Bioproses Laktasi

Ilmu dan Teknologi Peternakan
Sekolah Pascasarjana
Institute Pertanian Bogor
2013
KECERNAAN RUMPUT SIGNAL
(Brachiaria decumbens) YANG TUMBUH DIBAWAH NAUNGAN
SETIAWAN PUTRA SYAH
D161130041
PS Ilmu dan Teknologi Peternakan
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kendala yang sering dihadapi peternak di Indonesia dalam upaya
peningkatan produksi khususnya ternak ruminansia adalah tersedianya hijauan
pakan sebagai sumber pakan ternak sebagai akibat dari semakin berkurangnya
lahan sumber hijauan pakan karena pembagunan perumahan yang begitu pesat.
Salah satu teknologi yang dapat dilakukan dalam upaya pemebuhan hijauan pakan
adalah sistem pertanian capuran atau sering dikenal sebagai sistem integrasi
tanaman – ternak. Sistem pertanian campuran atau sistem integrasi ternak dengan
tanaman telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1970-an yang pada awalnya hanya
integrasi dengan tanaman pangan kemudian dikembangkan lebih luas ke
kehutanan dan perkebunan, sebagai contoh adalah kebun pisang, sawit, karet,
sengon, jati, dll, yang di integrasikan dengan ternak ruminansia. Hijauan pakan
ternak yang berupa rumput dan leguminosa merupakan hal penting bagi produksi
dan perkembangan ternak ruminansia. Hijauan merupakan jenis pakan yang
terpenting karena merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia. Sekitar 70 %
dari makan ternak ruminansia adalah hijauan (Nitis et al. 1992), sehingga
ketersediaanya harus selalu diperhatikan baik dari segi kuantitas, dan kualitas.
Pertumbuhan hijauan khususnya hijauan rumput pada area dengan sistem integrasi
akan memberikan pengaruh terhadap kualitas dan kuantias rumput yang
dihasilkan karena adanya naungan dari pohon di lokasi perkebunan.
Naungan mengakibatkan terjadinya pengurangan intensitas cahaya yang
sampai pada tanaman. Naungan tidak hanya menurunkan intensitas cahaya
matahari, akan tetapi juga berpengaruh terhadap unsur-unsur iklim mikro lainnya.
Struik dan Deinum (1982) dalam Sirait (2006) menyatakan bahwa naungan akan
mempengaruhi proses-proses biokimia yang terjadi didalam tanaman seperti
respirasi, trasnpirasi, sintesis protein, produksi hormon, translokasi, dan penuaan.
Naungan juga dapat menurunkan reaksi gelap, kerapatan stomata, titik jenuh dan
titik kompensasi cahaya serta bobot kering tanaman. Beberapa rumput unggul
yang biasa digunakan sebagai pakan yang banyak tumbuh dibawah naungan
adalah rumput Benggala (Panicum maximum) (Sirait 2006), dan rumput Signal
(Brachiaria decumbens) (Mansyur et al. 2006), lebih lanjut ditambahkan oleh
Masyur et al. (2007) bahwa dibawah naungan pohon pisang dapat ditanami
2 Syah SP 2013
beberapa rumput unggul seperi rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput
Signal (Brachiaria decumbens), rumput Koronovia (Brachiaria humidicola), dan
rumput Setaria (Setaria sphacelata).
Rumput Brachiaria decumbens adalah salah satu rumput gembala yang
memiliki produksi lebih baik jika dibandingkan dengan rumput lapangan,
memiliki nilai nutrisi yang tinggi, lebih tahan pada musim kemarau dan cocok
untuk daerah tropis. Rumput Signal banyak ditemukan tumbuh dibawah naugan
baik itu pohon karet, sengon, kelapa, maupun pohon pisang. Naungan dapat
mempengaruhi kualitas rumput yang tumbuh dibawahnya karena kurangnya
suplai cahaya yang diperoleh oleh rumput, akibatnya dapat mempengaruhi
kualitas nutrisi dari rumput, termasuk diantaranya yaitu dari segi kecernaannya.
oleh karena itu perlu dikaji mengenai pengaruh intensitas cahaya terhadap
kecenaan rumput Signal. Pada makalah ini akan dibahas mengenai kecernaan dari
rumput Signal (Brachiari decumbens) yang tumbuh dibawah naungan.

