Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.

com

Tiga Detik
Oleh: Aluna Soenarto Sebelumnya, rasanya hidupku gelap, pekat, hingga lama-kelamaan kedua mataku dapat melihat dalam kegelapan. Namun ketika dia datang, dia memberikan sebuah cahaya. Sebuah harapan yang menyinari kehidupanku. Dan sesaat pun aku dapat melihat segala sesuatu yang semula hanya dapat aku lihat melalui kegelapan. Nyatanya dunia ini sangat indah, begitu mempesona, dibandingkan jika hanya dilihat melalui kegelapan. Di sini terdapat banyak warna bahkan terkadang muncul pelangi yang berwarna-warni. Lalu perlahan dia meraih tanganku dan menggenggamnya seolah tak ingin lepas. Namun lama kelamaan cahaya yang dibawanya semakin terang. Sangat terang. Hingga membutakan mataku. Membuat aku tidak dapat melihat lagi. Membuatku merasa jauh lebih buta daripada saat aku berada dalam kegelapan. Dan saat aku buta, aku tidak sanggup meraih sesuatu untuk berpegangan sehingga ketika dia melepaskan genggaman tangannya, aku limbung dan jatuh…

Aku telah jatuh selama lebih dari satu tahun. Bukan waktu yang singkat jika ini dikaitkan dengan sebuah perasaan wanita yang terluka. Tapi nyatanya sampai detik ini aku tak pernah bisa membencinya, marah padanya, atau melemparkan sepatu hak tinggiku ke jidatnya supaya otaknya berhenti melantur. Apakah ini karena dia adalah cinta sejatiku? Hingga dia tak pernah bisa lepas dari pikiranku. Atau karena selama ini aku hanya terbutakan oleh cahayanya? Terbutakan oleh cinta palsunya sehingga selalu berpikir jika suatu saat dia pasti akan menyadari ketololannya dan kembali padaku?

Yeah, aku akui, aku memang sangat menyedihkan. Masih saja berharap pada seorang lelaki bejat yang terang-terangan telah menghancurkan hatiku dan membuatku hampir gila saat menyadari bahwa saat itu bukan aku saja satu-satunya wanita yang diberi cahaya olehnya. Namun harus kuakui, sulit sekali untuk menghapuskan dia dari dalam memori ingatanku. Bukan karena penampilan fisiknya yang sejajar dengan penampilan para pangeran berkuda putih yang diceritakan dalam dongeng. Bukan juga karena dia adalah salah satu pewaris kekayaan keluarganya yang berlimpah ruah (dan dari kabar burung yang tersiar kekayaan keluarganya tidak akan habis dimakan tujuh turunan). Atau senyumannya yang mampu membuat wanita manapun meleleh. Ya, ya, ya….dia memang sangat tampan dan sangat kaya. Tapi apalah artinya semua itu jika dia hanyalah seorang lelaki bejat.

Tapi bagaimana pun juga, aku benar-benar jatuh hati padanya. Bukan karena embel-embelnya tapi aku memang mencintai dirinya. Aku mencintai Erick. Seolah dia merupakan bagian dari duniaku, sehingga ketika dia pergi, duniaku seakan runtuh.

- 1 -

Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
Kisah percintaan kami bisa dibilang sangat unik. Singkatnya, dia adalah teman sekampusku, kami sekelas dan sejurusan. Namun aku sama sekali tidak mengenalnya karena tampaknya dia hanya senang bergaul dengan teman sederajat. Anak-anak pejabat, orang kaya, atau anak-anak yang suka ke clubbing dan hura-hura. Dan aku bukanlah tipe manusia seperti itu. Aku hanyalah cewek yang tidak begitu populer di kelas, aku datang ke kampus bukan untuk mejeng, dan aku hanya berani melihatnya dari kejauhan. Selama lebih dari dua tahun. Selalu melihatnya dikejauhan. Karena sulit sekali mendekati seorang pangeran. Apalagi seorang Erick dengan bodyguard (baca: teman-teman se-geng) dan cewek-cewek yang numpuk disekitarnya. Namun doa orang teraniaya memang banyak yang terkabul dan itu terjadi padaku (padahal aku tidak terlalu teraniaya, aku hanya ngarep bisa ngobrol berdua dengan dia). Erick menyapaku. Erick mengajakku ngobrol. Dan dia mengenaliku. Oke, mungkin ini agak berlebihan namun kaget juga saat mengetahui bahwa dia mengenalku walaupun kami tidak pernah saling berjabat tangan untuk berkenalan tapi kalau dipikir-pikir wajar saja dia mengenalku karena kami teman sekelas dan Erick bukanlah pengidap down syndrome. Sejak saat itu aku tidak pernah merasa penasaran lagi karena aku hanya berpikir bahwa dia hanyalah sebuah obsesi. Obsesi untuk ngobrol dengan cowok populer di kampus. Walaupun obsesi itu bisa dikategorikan sebagai obsesi cetek. ***

