H
H
H
I
I
I
M
M
M
P
P
P
U
U
U
N
N
N
A
A
A
N
N
N
 
 
P
P
P
E
E
E
R
R
R
A
A
A
T
T
T
U
U
U
R
R
R
A
A
A
N
N
N
 
 
P
P
P
E
E
E
R
R
R
U
U
U
N
N
N
D
D
D
A
A
A
N
N
N
G
G
G
 
 



 
 
U
U
U
N
N
N
D
D
D
A
A
A
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
 
 
 
 
L
L
L
I
I
I
N
N
N
G
G
G
K
K
K
U
U
U
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
 
 
H
H
H
I
I
I
D
D
D
U
U
U
P
P
P
 
 
D
D
D
I
I
I
 
 
B
B
B
I
I
I
D
D
D
A
A
A
N
N
N
G
G
G
 
 
P
P
P
E
E
E
R
R
R
T
T
T
A
A
A
M
M
M
B
B
B
A
A
A
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
P
P
P
E
E
E
R
R
R
P
P
P
U
U
U
S
S
S
T
T
T
A
A
A
K
K
K
A
A
A
A
A
A
N
N
N
 
 
E
E
E
M
M
M
I
I
I
L
L
L
 
 
S
S
S
A
A
A
L
L
L
I
I
I
M
M
M
 
 
K
K
K
E
E
E
M
M
M
E
E
E
N
N
N
T
T
T
E
E
E
R
R
R
I
I
I
A
A
A
N
N
N
 
 
L
L
L
I
I
I
N
N
N
G
G
G
K
K
K
U
U
U
N
N
N
G
G
G
A
A
A
N
N
N
 
 
H
H
H
I
I
I
D
D
D
U
U
U
P
P
P
 
 
    EDISI 2011

 
Daftar Isi



I . UNDANG-UNDANG Halaman

1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara
1
2 Undang-Undang RI Nomor No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
54

I I . PERATURAN PEMERI NTAH
1 PP RI. Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup
99
2 PP RI. Nomor 74 Tahun 2001 tentang Bahan Berbahaya dan
Beracun
127
3 PP RI Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi
Hutan
158
4 PP RI Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan
202
5 PP RI Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan kawasan hutan
221
6 PP RI Nomor 55 Tahun 2010 tentang Pembinaan Dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral Dan
Batubara
234
7 PP RI Nomor 70 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Noomor 59 tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas
Bumi
251
8 PP RI Nomor 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca
Tambang
254
9 PP RI Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang dapat
dikembalikan dan Perlakukan Pajak Penghasilan Di Bidang Usaha
Hulu Minyak dan Gas Bumi
283

I I I . KEPUTUSAN PRESI DEN, I NSTRUKSI PRESI DEN, PERATURAN
PRESI DEN

1 Kepres Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung
325
2 Kepres Nomor 41 tahun 2004 tentang Perizinan atau Perjanjian di
Bidang Pertambangan yang Berada di Kawasan Hutan
341
3 Perpres RI Nomor 28 Tahun 2011 tentang Penggunaan Kawasan
Hutan Lindung untuk Penambangan bawah Tanah
343


ii 
 
IV. KEPUTUSAN / PERATURAN MENTERI NEGARA
LI NGKUNGAN HI DUP DAN BAPEDAL

A. ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP / AMDAL

1 Per Men LH No. 08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
355
2 Per Men LH No. 11 Tahun 2006 tentang J enis Rencana Usaha atau
Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan
396
3 Per Men LH No. 12 Tahun 2007 tentang Dokumen Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan / Kegiatan yang
tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.
433
4 Per Men LH No. 5 Tahun 2008 tentang Tata Kerja Komisi Penilai
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
443
5 Per Men LH No. 24 Tahun 2009 tentang Panduan Penilaian
Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
479
6 Per Men LH No. 13 Tahun 2010 tentang Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pemantauan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup
541
7 Permen LH No. 14 tahun 2010 tentang Dokumen Lingkungan Hidup
bagi Usaha dan atau Kegiatan yang Telah Memiliki Izin Usaha dan
atau Kegiatan tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup
560
8 Permen LH No. 17 tahun 2010 tentang Audit Lingkungan Hidup
597

B. PENGENDALI AN PENCEMARAN AI R
1 Kep Men LH No. 113/MENLH/2003 tentang Baku Mutu Air Limbah
Bagi Usaha Dan Atau Kegiatan Pertambangan Batubara
609

2
Kep Men LH No. 202 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah
bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Bijih Emas dan atau
Tembaga
617
3 Per Men LH No. 04 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah
Bagi Usaha atau kegiatan Pertambangan Bijih Timah
626
4 Per Men LH No. 09 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah
Bagi Usaha atau kegiatan Pertambangan Bijih Nikel
632
5 Per Men LH No. 04 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha atau kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi
639

6
Per Men LH No. 13 Tahun 2007 tentang Persyaratan dan tata cara
Pengelolaan air Limbah bagi usaha dan / atau kegiatan Hulu
Minyak dan Gas serta Panas Bumi dengan cara Injeksi
652
7 Per Men LH No. 21 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha Dan/Atau Kegiatan Pertambangan Bijih Besi
668
8 Per Men LH No.34 Tahun 2009 tentang Baku mutu air limbah bagi
usaha dan / atau kegiatan pertambangan bjih bauksit
680
9 Per Men LH No. 19 Tahun 2010 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha atau Kegiatan Minyak dan Gas serta Panas Bumi
693
iii 
 
10 Per Men LH No. 2 Tahun 2011 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha atau Kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi Gas Metana
Batubara
705

C. PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA.
1 Kep Men LH No. 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan
718
2 Kep Men LH No. 49 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Getaran
725
3 Kep Men LH No. 45 Tahun 1997 tentang Indeks Standar
Pencemaran Udara
735
4 Kep Men LH No. 129 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Emisi Usaha
dan atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi
741
5 Per Men LH No. 13 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Emisi Sumber
Tidak Bergerak Bagi Usaha Dan / Kegiatan Minyak dan Gas Bumi
751

D. PENGENDALI AN PENCEMARAN KERUSAKAN LAUT
1 Per Men LH No. 12 Tahun 2006 tentang Persyaratan dan Tata Cara
Perizinan Pembuangan Air Limbah ke Laut
797

E. PENGENDALI AN KERUSAKAN LI NGKUNGAN
1 Kep Men Lh No. 43 Tahun 1996 tentang Kriteria Kerusakan
Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian
Golongan C J enis Lepas di daratan
811
2 Per Men LH No. 23 Tahun 2008 tentang Pedoman teknis
pencegahan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup
akibat pertambangan emas rakyat
827
3 PerMen LH No. 9 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengaduan dan
Penanganan Pengaduan akibat dugaan Pencemaran dan / atau
Perusakan Lingkungan Hidup
857

F. PENGELOLAAN LI MBAH BAHAN BERBAHAYA DAN
BERACUN (B3)

1 Kep Men No. 128 Tahun 2003 tentang Tata Cara Persyaratan
Teknis Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi
oleh Minyak Bumi Secara Biologis
880
2 Per Men LH No. 18 Tahun 2009 tentang Tata Cara Perizinan
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
892
3 Per Men LH No.33 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pemulihan
Lahan Terkontaminasi Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
905


iv 
 
V. KEPMEN, PERMEN ESDM DAN KEHUTANAN
1 Keputusan Direktur J enderal Pertambangan Umum No. 336.k
Tahun 1996 Tentang : J aminan Reklamasi
919
2 Per Men Tenaga Kerja Nomor 15/MEN/VII/2005 tentang
Waktu dan Istirahat Pada Sektor Usaha Pertambangan Pada
Daerah OPerasi Tertentu
926

3
Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1 Tahun 2008
tentang Pedoman Pengusahaan Pertambangan Minyak Bumi
Pada Sumur Tua
930
4 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 18 Tahun 2008
Tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang
938
5 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 25 Tahun 2008
tentang Tata Cara Penetapan Kebijakan Pembatasan Produksi
Pertambangan Mineral Nasional
991
6 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 36 Tahun 2008
Tentang Pengusahaan Gas Metana Batubara
998
7 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 2 Tahun 2009
tentang Pedoman Penugasan Survei Pendahuluan Panas Bumi
1014
8 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 28 Tahun 2009
tentang Penyelenggaraan Usaha J asa Pertambangan Mineral
dan Batubara
1027
9 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 34 Tahun 2009
tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan
Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri
1063
10 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 6 Tahun 2010
tentang Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Minyak
dan Gas Bumi
1073
11 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1 Tahun 2011
tentang Pedoman teknis Pembongkaran instalasi Lepas
Pantai Minyak dan Gas Bumi
1083
12 Per Men Energi dan Sumber Daya Mineral No. 12 Tahun 2011
Tentang Tata Cara Penetapan Wilayah Usaha Pertambangan
dan Sistem Informasi Wilayah Pertambangan Mineral dan
Batubara
1091
13 Kep Men Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 0186/K/
30/MEM/ 2011 tentang Pelimpahan Wewenang Menteri ESDM
kepada Dirjen Mineral dan Batubara untuk Pemberian Izin
Usaha Pertambangan dan Pemberian Surat Keterangan
Terdaftar
1111

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum
pertambangan Indonesia merupakan kekayaan alam tak terbarukan
sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting
dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu pengelolaannya
harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi
perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat secara berkeadilan;
b. bahwa kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara yang
merupakan kegiatan usaha pertambangan di luar panas bumi, minyak dan
gas bumi serta air tanah mempunyai peranan penting dalam memberikan
nilai tambah secara nyata kepada pertumbuhan ekonomi nasional dan
pembangunan daerah secara berkelanjutan;
c. bahwa dengan mempertimbangkan perkembangan nasional maupun
internasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Pertambangan sudah tidak sesuai lagi sehingga
dibutuhkan perubahan peraturan perundang-undangan di bidang
pertambangan mineral dan batubara yang dapat mengelola dan
mengusahakan potensi mineral dan batubara secara mandiri, andal,
transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan lingkungan, guna
menjamin pembangunan nasional secara berkelanjutan;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara;

Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 dan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN
BATUBARA.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
1
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
2. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan
kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,
baik dalam bentuk lepas atau padu.
3. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah
dari sisa tumbuhtumbuhan.
4. Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau
batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah.
5. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam
bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.
6. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau
batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
penjualan, serta pascatambang.
7. Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan.
8. IUP Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan.
9. IUP Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan IUP
Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi.
10. Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas
wilayah dan investasi terbatas.
11. Izin Usaha Pertambangan Khusus, yang selanjutnya disebut dengan IUPK, adalah izin
untuk melaksanakan usaha pertambangan di wilayah izin usaha pertambangan khusus.
12. IUPK Eksplorasi adalah izin usaha yang diberikan untuk melakukan tahapan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan di wilayah izin usaha pertambangan
khusus.
13. IUPK Operasi Produksi adalah izin usaha yang diberikan setelah selesai pelaksanaan
IUPK Eksplorasi untuk melakukan tahapan kegiatan operasi produksi di wilayah izin
usaha pertambangan khusus.
14. Penyelidikan Umum adalah tahapan kegiatan pertambangan untuk mengetahui kondisi
geologi regional dan indikasi adanya mineralisasi.
15. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi
secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber
daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan
lingkungan hidup.
16. Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan
ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak
lingkungan serta perencanaan pascatambang.
17. Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi
konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan
penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi
kelayakan.
18. Konstruksi adalah kegiatan usaha pertambangan untuk melakukan pembangunan
seluruh fasilitas operasi produksi, termasuk pengendalian dampak lingkungan.
19. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi
mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
20. Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan
mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral
ikutan.
2
21. Pengangkutan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk memindahkan mineral
dan/atau batubara dari daerah tambang dan/atau tempat pengolahan dan pemurnian
sampai tempat penyerahan.
22. Penjualan adalah kegiatan usaha pertambangan untuk menjual hasil pertambangan
mineral atau batubara.
23. Badan Usaha adalah setiap badan hukum yang bergerak di bidang pertambangan yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
24. J asa Pertambangan adalah jasa penunjang yang berkaitan dengan kegiatan usaha
pertambangan.
25. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut amdal, adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
26. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan
untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar
dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.
27. Kegiatan pascatambang, yang selanjutnya disebut pascatambang, adalah kegiatan
terencana, sistematis, dan berlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatan usaha
pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial menurut
kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.
28. Pemberdayaan Masyarakat adalah usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat,
baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya.
29. Wilayah Pertambangan, yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang memiliki
potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi
pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional.
30. Wilayah Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian dari WP
yang telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.
31. Wilayah Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut WIUP, adalah wilayah
yang diberikan kepada pemegang IUP.
32. Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian dari WP
tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
33. Wilayah Pencadangan Negara, yang selanjutnya disebut WPN, adalah bagian dari WP
yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
34. Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, adalah bagian
dari WPN yang dapat diusahakan.
35. Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK, yang selanjutnya disebut
WIUPK, adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang IUPK.
36. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
37. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati atau walikota, dan perangkat daerah
sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah.
38. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2
Pertambangan mineral dan/atau batubara dikelola berasaskan:
a. manfaat, keadilan, dan keseimbangan;
3
b. keberpihakan kepada kepentingan bangsa;
c. partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas;
d. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Pasal 3
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan, tujuan
pengelolaan mineral dan batubara adalah:
a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha pertambangan
secara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing;
b. menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan hidup;
c. menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau sebagai
sumber energi untuk kebutuhan dalam negeri;
d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih mampu
bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
e. meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta menciptakan
lapangan kerja untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat; dan
f. menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha pertambangan
mineral dan batubara.

BAB III
PENGUASAAN MINERAL DAN BATUBARA

Pasal 4
(1) Mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan
kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat.
(2) Penguasaan mineral dan batubara oleh negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

Pasal 5
(1) Untuk kepentingan nasional, Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia dapat menetapkan kebijakan pengutamaan mineral dan/atau
batubara untuk kepentingan dalam negeri.
(2) Kepentingan nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan
pengendalian produksi dan ekspor.
(3) Dalam melaksanakan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemerintah
mempunyai kewenangan untuk menetapkan jumlah produksi tiap-tiap komoditas per
tahun setiap provinsi.
(4) Pemerintah daerah wajib mematuhi ketentuan jumlah yang ditetapkan oleh Pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengutamaan mineral dan/atau batubara untuk
kepentingan dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan pengendalian
produksi dan ekspor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan
peraturan pemerintah.

BAB IV
KEWENANGAN PENGELOLAAN
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

Pasal 6
(1) Kewenangan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, antara
lain, adalah:
a. penetapan kebijakan nasional;
4
b. pembuatan peraturan perundang-undangan;
c. penetapan standar nasional, pedoman, dan kriteria;
d. penetapan sistem perizinan pertambangan mineral dan batubara nasional;
e. penetapan WP yang dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia;
f. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha
pertambangan yang berada pada lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut lebih
dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
g. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha
pertambangan yang lokasi penambangannya berada pada lintas wilayah provinsi
dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
h. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan pengawasan usaha
pertambangan operasi produksi yang berdampak lingkungan langsung lintas provinsi
dan/atau dalam wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
i. pemberian IUPK Eksplorasi dan IUPK Operasi Produksi;
j. pengevaluasian IUP Operasi Produksi, yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah, yang
telah menimbulkan kerusakan lingkungan serta yang tidak menerapkan kaidah
pertambangan yang baik;
k. penetapan kebijakan produksi, pemasaran, pemanfaatan, dan konservasi;
l. penetapan kebijakan kerja sama, kemitraan, dan pemberdayaan masyarakat;
m. perumusan dan penetapan penerimaan negara bukan pajak dari hasil usaha
pertambangan mineral dan batubara;
n. pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pengelolaan pertambangan mineral
dan batubara yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah;
o. pembinaan dan pengawasan penyusunan peraturan daerah di bidang pertambangan;
p. penginventarisasian, penyelidikan, dan penelitian serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sebagai bahan penyusunan
WUP dan WPN;
q. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan batubara,
serta informasi pertambangan pada tingkat nasional;
r. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang;
s. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat nasional;
t. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan; dan
u. peningkatan kemampuan aparatur Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah
kabupaten/kota dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 7
(1) Kewenangan pemerintah provinsi dalam pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara, antara lain, adalah:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
b. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha
pertambangan pada lintas wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil
sampai dengan 12 (dua belas) mil;
c. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha
pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada pada lintas wilayah
kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;
d. pemberian IUP, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan pengawasan usaha
pertambangan yang berdampak lingkungan langsung lintas kabupaten/kota dan/atau
wilayah laut 4 (empat) mil sampai dengan 12 (dua belas) mil;
e. penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara sesuai dengan kewenangannya;
f. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral dan batubara,
serta informasi pertambangan pada daerah/wilayah provinsi;
g. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada daerah/wilayah provinsi;
5
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha pertambangan di
provinsi;
i. pengembangan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam usaha pertambangan
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
j. pengoordinasian perizinan dan pengawasan penggunaan bahan peledak di wilayah
tambang sesuai dengan kewenangannya;
k. penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian serta
eksplorasi kepada Menteri dan bupati/walikota;
l. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada
Menteri dan bupati/walikota;
m. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan
n. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota
dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan pemerintah provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 8
(1) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan pertambangan mineral dan
batubara, antara lain, adalah:
a. pembuatan peraturan perundang-undangan daerah;
b. pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat, dan
pengawasan usaha pertambangan di wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut
sampai dengan 4 (empat) mil;
c. pemberian IUP dan IPR, pembinaan, penyelesaian konflik masyarakat dan
pengawasan usaha pertambangan operasi produksi yang kegiatannya berada di
wilayah kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil;
d. penginventarisasian, penyelidikan dan penelitian, serta eksplorasi dalam rangka
memperoleh data dan informasi mineral dan batubara;
e. pengelolaan informasi geologi, informasi potensi mineral dan batubara, serta informasi
pertambangan pada wilayah kabupaten/kota;
f. penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara pada wilayah kabupaten/kota;
g. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha pertambangan
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan;
h. pengembangan dan peningkatan nilai tambah dan manfaat kegiatan usaha
pertambangan secara optimal;
i. penyampaian informasi hasil inventarisasi, penyelidikan umum, dan penelitian, serta
eksplorasi dan eksploitasi kepada Menteri dan gubernur;
j. penyampaian informasi hasil produksi, penjualan dalam negeri, serta ekspor kepada
Menteri dan gubernur;
k. pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi lahan pascatambang; dan
l. peningkatan kemampuan aparatur pemerintah kabupaten/kota dalam penyelenggaraan
pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Kewenangan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB V
WILAYAH PERTAMBANGAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 9
(1) WP sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan landasan bagi penetapan
kegiatan pertambangan.
6
(2) WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah setelah
berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia.

Pasal 10
Penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilaksanakan:
a. secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;
b. secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait,
masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya,
serta berwawasan lingkungan; dan
c. dengan memperhatikan aspirasi daerah.

Pasal 11
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan penyelidikan dan penelitian
pertambangan dalam rangka penyiapan WP.

Pasal 12
Ketentuan lebih lanjut mengenai batas, luas, dan mekanisme penetapan WP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11 diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 13
WP terdiri atas:
a. WUP;
b. WPR; dan
c. WPN.

Bagian Kedua
Wilayah Usaha Pertambangan

Pasal 14
(1) Penetapan WUP dilakukan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah
daerah dan disampaikan secara tertulis kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pemerintah daerah
yang bersangkutan berdasarkan data dan informasi yang dimiliki Pemerintah dan
pemerintah daerah.

Pasal 15
Pemerintah dapat melimpahkan sebagian kewenangannya dalam penetapan WUP
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) kepada pemerintah provinsi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 16
Satu WUP terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUP yang berada pada lintas wilayah
provinsi, lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota.

Pasal 17
Luas dan batas WIUP mineral logam dan batubara ditetapkan oleh Pemerintah berkoordinasi
dengan pemerintah daerah berdasarkan kriteria yang dimiliki oleh Pemerintah.

Pasal 18
Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUP dalam 1 (satu) WUP adalah
sebagai berikut:
7
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lindungan lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.

Pasal 19
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan batas dan luas WIUP sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 diatur dengan peraturan pemerintah.

Bagian Ketiga
Wilayah Pertambangan Rakyat

Pasal 20
Kegiatan pertambangan rakyat dilaksanakan dalam suatu WPR.

Pasal 21
WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ditetapkan oleh bupati/walikota setelah
berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota.

Pasal 22
Kriteria untuk menetapkan WPR adalah sebagai berikut:
a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di antara tepi
dan tepi sungai;
b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua
puluh lima) meter;
c. endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
d. luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima) hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau
f. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan
sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun.

Pasal 23
Dalam menetapkan WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, bupati/walikota
berkewajiban melakukan pengumuman mengenai rencana WPR kepada masyarakat secara
terbuka.

Pasal 24
Wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan tetapi belum
ditetapkan sebagai WPR diprioritaskan untuk ditetapkan sebagai WPR.

Pasal 25
Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman, prosedur, dan penetapan WPR sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 23 diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 26
Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan mekanisme penetapan WPR, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23 diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota.


Bagian Keempat
Wilayah Pencadangan Negara

8
Pasal 27
(1) Untuk kepentingan strategis nasional, Pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia dan dengan memperhatikan aspirasi daerah menetapkan
WPN sebagai daerah yang dicadangkan untuk komoditas tertentu dan daerah konservasi
dalam rangka menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan.
(2) WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat diusahakan sebagian luas wilayahnya dengan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia.
(3) WPN yang ditetapkan untuk konservasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan
batasan waktu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(4) Wilayah yang akan diusahakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
berubah statusnya menjadi WUPK.

Pasal 28
Perubahan status WPN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), ayat (3), dan ayat
(4) menjadi WUPK dapat dilakukan dengan mempertimbangkan:
a. pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri;
b. sumber devisa negara;
c. kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana;
d. berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi;
e. daya dukung lingkungan; dan/atau
f. penggunaan teknologi tinggi dan modal investasi yang besar.

Pasal 29
(1) WUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4) yang akan diusahakan ditetapkan
oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah.
(2) Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan di WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dalam bentuk IUPK.

Pasal 30
Satu WUPK terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WIUPK yang berada pada lintas wilayah
provinsi, lintas wilayah kabupaten/kota, dan/atau dalam 1 (satu) wilayah kabupaten/kota.

Pasal 31
Luas dan batas WIUPK mineral logam dan batubara ditetapkan oleh Pemerintah
berkoordinasi dengan pemerintah daerah berdasarkan kriteria dan informasi yang dimiliki
oleh Pemerintah.

Pasal 32
Kriteria untuk menetapkan 1 (satu) atau beberapa WIUPK dalam 1 (satu) WUPK adalah
sebagai berikut:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lindungan lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.

Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan luas dan batas WIUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 31 dan Pasal 32 diatur dengan peraturan pemerintah.


9
BAB VI
USAHA PERTAMBANGAN

Pasal 34
(1) Usaha pertambangan dikelompokkan atas:
a. pertambangan mineral; dan
b. pertambangan batubara.
(2) Pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a digolongkan atas:
a. pertambangan mineral radioaktif;
b. pertambangan mineral logam;
c. pertambangan mineral bukan logam; dan
d. pertambangan batuan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu komoditas tambang ke dalam suatu
golongan pertambangan mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan
peraturan pemerintah.

Pasal 35
Usaha pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dilaksanakan dalam bentuk:
a. IUP;
b. IPR; dan
c. IUPK.

BAB VII
IZIN USAHA PERTAMBANGAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 36
(1) IUP terdiri atas dua tahap:
a. IUP Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;
b. IUP Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi dan pemegang IUP Operasi Produksi dapat melakukan
sebagian atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 37
IUP diberikan oleh:
a. bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota;
b. gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi
setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. Menteri apabila WIUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan
rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 38
IUP diberikan kepada:
a. badan usaha;
b. koperasi; dan
c. perseorangan.


10
Pasal 39
(1) IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a wajib memuat
ketentuan sekurangkurangnya:
a. nama perusahaan;
b. lokasi dan luas wilayah;
c. rencana umum tata ruang;
d. jaminan kesungguhan;
e. modal investasi;
f. perpanjangan waktu tahap kegiatan;
g. hak dan kewajiban pemegang IUP;
h. jangka waktu berlakunya tahap kegiatan;
i. jenis usaha yang diberikan;
j. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
k. perpajakan;
l. penyelesaian perselisihan;
m. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan
n. amdal.
(2) IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b wajib
memuat ketentuan sekurang-kurangnya:
a. nama perusahaan;
b. luas wilayah;
c. lokasi penambangan;
d. lokasi pengolahan dan pemurnian;
e. pengangkutan dan penjualan;
f. modal investasi;
g. jangka waktu berlakunya IUP;
h. jangka waktu tahap kegiatan;
i. penyelesaian masalah pertanahan;
j. lingkungan hidup termasuk reklamasi dan pascatambang;
k. dana jaminan reklamasi dan pascatambang;
l. perpanjangan IUP;
m. hak dan kewajiban pemegang IUP;
n. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
o. perpajakan;
p. penerimaan negara bukan pajak yang terdiri atas iuran tetap dan iuran produksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r. keselamatan dan kesehatan kerja;
s. konservasi mineral atau batubara;
t. pemanfaatan barang, jasa, dan teknologi dalam negeri;
u. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik;
v. pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w. pengelolaan data mineral atau batubara; dan
x. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau
batubara.

Pasal 40
(1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral
atau batubara.
(2) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral lain di
dalam WIUP yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(3) Pemegang IUP yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada Menteri, gubernur, dan
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
11
(4) Pemegang IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak berminat
untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(5) Pemegang IUP yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak
dimanfaatkan pihak lain.
(6) IUP untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat diberikan
kepada pihak lain oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 41
IUP tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUP.

Bagian Kedua
IUP Eksplorasi

Pasal 42
(1) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 8 (delapan) tahun.
(2) IUP Eksplorasi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan paling lama
dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun dan mineral bukan logam jenis tertentu dapat diberikan
dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) tahun.
(3) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu paling
lama 3 (tiga) tahun.
(4) IUP Eksplorasi untuk pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu paling
lama 7 (tujuh) tahun.

Pasal 43
(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUP Eksplorasi
yang mendapatkan mineral atau batubara yang tergali wajib melaporkan kepada pemberi
IUP.
(2) Pemegang IUP Eksplorasi yang ingin menjual mineral atau batubara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk melakukan
pengangkutan dan penjualan.

Pasal 44
Izin sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) diberikan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 45
Mineral atau batubara yang tergali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dikenai iuran
produksi.

Bagian Ketiga
IUP Operasi Produksi

Pasal 46
(1) Setiap pemegang IUP Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUP Operasi Produksi
sebagai kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya.
(2) IUP Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan
atas hasil pelelangan WIUP mineral logam atau batubara yang telah mempunyai data
hasil kajian studi kelayakan.

12
Pasal 47
(1) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dapat diberikan dalam jangka
waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-
masing 10 (sepuluh) tahun.
(2) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam dapat diberikan dalam
jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-
masing 5 (lima) tahun.
(3) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan mineral bukan logam jenis tertentu dapat
diberikan dalam jangka waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2
(dua) kali masing-masing 10 (sepuluh) tahun.
(4) IUP Operasi Produksi untuk pertambangan batuan dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 5 (lima)
tahun.
(5) IUP Operasi Produksi untuk Pertambangan batubara dapat diberikan dalam jangka waktu
paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10
(sepuluh) tahun.

Pasal 48
IUP Operasi Produksi diberikan oleh:
a. bupati/walikota apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta
pelabuhan berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota;
b. gubernur apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta
pelabuhan berada di dalam wilayah kabupaten/kota yang berbeda setelah mendapatkan
rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
c. Menteri apabila lokasi penambangan, lokasi pengolahan dan pemurnian, serta pelabuhan
berada di dalam wilayah provinsi yang berbeda setelah mendapatkan rekomendasi dari
gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 49
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IUP Eksplorasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 42 dan IUP Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 diatur
dengan peraturan pemerintah.

Bagian Keempat
Pertambangan Mineral

Paragraf 1
Pertambangan Mineral Radioaktif

Pasal 50
WUP mineral radioaktif ditetapkan oleh Pemerintah dan pengusahaannya dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Paragraf 2
Pertambangan Mineral Logam

Pasal 51
WIUP mineral logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan
cara lelang.


13
Pasal 52
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000
(lima ribu) hektare dan paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral logam dapat diberikan IUP
kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 53
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral logam diberi WIUP dengan luas paling banyak
25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.

Paragraf 3
Pertambangan Mineral Bukan Logam

Pasal 54
WIUP mineral bukan logam diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan
dengan cara permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
37.

Pasal 55
(1) Pemegang IUP Eksplorasi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling sedikit
500 (lima ratus) hektare dan paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi mineral bukan logam dapat diberikan
IUP kepada pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 56
Pemegang IUP Operasi Produksi mineral bukan logam diberi WIUP dengan luas paling
banyak 5.000 (lima ribu) hektare.

Paragraf 4
Pertambangan Batuan

Pasal 57
WIUP batuan diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara
permohonan wilayah kepada pemberi izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37.

Pasal 58
(1) Pemegang IUP Eksplorasi batuan diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5 (lima) hektare
dan paling banyak 5.000 (lima ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batuan dapat diberikan IUP kepada
pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 59
Pemegang IUP Operasi Produksi batuan diberi WIUP dengan luas paling banyak 1.000
(seribu) hektare.

14
Bagian Kelima
Pertambangan Batubara

Pasal 60
WIUP batubara diberikan kepada badan usaha, koperasi, dan perseorangan dengan cara
lelang.

Pasal 61
(1) Pemegang IUP Eksplorasi Batubara diberi WIUP dengan luas paling sedikit 5.000 (lima
ribu) hektare dan paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare.
(2) Pada wilayah yang telah diberikan IUP Eksplorasi batubara dapat diberikan IUP kepada
pihak lain untuk mengusahakan mineral lain yang keterdapatannya berbeda.
(3) Pemberian IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan setelah
mempertimbangkan pendapat dari pemegang IUP pertama.

Pasal 62
Pemegang IUP Operasi Produksi batubara diberi WIUP dengan luas paling banyak 15.000
(lima belas ribu) hektare.

Pasal 63
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 51, Pasal 54, Pasal 57, dan Pasal 60 diatur dengan peraturan pemerintah.

BAB VIII
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN

Pasal 64
Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban
mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUP sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 serta memberikan IUP Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 36 kepada masyarakat secara terbuka.

Pasal 65
(1) Badan usaha, koperasi, dan perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51, Pasal
54, Pasal 57, dan Pasal 60 yang melakukan usaha pertambangan wajib memenuhi
persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan, dan persyaratan
finansial.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administratif, persyaratan teknis,
persyaratan lingkungan, dan persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan peraturan pemerintah.

BAB IX
IZIN PERTAMBANGAN RAKYAT

Pasal 66
Kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dikelompokkan
sebagai berikut:
a. pertambangan mineral logam;
b. pertambangan mineral bukan logam;
c. pertambangan batuan; dan/atau
d. pertambangan batubara.

15
Pasal 67
(1) Bupati/walikota memberikan IPR terutama kepada penduduk setempat, baik
perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi.
(2) Bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan pelaksanaan pemberian IPR
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada camat sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Untuk memperoleh IPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemohon wajib
menyampaikan surat permohonan kepada bupati/walikota.

Pasal 68
(1) Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR yang dapat diberikan kepada:
a. perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare;
b. kelompok masyarakat paling banyak 5 (lima) hektare; dan/atau
c. koperasi paling banyak 10 (sepuluh) hektare.
(2) IPR diberikan untuk jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.

Pasal 69
Pemegang IPR berhak:
a. mendapat pembinaan dan pengawasan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja,
lingkungan, teknis pertambangan, dan manajemen dari Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah; dan
b. mendapat bantuan modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 70
Pemegang IPR wajib:
a. melakukan kegiatan penambangan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah IPR diterbitkan;
b. mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja
pertambangan, pengelolaan lingkungan, dan memenuhi standar yang berlaku;
c. mengelola lingkungan hidup bersama pemerintah daerah;
d. membayar iuran tetap dan iuran produksi; dan
e. menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan rakyat secara
berkala kepada pemberi IPR.

Pasal 71
(1) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70, pemegang IPR dalam
melakukan kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 wajib
menaati ketentuan persyaratan teknis pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 72
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian IPR diatur dengan peraturan daerah
kabupaten/kota.

Pasal 73
(1) Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pembinaan di bidang pengusahaan, teknologi
pertambangan, serta permodalan dan pemasaran dalam usaha meningkatkan
kemampuan usaha pertambangan rakyat.
(2) Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab terhadap pengamanan teknis pada usaha
pertambangan rakyat yang meliputi:
a. keselamatan dan kesehatan kerja;
b. pengelolaan lingkungan hidup; dan
c. pascatambang.
16
(3) Untuk melaksanakan pengamanan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
pemerintah kabupaten/kota wajib mengangkat pejabat fungsional inspektur tambang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Pemerintah kabupaten/kota wajib mencatat hasil produksi dari seluruh kegiatan usaha
pertambangan rakyat yang berada dalam wilayahnya dan melaporkannya secara berkala
kepada Menteri dan gubernur setempat.

BAB X
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS

Pasal 74
(1) IUPK diberikan oleh Menteri dengan memperhatikan kepentingan daerah.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk 1 (satu) jenis mineral logam
atau batubara dalam 1 (satu) WIUPK.
(3) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menemukan mineral lain di
dalam WIUPK yang dikelola diberikan prioritas untuk mengusahakannya.
(4) Pemegang IUPK yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUPK baru kepada Menteri.
(5) Pemegang IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menyatakan tidak berminat
untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan tersebut.
(6) Pemegang IUPK yang tidak berminat untuk mengusahakan mineral lain yang ditemukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (4), wajib menjaga mineral lain tersebut agar tidak
dimanfaatkan pihak lain.
(7) IUPK untuk mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat
diberikan kepada pihak lain oleh Menteri.

Pasal 75
(1) Pemberian IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) dilakukan berdasarkan
pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28.
(2) IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan kepada badan usaha yang
berbadan hukum Indonesia, baik berupa badan usaha milik negara, badan usaha milik
daerah, maupun badan usaha swasta.
(3) Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) mendapat prioritas dalam mendapatkan IUPK.
(4) Badan usaha swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) untuk mendapatkan IUPK
dilaksanakan dengan cara lelang WIUPK.

Pasal 76
(1) IUPK terdiri atas dua tahap:
a. IUPK Eksplorasi meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan;
b. IUPK Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi dan pemegang IUPK Operasi Produksi dapat melakukan
sebagian atau seluruh kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh IUPK sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 77
(1) Setiap pemegang IUPK Eksplorasi dijamin untuk memperoleh IUPK Operasi Produksi
sebagai kelanjutan kegiatan usaha pertambangannya.
17
(2) IUPK Operasi Produksi dapat diberikan kepada badan usaha yang berbadan hukum
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (3) dan ayat (4) yang telah
mempunyai data hasil kajian studi kelayakan.

Pasal 78
IUPK Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf a sekurang-
kurangnya wajib memuat:
a. nama perusahaan;
b. luas dan lokasi wilayah;
c. rencana umum tata ruang;
d. jaminan kesungguhan;
e. modal investasi;
f. perpanjangan waktu tahap kegiatan;
g. hak dan kewajiban pemegang IUPK;
h. jangka waktu tahap kegiatan;
i. jenis usaha yang diberikan;
j. rencana pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah
pertambangan;
k. perpajakan;
l. penyelesaian perselisihan masalah pertanahan;
m. iuran tetap dan iuran eksplorasi; dan
n. amdal.

Pasal 79
IUPK Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (1) huruf b sekurang-
kurangnya wajib memuat:
a. nama perusahaan;
b. luas wilayah;
c. lokasi penambangan;
d. lokasi pengolahan dan pemurnian;
e. pengangkutan dan penjualan;
f. modal investasi;
g. jangka waktu tahap kegiatan;
h. penyelesaian masalah pertanahan;
i. lingkungan hidup, termasuk reklamasi dan pascatambang;
j. dana jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang;
k. jangka waktu berlakunya IUPK;
l. perpanjangan IUPK;
m. hak dan kewajiban;
n. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan;
o. perpajakan;
p. iuran tetap dan iuran produksi serta bagian pendapatan negara/daerah, yang terdiri atas
bagi hasil dari keuntungan bersih sejak berproduksi;
q. penyelesaian perselisihan;
r. keselamatan dan kesehatan kerja;
s. konservasi mineral atau batubara;
t. pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa dan rancang bangun
dalam negeri;
u. penerapan kaidah keekonomian dan keteknikan pertambangan yang baik;
v. pengembangan tenaga kerja Indonesia;
w. pengelolaan data mineral atau batubara;
x. penguasaan, pengembangan dan penerapan teknologi pertambangan mineral atau
batubara; dan
y. divestasi saham.


18
Pasal 80
IUPK tidak dapat digunakan selain yang dimaksud dalam pemberian IUPK.

Pasal 81
(1) Dalam hal kegiatan eksplorasi dan kegiatan studi kelayakan, pemegang IUPK Eksplorasi
yang mendapatkan mineral logam atau batubara yang tergali wajib melaporkan kepada
Menteri.
(2) Pemegang IUPK Eksplorasi yang ingin menjual mineral logam atau batubara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengajukan izin sementara untuk melakukan
pengangkutan dan penjualan.
(3) Izin sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh Menteri.

Pasal 82
Mineral atau batubara yang tergali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 dikenai iuran
produksi.

Pasal 83
Persyaratan luas wilayah dan jangka waktu sesuai dengan kelompok usaha pertambangan
yang berlaku bagi pemegang IUPK meliputi:
a. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan mineral logam
diberikan dengan luas paling banyak 100.000 (seratus ribu) hektare.
b. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan mineral logam
diberikan dengan luas paling banyak 25.000 (dua puluh lima ribu) hektare.
c. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan eksplorasi pertambangan batubara diberikan
dengan luas paling banyak 50.000 (lima puluh ribu) hektare.
d. luas 1 (satu) WIUPK untuk tahap kegiatan operasi produksi pertambangan batubara
diberikan dengan luas paling banyak 15.000 (lima belas ribu) hektare.
e. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan mineral logam dapat diberikan paling lama
8 (delapan) tahun.
f. jangka waktu IUPK Eksplorasi pertambangan batubara dapat diberikan paling lama 7
(tujuh) tahun.
g. jangka waktu IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara dapat diberikan paling
lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 10
(sepuluh) tahun.

Pasal 84
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memperoleh WIUPK sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 74 ayat (2) dan ayat (3), dan Pasal 75 ayat (3) diatur dengan peraturan
pemerintah.

BAB XI
PERSYARATAN PERIZINAN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS

Pasal 85
Pemerintah berkewajiban mengumumkan rencana kegiatan usaha pertambangan di WIUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 serta memberikan IUPK Eksplorasi dan IUPK
Operasi Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 kepada masyarakat secara
terbuka.

Pasal 86
(1) Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) yang melakukan kegiatan
dalam WIUPK wajib memenuhi persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan
lingkungan dan persyaratan finansial.
19
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administratif, persyaratan teknis,
persyaratan lingkungan, dan persyaratan finansial sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan peraturan pemerintah.

BAB XII
DATA PERTAMBANGAN

Pasal 87
Untuk menunjang penyiapan WP dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
pertambangan, Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya dapat menugasi
lembaga riset negara dan/atau daerah untuk melakukan penyelidikan dan penelitian tentang
pertambangan.

Pasal 88
(1) Data yang diperoleh dari kegiatan usaha pertambangan merupakan data milik Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
(2) Data usaha pertambangan yang dimiliki pemerintah daerah wajib disampaikan kepada
Pemerintah untuk pengelolaan data pertambangan tingkat nasional.
(3) Pengelolaan data sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh
Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 89
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penugasan penyelidikan dan penelitian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 dan pengelolaan data sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 88 diatur dengan peraturan pemerintah.

BAB XIII
HAK DAN KEWAJIBAN

Bagian Kesatu
Hak

Pasal 90
Pemegang IUP dan IUPK dapat melakukan sebagian atau seluruh tahapan usaha
pertambangan, baik kegiatan eksplorasi maupun kegiatan operasi produksi.

Pasal 91
Pemegang IUP dan IUPK dapat memanfaatkan prasarana dan sarana umum untuk
keperluan pertambangan setelah memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 92
Pemegang IUP dan IUPK berhak memiliki mineral, termasuk mineral ikutannya, atau
batubara yang telah diproduksi apabila telah memenuhi iuran eksplorasi atau iuran produksi,
kecuali mineral ikutan radioaktif.

Pasal 93
(1) Pemegang IUP dan IUPK tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya kepada pihak lain.
(2) Untuk pengalihan kepemilikan dan/atau saham di bursa saham Indonesia hanya dapat
dilakukan setelah melakukan kegiatan eksplorasi tahapan tertentu.
(3) Pengalihan kepemilikan dan/atau saham sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya
dapat dilakukan dengan syarat:
20
a. harus memberitahu kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya; dan
b. sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 94
Pemegang IUP dan IUPK dijamin haknya untuk melakukan usaha pertambangan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Kewajiban

Pasal 95
Pemegang IUP dan IUPK wajib:
a. menerapkan kaidah teknik pertambangan yang baik;
b. mengelola keuangan sesuai dengan sistem akuntansi Indonesia;
c. meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara;
d. melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat; dan
e. mematuhi batas toleransi daya dukung lingkungan.

Pasal 96
Dalam penerapan kaidah teknik pertambangan yang baik, pemegang IUP dan IUPK wajib
melaksanakan:
a. ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
b. keselamatan operasi pertambangan;
c. pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan, termasuk kegiatan reklamasi
dan pascatambang;
d. upaya konservasi sumber daya mineral dan batubara;
e. pengelolaan sisa tambang dari suatu kegiatan usaha pertambangan dalam bentuk padat,
cair, atau gas sampai memenuhi standar baku mutu lingkungan sebelum dilepas ke
media lingkungan.

Pasal 97
Pemegang IUP dan IUPK wajib menjamin penerapan standar dan baku mutu lingkungan
sesuai dengan karakteristik suatu daerah.

Pasal 98
Pemegang IUP dan IUPK wajib menjaga kelestarian fungsi dan daya dukung sumber daya
air yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 99
(1) Setiap pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan rencana reklamasi dan rencana
pascatambang pada saat mengajukan permohonan IUP Operasi Produksi atau IUPK
Operasi Produksi.
(2) Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pascatambang dilakukan sesuai dengan peruntukan
lahan pascatambang.
(3) Peruntukan lahan pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicantumkan
dalam perjanjian penggunaan tanah antara pemegang IUP atau IUPK dan pemegang hak
atas tanah.

Pasal 100
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyediakan dana jaminan reklamasi dan dana jaminan
pascatambang.
21
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
menetapkan pihak ketiga untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan dana
jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberlakukan apabila pemegang IUP
atau IUPK tidak melaksanakan reklamasi dan pascatambang sesuai dengan rencana
yang telah disetujui.

Pasal 101
Ketentuan lebih lanjut mengenai reklamasi dan pascatambang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 99 serta dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 102
Pemegang IUP dan IUPK wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau
batubara dalam pelaksanaan penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan
mineral dan batubara.

Pasal 103
(1) Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan pemurnian
hasil penambangan di dalam negeri.
(2) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengolah dan
memurnikan hasil penambangan dari pemegang IUP dan IUPK lainnya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peningkatan nilai tambah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 102 serta pengolahan dan pemurnian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
dengan peraturan pemerintah.

Pasal 104
(1) Untuk pengolahan dan pemurnian, pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi
Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 dapat melakukan kerja sama dengan
badan usaha, koperasi, atau perseorangan yang telah mendapatkan IUP atau IUPK.
(2) IUP yang didapat badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah IUP Operasi
Produksi Khusus untuk pengolahan dan pemurnian yang dikeluarkan oleh Menteri,
gubernur, bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Pemegang IUP dan IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang melakukan
pengolahan dan pemurnian dari hasil penambangan yang tidak memiliki IUP, IPR, atau
IUPK.

Pasal 105
(1) Badan usaha yang tidak bergerak pada usaha pertambangan yang bermaksud menjual
mineral dan/atau batubara yang tergali wajib terlebih dahulu memiliki IUP Operasi
Produksi untuk penjualan.
(2) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat diberikan untuk 1 (satu) kali
penjualan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Mineral atau batubara yang tergali dan akan dijual sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai iuran produksi.
(4) Badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib menyampaikan
laporan hasil penjualan mineral dan/atau batubara yang tergali kepada Menteri, gubernur,
atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 106
Pemegang IUP dan IUPK harus mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat,
barang, dan jasa dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
22

Pasal 107
Dalam melakukan kegiatan operasi produksi, badan usaha pemegang IUP dan IUPK wajib
mengikutsertakan pengusaha lokal yang ada di daerah tersebut sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 108
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyusun program pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat.
(2) Penyusunan program dan rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikonsultasikan
kepada Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 109
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan
masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 108 diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 110
Pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan seluruh data yang diperoleh dari hasil
eksplorasi dan operasi produksi kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.

Pasal 111
(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib memberikan laporan tertulis secara berkala atas rencana
kerja dan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, jenis, waktu, dan tata cara penyampaian laporan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 112
(1) Setelah 5 (lima) tahun berproduksi, badan usaha pemegang IUP dan IUPK yang
sahamnya dimiliki oleh asing wajib melakukan divestasi saham pada Pemerintah,
pemerintah daerah, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau badan
usaha swasta nasional.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai divestasi saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan peraturan pemerintah.

BAB XIV
PENGHENTIAN SEMENTARA KEGIATAN
IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS

Pasal 113
(1) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan dapat diberikan kepada
pemegang IUP dan IUPK apabila terjadi:
a. keadaan kahar;
b. keadaan yang menghalangi sehingga menimbulkan penghentian sebagian atau
seluruh kegiatan usaha pertambangan;
c. apabila kondisi daya dukung lingkungan wilayah tersebut tidak dapat menanggung
beban kegiatan operasi produksi sumber daya mineral dan/atau batubara yang
dilakukan di wilayahnya.
(2) Penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak mengurangi masa berlaku IUP atau IUPK.
23
(3) Permohonan penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b disampaikan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4) Penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat dilakukan
oleh inspektur tambang atau dilakukan berdasarkan permohonan masyarakat kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
mengeluarkan keputusan tertulis diterima atau ditolak disertai alasannya atas
permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak
menerima permohonan tersebut.

Pasal 114
(1) J angka waktu penghentian sementara karena keadaan kahar dan/atau keadaan yang
menghalangi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) diberikan paling lama 1
(satu) tahun dan dapat diperpanjang paling banyak 1 (satu) kali untuk 1 (satu) tahun.
(2) Apabila dalam kurun waktu sebelum habis masa penghentian sementara berakhir
pemegang IUP dan IUPK sudah siap melakukan kegiatan operasinya, kegiatan dimaksud
wajib dilaporkan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya mencabut
keputusan penghentian sementara setelah menerima laporan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2).

Pasal 115
(1) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena keadaan
kahar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf a, kewajiban pemegang
IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan pemerintah daerah tidak berlaku.
(2) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena keadaan
yang menghalangi kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
113 ayat (1) huruf b, kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan
pemerintah daerah tetap berlaku.
(3) Apabila penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan diberikan karena kondisi
daya dukung lingkungan wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113 ayat (1) huruf
c, kewajiban pemegang IUP dan IUPK terhadap Pemerintah dan pemerintah daerah tetap
berlaku.

Pasal 116
Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 113, Pasal 114, dan Pasal 115 diatur dengan peraturan
pemerintah.


BAB XV
BERAKHIRNYA IZIN USAHA PERTAMBANGAN DAN
IZIN USAHA PERTAMBANGAN KHUSUS

Pasal 117
IUP dan IUPK berakhir karena:
a. dikembalikan;
b. dicabut; atau
c. habis masa berlakunya.

24

Pasal 118
(1) Pemegang IUP atau IUPK dapat menyerahkan kembali IUP atau IUPK-nya dengan
pernyataan tertulis kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dan disertai dengan alasan yang jelas.
(2) Pengembalian IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan sah
setelah disetujui oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dan setelah memenuhi kewajibannya.

Pasal 119
IUP atau IUPK dapat dicabut oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya apabila:
a. pemegang IUP atau IUPK tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam IUP atau
IUPK serta peraturan perundang-undangan;
b. pemegang IUP atau IUPK melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang ini; atau
c. pemegang IUP atau IUPK dinyatakan pailit.

Pasal 120
Dalam hal jangka waktu yang ditentukan dalam IUP dan IUPK telah habis dan tidak diajukan
permohonan peningkatan atau perpanjangan tahap kegiatan atau pengajuan permohonan
tetapi tidak memenuhi persyaratan, IUP dan IUPK tersebut berakhir.

Pasal 121
(1) Pemegang IUP atau IUPK yang IUP-nya atau IUPK-nya berakhir karena alasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117, Pasal 118, Pasal 119, dan Pasal 120 wajib
memenuhi dan menyelesaikan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Kewajiban pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggap
telah dipenuhi setelah mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 122
(1) IUP atau IUPK yang telah dikembalikan, dicabut, atau habis masa berlakunya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 121 dikembalikan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) WIUP atau WIUPK yang IUP-nya atau IUPK-nya berakhir sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditawarkan kepada badan usaha, koperasi, atau perseorangan melalui
mekanisme sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.

Pasal 123
Apabila IUP atau IUPK berakhir, pemegang IUP atau IUPK wajib menyerahkan seluruh data
yang diperoleh dari hasil eksplorasi dan opersi produksi kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

BAB XVI
USAHA JASA PERTAMBANGAN

Pasal 124
(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib menggunakan perusahaan jasa pertambangan lokal
dan/atau nasional.
25
(2) Dalam hal tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), pemegang IUP atau IUPK dapat menggunakan perusahaan jasa pertambangan
lain yang berbadan hukum Indonesia.
(3) J enis usaha jasa pertambangan meliputi:
a. konsultasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pengujian peralatan di bidang:
1) penyelidikan umum;
2) eksplorasi;
3) studi kelayakan;
4) konstruksi pertambangan;
5) pengangkutan;
6) lingkungan pertambangan;
7) pascatambang dan reklamasi; dan/atau
8) keselamatan dan kesehatan kerja.
b. konsultasi, perencanaan, dan pengujian peralatan di bidang:
1) penambangan; atau
2) pengolahan dan pemurnian.

Pasal 125
(1) Dalam hal pemegang IUP atau IUPK menggunakan jasa pertambangan, tanggung jawab
kegiatan usaha pertambangan tetap dibebankan kepada pemegang IUP atau IUPK.
(2) Pelaksana usaha jasa pertambangan dapat berupa badan usaha, koperasi, atau
perseorangan sesuai dengan klasifikasi dan kualifikasi yang telah ditetapkan oleh
Menteri.
(3) Pelaku usaha jasa pertambangan wajib mengutamakan kontraktor dan tenaga kerja lokal.

Pasal 126
(1) Pemegang IUP atau IUPK dilarang melibatkan anak perusahaan dan/atau afiliasinya
dalam bidang usaha jasa pertambangan di wilayah usaha pertambangan yang
diusahakannya, kecuali dengan izin Menteri.
(2) Pemberian izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan apabila:
a. tidak terdapat perusahaan jasa pertambangan sejenis di wilayah tersebut; atau
b. tidak ada perusahaan jasa pertambangan yang berminat/mampu.

Pasal 127
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan usaha jasa pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 124, Pasal 125, dan Pasal 126 diatur dengan peraturan menteri.

BAB XVII
PENDAPATAN NEGARA DAN DAERAH

Pasal 128
(1) Pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan negara dan pendapatan daerah.
(2) Pendapatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas penerimaan pajak
dan penerimaan negara bukan pajak.
(3) Penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. pajak-pajak yang menjadi kewenangan Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perpajakan; dan
b. bea masuk dan cukai.
(4) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. iuran tetap;
b. iuran eksplorasi;
c. iuran produksi; dan
d. kompensasi data informasi.
26
(5) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. pajak daerah;
b. retribusi daerah; dan
c. pendapatan lain yang sah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 129
(1) Pemegang IUPK Operasi Produksi untuk pertambangan mineral logam dan batubara
wajib membayar sebesar 4% (empat persen) kepada Pemerintah dan 6% (enam persen)
kepada pemerintah daerah dari keuntungan bersih sejak berproduksi.
(2) Bagian pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut:
a. pemerintah provinsi mendapat bagian sebesar 1% (satu persen);
b. pemerintah kabupaten/kota penghasil mendapat bagian sebesar 2,5% (dua koma lima
persen); dan
c. pemerintah kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang sama mendapat bagian
sebesar 2,5% (dua koma lima persen).

Pasal 130
(1) Pemegang IUP atau IUPK tidak dikenai iuran produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 128 ayat (4) huruf c dan pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 128 ayat (5) atas tanah/batuan yang ikut tergali pada saat penambangan.
(2) Pemegang IUP atau IUPK dikenai iuran produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
128 ayat (4) huruf c atas pemanfaatan tanah/batuan yang ikut tergali pada saat
penambangan.

Pasal 131
Besarnya pajak dan penerimaan negara bukan pajak yang dipungut dari pemegang IUP,
IPR, atau IUPK ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 132
(1) Besaran tarif iuran produksi ditetapkan berdasarkan tingkat pengusahaan, produksi, dan
harga komoditas tambang.
(2) Besaran tarif iuran produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 133
(1) Penerimaan negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (4)
merupakan pendapatan negara dan daerah yang pembagiannya ditetapkan berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penerimaan negara bukan pajak yang merupakan bagian daerah dibayar langsung ke kas
daerah setiap 3 (tiga) bulan setelah disetor ke kas negara.

BAB XVIII
PENGGUNAAN TANAH UNTUK KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN

Pasal 134
(1) Hak atas WIUP, WPR, atau WIUPK tidak meliputi hak atas tanah permukaan bumi.
(2) Kegiatan usaha pertambangan tidak dapat dilaksanakan pada tempat yang dilarang untuk
melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Kegiatan usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilaksanakan
setelah mendapat izin dari instansi Pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
27

Pasal 135
Pemegang IUP Eksplorasi atau IUPK Eksplorasi hanya dapat melaksanakan kegiatannya
setelah mendapat persetujuan dari pemegang hak atas tanah.

Pasal 136
(1) Pemegang IUP atau IUPK sebelum melakukan kegiatan operasi produksi wajib
menyelesaikan hak atas tanah dengan pemegang hak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Penyelesaian hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan
secara bertahap sesuai dengan kebutuhan atas tanah oleh pemegang IUP atau IUPK.

Pasal 137
Pemegang IUP atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 dan Pasal 136 yang
telah melaksanakan penyelesaian terhadap bidang-bidang tanah dapat diberikan hak atas
tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 138
Hak atas IUP, IPR, atau IUPK bukan merupakan pemilikan hak atas tanah.

BAB XIX
PEMBINAAN, PENGAWASAN, DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT

Bagian Kesatu
Pembinaan dan Pengawasan

Pasal 139
(1) Menteri melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan;
b. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
c. pendidikan dan pelatihan; dan
d. perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan
penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan batubara.
(3) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan terhadap
penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
(4) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya bertanggung
jawab melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang
dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK.

Pasal 140
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
28
(3) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh
pemegang IUP, IPR, atau IUPK.

Pasal 141
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 140, antara lain, berupa:
a. teknis pertambangan;
b. pemasaran;
c. keuangan;
d. pengolahan data mineral dan batubara;
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara;
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
g. keselamatan operasi pertambangan;
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang;
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun
dalam negeri;
j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;
k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan;
m. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum;
n. pengelolaan IUP atau IUPK; dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf e, huruf f, huruf g, huruf
h, dan huruf l dilakukan oleh inspektur tambang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan.
(3) Dalam hal pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota belum
mempunyai inspektur tambang, Menteri menugaskan inspektur tambang yang sudah
diangkat untuk melaksanaan pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2).

Pasal 142
(1) Gubernur dan bupati/walikota wajib melaporkan pelaksanaan usaha pertambangan di
wilayahnya masing-masing sekurang-kurangnya sekali dalam 6 (enam) bulan kepada
Menteri.
(2) Pemerintah dapat memberi teguran kepada pemerintah daerah apabila dalam
pelaksanaan kewenangannya tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Pasal 143
(1) Bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha pertambangan
rakyat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan pertambangan rakyat
diatur dengan peraturan daerah kabupaten/kota.

Pasal 144
Ketentuan lebih lanjut mengenai standar dan prosedur pembinaan serta pengawasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 139, Pasal 140, Pasal 141, Pasal 142, dan Pasal 143
diatur dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kedua
Perlindungan Masyarakat


29
Pasal 145
(1) Masyarakat yang terkena dampak negatif langsung dari kegiatan usaha pertambangan
berhak:
a. memperoleh ganti rugi yang layak akibat kesalahan dalam pengusahaan kegiatan
pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap kerugian akibat pengusahaan
pertambangan yang menyalahi ketentuan.
(2) Ketentuan mengenai perlindungan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB XX
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SERTA
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Bagian Kesatu
Penelitian dan Pengembangan

Pasal 146
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendorong, melaksanakan, dan/atau memfasilitasi
pelaksanaan penelitian dan pengembangan mineral dan batubara.

Bagian Kedua
Pendidikan dan Pelatihan

Pasal 147
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mendorong, melaksanakan, dan/atau memfasilitasi
pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di bidang pengusahaan mineral dan batubara.

Pasal 148
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dapat dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah, swasta, dan masyarakat.

BAB XXI
PENYIDIKAN

Pasal 149
(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil
yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pertambangan diberi wewenang
khusus sebagai penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan yang diduga melakukan tindak
pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
c. memanggil dan/atau mendatangkan secara paksa orang untuk didengar dan diperiksa
sebagai saksi atau tersangka dalam perkara tindak pidana kegiatan usaha
pertambangan;
d. menggeledah tempat dan/atau sarana yang diduga digunakan untuk melakukan tindak
pidana dalam kegiatan usaha pertambangan;
e. melakukan pemeriksaan sarana dan prasarana kegiatan usaha pertambangan dan
menghentikan penggunaan peralatan yang diduga digunakan untuk melakukan tindak
pidana;
f. menyegel dan/atau menyita alat kegiatan usaha pertambangan yang digunakan untuk
melakukan tindak pidana sebagai alat bukti;
30
g. mendatangkan dan/atau meminta bantuan tenaga ahli yang diperlukan dalam
hubungannya dengan pemeriksaan perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha
pertambangan; dan/atau
h. menghentikan penyidikan perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan.

Pasal 150
(1) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 149 dapat menangkap
pelaku tindak pidana dalam kegiatan usaha pertambangan.
(2) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan
dimulai penyidikan dan menyerahkan hasil penyidikannya kepada pejabat polisi negara
Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menghentikan
penyidikannya dalam hal tidak terdapat cukup bukti dan/atau peristiwanya bukan
merupakan tindak pidana.
(4) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB XXII
SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 151
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berhak
memberikan sanksi administratif kepada pemegang IUP, IPR atau IUPK atas pelanggaran
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (3), Pasal 40 ayat (5), Pasal 41,
Pasal 43, Pasal 70, Pasal 71 ayat (1), Pasal 74 ayat (4), Pasal 74 ayat (6), Pasal 81 ayat
(1), Pasal 93 ayat (3), Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97, Pasal 98, Pasal 99, Pasal 100, Pasal
102, Pasal 103, Pasal 105 ayat (3), Pasal 105 ayat (4), Pasal 107, Pasal 108 ayat (1),
Pasal 110, Pasal 111 ayat (1), Pasal 112 ayat (1), Pasal 114 ayat (2), Pasal 115 ayat (2),
Pasal 125 ayat (3), Pasal 126 ayat (1), Pasal 128 ayat (1), Pasal 129 ayat (1), atau Pasal
130 ayat (2).
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan eksplorasi atau operasi
produksi; dan/atau
c. pencabutan IUP, IPR, atau IUPK.

Pasal 152
Dalam hal pemerintah daerah tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 151 dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (1) huruf j, Menteri dapat menghentikan sementara dan/atau mencabut IUP
atau IPR sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 153
Dalam hal pemerintah daerah berkeberatan terhadap penghentian sementara dan/atau
pencabutan IUP dan IPR oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 152, pemerintah
daerah dapat mengajukan keberatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 154
Setiap sengketa yang muncul dalam pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK diselesaikan melalui
pengadilan dan arbitrase dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

31
Pasal 155
Segala akibat hukum yang timbul karena penghentian sementara dan/atau pencabutan IUP,
IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat (2) huruf b dan huruf c
diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 156
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 151 dan Pasal 152 diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 157
Pemerintah daerah yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ayat (4) dikenai sanksi administratif berupa penarikan sementara kewenangan atas hak
pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara.

BAB XXIII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 158
Setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1)
atau ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 159
Pemegang IUP, IPR, atau IUPK yang dengan sengaja menyampaikan laporan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1), Pasal 70 huruf e, Pasal 81 ayat (1), Pasal 105 ayat (4),
Pasal 110, atau Pasal 111 ayat (1) dengan tidak benar atau menyampaikan keterangan
palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 160
(1) Setiap orang yang melakukan eksplorasi tanpa memiliki IUP atau IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 atau Pasal 74 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling
lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang mempunyai IUP Eksplorasi tetapi melakukan kegiatan operasi
produksi dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling
banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 161
Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang
menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan,
penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK, atau izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48,
Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal 104 ayat
(3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 162
Setiap orang yang merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan dari
pemegang IUP atau IUPK yang telah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 136 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

32
Pasal 163
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini dilakukan oleh suatu
badan hukum, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang
dapat dijatuhkan terhadap badan hukum tersebut berupa pidana denda dengan
pemberatan ditambah 1/3 (satu per tiga) kali dari ketentuan maksimum pidana denda
yang dijatuhkan.
(2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), badan hukum dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa:
a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.

Pasal 164
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 158, Pasal 159, Pasal 160, Pasal
161, dan Pasal 162 kepada pelaku tindak pidana dapat dikenai pidana tambahan berupa:
a. perampasan barang yang digunakan dalam melakukan tindak pidana;
b. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; dan/atau
c. kewajiban membayar biaya yang timbul akibat tindak pidana.

Pasal 165
Setiap orang yang mengeluarkan IUP, IPR, atau IUPK yang bertentangan dengan Undang-
Undang ini dan menyalahgunakan kewenangannya diberi sanksi pidana paling
lama 2 (dua) tahun penjara dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).

BAB XXIV
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 166
Setiap masalah yang timbul terhadap pelaksanaan IUP, IPR, atau IUPK yang berkaitan
dengan dampak lingkungan diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Pasal 167
WP dikelola oleh Menteri dalam suatu sistem informasi WP yang terintegrasi secara nasional
untuk melakukan penyeragaman mengenai sistem koordinat dan peta dasar dalam
penerbitan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK.

Pasal 168
Untuk meningkatkan investasi di bidang pertambangan, Pemerintah dapat memberikan
keringanan dan fasilitas perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan kecuali ditentukan lain dalam IUP atau IUPK.

BAB XXV
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 169
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a. Kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang telah ada
sebelum berlakunya Undang-Undang ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu
berakhirnya kontrak/perjanjian.
b. Ketentuan yang tercantum dalam pasal kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan
pertambangan batubara sebagaimana dimaksud pada huruf a disesuaikan selambat-
33
lambatnya 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan kecuali mengenai
penerimaan negara.
c. Pengecualian terhadap penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada huruf b adalah
upaya peningkatan penerimaan negara.

Pasal 170
Pemegang kontrak karya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang sudah berproduksi
wajib melakukan pemurnian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103 ayat (1) selambat-
lambatnya 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 171
(1) Pemegang kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 yang telah melakukan tahapan kegiatan
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, atau operasi produksi paling lambat 1 (satu) tahun
sejak berlakunya Undang-Undang ini harus menyampaikan rencana kegiatan pada
seluruh wilayah kontrak/perjanjian sampai dengan jangka waktu berakhirnya
kontrak/perjanjian untuk mendapatkan persetujuan pemerintah.
(2) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak terpenuhi, luas wilayah
pertambangan yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara disesuaikan dengan Undang-Undang ini.

Pasal 172
Permohonan kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara yang
telah diajukan kepada Menteri paling lambat 1 (satu) tahun sebelum berlakunya Undang-
Undang ini dan sudah mendapatkan surat persetujuan prinsip atau surat izin penyelidikan
pendahuluan tetap dihormati dan dapat diproses perizinannya tanpa melalui lelang
berdasarkan Undang-Undang ini.

BAB XXVI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 173
(1) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2831) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
(2) Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua Peraturan Perundang-undangan
yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 2831) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
ketentuan dalam Undang-Undang ini.

Pasal 174
Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan dalam waktu 1 (satu)
tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 175
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


34
Disahkan di J akarta
pada tanggal 12 J anuari 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di J akarta
pada tanggal 12 J anuari 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
ANDI MATTALATTA


LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 4
35
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 4 TAHUN 2009
TENTANG
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

I. UMUM

Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (3) menegaskan bahwa bumi, air, dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.Mengingat mineral dan batubara sebagai
kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi merupakan sumber daya alam yang tak
terbarukan, pengelolaannya perlu dilakukan seoptimal mungkin, efisien, transparan,
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta berkeadilan agar memperoleh manfaat
sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat secara berkelanjutan.

Guna memenuhi ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 tersebut, telah
diterbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pertambangan. Undang-undang tersebut selama lebih kurang empat dasawarsa sejak
diberlakukannya telah dapat memberikan sumbangan yang penting bagi pembangunan
nasional.

Dalam perkembangan lebih lanjut, undang-undang tersebut yang materi muatannya
bersifat sentralistik sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi sekarang dan
tantangan di masa depan. Di samping itu, pembangunan pertambangan harus
menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan strategis, baik bersifat nasional maupun
internasional. Tantangan utama yang dihadapi oleh pertambangan mineral dan batubara
adalah pengaruh globalisasi yang mendorong demokratisasi, otonomi daerah, hak asasi
manusia, lingkungan hidup, perkembangan teknologi dan informasi, hak atas kekayaan
intelektual serta tuntutan peningkatan peran swasta dan masyarakat.

Untuk menghadapi tantangan lingkungan strategis dan menjawab sejumlah
permasalahan tersebut, perlu disusun peraturan perundang-undangan baru di bidang
pertambangan mineral dan batubara yang dapat memberikan landasan hukum bagi
langkah-langkah pembaruan dan penataan kembali kegiatan pengelolaan dan
pengusahaan pertambangan mineral dan batubara.
Undang-Undang ini mengandung pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
1. Mineral dan batubara sebagai sumber daya yang tak terbarukan dikuasai oleh negara
dan pengembangan serta pendayagunaannya dilaksanakan oleh Pemerintah dan
pemerintah daerah bersama dengan pelaku usaha.
2. Pemerintah selanjutnya memberikan kesempatan kepada badan usaha yang berbadan
hukum Indonesia, koperasi, perseorangan, maupun masyarakat setempat untuk
melakukan pengusahaan mineral dan batubara berdasarkan izin, yang sejalan dengan
otonomi daerah, diberikan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangannya masing-masing.
3. Dalam rangka penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, pengelolaan
pertambangan mineral dan batubara dilaksanakan berdasarkan prinsip eksternalitas,
akuntabilitas, dan efisiensi yang melibatkan Pemerintah dan pemerintah daerah.
4. Usaha pertambangan harus memberi manfaat ekonomi dan sosial yang sebesar-besar
bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.
5. Usaha pertambangan harus dapat mempercepat pengembangan wilayah dan
mendorong kegiatan ekonomi masyarakat/pengusaha kecil dan menengah serta
mendorong tumbuhnya industri penunjang pertambangan.
6. Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha pertambangan
harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip lingkungan hidup, transparansi,
dan partisipasi masyarakat.
36

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah
asas yang secara terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan
sosial budaya dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk
mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa mendatang.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Standar nasional di bidang pertambangan mineral dan batubara adalah
spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
37
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf r
Cukup jelas.
Huruf s
Yang dimaksud dengan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat
nasional adalah neraca yang menggambarkan jumlah sumber daya, cadangan,
dan produksi mineral dan batubara secara nasional.
Huruf t
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Kewenangan yang dilimpahkan adalah kewenangan dalam menetapkan WUP untuk
mineral bukan logam dan batuan dalam satu kabupaten/kota atau lintas
kabupaten/kota.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Yang dimaksud dengan luas adalah luas maksimum dan luas minimum.
Penentuan batas dilakukan berdasarkan keahlian yang diterima oleh semua pihak.

38
Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal 21
Penetapan WPR didasarkan pada perencanaan dengan melakukan sinkronisasi data
dan informasi melalui sistem informasi WP.

Pasal 22
Huruf a
Yang dimaksud dengan tepi dan tepi sungai adalah daerah akumulasi pengayaan
mineral sekunder (pay streak) dalam suatu meander sungai.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.

Pasal 23
Pengumuman rencana WPR dilakukan di kantor desa/kelurahan dan kantor/instansi
terkait; dilengkapi dengan peta situasi yang menggambarkan lokasi, luas, dan batas
serta daftar koordinat; dan dilengkapi daftar pemegang hak atas tanah yang berada
dalam WPR.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Cukup jelas.

Pasal 27
Ayat (1)
Penetapan WPN untuk kepentingan nasional dimaksudkan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional, ketahanan energi dan industri strategis nasional,
serta meningkatkan daya saing nasional dalam menghadapi tantangan global.
Yang dimaksud dengan komoditas tertentu antara lain tembaga, timah, emas, besi,
nikel, dan bauksit serta batubara.
Konservasi yang dimaksud juga mencakup upaya pengelolaan mineral dan/atau
batubara yang keberadaannya terbatas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan sebagian luas wilayahnya adalah untuk menentukan
persentase besaran luas wilayah yang akan diusahakan.
Ayat (3)
39
Yang dimaksud dengan batasan waktu adalah WPN yang ditetapkan untuk
konservasi dapat diusahakan setelah melewati jangka waktu tertentu.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan koordinasi adalah mengakomodasi semua kepentingan
daerah yang terkait dengan WUPK sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Yang dimaksud dengan luas adalah luas maksimum dan luas minimum.
Penentuan batas dilakukan berdasarkan keahlian yang diterima oleh semua pihak.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan pertambangan mineral radioaktif adalah pertambangan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang
ketenaganukliran.
Huruf b
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Cukup jelas.
40

Pasal 38
Huruf a
Badan usaha dalam ketentuan ini meliputi juga badan usaha milik negara dan
badan usaha milik daerah.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.

Pasal 39
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
J aminan kesungguhan dalam ketentuan ini termasuk biaya pengelolaan
lingkungan akibat kegiatan eksplorasi.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Ayat (1)
J angka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1
(satu) tahun; serta studi kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu)
kali 1 (satu) tahun.
Ayat (2)
41
J angka waktu 3 (tiga) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun, eksplorasi 1
(satu) tahun, dan studi kelayakan 1 (satu) tahun.
Yang dimaksud dengan mineral bukan logam jenis tertentu adalah antara lain batu
gamping untuk industri semen, intan, dan batu mulia.
J angka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi
3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun; serta studi
kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu) kali 1 (satu) tahun.
Ayat (3)
J angka waktu 3 (tiga) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun, eksplorasi 1
(satu) tahun, dan studi kelayakan 1 (satu) tahun.
Ayat (4)
J angka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi
2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun;
serta studi kelayakan 2 (dua) tahun.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Cukup jelas.

Pasal 46
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan data hasil kajian studi kelayakan merupakan sinkronisasi
data milik Pemerintah dan pemerintah daerah.

Pasal 47
Ayat (1)
J angka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Ayat (2)
Cukup J elas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan mineral bukan logam jenis tertentu adalah antara lain batu
gamping untuk industri semen, intan, dan batu mulia.
J angka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
J angka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.

Pasal 48
Cukup jelas.

Pasal 49
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.

42
Pasal 51
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.

Pasal 52
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal 54
Cukup jelas.

Pasal 55
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Cukup jelas.

Pasal 58
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 59
Cukup jelas.

Pasal 60
Cukup jelas.

Pasal 61
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Apabila dalam WIUP terdapat mineral lain yang berbeda keterdapatannya secara
vertikal maupun horizontal, pihak lain dapat mengusahakan mineral tersebut.
Ayat (3)
Cukup jelas.

43
Pasal 62
Cukup jelas.

Pasal 63
Cukup jelas.

Pasal 64
Cukup jelas.

Pasal 65
Cukup jelas.

Pasal 66
Cukup jelas.

Pasal 67
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Surat permohonan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini disertai dengan
meterai cukup dan dilampiri rekomendasi dari kepala desa/lurah/kepala adat
mengenai kebenaran riwayat pemohon untuk memperoleh prioritas dalam
mendapatkan IPR.

Pasal 68
Cukup jelas.

Pasal 69
Cukup jelas.

Pasal 70
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup meliputi pencegahan dan penanggulangan
pencemaran serta pemulihan fungsi lingkungan hidup, termasuk reklamasi lahan
bekas tambang.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Laporan disampaikan setiap 4 (empat) bulan.

Pasal 71
Cukup jelas.

Pasal 72
Cukup jelas.

Pasal 73
Cukup jelas.

Pasal 74
Ayat (1)
44
Yang dimaksud dengan memperhatikan kepentingan daerah adalah dalam rangka
pemberdayaan daerah.
Ayat (2)
Pertambangan mineral logam dalam ketentuan ini termasuk mineral ikutannya.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.

Pasal 75
Cukup jelas.

Pasal 76
Cukup jelas.
Pasal 77
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan data hasil kajian studi kelayakan merupakan sinkronisasi
data milik Pemerintah dan pemerintah daerah.

Pasal 78
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
J aminan kesungguhan termasuk di dalamnya biaya pengelolaan lingkungan akibat
kegiatan eksplorasi.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
45

Pasal 79
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Huruf k
Cukup jelas.
Huruf l
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Cukup jelas.
Huruf o
Cukup jelas.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Huruf r
Cukup jelas.
Huruf s
Cukup jelas.
Huruf t
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
Huruf v
Cukup jelas.
Huruf w
Cukup jelas.
Huruf x
Cukup jelas.
Huruf y
Pencantuman divestasi saham hanya berlaku apabila sahamnya dimiliki oleh asing
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 80
Cukup jelas.

46
Pasal 81
Cukup jelas.

Pasal 82
Cukup jelas.

Pasal 83
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
J angka waktu 8 (delapan) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun;
eksplorasi 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1
(satu) tahun; serta studi kelayakan 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang 1 (satu)
kali 1 (satu) tahun.
Huruf f
J angka waktu 7 (tujuh) tahun meliputi penyelidikan umum 1 (satu) tahun; eksplorasi
2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang 2 (dua) kali masing-masing 1 (satu) tahun;
serta studi kelayakan 2 (dua) tahun.
Huruf g
J angka waktu 20 (dua puluh) tahun dalam ketentuan ini termasuk jangka waktu
untuk konstruksi selama 2 (dua) tahun.

Pasal 84
Cukup jelas.

Pasal 85
Cukup jelas.

Pasal 86
Cukup jelas.

Pasal 87
Cukup jelas.

Pasal 88
Cukup jelas.

Pasal 89
Cukup jelas.

Pasal 90
Cukup jelas.

Pasal 91
Cukup jelas.

Pasal 92
Cukup jelas.

Pasal 93
Ayat (1)
47
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud eksplorasi tahapan tertentu dalam ketentuan ini yaitu telah
ditemukan 2 (dua) wilayah prospek dalam kegiatan eksplorasi.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 94
Cukup jelas.

Pasal 95
Cukup jelas.

Pasal 96
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang dimaksud dengan sisa tambang meliputi antara lain tailing dan limbah
batubara.

Pasal 97
Cukup jelas.

Pasal 98
Ketentuan ini dimaksudkan mengingat usaha pertambangan pada sumber air dapat
mengakibatkan perubahan morfologi sumber air, baik pada kawasan hulu maupun hilir.

Pasal 99
Cukup jelas.

Pasal 100
Cukup jelas.

Pasal 101
Ketentuan mengenai dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang berisi,
antara lain, besaran, tata cara penyetoran dan pencairan, serta pelaporan penggunaan
dana jaminan.

Pasal 102
Nilai tambah dalam ketentuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan produk akhir dari
usaha pertambangan atau pemanfaatan terhadap mineral ikutan.

Pasal 103
ayat (1)
Kewajiban untuk melakukan pengolahan dan pemurnian di dalam negeri
dimaksudkan, antara lain, untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang
dari produk, tersedianya bahan baku industri, penyerapan tenaga kerja, dan
peningkatan penerimaan negara.
ayat (2)
Cukup jelas.
ayat (3)
48
Cukup jelas.

Pasal 104
Cukup jelas.

Pasal 105
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan terlebih dahulu memiliki IUP Operasi Produksi untuk
penjualan dalam ketentuan ini adalah pengurusan izin pengangkutan dan penjualan
atas mineral dan/atau batubara yang tergali.
Ayat (2)
Izin diberikan setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi atas
mineral dan/atau batubara yang tergali oleh instansi teknis terkait.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 106
Pemanfaatan tenaga kerja setempat tetap mempertimbangkan kompetensi tenaga
kerja dan keahlian tenaga kerja yang tersedia.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk mendukung dan menumbuhkembangkan
kemampuan nasional agar lebih mampu bersaing.

Pasal 107
Cukup jelas.

Pasal 108
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar
operasi pertambangan.

Pasal 109
Cukup jelas.

Pasal 110
Cukup jelas.

Pasal 111
Cukup jelas.

Pasal 112
Cukup jelas.

Pasal 113
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud keadaan kahar (force majeur) dalam ayat ini, antara lain, perang,
kerusuhan sipil, pemberontakan, epidemi, gempa bumi, banjir, kebakaran, dan
bencana alam di luar kemampuan manusia.
Huruf b
Yang dimaksud keadaan yang menghalangi dalam ayat ini, antara lain, blokade,
pemogokan, dan perselisihan perburuhan di luar kesalahan pemegang IUP atau
IUPK dan peraturan perundang-undangan yang diterbitkan oleh Pemerintah yang
menghambat kegiatan usaha pertambangan yang sedang berjalan.
49
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Permohonan menjelaskan kondisi keadaan kahar dan/atau keadaan yang
menghalangi sehingga mengakibatkan penghentian sebagian atau seluruh kegiatan
usaha pertambangan.
Ayat (4)
Permohonan masyarakat memuat penjelasan keadaan kondisi daya dukung
lingkungan wilayah yang dikaitkan dengan aktivitas kegiatan penambangan.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 114
Cukup jelas.

Pasal 115
Cukup jelas.

Pasal 116
Cukup jelas.

Pasal 117
Cukup jelas.

Pasal 118
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan alasan yang jelas dalam ketentuan ini antara lain tidak
ditemukannya prospek secara teknis, ekonomis, atau lingkungan.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 119
Cukup jelas.

Pasal 120
Yang dimaksud dengan peningkatan adalah peningkatan dari tahap ekplorasi ke tahap
operasi produksi.

Pasal 121
Cukup jelas.

Pasal 122
Cukup jelas.

Pasal 123
Cukup jelas.

Pasal 124
Ayat (1)
Perusahaan nasional dapat mendirikan perusahaan cabang di daerah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

50
Pasal 125
Cukup jelas.

Pasal 126
Cukup jelas.

Pasal 127
Cukup jelas.

Pasal 128
Cukup jelas.

Pasal 129
Cukup jelas.

Pasal 130
Cukup jelas.

Pasal 131
Cukup jelas.

Pasal 132
Cukup jelas.

Pasal 133
Cukup jelas.

Pasal 134
Cukup jelas.

Pasal 135
Persetujuan dari pemegang hak atas tanah dimaksudkan untuk menyelesaikan lahan-
lahan yang terganggu oleh kegiatan eksplorasi seperti pengeboran, parit uji, dan
pengambilan contoh.

Pasal 136
Cukup jelas.

Pasal 137
Cukup jelas.

Pasal 138
Cukup jelas.

Pasal 139
Cukup jelas.

Pasal 140
Cukup jelas.

Pasal 141
Cukup jelas.

Pasal 142
Cukup jelas.

Pasal 143
51
Cukup jelas.

Pasal 144
Cukup jelas.

Pasal 145
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah mereka yang terkena dampak negatif
langsung dari kegiatan usaha pertambangan.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 146
Cukup jelas.

Pasal 147
Cukup jelas.

Pasal 148
Cukup jelas.

Pasal 149
Cukup jelas.

Pasal 150
Cukup jelas.

Pasal 151
Cukup jelas.

Pasal 152
Cukup jelas.

Pasal 153
Cukup jelas.

Pasal 154
Cukup jelas.

Pasal 155
Cukup jelas.

Pasal 156
Cukup jelas.

Pasal 157
Cukup jelas.

Pasal 158
Cukup jelas.

Pasal 159
Cukup jelas.

Pasal 160
Cukup jelas.

52
Pasal 161
Cukup jelas.

Pasal 162
Cukup jelas.

Pasal 163
Cukup jelas.

Pasal 164
Cukup jelas.

Pasal 165
Yang dimaksud dengan setiap orang adalah pejabat yang menerbitkan IUP, IPR, atau
IUPK.

Pasal 166
Cukup jelas.

Pasal 167
Cukup jelas.

Pasal 168
Cukup jelas.

Pasal 169
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Semua pasal yang terkandung dalam kontrak karya dan perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara harus disesuaikan dengan Undang-Undang.
Huruf c
Cukup jelas.

Pasal 170
Cukup jelas.

Pasal 171
Cukup jelas.

Pasal 172
Cukup jelas.

Pasal 173
Cukup jelas.

Pasal 174
Cukup jelas.

Pasal 175
Cukup jelas.


TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4959

53




UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 32 TAHUN 2009

TENTANG

PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Meni mbang :
a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara
Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa pembangunan ekonomi nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diselenggarakan berdasarkan prinsip
pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan;
c. bahwa semangat otonomi daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia telah membawa perubahan hubungan dan kewenangan antara
Pemerintah dan pemerintah daerah, termasuk di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
d. bahwa kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan
perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua
pemangku kepentingan;
e. bahwa pemanasan global yang semakin meningkat mengakibatkan perubahan iklim sehingga
memperparah penurunan kualitas lingkungan hidup karena itu perlu dilakukan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup;
f. bahwa agar lebih menjamin kepastian hukum dan memberikan perlindungan terhadap
hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai
bagian dari perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem, perlu dilakukan
pembaruan terhadap Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
g. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,
huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f, perlu membentuk Undang-Undang tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;

Mengi ngat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28H ayat (1), serta Pasal 33 ayat (3) dan
ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;

Dengan Perset uj uan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN DAN
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
2. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang
dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,
pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
3. Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek
lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin
54




keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.
4. Rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang selanjutnya disingkat
RPPLH adalah perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup, serta
upaya perlindungan dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu.
5. Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh-
menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan
produktivitas lingkungan hidup.
6. Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara
kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
7. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya.
8. Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat,
energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.
9. Sumber daya alam adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan
nonhayati yang secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem.
10. Kajian lingkungan hidup strategis, yang selanjutnya disingkat KLHS, adalah rangkaian
analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan
suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
11. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut Amdal, adalah kajian
mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
12. Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, yang
selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha
dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.
13. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi,
atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
14. Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat,
energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
15. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik, kimia,
dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang oleh lingkungan hidup untuk dapat
tetap melestarikan fungsinya.
16. Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung
atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga
melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
17. Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap
sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup.
18. Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana serta kesinambungan ketersediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.
19. Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung
oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfir secara global
dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun
waktu yang dapat dibandingkan.
20. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan.
21. Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat B3 adalah zat, energi, dan/atau
komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan
makhluk hidup lain.
22. Limbah bahan berbahaya dan beracun, yang selanjutnya disebut Limbah B3, adalah sisa
suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3.
23. Pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan, penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan.
24. Dumping (pembuangan) adalah kegiatan membuang, menempatkan, dan/atau memasukkan
limbah dan/atau bahan dalam jumlah, konsentrasi, waktu, dan lokasi tertentu dengan
persyaratan tertentu ke media lingkungan hidup tertentu.
25. Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang timbul dari
kegiatan yang berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan hidup.
26. Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan.
55




27. Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terorganisasi dan terbentuk atas
kehendak sendiri yang tujuan dan kegiatannya berkaitan dengan lingkungan hidup.
28. Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai ketaatan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan hukum dan kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah.
29. Ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan
fauna asli, serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan integritas
sistem alam dan lingkungan hidup.
30. Kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk
antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.
31. Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun temurun bermukim
di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan
yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata
ekonomi, politik, sosial, dan hukum.
32. Setiap orang adalah orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum
maupun yang tidak berbadan hukum.
33. Instrumen ekonomi lingkungan hidup adalah seperangkat kebijakan ekonomi untuk
mendorong Pemerintah, pemerintah daerah, atau setiap orang ke arah pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
34. Ancaman serius adalah ancaman yang berdampak luas terhadap lingkungan hidup dan
menimbulkan keresahan masyarakat.
35. Izin lingkungan adalah izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan/atau
kegiatan.
36. Izin usaha dan/atau kegiatan adalah izin yang diterbitkan oleh instansi teknis untuk
melakukan usaha dan/atau kegiatan.
37. Pemerintah pusat, yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
38. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat daerah sebagai
unsur penyelenggara pemerintah daerah.
39. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

BAB II
ASAS, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP
Bagian Kesatu
Asas

Pasal 2
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan asas:
a. tanggung jawab negara;
b. kelestarian dan keberlanjutan;
c. keserasian dan keseimbangan;
d. keterpaduan;
e. manfaat;
f. kehati-hatian;
g. keadilan;
h. ekoregion;
i. keanekaragaman hayati;
j. pencemar membayar;
k. partisipatif;
l. kearifan lokal;
m. tata kelola pemerintahan yang baik; dan
n. otonomi daerah.

