1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
Ransum merupakan faktor penentu terhadap pertumbuhan dan
produktivitas, di samping bibit dan tatalaksana pemeliharaan. Ransum
menempati biaya produksi terbesar yaitu 60-75% dalam suatu usaha
peternakan. Bahan baku pakan yang umum dipergunakan berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan produk asal hewan dalam bentuk produk olahan
ataupun produk sampingan Penggunaannya Sebagai komponen penyusun
ransum harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya mempunyai kualitas
baik, murah, dan tidak berbahaya untuk ternak yang mengkonsumsinya.
Pemanfaatan bahan pakan lokal seperti produk pertanian dan hasil ikutannya
diharapkan dapat mengurangi biaya ransum.
Ransum adalah susunan beberapa pakan untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi ternak sehingga dapat hidup dan berproduksi. Dalam peternakan babi,
strategi penyusunan ransum harus sangat diperhatikan agar ternak dapat
berkembang sesuai dengan tujuan produksi. Keberhasilan suatu usaha
peternakan sangat ditentukan oleh 3 faktor yang sama pentingnya, yaitu: 1)
breeding (pemulia biakan, bibit), 2) feeding (pakan), 3) management (tata
laksana). Namun, jika dilihat dari total produksi dalam usaha peternakan,
maka kontribusi pakan adalah yang paling tinggi yaitu sekitar 75%nya.
Oleh sebab itu, penulis membuat paper dengan judul “Penyusunan
Ransum Babi” agar dapat mengetahui bagaimana metode dan bahan-bahan
yang digunakan dalam penyusunan ransum.

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Apa pengertian ransum babi?
1.2.2. Apa saja macam-macam ransum babi?
1.2.3. Bagaimanakah presentase pemberian makanan?
1.2.4. Bagaimanakah persiapan dalam menyajikan makanan?
2

1.2.5. Bagaimana cara memperhitungkan kadar protein dalam ransum?
1.2.6. Bagaimana metode menyusun formula ransum babi?

1.3.Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui pengertian ransum babi.
1.3.2. Untuk mengetahui macam-macam ransum babi.
1.3.3. Untuk mengetahui jumlah makan yang diberikan kepada babi.
1.3.4. Untuk mengetahui persiapan dalam menyajikan makanan.
1.3.5. Untuk mengetahui memperhitungkan kadar protein dalam ransum.
1.3.6. Untuk mengetahui metode menyusun formula ransum babi.





3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Ransum
Yang dimaksud membuat ransum adalah sejumlah bahan makanan atau
campuran dari beberapa bahan makanan yang diberikan kepada ternak dalam
waku tertentu, misalnya satu hari satu malam. Penyusunan ransum ini harus
diusahakan adanya zat-zat yang diperlukan, dengan memilih bahan dari
lingkungan yang secara ekonomis masih menguntungkan. Penyusunan
ransumsangt bervariasi atau berbeda-beda. Titik berat perbedaan ransum ini
terletak pada kadar protein dan hidrat arang. Dengan demikian pedoman
penyusunan ransum makanan babi dipergunakan Imbangan Protein (IP).
Imbangan in menunjukkan suatu pperbandingan antara protein dapat dicerna
(Prdd) dengan Martabat Pati (MP). Martabat Pati adalah angka yang
menunjukkan kg (gr) pati murni yang sama besar dayanya dengan 100 kg (gr)
dari bahan makan itu untuk membentuk lemk badan yang sama banyaknya
dalam tubuh. Kalau suatu bahan makan sudah diketahui presentase protein
(Prdd) dan Martabat Pati (MP), berarti imbangan protein nya dapat dicari.
Pemberian ransum tersebut unsur-unsur vitaminvitamin dan mineralnya harus
dipertimbangkan. Kandungan Imbangan Protein didalam ransum
diperhitungkan berdasarkan berberapa faktor :
a. Tujuan peternak itu sendiri, misalnya sebagai babi bibit, pedaging dll.
b. Fase hidup babi starter, grower, finisher atau berat babi.
c. Pedoman yang telah ada seperti zat-zat makanan yang diperlukan
dipertimbangkan ekonomis , serta bahan yang tersedia pada sepanjng
tahun.
Dalam pemilihan bahan pakan/ ransum sebaiknya memperhatikan
beberapa persyaratan/pertimbangan, antara lain:
a) Bahan itu mudah didapat
b) Murah harganya
4

