You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit degeneratif dan kronis, yang memerlukan
pengobatan jangka panjang dan perawatan pasien secara mandiri, untuk dapat mencegah efek
komplikasi akut dan komplikasi jangka panjang. Diagnosis DM ditegakkan bila pemeriksaan
gula darah puasa > 1! mg"dl dan"atau gula darah jam setelah makan > ## mg"dl.
$ngka pre%alensi DM di dunia telah mencapai jumlah wabah atau &'(D&M(. )*+
memperkirakan pada negara berkembang pada tahun #, akan muncul -#. kasus baru
(Diabetes $tlas, ##!). /aat ini, DM di tingkat dunia diperkirakan lebih dari 0# juta, hampir
mencapai proporsi !. dari populasi orang dewasa.
Diperkirakan # tahun mendatang jumlah penderita DM akan mencapai 0,# juta. /etiap 1#
detik ada orang yang meninggal terkait dengan DM. DM merupakan penyakit epidemi
tersembunyi yang memakan korban setiap tahunnya setara dengan angka kematian yang
disebabkan oleh *(1"$(D/. 2h ##3 diperkirakan menyebabkan angka kematian 0,, juta
orang.
DM 2ipe adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor genetik dan"atau lingkungan, yang
biasanya muncul saat usia dewasa. DM2 bertanggung jawab atas 4#54,. kasus DM.
$mputasi sampai 1 juta tindakan setiap tahunnya, katarak, dan paling tidak ada ,. kebutaan
di tingkat dunia terkait dengan retinopati diabetik. DM menjadi penyebab tersering dari
6agal 6injal pada negara berkembang dan bertanggung jawab terhadap tingginya angka
biaya hemodialisis. )*+ memperkirakan di tahun ### jumlah penderita DM di (ndonesia
-,7!,###, dan di tahun #0# diperkirakan mencapai 1,,3,###. Menurut 8iset 9esehatan
Dasar (8(/9&/D$/), yang diselenggarakan 9ementerian 9esehatan (ndonesia, hasil angka
kejadian DM pada orang dewasa (ndonesia ,,3..
DM2 merupakan penyakit yang progresif, saat terdiagnosis pertama kali sebenarnya jumlah
sel5sel beta pankreas diperkirakan sudah tinggal 7,., dan dengan berjalannya waktu maka
jumlah tersebut makin lama makin berkurang. +bat yang bisa menghentikan progresi tas DM
sampai saat ini belum diketemukan. Menurut laporan penelitian :nited 9ingdom 'rospecti%e
/tudy (:9'D/), ! tahun sejak DM ditemukan maka ,#. pasien akan memerlukan injeksi
(nsulin untuk bisa mencapai gula darah yang normal (:9'D/, 144,). $pakah terapi insulin
mudah dilaksanakan; Masih banyak fobia insulin di kalangan pasien dan dokter< 'asien
masih banyak yang menolak terapi insulin, meskipun indikasi klinik sudah ada. 9omplikasi
kronik berat sering ditemui akibat keterlambatan atau keengganan pasien menjalani terapi
insulin.
=erbagai kendala terapi insulin meliputi hal5hal dibawah ini<
1) (nsulin menyebabkan ketergantungan>
) (nsulin hanya untuk DM yang berat>
0) (nsulin merusak ginjal> dan 7) (nsulin dapat mematikan, ada pasien yang
meninggal setelah disuntik insulin.
'emberian (nsulin seringkali baru dimulai jika sudah terjadi komplikasi, padahal dengan
pemberian insulin saat terapi oral sudah tidak memberikan respon memuaskan, maka
komplikasi DM pun dapat dicegah. 2erapi (nsulin memungkinkan para diabetisi dapat
mengatur kontrol gula darah secara eksibel sesuai dengan akti%itas hidup yang sangat
ber%ariasi dari hari ke hari.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Tinjauan Teori DM
Pengertian
Diabetes Mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif ($rjatmo, ##).
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (=runner dan /uddarth, ##).