Bagian Kedua
Tujuan

Pasal 3
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan:
a. melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup;
b. menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia;
c. menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem;
d. menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup;
56




e. mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup;
f. menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan;
g. menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak
asasi manusia;
h. mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana;
i. mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan
j. mengantisipasi isu lingkungan global.

Bagian Ketiga
Ruang Lingkup

Pasal 4
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi:
a. perencanaan;
b. pemanfaatan;
c. pengendalian;
d. pemeliharaan;
e. pengawasan; dan
f. penegakan hukum.

BAB III
PERENCANAAN

Pasal 5
Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan melalui tahapan:
a. inventarisasi lingkungan hidup;
b. penetapan wilayah ekoregion; dan
c. penyusunan RPPLH.

Bagian Kesatu
Inventarisasi Lingkungan Hidup
Pasal 6
(1) Inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a terdiri atas
inventarisasi lingkungan hidup:
a. tingkat nasional;
b. tingkat pulau/kepulauan; dan
c. tingkat wilayah ekoregion.

(2) Inventarisasi lingkungan hidup dilaksanakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai
sumber daya alam yang meliputi:
a. potensi dan ketersediaan;
b. jenis yang dimanfaatkan;
c. bentuk penguasaan;
d. pengetahuan pengelolaan;
e. bentuk kerusakan; dan
f. konflik dan penyebab konflik yang timbul akibat pengelolaan.

Bagian Kedua
Penetapan Wilayah Ekoregion

Pasal 7
(1) Inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a dan
huruf b menjadi dasar dalam penetapan wilayah ekoregion dan dilaksanakan oleh Menteri
setelah berkoordinasi dengan instansi terkait.
(2) Penetapan wilayah ekoregion sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
mempertimbangkan kesamaan:
a. karakteristik bentang alam;
b. daerah aliran sungai;
c. iklim;
d. flora dan fauna;
e. sosial budaya;
f. ekonomi;
g. kelembagaan masyarakat; dan
h. hasil inventarisasi lingkungan hidup.



57




Pasal 8
Inventarisasi lingkungan hidup di tingkat wilayah ekoregion sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (1) huruf c dilakukan untuk menentukan daya dukung dan daya tampung serta cadangan
sumber daya alam.

Bagian Ketiga
Penyusunan Rencana Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pasal 9
(1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c terdiri atas:
a. RPPLH nasional;
b. RPPLH provinsi; dan
c. RPPLH kabupaten/kota.
(2) RPPLH nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disusun berdasarkan
inventarisasi nasional.
(3) RPPLH provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disusun berdasarkan:
a. RPPLH nasional;
b. inventarisasi tingkat pulau/kepulauan; dan
c. inventarisasi tingkat ekoregion.
(4) RPPLH kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disusun berdasarkan:
a. RPPLH provinsi;
b. inventarisasi tingkat pulau/kepulauan; dan
c. inventarisasi tingkat ekoregion.

Pasal 10
(1) RPPLH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 disusun oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Penyusunan RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperhatikan:
a. keragaman karakter dan fungsi ekologis;
b. sebaran penduduk;
c. sebaran potensi sumber daya alam;
d. kearifan lokal;
e. aspirasi masyarakat; dan
f. perubahan iklim.
(3) RPPLH diatur dengan:
a. peraturan pemerintah untuk RPPLH nasional;
b. peraturan daerah provinsi untuk RPPLH provinsi; dan
c. peraturan daerah kabupaten/kota untuk RPPLH kabupaten/kota.
(4) RPPLH memuat rencana tentang:
a. pemanfaatan dan/atau pencadangan sumber daya alam;
b. pemeliharaan dan perlindungan kualitas dan/atau fungsi lingkungan hidup;
c. pengendalian, pemantauan, serta pendayagunaan dan pelestarian sumber daya alam;
dan
d. adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.
(5) RPPLH menjadi dasar penyusunan dan dimuat dalam rencana pembangunan jangka panjang
dan rencana pembangunan jangka menengah.

Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai inventarisasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6, penetapan ekoregion sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 8, serta RPPLH
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 10 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB IV
PEMANFAATAN
Pasal 12
(1) Pemanfaatan sumber daya alam dilakukan berdasarkan RPPLH.
(2) Dalam hal RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum tersusun, pemanfaatan
sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup dengan memperhatikan:
a. keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup;
b. keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup; dan
c. keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
(3) Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
ditetapkan oleh:
a. Menteri untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup nasional dan
pulau/kepulauan;
58




b. gubernur untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup provinsi dan ekoregion
lintas kabupaten/kota; atau
c. bupati/walikota untuk daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup kabupaten/kota
dan ekoregion di wilayah kabupaten/kota.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam peraturan
pemerintah.

BAB V
PENGENDALIAN

Bagi an Kesat u
Umum

Pasal 13
(1) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka
pelestarian fungsi lingkungan hidup.
(2) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. pencegahan;
b. penanggulangan; dan
c. pemulihan.
(3) Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kewenangan, peran, dan tanggung jawab masing-
masing.

Bagi an Kedua
Pencegahan

Pasal 14
Instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup terdiri atas:
a. KLHS;
b. tata ruang;
c. baku mutu lingkungan hidup;
d. kriteria baku kerusakan lingkungan hidup;
e. amdal;
f. UKL-UPL;
g. perizinan;
h. instrumen ekonomi lingkungan hidup;
i. peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup;
j. anggaran berbasis lingkungan hidup;
k. analisis risiko lingkungan hidup;
l. audit lingkungan hidup; dan
m. instrumen lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.

Paragraf 1
Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Pasal 15
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip
pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu
wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ke dalam penyusunan atau evaluasi:
a. rencana tata ruang wilayah (RTRW) beserta rencana rincinya, rencana pembangunan
jangka panjang (RPJ P), dan rencana pembangunan jangka menengah (RPJ M) nasional,
provinsi, dan kabupaten/kota; dan
b. kebijakan, rencana, dan/atau program yang berpotensi menimbulkan dampak dan/atau
risiko lingkungan hidup.
(3) KLHS dilaksanakan dengan mekanisme:
a. pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi lingkungan
hidup di suatu wilayah;
b. perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program; dan
c. rekomendasi perbaikan untuk pengambilan keputusan kebijakan, rencana, dan/atau
program yang mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan.


59




Pasal 16
KLHS memuat kajian antara lain:
a. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;
b. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup;
c. kinerja layanan/jasa ekosistem;
d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan
f. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.

Pasal 17
(1) Hasil KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) menjadi dasar bagi kebijakan,
rencana, dan/atau program pembangunan dalam suatu wilayah.
(2) Apabila hasil KLHS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyatakan bahwa daya dukung
dan daya tampung sudah terlampaui,
a. kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan tersebut wajib diperbaiki sesuai
dengan rekomendasi KLHS; dan
b. segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi.

Pasal 18
(1) KLHS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dilaksanakan dengan melibatkan
masyarakat dan pemangku kepentingan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan KLHS diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

Paragraf 2
Tata Ruang

Pasal 19
(1) Untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat, setiap
perencanaan tata ruang wilayah wajib didasarkan pada KLHS.
(2) Perencanaan tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan
memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Paragraf 3
Baku Mutu Lingkungan Hidup

Pasal 20
(1) Penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup diukur melalui baku mutu lingkungan
hidup.
(2) Baku mutu lingkungan hidup meliputi:
a. baku mutu air;
b. baku mutu air limbah;
c. baku mutu air laut;
d. baku mutu udara ambien;
e. baku mutu emisi;
f. baku mutu gangguan; dan
g. baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(3) Setiap orang diperbolehkan untuk membuang limbah ke media lingkungan hidup dengan
persyaratan:
a. memenuhi baku mutu lingkungan hidup; dan
b. mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai baku mutu lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, huruf c, huruf d, dan huruf g diatur dalam Peraturan Pemerintah.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai baku mutu lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b, huruf e, dan huruf f diatur dalam peraturan menteri.

Paragraf 4
Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup

Pasal 21
(1) Untuk menentukan terjadinya kerusakan lingkungan hidup, ditetapkan kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup.
(2) Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup meliputi kriteria baku kerusakan ekosistem dan
kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim.
(3) Kriteria baku kerusakan ekosistem meliputi:

60





a. kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa;
b. kriteria baku kerusakan terumbu karang;
c. kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan
dan/atau lahan;
d. kriteria baku kerusakan mangrove;
e. kriteria baku kerusakan padang lamun;
f. kriteria baku kerusakan gambut;
g. kriteria baku kerusakan karst; dan/atau
h. kriteria baku kerusakan ekosistem lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
(4) Kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim didasarkan pada paramater antara lain:
a. kenaikan temperatur;
b. kenaikan muka air laut;
c. badai; dan/atau
d. kekeringan.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Pemerintah.

Paragraf 5
Amdal

Pasal 22
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup
wajib memiliki amdal.
(2) Dampak penting ditentukan berdasarkan kriteria:
a. besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau
kegiatan;
b. luas wilayah penyebaran dampak;
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
g. kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 23
(1) Kriteria usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting yang wajib dilengkapi
dengan amdal terdiri atas:
a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
b. eksploitasi sumber daya alam, baik yang terbarukan maupun yang tidak
terbarukan;
c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup serta pemborosan dan kemerosotan sumber
daya alam dalam pemanfaatannya;
d. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam,
lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan
konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya;
f. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, dan jasad renik;
g. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan nonhayati;
h. kegiatan yang mempunyai risiko tinggi dan/atau mempengaruhi pertahanan
negara; dan/atau
i. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk
mempengaruhi lingkungan hidup.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi
dengan amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 24
Dokumen amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 merupakan dasar penetapan
keputusan kelayakan lingkungan hidup.

Pasal 25
Dokumen amdal memuat:
a. pengkajian mengenai dampak rencana usaha dan/atau kegiatan;
b. evaluasi kegiatan di sekitar lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan;
c. saran masukan serta tanggapan masyarakat terhadap rencana usaha dan/atau
kegiatan;
61




d. prakiraan terhadap besaran dampak serta sifat penting dampak yang terjadi jika
rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dilaksanakan;
e. evaluasi secara holistik terhadap dampak yang terjadi untuk menentukan kelayakan
atau ketidaklayakan lingkungan hidup; dan
f. rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

Pasal 26
(1) Dokumen amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 disusun oleh pemrakarsa
dengan melibatkan masyarakat.
(2) Pelibatan masyarakat harus dilakukan berdasarkan prinsip pemberian informasi yang
transparan dan lengkap serta diberitahukan sebelum kegiatan dilaksanakan.
(3) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. yang terkena dampak;
b. pemerhati lingkungan hidup; dan/atau
c. yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses amdal.
(4) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan keberatan
terhadap dokumen amdal.

Pasal 27
Dalam menyusun dokumen amdal, pemrakarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
ayat (1) dapat meminta bantuan kepada pihak lain.

Pasal 28
(1) Penyusun amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) dan Pasal 27 wajib
memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal.
(2) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi penyusun amdal sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. penguasaan metodologi penyusunan amdal;
b. kemampuan melakukan pelingkupan, prakiraan, dan evaluasi dampak serta
pengambilan keputusan; dan
c. kemampuan menyusun rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
(3) Sertifikat kompetensi penyusun amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diterbitkan oleh lembaga sertifikasi kompetensi penyusun amdal yang ditetapkan oleh
Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi dan kriteria kompetensi penyusun amdal
diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 29
(1) Dokumen amdal dinilai oleh Komisi Penilai Amdal yang dibentuk oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Komisi Penilai Amdal wajib memiliki lisensi dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(3) Persyaratan dan tatacara lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan
Peraturan Menteri.

Pasal 30
(1) Keanggotaan Komisi Penilai Amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 terdiri
atas wakil dari unsur:
a. instansi lingkungan hidup;
b. instansi teknis terkait;
c. pakar di bidang pengetahuan yang terkait dengan jenis usaha dan/atau kegiatan
yang sedang dikaji;
d. pakar di bidang pengetahuan yang terkait dengan dampak yang timbul dari suatu
usaha dan/atau kegiatan yang sedang dikaji;
e. wakil dari masyarakat yang berpotensi terkena dampak; dan
f. organisasi lingkungan hidup.
(2) Dalam melaksanakan tugasnya, Komisi Penilai Amdal dibantu oleh tim teknis yang
terdiri atas pakar independen yang melakukan kajian teknis dan sekretariat yang
dibentuk untuk itu.
(3) Pakar independen dan sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 31
Berdasarkan hasil penilaian Komisi Penilai Amdal, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
menetapkan keputusan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup sesuai dengan
kewenangannya.

62




Pasal 32
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah membantu penyusunan amdal bagi usaha dan/atau
kegiatan golongan ekonomi lemah yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup.
(2) Bantuan penyusunan amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa fasilitasi, biaya,
dan/atau penyusunan amdal.
(3) Kriteria mengenai usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah diatur dengan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai amdal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 sampai dengan
Pasal 32 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragr af 6
UKL-UPL

Pasal 34
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib amdal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) wajib memiliki UKL-UPL.
(2) Gubernur atau bupati/walikota menetapkan jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan UKL-UPL.

Pasal 35
(1) Usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPL sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 ayat (2) wajib membuat surat pernyataan kesanggupan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
(2) Penetapan jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan berdasarkan kriteria:
a. tidak termasuk dalam kategori berdampak penting sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (1); dan
b. kegiatan usaha mikro dan kecil.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai UKL-UPL dan surat pernyataan kesanggupan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup diatur dengan peraturan Menteri.

Paragraf 7
Perizinan

Pasal 36
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau UKL-UPL wajib
memiliki izin lingkungan.
(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan berdasarkan
keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 atau
rekomendasi UKL-UPL.
(3) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan
persyaratan yang dimuat dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup atau
rekomendasi UKL-UPL.
(4) Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 37
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib menolak
permohonan izin lingkungan apabila permohonan izin tidak dilengkapi dengan amdal atau
UKL-UPL.
(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (4) dapat dibatalkan
apabila:
a. persyaratan yang diajukan dalam permohonan izin mengandung cacat hukum,
kekeliruan, penyalahgunaan, serta ketidakbenaran dan/atau pemalsuan data,
dokumen, dan/atau informasi;
b. penerbitannya tanpa memenuhi syarat sebagaimana tercantum dalam keputusan
komisi tentang kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL; atau
c. kewajiban yang ditetapkan dalam dokumen amdal atau UKL-UPL tidak
dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.

Pasal 38
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2), izin lingkungan dapat
dibatalkan melalui keputusan pengadilan tata usaha negara.



63




Pasal 39
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib
mengumumkan setiap permohonan dan keputusan izin lingkungan.
(2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara yang
mudah diketahui oleh masyarakat.

Pasal 40
(1) Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha dan/atau
kegiatan.
(2) Dalam hal izin lingkungan dicabut, izin usaha dan/atau kegiatan dibatalkan.
(3) Dalam hal usaha dan/atau kegiatan mengalami perubahan, penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan wajib memperbarui izin lingkungan.

Pasal 41
Ketentuan lebih lanjut mengenai izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 sampai
dengan Pasal 40 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Paragraf 8
Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup
Pasal 42
(1) Dalam rangka melestarikan fungsi lingkungan hidup, Pemerintah dan pemerintah daerah
wajib mengembangkan dan menerapkan instrumen ekonomi lingkungan hidup.
(2) Instrumen ekonomi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi;
b. pendanaan lingkungan hidup; dan
c. insentif dan/atau disinsentif.

Pasal 43
(1) Instrumen perencanaan pembangunan dan kegiatan ekonomi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 42 ayat (2) huruf a meliputi:
a. neraca sumber daya alam dan lingkungan hidup;
b. penyusunan produk domestik bruto dan produk domestik regional bruto yang mencakup
penyusutan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup;
c. mekanisme kompensasi/imbal jasa lingkungan hidup antardaerah; dan
d. internalisasi biaya lingkungan hidup.
(2) Instrumen pendanaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2)
huruf b meliputi:
a. dana jaminan pemulihan lingkungan hidup;
b. dana penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan dan pemulihan lingkungan
hidup; dan
c. dana amanah/bantuan untuk konservasi.
(3) Insentif dan/atau disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) huruf c antara
lain diterapkan dalam bentuk:
a. pengadaan barang dan jasa yang ramah lingkungan hidup;
b. penerapan pajak, retribusi, dan subsidi lingkungan hidup;
c. pengembangan sistem lembaga keuangan dan pasar modal yang ramah lingkungan
hidup;
d. pengembangan sistem perdagangan izin pembuangan limbah dan/atau emisi;
e. pengembangan sistem pembayaran jasa lingkungan hidup;
f. pengembangan asuransi lingkungan hidup;
g. pengembangan sistem label ramah lingkungan hidup; dan
h. sistem penghargaan kinerja di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai instrumen ekonomi lingkungan hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 42 dan Pasal 43 ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur dalam
Peraturan Pemerintah.

Paragraf 9
Peraturan Perundang-undangan Berbasis Lingkungan Hidup
Pasal 44
Setiap penyusunan peraturan perundang-undangan pada tingkat nasional dan daerah wajib
memperhatikan perlindungan fungsi lingkungan hidup dan prinsip perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.




64




Paragraf 10
Anggaran Berbasis Lingkungan Hidup

Pasal 45
(1) Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia serta pemerintah daerah dan
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah wajib mengalokasikan anggaran yang memadai untuk
membiayai:
a. kegiatan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
b. program pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup.
(2) Pemerintah wajib mengalokasikan anggaran dana alokasi khusus lingkungan hidup yang
memadai untuk diberikan kepada daerah yang memiliki kinerja perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang baik.

Pasal 46
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45, dalam rangka pemulihan kondisi
lingkungan hidup yang kualitasnya telah mengalami pencemaran dan/atau kerusakan pada saat
undang-undang ini ditetapkan, Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan
anggaran untuk pemulihan lingkungan hidup.

Paragraf 11
Analisis Risiko Lingkungan Hidup

Pasal 47
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap
lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan
keselamatan manusia wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup.
(2) Analisis risiko lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. pengkajian risiko;
b. pengelolaan risiko; dan/atau
c. komunikasi risiko.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai analisis risiko lingkungan hidup diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

Paragraf 12
Audit Lingkungan Hidup

Pasal 48
Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit
lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kinerja lingkungan hidup.

Pasal 49
(1) Menteri mewajibkan audit lingkungan hidup kepada:
a. usaha dan/atau kegiatan tertentu yang berisiko tinggi terhadap lingkungan hidup;
dan/atau
b. penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap
peraturan perundang-undangan.
(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melaksanakan audit lingkungan hidup.
(3) Pelaksanaan audit lingkungan hidup terhadap kegiatan tertentu yang berisiko tinggi dilakukan
secara berkala.

Pasal 50
(1) Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1), Menteri dapat melaksanakan atau
menugasi pihak ketiga yang independen untuk melaksanakan audit lingkungan hidup atas
beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.
(2) Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup.

Pasal 51
(1) Audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dan Pasal 49 dilaksanakan
oleh auditor lingkungan hidup.
(2) Auditor lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki
sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup.
(3) Kriteria untuk memperoleh sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kemampuan:
a. memahami prinsip, metodologi, dan tata laksana audit lingkungan hidup;
b. melakukan audit lingkungan hidup yang meliputi tahapan perencanaan,
pelaksanaan, pengambilan kesimpulan, dan pelaporan; dan
65




c. merumuskan rekomendasi langkah perbaikan sebagai tindak lanjut audit
lingkungan hidup.
(4) Sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diterbitkan oleh lembaga sertifikasi kompetensi auditor lingkungan hidup sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 52
Ketentuan lebih lanjut mengenai audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48
sampai dengan Pasal 51 diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagi an Ket i ga
Penanggul angan

Pasal 53
(1) Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib
melakukan penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
(2) Penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan dengan:
a. pemberian informasi peringatan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
kepada masyarakat;
b. pengisolasian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup;
c. penghentian sumber pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; dan/atau
d. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagi an Keempat
Pemulihan

Pasal 54
(1) Setiap orang yang melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup wajib
melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup.
(2) Pemulihan fungsi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
dengan tahapan:
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
b. remediasi;
c. rehabilitasi;
d. restorasi; dan/atau
e. cara lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemulihan fungsi lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 55
(1) Pemegang izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) wajib
menyediakan dana penjaminan untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup.
(2) Dana penjaminan disimpan di bank pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan
pihak ketiga untuk melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup dengan menggunakan
dana penjaminan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai dana penjaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sampai dengan ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 56
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 sampai dengan Pasal 55 diatur dalam Peraturan
Pemerintah.

BAB VI
PEMELIHARAAN

Pasal 57
(1) Pemeliharaan lingkungan hidup dilakukan melalui upaya:
a. konservasi sumber daya alam;
b. pencadangan sumber daya alam; dan/atau
c. pelestarian fungsi atmosfer.
(2) Konservasi sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi
kegiatan:
66




a. perlindungan sumber daya alam;
b. pengawetan sumber daya alam; dan
c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alam.
(3) Pencadangan sumber daya alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan
sumber daya alam yang tidak dapat dikelola dalam jangka waktu tertentu.
(4) Pelestarian fungsi atmosfer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi:
a. upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim;
b. upaya perlindungan lapisan ozon; dan
c. upaya perlindungan terhadap hujan asam.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai konservasi dan pencadangan sumber daya alam serta
pelestarian fungsi atmosfer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

BAB VII
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN
SERTA LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

Bagian Kesatu
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun
Pasal 58
(1) Setiap orang yang memasukkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, memanfaatkan, membuang,
mengolah, dan/atau menimbun B3 wajib melakukan pengelolaan B3.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dalam Peraturan Pemerintah.
Bagian Kedua
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Pasal 59
(1) Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang
dihasilkannya.
(2) Dalam hal B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 ayat (1) telah kedaluwarsa,
pengelolaannya mengikuti ketentuan pengelolaan limbah B3.
(3) Dalam hal setiap orang tidak mampu melakukan sendiri pengelolaan limbah B3,
pengelolaannya diserahkan kepada pihak lain.
(4) Pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(5) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota wajib mencantumkan persyaratan lingkungan hidup
yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.
(6) Keputusan pemberian izin wajib diumumkan.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan limbah B3 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Dumping

Pasal 60
Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan
hidup tanpa izin.

Pasal 61
(1) Dumping sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 hanya dapat dilakukan dengan izin
dari Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Dumping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi yang
telah ditentukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan dumping limbah atau
bahan diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB VIII
SISTEM INFORMASI

Pasal 62
(1) Pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem informasi lingkungan hidup
untuk mendukung pelaksanaan dan pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.
(2) Sistem informasi lingkungan hidup dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi dan wajib
dipublikasikan kepada masyarakat.
67




(3) Sistem informasi lingkungan hidup paling sedikit memuat informasi mengenai status
lingkungan hidup, peta rawan lingkungan hidup, dan informasi lingkungan hidup lain.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi lingkungan hidup diatur dengan Peraturan
Menteri.
BAB IX
TUGAS DAN WEWENANG PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH

Pasal 63
(1) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah bertugas dan
berwenang:
a. menetapkan kebijakan nasional;
b. menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH nasional;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai KLHS;
e. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai amdal dan UKL-UPL;
f. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya alam nasional dan emisi gas rumah kaca;
g. mengembangkan standar kerja sama;
h. mengoordinasikan dan melaksanakan pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup;
i. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai sumber daya alam hayati dan
nonhayati, keanekaragaman hayati, sumber daya genetik, dan keamanan hayati produk
rekayasa genetik;
j. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai pengendalian dampak perubahan
iklim dan perlindungan lapisan ozon;
k. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai B3, limbah, serta limbah B3;
l. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai perlindungan lingkungan laut;
m. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup lintas batas negara;
n. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan
nasional, peraturan daerah, dan peraturan kepala daerah;
o. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan peraturan
perundang-undangan;
p. mengembangkan dan menerapkan instrumen lingkungan hidup;
q. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja sama dan penyelesaian perselisihan
antardaerah serta penyelesaian sengketa;
r. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan pengelolaan pengaduan
masyarakat;
s. menetapkan standar pelayanan minimal;
t. menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
u. mengelola informasi lingkungan hidup nasional;
v. mengoordinasikan, mengembangkan, dan menyosialisasikan pemanfaatan
teknologi ramah lingkungan hidup;
w. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan penghargaan;
x. mengembangkan sarana dan standar laboratorium lingkungan hidup;
y. menerbitkan izin lingkungan;
z. menetapkan wilayah ekoregion; dan
aa. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup.
(2) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah provinsi bertugas dan
berwenang:
a. menetapkan kebijakan tingkat provinsi;
b. menetapkan dan melaksanakan KLHS tingkat provinsi;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH provinsi;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai amdal dan UKL-UPL;
e. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya alam dan emisi gas rumah kaca pada
tingkat provinsi;
f. mengembangkan dan melaksanakan kerja sama dan kemitraan;
g. mengoordinasikan dan melaksanakan pengendalian pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup lintas kabupaten/kota;
h. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan,
peraturan daerah, dan peraturan kepala daerah kabupaten/kota;
i. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan peraturan perundang-undangan
di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
j. mengembangkan dan menerapkan instrumen lingkungan hidup;
68




k. mengoordinasikan dan memfasilitasi kerja sama dan penyelesaian perselisihan
antarkabupaten/antarkota serta penyelesaian sengketa;
l. melakukan pembinaan, bantuan teknis, dan pengawasan kepada kabupaten/kota di
bidang program dan kegiatan;
m. melaksanakan standar pelayanan minimal;
n. menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat provinsi;
o. mengelola informasi lingkungan hidup tingkat provinsi;
p. mengembangkan dan menyosialisasikan pemanfaatan teknologi ramah
lingkungan hidup;
q. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan penghargaan;
r. menerbitkan izin lingkungan pada tingkat provinsi; dan
s. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat provinsi.
(3) Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, pemerintah kabupaten/kota bertugas
dan berwenang:
a. menetapkan kebijakan tingkat kabupaten/kota;
b. menetapkan dan melaksanakan KLHS tingkat kabupaten/kota;
c. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai RPPLH kabupaten/kota;
d. menetapkan dan melaksanakan kebijakan mengenai amdal dan UKL-UPL;
e. menyelenggarakan inventarisasi sumber daya alam dan emisi gas rumah kaca pada
tingkat kabupaten/kota;
f. mengembangkan dan melaksanakan kerja sama dan kemitraan;
g. mengembangkan dan menerapkan instrumen lingkungan hidup;
h. memfasilitasi penyelesaian sengketa;
i. melakukan pembinaan dan pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan terhadap ketentuan perizinan lingkungan dan peraturan
perundang-undangan;
j. melaksanakan standar pelayanan minimal;
k. melaksanakan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat
hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat kabupaten/kota;
l. mengelola informasi lingkungan hidup tingkat kabupaten/kota;
m. mengembangkan dan melaksanakan kebijakan sistem informasi lingkungan hidup tingkat
kabupaten/kota;
n. memberikan pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan penghargaan;
o. menerbitkan izin lingkungan pada tingkat kabupaten/kota; dan
p. melakukan penegakan hukum lingkungan hidup pada tingkat kabupaten/kota.

Pasal 64
Tugas dan wewenang Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) dilaksanakan
dan/atau dikoordinasikan oleh Menteri.

BAB X
HAK, KEWAJIBAN, DAN LARANGAN

Bagian Kesatu
Hak

Pasal 65
(1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak
asasi manusia.
(2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses
partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan
sehat.
(3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau
kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.
(4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 66
Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat
dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.

69




Bagi an Kedua
Kewaj i ban

Pasal 67
Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Pasal 68
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:
a. memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu;
b. menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup; dan
c. menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup.

Bagian Ketiga
Larangan

Pasal 69
(1) Setiap orang dilarang:
a. melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup;
b. memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-undangan ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c. memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
e. membuang limbah ke media lingkungan hidup;
f. membuang B3 dan limbah B3 ke media lingkungan hidup;
g. melepaskan produk rekayasa genetik ke media lingkungan hidup yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan;
h. melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar;
i. menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal; dan/atau
j. memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi, merusak
informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.


(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h memperhatikan dengan sungguh-
sungguh kearifan lokal di daerah masing-masing.

BAB XI
PERAN MASYARAKAT

Pasal 70
(1) Masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan
aktif dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
(2) Peran masyarakat dapat berupa:
a. pengawasan sosial;
b. pemberian saran, pendapat, usul, keberatan, pengaduan; dan/atau
c. penyampaian informasi dan/atau laporan.
(3) Peran masyarakat dilakukan untuk:
a. meningkatkan kepedulian dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
b. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan;
c. menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat;
d. menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan
sosial; dan
e. mengembangkan dan menjaga budaya dan kearifan lokal dalam rangka pelestarian
fungsi lingkungan hidup.

BAB XII
PENGAWASAN DAN SANKSI ADMINISTRATIF

Bagian Kesatu
Pengawasan

Pasal 71
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan
pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan
70




yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat mendelegasikan kewenangannya dalam
melakukan pengawasan kepada pejabat/instansi teknis yang bertanggung jawab di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
(3) Dalam melaksanakan pengawasan, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota menetapkan
pejabat pengawas lingkungan hidup yang merupakan pejabat fungsional.


Pasal 72
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan
pengawasan ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap izin lingkungan.

Pasal 73
Menteri dapat melakukan pengawasan terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan yang izin lingkungannya diterbitkan oleh pemerintah daerah jika Pemerintah
menganggap terjadi pelanggaran yang serius di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.

Pasal 74
(1) Pejabat pengawas lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (3)
berwenang:
a. melakukan pemantauan;
b. meminta keterangan;
c. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan;
d. memasuki tempat tertentu;
e. memotret;
f. membuat rekaman audio visual;
g. mengambil sampel;
h. memeriksa peralatan;
i. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi; dan/atau
j. menghentikan pelanggaran tertentu.
(2) Dalam melaksanakan tugasnya, pejabat pengawas lingkungan hidup dapat melakukan
koordinasi dengan pejabat penyidik pegawai negeri sipil.
(3) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dilarang menghalangi pelaksanaan tugas
pejabat pengawas lingkungan hidup.

Pasal 75
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengangkatan pejabat pengawas lingkungan hidup dan
tata cara pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (3), Pasal 73,
dan Pasal 74 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua
Sanksi Administratif
Pasal 76
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota menerapkan sanksi administratif kepada penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin
lingkungan.
(2) Sanksi administratif terdiri atas:
a. teguran tertulis;
b. paksaan pemerintah;
c. pembekuan izin lingkungan; atau
d. pencabutan izin lingkungan.

Pasal 77
Menteri dapat menerapkan sanksi administratif terhadap penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan jika Pemerintah menganggap pemerintah daerah secara sengaja tidak menerapkan
sanksi administratif terhadap pelanggaran yang serius di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.

Pasal 78
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 tidak membebaskan penanggung
jawab usaha dan/atau kegiatan dari tanggung jawab pemulihan dan pidana.




71




Pasal 79
Pengenaan sanksi administratif berupa pembekuan atau pencabutan izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) huruf c dan huruf d dilakukan apabila
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan paksaan pemerintah.

Pasal 80
(1) Paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) huruf b berupa:
a. penghentian sementara kegiatan produksi;
b. pemindahan sarana produksi;
c. penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;
d. pembongkaran;
e. penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan pelanggaran;
f. penghentian sementara seluruh kegiatan; atau
g. tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan
memulihkan fungsi lingkungan hidup.
(2) Pengenaan paksaan pemerintah dapat dijatuhkan tanpa didahului teguran apabila
pelanggaran yang dilakukan menimbulkan:
a. ancaman yang sangat serius bagi manusia dan lingkungan hidup;
b. dampak yang lebih besar dan lebih luas jika tidak segera dihentikan pencemaran
dan/atau perusakannya; dan/atau
c. kerugian yang lebih besar bagi lingkungan hidup jika tidak segera dihentikan
pencemaran dan/atau perusakannya.

Pasal 81
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan paksaan
pemerintah dapat dikenai denda atas setiap keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan
pemerintah.

Pasal 82
(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang untuk memaksa penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan pemulihan lingkungan hidup akibat
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang dilakukannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang atau dapat menunjuk pihak ketiga untuk
melakukan pemulihan lingkungan hidup akibat pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup yang dilakukannya atas beban biaya penanggung jawab usaha
dan/atau kegiatan.

Pasal 83
Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif diatur dalam Peraturan Pemerintah.

BAB XIII
PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 84
(1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar
pengadilan.
(2) Pilihan penyelesaian sengketa lingkungan hidup dilakukan secara suka rela oleh para pihak
yang bersengketa.
(3) Gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya penyelesaian sengketa di
luar pengadilan yang dipilih dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang
bersengketa.

Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan

Pasal 85
(1) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan dilakukan untuk mencapai
kesepakatan mengenai:
a. bentuk dan besarnya ganti rugi;
b. tindakan pemulihan akibat pencemaran dan/atau perusakan;
c. tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terulangnya pencemaran dan/atau
perusakan; dan/atau
d. tindakan untuk mencegah timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
(2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
72




(3) Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan dapat digunakan jasa
mediator dan/atau arbiter untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup.

Pasal 86
(1) Masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan
hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak.
(2) Pemerintah dan pemerintah daerah dapat memfasilitasi pembentukan lembaga penyedia jasa
penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan
hidup diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan

Paragraf 1
Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan

Pasal 87
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan perbuatan
melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang
menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup wajib membayar ganti
rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu.
(2) Setiap orang yang melakukan pemindahtanganan, pengubahan sifat dan bentuk
usaha, dan/atau kegiatan dari suatu badan usaha yang melanggar hukum tidak
melepaskan tanggung jawab hukum dan/atau kewajiban badan usaha tersebut.
(3) Pengadilan dapat menetapkan pembayaran uang paksa terhadap setiap hari
keterlambatan atas pelaksanaan putusan pengadilan.
(4) Besarnya uang paksa diputuskan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Paragraf 2
Tanggung Jawab Mutlak

Pasal 88
Setiap orang yang tindakannya, usahanya, dan/atau kegiatannya menggunakan B3,
menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3, dan/atau yang menimbulkan ancaman serius
terhadap lingkungan hidup bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu
pembuktian unsur kesalahan.

Paragraf 3
Tenggat Kedaluwarsa untuk Pengajuan Gugatan

Pasal 89
(1) Tenggat kedaluwarsa untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu
sebagaimana diatur dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan dihitung
sejak diketahui adanya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
(2) Ketentuan mengenai tenggat kedaluwarsa tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang
menggunakan dan/atau mengelola B3 serta menghasilkan dan/atau mengelola limbah B3.

Paragraf 4
Hak Gugat Pemerintah dan Pemerintah Daerah

Pasal 90
(1) Instansi pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang
lingkungan hidup berwenang mengajukan gugatan ganti rugi dan tindakan tertentu
terhadap usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian lingkungan hidup.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 5
Hak Gugat Masyarakat

Pasal 91
(1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok untuk kepentingan dirinya
sendiri dan/atau untuk kepentingan masyarakat apabila mengalami kerugian akibat
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
73




(2) Gugatan dapat diajukan apabila terdapat kesamaan fakta atau peristiwa, dasar hukum, serta
jenis tuntutan di antara wakil kelompok dan anggota kelompoknya.
(3) Ketentuan mengenai hak gugat masyarakat dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

Paragraf 6
Hak Gugat Organisasi Lingkungan Hidup

Pasal 92
(1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,
organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi
lingkungan hidup.
(2) Hak mengajukan gugatan terbatas pada tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa
adanya tuntutan ganti rugi, kecuali biaya atau pengeluaran riil.
(3) Organisasi lingkungan hidup dapat mengajukan gugatan apabila memenuhi persyaratan:
a. berbentuk badan hukum;
b. menegaskan di dalam anggaran dasarnya bahwa organisasi tersebut didirikan untuk
kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
c. telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai dengan anggaran dasarnya paling singkat 2
(dua) tahun.

Paragraf 7
Gugatan Administratif

Pasal 93
(1) Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap keputusan tata usaha negara
apabila:
a. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan kepada usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen amdal;
b. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan kepada kegiatan
yang wajib UKL-UPL, tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen UKL-UPL; dan/atau
c. badan atau pejabat tata usaha negara yang menerbitkan izin usaha dan/atau
kegiatan yang tidak dilengkapi dengan izin lingkungan.
(2) Tata cara pengajuan gugatan terhadap keputusan tata usaha negara mengacu pada
Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.

BAB XIV
PENYIDIKAN DAN PEMBUKTIAN

Bagian Kesatu
Penyidikan

Pasal 94
(1) Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil
tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup diberi wewenang sebagai penyidik
sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak
pidana lingkungan hidup.
(2) Penyidik pejabat pegawai negeri sipil berwenang:
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
b. melakukan pemeriksaan terhadap setiap orang yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari setiap orang berkenaan dengan peristiwa
tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
d. melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan
tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti,
pembukuan, catatan, dan dokumen lain;
f. melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat
dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
g. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
h. menghentikan penyidikan;
i. memasuki tempat tertentu, memotret, dan/atau membuat rekaman audio visual;
j. melakukan penggeledahan terhadap badan, pakaian, ruangan, dan/atau tempat lain
yang diduga merupakan tempat dilakukannya tindak pidana; dan/atau
74




k. menangkap dan menahan pelaku tindak pidana.
(3) Dalam melakukan penangkapan dan penahanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
k, penyidik pejabat pegawai negeri sipil berkoordinasi dengan penyidik pejabat polisi Negara
Republik Indonesia.
(4) Dalam hal penyidik pejabat pegawai negeri sipil melakukan penyidikan, penyidik pejabat
pegawai negeri sipil memberitahukan kepada penyidik pejabat polisi Negara Republik
Indonesia dan penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia memberikan bantuan guna
kelancaran penyidikan.
(5) Penyidik pejabat pegawai negeri sipil memberitahukan dimulainya penyidikan kepada
penuntut umum dengan tembusan kepada penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia.
(6) Hasil penyidikan yang telah dilakukan oleh penyidik pegawai negeri sipil disampaikan kepada
penuntut umum.

Pasal 95
(1) Dalam rangka penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup, dapat
dilakukan penegakan hukum terpadu antara penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan
kejaksaan di bawah koordinasi Menteri.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penegakan hukum terpadu diatur dengan
peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua
Pembuktian

Pasal 96
Alat bukti yang sah dalam tuntutan tindak pidana lingkungan hidup terdiri atas:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa; dan/atau
f. alat bukti lain, termasuk alat bukti yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

BAB XV
KETENTUAN PIDANA

Pasal 97
Tindak pidana dalam undang-undang ini merupakan kejahatan.

Pasal 98
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan
dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria
baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh
miliar rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua
belas miliar rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan
paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima
miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 99
(1) Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara
ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3
(tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2
(dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit
Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam
miliar rupiah).
(3) Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka
berat atau mati, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan
75




paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar
rupiah) dan paling banyak Rp9.000.000.000,00 (sembilan miliar rupiah).

Pasal 100
(1) Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi, atau baku mutu
gangguan dipidana, dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dikenakan apabila
sanksi administratif yang telah dijatuhkan tidak dipatuhi atau pelanggaran dilakukan
lebih dari satu kali.


Pasal 101
Setiap orang yang melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa genetik ke media
lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin
lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf g, dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah).

Pasal 102
Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 59 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3
(tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 103
Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 104
Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup
tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 105
Setiap orang yang memasukkan limbah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf c dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp12.000.000.000,00 (dua
belas miliar rupiah).

Pasal 106
Setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf d, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda
paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak
Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 107
Setiap orang yang memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang–undangan ke
dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat
(1) huruf b, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15
(lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan
paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 108
Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69
ayat (1) huruf h, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan
paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).

Pasal 109
Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat
1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu
76




miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 110
Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf i, dipidana dengan pidana penjara paling
lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 111
(1) Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa dilengkapi
dengan amdal atau UKL-UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dipidana
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
(2) Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan yang menerbitkan izin usaha dan/atau
kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
40 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda
paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

Pasal 112
Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan pengawasan terhadap
ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap peraturan perundang-
undangan dan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 dan Pasal 72, yang
mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang
mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1
(satu) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 113
Setiap orang yang memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi,
merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar yang diperlukan dalam
kaitannya dengan pengawasan dan penegakan hukum yang berkaitan dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69
ayat (1) huruf j dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 114
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan paksaan
pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 115
Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan
pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan hidup dan/atau pejabat penyidik pegawai negeri
sipil dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 116
(1) Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha,
tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada:
a. badan usaha; dan/atau
b. orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang
bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.
(2) Apabila tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak
dalam lingkup kerja badan usaha, sanksi pidana dijatuhkan terhadap pemberi perintah atau
pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan tindak pidana tersebut
dilakukan secara sendiri atau bersama-sama.

Pasal 117
J ika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau pemimpin tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf b, ancaman pidana yang dijatuhkan
berupa pidana penjara dan denda diperberat dengan sepertiga.

Pasal 118
Terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (1) huruf a, sanksi
pidana dijatuhkan kepada badan usaha yang diwakili oleh pengurus yang berwenang
mewakili di dalam dan di luar pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
selaku pelaku fungsional.


77




Pasal 119
Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, terhadap badan usaha dapat
dikenakan pidana tambahan atau tindakan tata tertib berupa:
a. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana;
b. penutupan seluruh atau sebagian tempat usaha dan/atau kegiatan;
c. perbaikan akibat tindak pidana;
d. pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau
e. penempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) tahun.

Pasal 120
(1) Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 huruf a,
huruf b, huruf c, dan huruf d, jaksa berkoordinasi dengan instansi yang bertanggung
jawab di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup untuk melaksanakan
eksekusi.
(2) Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 huruf e,
Pemerintah berwenang untuk mengelola badan usaha yang dijatuhi sanksi penempatan
di bawah pengampuan untuk melaksanakan putusan pengadilan yang telah
berkekuatan hukum tetap.

BAB XVI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 121
(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama 2 (dua) tahun, setiap
usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum
memiliki dokumen amdal wajib menyelesaikan audit lingkungan hidup.
(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama 2 (dua) tahun, setiap
usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum
memiliki UKL-UPL wajib membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 122
(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun, setiap
penyusun amdal wajib memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal.
(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling lama 1 (satu) tahun, setiap
auditor lingkungan hidup wajib memiliki sertifikat kompetensi auditor lingkungan hidup.

Pasal 123
Segala izin di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang telah dikeluarkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib diintegrasikan ke dalam izin
lingkungan paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang ini ditetapkan.

BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 124
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang
merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor
68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699) dinyatakan masih tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan yang baru
berdasarkan Undang-Undang ini.

Pasal 125
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699) dicabut
dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 126
Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam Undang-Undang ini ditetapkan paling
lama 1 (satu) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan.

Pasal 127
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

78




Disahkan di J akarta
pada tanggal 3 Oktober 2009
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO



Diundangkan di J akarta
pada tanggal 3 Oktober 2009
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd
ANDI MATTALATTA



LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 140







79




PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 32 TAHUN 2009
TENTANG
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

I. UMUM

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa
lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi dan hak konstitusional bagi
setiap warga negara Indonesia. Oleh karena itu, negara, pemerintah, dan seluruh pemangku
kepentingan berkewajiban untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia
dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk
hidup lain.

2. Negara Kesatuan Republik Indonesia terletak pada posisi silang antara dua benua dan dua
samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang menghasilkan kondisi alam yang
tinggi nilainya. Di samping itu Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia
dengan jumlah penduduk yang besar. Indonesia mempunyai kekayaan keanekaragaman
hayati dan sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan itu perlu dilindungi dan dikelola
dalam suatu sistem perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang terpadu dan
terintegrasi antara lingkungan laut, darat, dan udara berdasarkan wawasan Nusantara.

Indonesia juga berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Dampak tersebut meliputi turunnya produksi pangan, terganggunya ketersediaan air,
tersebarnya hama dan penyakit tanaman serta penyakit manusia, naiknya permukaan laut,
tenggelamnya pulau-pulau kecil, dan punahnya keanekaragaman hayati.

Ketersediaan sumber daya alam secara kuantitas ataupun kualitas tidak merata, sedangkan
kegiatan pembangunan membutuhkan sumber daya alam yang semakin meningkat.
Kegiatan pembangunan juga mengandung risiko terjadinya pencemaran dan kerusakan
lingkungan. Kondisi ini dapat mengakibatkan daya dukung, daya tampung, dan produktivitas
lingkungan hidup menurun yang pada akhirnya menjadi beban sosial.

Oleh karena itu, lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola dengan baik
berdasarkan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas keadilan. Selain
itu, pengelolaan lingkungan hidup harus dapat memberikan kemanfaatan ekonomi, sosial,
dan budaya yang dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan,
desentralisasi, serta pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan lokal dan kearifan
lingkungan.

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem
yang terpadu berupa suatu kebijakan nasional perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke
daerah.

3. Penggunaan sumber daya alam harus selaras, serasi, dan seimbang dengan fungsi
lingkungan hidup. Sebagai konsekuensinya, kebijakan, rencana, dan/atau program
pembangunan harus dijiwai oleh kewajiban melakukan pelestarian lingkungan hidup dan
mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Undang-Undang ini mewajibkan Pemerintah dan pemerintah daerah untuk membuat kajian
lingkungan hidup strategis (KLHS) untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. Dengan perkataan lain, hasil KLHS harus
dijadikan dasar bagi kebijakan, rencana dan/atau program pembangunan dalam suatu
wilayah. Apabila hasil KLHS menyatakan bahwa daya dukung dan daya tampung sudah
terlampaui, kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan tersebut wajib diperbaiki
sesuai dengan rekomendasi KLHS dan segala usaha dan/atau kegiatan yang telah
melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi.

4. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup dan mengubah gaya
hidup manusia. Pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah
bahan berbahaya dan beracun. Hal itu menuntut dikembangkannya sistem pembuangan
yang aman dengan risiko yang kecil bagi lingkungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan
hidup manusia serta makhluk hidup lain.
80






Di samping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat, industrialisasi juga
menimbulkan dampak, antara lain, dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun,
yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan
hidup, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

Dengan menyadari hal tersebut, bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu
dilindungi dan dikelola dengan baik. Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus
bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia.

Menyadari potensi dampak negatif yang ditimbulkan sebagai konsekuensi dari
pembangunan, terus dikembangkan upaya pengendalian dampak secara dini. Analisis
mengenai dampak lingkungan (amdal) adalah salah satu perangkat preemtif pengelolaan
lingkungan hidup yang terus diperkuat melalui peningkatkan akuntabilitas dalam
pelaksanaan penyusunan amdal dengan mempersyaratkan lisensi bagi penilai amdal dan
diterapkannya sertifikasi bagi penyusun dokumen amdal, serta dengan memperjelas sanksi
hukum bagi pelanggar di bidang amdal.

Amdal juga menjadi salah satu persyaratan utama dalam memperoleh izin lingkungan yang
mutlak dimiliki sebelum diperoleh izin usaha.

5. Upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup perlu dilaksanakan
dengan mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan dan perizinan. Dalam
hal pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi, perlu dilakukan upaya
represif berupa penegakan hukum yang efektif, konsekuen, dan konsisten terhadap
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi.

Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dikembangkan satu sistem hukum perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian
hukum sebagai landasan bagi perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam serta
kegiatan pembangunan lain.

Undang-Undang ini juga mendayagunakan berbagai ketentuan hukum, baik hukum
administrasi, hukum perdata, maupun hukum pidana. Ketentuan hukum perdata meliputi
penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan dan di dalam pengadilan.
Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di dalam pengadilan meliputi gugatan perwakilan
kelompok, hak gugat organisasi lingkungan, ataupun hak gugat pemerintah. Melalui cara
tersebut diharapkan selain akan menimbulkan efek jera juga akan meningkatkan kesadaran
seluruh pemangku kepentingan tentang betapa pentingnya perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup demi kehidupan generasi masa kini dan masa depan.

6. Penegakan hukum pidana dalam Undang-Undang ini memperkenalkan ancaman hukuman
minimum di samping maksimum, perluasan alat bukti, pemidanaan bagi pelanggaran baku
mutu, keterpaduan penegakan hukum pidana, dan pengaturan tindak pidana korporasi.
Penegakan hukum pidana lingkungan tetap memperhatikan asas ultimum remedium yang
mewajibkan penerapan penegakan hukum pidana sebagai upaya terakhir setelah
penerapan penegakan hukum administrasi dianggap tidak berhasil. Penerapan asas
ultimum remedium ini hanya berlaku bagi tindak pidana formil tertentu, yaitu pemidanaan
terhadap pelanggaran baku mutu air limbah, emisi, dan gangguan.

7. Perbedaan mendasar antara Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dengan Undang-Undang ini adalah adanya penguatan yang terdapat
dalam Undang-Undang ini tentang prinsip-prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup yang didasarkan pada tata kelola pemerintahan yang baik karena dalam setiap proses
perumusan dan penerapan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup serta penanggulangan dan penegakan hukum mewajibkan
pengintegrasian aspek transparansi, partisipasi, akuntabilitas, dan keadilan.

8. Selain itu, Undang-Undang ini juga mengatur:
a. keutuhan unsur-unsur pengelolaan lingkungan hidup;
b. kejelasan kewenangan antara pusat dan daerah;
c. penguatan pada upaya pengendalian lingkungan hidup;
d. penguatan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup,
yang meliputi instrumen kajian lingkungan hidup strategis, tata ruang, baku mutu
lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, amdal, upaya pengelolaan
lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, perizinan, instrumen
ekonomi lingkungan hidup, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup,
81





anggaran berbasis lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan hidup, dan instrumen
lain yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
e. pendayagunaan perizinan sebagai instrumen pengendalian;
f. pendayagunaan pendekatan ekosistem;
g. kepastian dalam merespons dan mengantisipasi perkembangan lingkungan global;
h. penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi, akses partisipasi, dan akses
keadilan serta penguatan hak-hak masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
i. penegakan hukum perdata, administrasi, dan pidana secara lebih jelas;
j. penguatan kelembagaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih
efektif dan responsif; dan
k. penguatan kewenangan pejabat pengawas lingkungan hidup dan penyidik pegawai
negeri sipil lingkungan hidup.

9. Undang-Undang ini memberikan kewenangan yang luas kepada Menteri untuk
melaksanakan seluruh kewenangan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup serta melakukan koordinasi dengan instansi lain. Melalui Undang-Undang
ini juga, Pemerintah memberi kewenangan yang sangat luas kepada pemerintah daerah
dalam melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di daerah masing-masing
yang tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.

Oleh karena itu, lembaga yang mempunyai beban kerja berdasarkan Undang-Undang ini
tidak cukup hanya suatu organisasi yang menetapkan dan melakukan koordinasi
pelaksanaan kebijakan, tetapi dibutuhkan suatu organisasi dengan portofolio menetapkan,
melaksanakan, dan mengawasi kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Selain itu, lembaga ini diharapkan juga mempunyai ruang lingkup wewenang untuk
mengawasi sumber daya alam untuk kepentingan konservasi. Untuk menjamin
terlaksananya tugas pokok dan fungsi lembaga tersebut dibutuhkan dukungan pendanaan
dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang memadai untuk Pemerintah dan
anggaran pendapatan dan belanja daerah yang memadai untuk pemerintah daerah.


II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Huruf a
Yang dimaksud dengan “asas tanggung jawab negara” adalah:
a. negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa kini
maupun generasi masa depan.
b. negara menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
c. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang
menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Huruf b
Yang dimaksud dengan “asas kelestarian dan keberlanjutan” adalah bahwa setiap orang
memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya
dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan
memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Huruf c
Yang dimaksud dengan “asas keserasian dan keseimbangan” adalah bahwa pemanfaatan
lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial,
budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem.

Huruf d
Yang dimaksud dengan “asas keterpaduan” adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau menyinergikan berbagai
komponen terkait.

Huruf e
Yang dimaksud dengan “asas manfaat” adalah bahwa segala usaha dan/atau kegiatan
pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan
82





lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat manusia selaras
dengan lingkungannya.

Huruf f
Yang dimaksud dengan “asas kehati-hatian” adalah bahwa ketidakpastian mengenai dampak
suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah meminimalisasi atau
menghindari ancaman terhadap pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Huruf g
Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara, baik lintas
daerah, lintas generasi, maupun lintas gender.

Huruf h
Yang dimaksud dengan “asas ekoregion” adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup harus memperhatikan karakteristik sumber daya alam, ekosistem, kondisi
geografis, budaya masyarakat setempat, dan kearifan lokal.

Huruf i
Yang dimaksud dengan “asas keanekaragaman hayati” adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk mempertahankan
keberadaan, keragaman, dan keberlanjutan sumber daya alam hayati yang terdiri atas sumber
daya alam nabati dan sumber daya alam hewani yang bersama dengan unsur nonhayati di
sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.

Huruf j
Yang dimaksud dengan “asas pencemar membayar” adalah bahwa setiap penanggung jawab
yang usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan.

Huruf k
Yang dimaksud dengan “asas partisipatif” adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong
untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Huruf l
Yang dimaksud dengan “asas kearifan lokal” adalah bahwa dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan
masyarakat.

Huruf m
Yang dimaksud dengan “asas tata kelola pemerintahan yang baik” adalah bahwa perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas,
efisiensi, dan keadilan.

Huruf n
Yang dimaksud dengan “asas otonomi daerah” adalah bahwa Pemerintah dan pemerintah
daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah
dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.


83





Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Kearifan lokal dalam ayat ini termasuk hak ulayat yang diakui oleh DPRD.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Ayat (1)
Pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang dimaksud
dalam ketentuan ini, antara lain pengendalian:
a. pencemaran air, udara, dan laut; dan
b. kerusakan ekosistem dan kerusakan akibat perubahan iklim.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “wilayah” adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis
beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administrasi dan/atau aspek fungsional.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Dampak dan/atau risiko lingkungan hidup yang dimaksud meliputi:
a. perubahan iklim;
b. kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman hayati;
84





c. peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor,
kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan;
d. penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam;
e. peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan;
f. peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan
penghidupan sekelompok masyarakat; dan/atau
g. peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Pelibatan masyarakat dilakukan melalui dialog, diskusi, dan konsultasi publik.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “baku mutu air” adalah ukuran batas atau kadar makhluk
hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada, dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “baku mutu air limbah” adalah ukuran batas atau kadar
polutan yang ditenggang untuk dimasukkan ke media air .
Huruf c
Yang dimaksud dengan “baku mutu air laut” adalah ukuran batas atau kadar
makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau
unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “baku mutu udara ambien” adalah ukuran batas atau
kadar zat, energi, dan/atau komponen yang seharusnya ada, dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien.
Huruf e
Yang dimaksud dengan “baku mutu emisi” adalah ukuran batas atau kadar
polutan yang ditenggang untuk dimasukkan ke media udara.
Huruf f
Yang dimaksud dengan “baku mutu gangguan” adalah ukuran batas unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya yang meliputi unsur getaran,
kebisingan, dan kebauan.
Huruf g
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 21
Ayat (1)
85





Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “produksi biomassa” adalah bentuk-bentuk pemanfaatan
sumber daya tanah untuk menghasilkan biomassa.

Yang dimaksud dengan “kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa”
adalah ukuran batas perubahan sifat dasar tanah yang dapat ditenggang
berkaitan dengan kegiatan produksi biomassa.

Kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa mencakup lahan
pertanian atau lahan budi daya dan hutan.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “kriteria baku kerusakan terumbu karang” adalah ukuran
batas perubahan fisik dan/atau hayati terumbu karang yang dapat ditenggang.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan
kebakaran hutan dan/atau lahan” adalah pengaruh perubahan pada lingkungan
hidup yang berupa kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup yang
berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan yang diakibatkan oleh suatu
usaha dan/atau kegiatan.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.

Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
J asad renik dalam huruf ini termasuk produk rekayasa genetik.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

86





Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dimaksudkan untuk
menghindari, meminimalkan, memitigasi, dan/atau mengompensasikan dampak
suatu usaha dan/atau kegiatan.

Pasal 26
Ayat (1)
Pelibatan masyarakat dilaksanakan dalam proses pengumuman dan konsultasi
publik dalam rangka menjaring saran dan tanggapan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 27
Yang dimaksud dengan “pihak lain” antara lain lembaga penyusun amdal atau
konsultan.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Rekomendasi UKL-UPL dinilai oleh tim teknis instansi lingkungan hidup.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
87






Pasal 37
Cukup jelas.

Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal 39
Ayat (1)
Pengumuman dalam Pasal ini merupakan pelaksanaan atas keterbukaan informasi.
Pengumuman tersebut memungkinkan peran serta masyarakat, khususnya yang
belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan, dengar pendapat, dan
lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 40
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan izin usaha dan/atau kegiatan dalam ayat ini termasuk izin
yang disebut dengan nama lain seperti izin operasi dan izin konstruksi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Perubahan yang dimaksud dalam ayat ini, antara lain, karena kepemilikan
beralih, perubahan teknologi, penambahan atau pengurangan kapasitas
produksi, dan/atau lokasi usaha dan/atau kegiatan yang berpindah tempat.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “instrumen ekonomi dalam perencanaan pembangunan”
adalah upaya internalisasi aspek lingkungan hidup ke dalam perencanaan dan
penyelenggaraan pembangunan dan kegiatan ekonomi.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pendanaan lingkungan” adalah suatu sistem dan
mekanisme penghimpunan dan pengelolaan dana yang digunakan bagi
pembiayaan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pendanaan
lingkungan berasal dari berbagai sumber, misalnya pungutan, hibah, dan
lainnya.
Huruf c
Insentif merupakan upaya memberikan dorongan atau daya tarik secara moneter
dan/atau nonmoneter kepada setiap orang ataupun Pemerintah dan pemerintah
daerah agar melakukan kegiatan yang berdampak positif pada cadangan sumber
daya alam dan kualitas fungsi lingkungan hidup.

Disinsentif merupakan pengenaan beban atau ancaman secara moneter
dan/atau nonmoneter kepada setiap orang ataupun Pemerintah dan pemerintah
daerah agar mengurangi kegiatan yang berdampak negatif pada cadangan
sumber daya alam dan kualitas fungsi lingkungan hidup.

Pasal 43
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “neraca sumber daya alam” adalah gambaran mengenai
cadangan sumber daya alam dan perubahannya, baik dalam satuan fisik
maupun dalam nilai moneter.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “produk domestik bruto” adalah nilai semua barang dan
jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu.

Yang dimaksud dengan “produk domestik regional bruto” adalah nilai semua
barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu daerah pada periode tertentu.
Huruf c
88





Yang dimaksud dengan “mekanisme kompensasi/imbal jasa lingkungan hidup
antardaerah” adalah cara-cara kompensasi/imbal yang dilakukan oleh orang,
masyarakat, dan/atau pemerintah daerah sebagai pemanfaat jasa lingkungan
hidup kepada penyedia jasa lingkungan hidup.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “internalisasi biaya lingkungan hidup” adalah
memasukkan biaya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dalam
perhitungan biaya produksi atau biaya suatu usaha dan/atau kegiatan.

Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “dana jaminan pemulihan lingkungan hidup” adalah dana
yang disiapkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan untuk pemulihan kualitas
lingkungan hidup yang rusak karena kegiatannya.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “dana penanggulangan” adalah dana yang digunakan
untuk menanggulangi pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang
timbul akibat suatu usaha dan/atau kegiatan.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “dana amanah/bantuan” adalah dana yang berasal dari
sumber hibah dan donasi untuk kepentingan konservasi lingkungan hidup.
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “pengadaan barang dan jasa ramah lingkungan hidup”
adalah pengadaaan yang memprioritaskan barang dan jasa yang berlabel ramah
lingkungan hidup.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “pajak lingkungan hidup” adalah pungutan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah terhadap setiap orang yang memanfaatkan
sumber daya alam, seperti pajak pengambilan air bawah tanah, pajak bahan
bakar minyak, dan pajak sarang burung walet.

Yang dimaksud dengan “retribusi lingkungan hidup” adalah pungutan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap setiap orang yang memanfaatkan
sarana yang disiapkan pemerintah daerah seperti retribusi pengolahan air
limbah.

Yang dimaksud dengan “subsidi lingkungan hidup” adalah kemudahan atau
pengurangan beban yang diberikan kepada setiap orang yang kegiatannya
berdampak memperbaiki fungsi lingkungan hidup.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “sistem lembaga keuangan ramah lingkungan hidup”
adalah sistem lembaga keuangan yang menerapkan persyaratan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup dalam kebijakan pembiayaan dan praktik
sistem lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank.

Yang dimaksud dengan “pasar modal ramah lingkungan hidup” adalah pasar
modal yang menerapkan persyaratan perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup bagi perusahaan yang masuk pasar modal atau perusahaan terbuka,
seperti penerapan persyaratan audit lingkungan hidup bagi perusahaan yang
akan menjual saham di pasar modal.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “perdagangan izin pembuangan limbah dan/atau emisi”
adalah jual beli kuota limbah dan/atau emisi yang diizinkan untuk dibuang ke
media lingkungan hidup antarpenanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.
Huruf e
Yang dimaksud dengan “pembayaran jasa lingkungan hidup” adalah
pembayaran/imbal yang diberikan oleh pemanfaat jasa lingkungan hidup kepada
penyedia jasa lingkungan hidup.
Huruf f
Yang dimaksud dengan “asuransi lingkungan hidup” adalah asuransi yang
memberikan perlindungan pada saat terjadi pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup.
Huruf g
Yang dimaksud dengan “sistem label ramah lingkungan hidup” adalah pemberian
tanda atau label kepada produk-produk yang ramah lingkungan hidup.
Huruf h
Cukup jelas.
89






Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Kriteria kinerja perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi, antara lain,
kinerja mempertahankan kawasan koservasi dan penurunan tingkat pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Pasal 46
Cukup jelas.

Pasal 47
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “analisis risiko lingkungan” adalah prosedur yang antara lain
digunakan untuk mengkaji pelepasan dan peredaran produk rekayasa genetik dan
pembersihan (clean up) limbah B3.
Ayat (2)
Huruf a
Dalam ketentuan ini “pengkajian risiko” meliputi seluruh proses mulai dari
identifikasi bahaya, penaksiran besarnya konsekuensi atau akibat, dan
penaksiran kemungkinan munculnya dampak yang tidak diinginkan, baik
terhadap keamanan dan kesehatan manusia maupun lingkungan hidup.
Huruf b
Dalam ketentuan ini “pengelolaan risiko” meliputi evaluasi risiko atau seleksi
risiko yang memerlukan pengelolaan, identifikasi pilihan pengelolaan risiko,
pemilihan tindakan untuk pengelolaan, dan pengimplementasian tindakan yang
dipilih.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “komunikasi risiko” adalah proses interaktif dari
pertukaran informasi dan pendapat di antara individu, kelompok, dan institusi
yang berkenaan dengan risiko.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 48
Cukup jelas.

Pasal 49
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “usaha dan/atau kegiatan tertentu yang berisiko tinggi”
adalah usaha dan/atau kegiatan yang jika terjadi kecelakaan dan/atau keadaan
darurat menimbulkan dampak yang besar dan luas terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan hidup seperti petrokimia, kilang minyak dan gas bumi, serta
pembangkit listrik tenaga nuklir.
Dokumen audit lingkungan hidup memuat:
a. informasi yang meliputi tujuan dan proses pelaksanaan audit;
b. temuan audit;
c. kesimpulan audit; dan
d. data dan informasi pendukung.
Huruf b
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.
90






Pasal 51
Cukup jelas.

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal 54
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan ”remediasi” adalah upaya pemulihan pencemaran
lingkungan hidup untuk memperbaiki mutu lingkungan hidup.
Huruf c
Yang dimaksud dengan ”rehabilitasi” adalah upaya pemulihan untuk
mengembalikan nilai, fungsi, dan manfaat lingkungan hidup termasuk upaya
pencegahan kerusakan lahan, memberikan perlindungan, dan memperbaiki
ekosistem.
Huruf d
Yang dimaksud dengan ”restorasi” adalah upaya pemulihan untuk menjadikan
lingkungan hidup atau bagian-bagiannya berfungsi kembali sebagaimana
semula.

Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “pemeliharaan lingkungan hidup” adalah upaya yang
dilakukan untuk menjaga pelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah
terjadinya penurunan atau kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh
perbuatan manusia.
Huruf a
Konservasi sumber daya alam meliputi, antara lain, konservasi sumber daya air,
ekosistem hutan, ekosistem pesisir dan laut, energi, ekosistem lahan gambut,
dan ekosistem karst.
Huruf b
Pencadangan sumber daya alam meliputi sumber daya alam yang dapat dikelola
dalam jangka panjang dan waktu tertentu sesuai dengan kebutuhan.

Untuk melaksanakan pencadangan sumber daya alam, Pemerintah, pemerintah
provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota dan perseorangan dapat membangun:
a. taman keanekaragaman hayati di luar kawasan hutan;
b. ruang terbuka hijau (RTH) paling sedikit 30% dari luasan pulau/kepulauan;
dan/atau
c. menanam dan memelihara pohon di luar kawasan hutan, khususnya
tanaman langka.
Huruf c
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
91





Yang dimaksud dengan ”pengawetan sumber daya alam” adalah upaya untuk
menjaga keutuhan dan keaslian sumber daya alam beserta ekosistemnya.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Huruf a
Yang dimaksud dengan ”mitigasi perubahan iklim” adalah serangkaian kegiatan
yang dilakukan dalam upaya menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca sebagai
bentuk upaya penanggulangan dampak perubahan iklim.

Yang dimaksud dengan ”adaptasi perubahan iklim” adalah upaya yang dilakukan
untuk meningkatkan kemampuan dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan
iklim, termasuk keragaman iklim dan kejadian iklim ekstrim sehingga potensi
kerusakan akibat perubahan iklim berkurang, peluang yang ditimbulkan oleh
perubahan iklim dapat dimanfaatkan, dan konsekuensi yang timbul akibat
perubahan iklim dapat diatasi.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 58
Ayat (1)
Kewajiban untuk melakukan pengelolaan B3 merupakan upaya untuk mengurangi
terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup yang berupa terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup, mengingat B3 mempunyai potensi
yang cukup besar untuk menimbulkan dampak negatif.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 59
Ayat (1)
Pengelolaan limbah B3 merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup pengurangan,
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, dan/atau pengolahan,
termasuk penimbunan limbah B3.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan pihak lain adalah badan usaha yang melakukan pengelolaan
limbah B3 dan telah mendapatkan izin.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.

Pasal 60
Cukup jelas.

Pasal 61
Cukup jelas.

Pasal 62
Ayat (1)
Sistem informasi lingkungan hidup memuat, antara lain, keragaman karakter
ekologis, sebaran penduduk, sebaran potensi sumber daya alam, dan kearifan
lokal.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
92





Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 63
Cukup jelas.

Pasal 64
Cukup jelas.

Pasal 65
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak
berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas
keterbukaan. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan
efektivitas peran serta dalam pengelolaan lingkungan hidup, di samping akan
membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat ini dapat berupa data, keterangan, atau informasi lain yang berkenaan dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya
memang terbuka untuk diketahui masyarakat, seperti dokumen analisis mengenai
dampak lingkungan hidup, laporan, dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup,
baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup
dan rencana tata ruang.

Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 66
Ketentuan ini dimaksudkan untuk melindungi korban dan/atau pelapor yang menempuh cara
hukum akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Perlindungan ini dimaksudkan untuk mencegah tindakan pembalasan dari terlapor melalui
pemidanaan dan/atau gugatan perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian peradilan.

Pasal 67
Cukup jelas.

Pasal 68
Cukup jelas.

Pasal 69
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
B3 yang dilarang dalam ketentuan ini, antara lain, DDT, PCBs, dan dieldrin.
Huruf c
Larangan dalam ketentuan ini dikecualikan bagi yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
Huruf d
Yang dilarang dalam huruf ini termasuk impor.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
93





Huruf i
Cukup jelas.

Huruf j
Cukup jelas.

Ayat (2)
Kearifan lokal yang dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran
lahan dengan luas lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami
tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah
penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.

Pasal 70
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Pemberian saran dan pendapat dalam ketentuan ini termasuk dalam
penyusunan KLHS dan amdal.
Huruf c
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 71
Cukup jelas.

Pasal 72
Cukup jelas.

Pasal 73
Yang dimaksud dengan “pelanggaran yang serius” adalah tindakan melanggar hukum yang
mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang relatif besar dan
menimbulkan keresahan masyarakat.

Pasal 74
Cukup jelas.

Pasal 75
Cukup jelas.

Pasal 76
Cukup jelas.

Pasal 77
Cukup jelas.

Pasal 78
Cukup jelas.

Pasal 79
Cukup jelas.

Pasal 80
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “ancaman yang sangat serius” adalah suatu keadaan
yang berpotensi sangat membahayakan keselamatan dan kesehatan banyak
orang sehingga penanganannya tidak dapat ditunda.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.

94





Pasal 81
Cukup jelas.

Pasal 82
Cukup jelas.

Pasal 83
Cukup J elas.

Pasal 84
Ayat (1)
Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak
yang bersengketa.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang
berbeda mengenai satu sengketa lingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum.

Pasal 85
Cukup jelas.

Pasal 86
Cukup jelas.

Pasal 87
Ayat (1)
Ketentuan dalam ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan
hidup yang disebut asas pencemar membayar. Selain diharuskan membayar ganti
rugi, pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim
untuk melakukan tindakan hukum tertentu, misalnya perintah untuk:
a. memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai
dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan;
b. memulihkan fungsi lingkungan hidup; dan/atau
c. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau
perusakan lingkungan hidup.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan
perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian
fungsi lingkungan hidup.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 88
Yang dimaksud dengan “bertanggung jawab mutlak” atau strict liability adalah unsur
kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran
ganti rugi. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang
perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat
dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini
dapat ditetapkan sampai batas tertentu.

Yang dimaksud dengan “sampai batas waktu tertentu” adalah jika menurut penetapan
peraturan perundang-undangan ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup.

Pasal 89
Cukup jelas.

Pasal 90
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “kerugian lingkungan hidup” adalah kerugian yang timbul
akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang bukan merupakan hak
milik privat.
Tindakan tertentu merupakan tindakan pencegahan dan penanggulangan pencemaran
dan/atau kerusakan serta pemulihan fungsi lingkungan hidup guna menjamin tidak
akan terjadi atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.
95





Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 91
Cukup jelas.

Pasal 92
Cukup jelas.

Pasal 93
Cukup jelas.

Pasal 94
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan koordinasi adalah tindakan berkonsultasi guna mendapatkan
bantuan personil, sarana, dan prasarana yang dibutuhkan dalam penyidikan.
Ayat (4)
Pemberitahuan dalam Pasal ini bukan merupakan pemberitahuan dimulainya
penyidikan, melainkan untuk mempertegas wujud koordinasi antara pejabat penyidik
pegawai negeri sipil dan penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 95
Cukup jelas.

Pasal 96
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Yang dimaksud dengan alat bukti lain, meliputi, informasi yang diucapkan,
dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik, magnetik, optik, dan/atau
yang serupa dengan itu; dan/atau alat bukti data, rekaman, atau informasi yang
dapat dibaca, dilihat, dan didengar yang dapat dikeluarkan dengan dan/atau
tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa
pun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik, tidak terbatas pada
tulisan, suara atau gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda,
angka, simbol, atau perporasi yang memiliki makna atau yang dapat dipahami
atau dibaca.

Pasal 97
Cukup jelas.

Pasal 98
Cukup jelas.

Pasal 99
Cukup jelas.

Pasal 100
Cukup jelas.

Pasal 101
96





Yang dimaksud dengan “melepaskan produk rekayasa genetik” adalah pernyataan
diakuinya suatu hasil pemuliaan produk rekayasa genetik menjadi varietas unggul dan dapat
disebarluaskan setelah memenuhi persyaratan berdasarkan peraturan perundang-
undangan.

Yang dimaksud dengan “mengedarkan produk rekayasa genetik” adalah setiap kegiatan
atau serangkaian kegiatan dalam rangka penyaluran komoditas produk rekayasa genetik
kepada masyarakat, baik untuk diperdagangkan maupun tidak.

Pasal 102
Cukup jelas.

Pasal 103
Cukup jelas.

Pasal 104
Cukup jelas.

Pasal 105
Cukup jelas.

Pasal 106
Cukup jelas.

Pasal 107
Cukup jelas.

Pasal 108
Cukup jelas.

Pasal 109
Cukup jelas.

Pasal 110
Cukup jelas.

Pasal 111
Cukup jelas.

Pasal 112
Cukup jelas.

Pasal 113
Informasi palsu yang dimaksud dalam Pasal ini dapat berbentuk dokumen atau keterangan
lisan yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang senyatanya atau informasi yang tidak benar.

Pasal 114
Cukup jelas.

Pasal 115
Cukup jelas.

Pasal 116
Cukup jelas.

Pasal 117
Cukup jelas.

Pasal 118
Yang dimaksud dengan pelaku fungsional dalam Pasal ini adalah badan usaha dan badan
hukum.
Tuntutan pidana dikenakan terhadap pemimpin badan usaha dan badan hukum karena
tindak pidana badan usaha dan badan hukum adalah tindak pidana fungsional sehingga
pidana dikenakan dan sanksi dijatuhkan kepada mereka yang memiliki kewenangan
terhadap pelaku fisik dan menerima tindakan pelaku fisik tersebut.
Yang dimaksud dengan menerima tindakan dalam Pasal ini termasuk menyetujui,
membiarkan, atau tidak cukup melakukan pengawasan terhadap tindakan pelaku
97





fisik, dan/atau memiliki kebijakan yang memungkinkan terjadinya tindak pidana
tersebut.

Pasal 119
Cukup jelas.

Pasal 120
Cukup jelas.

Pasal 121
Cukup jelas.

Pasal 122
Cukup jelas.

Pasal 123
Izin dalam ketentuan ini, misalnya, izin pengelolaan limbah B3, izin pembuangan air limbah
ke laut, dan izin pembuangan air limbah ke sumber air.

Pasal 124
Cukup jelas.

Pasal 125
Cukup jelas.

Pasal 126
Cukup jelas.

Pasal 127
Cukup jelas.




TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5059


98
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 27 TAHUN 1999
TENTANG
ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai
upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan
yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup, perlu dijaga keserasian
antar berbagai usaha dan/atau kegiatan;
a.
bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap
lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya, sehingga langkah
pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini
mungkin;
b.
bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup;
c.
bahwa dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup, perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51
Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;
d.
bahwa berdasarkan hal tersebut di atas dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;
e.
Mengingat :
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945; 1.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran
Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);
2.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN
HIDUP.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
99
f / /
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai
dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan;
1.
Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat
mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan;
2.
Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak
lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan;
3.
Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan
mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan;
4.
Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana
usaha dan/atau kegiatan;
5.
Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan
komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari
rencana usaha dan/atau kegiatan;
6.
Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan;
7.
Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan
izin melakukan usaha dan/atau kegiatan;
8.
Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan
keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di
tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur;
9.
Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang
membina secara teknis usaha dan/atau kegiatan dimaksud;
10.
Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai
dampak lingkungan hidup dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai
pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah;
11.
Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup; 12.
Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang
bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.
13.
Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala
Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.
14.
Pasal 2
(1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi
kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan.
(2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan
perencanaan pembangunan wilayah.
100
f / /
(3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui
pendekatan studi terhadap kegiatan tunggal, terpadu atau kegiatan dalam kawasan.
Pasal 3
(1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan
penting terhadap lingkungan hidup meliputi :
pengubahan bentuk lahan dan bentang alam; a.
eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui; b.
proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan,
pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam
dalam pemanfaatannya;
c.
proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan
buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
d.
proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan
konservasi sumber daya alam dan/atau perlindungan cagar budaya;
e.
introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan, dan jasad renik; f.
pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati; g.
penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi
lingkungan hidup;
h.
kegiatan yang mempunyai risiko tinggi, dan/atau mempengaruhi pertahanan negara. i.
(2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib
memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah
mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan
Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait.
(3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau
kembali sekurang-kurangnya dalam waktu 5 (lima) tahun.
(4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan
hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada
instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan.
(5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya
pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan
lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah
mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab.
Pasal 4
(1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah
dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak diwajibkan membuat
analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi.
(2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk
melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan
hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan
lingkungan hidup kawasan.
101
f / /
Pasal 5
(1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan
terhadap lingkungan hidup antara lain :
a. jumlah manusia yang akan terkena dampak;
b. luas wilayah persebaran dampak;
c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak;
e. sifat kumulatif dampak;
f. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.
(2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan.
Pasal 6
(1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi
suatu keadaan darurat.
(2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang
membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya
suatu keadaan darurat.
Pasal 7
(1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi
untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh
pejabat yang berwenang.
(2) Permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan
lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 ayat (2) yang diberikan oleh instansi yang bertanggungjawab.
(3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan
syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan
hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin
melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya.
(4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa, dalam menjalankan
usaha dan/atau kegiatannya.
BAB II
KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
Pasal 8
102
f / /
(1) Komisi penilai dibentuk :
a. di tingkat pusat : oleh Menteri;
b. di tingkat daerah : oleh Gubernur.
(2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) :
di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan;
a.
di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan Daerah Tingkat I.
b.
(3) Komisi penilai menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup.
(4) Dalam menjalankan tugasnya, Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka
acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan
rencana pemantauan lingkungan hidup.
(5) Dalam menjalankan tugasnya, komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor.
(6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil
penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan
atas kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup.
(7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud, baik pusat maupun daerah,
ditetapkan oleh Menteri, setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat
Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang terkait.
(8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat.
Pasal 9
(1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri
atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup, instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan, Departemen Dalam Negeri, instansi yang
ditugasi bidang kesehatan, instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan,
instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional, instansi yang
ditugasi bidang penanaman modal, instansi yang ditugasi bidang pertanahan, instansi
yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan, departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non
Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan,
departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait, wakil
Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan, Wakil Kabupaten/Walikotamadya Daerah
Tingkat II yang bersangkutan, ahli di bidang lingkungan hidup, ahli di bidang yang
berkaitan, organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan
yang dikaji, wakil masyarakat terkena dampak, serta anggota lain yang dipandang perlu.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 10
103
f / /
(1) Komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri
atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I, instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan, instansi yang ditugasi mengendalikan
dampak lingkungan Daerah Tingkat I, instansi yang ditugasi bidang penanaman modal
daerah, instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah, instansi yang ditugasi
bidang pertahanan keamanan daerah, instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah
Tingkat I, wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan, wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I, wakil
Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan, pusat studi lingkungan
hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan, ahli di bidang lingkungan hidup, ahli di
bidang yang berkaitan, organisasi lingkungan hidup di daerah, organisasi lingkungan
hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji, warga masyarakat
yang terkena dampak, serta anggota lain yang dipandang perlu.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur.
Pasal 11
(1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan
hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria :
usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan
keamanan negara;
a.
usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah
tingkat I;
b.
usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; c.
usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan; d.
Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik
Indonesia dengan negara lain;
e.
(2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan
hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).
Pasal 12
(1) Tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari
instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan
instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan, serta ahli lain dengan bidang
ilmu yang terkait.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat, dan oleh Gubernur
untuk komisi penilai daerah tingkat I.
Pasal 13
Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1), wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup,
rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan
pertahanan keamanan.
BAB III
TATA LAKSANA
Bagian Pertama
104
f / /
Kerangka Acuan
Pasal 14
(1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup
disusun oleh pemrakarsa.
(2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan
pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan.
Pasal 15
(1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh
pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab, dengan ketentuan :
di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan melalui komisi penilai pusat;
a.
di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. b.
(2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti
penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya
kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup.
Pasal 16
(1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai
bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak
lingkungan hidup yang akan dilaksanakan.
(2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu
selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya
kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2).
(3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka
waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka instansi yang bertanggung jawab
dianggap menerima kerangka acuan dimaksud.
(4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau
kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
dan/atau rencana tata ruang kawasan.
Bagian Kedua
Analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup,
dan rencana pemantauan lingkungan hidup
Pasal 17
(1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup, berdasarkan kerangka
acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab.
(2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan
hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup, berpedoman pada pedoman
penyusunan analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup,
105
f / /
dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.
Pasal 18
(1) Analisis dampak lingkungan hidup,rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan
rencana pemantauan lingkungan hidup, diajukan oleh pemrakarsa kepada :
di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan
melalui komisi penilai pusat;
a.
di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. b.
(2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti
penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya
analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana
pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 19
(1) Analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan
rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai :
a. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat;
b. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah.
(2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup
suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan
hidup, rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
wajib dicantumkan dasar pertimbangan
dikeluarkannya keputusan itu, dan pertimbangan terhadap saran, pendapat, dan
tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal
34 ayat (1).
Pasal 20
(1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup
suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2), dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal
diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 18 ayat (2).
(2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka
waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka rencana usaha dan/atau kegiatan
yang bersangkutan dianggap layak lingkungan.
Pasal 21
(1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup,
rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup
kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup,
rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak
106
f / /
sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup.
(2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup,
dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang
bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, dan
Pasal 20.
(3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup,rencana pengelolaan lingkungan
hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan
lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan
dalam Pasal 19 dan Pasal 20.
Pasal 22
(1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa :
dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang
tersedia, atau
a.
biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada
manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha
dan/atau kegiatan yang bersangkutan.
b.
maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana
usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan.
c.
(2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan
keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
Pasal 23
Salinan analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan
rencana pemantauan lingkungan hidup, serta salinan keputusan kelayakan lingkungan
hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh :
di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan
kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan, instansi terkait yang berkepentingan, Gubernur dan
Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan.
a.
di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri, Kepala instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan, instansi yang berwenang menerbitkan izin
melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan, dan instansi yang
terkait.
b.
Bagian Ketiga
Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil
Analisis Dampak Lingkungan Hidup, Rencana
Pengelolaan Lingkungan Hidup, Rencana Pemantauan
Lingkungan Hidup
Pasal 24
(1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan
dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini, apabila
107
f / /
rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga)
tahun sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut.
(2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka untuk melaksanakan rencana usaha
dan/atau kegiatannya, pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan
persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi
yang bertanggung jawab.
(3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang
bertanggung jawab memutuskan :
Analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan
hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah
disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali; atau
a.
Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan
hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.
b.
Pasal 25
(1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan
menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa
memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatannya.
(2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan di lokasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemrakarsa wajib membuat analisis
mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan
Pemerintah ini.
Pasal 26
(1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan
menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa
mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku
dan/atau bahan penolong.
(2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka pemrakarsa wajib membuat analisis
mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan
Pemerintah ini.
Pasal 27
(1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan
menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan
lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat
lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan
dilaksanakan.
(2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka pemrakarsa wajib membuat analisis
mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan
Pemerintah ini.
BAB IV
PEMBINAAN
108
f / /
Pasal 28
(1) lnstansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis
terhadap komisi penilai pusat dan daerah.
(2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis
pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin.
Pasal 29
(1) Pendidikan, pelatihan, dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan
hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.
(2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup
diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pasal 30
Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian
lisensi/sertifikasi dan pengaturannya ditetapkan oleh instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan.
Pasal 31
Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau golongan
ekonomi lemah dibantu pemerintah, dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah
memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan
yang bersangkutan.
BAB V
PENGAWASAN
Pasal 32
(1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan
rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup
kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan, instansi
yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur.
(2) lnstansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan :
pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di
bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup;
a.
pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
b.
penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara
berkala, sekurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun, dengan tembusan
kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur.
c.
BAB VI
KETERBUKAAN INFORMASI DAN
PERAN MASYARAKAT
Pasal 33
109
f / /
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum
pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup.
(2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa.
(3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya
rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran,
pendapat, dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha
dan/atau kegiatan.
(4) Saran, pendapat, dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab.
(5) Saran, pendapat, dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak
lingkungan.
(6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), serta tata cara penyampaian saran, pendapat, dan tanggapan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.
Pasal 34
(1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses
penyusunan kerangka acuan, penilaian kerangka acuan, analisis dampak
lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana
pemantauan lingkungan hidup.
(2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan.
Pasal 35
(1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup, saran,
pendapat, dan tanggapan warga masyarakat yang berkepentingan,
kesimpulan komisi penilai, dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari
usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum.
(2) Instansi yang bertanggung jawab wajib menyerahkan dokumen
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi
dan/atau kearsipan.
BAB VII
PEMBIAYAAN
Pasal 36
Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak
lingkungan hidup dibebankan :
di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan;
a.
110
f / /
di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak
lingkungan daerah tingkat I
b.
Pasal 37
Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup,
rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup
dibebankan kepada pemrakarsa.
Pasal 38
(1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
ayat (1) dan Pasal 32 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi
mengendalikan dampak lingkungan.
(2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi
yang bertanggung jawab.
(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana
pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2)
dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan.
BAB VIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 39
Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan
yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini :
sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak
lingkungan hidup yang bersangkutan; atau
a.
sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan, tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan, dan
harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini
berlaku secara efektif.
b.
BAB IX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 40
Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan
tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan
Pemerintah ini.
Pasal 41
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka Peraturan Pemerintah Nomor 51
Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun
1993 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku
lagi.
Pasal 42
111
f / /
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 (delapan belas) bulan sejak tanggal
diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 1999
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 7 Mei 1999
MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
ttd.
AKBAR TANDJUNG
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 59
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 27 TAHUN 1999
TENTANG
ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
UMUM
Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
dan mutu hidup rakyat. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan
jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi, tetapi dilain pihak ketersediaan
sumber daya alam bersifat terbatas. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk
akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam, sehingga timbul tekanan terhadap sumber
daya alam. Oleh karena itu, pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan
dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya
pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan demikian, pembangunan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup.
Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup
menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, sejak awal
perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup
akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru, baik yang menguntungkan maupun
yang merugikan, yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan
pembangunan. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat
112
f / /
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai
dampak lingkungan hidup.
Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan
suatu usaha dan/atau kegiatan, maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih
luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut, sehingga dapat
diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Analisis mengenai dampak
lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan
akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan
hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan
dampak positif.
Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan
merupakan kepentingan seluruh masyarakat. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan
mengubah rona lingkungan hidup, sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan
dampak terhadap masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena
dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Undang-undang
nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk
berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam
proses pengambilan keputusan. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam
proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Keterlibatan warga
masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan. Dengan keterlibatan warga masyarakat
itu akan membantu dalam mengindentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan
lengkap, menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru
menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan hidup yang timbul.
Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan
penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup.
Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan,
analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk
mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Hal itu merupakan konsekuensi dari
kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Konsekuensinya adalah bahwa syarat
dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana
pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang bersangkutan.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Angka 1
Cukup jelas
Angka 2
Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting.
Angka 3
Cukup jelas
Angka 4
Cukup jelas
Angka 5
113
f / /
Cukup jelas
Angka 6
Cukup jelas
Angka 7
Cukup jelas
Angka 8
Cukup jelas
Angka 9
Cukup jelas
Angka 10
Cukup jelas
Angka 11
Cukup jelas
Angka 12
Cukup jelas
Angka 13
Cukup jelas
Angka 14
Cukup jelas
Pasal 2
Ayat (1)
Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomis- finansial. Dengan
ayat ini, maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup
meliputi komponen analisis teknis, analisis ekonomis-finansial, dan analisis mengenai dampak lingkungan
hidup.. Oleh karena itu, analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan
keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan
yang bersangkutan dilaksanakan.
Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan
kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup, di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi
perencanaan pembangunan wilayah.
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan
rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan
(Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan.
114
f / /
Ayat (2)
Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu
usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu, maka hasil analisis mengenai
dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam
perencanaan pembangunan wilayah
Ayat (3)
Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang
kewenangan perizinan serta pembinaannya di bawah satu instansi yang berwenang.
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian
mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan
terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang berwenang membidangi
kegiatan dimaksud.
Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi :
berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan,
pengelolaan, dan proses produksinya;
a.
usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. b.
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak
besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan
hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan.
Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi:
berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan
yang lainnya;
a.
berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona
rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau
rencana tata ruang kawasan:
b.
usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. c.
Pasal 3
Ayat (1)
Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang
berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian penyebutan kategori
usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Penyebutan tersebut bersifat alternatif, sebagai contoh seperti usaha
dan/atau kegiatan :
pembuatan jalan, bendungan/dam, jalan kereta api, dan pembukaan hutan; a.
kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan; b.
pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti
dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya;
c.
115
f / /
kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai, pandangan dan/atau cara hidup
masyarakat setempat;
d.
kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran, kerusakan kawasan konservasi alam, atau
pencemaran benda cagar budaya;
e.
introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan
jenis penyakit baru terhadap tanaman, introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan
hewan yang telah ada;
f.
penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan; g.
penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. h.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. Oleh karena itu, jenis usaha dan/atau kegiatan
yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup, yang mendasarkan diri pada ilmu
pengetahuan dan teknologi, perlu ditinjau kembali.
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 5
Ayat (1)
Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan
tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Oleh karena itu, kriteria ini dapat berubah sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tidak bersifat limitatif.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 6
Ayat (1)
116
f / /
Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa, sehingga
mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung risiko terhadap lingkungan hidup demi
kepentingan umum, misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. Keadaan darurat ini
tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam undang-undang keadaan darurat
Ayat (2)
Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup, misalnya
pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar, ditetapkan oleh menteri yang membidangi
kegiatan dimaksud.
Pasal 7
Ayat (1)
Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan, tanpa izin
tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. Misalnya izin
usaha industri di bidang perindustrian, kuasa pertambangan di bidang pertambangan, izin
penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C, izin hak pengusahaan hutan
di bidang kehutanan, izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. Sedangkan keputusan
kelayakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk
dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.
Ayat (2)
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan
usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. Oleh karena itu, keputusan kelayakan lingkungan
hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan
hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup, sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang
bertanggungjawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
117
f / /
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas
Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 10
Ayat (1)
Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat
berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud
agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan penggelolaan lingkungan hidup, khususnya pengendalian
dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak
lingkungan hidup di daerah. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi
sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis
mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan. Adanya
wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, dan instansi yang ditugasi
dibidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan
hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di
daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan.
Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga
masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan.
Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat
memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau
kegiatan tersebut.
Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk
memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai.
Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah
lembaga swadaya masyarakat.
Ayat (2)
118
f / /
Cukup jelas
Pasal 11
Ayat (1)
Huruf a
Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan
keamanan negara misalnya : pembangkit
listrik tenaga nuklir, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi,
eksploitasi minyak dan gas, kilang minyak, penambangan uranium, industri petrokimia, industri
pesawat terbang, industri kapal, industri senjata, industri bahan peledak, industri baja, industri
alat-alat berat, industri telekomunikasi, pembangunan bendungan, bandar udara, pelabuhan dan
rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau
kegiatan dianggap strategis.
Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau
kegiatan terpadu/multisektor, maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi
wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat.
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya : rencana
usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan, Ligitan dan Celah Timor.
Huruf d
Cukup jelas
Huruf e
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
119
f / /
Ayat (1)
Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan
dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Berdasarkan hasil pelingkupan, yaitu
proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting, kerangka
acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup, serta komponen-komponen parameter lingkungan hidup yang
akan terkena dampak besar dan penting.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jeias
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Penetapan jangka waktu selama 75 hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada
pemrakarsa. Jangka waktu 75 hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan
ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai, penilaian secara teknis, konsultasi
dengan warga masyarakat yang berkepentingan, penilaian oleh komisi penilai, sampai ditetapkannya
keputusan.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan
umum.
Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Kerangka acuan yang baik
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan
hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik
pula, demikian pula sebaliknya. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak
lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah
untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan
kepentingan umum.
Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah, Rencana Tata Ruang
Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I, dan
120
f / /
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah Tingkat II.
Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang
kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang
kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan
Daerah Tingkat II. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata
ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang
kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 19
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan
ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Dengan mengetahui dampak
besar dan penting itu dapat ditentukan :
cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar
dan penting positif, yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup;
dan
a.
cara memantau dampak besar dan penting tersebut, yang dicantumkan dalam rencana
pemantauan lingkungan hidup.
b.
Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan
lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak
melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya.
Oleh karena itu, hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan
lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh Komisi Penilai Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan
keputusan kepada instansi yang berwenang.
121
f / /
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 20
Ayat (1)
Penetapan jangka waktu selama 75 hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada
pemrakarsa. Jangka waktu 75 hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak
lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke
instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai, penilaian secara teknis, konsultasi dengan warga
masyarakat yang berkepentingan, penilaian oleh komisi penilai, sampai dengan diterbitkannya keputusan
kelayakan lingkungan hidup.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 21
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup jelas
Pasal 24
Ayat (1)
Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah, dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun
kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup, sehingga rona lingkungan hidup
yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak
cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau
kegiatan yang bersangkutan.
Ayat (2)
122
f / /
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 26
Ayat (1)
Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan
penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda.
Oleh karena itu, keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak
lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup
yang telah diterbitkan menjadi batal.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 27
Ayat (1)
Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona
lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Keadaan
ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil
penilaian analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana
pemantauan lingkungan hidup.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 28
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 29
Ayat (1)
123
f / /
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai
dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup
atau bantuan lainnya. Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 33
Ayat (1)
Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan
peran dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Ayat (2)
Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan, misalnya, melalui media cetak
dan/atau media elektronik. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan
memasang papan pengumuman di lokasi akan diselengarakannya usaha dan/atau kegiatan.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Saran, pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi.
Ayat (5)
Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam
penyusunan kerangka acuan, dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif
pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan
hidup.
Ayat (6)
Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan
124
f / /
sekurang-kurangnya, antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan
yang bersangkutan, jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya,
kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan.
Pasal 34
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 35
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 36
Cukup jelas
Pasal 37
Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup
biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian
mengenai analisis dampak lingkungan hidup, menjadi tanggungan pemrakarsa.
Pasal 38
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 39
Cukup jelas
Pasal 40
Cukup jelas
Pasal 41
125
f / /
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3838
126




PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 74 TAHUN 2001
TENTANG
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


Menimbang : a. bahwa dengan meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai bidang
terutama bidang industri dan perdagangan, terdapat kecenderungan
semakin meningkat pula penggunaan bahan berbahaya dan beracun;
b. bahwa sampai saat ini terdapat beberapa peraturan perundang-
undangan yang mengatur pengelolaan bahan berbahaya dan beracun,
akan tetapi masih belum cukup memadai terutama untuk mencegah
terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup;
c. bahwa untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak
lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya
diperlukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun secara terpadu
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
huruf b, dan huruf c serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 ayat
(3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah
dengan Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1; Tambahan
Lembaran Negara Nomor 2918);
3. Undang- undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480);
4. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98; Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3493);
5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100; Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3495);
6. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lemabaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75; Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3612);
127


7. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);
8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3839);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas
Peredaran, Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 12);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 31; Tambahan Lembaran Negara Nomor
3815) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor
85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18
Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 190;
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3910) ;


MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN
BERACUN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena
sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya;
2. Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan,
menggunakan dan atau membuang B3;
3. Registrasi B3 adalah pendaftaran dan pemberian nomor terhadap B3 yang ada di wilayah Republik
Indonesia;
4. Penyimpanan B3 adalah teknik kegiatan penempatan B3 untuk menjaga kualitas dan kuantitas B3
dan atau mencegah dampak negatif B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan mahluk
hidup lainnya;
5. Pengemasan B3 adalah kegiatan mengemas, mengisi atau memasukkan B3 ke dalam suatu wadah
dan atau kemasan, menutup dan atau menyegelnya;
6. Simbol B3 adalah gambar yang menunjukkan klasifikasi B3;
7. Label adalah uraian singkat yang menunjukkan antara lain klasifikasi dan jenis B3;
8. Pengangkutan B3 adalah kegiatan pemindahan B3 dari suatu tempat ke tempat lain dengan
menggunakan sarana angkutan;
9. B3 terbatas dipergunakan adalah B3 yang dibatasi penggunaan, impor dan atau produksinya;
10. B3 yang dilarang dipergunakan adalah jenis B3 yang dilarang digunakan, diproduksi, diedarkan dan
atau diimpor;
11. Impor B3 adalah kegiatan memasukkan B3 ke dalam daerah kepabeanan Indonesia;
12. Ekspor B3 adalah kegiatan mengeluarkan B3 dari daerah kepabeanan Indonesia;
128


13. Notifikasi untuk ekspor adalah pemberitahuan terlebih dahulu dari otoritas negara pengekspor ke
otoritas negara penerima dan negara transit apabila akan dilaksanakan perpindahan lintas batas B3
yang terbatas dipergunakan;
14. Notifikasi untuk impor adalah pemberitahuan terlebih dahulu dari otoritas negara pengekspor
apabila akan dilaksanakan perpindahan lintas batas untuk B3 yang terbatas dipergunakan dan atau
yang pertama kali diimpor;
15. Orang adalah orang perseorangan, dan atau kelompok orang, dan atau badan hukum;
16. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian
dampak lingkungan;
17. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang dalam memberikan izin, pengawasan dan
hal lain yang sesuai dengan bidangnya masing-masing;
18. Komisi B3 adalah badan independen yang berfungsi memberikan saran dan atau pertimbangan
kepada Pemerintah dalam pengelolaan B3 di Indonesia;
19. Gubernur adalah Kepala Daerah Propinsi;
20. Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota;
21. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup.


Pasal 2

Pengaturan pengelolaan B3 bertujuan untuk mencegah dan atau mengurangi risiko dampak B3 terhadap
lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.


Pasal 3

Pengelolaan B3 yang tidak termasuk dalam lingkup Peraturan Pemerintah ini adalah pengelolaan bahan
radioaktif, bahan peledak, hasil produksi tambang serta minyak dan gas bumi dan hasil olahannya,
makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya, perbekalan kesehatan rumah tangga dan
kosmetika, bahan sediaan farmasi, narkotika, psikotropika, dan prekursornya serta zat adiktif lainnya,
senjata kimia dan senjata biologi.


Pasal 4

Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mencegah terjadinya pencemaran dan atau
kerusakan lingkungan hidup.


BAB II
KLASIFIKASI B3

Pasal 5

(1) B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. mudah meledak (explosive);
b. pengoksidasi (oxidizing);
c. sangat mudah sekali menyala (extremely flammable);
d. sangat mudah menyala (highly flammable);
e. mudah menyala (flammable);
f. amat sangat beracun (extremely toxic);
g. sangat beracun (highly toxic);
h. beracun (moderately toxic);
i. berbahaya (harmful);
j. korosif (corrosive);
k. bersifat iritasi (irritant);
l. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment);
m. karsinogenik (carcinogenic);
129


n. teratogenik (teratogenic);
o. mutagenik (mutagenic).

(2) Klasifikasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari :
a. B3 yang dapat dipergunakan;
b. B3 yang dilarang dipergunakan; dan
c. B3 yang terbatas dipergunakan.

(3) B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tercantum dalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini.
BAB III
TATA LAKSANA DAN PENGELOLAAN B3

Pasal 6

(1) Setiap B3 wajib diregistrasikan oleh penghasil dan atau pengimpor.
(2) Kewajiban registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku 1 (satu) kali untuk B3 yang
dihasilkan dan atau diimpor untuk yang pertama kali;
(3) Registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang :
a. termasuk dalam ketentuan Pasal 3, diajukan kepada instansi yang berwenang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku ;
b. tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 3, diajukan kepada instansi yang bertanggung
jawab.
(4) Instansi yang berwenang yang memberikan nomor registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3) huruf a menyampaikan tembusannya kepada instansi yang bertanggung jawab.
(5) Instansi yang bertanggung jawab yang memberikan nomor registrasi B3 sebagaimana dimaksud
dalam ayat (3) huruf b menyampaikan tembusannya kepada instansi yang berwenang.
(6) Tata cara registrasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dan sistem registrasi nasional B3
ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.

Pasal 7

(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan ekspor B3 yang terbatas dipergunakan, wajib
menyampaikan notifikasi ke otoritas negara tujuan ekspor, otoritas negara transit dan instansi
yang bertanggung jawab.
(2) Ekspor B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilaksanakan setelah adanya
persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor, otoritas negara transit dan instansi yang
bertanggung jawab.
(3) Persetujuan dari instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
merupakan dasar untuk penerbitan atau penolakan izin ekspor dari instansi yang berwenang di
bidang perdagangan.


Pasal 8
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan impor B3 yang terbatas dipergunakan dan atau yang
pertama kali diimpor, wajib mengikuti prosedur notifikasi.
(2) Notifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib disampaikan oleh otoritas negara
pengekspor kepada instansi yang bertanggung jawab.
(3) Instansi yang bertanggung jawab wajib memberikan jawaban atas notifikasi sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sejak
tanggal diterimanya permohonan notifikasi.
130



Pasal 9
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan impor B3 yang baru yang tidak termasuk dalam daftar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3), wajib mengikuti prosedur notifikasi.
(2) Notifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib disampaikan oleh otoritas negara
pengekspor kepada instansi yang bertanggung jawab.
(3) Instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) segera
memberitahukan kepada Komisi B3 untuk meminta saran dan atau pertimbangan Komisi B3.
(4) Komisi B3 memberikan saran dan atau pertimbangan kepada instansi yang bertanggung jawab
mengenai B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(5) Berdasarkan saran dan atau pertimbangan yang diberikan oleh Komisi B3 kepada instansi yang
bertanggung jawab, maka instansi yang bertanggung jawab:
a. mengajukan perubahan terhadap lampiran Peraturan Pemerintah ini; dan
b. memberikan persetujuan kepada instansi yang berwenang di bidang perdagangan sebagai
dasar untuk penerbitan atau penolakan izin impor.

Pasal 10
Tata cara notifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 9 ayat (1)
ditetapkan dengan Keputusan Kepala Instansi yang bertanggung jawab.

Pasal 11

Setiap orang yang memproduksi B3 wajib membuat Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety
Data Sheet)

Pasal 12

Setiap penanggung jawab pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3 wajib menyertakan Lembar
Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.
Pasal 13
(1) Pengangkutan B3 wajib menggunakan sarana pengangkutan yang laik operasi serta
pelaksanaannya sesuai dengan tata cara pengangkutan yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(2) Persyaratan sarana pengangkutan dan tata cara pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) ditetapkan oleh instansi yang berwenang di bidang transportasi.


Pasal 14

Setiap B3 yang dihasilkan, diangkut, diedarkan , disimpan wajib dikemas sesuai dengan klasifikasinya.


Pasal 15
(1) Setiap kemasan B3 wajib diberikan simbol dan label serta dilengkapi dengan Lembar Data
Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet).
(2) Tata cara pengemasan, pemberian simbol dan label sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.




131


Pasal 16

(1) Dalam hal kemasan B3 mengalami kerusakan untuk :
a. B3 yang masih dapat dikemas ulang, pengemasannya wajib dilakukan oleh pengedar;
b. B3 yang tidak dapat dikemas ulang dan dapat menimbulkan pencemaran dan atau
kerusakan lingkungan dan atau keselamatan manusia, maka pengedar wajib
melakukan penanggulangannya.
(2) B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf b, ditetapkan lebih lanjut dengan
Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.
(3) Dalam hal Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) belum tersedia, maka tata cara penanganan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
mengacu kepada kaidah ilmiah yang berlaku.


Pasal 17

(1) Dalam hal simbol dan label mengalami kerusakan wajib diberikan simbol dan label yang baru.

(2) Tanggung jawab pemberian simbol dan label sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk
kerusakan pada tahap :
a. produksi, tanggung jawabnya ada pada produsen/penghasil;
b. pengangkutan, tanggung jawabnya ada pada penanggung jawab kegiatan pengangkutan;
c. penyimpanan, tangggung jawabnya ada pada penanggung jawab kegiatan penyimpanan.


(3) Tata cara pemberian simbol dan label sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan
Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.


Pasal 18

(1) Setiap tempat penyimpanan B3 wajib diberikan simbol dan label.
(2) Tempat penyimpanan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memenuhi persyaratan
untuk :
a. lokasi;
b. konstruksi bangunan;

(3) Kriteria persyaratan tempat penyimpanan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan
lebih lanjut dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.

Pasal 19

Pengelolaan tempat penyimpanan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) wajib dilengkapi
dengan sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3.


Pasal 20

B3 yang kadaluarsa dan atau tidak memenuhi spesifikasi dan atau bekas kemasan, wajib dikelola sesuai
dengan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun.








132


BAB IV
KOMISI B3

Pasal 21
(1) Dalam rangka pengelolaan B3 dibentuk Komisi B3 yang mempunyai tugas untuk memberikan
saran dan atau pertimbangan kepada Pemerintah.
(2) Komisi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat terdiri dari beberapa Sub Komisi B3.
(3) Susunan keanggotaan Komisi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari wakil
instansi yang berwenang, wakil instansi yang bertanggung jawab, wakil instansi yang terkait,
wakil perguruan tinggi, organisasi lingkungan, dan asosiasi.
(4) Susunan keanggotaan, tugas, fungsi, dan tata kerja Komisi B3 sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.


BAB V
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Pasal 22
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib menjaga keselamatan dan
kesehatan kerja.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
(3) Dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) penanggung jawab
kegiatan pengelolaan B3 wajib mengikutsertakan peranan tenaga kerjanya.
(4) Peranan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan
pedoman yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang di bidang ketenagakerjaan.


Pasal 23

(1) Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja dan pengawas B3 wajib dilakukan uji
kesehatan secara berkala.

(2) Uji kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan oleh masing-masing
instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku..


BAB VI
PENANGGULANGAN KECELAKAAN DAN KEADAAN DARURAT

Pasal 24

Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib menanggulangi terjadinya kecelakaan dan
atau keadaan darurat akibat B3.

Pasal 25

Dalam hal terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat yang diakibatkan B3, maka setiap orang yang
melakukan kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 wajib mengambil langkah-
langkah :
a. mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya kecelakaan;
b. menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur tetap penanggulangan kecelakaan;
c. melaporkan kecelakaan dan atau keadaan darurat kepada aparat Pemerintah Kabupaten/Kota
setempat; dan
133


d. memberikan informasi, bantuan, dan melakukan evakuasi terhadap masyarakat di sekitar lokasi
kejadian.


Pasal 26

Aparat Pemerintah Kabupaten/Kota setempat, setelah menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan
dan atau keadaan darurat akibat B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c, wajib segera
mengambil langkah-langkah penanggulangan yang diperlukan.


Pasal 27

Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, tidak menghilangkan kewajiban setiap orang yang
melakukan kegiatan pengelolaan B3 untuk :
a. mengganti kerugian akibat kecelakaan dan atau keadaan darurat; dan atau
b. memulihkan kondisi lingkungan hidup yang rusak atau tercemar;
yang diakibatkan oleh B3.

BAB VII
PENGAWASAN DAN PELAPORAN

Pasal 28

(1) Wewenang pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 dilakukan oleh instansi yang
bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-
masing.
(2) Dalam hal tertentu, wewenang pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dapat diserahkan menjadi urusan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota.
(3) Penyerahan wewenang pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh
instansi yang bertanggung jawab dan atau instansi yang berwenang di bidang tugasnya masing-
masing.


Pasal 29
Pengawas dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 28 ayat (1), wajib dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang dikeluarkan oleh instansi
yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.


Pasal 30

Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib:
a. mengizinkan pengawas untuk memasuki lokasi kerja dan membantu terlaksananya tugas
pengawasan;
b. mengizinkan pengawas untuk mengambil contoh B3;
c. memberikan keterangan dengan benar baik lisan maupun tertulis;
d. mengizinkan pengawas untuk melakukan pemotretan di lokasi kerja dan atau mengambil gambar.


Pasal 31
Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib menyampaikan laporan tertulis tentang
pengelolaan B3 secara berkala sekurang-kurangnya setiap 6 (enam) bulan kepada instansi yang
bertanggung jawab dan instansi yang berwenang di bidang tugas masing-masing dengan tembusan
kepada Gubernur/Bupati/Walikota.
134



BAB VIII
PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT

Pasal 32
Gubernur/Bupati/Walikota/Kepala Instansi yang bertanggung jawab dan Pimpinan instansi yang
berwenang, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi dampak yang akan timbul
terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya akibat adanya kegiatan
pengelolaan B3.

Pasal 33
Setiap orang yang melakukan pengelolaan B3 wajib meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi
dampak B3 yang akan timbul terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya
akibat adanya kegiatan pengelolaan B3.

Pasal 34
Peningkatan kesadaran masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 dan Pasal 33 dapat dilakukan
dengan penyebarluasan pemahaman tentang B3.
BAB IX
KETERBUKAAN INFORMASI DAN
PERAN MASYARAKAT

Pasal 35
(1) Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang upaya pengendalian dampak
lingkungan hidup akibat kegiatan pengelolaan B3.
(2) Informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib disediakan oleh penanggung jawab
kegiatan pengelolaan B3.
(3) Penyediaan informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat disampaikan melalui media
cetak, media elektronik dan atau papan pengumuman.


Pasal 36

Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan B3 sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.


BAB X
PEMBIAYAAN

Pasal 37

Biaya untuk melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam :
a. Pasal 6 ayat (6), Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15 ayat (2), Pasal 16 ayat (2) ,Pasal 17 ayat (3),
Pasal 18 ayat (3)m, Pasal 21 ayat (4), Pasal 22 ayat (4), Pasal 23 ayat (2), Pasal 28 ayat (1), dan
Pasal 32, dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan atau sumber
dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Pasal 26, Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 32 dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) dan atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.




135


BAB XI
SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 38

(1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 6 ayat (1), Pasal 7 ayat (1), Pasal 8 ayat (1),
Pasal 9 ayat (1), Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat
(1), Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 19, Pasal 20, Pasal 22,
Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 33, dan Pasal 35 dikenakan sanksi
administrasi.

(2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan berat dan
ringannya jenis pelanggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


BAB XII
GANTI KERUGIAN

Pasal 39

(1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang usaha dan atau kegiatannya menimbulkan
dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, yang menggunakan bahan berbahaya
dan beracun, dan atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun, bertanggung jawab
secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti kerugian
secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan
hidup.
(2) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti
kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan
bahwa pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di
bawah ini :
a. adanya bencana alam atau peperangan; atau
b. adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia; atau
c. adanya tindakan pihak ketiga yang memyebabkan terjadinya pencemaran dan atau
perusakan lingkungan hidup.
(3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkab oleh pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) huruf c, pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti kerugian.


BAB XIII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 40

Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4, Pasal 6 ayat (1), Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1),
Pasal 14, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17 ayat (1), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 19,
Pasal 20, Pasal 22, dan Pasal 24 yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan
lingkungan hidup, diancam dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal
44, Pasal 45, Pasal 46, dan Pasal 47 Undang - undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.


BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 41

Apabila pada saat diundangkan Peraturan Pemerintah ini :
a. masih terdapat B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia, maka B3 tersebut dapat diekspor ke
negara yang memerlukannya sesuai dengan mekanisme ekspor yang berlaku;
b. terdapat B3 yang telah beredar tetapi belum diregistrasikan maka wajib diregistrasikan oleh
penyimpan, pengedar dan atau pengguna menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (3).

136




Pasal 42

Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan pengelolaan B3 yang telah ada dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan
belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.


BAB XV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 43

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku 6 (enam) bulan sejak tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 26 November 2001

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
MEGAWATI SOEKARNO PUTRI

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 26 November 2001
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd
BAMBANG KESOWO



LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2001 NOMOR 138



Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi Sekretaris Kabinet
Bidang Hukum dan Perundang-undangan,

Ttd

Lambock V. Nahattands




137


PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 74 TAHUN 2001
TENTANG
PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN



UMUM

Meningkatnya kegiatan pembangunan di Indonesia dapat mendorong peningkatan penggunaan bahan
berbahaya dan beracun (B3) di berbagai sektor seperti industri, pertambangan, pertanian dan kesehatan.
B3 tersebut dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri (impor). B3 yang dihasilkan dari
dalam negeri, juga ada yang diekspor ke suatu negara tertentu. Proses impor dan ekspor ini semakin
mudah untuk dilakukan dengan masuknya era globalisasi.

Selama tiga dekade terakhir, penggunaan dan jumlah B3 di Indonesia semakin meningkat. Penggunaan B3
yang terus meningkat dan tersebar luas di semua sektor apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan
baik, maka akan dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia, mahluk hidup lainnya dan
lingkungan hidup, seperti pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran laut.
Agar pengelolaan B3 tidak mencemari lingkungan hidup dan untuk mencapai derajat keamanan yang
tinggi, dengan berpijak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup
manusia, maka diperlukan peningkatan upaya pengelolaannya dengan lebih baik dan terpadu.

Kebijaksanaan pengelolaan B3 yang ada saat ini masih diselenggarakan secara parsial oleh berbagai
instansi terkait, sehingga dalam penerapannya masih banyak menemukan kendala. Oleh karena itu, maka
semakin disadari perlunya Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan B3 secara terpadu yang meliputi
kegiatan produksi, penyimpanan, pengemasan, pemberian simbol dan label, pengangkutan, penggunaan,
impor, ekspor dan pembuangannya. Pentingnya penyusunan Peraturan Pemerintah ini secara tegas juga
disebutkan dalam Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan dan sebagai
pelaksanaan dari Pasal 17 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.


PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Angka 1
Cukup jelas
Angka2
Cukup jelas
Angka 3
Registrasi bertujuan untuk mengetahui jumlah B3 yang beredar di Indonesia agar
dapat dilakukan pengawasan dari awal sehingga dapat mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Registrasi
merupakan langkah awal dalam pengelolaan B3.
Angka 4
Cukup jelas
Angka 5
Cukup jelas
Angka 6
Contoh B3 yang mudah terbakar dengan simbol api.
Angka 7
Label misalnya tulisan mudah meledak dan mudah terbakar.
Angka 8
Cukup jelas
Angka 9
Cukup jelas
Angka 10
Cukup jelas
138


Angka 11
Cukup jelas
Angka 12
Cukup jelas
Angka 13
Cukup jelas
Angka 14
Cukup jelas
Angka 15
Cukup jelas
Angka 16
Cukup jelas
Angka 17
Cukup jelas
Angka 18
Cukup jelas
Angka 19
Cukup jelas
Angka 20
Cukup jelas
Angka 21
Cukup jelas

Pasal 2
Cukup jelas

Pasal 3
Cukup jelas

Pasal 4
Cukup jelas

Pasal 5
Ayat (1)
Untuk dapat mengelola B3 dengan baik dan benar maka perlu diketahui klasifikasi B3
tersebut. Penjelasan klasifikasi dimaksud sebagai berikut :
a. Mudah meledak (explosive) adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar
(25
,
f t
0
C, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat
menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat
merusak lingkungan di sekitarnya. Pengujiannya dapat dilakukan dengan
menggunakan Dif eren ial Scanning Calorymetry (DSC) atau Differential
Thermal Analysis (DTA), 2,4-dinitrotoluena atau Dibenzoil-peroksida sebagai
senyawa acuan. Dari hasil pengujian tersebut akan diperoleh nilai temperatur
pemanasan. Apabila nilai temperatur pemanasan suatu bahan lebih besar dari
senyawa acuan, maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak.
b. Pengoksidasi (oxidizing)
Pengujian bahan padat yang termasuk dalam kriteria B3 pengoksidasi dapat
dilakukan dengan metoda uji pembakaran menggunakan ammonium persulfat
sebagai senyawa standar. Sedangkan untuk bahan berupa cairan, senyawa
standar yang digunakan adalah larutan asam nitrat. Dengan pengujian tersebut,
suatu bahan dinyatakan sebagai B3 pengoksidasi apabila waktu pembakaran
bahan tersebut sama atau lebih pendek dari waktu pembakaran senyawa
standar.

c. Sangat mudah sekali menyala (extremely flammable) adalah B3 baik berupa
padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala dibawah 0
0
C dan titik didih
lebih rendah atau sama dengan 35
0
C.

d. Sangat mudah menyala (highly flammable) adalah B3 baik berupa padatan
maupun cairan yang memiliki titik nyala 0
0
C - 21
0
C.

e. Mudah menyala (flammable) mempunyai salah satu sifat sebagai berikut :
1. Berupa cairan
139


Bahan berupa cairan yang mengandung alkohol kurang dari 24% volume
dan atau pada titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60
0
C (140
0
F) akan
menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api atau sumber nyala
lain pada tekanan udara 760 mmHg. Pengujiannya dapat dilakukan dengan
metode “Closed-Up Test”.

2. Berupa padatan
B3 yang bukan berupa cairan, pada temperatur dan tekanan standar (25
0
C,
760 mmHg) dengan mudah menyebabkan terjadinya kebakaran melalui
gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan dan
apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus dalam
10 detik. Selain itu, suatu bahan padatan diklasifikasikan B3 mudah
terbakar apabila dalam pengujian dengan metode “Seta Closed-Cup Flash
Point Test” diperoleh titik nyala kurang dari 40
0
C.
f. Cukup jelas

g. Cukup jelas

h. Beracun (moderately toxic)
B3 yang bersifat racun bagi manusia akan menyebabkan kematian atau sakit
yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut.


Tingkatan racun B3 dikelompokkan sebagai berikut :

Urutan Kelompok LD
50
(mg/kg)
1
2
3
4
5
6
Amat sangat beracun (extremly toxic)
Sangat beracun (highly toxic)
Beracun (moderately toxic)
Agak beracun (slightly toxic)
Praktis tidak beracun (practically non-
toxic)
Relatif tidak berbahaya (relatively
harmless)
< 1
1 – 50
51 – 500
501 – 5.000
5001 - 15.000
> 15.000



i. Berbahaya (harmful) adalah bahan baik padatan maupun cairan ataupun gas
yang jika terjadi kontak atau melalui inhalasi ataupun oral dapat menyebabkan
bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat tertentu.

j. Korosif (corrosive)
B3 yang bersifat korosif mempunyai sifat antara lain :
(1) Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit;
(2) Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja SAE 1020
dengan laju korosi lebih besar dari 6,35 mm/tahun dengan temperatur
pengujian 55
0
C;
(3) Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam dan
sama atau lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.

k. Bersifat iritasi (irritant)
Bahan baik padatan maupun cairan yang jika terjadi kontak secara langsung,
dan apabila kontak tersebut terus menerus dengan kulit atau selaput lendir
dapat menyebabkan peradangan.

l. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
Bahaya yang ditimbulkan oleh suatu bahan seperti merusak lapisan ozon
(misalnya CFC), persisten di lingkungan (misalnya PCBs), atau bahan tersebut
dapat merusak lingkungan.

140


m. Karsinogenik (carcinogenic) adalah sifat bahan penyebab sel kanker, yakni sel
liar yang dapat merusak jaringan tubuh.

n. Teratogenik (teratogenic) adalah sifat bahan yang dapat mempengaruhi
pembentukan dan pertumbuhan embrio.

o. Mutagenik (mutagenic) adalah sifat bahan yang menyebabkan perubahan
kromosom yang berarti dapat merubah genetika.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 6
Ayat (1)
Registrasi B3 dapat dilakukan dengan cara, antara lain, melalui surat menyurat
ataupun melalui e-mail.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Huruf a
Yang dimaksud sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku adalah, antara lain, untuk hasil produksi tambang, minyak dan
gas bumi, serta hasil olahannya diatur dalam peraturan perundang-
undangan di bidang energi dan sumber daya mineral.
Huruf b
Cukup jelas

Ayat (4)
Penyampaian tembusan kepada instansi yang bertanggung jawab dimaksudkan
sebagaimana wujud koordinasi agar impor dan peredaran B3 dapat diketahui oleh
instansi yang bertanggung jawab.

Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Dalam penetapan sistem registrasi nasional, instansi yang bertanggung jawab akan
membuat pedoman tentang tata cara registrasi yang antara lain memuat sistem
registrasi, muatan data yang perlu disampaikan oleh penghasil dan atau pengimpor
kepada instansi yang bertanggung jawab tentang pembuatan nomor registrasi.

Pemberian nomor registrasi tersebut diperlukan sebagai alat kontrol terhadap
peredaran B3 di Indonesia, sehingga dapat dengan mudah melakukan pengawasan
dan mencegah terjadinya dampak B3 terhadap lingkungan hidup..
Pasal 7
Cukup jelas

Pasal 8

Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Otoritas negara pengekspor adalah instansi yang berwenang di bidang lingkungan
hidup dari negara pengekspor.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 9
Ayat (1)
B3 baru adalah B3 yang baru pertama kali diimpor dan belum termasuk dalam daftar
B3 sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini.
141


Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Huruf a
Perubahan lampiran Peraturan Pemerintah ini dilakukan dalam waktu
tertentu.

Huruf b
Berdasarkan ketentuan internasional, instansi yang berwenang dalam
memberikan notifikasi B3 adalah instansi yang bertanggung jawab.
Sedangkan kewenangan menerbitkan izin impor merupakan kewenangan
instansi yang bertanggung jawab di bidang perdagangan. Oleh karena itu,
notifikasi tersebut perlu diteruskan ke instansi tersebut untuk penerbitan
atau penolakan izin impor.

Penerbitan izin tersebut diberikan setelah perubahan terhadap lampiran
Peraturan Pemerintah ini selesai dilakukan.

Pasal 10
Cukup jelas

Pasal 11

Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) berisi :
a. merek dagang;
b. rumus kimia B3;
c. jenis B3;
d. klasifikasi B3;
e. teknik penyimpanan; dan
f. tata cara penanganan bila terjadi kecelakaan.

Pasal 12
Cukup jelas

Pasal 13
Cukup jelas

Pasal 14
Cukup jelas

Pasal 15

Ayat (1)
Kemasan adalah tempat atau wadah untuk mengedarkan, menyimpan dan
mengangkut B3.
Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) dapat diperbanyak
dengan cara menggandakan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data
Sheet) sesuai dengan kebutuhan.
Pemberian symbol dan label pada setiap kemasan B3 dimaksudkan untuk mengetahui
klasifikasi B3 sehingga pengelolaannya dapa dilakukan dengan baik guna mengurangi
resiko yang dapat ditimbulkan dari B3.
Ayat (2)
Ketentuan tentang cara pengemasan, pemberian simbol dan label yang akan
ditetapkan oleh Kepala instansi yang betanggung jawab sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 16

Ayat (1)
Cukup jelas
142



Ayat (2)
Pengertian B3 yang dimaksud meliputi B3 yang masih dapat dikemas ulang dan B3
yang tidak dapat dikemas ulang.
Ayat (3)
Kaidah ilmiah adalah seperti hand book, tex book, dan manual. t

Pasal 17

Cukup jelas

Pasal 18
Ayat (1)
Tempat penyimpanan yang sesuai dengan persyaratan adalah suatu tempat tersendiri
yang dirancang sesuai dengan karakteristik B3 yang disimpan misalnya B3 yang
reaktif (reduktor kuat) tidak dapat dicampur dengan asam mineral pengoksidasi
karena dapat menimbulkan panas, gas beracun dan api. Juga tempat penyimpanan
B3 harus dapat menampung jumlah B3 yang akan disimpan. Misalnya suatu kegiatan
industri yang menghasilkan B3 harus menyimpan B3 ditempat penyimpanan B3 yang
mempunyai kapasitas yang sesuai dengan B3 yang akan disimpan dan memenuhi
persyaratan teknis kesehatan dan perlindungan lingkungan.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 19

Sistem tanggap darurat adalah mekanisme atau prosedur untuk menanggulangi terjadinya
malapetaka dalam pengelolaan B3 yang memerlukan kecepatan dan ketepatan penanganan,
sehingga bahaya yang terjadi dapat ditekan sekecil mungkin.

Pasal 20

B3 kadaluarsa adalah B3 karena kesalahan dalam penanganannya (handling) menyebabkan
terjadinya perubahan komposisi dan atau karakteristik sehingga B3 tersebut tidak sesuai
dengan spesifikasinya. Sedangkan B3 yang tidak memenuhi spesifikasi adalah B3 dalam proses
produksinya tidak sesuai dengan yang diinginkan (ditentukan).
Pasal 21

Ayat (1)
Pemerintah yang dimaksud adalah instansi yang berwenang di bidangnya seperti
perhubungan, pertanian, perindustrian dan perdagangan, energi dan sumber daya
mineral dan kesehatan.
Ayat (2)
Contoh Sub Komisi B3 antara lain Sub Komisi Pestisida.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 22
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah peraturan perundang-undangan
di bidang keselamatan dan kesehatan kerja.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas



143


Pasal 23
Ayat (1)
Uji kesehatan pekerja dan pengawas B3 dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 (satu)
kali dalam satu tahun, dengan maksud untuk mengetahui sedini mungkin terjadinya
kontaminasi oleh zat/senyawa kimia B3 terhadap pekerja dan pengawas.
Ayat (2)
Cukup jelas

Pasal 24

Kecelakaan B3 adalah lepasnya atau tumpahnya B3 ke lingkungan. Untuk mencegah meluasnya
dampak B3 tersebut, kecelakaan B3 perlu ditanggulangi dengan cepat dan tepat.

Keadaan darurat adalah eskalasi atau peningkatan kecelakaan B3 sehingga membutuhkan
penanganan yang lebih komprehensif.


Pasal 25
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Aparat Pemerintah Kabupaten/Kota setempat antara lain adalah aparat kecamatan
dan atau aparat desa/lurah.
Huruf d
Cukup jelas

Pasal 26

Langkah-langkah penanggulangan antara lain dapat berupa instruksi yang diberikan aparat
pemerintah daerah kepada masyarakat untuk menghindar dari lokasi kejadian dan menuju ke
tempat yang lebih aman.

Pasal 27
Cukup jelas

Pasal 28

Ayat (1)
Wewenang pengawasan masih dilakukan oleh pemerintah pusat karena pengelolaan
B3 banyak berkaitan dengan lintas batas propinsi dan atau lintas batas negara.

Yang dimaksud sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing misalnya di bidang
pengangkutan dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang
perhubungan dan di bidang lingkungan hidup dilakukan oleh instansi yang
bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup.

Ayat (2)
Hal tertentu adalah keadaan dimana pemerintah daerah sudah mampu
melaksanakan pengawasan di bidang pengelolaan B3.

Ayat (3)
Cukup jelas
Pasal 29

Tanda pengenal dan surat tugas ini penting untuk menghindari adanya petugas-petugas
pengawas palsu, atau untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang. Tanda pengenal
minimal memuat nama, nomor induk pegawai, foto yang bersangkutan serta nama instansi
pemberi tugas.



144


Pasal 30
Cukup jelas

Pasal 31
Cukup jelas


Pasal 32

Potensi dampak yang perlu diberitahukan kepada masyarakat bukan hanya dampak negatifnya
saja tetapi juga dampak positif dari adanya usaha dan atau kegiatan pengelolaan B3 tersebut.

Pasal 33
Cukup jelas

Pasal 34

Penyebarluasan pemahaman tentang B3 dapat dilakukan antara lain
melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan.

Pasal 35

Ayat (1)
Hak atas informasi tentang kegiatan di bidang pengelolaan B3 merupakan
konsekuensi logis dari hak dan peran masyarakat dalam pengelolaan B3 yang
berdasarkan pada azas keterbukaan. Hak atas informasi tersebut akan meningkatkan
nilai dan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan B3, di samping akan
membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat. Informasi tersebut dapat berupa data, keterangan, atau
informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan B3 yang menurut sifat dan
tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat, seperti dokumen analisis
dampak lingkungan hidup, laporan dan evaluasi hasil pemantauan pengelolaan B3,
baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan
hidup.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 36

Peran dimaksud meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan, baik dengan cara
mengajukan keberatan, maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian
analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup.
Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Dengan keterbukaan dimungkinkan
masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam
pengambilan keputusan di bidang pengelolaan B3.

Pasal 37
Sumber dana lain adalah seperti dana lingkungan atau dana bantuan dari organisasi/asosiasi
tertentu.

Pasal 38
Cukup jelas


Pasal 39

Ayat (1)
Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability, yakni unsur
kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran
145


ganti kerugian. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang
perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Besarnya nilai ganti kerugian yang
dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut pasal
ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu.
Yang dimaksud sampai batas tertentu, adalah jika menurut penetapan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan
atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup
Ayat (2)
Cukup jelas

Ayat (3)
Yang dimaksud tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan
curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah.

Pasal 40
Cukup jelas

Pasal 41
Cukup jelas

Pasal 42
Cukup jelas

Pasal 43
Cukup jelas




TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4153





146
LAMPIRAN I
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : 74 TAHUN 2001
TANGGAL : 26 NOVEMBER 2001

Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dipergunakan

No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
1 540-59-0 1,2-dikloroetilena Acetylene dichloride; 1,2-
dichloroethylene; 1,2-dichloroethene; 1,2-
dichloroethylene; sym-dichloroethylene;
Dioform.
C
2
H
2
Cl
2

2 79-06-1 Akrilamida Acrilylamide; 2-propenamide C
3
H
5
NO
3 107-13-1 Akrilonitril Acrylonitrile; 2-propenitrile; Vinyl
cyanide; Cyanoethylene; Acritet;
Fumigrain; Ventox
C
3
H
3
N
4 107-02-8 Akrolein Acrolein; 2-propenal; Acrilic aldehide;
Acrylaldehyde; Acraldelhyde; Aqualin
C
3
H
4
O
5 107-18-6 Alil Alkohol Allyl alcohol; 2-propen-1-ol; 1-propenol-
3; Vinyl carbinol.
C
3
H
6
O
6 ‘7446-70-0 Aluminium chloride Hexahydrate; Aluwets; Ahydrol; Drictor AlCl
3

7 7664-41-7 Amoniak Ammonia NH
3

8 62-53-3 Anilin Anilene; Benzanamine; Aniline oil;
Phenylamine; Aminobenzene; Aminophen;
Tyanol
C
6
H
7
N
9 ‘7440-37-1 Argon - Ar
10 1327-53-3 Arsen (III) Oksida Arsenous oxide; Arsenous acid; Arsenous
acid anhydrid; Arsenous oxide, Arsenic
sesquioxide white arsenic
As
2
O
3

11 7784-34-1 Arsen Triklorida Arsenic Trichloride; Butter of arsenic;
Fuming liquid Arsenic.
AsCl
3

12 7784-42-1 Arsin Arsine; Arsenic tryhydride; Hydrogen
arsenide
AsH
3

13 79-10-7 Asam Akrilat Acrylic acid; 2-propenic acid vinylformic C
3
H
4
O
2

14 64-19-7 Asam Asetat Acetic acid; Aci-Jel CH
3
COOH
15 64-18-6 Asam Formiat Formic acid; Ameisensaure CH
2
O
2

16 7664-38-2 Asam Posfat Phosphoric acid; Orthophosphoric acid H
3
PO
4

17 7647-01-0 Asam Klorida Hydrochloric acid; Hydrogen cloride;
Anhidrous hydrocloric acid
HCl
18 79-11-8 Asam Kloroasetat Chloroacetic Acid; Chloroethanoic acid;
Monochloroacetic acid; MCA.
C
2
H
3
ClO
2

No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
19 144-62-7 Asam Oksalat Oxalic acid; Ethanedioic acid C
2
H
2
O
4

20 79-21-0 Asam Perasetat Pereatic acid; Ethaneperoxide bacid;
peroxy acetic acid; Acetyl hydroperoxide
C
2
H
4
O
3

21 7601-90-3 Asam Perklorat Perchloric Acid. HClO
4

22 88-89-1 Asam pikrat Picric Acid; 2,4,6-trinitrophenol; Pieronitric C
6
H
3
N
3
O
7

263
147
acid; Carbazotic acid; nitroxanthic acid.
23 74-90-8 Asam Sianida Hydrogen cyanide; Hydrocyanic acid;
Blausaure; Prussic acid
HCN
24 7664-93-9 Asam Sulfat Sulfuric Acid; Oil of Vitriol H
2
SO
4

25 100-21-0 Asam Teraftalik Teraphtalic acid; 1,4-
benzenedicarboxyclic acid; p-pthalic acid,
Tepthol
C
8
H
6
O
4

26 - Asbestos Amianthus; Chrysolite {Mg
6
(Si
4
O
10
)(OH)
8
}
27 74-86-2 Asetilen Acetylene; Ethyne; Ethine C
2
H
2

28 75-05-8 Asetonitril Acetonitrile; Methyl cynide;
Cyanomethane; Ethane nitrite
C
2
H
3
N
29 7446-09-5 Belerang dioksida Sulphure dioxide; Sulfurous anhydride;
Sulfurous oxide
SO
2

30 100-44-7 Bensil Klorida Benzil chloride; (chloromethyl)benzene;
Alpha-chlorotoluena
C
7
H
7
Cl
31 71-43-2 Benzena Benzene; Benzol; Cyclo hexatriene C
6
H
6

32 7637-07-02 Boron Trifluorida Boron Trifluoride - BF
3

33 7726-95-6 Brom Bromine Br
2

34 106-97-8 Butana n-butane C
4
H
10

35 19287-45-7 Diboran Diborane; Boroethane;
Diboronhexahydride
B
2
H
6

36 111-42-2 Dietanolamine Diethanolamine; 2,2-iminobisethanol;
diethylolamine; bis(hydroxyethyl)amine
C
4
H
11
N
37 60-29-7 Dietil Eter Diethyl ether; 1,1-oxybisethane;
Ethoxyethane; Ether; Dietyl ether; Ethyle
oxide; Sulfuric ether; Anesthetic ether
C
4
H
10
O
38 109-89-7 Dietilamina Diethylamine; N-ethylethanamine C
4
H
11
N
39 111-46-6 Dietilena Glikol Dethylene glycol; Beryllium diethyl. C
4
H
10
N
40 68-12-2 Dimetil Fornamida Dimethyl Fornamide; DMF; DMFA. C
3
H
7
NO
41 77-78-1 Dimetil Sulfat Dimethyl sulphate; Sulfuric acid dimethyl
ester; DMS
C
2
H
6
O
4
S
No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
42 505-22-6 Dioksana Dioxane C
4
H
8
O
2

43 74-84-0 Etana Dimethyl; Methyl methane; Ethyl hidride C
2
H
4

44 141-43-5 Atanolamine 2-aminoethanol C
2
H
7
NO
45 140-88-5 Etil Akrilat Athyl acrylate; 2-propenoic acid ethyl
ester; acrylic acid ethyl ester
C
5
H
8
O
2

46 64-17-5 Etil Alcohol Ethanol; Absolute alcohol; Anhydrous
alcohol; Dehydrated alcohol; Ethyl
hydrate; Ethyl hydroxide
C
2
H
6
O
47 75-00-3 Etil Klorida Ethyl chloride; Chloroethane;
Monochloroethane; chlorethyl; Aethylis
chloridum; Ether chloradus;
Etherhydrochloric; Ether muriatic; Kelene;
Chelen; Anodynon; Chlory anesthetic;
Narcotile
C
2
H
5
Cl
48 107-15-3 Etilena Diamina Ethylene Diamine; 1,2-ethanediamine; C
2
H
8
N
2

264
148
1,2-diaminoethane.
49 107-21-1 Etilen Glikol Ethylene glycol; 1,2-etahnediol C
2
H
6
O
2

50 75-21-8 Etilen Oksida Ethylene oxide; Oxirane; Anprolene C
2
H
4
O
51 74-85-1 Etilena Ethylene; Ethane; Elayl; Olefiant gas C
2
H
4

52 108-95-2 Fenol Phenol; Carbolic acid; Phenic acid;
Phenilic acid; Phenyl hidroxide;
Hidroxybenzene; Oxybenzene
C
6
H
5
OH
53 50-00-0 Formaldehida Formaldehyde; Oxomethane;
oxymethylene; Methylene oxide; Formic
aldehyde; Methyl aldehyde
CH
2
O
54 50-00-0 Formalin (larutan) Formaldehyde Solution; Formalin,
Formol, Morbicid; Veracur
CH
2
O
55 75-44-5 Fosgen Phosgene; Carbonic dichloride; Carbonyl
chloride; Chloroformyl chloride
CCl
2
O
56 85-44-9 Ftalik Anhidrida Pthalic anhydride; 1,3-
isobenzofurandione
C
8
H
4
O
3

57 98-01-1 Furfural Furfural; 2-furancarboxyaldehide; 2-
furaldehide; Pyromuric aldehide; Artificial
oil of ants; Fulfurol
C
5
H
4
O
2

58 7782-41-4 Gas Fluor Fluorine; F F
2

59 56-81-5 Gliserol Glyserol; 1,2,3-propanetriol; Glycerin;
Trihydroxypropane; IFP; Opthalgan
C
3
H
8
O
3

60 111-30-8 Glutaraldehyde Pentanediol C
5
H
8
O
2

61 100-97-0 Heksametilenatetramina Hexamethylenetetramine; 2-methyl-1,3-
butadiene
C
6
H
12
N
4

62 110-54-3 Heksana Hexane - C
6
H
14

63 302-01-2 Hidrasin Hydrazine; Hidrazine anhydrous H
4
N
2

64 1333-74-0 Hidrogen Hydrogen; Protium H
2

No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
65 7664-39-3 Hidrogen Flourida Hydrogen Fluoro acid; Fluohydric acid HF
66 7722-84-1 Hidrogen Peroksida Hydrogen peroxide; Hydrogen dioxide;
Hydroperoxide; Hioxyl
H
2
O
2

67 7783-07-5 Hidrogen Selenida Hydrogen Selenide; Selenium hydride. H
2
Se
58 7783-06-4 Hidrogen Sulfida Hydrogen sulphide; Sulfurated hydrogen;
Hydrosulfuric acid
H
2
S
69 123-31-9 Hidrokwinon Hydroquinone; 1,4-benzodiol; p-
dihydroxybenzene; Quinol; Aida; Black
and white bleaching cream; Eldoquine;
Eldopaque; Quinnone; Techquinol.
C
6
H
6
O
2

70 540-84-1 Isooktana Iso octane; 2,2,4-trimethylpentane;
Isobutyl trimethyl methane
C
8
H
18

71 78-79-5 Isoprena Methanamine; HMT; HMTA; Hexamine;
1,3,5,7-tetraazaadamantane; Aminororn;
Ammoform; Cystamin; Cytogen; Formin;
Uritore; Urotropin
C
5
H
8

72 67-63-0 Isopropil alcohol 2-propanol C
3
H
8
O
73 - Kalium Almuminium Sulfat - KAl(SO
4
)
2

265
149
74 1310-58-3 Kalium hidroksida Potash KOH
75 151-50-8 Kalium sianida - KCN
76 124-38-9 Karbon dioxida Carbonic acid gas CO
2

77 75-15-0 Karbon disulfida Carbon disulfide; Carbon bisulfide; Dithio
carbonic anhydride
CS
2

78 7440-44-0 Karbon hitam Amorphous C
79 630-08-0 Karbonmonoksida Carbon monoxide CO
80 7782-50-5 Klor Chlorine Cl
2

81 67-66-3 Kloroform Chloroform; Trichloromethane. CHCl
3

82 123-73-9 Kroton Aldehida Croton Aldehyde. C
4
H
6
O
83 106-42-3 Ksilena Xylene; Dimethylbenzene; Xylol C
5
H
4
(CH
3
)
2

84 108-78-1 Melamina Melamine; 1,3,5-triazine; 2,4,6-triamine;
2,4,6-triamino-s-triazine;
Cyanurotriamide.
C
3
H
6
N
6

85 7487-97 Merkuri klorida Mercuric Choride; Mercury bichloride;
Corrosive sublimate; Mercury perchloride;
Corrosive mercury chloride
HgCl
2

86 21908-53-2 Merkuri Oksida Mercuric oxide HgO
87 74-82-8 Methane - CH
4

88 67-56-1 Metanol Methylalcohol; Carbinol; Wood spirit;
Wood alcohol
CH
3
OH
89 96-33-3 Metil Akrilat Methyl acrilate; 2-propenoic acid methyl
ester; acrylic acid methyl ester
C
4
H
6
O
2

90 78-93-3 Metil Etil Keton Methyl ethyl ketone; 2-butanone;
Ethylmethyl ketone; MEK; 2-oxobutane
C
4
H
8
O
91

624-83-9 Metil Iso Sianat Methyl isocyanate; Isocyanatomethane;
Isocyanic acid methyl ester; MIC
CH
3
-NCO
92 74-93-1 Metil Merkaptan Methanethiol; Mercaptomethane;
Thiomethyl alcohol; Methyl sufhydrate
CH
4
S
93 75-09-2 Metilen Klorida Dichloromethane; Methylene dichloride;
Methylene bichloride.
CH
2
CL
2

94 108-10-1 Metilisobutilketon Isopropylacetone; 4 methyl-2-pentanone;
Methyl isobutyl ketone; Hexone
C
6
H
12
O
95 141-43-5 Monoetanolamina 2-aminoethanol; monoethanolamine;
beta-aminiethyl alcohol; 2-
hydroxyethylamine; Ethylolamine;
Colamine
C
2
H
7
NO
96 26628-22-8 Natrium Asida Sodium Azide; Smite NaN
3

97 1330-43-4 Natrium borat kristal Sodium biborate; Sodium pyro borat;
Sodium tetra borat
Na
2
B
4
O
7

98 1310-73-2 Natrium Hidroksida Sodium hydroxide; Caustic soda; Soda
lye, Sodium hydrate
NaOH
99 7681-52-9 Natrium Hipoklorit Sodium Hypochlorite - NaOCl
100 7775-11-3 Natrium Kromat Sodium chromate(VI); Neutral sodium
chromate
Na
2
CrO
4

101 142-82-5 n-Heptana n-Heptane - C
7
H
16

102 13463-39-3 Nikel Karbonil Nickel carbonyl; Nikel tetracarbonyl Ni(CO)
4

103 54-11-5 Nikotin Nicotine; Nicorette C
10
H
14
N
2

266
150
104 98-95-3 Nitrobenzena Mitrobenzol; Essence of mirbane; Oil of
mirbane
C
6
H
5
NO
2

105 7727-37-9 Nitrogen Nitrogen N
2

106 10102-44-0 Nitrogen Dioksida Nitrogen dioxide NO
2

107 71-23-8 n-Propil Alkohol n-propyl alcohol; 1-propanol; Popylic
alcohol; Optal
C
3
H
8
O
108 95-48-7 O-kresol Cresol-O; 2-methylphenol; o-cresylic
acid; o-hydroxytoluene; Tolanol; Barnard;
Meyer.
C
7
H
8
O
109 95-53-4 O-toluidine 2-methylbenzamine; 2-aminotoluena; 2-
methylaniline
C
7
H
9
N
110 10028-15-6 Ozon Ozone; Triatomic oxygen O
3

No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
111 106-46-7 p-Diklorobenzena Paracide; PDB; Paradichlorobenzene;
Para-zene; Di chloricide; Paramoth
C
6
H
4
Cl
2

112 87-86-5 Pentaklorofenol Penta; PCP; Penchloraol; Santhophene 20 C
6
HCl
5
O
113 109-66-0 Pentana n-pentana C
5
H
12

114 7761-88-8 Perak nitrat - AgNO
3

115 Petroleum eter
116 110-86-1 Piridin Pyridine - C
5
H
5
N
117 1314-56-3 Posfor Pentaoksida Phosphorouspentaoxide; Phosphoric
anhydride; Disphosphorous pentoxide
P
2
O
5

118 7719-12-2 Posfor Triklorida Phosphorous trichloride; Phosphoric
chloride
PCl
3

119 74-98-6 Propana n-propana C
3
H
8

120 75-56-9 Propilen Oksida Propylene Oxide; Methyl oxirane;
Propene oxide.
C
3
H
6
O
121 108-46-3 Resorsinol 1,3-benzenediol; m-dihydroxybenzene;
Resorcin
C
6
H
6
O
2

122 7646-85-7 Seng Klorida Zinc Chloride; Butter zinc. ZnCl
2

123 110-82-7 Sikloheksana Cyclohexane; Hexahydrobenzene;
Hexamethylene; Hexanapthene
C
6
H
10
O
124 108-94-1 Sikloheksanon Cyclohexanone; Ketohexamethylene;
Pimelic ketone; Hytrol; Hytrol O; Anone;
Nadone
C
6
H
12

125 109-99-1 Tetrahidrofuran Diethylene oxide; Tetra methylene oxide C
4
H
8
O
126 127-18-4 Tetrakloroetilena Tetrachloroethane; Perchloroethylene;
Ethylene tetrachloride; Tetra chloro
ethylene; Nema; Tetracap; Tetropil;
Perclene; Ankilostin; Didakene
C
2
Cl
4

127 7439-92-1 Timbal (timah hitam) Lead. Pb
128 1309-60-6 Timbal dioksida Lead dioxide; Lead oxide brown; Lead
peroxide; Lead superoxide
PbO
2

129 78-00-2 Timbal Tetraetil Tetraethyl Lead; Tetraethylplumbune;
Lead tetraethyl, TEL
C
8
H
20
PB
130 108-88-3 Toluena Methylbenzene; Totuol; Phenylmethane;
Methacida
C
6
H
5
CH
3

267
151
131 584-84-9 Toluena-2,4-diisosianat Toluene-2,4-diisocyanate; 2,4-
diisocyanatoluena; 2,4-tolylena
diisocyanate; TDT; Nacconate 100.
C
9
H
6
N
2
O
2

132 118-96-7 Trinitrotoluena TNT; Alpha-trinitrotoluol; sym-
trynitrotoluene; 1-methyl-2,4,6-
trinitrobenzene; Trotyl; Tolit; Trilit
C
7
H
5
N
3
O
6

133 1314-62-1 Vanadium Pentoksida Vanadium Pentoxide; Vanadic anhydride. V
2
O
5

134 108-05-4 Vinil Asetat Acetic acid ethenyl ester; acetic acid vinyl
ester
C
4
H
6
O
2

135 - HCFC – 21 *) Dichlorofluoromethane CHFCl
2

No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
136 - HCFC – 22 *) Chlorodifluoromethane CHF
2
Cl
137 - HCFC – 31 *) Chlorofluoromethane CH
2
FCl
138 - HCFC – 121 *) Tetrachlorofluoroethane C
2
HFCl
4

139 - HCFC – 122 *) Trichlorodifluoroethane C
2
HF
2
Cl
3

140 - HCFC – 123 *) Dichlotrifluoroethane C
2
HF
3
Cl
2

141 - HCFC – 123 ** *) Dichlotrifluoroethane CHCl
2
CF
3

142 - HCFC – 124 *) Chlorotetrafluoroethane C
2
HF
4
Cl
143 - HCFC – 124** *) Chlorotetrafluoroethane CHFClCF
3

144 - HCFC – 131 *) Trichlorofluoroethane C
2
H
2
FCl
3

145 - HCFC – 132 *) Dichlorodifluoroethane C
2
H
2
F
2
Cl
2

146 - HCFC – 133 *) Chlorotrifluoroethane C
2
H
2
F
3
Cl
147 - HCFC – 141 *) Dichlorofluoroethane C
2
H
3
FCl
2

148 - HCFC – 141b** *) Dichlorofluoroethane CH
3
CFCl
2

149 - HCFC – 142 *) Chlorodiluoroethane C
2
H
3
F
2
Cl
150 - HCFC – 142b** *) Chlorodiluoroethane CH
3
CF
2
Cl
151 - HCFC – 151 *) Chlorofluoroethane C
2
H
4
FCl
152 - HCFC – 221 *) Hexachlorofluoropropane C
3
HFCl
6

153 - HCFC – 222 *) Pentachlorodifluoropropane C
3
HF
2
Cl
5

154 - HCFC – 223 *) Tetrachlorotrifluoropropane C
3
HF
3
Cl
4

155 - HCFC – 224 *) Trichlorotetrafluoropropane C
3
HF
4
Cl
3

156 - HCFC – 225 *) Dichloropentafluoropropane C
3
HF
5
Cl
2

157 - HCFC – 225ca** *) Dichloropentafluoropropane CF
3
CF
2
CHCl
2

158 - HCFC – 225cb** *) Dichloropentafluoropropane CF
2
ClCF
2
CHClF
159 - HCFC – 226 *) Chlorohexafluoropropane C
3
HF
6
Cl
160 - HCFC – 231 *) Pentachlorofluoropropane C
3
H
2
FCl
5

161 - HCFC – 232 *) Tetrachlorodifluoropropane C
3
H
2
F
2
Cl
4

162 - HCFC – 233 *) Trichlorotrifluoropropane C
3
H
2
F
3
Cl
3

163 - HCFC – 234 *) Dichlorotetraflouropropane C
3
H
2
F
4
Cl
2

164 - HCFC – 235 *) Chloropentaflouropropane C
3
H
2
F
5
Cl
165 - HCFC – 241 *) Tetrachlorofluoropropane C
3
H
3
FCl
4

166 - HCFC – 242 *) Trichlorodifluoropropane C
3
H
3
F
2
Cl
3

167 - HCFC – 243 *) Dichlorotrifluoropropane C
3
H
3
F
3
Cl
2

268
152
No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
168 - HCFC – 244 *) Chlorotetrafluoropropane C
3
H
3
F
4
Cl
169 - HCFC – 251 *) Trichlorofluoropropane C
3
H
4
FCl
3

170 - HCFC – 252 *) Dichlorodifluoropropane C
3
H
4
F
2
Cl
2

171 - HCFC – 253 *) Chlorotrifluoropropane C
3
H
4
F
3
Cl
172 - HCFC – 261 *) Dichlorofluoropropane C
3
H
5
FCl
2

173 - HCFC – 262 *) Chlorodifluoropropane C
3
H
5
F
2
Cl
174 - HCFC – 271 *) Chlorofluoropropane C
3
H
6
FCl
175 - CHFBr
2
*) Dibromofluoromethane
176 - CHF
2
Br - HBFC – 22B1
*)
Bromodifluoromethane
177 - CH
2
FBr *) Bromofluoromethane
178 - C
2
HFBr
4
*) Tetrabromofluoroethane
179 - C
2
HF
2
Br
3
*) Tribromodifluoroethane
180 - C
2
HF
3
Br
2
*) Dibromotrifluoroethane
181 - C
2
HF
4
Br *) Bromotetrafluoroethane
182 - C
2
H
2
FBr
3
*) Tribromofluoroethane
183 - C
2
H
2
F
2
Br
2
*) Dibromodifluoroethane
184 - C
2
H
2
F
3
Br *) Bromotrifluoroethane
185 - C
2
H
3
FBr
2
*) Dibromofluoroethane
186 - C
2
H
3
F
2
Br *) Bromodifluoroethane
187 - C
2
H
4
FBr *) Bromofluoroethane
188 - C
3
HFBr
6
*) Hexabromofluoropropane
189 - C
3
HF
2
Br
5
*) Pentabromodifluoropropane
190 - C
3
HF
3
Br
4
*) Tetrabromotrifluoropropane
191 - C
3
HF
4
Br
3
*) Tribromotetrafluoropropane
192 - C
3
HF
5
Br
2
*) Dibromopentafluoropropane
193 - C
3
HF
6
Br *) Bromohexafluoropropane
194 - C
3
H
2
FBr
5
*) Pentabromofluoropropane
195 - C
3
H
2
F
2
Br

*) Tetrabromodifluoropropane
196 - C
3
H
2
F
3
Br

*) Tribromotrifluoropropane
197 - C
3
H
2
F
4
Br

*) Dicbromotetrafluoropropane
198 - C
3
H
2
F
5
Br *) Bromopentafluoropropane
No
No. Reg.
Chemical
Abstract Service
Nama Bahan Kimia Sinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul
199 - C
3
H
3
FBr
4
*) Tetrabromofluoropropane
200 - C
3
H
3
F
2
Br
3
*) Tribromodifluoropropane
201 - C
3
H
3
F
3
Br
2
*)

Dibromotrifluoropropane
202 - C
3
H
3
F
4
Br *) Bromotetrafluoropropane
203 - C
3
H
4
FBr
3
*) Tribromofluoropropane
204 - C
3
H
4
F
2
Br

*) Dibromodifluoropropane
269
153
270
205 - C
3
H
4
F
3
Br *) Bromotrifluoropropane
206 - C
3
H
5
FBr
2
*) Dibromofluoropropane
207 - C
3
H
5
F
2
Br *) Bromodifluoropropane
208 - C
3
H
6
FBr *) Bromofluoropropane
209 - CH
2
BrCl *) Bromochloromethane
Catatan : *) adalah B3 dengan batas waktu yang boleh dipergunakan sampai dengan tahun 2040





PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

ttd

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI


Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi Sekretaris Kabinet
Bidang Hukum dan
Perundang-undangan,

ttd

Lambock V. Nahattands

















154

LAMPIRAN II
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA
NOMOR : 74 TAHUN 2001
TANGGAL : 26 November 2001

TABEL 1. Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dilarang dipergunakan
No No. Reg.
Cmenical
Abstract Serv.
Nama
Bahan Kimia
Sinonim/Nama Dagang
Rumus Molekul
1 309-00-2 Aldrin HHDN C
12
H
8
Cl
6

2 57-74-9 Chlordane CD68; Velsicol 1068; Toxichlor; Niran; Octachlor; Orthoclor;
Synclor; Belt; Corodane.
C
10
H
6
Cl
8

3 50-29-3 DDT Dichlorodiphenyltrichloroethane; D-58; Chlorophenothane;
Clofenotane; Dicophane; pentachlorin; p,p-DDT; Agritan;
Gesapon; Gesarex; Gesarol; Guesapon; Neocid.
C
14
H
9
Cl
5

4 60-57-1 Dieldrin Compound 497; ENT 16225; HEOD; Insectiside No.497; Octalox C
12
H
8
Cl
6
O
5 72-20-8 Endrin Compound 269; ENT 17251; Mendrin; Nendrin; Hexadrin C
12
H
8
Cl
6
O
6 76-44-8 Heptachlor E3314, Velsicol 104; Drinox; Heptamul C
10
H
5
Cl
7

7 2385-85-5 Mirex C6-1283; ENT 25719; Dechlorane; Hexachloropentadienedimer C
10
Cl
12

8 8001-35-2 Toxaphene Hercules 3956; Polychlorocamphene; Clorinatedcamphene;
Campheclor; Altox; Geniphene; Motox, Penphene; Phenacide;
Phenatox; Strobane-T; Toxakil.
C
10
H
10
Cl
8

9 118-74-1 Hexachlorobenzene Polychlorobenzene; Anticarie;
Bunt-cure; Bunt-no-more; Julins Carbon Chloride
C
6
Cl
6

10 1336-36-3 PCBs Polychlorinated Biphenyls; Chlorobiphenyls; Aroclor; Clophen;
Fenclor; Kenachlor; Phenochlor; Pyralene; Santotherm.
C
12
X
X=H or Cl


TABEL 2. Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang terbatas dipergunakan


No No. Reg.
Cmenical
Abstract
Serv.
Nama Bahan Kimia Sinonim/Nama Dagang Rumus Molekul
1 93-76-5 2,4,5-T Esterone 245; Trioxone; Weedone. C
8
H
5
Cl
3
O
3

2 2425-06-1 Captafol Difolatan C
10
H
9
Cl
4
NO
2
S
3 6164-98-3 Chlordimeform (CDM) CDM; Ciba-8514; Schering 36,268; Spanon;
Fundal; Gulecton; Chlorophenamidine
C
10
H
13
ClN
2

4 510-15-6 Chlorobenzilate Compound 338; G23922; Acaraben; Akar; Folbex;
Ethyl 4,4-dichloro benzilate; Ethyl 2-hydroxy-
2,2bis (4-chlorophenil)acetate.
C
16
H
14
Cl
2
O
3

5 88-85-7 Dinoseb dan garam-garam dinoseb
(DNBP)
DNBP; ENT 1122; WX-8365; Chemax PE; Dow
General; Premerge; Subitex; Caldon; Basanite
C
10
H
12
N
2
O
5

6 106-93-4 Ethylene Dibromida (EDB) EDB, Dowfume WW.85; 1,2-dibromoethane;
ethyleenebromide; sym-dibromoethane;
C
2
H
4
Br
2

7 640-19-7 Fluoroacetamide 1081; Fluoroacetic acid amide;
Monofluoroacetamide; Fussol; Fluorakil 100;
C
2
H
4
FNO
8 608-73-1 Hexachlorocyclohexane (HCH) dan
campuran isomernya
ENT 7796; Gama-HCH; Gama-BHC; Gama-
hexachlor; Aparasin; Aphtirin; Esodern;
Gammalin; Gamane; Ganniso; Gammaxene;
Gexane; Jacutin; K-well Lindafoa; Lindatox;
Laroxane; Quellada; Streunex; Tri-6; Vitou.
C
6
H
6
Cl
6

9 58-89-9 Lindane C
6
H
6
Cl
6

155
No No. Reg.
Cmenical
Abstract
Serv.
Nama Bahan Kimia Sinonim/Nama Dagang Rumus Molekul
10 Senyawa merkuri termasuk:
1. Anorganik merkuri
2. Alkyl merkuri
3. Alkyloxyalkyl merkuri
4. Aryl merkuri

11 87-86-5 Pentachlorophenol PCP; Ponta; Penchloroe; Santhophene 20. C
6
HCl
5
O
12 6923-22-4 Monocrotophos (terlarut dalam
formulasi melebihi 600 gr active
ingredient/liter
5D9129; ENT 27129; Monocron; Azodrin;
Nuracron.
C
7
H
14
NO
5
P
13 10265-92-6
Methamidophos (terlarut dalam
formulasi melebihi 600 gr active
ingredient/liter)
Bayer; ENT 27396; Otrho 9006; SRA 5172;
Monitor; Tamaron
C
2
H
8
NO
2
PS
14 13171-21-6 Phosphamidon (terlarut dalam
formulasi melebihi 1000 gr active
ingredient/liter)
Ciba 570; ENT 25515; Dimecron C
10
H
19
ClNO
5
P
15 298-00-0 Methyl-parathion (Emulsi dengan
kandungan 19,5%, 40%, 50%,
60% active ingredient. Debu
dengan kandungan 1,5%, 2%, 3%
active ingredient)
E 601; ENT 17292; Dalf(Obsolute) Dimethyl
parathion; parathion-methyl; Metron Penncap M;
Metron; Folidol-M; Metacide Metaphos; Nitrox 80.
C
8
H
10
NO
5
PS
16 56-38-2 Parathion (seluruh formulasi :
aerosol, dustable powder (DP),
emulsifiable concentrate (EC),
granular (GR) dan wettable powder
(WP) kecuali capsule suspension
(CS)
DNTP; 5NP; E-605; AC 3422; ENT 15108; Alkron;
Alleron; Aphamile; Diethyl-p-nitrophenylmonothio
phosphate; Etilon; Folidol; Fosferone; Niran;
Raraphos; Rhodiatox; Thiphos
C
10
H
14
NO
5
PS
17 12001-28-4 Crocidolite - -
18 36355-01-8
(hexa- )
27858-07-7
(octa- )
13654-09-6
(deca- )
Polybrominated biphenyls (PBBs) Brominated biphenyls; polybromobiphenyls C
12
X
X = H or Br
19 61788-33-8 Polychlorinated terphenyls (PCTs) Chlorinated biphenyls; Chlorobiphenyls; Aroclor;
Chlopen; Fenclor; Keneclor; Phenoclor; Pyrulene;
Santotherm

20 126-72-7 Tris-BP Tris(2,3-dibromopropyl) phosphate; Apex 462-5;
Flammex AP; Flammex T 23P; Firemaster LV-
T23P; Firemaster T 23P; T 23P, Fyrol HB-32
C
9
H
15
Br
6
O
4
P
21 7439-97-6 Mercury/Air Raksa Liquid Silver; Hydrargyrum; Liquid silver;
Quicksliver
Hg
22 107-06-2 Ethylene Dichloride 1.2-dichloroethane; Sym-dichloroethane; Ethylene
cloride; EDC; Dutch liquid; Brocide
C
2
H
4
Cl
2

23 75-21-8 Ethylene Oxide Oxirane; Orixane, Anprolene C
2
H
4
O
24 56-23-5 CCL4 (Karbon Tetraklorida) Tetrachloromethane; Perchloromethane;
Necatorina; Bezinoform
CCl
4

25 71-55-6 TCA (1,1,1 Trikhloroethane) Methylchloroform; Chorothene C
2
H
3
Cl
3

26 75-69-4 CFC-11 Trichloromonofluoromethane;
Fluorotrichloromethane; Freon 11; frigen 11;
Areton 11

CCl
3
F
156
No No. Reg.
Cmenical
Abstract
Serv.
Nama Bahan Kimia Sinonim/Nama Dagang Rumus Molekul
27 75-71-8 CFC-12 Dichlorodifluoromethane; Areton 12; Freon 12;
Frigen 12; Genetron 12; Halon; Isotron 2
CCl
2
F
2

28 - CFC-113 Trichlorotrifluoroethane C
2
Cl
3
F
29
-
CFC-114 Dichlorotetrafluoroethane; Cryfluorane; Freon
114r; Frigen 114; Areton 114
C
2
Cl
2
F
4

30 - CFC-115 Chloropentafluoroethane C
2
ClF
5

31 - CFC-13 Chlorotrifluoromethane CClF
3

32 - CFC-112 Tetrachlorodifluoroethane C
2
Cl
4
F
2

33 - CFC-111 Pentachlorofluoroethane C
2
Cl
5
F
34 - CFC-217 Chloroheptafluoropropane C
3
Cl
7
F
35 - CFC-216 Dichloroheksafluoropropane C
3
Cl
2
F
6

36 - CFC-215 Trichloropentafluoropropane C
3
Cl
3
F
5

37 - CFC-214 Tetrachlorotetrafluoropropane C
3
Cl
4
F
4

38 - CFC-213 Pentachlorotifluoropropane C
3
Cl
5
F
3

39 - CFC-212 Heksakchlorodifluoropopane C
3
Cl
6
F
2

40 - CFC-211 Heptachlorofluoropropane C
3
Cl
7
F
41 - Halon-1211 Bromochlorodifluoromethane CBrClF
2

42 - Halon-1301 Bromotrifluoromethane CBrF
3

43
- Halon-2402 Dibromotetrafluoroethane C
2
Rbr
2
F
4

44 - R-502 (Campuran mengandung
turunan perhalogenasi dari HC
Asiklik mengandung dua atau lebih
halogen berbeda :
- Mengandung HC, Asiklik
perhalogenasi hanya fluor dan
Khlor
- Mengandung R-115/ HCFC-22
(Chlorodifluoro ethane)

45 74-83-9 Metil Bromida Bromomethane; Monobromomethane; Embafume CH
3
Br



PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi Sekretaris Kabinet
Bidang Hukum dan
Perundang-undangan,

ttd

Lambock V. Nahattands
157

PEFATUFAN PEMEFINTAH FEPUDLIK INDONESIA
NOMOF 76 TAHUN 2008
TENTANC
FEHADILITASI DAN FEKLAMASI HUTAN


DENCAN FAHMAT TUHAN YANC MAHA ESA

PFESIDEN FEPUDLIK INDONESIA,

Mcninlang . laIwa uniul nclalsanalan lcicniuan Pasal 42 ayai (3},
Pasal 44 ayai (3}, dan Pasal 45 ayai (4} Undang-Undang
Nonor 41 TaIun 1999 icniang KcIuianan, ¡crlu ncncia¡lan
Pcraiuran PcncriniaI icniang FcIaliliiasi dan Fcllanasi
Huian;

Mcngingai . 1. Pasal 5 ayai (2} Undang-Undang Dasar Ncgara Fc¡ullil
Indoncsia TaIun 1945;

2. Undang-Undang Nonor 41 TaIun 1999 icniang
KcIuianan (Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia TaIun
1999 Nonor 167, TanlaIan Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil
Indoncsia Nonor 3888}, sclagainana iclaI diulaI dcngan
Undang-Undang Nonor 19 TaIun 2004 icniang Pcncia¡an
Pcraiuran PcncriniaI Pcngganii Undang-Undang Nonor 1
TaIun 2004 icniang PcrulaIan Aias Undang-Undang
Nonor 41 TaIun 1999 icniang KcIuianan ncnjadi
Undang-Undang (Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia
TaIun 2004 Nonor 86, TanlaIan Lcnlaran Ncgara
Fc¡ullil Indoncsia Nonor 4412};

MEMUTUSKAN.
Mcncia¡lan . PEFATUFAN PEMEFINTAH FEPUDLIK INDONESIA TENTANC
FEHADILITASI DAN FEKLAMASI HUTAN.



DAD I . . .


158
- 2 -
DAD I
KETENTUAN UMUM


Pasal 1

Dalan ¡craiuran ¡cncriniaI ini yang dinalsud dcngan.
1. FcIaliliiasi Iuian dan laIan adalaI u¡aya uniul
ncnuliIlan, ncn¡criaIanlan, dan ncninglailan fungsi
Iuian dan laIan scIingga daya dulung, ¡roduliiviias
dan ¡cranannya dalan ncndulung sisicn ¡cnyangga
lcIidu¡an icia¡ icrjaga.
2. Fcllanasi Iuian adalaI usaIa uniul ncn¡crlaili aiau
ncnuliIlan lcnlali laIan dan vcgciasi Iuian yang
rusal agar da¡ai lcrfungsi sccara o¡iinal scsuai dcngan
¡cruniulannya.
3. Fcvcgciasi adalaI usaIa uniul ncn¡crlaili dan
ncnuliIlan vcgciasi yang rusal nclalui lcgiaian
¡cnananan dan ¡cncliIaraan ¡ada laIan lclas
¡cnggunaan lawasan Iuian.
4. DacraI Aliran Sungai yang sclanjuinya disinglai DAS
adalaI suaiu wilayaI daraian yang ncru¡alan saiu
lcsaiuan dcngan sungai dan anal sungainya, yang
lcrfungsi ncnan¡ung, ncnyin¡an, dan ncngalirlan air
yang lcrasal dari curaI Iujan lc danau aiau lc laui
sccara alani, yang laias di darai ncru¡alan ¡cnisaI
io¡ografis dan laias di laui san¡ai dcngan dacraI
¡crairan yang nasiI icr¡cngaruI aliiviias daraian.
5. Pcngclolaan DAS adalaI u¡aya nanusia dalan ncngaiur
Iulungan iinlal lalil aniara sunlcrdaya alan dcngan
nanusia di dalan DAS dan scgala aliiviiasnya, agar
icrwujud lclcsiarian dan lcscrasian closisicn scria
ncninglainya lcnanfaaian sunlcrdaya alan lagi
nanusia sccara lcrlclanjuian.
6. Huian dan laIan lriiis adalaI Iuian dan laIan yang
lcrada di dalan dan di luar lawasan Iuian yang sudaI
iidal lcrfungsi lagi sclagai ncdia ¡cngaiur iaia air dan
unsur ¡roduliiviias laIan scIingga ncnyclallan
icrganggunya lcscinlangan closisicn DAS.


