Nama: Satriya Baskara Putra

NIM: 12/333579/TK/39927

TUGAS PAAL 1
Jawab :
1. a) Pengolahan air pada prinsipnya adalah proses pengambilan kontaminan dari air baku (raw water),
dan tujuan dari pengolahan tersebut adalah memproduksi air yang sesuai dengan peruntukannya.
Perancangan proses pengolahan raw water yang ditujukan untuk menghasilkan air yang akan
dikonsumsi manusia (misal: untuk air minum), berbeda dengan proses pengolahan air yang
dirancang untuk berbagai kebutuhan tertentu dalam industri karena masing-masing jenis raw water
dan air hasil olahannya mempunyai spesifikasi yang berbeda-beda, semisal untuk overall treatment
air laut dan air sungai mempunyai perbedaan yang fundamental. Untuk air laut pada pengolahan
awalnya diperlukan evaporator guna mengurangi kadar garam yang terlarut di dalam air, sedangkan
air sungai tidak memerlukan dalam prosesnya.
Karakteristik raw water merupakan sifat yang dimiliki oleh air baku yang menunjukkan ciri khas
antar air baku yang ditunjukkan melalui beberapa parameter standar sesuai dengan peruntukkan air
tersebut, seperti pH, Total Suspended Solids (TSS), Total Dissolves Solids (TDS), Kesadahan, dan
Alkalinitas.
pH
Kata pH adalah singkatan dari "pondus Hydrogenium". Hal ini secara harfiah berarti berat hidrogen.
pH adalah indikasi untuk jumlah ion hidrogen di air yang terdiri dari ion hidrogen (H
+
)dan ion
hidroksida (OH
-
). pH tidak memiliki unit, melainkan hanya dinyatakan sebagai sebuah nomor. Ketika
sebuah larutan yang netral, jumlah ion hidrogen sama dengan jumlah ionhidroksida. Ketika jumlah
ion hidrogen yang lebih tinggi, larutannya adalah asam. Ketika jumlah ion hidroksida lebih tinggi,
Larutannya adalah basa.Harga pH pada air umpan boiler dan air pendingin penting untuk
diperhatikan untuk mencegah terjadinya korosi. Terdapat hubungan antara pH dan laju terjadinya
korosi pada bahan konstruksi dari logam mild steel yang menunjukan adanya kecenderubgan
menurunnya korosi dengan naiknyaharga pH. Namun pada bahan konstruksi dari logam Cu terjadi
sebaliknya, yaitu kecenderungan laju korosi menaik dengan menaiknya harga pH di atas pH 9.
Berkaitan dengan pH adalah asiditas (keasaman), merupakan ukuran yang menentukan jumlah basa
kuat yang diperlukan untuk mengganti kation di dalam air. Asiditas disebabkan olehkehadiran ion H
+

yang terdesosiasi dari anion kuatnya. Dalam air bersih, asiditas disebabkan oleh kehadiran CO
2