Setelah Borobudur masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia, kini ada lagi keajaiban ke delapan yang terjadi namun belum tercatat: Erick menyapaku. Sang pangeran tersenyum dan menyapa seorang cewek jelata sepertiku. Ini benar-benar suatu keajaiban dunia dan layak untuk diakui secara internasional. “Wuih, manis bener senyumnya, Ky,” goda Deang, salan satu sahabatku yang menjadi saksi mata keajaiban itu terjadi. Aku pun hanya tersipu malu. Lalu keajaiban pun terus berlanjut ke sembilan. Erick mengajakku ngobrol lagi sewaktu kami berdua tengah antre mengambil nilai IPK di dosen wali karena kebetulan kami satu dosen wali. Dia tersenyum padaku sebelum menyapaku, “Halo Okky. Ngambil KHS1 juga ya?” Syok, kaget, lalu tersipu aku menjawab, “Eh, iya, Rick.” Kemudian keajaiban terus menunjuk ke angka sepuluh. Erick mengajakku nonton. Mungkin ini terlihat sangat wajar jika kita diajak teman sekampus untuk nonton namun ini menjadi tidak wajar saat seorang pangeran (okelah aku memang berlebihan karena dia bukan pangeran betulan) yang biasanya dikelilingi oleh dayang-dayang cantik mengajakku nonton. Dengan sejuta alasan aku melontarkan penolakan halus seperti: aku nanti sore ada les mandarin (nanti aku anterin ke tempatmu les, deh, habis dari bioskop)2, dompetku ketinggalan (gampang, biar

1 2

Kartu Hasil Studi Jawaban Erick

- 2 -

Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
aku yang traktir), aku ga ada temen (Lhah? Trus aku ini bukan temen?) lalu dalam hati aku jawab: bukan temen, tapi calon pacar. Dan penolakan terakhirku sangat memalukan: aku kan kayak gembel begini, mana tadi gak sempet pakai bedak. Kalau yang ini memang penolakan yang jujur karena pada saat berangkat, aku tidak dandan seperti layaknya ketika aku masuk kuliah sebab aku berpikir hanya akan mengambil KHS saja terus pulang. Sama sekali tidak berpikir bahwa akan ada kejadian emerjensi seperti ini yang akan terjadi. Dia memandangku lalu tersenyum, “Kamu sudah cantik kok. Walau tanpa make up.” Yeah, kalau didengerin memang terdengar sangat gombal apalagi yang ngucapin adalah seorang playboy kelas ikan paus seperti Erick. Tapi dasar akunya lagi kesengsem berat, jadinya langsung aku telan mentah-mentah semua rayuan pulau kelapanya itu. ***

