Figur Wayang

Raden Samba dalam penggambaran wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Samba
Raden Samba dan Gunadewa adalah saudara kandung, lahir dari rahim Dewi
Jembawati yang berpasangan dengan Prabu Kresna, Raja Dwarawati.
Walupun keduanya sama-sama tampan, Gunadewa mempunyai ekor
panjang dan kulinya penuh bulu seperti layaknya seekor kera. Keadaan
Gunadewa yang demikian tersebut dapat dimaklumi karena Dewi Jembawati
adalah anak Kapi Jembawan yang adalah seekor kera prajurit Prabu
Ramawijaya. Oleh karena keadaan yang demikian, Prabu Kresna dan juga
Dewi Jembawati lebih menyayangi Raden Samba. Dengan perhatian dan
kasih sayang yang berlebih dari Prabu Kresna, Samba tumbuh menjadi
pemuda yang kurang mandiri dan manja.
Sejarah hidup Samba tidaklah mulus, bahkan dapat dikatakan kelam.
Pasalnya ia mencintai Hagnyanawati, isteri Prabu Setija, kakaknya sendiri
lain ibu. Cinta Samba itulah yang kemudian berujung maut. Dikarenakan
tidak rela Samba memadu kasih dengan istrinya, Prabu Setija murka, dan
Samba menjadi korban.
Peristiwa tersebut dapat diibaratkan seperti „kriwikan dadi grojogan.
Peristiwa yang semula kecil, dengan amat cepat menjadi besar. Berawal dari
permusuhan adik dan kakak kemudian berkembang menjadi perang besar
yang disebut dengan perang Gujalisuta, perang antara bapak dan anak yang
masing-masing melibatkan negara besar. Kisah tersebut dalam pewayangan
diberi judul “Samba Sebit. ” Samba dibunuh secara aniaya oleh Setija
kakaknya.
Semasa hidupnya Samba tinggal di ksatriyan Paranggaruda. Dengan
Hagnyanawati Samba meninggalkan anak satu yang diberi nama
Danurwenda.
herjaka HS

Dewi Durgandini (1)
Prabu Basuparicara atau Prabu Basupati Raja negara Cediwiyasa yang
kemudian bernama negara Wirata, adalah anak Prabu Basukesthi atau Prabu
Basukiswara. Prabu Basuparicara adalah sosok raja yang dapat dikatakan
istimewa. Keistimewaan tersebut dikarenakan ia dapat mengetahui bahasa
binatang. Oleh karenanya Prabu Basuparicara harus pandai-pandai
memanfaatkan kelebihan yang ia miliki. Karena jika tidak, mendengar apa
yang dibicarakan antara para binatang, akan memecah konsentrasi dan
membuat hidup ini tidak nyaman. Sadar akan hal itu, sang Prabu
Basuparicara berusaha untuk mengesampingkan kelebihannya dalam hal
mendengarkan pembicaraan para binatang, untuk lebih mengutamakan
perhatiannya kepada Negara dan keluarga, terlebih kepada Dewi Girika
istrinya. Namun ternyata pengalihan perhatihan yang dipaksakan beresiko
pula. Dikarenakan terlalu mencintai istrinya, ke mana pun Prabu
Basuparicara pergi, bayangan Dewi Girika tak pernah lepas dari pikirannya.
Demikian juga ketika Prabu Basuparicara berburu di hutan, kecantikan
wajah dan kemolekan tubuh istrinya tak pernah bisa lepas dari pikirannya.
Semakin besar niatnya untuk melepaskan bayang-bayang Dewi Girika di
dalam pikirannya, semakin besar pula kerinduan Prabu Basuparicara kepada
istrinya. Kerinduan puncak dari seorang suami kepada istri, berubah menjadi
bongkahan nafsu yang tumpah dari kelelakiannya. Akibatnya, air kama
Prabu Basuparicara jatuh di atas dedaunan pohon talas yang banyak tumbuh
di pinggir hutan. Di mata Prabu Basuparicara kama yang jatuh itu adalah
wujud kerinduannya kepada istri yang amat dicintanya, oleh karenanya
Sang Prabu ingin menyampaikan kerinduan itu kepada Dewi Girika.
Dengan kelebihannya atas bahasa binatang, Prabu Basuparicara memanggil
burung Gagak untuk mengantarkan air kama yang sudah dibungkus dengan
daun talas kepada istrinya. Maka terbanglah burung Gagak tersebut
membawa kerinduan Prabu Basuparicara kepada Dewi Girika. Di tengah
perjalanan, burung Gagak tersebut diterjang oleh burung Elang, maka
jatuhlah kama yang dibawa dengan paruhnya ke sungai Gangga.
Di sungai Gangga, hiduplah seekor ikan besar yang lain dari pada ikan-ikan
yang ada di sungai tersebut. Ikan istimewa tersebut adalah jelmaan dari
bidadari Adrika yang puluhan tahun lalu dikutuk oleh Dewa. Ia dapat pulih
kembali menjadi bidadari, jika ia dapat melahirkan anak manusia. Dalam
masa penantian yang tak kunjung selesai, tiba-tiba dihadapan mulutnya
jatuhlah segumpal kama yang dibungkus dengan daun talas. Dengan naluri
yang ada, „ikan kutukan‟ itu menyambar daun talas. Sebentar kemudian,
daun talas yang berisi kama Prabu Basuparicara tersebut berada di perut
ikan.
Tkeajaiban terjadi, tak berapa lama dari peristiwa tersebut, „ikan kutukan‟
tersebut mengandung dan melahirkan anak manusia kembar, laki-laki dan
perempuan. Seperti yang sudah dijanjikan, bersamaan dengan lahirnya anak
kembar tersebut, ikan tersebut pulih wujud semula, menjadi bidadari Adrika.
Anak kembar yang dilahirkan Bidadari Adrika tersebut diberi nama
Durgandana dan Durgandini. Sebelum naik ke kahyangan, Durgandana dan
Durgandini di percayakan kepada Dasabala si tukang perahu, untuk diasuh
dan dibesarkan. Kelak jika sudah dewasa haturkan kedua anak tersebut
kepada raja Wirata, demikian pesan Bidadari Adrika kepada Dasabala.
herjaka HS
Durgandini (2)
Dasabala si tukang perahu itu mengasuh anak kembar dampit (laki-laki dan
perempuan) yang dilahirkan oleh Bidadari Adrika dengan penuh kasih
sayang. Kedua anak tersebut tumbuh menjadi remaja yang tampan, cantik
serta cerdas. Namun ada satu hal yang memprihatinkan, yaitu keadaan
Durgandini. kulitnya „mbekisik‟ dan menebarkan bau amis yang menyengat.
Oleh karenanya Durgandini juga disebut Laraamis. Hal tersebut berkaitan
erat dengan Bidadari Adrika yang melahirkannya ketika sedang menjalani
kutukan menjadi seekor ikan.
Seperti yang dipesankan bidari Adrika sebelum kembali ke kahyangan,
bahwa kelak jika si kembar dampit yaitu Durgandana dan Durgandini sudah
dewasa, hendaknya Dasabala menyerahkan kepada raja Wirata.
Dasabala tidak tahu, mengapa Durgandana dan Durgandini harus diserahkan
kepada raja Wirata yang bertahta? Namun ketidaktahuannya tidak
menjadikan Dasabala enggan ketika tiba saatnya, si kembar yang diasuhnya
selama belasan tahun harus diserahkan kepada sang raja.
Seperti yang diduga dan diragukan sebelumnya, bahwasannya yang diterima
oleh raja Wirata hanyalah Durgandana. Sedangkan Durgandini dikembalikan
kepada Dasabala, agar dicarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya.
Jika nanti sudah sembuh, bawalah kembali ke istana
Selain perasaan iba karena derita Durgandini, Dasabala bahagia, karena
masih diberi waktu untuk mendampingi Dewi Durgandini. Kesempatan
tersebut tidak disia-siakan. Dengan kasih sayang yang tak pernah pudar,
Dasabala mengajari apa yang menjadi keahlihannya kepada Dewi
Durgandini, yaitu mencari ikan dan menjalankan perahu.
Dengan ketrampilan menjalankan perahu, Durgandini dapat membantu
setiap orang yang kesulitan untuk menyeberang sungai Yamuna. Rupanya
profesi sebagai „tukang santang‟ oleh Durgandini dijalaninya dengan tulus
dan dijadikannya sebagai laku dan permohonan agar dirinya dibebaskan dari
penyakit yang mengganggu dan memalukan.
Seperti hari-hari biasanya, pagi-pagi benar, Dewi Laraamis telah
menyiapkan perahunya. Dari kejauhan nampaklah seorang petapa muda
yang berdiri di tepi sungai Yamuna. Dihampirinya petapa itu dengan
perahunya. Sesampainya di depan Petapa muda itu, Dewi Durgandini
menawarkan jasanya dan mempersilakan petapa muda itu naik di
perahunya. Beberapa saat setelah petapa muda itu naik di perahu, mereka
berdua saling berkenalan.
“Aku bernama Durgandini, tetapi banyak orang memanggilku Raraamis.
dikarenakan sekujur tubuhku menebarkan bau amis yang menyengat.” ucap
Durgandini, sesaat setelah orang yang diseberangkan itu memperkenalkan
diri bernama Palasara, seorang petapa dari Saptarga di puncak Ngukiretawu.
Melihat penderitaan Durgandini, Palasara merasa iba. sebagai petapa muda
yang „waskita‟ Ia dapat membaca bahwa penuturan Durgandini tersebut
merupakan sebuah litani permohonan agar dirinya dilepaskan dari penyakit
yang sudah belasan tahun mencengkeram hidupnya. Dengan kesaktiannya,
Palasara berhasil menyembuhkan Durgandini.
Dasabala bersukacita melihat bahwa putrinya telah terbebas dari „mala
trimala,‟ sakit-penyakit yang menyiksa tubuhnya. Kini keelokan dan
kecantikan Dewi Durgandini nampak memancar dari wajah dan tubuhnya.
herjaka HS
Durgandini (3)
Seiring dengan proses pemulihan Dewi Durgandini dari penyandang
kutukan, untuk kembali menjadi bidadari, bersih dari „sesuker‟ kotoran jiwa,
ada perang besar yang tejadi. Perang antara penyakit atau „memala‟ bahkan
rajanya penyakit atau Rajamala dengan Palasara. Kesembuhan Dewi
Durgandini sama halnya dengan kekalahan si Rajamala. Rajamala bersama
perahu dayung yang setiap hari menyatu dengan Dewi Durganini telah
dipecahkan oleh petapa sakti Palasara. Perahu yang pecah menjadi dua
tersebut mewujud menjadi manusia dan diberi nama Rupakenca dan
Kencakarupa, sedangkan dayung perahu berubah wujud menjadi seorang
putri dengan nama Dewi Rekatawati. Keempat perwujudan yang telah lama
menjadi beban hidup Dewi Durgandini telah dilepaskan, dan selanjutnya
diperintahkan untuk mengabdi di kerajaan Wirata.
Setelah sembuh dari penyakitknya, Dewi Durgandini memancarkan
kecantikan yang luar biasa. Jika sebelumnya, Dewi Durgandini ikut
menyangga „dosa‟ ibunya Bidadari Adrika yang dikutuk menjadi ikan,
sehingga badan sekujur kasar dan amis, kini setelah disembuhkan oleh
Palasara, sang Petapa muda, Dewi Durgandini atau Dewi Laraamis, sudah
tidak amis lagi. Ia berubah menjadi bidadari muda yang tubuhnya halus
mulus dan sangat jelita, mewarisi kecantikan ibunya yang adalah bidadari
kahyangan. Kecantikan Dewi Durgandini yang tiba-tiba memancar membuat
Palasara terpana karenanya.
Pertemuannya dengan Durgandini merupakan peristiwa istimewa yang
mampu menggoncangkan hatinya. Walaupun sejak kanak-kanak Palasara
telah menjalani laku tapa, belajar mengolah pikir serta mengendalikan rasa,
ia tak kuasa menahan goncangan asmara. Ada perasaan yang tumbuh
begitu cepat dan dahsyat. Perasaan yang mengkristal dan tertuju hanya
kepada satu wajah, satu sosok, satu hati, serta satu nama yaitu Durgandini.
Karena tidak kuasa menanggungnya, dengan kepolosan Palasara
menyatakan perasaannya kepada dewi Durgandini. Entah karena hutang
budi atau perasaan kagum atau sentuhan rasa yang lain, tetapi yang pasti
bukan karena ketampanannya, sang Dewi Durgandini mau menerima cinta
Palasara. Kedua insan muda tersebut mulai merenda benang harapan akan
masa depan yang indah dan membahagiakan.
Bersamaan dengan cinta mereka yang tumbuh, Dasabala, orang tua asuh
Durgandini ingin membawa anak angkatnya besama dengan Palasara
menghadap Prabu Basuparicara raja Wirata. Sesuai dengan janji Prabu
Basuparicara, Dewi Durgandini setelah menjadi sembuh diterima di kraton
Wirata, termasuk juga Palasara, yang mampu menyembuhkan Durgandini
dan juga perwujudan dari penyakit dan perahu dayung Durgandini yaitu:
Rajamala, Rupakenca, Kencakarupa dan Rekatawati. Bahkan untuk
selanjutnya, ketika Prabu Basuparicara mengetahui bahwa diantara
Durgandini dan Palasara ada benih cinta yang mulai bersemi, mereka berdua
di resmikan menjadi suami istri.
Tak berapa lama kemudian pasangan Palasara dan Durgandini dianugerahi
seorang anak laki-laki dan diberi nama Abiyasa. Durgandini menginginkan
agar Abiyasa kelak menjadi raja, tidak sengsara seperti dirinya. Namun
Palasara tidak demikian, ia berharap agar Abiyasa menjadi seorang petapa
atau brahmana seperti dirinya. Perbedaan pendapat antara Dewi Durgandini
dan Palasara dalam hal mendampingi dan mengarahkan Abiyasa anaknya,
tidak dapat dipersatukan. Keduanya kukuh bertahan dengan pendapatnya
masing-masing. Maka kemudian yang terjadi adalah Palasara membawa
Abiyasa ke gunung Saptarga dipuncak Wukiretawu, meninggalkan
Durgandini seorang anak bidadari yang setahun lalu sangat dicintainya.
herjaka HS
Durgandini (4)
Sang Dewi Durgandini atau Dewi Setyawati memang terpaksa harus
merelakan Abiyasa anak satu-satu yang setelah tidak menyusu, dibawa oleh
Palasara suaminya ke pertapaan Saptaarga. Lebih baik berpisah daripada
harus mendampingi Palasara dan Abiyasa menjadi petapa di gunung
Saptaarga, jauh dari keraton Wirata.
Baginya, hidup sebagai petapa tidak jauh berbeda dengan hidup menderita
seperti yang pernah ia jalani sejak kecil hingga dewasa, yaitu hidup yang
dibuang, menjadi penjual jasa penyebrangan dengan perahunya di sungai
Yamuna. Maka jika saat ini ia meninggalkan keraton Wirata untuk mengikuti
Palasara sama artinya ia sengaja mengulangi penderitaannya.
Semenjak Palasara membebaskan penyakit dan penderitaannya, Dewi
Durgandini diperkenankan kembali keraton Wirata dan menikmati fasilitas
yang ada sebagai putri raja. Pada saat itu Dewi Durgandini ingat sebuah
kata-kata yang berisi pengharapan yang senantiasa diucapkan Ki Dasabala
ayah angkatnya: „Bersabarlah, ada saatnya nanti, penyakit dan segala
penistaannya dihapuskan‟. Dan sekarang saatnya telah tiba, semenjak ia
bertemu dan menyeberangkan Palasara.
Namun jika kini ia bersama Palasara dan Abiyasa kembali naik perahu
menyebrangi sungai Gangga dan sungai Yamuna, meninggalkan Wirata dan
menuju Saptaarga, artinya ia siap menderita kembali bersama berbagai hal
yang menyakitkan. Aku tidak siap, tidak mau menderita lagi. Aku ingin
tinggal di keraton dengan segala kemewahan dan kesenangannya.
Durgandini telah menggunakan jalan pikirannya dengan benar,
bahwasannya ujung dari sebuah penderitaan dan kesengsaraan adalah
kebahagiaan dan kemuliaan. Tidaklah mungkin setelah bahagia dan mulia
dicapai, akan kembali menderita. Kemuliaan adalah puncak dari tumpukan
kesengsaraan, di mana kesengsaraan tidak ada lagi, yang ada adalah
kemuliaan. Ajakan suami untuk meninggalkan keraton dan mengasuh
anaknya menjadi petapa dianggap menunda atau bahkan membatalkan
kesempatannya untuk merasakan kebahagiaan serta kemuliaan itu.
Sebuah pilihan telah diambil, ia telah memilih untuk tidak meninggalkan
keraton, baik dengan atau tidak bersama suami dan anak. Hari-harinya
dijalani dengan kesendiriannya. Abiyasa memang selalu hadir dalam
angannya, namun tidak sebagai petapa kecil, melainkan sebagai calon raja
di sebuah negara yang besar.
Ketika pada suatu waktu, Dewi Durgandini sedang melakukan sesuci di
sungai Gangga, ia bertemu dengan Prabu Sentanu, raja Hastinapura. Dalam
pandangan pertama itu Sentanu amat terkejut melihat pancaran wajah Dewi
Durgandini yang mirip sekali dengan bidadari Ganggawati isterinya yang
telah kembali ke kahyangan. Untuk menyakinkan bahwa yang berada di
depannya bukan Batari Ganggawati, Sentanu semakin mendekat
memperkenalkan dirinya kepada Durgandini, demikian sebaliknya. “Aku
bukan Ganggawati sang Prabu, namaku Durgandini atau Setyawati”.
Pertemuan dan perkenalan diantara keduanya merupakan pertemuan
bersejarah, yang nantinya akan membuat sejarah baru kerajaan
Hastinapura. Dimulai dari kerinduan Prabu Sentanu kepada Batari
Ganggawati dan rasa sepi Dewi Setyawati semenjak ditinggal Palasara
suaminya dan Abyasa anaknya, keduanya semakin dekat. Ada kekosongan
yang saling mengisi di hatinya. Walaupun wanita di hadapannya bukan
Ganggawati, kehadiran Durgandini mampu mengobati kerinduan Sentanu
kepada Ganggawati. Demikian sebaliknya, kehadiran Sentanu mampu
mengobati rasa sepi Setyawati semenjak kepergian Palasara suaminya, dan
Abiyasa anaknya ke Pertapaan Saptaarga.
Gayung pun bersambut. Keduanya mulai merenda benang-benang harapan,
harapan akan cinta-kasih yang member daya hidup.
“Adakah yang memberatkan, jika pada suatu waktu aku datang ke Wiratha
untuk melamarmu?.”
“ Tidak sang Prabu, aku berharap dan bersyukur jika sang Prabu sudi
meminangku. Namun sebelumnya saya mohon maaf.”
Setyawati berhenti sejenak untuk menenangkan hati.
“Ada satu permohonan yang mungkin sangat memberatkan hati sang
Prabu.”
“ Permintaan apa, Setyawati? Katakanlah!”
“Aku takut, jika hal ini aku katakana, sang prabu akan mengurungkan
niatnya melamar aku.
“Tidak, Setyawati, apa pun yang akan kau katakan aku tetap akan
meminangmu.”
“Sungguhkah itu Sang Prabu?.”
Prabu Sentanu mengangguk perlahan.
“Sang Prabu Sentanu, jika kelak Sang Hyang Widdi Wasa mengijinkan kita
untuk bersatu dan melahirkan anak laki-laki, aku berharap agar anak kita
menjadi raja di Hastinapura
Herjaka HS

Seta
Raden Seta adalah anak sulung Prabu Matswapati raja Wirata yang
berpasangan dengan Dewi Rekatawati. Seta berarti putih, nama tersebut
diberikan karena Raden Seta berkulit putih. Selain berarti putih Seta berasal
dari kata „set‟ atau belatung. Nama tersebut berkaitan dengan kelahiran
Seta. Ada yang mengatakan bahwa Seta lahir dari set atau belatung yang
ada di tubuh Dewi Durgandini, saudara kembar Prabu Matswapati, jadi tidak
dilahirkan oleh Dewi Rekatawati istri Prabu Matswapati.
Konon dikisahkan, Dewi Durgandini menderita penyakit kulit, hingga sekujur
tubuhnya dikerumuni oleh set dan menebarkan bau amis. Penyakit yang
telah menaun tersebut dapat disembuhkan oleh Begawan Palasara. Karena
jasanya, Begawan Palasara dinikahkan dengan Dewi Durgandini. Setahun
setelah menikah, Dewi Durgandini melahirkan anak yang diberi nama
Abiyasa. Pada saat kelahiran Abiyasa ada set yang keluar bersamaan
dengan bayi Abiyasa. Diperkirakan bahwa set tersebut merupakan sisa dari
penyakit yang pernah diderita oleh Dewi Durgandini. Set tersebut kemudian
disabda oleh Begawan Palasara maka jadilah seorang bayi dan diberi nama
Seta. Raden Seta kemudian dijadikan anak sulung oleh Prabu Matswapati
atau Raden Durgandana, saudara kembar Dewi Durgandini.
Seta adalah seorang yang pemberani, mempunyai ilmu-ilmu tingkat tinggi,
dan pusaka sakti. Batara Narada pernah meminta bantuan kepada Seta
untuk mengundurkan pasukan Pancalaretna pimpinan Prabu Malangkara
atau Malangdewa, yang menyerang kahyangan Suduk Pangudal-udal. Atas
jasanya mengalahkan Prabu Malangkara, Seta mendapatkan Dewi
Kanekawati, putri Batara Narada.
Sebagai si sulung, sesungguhnya Seta akan diangkat sebagai putra
mahkota, namun ia lebih senang menjalani laku sebagai petapa. Oleh
karenanya sebagian besar dari waktunya dihabiskan di pertapaan Suhini,
yang terletak di lereng gunung Selaperwata atau gunung Ulu-ulu.
Walupun menjadi petapa, Seta adalah beteng Negara Wirata yang kuat dan
tangguh. Pernah pada suatu waktu, Seta bersama Bima dan Harjuna
berhasil mengundurkan musuh gabungan dari Negara Trigatra dan Negara
Hastina yang sudah berhasil menangkap Prabu Matswapati dan hampir saja
menduduki kraton Wirata.
Ketika perang Baratayuda meletus, Seta diangkat sebagai panglima perang
Pandawa untuk yang pertama kalinya. Di medan laga Seta berhasil
memporak-porandakan lawan. Raden Rukmarata, putra Prabu Salya gugur
di tangan Seta. Resi Bisma yang diunggul-unggulkan di Hastina, jika tidak
dibantu ibunya, yaitu Dewi Ganggawati kewalahan tanding dengan Seta.
Jika sesuai dengan namanya, Seta artinya putih, maka penggambaran Seta
dalam pewayangan berwajah putih. Namun kebanyakan wayang Resi Seta
bermuka merah, untuk menggambarkan watak pemberani, tegas „getapan.‟
herjaka HS

Matswapati dalam bentuk wayang kulit,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Matswapati
Di wilayah yang terletak di sebelah timur negara Dwarawati dan si sebelah
selatan negara Mandura, Raden Srinada membuka hutan dan kemudian
membangun sebuah kerajaan yang diberi nama Wirata. Selanjutnya Raden
Srinada memerintah kerajaan tersebut dengan gelar Prabu Basurata.
Setelah lanjut usia tahta negara Wirata diwariskan kepada salah satu
anaknya yang bernama Prabu Basukesti. Selanjutnya, dari tangan Prabu
Basukesti, tahta Wirata diwariskan kepada Raden Durgandana yang setelah
naik tahta bergelar Prabu Matswapati.
Di bawah masa pemerintahan Prabu Matswapati inilah negara Wirata
mencapai jaman keemasan. Dikenal diseluru penjuru dunia, disegani oleh
lawan maupun kawan. Hal tersebut tidak lepas dari dukungan seluruh
kawula Wirata dan peran ketiga putra raja yang menjadi beteng negara
Wirata yatiu Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka.
Prabu Matwapati banyak membantu Pandawa Lima yang teridi dari Yudistira,
Bimasena, Harjuna, Pinten dan Tangsen, pada waktu mereka membuka
hutan untuk mendirikan keraton. Juga pada masa Yudistira dan kelima
saudaranya dalam pembuangan.
Bagi Pandawa, Prabu Matswapati adalah dewa penolong, yang telah
mengangkat Pandawa dari dalam keterpurukan. Demikian pula sebaliknya,
bagi Prabu Matswapati, Pandawa adalah dewa penyelamat, yang telah
menyelamatkan negara dan dirinya dari kehancuran dan kematian, ketika
negara Wirata diserbu oleh prajurit gabungan dari negara Trigata dan
Negara Hastina yang dipimpin oleh Prabu Susarma. Bima yang pada waktu
itu menyamar sebagai jagal di Wirata dan Harjuna yang menyamar sebagai
guru tari, berhasil membebaskan Prabu Matswapati yang telah ditawan, dan
mengundurkan musuh.
Pada peristiwa paling berdarah sepanjang sejarah negara Wirata, yang
dikenang dengan sebutan Geger Wirata tersebut, Prabu Matswapati mengira
bahwa yang berhasil merebut dirinya dari tangan musuh dan mencerai-
beraikan pasukan lawan adalah ketiga anaknya. Maka ketika mengetahui
dengan senyatanya bahwa yang menolong dirinya adalah Bima dan Harjuna,
ada perasaan bersalah dan beban dosa di hati Prabu Matswapati karena
tidak mengenali ksatria utama yang telah bergabung setahun lalu, sebagai
pembantu berderajat rendah di Negara Wirata.
Semenjak peristiwa tersebut kedekatan hubungan antara Prabu Matswapati
dan Pandawa melebihi saudara. Diantara mereka merasa saling berhutang
budi. Oleh karenanya ketika perang Baratayuda pecah, Prabu Matswapati
beserta seluruh prajuritnya secara resmi menyatakan bergabung dengan
Pandawa. Bahkan Prabu Matswapati, Seta, Utara dan Wratsangka bersedia
sebagai „tawur perang‟ korban perang untuk yang pertama kali.
Prabu Matswapati menikah dengan Dewi Rekatawati dan mempunyai empat
anak yaitu: Raden Seta, Raden Utara, Raden Wratsangka dan Dewi Utari..
herjaka HS

Dewi Utari, (tanpa samir) dalam bentuk wayang kulit purwa,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya,
buatan Kaligesing Purworejo (foto: Sartono)
Utari
Dewi Utari adalah putri bungsu dari empat bersaudara, anak pasangan
Prabu Matswapati atau Prabu Durgandana, raja negara Wirata dengan
permaisuri Dewi Rekatawati, putri angkat Resi Palasara dengan Dewi
Durgandini. Ke tiga kakak Dewi Utari adalah Raden Seta, Raden Utara dan
Raden Wratsangka.
Dewi Utari disebut sebagai „babone ratu‟ yaitu yang menjadi induk dari ratu.
Hal tersebut dikarenakan ia mendapatkan anugrah Wahyu Hidayat, yang
menandai bahwa dirinya kelak akan menurunkan raja besar. Oleh karenanya
Kresna yang mengetahui hal itu menginginkan agar Abimanyu, yang akan
menurunkan raja dikarenakan mendapatkan anugerah Wahyu Cakraningrat
memperistri Utari. Dengan demikian antara Wahyu Cakraningrat dan Wahyu
Hidayat akan menyatu di dalam keturunan Abimanyu dan Utari.
Jika pun ada yang mengabarkan bahwa perkawinan antara Abimanyu dan
Utari melalui sayembara „Pondong,‟ tentunya hal tersebut hanyalah sebagai
cara untuk mengesahkan perkawinan diantara keduanya. Karena wahyu
Hidayat itulah, tidak ada laki-laki yang kuat memondong Utari, kecuali laki-
laki yang mendapatkan Wahyu Cakraningrat, yaitu Abimanyu. Walaupun
sesungguhnya Abimanyu sudah beristri Siti Sendari, para sesepuh yang
berpengaruh yaitu Prabu Kresna dan Prabu Matswapati menyetujui dan
mengesahkan perkawinan antara Abimanyu dan Utari.
Namun bukan berarti perkawinan Abimanyu dan Utari yang telah diberi restu
tersebut berlangsung lancar. Ada dua prahara yang mengiring perkawinan
keduanya, yaitu gugurnya Kala Bendana dan dan sumpah Abimanyu. Kala
Bendana gugur di tangan Gatotkaca keponakannya dalam upaya
menegakkan kejujuran karena mengatakan hal yang sejujurnya bahwa
Abimanyu telah beristri Dewi Siti Sundari. Sedangkang Sumpah Abimanyu
merupakan penyangkalan dari apa yang dikatakan Kala Bendana di hadapan
Dewi Utari yang menyatakan bahwa dirinya belum berisitri. Aku bersumpah
jika aku sudah beristri, kelak dalam perang Baratayuda aku akan gugur
dengan seribu luka. Demikian sumpah Abimanyu.
Dewi Utari adalah seorang putri yang cantik jelita, dan dikasihi dewa. Ia
berperangai lembut dan berwatak halus, berwibawa dan setia berbakti. Hasil
pernikahan Utari dengan Abimanyu, lahirlah seorang anak laki-laki dan
diberi nama Parikessit. Seperti telah diramalkan para cerdik pandai, Parikesit
menjadi raja besar di Hastiapura.
Herjaka HS

