepi anterior
dari disk. Panah kecil = tepi posterior dari disk. C=
condilus, E= articular eminence.
(Sumber: Yale SH, Allison BD, Hauptfuchrer JD. An epidemiological
assessment of mandibular condyle morphology. Oral Surg Oral Med Oral
Pathol. 1966;21:169-77)















Gambar 9. Gambaran tiga dimensi dari CT-Scan tranaxial (dilihat
dari obliq lateral) A= Canalis auditorius eksternus, C=
Condilus E= Articular eminence.
(Sumber: Dolwick MF, Sanders B. TMJ internal derangement and
arthrosis. St. Louis: Mosby, 1985)








Gambar 10. Standar normal Temporomandibular joint pada CT
Scan transaxial. Ketebalan irisan = 1mm. Pada tanda
panah, air cells terlihat di articular eminence. C =
kondilus.
(Sumber: Helms C. Richardson M, Moon K, Ware W. Nuclear magnetic
resonance imaging of the temporomandibular joint: Preliminary
observation. J Craniomandib Pract 984; 2:220)
984; 2:220












Gambar 11. Rekontruksi dari CT-Scan transaxial yang diperbesar.
Rekontruksi dibuat pada garis/sumbu panjang kondilus
(lihat gambar pojok kiri bawah).
(Sumber: Walter E. Schulte W. Freesmeyer W. Computertomographische
Stadienienteilung des dysfunktionellen Gelenkkopfumbaus. Dtsch
Zahndrztl Z 1985; 40:37)

Pada MRI normal TMJ kanan – kiri potongan sagital T1 ,
T2 dan coronal , slice thickness 3 mm
12
:
Mulut tertutup :
TMJ kanan – kiri : posisi meniscus ( articular disc ) normal , tidak
tampak displacement , bentuk dan intensitas meniscus normal ,
tidak tampak lesi , tidak tampak joint effusion .
Posisi condylus mandibula didalam fossa mandibula simetris ,
tidak tampak displacement ke anterior / posterior .
Intensitas tulang normal , permukaan condylus mandibula reguler ,
tak tampak lesi .
Mulut terbuka :
TMJ kanan – kiri : meniscus ( articular disc ) masih tampak kontak
dengan condylus Mandibula , tidak tampak deformitas meniscus .
Posisi candylus tampak didaerah eminensia articularis , tidak
tampak displacement

Gambar 12. A, mulut tertutup dan B, mulut terbuka pada potongan
oblik sagital T2 penekanan lemak MRI TMJ kanan
menunjukan terdapat kondilus mandibula (MC) pada
mulut terbuka, disk (Panah terbuka) adalah tetap pada
posisi normal dan hipointen thick posterior band tetap
di atas dari condilar, seperti yang terlihat dalam
tampilan mulut tertutup. Lapisan retrodiskal (paah
putih) yang masih utuh.
(Sumber: Walter E. Schulte W, S. Zur Darstellung des Discus articularis rn
Computeromogramm. Dtsch ZanOrztl z 1985; 40:236)

II.3. Gambaran Kelainan Radiologi Temporomandibular joint (TMJ) .
II.3.1. Rematoid artritis
Lima puluh persen pasien rematoid artritis menunjukkan beberapa
keterlibatan dari TMJ. Pasien mengeluh nyeri, pembengkakan, dan
mengurangi pembukaan mulut
13
. Perubahan ini paling menonjol terlihat
pada pagi hari dan biasanya terjadi secara berkala. Teknik X-ray
konvensional dalam tahap awal penyakit tidak terdiagnostik karena
perubahan patologis yang dimulai dari jaringan sinovial yang tidak dapat
dilihat pada pemeriksaan ini. MRI menunjukkan gambaran yang sangat
baik perubahan awal di bagian sinovial dari sendi dan sangat sensitif.
Yang sangat sensitif adalah STIR
14
. Setelah perkembangan penyakit,
perubahan tulang dan demineralisasi terlihat pada 50-80% dari pasien
dengan artikular applanation permukaan dan erosi tulang. Erosi yang
biasanya pada bagian anterior dari permukaan artikular. Permukaan
artikular oleh perkembangan penyakit menjadi tidak teratur, erosi dan
kehilangan bentuk normal artikular. Erosi bahan dapat ditemukan pada
fossa glenoidalis. Nyeri, pembengkakan, mengurangi membuka mulut dan
krepitasi identik dengan gejalah rematoid artritis
15
.
Gambar 13. radiograf panoramik memperlihatkan keterbatasan sendi
pada membuka dan menutup mulut. Lesi kistik yang
menonjol dan mudah diidentifikasi.
(Sumber: H. H. Yilmaz, D. Yildirim, Y. Ugan, S. E. Tunc, A. Ye-sildag,
H. Orhan and C. Akdag, “Clinical and Magnetic Resonance Imaging
Findings of the Temporomandibular Joint and Masticatory Muscles in
Patients with Rheuma- toid Arthritis,” Rheumatology International, Vol.
32, No. 5, 2011, pp. 1171-1178)

