Pemeriksaan makroskopik

Paru-paru mungkin masih tersembunyi dibelakang kandung jantung atau telah mengisi
rongga dada. Osbron (1953) menemukan pda 75% kasus, ternyata paru-paru telah mengisi
rongga dada, baik pada bayi lahir mati maupn bayi lahir hidup. Paru-paru berwarna kelabu ungu
merata seperti hati, konsistensi padat, tidak teraba derik udara dan pleura yang longgar (slack
pleura). Berat paru kita 1/70 berat badan.
Uji apung paru
Uji ini harus dilakukan dengan tekhnik tanpa sentuh, paru-paru tidak disentuh untuk
menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada sedian histopatologik jaringan paru akibat
manupulsi berlebihan. Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah
dijepit dengan pinset atau klem, kemudian ditarik kebawah ventrokaudal sehingga tampak
palatum mole. Pengeluaran organ lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau pinset bedah
dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian esophagus di ikat diats diafragma
dan dipotong diatas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara tidak masuk kedalam
lambung dan uji apung paru tidak memberikan hasil yang meragukan.
Setelah smua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukan kedalam air
dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan
dan dimasukan kembali didalam air, dan lihat apakah mengapung atau tidak, setelah itu tiap
lobus dipisahkan dan dimasukan kedalam air, lalu lihat apakah mengapum atau tenggelam, 5
potong kecil dari bagian parifer tiap lobus dimasukan kedalam air dan diperhatikan apakah
mengapung atau tenggelam.
Hingga tahap ini paru-paru bayi lahir mati masih dapt mengapung oleh karena
kemungkinan adanya gas pembusukan, bila potongan kecil itu masih mengapung lerakan
diantara 2 karton dan ditekan (dengan arah tekanan yang tegak lurus, jangan bergeser) untuk
mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan intertisial paru, lalu masukan
kembali kedalam air, bila masih mengapung berarti paru tersebut berisi udara residu yang tidak
akan keluar.
Kadang-kadang dengan penekanan dinding alveoli pada mayat bayi yang telah
membusuk lanjut akan pecah juga dan udara residu keluar dan memperlihatkan hasil uji apung
paru negative.
Hasil negative belum tentu berarti bayi lahir mati karena adanya kemungkinan bayi lahir
hidup tapi kemudian berhenti bernafas walaupun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam
alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negative ini , pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan
untuk memastikan bayi lahir mati atau lahir hidup. Hasil uji apung paru positif berarti pasti lahir
hidup.
Mikroskopik paru-paru. Setelah paru-paru dikeluarkan dengan tekhnik tanpa sentuh, dilakukan
fiksasi dengan larutan formalin 10% sesudah 12 jam, dibuat irisan-irisan melintang untuk
memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik kedalam paru. Setelah di fiksasi 48 jam,
kemudian dibuat sedian histopatologik. Biasanya digunakan pewarnaan HE dan bila paru telha
membusuk digunakan pewarnaan gomori atau ladewig.
Struktur kelenjar bukan merupakan cirri paru bayi yang belum bernafas, tetapi
merupakan cirri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk paru
bayi belum bernafas adalah adanya tonjolan (projektion) yang berbentuk seperti bantal yang
kemudian akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak seperti gada (club like)
pada permukaan bebas ujung projection tampak kapiler yang berisi banyak daerah. Pada paru
bayi belum bernafas yang sudah membusuk, dengan pewarnaan gomori atau ladweig tampak
serabut-serabut retikulen pada permukaan dinding alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang
kriting, sedangkan pada projection berjalan dibawah kapiler sejajar dengan permukaan dan
membentuk gelung-gelung terbuka.
Serabut-serabut elastin pada dinding alveoli belum terwarnai dengan jealas, masih
merupakan fragmen-fragmen yang tersusun dan belum membentuk satu lapisan yang
mengelilingi seluruh alveoli. Serabut-serabut tegang, tidak bergelombang dab tidak terdapat di
daerah basis projection.