c) Tidak bersaing penggunaannya dengan manusia
d) Tidak beracun
e) Mengandung zat pakan yang sesuai dengan tujuan beternak
Beberapa bahan pakan mengandung zat anti-nutrisi yang bersifat toksik
(racun) bagi ternak, oleh sebab itu pemilihan dan penggunaan bahan ransum
perlu dipertimbangkan sampai batas tertentu, dan dikaitkan dengan tujuan
beternak.
2.2.Macam-Macam Ransum Babi
2.2.1. Starter
Yakni fase hidup anak babi semenjak mereka masih menyusu
sampai dengan umur 8 – 10 minggu. Pada fase ini hendaknya
komposisi makanan disusun dari bahan makanan yang mudah dihisap
dan mudah dicerna (creep feeder). Hal ini berarti kandungan serat
kasarnya harus betul – betul rendah. Misalnya ransum diberi susu
skim, jagung giling. Karena susu memiliki protein yang tinggi dan
jagung memiliki kadar cerna yang tinggi serta sebagai sumber
karbohidrat yang bagus. Ransum pada fase ini diperlukan kadar
protein 20 – 22 %. MP 70%, serat 3%. Ransum dapat ditambahkan
gula supaya rasanya enak.
2.2.2. Grower
Yakni fase hidup anak babi (babi kecil) sesudah fase starter
sampai 6 bulan. Bagi mereka yang hendak digemukkan (fattener) atau
sebagai pig breeding harus sudah melewati fase ini dan mencapai
berat hidup 50 Kg. Hal ini dimaksudkan agar :
a. Babi tidak banyak spek atau lemak, melainkan banyak daging.
b. Babi breeding (bibit) dalam periode menyusui dapat
memprodusir susu yang banyak.
c. Babi bisa tumbuh baik, sehat, dan kuat.
5

Pada fase ini protein yang dibutuhkan ±17%, MP ±68%, serat
kasar 5% dengan tambahan ektra hijau segar, kebutuhan vitain dan
mineral terpenuhi.
2.2.3. Fattener
Yakni babi yang degemukkan sebagai babi potong.
Penggemukana ini dimulai semenjak atau setelah fase grower dengan
berat badan hidup 40 – 50 Kg sampai bisa dipotong dengan berat ±100
Kg. Mereka tidak perlu diberi ramsum dengan kadar protein tinggi,
tetapi juga tidak dibenarkan jika kadar ransum proteinya terlalu
rendah, sebab babi akan banyak spek saja. Demekian juga rumput
yang banyak serat kasarnya terlalu banyak akan menyebabkan
produksi daging tgidak optimal. Yang bisa ditingkatkan adalah kadar
hidrat arang. Dan untuk menghindarkan spek babi yang terlalu lunak
dihindarkan pemberian katul terlalu banyak, sebagai gantinya dapat
diberika bungkil kelapa. Kadar protein yang diperluka ±14%, MP
69%, serat kasar 5%.
2.2.4. Breeding (babi bibit)
Ransum ini diberikan kepada babi dara, sebagai makanan
pengganti fase grower, atau diberikan kepada babi yang bunting tiga
bulan pertama. Yang perlu diperhatikan pada fase ini babi tidak boleh
terlalu gemuk dan banyak fat. Untuk menghindarkannya babi dapat
diberikan serat kasar dengan kadar yang tinggi dengan hijauan segar.
Kadar protein yang diperlukan 14,5%, MP ±64%, serat kasar 8,5%.
2.2.5. Laktasi (induk menyusui)
Ransum ini diberikan pada bulan terakhir kehamilan dan selama
induk menyusui. Ransum harus disusun dengan kadar protein yang
tinggi, karena sangat diperlukan untuk :
a. Pertumbuhan embrio
b. Persiapan produksi air susu
6

Ransum ini serat kasarnya harus dikurangi agar tidak terjadi
kemungkinan kesukaran pembuangan kotoran (konstipasi) pada saat
hendak melahirkan. Untuk menghindari konstipasi bisa diberikan obat
peluncur seperti : garam inggris sebanyak 1 sendok makan dicampur
dengan makanan; diberikan beberapa hari sebelum dan sesudah
melahirkan. Pada saat seperti ini makan dapat dikurangi, tetapi ransum
harus betul – betul bermutu. Kadar protein yang diperlukan 18,5%,
MP 66%, serat kasar 7%.
Tabel 1. Keperluan Menurut Fase dan Tujuan Peternak
Bahan Starter %
Grower
%
Fattener % Breeding % Laktasi %
1. Jagung
2. Katul
3. Tepung Ikan
4. Susu Skim
5. Bungkil Kedelai
6. Bungkil Kelapa
7. Tepung Daun
Lamtoro
8. Mineral
35 – 60
-
5 – 10
0 – 20
5 – 15
-
0 – 3
1
25 – 60
0 – 10
5 – 10
-
2 – 10
0 – 3
5
1,5
25 – 60
0 – 25
-
-
2 – 5
2 – 7
5
1,5
15 – 40
0 – 15
2 – 5
-
2 – 7
0 – 7
5
1,5
20 – 50
5 – 10
5 – 10
-
5 – 10
0 – 7
5
1,5
1. Protein
2. Hidrat Asam
3. Serat Kasar
(mineral)
4. Vitamin
5. Antibiotik
20 – 22
70
4
17
68
6
14,5
69
6
14,5
64
8,5
18,5
66
7

