You are on page 1of 6

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN (2014) KELOMPOK 8

1
Abstrak—suhu tubuh adalah keseimbangan antara panas yang
diperoleh dengan panas yang hilang. Tujuan dari praktikum ini
adalah untuk mempraktekkan penggunaan thermometer klinis
dan untuk mengetahui suhu tubuh manusia dengan beberapa
faktor yang mempengaruhi. Praktikum suhu tubuh manusia
dilakukan pada hari Rabu, 2 April 2014 pukul 07.00-10.00 WIB
di Laboratorium Botani dan kelas H-307 Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Praktikum dilakukan
dengan 5 perlakuan yaitu : terlentang, duduk dengan mulut
tertutup, duduk dengan mulut terbuka, berlari selama beberapa
menit dan berkumur dengan es batu. Masing – masing perlakuan
dilakukan 2x pengulangan yaitu pada suhu ruang 25°C dan kelas
H-307 dengan suhu ruang 18°C. Hasil praktikum ini adalah jenis
kelamin laki – laki suhu tubuh tinggi Suci memiliki suhu sebesar
36.7°C dan Faisal sebesar 37°C. berat badan besar, parameter
berat badan (BB) Suci (BB tinggi) mempunyai suhu sebesar
36.4°C dan Risa (BB rendah) mempunyai suhu sebesar 36.7°C.
Ketika kondisi mulut tertutup suhunya sebesar 36.7°C dan
kondisi ketika mulut terbuka yaitu dan 36.4°C. Pada saat
terlentang suhu tubuh sebesar 36.7°C sedangkan setelah
beraktivitas suhu tubuh menjadi 36°C. Setelah pemberian air es
suhu awal sebesar 32.1°C sedangkan suhu akhir sebesar 33.6°C.
Pada pengukuran di suhu dingin, suhu tubuh lebih rendah
daripada disuhu ruang.

Kata Kunci—Air es, Aktivitas, Suhu, Termoregulasi,
Termometer
I. PENDAHULUAN
UHU tubuh adalah keseimbangan antara panas yang
diperoleh dengan panas yang hilang. Manusia bersifat
homeotermik, yaitu suhu inti dipertahankan sekitar 37°C
berapapun suhu lingkungan eksternal. Jika terjadi
ketidakseimbangan, tubuh akan sangat terpengaruh karena
manusia tidak dapat menoleransi perubahan rentang suhu yang
ekstrem [1]. Suhu dapat diukur pada beberapa tempat di tubuh
melalui rute oral, rektal, aksila, kulit, atau membran thympani.
Pengganti thermometer air raksa tradisional mencakup
thermometer elektronik, sensor membran timpani,
thermometer titik kimia dan thermometer digital. Alat alat ini
memberikan keuntungan yaitu mengukur suhu secara cepat.
[2].
Termoregulasi adalah suatu pengaturan secara kompleks
dari suatu proses dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh
dapat dipertahankan secara konstan [3]. Faktor lain yang
mempengaruhi termoregulasi adalahmetabolisme basal,
aktifitas muscular, hormone thyroxine dan epinephrine yang
menstimulasi efek pada laju metabolisme, suhu yang berefek
pada sel [4]. Termoregulasi manusia berpusat pada
hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau
penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor,
hypothalamus, dan saraf eferen serta termoregulasi dapat
menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan
biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Tujuan praktikum ini adalah untuk mempraktekkan
penggunaan thermometer klinis dan untuk mengetahui suhu
tubuh manusia dengan beberapa faktor yang mempengaruhi.
II. METODOLOGI
A. Waktu dan Tempat
Praktikum suhu tubuh manusia dilakukan pada hari Rabu, 2
April 2014 pukul 07.00-10.00 WIB di Laboratorium Botani
dan kelas H-307 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
termometer klinis, termometer auricle, alat tulis dan kamera.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah air es, alkohol, dan
tisu.
C. Cara kerja
Pada praktikum suhu tubuh manusia ini terdapat 5 perlakuan
yaitu : terlentang, duduk dengan mulut tertutup, duduk dengan
mulut terbuka, berlari selama beberapa menit dan berkumur
dengan es batu. Masing – masing perlakuan tersebut dilakukan
2 kali pengulangan pada suhu ruang yang berbeda yaitu di
Laboratorium Botani dengan suhu ruang 25°C dan kelas H-
307 dengan suhu ruang 18°C.
Pada perlakuan terlentang, probandus telentang diatas lantai
dengan keadaan rileks. Kemudian thermometer klinis
dinyalakan hingga di layar thermometer menunjukkan L
C
.
setelah itu ujung thermometer dimasukkan fossa axillaris dan
lengan diletakkan diatas dada sehingga fossa axillaris tertutup.
Suhu Tubuh Manusia