Aku ingat judul filem yang kami tonton ketika itu: Twilight. Dan jujur saja sampai dua minggu yang lalu aku masih menyimpan sobekan tiket bioskop tersebut dalam dompetku seolah tiket itu telah menjelma sebagai SIM untuk jalan berdua dengan Erick karena aku selalu membawanya kemana pun aku pergi. Sangat menyedihkan bukan? Nonton filem romantis, dikegelapan bioskop, dengan dikelilingi oleh pasangan-pasangan lain yang mengelu-elukan cinta, dan bersama seorang obsesi untuk dijadiin pacar adalah sebuah mimpi buruk! Bagaimana tidak? Saat adegan ciuman antara Bella dan Edward, sepasang cowok cewek yang duduk di sebelahku malah mempraktekan adegan yang sama, lalu pasangan lain yang duduk di depanku langsung merangkul ceweknya dan itu semua membuat aku yang tengah mengunyah popcorn menjadi berkeringat dingin. Berkeringat dingin karena aku takut kalau-kalau Erick meniru pasangan-pasangan di sekitar kami dan tampaknya cuma aku yang ngarep karena terbukti obsesiku itu tidak begitu terpengaruh dengan keadaan ‘panas’ disekelilingnya. Dan ajaibnya, dia malah tertawa! Seolah adegan tersebut sangat konyol dimatanya. Begitu keluar dari bioskop, aku langsung bernafas lega. Lega karena seenggaknya jantungku nggak perlu ditransplantasi karena selama di dalam bioskop terus-terusan berdebar diatas frekuensi wajar sehingga aku sampai takut kalau pada akhirnya akan terkena serangan jantung. Tapi tampaknya Erick memiliki hobi baru, yaitu membuat debar jantungku naik turun seperti rollercoaster. Sebab tak lama setelah kami berjalan keluar bioskop, dia mengajakku makan. Oke, sekali lagi, mungkin ini tampak sangat biasa bagi banyak orang. Tapi buatku, diajak makan berdua dengan seorang obsesi yang memenuhi pikiran selama hampir dua tahun bukanlah sesuatu yang biasa. Duduk semeja hanya berdua. Saling berhadap-hadapan berdua. Tidak menutup kemungkinan kedua mata elangnya akan menatapku dengan pandangan mengintimidasi. Lalu pasti dia akan mengajakku ngobrol dan pasti aku lebih terlihat gugup daripada nonton bioskop tadi. Karena saat nonton bioskop, aku tidak perlu repot-repot memandangnya karena aku sedang fokus dengan layar

- 3 -

Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
bioskop di depan. Namun saat makan berdua dengannya? Tidak mungkin dong aku terus-terusan menatap kearah lain sementara dia jelas-jelas ada di depanku. Namun, jauh dalam lubuk hatiku, aku berkata, “Tuhan, kalau ini semua hanyalah sekedar mimpi, aku mohon, jangan bangunkan aku.” ***

Erick memang sesuatu yang luar biasa bagiku. Dia bisa menjelma sebagai cahaya yang menyinari kegelapanku. Dia mampu menjadi angin yang melegakan hari gerahku. Dia mampu menjadi obor yang membakar seluruh jaringan tubuhku. Dan dia mampu membuatku berkata “I Love U” saat pertama kali aku melihatnya. Demi dirinya, aku rela menyapukan berton-ton make up supaya tampak lebih menarik. Demi dirinya aku menjadwalkan belanja baju sebulan sekali supaya dia tidak melihatku memakai baju yang itu-itu saja. Demi dirinya aku rela berbuat bodoh seperti bolos kuliah atau melalaikan tugas dari dosen karena dia mengajakku jalan-jalan. Demi dia aku rela tidak mengindahkan nasehat sahabat-sahabatku. Demi dia aku rela bertengkar dengan sepupuku. Dan demi dia aku rela mengorbankan apapun… Aku sadar bahwa aku benar-benar bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika aku terus-terusan berkorban pada seorang pria yang bahkan tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku? Padahal aku selalu mengucapkan, mengetikkan, menyampaikan dalam berbagai macam cara tentang betapa aku sangat mencintainya. Dan apa yang aku dapat? Dia hanya mengucapkan: Terima kasih. ***

Pada awalnya aku mengira bahwa sulit baginya untuk menyatakan cintanya kepadaku karena aku juga tau diri. Dia bukanlah seorang pria biasa. Dia Erick Anwar. Dia selalu dikelilingi wanita cantik. Dia selalu memperlakukan semua wanita dengan baik. Saking baiknya semua teman ceweknya pasti pernah jalan bareng dengannya. Mungkin dia hanya sedikit bingung dengan perasaannya sekarang. Bingung karena dia malah menyukaiku yang biasa-biasa saja. Itulah sebabnya dia belum juga menyatakan perasaannya yang sebenarnya padaku. Jadi yang kubutuhkan sekarang hanya menunggunya. Lagipula kalau memang dia tidak menyukaiku kenapa dia repot-repot mengajakku untuk menemaninya? ***

