Tanggal praktikum: 28 April 2014

A. Judul Praktikum
Penentuan Kadar Fe dalam Sampel dengan Menggunakan Alat Spektrofotometer
UV-Vis
B. Tujuan praktikum
Menentukan kadar Fe dalam sampel dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis
C. Prinsip Dasar
Spektroskopi UV-Vis didasarkan pada serapan sinar UV tampak yang menyebabkan
terjadinya transisi diantara tingkat energi elektronik molekul. Transisi ini dapat terjadi
antara orbital ikatan (bonding) atau orbital anti ikatan (anti bonding). Panjang gelombang
sinar yang diserap sebanding dengan perbedaan tingkat energi orbital (∆E). (Tri, Panji.
2012 : 1 dan 5).
Pengabsorbsian sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu molekul umumnya
menghasilkan eksitasi elektron bonding, akibatnya panjang gelombang absorbsi
maksimum dapat dikorelasikan dengan jenis ikatan yang ada di dalam molekul yang
sedang di analisis. (Sumar, Hendayana. 1996 : 155).
Jika suatu molekul sederhana dikenakan radiasi elektromagnetik maka molekul tersebut
akan menyerap radiasi elektromagnetik yang energinya sesuai. Interaksi antara molekul
dengan radiasi elektromagnetik ini akan meningkatkan energi potensial elektron pada
tingkat keadaan tereksitasi.
Jika suatu radiasi elektromagnetik menembus suatu larutan yang berada dalam suatu
bejana gelas, maka sebagian cahaya akan diserap oleh larutan dan selebihnya akan
dilewatkan. Bagian yang diserap akan diukur dengan besaran absorban (A) atau ekstingsi
yang diberi lambang , dan yang diteruskan disebut tranmisi (T), hubungan antara A dan
T dapat dirumuskan sebagai berikut:
A = - log T
Senyawa yang dapat menyerap cahaya tersebut adalah senyawa yang memiliki pasangan
elektron yang tidak berpasangan atau gugus kromoform. (Syarif, Hamdani, dkk. 2012 :
39-40).
Menurut Lambert, fraksi penyerapan sinar tidak tergantung pada I (intensitas cahaya),
sedangkan Beer menyatakan bahwa serapan sebanding dengan jumlah molekul yang
menyerap. Penjabaran hukum Lambert-Beer menghasilkan persamaan :
A = bc
A = Absorbansi
= absortivitas molar/serapan per satuan konsentrasi
b = tebal sel/ kuvet (cm)
c = konsentrasi (molar)
(Tri, Panji. 2012 : 6-7).
Beberapa batasan dalam hukum Lambert-Beer antara lain:
• Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
• Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas yang sama
• Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergangtung terhadap yang lain
dalam larutan tersebut
• Tidak terjadi peristiwa fluoresensi atau fosforisensi
• Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan
(Syarif, Hamdani, dkk. 2012 : 41).
Skema spektrofotometer single beam adalah sebagai berikut :

Gambar 1. Skema spektrofotometer single beam
(David, Harvey. 1956 : 389)
Adapun komponen-komponen istrumen spektrofotometer UV/VIS:
1. Sumber Radiasi
Spektrofotometer menggunakan sumber sinar yang berbeda sesuai jangkauan daerah
spektrumnya. Lampu xenon (200-1000 nm), lampu deuterium / hydrogen (160-380
nm), lampu tungsten (350-2500 nm), dan lampu tungsten-halogen (350-800 nm).

Gambar 2. Lampu Tungsten Gambar 3. Lampu Deutrium
(Harris:2009)
2. Monokromator
Monokromator digunakan untuk mendispersikan sinar ke dalam komponen-
komponen panjang gelombangnya yang selanjutnya akan dipilih celah (slit).
Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang
dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum. (Syarif,
Hamdani, dkk. 2012 : 42).
Ketelitian dari monokromator dipengaruhi juga oleh lebar celah (slit width) Ada 2
macam monokromator yaitu :
• Filter Optik : Lensa berwarna sehingga cahaya yang diteruskan sesuai dengan
warnya lensa yang dikenai cahaya
• Lensa Prisma/ Grating : cahaya akan dirubah menjadi spektrum cahaya

Gambar 4. Skema monokromator
3. Sel sampel/Kuvet
Sel atau kuvet adalah tempat sampel yang akan di uji. Sampel biasanya terkandung
dalam sel yang disebut kuvet, rata, digabung dengan permukaan silica. Kuvet harus
memnuhi syarat-syarat sebagai berikut :
• Tidak berwarna sehingga dapat mentransmisikan semua cahaya.
• Tidak menyerap cahaya yang digunakan
• Permukaannya secara optis harus benar- benar sejajar.
• Harus tahan (tidak bereaksi) terhadap bahan- bahan kimia.
• Tidak boleh rapuh.
• Mempunyai bentuk (design) yang sederhana.

Gambar 5. Macam-macam kuvet
4. Detektor
Detektor berfungsi untuk mengubah sinyal radiasi menjadi sinyal elektronik yang
kemidian ditampilkan pada read out. Prinsipnya adalah menyerap energy menjadi
besaran yang dapat diukur. Adapun syarat detector adalah harus menghasilkan sinyal
yang mempunyai hubungan kuantitatif dengan intensitas sinar, mempunyai kepekaan
tinggi terhadap radiasi yang diterima, memiliki respon tetap pada daerah panjang
gelombang pengamatan, besaran besaran yang dihasilkan harus berbanding lurus
dengan energy radiasi sinyal elektronik harus bisa diamplifikasikan ke rekorder.

Gambar 7. Detektor Photovoltaic Gambar 8. Detektor Phototube
(Harvey:1956)
Penentuan kadar besi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks berwarna
antara besi (II) dengan orto-fenantrolin yang dapat menyerap sinar tampak secara
maksimal pada panjang gelombang tertentu. Banyak sinar yang diserap akan berkorelasi
dengan kuantitas analit yang terkandung di dalamnya sesuai dengan Hukum Lambert-
Beer.

DAFTAR PUSTAKA

Hamdani, Syarif, dkk. (2012). Modul Praktikum Kimia Analisis. Bantung : Sekolah
Tinggi Farmasi Indonesia.
Harris, Daniel C. (2009). Exploring Chemical Analysis Fourth Edition. New York : W.H
Freeman and Company
Harvey, David.(1956). Modern Analytical Chemistry. Depauw University: M.C Graw
Hill Companies
Hendayana, Sumar. (1994). Kimia Analitik Instrumen. Semarang:Ikip Semarang Press.
Panji, Tri. (2012). Teknik Spektroskopi. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Wiji, dkk. (2013). Penuntun Praktikum Kimia Analitik Instrumen. Bandung : Lab Kimia
Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI