PRIA

Hematologi
Jenis Spesimen : darah
Darah Lengkap

Eritrosit : 4.5 – 5.9 (4.5 – 5.5) (juta/ul)
Haemoglobin (Hb) : 13.5 – 17.5 (13 – 16) (g/dl)
Hematokrit (Ht) : 41.0 – 53.0 (40 – 54) (%)
Trombo sit : 150.000 – 440.000 (150.000 – 400.000) (/ul)
Leukosit : 4.000 – 11.000 (5.000 – 10.000) (/ul)
Laju Endap Darah (LED) : 0 – 10 (mm/jam)

Diff count / Hitung Jenis Leukosit
Basofil : 0 – 1 (%)
Eosinofil : 1 – 3 (%)
Batang : 2 – 6 (%)
Segmen : 50 – 70 (%)
Limfosit : 20 – 40 (%)
Monosit : 2 – 8 (%)


Urinalisa
Jenis Spesimen : urine midstream / porsi tengah
Urine Lengkap

Warna : kuning
Kejernihan : jernih
Glukosa : negatif
Bilirubin : negatif
Keton : negatif
Berat jenis : 1.005 – 1.030 (1.003 – 1.030)
Darah samar : negatif
pH : 4.5 – 8.0 (5 – 8)
Protein : negatif
Urobilinogen : 0.1 – 1.0 (EU/dl)
Nitrit : negatif
Esterase leukosit : negatif

Sedimen
Leukosit : 0 – 5 (0 – 3) (/LPB)
Eritrosit : 0 – 1 (/LPB)
Silinder : negatif (/LPK)
Epitel : +1
Kristal : negatif
Lain-lain : negatif


Kimia Darah
Glukosa N : 80 – 100 (mg/dl)
Glukosa PP : 100 - 120 (mg/dl)
Glukosa S : < 150 (mg/dl)

Kolesterol total : < 200 (mg/dl)
Trigliserida : < 150 (mg/dl)
HDL – Kolesterol : > 55 (mg/dl)
LDL – kolesterol : < 150 (mg/dl)

Ureum : 15 – 40 (mg/dl)
Kreatinin : 0.5 – 1.5 (mg/dl)
Asam urat : 3.4 – 7.0 (mg/dl)

Bilirubin total : 0.2 – 1 (mg %)
Bilirubin direk : 0 – 0.2 (mg %)
Bilirubin indirek : 0.2 – 0.8 (mg %)

SGOT : 5 – 40 (u/l)
SGPT : 5 – 41 (u/l)
Alkali Fosfatase : 45 – 190 (iu/l)
Gamma GT : 6 – 28 (mu/ml)

Protein total : 6.1 – 8.2 (gr %)
Albumin : 3.8 – 5.0 (gr %)
Globulin : 2.3 – 3.2 (gr %)


Imunologi dan Serologi
Widal
Salmonella typhy
Salmonella paratyphy A
Salmonella paratyphy B
Salmonella paratyphy C

VDRL : negatif
HbSAg
Anti Hbs
RF : < 8 (lu/dl)
CRP : < 0.8 (Mg/dl)
ASTO : < 200 (lu/dl)


Wanita

Hematologi
Jenis Spesimen : darah
Darah Lengkap

Eritrosit : 4 – 5 (juta/ul)
Haemoglobin (Hb) : 12 – 15 (g/dl)
Hematokrit (Ht) : 36 – 47 (%)
Trombo sit : 150.000 – 400.000(/ul)
Leukosit : 5.000 – 10.000(/ul)
Laju Endap Darah (LED) : < 15 (mm/jam)

Diff count / Hitung Jenis Leukosit
Basofil : 0 – 1 (%)
Eosinofil : 1 – 3 (%)
Batang : 2 – 6 (%)
Segmen : 50 – 70 (%)
Limfosit : 20 – 40 (%)
Monosit : 2 – 8 (%)


Urinalisa
Jenis Spesimen : urine midstream / porsi tengah
Urine Lengkap

Warna : kuning
Kejernihan : jernih
Glukosa : negatif
Bilirubin : negatif
Keton : negatif
Berat jenis : 1.003 – 1.030
Darah samar : negatif
pH : 5 – 8
Protein : negatif
Urobilinogen : 0.1 – 1.0 (EU/dl)
Nitrit : negatif
Esterase leukosit : negatif

Sedimen
Leukosit : 0 – 3 (/LPB)
Eritrosit : 0 – 1 (/LPB)
Silinder : negatif (/LPK)
Epitel : +1
Kristal : negatif
Lain-lain : negatif


Kimia Darah
Glukosa N : 80 – 100 (mg/dl)
Glukosa PP : 100 - 120 (mg/dl)
Glukosa S : < 150 (mg/dl)

Kolesterol total : < 200 (mg/dl)
Trigliserida : < 150 (mg/dl)
HDL – Kolesterol : > 65 (mg/dl)
LDL – kolesterol : < 150 (mg/dl)