Klasiikasi
9lasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut <
1. 2ipe ( < Diabetes mellitus tergantung insulin ((DDM)
. 2ipe (( < Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (?(DDM)
0. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
7. Diabetes mellitus gestasional (6DM)
Etiologi
1. Diabetes tipe ( <
o @aktor genetik
'enderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe ( itu sendiri> tetapi mewarisi suatu
predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe (. 9ecenderungan
genetik ini ditemukan pada indi%idu yang memiliki tipe antigen *A$.
o @aktor5faktor imunologi
$danya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada
jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya
seolah5olah sebagai jaringan asing. Baitu otoantibodi terhadap sel5sel pulau Aangerhans dan
insulin endogen.
o @aktor lingkungan
1irus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
. Diabetes 2ipe ((
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin
pada diabetes tipe (( masih belum diketahui. @aktor genetik memegang peranan dalam proses
terjadinya resistensi insulin.
@aktor5faktor resiko <
o :sia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas !, th)
o +besitas
o 8iwayat keluarga
Anato!i "isiologi Pankreas
Anato!i
 2erletak retroperitoneal melintang di abdomen bagian atas dengan panjang C , cm, dan
berat 1# g
 2erdiri dari<
 Daput
 Aeher
 Dorpus
 Dauda
 'roc uncinatus (bag caput yg menonjol ke bwh)
 Daput
o Meliputi %.ca%a setinggi A

o =agian posterior bertetangga dengan ginjal kanan, %.renalis, gl.adrenalis
o =agian lat berelasi ke bagian medial dari duodenum
 Ductus biliaris communis masuk dari bagian atas dan belakang dari caput pankreas dan
bermuara ke bagian kedua dari duodenum
 $liran darah<
o $.coeliaca, $.mesenterica sup dan cabang5cabang a.pancreaticoduodenalis memberi darah
untuk caput
o $.pancreatico dorsal memberi darah untuk leher dan corpus
o $.pancreatico caidalis memberi darah untuk cauda
 Ealannya %ena mengikuti arteri dan bermuara ke %ena porta
 6etah bening berhubungan langsung antara jaringan getah bening pankreas dengan ductus
thoracicus  merupakan rute utama insulin (masuk ke duct.thoracicus)
 2ahun 14#0  +'2&  ada saluran bersama<
Ductus pankreas dan ductus biliaris communis  refluks dari empedu masuk ke dalam duct
pancreaticus  terjadi pancreatitis (fatal) akibatnya enFym keluar karena trauma, enFimnya
memakan semua  fatal
 $utopsi < 3# G -#. memperkuat penemuan +'2&
 =anyak %ariasi antara<
1. Duct /antorini
. Duct )irsungi
 :mumnya duct.santorini H Duct wirsungi
 Duct santorini mengairi bagian atas caput pankreas
 'ersarafan
1. /araf5saraf simpatis
. Dabang5cabang ?.%agus
 ?yeri oleh caput pankreas menyebar ke paramedia kanan
?yeri oleh corpus pankreas menyebar ke epigastrik
?yeri oleh cauda pankreas menyebar ke seluruh abdomen kiri
 'ancreatitis acuta< menyebar ke abdomen bagian atas dan ke lumbal atas  seperti ikat
pinggang
/ecara Mikroskopis
 $da fungsi pankreas<
1. &ksokrin  fungsi sama seperti kelenjar ludah
. &ndokrin, terdiri dari 0 jenis sel<
a. I cell
o memproduksi
glukagon
 meningkatkan glukagon
 menurunkan kadar glukosa
 *yperglycemic factor
o sel bulat dg dinding tipis
b. J cell
o memproduksi insulin
o *ypoglycemic factor
o bertentangan dengan sel I
 menurunkan glukagon
 meningkatkan glukosa
c. K cell G belum diketahui
 9etiga macam sel ini terdapat di pulau5pulau langerhans< C ## rb G juta sel
 =agian corpus dan cauda memiliki pulau langerhans lebih banyak dibanding caput
"isiologis
 &ndokrin J cell  menghasilkan insulin
I cell  menghasilkan glukagon
 &ksokrin
o 2erdapat C 4 enFim, jg ikut membentuk protein
o Mengandung banyak elektrolit
o Menghasilkan bikarbonat (menetralisir asam lambung yang masuk ke duodenum)
 $da 0 hormon untuk menstimulasi sekresi pankreas<
1. /ekretin
Dihasilkan oleh duodenum dan merangsang pengeluaran bikarbonat
. 'ancreoFymin
Dihasilkan oleh duodenum dan mungkin juga oleh jejunum dan anthrum di lambung
Makanan yang masuk akan merangsang sel5sel duodenum mengeluarkan pancreoFymin 
merangsang pankreas
0. 6astrin
Merangsang asam lambung dan pankreas
2erdapat gastrin ( dan ((
 *ormon yang lain adalah Dholecystokinin G menyebabkan relaksasi sphincter pankreas
dan ductus choledochus
Patoisiologi
1. Diabetes 2ipe (
2erdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel5sel ; pankreas telah
dihancurkan oleh proses autoimun. 6lukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial
(sesudah makan).