Gambar 14. Gambaran panoramik, menunjukan erosi tidak teratur di sisi
kanan dan kiri dari kondilus yang mendatar pada artikular
eminen.
(Sumber: G. Steinhardt, “Rheumatoid Arthritis of the Temporo-maxillary
Joint,” Zeitschrift fur Laryngologie, Rhinologie, Otologie und Ihre
Grenzgebiete, Vol. 30, No. 11, 2008, pp. 475-485)







Gambar 15. Gambaran TMJ, menunjukan perubahan erosif dengan
kekurangan cortication kondilus dan fossa glenoid dengan
kekurang dari terjemahan kondilus.
(Sumber: H. J. Tabeling and M. F. Dolwick, “Rheumatoid Arthritis:
Diagnosis and Treatment,” Florida Dental Journal, Vol. 56, No. 1, 1985,
pp 18)













Gambar 16. CT Scan dari pasien yang sama yang menunjukan kista
berbentuk erosi pada kepala kondilus
(Sumber: Ogus H. Rheumatoid arthritis of the temporomandibular joint.
Br J Oral Surg. 1975;12:275)















Gambar 17. (A) mulut terbuka, (B) mulut tertutup pada potongan sagital
T1-weighted menunjukan ketidak sesuaian dan perubahan
erosif dari kondilus mandibula (panah hitam) dan artikular
eminen (tanda panah putih) dari rematoid artritis.
(Sumber: www.medscape.com diakses tanggal 7 April 2014)
II.3.2. Ankilosys
Ankilosys adalah fusi dari unsur-unsur tulang sendi, biasanya
jarang terjadi tetapi akibat dari trauma, patah tulang kepala terutama
condilus dan cidera lahir, perdarahan kedalam sendi, dan infeksi
16
.
Ankilosys pada TMJ dapat menjadi fibrous atau tulang. Fibrous ankilosys
tidak dapat di diagnosis dengan metode X-ray konvensional karena
jaringan fibrous itu transparan pada gambar konvensional. Osseous
ankilosys atau ankilosys tulang pada sendi artikuler dapat dideteksi dengan
konvensional x-ray. MSCT adalah baku emas dalam mendiagnosis TMJ
ankilosys
17
.
Tipe ankilosis tulang (Osseous ankilosys)
18
:
Tipe I : kepala kondilus datar dan terdeformasi di dekat ruang sendi atas.
Perlekatan fibrosa padaterlihat di dalamnya. Kesulitan pergerakan
dikarenakan fibrosis di dan sekitar sendi.
Tipe II : kondilus yang datar dekat dengan fossa glenoid, penyatuan tulang
di aspek luar permukaanartikuler di anterior dan posterior dan terbatas
pada daerah yang sempit.
Tipe III : ankilosis biasanya berasal dari dislokasi fraktur yang terdorong
ke medial kondilus dengan jembatan tulang ramus mandibula
ke arkus zygomatikus. Kepala kondilus yang atrofi baik bebasmaupun
menyatu dengan aspek posterior ramus.
Tipe IV : jembatang penghalang tulang yang lebar ramus mandibula dan
arkus zygomatikus, meluardan mengambil ruang sendi dan mengganti
keseluruhan arsitektur sendi.









Gambar 18. Foto rountgen ankilosys. Terjadi bony fusion antara kepala
kondilus dan fosa glenoid dengan kehilangan seluruh garus
anatomi normal.
(Sumber: Mangenollo-Souza LC, Mariani PB: Temporomandibular joint
ankylosis: report of 14 cases. Int J Oral Maxillofac Surg 32: 24–29, 2003)



Gambar 19. CT Scan potong Transversal menunjukan perubahan dan
fusi tulang (bony fusion) pada TMJ kanan.
(Sumber: Mangenollo-Souza LC, Mariani PB: Temporomandibular joint
ankylosis: report of 14 cases. Int J Oral Maxillofac Surg 32: 24–29, 2003)