7. Kawasan . . .
159
- 3 -
7. Kawasan Iuian adalaI wilayaI icricniu yang diiunjul
dan/aiau yang diicia¡lan olcI PcncriniaI uniul
di¡criaIanlan lclcradaannya sclagai Iuian icia¡.
8. Fcloisasi adalaI u¡aya ¡cnananan jcnis ¡oIon Iuian
¡ada lawasan Iuian rusal yang lcru¡a laIan losong,
alang-alang, aiau scnal lclular uniul ncngcnlalilan
fungsi Iuian.
9. PcngIijauan adalaI u¡aya ¡cnuliIan laIan lriiis di luar
lawasan Iuian uniul ncngcnlalilan fungsi laIan.
10. Pcngayaan iananan adalaI lcgiaian ncn¡crlanyal
lcraganan dcngan cara ¡cnanfaaian ruang iunluI
sccara o¡iinal nclalui ¡cnananan ¡oIon.
11. PcncliIaraan Iuian adalaI lcgiaian uniul ncnjaga,
ncngananlan, dan ncninglailan lualiias iananan
Iasil lcgiaian rcloisasi, ¡cngIijauan jcnis iananan, dan
¡cngayaan iananan.
12. Pcnggunaan lawasan Iuian uniul lc¡cniingan
¡cnlangunan di luar lcgiaian lcIuianan yang
sclanjuinya disclui ¡cnggunaan lawasan Iuian adalaI
¡cnggunaan uniul iujuan siraicgis yang iidal da¡ai
diclallan, aniara lain, lcgiaian ¡crianlangan,
¡cnlangunan jaringan lisiril, iclc¡on, insialasi air, dan
lc¡cniingan rcligi scria lc¡cniingan ¡criaIanan
lcananan.
13. PcncriniaI Pusai yang sclanjuinya disclui PcncriniaI
adalaI Prcsidcn Fc¡ullil Indoncsia yang ncncgang
lcluasaan ¡cncriniaIan ncgara Fc¡ullil Indoncsia
sclagainana dinalsud dalan Undang-Undang Dasar
Ncgara Fc¡ullil Indoncsia TaIun 1945.
14. PcncriniaI dacraI adalaI gulcrnur, lu¡aii/waliloia,
dan ¡cranglai dacraI sclagai unsur ¡cnyclcnggara
¡cncriniaIan dacraI.
15. Mcnicri adalaI ncnicri yang discraIi iugas dan ianggung
jawal di lidang lcIuianan.
16. Mcnicri iclnis adalaI ncnicri yang discraIi iugas dan
ianggung jawal di lidang cncrgi dan sunlcr daya
nincral.
17. Mcnicri icrlaii adalaI ncnicri yang discraIi iugas dan
ianggung jawal di lidang ¡crianian, linglungan Iidu¡,
dan/aiau dalan ncgcri.
Pasal 2 . . .
160
- 4 -


Pasal 2

FcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian ncru¡alan lagian dari
¡cngclolaan Iuian.

Pasal 3

Uniul ncnyclcnggaralan rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian
diicia¡lan ¡ola unun, lriicria, dan siandar rcIaliliiasi dan
rcllanasi Iuian.

Pasal 4

(1} Pola unun rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian sclagainana
dinalsud dalan Pasal 3, ncnuai.
a. ¡rinsi¡ ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi dan rcllanasi
Iuian; dan

l. ¡cndclaian ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi dan
rcllanasi Iuian.
(2} Prinsi¡ sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf a
ncli¡uii.

a. sisicn ¡cnganggaran yang lcrlcsinanlungan (PXOWL
\HDUV};

l. lcjclasan lcwcnangan;

c. ¡cnaIanan sisicn icnurial;

d. andil liaya FRVW VKDULQJ;

c. ¡cncra¡an sisicn inscniif;
f. ¡cnlcrdayaan nasyaralai dan la¡asiias
lclcnlagaan;

g. ¡cndclaian ¡ariisi¡aiif; dan

I. irans¡aransi dan alunialiliias.




(3} Pcndclaian . . .
161
- 5 -
(3} Pcndclaian sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf l
ncli¡uii as¡cl.
a. ¡oliiil;
l. sosial;
c. clononi;
d. closisicn; dan
c. lclcnlagaan dan organisasi.

Pasal 5

(1} Kriicria dan siandar rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian
sclagainana dinalsud dalan Pasal 3 ncli¡uii as¡cl.
a. lawasan;
l. lclcnlagaan; dan
c. iclnologi.
(2} As¡cl lawasan ncli¡uii lc¡asiian ¡cnanganan lawasan
yang diicniulan nclalui analisis ¡crcncanaan
lcrdasarlan closisicn DAS, lcjclasan siaius ¡cnguasaan
laIan, dan lcrdasarlan fungsi lawasan.
(3} As¡cl lclcnlagaan ncli¡uii sunlcrdaya nanusia yang
lon¡cicn, organisasi yang cfcliif ncnurui lcrangla
lcwcnangan nasing-nasing, dan iaia Iulungan lcrja.
(4} As¡cl iclnologi ncli¡uii ¡cncra¡an iclnologi yang
diicniulan olcI lcscsuaian laIan aiau ia¡al scicn¡ai,
iinglai ¡ariisi¡asi nasyaralai, dan ¡cnycdiaan in¡ui
yang culu¡.

Pasal 6

Fcllanasi Iuian, sclain ncnggunalan lriicria dan siandar
sclagainana dinalsud dalan Pasal 5 Iarus ncnggunalan
lriicria dan siandar.
a. laralicrisiil lolasi lcgiaian;
l. jcnis lcgiaian;
c. ¡cnaiaan laIan;
d. ¡cngcndalian crosi dan linlaI;
c. rcvcgciasi; dan
f. ¡cngcnlangan sosial clononi.



Pasal 7 . . .
162
- 6 -
Pasal 7

Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai ¡cnyusunan ¡ola unun,
lriicria, dan siandar rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian
sclagainana dinalsud dalan Pasal 3 san¡ai dcngan Pasal 6
diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

DAD II
FEHADILITASI

Dagian Kcsaiu
Unun

Pasal 8

(1} Kcgiaian rcIaliliiasi da¡ai dilalulan di dalan dan di
luar lawasan Iuian.
(2} Kcgiaian rcIaliliiasi di dalan lawasan Iuian dilalulan
di scnua Iuian dan lawasan Iuian lccuali cagar alan
dan zona inii ianan nasional.
(3} Kcgiaian rcIaliliiasi di luar lawasan Iuian dilalulan di
scnua laIan lriiis.

Pasal 9

(1} ScluruI Iuian, lawasan Iuian, dan laIan lriiis
sclagainana dinalsud dalan Pasal 8 ayai (2} dan ayai
(3} lcrada dalan lclcra¡a wilayaI DAS.
(2} Kcgiaian rcIaliliiasi sclagainana dinalsud dalan Pasal
8 dilalulan dcngan ncnggunalan DAS sclagai unii
¡cngclolaan.

(3} DAS sclagainana dinalsud ¡ada ayai (2} lcrdasarlan
wilayaI DAS yang di¡rioriiaslan.
Pasal 10

(1} DAS yang di¡rioriiaslan sclagainana dinalsud dalan Pasal
9 ayai (3} diicia¡lan olcI Mcnicri lcrdasarlan lriicria ¡aling
scdilii ncnuai.
a. londisi s¡csifil liofisil;
l. sosial clononi;
c. laIan lriiis ¡ada lagian Iulu DAS; dan
d. wilayaI Iuian yang rcnian ¡crulaIan illin.
(2} DAS ¡rioriias sclagainana dinalsud ayai ¡ada (1} diicia¡lan
olcI Mcnicri sciclaI lcrloordinasi dcngan ncnicri icrlaii.

Pasal 11 . . .
163
- 7 -
Pasal 11

(1} FcIaliliiasi Iuian dan laIan disclcnggaralan nclalui
iaIa¡an.
a. ¡crcncanaan; dan
l. ¡clalsanaan.
(2} FcIaliliiasi Iuian dan laIan sclagainana dinalsud
¡ada ayai (1} disclcnggaralan lcrdasarlan ¡ola unun,
lriicria, dan siandar rcIaliliiasi Iuian dan laIan
sclagainana dinalsud dalan Pasal 3.

Dagian Kcdua
Pcrcncanaan

Paragraf 1
Unun

Pasal 12

Pcrcncanaan rcIaliliiasi Iuian dan laIan sclagainana
dinalsud dalan Pasal 11 ayai (1} Iuruf a, icrdiri aias.
a. Fcncana Tclnil FcIaliliiasi Huian dan LaIan DacraI
Aliran Sungai (FTlFHL-DAS};
l. Fcncana Pcngclolaan FcIaliliiasi Huian dan LaIan
(FPFHL}; dan
c. Fcncana TaIunan FcIaliliiasi Huian dan LaIan
(FTnFHL}.

Paragraf 2
Fcncana Tclnil FcIaliliiasi Huian
dan LaIan DacraI Aliran Sungai

Pasal 13

(1} FTlFHL-DAS sclagainana dinalsud dalan Pasal 12
Iuruf a, uniul sciia¡ wilayaI ¡cngclolaan DAS, disusun
dan diicia¡lan olcI Mcnicri.


(2} FTlFHL-DAS . . .

164
- 8 -
(2} FTlFHL-DAS sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
disusun dcngan ncngacu ¡ada.
a. rcncana lcIuianan nasional;
l. rcncana iaia ruang; dan
c. rcncana ¡cngclolaan DAS icr¡adu dan rcncana
¡cngclolaan sunlcrdaya air.
(3} FTlFHL-DAS ¡aling scdilii ncnuai.
a. rcncana ¡cnuliIan Iuian dan laIan;
l. ¡cngcndalian crosi dan scdincniasi;
c. ¡cngcnlangan sunlcrdaya air; dan
d. lclcnlagaan.
(4} Dalan ¡cnyusunan FTlFHL-DAS sclagainana dinalsud
¡ada ayai (1}, Mcnicri da¡ai lcrloordinasi dcngan
insiansi icrlaii.
(5} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai iaia cara ¡cnyusunan
FTlFHL-DAS diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Paragraf 3
Fcncana Pcngclolaan FcIaliliiasi Huian dan LaIan

Pasal 14

(1} Fcncana Pcngclolaan FcIaliliiasi Huian dan LaIan
sclagainana dinalsud dalan Pasal 12 Iuruf l, disusun
lcrdasarlan.
a. FTlFHL-DAS;
l. wilayaI adninisiraiif;
c. rcncana ¡cngclolaan Iuian; dan
d. ¡oicnsi sunlcrdaya yang icrscdia, aniara lain, icnaga,
sarana ¡rasarana, dan ¡cndanaan.
(2} Fcncana Pcngclolaan FcIaliliiasi Huian dan LaIan
icrdiri aias.
a. Fcncana Pcngclolaan FcIaliliiasi di dalan lawasan
Iuian (FPFH}; dan
l. Fcncana Pcngclolaan FcIaliliiasi di laIan (FPFL}.

Pasal 15

(1} FPFH sclagainana dinalsud dalan Pasal 14 ayai (2}
Iuruf a ¡aling scdilii ncnuai lclijalan dan siraicgi,
lolasi, jcnis lcgiaian, lclcnlagaan, ¡cnliayaan, dan
iaia waliu.
(2} FPFH ¡ada Iuian ¡rodulsi dan Iuian lindung diicia¡lan
olcI lu¡aii/waliloia.
(3} FPFH ¡ada Iuian lonscrvasi diicia¡lan olcI Mcnicri.

(4} Kcicniuan . . .
165
- 9 -
(4} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai iaia cara ¡cnyusunan
FPFH diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Pasal 16

(1} FPFL sclagainana dinalsud dalan Pasal 14 ayai (2}
Iuruf l ¡aling scdilii ncnuai lclijalan dan siraicgi,
lolasi, jcnis lcgiaian, lclcnlagaan, ¡cnliayaan, dan
iaia waliu.
(2} FPFL diicia¡lan olcI lu¡aii/waliloia.
(3} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai iaia cara ¡cnyusunan
FPFL diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Paragraf 4
Fcncana TaIunan FcIaliliiasi Huian dan LaIan

Pasal 17

(1} Fcncana TaIunan FcIaliliiasi Huian dan LaIan
(FTnFHL} sclagainana dinalsud dalan Pasal 12 Iuruf c
disusun lcrdasarlan FPFHL.
(2} FTnFHL sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} ncnuai
rancangan lcgiaian rcIaliliiasi Iuian dan laIan, dciil
lolasi dan volunc lcgiaian fisil, lcluiuIan liaya, iaia
waliu, lclcnlagaan, ¡cnlinaan, ¡claiiIan,
¡cndan¡ingan, ¡cnyuluIan, ¡cnaniauan, dan cvaluasi.

Pasal 18

(1} Fcncana TaIunan FcIaliliiasi di dalan lawasan Iuian
(FTnFH} yang iclaI dilclani Ial aiau izin disusun olcI
¡cncgang Ial aiau ¡cncgang izin.
(2} FTnFH yang lclun dilclani Ial aiau izin disusun olcI
Mcnicri.

Pasal 19

Fcncana TaIunan FcIaliliiasi di laIan (FTnFL} diicia¡lan
olcI lu¡aii/ waliloia.


Pasal 20 . . .

166
- 10 -
Pasal 20

Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai iaia cara ¡cnyusunan
FTnFHL sclagainana dinalsud dalan Pasal 17 san¡ai
dcngan Pasal 19 diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Dagian Kciiga
Pclalsanaan

Paragraf 1
Unun

Pasal 21

(1} Pclalsanaan rcIaliliiasi Iuian dan laIan sclagainana
dinalsud dalan Pasal 11 ayai (1} Iuruf l dilalulan di.
a. dalan lawasan Iuian; dan/aiau
l. laIan.
(2} Dalan nclalsanalan lcgiaian rcIaliliiasi Iuian dan
laIan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} da¡ai
dilalulan lcgiaian ¡cndulung rcIaliliiasi Iuian dan
laIan.
(3} Pclalsanaan rcIaliliiasi Iuian dan laIan dilalsanalan
olcI PcncriniaI, ¡cncriniaI ¡rovinsi, ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia, dan/aiau ¡cncgang Ial aiau izin.

Pasal 22

(1} FcIaliliiasi Iuian dilalsanalan scsuai FTnFH.
(2} FcIaliliiasi laIan dilalsanalan scsuai FTnFL.

Paragraf 2
FcIaliliiasi Huian

Pasal 23

FcIaliliiasi Iuian sclagainana dinalsud dalan Pasal 21
ayai (1} Iuruf a disclcnggaralan nclalui lcgiaian.
a. rcloisasi;
l. ¡cncliIaraan iananan;
c. ¡cngayaan iananan; aiau
d. ¡cncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI.

Pasal 24 . . .
167
- 11 -
Pasal 24

(1} Fcloisasi sclagainana dinalsud dalan Pasal 23 Iuruf a
dilalulan di dalan lawasan.
a. Iuian lindung;
l. Iuian ¡rodulsi; aiau
c. Iuian lonscrvasi.
(2} Fcloisasi di dalan lawasan Iuian lindung diiujulan
uniul ncnuliIlan fungsi ¡olol sclagai ¡crlindungan
sisicn ¡cnyangga lcIidu¡an uniul ncngaiur iaia air,
ncnccgaI lanjir, ncngcndalilan crosi, ncnccgaI inirusi
air laui, dan ncncliIara lcsuluran ianaI.
(3} Fcloisasi di dalan lawasan Iuian ¡rodulsi diiujulan
uniul ncninglailan ¡roduliiviias lawasan Iuian
¡rodulsi.
(4} Fcloisasi di dalan lawasan Iuian lonscrvasi diiujulan
uniul ¡cnlinaan Ialiiai dan ¡cninglaian
lcanclaraganan Iayaii.
(5} Fcloisasi sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} ncli¡uii
lcgiaian ¡crscnaian/¡cnliliian, ¡cnananan,
¡cncliIaraan iananan, ¡cngananan, dan lcgiaian
¡cndulung.

Pasal 25

(1} PcncliIaraan iananan sclagainana dinalsud dalan
Pasal 23 Iuruf l, dilalsanalan olcI.
a. PcncriniaI uniul lawasan Iuian lonscrvasi;
l. ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia aiau Kcsaiuan
Pcngclolaan Huian uniul lawasan Iuian ¡rodulsi
dan Iuian lindung;
c. ¡cncriniaI ¡rovinsi aiau ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia
uniul ianan Iuian raya scsuai dcngan
lcwcnangannya; aiau
d. ¡cncgang Ial aiau izin uniul lawasan Iuian yang
iclaI dilclani Ial aiau izin.
(2} Sunlcr dana uniul nclalulan ¡cncliIaraan
dilclanlan lc¡ada.
a. PcncriniaI uniul lawasan Iuian lonscrvasi;
l. ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia aiau Kcsaiuan
Pcngclolaan Huian uniul lawasan Iuian ¡rodulsi
dan Iuian lindung;
c. ¡cncriniaI . . .
168
- 12 -
c. ¡cncriniaI ¡rovinsi aiau ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia
uniul ianan Iuian raya scsuai dcngan
lcwcnangannya; aiau
d. ¡cncgang Ial aiau izin uniul lawasan Iuian yang
iclaI dilclani Ial aiau izin.
(3} PcncliIaraan iananan ¡ada Iuian ¡rodulsi dan Iuian
lindung didanai olcI PcncriniaI dan dilalsanalan scjal
iaIun ¡criana san¡ai dcngan iaIun lciiga.
(4} PcncliIaraan iananan ¡ada Iuian ¡rodulsi dan Iuian
lindung sciclaI iaIun lciiga discraIlan olcI PcncriniaI
lc¡ada ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia aiau Kcsaiuan
Pcngcloaan Huian.
(5} PcncliIaraan iananan sclagainana dinalsud ¡ada ayai
(1} dilalulan nclalui.
a. ¡crawaian; dan
l. ¡cngcndalian Iana dan ¡cnyalii.

Pasal 26

(1} Pcngayaan iananan sclagainana dinalsud dalan Pasal
23 Iuruf c diiujulan uniul ncninglailan ¡roduliiviias
Iuian.
(2} Pcngayaan iananan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
dilalulan nclalui ¡cnanfaaian ruang iunluI sccara
o¡iinal dcngan ncn¡crlanyal junlaI dan lcraganan
jcnis iananan.
(3} Pcngayaan iananan dilalsanalan ¡ada Iuian rawang,
lail di Iuian ¡rodulsi, Iuian lindung, nau¡un Iuian
lonscrvasi, lccuali ¡ada cagar alan dan zona inii ianan
nasional.
(4} Pcngayaan iananan ncli¡uii lcgiaian
¡crscnaian/¡cnliliian, ¡cnananan, ¡cncliIaraan
iananan, dan ¡cngananan.



Pasal 27 . . .

169
- 13 -
Pasal 27

(1} Pcncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sclagainana
dinalsud dalan Pasal 23 Iuruf d dilalulan sccara si¡il
iclnis.
(2} Sclain iclnil lonscrvasi ianaI sccara si¡il iclnis
sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}, ¡cncra¡an iclnil
lonscrvasi ianaI da¡ai dilalulan nclalui iclnil liniawi.

Paragraf 3
FcIaliliiasi LaIan

Pasal 28

FcIaliliiasi laIan sclagainana dinalsud dalan Pasal 21
ayai (1} Iuruf l disclcnggaralan nclalui lcgiaian.
a. ¡cngIijauan;
l. ¡cncliIaraan iananan;
c. ¡cngayaan iananan; aiau
d. ¡cncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sccara vcgciaiif dan
si¡il iclnis ¡ada laIan lriiis dan iidal ¡roduliif.

Pasal 29

(1} PcngIijauan sclagainana dinalsud dalan Pasal 28
Iuruf a, dilalulan di luar lawasan Iuian diiujulan
uniul ncnuliIlan dan ncninglailan ¡roduliiviias
laIan yang londisinya rusal agar da¡ai lcrfungsi sccara
o¡iinal.
(2} PcngIijauan dilalulan dcngan cara ncnlangun Iuian
Ial, Iuian loia, aiau ¡cngIijauan linglungan.
(3} PcngIijauan ncli¡uii lcgiaian ¡crscnaian/¡cnliliian,
¡cnananan, ¡cncliIaraan iananan, dan ¡cngananan.

Pasal 30

(1} PcncliIaraan iananan sclagainana dinalsud dalan
Pasal 28 Iuruf l, dilalsanalan olcI ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia aiau ¡cncgang Ial.

(2} PcncliIaraan..
170
- 14 -

(2} PcncliIaraan iananan sclagainana dinalsud ¡ada ayai
(1} dilalulan nclalui.
a. ¡crawaian; dan
l. ¡cngcndalian Iana dan ¡cnyalii.


Pasal 31

(1} Pcngayaan iananan sclagainana dinalsud dalan Pasal
28 Iuruf c diiujulan uniul ncninglailan ¡roduliiviias
laIan.
(2} Pcngayaan iananan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
dilalulan nclalui ¡cnanfaaian ruang iunluI sccara
o¡iinal dcngan ncn¡crlanyal junlaI dan lcraganan
jcnis iananan.
(3} Pcngayaan iananan dilalsanalan ¡ada Iuian Ial.
(4} Pcngayaan iananan ncli¡uii lcgiaian
¡crscnaian/¡cnliliian, ¡cnananan, ¡cncliIaraan
iananan, dan ¡cngananan.

Pasal 32

(1} Pcncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sclagainana
dinalsud dalan Pasal 28 Iuruf d dilalulan sccara.
a. vcgciaiif; dan/aiau
l. si¡il iclnis.
(2} Sclain sccara vcgciaiif dan si¡il iclnis sclagainana
dinalsud ¡ada ayai (1}, ¡cncra¡an iclnil lonscrvasi
ianaI da¡ai dilalulan nclalui iclnil liniawi.

Pasal 33

Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai iaia cara ¡clalsanaan
rcIaliliiasi Iuian dan laIan sclagainana dinalsud dalan
Pasal 21 san¡ai dcngan Pasal 32 diaiur dcngan ¡craiuran
Mcnicri.




Paragraf 4. . .

171
- 15 -
Paragraf 4
Kcgiaian Pcndulung FcIaliliiasi Huian dan LaIan

Pasal 34

(1} Uniul ncndulung lcgiaian rcIaliliiasi Iuian dan laIan
sclagainana dinalsud dalan Pasal 21 ayai (2} dilalulan
lcgiaian yang ncli¡uii.
a. ¡cngcnlangan ¡crlcniIan;
l. iclnologi rcIaliliiasi Iuian dan laIan;
c. ¡cnccgaIan dan ¡cnanggulangan lclalaran Iuian
dan laIan;
d. ¡cnyuluIan;
c. ¡claiiIan;
f. ¡cnlcrdayaan nasyaralai;
g. ¡cnlinaan; dan/aiau
I. ¡cngawasan.
(2} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai lcgiaian ¡cndulung
rcIaliliiasi Iuian dan laIan sclagainana dinalsud ¡ada
ayai (1} diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Paragraf 5
Pclalsana FcIaliliiasi Huian dan LaIan

Pasal 35

(1} FcIaliliiasi Iuian ¡ada lawasan Iuian lonscrvasi
dilalsanalan olcI PcncriniaI lccuali ianan Iuian raya.
(2} FcIaliliiasi Iuian ¡ada ianan Iuian raya dilalsanalan
olcI ¡cncriniaI ¡rovinsi aiau ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia scsuai dcngan lcwcnangannya.
(3} FcIaliliiasi Iuian ¡ada Iuian lonscrvasi sclagainana
dinalsud ¡ada ayai (1} dan ayai (2} dilalsanalan dcngan
lcicniuan Iarus.
a. ncnanan jcnis iunluIan asli scicn¡ai;
l. ncnanan iunluIan yang scsuai lcadaan Ialiiai
scicn¡ai; dan
c. ncnanan dcngan lcrlagai jcnis iananan Iuian.

Pasal 36

(1} FcIaliliiasi ¡ada lawasan Iuian ¡rodulsi dan Iuian
lindung yang Ial ¡cngclolaannya dilin¡aIlan lc¡ada
Dadan UsaIa Milil Ncgara, aiau dilcrilan izin
¡cnanfaaian Iuian, aiau izin ¡cnggunaan lawasan
Iuian dilalsanalan olcI ¡cncgang Ial aiau izin.
(2} FcIaliliiasi . . .
172
- 16 -
(2} FcIaliliiasi ¡ada lawasan Iuian ¡rodulsi dan Iuian
lindung yang iidal dilclani Ial aiau izin dilalsanalan
olcI ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia.
(3} FcIaliliiasi ¡ada lawasan Iuian ¡rodulsi dan Iuian
lindung sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} dan ayai (2}
dilalsanalan dcngan lcicniuan.
a. jcnis iunluIan yang diianan Iarus scsuai dcngan
fungsi Iidroorologis;
l. iunluIan yang diianan da¡ai lcrsifai nonoluliur
aiau can¡uran; dan
c. scjauI nunglin ncngIindari jcnis iunluIan clsoiis
aiau jcnis iunluIan asing.

Pasal 37

(1} FcIaliliiasi Iuian ¡ada lawasan Iuian yang dilclola
olcI lcnlaga yang dilcri Ial ¡cngclolaan lawasan Iuian
dcngan iujuan lIusus dilalulan olcI ¡cngclola.
(2} FcIaliliiasi ¡ada lawasan Iuian yang dilclola olcI
nasyaralai Iulun adai sclagai Iuian adai,
dilalsanalan olcI nasyaralai Iulun adai yang
lcrsangluian.

Pasal 38

(1} FcIaliliiasi laIan dilalsanalan olcI ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia.
(2} FcIaliliiasi laIan yang dilclani Ial aias ianaI ncnjadi
lcwajilan dan ianggung jawal ¡cncgang Ial.

Pasal 39

(1} Pcncgang Ial aiau ¡cncgang izin dalan nclalsanalan
rcIaliliiasi Iuian dan/aiau laIan sclagainana
dinalsud dalan Pasal 36, Pasal 37, dan Pasal 38 ayai (2}
da¡ai ncninia ¡cndan¡ingan, ¡clayanan, dan
dulungan dari PcncriniaI, ¡cncriniaI ¡rovinsi,
¡cncriniaI lalu¡aicn/loia, dan/aiau lcnlaga swadaya
nasyaralai.
(2} Pcndan¡ingan, ¡clayanan, dan dulungan PcncriniaI,
¡cncriniaI ¡rovinsi aiau ¡cncriniaI lalu¡aicn/loia
sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} dilcrilan uniul
lcgiaian rcIaliliiasi Iuian dan laIan dcngan iujuan
¡crlindungan dan lonscrvasi.

Pasal 40 . . .
173
- 17 -
Pasal 40

(1} Uniul lcgiaian rcIaliliiasi yang iclaI lcrIasil nala
PcncriniaI, ¡cncriniaI ¡rovinsi, aiau ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia da¡ai ncnlcrilan inscniif, lail lcru¡a
lcnudaIan ¡clayanan nau¡un ¡cngIargaan.
(2} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai ¡cnlcrian inscniif
sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} diaiur dcngan
¡craiuran Mcnicri.

Paragraf 6
Pcnanfaaian Hasil FcIaliliiasi Huian dan LaIan.

Pasal 41

(1} Pcnanfaaian Iasil rcIaliliiasi Iuian yang diliayai olcI
PcncriniaI, ¡cncriniaI ¡rovinsi, ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia diaiur scsuai dcngan lcicniuan
¡craiuran ¡crundang-undangan.
(2} Pcnanfaaian Iasil rcIaliliiasi Iuian yang dilalsanalan
olcI ¡cncgang Ial aiau izin diaiur scsuai dcngan
lcicniuan ¡craiuran ¡crundang-undangan.
(3} Pcnanfaaian Iasil rcIaliliiasi laIan dilalsanalan olcI
¡cncgang Ial aiau ¡cncgang izin.
(4} Pcnanfaaian Iasil rcIaliliiasi laIan yang diliayai olcI
PcncriniaI, ¡cncriniaI ¡rovinsi, dan/aiau ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.


DAD III
FEKLAMASI HUTAN

Dagian Kcsaiu
Unun

Pasal 42

(1} Fcllanasi Iuian dilalulan ¡ada laIan dan vcgciasi
Iuian ¡ada lawasan Iuian yang iclaI ncngalani
¡crulaIan ¡crnulaan ianaI dan ¡crulaIan ¡cnuiu¡an
ianaI.
(2} PcrulaIan ¡crnulaan ianaI dan ¡crulaIan ¡cnuiu¡an
ianaI sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} da¡ai icrjadi
alilai.
a. ¡cnggunaan lawasan Iuian; aiau
l. lcncana alan.
Pasal 43 . . .
174
- 18 -
Pasal 43

(1} Fcllanasi Iuian ncli¡uii lcgiaian.
a. invcniarisasi lolasi;
l. ¡cncia¡an lolasi;
c. ¡crcncanaan; dan
d. ¡clalsanaan rcllanasi.
(2} Fcllanasi Iuian da¡ai dilalulan ¡ada lcgiaian lclas
¡crianlangan, ¡cnlangunan jaringan lisiril, iclc¡on,
insialasi air, lc¡cniingan rcligi, lc¡cniingan ¡criaIanan
lcananan, aiau lcncana alan.
(3} Dalan Ial lcgiaian rcllanasi Iuian sclagainana
dinalsud ¡ada ayai (2} ¡ada lawasan lclas arcal
¡crianlangan, nala dilalulan scsuai dcngan iaIa¡an
lcgiaian ¡crianlangan.
(4} Fcllanasi Iuian sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
dilalulan olcI ¡cncgang izin ¡cnggunaan lawasan
Iuian uniul lcgiaian di luar lcIuianan.

Dagian Kcdua
Invcniarisasi Lolasi
Pasal 44

(1} Invcniarisasi lolasi sclagainana dinalsud dalan Pasal
43 ayai (1} Iuruf a, ncru¡alan lcgiaian ¡cngun¡ulan
daia dan infornasi icrIada¡ scluruI arcal lawasan
Iuian yang alan icrganggu dan/aiau icrganggu alilai
¡cnggunaan lawasan Iuian.
(2} Invcniarisasi lolasi dilalulan nclalui survcy uniul
ncn¡crolcI daia ¡rincr nau¡un ¡cngun¡ulan daia
sclundcr lcru¡a daia liofisil dan sosial clononi, scria
rcncana lcrja ¡cnggunaan lawasan Iuian.
(3} Kcgiaian invcniarisasi ncngIasillan daia nuncril dan
daia s¡asial scluruI arcal lawasan Iuian yang alan
icrganggu dan/aiau icrganggu alilai ¡cnggunaan
lawasan Iuian.
Dagian Kciiga
Pcncia¡an Lolasi Fcllanasi Huian
Pasal 45

(1} Pcncia¡an lolasi sclagainana dinalsud dalan Pasal 43
ayai (1} Iuruf l, ncru¡alan lcgiaian ¡cniliIan dan
¡cnunjulan lolasi yang icrganggu sclagai alilai
¡cnggunaan lawasan Iuian yang sia¡ dircllanasi.
(2} Pcncia¡an . . .
175
- 19 -
(2} Pcncia¡an lolasi sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
dilalulan dcngan cara ncnganalisis dan ncngcvaluasi
daia s¡asial dan nuncril Iasil invcniarisasi lolasi.
(3} Dcrdasarlan Iasil analisis dan cvaluasi daia s¡asial dan
daia nuncril sclagainana dinalsud ¡ada ayai (2}
diicia¡lan luas dan lolasi rcllanasi.

Dagian Kccn¡ai
Pcrcncanaan Fcllanasi Huian
Pasal 46
(1} Pcrcncanaan sclagainana dinalsud dalan Pasal 43 ayai
(1} Iuruf c dilalulan uniul ncngIasillan rcncana
rcllanasi Iuian.
(2} Fcncana rcllanasi Iuian disusun lcrdasarlan
invcniarisasi lolasi sclagainana dinalsud dalan Pasal
44 dan ¡cncia¡an lolasi sclagainana dinalsud dalan
Pasal 45.
(3} Fcncana rcllanasi Iuian sclagainana dinalsud ¡ada
ayai (1} disusun uniul jangla waliu 5 (lina} iaIun yang
ncnuai.
a. londisi lawasan Iuian sclclun dan scsudaI
aliiviias;
l. rcncana ¡cnlulaan lawasan Iuian;
c. ¡rogran rcllanasi Iuian;
d. rancangan iclnis rcllanasi;
c. iaia waliu ¡clalsanaan;
f. rcncana liaya; dan
g. ¡cia lolasi dan ¡cia rcncana lcgiaian rcllanasi.

(4} Fcncana rcllanasi Iuian sclagainana dinalsud ¡ada
ayai (3} dijalarlan lcliI lanjui dalan rcncana iaIunan.

Pasal 47
(1} Fcncana rcllanasi yang iclaI disusun sclagainana
dinalsud dalan Pasal 46 ayai (3} dilalulan ¡cnilaian
olcI ncnicri iclnis, gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia
scsuai dcngan lcwcnangannya.
(2} Mcnicri iclnis, gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia scsuai
dcngan lcwcnangannya, dalan nclalulan ¡cnilaian
rcncana rcllanasi sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
nclilailan Mcnicri dan da¡ai nclilailan ncnicri yang
ncnlidangi ¡cngclolaan linglungan Iidu¡.
(3} Mcnicri iclnis, gulcrnur aiau lu¡aii/waliloia scsuai
dcngan lcwcnangannya da¡ai ncnyciujui rcncana
rcllanasi Iuian.
Dagian . . .
176
- 20 -
Dagian Kclina
Pclalsanaan Fcllanasi Huian

Pasal 48

(1} Pclalsanaan rcllanasi Iuian sclagainana dinalsud
dalan Pasal 43 ayai (1} Iuruf d dilalulan olcI ¡cncgang
izin ¡cnggunaan lawasan Iuian lcrdasarlan rcncana
rcllanasi yang iclaI disciujui sclagainana dinalsud
dalan Pasal 47 ayai (3}.
(2} Pcngananan Iasil rcllanasi Iuian ncnjadi ianggung
jawal ¡cncgang izin ¡cnggunaan lawasan Iuian.

Pasal 49

(1} Uniul ncnjanin lclcrIasilan ¡clalsanaan rcllanasi
Iuian sclagainana dinalsud dalan Pasal 48, ¡cncgang
izin ¡cnggunaan lawasan Iuian wajil ncnlayar dana
janinan rcllanasi.
(2} Dcsarnya dana janinan rcllanasi diusullan olcI
¡cncgang izin dan diicia¡lan olcI ncnicri iclnis,
gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia scsuai dcngan
lcwcnangannya sciclaI ncnda¡ai ¡criinlangan dari
Mcnicri.
(3} Dcniul dana janinan rcllanasi sclagainana dinalsud
¡ada ayai (1} diusullan olcI ¡cncgang izin ¡cnggunaan
lawasan Iuian dan Iarus ncnda¡ai ¡crsciujuan dari
ncnicri iclnis, gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia scsuai
dcngan lcwcnangannya.
(4} Kcicniuan ncngcnai lcsaran, lcniul, iaia cara
¡cncn¡aian, dan ¡cncairan aiau ¡clc¡asan dana janinan
rcllanasi dilalulan scsuai dcngan lcicniuan ¡craiuran
¡crundang-undangan.

Dagian Kccnan
Pcnilaian KclcrIasilan Fcllanasi Huian
Pasal 50

(1} Pcnilaian icrIada¡ ¡clalsanaan rcllanasi Iuian
dilalulan olcI Mcnicri dcngan nclilailan ncnicri iclnis
dan ncnicri yang ncnlidangi ¡cngclolaan linglungan
Iidu¡, gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia scsuai dcngan
lcwcnangannya.
(2} Pcnilaian sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
didasarlan ¡ada norna, siandar, ¡roscdur, dan lriicria
rcllanasi Iuian .
(3} Pcnilaian. . .
177
- 21 -
(3} Pcnilaian sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} ncnjadi
dasar ¡cncniuan lclcrIasilan rcllanasi Iuian.
(4} KclcrIasilan rcllanasi Iuian sclagainana dinalsud
¡ada ayai (3}, ncnjadi salaI saiu unsur ¡cnilaian scluruI
lcwajilan dalan ¡cngcnlalian lawasan Iuian dari
¡cnggunaan lawasan Iuian.
(5} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai ¡cnilaian lclcrIasilan
rcllanasi Iuian diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Dagian KciujuI
Fcllanasi Huian Alilai Dcncana Alan

Pasal 51

(1} Fcllanasi Iuian alilai lcncana alan dalan lawasan
Iuian da¡ai icrjadi.
a. sccara nurni; aiau
l. sclagai alilai lclalaian ¡cncgang Ial ¡cngclolaan
aiau izin ¡cnanfaaian Iuian.
(2} Fcllanasi Iuian ¡ada arcal lcncana alan dilalulan
¡ada scnua lawasan Iuian lccuali cagar alan dan zona
inii ianan nasional.
(3} Fcllanasi Iuian ¡ada arcal lcncana alan sccara nurni
sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf a ncnjadi
ianggung jawal PcncriniaI dan ¡cncriniaI dacraI.
(4} Fcllanasi Iuian ¡ada arcal lcncana alan sclagai alilai
lclalaian ¡cncgang Ial ¡cngclolaan aiau ¡cncgang izin
¡cnanfaaian Iuian dalan ncngclola lawasan Iuian
sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf l ncnjadi
ianggung jawal ¡cncgang Ial aiau izin.
(5} PcncriniaI, ¡cncriniaI ¡rovinsi, dan/aiau ¡cncriniaI
lalu¡aicn/loia scsuai dcngan lcwcnangannya da¡ai
ncnlcrilan fasiliiasi dalan ¡clalsanaan rcllanasi
Iuian yang dilalulan olcI ¡cncgang Ial ¡cngclolaan
dan/aiau ¡cncgang izin ¡cnanfaaian Iuian.
(6} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai ¡cdonan rcllanasi
Iuian ¡ada arcal lcncana alan diaiur dcngan ¡craiuran
Mcnicri.


DAD IV
PEFAN SEFTA MASYAFAKAT

Pasal 52

(1} Kcgiaian rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian dilalsanalan
dcngan nclilailan ¡cran scria nasyaralai.
(2} Pcran . . .
178
- 22 -
(2} Pcran scria nasyaralai dalan rcIaliliiasi dan rcllanasi
Iuian da¡ai dilalulan nclalui lonsuliasi ¡ullil,
lcniiraan, dan ¡cnyan¡aian infornasi.
DAD V
PEMDINAAN, PENCENDALIAN, DAN PENCAWASAN

Dagian Kcsaiu
Unun

Pasal 53
(1} Mcnicri, gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia scsuai dcngan
lcwcnangannya nclalulan.
a. ¡cnlinaan;
l. ¡cngcndalian; dan
c. ¡cngawasan.
(2} Uniul ncnjanin icriilnya ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi
dan rcllanasi Iuian, Mcnicri dalan nclalsanalan
lcwcnangannya nclalulan ¡cnlinaan, ¡cngcndalian,
dan ¡cngawasan icrIada¡ lclijalan gulcrnur dan
lu¡aii/waliloia.


Dagian Kcdua
Pcnlinaan dan Pcngcndalian

Pasal 54

(1} Pcnlinaan ncli¡uii ¡cnlcrian.
a. ¡cdonan;
l. linlingan;
c. ¡claiiIan;
d. araIan; dan/aiau
c. su¡crvisi.
Pcnlcrian ¡cdonan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf a diiujulan icrIada¡ ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi
dan rcllanasi Iuian.
Pcnlcrian linlingan sclagainana dinalsud ¡ada ayai
(1} Iuruf l diiujulan icrIada¡ ¡cnyusunan ¡roscdur dan
iaia lcrja.
Pcnlcrian ¡claiiIan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf c diiujulan icrIada¡ ¡ara ¡iIal icrlaii.
Pcnlcrian araIan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf d ncncalu¡ lcgiaian ¡cnyusunan rcncana,
¡rogran, dan lcgiaian yang lcrsifai nasional.
(6} Su¡crvisi . . .
179
- 23 -
Su¡crvisi sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf c
diiujulan icrIada¡ ¡clalsanaan rcIaliliiasi dan
rcllanasi Iuian.

Pasal 55

(1} Pcngcndalian ncli¡uii lcgiaian.
a. noniioring;
l. cvaluasi;
c. ¡cla¡oran; dan
d. iindal lanjui.
(2} Kcgiaian noniioring sclagainana dinalsud ¡ada ayai
(1} Iuruf a dilalulan uniul ncn¡crolcI daia dan
infornasi, lclijalan dan ¡clalsanaan rcIaliliiasi dan
rcllanasi Iuian.
(3} Kcgiaian cvaluasi sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf l dilalulan uniul ncnilai lclcrIasilan
¡clalsanaan rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian yang
dilalulan sccara ¡criodil.
(4} Kcgiaian ¡cla¡oran sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf c dilalulan uniul ncnyclaraslan ¡cnca¡aian
lincrja yang dilaiilan dcngan ¡roscs ¡cnca¡aian iujuan
dan sasaran.
(5} Kcgiaian iindal lanjui sclagainana dinalsud ¡ada ayai
(1} Iuruf c ncru¡alan iindal lanjui Iasil noniioring dan
cvaluasi guna ¡cnycn¡urnaan lclijalan dan
¡clalsanaan rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian.
(6} Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai ¡cnilaian lclcrIasilan
¡clalsanaan rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian sccara
¡criodil sclagainana dinalsud ¡ada ayai (3} diaiur
dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Pasal 56

(1} Hasil ¡cngcndalian yang dilalulan olcI Mcnicri,
gulcrnur, dan lu¡aii/waliloia sclagainana dinalsud
dalan Pasal 55 diiindallanjuii olcI ¡clalsana rcIaliliiasi
dan rcllanasi Iuian.
(2} Pclalsana rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian ncla¡orlan
¡clalsanaan Iasil ¡cngcndalian lc¡ada Mcnicri,
gulcrnur, dan lu¡aii/waliloia.



Pasal 57 . . .
180
- 24 -
Pasal 57

Kcicniuan lcliI lanjui ncngcnai ¡cdonan ¡cnlinaan dan
¡cngcndalian sclagainana dinalsud dalan Pasal 54 san¡ai
dcngan Pasal 56 diaiur dcngan ¡craiuran Mcnicri.

Dagian Kciiga
Pcngawasan

Pasal 58

Kcicniuan ncngcnai ¡cngawasan sclagainana dinalsud
dalan Pasal 53 ayai (1} Iuruf c diaiur dalan Pcraiuran
PcncriniaI icrscndiri.


DAD VI
SANKSI ADMINISTFATIF

Pasal 59

(1} Pcncgang Ial aiau izin yang iidal nclalsanalan
rcIaliliiasi Iuian dan laIan sclagainana dinalsud
dalan Pasal 21 ayai (3}, scria ¡cncgang izin ¡cnggunaan
lawasan Iuian yang iidal nclalsanalan rcllanasi
Iuian sclagainana dinalsud dalan Pasal 48 ayai (1},
dilcnai sanlsi lcru¡a.
a. icguran, dan/aiau
l. ¡cnlaialan.
(2} Tcguran sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf a
dilalulan olcI Mcnicri, gulcrnur, aiau lu¡aii/waliloia
scsuai dcngan lcwcnangannya.
(3} Pcnlaialan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf l
yang ncnyanglui ¡craiuran dacraI scsuai lcicniuan
¡craiuran ¡crundang-undangan.
(4} Pcnlaialan sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf
l yang ncnyanglui izin ¡cnanfaaian Iuian dan/aiau
izin ¡injan ¡alai ¡cnggunaan lawasan Iuian
diicrliilan olcI ¡cnlcri izin scsuai dcngan
lcwcnangannya.



DAD VII . . .
181
- 25 -
DAD VII
KETENTUAN PEFALIHAN

Pasal 60

(1} FcIaliliiasi Iuian dan laIan yang iclaI dilalsanalan
dalan lcniul Ccralan Nasional FcIaliliiasi Huian dan
LaIan, aiau ¡rogran rcIaliliiasi Iuian dan laIan yang
lain icia¡ lcrlalu, dan uniul ¡clalsanaan sclanjuinya
Iarus discsuailan dcngan ¡craiuran PcncriniaI ini.
(2} Dalan Ial FTlFHL-DAS lclun icrsusun, nala FTlFHL-
DAS yang ada dalan lcniul Fcncana FcIaliliiasi Lina
TaIun, diangga¡ sclagai FTlFHL-DAS.
(3} Dalan Ial FPFHL lclun icrsusun, nala FTnFHL da¡ai
ncngacu lc¡ada Fcncana FcIaliliiasi Lina TaIun.
(4} Hasil rcllanasi Iuian yang iclaI dinilai dan diicrina olcI
PcncriniaI scsuai dcngan lcicniuan ¡craiuran
¡crundang-undangan sclclun diicia¡lannya ¡craiuran
PcncriniaI ini, dinyaialan saI dan lcrlalu.
(5} Hasil rcllanasi Iuian yang lclun dinilai aiau iclaI
dinilai icia¡i lclun diicrina PcncriniaI, diaiur scsuai
dcngan lcicniuan ¡craiuran ¡crundang-undangan
sciclaI lcrloordinasi dcngan Mcnicri.


DAD VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 61

Pada saai Pcraiuran PcncriniaI ini nulai lcrlalu.
a. Pcnyusunan FTlFHL-DAS sclagainana dinalsud dalan
Pasal 13 Iarus sudaI sclcsai ¡aling lana 1 (saiu} iaIun;
dan
l. Pcnyusunan FPFHL sclagainana dinalsud dalan Pasal
14 san¡ai dcngan Pasal 16 Iarus sudaI sclcsai ¡aling
lana 2 (dua} iaIun

Pasal 62

Pcraiuran PcncriniaI ini nulai lcrlalu ¡ada ianggal
diundanglan.

Agar. . .
182
- 26 -
Agar sciia¡ orang ncngciaIuinya, ncncriniaIlan
¡cngundangan Pcraiuran PcncriniaI ini dcngan
¡cncn¡aiannya dalan Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia.


Diicia¡lan di Jalaria
¡ada ianggal 16 Dcscnlcr 2008
PFESIDEN FEPUDLIK INDONESIA,

iid.


DF. H. SUSILO DAMDANC YUDHOYONO


Diundanglan di Jalaria
¡ada ianggal 16 Dcscnlcr 2008
MENTEFI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA


iid.

ANDI MATTALATTA



LEMDAFAN NECAFA FEPUDLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOF 201


Salinan scsuai dcngan aslinya
SEKFETAFIAT NECAFA FI
Kc¡ala Diro Pcrundang-undangan
Didang Pcrclononian dan Indusiri,


iid.


Sciio Sa¡io NugroIo


183
PENJELASAN
ATAS
PEFATUFAN PEMEFINTAH FEPUDLIK INDONESIA
NOMOF 76 TAHUN 2008 2008
TENTANC
FEHADILITASI DAN FEKLAMASI HUTAN


I. UMUM

Dangsa Indoncsia dilaruniai dan ncnda¡ailan ananaI dari TuIan Yang
MaIa Esa lclayaan alan lcru¡a Iuian yang iidal icrnilai Iarganya, olcI
larcna iiu, Iuian Iarus diurus dan dinanfaailan dcngan sclail-lailnya
lcrdasarlan alIlal nulia, sclagai iladaI dan ¡crwujudan rasa syulur
lc¡ada TuIan Yang MaIa Esa.
Dalan rangla ¡cngclolaan Iuian uniul ncn¡crolcI nanfaai yang
o¡iinal dari Iuian dan lawasan Iuian lagi lcscjaIicraan nasyaralai,
nala ¡ada ¡rinsi¡nya scnua Iuian dan lawasan Iuian da¡ai dilclola
dcngan icia¡ ncn¡crIaiilan sifai, laralicrisiil dan lcuianaannya, scria
yang sclaras dcngan fungsi ¡ololnya yaiiu fungsi lonscrvasi, lindung dan
¡rodulsi. OlcI larcna iiu dalan ¡cngclolaan Iuian ¡crlu dijaga
lcscinlangan lciiga fungsi icrsclui.
Sunlcrdaya alan lcru¡a Iuian, ianaI, dan air ncru¡alan lclayaan
alan yang Iarus icia¡ dijaga lclcsiariannya, olcI sclal iiu ¡cngclolaan
icrIada¡ sunlcrdaya alan dcngan saiuan unii ¡cngclolaan DAS Iarus
dilalsanalan sccara lijalsana, scIingga da¡ai ncndulung ¡cninglaian
lcscjaIicraan nasyaralai.
Uniul ncnjaga lclangsungan fungsi ¡olol Iuian dan londisi Iuian,
dilalulan u¡aya rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian yang dinalsudlan
uniul ncnuliIlan, ncn¡criaIanlan dan ncninglailan fungsi Iuian
dan laIan scIingga daya dulung, ¡roduliiviias, dan ¡cranannya dalan
ncndulung sisicn ¡cnyangga lcIidu¡an icia¡ icrjaga.
Pcnyclcnggaraan rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian diuianalan
¡clalsanaannya nclalui ¡cndclaian ¡ariisi¡aiif dalan rangla
ncngcnlanglan ¡oicnsi dan ncnlcrdayalan nasyaralai.
FcIaliliiasi disclcnggaralan nclalui lcgiaian rcloisasi dan ¡cngIijauan
scria rcllanasi Iuian, lclcrIasilannya diicniulan olcI lcsar lccilnya
¡ariisi¡asi nasyaralai.

Uniul . . .
184
- 2 -


Uniul lc¡cniingan ¡cnlangunan lcrsifai siraicgis aiau ncnyanglui
lc¡cniingan unun yang Iarus ncnggunalan lawasan Iuian, Iarus
diinlangi dcngan u¡aya rcllanasinya.
Pcraiuran PcncriniaI ini ncngaiur icniang rcIaliliiasi yang dilalulan
nclalui lcgiaian rcloisasi, ¡cngIijauan, ¡cncliIaraan, ¡cngayaan
iananan scria ¡cncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sccara vcgciaiif dan
si¡il iclnis, ¡ada laIan lriiis dan iidal ¡roduliif. Scria lcgiaian
rcllanasi Iuian ncli¡uii usaIa uniul ncn¡crlaili aiau ncnuliIlan
lcnlali laIan dcngan vcgciasi Iuian yang rusal agar da¡ai lcrfungsi
sccara o¡iinal scsuai dcngan ¡cruniulannya.
Cuna ncnlcrilan landasan Iulun lagi ¡clalsanaan rcIaliliiasi dan
rcllanasi Iuian yang lcrlcadilan, nala ¡crlu diicia¡lan dcngan
Pcraiuran PcncriniaI.



II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Culu¡ jclas.

Pasal 2
Culu¡ jclas.

Pasal 3
Culu¡ jclas.

Pasal 4
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Huruf a
Sisicn ¡cnganggaran yang lcrlcsinanlungan (PXOWL \HDUV}"
dinalsudlan agar dalan ¡clalsanaan rcIaliliiasi Iuian
dan laIan da¡ai dilalsanalan sccara lcrlclanjuian, dcngan
ncndasarlan sisicn silviluliur scria londisi illin dan
cuaca.

Huruf l . . .
185
- 3 -

Huruf l
Yang dinalsud dcngan ºlcjclasan lcwcnangan", adalaI
laIwa ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi ¡crlu didulung olcI
falior lcsia¡an lcrja ¡clalsana, iinglai ¡cncrinaan
nasyaralai, lclijalan dalan sisicn ¡cngclolaan Iuian dan
sisicn lclcnlagaan.
Huruf c
Yang dinalsud dcngan º¡cnaIanan sisicn WHQXULDO" adalaI
lc¡asiian Ial aias ianaI.
Huruf d
Yang dinalsud dcngan ºandil liaya FRVW VKDULQJ", adalaI
laIwa ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi Iuian dan laIan,
invcsiasi yang dinilili nasyaralai sc¡crii icnaga lcrja
da¡ai diIiiung sclagai liaya, scIingga u¡aya rcIaliliiasi
Iuian dan laIan da¡ai ncnlcrilan lcuniungan lagi
Ncgara dan nasyaralai lail ¡crorangan nau¡un lclon¡ol.
Huruf c
Yang dinalsud dcngan º¡cncra¡an sisicn inscniif", adalaI
laIwa dalan ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi Iuian dan laIan,
PcncriniaI da¡ai ncnlcrilan dulungan dalan lcniul
insiruncn lclijalan yang nan¡u ncndorong icrca¡ainya
nalsud dan iujuan rcIaliliiasi aniara lain lcnudaIan
¡crizinan, alscs ¡asar, dan ¡cngIargaan.
Huruf f
Yang dinalsud dcngan º¡cnlcrdayaan nasyaralai dan
la¡asiias lclcnlagaan", adalaI laIwa ¡cnyclcnggaraan
rcIaliliiasi Iuian dan laIan Iarus nan¡u ncnlcrilan
nanfaai sunlcr daya Iuian lc¡ada nasyaralai sccara
o¡iinal dan adil, nclalui ¡cngcnlangan la¡asiias dan
¡cnlcrian alscs dalan rangla ¡cninglaian
lcscjaIicraannya.





Huruf g . . .

186
- 4 -

Huruf g
Yang dinalsud dcngan º¡cndclaian ¡ariisi¡aiif" adalaI
wujud lciluiscriaan ¡cran nasyaralai dan ¡iIal icrlaii
dalan nclalsanalan lcgiaian rcIaliliiasi dan rcllanasi
Iuian.
Huruf I
Yang dinalsud dcngan ºirans¡aransi dan alunialiliias",
adalaI laIwa ¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi Iuian dan laIan
nulai dari ¡crcncanaan, ¡crsia¡an, ¡clalsanaan dan
¡cngcndalian lcrsifai icrlula dan da¡ai dialscs olcI
nasyaralai luas, dan Iasilnya da¡ai
di¡crianggungjawallan.

Ayai (3}
Huruf a
Yang dinalsud dcngan ºas¡cl ¡oliiil", adalaI laIwa
rcIaliliiasi Iuian dan laIan ncngalonodasi iclanan glolal
scIingga ncnjadi ¡cluang dan ncn¡crolcI dulungan dan
loniincn ¡oliiil yang culu¡ dalan ¡cnyclcnggaraan
rcIaliliiasi.
Huruf l
Yang dinalsud dcngan ºas¡cl sosial", adalaI laIwa
rcIaliliiasi Iuian dan laIan diIara¡lan nan¡u
ncnlcrilan nanfaai lagi ¡cninglaian clononi
lcscjaIicraan nasyaralai.
Huruf c
Yang dinalsud dcngan ºas¡cl clononi", adalaI laIwa
rcIaliliiasi Iuian dan laIan diiujulan uniul ncninglailan
clononi dan ¡cnda¡aian nasyaralai scliiar Iuian.
Huruf d
Yang dinalsud dcngan ºas¡cl closisicn", adalaI laIwa
dalan rangla ¡cngclolaan DAS dcngan ncn¡crIaiilan daya
dulung laIan ODQG FDSDELOLW\ dan lcscsuaian laIan ODQG
VXLWDELOLW\ scria ncn¡crIaiilan lcanclaraganan jcnis dan
iinglai lcrcnianan icrIada¡ Iana ¡cnyalii.

Huruf c . . .



187
- 5 -
Huruf c
Yang dinalsud dcngan ºas¡cl lclcnlagaan dan
organisasi", adalaI laIwa rcIaliliiasi Iuian dan laIan
¡crlu ncnda¡ai lc¡asiian Iulun uniul ncnjanin
lclangsungan ¡cnggunaan dan ¡cngclolaan laIan.

Pasal 5
As¡cl lawasan, as¡cl lclcnlagaan, dan as¡cl iclnologi
dilalsanalan dalan saiu sisicn nanajcncn dalan ¡cnyclcnggaraan
rcIaliliiasi dan rcllanasi Iuian.

Pasal 6
Huruf a
Karalicrisiil lolasi lcgiaian ncli¡uii infornasi dan daia londisi
lolasi yang didasarlan ¡ada liofisil dan sosial clononi yang
di¡crlulan uniul lcliI icrjaninnya lclcrIasilan rcllanasi
Iuian.
Huruf l
Jcnis lcgiaian lcrdasarlan lcniul ¡cnggunaan lawasan
Iuian.
Huruf c
Pcnaiaan laIan aniara lain ncli¡uii lcgiaian.
a. ¡cngisian lcnlali laIan lclas ¡cnggunaan lawasan Iuian;
l. ¡cngaiuran ¡crnulaan laIan (UHJUDGLQJ}; dan
c. ¡cncn¡aian/¡cnaluran ianaI ¡ucul.
Huruf d
Pcngcndalian crosi dan linlaI aniara lain ncli¡uii lcgiaian
¡cnluaian langunan ¡cngcndali crosi dan linlaI, jcnis, junlaI
dan lualiiasnya scsuai dcngan rcncana.
Huruf c
Culu¡ jclas.
Huruf f
Pcngcnlangan sosial clononi dilalulan olcI ¡cncgang izin
¡cnggunaan lawasan Iuian yang lcgiaiannya nclilailan dan
ncnlcri nanfaai sosial dan clononi nasyaralai lolal.

Pasal 7
Culu¡ jclas.

Pasal 8
Culu¡ jclas.

Pasal 9 . . .
188
- 6 -
Pasal 9
Culu¡ jclas.

Pasal 10
Culu¡ jclas.

Pasal 11
Culu¡ jclas.

Pasal 12
Culu¡ jclas.

Pasal 13
Ayai (1}
Culu¡ jclas.

Ayai (2}
Huruf a
Culu¡ jclas.
Huruf l
Culu¡ jclas.
Huruf c
Yang dinalsud dcngan ºFcncana Pcngclolaan DAS Tcr¡adu"
adalaI lonsc¡ ¡cnlangunan yang ncngalonodasilan
lcrlagai ¡craiuran ¡crundang-undangan dan dijalarlan
sccara ncnycluruI dan icr¡adu dalan suaiu rcncana
nalro.
Ayai (3}
Culu¡ jclas.
Ayai (4}
Culu¡ jclas
Ayai (5}
Pcraiuran Mcnicri ncngaiur aniara lain, nciodc, iclnil dan
¡roscdur ¡cnyusunan, ¡cnilaian dan ¡cngcsaIan scria jangla
waliu lcrlalunya FTlFHL-DAS.

Pasal 14
Ayai (1}
FPFHL ncru¡alan rcncana nanajcncn dalan rangla
¡cnyclcnggaraan rcIaliliiasi Iuian dan laIan scsuai dcngan
lcwcnangan PcncriniaI dan ¡cncriniaI dacraI lcrdasarlan
lcicniuan ¡craiuran ¡crundang-undangan.

Huruf a
Culu¡ jclas.

Huruf l . . .
189
- 7 -
Huruf l
Culu¡ jclas.
Huruf c
Fcncana ¡cngclolaan Iuian sclagainana diaiur dalan
Pcraiuran PcncriniaI icniang Taia Huian dan Pcnyusunan
Fcncana Pcngclolaan Huian scria Pcnanfaaian Huian.
Huruf d
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.

Pasal 15
Culu¡ jclas.

Pasal 16
Culu¡ jclas.

Pasal 17
Ayai (1}
Culu¡ jclas.

Ayai (2}
Fancangan lcgiaian rcIaliliiasi Iuian dan laIan ncru¡alan
dcsain iclnis dari sciia¡ jcnis lcgiaian yang dircncanalan dalan
FTnFHL.

Pasal 18
Yang dinalsud dcngan ºIal" adalaI Ial ¡cngclolaan Iuian.
Yang dinalsud dcngan ºizin" adalaI izin ¡cnanfaaian Iuian dan izin
¡cnggunaan lawasan Iuian.

Pasal 19
Culu¡ jclas.

Pasal 20
Culu¡ jclas.

Pasal 21
Culu¡ jclas.

Pasal 22
Culu¡ jclas.


Pasal 23 . . .
190
- 8 -


Pasal 23
Culu¡ jclas.

Pasal 24
Culu¡ jclas.

Pasal 25
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.
Ayai (3}
Culu¡ jclas.
Ayai (4}
Culu¡ jclas
Ayai (5}
Huruf a
Kcgiaian ¡crawaian aniara lain ncli¡uii .
a. ¡crawaian iananan, lcru¡a ¡cnyiangan, ¡cndangiran,
¡cnyulanan dan ¡cnu¡ulan; dan
l. ¡crawaian langunan lonscrvasi ianaI, lcru¡a
¡crlailan, ¡cnycn¡urnaan, dan ncnjaga sialiliias
langunan lonscrvasi ianaI.
Huruf l
Yang dinalsud dcngan º¡cngcndalian Iana dan ¡cnyalii"
adalaI ¡crlaluan icrIada¡ iananan dari gangguan Iana
dan ¡cnyalii dcngan ¡cnggunaan ¡csiisida dan inscliisida
sclcliif sc¡crii fungisida, Icrlisida, inscliisida s¡clirun
icrlaias, scria ¡crlaluan fisil nanual lIususnya uniul
Iana Icwan lcsar.
Pasal 26
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.
Ayai (3} . . .
191
- 9 -
Ayai (3}
Yang dinalsud dcngan ºIuian rawang" adalaI Iuian yang
ncnilili ¡oicnsi sclaran icgalan ¡oIon ¡cr Icliar lurang dari
700 (iujuI raius} laiang.

Ayai (4}
Kcgiaian ¡cncliIaraan iananan aniara lain ncli¡uii ¡crawaian
dan ¡cngcndalian Iana dan ¡cnyalii.

Pasal 27
Ayai (1}
Pcncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sccara si¡il iclnis aniara lain
dilalulan dcngan ¡cnluaian cnlung, ¡arii luniu URUDN
langunan ¡clindung icling sungai/wadul/ danau.
Ayai (2}
Tclnil liniawi dilalulan dcngan cara ¡cnlcrian nulsa,
liiuncn, zai linia, aiau VRLO FRQGLWLRQHU.

Pasal 28
Culu¡ jclas.

Pasal 29
Culu¡ jclas.

Pasal 30
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Huruf a
Kcgiaian ¡crawaian aniara lain ncli¡uii .
a. ¡crawaian iananan lcru¡a ¡cnyiangan, ¡cndangiran,
¡cnyulanan dan ¡cnu¡ulan; dan
l. ¡crawaian langunan lonscrvasi ianaI lcru¡a
¡crlailan, ¡cnycn¡urnaan, dan ncnjaga sialiliias
langunan lonscrvasi ianaI.
Huruf l
Yang dinalsud dcngan º¡cngcndalian Iana dan ¡cnyalii"
adalaI ¡crlaluan icrIada¡ iananan dari gangguan Iana
dan ¡cnyalii dcngan ¡cnggunaan ¡csiisida dan inscliisida
sclcliif sc¡crii fungisida, Icrlisida, inscliisida s¡clirun
icrlaias, scria ¡crlaluan fisil nanual lIususnya uniul
Iana Icwan lcsar.
Pasal 31
Ayai (1}
Culu¡ jclas.

Ayai (2} . . .
192
- 10 -

Ayai (2}
Culu¡ jclas.
Ayai (3}
Yang dinalsud dcngan ºIuian Ial" adalaI Iuian yang lcrada di
luar lawasan Iuian dan iunluI di aias ianaI yang dilclani
Ial aias ianaI yang lazin disclui Iuian ralyai.
Ayai (4}
Kcgiaian ¡cncliIaraan iananan aniara lain ncli¡uii ¡crawaian
dan ¡cngcndalian Iana dan ¡cnyalii.

Pasal 32
Ayai (1}
Huruf a
Pcncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sccara vcgciaiif aniara
lain dilalulan dcngan ¡cnananan vcgciasi icia¡, ludidaya
iananan lorong, siri¡ run¡ui dan nulsa, iananan ¡cnguai
icras.
Huruf l
Pcncra¡an iclnil lonscrvasi ianaI sccara si¡il iclnis
aniara lain dilalulan dcngan ¡cnluaian langunan dan
¡cngcndali, dan ¡cnaIan, icras, saluran ¡cnluangan air,
sunur rcsa¡an, cnlung, ¡arii luniu URUDN langunan
¡clindung icling sungai/wadul/ danau.
Ayai (2}
Tclnil liniawi dilalulan dcngan cara ¡cnlcrian nulsa,
liiuncn, zai linia, aiau VRLO FRQGLWLRQHU.

Pasal 33
Culu¡ jclas.

Pasal 34
Ayai (1}
Huruf a
Yang dinalsud dcngan º¡cngcnlangan ¡crlcniIan"
adalaI usaIa ¡cnuliaan ¡oIon, ¡cngcnlangan sunlcr
lcniI, lonscrvasi sunlcr daya gcnciil, ¡rodulsi lcniI,
disirilusi lcniI dan ¡cnliliian.


Huruf l . . .

193
- 11 -
Huruf l
Yang dinalsud dcngan ºiclnologi rcIaliliiasi Iuian dan
laIan" adalaI ncioda dan iclnil dalan nclalsanalan
lcgiaian rcIaliliiasi icrnasul dalan ¡cnliliian,
¡cnananan dan ¡cnluaian langunan lonscrvasi ianaI,
¡cncliIaraan, ¡crlindungan, dan ¡cngananan.
Huruf c
Yang dinalsud dcngan º¡cnccgaIan dan ¡cnanggulangan
lclalaran Iuian dan laIan" adalaI usaIa dalan
ncnccgaI, ncnadanlan, ncngcndalilan, ncngcvaluasi
alilai lclalaran dan ncn¡crsia¡lan iindalan rcIaliliiasi
arcal lclas lclalaran Iuian dan laIan.
Huruf d
Culu¡ jclas.
Huruf c
Culu¡ jclas.
Huruf f
Yang dinalsud dcngan º¡cnlcrdayaan nasyaralai" adalaI
usaIa ncninglailan lcnan¡uan lclcnlagaan
nasyaralai.
Huruf g
Culu¡ jclas.
Huruf I
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.

Pasal 35
Culu¡ jclas.

Pasal 36
Culu¡ jclas.

Pasal 37
Ayai (1}
Lcnlaga yang dilcri Ial ¡cngclolaan lawasan Iuian dcngan
iujuan lIusus aniara lain .
a. lcnlaga ¡cndidilan;
l. lcnlaga ¡cncliiian; dan
c. lcnlaga sosial dan lcaganaan.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.

Pasal 38 . . .
194
- 12 -
Pasal 38
Culu¡ jclas.

Pasal 39
Ayai (1}
Pcndan¡ingan aniara lain lcru¡a ¡cnlcrian noiivasi, ncdiasi,
dan alscs dalan rangla ¡cngcnlangan lclcnlagaan.
Pclayanan aniara lain lcru¡a ¡cnycdiaan daia dan infornasi.
Dulungan, aniara lain, lcru¡a laniuan iclnis, dana,
¡cnyuluIan, ¡claiiIan dan lilii iananan scsuai dcngan
lc¡crluan dan lcnan¡uan PcncriniaI aiau ¡cncriniaI dacraI.

Ayai (2}
Kcgiaian rcIaliliiasi Iuian dan laIan dcngan iujuan
¡crlindungan dan lonscrvasi diuianalan larcna adanya
lcuniungan sosial sc¡crii ¡cngcndalian lanjir dan lclcringan,
¡cnccgaIan crosi, scria ¡cnania¡an londisi iaia air.

Pasal 40
Ayai (1}
Yang dinalsud dcngan ºinscniif" adalaI suaiu insiruncn
lclijalan yang nan¡u ncndorong icrca¡ainya nalsud dan
iujuan rcIaliliiasi Iuian dan laIan, dan sclaligus nan¡u
ncnccgaI lcrianlaI luasnya lcrusalan/dcgradasi sunlcr daya
Iuian dan laIan (laIan lriiis} dalan suaiu closisicn DAS.
Pcncra¡an inscniif icrganiung ¡ada ciri lIas dacraI lail dari
scgi ¡oicnsi sunlcrdaya Iuian dan laIan, lclcnlagaan, sosial
ludaya, dan lcnan¡uan clononi dacraI yang saling
ncn¡cngaruIi aniara dacraI yang saiu dcngan yang lainnya,
scIingga ¡cngaiurannya dilalulan sccara nasional.
Ayai (2}
Pcraiuran Mcnicri ncnuai ¡olol-¡olol lcicniuan
¡cngcnlangan inscniif rcIaliliiasi Iuian dan laIan, aniara lain.
a. siandar dan lriicria ¡cngcnlangan inscniif;
l. lcniul-lcniul inscniif; dan
c. iaia cara ¡cnyclcnggaraan lclijalan dan ¡cncia¡an inscniif.

Pasal 41
Culu¡ jclas.


Pasal 42 . . .
195
- 13 -

Pasal 42
Ayai (1}
Yang dinalsud dcngan º¡crulaIan ¡crnulaan ianaI" adalaI
lcrulaInya lcniang alan ¡ada lawasan Iuian.
PcrulaIan lcniang alan sclagai alilai ¡cnggunaan lawasan
Iuian aniara lain lcru¡a ¡cnlangunan insialasi air, cls¡loiiasi
¡crianlangan, aiau lcncana alan, yang ncnyclallan
¡cnurunan lualiias Iuian sccara clononi, sosial dan clologi
dalan lcscinlangan closisicn DAS.
Yang dinalsud dcngan º¡crulaIan ¡cnuiu¡an ianaI" adalaI
lcrulaInya jcnis-jcnis vcgciasi yang scnula ada ¡ada lawasan
Iuian.
Ayai (2}
Huruf a
Culu¡ jclas.
Huruf l
Yang dinalsud dcngan ºlcncana alan" adalaI lcjadian
alan yang ncngalilailan ¡crulaIan lcniang alan,
scIingga icrjadi ¡cnurunan lualiias Iuian sccara clononi,
sosial dan clologi dalan lcscinlangan closisicn DAS.

Pasal 43
Culu¡ jclas.

Pasal 44
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Daia ¡rincr dilun¡ullan dari ¡cngun¡ulan langsung di
la¡angan, scdanglan daia sclundcr dianlil dari daia yang
sudaI ada.
Kcadaan liofisil ¡aling scdilii lcrisi jcnis ianaI, iclal solun
ianaI, ¡cnggunaan laIan, luas ¡cnuiu¡an laIan, jcnis flora dan
fauna, io¡ografi, junlaI Iujan, ii¡c illin, iaia air, crosi, fungsi
Iuian, vcgciasi, dan iinggi icn¡ai.
Kcadaan sosial clononi ¡aling scdilii lcrisi dcnografi
¡cndudul, iinglai ¡cnda¡aian nasyaralai, naia ¡cncaIarian,
sarana ¡rasarana unun, ludaya dan lclcnlagaan nasyaralai.


Ayai (3} . . .
196
- 14 -

Ayai (3}
Yang dinalsud dcngan ºdaia nuncril" adalaI daia yang
lcrwujud angla aiau sisicn angla.
Yang dinalsud dcngan ºdaia s¡asial" adalaI daia yang ncnilili
rcfcrcnsi ruang lclunian (JHRUHIHUHQFH} di nana lcrlagai daia
airilui icrlcial dalan lcrlagai unii s¡asial.

Pasal 45
Culu¡ jclas.

Pasal 46
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.
Ayai (3}
Huruf a
Kondisi lawasan Iuian sclclun dan scsudaI aliiviias
¡cnggunaan lawasan Iuian lcrisi infornasi icniang londisi
luaniiiaiif dan lualiiaiif awal ¡cnuiu¡an arcal ¡cnggunaan
lawasan Iuian.
Kondisi lualiiaiif dan londisi luaniiiaiif aniara lain
lcra¡aian icgalan, jcnis iananan, io¡ografi, lclcrcngan,
¡cnuiu¡an laIan, flora fauna.
Huruf l
Fcncana ¡cnlulaan lawasan Iuian lcrisi infornasi
icniang luas dan lolasi ¡cnggunaan lawasan Iuian yang
alan dilalsanalan.
Huruf c
Progran rcllanasi Iuian ncli¡uii ¡cnyia¡an lawasan
Iuian, ¡cngaiuran lcniul lawasan Iuian, ¡cngcndalian
crosi dan scdincniasi, ¡cngclolaan la¡isan ianaI,
rcvcgciasi, dan ¡cngananan.
Pcnyia¡an lawasan Iuian ncru¡alan aliiviias ¡cnindaIan
aiau ¡cnlcrsiIan scluruI ¡cralaian dan ¡rasarana yang
iidal digunalan lagi, ¡cnluangan linlaI/san¡aI
lcracun/lcrlaIaya, ¡cnluangan aiau ¡cnguluran sra¡,
¡cnuiu¡an lulaan, dan nclarang aiau ncnuiu¡ jalan
nasul.

Pcngaiuran . . .
197
- 15 -

Pcngaiuran lcniul lawasan Iuian dilalulan scsuai dcngan
londisi io¡ografi dan Iidrologi, ncli¡uii lcgiaian
¡cngaiuran lcniul lcrcng dan ¡cngaiuran saluran
¡cnluangan air.
Pcngcndalian crosi dan scdincniasi dilalulan dcngan
ncnininalislan arcal yang icrganggu,
ncnlaiasi/ncngurangi lccc¡aian air lin¡asan,
ncninglailan infilirasi dan ¡cngolaIan air yang lcluar dari
lolasi lclas aliiviias ¡cnggunaan lawasan Iuian.
PcngolaIan la¡isan ianaI ncru¡alan lcgiaian uniul
ncnisaIlan ianaI ¡ucul dcngan la¡isan ianaI lain.
Fcvcgciasi adalaI ¡cnananan lcnlali dcngan jcnis-jcnis
iananan cc¡ai iunluI ¡ada awalnya dan
¡cnyulanan/¡cnglayaan dcngan jcnis iananan lolal.
Fcvcgciasi dilalulan dcngan iaIa¡an ¡cnyusunan
rancangan iclnis, ¡crsia¡an la¡angan, ¡cngadaan lilii,
¡cnananan dan ¡cncliIaraan.
Pcngananan ncli¡uii ¡airoli, ¡cnasangan ianda-ianda
¡cringaian dan ianda larangan, scria ncngananlan Iasil
rcllanasi.
Huruf d
Fancangan iclnis rcllanasi Iuian digunalan sclagai
acuan dciail uniul ncncniulan lolasi ia¡al.
Lolasi ia¡al ncru¡alan lolasi scicn¡ai (VLWH} yang alan
dilalulan lcgiaian rcllanasi dcngan ncncra¡lan iclnil
rcllanasi icricniu.
Huruf c
Taia waliu ¡clalsanaan ncli¡uii jangla waliu ¡clalsanaan
dan ¡cnyclcsaian lcgiaian rcllanasi Iuian.








Huruf f . . .

198
- 16 -
Huruf f
Fcncana liaya ncli¡uii liaya langsung nau¡un liaya iidal
langsung yang dilcluarlan dalan ¡cnyclcnggaraan lcgiaian
rcllanasi Iuian, sclagai dasar ¡crIiiungan lcsarnya dana
janinan rcllanasi dan rcIaliliiasi Iuian.
Fcncana liaya dijadilan dasar ¡crIiiungan lcsarnya dana
janinan rcllanasi Iuian.
Huruf g
Pcia lolasi dan ¡cia rcncana lcgiaian rcllanasi Iuian
diluai dcngan slala 1.25.000 san¡ai dcngan 1.10.000.
Ayai (4}
Culu¡ jclas.
Ayai (5}

Pasal 47
Culu¡ jclas.

Pasal 48
Culu¡ jclas.

Pasal 49
Ayai (1}
Yang dinalsud dcngan ºncnlayar dana janinan rcllanasi"
adalaI dana yang diicn¡ailan aiau discdialan olcI ¡cncgang
izin sclagai janinan uniul nclalulan rcllanasi.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.
Ayai (3}
Culu¡ jclas.
Ayai (4}
Culu¡ jclas.

Pasal 50
Culu¡ jclas.

Pasal 51
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Culu¡ jclas.
Ayai (3}
Culu¡ jclas.

Ayai (4} . . .
199
- 17 -

Ayai (4}
Culu¡ jclas.
Ayai (5}
Fasiliiasi aniara lain nclalui linlingan iclnis, ¡claiiIan, dan
¡cnyuluIan.
Ayai (6}
Pcdonan yang diaiur dalan ¡craiuran Mcnicri aniara lain
ncngaiur icniang ¡crcncanaan dan ¡clalsanaan.

Pasal 52
Culu¡ jclas.

Pasal 53
Ayai (1}
Culu¡ jclas.
Ayai (2}
Yang dinalsud dcngan ºlclijalan" adalaI ¡cngaiuran aiau
¡cncia¡an ¡cdonan dalan lcgiaian rcIaliliiasi dan rcllanasi
Iuian.
Pclalsanaan ¡cnlinaan, ¡cngcndalian dan ¡cngawasan
dilalulan dcngan lcrloordinasi Mcnicri iclnis.

Pasal 54
Culu¡ jclas.

Pasal 55
Culu¡ jclas.

Pasal 56
Culu¡ jclas.

Pasal 57
Culu¡ jclas.

Pasal 58
Culu¡ jclas.

Pasal 59
Ayai (1}
Culu¡ jclas.


Ayai (2} . . .
200
- 18 -
Ayai (2}
Tcguran ncru¡alan langlaI awal sclagai dasar lorclsi aiau
¡cngcnaan sanlsi.

Ayai (3}
Culu¡ jclas.

Ayai (4}
Pcnlaialan izin ¡cnanfaaian Iuian dan aiau izin ¡injan ¡alai
¡cnggunaan lawasan Iuian dilalulan a¡alila.
a. ¡cnlcrian ¡crizinannya iidal scsuai dcngan Pcraiuran
PcncriniaI ini; aiau
l. ¡cncgang izin nclanggar lcicniuan yang lcrlalu dalan
Pcraiuran PcncriniaI ini.

Pasal 60
Culu¡ jclas.

Pasal 61
Culu¡ jclas.

Pasal 62
Culu¡ jclas.


TAMDAHAN LEMDAFAN NECAFA FEPUDLIK INDONESIA NOMOF 4947

201
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 2010
TENTANG
WILAYAH PERTAMBANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12, Pasal 19, Pasal 25, Pasal 33,
dan Pasal 89 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Wilayah
Pertambangan;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam yang memiliki sifat fisik dan kimia
tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik
dalam bentuk lepas atau padu.
Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah dari sisa
tumbuh-tumbuhan.
Pertambangan mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau batuan,
di luar panas bumi, minyak dan gas bumi serta air tanah.
Pertambangan batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi,
termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.
Usaha pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang
meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta
pascatambang.
202
Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara
terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya
terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup.
Wilayah Pertambangan yang selanjutnya disebut WP, adalah wilayah yang memiliki potensi
mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang
merupakan bagian dari rencana tata ruang nasional.
Wilayah Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut WUP, adalah bagian dari WP yang
telah memiliki ketersediaan data, potensi, dan/atau informasi geologi.
Wilayah Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut WIUP, adalah wilayah yang
diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan.
Wilayah Pertambangan Rakyat yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian dari WP tempat
dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
Wilayah Pencadangan Negara yang selanjutnya disebut WPN, adalah bagian dari WP yang
dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
Wilayah Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut WUPK, adalah bagian dari
WPN yang dapat diusahakan.
Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus dalam WUPK yang selanjutnya disebut WIUPK,
adalah wilayah yang diberikan kepada pemegang Izin Usaha Pertambangan Khusus.
Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia
yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan
mineral dan batubara.

Pasal 2
(1) WP merupakan kawasan yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara, baik di
permukaan tanah maupun di bawah tanah, yang berada dalam wilayah daratan atau wilayah
laut untuk kegiatan pertambangan.
(2) Wilayah yang dapat ditetapkan sebagai WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki
kriteria adanya:
a. indikasi formasi batuan pembawa mineral dan/atau pembawa batubara; dan/atau
b. potensi sumber daya bahan tambang yang berwujud padat dan/atau cair.
(3) Penyiapan wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan melalui kegiatan:
a. perencanaan WP; dan
b. penetapan WP.

BAB II
PERENCANAAN WILAYAH PERTAMBANGAN
Bagian Kesatu
Umum

Pasal 3
Perencanaan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a disusun melalui
tahapan:
a. inventarisasi potensi pertambangan; dan
203
b. penyusunan rencana WP.

Bagian Kedua
Inventarisasi Potensi Pertambangan


Pasal 4
(1) Inventarisasi potensi pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a ditujukan
untuk mengumpulkan data dan informasi potensi pertambangan yang dapat digunakan
sebagai dasar penyusunan rencana penetapan WP.
(2) Potensi pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelompokkan atas:
a. pertambangan mineral; dan
b. pertambangan batubara.
(3) Pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelompokkan
ke dalam 5 (lima) golongan komoditas tambang:
a. mineral radioaktif;
b. mineral logam;
c. mineral bukan logam;
d. batuan; dan
e. batubara.
(4) Pengaturan mengenai komoditas tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur
dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.

Pasal 5
Inventarisasi potensi pertambangan dilakukan melalui kegiatan penyelidikan dan penelitian
pertambangan.
Penyelidikan dan penelitian pertambangan dilakukan untuk memperoleh data dan informasi.
Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat:
a. formasi batuan pembawa mineral logam dan/atau batubara;
b. data geologi hasil evaluasi dari kegiatan pertambangan yang sedang berlangsung, telah
berakhir, dan/atau telah dikembalikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya;
c. data perizinan hasil inventarisasi terhadap perizinan yang masih berlaku, yang sudah
berakhir, dan/atau yang sudah dikembalikan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/
walikota sesuai dengan kewenangannya; dan/atau
d. interpretasi penginderaan jauh baik berupa pola struktur maupun sebaran litologi.

Pasal 6
Penyelidikan dan penelitian pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilakukan
oleh:
a. Menteri, untuk penyelidikan dan penelitian pada wilayah:
1. lintas wilayah provinsi;
2. laut dengan jarak lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis pantai; dan/atau
3. berbatasan langsung dengan negara lain;
b. gubernur, untuk penyelidikan dan penelitian pada wilayah:
lintas wilayah kabupaten/kota; dan/atau
204
laut dengan jarak 4 (empat) sampai dengan 12 (dua belas) mil dari garis pantai;
c. bupati/walikota, untuk penyelidikan dan penelitian pada wilayah:
1. kabupaten/kota; dan/atau
2. laut sampai dengan 4 (empat) mil dari garis pantai.
Dalam hal wilayah laut berada di antara 2 (dua) provinsi yang berbatasan dengan jarak kurang
dari 24 (dua puluh empat) mil, wilayah penyelidikan dan penelitian masing-masing provinsi
dibagi sama jaraknya sesuai prinsip garis tengah.
Kewenangan bupati/walikota pada wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sejauh 1/3
(sepertiga) dari garis pantai masing-masing wilayah kewenangan gubernur.
Pasal 7
Penyelidikan dan penelitian pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilaksanakan
secara terkoordinasi oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 8
(1) Dalam melakukan kegiatan penyelidikan dan penelitian pertambangan, Menteri atau
gubernur dapat memberikan penugasan kepada lembaga riset negara dan/atau lembaga
riset daerah.
(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menunjang penyiapan
WP dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertambangan.
(3) Dalam hal tertentu, lembaga riset negara dapat melakukan kerja sama dengan lembaga riset
asing setelah mendapat persetujuan dari Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 9
Lembaga riset negara dan/atau lembaga riset daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
ayat (1) wajib:
menyimpan, mengamankan, dan merahasiakan data dan informasi potensi pertambangan
hasil penyelidikan dan penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-
undangan; dan
menyerahkan seluruh data dan informasi potensi pertambangan yang diperolehnya kepada
Menteri atau gubernur yang memberi penugasan.
Lembaga riset asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) wajib:
menyimpan, mengamankan, dan merahasiakan data dan informasi potensi pertambangan
hasil penyelidikan dan penelitian sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-
undangan; dan
menyerahkan seluruh data dan informasi potensi pertambangan yang diperolehnya kepada
lembaga riset negara yang bekerja sama dengannya paling lambat pada tanggal
berakhirnya kerja sama.


