KARYA ILMIAH

MANAJEMEN KOPERASI SUMBER DAYA ALAM

Diajukan dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia





Oleh
Nama : Saifu Abdillah
Nim : 30401310951
Prodi : Bahasa Indonesia
Kelas : Manajemen H

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2013/2014



HALAMAN PENGESAHAN
Karya ilmiah yang berjudul “manajemen perkantoran” ini telah disetujui untuk
dijadikan sebagai tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
pada hari :
tanggal :
dosen pengampu : Drs. Sholeh Amin, Mp. D
















ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN


- Sesungguhnya Kepunyaan Allah-lah Kerajaan Langit Dan Bumi. Dia Menghidupkan
Dan Mematikan.
Tidak Ada Pelindungan Dan Pertolongan Bagimu Selain Allah. (QS. At-Taubah
ayat 116)
- Jangan Menganggap Mudah Suatau Persoalan Dan Jangan Pula Menganggap Sulit
Suatu Persoalan.
Karena Kalau Kita Menganggap Mudah Suatu Persoalan Maka Kita Akan Takut
Menghadapinya.
- Jangan Mudah Menyerah Walaupun Itu Sudah Dalam Injury Time
- Percayalah Kepada Kemampuan Diri Sendiri Karena Tidak Ada Yang Dapat
Menolong Mu Selain Diri
Sendiri



Kupersembahkan kepada:
- Orang Tuaku Tercinta
-Seluruh Teman-temanku
-Almamaterku










iii
KATA PENGANTAR



Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Pengantar Administrasi
Bisnis.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak yang telah membantu hingga
selesainya tugas mata kuliah ini. Pada kesempatan ini pula penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Pengantar Administrasi
Bisnis yang telah memberikan bimbingan kepada penulis selama penyusunan
makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik serta
saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi perbaikan tugas
ini. Semoga karya tulis ini dapat memberikan informasi, wawasan dan manfaat
kepada semua pembaca.
Semarang, april 2014
penulis
















iv
DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL ............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..............................................................................ii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN......................................................................iii
KATA PENGANTAR.........................................................................................iv
DAFTAR ISI........................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................2
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN...........................................................................................3
SARAN.......................................................................................................4





















BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang dan Masalah

Koperasi sebagai badan usaha dapat melaksanakan kegiatan di segala bidang
kehidupan ekonomi, dengan memperhatikan bahwa usaha tersebut adalah usaha yang
berkaitan dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan
kesejahteraannya. Dalam pasal 43 ayat 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992
tentang Perkoperasian disebutkan bahwa usaha koperasi adalah usaha yang berkaitan
langsung dengan kepentingan anggota untuk meningkatkan usaha dan kepentingan
anggota, penjelasannya menyebutkan bahwa Usaha koperasi terutama diarahkan pada
bidang usaha yang berkaitan langsung dengan kepentingan anggota, baik untuk
menunjang usaha maupun kesejahteraannya. Dalam hubungan ini maka pengelola
usaha koperasi harus dilakukan secara produktif, dan efisien dalam arti koperasi harus
mempunyai kemampuan untuk mewujudkan pelayanan usaha yang dapat
meningkatkan nilai tambah dan manfaat yang sebesar-besarnya pada anggota dan
tetap mempertimbangkan untuk memperoleh sisa hasil yang wajar. Untuk mencapai
kemampuan usaha tersebut diatas, maka koperasi dapat berusaha secara luwes baik
ke hulu maupun ke hilir serta berbagai jenis usaha lainnya yang terkait. Adapun
mengenai pelaksanaan usaha koperasi dapat dilakukan dimana saja, baik di dalam
maupun luar negeri dengan mempertimbangkan kelayakan usahanya. Lapangan usaha
koperasi merupakan perwujudan dari peran dan fungsi koperasi dalam menunjang
usaha manapun kesejahteraan anggota adalah lapangan-lapangan usaha koperasi
yang melayani langsung kepentingan-kepentingan anggota koperasi., sedangkan
lapangan usaha yang secara tidak langsung menunjang usaha maupun kesejahteraan
anggota adalah lapangan usaha yang tidak langsung melayani kepentingan ekonomi
anggota koperasi, tetapi hasil-hasil usahanya semata-mata demi menunjang usaha
maupun kesejahteraan anggota. Karena itu hasil akhir dari keberhasilan koperasi
terletak pada penciptaan nilai tambah dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
anggota.
Dalam pasal 43 ayat 2 Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian
disebutkan bahwa kelebihan kemampuan pelayanan koperasi dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat yang bukan anggota koperasi dan dalam
penjelannya disebutklan yang dimaksud dengan kelebihan kemampuan usaha koperasi
adalah kelebihan kapasitas dana dan daya yang dimiliki oleh koperasi untuk melayani
anggotanya. Kelebihan kapasitas tersebut oleh koperasi dimanfaatkan untuk berusaha
dengan tujuan untuk mengoptimalkan skala ekonomi dalam arti memperbesar volume
usaha dan menekan biaya per unit yang memberikan manfaat yang sebesar-besarnya
kepada anggotanya serta serta untuk memasyarakatkan koperasi. Anggota koperasi
memmberikan modal dan berpartisipasi dalam pembiayaan koperasi. Karena itu
koperasi harus mampu mendayakan modal dan pendapatnya secara efisien agar beban
anggota ringan. Minimalisasi biaya antara lain berhubungan dengan penepatan skala
usaha yang ekonomis yang dicerminkan dari biaya per unit pelayanan yang terendah.
Dapat terjadi bahwa karena penetapan skala usaha, maka koperasi harus menetapkan
skalausaha yang melebihi besarnya kebutuhan pelayanan yang sebenarnya diperlukan
oleh para anggotanya. Apabila kapasitas pelayanan koperasi hanya disesuaikan
dengan jumlah kebutuhan anggota saja, maka akan terjadi biaya per unit pelayanan
akan makin tinggi. Kelebihan kapasitas itulah yang dapat dimanfaatkan oleh koperasi
untuk bertraksaksi dengan bukan anggota. Pelayanan koperasi terhadap bukan
anggota harus digunakan untuk menunjang, memperkuat dan memperluas pelayanan
langsung bagi anggota koperasi. Dengan demikian, pemanfaatan kelebihan kapasitas
tidak merugikan kepentingan anggota, bahkan sebaliknya justru akan meningkatkan
nilai tambah dan manfaat koperasi bagi anggota, bukan saja dalam rangka menarik
minat bukan anggotauntuk menjadi anggota koperasi, melainkan juga dalam rangka
menunjang koperasi dalam meningkatkan kondisi perekonomian anggotanya.
Sedangkan dalam pasal 43 ayat 3 Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 tentang
perkoperasian disebutkan bahwa Koperasi menjalankan kegiatan usaha dan berperan
utama di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat dan dalam penjelasannya berbunyi
agar koperasi dapat mewujudkan fungsi dan perannya, maka koperasi melaksanakan
usaha di segala bidang kehidupan ekonomi dan berperan utama dalam kehidupan
ekonomi rakyat. Yang dimaksud dengan kehidupan ekonomi rakyat adalah semua
kegitan ekonomi yang dilaksanakan dan menyangkut kepentingan orang banyak.
Sebagai badan usaha yang melaksanakan kegiatan di bidang ekonomi, koperasi harus
mengikuti dan menjalankan semua hukum, norma, kaidah dan peraturan perundang-
undangan dibidang ekonomi, seperti badan usaha lainnya. Dengan demikian setiap
usaha yang dijalankan koperasi tunduk pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Manajemen merupakan salah satu bagian penting dari organisasi koperasi. Berhasil
tidaknya suatu koperasi sangat tergantung pada mutu dan kerja dalam bidang
manajemennya. Apabila orang-orang manajemen itu memiliki kejujuran, kecakapan dan
giat dalam bekerja maka besarlah kemungkinannya koperasi akan maju pesat atau
setidak-tidaknya tendensi untuk terjadinya kebangkrutan akan mudah ditanggulangi.
Tetapi sebaliknya, orang-orang ini tidak cakap, curang atau tidak berwibawa tentulah
koperasipun akan mundur atau tidak semaju seperti yang diharapkan.
Kita sering melihat, terjadinya kesulitan-kesulitan dalam soal keuangan, soal yang
menarik perhatian anggota pada koperasi, pemasaran barang-barang, organisasi yang
kacau dan sebagainya. Kesulitan-kesulitan semacam ini pangkal persoalannya karena
ketidakberesan pada manajemen.
Manajemen memang bukanlah satu-satunya unsur yang menentukan gagal tidaknya
suatu usaha, tetapi bagaimanapun orang-orang yang duduk dalam manajemen ini
mempunyai peranan penting. Lebih-lebih dalam organisasi yang bukan kumpulan
modal uang melainkan kumpulan orang-orang. Sehingga dari sekian banyak koperasi
yang gagal banyak diantara yang disebabkan oleh kekacauan dalam bidang
manajemen.
Manajemen ialah suatu usaha mencapai suatu tujuan yang kegiatannya dilakukan
dengan bantuan tenaga orang lain. Jelas bahwa manajemen sumber daya manusia
yang identik dengan manajemen itu sendiri.
Demikian penting kedudukan manusia dalam suatu usaha, sehingga sebagian besar
waktu dan tenaga “pengusaha” dalam menghadapi masalah usaha adalah terutama
dicurahkan kepada masalah-masalah manusiawi karyawannya.