Ureum : 15 – 40 (mg/dl)
Kreatinin : 0.5 – 1.5 (mg/dl)
Asam urat : 2.4 – 5.7 (mg/dl)

Bilirubin total : 0.2 – 1 (mg %)
Bilirubin direk : 0 – 0.2 (mg %)
Bilirubin indirek : 0.2 – 0.8 (mg %)

SGOT : 5 – 40 (u/l)
SGPT : 5 – 41 (u/l)
Alkali Fosfatase : 45 – 190 (iu/l)
Gamma GT : 4 – 18 (mu/ml)

Protein total : 6.1 – 8.2 (gr %)
Albumin : 3.8 – 5.0 (gr %)
Globulin : 2.3 – 3.2 (gr %)


Imunologi dan Serologi
Widal
Salmonella typhy
Salmonella paratyphy A
Salmonella paratyphy B
Salmonella paratyphy C

VDRL : negatif
HbSAg
Anti Hbs
RF : < 8 (lu/dl)
CRP : < 0.8 (Mg/dl)
ASTO : < 200 (lu/dl)



















Manfaat dan Interpretasi Hasil Laboratorium Hematologi
Pada Anak

Laboratorium klinik atau laboratorium medis ialah laboratorium di mana berbagai
macam tes dilakukan pada spesimen biologis untuk mendapatkan informasi tentang
kesehatan pasien. Hematologi menerima keseluruhan darah dan plasma. Mereka
melakukan penghitungan darah dan selaput darah. Pemeriksaan hematologi Rutin atau
darah rutin pada anak meliputi 6 jenis pemeriksaan; yaitu Hemoglobin / Haemoglobin
(Hb), Hematokrit (Ht/PCV), Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count), hitung jenis
(differential count), Hitung trombosit / platelet count, Laju endap darah (LED) / erythrocyte
sedimentation rate(ESR) dan Hitung eritrosit.
MANFAAT pEMERIKSAAN LABORATORIUM
HEMATOLOGI ANAK
 Hematologi Rutin (CBC) Penilaian dasar komponen sel darah yang dilakukan dengan
menentukan jumlah sel darah dan trombosit, persentase dari setiap jenis sel darah putih
dan kandungan hemoglobin (Hb). Hematologi rutin meliputi pemeriksaan Hb, eritrosit,
leukosit, trombosit, hematokrit, dan nilai-nilai MC. Tidak diperlukan persiapan khusus
sebelumnya. Manfaat pemeriksaan untuk mengevaluasi anemia, leukemia, reaksi
inflamasi dan infeksi, karakteristik sel darah perifer, tingkat hidrasi dan dehidrasi,
polisitemia, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, dan menentukan perlu atau tidaknya
kemoterapi.
 Hematokrit (PCV) Pemeriksaan hematokrit menggambarkan perbandingan persentase
antara sel darah merah, sel darah putih dan trombosit terhadap volume seluruh darah atau
konsentrasi (%) eritrosit dalam 100mL/dL keselurahan darah. Pemeriksaan ini biasanya
dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan eritrosit. Kenaikan nilai
hematokrit berarti konsentrasi darah semakin kental, dan diperkirakan banyak plasma
darah yang keluar dari pembuluh darah hingga berlanjut pada kondisi syok hipovolemik
sperti pada kasus DBD dan gangguan dehidrasi. Penurunan hematokrit terjadi pada
pasien yang mengalami kehilangan darah akut, anemia, leukemia, dan kondisi lainnya.
 Eritrosit. Pemeriksaan eritrosit dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan sel darah
merah yang berfungsi sebagai alat transport utama yang membawa oksigen. Umur
eritrosit normal rata-rata 110-120 hari. Setiap hari terjadi kerusakan sel eritrosit sebesar
1% dari seluruh jumlah eritrosit yang ada dan diikuti dengan pembentukan sel eritrosit
oleh sumsum tulang. Bila tingkat kerusakan sel eritrosit lebih cepat (umur eritrosit lebih
pendek) dari kapasitas sumsum tulang untuk memproduksi sel eritrosit (disebut proses
hemolisis), maka akan menimbulkan kondisi anemia. Evaluasi anemia dan polisitemia,
serta deteksi kelainan sel darah merah lainnya seperti pada kondisi leukemia, demam
rematik, hemorrhage, infeksi kronik dan sebagainya
 Retikulosit Pemeriksaan hitung retikulosit dilakukan untuk mengukur jumlah sel darah
merah muda dalam volume darah tertentu. Pada kondisi normal, jumlah retikulosit
mencapai 1% dari total jumlah sel darah merah. Peningkatan pembentukan retikulosit
merupakan respon sumsum tulang terhadap kondisi tubuh yang memerlukan lebih banyak
sel darah merah seperti yang terjadi pada kondisi anemia. Dengan demikian, pemeriksaan
ini merupakan penilaian terhadap fungsi sumsum tulang. Evaluasi aktivitas eritropoetik
yang dapat menunjukkan kondisi anemia hemolitik dan perdarahan; dan menentukan
terapi pada berbagai kondisi anemia. Hitung rekulosit rendah berkaitan dengan derajat
anemia.
 Analisa Hb (HPLC). HPLCmerupakan pemeriksaan yang bersifat kuantitatif untuk
HbA2 dan HbF (%), serta pemeriksaan untuk mendeteksi hemoglobin yang abnormal (Hb
variant) secara kualitatif (adanya S window, D window, C window). Manfaat
pemeriksaan untuk endeteksi anemia mikrositik, dan hemoglobinopati seperti
thalassemia beta trait.
 Waktu Pembekuan. Pemeriksaan untuk skrining yang digunakan untuk mengetahui
capillary function, jumlah platelet dan kemampuan platelet menempel pada dinding
pembuluh darah. Manfaat pemeriksaan untuk mengvaluasi sistem pembekuan darah
dan pemantauan terapi heparin.
 Waktu trombin. Pemeriksaan waktu trombin dapat digunakan untuk pemantauan terapi
dengan heparin. Manfaat pemeriksaan untuk menentukan hipofibrinogenemia yang
parah, disfibrinogenemia, dan adanya heparin seperti antikoagulan; memantau
Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), fibrinolisis, terapi fibrinolitik dan
heparin.
Nilai Normal Hasil Laboratorium Hematologi Anak
Hematologi dalam hasil laboratorium menunjukkan hasil uji terhadap sampel darah. Jenis
pemeriksaan hematologi antara lain:
Jenis pemeriksaan satuan nilai Normal
Hematologi rutin (Hb, Lk, hitung jenis, Trb, LED)
Leukosit (WBC) ribu/µL 5-10
Hemoglobin g/dL P 12-15
Trombosit (PLT)) ribu/µL 150-400
LED (ESR) (Westergren) mm/l jam P<20
Hitung jenis leukosit
 Basofil
 Eusinofil
 Batang
 Segmen
 Limfosit
 Monosit
 Hematokrit
 %
 %
 %
 %
 %
 %
 %
 0-1
 1-3
 2-6
 50-70
 20-40
 2-8
 P 37-43
Masa pendarahan menit 1-6
Masa pembekuan menit 10-15
Masa tromboplastin
 P
 K
 detik
 detik
 30,3 – 41,1
 30,3 – 41,1
Fibrinogen
 P
 K
 mg/dL
 mg/dL
 200-400
 200-400
D-dimer ng/mL < 300
Analisa dan Interpretasi hasil Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi Anak
Hemoglobin (Hb)
Nilai normal anak 11-16 gram/dL, batita 9-15 gram/dL, bayi 10-17 gram/dL, neonatus 14-
27 gram/dL. Nilai normal dewasa pria 13.5-18.0 gram/dL, wanita 12-16 gram/dL, wanita hamil
10-15 gram/dL
Interpretasi Hasil
 Hb rendah (<10 gram/dL) biasanya dikaitkan dengan anemia defisiensi besi. Sebab
lainnya dari rendahnya Hb antara lain pendarahan berat, hemolisis, leukemia leukemik,
lupus eritematosus sistemik, dan diet vegetarian ketat (vegan). Dari obat-obatan: obat
antikanker, asam asetilsalisilat, rifampisin, primakuin, dan sulfonamid. Ambang bahaya
adalah Hb < 5 gram/dL.
 Hb tinggi (>18 gram/dL) berkaitan dengan luka bakar, gagal jantung, COPD (bronkitis
kronik dengan cor pulmonale), dehidrasi / diare, eritrositosis, polisitemia vera, dan pada
penduduk pegunungan tinggi yang normal. Dari obat-obatan: metildopa dan gentamisin.
Hematokrit
Nilai normal anak 31-45%, batita 35-44%, bayi 29-54%, bayi kurang 1 bulan atau
neonatus 40-68% Nilai normal dewasa pria 40-54%, wanita 37-47%, wanita hamil 30-46%
Hematokrit merupakan persentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. Secara kasar,
hematokrit biasanya sama dengan tiga kali hemoglobin.
Interpretasi Hasil
 Ht tinggi (> 55 %) dapat ditemukan pada berbagai kasus yang menyebabkan kenaikan
Hb; antara lain penyakit DBD, penyakit Addison, luka bakar, dehidrasi / diare, diabetes
melitus, dan polisitemia. Ambang bahaya adalah Ht >60%.
 Ht rendah (< 30 %) dapat ditemukan pada anemia, sirosis hati, gagal jantung,
perlemakan hati, hemolisis, pneumonia, dan overhidrasi. Ambang bahaya adalah Ht
<15%.
Leukosit (Hitung total)
 Nilai normal 4500-10000 sel/mm
3

 Nilai normal bayi di bawah 1 bulan atau Neonatus 9000-30000 sel/mm
3
, Bayi sampai
balita rata-rata 5700-18000 sel/mm
3
, Anak 10 tahun 4500-13500/mm
3
, ibu hamil rata-rata
6000-17000 sel/mm
3
, postpartum 9700-25700 sel/mm
3

Interpretasi Hasil
Segala macam infeksi menyebabkan leukosit naik; baik infeksi bakteri, virus, parasit, dan
sebagainya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan leukositosis yaitu:
 Anemia hemolitik
 Sirosis hati dengan nekrosis
 Stres emosional dan fisik (termasuk trauma dan habis berolahraga)
 Keracunan berbagai macam zat
 Obat: allopurinol, atropin sulfat, barbiturat, eritromisin, streptomisin, dan sulfonamid.
Leukosit rendah (disebut juga leukopenia) dapat disebabkan oleh agranulositosis, anemia
aplastik, AIDS, infeksi atau sepsis hebat, infeksi virus (misalnya dengue), keracunan kimiawi,
dan postkemoterapi. Penyebab dari segi obat antara lain antiepilepsi, sulfonamid, kina,
kloramfenikol, diuretik, arsenik (terapi leishmaniasis), dan beberapa antibiotik lainnya.
Leukosit (hitung jenis)
Nilai normal hitung jenis
 Basofil 0-1% (absolut 20-100 sel/mm
3
)
 Eosinofil 1-3% (absolut 50-300 sel/mm
3
)
 Netrofil batang 3-5% (absolut 150-500 sel/mm
3
)
 Netrofil segmen 50-70% (absolut 2500-7000 sel/mm
3
)
 Limfosit 25-35% (absolut 1750-3500 sel/mm
3
)
 Monosit 4-6% (absolut 200-600 sel/mm
3
)
Penilaian hitung jenis tunggal jarang memberi nilai diagnostik, kecuali untuk penyakit alergi di
mana eosinofil sering ditemukan meningkat.
Interpretasi Hasil
 shift to the left. Peningkatan jumlah netrofil (baik batang maupun segmen) relatif
dibanding limfosit dan monosit dikenal juga dengan sebutan shift to the left. Infeksi yang
disertai shift to the left biasanya merupakan infeksi bakteri dan malaria. Kondisi
noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the left antara lain asma dan penyakit-
penyakit alergi lainnya, luka bakar, anemia perniciosa, keracunan merkuri (raksa), dan
polisitemia vera.
 Shift to the right. Sedangkan peningkatan jumlah limfosit dan monosit relatif dibanding
netrofil disebut shift to the right. Infeksi yang disertai shift to the right biasanya
merupakan infeksi virus. Kondisi noninfeksi yang dapat menyebabkan shift to the right
antara lain keracunan timbal, fenitoin, dan aspirin.
Trombosit
Nilai normal dewasa 150.000-400.000 sel/mm
3
, anak 150.000-450.000 sel/mm
3
.
Interpretasi Hasil
 Penurunan trombosit (trombositopenia) dapat ditemukan pada demam berdarah dengue,
anemia, luka bakar, malaria, dan sepsis. Nilai ambang bahaya pada <30.000 sel/mm
3
.
 Peningkatan trombosit (trombositosis) dapat ditemukan pada penyakit keganasan, sirosis,
polisitemia, ibu hamil, habis berolahraga, penyakit imunologis, pemakaian kontrasepsi
oral, dan penyakit jantung. Biasanya trombositosis tidak berbahaya, kecuali jika
>1.000.000 sel/mm
3
.
Laju endap darah
Nilai normal anak <10 mm/jam pertama
Nilai normal dewasa pria <15 mm/jam pertama, wanita <20 mm/jam pertama Nilai normal
lansia pria <20 mm/jam pertama, wanita <30-40 mm/jam pertama Nilai normal wanita hamil
18-70 mm/jam pertama
Interpretasi Hasil
 LED yang meningkat menandakan adanya infeksi atau inflamasi, penyakit imunologis,
gangguan nyeri, anemia hemolitik, dan penyakit keganasan.
 LED yang sangat rendah menandakan gagal jantung dan poikilositosis.
Hitung eritrosit
Nilai normal bayi 3.8-6.1 juta sel/mm3, anak 3.6-4.8 juta sel/mm
3
. Nilai normal dewasa
wanita 4.0-5.5 juta sel/mm
3
, pria 4.5-6.2 juta sel/mm
3
.
Interpretasi Hasil
 Peningkatan jumlah eritrosit ditemukan pada dehidrasi berat, diare, luka bakar,
perdarahan berat, setelah beraktivitas berat, polisitemia, anemia sickle cell.
 Penurunan jumlah eritrosit ditemukan pada berbagai jenis anemia, kehamilan, penurunan
fungsi sumsum tulang, malaria, mieloma multipel, lupus, konsumsi obat (kloramfenikol,
parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat)












Fungsi dan Analisa Berbagai Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi Rutin (CBC)
Penilaian dasar komponen sel darah yang dilakukan dengan menentukan jumlah sel darah dan
trombosit, persentase dari setiap jenis sel darah putih dan kandungan hemoglobin (Hb).
Hematologi rutin meliputi pemeriksaan Hb, eritrosit, leukosit, trombosit, hematokrit, dan nilai-
nilai MC. Manfaat pemeriksaan untuk mengevaluasi anemia, leukemia, reaksi inflamasi dan
infeksi, karakteristik sel darah perifer, tingkat hidrasi dan dehidrasi, polisitemia, penyakit
hemolitik pada bayi baru lahir, dan menentukan perlu atau tidaknya kemoterapi.
Elektrolit
Di dalam tubuh manusia, kesetimbangan antara air (H2O)-elektrolit diatur secara ketat agar sel-
sel dan organ tubuh dapat berfungsi dengan baik. Pada tubuh manusia, elektrolit-elektrolit ini
akan memiliki fungsi antara lain dalam menjaga tekanan osmotik tubuh, mengatur
pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (body’s fluid compartement), menjaga
pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan reduksi serta dan ikut berperan
dalam setiap proses metabolisme.
KALIUM ( K )
 Kalium (K) mempengaruhi beberapa organ tubuh utama, termasuk jantung.
 Kadar kalium yang tidak normal berhubungan dengan fungsi ginjal (gagal ginjal), muntah
atau diare.
NATRIUM ( Na)
 Natrium (Na) menunjukkan keseimbangan gula dan air.
 Natrium juga menunjukkan baik-buruknya kerja ginjal dan kelenjar adrenal.
 Kadar natrium yang tidak normal dalam darah juga menunjukkan volume darah yang
terlalu rendah, misalnya akibat dehidrasi (muntah, diare).
 Keadaan ini juga bisa terjadi jika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya.
CALSIUM (Ca)
 Kalsium (Ca), adalah bagian utama dari tulang dan gigi.
 Kalsium juga dibutuhkan agar saraf dan otot bekerja dengan baik, serta untuk reaksi
kimia dalam sel.
 Tubuh kita mengatur jumlah kalsium dalam darah.
 Namun tingkat protein dalam darah dapat mempengaruhi hasil tes kalsium.
Nilai apapun di luar rentang normal, tinggi atau rendah, memerlukan evaluasi medis.
Glukosa darah
 Ini adalah uji untuk mengetahui tingkat/kadar gula dalam darah.
 Beberapa pemeriksaan glukosa darah, yaitu
1. glukosa sewaktu (random)
2. glukosa puasa
3. glukosa 2 jam post prandial (setelah makan).
 Glukosa sewaktu (random) adalah uji glukosa darah yang dapat dilakukan sewaktu-waktu
tanpa harus puasa terlebih dulu.
 Tes glukosa puasa dilakukan setelah puasa selama 8-10 jam, glukosa 2 jam PP dilakukan
dua jam setelah makan.
 Uji glukosa puasa dan 2 jam pp merupakan uji untuk menegakkan diagnosis diabetes
mellitus (DM).
 Kadar glukosa darah sewaktu (tanpa puasa) normalnya berkisar 80 – 140 mg/dL
(milligram per desiliter).
 Peningkatan kadar gula terjadi setelah makan dan mengalami penurunan pada pagi hari
bangun tidur.
 Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar glukosa dalam darahnya
berada jauh di atas nilai normal.
 Sebaliknya, dikatakan hypoglycemia apabila terjadi penurunan kadar glukosa darah
dibawah normal.
 Kadar glukosa darah puasa normalnya berkisar 70 – 120 mg/dl dan glukosa 2 jam setelah
makan normalnya berkisar 80 – 140 mg/dl.
 Seseorang dikatakan diabetes jika hasil pemeriksaan pada saat puasa 126 mg/dl atau
lebih, dan hasil pemeriksaan 2 jam setelah makan (post prandial) 180 mg/dl atau lebih.
 Hasil glukosa darah sewaktu pada diabetes mencapai 140 – 200 mg/dl atau lebih. OK
PEMERIKSAAN LABORATORIUM BERKAITAN
DENGAN PENYAKIT GINJAL
BUN
 Blood Urea Nitrogen (BUN) adalah produk limbah yang dihasilkan dalam hati dan
dikeluarkan oleh ginjal.
 Nilai tinggi dapat berarti bahwa ginjal tidak bekerja seperti yang diharapkan.
 Blood Urea Nitrogen (BUN) juga dipengaruhi oleh diet tinggi protein dan/atau latihan
(exercise) yang keras atau kehamilan.
CREATININ
 Creatinine merupakan produk limbah dari sebagian besar kerusakan otot.
