Kultur Ikan Hias

FILTERISASI PADA AKUARIUM DAN KOLAM PEMELIHARAAN IKAN
HIAS




OLEH
KELOMPOK 9

1. Ika Rahma Dewi
2. Siti Rafiah Drajat
3. Nugrawangsa
4. Akbar Yanto
5. Citra Angriani A
6. St Masyita
7. Putra Jaya Sasmita





BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
kehendak-Nya Makalah ini dapat terselesaikan walau masih sederhana. Makalah
ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan tugas yang diajukan sebagai salah
satu syarat untuk melengkapi tugas mata kuliah Kultur Ikan Hias.
Dalam penyelesaian Makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan,
terutama disebabkan akan kurangnya pengetahuan. Namun, berkat bimbingan dari
berbagai pihak akhirnya Makalah yang berjudul “Filterisasi pada akuarium dan
kolam pemeliharaan ikan hias” ini dapat terselesaikan. Untuk itu, penulis
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam
pembuatan Makalah ini.
Penulis menyadari Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif agar
makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.


Makassar, 15 September 2013



Penulis




















BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Istilah Aquarium berasal dari bahasa latin yaitu “aqua” yang berarti air.
Aquarium sendiri merupakan sebuah ruangan/kolam/bak yang bisa berupa bidang
transparan/massif yang didalamnya berisi air, dimana didalamnya dipelihara
binatang – binatang dan tumbuhan – tumbuhan air untuk dipamerkan ataupun
tujuan penelitian.
Akuarium ini terbuat dari bahan kaca dimana penamaan akuarium ini berasal
dari bahasa latin yaitu aqua yang berarti air dan area yang berarti ruang. Jadi
akuarium ini adalah ruangan yang terbatas untuk tempat air yang berpenghuni,
yang dapat diawasi dan dinikmati. Akuarium yang digunakan untuk budidaya ikan
ini dapat dibuat sendiri atau membeli langsung dari toko.
Filter merupakan suatu alat yang digunakan untuk menyaring benda-benda
tertentu yang tidak dikehendaki dan meloloskan benda lain yang dikehendaki.
Dalam sistem akuarium benda-benda yang tidak dikehendaki tersebut diantaranya
adalah: amonia, bahan padatan, residu organik, dan bahan kimia lainnya.
Didalam perawatan akuarium dan kolam ikan hias harus diperhatikan
filterisasinya, agar organisme yang hidup di dalam akuarium dapat bertahan
hidup. Didalam makalah ini akan dibahas mengenai filterisasi yang digunakan
dalam akuarium dan kolam ikan hias.

1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Jenis Filter berdasarkan prinsip kerjanya?
2. Apa jenis-jenis filter yang umum dikenal?
3. Bagaimana jenis filter yang digunakan pada akuarium?
4. Bagaimana jenis filter yang digunakan pada kolam ikan hias?

1.3. Tujuan
1. Untuk memahami Jenis Filter berdasarkan prinsip kerjanya
2. Untuk mengetahui jenis-jenis filter yang umum dikenal
3. untuk mengetahui jenis filter yang digunakan pada akuarium
4. untuk memahami jenis filter yang digunakan pada kolam ikan hias.








BAB II
ISI

2.1. Jenis Filter berdasarkan prinsip kerjanya
A. Filter Mekanik
Filter mekanik secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah alat untuk
memisahkan material padatan dari air secara fisika (berdasarkan ukurannya)
dengan cara menangkap/menyaring material-material tersebut sehingga tidak lagi
dijumpai terapung/melayang di dalam air akuarium. Bahan yang diperlukan
untuk sebuah filter mekanik dengan demikian adalah berupa bahan yang tahan
lapuk, memiliki lubang-lubang (pori-pori) dengan diameter tertentu sehingga
dapat menahan atau menangkap partikel-partikel yang berukuran lebih besar dari
diameter media flter tersebut (Gambar 1).

Gambar 1. Mekanisme Kerja Filter Mekanik
Gambar 1 menunjukkan gambaran kasar tentang mekanisme kerja sebuah
filter mekanik. Dalam gambar itu tampak bahwa partikel yang berukuran lebih
besar dari diameter (pori) media filter akan terperangkap dalam filter sedangkan
partikel-partikel yang lebih kecil dan juga air akan lolos.
Partikel padatan dalam hal ini bukan merupakan bahan terlarut tetapi
merupakan suatu suspensi. Ukurannya bisa bervariasi dari sangat kecil, sehingga
tidak bisa dilihat oleh mata (sebagai contoh: partikel penyebab air keruh), hingga
sisa pakan ikan, potongan tanaman air atau bahkan bangkai ikan. Partikel-partikel
ini dapat terperangkap dalam berbagai jenis media, dengan syarat diameter
lubangnya atau porinya lebih kecil dari diameter partikel. Media tersebut dapat
berupa kapas sintetis atau bahan berserabut lain, spong, kaca atau keramik
berpori, kerikil, pasir, dll.
Sebuah wadah atau bak kosong dapat pula berfungsi sebagai filter
mekanik. Akan tetapi proses yang terjadi bukan melalui penyaringan partikel
melainkan melalui proses pengendapan. Hal ini dimungkinkan dengan membuat
aliran air serendah mungkin sehingga kecepatan partikel mengendap menjadi
lebih besar daripada laju aliran air. Bak pengendapan umum digunakan dalam
manajeman kolam ikan hias (seperti kolam ikan koi), sedangkan dalam akuarium
proses pengendapan bisa terjadi dalam sump.
Media filter mekanik (bahan yang digunakan untuk menyaring atau
menangkap partikel) memiliki ukuran diamater lubang atau ukuran pori beragam,
dari satuan mikron (sepersejuta meter) hingga satuan sentimeter (sseperseratus
meter), tergantung dari bahan yang digunakan. Diatom atau membran berpori-
mikro, misalnya, memiliki pori-pori dengan satuan ukuran mikron sehingga
selain dapat menahan suspensi juga dapat menangkap infusoria, bakteri dan algae
berseltunggal. Sedangkan jenis yang lain bisa mempunyai ukuran pori lebih b
esar. Hal yang menarik dari ukurn pori ini adalah diameter efektifnya. Seperti
terlihat pada gambar 1, secara alamiah akan terjadi bahwa efektifitas filter
mekanik akan meningkat dengan berjalannya waktu. Diameter pori filter yang
semula hanya dapat menangkap partikel yang berkukuran lebih besar dari
diameter porinya, dengan berjalannya waktu akan dapat pula menangkap partikel
yang berukuran lebih kecil. Hal demikian dapat terjadi, karena dengan adanya
halangan yang diakibatkan oleh partikel yang terjebak dan menutup lubang pori
semula, maka ukuran pori efektif yang berfungsi akan semakin mengecil,
sehingga partikel lebih kecil pun lama-lama akan bisa tertangkap. Keadaan ini
dapat membawa kekesimpulan yang salah, bahwa filter mekanik semakin lama
akan semakin efektif sehingga hanya dengan sebuah filter mekanik urusan
pengelolaan air akuarium akan beres dengan sendirinya. Pada kenyataannya
tidak demikian, dengan semakin "efektifnya" filter mekanik akan membawa ke
keadaan dimana tidak akan ada lagi sebuah partikelpun, termasuk air, yang bisa
dilewatkan. Dengan kata lain filter akan tersumbat total sehingga gagal berfungsi
(Gambar 2)










Gambar 2. Penumpukan partikel-partikel pada media filter mekanik,
meskipun pada awalnya akan dapat meningkatkan efektifitas filter, tapi dalam
jangka waktu tertentu akan menyebabkan terjadinya penyumbatan sehingga filter
gagal berfungsi
Hal yang umum terjadi adalah semakin halus pori-pori media filter
mekanik yang digunakan akan semakin cepat pula penyumbatan terjadi. Apabila
penggunakan media sangat halus ini perlu, dilakukan maka dengan menggunakan
sistem filter mekanik bertingkat akan dapat menolong mengurangi resiko
terjadinya penyumbatan dengan cepat.
Filter mekanik perlu dirawat dan dibersihkan secara periodik agar dapat
tetap berfungsi dengan baik. Kontrol terhadap kondisi filter ini sebaiknya
dilakukan secara rutin. Apabila media sudah tidak dapat lagi berfungsi dengan
baik karena rusak atau terdekomposisi, maka perlu dilakukan penggantian dengan
media baru.