Tokoh Kala Bendana digambarkan pada wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Kala Bendana
Tokoh yang satu ini erat hubungannya dengan ketokohan Gatotkaca. Kala
Bendana termasuk bangsa raksasa dari kerabat bangsawan keraton
Pringgandani. Ia adalah saudara bungsu dari Dewi Arimbi ibu Gatotkaca.
Sehingga ia adalah paman Gatotkaca. Secara fisik Kala Bendana tidak
sempurna, tubuhnya kerdil, tangannya cacat dan bicaranya cedal tidak jelas.
Namun ada sesuatu yang sangat bernilai melekat pada dirinya yaitu, jujur
dan berani mempertahankan kejujurannya, walau sampai harus
mengorbankan nyawanya.
Sesuai dengan kapasitasnya, Kala Bendana berpikir dan bertindak dengan
cara yang sederharna. Dalam pergaulannya dengan saudara dan
sesamanya, Kala Bendana selalu menginginkan ketentraman dan
kedamaian. Sikap tersebut nampak jelas saat terjadi pertentangan diantara
saudara-saudara perihal pengangkatkan Gatotkaca sebagai raja muda
Pringgandani, Kala Bendana bertindak sebagai penengah. Kepada Gatotkaca
keponakannya, Kala Bendana menaruh cinta yang tulus. Ia dengan setia
menempatkan diri sebagai pamomong.
Seperti juga yang dialami oleh kebanyakan pejuang nilai-nilai kejujuran,
Kala Bendana mengalami nasib tragis dalam upaya mempertahankan sebuah
nilai kejujuran. Kisahnya adalah ketika Kala Bendana mengikuti Gatotkaca
dan Abimanyu yang disarankan oleh Batara Kresna untuk mengunjungi Dewi
Utari di Negara Wirata. Pertemuan Abimahyu dan Dewi Utari ini merupakan
sekenario besar yang disusun Batara Kresna, menyangkut keberadaan
wahyu raja. Dasar berpijaknya adalah prediksi masa depan. Batara Kresna
mengetahui bahwa jika Abimanyu mengawini Utari, ia akan menurunkan
raja besar, yang nantinya akan menduduki Negara Hastina. Oleh karenanya
ia menginginkan Abimanyu mengambil istri Dewi Utari anak Prabu
Matswapati raja Wirata, yang adalah „babone ratu‟
Gayung pun bersambut, dalam perjumpaan yang diatur itu, Abimanyu dan
Utari saling jatuh cinta. Mereka berjanji akan melanjutkan percintaan ini ke
pelaminan. Namun sebelum melangkah lebih jauh Utari bertanya kepada
Abimanyu, apakah dirinya belum mempunyai istri? Abimanyu menjawab
belum. Pada hal sesungguhnya Abimanyu sudah mempunyai istri Dewi Siti
Sundari. Hal itulah yang kemudian dikatakan yang senyatanya oleh Kala
Bendana, bahwa Abimanyu telah berbohong kepada Utari.
Gatotkaca yang kala itu mendampingi Abimanyu memperingatkan kepada
Kala Bendana untuk diam, tidak usah ikut campur dalam urusan ini. Kala
Bendana tidak takut atas peringatan Gatotkaca. Ia tetap mengatakan bahwa
Abimanyu sudah mempunyai istri namanya Dewi Siti Sundari, anak Batara
Kresna. Gatotkaca yang ditugaskan oleh Batara Kresna mengawal menjaga
dan mensukseskan recana tersebut kawatir bahwasannya rencana tersebut
akan gagal, gara-gara kejujuran Kala Bendana. Oleh karenanya, sebelum
Utari mempercayainya, Kala Bendana diseret ke luar untuk diamankan.
Namun entah apa yang terjadi. Apakah ketika Gatotkaca tidak lagi dapat
menahan amarah, ajian-ajian sakti yang ada di tubuhnya keluar dengan
sendirinya. Seperti misalnya aji Ismu Gunting, yang dapat memutus leher
lawan hanya dengan tangannya. Atau aji Narantaka yang dapat
menghancurkan lawan hingga jadi debu. Pada kenyataannya Kala Bendana
mati di tangan Gatotkaca.
Di awal tulisan ini telah disinggung bahwa ketokohan Gatotkaca erat
hubungannya dengan ketokohan Kala Bendana. Keduanya sama-sama
menjadi pahlawan. Kala Bendana gugur membela nilai kejujuran, sedangkan
Gatotkaca gugur membela Negara. Namun ironisnya kepahlawanan
Gatotkaca justru tercoreng karena kejujuran Kala Bendana. Kejujuran yang
seharusnya dibela oleh seorang pahlawan, termasuk jujur untuk gelar
kepahlawannannya.
herjaka HS

Gatotkaca, dalam bentuk wayang kulit, hasil karya dari Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya (Foto: Sartono)
Gatotkaca
Sejak kekalahannya melawan Dursala, Gatotkaca berguru kepada eyangnya
yang bernama Resi Seta, di pertapaan Suhini di gunung Sela Perwata. Untuk
mengalahkan aji Gineng yang dimiliki Dursala, Gatotkaca diberi ajian sakti
yang bernama Aji Narantaka. Barang siapa terkena ajian ini akan hancur
menjadi debu. Ajian ini sesungguhnya merupakan kekuatan alam yang
terdiri dari: bumi. api, air dan angin. Siang malam Gatotkaca menjalani laku
untuk belajar menggunakan energi bumi yang kuat, energi api yang panas,
energi air yang dingin dan energi angin yang ringan. Tahapan demi tahapan,
baik lahir maupun batin dijalani oleh Gatotkaca untuk mematangkan Aji
Narantaka.
Setelah menuntaskan aji Narantaka, Gatotkaca turun gunung dan ingin
segera berperang kembali dengan Dursasana yang telah mengalahkannya.
Di tengah jalan ia bertemu dengan Dewi Sumpaniwati yang mengungkapkan
niatnya agar dirinya dijadikan istri oleh Gatotkaca. Menurut pengakuannya,
Dewi Sumpaniwati jatuh hati kepada Gatotkaca sejak ia bermimpi memadu-
kasih dengannya. Permohonan Dewi Sumpaniwati ditolak. Saat ini fokus
utama tidak pada wanita, melainkan kepada Dursala. Namun Sumpaniwati
tidak mau menarik niat, ia bersikeras untuk diperistri Gatotkaca.
Gatotkaca marah, dengan nada tinggi ia berkata bahwa dirinya mau
memperistri Sumpaniwati asalkan ia kuat menghadapi Aji Narantaka. Pada
saat itu Dewi Wilutama masuk ke diri Sumpaniwati sehingga ia kuat
menerima aji Narantaka. Semula, ketika pertamakali berjumpa
sesungguhnya Gatotkaca mengakui kecantikan Sumpaniwati, hanya saja ia
sengaja menolaknya karena ada hal yang lebih mendesak untuk dilakukan
terlebih dahulu, yaitu mengalahkan Dursala. Namun dikarena kesaktiannya
Sumpaniwati yang kuat menerima aji Narantaka, Gatotkaca berubah pikiran.
Dengan serta merta dipondongnya Dewi Sempaniwati yang sintal untuk
kemudian dijadikannya istri.
Resi Sumpanajati menyetujui putri tunggal diambil istri oleh Raden
Gatotkaca. Demikian pula Batara Kresna menyetujui perkawinan tersebut.
Oleh Batara Kresna nama Dewi Sumpaniwati diganti dengan nama Dewi
Galawati, karena perkawinan ini terlaksana setelah Dewi Sumpaniwati di
‟gala‟ dengan Aji Narantaka.
Setelah semuanya selesai, Gatotkaca menuju Tegal Kurusetra untuk
menantang Dursala berperang tanding. Walaupun pada akhirnya Dursala
dapat dihancurkan dengan aji Narantaka, perang tanding itu cukup
memakan waktu lama, keduanya menunjukkan kesaktiannya dengan
mengeluarkan jurus-jurus andalan.
Gatotkaca dicatat sebagai pahlawan bangsa, karena pengorbanannya dalam
membela negara. Sifat kepahlawannannya nampak menonjol ketika terjadi
perang Baratayuda. Walau disadari bahwa di dalam tubuhnya telah
bersarang warangka pusaka Kuntawijayandanu, Gatotkaca dengan gagah
berani menghadapi Adipati Karno.
Pada saat senjata pamungkas yang adalah Kuntawijayandanu dibidikkan dan
mengancam Padepokan Randu Watangan tempat Puntadewa dan para
pepunden berada, Gatotkaca terbang secepat kilat membendung serangan
itu. Secepat kilat pula Kuntawijayandanu masuk kesarungnya, kembali ke
wadahnya melalui pusar Gatotkaca, dan menjadi satu dengan raga
Gatotkaca.
Hari kesepuluh sesudah perang Baratayuda berlangsung, Gatotkaca gugur di
medan laga ditembus panah Kuntawijayandanu dan jatuh menimpa kereta
Adipati Karno. Kematian Gatotkaca disatu sisi telah menyelamatkan
Puntadewa namun disisi lain telah membawa banyak korban di pihak
Kurawa, Awangga dan juga Pringgandani.
Kelak dikemudian hari sifat kapahlawanan Gatotkaca diwarisi oleh
Jayasumpena, anaknya hasil perkawinannya dengan Dewi Galawati.
herjaka HS
Gatotkaca 2
Sejak bayi, Raden Tetuka atau Raden Gatotkaca telah menunjukkan
kelebihannya. Tali pusarnya yang tidak dapat dipotong dengan berbagai
macam senjata tajam, kecuali dengan sarung pusaka Kunta Wijayandanu,
menandakan bahwa ia bukanlah bayi sembarangan. Ditambah lagi dengan
melesaknya sarung pusaka Kunta Wijayandanu ke dalam pusar Gatotkaca
dan menyatu dengan tubuhnya, menjadikan bayi Gatotkaca tidak sama
dengan bayi pada umumnya. Oleh karenanya ia dipilih menjadi jagonya
dewa untuk memerangi musuh sakti yang memporak-porandakan
kahyangan.
Pada mulanya kedua orang tua dari Gatotkaca yaitu Wrekudara dan Arimbi,
tidak memperbolehkan Gatotkaca yang masih bayi dijadikan jago oleh para
dewa untuk melawan Patih Sekipu dan Prabu Naga Pracona. Namun setelah
dijelaskan oleh Batara Narada bahwa hanya bayi Gatotkaca yang dapat
mengalahkan Patih Kala Sekipu dan Prabu Naga Pracona, Wrekudara dan
Arimbi memperbolehkan bayi Gatotkaca dibawa di kahyangan.
Sesampainya di kahyangan, Batara Narada langsung menuju Repat
Kepanasan, tempat Prabu Naga Pracona dan Patih Sekipu menunggu jawab,
boleh atau tidaknya Dewi Gagar Mayang diboyong ke negara Ngembat
Keputihan. Kehadiran Batara Narada bersama Gatotkaca mengejutkan
mereka. Terlebih ketika diketahuinya bahwa bayi yang dibawa Narada
adalah jagonya para dewa, yang harus terlebih dahulu dikalahkan sebelum
memboyong Dewi Gagar Mayang.
Ha ha ha, rupanya dewa sudah kehilangan nalar, karena saking takutnya
seorang bayi di jadikan jago untuk melawan kami, ledek Prabu Naga
Pracona dan Patih Kala Sekipu, beserta bala raksasa. Namun tatkala Kala
Sekipu ingin membunuh Gatotkaca dengan sekali gigit, tawa mereka
berhenti seketika. Gatotkaca tidak terluka karena gigitan Kala Sekipu.
Bahkan ia dapat melepaskan diri dari terkamannya. Kala Sekipu marah,
Gatotkaca dibanting hingga pingsan. Narada segera mohon waktu untuk
memulihkan tenaga Gatotkaca.
Gatotkaca dipasrahkan kepada empu Anggajali agar ditempa di kawah
Candradimuka dengan berbagai macam pusaka kahyangan. Pusaka yang
dihujamkan tersebut satu-persatu masuk ke tubuh Gatotkaca, seperti
warangka Kunta Wijayandanu yang masuk di pusar Gatotkaca. Dalam
sekejab Gatotkaca telah menjelma menjadi anak perkasa yang kebal
terhadap berbagai macam senjata tajam.
Patih Kala Sekipu dibuat semakin kesulitan untuk mengalahkan Gatotkaca.
Setiap kali Kala Sekipu menghajarnya, Gatotkaca justru bertumbuh menjadi
besar. Hingga akhir menjadi manusia dewasa yang perkasa dan sakti
mandraguna. Kala Sekipu dan Naga Pracona mati di tangan Gatotkaca.
Sejak peristiwa itu nama Gatotkaca melambung tinggi. Ia dikenal sebagai
ksatria muda yang sakti mandraguna, berotot kawat dan bertulang besi.
Oleh rakyat Pringgandani yang sebagian besar raksasa, Gatotkaca diangkat
menjadi raja.
Tidaklah heran, sebagai anak muda yang sakti dan mempunyai jabatan
tertinggi, Gatotkaca ingin memamerkan kesaktian dan kekuatannya. Demi
tujuan tersebut Gatotkaca mengumpulkan prajurit dan ksatria untuk
melakukan latihan perang di Tegal Kurusetra. Tindakan Gatotkaca tersebut
sangat mengejutkan. Karena dilakukan di Tegal Kurusetra, beberapa bulan
sebelum perang Baratyuda meletus, tanpa memberi tahu terlebih dahulu
kepada pihak Kurawa dan juga pihak Pandawa.
Tindakan Gatotkaca tersebut telah memancing Dursala calon senapati
perang dari pihak Kurawa, yang adalah anak Dursasana, mendatangi
perkemahan Gatotkaca untuk menantang perang tanding.
Gatotkaca yang adalah jagonya para dewa, sakti mandraguna, otot kawat
balung wesi, jatuh terpuruk di kaki Dursala yang mempunyai aji gineng.
Gatotkaca merasa malu, dan menyadari bahwa kesaktiannya belum cukup
untuk menandingi Dursala. Ia meninggalkan Dursala dan berjanji akan
menemuinya kembali untuk mengalahkannya.
herjaka HS
Gatotkaca
Gatotkaca adalah anak Raden Wrekudara atau Bima, dari istri nomor dua
yaitu Dewi Arimbi, adik seorang raja raksasa dari Pringgondani. Pada waktu
lahir, Gatotkaca telah menunjukkan keistimewaannya dibandingkan dengan
bayi pada umumnya. Keistimewaan tersebut nampak pada tali pusar bayi
Gatotkaca. Tali pusar yang menyatukan antara pusar Gatotkaca dan
plasenta tersebut tidak dapat dipotong dengan berbagai senjata tajam. Oleh
karena hal itu, Wrekudara dan juga kerabat Pandawa merasa prihatin dan
berupaya mencari senjata yang dapat memotong tali pusar bayi Gatotkaca.
Bersamaan dengan kesulitan yang dihadapi para Pandawa, para Dewa pun
berada dalam kesulitan. Pasalnya tempat kahyangan para dewa telah
dikepung oleh Prabu Naga Pracona bersama dengan Patih Kala Sekipu dan
bala tentara raksasa dari negara Ngembat Keputihan. Tak satu pun diantara
para dewa yang dapat mengalahkan dan mengusir Patih Kala Sekipu dan
Prabu Naga Pracona. Jika Dewi Gagar Mayang tidak diberikan kepada Prabu
Naga Pracona, kahyangan akan dibumi hanguskan.
Mengetahui akan kesaktian bayi Gatotkaca, Batara Guru mengutus Batara
Narada mengirim pusaka sakti yang bernama Kuntawijayandanu kepada
Arjuna agar dapat digunakan memotong tali pusar bayi Gatotkaca. Tetapi
jika nanti tali pusar bayi telah putus, hendaknya Wrekudara dan para
kerabat Pandawa merelakan bayi Gatotkaca dibawa ke kahyangan untuk
dijadikan jago para dewa dalam menghadapi musuh sakti.
Batara Narada yang turun ke arcapada dengan membawa panah pusaka
Kuntawijayandanu yang sedianya akan diberikan kepada Arjuna, ternyata
keliru diberikan kepada Suryatmaja. Akibatnya diantara kedua ksatria yang
hampir sama wajahnya itu saling berebut pusaka Kuntawijayandanu. Arjuna
mendapat „warangka‟ atau wadahnya, sedangkan Suryatmaja membawa
pusakanya. Atas kejadian tersebut Batara Narada memohon maaf kepada
Arjuna dan meyakinkan bahwa dengan wadah Kuntawijayandanu, talipusar
Gatotkaca dapat dipotong.
Benar apa yang dikatakan Batara Narada, tali pusar Gatotkaca dapat putus
dengan warangka Kunta Wijayandanu. Keelokan terjadi, bersamaan dengan
putusnya tali pusar Gatotkaca, warangka Kuntawijayandanu hilang musnah,
melesak di pusar Gatotkaca.
Selanjutnya, bayi Gatotkaca dibawa ke kahyangan. Namun sebelumnya,
Gatotkaca yang masih bayi dimasukan ke kawah Candradimuka agar
menjadi satria yang sakti mandraguna. Oleh Batara Guru, Gatotkaca diberi
pusaka berupa: Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan alas kaki
bernama Terumpah Padakacerma.
Dalam usia yang relatif muda Gatotkaca diwisuda menjadi raja para raksasa
di negara Pringgandani yang adalah warisan dari Dewi Arimbi ibunya,
dengan gelar Prabu Anom Gatotkaca. Ia beristri tiga orang yakni: Dewi
Pergiwa, Dewi Sumpaniwati dan Dewi Suryawati. Dari ketiga istri tersebut
Gatotkaca menurunkan tiga anak laki-laki, yakni: Sasikirana, Jayasumpena,
dan Suryakaca.
Nama lain Gatotkaca adalah: Tutuka, Purubaya, Arimbiatmaja, Krincingwesi,
Guruputra, Surya Narada, Senaputra, Bendarares.
Menurut cerita wayang versi India, Gatotkaca adalah anak seorang Raseksi
Hidimbi, oleh karenanya Gatotkaca lahir sebagai bayi yang berparas raksasa
dengan kepala gundul. Sangat berbeda dengan cerita wayang di Jawa bahwa
Gatotkaca adalah satria gagah tampan berpakaian serba gemerlap.
herjaka HS

Danaraja dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Danaraja
Danaraja atau Wisrawana adalah anak Prabu Lokawarna raja negara
Lokapala yang berpasangan dengan Dewi Lokawati. Ketika Dewi Lokawati
melahirkan, Batara Brahma datang. Ia menyaksikan bayi yang dilahirkan
Dewi Lokawati mirip sekali dengan ayahnya, maka diberilah nama
Wisrawana. Nama Wisrawana ini di sesuaikan dengan nama Wisrawa, yang
adalah nama ayahnya sebelum menjadi raja. Setelah Wisrawana dewasa, ia
mendapat warisan tahta negara Lokapala, dan menjadi raja bergelar Prabu
Danaraja atau Danapati.
Semenjak tahta pemerintahan negara Lokapala dipasrahkan kepada
Wisrawana, Prabu Lokawarna meninggalkan negeri Lokapala untuk bertapa
di pertapaan Girijembangan, dengan sebutan Begawan Wisrawa.
Salah satu cacatan suram yang pernah menghampiri negara Lokapala dalam
pemerintahan Prabu Danaraja adalah, ketika begawan Wisrawa dimohon
oleh Prabu Danaraja untuk melamarkan Dewi Sukesi melalui sayembara
yang digelar di Negara Alengkadiraja. Pada waktu itu Begawan Wisrawa atas
nama Prabu Danaraja anaknya, berhasil memenangkan sayembara dengan
membedhah ilmu Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Dengan keberhasilan tersebut, Dewi Sukesi menjadi haknya Begawan
Wisrawa. Namun Dewi Sukesi bukanlah barang yang dapat diperlakukan
seenaknya oleh Begawan Wisrawa. Ia tidak mau diberikan kepada Danaraja
anaknya. Bukankah yang berhasil membedah ilmu Sastrajendra Hayuningrat
Pangruwating Diyu adalah Wisrawa? Oleh karenanya Dewi Sukesi
memasrahkan jiwa-raga hanya kepada Begawan Wisrawa.
Sejatinya Begawan Wisrawa sendiri telah tak berdaya saat membedhah „ilmu
sakti‟ Sastrajendra dihadapan kemolekan Dewi Sukesi. Ada magnet yang
amat kuat, yang tidak mungkin dilepaskan Begawan Wisrawa.
Maka pada akhirnya Begawan Wisrawa dengan sadar memilih untuk tidak
menyerahkan hasil lamarannya kepada Danaraja anaknya, melainkan hasil
lamarantersebut untuk dirinya sendiri. Atas keputusan sang pemenang
tersebut, Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi diresmikan menjadi sepasang
suami istri oleh Pabu Sumali di negara Alengkadiraja
Tentu saja Danaraja menjadi marah, ia mendatangi ayahnya di
Alengkadiraja untuk minta pertanggungjawaban sebagai orang tua. Wisrawa
merasa bersalah, namun tidaklah mungkin untuk menyerahkan Dewi Sukesi
kepada Danaraja. Dan perang tanding pun tidak dapat dihindari. Para Dewa
di kahyangan merasa gerah atas perang tanding antara bapak dan anak
yang telah berlangsung berhari-hari.
Peperangan harus segera dihentikan, demikian Batara Guru yang adalah
rajanya dewa memerintahkan kepada Batara Narada patihnya, untuk
melerai pertikaian tersebut.
Atas perintah Batara Guru, Batara Narada segera turun ke Arcapada (dunia)
untuk melerai yang sedang bertikai. Dikatakan kepada keduanya, bahwa
kejadian ini sudah sesuai dengan rencana para dewa, jodoh Dewi Sukesi
adalah Wisrawa. oleh karenanya Danaraja harus menerima kenyataan ini.
Dengan penjelasan Batara Narada, Prabu Danaraja mau menerima
kenyataan yang terjadi. Dengan kebesaran hati Prabu Danaraja, ia diangkat
menjadi Dewa dengan sebutan Batara Danaraja. Ia menjadi dewanya harta
benda, dan tinggal di Kahyangan Wukir Kaliasa dan lebih dikenal dengan
sebutan Batara Kwera.
herjaka HS

Sembadra dalam rupa wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Sembadra
Sembadra adalah anak Basudewa, raja Mandura, yang berpasangan dengan
Dewi Badraini. Sembadra adalah seorang putri yang cantik jelita, kulitnya
hitam manis. Oleh karena itu ia juga disebut Dewi Rara Ireng, kakak-
kakaknya sering memanggilnya dengan sebutan mrenges yang artinya
hitam.
Walaupun ia anak seorang raja besar, sejak kecil Sembadra tidak pernah
merasakan kehidupan di istana. Karena ia dititipkan di Kademangan Widara
Kandang bersama dengan kedua kakaknya yaitu Kakrasana dan Narayana,
dan diasuh oleh Demang Antyagopa dan Endang Segopi. Penitipan tersebut
dilakukan oleh Prabu Basudewa secara rahasia, demi langkah penyelamatan.
Dikarenakan ketiga anak Prabu Basudewa tersebut diincar oleh Raden
Kangsadewa untuk dibunuh.
Ketika kakaknya Narayana menjadi raja Dwarawati, Sembadra ikut
kakaknya sampai akhirnya dilamar oleh Arjuna. Walau akhirnya Sembadra
menjadi istri Arjuna, pada awalnya Kakrasana tidak menyetujui, karena
Sembadra akan dijodohkan dengan Burisrawa anak Prabu Salyantaka raja
Mandaraka.
Kisah perkawinan Sembadra dengan Arjuna ini terdapat dalam lakon Parta
Krama. Parta adalah nama lain dari Arjuna.
Diceritakan bahwa barang siapa yang ingin melamar Sembadra, Baladewa
mengajukan syarat-buat yang tidak mudah dipenuhi oleh orang-orang pada
umumnya, diantaranya: „saka domas bale kencana,‟ gamelan lokananta,
kereta kencana yang ditarik oleh 144 ekor kuda „pancal panggung,‟ yakni
kuda yang kakinya berwarn putih mulai dari lutut ke bawah, dan kera putih
yang dapat menari di atas „pecut penjalin tingal‟.
Dibantu oleh kerabat Pandawa dan para dewa, Arjuna dapat memenuhi
semua syarat yang diajukan oleh Kakrasana. Sembadra adalah sosok wanita
yang mendapat wahyu raja dan kelak akan menurunkan raja besar, oleh
karenanya ia dijuluki dengan „babone ratu.‟
Dari perkawinan dengan Arjuna, Sembadra melahirkan seorang anak laki-
laki bernama Abimanyu.
Nama lain Sembadra adalah: Dewi Bratajaya (ketika masih muda), Lara
Ireng (berkulit hitam manis), Kendeng Retnali (ketika menyamar di
Kedemangan Widara Kandang) dan Mrenges (biasa dipanggil oleh kakak-
kakaknya).
herjaka HS

Prabu Setija dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Setija
Setija adalah anak dari Prabu Kresna, raja Dwarawati, yang berpasangan
dengan Dewi Pertiwi, seorang bidadari anak Sang Hyang Nagaraja. Setija
adalah seorang ksatria gagah, sakti dan tampan. Ia tinggal bersama Dewi
Agnyanawati istrinya di kerajaaan Trajutrisna atau sering disebut Kerajaan
Surateleng. Setija diangkat menjadi raja oleh para punggawa serta
wadyabala negara Trajutrisna yang sebagian besar adalah raksasa, setelah
ia berhasil menaklukan Prabu Bomantara raja Trajutrisna sebelumnya.
Walaupun Setija adalah seorang raja muda, tampan dan sakti, ia tidak
pernah mendapatkan cinta dari seseorang yang seharusnya memberikan
cintanya, yaitu Agnyanawati istrinya. Bahkan pada suatu saat, Setija pernah
memergoki istrinya sedang memadu kasih dengan Raden Samba adiknya.
Pada mulanya Prabu Setija memaafkan perbuatan adiknya terhadap istrinya.
Karena sesungguhnya prabu Setija sangat menyayangi Samba adiknya yang
amat tampan ini. Namun dikarenakan semakin lama perilaku adiknya dan
juga dibarengi dengan perilaku istrinya semakin tidak tahu diri, rasa sayang
itu berubah menjadi rasa benci. Harga diri Prabu Setija telah diinjak-injak.
Gelombang amarah yang sangat besar telah menggulung prabu Setija,
sehingga mata hati menjadi gelap pekat. Wajah rupawan adiknya telah
menjelma menjadi sosok iblis menakutkan yang harus segera dilumatkan.
Dalam sekejab ketampanan raden Samba hilang, termasuk juga hilangnya
keindahan badannya, dan kemudian disusul dengan hilangnya nyawanya.
Raden Samba dibunuh oleh prabu Setija dengan cara di juwing-juwing atau
di sebit-sebit.
Kematian raden Samba membuat prabu Kresna murka. Cara Setija dalam
menyelesaikan masalah dianggap salah. Menanggapi kemarahan ayahnya,
Setija yang dipengaruhi oleh patih Pancatnyanya, menghadapi kemarahan
ayahnya dengan kemarahan pula. Sehingga terjadi perang besar antara
negara Dwarawati melawan negara Trajutrisna. Perang besar antara bapak
melawan anak yang melibatkan dua negara besar disebut perang Gojali
Suta.
Dalam peperangan tersebut Kresna berhasil membunuh Setija anaknya atas
bantuan dewa dan bantuan Gatutkaca.
Herjaka HS
Kunti

Kunti atau Dewi Prita adalah anak Raja Kuntiboja dari negara Mandura.
Setiap ada tamu kehormatan yang datang di negara Mandura, Kunti lah
yang mendapat kepercayaan oleh Prabu Kuntiboja untuk menyambut tamu
kehormatan tersebut. Karena perangainya yang lembut, sabar dan
mempesona, banyak tamu negara yang memuji cara Kunti menjamu tamu-
tamunya. Salah satu tamu kehormatan yang sangat kagum kepada kunthi
adalah seorang begawan sakti dan nyentrik bernama Begawan Druwasa.
Saking senangnya kepada Kunti, Begawan Druwasa mengangkat Kunti
sebagai murid dan memberi mantra sakti aji pameling atau Aditya Herdaya,
yang dapat mendatangkan dewa sesuai dengan keinginannya.
Disuatu pagi nan cerah, Kunthi sengaja bermalas-malasan di tempat tidur,
sehingga hari semakin siang. Sinar matahari mulai menembus celah-celah
kamarnya. Oh begitu indah sinar mentari di siang itu, Kunthi terhenyak dari
tilam sari dan segera mandi.
Masih terpana dengan indahnya sinar surya disiang itu, pada saat mandi
Kunti membayangkan betapa indahnya pula Dewa yang berada dibalik
keindahan matahari tersebut. Niatnya untuk bertemu dengan dewa Surya
semakin kuat, maka kemudian Kunti membaca mantra aji Aditya Herdaya.
Selesai mantra dibaca, Dewa Surya datang menemui Kunti. Akibat dari
pertemuan tersebut Kunti hamil. Raja Kuntiboja murka, Kunti akan
disingkirkan dari negara Mandura, karena telah mencemarkan nama orang
tua dan kewibawaan negara Mandura.
Namun sebelum Prabu Kuntiboja menghukum Kunti, Begawan Druwasa
datang untuk menolong Kunti muridnya. Dengan kesaktiannya, bayi yang
ada di dalam kandungan dikeluarkan melalui telinga, sehingga Kunti masih
tetap perawan. Bayi yang lahir melalui telinga tersebut diberi nama Karno,
yang artinya telinga. Atas perintah Prabu Kuntiboja bayi tersebut di
masukan ke dalam kendaga dengan pakaian lengkap kemudian hanyutkan di
sungai Gangga.
Agar peristiwa memalukan tidak terulang lagi, Prabu Kuntiboja berniat
menikahkan Kunti dengan membuka sayembara. Dan sayembara tersebut
dimenangkan oleh Pandudewanata. Kunti kemudian dinikahkan dengan
Pandudewanata, raja Hastinapura.
Dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga, Pandudewanata
mendapat kutukan dari Resi Kimindamana, bahwa dirinya akan mati
mendadak jika melakukan hubungan suami istri. Oleh karena kutuk
tersebut, Kunti sebagai pendamping yang setia ingin membesarkan hati
Pandu agar jangan putus asa, masih ada harapan untuk masa depan
Hastinapura. “Masa depan Hastinapura senantiasa gelap adanya, karena
kutukan Resi Kimindama, aku tidak mampu memberikan anak keturunan
untuk menyambung tahta Hastinapura.” Kunti meyakinkan bahwa masih ada
harapan untuk masa depan Hastinapura yang cerah. Tiba-tiba wajah Pandu
yang murung berubah cerah. Ia teringat akan cerita Kunti tentang mantra
sakti aji Aditya Herdaya pemberian Begawan Druwasa.
Dengan penuh kesungguhan, Pandu memohon kepada Kunti agar bersedia
mengetrapkan mantra aji Aditya Herdaya untuk mendapatkan anak demi
masa depan Hastinapura.
Karena ketaatannya kepada Pandu, maka kemudian dengan mantra sakti
Aditya Herdaya Kunti mendatangkan tiga dewa sesuai dengan keinginan
Pandu, yaitu dewa Darma, Dewa Bayu dan dewa Indra. Dari ketiga dewa
itulah Kunti melahirkan Puntadewa, Bimasena dan Harjuna. Setelah itu Kunti
mengajari Dewi Madrim istri Pandu yang satunya, untuk membaca mantra
sakti pemberian Begawan Druwasa. Maka kemudian datanglah dewa kembar
yang bernama dewa Aswan dan dewa Aswin. Dari mereka berdua, Dewi
Madrim melahirkan anak kembar yang diberi nama Pinten dan Tangsen, atau
Nakula dan Sadewa.
Kunti adalah seorang wanita yang sabar, taat dan setia pada suami dan
sangat mencintai anak-anaknya. Ia adalah sosok pendamping yang mampu
memberikan cahaya, dikala pasangannya sedang jatuh dalam gelap.
herjaka HS

