TUGASKIMIA FISIKA II

TERMODINAMIKA


Disusun Oleh :

1. Yan Mufid (113234024)/Kimia A
2. Heriyono (113234211)/ Kimia B
3. Sun’am Widiyo Rahardja (083234211)/ Kimia B


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kegiatan industri, sering kali kita menjumpai reaksi kimia dalam fasa gas,
misalkan saja pada pemurnian gas bumi atau produksi Liquid Natural Gas (LNG).
Pada produksi LNG, kita harus mengetahui dengan pasti sifat dari gas beserta reaksi-
reaksi yang terjadi karena pada produksi jika salah pengaturan suhu, tekanan ataupun
faktor lainnya pada alat bisa memungkinkan tidak terjadinya produk atau
permasalahan lainnya. Sebagai contoh pada produksi LNG dari natural gas
dibutuhkan suhu kisaran 40 k dan tekanan 755 bar sehingga natural gas dapat berubah
dalam fase cair, oleh karena itu kajian tentang sifat dan faktor dalam reaksi fase gas
sangat penting sekali untuk dipelajari seperti suhu, tekanan, volum, konsentrasi,
faktor kompresibilitas, suhu kritis dan lain-lainnya. Pendalaman tentang sifat gas
tersebut dapat membantu kita juga dalam memecahkan persoalan dalam kegiatan
industri tersebut maupun dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita dapat mengatur
atau memanipulasikan faktor tersebut untuk mendapat produk yang sesuai dengan
yang kita inginkan.
Gas mempunyai sifat yang sangat unik sekali karena molekulnya bergerak
dengan bebas sehingga gas menempati ruang dan mempunyai volum tertentu.
Perubahan pada gas sangat rentan terhadap perubahan suhu, volum dan konsentrasi
dalam sistem ataupun lingkungan tertentu. Oleh karena itu penting sekali mempelajari
kajian tentang sifat dan reaksi gas.
Sifat gas dan reaksinya menurut kaidah ilmu pengetahuan dapat dikaji dengan
adanya gas ideal, sehingga dapat diketahui sifat dari gas nyata. Gas ideal dapat
didefinisikan sebagai gas yang dapat memenuhi beberapa kriteria tertentu, diantara
kriteria tersebut adalah suatu gas ideal dapat dilakukan pengukuran, mempunyai
variabel, dan dalam keadaan yang relatif konstan. Sedangkan gas nyata didefinisikan
sebagai gas yang nyata ada di alam sekitar tetapi tetap menggunakan acuan gas ideal
dalam mempelajari sifatnya dan penerapannya.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan ini, yaitu :
1. Dapat menerapkan hukum-hukum gas ideal,
2. Dapat menjelaskan kompresibilitas,
3. Dapat menerapkan persamaan van der waals, dan
4. Dapat menginterpretasi kurva Z-P.










BAB II
ISI

Gas memiliki molekul yang saling berjauhan. Molekul dari gas tersebut dapat
bergerak bebas pada seluruh wadah .

Karakteristik Umum Gas

Kemungkinan untuk memperluas
Gas memiliki kemungkinan dapat memperluas tidak terbatas. Mereka dapat
memperluas untuk mengisi seluruh ruangan yang ditempatkan.

Kompresibilitas
Gas dapat mudah diberikan tekanan oleh piston bergerak yang dipasangdalam suatu
wadah.

Difusi
Gas mampu mengalir dengan cepat melalui suatu celah yang satu menuju celah
lainnya dan bercampur secara homogen

Tekanan
Gas dapat diberikan tekanan dari berbagai arah

Pengaruh oleh Panas
Gas yang diberikan suatu kalor dengan cara wadah yang dipanaskan dapat
meningkatkan nilai tekanan dan volume.
Kelima sifat gas diatas dengan mudah dapat dijelaskan oleh Teori Kinetik Molekul

Parameter yang dimiliki suatu Gas
Gas dapat digambarkan dalam 4 parameter (sifat terukur), yakni:
(1) volume,V
gas

(2) tekanan, P
(3) suhu,T
(4) jumlah mol, (n) gas dalam wadah

1. Volume, V
Volume suatu wadah adalah volume gas (mengingat gas menempati seluruh ruang
pada suatu wadah). Hal ini biasanya diberikan dalam satuan liter (l atau L) atau
mililiter (ml atau mL).