Eika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali
semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin
(glukosuria). &kskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. 'asien mengalami peningkatan dalam
berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi).
. Diabetes 2ipe ((
2erdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu< resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin. ?ormalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus
pada permukaan sel. /ebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. 8esistensi insulin pada diabetes
tipe (( disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak
efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
:ntuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah
harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. 'ada penderita toleransi glukosa
terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan
dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. ?amun jika sel5sel ; tidak
mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan
meningkat danterjadi diabetes tipe ((.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabtes tipe ((,
namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi
badan keton. +leh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe ((.
Meskipun demikan, diabetes tipe (( yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut
lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. $kibat intoleransi
glukosa yang berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe (( dapat berjalan
tanpa terdeteksi, gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas,
poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang tidak sembuh5sembuh, infeksi dan pandangan yang
kabur.

Tan#a #an $ejala
9eluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya
tidak ada. /ebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi
degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. 'ada DM lansia terdapat perubahan
patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya ber%ariasi dari kasus tanpa
gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. 9eluhan yang sering muncul adalah
adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan
otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan laFim.
Menurut /upartondo, gejala5gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan
adalah <
1. 9atarak
. 6laukoma
0. 8etinopati
7. 6atal seluruh badan
,. 'ruritus 1ul%ae
!. (nfeksi bakteri kulit
3. (nfeksi jamur di kulit
-. Dermatopati
4. ?europati perifer
1#.?europati %iseral
11.$miotropi
1.:lkus ?eurotropik
10.'enyakit ginjal
17.'enyakit pembuluh darah perifer
1,.'enyakit koroner
1!.'enyakit pembuluh darah otak
13.*ipertensi
+smotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi,
dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin.
'erasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi
adekuat terhadap dehidrasi. 9arena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium
lanjut.
'enyakit yang mula5mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia
lanjut dapat berubah tiba5tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang
tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan
gejala khas hiper%entilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi
dan ketonemia. 6ejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan
berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. =iasanya tampak
bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
'ada usia lanjut reaksi %egetatif dapat menghilang. /edangkan gejala kebingungan
dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.
Pe!eriksaan Penunjang
1. 6lukosa darah sewaktu
. 9adar glukosa darah puasa
0. 2es toleransi glukosa
9adar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg"dl).
9adar glukosa darah sewaktu
• 'lasma %ena <
o H1##
o 1## 5 ## L belum pasti DM
o >## L DM
• Darah kapiler <
o H-#
o -# 5 1## L belum pasti DM
o > ## L DM
9adar glukosa darah puasa
• 'lasma %ena <
o H11#>
o 11# 5 1# L belum pasti DM
o > 1# L DM
• Darah kapiler <
o H4#>
o 4# 5 11# L belum pasti DM
o > 11# L DM
9riteria diagnostik )*+ untuk diabetes mellitus pada sedikitnya kali pemeriksaan <
1. 6lukosa plasma sewaktu >## mg"dl (11,1 mmol"A)
. 6lukosa plasma puasa >17# mg"dl (3,- mmol"A)
0. 6lukosa plasma dari sampel yang diambil jam kemudian sesudah mengkonsumsi 3,
gr karbohidrat ( jam post prandial (pp) > ## mg"dl).
Penatalaksanaan
2ujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan akti%itas insulin dan
kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi %askuler serta neuropati.
2ujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
$da , komponen dalam penatalaksanaan diabetes <
1. Diet
. Aatihan
0. 'emantauan
7. 2erapi (jika diperlukan)
,. 'endidikan
Pengkajian
o 8iwayat 9esehatan 9eluarga
$dakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ;
o 8iwayat 9esehatan 'asien dan 'engobatan /ebelumnya
=erapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis
apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien
untuk menanggulangi penyakitnya.
o $kti%itas" (stirahat <
Aetih, Aemah, /ulit =ergerak " berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
o /irkulasi
$dakah riwayat hipertensi,$M(, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada
kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
o (ntegritas &go
/tress, ansietas
o &liminasi
'erubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
o Makanan " Dairan
$noreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan
diuretik.
o ?eurosensori
'using, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan
penglihatan.
o ?yeri " 9enyamanan
$bdomen tegang, nyeri (sedang " berat)
o 'ernapasan
=atuk dengan"tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi " tidak)
o 9eamanan
9ulit kering, gatal, ulkus kulit.
