You are on page 1of 57

LAPORAN KASUS BESAR

SEORANG ANAK LAKI-LAKI 2 TAHUN 5 BULAN


DENGAN DIARE AKUT DEHIDRASI TAK BERAT DAN KEJANG
DEMAM








Diajukan guna memenuhi syarat menempuh ujian
Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

Disusun oleh :
Aji Adhi Nugraha
22010110200021


Pembimbing:
dr. Harancang


Penguji :
dr. Dewi Ratih Sp.A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012


ii


HALAMAN PENGESAHAN

Nama : AJI ADHI NUGRAHA
NIM : 22010110200021
Fakultas : Kedokteran Umum
Judul : Laporan Kasus Besar Seorang Anak 2 Tahun 5 Bulan dengan
Kejang Deamam Diare Akut Dehidrasi Tak Berat
Bagian/SMF : Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro Semarang
Penguji : dr. Dewi Ratih Sp.A
Pembimbing : dr. Harancang


Semarang, November 2011

Penguji



dr. Dewi Ratih, Sp.A
Pembimbing



dr. Harancang



iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan laporan kasus besar yang berjudul
Seorang Anak 2 Tahun 5 Bulan dengan Diare Akut Dehidrasi Tak Berat dan Kejang
Demam.
Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi syarat menempuh ujian
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro, Semarang.
Pada kesempatan ini Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Dewi Ratih, Sp.A sebagai penguji yang telah bersedia meluangkan waktu dan
membimbing penulis.
2. dr. Harancang, sebagai pembimbing yang telah memberikan masukan-masukan,
petunjuk, serta kritik yang membangun dalam penyusunan kasus ini.
3. Anak L, serta keluarga, atas bantuannya sebagai pasien di dalam penyusunan kasus
besar ini.
4. Teman-teman yang satu stase di bagian anak yang telah memberikan bantuan baik
material maupun spiritual kepada penulis dalam menyusun laporan kasus ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam laporan kasus ini,
maka penulis sangat mengharapkan kritik yang membangun serta saran dari semua
pihak.
Semoga laporan kasus besar ini dapat bermanfaat bagi kita semua, terutama
untuk kasus Diare Akut Dehidrasi Tak Berat dan kejang demam.


Semarang, Februari 2012



Penulis


iv

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iv
BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................... 1
BAB II. PENYAJIAN KASUS ................................................................. 3
A. Identitas Penderita .................................................................. 3
B. Data Dasar .............................................................................. 4
C. Data Khusus ............................................................................ 6
D. Pemeriksaan Fisik ................................................................... 10
E. Kebutuhan Cairan, Kalori, Protein ......................................... 14
F. Daftar Masalah ....................................................................... 16
G. Initial Plan .............................................................................. 16
H. Perjalanan Penyakit ................................................................ 19
I. Hasil kunjungan rumah ........................................................... 27
BAB III. PEMBAHASAN. 31

DIARE AKUT DEHIDRASI TAK
BERAT............................................................................................. 31

A. Diagnosis ................................................................................... 31

B. Pengelolaan ................................................................................ 36

C. Pencegahan ................................................................................ 41

v

KEJANG DEMAM 41


PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF DAN HOLISTIK...... 42

A. Kuratif........................................................................................... 43

B. Preventif ....................................................................................... 43

C. Promotif ....................................................................................... 44

D. Rehabilitatif.................................................................................. 45

E. Lingkungan .................................................................................. 45

BAB V SIMPULAN DAN SARAN........................................................... 53

DAFTAR PUSTAKA . 57

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada bayi
dan balita di negara berkembang dengan perkiraan 1,3 milyar episod dan 3,2 juta kematian setiap
tahun pada balita, sekitar 80% kematian yang berhubungan dengan diare terjadi pada 2 tahun
pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah dehidrasi akibat kehilangan
cairan dan elektrolit melalui tinjanya. Penyebab kematian lain yang penting adalah kekurangan
gizi dan ineksi yang serius. Di Indonesia sendiri hal ini dapat dilihat dari tingginya angka
kesakitan dan kematian akibat penyakit diare. Menurut laporan Departemen Kesehatan di
Indonesia, setiap anak mengalami diare 1,6-2 kali pertahun. Faktor-faktor yang menyebabkan
antara lain kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, keadaan gizi, kependudukan,
pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat.
1,2
Definisi diare menurut Hipokrates adalah keadaaan yang abnormal dari frekuensi dan
kepadatan tinja. Berdasarkan Pendidikan Medik Pemberantasan Diare (PMPD) tahun 1999 dan
seminar Rehidrasi Nasional III (1982), diare didefinisikan sebagai berak lembek cair sebanyak 3
5 kali atau lebih per hari, Diare akut menurut JW Smith adalah perubahan konsistensi dan
frekuensi berak. Lebenthal (1981), Gryboski dan Smith (1983) mendefinisikan diare secara
klinik sebagai pasase yang frekuen tinja dengan konsistensi lembek sampai cair dengan volume
melebihi 10 ml/KgBB/hari. Dua bahaya utama diare adalah dehidrasi dan gizi kurang. Dehidrasi
terjadi bila pengeluaran air dan elektrolit lebih banyak dibandingkan pemasukannya. Semakin
banyak tinja yang dikeluarkan berarti semakin banyak anak tersebut kehilangan cairan.

Pembagian diare menurut Depkes meliputi diare tanpa tanda dehidrasi, dehidrasi tak berat, dan
dehidrasi berat
1,2,3
.
Pada umumnya pada kasus diare akut dengan pengelolaan yang tepat akan sembuh
namun sebagian kecil akan melanjut menjadi diare kronik atau komplikasi lain. Komplikasi yang
dapat terjadi adalah kehilangan air dan elektrolit, gangguan gizi, perubahan ekologi dalam lumen
usus dan perubahan mekanisme ketahanan isi usus. Kehilangan cairan dan elektrolit dapat
menyebabkan dehidrasi, renjatan hipovolemik, hipokalemia, hipoglikemi, intoleransi laktosa
sekunder, kejang maupun malnutrisi energi protein. Keadaan dehidrasi sering disertai penurunan
jumlah cairan ekstraseluler (hipovolemik) yang kemudian diikuti pula dengan gangguan perfusi
2

jaringan akibat hipoksia. Keadaan ini akan menambah berat asidosis metabolik dan dapat
memberikan gangguan kesadaran.
Salah satu komplikasi dari diare adalah demam yang dapat menyebabkan kejang, kejang
merupakan perubahan aktivitas motorik dan / atau tingkah laku sesaat yang disebabkan oleh
abnormalitas aktivitas elektrik otak.
1
Kelainan ini dapat ditemukan pada sekitar 10% anak.
1
Jenis
kejang pada anak yang paling sering terjadi adalah kejang demam, yang ditemukan pada 2 5 %
anak di Eropa dan Amerika Serikat.
1-8
Di Asia, insidensinya meningkat dua kali lipat.
3
Di Jepang,
kelainan ini ditemukan pada 6 9 % anak.
3
Sedangkan di Indonesia belum terdapat data yang
pasti.Sebanyak 65 - 80 % kasus kejang demam merupakan kejang demam simpleks.
3
Tiga puluh
hingga 50% anak yang pernah mengalami kejang demam dapat mengalami kejang berulang,
terutama bagi anak yang memiliki faktor risikotertentu.
3

Dalam penulisan ini akan dilaporkan seorang anak dengan diare cair akut dehidrasi tak
berat dengan kejang demam dengan tujuan untuk mengetahui cara menegakkan diagnosa dan
mengelola penderita sehingga dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.

B. TUJUAN
Pada laporan kasus ini disajikan suatu kasus seorang anak dengan diare akut dehidrasi
tak berat dengan kejang demam yang dirawat di bangsal C
1
L
2
IRNA C RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Penyajian kasus ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam tentang cara
mendiagnosis, mengelola dan mengetahui prognosis penderita dengan penyakit tersebut di atas.

C. MANFAAT
Penulisan laporan kasus ini diharapkan dapat membantu mahasiswa kedokteran untuk
belajar menegakkan diagnosis, melakukan pengelolaan, dan mengetahui prognosis penderita
kejang demam dan diare akut dehidrasi tak berat.
3

BAB II
PENYAJIAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. L
Umur : 2 Tahun 5 bulan
Jenis kelamin : Laki - laki
Alamat : Dempel Muktiharjo Semarang
Agama : Islam

No. CM : C243989
Bangsal : C
1
L
2
Kelas III
Masuk Rumah Sakit : Rabu, 1 Februari 2012 pukul 22.00
Keluar Rumah Sakit : Sabtu, 4 Februari 2012

IDENTITAS ORANG TUA
Nama Ayah : Tn.WI
Umur : 24 tahun
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Dempel Muktiharjo Semarang

Nama Ibu : Ny. R
Umur : 22 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMA
Alamat : Dempel Muktiharjo Semarang



4

DATA DASAR

Anamnesis ( Alloanamnesis)
Alloanamnesis dengan ibu penderita tanggal 2 Februari 2012 pukul 11.00 WIB di bangsal
anak C
1
L
2
RSDK dan catatan medik penderita.

1. Keluhan Utama : Kejang
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
1 hari sebelum masuk Rumah Sakit Anak mencret 4 kali dalam 1 hari, 1 kali
mencret sekitar setengah gelas belimbing, konsistensi cair, berbau asam, nyemprot, tidak
ada lendir maupun darah. Daerah sekitar anus tidak kemerahan. Buang air kecil tidak ada
keluhan. Diare juga disertai demam, awalnya demam tidak tinggi tetapi semakin lama
demam semakin tinggi. Tidak ada batuk, tidak ada pilek, tidak ada sesak nafas, tidak ada
keluar cairan dari telinga. Anak muntah 1 kali tidak nyemprot, berwarna kuning,
banyaknya 2 sendok makan. Anak tampak kehausan, lalu anak dibawa ke Puskesmas,
diberi obat namun ibu tidak mengetahui nama obatnya dan anak tetap diare dan panas.
30 menit sebelum masuk Rumah Sakit demam anak semakin tinggi, tetapi ibu
tidak mengetahui berapa derajat karena tidak mempunyai thermometer di rumah, oleh
orang tua anak diberi jaket, kaos kaki dan tutup kepala, kemudian anak mengalami kejang,
tangan dan kaki pasien bergerak-gerak kaku, mata anak mendelik ke atas. Saat kejang
anak tidak sadar. Sebelum dan setelah kejang anak sadar, tidak ada muntah, kejang
berlangsung 5 menit, berhenti sendiri tanpa diberi obat, lalu anak dibawa ke Klinik 24
jam lalu disarankan untuk segera ke RSDK. Di UGD RSDK suhu badan pasien 39.5 C,
didapatkan mata cowong, turgor kulit kembali lambat, anak tampak lemas. Telah diberi
obat penurun panas. Obat diberikan lewat suntikan dan juga ada obat yang diberikan lewat
dubur. Pasien telah diberikan rehidrasi di UGD dengan D10 480/15 tpm selama 4 jam, lalu
anak mengalami perbaikan dan pasien dirawat di C
1
L
2
Kelas III.