Tujuan
Pada makalah ini akan dibahas mengenai perbedaan kualitas kecernaan dari
rumput Signal (Brachiaria decumbens) di bawah naungan yang mendapat
intensitas cahaya matahari yang berbeda.

PEMBAHASAN

I. Rumput Signal (Brachiaria decumbens)
Brachiaria decumbens disebut rumput Signal, rumput Bede (jawa barat)
Jukut Inggris (Sunda), palisade grass, para grass, buffalo grass, water grass, ruzi
grass (Inggris). Berasal dari AFRIKA Timur (Uganda, Rwanda, Tanzania dll),
telah menyebar di Asia Tenggara dan Pasifik serta ke berbagai daerah termasuk ke
daerah Asia dan pasifik dan mulai di introduksikan ke Indonesia tahun 1958
(Siregar dan Djajanegara 1971). Mempunyai ciri-ciri, tinggi tanaman 30 – 45 cm,
daun kaku dan pendek, berbulu dan berwarna hijau gelap ujung daun meruncing.
Mudah berbunga, bunga tersusun dalam malai yang menyerupai bendera, dan
tumbuh baik pada kondisi curah hujan 1000 – 1500 mm/tahun. Tumbuh menjalar
dengan stolon membentuk hamparan yang lebat yang tingginya sekitar 80 – 150
cm dan dapat digunakan sebagai rumput penggembalaan dan rumput potong,
merupakan jenis rumput penggembalaan terbaik di Kango. Tumbuh pada
ketinggian 1.200 – 1.750 m dpl. Dapat tumbuh pada curah hujan 1500 mm/tahun.
Toleran terhadap jenis tanah dengan kisaran cukup luas, mulai dari berstruktur
3 Syah SP 2013
ringan sampai berat dengan pH 6 – 7. Tahan terhadap kekeringan selama 6 bulan,
dan terhadap cuaca dingin. Sangat rensponsif terhadap pemupukan nitrogen.
Mampu tumbuh pada lereng terjal. Tidak tahan genangan air (Prawiradiputra et al.
2012).
Rumput Signal merupakan rumput yang mempunyai potensi produksi yang
relative tinggi, sering digunakan sebagai sumber hijauan baik untuk
penggembalaan permanen maupun sistem potong angkut. Merupakan salah satu
rumput gembala yang memiliki produksi lebih baik jika dibandingkan dengan
rumput lapangan, memiliki nilai nutrisi yang tinggi, lebih tahan pada musim
kemarau dan cocok untuk daerah tropis (Fanindi dan Prawiradiputra 2005). Dapat
digunakan untuk pencegah erosi, dan relative tahan naungan sehingga dapat
dijadikan tanaman penutup tanah pada perkebunan. Menurut Masyur et al. (2007)
rumput Signal pada naungan perkebunan pisang dapat tumbuh dengan baik dan
tahan kekeringan yang panjang.













Gambar 1. Rumput Signal (Brachiaria decumbens) (Indonesia Tropical
Forages 2013)
Rumput Signal merupakan rumput unggul yang memiliki daya saing hidup
yang tinggi. Pertumbuhannya sangat pesat dan dapat menekan pertumbuhan
gulma. Rumput Signal sangat potensial sebagai rumput penggembalaan sapi
karena tahan renggutan dan tahan injakan. Bahar (2008) melaporkan bahwa
4 Syah SP 2013
rumput Signal dapat tumbuh dengan baik bersama dengan gulma dan leguminosa
Arachis pintoi dengan total produksi bahan kering hijauan mencapai 30.56 ton/ha,
ditanam dengan leguminosa Centrosoma pascourum diperoleh total produksi
bahan kering 20.24 ton/ha.
Penanaman rumput Signal dapat dilakukan dengan biji atau pols.
Pemanenan pertama adalah pada umur 60 hari setelah tanam. Pada musim hujan
interval panen 40 hari dan musim kemarau 50 – 60 hari. Tinggi pemotongan 5 –
10 cm dari permukaan tanah. Kandungan protein 8 – 10% tergantung kultivar.
Dengan produksi berat segar 100 sampai 150 ton/ha per tahun atau sekitar 12.5 –
18.75 ton satu kali pemotongan (Prawiradiputra et al. 2012). Hasil penelitian Bulo
et al. (1994) melaporkan bahwa produksi bahan kering rumput Signal sekali
panen adalah 5.8 ton/ha, lebih lanjut dilaporkan oleh Bahar (2008) bahwa total
produksi bahan kering hijauan rumput Signal di padang penggembalaan dengan
intensitas sinar matahari penuh (100%) adalah 24.42 ton/ha. Hal tersebut
menunjukkkan bahwa produksi rumput Signal sekali panen dapat mencukupi
kebutuhan untuk 9 – 16 ekor sapi dengan berat badan 300 kg.
II. Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Rumput Signal
Cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berpegaruh
terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cahaya matahari merupakan
faktor makro yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman selain suhu,
kelembaban, awan, angin , dan pencemaran udara. Sedangkan faktor mikro yang
mempengaruhi pertumbuhan tanamana meliputi media tumbuh dan kadungan O
2

