A.

Hasil dan Pembahasan
Tabel 4.1 Kurva Standar Protein Lowry (BSA 6,1 mg/10ml)
Sumber: Laporan Sementara
Protein merupakan salah satu unsur gizi penting dalam bahan pangan.
Kandungan protein dalam bahan pangan beragam, untuk memperoleh protein
dalam konsentrasi tinggi, dibuat protein dalam bentuk konsentrat atau isolat.
Fungsi dari protein itu sendiri secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua
kelompok besar, yaitu sebagai bahan struktural dan sebagai mesin yang bekerja
pada tingkat molekular (Triyono, 2010).
Dalam praktikum acara IV Evaluasi Kadar Protein Terlarut dalam Produk,
kadar protein ditentukan dengan menggunakan metode Lowry. Metode Lowry
adalah kombinasi antara reaksi biuret dengan aktivitas reagen merkuri dari fenol
dan reagen folin-ciocalteus. Lowry merupakan metode yang paling sering
digunakan untuk menentukan jumlah protein. Namun, keadaan lingkungan sekitar
yang sering berubah-ubah dimana terdapat kandungan molekul lain yang dapat
berinteraksi dengan protein yang akan diukur. Hal tersebut bisa mengakibatkan
kesalahan dalam estimasi kandungan protein dari metode ini. Oleh karena itu,
dalam metode ini, perlu diperiksa efek dari bernagai bahan kimia (mineral dan
asam-asam organik, pelarut organik, senyawa fenolik, mineral, dan garam
organik) pada akurasi pengukuran protein oleh metode Lowry (Niamke, 2005).
Pengujian protein terlarut pada praktikum acara IV menggunakan metode
Lowry. Untuk dapat mengetahui kadar protein sampel dibutuhkan kurva standar
dari larutan standar yang dibuat dengan cara melarutkan BSA sebanyak 3,7
ml Larutan Konsentrasi Protein (mg/ml)
(x)
Absorbansi (A
o
)
(y)
0 0 0,058
0,2 0,122 0,200
0.4 0,244 0,306
0,6 0,366 0,525
0,8 0,488 0,645
1 0,610 0,815
mg/5ml sebanyak 0 ml, 0,2 ml, 0,4 ml, 0,6 ml, 0,8 ml, dan 1 ml larutan BSA
dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambah akuades hingga volumenya
mencapai 1 ml. Kemudian pada masing-masing tabung reaksi ditambah reagen
Lowry B sebanyak 8 ml dan dibiarkan selama 10 menit. Setelah itu, masing-
masing tabung reaksi ditambahkan 1 ml reagen Lowry A dan dibiarkan selama 20
menit. Larutan kemudian ditera absorbansinya dengan panjang gelombang 600
nm dan dibuat persamaan regresi linier hubungan antara absorbansi larutan
standar dan konsentrasi protein BSA.
Reagen Lowry A dibuat dari larutan asam fosfotungstat dan asam
fosfomolibdat dengan perbandingan (1 : 1). Sedangkan untuk reagen Lowry B
dibuat dengan mencampurkan 2% Na
2
CO
3
dalam 100 ml NaOH 0,1N, kemudian
ditambahkan ke dalam larutan tersebut 1 ml CuSO
4
1% dan 1 ml Na K Tartat 2%.
Sedangkan untuk pembuatan Larutan BSA (Bovin Serum Albumin) dari 500 mg
Bovin Serum Albumin dilarutkan dalam aquades sampai 10,0 ml sehingga kadar
larutan induk 5,0%.

Gambar 4.1 Kurva Standar protein Lowry (BSA 6,1 mg/10ml)
Penentuan konsentrasi protein standar menggunakan rumus pengenceran M
1
.