B. Filter Biologi
Filter biologi adalah filter yang bekerja dengan bantuan jasad-jasad renik,
khususnya, bakteri dari golongan pengurai amonia. Untuk itu, agar jasad-jasad
renik tersebut dapat hidup dengan baik di dalam filter dan melakukan fungsinya
dengan optimal diperlukan media dan lingkungan yang sesuai bagi pertumbuhan
dan perkembangan jasad-jasad renik tersebut.
Fungsi utama filter biologi adalah mengurangi atau menghilangkan amonia
dari air. Seperti diketahui ikan melepaskan amonia (NH3 atau amonium, NH4) ke
dalam air, terutama melalui insangnya. Jumlah yang dikeluarkan tergantung dari
banyaknya pakan yang dikonsumsi. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap 1
kg pakan akan menghasilkan 37 gram amonia. Dengan demikian dapat
diperkirakan berapa banyak konsentrasi amonia yang akan dikeluarkan ikan setiap
hari yang perlu dinetralisir oleh sebuah filter biologi. Amonia juga dihasilkan
oleh penghuni akuarium lainnya, termasuk bakteri, jamur, infusoria dan juga sisa
pakan ikan.
Proses pemfilteran amonia dalam akuarium mengikuti hukum mengenai
peredaran (siklus) unsur Nitrogen di alam. Keterangan mengenai ini dapat anda
peroleh pada bahasan mengenai AMONIA. Dengan memahami hal tersebut maka
keberhasilan pengelolaan suatu filter biologi akan dapat dipastikan. Sudah
menjadi rahasia umum bahwa filtrasi biologi merupakan bagian dari sistem filter
akuarium yang kerap membuat frustrasi penggemar ikan hias baru. Disamping itu
sering juga diabaikan atau terlupakan oleh para hobbiis berpengalaman. Mereka
baru menyadari kehadirannya apabila sesuatu hal yang buruk terjadi pada
akuairum mereka dan itu adalah akibat tidak berfungsinya sistem filtrasi biologi
pada akuarium mereka.
Dua golongan bakteri memegang peranan utama dalam filter biologi, yaitu
bakeri Nitrosomonas sp, dan bakteri Nitrobacter sp. Nitrosomnas berperan
mengoksidasi amonia menjadi nitrit, sedangkan Nitrobacter berperan
mengoksidasi nitrit menjadi nitrat.
Nitrosomonas dan Nirobacter hidup dengan melekatkan diri pada benda
padat dalam akuarium. Oleh karena itu, agar keperluan hidup (tempat tinggal)
mereka terpenuhi perlu disediakan tempat untuk melekatkan diri. Segala jenis
benda padat, selama itu tidak bersifat racun bagi si bakteri, akan dapat digunakan
sebagai tempat tinggal bakteri tersebut. Faktor yang perlu diperhatikan dalam
memilih "tempat tinggal" atau media bagi bakteri adalah keterkaitannya dengan
bidang kontak antara air dan bakteri. Agar air dapat difilter dengan baik oleh
bakteri maka air tersebut perlu kontak dengan bakteri yang bersangkutan. Oleh
karena itu, pemilihan media harus memperhitungkan luas bidang kontak ini.
Semakin luas bidang kontak maka akan semakin efektif filtrasi biologi
berlangsung.
Luas bidang kontak berhubungan erat dengan ukuran media yang
digunakan. Secara umum dapat dikatakan bahwa persatuan volume, media yang
mempunyai ukuran butiran lebih kecil akan memiliki luas bidang kontak atau luas
permukaan lebih besar. Berikut adalah ilustrasi sederhana hubungan antara ukuran
butiran dengan luas permukaan, atau luas bidang kontak. Untuk mempermudah
ilustrasi digunakan benda berbentuk kubus: ukuran butiran yang akan digunakan
untuk media sebuah filter biologi. Semakin kecil butiran akan semakin luas luas
permukaan sehingga akan semakin luas bidang kontak antara air dan bekteri yang
hidup pada permukaan tersebut. Meskipun demikian, kalau kita kembali pada
prinsip sebuah filter mekanik, maka akan terdapat kecenderungan bahwa filter
dengan butiran halus ini akan cepat tersumbat. Untuk menghindari hal tersebut
maka diperlukan sebuah filter mekanik yang baik yang dipasang sebelum filter
biologi. Dengan demikian, air yang masuk kebagian filter biologi sudah
merupakan air prefilter, yaitu air yang sebelumnya telah difilter terlebih dahulu
secara mekanik sehingga tidak lagi mengandung partikel-partikel padat yang akan
menyumbat. Beberapa produsen asesori akuarium telah membuat media filter
yang diharapkan dapat mengatasi terjadinya proses penyumbatan, seperti:
cicin(tabung) keramik atau bioball, meskipun demikian bahan-bahan ini memiliki
korbanan berupa berkurangnya luas permukaan bidang kontak.
Secara umum dapat dikatakan bahwa filter biologi bukan merupakan hal
yang sulit. Selama anda faham bagaimana bakteri tersebut hidup dan
berkembang, serta apa yang diperlukan sebagai media hidupnya, maka anda akan
berhasil dalam mengelola sebuah filter biologi, bahkan dengan menggunakan
bahan-bahan yang ada dan mudah didapat (dan murah) di sekitar tempat tinggal
anda.

C. Filter Kimiawi
Rasanya tidak mudah untuk mendefinisikan sebuah filter kimia, karena
sepintas fungsinya hampir sama saja dengan sebuah filter mekanik. Perbedaannya
terletak pada ukuran partikel yang di"garap", oleh karena itu boleh dikatakan
bahwa filter kimia adalah sebuah filter mekanik yang bekerja pada skala
molekuler. Seperti diungkapakan sebelumnya, filter mekanik bekerja dengan
manangkap suspensi, maka filter kimia bekerja dengan menangkap bahan terlarut,
seperti: gas, bahan organik terlarut, dan sejenisnya. Mekanisme ini dilakukan
dengan bantuan media filter berupa arang aktif, resin ion, dan zeolit, atau melalui
fraksinasi air.
Filter kimia dapat melakukan fungsinya dengan tiga cara, yaitu: (1)
Serapan, (2) Pertukaran Ion, dan (3). Jerapan
Serapan (Absorpsi).
Absorpsi merupakan suatu proses dimana suatu partikel terperangkap
kedalam struktur suatu media dan seolah-olah menjadi bagian dari keseluruhan
media tersebut. Proses ini dijumpai terutama dalam media karbon aktif. Karbon
aktif memiliki ruang pori sangat banyak dengan ukuran tertentu. Pori-pori ini
dapat menangkap partikel-partikel sangat halus (molekul) dan menjebaknya
disana. Dengan berjalannya waktu pori-pori ini pada akhirnya akan jenuh dengan
partikel-partikel sangat halus sehingga tidak akan berfungsi lagi. Sampai tahap
tertentu beberapa jenis arang aktif dapat di reaktivasi kembali, meskipun
demikian tidak jarang yang disarankan untuk sekali pakai. Reaktifasi karbon aktif
sangat tergantung dari metode aktifasi sebelumnya, oleh karena itu perlu
diperhatikan keterangan pada kemasan produk tersebut.
Secara umum karbon/arang aktif biasanya dibuat dari arang tempurung
dengan pemanasan pada suhu 600-2000°C pada tekanan tinggi. Pada kondisi ini
akan terbentuk rekahan-rekahan (rongga) sangat halus dengan jumlah yang sangat
banyak, sehingga luas permukaan arang tersebut menjadi besar. 1gram karbon
aktif, pada umumnya memiliki luas permukaan seluas 500-1500m2, sehingga
sangat efektif dalam menangkap partikel-partikel yang sangat halus berukuran
0.01-0.0000001 mm. Karbon aktif bersifat sangat aktif dan akan menyerap apa
saja yang kontak dengan karbon tersebut, baik di air maupun di udara. Apabila
dibiarkan di udara terbuka, maka dengan segera akan menyerap debu halus yang
terkandung diudara(polusi). Dalam waktu 60 jam biasanya karbon aktif tersebut
manjadi jenuh dan tidak aktif lagi. Oleh karena itu biasanya arang aktif di kemas
dalam kemasan yang kedap udara.

Jerapan(Adsorpsi).
Jerapan adalah suatu proses dimana suatu partikel "menempel" pada suatu
permukaan akibat dari adanya "perbedaan" muatan lemah diantara kedua benda
(gaya Van der Waals), sehingga akhirnya akan terbentuk suatu lapisan tipis
partikel-pertikel halus pada permukaan tersebut. Permukaan karbon yang mampu
menarik molekul organik misalnya merupakan salah satu contoh mekanisme
jerapan, begitu juga yang terjadi pada antar muka air-udara, yaitu mekanisme
yang terjadi pada suatu protein skimmer. Molekul organik bersifat polar sehingga
salah satu ujungnya akan cenderung tertarik pada air (disebut sebagai
hidrofilik/suka air) sedangkan ujung yang lain bersifat hidrofobik (benci air).
Permukaan molekul aktif seperti ini akan tertarik pada antarmuka air-gas pada
permukaan gelembung udara, sehingga molekul-molekul tersebut akan
membentuk suatu lapisan tipis disana dan membentuk buih/busa. Dalam suatu
protein skimmer; ketika gelembung udara meninggalkan air menuju tampungan
busa, gelembung udara tersebut akan kolaps sehingga pada akhirnya bahan-bahan
organik akan tertinggal pada tampungan busa yang bersangkutan.
Pertukaran Ion
Pertukaran ion merupakan suatu proses dimana ion-ion yang terjerap pada
suatu permukaan media filter ditukar dengan ion-ion lain yang berada dalam air.
Proses ini dimungkinkan melalui suatu fenomena tarik menarik antara permukaan
media bermuatan dengan molekul-molekul bersifat polar.
Apabila suatu molekul bermuatan menyentuh suatu permukaan yang
memiliki muatan berlawanan maka molekul tersebut akan terikat secara kimiawi
pada permukaan tersebut. Pada kondisi tertentu molekul-molekul ini dapat
ditukar posisinya dengan molekul lain yang berada dalam air yang memiliki
kecenderungan lebih tinggi untuk diikat. Dengan demikian maka proses
pertukaran dapat terjadi. Media yang dapat melakukan proses pertukaran seperti
ini diantaranya adalah Zeolit (baik alami atau buatan) dan resin.
Proses pertukaran yang berlangsung secara umum mengikuti kaidah-
kaidah tertentu. yaitu: Pertama kation-kation dengan valensi lebih besar akan
dipertukarkan terlebih dahulu sebelum kation-kation dengan valensi lebih kecil.
Sebagai contoh apabila didalam akuarium kita terdapat besi (ber-valensi 3),
kalsium (ber- valensi 2) dan amonium (ber- valensi1 ) dalam jumlah yang sama,
maka besi akan teleibh dahulu dijerap oleh zeolite, menyusul kalsium dan terakhir
amonium.
Kedua, kation yang konsentrasinya paling tinggi didalam akuarium akan
dijerap telebih dahulu walaupun valensi lebihkecil. Sebagai contoh dalam kasus
diatas, apabila konsentrasi (jumlah) amonium jauh lebih banyak dibandingkan
denga besi dan kalsium, maka sesuai dengan aturan 2, amonium akan cenderung
di jerap terlebih dahulu.
Dengan proses-proses tersebut diatas maka filter kimia dapat diberlakukan
untuk "menjernihkan" air dari paritkel-partikel berukuran molekuler yang tidak
bisa diproses secara mekanik atau biologi. Beberapa hal yang bisa di hilangkan
dengan filter kimia diantaranya adalah pengaruh racun, kesadahan, warna dan
partikel organik terlarut.