5


3. Riwayat Penyakit Dahulu :

Umur Umur
Morbili Tidak pernah Diare Pernah
Pertusis Tidak pernah Disentri Amuba Tidak pernah
Varisela Tidak pernah Difteri Tidak pernah
Tifus Abdominalis Tidak pernah
Malaria Tidak pernah Cacingan Tidak pernah
Tetanus Tidak pernah Reaksi Obat Tidak pernah
Angina Tidak pernah Demam berdarah
Dengue Tidak pernah
Pneumonia Tidak pernah Batuk pilek Pernah

Penyakit yang pernah diderita adalah diare dan batuk-pilek, dibawa ke Puskesmas dan
sembuh setelah beberapa hari. Anak tidak pernah sakit hingga dirawat di rumah sakit
sebelumnya. Anak juga tidak ada riwayat kejang dan juga riwayat kejang demam
sebelumnya. Riwayat berganti susu ataupun makanan yang basi/rusak disangkal.

4. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang menderita diare maupun kejang.
Tidak ada tetangga yang menderita diare









6

5. Riwayat Sosial Ekonomi :
Penderita adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ayah penderita bekerja sebagai buruh
dengan penghasilan rata-rata Rp 800.000,00/bulan. Ibu penderita tidak bekerja (ibu rumah
tangga). Keluarga tinggal di rumah sendiri. Keluarga menanggung 2 orang anak yang belum
mandiri. Biaya pengobatan atas tanggungan Jamsostek

14KRITERIA MASYARAKAT MISKIN MENURUT STANDAR BPS
1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang. ( terpenuhi)
2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu / kayu murahan (terpenuhi)
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu / rumbia / kayu berkualitas rendah / tembok
tanpa diplester (terpenuhi)
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar / bersama-sama dengan rumah tangga lain
(Tidak terpenuhi)
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik (Tidak terpenuhi)
6. Sumber air minum berasal dari sumur / mata air tidak terlindung / sungai /air hujan
(terpenuhi)
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar / arang / minyak tanah (
terpenuhi)
8. Hanya mengkonsumsi daging / susu / ayam satu kali dalam seminggu (Tidak terpenuhi)
9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun (terpenuhi)
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu / dua kali dalam sehari (Tidak terpenuhi)
11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas / poliklinik( terpenuhi)
12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500 m2,
buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya
dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan ( terpenuhi)
7

13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga : tidak sekolah / tidak tamat SD/ hanya SD
(Tidak terpenuhi)
14. Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,-
seperti sepeda motor kredit / non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal
lainnya.(terpenuhi)
Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga dikategorikan sebagai rumah
tangga miskin.
Kesan: kategori miskin sesuai BPS


B. DATA KHUSUS

1. Riwayat pemeliharaan prenatal :
Lahir dari ibu G
2
P
1
A
0
, ANC di bidan, teratur, dilakukan 4 kali selama masa kehamilan,
mendapat imunisasi TT 2 kali. Riwayat penyakit selama kehamilan seperti sakit panas
selama hamil, darah tinggi, kejang, sakit gula selama hamil disangkal. Riwayat perdarahan
selama kehamilan disangkal Selama hamil ibu mendapat vitamin dan tablet penambah darah.

2. Riwayat kelahiran :
No Kehamilan dan Persalinan Tgl lahir/umur
1. Laki-laki, aterm, spontan, bidan, BBL : 3300 gr 2 tahun 5 bulan
2. Laki-laki, aterm, spontan, bidan, BBL: 2600 gr 11 bulan

Penderita lahir ditolong oleh bidan, umur kehamilan 9 bulan, lahir spontan, langsung
menangis, riwayat biru-biru disangkal, riwayat trauma kelahiran disangkal, riwayat adanya
kesulitan selama persalinan disangkal. Berat badan lahir 3300 gram, panjang badan 40 cm
dan lingkar kepala lahir ibu lupa.

3. Riwayat Pemeliharaan Postnatal :
Bayi menyusu kuat, tidak kuning, tidak kejang. Pemeliharaan postnatal di Puskesmas dan
dinyatakan sehat. Rutin ke posyandu 1 bulan sekali.
8

4. Riwayat Imunisasi :
BCG : 1 x ( 1 bulan, scar + )
DPT : 3 x (2, 4, 6 bulan)
Polio : 4 x ( 0, 2, 4, 6 bulan)
Campak : -
Hepatitis B : 4 x (0, 2, 4, 6 bulan)
Booster : -
Kesan : Imunisasi dasar tidak lengkap sesuai usia.

5. Riwayat Makan dan Minum Anak
ASI sejak lahir dihentikan 1 bulan dengan alasan ASI tidak keluar.
Susu formula diberikan sejak usia 1 bulan :
- 1-6 bulan SGM 1, diberikan 2-3x/hari @1-2 sendok takar dalam 30-60cc air, habis
- 6-12 bulan SGM 2, diberikan 3-4x/hari @2-3 sendok takar dalam 60-90cc air, habis
- 1 tahun-sekarang Bendera Kental manis, diberikan 3-4x/hari dalam 90-120cc air, habis
Makanan padat diberikan sejak usia 3 bulan:
- 5 6 bulan diberikan pisang ulek 1-2x/hari 1-2 sdm, habis
- 6 9 bulan diberikan bubur susu 1-2x/hari mangkuk kecil, sering habis
- 9 12 bulan diberikan nasi tim 2-3x/hari mangkuk kecil, sering habis
- 1 tahun- sekarang diberikan makanan keluarga : centong nasi + lauk + sayur, anak
tidak terlalu suka buah.

Kesan : ASI tidak eksklusif, penyapihan dini, kualitas kuantitas cukup.

6. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan anak
Pertumbuhan :
Berat badan lahir 3300 gr, panjang badan lahir 49 cm, lingkar kepala lahir ibu lupa.
Berat badan sekarang 13 kg, tinggi badan sekarang 84 cm.
BB bulan lalu tidak tahu.


9

Kesan : N2 ( normal growth )


Status Antopometri
Anak laki-laki, umur 2 tahun 5 bulan. BB : 13 kg, PB : 85 cm
Berat badan menurut umur.
WAZ : -0,39


Tinggi badan menurut umur. HAZ : -1,70

10



Berat badan menurut panjang badan. WHZ : 1,23

Kesan : Gizi baik, perawakan normal.



11

Perkembangan :
Senyum : 2 bulan
Miring : 3 bulan
Tengkurap : 4 bulan
Duduk : 6 bulan
Gigi keluar : 6 bulan
Merangkak : 8 bulan
Berdiri : 9 bulan
Berjalan : 10 bulan
Saat ini anak sudah dapat berdiri dan berjalan tanpa berpegangan, dapat duduk dan
bangkit sendiri tanpa dibantu. Anak sudah dapat merangkai kalimat dari 3 kata moh
maem ma.

KPSP :
No Pertanyaan Ya Tidak
1 Bila diberi pensil, apakah anak mencoret-coret kertas tanpa
bantuan/petunjuk?

2 Dapatkah anak meletakkan 4 buah kubus satu persatu di atas kubus
yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu? Kubus yang digunakan
ukuran 2.5 5 cm.

3 Dapatkah anak menggunakan 2 kata pada saat berbicara seperti
minta minum; mau tidur? Terimakasih dan Dadag tidak ikut
dinilai.

4 Apakah anak dapat menyebut 2 diantara gambar-gambar ini tanpa
bantuan?


5 Dapatkah anak melempar bola lurus ke arah perut atau dada anda dari
jarak 1,5 meter?

6 Ikuti perintah ini dengan seksama. Jangan memberi isyarat dengan
telunjuk atau mata pada saat memberikan perintah berikut ini:

12

Letakkan kertas ini di lantai.
Letakkan kertas ini di kursi.
Berikan kertas ini kepada ibu.
Dapatkah anak melaksanakan ketiga perintah tadi?
7 Buat garis lurus ke bawah sepanjang sekurangkurangnya 2.5 cm.
Suruh anak menggambar garis lain di samping garis tsb.


8 Letakkan selembar kertas seukuran buku di lantai. Apakah anak
dapat melompati bagian lebar kertas dengan mengangkat kedua
kakinya secara bersamaan tanpa didahului lari?

9 Dapatkah anak mengenakan sepatunya sendiri?
10 Dapatkah anak mengayuh sepeda roda tiga sejauh sedikitnya 3
meter?

Total jawaban Ya = 10

Kesan : Perkembangan anak sesuai tahapan perkembangannya.
7. Riwayat Keluarga Berencana Orang Tua
Ibu penderita menggunakan KB suntik 3 bulan, Sikap yakin dan percaya.



13


14

C. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 2 Februari 2012 pukul 12.00 WIB di bangsal C
1
L
2
RSUP Dr. Kariadi
Seorang anak laki- laki, umur 2 tahun 5 bulan, Berat Badan (BB) : 13 kg, Panjang Badan
(PB) : 84 cm
Keadaan umum : Sadar, nafas spontan (+) adekuat, mata cekung (+) perbaikan, anak cukup
tampak lemas.
Tanda vital : Frekuensi jantung : 170 x / menit
Nadi : reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi nafas : 55x / menit, reguler
Suhu : 38C (axiler)
Status Internus :
Rambut : warna hitam dan tidak mudah dicabut.
Ubun-ubun besar : sudah menutup
Mata : cowong (+/+) perbaikan, conjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik
(-/-), pupil isokor diameter 2 mm / 2 mm
Telinga : Nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tekan retroaurikuler (-/-), discharge (-/-),
serumen (-/-)
Hidung : nafas cuping (-), discharge (-/-), mukosa hiperemis
Mukosa : sedikit kering (-)
Mulut : sianosis (-), bibir kering (-)
Lidah : kotor (-), hiperemis (-), tremor (-)
Gigi-geligi : karies (+)
Tenggorok : Tonsil : T
1-1
, hiperemis (-), kripte tidak melebar, detritus (-) faring
hiperemis (-)
Leher : simetris, pembesaran kelenjar getah bening (-/-)




Toraks :
Pulmo
15

Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-).
Palpasi : stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara dasar : vesikuler (+/+)
suara tambahan : wheezing (-/-), ronkhi (-/-), hantaran (-/-).
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba di sela iga IV 2 cm medial linea medioclavikularis
sinistra, tidak kuat angkat, tidak melebar. Thrill (-)
Perkusi : sulit dinilai
Auskultasi : suara jantung I dan II normal, irama reguler, gallop (-),
bising (-).
M1>M2, A1<A2, P1<P2
Abdomen :
Inspeksi : datar
Auskultasi : bising usus (+)
Perkusi : timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)
Palpasi : supel, lemas, nyeri tekan (-), turgor kulit kembali cepat
Hepar dan Lien tidak teraba.