Pasal 10
Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya menetapkan wilayah penugasan
penyelidikan dan penelitian pertambangan yang akan dilaksanakan oleh lembaga riset
negara dan/atau lembaga riset daerah dan dituangkan dalam peta.
Menteri dalam menetapkan wilayah penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berkoordinasi dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
205
Gubernur dalam menetapkan wilayah penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
berkoordinasi dengan Menteri dan bupati/walikota setempat.
Bupati/walikota dapat mengusulkan suatu wilayah penugasan untuk dilakukan penyelidikan dan
penelitian pertambangan kepada Menteri atau gubernur.

Pasal 11
Peta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) sebagai dasar dalam memberikan
penugasan penyelidikan dan penelitian pertambangan kepada lembaga riset negara dan/atau
lembaga riset daerah.

Pasal 12
(1) Data dan informasi hasil penyelidikan dan penelitian pertambangan yang dilakukan oleh
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota wajib diolah menjadi peta potensi mineral dan/atau
batubara.
(2) Data dan informasi hasil penyelidikan dan penelitian pertambangan yang dilakukan oleh
lembaga riset berdasarkan penugasan dari Menteri atau gubernur wajib diolah menjadi peta
potensi mineral dan/atau batubara.
(3) Peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
paling sedikit memuat informasi mengenai formasi batuan pembawa mineral dan/atau
pembawa batubara.
(4) Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan peta potensi mineral dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada Menteri.
(5) Berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (4),
Menteri melakukan evaluasi.
(6) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) digunakan oleh Menteri sebagai bahan
penyusunan rencana WP.

Pasal 13
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penugasan penyelidikan dan penelitian
pertambangan diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Penyusunan Rencana Wilayah Pertambangan

Pasal 14
Rencana WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (6) dituangkan dalam lembar peta
dan dalam bentuk digital.
Peta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menggambarkan WP dalam bentuk zona yang
di-delineasi dalam garis putus-putus.
Rencana WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan sebagai dasar penetapan WP.






BAB III
206
PENETAPAN WILAYAH PERTAMBANGAN


Bagian Kesatu
Umum

Pasal 15
Rencana WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3) ditetapkan oleh Menteri menjadi
WP setelah berkoordinasi dengan gubernur, bupati/walikota dan berkonsultasi dengan
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
WP dapat ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat mengusulkan perubahan
WP kepada Menteri berdasarkan hasil penyelidikan dan penelitian.

Pasal 16
(1) WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dapat terdiri atas:
a. WUP;
b. WPR; dan/atau
c. WPN.
(2) WUP dan WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf c ditetapkan oleh
Menteri.
(3) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan oleh bupati/walikota.
(4) Menteri dapat melimpahkan kewenangan penetapan WUP untuk pertambangan mineral
bukan logam dan WUP untuk pertambangan batuan yang berada pada lintas
kabupaten/kota dan dalam 1 (satu) kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi kepada gubernur.
(5) Untuk menetapkan WUP, WPR, dan WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat
(3), Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat
melakukan eksplorasi.
(6) Eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan untuk memperoleh data dan
informasi berupa:
a. peta, yang terdiri atas:
1. peta geologi dan peta formasi batuan pembawa;
dan/atau
2. peta geokimia dan peta geofisika;
b. perkiraan sumber daya dan cadangan.
(7) Menteri dalam melakukan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib
berkoordinasi dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
(8) Gubernur dalam melakukan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib
berkoordinasi dengan Menteri dan bupati/ walikota setempat.
(9) Bupati/walikota dalam melakukan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) wajib
berkoordinasi dengan Menteri dan gubernur.

Pasal 17
(1) Data dan informasi hasil eksplorasi yang dilakukan oleh gubernur dan bupati/walikota wajib
diolah menjadi peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara.
207
(2) Peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memuat sebaran potensi/cadangan mineral dan/atau batubara.
(3) Gubernur dan bupati/walikota wajib menyampaikan potensi/cadangan mineral dan/atau
batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta laporan hasil eksplorasi kepada
Menteri.
(4) Peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dibuat dalam bentuk lembar peta dan digital.

Bagian Kedua
Wilayah Usaha Pertambangan

Paragraf 1
Umum

Pasal 18
WUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. WUP mineral radioaktif;
b. WUP mineral logam;
c. WUP batubara;
d. WUP mineral bukan logam; dan/atau
e. WUP batuan.

Pasal 19
(1) WUP ditetapkan oleh Menteri.
(2) Untuk WUP mineral radioaktif, penetapannya dilakukan oleh Menteri berdasarkan usulan
dari instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang ketenaganukliran.

Paragraf 2
Penyusunan Rencana Penetapan
Wilayah Usaha Pertambangan

Pasal 20
(1) Menteri atau gubernur sesuai dengan kewenangannya menyusun rencana penetapan suatu
wilayah di dalam WP menjadi WUP berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) serta peta potensi/cadangan mineral
dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1).
(2) WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. memiliki formasi batuan pembawa batubara, formasi batuan pembawa mineral logam,
dan/atau formasi batuan pembawa mineral radioaktif, termasuk wilayah lepas pantai
berdasarkan peta geologi;
b. memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, mineral logam, batubara, mineral
bukan logam, dan/atau batuan;
c. memiliki potensi sumber daya mineral atau batubara;
d. memiliki 1 (satu) atau lebih jenis mineral termasuk mineral ikutannya dan/atau batubara;
e. tidak tumpang tindih dengan WPR dan/atau WPN;
f. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan secara
bekelanjutan; dan
208
g. merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan rencana tata ruang.

Paragraf 3
Penetapan Wilayah Usaha Pertambangan

Pasal 21
(1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) yang memenuhi
kriteria ditetapkan menjadi WUP oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan gubernur dan
bupati/walikota setempat.
(2) WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas:
a. WIUP radioaktif;
b. WIUP mineral logam;
c. WIUP batubara;
d. WIUP mineral bukan logam; dan/atau
e. WIUP batuan.
(3) Penetapan WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh
Menteri kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penetapan WUP diatur dengan Peraturan Menteri.

Paragraf 4
Penetapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan

Pasal 22
(1) Untuk menetapkan WIUP dalam suatu WUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat
(2) harus memenuhi kriteria:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk.
(2) Dalam hal WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan berada pada:
a. lintas wilayah provinsi dan/atau wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil dari garis
pantai, ditetapkan oleh Menteri pada WUP;
b. lintas kabupaten/kota dan/atau wilayah laut 4 (empat) mil dari garis pantai sampai
dengan 12 (dua belas) mil ditetapkan oleh gubernur pada WUP; dan/atau
c. kabupaten/kota dan/atau wilayah laut sampai dengan 4 (empat) mil dari garis pantai
ditetapkan oleh bupati/walikota pada WUP.
(3) Pada wilayah laut yang berada di antara 2 (dua) provinsi yang berbatasan dengan jarak
kurang dari 24 (dua puluh empat) mil, wilayah kewenangan masing-masing provinsi dibagi
sama jaraknya sesuai prinsip garis tengah.
(4) Kewenangan bupati/walikota pada wilayah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sejauh
1/3 (sepertiga) dari garis pantai masing-masing wilayah kewenangan gubernur.
(5) Penetapan WUP mineral bukan logam dan/atau batuan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b dan huruf c dapat dilimpahkan oleh Menteri kepada gubernur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
209
(6) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dalam menetapkan
luas dan batas WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan dalam suatu WUP berdasarkan
kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(7) Menteri dalam menetapkan luas dan batas WIUP mineral logam dan/atau batubara dalam
suatu WUP berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 23
(1) WIUP mineral logam dan/atau batubara ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi
dengan gubernur dan bupati/walikota setempat.
(2) WIUP mineral bukan logam dan/atau batuan ditetapkan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan permohonan dari badan usaha,
koperasi, atau perseorangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 24
Dalam hal di WIUP mineral logam dan/atau batubara terdapat komoditas tambang lainnya yang
berbeda, untuk mengusahakan komoditas tambang lainnya wajib ditetapkan WIUP terlebih
dahulu.

Pasal 25
Ketentuan mengenai pemberian WIUP diatur dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.

Bagian Ketiga
Wilayah Pertambangan Rakyat

Pasal 26
(1) Bupati/walikota menyusun rencana penetapan suatu wilayah di dalam WP menjadi WPR
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b berdasarkan peta potensi mineral
dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) serta peta
potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat
(1).
(2) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau diantara tepi
dan tepi sungai;
b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua
puluh lima) meter;
c. merupakan endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
d. luas maksimal WPR sebesar 25 (dua puluh lima) hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang;
dan/atau
f. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan
sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun;
g. tidak tumpang tindih dengan WUP dan WPN; dan
h. merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan rencana tata ruang.




210
Pasal 27
(1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 yang memenuhi kriteria
ditetapkan menjadi WPR oleh bupati/walikota setempat setelah berkoordinasi dengan
pemerintah provinsi dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
kabupaten/kota.
(2) Penetapan WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh
bupati/walikota kepada Menteri dan gubernur.
(3) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk mendapatkan
pertimbangan berkaitan dengan data dan informasi yang dimiliki pemerintah provinsi yang
bersangkutan.
(4) Konsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk memperoleh pertimbangan.

Bagian Keempat
Wilayah Pencadangan Negara

Paragraf 1
Umum

Pasal 28
Untuk kepentingan strategis nasional, Menteri menetapkan WPN sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 ayat (1) huruf c setelah mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia.

Paragraf 2
Penyusunan Rencana Penetapan
Wilayah Pencadangan Negara

Pasal 29
(1) Menteri menyusun rencana penetapan suatu wilayah di dalam WP menjadi WPN
berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12 ayat (1) serta peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17 ayat (1).
(2) WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi kriteria:
a. memiliki formasi batuan pembawa mineral radioaktif, mineral logam, dan/atau batubara
berdasarkan peta/data geologi;
b. memiliki singkapan geologi untuk mineral radioaktif, logam, dan/atau batubara
berdasarkan peta/data geologi;
c. memiliki potensi/cadangan mineral dan/atau batubara; dan
d. untuk keperluan konservasi komoditas tambang;
e. berada pada wilayah dan/atau pulau yang berbatasan dengan negara lain;
f. merupakan wilayah yang dilindungi; dan/atau
g. berada pada pulau kecil dengan luas maksimal 2.000 (dua ribu) kilometer persegi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Paragraf 3
Penetapan Wilayah Pencadangan Negara dan
Wilayah Usaha Pertambangan Khusus
211
Pasal 30
(1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) yang memenuhi
kriteria ditetapkan menjadi WPN oleh Menteri setelah memperhatikan aspirasi daerah dan
mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(2) WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terdiri atas 1 (satu) atau beberapa WUPK.


Pasal 31
(1) WPN yang ditetapkan untuk komoditas tertentu dapat diusahakan sebagian luas wilayahnya
setelah berubah statusnya menjadi WUPK dengan persetujuan dari Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia.
(2) Perubahan status sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh Menteri dengan
mempertimbangkan:
a. pemenuhan bahan baku industri dan energi dalam negeri;
b. sumber devisa negara;
c. kondisi wilayah didasarkan pada keterbatasan sarana dan prasarana;
d. berpotensi untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi;
e. daya dukung lingkungan; dan/atau
f. penggunaan teknologi tinggi dan modal inventasi yang besar.

Paragraf 4
Penetapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus

Pasal 32
(1) Untuk menetapkan WIUPK dalam suatu WUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30
ayat (2) harus memenuhi kriteria:
a. letak geografis;
b. kaidah konservasi;
c. daya dukung lingkungan;
d. optimalisasi sumber daya mineral dan/atau batubara; dan
e. tingkat kepadatan penduduk;
(2) WUPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. WIUPK mineral logam; dan/atau
b. WIUPK batubara.
(3) Menteri dalam menetapkan luas dan batas WIUPK mineral logam dan/atau batubara dalam
suatu WUPK berdasarkan kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 33
Dalam hal di WIUPK mineral logam dan/atau batubara terdapat komoditas tambang lainnya
yang berbeda, untuk mengusahakan komoditas tambang lainnya wajib ditetapkan WIUPK
terlebih dahulu.

Pasal 34
Ketentuan mengenai pemberian WIUPK diatur dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.


212
Bagian Kelima
Delineasi Zonasi Untuk WIUP atau WIUPK Operasi
Produksi Dalam Kawasan Lindung

Pasal 35
(1) Peta zonasi untuk WIUP Eksplorasi dan WIUPK Eksplorasi pada kawasan lindung dapat di-
delineasi menjadi peta zonasi WIUP Operasi Produksi atau WIUPK Operasi Produksi.
(2) Delineasi zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan hasil kajian
kelayakan dan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta antara resiko
dan manfaat dalam konversi kawasan lindung.
(3) Keseimbangan antara biaya dan manfaat dan antara resiko dan manfaat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan memperhitungkan paling sedikit mengenai
reklamasi, pascatambang, teknologi, program pengembangan masyarakat yang
berkelanjutan, dan pengelolaan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara melakukan delineasi diatur dengan Peraturan
Menteri.

BAB IV
DATA DAN INFORMASI

Bagian Kesatu
Pengelolaan Data dan Informasi

Pasal 36
(1) Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota wajib mengelola data
dan/atau informasi kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pengelolaan data dan/atau informasi meliputi kegiatan perolehan, pengadministrasian,
pengolahan, penataan, penyimpanan, pemeliharaan, dan pemusnahan data dan/atau
informasi.
(3) Pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota wajib menyampaikan data dan/atau
informasi usaha pertambangan kepada Pemerintah.
(4) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan milik
negara dan dikelola oleh Menteri.
(5) Hasil pengelolaan data dan/atau informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) digunakan
untuk:
a. penetapan klasifikasi potensi dan WP;
b. penentuan neraca sumber daya dan cadangan mineral dan batubara nasional; atau
c. pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mineral dan batubara.

Pasal 37
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengelolaan data dan/atau informasi diatur dengan
Peraturan Menteri.

Bagian Kedua
Sistem Informasi Geografis
213
Pasal 38
(1) WP dikelola oleh Menteri dalam suatu sistem informasi WP yang terintegrasi secara
nasional untuk melakukan penyeragaman mengenai sistem koordinat dan peta dasar dalam
penerbitan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK.
(2) Sistem koordinat pemetaan WUP, WIUP, WPR, WPN, WUPK, dan WIUPK sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) menggunakan Datum Geodesi Nasional yang ditetapkan oleh
instansi Pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei dan
pemetaan nasional.
(3) Sistem informasi WP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat diakses oleh
pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem informasi WP diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 39
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1. Instansi Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota yang belum
menggunakan sistem koordinat peta berdasarkan Datum Geodesi Nasional yang ditetapkan
oleh instansi Pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei
dan pemetaan nasional wajib menyesuaikan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam)
bulan.
2. Wilayah surat izin pertambangan daerah dan wilayah kuasa pertambangan yang telah
diberikan kepada pemegang Surat Izin Pertambangan Daerah atau Kuasa Pertambangan
yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum
diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, harus ditetapkan menjadi WIUP dalam WUP
sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
3. Wilayah kontrak karya dan wilayah perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan pemegang perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka waktu
paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, harus ditetapkan
dalam WUP sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 40
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku semua peraturan pelaksanaan yang
mengatur mengenai wilayah pertambangan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 41
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
214
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.





Disahkan di J akarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR.H.SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di J akarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

PATRIALIS AKBAR


LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 28
215
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 2010
TENTANG
WILAYAH PERTAMBANGAN

I. UMUM

Kegiatan pertambangan di Indonesia secara nyata telah membuka dan mengembangkan
wilayah terpencil. Dengan berkembangnya pusat pertumbuhan baru di beberapa wilayah,
telah memberikan manfaat dalam pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan
penerimaan negara, dan penyediaan lapangan kerja.
Kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara diharapkan menjadi penggerak
pembangunan, terutama di kawasan Timur Indonesia. Pengembangan sektor pertambangan
mineral dan batubara harus berdasarkan praktek pertambangan yang baik dan benar
dengan memperhatikan elemen dasar praktek pembangunan berkelanjutan, baik dari segi
ekonomi, sosial, maupun lingkungan hidup.
Kegiatan pertambangan mineral dan batubara memiliki potensi strategis untuk pemenuhan
kebutuhan umat manusia, baik langsung maupun tidak langsung.
Mineral dan batubara yang terkandung dalam Wilayah Pertambangan Mineral dan Batubara
Indonesia, keterdapatannya memiliki sifat yang tidak terbarukan, tersebar tidak merata,
terbentuk jutaan tahun yang lalu, keberadaannya tidak kasat mata, keterdapatannya alamiah
dan tidak bias dipindahkan. Selain mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat
hidup orang banyak, pertambangan mineral dan batubara juga dapat menimbulkan dampak
terhadap lingkungan, memiliki resiko dan biaya tinggi dalam eksplorasi dan operasi
produksinya, nilai keekonomiannya dapat berubah dengan berubahnya waktu dan teknologi,
karena itu dalam menetapkan Wilayah Pertambangan harus mempertimbangkan
keterpaduan, pemanfaatan ruang dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang berkesinambungan berdasarkan daya dukung lingkungan.
Pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara memiliki kedudukan yang sama dengan
pemanfaatan sumber daya alam lainnya secara berkelanjutan dalam tata ruang, sehingga
harus dikelola secara bijaksana untuk memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional
dan harus dapat dimanfaatkan secara optimal bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.
Dalam rangka memberikan kesempatan kepada masyarakat yang berada pada sekitar
wilayah pertambangan mineral dan batubara, baik orang perseorangan, kelompok
masyarakat, maupun koperasi untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan, ditetapkan
Wilayah Pertambangan Rakyat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Wilayah Pertambangan yang mengatur penyelidikan dan penelitian pertambangan,
perencanaan dan penetapan WP, WUP, WIUP, WPN, WUPK, WIUPK, WPR, data dan
informasi, serta system informasi geografis.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
216
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “dalam hal tertentu” antara lain berupa kerja sama teknik
antara Pemerintah dan pemerintah asing, baik dalam bentuk bilateral, regional,
maupun multilateral.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Ayat (1)
Data dan informasi diolah dan dituangkan menjadi peta potensi mineral
menggunakan standar nasional pengolahan data geologi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

217
Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal 21
Ayat (1)
Berkoordinasi dimaksudkan untuk menetapkan batas dan luas WIUP mineral logam
dan/atau batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas.

Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
218
Huruf a
Yang dimaksud dengan “tepi dan tepi sungai” adalah daerah akumulasi
pengayaan mineral sekunder (pay streak) dalam suatu meander sungai.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.

Pasal 31
Ayat (1)
Komoditas tertentu antara lain tembaga, timah, emas, besi, nikel, bauksit, dan
batubara.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

Pasal 36
Cukup jelas.

219
Pasal 37
Cukup jelas.

Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal 39
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5110



































220
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2010
TENTANG
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 38 Undang-Undang Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan Menjadi Undang-Undang, perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah tentang Penggunaan Kawasan Hutan;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4412);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN
HUTAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya
alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang
satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
2. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh
pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
3. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi
hasil hutan.
4. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
221
5. Penggunaan kawasan hutan adalah penggunaan atas sebagian kawasan hutan untuk
kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa mengubah fungsi dan
peruntukan kawasan hutan tersebut.
6. Penggunaan kawasan hutan yang bersifat nonkomersial adalah penggunaan kawasan
hutan yang bertujuan tidak mencari keuntungan.
7. Penggunaan kawasan hutan yang bersifat komersial adalah penggunaan kawasan
hutan yang bertujuan mencari keuntungan.
8. Reboisasi adalah upaya penanaman jenis pohon hutan pada kawasan hutan rusak
berupa lahan kosong, alangalang, atau semak belukar untuk mengembalikan fungsi
hutan.
9. Reklamasi hutan adalah usaha memperbaiki atau memulihkan kembali hutan atau
lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat penggunaan
kawasan hutan agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.
10. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kehutanan.

Pasal 2
Penggunaan kawasan hutan bertujuan untuk mengatur penggunaan sebagian kawasan
hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan.

Pasal 3
(1) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 hanya dapat
dilakukan di dalam:
a. kawasan hutan produksi; dan/atau
b. kawasan hutan lindung.
(2) Penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan tanpa
mengubah fungsi pokok kawasan hutan dengan mempertimbangkan batasan luas dan
jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai batasan luas dan jangka waktu tertentu serta
kelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan
Menteri.

Pasal 4
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan hanya dapat dilakukan untuk kegiatan yang mempunyai tujuan strategis
yang tidak dapat dielakkan.
(2) Kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi kegiatan:
a. religi;
b. pertambangan;
c. instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi listrik, serta teknologi energi baru dan
terbarukan;
d. pembangunan jaringan telekomunikasi, stasiun pemancar radio, dan stasiun relay
televisi;
e. jalan umum, jalan tol, dan jalur kereta api;
f. sarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai sarana transportasi umum
untuk keperluan pengangkutan hasil produksi;
g. sarana dan prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan
saluran air bersih dan/atau air limbah;
222
h. fasilitas umum;
i. industri terkait kehutanan;
j. pertahanan dan keamanan;
k. prasarana penunjang keselamatan umum; atau
l. penampungan sementara korban bencana alam.

Pasal 5
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan pertambangansebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b dilakukan dengan ketentuan:
a. dalam kawasan hutan produksi dapat dilakukan:
1. penambangan dengan pola pertambangan terbuka; dan
2. penambangan dengan pola pertambangan bawah tanah;
b. dalam kawasan hutan lindung hanya dapat dilakukan penambangan dengan pola
pertambangan bawah tanah dengan ketentuan dilarang mengakibatkan:
1. turunnya permukaan tanah;
2. berubahnya fungsi pokok kawasan hutan secara permanen; dan
3. terjadinya kerusakan akuiver air tanah.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penambangan bawah tanah pada hutan lindung diatur
dengan Peraturan Presiden.

BAB II
IZIN PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 6
(1) Penggunaan kawasan hutan dilakukan berdasarkan izin pinjam pakai kawasan hutan.
(2) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan dengan:
a. izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi lahan, untuk kawasan hutan
pada provinsi yang luas kawasan hutannya di bawah 30% (tiga puluh perseratus)
dari luas daerah aliran sungai, pulau, dan/atau provinsi, dengan ketentuan
kompensasi lahan dengan ratio paling sedikit 1:1 untuk nonkomersial dan paling
sedikit 1:2 untuk komersial;
b. izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi membayar Penerimaan
Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan dan melakukan penanaman
dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai, untuk kawasan hutan pada provinsi
yang luas kawasan hutannya di atas 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah
aliran sungai, pulau, dan/atau provinsi, dengan ketentuan:
1. penggunaan untuk nonkomersial dikenakan kompensasi membayar Penerimaan
Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan dan melakukan penanaman
dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai dengan ratio 1:1;
2. penggunaan untuk komersial dikenakan kompensasi membayar Penerimaan
Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan dan melakukan penanaman
dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai paling sedikit dengan ratio 1:1;
c. izin pinjam pakai kawasan hutan tanpa kompensasi lahan atau tanpa kompensasi
membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan dan
tanpa melakukan penanaman dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai,
dengan ketentuan hanya untuk:
223
1. kegiatan pertahanan negara, sarana keselamatan lalu lintas laut atau udara, cek
dam, embung, sabo, dan sarana meteorologi, klimatologi, dan geofisika;
2. kegiatan survei dan eksplorasi.
(3) Dalam hal kegiatan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c angka 2
dilakukan pengambilan contoh ruah sebagai uji coba tambang untuk kepentingan
kelayakan ekonomi, dikenakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
a atau huruf b angka 2.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai ratio lahan kompensasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf a dan ratio penanaman dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b angka 2 diatur dengan peraturan
Menteri.

Pasal 7
(1) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 diberikan oleh
Menteri berdasarkan permohonan.
(2) Menteri dapat melimpahkan wewenang pemberian izin pinjam pakai kawasan hutan
dengan luasan tertentu kepada gubernur untuk pembangunan fasilitas umum yang
bersifat nonkomersial.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 8
(1) Penggunaan kawasan hutan untuk pertambangan yang berdampak penting dan
cakupan yang luas serta bernilai strategis, izin pinjam pakai kawasan hutan hanya
dapat diberikan setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria berdampak penting dan cakupan yang luas
serta bernilai strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan
Menteri setelah mendapat pertimbangan dari kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan.

Bagian Kedua
Tata Cara dan Persyaratan Permohonan
Penggunaan Kawasan Hutan

Pasal 9
(1) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) diajukan oleh:
a. menteri atau pejabat setingkat menteri;
b. gubernur;
c. bupati/walikota;
d. pimpinan badan usaha; atau
e. ketua yayasan.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:
a. administrasi; dan
b. teknis.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan administrasi dan teknis sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan Menteri.

Pasal 10
(1) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), Menteri
melakukan penilaian.
224
(2) Dalam hal hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menunjukkan
permohonan tidak memenuhi persyaratan, Menteri menyampaikan surat penolakan.
(3) Dalam hal hasil penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menunjukkan
permohonan memenuhi persyaratan, Menteri menerbitkan persetujuan prinsip
penggunaan kawasan hutan sebelum menerbitkan izin pinjam pakai kawasan hutan.
(4) Dalam hal permohonan memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
untuk kegiatan survei atau eksplorasi, Menteri menerbitkan izin pinjam pakai kawasan
hutan tanpa melalui persetujuan prinsip.

Pasal 11
(1) Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 ayat (3) diberikan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak diterbitkan
dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi.
(2) Persetujuan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat kewajiban yang
harus dipenuhi oleh pemohon.
(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. melaksanakan tata batas terhadap kawasan hutan yang disetujui dan lahan
kompensasi serta proses pengukuhannya;
b. melaksanakan inventarisasi tegakan;
c. membuat pernyataan kesanggupan membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penggunaan Kawasan Hutan dan melakukan penanaman dalam rangka rehabilitasi
daerah aliran sungai, dalam hal kompensasi berupa pembayaran Penerimaan
Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan dan melakukan penanaman
dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai;
d. menyerahkan dan menghutankan lahan untuk dijadikan kawasan hutan, dalam hal
kompensasi berupa lahan; dan
e. melaksanakan kewajiban lain yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 12
(1) Pemegang persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan dapat mengajukan
dispensasi kepada Menteri.
(2) Dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk kegiatan yang
sifatnya mendesak dan apabila ditunda mengakibatkan kerugian negara.
(3) Dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan untuk jangka waktu paling
lama sesuai dengan jangka waktu persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan.

Pasal 13
Dalam hal pemegang persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan telah memenuhi
seluruh kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3), Menteri menerbitkan
izin pinjam pakai kawasan hutan.

Pasal 14
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara permohonan penggunaan kawasan hutan
diatur dengan peraturan Menteri.

Bagian Ketiga
Kewajiban Pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan

Pasal 15
Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan wajib:
225
a. membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan;
b. melakukan penanaman dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai;
c. melaksanakan reboisasi pada lahan kompensasi;
d. menyelenggarakan perlindungan hutan;
e. melaksanakan reklamasi dan/atau reboisasi pada kawasan hutan yang dipinjam pakai
yang sudah tidak digunakan; dan
f. melaksanakan kewajiban lain yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 16
Berdasarkan izin pinjam pakai kawasan hutan, pemegang izin dapat melakukan
penebangan pohon dalam rangka pembukaan lahan dengan membayar penggantian nilai
tegakan, provisi sumber daya hutan, dan/atau dana reboisasi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 17
Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan dilarang:
a. memindahtangankan izin pinjam pakai kawasan hutan kepada pihak lain tanpa
persetujuan Menteri;
b. menjaminkan atau mengagunkan kawasan hutan yang dipinjam pakai kepada pihak
lain.

Bagian Keempat
Jangka Waktu Izin

Pasal 18
(1) Jangka waktu izin pinjam pakai kawasan hutan diberikan sama dengan jangka waktu
perizinan sesuai bidangnya dan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
(2) Jangka waktu izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan yang tidak memerlukan
perizinan sesuai bidangnya, izin pinjam pakai kawasan hutan diberikan dengan jangka
waktu paling lama 20 (dua puluh) tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil
evaluasi.
(3) Jangka waktu izin pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pertahanan negara,
sarana keselamatan lalu lintas laut atau udara, jalan umum, jalur kereta api umum, cek
dam, embung, sabo, dan sarana meteorologi, klimatologi, dan geofisika, serta religi
berlaku selama digunakan untuk kepentingan dimaksud.
(4) Izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) dievaluasi oleh Menteri satu kali dalam 5 (lima) tahun atau sewaktu-waktu
apabila diperlukan.
(5) Dalam hal berdasarkan hasil evaluasi pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan
tidak lagi menggunakan kawasan hutan sesuai dengan izin pinjam pakai kawasan
hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan dicabut.

BAB III
MONITORING DAN EVALUASI

Pasal 19
(1) Menteri melakukan monitoring dan evaluasi terhadap:
a. pemegang persetujuan prinsip penggunaan kawasanhutan;
b. penerima dispensasi pinjam pakai kawasan hutan; dan
226
c. pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan.
(2) Dalam melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), Menteri dapat melimpahkan kepada pejabat yang ditunjuk atau gubernur.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai monitoring dan evaluasi diatur dengan peraturan
Menteri.

BAB IV
HAPUSNYA PERSETUJUAN PRINSIP ATAU IZIN

Pasal 20
(1) Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 ayat (3) atau izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
13 hapus apabila:
a. jangka waktu persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan atau izin pinjam pakai
kawasan hutan telah berakhir;
b. dicabut oleh Menteri;
c. diserahkan kembali secara sukarela oleh pemegang persetujuan prinsip
penggunaan kawasan hutan atau pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan
kepada Menteri sebelum jangka waktu berakhir dengan pernyataan tertulis; atau
d. kawasan hutan yang dipinjam pakai berubah peruntukan menjadi bukan kawasan
hutan atau berubah fungsi menjadi fungsi hutan yang penggunaannya dilarang
berdasarkan peraturan perundang-undangan.
(2) Pencabutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan apabila
pemegang persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan atau izin pinjam pakai
kawasan hutan dikenai sanksi berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.
(3) Berdasarkan penyerahan kembali secara sukarela sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf c, Menteri menerbitkan surat pencabutan persetujuan prinsip penggunaan
kawasan hutan atau keputusan pencabutan izin pinjam pakai kawasan hutan.

Pasal 21
(1) Hapusnya izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20
tidak membebaskan kewajiban pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan untuk
menyelesaikan kewajiban:
a. membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan;
b. melakukan penanaman dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai atau
reboisasi pada lahan kompensasi;
c. melaksanakan reklamasi dan/atau reboisasi pada kawasan hutan yang dipinjam
pakai yang sudah tidak digunakan;
d. membayar penggantian nilai tegakan, dan provisi sumber daya hutan, dan/atau
dana reboisasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. melaksanakan kewajiban lain yang ditetapkan dalam izin pinjam pakai kawasan
hutan.
(2) Pada saat hapusnya izin pinjam pakai kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), keberadaan barang tidak bergerak termasuk tanaman yang telah ditanam
dalam kawasan hutan yang dipinjam pakai maupun barang bergerak, kepemilikannya
ditentukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Barang bergerak yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepemilikannya menjadi milik pemegang izin,
dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak hapusnya izin atau sejak
227
kegiatan reklamasi dinilai berhasil, wajib dikeluarkan dari kawasan hutan oleh
pemegang izin.
(4) Apabila sampai dengan batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemegang
izin yang izinnya hapus tidak mengeluarkan barang bergerak dari kawasan hutan,
barang bergerak dilelang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 22
Ketentuan lebih lanjut mengenai hapusnya izin diatur dengan peraturan Menteri.

BAB V
SANKSI

Pasal 23
Setiap pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan yang tidak memenuhi kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 atau melakukan pelanggaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 dikenai sanksi berupa pencabutan izin pinjam pakai kawasan
hutan oleh Menteri.

Pasal 24
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 diatur dengan peraturan Menteri.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 25
Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini:
a. Persetujuan prinsip penggunaan kawasan hutan yang telah diberikan oleh Menteri
sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini dan telah memenuhi seluruh kewajiban
yang ditetapkan dalam persetujuan prinsip tetap dapat diproses menjadi izin pinjam
pakai kawasan hutan dengan dibebani kewajiban sesuai dengan Peraturan Pemerintah
ini.
b. Izin atau perjanjian pinjam pakai kawasan hutan yang dilakukan sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah ini tetap berlaku sampai dengan berakhirnya izin atau perjanjian
pinjam pakai kawasan hutan, kecuali terjadi perubahan peruntukan atau perubahan
fungsi kawasan hutan.

Pasal 26
Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini, peraturan pelaksanaan yang mengatur
pinjam pakai kawasan hutan dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan
dengan Peraturan Pemerintah ini.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 27
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

228

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 1 Februari 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 30


Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri
ttd.
Setio Sapto Nugroho



























229
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2010
TENTANG
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN

I. UMUM
Hutan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan, keberadaannya
harus dipertahankan secara optimal dengan luasan yang cukup dan dijaga agar daya
dukungnya tetap lestari. Pembangunan kehutanan merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional yang tidak terpisahkan sehingga harus selaras dengan
dinamika pembangunan nasional.
Penggunaan kawasan hutan bertujuan untuk mengatur penggunaan sebagian
kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan tanpa
mengubah fungsi pokok kawasan hutan. Penggunaan kawasan hutan untuk
kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan hanya dapat dilakukan dalam
kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung.
Pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang dapat menggunakan kawasan hutan
meliputi kegiatan religi, pertambangan, instalasi pembangkit, transmisi, dan distribusi
listrik serta teknologi energi baru dan terbarukan, pembangunan jaringan
telekomunikasi, stasiun pemancar radio, stasiun relay televisi, jalan umum, jalan tol,
jalur kereta api, sarana transportasi yang tidak dikategorikan sebagai sarana
transportasi umum untuk keperluan pengangkutan hasil produksi, sarana dan
prasarana sumber daya air, pembangunan jaringan instalasi air, dan saluran air bersih
dan/atau air limbah, fasilitas umum, industri terkait kehutanan, pertahanan dan
keamanan, prasarana penunjang keselamatan umum, atau penampungan sementara
korban bencana alam.
Penggunaan kawasan hutan wajib mempertimbangkan batasan luas, jangka waktu
tertentu, dan kelestarian lingkungan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Cukup jelas.

Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Luas penggunaan kawasan hutan untuk pemberian izin pinjam pakai kawasan
hutan dibatasi guna menjamin kelestarian hutan dan keberlanjutan usaha di
bidang kehutanan.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 4
Ayat (1)
230
Yang dimaksud dengan “kegiatan yang mempunyai tujuan strategis” adalah
kegiatan yang diprioritaskan karena mempunyai pengaruh yang sangat penting
secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan keamanan negara,
pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan.
Ayat (2)
Pemohon dalam mengusulkan kegiatan pembangunan di luar kehutanan harus
sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Huruf a
Kegiatan religi misalnya tempat ibadah, tempat pemakaman, dan wisata
rohani.
Huruf b
Kegiatan pertambangan meliputi pertambangan minyak dan gas bumi,
mineral, batubara, dan panas bumi.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Kegiatan pertahanan dan keamanan misalnya antara lain pusat latihan
tempur, stasiun radar, dan menara pengintai.
Huruf k
Prasarana penunjang keselamatan umum misalnya keselamatan lalulintas
laut, lalulintas udara, dan sarana meteorologi, klimatologi, dan geofisika.
Huruf l
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Lokasi lahan kompensasi ditetapkan sesuai dengan atau diintegrasikan dalam
proses perubahan rencana tata ruang.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Angka 1
Cukup jelas.
Angka 2
Yang dimaksud dengan “survei dan eksplorasi” antara lain meliputi
kegiatan pertambangan dan arkeologi.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan “contoh ruah” adalah suatu kegiatan eksplorasi tambang
untuk mengambil contoh mineral dan batubara.
231
Ayat (4)
Dalam peraturan Menteri paling sedikit memuat ketentuan mengenai:
a. jenis pohon yang ditanam; dan
b. penetapan lokasi yang akan direhabilitasi.

Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Yang dimaksud dengan “badan usaha” adalah:
1) badan usaha milik negara;
2) badan usaha milik daerah;
3) badan usaha milik swasta yang berbadan hokum Indonesia;
4) bentuk usaha tetap;
5) koperasi.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Ayat (1)
Monitoring dilakukan sebagai pembinaan agar pemegang izin pinjam pakai
kawasan hutan memenuhi kewajiban sebagaimana ditetapkan dalam izin.
Ayat (2)
232
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 20
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Berubah fungsi hutan misalnya:
a. izin pinjam pakai diberikan untuk kegiatan tambang terbuka pada hutan
produksi, kemudian berubah menjadi hutan lindung.
b. izin pinjam pakai diberikan untuk kegiatan tambang pada hutan produksi
atau hutan lindung, kemudian berubah menjadi hutan konservasi.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas

Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5112
233
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2010
TENTANG
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN
USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 144 Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4959);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBINAAN DAN
PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN USAHA
PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pertambangan, Mineral, Batubara, Usaha Pertambangan, Wilayah Izin Usaha
Pertambangan yang selanjutnya disebut WIUP, Wilayah Pertambangan Rakyat
yang selanjutnya disebut WPR, Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus yang
selanjutnya disebut WIUPK, Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut
IUP, Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUP
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi yang selanjutnya disebut
IUP Operasi Produksi, Izin Pertambangan Rakyat yang selanjutnya disebut IPR,
Izin Usaha Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut IUPK, Izin Usaha
Pertambangan Khusus Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUPK Eksplorasi, Izin
Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi yang selanjutnya disebut IUPK
Operasi Produksi, Penyelidikan Umum, Eksplorasi, Studi Kelayakan, Operasi
Produksi, Konstruksi, Penambangan, Pengolahan dan Pemurnian, Pengangkutan
234
dan Penjualan, Reklamasi, Kegiatan Pascatambang yang selanjutnya disebut
Pascatambang, dan Pemberdayaan Masyarakat adalah sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Batubara.
2. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
3. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pertambangan mineral dan batubara.

BAB II
PEMBINAAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 2
(1) Menteri melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh
pemegang IUP, IPR, atau IUPK.

Bagian Kedua
Pembinaan Terhadap Penyelenggaraan
Pengelolaan Usaha Pertambangan

Pasal 3
Pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) terdiri atas:
a. pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha
pertambangan;
b. pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
c. pendidikan dan pelatihan; dan
d. perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi
pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan
batubara.

Pasal 4
Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan terhadap
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh
pemerintah kabupaten/kota.

235
Pasal 5
(1) Pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a meliputi:
a. pedoman tata laksana; dan
b. pedoman pelaksanaan.
(2) Pedoman tata laksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit
meliputi pedoman struktur dan tata kerja penyelenggaraan pengelolaan kegiatan
usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota.
(3) Pedoman pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b paling sedikit
meliputi:
a. pedoman teknis pertambangan;
b. pedoman penyusunan laporan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan
penjualan;
c. pedoman penyusunan rencana kerja dan anggaran biaya;
d. pedoman impor barang modal, peralatan, bahan baku, dan/atau bahan pendukung
pertambangan;
e. pedoman penyusunan rencana kerja tahunan teknis dan lingkungan;
f. pedoman pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar tambang;
g. pedoman pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan;
h. pedoman penyusunan laporan pengelolaan dan pemantauan lingkungan,
reklamasi, dan pascatambang;
i. pedoman evaluasi terhadap laporan penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta
pengangkutan dan penjualan;
j. pedoman penyusunan laporan penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha
pertambangan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota; dan
k. pedoman evaluasi laporan penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha
pertambangan yang dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota.

Pasal 6
(1) Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 huruf b dilakukan terhadap penyelenggara pengelolaan usaha pertambangan.
(2) Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dalam pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan kebutuhan.

Pasal 7
Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c paling sedikit
meliputi kegiatan pendidikan dan pelatihan teknis manajerial, teknis pertambangan, dan
pengawasan di bidang mineral dan batubara.

236
Pasal 8
(1) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 pelaksanaannya
dilakukan oleh lembaga pendidikan dan pelatihan pada Kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan
batubara.
(2) Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan/atau perguruan tinggi serta
lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 9
Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dapat dilaksanakan
sendiri oleh pemerintah provinsi, perguruan tinggi, serta lembaga lainnya setelah
mendapat akreditasi dari komite akreditasi yang dibentuk oleh Menteri.

Pasal 10
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan
serta pemberian akreditasi diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 11
(1) Pembinaan terhadap perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan
evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan
batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf d dilakukan oleh Menteri
melalui pemberian bimbingan teknis penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian bimbingan teknis
penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan diatur dengan Peraturan
Menteri.

Bagian Ketiga
Pembinaan Atas Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan

Pasal 12
(1) Pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dilakukan paling sedikit terhadap:
a. pengadministrasian pertambangan;
b. teknis operasional pertambangan; dan
c. penerapan standar kompetensi tenaga kerja pertambangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan
Menteri.





237
BAB III
PENGAWASAN

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 13
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha
pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan
pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh
pemegang IUP, IPR, atau IUPK.

Bagian Kedua
Pengawasan Terhadap Penyelenggaraan
Pengelolaan Usaha Pertambangan

Pasal 14
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) meliputi pengawasan
terhadap:
a. penetapan WPR;
b. penetapan dan pemberian WIUP mineral bukan logam dan batuan;
c. pemberian WIUP mineral logam dan batubara;
d. penerbitan IPR;
e. penerbitan IUP; dan
f. penyelenggaraan pembinaan dan pengawasan kegiatan yang dilakukan oleh
pemegang IPR dan IUP.
(2) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri dapat
berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang pemerintahan dalam negeri.

Pasal 15
(1) Hasil pengawasan yang dilakukan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
14 disampaikan kepada gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dan tembusannya disampaikan kepada menteri yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pemerintahan dalam negeri.
(2) Gubernur atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya wajib menindaklanjuti
hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Menteri bersama menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
pemerintahan dalam negeri melakukan pemantauan atas pelaksanaan tindak lanjut
hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.


238
Bagian Ketiga
Pengawasan Atas Pelaksanaan
Kegiatan Usaha Pertambangan

Pasal 16
Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dilakukan terhadap:
a. teknis pertambangan;
b. pemasaran;
c. keuangan;
d. pengelolaan data mineral dan batubara;
e. konservasi sumber daya mineral dan batubara;
f. keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
g. keselamatan operasi pertambangan;
h. pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang;
i. pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa serta rancang
bangun dalam negeri;
j. pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;
k. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;
l. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan;
m. kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum;
n. pelaksanaan kegiatan sesuai dengan IUP, IPR, atau IUPK; dan
o. jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.

Pasal 17
(1) Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dilakukan melalui:
a. evaluasi terhadap laporan rencana dan pelaksanaan kegiatan usaha
pertambangan dari pemegang IUP, IPR, dan IUPK; dan/atau
b. inspeksi ke lokasi IUP, IPR, dan IUPK.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling sedikit 1 (satu)
kali dalam setahun.

Pasal 18
(1) Hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 yang dilakukan oleh
bupati/walikota disampaikan kepada gubernur dan Menteri.
(2) Gubernur melakukan evaluasi atas hasil pengawasan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan menyampaikan hasil evaluasinya kepada Menteri.

Pasal 19
Hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 yang dilakukan oleh
gubernur disampaikan kepada Menteri.



239
Pasal 20
(1) Menteri melakukan evaluasi atas hasil pengawasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18 ayat (1) dan Pasal 19.
(2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan kepada gubernur
atau bupati/walikota dengan tembusan kepada menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pemerintahan dalam negeri.

Pasal 21
(1) Pengawasan teknis pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a
untuk:
a. IUP atau IUPK Eksplorasi dilakukan paling sedikit terhadap:
1. pelaksanaan teknik eksplorasi; dan
2. tata cara penghitungan sumber daya dan cadangan.
b. IUP atau IUPK Operasi Produksi paling sedikit terhadap:
1. perencanaan dan pelaksanaan konstruksi termasuk pengujian alat
pertambangan (commisioning);
2. perencanaan dan pelaksanaan penambangan;
3. perencanaan dan pelaksanaan pengolahan dan pemurnian; dan
4. perencanaan dan pelaksanaan pengangkutan dan penjualan.
(2) Pengawasan teknis pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh Inspektur Tambang.

Pasal 22
(1) Pengawasan pemasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b paling
sedikit meliputi:
a. realisasi produksi dan realisasi penjualan termasuk kualitas dan kuantitas serta
harga mineral dan batubara;
b. kewajiban pemenuhan kebutuhan mineral atau batubara untuk kepentingan dalam
negeri;
c. rencana dan realisasi kontrak penjualan mineral atau batubara;
d. biaya penjualan yang dikeluarkan;
e. perencanaan dan realisasi penerimaan negara bukan pajak; dan
f. biaya pengolahan dan pemurnian mineral dan/atau batubara.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 23
(1) Pengawasan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c paling
sedikit meliputi:
a. perencanaan anggaran;
b. realisasi anggaran;
c. realisasi investasi; dan
d. pemenuhan kewajiban pembayaran.
240
(2) Pemenuhan kewajiban pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
paling sedikit meliputi:
a. iuran tetap untuk WIUP mineral logam, WIUP batubara WPR, atau WIUPK;
b. iuran produksi mineral logam, batubara, dan mineral bukan logam sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
c. pembayaran sebesar 10% (sepuluh persen) dari keuntungan bersih bagi
pemegang IUPK Operasi Produksi mineral logam atau batubara.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 24
(1) Pengawasan pengelolaan data mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 huruf d, paling sedikit meliputi pengawasan terhadap kegiatan perolehan,
pengadministrasian, pengolahan, penataan, penyimpanan, pemeliharaan, dan
pemusnahan data dan/atau informasi.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 25
(1) Pengawasan konservasi sumber daya mineral dan batubara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 huruf e paling sedikit meliputi:
a. recovery penambangan dan pengolahan;
b. pengelolaan dan/atau pemanfaatan cadangan marginal;
c. pengelolaan dan/atau pemanfaatan batubara kualitas rendah dan mineral kadar
rendah;
d. pengelolaan dan/atau pemanfaatan mineral ikutan;
e. pendataan sumber daya serta cadangan mineral dan batubara yang tidak
tertambang; dan
f. pendataan dan pengelolaan sisa hasil pengolahan dan pemurnian.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang.

Pasal 26
(1) Pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf f terdiri atas:
a. keselamatan kerja;
b. kesehatan kerja;
c. lingkungan kerja; dan
d. sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaksanaannya dilakukan oleh
Inspektur Tambang berkoordinasi dengan pengawas ketenagakerjaan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.


241
Pasal 27
(1) Pengawasan keselamatan operasi pertambangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 huruf g paling sedikit meliputi:
a. sistem dan pelaksanaan pemeliharaan/perawatan sarana, prasarana, instalasi,
dan peralatan pertambangan;
b. pengamanan instalasi;
c. kelayakan sarana, prasarana instalasi, dan peralatan pertambangan;
d. kompetensi tenaga teknik; dan
e. evaluasi laporan hasil kajian teknis pertambangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang dan dapat berkoordinasi dengan pengawas ketenagakerjaan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 28
(1) Pengawasan pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf h paling sedikit meliputi:
a. pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai dengan dokumen pengelolaan
lingkungan atau izin lingkungan yang dimiliki dan telah disetujui;
b. penataan, pemulihan, dan perbaikan lahan sesuai dengan peruntukannya;
c. penetapan dan pencairan jaminan reklamasi;
d. pengelolaan pascatambang;
e. penetapan dan pencairan jaminan pascatambang; dan
f. pemenuhan baku mutu lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang dan berkoordinasi dengan pejabat pengawas di bidang lingkungan hidup
dan di bidang reklamasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan

Pasal 29
(1) Pengawasan pemanfaatan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan
rancang bangun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf i dilakukan terhadap
pelaksanaan pemanfaatan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan
rancang bangun.
(2) Penggunaan barang, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dilaksanakan sesuai dengan klasifikasi dan kualifikasi pelaksana usaha jasa
pertambangan mineral dan batubara serta sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Inspektur
Tambang.

Pasal 30
(1) Pengawasan pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf j paling sedikit meliputi:
a. pelaksanaan program pengembangan;
242
b. pelaksanaan uji kompetensi; dan
c. rencana biaya pengembangan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 31
(1) Pengawasan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf k paling sedikit meliputi:
a. program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat;
b. pelaksanaan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat; dan
c. biaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 32
(1) Pengawasan kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut
kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf m paling sedikit
meliputi:
a. fasilitas umum yang dibangun oleh pemegang IUP atau pemegang IUPK untuk
masyarakat sekitar tambang; dan
b. pembiayaan untuk pembangunan atau penyediaan fasilitas umum sebagaimana
dimaksud pada huruf a.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 33
(1) Pengawasan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan IUP, IPR, atau IUPK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf n paling sedikit meliputi:
a. luas wilayah;
b. lokasi penambangan;
c. lokasi pengolahan dan pemurnian;
d. jangka waktu tahap kegiatan;
e. penyelesaian masalah pertanahan;
f. penyelesaian perselisihan; dan
g. penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan mineral
atau batubara.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/ walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 34
(1) Pengawasan jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 huruf o paling sedikit meliputi:
a. jenis komoditas tambang;
243
b. kuantitas dan kualitas produksi untuk setiap lokasi penambangan;
c. kuantitas dan kualitas pencucian dan/atau pengolahan dan pemurnian; dan
d. tempat penimbunan sementara (run of mine), tempat penimbunan (stock pile), dan
titik serah penjualan (at sale point).
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang
ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 35
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengawasan terhadap penyelenggaraan
pengelolaan usaha pertambangan mineral dan batubara serta pelaksanaan kegiatan
usaha pertambangan mineral dan batubara diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Keempat
Pelaksanaan Pengawasan

Pasal 36
(1) Pengawasan oleh Inspektur Tambang dilakukan melalui:
a. evaluasi terhadap laporan berkala dan/atau sewaktuwaktu;
b. pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu; dan
c. penilaian atas keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan.
(2) Dalam pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Inspektur Tambang
melakukan kegiatan inspeksi, penyelidikan, dan pengujian.
(3) Dalam melakukan inspeksi, penyelidikan, dan pengujian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Inspektur Tambang berwenang:
a. memasuki tempat kegiatan usaha pertambangan setiap saat;
b. menghentikan sementara waktu sebagian atau seluruh kegiatan pertambangan
mineral dan batubara apabila kegiatan pertambangan dinilai dapat membahayakan
keselamatan pekerja/buruh tambang, keselamatan umum, atau menimbulkan
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan; dan
c. mengusulkan penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada huruf b
menjadi penghentian secara tetap kegiatan pertambangan mineral dan batubara
kepada Kepala Inspektur Tambang.

Pasal 37
(1) Pengawasan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya dilakukan melalui:
a. pemeriksaan berkala atau sewaktu-waktu maupun pemeriksaan terpadu; dan/atau
b. verifikasi dan evaluasi terhadap laporan dari pemegang IUP, IPR, atau IUPK.
(2) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pejabat yang
ditunjuk berwenang memasuki tempat kegiatan usaha pertambangan setiap saat.

Pasal 38
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penunjukan pejabat dan pengangkatan
Inspektur Tambang diatur dengan Peraturan Menteri.
244
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 39
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.



Ditetapkan di J akarta
pada tanggal 5 J uli 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO



Diundangkan di J akarta
pada tanggal 5 J uli 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 85

Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
Ttd,
Setio Sapto Nugroho














245
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 55 TAHUN 2010
TENTANG
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN
USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

I. UMUM
Pemanfaatan kekayaan alam berupa mineral dan batubara harus dikelola secara
profesional dan transparan agar memiliki nilai tambah bagi peningkatan pendapatan
nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Dalam rangka mewujudkan pengelolaan mineral dan batubara yang memenuhi
prinsip eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi, perlu dilakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan dan
pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan.
Penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan tidak hanya dilakukan oleh
Pemerintah tetapi juga dilakukan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Oleh karena itu, penyelenggaraan
pembinaan dan pengawasan harus dilakukan berdasarkan pedoman dan standar
yang baku agar diperoleh kejelasan dan kepastian bagi pelaku usaha yang
melakukan kegiatan usaha di bidang mineral dan batubara.
Pembinaan dan pengawasan dilakukan selain terhadap kegiatan usaha
pertambangan mineral dan batubara, pertambangan rakyat juga dilakukan terhadap
pelaksanaan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekitar
kegiatan usaha pertambangan.
Dalam rangka pembinaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pengelolaan
usaha pertambangan dan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan
batubara, perlu ditetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
Cukup jelas.
Pasal 4
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas.
Pasal 6
Ayat (1)
246
Bimbingan, supervisi, dan konsultasi dalam ketentuan ini dapat berupa
sosialisasi, penyuluhan, lokakarya, inspeksi bersama, seminar, dan pertemuan
teknis di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
Ayat (2)
Sesuai dengan kebutuhan dalam ketentuan ini dilakukan berdasarkan penilaian
Menteri atau atas permintaan pemerintah provinsi atau pemerintah
kabupaten/kota.

Pasal 7
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya dalam ketentuan ini termasuk lembaga
pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh swasta atau masyarakat.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Cukup jelas.
Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Cukup jelas.
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Cukup jelas.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.


247
Pasal 25
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Huruf a
Keselamatan kerja dalam ketentuan ini meliputi, antara lain:
a. manajemen risiko;
b. program keselamatan kerja yang meliputi, antara lain, pencegahan
kecelakan, peledakan, kebakaran, dan kejadian lain yang berbahaya;
c. pelatihan dan pendidikan keselamatan kerja;
d. administrasi keselamatan kerja;
e. manajemen keadaan darurat;
f. inspeksi keselamatan kerja;
g. pencegahan dan penyelidikan kecelakaan.
Huruf b
Kesehatan kerja dalam ketentuan ini meliputi, antara lain:
a. program kesehatan pekerja/buruh yang meliputi, antara lain,
pemeriksaan kesehatan tenaga kerja, pelayanan kesehatan kerja,
pencegahan penyakit akibat kerja, pertolongan pertama pada
kecelakaan, serta pelatihan dan pendidikan kesehatan kerja;
b. higienis dan sanitasi;
c. ergonomis;
d. pengelolaan makanan, minuman, dan gizi pekerja/buruh; dan/atau
e. dianogsis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja.
Huruf c
Lingkungan kerja dalam ketentuan ini meliputi, antara lain:
a. pengendalian debu;
b. pengendalian kebisingan;
c. pengendalian getaran;
d. pencahayaan;
e. kualitas udara kerja;
f. pengendalian radiasi;
g. pengendalian faktor kimia;
h. pengendalian faktor biologi; dan
i. kebersihan lingkungan kerja.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “ketentuan peraturan perundangundangan” adalah
peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.

248
Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Huruf a
Fasilitas umum dalam ketentuan ini misalnya jalan umum, sekolah, dan klinik.
Huruf b
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “Kepala Inspektur Tambang” adalah pejabat yang
secara ex officio menduduki jabatan:
1. direktur yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang keteknikan
pertambangan mineral dan batubara di Pemerintah;
2. kepala dinas teknis provinsi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di
bidang pertambangan mineral dan batubara di pemerintah provinsi;
3. kepala dinas teknis kabupaten/kota yang mempunyai tugas pokok dan
fungsi di bidang pertambangan mineral dan batubara di pemerintah
kabupaten/kota.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.

249
Pasal 39
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5142











































250
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2010
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 59 TAHUN 2007
TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa kebutuhan penyediaan tenaga listrik cenderung meningkat sehingga
perlu meningkatkan ketersediaan tenaga listrik;
b. bahwa energi panas bumi adalah salah satu sumber energi yang dapat
digunakan untuk penyediaan tenaga listrik sehingga perlu memberikan
kesempatan yang lebih luas bagi badan usaha yang melakukan kegiatan
usaha panas bumi untuk penyediaan tenaga listrik;
c. bahwa ketentuan mengenai jangka waktu pengembalian wilayah kerja
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 Peraturan Pemerintah Nomor 59
Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi belum memberikan waktu
yang cukup bagi badan usaha yang melakukan kegiatan di bidang usaha
panas bumi untuk melakukan kegiatan eksploitasi sehingga jangka waktunya
perlu diperpanjang;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a,
huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Kegiatan Usaha Panas Bumi;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4327);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha
Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 132,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4777);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN
PEMERINTAH NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG KEGIATAN USAHA
PANAS BUMI.

Pasal I
Ketentuan

Pasal 86
Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4777), diubah sebagai berikut: “Pasal 86 Dalam hal pemegang kuasa, izin,
dan/atau kontrak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 belum melakukan kegiatan
eksploitasi dalam wilayah kerjanya sampai dengan tanggal 31 Desember 2014, pemegang
251
kuasa, izin, dan/atau kontrak wajib mengembalikan wilayah kerja tersebut kepada Pemerintah.”
Pasal II Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.


Ditetapkan di J akarta
pada tanggal 20 Oktober 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di J akarta
pada tanggal 20 Oktober 2010
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 121

Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA RI
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
Ttd,
Setio Sapto Nugroho
252
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 70 TAHUN 2010
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 59 TAHUN 2007
TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI

I. UMUM

Berdasarkan ketentuan Pasal 85 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Kegiatan Usaha Panas Bumi bahwa keberadaan kuasa, izin, dan kontrak di bidang usaha
panas bumi sebelum adanya Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 dinyatakan
masih tetap berlaku sampai dengan masa kuasa, izin, dan kontrak tersebut berakhir.
Namun berdasarkan ketentuan Pasal 86 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 jika
dalam batas waktu paling lambat sampai dengan tanggal 21 Oktober 2010 badan usaha
yang bersangkutan belum melakukan kegiatan eksploitasi, wilayah kerjanya wajib
dikembalikan kepada Pemerintah.
Dalam kenyataanya, belum dilaksanakan kegiatan eksploitasi oleh badan usaha
disebabkan oleh permasalahan birokrasi dalam penerbitan rekomendasi dan perizinan di
bidang pengusahaan panas bumi sehingga badan usaha tidak dapat melaksanakan
kegiatan eksploitasi sampai batas waktu yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 86 Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007. Hal ini dapat menganggu upaya
Pemerintah menjamin ketersediaan dan terpenuhinya kebutuhan listrik masyarakat.
Untuk memberikan kepastian hukum dan menjamin ketersediaan dan terpenuhinya
kebutuhan listrik masyarakat bagi badan usaha dipandang perlu untuk memperpanjang
jangka waktu penyerahan wilayah kerja, sehingga perlu dilakukan perubahan terhadap
ketentuan Pasal 86.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal I
Cukup jelas.
Pasal II
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5163
253

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 78 TAHUN 2010

TENTANG

REKLAMASI DAN PASCATAMBANG


DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 101 Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Reklamasi dan Pascatambang;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);


MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG REKLAMASI DAN
PASCATAMBANG.


BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1. Pertambangan . . .


254













- 2 -
1. Pertambangan, Mineral, Batubara, Pertambangan Mineral,
Pertambangan Batubara, Usaha Pertambangan, Izin Usaha
Pertambangan yang selanjutnya disebut IUP, Izin Usaha
Pertambangan Khusus yang selanjutnya disebut IUPK, Izin
Usaha Pertambangan Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUP
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi yang
selanjutnya disebut IUP Operasi Produksi, Izin Usaha
Pertambangan Khusus Eksplorasi yang selanjutnya disebut IUPK
Eksplorasi, Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi
yang selanjutnya disebut IUPK Operasi Produksi, Eksplorasi,
Studi Kelayakan, Operasi Produksi, Penambangan, Pengolahan
dan Pemurnian, Reklamasi, Kegiatan Pascatambang yang
selanjutnya disebut Pascatambang, adalah sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara.
2. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pertambangan mineral dan batubara.



BAB II

PRINSIP REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Pasal 2


(1) Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi wajib
melaksanakan reklamasi.
(2) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib melaksanakan reklamasi dan pascatambang.
(3) Reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
terhadap lahan terganggu pada kegiatan eksplorasi.
(4) Reklamasi dan pascatambang sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan terhadap lahan terganggu pada kegiatan
pertambangan dengan sistem dan metode:
a. penambangan terbuka; dan
b. penambangan bawah tanah.


Pasal 3
(1) Pelaksanaan reklamasi oleh pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK
Eksplorasi wajib memenuhi prinsip:
a. perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
pertambangan; dan
b. keselamatan dan kesehatan kerja.
(2) Pelaksanaan . . .
255













- 3 -
(2) Pelaksanaan reklamasi dan pascatambang oleh pemegang IUP
Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi wajib memenuhi
prinsip:
a. perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
pertambangan;
b. keselamatan dan kesehatan kerja; dan
c. konservasi mineral dan batubara.

Pasal 4

(1) Prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
huruf a dan ayat (2) huruf a, paling sedikit meliputi:
a. perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah,
air laut, dan tanah serta udara berdasarkan standar baku
mutu atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. perlindungan dan pemulihan keanekaragaman hayati;
c. penjaminan terhadap stabilitas dan keamanan timbunan
batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang, dan
struktur buatan lainnya;
d. pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan
peruntukannya;
e. memperhatikan nilai-nilai sosial dan budaya setempat; dan
f. perlindungan terhadap kuantitas air tanah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Prinsip keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b dan ayat (2) huruf b,
meliputi:
a. perlindungan keselamatan terhadap setiap pekerja/buruh;
dan
b. perlindungan setiap pekerja/buruh dari penyakit akibat
kerja.
(3) Prinsip konservasi mineral dan batubara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c, meliputi:
a. penambangan yang optimum;
b. penggunaan metode dan teknologi pengolahan dan
pemurnian yang efektif dan efisien;
c. pengelolaan dan/atau pemanfaatan cadangan marjinal,
mineral kadar rendah, dan mineral ikutan serta batubara
kualitas rendah; dan
d. pendataan . . .
256













- 4 -
d. pendataan sumber daya serta cadangan mineral dan
batubara yang tidak tertambang serta sisa pengolahan dan
pemurnian.
(4) Dalam hal mineral ikutan dari sisa penambangan, pengolahan
dan pemurnian sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a,
huruf b, dan huruf c mengandung radioaktif, wajib melakukan
analisis keselamatan radiasi untuk tenorm dan melaksanakan
intervensi terhadap paparan radiasi yang berasal dari tenorm
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


BAB III

TATA LAKSANA REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 5

(1) Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi sebelum
melakukan kegiatan eksplorasi wajib menyusun rencana
reklamasi berdasarkan dokumen lingkungan hidup sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
(2) Rencana reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dimuat dalam rencana kerja dan anggaran biaya eksplorasi.

Pasal 6

(1) Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi yang telah
menyelesaikan kegiatan studi kelayakan harus mengajukan
permohonan persetujuan rencana reklamasi dan rencana
pascatambang kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.
(2) Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diajukan bersamaan dengan pengajuan
permohonan IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi.
(3) Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan dokumen
lingkungan hidup yang telah disetujui oleh instansi yang
berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
(4) Rencana . . .
257













- 5 -

(4) Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) harus sesuai dengan:
a. prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3;
b. sistem dan metode penambangan berdasarkan studi
kelayakan;
c. kondisi spesifik wilayah izin usaha pertambangan; dan
d. ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua

Rencana Reklamasi

Pasal 7
(1) Rencana reklamasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
disusun untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.
(2) Dalam rencana reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dimuat rencana reklamasi untuk masing-masing tahun.
(3) Dalam hal umur tambang kurang dari 5 (lima) tahun, rencana
reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sesuai
dengan umur tambang.
(4) Rencana reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat
(2), dan ayat (3) paling sedikit memuat:
a. tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang;
b. rencana pembukaan lahan;
c. program reklamasi terhadap lahan terganggu yang meliputi
lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas tambang yang
bersifat sementara dan/atau permanen;
d. kriteria keberhasilan meliputi standar keberhasilan
penataan lahan, revegetasi, pekerjaan sipil, dan penyelesaian
akhir; dan
e. rencana biaya reklamasi terdiri atas biaya langsung dan
biaya tidak langsung.
(5) Lahan di luar bekas tambang sebagaimana dimaksud pada ayat
(4) huruf c meliputi:
a. tempat penimbunan tanah penutup;

b. tempat . . .
258













- 6 -
b. tempat penimbunan sementara dan tempat penimbunan
bahan tambang;
c. jalan;
d. pabrik/instalasi pengolahan dan pemurnian;
e. bangunan/instalasi sarana penunjang;
f. kantor dan perumahan;
g. pelabuhan khusus; dan/atau
h. lahan penimbunan dan/atau pengendapan tailing.

Pasal 8
Dalam hal reklamasi berada di dalam kawasan hutan, wilayah
pesisir, dan pulau-pulau kecil, perencanaan reklamasi dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 9
Ketentuan lebih lanjut mengenai penyusunan rencana reklamasi
diatur dengan Peraturan Menteri.


Bagian Ketiga

Rencana Pascatambang

Pasal 10

Rencana pascatambang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
memuat:
a. profil wilayah, meliputi lokasi dan aksesibilitas wilayah,
kepemilikan dan peruntukan lahan, rona lingkungan awal, dan
kegiatan usaha lain di sekitar tambang;
b. deskripsi kegiatan pertambangan, meliputi keadaan cadangan
awal, sistem dan metode penambangan, pengolahan dan
pemurnian, serta fasilitas penunjang;
c. rona lingkungan akhir lahan pascatambang, meliputi keadaan
cadangan tersisa, peruntukan lahan, morfologi, air permukaan
dan air tanah, serta biologi akuatik dan teresterial;
d. program pascatambang, meliputi:
1. reklamasi pada lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas
tambang;
2. pemeliharaan hasil reklamasi;
3. pengembangan . . .
259













- 7 -
3. pengembangan dan pemberdayaan masyarakat; dan
4. pemantauan.
e. organisasi termasuk jadwal pelaksanaan pascatambang;
f. kriteria keberhasilan pascatambang; dan
g. rencana biaya pascatambang meliputi biaya langsung dan biaya
tidak langsung.

Pasal 11

Pemegang IUP Eksplorasi dan IUPK Eksplorasi dalam menyusun
rencana pascatambang harus berkonsultasi dengan instansi
Pemerintah, instansi pemerintah provinsi dan/atau instansi
pemerintah kabupaten/kota yang membidangi pertambangan
mineral dan batubara, instansi terkait lainnya, dan masyarakat.

Pasal 12

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan rencana dan
kriteria keberhasilan pascatambang diatur dengan Peraturan
Menteri.

BAB IV

PERSETUJUAN RENCANA REKLAMASI DAN
RENCANA PASCATAMBANG

Bagian Kesatu

Persetujuan Rencana Reklamasi

Pasal 13

(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya memberikan persetujuan atas rencana
reklamasi yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8 dalam jangka
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender sejak IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi diterbitkan.
(2) Dalam hal rencana reklamasi belum memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8,
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya mengembalikan rencana reklamasi kepada
pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi.
(3) Pemegang . . .
260













- 8 -
(3) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
harus menyampaikan kembali rencana reklamasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) yang telah disempurnakan dalam
jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 14

(1) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
wajib melakukan perubahan rencana reklamasi yang telah
disetujui sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 apabila terjadi
perubahan atas:
a. sistem dan metode penambangan yang telah disetujui;
b. kapasitas produksi;
c. umur tambang;
d. tata guna lahan; dan/atau
e. dokumen lingkungan hidup yang telah disetujui oleh
instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
(2) Perubahan rencana reklamasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diajukan dalam jangka waktu paling lambat 180
(seratus delapan puluh) hari kalender sebelum pelaksanaan
reklamasi tahun berikutnya kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya memberikan persetujuan atas perubahan
rencana reklamasi yang telah memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8
dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kalender
sejak menerima pengajuan perubahan rencana reklamasi.
(4) Dalam hal perubahan rencana reklamasi belum memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, dan
Pasal 8, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya mengembalikan pengajuan perubahan rencana
reklamasi kepada pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK
Operasi Produksi.
(5) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
harus menyampaikan kembali perubahan rencana reklamasi
yang telah disempurnakan dalam jangka waktu paling lama 30
(tiga puluh) hari kalender kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 15 . . .
261













- 9 -


Pasal 15

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian persetujuan
rencana reklamasi diatur dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kedua

Persetujuan Rencana Pascatambang

Pasal 16

(1) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya memberikan persetujuan atas rencana
pascatambang yang telah memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 10, dan Pasal 11 dalam jangka
waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kalender sejak IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi diterbitkan.
(2) Dalam hal rencana pascatambang belum memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 10, dan Pasal 11,
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya mengembalikan rencana pascatambang kepada
pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi.
(3) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
harus menyampaikan kembali rencana pascatambang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang telah
disempurnakan dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh)
hari kalender kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 17

(1) Pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi
wajib melakukan perubahan rencana pascatambang apabila
terjadi perubahan rencana reklamasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 14.
(2) Perubahan pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diajukan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya.

(3) Menteri . . .


262













- 10 -
(3) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya memberikan persetujuan atas perubahan
rencana pascatambang yang telah memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 10, dan Pasal 11
dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari
kalender sejak menerima pengajuan perubahan rencana
pascatambang.
(4) Perubahan rencana pascatambang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu paling
lambat 2 (dua) tahun sebelum akhir kegiatan penambangan.

Pasal 18

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian persetujuan
rencana pascatambang diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB V

PELAKSANAAN DAN PELAPORAN

Bagian Kesatu

Reklamasi Tahap Eksplorasi

Pasal 19
(1) Pelaksanaan reklamasi pada lahan terganggu akibat kegiatan
eksplorasi dilakukan pada lahan yang tidak digunakan pada
tahap operasi produksi.
(2) Lahan terganggu akibat kegiatan eksplorasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi lubang pengeboran, sumur uji,
parit uji, dan/atau sarana penunjang.
(3) Pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sampai memenuhi kriteria keberhasilan.

Bagian Kedua

Reklamasi dan Pascatambang Tahap Operasi Produksi

Pasal 20
(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib melaksanakan reklamasi dan pascatambang sesuai
dengan rencana reklamasi dan rencana pascatambang sampai
memenuhi kriteria keberhasilan.
(2) Dalam . . .
263













- 11 -
(2) Dalam melaksanakan reklamasi dan pascatambang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemegang IUP Operasi
Produksi dan IUPK Operasi Produksi harus menunjuk pejabat
yang bertanggung jawab atas pelaksanaan reklamasi dan
pascatambang.

Pasal 21

Pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dan
Pasal 20 wajib dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender
setelah tidak ada kegiatan usaha pertambangan pada lahan terganggu.

Bagian Ketiga

Pelaporan dan Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang

Pasal 22

(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan reklamasi
setiap 1 (satu) tahun kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya melakukan evaluasi terhadap laporan
pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender
sejak diterimanya laporan.

Pasal 23

Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
ayat (2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya memberitahukan tingkat keberhasilan reklamasi
secara tertulis kepada pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK
Operasi Produksi.

Pasal 24

Dalam hal reklamasi berada di dalam kawasan hutan, wilayah
pesisir, dan pulau-pulau kecil, penilaian keberhasilan reklamasi
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.


Pasal 25 . . .

264













- 12 -


Pasal 25

(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib melaksanakan pascatambang setelah sebagian atau
seluruh kegiatan usaha pertambangan berakhir.
(2) Dalam hal seluruh kegiatan usaha pertambangan berakhir
sebelum jangka waktu yang ditentukan dalam rencana
pascatambang, pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK
Operasi Produksi wajib melaksanakan pascatambang.
(3) Pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) wajib dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kalender setelah sebagian atau seluruh kegiatan
usaha pertambangan berakhir.

Pasal 26

(1) Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi
wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pascatambang
setiap 3 (tiga) bulan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya melakukan evaluasi terhadap laporan
pelaksanaan pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari
kalender sejak diterimanya laporan.

Pasal 27

Berdasarkan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
ayat (2) Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya memberitahukan tingkat keberhasilan
pascatambang secara tertulis kepada pemegang IUP Operasi
Produksi dan IUPK Operasi Produksi.

Pasal 28
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaporan dan evaluasi
reklamasi serta pascatambang diatur dengan Peraturan Menteri.




BAB VI . . .

265













- 13 -
BAB VI

JAMINAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 29

(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyediakan:
a. jaminan reklamasi; dan
b. jaminan pascatambang.
(2) Jaminan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a terdiri atas:
a. jaminan reklamasi tahap eksplorasi; dan
b. jaminan reklamasi tahap operasi produksi.


Bagian Kedua

Jaminan Reklamasi

Pasal 30

(1) Jaminan reklamasi tahap eksplorasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 ayat (2) huruf a ditetapkan sesuai dengan
rencana reklamasi yang disusun berdasarkan dokumen
lingkungan hidup dan dimuat dalam rencana kerja dan
anggaran biaya eksplorasi.
(2) Jaminan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditempatkan pada bank pemerintah dalam bentuk deposito
berjangka.
(3) Penempatan jaminan reklamasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kalender sejak rencana kerja dan anggaran biaya
tahap eksplorasi disetujui oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 31

(1) Jaminan reklamasi tahap operasi produksi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) huruf b ditetapkan sesuai
dengan rencana reklamasi.
(2) Jaminan . . .
266













- 14 -
(2) Jaminan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a. rekening bersama pada bank pemerintah;
b. deposito berjangka pada bank pemerintah;
c. bank garansi pada bank pemerintah atau bank swasta
nasional; atau
d. cadangan akuntansi.
(3) Penempatan jaminan reklamasi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kalender sejak rencana reklamasi disetujui oleh
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 32

Penempatan Jaminan Reklamasi tidak menghilangkan kewajiban
pemegang IUP dan IUPK untuk melaksanakan reklamasi.

Pasal 33

Apabila berdasarkan hasil evaluasi terhadap laporan pelaksanaan
reklamasi menunjukkan pelaksanaan reklamasi tidak memenuhi
kriteria keberhasilan, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan pihak ketiga
untuk melaksanakan kegiatan reklamasi sebagian atau seluruhnya
dengan menggunakan jaminan reklamasi.

Pasal 34

(1) Dalam hal jaminan reklamasi tidak menutupi untuk
menyelesaikan reklamasi, kekurangan biaya untuk
penyelesaian reklamasi menjadi tanggung jawab pemegang IUP
atau IUPK.
(2) Dalam hal terdapat kelebihan jaminan dari biaya yang
diperlukan untuk penyelesaian reklamasi, kelebihan biaya
dapat dicairkan oleh pemegang IUP atau IUPK setelah
mendapat persetujuan dari Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 35

Pemegang IUP atau IUPK dapat mengajukan permohonan pencairan
atau pelepasan jaminan reklamasi kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan tingkat
keberhasilan reklamasi.
Pasal 36 . . .
267













- 15 -
Pasal 36

Ketentuan lebih lanjut mengenai jaminan reklamasi diatur dengan
Peraturan Menteri.

Bagian Ketiga

Jaminan Pascatambang

Pasal 37
(1) Jaminan pascatambang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
ayat (1) huruf b ditetapkan sesuai dengan rencana
pascatambang.
(2) Jaminan pascatambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditempatkan setiap tahun dalam bentuk deposito berjangka
pada bank pemerintah.
(3) Penempatan jaminan pascatambang sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30
(tiga puluh) hari kalender sejak rencana pascatambang
disetujui oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.

Pasal 38

Penempatan jaminan pascatambang tidak menghilangkan kewajiban
pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi untuk
melaksanakan pascatambang.

Pasal 39

Apabila berdasarkan hasil penilaian terhadap pelaksanaan
pascatambang menunjukkan pascatambang tidak memenuhi
kriteria keberhasilan, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan pihak ketiga
untuk melaksanakan kegiatan pascatambang sebagian atau
seluruhnya dengan menggunakan jaminan pascatambang.

Pasal 40

Dalam hal jaminan pascatambang tidak menutupi untuk
menyelesaikan pascatambang, kekurangan biaya untuk
penyelesaian pascatambang menjadi tanggung jawab pemegang IUP
Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi.
Pasal 41 . . .
268













- 16 -
Pasal 41

Dalam hal kegiatan usaha pertambangan berakhir sebelum jangka
waktu yang telah ditentukan dalam rencana pascatambang,
pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi wajib
menyediakan jaminan pascatambang sesuai dengan yang telah
ditetapkan.

Pasal 42

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi dapat
mengajukan permohonan pencairan jaminan pascatambang kepada
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya dengan melampirkan program dan rencana biaya
pascatambang.

Pasal 43

Ketentuan lebih lanjut mengenai jaminan pascatambang diatur
dengan Peraturan Menteri.


BAB VII

REKLAMASI DAN PASCATAMBANG BAGI PEMEGANG IPR

Pasal 44

(1) Pemerintah kabupaten/kota sebelum menerbitkan IPR pada
wilayah pertambangan rakyat, wajib menyusun rencana
reklamasi dan rencana pascatambang untuk setiap wilayah
pertambangan rakyat.
(2) Rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan dokumen
lingkungan hidup yang telah disetujui oleh instansi yang
berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.

Pasal 45
(1) Bupati/walikota menetapkan rencana reklamasi dan rencana
pascatambang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 untuk
pemegang IPR.
(2) Pemegang . . .
269













- 17 -
(2) Pemegang IPR bersama dengan bupati/walikota wajib
melaksanakan reklamasi dan pascatambang sesuai dengan
rencana reklamasi dan rencana pascatambang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1).

Pasal 46

Ketentuan lebih lanjut mengenai reklamasi dan pascatambang pada
wilayah pertambangan rakyat diatur dengan peraturan daerah
kabupaten/kota dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah
ini.

BAB VIII

PENYERAHAN LAHAN REKLAMASI DAN
LAHAN PASCATAMBANG

Pasal 47

(1) Pemegang IUP dan IUPK wajib menyerahkan lahan yang telah
direklamasi kepada pihak yang berhak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan melalui Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(2) Pemegang IUP dan IUPK dapat mengajukan permohonan
penundaan penyerahan lahan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) baik sebagian atau seluruhnya kepada Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
apabila lahan yang telah direklamasi masih diperlukan untuk
pertambangan.

Pasal 48

Pemegang IUP Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi yang
telah selesai melaksanakan pascatambang wajib menyerahkan
lahan pascatambang kepada pihak yang berhak sesuai dengan
peraturan perundang-undangan melalui Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 49

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyerahan lahan yang
telah selesai direklamasi dan lahan yang telah selesai dilakukan
pascatambang diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB IX . . .
270













- 18 -


BAB IX

SANKSI ADMINISTRATIF

Pasal 50

(1) Pemegang IUP, IUPK, atau IPR yang melanggar ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau ayat (2),
Pasal 3 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 4 ayat (4), Pasal 5 ayat (1),
Pasal 14 ayat (1), Pasal 17 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 21,
Pasal 22 ayat (1), Pasal 25 ayat (1), ayat (2), atau ayat (3), Pasal
26 ayat (1), Pasal 29 ayat (1), Pasal 41, Pasal 45 ayat (2), Pasal
47 ayat (1), atau Pasal 48 dikenai sanksi administratif.

(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan; dan/atau
c. pencabutan IUP, IUPK, atau IPR.

(3) Pemegang IUP, IUPK, atau IPR yang dikenai sanksi administratif
berupa pencabutan IUP, IUPK, atau IPR sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf c, tidak menghilangkan kewajibannya
untuk melakukan reklamasi dan pascatambang.
(4) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.

Pasal 51

(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi
administratif kepada pemegang IUP dan IUPK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 diatur dengan Peraturan Menteri.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi
administratif kepada pemegang IPR sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 50 diatur dengan peraturan daerah
kabupaten/kota.


BAB X . . .


271













- 19 -

BAB X

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 52

Rencana reklamasi dan/atau rencana pascatambang yang
disampaikan oleh pemegang Kontrak Karya, Perjanjian Karya
Pengusahaan Pertambangan Batubara, dan pemegang IUP yang
telah memperoleh persetujuan dari Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah ini, dinyatakan tetap berlaku dan wajib
menyesuaikan rencana reklamasi dan/atau rencana pascatambang
sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini dalam jangka
waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan
Pemerintah ini.

Pasal 53

(1) Pemegang Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara, dan pemegang IUP Eksplorasi yang
belum menempatkan jaminan reklamasi sebelum berlakunya
Peraturan Pemerintah ini, wajib menempatkan jaminan
reklamasi sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini
dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak
berlakunya Peraturan Pemerintah ini.
(2) Pemegang Kontrak Karya, Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara, dan pemegang IUP Operasi Produksi
yang belum menempatkan jaminan reklamasi dan jaminan
pascatambang sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah
ini, wajib menempatkan jaminan reklamasi dan jaminan
pascatambang dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini.

BAB XI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 54

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar . . .
272













- 20 -
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.



Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Desember 2010

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 Desember 2010

MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

ttd.


PATRIALIS AKBAR

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2010 NOMOR 138



Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,





Setio Sapto Nugroho







273
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 78 TAHUN 2010
TENTANG
REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

I. UMUM
Dalam rangka terciptanya pembangunan berkelanjutan, kegiatan usaha
pertambangan harus dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip
lingkungan hidup, transparansi, dan partisipasi masyarakat.
Kegiatan pertambangan jika tidak dilaksanakan secara tepat dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, terutama gangguan
keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar. Dampak lingkungan
akibat kegiatan pertambangan antara lain: penurunan produktivitas lahan,
tanah bertambah padat, terjadinya erosi dan sedimentasi, terjadinya
gerakan tanah atau longsoran, terganggunya flora dan fauna, terganggunya
kesehatan masyarakat, serta perubahan iklim mikro. Oleh karena itu perlu
dilakukan kegiatan reklamasi dan kegiatan pascatambang yang tepat serta
terintegrasi dengan kegiatan pertambangan. Kegiatan reklamasi harus
dilakukan sedini mungkin dan tidak harus menunggu proses pertambangan
secara keseluruhan selesai dilakukan.
Praktik terbaik pengelolaan lingkungan di pertambangan menuntut proses
yang terus-menerus dan terpadu pada seluruh tahapan kegiatan
pertambangan yang meliputi sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam
rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan,
serta kegiatan pascatambang.
Perencanaan dan pelaksanaan yang tepat merupakan rangkaian
pengelolaan pertambangan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
sehingga akan mengurangi dampak negatif akibat kegiatan usaha
pertambangan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2 . . .
274













- 2 -

Pasal 2
Cukup jelas.

Pasal 3
Cukup jelas.

Pasal 4
Cukup jelas.

Pasal 5
Cukup jelas.

Pasal 6

Cukup jelas.

Pasal 7

Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Huruf a
Tata guna lahan sebelum dan sesudah ditambang
disesuaikan dengan status lahan dan tata ruang saat
dokumen lingkungan hidup disusun.
Tata guna lahan sesudah ditambang disesuaikan dengan
peruntukan lahan pascatambang sesuai dengan
kesepakatan dengan pemilik lahan dan tata ruang.

Huruf b
Pembukaan lahan dalam ketentuan ini antara lain kegiatan
pembersihan lahan (land clearing) dan penggalian untuk
keperluan tambang, timbunan, jalan, kolam sedimen, dan
sarana penunjang.



Huruf c. . .
275













- 3 -

Huruf c
Program reklamasi terhadap lahan terganggu mencakup
program pemulihan untuk kurun waktu 5 (lima) tahun yang
dirinci setiap tahun meliputi: lokasi lahan yang akan
direklamasi, teknik dan peralatan yang akan digunakan
dalam reklamasi, sumber material pengisi untuk back filling,
revegetasi, pekerjaan sipil sesuai peruntukan lahan bekas
tambang, pemeliharaan, pemantauan dan rincian biaya
reklamasi.

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e
Biaya langsung dalam ketentuan ini meliputi biaya
penatagunaan lahan, revegetasi, pencegahan dan
penanggulangan air asam tambang, pekerjaan sipil sesuai
peruntukan lahan pascatambang.
Biaya tidak langsung dalam ketentuan ini meliputi biaya
mobilisasi dan demobilisasi alat, perencanaan reklamasi,
administrasi, dan supervisi.

Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Huruf a
Cukup jelas.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.

Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e . . .
276













- 4 -
Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Cukup jelas.