2.2. jenis-jenis filter yang umum dikenal
a. filter "under gravel" (UGF)
Sesuai dengan namanya filter "under gravel" adalah sebuah filter yang
terletak dibawah lapisan "gravel" (kerikil, pasir) di dasar akuarium.
Konstruksinya terdiri dari lapisan bahan anti karat (plastik) berlubang dengan kaki
penompang sehingga tercipta ruangan bebas dibawahnya untuk memungkinkan
air bersih mengalir (Gambar 1). Disalah satu sudutnya (atau lebih) terdapat pipa
keluaran untuk mengembalikan air hasil filtrasi kedalam akuarium.

Gambar 1.
Contoh Konstruksi Filter "Under Gravel". (1) Lembar Filter (2). Pipa Keluaran

Gambar 2
Mekanisme Kerja Sebuah Filter "Under Gravel"

Gambar 2 menunjukkan mekanisme kerja sebuah filter "under gravel".
Dalam hal ini air "dipaksa" untuk menembus lapisan gravel pada dasar akuarium
dengan bantuan head pump atau aerator, kemudian air tersebut dikembalikan ke
dalam akuarium. Pada saat air melalui gravel air mengalami setidaknya dua
proses filtrasi, yaitu mekanik, melalui pori-pori efektif lapisan gravel, dan
biologi, melalui kontak air dengan bakteri pengurai amonia dan nitrit yang hidup
pada permukaan gravel. Filtrasi biologi memegang peranan utama dalam sistem
filter ini.
Dengan berjalannya waktu, penumpukkan partikel-partikel padatan pada
ruang antar gravel dapat menyebabkan penyumbatan. Oleh karena itu filter under
gravel direkomendasikan untuk di rawat secara periodik, setidaknya dengan
melakukan pem-vacum-an pada gravel. Penyumbatan dapat menimbulkan
terjadinya kondisi anaeraobik pada lingkungan gravel sehingga dapat
menyebabkan bakteri pengurai amonia dan nitrit mati yang akhirnya dapat
mengakibatkan filter gagal berfungsi.
Filter under gravel sering digunakan terutama dalam akuarium laut. Pada
sistem filter ini, partikel-partikel organik yang terjebak pada permukaan gravel
akan menjadi sumber pakan bagi jasad-jasad renik (plankton). Selanjutnya
plantkon ini akan menjadi sumber pakan bagi penghuni laut lain yang dipelihara,
khususnya dari golongan pemakan plankton. Dengan demikian, filter "under
gravel" pada akuarium laut seolah-olah berfungsi juga sebagai refugium.

FILTER UNDER GRAVEL TERBALIK
(Reverse Flow Under Gravel Filter)
Salah satu masalah dalam menggunakan filter under gravel adalah
kemungkinan akan tersumbatnya aliran sebagai akibat akumulasi kotoran yang
tidak dapat diproses dengan cepat. Kotoran ini dapat menumpuk diantara gravel,
menyebabkan penyumbatan sehingga pada akhirnya dapat mengurangi kinerja
dari filter tersebut. Salah satu pemecahannya adalah dengan relatif sering
menyipon dan membersihkan lapisan gravel secara teratur. Pembersihan tersebut
hendaknya dilakukan secara parsial, agar bakteri pengurai tidak habis "tercuci".
Cara lain adalah dengan memisahkan endapan dari gravel. Hal ini dapat
dilakukan dengan menggunakan metode fiter under gravel dengan aliran terbalik.
Gambar 3 menunjukkan diagram bagaimana pemisahan tersebut dilakukan.
Pemisahan proses pengendapan dilakukan dengan menambahkan satu unit filter di
luar akurium utama. Tugas utama filter ini adalah melakukan filtrasi secara
mekanik (Sebuah filter kanister boleh digunakan untuk melakukan tugas ini).
Setelah melalui proses filtrasi mekanik, air selanjutnya dikembalikan (dengan
bantuan pompa) ke akuarium utama melalui pipa out let filter under gravel.
Selanjutnya air akan menyebar dibawah filter under gravel kemudian menembus
lapisan gravel. Pada saat melalui lapisan gravel inilah air mengalami proses
filtrasi biologi. Dengan demikian ketika air berada kembali di ruang utama
akuarium diharapkan telah terbebas dari amonia.



Gambar 3. Filter under gravel dengan aliran air terbalik.

b. Filter canister
Filter Canister merupakan salah satu bentuk improvisasi dari beberapat
tipe filter versi "lama", seperti filter under gravel dan filter atas. Prinsip utama
dari filter ini adalah memberikan kesempatan yang sama pada air untuk melalui
media filter secara menyeluruh, yaitu dengan cara memaksa air tersebut
"menembus" media filter. Hal ini dilakukan dengan membuat sistem tersebut
kedap udara, sehingga tercipta suatu tekanan yang "seragam" didalam filter,
sesuatu yang tidak bisa dilakukan dalam sistem terbuka yang langsug
berhubungan dengan atmosfir. Dengan cara demikian air akan "terpaksa"
menembus media yang ada sehingga kontak dengan media menjadi lebih baik.
Adanya tekanan menyebabkan kondisi kontak antara air dengan media menjadi
terjamin, sehingga hasil filtrasi menjadi relatif lebih baik, dan kontak dapat
berlangsung dalam waktu relatif lama. Oleh karena itu sistem filtrasi canister
lebih jarang memerlukan perawatan rutin. Filtrasi dapat tetap berlangsung dengan
baik selama beberapa bulan, sebelum memerlukan perawatan.

Gambar diatas menunjukkan kurang lebih diagram sebuah filter canister.
Air masuk melalui bagian bawah filter. Kemudian setelah "menembus" media,
air dikembalikan ke akarium malalui sebuah pompa pada "kepala" filter ini.
Tekanan dalam filter sepenuhnya tanggung jawab dari pompa. Apabila pemilihan
media dan kapasitas pompa tepat, sistem ini dapat berfungsi dengan baik dalam
jangka waktu lama sebelum memerlukan perawatan. Perawatan biasanya
diperlukan apabila output filter mulai berkurang dari kapasitas yang disebutkan.
c. Filter "wet & dry"
Filter Wet and Dry atau Filter Tetes (Trickle Filter) boleh dikatakan
merupakan salah satu ujud improvisasi dari filter biologi "konvensional". Dalam
filter biologi "konvensional", media filternya berada dalam kondisi terendam air.
Sedangkan dalam filter tetes, sebagian dari media filter tersebut sengaja di ekspos
ke udara terbuka, sehingga menciptakan bagian filter dalam kondisi "kering"
(dry).
"Penciptaan" suasana "kering" ini dimaksudkan untuk menambah
efektifitas kinerja bakteri pengurai amonia. Dalam suasana demikian, kontak
bakteri dengan oksigen akan semakin baik. Disamping itu konidis ini pun akan
meciptakan terjadinya lapisan tipis air yang akan menyelimuti media filter,
akibatnya kontak antara air dengan bakteri menjadi lebih baik pula,s ehingga air
akan dapat diproses secara biologis dengan lebih baik pula.
Gambar 1, menunjukkan diagram kasar sebuah filter tetes. Filter ini
terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian yang terdapat di atas air (kering) dan
bagian yang berada di dalam air. Diatas media kering terdapat sebuah "sprayer"
yang akan memecah air menjadi butiran-butiran air (tetesan). Tetesan ini
hendaknya terbagi merata pada seluruh permukaan media. Air selanjutnya akan
menjalar pada media secara gravitasi, mengalami proses secara biologis,
kemudian jatuh ke bagian filtrasi basah. Pada bagian basah ini bakteri-bakteri
yang hidup dengan kadar oksigen lebih rendah akan mengambil alih pekerjaan
bakteri-bakteri sebelumnya. Air kemudian masuk kedalam ruang pompa dan
dikembalikan ke akuarium.

Gambar 1. Skema Filter Tetes (Filter Wet n Dry)
Media dalam bagian kering dapat digunakan media filter biologi pada
umumnya. Meskipun demikian bioball dapat berfungsi dengan baik, karena
bahan ini memang dibuat untuk jenis filter ini. Media pada bagian basah adalah
juga media filter biologi biasa. Beberapa hobiis ada yang membiarkan bagian ini
kosong tanpa media apapun, meskipun demikian cobalah lakukan test dengan
membandingkan hasil dengan dan tanpa media filter dibagian basah ini.
Spayer dapat saja dibuat dengan melubangi suatu lembar plastik atau
bahan kaku anti karat lainnya dengan kepadatan tertentu sehingga tercipta sebaran
lubang seragam diseluruh permukaan. Air yang masuk bagian ini, sebaiknya
merupakan ari prefilter yang telah mengalami filtrasi mekanik sebelumnya.
Dengan demikian, dapat mencegah terjadinya penyumbatan pada media filter
biologi.
Dengan memahami prinsip kerja dari filter ini, anda bisa saja memodikasi
sktesa tersebut diatas, disesuaikan dengan kebutuhan.






d. Filter atas

Prinsip dasar dari arah aliran air yang dibelok belokkan keatas dan kebawah
adalah “memaksa” air kotor dari akuarium untuk menembus/melewati media
filter agar mendapatkan nilai efektifitas yang ingin dicapai. Pemasangan Filter
atas sebaiknya tidak permanen di lekatkan ke aquarium, agar memudahkan
dalam mengangkat dan membersihkan kompartemen filter tanpa harus
menurunkan aquariumnya

