You are on page 1of 8

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II



I. Nomor Percobaan : I
II. Nama Percobaan : Pengaruh Kekuatan Ligan Terhadap Spektra
Kompleks Tembaga (II)
III. Tujuan Percobaan : Menganalisis hubungan kekuatan ligan terhadap
panjang gelombang maksimum kompleks tembaga (II)
IV. Dasar Teori
Spektrum tampak ion Cu
2+
dalam pelarut air terdiri dari pita tunggal tak
simetris. Hal ini terjadi karena peralihan elektron dari (t
2g
)
6
(e
g
)
3
ke (t
2g
)
5
(e
g
)
4
di
dalam ion kompleks oktahedral [Cu(H2O)6]2+. Jika ammonia merupakan medan
ligan yang lebih kuat daripada air,maka penggantian berkelanjutan ammonia terhadap
air akan menghasilkan panjang gelombang maksimum yang bergeser ke panjang
gelombang yang lebih pendek (Tim Kimia Anorganik, 2014).
Teori medan ligan adalah satu dari teori yang paling bermanfaat untuk
menjelaskan struktur elektronik kompleks. Awalnya teori ini adalah aplikasi teori
medan kristal pada sistem kompleks.
Kompleks oktahedral berbilangan koordinasi enam
Lima orbital d dalam kation logam transisi terdegenerasi dan memiliki energi yang
sama. Medan listrik negatif yang sferik di sekitar kation logam akan menghasilkan
tingkat energi total yang lebih rendah dari tingkat energi kation bebas sebab ada
interaksi elektrostatik. Interaksi repulsif antara elektron dalam orbital logam dan
medan listrik mendestabilkan sistem dan sedikit banyak mengkompensasi
stabilisasinya. Kini ion tidak berada dalam medan negatif yang uniform, tetapi dalam
medan yang dihasilkan oleh enam ligan yang terkoordinasi secara oktahedral pada
atom logam. Medan negatif dari ligan disebut dengan medan ligan. Muatan negatif,
dalam kasus ligannya anionik, atau ujung negative (pasangan elektron bebas) dalam
kasus ligan netral, memberikan gaya tolakan pada orbital d logam yang anisotropik
bergantung pada arah orbital.
Maka, orbital dx2-y2 dan dz2 berada searah dengan sumbu dan orbital dxy,
dyz, dan dxz berada di antara sumbu. Bila ligan ditempatkan di sumbu, interaksi
repulsifnya lebihbesar untuk orbital eg (dx2-y2, dz2) daripada untuk orbital t
2g
(dxy,
dyz, dxz), dan orbital eg didestabilkan dan orbital t
2g
distabilkan dengan penstabilan
yang sama. Dalam diskusi berikut ini, hanya perbedaan energi antara orbital t
2g
dan e
g