2. Tekanan, P
Tekanan udara yang dapat mendukung mm Hg 760 kolom di permukaan laut,
disebut satu atmosfir (1atm). Unit tekanan, milimeter merkuri, juga disebut torr.
Dengan demikian,
1 atm = 760 mm Hg = 760 torr Satuan SI tekanan adalah Pascal (Pa). Hubungan
antara atmosfer, torr dan pascal adalah: 1 atm = 760 torr = 1.013 × 105 Pa.
3. Suhu, T
Suhu gas secara umum diukur dalam derajat Celsius (° C). Namun satuan SI suhu
adalah Kelvin (K) atau gelar Absolute. Pada derajat Celcius dapat dikonversi
dengan menggunakan persamaan.
K = °C + 273
Suhu Kelvin (atau temperatur absolut) selalu digunakan dalam perhitungan
parameter lain dari gas. Ingatlah bahwa tanda derajat (°) tidak digunakan dengan
K.

4. Mol dari Sampel Gas, n
Jumlah mol, n, dari sampel gas dalam sebuah wadah dapat ditemukan dengan
membagi massa, m, dari sampel dengan massa molar, M (massa molekul).

Mol gas (n) = massa gas (m) / massa molekul gas (M)

Persamaan Gas Ideal
Suatu gas dapat dikatakan gas ideal adalah gas yang dapat memenuhi
beberapa kriteria. Di kehidupan sekarang terdapat kenyataan bahwa jarangnya
ditenukan gas yang memilki kriteria tersebut. Namun, ditemukan bahwa ada suatu
gas yang mempunyai sifat mendekati gas ideal. Gas tersebut dikenal dengan
istilah gas nyata. Gas nyata dapat dikatakan mendekati sifat gas ideal apabila pada
tekanan yang rendah dan suhu yang relatif tinggi. Persamaan keadaan gas ideal
dapat diketahui antara lain dengan menggunakan pendekatan hukum-hukum gas
yang telah dikenal seperti hukum boyle, gay lussac dan hukum Avogadro.
Hukum – hukum Gas
Volume gas tergantung pada temperatur dan tekanan yang diterapkan. Sehingga para
ilmuwan memperoleh hubungan antara suhu, tekanan dan volume dari suatu massa
gas.
Hubungan ini menunjukkan perilaku umum gas, disebut hukum gas.

a. Hukum Boyle
Robert Boyle mengemukakan bahwa pada temperature tetap, volume gas
berkurang jika tekanan diperbesar. Dalam batas temperatur biasa hubungan
tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

V ~ 1/P (temperature
tetap)……………………………………………………….(1)
Atau
V=k
1
/P………………………………………………………………………..........(
2)
Atau
V.P=k
1
……………………………………………………………………………..(
3)
atau

V=k
1
/P……………………………………………………………………………..(4)
Persamaan(4) di atas menyatakan bahwa apabila sejumlah tertentu gas pada T
tetap volumnya berubah dari keadaan 1 ke keadaan 2, maka tekanannya juga
berubah, dengan perkalian PV yang selalu tetap.
V
2
P
2
=V
1
P
1
...........................................................................................................(5)
Jika persamaan(4) di atas diturunkan terhadap P diperoleh persamaan

(∂V/∂P)n,T = -
k
1
/P
2
..................................................................................................(6)
substitusi nilai k dari persamaan(4) ke dalam persamaan (6) sehingga
menghasilkan persamaan
(∂V/∂P)n,T= -PV/P
2
= -
V/P......................................................................................(7)
Sehingga dari persamaan (6) dan (7) dapat ditulis menjadi
(∂V/∂P)n,T=-k
1
/P
2
= -PV/P
2
= -
V/P.........................................................................(8)
Dimana: V adalah volume
P adalah tekanan
K
1
adalah tetapan yang berubah jika temperatur berubah.

b. Hukum Gay Lussac
Sebenarnya hubungan antara temperatur dan volume gas telah diamati oleh
charles pada tahun 1787, yaitu untuk gas hidrogen, udara, karbon dioksida, dan
oksigen. Gas-gas tersebut di atas memuai dan mencapai volume yang sama jika
dipanaskan dari 0-80º C. Akan tetapi gay-lussac pada tahun 1802 merumuskan
untuk pertama kali bahwa pemuaian setiap gas sama untuk setiap kenaikan
temperatur 1º C,yaitu 1/273 dari volumenya semula. Jika volume gas pada 0º C
kita sebut V
0
dan V volume pada sembarang temperatur, maka penemuan gay-
lussac ini dapat digambarkan sebagai berikut:

V=V
o
+ (t/273)V
o

= V
o
[1+t/273]
= V
o
[(273+t)/273]