‘Pandudewanata dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Pandudewanata
Raden Pandu adalah anak kedua raja Hastina yang bernama Abiyasa atau
Prabu Kresnadwipayana, yang berpasangan dengan salah satu dari ketiga
putri negara Kasi atau Giyantipura, yaitu Dewi Ambalika. Raden Pandu
mempunyai wajah yang tampan, tetapi mukanya pucat dan lehernya
„tengeng‟ (kaku selalu menengok). Walaupun mempunyai cacat secara fisik,
Pandu adalah satria yang sakti mandraguna serta patuh kepada orang tua.
Dikarenakan kakak Pandu buta, maka Raden Pandu menggantikan
ayahandanya menjadi raja di Negara Hastinapura dengan gelar Prabu
Pandudewanata. Ia beristrikan Dewi Prita atau Dewi Kunti anak raja
Mandura Prabu Kuntiboja, yang didapat melalui sayembara di negara
Mandura, serta Dewi Madrim, anak Prabu Mandrapati raja Mandaraka. Dari
kedua istri tersebut Pandu tidak mendapatkan anak, karena kutukan Resi
Kimindama, yang di„sot‟kan (dikutukan) setelah Pandu membunuh istri Resi
Kimindama dengan panah. “Hai Pandu raja yang bodoh! engkau akan binasa
ketika melakukan „saresmi‟ dengan istrimu. Pandu sangat terkejut, tidak
menyangka bahwa sepasang kijang yang sedang berpasihan di rumput hijau
tersebut jelmaan Resi Kimindama dan istrinya.
Oleh karena kutukan itu, Pandu bersama kedua istrinya yaitu Kunti dan
Madrim tidak mendapatkan anak. “Kepada siapakah negara Hastina akan
diwariskan?” Pandu sangat gelisah, sebagai raja besar ia tidak mempunyai
keturunan. Ia kemudian meminta kepada Kunthi yang mempunyai aji Aditya
Herdaya pemberian Resi Druwasa. Dengan aji tersebut Kunti dapat
mendatangkan Dewa sesuai dengan keinginannya untuk memberikan anak.
Maka kemudian lahirlah dari rahim Kunti secara berurutan: Puntadewa
pemberian Dewa Darma, Bimasena pemberian Dewa Bayu, Harjuna
pemberian Dewa Indra, dan disusul anak kembar Nakula dan Sadewa
pemberian Dewa Aswan dan Dewa Aswin yang lahir dari rahim Madrim.
Kelima anak laki-laki yang lahir dari kedua istri Pandu tersebut disebut
Pandawa Lima.
Pada saat terjadi perang Pamukswa, perang antara negara Hastina dan
negara Pringgondani, Prabu Pandudewanata berhasil membunuh Prabu
Tremboko raja raksasa dari Pringgondani. Belum puas atas kematian
musuhnya, mayat Prabu Tremboko diinja-injak sepuasnya. Pada waktu
menginjak-injak mayat prabu Tremboko, kaki Prabu Pandudewanata
menginjak keris Kalanadah yang masih dipegang Prabu Tremboko. Maka
jatuhlah Prabu Pandudewanata dan untuk beberapa lama ia menderita
sakit... dan kemudian wafat. Ada yang mengatakan bahwa wafatnya Prabu
Pandu bukan karena keris Kalanadah, melainkan karena ia sedang saresmi
dengan Dewi Madrim istrinya.
herjaka HS

‘Kala yang adalah anak Batara Guru mendapat gelar Batara.
Dan ia pun berpakaian seperti layaknya pakaian para dewa,
yaitu berjubah, memakai tutup kepala ketu dewa oncit,
memakai samir dan praba. Batara Kala dalam bentuk wayang kulit purwa,
buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya’ (foto: Sartono)
Kala
Disuatu hari, ketika Batara Guru dan Dewi Uma terbang bercengkrama di
atas alam desa yang indah permai, sampailah mereka berdua dipenghujung
hari. Senja temaram yang indah, langit berwarna kemerah-merahan,
sungguh pemandangan yang amat indah dan romantis. Kulit Dewi Uma yang
tertimpa sinar mentari senja, merona cemerlang bagaikan emas murni.
Batara Guru terpana melihat kecantikan Dewi Uma dan keelokan tubuhnya.
Darah lelakinya bergolak. Ia lupa akan dirinya yang adalah raja dewa
Suralaya, dan memaksa istrinya untuk melayani gejolak nafsunya. Dewi
Uma menolak untuk melakukan perbuatan yang tidak pada tempatnya itu.
Ia menghindar dari sergapan suaminya yang penuh nafsu birahi, sehingga
kama Batara Guru jatuh di samodra. Batara Guru amat marah kepada Dewi
Uma. Maka dikutuklah Dewi Uma menjadi raksasa dan diberi nama Batari
Durga.
Dikisahkan kama salah yang jatuh, mengebur samodra dibarengi dengan
badai dahsyat. Lalu kemudian munculah dari samodra sinar putih berujud
sosok menakutkan yang bergulung-gulung menuju Kahyangan. Atas
perintah Batara Guru „Kama Gumlundung‟ demikian cahaya putih itu disebut,
dihujami pusaka-pusaka andalan para dewa untuk dibinasakan, agar tidak
masuk ke Kahyangan. Namun Kama Gumlundung tidak binasa oleh pusaka-
pusaka para dewa yang dihujamkannya, bahkan ia mampu menyerap
energi-energi para dewa dan sekaligus keempat energi alam, yaitu Guntur
Geni (energi api), Guntur Banyu (energi air), Guntur Bayu (energi angin)
dan Guntur Bumi (energi bumi). Dari Guntur Geni ia mendapat kekuatan,
dari Guntur Banyu ia mendapat kehidupan, dari Guntur Bayu ia mendapat
kecepatan gerak dan dari Guntur Bumi ia semakin tumbuh dan jadilah
rasaksa umur belasan tahun. Ia meninggalkan lautan menyusuri rawa-rawa.
Para dewa berlari masuk kahyangan. Raksaksa tersebut mengejarnya,
sembari mengambil ganggeng dan lumut dan ditempelkan di badannya,
untuk menutupi tubuhnya menirukan busana yang dipakai para dewa. Tak
beberapa lama raksasa remaja tersebut telah bertemu Batara Guru. Ia
„ngawu-ngawu sudarma‟, meminta diaku sebagai anak. Batara Guru tidak
dapat mengingkari nya. Ia mengakui dengan jujur bahwa geger kahyangan
ini adalah merupakan akibat dari hasil perbuatannya. Oleh karenanya
raksasa yang lahir dari kama salah ini diaku sebagai anak dan diberi nama
Kala.
Batara Guru merasa kawatir, jika hal itu dibiarkan akan menelan banyak
korban. Maka, ketika Kala bersujud di hadapan Batara Guru, dipotonglah
lidah dan taring Kala yang mengandung bisa itu.
Potongan lidah dicipta Batara Guru menjadi senjata panah, dinamakan
Pasopati. Kemudian potongan taring sebelah kanan dicipta menjadi senjata
keris bernama Kalanadah, dan potongan taring sebelah kiri dicipta menjadi
keris bernama Kaladete.
Kala didampingi oleh Batari Durga, yaitu penjelmaan dari Dewi Uma, istri
Guru yang dikutuk menjadi wanita bermuka raksasa diberi tempat di
Pasetran Gandamayit. Ditempat itu mereka berkuasa atas bangsa makhluk
halus. Ada yang menyebutkan bahwa tempat tinggal Kala adalah Kahyangan
Sela Mangumpeng.
herjaka HS

Limbuk dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Limbuk
Limbuk dan Cangik adalah abdi raja yang bertugas melayani bendara-
bendara putri di keputren, bersama dengan abdi-abdi putri lainnya.
Pasangan Limbuk dan Cangik ini paling populer dibandingkan dengan abdi-
abdi putri lainnya. Kepopuleran sepasang abdi tersebut bukan karena
kemampuannya yang istimewa, melainkan karena ciri fisik yang dimiliki
berbeda dengan abdi-abdi lainnya.
Limbuk dalam bahasa Jawa artinya „lemu tur wagu‟ yaitu badannya gemuk
tetapi kurang proposional. Pada masyarakat Jawa seorang wanita yang
mempunyai ciri fisik gemuk tetapi tak beraturan diberi „paraban‟ atau
sebutan Limbuk. Nama sebutan yang sesuai dengan ciri fisiknya tersebut
justru lebih populer ketimbang nama yang sesungguhnya pemberian dari
orang tua.
Limbuk tergolong abdi wanita yang berparas jelek, namun genit. Oleh
karenanya berkali-kali Limbuk batal dilamar. Sebagian orang menganggap
bahwa Limbuk adalah anak Cangik. Tetapi ada pula yang menganggap
bahwa hubungan Limbuk dan Cangik adalah hubungan teman sekerja.
Lepas dari itu semua Limbuk dan Cangik merupakan pasangan yang populer
dan digemari orang banyak. Saking populernya hingga ada adegan khusus
yang dinamakan Limbukan. Dalam adegan ini, tokoh Limbuk dan Cangik
dijadikan sarana untuk memberi informasi, pencerahan dan sekaligus
hiburan.
Kedua abdi tersebut saling melengkapi. Mereka sangat dekat dengan
bendara putrinya. Pada saat bendara putrinya mengalami kebingungan,
Cangiklah yang sering diajak berembug untuk memecahkan masalah serta
mencari solusi. Sementara itu jika bendara putrinya berduka, Limbuk tampil
menghibur dengan bernyanyi dan menari.
Selain badannya yang gemuk „pating pecotot,‟ Limbuk mempunyai ciri fisik
yang lain, yaitu: dahinya lebar, matanya pecicilan, hidung sunthi, rambutnya
selalu digelung kecil dan memakai kesemekan serta jarit
Banyak orang beranggapan bahwa pasangan Limbuk Cangik bukanlah abdi
biasa, mereka merupakan abdi kesayangan, yang berfungsi ganda sesuai
dengan kebutuhan bendara putrinya. Peran ganda itulah yang kemudian
memposisikan Limbuk dan Cangik selain sebagai abdi yang melayani, juga
sebagai orang tua yang memberi solusi dan sekaligus berperan sebagai
sahabat yang penghibur, termasuk menghibur masyarakat luas.
herjaka HS

Cangik dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Cangik
Diantara abdi raja yang bertugas melayani bendara-bendara putri di
keputren, ada dua abdi yang populer, satu diantaranya adalah Cangik.
Dinamakan Cangik karena abdi putri yang satu ini mempunyai ciri fisik yang
menonjol, yaitu dagunya menjorok ke depan, dalam bahasa Jawa disebut
„Nyangik.‟ Oleh karena ciri fisik inilah, ia kemudian dikenal dengan nama
Cangik. Nama „paraban‟ ini lebih populer ketimbang nama asli pemberian
orang tua.
Selain dagunya yang nyangik, ciri fisik lainnya adalah: dahinya nonong,
matanya pecicilan, hidung sunthi, badannya kurus, rambutnya selalu
digelung tekuk, kebiasaannya mengenakan „kesemekan‟ dan memakai jarit
motif kawung.
Cangik tergolong abdi yang serba bisa, setia, sabar, periang dan
berwawasan luas. Ia sangat dekat dengan bendara putrinya. Pada saat
bendara putrinya mengalami kebingungan, Cangik bisa diajak berembug
untuk mencari solusi. Ketika bendara putrinya berduka, Cangik tampil
bernyanyi dan menari untuk menghiburnya.
Banyak orang beranggapan bahwa Cangik bukanlah abdi biasa, ia dapat
berperan ganda sesuai dengan kebutuahan bendara putrinya. Bahkan bagi si
bendara putri, Cangik dapat dijadikan pengganti orang tuanya dalam hal
nasihat-nasihat yang dibutuhkan.
Peran ganda itulah yang kemudian memposisikan Cangik sebagai juru
penerang dan sekaligus juru penghibur kepada bendaranya dan juga kepada
masyarakat luas.
herjaka HS

Tokoh Cantrik ditampilkan dalam wayang kulit purwa dengan roman muka yang gembira
dengan plelengan. Hidungnya ndelik atau sumpel. Bermulut sunthi dengan kumis tipis,
kadang ada yang berjenggot dan berjabang. Perut buncit, memakai rompi dan memakai
celana pocong dagelan. Kepalanya memakai kethu, semacam topi. Dipunggungnya,
kemana-mana menyandang sabit.
(wayang buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya, foto:
Sartono)
Cantrik
Cantrik termasuk panakawan, namun tidak panakawan baku seperti halnya:
Semar, Gareng, Petruk dan Bagong (panakawan tengen) atau pun Togog
dan Bilung (panakawan kiwa). Cantrik merupakan panakawan morgan atau
panakawan sampingan dan tidak baku. Walaupun tidak baku kehadiran
Cantrik dalam wayang kulit purwa cukup penting. Ia hadir sebagai pengiring
pendeta atau begawan, baik pendeta yang berujud raksasa maupun pendeta
yang berujud ksatria, di sebuah pertapaan atau percabaan.
Pada pagelaran wayang kulit Purwa, adegan percabaan ini merupakan
kelanjutan dari adegan gara-gara, ketika para panakawan tengen (Semar,
Gareng, Petruk dan Bagong) selesai bersenang-senang menghibur, lalu
mengantar seorang ksatria menuju percabaan untuk memohon pencerahan
kepada pendeta yang bersangkutan. Dalam adegan percabaan ini biasanya
seorang dalang memanfaatkan bertemunya Cantrik dan Semar Gareng,
Petruk, Bagong dengan guyonan yang lucu dan konyol.
Sesungguhnya Cantrik merupakan penggambaran seseorang yang sedang
menuntut ilmu kepada pendeta atau begawan di padepokan atau percabaan.
Sistem pengajaraannya menggunankan sistem khusus, yaitu sistem
pengajaran paguron. Dalam sistem paguron ini, para Cantrik (laki-laki) dan
Mentrik (perempuan) juga menjadi bagian dari keluarga, mereka tinggal
makan dan bekerja bersama serta berfungsi sebagai pelayan atau pengasuh.
Tokoh Cantrik jarang diceritakan secara khusus, kecuali tokoh cantrik yang
bernama Janaloka. Cantrik yang satu ini menjadi terkenal karena
keinginannya memperistri Endang Pergiwa dan ssaudara kembarnya Endang
Pergiwati. Pergiwa dan Pergiwati adalah anak Arjuna dengan Endang
Manuhara yang tinggal bersama eyangnya Begawan Sidik Wacana di
percabaan Andong Sumiwi. Pada suatu hari kedua putri kembar itu ingin
menemui Arjuna ayahnya di keraton Ngamarta. Begawan Sidik Wacana
mengutus Cantrikanya untuk mengantar kedua cucunya menemui ayahnya.
Namun di tengah jalan Cantrik Janaloka yang seharusnya melindungi
Endang Pergiwa dan Endang Pergiwati, malahan berniat memperistrinya.
Namun sebelum niat Cantrik Janaloka kesampaian, ia keburu mati ditangan
para Korawa.
Cerita ini menggambarkan seseorang yang memiliki keinginan, namun tidak
„ngilo githoke dhewe,‟ tidak melihat kekuatan dan kenyataan yang
dimilikinya. Dan juga merupakan penggambaran dari abdi yang tidak setia
kepada gurunya yang selama ini telah membimbingnya. Diibaratkan pagar
makan tanaman yang seharusnya dijaga malah dirusak sendiri.
herjaka HS

Basukarno, sesaat setelah diwisuda menjadi seorang Adipadi (lukisan: Herjaka HS)
Kidung Malam 93
Energi Matahari
Di siang hari yang terik, Adipati Karno berjalan menyusuri tepi Sungai
Gangga. Air sungai yang mengalir tenang mampu menampakkan wajah
matahari secara utuh. Adipati Karno memilih memandangi wajah matahari
tidak secara langsung, melainkan melalui gambaran yang dipantulkan oleh
air sungai Gangga. Entah mengapa hal itu selalu dilakukukan oleh Adipati
Karno sejak kanak-kanak hingga sekarang, saat dirinya telah diwisuda
menjadi Adipati, oleh Duryudana.
Jika ditanya mengapa hal itu dilakukan, Adipati Karno tidak tahu. Hanya saja
saat Karno melakukan hal itu, ada getaran energi yang mengalir di dalam
tubuh. Energi yang didapat dari pantulan matahari sangat membantu saat
dirinya berada pada suasana yang sedang tidak menguntungkan.
Seperti misalnya ketika masih remaja. Karno diolok-olok oleh murid-murid
Sokalima saat dirinya ingin ikut bergabung belajar ilmu kepada Pandita
Durna. Para murid Sokalima yang terdiri dari Kurawa dan Pandawa mengusir
Karno dengan kata-kata:
“Anak kusir diusir, anak ratu dijamu”
Karno tidak menanggapi olok-olokan tersebut, ia berlari meninggalkan
halaman padepokan Sokalima, bukan karena takut, tetapi agar tidak
menjadi bulan-bulanan oleh mereka. Jika hatinya sedang kacau seperti itu,
ada magnet yang amat kuat agar Karno mengadu kepada matahari. Namun
dikarenakan matanya tidak kuat menatap secara langsung, ia menatap
matahari melalui pantulan yang ada di air. Ajaibnya, pada waktu Karno
melakukan hal itu, kegundahan hatinya segera sirna. Ada energi baru yang
memungkinkan Karno untuk menghadapi segala olok-olok dan cercaan hidup
dengan dada yang tegap dan penuh percaya diri.
Beberapa saat setelah menatap pantulan matahari, Karno pun kembali pada
niat semula, yaitu belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi di Sokalima.
Entah apa yang terjadi kemudian, senyatanya Karno dapat dengan leluasa
mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Pandita Durna dari jarak jauh,
tanpa diketahui oleh mereka dan tanpa olok-olok dari murid lain. Dengan
penuh ketekunan, dalam beberapa waktu, Karno mengalami kemajuan yang
pesat di dalam berolah senjata panah, tidak kalah jika dibandingkan dengan
muri-murid Sokalima yang lain, bahkan murid-murid terbaik Sokalima, yaitu
Ekalaya dan Arjuna
Adirata bapaknya dan Nyi Rada Ibunya, tidak tahu apa yang dilakukan Karno
anaknya, namun kedua orang tua tersebut melihat bahwa anaknya telah
tumbuh menjadi remaja yang tampan, terampil, penuh percaya diri dan
yang istimewa bahwa Karno tidak pernah mengeluh dalam segala macam
kesulitan hidup.
Walaupun Karno tumbuh menjadi remaja yang mempunyai kelebihan dalam
segala hal, jika dibandingkan dengan remaja-remaja pada umumnya,
Adirata sebagai seorang sais kereta berpandangan sederhana, bahwa Karno
diharapkan dapat mewarisi dirinya sebagai sais kereta. Oleh karenanya
untuk menunjang hal itu, Adirata membelikan kereta kuda kepada Karno.
Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua memang tidak mudah. Ada
hal-hal yang perlu dikorbankan sebagai tanda bakti kepada orang tua.
Seperti halnya yang dialami Karno, disatu sisi ia harus menerima pemberian
orang tuanya berupa kereta kuda untuk belajar menjadi sais, disisi lain
Karno tidak pernah bermimpi menjadi seorang sais kereta seperti bapaknya.
Oleh karenanya agar tidak mengecewakan orang tuanya, Karno selalu
menyisihkan waktu untuk berlatih mengendarai kereta kuda, tetapi tidak
untuk menjadi sais kereta, melainkan untuk menjadi senapati perang dikelak
kemudian hari.
herjaka HS
Kidung Malam 92
Adipati Karno
Basukarno tidak hanya menunjukkan kelasnya dalam hal ilmu berolah
senjata panah, tetapi ia pun mampu menguasai dirinya dengan amat
matang. Sikap Dewi Durpadi yang merendahkan dirinya di atas panggung
sayembara, pada saat Basukarno berhasil menarik dengan sempurna busur
pusaka Cempalaradya, serta penolakan Dewi Durpadi yang seharusnya
menjadi putri boyongan setelah Basukarno berhasil membidik sasaran
dengan tepat, tidak membuatnya menjadi kalap. Walaupun ada perasaan
jengkel, Basukarno pemenang sayembara yang dibatalkan tanpa sebab,
turun dari panggung kehormatan dengan penuh percayaan diri, tanpa
sedikitpun rasa kecewa menggores di wajahnya.
Dengan tenang Basukarno meninggalkan panggung kehormatan. Ia tidak
mempedulikan penolakan Dewi Durpadi. Baginya yang paling utama adalah
mempertontonkan kemampuan ilmunya dihadapan orang banyak. Ia
menyeberangi lautan manusia yang memenuhi alun-alun Cempalaradya
waktu itu. Ribuan pasang mata mengikuti dan mengamati setiap gerak
langkahnya. Demikian juga saat ketika ia meladeni Arjuna untuk beradu
kebolehan ilmu memanah. Menyaksikan tingkat ilmu yang dimiliki Basukarno
orang-orang dibuat penasaran, benarkah ia seorang sudra?
Biarlah semua orang menilaiku demikian, orang sudra! kelas bawah! Hal itu
saya sadari bahwa aku memang seorang sudra anak sais kereta kerajaan
yang bernama Adirata. Walaupun aku seorang sudra, kata mereka, aku
adalah anak yang cerdas berani dan jujur. Aku tumbuh dan dibesarkan
dibawah asuhan pasangan Adirata dan Nyai Rada.
Setelah menginjak dewasa, Basukarno sering berpetualang sendirian.
Belajar kesana-kemari kepada orang-orang berilmu. Ketika pada suatu
waktu Karna lewat di Sokalima, ada dorongan yang amat kuat untuk
mencecap ilmu kepada Pandita Durna. Namun dikarenakan ia adalah
seorang sudra, Basukarno tidak berani berterus terang, karena tahu
akibatnya, yaitu ditolak. Oleh karenanya ia memilih belajar secara diam-
diam dan sembunyi-sembunyi, agar tidak diketahui oleh siapa pun.
Selain berguru kepada Pandita Durna, Basukarno juga berguru kepada
Ramaparasu guru sakti yang ahli bermain senjata Kapak dan senjata panah.
Seperti halnya ketika belajar di Sokalima, di hadapan Ramaparasu,
Basukarno tidak mau berterus terang. ia menyamar sebagai seorang
brahmana penggembara. Hal tersebut dilakukan karena Rama Parasu
mempunyai dendam pribadi kepada seorang ksatria, dan tidak mau
menerima murid seorang ksatria. Maka Karna menyamar menjadi seorang
brahmana dan berguru kepada Rama Parasu. Dengan menyamar sebagai
brahmana, Basukarno diterima menjadi murid Rama Parasu. Ilmu-ilmu yang
diajarkan diserapnya dengan cepat dan tuntas.
Jika Basukarno ingin belajar ilmu setinggi mungkin, harapan Adirata
sangatlah sederhana dan realistis. Ia menginginkan agar anaknya menjadi
seorang sais kereta seperti dirinya. Agar harapan tersebut dapat tercapai,
Adirata memberi kereta kuda kepada Basukarno, untuk belajar menjadi sais
kereta. Basukarno tidak menolak pembereian ayahnya, malahan ia
menggunakan kereka kuda tersebut untuk latihan perang-perangan.
Kini, ketika Basukarno telah menjelma menjadi pemuda berilmu tinggi,
Sengkuni dan Duryudana telah memeluknya. Di tengah-tengah para
Kurawa, Basukarno tidak lagi seorang sudra. Ia telah diangkat menjadi
Adipati yang sederajat dengan para ksatria Pandawa. Adipati Karno,
demikianlah nama yang pantas disandang setelah pengangkatannya.
Adipati Karno sungguh bahagia. Kebahagiaannya tidak semata-mata
pengangkatan dirinya sebagai seorang adipati, melainkan dengan
pengangkatan dirinya, jalan terbuka lebar untuk dapat berperang tanding
melawan Arjuna, dikelak kemudian hari.
herjaka HS

Bagong digambarkan pada wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Bagong
Tokoh Bagong digambarkan sebagai orang yang bertubuh pendek dan
gemuk, matanya bundar besar, bibirnya „ndower‟ hidungnya kecil dan pesek.
Sekilas postur tubuh Bagong mirip dengan Semar, kecuali bagian kepala.
Kisah kelahiran Bagong bermula ketika Semar diperintahkan oleh Sang
Hyang Tunggal, ayahnya turun ke dunia. Oleh karena sendirian, Semar
meminta seorang teman. Sang Hyang Tunggal mengabulkan permintaan
Semar dengan memuja bayangan Semar menjadi seorang manusia, yang
kemudian diberi nama Bagong.
Ada pula yang menceritakan bahwa yang memuja bayangan Semar menjadi
Bagong adalah bukan Sang Hyang Tunggal, melainkan Semar sendiri. Hal
tersebut dilakukan atas permintaan Petruk anak angkatnya yang tidak
terima menjadi adik Gareng. Dikarenakan sebelum badannya rusak, Petruk
adalah kakak Gareng dengan nama Raden Pecruk. Agar Petruk tetap
menjadi seorang kakak, maka Semar mengangkat anak satu lagi dengan
memuja bayangannya sendiri menjadi seorang manusia. Kemudian manusia
tersebut diberi nama Bagong dan diangkat menjadi anak nomor tiga, adik
Petruk.
Bagong bersama Semar Gareng dan Petruk, disebut sebagai prepat
Panakawan. Mereka selalu menemani, mendampingi kisah perjalanan hidup
seorang ksatria untuk menggapai cita-cita luhur. Selain menemani dan
mendampingi, prepat Panakawan juga berperan sebagai penasihat yang
memberi solusi bilamana ksatria atau pun raja yang diikutinya menemui
kesulitan. Kehadiran Bagong di antara para Panakawan sungguh memberi
warna tersendiri dengan sifatnya yang kekanak-kanakan dan lucu. Bagong
menjadi tokoh idola, kemunculannya selalu ditunggu-tunggu dikalangan
masyarakat luas.
Di daerah Banyumas, Bagong populer dengan sebutan Bawor. Kalau di Jawa
Barat ia disebut Cepot atau Astrajingga. Sedangkan Jawa Timur Bagong
lebih dikenal dengan nama Mangundiwangsa. Bagong. Istri Bagong adalah
seoerang Dewi yang cntik bernama Dewi Bagnawati, putri Prabu Balya dari
Kerajaan Pucangsewu.
herjaka HS