sangat penting dan energi rata-rata orbital-orbital ini dianggap sebagai skala nol. Bila
perbedaan energi dua orbital e
g
dan tiga orbital t
2g
dianggap o, tingkat energi eg
adalah +3/5o dan tingkat energi orbital t
2g
adalah -2/5o. (o biasanya juga
diungkapkan dengan 10 Dq. Dalam hal ini energi e
g
menjadi 6 Dq dan energi t
2g
-4
Dq).
Ion logam transisi memiliki 0 sampai 10 elektron d dan bila orbital d yang
terbelah diisi dari tingkat energi rendah, konfigurasi elektron t
2g
x
e
g
y
yang berkaitan
dengan masing-masing ion didapatkan. Bila tingkat energi nol ditentukan sebagai
tingkat energi rata-rata, energi konfigurasi elektron relative terhadap energi nol
adalah
LFSE = (-0.4x+0.6y)0
Nilai ini disebut energi penstabilan medan ligan (ligand field stabilization energy =
LFSE). Konfigurasi elektron dengan nilai LFSE lebih kecil (dengan
memperhitungkan tanda minusnya) lebih stabil. LFSE adalah parameter penting
untuk menjelaskan kompleks logam transisi. Syarat lain selain tingkat energi yang
diperlukan untuk menjelaskan pengisian elektron dalam orbital t2g dan eg adalah
energi pemasangan. Bila elektron dapat menempati orbital dengan spin antiparalel,
namun akan ada tolakan elektrostatik antar elektron dalam orbital yang sama.
Tolakan ini disebut energi pemasangan (pairing energy = P). Bila jumlah elektron d
kurang dari tiga, energi pemasangan diminimasi dengan menempatkan elektron
dalam orbital t2g dengan spin paralel. Dengan demikian konfigurasi elektron yang
dihasilkan adalah t
2g
1
, t
2g
2
, atau t
2g
3
.
Dua kemungkinan yang mungkin muncul bila ada elektron ke-empat. Orbital
yang energinya lebih rendah t
2g
lebih disukai tetapi pengisian orbital ini akan
memerlukan energi pemasangan, P. Energi totalnya menjadi
-0.4o 4 + p = -1.6o + P
Bila elektron mengisi orbital yang energinya lebih tinggi eg, energi totalnya menjadi
-0.4o 3 + 0.6o = -0.6o
Konfigurasi elektron yang akan dipilih bergantung pada mana dari keduanya yang
nilainya lebih besar. Oleh karena itu bila o > P, t
2g
4
lebih disukai dan konfigurasi ini
disebut medan kuat atau konfigurasi elektron spin rendah. bila o < P, t
2g
3
e
g
1
lebih
disukai dan konfigurasi ini disebut medan lemah atau konfigurasi elektron spin tinggi.
Pilihan yang sama akan terjadi untuk kompleks oktahedral d5, d6, dan d7 dan dalam
medan kuat akan didapat t
2g
5
, t
2g
6
, t
2g
6
e
g
1
sementara dalam medan lemah akan lebih
stabil bila konfigurasinya t
2g
3
e
g
2
, t
2g
4
e
g
2
, t
2g
5
e
g
2
. Parameter pemisahan medan ligan
o ditentukan oleh ligan dan logam, sementara energi pemasangan, P, hampir
konstan dan menunjukkan sedikit ketergantungan pada identitas logam (Saito, 2008).
Senyawa koordinasi merupakan senyawa yang tersusun atas atom pusat dan
ligan (sejumlah anion atau molekul netral yang mengelilingi atom atau kelompok
atom pusat tersebut) dimana keduanya diikat dengan ikatan koordinasi. Ditinjau dari
konsep asam-basa Lewis, atom pusat dalam senyawa koordinasi berperan sebagai
asam Lewis (akseptor penerima pasangan elektron), sedangkan ligan sebagai basa
Lewis (donor pasangan elektron).
Kemagnetan senyawa kompleks misalnya, ditentukan dari banyaknya
elektron tak berapsangan pada orbital d atom pusat, akibat dari kekuatan ligan yang
mendesaknya, apakah ligan tersebut kuat atau lemah. Jika ligan tsb kuat elektron
cenderung untuk berpasangan (spin rendah), jika ligan tsb lemah elekton lebih suka
untuk tidak berpasangan (spin tinggi).
Senyawa kompleks dapat berupa non-ion, kation atau anion, bergantung
pada muatan penyusunnya. Muatan senyawa kompleks merupakan penjumlahan
muatan ion pusat dan ligannya. Jika senyawa kompleks bermuatan disebut ion
kompleks/spesies kompleks. Bilangan koordinasi pada senyawa kompleks
menyatakan banyaknya ligan yang mengelilingi atom atau sekelompok atom pusat
sehingga membentuk kompleks yang stabil.
Bilangan koordinasi 6, berarti banyaknya ligan yang mengelilingi berjumlah
6. Bilangan koordinasi setiap atom pusat bersifat khas dan karateristik bergantung
pada sifat alamiah logam, keadaan oksidasi, dan ligan-ligan lain dalam molekul.
Antara atom pusat dengan ligannya terhubung oleh ikatan koordinasi,
hanya salah satu pihak yaitu ligan yang menyumbangkan pasangan elektron untuk
digunakan bersama, perpindahan kerapatan elektron pun terjadi dari ligan ke atom
pusat. Namun, jika kerapatan elektron tersebar merata diaantara keduanya, maka
ikatan kovalen sejatipun akan terbentuk.
Reaksi pembentukan senyawa kompleks dapat dirumuskan sebagai berikut :
M + nL MLn
dimana,
M = ion logam
L = ligan yang mempunyai pasangan elektron bebas
N = bilangan koordinasi senyawa kompleks yang terbentuk (biasanya 2, 4, 6)
(Nuryono, 2003).
Pengaruh Ligan atas Energi Orbital d
Beberapa ligan jauh lebih efektif dari yang lainnya dalam mengubah sifat
magnetic suatu ion atau atom pusat. Kompleks yang mempunyai paramagnetisme
yang relatif kecil, dikatakan punya spin rendah. Ion kompleks dengan spin yang
tinggi itu, mempunyai jumlah elektron menyendiri yang sama seperti ion
sederhananya. Teori medan ligan menganggap bahwa ligan mempunyai efek medan
yang mengubah energi relatif dari orbital d. Jika efek ini cukup kuat ini akan
memaksa elektron d untuk berpasangan, sewaktu mereka menempati orbital energi
yang lebih rendah.
Bila sebuah ion atau logam transisi dalam bentuk kompleks oktahedral, ia
dikelilingi oleh enam ligan. Dua dari orbital d, yaitu d
x
2
.
y
2
dan d
z
2
, terletak sepanjang
koordinat x, y, z, dan berinteraksi sangat langsung dengan ligan-ligan sewaktu mereka
,endekati. Tiga dari orbital d, yaitu d
xy
, d
xz
, dan d
yz
, berada pada sudut 45 dari
koordinat x, y, z, sehingga mereka tak berinteraksi begitu kuat dengan ligan-ligan itu.
Dalam sebuah kompleks oktahedral, medan ligan menaikkan energi dua dari orbital d
relatif terhadap energi yang ketiga lainnya. Pemisahan energi oleh medan ligan
tetrahedral tak begitu kuat seperti dalam hal oktahedral, dan jarang mengakibatkan
electron-elektron berpasangan. Namun, perbedaan energi dari dua sel orbital itu,
dapat mengakibatkan terjadinya senyawaan yang berwarna (Keenan, 1979).
Spektroskopi adalah suatu studi mengenai interaksi antara energi cahaya dan
materi. Warna-warna yang tampak dan fakta yang dapat dilihat adalah akibat-akibat
adsorpsi energi oleh senyawa organik dan anorganik. Teknik-teknik spektroskopi
dapat digunakan untuk menentukan struktur senyawa yang tidak diketahui
mempelajari karakteristik ikatan dari senyawa yang diketahui. Analisis
spektrofotometri digunakan suatu sumber reaksi yang menjorok kedalam daerah
ultraviolet spektrum itu. Dari spektrum ini dipilih panjang gelombang tertentu dengan
lebar pita kurang dari 1 nm instrumen yang digunakan adalah spektrofotometer yang
terdiri dari dua instrumen dalam satu kotak dan sebuah fotometer.
Spektrofotometri elektronik dapat secara umum membedakan deret
terkonjugasi dan tidak terkonjugasi. Deret konjugasi dapat mempengaruhi tegangan
didalam suatu molekul spektrofotometri elektronik dapat digunakan untuk
mempengaruhi tegangan dengan menghubungi perubahan dalam spektro dengan
absorpsi suatu ikatan (Utami, 2010).