V
1
=

M
2
. M
2
sehingga didapatkan nilai konsentrasi protein standar untuk 0 ml,
y = 1.2504x + 0.0435
R² = 0.9933
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
0 0.2 0.4 0.6 0.8
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

(
A
)

Konsentrasi Protein (mg/ml)
Series1
Linear (Series1)
0,2 ml, 0,4 ml, 0,6 ml, 0,8 ml, dan 1 ml berturut-turut adalah 0 mg/ml, 0,122
mg/ml, 0,244 mg/ml, 0,366 mg/ml, 0,488 mg/ml dan 0,610 mg/ml. Hasil
peneraan absorbansi oleh spektrofotometer berturut-turut sebesar 0,058, 0,200,
0,306, 0,525, 0,645 dan 0,815 (A
o
). Konsentrasi berbanding lurus dengan nilai
absorbansi, semakin kecil konsentrasi larutan maka semakin rendah nilai
absorbansi. Sebaliknya, semakin besar konsentrasi larutan maka semakin tinggi
nilai absorbansinya. Hubungan konsentrasi dengan absorbansi dapat dihitung
berdasarkan perbandingan absorban sampel dengan absorban standar, penggunaan
kurva kalibrasi dan penggunaan hukum Lambert-Beer (Rivai, 2013).
Berdasarkan Tabel 4.1 Kurva Standar Protein Lowry (BSA 6,1 mg/10ml),
maka konsentrasi protein terlarut dalam larutan sampel dapat ditentukan dengan
mensubstitusikan data absorbansi sampel kedalam garis regresi linear larutan
protein standarnya. Persamaan garis regresi linear protein standar adalah
Y=1,25X+0,043, dimana X adalah konsentrasi dan Y adalah absorbansi.
Tabel 4.2 Data Absorbansi Pada Sampel
No. Sampel Absorbansi (A
o
) % Protein Terlarut
1 Kacang Hijau Mentah 0,495 0,3616
2 Kecambah Kacang Hijau 1,219 0,9408
3 Tempe Goreng 1,531 1,1904
4 Tempe Mentah 1,577 1,2272
5 Tahu Mentah 0,643 0,4080
6 Kacang Hijau Mentah 1,820 2,8432
7 Kecambah Kacang Hijau 1,117 1,1184
8 Kacang Kedelai Mentah 0,798 0,6040
9 Tempe Goreng 0,789 1,1936
10 Tahu Goreng 0,735 1,1072
Sumber: Laporan Sementara
Protein terlarut merupakan oligopeptida dan terdapat kurang dari 10 rantai
asam amino serta memiliki sifat yang mudah diserap oleh sistem pencernaan.
Asam amino yang diperlukan tubuh adalah asam amino essensial karena asam
amino esensial lebih cepat diserap bila dibandingkan asam amino non essensial
didalam tubuh. Selain itu, ketersediaan asam amino essensial juga menentukan
kualitas gizi protein (Andriani, 2012).
Reaksi yang terjadi saat protein terlarut direaksikan dengan Folin adalah
suasana sedikit basa, ikatan peptida pada protein akan membentuk senyawa
kompleks yang berwarna biru yang dapat dideteksi menggunakan
spektrofotometer. Semakin tinggi intensitas warna biru menandakan banyaknya
senyawa kompleks yang terbentuk yang berarti semakin besar konsentrasi protein
terlarut dalam sampel.
Pada praktikum acara IV Evaluasi Kadar Protein Terlarut dalam Produk
Kacang Hijau dan Kacang Kedelai, digunakan 10 macam sampel yaitu kacang
hijau mentah, kecambah kacang hijau, tempe goreng, tempe mentah, tahu mentah,
kacang hijau mentah, kecambah kacang hijau, kacang kedelai mentah, tempe
goreng dan tahu goreng. Kelompok 1 menggunakan sampel berupa kacang hijau
mentah. Pertama-tama sebanyak 10 g sampel dihancurkan, kemudian dimasukkan
dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan dengan akuades sampai tanda tera.
Larutan kemudian ditambahkan dengan ammonium sulfat kristal. Tujuan dari
penambahan ammonium sulfat kristal adalah untuk mengendapkan sampel protein