Waktu. Yang dibutuhkan Erick hanya waktu… Mungkin sebulan lagi dia akan menyatakan perasaannya padaku. Mungkin dua bulan lagi. Atau mungkin tiga bulan lagi karena sekarang sedang sibuk masa ujian sehingga dia ingin berkonsentrasi terlebih dahulu dengan ujian. Sebulan… Dua bulan…

- 4 -

Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
Enam bulan terlewat… Satu tahun tak terasa sudah kami jalani bersama tanpa komitmen apapun… Dan akhirnya setahun sudah hatiku terombang-ambing oleh badai dahsyat bernama Erick.

Setahun aku menunggunya hanya untuk mengatakan bahwa dia mencintaiku seperti aku selalu mencintainya. Apa sih susahnya untuk mengatakan “I Love U” pada seseorang yang telah mendampinginya selama setahun? Pasti sangatlah mudah dan tidak menuntut banyak waktu. Tiga detik yang aku butuhkan dari Erick. Tiga detik untuk mengatakan I Love U. Namun tampaknya Erick adalah orang yang super duper sibuk, kesibukannya bahkan melebihi Presiden Obama. Karena sesibuk-sibuknya Presiden Obama, pasti bisa meluangkan waktu tiga detik untuk mengatakan I Love U pada istri yang dicintainya. Dicintai? Apakah itu berarti aku tidak dicintai oleh Erick sehingga dia tidak pernah mengatakan I Love U kepadaku? Apakah selama ini aku hanya berarti boneka baginya? Yang dapat digandeng, dipeluk, dicium, sesuka yang dia mau? Apakah dia tidak pernah berpikir bahwa boneka bodoh ini juga mempunyai hati? Hati yang perlahan-lahan mati karena kekeringan menunggu balasan cinta darinya. Aku memang tidak sederajat dengannya. Ayahku tidak memiliki perusahaan besar seperti kebanyakan teman-temannya. Aku juga tidak pernah pergi jalan-jalan keliling Eropa ketika liburan semester seperti teman-teman ceweknya. Tapi bukan berarti dia boleh memperlakukanku seperti sampah. Karena aku juga manusia! Tapi apa yang aku dapat ketika menuntut seperti apa posisiku di hatinya? Dia memarahiku.

Betapa konyolnya ini. Kenapa dia yang menjadi marah-marah? Harusnya aku, kan, yang protes keras karena selama ini dia memperlakukanku secara tidak adil? Tapi kenapa malah dia yang berkata bahwa aku selalu menuntut hal-hal yang tidak sanggup dilakukannya? Baca baik-baik: Dia berkata bahwa aku selalu menuntut hal-hal yang tidak sanggup dilakukannya. Apa ini membuat kalian tertawa? Karena jujur saja, aku tertawa saat membacanya. Aku sama sekali tidak pernah menuntut apa-apa sebelumnya kecuali tentang posisiku dihatinya. Itu saja. Dan bagiku, itu adalah sesuatu yang wajar ketika seorang gadis bertanya tentang keseriusan hubungannya pada seorang lelaki yang dikencaninya selama setahun. Aku tidak bisa terus-terusan menunggunya, dong? Karena aku yakin akan berakhir menjadi nenek peyot saat Erick siap menegaskan padaku seperti apa posisi diriku dihatinya. Dan aku rasa aku sudah sangat berbuat baik hati saat bersedia menunggunya selama ini. Tapi aku memang terlalu mencintainya. Atau lebih tepatnya aku overdosis mencintainya sampai-sampai cinta ini mungkin mampu membunuhku.