Ekstremitas : superior inferior
Sianosis - / - - / -
Akral dingin - / - - / -
Waktu pengisian kapiler <2/<2 <2/<2
Tonus 5/5 5/5
Reflek fisiologis +N/+N +N/+N
Reflek patologis - / - - / -


Pemeriksaan rangsang meningeal
Kaku kuduk : (-)
16

Brudzinski I sign : (-)
Brudzinski II sign : (-)
Kernig sign : (-)

Genital : Laki-laki, phimosis (-), OUE tidak hiperemis, testis teraba dua buah,
kenyal.
Perianal : Hiperemis (-), ekskoriasi (-)



KEBUTUHAN 24 JAM

Cairan (cc) Kalori (kkal) Protein (gr)
Kebutuhan 24 jam 1150 1300 15,99
Infus 2A NS
3 x nasi
3 x 200cc susu
480
300
600
81,6

1336,92
-

48,5
Jumlah Total 1680 1448,52 48,5
AKG (%) 146% 111% 303%

D. LAIN-LAIN
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal 1 Februari 2012 (18:00)

Pemeriksaan Darah : Hemoglobin : 11,5 g / dl (11 13,00 gr%)
Hematokrit : 33,6 % (36 44 %)
Eritrosit : 4,5juta / mm
3
(3,60 5,00 juta/ mm
3
)
Lekosit : 3,3 / mm
3
(6000-18000/mm
3
)
Trombosit : 228.000 / mm
3
(150000 400000/mm
3
)
MCV : 34,3 fl (77 101 fl)
MCH : 25,6 pg (23 31 pg)
17

MCHC : 74 g/dL (29 36 %)
Kesan : leukopeni
Pemeriksaan Kimia & Elektrolit Darah :
Natrium : 130 mmol/l (136 145 mmol/l)
Kalium : 3,1 mmol/l (3,5 5,1 mmol/l)
Chlorida : 100 mmol/l (98 107 mmol/l)
Calcium : 2,18 mmol/L (2,12 2,521 mmol/L)
Kesan : hipokalemi, hionatremi.
GDS : 82
DIAGNOSIS DAN ASSESMENT
Diagnosis
DiagnosisUtama: Diare akut dehidrasi tak berat
DiagnosisKomorbid:
Diagnosis Komplikasi : kejang demam, imbalance elektrolit
Diagnosis Pertumbuhan:, perawakan normal, gizi baik, mesosefal
Diagnosis Gizi: Gizi baik
DiagnosisPerkembangan: perkembangan sesuai umur
DiagnosisImunisasi: imunisasi lengkap sesuai dengan umur
Diagnosis Sosial-Ekonomi: kategori miskin sesuai BPS











18

E. INITIAL PLANS
ASSESSMENT
1. Kejang demam
DD/ : - Kejang demam simpleks
- Kejang demam kompleks

IP Dx S :
O : Preparat darah hapus, diff count, kultur darah , konsul THT, urinn rutin.


IP Rx : Infus 2AN 480/20/5 tpm
Inj. Diazepam 5 mg i.v pelan (bila kejang)
p.o : Paracetamol syr 4-6 x 125 mg (t 38
o
C)
Diazepam 3 x 2 mg/hari

IP Mx : Evaluasi keadaan umum, tanda vital, tanda kejang, elektrolit ulang, darah
rutin ulang, GDS ulang.

IP Ex : - Memberitahu kepada orangtua mengenai kondisi anak dan pemeriksaan
yang akan dilakukan untuk menegakan diagnosis dari penyakit yang
diderita.
- Memberitahukan agar dirumah mempunyai thermometer dan apabila
panas lebih dari 38derajat makan berikan obat penurun panas.
- Apabila demam anak bisa dikompres untuk menurunkan suhu tubuhnya
(surface cooling ).






19

2. Diare akut dehidrasi tak berat
DD/ : Sekretorik
Osmotik
Ip Dx : S : -
O : feses rutin, elektrolit, darah rutin ulang,
IpRx : Inf 2A N 480/20/15 tpm
Oralit 100-200 cc/ mencret
Zinc sulfat 1x20 mg
Ip Mx : - Evaluasi KU, TV
- Tanda dehidrasi
- Pantau akseptabilitas diet
- Balans cairan
- Konsistensi feses
- Elektrolit ulang
- Darah rutin ulang
Ip Ex : - Memberitahu kepada orangtua mengenai kondisi anak dan pemeriksaan
yang akan dilakukan.
- Menganjurkan tetap memberikan makanan dan minuman kepada anak
selama diare dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindarkan efek
buruk pada gizi
- Edukasi cara pemberian oralit pada anak 100 200 cc tiap kali
muntah/mencret, diberikan satu sendok teh tiap 1-2 menit sampai habis,
jika anak muntah maka dihentikan, tunggu + 10 menit lalu dilanjutkan
lagi tetapi lebih lambat misalnya sesendok tiap 2-3 menit.
- Menjelaskan pada ibu perlunya menjaga kebersihan diri dan alat-alat
makan/minum dengan cara cuci tangan sebelum membuat susu dan
menggunakan alat-alat makan/minum yang sudah dicuci bersih atau
direbus dahulu.
- Selama dirawat di bangsal ataupun di rumah, bila anak buang air besar
harus segera dibersihkan dengan air dan ganti dengan celana yang bersih,
20

bila tinja mengotori perlak segera bersihkan dan ganti dengan perlak
yang bersih.
- Selalu menggunakan air bersih untuk minum.
- Memasak atau mendidihkan makanan dengan benar dan menyiapkan
makanan sesaat sebelum makanan dimakan.
- Menjelaskan kepada ibu mengenai tanda-tanda dehidrasi seperti rewel,
kehausan, mata cekung, menangis tidak keluar air mata, bibir kering.
Bila bayi diare disertai muntah berulang, bayi tampak kehausan
sebaiknya segera dibawa ke Rumah Sakit atau poliklinik terdekat
(penting bila setelah pulang dari RSDK bayi sakit lagi )
Menjelaskan dan memotivasi ibu bahwa tablet zinc harus dikonsumsi
hingga 10-14 hari sekalipun nantinya diare sudah sembuh.


Waktu Keadaan Klinis Program terapi/tindakan
1-2-2012
Jam 20.00














Keluhan:
demam (+), kejang (-), batuk (-), batuk (-),
pilek (-), sesak nafas (-), keluar cairan dari
telinga (-) BAB mencret (+) >4x per hari,
cair, bau asam, lender dan darah (-), pantat
kemerahan, BAK normal.
KU : anak tidur, napas spontan adekuat
TV : HR : 170x/menit
RR : 60x/menit
t : 38,3 C axiler
N : reguler, isi dan tegangan cukup
Mata : mata cekung (+), air mata tidak bisa
dinilai, anemis (-/-), ikterik (-/-),
pupil isokor 3 mm / 3 mm, refleks
cahaya (+/+), refleks kornea (+/+)
Telinga : discharge (-)
Rehidrasi ( UGD)
240cc/jam
Po: 100cc/jam oralit
Iv: 140cc RL/jam 39 tpm

Inf 2A N 480/20/5 tpm

Po: Paracetamol syr4-6 x5 ml
(125 mg)
Zinc sulfat 1x20 mg
Oralit 100-200cc?mencret
B6 2x1 tab
Diazepam 3x2 mg

Diet : 3x nasi
3x200 cc susu
21
























24.00

Hidung : napas cuping (-), discharge (-)
Bibir : sianotik (-), lipatan nasolabial
simetris
Faring: hiperemis (-), granulasi (-)
Tonsil: T
1-
T
1
, hiperemis (-),kripte tidak
melebar, permukaan rata, detritus
(-)
Leher: pembesaran nnll (-), kaku kuduk (-)
Thorax : cor / pulmo d.b.n
Abd : supel, datar, bising usus (+) N, hepar
dan lien tidak teraba turgor kembali
lamabat.
Genital : laki-laki, d.b.n, fimosis (-)
Extremitas: superior / inferior d.b.n
Px. Rangsang meningeal: (-)
Px. Nn. Craniales: d.b.n
Tanda perdarahan: (-)

Assessment
Observasi kejang demam DD/KDS
KDK
Diare akut dehidrasi tak berat
febris
HR : 140x/menit
RR : 30x/menit
t : 37,5 C axiler
N : reguler, isi dan tegangan cukup

Prog:
- Monitoring KU,TV
- Preparat darah hapus, diff
count, urin rutin, GDS,
Elektrolit
- Konsul THT
- Feses Rutin, PH feses,
Sudan 3


2-2-2012
Jam 14.00

Keadaan Klinis Program terapi/tindakan
Keluhan:
demam (-), kejang (-), batuk (-), BAB cair
- Infus 2AN 480/20/5 tpm
- Inj. Diazepam 5 mg i.v pelan
22































(+) >2x ampas, BAK normal
KU : sadar, kurang aktif, napas spontan
adekuat, defisit neurologis (-)
TV : HR : 124x/menit
RR : 20x/menit
t : 37,2 C
N : reguler, isi dan tegangan cukup
UUB : membonjol (-)
Mata : anemis (-/-), ikterik (-/-), pupil
isokor 3 mm / 3 mm, refleks
cahaya (+/+), refleks kornea (+/+),
mata cekung (+) perbaikan dari
kemarin
Telinga : discharge (-)
Hidung : napas cuping (-), discharge (-)
Bibir : sianotik (-), lipatan nasolabial
simetris
Faring: hiperemis (-), granulasi (-)
Tonsil: T
1-
T1, hiperemis (-),kripte tidak
melebar, permukaan rata, detritus
(-)
Leher: pembesaran nnll (-), kaku kuduk (-)
Thorax : cor / pulmo d.b.n
Abd : supel, datar, bising usus (+) N, hepar
dan lien tidak teraba, turgor kembali
cepat.
Genital : laki-laki, d.b.n, fimosis (-)
Extremitas: superior / inferior d.b.n
Px. Rangsang meningeal: (-)
Px. Nn. Craniales: d.b.n
Tanda perdarahan: (-)
(bila kejang)

p.o :
- Paracetamol syr 4-6 x 125 mg
(t 38
o
C)
- Diazepam 3 x 2 mg/hari
- Oralit 100-200cc / mencret
- Zinc sulfat 1x20 mg

