1.

Etika Gawat-Darurat
Dalam KODEKI terdapat butir-butir yang berkaitan dengan kasus-kasus gawat darrat yang
kalau ditempatkan menurut urutan yang relevan lebih dahulu,susunannya menjadi sebagai
berikut :
 Seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
kemanusiaan,kecuali bila yakin ada orang lain bersedia dan mampu melakukannya.
 Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi.
 Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup insani.
 Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan ilmu keterampilannnya
untuk kepentingan penderita. Dalam hal ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan
atau pengobatan,maka ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain yang empunyai
keahlian dalam penyakit tersebut.
 Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
pertimbangan keuntungan pribadi.
 Seorang dokter dalam bekerjasama dengan pejabat dibidang kesehatandan bidang lainnya
serta masyarakat harus memelihara saling pengertian sebaik-baiknya.
 Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita agar senatiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.
 Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang penderita,
bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia.
 Setiap dokter harus memelihara kesehatannyasupaya dapat bekerja dengan baik.
Etika Kedokteran
Etik berasal dari kata Yunani yang berarti ”yang baik” atau ”yang layak”. Ini merupakan
norma-norma, nilai-nilai atau pola tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam memberikan
pelayanan jasa kepada masyarakat. Yang dimaksud pekerjaan profesi (profesio berarti
pengakuan) antara lain adalah pekerjaan dokter, apoteker, dll.
Menurut kamus kedokteran : ketentuan-ketentuan atau prinsip-prinsip yang mengatur
perilaku profesionalisme dokter.
Etik profesi yang tertua adalah etik kedokteran yang merupakan prinsip-prinsip moral
atau asas akhlak yang harus diterapkan oleh dokter dalam hubungan dengan pasien, teman
sejawatnya dan masyarakat umumnya.
Landasan etik kedokteran adalah :
1. Sumpah Hipokrates
2. Deklarasi Geneva
3. International Codes of Medical Ethics
4. Lafal Sumpah Dokter Indonesia
5. Kode Etik Kedokteran Indonesia
6. Deklarasi Ikatan Dokter Sedunia
Medical Ethics adalah :
Code of behaviour : tata prilaku kelompok professional para pelaku dibidang medis /
dokter .
Studi tentang nilai-nilai , moral , dan akhlak prilaku dokter.
Sesuai dengan prinsip dan pokok perilaku profesi seorang dokter .
Hubungan dokter-pasien = > hubungan antar sesama manusia
Hubungan dokter-pasien merupakan hubungan antar sesama manusia. Oleh karena itu
mungkin saja terjadi perselisihan antara dokter-pasien. Sehingga perlu dibina hubungan
dokter dan pasien. Pada prinsipnya hubungan dokter dan pasien dapat dibina bila masing-
masing antar dokter dan pasien menjalankan hak dan kewajiban antara mereka sendiri.
Landasannya terdapat pada UU Kedokteran.
Hak dan kewajiban dokter :
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standard prosedur dan SOP serta kebutuhan
medis pasien
2. Merujuk pasien ke dokter dan orang yang dianggap lebih ahli.
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan setelah pasien
meninggal
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan
Hak dan kewajiban pasien
1. Meminta pendapat dokter dan orang lain
2. Menolak tindakan medis
3. Mendapatkan isi rekam medis
4. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis
Hubungan dokter-pasien yang baik :
 Etika Gawat-Darurat
Gawat Darurat yang sebenarnya adalah suatu kondisi klinik yang memerlukan pelayanan
medik yang cepat, tepat, bermutu dan terjangkau.
Dalam pelayanan medik itulah para petugas kesehatan dituntut untuk benar-benar
menghayati dan mengamalkan etik profesinya karena dalam kondisigawat darurat aspek
psiko-emosional memegang peranan penting baik bagi penerima pelayanan medik
maupun bagi petugas kesehatan terkait.
2. Kaidah Dasar Bioetik
Kaidah dasar bioetik adalah landasan pertimbangan dalam mengambil keputusan oleh dokter
dalam bekerja. Kaidah dasar dasar bioetik juga merupakan kaidah dasar yang harus dimiliki
dokter sebelum melakukan tindakan medis.
ASPEK KAIDAH DASAR BIOETIK:
A.Non-Maleficence (darurat)
adalah tidak melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang
paling kecil resikonya bagi pasien dan memberikan yang paling banyak manfaatnya bagi
pasien sendiri.
Ciri-cirinya:
a.Menolong pasien emergency (darurat)
b.Mencegah pasien dari bahaya lebih lanjut
c.Manfaat pasienlebih besar dari kerugian dokter
B.Autonomy (Kemandirian)
Adalah menghormati hak pasien terutama dalam memperoleh informasi dan hak membuat
keputusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap dirinya serta menghormati martabat
manusia.
Ciri-cirinya :
a.Menghargai hak menentukan nasib sendiri
b.Berterus terang
c.Menghargai privasi pasien
d.Menjaga rahasia
e.Melaksanakan informed concern



C. Beneficence (berbuat baik)
Ciri-cirinya:
a. Altruisme terjaga (rela berkorban)
b.Menghormati martabat manusia
c. Mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga kesehatannya
d. bersikap ramah
General Beneficence = bersifat umum
Beneficence
Special Beneficence = contohnya : menolong orang cacat
D. Justice (Keadilan)
Ciri-cirinya:
a. Tidak tergantung SARA, social, ekonomi, budaya, dll
b.Hanya mementingkan kesehatan pasien
E. Primafacie yaitu memilih antar satu dari keempat kaidah dasar bioetik diatas apabila ada
dua kondisi atau lebih.
3. Perbedaan Kaidah Dasar Bioetik
Dalam hal ini dilihat pada saat dokter berada dalam kasus yang menyangkut dua kaidah dasar
atau lebih sehingga dokter harus melakukan prima-facie.
Beneficence :
- Keadaan pasien wajar
- Pada saat pasien banyak
- Keuntungan pasien lebih besar dari kerugian dokter
Nonmaleficence :
-Pada saat keadaan gawat darurat
-Terdapat pasien yang rentan, uzur, dll.
Autonomy :
- Apabila pasien dianggap kompeten (Mengerti penyakitnya, berkepribadian
matang)
Justice :
- Memberikan pelayanan yang sama
4. Latar belakang dan tujuan mempelajari Kaidah Dasar Bioetik
- Memahami dan mengerti agar mampu menerapkan Kaidah Dasar Bioetik sehingga dapat
membela diri dalam masalah hukum karena telah sesuai prosedur
- Menghasilkan dokter yang beretika sopan santun
- Agar reputasi dokter tidak jatuh
- Agar pelayanan kesehatan meningkat
5. Pelanggaran Kaidah Etik
Contoh – Contoh Pelanggaran Kaedah Dasar Bioetik
a. Pelanggaran kaidah Beneficence
Contoh pelanggaran beneficence yang terdapat pada kasus adalah ketika menangani sang
pasien gawat darurat , perawat yang tengah bertugas menangani dengan tidak acuh dan
terkesan biasa – biasa saja . Padahal , sesuai dengan aturan beneficence , bahwa pelaku
tindakan m edis harus bertindak ramah dan menolong , bukan hanya sekedar menjalankan
kewajiban saja. Contoh pelanggaran lainnya antara lain : menarik honorarium diluar
kepantasan ,tidak bertanggung jawab terhadap pasien , dan memandang pasien hanya
sebagai objek .
a. Pelanggaran kaidah non-maleficence
Contoh pelanggaran non-maleficence yang terdapat pada kasus ini adalah bahwa dokter
yang menangani pasien gawat darurat dating terlambat hingga tiga jam . Hal ini
membahayakan pasien . Contoh lainnya antara lain ;mencaci maki pasien , melakukan
euthanasia ,atau melakukan kelalaian yang visa membahayakan pasien.
a. Pelanggaran kaidah autonomy
Contoh pelanggaran autonomy antara lain ; merahasiakan diagnosa penyakit pasien dari
pasien itu sendiri , membocorkan rahasia pasien ,tidak melaksanakan inform consent
,atau menyuruh pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan .
a. Pelanggaran kaidah justice
Contoh pelanggaran justice antara lain ; membeda – bedakan pasien atas dasar SARA ,
atau memberi pelayanan yang berbeda pada pasien dengan kasus yang sama.
Dalam kasus 2 ”Dokter yang Lamban Menangani Pasien”, terjadi kaitan antara etika
kedokteran, hubungan dokter-pasien dan gawat-darurat. Penanganan dokter dan
kesehatan yang terkesan biasa-biasa saja.
