1

PENDAHULUAN

A. Definisi
a. Posisi meneran pada saat persalinan:
Menurut Syafrudin (2012) posisi dalam persalinan adalah posisi
yang digunakan untuk persalinan yang dapat mengurangi rasa sakit pada
saat bersalin dan dapat mempercepat proses persalinan.
Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal,
tanpa disadari dan mau tidak mau harus berlangsung. Untuk membantu
ibu agar tetap tenang dan rileks sedapat mungkin bidan tidak boleh
memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh ibu dalam
persalinannya. Sebaliknya, peranan bidan adalah untuk mendukung ibu
dalam pemilihan posisi apapun yang dipilihnya, menyarankan alternatif-
alternatif hanya apabila tindakan ibu tidak efektif atau membahayakan
bagi dirinya sendiri atau bagi bayinya. Bila ada anggota keluarga yang
hadir untuk melayani sebagai pendamping ibu, maka bidan bisa
menawarkan dukungan pada orang yang mendukung ibu tersebut.
B. Tujuan dan Keuntungan
1. Tujuan
a. Memberikan kenyamanan dalam proses persalinan
b. Mempermudah atau memperlancar proses persalinan dan kelahiran bayi
c. Mempercepat kemajuan persalinan
2. Keuntungan dan manfaat posisi meneran bagi ibu bersalin dan bayi
2

a. Mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan
b. Lama kala II lebih pendek
c. Laserasi perineum lebih sedikit
d. Menghindari persalinan yang harus ditolong dengan tindakan
e. Nilai APGAR lebih baik
D. Indikasi
a. Posisi Setengah Duduk/Duduk
a) Keuntungan: Posisi ini membuat ibu merasa nyaman karena
membantu ibu untuk beristirahat diantara kontarksi, alur jalan lahir
yang perlu ditempuh untuk bisa keluar lebih pendek, suplai oksigen
dari ibu ke janin berlangsung optimal, dan gaya grafitasi membantu
ibu melahirkan bayinya.
b) Indikasi: kemajuan persalinan baik dan wanita ingin beristirahat,
ketika anestesia epidural telah diberikan sebelum dilakukan
episiotomi
b. Posisi Lateral (Miring)
a). Keuntungan : Peredaran darah balik ibu mengalir lancar, pengiriman
oksigen dalam darah ibu ke janin melalui plasenta tidak terganggu,
karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan berlangsung
perlahan-lahan sehingga persalinan relatif lebih nyaman, dan dapat
mencegah terjadinya laserasi.
b). Indikasi: Selama persalinan terus mengalami kemajuan dengan baik
dan wanita menginginkan posisi tersebut, ketika wanita lelah pada
3

kala II, ketika hemoroid terasa nyeri pada posisi lain, dilakukan bila
posisi kepala bayi belum tepat.
d. Posisi Berdiri atau Jongkok
a). Keuntungan: Posisi ini menguntungkan karena pengaruh gravitasi
tubuh, ibu tak harus bersusah-payah mengejan, bayi akan keluar
lewat jalan lahir dengan sendirinya (membantu mempercepat
kemajuan kala dua), memudahkan dalam pengosongan kandung
kemih, dan mengurangi rasa nyeri. Pada posisi jongkok berdasarkan
bukti radiologis dapat menyebabkan terjadinya peregangan bagian
bawah simfisis pubis akibat berat badan sehingga mengakibatkan
28% terjadinya perluasan pintu panggul.
b). Indikasi: Ibu hamil yang mengalami rasa sakit pada punggung, Ibu
hamil yang tidak mampu mengejan dengan kuat, untuk ibu hamil
yang tidak kuat menahan rasa nyeri hebat saat persalinan, ibu hamil
yang memiliki panggul sempit.
e. Posisi Merangkak
a). Keuntungan: ibu merasa lebih nyaman dan efektif untuk meneran,
mempermudah janin dalam melakukan rotasi, membantu ibu
mengurangi nyeri punggung, dan peregangan pada perinium
berkurang.
b). Indikasi: Posisi meragkak sangat cocok untuk persalinan dengan rasa
sakit pada punggung, Ibu hamil dengan keluhan hemoroid, perbaikan
4

oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput
anterior, Ibu hamil yang kelelahan diantara kontraksi
f. Posisi Menungging
a). Keuntungan: Mendorong kepala bayi keluar dari panggul selama
kontraksi, kadang–kadang dianjurkan pada persalinan dini jika
kontraksi sering terjadi dan untuk mengurangi nyeri pinggang , serta
mengurangi tekanan pada leher rahim yang bengkak.
b). Indikasi: Dianjurkan pada persalinan dini jika kontraksi sering
terjadi, Ibu hamil dengan rasa nyeri di pinggang, Ibu hamil dengan
leher rahim yang bengkak
g. Berjalan-jalan
a). Keuntungan: Menyebabkan terjadinya perubah sendi panggul , dapat
mempercepat turunnya kepala janin
b). Indikasi: Posisi ini hanya dapat dilakukan bila ketuban belum pecah
dan bila si ibu masih mampu untuk melakukannya.
h. Berbaring/Litotomi
a). Keuntungan: Dokter bisa lebih leluasa membantu proses persalinan.
Jalan lahirpun menghadap ke depan, sehingga dokter dapat lebih
mudah mengukur perkembangan pembukaan dan waktu persalinan
pun bisa diprediksi secara lebih akurat. Kepala bayi lebih mudah
dipegang dan diarahkan. Sehingga apabila terjadi perubahan posisi
kepala bayi, maka dokter langsung bisa mengarahkan pada posisi
yang seharusnya.
5

b). Indikasi: Ketika posisi berbaring miring untuk memperluas diameter
panggul tetapi janin masih terperangkap di panggul, sebelum
dilakukan ekstrasi vakum atau forsep
E. Kontraindikasi
a. Posisi Setengah Duduk/Duduk
a). Kerugian: Posisi ini bisa menyebabkan keluhan pegal di punggung
dan kelelahan, apalagi kalau proses persalinannya lama.
b). Kontraindikasi: Ibu dengan proses persalinan lama karena dapat
menimbulkan pegal di punggung dan kelelahan, pada janin dengan
posisi oksiput posterior dan dalam keadaan gawat.
c. Posisi Lateral (Miring)
a). Kerugian: Posisi ini membuat dokter atau bidan sedikit kesulitan
membantu proses persalinan, kepala bayi lebih sulit dipegang atau
diarahkan, bila harus melakukan episiotomi pun posisinya lebih sulit.
b). Kontraindikasi: Ibu hamil yang harus dilakukan tindakan episiotomi,
mengurangi rasa nyeri, namun jika posisi ini meningkatkan
kemajuan persalinan, wanita mungkin bersedia mencoba posisi
tersebut, membantu penurunan terutama jika kala II menjadi lambat,
saat wanita telah berbaring miring selama lebih dari 1 jam tanpa ada
kemajuan.
d. Posisi Berdiri atau Jongkok
a). Kerugian: Bila tidak disiapkan dengan baik, posisi ini sangat
berpeluang membuat kepala bayi cedera, sebab bayi bisa “meluncur”
6

dengan cepat. Supaya hal ini tidak terjadi, biasanya sudah disiapkan
bantalan yang empuk dan steril untuk menahan kepala dan tubuh
bayi. Dokter atau bidan pun sedikit kesulitan bila harus membantu
persalinan melalui episiotomi atau memantau perkembangan
pembukaan.
b). Kontraindikasi: Ibu hamil dengan kemungkinan episiotomi.
e. Posisi Merangkak
a). Kerugian: Ibu merasa cepat lelah dengan posisi seperti ini karena
mengalami kesulitan dalam mengejan.
b). Kontraindikasi: Ibu hamil yang kesulitan mengejan.
f. Posisi Menungging
Belum mendapatkan referensi kerugian dan kontraindikasi dari
posisi meneran dengan posisi menungging pada ibu hamil saat
persalinan.
g. Berjalan-jalan
a). Kerugian: Menyebabkan terjadinya perubah sendi panggul, dapat
mempercepat turunnya kepala janin
b). Kontraindikasi: Ibu hamil dengan ketuban yang sudah pecah dan bila
ibunya tidak mampu untuk melakukannya.
h. Berbaring/Litotomi
a). Kerugian: Dapat menyebabkan hipotensi supine yang
mengakibatkan pengurangan masukan oksigen ke janin, posisi ini
menyebabkan derajat ruptur perineum semakin besar.
7

b). Kontraindikasi: Posisi litotomi berlebih ini adalah jika posisi lain
belum pernah dicoba.
F. POSISI YANG TIDAK DIANJURKAN PADA IBU MELAHIRKAN
Alasan posisi terlentang atau litotomi tidak dianjurkan
1. Pada posisi terlentang pembuluh aorta dan vena cava inferior akan
tertekan oleh beban berat janin, uterus, air ketuban dan plasenta.
Penekan pembuluh darah besar ini akan mengganggu aliran darah ke
janin sehingga janin akan kekurangan suplai oksigen yang berakibat
terjadinya asfiksia intra uterus.
2. Selain itu pasien juga akan merasakan nyeri karena tekanan ini yang
dapat menambah lama Kala II. Laserasi perineum pada posisi ini lebih
banyak dijumpai dibandingkan posisi lain karena pada posisi ini daya
regang panggul tidak dapat maksimal.
3. Posisi litotomi untuk meneran juga tidak dianjurkan karena akan
menyebabkan nyeri pada punggung dan kerusakan saraf kaki yang
dirasakan setelah proses persalinan selesai.
4. Pada posisi ini pasien akan lebih sulit untuk melakukan pernafasan.
5. Posisi litotomi dan terlentang akan membuat peoses buang air lebih sulit.
6. Pasien merasa terbatas dalam melakukan pergerakan.
7. Pasien merasa tidak berdaya ketika dalam posisi terlentang apalagi
litotomi, karena posisinya benar – benar seperti menjadi “objek tindakan
“.
8

8. Proses meneran menjadi lebih sulit karena tekanan pada saraf panggul
minimal.
9. Bisa menambah kemungkinan terjadinya laserasi pada abdomen.
G. Langkah-Langkah
a). Cara Meneran
1) Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya
selama kontraksi.
2) Jangan anjurkan untuk menahan nafas pada saat meneran.
3) Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara
kontraksi.
4) Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin merasa
lebih mudah untuk meneran jika ia menarik lutut kearah dada dan
menempelkan dagu ke dada.
5) Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
6) Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran
bayi.
b). Cara Meneran Menurut Manuaba (2001)
1. Anjurkan ibu untuk meneran sesuai dengan dorongan alamiahnya
selama kontraksi.
2. Jangan anjurkan untuk menahan nafas pada saat meneran.
3. Anjurkan ibu untuk berhenti meneran dan beristirahat diantara
kontraksi.
4. Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ibu mungkin
9

merasa lebih mudah untuk meneran jika ia menarik lutut
kearah dada dan menempelkan dagu ke dada.
5. Anjurkan ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
6. Jangan melakukan dorongan pada fundus untuk membantu kelahiran
bayi.
c). Cara Meneran Menurut JNPK-KR (2007)
1. Parturien diminta untuk merangkul kedua pahanya, sehingga dapat
menambah pembukaan pintu bawah panggul.
2. Badan ibu dilengkungkan sampai dagu menempel di dada, sehingga
arah kekuatan menuju jalan lahir.
3. His dan mengejan dilakukan bersamaan sehingga kekuatannya
optimal.
4. Saat mengejan ditarik sedalam mungkin dan dipertahankan dengan
demikian diafragma abdominal membantu dorongan kearah jalan
lahir.
5. Bila lelah dan his masih berlangsung, nafas dapat dikeluarkan dan
selanjutnya ditarik kembali utnuk dipergunakan mengejan.
d). Cara Meneran Menurut Sarwono (2005)
1. Wanita tersebut dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya
sampai batas siku, kepala sedikit diangkat sehingga dagu mendekati
dadanya dan dapat melihat perutnya.
2. Sikap seperti diatas, tetapi badan dalam posisi miring kekiri atau
kekanan tergantung pada letak punggung janin, hanya satu kaki
10

dirangkul, yakni kaki yang berda diatas. Posisi yang menggulung ini
memang fisiologis. Posisi ini baik dilakukan bila putaran paksi
dalam belum sempurna.
e). Cara Meneran Menurut Sarwono (2002)
1) Mengejan hanya diperbolehkan sewaktu ada his dan pembukaan
lengkap.
2) Pasien tidur terlentang, kedua kaki difleksikan, kedua tangan
memegang kaki atau tepi tempat tidur sebelah atas, bila kondisi janin
kurang baik, pasien mengejan dalam posisi miring.
3) Pada permulaan his, pasien disuruh menarik nafas dalam, tutup
mulut, mengejan sekuat-kuatnya dan selama mungkin, bila his masih
kuat menarik nafas pengejanan dapat diulang kembali. Bila his tidak
ada, pasien istirahat, menunggu datangnya his berikutnya.










11

PEMBAHASAN

A. Pendapat Tokoh – Tokoh dan Penelitian Tentang Posisi Meneran
Berbagai studi ilmiah tentang pergerakan dan posisi persalinan pada
kala I dilakukan yang membandingkan dampak berbagai posisi tegak
(upright position) dengan posisi horizontal (supine) terhadap nyeri dan
kemajuan persalinan. Berdasarkan review yang dilakukan oleh Simkin &
Bolding (2004) terhadap 14 studi intervensi terkait, menunjukkan bahwa:
tidak ada ibu yang menyatakan bahwa posisi horizontal lebih meningkatkan
kenyamanan dibandingkan posisi lainnya, berdiri lebih meningkatkan
kenyamanan dibandingkan berbaring atau duduk, duduk lebih meningkatkan
kenyamanan dibandingkan berbaring jika dilatasi serviks kurang dari 7 cm,
posisi tegak-duduk, berdiri atau berjalan-jalan menurunkan nyeri dan
meningkatkan kepuasan ibu, dan posisi tegak tidak memperpanjang masa
persalinan dan tidak menyebabkan cedera pada ibu yang sehat. Sedangkan
Review sistematis terhadap sembilan studi intervensi tentang posisi ibu di
kala I persalinan yang dilakukan oleh Souza et al (2006) menunjukkan
bahwa mengadopsi posisi tegak atau ambulasi aman bagi ibu dan
memberikan kepuasan karena adanya kebebasan untuk bergerak. Tetapi
dikarenakan kurangnya bukti yang signifikan dan keterbatasan penelitian-
penelitian yang ada, maka keuntungan poisisi tegak belum dapat
direkomendasikan untuk memperpendek durasi persalinan dan
meningkatkan kenyamanan ibu. Baik seorang primipara maupun seorang
12