 Tingginya level BUN dan kreatinin dapat menunjukkan masalah pada ginjal.
ASAM URAT
 Asam urat (uric acid) biasanya dikeluarkan bersama air seni.
 Tingginya level asam urat biasanya terkait dengan masalah encok, arthritis, masalah
ginjal dan penggunaan beberapa diuretic.
PEMERIKSAAN FAAL FUNGSI HATI
Beberapa protein enzim yang membantu semua aktivitas kimia dalam sel, daintaranya adalah
AST/SGOT, ALT/SGPT, Gamma-GT danAlkalin Phosphatase. AST/SGOT, ALT/SGPT,
Gamma-GT Alkalin Phosphatase berada di dalam otot, hati dan jantung. Cedera pada sel dapat
menyebabkan keluarnya enzim ini ke dalam darah. Kerusakan sel akibat alkohol dan sejumlah
penyakit dapat menunjukkan tingginya nilai-nilai enzim-enzim tersebut.
ALKALINE PHOSPHATE
 Alkaline phosphatase merupakan enzim ditemukan terutama di tulang dan hati.
 Kadar yang lebih tinggi dapat dijumpai pada anak-anak dan wanita hamil atau kerusakan
pada tulang atau hati atau batu empedu.
 Kadar yang rendah mungkin tidak signifikan.
GAMMA GT
 Gamma GT dijumpai tinggi pada penyakit hati
 terutama sumbatan pada saluran empedu.
SGOT / SGPT
 Enzim transaminase (AST/SGOT, ALT/SGPT) dijumpai meninggi pada gangguan hati
1. hepatitis
2. overdosis alkohol
3. cedera otot
4. dan serangan jantung.
LDH
 LDH (Lactat dehydrogenase) adalah enzim yang ada di semua sel di dalam tubuh.
 Banyak jaringan mengandung LDH yang berfungsi mengkatalisis perubahan reversible
laktat ke piruvat.
 Kadar LDH meningkat signifikan pada
1. Anemia megaloblastik
2. Metastasis Karsinoma khususnya ke hati
3. Syok dan Hipoksia
4. Hepatitis
5. Infark Ginjal
6. Infark Miokard
7. dll.
 Sesuatu yang merusak sel, akan meningkatkan jumlah di dalam darah.
 Jika darah tidak segera diproses dengan benar, kadar yang tinggi dapat terjadi.
 Jika semua nilai kecuali LDH berada dalam rentang yang diharapkan, itu mungkin suatu
proses kesalahan dan tidak memerlukan evaluasi lebih lanjut.
BILIRUBIN
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan sel darah merah oleh hati.
Tingginya kadar bilirubin sering dijumpai pada penyakit hati akut (hepatitis akut), anemia
hemolitik, batu empedu., Pada penyakit hati konstitusional (Gilbert’s Syndrome), thalasemia,
penyakit hati menahun dan anemia pernisiosa, bisanya bilirubin sedikit meningkat.
Bilirubin Total
Pemeriksaan bilirubin total merupakan pengukuran jumlah total bilirubin dalam darah, meliputi
bilirubin tak terkonjugasi dan terkonjugasi. Bilirubin dibentuk dari pemecahan haem pada sistem
retikuloendotelial. Bilirubin akan terikat dengan albumin dan bersikulasi di dalam darah,
kemudian dikonjugasi dan disekresi oleh hati. Bilirubin terkonjugasi bersifat larut dalam air,
sehingga dapat ditemukan di dalam urin. Sementara, bilirubin tak terkonjugasi tidak dapat larut
di dalam air.
Manfaat Pemeriksaan untuk mendeteksi berbagai kondisi seperti : 1) penyakit hepatobilier,
hepatitis, sirosis, dan penyakit hati lainnya; 2) malnutrisi dan anoreksia; 3) anemia pernisiosa,
anemia hemolitik, neonatal jaundice, hematoma, dan fetal aritoblastosis; 4) pulmonary
embolism; 5) congestive heart failure (CHF).
Bilirubin direk
Pemeriksaan bilirubin direk merupakan pengukuran kadar bilirubin terkonjugasi dalam darah.
Bilirubin dibentuk dari pemecahan haem pada sistem retikuloendotelial. Bilirubin akan terikat
dengan albumin dan bersikulasi di dalam darah, kemudian dikonjugasi dan disekresi oleh hati.
Bilirubin terkonjugasi bersifat larut dalam air, sehingga dapat ditemukan di dalam urin. manfaat
Pemeriksaan untikl mendeteksi berbagai kondisi seperti : 1) lesi intrahepatik dan ekstrahepatik;
2) sindrom Dubin-Johnson dan sindrom Rotor; 3) infeksi bakteri, sepsis, hepatitis B, sifilis, dan
TORCH; 4) kelainan genetik dan metabolik seperti galaktosemia, tirosinemia dan trisomy 18.
CREATININ KINASE
 CPK (creatininkinase) merupakan enzim yang sangat berguna untuk diagnosing dari