Huruf g
Biaya langsung dalam ketentuan ini meliputi biaya
pascatambang pada tapak bekas tambang, fasilitas pengolahan
dan pemurnian, fasilitas penunjang, pemeliharaan dan peralatan,
sosial dan ekonomi, serta pemantauan.
Biaya tidak langsung dalam ketentuan ini meliputi biaya
mobilisasi dan demobilisasi alat, perencanaan pascatambang,
administrasi, dan supervisi.
Pasal 11
Konsultasi dalam ketentuan ini adalah dalam rangka tukar pikiran
untuk mendapatkan saran terhadap penyusunan program rencana
pascatambang.
Instansi terkait lainnya dalam ketentuan ini antara lain instansi
Pemerintah, pemerintah provinsi, dan/atau pemerintah
kabupaten/kota yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang lingkungan hidup, kehutanan, atau tata ruang.
Yang dimaksud dengan “masyarakat” adalah warga masyarakat yang
terkena dampak langsung kegiatan usaha pertambangan.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Cukup jelas.

Pasal 14
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas.

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2) . . .
277













- 5 -
Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Ayat (4)
Batas waktu 2 (dua) tahun dimaksudkan untuk memberikan
waktu yang mencukupi bagi pemegang IUP Operasi Produksi
atau IUPK Operasi Produksi untuk mempersiapkan pelaksanaan
pascatambang, seperti lelang pelaksana kegiatan, pengaturan
peralatan dan karyawan, dan lain-lainnya.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “pejabat yang bertanggungjawab atas
pelaksanaan reklamasi dan pascatambang” yaitu Kepala Teknik
Tambang.

Pasal 21
Pelaksanaan reklamasi wajib dilaksanakan secepatnya untuk
menghindari kerusakan lahan yang lebih parah dan untuk efisiensi
penggunaan peralatan, bahan, dan sumber daya manusia.

Pasal 22
Cukup jelas.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.


Pasal 25 . . .


278













- 6 -
Pasal 25
Ayat (1)
Pelaksanaan pascatambang dapat dilakukan secara bertahap
sesuai dengan tahapan pengakhiran kegiatan usaha
pertambangan atau secara sekaligus dan menyeluruh setelah
seluruh kegiatan usaha pertambangan berakhir.

Ayat (2)
Berakhirnya kegiatan usaha pertambangan sebelum jangka
waktu yang ditentukan dalam rencana pascatambang, dapat
terjadi karena ketidaklayakan usaha pertambangan secara
permanen.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 26
Cukup jelas.

Pasal 27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Ayat (1)
Jaminan reklamasi dalam ketentuan ini harus menutupi seluruh
biaya pelaksanaan reklamasi.
Biaya pelaksanaan reklamasi dalam ketentuan ini dihitung
berdasarkan pelaksanaan reklamasi oleh pihak ketiga.

Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 31
Ayat (1)
Jaminan reklamasi dalam ketentuan ini harus menutupi seluruh
biaya pelaksanaan reklamasi.
Biaya . . .
279













- 7 -
Biaya pelaksanaan reklamasi dalam ketentuan ini dihitung
berdasarkan pelaksanaan reklamasi oleh pihak ketiga.

Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud rekening bersama (escrow account) dalam
ketentuan ini merupakan rekening antara pemegang IUP atau
IUPK dengan Menteri, gubernur, bupati/walikota atau pejabat
yang ditunjuk sesuai dengan kewenangannya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
keuangan.

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.

Huruf d
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 32
Cukup jelas.

Pasal 33
Pihak ketiga dalam ketentuan ini adalah kontraktor pelaksanaan
reklamasi.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Cukup jelas.

Pasal 36
Cukup jelas.

Pasal 37
Ayat (1)
Jaminan Pascatambang dalam ketentuan ini harus menutupi
seluruh biaya pelaksanaan pekerjaan pascatambang.
Biaya . . .
280













- 8 -
Biaya pelaksanaan pascatambang dalam ketentuan ini dihitung
berdasarkan pascatambang yang dilakukan oleh pihak ketiga.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.


Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal 39
Pihak ketiga dalam ketentuan ini adalah kontraktor pelaksanaan
pascatambang.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal 41
Cukup jelas.

Pasal 42
Cukup jelas.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Cukup jelas.

Pasal 46
Cukup jelas.

Pasal 47
Ayat (1)
Lahan yang telah direklamasi adalah lahan yang telah memenuhi
kriteria keberhasilan reklamasi berdasarkan evaluasi oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

Ayat (2)
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat memberikan
penundaan penyerahan lahan sepanjang sesuai dengan perjanjian
penggunaan tanah antara pemegang IUP atau IUPK dengan
pemegang hak atas tanah atau izin pinjam pakai kawasan hutan.

Pasal 48 . . .
281













- 9 -

Pasal 48
Dinyatakan selesai melaksanakan pascatambang apabila telah
memenuhi kriteria keberhasilan pascatambang berdasarkan evaluasi
oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

Pasal 49
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.

Pasal 51
Cukup jelas.

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal 54
Cukup jelas.


TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5172













282
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 79 TAHUN 2010
TENTANC
BIAYA OPERAS1 YANG DAPAT DIKEMBALIKAN DAN
PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN DI BIDANG USAHA HULU
MINYAK DAN GAS BUM1
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi, kegiatan usaha hulu dilaksanakan dan
dikendalikan melalui kontrak kerja sama;
b. bahwa dalam pelaksanaan kontrak kerja sama
sebagaimana dimaksud pada huruf a, modal yang
ditanggung oleh badan usaha atau bentuk usaha tetap
merupakan biaya operasi yang dapat dikernbalikan oleh
Pemerintah Republik Indonesia pada saat kegiatan usaha
hulu minyak dan gas bumi menghasilkan produksi
komersial;
C. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a dan huruf b serta untuk
melaksanakan ketentuan Pasal 3 1 D Undang-Undang
Nomor . 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, perlu
menetapkan peraturan pemerintah tentang biaya operasi
yang dapat dikembalikan dan perlakuan pajak
penghasilan di bidang usaha hulu minyak dan gas bumi;
Mengingat . . .
283
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1983 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3263) sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008 tentang Perubahan' Keernpat Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4893);
3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak
dan Gas Bumi (Lernbaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4 152);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG BIAYA OPERAS1 YANG
DAPAT DIKEMBALIKAN DAN PERLAKUAN PAJAK
PENGHASILAN DI BIDANG USAHA HULU MINYAK DAN GAS
BUMI.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini, yang dimaksud dengan:
I . Minyak bumi, gas burni, minyak dan gas bumi, eksplorasi,
eksploitasi, kontrak kerja sama, Badan Pelaksana,
wilayah kerja, wilayah hukum pertarnbangan Indonesia,
dan kegiatan usaha hulu adalah sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang
Minyak dan Gas Bumi.
2. Kontraktor adalah badan usaha atau bentuk usaha tetap
yang ditetapkan untuk melakukan eksplorasi dan
eksploitasi pada suatu wilayah kerja berdasarkan kontrak
kerja sarna dengan Badan Pelaksana.
3. Operator . . .
284
PRESI DEN
REPUBLI K INDONESIA
3. Operator adalah kontraktor atau dalam ha1 kontraktor
terdiri atas beberapa pemegang participating interest, salah
satu pemegang participating interest yang ditunjuk sebagai
wakil oleh pemegang participating interest lainnya sesuai
dengan kontrak kerja sama.
4. Operasi perminyakan adalah kegiatan yang meliputi
eksplorasi, eksploitasi, pengangkutan, penutupan dan
peninggalan sumur (plug and abandonment) serta
pemulihan bekas penambangan (site restoration) minyak
dan gas bumi.
5. Lifting adalah sejumlah minyak mentah dan / atau gas
bumi yang dijual atau dibagi di titik penyerahan (custody
transfer point).
6. First Tmnche Petroleum yang selanjutnya disingkat FTP
adalah sejumlah tertentu minyak mentah dan/atau gas
bumi yang diproduksi dari suatu wilayah kerja dalam satu
tahun kalender, yang dapat diambil dan diterima oleh
Badan Pelaksana danlatau kontraktor dalam tiap tahun
kalender, sebelum dikurangi pengembalian biaya operasi
dan penanganan produksi (own use).
7. Investment Credit yang selanjutnya disebut insentif
investasi adalah tambahan pengembalian biaya modal
dalam jumlah tertentu, yang berkaitan langsung dengan
fasilitas produksi, yang diberikan sebagai insentif untuk
pengembangan lapangan minyak dan/atau gas bumi
tertentu.
8. Equity to be Split adalah hasil produksi yang tersedia
untuk dibagi (lifting) antara Badan Pelaksana dan
kontraktor setelah dikurangi F?'P, insentif investasi Cjika
ada) , dan pengembalian biaya operasi.
9. Biaya bukan modal (non capital cost) adalah biaya yang
dikeluarkan pada kegiatan operasi tahun berjalan yang
rnempunyai masa manfaat kurang dari 1 (satu) tahun,
termasuk survei dan intangible drilling cost.
10. Biaya modal (capital cost) adalah pengeluaran yang
dilakukan untuk peralatan atau barang yang mernpunyai
masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang
pembebanannya pada tahun berjalan melalui penyusutan.
11. Rencana kerja dan anggaran adalah suatu perencanaan
kegiatan dan pengeluaran anggaran tahunan oleh
kontraktor untuk kegiatan usaha hulu minyak dan gas
bumi pada suatu wilayah kerja.
12. Kontrak . . .
285
PRESI DEN
REPUBLIK I NDONESI A
12. Kontrak bagi hasil adalah suatu bentuk kontrak kerja
sama dalam kegiatan usaha hulu berdasarkan prinsip
pembagian hasil produksi.
13. Kontrak jasa adalah suatu bentuk kontrak kerja sama
untuk pelaksanaan eksploitasi minyak dan gas bumi
berdasarkan prinsip pemberian imbalan jasa atas produksi
yang dihasilkan.
14. Participating Interest adalah hak dan kewajiban sebagai
kontraktor kontrak kerja sama, baik secara langsung
maupun tidak langsung pada suatu wilayah kerja.
15. Uplift adalah imbalan yang diterima oleh kontraktor
sehubungan dengan penyediaan dana talangan untuk
pembiayaan operasi kontrak bagi hasil yang seharusnya
merupakan kewajiban partisipasi kontraktor lain, yang
ada dalam satu kontrak kerja sama, dalam pembiayaan.
16. Domestic Market Obligation yang selanjutnya disingkat
DM0 adalah kewajiban penyerahan bagian kontraktor
berupa minyak clanlatau gas bumi untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri.
17, Imbalan DM0 adalah imbalan yang dibayarkan oleh
Pemerintah kepada kontraktor atas penyerahan minyak
danlatau gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri dengan menggunakan harga yang ditetapkan oleh
Menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya
rneliputi kegiatan usaha minyak dan gas bumi.
18. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
19. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang kegiatan usaha minyak dan gas
bumi.
Ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pefnerintah ini berlaku
untuk kontrak bagi hasil dan kontrak jasa di bidang usaha
hulu minyak dan gas bumi.
(1) Kontraktor wajib membawa modal dan teknologi serta
menanggung risiko operasi dalam rangka pelaksanaan
operasi perminyakan berdasarkan kontrak kerja sama pada
suatu wilayah kerja.
(2) Pelaksanaan . . .
286
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 5 -
(2) Pelaksanaan operasi perminyakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) wajib dilakukan berdasarkan prinsip efektif
dan efisien, prinsip kewajaran, serta kaidah praktek bisnis
dan keteknikan yang baik.
(1) Seluruh barang dan peralatan yang dibeli oleh kontraktor
dalam rangka operasi perminyakan rnenjadi barang milik
negara yang pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah dan
dikelola oleh Badan Pelaksana.
(2) Atas barang dan peralatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dalam rangka pengembalian biaya operasi tidak
dapat dilakukan penilaian kembali.
(1) Dalam melaksanakan operasi perminyakan, kontraktor
wajib menyusun rencana kerja dan anggaran sesuai dengan
kaidah praktek bisnis dan keteknikan yang baik serta
prinsip kewajaran.
(2) Rencana kerja dan anggaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas:
a. pengeluaran rutin; dan
b. pengeluaran proyek.
(3) Rencana kerja dan anggaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) wajib mendapat persetujuan Kepala Badan
Pelaksana.
(4) Persetujuan Kepala Badan Pelaksana sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) merupakan dasar bagi kontraktor
untuk melaksanakan operasi perminyakan.
Terhadap pengeluaran proyek sebagaimana dimaksud dalarri
Pasal 5 ayat (2) huruf b, sebelum dilaksanakan wajib
mendapatkan persetujuan atorisasi pembelanjaan finansial dari
Kepala Badan Pelaksana.
287
PWESI DEN
REPUBL-IK I NDONESI A
(1) Kontraktor mendapatkan kembali biaya operasi sesuai
dengan rencana kerja dan anggaran yang telah disetujui
oleh Kepala Badan Pelaksana, setelah wilayah kerja
menghasilkan produksi komersial.
(2) Produksi komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
statusnya ditetapkan melalui ~erset uj uan Menteri atas
rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan
diproduksikan.
(3) Dalam ha1 wilayah kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak menghasilkan produksi komersial, terhadap
seluruh biaya operasi yang telah dikeluarkan menjadi risiko
dan beban kontraktor sepenuhnya.
(1) Menteri menetapkan besaran minimum bagian negara dari
suatu wilayah kerja yang dikaitkan dengan lifting dalam
persetujuan rencana pengembangan lapangan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).
(2) Penetapan besaran minimum bagian negara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan pedoman
yang ditetapkan oleh Menteri.
BAB I1
PENGHASILAN BRUT0
DAN PENGURANG PENGHASILAN KONTRAKTOR
Bagian Kesatu
Penghasilan Bruto Kontraktor
(1) Penghasilan bruto kontraktor terdiri atas:
a. penghasilan dalam rangka kontrak bagi hasil; atau
b. penghasilan dalam rangka kontrak jasa; dan
c. penghasilan lain di luar kontrak kerja sama.
(2) Penghitungan . . .
288
FRESI DEN
FZEPLIBLIK I NDONESI A
(2) Penghitungan pajak penghasilan atas penghasilan dalam
rangka kontrak bagi hasil sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a dihitung berdasarkan nilai realisasi minyak
danlatau gas bumi bagian kontraktor dari equity share dan
FTP share ditambah minyak danlatau gas bumi yang
berasal dari pengembalian biaya operasi ditambah minyak
danlatau gas bumi tambahan yang berasal dari pemberian
insentif atau karena ha1 lain dikurangi nilai realisasi
penyerahan DM0 minyak dan/atau gas bumi ditarhbah
Imbalan DM0 ditambah varian harga atas lifling.
(3) Penghitungan pajak penghasilan atas penghasilan dalam
rangka kontrak jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b dihitung berdasarkan imbalan yang diterima dari
Pemerintah ditambah nilai realisasi penjualan atas minyak
danlatau gas bumi yang berasal dari pengembalian biaya
operasi.
(4) Penghasilan lain di luar kontrak kerja sama sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas:
a. uplift atau imbalan lain yang sejenis; dan/atau
b. penghasilan yang berasal dari pengalihan participating
interest.
Pasal 10
(1) Untuk menjamin adanya penerimaan negara, Menteri
menetapkan besaran dan pembagian FTP.
(2) Untuk mendorong pengembangan wilayah kerja, Menteri
dapat menetapkan bentuk dan besaran insentif investasi.
Bagian Kedua
Biaya Operasi
Pasal 11
(1) Biaya operasi terdiri atas:
a. biaya eksplorasi;
b. biaya eksploitasi; dan
c. biaya lain.
(2) Biaya eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a terdiri atas:
a. biaya pengeboran terdiri atas:
1. biaya . . .
289
PFZESIDEN
REPUBLI K I NDONESI A
1. biaya pengeboran eksplorasi; dan
2, biaya pengeboran pengembangan;
b. biaya geologis dan geofisika terdiri atas:
1. biaya penelitian geologis; ban
2. biaya penelitian geofisika;
c, biaya umum dan administrasi pada kegiatan eksplorasi;
dan -
d. biaya penyusutan.
(3) Biaya eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b terdiri atas:
a. biaya langsung produksi untuk:
1. minyak bumi; dan
2. gas bumi.
b. biaya pemrosesan gas bumi;
c. biaya utility terdiri atas:
1. biaya perangkat produksi dan pemeliharaan
peralatan; dan
I
2. biaya uap, air, dan listrik;
d. biaya umum dan administrasi pada kegiatan eksploitasi;
dan
e. biaya penyusutan.
(4) Biaya umum dan administrasi untuk kegiatan eksplorasi
dan eksploitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
c dan ayat (3) huruf d terdiri atas:
a. biaya administrasi dan keuangan;
b. biaya pegawai;
c, biaya jasa material;
d. biaya transportasi;
e. biaya umum kantor; dan
f. pajak tidak langsung, pajak daerah, dan retribusi
daerah.
(5) Biaya lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
terdiri atas:
a. biaya untuk memindahkan gas dari titik produksi ke
titik penyerahan; dan
b. biaya kegiatan pasca operasi kegiatan usaha hulu.
Pasal 12
290
PRESI DEN
REPUBLI K I NDONESI A
Pasal 12
(1) Biaya operasi yang dapat dikembalikan dalam
penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan harus
memenuhi persyaratan:
a, dikeluarkan untuk mendapatkan, rnenagih, dan
memelihara penghasilan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dab terkait langsung
dengan kegiatan operasi perminyakan di wilayah kerja
kontraktor yang bersangkutan di Indonesia;
b. menggunakan harga wajar yang tidak dipengaruhi
hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Pajak Penghasilan;
c. pelaksanaan operasi perminyakan sesuai dengan kaidah
praktek bisnis dan keteknikan yang baik;
d. kegiatan operasi perminyakan sesuai dengan rencana
kerja dan anggaran yang telah mendapatkan
persetujuan Kepala Badan Pelaksana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal5 dan Pasal6.
(2) Biaya yang dikeluarkan yang terkait langsung dengan
operasi perminyakan sebagaimana dimaksud pada ayat ( I )
huruf a wajib memenuhi syarat:
a. untuk biaya penyusutan hanya atas barang dan
peralatan yang digunakan untuk operasi perminyakan
yang menjadi milik negara;
b. untuk biaya langsung kantor pusat yang dibebankan ke
proyek di Indonesia yang berasal dari luar negeri hanya
untuk kegiatan yang:
1. tidak dapat dikerjakan oleh institusi/lembaga di
dalam negeri;
2. tidak dapat dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia;
dan
3. tidak rutin;
c. untuk pemberian imbalan sehubungan dengan
pekerjaan kepada karyawanl pekerja dalam bentuk
natural kenikmatan dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan;
d. untuk pemberian sumbangan bencana alam atas nama
Pemerintah dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan;
e. untuk . . .
291
PRESI DEN
REP UBLI K l NDONESI A
- 10-
e . untuk pengeluaran biaya pengembangan masyarakat
dan lingkungan yang dikeluarkan hanya pada masa
eksplorasi;
f. untuk pengeluaran alokasi biaya tidak langsung kantor
pusat dengan syarat:
1. digunakan untuk menunjang usaha atau kegiatan di
Indonesia;
*
2. kontraktor menyerahkan laporan keuangan
konsolidasi kantor pusat yang telah diaudit dan
dasar pengalokasiannya; dan
3. besarannya tidak melampaui batasan yang
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan
setelah mendapat pertimbangan Menteri.
(3) Batasan maksimum biaya yang berkaitan dengan
remunerasi tenaga kerja asing ditetapkan dengan Peraturan
Menteri Keuangan setelah mendapatkan pertimbangan dari
Menteri.
Pasal 13
Jenis biaya operasi yang tidak dapat dikembalikan dalam
penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan meliputi:
a, biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan
pribadi dan/atau keluarga dari pekerja, pengurus, pemegang
participating interest, dan pemegang saham;
b. pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali
biaya penutupan dan pemulihan tambang yang disimpan
pada rekening bersama Badan Pelaksana dan kontraktor
dalam rekening bank umum Pemerintah Indonesia yang
berada di Indonesia;
c. harta yang dihibahkan;
d, sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan
serta sanksi pidana berupa denda yang berkaitan dengan
pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang
perpajakan serta tagihan atau denda yang timbul akibat
kesalahan kontraktor karena kesengajaan atau kealpaan;
e. biaya penyusutan atas barang dan peralatan yang
digunakan yang bukan milik negara;
f. insentif, pembayaran iuran pensiun, dan premi asuransi
untuk kepentingan pribadi dan/atau keluarga dari tenaga
kerja asing, pengurus, dan pemegang saham;
g. biaya . . .
292
PRESl DEN
KEPUBLI K I NDONESI A
g. biaya tenaga kerja asing yang tidak memenuhi prosedur
rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA) atau tidak
memiliki izin kerja tenaga asing (IKTA);
h. biaya konsultan hukum yang tidak terkait langsung dengan
operasi perminyakan dalam rangka kontrak kerja sama;
i. biaya konsultan pajak;
j. biaya pemasaran minyak dan/atau 'gas bumi bagian
kontraktor, kecuali biaya pemasaran gas bumi yang telah
disetujui Kepala Badan Pelaksana;
k. biaya representasi, termasuk biaya jamuan dengan nama
dan dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan daftar
nominatif penerima manfaat dan nomor pokok wajib pajak
(NPWP) penerima manfaat;
1. biaya pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat
pada masa eksploitasi;
m. biaya pelatihan teknis untuk tenaga kerja asing;
n. biaya terkait merger, akuisisi, atau biaya pengalihan
participating interest;
o. biaya bunga atas pinjaman;
p. pajak penghasilan karyawan yang ditanggung kontraktor
maupun dibayarkan sebagai tunjangan pajak dan pajak
penghasilan yang wajib dipotong atau dipungut atas
penghasilan pihak ketiga yang ditanggung kontraktor atau
di-gross up;
q. pengadaan barang dan jasa serta kegiatan lainnya yang
tidak sesuai dengan prinsip kewajaran dan kaidah
keteknikan yang baik, atau yang melampaui nilai
persetujuan otorisasi pengeluaran di atas 10% (sepuluh
persen) dari nilai otorisasi pengeluaran;
r. surplus material yang berlebihan akibat kesalahan
perencanaan dan pembelian;
s. nilai buku dan biaya pengoperasian aset yang telah
digunakan yang tidak dapat beroperasi lagi akibat kelalaian
kontraktor;
t. transaksi yang:
1. merugikan negara;
2. tidak melalui proses tender sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan kecuali dalam ha1 tertentu; atau
3. bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
u. bonus. . .
293
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 12 -
u. bonus yang dibayarkan kepada Pemerintah;
v. biaya yang terjadi sebelum penandatanganan kontrak;
w. insentif interest recovery; dan
x. biaya audit komersial.
Pasal 14
Dalam ha1 terdapat penghasilan tambahan yang diperoleh
dalarn rangka pelaksanaan operasi perminyakan dalam bentuk
hasil penjualan produk sampingan atau bentuk lainnya
diperlakukan sebagai pengurang biaya operasi.
Pasal 15
(1) Barang yang memiliki masa manfaat tidak lebih dari
1 (satu) tahun dibebankan sebagai biaya operasi pada saat
barang digunakan.
(2) Pembebanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara rata-rata atau dengan cara
mendahulukan barang yang diperoleh pertama.
Pasal 16
(1) Penyusutan atas pengeluaran harta berwujud yang
mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
dilakukan dalam bagian yang menurun selama masa
manfaat yang dihitung dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku dan pada akhir masa
manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus.
(2) Penyusutan dimulai pada bulan harta tersebut digunakan
(placed into service).
(3) Penghitungan penyusutan dilakukan sesuai kelompok,
tarif, dan masa manfaat sebagaimana tercantum dalam
Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Peraturan Pemerintah ini.
(4) Dalam ha1 harta berwujud sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak dapat digunakan lagi akibat kerusakan
karena faktor alamiah atau keadaan kahar, jumlah nilai
sisa buku harta berwujud tetap disusutkan sesuai dengan
sisa masa manfaatnya.
Pasal 17 . . .
294
PRESlDEN
REPUBLIK INDONESIA
Pasal 17
(1) Besarnya cadangan biaya penutupan dan pemulihan
tambang yang dibebankan untuk 1 (satu) tahun pajak,
dihitung berdasarkan estimasi biaya penutupan dan
pemulihan tambang berdasarltan masa manfaat ekonomis.
(2) Cadangan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
disimpan dalam rekening bersama antara Badan Pelaksana
dan kontraktor di bank umum Pemerintah Indonesia di
Indonesia.
(3) Dalam ha1 total realisasi biaya penutupan dan pemulihan
tambang lebih kecil atau lebih besar dari jumlah yang
dicadangkan, selisihnya menjadi pengurang atau penambah
biaya operasi yang dapat dikembalikan dari masing-masing
wilayah kerja atau lapangan yang bersangkutan, setelah
mendapat persetujuan Kepala Badan Pelaksana.
(4) Ketentuan mengenai tata cara penggunaan dana cadangan
biaya penutupan dan pemulihan tambang diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pasal 18
(1) Kontraktor dapat merhbebankan iuran pesangon bagi
pegawai tetap yang dibayarkan kepada pengelola dana
pesangon tenaga kerja yang ditetapkan Menteri Keuangan.
(2) Tata cara pengelolaan iuran pesangon dan besarnya
pesangon diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Pasal 19
(1) Seluruh biaya kerja, pembebanannya ditangguhkan sampai
dengan adanya lapangan yang berproduksi secara
komersial di wilayah kerja sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (1).
(2) Untuk pengamanan penerimaan negara, selain
penangguhan sebagaimana dimaksud pada ayat ( I ) , Menteri
dapat mengambil kebijakan terkait pengembangan
lapangan.
295
PRESI DEN
REPUBLIK INDONESIA
Pasal 20
(1) Biaya operasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 yang
dapat dikembalikan dalam 1 (satu) tahun kalender terdiri
atas:
a. biaya bukan modal tahun berjalan;
b. penyusutan biaya modal tahun berjalan; dan
c. biaya operasi yang belum dapat dikembalikan pada
tahun-tahun sebelumnya.
(2) Jumlah maksimum biaya operasi yang dapat dikembalikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kontrak jasa
ditentukan sebesar imbalan yang diberikan oleh
Pemerintah.
(3) Biaya operasi yang dapat dikembalikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) yang belum dapat diperhitungkan
dalam 1 (satu) tahun kalender dapat diperhitungkan pada
tahun berikutnya.
(4) Biaya langsung minyak bumi dibebankan pada produksi
minyak bumi dan biaya langsung gas bumi dibebankan
pada produksi gas bumi.
(5) Dalam ha1 terdapat biaya bersama minyak dan gas bumi,
biaya bersarna dialokasikan sesuai proporsi nilai relatif
hasil produksi.
Dalarn ha1 suatu lapangan atau wilayah kerja telah
menghasilkan satu jenis hasil produksi minyak bumi atau
gas bumi, sementara jenis produksi yang lainnya belum
menghasilkan, biaya bersama sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) dialokasikan secara adil berdasarkan kesepakatan
antara Badan Pelaksana dan kontraktor.
(7) Pengembalian biaya operasi untuk minyak bumi dilakukan
hanya terhadap lifting minyak bumi, sedangkan
pengembalian biaya operasi untuk gas bumi dilakukan
hanya terhadap nilai penjualan gas bumi.
(8) Dalam ha1 pengembalian biaya operasi minyak bumi atau
gas bumi tidak mencukupi dari hasil produksinya atau nilai
penjualannya, ditentukan:
a. biaya operasi gas bumi yang melebihi nilai produksinya,
selisihnya dibebankan pada hasil produksi minyak
bumi;
b. biaya operasi minyak bumi yang melebihi nilai
produksinya, selisihnya dibebankan pada nilai penjualan
gas bumi.
BAB I11 . . .
296
PRESlDEN
REPUBLIK INDONESIA
BAB I11
PENGAKUAN DAN PENGUKURAN PENGHASILAN
Penghasilan kontraktor untuk kontrak bagi hasil diakui pada
titik penyerahan.
(1) Penghasilan dari kontrak kerja sama dalam bentuk
penjualan minyak bumi dinilai dengan menggunakan harga
minyak mentah Indonesia.
(2) Metodologi dan formula dari harga minyak mentah
Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
bersama oleh Menteri dan Menteri Keuangan.
(3) Ketentuan mengenai tata cara penetapan metodologi dan
formula harga minyak mentah Indonesia sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
(1) Penghasilan dari kontrak kerja sama dalam bentuk kontrak
penjualan gas bumi dihitung berdasarkan harga yang
disepakati dalam kontrak penjualan gas bumi.
(2) Dalam ha1 penjualan gas bumi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan setelah gas bumi diperoleh melalui
proses lebih lanjut yang disetujui Menteri, penghasilan yang
diakui dihitung berdasarkan hasil penjualan yang diterima
dikurangi komponen biaya penjualan.
BAB IV
PENGHITUNGAN BAG1 HASIL
(1) Dalam ha1 tidak terdapat FTP dan insentif investasi, equity
to be split dihitung berdasarkan lifting dikurangi biaya
operasi yang dapat dikembalikan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20.
(2) Dalam .
297
PRESlDEN
REPUBLIK INDONESIA
Dalam ha1 terdapat FTP tetapi tidak terdapat insentif
investasi, equity to be split dihitung berdasarkan lifting
dikurangi FTP dikurangi biaya operasi yang dapat
dikembalikan.
Dalam ha1 terdapat FTP dan insentif investasi, equity to be
split dihitung berdasarkan lifing dikurangi FTP dikurangi
insentif investasi dikurangi biaya operasi yang dapat
dikembalikan.
Dalam ha1 tidak terdapat FTP tetapi terdapat insentif
investasi, equity to be split dihitung berdasarkan lifting
dikurangi insentif investasi dikurangi biaya operasi yang
dapat dikembalikan.
Insentif investasi dan biaya operasi yang dapat
dikembalikan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, dikonversi menjadi:
a. minyak bumi, dengan harga rata-rata harga minyak
mentah Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
22; atau
b. gas bumi, dengan harga yang disepakati dalam kontrak
penjualan gas bumi.
Bagian kontraktor untuk kontrak kerja sama, dihitung
berdasarkan persentase bagian kontraktor sebelum pajak
penghasilan yang dinyatakan dalam kontrak kerja sama
dikalikan dengan equity to be split,
Bagian Pemerintah untuk kontrak kerja sama dihitung
berdasarkan persentase bagian Pernerintah yang
dinyatakan dalam kontrak kerja sama dikalikafi dengan
equity to be split yang didalamnya belum termasuk pajak
penghasilan yang terutang oleh kontraktor.
IContraktor wajib memenuhi kewajiban DM0 dengan
menyerahkan 25% (dua puluh lirna persen) bagiannya dari
produksi minyak bumi dan/atau gas bumi yang
dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kontraktor mendapat imbalan DM0 atas penyerahan
minyak bumi dan/atau gas bumi sebagaimana dimaksud
pada ayat (8) dengan harga yang ditetapkan oleh Menteri.
BAB V . . .
298
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 17-
BAB V
PENGHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN
(1) Penghasilan kena pajak untuk 1 (satu) tahun pajak bagi
kontraktor untuk kontrak bagi hasil, dihitung berdasarkan
penghasilan dalam rangka kontrak bagi hasil sebagaimana
dimaksud dalam Pasal9 ayat (2) dikurangi biaya bukan
modal tahun berjalan dikurangi penyusutan biaya modal
tahun berjalan dikurangi biaya operasi yang belum dapat
dikembalikan pada tahun-tahun sebelumnya.
(2) Dalam ha1 jumlah pengurang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) lebih besar dari penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), sisa kurangnya
diperhitungkan pada tahun pajak berikutnya sampai
dengan berakhirnya kontrak.
(3) Besarnya pajak penghasilan yang terutang bagi kontraktor,
dihitung berdasarkan penghasilan kena pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikalikan dengan tarif pajak yang
ditentukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
di bidang pajak penghasilan.
(4) Besarnya pajak penghasilan yang terutang bagi kontraktor
yang kontraknya ditandatangani sebelum berlakunya
peraturan Pemerintah ini, dihitung berdasarkan tarif pajak
perseroan atau pajak penghasilan pada saat kontrak
ditandatangani.
(5) Atas penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) setelah dikurangi pajak penghasilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) atau ayat (4), terutang pajak
penghasilan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(6) Dalam ha1 kontraktor berbentuk badan hukum Indonesia,
penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) setelah dikurangi pajak penghasilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) diperlakukan sebagai deviden yang
disediakan untuk dibayarkan dan terutang pajak
penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(7) Atas pemenuhan kewajiban pajak penghasilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), ayat (4), ayat ( 5) , dan ayat (6)
diterbitkan surat ketetapan pembayaran pajak penghasilan
minyak bumi dan gas bumi setelah dilakukan pemeriksaan
pajak,
8. Sebelum . . .
299
PRESlbEN
REPUBLIK INDONESIA
(8) Sebelum surat ketetapan pembayaran pajak penghasilan
minyak bumi dan gas bumi diterbitkan, dapat diterbitkan
surat keterangan pembayaran pajak penghasilan minyak
bumi dan gas bumi sementara,
(9) Icetentuan rnengenai penerbitan surat ketetapan
pembayaran pajak penghasilan minyak bumi dan gas bumi
sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dan surat keterangan
pembayaran pajak penghasilan minyak bumi dan gas bumi
sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (8) diatur
dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak.
(10) Kontraktor dibebaskan dari pemungutan bea masuk dan
pajak dalam rangka impor atas barang yang digunakan
dalam operasi perminyakan pada kegiatan eksplorasi dan
kegiatan eksploitasi.
(1 1) Ketentuan mengenai tata cara pembebasan bea masuk dan
pemungutan pajak dalam rangka impor sebagaimana
dimaksud pada ayat (10) diatur sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan,
(1) Penghasilan kena pajak untuk 1 (satu) tahun pajak bagi
kontraktor dalam rangka kontrak jasa, berdasarkan
penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal9 ayat (3)
dikurangi biaya bukan modal tahun berjalan dikurangi
penyusutan biaya modal tahun berjalan dikurangi seluruh
biaya operasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 yang
belum dikembalikan.
(2) Ketentuan mengenai jumlah maksimum pengurang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah imbalan
yang diberikan oleh Pemerintah kepada kontraktor diatur
dengan Peraturan Menteri.
(3) Dalam ha1 jumlah pengurang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) lebih besar dari penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3), sisa kurangnya
diperhitungkan pada tahun pajak berikutnya sampai
dengan berakhirnya kontrak.
(4) Besarnya pajak penghasilan yang terutang bagi kontraktor
berdasarkan penghasilan kena pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikalikan dengan tarif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang pajak penghasilan.
300
PRESJDEN
REPUBLIK INDONESIA
(5) Atas penghasilan kena pajak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) setelah dikurangi pajak penghasilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) diperlakukan sebagai deviden yang
disediakan untuk dibayarkan dan terutang pajak
penghasilan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
BAB VI
PENGHASILAN DI LUAR KONTRAK KERJA SAMA
Pasal 27
(1) Atas penghasilan lain kontraktor berupa uplift atau imbalan
lain yang sejenis sebagaimana dimaksud dalam Pasal9
ayat (4) huruf a dikenakan pajak penghasilan yang bersifat
final dengan tarif 20% (dua puluh persen) dari jumlah
bruto.
(2) Atas penghasilan kontraktor dari pengalihan participating
interest sebagaimana dimaksud dalam Pasal9 ayat (4)
huruf b dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final
dengan tarif:
a. 5% (lima persen) dari jumlah bruto, untuk pengalihan
participating interest selama masa eksplorasi; atau
b. 7% (tujuh persen) dari jumlah bruto, untuk pengalihan
participating interest selama masa eksploitasi.
(3) Pengenaan pajak penghasilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf b, dikecualikan sepanjang untuk melakukan
kewajiban pengalihan participating interest sesuai kontrak
kerja sama kepada perusahaan nasional sebagaimana
tertuang dalam kontrak kerja sama.
(4) Ketentuan mengenai tata cara pemotongan dan
pembayaran atas pajak penghasilan sebagaimana dimaksud
pada ayat (I), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan
Menteri Keuangan.
Dalam rangka membagi risiko dalam masa eksplorasi,
pengalihan participating interest tidak termasuk penghasilan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal9 ayat (4) huruf b apabila
memenuhi kriteria:
a. tidak . . .
301
PRESIDEN
REPUBLlK INDONESIA
a. tidak mengalihkan seluruh participating interest yang
dimilikinya;
b. participating interest telah dirniliki lebih dari 3 (tiga) tahun;
c. di wilayah kerja telah dilakukan eksplorasi (telah ada
pengeluaran investasi); dan
d. pengalihan participating interest tidak dimaksudkan untuk
memperoleh keuntungan.
BAB VII
PEMBUKUAN KONTRAKTOR
(1) Pembukuan atau pencatatan hams diselenggarakan dengan
memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan
atau kegiatan usaha yang sebenarnya.
(2) Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di
Indonesia dengan menggunakan huruf latin, angka arab,
dan disusun dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing
setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan.
(3) Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas,
sesuai dengan pernyataan standar akuntansi keuangan,
dan sesuai prinsip kontrak bagi hasil.
(4) Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan
mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya,
serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung
besarnya pajak yang terutang.
(5) Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar
pembukuan atau pencatatan dan dokurnen lain termasuk
hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara
elektronik atau secara program aplikasi online wajib
disediakan di Indonesia selama biaya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 12 belum dikembalikan.
(1) Untuk perhitungan pajak, Direktorat Jenderal Pajak
menetapkan besarnya biaya pada tahapan eksplorasi setiap
tahunnya di bidang usaha hulu minyak bumi dan gas bumi
setelah mendapat rekomendasi dari Badan Pelaksana,
(2) Sebelum . . .
302
PRESIDE N
REPUBLIK INDONESIA
Sebelum menetapkan besarnya biaya sebagaimana
dimaksud pada ayat ( I ) , auditor Pemerintah atas nama
Direktorat Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan.
Dalam ha1 besaran biaya yang direkomendasikan Badan
Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbeda
dengan besaran biaya hasil pemeriksaan auditor
Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), auditor
Pemerintah dan Badan Eelaksana wajib menyelesaikan
perbedaan tersebut.
BAB VIII
ICEWAJIBAN KONTRAKTOR DAN/ATAU OPERATOR
(1) Setiap kontraktor pada suatu wilayah kerja wajib:
a. mendaftarkan diri untuk memperoleh nomor pokok
wajib pajak;
b. melaksanakan pembukuan;
c. menyampaikan surat pemberitahuan tahunan pajak
penghasilan (SPT Tahunan PPh);
d. membayar angsuran pajak dalam tahun berjalan untuk
setiap bulan paling lambat pada tanggal 15 (lima belas)
bulan berikutnya, dan dihitung atas penghasilan kena
pajak dari lifting yang sebenarnya terjadi dalam suatu
bulan takwim;
e. memenuhi ketentuan lain sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perpajakan .
(2) Dalam* ha1 terjadi pengalihan participating interest atau
pengalihan saham, kontraktor wajib melaporkan nilainya
kepada Direktur Jenderal Pajak.
(3) Dalam ha1 pengalihan participating interest, hak dan
kewajiban perpajakan beralih kepada kontraktor yang baru.
(4) Bentuk dan isi SPT Tahunan PPh sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c diatur dengan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak.
303
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
(1)
Setiap operator pada suatu wilayah kerja wajib:
a. mendaftarkan kontrak kerja sama untuk memperoleh
nomor pokok wajib pajak yang berbeda dengan nomor
pokok wajib pajak sebagaimana dimaksud dalarn Pasal
3 1 ayat (1) huruf a;
b. melakukan pemenuhan kewajiban pemotongan
dan/ atau pernungutan pajak;
c. menyelenggarakan pembukuan untuk kegiatan operasi
perminyakan untuk wilayah kerja yang bersangkutan.
(2) Dalam ha1 terjadi pergantian operator, kewajiban
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beralih kepada
operator yang baru.
(1) Minyak bumi dan/atau gas bumi bagian pemerintah dari
kontrak bagi hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
dihitung berdasarkan volume minyak bumi dan/atau gas
burni.
(2) Dalam hal Pemerintah membutuhkan minyak bumi
dan/atau gas bumi untuk keperluan pemenuhan
kebutuhan dalam negeri, pajak penghasilan kontraktor dari
kontrak bagi hasil, dapat berupa volume minyak burni
dan/atau gas bumi dari bagian kontraktor.
(3) Ketentuan mengenai perhitungan dan tata cara penyerahan
bagian Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Menteri.
(4) Ketentuan mengenai perhitungan dan tata cara
pembayaran Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud
pada ayat. (2) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
BAB IX
KEWAJIBAN BADAN PELAKSANA
(1) Badan Pelaksana wajib menerbitkan standar atau norma,
jenis, kategori, dan besaran biaya yang digunakan pada
kegiatan operasi perminyakan bersamaan dengan
berlakunya Peraturan Pemerintah ini.
(2) Badan . . .
304
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
(2) Badan Pelaksana wajib menyampaikan laporan pembukuan
mengenai pelaksanaan pengembalian biaya operasi kepada
Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Minyak dan
Gas Bumi secara periodik setiap tahun dan sewaktu-waktu
apabila diperlukan.
BAB X
KETENTUAN LAIN-LAIN
(1) Kontraktor harus melakukan transaksinya di Indonesia dan
menyelesaikan pembayarannya melalui sistem perbankan
di Indonesia.
(2) Transaksi dan penyelesaian pembayaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di luar
Indonesia setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan.
(1) Menteri Keuangan dalam keadaan tertentu dapat rnenunjuk
pihak ketiga yang independen untuk melakukan verifikasi
finansial dan teknis setelah berkoordinasi dengan Menteri.
(2) Penunjukan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang pengadaan barang dan jasa.
Dalam ha1 terjadi perubahan bentuk hukum danlatau
perubahan status domisili dan/atau pengalihan participating
interest atau kepemilikan saham danlatau ha1 lain dari
kontraktor yang mengakibatkan perubahan perhitungan pajak
penghasilan, besaran bagian penerimaan negara harus tetap.
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
a. Kontrak . . .
305
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
a. Kontrak kerja sama yang telah ditandatangani sebelum
Peraturan Pemerintah ini diundangkan, dinyatakan tetap
berlaku sampai dengan tanggal berakhirnya kontrak yang
bersangkutan.
b. Hal-ha1 yang belum diatur atau belum cukup diatur secara
tegas dalam kontrak kerja sama sebagaimana dimaksud
pada huruf a untuk ketentuan mengenai:
1. besaran bagian penerimahn negara;
2. persyaratan biaya operasi yang dapat dikembalikan dan
norma pembebanan biaya operasi;
3. biaya operasi yang tidak dapat dikembalikan;
4. penunjukan pihak ketiga yang independen untuk
melakukan verifikasi finansial dan teknis;
5, penerbitan surat ketetapan pajak penghasilan;
6. pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor
atas barang pada kegiatan eksplorasi dan kegiatan
eksploitasi;
7. pajak penghasilan kontraktor berupa volume minyak
bumi dan/atau gas bumi dari bagian kontraktor; dan
8. penghasilan di luar kontrak kerja sama berupa uplij?
dan/ atau pengalihan participating interest,
dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan wajib
menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah ini.
BAB XI1
KETENTUANPENUTUP
Kontrak kerja .sama dalam kegiatan usaha hulu minyak bumi
dan gas bumi yang dibuat atau diperpanjang setelah berlakunya
Peraturan Pemerintah ini wajib mematuhi ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah ini.
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar . . .
306
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 25 -
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Desember 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 Desember 2010
MENTERI NUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIIC INDONESIA
ttd.
PATRIALIS AKBAR
LEMBARAN NEGARA REPUBLIIC INDONESIA TAHUN 20 10 NOMOR 139
. Salinan sesuai dengan aslinya
SEK~E'I'ARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
r
Nugroho
307
PRESIDEN
REPUBLlK INDONESIA
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 79 TAHUN 20 10
TENTANG
BIAYA OPERAS1 YANG DAPAT DIKEMBALIKAN DAN
PERLAKUAN PAJAK PENGHASILAN DI BIDANG USAHA HULU
MINYAK DAN GAS BUM1
I. UMUM
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat (2) dan ayat ( 3) menegaskan bahwa
cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara termasuk minyak dan gas bumi yang
merupakan sumber daya alam strategis yang tak dapat diperbaharui.
Mengingat minyak dan gas bumi merupakan salah satu sumber penerimaan
negara yang penting, maka pengelolaannya perlu dilakukan secara efisien dan
seoptimal mungkin agar dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Pengelolaan minyak dan gas bumi sampai saat ini dilakukan melalui sistem
kontrak bagi hasil yang juga dianut oleh kebanyakan negara produsen minyak.
Peraturan Pemerintah ini lebih menjamin penerimaan negara yang berasal dari
penghasilan kontrak bagi hasil atau penghasilan lainnya menjadi lebih optimal,
antara lain melalui:
a. biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto akan sam'a dengan
biaya yang dapat dikembalikan oleh Pemerintah;
b. jenis, syarat, metode alokksi, dan batasan jumlah dari biaya tersebut akan
diatur secara seksama agar penerimaan negara lebih optimal dan agar
tercipta kepastian hukum;
C. pajak-pajak tidak langsung seperti pajak pertambahan nilai (PPN), bea
masuk, pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak daerah dan retribusi daerah
yang selama ini menjadi beban Pemerintah diubah sehingga menjadi beban
bersama Pemerintah dan kontraktor dengan cara membukukan
pembayaran pajak tidak langsung tersebut sebagai komponen biaya;
d. kontraktor diwajibkan membayar sendiri pajak penghasilan yang terutang
atas penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar skema kontrak kerja
sama.
Dengan . . .
308
PRESI DEN
REPUBLIK I NDONESI A
Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya penyalahgunaan penerapan Persetujuan Penghindaran
Pajak Berganda (P3B).
Dalam rangka optimalisasi penerimaan negara dari kontrak-kontrak yang
sudah ada, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2008 tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2009 mengamanatkan
Pemerintah untuk rnenerbitkan peraturan yang mengatur mengenai
Pengembalian Biaya Operasi yang telah dikeluarkan kontraktor dalam rangka
kontrak kerja sama. Untuk itu, ketentuan yang diatur dalam Peraturan
Pemerintah ini juga berlaku terhadap kontrak kerja sama yang telah
ditandatangani sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini deligan beberapa
ketentuan peralihan.
11. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal2
Cukup jelas.
Pasal3
Ayat (1)
Dalam ha1 kontrak kerja sama di bidang usaha hulu minyak dan gas
bumi, Pemerintah menyediakan sumber daya alamnya sedangkan
kontraktor wajib membawa modal dan teknologi. Konsekuensinya
bahwa kontraktor tidak diperkenankan membebankan biaya bunga
maupun biaya royalti dan sejenisnya ke dalam biaya operasi yang
dapat dikembalikan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal4
Ayat (1)
Pada dasarnya seluruh pengeluaran atas barang dan peralatan yang
dibeli oleh kontraktor merupakan milik negara, sehingga
pengeluaran tersebut merupakan biaya operasi yang dapat
dikembalikan oleh Pemerintah kepada kontraktor berdasarkan
harga perolehan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 5 . . .
309
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Pasal 5
Yang dimaksud dengan kaidah praktek bisnis yang baik meliputi
kaidah praktek bisnis yang umum berlaku dan wajar sesuai dengan
etika bisnis, sedangkan kaidah keteknikan yang baik meliputi:
a. memenuhi ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja serta
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
b. memproduksikan minyak dan gas bumi sesuai dengan kaidah
pengelolaan reservoar yang baik;
c, memproduksikan sumur minyak dan gas bumi dengan cara yang
tepat;
d. menggunakan teknologi perolehan minyak tingkat lanjut yang
tepat;
e. meningkatkan usaha peningkatan kemampuan reservoar untuk
mengalirkan fluida dengan teknik yang tepat; dan
f. memenuhi ketentuan standar peralatan yang dipersyaratkan.
Ayat (2)
Huruf a
Pengeluaran rutin antara lain pembayaran gaji, biaya
pemeliharaan, dan biaya pasca operasi pertambangan.
Huruf b
Pengeluaran proyek antara lain pembangunan fasilitas produksi
dan kegiatan survei seismik.
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Otorisasi pembelanjaan finansial adalah authorization for expenditure
(AFE) .
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Pasal 9
310
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Cukup jelas.
Yang dimaksud dengan varian harga atas lifting adalah selisih harga
yang terjadi karena perbedaan harga minyak mentah Indonesia
bulanan dengan harga minyak. mentah Indonesia rata-rata
tertimbang.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pengembangan wilayah kerja dalam ketentuan ini meliputi
ekstensifikasi dan intensifikasi.
Pasal 11
Biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan adalah sama dengan
biaya yang akan dikembalikan oleh Pemerintah kepada kontraktor
dalam rangka kontrak kerja sama, demikian pula sebaliknya. Prinsip
ini biasa dikenal dengan nama uniformity pn'nciple.
Biaya operasi sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini merupakan
biaya yang menjadi dasar dalam penghitungan bagi hasil dan
penghitungan Penghasilan Kena Pajak.
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b . . .
311
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Hur uf d
Cukup jelas.
Huruf e
Yang termasuk biaya penyusutan antara lain berupa:
1. fasilitas produksi;
2. gedung kantor, gudang, perumahan;
3. mesin dan peralatan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Hur uf a
Termasuk dalam biaya pemindahan gas dari titik produksi ke titik
penyerahan adalah biaya untuk pemasaran.
Huruf b
Cukup jelas.
Pasal 12
Huruf a
Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan disebut biaya sehari-hari yang boleh dibebankan
pada tahun pengeluaran. Untuk dapat dibebankan sebagai biaya,
pengeluaran tersebut hams mempunyai hubungan baik langsung
maupun tidak langsung dengan kegiatan usaha atau kegiatan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara perighasilan
dengan kegiatan operasi perminyakan di lapangan yang
berproduksi secara komersial di wilayah kerja yang bersangkutan
di Indonesia.
Dengan demikian, pengeluaran untuk mendapatkan, rnenagih,
dan memelihara penghasilan yang bukan objek pajak sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pajak penghasilan dan/atau untuk penghasilan yang dikenakan
pajak penghasilan yang bersifat final, tidak boleh dibebankan
sebagai biaya yang dapat dikembalikan.
Huruf b . . .
312
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "biaya langsung kantor pusat yang
dibebankan ke proyek" adalah biaya yang terkait langsung
dengan kegiatan operasi perminyakan di Indonesia dengan
syarat:
1. tidak dapat dikerjakan oleh institusillembaga di dalam negeri;
2. tidak dapat dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia; dan
3. tidak rutin.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas. .
Ayat (3)
Peraturan Menteri Keuangan paling sedikit mengatur mengenai
waktu pemberlakuan remunerasi.
Pasal 13
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c . . .
313
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 7 -
Huruf c
Harta yang dihibahkan tidak boleh dibebankan sebagai biaya karena
harta tersebut merupakan milik negara.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Huruf f
Cukup jelas.
Huruf g
Cukup jelas.
Huruf h
Cukup jelas.
Huruf i
Cukup jelas.
Huruf j
Cukup jelas.
Hur uf k
Cukup jelas.
Huruf 1
Cukup jelas.
Huruf m
Cukup jelas.
Huruf n
Biaya yang terkait dengan merger dan akuisisi antara lain:
a. biaya personal dan konsultan yang berkaitan dengan due
diligence;
b. biaya eksternal untuk press release, promosi, dan penggantian
logo perusahaan;
c. biaya yang terkait dengan separation program dan retention
program, biaya yang berkaitan dengan teknologi sistem informasi
(sepanjang sistem yang lama belum sepenuhnya
didepresiasikan), biaya yang terkait dengan perpindahan kantor,
dan biaya yang timbul karena perubahan kebijakan tentang
proyek yang sedang berjalan.
Huruf o . . .
314
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 8 -
Hur uf o
Yang dimaksud dengan "bunga atas pinjaman" adalah bunga atas
pinjaman untuk membiayai operasi perminyakan.
Huruf p
Cukup jelas.
Huruf q
Cukup jelas.
Hur uf r
Yang dimaksud dengan "kesalahan perencanaan" adalah perbuatan
kontraktor dalam menyusun rencana yang dapat dikategorikan
sebagai kelalaian berat atau perbuatan salah yang disengaja.
Pengertian kelalaian berat atau perbuatan salah yang disengaja
adalah setiap tindakan yang disengaja atau kecerobohan yang
dilakukan oleh manajemen atau pejabat senior dari kontraktor yang:
a. konsekuensi diketahui atau patut diketahui dapat
mengakibatkan terjadinya kerugian orang atau terancamnya
keamanan atau kepemilikan orang atau badan lain; atau
b. secara fatal melanggar standar kehati-hatian yang dalam
pengabaiannya atau ketidakpeduliannya yang fatal
mengakibatkan konsekuensi yang merugikan.
Huruf s
Yang dimaksud dengan "kelalaian ltontraktor" adalah kelalaian berat
(gross negligance) atau perbuatan salah yang disengaja (willful
misconduct).
Sebagian biaya konstruksi fasilitas produksi / peralatan yang tidak
dapat dibebankan menjadi biaya operasi yang tidak dapat
dikembalikan dalam hal:
a. tidak dapat membuktikan bahwa kapasitas fasilitas produksi
memenuhi target yang disepakati sehingga pembebanan hanya
dapat dibebankan proporsional terhadap kapasitas terbukti;
b. tidak dapat membuktikan bahwa unjuk kerja fasilitas produksi
memenuhi kriteria yang ditetapkan sehingga pembebanan hanya
dapat dilakukan proporsional terhadap unjuk kerja terbukti.
c. pada masa konstrultsi terjadi perbaikan atau pembuatan
ulang/penggantian seluruh dan/atau sebagian fasilitas produksi
yang termasuk dalam pertanggungan asuransi construction all
risk;
d. pada . . .
315
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
d. pada masa garansi terjadi kerusakan akibat kesalahan
fabrikasil manufacturing, maka biaya perbaikan ataupun
penggantian menjadi tanggung jawab kontraktor penyedia
baranglj asa.
Huruf t
Angka 1
Yang dimaksud dengan "transaksi yang merugikan negara"
adalah transaksi yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan sehingga menimbulkan kerugian
bagi negara seperti pengadaan barang dan jasa yang tidak sesuai
dengan spesifikasi yang ditetapkan dan lain-lain.
Angka 2
Yang dimaksud dengan tidak melalui proses tender dalam
ketentuan ini adalah seluruh pengadaan barang dan jasa wajib
melalui proses tender sesuai kebutuhan yang berlaku, namun
untuk pengadaan barang dan jasa untuk keperluan darurat
dapat tidak melalui proses tender.
Angka 3
Cukup jelas.
Huruf u
Cukup jelas.
Huruf v
Cukup jelas.
Huruf w
Cukup jelas.
Huruf x
Dalam ha1 adanya kepentingan nasional yang mendesak, antara
lain kelangsungan produksi, percepatan peningkatan produksi
minyak dan/atau gas bumi yang memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi negara, dapat dilakukan pengecualian
terhadap ketentuan ini.
Pasal 14
Pasal 16 . . .
Yang dimaksud dengan penghasilan tambahan yang berasal dari hasil
penjualan produk sampingan antara lain penjualan belerang dan
penjualan kapasitas lebih dari tenaga listrik.
Pasal 15
Cukup jelas.
316
Pasal 16
Ayat ( 1)
Cukup jelas.
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Yang dimaksud dengan "placed into service" adalah saat dimulainya
suatu harta berwujud digunakan dan telah memenuhi syarat-syarat
yang ditetapkan oleh Badan Pelaksana.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 17
Yang dimaksud dengan "tahun pajak" adalah tahun kalender.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas
Pasal 18
Cukup jelas.
Pasal 19
Ayat (1)
Cukup jelas.
Yang dimaksud dengan "kebijakan" adalah antara lain dalam rangka
pengembalian biaya yang didasarkan atas keekonomian lapangan
atau beberapa lapangan dalarn usulan satu rencana pengembangan
lapangan (POD basis) atau pengembangan lapangan yang
didasarkan atas keekonomian dalam satu lapangan vel d basis) atau
pengembangan lapangan yang didasarkan atas keekonomian satu
sumur atau beberapa sumur dengan tidak membangun fasilitas
produksi sendiri (put on production).
317
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "biaya operasi yang belum dapat
dikembalikan pada tahun-tahun sebelumnya" adalah bagian dari
saldo biaya operasi yang belum dapat dikembalikan pada awal
tahun, sehingga dapat dikembalikan pada tahun berjalan sesuai
dengan pola bagi hasil.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7)
Cukup jelas.
Ayat (8)
Cukup jelas.
Pasal2 1
Yang dimaksud dengan "titik penyerahan" adalah titik terjadinya
pengalihan hak kepemilikan (transfer of title) minyak bumi dan/atau
gas bumi dari Pemerintah kepada kontraktor.
Pasal22
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2) . . .
318
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- 12 -
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "harga minyak mentah Indonesia" adalah
harga minyak mentah yang ditetapkan oleh Menteri secara periodik.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal23
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "komponen biaya penjualan" adalah biaya
yang berkaitan dengan kegiatan pemrosesan lebih lanjut gas sampai
dengan penjualannya antara lain biaya pinjaman pembangunan
kilang, biaya operasi kilang, transportasi, dan biaya pemasaran.
Pasal24
Cukup jelas.
Pasal25
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas,
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "tarif pajak" sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan dalam ketentuan
ini adalah pemberlakuan tarif pajak sesuai besaran tarif pajak yang
dipilih oleh kantraktor yaitu tarif pajak yang berlaku pada saat
kontrak kerja sama ditandatangani atau tarif pajak sesuai
ketentuan peratultan perundang-undangan di bidang perpajakan
yang berlaku dan dapat berubah setiap saat.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Ayat (7) . . .
319
PRESIDEN
REPUBLlK INDONESIA
Yang dimaksud dengan "surat ketetapan pembayaran pajak
penghasilan minyak bumi dan gas bumi" adalah surat ketetapan
pajak yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak setelah
dilakukan pemeriksaan.
Yang dimaksud dengan "surat . ketetapan pembayaran pajak
penghasilan minyak bumi dan gas bumi sementara" adalah surat
ketetapan pajak yang diterbitkan oleh birektur Jenderal Pajak
sebelum dilakukan pemeriksaan yang kegunaannya antara lain
untuk kepentingan internal manajemen kantor pusat.
Ayat (9)
Cukup jelas.
Ayat (10)
Cukup jelas.
Ayat (1 1)
Cukup jelas.
Pasal26
. Cukup jelas.
Pasal27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Participating interest dilaksanakan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal28
Cukup jelas.
Pasal29
Cukup jelas.
Pasal30
Cukup jelas.
320
PRESlDEN
REPUBLIK INDONESIA
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Jika interest pada suatu wilayah kerja dimiliki oleh kontraktor A,
kontraktor B, dan kontraktor C kemudian interest kontraktor A
dialihkan kepada kontraktor D, maka kewajiban perpajakan atas
interest tersebut menjadi kewajiban kontraktor D sejak pengalihan
interest tersebut berlaku efektif.
Cukup jelas.
Ayat (1)
Huruf a
Jika kontraktor A telah menandatangani kontrak kerja sama
minyak dan gas bumi dengan Pemerintah pada wilayah kerja X,
maka kontraktor A yang juga bertindak selaku operator wajib
mendaftarkan wilayah kerja tersebut untuk memperoleh NPWP
yang berbeda dengan NPWP kontraktor itu sendiri.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Cukup jelas.
Jika kontraktor B menjadi operator menggantikan kontraktor A,
maka kewajiban beralih kepada kontraktor B sejak pengalihan
operator tersebut berlaku efektif.
Pasal33
Cukup jelas.
321
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Yang dimaksud dengan "standar atau norma, jenis, kategori, dan
besaran biaya" adalah suatu ukuran baik kualitatif dan/atau
kuantitatif yang merupakan suatu rentang nilai yang mewakili
kondisi keteknikan dan kewajaran unsur biaya barang dan jasa
yang digunakan sebagai pembanding dalam proses persetujuan
rencana kerja dan anggaran serta otorisasi pembelanjaan finansial.
Pembebanan biaya operasi didasarkan pada realisasi biaya yang
dikeluarkan berdasarkan proses pengadaan barang dan jasa sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Standar atau
norma, jenis, kategori, dan besaran biaya tersebut akan dievaluasi
sesuai dengan keperluan.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Cukup jelas.
Yang dimaksud dengan "keadaan tertentu" adalah musibah karena
alam yang menimbulkan potensi kerugian negara berupa
penurunan penerimaan dan/atau kerugian pada aset negara pada
kegiatan eksplorasi danlatau eksploitasi minyak bumi dan/atau gas
bumi.
Cukup jelas.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk menjaga besaran penerimaan
negara ljumlah pajak dan penerimaan negara bukan pajak) tidak
mengalami perubahan sesuai dengan besaran penerimaan negara
sebagairnana tercantum dalam kontrak kerja sama.
Wuruf a
Cukup jelas.
Wuruf b
Cukup jelas.
322
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
Pasal39
Cukup jelas.
Pasal40
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONGSIA NOMOR 5 173
323
PRESI DEN
REPUBLI K I NDONESI A
LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 79 TAHUN 2010
KELOMPOIC HARTA BERWUJUD, MASA MANFAAT, DAN TARIF
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Salinan sesuai dengan aslinya
SEICRETARIAT NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan
Bidang Perekonomian dan Industri,
324
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990
Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung
Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990)
Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA)
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang:
a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya
bagi kehidupan dan perencanaan serta pelaksanaan pembangunan
yang berkelanjutan juga mengandung fungsi pelestarian lingkungan
hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan serta nilai
sejarah dan budaya bangsa, yang memerlukan pengaturan bagi
pengelolaan dan perlindungannya;
b. bahwa dengan semakin terbatasnya ruang, maka untuk menjamin
terselenggaranya kehidupan dan pembangunan yang berkelanjutan
dan terpeliharanya fungsi pelestarian, upaya pengaturan dan
perlindungan diatas perlu dituangkan dalam kebijaksanaan
pembangunan pola tata ruang;
c. bahwa dalam rangka kebijaksanaanpembangunan pola tata ruang
tersebut perlu ditetapkan adanya kawasan lindung dan pedoman
pengelolaan kawasan lindung yang memberi arahan bagi badan hukum
dan perseorangan dalam merencanakan dan melaksanakan program
pembangunan;
Mengingat:
1. Pasal 4 ayat (1) dan pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945;
2. Monumenten Ordonantie Tahun 1931 (Staatsblad Tahun 1931 Nomor
238);
325
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1950 tentang peraturan Pokok-pokok
Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 2043);
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 2823);
5. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831);
6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah )Lembaran Negara Tahun 1974
Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037);
7. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 Tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3046);
8. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 198 2
Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan
Hutan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3294);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Anal isis
Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1986 Nomor
42, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338)

11. Keputusan Presiden Nomor 57 tahun 1989 tentang Tim Koordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan: KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG
PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG.
326
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Keputusan Presiden ini yang dimaksud dengan:
1. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
utama melindungi kelestarian Lingkungan Hidup yang mencakup
sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya
bangsa guna kepentingan Pembangunan berkelanjutan.
2. Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan, pelestarian dan
pengendalian pemanfaatan kawasan l indung.
3. Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat
khas yang mampu memberikan lindungan kepada kawasan sekitar
maupun bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan
erosi serta memelihara kesuburan tanah.
4. Kawasan Bergambut adalah kawasan yang unsur pembentuk tanahnya
sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam
waktu yang lama.
5. Kawasan Resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan
tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga mer upakan tempat
pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air.
6. Sempadan Pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian
fungsi pantai.
7. Sempadan Sungai adalah Kawasan sepanj ang kiri kanan sungai,
termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
8. Kawasan sekitar Danau/Waduk adalah kawasan tertentu disekeliling
danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
9. Kawasan sekitar mata air adalah kawasan disekeliling mata air yang
mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan fungsi mata air.
10. Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas terten tu baik di
darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
327
kawasan pengawetan peragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya.
11. Kawasan suaka alam Laut dan Perairan lainya adalah daerah yang
mewakili ekosistem khas di lautan maupu n perairan lainya, yang
merupakan habitat alami yang memberikan tempat maupun
perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa yang ada.
12. Kawasan Pantai berhutan Bakau adalah kawasan pesisir laut yang
merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi
memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan.
13. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang dikelola
dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwi sata dan rekreasi.
14. Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian yang terutama
dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau bukan asli,
pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, budaya,
pariwisata dan rekreasi.
15. Taman Wisata Alam adalah kawasan Pelestarian alam di darat maupun
di laut yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi
alam.
16. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah kawasan yang
merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi
maupun bentukan geologi yang khas.
17. Kawasan Rawan Bencana Alam adalah kawasan yang sering atau
berpotensi tinggi mengalami bencana alam.
BAB II
TUJUAN DAN SASARAN
Pasal 2
(1). Pengelolaan kawasan lindung bertujuan untuk mencegah timbulnya
kerusakan fungsi lingkungan hidup.
(2). Sasaran Pengelolaan kawasan lindung adalah:
328
a. Meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah, air, iklim,
tumbuhan dan satwa serta nilai sejarah dan budaya bangsa;
b. Mempertahankan keanekaragaman tumbuhan, satwa, tepe
ekosistem, dan keunikan alam.
BAB III
RUANG LINGKUP
Pasal 3
Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 meliputi:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan Kawasan
Bawahannya.
2. Kawasan Perlindungan setempat.
3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya.
4. Kawasan Rawan Bencana Alam.
Pasal 4
Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya sebagaimana
dimaksud dalam pasal 3 terdiri dari:
1. Kawasan Hutan Lindung.
2. Kawasan Bergambut.
3. Kawasan Resapan Air.
Pasal 5
Kawasan Perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
terdiri dari:
329
1. Sempadan Pantai.
2. Sempadan Sungai.
3. Kawasan Sekitar Danau/Waduk.
4. Kawasan Sekitar Mata Air.
Pasal 6
Kawasan Suaka Alam dan cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam pasal
3 terdiri dari:
1. Kawasan Suaka Alam.
2. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainya.
3. Kawasan Pantan Berhutan Bakau.
4. Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam.
5. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan.
BAB IV
POKOK-POKOK KEBIJAKSANAAN KAWASAN LINDUNG
Bagian Pertama
Kawasan yang memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya
Pasal 7
Perlindungan terhadap kawasan hutan lindung dilakukan untuk mencegah
terjadinya erosi, sedimentasi, dan menjaga fungsi hidrologis tanah untuk
menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan.
Pasal 8
Kriteria kawasan hutan lindung adalah:
a. Kawasan Hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis
tanah, curah hujan yang melebihi nilai skor 175, dan/atau;
330
b. Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau
lebih dan/atau
c. Kawasan Hutan yang mempunyai ketinggian diatas permukaan
laut 2.000 meter atau lebih.
Pasal 9
Perlindungan terhadap kawasan bergambut dimaksudkan untuk
mengendalikan hidrologi wilayah, yang berfungsi sebagai penambaat air dan
pencegah banjir, serta melindungi ekosiste m yang khas di kawasan yang
bersangkutan.
Pasal 10
Kriteria kawasan bergambut adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3
meter atau lebih yang terdapat dibagian hulu sungai dan rawa.
Pasal 11
Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan
ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk
keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penenggulangan banjir, baik
untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan.
Pasal 12
Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah
meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan
secara besar-besaran.
331
Bagian kedua
Kawasan Perlindungan setempat
Pasal 13
Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah
pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai.
Pasal 14
Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari
titik pasang tertinggi ke arah darat.
Pasal 15
Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai
dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air
sungai, kondisi fisi k pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran
sungai.
Pasal 16
Kriteria sempadan sungai adalah:
a. Sekurang-kurangnya 100 meter dari kiri kanan sungai besar
dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada diluar
pemukiman.
b. Untuk sungai di kawasan pemukiman berupa sempadan sungai
yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara
10 - 15 meter.
Pasal 17
Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk
melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu
kelestarian fungsi danau/waduk.
332
Pasal 18
Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah daratan sepanjang tepian
danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
danau/waduk antara 50 - 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
Pasal 19
Perlindungan terhadap kawasan sekitaer mata air dilakukan untuk
melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air
dan kondisi fisik kawasan sekitarnya.
Pasal 20
Kriteria kawasan sekitar mata air adalah sekurang -kurangnya dengan jari-
jari 200 meter di sekitar mata air.
Bagian Ketiga
Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya
Pasal 21
Perlindungan terhadap kawasan suaka alam dilakukan untuk melindungi
keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi
kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan pada
umumnya.
Pasal 22
Kawasan suaka alam terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, hutan
wisata, daerah perlindungan plasma nutfah dan daerah pengungsian satwa.
333
Pasal 23
(1) Kriteria cagar alam adalah:
a. Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistemnya;
b. Mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit -unit penyusun;
c. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang
masih asli dan tidak atau belum dig anggu manusia;
d. Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang
pengelolaan yang efektif dengan daerah penyangga yang cukup
luas;
e. Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu-satunya contoh
di suatu daerah serta keberadaannya memerlukan upaya
konservasi.
(2) Kriteria suaka margasatwa adalah:
a. Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan
perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan
upaya konservasinya;
b. Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
c. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran
tertentu;
d. Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang
bersangkutan.
(3) a. Kawasan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan
indah baik secara alamiah maupun buatan manusia;
b. Memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi dan olah raga
serta terletak dekat pusat-pusat permukiman penduduk;
c. Mengandung satwa buru yang dapat dikembangbiakkan
sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan
mengutamakan segi rekreasi, olah raga dan kelestarian satwa;
d. Mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak
membahayakan.
334
(4) Kriteria daerah perlindungan plasma nutfah adalah:
a. Areal yang ditunjuk memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang
belum terdapat di dalam kawasan konservasi ya ng telah
ditetapkan;
b. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan
tempat kehidupan baru bagi satwa yang merupakan tempat
kehidupan baru bagi satwa tersebut;

c. Mempunyai luas cukup dan lapangannya tidak membahayakan.
(5) Kriteria daerah pengungsian satwa:
a. Areal yang ditunjuk merupakan wilayah kehidupan satwa yang
sejak semula menghuni areal tersebut.
b. Mempunyai luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya
proses hidup dan kehidupan serta berkembangbiaknya satwa
tersebut.
Pasal 24
Perlindungan terhadap kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya
dilakukan untuk melindungi keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala
dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah, keperluan pariwisata
dan ilmu pengetahuan.
Pasal 25
Kriteria kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya adalah kawasan
berupa perairan laut, perairan darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugusan
karang dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau
keunikan ekosistem.
335
Pasal 26
Perlindungan terhadap kawasan pantai berhutan bakau dilakukan untuk
melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan
tempat berkembangbiaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung
pantai dan pengikisan air laut serta pelindung usaha bu didaya di
belakangnya.
Pasal 27
Kriteria kawasan pantai berhutan bakau adalah minimal 130 kali nilai rata -
rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis
air surut terendah kearah darat.
Pasal 28
Perlindungan terhadap taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata
alam dilakukan untuk pengembangan pendidikan, rekreasi dan pariwisata,
serta peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari
pencemaran.
Pasal 29
Kriteria taman nasional, taman hutan r aya dan taman nasional dan wisata
alam adalah berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tunbuhan dan
satwa yang beragam, memiliki arsitektur bentang alam yang baik dan
memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata.
Pasal 30
Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan
dilakukan untuk melindungi kekayaan budaya bangsi berupa peninggalan -
peninggalan sejarah, bangunan erkeologi dan monumen nasional, dan
keragaman bentuk geologi, yang berguna untuk pengembangan ilmu
pengetahuan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam
maupun manusia.
336
Pasal 31
Kriteria kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah tempat serta
ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan
kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi
untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagian Keempat
Kawasan Rawan Bencana Alam
Pasal 32
Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana alam dilakukan untuk
melindungi manusia dan kegiata nnya dari bencana yang disebabkan oleh
alam maupun secara tidak langsung oleh perbuatan manusia.
Pasal 33
Kriteria kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang diidetifikasi
sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung
berapi, gempa bumi, dan tanah longsor.
BAB V
PENETAPAN KAWASAN LINDUNG
Pasal 34
(1) Pemerintah Daerah Tingkat I menetapkan wilayah-wilayah tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sebagai kawasan lindung daerah
masing-masing dalam suatu Peraturan Daerah Tingkat I, disertai
dengan lampiran penjelasan dan peta dengan tingkat ketelitian
minimal skala 1 : 250.000 serta memperhatikan kondisi wilayah yang
bersangkutan.
(2) Dalam menetapkan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), Pemerintah Daerah Tingkat I harus memperhatikan
337
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penetapan
wilayah tertentu sebagai bagian dari kawasan lindung.
(3) Pemerintah Daerah Tingkat II menjabarkan lebih lanjut kawasan
lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) bagi
daerahnya ke dalam peta dengan tingkat ketelitian minimal skala 1 :
100.000, dalam bentuk Peraturan Daerah Tingkat II.
(4) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
terpadu dan lintas sektoral dengan mempertimbangkan masukan dari
Pemerintah Daerah Tingkat II.

Pasal 35
Apabila dalam penetapan wilayah tertentu terjadi perbenturan kepentingan
antar sektor, Pemerintah Daerah Tingkat I dapat mengajukan kepada Tim
Pengelolaan Tata Ruang Nasional untuk memperoleh saran penyelesaian.
Pasal 36
(1) Pemerintah Daerah Tingkat II mengupayakan kesadaran masyarakat
akan tanggung jawabnya dalam pengelolaan kawasan lindung.
(2) Pemerintah Daerah Tingkat I dan Tingkat II mengumumkan kawasan -
kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 kepada
masyarakat.

BAB VI
PENGENDALIAN KAWASAN LINDUNG
Pasal 37
(1) Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya,
kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung.
(2) Di dalam kawasan suaka alam dan kawasan cagar budaya dilarang
melakukan kegiatan budidaya apapun, kecuali kegiatan yang berkaitan
dengan fungsinya dan tidak mengubah bentang alam, kondisi
penggunaan lahan, serta ekosistem alami yang ada.
338
(3) Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung yang
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup dikenakan
ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis
Mengenai Dampak lingkungan.
(4) Apabila menurut Analisis Mengenai Dampak Lingkungan kegiatan
budidaya mengganggu fungsi lindung harus dicegah
perkembangannya, dan fungsi sebagai kawasan lindung dikembalikan
secara bertahap.
Pasal 38
(1) Dengan tetap memperhatikan fungsi lindung kawasan yang
bersangkutan di dalam kawasan lindung dapat dilakukan penelitian
eksplorasi mineral dan air tanah, serta kegiatan lain yang berkaitan
dengan pencegahan bencana alam.
(2) Apabila ternyata di kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) terdapat indikasi adanya deposit mineral atau air tanah atau
kekayaan alam lainnya yang bila diusahakan dinilai amat berharga
bagi negara, maka kegiatan budidaya di kawasan lindung tersebut
dapat diizinkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang -
undangan yang berlaku.
(3) Pengelolaan kegiatan budidaya sebagaimana dimaksud dala m ayat (2)
dilakukan dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan yang
bersangkutan.
(4) Apabila penambangan bahan galian dilakukan, penambang bahan
galian tersebut wajib melaksanakan upaya perlindungan terhadap
lingkungan hidup dan melaksanakan rehabil itasi daerah bekas
penambangannya, sehingga kawasan lindung dapat berfungsi kembali.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3)
dan ayat (4), diatur lebih lanjut oleh Menteri yang berwenang, setelah
mendapat pertimbangan dari Ti m Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang
Nasional.
Pasal 39
(1) Pemerintah Daerah Tingkat II wajib mengendalikan pemanfaatan
ruang di kawasan lindung.
339
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi kegiatan
pemantauan, pengawasan dan penertiban.
(3) Apabila Pemerintah Daerah Tingkat II tidak dapat menyelesaikan
pengendalian pemanfaatan kawasan lindung sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dan ayat (2), wajib diajukan kepada Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I untuk diproses langkah tindak lanjutnya.
(4) Apabila Gubernur Kepala Daerah Tingkat I tidak dapat menyelesaikan
pengendalian pemanfaatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3),
wajib diajukan kepada Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang
Nasional.
BAB VII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 40
(1) Selambat-lambatnya dua tahun setelah Keputusan Presiden ini
ditetapkan, setiap Pemerintah Daerah Tingkat I sudah harus
menetapkan Peraturan Daerah tentang penetapan kawasan lindung,
dan segera sesudah itu Pemerintah Daerah Tingkat II menjabarkannya
lebih lanjut bagi daerah masing-masing.
(2) Penetapan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
apabila dipandang perlu dapat disempurnakan dalam wak tu setiap
lima tahun sekali.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 41
Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 Juli 1990
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ttd.
SOEHARTO
______________________________________
340
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 41 TAHUN 2004
TENTANG
PERIZINAN ATAU PERJANJIAN
DI BIDANG PERTAMBANGAN YANG BERADA DI KAWASAN HUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
bahwa dengan telah selesainya proses penelitian terhadap kelayakan keberlangsungan perizinan atau
perjanjian di bidang pertambangan di kawasan hutan yang telah ada sebelum berlakunya Undang-undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagai pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan, dipandang perlu untuk menetapkan jenis dan jumlah perizinan atau perjanjian di bidang
pertambangan di kawasan hutan dengan Keputusan Presiden;
Mengingat:
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Keempat
Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888);
3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4374);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan:
KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PERIZINAN ATAU PERJANJIAN DI BIDANG
PERTAMBANGAN YANG BERADA DI KAWASAN HUTAN.
PERTAMA : Menetapkan 13 (tiga belas) izin atau perjanjian di bidang pertambangan yang telah ada
sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan Presiden ini, untuk melanjutkan
kegiatannya di kawasan hutan sampai berakhirnya izin atau perjanjian dimaksud.
KEDUA : Pelaksanaan usaha bagi
KETIGA : Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 12 Mei 2004
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
341
LAMPIRAN
KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 41 TAHUN 2004
TANGGAL 12 MEI 2004
DAFTAR PERIZINAN ATAU PERJANJIAN DI BIDANG PERTAMBANGAN YANG BERADA DI
KAWASAN HUTAN YANG TELAH DITANDATANGANI SEBELUM BERLAKUNYA UNDANG-
UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN YANG DAPAT MELANJUTKAN
KEGIATANNYA SAMPAI BERAKHIRNYA PERIZINAN ATAU PERJANJIANNYA
Lokasi
No.
Persetujuan
Pemerintah
Tanggal
Penanda-
tanganan
Jenis
Izin
Nama
Perusahaan
Bahan
Galian
Tahap
Kegiatan
Provinsi Kabupaten/ Kota
Luas Wilayah
Perizinan
(Ha)
82/EK/KEP4/1967
7 April 1967
7 April 1967 KKG-I Freeport
Indonesia
Comp
Tembaga,
Emas, dmp
Produksi Papua Mimika
10.000
1 B392/Pres/12/1991
26 Desember 1991
30
Desember
1991
KKG-V Freeport
Indonesia
Comp
Tembaga,
Emas, dmp
Eksplorasi Papua Mimika, Paniai,
Jaya Wijaya,
Puncak Jaya
202.950
2 B-121/Pres/9/1971
22 September 1971
4
Oktober
1971
KKG-II Karimun
Granit
Granit Produksi Kepulauan
Riau
Karimun 2.761
3 B-745/Pres/12/1995
29 Desember 1995
15
Januari
1996
KKG-II INCO Tbk. Nikel Produksi Sulsel,
Sulteng,
Sultra
Luwu Utara,
Kolaka, Kendari,
Morowali
218.528
4 097B/Ji.292/U/1990
5 Oktober 1990
5
Oktober
1990
PKP2B
G-I
Indominco
Mandiri
Batubara Produksi Kaltim Kutai Timur,
Kota Bontang
25.121
5 1053.K/20.13/MPE/
1997
9 Juli 1997
9
Juli
1997
KP Aneka
Tambang
Tbk (A)
Nikel Produksi Maluku
Utara
Halmahera
Tengah
39.040
6 B-43/Pres/11/1986
6 November 1986
2
Desember
1986
KK G-
IV
Natarang
Mining
Emas dmp Konstruksi Lampung Lampung Selatan
Tanggamus,
Lampung Barat
12.790
7 B-143/Pres/3/1997
17 Maret 1997
28 April
1997
KK G-
VI
Nusa
Halmahera
Minerals
Emas dmp Produksi
Konstruksi
Eksplorasi
Maluku
Utara
Halmahera Utara,
Halmahera Barat
29.622
8 B-53/Pres/1/1988
19 Januari 1988
19 Februari
1998
KK G-
VII
Pelsart
Tambang
Kencana
Emas dmp Eksplorasi Kalsel Kotabaru, Banjar,
Tanah Laut
201.000
9 850/A.I/1997
20 November 1997
20
November
1997
KPK2B
G-III
Interex
Sacra Raya
Batubara Studi
Kelayakan
Kaltim dan
Kalsel
Pasir Tabalong 15.650
10 B-53/Pres/1/1988
19 Januari 1988
19 Februari
1998
KK G-
VII
Weda Bay
Nickel
Nikel Eksplorasi
(Detail)
Maluku
Utara
Halmahera
Tengah
76280
11 B-53/Pres/1/1988
19 Januari 1988
19 Februari
1998
KK G-
VII
Gag Nikel Nikel Eksplorasi
(Detail)
Papua Sorong 13.136
12 B-53/Pres/1/1988
19 Januari 1988
19 Februari
1998
KK G-
VII
Sarikmas
Mining
Emas dmp Eksplorasi
(Detail)
Sumut Mandailing Natal 66.200
13 1170/20.01/UPG/1999
7 September 1999
7
September
1999
KP Aneka
Tambang
Tbk (B)
Nikel Eksplorasi
(Detail)
Sulawesi
Tenggara
Kendari 14.570
Keterangan :
dmp : dan mineral pengikutnya
KK : Kontrak Karya
PKP2B : Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara
KP : Kuasa Pertambangan
G-I : Generasi I
G-II : Generasi II
G-III : Generasi III
G-IV : Generasi IV
G-V : Generasi V
G-VI : Generasi VI
G-VII : Generasi VII
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
342



PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 28 TAHUN 2011
TENTANG
PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK
PENAMBANGAN BAWAH TANAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa unt uk melaksanakan ket ent uan Pasal 5 ayat (2) Peraturan
Pemer int ah Nomor 24 Tahun 2010 t ent ang Penggunaan Kawasan
Hutan, perlu menetapkan Peraturan Presiden t ent ang Penggunaan
Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah Tanah;

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2. Undang- Undang No mor 41 Tahun 1999 t ent ang Ke hut ana n
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888)
sebagaimana t elah diubah dengan Undang- Undang Nomor 19
Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Penggant i
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 t ent ang Perubahan At as
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi
Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4412);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan
Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5112);
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
343


MEMUTUSKAN :
Menet apkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN
HUTAN LINDUNG UNTUK PENAMBANGAN BAWAH TANAH.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan :
1. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengat ur
t at a air , mencegah banjir , mengendalikan erosi, mencegah intrusi
air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
2. Penambangan bawah tanah di hutan lindung adalah penambangan yang
kegiat annya dilakukan di bawah t anah (t idak langsung
berhubungan dengan udara luar) dengan cara terlebih dahulu
membuat jalan masuk berupa sumuran (shaft) at au terowongan
( t unnel ) at au t er owongan bunt u (adi t ) t er masuk sar ana dan
prasarana yang menunjang kegiatan produksi di hutan lindung.
3. Perlindungan hutan adalah usaha untuk mencegah dan membatasi
kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan, yang disebabkan oleh
perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-daya alam, hama dan
penyakit serta mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat
dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hut an, invest asi
sert a perangkat yang ber hubungan dengan pengelolaan hutan.
4. Reklamasi areal bekas penambangan bawah tanah adalah usaha unt uk
memulihkan kembali fungsi pokok hut an lindung yang terganggu
akibat penambangan bawah tanah.
5. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup selanjutnya disebut
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
344


usaha dan/atau kegiat an yang direncanakan pada lingkungan hidup
yang diper lukan bagi proses pengambilan keput usan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
6. Penerimaan Negara Bukan Pajak Penggunaan Kawasan Hutan yang
selanjut nya disebut PNBP Penggunaan Kawasan Hutan adalah
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari penggunaan
kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan yang berlaku pada Kementerian Kehutanan sebagai
pengganti lahan kompensasi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
7. Menteri adalah ment eri yang diserahi t ugas dan bert anggung jawab
di bidang kehutanan.
8. L e mb a g a R E D D + ( Reducing Emission from Deforestration and
Forest Degradation) adalah le mbaga yang di bent uk oleh Pr esiden
unt uk mengoor dinas ikan per encanaan, pelaksanaan, dan
pemantauan REDD+.