bebas terlarut dan sebagian asam-asam organik. Nilai pH air dalam kondisi ini biasanya lebih besar
dari 4,5. Dalam air tercemar, kehadiran asam kuat akan menyebabkan pH air bisa lebih kecil dari 4,5.
Dalam kondisi ini, dikatakan air mengandung asam mineral bebas. pH merupakan indikasi untuk
keasaman suatu zat. Hal ini ditentukan oleh jumlah ion hidrogen bebas (H
+
) dalam suatu zat.
Keasaman adalah salah satu hal yang paling penting dari sifat-sifat air. Air adalah pelarut untuk
hampir semua ion. pH berfungsi sebagai indikator yang membandingkan beberapa ion yang paling
larut dalam air. Hasil pengukuran pH ditentukan olehpertimbangan antara jumlah ion H
+
dan jumlah
ion hidroksida (OH
-
).Larutan akan memiliki pH sekitar 7, ketika jumlah ion H
+
sama dengan jumlah
OH
-
ion, sehingga air bersifat netral.
Total Suspended Solids (TSS)
TSS merupakan parameter kualitas air yang dapat diamati secara langsung. TSS menunjukkan ukuran
kekeruhan suatu air dan merupakan hal pertama yang langsung terlihat ketika air tersebut akan
dipergunakan. Dalam jumlah yang cukup besar, adanya suspended solid dalam air dapat
menyebabkan air tampak seperti susu atau keruh karena efek terpendarnya cahaya oleh partikel-
partikel kecil dalam air. Untuk mengukur besarnya kandungan suspended solid dalam air dapat
dilakukan secara mudah dengan menyaring 1 liter air tersebut dengan kertas saring dan kemudian
menimbang padatan yang tertahan dalam kertas saring tersebut setelah dilakukan pengeringan.
Harga TSS air tersebut biasanya dinyatakan dalam mg padatan per liter air (ppm).
Total Dissolved Solids (TDS)
TDS adalah jumlah total ion-ion terlarut termasuk di dalamnya adalah mineral, garam atau logam
terlarut dalam sejumlah volum air tertentu, yang dinyatakan dalam mg per satuan volum air (mg/L)
atau ppm. TDS adalah jumlah total semua material terlarut dalam sejumlah badan air tertentu.
Segala sesuatu di dalam air kecuali air itu sendiri dan suspended solid adalah TDS. Termasuk di
dalamnya adalah kesadahan, alkalinitas, khlorida, bromida, sulfat, silikat, dan semua mineral, logam,
kation dan anion yang terlarut dalam air. Tingkat konsentrasi maksimum TDS menurut EPA adalah
500 mg/L.
Kesadahan
Kesadahan (hardness) disebabkan adanya kandungan ion-ion logam bervalensi banyak (terutama
ion-ion bervalensi dua, seperti Ca, Mg, Fe, Mn, Sr). Kation-kation logam ini dapat bereaksi dengan
sabun membentuk endapan maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk
endapan/karat pada peralatan logam. Kation-kation utama penyebab kesadahan di dalam air antara
lain Ca
2+
, Mg
2+
, Sr
2+
, Fe
2+
, dan Mn
2+
. Anion-anion utama penyebab kesadahan di dalam air antara lain
HCO
3
-
, SO
4
2-
, Cl
-
, NO
3

