You are on page 1of 4

Menegakan Martabat Alam Demi Martabat Manusia

Kita di Indonesia sedang mengalami musim hujan. Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya,
pada musim hujan tahun ini liputan media baik cetak maupun elektronik terfokus pada berita
seputar akibat hujan lebat dan berkepanjangan yang terjadi di hampir seluruh pelosok tanah air,
yakni banjir dan tanah longsor. Banjir dan tanah longsor menelan tidak sedikit korban manusia
dan harta benda. Kita patut menundukkan kepala untuk mendoakan keselamatan jiwa para korban
banjir bandang Manado di Sulawesi Utara dan di tempat-tempat lainnya di negeri ini. Semoga
peristiwa memilukan ini yang sebetulnya terus berulang dari tahun ke tahun, dapat
membangkitkan kesadaran kita untuk lebih peka pada jeritan alam yang terus kita sakiti dan
hancurkan demi memenuhi nafsu serakah sebagian dari kita dan mulai bertindak untuk
memulihkan martabat alam sebagai sesama ciptaan Allah demi kebahagiaan dan kesejahteraan
semua orang dan seluruh ciptaan itu sendiri.
Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) sebagaimana dikutip detikNews Sabtu, 18 Januari 2014
melaporkan bahwa pada tahun 2013 angka banjir mengalami peningkatan 300 persen. Pada tahun
2012 kejadian banjir dan tanah longsor tercatat sebanyak 457 kali. Angka itu meningkat hampir
300% pada tahun 2013 menjadi 1.392 kejadian banjir dan tanah longsor. Data itu disampaikan
oleh Manajer Penanganan Bencana WALHI Nasional dalam diskusi 'bencana dan kita' di Warung
Daun, Jalan Cikini Raya, Jakpus, Sabtu (18/1/2014).
Faktor penyebab banjir dan tanah longsor sudah kita dengar dan ketahui bersama. Sebut saja di
antaranya adalah alih fungsi lahan dan daya tampung air hujan (banjir) yang kurang. WALHI
mencatat terjadinya penurunan luas hutan yang sangat signifikan di Indonesia. Pada tahun 1990
luas hutan nasioanl adalah 160 juta hektar. Hari ini luasnya tinggal 50 juta hektar. Sejalan dengan
penurunan luas hutan, area resapan air hujan di kota-kota besar terus berkurang akibat
pembangunan infrastruktur dan pemukiman yang masif.
Bila manusia ingin dikasihi alam, diperlakukan ramah, dimanja dengan sandang, pangan dan
papan yang cukup untuk semua umat manusia, maka tidak ada cara lain yang lebih baik selain
memperlakukan alam dengan ramah dan bermartabat. Hukum tabur-tuai dan hukum cinta kasih
(berbuatlah kepada sesamamu sebagaimana engkau ingin mereka perbuat kepadamu) patut kita
terapkan juga dalam relasi manusia dengan alam. Manusia mesti memperlakukan alam dengan
sebaik-baiknya agar alam pun dapat memperlakukan manusia dengan sama baiknya seperti yang
kita ingini.