Masala% Ke&era'atan
1) 8esiko tinggi gangguan nutrisi < kurang dari kebutuhan
) 9ekurangan %olume cairan
0) 6angguan integritas kulit
7) 8esiko terjadi injury
Inter(ensi
1) 8esiko tinggi gangguan nutrisi < kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan
masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
Tujuan < kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil <
o 'asien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
o =erat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi <
5 2imbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
5 2entukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang
dapat dihabiskan pasien.
5 $uskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen " perut kembung, mual, muntahan
makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
5 =erikan makanan cair yang mengandung Fat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan
segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
5 Aibatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
5 +bser%asi tanda5tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit
lembab"dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
5 9olaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
5 9olaborasi pemberian pengobatan insulin.
5 9olaborasi dengan ahli diet.
) 9ekurangan %olume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan < kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil <
'asien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda %ital stabil, nadi perifer
dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara indi%idu dan
kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi <
5 'antau tanda5tanda %ital, catat adanya perubahan 2D ortostatik
5 'antau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
5 9aji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
5 9aji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
5 'antau masukan dan pengeluaran
5 'ertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit ,## ml"hari dalam batas yang
dapat ditoleransi jantung
5 Datat hal5hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
5 +bser%asi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan ==, nadi tidak teratur
5 9olaborasi < berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa deMtrosa, pantau
pemeriksaan laboratorium (*t, =:?, ?a, 9)
0) 6angguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati
perifer).
Tujuan < gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.
Kriteria Hasil <
9ondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi <
5 9aji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti
balut.
5 9aji tanda %ital
5 9aji adanya nyeri
5 Aakukan perawatan luka
5 9olaborasi pemberian insulin dan medikasi.
5 9olaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
7) 8esiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan
Tujuan < pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil < pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
Intervensi <
5 *indarkan lantai yang licin.
5 6unakan bed yang rendah.
5 +rientasikan klien dengan ruangan.
5 =antu klien dalam melakukan akti%itas sehari5hari
5 =antu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi
B. Teori Mo#el )alista Ro*
Model konsep adaptasi pertama kali dikemukakan oleh /uster Dalista 8oy (14!4) yang
lahir di Aos $ngeles pada tanggal 17 +ktober 1404. 9onsep ini dikembangkan dari konsep
indi%idu dan proses adaptasi seperti diuraikan di bawah ini.
$sumsi dasar model adaptasi 8oy adalah <
1. Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang terus5menerus berinteraksi
dengan lingkungan.
. Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan5perubahan
biopsikososial.
0. /etiap orang memahami bagaimana indi%idu mempunyai batas kemampuan untuk
beradaptasi. 'ada dasarnya manusia memberikan respon terhadap semua rangsangan baik
positif maupun negatif.
7. 9emampuan adaptasi manusia berbeda5beda antara satu dengan yang lainnya, jika
seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka ia mempunyai kemampuan
untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif.
,. /ehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan
manusia.
Dalam asuhan keperawatan, menurut 8oy (14-7) sebagai penerima asuhan keperawatan
adalah indi%idu, keluarga, kelompok, masyarakat yang dipandang sebagai N*olistic
adaptif systemOdalam segala aspek yang merupakan satu kesatuan.
/ystem adalah /uatu kesatuan yang di hubungkan karena fungsinya sebagai kesatuan
untuk beberapa tujuan dan adanya saling ketergantungan dari setiap bagian5bagiannya.
/ystem terdiri dari proses input, autput, kontrol dan umpan balik ( 8oy, 1441 ), dengan
penjelasan sebagai berikut <
1. (nput
8oy mengidentifikasi bahwa input sebagai stimulus, merupakan kesatuan informasi,
bahan5bahan atau energi dari lingkungan yang dapat menimbulkan respon, dimana dibagi
dalam tiga tingkatan yaitu stimulus fokal, kontekstual dan stimulus residual.
a) /timulus fokal yaitu stimulus yang langsung berhadapan dengan seseorang, efeknya
segera, misalnya infeksi .
b) /timulus kontekstual yaitu semua stimulus lain yang dialami seseorang baik internal
maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat diobser%asi, diukur dan secara
subyektif dilaporkan. 8angsangan ini muncul secara bersamaan dimana dapat
menimbulkan respon negatif pada stimulus fokal seperti anemia, isolasi sosial.
c) /timulus residual yaitu ciri5ciri tambahan yang ada dan rele%an dengan situasi yang ada
tetapi sukar untuk diobser%asi meliputi kepercayan, sikap, sifat indi%idu berkembang
sesuai pengalaman yang lalu, hal ini memberi proses belajar untuk toleransi. Misalnya
pengalaman nyeri pada pinggang ada yang toleransi tetapi ada yang tidak.