Sketsa 3 dimensi Aquarium filter atas



Urutan pemasangan media filter
A. Kompartemen pertama media filter kapas kasar berguna untuk
menjebak/menangkap partikel kasar yg berasal dari air aquarium. Pada daerah
yg berwarna kuning dimaksudkan adalah pemasangan kaca mika yg telah
dilubangi Kompartemen kedua media bioball Bioball sebagai media bakteri
untuk tumbuh. Lendir yg melekat pada bioball merupakan nitrobacter yg
tumbuh yang berguna untuk meningkatkan kualitas air. Bioball dibuat untuk
filter wet and dry oleh penciptanya, dibuat ringan dan terapung di air dan
digunakan dalam jumlah banyak http://o-fish.com/Filter/filter_biologi.php
Kompartemen ketiga media Zeolite berguna untuk menangkap bahan terlarut,
seperti: gas, bahan organik terlarut, dan sejenisnya. http://o-
fish.com/Filter/filter_kimia.php kompartemen ini adalah kompartemen
terpanjang untuk mendapatkan air yg melewati media zeolit memiliki rentang
waktu yang cukup. Besaran ukuran (size) dari zeolit yg dipakai sebaiknya
adalah dalam bentuk butiran kecil. Semakin kecil butiran akan semakin luas
luas permukaan sehingga akan semakin luas bidang kontak antara air dan
zeolit, efektifitas tercapai. Kompartemen keempat media karbon aktif
prinsip kerjanya sama dengan zeolit yaitu berguna untuk menangkap bahan
terlarut, seperti: gas, bahan organik terlarut, dan sejenisnya. Demikian pula
ukuran dari karbon aktif (KA) tsb gunakan butiran butiran terkecil saja. Saya
membeli KA dari toko bahan kimia dgn berbagai ukuran saya memilih yang
terkecil (relatif mahal) kemudian dibuat bahan penampung KA dalam kain
hitam. Kompartemen kelima media filter kapas halus Filter kapas halus adalah
media filter air terakhir sebelum kembali ke aquarium

e. Denitrator
Memiliki sebuah filter yang baik adalah idaman para hobiis ikan hias.
Sebuah filter yang baik akan menjanjikan suatu kinerja yang baik pula sehingga
diharapkan persoalan kualitas air akuarium dapat ditanggulangi dengan sempurna.
Filter akuarium yang umum dikenal selama ini, khususnya filter biologi,
lebih banyak dibuat untuk suatu lingkungan aerobik dengan alasan kemudahan
aplikasi. Hasil akhir dari filter tipe ini adalah nitrat. Meskipun nitrat jauh lebih
tidak berbahaya dibandingkan dengan amonia atau nitrit, kehadirannya masih
tetap harus diwaspadai. Sampai tahap tertentu kadar nitrat tetap akan menciptakan
gangguan pada ikan yang dipelihara dalam suatu sistem tertutup seperti akuarium.
Oleh karena itu pada suatu tipe filtrasi biologi biasa, penggantian air, walaupun
dengan periode yang sangat lama, masih tetap diperlukan untuk membuang nitrat
yang terakumulasi dalam air akuarium.
Berbeda dengan pengubahan bentuk amonia menjadi nitrit dan kemudian
menjadi nitrat, pengubahan nitrat menjadi nitrogen memerlukan suasana anaerob,
suatu suasana tanpa oksigen. Dalam proses ini dilibatkan bakteri-bekteri pengurai
nitrat yang hidup secara anaerob. Mereka mendapatkan oksigen dengan
mengkonsumsi oksigen yang terdapat dalam nitrat (NO3).
Membuat suasana anaerob agar bakteri anaerob mau tumbuh dalam suatu
akuarium bukan merupakan hal yang mudah. Dalam sebuah akuarium kondisi
kaya oksigen lah yang dikehendaki agar ikan yang dipelihara selalu mendapat
pasokan oksigen yang cukup bagi keperluan hidupnya. Oleh karena itu, dalam
kondisi akuarium normal, suatu kondisi anaerob relatif sulit dibuat. Untuk
membuat suasana anaerob diperlukan trik khusus, salah satunya adalah dengan
menggunakan sistem koil.

Prinsip Kerja
Gambar 1. menunjukkan sebuah skema sederhana sebuah koil denitrator,
atau sebuah koil pengurai nitrat. Sebuah koil denitrator merupakan sebuah
gulungan selang atau pipa yang tersimpan didalam suatu ruang tertutup. Tidak ada
bagian dari ruang tersebut yang behubungan langsung dengan udara terbuka. Hal
ini merupakan persyaratan utama sebuah koil denitrator, yaitu suatu suasana
anaerob

Air kaya oksigen yang dipasok melalui pipa A dari akuarium utama akan
dipaksa mengalir dalam gulungan pipa. Pada kondisi filter matang, dinding dalam
pipa ini sudah akan ditumbuhi dan dihuni oleh bakteri-bakteri pengurai ammonia
dan nitrit. Seperti disebutkan sebelumnya, keduanya merupakan bakteri aerob.
Oleh karena itu pada saat air mengalir didalam pipa, oksigen yang terdapat
didalam air yang mengalir tersebut dikonsumsi oleh bakteri tadi. Dengan
demikian pada saat air meninggalkan ujung pipa C, air tersebut sudah tidak lagi
mengandung oksigen mereka dikeluarkan melalui pipa B. Air yang keluar dari
pipa B merupakan air bebas oksigen. Oleh karena itu sebelum dikembalikan ke
akuarium utama, air tersebut direkomendasikan agar diaerasi terlebih dahulu.
Pada prinsipnya, dalam sebuah koil denitrator, semakin panjang gulungan
selang yang digunakan akan semakin baik karena hal ini akan memberikan
kesempatan lebih banyak pada air yang mengalir untuk dikonsumsi oksigennya
oleh bakteri aerob yang tumbuh dalam pipa tersebut. Arus air harus pula diatur
isedemikian rupa, sehingga tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lambat. Apabila
arus air terlalu cepat, maka kemungkinan besar tidak akan habis terkonsumsi
sehingga suasana lingkungan tanpa oksigen tidak akan tercipta. Jika hal demikian
terjadi maka proses penguraian nitrat tidak akan terjadi. Sedangkan bila terlalu
lambat, tidak tertutup kemungkinan akan tercipat H2S yang sangat berbau busuk
dan dapat mengganggu kehidupan ikan di akuarium utama. Oleh karena itu, arus
air harus diatur sedemikian rupa disertai dengan melakukan pengukuran sebagai
tolok ukur untuk menentukan arus air yang sesuai.
Akibatnya air dalam ruangan D menjadi anaerob alias tidak mengandung
oksigen. Pada kondisi demikian bakteri-bakteri anaerob akan dapat tumbuh
dengan leluasa. Mereka akan tumbuh pada media yang telah disediakan dalam
ruang tersebut. Medianya bisa berupa kerikil atau juga bioball, seperti halnya
media yang digunakan untuk bakteri pengurai ammonia dan nitrit. Bakteri-bakteri
ini selanjutkan akan menkonsumsi nitrat yang telah dihasilkan oleh jenis bakteri
sebelumnya, menjadi nitrogen. Kemudian
Penutup
Sebuah koil denitrator dapat dibuat dari bahan yang sederhana. Dengan
memahami prinsip kerjanya maka berbagai modifikasi yang menguntungkan bisa
dilakukan. Bagi mereka yang tidak atau belum mempunyai kesempatan untuk
membuat sebuah filter vegetasi, sebuah filter koil denitrator bisa dijadikan salah
satu pilihan.
Seperti pada umumnya sebuah filter yang menggunakan jasa bakteri
pengurai dalam prinsip kerjanya, sebuah filter koil denitrator memerlukan waktu
sebelum dapat berfungsi dengan baik. Waktu pematangan filter ini bisa tercapai
setelah setidaknya mencapai umur 6 minggu yaitu pada saat bakteri-bakteri
pengurai telah tumbuh dengan baik. Apabila anda gemar berkeksperimen anda
bisa mencoba juga metoda fishless nitrogen cycles untuk mempercepat terjadinya
pematangan filter ini. Uraian mengenai topik ini telah dimuat pada artikel
sebelumnya.

f. filter ultra violet (UV)
Filter ultra violet merupakan suatu perangkat yang berfungsi untuk
menghilangkan atau menyaring jasad-jasad renik yang tidak dikehendaki dari
akuarium, seperti: bakteri, parasit, jamur, virus, alga, dan patogen lainnya, dengan
cara meekspose mereka pada sinar Ultra Violet berintensitas tinggi. Sinar ultra
violet memiliki kemampuan untuk mempengaruhi fungsi sel mahluk hidup
dengan mengubah material inti sel, atau DNA, sehingga mahluk tersebut mati.
Diketahui ada 3 tipe filter ultra violet; yaitu :
1. Tray type. Dalam hal ini lampu UV dipasang pada suatu reflektor diatas suatu
wadah tipis (menyerupai baki/tray), kemudian air dialirkan secara perlahan
melalui wadah tersebut. Keuntungan: mudah dibersihkan, murah, dan dapat
dibuat dengan ukuran besar. Masalah: resiko keamanan terhadap mata, ukuran
sering terlalu besar untuk ukuran rumahan.
2. Tube type, wet bulb. Dalam hal ini air dialirkan langsung disekitar lampu
tanpa reflektor yang dipasang pada tabung anti air. Keuntungan: murah, efektif
dan kompak. Masalah: sulit dibersihkan, resiko sengatan listrik (bocor).

Tube type, dry bulb. Mirip dengan 2), tetapi dilengkapi dengan tabung
gelas (gelas akan memblok sinar UV (C)) yang mengisolasinya dari air. Tipe ini
relatif lebih mahal tetapi lebih aman. Penggantian lampu dapat dilakukan dengan
mudah. Selain itu, biasanya dilengkapi dengan alat untuk menbersihkan lendir
dari tabung gelas.