-
, dan SiO
3
2-
. Air sadah merupakan air yang dibutuhkan oleh sabun untuk
membusakan dalam jumlah tertentu dan juga dapat menimbulkan kerak pada pipa air panas,
pemanas, ketel uap, dan alat-alat lain yang menyebabkan temperatur air naik.
Kesadahan air berkaitan erat dengan kemampuan air membentuk busa. Semakin besar kesadahan
air, semakin sulit bagi sabun untuk membentuk busa karena terjadi presipitasi. Busa tidak akan
terbentuk sebelum semua kation pembentuk kesadahan mengendap. Pada kondisi ini, air
mengalami pelunakan atau penurunan kesadahan yang disebabkan oleh sabun. Endapan yang
terbentuk dapat menyebabkan pewarnaan pada bahan yang dicuci. Pada perairan sadah (hard),
kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi (Brown, 1987 dalam Effendi,
2003). Jika dipanaskan, perairan sadah akan membentuk deposit (kerak). Untuk air proses, adanya
kesadahan akan mengganggu kinerja air ketika air tersebut dipakai sebagai pelarut atau reagen.
Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan
atau dikenal dengan sebutan acid-neutralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion di dalam air yang
dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas merupakan hasil reaksi terpisah dalam larutan dan
merupakan analisa makro yang menggabungkan beberapa reaksi. Alkalinitas merupakan
kemampuan air untuk mengikat ion positif hingga mencapai pH 4,5.
Alkalinitas dalam air disebabkan oleh ion-ion karbonat (CO
3
2-
), bikarbonat (HCO
3
-
), hidroksida (OH
-
),
borat (BO
3
2-
), fosfat (PO
4
3-
), silikat (SiO4
4-
), ammonia, asam organik, garam yang terbentuk dari asam
organik yang resisten terhadap oksidasi biologis. Dalam air alami, alkalinitas sebagian besar
disebabkan adanya bikarbonat, karbonat, dan hidroksida. Pada keadaan tertentu, keberadaan
ganggang dan lumut dalam air menyebabkan turunnya kadar CO
2
dan HCO
3
-
sehingga kadar CO
3
2-
dan OH
-
naik dan pH larutan menjadi naik.
Kalsium karbonat merupakan senyawa yang memberi kontribusi terbesar terhadap nilai alkalinitas
dan kesadahan di perairan tawar. Senyawa ini terdapat di dalam tanah dalam jumlah yang
berlimpah sehingga kadarnya di perairan tawar cukup tinggi. Kelarutan kalsium karbonat menurun
dengan meningkatnya suhu dan meningkat dengan keberadaan karbondioksida. Kalsium karbonat
bereaksi dengan karbondioksida membentuk kalsium bikarbonat [Ca(HCO
3
)2] yang memiliki daya
larut lebih tinggi dibandingkan dengan kalsium karbonat (CaCO
3
) (Cole, 1983 dalam Effendi 2003).
Tingginya kadar bikarbonat di perairan disebabkan oleh ionisasi asam karbonat, terutama pada
perairan yang banyak mengandung karbondioksida (kadar CO
2
mengalami saturasi/jenuh). Reaksi
pembentukan bikarbonat dari karbonat adalah reaksi setimbang dan mengharuskan keberadaan
karbondioksida untuk mempertahankan bikarbonat dalam bentuk larutan. Jika kadar karbondioksida
bertambah atau berkurang, maka akan terjadi perubahan kadar ion bikarbonat.
Alkalinitas ditetapkan melalui titrasi asam basa. Asam kuat seperti asam sulfat dan asam klorida
dapat menetralkan zat-zat alkaliniti yang bersifat basa sampai titk akhir titrasi (titik ekivalensi) kira-
kira pada pH 8,3 dan 4,5. Titik akhir ini dapat ditentukan oleh jenis indikator yang dipilih dan
perubahan nilai pH pada pHmeter waktu titrasi asam basa.
b) Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas, yang setara dengan 1mg/liter SiO2.
Kekeruhan dipengaruhi oleh:
1. Benda-benda halus yang disuspensikan seperti lumpur dan sebagainya.
2. Adanya jasad-jasad renik (plankton) dan
3. Warna Air
Peralatan yang pertama kali digunakan untuk mengukur turbiditas atau kekeruhan adalah Jackson
Candler Turbidimeter, yang dikalibrasi dengan menggunakan silika. Kemudian, Jackson Candler
Turbidimeter dijadikan sebagai alat baku atau standar bagi pengukuran kekeruhan. Satu Unit
turbiditas Jackson Candler Turbidimeter dinyatakan dengan satuan 1 JTU. Pengukuran kekeruhan
dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter bersifat visual, yaitu membandingkan air
sampel dengan standar.
Selain dengan menggunakan Jackson Candler Turbidimeter, kekeruhan sering diukur dengan metode
Nephelometric. Pada metode ini, sumbercahaya dilewatkan pada sampel dan intensitas cahaya yang
dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer
formazin sebagai larutan standar. Satuan kekeruhan yang diukur dengan menggunakan metode
Nephelometric adalah NTU (Nephelometric Tubidity Unit). Satuan JTU dan NTU sebenarnya tidak
dapat saling mengkonversi, akan tetapi Sawyer dan MC Carty (1978) mengemukakan bahwa 40 NTU
setara dengan 40 JTU.
Menurut Lloyd (1985) peningkatan nilai turbiditas pada perairan dangkal dan jernih sebesar 25 NTU
dapat mengurangi 13%-50% produktivitas primer. Peningkatan turbiditas sebesar 5 NTU di danau
dan sungai dapat mengurangi produktivitas primer berturut-turut sebesar 75% dan 3%-13%.
Padatan tersuspensi berkorelasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi,
nilai kekeruhan juga semakin tinggi, tetapi tidak berarti memiliki kekeruhan yang tinggi.
Kekeruhan pada air yang tergenang (lentik), misalnya danau, lebih banyak disebabkan oleh bahan
tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus. Sedangkan kekeruhan pada sungai yang
sedang banjir lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan tersuspensi yang berukuran lebih besar,
yang berupa lapisan permukaan tanah yang terbawa oleh aliran air pada saat hujan. Kekeruhan yang
tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya, pernafasan dan daya lihat
organism akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya kedalaman air. Tingginya nilai
kekeruhan juga dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada
proses penjernihan air (Effendi,2003). Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan ini meliputi:
tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik yang tersebar secara baik dan partikel-partikel kecil yang
tersuspensi lainnya. Nilai yang menunjukkan kekeruhan didasarkan pada bahan-bahan tersuspensi
pada jalannya sinar melalui sampel. Nilai ini tidak secara langsung menunjukkan banyaknya bahan
tersuspensi, tetapi ia menunjukkan kemungkinan penerimaan konsumen terhadap air tersebut.
Kekeruhan tidak merupakan sifat dari air yang membahayakan, tetapi ia menjadi tidak disenangi
karena rupanya. Untuk membuat air memuaskan untuk penggunaan rumah tangga, usaha
penghilangan secara hampir sempurna bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan adalah penting.
Standar yang ditetapkan oleh U.S. Public health Service mengenai kekeruhan ini adalah batas
maksimal 10 ppm dengan skala silikat, tetapi dalam angka praktik angka standar ini umumnya tidak
memuaskan. Kebanyakan industri pengolahan air yang modern menghasilkan air dengan kekeruhan
1 ppm atau kurang. Menurut Clair N Sawyer dkk. Kekeruhan pada air merupakan satu hal yang harus
dipertimbangkan dalam penyediaan air bagi umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan
mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan dan akan mengurangi efektivitas
usaha desinfeksi. (Sutrisno, 2006).
c) Kesadahan (hardness) disebabkan adanya kandungan ion-ion logam bervalensi banyak (terutama
ion-ion bervalensi dua, seperti Ca, Mg, Fe, Mn, Sr). Kation-kation logam ini dapat bereaksi dengan
sabun membentuk endapan maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk
endapan/karat pada peralatan logam. Kation-kation utama penyebab kesadahan di dalam air antara
lain Ca
2+
, Mg
2+
, Sr
2+
, Fe
2+
, dan Mn
2+
. Anion-anion utama penyebab kesadahan di dalam air antara lain
HCO
3
-
, SO
4
2-
, Cl
-
, NO
3