Persamaan tersebut di atas menuntun kita untuk mendefinisikan suatu skala
temperatur baru, yaitu yang ssuai dengan faktor (273+t). Jika faktor ini disebut T,
maka bentuknya menjadi:

V=V
o
[T/T
o
]→V/V
o
=T/T
o

Atau lebih umum V
1
/V
2
=T
1
/T
2


Dengan bentuk yang terakhir ini dapat dilihat lebih jelas ada hubungan
langsung antara volume dan temperatur, yaitu perubahan volume berbanding
lurus dengan perubahan temperatur T. Skala temperatur T=(273+tº C) disebut
skala temperatur kelvin. Dibandingkan langsung antara V dan T sekarang dapat
diformulasikan yaitu:

V=k
2
.T.................................................................................................................(9)
Persamaan (9) berarti bahwa apabila sejumlah tertentu gas pada tekanan tetap
suhunya berubah dari keadaan 1 ke keadaan 2, maka volumenya juga berubah
dengan perbandingan V/T yang selalu tetap.
V
2
/T
2
=V
1
/T
1
=k
2
.... ......................................................................................(10)
Persamaan (10) sangat berguna untuk menentukan volum atau suhu gas yang
berubah keadaannya dari keadaan 1 ke keadaan 2 pada tekanan yang tepat.
Untuk mendapatkan kuosien pertama, persamaan (9) diturunkan terhadap T, pada
tekanan dan jumlah mol yang tetap,dan diperoleh persamaan
(∂V/∂T)p,n=k
2
....................................................................................................(11)
Berdasarkan substitusi persamaan(9) dan (11) didapatkan hasil
(∂V/∂T)p,n=V/T.................................................................................................(12)
Sehingga persamaan (11) dan (12) dapat ditulis menjadi
(∂V/∂T)p,n=k
2
= V/T..........................................................................................(13)

Dimana k
2
adalah konstanta yang bergantung pada tekanan. Dengan kata lain
rumus gay-lussac ini adalah perubahan yang berlangsung pada tekanan tetap,
yaitu proses isobar.

c. Hukum Avogadro
Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh avogadro tentang volume gas-gas
menghasilkan suatu pernyataan: jika gas-gas diukur pada P dan T yang sama,
maka pada volume yang sama terdapat jumlah (n) yang sama pula. Dengan kata
lain bahwa volume gas bergantung pada jumlah molekul (n). Secara matematis
pernyataan avogadro dirumuskan
V/k
3
=n atau V=k
3
n...........................................................................................(14)
Persamaan (14) berarti bahwa pada suhu dan tekanan yang tetap jika jumlah mol
berubah dari keadaan 1 ke keadaan 2 maka volumenya akan berubah dengan
perbandingan V/n yang selalu tetap.
V
2
/n
2
=V
1
/n
1
...................................................................................................(15)
Turunan persamaan (14) terhadap n, dan disubstitusikan dengan persamaan
semula akan diperoleh persamaan (16)
(∂V/∂n)P,T=k
3
=V/n........... ..............................................................................(16)
Harga n telah ditentukan selanjutnya melalui berbagai percobaan yang disebut
bilangan avogadro (N) dengan N=6,022X1023.

Dari uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa volume gas ideal dipengaruhi oleh
tekanan, suhu dan jumlah mol.secara matematis ketiga persamaan di atas dapat
disebutkan bahwa volume merupakan fungsi P,T,n, dan diberikan simbol
V=V(P,T,n)
Perubahan volume karena perubahan tekanan, suhu dan jumlah mol ternyata
mengikuti dalil matematik yaitu diferensial eksak.
Substitusi dari persamaan (8),(13),(16) ke persamaan (17) diperoleh

∂V=(∂V/∂P)
T,n
∂P+ (∂V/∂T)n,p ∂T+(∂V/∂n)∂n............................................(17)
persamaan dikalikan dengan 1/V diperoleh
∂V/V=-∂P/P+∂T/T+∂n/n
hasil integralnya ialah
∫ d/V=-∫ dp/p+∫ dt/t+∫ dn/n
ln V=-ln P+ln T+ln n+ln R
ln V+ln P=ln T+ln n +ln R
ln PV=ln nRT
PV=nRT...................................................................................................................(
18)
Rumus ini merupakan persamaan gas ideal yang penting dan R adalah konstanta
gas universal yang ditentukan permol gas.selanjutnya konstanta ini disebut
konstanta gas.