. 9ontrol
'roses kontrol seseorang menurut 8oy adalah bentuk mekanisme koping yang di
gunakan. Mekanisme kontrol ini dibagi atas regulator dan kognator yang merupakan
subsistem.
a) /ubsistem regulator
/ubsistem regulator mempunyai komponen5komponen < input5proses dan output. (nput
stimulus berupa internal atau eksternal. 2ransmiter regulator sistem adalah kimia, neural
atau endokrin. 8efleks otonom adalah respon neural dan brain sistem dan spinal cord
yang diteruskan sebagai perilaku output dari regulator sistem. =anyak proses fisiologis
yang dapat dinilai sebagai perilaku regulator subsistem.
b) /ubsistem kognator
/timulus untuk subsistem kognator dapat eksternal maupun internal. 'erilaku output dari
regulator subsistem dapat menjadi stimulus umpan balik untuk kognator subsistem.
9ognator kontrol proses berhubungan dengan fungsi otak dalam memproses informasi,
penilaian dan emosi. 'ersepsi atau proses informasi berhubungan dengan proses internal
dalam memilih atensi, mencatat dan mengingat. =elajar berkorelasi dengan proses
imitasi, reinforcement (penguatan) dan insight (pengertian yang mendalam).
'enyelesaian masalah dan pengambilan keputusan adalah proses internal yang
berhubungan dengan penilaian atau analisa. &mosi adalah proses pertahanan untuk
mencari keringanan, mempergunakan penilaian dan kasih sayang.
0. +utput
+utput dari suatu sistem adalah perilaku yang dapt di amati, diukur atau secara subyektif
dapat dilaporkan baik berasal dari dalam maupun dari luar . 'erilaku ini merupakan
umpan balik untuk sistem. 8oy mengkategorikan output sistem sebagai respon yang
adaptif atau respon yang tidak mal5adaptif. 8espon yang adaptif dapat meningkatkan
integritas seseorang yang secara keseluruhan dapat terlihat bila seseorang tersebut
mampu melaksanakan tujuan yang berkenaan dengan kelangsungan hidup,
perkembangan, reproduksi dan keunggulan. /edangkan respon yang mal adaptif perilaku
yang tidak mendukung tujuan ini.
8oy telah menggunakan bentuk mekanisme koping untuk menjelaskan proses kontrol
seseorang sebagai adaptif sistem. =eberapa mekanisme koping diwariskan atau
diturunkan secara genetik (misal sel darah putih) sebagai sistem pertahanan terhadap
bakteri yang menyerang tubuh. Mekanisme yang lain yang dapat dipelajari seperti
penggunaan antiseptik untuk membersihkan luka. 8oy memperkenalkan konsep ilmu
9eperawatan yang unik yaitu mekanisme kontrol yang disebut 8egulator dan 9ognator
dan mekanisme tersebut merupakan bagian sub sistem adaptasi.
Dalam memahami konsep model ini, Dallista 8oy mengemukakan konsep keperawatan
dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai
yang dimilikinya diantaranya<
a. Manusia sebagai makhluk biologi, psikologi dan social yang selalu berinteraksi dengan
lingkungannya.
b. :ntuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai
dengan perubahan yang terjadi.
c. 2erdapat tiga tingkatan adaptasi pada manusia yang dikemukakan oleh roy, diantaranya<
• @ocal stimulasi yaitu stimulus yang langsung beradaptasi dengan seseorang dan akan
mempunyai pengaruh kuat terhadap seseorang indi%idu.
• 9ontekstual stimulus, merupakan stimulus lain yang dialami seseorang, dan baik
stimulus internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi, kemudian dapat
dilakukan obser%asi, diukur secara subjektif.