Dwi Wahyu Intani (1511100063)
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: intani11@mhs.bio.its.ac.id
S
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN (2014) KELOMPOK 8

2
Ditunggu hingga terdengar bunyi “klik” kemudian
thermometer diambil dan dilihat hasil pengukurannya. Setelah
selesai ujung thermometer dibersihkan dengan alkohol 70%.
Pada perlakuan kedua yaitu probandus posisi duduk dengan
mulut tertutup. Thermometer klinis dinyalakan hingga di layar
thermometer menunjukkan L
C
. Dimasukkan ke bagian bawah
lidah probandus kemudian ditutup rapat. Ditunggu 5-10 menit
atau sampai terdengar bunyi „klik” pada thermometer. Setelah
itu dilihat dan dicatat hasil pengukuran suhu. Ujung
thermometer yang terbuat dari metal dibersihkan dengan
alkohol 70%.
Perlakuan ketiga, yaitu probandus posisi duduk dengan
mulut terbuka. Digunakan thermometer auricle. Termometer
auricle diletakkan pada pangkal auditory canal kemudian
ditekan tombol power pada thermometer. Ditunggu beberapa
detik hingga terdengar bunyi alarm termometer. Lalu
thermometer diambil dan dicacat hasilnya. Setelah selesai
thermometer dibersihkan dengan alkohol 70%.
Perlakuan keempat, probandus berlari selama beberapa
menit hingga merasa lelah. Termometer dinyalakan hingga di
layar thermometer menunjukkan L
C
kemudian dimasukkan di
bawah lidah dan ditutup rapat. Ditunggu 5-10 menit, atau
sampai alarm thermometer berbunyi. Setelah itu thermometer
diambil dan dilihat hasilnya serta bagian ujungnya dibersihkan
dengan alkohol 70%.
Perlakuan kelima yaitu probandus berkumur dengan air es
hingga merasa ngiluh. Termometer dinyalakan hingga di layar
thermometer menunjukkan L
C
kemudian dimasukkan di
bawah lidah dan ditutup rapat. Ditunggu 5-10 menit hingga
alarm thermometer berbunyi. Setelah itu thermometer diambil
dan dilihat hasilnya serta dibersihkan dengan alkohol 70%.
Angka yang dilihat adalah angka saat pertama termometer
diletakkan di mulut sampai angka terakhir pengukuran yang
terlihat di layar.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum ini bertujuan untuk mempraktekkan penggunaan
thermometer klinis dan untuk mengetahui suhu tubuh manusia
dengan beberapa faktor yang mempengaruhi. Pada praktikum
ini disiapkan 3 probandus yang memiliki jenis kelamin
berbeda yaitu 1 probandus laki-laki dan 2 probandus
perempuan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis
kelamin terhadap suhu tubuh manusia. Selain itu juga dipilih
probandus yang mempunyai berat badan yang terendah dan
tertinggi. Tujuannya adalah untuk mengetahui pengaruh berat
badan terhadap suhu tubuh. Sebelum pengukuran suhu,
probandus diberi 5 perlakuan yang berbeda yaitu terlentang
rileks, duduk dengan mulut tertutup, duduk dengan mulut
terbuka, berlari selama beberapa menit dan berkumur dengan
es batu. Pada perlakuan terlentang dilakukan pengukuran suhu
pada fossa axillaris karena pada ketiak terdapat kelenjar limfe
sehingga suhunya menjadi lebih panas. Selain itu juga supaya
tidak ada kontak dengan suhu luar. Pada perlakuan duduk
dengan mulut tertutup rapat dilakukan pengukuran di bawah
lidah dimaksudkan agar pengukuran suhu tidak dipengaruhi
oleh suhu lingkungan (suhu luar) sehingga suhu yang terukur
adalah benar-benar merupakan suhu tubuh probandus.
Pemilihan daerah bawah lidah ini dianggap mewakili suhu
tubuh karena daerah ini dekat dengan pembuluh arteri
sublingual [5]. Pengukuran suhu pada posisi duduk dengan
mulut terbuka untuk mengetahui pengaruh suhu lingkungan
(suhu luar) terhadap suhu tubuh. Selain itu probandus juga
melakukan aktivitas fisik dengan berlari selama beberapa
menit yang dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
termoregulasi tubuh dan pengaruhnya terhadap suhu.
Kemudian perlakuan berkumur dengan es batu yaitu bertujuan
untuk mengetahui pengaruh dingin terhadap suhu tubuh
manusia. Pada setiap pergantian pengukuran, termometer
dibersihkan dengan alkohol supaya tetap steril dan aman
digunakan untuk prosedur selanjutnya. Pengukuran suhu
digunakan termometer klinis digital dan termometer auricle.
Termometer klinis digital digunakan pada fossa axillaris dan
mulut. Termometer ini mempunyai lekukan sempit diatas
wadahnya yang berfungsi untuk menjaga supaya suhu yang
ditunjukkan setelah pengukuran tidak berubah setelah
termometer diangkat dari badan probandus. Sedangkan
Termometer auricle digunakan untuk pengukuran suhu pada
lubang telinga dengan memasukkan ujung prove termometer
secara perlahan-lahan kedalam saluran telinga yang mengarah
ketitik tengah. Berdasarkan literature disebutkan bahwa
thermometer auricle atau termometer tympani memberikan
hasil pengukuran yang akurat jika dibandingkan dengan
thermometer elektronik aksila. Walaupun akurasinya
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti teknik yang benar,
beroperasi pada suhu 15,6 - 35°C, saluran telinga yang bebas
dari kotoran dan pus [6].
Hasil dari pengukuran suhu semua probandus ditunjukan
pada tabel di bawah ini (tabel 1) :
Tabel 1
Hasil Pengukuran Suhu Tubuh
Perlakuan
Suci Risa Faisal
25°C 18°C 25°C 18°C 25°C 18°C
Terlentang
36.7 35.9 36.8 36.8 37 36.8
Mulut tertutup
36.7 36.5 36.7 36.4 36.5 34.9
Mulut terbuka
36.4 36.6 36.7 36.4 36.5 36.3
Aktivitas
36 36 35.6 34.2 35.1 34.1
Berkumur es
Awal
32.1 33.1 33.3 33.1 - -
Akhir
33.6 34.4 33.8 35.4 34.4 35.2
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN (2014) KELOMPOK 8