Petruk yang digambarkan dalam bentuk wayang kulit Purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Petruk
Petruk adalah adiknya Gareng, anak angkat Semar yang nomor dua. Postur
tubuhnya jangkung dengan anggota badan yang serba panjang. Leher
panjang, hidung panjang, tangan dan kakinya panjang, rambutnya dikuncir,
mata agak sipit, bibirnya selalu mengulum senyum. Saking seringnya
tersenyum Petruk senang tersenyum-senyum sendiri, seperti orang yang
kehilangan ingatan. Oleh karena perangainya yang lucu, ramah dan murah
senyum ia selalu tampil menghibur dan akrab dengan semua orang
termasuk anak-anak.
Sebelum diangkat anak oleh Semar, Petruk adalah seorang ksatria bernama
Bambang Precupanyukilan dari padepokan Kembangsore. Ia adalah sosok
pemuda tampan yang gemar memperdalam ilmu dari kerajaan ke kerajaan
serta menjalani laku tapa dari hutan ke hutan dan gunung ke gunung.
Sebagai anak muda Bambang Precupanyukilan pantas berbangga dengan
ketampanannya dan pencapaian ilmunya. Oleh karenanya ketika bertemu
dengan Bambang Sukadadi seorang pemuda tampan yang juga gemar
menjalani laku tapa seperti dirinya, Bambang Precupanyukilan merasa
terancam keberadaannya. Pertemuan sesama pemuda tampan berlimu
tinggi tersebut berujung pada perkelahian. Mereka menggunakan cara
kekerasan untuk saling memaksakan kehendak, bahwa dirinyalah yang lebih
tampan dan lebih sakti. Namun cara itu tidak menyelesaikan masalah.
Hingga muka dan badan mereka rusak, belum ada satu diantaranya yang
benar-benar mampu membuat lawannya tidak berdaya.
Perkelahian terhenti ketika ada lurah cebol berkulit hitam dari Padepokan
Karang Kadempel yang bernama Janggan Smarasanta yang menghampiri
tempat itu. Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan sepakat
meminta lurah Janggan Smarasanta menjadi hakim untuk memutuskan
siapakah diantara keduanya yang paling tampan. Janggan Smarasanta
mengatakan bahwa keduanya tidak ada yang tampan. Coba lihat wajah
kalian pada telaga. Keduanya berlari ke telaga dan mendapati bahwa
wajahnya telah rusak akibat perkelahian yang berkepanjangan.
Ketampanan yang dianugerahkan telah pergi tanpa membawa rasa syukur
dari pemiliknya. Mereka berdua menyadari ketololannya, dan meyesali
perbuatannya, untuk kemudian memasrahkan diri kepada Janggan
Smarasanta yang adalah titisan Sang Hyang Ismaya. Dengan perasaan iba
Lurah Karang Kadempel yang kemudian terkenal dengan nama Semar
tersebut mengobati luka keduanya, baik luka batin maupun luka raga.
Dengan mantra tembang yang mengalun lembut keduanya tertidur pulas.
Ketika Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan berbaring dalam
ketenangan jiwa dan ketenangan raga, angan mereka menggembara pada
suasana masa lalu yang pernah ditinggali ketika mereka masih kecil. Pada
waktu itu mereka berdua bernama Kucir dan Kuncung, anak dari pasangan
Gandarwa Bausasra dan Nyi Luntrung yang berkuasa di wilayah gunung
Nilandusa. Dikarenakan Gandarwa Bausasra mempunyai istri muda dan
berpisah dengan Nyi Luntrung, Kucir dan Kuncing disia-siakan oleh ibu
tirinya. Mereka tidak kerasan di rumah dan melarikan diri ke padepokan
Karang Kadempel, dan kemudian diangkat anak oleh Lurah Janggan
Semarasanta.
Selesai menyusuri masa lalunya dari wilayah Gunung Nilandusa, angan
Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan meloncat pada masa lalu
yang lain, saat mereka menjadi anak raja Jin yang bernama Gandarwa Raja
Bali, dengan nama Pecruk dan Penyukilan. Walaupun anak raja Jin keduanya
berwajah tampan. Namun ketampanannya tidak digunakan sebagai mana
mestinya. Kedua kakak beradik itu senang menakut-nakuti dengan
mencegat orang untuk disakiti dan dirampas barang bawaannya.
Pada suatu saat ketika sedang melakukan aksi pencegatan, Pecruk dan
Penyukilan berhadapan dengan Semar yang baru saja turun dari Kahyangan,
maka diganggulah Semar oleh keduanya. Tetapi Semar melawan bahkan
Pecruk dan Penyukilan diinjak-injak hingga tubuhnya rusak.
Akhirnya Pecruk dan Penyukilan mohon ampun dan mengaku kalah. Oleh
Semar, kedua anak itu diampuni asal bersedia menemani menjadi
pamomong satria. Pecruk dan Penyukilan bersedia menuruti kehendak
Semar. Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Penyukilan yang lebih dulu
rusak tubuhnya, dianggap sebagai saudara sulung dan diberi nama Gareng.
Kemudian Pecruk diangkat menjadi anak nomor dua dengan nama Petruk.
Setelah mengingat bahwa dirinya pernah menjadi „begal‟ Bambang
Precupanyukilan masih menyisakan angannya, bahwa ia pernah menjadi
anak raja Gandarwa yang bernama Prabu Suwala dari negara Pecuk
Pacukilan, namun ia tidak ingat lagi peristiwa peritiwa penting lainnya yang
terjadi dimasa lalu.
Memang, dengan mantra kidung yang ditembangkan, Semar sengaja ingin
menghapus masa lalu nan getir yang pernah dialami oleh Bambang
Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan, terlebih ketika mereka kehilangan
ketampanannya. Agar untuk selanjutnya mereka dapat menjalani hidup
dengan penuh semangat dan sukacita
Setelah mantra kidung selesai, Bambang Sukadadi dan Bambang
Pecrupanyukilan tersadar dari tidurnya. Masa lalu yang pernah melintas
dalam hidupnya hanyalah sebuah mimpi yang akan segera dilupakan. Ibarat
seorang bayi yang lahir, mereka tidak ingat lagi masa lalunya. Yang mereka
tahu bahwa mereka berdua adalah anak Semar yang diberi nama Gareng
dan Petruk.
Nama lain dari Petruk adalah: Kantong Bolong, Pentung Pinanggul,
Doblajaya, Loncung Boing, Dawala, Udawala.
Dengan pasangan Dewi Ambarwati Petruk mempunyai seorang anak laki-laki
bernama Lengkungkusuma. Dalam riwayat hidupnya, Petruk pernah menjadi
raja di negara Ngrancang Kencana dengan gelar Prabu Welgeduwelbeh.
herjaka HS

Penggambaran tokoh Gareng dalam bentuk wayang kulit Purwa, buatan Kaligesing
Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Gareng
Di padepokan Bluluktiba, tinggallah seorang ksatria muda berwajah tampan
bernama Bambang Sukadadi. Sebagian besar dari hidupnya dijalaninya
dengan laku tapa. Pada suatu waktu, ketika dalam perjalanan pulang
sehabis melakukan tapa, Bambang Sukadadi bertemu dengan seorang
pemuda tampan sebaya dirinya, bernama Bambang Precupanyukilan dari
padepokan Kembangsore, yang juga gemar menjalani laku tapa. Pertemuan
sesama petapa muda tersebut berujung dengan pertengkaran. Masing-
masing dari keduanya merasa dirinyalah yang paling tampan, paling sakti
dan paling unggul. Untuk membuktikan siapa yang pantas diunggulkan,
mereka malakukan perang tanding, satu melawan satu.
Konon perang tanding itu amatlah lama. Jika lelah mereka sepakat untuk
berhenti, dan kemudian melanjutkan lagi. Beberapa hari berlalu, ketika
perang belum juga usai, lewatlah Janggan Smarasanta manusia cebol yang
kemudian menjadi tempat menitis Semar Ismaya, dari padepokan Karang
Kadempel. Semar tidak sampai hati melihat wajah dan tubuh kedua rusak.
Maka Semar mencoba melerainya dengan kata-kata. Apakah yang kalian
perebutkan hai anak muda? Ketampanan? Atau kesaktian? Karena
sesungguhnya ketampanan dan kesaktian yang dianugerahkan sudah tidak
ada padamu. Lihatlah wajahmu telah rusak dan tidak ada pemenang
diantara kalian.
Mendengar seruan Semar, Bambang Sukadadi dan Bambang
Precupanyukilan seperti diberi aba-aba, mereka menghentikan
pertengkarannya dan lari untuk mendapatkan permukaan air nan jernih
untuk melihat wajahnya. Keduanya lungkai dan lemas mendapati wajahnya
yang telah rusak. Mereka menyesali perbuatan bodohnya dan berjanji tidak
akan mengulanginya lagi. Atas penyesalan yang diungkapkan, Semar
mengangkat mereka menjadi anaknya. Bambang Sukadadi, yang lebih tua
diberi nama Gareng. Sedangkan Bambang Precupanyukilan menjadi adik
Gareng bernama Petruk.
Mengenai asal-usul Gareng ini ada beberapa versi, ada yang menyebutkan
bahwa sebelumnya Gareng ini adalah anak dari pasangan Gandarwa
Bausasra dan Nyi Luntrung yang berkuasa di wilayah gunung Nilandusa
dengan nama Kucir. Karena disia-siakan Kucir dan Kuncung adiknya di ambil
anak oleh Semar dan namamnya diganti dengan Gareng dan Petruk.
Sedangkan menurut versi pedhalangan khusunya yang sering diceritakan
oleh dalang Jogyakarta, Gareng sebelumnya adalah anak raja Jin yang
bernama Gandarwa Raja Bali, dengan nama Penyukilan. Ia berwajah tampan
tetapi nakal. Ia memiliki saudara tua bernama Pecruk. Bersama dengan
kakaknya itulah ia sering mengganggu orang yang sedang lewat.
Pada suatu saat ketika sedang melakukan aksi „nakal‟nya, Pecruk dan
Penyukilan berhadapan dengan Semar yang baru saja turun dari Kahyangan,
maka diganggulah Semar oleh keduanya. Tetapi Semar melawan bahkan
kedua anak itu diinjak-injak hingga tubuhnya rusak.
Akhirnya Pecruk dan Penyukilan mohon ampun dan mengaku kalah. Oleh
Semar, kedua anak itu diampuni asal bersedia menemani menjadi
pamomong satria. Pecruk dan Penyukilan bersedia menuruti kehendak
Semar. Keduanya diangkat menjadi anak Semar. Penyukilan yang lebih dulu
rusak tubuhnya, dianggap sebagai saudara sulung dan diberi nama Gareng.
Kemudian Pecruk diangkat menjadi anak nomor dua.
Dari beberapa versi tersebut, Gareng ditempatkan sebagai anak angkat
Semar yang nomor satu, dan selalu bersama Semar menjadi pamomong
satria berbudi luhur. Dalam pewayangan Gareng digambarkan sebagai
seorang yang serba cacat. Matanya juling hidungnya bulat, tangannya ceko
atau bengkok, perutnya buncit seperti, kakinya pincang karena sakit
bubulen. Namun dibalik semua kekurangan pada fisiknya, Gareng adalah
seseorang yang sederhana, rendah hati dan jujur. Dalam pentas wayang
kulit purwa, Gareng selalu tampil pada tengah malam saat adegan gara-
gara. Ia tampil bersama Semar, Petruk dan Bagong.
Gareng mempunyai seorang istri bernama Dewi Sariwati putri Prabu
Sarawasesa dari kerajaan Saralengka. Dalam sejarah hidupnya, Gareng
pernah menjadi seorang raja bergelar Prabu Pandu Pragola di kerajaan
Paranggumiwang. Nama lain Gareng adalah: Nala Gareng, Nalawangsa,
Cekruk Tuna, Pancal Pamor, Pegat Waja.
herjaka HS

Batara Guru tidak mengendarai Lembu Andini, melainkan mengendarai sepasang Naga,
wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Batara Guru
Batara Guru adalah raja para dewa, di kahyangan Jonggringsaloka, atau
juga sering disebut kahyangan Suralaya. Kedudukannya sebagai penguasa
tertinggi ini berkaitan dengan sayembara yang diadakan oleh Sang Hyang
Tunggal ayahnya. Pada waktu ke tiga anak pasangan Sang Hyang Tunggal
dan Dewi Rekatawati, yaitu Sang Hyang Tejamantri (dari kulit telur), Sang
Hyang Ismaya (dari putih telur) dan Sang Hyang Manikmaya (dari kuning
telur) telah tumbuh dewasa, mereka memperebutkan penguasa tertinggi di
kahyangan Suralaya. Untuk mengatasi agar tidak saling berebut, Hyang
Tunggal mengadakan sayembara, barang siapa dapat menelan gunung
Saloka dan dengan segera mampu memuntahkannya kembali, ia berhak
menjadi penguasa Kahyangan.
Sang Hyang Tejamantri sebagai putra tertua mendapat kesempatan
pertama. Namun hingga mulutnya robek dan badannya rusak Sang Hyang
Tejamantri yang kemudian terkenal dengan nama Togog tidak berhasil
menelan gunung Saloka.
Kesempatan ke dua diberikan kepada Sang Hyang Manikmaya. Ia berhasil
menelan gunung Saloka tetapi tidak dapat mengeluarkan kembali. Gunung
Saloka mengeram di pantat Sang Hyang Ismaya, sehingga pantatnya
menjadi sangat besar, ia kemudian terkenal dengan nama Semar.
Dengan kejadian tersebut Sang Hyang Manikmaya anak yang nomor tiga,
dengan sendirinya tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti sayembara.
Atas kebijaksanaan Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Manikmaya
dinobatkan menjadi raja, dengan sebutan Batara Guru.
Batara Guru adalah dewa yang berwajah tampan tetapi memiliki taring kecil,
bertangan empat dua diantaranya selalu menggenggam pusaka andalan
yang berupa cis, bentuknya seperti anak panah bermata tiga dalam ukuran
besar. Kedua pusaka itu namanya adalah cis Jaludara dan cis Trisula.
Lehernya berwarna biru/nila, serta kakinya apus, tidak kuat menopang
badannya, sehingga ia selalu naik seekor lembu namanya lembu Andini.
Batara Guru mempunyai banyak nama (dasanama) yang antara lain adalah:
Batara Siwah, Sang Hyang Caturboja (bertangan empat), Sang Hyang
Jagadnata, Sang Hyang Girinata, Sang Hyang Nilakantha (berleher nila),
Sang Hyang Udipati, Batara Trinetra (bermata tiga).
Pada dasarnya nama-nama tersebut menggambarkan ciri dan perwatakkan
dari Batara Guru yang dikenal di masyarakat. Namun sering juga antara
nama yang satu dan nama yang lainnya menunjuk sosok pribadi yang
berbeda. Misalnya, nama Batara Guru diberi kesan berbeda dengan Batara
Siwa. Walaupun menjadi raja dari para dewa, Batara Guru bukanlah
makhluk yang sempurna. Seperti halnya manusia, atau pun dewa lainnya. Ia
tidak jarang berbuat salah. Dalam berbagai lakon, Batara Guru beberapa kali
melakukan kesalahan, ia sering tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya,
nafsu amarahnya, dan dendamnya.
Menurut mitologi Hindu, Batara Guru ini disebut Dewa Siwa, yaitu salah satu
Dewa yang dipercaya sebagai perusak dunia. Dewa pencipta dunia adalah
Dewa Brahma dan Dewa pemelihara dunia adalah Dewa Wisnu, selanjutnya
ketiga dewa tersebut disebut dengan Tri Murti.
Menurut sejarahnya, mengapa Batara Guru mempunyai tangan empat,
karena pada waktu itu ia merasa kesulitan untuk menangkap Dewi Uma,
bidadari yang amat dicintainya. Pasalnya selain sakti, Dewi Uma sangat licin,
sehingga ia selalu dapat melepaskan diri dari tangkapan Batara Guru. Pada
hal Dewi Uma telah berjanji, ia mau menjadi istri Batara Guru, jika ia dapat
menangkapnya. Atas kesulitan itu, Batara Guru memohon kepada Sang
Hyang Wenang kakeknya, agar ia dapat menangkap Dewi Uma. Oleh
kakeknya ia diberi tangan empat, yang kemudian dengan keempat
tangannya, Batara Guru berhasil menangkap Dewi Uma, dan mengambilnya
menjadi istri. Dengan Dewi Uma Batara Guru mempunyai anak yang
diantaranya adalah Batara Sambo, Batara Brama, Batara Endra, Batara
Bayu, Batara Wisnu, Batara Sakra, Batara Asmara dan Batara Mahadewa.
Selain bertangan empat, Batara Guru mempunyai taring akibat dari kutukan
Dewi Uma istrinya. Karena pada waktu bercengkerama bersama istrinya,
Batara Guru melakukan tindakan atas Dewi Uma seperti layaknya seorang
raksasa.
Sedangkan leher Batara Guru berwana nila kebiru-biruan, karena ia telah
menelan racun yang muncul dari samodra Mantana, tempat para dewa
mencari Tirta Amerta. Racun tersebut sengaja ditelan oleh Batara Guru demi
penyelamatan para dewa, yang pada waktu itu saling berebut ingin menelan
racun, karena dikira Tirta Amerta.
Herjaka HS
Figur Wayang

Semar dalam penggambaran wayang kulit purwa,buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Semar
Pada mulanya Semar adalah dewa berparas tampan, bernama Sang Hyang
Ismaya. Ia mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Sang Hyang
Tejamantri dan Sang Hyang Manikmaya. Kisah kelahiran Semar berawal dari
sebuah telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati. Telur tersebut kemudian
dipuja oleh Sang Hyang Tunggal. Kulit telur menjadi anak laki-laki tampan
yang lahir sulung dan diberi nama Sang Hyang Tejamantri. Disusul oleh
kelahiran anak kedua yang berasal dari putih telur yang diberi nama Sang
Hyang Ismaya. Sedangkan anak laki-laki tampan nomor tiga berasal dari
kuning telur dan diberi nama Sang Hyang Manikmaya.
Ketiga laki-laki anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati
tersebut setelah dewasa saling berebut kekuasaan di Kahyangan. Untuk
mengambil keputusan siapa yang berhak menjadi penguasa tertinggi di
Kahyangan, Sang Hyang Tunggal menggelar sayembara. Barang siapa dapat
menelan gunung Saloka dan dengan segera memuntahkannya kembali akan
di jadikan penguasa tertinggi di kahyangan. Sang Hyang Ismaya berhasil
menelah gunung Saloka tetapi tidak berhasil memuntahkan kembali,
akibatnya Sang Hyang Ismaya yang sebelumnya tampan berubah wujud
menjadi gemuk bulat, pendek, hitam dan berparas jelek.
Karena gagal memenangkan sayembara, Sang Hyang Ismaya tidak
mendapat kekuasaan di kahyangan, ia diperintahkan turun ke dunia sebagai
pamomong para ksatria dan bertempat tinggal di Karang Kadempel atau
Karang Kabolotan. Sejak menjadi pamomong, ia tidak pernah lagi disebut-
sebut sebagai dewa dengan nama Sang Hyang Ismaya. Semuanya
tersamarkan di dalam tugasnya sebagai pamomong atau panakawan. Ia
dipanggil dengan nama Semar, dari kata samar atau tidak jelas.
Nama lain dari Semar adalah Badranaya yang artinya rembulan,
dikarenakan badannya bulat seperti rembulan. Perkawinannya dengan Dewi
Kanestren, Semar mempunyai 10 orang anak yaitu: 1. Batara Bongkokan, 2.
Batara Patuk, 3. Batara Temburu, 4. Batara Wrehaspati, 5. Batara
Yamadipati, 6. Batara Surya, 7. Batara Candra, 8. Batara Kwera, 9. Batara
Kamajaya dan 10. Dewi Darmanastiti.
Tugas Semar yang terutama dan utama adalah mengantar ksatria yang
diemongnya untuk mendapat wahyu. Wahyu yang berdaya guna untuk
memayu hayuning bawana.
herjaka HS

Togog dalam penggambaran wayang kulit purwa,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Togog
Togog digambarkan sebagai seorang yang bertubuh pendek dan gemuk.
Mulutnya lebar dan menjorok panjang, bentuknya seperti mulut bunglon.
Pada waktu kecil hingga remaja nama Togog adalah Sang Hyang Tejamantri
atau Sang Hyang Antaga atau juga Sang Hyang Puguh. Ia berparas tampan,
anak dari pasangan Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati.
Togog Tejamantri mempunyai dua saudara laki-laki yang bernama Sang
Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya. Kisah kelahiran Togog berawal
dari sebuah telur yang dilahirkan oleh Dewi Rekatawati. Kemudian telur itu
dipuja oleh Sang Hyang Tunggal menjadi tiga laki-laki tampan. Kelahiran
laki-laki tampan yang nomor satu berasal dari kulit telur dan diberi nama
Sang Hyang Tejamantri. Laki-laki tampan yang nomor dua lahir berasal dari
putih telur dan diberi nama Sang Hyang Ismaya dan laki-laki tampan nomor
tiga lahir berasal dari kuning telur dan diberi nama Sang Hyang Manikmaya.
Dari kecil hingga remaja mereka bertiga hidup rukun. Namun setelah
dewasa masing-masing dari mereka menginginkan menjadi penguasa
tertinggi di Kahyangan. Ketiga anak pasangan Sang Hyang Tunggal dan
Dewi Rekatawati tersebut saling berebut tahta. Tidak ada yang mau
mengalah.
Untuk mengatasi hal itu, Hyang Tunggal membuat sayembara, barang siapa
dapat menelan gunung Saloka dan dengan segera memuntahkannya
kembali itulah yang berhak menjadi penguasa Kahyangan. Sang Hyang
Tejamantri sebagai putra tertua mencoba terlebih dahulu menelan gunung
Saloka. Namun hingga mulutnya robek dan badannya rusak, Sang Hyang
Tejamantri gagal dalam sayembara tersebut.
Oleh karena gagal menjadi penguasa di Kahyangan, Sang Hyang Tejamantri
diperintahkan turun ke dunia sebagai pamomong raja. Sejak saat itu ia
dikenal dengan nama Togog. Tugasnya adalah sebagai penasehat dan
mengingatkan raja yang menjadi momongannya agar senantiasa
menghindari tindak kejahatan yang merugikan orang lain.
Namun sayang, tidak ada satu raja pun yang mau mendengar dan menuruti
nasihat Togog untuk menanggalkan kejahatannya dan beralih pada jalan
yang diberkati. Oleh karenanya sampai sekarang Togog dikenal sebagai
pamomong raja-raja yang berwatak jahat
herjaka HS

Bilung dalam penggambaran wayang kulit purwa,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Bilung
Tokoh Bilung digambarkan berperawakan kecil dan pendek, kepalanya
penuh dengan penyakit kudis, bibirnya agak lebar dan suaranya melengking
sengau. Bilung tidak pernah muncul sendirian. Ia selalu bersama-sama
dengan Togog. Hal tersebut dikarenakan tugas yang diemban Bilung adalah
untuk mengikuti Togog.
Kelahiran Bilung berawal ketika terjadi perebutan kekuasaan di kahyangan
antara tiga bersaudara anak dari Sang Hyang Tunggal yang terdiri dari Sang
Hyang Antaga atau Sang Hyang Puguh, anak sulung, Sang Hyang Ismaya
dan Sang Hyang Manikmaya. Mereka bertiga saling berebut menjadi
penguasa tertinggi di kahyangan.
Dikarenakan tidak ada yang saling mengalah, maka Sang Hyang Tunggal
mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menelan gunung Saloka
dalam keadaan utuh dan kemudian memuntahkan kembali maka ia akan
berhak menjadi penguasa kahyangan.
Sang Hyang Puguh dan Sang Hyang Ismaya saling mendahului untuk
menelan gunung Saloka. Karena tergesa-gesa, gigi Sang Hyang Puguh cuwil.
Kemudian cuwilan gigi itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki. Oleh
Sang Hyang Tunggal, laki-laki tersebut diberi nama Bilung.
Karena gagal menelan gunung Saloka, Sang Hyang Puguh atau Sang Hyang
Antaga yang kemudian terkenal dengan nama Togog diperintahkan oleh
Sang Hyang Tunggal untuk turun ke dunia menjadi pamomong manusia.
Sedangkan Bilung diperintahkan mengikuti Togog turun ke dunia.
Tokoh Bilung dan Togog dapat dikatakan sebagai tokoh dwi tunggal, dua
tetapi satu, tak terpisahkan. Di mana ada Togog, disitu ada Bilung, demikian
juga sebaliknya. Saking menyatunya hubungan antara Togog dan Bilung ada
yang mengatakan sebagaimana hubungan antara Bapak dan anak atau
hubungan antara kakak dan adik.
Dalam mengemban tugas, Bilung dan Togog selalu mengabdi kepada
seorang raja yang berperangai jelek dan berhati jahat. Namun walau
demikian, Bilung dan Togog tetap menjalankan tugasnya dengan sungguh-
sungguh. Sebagai pamomong, nasihat-nasihat baik dan luhur selalu
dilontarkan kepada tuannya. Namun bukan salah Bilung dan Togog sebagai
pamomong, jika kemudian sang raja yang di emong terjerumus dalam
lembah kenistaan, dikarenakan tidak mau mematuhi nasihat-nasihat dari
Bilung dan Togog.
Bilung juga bernama Sarahita atau Sarawita. Nama tersebut ada kaitannya
dengan penjelmaan dari dewa yang bernama Sang Hyang Surata atau Sang
Hyang Sarahita. Ada kemungkinan bahwa Sang Hyang Sarahita menjelma
pada cuwilan gigi Sang Hyang Antaga, Oleh karena itu ketika menjadi
panakawan disebut dengan Bilung Sarahita.
Selain sebagai panakawan atau pamomong, kemunculan Bilung juga
berperan sebagai penghibur yang lucu, sinis, sekaligus kritis, dalam
mengingatkan tuannya dan mengingatkan jamannya.
herjaka HS

Aswatama dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
Koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Aswatama
Aswatama lahir dari seorang Bidadari Wilotama yang sedang dikutuk dewa
menjadi seekor kuda sembrani. Ia akan terlepas dari kutukan jika ada
seorang laki-laki yang bersedia mengawininnya. Setelah beberapa tahun
Bidadari Wilotama menjalani kutukan, bertemulah ia dengan pemuda
tampan bernama Kumbayana di pinggir pantai. Pada waktu itu Kumbayana
berniat menyeberangi samodra menuju tanah Jawa, namun apa daya ia
tidak dapat terbang. Kuda Sembrani bersedia menyeberangkan Kumbayana
ke tanah Jawa. Maka digendongnya Kumbayana dipunggung kuda untuk
dibawa terbang melintasi samodra.
Sejak peristiwa itu, kuda sembrani mengandung. Inilah awal pelepasan dari
sebuah kutukan. Bersamaan dengan kelahiran anak yang dikandung, kuda
Sembrani tersebut lepas dari kutukan. Ia kembali kewujud semula, menjadi
seorang bidadari yang cantik jelita. Kumbayana, ayah dari anak yang
dilahirkan, tak kuasa mencegah Bidadari Wilotama istrinya, agar tidak
kembali ke Kahyangan. Namun sebelum meninggalkan Kumbayana dan
bayinya, bidadari Wilotama memberikan tusuk konde kepada Kumbayana
sebagai tanda cinta.
Sepeninggal Bidadari Wilotama, Kumbayana memandangi anaknya yang
masih bayi dengan seksama. Wajahnya tampan, tetapi rambutnya, seperti
rambut kuda. Ia menamakan anaknya, Aswatama. Aswa adalah kuda dan
tama atau utama berarti pilihan. Kumbayana yang kemudian terkenal
dengan nama Durna, mengasuh Aswatama sendirian hingga dewasa. Durna
sangat menyayangi Aswatama, demikian juga sebaliknya.
Durna yang kemudian diangkat menjadi guru besar istana Hastinapura,
dengantugas utama mengajar para putra raja yaitu Kurawa dan kemenakan
raja yaitu Pandawa, menjadikan Aswatama pun bergabung dengan para
Kurawa. Jika ayahnya sangat dihormati oleh kedua belah pihak, tidak
demikian dengan Aswatama. Keberadaan Aswatama dipandang sebelah
mata.
Peristiwa yang sangat menyakitkan bagi Aswatama adalah ketika ia
melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh Prabu Salya pada perang
Baratayuda. Dengan mata kepala sendiri, Aswatama yang pada waktu itu
menjadi kernet kereta melihat Prabu Salya, yang menjadi kusir kereta,
sengaja menarik kendali keras-keras, tepat ketika Adipati Karna sang
senopati, melepaskan panah pusaka. Akibatnya senjata pamungkas Adipai
Karna meleset dari leher Harjuna. Namun Prabu Duryudana tidak
mempercayai laporannya. Malahan Aswatama diusir dari negara Hastina.
Oleh karenanya hingga perang Baratayuda usai, dan Duryudana pun telah
gugur. Aswatama adalah salah satu sekutu Korawa yang masih hidup.
Walaupun Aswatama tidak lagi membela sekutunya, namun karena Durna
ayahnya gugur dalam perang besar Baratayuda, ia dendam kepada Pandawa
yang telah membunuh ayah tercinta. Untuk membalas dendam itu, ia
„melandak‟, atau merangkak sembari membuat lobang di tanah, menyusup
ke perkemahan Pandawa pada malam hari.
Dikarenakan mereka berbaring tidur dalam kelelahan yang amat sangat,
Aswatama berhasil membunuh beberapa orang yaitu Dewi Srikandi,
Banowati, Pancawala, termasuk Drestajumena orang yang telah membunuh
Resi Durna ayahnya. Namung malang bagi Aswatama, ketika ia akan
membunuh Parikesit, bayi Abimanyu yang kelak akan menjadi raja, tiba-tiba
bayi itu bangun dan dengan tidak sengaja kakinya menendang panah
Pasopati yang ditaruh di ranjang bagian bawah kaki bayi. Panah Pasopati,
panah pusaka milik Harjuna, mengenai tubuh Aswatama.
herjaka HS