• 8esidual stimulus, merupakan stimulus lain yang merupakan ciri tambahan yang ada
atau sesuai dengan situasi dalam proses penyesuaian dengan lingkungan yang sukar
dilakukan obser%asi.
d. /ystem adaptasi memiliki empat mode adaptasi diantaranya<
• @ungsi fisiologis, komponen system adaptasi ini yang adaptasi fisiologis diantaranya <
oksigenasi, nutrisi, eliminasi, akti%itas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan
elektrolit, fungsi neurologis dan fungsi endokrin.
• 9onsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana seseorang mengenal pola5pola
interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain.
• @ungsi peran merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana
peran seseorang dalam mengenal pola5pola interaksi social dalam berhubungan dengan
orang lain.
• (nterdependent merupakan kemampuan seseorang mengenal pola5pola tentang kasih
sayang, cinta yang dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat
indi%idu maupun kelompok.
e. Dalam proses penyesuaian diri indi%idu harus meningkatkan energi agar mampu
melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan, perkembangan, reproduksi dan
keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan meningkatkan respon adaptasi.
2eori adaptasi sister Dallista 8oy memandang klien sebagai suatu system adaptasi.
/esuai dengan model 8oy, tujuan dari keperawatan adalah membantu seseorang untuk
beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan
hubungan interdependensi selama sehat dan sakit (Marriner52omery,1447). 9ebutuhan
asuhan keperawatan muncul ketika klien tidak dapat beradaptasi terhadap kebutuhan
lingkungan internal dan eksternal. /eluruh indi%idu harus beradaptasi terhadap
kebutuhan berikut <
• 'emenuhan kebutuhan fisiologis dasar
• 'engembangan konsep diri positif
• 'enampilan peran sosial
• 'encapaian keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan
'erawat menetukan kebutuhan di atas menyebabkan timbulnya masalah bagi klien dan
mengkaji bagaimana klien beradaptasi terhadap hal tersebut. 9emudian asuhan
keperawatan diberikan dengan tujuan untuk membantu klien beradaptasi.
/kema . /ister Dallista 8oy (14-7), dikutip dari $lligood dan 2omey (##!)
Manusia sebagai sistem adapt asi
Control Processes(coping Mechanisme)
Stimul
us
ekster
nal
stimulus
ekternal
stimulus
internal
cognator
regulator
fugsi
fisiologis
interde-
pendensi
fungsi
peran
konsep
diri
persepsi
tingkat
adaptasi
(local,
conteks
tual,
residual
stimulus
Respon
maladaptif
keluaran
masukan
feedback
Respon
adaptif
Menurut 8oy terdapat empat objek utama dalam ilmu keperawatan, yaitu <
1. Manusia (indi%idu yang mendapatkan asuhan keperawatan)
8oy menyatakan bahwa penerima jasa asuhan keperawatan indi%idu, keluarga,
kelompok, komunitas atau social. Masing5masing dilakukan oleh perawat sebagai system
adaptasi yang holistic dan terbuka. /ystem terbuka tersebut berdampak terhadap
perubahan yang konstan terhadap informasi, kejadian, energi antara system dan
lingkungan. (nteraksi yang konstan antara indi%idu dan lingkungan dicirikan oleh
perubahan internal dan eksternal. Dengan perubahan tersebut indi%idu harus
mempertahankan intergritas dirinya, dimana setiap indi%idu secara kontinyu beradaptasi.
8oy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. /ebagai sistem
adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistik sebagai satu kesatuan yang
mempunyai input, kontrol, out put dan proses umpan balik. 'roses kontrol adalah
mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara5 cara adaptasi. Aebih spesifik
manusia didefenisikan sebagai sebuah sistem adaptif dengan akti%itas kognator dan
regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara5cara adaptasi yaitu < fungsi
fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi.
Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup,
terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan Fat dengan perubahan
lingkungan. /ebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah
karakteristik sistem, jadi manusia dilihat sebagai satu5kesatuan yang saling berhubungan
antara unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa
tujuan. (nput pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima
masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri indi%idu itu sendiri. (nput atau
stimulus termasuk %ariabel standar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat
dibandingkan. 1ariabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat
adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan
usaha5usaha yang biasa dilakukan. 'roses kontrol manusia sebagai suatu sistem adaptasi
adalah mekanisme koping. Dua mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu <
subsistem regulator dan subsistem kognator.