1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan pada Latar Belakang Masalah diatas, maka perumusan masalah dalam
penulisan makalah ini adalah Analisis Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia
pada Koperasi Karyawan PT. OMI

1.3 Tujuan Penulisan Dan Kegunaan Penulisan
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penulisan
makalah ini adalah untuk mengetahui Peranan Manajemen SDM pada koperasi
karyawan. Dengan Penulisan ini kita dapat mengharapkan dan mengetahui bagaimana
perkembangan koperasi saat ini yang mungkin banyak tertinggal dari negara lain serta
apa yang harus dilakukan untuk memahami dan mengerti bahwa koperasi sebagai
ekonomi rakyat.

1.4 Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode studi pustaka, penelitian
lapangan dan wawancara serta dengan membaca buku-buku yang berisi tentang
manajemen koperasi.

Untuk memudahkan pembahasan dan memperoleh gambaran tentang makalah ini,
maka penulis makalah ini terdiri dari atas empat bab yang terdiri atas :











BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang Masalah, Perumusan Masalah,
Tujuan, dan Metode Penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan secara teoritis mengenai dasar-dasar yang digunakan
untuk membahas pembahasan, sehingga akan diperoleh suatu landasan
teori yang digunakan untuk membantu penulisan.

BAB III PEMBAHASAN
Pada bab ini mambahas tentang pokok permasalahan pada tema tersebut
menjelaskan tujuan-tujuan yang ada Bab Pendahuluan.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini dikemukan tentang kesimpulan yang merupakan hasil pembahasan atau
pada bab-bab sebelumnya dan berdasarkan kesimpulan tersebut mengemukakan
saran-saran dan langkah-langkah untuk penyelesaian masalah dari tema tersebut.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sumber Daya Manusia

Dalam mengelola sumber daya manusia suatu organisasi seperti koperasi diperlukan
juga manajemen. Manajemen secara umum, menurut Fayol (dalam Sahertian, 1985)
adalah pelaksanaan fungsi-fungsi administrasi secara umum, yang meliputi aspek
perencanaan, organisasi, komando, koordinasi dan control.

Menurut Nawawi (2001) ada tiga pengertian sumber daya manusia yaitu :
a. Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi
(disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan)
b. Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi
mewujudkan eksistensinya.
c. Sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai
modal (non material/non financial) di dalam organisasi bisnis, yang dapat mewujudkan
menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi
organisasi.

Berdasarkan pengerian tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia
adalah suatu proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara
manusiawi, agar potensi fisik dan psikis yang dimilikinya berfungsi maksimal bagi
pencapaian tujuan organisasi

2.2. Manajemen Sumber Daya Manusia

Dari berbagai sumber, Sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen yang sangat
penting. Dalam rangka merencanakan, melaksanakan atau mengelola dan
mengendalikan sumber daya manusia diperlukan suatu alat manajerial yang disebut
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). Pemahaman tentang sumber daya
manusia (SDM) sebagaimana juga yang telah diterjemahkan oleh “Jusuf Irianto”
(2001:3) sebagai berikut : Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) merupakan
pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja suatu organisasi sebagai sumber daya
manusia yang sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi,
dan penggunaan beberapa fungsi dan kegiatan untuk memastikan bahwa SDM tersebut
digunakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyarakat.

Fokus MSDM terletak pada upaya mengelola SDM di dalam dinamika interaksi antara
organisasi pekerja yang acapkali memiliki kepentingan berbeda. Menurut Stoner
(1995:4) MSDM meliputi penggunaan SDM secara produktif dalam mencapai tujuan-
tujuan organisasi dan pemuasan kebutuhan pekerja secara individual.
Stoner menambahkan bahwa karena berupaya mengintegrasikan kepentingan
organisasi dan pekerjanya, maka MSDM lebih dari sekedar seperangkat kegiatan yang
berkaitan dengan koordinasi SDM organisasi. MSDM adalah kontributor utama bagi
keberhasilan organisasi. Oleh karena itu, jika MSDM tidak efektif dapat menjadi
hambatan utama dalam memuaskan pekerja dan keberhasilan organisasi.

Dengan memahami pengertian MSDM secara utuh, akan dapat terlihat sejauh mana
keberhasilan suatu organisasi (koperasi) dalam melakukan integrasi antara manusia
dan organisasi itu sendiri.