Kartamarma dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Kartamarma
Kartamarma adalah salah satu dari seratus anak bersaudara laki-laki yang
lebih populer disebut dengan Kurawa. Anak pasangan Destarastra dan Dewi
Gendari ini bertempat tinggal di negara kecil yang ditaklukan Hastina, dan
kemudian disebut dengan ksatrian Toyatinalang. Di Hastinapura
Kartamarma termasuk tokoh penting. Karena disamping sebagai putra raja,
sewaktu yang menjadi raja Destarastra atau juga adik raja saat yang
menjadi raja Duryudana, Kartamarma diangkat menjadi panitisastra atau
sekretaris negara pada masa pemerintahan Prabu Duryudana. Oleh
karenanya ia selalu hadir dalam setiap adegan atau cerita yang
mengisahkan para Kurawa.
Walaupun Kartamarma tidak mempunyai kesaktian yang menonjol, ia adalah
satu-satunya keluarga kurawa yang tidak mati dalam perang Baratayuda.
Ketika melihat gelagat bahwa Kurawa bakal kalah, Kartamarma menyingkir
ke hutan sembari menunggu perang selesai. Di hutan Kartamarma bertemu
dengan Aswatama, anak Pandita Durna.
Setelah mendengar kabar bahwa Duryudana telah mati dan perang
Baratayuda selesai Kartamarma dan Aswatama bermaksud kembali ke
Hastina untuk menjemput Dewi Banowati. Kartamarma ingin mengambil
istri, sedangkan Aswatama bermaksud membunuh Banowati. Namun
maksud keduanya tidak kesampaian, karena Dewi Banowati telah terlebih
dahulu diboyong oleh Arjuna di perkemahan para Pandawa.
Akhirnya Kartamarma dan Aswatama merubah rencana. Mereka ingin
menyusup ke perkemahan pada malam hari untuk membunuh para
pandawa. Dalam penyusupan tersebut Aswatama berhasil membunuh
Banowati, Drestajumena dan Srikandi. Sedangkan Kartamarma dengan
ditemani Resi Krepa menunggu di luar perkemahan. Keberadaan mereka
berdua dipergoki oleh keluarga pandawa.
Dihadapan Kartamarma dan Resi Krepa Prabu Kresna mengatakan bahwa
dengan menyusup di perkemahan pada malam hari untuk membunuh lawan
yang sedang istirahat, merupakan sikap yang tidak terpuji. Sikap yang telah
menanggalkan watak ksatria dan watak Pandita. Oleh karenanya Prabu
Kresna mengutuk Kartamarma dan Resi Krepa menjadi seekor „Kutis‟ hewan
pemakan kotoran.
Ada yang mengisahkan bahwa Kartamarma atau Kertawarma bukan salah
satu anak pasangan Destrarastra dan Gendari, melainkan anak Prabu
Herdika seorang raja di Kerajaan Bhoja. Dalam perang Baratayuda,
Kertawarma memihak Korawa. Hingga perang berakhir Kertawarma masih
selamat. Ia kemudian pulang ke negaranya, untuk tidak berperang lagi.
herjaka HS

Sukrasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Sukrasana
“Akang aku elu akang” demikian kata yang sering diucapkan dengan logat
cedal oleh Sukrasana kepada Sumantri kakaknya, yang artinya “kakang aku
ikut kakang.” Kata tersebut menggambarkan bahwa Sukrasanan tidak mau
berpisah kepada Kakaknya. Ke mana pun Sumantri pergi, Sukrasana selalu
ingin ikut.
Sukrasana Sumantri adalah dua bersaudara anak Begawan Suwandageni
dari pertapaan Girisekar. Kedua kakak beradik satu ayah dan satu ibu itu
mempunyai ciri-ciri yang berlawanan. Secara fisik, Sukrasana berbadan
pendek dan cebol, berwajah raksasa yang jelek dan menakutkan.
Sedangkan Sumantri berwajah tampan dan gagah. Namun walaupun
wajahnya buruk, namun Sukrasana sangat sakti, baik budi pekertinya dan
penuh welas-asih, tidak seperti Sumantri yang merasa dirinya sakti dan
tampan.
Pada suatu pagi, ketika Sukrasana bangun, seperti biasanya, pertama-tama
yang ia cari adalah Sumantri. Namun pagi itu ia tidak mendapatkannya.
Maka kemudian dicarilah sang kakak yang amat dicinta itu. Begawan
Suwandageni tidak sampai hati melihat Sukrasana yang kebingungan
mencari kakaknya, maka kemudian dikatakanlah bahwa kakaknya pergi
meninggalkan Sukrasana, untuk mengabdikan diri ke kerajaan Maespati.
“Akang aku elu akang” Sukrasana menyusul kakaknya ke Kerajaan
Maespati. Di sana Sukrasana mendapatkan Sumantri yang sedang bersedih
karena telah melakukan kesalahan terhadap raja Maespati dan dipecat dari
jabatan prajurit. Sang Raja Maespati Prabu Arjuna Sasrabahu bersabda
bahwa satu-satunya jalan agar Sumantri dapat kembali menjadi prajurit,
yaitu dengan memindahkan Taman Sriwedari di Kahyangan Utarasegara ke
Maespati. Tugas tersebut teramat berat, Sumantri merasa kesulitan untuk
melakukannya.
Dalam keadaan putusasa, Sukrasana datang dan siap menolong Sumantri,
dengan sebuah permintaan agar Sumantri kakaknya tidak lagi meninggalkan
Sukrasana. Dan Sumantri menyanggupinya.
Dengan kesaktian yang dimiliki Sukrasana dan bantuan para dewa, Taman
Sriwedari dapat berpindah tempat, dari Kahyangan Utarasegara ke
Maespati, tanpa satu pun daun yang jatuh.
Sumantri sangat senang, demikian pula dengan Prabu Arjuna Sasrabahu dan
Dewi Citrawati permaisuri raja. Taman tersebut kemudian dijadikan tempat
bersenang-senang oleh permaisuri raja dan para putri-putri kerajaan.
Pada saat mereka bercengkrama di taman, tiba-tiba mereka pada menjerit
ketakutan dan berhamburan keluar taman, sambil berterik “Ada hantu”
Sang Raja memerintahkan agar Sumantri mengusir hantu itu. Sumantri
bergegas menuju taman dengan membawa senjata panah yang siap
dibidikan, untuk mengusir hantu yang telah membuat onar di Taman
Sriwedari.
Sesampaianya di taman ia menjumpai yang dimaksud dengan hantu adalah
Sukrasana adiknya.
“akang aku elu akang”
herjaka HS

Wisanggeni
Kisah kelahiran Wisanggeni tidak seperti kisah-kisah kelahiran pada
umumnya. Jika pada umumnya kelahiran membawa sukacita, tidaklah
demikian dengan kelahiran Wisanggeni. Bayi merah yang menangis lucu,
tidak ditimang dipangkuan ibu untuk kemudian di beri asi, tetapi dimasukan
di Kawah Candradimuka yang panas membara. Batara Brama kakek sang
bayi menyesal telah mengijinkan putrinya Dewi Dresanala yang sedang
mengandung diceraikan dengan Arjuna untuk diboyong Dewasrani di
Nusarukmi. Oleh karenanya, ketika tiba waktunya Dewi Dresanala
melahirkan, bayi itu sengaja dimusnahkan oleh Dewasrani. Anehnya bayi
tersebut tidak hancur menjadi abu, malahan tumbuh menjadi besar dan
sakti. Ia kemudian diberi nama Wisanggeni, yang artinya inti dari api itu
sendiri
Wisanggeni yang adalah anak Arjuna merupakan seorang ksatria yang
„ndugal kewarisan‟, nakal tetapi „sembada‟. Badannya kecil dan parasnya
tampan. Ia tidak bisa bahasa krama, walaupun dengan dewa sekalipun,
tetapi jujur dan selalu berpegang pada kebenaran. Sang Hyang Pada
Wenang penguasa alam semesta, sangat menyayangi Wisanggeni, oleh
karenanya ia diberi kesaktian yang tak terkalahkan. Ia ikut Batara Brama
kakeknya tinggal di kahyangan Duksinageni. Wisanggeni mempunyai
seorang istri bernama Mustikawati putri Prabu Mustikadarma raja
Sonyapura.
Watak, „solahbawa‟ atau tindak-tanduk dan kesaktian Wisanggeni sama
persis dengan kakak sepupunya, yaitu Antasena anak Bima. Keduanya
sangat akrab dan kompak, tidak mau berpisah, kemana-mana selalu berdua.
Kesaktian Wisanggeni yang tak terkalahkan ini menimbulkan kegelisahan
para dewa. Dasar kegelisahan tersebut adalah, jika nanti tiba waktunya
perang Baratayuda, Wisanggeni menjadi senapati di pihak Pandawa, maka
semua senopati Kurawa tak ada yang dapat menandingi Wisanggeni. Itu
artinya bahwa rencana yang telah ditulis dalam Kitab Jitabsara mengenai
ketentuan-ketentuan senopati yang nantinya saling berhadapan dari kedua
belah pihak dalam perang Baratayuda, tidak berlaku. Dengan alasan itu
maka Para dewa memutuskan bahwa Wisanggeni tidak diperbolehkan ikut
dalam perang Baratyuda
Dikarenakan Wisanggeni adalah titah kesayangan Sang Hyang Pada
Wenang, maka Batara Guru sebagai rajanya para dewa mengutus Batara
Brama untuk memasrahkan Wisanggeni cucunya kepada Sang Hyang Pada
Wenang. Dihadapan Sag Hyang Pada Wenang Wisanggeni bersama Antasena
Sepupunya menanyakan apakah perang Baratayuda akan dimenangkan
Pandawa? Sang Hyang Pada Wenang menjawab, Pandawa akan menang jika
Wisanggeni dan Antasena merelakan diri untuk tidak ikut berperang. Jika
tidak ikut berperang lantas apa yang kami kerjakan? Tinggalah di sini, kalian
akan melihat kemenangan Pandawa. Wisanggeni dan Antasana mentaati
perintah Sang Hyang Pada Wenang. Untuk dapat tinggal selamanya bersama
Sang Hyang Pada Wenang dan bersama-sama menyaksikan Pandawa yang
jaya di perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena „meracut raga‟nya.
Mereka memandang titik diantara dua mata. Semakin lama tubuh
Wisanggeni dan Antasena mengecil dan semakin mengecil hingga akhirnya
hilang kembali ke asal muasal, alam keabadian.
herjaka HS

Jayadrata dalam bentuk wayang kulit, karya dari Kaligesing Purworejo.
Koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Jayadrata
Kelahiran Jayadrata berawal dari bungkus bayi Bima yang dipecah oleh
Gajah Sena atas bantuan Dewa Bayu. Saat bungkus pecah, daging bungkus
tersebut terbang terbawa angin oleh karena daya dorong Dewa Bayu yang
adalah dewanya angin, sampai di samodera dan jatuh di pangkuan Begawan
Sapwani yang sedang bertapa untuk memohon anak. Betapa gembiranya
hati Begawan Sapwani, ketika daging bungkus bayi Bima berubah menjadi
bayi laki-laki. Bayi tersebut diasuhnya dan diberi nama Bambang Segara,
karena didapat di pinggir Segara atau Samodra. Setelah dewasa Bambang
Segara mendapat tambahan nama Jayadrata dan tinggal di kasatriyan
Banakeling. Jayadrata adalah ksatria yang sakti madraguna. Ia kemudian
menjadi raja di negeri Sindu Kalangan dan bergelar Tirtanata, yang artinya
raja air.
Pernah suatu ketika, Tirtanata gelisah dengan dirinya, dan ingin mencari
saudaranya yang bernama Bima. Begawan Sapwani menyarankan agar
Tirtanata pergi ke negara Hastina karena Bima ada di negeri itu.
Sesampainya di Hastina, Tirtanata tidak ketemu dengan Bima, karena Bima
dan para Pandawa hidup dihutan sejak peristiwa Bale Sigala-gala. Tirtanata
bertemu dengan Kurawa dan dibujuk oleh Sengkuni agar bergabung dengan
Kurawa. Jika Tirtanata mau bergabung dengan Kurawa, Duryudana
menjanjikan sebuah kedudukkan di Negara Hastina. Tidak hanya
kedudukkan, bahkan Tirtanata dikawinkan dengan Dewi Dursilawati adik
Duryudana yang bungsu. Maka sejak saat itulah Tirtanata menjadi sekutu
Kurawa.
Pada saat perang Baratayuda, Tirtanata juga menjadi senapati perang pihak
Hastina. Ia berhasil membunuh anak kesayangan Arjuna, yaitu Abimanyu.
Arjuna kemudian dendam, dan bersumpah untuk membunuh Tirtanata
sebelum matahari terbenam. Jika sampai dengan matahari terbenam belum
dapat membunuh Tirtanata alias Jayadrata, Arjuna akan bunuh diri.
Sumpah itu didengar oleh para Kurawa. Maka mereka berupaya
menyembunyikan Jayadrata. Begawan Sapwani tidak tinggal diam. Ia
merekayasa seribu Jayadrata tiruan untuk mengecoh Arjuna. Melihat
banyaknya Jayadrata di medan perang Arjuna kebingungan untuk
melepaskan panahnya. Kresna mengetahui semuanya. Maka ditutuplah mata
hari yang belum waktunya terbenam dengan senjata Cakra.
Medan perang menjadi gelap. Kurawa mengira bahwa hari sudah malam,
sehingga Arjuna akan mati membakar diri sesuai dengan sumpahnya karena
belum dapat membunuh Jayadrata. Oleh karenanya para Kurawa keluar ke
medan perang, termasuk Jayadrata yang asli, untuk melihat Arjuna
membakar diri. Pada saat itulah Kresna menunjukkan kepada Arjuna
Jayadrata yang asli berada. Maka dilepaslah panah ke leher Tirtanata hingga
putus dan kepalanya jatuh ke tanah dan menggelinding di depan Bagawan
Sapwani. Bersamaan dengan itu Kresna membuka tutup matahari, dan
medan perang pun menjadi terang kembali, karena hari masih sore.
Melihat anaknya tinggal kepala Begawan Sapwani menangis seperti anak
kecil. Ia tidak terima atas perlakuan Arjuna terhadap anaknya. Maka
kemudian mulut Jayadrata diberi pusaka berupa Cis semacam tombak
pendek. Dengan cis dimulutnya Jayadrata mengamuk. Semua anak Arjuna
mati terkena senjata cis.
Melihat kepala Jayadrata memakan banyak korban Bima segera menghabisi
kepala Jayadrata yang masih bernyawa dengan Gada Rujak Polo. Jayadrata
mati meninggalkan satu istri yaitu Dewi Dursilawati dan dua anak yang
bernama Arya Wirata dan Arya Surata.
herjaka HS

Dewa Bayu, dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dewa Bayu
Bayu, Batara atau Dewa Bayu adalah anak Batara Guru dengan Dewi Uma.
Dewa Bayu bertubuh gagah perkasa lebih besar dibandingkan dengan dewa-
dewa yang lain. Ia memiliki kuku pusaka yang bernama Kuku Pancanaka,
dan mengenakan kain bermotif kothak-kothak berwarna-warni, yang disebut
kampuh Poleng Bang Bintulu Aji. Dewa Bayu dikenal sebagai dewa yang
berkuasa atas angin, oleh karenanya ia juga disebut Hyang Maruta. Maruta
artinya angin. Karena kekuasaannya itu, Ia mempunyai aji Sepi Angin yang
memungkinkan dirinya dapat bergerak sangat cepat seperti gerakan angin.
Dewa Bayu pernah ditugaskan oleh Batara Guru untuk mengasuh anak Dewi
Anjani yang bernama Anoman. Di bawah asuhan Dewa Bayu, Anoman yang
adalah seekor kera putih, tumbuh menjadi ksatria perkasa yang sakti.
Anoman mengenakan kain Kampuh Poleng Bang Bintulu Aji dan pusaka
Kuku Pancanaka, sama seperti Dewa Bayu. Sebagai asuhan Dewa Bayu atau
Sang Hyang Maruta, Anoman juga mampu bergerak sangat cepat seperti
gerakan angin dan mendapat sebutan Maruti.
Dalam cacatan yang lain, Dewa Bayu pernah dimohon oleh Kunthi, istri
Pandudewanata untuk memberikan keturunannya. Karena semenjak dikutuk
oleh Resi Kimindama, Pandudewanata tidak dapat memberikan keturunan.
Maka kemudian dari Dewa Bayu itulah Kunthi melahirkan anak nomor dua
yang diberi nama Bima. Secara fisik Bima tidak berbeda dengan Dewa Bayu.
Gagah perkasa, suaranya besar menggelegar, mempunyai Kuku Pancanaka,
mengenakan kain Kampuh Poleng Bang Bintulu Aji. Walaupun badannya
berat dan besar, Bima dapat bergerak secepat angin. Nama lain Bima adalah
Bayuputra, Bayusiwi, Bayusunu yang artinya anak Bayu.
Walaupun Bima tidak berada dalam asuhannya, pada saat saat tertentu
Dewa Bayu membantu apa yang dibutuhkan anaknya. Seperti misalnya,
ketika bayi Bima mengalami kesulitan memecah bungkus, Dewa Bayu
mengirim Gajah Sena, untuk membantu memecah bungkus Bima. Juga
ketika Bimasena sedang mencari Tirta Amerta, Dewa Bayu berusaha
menguji niat Bima dan memberikan bekal ilmu, dengan cara menjelma
menjadi seorang raksasa bernama Rukmakala di hutan Tikbrasara.
Selain Anoman dan Bimasena, Dewa Bayu mengasuh empat anak yang lahir
dari Istrinya yang bernama Dewi Sumi, yakni Batara Sumarna, Batara
Sudarma, Batara Sangkara, dan Batara Bismakara. Bersama Dewi Sumi dan
keempat anaknya Dewa Bayu tinggal di Kahyangan Panglawung. Nama lain
dari Batara Bayu atau Sang Hyang Maruta adalah Sang Hyang Margana dan
Sang Hyang Pagulingan.
herjaka HS

Kidung malam 91
Saudara Tua
Tidak pernah dibayangkan oleh Patih Sengkuni bahwasanya Kunti dan
kelima anaknya masih hidup. Lalu siapakah enam mayat yang hangus
terbakar pada peristiwa Bale Sigala-gala beberapa tahun lalu?
Masih jelas dalam ingatannya waktu itu ada enam mayat hangus menjadi
abu. Berdasarkan temuan itu, Patih Sengkuni mengambil kesimpulan bahwa
Kunti dan kelima anak laki-lakinya yang disebut Pandawa Lima mati
terbakar. Jikapun ada yang menduga bahwa mayat yang terbakar tersebut
bukan mayat dari Pandawa dan kunti melainkan mayat enam orang petapa
yang singgah di Bale, mereka tidak berani membuka mulut. Dengan
demikian hanya ada satu berita resmi dari istana bahwa Pandawa, pewaris
tahta Hastinapura telah mati. Oleh karena kematian Pandawa, maka
kemudian Sengkuni berhasil membujuk Destarastra mengangkat Duryudana
menjadi putera mahkota.
Namun, dengan tidak terduga-duga, Pandawa muncul di Pancalaradya
sebagai pemenang sayembara. Maka terkuaklah sebuah kebenaran dan
terbukalah mata rakyat Hastinapura, bahwa Pandawa masih hidup, Bahkan
Bima menjadi semakin perkasa, telah berhasil melumpuhkan Gandamana
sapukawat negara Pancalaradya.
Sengkuni harus segera merubah strategi dan menyusun rencana baru, untuk
menyingkirkan Pandawa agar tidak mengharubiru atas pengangkatan
Duryudana sebagai putera mahkota Hastinapura.
Berdasarkan catatan peristiwa yang sudah berlalu, tidaklah mungkin
Sengkuni mengandalkan para Kurawa untuk menyingkirkan para Pandawa
dengan menggunakan cara-cara yang seharusnya dimiliki oleh seorang
ksatria. Karena dengan cara itu para Kurawa yang jumlahnya jauh lebih
banyak tidak pernah menang berperang tanding melawan Pandawa. Pada
hal diantara Kurawa dan Pandawa telah diajarkan ilmu-ilmu yang sama oleh
Pandita Durna di padepokan Sokalima. Namun pada kenyataannya,
kemampuan menyerap dan menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan berbeda
jauh antara Pandawa dan Kurawa.
Jika pun nanti, untuk menyingkirkan Pandawa terpaksa menempuh jalan
perang tanding, tentunya bukanlah Kurawa yang melakukan, tetapi Kurawa
akan menggunakan orang lain yang dapat mengimbangi kesaktian para
Pandawa.
Sengkuni telah menemukan orang yang diharapkan dapat menandingi
Pandawa, yaitu pemuda rupawan yang bertemu sewaktu mengikuti
sayembara di Pancalaradya. Pemuda rupawan yang kemudian diketahui
bernama Basukarno tersebut telah menunjukkan kesaktiannya. Ia
sesungguhnya adalah pemenang sayembara karena mampu menarik busur
pusaka. Namun dikarenakan ia mengenakan pakaian golongan sudra, sang
putri Dewi Durpadi yang disayembarakan menolaknya.
Tidak hanya kesaktian menarik busur pusaka, Basukarno juga menunjukkan
kemahiran berolah senjata panah, ketika ia ditantang oleh brahmana muda
berparas tampan. Dengan disaksikan oleh Sengkuni dan para Kurawa
Basukarno memamerkan kemampuannya memanah burung sriti yang
terbang diudara. Dalam sekali bidik puluhan Sriti jatuh ke tanah. Melihat hal
itu hati Brahmana muda tersebut tidak mau kalah, ia kemudian menggunduli
pohon angsana dengan panahnya.
Saat itu Sengkuni telah curiga bahwa brahmana muda berparas tampan
tersebut adalah Arjuna yang sengaja menyamar. Oleh karenanya ia
mengajak Basukarno untuk bergabung dengan para Kurawa. Karena ialah
orangnya dapat menandingi Arjuna dalam berolah senjata panah.
Setelah bergabung dengan para Kurawa, bibit permusuhan dengan Arjuna
yang ada di lubuk hati Basukarno dijadikan tunas yang senantiasa disiram
oleh Sengkuni dan Duryudana agar tumbuh mengakar dengat kuat. Dengan
demikian pada saatnya kelak Basukarno mampu membuat Arjuna dan
Pandawa celaka.
Basukarno yang adalah anak angkat dari seorang sais kereta kerajaan yang
bernama Adirata merasa berharga diantara para Kurawa. Oleh Duryudana
Basukarno diangkat menjadi saudara tua dan diberi kedudukan Adipati.
Hubungan antara Duryudana dan Basukarno dari hari ke hari semakin akrab.
herjaka HS
Ralat kidung malam 90
Ada teks yang agak mengganggu pada bagian dialog Destarastra dan
Gendari yang tertulis sebagai berikut:
“Jika benar-benar Kunti dan Pandawa masih selamat apa yang akan kalian
lakukan? bagaimana jika mereka menuntut hak tahta Hastinapura?” desak
Destarastra.
Srikandi mengusap dada Prabu Destarastra dengan jari-jarinya yang lembut.
Kemudian kepala Gendari dibenamkan ke dada Destarastra yang bidang.
Nama Srikandi yang tertulis tersebut salah, yang benar adalah Gendari.
Dengan demikian kesalahan telah dibetulkan.

Gandamana dalam rupa wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Gandamana
Gandamana dari kata Ganda yang artinya bau dan ana, artinya ada.
Keberadaan Gandamana bermula dari seorang dewi cantik bernama Dewi
Setyawati, putri raja Wirata yang menderita penyakit aneh, yaitu sekujur
tubuhnya mengeluarkan bau amis menyengat. Setelah penyakit tersebut
berhasil disembuhkan oleh seorang petapa sakti dari Saptaharga, bau amis
tersebut hilang dan mewujud jadi sosok anak laki-laki, diberi nama
Gandamana. Tidak jelas kisahnya, tokoh Gandamana ini kemudian diangkat
anak oleh Prabu Gandabayu dan dijadikan adik Dewi Gandawati.
Gandamana sangat menyayangi Dewi Gandawati. Karena rasa sayang
tersebut maka ketika Dewi Gandawati telah memasuki usia dewasa,
Gandamana mempunyai permohonan kepada Prabu Gandabayu agar jika
kelak ada orang yang ingin meminang Dewi Gandawati, hendaklah Ia
mempunyai kesaktian yang paling tidak sama dengan dirinya. Prabu
Gandabayu mengabulkan permohonan Gandamana. Maka kemudian
dibukalah sayembara, bagi siapa yang dapat mengalahkan Gandamana,
berhak menyunting Dewi Gandawati.
Tidak mudah untuk mengalahkan Gandamana, karena ia mempunyai dua
ajian yang sangat sakti bernama Bandung Bandawasa dan Wungkal bener.
Aji Bandawasa mempunyai daya kekuatan yang sebanding dengan kekuatan
seribu gajah. Sedangkan aji Wungkal Bener akan menjadikan Gandamana
tidak dapat dikalahkan selama ia berada dalam posisi yang benar.
Oleh karena kesaktiannya, diantara para pelamar, hanya ada satu orang
bernama Sucitra dari negara Hargajembangan, tanah seberang, yang dapat
mengalahkan Gandamana. Itu pun tidak terlepas dari bantuan
Pandudewanata raja Hatinapura.
Atas kemenangannya, Sucitra berhak memperistri Dewi Gandawati. Sebagai
ksatria Gandamana menerima kekalahannya, namun sebagai laki-laki ia
tidak kuasa menghindar dari rasa kecewa yang dalam. Dewi Gandawati yang
selama ini ia sayangi telah menjadi milik orang lain. Harapan untuk
senantiasa bersanding dengan Dewi Gandawati, kini tinggalah harapan,
karena ia telah dikalahkan.
Pandudewanata, sebagai raja besar Hastinapura yang mempunyai
ketajaman budi dan hati, mampu melihat bahwa Gandamana berada dalam
keterpurukan. Baik terpuruk secara lahir, karena ia telah dikalah oleh
Sucitra, maupun terpuruk secara batin, karena ia telah kehilangan Dewi
Gandawati. Oleh karena kebaikan dan rasa belas kasihan Pandudewanata,
maka diajaknya Gandamana ke Negara Hastinapura untuk menduduki
jabatan Patih di sana.
Atas janji Pandudewanata, mendung yang menggelayut di hati Gandamana
tersibak karenanya. Dengan sukacita Gandamana mengikuti Pandudewanata
ke Negara Hastinapura.
herjaka HS

Wayang Kulit Prabu Durpada,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Drupada
Sucitra adalah seorang remaja dari Atasangin, yang oleh Prabu Baratwaja
raja Hargajembangan diangkat anak dan disaudarakan dengan anaknya
yang bernama Kumbayana. Selain dijadikan anaknya, kedua remaja
tersebut di ajari ilmu yang sama. Sucitra dan Kumbayana tumbuh bersama
dan menjadi pemuda yang berilmu tinggi.
Pada suatu pagi yang cerah Sucitra meninggalkan bumi Atasangin dan
Negara Hargajembangan karena di utus oleh Prabu Baratwaja untuk
mengembalikan keris pusaka kepunyaan Begawan Abiyasa di tanah Jawa.
Sesampainya di tanah Jawa tepatnya di negara Pancalaradya, Sucitra
bertemu dengan Pandudewanata anak Begawan Abiyasa. Pandu
menyarankan, sebelum keris pusaka dikembalikan kepada ramanda Abiyasa,
Sucitra dapat menggunakan keris tersebut untuk mengikuti sayembara yang
diadakan oleh Prabu Gandabayu raja Pancalaradya.
Atas bantuan Pandudewanata, Sucitra berhasil memenangkan sayembara
dengan mengalahkan Gandamana. Atas keberhasilannya, Sucitra dikawinkan
dengan putri kedaton yang bernama Gandawati. Beberapa tahun kemudian
Sucitra menggantikan Prabu Gandabayu menjadi raja di Pancalaradya
dengan nama Prabu Durpada. Pada awal pemerintahannya, Prabu Durpada
diembani oleh patih Gandamana, adik iparnya.
Setelah menjadi raja di Pancalaradya yang sebelumnya termasuk wilayah
negara Ekacakra, Prabu Durpada tidak pernah lagi kembali ke bumi
Atasangin di Negara Hargajembangan. Ia juga tidak ingat lagi dengan
Kumbayana sahabatnya yang juga suadara tuanya diwaktu remaja. Oleh
karenanya ketika Kumbayana datang di bangsal raja, dan memanggil-
manggil dirinya dengan nama kecilnya “Sucitra! Sucitra! Sucitra! Prabu
Durpada tidak lagi mengenalnya. Bahkan ia menyuruh Gandamana mengusir
orang asing yang berlaku tidak sopan pada raja.
Demi keselamatan raja, Gandamana menyeret Kumbayana dan
menghajarnya, hingga menderita cacat seumur hidup. Sejak peristiwa itu
Kumbayana yang kemudian lebih dikenal dengan nama Durna menyimpan
dendam yang membara. Diantara dua sahabat lama itu untuk selanjut saling
balas-membalas melampiaskan dendamnya.
Dengan Dewi Gandawati, Prabu Durpada mempunyai tiga anak yaitu
Durpadi, Srikandi dan Drestajumena
herjaka HS

Batara Endra dalam rupa wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Batara Endra
Menurut kitab Mahabarata tulisan Wiyasa, Batara Endra merupakan pemuka
Dewa yang bertempat tinggal di Kahyangan Indraloka atau Indrabawana dan
disebut juga Kahyangan Kaendran. Batara Endra adalah anak dari pasangan
Maharesi Kaspaya dan Dewi Aditi. Selain Batara Endra, pasangan Maharesi
Kaspaya melahirkan sebelas anak yang lain yaitu : Batara Ariyaman, Batari
Datri, Batara Mitra, Batara Angsa, Batara Baruna, Batara Wagu, Batara
Surya, Batara Pusa, Batari Sawitri, Batari Twastri, dan Batara Wisnu.
Sedangkan di dalam kitab Pedalangan, Batara Endra adalah adik Batara
Brama, anak Dewi Uma dan Batara Guru, penguasa para Dewa di
Kahyangan Jonggringsaloka. Batara Endra diberi tugas oleh Batara Guru
untuk memimpin para Dewa dan melindungi para Bidadari di Kahyangan,
dan memberikan hadiah bagi siapa saja yang gemar bertapa, membantu
ketentraman dunia serta telah berjasa kepada para dewa
Pada waktu Kahyangan diserang Prabu Mahesasura dan Lembusura raja Goa
Kiskenda, Batara Endra meminta Subali dan Sugriwa menghadapinya.
Setelah kedua kera bersaudara tersebut berhasil membunuh Mahesasura
dan Lembusura, Batara Endra menghadiahkan anaknya sendiri yang
bernama Dewi Tara, kepada Subali dan Sugriwa.
Selain menghadiahkan kepada Subali dan Sugriwa, Batara Endra juga
menghadiahkan putrinya yang lain yang bernama Dewi Supraba kepada
Arjuna karena jasanya dapat mengalahkan musuh para dewa yaitu Prabu
Niwatakawaca raja Imaimantaka. Sebelum menghadiahkan Dewi Supraba,
Batara Endra juga memberikan panah Pasopati kepada Arjuna guna
menghadapi Prabu Niwatakawaca yang tidak terkalahkan oleh para dewa.
Batara Endra mempunyai kendaraan berupa seekor gajah, namanya
Erawata. Ia bertempat tinggal di Kahyangan Tinjomaya bersama Dewi Wiyati
istrinya, serta anak-anaknya yaitu: Dewi Tara, Dewi Tari, Dewi Supraba,
Batara Citrarata, Batara Citragada, Batara Citrasena, dan Batara Jayantara.
Selain anak-anak yang lahir dari Dewi Wiyati, sesungguhnya Batara Endra
mempunyai satu anak dengan Dewi Kunthi yaitu Arjuna.
Pernah pada suatu kali Batara Endra melakukan kesalahan fatal, sehingga
membuat Batara Guru murka dan mengutuk Batara Endra menjadi raksasa
bernama Rukmaka. Ia baru berubah wujud aslinya sebagai dewa setelah
berperang melawan Bima dalam lakon Dewaruci
Batara Endra disebut pula sebagai dewa petir dan halilintar. Ia mempunyai
senjata bajra berupa tonngkat petir.
Nama-nama Batara Endra yang lain adalah: Prabu Sakra karena pernah
menjadi raja di Medanggana, Swargapati yang artinya raja surga, Diwapati,
dan Meghawahana
herjaka HS

Dewi Anjani sebelum berwajah kera, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Anjani
Dewi Anjani adalah seorang putri yang cantik jelita dari pertapaan Grastina,
kakak dari Guwarsa dan Guwarsi. Ibunya adalah Dewi Indradi dan bapaknya
adalah Resi Gotama. Kecantikan Dewi Anjani tidak jauh berbeda dengan
kecantikan Dewi Indradi ibunya. Hal tersebut dikarenakan sebelum menjadi
istri Resi Gotama, Dewi Indradi adalah seorang Bidadari.
Selain kecantikan yang relatif sama, kedua wanita tersebut mempunyai
kesenangan yang sama pula. Salah satunya yang menjadi kesenangan
mereka adalah melihat-lihat pemandangan alam yang indah. Namun
dikarenakan mereka tinggal di pertapaan, maka yang mereka nikmati
sebatas keindahan alam yang berada disekitar pertapaan. Ada keinginan
yang kuat diantara kedua anak dan ibu tersebut untuk dapat melihat
keindahan alam dibelahan dunia lain, tidak hanya di wilayah pertapaan
Grastina.
Sebagai sosok bidadari, keinginan yang kuat untuk dapat melihat keindahan
alam di luar wilayah pertapaan Grastina, sesuai dengan apa yang diinginkan,
ternyata mampu mengundang perhatian para dewa, terutama Dewa Surya,
yang pada setiap harinya melihat keindahan alam di seluruh muka bumi.
Karena perhatian yang berlebihan, Dewa Surya memberikan sebuah benda
pusaka yang bernama Cupu Manik Astagina kepada Dewi Indradi. Dengan
Benda tersebut Dewi Indradi dapat melihat keindahan alam di mana pun
berada sesuai dengan imajinasinya.
Ketika pada suatu saat, Dewi Indradi bercengkrama dengan Cupu Manik
Astagina, Dewi Anjani memergokinya. Ia sangat terpana dengan Cupu Manik
Astagina dan meminta benda tersebut dari ibunya. Setelah Cupu Manik
Astagina diberikan kepada Dewi Anjani, benda tersebut diketahui pula oleh
kedua adiknya, dan menjadi rebutan. Mengetahui ketiga anaknya berebut
benda pusaka milik Dewa Surya, Resi Gotama murka dan membuang Cupu
Manik Astagina ke telaga Sumala.
Sesampainya di telaga Sumala, Dewi Anjani tidak mendapatkan benda yang
diperebutkan. Karena letih kedua tangannya mengambil air telaga untuk
membasuh mukanya. Keajaiban terjadi. Muka dan kedua tangannya yang
basah karena air telaga, berubah wujud menjadi tangan kera dan muka
kera. Hampir bersamaan waktunya dengan perubahan kedua adiknya dari
seorang ksatria bernama Guwarsa dan Guwarsi menjadi seekor kera
bernama Subali dan Sugriwa.
Dengan penyesalan yang dalam Anjani dan kedua adiknya kembali ke
pertapaan. Oleh Resi Gotama Dewi Anjani disuruh melakukan tapa
„nyantuka‟ yaitu bertapa dengan cara seperti katak. Di telaga Nirmala, Dewi
Anjani membenamkan badannya yang molek tanpa busana di dalam
jernihnya air telaga, sedangkan kepalanya berada di atas permukaan air.
Selama bertapa, Dewi Anjani memakan dedaunan yang jatuh di depan
mulutnya. Siang maupun malam, Dewi Anjani tak pernah berhenti memohon
agar dirinya dipulihkan menjadi seorang putri yang cantik jelita.
Keprihatinan Dewi Anjani didengar oleh Batara Guru dewa tertinggi
penguasa kahyangan. Ia kemudian turun ke bumi mendekati Dewi Anjani.
Melihat tubuh molek tersebut Batara Guru tak kuasa membendung gelora
birahinya, maka keluarlah kama Batara Guru dan jatuh menimpa daun
sinom dan daun talas yang pernah untuk membungkus janin muda yang
gugur dari rahim Dewi Sinta. Kedua daun tersebut jatuh dan hanyut persis
di depan mulut Dewi Anjani. Maka kemudian dimakan dedaunan itu.
Akibatnya Dewi Anjani hamil. Batara Guru menyadari bahwa kehamilan Dewi
Anjani akibat dari perilakunya maka diperintahkannya para Bidadari untuk
membantu proses persalinan Dewi Anjani.
Maka setelah tiba waktunya, Dewi Anjani melahirkan seorang bayi laki-laki
berupa kera berbulu putih kemilau dan diberi nama Anoman. Dewi Anjani
dan Anoman kemudian dibawa ke Kahyangan.
Peristiwa kelahiran kera berbulu putih menjadi tanda bahwa Dewi Anjani
telah berhasil mengeluarkan watak kera yang ada di dalam dirinya. Watak
yang saling berebut dan saling menggigit di antara sesama saudara. Kini
Dewi Anjani telah dipulihkan seperti sedia kala. Wajahnya kembali cantik, ia
tidak lagi mengandung kera di hatinya. Keranya telah diputihkan menjadi
sosok Anoman.
herjaka HS

Sugriwa, wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Sugriwa
Sugriwa adalah anak dari pasangan Resi Gotama dan Dewi Indradi. Seperti
juga yang dialami oleh Subali kakaknya, Sugriwa sebelumnya berwajah
tampan dengan nama Guwarsi. Ia berubah menjadi seekor kera ketika
berebut Cupu Manik Astagina dengan kakaknya di Telaga Sumala.
Perubahan wujud dari satria tampan menjadi seekor kera terjadi saat
Sugriwa dan kakaknya masuk di air telaga.
Di dalam kedalaman air telaga Sumala, Sugriwa tidak menemukan benda
yang diperebutkan, yang ditemukan adalah seekor kera besar, sebesar
dirinya. Sugriwa segera menyerang kera tersebut, karena mengira bahwa
kera itu telah mengambil Cupu Manik Astagina. Demikian pula sebaliknya,
Subali pun mempunyai anggapan bahwa kera yang menyerang dirinya itu
telah mengambil Cupu Manik Astagina. Oleh karenanya Subali pun
membalas serangan Sugriwa. Maka kemudian diantara kakak beradik
tersebut terlibat dalam peperangan yang seru. Beberapa waktu kemudian
mereka baru menyadari bahwasanya mereka adalah kakak beradik, Guwarsa
dan Guwarsi yang telah berubah menjadi kera.
Setelah peristiwa itu nama Guwarsa Guwarsi seakan tenggelam berserta
ketampanannya. Mereka lebih dikenal dengan nama Subali dan Sugriwa.
Oleh Resi Gotama Sugriwa dan juga Subali disarankan untuk bertapa di
hutan Sonyapringa yang berada di gunung Argasonya. Di wilayah itulah
Sugriwa melakukan tapa untuk memohon agar dirinya dikembalikan ke
dalam bentuk semula. Namun bertahun-tahun sudah Sugriwa melakukan
tapa, apa yang diharapkan tidak pernah terwujud.
Oleh karena tingkah lakunya yang saling berebut saling menggigit dan saling
mencakar antara sesama saudara kandung, untuk memiliki sebuah benda
yang bukan haknya, Sugriwa lebih sesuai berwujud sebagai seekor kera.
Karena sesungguhnya wujud kera adalah wujud kegagalan. Kegagalan untuk
mempertahankan jati dirinya sebagai seorang kesatria.
Walaupun Sugriwa tetap berujud kera, ia adalah kera yang sakti
mandraguna. Kesaktian itu didapat pada waktu ia melakukan tapa. Oleh
karena kesaktiannya, Sugriwa dipercaya oleh Dewa untuk membantu Subali
dalam menghadapi musuh Kahyangan yaitu Mahesasura, Lembusura dan
Jatasura dari kerajaan Goa Kiskenda.
Pilihan Dewa memang tepat, Subali dan Sugriwa dapat
memporakporandakan prajurit Goa Kiskenda. Patih Jatasura tewas di medan
laga. Prabu Lembusura dan Mahesasura melarikan diri masuk ke goa
Kiskenda. Dalam pengejaran, Subali menyarankan agar Sugriwa tidak usah
ikut masuk ke goa. Sugriwa diperintahkan oleh Subali untuk berjaga-jaga di
depan pintu goa. Jika nanti darah yang mengalir ke pintu goa itu warnanya
merah, itu adalah darah musuh, artinya aku menang. Tetapi jika darah yang
mengalir di pintu goa berwarna putih, itu adalah darahku, artinya bahwa aku
mati dalam peperangan. Jika hal itu terjadi, engkau segera menutup pintu
goa supaya musuh ikut terkubur di dalam goa, demikian pesan Subali
kepada Sugriwa, sesaat sebelum ia memasuki goa.
Dengan rasa cemas dan khawatir Sugriwa menunggu di mulut goa, dengan
tidak melepaskan pandangannya pada sungai kecil yang mengalir keluar
goa. Setelah beberapa lama Sugriwa menunggu, ia dikejutkan oleh
mengalirnya darah yang berwarna merah bercampur dengan darah yang
berwarna putih. Dengan cepat Sugriwa mengambil kesimpulan, bahwa
Subali kakaknya telah mati bersama dengan salah satu musuhnya,
Lembusura atau Mahesasura. Maka segeralah ia menutup pintu goa agar
musuh yang masih hidup mati terkubur bersama.
Selesai menutup Goa, Sugriwa segerah menuju kahyangan. Dengan sedih ia
melaporkan bahwa Subali telah mati bersama musuh. Para dewa
mempercayai laporan Sugriwa, dan memutuskan bahwa Sugriwa berhak
menerima hadiah para dewa sesuai dengan yang dijanjikan kepada Subali,
yaitu seorang bidadari yang bernama Dewi Tara dan negara Goa Kiskenda.
Belum beberapa lama Sugriwa memboyong Dewi Tara ke negara Goa
Kiskenda, Subali datang menyeret Sugriwa dan menghajarnya. Subali
merasa dikhianati oleh adiknya. Sugriwa membela diri, bahwa dirinya tidak
berniat mencelakai kakaknya. Dengan dasar mengalirnya darah putih
Sugriwa beranggapan bahwa Kakaknya dan musuhnya mati bersama.
“Goblok!! itu bukan darah putih, itu otak Mahesaura dan otak Lembusura
yang aku adu kepalanya.” Kemarahan Subali mencapai puncak, ia tidak
ingin mendengar pembelaan Sugriwa lagi. Hatinya amat panas dipanggang
oleh api cemburu, karena Sugriwa telah memperistri Dewi Tara yang selama
ini menjadi impian Subali. Dengan hati yang membara kebencian, Subali
menyiksa Sugriwa dengan meyepitkannya di dahan pohon nan tinggi.
Subali, kakak beradik itu, yang lahir dari satu ayah dan satu ibu, lebih
memilih menjadi seekor kera dari pada seorang kesatria. Subali yang adalah
seorang Resi dan Sugriwa yang adalah seorang raja, rupanya belumlah
dapat membuang watak kera di dalam pribadinya. Subali akhirnya
tertembus pusaka Guwawijaya milik Rama, sampai pada tarikan nafas
terakhir, Subali masih menampakkan sosok kera yang utuh. Demikian pula
Sugriwa yang mati dalam usia tua, belum berubah menjadi sosok kesatria
tampan yang bernama Guwarsi.
herjaka HS

Subali dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Subali
Subali adalah anak Resi Gotama dari pertapaan Grastina. Ibunya bernama
Dewi Indradi. Ia mempunyai dua saudara yaitu Sugriwa dan Anjani. ketika
muda Subali bernama Guwarsa dengan wajah tampan. Tetapi sesudah
ketiga saudara tersebut saling berebut Cupu Manik Astagina yang dibuang
oleh Resi Gotama ke telaga Nirmala, maka wajah ketiga anak Resi Gotama
tersebut berubah menjadi kera. Setelah peristiwa itu, Resi Gotama
menyuruh Subali untuk bertapa ke hutan Sonyapringga. Di hutan tersebut
Subali melakukan tapa ngalong, yaitu bergelantung di atas dahan pohon
seperti perilaku binatang Kalong. Beberapa waktu kemudian, Subali
menjelma menjadi kera yang sakti.
Suatu saat ketika Dasamuka sedang terbang melintas tepat di atas Subali,
Dasamuka jatuh ke tanah. Dasamuka kagum atas kesaktian Subali, maka
kemudian Dasamuka berguru kepada Subali. setelah menjadi murid Subali,
Dasamuka diberi aji yang sangat sakti bernama Aji Pancasona. Barang siapa
mempunyai aji Pancosona ia tidak dapat mati jika menyentuh tanah.
Ketika Kahyangan diserang oleh Raja Goa Kiskenda yaitu Prabu Mahesasura,
Subali diperintahkan oleh dewa untuk menghadapi Mahesasura dengan janji
jika berhasil akan diberi seorang Bidadari yang bernama Dewi Tara. Dengan
bantuan Sugriwa adiknya, Subali berhasil membunuh Prabu Mahesasura dan
Lembusura
Pada saat Subali membunuh musuhnya di dalam goa, Sugriwa yang berada
di luar goa mengira bahwa Subali telah gugur bersama musuhnya, maka
kemudian Sugriwa segera naik ke Kahyangan dan mengambil Dewi Tara.
Dengan kejadian tersebut Subali merasa dikianati oleh adiknya, maka
dengan amat marah Sugriwa dihajar oleh Subali. Sugriwa melarikan diri
untuk mencari bantuan, hingga ketemu Rama. Dengan bantuan Rama
Sugriwa dapat Subali.
herjaka HS

Indrajit dalam rupa wayang kulit,|
koleksi Tembi Rumah Budaya. (Foto: Sartono)
Indrajit
Indrajit disebut pula Megananda karena keberadaannya dipuja dari sebuah
mega. Ia juga disebut Begananda karena Indrajit mempunyai aji yang
sangat dahsyat namanya Begananda. Secara lahir Indrajit adalah anak
Dasamuka, raja Alengka, namun sesungguhnya ia adalah anak „pujan,‟ yaitu
anak yang lahir dari hasil pemujaan. Bayi laki-laki Indrajit dipuja oleh
Wibisana bersama dengan para dewa dari gumpalan mega, untuk menukar
bayi perempuan yang dilahirkan Dewi Tari istri Dasamuka. Penukaran bayi
itu dilakukan oleh Wibisana atas persetujuan Dewi Tari, sebagai upaya
pencegahan agar Dasamuka tidak mengawini anaknya sendiri, karena
menurut ramalan para resi bahwa bayi perempuan itu adalah titisan Dewi
Widowati yang kelak akan diperistri Dasamuka.
Proses penukaran pun terjadi dengan sangat rahasia. Bayi perempuan, anak
Dasamuka yang sesungguhnya dimasukkan ke dalam kotak kendaga dan
dihanyutkan ke sungai. Ketika Dasamuka pulang dari lawatannya ke luar
daerah, ia sangat marah mendapatinya bayi laki-laki di depan Dewi Tari
istrinya. Dasamuka mempercayai ramalan para resi, bahwa anaknya akan
lahir perempuan, karena titisan Widowati. Oleh karenanya bayi laki-laki itu
bukan anaknya. Ia dengan geram mengambil bayi itu dan membantingnya
di lantai. Benturan keras itu tidak membuatnya bayi Indrajit terluka, bahkan
sebaliknya. Ia semakin kuat. Setiap kali Dasamuka membantingnya, saat itu
pula bayi Indrajit tumbuh semakin kuat dan menjadi besar. Tidak beberapa
lama kemudian Indrajit telah menjadi seorang ksatria yang gagah perkasa
serta sakti mandraguna. Ia tidak terima atas perlakuan Dasamuka. Maka
kemudian terjadilah perang diantara Indrajit dan Dasamuka. Ada kemiripan
gerak, watak, karakter dan emosi di antara ke duanya. Melihat kenyataan
yang terjadi, akhirnya Dasamuka mengakui bahwa Indrajit adalah anaknya.
Bahkan Dasamuka sangat menyayanginya, dan kelak diharapkan dapat
meneruskan tahta Alengka.
Dengan keberadaan Indrajit, negara Alengka semakin kuat, Indrajit memiliki
sifat serakah, juga sewenang-wenang, mirip ayahnya. Ia memiliki tiga
panah sakti yaitu: panah Asurastra, bila dilepaskan berubah menjadi rantai
yang kemudian mengikat musuh, atau berubah menjadi ular yang melilit
musuh. Panah Nagapasa, bila dilepas berubah menjadi ribuan ular dan
menyerang musuh. Panah Mahanosara, bila dilepas semua orang yang
berada di daerah sasaran akan terserang rasa kantuk yang luar biasa.
Indrajit tinggal di kasatrian Bikukung bersama seorang istri yaitu Dewi
Sumbaga serta tiga anaknya yakni: Begasura, Dewi Indraji dan Dewi
Idrarum.
Ketika terjadi perang besar yang dinamakan perang Giriantara, antara
Alengka melawan prajurit kera dari Swelagiri, Indrajit menjadi senapati
Alengka. Atas kesaktiannya itu ia dengan mudah membunuh prajurit kera
dalam jumlah yang besar. Atas saran Wibisana, Lesmana lah yang
menghadapi Indrajit dengan panah pusaka Surawijaya. Maka ketika Indrajit
terkena panah pusaka milik Lenmana, ia roboh di medan laga. Saat itu pula
Wibisana menghampiri keponakkannya yang sudah tidak berdaya, Wibisana
memuja jasad Indrajit agar kembali seperti sebelum ia tercipta, yakni
segumpal awan di langit biru.
herjaka HS

Wibisana dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Wibisana
Wibisana adalah anak bungsu dari empat bersaudara putra pasangan
Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Wibisana satria berparas tampan, tidak
seperti ke tiga kakaknya yang berwajah raksasa yaitu, Prabu Dasamuka,
Raden Kumbakarna, dan Dewi Sarpakenaka. Ketika masih remaja ke empat
anak Begawan Wisrawa tersebut melakukan laku tapa di gunung Gohkarna
selama bertahun-tahun. Pada akhir tapanya, masing-masing dari mereka
mendapat anugerah dari Dewa sesuai dengan keinginannya. Sewaktu Hyang
Narada bertanya kepada Wibisana, apa yang diinginkannya? Wibisana
menjawab bahwa dirinya ingin menjadi kesatria sejati yang dapat
menempatkan nilai-nilai kebenaran di atas nilai-nilai yang lain. Hyang
Narada mengabulkan apa yang dimohon Wibisana dan berjanji atas nama
para dewa akan senantiasa membantu perjuangan Wibisana dalam
menegakkan nilai-nilai kebenaran di dunia.
Ketika pada suatu hari Wibisana mendengarkan ramalan para Resi negara
Alengka, yang mengatakan bahwa Negara akan mengalami bencana besar
dikarenakan ulah Prabu Dasamuka yang akan mengawini anaknya sendiri,
yang sekarang masih dalam kandunag Dewi Tari istri Dasamuka. Hal
tersebut dilakukan Dasamuka, karena anak tersebut merupakan titisan Dewi
Widowati, yang sejak dari Lokapala selalu dikejar-kejar Dasamuka untuk
diperistri. Wibisana berusaha mencegah agar kakaknya tidak melakuan
tindakan yang tidak benar, dengan mengawini anaknya sendiri. Karena jika
seorang raja mengawini anak kandungnya negara serta rakyatnya akan
tertimpa bencana besar.
Maka setelah genap waktunya Dewi Tari melahirkan bayi perempuan,
Wibisana segera bertindak. Ia, dibantu oleh para Dewa, mencipta bayi laki-
laki dari gumpalan mega di langit yang diberi nama Begananda, untuk
mengganti bayi perempuan. Sedangkan bayi perempuan anak Dasamuka
yang sesungguhnya dihanyutkan di sungai.
Bayi perempuan yang kemudian di temukan oleh Prabu Janaka raja Mantili
dan diberi nama Dewi Sinta, menjadi istri Rama, dan dicuri oleh Dasamuka
di hutan Dandaka untuk diboyong di Alengka. Tidak ada yang tahu bahwa
Dewi Sinta adalah anak kandung Dasamuka. Namun Dasamuka tahu bahwa
Dewi Sinta adalah titisan Dewi Widowati, dambaan hatinya. Oleh karenanya
Dasamuka sangat bernafsu untuk memperistri Dewi Sinta.
Wibisana menentang keinginan Dasamuka mengawini Dewi Sinta. Kakanda
Prabu hal itu tidak benar. Sebaiknya Dewi Sinta dikembalikan kepada Prabu
Rama suaminya. Saran Wibisana membuat Dasamuka murka. Wibisana
diusir dari Negara Alengka.
Dengan perasaan hancur Wibisana meninggalkan tanah tumpah darahnya.
Ia teringat akan kata Hyang Narada, bahwasannya memperjuangkan
kebenaran itu tidak mudah. Banyak rintangan dan hambatan yang
membutuhkan pengorbanan. Wibisana telah mengorbankan tanah tumpah
darahnya, negaranya, saudara-saudaranya. Semuanya ditinggalkan demi
sebuah kebenaran. Kemudian Wibisanan bergabung dengan Prabu Rama.
Pada saat terjadi perang besar yang dinamakan Perang Giriantara, antara
Dasamuka dan bala tentara Alengka melawan Rama serta pasukan kera di
pesanggrahan Swelagiri, Wibisana diangkat oleh Rama menjadi
penasihatnya, dengan pertimbangan bahwa Wibisana banyak mengetahui
seluk beluk istana serta peta kekuatan Negata Alengka. Wibisana juga
mengetahui rahasia kekuatan para senopati perang Alengka.
Bersama Wibisana, Rama berhasil mengalahkan Dasamuka serta prajurit
prajuritnya dengan tidak menghancurkan negara. Sepeninggal Prabu
Dasamuka, Wibisana diangkat oleh Rama menjadi raja di Negara Alengka.
Nama Alengka kemudian diganti menjadi Singgelapura. Wibisana didampingi
seorang istri bernama Dewi Triwati serta kedua putranya yaitu Dewi Trijata
dan Raden Denta Wilukrama.
Namun sebelum naik tahta di Singgelapura, Rama memberi wejangan
Astabrata kepada Wibisana. Astabrata adalah delapan laku watak yang
seharusnya diupayakan oleh seorang pemimpin. yaitu: 1. Berwatak
Matahari: memberi energi dan daya hidup. 2. Berwatak Bulan: menerangi
bagi mereka yang berada dalam kegelapan sehingga memberi rasa
keindahan, ketentraman 3. Berwatak Bintang: menjadi penghias dan
pedoman arah bagi mereka yang kehilangan arah di malam hari. 4.
Berwatak Angin: dapat mengisi setiap ruangan yang kosong dan dapat
melakukan tindakan yang teliti, cermat dalam menyelami kehidupan. 5.
Berwatak Mendung, berwibawa menakutkan, tetapi sesudah menjadi air
dapat menghidupkan segala tumbuhan dan memberi manfaat bagi sesama.
6. Berwatak Api: bertindak tegas, adil, tidak pandang bulu. 7. Berwatak
Samudra: mempunyai pandangan yang luas, rata dan sanggup menerima
persoalan apapun tanpa kebencian 8. Berwatak Bumi: mempunyai sifat
sentosa, suci dan jujur serta memberi anugerah kepada yang berjasa
Tidak hanya Wibisana, Setiap pemimpin, bahkan setiap orang, tak
terkecuali, dapat menerapkan delapan watak tersebut. Karena sejatinya,
bagi mereka yang dapat menerapkan ajaran Astabrata hidupnya akan
bermahkota seperti layaknya seorang raja, walaupun ia hanyalah orang
biasa nan papa.
herjaka HS

Patih Udawa, wayang kulit buatan Kaligesing, Purworejo.
Koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Patih Udawa
Udawa adalah seorang patih negara Dwarawati, tempat Prabu Kresna
menjadi raja. Walaupun jabatan Patih merupakan jabatan tertinggi setelah
raja, Ia tidak pernah menggerutu dalam menjalankan tugasnya. Hari-
harinya selalu dibarengi dengan kelakar dan sendau gurau. Namun hal
tersebut tidak mengurangi ketaatan dan kesetiaannya dalam mengabdi raja.
Kresna pun amat menyayangi Udawa. Hubungan mereka tidak sekedar
hubungan formal antara patih dan raja, tetapi lebih dari itu. Kresna
menganggap Udawa sebagai saudara tua dengan sebutan Kakang Patih,
karena memang demikianlah sesungguhnya.
Menurut sejarah, Kresna dan Udawa itu merupakan saudara seayah lain ibu.
Udawa adalah anak Prabu Basudewa hasil dari hubungannya dengan dayang
istana yang luwes, cantik dan pandai menghibur, bernama ken Sayuda.
Sedangkan Kresna adalah anak Basudewa yang lahir dari salah satu istrinya
bernama Dewi Mahindra. Untuk membuang aib, dikarenakan Ken Sayuda
bukan istri Basudewa, ia diterimakan kepada Antagopa, seorang Demang di
Widarakandang. Di kademanagan tersebut Ken Sayuda berganti nama, Nyai
Sagopi.
Setelah tiba waktunya, Nyai Sagopi melahirkan seorang bayi dan diberi
nama Udawa. Secara lahir Udawa adalah anak pasangan Demang Antagopa
dan nyai Sagopi, namun sejatinya Udawa adalah anak Prabu Basudewa raja
Mandura.
Walau pun Udawa mengetahui bahwa rajanya adalah adiknya, ia tidak
pernah menolak perintahnya, walaupun perintah tersebut bertentangan
dengan nuraninya. Salah satu perintah Prabu Kresna yang sangat menyiksa
dirinya adalah ketika dalam perang Baratayuda ia diperintah untuk berada di
pihak Kurawa. Dengan pertimbangan bahwa Udawa telah mengawini
Antiwati putri bungsu Sengkuni, seorang Patih negara Hastinapura, tempat
para Kurawa mukti wibawa.
Hingga perang Baratayuda usai, Udawa masih selamat, karena memang dia
setengah hati dalam berperang melawan para Pandawa. Jabatan Patih
Dwarawati masih ia sandang pada usia yang semakin tua. Ia memang
berjanji kepada Kresna, bahwa seluruh hidupnya ia darma baktikan kepada
Raja Dwarawati. Dan janji itu ia buktikan.
Ketika murid Kresna, raja Sriwedari yang bernama Prabu Arjunapati
melampiaskan sakit hatinya dan bersama dengan prajuritnya menyerbu
Dwarawati, Patih Udawa berusaha dengan seluruh kekuatan membendung
serangan itu. Patih Udawa berhadapan dengan Prabu Arjunapati. Diantara
keduanya berlangsung perang tanding yang sengit. Tidak ada yang kalah
dan tidak ada yang menang. Bahkan akhir dari perang tanding tersebut,
Prabu Arjunapati dan Patih Udawa gugur bersama.
Hingga tetes penghabisan ia tumpahkan darahnya di tanah Dwarawati,
tempat Udawa mengabdikan diri sejak belia hingga usia senja.
herjaka HS