dengan supernatannya. Kemudian protein yang mengendap tersebut diberi
perlakuan selanjutnya untuk analisa proteinnya. Penambahan amonium sulfat
kristal jumlahnya tergantung dari jenis proteinnya, kalau perlu sampai mendekati
kejenuhan amonium sulfat dalam larutan (Ahmad, 2013).
Pengendapan protein dengan garam dilakukan dengan menambahkan sedikit
demi sedikit garam amonium sulfat ke dalam larutan protein secara kontinyu
sampai larutan jenuh. Pada percobaan ini, ketika ke dalam larutan protein
ditambahkan garam amonium sulfat sampai jenuh, larutan protein mengendap
membentuk endapan putih. Mengendapnya protein disebabkan karena adanya
kompetisi antara ion-ion garam amonium dengan molekul protein untuk mengikat
air. Karena ion-ion dari garam amonium lebih mudah dalam mengikat air,
menyebabkan kelarutan protein dalam air berkurang. Dengan penambahan garam
secara kontinyu, molekul air akan keluar dari larutan dan mengendap. Proses ini
disebut dengan salting out.
Setelah itu larutan disaring dengan menggunakan kertas saring dan
ditambahkan buffer asetat pH 5. Larutan yang sudah diperoleh kemudian diambil
sebanyak 1 ml untuk kemudian diukur absorbansinya pada panjang gelombang
600 ml. Larutan buffer atau larutan penyangga berfungsi untuk mempertahankan
nilai pH tertentu. Sifat yang paling menonjol dari larutan buffer adalah pH larutan
penyangga hanya berubah sedikit pada penambahan asam kuat. Larutan
penyangga asam, misalnya asam asetat dapat mempeertahankan pH pada daerah
asam pH < 7. Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan
garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya (Utami, 2011).
Penambahan buffer asetat dan pemanasan ini menyebabkan timbulnya
endapan putih. Endapan putih yang terbentuk mengindikasikan terjadinya
denaturasi protein. Denaturasi ini disebabkan karena buffer asetat sangat kuat
mempertahankan pHnya pada pH 4,7 sehingga dapat merusak keseimbangan
switer ion ke kondisi asam di bawah titik isoelektrik. Perubahan struktur yang
diakibatkan proses denaturasi adalah perubahan konfigurasi protein α-heliks
menjadi memanjang. Hal ini disebabkan karena rusaknya ikatan hidrogen dan
ikatan nonpolar yang terjadi pada struktur berlipat dari protein.
Faktor pengencer yang digunakan adalah 100 x untuk sampel kacang hijau
mentah, kecambah kacang hijau, tempe goreng, tempe mentah dan tahu mentah
shift 1. Sedangkan untuk faktor pengencer 200 x digunakan untuk sampel kacang
hijau mentah, kecambah kacang hijau, kacang kedelai mentah, tempe goreng dan
tahu goreng shift 2. Perbedaan penggunaan faktor pengencer ini adalah
dikarenakan sampel larutan shift 2 yang diperoleh terlalu pekat, sehingga sampel
yang diambil berjumlah setengah dari banyaknya sampel shift I yaitu sebesar 0,5
g sehingga factor pengencerr yang didapatkan sebesar 200 x.
Nilai absorbansi sampel berturut-turut sebesar 0,495, 1,219, 1,531, 1,577,
0,643, 1,820, 1,117, 0,798, 0,789, dan 0,735. Nilai absorbansi yang baik
seharusnya < 1, hal ini dikarenakan absorbansi pada rentang 0,1-1 kesalahan akan
bernilai minimum (Hadiyanti, 2011). Dalam praktikum diperoleh beberapa nilai
absorbansi yang > 1, yaitu 1,219, 1,531, 1,577, 1,820, dan 1,117. Hal ini mungkin
dikarenakan sampel yang diabsorbansi kotor atau terlalu pekat sehingga hasil