. 9eperawatan
9eperawatan adalah bentuk pelayanan professional berupa pemenuhan kebutuhan dasar
dan diberikan kepada indi%idu baik sehat maupun sakit yang mengalami gangguan fisik,
psikis dan social agar dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal.
8oy mendefinisikan bahwa tujuan keperawatan adalah meningkatkan respon adaptasi
berhubungan dengan empat mode respon adaptasi. 'erubahan internal dan eksternal dan
stimulus input tergantung dari kondisi koping indi%idu. 9ondisi koping seseorang atau
keadaan koping seseorang merupakan tingkat adaptasi seseorang. 2ingkat adaptasi
seseorang akan ditentukan oleh stimulus fokal, kontekstual, dan residual. @okal adalah
suatu respon yang diberikan secara langsung terhadap ancaman"input yang masuk.
'enggunaan fokal pada umumnya tergantung tingkat perubahan yang berdampak
terhadap seseorang. /timulus kontekstual adalah semua stimulus lain seseorang baik
internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat diobser%asi, diukur, dan
secara subjektif disampaikan oleh indi%idu. /timulus residual adalah
karakteristik"riwayat dari seseorang yang ada dan timbul rele%a dengan situasi yang
dihadapi tetapi sulit diukur secara objektif.
0. 9onsep sehat
8oy mendefinisikan sehat sebagai suatu continuum dari meninggal sampai tingkatan
tertinggi sehat. Dia menekankan bahwa sehat merupakan suatu keadaan dan proses
dalam upaya dan menjadikan dirinya secara terintegrasisecara keseluruhan, fisik, mental
dan social. (ntegritas adaptasi indi%idu dimanifestasikan oleh kemampuan indi%idu untuk
memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan dan reproduksi.
/akit adalah suatu kondisi ketidakmampuan indi%idu untuk beradapatasi terhadap
rangsangan yang berasal dari dalam dan luar indi%idu. 9ondisi sehat dan sakit sangat
indi%idual dipersepsikan oleh indi%idu. 9emampuan seseorang dalam beradaptasi
(koping) tergantung dari latar belakang indi%idu tersebut dalam mengartikan dan
mempersepsikan sehat5sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan, usia, budaya dan
lain5
7. 9onsep lingkungan
8oy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal dari internal dan
eksternal,yang mempengaruhi dan berakibat terhadap perkembangan dari perilaku
seseorang dan kelompok. Aingkunan eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun
psikologis yang diterima indi%idu dan dipersepsikan sebagai suatu ancaman. /edangkan
lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam tubuh indi%idu (berupa
pengalaman, kemampuan emosioanal, kepribadian) dan proses stressor biologis (sel
maupun molekul) yang berasal dari dalam tubuh indi%idu.manifestasi yang tampak akan
tercermin dari perilaku indi%idu sebagai suatu respons. Dengan pemahaman yang baik
tentang lingkungan akan membantu perawat dalam meningkatkan adaptasi dalam
merubah dan mengurangi resiko akibat dari lingkungan sekitar.
Model adaptasi 8oy memberikan petunjuk untuk perawat dalam mengembangkan proses
keperawatan. &lemen dalam proses keperawatan menurut 8oy meliputi pengkajian tahap
pertama dan kedua, diagnosa, tujuan, inter%ensi, dan e%aluasi, langkah5langkah tersebut
sama dengan proses keperawatan secara umum.
a) 'engkajian
8oy merekomendasikan pengkajian dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengkajian tahap (
dan pengkajian tahap ((. 'engkajian pertama meliputi pengumpulan data tentang perilaku
klien sebagai suatu system adaptif berhubungan dengan masing5masing mode adaptasi<
fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan ketergantungan. +leh karena itu pengkajian
pertama diartikan sebagai pengkajian perilaku,yaitu pengkajian klien terhadap masing5
masing mode adaptasi secara sistematik dan holistic.
/etelah pengkajian pertama, perawat menganalisa pola perubahan perilaku klien tentang
ketidak efektifan respon atau respon adaptif yang memerlukan dukungan perawat. Eika
ditemukan ketidak efektifan respon (mal5adaptif), perawat melaksanakan pengkajian
tahap kedua. 'ada tahap ini, perawat mengumpulkan data tentang stimulus fokal,
kontekstual dan residual yang berdampak terhadap klien. Menurut MartineF, factor yang
mempengaruhi respon adaptif meliputi< genetic> jenis kelamin, tahap perkembangan,
obat5obatan, alcohol, merokok, konsep diri, fungsi peran, ketergantungan, pola interaksi
social> mekanisme koping dan gaya, strea fisik dan emosi> budaya>dan lingkungan fisik
b) 'erumusan diagnosa keperawatan
8oy mendefinisikan 0 metode untuk menyusun diagnosa keperawatan <
• Menggunakan tipologi diagnosa yang dikembangkan oleh 8oy dan berhubungan
dengan 7 mode adaptif .