Wayang kulit Purwa Setyaki. Buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (Foto: Sartono)
Setyaki
Setyaki atau Sencaki adalah anak Prabu Setyajid, Raja Negara Lesanpura
yang berpasangan dengan Dewi Wresini atau Dewi Sini. Menjelang
kelahirannya, Dewi Wresini nyidam, ingin menaiki Harimau yang bernama
Singamulangnjaya. Harimau tersebut ketika didekati Dewi Wesrini kelihatan
jinak. Namun setelah Dewi Wresini berada di punggungnya,
Singamulangnjaya berubah ganas. Ia secara mengejutkan lari dengan
kencangnya. Dewi Wresini amat terkejut, ia jatuh dari punggung harimau.
Bersamaan dengan itu bayi yang ada di dalam kandungan lahir dipunggung
harimau. Singamulangjaya semakin liar. Bayi Setyaki berusaha dimakan.
Namun usahanya selalu gagal. Bayi yang masih merah tersebut tidak hancur
karena gigitan Singamulangnjaya. Malahan dengan cepat ia tumbuh menjadi
besar. Karena merasa dirinya terancam, bayi yang sudah menjadi dewasa
itu membela diri dari serangan harimau. Pada akhirnya Setyaki berhasil
membunuhnya. Sejak saat itu Setyaki menyandang nama
Singamulangnjaya.
Selain Singamulangnjaya, Setyaki juga menyandang nama Bima Kunting.
Nama itu didapat dari Bimasena, karena Sentyaki kuat mengangkat pusaka
Gada Rujak Polo milik Bima. Bebarengan dengan pemberian nama Bima
Kunting, Bima memberikan sobekan kampuhnya kepada Setyaki.
Dikarenakan tekun menjalani laku tapa, Setyaki muda mendapatkan pusaka
ampuh pemberian Dewa yang berupa Gada Wesi Kuning dan panah
Nagabanda. Setyaki seorang kesatria yang jujur, tegas, pemberani,
menjunjung tinggi sikap perwira dan selalu berpihak kepada kebenaran.
Itulah sebabnya Kresna mengangkatnya sebagai dan benteng negara, sapu
kawat dan panglima perang negara Dwarawati.
Dari istrinya yang bernama Dewi Garbarini putri Prabu Garbanata dari
negara Garbaruci, lahirlah anak laki-laki yang bernama Raden Arya Sanga-
Sanga. Kelak anak Setyaki tersebut menjadi Patih Negara Hastina pada
jaman pemerintahan Prabu Parikesit. Setyaki tinggal di Garbaruci
meneruskan mertuanya Prabu Garbanata.
Pada saat perang Baratayuda menginjak hari ke 5, Setyaki memohon
kepada Prabu Kresna untuk menjadi Senapati perang. Karena pada hari itu
anak- anak Setyaki, kecuali Arya Sanga-Sanga mati oleh tangan Burisrawa
musuh Setyaki sejak remaja. Permohonan Setyaki dikabulkan oleh Kresna
pada hari ke 14. Setyaki menjadi senapati dari pihak Pandawa dan
Burisrawa menjadi Senapati dari pihak Kurawa.
Sejatinya perang tanding antara Setyaki dan Burisrawa tersebut
dimenangkan oleh Burisrawa. Setyaki kala itu sudah tidak berdaya.
Burisrawa siap mengayunkan pedangnya ke leher Setyaki. Namun
dikarenakan campur tangan Kresna, panah Arjuna telah memutus lengan
Burisrawa, sehingga Setyaki berhasil membunuh Burisrawa.
Setyaki seorang kesatria jujur, pemberani, dan menjunjung tinggi sikap
perwira, namun karena dendamnya kepada Burisrawa, ia telah begitu saja
mengabaikan sifat-sifat positif yang selama ini dihidupinya. Setyaki telah
membunuh Burisrawa, pada saat Burisrawa tidak berdaya.
herjaka HS

Burisrawa dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Burisrawa
Burisrawa adalah anak nomor empat diantara lima bersaudara, anak dari
pasangan Prabu Salya dan Dewi Setyawati, dengan urutan sebagai berikut :
Dewi Erawati isteri Prabu Baladewa raja Mandura, Dewi Surtikanti isteri
Adipati Karna raja Awangga, Dewi Banowati isteri Prabu Duryudana raja
Hastinapura, kemudian Burisrawa dan yang bungsu adalah Raden
Rukmarata. Jika empat saudara Burisrawa berparas cantik-cantik dan
tampan, tidak demikian halnya dengan Burisrawa. Walaupun ia lehih gagah
dan perkasa dibanding Rukmarata, ia bermuka raksasa yang menakutkan.
Menurut pendapat banyak orang, Burisrawa adalah korban dari perbuatan
orang tuanya pada waktu muda. Saat itu ayah Burisrawa malu mempunyai
mertua Bagaspati yang adalah seorang begawan bermuka raksasa. Karena
rasa malu itu Salya muda tega membunuh Bagaspati mertuanya.
Selain mukanya yang jelek, Burisrawa tidak seberuntung saudara-
saudaranya. Sepanjang hidup Burisrawa tidak pernah mendapatkan cinta
yang didamba siang malam dari Dewi Sembadra, adik Baladewa. Saat masih
remaja ia pernah menggoda gadis pujaannya itu, tetapi ia dihalang-halangi
oleh Setyaki adik sepupu Baladewa. Burisrawa pun marah dan berkelahi
dengan Setyaki. Keduanya mempunyai kesaktian yang imbang, sama-sama
kuat dan tidak ada yang mau mengalah. Perkelahian mereka baru berhenti
setelah datang Baladewa orang yang paling ditakuti oleh keduanya untuk
melerai. Pada kesempatan itu, Baladewa menjanjikan bahwa kelak
Burisrawa akan dikawinkan dengan Sumbadra. Di satu sisi Burisrawa lega
atas janji Prabu Baladewa, namun disisi lain ia masih menyimpan dendam
yang membara kepada Setyaki. Demikian pula dengan Sentyaki, dendamnya
tak pernah padam.
Selang beberapa tahun, perkelahian antara ke duanya terjadi lagi ketika
Burisrawa mengamuk di Dwarawati, karena kalah bersaing dengan Arjuna
dalam memenuhi tukon pengantin yang sesuai dengan permintaan
Baladewa. Perkelahian ini pun terpaksa berhenti karena dilerai oleh
Baladewa, namun mereka bersumpah, bahwa keduanya akan bertemu lagi
dalam perang besar Baratayuda kelak. Dan perang itu adalah perang
terakhir, karena tidak akan berhenti lagi sebelum salah satu diantaranya
mati.
Sumpah Burisrawa dan Setyaki ini menjadi kenyataan. Saat perang
Baratayuda berlangsung, Burisrawa menjadi senapati di pihak Kurawa dan
Setyaki menjadi senapati di pihak Pandawa, dan ke duanya berperang atas
nama dendam. Sesungguhnya dalam perang terakhir itu Burisrawa lebih
unggul dalam hal stamina. Setyaki telah kehabisan tenaga dan tak berdaya
di bawah cengkeramannya Burisrawa. Namun pada saat kritis, bantuan dari
Arjuna datang. Burisrawa mati terkena panah Arjuna, dengan demikian
Setyaki terselamatkan.
Burisrawa gugur dalam perang besar Baratyuda, meninggalkan satu isteri
yaitu Dewi Kiswari anak Prabu Kiswamuka Raja Negeri Cindekembang dan
satu anak yang diberi nama Arya Kiswara.
Herjaka HS

Laksmana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Laksmana
Laksmana adalah anak Prabu Dasarata yang lahir dari istri ketiganya yaitu
Dewi Sumitrawati. Sejak kecil Laksmana bersama-sama dengan kakak-
kakaknya dididik oleh Resi Wasita yang bijaksana dan sakti, oleh karenanya
ia tumbuh menjadi satria yang baik, sakti serta jujur. Kasatrian Giri Kastuba
adalah tempat tinggal Laksmana, namun ia jarang sekali tinggal di kasatrian
tersebut, karena sebagian besar dari hidupnya didarmakan untuk kakak
tirinya yaitu Rama. Kemana pun Rama pergi, Laksmana selalu
mengikutinya, hingga Laksmana tidak pernah memikirkan diri sendiri. Di
Mantili ketika Rama mengikuti sayembara, Laksmana ikut bersamanya. Saat
Rama memenangkan sayembara dan memboyong Sinta pulang ke Ayodya,
Laksmana pun mengikutinya. Ketika Rama di usir dari Ayodya dan menjalani
hidup sengsara di hutan Dandaka, Laksmana dengan setia mengikutinya.
Namun rupanya kesetiaan Laksmana yang tulus kepada Rama disikapi
berbeda oleh Sinta. Sinta justru merasa tidak nyaman atas keberadaan
Laksmana yang tidak mau berpisah dengan Rama suaminya. Bahkan di
dalam hatinya, Sinta mempunyai anggapan bahwa Laksmana mencintai
dirinya, dan ingin memilikinya. Perasaan Sinta yang tidak senang dengan
pribadi Laksmana itulah yang kemudian muncul dalam wujud kata-kata.
Kata-kata yang paling tajam menusuk menyakitkan itu terlontar ketika
mereka bertiga berada di hutan Dandaka. Pada saat itu mereka dihampiri
seekor kijang berbulu emas yang amat lucu. Kijang tersebut mendekati
Sinta, namun tidak pernah dapat disentuhnya. Ia sengaja menggoda Sinta.
Rama dan Laksmana membantu Sinta untuk menangkap Kijang tersebut,
namun tidak berhasil. Kijang berbulu emas yang kelihatan jinak tersebut
ternyata gesit luar biasa. Rama panas hatinya, ia merasa dipermainkan oleh
kijang emas tersebut. Kemana pun si kijang lari, Rama memburunya, hingga
semakin jauh meninggalkan tempat di mana Sinta dan Laksmana berada.
Lama ditunggu Rama tidak muncul jua. Kecemasan mulai merambati hati
Sinta dan Laksmana. Tiba-tiba dari arah tengah hutan terdengar suara jerit
kesakitan. Jangan-jangan itu suara Rama yang sedang dalam bahaya. Sinta
gusar, takut, dan mencemaskan keselamatan Rama. Ia menyuruh Laskmana
untuk menyusul Rama. Tetapi Laksmana tidak segera pergi. Ia dihadapkan
pada dua pilihan sulit. Jika ia menyusul Rama, lalu bagaimana dengan
keselamatan Sinta? Dalam suasana seperti ini tidakkah Sinta lebih
membutuhkan perlindungan? Karena Laksmana tidak segera pergi menyusul
Rama, maka dari mulut Sinta yang mungil itu keluarlah kata-kata tajam
menusuk menyakitkan Laksmana. “Apakah jika kakanda Rama mati, aku
bersedia menjadi istrimu Laksmana?”
Kata-kata Sinta telah menghujam dalam di hati Laksmana. Ia sedih karena
tuduhan Sinta tidak sesuai dengan nuraninya. Kecewa, karena kakak iparnya
yang selama ini di hormati dan dihargai telah mengeluarkan kata-kata kasar
tak berdasar. Marah, karena ia sebagai lelaki telah diremehkan. Maka
dengan suara lantang Laksmana mengucapkan sumpah wadat dihadapan
Sinta, disusul dengan memotong planangannya, sebagai tanda bahwa ia
tidak akan kawin dengan seorang wanita. Potongan planangan Laksmana
diberi nama Laksmana Sadu. Laksmana dan Laksmana Sadu hidup
berdampingan tetapi tidak menjadi satu, sehingga tidak dapat saling
melengkapi.
Sejak peristiwa itu, hingga akhir hidupnya Laksmana tidak beristri. Mungkin
hal tersebut sebagai akibat dari hukum karma. Karena beberapa waktu
sebelumnya, Laksmana telah menyakiti hati seorang wanita yang jatuh cinta
kepada dirinya, dengan menampar hidungnya hingga grumpung tak
berhidung. Dengan menutupi bagian hidungnya yang berlumuran darah,
wanita jelmaan Sarpakenaka itu mengumpat kutuk bahwa Laksmana tidak
akan pernah dapat bercinta dengan wanita.
Walaupun dalam hidupnya ada dua wanita yang jatuh hati kepada
Laksmana, yaitu Dewi Antrakawulan dan Dewi Trijata, Laksmana tidak
pernah dapat menanggapi cinta mereka. Apalagi semenjak Laksmana Sadu
daipisahkan secara paksa dari tubuhnya, hidup Laksmana menjadi tidak
utuh.
Oleh karenanya ketidak utuhan itu, diujung hidupnya, Laksmana terpaksa
harus menitis pada manusia selanjutnya yang dapat menyempurnakan
hidup. Laksmana menitis pada Arjuna, karena Arjunalah yang dapat
mengutuhkan kembali kelelakiannya Laksmana yang telah disia-siakan
dalam hidupnya. Sedangakn Laksmana Sadu yang adalah jati diri lelaki itu
lebih cocok menitis pada Baladewa yang putih. Dikarenakan sebagai lelaki
Baladewa mampu menempatkan kelelakiannya apa adanya dan sesuai
dengan hakikatnya.
herjaka HS

Tokoh Dursasana dalam bentuk wayang kulit purwa, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi rumah budaya. (Foto: Sartono)
Dursasana
Dursasana adalah anak nomor dua dari pasangan Destarastra dengan Dewi
Gendari. Ia mempunyai 99 saudara kandung yang disebut Kurawa. Adik
Prabu Duryudana raja Hastina ini bertempat tinggal di kadipaten
Banjarjungut. Ia beristrikan salah satu putri dari Negeri Kasipura atau
Swantipura yang bernama Dewi Saltani. Dari perkawinannya Dursasana
mempunyai anak tunggal bernama Raden Dursala.
Sepanjang hidupnya Dursasana selalu mendukung semua rencana
Duryudana untuk membunuh para Pandawa, yang adalah adik sepupunya.
Dursasana berbadan tingi besar. Tangannya tidak mau diam, selalu
bergerak-gerak pada setiap aktivitasnya. Pada waktu duduk, pada waktu
bicara, bahkan pada saat tidur pun tangan Dursasana selalu bergerak-gerak.
Ia dikenal sebagai seseorang yang sangat kurangajar, tidak tahu sopan
santun. Catatan dalam sejarah hidupnya yang dinilai sangat keterlaluan
dalam ukuran kekurangajaran adalah ketika, para Kurawa yang dibotohi
oleh Sengkuni memenangkan permaian dadu. Pada waktu itu Dursasana
menjambak rambut Durpadi dan menyeretnya dari keputren ke hadapan
orang banyak.
Atas hasutan Sengkuni dan Karna, pakaian Durpadi berusaha dilepas oleh
Dursasana dihadapan kalayak. Namun keajaiban terjadi, setiap kali
Dursasana berhasil menanggalkan pakaian Durpadi, secepat kilat, dengan
tidak dapat diikuti oleh pandangan mata, pakaian Durpadi kembali utuh
seperti semula.
Demikian hingga berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus pakaian Durpadi
yang dilepas Dursasana, tidak membuat Durpadi telanjang. Pakaian yang
dikenakan masih utuh menempel di badannya. Dursasana kehabisan tenaga,
ia terbaring lemas tertimbun pakaian Durpadi yang menggunung.
Atas kekurangajaran Dursasana yang kelewat batas, Dursasana menerima
hukum karma. Walaupun ia mempunyai pusaka sakti yaitu panah Kyai Barla,
ia tak kuasa menandingi kesaktian Wrekudara. Dursasana mati secara
mengenaskan di tengah sungai Kelawing atau Cing-Cing Goling. Darahnya
dipakai keramas Durpadi yang telah dikurangajari habis-habisan.
herjaka HS

Kumbakarna dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Kumbakarna
Kumbakarna adalah anak nomor dua dari empat bersaudara. Ia dan tiga
saudara lainnya yaitu: Dasamuka, Sarpakenaka dan Wibisana merupakan
anak-anak yang dilahirkan dari pasangan Begawan Wisrawa dan Dewi
Sukesi. Sesungguhnya Begawan Wisrawa tidak berniat memperistri Sukesi.
Konon pada awalnya Wisrawa bermaksud melamarkan anaknya. Namun
setelah berhadapan dengan Dewi Sukesi, Wisrawa tak kuasa menahan
nafsunya. Benih yang disemai oleh Wisrawa ke dalam rahim Sukesi adalah
benih nafsu yang tak terkendali. Oleh karenanya keempat anaknya masing-
masing mempunyai nafsu yang berlebihan. Kumbakarna mempunyai nafsu
yang sangat besar dalam hal makan dan tidur.
Walaupun Kumbakarna berujud raksasa menakutkan sebesar gunung
anakan, hatinya jujur dan lembut. Ia tidak senang dengan tindakan jahat
dan perilaku angkaramurka. Maka ketika Dasamuka kakaknya menculik dewi
Sinta isteri Prabu Rama, Kumbakarna tidak setuju. Ia menyarankan agar
Sinta dikembalikan kepada Rama. Tetapi saran Kumbakarna ditolak, bahkan
ia dimarahi dan diusir oleh Dasamuka. Maka pulanglah Kumbakarna ke
Pangleburgangsa dan melakukan tapa tidur sampai berhari-hari.
Bersamaan dengan tapanya Kumbakarna, negara Alengka diserbu oleh
prajurit kera bala tentara Prabu Rama, dan terjadilah perang besar. Satu
demi satu senapati Alengka gugur. Dasamuka kawatir jika hal ini dibiarkan
prajuritnya pasti akan habis. Maka diutuslah Indrajit anaknya, untuk
membangunkan Kumbakarna. Dengan cara mencabut bulu di jari kaki
Kumbakarna, indrajit berhasil membangunkan pamannya.
Setelah bangun dari tapa tidur, Kumbakarna diberi makan seribu tumpeng
dan ingkung gajah. Dalam sekejap makanan yang disediakan tersebut habis
dimakan. Setelah itu, Kumbakarna diperintahan oleh Dasamuka untuk maju
berperang. Kumbakarna tersinggung, Ia tidak mau berperang hanya karena
telah diberi makan. Maka dari itu makanan yang telah masuk ke dalam perut
dimuntahkan kembali dengan bentuk utuh seperti sediakala. Kumbakarna
juga tidak mau berperang membela Dasamuka yang menculik Sinta, tetapi
Kumbakarna mau berperang untuk membela tanah air yang diserang
musuh.
Dengan aji Gelapsaketi dan Kalamenga, Kumbakarna masuk ke medan
perang. Ribuan prajurit kera mati ditangannya. Rama dan Leksmana cemas,
jika dibiarkan prajurit kera akan habis oleh sepak terjang Kumbakarna.
Maka kemudian majulah Rama dan Laksmana, menghadang Kumbakarna.
Dengan panah saktinya Rama dan Laksmana berhasil memotong kedua
tangan Kumbakarna. Tetapi Kumbakarna tetap mengamuk tanpa tangan.
Korban semakin bertambah di pihak bala tentara kera. Rama dan Laksmana
semakin menggencarkan serangan. Ketika Kumbakarna lengah, panah Rama
dan Laksmana berhasil mengenai ke dua kaki Kumbakarna hingga putus.
Kumbakarna yang sudah tidak mempunyai kaki dan tangan masih mampu
memberikan perlawanan dengan dahsyat. Dengan badannya ia bergulung-
gulung membunuh musuh. Bagaikan ilalang yang dibabat petani, para kera
mati bergelimpangan di medan pertempuran.
Melihat kejadian yang mengenaskan itu Rama tidak membiarkan prajuritnya
habis menjadi korban amukan Kumbakarna. Panah andalan yang bernama
Guwawijaya dilepaskan kearah leher Kumbakarna. Dan gugurlah adik
Dasamuka itu sebagai pahlawan yang membela negara.
Kumbakarna meninggalkan satu isteri bernama Dewi Kiswani dan anak laki-
laki yaitu, Kumba-kumba dan Aswani Kumba. Mereka tinggal di kasatrian
Pangleburgangsa.
herjaka HS

Sinta dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (Foto: Sartono)
Dewi Sinta (1)
Dewi Sinta lahir dari rahim Dewi Tari isteri Dasamuka raja raksasa di negara
Alengka. Kelahirannya sudah diramalkan oleh para ahli nujum negara
Alengka, bahwa anak di dalam kandungan Dewi Tari tersebut adalah titisan
Dewi Widowati yang diincar oleh Dasamuka untuk dijadikan isteri. Karena
dipercaya bahwa barangsiapa memperistri Dewi Widowati atau titisannya
akan mendapat kemuliaan lahir dan batin. Maka jika ramalan para nujum itu
benar, maka dikhawatirkan bahwa anak dewi Tari akan diperistri ole
ayahnya sendiri.
Apa yang diramalkan para nujum menjadi kenyataan, anak Dewi Tari lahir
perempuan, dan merupakan titisan Dewi Widowati. Tandanya adalah,
wajahnya cantik jelita dan memancarkan aura sinar pada tubuhnya.
Gunawan Wibisana adik Dasamuka yang rupawan sangat cemas bahwa
nantinya setelah dewasa, kakaknya akan memperistri anaknya sendiri.
Mumpung kakaknya tidak sedang berada di kraton, Gunawan Wibisana
memohon ijin kepada Dewi Tari untuk membuang bayi perempuan tersebut
dan menggantinya dengan bayi laki-laki. Dewi Tari menyetujui langkah
Gunawan Wibisana demi keselamatan bayinya.
Maka kemudian bayi tersebut dimasukkan ke dalam kendaga yang indah dan
nyaman, dengan diberi beberapa kelengkapan bayi serta mainan yang
berbentuk kupat sinta, untuk kemudian dihanyutkan ke sungai. Sebagai
pengganti dari bayi yang dilahirkan Dewi Tari, Gunawan Wibisana memohon
seorang bayi laki-laki dari sebuah gumpalan mega di langit. Permohonan
Gunawan Wibisana di perkenankan, maka berubahlah gumpalan mega
tersebut menjadi bayi laki-laki, dan diberi nama Megananda atau Indrajit.
Kendaga yang berisi bayi perempuan tersebut terbawa aliran sungai dan
masuk ke persawahan bumi Mantili. Pada waktu itu Prabu Janaka raja
Mantili, sedang memimpin upacara ritual para petani yang diselenggarakan
pada setiap awal musim tanam. Betapa terkejutnya Prabu Janaka, ketika
mata bajak yang sedang dijalankan terantuk sebuah kendaga yang berkilau
indah. Lebih terkejut lagi setelah diketahui bahwa di dalam kendaga
tersebut terdapat seorang bayi perempuan yang cantik bersinar-sinar. Bayi
tersebut kemudian dibawa ke dalam kraton dan diangkat anak oleh Prabu
Janaka dan diberi nama Sinta, nama yang berasal dari salah satu jenis
ketupat yang artinya adalah mata bajak.
Prabu Janaka bersama tiga permaisurinya yaitu Dewi Sara, Dewi Tatawi,
Dewi Sumerta bersukacita atas kehadiran seorang bayi yang sangat cantik
jelita di dalam keluarga mereka, untuk menemani Mayaretna anak semata
wayang Prabu Janaka yang lahir dari Dewi Sumerta.
herjaka HS
Dewi Sinta (2)
Melalui ujung mata bajak, Prabu Janaka menemukan seorang bayi, yang
kemudian diangkat anak dan diberi nama Sinta. Setelah dewasa Sinta
dipinang oleh Rama, putra Prabu Dasarata raja Ayodya, melalui sebuah
Sayembara yang diadakan oleh Prabu Janaka. Walaupun Sinta adalah anak
raja Alengka yang diangkat anak oleh raja Mantili dan kemudian menjadi
menantu raja Ayodya, hidup Sinta tidak pernah lepas dari kesengsaraan.
Ketika bayi ia di buang di sungai, kemudian setelah dewasa ia hidup dalam
pembuangan di hutan Dandaka mendampingi Rama suaminya dan
Laskmana adik Rama. Di hutan Dandaka ia diculik oleh Dasamuka yang
adalah ayah Sinta yang sesungguhnya. Namun dalam hal ini Sinta tidak tahu
bahwa yang menculik adalah ayahnya. Demikian juga Dasamuka tidak tahu
bahwa yang diculik adalah anak kandungnya. Rahasia ini disimpan rapat-
rapat oleh Wibisana dan Dewi Tari.
Kisah penculikan ini berawal saat Sinta melihat seekor kidang lucu dan
bercahaya laksana emas. Ia memohon kepada Rama suaminya untuk
menangkap kidang tersebut. Namun ternyata tidak mudah. Seekor kidang
yang kelihatan jinak tersebut selalu gagal ditangkap Rama, hingga tidak
disadarinya Rama semakin jauh meninggalkan Sinta dan Laksmana. Lama
ditunggu dalam suasana cemas Rama tak kunjung datang. Tiba-tiba
terdengarlah jerit melengking yang memilukan. Sinta dan Laksmana saling
pandang, di dalam hati mereka ada perasaan yang sama. Sama-sama
mengkhawatirkan keselamatan Rama. Maka kemudian Sinta menyuruh
Laskmana untuk menyusul Rama. Laksmana kebingungan. Jika ia menyusul
Rama, lalu bagaimana dengan keselamatan Sinta? Dalam suasana yang
mencekam seperti ini tidakkah Sinta yang seharusnya mendapat
perlindungan?
Dikarenakan Laksmana tidak segera menyusul Rama, Sinta mempunyai
prasangka bahwa Laksmana sengaja membiarkan Rama celaka. Maka
kemudian keluarah kata-kata dari mulut Sinta: “Apakah jika kakanda Rama
mati, aku bersedia menjadi istrimu?” Tuduhan Sinta atas dirinya itu sungguh
sangat menyakitkan dan tak berdasar. Untuk membuktikan bahwa di hati
Laksmana tidak terbersit sedikit pun niat untuk memiliki Sinta maka
Laksmana menghilangkan ke-lelaki-annya dan berjanji akan hidup wadat.
Selanjutnya Laksmana meninggalkan Sinta sendirian, namun sebelumnya ia
menggoreskan rajah disekeliling Sinta.
Sepeninggal Laksmana Sinta keluar dari goresan rajah yang mengelilinginya
karena terpancing rasa belaskasihan dari seorang brahmana tua yang
kehausan dan kelaparan. Ternyata brahmana tua tersebut merupakan
penjelmaan Dasamuka yang telah menyusun strategi untuk menculik Sinta.
Bermula dari pengaduan Sarpakenaka adiknya, yang dipotong hidungnya
dalam perang tanding melawan Laksmana, Dasamuka tahu bahwa di tengah
hutan Dandaka ada wanita yang sangat cantik. Menurut Sarpakenaka bahwa
wanita itu pantas menjadi istri kakanda Dasamuka. Benarlah apa yang
dikatakan Sarpakenaka, bahwa wanita itu sangat memikat. Dasamuka
bernafsu untuk menculiknya. Dibantu oleh Kala Marica yang menjelma
menjadi seekor kidang kencana, untuk memancing Rama dan Laksmana
meninggalkan Sinta, Dasamuka berhasil dengan mudah menculik Sinta.
Pada saat Sinta dibawa terbang Dasamuka, seekor burung Jatayu berniat
menolong Sinta. Maka dengan sayapnya yang besar dan perkasa Jatayu
berhasil menjatuhkan Dasamuka dan merebut Sinta. Dalam sekejap Sinta
telah berpindah tangan, dari tangan Dasamuka berpindah ke sayap Jatayu.
Dikarenakan secara psikologi Sinta mendapat goncangan hebat dan
beruntun, maka jiwanya pun tergoncang. Seperti yang di alami Laksmana,
niat baik Jatayu justru menimbulkan prasangka buruk di hati Sinta, sehingga
keluarlah kata-kata yang menyakitkan dari mulit Sinta. “Aku tidak mau
menjadi isterinya seorang raksasa apalagi menjadi isterinya seekor burung.”
Burung Jatayu yang sedang membawa Sinta tergoncang hatinya karena
kata-kata Sinta yang merendahkan dirinya. Akibatnya ia lengah, sayapnya
berhasil ditebas dengan pedang Mentawa, dan Sinta pun berhasil direbut
kembali oleh Dasamuka, untuk dibawa terbang ke negara Alengka.
herjaka HS