-
, dan SiO
3
2-
. Air sadah merupakan air yang dibutuhkan oleh sabun untuk
membusakan dalam jumlah tertentu dan juga dapat menimbulkan kerak pada pipa air panas,
pemanas, ketel uap, dan alat-alat lain yang menyebabkan temperatur air naik.
Kesadahan air berkaitan erat dengan kemampuan air membentuk busa. Semakin besar kesadahan
air, semakin sulit bagi sabun untuk membentuk busa karena terjadi presipitasi. Busa tidak akan
terbentuk sebelum semua kation pembentuk kesadahan mengendap. Pada kondisi ini, air
mengalami pelunakan atau penurunan kesadahan yang disebabkan oleh sabun. Endapan yang
terbentuk dapat menyebabkan pewarnaan pada bahan yang dicuci. Pada perairan sadah (hard),
kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi (Brown, 1987 dalam Effendi,
2003). Jika dipanaskan, perairan sadah akan membentuk deposit (kerak).
Kesadahan pada awalnya ditentukan dengan titrasi menggunakan sabun standar yang dapat
bereaksi dengan ion penyusun kesadahan. Dalam perkembangannya, kesadahan ditentukan dengan
titrasi menggunakan EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid) atau senyawa lain yang dapat
bereaksi dengan kalsium dan magnesium.
d) Fungsi dan Prinsip Kerja Clarifier
Clarifier berfungsi untuk memisahkan sejumlah kecil partikel-partikel halus yang menghasilkan
liquid yang jernih yang bebas partikel-partikel solid atau suspensi. Teknologi pemisahan liquid-solid
umumnya dipakai pada proses pengolahan air bersih pada berbagai industri antara lain pada
pengolahan air minum PDAM dan pengolahan air baku untuk Demin Plant maupun Cooling Water
System.
Di dalam Clarifier terjadi proses yang kita sebut dengan proses klarifikasi yang mana proses ini
berfungsi menghilangkan suspended solid. Suspended solid merupakan bagian dari kotoran
(impurities) yang menyebabkan air menjadi keruh. Secara umum klarifikasi dapat diartikan sebagai
proses penghilangan suspended solid melalui mekanisme koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi.
Air yang mengandung bahan kimia serta floc mengalir ke Clarifier melalui pipa vertical ditengah
clarifier, untuk dipisahkan floc-flocnya dengan cara pengendapan gravitasi. Clarifier pada umumnya
berbentuk tanki silinder dari beton dengan diameter 26 meter dan tinggi 3,65 meter.
Selama clarification, dihilangkan juga water hardness, yaitu garam-garam calcium dan magnesium
yang larut dalam air, dengan jalan mereaksikannya dengan zat-zat kimia yang akan mengendapkan
hardness tersebut. Garam Ca dan Mg dalam bentuk bikarbonat akan lebih mudah larut.
Untuk pengendapan yang efesien, perlu pengadukan sehingga zat pengendap akan terbagi dalam
air sebelum pengendapan untuk membentuk gumpalan yang lebih besar, hal ini dapat dicapai
dengan pengadukan lambat. Jika dosis pengendapan terlalu tinggi, lapisan lumpur akan naik sampai
batas yang telah ditentukan dan terbawa arus keluar. Untuk mengetahui kualitas air, clarifier
dilakukan kontrol di outlet clarifier dengan parameter pH, Cl
2
(1,5 – 4,0 ppm) dan turbidity
maksimum 5 ppm. Air yang bersih dipisahkan melalui overlow di bibir clarifier dan endapan yang
terbentuk dibuang melalui bagian bawah clarifier.