3
A. Jenis Kelamin
Pada praktikum ini diukur suhu tubuh probandus laki – laki
dan perempuan dan dilihat perbedaanya. Berdasarkan hasil
pengamatan, diketahui bahwa suhu probandus perempuan yang
diwakili oleh Suci pada suhu ruang (25°C) rata – rata lebih
rendah dibandingkan dengan suhu probandus laki – laki
(Faisal). Diambil sampel pada perlakuan terlentang yaitu Suci
memiliki suhu sebesar 36.7°C dan Faisal sebesar 37°C.
Perbedaan suhu tersebut disajikan dalam grafik dibawah ini :


Grafik 1. Perbandingan Suhu Tubuh probandus Laki – laki dan Perempuan

Adanya perbedaan suhu antara perempuan dan laki – laki
yaitu suhu tubuh laki – laki lebih tinggi dibandingkan dengan
perempuan. Hal ini dapat dikaitkan dengan massa otot pada
laki-laki yang cenderung lebih banyak daripada perempuan.
Bila massa otot lebih banyak maka akan lebih banyak otot
yang berkontraksi dalam tubuh laki-laki dibandingkan
perempuan. Bila kontraksi lebih banyak maka panas yang
dihasilkan juga akan lebih banyak dan panas ini yang akan
meningkatkan suhu tubuh [7]. Selain itu juga bisa dikarenakan
faktor hormonal. Hormon kelamin pria dapat meningkatkan
kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan
normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada
perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki
karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi
meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3-0,5°C di atas suhu basal.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa sesuai
dengan kegiatan metabolisme, suhu tubuh pria lebih tinggi
daripada wanita. Suhu tubuh wanita dipengaruhi daur haid.
Pada saat ovulasi, suhu tubuh wanita pada pagi hari saat
bangun meningkat 0,3-0,5C [8]. Suhu tubuh menurun pada
periode pascamenstruasi [1]
B. Berat badan
Pada parameter berat badan dibandingkan probandus yang
mempunyai berat badan paling tinggi dan rendah. Pada
praktikum ini probandus yang mempunyai berat badan
tertinggi diwakilkan oleh Suci sedangkan yang mempunyai
berat badan terendah diwakilkan oleh Risa. Hasil pengukuran
suhu menunjukkan suhu tubuh dengan berat badan terendah
mempunyai rata – rata suhu yang lebih tinggi daripada yang
mempunyai berat badan tertinggi. Diambil sampel pada
perlakuan mulut terbuka di ruangan bersuhu 25°C. Suci
mempunyai suhu sebesar 36.4°C dan Risa mempunyai suhu
sebesar 36.7°C. Hasil ditunjukkan dalam grafik dibawah ini :