Pasal 2
(1) Di dalam kawasan hut an lindung dapat dilakukan kegiat an
penambangan dengan metode penambangan bawah tanah.
(2) Pe ng g u na a n k a wa s a n hu t a n l i n d u ng u nt u k k e g i a t a n
pe na mba nga n bawa h t a na h di l a kuka n t anpa me nguba h
peruntukan dan fungsi pokok kawasan hutan lindung.

Pasal 3
( 1) Pe ng g u na a n k a wa s a n hu t a n l i n d u ng u nt u k k e g i a t a n
penambangan bawah tanah harus mendapatkan izin dari Menteri.
( 2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan melalui 2 (dua)
tahap yaitu :
a. per set ujuan pr insip; dan
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
345


b. izin pinjam pakai kawasan hut an lindung.

BAB II
TATA CARA PERMOHONAN DAN PEMBERIAN IZIN
Pasal 4
I z i n p e ng g u na a n k a wa s a n hut a n l i nd u ng u nt u k ke g i a t a n
penambangan bawah tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 hanya
dapat diajukan oleh pimpinan perusahaan yang berbentuk badan hukum
Indonesia yang telah memiliki perizinan atau perjanjian di bidang
pertambangan.

Pasal 5
(1) Pe r mo ho na n i z i n p e nggu na a n ka wa s a n hut a n l i ndu ng
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 diajukan secara tertulis oleh
pemohon kepada Menteri dengan tembusan kepada :
a. menteri yang bertanggung jawab di bidang energi dan sumber daya
mineral;
b. menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup;
c. gubernur setempat ; dan
d. bupat i/ wal ikot a set empat .
(2) Permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
dilengkapi dengan persyaratan sebagai berikut :
a. kelayakan usaha di bidang pertambangan yang dinyatakan di dalam
Studi Kelayakan berdasarkan hasil eksplorasi yang telah disesuaikan
dengan fungsi hutan lindung, yang disahkan oleh gubernur atau
bupati/walikota sesuai kewenangan masingmasing set elah
mendapat kan per t imbangan t eknis dar i Menteri yang
bertanggung jawab di bidang energi dan sumber daya mineral;
b. keputusan kelayakan lingkungan berdasarkan hasil penilaian
AMDAL yang disesuaikan dengan fungsi pokok hutan lindung,
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
346


yang diterbitkan oleh Menteri yang bertanggung j awab di
bidang lingkungan hidup;
c. rekomendasi bupat i/walikota dan gubernur setempat yang
didasarkan pada pert imbangan t eknis dar i inst ansi yang
bertanggung jawab di bidang kehutanan;
d. pertimbangan teknis dari badan usaha milik negara (BUMN)
yang diberi tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan
kegiat an pengelolaan hut an, apabila areal yang dimohon
merupakan areal kerja BUMN tersebut;
e. rencana penggunaan kawasan hutan lindung dan rencana kerja
yang dilampiri dengan peta lokasi dan luas kawasan hutan
lindung yang dimohon serta citra satelit terbaru dengan resolusi
minimal 15 m;
f. izin at au perjanjian di sektor pertambangan; dan
g. pernyataan kesanggupan di hadapan notaris untuk memenuhi semua
kewajiban dan menanggung seluruh biaya sehubungan dengan
permohonan pinjam pakai.

Pasal 6
(1) Menteri melakukan pengkajian teknis terhadap permohonan izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.
(2) Dalam hal permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
ditolak, Menteri menerbitkan surat penolakan atas permohonan izin
tersebut.
(3) Dalam hal permohonan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
disetujui, Menteri menerbitkan surat persetujuan prinsip pinjam pakai
kawasan hutan lindung yang memuat kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi oleh pemohon.
(4) Persetujuan prinsip diberikan untuk jangka waktu paling lama 2(dua)
tahun sejak ditetapkannya persetujuan prinsip, dan dapat diperpanjang
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
347


berdasarkan hasil evaluasi oleh Menteri.
(5) Kewajiban pemohon yang telah mendapatkan persetujuan prinsip
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi :
a. dalam hal pemohon yang mendapat perset ujuan pr insip
pinjam pakai kawasan hut an lindung dengan kompensasi
lahan bagi pinjam pakai kawasan hutan pada provinsi yang luas
kawasan hutannya di bawah 30 % (tiga puluh per seratus) dari luas
daerah aliran sungai dan/atau pulau, menyediakan dan
menyerahkan kompensasi lahan dengan ratio paling sedikit 1:2.
b. dalam hal pemohon yang mendapat perset ujuan pr insip
pinjam pakai kawasan hutan lindung pada provinsi yang luas
kawasan hutannya di atas 30 % (tiga puluh per seratus) dari l ua s
daer a h a l i r a n sunga i da n/ at au pul a u, me mbuat per nyat aan
kesanggupan membayar PNBP Penggunaan Kawasan Hut an
dan pernyat aan kesanggupan melakukan penanaman dalam
rangka rehabilitasi daerah aliran sungai dengan ratio paling
sedikit 1:1.
c. menanggung biaya pengukuran, pemetaan, pemancangan t anda
batas, invent arisasi t egakan dan penggant ian nilai tegakan atas
kawasan hutan lindung yang dipinjam pakai;
d. membayar Provisi Sumber Daya Hut an (PSDH) dan Dana
Reboisasi (DR) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
e. membayar penggant ian biaya investasi pengelolaan hutan
akibat penggunaan kawasan hutan sesuai dengan luas areal dan
jangka waktu pinjam pakai kawasan hutan; dan
f. membuat pernyataan kesanggupan di hadapan notaris untuk
melaksanakan reklamasi dan reboisasi kawasan hutan lindung yang
sudah dipergunakan, perlindungan hutan, pencegahan terjadinya
perusakan hutan, erosi, tanah longsor, kebakaran hutan,
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
348


memberikan kemudahan bagi aparat kehutanan untuk melakukan
monit or ing dan evaluasi, menanggung biaya pengukuhan
lahan kompensasi, dan melaksanakan reboisasi lahan kompensasi.

Pasal 7
( 1) Ap a bi l a s e l ur u h ke wa j i ba n da l a m pe r s e t u j ua n pr i ns i p
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (5) telah dipenuhi oleh
pemohon, Menteri menerbitkan izin pinjam pakai kawasan hutan
lindung.
( 2) Izin pinjam pakai kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diberikan paling lama 20 (dua puluh) tahun sesuai dengan studi
kelayakan dan dapat diperpanjang sesuai dengan jangka waktu
perizinan atau perjanjian di bidang pertambangan.
( 3) Per panj a nga n i z i n pi nj a m paka i ka wasa n hut a n l i ndung
didasar kan pada has i l eva luas i ya ng di lakukan oleh Ti m
Monitoring dan Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12.

BAB III
HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 8
Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan lindung berhak untuk :
a. menempat i dan mengelola serta melakukan kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan kegiatan penambangan bawah tanah dalam
kawasan hutan lindung; dan
b. memanfaatkan hasil dari kegiatan yang dilakukan sehubungan
pe l a ks a na a n keg i at a n pe na mba nga n ba wa h t a na h ser t a
membangun sarana dan prasarana pendukung pada kawasan hutan
lindung.


www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
349


Pasal 9
Pemegang izin pinjam pakai kawasan hutan lindung wajib untuk:
a. melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sesuai
Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL);
b. melakukan kegiatan penambangan bawah tanah sesuai dengan
perencanaan di dalam dokumen studi kelayakan;
c. melakukan reklamasi dan/atau reboisasi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku;
d. melakukan perlindungan hutan di kawasan hutan lindung yang
dipinjam pakai;
e. membayar PNBP Penggunaan Kawasan Hutan dan melakukan
penanaman dalam rangka rehabilitasi daerah aliran sungai bagi
pemegang izin pada provinsi yang luas kawasan hutannya di atas 30
% (t iga puluh per seratus) dari luas daerah aliran sungai dan/atau
pulau sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
f. menanggung bi a ya pe ngukuha n l a ha n ko mpe ns a s i da n
melaksanakan reboisasi lahan kompensasi bagi pemegang izin pada
provinsi yang luas kawasan hutannya di bawah 30 % (tiga puluh per
seratus) dari luas daerah aliran sungai dan/atau pulau sesuai dengan
ketentuan yang berlaku; dan
g. melaporkan pelaksanaan kegiatan secara periodik kepada:
- Menteri;
- Menteri yang bertanggung jawab di bidang energi dan sumber
daya mineral; dan
- Menteri yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup;
dengan tembusan kepada gubernur dan bupati/walikota setempat.



www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
350


Pasal 10
Pemegang izi n pinja m pakai kawasan hut an l i ndung di lar ang
melakukan kegiatan penambangan bawah tanah yang mengakibatkan:
a. t er jadinya amblesan ( subsidence) per mukaan t anah; at au
b. berubahnya fungsi pokok hutan lindung secara permanen.

Pasal 11
Izin pinjam pakai kawasan hut an lindung dapat dialihkan kepada pihak
lain setelah mendapatkan persetujuan tertulis dari Menteri.

BAB IV
MONITORING DAN EVALUASI
Pasal 12
(1) Ment er i membent uk Tim unt uk melakukan monit or ing dan
evaluasi kegiatan pengunaan kawasan hutan lindung.
(2) Keanggotaan Tim Monitoring dan Evaluasi sebagaimana dimaksud
pada ayat ( 1) t er dir i dar i unsur Kement er ian Kehut anan,
Kement erian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kement erian
Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Lembaga REDD+, para
pakar terkait, dan unsur-unsur terkait di tingkat Pemerintah Provinsi dan
Kabupaten/Kota.

BAB V
BERAKHIRNYA IZIN DAN PENYERAHAN KEMBALI
KAWASAN HUTAN LINDUNG
Pasal 13
(1) Izin pinjam pakai kawasan hutan lindung berakhir dalam hal :
a. jangka wakt u berakhir ;
b. diserahkan kembali oleh pemegang izin sebelum jangka
waktunya berakhir; atau
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
351


c. dicabut oleh Ment er i.
( 2) Be r a khi r nya i z i n p i n j a m pa ka i ka wa s a n hut a n l i ndu ng
sebagai mana di maksud pada ayat ( 1) t idak membebaskan
kewajiban pemegang izin untuk menyelesaikan seluruh kewajiban yang
belum terpenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.

Pasal 14
Pengembalian kawasan hutan lindung untuk penambangan bawah tanah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a atau huruf b
diterima oleh Menteri setelah dipenuhi kewajiban reklamasi dan/atau
reboisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c.

Pasal 15
Izin pinjam pakai kawasan hutan lindung dicabut oleh Menteri dalam hal
pemegang izin :
a. tidak memenuhi salah satu kewajiban sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 9 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e; atau
b. melanggar ketentuan Pasal 10 atau Pasal 11.

Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan kawasan hutan lindung untuk
penambangan bawah tanah diatur dengan Peraturan Menteri setelah
berkoordinasi dengan menteri yang bertanggung jawab di bidang
lingkungan hidup dan bidang pertambangan.

BAB VI
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 17
(1) Pemegang perizinan at au perjanjian di bidang pertambangan yang
Studi Kelayakan Penambangan Bawah Tanah-nya sudah disahkan
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
352


tetapi belum mendapat izin pinjam pakai kawasan hutan lindung
sebelum Peraturan Presiden ini ditetapkan, maka studi kelayakannya
masih berlaku.
(2) Pemegang perizinan at au perjanjian di bidang pertambangan yang
AMDAL- nya masih ber laku t et api belum mendapat izin pinjam
pakai kawasan hutan lindung pada saat ditetapkannya Peraturan
Presiden ini, wajib dilakukan koreksi terhadap Rencana Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup (RPL) terutama yang berkaitan dengan fungsi pokok hutan
lindung.
(3) Pemegang perizinan at au perjanjian di bidang pert ambangan yang
AMDAL-nya masih dalam proses penilaian Komisi Penilai AMDAL
Daerah pada saat ditetapkannya Peraturan Presiden ini, maka Komisi
Penilai AMDAL Daerah wajib menyerahkan seluruh proses penilaian
kepada Komisi Penilai AMDAL Pusat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pasal 18
Selama Lembaga REDD+ sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2)
belum t erbent uk, perannya dilaksanakan oleh Sat uan Tugas Per siapa n
Pembent ukan Kele mbagaan REDD+ yang dibent uk berdasarkan
Keput usan Presiden Nomor 19 Tahun 2010 t ent ang Satuan Tugas
Persiapan Pembentukan Kelembagaan REDD+.






www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
353


BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 19
Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada t anggal 19 Mei 2011
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
www.djpp.depkumham.go.id
d
j
p
p
.
d
e
p
k
u
m
h
a
m
.
g
o
.
i
d
354
S A L I N A N
PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR 08 TAHUN 2006
TENTANG
PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,
Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal
17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup telah ditetapkan
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-
14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Keputusan Kepala
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Nomor: 09
Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup;
b. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor:
KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Nomor:
09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup saat ini tidak sesuai lagi dengan
perkembangan sehingga perlu diperbaharui;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3699);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4437);
2429
355
3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3838);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan
Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);
5. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian
Negara Republik Indonesia;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI
DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP.
Pasal 1
Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan
Analisis Dampak Lingkungan Hidup, Pedoman Penyusunan Analisis Dampak
Lingkungan Hidup, Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup, dan Pedoman
Penyusunan Ringkasan Eksekutif.
Pasal 2
(1) Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup disusun berdasarkan Pedoman
Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana
tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.
(2) Analisis Dampak Lingkungan Hidup disusun berdasarkan Pedoman Penyusunan
Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana tercantum dalam Lampiran II
Peraturan Menteri ini.
(3) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup disusun berdasarkan Pedoman Penyusunan
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana tercantum dalam Lampiran III
Peraturan Menteri ini.
(4) Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup disusun berdasarkan Pedoman Penyusunan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV
Peraturan Menteri ini.
(5) Ringkasan Eksekutif disusun berdasarkan Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif
sebagaimana tercantum dalam Lampiran V Peraturan Menteri ini.
2430
356
(6) Lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat
(5) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 3
Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup yang sedang dalam proses
dan/atau sudah diajukan sebelum ditetapkannya Peraturan Menteri ini mengacu pada
Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan yang sebelumnya.
Pasal 4
Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini maka:
a. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994
tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
b. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 09 Tahun
2000 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 5
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Agustus 2006

Menteri Negara
Lingkungan Hidup,
ttd
Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd.
Hoetomo, MPA.
2431
357
Lampiran I : Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 08 Tahun 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN
KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
(KA-ANDAL)
A. PENJELASAN UMUM
1. Pengertian
Yang dimaksud Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disebut
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Yang dimaksud dampak besar dan penting selanjutnya disebut dampak penting adalah
perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Kerangka Acuan selanjutnya disebut KA-ANDAL adalah ruang lingkup studi analisis
dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh
Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi Penilai AMDAL.
2. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL
Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-
ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal, KA-ANDAL kegiatan
terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan.
3. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL
3.1.Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah:
a. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL;
b. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai
dengan biaya, tenaga, dan waktu yang tersedia.
3.2.Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah:
a. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa, instansi yang membidangi rencana
usaha dan/atau kegiatan, dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan
kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan;
b. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk
mengevaluasi hasil studi ANDAL.
2432
358
4. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL
4.1.Keanekaragaman
ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Rencana usaha dan/atau
kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam.
Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman
bentuk, ukuran, tujuan, sasaran, dan sebagainya. Demikian pula rona lingkungan
hidup akan berbeda menurut letak geografi, keanekaragaman faktor lingkungan
hidup, pengaruh manusia, dan sebagainya. Karena itu, tata kaitan antara keduanya
tentu akan sangat bervariasi pula. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan
hidup pun akan berbeda-beda. Dengan demikian KA-ANDAL diperlukan untuk
memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang
harus ditelaah, dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati
selama menyusun ANDAL.
4.2.Keterbatasan sumber daya
Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya,
seperti antara lain: keterbatasan waktu, dana, tenaga, metode, dan sebagainya.
KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan
hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa
mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya
untuk menyusun prioritas manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL
dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas.
4.3.Efisiensi
Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada
faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan prakiraan dan evaluasi
dalam ANDAL sesuai hasil pelingkupan. Melalui cara ini ANDAL dapat
dilakukan secara efisien.
Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian
disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL.
5. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL
Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah
pemrakarsa, instansi yang bertanggung jawab, dan penyusun studi ANDAL. Namun
dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa
melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33, Pasal
34, dan Pasal 35 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang
kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai.
6. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL
Menurut Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana
usaha dan/atau kegiatan. Bagian lain dari studi kelayakan rencana usaha dan/atau
kegiatan adalah aspek teknis dan aspek ekonomis-finansial.
2433
359
Hasil studi kelayakan adalah untuk proses pengambilan keputusan dan dapat
digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Karena itu, dalam
menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti
akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil
keputusan dan perencana. Sungguhpun demikian, berlainan dengan bagian studi
kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu
usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi, ANDAL lebih
menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan
tersebut terhadap lingkungan hidup.
Karena itu, penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL
di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh
perencana dan pengambil keputusan:
7. Wawasan KA-ANDAL
Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan
lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan. Sehubungan dengan hal tersebut, ada beberapa faktor yang
harus diperhatikan:
Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup
sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan
Pengumpulan data dan informasi tentang
Rencana usaha dan/atau kegiatan
Rona lingkungan hidup
Kegiatan lain di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan
Saran, tanggapan dan pendapat masyarakat
Penentuan besaran dan sifat penting dampak terhadap lingkungan
hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan
Evaluasi dampak penting terhadap lingkungan hidup
Rekomendasi/saran tindak lanjut untuk pengambil keputusan,
perencanaan dan pengelola lingkungan hidup berupa:
Alternatif komponen usaha dan/atau kegiatan
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
2434
360
a. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal
yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak
yang terlibat;
b. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan, maka dalam studi
ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari komponen
rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan
hidup, teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya
dampak negatif yang lebih besar;
c. Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan
hidup, maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan
hidup yang berciri:
i. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta
dilestarikan fungsinya, seperti:
a) Hutan Lindung, Hutan Konservasi, dan Cagar Biosfer;
b) Sumber daya air;
c) Keanekaragaman hayati;
d) Kualitas udara;
e) Warisan alam dan warisan budaya;
f) Kenyamanan lingkungan hidup;
g) Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup.
ii. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan
perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan, seperti antara lain:
a) Fungsi ekosistem;
b) Pemilikan dan penguasaan lahan;
c) Kesempatan kerja dan usaha;
d) Taraf hidup masyarakat;
e) Kesehatan masyarakat.
d. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri, satu sama lain memiliki keterkaitan
dan ketergantungan. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam
proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah
dan sistematis.
Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-
ANDAL terutama dalam proses pelingkupan.
8. Proses pelingkupan
Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan
mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha
dan/atau kegiatan.
Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena
melalui proses ini dapat dihasilkan:
2435
361
a. Dampak penting hipotetik terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan
untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal
atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting untuk ditelaah;
b. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas
proyek, batas ekologis, batas sosial, dan batas administratif;
c. Batas waktu kajian yang merupakan rentang waktu yang akan digunakan sebagai
dasar dalam melakukan prakiraan perubahan kualitas/kondisi lingkungan tanpa
adanya proyek dan dengan adanya proyek.
d. Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metode yang digunakan, jumlah
sampel yang diukur, dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya
yang tersedia (dana dan waktu).
Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang
akan dilakukan.
8.1.Pelingkupan dampak penting
Pelingkupan dampak penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut:
1) Identifikasi dampak potensial
Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi
segenap dampak lingkungan hidup (primer, sekunder, dan seterusnya) yang
secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau
kegiatan. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang
mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak, atau
penting tidaknya dampak. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya
untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak penting.
Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan
diskusi dengan para pakar, pemrakarsa, instansi yang bertanggungjawab,
masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan
lapangan (observasi). Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat
dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut
ini:
a) penelaahan pustaka; dan/atau
b) analisis isi (content analysis); dan/atau
c) interaksi kelompok (rapat, lokakarya, brainstorming, dan lain-lain);
dan/atau
d) metode ad hoc; dan/atau
e) daftar uji (sederhana, kuesioner, deskriptif); dan/atau
f) matrik interaksi sederhana; dan/atau
g) bagan alir (flowchart); dan/atau
h) pelapisan (overlay); dan/atau
i) pengamatan lapangan (observasi).
2) Evaluasi dampak potensial
Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan
dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting, sehingga
diperoleh daftar dampak penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan
2436
362
untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. Daftar dampak
penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang
dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan,
instansi yang bertanggungjawab, dan para pakar. Pada tahap ini daftar
dampak penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis.
Metode yang digunakan adalah interaksi kelompok (rapat, lokakarya,
brainstorming). Kegiatan evaluasi dampak potensial ini terutama dilakukan
oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili
oleh konsultan penyusun AMDAL), dengan mempertimbangkan hasil
konsultasi dan diskusi dengan pakar, instansi yang bertanggungjawab serta
masyarakat yang berkepentingan.
3) Klasifikasi dan prioritas dampak penting
Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk
mengelompokkan/mengorganisir dampak penting yang telah dirumuskan dari
tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh klasifikasi dan prioritas
dampak penting hipotetik yang akan dikaji lebih lanjut dalam dokumen
ANDAL. Dalam melakukan klasifikasi dan prioritas, perlu memperhatikan hal
berikut:
a) Kebijakan atau peraturan yang menjadi dasar untuk arahan kajian
AMDAL selanjutnya, seperti standar/baku mutu dan lain-lain.
b) Konsep saintifik dari kajian yang akan dilakukan.
Dampak penting hipotetik tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan.
Pertama, segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. Kedua, dampak penting
yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya.
Sebagai contoh :
Rencana pembuangan limbah cair dari industri petrokimia ke sungai akan
menimbulkan dampak penting hipotetik berupa peningkatan kadar BOD,
COD, dan TSS, sementara dari proses produksi akan menimbulkan dampak
penting hipotetik berupa emisi SO
2
dan NO
x
. Dampak penting hipotetik dari
masing-masing parameter tersebut selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi;
penurunan kualitas air sungai dan penurunan kualitas udara ambien.
Selanjutnya terhadap 2 (dua) dampak penting tersebut diurut berdasarkan
kepentingannya, misalnya: (1) Penurunan kualitas udara ambien, (2)
Penurunan kualitas air sungai.
8.2.Pelingkupan wilayah studi dan batas waktu kajian
Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah
studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak penting, dan dengan
memperhatikan keterbatasan sumber daya, waktu dan tenaga, serta saran pendapat
dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan.
a. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-
batas ruang sebagai berikut:
2437
363
1) Batas proyek
Batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
akan melakukan kegiatan pra-konstruksi, konstruksi dan operasi. Dari
ruang rencana usaha dan/atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap
lingkungan hidup di sekitarnya, termasuk dalam hal ini alternatif lokasi
rencana usaha dan/atau kegiatan. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan
juga dalam koordinat.
2) Batas ekologis
Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air, udara), dimana
proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan
mengalami perubahan mendasar. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang
di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi
dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan.
3) Batas sosial
Batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang
merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang
mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem
dan struktur sosial), sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok
masyarakat, yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar
akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.
Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi
ANDAL, mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang
kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan
mendasar akibat aktivitas usaha dan/atau kegiatan. Mengingat dampak
lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan menyebar tidak merata, maka batas sosial ditetapkan dengan
membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi
komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek, ekologis serta
komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan ekologis
namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha
dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja, pembangunan fasilitas
umum dan fasilitas sosial.
4) Batas administratif
Batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa
melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku di dalam ruang tersebut.
Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau
batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan
(misalnya, batas HPH, batas kuasa pertambangan).
2438
364
Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan
mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana, waktu,
dan tenaga), maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang
dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai.
5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL
Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL adalah ruang yang
merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas, namun penentuannya
disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki
keterbatasan sumber data, seperti waktu, dana, tenaga, teknik, dan metode
telaahan.
Dengan demikian, ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada
ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan, kemudian diperluas ke ruang
ekosistem, ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas.
b. Lingkup batasan waktu kajian ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan
batasan waktu pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan.
Batasan waktu kajian adalah batas waktu kajian yang akan digunakan dalam
melakukan prakiraan dan evaluasi dampak dalam kajian ANDAL. Batas waktu
tersebut minimal dilakukan selama umur rencana usaha dan/atau kegiatan
berlangsung. Penentuan batas waktu kajian ini selanjutnya digunakan sebagai
dasar untuk melakukan penentuan perubahan rona lingkungan tanpa adanya
rencana usaha dan/atau kegiatan atau dengan adanya rencana usaha dan/atau
kegiatan.
Sebagai catatan, batas waktu yang digunakan dalam kajian AMDAL bukan
merupakan batas waktu untuk menyatakan kadaluarsa atau tidaknya suatu
kajian AMDAL.
B. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN
BAB I. PENDAHULUAN
Bab pendahuluan mencakup :
1.1 Latar belakang
Uraikan latar belakang dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Uraikan tujuan dan manfaat mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus
dilaksanakan. Uraian tersebut mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi kebutuhan-kebutuhan saat ini yang melatarbelakangi diperlukannya
rencana usaha dan/atau kegiatan,
b. Tentukan kebutuhan-kebutuhan khusus yang akan dipenuhi berdasarkan atas
kekurangan-kekurangan yang ada saat ini,
2439
365
c. Tetapkan secara jelas sasaran-sasaran dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan tersebut.
Uraian di atas merupakan dasar untuk menentukan alternatif-alternatif, pemenuhan
kebutuhan, termasuk di dalamnya rencana usaha dan/atau kegiatan yang
disampaikan oleh pemrakarsa.
Sebagai catatan, bagian ini “bukan” menjelaskan tujuan dan manfaat dilakukannnya
studi AMDAL, namun menjelaskan tujuan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau
kegiatan yang dikaji dan manfaat yang akan dipenuhi dengan adanya rencana usaha
dan/atau kegiatan tersebut. Sebagai contoh: untuk proyek-proyek transportasi,
kebutuhan didasarkan atas adanya keterbatasan sistem transportasi yang ada.
Kebutuhan-kebutuhan khusus yang akan dipenuhi adalah untuk meningkatkan
keselamatan lalu lintas, mengatasi keterbatasan kapasitas tampung volume lalu
lintas, atau kebutuhan untuk menjaga kualitas udara regional.
1.3 Peraturan
Sebutkan peraturan yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan beserta
alasan singkat mengapa peraturan tersebut digunakan sebagai acuan.
BAB II. RUANG LINGKUP STUDI
2.1 Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah dan alternatif
komponen rencana usaha dan/atau kegiatan.
a. Status dan lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah
1. Uraikan secara singkat status studi AMDAL, apakah dilaksanakan secara
terintegrasi, bersamaan atau setelah studi kelayakan teknis dan ekonomis.
Uraian ini diperlukan sebagai dasar untuk menentukan kedalaman informasi
yang diperlukan dalam kajian AMDAL.
2. Uraikan secara singkat kesesuaian lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan
dengan rencana tata ruang setempat;
3. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab
dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang
akan dibangun. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan;
4. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar
rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya terhadap
lingkungan hidup.
Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan
lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang
berada di sekitarnya.
b. Alternatif-alternatif yang akan dikaji dalam ANDAL
Kajian AMDAL merupakan studi kelayakan dari aspek lingkungan hidup, maka
komponen rencana usaha dan/atau kegiatan harus memiliki beberapa alternatif,
antara lain alternatif lokasi, desain, proses, tata letak bangunan atau sarana
pendukung. Alternatif-alternatif yang dikaji dalam AMDAL dapat merupakan
2440
366
alternatif-alternatif yang telah direncanakan sejak semula atau yang dihasilkan
selama proses kajian AMDAL berlangsung.
Adapun fungsi dan manfaat dari kajian alternatif dalam AMDAL adalah:
1. Memastikan bahwa pertimbangan lingkungan telah terintegrasi dalam proses
pemilihan alternatif selain faktor ekonomis dan teknis.
2. Memastikan bahwa pemrakarsa dan pengambil keputusan telah
mempertimbangkan dan menerapkan prinsip-prinsip pencegahan
pencemaran (pollution prevention) dalam rangka pengelolaan lingkungan.
3. Memberi peluang kepada pemangku kepentingan yang tidak terlibat secara
penuh dalam proses pengambilan keputusan, untuk mengevaluasi berbagai
aspek dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan dan bagaimana proses dari
suatu keputusan yang akhirnya disetujui.
4. Memberikan kerangka kerja untuk pengambilan keputusan yang transparan
dan berdasarkan kepada pertimbangan-pertimbangan ilmiah.
Dokumen Kerangka Acuan ANDAL berisi penjelasan secara ringkas kerangka
kerja proses pemilihan alternatif tersebut. Penjelasan pada bagian ini belum
terlalu rinci namun dapat memberikan gambaran secara sistematis dan logis
terhadap proses dihasilkannya alternatif-alternatif yang akan dikaji yang
mencakup:
1. penjelasan dasar pemikiran dalam penentuan faktor-faktor yang
dipertimbangkan dalam mengkaji alternatif (misalnya apakah lokasi rencana
usaha dan/atau kegiatan akan melewati kawasan lindung, permukiman
penduduk, memotong jembatan dan sungai dan lain-lain),
2. penjelasan prosedur yang akan digunakan untuk melakukan pemilihan
terhadap alternatif-alternatif yang tersedia, termasuk cara identifikasi,
prakiraan dan dasar pemikiran yang digunakan untuk memberikan
pembobotan, skala atau peringkat serta cara-cara untuk mengintepretasikan
hasilnya,
3. penjelasan alternatif-alternatif yang telah dipilih yang akan dikaji lebih
lanjut dalam dokumen ANDAL,
4. pencantuman pustaka-pustaka yang akan atau sudah digunakan sebagai
sumber informasi dalam pemilihan alternatif.
2.2 Lingkup rona lingkungan hidup awal
Uraikan dengan singkat rona lingkungan hidup di lokasi rencana usaha dan/atau
kegiatan. Deskripsi rona lingkungan hidup menguraikan data yang terkait atau
relevan dengan dampak yang mungkin terjadi dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
Deskripsi ini didasarkan data sekunder yang bersifat aktual dan didukung oleh hasil
observasi lapangan.
Dalam hal terdapat beberapa alternatif lokasi, maka uraian rona lingkungan hidup
tersebut dilakukan untuk masing-masing alternatif lokasi.
2441
367
2.3 Pelingkupan
a. Proses Pelingkupan
Pelingkupan merupakan suatu proses awal untuk menentukan lingkup
permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting hipotesis yang terkait
dengan rencana kegiatan.
Pelibatan masyarakat merupakan bagian proses pelingkupan. Prosedur pelibatan
masyarakat dalam proses AMDAL harus mengacu pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pelingkupan umumnya dilakukan melalui tiga tahap yaitu: identifikasi dampak,
evaluasi dampak, dan klasifikasi dan prioritas (lihat gambar 1). Dalam
melakukan proses tersebut sebaiknya menggunakan metode dari berbagai
literatur.
Gambar 1. Contoh bagan alir proses pelingkupan
Dalam proses pelingkupan, beberapa hal berikut sudah harus teridentifikasi
secara jelas: komponen rencana usaha dan/atau kegiatan, komponen
lingkungan yang terkena dampak serta interaksi kedua komponen tersebut,
dampak potensial yang akan terjadi (termasuk urutan dampak: primer,
sekunder, tersier dan lain-lain), sifat dampak, parameter-parameter dari
komponen lingkungan yang terkena dampak, sumber data rona lingkungan
untuk masing-masing parameter komponen lingkungan yang terkena dampak,
lokasi pengambilan contoh uji (sampel) dan data, metode-metode yang akan
digunakan untuk melakukan pengumpulan data, analisis data, prakiraan
dampak dan evaluasi dampak, tenaga ahli yang dibutuhkan serta waktu
pelaksanaan studi AMDAL.
Dalam proses pelingkupan terhadap suatu rencana usaha dan/atau kegiatan
yang diidentifikasi berpotensi menimbulkan risiko terhadap lingkungan, maka
Deskripsi
Rencana
Kegiatan
Rona
Lingkungan
Hidup
Dampak
Potensial
Dampak
Penting
Hipotetik
Identifikasi
Dampak
Potensial
Evaluasi
Dampak
Potensial
Klasifikasi &
Prioritas
Prioritas
Dampak
Penting
Hipotetik
2442
368
proses pelingkupannya difokuskan pada potensi risikonya terhadap
lingkungan, dan dapat ditetapkan suatu kajian tambahan berupa kajian risiko
lingkungan (environmental risk assessment) yang merupakan bagian dari
dokumen AMDAL.
Dalam proses pelingkupan tersebut, harus dijelaskan juga dasar penentuan
dampak penting hipotetik, batas wilayah studi dan batas waktu kajian.
Dampak-dampak potensial yang tidak dikaji lebih lanjut, juga harus dijelaskan
alasan-alasannya dengan dasar argumentasi yang kuat kenapa dampak
potensial tersebut tidak dikaji lebih lanjut.
Proses pelingkupan harus dilakukan untuk masing-masing alternatif
komponen rencana usaha dan/atau kegiatan (misal: alternatif lokasi, alternatif
tata letak bangunan atau sarana pendukung atau alternatif teknologi proses
produksi).
b. Hasil proses pelingkupan
Hasil proses pelingkupan mencakup dampak penting hipotetik, lingkup
wilayah studi dan batas waktu kajian.
1. Dampak Penting Hipotetik
Berisi uraian mengenai dampak penting hipotetik akibat rencana usaha
dan/atau kegiatan yang akan dikaji dalam ANDAL sesuai hasil
pelingkupan.
2. Lingkup wilayah studi dan batas waktu kajian
Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek,
ekologis, sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala
teknis yang dihadapi. Batasan ruang lingkup wilayah studi penentuannya
disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki
keterbatasan sumber data, seperti waktu, dana, tenaga, teknis, dan metode
telaahan. Setiap penentuan masing-masing batas wilayah (proyek,
ekologis, sosial dan administratif) harus dilengkapi dengan justifikasi yang
kuat.
Bab ini harus dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat
menggambarkan batas wilayah proyek, ekologis, sosial dan administratif.
Dalam proses pelingkupan, harus teridentifikasi secara jelas batas waktu
kajian yang akan digunakan dalam melakukan prakiraan dan evaluasi
dampak dalam kajian ANDAL. Batas waktu tersebut minimal dilakukan
selama umur rencana usaha dan/atau kegiatan berlangsung. Penentuan
batas waktu kajian ini selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk
melakukan penentuan perubahan rona lingkungan tanpa adanya rencana
usaha dan/atau kegiatan atau dengan adanya rencana usaha dan/atau
kegiatan.
2443
369
Sebagai catatan, batas waktu yang digunakan dalam kajian AMDAL
“bukan” merupakan batas waktu untuk menyatakan kadaluarsa atau
tidaknya suatu kajian AMDAL.
BAB III. METODE STUDI
Bab ini berisi metode-metode yang digunakan untuk pelaksanaan studi ANDAL yang
dapat menjawab berbagai dampak penting hipotetik hasil proses pelingkupan.
3.1 Metode pengumpulan dan analisis data
Bagian ini berisi metode pengumpulan data primer dan sekunder yang sahih serta
dapat dipercaya (reliable) untuk digunakan sebagai masukan dalam melakukan
prakiraan besaran dan sifat penting dampak.
Metode pengumpulan dan analisis data harus relevan dengan metode prakiraan
dampak yang digunakan, sehingga data yang dikumpulkan relevan dan representatif
dengan dampak penting hipotetik yang akan dianalisis dalam proses prakiraan
dampak yaitu :
a. Cantumkan secara jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data
berikut dengan jenis peralatan, instrumen, dan tingkat ketelitian alat yang
digunakan dalam pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang digunakan
harus sesuai Standar Nasional Indonesia atau sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
b. Uraikan metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran.
Cantumkan jenis peralatan, instrumen, dan rumus yang digunakan dalam proses
analisis data. Khusus untuk analisis data primer yang memerlukan pengujian di
laboratorium, maka harus dilakukan di laboratorium yang terakreditasi.
3.2 Metode prakiraan dampak penting
Bagian ini menjelaskan metode prakiraan dampak yang digunakan untuk
memprakirakan besaran dan sifat penting dampak dalam studi ANDAL untuk
masing-masing dampak penting hipotetik, termasuk rumus-rumus dan asumsi
prakiraan dampaknya disertai argumentasi/alasan pemilihan metode tersebut.
Metode prakiraan besaran dampak yang dapat digunakan antara lain:
a. Metode perhitungan matematis
Jika menggunakan metode perhitungan matematis, maka:
1. Harus dapat dijelaskan sumber data yang digunakan dan tunjukkan bahwa
sumber data yang digunakan tersebut benar-benar valid.
2. Jelaskan kesahihan dari model matematis yang digunakan dengan
menyampaikan uraian bahwa model matematis tersebut telah memperoleh
pengakuan dari berbagai literatur profesional yang relevan.
2444
370
b. Percobaan/eksperimen
Jika percobaan digunakan, maka uraikan secara jelas setiap tahapan percobaan.
Di samping itu, rancangan percobaan harus representatif dengan rencana usaha
dan/atau kegiatan yang dikaji.
c. Model simulasi visual dan peta
Jika menggunakan model simulasi visual dan peta, maka harus ada deskripsi
tertulis yang menjelaskan keterkaitan hasil simulasi atau perubahan dampak
terhadap fungsi ruang dan waktu.
d. Metode analogi
Jika menggunakan metode analogi, maka:
i. Uraikan secara jelas bahwa analogi yang digunakan tersebut benar-benar
terjadi.
ii. Jelaskan bahwa karakteristik dari kegiatan yang dianalogikan sesuai dengan
karakteristik dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang sedang dikaji.
e. Penilaian ahli (Professional Judgement)
Jika menggunakan penilaian ahli, maka harus ada penjelasan secara ilmiah,
data-data pendukung, kualifikasi dan pengalaman dari ahli yang memberikan
penilaian dalam memprakirakan besaran dampak.
Metode yang digunakan untuk memprakirakan sifat penting dampak agar
menggunakan pedoman penentuan dampak penting sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
3.3 Metode evaluasi dampak penting
Bagian ini menguraikan metode-metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL
untuk mengevaluasi dampak penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan
terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik, bagan alir,
overlay). Metode-metode tersebut digunakan secara triangulasi untuk digunakan
sebagai:
a. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha
dan/atau kegiatan;
b. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak penting lingkungan hidup
yang ditimbulkan.
BAB IV. PELAKSANAAN STUDI
4.1. Pemrakarsa
Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai
pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan, nama dan alamat lengkap penanggung
jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan.
2445
371
4.2. Penyusun studi AMDAL
Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan, nama
dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL, nama dan keahlian dari
masing-masing anggota penyusun AMDAL. Perlu diketahui bahwa Ketua tim
penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL Penyusun dan sesuai
ketentuan yang berlaku, sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai
keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan.
4.3. Biaya studi
Bagian ini menguraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka
penyusunan studi AMDAL termasuk komponen biaya untuk pelaksanaan konsultasi
masyarakat. Uraian tersebut juga harus mencerminkan perbandingan antara biaya
studi AMDAL dan biaya investasi keseluruhan rencana usaha dan/atau kegiatan.
4.4. Waktu studi
Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap
persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Bagian ini menguraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan
penyusunan dokumen KA-ANDAL. Pengambilan (pencuplikan) sumber referensi harus
mengikuti tata cara penulisan akademis yang dikenal secara luas. Hal ini termasuk
konsistensi uraian pada bab-bab sebelumnya dan daftar pustaka.
LAMPIRAN
Bagian ini melampirkan informasi tambahan yang terkait dengan rencana usaha dan/atau
kegiatan yang dimaksud seperti penjelasan rinci proses pelingkupan, pengumuman studi
AMDAL, butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang
terlibat (masyarakat berkepentingan) dan pengolahan data hasil konsultasi, foto-foto rona
lingkungan hidup. Disamping itu, lampiran harus mencantumkan biodata singkat personil
penyusun AMDAL dan surat pernyataan bahwa personil tersebut benar-benar melakukan
penyusunan dan ditandatangani di atas materai, serta copy sertifikat pelatihan AMDAL.
Tanggapan dari pemrakarsa atas masukan secara tertulis selama proses penilaian KA-
ANDAL dilampirkan pada laporan akhir.
Menteri Negara
Lingkungan Hidup,
ttd
Salinan sesuai dengan aslinya Ir. Rachmat Witoelar.
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Hoetomo, MPA.
2446
372
Lampiran II : Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 08 Tahun 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN
ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
(ANDAL)
A. PENJELASAN UMUM
1. Pengertian
Yang dimaksud Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disebut
AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
Yang dimaksud dampak besar dan penting selanjutnya disebut dampak penting adalah
perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan.
Analisis Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disebut ANDAL adalah telaahan
secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan.
2. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL
Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL, baik
AMDAL kegiatan tunggal, AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL
kegiatan dalam kawasan.
B. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN
HIDUP (ANDAL)
Dokumen ANDAL harus disertai dengan abstrak lebih kurang 2 (dua) halaman yang
berisi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak penting
baik pada tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi maupun pasca operasi.
Abstrak juga harus mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan
keputusan, perencana, dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan.
2447
373
BAB I. PENDAHULUAN
Bab Pendahuluan mencakup :
1.1 Latar belakang
Uraikan latar belakang dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Uraikan tujuan dan manfaat mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus
dilaksanakan. Uraian tersebut mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi kekurangan-kekurangan kondisi saat ini yang melatarbelakangi
diperlukannya rencana usaha dan/atau kegiatan,
b. Tentukan kebutuhan-kebutuhan khusus yang akan dipenuhi berdasarkan atas
kekurangan-kekurangan yang ada saat ini,
c. Tetapkan secara jelas sasaran-sasaran dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan tersebut.
Uraian di atas merupakan dasar untuk menentukan alternatif-alternatif, pemenuhan
kebutuhan, termasuk di dalamnya rencana usaha dan/atau kegiatan yang
disampaikan oleh pemrakarsa.
Sebagai catatan, bagian ini bukan menjelaskan tujuan dan manfaat dilakukannnya
studi AMDAL, namun menjelaskan tujuan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau
kegiatan yang dikaji dan manfaat yang akan dipenuhi dengan adanya rencana usaha
dan/atau kegiatan tersebut. Sebagai contoh: untuk proyek-proyek transportasi,
kebutuhan didasarkan atas adanya keterbatasan sistem transportasi yang ada.
Kebutuhan-kebutuhan khusus yang akan dipenuhi adalah untuk meningkatkan
keselamatan lalu lintas, mengatasi keterbatasan kapasitas tampung volume lalu
lintas, atau kebutuhan untuk menjaga kualitas udara regional.
1.3 Peraturan
Sebutkan peraturan yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan beserta
alasan singkat mengapa peraturan tersebut digunakan sebagai acuan.
BAB II. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
2.1 Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL
Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari :
a. Pemrakarsa :
1. Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana
usaha dan/atau kegiatan;
2. Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha
dan/atau kegiatan.
2448
374
b. Penyusun ANDAL :
1. Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi
dan rujukannya;
2. Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL.
2.2 Uraian rencana usaha dan/atau kegiatan
Uraian rencana usaha dan/atau kegiatan memuat tentang rencana usaha dan/atau
kegiatan yang harus dilaksanakan.
a. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha
dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai, dan dapat
memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha
dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya, seperti pemukiman
(lingkungan hidup binaan manusia umumnya), dan lingkungan hidup alami yang
terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. Hutan lindung, cagar alam,
suaka alam, suaka marga satwa, sumber mata air, sungai, dan kawasan lindung
lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus
diberikan tanda istimewa dalam peta;
b. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan
tersedianya sumber daya air, energi, sumber daya alam hayati dan sumber daya
alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha
dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi. Hubungan ini
perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai;
c. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta, yang berskala
memadai, yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya
yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan, serta
hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di
sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya, jalan kereta api, dermaga
dan sebagainya);
d. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi, konstruksi,
jangka waktu masa operasi, hingga rencana waktu pasca operasi.
1. Tahap pra-konstruksi/persiapan
Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau
kegiatan pada tahap pra-konstruksi. Uraikan secara mendalam difokuskan
pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi
penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup.
2. Tahap konstruksi
(a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha
dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. Uraian secara mendalam
difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab
timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup.
2449
375
Misalnya:
(1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah, tempat asal
tenaga kerja, dan kualifikasi pendidikan;
(2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan, listrik, air) dari
rencana usaha dan/atau kegiatan;
(3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang
dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup;
(4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan.
(b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana
pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah), bila unit atau
sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. Di
samping itu, bila ada, jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi
berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi;
(c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan,
gudang, jalan-jalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan
konstruksi berakhir.
3. Tahap Operasi
(a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha
dan/atau kegiatan pada tahap operasi. Uraian secara mendalam
difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab
timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup.
Misalnya:
(1) Identifikasi bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam
proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak penting
lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya
(misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya);
(2) Rencana jumlah tenaga kerja, tempat asal tenaga kerja yang akan
diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap
operasi;
(3) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah
selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial;
(4) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat, cair
maupun gas dan rencana-rencana pengelolaannya. Dalam kaitan ini
perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3.
(b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan
selama masa operasi. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian
unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa
konstruksi.
4. Tahap Pasca Operasi
Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau
kegiatan pada tahap pasca operasi.
2450
376
Misalnya:
(a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan
bahan/material, bedeng kerja, gudang, jalan darurat dan sebagainya;
(b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan
setelah masa operasi berakhir;
(c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan
untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir;
(d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha
dan/atau kegiatan berakhir.
2.3 Alternatif-alternatif yang dikaji dalam ANDAL
Kajian AMDAL merupakan studi kelayakan dari aspek lingkungan lingkungan
hidup, maka komponen rencana usaha dan/atau kegiatan dapat memiliki beberapa
alternatif, antara lain alternatif lokasi, desain, proses, tata letak bangunan atau
sarana pendukung. Alternatif-alternatif yang dikaji dalam AMDAL dapat
merupakan alternatif-alternatif yang telah direncanakan sejak semula atau yang
dihasilkan selama proses kajian AMDAL berlangsung. Sebagaimana dalam
dokumen KA-ANDAL, bagian ini menjelaskan proses pemilihan alternatif-alternatif
dan uraian rinci komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dikaji lebih
lanjut dalam ANDAL sebagai berikut :
a. Dokumen ANDAL harus menjelaskan secara lebih rinci proses pemilihan
alternatif. Penjelasan disini harus dapat memberikan gambaran secara sistematis
dan logis terhadap proses dihasilkannya alternatif-alternatif yang dikaji. Bagian
ini menguraikan identifikasi terhadap alternatif-alternatif yang telah
dipertimbangkan pada dokumen KA-ANDAL. Alternatif-alternatif yang tidak
akan dikaji lebih lanjut dalam studi ANDAL dijelaskan alasan-alasannya secara
singkat mengapa alternatif-alternatif tersebut tidak dikaji lebih lanjut.
b. Bagian selanjutnya menjelaskan secara rinci dan mendalam alternatif-alternatif
yang telah dipilih. Kajian dilakukan secara mendalam, objektif dan seimbang
untuk masing-masing alternatif. Kajian tersebut dilakukan pada bab prakiraan
dan evaluasi dampak dan harus dapat dipahami dengan jelas perbandingan
masing-masing alternatif tersebut.
2.4 Keterkaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan kegiatan lain disekitarnya
Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta
dampak-dampak yang ditimbulkannya, baik dampak rencana usaha dan/atau
kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya, termasuk
dampak kumulatifnya.
Dalam hal terdapat beberapa alternatif rencana lokasi, maka uraian kegiatan-
kegiatan yang berada di sekitar lokasi dilakukan untuk masing-masing alternatif
lokasi tersebut.
BAB III. RONA LINGKUNGAN HIDUP
Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin.
Dalam hal terdapat beberapa alternatif lokasi, maka uraian rona lingkungan hidup tersebut
dilakukan untuk masing-masing alternatif. Uraian rona lingkungan hidup meliputi:
2451
377
(1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan, yang
mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang
berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. Uraian rona lingkungan
hidup agar menggunakan data yang mewakili setidak-tidaknya kondisi 2 (dua) musim.
Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis
perlu mendapat perhatian;
(2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah
studi rencana usaha dan/atau kegiatan, baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan
maupun yang masih dalam bentuk potensi. Penyajian kondisi sumber daya alam ini
perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu
harus dilengkapi dengan diagram, gambar, grafik atau foto;
(3) Data dan informasi rona lingkungan hidup
Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau
kegiatan. Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada
komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan, atau berpotensi
terkena dampak penting.
BAB IV. RUANG LINGKUP STUDI
Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak penting yang ditelaah serta
wilayah studi berdasarkan hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL (termasuk bila ada
alternatif-alternatif) serta hal-hal lain yang ditemukan selama melakukan studi ANDAL,
seperti perubahan jumlah dampak penting yang ditelaah, atau batas wilayah studi.
Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan
mengacu pada hasil pelingkupan dalam dokumen Kerangka Acuan.
4.1. Dampak penting yang ditelaah
Uraikan secara singkat mengenai dampak penting yang akan ditelaah dalam
dokumen ANDAL mengacu pada hasil pelingkupan dalam dokumen KA-ANDAL
Uraian dalam bagian ini agar menginformasikan kronologi proses pelingkupan
dimulai dari identifikasi sampai akhirnya dihasilkan dampak penting yang ditelaah.
Uraian tersebut agar dilengkapi dengan bagan alir proses pelingkupan.
4.2. Wilayah studi dan batas waktu kajian
Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah
studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL, dan hasil pengamatan
di lapangan.
Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang
memadai.
2452
378
Batas waktu kajian mengacu pada batas waktu hasil pelingkupan sebagaimana
ditentukan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL.
BAB V. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING
Dalam bab ini dilakukan prakiraan terhadap besaran dan sifat penting dampak. Dalam
melakukan prakiraan besaran dampak, maka hal yang perlu diperhatikan adalah
penggunaan data yang menunjukkan perubahan kualitas lingkungan dari waktu ke waktu
(time series data).
Dalam bab ini hendaknya dimuat:
(1) Prakiraan secara cermat besaran dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra-
konstruksi, konstruksi, operasi, dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup.
Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas
lingkungan hidup yang diprakirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan, dan
kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau
kegiatan dalam batas waktu yang telah ditetapkan, dengan menggunakan metode
prakiraan dampak;
(2) Penentuan sifat penting dampak mengacu pada pedoman penentuan dampak penting
sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;
(3) Dalam melakukan telaahan butir 1 dan 2 tersebut perlu diperhatikan dampak yang
bersifat langsung dan atau tidak langsung. Dampak langsung adalah dampak yang
ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/atau kegiatan. Sedang dampak
tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu
komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana
usaha dan/atau kegiatan. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran
dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut:
a. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen
sosial;
b. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen
fisik-kimia, kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut
terhadap komponen biologi dan sosial;
c. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen
biologi, kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen
sosial;
d. Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-
kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial;
e. Dampak penting berlangsung saling berantai di antara komponen sosial itu
sendiri;
f. Dampak penting pada butir a, b, c dan d yang telah diutarakan selanjutnya
menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan.
(4) Mengingat rencana usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan
alternatif komponen rencana usaha dan/atau kegiatan (misalnya: alternatif lokasi,
alternatif tata letak bangunan atau sarana pendukung, atau alternatif teknologi proses
produksi), maka telaahan sebagaimana dimaksud pada bab V angka 1 dan 2 di atas
dilakukan untuk masing-masing alternatif yang terdapat dalam bab II angka 2.3.
huruf b;
2453
379
(5) Dalam melakukan analisis prakiraan besaran dampak penting agar digunakan metode-
metode formal secara matematis. Penggunaan metode non formal hanya dilakukan
bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis
atau hanya dapat didekati dengan metode non formal.
BAB VI. EVALUASI DAMPAK PENTING
Dalam bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak penting dari
masing-masing alternatif rencana usaha dan/atau kegiatan. Hasil evaluasi ini selanjutnya
menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan
lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan, sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
6.1 Telaahan terhadap dampak penting
a. Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang
diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI,
dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim (antara lain
metode matrik -Leopold, Lohani & Thanh, Sorensen, Battelle, Fisher & Davies,
metode overlay dan metode lainnya yang memiliki dasar referensi) dan sesuai
dengan kaidah metode evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai
keperluannya;
b. Evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap
beragam dampak penting hipotetik lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab V,
dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. Beragam komponen
lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun
negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-
mempengaruhi, sehingga diketahui sejauhmana perimbangan dampak penting
yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif;
c. Dampak-dampak penting hipotetik yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai
dampak-dampak penting yang harus dikelola.
d. Mengingat rencana usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan
alternatif komponen rencana usaha dan/atau kegiatan (misal: alternatif lokasi,
alternatif tata letak bangunan atau sarana pendukung, atau alternatif teknologi
proses produksi), maka telaahan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b dan c di
atas dilakukan untuk masing-masing alternatif.
6.2 Pemilihan alternatif terbaik
Dalam hal kajian AMDAL memberikan beberapa alternatif komponen rencana usaha
dan/atau kegiatan (misal: alternatif lokasi, alternatif tata letak bangunan atau sarana
pendukung atau alternatif teknologi proses produksi), maka dalam sub bab ini sudah
harus memberikan rekomendasi pilihan alternatif terbaik serta dasar pertimbangan
pemilihan alternatif terbaik tersebut.
2454
380
6.3 Telaahan sebagai dasar pengelolaan
Dalam bagian ini, telaahan sebagai dasar pengelolaan dilakukan untuk alternatif
terbaik yang terpilih pada bab VI angka 6.2 di atas. Telaahan tersebut meliputi:
a. Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona
lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul.
Misalnya, mungkin saja dampak penting timbul dari rencana usaha dan/atau
kegiatan terhadap rona lingkungan hidup, karena rencana usaha dan/atau kegiatan
itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia, atau pada tingkat
pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah, bentuk teknologi yang tak
sesuai dan sebagainya;
b. Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas, dalam arti apakah
dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana
usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. Atau antara dampak-dampak satu
dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang
antagonistis dan sinergistis. Apabila dimungkinkan, uraikan kejelasan tentang
waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak penting mulai timbul.
Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau
kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan
akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. Atau mungkin
akan terus berlangsung, umpamanya lebih dari satu generasi;
c. Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang
akan terkena dampak positif. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang
diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan
pembangunan;
d. Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini, apakah
hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal, regional, nasional, atau bahkan
internasional, melewati batas negara Republik Indonesia;
e. Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada
di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam.
Dalam sub bab ini harus menyampaikan arahan yang jelas mengenai rencana
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang akan dilakukan berdasarkan
hasil evaluasi dampak penting terhadap alternatif terbaik yang dipilih. Arahan
pengelolaan dilakukan terhadap seluruh komponen kegiatan yang menimbulkan
dampak, baik komponen kegiatan yang paling banyak memberikan dampak turunan
(dampak yang bersifat strategis) maupun komponen kegiatan yang tidak banyak
memberikan dampak turunan. Arahan pemantauan dilakukan terhadap komponen
lingkungan yang relevan untuk digunakan sebagai indikator untuk mengevaluasi
penaatan (compliance), kecenderungan (trendline) dan tingkat kritis (critical level)
dari suatu pengelolaan lingkungan hidup.
2455
381
6.4 Rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan
Rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan merupakan pernyataan secara jelas
terhadap kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan dari suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan yang didasarkan atas hasil evaluasi dampak dan arahan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup untuk alternatif terbaik pada bab VI angka 6.2 dan 6.3.
DAFTAR PUSTAKA
Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting
yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu
daftar pustaka dengan penulisan yang baku.
LAMPIRAN
Lampiran berisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Ringkasan dasar-dasar teori, asumsi-asumsi yang digunakan, tata cara, rincian proses
dan hasil perhitungan-perhitungan yang digunakan dalam prakiraan besaran dan sifat
penting dampak serta evaluasi dampak.
2. Tanggapan dari pemrakarsa atas masukan secara tertulis selama proses penilaian
AMDAL dilampirkan pada laporan akhir.
3. Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat akan
disusun dokumen ANDAL, RKL dan RPL;
4. Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup, usulan rencana usaha
dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang
hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang
akan ditimbulkannya;
5. Diagram, peta, gambar, grafik, hasil analisis laboratorium, data hasil kuesioner dan
tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen;
6. Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini.
Menteri Negara
Lingkungan Hidup,
ttd
Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan susuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Hoetomo, MPA.
2456
382
Lampiran III : Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 08 Tahun 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
(RKL)
A. PENJELASAN UMUM
1. Pengertian
Analisis Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disebut ANDAL adalah telaahan
secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan.
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup selanjutnya disebut RKL adalah upaya
penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari
rencana usaha dan/atau kegiatan.
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup selanjutnya disebut RPL adalah upaya
pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting akibat dari
rencana usaha dan/atau kegiatan.
2. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup
Dokumen RKL merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah,
mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan hidup yang bersifat
negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu
rencana usaha dan/atau kegiatan. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan
lingkungan hidup mencakup 4 (empat) kelompok aktivitas :
a. Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah
dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif, tata letak (tata
ruang mikro) lokasi, dan rancang bangun proyek;
b. Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi,
meminimisasi, atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha
dan/atau kegiatan beroperasi, maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan
berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek);
c. Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif
sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik
2457
383
kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati
dampak positif tersebut;
d. Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi
lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak
dapat pulih, hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis)
sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih,
hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai
akibat usaha dan/atau kegiatan.
3. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup
Mengingat dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan merupakan bagian dari
studi kelayakan, maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok
arahan, prinsip-prinsip, kriteria atau persyaratan untuk
pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. Bila dipandang perlu dapat
dilengkapi dengan acuan literatur tentang "basic design" untuk
pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. Hal ini tidak lain disebabkan
karena :
a. Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan
(proyek) relatif masih umum, belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci, dan
masih memiliki beberapa alternatif. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini
memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauhmana proyek dipandang patut atau
layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi; sebelum investasi,
tenaga, dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. Keterbatasan data dan
informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh
pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL;
b. Pokok- pokok arahan, prinsip-prinsip, kriteria atau persyaratan pengelolaan
lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan
diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam
menyusun rancangan rinci rekayasa.
Di samping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang
tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL, dalam
arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami
perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL.
4. Rencana pengelolaan lingkungan hidup
Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan
penanggulangan dampak negatif, serta peningkatan dampak positif yang bersifat
strategis. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas,
sistimatis, serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut :
a. Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan, prinsip-
prinsip, kriteria pedoman, atau persyaratan untuk mencegah, menanggulangi,
mengendalikan atau meningkatkan dampak penting baik negatif maupun positif
yang bersifat strategis; dan bila dipandang perlu, lengkapi pula dengan acuan
literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud;
2458
384
b. Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian
rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan
rinci rekayasa, dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup;
c. Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan
pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan
dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan
pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih;
d. Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit
organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk
melaksanakan RKL. Aspek- aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal
ini antara lain adalah struktur organisasi, lingkup tugas dan wewenang unit, serta
jumlah dan kualifikasi personalnya.
5. Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup
Untuk menangani dampak penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL, dapat
menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini
dikenal seperti: teknologi, sosial ekonomi, maupun institusi.
6. Format dokumen RKL
Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL, dan
ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada
keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di
atas.
B. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
Pernyataan pelaksanaan
Pernyataan pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani di atas
kertas bermaterai.
BAB I. PENDAHULUAN
1. Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan
jelas. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis, singkat dan jelas;
2. Pernyataan kebijakan lingkungan. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha
dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-
undangan di bidang lingkungan yang relevan, serta komitmen untuk melakukan
penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam
bentuk mencegah, menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang
disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya di
bidang pengelolaan lingkungan hidup;
3. Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya rencana pengelolaan lingkungan.
2459
385
BAB II. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Untuk menangani dampak penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL, dapat
menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita
kenal seperti : teknologi, sosial ekonomi, maupun institusi.
a. Pendekatan teknologi
Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola
dampak penting lingkungan hidup.
b. Pendekatan sosial ekonomi
Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya
menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada
interaksi sosial, dan bantuan peran pemerintah.
c. Pendekatan institusi
Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa
dalam rangka menanggulangi dampak penting lingkungan hidup.
Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak
yang berkepentingan
BAB III. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh
satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut:
3.1 Dampak penting dan sumber dampak penting
a. Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang
diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL.
b. Sumber Dampak
Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak penting :
1. Apabila dampak penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha
dan/atau kegiatan, maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan
yang merupakan penyebab timbulnya dampak penting;
2. Apabila dampak penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen
lingkungan hidup yang lain, maka jelaskan secara singkat komponen dampak
penting tersebut.
3.2 Tolok ukur dampak
Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen
lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan
berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan);
keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah, lazim digunakan, dan/atau
telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. Tolok ukur yang diutarakan adalah
yang digunakan dalam ANDAL.
2460
386
3.3 Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup
Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting yang bersifat strategis
berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut
tercegah/tertanggulangi/terkendali.
3.4 Pengelolaan Lingkungan hidup
Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat
dilakukan melalui pendekatan teknologi, sosial ekonomi, dan/atau institusi.
3.5 Lokasi pengelolaan lingkungan hidup
Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan
memperhatikan sifat persebaran dampak penting yang dikelola. Lengkapi pula dengan
peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai.
3.6 Periode pengelolaan lingkungan hidup
Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan
lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan: sifat dampak penting yang dikelola
(lama berlangsung, sifat kumulatif, dan berbalik tidaknya dampak).
3.7 Institusi pengelolaan lingkungan hidup
Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau
kelembagaan yang akan berurusan, berkepentingan, dan berkaitan dengan kegiatan
pengelolaan lingkungan hidup, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah, Peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang
meliputi :
a. Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan
hidup;
b. Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan;
c. Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh sektor terkait;
d. Keputusan Gubernur, Bupati/Walikota;
e. Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi
pengelolaan lingkungan hidup.
Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi :
a. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup
Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan dan
sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Apabila dalam
melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan
atau bekerjasama dengan pihak lain, maka cantumkan pula institusi dimaksud;
2461
387
b. Pengawas pengelolaan lingkungan hidup
Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya
RKL. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi
sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab, serta peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
c. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup
Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan
lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang
bersangkutan, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan
RKL, baik yang berupa buku, majalah, makalah, tulisan, maupun laporan hasil-hasil
penelitian. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara
penulisan pustaka.
LAMPIRAN
Pada bagian ini lampirkan tentang :
1. Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut:
Jenis Dampak, Sumber Dampak, Tolok Ukur Dampak, Tujuan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lokasi Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Institusi
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2. Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta
(lokasi kegiatan, lokasi pengelolaan lingkungan hidup, dan lain-lain), rancangan
teknik (engineering design), matrik serta data utama yang terkait dengan rencana
pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL.
Menteri Negara
Lingkungan Hidup,
ttd
Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan susuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Hoetomo, MPA.
2462
388
Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 08 Tahun 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
(RPL)
A. PENJELASAN UMUM
1. Pengertian
Analisis Dampak Lingkungan Hidup selanjutnya disebut ANDAL adalah telaahan
secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu rencana usaha dan/atau
kegiatan.
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup selanjutnya disebut RPL adalah upaya
pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting akibat dari
rencana usaha dan/atau kegiatan.
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup selanjutnya disebut RKL adalah upaya
penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari
rencana usaha dan/atau kegiatan.
2. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup
Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-
fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan, mulai dari tingkat proyek (untuk
memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan), sampai ke
tingkat kawasan atau bahkan regional; tergantung pada skala masalah yang dihadapi.
Pemantauan merupakan kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus, sistematis
dan terencana. Pemantauan dilakukan terhadap komponen lingkungan yang relevan
untuk digunakan sebagai indikator untuk mengevaluasi penaatan (compliance),
kecenderungan (trendline) dan tingkat kritis (critical level) dari suatu pengelolaan
lingkungan hidup.
3. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup
Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana
pemantauan lingkungan hidup, yakni :
2463
389
(a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami
perubahan mendasar, atau terkena dampak penting.
(b) Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak penting yang
dinyatakan dalam ANDAL, dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang
dirumuskan dalam dokumen RKL;
(c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan/atau terhadap
komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. Dengan memantau
kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektivitas kegiatan
pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan;
(d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. Walau aspek-aspek
yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan
pada butir (a) sampai (c), namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu
diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang
usia usaha dan/atau kegiatan;
(e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau,
mencakup :
1) Jenis data yang dikumpulkan;
2) Lokasi pemantauan;
3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan;
4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang
digunakan untuk pengumpulan data);
5) Metode analisis data.
(f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan
hidup. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud di sini adalah
institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan, pelaksana
pemantauan, pengguna hasil pemantauan, dan pengawas kegiatan pemantauan.
B. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN
LINGKUNGAN HIDUP (RPL)
BAB I. PENDAHULUAN
Pendahuluan mencakup :
1.1.Latar belakang pemantauan lingkungan hidup
a. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan
lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa, pihak-pihak yang
berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang
program pembangunan;
2464
390
b. Uraikan secara sistematis, singkat, dan jelas tentang tujuan pemantauan
lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan
pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan;
c. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik
bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan, pihak-pihak yang berkepentingan, maupun
bagi masyarakat.
BAB II . RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh
satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut :
a. Dampak penting yang dipantau
Cantumkan secara singkat :
1. Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk
dipantau;
2. Indikator dari komponen dampak penting yang dipantau.
b. Sumber dampak
Uraikan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak penting.
c. Parameter lingkungan hidup yang dipantau
Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. Parameter ini
dapat meliputi parameter dari aspek biologi, kimia, fisika dan aspek sosial, serta aspek
kesehatan masyarakat.
d. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup
Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak penting lingkungan hidup,
dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola, bentuk rencana pengelolaan
lingkungan hidup, dan dampak penting turunan yang ditimbulkannya.
e. Metode pemantauan lingkungan hidup
Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator
dampak penting, yang mencakup :
1. Metode pengumpulan dan analisis data
Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses
pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan, instrumen, atau formulir isian
yang digunakan. Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam
pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam
Baku Mutu Lingkungan Hidup.
2465
391
Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil
pengukuran. Cantumkan jenis peralatan, instrumen, dan rumus yang digunakan
dalam proses analisis data. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan
untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau, dan sebagai
umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Perlu diperhatikan
bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan
metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL.
2. Lokasi pemantauan lingkungan hidup
Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang
memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. Perlu diperhatikan
bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan
data disaat penyusunan ANDAL.
3. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan
Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan
frekuensinya per satuan waktu. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan
ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak penting yang dipantau
(instensitas, lama dampak berlangsung, dan sifat kumulatif dampak).
f. Institusi pemantauan lingkungan hidup
Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau
kelembagaan yang akan berurusan, berkepentingan, dan berkaitan dengan kegiatan
pemantauan lingkungan hidup, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. Peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi :
1. Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan
Hidup;
2. Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh sektor terkait;
3. Peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah;
4. Keputusan Gubernur, Bupati/Walikota;
5. Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi
pemantauan lingkungan hidup.
Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi :
1. Pelaksana pemantauan lingkungan hidup
Cantumkan institusi yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan dan sebagai
penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup;
2. Pengawas pemantauan lingkungan hidup
Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya
RPL. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi
sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab, serta peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
2466
392
3. Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup;
Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan
lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang
bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan
RPL baik yang berupa buku, majalah, makalah, tulisan, maupun laporan hasil-hasil
penelitian. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara
penulisan pustaka.
LAMPIRAN
Pada bagian ini lampirkan tentang :
1. Ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut:
Dampak Penting Yang Dipantau, Sumber Dampak, Tujuan Pemantauan Lingkungan
Hidup, Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (yang meliputi Metode Pengumpulan
Data, Lokasi Pemantauan Lingkungan Hidup, Jangka Waktu dan Frekuensi
Pemantauan Lingkungan Hidup, serta Metode Analisis), dan Institusi Pemantau
Lingkungan Hidup.
2. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi
dokumen RPL.

Menteri Negara
Lingkungan Hidup,
ttd
Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan susuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Hoetomo, MPA.
2467
393
Lampiran V : Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor : 08 Tahun 2006
Tanggal : 30 Agustus 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN
RINGKASAN EKSEKUTIF
PENYUSUNAN DOKUMEN RINGKASAN EKSEKUTIF
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Kegiatan
Pada bagian ini uraikan latar belakang dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan
ditinjau dari tujuan dan manfaat proyek. Uraian tersebut mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
1 Identifikasi kekurangan-kekurangan kondisi saat ini yang melatarbelakangi
diperlukannya rencana usaha dan/atau kegiatan;
2 Tentukan kebutuhan-kebutuhan khusus yang akan dipenuhi berdasarkan atas
kekurangan-kekurangan yang ada saat ini;
3 Tetapkan secara jelas sasaran-sasaran dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan tersebut.
Uraian di atas merupakan dasar untuk menentukan alternatif-alternatif, pemenuhan
kebutuhan, termasuk di dalamnya rencana usaha dan/atau kegiatan yang disampaikan oleh
pemrakarsa.
b. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
Pada bagian ini uraikan secara singkat rencana kegiatan yang meliputi lokasi kegiatan, jenis
kegiatan, besaran kegiatan dan tahapan kegiatan.
c. Alternatif-alternatif yang dikaji dalam ANDAL
Pada bagian ini uraikan secara singkat alternatif-alternatif rencana kegiatan (antara lain
alternatif lokasi, desain, proses, tata letak bangunan atau sarana pendukung), termasuk
proses pemilihan alternatif terbaik. Uraikan secara sistematis dan logis terhadap proses
dihasilkannya alternatif terbaik.
2468
394
d. Rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan
Rekomendasi penilaian kelayakan lingkungan merupakan pernyataan secara jelas terhadap
kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang
didasarkan atas hasil evaluasi dampak dan arahan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup untuk alternatif terbaik yang terpilih.
e. Waktu pelaksanaan
Pada bagian ini tuliskan waktu pelaksanaan atau jadual rencana kegiatan untuk setiap jenis
kegiatan dan tahapan kegiatan (pra-konstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi).
f. Pemrakarsa kegiatan
Pada bagian ini tuliskan nama pemrakarsa yang meliputi: nama dan alamat lengkap
instansi/perusahaan dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha
dan/atau kegiatan.
BAB II DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP
Pada bagian ini uraikan secara singkat dan jelas dampak penting yang harus dikelola sesuai hasil
evaluasi dampak.
BAB III UPAYA PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP
Pada bagian ini uraikan secara singkat dan jelas pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
yang dilakukan dalam rangka mengantisipasi dampak-dampak penting lingkungan hidup yang
ditimbulkan sebagaimana dimaksud pada bab II.
Uraian tersebut dapat dibuat dalam bentuk tabel dengan rincian sebagai berikut:
a. Pengelolaan lingkungan hidup (Jenis Dampak, Sumber Dampak, Tolok Ukur Dampak,
Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Teknik Pengelolaan, Lokasi Pengelolaan, Waktu
Pengelolaan dan Pelaksana Pengelolaan).
b. Pemantauan lingkungan hidup (Jenis Dampak, Sumber Dampak, Parameter Lingkungan
Hidup Yang Dipantau, Metode Pemantauan, Lokasi Pemantauan, Waktu Pemantauan,
Pelaksana Pemantauan, Pengawas Pemantauan dan Pelaporan Hasil Pemantauan).
Menteri Negara
Lingkungan Hidup,
ttd
Salinan sesuai dengan aslinya Ir. Rachmat Witoelar.
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,
ttd
Hoetomo, MPA.
2469
395

SALINAN






PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
NOMOR 11 TAHUN 2006

TENTANG

JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN
ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,


Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 3 ayat (2) Peraturan
Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup telah ditetapkan Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis
Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;

b. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17
Tahun 2001 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib
Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup saat ini sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan
keadaan, sehingga dipandang perlu diadakan perubahan terhadap
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun
2001;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang
Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup;







2470
396

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3699);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3838);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Negara Republik Indonesia, sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2005;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN
ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP.

Pasal 1

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan
Menteri ini.

Pasal 2

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam Lampiran I Peraturan
Menteri ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung sebagaimana
tercantum dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini wajib dilengkapi dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Pasal 3

Dalam hal skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada
skala/besaran yang tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini akan tetapi atas
dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta
tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup,
maka Bupati atau Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta
dapat menetapkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut sebagai Jenis Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
2471
397

Pasal 4

Bupati atau Walikota atau Gubernur dan/atau masyarakat dapat mengajukan usulan
secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup mengenai jenis rencana usaha
dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini tetapi
mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, untuk ditetapkan sebagai jenis
rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup.

Pasal 5

Menteri Negara Lingkungan Hidup mempertimbangkan penetapan jenis rencana usaha
dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup terhadap usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

Pasal 6

Menteri Negara Lingkungan Hidup dapat menetapkan jenis rencana usaha dan/atau
kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran I
Peraturan Menteri ini berdasarkan hasil penapisan sebagaimana dimaksud dalam
Lampiran III Peraturan Menteri ini setelah mendengar dan memperhatikan saran serta
pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang
terkait.

Pasal 7

(1) Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana tercantum dalam Lampiran I
Peraturan Menteri ini dapat berkurang dalam hal:
a. dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditanggulangi
berdasarkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan/atau
b. dalam kenyataannya jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak
menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup.

(2) Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dan huruf b tidak diwajibkan dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.

(3) Dalam menentukan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2), Menteri wajib mempertimbangkan saran dan masukan
dari sektor terkait dan pendapat para ahli.



2472
398

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang
dikecualikan dari jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi
dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 8

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri
ini dapat ditinjau kembali paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

Pasal 9

Khusus untuk bidang rekayasa genetika, ketentuan tentang jenis rencana usaha dan/atau
kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I huruf M Peraturan Menteri ini berlaku sampai
dengan ditetapkannya Peraturan Presiden yang mengatur Komisi Keamanan Hayati
Produk Rekayasa Genetik.

Pasal 10

Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 17 tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang
Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 11

Peraturan Menteri ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal

Menteri Negara
Lingkungan Hidup,

ttd

Salinan sesuai dengan aslinya Ir. Rachmat Witoelar.
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,



Hoetomo, MPA.
2473
399
.
1
Lampiran I
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor :
Tanggal :

JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI
DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK
LINGKUNGAN HIDUP
1. Pendahuluan

Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan:
a. Potensi dampak penting
Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha
dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap
lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting
bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan:
(1) Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penting.
(2) Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai
landasan kebijakan tentang AMDAL.
b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi
dampak penting negatif yang akan timbul.

2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup

A. Bidang Pertahanan

Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan
skala/besaran sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini berpotensi
menimbulkan risiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial
akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1 Pembangunan Pangkalan TNI
AL
Kelas A dan B ƒ Kegiatan pengerukan dan
reklamasi berpotensi
mengubah ekosistem laut
dan pantai.
ƒ Kegiatan pangkalan
berpotensi menyebabkan
dampak akibat limbah cair
dan sampah padat.
2 Pembangunan Pangkalan TNI
AU
Kelas A dan B ƒ Kegiatan pangkalan
berpotensi menyebabkan
2474
400
.
2
dampak akibat limbah cair,
sampah padat dan
kebisingan pesawat.
3 Pembangunan Pusat Latihan
Tempur
- Luas


> 10.000 ha
ƒ Bangunan pangkalan dan
fasilitas pendukung,
termasuk daerah
penyangga, tertutup bagi
masyarakat.
ƒ Kegiatan latihan tempur
berpotensi menyebabkan
dampak akibat limbah cair,
sampah padat dan
kebisingan akibat ledakan.

B. Bidang Pertanian

Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan,
hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas
air akibat kegiatan pembukaan lahan, persebaran hama, penyakit dan gulma pada
saat beroperasi, serta perubahan kesuburan tanah akibat penggunaan
pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan
penyebaran penyakit endemik.

Skala/besaran yang tercantum dalam tabel di bawah ini telah memperhitungkan
potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam.
Skala/besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk
masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang,
dan tinggi.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1.
Budidaya tanaman pangan
dan hortikultura

a. Semusim dengan atau tanpa
unit pengolahannya
- Luas


> 2.000 ha
Kegiatan akan berdampak
terhadap ekosistem,
hidrologi dan bentang alam.

b.Tahunan dengan atau tanpa
unit pengolahannya
- Luas


> 5.000 ha

2. Budidaya tanaman perkebunan
a. Semusim dengan atau tanpa
unit pengolahannya:
- Dalam kawasan budidaya
non kehutanan, luas
- Dalam kawasan budidaya
kehutanan, luas



> 3.000 ha

Semua besaran

2475
401
.
3
b.Tahunan dengan atau tanpa
unit pengolahannya:
- Dalam kawasan budidaya
non kehutanan, luas
- Dalam kawasan budidaya
kehutanan, luas



> 3.000 ha

Semua besaran


C. Bidang Perikanan

Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang,
ikan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam.
Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan
dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. Usaha budidaya perikanan
a. Budidaya tambak udang/ikan
tingkat teknologi maju dan
madya dengan atau tanpa unit
pengolahannya
- Luas












> 50 ha






ƒ Rusaknya ekosistem
mangrove yang menjadi
tempat pemijahan dan
pertumbuhan ikan (nursery
areas) akan mempengaruhi
tingkat produktivitas daerah
setempat.
ƒ Beberapa komponen
lingkungan yang akan
terkena dampak adalah:
kandungan bahan organik,
perubahan BOD, COD,
DO, kecerahan air, jumlah
phytoplankton maupun
peningkatan virus dan
bakteri.
ƒ Semakin tinggi penerapan
teknologi maka produksi
limbah yang diindikasikan
akan menyebabkan dampak
negatif terhadap
perairan/ekosistem di
sekitarnya.
a. Usaha budidaya perikanan
terapung (jaring apung dan
pen system):
- Di air tawar (danau)
ƒ Luas, atau
ƒ Jumlah





> 2,5 ha
> 500 unit

ƒ Perubahan kualitas
perairan.
ƒ Pengaruh perubahan arus
dan penggunaan ruang
perairan.
ƒ Pengaruh terhadap estetika
perairan.
2476
402
.
4
- Di air laut
ƒ Luas, atau
ƒ Jumlah

> 5 ha
> 1.000 unit
ƒ Mengganggu alur
pelayaran.

D. Bidang Kehutanan

Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap
ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam
dan potensi konflik sosial.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan

a. Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu (UPHHK) dari
Hutan Alam (HA)


Semua besaran ƒ Pemanenan pohon dengan
diameter tertentu berpotensi
merubah struktur dan
komposisi tegakan.
ƒ Mempengaruhi kehidupan
satwa liar dan habitatnya.

b.Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu (UPHHK) dari
Hutan Tanaman (HT)

> 5.000 ha/etat Usaha hutan tanaman
dilaksanakan melalui sistem
silvikultur Tebang Habis
Permudaan Buatan (THPB)
berpotensi menimbulkan
dampak erosi serta perubahan
komposisi tegakan (menjadi
homogen), satwa liar dan
habitatnya.

E. Bidang Perhubungan

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. Pembangunan Jaringan Jalan
Kereta Api
- Panjang


> 25 km
Berpotensi menimbulkan
dampak berupa emisi,
gangguan lalu lintas,
kebisingan, getaran, gangguan
pandangan, ekologis dan
dampak sosial.
2. Konstruksi bangunan jalan rel
di bawah permukaan tanah


Semua besaran Berpotensi menimbulkan
dampak berupa perubahan
kestabilan lahan (land
subsidence), air tanah serta
gangguan berupa dampak
terhadap emisi, lalu lintas,
2477
403
.
5
kebisingan, getaran, gangguan
pandangan, gangguan jaringan
prasarana sosial (gas, listrik,
air minum, telekomunikasi)
dan dampak sosial di sekitar
kegiatan tersebut.
3. Pembangunan terminal terpadu
Moda dan Fungsi
- Luas


• 2 ha
Berpotensi menimbulkan
dampak berupa emisi,
gangguan lalu lintas,
kebisingan, getaran, ekologis,
tata ruang dan sosial.
a. Pengerukan perairan dengan
Capital Dredging
- Volume




> 500.000 m
3

4.
b.Pengerukan perairan sungai
dan/atau laut dengan capital
dredging yang memotong
material karang dan/atau batu
Semua besaran
Berpotensi menimbulkan
dampak penting terhadap
sistem hidrologi dan ekologis
yang lebih luas dari batas
tapak kegiatan itu sendiri,
perubahan batimetri,
ekosistem, dan mengganggu
proses-proses alamiah di
daerah perairan (sungai dan
laut) termasuk menurunnya
produktivitas kawasan yang
dapat menimbulkan dampak
sosial. Kegiatan ini juga akan
menimbulkan gangguan
terhadap lalu lintas pelayaran
perairan.
Pembangunan pelabuhan
dengan salah satu fasilitas
berikut:
a. Dermaga dengan bentuk
konstruksi sheet pile atau
open pile
- Panjang, atau
- Luas

b.Dermaga dengan konstruksi
masif






> 200 m
> 6.000 m
2

Semua besaran
ƒ Kunjungan kapal yang
cukup tinggi dengan bobot
sekitar 5.000-10.000 DWT
serta draft kapal minimum
4-7 m sehingga kondisi
kedalaman yang dibutuhkan
menjadi –5 s/d –9 m LWS.
ƒ Berpotensi menimbulkan
dampak penting terhadap
perubahan arus
pantai/pendangkalan dan
sistem hidrologi, ekosistem,
kebisingan dan dapat
ƒ mengganggu proses-proses
alamiah di daerah pantai
(coastal processes).
5.
c. Penahan gelombang (talud)
dan/ atau pemecah
gelombang (break water)



Berpotensi menimbulkan
dampak terhadap ekosistem,
hidrologi, garis pantai dan
2478
404
.
6
- Panjang > 200 m batimetri serta mengganggu
proses-proses alamiah yang
terjadi di daerah pantai.
d.Prasarana pendukung
pelabuhan (terminal, gudang,
peti kemas, dan lain-lain)
- Luas




> 5 ha

Berpotensi menimbulkan
dampak berupa emisi,
gangguan lalulintas,
aksesibilitas transportasi,
kebisingan, getaran, gangguan
pandangan, ekologis, dampak
sosial dan keamanan disekitar
kegiatan serta membutuhkan
area yang luas.

e. Single Point Mooring Boey
- Untuk kapal

> 10.000 DWT
Kunjungan kapal yang cukup
tinggi dengan bobot sekitar
5.000 – 10.000 DWT serta
draft kapal minimum 4-7m
sehingga kondisi kedalaman
yang dibutuhkan menjadi –5
s/d –9 m LWS.
Berpotensi menimbulkan
dampak berupa gangguan alur
pelayaran, perubahan
batimetri, ekosistem, dan
mengganggu proses-proses
alamiah di daerah pantai
terutama apabila yang
dibongkar muat minyak
mentah yang berpotensi
menimbulkan pencemaran laut
dari tumpahan minyak.
6. Reklamasi (pengurugan):
- Luas, atau
- Volume

> 25 ha
> 500.000 m
3

Berpotensi menimbulkan
dampak terhadap sistem
geohidrologi,
hidrooseanografi, dampak
sosial, ekologis, perubahan
garis pantai, kestabilan lahan,
lalu lintas serta mengganggu
proses-proses alamiah di
daerah pantai.
7. Kegiatan penempatan hasil
keruk (dumping) di darat:
- Volume, atau
- Luas area dumping


> 500.000 m
3
> 5 ha
Menyebabkan terjadinya
perubahan bentang lahan yang
akan mempengaruhi ekologis,
hidrologi setempat.
2479
405
.
7
8. Pembangunan bandar udara
baru beserta fasilitasnya (untuk
fixed wing maupun rotary
wing)
Semua besaran
kelompok bandar
udara (A, B, dan C)
beserta hasil studi
rencana induk yang
telah disetujui
ƒ Termasuk kegiatan yang
berteknologi tinggi, harus
memperhatikan ketentuan
keselamatan penerbangan
dan terikat dengan konvensi
internasional.
ƒ Berpotensi menimbulkan
dampak berupa kebisingan,
getaran, dampak sosial,
keamanan negara, emisi
dan kemungkinan
bangkitan transportasi baik
darat dan udara.
ƒ Adanya ketentuan KKOP
(Kawasan Keselamatan
Operasi Penerbangan) yang
membatasi pemanfaatan
ruang udara serta
berpotensi menimbulkan
dampak sosial.
9. Pengembangan bandar udara
beserta salah satu fasilitas
berikut:
a. Landasan pacu
- Panjang
b.Terminal penumpang atau
terminal kargo
- Luas
c. Pengambilan air tanah





> 200 m


> 2000 m
2
• 50 liter/detik
(dari 1 sumur
sampai dengan 5
sumur dalam satu
area < 10 ha)
ƒ Termasuk kegiatan
berteknologi tinggi, harus
memenuhi aturan
keselamatan penerbangan
dan terikat dengan konvensi
internasional.
ƒ Berpotensi menimbulkan
dampak kebisingan,
getaran, dampak sosial,
keamanan negara, emisi
dan kemungkinan
bangkitan transportasi baik
darat dan udara, mobilisasi
penumpang meningkat.
ƒ Dampak potensial berupa
limbah padat, limbah cair,
udara, dan bau yang dapat
mengganggu kesehatan.
ƒ Pengoperasian jenis
pesawat yang dapat
dilayani oleh bandara.