Disinilah akan kita lihat fungsi baffle seperti pada gambar-gambar diatas, dimana oleh karena
suatu industri ingin suatu proses yang efisien baik dari segi pekerja maupun segi waktu, maka dicari
solusi agar proses pengendapan suspended solid dapat berjalan lebih cepat.
Clarifier dilengkapi dengan alat pengaduk (mixer) yang mana sangat membantu sekali dalam
proses pencampuran yang berlangsung dengan homogen. Mixer ini bekerja dengan prinsip dasar
dari proses Agitasi. Proses agitasi ini merupakan dasar dalam pengadukkan air yang mana dengan
adanya baffle hasil dari proses agitasi ini dapat mengurangi terjadinya vorteks.



Didalam clarifier akan terjadi tiga proses yaitu :
1. Koagulasi
Adalah suatu mekanisme penetralan dimana partikel-partikel koloid yang bermuatan
dinetralkan muatannya, setalah penetralan maka partikel akan saling mendekat satu sama lain
sehingga membentuk floc yang kecil melalui suatu proses penambahan koagulan yaitu antara lain:
a. Alum-aluminum sulfate-Al
2
(SO
4
)
3

b. Ferric sulfate-Fe
2
(SO
4
)
3

c. Ferric chloride-FeCl
3

d. Sodium aluminate-Na
2
AI
2
0
4

Tujuannya adalah untuk mengikat atau mengumpulkan kotoran-kotoran yang tidak bisa disaring
melalui filter biasa.
Metode pembubuhan aluminium sulfat yang paling umum adalah dalam bentuk larutan. Larutan
aluminium sulfat dibuat dalam sebuah tangki dengan kapasitas yang cukup untuk pembubuhan
koagulan. Untuk itu diperlukan dua tangki berpengaduk, dimana yang satu beroperasi sementara
larutan disiapkan pada tangki lainnya. Pembubuhan koagulan ini dilakukan pada unit koagulasi.
2. Flokulasi
Adalah suatu mekanisme dimana floc kecil tersebut akan dilalui suatu media flokulan
(Polyelektrolit) digabungkan menjadi floc yang lebih besar sehingga massa bertambah agar dapat
mengendap. Flok-flok yang semakin membesar itu akan mengendap sejalan dengan pertambahan
luas permukaan aliran, sehingga waktu pengaliran akan lebih lama dan reaksi yang terjadi akan
semakin sempurna. Sedangkan perluasan permukaan aliran akan dilakukan dengan penambahan
sekat-sekat pada bak flokulasi. Sehingga butiran-butiran yang sudah terbentuk akan saling
bertumbukan dan akan menghasilkan flok-flok yang semakin membesar, ini dikarenakan flok-flok
tadi akan saling melekat antara satu dengan yang lainnya.
3. Sedimentasi
Adalah suatu mekanisme dimana floc yang sudah cukup besar tersebut akan mengendap dan
turun ke permukaan air karena gaya gravitasi bumi.
e) Sand filter digunakan untuk menjernihkan air. Aplikasi sand filter yaitu pada penjernihan air
digunakan untuk penyaringan secara fisik yaitu untuk memisahkan padatan yang kasar, padatan
yang terapung, dan memisahkan minyak dan lemak. Penyaring pasir (sand filter) ada tangki terbuka
dan tangki tertutup itu merupakan klasifikasi berdasarkan bentuk bangunan alatnya. Pada sand filter
dengan bentuk terbuka digunakan untuk penyaringan dengan gaya gravitasi, jadi tekanan yang
digunakan sama dengan tekanan atmosfir. Sedangkan sand filter dengan bentuk tertutup digunakan
untuk penyaringan dengan tekanan, lebih sering digunakan dalam industri dibandingkan yang
terbuka karena kecepatan aliran filtrasi lebih besar (untuk luas bed yang sama) antara areal yang
digunakan lebih kecil (Subyakto,1997). Tekanan ini dihasilkan oleh pompa untuk meningkatkan laju
penyaringan sehingga menyebabkan laju alir lebih tinggi dan lapisan penyaring material lebih tinggi,
membuat usia pemakaian penyaring lebih panjang.
Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash) dengan tujuan
untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat pori-pori media filter. Aliran air
dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke media hingga media terangkat, dan air dibuang
melewati gutter yang terletak di atas media.