Diet :
- 3x nasi
- 3 x 200 cc susu

Program :
- Evaluasi KU, TV, kejang
berulang
- Darah rutin ulang









23


Assessment :
1. Observasi Kejang demam
2. Diare akut dehidrasi tak berat
perbaikan

2-2-2012
Jam 14.00

Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi
Hitung jenis:
Eosinofil : 0 (3-5)
Basofil : 0 (0-0)
Batang : 0 (2-5)
Segmen : 42 (25-70)
Limfosit : 35 (50-70)
Monosit : 22 (5-15)
Mielosit : 1 (5-15)

Urin rutin:
Warna : kuning, jernih
BJ : 1,015
pH : 6,00
Protein, reduksi, urobilinogen,
bilirubin, aseton, & nitrit : negatif

Epitel tubulus : 3,0 / L
Bakteri : 23,8 / L
Kepekatan : 4,9 mS/cm
Sperma & yeast cell : negatif
Kesan:
Darah Rutin tanggal 2/2/2012

Gambaran darah tepi:
Eritrosit: Anisositosis ringan (mikrosit),
Poikilositosis ringan (tear drop
cell, ovalosit)
Trombosit: Jumlah dan bentuk normal
Leukosit: Jumlah tampak normal, limfosit
teraktifasi (+),vakuolisasi (+),
monositosis (+)



Sed
Epitel : 3,0 / L
Lekosit : 27,3 / L
Eritrosit : 4,2 / L
Kristal : 0,0 / L
Sil.Hyalin : 0,00 / L
Sil.Patologi & mucus : negatif

24

Hb: 10,8 gr%
Ht: 33,9
Eritrosit: 4,45 jt/mmk
MCH: 24,20
MCV:76,10
MCHC:31,8
Leukosit:6,53
Trombosit :221,0
Feses rutin :
Warna : coklat
Askaris, Ankilostoma, trikurus,
oxyusris, entamoeba coli,
histolitika NEG
Sisa:
Karbohidrat dan protein (+),sudan
3 (+), eritrosi dan benzidin (-)
Konsul Mata:
Kesimpulan : dari pemeriksaan
opthalmologi saat ini tidak
didapatkan gamabaran papil
edema sebagai salah satu tanda
peningkatan tekanan intracranial.
Konsul THT :
Kesimpulan : THT tenang tidak
ada kelainan.

3-2-2012
Jam 07.00
Keadaan Klinis Program Terapi / Tindakan
Keluhan:
BAB ampas, demam (-), orang tua minta
pulang
KU : sadar, kurang aktif, napas spontan
- Infus 2AN 480/20/5 tpm
- Inj. Diazepam 4,5 mg i.v
pelan (bila kejang)

25

adekuat, defisit neurologis (-)
TV : HR : 120x/menit
RR : 24x/menit
t : 36,7 C
N : reguler, isi dan tegangan cukup
PF lain : tetap, mata cowong (-)
Assessment:
1. Kejang demam simpleks
2. Diare akut dehidrasi tak berat
perbaikan
p.o :
- Paracetamol 4 x 200 mg (t
38
o
C)
- Diazepam 3 x 2 mg/hari
- Oralit 100-200cc / mencret
- Zinc sulfat 1x20 mg sampai
14 hari

Diet :
- 3x nasi
- 3 x 200 cc susu

Program :
- Evaluasi KU, TV, kejang
berulang,
4-2-2012
07.00














Keadaan Klinis Program terapi/tindakan
Keluhan:
demam (-), kejang (-),anak minta pulang
KU : sadar, aktif, napas spontan adekuat,
defisit neurologis (-)
TV : HR : 120x/menit
RR : 23x/menit
t : 37,0 C
N : reguler, isi dan tegangan cukup
UUB : membonjol (-)
Mata : anemis (-/-), ikterik (-/-), pupil
isokor 3 mm / 3 mm, refleks
cahaya (+/+), refleks kornea (+/+),
mata cowong (-)
Telinga : discharge (-)
Hidung : napas cuping (-), discharge (-)
Anak pulang
Zinc sulfat 1x20 mg sampai
14 hari
Oralit 50-100cc/ mencret
26


















Bibir : sianotik (-), lipatan nasolabial
simetris
Faring: hiperemis (-), granulasi (-)
Tonsil: T
1-
T
1
, hiperemis (-), kripte tidak
melebar, permukaan rata, detritus
(-)
Leher: pembesaran nnll (-), kaku kuduk (-)
Thorax : cor / pulmo d.b.n
Abd : supel, datar, bising usus (+) N, hepar
dan lien tidak teraba, turgor kemabli
cepat.
Genital : laki-laki, d.b.n, fimosis (-)
Extremitas: superior / inferior d.b.n
Px. Rangsang meningeal: (-)
Px. Nn. Craniales: d.b.n
Tanda perdarahan: (-)

Assessment :
1. Kejang demam simpleks
2. Diare akut dehidrasi tak berat

1.1. HASIL KUNJUNGAN RUMAH
Kunjungan rumah pada tanggal 20 Februari 2012 pukul 16.30 WIB.
Alamat: Dempel Muktiharjo Semarang
1.1.1. Keadaan Rumah
Status rumah : rumah milik pribadi
Ukuran : 9 m x 7 m
Penghuni : 4 orang penghuni
Teras rumah : ada 1 sofa, lantai dari keramik, atap dari genting tertutup plafon, dinding
semen dicat, kebersihan cukup
Halaman depan : ditutupi paving block, kebersihan cukup
27

Ruang tamu : sofa dan meja, lantai keramik, dinding semen dicat, terdapat 2 jendela
Kamar 1 : 3 m x 3 m, ditempati ayah, ibu pasien, danpasien dan adik pasien tempat
tidur dari kapuk, lantai keramik, dinding semen tidak dicat, terdapat 2
jendela
Kamar 2 : 3 m x 3 m, tidak ditempati, diapakai buat menyimpan barang-barang, lantai
keramik, dinding semen tidak dicat, terdapat 2 jendela
Ruang keluarga : 3 m x 3 m, terdapat televisi, mesin jahit, mainan-mainan anak, lantai
keramik, dinding semen tidak dicat, tidak terdapat jendela
Kamar mandi : terdapat 1 kamar mandi, 2 m x 2 m, air ditampung dalam bak, sumber air
dari PAM, air bersih dan jernih, air dialirkan ke selokan depan rumah, kloset
jongkok, lantai keramik dan dinding dari semen, tidak terdapat jendela
Dapur : 3 m x 3 m, lantai keramik, dinding semen, terdapat banyak peralatan masak
& makan yang ditata kurang rapi, terdapat tirai yang membuka ke ruang
keluarga, terdapat 2 tempat sampah, sumber air masak dan minum dari
PAM
Atap rumah : dari genting, tanpa eternit
Pencahayaan : cukup
Sumber air : PAM
Tempat sampah : kurang memadai, jumlah 1, kecil, letak di dapur, dan dibiarkan terbuka.
Selokan : Bersih, mengalir lancar
Kesan : Rumah layak dihuni, ventilasi dan pencahayaan cukup, kebersihan dan
kerapian kurang terutama di kamar mandi, dan dapur

1.1.2. Kebiasaan sehari-hari
Asuh
Penderita tinggal bersama ayah, ibu, dan seorang adik yang masih berumur 11 bulan.
Ayah dan ibu merupakan lulusan SMA. Ayah bekerja sebagai buruh pabrik dan Ibu tidak
bekerja. Kedua anak diasuh oleh ibu setiap harinya.
Pasien sejak kecil diberi susu formula, ASI diberikan hanya sampai umur satu bulan
.Pasien makan 3 x sehari, kualitas dan kuantitas cukup. Makanan dan minuman direbus
dahulu sebelum dikonsumsi, memakai tudung saji dalam penyimpanan makanan. Alat
28

makan dicuci dengan air sumur dengan sabun. Keluarga jarang mencuci tangan sebelum
makan kecuali bila kotor. Pasien memiliki 2 botol susu yang selalu diganti dan dibersihkan
bila kotor. Penyajian susu formula dengan botol bersih dan direbus sampai mendidih..
Keluarga mandi 2 x sehari dengan air sumur dan sabun, pakaian kotor dicuci tiap
hari. Rumah disapu dan dipel 2 hari sekali. Tempat sampah 2 buah di dapur, tidak ada
tutupnya. Sampah kadang dibuang di halaman. Peralatan makan dan pakaian dicuci di kamar
mandi, dan tidak ditata.
Jika sakit keluarga pasien berobat ke praktek dokter umum dekat rumah. Imunisasi
rutin, dilakukan di Posyandu.
Asih
Kasih sayang terutama diberikan oleh ibu pasien. Ayah jarang mengajak bermain anak
dan hanya berinteraksi saat malam hari atau hari libur karena sibuk bekerja dari pagi hingga
sore. Pasien sering bersikap malu-malu terhadap orang asing.
Asah
Pasien sering bermain dengan 3-4 orang anak-anak tetangga yang seusia dengan pasien.
Mainan yang biasa dimainkan berupa mobil-mobilan, sepeda-sepedaan, dan menyusun
balok.



1.1.3. Lingkungan
Lokasi Rumah pasiien berdekatan antara rumah satu dengan lainnya. Jalan di depan
rumah dilapis aspal dan dapat dilalui 2 mobil. Hubungan dengan tetangga baik dan lingkungan di
sekitar rumah cukup bersih.