- 5 -

Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
Kali ini aku mengalah. Karena aku masih berpikiran positif bahwa sebenarnya Erick mencintaiku namun dia hanya malu untuk mengungkapkannya. Bukankah lebih baik berpikiran positif daripada mencari-cari sakit hati? ***

Keadaan kembali seperti semula. Kami tetap jalan bareng tanpa status apapun yang mengikat. Namun akhir-akhir ini kami semakin jarang melakukan aktivitas berdua karena aku sedang sibuk mengerjakan skripsiku sedangkan dia sibuk dengan kegiatannya (jangan lupa, kesibukannya melebihi Presiden Obama!). Sehingga kami jarang bertemu. Kalau pun bertemu pasti akan berakhir dengan pertengkaran. Karena permasalahannya selalu sama: dia menginginkanku selalu ada di sampingnya sedangkan aku tidak bisa selalu ada di sampingnya karena aku juga memiliki kesibukan sendiri walaupun tidak sesibuk Presiden Obama. Tapi kembali lagi, aku terlalu mencintainya. Sehingga aku yang selalu mengalah dan meminta maaf. Sedangkan dia selalu mengingatkanku agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Seperti itu lagi, seperti itu lagi, dan akhirnya ada batas kesabaran yang dimiliki seorang Okky untuk menghadapi Pangeran Erick-nya. Karena aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran. Sakit juga karena terlalu lama diinjak-injak terus. Mataku akhirnya terbuka ketika aku memergokinya tengah selingkuh dengan cewek lain dan ternyata selama ini dia selalu selingkuh dengan cewek lain ketika dekat denganku. Sebelum-sebelumnya dia selalu mengelak dengan tameng bahwa hubungan kami berdua hanyalah sebatas teman dekat, bukan pacar. Jadi dia bebas memiliki seribu dayang-dayang yang numpuk disekelilingnya setiap hari. Tapi kali ini aku tidak bisa diam dan mengalah. Aku menatapnya, mencari sesuatu dalam matanya, lalu berkata, “Kamu harusnya bersyukur, Rick, punya aku yang betul-betul mencintai kamu dan menerimamu apa adanya. Tapi sayang, kamu malah menyia-nyiakannya.” Dan sejak saat itu aku tidak pernah menatap kedua mata elangnya lagi. Bukan karena aku tidak mau melihatnya, tapi karena aku merasa sepasang mata itu bukanlah milik pangeranku lagi. ***

Selama ini aku sangat bodoh. Bagaimana tidak bodoh jika aku menunggu seseorang yang sama sekali tidak mencintaiku? Ya, Erick memang tidak mencintaiku. Karena jika dia mencintaiku, dia pasti tidak akan pernah membuatku menangis setiap malam. Karena jika dia mencintaiku, aku pasti tidak akan merasa tersiksa seperti ini saat menjalani hubungan ini. Karena jika dia mencintaiku pasti dia tidak akan sibuk berkencan dengan teman-teman ceweknya. Karena jika dia mencintaiku pasti dia akan mempunyai tiga detik untuk meneleponku walaupun saat itu dia tengah rapat bersama Presiden Obama sekalipun.

- 6 -

Copyright © Aluna Soenarto @ http:kantungajaibku.blogspot.com
Karena jika dia mencintaiku, aku tidak perlu memohon padanya untuk mengatakan bahwa dia juga mencintaku sebab dia akan melakukannya sebelum aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. ***

Ini merupakan sebuah cerita yang tidak layak untuk ditiru apalagi dianut karena ini adalah kisah cinta ‘tersalah’ dari semua kisah cinta yang ada. Namun aku menulisnya bukan karena ingin menggalang simpati sebanyak mungkin atau ingin terkenal dengan kisah cinta bodoh ini (kalian boleh menjuluki aku sebagai The Dump jika aku bisa populer atas kisah ini). Tapi inti dari semua niatku adalah mengajarkan pada kalian semua, para wanita di luar sana bahwa banyak sekali pria bajingan daripada pria baik-baik dan lebih banyak wanita baik-baik daripada pria baik-baik. Jadi segera saja tinggalkan pria itu jika dia mulai beralasan bahwa dia tidak bisa menelepon karena sibuk, atau henponnya dicopet, atau kepalanya terantuk batu sehingga melupakan nomor telepon anda, sebab mereka adalah pria bajingan. Dan hanya pria baik-baik yang selalu menepati janjinya, meluangkan waktunya untuk sekedar mengabari anda walaupun dia sangat sibuk (bahkan mungkin sedang bercakap-cakap dengan Presiden Obama), dan selalu melakukan apapun yang anda inginkan bahkan sebelum anda meminta, termasuk ucapan I Love U. Karena sudah menjadi takdir para pria untuk mengejar dan mendapatkan para wanitanya. ***

- 7 -