Gambar 20. CT Scan potong coronal. Osseous ankilosys pada TMJ kiri.
(Sumber: Chossegros C., Guyot L., Cheynet F., Blanc J.L., Cannoni P.
(1999): Full-thickness skin graft interposition after temporomandibular
joint ankylosis surgery. A study of 31 cases. International Journal of Oral
and Maxillofacial Surgery, 28, 330–334)


II.3.3. Tumor TMJ
Sebagian besar tumor jinak TMJ adalah hondromas,
osteochondromas, osteomas, mixomas, fibromixomas, hondroblastomas
dan osteoblastomas. Fibrosarcomas, chondrosarcomas, dan sarkomas
sinovial adalah tumor ganas yang paling banyak ditemukan, biasanya
metastasis. Kadang tumor jinak atau tumor ganas berkembang di kepala
kondilus tersebut
19
. Radiologi konvensional sangat membantu dalam
mendiagnosis tumor tulang bila ada osteolisys atau pertumbuhan
osteoplastik
20
. Penurunan ruang sendi artikular oleh pertumbuhan tumor
mengakibatkan sukar membuka mulut. Pembesaran condilus dan
subkondilus oleh pertumbuhan tumor yang tidak teratur bentuknya
21
.
Perubahan osteolitik mudah terihat pada semua metode pencitraan.
Gambaran radiograf tergantung pada jenis dan sifat dari tumor yang
terlibat, tetapi biasanya ada perubahan pada bentuk kepala condilus
22
.

Gambar 21. foto radiograf tengkorak Anteroposterior yang menunjukan
osteoma (o) yang terkena pada tulang temporal kanan dan
TMJ.
(Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/385129-overview, di
akses tanggal 8 April 2014)


Gambar 22. Foto panoramik yang menunjukkan massa radioopak pada
daerah condilus kiri.
(Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/385129-overview, di
akses tanggal 8 April 2014)


Gambar 23. Transfaringeal.
(Sumber: Ortakoglu K, Akcam T, Sencimen M, Karakoc O, Ozyigit HA,
Bengi O. Osteochondroma of the mandible causing severe facial
asymmetry: a case report. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol
Endod 2007;103:e21-28)



Gambar 24. CT Scan. A= CT Scan potongan koronal yang
menunjukan massa irreguler di condilus.
(Sumber: Avinash KR, Rajagopal KV, Ramakrishnaiah RH, Carnelio S,
Mahmood NS. Computed tomographic features of mandibular
osteochondroma. Dentomaxillofac Radiol 2007;36:434-436)



II.2.4. Fraktur
Fraktur kondilus sebagian besar kasus pada daerah subkondilus.
Kenyataanya, fraktur kondilus berada di bagian intrakapsular dari TMJ
23
.
Fraktur dapat unilateral atau bilateral, retak atau dislokasi. Konvensional
X-ray biasanya dapat mendiagnostik tetapi beberapa fratur komplit atau
fraktur yang sulit terbukti dengan kecurigaan linis yang kuat kadang-
kadang perlu MSCT. MSCT menunjukan struktur tulang yang sangat baik
dari TMJ
24
. Fraktur pada leher kondilus umumnya setelah terjadi
pemukulan pada dagu. Biasanya leher kondilus tidak patah tapi salah satu
dari kepala kondilus mengalami fraktur, yang disebut fraktur intra-
kapsuler
25
.

Gambar 25. Foto rountgen fraktur kepala kondilus (tanda panah).
(Sumber: Katzberg RW, Bessette RW, Tallents RH, et al. Normal and
abnormal temporomandibular joint: MR imaging with surface coil.
Radiology. 1986; 158:183-9)

II.3.5. Anomali Perkembangan
Cacat perkembangan yang mempengaruhi TMJ biasanya diselidiki
menggunakan radiografi konvensional. Mereka dapat dibagi menjadi
26
:
1. Condilaus hipoplasia yang bisa terjadi secara unilateral ataupun
bilateral.
2. Condilus hiperplasia yang bisa terjadi unilateral ataupun bilateral
3. Bifid kondilus
4. Kerusakan yang berhubungan dengan penyait tertentu atau sindrom



Gambar 26. Dental Panoramik tomografi
(Sumber: Katzberg RW, Bessette RW, Tallents RH, et al. Normal and
abnormal temporomandibular joint: MR imaging with surface coil.
Radiology. 1986; 158:183-9)




Gambar 27. Dental panoramik tomografi.
(Sumber: Katzberg RW, Bessette RW, Tallents RH, et al. Normal and
abnormal temporomandibular joint: MR imaging with surface coil.
Radiology. 1986; 158:183-9)