Gambar 3. Bagian-bagian Sand Filter


Gambar 4. Aliran Air Pada Saat Filter Beroperasi

Gambar 5. Aliran Air Pada Saat Filter Beroperasi

f) Fungsi dan Prinsip Kerja Deaerator
Deaerator berfungsi untuk menyerap atau menghilangkan gas – gas yang terkandung pada air
pengisi Boiler, terutama gas O
2
, karena gas ini akan menimbulkan korosi. Gas – gas lain yang cukup
berbahya adalah karbon dioksida (CO
2
). Gas O
2
dan CO
2
akan bereaksi dengan meterial Boiler dan
menimbulkan korosi yang sangat merugikan. Deaerator adalah suatu komponen dalam Sistem
Tenaga Uap yang berfungsi untuk menghilangkan oksigen atau gas-gas terlarut lainnya pada feed
water sebelum masuk kedalam Boiler. Berfungsi juga sebagai tempat penyimpanan air yang
menyuplai air ke dalam boiler. Oksigen dan gas-gas terlarut lain dalam feedwater perlu dihilangkan
karena dapat menyebabkan korosi pada pipa logam dan peralatan logam lainnya dengan
membentuk senyawa oksida (karat). Air apabila bereaksi dengan karbon dioksida terlarut juga akan
membentuk senyawa asam karbonat yang dapat menyebabkan korosi lebih lanjut. Fungsi deaerator
disini adalah untuk mengurangi kadar oksigen, biasanya kadar oksigen dikurangi sampai memiliki
kadar lebih kecil samadengan 7 ppb (o,ooo5 cm
3
/L).
Prinsip kerjanya menggunakan steam yang dialirkan secara counter current untuk menstrip
dissolved gas pada BFW, salah satu impurities pada BFW yang tidak diinginkan adalah O
2
. Untuk
mengikat O
2
terlarut dalam boiler feed water agar tidak menimbulakan korosi di boiler, maka harus
diinjeksikan Hydrazine (N
2
H
4
) atau senyawa lain yang berfungsi sebagai oxygen scavanger (senyawa
sulfite, DEHA, Hydroquinone) di deaerator. Reaksi hydrazine dengan oksigen adalah sebagai berikut :
O
2
+ N
2
H
4
-> 2H
2
O + N
2

N
2
adalah gas yang tidak berbahaya dan akan menguap keluar dari deaerator. Internal deareator
sendiri terdiri dari dua compartement (seksi) atau bagian, yaitu heating section dan aeration steam.

Gambar 6. Deaerator Tipe Tray

Terdiri dari bagian domed deaeration yang dipasang diatas silinder vessel horizontal yang
berfungsi sebagai tangki penyimpanan air dari boiler. Prinsip kerjanya adalah, feedwater boiler
masuk melalui bagian deaeraetor yang berlubang. Air mengalir dari atas dan mengalir kebawah
melaului lubang-lubang tersebut. Uap deaerasi bertekanan rendah masuk dibawah tray dan
mengalir ke atas melalui pipa-pipa berlubang. Hal ini dilakukan untuk mencampur uap dan
feedwater. Uap tersebut melarutkan oksigen dan gas-gas terlarut lainnya dalam feedwater. Uap
yang mengalir tersebut kemudian keluar melalui lubang di bagian atas kubah. Saluran ventilasi
biasanya terdiri dari katup yang membuat hanya uap yang bisa keluar. Feedwater yang telah
dideaerasi mengalir kedalam tangki penyimpanan horisontal yang kemudian dipompakan ke boiler.
Uap pemanasan bertekanan rendah yang memasuki horizontal vessel di bagian bawahnya melalui
pipa sparger ditujukan untuk menjaga feedwater tetap hangat. Isolasi eksternal pada vessel tersebut
biasanya dimaksudkan agar meminimalkan kehilangan panas.
g) Fungsi dan Prinsip Kerja Reverse Osmosis
Untuk memahami proses reverse osmosis, sebaiknya kita mengkaji terlebih dahulu proses
osmosis. Proses osmosis dapat dijelaskan dengan menggunakan ilustrasi di bawah ini.