penyakit jantung dan kerangka otot.
 CPK mengkatalisis pertukaran fosfat secara reversible antara kreatin dan ATP
(Adenosinetrifosfat), ia berperan penting dalam menyimpan dan melepaskan energi dalam
sel terutama dalam otot bergaris, otot jantung dan dalam jumlah kecil dalam otak.
 Enzim ini adalah yang pertama meninggi setelah serangan jantung (3 hingga 4 jam).
 Kadar CPK dalam serum darah meningkat signifikan setelah terjadi kerusakan otot
1. Dsytrophia muscularis Duchenne
2. Polimiositis
3. Infark Miokard
4. dll.
PROTEIN
 Protein adalah senyawa organik kompleks yang berperan penting dalam struktur dan
fungsi semua sel makhluk hidup dan virus.
 Protein diperlukan dalam
1. pembetukan dan perbaikan sel dan jaringan
2. sintesis hormon
3. pembentukan enzim
4. pembentukan antibodi (kekebalan tubuh)
5. transport substansi khusus
6. sistem koagulasi (pembekuan) darah
7. pengaturan keseimbangan kadar asam basa dalam sel.
 Protein kebanyakan disintesis di hati, yaitu
1. albumin
2. globulin
3. faktor-faktor pembekuan darah.
4. mengukur jumlah dan jenis protein dalam darah.
 Pemeriksaan protein untuk mengetahui indeks kesehatan dan gizi seseorang.
 Jenis pemeriksaan protein yang umum dilakukan adalah protein total (protein secara
keseluruhan), albumin dan globulin.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM BERKAITAN
DENGAN PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH
DARAH
PEMERIKSAAN LEMAK DARAH Lemak darah terdiri dari trigliserid dan kolesterol.
Sedangkan kolesterol terdiri dari kolesterol HDL (High Density Lipopretein), kolesterol LDL
(Low Density Lipoprotein) dankolesterol VLDL (Very Low Density Lipopretein). Semua lemak
dalam menu makanan kita akan diolah menjadi trigliserid, asam lemak bebas, fosfolipid dan
kolesterol.
Tiga unsur yang perlu diperhatikian sehubungan dengan kesehatan adalah asam lemak bebas,
trigliserid dan kolesterol.
 Asam lemak bebas yang berlebihan di dalam darah akan diubah sebagai trigliserid.
 Sebagian trigliserid digunakan untuk pembentukan kolesterol.
 Jika trigliserid menumpuk dalam darah, dengan sendirinya kolesterol juga akan
meninggi.
Dalam pemeriksaan laboratorium, lemak diperiksa sebagai kolesterol total (keseluruhan
kolesterol), kolesterol HDL, kolesterol LDL dan trigliserid.
 Seseorang harus puasa setidaknya 10 jam sebelum diambil darahnya.
 Kolesterol total sebaiknya kurang dari 200 mg/dl, kolesterol HDL > 40 mg/dl, kolesterol
LDL
Kolesterol HDL
 Kolesterol HDL atau High-Density Lipoprotein merupakan lipoprotein yang berasal dari
hati, memiliki densitas tinggi dan tidak mudah menggumpal.
 Disebut juga sebagai kolesterol `baik` karena membantu “membersihkan” tumpukan
kolesterol dari pembuluh darah dan mengangkutnya ke dalam hati (proses Reserve
Cholesterol Transport). Manfaat Pemeriksaan untuk memprediksi terjadinya
aterosklerosis dan risiko penyakit jantung koroner.
Kolesterol LDL
 Kolesterol LDL atau Low Density Lipoprotein merupakan lipoprotein yang berasal dari
penyerapan makanan di usus, memiliki densitas rendah, mudah menggumpal dan lengket
pada dinding pembuluh darah.
 Disebut juga sebagai kolesterol `jahat` karena dapat membentuk plak aterosklerosis yang
mempersempit pembuluh darah.
 Manfaat pemeriksaan untuk mendeteksi gangguan metabolisme lemak, menentukan
faktor risiko penyakit jantung koroner, dan memantau terapi penurun lipid.
Kolesterol total
 Kolesterol total merupakan pemeriksaan yang menentukan jumlah kolesterol yang
terdapat di dalam semua partikel lipoprotein tubuh (semua jenis kolesterol dan
trigliserida).
 Pada kondisi penyakit jantung koroner, kolesterol total adalah suatu alat untuk
menentukan risiko, bukan sebagai uji diagnostik.
 Manfaat pemeriksaan untuk mendeteksi gangguan metabolisme lemak, dan menentukan
faktor risiko penyakit jantung koroner.
CRP (C-Reactive Protein)
 Protein C reaktif (C-Reactive Protein).