2.3. Perencanaan Sumber Daya Manusia

Perencanaan merupakan awal dari setiap kegiatan manajemen sumber daya manusia,
dengan perencanaan akan mengantisipasi kejadian-kejadian di masa yang akan
datang. Dalam bab ini diuraikan tentang pengertian perencanaan sumber daya
manusia. Untuk memahami pengertian sumber daya manusia berikut beberapa
pendapat sebagai berikut :
Menurut Reilly (1996:4) dan telah diartikan oleh Yusuf Irianto :
Perencanaan SDM adalah sebuah proses dimana organisasi berupaya untuk
memikirkan permintaan (kebutuhan) adanya tenaga kerja dan mengevaluasi ukuran,
sifat dan sumber-sumber pasokan yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan
tersebut.
Sedangkan menurut Prof. DR. H. Hadari Nawawi, bahwa Perencanaan SDM
bermaksud untuk membuat pengaturan arus gerakan pekerja di dalam organisasi, yang
berarti merupakan proses untuk mendayagunakan SDM yang telah tersedia secara
efektif dan efisien
Sedangkan pengertian lain mengatakan Perencanaan SDM adalah SERANGKAIAN
kegiatan yang berkaitan dengan peramalan kebutuhan tenaga kerja dimasa datang
pada suatu organisasi, meliputi penyediaan tenaga kerja baru dan pendayagunaan
yang sudah tersedia.
Dari beberapa pengertian tersebut disimpulkan bahwa Perencanaan SDM adalah
proses untuk menetapkan strategi, memperoleh, memanfaatkan, mengembangkan dan
mempertahankan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan perusahaan saat ini
dan pengembangannya dima yang akan dating yang mempunyai makna bahwa :
kebutuhan saat ini merupakan usaha untuk mengisi kekurangan sumber daya manusia
suatu organisasi. Sedangkan kebutuhan sumber daya manusia akan dating berarti
memprediksi kebutuhan sumber daya manusia yang merupakan strategi
pengembangan sutatu organisasi. Usaha memenuhi kebutuhan tersebut dilakukan
dengan cara mendapatkan tenaga kerja baru yang relevan, disamping harus dilakukan
dengan mempertahankan dan memanfaatkan tenaga kerja yang sudah ada secara
maksimal.

Makna Penting Dari Perencanaan Sumber Daya Manusia

Perencanaan SDM selalu berkaitan dengan permintaan (demand) dan pasokan
(supply) tenaga kerja. Oleh karena itu, perencanaan SDM merupakan tanggung jawab
bagi semua manajer dalam organisasi. Perencanaan SDM tidak sekedar tanggung
jawab manajer SDM semata, yang mana dalam prakteknya tidak semua manajer
organisasi menyadari makna pentingnya perencanaan SDM. Banyak para manajer
bagian non-SDM yang memiliki pemahaman akan peran penting perencanaan SDM.
Mreka lebih mementingkan perencanaan sumber daya lainnya, seperti material,
perlengkapan dan keuangan.
Tujuan perencanaan SDM menurut Stone (1995:91) adalah untuk meyakinkan atau
memastikan bahwa sejumlah pekerja dalam jumlah tertentu yang memenuhi
persyaratan telah tersedia pada suatu kurun waktu tertentu. Melalui perencanaan SDM,
organisasi dapat mengidentifikasi apa yang harus diperbuat guna memastikan adanya
SDM sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Perencanaan SDM harus dilakukan secara terbuka, tidak isolatif. Terbuka dalam arti
harus dikaitkan dengan keseluruhan tujuan bisnis perusahaan. Nilai bagi perencanaan
SDM terletak pada posisi sebagai bagian integral dari proses perencanaan startegis
organisasi. Jadi perencanaan yang baik adalah dengan mengupayakan jangan sampai
terjadi perencanaan yang sifatnya hanya memenuhi dan memprediksi kebutuhan
sesaat saja atau dalam jangka pendek, melainkan harus berpedoman kepada
perencanaan yang jangka panjang dan menyeluruh.