Gambar 7. Proses Osmosis dan Reverse Osmosis (RO)

Terdapat dua jenis larutan yang berbeda diletakkan secara berdampingan dan diantara kedua
jenis larutan itu diletakan membrane semi permeable sebagai pembatas. Pada wadah sebelah kiri
disebut concentrated solution, yaitu larutan dengan kadar garam tinggi. Sedangkan pada wadah
sebelah kanan disebut dilute solution, yaitu larutan dengan kadar garam rendah. Fungsi membrane
semi permeable diletakkan ditengah kedua larutan tersebut untuk mencegah terjadinya
percampuran diantara kedua larutan tersebut. Membrane semi permeable adalah membrane yang
bisa dilewati oleh molekul air tetapi tidak bisa dilewati molekul garam. Proses osmosis adalah proses
mengalirnya molekul air dari larutan berkadar garam rendah (dilute solution) menuju ke larutan
berkadar garam tinggi (concentrated solution). Proses osmosis merupakan proses alamiah yang
terjadi sebagai upaya untuk menyeimbangkan konsentrasi garam pada kedua sisi. Proses osmosis ini
akan menyebabkan ketinggian permukaan air pada concentrated solution akan menjadi lebih tinggi
daripada permukaan pada dilute solution. Secara alamiah air akan memberikan tekanan dari
permukaan air yang lebih tinggi ( concentrated solution ) menuju ke permukaan air yang lebih
rendah ( dilute solution ). Tekanan yang terjadi inilah biasa kita disebut sebagai osmotic pressure.
Pada ketinggian air tertentu di concentrated solution), besarnya osmotic pressure ini akan
menyebabkan proses osmosis berhenti.
Proses reverse osmosis pada prinsipnya adalah kebalikan proses osmosis. Dengan memberikan
tekanan larutan dengan kadar garam tinggi (concentrated solution) supaya terjadi aliran molekul air
yang menuju larutan dengan kadar garam rendah ( dilute solution ). Pada proses ini molekul garam
tidak dapat menembus membrane semipermeable, sehingga yang terjadi hanyalah aliran molekul
air saja. Melalui proses ini, kita akan mendapatkan air murni yang dihasilkan dari larutan berkadar
garam tinggi. Inilah prinsip dasar reverse osmosis.
Berdasarkan penjelasan sederhana diatas, dalam proses reverse osmosis minimal selalu
membutuhkan dua komponen yaitu adanya tekanan tinggi ( high pressure ) dan membrane semi
permeable. Itulah alasan kenapa pada mesin reverse Osmosis modern, membrane semi permeable
dan pompa tekanan tinggi ( high pressure pump ) menjadi komponen utama yang harus ada.