serta CO
2
yang ada di udara (Suryowinoto 1988). Kualitas dan intensitas cahaya
mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Intensitas cahaya adalah banyaknya energi
yang diterima oleh suatu tanaman per satuan luas dan per satuan waktu
(kal/cm
2
/hari). Pada dasarnya intensitas cahaya matahari akan berpengaruh nyata
terhadap sifat morfologi tanaman karena intensitas cahaya matahari dibutuhkan
untuk berlangsungnya penyatuan CO
2
dan air (H
2
O) untuk membentuk
karbohidrat (Indrianingsih 2004).
Tidak semua radiasi matahari mampu diserap tanaman. Tanaman dapat
menyerap cahaya tampak dengan panjang gelombang 400 – 700 nm. Tanaman
merespon panjang gelombang cahaya biru, merah, dan merah jauh dari matahari.
Setiap panjang gelombang diterima oleh tanaman dengan sistem fotosensor yang
berbeda terantung pada panjang gelombangnya. Cahaya yang diserap daun
sebesar 1 – 5 % untuk fotosintesis dan 75 – 85% untuk memanaskan daun dan
transpirasi (Indrianingsih 2004).
Cahaya matahari mempunyai peranan besar dalam proses fisiologi tanaman
seperti fotosintesis, respirasi, pertumbuhan dan perkembangan, menutup dan
membukanya stomata, dan perkecambahan tanaman, metabolisme tanaman hijau,
5 Syah SP 2013
sehingga ketersediaan cahaya matahari menentukan tingkat produksi tanaman.
Tanaman hijau memanfaatkan cahaya matahari melalui proses fotosintesis
(Salisbury dan Ross 1992). Chozin et al. (1998) dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa intensitas cahaya matahari dibawah pohon karet dengan
umur dua tahun adalah 25 %, umur 3 tahun sebesar 50% dan dibawah pohon karet
dengan umur empat tahun sebesar >75%.
Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi
menyebabkan lilit batang tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih
sempurna, internodia menjadi lebih pendek, daun lebih tebal tetapi ukurannya
lebih kecil dibanding dengan tanaman yang terlindung. Beberapa efek dari cahaya
matahari penuh yang melebihi kebutuhan optimum akan dapat menyebabkan layu,
fotosistesi lambat, laju respirasi meningkat tetapi kondisi tersebut cenderung
mempertinggi daya tahan tanaman. Respon pertumbuhan tanaman terhadap
cahaya yaitu : a). Cahaya meningkatkan pembukaan helai daun dan pemanjangan
tangkai daun, b). Cahaya meningkatkan pembentukan klorofil dan pembentukan
kloroplas, c). Tumbuhan yang tumbuh dibawah cahaya merah mempunyai daun
yang lebat dan mempunyai jumlah sel yang lebih banyak daripada daun yang
tumbuh ditempat gelap, d). Dengan adanya cahaya maka batang akan menjadi
lebih pendek dan kekar, pemberian cahaya pada malam hari menghambat
pembungaan tanaman hari pendek dan pembungaan pada tanaman hari panjang
(Indrianingsih 2004).
Rumput Signal dapat beradaptasi dengan baik dengan lingkungan dibawah
naungan dan dapat meningkatkan ketersediaan hijauan dengan kualitas yang lebih
baik sehingga rumput ini banyak ditemukan tumbuh dibawah naugan baik itu
pohon karet, sengon, kelapa, maupun pohon pisang. Rumput ini merupakan
golongan rumput dengan shade tolerance medium (Shelton et al. 1987). Rumput
Signal memiliki toleransi menengah terhadap naungan dan cocok untuk penutup
tanah di bawah perkebunan yang terbuka. Spesies umumnya tumbuh di bawah
kelapa dewasa (>60% intensitas cahaya), tapi kurang toleran terhadap
penggembalaan berat di bawah cahaya yang kurang daripada di bawah sinar
matahari penuh (Indonesia tropical forages 2013). Menurut Mansyur et al. (2007)
rumput Signal bila ditanam di bawah naungan kebun pisang dengan pemeliharaan
yang baik, dapat dipanen dengan interval pemotongan antara 30 – 40 hari.
Karakteristik botani yang lain, rumput ini mempunyai batang yang tidak terlalu
besar dan pipih sehingga apabila dikeringkan dapat lebih cepat.
Pertumbuhan rumput Signal dibawah naungan erat kaitannya dengan tingkat
adapatasi rumput ini terhadap perbaikan nitrogen dibawah naungan. Perbaikan
nitrogen di bawah naungan telah diketahui berkaitan dengan peningkatan
kerusakan bahan-bahan organik karena peningkatan kelembaban dibagian dasar
rumput dan peningkatan aktivitas oleh fauna tanah, efisiensi pemanfaatan cahaya
6 Syah SP 2013
di bawah naungan bervariasi pada spesies dan faktor-faktor lingkungan seperti