Gambar 28. Radiografi bifad kondilus.
(Sumber: Alpaslan S, M O¨ zbek, N Hersek, A Kanlı, N Avcu and M Fırat.
2004. Bilateral Bifid Mandibular Condyle. Dentomaxillofacial Radiology 33:
274-277)

II.3.6. Osteoarthritis (osteoarthrosis)
Degeneratif arthrosis meningkat sebanding dengan meningkatnya
usia dan umumnya menyebabkan nyeri pada sendi, seperti pinggul dan
tulang belakang. Sekarang dianggap sebagai penyakit sistemik, atau
komplikasi dari kekacauan internal sendi, dan tekanan yang kontinu
menyebabkan sendi terasa sakit
27
. Tanda-tanda radiografi osteoarthritis
TMJ sering terlihat pada orang tua, tetapi sering tidak ada tanda klinis
yang signifikan. Symptom (bila terjadi) dapat mencakup rasa yang sakit
pada krepitus dan trismus, dan biasanya persistent
28
.
 Gambaran radiografi, antara lain
29
:
- Pembentukan Osteofit (bony spur) pada aspek anterior dari
permukaan artikular kepala condylar. Gambaran radiologi
pembentukan osteofit kecil sering disebut sebagai lipping.

Gambar 29. A dan B yaitu Gambaran Lipping.
(Sumber:Katzberg RW, Bessette RW, Tallents RH, et al. Normal and
abnormal temporomandibular joint: MR imaging with surface coil.
Radiology. 1986; 158:183-9)
 Keterangan :
 Gambar B, menggunakan teknik radiografi Transpharyngeal dari
kondilus kiri yang menunjukkan perubahan osteoarthritic dini dengan
pembentukan osteofit kecilpada bagian anterior, yang biasa disebut
lipping. (yang ditunjuk oleh panah putih).
 Gambar A, menggunakan teknik yang sama, juga terlihat sebuah
osteofit posterior (yang ditunjuk oleh panah hitam)
- Pembentukan osteofit yang luas disebut sebagai beaking (lihat
Gambar C.)
- Flattening kepala kondilus pada margin anterosuperior (lihat
Gambar D.)
-
Gambar 30. Gambaran beaking (gambar C), Gambaran flattening pada
kepala kondilus pada margin anteroposterior.
(Sumber: Katzberg RW, Bessette RW, Tallents RH, et al. Normal and
abnormal temporomandibular joint: MR imaging with surface coil.
Radiology. 1986; 158:183-9)
 Keterangan :
 Gambar C, Teknik Radiografi Transpharyngeal dari kondilus kanan
menunjukkan perubahan osteoarthritic yang lebih dengan
pembentukan osteofit anterior yang disebut beaking (yang ditunjuk
tanda panah).
 Gambar D, menggunakan teknik radiografi Dental Panoramik
Tomograph menunjukkan perubahan osteoarthritic dengan terjadinya
flattening kepala condylar (yang ditunjuk oleh panah terbuka), yang
padat dan sklerotik.
- Subchondral sclerosis kepala condylar yang menjadi padat dan
lebih radiopak-proses yang kadang-kadang disebut sebagai
eburnation
- Sebuah garis normal terhadap fosa glenoid meskipun juga dapat
menjadi sklerotik
- Sangat jarang, mungkin ada bukti:
 posterior osteofit pembentukan
 subchondral kista
 Erosi artikular

















BAB III
PENUTUP

III. 1. Kesimpulan.
Berdasarkan data-data Riskesdas Departemen Kesehatan RI tahun
2012, kita dapat melihat besar dan peningkatan trend kelainan-kelainan
TMJ (Temporomandibular joint) di Indonesia saat kini dan dimasa depan.
Bila kondisi ini dibiarkan tanpa intervensi yang efektif dan efisien, maka
prevalensi kelompok penyakit dan kelainan-kelainan ini akan semakin
meningkat, memunculkan gelombang permasalahan kesehatan, sosial, dan
ekonomi dalam masyarakat Indonesia. Metode intervensi efektif dan
efisien menjadi tanggung jawab semua pihak.
Radiologi sebagai pemeriksaan penunjang penegakan diagnosis
kelainan-kelainan sendi tentunya sangat dibutuhkan. Selain itu
pemeriksaan radiologi juga penting untuk mengevaluasi kemajuan terapi
dan perjalanan penyakit dari kelainan Temporomandibular joint.