DAFTAR PUSTAKA
Keenan, Charles W. 1979. Kimia Untuk Universitas Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Nuryono. 2003. Kimia Koordinasi. Yogyakarta: FMIPA UGM Yogyakarta.
Saito, Taro. 2008. Buku Teks Kimia Anorganik Online. Tokyo: Iwanami Publishing
Company.
Tim Kimia Anorganik. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Indralaya:
Universitas Sriwijaya.
Utami. 2010. Spektrofotometer (online)(http://www.scribd.com) diakses tanggal 10
April 2014.





















Literatur





Spektroskopi adalah suatu studi mengenai interaksi antara energi cahaya dan
materi. Warna-warna yang tampak dan fakta yang dapat dilihat adalah akibat-akibat
adsorpsi energi oleh senyawa organik dan anorganik. Teknik-teknik spektroskopi
dapat digunakan untuk menentukan struktur senyawa yang tidak diketahui
mempelajari karakteristik ikatan dari senyawa yang diketahui. Analisis
spektrofotometri digunakan suatu sumber reaksi yang menjorok kedalam daerah
ultraviolet spektrum itu. Dari spektrum ini dipilih panjang gelombang tertentu dengan
lebar pita kurang dari 1 nm instrumen yang digunakan adalah spektrofotometer yang
terdiri dari dua instrumen dalam satu kotak dan sebuah fotometer.
Spektrofotometri elektronik dapat secara umum membedakan deret
terkonjugasi dan tidak terkonjugasi. Deret konjugasi dapat mempengaruhi tegangan
didalam suatu molekul spektrofotometri elektronik dapat digunakan untuk
mempengaruhi tegangan dengan menghubungi perubahan dalam spektro dengan
absorpsi suatu ikatan.
Utami. 2010. Spektrofotometer (http://www.scribd.com) diakses tanggal 10 April
2014.