29





30

BAB III
PEMBAHASAN


DIARE AKUT DEHIDRASI TAK BERAT
A. DIAGNOSIS
Diare didefinisikan sebagai buang air besar pada bayi atau anak lebih dari tiga kali perhari
atau lebih dari biasanya, disertai perubahan konsistensi feses menjadi lembek atau cair dengan
atau tanpa lendir dan darah. Pada bayi yang masih minum ASI secara eksklusif untuk definisi
diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar atau konsistensinya menjadi cair yang
menurut ibunya abnormal atau tidak seperti biasanya dan dapat menyebabkan penurunan berat
badan pada bayi. Menurut etiologinya diare dibagi menjadi diare cair dan diare berdarah. Jika
berdasarkan pada lamanya diare maka dapat dibedakan menjadi diare akut dan diare persisten.
1,2
Diare cair akut adalah buang air besar lembek atau cair dan tanpa darah dengan frekuensi
lebih dari 3 kali atau lebih sering dari biasanya dalam 24 jam dan berlangsung kurang dari 14
hari.
1,2,3
Disentri merupakan diare akut yang pada tinjanya terlihat darah secara kasat mata. Darah
pada tinja yang hanya terlihat secara mikroskopis bukan merupakan diare berdarah. Diare
berdarah sering disebut sebagai sindroma disentri yaitu diare dengan darah dan lendir dalam
feses dan adanya tenesmus. Komplikasi dari disentri yang penting antara lain anoreksia,
penurunan berat badan dengan cepat, dan kerusakan mukosa usus. Penyebab utama disentri akut
adalah Shigella. Penyebab lain pada disentri akut adalah Campylobacter jejuni, E coli
enteroinvasife, Salmonella, Entamoeba hystolytica.
1,2,3
Diare persisten merupakan diare yang mula-mula bersifat akut tapi berlangsung lebih dari
14 hari, dapat berupa diare cair ataupun disentri. Diare persisten tidak boleh disamakan dengan
diare kronik, yakni diare intermiten (hilang timbul) atau diare yang berlangsung lama dengan
penyebab non infeksi seperti sensitif gluten atau gangguan metabolisme yang menurun.
1,2,3
Adanya keterbatasan sarana penunjang dalam menegakkan diagnosis, maka gejala klinis
merupakan petunjuk yang sangat diperlukan. Pada dasarnya gejala klinis diare dapat dibagi
menjadi 4 aspek yaitu :

31

1. Muntah dan berak
2. Aspek etiologi
3. Aspek dehidrasi
4. Aspek komplikasi

1. Muntah dan berak
Muntah dan berak merupakan gejala utama yang dapat menimbulkan gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit. Muntah akan menyebabkan bertambahnya pengeluaran
cairan tubuh dan bahkan mengurangi pemasukan cairan per oral. Hal ini akan mempercepat
terjadinya dehidrasi dan timbulnya asidosis.
4

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dapat diketahui tentang kualitas dan kuantitas tinja
seperti konsistensi, warna, disertai darah dan atau lendir, bau tinja, berbuih, jumlahnya dan
frekuensinya. Hal ini penting untuk menenukan jenis diare, kemungkinan penyebab dan derajat
dehidrasi
4


2. Aspek etiologik
Etiologi diare yang selama ini dapat disebabkan karena faktor makanan, faktor konstitusi,
faktor infeksi dan faktor psikis.
Faktor makanan merupakan penyebab diare non infeksi yang paling sering dikarenakan
makanan busuk atau mengandung racun, perubahan susunan makanan yang mendadak
atau susunan makanan yang tidak sesuai dengan umur bayi.
5,6

Faktor infeksi merupakan penyebab diare yang paling sering. Infeksi ini dapat berupa
infeksi parenteral maupun enteral. Infeksi parenteral merupakan infeksi diluar usus
seperti infeksi saluran nafas, infeksi saluran kencing, campak dll. Dimana infeksi ini
dapat mempengaruhi jalur susunan saraf vegetatif sehingga bermanifestasi sebagai diare
pada saluran cerna. Infeksi enteral merupakan infeksi yang berasal dari dalam usus, dapat
berupa infeksi virus (sebagian besar oleh rotavirus), infeksi bakteri (E.coli, shigella,
salmonella, vibrio cholerae,dll), dan infeksi parasit (protozoa, cacing) serta infeksi jamur
(candida). Virus menyebabkan 50% dari kasus diare pada anak berumur 6-24 bulan yang
datang berobat ke sarana pengobatan.
2,4

32

Rotavirus bekerja dengan cara merusak ujung villi-villi usus pada usus halus, sehingga
menyebabkan fungsi usus, yaitu fungsi digestif dan absorbsi terganggu. Ujung villi usus
halus memiliki fungsi digestif dengan menghasilkan enzim disakaridase, dan fungsi
absorbsi berupa transport air, elektrolit melalui transport asam amino dan glukosa co-
transport. Kerusakan pada villi ini menyebabkan absorbsi garam dan air berkurang,
ketidakseimbangan dalam rasio absorbsi-sekresi cairan intestinal, dan berkurangnya
aktivitas enzim disakaridase menyebabkan malabsorbsi karbohidrat kompleks, khususnya
laktosa.
3,4,5
Masa inkubasi infeksi rotavirus kurang dari 48 jam, rata-rata berlangsung 1-7 hari, dan
disertai demam subfebris, muntah, dan diikuti dengan diare cair yang sering. Gejala ini
muncul pada 50-60 % kasus.
Sedangkan untuk infeksi bakteri menyebabkan diare melalui beberapa mekanisme, yaitu
penempelan mukosa usus, pengeluaran toksin, dan invasi mukosa usus.
3,4

Faktor konstitusi merupakan kondisi saluran cerna yang akan dijumpai adanya intoleransi
laktosa, malabsorbsi lemak dan intoleransi protein. Malabsorbsi ini merupakan gangguan
transportasi mukosa yang abnormal yang disebabkan oleh satu atau lebih substansi
spesifik yang akan menyebabkan ekskresi feses dari nutrisi yang dicerna. Malabsorbsi
dapat terjadi pada penyakit gangguan pancreas, empedu dan gangguan usus (seperti
kerusakan mukosa usus, gangguan motilitas usus, perubahan ekologi bakteri usus,
tindakan post operatif usus). Di samping itu malabsorbsi dapat terjadi karena gangguan
metabolisme kongenital, malnutrisi, defisiensi imunitas dan faktor emosi.
4,5

Faktor psikis terutama pada saat depresi dan stres emosional melalui susunan saraf
vegetatif dapat mengganggu saluran cerna sehingga terjadi diare. Diare karena faktor
psikis jarang pada bayi dan anak kecil, sehingga kemungkinan diare karena faktor psikis
pada penderita ini dapat disingkirkan.
4,5,6


3. Aspek dehidrasi dan asidosis
Dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh terjadi bila cairan yang dikeluarkan melebihi
cairan yang masuk. Hal ini disebabkan oleh berak yang berlebihan, muntah, dan penguapan
karena demam. Pengeluaran cairan sangat dipengaruhi oleh jumlah, frekuensi, dan komposisi
elektrolit tinja penderita. Dehidrasi adalah keadaan yang paling berbahaya, karena dapat
33

menyebabkan penurunan volume darah (hipovolemia), kolaps kardiovaskuler dan kematian bila
tidak diterapi dengan tepat.
Berdasarkan jumlah cairan yang hilang, dehidrasi dibagi menjadi dehidrasi berat, tak
berat atau tanpa tanda dehidrasi bila ditemukan dua tanda atau lebih pada kriteria. Derajat
dehidrasi dapat ditentukan dengan melakukan anamnesis yang teliti tentang asupan peroral,
frekuensi miksi/urin, frekuensi serta volume tinja dan muntah yang keluar. Amati keadaan umum
dan aktivitas anak.
1

Kategori Tanda dan Gejala
Dehidrasi Berat Dua atau lebih tanda berikut :
Letargi atau penurunan kesadaran
Mata cowong
Tidak bisa minum atau malas minum
Cubitan kulit kembali dengan sangat lambat (2 detik)
Dehidrasi tak
berat
Dua atau lebih tanda berikut :
Gelisah
Mata cowong
Kehausan atau sangat haus
Cubitan kulit perut kembali dengan lambat
Tanpa gejala
dehidrasi
Tidak ada tanda gejala yang cukup untuk mengelompokkan dalam
dehidrasi berat atau tak berat

Pada saat diare, sejumlah besar bicarbonate dapat hilang melalui tinja. Bila ginjal
berfungsi normal, kehilangan bicarbonate dapat dikompensasi. Namun begitu, mekanisme
kompensasi ini dapat gagal bila fungsi ginjal menurun. Kekurangan bicarbonate menyebabkan
terjadinya asidosis akibat produksi asam laktat yang berlebihan ketika penderita mengalami syok
hipovolemik. Salah satu tanda dari asidosis metabolik adalah adanya nafas yang cepat dan dalam
(nafas Kuszmaul) yang membantu meningkatkan pH arteri dan mengakibatkan kompensasi
alkatoris respiratorik.
2,3,4



34



4. Aspek komplikasi
Sebagai akibat dari kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi
komplikasi karena dehidrasi dan asidosisnya antara lain adanya hipokalemia, kejang, syok, gagal
ginjal, dan malnutrisi.
5

Hipokalemia ditandai dengan adanya kelemahan otot secara umum, aritmia jantung dan
ileus paralitik.
5
Pada penderita ini, kadar kalium dalam plasma dalam batas normal dan perut
tidak kembung sebagai salah satu manifestasi dari ileus paralitik. Sehingga pada penderita ini
tidak didapatkan keadaan hipokalemia.
Kejang karena gangguan elektrolit ditandai dengan kadar natrium plasma yang tinggi
atau kadar natrium plasma yang rendah. Pada penderita ini, kadar natrium plasma dalam batas
normal, sehingga kejang karena gangguan elektrolit dapat disingkirkan.
Dalam perjalanannya, syok ditandai dengan takikardi, isi dan tegangan nadi kecil,
oliguria, akral dingin dan ekstremitas yang pucat. Pada penderita ini, tidak didapatkan takikardi,
isi dan tegangan nadi cukup, akral dingin (-) dan tidak ada ekstremitas yang pucat. Sehingga
komplikasi terjadinya syok pada penderita ini dapat disingkirkan.



Gejala Khas Diare Akut Oleh Berbagai Penyebab
3
Gejala Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Cholera
Inkubasi
Panas
Mualmuntah
Nyeri perut

Nyeri kepala
Lama sakit
Sifat tinja
Volume
17-72jam
+
Sering
-

-
5-7hari

Sedang
24-48jam
++
Jarang
Tenesmus
Kram
+
>7hari

Sedikit
6-72jam
++
Sering
Tenesmus
Kolik
+
3-7hari

Sedikit
6-72jam
-
+
-

-
2-3 hari

Banyak
6-72jam
++
-
Tenesmus
Kram
-
Variasi

Sedikit
48-72jam
-
Sering
Kram

-
3 hari

Banyak
35

Frekuensi
Konsistensi
Darah
Bau
Warna

Leukosit
Lain2
5-10/hari
Cair
-
Langu
Kuning

-
anoreksia
>10x/hari
Lembek
Sering

Merah-
hijau
+
Kejang
Sering
Lembek
Kadang
Busuk
Kehijauan

+
Sepsis
Sering
Cair
-
+
Tak
bewarna
-
Kembung
Sering
Lembek
+
-
Merah
hijau

Infeksi
sistemik
Kontinu
Cair
-
Amis
Cucian
beras
-


B. PENGELOLAAN

Dasar pengelolaan diare yang dipakai adalah rumusan lima pilar penatalaksanaan diare,
yaitu :
1,2,3

Rehidrasi dengan menggunakan oralit baru.
Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut.
Dukungan nutrisi.
Antibiotik selektif.
Edukasi kepada orang tua.