2. Karakteristik umum air sungai adalah terdapat kandungan partikel tersuspensi atau koloid seperti
pada soal. Oleh karena itu, unit pengolahan air paling tidak terdiri atas:
 Screening
Penyaringan kasar (screening) dimaksudkan untuk menyaring benda-benda kasar terapung atau
melayang di air agar tidak terbawa ke dalam unit pengolahan. Contoh benda – benda kasar yaitu
daun, plastik, kayu, kain, botol plastik, bangkai binatang, dan sebagainya.
 Prasedimentasi
Prasedimentasi (disebut juga plain sedimentation atau sedimentasi I) dimaksudkan untuk
mengendapkan partikel diskret atau partikel kasar atau lumpur. Partikel diskret adalah partikel
yang tidak mengalami perubahan bentuk dan ukuran selama mengendap di dalam air.
Prasedimentasi hanya diperlukan apabila dalam air baku terdapat partikel diskret atau partikel
kasar atau lumpur dalam jumlah yang besar. Pengendapan dilakukan dalam bak berukuran besar
(biasanya membutuhkan waktu detensi selama 2 hingga 4 jam) dalam aliran yang laminer, untuk
memberikan kesempatan lumpur mengendap tanpa terganggu oleh aliran. Pengendapan
berlangsung secara gravitasi tanpa penambahan bahan kimia sebelumnya.
 Koagulasi-flokulasi
Koagulasi-flokulasi merupakan dua proses yang terangkai menjadi kesatuan proses tak
terpisahkan. Pada proses koagulasi terjadi destabilisasi koloid dan partikel dalam air sebagai
akibat dari pengadukan cepat dan pembubuhan bahan kimia (disebut koagulan). Akibat
pengadukan cepat, koloid dan partikel yang stabil berubah menjadi tidak stabil karena terurai
menjadi partikel yang bermuatan positif dan negatif. Pembentukan ion positif dan negatif juga
dihasilkan dari proses penguraian koagulan. Proses ini berlanjut dengan pembentukan ikatan
antara ion positif dari koagulan (misal Al3+) dengan ion negatif dari partikel (misal OH-) dan
antara ion positif dari partikel (misal Ca2+) dengan ion negatif dari koagulan (misal SO42-) yang
menyebabkan pembentukan inti flok (presipitat).
Segera setelah terbentuk inti flok, diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok
menjadi flok berukuran lebih besar yang memungkinkan partikel dapat mengendap.
Penggabungan flok kecil menjadi flok besar terjadi karena adanya tumbukan antar flok.
Tumbukan ini terjadi akibat adanya pengadukan lambat.
Proses koagulasi-flokulasi terjadi pada unit pengaduk cepat dan pengaduk lambat. Pada bak
pengaduk cepat, dibubuhkan koagulan. Pada bak pengaduk lambat, terjadi pembentukan flok
yang berukuran besar hingga mudah diendapkan pada bak sedimentasi.
Koagulan yang banyak digunakan dalam pengolahan air minum adalah aluminium sulfat atau
garam-garam besi. Kadang-kadang koagulan-pembantu, seperti polielektrolit dibutuhkan untuk
memproduksi flok yang lebih besar atau lebih cepat mengendap. Faktor utama yang
mempengaruhi proses koagulasi-flokulasi air adalah kekeruhan, padatan tersuspensi,
temperatur, pH, komposisi dan konsentrasi kation dan anion, durasi dan tingkat agitasi selama
koagulasi dan flokulasi, dosis koagulan, dan jika diperlukan, koagulan-pembantu.
 Sedimentasi
Sedimentasi dimaksudkan untuk menyisihkan partikel/suspended solid dalam air dengan cara
mengendapkannya secara gravitasi. Jenis partikel yang diendapkan adalah partikel flokulen, yaitu
partikel yang dihasilkan dari proses koagulasi-flokulasi. Ciri partikel flokulen adalah partikel yang
selalu mengalami perubahan ukuran dan bentuk selama proses pengendapan berlangsung.
 Filtrasi (Biasanya menggunakan sand filter)
Aplikasi sand filter yaitu pada penjernihan air digunakan untuk penyaringan secara fisik yaitu
untuk memisahkan padatan yang kasar, padatan yang terapung, dan memisahkan minyak dan
lemak. Penyaring pasir (sand filter) ada tangki terbuka dan tangki tertutup itu merupakan
klasifikasi berdasarkan bentuk bangunan alatnya. Pada sand filter dengan bentuk terbuka
digunakan untuk penyaringan dengan gaya gravitasi, jadi tekanan yang digunakan sama dengan
tekanan atmosfir. Sedangkan sand filter dengan bentuk tertutup digunakan untuk penyaringan
dengan tekanan, lebih sering digunakan dalam industri dibandingkan yang terbuka karena
kecepatan aliran filtrasi lebih besar (untuk luas bed yang sama) antara areal yang digunakan lebih
kecil (Subyakto,1997). Tekanan ini dihasilkan oleh pompa untuk meningkatkan laju penyaringan
sehingga menyebabkan laju alir lebih tinggi dan lapisan penyaring material lebih tinggi, membuat
usia pemakaian penyaring lebih panjang.
Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash) dengan
tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat pori-pori media filter.
Aliran air dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke media hingga media terangkat, dan air
dibuang melewati gutter yang terletak di atas media.
 Disinfeksi
Disinfeksi merupakan proses untuk membebaskan air minum dari mikroorganisme patogen.
Bila air sungai mempunyai kekeruhan atau kadar lumpur yang tinggi, maka diperlukan tambahan
unit pretreatment meliputi screen dan prasedimentasi. Bila kadar oksigen sangat rendah, maka
diperlukan tambahan unit aerasi.
Disinfektan yang banyak dipakai pada pengolahan air adalah bahan pengoksidasi (halogen,
campuran halogen, ozon) dan bahan fisik (ultraviolet (UV) dan radiasi). Faktor yang mempengaruhi
efisiensi disinfeksi adalah sebagai berikut:
- Tipe dan konsentrasi mikroorganisme yang harus dihancurkan;
- Tipe dan konsentrasi disinfektan;
- Waktu kontak;
- Karakter kimia dan temperatur air yang diolah.
Bila terdapat kandungan kesadahan yang tinggi, maka diperlukan tambahan unit penurunan
kesadahan (presipitasi dengan kapur/soda-sedimentasi-rekarbonasi). Diagram alir proses
pengolahan air sungai secara lengkap dapat dilihat pada

Gambar 8. Diagram Alir Proses Pengolahan Air Sungai Menjadi Air Minum