nitrogen dan kelembaban lingkungan (Mullen and Shelton 1995).
III. Kecernaan Pakan
Kecernaan pakan dapat dijadikan ukuran dalam menentukan kualitas bahan
pakan ternak. Menurut Susetyo (1980) faktor yang menetukan tingginya produksi
ternak adalah kecernaan pakan, nilai gizi bahan pakan dan konsumsi pakan.
Menurut Lubis (1963) salah satu faktor yang harus dipenuhi oleh bahan pakan
adalah tingginya daya cerna. Sejalan dengan itu Fick et al. (1979) menyatakan
bahwa nilai gizi hijauan pada ruminansia sebagian besar tergantung dari jumlah
hijauan yang dapat dikonsumsi dan daya cerna.
Pengukuran kecernaan bahan pakan pada dasarnya adalah usaha untuk
menetukan seberap besar zat pakan yang diserap oleh saluran pencernaan. Nilai
cerna dapat diukur dengan selisih antara zat-zat pakan yang terkandung dalam
pakan yang terkonsumsi dengan zat-zat pakan dalam feses (Anggorodi 1990).
Sejalan dengan hal tersebut Tillman et al. (1991) mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan kecernaan adalah bagian dari zat pakan yang tidak
diekskresikan dalam feses.Mc Donal et al. (1995) mendefinisikan kecernaan
sebagai proporsi pakan yang tidak dieksresikan di dalam feses dan diasumsikan
telah diabsorbsi oleh hewan.
Penentuan kecernaan pakan dapat diukur dengan metode koleksi total atau
indicator (metode langsung/ in vivo) dan dapat pula dengan metode in vitro (tidak
langsung) (Maynard et al. 1979). Koefisien cerna tidaklah tetap untuk setiap
bahan pakan ataupun untk setiap ekor ternak, akan tetapi dipegaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya: jenis pakan, keadaan fisik bahan pakan, susunan kimia bahan
pakan, jenis hewan, dan umur hewan (Rajhan dan pathak 1979).
Van Soest (1994) menyatakan bahwa kecernaan hijauan tanaman tergantung
pada dapat dicernanya dinding sel tanaman tersebut yang tercermin pada tingkat
lignifikasi. Church dan Pond (1998) berpendapat bahwa terdapat korelasi yang
negatif antara kandungan lignin tanaman dengan kecernaannya. Hal ini diperkuat
oleh Flint dan Fosberg (1995) bahwa lignin yang terdapat pada pakan akan
mempengaruhi kecernaan organik.
Bahan kering hijauan kaya serat terdiri dari sekitar 20% isi sel dan 80%
dinding sel. Isi sel terdiri dari zat-zat yang mudah dicerna seperti protein,
karbohidrat, mineral dan lemak. Sedangkan dinding sel terdiri dari zat yang sulit
dicerna seperti selulosa, hemiselulosa, peptin, protein dinding sel, lignin dan silika
(Sutardi 1980). Kecernaan bahan pakan erat hubungannya dengan komposisi
kimia pakan terutama kandungan serat kasarnya. Serat kasar terdiri dari selulosa,
hemiselulosa, lignin dan silika. Proporsi serat kasar ditentukan oleh spesies, umur,
dan bagian tanaman. Semakin tua hijauan pakan maka kandungan serat kasarnya
akan semakin tinggi (Tillman et al. 1991). Semakin tinggi kandungan serat kasar
7 Syah SP 2013
dalam bahan pakan akan semakin tebal dan keras dinding selnya, akibatnya daya
cerna bahan pakan tersebut akan semakin rendah (Anggorodi 1990).
IV. Kecernaan Rumput Signal Tanpa Naungan dan Dibawah Naungan
Kecernaan bahan kering pada rumput pakan ternak telah dilaporkan oleh
beberapa peneliti, begitu pula kecernaan pada rumput Signal. Seperti yang telah
dilaporkan oleh Sitepu (2005) pada table Tabel 1. kecernaan bahan kering rumpu
Signal (KcBK) tanpa naungan (cahaya matahari 100%) dengan taraf pemupukan
fosfor 0% terlihat bahwa kadar kecernaan bahan kering dari rumput Signal
(Brachiaria decumbens) adalah 48,11% pada diploid dan 48,23% pada poliploid.
Sedangkan untuk kecernaan bahan organiknya (KcBO) 55.29% pada diploid dan
56.08 pada poliploid. Tingkat kecernaan rumput menjadi semakin meningkat
seiring dengan peningkatan dosis pemupukan.
Tabel 1. Kecernaan Bahan Kering (KcBK) dan Kecernaan Bahan Organik
(KcBO) pada rumput Signal (Brachiaria decumbens) Diploid dan
Poliploid pada Umur Potong 7 Minggu pada Berbagai Dosis
Pemupukan Fosfor (P).
Parameter Jenis Rumput
Dosis Pupuk P (kg/ha)
Rata-rata 0 50 75 100
-------------(%)-------------
KcBK
Brachiaria decumbens (d) 48.11 45.83 49.13 50.48 48.39
Brachiaria decumbens (p) 48.23 50.67 50.88 51.73 50.38
KcBO
Brachiaria decumbens (d) 55.29 56.45 59.55 60.52 57.95
Brachiaria decumbens (p) 56.08 58.74 55.02 59.86 57.43