2.4. Fungsi Manajemen Sumner Daya Manusia

Fungsi manajemen sumber daya manusia sangat memegang peranan penting dalam
sebuah organisasi. Oleh karena itu, dalam membuat perencanaan sumber daya
manusia harus lebih baik, terutama dalam hal perekrutan karyawan sehingga posisi
theright man on the right place dapat tercapai dengan cara yang selektif dan seefisien
mungkin.
Nitisemito (1991) mengemukakan bahwa :
“Tugas manajemen sumber daya manusiaantara lain adalah menetapkan analisis
jabatan, merekrut karyawan baru, melatih dan menempatkannya, memberikan
kompensasi yang adil dan merata, memotivasi karyawan dan sebagainya”.
Sedangkan fungsi-fungsi manajemen personalia, seperti yang dikemukakan oleh
Manullang (1992) yaitu :” Membuat anggaran tenaga kerja yang dibutuhkan, termasuk
di dalamnya menarik tenaga kerja, membuat job analysis, membuat job description dan
job specification, mengadakan seleksi tenaga kerja, memindahkan dan
mempromosikan tenaga kerja, melatih dan mendidik tenaga kerja, memotivasi tenaga
kerja serta melakukan pension tenaga kerja. Dari kutipan tersebut diatas , dapat
diketahui bahwa fungsi manajemen sumber daya manusia meliputi analisis jabatan,
rekrutmen karywan, pelatihan dan pengembangan karyawan, serta penyelesaian
karyawan dan lain-lain.
Selnajutnya, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai fungsi-fungsi
manajemen sumber daya manusia, maka berikut dikutip pendapat Flippo (1991) yakni :
“Personal management is the planning, organizing and controlling of the procurement,
development, compensation, maintenance and separation of human resources to the
and that organizational, individual and societal good are accomplished”.Terjemahan
bebas dalam bahasa Indonesia yakni manajemen sumber daya manusia adalah
perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan dari pengadaan, pengembangan,
pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pemberhentian sumber
daya manusia dengan masyarakat.
Dengan demikian menurut Flippo (1991), bahwa sumber daya manusia
mengaplikasikan fungsi-fungsi manajemen (Management function), dalam
melaksanakan fungsi pelaksanaan (Operation function). Fungsi manajemen meliputi :
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan
pengawasan (controlling). Sedangkan fungsi opeartif meliputi : pengadaan
(procurement), pengembangan (development), kompensasi (compensation), integrasi
(integration), pemeliharaan (maintenance), dan pemberhentian (separation).

Secara singkat fungsi manajemen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Perencanaan (Planning)
Bagi seorang manajer sumber daya manusia, perencanaan diartikan sebagai
penentuan lebih dahulu dari kebijaksanaan, program, prosedur dan teknisi yang akan
menunjang tercapainya tujuan organisasi. Adapun penetapan tujuan organisasi itu
sendiri memerlukan partisipasi aktif dari manajer sumber daya manusia, agar aspek
sumber daya ini mendapat perhatian.

b. Pengorganisasian (Organizing)
Sebuah organisasi harus dibentuk untuk dapat melaksanakan policy, program, serta
prosedur kepegawaian. Dalam hal ini tampak jelas bahwa organisasi merupakan suatu
alat untuk mencapai tujuan. Seorang manajer sumber daya manusia harus mampu
mengidentifikasi semua fungsi operatif, kemudian melakukan pengelompokan kegiatan-
kegiatan tersebut ke dalam unit-unit menurut prinsip-prinsip organisasi yang sehat serta
mangatur hubungan kerja antar unit tersebut.

c. Pengarahan (Directing)
Fungsi berikutnya adalah fungsi pelaksanaan, dimana rencana yang telah dibuat akan
diterjemahkan menjadi kegiatan-kegiatan nyata. Fungsi pengarahan dapat juga disebut
juga dengan istilah lain, seperti motivasi (Motivation), Penggerakan (Actuating), atau
pemberian komando (Commanding).

d. Pengawasan (Controlling)
Fungsi manajemen yang terakhir adalah fungsi pengawasan yakni melakuakn
pengukuran serta penilaian terhadap hasil yang diperoleh dari rencana yang terlaksana.
Dalam hal ini, seandainya terjadi penyimpangan-penyimpangan dari hasil yang
diharapkan, maka akan diperlukan usaha korelasi dan pengendalian. Hal ini mutlak
diperlukan dalam rangka penyempurnaan.

Mengenai fungsi-fungsi operatif dari manajemen sumber daya manusia secara singkat
dapat diuraikan seperti berikut ini :

a. Pengadaan (Procurement)
Fungsi operatif ini berhubungan dengan usaha memperoleh dan menempatkan macam
dan jumlah pegawai yang tepat diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Aspek
kuantitatif atas sejumlah karyawan yang dibutuhkan akan memerlukan sebuah
perencanaan kebutuhan karyawan.

b. Pengembangan (Development)
Fungsi ini mempunyai tujuan untuk dapat meningkatkan pengetahuan serta kecakapan
karyawan melalui pengadaan program-program pelatihan dan program lainnya.
Pelatihan diperlukan bagi karyawan baru agar dapat m,encapai prestasi berdasarkan
standar yang ditetapkan dalam waktu singkat. Sedangkan perlunya pelatihan bagi
karyawan lama adalah sebagai persiapan untuk promosi ke jabatan yang lebih tinggi
serta diharapkan agar lebih bertanggung jawab. Pengembangan merupakan suatu
kegiatan yang sangat penting serta perlu berlangsung terus –menerus mengikuti
peningkatan arus teknologi dan metode kerja, serta menyesuaikan dengan tuntutan
keadaan yang juga terus meningkat.