Memulihkan Martabat Alam dengan Kearifan Lokal
Masalah ekologi atau lingkungan hidup umumnya terkait dengan hubungan saling ketergantungan
antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Dalam membangun relasi yang baik dan
bermartabat di antara keduanya, dari pihak manusia yang memiliki kemampuan akal budi dan
berkehendak bebas dituntut adanya kesadaran yang hakiki untuk bertindak secara arif dalam
mengelola, memanfaatkan dan merawat alam demi masa depan dan keselamatan umat manusia
sendiri dan demi kelestarian alam.
Pelestarian lingkungan pertama-tama merupakan kebutuhan elementer bagi masa depan manusia,
karena itu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh karena kemampuan daya dukung lingkungan
hidup sangat terbatas baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Untuk itu, manusia, baik secara
individu mapun kelompok, swasta maupun pemerintah harus secara sukarela dan serius untuk
mengelola dan memanfaatkan alam beserta seluruh potensinya tanpa harus merusak alam itu
sendiri. Di Indonesia ada pedoman yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mengelola alam
dengan bijaksana melalui Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup (PLH). Pedoman PLH menggaris-bawasi pentingnya pemanfaatan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang berwawasan lingkungan agar tidak merusak lingkungan.
Namun, harus diakui, sebagaimana adagium yang sering kita dengar di negeri ini, peraturan
dibuat untuk dilanggar, aturan tentang PLH ini pun sering diabaikan oleh para pihak yang terlibat
secara langsung dalam pengelolaan dan pemanfaatn lingkungan, baik perorangan, kelompok
masyarakat, perusahaan swasta nasional dan trans-nasional. Karena itu barangkali kurang bijak
bila kita hanya mengandalkan aturan yang dibuat pemerintah untuk memulihkan martabat alam
demi martabat manusia sendiri. Demi memulihkan martabat alam kita perlu menoleh pada
kearifan budaya lokal dalam memanfaatkan alam yang telah terbukti keampuhannya bagi
keseimbangan ekologi sepanjang sejarah.
Pater Wirjono SJ dalam seri Bunga Rampai XXIII Hidup Dalam Kelimpahan yang diterbitkan
Konsorsium PSE Tahun 2012 (hlm. 103 113 [107-109]) mencatat beberapa kearifan budaya
lokal dalam mengelola tanah bagi keperluan pertanian. Disebutkan bahwa di Jawa ada sebuah
kalender Jawa bernama Pranata Mangsa, ciptaan Paku Buwono VII pada tahun 1855. Kalender
ini merupakan pedoman bagi petani-petani Jawa untuk mengenal irama alam (Haryono
Semangun, 2008). Dengan mengenal irama alam para petani tahu bagaimana harus mengatur
kegiatan-kegiatan usaha taninya. Kalender ini menggunakan perilaku tumbuhan dan perilaku
binatang sebagai indikator kapan petani harus mulai menggarap lahan, menyebar benih, menanam
bibit, memupuk, menyiangi, mengairi dan kegiatan-kegiatan lain. Berdasarkan kalender ini
ditetapkan pula kapan lahan harus diistirahatkan dan berapa lama harus diistirahatkan. Saat
istirahat atau bero, lahan bisa saja ditanami legum (tumbuhan keluarga leguminosae). Tujuannya
agar ekosistem lahan dengan bantuan mikroorganisme yang masih tinggi bisa mengembalikan
kesuburan lahan secara alami. Ditetapkan pula sistem pergiliran tanaman dari musim satu ke
musim berikutnya. Dengan kearifan budaya lokal bernama kalender Pranata Mangsa, petani-
petani Jawa mengembalikan budidayanya bagai menari bersama irama alam.
Petani-petani Bali memiliki pula kearifan budaya lokal yang dapat dipertimbangkan untuk
menjadi acuan bagi pengelolaan lahan pertanian dan pemanfaatan alam secara keseluruhan. Apa
yang kita kenal dengan subak, perlu dipahami tidak hanya sebagai sebuah sistem pengairan khas
Bali. Subak adalah sebuah organisasi masyarakat hukum adat berciri sosio-agraris-religious khas
Bali yang telah berusia ratusan tahun (Sri Widodo, 1978; Mukadi, M., 2002). Di bidang pertanian
sistem organisasi subak tidak hanya mengatur pembagian air tetapi juga menentukan pola tanam,
menjaga keamanan, dan mengorganisir pertemuan-pertemuan dengan pihak-pihak luar. Subak bisa
dikatakan lebih lengkap, lebih mengikat serta lebih kaya secara kultural dibandingkan dengan
sistem musyawarah atau rembug desa. Mukadi Mukadi (2002) mencatat bahwa pada tahun 1930
pernah dilakukan penelitian yang menyimpulkan bahwa hasil produksi per hektar lahan sawah
yang dikembangkan dengan sistem subak 50% lebih tinggi daripada hasil produksi lahan sawah
irigasi di Jawa. Padahal sawah irigasi di Jawa saat itu telah menggunakan jaringan irigasi modern.
Kearifan lokal seperti disebut di atas dan juga di bagian lain negeri ini dibangun berdasarkan
kesadaran akan nilai alam ciptaan pada dirinya sendiri dan juga dalam relasinya dengan keperluan
hidup semua makhluk dalam jangka panjang. Berbicara tentang nilai alam ciptaan pada dirinya
sendiri, kita patut berterima kasih pada Arne Naess karena refleksinya yang sistematis mengenai
nilai alam semesta pada dirinya melalui gagasan deep ecology-nya sebagaimana dikutip Dr.
Peter Aman OFM dalam buku yang sama, Hidup Dalam Kelimpahan (118 121). Arne Naess
menekankan pentingnya tanggung jawab moral manusia terhadap alam ciptaan dan
mengedepankan gagasan kesadaran bahwa makna kemanusiaan tidak dapat terlepas dari
kesatuannya dengan alam.
Dr. Peter Aman menggaris-bawahi tiga hal penting dari konsep deep ecolgy-nya Arne Naess.
Pertama, kebaikan dan pertumbuhan kehidupan manusia dan ciptaan lainnya di bumi bernilai pada
dirinya sendiri. Kedua, kekayaan dan keberagaman kehidupan memberi sumbangan bagi
perwujudan serta keberadaan nilai-nilai itu. Ketiga, manusia tidak memiliki hak untuk mengurangi
kekayaan dan keberagaman kehidupan, kecuali untuk kebutuhan dasar manusia, demi
kehidupannya. Dengan refleksi seperti ini, deep ecology hendak mendorong berkembangnya suatu
kemanusiaan baru, kemanusiaan ekologi, yang membantu manusia sadar bahwa makna
kemanusiaan tidak terpisahkan dari kesadaran akan makna alam ciptaan.
Dengan memperlakukan alam sebagai yang bernilai pada dirinya, manusia sesungguhnya telah
memulihkan martabatnya sendiri sebagai bagian ciptaan yang dalam pemahaman Kristiani
merupakan mahkota dari ciptaan itu sendiri. Sebagai mahkota ciptaan, manusia harus menjaga
martabatnya dengan menjaga martabat seluruh ciptaan. Karena itu, ajakan Pater Peter dalam
tulisannya yang saya singgung di sini menjadi suatu keharusan untuk didengar dan dilaksanakan,
yakni, inilah saatnya (untuk) mengembangkan kemanusiaan yang kosmik, mencakup dan
merangkul alam ciptaan dalam kesatuan utuh. Kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak lagi
dapat diberlakukan terhadap sesama manusia saja. Sesama bagi manusia, bukan lagi hanya
manusia, tetapi juga makhluk ciptaan, karena hanya dalam kesatuan dengannya manusia dapat
bertahan hidup sebagai manusia.
Maksimus Adil
(Mengajar di Jakarta Nanyang School BSD)