10. Perluasan bandar udara
beserta/atau fasilitasnya:
a. - Pemindahan penduduk, atau
- Pembebasan lahan


> 200 KK
> 100 ha
ƒ Termasuk kegiatan
berteknologi tinggi, harus
memenuhi aturan
keselamatan penerbangan
2480
406
.
8
b.Reklamasi pantai:
- Luas, atau
- Volume urugan
c. Pemotongan bukit dan
pengurugan lahan dengan
volume

> 25 ha
> 100.000 m
3



t 500.000 m
3

dan terikat dengan konvensi
internasional.
ƒ Berpotensi menimbulkan
dampak kebisingan,
getaran, dampak sosial,
keamanan negara, emisi
dan kemungkinan
bangkitan transportasi baik
darat dan udara.

F. Bidang Teknologi Satelit

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. Pembangunan fasilitas
peluncuran satelit
Semua besaran ƒ Kegiatan ini memerlukan
persyaratan lokasi yang
khusus (sepi penduduk, di
daerah katulistiwa/ekuator,
dekat laut), teknologi
canggih, dan tingkat
pengamanan yang tinggi.
ƒ Bangunan peluncuran
satelit dan fasilitas
pendukung, termasuk
daerah penyangga, tertutup
bagi masyarakat.

G. Bidang Perindustrian

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1.

Industri semen (yang dibuat
melalui produksi klinker)
Semua besaran

Industri semen dengan Proses
Klinker adalah industri semen
yang kegiatannya bersatu
dengan kegiatan
penambangan, dimana
terdapat proses penyiapan
bahan
baku, penggilingan bahan
baku (raw mill process),
penggilingan batubara (coal
mill) serta proses pembakaran
dan pendinginan klinker
(Rotary Kiln and Clinker
Cooler).
Umumnya dampak yang
ditimbulkan disebabkan oleh:
2481
407
.
9


ƒ Debu yang keluar dari
cerobong.
ƒ Penggunaan lahan yang
luas.
ƒ Kebutuhan air cukup besar
(3,5 ton semen
membutuhkan 1 ton air).
ƒ Kebutuhan energi cukup
besar baik tenaga listrik
(110 – 140 kWh/ton) dan
tenaga panas (800 – 900
Kcal/ton).
ƒ Tenaga kerja besar (+ 1-2
TK/3000 ton produk).
ƒ Potensi berbagai jenis
limbah: padat (tailing),
debu (CaO, SiO
2
, Al
2
O
3
,
FeO
2
) dengan radius 2-3
km, limbah cair (sisa
cooling mengandung
minyak lubrikasi/pelumas),
limbah gas (CO
2
, SO
x
,
NO
x
) dari pembakaran
energi batubara, minyak
dan gas.
2.

Industri pulp atau industri
kertas yang terintegrasi dengan
industri pulp, kecuali pulp dari
kertas bekas dan pulp untuk
kertas budaya
Semua besaran

Proses pembuatan pulp
meliputi kegiatan penyiapan
bahan baku, pemasakan
serpihan kayu, pencucian
pulp, pemutihan pulp
(bleaching) dan pembentukan
lembaran pulp yang dalam
prosesnya banyak
menggunakan bahan-bahan
kimia, sehingga berpotensi
menghasilkan limbah cair
(BOD, COD, TSS), limbah
gas (H
2
S, SO
2
, NO
x
, Cl
2
) dan
limbah padat (ampas kayu,
serat pulp, lumpur kering).

Umumnya dampak yang
ditimbulkan disebabkan oleh:
ƒ Penggunaan lahan yang
luas (0,2 ha/1000 ton
produk).
2482
408
.
10
ƒ Tenaga kerja besar.
ƒ Kebutuhan energi besar
(0,2 MW/1000 ton produk).
3.

Industri petrokimia hulu Semua besaran

Industri petrokimia hulu
adalah industri yang
mengolah hasil tambang
mineral (kondensat) terdiri
dari Pusat Olefin yang
menghasilkan Benzena,
Propilena dan Butadiena serta
Pusat Aromatik yang
menghasilkan Benzena,
Toluena, Xylena, dan
Etil Benzena.

Umumnya dampak yang
ditimbulkan disebabkan oleh:
ƒ Kebutuhan lahan yang luas.
ƒ Kebutuhan air cukup besar
(untuk pendingin 1
l/dt/1000 ton produk).
ƒ Tenaga kerja besar.
ƒ Kebutuhan energi relatif
besar (6-7 kW/ton produk)
disamping bersumber dari
listrik juga energi gas.
ƒ Potensi berbagai limbah:
gas (SO
2
dan NO
x
), debu
(SiO
2
), limbah cair (TSS,
BOD, COD, NH
4
Cl) dan
limbah sisa katalis bekas
yang bersifat B3.
4.

Kawasan Industri (termasuk
komplek industri yang
terintegrasi)

Semua besaran

Kawasan industri (industrial
estate) merupakan lokasi yang
dipersiapkan untuk berbagai
jenis industri manufaktur
yang masih prediktif,
sehingga dalam
pengembangannya
diperkirakan akan
menimbulkan berbagai
dampak penting antara lain
disebabkan:
ƒ Kegiatan grading
(pembentukan muka tanah)
dan run off (air larian).
2483
409
.
11
ƒ Pengadaan dan
pengoperasian alat-alat
berat.
ƒ Mobilisasi tenaga kerja (90
– 110 TK/ha).
ƒ Kebutuhan pemukiman dan
fasilitas sosial.
ƒ Kebutuhan air bersih
dengan tingkat kebutuhan
rata-rata 0,55 – 0,75 l/dt/ha.
ƒ Kebutuhan energi listrik
cukup besar baik dalam
kaitan dengan jenis
pembangkit ataupun trace
jaringan (0,1 MW/ha).
ƒ Potensi berbagai jenis
limbah dan cemaran yang
masih prediktif terutama
dalam hal cara
pengelolaannya.
ƒ Bangkitan lalu lintas.
5. Industri galangan kapal dengan
sistem graving dock
• 50.000 DWT Sistem graving dock adalah
galangan kapal yang
dilengkapi dengan kolam
perbaikan dengan ukuran
panjang 150 m, lebar 30 m,
dan kedalaman 10 m dengan
sistem sirkulasi.
Pembuatan kolam graving ini
dilakukan dengan mengeruk
laut yang dikhawatirkan akan
menyebabkan longsoran
ataupun abrasi pantai.

Perbaikan kapal berpotensi
menghasilkan limbah cair (air
ballast, pengecatan lambung
kapal dan bahan kimia B3)
maupun limbah gas dan debu
dari kegiatan sand blasting
dan pengecatan.
6. Industri amunisi dan bahan
peledak
Semua besaran Industri amunisi dan bahan
peledak merupakan industri
yang dalam proses
produksinya menggunakan
2484
410
.
12
bahan-bahan kimia yang
bersifat B3, disamping
kegiatannya membutuhkan
tingkat keamanan yang tinggi.
7.

Kegiatan industri yang tidak
termasuk angka 1 s/d 6

Penggunaan areal:
a. Urban:
- Metropolitan, luas
- Kota besar, luas
- Kota sedang, luas
- Kota kecil, luas

b.Rural/pedesaan, luas






> 5 ha
> 10 ha
> 15 ha
> 20 ha

> 30 ha
Besaran untuk masing-masing
tipologi kota diperhitungkan
berdasarkan:
ƒ Tingkat pembebasan lahan.
ƒ Daya dukung lahan; seperti
daya dukung tanah,
kapasitas resapan air tanah,
tingkat kepadatan
bangunan per hektar, dan
lain-lain.
Umumnya dampak yang
ditimbulkan berupa:
ƒ Bangkitan lalu lintas.
ƒ Konflik sosial.
ƒ Penurunan kualitas
lingkungan.

H. Bidang Pekerjaan Umum

Beberapa kegiatan pada bidang Pekerjaan Umum mempertimbangkan skala/besaran
kota yang menggunakan ketentuan berdasarkan jumlah populasi, yaitu:
ƒ kota metropolitan : > 1.000.000 jiwa
ƒ kota besar : 500.000-1.000.000 jiwa
ƒ kota sedang : 200.000-500.000 jiwa
ƒ kota kecil : 20.000-200.000 jiwa

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
Pembangunan
Bendungan/Waduk atau Jenis
Tampungan Air lainnya:
- Tinggi, atau




> 15 m

ƒ Termasuk dalam kategori
“large dam” (bendungan
besar).
ƒ Pada skala ini dibutuhkan
spesifikasi khusus baik
bagi material dan desain
konstruksinya.
ƒ Pada skala ini diperlukan
quarry/burrow area yang
besar, sehingga berpotensi
menimbulkan dampak.
ƒ Dampak pada hidrologi.

1.
- Luas genangan

> 200 ha ƒ Kegagalan bendungan
pada luas genangan
2485
411
.
13


sebesar ini berpotensi
mengakibatkan genangan
yang cukup besar dibagian
hilirnya.
ƒ Akan mempengaruhi pola
iklim mikro pada kawasan
sekitarnya dan ekosistem
daerah hulu dan hilir
bendungan/waduk.
ƒ Dampak pada hidrologi.
Daerah Irigasi
a. Pembangunan baru dengan
luas


> 2.000 ha
ƒ Mengakibatkan perubahan
pola iklim mikro dan
ekosistem kawasan.
ƒ Selalu memerlukan
bangunan utama
(headworks) dan bangunan
pelengkap (oppurtenants
structures) yang besar dan
sangat banyak sehingga
berpotensi untuk
mengubah ekosistem yang
ada.
ƒ Mengakibatkan mobilisasi
tenaga kerja yang
signifikan pada daerah
sekitarnya, baik pada saat
pelaksanaan maupun
setelah pelaksanaan.
ƒ Membutuhkan
pembebasan lahan yang
besar sehingga berpotensi
menimbulkan dampak
sosial.

2.
b.Peningkatan dengan luas
tambahan
> 1.000 ha ƒ Berpotensi menimbulkan
dampak negatif akibat
perubahan ekosistem pada
kawasan tersebut.
ƒ Memerlukan bangunan
tambahan yang berpotensi
untuk mengubah ekosistem
yang ada.
ƒ Mengakibatkan mobilisasi
manusia yang dapat
2486
412
.
14
menimbulkan dampak
sosial.

c. Pencetakan sawah, luas
(perkelompok)

> 500 ha ƒ Memerlukan alat berat
dalam jumlah yang cukup
banyak.
ƒ Perubahan Tata Air.
3. Pengembangan Rawa:
Reklamasi rawa untuk
kepentingan irigasi
> 1.000 ha ƒ Berpotensi mengubah
ekosistem dan iklim mikro
pada kawasan tersebut dan
berpengaruh pada kawasan
di sekitarnya.
ƒ Berpotensi mengubah
sistem tata air yang ada
pada kawasan yang luas
secara drastis.
4. Pembangunan Pengaman
Pantai dan perbaikan muara
sungai:
- Jarak dihitung tegak lurus
pantai





> 500 m
ƒ Pembangunan pada
rentang kawasan pantai
selebar > 500 m berpotensi
mengubah ekologi
kawasan pantai dan muara
sungai sehingga
berdampak terhadap
keseimbangan ekosistem
yang ada.


ƒ Gelombang pasang laut
(tsunami) di Indonesia
berpotensi menjangkau
kawasan sepanjang 500 m
dari tepi pantai, sehingga
diperlukan kajian khusus
untuk pengembangan
kawasan pantai yang
mencakup rentang lebih
dari 500 m dari garis
pantai.
5. Normalisasi Sungai (termasuk
sodetan) dan Pembuatan Kanal
Banjir
a. Kota besar/metropolitan
- Panjang, atau
- Volume pengerukan




> 5 km
> 500.000 m
3

ƒ Terjadi timbunan tanah
galian di kanan kiri sungai
yang menimbulkan
dampak lingkungan,
dampak sosial, dan
gangguan.
ƒ Mobilisasi alat besar dapat
menimbulkan gangguan
dan dampak.
2487
413
.
15
b.Kota sedang
- Panjang, atau
- Volume pengerukan

> 10 km
> 500.000 m
3

ƒ Terjadi timbunan tanah
galian di kanan kiri sungai
yang menimbulkan
dampak lingkungan,
dampak sosial, dan
gangguan.
ƒ Mobilisasi alat besar dapat
menimbulkan gangguan
dan dampak.
c. Pedesaan
- Panjang, atau
- Volume pengerukan

> 15 km
> 500.000 m
3

ƒ Terjadi timbunan tanah
galian di kanan kiri sungai
yang menimbulkan
dampak lingkungan,
dampak sosial, dan
gangguan.
ƒ Mobilisasi alat besar dapat
menimbulkan gangguan
dan dampak.

6. Pembangunan Jalan Tol > 5 km

Bangkitan lalu lintas, dampak
kebisingan, getaran, emisi
yang tinggi, gangguan visual
dan dampak sosial.
7. Pembangunan dan/atau
peningkatan jalan dengan
pelebaran yang membutuhkan
pengadaan tanah
a. Kota besar/metropolitan
- Panjang, atau
- Pembebasan lahan





> 5 km
> 5 ha
Bangkitan lalu lintas, dampak
kebisingan, getaran, emisi
yang tinggi, gangguan visual
dan dampak sosial.
b.Kota sedang
- Panjang, atau
- Pembebasan lahan

• 10 km
• 10 ha

c. Pedesaan
- Panjang, atau
- Pembebasan lahan

• 30 km
• 30 ha

8 a. Pembangunan
subway/underpass,
terowongan/tunnel





b.Pembangunan jembatan


> 2 km





> 500 m
Berpotensi menimbulkan
dampak berupa perubahan
kestabilan lahan (land
subsidence), air tanah serta
gangguan berupa dampak
terhadap emisi, lalu lintas,
kebisingan, getaran,
gangguan pandangan,
gangguan jaringan prasarana
sosial (gas, listrik, air minum,
2488
414
.
16
telekomunikasi) dan dampak
sosial di sekitar kegiatan
tersebut.
Persampahan
a. Pembangunan TPA sampah
domestik Pembuangan
dengan sistem control
landfill/ sanitary landfill
termasuk instalasi
penunjangnnya
- Luas kawasan TPA, atau
- Kapasitas total







> 10 ha
> 10.000 ton
b.TPA di daerah pasang surut,
- Luas landfill, atau
- Kapasitas total

> 5 ha
> 5.000 ton
c. Pembangunan transfer
station
- Kapasitas


> 1.000 ton/hari






Dampak potensial adalah
pencemaran gas/udara, risiko
kesehatan masyarakat dan
pencemaran dari leachate
Dampak potensial berupa
pencemaran dari leachate,
udara, bau, vektor penyakit
dan gangguan kesehatan.

Dampak potensial berupa
pencemaran udara, bau,
vektor penyakit dan
gangguan kesehatan.
d.Pembangunan Instalasi
Pengolahan sampah terpadu
- Kapasitas



• 500 ton/hari

Dampak potensial berupa
pencemaran dari leachate
(lindi), udara, bau, gas
beracun, dan gangguan
kesehatan.
e. Pengolahan dengan
insinerator
- Kapasitas


• 500 ton/hari
Dampak potensial berupa fly
ash dan bottom ash,
pencemaran udara, emisi
biogas (H
2
S, NO
x
, SO
x
, CO
x
,
dioxin), air limbah, cooling
water, bau dan gangguan
kesehatan.
f. Composting Plant
- Kapasitas

• 100 ton/hari
Dampak potensial berupa
pencemaran dari bau dan
gangguan kesehatan.
9.
g.Transportasi sampah dengan
kereta api
- Kapasitas


• 500 ton/hari
Dampak potensial berupa
pencemaran dari air sampah
dan sampah yang tercecer,
bau, gangguan kesehatan dan
aspek sosial masyarakat di
daerah yang dilalui kereta api
2489
415
.
17
10 Pembangunan
Perumahan/Permukiman
a. Kota metropolitan, luas
b.Kota besar, luas
c. Kota sedang dan kecil,
luas



> 25 ha
> 50 ha

> 100 ha
Besaran untuk masing-
masing tipologi kota
diperhitungkan berdasarkan:
ƒ Tingkat pembebasan lahan.
ƒ Daya dukung lahan; seperti
daya dukung tanah,
kapasitas resapan air tanah,
tingkat kepadatan
bangunan per hektar.
ƒ Tingkat kebutuhan air
sehari-hari.
ƒ Limbah yang dihasilkan
sebagai akibat hasil
kegiatan perumahan dan
pemukiman.
ƒ Efek pembangunan
terhadap lingkungan
sekitar (mobilisasi material
dan manusia).
ƒ KDB (koefisien dasar
bangunan) dan KLB
(koefisien luas bangunan).
Air Limbah Domestik
a. Pembangunan Instalasi
Pengolahan Lumpur Tinja
(IPLT), termasuk fasilitas
penunjangnya
- Luas, atau
- Kapasitasnya





• 2 ha
• 11 m
3
/hari
ƒ Setara dengan layanan
untuk 100.000 orang.
ƒ Dampak potensial berupa
bau, gangguan kesehatan,
lumpur sisa yang tidak
diolah dengan baik dan
gangguan visual.

b.Pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) limbah domestik
termasuk fasilitas
penunjangnya
- Luas, atau
- Beban organik





• 3 ha
• 2,4 ton/hari
ƒ Setara dengan layanan
untuk 100.000 orang.




11
c. Pembangunan sistem
perpipaan air limbah, luas
layanan
- Luas layanan, atau
- Debit air limbah




• 500 ha
• 16.000 m
3
/hari
ƒ Setara dengan layanan
100.000 orang.
ƒ Setara dengan 20.000 unit
sambungan air limbah.
ƒ Dampak potensial berupa
gangguan lalu lintas,
kerusakan prasarana
umum, ketidaksesuaian
atau nilai kompensasi
2490
416
.
18
12. Pembangunan saluran drainase
(primer dan/atau sekunder) di
permukiman
a. kota besar/ metropolitan,
panjang
b.kota sedang, panjang





• 5 km
• 10 km

Berpotensi menimbulkan
gangguan lalu lintas,
kerusakan prasarana dan
sarana umum, pencemaran di
daerah hilir, perubahan tata
air di sekitar jaringan,
bertambahnya aliran puncak
dan perubahan perilaku
masyarakat
di sekitar jaringan.
Pembangunan drainase
sekunder di kota sedang yang
melewati permukiman padat
13. Jaringan air bersih di kota
besar/metropolitan
a. Pembangunan jaringan
distribusi
- Luas layanan
b.Pembangunan jaringan
transmisi
- Panjang




> 500 ha


> 10 km
Berpotensi menimbulkan
dampak hidrologi dan
persoalan keterbatasan air.


14. Pengambilan air dari danau,
sungai, mata air permukaan,
atau sumber air permukaan
lainnya
- Debit pengambilan




> 250 l/dt
ƒ Setara kebutuhan air bersih
200.000 orang.
ƒ Setara kebutuhan kota
sedang.
15.

Pembangunan Pusat
Perkantoran, Pendidikan,
Olahraga, Kesenian, Tempat
Ibadah, Pusat perdagangan/
perbelanjaan relatif
terkonsentrasi
- Luas lahan, atau
- Bangunan









> 5 ha
>10.000 m
2



Besaran diperhitungkan
berdasarkan:
ƒ Pembebasan lahan.
ƒ Daya dukung lahan.
ƒ Tingkat kebutuhan air
sehari-hari.
ƒ Limbah yang dihasilkan.
ƒ Efek pembangunan
terhadap lingkungan
sekitar (getaran,
kebisingan, polusi udara,
dan lain-lain).
ƒ KDB (koefisien dasar
bangunan) dan KLB.
(koefisien luas bangunan)
ƒ Jumlah dan jenis pohon
yang mungkin hilang.

Khusus bagi pusat
perdagangan/perbelanjaan
2491
417
.
19
relatif terkonsentrasi dengan
luas tersebut diperkirakan
akan menimbulkan dampak
penting:
ƒ Konflik sosial akibat
pembebasan lahan
(umumnya berlokasi dekat
pusat kota yang memiliki
kepadatan tinggi).
ƒ Struktur bangunan
bertingkat tinggi dan
basement menyebabkan
masalah dewatering dan
gangguan tiang-tiang
pancang terhadap akuifer
sumber air sekitar.
ƒ Bangkitan pergerakan
(traffic) dan kebutuhan
permukiman dari tenaga
kerja yang besar.
ƒ Bangkitan pergerakan dan
kebutuhan parkir
pengunjung.
ƒ Produksi sampah.
16. Pembangunan kawasan
pemukiman untuk pemindahan
penduduk/transmigrasi
(Pemukiman Transmigrasi
Baru Pola Tanaman Pangan)
- Luas lahan







> 2000 ha
Berpotensi menimbulkan
dampak yang disebabkan
oleh:
ƒ Pembebasan lahan.
ƒ Tingkat kebutuhan air.
ƒ Daya dukung lahan; seperti
daya dukung tanah,
kapasitas resapan air tanah,
tingkat kepadatan
bangunan per hektar, dan
lain-lain.

I. Bidang Sumber Daya Energi dan Mineral

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
A
MINERAL, BATUBARA,
DAN PANAS BUMI

1 Mineral, Batubara, dan panas
bumi
- Luas perizinan (KP), atau
- Luas daerah terbuka untuk
pertambangan


• 200 ha
• 50 ha
(kumulatif/tahun)
ƒ Dampak penting terhadap
lingkungan antara lain:
merubah bentang alam,
ekologi dan hidrologi.
ƒ Lama kegiatan juga akan
2492
418
.
20
memberikan dampak
penting terhadap kualitas
udara, kebisingan, getaran
apabila menggunakan
peledak, serta dampak dari
limbah yang dihasilkan.
2.


Tahap eksploitasi:
a. Eksploitasi dan
pengembangan uap panas
bumi dan/atau
Pengembangan panas bumi
• 55 MW
Berpotensi menimbulkan
dampak terhadap air, udara,
flora, fauna, sosial, ekonomi,
dan budaya masyarakat
sekitar.
b.Batubara/gambut
- Kapasitas, dan/atau
- Jumlah material penutup
yang dipindahkan

• 1.000.000
ton/tahun
• 4.000.000 ton
Jumlah pemindahan material
berpengaruh terhadap
intensitas dampak yang akan
terjadi.
c. Bijih Primer
- Kapasitas, dan/atau
- Jumlah material penutup
yang dipindahkan

• 400.000 ton/tahun
• 1.000.000 ton
Jumlah pemindahan material
berpengaruh terhadap
intensitas dampak yang akan
terjadi.
d. Bijih Sekunder/Endapan
Alluvial
- Kapasitas, dan/atau
- Jumlah material penutup
yang dipindahkan


• 300.000 ton/tahun
• 1.000.000 ton
Jumlah pemindahan material
berpengaruh terhadap
intensitas dampak yang akan
terjadi.
e. Bahan galian bukan logam
atau bahan galian golongan C
- Kapasitas, dan/atau

- Jumlah material penutup
yang dipindahkan


• 250.000
m
3
/tahun
• 1.000.000 ton

Jumlah pemindahan material
berpengaruh terhadap
intensitas dampak yang akan
terjadi.
f. Bahan galian radioaktif,
termasuk pengolahan,
penambangan dan pemurnian

Semua besaran




Sampai saat ini bahan
radioaktif digunakan sebagai
bahan bakar reaktor nuklir
maupun senjata nuklir. Oleh
sebab itu, selain dampak
penting yang dapat
ditimbulkan, keterkaitannya
dengan masalah pertahanan
dan keamanan menjadi alasan
mengapa kegiatan ini wajib
dilengkapi AMDAL untuk
semua besaran.
2493
419
.
21
g.Pengambilan air bawah tanah
(sumur tanah dangkal, sumur
tanah dalam, dan mata air)


• 50 liter/detik (dari
1 sumur sampai
dengan 5 sumur
dalam satu area <
10 ha)
Potensi perubahan dan
gangguan sistem
hidrogeologi.
h.Tambang di laut Semua besaran



Berpotensi menimbulkan
dampak berupa perubahan
batimetri, ekosistem pesisir
dan laut, mengganggu alur
pelayaran dan proses-proses
alamiah di daerah pantai
termasuk menurunnya
produktivitas kawasan yang
dapat menimbulkan dampak
sosial, ekonomi, dan
kesehatan terhadap nelayan
dan masyarakat sekitar.
3. Melakukan penempatan tailing
di bawah laut (Submarine
Tailing Disposal)
Semua besaran Memerlukan lokasi khusus
dan berpotensi menimbulkan
dampak berupa perubahan
batimetri, ekosistem pesisir
dan laut, mengganggu alur
pelayaran dan proses-proses
alamiah di daerah pantai
termasuk menurunnya
produktivitas kawasan yang
dapat menimbulkan dampak
sosial, ekonomi, dan
kesehatan terhadap nelayan
dan masyarakat sekitar.
4. Melakukan pengolahan bijih
dengan proses sianidasi atau
amalgamasi
Semua besaran Sianida dan air raksa
merupakan Bahan Berbahaya
dan Beracun (B3) yang
berpotensi menimbulkan
pencemaran air permukaan,
air tanah dan udara.

B. MINYAK DAN GAS BUMI
1.
Eksploitasi Migas dan
Pengembangan Produksi

a Di darat:
- Lapangan minyak

• 5.000 BOPD


ƒ Potensi menimbulkan
limbah B3 dari lumpur
pengeboran.
ƒ Potensi ledakan.
2494
420
.
22
ƒ Pencemaran udara, air dan
tanah.
ƒ Potensi kerusakan
ekosistem.
ƒ Pertimbangan ekonomis.
- Lapangan gas

• 30 MMSCFD

ƒ Potensi menimbulkan
limbah B3 dari lumpur
pengeboran.
ƒ Potensi ledakan.
ƒ Pencemaran udara, air dan
tanah.
ƒ Pertimbangan ekonomis.
.

b Di laut
- Lapangan Minyak
- Lapangan Gas


• 15.000 BOPD
• 90 MMSCFD
jumlah total
lapangan semua
sumur

ƒ Potensi menimbulkan
limbah B3 dari lumpur
pengeboran.
ƒ Potensi ledakan.
ƒ Pencemaran udara, air.
ƒ Pertimbangan ekonomis.
ƒ Perubahan Ekosistem laut.
2. Transmisi MIGAS di laut
- Panjang, atau
- Bertekanan

• 100 km
• 16 bar

ƒ Termasuk distribusinya
dilakukan dari rumah ke
rumah.
ƒ Pemanfaatan lahan yang
tumpang tindih dengan
aktifitas nelayan dianggap
cukup luas lintas
kabupaten/kota juga dapat
mengganggu aktivitas
nelayan.
ƒ Penyiapan area konstruksi
dapat menimbulkan
gangguan terhadap daerah
sensitif.
ƒ Pengoperasian pipa rawan
terhadap gangguan
aktivitas lalu lintas kapal
buang sauh, penambangan
pasir.
ƒ Tekanan operasi pipa
cukup tinggi sehingga
berbahaya terhadap
kegiatan/aktifitas nelayan,
tambang pasir dan alur
pelayaran.
2495
421
.
23
3. Pembangunan kilang:
- LPG
- LNG
- Minyak



t 50 MMSCFD
t 550 MMSCFD
t 10.000 BOPD

ƒ Potensi konflik sosial.
ƒ Merupakan industri
strategis.
ƒ Potensi dampak dari
sarana penunjang khusus.
ƒ Proses pengolahan
menggunakan bahan yang
berpotensi menghasilkan
limbah yang bersifat
turunan.
ƒ Berpotensi menghasilkan
limbah gas, padat dan cair
yang cukup besar.
ƒ Membutuhkan area yang
cukup luas.
ƒ Khusus LNG, berpotensi
menghasilkan limbah gas
H
2
S.
ƒ Potensi perubahan dan
gangguan sistem
geohidrologi.
ƒ Berpotensi mengubah
ekosistem yang lebih luas.
4.

Kilang minyak pelumas bekas
(termasuk fasilitas penunjang)

t 10.000 ton/tahun

ƒ Potensi konflik sosial.
ƒ Merupakan industri
strategis.
ƒ Potensi dampak dari
sarana penunjang khusus.
ƒ Proses pengolahan
menggunakan bahan yang
berpotensi menghasilkan
limbah yang bersifat
turunan.
ƒ Berpotensi menghasilkan
limbah gas, padat dan cair
yang cukup besar.
ƒ Membutuhkan area yang
cukup luas.
ƒ Potensi perubahan dan
gangguan sistem
geohidrologi.

C. LISTRIK DAN
PEMANFAATAN ENERGI

1.

Pembangunan jaringan
transmisi
> 150 kV

ƒ Keresahan masyarakat
karena harga tanah turun
2496
422
.
24
ƒ Adanya medan magnet
dan medan listrik.
ƒ Aspek sosial, ekonomi dan
budaya terutama pada
pembebasan lahan dan
keresahan masyarakat.
2.


Pembangunan
a. PLTD/PLTG/PLTU/PLTGU

• 100 MW (dalam
satu lokasi)


Berpotensi menimbulkan
dampak pada:
ƒ Aspek fisik kimia,
terutama pada kualitas
udara (emisi, ambient dan
kebisingan) dan kualitas
air (ceceran minyak
pelumas, limbah bahang)
serta air tanah.
ƒ Aspek sosial, ekonomi dan
budaya, terutama pada saat
pembebasan lahan dan
pemindahan penduduk.


b. Pembangunan PLTP
(pengembangan Panas Bumi)
• 55 MW

Berpotensi menimbulkan
dampak pada:
ƒ Aspek fisik-kimia,
terutama pada kualitas
udara (bau dan kebisingan)
dan kualitas air.
ƒ Aspek flora fauna.
ƒ Aspek sosial, ekonomi dan
budaya, terutama pada
pembebasan lahan.

c. Pembangunan PLTA dengan:
- Tinggi bendung, atau
- Luas genangan, atau
- Kapasitas daya (aliran
langsung)



• 15 m
• 200 ha
• 50 MW


ƒ Perubahan fungsi lahan.
ƒ Berpotensi menimbulkan
dampak pada:
- Aspek fisik-kimia,
terutama pada kualitas
udara (bau dan
kebisingan) dan
kualitas air.
- Aspek flora fauna.
- Aspek sosial, ekonomi
dan budaya, terutama
pada pembebasan
lahan.
ƒ Termasuk dalam kategori
“large dam” (bendungan
besar).
2497
423
.
25
ƒ Kegagalan bendungan
(dam break), akan
mengakibatkan gelombang
banjir (flood surge) yang
sangat potensial untuk
merusak lingkungan di
bagian hilirnya.
ƒ Pada skala ini dibutuhkan
spesifikasi khusus baik
bagi material dan desain
konstruksinya.
ƒ Pada skala ini diperlukan
quarry/burrow area yang
besar, sehingga berpotensi
menimbulkan dampak.
ƒ Dampak pada hidrologi.



d.Pembangunan pembangkit
listrik dari jenis lain (antara
lain: OTEC (Ocean Thermal
Energy Conversion), Surya,
Angin, Biomassa,
Gambut,dan lain-lain)

• 10 MW

ƒ Membutuhkan areal yang
sangat luas.
ƒ Dampak visual (pandang).
ƒ Dampak kebisingan.
ƒ Khusus penggunaan
gambut berpotensi
menimbulkan gangguan
terhadap ekosistem
gambut.

J. Bidang Pariwisata

Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap
ekosistem, hidrologi, bentang alam dan potensi konflik sosial.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. a. Kawasan Pariwisata
b.Taman Rekreasi
Semua besaran
> 100 ha
Berpotensi menimbulkan
dampak berupa perubahan
fungsi lahan/kawasan,
gangguan lalu lintas,
pembebasan lahan, dan
sampah.
2. Lapangan golf
(tidak termasuk driving range)

Semua besaran Berpotensi menimbulkan
dampak dari penggunaan
pestisida/herbisida, limpasan
air permukaan (run off), serta
kebutuhan air yang relatif
besar.
2498
424
.
26
K. Bidang Pengembangan Nuklir

Secara umum, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan
penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan risiko radiasi.
Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan
ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
Pembangunan dan
pengoperasian reaktor nuklir:

a. Reaktor Penelitian
- Daya

> 100 kW
Potensi dampak
pengoperasian reaktor
penelitian dengan daya < 100
kW terbatas pada lokasi
reaktor.
1
b.Reaktor Daya (PLTN) Semua instalasi ƒ Keamanan konstruksi.
ƒ Berisiko tinggi.
ƒ Dampak radiasi pada tahap
decomisioning (pasca
operasi).
ƒ Transportasi,
penyimpanan, pengelolaan
dan pembuangan bahan
bakar bekas dan limbah
bahan radioaktif.
Pembangunan dan
pengoperasian instalasi nuklir
non reaktor

a. Fabrikasi bahan bakar nuklir
- Produksi

> 125 elemen
bakar/tahun

2.
b.Pengolahan dan pemurnian
uranium
- Produksi


> 100 ton yellow
cake/tahun
c. Pengelolaan limbah
radioaktif
(mencakup penghasil,
penyimpan, dan pengolahan)
Semua instalasi
d.Pembangunan Iradiator
(Kategori II s/d IV)
- Aktivitas sumber



> 37.000 TBq
(100.000 Ci)




ƒ Efluen gas radioaktif yang
terlepas dapat terakumulasi
dalam berbagai komponen
ekosistem.




ƒ Membutuhkan air
pendingin yang telah
didemineralisasi dalam
kolam beton. Air pendingin
juga berfungsi sebagai
perisai radiasi. Jika air
2499
425
.
27
















e.Produksi Radioisotop Semua instalasi
pendingin berkurang, akan
terjadi pengurangan perisai
terhadap radiasi. Jika air
pendingin kualitasnya
menurun, akan terjadi
korosi yang dapat
menyebabkan terlepasnya
zat radioaktif ke dalam air.
ƒ Semua tahapan dalam
proses berpotensi
mencemari dan
membahayakan lingkungan
dalam bentuk paparan
radiasi.

L. Bidang Pengelolaan Limbah B3

Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap
lingkungan dan kesehatan manusia, terutama kegiatan yang dipastikan akan
mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam
tabel. Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional
(konvensi basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat
seksama dan terkontrol.

No
Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. Pengumpulan, pemanfaatan,
pengolahan dan/atau
penimbunan limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3)
sebagai kegiatan utama

Berpotensi menimbulkan
dampak terhadap lingkungan
dan kesehatan manusia.
a. Setiap kegiatan pengumpulan
limbah B3 sebagai kegiatan
utama, tidak termasuk
kegiatan skala kecil seperti
pengumpul minyak kotor dan
slope oil, timah dan flux
solder, minyak pelumas
bekas, aki bekas, solvent
bekas, limbah kaca
terkontaminasi limbah B3.
Semua besaran


b.Setiap kegiatan pemanfaatan
limbah B3 sebagai kegiatan
utama.
Semua besaran


c.Setiap kegiatan pengolahan
limbah B3 sebagai kegiatan
utama.





2500
426
.
28
- Pengolahan dengan
insinerator.
- Pengolahan secara biologis
(land farming, biopile,
composting, bioventing,
biosparging, bioslurping,
alternate electron
acceptors, fitoremediasi).
Semua besaran

Semua besaran
e.Setiap kegiatan penimbunan
limbah B3 sebagai kegiatan
utama.
Semua besaran



M. Bidang Rekayasa Genetika

Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa genetik berpotensi
menimbulkan dampak terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem.

No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
1. Introduksi jenis-jenis tanaman,
hewan, dan jasad renik produk
bioteknologi hasil rekayasa
genetika
Semua besaran Lihat penjelasan diatas.
2. Budidaya produk bioteknologi
hasil rekayasa genetika
Semua besaran Lihat penjelasan diatas.


2501
427
.
29
Daftar Singkatan:

m = meter
m
2
= meter persegi
m
3
= meter kubik
km = kilometer
km
2
= kilometer persegi
ha = hektar
l = liter
dt = detik
kW = kilowatt
kWh = kilowatt hour
kV = kilovolt
MW = megawatt
TBq = Terra Becquerel
BOPD = barrel oil per day = minyak barrel per hari
MMSCFD = million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki
kubik per hari
DWT = dead weight tonnage = bobot mati
KK = kepala keluarga
LPG = Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan
LNG = Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan
ROW = right of way = daerah milik jalan (damija)
BOD = biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis
COD = chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi
DO = dissolved oxygen = oksigen terlarut
TSS = total suspended solid = total padatan tersuspensi
TDS = total dissolved solid = total padatan terlarut




Menteri Negara
Lingkungan Hidup,

ttd

Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,



Hoetomo, MPA.

2502
428
Lampiran II
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor :
Tanggal :


DAFTAR KAWASAN LINDUNG

Kawasan Lindung yang dimaksud dalam Penjelasan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun
1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dan Pasal 37 Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung,
adalah sebagai berikut:

1. Kawasan Hutan Lindung.
2. Kawasan Bergambut.
3. Kawasan Resapan Air.
4. Sempadan Pantai.
5. Sempadan Sungai.
6. Kawasan Sekitar Danau/Waduk.
7. Kawasan Sekitar Mata Air.
8. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Hutan Wisata,
Daerah Perlindungan Plasma Nutfah, dan Daerah Pengungsian Satwa).
9. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut, perairan
darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugusan karang atau terumbu karang dan atol
yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem).
10. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove).
11. Taman Nasional.
12. Taman Hutan Raya.
13. Taman Wisata Alam.


Menteri Negara
Lingkungan Hidup,

ttd

Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,



Hoetomo, MPA.
2503
429
Lampiran III
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup
Nomor :
Tanggal :


KRITERIA PENAPISAN JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
YANG TIDAK TERMASUK DALAM DAFTAR JENIS USAHA DAN/ATAU
KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI ANALISIS MENGENAI DAMPAK
LINGKUNGAN HIDUP

Penapisan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak terdapat dalam daftar jenis
rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

Langkah 1

Lakukan pengisian terhadap daftar pertanyaan berikut, terkait lokasi rencana usaha
dan/atau kegiatan:
Apakah lokasi rencana usaha dan/atau
kegiatan:
Ya/Tidak/Ragu-ragu
Jelaskan secara ringkas
Apakah hal tersebut akan
berdampak penting?
Ya/Tidak/Ragu-ragu
Kenapa?
1. Akan mengubah tata guna lahan
yang ada?

2. Akan mengubah kelimpahan,
kualitas dan daya regenerasi
sumber daya alam yang berada di
lokasi?

3. Akan mengubah kapasitas
absorbsi lingkungan alami,
khususnya daerah berikut?
a. Lahan basah
b. Daerah pesisir
c. Area pegunungan dan hutan
d. Kawasan lindung alam dan
taman nasional
e. Kawasan yang dilindungi oleh
peraturan perundangan yang
berlaku
f. Daerah yang memiliki kualitas
lingkungan yang telah
melebihi batas ambang yang
ditetapkan
g. Daerah berpopulasi padat
h. Lansekap yang memiliki nilai
penting sejarah, budaya atau
arkeologi

2504
430
Langkah 2

Lakukan pengisian terhadap daftar pertanyaan berikut untuk menilai karakteristik rencana
usaha dan/atau kegiatan.

Apakah rencana usaha dan/atau
kegiatan:
Ya/Tidak/Ragu-ragu
Jelaskan secara ringkas
Apakah hal tersebut akan
berdampak penting?
Ya/Tidak/Ragu-ragu
Kenapa?
1. Akan mengubah bentuk lahan dan
bentang alam?

2. Akan mengeksploitasi sumber
daya alam, baik yang terbaharui
maupun yang tak terbaharui?

3. Dalam proses dan kegiatannya
akan menimbulkan pemborosan,
pencemaran dan kerusakan
lingkungan hidup, serta
kemerosotan sumber daya alam
dalam pemanfaatannya?

4. Proses dan kegiatan yang hasilnya
dapat mempengaruhi lingkungan
alam, lingkungan buatan, serta
lingkungan sosial dan budaya?

5. Proses dan kegiatan yang hasilnya
akan mempengaruhi pelestarian
kawasan konservasi sumber daya
alam dan/atau perlindungan cagar
budaya?

6. Akan mengintroduksi jenis
tumbuh-tumbuhan, jenis hewan,
dan jasad renik?

7. Akan membuat dan menggunakan
bahan hayati dan non-hayati?

8. Akan menerapkan teknologi yang
diperkirakan mempunyai potensi
besar untuk mempengaruhi
lingkungan hidup?

9. Akan mempunyai risiko tinggi,
dan/atau mempengaruhi
pertahanan negara?


Jawaban “YA” merupakan indikasi bahwa jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut
wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).





2505
431
Langkah 3

Lakukan penentuan dampak penting untuk setiap jawaban ”YA” dari daftar pertanyaan
pada Langkah 1 dan Langkah 2 menggunakan kriteria penentuan dampak penting berikut:

1. jumlah manusia yang akan terkena dampak;
2. luas wilayah persebaran dampak;
3. intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
4. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak;
5. sifat kumulatif dampak; dan
6. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.

Langkah 4

Pelajari apakah dalam 10 tahun terakhir hasil implementasi pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup dari jenis usaha dan/atau kegiatan dimaksud menunjukkan bahwa:
a. usaha dan/atau kegiatan dimaksud senantiasa menimbulkan dampak penting negatif
yang hampir serupa di seluruh wilayah Indonesia.
b. tidak tersedia ilmu pengetahuan dan teknologi, tata cara atau tata kerja untuk
mengelola dampak penting negatif usaha dan/atau kegiatan dimaksud, baik yang
bersifat terintegrasi dengan proses produksi maupun terpisah dari proses produksi.

Langkah 5

Bila hasil analisis langkah 4 menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir dampak
lingkungan usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak dikenali karakter dampaknya dan tidak
tersedia ilmu pengetahuan, teknologi dan tata cara untuk mengatasi dampak penting
negatifnya, maka usaha dan/atau kegiatan dimaksud yang semula tergolong tidak wajib
AMDAL dapat digolongkan sebagai usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi
dengan AMDAL.



Menteri Negara
Lingkungan Hidup,

ttd

Ir. Rachmat Witoelar.
Salinan sesuai dengan aslinya
Deputi MENLH Bidang
Penaatan Lingkungan,



Hoetomo, MPA.
2506
432
PEFATUFAN MENTEFI NECAFA LINCKUNCAN HIDUP
NOMOF 12 TAHUN 2007
TENTANC
DOKUMEN PENCELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINCKUNCAN HIDUP DACI
USAHA DAN/ATAU KECIATAN YANC TIDAK MEMILIKI DOKUMEN
PENCELOLAAN LINCKUNCAN HIDUP
MENTEFI NECAFA LINCKUNCAN HIDUP,
Mcninlang . a. laIwa  sciia¡  rcncana  usaIa  dan/aiau  lcgiaian  yang
ncn¡unyai dan¡al icrIada¡  linglungan  Iidu¡  wajil
ncnilili doluncn ¡cngclolaan linglungan Iidu¡;
l. laIwa  ¡ada  lcnyaiaannya  nasiI  icrda¡ai  usaIa
dan/aiau lcgiaian yang ncn¡unyai dan¡al icrIada¡
linglungan  Iidu¡  dan  sudaI  lcrjalan, nanun  iidal
ncn¡unyai doluncn ¡cngclolaan linglungan Iidu¡;
c. laIwa  lcrdasarlan  lcwcnangan  Mcnicri  Ncgara
Linglungan  Hidu¡,  ¡crlu dianlil  suaiu  lclijalan
yang da¡ai dijadilan sclagai acuan dan dasar Iulun
lagi  usaIa  dan/aiau  lcgiaian  yang  iclaI  lcrjalan
icia¡i iidal ncnilili doluncn ¡cngclolaan linglungan
Iidu¡;
d. laIwa  lcrdasarlan  ¡criinlangan  sclagainana
dinalsud  ¡ada  Iuruf  a, Iuruf l,  dan  Iuruf c  ¡crlu
ncncia¡lan Pcraiuran  Mcnicri  Ncgara Linglungan
Hidu¡ icniang Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan
Linglungan  Hidu¡ Dagi UsaIa  dan/aiau Kcgiaian
Yang Tidal Mcnilili Doluncn Pcngclolaan
Linglungan Hidu¡;
Mcngingai . 1. Undang-Undang  Nonor  23  TaIun  1997  icniang
Pcngclolaan  Linglungan  Hidu¡  (Lcnlaran  Ncgara
Fc¡ullil  Indoncsia  TaIun  1997  Nonor  68, TanlaIan
Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia Nonor 3699};
SALINAN
2507
433
2. Undang-Undang  Nonor  32  TaIun  2004  icniang
PcncriniaIan  DacraI  (Lcnlaran  Ncgara  Fc¡ullil
Indoncsia TaIun  2004 Nonor  125,  TanlaIan  Lcnlaran
Ncgara  Fc¡ullil  Indoncsia  Nonor  4437}  sclagainana
iclaI  diulaI  dcngan  Undang-Undang  Nonor  8  TaIun
2005  icniang  Pcncia¡an Pcraiuran  PcncriniaI  Pcngganii
Undang-Undang Nonor 3 TaIun 2005 icniang PcrulaIan
aias  Undang-Undang  Nonor  32  TaIun  2004  icniang
PcncriniaIan  DacraI  ncnjadi  Undang-Undang
(Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia TaIun 2005 Nonor
108,  TanlaIan  Lcnlaran  Ncgara  Fc¡ullil Indoncsia
Nonor 4548};
3. Pcraiuran  PcncriniaI  Nonor  27 TaIun  1999  icniang
Analisis Mcngcnai Dan¡al Linglungan Hidu¡ (Lcnlaran
Ncgara  Fc¡ullil  Indoncsia  TaIun  1999  Nonor  59,
TanlaIan  Lcnlaran  Ncgara  Fc¡ullil  Indoncsia  Nonor
3838};
4. Pcraiuran  PcncriniaI  Nonor  38 TaIun  2007  icniang
Pcnlagian Urusan  PcncriniaIan  aniara  PcncriniaI,
PcncriniaIan DacraI Provinsi, dan PcncriniaIan DacraI
Kalu¡aicn/Koia  (Lcnlaran  Ncgara  Fc¡ullil  Indoncsia
TaIun  2007  Nonor  82,  TanlaIan  Lcnlaran  Ncgara
Fc¡ullil Indoncsia Nonor 4737};
5. Pcraiuran  Prcsidcn  Fc¡ullil  Indoncsia  Nonor  9  TaIun
2005  icniang  Kcdudulan,  Tugas,  Fungsi,  Susunan
Organisasi,  dan  Taia  Kcrja  Kcncnicrian  Ncgara  Fc¡ullil
Indoncsia,  sclagainana  iclaI  diulaI  icralIir  dcngan
Pcraiuran Prcsidcn Nonor 94 TaIun 2006;
6. Kc¡uiusan Mcnicri Ncgara Nonor 86 TaIun 2002 icniang
Pcdonan  Pclalsanaan  U¡aya  Pcngclolaan  Linglungan
Hidu¡ dan U¡aya Pcnaniauan Linglungan Hidu¡;
MEMUTUSKAN.
Mcncia¡lan . PEFATUFAN  MENTEFI  NECAFA  LINCKUNCAN  HIDUP
TENTANC DOKUMEN  PENCELOLAAN  DAN  PEMANTAUAN
LINCKUNCAN HIDUP DACI USAHA DAN/ATAU KECIATAN
YANC  TIDAK  MEMILIKI  DOKUMEN  PENCELOLAAN
LINCKUNCAN HIDUP.
2508
434
Pasal 1
Dalan Pcraiuran Mcnicri ini yang dinalsud dcngan.
1. Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡ yang
sclanjuinya disclui DPPL adalaI suaiu doluncn yang lcrisi infornasi dan
daia ncngcnai  suaiu  usaIa  dan/aiau  lcgiaian  scria  lajian  cvaluasi
icniang  dan¡al  dari  usaIa  dan/aiau  lcgiaian  yang  iclaI lcrjalan
icrIada¡  linglungan  Iidu¡  scria  ncnuai  langlaI-langlaI  ¡cngclolaan
dan  ¡cnaniauan  uniul  ncnccgaI  ¡cnccnaran  dan/aiau  ¡crusalan
linglungan Iidu¡.
2. UsaIa  dan/aiau  lcgiaian  yang  iclaI  lcrjalan  adalaI usaIa dan/aiau
lcgiaian yang  iclaI  nclalulan  lcgiaian fisil lail dari  iaIa¡   lonsirulsi
san¡ai dcngan o¡crasi.
3. Doluncn ¡cngclolaan linglungan Iidu¡  adalaI  doluncn  yang  lcru¡a
Analisis  Mcngcnai  Dan¡al  Linglungan  Hidu¡  (AMDAL} aiau U¡aya
Pcngclolaan Linglungan Hidu¡ dan U¡aya Pcnaniauan Linglungan Hidu¡
(UKL-UPL}.
4. Mcnicri  adalaI  Mcnicri  yang  ncnyclcnggaralan  urusan  ¡cncriniaIan  di
lidang linglungan Iidu¡.
Pasal 2
(1} Pcnanggungjawal  usaIa  dan/aiau  lcgiaian yang  sudaI  lcrjalan nanun
iidal  ncnilili  doluncn  ¡cngclolaan  linglungan Iidu¡ wajil  ncnyusun
DPPL.
(2} Dalan nclalulan  ¡cnyusunan DPPL, ¡cnanggungjawal  usaIa  dan/aiau
lcgiaian da¡ai ncninia laniuan lonsulian.
(3} Pcnyusun DPPL sclagainana  dinalsud  ¡ada  ayai  (1}  wajil  ncnilili
scriifilai ¡claiiIan ¡cnyusun AMDAL dan ncnilili ¡cngciaIuan di lidang
rcncana usaIa dan/aiau lcgiaian yang alan dilaji.
Pasal 3
(1} Taia  lalsana  ¡cnyusunan DPPL  adalaI  sclagainana  icrcaniun  dalan
Lan¡iran I Pcraiuran Mcnicri ini.
(2} Fornai ¡cnyusunan DPPL adalaI sclagainana icrcaniun dalan Lan¡iran
II Pcraiuran Mcnicri ini.
2509
435
Pasal 4
Pcnanggungjawal  usaIa  dan/aiau  lcgiaian  sclagainana  dinalsud  dalan
Pasal  2  ayai  (1}  ncngajulan  ¡crnoIonan DPPL lc¡ada Mcnicri, Culcrnur,
aiau Du¡aii/Waliloia scsuai dcngan lcwcnangannya.
Pasal 5
(1} Mcnicri,  Culcrnur,  aiau  Du¡aii/Waliloia  nclalulan  ¡cnilaian  icrIada¡
Doluncn DPPL yang diajulan olcI ¡cnanggungung jawal usaIa dan/aiau
lcgiaian scsuai dcngan lcwcnangannya.
(2} Mcnicri nclalulan ¡cnilaian DPPL icrIada¡.
a. usaIa dan/aiau  lcgiaian  yang  ¡oicnsial  lcrdan¡al  ncgaiif  ¡ada
nasyaralai  luas dan/aiau  ncnyanglui  ¡criaIanan  dan  lcananan
sc¡crii. cls¡loiiasi  ninyal  dan  gas,  ¡cnlangunan  lilang  ninyal,
¡cnlangunan  landar  udara  inicrnasional,  ¡cnlangunan  ¡claluIan
sanudcra, dan/aiau ¡cngolaIan linlaI icr¡adu DaIan DcrlaIaya dan
Dcracun (D3};
l. usaIa dan/aiau  lcgiaian  yang  lcrlolasi lcliI  dari  saiu  wilayaI
¡rovinsi;
c. usaIa  dan/aiau  lcgiaian yang  lcrlolasi di wilayaI  laui  di  aias  12
(dualclas} nil; dan
d. usaIa dan/aiau lcgiaian yang lcrada di linias laias ncgara.
(3} Culcrnur  nclalulan  ¡cnilaian DPPL icrIada¡  usaIa  dan/aiau  lcgiaian
yang lcrada.
a. di lolasi lcliI dari saiu wilayaI lalu¡aicn/loia;
l. di linias lalu¡aicn/loia; dan
c. di  wilayaI  laui ¡aling  jauI  12 (dualclas}  nil  laui  diulur  dari  garis
¡aniai  lc  araI  laui  lc¡as  dan/aiau  lc  araI  ¡crairan  lc¡ulauan  uniul
¡rovinsi  dan  1/3  (sc¡criiga}  dari  wilayaI  lcwcnangan  ¡rovinsi  uniul
lalu¡aicn/loia.
(4} Du¡aii/Waliloia  nclalulan  ¡cnilaian DPPL icrIada¡ usaIa  dan/aiau
lcgiaian  di  luar  lcwcnangan  Mcnicri  dan/aiau  Culcrnur  sclagainana
dinalsud ¡ada ayai (2} dan ayai (3}.
(5} Mclanisnc DPPL iidal dilcrlalulan  icrIada¡ usaIa  dan/aiau lcgiaian
¡cnlangunan  dan  ¡cngo¡crasian  rcalior  nullir,  ¡cnlangunan  dan
¡cngo¡crasian  insialasi  nullir  non  rcalior,  sulnarinc  iailing,  iclnologi
rclayasa  gcnciila,  ¡cnanlangan  laIan  galian  radioaliif, dan
¡cnlangunan indusiri anunisi dan laIan ¡clcdal.
2510
436
Pasal 6
Mcnicri  da¡ai  nclalulan  ¡cngawasan  icrIada¡ ¡clalsanaan  ¡cnilaian  DPPL
yang  dilalulan olcI Culcrnur  dan/aiau  Du¡aii/Waliloia sclagainana
dinalsud dalan Pasal 5 ayai (3} dan ayai (4}.
Pasal 7
Pcjalai  ¡cnlcri  izin  wajil  ncncaniunlan  ¡crsyaraian dan  lcwajilan
sclagainana icrcaniun dalan DPPL dalan izin usaIa dan/aiau lcgiaian.
Pasal 8
Pcnyusunan  DPPL  iidal  ncnlclaslan  ¡cnanggungjawal  usaIa  dan/aiau
lcgiaian  dari  sanlsi  Iulun  scsuai dcngan  ¡craiuran  ¡crundang-undangan
a¡alila  diicnulan  adanya  ¡cnccnaran  dan/aiau  lcrusalan  linglungan
Iidu¡ alilai dari usaIa dan/aiau lcgiaiannya.
Pasal 9
Scgala  lcniul  ¡cnliayaan  dalan  ¡cnyusunan dan  ¡cnilaian DPPL
dilclanlan lc¡ada ¡cnanggungjawal usaIa dan/aiau lcgiaian.
Pasal 10
Pcraiuran Mcnicri ini nulai lcrlalu ¡ada ianggal diicia¡lan.
Diicia¡lan di Jalaria
¡ada ianggal .25 Sc¡icnlcr 2007
Mcnicri Ncgara
Linglungan Hidu¡,
iid
Ir. FacInai Wiioclar.
2511
437
Lan¡iran I
Pcraiuran Mcnicri Ncgara
Linglungan Hidu¡
Nonor . 12 TaIun 2007
Tanggal . 25 Sc¡icnlcr 2007
TATA LAKSANA PENYUSUNAN DOKUMEN PENCELOLAAN DAN PEMANTAUAN
LINCKUNCAN HIDUP (DPPL}
1 Kcncnicrian  Ncgara  Linglungan  Hidu¡  (KLH}  ncnlcrilan  sosialisasi
lc¡ada Provinsi/Kalu¡aicn/Koia lcrlaiian dcngan rcncana ¡cnlcrlaluan
Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  lagi
lcgiaian  yang  iclaI  lcrjalan  icia¡i  iidal  ncnilili  doluncn  ¡cngclolaan
linglungan.
2 Provinsi/Kalu¡aicn/Koia  nclalui  insiansi  yang  ncngclola  linglungan
Iidu¡  diwajillan  nclalulan  sosialisasi  dan  invcniarisasi  icrIada¡  usaIa
dan/aiau  lcgiaian  yang  icrnasul  dalan  lriicria  wajil  ncnyusun
Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan Hidu¡ (DPPL}.
3 Hasil  invcniarisasi  olcI  Kalu¡aicn/Koia  disan¡ailan  lc¡ada  Provinsi.
Sclanjuinya ¡rovinsi alan ncnvcrifilasi Iasil invcniarisasi yang dilalulan
olcI  Kalu¡aicn/Koia  sclclun  disan¡ailan  lc¡ada  Kcncnicrian  Ncgara
Linglungan Hidu¡.
4 TcrIada¡  Iasil  vcrifilasi  dafiar  invcniarisasi  yang  dilalulan  olcI  ¡rovinsi,
Kcncnicrian  Ncgara  Linglungan  Hidu¡  alan  ncngcvaluasi  dan
ncnlcrilan  ¡cngcsaIan.  Dcrdasarlan  Iasil  ¡cngcsaIan  dafiar
invcniarisasi  icrsclui,  Kcncnicrian  Ncgara  Linglungan  Hidu¡  alan
ncncrliilan  Surai  PcriniaI  ncnyusun Doluncn  Pcngclolaan  dan
Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  yang  disan¡ailan  lc¡ada
Provinsi/Kalu¡aicn/Koia.
5 Pclalsanaan  ¡cnilaian  iclnis Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan
Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  dilalsanalan  olcI  insiansi  yang  ncngclola
linglungan  Iidu¡  di  iinglai  Pusai,  Provinsi,  aiau  Kalu¡aicn/Koia  scsuai
lcwcnangannya. Uniul cfisicnsi dan cfcliifiias, ¡cnilaian diaraIlan uniul
dilalulan  olcI  unii  lcrja  yang  sclana  ini    nclalulan  ¡cnilaian
AMDAL/UKL-UPL.  Pcnilaian Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan
Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  iidal  dilalulan  olcI  Konisi  Pcnilai  AMDAL
larcna Konisi Pcnilai AMDAL sudaI ncnilili iugas icrscndiri yang s¡csifil
dari Culcrnur/Du¡aii/Waliloia.
6 Pcnanggung  jawal  usaIa  dan/aiau  lcgiaian  yang  di¡criniaIlan  uniul
ncnyusun Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡
2512
438
(DPPL}  nclalulan  lajian  scsuai  fornai Doluncn  Pcngclolaan  dan
Pcnaniauan Linglungan Hidu¡ (DPPL}.
7 Hasil  ¡cnyusunan Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan  Linglungan
Hidu¡ (DPPL} discraIlan lc¡ada insiansi yang ncngclola linglungan Iidu¡
uniul  dilalulan  ¡cnilaian. A¡alila  di¡crlulan,  insiansi  yang  ncngclola
linglungan  Iidu¡  da¡ai  nclalulan  vcrifilasi  la¡angan  uniul  ncnunjang
¡roscs ¡cnilaian
8 Dagi  ¡roscs  ¡cnilaian  yang  dilalulan  olcI  Kalu¡aicn/Koia,  diwajillan
uniul nclilailan insiansi yang ncngclola linglungan Iidu¡ di Provinsi.
9 Hasil  ¡cnilaian Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡
(DPPL} yang dilalulan olcI insiansi linglungan Iidu¡ dan iclaI ncncnuIi
¡crsyaraian, disan¡ailan lc¡ada Mcnicri aiau Culcrnur aiau Du¡aii aiau
Waliloia  scsuai  lcwcnangannya  uniul  lcnudian  dilcluarlan  Surai
Kc¡uiusan aias Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan Hidu¡
(DPPL}. Surai  Kc¡uiusan  aias Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan
Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  yang diicrliilan  olcI  Provinsi  dan
Kalu¡aicn/Koia  diicnluslan  lc¡ada  Mcnicri  Ncgara  Linglungan  Hidu¡.
Scdanglan  Surai  Kc¡uiusan  aias  ¡cnilaian Doluncn  Pcngclolaan  dan
Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  yang  diicrliilan  Kalu¡aicn/Koia
diicnluslan lc¡ada Provinsi.
10 Scnua  langlaI-langlaI  ¡cngclolaan  dan  ¡cnaniauan  linglungan  Iidu¡
yang icrcaniun dalan Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan
Hidu¡  (DPPL}  di¡crlalulan  sciara  dcngan  FKL-FPL  dari  Iasil  ¡roscs
AMDAL.  Dcngan  dcnilian Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan
Linglungan Hidu¡ (DPPL} wajil dicaniunlan dalan lcicniuan  izin usaIa
dan/aiau lcgiaian.
11 ScluruI  lcwajilan  yang  icrcaniun  dalan Doluncn  Pcngclolaan dan
Pcnaniauan  Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  wajil  dilalulan  olcI
¡cnanggungjawal usaIa dan/aiau lcgiaian dan dila¡orlan sccara lcrlala
lc¡ada  insiansi  yang  ncngclola  linglungan  Iidu¡  scsuai  dcngan
lcwcnangannya.
12 Pclalsanaan  nclanisnc Doluncn  Pcngclolaan  dan  Pcnaniauan
Linglungan  Hidu¡  (DPPL}  lcrlalu  cfcliif  2  (dua}  iaIun  scjal  ianggal
diicia¡lan.
Mcnicri Ncgara
Linglungan Hidu¡,
iid
Ir. FacInai Wiioclar.
2513
439
Lan¡iran II
Pcraiuran Mcnicri Ncgara
Linglungan Hidu¡
Nonor . 12 TaIun 2007
Tanggal . 25 Sc¡icnlcr 2007
FOFMAT DOKUMEN PENCELOLAAN DAN PEMANTAUAN LINCKUNCAN
(DPPL}
Fornai Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan Hidu¡ (DPPL}
dalan ¡cdonan ini ncru¡alan ¡crsyaraian nininal yang wajil dinuai dalan
¡cnyusunan Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan Hidu¡
(DPPL}. Dcngan dcnilian, ¡cnyusun dianjurlan uniul nclcngla¡i Doluncn
Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan Hidu¡ (DPPL} dcngan infornasi lain
yang rclcvan dan ncnyusunnya dalan sisicnaiila yang logis. Pcnyusun da¡ai
juga ncnlandinglan dcngan ¡cdonan ¡cnyusunan AMDAL dan/aiau
¡cnyusunan UKL UPL.
Doluncn Pcngclolaan dan Pcnaniauan Linglungan Hidu¡ (DPPL}  sciidalnya
ncnuai Ial-Ial sclagai lcrilui.
1. PcndaIuluan
Pada  lal  ini    diinfornasilan  indcniiias  ¡crusaIaan,  ¡crizinan  yang  iclaI
dinilili dan laiar lclalang lcgiaian.
2. Fuang Linglu¡
Pada  lal  ini  diinfornasilan  dcslri¡si  lcgiaian  uiana  dan  lcgiaian
¡cndulung yang ncli¡uii.
a. Kcgiaian yang iclaI lcrjalan;
l. Pcngclolaan  dan  ¡cnaniauan  linglungan  yang  ¡crnaI  dilalulan
(a¡alila  iidal  ¡crnaI  nclalulan  ¡cngclolaan  linglungan,  Ial  ini   agar
diinfornasilan di dalan lagian ini}.
Kajian cvaluasi icrIada¡ lcgiaian yang lcrjalan
Pada  lal  ini  dicaniunlan  dan¡al  linglungan  yang  iinlul  dari  usaIa
dan/aiau lcgiaian yang scdang dan alan lcrjalan.
Kajian cvaluasi dan¡al dilalulan dalan rangla ncncniulan (luaniifilasi}
sclcra¡a jauI/lcsar langlaI-langlaI ¡cngclolaan dan ¡cnaniauan
linglungan yang Iarus dilalulan uniul sciia¡ dan¡al. Kuaniifilasi
dan¡al ini Iarus dilaji dcngan ncnggunalan nciodc ilniaI yang scsuai
2514
440
uniul sciia¡ dan¡al. SalaI saiu conioI scdcrIana adalaI. Iasil
¡cnguluran DOD alan ncncniulan dincnsi unii ¡cngolaIan linlaI cair
yang di¡crlulan aiau Iasil ¡cnguluran/¡crIiiungan volunc san¡aI ¡adai
alan ncncniulan dincnsi icn¡ai ¡cninlunan.
Hasil cvaluasi sclanjuinya ncnjadi araIan lagi rcncana ¡cngclolaan
linglungan dan rcncana ¡cnaniauan linglungan.
4. Fcncana  Pcngclolaan  Linglungan  Hidu¡  dan  Fcncana  Pcnaniauan
Linglungan Hidu¡.
Pada Fcncana Pcngclolaan Linglungan Hidu¡ ini diurailan dan dilcngla¡i
dcngan nairil yang lcrisi.
a. Dan¡al  yang  diiinlullan  dari  lcgiaian  yang  ncncalu¡  dan¡al  dan
sunlcr dan¡al;
l. Tolol  ulur  dan¡al,  uniul  ncngulur  lon¡oncn  yang  icrlcna  dan¡al
lcrdasarlan lalu nuiu siandar;
c. Tujuan rcncana ¡cngclolaan linglungan Iidu¡;
d. U¡aya ¡cngclolaan linglungan Iidu¡;
c. Lolasi lcgiaian ¡cngclolaan linglungan (¡cia, slcisa, ganlar};
f. Pcriodc  ¡cngclolaan  linglungan  yang  ncnuai  la¡an  dan  lcra¡a  lana
lcgiaian ¡cngclolaan dilalsanalan;
g. Insiiiusi ¡cngclolaan linglungan Iidu¡, yang ncnuai.
1} Pclalsana  yang  lcrianggungjawal  nclalsanalan  ¡cngclolaan
linglungan;
2} Pcngawas ¡cngclolaan linglungan.
Pada Fcncana Pcnaniauan Linglungan Hidu¡ (FPL} diurailan dan
dilcngla¡i dcngan nairil yang lcrisi.
a. Dan¡al  yang  diiinlullan  dari  lcgiaian  yang  ncncalu¡  dan¡al  dan
sunlcr dan¡al,
l. Parancicr linglungan Iidu¡ yang di¡aniau
c. Tujuan rcncana ¡cnaniauan linglungan Iidu¡
2515
441
d. Mciodc ¡cnaniauan linglungan Iidu¡, yang ncnuai.
1} Mciodc ¡cngun¡ulan dan analisis daia;
2} Lolasi ¡cnaniauan linglungan Iidu¡;
3} Jangla waliu dan frclucnsi ¡cnaniauan.
c. Insiiiusi ¡cnaniauan linglungan Iidu¡, yang ncnuai.
1} Pclalsana  yang  lcrianggungjawal  nclalsanalan  ¡cnaniauan
linglungan;
2} Pcngawas ¡cnaniauan linglungan.
Mcnicri Ncgara
Linglungan Hidu¡,
iid
Ir. FacInai Wiioclar.
2516
442
SALINAN
PEFATUFAN MENTEFI NECAFA LINCKUNCAN HIDUP
NOMOF 05 TAHUN 2008
TENTANC
TATA KEFJA KOMISI PENILAI
ANALISIS MENCENAI DAMPAK LINCKUNCAN HIDUP
MENTEFI NECAFA LINCKUNCAN HIDUP,
Mcninlang. a. laIwa Kc¡uiusan Mcnicri Ncgara Linglungan Hidu¡
Nonor 40 TaIun 2000 icniang Pcdonan Taia Kcrja
Konisi Pcnilai Analisis Mcngcnai Dan¡al Linglungan
Hidu¡ yang ncru¡alan ¡clalsanaan lcicniuan Pasal 8
ayai (7} Pcraiuran PcncriniaI Nonor 27 TaIun 1999
icniang Analisis Mcngcnai Dan¡al Linglungan Hidu¡,
saai ini dinilai iidal scsuai lagi dcngan ¡crlcnlangan
lcadaan scIingga di¡andang ¡crlu uniul dilalulan
¡cnycn¡urnaan;
l. laIwa uniul nclalsanalan lcicniuan Pasal 9
Pcraiuran PcncriniaI Nonor 38 TaIun 2007 icniang
Pcnlagian Urusan PcncriniaIan Aniara PcncriniaI,
PcncriniaIan DacraI Provinsi, dan PcncriniaIan
DacraI Kalu¡aicn/Koia, ¡crlu ¡cnjalaran lcliI lanjui
lcicniuan yang lcrlaiian dcngan Analisis Mcngcnai
Dan¡al Linglungan Hidu¡;
c. laIwa lcrdasarlan ¡criinlangan sclagainana
dinalsud dalan Iuruf a dan Iuruf l, ¡crlu
ncncia¡lan Pcraiuran Mcnicri Ncgara Linglungan
Hidu¡ icniang Taia Kcrja Konisi Pcnilai Analisis
Mcngcnai Dan¡al Linglungan Hidu¡;
Mcngingai. 1. Undang-Undang Nonor 23 TaIun 1997 icniang
Pcngclolaan Linglungan Hidu¡ (Lcnlaran Ncgara
Fc¡ullil Indoncsia TaIun 1997 Nonor 68, TanlaIan
Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia Nonor 3699};
2. Undang-Undang Nonor 32 TaIun 2004 icniang
PcncriniaIan DacraI (Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil
Indoncsia TaIun 2004 Nonor 125, TanlaIan
Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia Nonor 4437}
sclagainana iclaI diulaI dcngan Undang-Undang
Nonor 8 TaIun 2005 icniang Pcncia¡an Pcraiuran
PcncriniaI Pcngganii Undang-Undang Nonor 3 TaIun
2005 icniang PcrulaIan Aias Undang-Undang Nonor
32 TaIun 2004 icniang PcncriniaIan DacraI ncnjadi
Undang-Undang (Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia
TaIun 2005 Nonor 108, TanlaIan Lcnlaran Ncgara
Fc¡ullil Indoncsia Nonor 4548};
2517
443
3. Pcraiuran PcncriniaI Nonor 27 TaIun 1999 icniang
Analisis Mcngcnai Dan¡al Linglungan Hidu¡
(Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil Indoncsia TaIun 1999
Nonor 59, TanlaIan Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil
Indoncsia Nonor 3838};
4. Pcraiuran PcncriniaI Nonor 38 TaIun 2007 icniang
Pcnlagian Urusan PcncriniaIan Aniara PcncriniaI,
PcncriniaIan DacraI Provinsi, dan PcncriniaIan
DacraI Kalu¡aicn/Koia (Lcnlaran Ncgara Fc¡ullil
Indoncsia TaIun 2007 Nonor 82, TanlaIan Lcnlaran
Ncgara Fc¡ullil Indoncsia Nonor 4737};
5. Pcraiuran Prcsidcn Fc¡ullil Indoncsia Nonor 9 TaIun
2005 icniang Kcdudulan, Tugas, Fungsi, Susunan
Organisasi, dan Taia Kcrja Kcncnicrian Ncgara
Fc¡ullil Indoncsia sclagainana iclaI lclcra¡a lali
diulaI icralIir dcngan Pcraiuran Prcsidcn Fc¡ullil
Indoncsia Nonor 94 TaIun 2006;
6. Pcraiuran Mcnicri Ncgara Linglungan Hidu¡ Nonor 11
TaIun 2006 icniang Jcnis UsaIa dan/aiau Kcgiaian
Yang Wajil Dilcngla¡i Dcngan Analisis Mcngcnai
Dan¡al Linglungan Hidu¡;
MEMUTUSKAN.
Mcncia¡lan. PEFATUFAN MENTEFI NECAFA LINCKUNCAN HIDUP
TENTANC TATA KEFJA KOMISI PENILAI ANALISIS
MENCENAI DAMPAK LINCKUNCAN HIDUP.
DAD I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalan Pcraiuran Mcnicri ini yang dinalsud dcngan.
1. Analisis ncngcnai dan¡al linglungan Iidu¡ yang sclanjuinya
disinglai AMDAL adalaI lajian ncngcnai dan¡al lcsar dan
¡cniing suaiu usaIa dan/aiau lcgiaian yang dircncanalan ¡ada
linglungan Iidu¡ yang di¡crlulan lagi ¡roscs ¡cnganlilan
lc¡uiusan icniang ¡cnyclcnggaraan usaIa dan/aiau lcgiaian.
2. Kcrangla acuan yang sclanjuinya disinglai KA adalaI ruang
linglu¡ lajian AMDAL yang ncru¡alan Iasil ¡clinglu¡an.
3. Analisis dan¡al linglungan Iidu¡ yang sclanjuinya disinglai
ANDAL adalaI iclaaIan sccara ccrnai dan ncndalan icniang
dan¡al lcsar dan ¡cniing suaiu rcncana usaIa dan/aiau
lcgiaian.
4. Fcncana ¡cngclolaan linglungan Iidu¡ yang sclanjuinya disinglai
FKL adalaI u¡aya ¡cnanganan dan¡al lcsar dan ¡cniing icrIada¡
linglungan Iidu¡ yang diiinlullan alilai dari rcncana usaIa
dan/aiau lcgiaian.
2518
444
5. Fcncana ¡cnaniauan linglungan Iidu¡ yang sclanjuinya disinglai
FPL adalaI u¡aya ¡cnaniauan lon¡oncn linglungan Iidu¡ yang
icrlcna dan¡al lcsar dan ¡cniing alilai dari rcncana usaIa
dan/aiau lcgiaian.
6. Konisi Pcnilai adalaI lonisi yang lcriugas ncnilai doluncn
AMDAL.
7. Insiansi linglungan Iidu¡ lalu¡aicn/loia adalaI insiansi yang
ncnyclcnggaralan urusan ¡cncriniaIan di lidang linglungan
Iidu¡ lalu¡aicn/loia.
8. Insiansi linglungan Iidu¡ ¡rovinsi adalaI insiansi yang
ncnyclcnggaralan urusan ¡cncriniaIan di lidang linglungan
Iidu¡ ¡rovinsi.
9. Mcnicri adalaI ncnicri yang ncnyclcnggaralan urusan
¡cncriniaIan di lidang linglungan Iidu¡.
DAD II
PEMDENTUKAN, TUCAS, DAN SUSUNAN KEANCCOTAAN
KOMISI PENILAI
Dagian Pcriana
Pcnlcniulan Konisi Pcnilai
Pasal 2
(1}. Konisi ¡cnilai dilcniul olcI.
a. Mcnicri uniul lonisi ¡cnilai ¡usai;
l. gulcrnur uniul lonisi ¡cnilai ¡rovinsi;
c. lu¡aii/waliloia uniul lonisi ¡cnilai lalu¡aicn/loia.
(2}. Konisi ¡cnilai sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} dilaniu olcI.
a. iin iclnis lonisi ¡cnilai yang sclanjuinya disclui iin iclnis;
dan
l. sclrciariai lonisi ¡cnilai.
(3}. Tin iclnis sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf a dilcniul
olcI.
a. ¡cjalai sciinglai csclon I yang ncnlidangi AMDAL di
Kcncnicrian Ncgara Linglungan Hidu¡ uniul iin iclnis ¡usai;
l. ¡cjalai sciinglai csclon II di insiansi linglungan Iidu¡ ¡rovinsi
uniul iin iclnis ¡rovinsi;
c. ¡cjalai sciinglai csclon II di insiansi linglungan Iidu¡
lalu¡aicn/loia yang lcrlcniul ladan aiau sclrciaris dacraI
lalu¡aicn/loia lagi insiansi linglungan Iidu¡ lalu¡aicn/loia
yang lcrlcniul lanior uniul iin iclnis lalu¡aicn/loia.
Dagian Kcdua
Susunan Kcanggoiaan Konisi Pcnilai
Pasal 3
(1} Kcanggoiaan lonisi ¡cnilai sclagainana dinalsud dalan Pasal 2
ayai (1} icrdiri dari.
a. lciua ncrangla¡ anggoia;
2519
445
l. sclrciaris ncrangla¡ anggoia; dan
c. anggoia.
(2} Kciua lonisi ¡cnilai sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1} Iuruf a
dijalai olcI.
a. ¡cjalai sciinglai csclon I yang ncnlidangi AMDAL di
Kcncnicrian Ncgara Linglungan Hidu¡ uniul lonisi ¡cnilai
¡usai;
l. ¡cjalai sciinglai csclon II di insiansi linglungan Iidu¡ ¡rovinsi
uniul lonisi ¡cnilai ¡rovinsi;
c. ¡cjalai sciinglai csclon II di insiansi linglungan Iidu¡
lalu¡aicn/loia yang lcrlcniul ladan aiau sclrciaris dacraI
lalu¡aicn/loia lagi insiansi linglungan Iidu¡ lalu¡aicn/loia
yang lcrlcniul lanior uniul lonisi ¡cnilai lalu¡aicn/loia.
(3} Sclrciaris lonisi ¡cnilai sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf l dijalai olcI.
a. ¡cjalai sciinglai csclon II yang ncnlidangi AMDAL di
Kcncnicrian Ncgara Linglungan Hidu¡ uniul lonisi ¡cnilai
¡usai;
l. ¡cjalai sciinglai csclon III yang ncnlidangi AMDAL di insiansi
linglungan Iidu¡ ¡rovinsi uniul lonisi ¡cnilai ¡rovinsi;
c. ¡cjalai sciinglai csclon III yang ncnlidangi AMDAL di insiansi
linglungan Iidu¡ lalu¡aicn/loia uniul lonisi ¡cnilai
lalu¡aicn/loia.
(4} Kcanggoiaan lonisi ¡cnilai sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1}
Iuruf c icrdiri aias.
a. lonisi ¡cnilai ¡usai, dcngan lcanggoiaan dari unsur-unsur
Kcncnicrian Ncgara Linglungan Hidu¡, Dc¡aricncn Dalan
Ncgcri, insiansi di lidang lcscIaian, insiansi di lidang
¡criaIanan lcananan, insiansi di lidang ¡cnananan nodal,
insiansi di lidang ¡crianaIan, insiansi di lidang ilnu
¡cngciaIuan, dc¡aricncn dan/aiau lcnlaga ¡cncriniaI non
dc¡aricncn yang ncnlidangi usaIa dan/aiau lcnlaga
¡cncriniaI non dc¡aricncn yang icrlaii, walil ¡rovinsi yang
lcrsangluian, dan/aiau walil lalu¡aicn/loia yang
lcrsangluian, aIli di lidang linglungan Iidu¡, aIli di lidang
yang lcrlaiian, organisasi linglungan Iidu¡ scsuai dcngan
lidang usaIa dan/aiau lcgiaian yang dilaji, walil nasyaralai
icrlcna dan¡al, scria anggoia lain yang di¡andang ¡crlu;
l. lonisi ¡cnilai ¡rovinsi, dcngan lcanggoiaan dari unsur-unsur
Dadan Pcrcncanaan Pcnlangunan DacraI Provinsi, insiansi
linglungan Iidu¡ ¡rovinsi, insiansi di lidang ¡cnananan nodal
dacraI, insiansi di lidang ¡crianaIan di dacraI, insiansi di
lidang ¡criaIanan lcananan di dacraI, insiansi di lidang
lcscIaian dacraI ¡rovinsi, walil insiansi ¡usai dan/aiau
dacraI yang ncnlidangi usaIa dan/aiau lcgiaian yang
lcrsangluian, walil insiansi icrlaii di ¡rovinsi, walil dari
lalu¡aicn/loia yang lcrsangluian, ¡usai siudi linglungan
Iidu¡ ¡crguruan iinggi dacraI yang lcrsangluian, aIli di
lidang linglungan Iidu¡, aIli di lidang yang lcrlaiian,
2520
446
organisasi linglungan Iidu¡ di dacraI, organisasi linglungan
Iidu¡ scsuai dcngan lidang usaIa dan/aiau lcgiaian yang
dilaji, warga nasyaralai yang icrlcna dan¡al, scria anggoia
lain yang di¡andang ¡crlu;
c. lonisi ¡cnilai lalu¡aicn/loia, dcngan lcanggoiaan dari unsur-
unsur walil dari Dadan Pcrcncanaan Pcnlangunan DacraI,
walil dari insiansi di lidang linglungan Iidu¡ dacraI, walil
dari insiansi di lidang ¡cnananan nodal dacraI, walil dari
insiansi di lidang ¡crianaIan dacraI, walil dari insiansi di
lidang lcscIaian dacraI, walil dari insiansi-insiansi icrlaii
lainnya di dacraI, aIli di lidang linglungan Iidu¡, aIli di
lidang rcncana usaIa dan/aiau lcgiaian yang lcrsangluian,
walil dari organisasi linglungan yang icrlaii dcngan rcncana
usaIa dan/aiau lcgiaian yang lcrsangluian, walil dari
nasyaralai yang icrlcna dan¡al, dan anggoia-anggoia lain
yang di¡andang ¡crlu.
Pasal 4
Tin iclnis sclagainana dinalsud dalan Pasal 2 ayai (2} Iuruf a
icrdiri aias.
a. lciua yang sccara ex-officio dijalai olcI sclrciaris lonisi ¡cnilai; dan
l. anggoia yang icrdiri aias.
1. walil dari insiansi linglungan Iidu¡;
2. walil dari insiansi iclnis yang ncnlidangi usaIa dan/aiau
lcgiaian yang lcrsangluian;
3. aIli icrlaii usaIa dan/aiau lcgiaian yang lcrsangluian; dan
4. aIli icrlaii dan¡al linglungan yang diiinlullan dari usaIa
dan/aiau lcgiaian yang lcrsangluian.
Dagian Kciiga
Tugas Konisi Pcnilai
Pasal 5
(1} Konisi ¡cnilai sclagainana dinalsud dalan Pasal 2 ayai (1}
ncn¡unyai iugas.
a. ncnilai KA, ANDAL, FKL, dan FPL; dan
l. ncnlcrilan nasulan dan dasar ¡criinlangan dalan
¡cnganlilan lc¡uiusan KA dan lclayalan linglungan Iidu¡
aias suaiu rcncana usaIa dan/aiau lcgiaian lc¡ada.
1. Mcnicri uniul lonisi ¡cnilai ¡usai;
2. gulcrnur uniul lonisi ¡cnilai ¡rovinsi;
3. lu¡aii/waliloia uniul lonisi ¡cnilai lalu¡aicn/loia.
(2} Dalan nclalsanalan iugas sclagainana dinalsud ¡ada ayai (1},
lonisi ¡cnilai wajil ncngacu ¡ada.
a. lclijalan di lidang ¡cngclolaan linglungan Iidu¡ yang diaiur
dalan ¡craiuran ¡crundang-undangan;
l. rcncana iaia ruang wilayaI; dan
c. lc¡cniingan ¡criaIanan lcananan.
2521
447
Pasal 6
(1} Kciua lonisi ¡cnilai lcriugas nclalulan loordinasi ¡roscs
¡cnilaian KA, ANDAL, FKL, dan FPL.
(2} Sclrciaris lonisi ¡cnilai lcriugas.
a. ncnlaniu iugas lciua dalan nclalulan loordinasi ¡roscs
¡cnilaian KA, ANDAL, FKL, dan FPL; dan
l. ncnyusun runusan Iasil ¡cnilaian KA, ANDAL, FKL, dan FPL
yang dilalulan lonisi ¡cnilai.
(3} Anggoia lonisi ¡cnilai lcriugas ncnlcrilan saran, ¡cnda¡ai dan
iangga¡an lcru¡a.
a. lclijalan insiansi yang diwalilinya, lagi anggoia yang lcrasal
dari insiansi PcncriniaI;
l. lclijalan ¡cnlangunan dacraI