1. Rehidrasi dengan menggunakan cairan oralit baru
Tujuan dalam mengelola dehidrasi yang disebabkan diare adalah untuk mengoreksi
kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat dan kemudian mengganti cairan yang hilang
sampai diarenya berhenti. Kehilangan cairan dapat diganti baik secara oral maupun parenteral.
Rehidrasi dengan oralit baru dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Berikan segera
bila anak diare/muntah, untu mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit formula lama
dikembangkan dari kejadian luar biasa yang disebabkan oleh kolera yang menyebabkan lebih
banyak elektrolit tubuh terutama Natrium. Sedangkan diare yang lebih banyak terjadi akhir-akhir
ini dengan tingkat sanitasi yang lebih baik disebabkan oleh virus. Diare karena virus tidak
mnyebabkan kekurangan elektrolit seberat pada kolera. Karena itu,para ahli diare
36

mengembangkan formula baru supaya lebih mendekati osmolaritas plasme, sehingga kurang
menyebabkan resiko hipernatremi.
1,2,3

Oralit baru dengan osmolaritas yang rendah ini juga menurunkan kebutuhan suplementasi
intravena dan mampu mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian
muntah hingga 30%.
1,3


Komposisi oralit baru
Oralit Baru Osmolaritas Rendah mmol/liter
Natrium 75
Klorida 65
Glukosa, anhydrous 75
Kalium 20
Sitrat 10
Total osmolaritas 245

Ketentuan pemberian oralit formula baru :
3

a) Berikan ibu 2 bungkus oralit formula baru.
b) Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang untuk persediaan 24 jam.
c) Berikan oralit pada anak setap kali buang air besar dengan ketentuan :
- Untuk anak berumur < 2 tahun : berikan 50 100 ml tiap kali BAB/muntah.
- Untuk anak 2 tahun atau lebih : berikan 100 200 ml tiap BAB/muntah.
d) Bila dalam 24 jam persediaan oralit masih tersisa, maka sisa larutan harus dibuang.

Pada diare akut dehidrasi tak berat, dilakukan rencana terapi B. Beri oralit di klinik sesuai yang
dianjurkan selama periode 4 jam pertama.
1,7


Jumlah oralit yang diberikan dalam 4 jam pertama
Umur* < 4 bulan 4-12 bulan 12-24 bulan 2-5 tahun
Berat Badan < 6 kg 6-<10 kg 10-< 12 kg 12-19 kg
Dalam ml 200-400 400-700 700-900 900-1400
* digunakan umur bila berat badan anak tidak diketahui
37

Jika anak minta minum lagi, berikan.
Tunjukkan pada orang tua bagaimana cara memberikan rehidrasi oral.
Berikan minum sedikit demi sedikit. Jika anak muntah, tunggi 10 menit lalu lanjutkan
kembali rehidrasi oral pelan-pelan. Lanjutkan ASI kapanpun anak minta.
Setelah 4 jam :
Nilai ulang derajat dehidrasi anak. Tentukan tatalaksana yang tepat untuk melanjutkan
terapi. Mulai beri makan pada anak di klinik.
Bila ibu harus pulang sebelum selesai rehidrasi oral :
Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam terapi 3 jam di rumah. Berikan
rehidrasi oralit untuk rehidrasi selama 2 hari lagi seperti dalam rencana terapi A. Jelaskan
4 cara untuk mengobati anak di rumah : berikan anak lebih banyak minum, berikan tablet
zinc, berikan makanan, kapan harus kembali.

Bila sudah tidak ada dehidrasi, ganti ke rencana A, untuk kasus diare akut tanpa tanda dehidrasi,
(dapat dilakukan di rumah),
1,7
yaitu :
- Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi.
Pada bayi muda, beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap pemberian. Jika anak
masih mendapat ASI eksklusif maka beri oralit atau air matang sebagai tambahan. Jika anak
tidak mendapat ASI eksklusif maka berikan cairan oralit, cairan makanan (sup, air tajin,
kuah sayur) atau air matang. Cairan tetap diberikan sampai diare berhenti.
- Beri tablet Zinc.
- Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi.
- Bawa anak kepada petugas kesehatan bila : buang air besar lebih sering dan cair, muntah
terus menerus, rasa haus yang nyata, makan dan minum sedikit, demam, tinja berdarah.
- Anak harus mendapat oralit di rumah bila anak telah diobati dengan rencana terapi B atau C
daam kunjungan ini atau anak tidak dapat kembali ke klinik saat diarenya bertambah parah.

Rumus Darrow
Berat Badan (kg) Kebutuhan cairan ml/hari
< 10 kg 100 ml/kg
11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kg untuk tiap kg sisanya
38

> 20 kg 1500 ml + 20 ml/kg tuntuk tiap kg sisanya

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
Zinc mengurangi lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan
anak. Zinc merupakan mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang
optimal. Meskipun dalam jumlah yang sangat kecil, dari segi fisiologi zinc berperan untuk
pertumbuhan dan pembelahan sel, antioksidan, perkembangan seksual, ketebalan seluler,
adaptasi gelap, pengecapan seta nafsu makan. Zinc juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh
dan merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi.
1,3,7

Pemberian zinc dapat meningkatkan absorbsi air dan elektrolit oleh usus halus,
meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus dan meningkatkan respon imun yang
mempercepat pembersihan patogen dari usus halus. Pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi
dan volume buang air besar sehingga dapat menurunkan resiko terjadinya dehidrasi pada
anak.
1,3,7

Dosis zinc untuk anak-anak, di bawah umur 6 bulan diberikan 10 mg ( tablet) perhari,
sedangkan anak di atas usia 6 bulan diberikan 20 mg (1 tablet) perhari. Zinc diberikan selama
10-24 hari meskipun anak telah sembuh dari diare. Pada pasien ini berumur 7 bulan 3 minggu,
sehingga diberikan 20 mg zinc / 1 tablet Zinc.
1,3

3. Dukungan Nutrisi
ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap diberikan
untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Adanya
perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan.
1,2,3

4. Antibiotik selektif
Antibiotik tida diberikan pada kasus diare cair akut kecuali dengan indikasi yaitu pada diare
berdarah atau kolera. Pemberian antibiotik yang tidak rasional justru akan memperpanjang
lamanya diare karena akan mengganggu keseimbangan flora usus. Selain itu pemberian
antibiotik yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotik serta
menambah biaya pengobatan yang tidak perlu.
1,2,3

5. Edukasi kepada orang tua
39

Nasihat kepada ibu atau pengasuh yaitu kembali segera jika anak demam, tinja berdarah,
nafsu makan atau minum sedikit sangat haus, diare makin sering atau belum membaik dalam
3 hari.
1,2,3

Juga diberikan edukasi lainnya, seperti :
a. Membiasakan mencuci tangan, sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak,
sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan sebelum memberi makan anak
b. Menganjurkan tetap memberikan makanan dan minuman yang biasanya diberikan kepada
anak, jangan menguranginya, walaupun saat mencret, sehingga anak tidak kekurangan
kalori. Berikan dengan porsi yang kecil tapi sering.
c. Memberikan oralit apabila anak diare, bila tidak ada oralit ibu bisa menggunakan air gula
garam atau cairan rumah tangga yang lain seperti sup, air tajin. Minumkan oralit dengan
gelas, bila anak bisa atau disendokkan 1 sendok teh tiap menit, sampai habis 100 cc.
Berikan larutan sebanyak anak mau. Bila anak muntah, dihentikan 10 menit kemudian
dilanjutkan kembali.
d. Meminta ibu untuk tetap memberikan ASI semau anak
e. Memperbaiki cara penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI (untuk
mengurangi perkembangbiakan bakteri)
f. Selalu menggunakan air bersih untuk minum, memasak atau mendidihkan makanan
dengan benar dan menyiapkan makanan sesaat sebelum makanan dimakan
g. Memberikan makanan kepada anak dengan sendok yang bersih dari cangkir atau dengan
dot yang direbus terlebih dahulu.
h. Mencuci makanan yang tidak dimasak dengan air bersih sebelum diberikan kepada bayi,
kecuali adalah buah yang dikupas sebelum dimakan seperti pisang. Anak dapat diberikan
sari buah segar, air kelapa atau pisang untuk menambah kalium, jika anak mau.
i. Menjelaskan pada ibu mengenai tanda-tanda dehidrasi (tampak kehausan, mata cekung,
bibir kering, kencing berkurang/tidak kencing), sehingga bila tampak tanda-tanda tersebut
agar segera melapor ke petugas kesehatan (dokter).




40

C. PENCEGAHAN
Pencegahan merupakan fase yang tidak kalah penting dalam penanganan diare. Usaha-
usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian diare mendatang antara lain dengan:
1. Mencegah penyebaran patogen penyebab diare
Kuman-kuman penyebab diare pada umumnya disebarkan melalui fecal-oral
Pemutusan rantai penularan diare difokuskan pada cara penyebarannya. Upaya yang
dapat dilakukan :
Pemberian ASI yang benar
Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan untuk anak dan keluarga
Penggunaan air bersih yang cukup
Membudayakan mencuci tangan dengan menggunakan sabun setelah buang
air besar dan sebelum makan
Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
2. Memperbaiki daya tahan tubuh penjamu (host)
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan
dapat mengurangi risiko diare antara lain :
Tetap memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun
Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi makan
dalam jumlah cukup untuk memperbaiki status gizi anak.