Watt yang disarankan adalah 4-8 watt untuk akuarium 80-160 liter, 20-25
watt untuk akuarium 200 - 400 liter, dan 40 watt untuk akuarium lebih besar dari
itu.
Penggunaan Filter UV sampai saat ini masih kontroverial, sebagian
akuaris mengganggap bahwa penggunaan filter UV hanyalah merupakan tindakan
pemborosan, sedangkan sebagian yang lain merasakan keuntungan yang
didapatkan dari penggunaan filter ini. Meskipun demikian, para akuaris sepakat
bahwa apabila akuarium dijaga keseimbangannya dan terawat dengan bik,
termasuk melaksanakan prosedur karantina bagi penghuni baru, maka filter UV
tidak akan diperlukan. Beberapa pertimbangan sebelum memutuskan
menggunakan filter UV adalah:
 Sangat efektif apabila digunakan secara terus menerus selama 24 jam perhari
 Sangat efektif apabila air selalu dijaga tetap jernih
 Sangat efektif apabila lampu UVnya masih baru, atau diganti secara teratur
(setiap 6-8 bulan)
 Sangat efektif apabila sinar UV hanya menembus air kurang dari 2.5 cm
 Efektifitas akan berkurang apabila air yang melewatinya mengalir dengan
cepat (disarankan air minimal tersinari selama 2 detik)
 Dapat menghindari terjadinya serangan ulang patogen, apabila sebelumnya
patogen tersebut berhasil dimusnahkan
 UV tidak hanya membunuh jasad renik yang tidak dikehendaki, tetapi juga
membunuh jasad-jasad renik yang berguna
 UV juga akan membunuh jasad renik yang merupakan sumber pakan bagi
invertebrata laut
 UV hanya membunuh jasad renik yang terdapat dalam air yang melewatinya,
dengan demikian jasad-jasar renik patogen yang terdapat pada tubuh ikan atau
berada dalam akuarium tidak akan terpengaruh
 Jangan digunakan bersamaan dengan perlakuan pengobatan
 UV dapat mengubah struktur bahan kimia tertentu
 UV dapat merusak mata manusia apabila sinar tersebut terekspos langsung
pada mata, atau kita melihat sinar UV tersebut.

g. Filter vegetasi (veggie filter)
Filter vegetasi adalah sebuah filter yang memanfaat tanaman sebagai
prosesor untuk menghilangkan kontaminan yang berada dalam air akuarium,
terutama dari golongan senyawa nitrogen seperti, amonia. Seperti diketahui,
tanaman memerlukan unsur hara tertentu untuk tumbuh dan berkembang,
diantaranya adalah nitrogen, fosfor,kalium dll. Dengan memanipulasi kebutuhan
hara ini sedemikian rupa, maka tanaman, dalam hal ini tanaman air, dapat
dimanfaatkan sebagai sebuah "pompa" untuk mengeluarkan unsur hara tertentu
dari dalam air akuarium. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melalukan air
melewati daerah perakaran tanaman. Hara yang dijerap tanaman selanjutnya akan
menjadi bagian dari tubuh tanaman. Hara ini kemudian dapat "dibuang" dari
sistem akuarium dengan cara "memanen" tanaman atau bagian dari tubuh tanaman
tersebut.
Gambar 1 menunjukkan disain sederhana sebuah filter vegetasi. Filter ini
terdiri dari 4 bagian A, B, C, dan D. Bagian A merupakan bagian filtrasi
mekanik yang befungsi menyaring kotoran padat dari akuarium. Bagian B adalah
bagian yang ditanami oleh tanaman air. Bagian C adalah bagian filtrasi mekanik
lagi, untuk mengatisipasi kotoran padatan dari bagian-bagian tanaman atau akar
yang terputus; Dan bagian C adalah bak penampungan hasil filtrasi akhir, sebelum
dikembalikan ke dalam akuarium utama.

Gambar 1. Sketsa Filter Vegetasi

Gambar 2. Pistia stratoites
Bagian B dari filter merupakan inti dari filter vegetasi. Dalam mengisi
bagian ini, disarankan untuk memilih tanaman yang memiliki pertumbuhan cepat
dan memiliki persyaratan tumbuh yang mudah. Tanaman terapung sangat
dianjurkan, karena tanaman ini memiliki bagian tubuh yang berada diatas air
sehingga kebutuhan CO2 nya dapat dipenuhi dari udara disekitarnya. Dengan
demikian tanaman jenis tersebut tidak akan mengganggu keseimbangan CO2
yang berada didalam air. Pilih juga fase tanaman yang sedang berada pada tahap
tingkat pertumbuhan paling tinggi. Apabila tingkat pertumbuhan ini sudah mulai
menurun maka gantilah tanaman tersebut dengan tanaman pada fase pertumbuhan
sebelumnya. Dari berbagai pilihan tanaman terapung yang ada Pistia stratoites
(Gambar 2) boleh dijadikan pilihan utama. P. stratoites termasuk rakus akan
"unsur" hara dan memiliki pertumbuhan yang cepat, sehingga, boleh dikatakan,
sangat cocok untuk dijadikan sabagai "pompa" untuk "membuang" hara dari
dalam air. Meskipun demikian anda bebas bereksperimen dengan berbagai
pilihan tanaman air terapung lainnya. Pada bagian B ini juga bisa ditempatkan
kerikil, sebagai media filtrasi biologi.


Gambar 3. Dimensi Ketinggian Relatif Filter Vegetasi
Gambar 3 menunjukkan sketsa rancangan dimensi ketinggian relatif sekat
antar bagian filter biologi. Ketinggian ini diatur sedemikian rupa untuk
menghindari terjadinya luapan air yang tidak diperlukan. Gambar ini sudah dapat
menerangkan dirinya sendiri sehingga diharapkan akan lebih mudah dipahami
dengan mencermatinya. Prinsipnya adalah apabila terjadi penyumbatan pada
bagian A maka air dapat melimbah (by pass) ke bagian B, tetapi tidak ke luar dari
sistem (banjir), begitu juga apabila terjadi penyumbatan pada bagian C, air akan
meluap ke bagian D tetapi tidak ke bagian B. Tentu saja berbagai modifikasi dan
improvisasi bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan selera.

Gambar 4. Contoh aplikasi filter vegetasi pada akuarium laut. Dalam hal ini
digunakan Caulerpa sp (sejenis ganggang laut) sebagai prosesor

Gambar 5. Salah satu aplikasi pada kolam ikan hias (latar belakang)
Filter vegetasi sering digunakan sebagai bagian dari kolam ikan hias
seperti Koi. Apabila dirancang dengan baik dan dilakukan pemilihan tanaman
yang tepat, filter ini akan menghasilakan fitran dengan tingkat kadar amonia dan
nitrat 0 ppm. Dengan hasil demikian bukan saja air akan terbebas dari
kontaminan berbasis nitrogen, dan unsur hara lainnya tetapi juga akan terhindar
dari gangguan algae atau kasus green water.

h. Protein Skimmer
Protein skimmer (Gambar 1.) adalah salah satu perangkat yang sering
digunakan oleh para hobiis akuarium laut. Bahkan boleh dikatakan protein
skimmer merupakan parangkat yang wajib ada dalam mengelola akuairum laut,
walaupun hal ini tidak sepenuhnya benar. Fungsi utama dari sebuah protein
skimmer adalah untuk memisahkan bahan padat terlarut dalam air dengan cara
pengapungan melalui jasa gelembung-gelembung udara yang ditiupkan kedalam
suatu kolom air. Dalam akuarium laut proses ini sering dianggap sebagai suatu
proses tiruan untuk menduplikasi fenomena alam yang terjadi dipantai pada saat
hari-hari hangat berangin. Pada kondisi seperti ini biasanya laut sering
mendamparkan buih/busa kepantai dengan membawa padatan terlarut yang
menempel pada buih-buih tersebut, dan mengendapkannya disana.

Gambar 1. Skema Protein Skimmer
Proses pemisahan padatan terlarut dengan metoda pengapungan
sebenarnya sudah lama dilakukan orang terutama dalam proses pengolahan air.
Dengan pengapungan, melalui gelembung udara dalam air, diharapkan akan
terjadi kontak antara partikel padatan dengan antar muka air-udara yang terbentuk
melalui gelembung udara. Selanjutnya partikel padatan ini akan terbawa
kepermukaan air dan dibuang.

Asal-usul.
Adalah Rickard (1977) yang konon pertama kali menggunakan cara
pengapungan untuk memisahkan partikel padatan dari air. Meskipun demikian,
teknik pengapungan itu sendiri sebenarnya telah diawali pada permulaan abad 20.
Diduga penggunaan teknik ini telah dimulai pada tahaun 1890 ketika orang
pertama kali mencoba memisahkan padatan dari minyak dan lemak. Sedangkan
penggunaannya secara tentative diketahui pertama kali dilakukan antara tahun
1901 – 1904 di Australia, dan hak patennya di klaim pada tahun 1902 dan 1903,
berturut-turut oleh Amerika dan Inggris. Pada saat itu gelembung udara yang
digunakan dihasilkan melalui suatau proses kimia dengan menggunakan asam-
asam kuat. Tidak berapa lama kemudian bermunculan perangkat pengapungan
dengan menggunakan gelembung udara yang ditiupkan kedalam kolom air. Salah
satu perangkat tersebut adalah protein skimmer yang dikenal sehari-hari dalam
pengelolaan akuarium laut.