Kecernaan yang tinggi dari rumput Signal disebabkan karena tingginya
proporsi daun yang dimiliki. Bagian helai daun juga umumnya mempunyai
konsentrasi fraksi serat yang rendah, dan protein yang lebih tinggi, serta total
karbohidrat nonstruktural yang lebih tinggi, sehingga pada akhirnya kecernaannya
pun lebih tinggi dibanding bagian lain tanaman (Smith et al. 1986).
Lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Chee dan Wong (1985) dalam
Fanindi dan Prawiradiputra (2005) meyebutkan bahwa kandungan kecernaan
bahan kering (KcBK) pada rumput Signal (intensitas cahaya 100%) adalah
mencapai 59.8%, dengan kompisis nutrisi adalah: protein kasar sebesar 10.6%,
nitrogen 1.69%, kalsium 1.30%, phospor 0.15%, Magnesium 0.19%, natrium
0.02%, dan kalium 1.35% (Tabel 2.).
Kecernaan bahan kering (KcBK) terendah diperoleh dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh Gomariah (1986) dengan meggunakan sampel rumput Signal
(Brachiaria decumbens) yang diperoleh dari kebun koleksi rumput fakultas
8 Syah SP 2013
peternakan IPB (intensitas cahaya 100%) meggunakan metode in vitro. Hasil
KcBK yang diperoleh adalah sebesar 37.38% dengan kecepatan menyerap air
sebesar 113.7 ml/detik. Hasil KcBK yang diperoleh pada penelitian tersebut jauh
lebih rendah dari hasil pada Tabel 1 dan 2.
Tabel 2. Kecernaan dan komposisi nutrisi rumput Signal (Brachiaria decumbens)
tanpa naungan.
Komponen Produksi/Kandungan Satuan
Protein Kasar (PK)
a
10.6
Persen (%)
Nitrogen (N)
a
1.69
Kalsium (Ca)
a
0.30
Pospor (P)
a
0.15
Magnesium
a
(Mg) 0.19
Kalium (K)
a
1.35
Natrium (Na
a
) 0.02
KCBK
a
59.8