c. Kompensasi (Compentation)
Fungsi ini mencakup semua jenis imbalan yang diperoleh karyawan atas sumbangan
prestasi mereka pada organisasi. Kompensasi adalah suatu kewajiban yang harus
diberikan kepada karyawan atas sumbangan tenaga dan pikirannya kepada organisasi
tersebut.

d. Integrasi (Integration)
Fungsi integrasi merupakan tantangan yang paling sulit dalam manajemen. Fungsi ini
dimaksudkan sebagai usaha yang perlu dilaksanakan untuk mempengaruhi setiap
karyawan, dengan harapan tercipta kesatuan tujuan, kesatuan pola berfikir serta
kegiatan. Hal ini hanya dapat terlaksana dengan baik apabila seluruh karyawan lebih
mengutamakan tujuan organisasi dari pada tujuan pribadi.

e. Pemeliharaan (Maintenance)
Fungsi pemeliharaan ditujukan untuk dapat mempertahankan serta memperbaiki
kondisi fisik dan mental para karyawan. Selain itu dianggap sebagi suatu syarat untuk
dapat menjamin awetnya penggunaan karyawan dengan manfaat yang optimal.

f. Pemberhentian (Separation)
Pada suatu waktu tertentu, seorang karyawan akan berhenti bekerja dan harus
meninggalkan pekerjaannya. Suatu hal yang tidak mungkin apabila seseorang dapat
bekerja sepanjang hidupnya, oleh karena itu pada suatu sat ia akan mencapai usia
pension. Selain itu ada kalanya pula seorang akan berhenti bekerja atas permintaannya
sendiri dengan berbagai alasan pribadi, atau karena tindakan disiplin atas prilaku yang
melanggar ketentuan yang telah ditatapkan oleh organisasi. Segala macam
pemberhentian tersebut haruslah dilakukan dengan cara-cara yang baik sehingga citra
perusahaan tetap terjaga di masyarakat.


2.5. Pentingnya Manajemen Koperasi

Istilah Manajemen berasal dari bahasa Italia ; managio yang artinya pengurusan.
Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi Management diterjemahkan kedalam bahasa
Indonesia dengan tata laksana, pengelolaan atau pengurusan. Definisi tentang
Manajemen banyak ragamnya, berbeda-beda meskipun isinya sama. Secara umum
telah dirumuskan bahwa definisi manajemen adalah segenap perbuatan menggerakkan
kelompok orang dan mengerahkan segala fasilitas dalam usaha kerjasama untuk
mencapai tujuan tertentu.
Setiap usaha kerjasama harus ada seorang pejabat atau lebih yang memimpin segenap
proses penyelenggaraan dalam usaha kerjasama itu. Pejabat itu disebut manajer.
Dalam proses penyelenggaraan usaha kerjasama, manajer itu melakukan pekerjaan
dari dua segi :

1. Menggerakkan orang-orang, yaitu mendorong, memimpin, menjuruskan dan
menertibkan orang-orang agar melakukan perbuatan-perbuatan dalam menuju ke arah
tercapainya tujuan yang telah ditentukan dalam usaha kerjasama itu.
2. Mengerahkan fasilitas, yaitu menghimpun, mangatur, memelihara, dan
mengendalikan alat, benda, uang, waktu dan metode kerja serta peralatan apapun yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dalam usaha kerjasama itu.

Didalam menggerakkan orang-orang dan mengerahkan fasilitas, manajer melakukan
pola perbuatan : perencanaan, pembuatan keputusanm pembimbingan,
pengorganisasian dan pengendalian.

a. Perencanaan
Menggambarkan dimuka hal-hal yang harus dikerjakan dan cara mengerjakannya
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b. Pembuatan keputusan
Melakukan pemilihan diantara berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan-
persoalan, pertentangan-pertentangan dan keraguan-keraguan yang timbul dalam
proses penyelenggaraan usaha kerjasama itu.
c. Pembimbingan
Memerintah, menugaskan, memberi arah dan menuntut bawahan, untuk melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
d. Pengkoordinasian
Menghubung-hubungkan, menyelaraskan orang-orang dan pekerjaannya sehingga
semua berlangsung secara tertib dan seirama menuju kearah tercapainya tujuan tanpa
terjadinya kekacauan, percekcokan atau kekosongan kerja.
e. Pengendalian
Melakukan kegiatan pemerikasaan, mencocokkandan mengusahakan agar pekerjaan-
pekerjaan yang ada terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan hasil yang
dikehendaki.