DAFTAR PUSTAKA

1. Dolwick MF, Sanders B. TMJ internal derangement and arthrosis. St. Louis:
Mosby, 1985.
2. Thurman Gillespy III,M.D.& Michael L.Richardson, M.D. UW Radiology
TMJ Anatomy Modules.
3. Annandale T. On displacement of the interarticular cartilage of the lower jaw
and its treatment by operation. Lancet. 1887;1:411.
4. Debalso AM. Radiography of the temporomandibular joint. In Debalso AM
(Ed): Maxillofacial Imaging. Philadelphia: WB Sounders, 1990.
5. Katzberg RW, Dolwick MF, Bales DJ, Helms CA. Arthrotomography of the
teporomandibular joint: new technique and preliminary observations. Am J
Roentgenol. 1979;161:100-5.
6. Rosenberg HM, Graczyk RJ. Temporomandibular articulation tomography: a
corrected anteroposterior and lateral cephalometric technique. Oral Surg Oral Med
Oral Pathol. 1986;62:198-204.
7. Heffez L, Rosenberg MF, Jordan S, et al. Accuracy of corrected lateral
cephalometric hypocycloidal tomograms of the TMJ. J Oral Maxilofac Surg.
1987;45:137-42.
8. Snell S Richard.2006. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Ed.6.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal 730-745
9. http://radiopaedia.org/cases/tmj-open-closed-mouth-x-rays , diakses 8 April
2014
10. Quinn, Peter. D. 1998. Color Atlas of Temporomandibular joint. St. Louis:
Mosby, Inc.
11. Yale SH, Allison BD, Hauptfuchrer JD. An epidemiological assessment of
mandibular condyle morphology. Oral Surg Oral Med Oral Pathol. 1966;21:169-
77.
12. Sani. 2014. Arsip Rountgen, CT-Scan, dan MRI Departemen Radiologi
RSMH.
13. H. H. Yilmaz, D. Yildirim, Y. Ugan, S. E. Tunc, A. Ye-sildag, H. Orhan and
C. Akdag, “Clinical and Magnetic Resonance Imaging Findings of the
Temporomandibular Joint and Masticatory Muscles in Patients with Rheuma- toid
Arthritis,” Rheumatology International, Vol. 32, No. 5, 2011, pp. 1171-1178.
14. G. Steinhardt, “Rheumatoid Arthritis of the Temporo-maxillary Joint,”
Zeitschrift fur Laryngologie, Rhinologie, Otologie und Ihre Grenzgebiete, Vol. 30,
No. 11, 2008, pp. 475-485
15. H. J. Tabeling and M. F. Dolwick, “Rheumatoid Arthritis: Diagnosis and
Treatment,” Florida Dental Journal, Vol. 56, No. 1, 1985, pp 18
16. Mangenollo-Souza LC, Mariani PB: Temporomandibular joint ankylosis:
report of 14 cases. Int J Oral Maxillofac Surg 32: 24–29, 2003
17. Chossegros C., Guyot L., Cheynet F., Blanc J.L., Cannoni P. (1999): Full-
thickness skin graft interposition after temporomandibular joint ankylosis surgery.
A study of 31 cases. International Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 28,
330–334
18. Kaban LB, Perrott DH, Fisher K: A protocol for management of
temporomandibular joint ankylosis. J Oral Maxillofac Surg 48: 1145–1151, 2004.
19. http://emedicine.medscape.com/article/385129-overview, di akses tanggal 8
April 2014
20. Ortakoglu K, Akcam T, Sencimen M, Karakoc O, Ozyigit HA, Bengi O.
Osteochondroma of the mandible causing severe facial asymmetry: a case report.
Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2007;103:e21-28
21. Avinash KR, Rajagopal KV, Ramakrishnaiah RH, Carnelio S, Mahmood NS.
Computed tomographic features of mandibular osteochondroma. Dentomaxillofac
Radiol 2007;36:434-436
22. Tanaka E, Lida S, Tsuji H, Kogo M, Morita M. Solitary osteochondroma of
the mandibular of the mandibular symphysis. Int J Oral Maxillofac Surg
2004;33:625-626.
23. Katzberg RW, Bessette RW, Tallents RH, et al. Normal and abnormal
temporomandibular joint: MR imaging with surface coil. Radiology. 1986;
158:183-9
24.Helms CA, Vogler JB III, Morrish RB Jr, Goldman SM, Capra RE, Proctor E.
Temporomandibular joint internal derangements: CT diagnosis. Radiology.
1984;152:459.
25. Mafee MF, Heffez L, Campos M, et al. Temporomandibular joint: role of
direct sagittal CT air-contrast arthrogram and MRI. Otolaryngol Clin North Am.
1988; 21:575.
26. Badel T, Pandurić J, Marotti M. Magnetska rezonancija u dijagnostici
temporomandibularnih poremećaja. Medix. 2005;58:151-4.