Observasi Kejang
Kejang merupakan perubahan aktivitas motorik dan / atau tingkah laku sesaat yang
disebabkan oleh abnormalitas aktivitas elektrik otak.
1
Sumber lain menyebutkan bahwa
kelainan di neuromuscular junctionseperti tetanus juga digolongkan sebagaikejang.
3

Kejang yang berasal dari proses serebral dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab
seperti demam tinggi, infeksi susunan saraf pusat, gangguan metabolik, trauma kepala, atau
abnormalitas struktural.
10-20
Kurang dari sepertiga kejang pada anak disebabkan oleh
epilepsi, kelainan akut yang menimbulkan kejang berulang dengan pencetus dari dalam
otak.
10,12
Jika diringkas, diagnosis banding dari observasi kejang adalah sebagai berikut:
41


Gambar 11. Bagan diagnosis banding observasi kejang

Diagnosis kejang demam pada dasarnya dapat ditegakkan atas dasar gejala klinis.
4

Oleh karena itu, pada kasus ini, penyingkiran diagnosis banding kejang karena penyebab
yang lain didasarkan pada data anamnesis dan pemeriksaan fisik saja. Data anamnesis
pasien tidak sadar saat kejang memberi petunjuk bahwa proses kejang yang terjadi adalah
proses serebral.
14
Tidak adanya penurunan kesadaran, nyeri kepala, kelainan saraf otak,
maupun perubahan tingkah laku sebelum kejang dapat menyingkirkan kecurigaan adanya
infeksi susunan saraf pusat.
3
Hal ini dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik tidak
didapatkannya tanda-tanda rangsang meningeal.
3,4
Diagnosis pasti infeksi susunan saraf
pusat, khususnya meningitis, dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinalis
yang diambil dari pungsi lumbal.
3
Akan tetapi, dalam kasus ini tidak dilakukan pungsi
lumbal karena pemeriksaan tersebut tidak perlu dilakukan pada anak berusia > 18 bulan
yang secara klinis tidak menunjukkan gejala meningitis.
4

Gangguan metabolik yang dapat menyebabkan maupun memicu terjadinya kejang
antara lain adalah hipoglikemia, intoksikasi obat atau toksin tertentu, serta gangguan
elektrolit seperti hiponatremia, hipernatremia, hipokalsemia, dan hipomagnesemia.
11,12,20

Hipoglikemia dapat disingkirkan karena pemeriksaan gula darah sewaktu pada pasien
menunjukkan nilai dalam batas normal. Sedangkan intoksikasi obat atau toksin tertentu
disingkirkan dengan tidak ditemukannya riwayat minum obat-obatanjangka panjang dan
Kejang
Cerebral
Akut
sesaat
Infeksi
Ekstrakranial
Kejang demam
simpleks
Kejang demam
kompleks Intrakranial
Gangguan metabolik
Trauma kepala
Abnormalitas struktural
Akut berulang Epilepsi
Noncerebral
42

riwayat keracunan bahan kimia.
21
Hasil pemeriksaan elektrolit darah pada pasien tidak
menunjukkan adanya hipernatremia, hiponatremia maupun hipokalsemia, sehingga
diagnosis keduanya dapat disingkirkan.
12

Trauma kepala dapat disingkirkan dengan tidak adanya riwayat trauma kepala pada
penderita. Hal ini ditunjang dengan tidak ditemukannya tanda-tanda penurunan kesadaran,
rangsang meningeal, maupun peningkatan tekanan intrakranial (nyeri kepala, muntah,
kepala membesar, ubun-ubun besar membonjol, pupil anisokor, perubahan tanda vital).
2

Abnormalitas struktural yang dapat menyebabkan kejang antara lain adalah
malformasi serebral kongenital, stroke, atau adanya massa intrakranial. Kelainan-kelainan
ini merupakan etiologi kejang yang jarang ditemukan. Beberapa gejala dan tanda yang
sesuai dengan kelainan-kelainan tersebut antara lain adalah wajah dismorfik, lingkar kepala
kecil, gangguan perkembangan, penurunan kesadaran, tanda-tanda peningkatan tekanan
intrakranial, kelumpuhan atau kelemahan bagian tubuh tertentu, serta refleks abnormal.
2,3

Tidak ditemukannya gejala dan tanda tersebut di atas merupakan petunjuk tidak adanya
abnormalitas struktural pada pasien.
Kejang pada epilepsi ditandai dengan berulanganya kejang 2 kali tanpa adanya
pencetus dalam interval lebih dari 24 jam.
11
Tanda, gejala, dan tipe kejang pada epilepsi
dapat bervariasi, tergantung lokasi abnormalitas aktivitas elektrik yang terjadi pada
otak.
11,12
Gejala-gejala yang dapat ditemui pada berbagai jenis epilepsi antara lain adalah
kejang pada pagi hari atau sesaat sebelum tidur, adanya aura, suatu gejala khas seperti
perubahan mood, perubahan tingkah laku, atau nyeri kepala, yang muncul sebelum kejang,
adanya gangguan perkembangan, perubahan kepribadian, atau gangguan intelektual yang
berkepanjangan, serta ada riwayat keluarga menderita epilepsi.
1,2
Pasien pada kasus ini
tidak dapat dikatakan menderita epilepsi karena diperkirakan kejang yang terjadi adalah
akibat demam dan diperoleh data anamnesis yang tidak mendukung ke arah epilepsi. Akan
tetapi, diagnosis banding epilepsi belum bisa disingkirkan karena diagnosis epilepsi
biasanya ditetapkan dengan memperhatikan hasil pemeriksaan EEG dan pencitraan otak.
1
Dari uraian di atas, tampak bahwa diagnosis banding observasi kejang dapat
bermacam-macam. Pada kasus ini, penegakkan diagnosis kejang demam simpleks dinilai
secara klinis. Oleh karena dari data anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan
43

penunjang yang dilakukan tidak mengarah ke diagnosis banding yang lain, maka
diagnosis-diagnosis banding observasi kejang tersebut disingkirkan.


Kejang demam simpleks
Kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38
o
C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium.
2,3,4
Berdasarkan definisi tersebut, diagnosis kejang demam sulit ditegakkan
karena suhu tubuh anak saat kejang tidak diukur. Akan tetapi, dari data anamnesis
diperoleh keterangan bahwa anak mengalami demam sebelum kejang.
Sedangkan untuk menegakkan proses ekstrakranium sebagai penyebab kenaikan
suhu tubuh, diperoleh adanya gejala dan tanda yang mengarah ke infeksi gastrointestinal
yaitu diare akut dehidrasi tak berat. Demam dapat menimbulkan kejang akibat terjadi
perubahan potensial membran dan menurunkan fungsi inhibisi sehingga menurunkan nilai
ambang kejang.
3

Gambaran klinis pada kejang demam yang biasanya sering ditemui antara lain
adalah kejang muncul pada awal serangan demam, kejang biasanya diawali dengan
kenaikan suhu tubuh yang mendadak, dan tipe kejang seluruh tubuh, tonik klonik,
berlangsung beberapa detik sampai 15 menit, diikuti dengan kondisi post-ictal tampak
lemas.
7
Kejang tonik ditandai dengan adanya peningkatan tonus atau keakuan otot,
sedangkan klonik ditandai dengan kontraksi dan relaksasi otot secara ritmik (Gambar
4).
1
Gejala-gejala tersebut sesuai dengan gejala pada pasien yang ditemukan dari
anamnesis.
44


Gambar 8. Gambaran kejang tonik klonik

Kejang demam digolongkan sebagai kejang demam kompleks bila memenuhi salah
satu kriteria, yaitu: kejang lama >15 menit, kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang
umum didahuli kejang parsial, dan kejang berulang lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
4,5

Dengan demikian, kejang demam dalam kasus ini tidak digolongkan sebagai kejang
demam kompleks karena tidak memenuhi salah satu kriteria di atas sehingga kejang
demam dalam kasus ini dapat digolongkan sebagai kejang demam simpleks.
Beberapa faktor risiko terjadinya kejang demam antara lain adalah: usia 6 bulan 5
tahun, riwayat keluarga pernah mengalami kejang demam, riwayat adanya penyulit
kehamilan dan persalinan, gangguan perkembangan otak, sering menderita infeksi, serta
kadar elektrolit darah (Na
+
, Ca
2+
, Cl
-
) rendah.
3,6,7
Pasien pada kasus ini memiliki 1 faktor
risiko tersebut, yaitu usia 2 tahun 5 bulan dan sedang menderita infeksi saluran cerna yaitu
diare.
Sedangkan mengenai kejang demam kompleks, beberapa faktor risiko yang terkait
antara lain adalah usia di bawah 15 bulan, berat badan lahir di bawah 2 kg, dan suhu saat
kejang di bawah 38
o
C.
7
Ketiga faktor risiko tersebut tidak ditemukan pada pasien ini.
Oleh karena memenuhi kriteria diagnosis kejang demam simpleks, ditemukan
adanya gejala dan tanda klinis sesuai dari data anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun
45

pemeriksaan penunjang, maka ditetapkan diagnosis kerja pada pasien ini adalah kejang
demam simpleks.





























46

PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF DAN HOLISTIK

Sesuai dengan prinsip pengelolaan pasien secara komprehensif dan holistik, maka pada
pasien tidak hanya diperhatikan dari segi kuratifnya saja, tetapi juga meliputi upaya promotif,
preventif, rehabilitatif dan psikososial. Upaya promotif dan preventif dilakukan agar anak tidak,
sedang upaya kuratif dan rehabilitatif dilakukan agar anak sembuh dan tidak cacat atau kembali
pada lingkungannya semula dengan memperhatikan faktor psikososial anak.

1. Kuratif
Adalah upaya untuk mendiagnosis seawal mungkin dan mengobati secara tepat dan
rasional terhadap individu yang terserang penyakit. Upaya kuratif yang dilakukan pada
penderita ini meliputi:
a. Terapi Suportif:
- Kecukupan kebutuhan cairan dan elektrolit
Infus RL 75cc/kgbb/4jam untuk mengatasi dehidrasi, setelah dehidrasi
teratasi dilanjutkan dengan pemberian cairan rumatan infus 2A N
480/20/5 tetes per menit
Oralit sachet 50 - 100 cc tiap kali muntah atau mencret
- Atasi demam
Parasetamol syrup 3-4 x 60 mg (bila t 38
0
C)
b. Medikamentosa
Dalam penanggulangan diare akut dehidrasi tak berat, perlu diperhatikan 5 faktor,
yaitu rehidrasi, nutrisi, pemberian Zinc sulfat, antibiotik selektif dan edukasi pada
orang tua.
Untuk mempercepat masa sakit diare, mencegah diare berulang :
Selama di RSDK diberikan Zinc Sulfat 1 x 10 mg
c. Dietetik
Kebutuhan cairan pada penderita diare akut dehidrasi tak berat memerlukan
koreksi cairan untuk mengembalikan kondisi sampai sebelum terjadi dehidrasi.
Pada kasus ini, kebutuhan cairan 24 jam

47

Cairan (cc) Kalori (kkal) Protein (gr)
Kebutuhan 24 jam 1150 1300 15,99
Infus 2A NS
3 x diet biasa
3 x diet susu
480
600
600
81,6