2.3.Jumlah Makanan
Jumlah makanan atau volume makanan yang diberikan kepada babi per
hari per ekor juga tergantung pada umur atau fase hidupmasing-masing dan
7

tujuan peternak. Bagi babi induk menyusui diberi sebanyak mungkin yang
mereka habiskan. Sedangkan bahan ransum harus :
1. Segar, bersih dan diberikan dua kali
2. Terhindar dari bahan-bahan yang merugikan, misalnya katul yang
sudah rusak (tengik).
Jika anak-anak sudah mencapai 8 minggu, per ekor harus ditambah 0,75
kg dan kemudian makanan bisa ditingkatkan sedikit kasar sesuai dengan fase
hidup mereka (lihat table no.3), kesemuanya itu tak lepas dari gizi yang
terkandung di dalamnya.
Catatan:
Angka-angka tersebut hanyalah pedoman, bukan berlaku mutlak. Dan
setiap kelompok babi akan berbeda-beda, ada yang makan cukup.
Tabel 2. Volume Pemberian Makanan
Berat babi/kg Umur (minggu) Jumlah/kg
15
20
25
30
35
40*
50
55
60
65
70
75
80
8 (habis disapih)
10
12 (3 bulan)
14
15
17
19
20
21
22
23
24 (6 bulan)
25
0,75
0,90
1,10
1,30
1,50
1,70
2,00
2,10
2,30
2,40
2,50
2,60
2,70
8

85
90
95
100
26
27
28
29
2,80
3,90
3,00
3,50
* mulai penggemukan : ransum babi grower sampai dengan berat 40 atau
50 kg. kemudian harus digemukan.
Penggolongan babi :
Menurut umur atau pertumbuhan berat hidup, babi bisa digolongkan
(diklasifikasi) sebagai berikut :
1. Anak babi : beratnya ± 15 kg, waktu masih menyusui s/d disapih
2. Babi kecil : beratnya 15-30 kg
3. Babi dewasa : beratnhya 30-60 kg
4. Babi besar : beratnya 60-90 kg
5. Babi bibit : beratnya 90-120 kg atau 90 hingga jadi bibit

Tabel 3. Pemberian Jenis Bahan Makan Menurut Fase Masing-masing
Periode/umur Makanan Jenis makanan
1. Induk
2. Dara
- Bunting 3 bulan
- Akhir
kebuntingan
3. Induk bibit dewasa
- Bunting 3 bulan
- Akhir bulan
kebuntingan
1-2 kg + hijauan

2 kg + hijauan
3 kg + hijauan

1,5 kg + hijauan
2,5 kg + hijauan

Makanan induk bibit

Makanan induk bibit
Makanan induk
menyusui

Makanan bibit
Makanan induk
menyusui
9

4. Induk menyusui *)
- Muda
- Dewasa

2,5 kg + 0,25 kg (per
ekor anak)
2 kg + 0,25 kg (per
ekor anak)


Makanan induk
menyusui
*) seekor babi induk muda dengan 8 ekor anak = 2,5 kg + (8 x 0,25 kg ) = 4,50
kg, makanan induk menyusui + hijauan segar.
2.4.Persiapan Dalam Meyajikan Pakan
a. Makanan bijian-bijian seperti jagung , kedelai, dls, harus digiling terlebih
dahulu, tetapi tidaklah perlu, tetapi tidaklah perlu terlalu halus, sebab bisa
mengurangi kelezatan ternak.
b. Makanan atau ransum dicampur dengan air didalam pelaksanaan,
biasanya ransum dicampur dengan air, sehingga makanan bisa bercampur
secara merata.
c. Dimasak, dengan memasak makanan dimaksudkan agar apabila ada bibit
penyakit, toxin yang terkandung di dalamnya binasa. Dan bagi babi kecil
akan lebih mudah dicerna dan lebih enak.
2.5.Cara Memperhatikan Kadar Protein Dalam Ransum
Untuk memperhitungkan kadar protein bisa menggunakan salah satu
cara, misalnya dengan rumus “pearson square”. Setelah ditentukan bahan
makanan yang hendak dipakai, maka barulah disusun seperti apa dikehendaki,
misalnya yang kandungan proteinnya 21 %.
Contoh 1: Ransum yang mengandunng protein 21% dan terdiri dari 2
macam bahan makanan yaitu katul dan ikan teri ; masing-masing bahan bisa
dicari berapa kg, dengan diketahui terlebih dahulu kadar protein masing-
masing bahan tadi dengan jumlah ransum yang akan dibuat 100 kg
Untuk menghitungnya sebagai berikut :
1. Katul kadar protein 13,5 %
2. Ikan teri kadar protein 53,3 %
Kemudian :
1. Buatlah segi empat dengan diagonalnya
10