Prinsip Kerja.
Prinsip kerja dari sebuah protein skimmer adalah menciptakan kontak
antara gelembung udara dangan koloid dan partikel-partikel padatan.
Efektifitasnya, oleh karena itu, akan sangat tergantung pada jumlah udara yang
ditiupkan, ukuran gelembung udara, laju pergerakan gelembung dalam air, dan
debit air.
Dalam satu liter air dapat dibuat sekitar 10000 gelembung udara dengan
ukuran 5 mm, atau 1 milyar gelembung udara dengan ukuran 0.1 mm. Semakin
kecil ukuran gelembung udara akan semakin besar luas permukaan kontaknya
pada suatu volume udara yang sama. Sebagai contoh 1 liter udara dalam bentuk
gelembung berukuran 5 mm kurang lebih setara dengan 1.2 m2 luas permukan,
sedangkan bila ukuran gelembungnya adalah 1 mm maka luas permukaannya
setara dengan 6 m2 dan bila berukuran 0.1 mm luas permukaannya setara dengan
60 m2. Dengan demikian, semakin halus ukuran gelembung udara yang
ditiupkan, secara matematik akan semakin luas bidang kontaknya sehingga akan
semakin banyak padatan terlarut yang bisa dibawa dan dibuang dari dalam
akuarium.
Kecepatan pergerakan gelembung udara dalam air adalah faktor lain yang
menentukan keefektifan sebuah protein skimmer. Dalam lingkungan akuarium,
gelembung udara yang dihasilkan oleh sebuah mesin peniup udara bisa berukuran
5 - 30 mm. Gelembung udara berukuran 1 mm apabila diperhatikan akan
tampak sebagai sebuah bola yang homogen. Gelembung berukuran demikian
akan cenderung bergerak teratur dalam air dan cenderung bergerak lurus.
Sedangan gelembung berukuran lebih dari 2 mm akan cenderung lonjong, sebagai
akibat terjadinya tekanan pada gelomang tersebut dan pengaruh arus air.
Gerakannya cenderung berputar (spiral) dan tampak bergetar. Getaran ini terjadi
sebagai akibat terbentuknya turbulensi di bagian bawah gelembung. Getaran
tersebut dapat mengurangi keefektifan gelembung dalam membawa partikel padat,
bahkan sering partikel yang telah terperangkap oleh gelembung menjadi telepas
kembali.
Apabila gelembung udara dapat diusahakan
seluruhnya berada dalam ukuran kurang dari 2
mm, maka dapat diperkirakan kecepatan
bergeraknya dalam air rata-rata sekitar 20
cm/detik. Pada saat bergerak gelembung ini akan
membelah air didepannya dan bersatu lagi
dibagian bawah gelembung Meskipun demikian
karena gerakannya tersebut maka bersatu nya lagi
air dibelakang gelembug tidak serta merta terjadi
tepat dibelakanya tapi akan membentuk suatu jarak. Pada jarak ini akan muncul
suatu daerah yang khas yang dikenal sebagai zone
Gambar 2. Pergerakan Gelembung dan pengaruh ikutan nya
mati (Gambar 2). Kahadiran zone ini sangat penting artinya dalam menciptakan
kontak antara partikel padatan dengan gelembung.
Pada paritkel-partikel berukuran besar zone mati demikian tidak terjadi,
yang ada justru merupakan sebuah zone turbulensi. Oleh karena itu sangat
direkomendasikan bahwa dalam sebuah protein skimmer diperlukan gelembung
udara yang sangat halus, dengan ukuran kurang dari 2 mm.

Daerah Skimming.
Koloid-koloid padatan memegang peranan penting dalam pebentukan
busa.. Pada saat gelembung-gelembung udara mencapai permukaan, gelembung-
gelembung tersebut akan saling bersatu dan melekat satu dengan lainnya. Apabila
partikel-pertikel padatan dalam bentuk koloid ini tidak ada, maka busa tidak akan
terbentuk di permukaan. Busa yang terbentuk selanjutnya akan naik ke ruang
penampung busa (Gambar 4.), sedangkan air yang terbawa akan turun kembali ke
dalam kolom. Daerah terjadinya percampuran antara air dengan busa ini dikenal
sebagai daerah atau zone skimming. Diatas zone ini terdapat daerah dimana
terjadi pemisahan atara busa dengan air. Zone ini disebut sebagai zone drainase.
Selanjutnya adalah zone transportasi busa.




Gambar 3. Cerobong Busa
Gambar 4

Tampungan busa. Tampak busa
yang tertampung membawa kotoran
berwarna coklat
Pada zone drainase air akan turun kembali kedalam kolom skimmer
sedangkan busa, selama koloid padatan masih ada, akan terbentuk terus menerus
disana dan terangkat naik ke pembuangan busa. Meskipun sebagian besar air
sudah akan turun pada zone ini, sebagian kecil air akan tetap terdrainase
bersamaan dengan terangkatnya busa ke penampungan. Busa selanjutkan akan
naik terus melalui cerobong busa dan akhirnya sampai di penampungan busa.
Dengan demikian proses skimming boleh dikatakan selesai.

Tipe Protein Skimmer
Pada dasarnya ada tiga tipe skimmer (Gambar 5.) yang dikenal, yaitu:
Tipe counter-current, atau tipe berlawanan arah.
Dalam hal ini arah pergerakan air dalam tabung skimmer berlawanan dengan arah
pergerakan gelembung udara. Tipe ini tampaknya paling umum dijumpai
dipasaran. Karena arah aliran airnya bertentangan dengan arah pergerakan
gelembung udara, diharapkan gelembung udara menjadi sangat efektif dalam
menangkap partikel-partikel padatan.
Tipe co-curent, atau tipe searah,
Tipe ini arah pergerakan airnya searah dengan arah pergerakan gelembung udara.
Tipe venturi,
Pada tipe ini gelempung udara tidak disuplai atau dibuat oleh suatu mesin khusus,
melainkan gelembung udara dihasilkan melalui venturi. Tenaga penggeraknya
biasanya berupa powerhead yang akan menyembuarkan air kedalam tabung.
Bersamaan dengan aliran yang kencang tersebut, udara di masukan melalu sebuat
lubang (pipa) kedalam tabung keluaran air sehingga terhisap dan bercampur
dengan air.

Gambar 5.
Tiga tipe skimmer Kiri: Counter- current, Tengah: Co-current, Kanan:
Venturi; panah merah menunjukkan arah aliran air, sedangkan panah biru
menunjukkan arah aliran udara. Pada tipe venturi air dan udara masuk
bersama-sama melalui satu pipa yang dilengkapi dengan venturi.

Selain dari tipe diatas, protein skimmer tersedia pula dalam bentuk internal
(Gambar 6.) maupun eksternal (Gambar 7.). Protein skimmer eksternal adalah
protein skimmer yang letaknya berada diluar akuarium atau sump. Sedangkan
protein skimmer internal penempatan diletakan didalam akuarium utama atau
sump. Mana yang akan dipilih akan sangat terntung pada keperluan kita masing-
masing.




Gambar 6. Skimmer Internal Gambar 7. Skimmer Eksternal
Beberapa Ketetapan Kinerja Skimmer
Laju aliran air dalam skimmer bersifat tetap dan ditentukan oleh volume
akuarium dan laju pertukaran air
skimmer
ara
air dan udara tapi tidak akan mempengaruhi laju bombardir
seluruh volume tabung
gelembung tanpa menimbulkan turbulensi dan hal ini ditentukan oleh diameter
skimmer, panjang, laju bombardir, dan waktu kontak
harus ditentukan dengan tepat agar kinerja skimmer optimum
Apabila diameter skimmer yang diperlukan lebih besar dari diameter yang
tersedia, maka dapat dikompensasikan dengan menggabungkan beberapa
skimmer sekaligus.

i. Filter Reverse Omsosis
Para penggemar ikan hias mestinya sudah tidak asing dengan istilah filter
reverse osmosis, atau filter osmosis terbalik. Filter ini kerap digunakan untuk
mendapatkan air berkesadahan sangat rendah, atau bahkan tanpa kesadahan.
Teknik yang sama juga digunakan dalam pengolahan air minum skala rumah
tangga.
Dalam pemeliharaan ikan hias, air berkesadahan rendah diperlukan untuk
mmelihara atau membudidayakan ikan jenis tertentu, seperti diskus atau neon
tetra. Dengan bantuan alat ini, kebutuhan air berkesadahan rendah dapat dipenuhi
dalam jumlah relatif banyak dalam waktu cukup singkat, sehingga dapat
mensuplai kebutuhan yang tinggi dan mendesak.
Prinsip Kerja
Prinsip kerja filter reverse osmosi adalah berdasarkan pada peristiwa
osmosis yang terjadi di alam. Osmosis adalah peristiwa bergerakanya air dari
larutan yang mempunyai konsentrasi lebih rendah melalui membran semi
permeabel ke larutan yang mempunyai konsentrasi lebih lebih tinggi sampai
tercapai keseimbangan.
Gambar 1 menunjukkana suatu bak berisi larutan dengan dua konsentrasi
berbeda yang dipisahkan dengan sebuah membran semi permeabel. Pada kondisi
awal pemukaan larutan tersebut berada pada posisi sama. Dengan berjalannya
waktu maka tinggi pemukaan larutan di bagian yang berkonsentrasi lebih tinggi
meningkat. Sedangkan hal sebaliknya terjadi pada larutan berkonsentrasi lebih
rendah (Gambar 2). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian air dari larutan sebelah
kiri bergerak menuju larutan sebalah kanan melalui membran semi permeable.
Peningkatan ini akan berhenti pada suatu ketinggian tertentu. Perbedaan
ketinggian ini dikenal sebagai tekanan osmotik.