1336,92
-

48,5
Jumlah Total 1680 1448,52 48,5
AKG (%) 146% 111% 303%

2. Preventif
Adalah usaha-usaha untuk mencegah timbulnya suatu penyakit dan mencegah
terjangkitnya penyakit tersebut. Ada tiga tingkat upaya pencegahan yang dapat dilakukan
yaitu pencegahan primer, sekunder dan tertier. Pencegahan primer merupakan tingkat
pencegahan awal untuk menghindari atau mengatasi faktor resiko. Pencegahan sekunder
untuk deteksi dini penyakit sebelum penyakit menimbulkan gejala yang khas. Pencegahan
tertier dengan melakukan tindakan klinis untuk mencegah kerusakan lebih lanjut atau
mengurangi komplikasi setelah penyakit tersebut diketahui.
Terdapat beberapa upaya preventif yang perlu diedukasikan kepada orangtua
mengenai diare akut dehidrasi tak berat, yaitu:
1. Membiasakan mencuci tangan, sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja
anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, dan sebelum memberi
makan anak
2. Memberikan makanan kepada anak dengan sendok yang bersih dari cangkir atau
dengan dot yang direbus terlebih dahulu.
3. Bila anak diare :
- Menganjurkan tetap memberikan makanan dan minuman yang biasanya
diberikan kepada anak, jangan menguranginya, walaupun saat mencret,
sehingga anak tidak kekurangan kalori. Berikan dengan porsi yang kecil tapi
sering.
- Memberikan oralit apabila anak diare, bila tidak ada oralit ibu bisa
menggunakan air gula garam atau cairan rumah tangga yang lain seperti sup,
air tajin. Minumkan oralit dengan gelas, bila anak bisa atau disendokkan 1
48

sendok teh tiap menit, sampai habis 100 cc. Berikan larutan sebanyak anak
mau. Bila anak muntah, dihentikan 10 menit kemudian dilanjutkan kembali.
- Meminta ibu untuk tetap memberikan ASI semau anak
- Menjelaskan pada ibu mengenai tanda-tanda dehidrasi (tampak kehausan,
mata cekung, bibir kering, kencing berkurang/tidak kencing), sehingga bila
tampak tanda-tanda tersebut agar segera melapor ke petugas kesehatan
(dokter).



3. Promotif
Adalah upaya penyuluhan yang bertujuan untuk merubah kebiasaan yang kurang baik
dalam masyarakat agar berperilaku sehat dan ikut serta berperan aktif dalam bidang
kesehatan. Dalam kasus ini, upaya promotif yang dapat dilakukan yaitu:
1. Pengetahuan tentang diare akut
Diare merupakan peristiwa yang mengkhawatirkan bagi orangtua. Pada saat diare,
orang tua khawatir karena pola defekasi dan konsistensi faeses anak yang berubah.
Hal ini dapat diubah dengan pengetahuan penyebab diare, penanganan diare di
rumah, dan hal hal yang dilakukan untuk mencegah terjadinya diare. Hal ini dapat
dilakukan dengan edukasi kepada keluarga, penyuluhan atau media massa, seperti
poster, atau brosur.
2. Pengetahuan mengenai Imunisasi
Masyarakat memerlukan pentingnya imunisasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga mencegah infeksi penyakit tertentu,
tidak bermanifestasi menjadi berat (tidak cacat dan meninggal). Imunisasi yang tidak
sesuai umur dapat dilanjutkan sesuai jadwal.
3. Mencukupi kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang yang meliputi:
o Asuh: memenuhi kebutuhan dasar (pangan, papan, perawatan kesehatan dasar,
pengobatan yang layak) dan memenuhi kebutuhan tambahan (bermain).
49

o Asih: memberi rasa aman dan nyaman, dilindungi dan diperhatikan (minat,
keinginan dan pendapat anak), diberi contoh (bukan dipaksa), dibantu, diberi
dorongan, dihargai, penuh kegembiraan serta koreksi (bukan ancaman/ hukuman)
o Asah: memberikan stimulasi emosional-sosial, kognitif, kreativitas, kemandirian,
kepemimpinan moral dan mental.

4. Rehabilitatif
Adalah upaya untuk menolong atau membantu anak terhadap ketidakmampuannya
dengan berbagai usaha, agar anak sedapat mungkin kembali pada lingkungannya baik
lingkungan sosial maupun keluarga. Untuk menjaga anak tetap sehat, maka orang tua
diberitahu untuk:
- Menjaga kualitas dan kuantitas gizi anak sehari-hari di rumah, yaitu memberikan
makanan dengan gizi seimbang agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi dengan
baik dan anak memiliki daya tahan tubuh yang baik pula sehingga tidak mudah
terserang penyakit infeksi yang mengakibatkan diare akut.

5. Psikososial
Aspek psikososial adalah aspek yang berkaitan dengan emosi, sikap, pengetahuan,
perilaku, keterampilan, nilai-nilai sosial budaya, kepercayaan, dan adat istiadat
dilingkungan sekitar anak. Meliputi mikrosistem, mesosistem, eksosistem dan
makrosistem.
Mikrosistem meliputi interaksi anak dengan ibunya atau pengasuhnya. Ibu /
pengasuh berperan dalam pendidikan, gizi, imunisasi, dan pengobatan sederhana pada
anak. Ibu adalah orang pertama di rumah yang memegang peranan penting terhadap
proses tumbuh kembang anak dan perawatan anak ketika anak sakit. Rendahnya
pengetahuan ibu tentang kesehatan juga mempengaruhi sikap yang diambil ketika anak
sakit, seperti usaha mengobati sendiri. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan yang kurang
juga menyebabkan kurangnya perhatian terhadap makanan dan tumbuh kembang anak.
Mesosistem meliputi interaksi anak dengan anggota keluarga lain, lingkungan,
tetangga, keadaan rumah dan suasana rumah dimana anak tinggal.
- Interaksi sesama anggota keluarga
50

Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien adalah ayah, ibu, pakde, bude, dan
tantenya. Anggota keluarga yang biasanya menemani bermain bersama pasien
adalah ibu. Anak dilatih sejak dini, untuk menghormati saudara dan ayah ibunya,
seperti panggilan dan perilaku yang sopan, sehingga tercipta suasana yang
kondusif di lingkungan rumah, untuk tumbuh kembang anak yang optimal.
- Mengedukasikan orangtua untuk mulai memperkenalkan anak dengan teman
teman sebayanya di lingkungan tempat tinggal.
Eksosistem merupakan lingkungan yang meliputi wilayah yang lebih luas.
Meliputi kebijaksanaan pemerintah daerah maupun informasi yang bisa diperoleh seperti
dari surat kabar maupun televisi. Pada kasus ini kurangnya akses tentang pengetahuan
pentingnya mencegah infeksi, penanganan diare akut, dan keterlambatan dalam
penanganan.
Makrosistem yaitu berkaitan dengan kebijakan pemerintah, sosial budaya
masyarakat, dan lembaga non pemerintahan yang ikut andil dalam usaha tumbuh
kembang anak yang optimal.
- Ibu secara rutin dan teratur memeriksakan kesehatan dan memantau perkembangan
anaknya di Puskesmas yang diadakan tiap bulan. Serta terus mengikuti program
imunisasi yang dianjurkan pemerintah.
- Keluarga mampu mengenalkan dan mengajarkan anak mengenai sosial budaya dan
norma yang berlaku di masyarakat.
- Pentingnya pemerintah memperhatikan tata kota dan daerah pemukiman penduduk,
guna meningkatkan kesehatan warga dan mencegah penyakit menular. Rumah pasien
berada di daerah rumah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.
PROGNOSIS
Prognosis penderita diare akut dehidrasi tak berat pada umumnya baik, bila rehidrasi
berhasil serta ditunjang dengan refeeding dan penanganan faktor penyebab, sehingga diare akut
tidak menjadi diare yang berkelanjutan.
Prognosis dari kasus ini untuk kehidupan (quo ad vitam) adalah baik (ad bonam),
prognosis untuk kesembuhan (quo ad sanam) adalah baik (ad bonam) dengan syarat menjaga
higienitas mulai dari cara menyiapkan makanan sampai higienitas dalam kebiasaan berperilaku
sehari-harinya, dan prognosis untuk fungsionalnya (quo ad fungsionam) adalah baik (ad bonam).
51

DAFTAR PUSTAKA

1. Juffrie M, Mulyani NS. Modul Pelatihan Diare UKK Gastro-Hepatologi IDAI;2009
2. Sudigbia I. Pengantar Diare Akut Anak. Semarang: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro; 1991: 1- 63.
3. Subagyo B, Santoso NB. Diare Akut. In: Juffrie M, Soenarto Sri SY, Oswari Y, Arief S,
Rosalina I, Mulyani N, editors. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI, 2010; p. 87-115.
4. Noerasid H, Suraatmadja S, Asnil PO. Gastroenteritis (Diare) Akut. In: Suharyono,
Boediarso A, Halimun EM, editors. Gastroenterologi Anak Praktis. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003; p. 51-76.
5. Buku Ajar Diare. Depkes RI Ditjen PPM dan PLP. Jakarta : Depkes RI, 1999 ; 3, 2572; 8,
121 136.
6. Markum A.H. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI; 1991: 445
8.
7. Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik. Pedoman Pelayanan
Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI, 2008. P. 131-155.
8. Sudigbia I, Santoso B, Hartantyo. Diare akut. Dalam : Pedoman pelayanan medik anak
RSDK/FK UNDIP. Semarang: Laboratorium ilmu kesehatan anak FK UNDIP, 1989:179-202
9. Kleinman RE. Pediatrics Nutrition Handbook. 4
th
ed. Committee on Nutrition. American
Academy of Pediatrics. Illnois. 1998 : 125 -37, 351 61
10. Waterlow JC. Effects of PEM on structure and function of organ. In : Protein energy
malnutrition. London : Edward Arnold, 1992 : 54 74 ; 290 310.

11. Kliegman MR, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, editors. Nelson textbook of
pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Saunders; 2007. p. 2457-75.
12. Soetomenggolo TS, Ismael S. Buku ajar neurologi anak. Jakarta: IDAI; 1999.
13. Bahtera T. Kejang demam. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Semarang; 2009.
52

14. Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S, editors. Konsensus penanganan kejang demam.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2005.
15. Lumbantobing SM. Kejang demam (febrile convulsions). Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2002.
16. Wolf P, Shinnar S. Febrile seizures. In: Maria BL, editor. Current management in child
neurology. 3
rd
ed. Ontario: BC Decker Inc; 2005.
17. Sadleir LG, Scheffer IE. Febrile seizures. BMJ. 2007;334(7588):307-11.
18. Farrell K, Goldman RD. The management of febrile seizures. BC Medical Journal.
2011;53(6).
19. Wong V, et al. Clinical guideline on management of febrile convulsion. HK J Paediatr.
2002;7:143-151.
20. Chungath M, Shorvon S. The mortality and morbidity of febrile seizures. Nature clinical
practice neurology. 2008;4(11):610-21.