Manajemen merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap organisasi. Sebagaimana
diketahui, hakikat manajemen adalah mencapai tujuan melalui tangan orang lain.
Pencapaian tujuan melalui tangan orang lain itu dilakukan oleh manajemen dengan
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, fungsi
pengorganisasian, fungsi pelaksanaan, dan fungsi pengawasan. Dengan demikian,
keberhasilan manajemen sebuah organisasi akan sangat tergantung pada pelaksanaan
masing-masing fungsi tersebut.

Walaupun tingkat kerumitan pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen beragam antar satu
organisasi dengan organisasi lainnya, namun tidak ada organisasi yang ingin mencapai
tujuannya secara efektif. Dan dapat mengelak dari keharusan melaksanakan fungsi-
fungsi tersebut. Hal yang sama berlaku pula pada koperasi. Hanya dengan
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen itulah sebuah koperasi akan dapat mencapai
tujuan-tujuan mulianya secara efektif. Berikut ini akan kita lihat bagaimana penerapan
fungsi-fungsi manajemen tersebut dalam pengolahan Koperasi.

Koperasi sebagai bentuk badan usaha ynag bergerak dibidang perekonomian,
mempunyai tatanan manajemen yang berbeda dengan badan usaha non koperasi.
Perbedaan tersebut terletak pada asas koperasi yang bersifat demokratis dimana
pengelolaan koperasi adalah dari, oleh dan untuk anggota. Karena itu dalam tatanan
manajemen koperasi Indonesia mempunyai unsure-unsur : Rapat Anggota, pengurus,
pengawas dan manajer.

Dalam manajemen koperasi kekuasaan tertinggi adalah ditangan rapat anggota, sebab
koperasi adalah organisasi dari, oleh dan untuk anggota. Karena rapat anggota yang
pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan organisasi dengan sendirinya tidak dapat
mengelola kegiatan-kegiatan koperasi. Baik pengurus maupun pengawas dipilih oleh
anggota-anggota dan bertindak untuk dan atas nama anggota.

Peranan manajemen adalah membuat koperasi berhasil dalam mencapai tujuannya,
baik tujuan para anggotanya, seperti misalnya untuk mencapai perbaikan tingkat hidup
atau sedikitnya meringankna biaya hidup sehari-hari, maupun tujuan yang telah
ditetapkan oleh pemerintah. Dalam hal yang pertama, manajemen merupakan unsur
pembuat keputusan yang telah digariskan oleh rapat anggota. Dalam hal yang kedua,
pemerintah menetapkan bahwa koperasi bertujuan untuk menambah kesejahteraan
anggota dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Seperti badan usaha yang lain, koperasi juga akan menghadapi berbagai persoalan
dalam mencapai tujuan. Sebagian besar tugas manajemen adalah memecahkan
persoalan-persoalan itu dan membuat putusan-putusan yang akan menuju sasaran
yang dikehendaki.

Langkah-langkah yang diambil dalam memecahkan sesuatu persoalan adalah :

a. Membuat persoalan yang dihadapi menjadi jelas dan terang.;
b. Mencari alternatif-alternatif untuk memecahkannnya;
c. Memilih salah satu cara atau alternative yang paling sesuai dengan tujuan koperasi;
d. Menilai hasil cara tersebut.






BAB III
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Dalam masyarakat modern dewasa ini manajemen semakin menjadi penting.
Masyarakat modern adalah masyarakat yang kompleks. Manusia modern yang telah
meningkat kecerdasan dan pengetahuan teknologinya, telah menempatkan “rasional,
efektivitas dan efisiensi sebagai nilai moral yang tinggi”. Dengan system nilai moral
yang demikian itu, orang modern terus berusaha meningkatkan kemampuannya untuk
dapat mencapai tujuan atau memenuhi kebutuhannya secara lebih tepat sebagaimana
yang dikehendaki dalam waktu yang lebih cepat dan dengan biaya yang lebih murah.
Fungsi manajemen dalam Koperasi adalah sama dengan fungsi manajemen dalam
perusahaan atau organisasi pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada fungsi
dimana fungsi manajemen yang dilakukan Rapat Anggota, Pengurus, Badan Pemeriksa
dan oleh Manajer. Ada lima fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, koordinasi dan pengawasan.
Manajer adalah fungsionaris atau pemegang jabatan yang melaksanakan
kesemuannya, sedangkan bagi Pengurus yang penting adalah Perencanaan dengan
sedikit Pengawasan di samping fungsi-fungsi lainnyadan Badan Pemeriksa melakukan
Pengawasan.
Pengertian manajemen Koperasi bukan sekedar definisi, tetapi yang dapat mencakup
keseluruhan makna yang sebenarnya. Untuk itu perlu diungkapkan kembali beberapa
pengertian pokok yang pada dasarnya menyatakan bahwa Koperasi adalah suatu
bentuk usaha bersama di antara orang-orang yang mempunyai kepentingan bersama,
yang dijalankan dan dikelola bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Pengembangan sumberdaya manusia koperasi, dalam berkaitannya dengan tantangan
yang dihadapi oleh koperasi di masa depan, adalah masalah utama. Karena itu
koperasi harus mampu mengantisipasi pola pendidikan dan latihan sumberdaya
manusianya yang paling sesuai dengan kebutuhan dan pengembangannya.
Peningkatan kualitas sumberdaya manusia sering dianggap sebagai faktor utama
(crucial factor) perusahaan-perusahaan dan menengah dalam usaha memenangkan
persaingan pasar yang semakin sarat dengan persaingan. Demikian halnya dengan
koperasi, kalau mau bersaing secara fair dengan perusahaan-perusahaan, maka
investasi untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sudah saatnya
mendapatkan perhatian utama agar dapat mengimbangi kemampuan perusahaan-
perusahaan besar dan menengah. Sumberdaya manusia koperasi harus bersaing
dibidang pengetahuan (entrepeneurship), kecakapan manajerial (managerial skill), dan
keterampilan teknis (technical skill).