multipara bergantung posisi yang lebih nyaman ibu rasakan itulah yang
akan dipilih oleh ibu pada saat persalinan. Setiap ibu yang akan bersalin
berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain.
B. Pendapat Tokoh-Tokoh dan Penelitian Tentang Posisi Meneran
1) Posisi duduk atau setengah duduk:
Posisi ini nyaman bagi ibu dan ia bisa beristirahat dengan mudah
diantara kontraksi jika merasa lelah. Keuntungan dari kedua posisi
ini adalah memudahkan melahirkan kepala bayi.
2) Posisi jongkok atau berdiri:
Menurut JNPK-KR (2007), posisi ini dapat membantu mempercepat
kemajuan kala II persalinan dan mengurangi rasa nyeri yang hebat.
3) Posisi merangkak atau berbaring miring:
Menurut JNPK-KR (2007), posisi ini lebih nyaman dan efektif
bagi ibu untuk meneran. Kedua posisi tersebut mungkin baik jika
ada masalah bagi bayi yang akan berputar ke posisi oksiput anterior.
Merangkak merupakan posisi yang baik bagi ibu yang mengalami
nyeri punggung saat persalinan. Berbaring miring ke kiri seringkali
merupakan posisi yang baik bagi ibu karena jika ibu kelelahan ibu
bisa beristirahat dengan mudah diantara kontraksi. Posisi ini juga
bisa membantu mencegah laserasi perineum.
4) Sedangkan menurut Manuaba (2001), posisi ibu saat meneran
adalah sebagai berikut :
13

a) Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman
baginya, setiap posisi memilki keuntungannya masing-masing,
misalnya posisi setengah duduk dapat membantu turunnya janin
jika persalinan berjalan lambat.
b) Ibu dibimbing meneran selama his, anjurkan ibu untuk
mengambil nafas, meneran tanpa diselingi bernafas,
kemungkinan dapat menurunkan PH pada arteri umbilikalis
yang dapat menyebabkan denyut jantung tidak normal dan nilai
apgar rendah, minta ibu bernafas selagi kontraksi ketika kepala
akan keluar. Hal ini juga menjaga agar perineum meregang
pelan dan mengontrol lahirnya kepala serta mencegah robekan.












14

PENUTUP

A. Kesimpulan
Evidence based intranatal artinya berdasarkan bukti, tidak lagi berdasarkan
pengalaman atau kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan bukti dan bukti
inipun tidak sekedar bukti. Tapi bukti ilmiah terkini yang bisa
dipertanggungjawabkan dalam proses persalinan. Dengan evidence based
midwifevery (EBM) sangat bermanfaat bagi bidan dalam pengambilan keputusan
pasien secara bijak. Salah satu EBM dalam persalinan yang terkini contohnya
posisi meneran, terdahulu posisi meneran secara telentang/litotomi rutin dilakukan
dalam persalinan, namun setelah adanya penelitian posisi tersebut ternyata kurang
baik bagi ibu dan bayi, sehingga pemilihan posisi lain menjadi alternatif yang
lebih baik karena menguntungkan ibu dan bayi.

B. Saran
Adapun saran dalam pembuatan makalah ini sebagai berikut:
Bidan sebagai tenaga medis terlatih yang ditempatkan ditengah masyarakat
seyogyanya bertindak konservatif artinya tidak terlalu banyak intervensi. Selain
itu diharapkan bidan mengikuti perkembangan yang ada, sehingga bidan dapat
memberikan asuhan sesuai dengan perkembangan yang ada dan bidan dapat
melakukan asuhan sayang ibu saat persalinan.


15

DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Edisi 2. Jakarta : EGC
Pelatihan Asuhan Persalinan Bersih dan Aman, hal 5-12
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, hal 45
Gupta JK and VC Nikodem. 2000. Woman’s position during second stage
of labour (Cochrane Review), in The Cochrane Library. Issue 4. Update Software:
Oxford.
Http://www.ratihrochmat.wordpresscom. doc diakses di Jakarta, 19 Juni
2009
Http://www.dwirahmiatihasyar.blogspot.com 19 Juni 2009
Http://www.Hypno-birthingt.htm 19 Juni 2009
Http://www.kpai.go.id 19 Juni 2009