Gambar 1. Posisi Awal

Gambar 2. Posisi Keseimbangan
Membran semi permeabel adalah membran yang dapat melalukan atom-
atom atau melokul-molekul tertentu tetapi tidak dapat melalukan atom-
atom/molekul yang lain. Dalam kasus diatas (dan pada kasus filter reverse
osmosis) yang dapat dilalukan adalah molekul air saja, sedangkan garam-garaman
tidak.
Dengan mengacu pada gambar diatas, seandainya kita memberikan
tekanan pada larutan berkonsentrasi tinggi lebih besar dari tekanan osmotik, maka
air akan terdorong keluar melalui membran semi permeabel tersebut, sedangkan
garam-garaman tetap tertinggal di bagian larutan berkonsentrasi tinggi. Hal inilah
yang kemudian diterapkan pada filter reverse osmosis. Disebut sebagai reverse
osmosis atau osmosis terbalik karena mekanisme yang diterapkan adalah dengan
cara membalikan fungsi dari peristiwa osmosis

Gambar 3.
Mekanisme Kerja
Filter Reverse Osmosis
Keterangan

Gambar 3 menunjukkan diagaram suatu filter reverse osmosis. Dalam hal
ini, air yang mengadung garam-garaman (atau berkesadahan tinggi) dimasukan
dengan tekanan tertentu, sehingga melebihi tekanan osmotiknya, kedalam
ruangan di bagian kiri. Dengan demikian, maka air (murni) akan berjalan
melewati membran semi permeabel dan tertampung di ruangan sebelah kanan.
Tidak semua air bisa dilewatkan melalui membran tersebut, hal ini tergantung
pada tekanan yang diberikan dan karakter dari membran. Oleh karena itu, dalam
filter recerse osmosis akan dihasilkan air limbah (reject), yaitu air yang
mengandung garam-garaman konsentrasi tinggi. Pada umumnya 2/3 dari air yang
diolah akan berubah menjadi limbah, hanya 1/3 saja yang kemudian menjadi air
lebih "murni". Sehingga tidak jarang beberapa orang kemudian menggunakan
deionizer sebagai alternatif


Gambar 4.
Contoh Produk Filter Reverse Osmosis (RO)

j. Ozonizer
Ozonizer merupakan alat pembangkit ozon (O
3
). Alat ini sering digunakan
dalam akuarium laut untuk keperluan sterilisasi. Sterilisasi dan pemurnian air
dengan ozon sudah lama digunakan dalam bidang pengelolaan air dan
pengelolaan air limbah. Ozon merupakan bentuk reaktif dari oksigen (O
2
).
Molekul ini mampu menghancurkan sejumlah besar partikel-pertikel limbah cair
dan bahan beracun, malalui proses oksidasi. Bahan-bahan beracun akan mampu
diubah oleh ozon menjadi senyawa-senyawa yang kurang beracun, dan
meningkatkan kemampuan bahan tersebut untuk lebih mudah diserap oleh
bakteri, alga, dan karbon aktif.
Dalam akuarium, kemampuan ini digunakan untuk membunuh berbagai
macam jasad renik, seperti bakteri, virus, dan spora, juga beberapa bahan cemaran
lain. Efek samping ozon berupa kemampuannya membersihkan warna dan bau
merupakan alasan utama mengapa ozon sering digunakan dalam akuarium laut,
terutama akuarium koral.
Ozon membantu meningkatkan pembentukan busa dari partikel-partikel
yang bahkan tadinya tidak bisa membentuk busa, dengan demikian hal ini akan
dapat meningkatkan kinerja suatu protein skimmer dalam akuarium laut. Apabila
ozon digunakan bersamaan dengan protein skimmer partikel-partikel kotoran yang
tidak bisa dihilangkan dengan pembusaan akan dapat dihancurkan lebih lanjut
menjadi partikel-partikel lebih sederhana dan selanjutnya terbuang ke atmosfir,
nitrat akan diubah kedalam bentuk yang lebih mudah dikonsumsi oleh bakteri dan
alga dalam akuarium.
Pada umumnya, setelah selama 24-48 jam dilakukan skimming dengan
ozon, air akuarium seakan-akan menghilang, karena sangat bersihnya air tersebut,
akibat semua paritkel-partikel sangat halus dan partikel warna telah terbuang dari
air.
Ozon hendaknya digunakan dalam akuarium melalui suatu wadah reaksi
tertentu seperti protein skimmer. Hal ini diperlukan agar terjadi kontak yang baik
antara air dan ozon terlebih dahulu.
Ozon untuk keperluan akuarium dibuat dengan suatu generator
elektrostatik dan sinar ultra violet, alat ini kemudian dikenal sebagai ozonizer.
Sebuah aerator diperlukan sebagai pancatu udara pada alat tersebut. Pada
ozonizer jenis tertentu, diantara aerator dan ozonizer diperlukan alat pengering
udara, biasanya terdiri dari suatu wadah berisi dessicant (penyerap kelembaban).



Gambar 1. Berbagai Produk Ozonizer
Penggunaan ozon diketahui mempunyai dampak, yaitu, merusak karet dan
plastik, termasuk pipa/selang udara pada aerator. Oleh karena itu, skimmer yang
menerima air hasil "ozonisasi" harus dibuat dari bahan plalstik tahan ozon. Ozon
yang telepas kedalam akuarium atau sump dapat membuat iritasi pada membran
lendir manusia dan dapat berbahaya bagi burung, serta dapat merusak insang ikan
dan jaringan invertebrata. Kelebihan ozon akan mengoksidasi kotoran dalam
tampungan busa skimmer sehingga akan menciptakan bau yang lumayan.
Beberapa pabrik skimmer telah mengantisipasi kemungkinan ini dengan
menyediakan penghalang bau dan bahan aktif penyerap kelebihan ozon pada
tampungan busanya, dengan demikian udara akan tersaring telebih dahulu
sebelum terlepas keruangan.
Para akuaris yang menggunakan ozonizer sebagai steriliser, dianjurkan
untuk menghindarkan penggunaan garam laut buatan pada akuarium lautnya yang
mengandung banyak bromida. Kelebihan bromida dapat bereaksi dengan ozon
membentuk ion hipobromit (OBr-) yang kemudian akan teroksidasi membentuk
ion bromat (BrO3-). Bromat merupakan okidator kuat seperti halnya bahan
pemutih (bleach). Bromat dapat stabil dalam air laut selama beberapa jam dan
dapat berakumulasi hingga tingkat beracun. Ozonisasi dapat pula menciptakan
bahan karsinogen hidrokarbon brominat. Oleh karena itu, gunakanlah ozon
seperlunya saja.
Ozonizer tersedia dalam berbagai ukuran dan harga. Untuk akuarium laut
ozon hanya diperlukan dalam jumlah sangat sedikit, oleh karena itu penggunaan
ozonizer yang paling kecil sekalipun sudah lebih dari cukup untuk sebuah
akuarium laut rumahan besar. Dosis sekitar 10g/jam/200 liter air sudah cukup dan
ekfektif.

k. Filter Sentral
Filter sentral atau filter terpusat adalah sebuah filter yang digunakan secara
bersama-sama oleh dua atau lebih akuarium. Penggunaan filter sentral dapat
mengurangi keperluan ruangan dan juga menghemat waktu
pemeliharaan. Meskipun demikian perlu pula diperhatikan beberapa kendala yang
mungkin ditemui dalam menggunakan sistem ini
Gambar disamping menunjukkan diagram
instalasi sebuah sistem dengan filter
sentral. Dalam sistem tersebut tampak
filter sentral melayani 6 buah akuarium
A,B,C di rak pertama (atas) dan D,E,F di
rak kedua (bawah). Air dari setiap
akuarium mengalir secara gravitasi
kedalam filter. Setelah difilter, air
kemudian dikembalikan ke setiap
akuarium dengan bantuan pompa (P).
Aliran air dalam sistem ini dikendalikan
oleh pompa P. Apabila pompa P berhenti
bekerja (sebagai akibat mati listrik
misalnya), maka sistem pun akan berhenti
bekerja tanpa menimbulkan resiko banjir.
Berdasarkan Gambar diatas dapat
diketahui bahwa dalam suatu sistem filter sentral maka satu akuarium dengan
akuarium lainnya menjadi saling terhubung. Filter menjadi tempat terjadinya
percampuran air dari seluruh akuarium yang terhubung. Keadaan demikian akan
menyebabkan parameter air pada akuarium-akuairum yang dilayani oleh filter
tersebut relatif sama. Resiko kontimanasi penyakit dari satu akuarium ke
akuarium lain bisa terjadi, oleh karena itu, diperlukan kontrol yang lebih seksama
untuk mencegah hal tersebut. Pencegahan kontaminasi penyakit bisa dilakukan,
misalnya, dengan memasang filter Ultra Violet pada outlet filter. Dengan
demikian air akan mengalami sterilisasi terlebih dahulu sebelum didistribusikan
ke setiap akuarium.
Apabila ikan yang dipelihara dalam setiap akuarium sama, maka sistem
filter terpusat dapat diterapkan dengan aman. Apabila ingin menerapkan filter
terpusat pada berbagai jenis ikan berbeda di setiap akuarium, pilihlah jenis-jenis
ikan yang memiliki selang kabutuhan paramater air relatif sama antara satu
dengan yang lainnya.
Alternatif Lubang Drainase (oulet) pada Akuarium.
Untuk memungkinkan
terjadinya aliran air secara gravitasi
dari setiap akuarium ke filter dapat
dilakukan dengan berbagai cara. Cara
pertama adalah dengan membuat
lubang pada dasar akuarium
kemudian memasang pipa drainase
disana.
Pada gambar 2 terlihat bahwa
socket PVC berperan dalam dua hal.
Selain sebagai jembatan yang
menghubungkan antara bagian
dalam akuarium dengan bagian luar,
dia juga berperan sebagai dudukan
pipa drainase. Pipa ini bisa diatur ukurannya sedemikian rupa disesuaikan
dengan kebutuhan tinggi permukaan air yang dikehendaki.