4.2. Hasil Laporan Penelitian

Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang saya lakukan pada Koperasi Karyawan
PT. OMI maka saya menyimpulkan hal-hal yang ada koperasi tersebut serta
pembenahan dan penataan yang perlu dilakukan, diantara hal-hal tersebut sebagai
berikut:
1. Bidang Organisasi

Pada dasarnya bidang organisasi sudah dapat menjalankan fungsinya sesuai dengan
tugas dan wewenang yang diberikan, namun adanya perbaikan diantaranya :

a. Perlu segera direalisasikan pembuatan kartu anggota Koperasi Karyawan PT. OMI.
b. Koordinasi antar pengurus dan karyawan koperasi serta anggota koperasi bisa
dikatakan semakin baik.
c. Perlu adanya sosialisasi lebih insentif lagi ke anggota mengenai kegiatan-kegiatan
dan produk yang ada di Koperasi Karyawan PT. OMI.
d. Perlu pendataan lebih akurat mengenai anggota koperasi dengan meningkatkan
kerjasama dengan pihak HRD (Personalia) PT. OMI.

2. Bidang Usaha
Bidang Usaha Koperasi telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan
Koperasi Karyawan PT. OMI. Hal ini tercermin semakin dan semakin meningkatnya
usaha baik Toko maupun Kantin dari anggota untuk melakukan pinjaman ke koperasi.
Sebagai primadona usaha koperasi bagian simpan pinjam telah memberikan kontribusi
yang paling besar pada pendapatan koperasi secara keseluruhan.
Dalam menjalankan operasionalnya Bidang Usaha perlu mengadakan perbaikan dan
peningkatan kinerja pada :
a. Sistem pengendalian, pencatatan dan pelaporan inventory
b. Sistem dan prosedur pengadaan barang.
c. Pelayanan karyawan koperasi kepada pelanggan/anggota koperasi.
d. Pelayanan Simpan-Pinjam.

3. Keuangan
Dengan berjalannya system dan prosedur serta arus dokumen yang semakin baik
memungkinkan pelaporan posisi keuangan koperasi semakin cepat dan valid. Anggota
koperasi sebagai pemilik dari Koperasi PT. OMI berhak dan dapat menanyakan secara
langsung mengenai posisi keuangan beserta seluruh transaksi pendukungnya setiap
saat. Hal ini tentunya tidak terlepas dari komitmen seluruh pengurus koperasi sejak
awal terpilih, dan berusaha menyajikan informasi se-transparan mungkin kepada
anggota yang membutuhkan informasi.

4.3. Saran
Alangkah baiknya bila anggota tidak hanya sekedar bisa mengkritik tetapi juga dapat
memberikan jalan keluar atau solusi terbaik untuk perbaikan dan penyelesaian masalah
yang masih ada di Koperasi.
Koperasi Karyawan PT. OMI pada saat ini sudah memiliki asset yang lumayan besar
sehingga perlu dikelola denga sebaik-baiknya dan membutuhkan personil pengurus
yang memiliki kejujuran, kemampuan dan bertanggung jawab.
Pelayanan untuk anggota merupakan satu hal yang tidak boleh diabaikan oleh
Koperasi, disatu sisi keaktifan dan pengurus koperasi beraneka ragam, ada yang aktif,
kurang aktif dan ada yang tidak aktif. Pengurus harus dapat memaksimalkan tenaga
yang ada dalam rangka memberikan pelayanan untuk anggota.
Pengurus dan Pengawas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan oleh karena
itu bisa diartikan kesalahan dari Pengurus juga merupakan kesalahan dari Pengawas.