Dilain sisi, penelitian yang dilakukan oleh Mansyur et al. (2008) yang
melakukan pengujian kecernaan pada rumput Signal yang tumbuh dibawah
Naungan pohon pisang. Kecernaan bahan kering dan bahan organik pada rumput
Signal meningkat sejalan dengan peningkatan umur tanaman (Gambar 1).
Kecernaan bahan kering (KcBK) pada rumput signal yang ternauni memiliki nilai
yang lebih tinggi (44.02%) jika dibandingkan dengan rumput Signal yang tidak
ternaungi (hasil penelitian Gomariah 1986) sebesar 37.38%, namun lebih rendah
dari hasil penelitian yang dilaporkan oleh Sitepu (2005) dan Chee dan Wong
(1985) dalam Fanindi dan Prawiradiputra (2005) dengan nilai berturut-turut
48.11% dan 59.8%.









Gambar 1. Kecernaan bahan kering dan bahan organik (in vitro) rumput
Signal pada berbagai umur pemotongan (Mansyur et al. 2008).
9 Syah SP 2013
Terdapat perbedaan anatara kecernaan bahan kering dan organik pada
rumput signal yang diperoleh di lapangan rumput dengan rumput signal yang
tumbuh dibawah naungan, dimana kecernaan rumput lebih tinggi dibawah
naungan pisang (44.02%) lebih tinggi dari di lapangan rumput (37.38%). Hal ini
berkaitan dengan kandungan fraksi serat (NDF, ADF), lignin, selulosa,
hemiselulosa. Rumput yang tumbuh pada daerah dengan intensitas cahaya
sempurna akan lebih pendek dan kekar dibandingkan yang mendapat naungan.
Hal ini diakibatkan karena tingkat lignifikasi dari rumput yang mendapat
intensitas cahaya matahari lebih tinggi dibandingkan dengan yang dibawah
naungan akibatnyadinding sel rumput akan semakin tebal dan keras, sehingga
rumput yang mendapat intensitas matahari sempurna (100%) kurang dapat
dicerna. Van Soest (1994) menyatakan bahwa kecernaan hijauan tanaman
tergantung pada dapat dicernanya dinding sel tanaman tersebut yang tercermin
pada tingkat lignifikasi Church dan Pond (1998) berpendapat bahwa terdapat
korelasi yang negatif antara kandungan lignin tanaman dengan kecernaannya. Hal
ini diperkuat oleh Flint dan Fosberg (1995) bahwa lignin yang terdapat pada
pakan akan mempengaruhi kecernaan organik.
Selain itu umur pemotongan juga mempengaruhi KcBK dan KcBO dari
rumput. Semakin tua umur pemotongan maka kadar KcBK akan semakin
menurun begitupula dengan KcBO yang dihasilkan. Hasil penelitian ini sama
dengan yang dilaporkan oleh Mansyur et al. (2005) kecernaan bahan kering
menurun sejalan dengan meningkatnya umur pemotongan. Begitu pula pada
kecernaan bahan organik, kecernaannya menurun sejalan dengan meningkatnya
umur pemotongan (Mansyur et al. 2005). Penurunan kecernaan bahan kering dan
bahan organik ini mempunyai hubungan yang jelas dengan terjadinya peningkatan
kandungan fraksi serat (NDF, neutral detergen fiber, dan ADF, acid detergen
fiber). Kandungan ADF dan NDF, lignin, selulosa, hemiselulosa, dan isi sel pada
rumput Signal yang tumbuh dibawah naungan pisang dapat dilihat pada Gambar 2
dan 3 (Mansyur 2007).

10 Syah SP 2013














Gambar 2. Kandungan Isi sel, hemiselulosa, selulosa, dan lignin dari hijauan
rumput signal yang ditanam dibawah nuangan kebun pisang
(Mansyur 2007).