Grafik 2. Perbandingan suhu tubuh berdasarkan berat badan.

Dalam literatur dijelaskan bahwa berat badan
mempengaruhi suhu tubuh. Semakin berat tubuh manusia
berarti semakin banyak sel tubuhnya dan semakin besar pula
metabolismenya. Keadaan ini menyebabkan pembentukkan
panas tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan orang
kurus [9]. Berat badan yang tinggi menyebabkan massa sel
yang tinggi pula dan berpengaruh terhadap kecepatan
metabolisme basal tiap individu [10]. Tetapi yang terjadi
dalam praktikum ini berlawanan dengan teori. Hal ini mungkin
dikarenakan pada probandus yang mempunyai berat tubuh
lebih kecil akan cenderung mempertahankan panas dalam
tubuhnya dan ketika dibandingkan banyaknya keringat yang
dikeluarkan oleh probandus yang beratnya lebih kecil dan
besar, ternyata pada probandus ini (Risa) lebih sedikit
mengeluarkan keringat daripada Suci. Oleh karena itu suhu
tubuh Risa cenderung lebih besar daripada suhunya Suci. Pada
tubuh seseorang yang memiliki berat badan rendah (kurus)
lebih cenderung menyimpan energi dalam tubuhnya. Sehingga
suhu tubuh tetap dipertahankan dalam keadaam konstan.
C. Mulut Terbuka dan Tertutup
Pada perlakuan mulut terbuka dan tertutup ini untuk
mengetahui pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu dalam
tubuh. Hasil praktikum yaitu ditunjukan oleh grafik di bawah
ini :


Grafik 3. Perbandingan suhu tubuh ketika mulut dalam kondisi terbuka dan
tertutup pada suhu ruang (25°C).
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN (2014) KELOMPOK 8

4
Berdasarkan grafik 3 diatas, diketahui pada probandus Suci
ketika kondisi mulut dalam keadaan tertutup suhunya lebih
tinggi dibandingkan dengan ketika mulut terbuka yaitu sebesar
36.7°C dan 36.4°C. Sedangkan pada Risa suhu tubuhnya tetap
baik dalam kondisi mulut terbuka maupun tertutup. Dari sini
terlihat bahwa pada probandus Suci pengukuran suhu sangat
dipengaruhi oleh suhu lingkungan sedangkan pada Risa tidak
dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Suhu dalam tubuh dan suhu
lingkungan dapat saja terjadi pertukaran bilasaja ada rongga-
rongga terbuka sehingga menyebabkan suhu tubuh menurun.
Dalam sebuah literatur menyatakan bahwa suhu tubuh dapat
mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh
dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih
dingin[11]. Pada saat bernapas dengan mulut terbuka, suhu
menjadi turun karena suhu lingkungan lebih rendah dari suhu
tubuh, kehilangan panas tidak dapat dihindari sehingga suhu
tubuh menurun [12].
D. Aktivitas
Pada perlakuan aktivitas, dilihat perbandingan suhu pada
probandus yang melakukan aktivitas dengan yang tidak
melakukan aktivitas atau terlentang. Hasil pada praktikum ini,
rata – rata suhu tubuh probandus yang diukur pada suhu ruang
25°C setelah beraktivitas lebih rendah dibandingkan dengan
posisi telentang. Pada probandus Suci pada saat terlentang
suhu tubuhnya sebesar 36.7°C sedangkan setelah beraktivitas
suhu tubuhnya menjadi 36°C. Pada Risa ketika telentang
sebesar 36.8°C setelah beraktivitas menjadi 35.6°C.
perbandingan suhu tubuh saat terlentang dan beraktivitas yaitu
ditunjukkan dalan grafik dibawah ini:


Grafik 4. Perbandingan suhu tubuh telentang dengan beraktivitas

Secara umum, suhu tubuh akan meningkat setelah beraktivitas
karena metabolisme tubuh akan meningkat dan menghasilkan
panas. Ketidaksesuain hasil dengan teori ini dimungkan karena
beberapa faktor diantaranya yaitu suhu lingkungan, kondisi
kesehatan, pakaian, hidrasi, dll serta faktor kesalahan relatif
meliputi kesalahan dalam pengukuran, membaca alat, dsb
[11]-[8]. Selain faktor – faktor tersebut juga dimungkinkan
karena termoregulasi tubuh, dimana suhu tubuh yang awalnya
meningkat setelah beraktivitas menjadi rendah karena tubuh
melakukan termoregulasinya dalam waktu singkat sehingga
menurunkan panas untuk menyeimbangkan suhu tubuh.
Setelah beraktivitas suhu Risa (berat badan rendah) menjadi
lebih rendah dibandingkan dengan Suci (berat badan tinggi).
Hal ini diperkirakan karena proses termoregulasi orang yang
mempunyai berat badan lebih rendah lebih cepat karena
volume tubuh yang lebih kecil dibandingkan yang bertubuh
besar.
E. Berkumur dengan Air Es
Pada perlakuan air es ini suhu diukur pada bagian bawah
lidah dengan melihat angka awal dan akhir yang ditunjukkan
oleh thermometer. Angka awal menunjukkan suhu tubuh
probandus normal sedangkan angka terakhir adalah suhu
probandus yang dipengaruhi perlakuan dingin (es). Diambil
sampel pada probandus Suci. Setelah pemberian air es suhu
awal sebesar 32.1°C sedangkan suhu akhir sebesar 33.6°C
Pada perlakuan ini terjadi perpindahan panas secara konduksi
yaitu Suatu proses pemindahan panas antara dua benda yang
berbeda suhu dan saling bersentuhan. Hasil praktikum
menunjukkan suhu meningkat setelah diberi perlakuan dengan
air es. Hal ini berarti jika suhu lingkungan dingin, maka tubuh
akan memproduksi panas yang berasal dari posterior
hipotalamus [8]. Saat suhu tubuh di bawah suhu normal maka
hipotalamus merangsang mekanisme produksi /penyimpanan
panas tubuh. Tubuh kemudian melakukan vaskonstriksi,
pembuluh darah menyempit untuk menghindari hilangnya
panas tubuh ke lingkungan kemudian tubuh menyesuaikan
kembali ke suhu normalnya [5].
F. Suhu Lingkungan
Pada pengamatan pengaruh suhu luar atau suhu lingkungan
terhadap suhu tubuh dilakukan pengukuran suhu pada tempat
yang berbeda yaitu pada ruangan yang bersuhu 25°C dan pada
ruangan dengan suhu 18°C. Hasil praktikum ditunjukkan pada
grafik dibawah ini :


Grafik 5. Perbandingan suhu tubuh pada kondisi lingkungan berbeda

Berdasarkan grafik 5 tersebut diketahui bahwa pada suhu
ruang 25°C suhu probandus lebih tinggi dibandingkan dengan
pada ruangan dingin bersuhu 18°C. ketika keadaan dingin,
tubuh akan cenderung mempertahankan panas tubuhnya untuk
menjaga keseimbangan suhu tubuh dan terjadi vasokontriksi
untuk pengurangan jumlah panas yang dikeluarkan. Sedangkan
pada tempat yang suhunya lebih tinggi akan memicu
LAPORAN FISIOLOGI HEWAN (2014) KELOMPOK 8