Lamban dan tidak mengacuhkan, menjelaskan bahwa dokter tidak memiliki dan
mengamalkan etika kedokteran sesuai dengan landasan-landasannya. Dokter pun tidak
membina hubungan yang baik dengan pasien (dalam hal ini keluarga pasien , karena
pasien dalam kondisi kurang kompeten untuk menerima informasi), sehingga tidak terjadi
penyelesaian masalah dalam kasus ini dan pasien pun tidak mendapat perlakuan baik,
sebagai akibatnya pasien mengalami kematian. Seharusnya dalam keadaan darurat pasien
harus menerima pertolongan secara cepat, tepat, bermutu dan terjangkau sesuai dengan
kaidah bioetik nonmaleficence.
Pelanggaran Etika Kedokteran:
1.Pelanggaran etik murni
menarik imbalan yang tidak wajar atau menarik imbalan jasa dari kelurga sejawat dokter
dan dokter gigi
mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya
Memuji diri sendiri di depan pasien
Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran bekesinambungan
Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri
2.Pelanggaran Etikolegal
pelayanan kedokteran di bawah standar
menerbitkan surat keterangan palsu
membukan rahasia
abortus provakatus
pelecehan seksual
6. Kompetensi Good Doctors
Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh dokter yang baik (good doctor), yaitu :
1.Good doctors make the care of their patients their first concern. Dokter yang baik
menjadikan perawatan terhadap pasiennya itu yang utama (patient’s first).
2.Good doctors are competent. Dokter yang baik itu benar-benar ahli dan menguasai
bidangnya.
3.Good doctors keep their knowledge and skills up to date. Dokter yang baik menjaga
pengetahuan dan keahliannya agar selalu up to date, dan selalu belajar untuk
meningkatkan pengetahuan dan keahliannya itu agar dapat mengikuti perkembangan
yang terjadi.
4.Good doctors establish and maintain good relationships with patients and colleagues.
Dokter yang baik itu membuat dan mempertahankan hubungan yang baik terhadap
pasien dan teman sejawatnya.
5.Good doctors are honest and trustworthy.Dokter yang baik adalah dokter yang jujur
dan dapat dipercaya.
6.Good doctors act with integrity.Dokter yang baik itu melakukan sesuatu dengan
integritas (dengan ketulusan hati ).
Sumber : www.gmc-uk.org
7.Pelanggaran kasus 2:
- Nonmaleficence : Karena dokter tidak mengutamakan pasien UGD (lamban)
- Beneficence: Karena dokter tidak melakukan yang baik
Namun, dalam kasus ini dokter dan pihak rumah sakit melanggar kaidah dasar bioetik
nonmaleficence, karena sesuai dengan contoh kasus pada buku Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan karangan M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir yaitu Rumah sakit dan atau seorang
dokter yang menunda-nunda rawat inap penderita gawat darurat atau menunda-nunda
tindakan medik terhadap penderitanya atas alasan belum membayar uang muka, berarti telah
melanggar etik dan hukum sehingga dapat digugat di pengadilan.
Agar tidak terjadi kasus seperti ini lagi maka:
-Pihak rumah sakit harus mempunyai SOP. SOP (Standar Operasional Prosedur) adalah
tata cara atau tahapan yang harus dilalui dalam suatu proses kerja tertentu yang dapat
diterima oleh seorang yang berwenang atau yang bertanggung jawab untuk
mempertahankan tingkat penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu kegiatan
secara efektif dan efisien (Depkes RI, 1995).
-Tenaga medis harus mengetahui, memahami, mampu menerapkan Kaidah Dasar Bioetik
-Dokter harus mengetahui kriteria Good Dokter
-Dokter harus mengetahui Hak dan Kewajiban Dokter-Pasien
-Dokter sebaiknya wajib mengetahui Etika Kedokteran
-Dokter diharuskan mengetahui Etika Dokter-Pasien, bagaimana berhubungan dengan
pasien
-Dan mengetahui sanksi apa saja yang didapat apabila melanggar Kaidah Dasar Bioetik,
danHukum. Sehingga dokter dapat lebih hati-hati dalam bekerja.
Apabila kasus seperti ini terjadi maka pihak korban dapat melaporkan dokter dan rumah
sakit kepada yang berwenang. Jika dokter adalah dokter tetap dan dirumah sakit ada SOP
maka dokter berhubungan dengan MKEK. Jika tidak ada SOP maka rumah sakit
melanggar hukum. Dan jika dokter tidak tetap, maka dokter tidak melanggar peraturan
hanya rumah sakit yang dituntut.