Gambar 3. Kandungan NDF dan ADF hijauan rumput signal yang ditanam
dibawah nuangan kebun pisang (Mansyur 2007).
Pada Gambar 2 dan 3 terlihat bahwa semakin tua umur pemotongan rumput
Signal maka kandungan lignin, selulosa, dan hemiselulosanya meningkat,
begitupula dengan kadar ADF dan NDF-nya. Serat kasar terdiri dari selulosa,
hemiselulosa, lignin dan silika. Semakin tua hijauan pakan maka kandungan serat
kasarnya akan semakin tinggi (Tillman et al. 1991). Semakin tinggi kandungan
serat kasar dalam bahan pakan akan semakin tebal dan keras dinding selnya,
43.48
41.37
38.65 37.68
2.9
3.71
3.51
28.53
28.57
30.51
30.13
23.86
27.16 27.12
28.68
4.12
0%
20%
40%
60%
80%
100%
30 hari 40 hari 50 hari 60 hari
Umur pemotongan
K
a
n
d
u
n
g
a
n

b
a
g
i
a
n

s
e
l

h
i
j
a
u
a
n
Lignin
Hemiselulosa
Selulosa
Isi sel
56.52
58.62
61.34
62.31
27.99
30.06
30.83
32.18
0
10
20
30
40
50
60
70
30 hari 40 hari 50 hari 60 hari
Umur Pemotongan
K
a
n
d
u
n
g
a
n

(
%
)
NDF ADF
11 Syah SP 2013
akibatnya daya cerna bahan pakan tersebut akan semakin rendah (Anggorodi
1990).