2. Tempatkan kandungan protein yang dikehendaki ditengah-ditengah segi
empat.
3. Tempatkan besarnya kandungan protein bahan I disudut kiri atas , dan
kandungan protein bahan II disudut kiri bawah.
4. Tentukan perbedaan angka yang ditengah segi empat dengan angka
yang terletak disudut kiri atas dan kiri bawah, dan tempatkanlah
perbedaan- perbedaan itu pada sudut kanan bawah dan kanan atas.
5. Angka pada sudut kanan atas adalah jumlah bagian bahan ke- I dan pada
sudut kanan bawah adalah bagian bahan ke II .
Bagian I 13,5 32,3 bagian I (katul)





Bagian II 53,5 7,5 bagian II (ikan teri)
Jumlah Bagian I dan II 39,8

Perbandingan bahan I : II = 32,3 : 7,5 = 100 kg
Banyaknya bahan I (katul) = 32,3/39,8 x 100 kg = 81,16 kg = 81 kg
(dibulatkan)
Banyaknya bahan II (teri) = 7,5/39,8 x 100 kg – 18,84 kg = 19 kg
(dibulatkan)
Jadi ransum itu terdiri :
1. Katul = 81 kg
2. Ikan teri = 19 kg
Jumlah = 100 kg dengan kadar protein 21 %
Contoh 2 : Penyusunan ransum dengan beberapa bahan makanan. Pertama –
tama kadar protein ransum yang dimaksud ditentukan terlebih dahulu,
kemudian ditetapkan angka analisanya dari bahan yang tersedia. Misalnya :



21




11

1. Ikan teri 53,5 %
2. Katul 13,5 %
3. Bugkil kelapa 19,5 %
4. Jagung 8,9 %
Ransum yang berjumlah 100 kg dengan kadar protein yang dikehendaki 20 %
Yang pertama ditentukan dahulu 2 macam bahan sebagai golongan 1 sesuai
dengan yang tersedia.
GOLONGAN 1
Ikan Teri 10 kg mengandung 5,33 kg
protein
Bungkil Kelapa 20 kg mengandung 3,9 kg
protein
Jumlah 30 kg mengandung 9,23 kg
protein

Yang dibutuhkan 100 kg campuran atau ransum yang mengandung 20%
protein, artinya banyaknya protein 20 kg.
Bahan yang ada 30 kg, mengandung 9,23 kg protein. Jadi bahan itumasih
kekurangan 100 kg – 30 kg =70 kg, dengan kadar protein 20 – 9,23 kg =
10,77 kg
Bila dihitung dalam presentase =

Kekurangan bahan itu ditambah dengan bahan dari katul dan jagung sebagai
bahan golongan 2. Maka dari golongan 2 terdiri dari :
Katul :

Jagung :

Jadi campuran 100 kg bahan engan kadar protein 20% tersusun sebagai
berikut :
1. Ikan teri = 10 kg
2. Bungkil kelapa = 20 kg
12

3. Katul = 54 kg
4. Jagung = 16 kg
Jumlah = 100 kg
Golongan 2 harus terdiri dari 2 macam bahan. Untuk mempermudah
penimbangan bahan, jumlah bahan bisa dibulatkan.
2.6.Metode Menyusun Formula Ransum Babi
2.6.1. Metode Coba-coba
Metode coba-coba merupakan mencoba memasukan merbagai
kombinasi bahan sampai kandungan nutrisinya mendekati standar.
Dengan metode diatas maka dengan perhitungan coba-coba pakan
yang digunakan sebagai berikut :
Dedak Padi : 41,90%
Tepung Singkong : 30,80%
Jagung : 22,64%
Tepung Ikan : 2,00%
Tepung Kedele : 3,20 %
------------------
100%
Dedak 41,9% mengandung zat-zat sbb
ME = 41,9/100 x 3300 Kkal/kg = 1382,7
CP = 41,9/100 x 19% = 7,96%
Ca = 41,9/100 x 0,76 =0,31 %
P = 41,9/100 x 0,7 =0,29 %
Tepung Singkong 30,8 % mengandung zat – zat ssb :
13