absorbansi yang terbaca bernilai > 1.
% protein terlarut diketahui dengan menggunakan persamaan regresi linier
kurva standar. Dari hasil praktikum kadar protein terlarut shift I kacang hijau
mentah sebesar 0,3616 %, kecambah kacang hijau sebesar 0,9408 %, tempe
goreng sebesar 1,1904 %, tempe mentah sebesar 1,2272 %, dan tahu mentah
0,4080 %. Untuk kadar protein terlarut shift II kacang hijau mentah sebesar
2,8432 %, kecambah kacang hijau sebesar 1,1184 %, kacang kedelai mentah
sebesar 0,6040 %, tempe goreng sebesar 1,1936 % dan tahu goreng sebesar
1,1072 %. Dari data tersebut dapat diketahui urutan kadar protein terlarut rata-rata
sampel dari yang terendah ke tertinggi adalah tahu mentah sebesar 0,4080 %,
kacang kedelai mentah sebesar 0,6040 %, kecambah kacang hijau sebesar 1,0296
%, tahu goreng sebesar 1,1072 %, tempe goreng sebesar 1,1920 %, tempe mentah
sebesar 1,2272 % dan kacang hijau mentah 1,6024 %.
Kadar protein kecambah kacang hijau 2,9 %, kacang hijau mentah 22,2 %,
tahu mentah , kacang hijau mentah, tahu goreng sebesar 9,6 %, tempe goreng
sebesar 4,6 %, kacang kedelai mentah sebesar 35-38 % (DKBM, 2014).
Walaupun kadar seratnya baik untuk pencernaan, protein kedelai segar tidak dapat
diserap tubuh. Kecuali bila kedelai diolah lebih lanjut melalui tahap perebusan
dan penggumpalan (pada tahu) atau fermentasi (pada tempe, kecap, taoco, dan
miso). Dalam kecambah kedelai, enzim protease biji menghidrolisis protein
kedelai sehingga meningkatkan kadar protein terlarut kedelai karena protein
diubah menjadi asam amino yang lebih sederhana. Kandungan gizi pada biji
sebelum dikecambahkan, berada dalam bentuk terikat (tidak aktif), tetapi setelah
perkecambahan bentuknya menjadi aktif, sehingga meningkatkan daya cerna.
Pada saat perkecambahan juga terjadi hidrolisis komponen karbohidrat, protein,
dan lemak menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Proses fermentasi
menyebabkan tempe memiliki beberapa keunggulan dibandingkan kacang
kedelai. Pada tempe, terdapat enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh
kapang tempe, sehingga protein, lemak, dan karbohidrat menjadi lebih mudah
dicerna. Kapang yang tumbuh pada tempe mampu menghasilkan enzim protease
untuk menguraikan protein menjadi peptida dan asam amino bebas (Boga, 2005;
Astawan, 2009; Winarsi, 2010).
Menurut Miswar (2013) dalam biji kedelai, protein cadangan akan
dihidrolisis menjadi asam amino untuk membentuk jenis protein baru. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan protein kotiledon semakin menurun
dengan bertambahnya umur kecambah sampai dengan hari ke 12. Meskipun pada
kecambah protein telah dihidrolisis menjadi asam amino yang lebih sederhana,
kadar protein terlarut pada kecambah kedelai lebih rendah dibandingkan dengan
kadar protein terlarut kedelai mentah karena protein dalam biji kedelai digunakan
sebagai sumber energi dalam perkecambahan.
Wong et al. (1996) dalam Pelegrine dan Gomes (2008) menambahkan
bahwa suhu juga merupakan faktor yang mempengaruhi kelarutan protein. Pada
umumnya kelarutan protein meningkat dengan suhu 45-50°C. Ketika suhu larutan
meningkat, protein terdenaturasi. Protein terdenaturasi oleh efek suhu pada ikatan