 Pemeriksaan CRP digunakan untuk menilai respon tubuh terhadap adanya peradangan.
Sedangkan CRP sensitifitas tinggi atau hsCRP (high sensitive CRP) berguna dalam
1. predicting penyakit pembuluh darah (vascular)
2. serangan jantung
3. stroke.
HEMOCYSTEINE
 Homocysteine adalah asam amino yang biasanya ditemukan dalam jumlah kecil di dalam
darah.
 Lebih tinggi terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung dan penyakit vascular
lainnya.
 Homocysteine tinggi mungkin juga karena adanya kekurangan dari asam folat atau
vitamin B12,
 Karena turun temurun, usia tua, penyakit ginjal, atau obat tertentu.
 Laki-laki cenderung memiliki tingkat yang lebih tinggi.
 Kadar homocysteine tinggi dapat dikurangi dengan lebih banyak makan sayur-sayuran
hijau, sereal atau vitamin B-12.
LIPOPROTEIN
 Lipoprotein (a) atau Lp (a).
 Konsentrasi yang tinggi terkait dengan penyakit jantung koroner (PJK).
 Pada orang dengan diabetes dan tinggi Lp (a) ada peningkatan risiko penyakit
asymptomatic koroner.
THYROID
 Thyroid adalah kalenjar yang terletak di leher right below the adam’s apple.
 Thyroid mengontrol kecepatan pembakaran energi, membangun energi tubuh, dan
mengatur tingkat sensitivitas tubuh terhadap hormon2.
 Thyroid juga menghasilkan hormon
1. Thyroxine (T4)
2. Triiodothyronine (T3) yang berperan dalam metabolisme dan pertumbuhan tubuh
keseluruhan
 Thyroid juga memproduksi hormon kalsitonin (calcitonin) yang berperan dalam
mengatur keseimbangan kalsium.
 Pembentukan thyroxine (T4) dan triiodothyronine (T3) dikendalikan oleh hormon
Thyroid
 Stimulating Hormone (TSH) atau juga disebut thyrotropin, suatu hormon yang diproduksi
oleh kelenjar pituitary anterior.
 Pemeriksaan laboratorium terhadap thyroid terdiri atas
1. T3 total,
2. T4 total,
3. T3 bebas (free T3),
4. T4 bebas (free T4)
5. TSH.
 Hasil pemeriksaan thyroid berguna untuk mengetahui aktifitas thyroid.
 Beberapa keadaan yang berhubungan dengan aktivitas kelenjar thyroid adalah :
1. hyperthyroidisme/hyperactive thyroid, seperti pada penyakit graves
2. hypothyroidisme/hypoactive thyroid, seperti pada congenital juvenilis, myxedema, dan
goiter (gondok)
GLIKOHEMOGLOBIN
 Hemoglobin Glikosilat sering disebut atau Glikohemoglobin
 Glycohemoglobin-A1 atau hemoglobin A1c (HbA1c) berguna untuk mengukur jumlah
gula kimia yang menempel pada sel darah merah.
 Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah seseorang penderita diabetes terkontrol atau
tidak selama 3 bulan.
HORMON INSULIN
 Hormon Insulin diproduksi oleh pancreas
 Hormon insulin berfungsi dalam metabolisme gula dalam tubuh.
 Pada diabetes tipe 1 (turunan), kadar insulin kurang/rendah, karena itu tipe ini sangat
bergantung pada insulin (insulin dependent diabetes).
 Sedangkan pada diabetes tipe 2 (didapat), kadar insulin tinggi tetapi fungsinya kurang
bagus.
 Kadar insulin sangat bervariasi dari orang ke orang, tergantung individu yang sensitifitas
atau resistensi terhadap insulin.
 Kadar insulin juga sangat bervariasi sesuai dengan saat terakhir makan terjadi.
C- PEPTIDA
 C-peptide. Ini adalah fragmen melekat pada insulin (pro-insulin) saat diproduksi insulin
dalam pankreas.
 Kadar C-peptide biasanya berkorelasi dengan kadar insulin, kecuali bila orang mendapat
suntikan insulin.
 Ketika seorang pasien hypoglycemic (gula darah rendah), tes ini mungkin berguna untuk
menentukan apakah kadar insulin yang tinggi karena pancreas berlebihan dalam melepas
insulin, atau karena suntikan insulin.
ESTRADIOL- ESTROGEN
 Estradiol adalah hormon estrogen yang penting untuk menilai fungsi reproduksi.
 Pemeriksaan estradiol berguna untuk mengukur aktifitas ovarium.
 Kadar estradiol pada perempuan bervariasi sesuai dengan usia, dan apakah mereka yang
memiliki siklus haid normal atau tidak. \
 Kadar hormon ini juga berubah pada kehamilan, melahirkan atau penggunaan pil KB.