5
metabolism tubuh untuk lebih tinggi sehingga panas yang
dihasilkan juga lebih tinggi. Oleh karena itu suhu tubuh ketika
di ruang dingin 18°C menjadi lebih rendah. Dalam teori
dijelaskan bahwa Saat suhu tubuh di bawah suhu normal maka
hipotalamus merangsang mekanisme produksi /penyimpanan
panas tubuh. Tubuh kemudian melakukan vaskonstriksi,
pembuluh darah menyempit untuk menghindari hilangnya
panas tubuh ke lingkungan [5].
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan pada praktikum yang telah dilakukan diketahui
cara penggunaan thermometer klinis untuk pengukuran suhu
tubuh. Pertama yaitu dengan menyalakan tombol power dan
ditunggu hingga layar thermometer menunjukkan L
C
. setelah
itu alat diletakkan pada bagian tubuh yang umumnya
digunakan untuk mengukur suhu, misal di bawah lidah,
auditory canal dan saluran telinga. Ditunggu hingga beberapa
menit sampai terdengar bunyi alarm dari thermometer dan alat
dapat diambil dan dilihat hasil pengukuran suhunya. Setiap
selesai menggunakan thermometer, ujung thermometer harus
dibersihkan dengan alkohol atau air. Suhu tubuh dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti jenis kelamin, berat badan, kontak
dengan lingkungan luar, aktivitas dan perlakuan dingin. Jenis
kelamin laki – laki suhu tubuh lebih tinggi. Berat badan lebih
tinggi suhu tubuh lebih tinggi, aktivitas berat suhu tubuh lebih
tinggi dan perlakuan dingin dengan air es menyebabkan suhu
lebih tinggi dan suhu lingkungan menyebabkan suhu tubuh
rendah.
LAMPIRAN
A. Dokumentasi Perlakuan

No Perlakuan Gambar
1 Probandus
memposisikan
badannya dalam
keadaan terlentang


2 Pengukuran suhu
pada daerah fossa
axillaris dengan
perlakuan badan
terlentang pada dua
tempat dengan suhu
berbeda yaitu 18
o
C
dan 25
o
C

3 Pengukuran suhu
pada mulut dengan
perlakuan mulut
tertutup pada dua
tempat dengan suhu
berbeda yaitu 18
o
C
dan 25
o
C

4 Pengukuran suhu
pada auditory canal
dengan perlakuan
mulut terbuka pada
dua tempat dengan
suhu berbeda yaitu
18
o
C dan 25
o
C

5 Probandus diminta
untuk melakukan
aktivitas seperti
berlari



6 Prngukuran suhu
probandus pada
mulut dengan
perlakukan setelah
beraktivitas pada
dua tempat dengan
suhu berbeda yaitu
18
o
C dan 25
o
C

LAPORAN FISIOLOGI HEWAN (2014) KELOMPOK 8

6
7 Probandus diminta
untuk berkumur
dengan air es
terlebih dahulu,
setelah itu
dilakukan
pengukuran suhu
pada mulut pada
dua tempat dengan
suhu berbeda yaitu
18
o
C dan 25
o
C

DAFTAR PUSTAKA
[1] Johnson, Ruth dan Wendy Taylor.”Buku Ajr Praktik Kebidanan”.
Jakarta : EGC (2004)
[2] Wong, Donna L., Marilyan H.. David W., Marilyan L.W., dan Patricia
S., “Buku Ajar Keperawatan Pediatrik edisi 6, vol 1”. Jakarta : EGC
(2008)
[3] W. Isnaeni. Fisiologi Hewan. Canisius. Yogyakarta (2006).
[4] Marieb E., Hoehn K . “Human Anatomy and Physiology with
Interactive Physiology 10-System Suite”. New York: Pearson Publishing
(2010)
[5] L. Mc Callum. “Measuring Body Temperature”. Nursing Times Vol 108
No 45 (2012).
[6] El-Radhi & Patel. “Thermometry in pediatric nursing”. Arch Dis Child,
91 (4). (2005).
[7] Bullock, J. “Physiology 4
th
Edition”. USA : Lippincott Williams and
Wilkins. (2001).
[8] Ganong, William F. “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. 20
th
ed. Jakarta:
EGC (2002).
[9] Martha Sund-Levander . “Measurement and Evaluation of Body
Temperature: Implications for Clinical Practice”. Linkoping : Linkoping
Univers Norrköping, Sweden (2004).
[10] B. B. Rios L. “Rapid morphological change in living humans:
implications for modern human origins”. Comp Biochem Physiol [A]
136:71–84. (2003).
[11] Martini. “Fundamental of Anatomy and Physiology 4
th
ed”. New Jersey:
Prentice Hall International Inc. (1998).
[12] Scanlon Valerie C, Sanders Tina,. “Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi
(Essentials of Anatomy and Physiology). Edisi III. cetakan pertama”.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. (2007).