non kovalen yang melibatkan kestabilan dari struktur sekunder dan tersier,
contohnya, ikatan hidrogen, hidrofobik, dan elektrostatik. Ketika protein
terdenaturasi, protein berubah menjadi senyawa yang sederhana dan protein
terlarut semakin tinggi. Namun, suhu yang tinggi dan lama perebusan
mengakibatkan kandungan protein seperti albumin pada kedelai turun akibat
denaturasi dan protein terlarut kedelai turun. Oleh karena itu berdasarkan teori
tersebut dapat disimpulkan urutan kadar protein terlarut dari yang terkecil ke
terbesar seharusnya adalah kecambah kacang hijau, kecambah kacang kedelai,
kacang hijau mentah, kedelai mentah, tahu mentah, tempe mentah, tahu goreng
dan tempe goreng.
Jenis asam dan pengaruh pH larutan (filtrat) sangat berpengaruh pada
kemampuan untuk mengkoagulasi protein dan endapan protein yang terjadi.
Kelarutan protein akan meningkat jika diberi perlakuan asam yang berlebih, hal
ini terjadi karena ion positif pada asam yang menyebabkan protein yang semula
bemuatan netral atau nol menjadi bermuatan positif yang menyebabkan
kelarutannya bertambah. Semakin jauh derajat keasaman larutan protein dari titik
isoelektrisnya, maka kelarutannya akan semakin bertambah (Triyono, 2010).
Selain itu, Menurut Ghelichpour dan Shabanpour (2011), kelarutan protein
tergantung pada struktur protein, pH, konsentrasi garam, suhu, durasi ekstraksi,
dan berbagai faktor intrinsik lainnya.
Daya cerna protein adalah kemampuan suatu protein untuk dihidrolisis
menjadi asam-asam amino oleh enzim-enzim pencernaan, di mana daya cerna
protein tinggi berarti protein dapat dihidrolisis dengan baik menjadi asam-asam
amino sehingga jumlah asam amino yang dapat diserap dan digunakan oleh tubuh
tinggi, sedangkan daya cerna protein rendah berarti protein sulit untuk dihidrolisis
menjadi asam amino sehingga jumlah asam amino yang dapat diserap dan
digunakan oleh tubuh rendah karena sebagian besar akan dibuang oleh tubuh
bersama feses. Sehingga semakin tinggi kadar protein terlarut maka semakin
mudah protein untuk diserap oleh tubuh. Daya cerna protein berbanding lurus
dengan sifat protein terlarut. Semakin tinggi protein terlarut maka daya cerna
protein juga semakin tinggi. Hal tersebut karena protein yang terlarut akan lebih
mudah dicerna oleh enzim dan diserap oleh tubuh.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna protein, misalnya dari
kacang-kacangan mentah lebih sulit dicerna daripada yang sudah mengalami
denaturasi oleh panas. Demikian pula terdapatnya faktor anti gizi seperti
antitrypsin, antikimotripsin/hemaglutinin, dapat merendahkan daya cerna suatu
protein. Disamping itu terjadi reaksi antara protein atau asam amino dengan
komponen lain (gula pereduksi, polifenol, lemak, dan produksi oksidasi) dan
bahan kimia aditif (alkali, belerang oksida atau hidrogen peroksida) dapat
mengakibatkan menurunnya daya cerna protein (Asrullah dkk, 2012). Dalam
pemasakan yang ditambahkan garam, jika konsentrasi garam terlalu tinggi juga
kana menyebabkan salting out dan protein akan terendap sehingga kadar protein
terlarut juga menurun. Proses perendaman yang lama dan air perendaman tidak
diganti dapat menjadikan pertumbuhan bakteri yang nantinya akan menyebabkan
penurunan pH yang juga dapat mempengaruhi kadar protein terlarut.

B. Kesimpulan
Kesimpulan dari acara IV Evaluasi Kadar Protein Terlarut dalam Produk
Olahan Kacang Hijau dan Kacang Kedelai adalah :
1. Protein terlarut merupakan oligopeptida dan terdapat kurang dari 10 rantai
asam amino serta memiliki sifat yang mudah diserap oleh sistem
pencernaan.
2. Konsentrasi berbanding lurus dengan nilai absorbansi, semakin kecil
konsentrasi larutan maka semakin rendah nilai absorbansi.
3. Tujuan dari penambahan ammonium sulfat kristal adalah untuk
mempercepat pemisahan antara larutan dengan padatan.
4. Urutan kadar protein terlarut rata-rata sampel dari yang terendah ke
tertinggi adalah tahu mentah sebesar 0,4080 %, kacang kedelai mentah
sebesar 0,6040 %, kecambah kacang hijau sebesar 1,0296 %, tahu goreng
sebesar 1,1072 %, tempe goreng sebesar 1,1920 %, tempe mentah sebesar
1,2272 % dan kacang hijau mentah 1,6024 %.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi protein terlarut adalah struktur protein,
pH, konsentrasi garam, suhu, lama pemanasan, dan berbagai faktor
intrinsik lainnya.




DAFTAR PUSTAKA

Andriani, Devi. 2012. Analisis Protein dan Identifikasi Asam Amino pada Tepung
Gaplek Terfortifikasi. Hal 2.
Asrullah, Muhammad, Ayu Hardiyanti Mathar, Citrakesumasari, Nurhaedar Jafar,
dan St Fatimah. 2012. Denaturasi dan Daya Cerna Protein pada Proses
Pengolahan Lawa Bale (Makanan Tradisoinal Sulawesi Selatan). Media Gizi
Masyarakat Indonesia, Vol.1,No.2: 84-90.
Ghelichpour, M dan B. Shabanpour. 2011. The Investigation of Proximate
Composition and Protein Solubility in Processed Mullet Fillets. International
Food Research Journal, Vol. 18, No. 4: hal 1343-1347.
Kurniasari, Kholifah dan Nurul Fithri D. W. 2009. Optimasi Penambahan Alginat
Sebagai Emulsifier pada Susu Kedelai dengan Variasi Kecepatan, Waktu dan
Suhu Pengadukan. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas
Diponegoro.
Miswar. 2013. Isolasi dan Purifikasi Fitase dari Kotiledon Kedelai [Glycine max (L.)
Merr.] Hasil Perkecambahan. Pusat Penelitian Biologi Molekul dan Fakultas
Pertanian Universitas Jember, Jember.
Niamke, Sebastian, Lucien Patrice Kouame, dkk. 2005. Effect of Some Chemicals on
The Accuracy of Protein Estimation by The Lowry Method. University de
Cocody-Abidjan. Nigeria. Vol. 17, No. 2.
Pelegrine, Daniela H. G. dan M. T. de Moraes Santos Gomes. 2008. Whey Protein
Solubility Curves at Several Temperatures Values. Ciencia e Natura, UFSM,
Vol. 30, No. 1: hal 17-25.
Rivai, Harrizul. 2013. Penggunaan Spektrofotometer UV-Vis (Analisis Kuantitatif).
Fakultas Farmasi Universitas Andalas.
Utami, Sri. 2011. Larutan Buffer. Publish : 10-07-2011 15:15:32.
Triyono, Agus. 2010. Mempelajari Pengaruh Penambahan Beberapa Asam Pada
Proses Isolasi Protein terhadap Tepung Protein Isolat Kacang Hijau
(Phaseolus Radiatus L.). Seminar Rekayasa Kimia Dan Proses, 4-5 Agustus
2010 ISSN : 1411-4216.
Astawan, Made. 2009. Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji-Bijian. Penebar
Swadaya. Depok
Boga, Yasa. 2005. Tahu dan Tempe plus Susu Kedelai. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta
Winarsi, Hery. 2010. Protein Kedelai dan Kecambah Manfaatnya Bagi Kesehatan.
Kanisius. Yogyakarta.
Achmad, Nurdin. 2013. Reaksi Analisa Protein. skp.unair.ac.id


























LAMPIRAN PERHITUNGAN
Perhitungan untuk Tabel 4.1 Kurva Standar Protein Lowry (BSA 6,1mg/ 10ml)
Penentuan Konsentrasi Protein
M
1
. V
1
= M
2
. V
2

6,1 mg/ 10 ml . 0,2 ml = M
2
. 1 ml
M
2
= 0,122 mg/ml

M
1
. V
1
= M
2
. V
2

6,1 mg/ 10 ml . 0,4 ml = M
2
. 1 ml
M
2
= 0,244 mg/ml

M
1
. V
1
= M
2
. V
2

6,1 mg/ 10 ml . 0,6 ml = M
2
. 1 ml
M
2
= 0,366 mg/ml

M
1
. V
1
= M
2
. V
2

6,1 mg/ 10 ml . 0,8 ml = M
2
. 1 ml
M
2
= 0,488 mg/ml

M
1
. V
1
= M
2
. V
2

6,1 mg/ 10 ml . 1 ml = M
2
. 1 ml
M
2
= 0,610 mg/ml

Perhitungan untuk Tabel 4.2 Data Absorbansi pada Sampel
Penentuan % Protein Terlarut
fp = 10 gr/ 100 ml
1 ml fp = 100 x
1. y = 0,495
1,25 x + 0,043 = 0,495
x = 0,3616

= 0,3616 %
2. y = 1,219
1,25 x + 0,043 = 1,219
x = 0,9408

= 0,9408%
3. y = 1,531
1,25 x + 0,043 = 1,531
x = 1,1904

= 1,1904%
4. y = 1,577
1,25 x + 0,043 = 1,577
x = 1,2272

= 1,2272%
5. y = 0,643
1,25 x + 0,043 = 0,643
x = 0,48

= 0,48%
6. y = 1,820
1,25 x + 0,043 = 1,820
x = 1,4216

= 2,8432%
7. y = 1,117
1,25 x + 0,043 = 1,117
x = 0,8592

= 1,7184%
8. y = 0,798
1,25 x + 0,043 = 0,798
x = 0,604

= 0,604%
9. y = 0,789
1,25 x + 0,043 = 0,789
x = 0,5968

= 1,1936%

10. y = 0,735
1,25 x + 0,043 = 0,735
x = 0,5536

= 1,1072%