ME = 30,8/100 x 3300 Kkal/kg = 1016,4
CP = 30,8/100 x 19% = 5,85 %
Ca = 30,8/100 x 0,76 =0,23 %
P = 30,8/100 x 0,7 = 0,21 %
Jagung 22,64% mengandung zat-zat ssb :
ME = 22,64/100 x 3300 Kkal/kg = 747,12
CP = 22,64/100 x 19% = 4,30%
Ca = 22,64/100 x 0,76 =0,17%
P = 22,64/100 x 0,7 = 0,15%
Tepung Ikan 2,0% mengandung zat-zat ssb :
ME = 2,0 /100 x 3300 Kkal/kg = 66
CP = 2,0/100 x 19% = 0,38 %
Ca = 2,0/100 x 0,76 = 0,01%
P = 2,0/100 x 0,7 = 0,014 %
Tepung Kedele 3,2% mengandung zat-zat ssb :
ME = 3,2 /100 x 3300 Kkal/kg =105,6
CP = 3,2 /100 x 19% =0,60 %
Ca = 3,2/100 x 0,76 =0,24 %
P = 3,2 /100 x 0,7 =0,02 %


14

Tabel 4. Metode Coba-coba
Bahan (%) Komposisi
(%)
ME(kal/kg) CP(%) Ca (%) P (%)
Dedak Padi 41.9 1382.7 8,151 0.32 0.30
Tepung Singkong 30.8 1016.4 5.58 0.23 0.21
Jagung 22.64 747.12 4.30 0.17 0.15
Tepung ikan 2.00 66 0.38 0.01 0.01
Tepung kedele 3.20 105.6 0.60 0.24 0.02
Total 3317.82 19.281 0.97 0.69

2.6.2. Metode Bujur Sangkar
Contoh : Buat ransum anak babi starter umur 6 – 10 minggu,bb
= 10-20 kg
Konsetrat : Cp = 40 %
Tepung Singkong : Cp = 6 %
Standar CP anak Babi Starter = 29 %
Cara perhitungan :
Konsentrat 40 23 ( 29-6) = 23 Bagian Konsentrat)
29
Tepung singkong 6 11 (40-29)=11 Bagian Tepung
Singkong)
34 (Jumlah Bagian-
bagian)
Konsentrat : 23/34 x 100 % = 67,64 %
15

Jagung Singkong : 11/34 x 100 % =32,35 %
Tabel 5. Perhitungan Zat Makanan
Bahan % dalam ransum %CP Bahan %CP dalam ransum
Konsentrat 67.64 40 67.36/100x40 =
26.94
Tepung Tulang 32.35 6 32.35/100x 6 =
1.94
Jumlah 28.88

Jadi,dalam 100 kg ransum ys mengandung CP 28,88 diperlukan 26,94
kg konsetrat dan 1,94 Tepung Singkong.

16

BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Ransum adalah sejumlah bahan makanan atau campuran dari beberapa
bahan makanan yang diberikan kepada ternak dalam waku tertentu, misalnya
satu hari satu malam. Macam-macam ransum babi menurut fase hidup babi
yaitu starter, grower, fattener, breending, dan laktasi. Jumlah makanan atau
volume makanan yang diberikan kepada babi per hari per ekor juga
tergantung pada umur atau fase hidupmasing-masing dan tujuan peternak.
Untuk memperhitungkan kadar protein bisa menggunakan salah satu cara,
misalnya dengan rumus “pearson square”. metode menyusun formula ransum
babi yaitu metode coba-coba dan Metode Bujur Sangkar
3.2.Saran
3.2.1. Para peternak babi harus lebih mengerti tentang cara penyusunan
ransum karena pransum untuk babi sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan babi.
3.2.2. Perlunya penelitian lebih lanjut mengenai system penyusunan ransum
babi.
3.2.3. Paper ini tentunya belum sempurna, perlu masukan dan koreksi.

17

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1980. Beternak Babi. yogyakarta: Yayasan Kanisius.
AAK. 1981. Pedoman Lengkap Beternak Babi. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.
Ardana, Ida Bagus; dan Harya Putra, dkk. 2008. Ternak Babi Manajemen
Reproduksi, Produksi dan Penyakit. Udayana University Press. Denpasar.

Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi. Bogor: Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor.

Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press