KESIMPULAN
Rumput Signal yang ditaman dibawah naungan memiliki kecernaan yang
lebihbaik dari pada rumput Signal yang tumbuh di lapangan karena rumput Signal
yang tumbuh di lapangan mendapat matahari sempurna yang menyebabkan
dinding sel tanaman lebih kuat dan keras yang ditunjukkan dengan tingginya
komposisi dinding sel seperti selulosa, hemiselulosa, lignin, ADF dan NDF.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta (ID): PT. Gramedia.
Bahar S. 2008. Produktivitas hijauan pakan untuk produksi sapi potong di
Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Nasional Sapi Potong 2008. Palu (ID):
Balai Pengkajian Teknologi Sulawesi Selatan. hlm 233-237.
Bulo D, Blair GJ, Stur and W, Till AR. 1994. Yield and digestibility of forages in
east Indonesia, AJAS 7(3):325-333.
Chozin MA, Haris A, Las I, Soepandie D. 1998. Karekteristik ekositem tanaman
sela padi gogo dengan tanaman karet. Prosiding Seminar Peningkatan
Produksi Padi Nasional, Bandar Lampung (ID): 1:449-454.
Church DC, Pond WG. 1998. Basic Animal Nutrition and Feeding. 3
th
ed. New
York (US): John Willey and Sons.
Fanindi A, Prawiradiputra BR. 2005. Karakterisasi dan pemanfaatan rumput
Brachiaria Sp. Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak 2005, Bogor
(ID): Balai Penelitian Ternak, hlm 155-16.
Fick KR, Ammeram CB, Mc Gowen CK, Loggins FE, Ornell JA. 1979. Influence
of supplement energy and biuret nitrogent onn utilization low quality
roughage by sheep. J Anim Sci 36:137.
Flint HJ, Fosberg CW. 1995. Polysacharida degradation in the rumen :
biochemistry and genetic. In : Engelhsrdt Leeonhard EV, Marek S, Greves
G, Giesecke D (Eds) Ruminant physiologi : digestion metabolishm, growth
12 Syah SP 2013
and reproduction. Proceeding of the Eight International Symposium or
Ruminant Physiology. P. 43 – 63.
Gomariah E. 1986. Kecepatan penyerapan air sebagai penduga koefisien cerna
hijauan makanan ternak ruminansia [tesis]. Bogor (ID): Sekolah
Pascasarjana IPB.
Indonesia Trofical Forages. 2013. Hijauan Tropis. http://indonesia.tropicalforages.
info/key/Forages/Media/Html/Brachiaria_decumbens.htm. Diakses pada [20
Sep 2013].
Indrianingsih C. 2004. Pengaruh perbedaan lama penambahan cahaya terhadap
pertumbuhan vegetatif tanaman krisan (Chrysanthemum indicum Cv. Town
talk) [skripsi]. Semarang (ID): Fakultas Pertanian, Universitas Diponegoro.
Lubis DA. 1963. Ilmu Makanan Ternak. Jakarta (ID): Yayasan Pembagunan.
Mansyur, Djuned H, Dhalika T, Hardjosoewignyo S, Abdullah L, 2005. Pengaruh
interval pemotongan dan invasi gulma Chromolaena odorata terhadap
produksi dan kualitas rumput Brachiaria humidicola. Media Peternakan 28
(2): 77 – 85.
Mansyur, Djuned H, Indrani NP, Ana, Tarmidi R, Dhalika T. 2008. Kecernaan
Rumput Signal (Brachiaria decumbens) yang ditanam di naungan
perkebunan pisang pada berbagai umur pemotongan. Seminar National
Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bandung (ID): Fakultas Peternakan,
Universitas Padjadjaran.
Mansyur, Indrani NP, Dhalika T, Tarmidi AR. 2007. Pengaruh kedewasaan
terhadap isi sel, dan fraksi serat rumput Signal (Brachiaria decumbens)
yang ditanam di bawah naungan perkebunan pisang. Jurnal Protein
15(1):54-59.
Maynard LA, Loosli JK, Hinz HF, Warner KG. 1979. Animal Nutrition. 7
th
ed.
New York (US): Tata McGraw-Hill Company. Inc.
Mc Donal P, Edwards RA, Greenhalgh JFD, Morgan CA. 1995. Animal Nutrition.
5
th
ed. Singapore (SIN): Logman Singapore Publisher (Pte) Ltd.
Mullen BF, Shelton HM. 1995. Integration of ruminants into plantation system in
Southeast Asia. Aciar Proceedings 1994, Australia (AUS). hlm 5.
Nitis IM, Lana K, Sudana LB, Sutji N. 1992. Pengaruh klasifikasi wilayah
terhadap komposisi botani hijauan yang diberikan pada kambing di Bali di
waktu musim kemerau. Prosiding Seminar Penelitian Peternakan, Bogor
(ID).
13 Syah SP 2013
Prawiradiputra BR, Sutedi E, Sajimin, Fanindi A. 2012. Hijauan Pakan Ternak
untuk Lahan Sub-Optimal. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Bogor (ID): IAARD Press.
Ranjhan SK, Pathak NN. 1979. Management and Feeding of Bufalloes. New
Delhi (IND): Vikas Publishing Hausa PVT Ltd.
Sallisbury FB, Ross CW. 1992. Plant Physiology. California (US): Wadsworth
Publishing.
Shelton HM, Humphreys LR, Batello, Caterina. 1987. Pastures in the plantations
of Asia and the Pacific: Performance and prospect. Tropical Grasslands
21:159-168.
Sirait J. 2006. Dinamika nitrogen dan produksi rumput Benggala (Panicum
maximum Cv Riversdale) pada tiga taraf naungan dan pemupukan. Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006, Galang (ID) :Loka
Penelitian Kambing Potong. hlm 958-966.
Siregar ME, Djajanegara A, Harahap MH. 1973. Pengaruh tingkat pemupukan
TSP terhadap produksi segar rumput Setaria sp. Hacelata, Brachiaria
brizantha dan Digitaria decumbens. Buletin L.P.P. Bogor (ID): 11:1-7.
Sitepu H. 2005. Produksi dan kecernaan rumput unggul hasil poliploidasi akibat
pemupukan fosfor pada kondisi tercekam aluminium [tesis]. Semarang (ID):
Program Pascasarjana, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro.
Smith D,Bulla RJ,Walgenbach RP. 1986. Forage Management. 5
th
ed. Dubuque –
Iowa (US): Kendall/Hunt Publishing Company.
Suryowinoto M. 1988. Budidaya tanaman anggrek. Lab. Budidaya Jaringan.
Penelitian dan Pengembangan Anggrek. Jogjakarta (ID): Fakultas Biologi
UGM. hlm 22.
Susetyo SI, Kismono I, Suwandi B. 1981. Hijauan Makanan Ternak. Jakarta (ID):
Jendral Departemen Pertanian.
Sutardi. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi I. Bogor (ID): Departemen Ilmu Makanan
Ternak, Fakultas Peternakan, IPB.
Tillman AD, Hartadi H, Reksohadiprodjo S, Prawirokusumo S, Lebdosoekojo S.
1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. ed 5. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada
University Press.
Van Soest PJ. 1994. Nutrional Ecology of the Ruminant. 2
nd
ed. Itacha and
London (ENG): Comstock Publishing Associates Cornell University Press.