Gambar 3.
Pipa Drainase dengan Pipa T
Gambar 2.
Drainase Secara Gravitasi Melalui Dasar
Akaurium
Sebagai improvisasi anda bisa memasang pipa T diatas pipa drainase.
Sehingga alih-alih air mengalir melalui lubang pipa seolah sebagai corong, air
dapat mengalir melalui sisi pipa T (Gambar 3).

l. De-Ionizer
Filter de-ionzer adalah salah satu bentuk filter kimia. Fungsi utama filter
ini adalah untuk menghilangkan ion-ion tertentu dari air. Untuk keperluan
akuarium biasanya digunakan untuk menghilangkan kesadahan. Air hasil
olahannya kemudian digunakan sebagai bahan baku untuk meramu air akuarium
dengan tingkat kesadahan dan tingkat pH yang diinginkan.
Deionizer berfungsi dengan prinsip pertukaran ion. Yaitu; ion-ion tertentu
dari dalam air, seperti NH4+ atau Ca++, ditukar dengan ion pengganti dari
struktur media yang digunakan, biasanya Na+, atau H+.
Dalam proses penurunan kesadahan air, misalnya, air dengan kesadahan
tinggi dialirkan melewati media. Apabila media yang digunakan mempunyai ion
penukar Na+. Maka selama proses berlangsung sebuah ion Ca++ dari air akan
digantikan oleh 2 buah Na+ dari media. Dengan demikian, meskipun nantinya
kesadahan air berkurang, karena Ca++ telah "ditangkap" media, kadar Na dalam
air akan meningkat. Akan tetapi peningkatan Na ini tidak akan sampai mencapai
tingkat yang membahayakan. Apabila media yang digunakan mempunyai ion
penukar berupa H+, maka ion H+ dalam air akan meningkat, atau dengan kata lain
pH air akan menurun. Pilihan media yang digunakan sepenuhnya adalah
keputusan anda.
Berbagai media penukar ion banyak tersedia saat ini. Berbagai pilihan
tersedia untuk berbagai jenis ion berbeda. Meskipun demikian secara umum
mereka disebut sebagai media penukar kation, apabila yang dipertukarkan adalah
kation, atau media penukar anion, apabila yang dipertukarkan adalah anion.
Media yang digunakan sendiri bisa berupa media alami atau buatan
(sintetis). Media buatan biasanya adalah resin, yang dibuat berbentuk butiran,
dan telah diperlakukan secara kimiawi sedemikian rupa. Beberapa media buatan
ini sering tidak cocok digunakan dalam akuarium, oleh karena itu
konsultasikanlah dengan pedagangnya sebelum anda memutuskan untuk
membelinya.
Untuk media alami biasanya digunakan zeolite dari tipe clinoptilolite.
Clinoptilolite diketahui dapat menghilangkan ion-ion bermuatan positif dari dalam
air, seperti NH4+ atau Ca++. Pada umumnya bahan ini digunakan untuk
menghilangkan kelebihan amonia dari dalam air akuarium tawar. Clino biasanya
tersedia dalam berbagai merek dan berbagai ukuran.
Satu hal yang perlu diingat dalam menggunakan media ini adalah mereka
akan jenuh setelah periode waktu tertentu. Pada media-media buatan tingkat
kejenuhan tersebut biasanya ditandai dengan terjadinya perubahan warna.
Dengan demikian, apabila warna tersebut telah tecapai, artinya media tersebut
harus segera diganti atau diregenerasi. Setiap pabarik mempunyai indikator warna
berbeda untuk setiap produknya.



Penggunaan
Bagi yang ingin memanfaatkan cara ini, banyak tersedia alat jadi siap
pakai yang dijual dipasaran. Berbagai model dan kapasitas bisa dipiliah sesuai
dengan kebutuhan. Sedangkan bagi mereka yang ingin membuatnya sendiri bisa
dilakukan dengan beberapa tahapan berikut: "Filter" deionizer hendaknya dibuat
berbentuk tabung kedap udara. Sehingga aliran air akan menciptakan tekanan
tertentu untuk menjamin distribusi aliran air merata pada setiap media yang
dilalui. Anda bisa menggunakan fiter canister sebagai wadahnya. Sebelum
melalui media, air dialirkan terlebih dahulu melalui arang angktif. Pilih media
yang sesuai peruntukannya. Bagi yang ingin mendapatkan kadar kesadahan
rendah, siapakan media penukar Ca++ yang sesuai. Pilih media penukar ion, yang
ion penukarnya aman bagi akuarium. Anda bisa menggunakan media dengan ion
penukar H+ atau Na+.
Bagi yang menggunakan cara ini untuk menurunkan kesadahan, lakukan
perlakuan ini terpisah dari sistem akuarium anda, dengan kata lain de-ionizer ini
bukan merupakan filter langsung yang terpasang dalam akuairum. Tetapi
merupakan peralatan yang digunakan untuk menyediakan bahan baku air
akuarium. Sebelum digunakan, air hasil deioniasi perlu dicampur dengan air
normal dengan proporsi tertentu hingga dicapai nilai kesadahan dan pH seperti
yang diinginkan.

2.3. jenis filter yang digunakan pada akuarium
Filter menurut penempatannya dapat dibagi menjadi dua, yakni :
Filter yang ditempatkan di dalam akuarium / filter internal (Internal Filter)
Filter ini bekerja dengan cara yang mirip dengan filter atas. Tetapi, media
yang digunakan filter ini di taruh di bawah pompa air. Filter ini mempunya
kekurangan yang sama dengan filter atas, karena filter ini butuh tempat, sehingga
mengurangi keleluasaan di akuarium. Tapi filter ini pun mempunyai kelebihan
yang sama seperti filter spons, dengan tambahan aliran air yang lebih kencang
dari filter spons.
Filter yang ditempatkan di luar akuarium / filter eksternal (External Filter)
Filter eksternal paling sering dipakai untuk akuascape. Sumps termasuk
eksternal filter. Air akan di tarik ke dalam box dengan jumlah media yang cukup
banyak dan akhirnya akan di pompa ke ujung akuarium yang lain.
Filter ini menggunakan tempat paling sedikit di akuarium, seperti filter
gantung, tetapi filter ini mempunyai tempat untuk jumlah media yang cukup
besar.

2.4. jenis filter yang digunakan pada kolam ikan hias.
Berbagai Model & jenis Sistim Filtrasi Dalam pemeliharaan koi dalam
kolam, pengunaan sistem filtrasi merupakan suatu keharusan apabila kolam koi
tersebut tidak menggunakan sumber air terbuka. Memelihara kolam koi di
kolam dengan sistim air tertutup, filter digunakan sebagai alat untuk menjaga agar
kondisi air tetap layak dan sehat sebagai media hidup koi, berbeda dengan kolam
dengan sumber air terbuka yang airnya selalu berganti secara terus menerus
dengan air baru sehingga kondisi air selalu berganti secara terus menerus.
Dalam mendisign suatu sistim filtrasi kolam sangat tergantung kondisi, luas
lahan yang akan dimanfaatkan serta sesuai dengan model design kolam yang
ada, baru kita dapat menentukan model filtrasi yang akan digunakan. Sistim dan
model filtrasi yang baik dapat mengakomodasi semua kepentingan yang terkait,
model kolam yang indah dapat mengakomodasi kepentingan kita sebagai
pemelihara dan penikmat keindahan koi, namun dapat tetap menjaga semua
aspek parameter air kolam tetap terjaga dengan baik sehingga koi dan hidup dan
tumbuh dengan baik.
Kedua hal tersebut harus dapat seimbang, model filtrasi yang menggangu
estetika membuat kita tidak nyaman dalam menikmati koi yang kita pelihara,
demikian halnya apabila kita hanya mementingkan keindahan dengan
mengorbankan sistim filtrasi akan membuat koi tidak dapat hidup dengan baik
sehingga koi tidak dapat hidup dengan baik bahkan menyebabkan kematian.
Ada beberapa model filtasi yang sering digunakan dan cukup popular :
1.model multi chamber sejajar kolam
model ini mengunakan beberapa sekat filter yang di letakkan sejajar
kolam, dengan menggunakan berbagai media filter sebagai alat penyaringannya.
2. Model multi chamber di atas kolam bisa vertikal, horisontal, maupun
diagonal
model ini sama dengan model no.1 , hanya saja posisi filter diletakkan
lebih tinggi dari kolam dengan berbagai bentuk, gaya dan posisi dengan masing –
masing kelebihan dan kekurangannya.


3. Model Under Gravel
model ini filter diletakan pada bagian bawah tanah, model ini sering
digunakan pada kolam yang memiliki lahan terbatas.
4. Model Bakki Shower
model ini banyak juga digunakan bagi yang senang dengan suara
gemericik air, yg dapat juga sebagai media untuk menambah kadar terlarut
oksigen dalam air, namun sistim filter ini lebih menekankan pada fungsi sebagai
sistim filtrasi biologi, dengan fungsi sistim fisika yg kurang baik, oleh karenanya
biasanya sistem ini digabungkan dengan model filter yang lain.



















BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
a. Jenis filter berdasarkan prinsip kerjanya terbagi menjadi 3 yaitu: filter
mekanik, filter biologi, filter kimia.
b. Jenis filter yang umum dikenal adalah filter under gravel, filter canister,
filter wet & dry, filter atas, denitrator, filter ultra violet, filter vegetasi,
protein skimmer, filter reverse omsosis, ozonizer, filter sentral dan de-
ionizer.
c. Jenis filter yang digunakan pada akuarium yaitu internal filter dan
eksternal filter.
d. Jenis filter yang digunakan pada kolam ikan hias yaitu model multi
chamber sejajar kolam, Model multi chamber di atas kolam bisa vertikal,
horisontal, maupun diagonal, Model Under Gravel dan Model Bakki
Shower.

3.2 Saran
Diharapkan untuk mencari referensi yang lebih banyak agar bisa lebih
memahami materi mengenai filterisasi.












DAFTAR PUSTAKA

Afief, Arief. 2006. Sistem filtrasi akuarium air laut untuk pengendalian
senyawa nitrogen dalam air. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Yulianinsih, Fitri. 2010. Aquarium Biota Laut di Pantai Cermin. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Anonim. Media filter biologi kolam koi. http:// aquariumhias. blogspot. com/2013
/06/media- filter-biologi-kolam-koi.html. diakses pada tanggal 15
September 2013 pukul 15.25 WITA.
Anonim. Ragam filter untuk ikan hias. http:// akuariumhias. blogspot.com
/2013/01 /ragam -filter-untuk-ikan-hias.html. diakses pada tanggal 15
September 2013 pukul 15.30 WITA.
Purwakusuma, Wahyu. 2012. Filter. http://o-fish.com/Filter.php. diakses pada
tanggal 15 September 2013 pukul 15.45 WITA.