You are on page 1of 3

4.

3 Pembahasan

Energi aktivasi dikenal dengan energi minimum yang dibutuhkan agar suatu
reaksi dapat terjadi. Artinya apabila energi yang tersedia tidak mencapai nilai
minimum tersebut maka reaksi yang diharapkan tidak dapat terjadi. Jumlah energi
aktivasi dari suatu reaksi tidak sama dengan reaksi yang lainnya. Adapun bahan-
bahan yang dipakai antara lain larutan kalium iodida sebagai penyedia ion iodida,
larutan kalium persulfat sebagai penyedia ion persulfat, amilum sebagai indikator,
dan larutan natrium tiosulfat.
Ion iodida dan ion persulfat akan bereaksi membentuk ion sulfat dan gas
iodium. Gas tersebut akan bereaksi kembali dengan ion tiosulfat membentuk kembali
ion iodida. Sehingga dapat dikatakan bahwa penambahan ion tiosulfat dapat
menghentikan reaksi setelah mencapai 1/n bagian agar waktu dapat diamati. Dengan
ditambahkannya amilum, ion iodida yang tebentuk kembali akan bereaksi dengan
amilum dan menghasilkan warna biru pada larutan. Amilum yang digunakan berupa
amilum yang diteteskan dengan air panas secara perlahan sampai terbentuk seperti
pasta yang kental. Amilum yang tidak berupa pasta yang kental cenderung tidak
menghasilkan warna biru sehingga akan susah diamati. Perubahan warna biru pada
larutan mengindikasikan bahwa terdapat senyawa iod dalam larutan tersebut.
Pemanasan yang dilakukan bertujuan untuk mempercepat reaksi karena perubahan
warna akan semakin cepat terjadi jika temperaturnya dinaikkan. Pada temperatur
yang tinggi ion-ion pereaksi akan memiliki energi kinetik yang lebih besar, sehingga
tumbukan antar partikel pun akan sering terjadi.
Larutan biru yang telah dimasukkan ke dalam tube test tersebut didinginkan
ke dalam wadah yang terdapat batu es. Dengan termostat akan dilakukan penurunan
suhu larutan dimana akan diukur waktunya setiap penurunan 5C. Faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi antara lain, temperatur, tekanan, konsentrasi dan ukuran
partikel. Temperatur yang tinggi akan dapat mempercepat laju reaksi karena dapat
mempengaruhi pergerakan partikel di dalam campuran sehingga partikel bergerak
lebih cepat. Dan apabila tekanan dinaikkan maka jarak antar partikel akan lebih dekat
sehingga kecepatan reaksi meningkat. Konstanta laju reaksi dan konstanta reaktan
berbanding lurus dengan laju reaksi. Sehingga apabila konsentrasi dinaikkan maka
laju reaksinya juga akan semakin meningkat. Sedangkan ukuran partikel, semakin
kecil ukuran partikel maka akan semakin cepat reaksi berlangsung.
Analisa yang digunakan pada percobaan ini, analisa kuantitatif dan analisa
kualitatif. Analisa kuantitatif itu suatu analisa yang didasarkan pada perhitungan
secara matematis sedangkan analisa kualitatif berdasarkan pengamatan terhadap
sampel untuk mengamati perubahan yang terjadi.




















BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Energi aktivasi dikenal dengan energi minimum yang dibutuhkan agar suatu
reaksi dapat terjadi.
2. Ion iodida dan ion persulfat akan bereaksi membentuk ion sulfat dan gas
iodium.
3. Perubahan warna biru pada larutan mengindikasikan bahwa terdapat senyawa
iod dalam larutan tersebut.
4. Pemanasan dilakukan bertujuan untuk mempercepat reaksi karena perubahan
warna larutan akan semakin cepat terjadi jika temperaturnya dinaikkan.
5. Analisa yang digunakan pada percobaan ini, analisa kualitatif dan analisa
kuantitatif.