• Menggunakan diagnosa dengan pernyataan"mengobser%asi dari perilaku yang tampak
dan berpengaruh tehadap stimulusnya
• Menyimpulkan perilaku dari satu atau lebih adaptif mode berhubungan dengan
stimulus yang sama, yaitu berhubungan Misalnya jika seorang petani mengalami
nyeri dada, dimana ia bekerja di luar pada cuaca yang panas.
O
c) 'erencanaan
5 Merumuskan 2ujuan
2ujuan adalah harapan perilaku akhir dari manusia yang dicapai. (tu dicatat merupakan
indikasi perilaku dari perkembangan adaptasi masalah pasien. 'ernyataan masalah
meliputi perilaku. 'ernyataan tujuan meliputi< perilaku, perubahan yang diharapkan dan
waktu. 2ujuan jangka panjang menggambarkan perkembangan indi%idu, dan proses
adaptasi terhadap masalah danm tersedianya energi untuk tujuan lain (kelangsungan
hidup, tumbuh, dan reproduksi). 2ujuan jangka pendek mengidentifikasi hasil perilaku
pasien setelah managemen stimulus fokal dan kontektual. Euga keadaan perilaku pasien
itu indikasi koping dari sub sistim regulator dan kognator.
5 (nter%ensi keperawatan
(nter%ensi keperawatan adalah suatu perencanaan dengan tujuan merubah atau
memanipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan residual. 'elaksanaannya juga ditujukan
kepada kemampuan klien dalam koping secara luas, supaya stimulus secara keseluruhan
dapat terjadi pada klien, sehinga total stimuli berkurang dan kemampuan adaptasi
meningkat.
2ujuan inter%ensi keperawatan adalah pencapaian kondisi yang optimal, dengan
menggunakan koping yang konstruktif (Eulia =.6eorge> 144,). (nter%ensi ditujukan pada
peningktan kemampuan koping secara luas. 2indakan diarahkan pada subsistim regulator
(proses fisiologis"biologis) dan kognator (proses pikir. Misalnya< perspesi, pengetahuan,
pembelajaran).
d) (mplementasi
(mplementasi keperawatan direncanakan dengan tujuan merubah atau memanipulasi
fokal, konteMtual dan residual stimuli dan juga memperluas kemampuan koping
seseorang pada Fona adaptasi sehinga total stimuli berkurang dan kemampuan adaptasi
meningkat.
e) &%aluasi
'enilaian terakhir dari proses keperawatan berdasarkan tujuan keperawatan yang
ditetapkan. 'enetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan didasarkan pada
perubahan perilaku dari kriteria hasil yang ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada
indi%idu.
DA"TAR PU+TAKA
Auecknote, $nnette 6eisler, 'engkajian 6erontologi alih bahasa $niek Maryunani,
Eakarta<&6D, 1443.
Doenges, Marilyn &, 8encana $suhan 9eperawatan 'edoman untuk 'erencanaan dan
'endokumentasian 'erawatan 'asien edisi 0 alih bahasa ( Made 9ariasa, ?i Made
/umarwati, Eakarta < &6D, 1444.
Darpenito, Aynda Euall, =uku /aku Diagnosa 9eperawatan edisi ! alih bahasa Basmin$sih,
Eakarta < &6D, 1443.
/meltFer, /uFanne D, =renda 6 bare, =uku $jar 9eperawatan Medikal =edah =runner P
/uddarth &disi - 1ol alih bahasa *. B. 9uncara, $ndry *artono, Monica &ster, Basmin
asih, Eakarta < &6D, ##.
(kram, $inal, =uku $jar (lmu 'enyakit Dalam < Diabetes Mellitus 'ada :sia Aanjut jilid (
&disi ketiga, Eakarta < @9:(, 144!.
$rjatmo 2jokronegoro. 'enatalaksanaan Diabetes Melitus 2erpadu.Det . Eakarta < =alai
'enerbit @9:(, ##
/umber<http<""www.ilmukeperawatan.com