I. Gas Nyata Atau Gas Tidak Ideal
 Kompresibilitas :
o Gas ideal adalah sebuah hipotesis, karena pada keadaan gas
nyata molekul-molekulnya terdapat gaya tarik menarik antar
molekul(pada suhu tinggi) dan volum molekul-molekulnya
tidak dapat diabaikan. Sehingga dibentuk perbandingan
volum molarnya (
̅
) terhadap volum molar gas ideal V
id
=
RT/P.
o Maka dibentuk factor kompresibilitas atau Z dengan
persamaan:
Z≡

̅

̅

=

̅

o Pada gas ideal Z=1 dan tidak bergantung pada tekanan. Pada
gas nyata Z tidak selamanya sama dengan 1, yang mana
suhu dan tekanan berfungsi. (

̅

o keadaan ini dipengaruhi oleh tekanan pada gas.
o pada saat tekanan naik maka artinya
̅
. Gas
seperti ini lebih mudah dikompresi daripada gas ideal.
o pada saat tekanan naik selanjutnya maka artinya

̅
. Gas ini lebih sulit dikompresi daripada gas ideal.
o pada tekanan rendah molekul gas akan terpisah jauh
sehingga gaya antar molekul yang dominan adalah gaya
tarik.
o pada tekanan yang tinggi maka gaya antar molekul akan
berkuirang sehingga terjadi gaya tolak menolak.
o hanya pada tekanan mendekati nol saja gas nyata bias
menjadi gas ideal z=1 dengan persamaan
(

)
p

0
=1
 Pengaruh T terhadap Z
o pada suhu rendah dengan tekanan dan volume yang tetap
maka keadaan gas nyata tersebut jauh dari keadaan gas
ideal.
o semakin tinggi suhu sebuah gas nyata maka bisa mendekati
sifat gas ideal.(z=1)
 Isoterm Gas Ideal dan CO
2
(isothermal gas nyata)
o isotermal gas ideal berbentuk parabola yang ditentukan
dengan hubungan:

Hal ini mengisyaratkan bahwa pada suhu yang sama,
tekanan gas akan berbanding terbalik dengan volumenya.
Semakin besar tekannannya maka akan semakin kecil
volumenya.
o kurva pada keadaan isothermal gas ideal adalah kurva
asimtot.
o isotermal gas nyata dapat dibuktikan dengan gas CO
2

pada suhu 13,1
o
C memperlihatkan kesetimbangan
yang cukup panjang
makin tinggi suhunya maka makin pendek garis
kesetimbangannya
pada suhu 31,1
o
C garis kesetimbangan menghilang.
Pada suhu ini adalah titik kritis isothermal untuk gas
CO
2
. Diatas suhu ini maka sifat gas tersebut mirip
dengan isothermal gas ideal
gas dapat dicairkan dibawah suhu kritisnya.


o kurva pada isothermal gas nyata berupa kurva yang
memiliki nilai minimum, nilai maksimum dan titik belok.

 Persamaan Van der Waals
o volum dan tekanan untuk persamaan gas ideal yang dipakai
pada rumusan gas nyata perlu dikoreksi
o volume wadah harus terdiri dari volume gas dan volume
bebas gerak antar molekul sehingga
berubah menjadi

, b adalah
tetapan sebagai koreksi volume yang nilainya
tergantung pada jenis gas.
Jika rumusan tersebut disusun kembali akan berubah
menjadi

o pada tekanan gas juga sebenarnya akan lebih rendah
daripada gas ideal yaitu
(

)

Sehingga jika perumusan diatas dijadikan satu akan
menjadi

o maka jika persamaan itu kita susun ulang akan didapatkan
persamaan Van der Waals yakni:
(

)
Dimana a, b bergantung pada karakteristik gas.






















BAB III
PENUTUP
Simpulan :
Dari penjelasan yang telah kami uraikan diatas, maka didapatkan kesimpulan
yaitu :
 Gas ideal merupakan gas yang dapat diukur, mempunyai variabel, dan
relatif konstan.
 Gas nyata adalah gas yang mempunyai kedekatan sifat dengan gas
ideal.
 Faktor kompresibilitas atau Z dengan persamaan :
Z≡

̅

̅

=

̅

 Persamaan van der waals, yakni :
(

)
Dimana a, b bergantung pada karakteristik gas.
 Penginterpretasi kurva Z-P , yaitu : Pada suhu rendah dengan tekanan
dan volume yang tetap maka keadaan gas nyata tersebut jauh dari
keadaan gas ideal. Tetapi sebaliknya, bila semakin tinggi suhu sebuah
gas nyata maka bisa mendekati sifat gas ideal.(z=1)