Anoman, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Anoman Menjadi Senopati
Setelah ditolong oleh Garuda Sempati, kekuatan Anoman pulih. Ia terbang
meninggalkan Dewi Sayempraba yang hampir saja membunuh dirinya.
Sebagai anak asuh Dewa Bayu, yang berkuasa atas angin, Anoman telah
diangkat menjadi satu saudara tunggal Bayu dengan saudara Bayu yang lain
yaitu: Wil Jajagwreka, Gajah Situbanda, Naga Kuwara, Garuda Mahambira,
Begawan Mainaka Bima dan Dewa Ruci, sehingga tidaklah heran jika Kera
berbulu puth kemilau tersebut mampu terbang bersama angin dengan amat
cepat. Sebentar kemudian ia hilang dari pandangan Dewi Sayempraba.
Seperti yang telah diberitahukan dengan rinci oleh Garuda Sempati
mengenai letak Negara Alengka tempat Dasamuka bertahta dan letak
Taman Argosoka tempat Dewi Sinta disekap, Anoman mengarahkan arahnya
ke Taman Argasoka untuk menyampaikan pesan dari Rama kepada Sinta.
Pesan itu berujud cicin tanda cinta dan keselamatan.
Ketika sampai di Taman Argasoka, Anoman hinggap pada pohon Nagasari.
Dibalik rimbunnya pohon, Anoman melihat sosok wanita yang kurus kering,
hingga kelihatan tulang iganya. Gelung rambut rusak dan kotor bercampur
debu tanah. Pasti wanita inilah yang bernama Dewi Sinta. Anoman sungguh
terharu melihat keadaan Dewi Sinta. Perasaan haru dan sedih itulah yang
kemudian ditulis oleh Pujangga Yasadipura I dalam Serat Rama dengan
sastra tembang macapat jenis lagu Kinanthi, seperti ditulis dibawah ini:
1. Anoman malumpat sampun
prapteng witing nagasari,
mulat mangandhap katingal,
wanodyayu kuru aking,
gelung rusak awor kisma,
ingkang iga-iga keksi
(Anoman melompat di pohon Nagasari, memandang ke bawah melihat
wanita cantik kurus kering, gelung rambutnya rusak bercampur debu tanah,
tulang iganya kelihatan)
2. Pinandeng sarwi tumungkul,
Anoman ngiling-ilingi,
sarta mirsakken karuna,
sumedhot tyasira nenggih,
“Iya iki baya-baya
Kusuma putri Mantili “
(Tatapannya selalu menunduk, Anoman memperhatikan serta melihat bahwa
ia sedang menangis tersentuh hati Anoman. Benarlah ini putri Mantili)
3. Medhun ing pragak tumungkul,
Anoman sarwi ningali,
Umengetaken sesambat,
Sangsaya inggil hyang rawi,
Sakenjing gennya karuna,
Kusuma Putri Mantili
(turun dari batang pohon, Anoman ingin melihat dan mendengarkan apa
yang membuatnya sang Dewi bersedih. Matahari semakin tinggi, sudah
sejak pagi Putri Kedaton Mantili menangis
Setelah matahari mencapai puncaknya, tangis Dewi Sinta berhenti
bersamaan dengan kedatangan Anoman. Wajah Sinta yang kuyu layu tiba-
tiba berbinar penuh harap, ketika Anoman menyerahkan cincin dari Rama.
Sebagai tanda sebuah pengharapan akan datangnya Rama untuk
membebaskan dirinya, Dewi Sinta menitipkan tusuk konde kepada Anoman
untuk di berikan kepada Rama.
Di Taman Argasoka ini Dewi Sinta ditemani oleh Dewi Trijatha, adik
Dasamuka. Trijata diberi tugas oleh kakaknya untuk membujuk Dewi Sinta
agar mau menjadi istri Dasamuka dengan sukarela. Anoman jatuh hati
kepada Trijata yang sintal cantik, ramah dan menyenangkan. Namun
Anoman tidak meuruti gejolak hatinya. Ia terlebih dahulu ingin
menyelesaikan tugasnya sebagai duta Rama.
Pada akhirnya Anoman berhasil dengan gemilang menjadi duta Rama. Ia,
seorang diri mampu memporak-porandakan dan membakar Negara Alengka.
Atas prestasinya, Anoman diangkat oleh Prabu Rama menjadi Senapati
Negara Pancawati.
Anoman yang sudah mengetahui keberadaan Dewi Sinta serta kekuatan
Dasamuka dipercaya memimpin penyerangan ke Negara Alengka, untuk
merebut Dewi Sinta.
Perang besar pun terjadi antara prajurit raksasa dan prajurit kera, antara
Dasamuka dan Rama. Perang maha dashyat tersebut dinamakan perang
Giriantara. Dalam perang Giriantara Anoman berhasil menghentikan
perlawanan Dasamuka yang tidak dapat mati karena daya aji Pancasona.
herjaka HS

Anoman dalam bentuk Wayang Kulit Purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Anoman (1)
Di sebuah telaga Nirmala ada seorang Dewi muda namanya Dewi Anjani. Ia
sedang melakukan tapa Ngodok, yaitu laku tapa dengan merendamkan
badannya ke dalam air dan tidak memakai busana. Laku tapa tersebut
dilakukan oleh Anjani untuk sebuah permohonan, yaitu agar dirinya
dibebaskan dari kutukan. Dewi Anjani yang berparas cantik dikutuk sehingga
berubah menjadi berparas kera ketika ia dan dua saudaranya saling berebut
pusaka Cupumanik Astagina. Walaupun Anjani berparas kera, kemolekan
dan kemulusan tubuh seorang Dewi muda masih nampak kentara di balik
jernihnya air telaga.
Pada saat itu Batara Guru dewa tertinggi penguasa kahyangan sedang
melanglang buwana dan melintas di atas tempat Dewi Anjani yang sedang
merendamkan diri tanpa busana di tengah telaga. Melihat tubuh molek
tersebut Batara Guru tak kuasa membendung gelora birahinya, maka
keluarlah kama Batara Guru dan jatuh menimpa daun talas. Daunt alas
tersebut hanyut terbawa arus air telaga, dan menuju ke mulut Dewi Anjani
untuk kemudian dimakan. Akibatnya Dewi Anjani hamil. Batara Guru
menyadari bahwa kehamilan Dewi Anjani akibat dari perilakunya maka
diperintahkannya para Bidadari kahyangan untuk membantu persalinan
Dewi Anjani. Namun jika dirunut dengan seksama kehamilan Dewi Anjani
tersebut tidak semata-mata karena kama Batara Guru, namun juga karena
daun talas. Karena sesungguhnya daun talas yang dimakan Dewi Anjani
tersebut mempunyai kisahnya tersendiri.
Kisah daun talas bermula ketika Rama dan Sinta diikuti oleh Laksmana adik
Rama, meninggalkan Negara Ayodya memasuki hutan Dandaka. Pada waktu
itu Dewi Sinta dalam keadaan hamil muda. Dikarenakan hidup susah di
hutan maka kandungan Sinta mengalami keguguran. Janin muda yang
gugur dari rahim Sinta dibungkus dengan daun talas dan dibuang jauh oleh
Laksmana dan jatuh di telaga Nirmala. Daun talas pembungkus janin anak
Sinta itulah yang bersama kama Batara Guru kemudian masuk kerahim
Dewi Anjani dan membuahkan janin baru yang hidup.
Maka setelah tiba waktunya Dewi Anjani melahirkan seorang bayi laki-laki
berupa kera berbulu putih kemilau dan diberi nama Anoman. Dewi Anjani
dan Anoman kemudian dibawa ke Kahyangan. Sesampainya di Kahyangan
Dewi Anjani dibebaskan dari kutuknya. Wajahnya dipulihkan seperti sedia
kala berparas seorang Dewi yang molek. Sedangkan Anoman oleh Batara
Guru diserahkan kepada Batara Bayu, Dewa penguasaa angin, untuk diasuh
dan dididik agar menjadi seorang ksatria sakti dan perkasa yang berwatak
luhur dan rendah hati.
Oleh Batara Bayu Anoman diajari berbagai ilmu yang mengandalkan
kekuatan angin. Oleh karena itu Anoman juga bernama Maruti yang artinya
angin, karena diasuh oleh dewa angin. Anoman diberi busana yang serupa
dengan busana Dewa Bayu yaitu Kampuh Poleng Bang Bintuluaji, dan Kuku
Pancanaka
Dari kisah tersebut tidak salah jika Anoman disebut Guru Putra karena anak
Batara Guru, juga tidak salah jika disebut Ramandayapati karena anak Rama
dan Bayu Suta karena anak Batara Bayu.
herjaka HS
Anoman (2)
Dibawah asuhan Batara Bayu yang berkuasa atas angin, Anoman yang
berujud kera berbulu putih tumbuh menjadi remaja yang perkasa. Atas
perintah Batara Guru Anoman ditugaskan turun ke dunia untuk membantu
Rama memerangi kejahatan. Kedatangan Anoman ke dunia menuju ke
kerajaan kera yang berpusat di Goa Kiskenda, yang dirajai oleh Sugriwa
uwak Anoman. Pada waktu itu Sugriwa sedang bermusuhan dengan Subali,
saudara kembarnya.
Oleh karena Sugriwa tidak dapat mengalahkan Subali, Anoman diutus
mencari bantuan untuk mengalahkan Subali. Maka kemudian bertemulah
Anoman dengan Rama yang sanggup membantu Sugriwa dalam
mengalahkan Subali. Setelah Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa
dengan seluruh balatentara kera berjanji akan membantu Rama dalam
mencari serta merebut Sinta dari tangan Dasamuka
Untuk menjajagi kekuatan Dasamuka di Negara Alengka, Anomanlah yang
dipercaya Rama untuk menyusup ke Negara Alengka. Perjalanan Anoman
sebagai duta Rama dihadang oleh Dewi Sayempraba putri begawan
Wiswakrama. Dengan daya pikatnya, Dewi Sayempraba berhasil membujuk
Anoman untuk singgah di kediamannya. Anoman, sebagai remaja belia yang
belum berpengalaman terlena oleh rayuan Dewi Sayempraba. Dibalik
pelayanan yang lembut dan romantis ada niat jahat yang sengaja
disembunyikan. Dewi Sayempraba yang adalah isteri Dasamuka bermaksud
membunuh Anoman dengan taburan racun pada buah-buahan yang
disajikan, agar supaya Anoman gagal menjadi duta Rama dalam memerangi
Dasamuka.
Dengan tidak menaruh kecurigaan terhadap Dewi Sayempraba, Anoman
memakan buah yang disajikan dengan lahapnya. Racun yang ada dalam
buah tersebut bereaksi amat cepat. Anoman tiba-tiba menjadi buta dan
kehilangan seluruh kekuatannya. Bagai seonggok kain basah Anoman
dicampakkan dan sengaja dibiarkan oleh Dewi Sayempraba sampai maut
menjemput.
Dalam kegelapan dan ketidak berdayaan Anoman dihampiri sosok burung
Garuda yang terluka namanya Sempati. Racun yang menjalar disekujur
tubuh Anoman dihisap dengan paruh dan bulunya, hingga benar-benar
bersih. Tidak beberapa lama kemudian Anoman dapat melihat kembali dan
pulih kekuatannya.
Selanjutnya Garuda Sempati memberitahukan secara rinci mengenai Negara
Alengka termasuk keberadaan taman Argosoka, tempat Dewi Sinta disekap.
Setelah semuanya menjadi jelas, Anoman terbang secepat kilat menuju
taman Argosoka, meninggalkan Dewi Sayempraba yang telah menyekapnya
dengan nikmat dan racun yang mematikan.
Dewi Sayempraba kecewa karena telah gagal menjalankan tugasnya untuk
menghalangi Anoman menjadi duta ke Negara Alengka. Namun dibalik
kegagalannya Dewi Sayempraba mendapatkan apa yang selama ini
didambakan yaitu seorang anak, yang sekarang telah tumbuh dalam
rahimnya. Benih itu telah disemaikan oleh Anoman
herjaka HS

Brahala dalam bentuk wayang kulit,
karya Bp. Ngatiman dari Gendeng Bangunjiwa Bantul,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Brahala
Brahala adalah sosok raksasa sebesar gunung yang berwajah sangat
menakutkan. Ia mempunyai tangan seribu maka disebut pula Balasrewu,
yang masing-masing tangannya memegang senjata sakti. Digambarkan
pula, kedua matanya melotot menyeramkan. Brahala, di dalam bahasa Jawa
merupakan kerata basa dari kata bubrah dan ala yang artinya rusak dan
jelek. Sesungguhnya Brahala ini adalah penjelmaan suatu kesaktian yang
dimiliki oleh orang yang menjadi titisan Dewa Wisnu. Ada beberapa orang
yang menjadi titisan Dewa Wisnu, namun hanya dua orang yang dapat
menjelma menjadi Brahala yaitu Harjuna Sasrabahu raja Maespati dan dan
Kresna raja Dwarawati.
Proses untuk menjadi Brahala disebabkan oleh dua hal yang pertama adalah
karena kemarahan besar yang disebut dengan tiwikrama. Tiwikrama yang
kemudian mengantar Harjuna Sasrabahu menjadi Brahala terjadi dua kali,
yang pertama ketika Prabu Harjuna Sasrabahu marah karena ditantang
Sumantri Patihnya. Dan yang kedua saat Harjuna Sasrabahu berhadapan
dengan Dasamuka raja Alengka. Demikian pula Kresna, ia melakukan hal
yang sama seperti yang dilakukan Harjuna Sasrabahu. Dua kali Kresna
tiwikrama berubah menjadi Brahala. Yang pertama ketika mencuri Dewi
Rukmini dan yang ke dua ketika sebagai duta di Negara Hastinapura. Ketika
menjadi duta untuk menagih bumi Hastinapura yang menjadi haknya para
Pandawa, sresna sangat marah dikarena dirinya dipermainkan dan di ingkari
oleh Duryudana, maka kemudian ia tiwikrama menjadi Brahala, mengamuk
dan merobohkan beteng kedaton kraton Hastinapura, hingga menewaskan
Destarastra dan Gendari.
Namun tidak selalu kemarahan Harjuna Sasrabahu dan Kresna akan
menjelnma menjadi Brahala. Seperti yang terjadi ketika Sesaji Raja Suya,
Kresna tidak menjelmakan dirinya menjadi Brahala walau pada waktu itu
Kresna sangat marah kepada Sri Supala dan bahkan sampai membunuhnya.
Selain Tiwikrama (amarah), proses untuk menjadi brahala dapat terjadi
karena yang bersangkutan (Harjuna Sasrabahu dan Kresna ) memang
berniat mengeluarkan kesaktiannya dengan mengetrapkan mantra sakti
dibarengi tiga kali melangkahkan kaki yang disebut dengan Triwikrama. Tri
artinya tiga sedangkan krama artinya patrap atau keadaan tubuh.
Triwikrama ini dilakukan oleh Harjuna Sasrabahu saat menuruti permintaan
Dewi Citrawati isterinya untuk bersenang-senang di sungai Gangga. Pada
waktu itu Harjuna Sasrabahu tidak sedang marah, tetapi sengaja mengubah
dirinya menjadi Brahala untuk membendung sungai demi kepentingan
permaisurinya.
herjaka HS

Durmagati dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
DURMAGATI
Durmagati adalah anak Destarastra dan Dewi Gendari, penguasa Kadipaten
Gajahoya. Bersama sembilanpuluh sembilan saudara yang lain ia disebut
dengan nama para Kurawa. Durmagati tinggal di kasatrian
Sobrahblambangan. Walaupun tidak termasuk tokoh utama, Durmagati
selalu hadir dalam pasowanan di kraton Hastinapura. Kehadiran tokoh yang
satu ini cukup menghibur, karena keluguannya serta kelucuannya. Namun
dibalik keluguan dan kelucuan tersebut sesungguhnya Durmagati senantiasa
melontarkan kritik kepada petinggi kerajaan yang tidak bertanggungjawab.
Termasuk juga yang sering memberikan laporan palsu, merekayasa,
menfitnah sampai dengan merencanakan pembunuhan. Herannya, sebagian
besar petinggi yang dikritik Durmagati tidak marah, hal tersebut dapat
dimaklumi karena cara menyampaikan kritik Durmagati dengan gurauan dan
selengekan.
Ketika ada perubahan kepemimpinan di Negara Hastinapura, Duryudana
kakaknya naik tahta. Kebiasaan Durmagati dalam melontar kritik semakin
berani. Yang menjadi sasaran kritik Durmagati antara lain adalah Patih
Sengkuni, Pandita Durna, Adipati Karna, dan juga Duryudana.
Selain mengkritik, tidak ada satu pun hal besar yang dilakukan oleh
Durmagati. Ia sangat penakut, tidak berani menghadapi musuh sendirian.
Kecuali jika keroyokan.
Dalam perang besar Baratayuda yang melibatkan Negara Hastinapura,
Durmagati bersama Jayadrata serta para kurawa yang lain mengeroyok
Abimanyu anak Harjuna hingga tewas. Harjuna mengamuk dan
menghujankan ribuan anak panah kearah orang-orang yang membunuh
Abimanyu. Semua pembunuh Abimanyu tewas, termasuk juga Durmagati.
herjaka HS

Tokoh Sarpakenaka dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Sarpakenaka
Sarpakenaka adalah anak ke tiga dari pasangan Begawan Wisrawa dan Dewi
Sukesi, menyusul dua kakaknya yang bernama Rahwana atau Dasamuka
dan Kumbokarno. Ia berujud raseksi atau raksasa perempuan. Jika Kakak
sulungnya dinamakan Rahwana karena ia lahir dihutan dan berupa
gumpalan darah, nama Sarpakenaka diberikan karena ia lahir berujud kuku
ular. Kuku artinya kenaka dan sarpa artinya ular. Ia adalah sosok raseksi
yang jahat bengis dan kejam. Sifat dan watak yang demikian ini mirip sekali
dengan watak Rahwana kakaknya. Sarpakenaka sangat sakti. Senjata
andalannya adalah kuku beracun di jari-jari tangannya.
Sarpakenaka diberi kedudukkan yang tinggi oleh kakaknya di Negara
Alengka dan tinggal di Gutaka. Ia adalah wanita yang mempunyai dorongan
akan kebutuhan seks lebih besar dibanding dengan kebutuhan seks wanita-
wanita dan raseksi-raseksi pada umumnya. Oleh karenanya untuk
memenuhi kebutuhan akan seksualitasnya Sarpakenaka mempunyai tiga
suami yaitu Kala Nopati, Dusakarana, Kala Dusana, masih ditambah lagi
dengan suami simpanannya antara lain Anggisrana dan Kala Marica. Dari
sekian suami resmi dan suami simpanan tersebut Sarpakenaka melahirkan
satu anak yang diberi nama Dewi Jarini.
Pada waktu Negara Alengka diserbu oleh Rama dan puluhan laksa prajurit
kera untuk merebut Dewi Sinta yang diculik Dasamuka, Sarpakenaka dipilih
menjadi senopati. Dengan kukunya yang beracun ia berhasil membunuh
prajurit kera dalam jumlah yang besar. Ketika Sarpakenaka semakin
membabi buta, Anoman senapati Prabu Rama dari Pancawati
menghadangnya. Maka kemudian pertempuran sengit antara ke dua
senapati pun terjadi. Sarpakenaka sulit untuk dikalahkan.
Wibisana, adik Sarpakenaka yang membelot kepada Prabu Rama mendekati
Anoman untuk menunjukkan celah kelemahan Sarpakenaka kakaknya.
Dikatakan oleh Wibisana bahwa kesaktian Sarpakenaka berada di kukunya.
Maka untuk mengalahkan Sarpakenaka, jari-jari kukunya harus dipatahkan
terlebih dahulu. Dengan segera Anoman melaksanakan apa yang dikatakan
Wibisana. Kukusakti pada jarinya yang selama pertempuran selalu dihindari
Anoman, kali ini justru menjadi sasaran serangan. Gerakan Anoman yang
sangat cepat dan tak terduga arahnya mampu mengecoh Sarpakenaka.
Akibatnya kukusakti Sarpakenaka dapat dipatahkan, dan gugurlah
Sarpakenaka di Medan laga.
herjaka HS

Prabu Dasamuka, sebelah tangannya cacat tidak bisa digerakkan
karena terjepit pintu Selamanangkep, wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Dasamuka
Dasamuka artinya mempunyai muka sepuluh, nama lain dari Dasamuka
adalah Rahwana, yang berarti darah di hutan karena Rahwana dilahirkan di
hutan. Ibunya bernama Dewi Sukesi dari Alengka. Dasamuka kemudian
menjadi raja di Alengka. Ia adalah seorang raja yang mahasakti, memiliki aji
Pancasona. Ajian ini mempunyai daya hidup ketika menyentuh tanah.
Walaupun sudah mati jika menyentuh tanah akan hidup kembali. Dasamuka
adalah raja besar yang memiliki watak angkara murka, sewenang-wenang
terhadap rakyatnya. Dasamuka mempunyai isteri bidadari kahyangan
bernama Dewi Tari. Dengan Dewi Tari Dasamuka mempunyai beberapa anak
yaitu: Indrajit, Dewantaka, Tri Sirah, Tri Netra, Tri Jangga, Tri Kaya, Bukbis,
Pratalamaryam.
Walaupun sudah beristeri seorang Bidadari kahyangan, Dasamuka
mempunyai keingingan yang sangat kuat untuk memperisteri bidadari
kahyangan yang lainnya yaitu Dewi Sri Widowati. Karena ada anggapan jika
dapat memperisteri Dewi Sri Widowati hidupnya akan tentram dan
sejahtera. Oleh karenanya sepanjang hidupnya Dasamuka selalu berusaha
untuk mendapatkan seorang wanita yang merupakan titisan Dewi Sri
Widowati.
Namun niat tersebut selalu gagal. Kegagalan demi kegagalan tidaklah
menyurutkan niatnya untuk memiliki Dewi Sri Widowati. Bahkan nafsu untuk
mengejar titisan Dewi Sri Widowati semakin besar. Pernah suatu ketika
Dasamuka naik ke kahyangan untuk mencuri Dewi Sri Widawati. Namun
ketika ia akan masuk di pintu Selamanangkep pintu itu menutup dengan
sendirinya. Dasamuka terkejut satu tangannya terjepit pintu dan menjadi
cacat seumur hidup.
Pada suatu ketika diketahui bahwa Dewi Sri Widowati menitis di dalam
pribadi Dewi Sinta isteri Rama, Dasamuka berusaha untuk merebutnya.
Maka diculiklah Dewi Sinta ketika di tinggal sendirian di hutan Dandaka.
Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta dan diboyong ke Negara Alengka,
namun tidak berhasil memiliki Dewi Sinta, dikarenakan Dewi Sinta setia
kepada Rama, lebih baik mati dari pada diperisteri Dasamuka. Dasamuka
kehabisan akal, sampai pada waktu Rama dan balatentaranya menemukan
tempat Dewi Sinta disekap, Dasamuka belum berhasil memperisteri Dewi
Sinta.
Dasamuka mempunyai anggapan jika Rama berhasil dibunuh, tentunya Dewi
Sinta mau menjadi isterinya. Maka kemudian Dasamuka bersama para
prajuritnya menyerbu Rama dan bala tentaranya yang sedang membuat
perkemahan di Swelagiri. Perang besar pun terjadi, demi seorang wanita
titisan Dewi Sri Widowati. Perang besar tersebut dinamakan perang
Giriantara.
Dasamuka maju ke medan perang, mencari Rama. Setelah kedua raja
bertemu, terjadilah peramg tanding. Dasamuka beberapa kali mati terkena
senjata Rama bernama panah Guwawijaya, namun berulang kali hidup
kembali ketika menyentuh bumi. Melihat hal itu, Anoman yang menjadi
senopati Rama menindih raga Dasamuka dengan gunung supaya tidak dapat
bangun kembali.
Herjaka HS

Rama Wijaya dalam bentuk wayang kulit, buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)
Rama Wijaya
Rama Wijaya adalah kesatria titisan Dewa Wisnu. Ia adalah anak Prabu
Dasarata, raja Ayodya. Ibunya bernama dewi Sukasalya atau Dewi Raghu.
Orang menyebut Rama Wijaya dengan sebutan Raden Regawa yang berarti
anak Dewi Raghu.
Rama merupakan tokoh utama dalam cerita Ramayana. Ia memiliki saudara
lain ibu yaitu Barata anak dari Ibu Dewi Kekayi, serta Lesmana dan Satrugna
dari ibu Dewi Sumitrawati. Rama bersaudara sejak kecil dididik oleh Resi
Wasista, seorang resi yang sangat sakti pada masa itu. Oleh karena itu
Rama, Barata dan Lesmana ketika dewasa menjadi satria pilih tanding, sakti
rendah hati dan berbudi luhur.
Istri Ramawijaya adalah Dewi Sinta, seorang putri yang sangat cantik, anak
angkat Prabu Janaka dari Negara Mantilidirja. Dewi Sinta adalah titisan Dewi
Sri Widowati yang menjadi rebutan para raja seribu Negara termasuk Prabu
Dasamuka raja raksasa dari Negara Alengkadiraja.
Oleh karena nafsu ingin memiliki atas Dewi Sinta yang adalah merupakan
titisan Dewi Widawati, Prabu Dasamuka selalu berusaha untuk mencari saat
yang tepat untuk menculik Dewi Sinta. Pada suatu saat, ketika Prabu
Ramawijaya dan Dewi Sinta berada di dalam hutan, Prabu Dasamuka
berhasil menculik Dewi Sinta.
Ramawijaya sangat sedih atas hilangnya sang istri. Ia bersama Lesmana
adiknya bertekad mencari Dewi Sinta hingga ketemu. Sampai kapan pun
pencarian tersebut belum akan berhenti sebelum ketemu.
Diceritakan bahwa dalam perjalanan mencari Dewi Sinta, Rama
mendapatkan sahabat seorang raja kera bernama Sugriwa yang mempunyai
ratusan ribu perajurit kera. Dalam persahabatan tersebut, Sugriwa
memohon kepada Ramawijaya untuk membantu mengalahkan kakaknya
yang sekaligus adalah musuhnya bernama Subali.
Setelah Rama berhasil membunuh Subali, Sugriwa bersama bala tentara
kera berjanji akan membantu Ramawijaya mencari Dewi Sinta sampai
ketemu. Dalam usaha pencarian Dewi Sinta ini yang sangat besar jasanya
adalah Anoman keponakan Sugriwa yang sangat sakti mandraguna. Anoman
berhasil menemukan Negara Alengkadiraja tempat Dewi Sinta disekap oleh
Dasamuka.
Maka kemudian diseranglah Negara Alengkadiraja oleh Prabu Rama, Sugriwa
dan balatentaranya. Perang besar terjadi antara pasukan Kera dan pasukan
raksasa. Prabu Dasamuka gugur ditangan Anoman. Perang tersebut dikenal
dengan nama perang Giriantara atau perang Kudupsari Palwaga.
Dewi Sinta berhasil diboyong Ramawijaya kembali ke Ayodya. Rama menjadi
raja di Ayodya menggantikan Barata adiknya. Mereka diberi karunia dua
anak bernama Batlawa dan Kusiya.
Herjaka HS

Kamajaya dalam bentuk wayang kulit purwa buatan Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi
Rumah Budaya.
Selain bentuk seperti Lesmana Widagda, Kamajaya digambarkan memakai jubah bermotif
dan
bersepatu, atau memakai mahkota uncit dengan motif bludiran (foto: Sartono)
Kamajaya
Batara atau Dewa Kamajaya adalah anak Sang Hyang Ismaya, saudara
kandung Yamadipati. Kamajaya adalah salah satu dari Dewa yang berjumlah
tigapuluh. Kamajaya merupakan dewa yang paling tampan.
Tempat tinggalnya di Kahyangan Cakrakembang. Isterinya bernama Dewi
Kamaratih. Sepasang dewa-dewi ini dikenal sebagai dewa asmara atau dewa
cintakasih.
Sikap saling setia dan saling mencintai diantara mereka patut dijadikan
tauladan bagi pasangan suami isteri. Karena sikap keteladanan itulah maka
tokoh wayang Kamajaya dan Kamaratih digunakan sebagai symbol dalam
upacara perkawinan. Dengan tujuan agar sepasang suami istri itu nantinya
selalu rukun sepanjang hidupnya, seperti Kamajaya dan Dewi Kamaratih.
Kamajaya memiliki senjata yang sakti yaitu panah Pancawiyasa. Dalam
cerita pewayangan Kamajaya pernah dibunuh oleh Batara Guru, pada saat
Kahyangan diserang oleh Prabu Nilarudraka. Ketika itu Batara Guru sedang
tidur, dan tidak ada Dewa yang berani membangunkannya. Akhirnya
Kamajaya melepaskan panah Pancawiyasa untuk membangunkan Batara
Guru. Maka bangunlah Batara Guru, tetapi ia langsung murka. Akhirnya
Kamajaya dibunuhnya dengan Trinetra.
Berdasarkan kitab Smaradahana dikisahkan bahwa Kamajaya yang telah mai
dihidupkan kembali oleh Guru atas permohonan para dewa.
Kamajaya sangat menyayangi para Pandawa. Beberapa kali ia
menyelamatkan Pandawa pada saat genting. Salah satunya adalah ketika
negara Amarta ditinggal para Pandawa yang sedang menjalankan tugas dan
darmanya sebagai satria, Kamajaya datang menyamar sebagai pandita
untuk melindungi para putra Pandawa dan para isteri Arjuna, dari serangan
Kurawa.
Herjaka HS

Bentuk wayang kulit Arjuna Sasrabahu buatan Kaligesing Purworejo,
Koleksi Tembi Rumah Budaya. (foto: Sartono)
Harjuna Sasrabahu
Harjuna Sasrabahu adalah raja di Negara Maespati menggantikan Prabu
Kartawirya orang tuanya. Waktu remaja ia bernama Harjuna Wijaya atau
Wingsatibahu yang artinya berbahu seribu. Harjuna Sasrabahu adalah raja
titisan Dewa Wisnu yang sangar sakti mandraguna. Jika marah ia berubah
wujud menjadi raksasa sebesar gunung yang sangat mengerikan. Patihnya
yang bernama Patih Suwanda alias Sumantri pernah mencobai Harjuna
Sasrabahu. Namun Sumantri dengan mudah dapat dikalahkan.
Harjuna Sasrabahu mempunyai tiga orang isteri yaitu, Dewi Citralangeni dari
kerajaan Tanjungpura, Dewi Srinadi anak Begawan Jumanten dari pertapaan
Giriretno dan Dewi Citrawati dari Kerajaan Magada. Di antara ketiga istrinya
Dewi Citrawatilah putri yang paling cantik, karena ia merupakan titisan Dewi
Sri. Oleh karenan Dewi Citrawati diangkat menjadi permaisuri raja.
Sang Dewi Citrawati sangat dimanja oleh Harjuna Sasrabahu. Segala
keinginannya selalu dipenuhni. Salah satu keinginan Dewi Citrawati yang
sungguh merepotkan yaitu memohon kepada raja untuk memindahkan
taman Sriwedari yang elok indah.
Pernah pada suatu ketika Dewi Citrawati kepengin berenang di sungai. Prabu
Harjuna Sasrabahu menuruti keinginan Dewi Citrawati dengan membendung
sungai, sehingga air sungai meluap sampai di perkemahan Dasamuka, yang
waktu itu sedang mempersiapkan diri menyerang Maespati. Maka akhirnya
Negara Maespati diserbu oleh Dasamuka Raja Alengka, dan terjadilah
peperangan. Walaupun Dasamuka dapat dikalahkan oleh Harjuna
Sasrabahu, ia telah berhasil membunuh Patih Suwanda. Dengan gugurnya
Sumantri Harjuna Sasrabahu mengangkat patih yang baru yang bernama
Bambang Kartanadi.
Pada suatu hari Prabu Harjuna Sasrabahu membunuh seorang petapa yaitu
Resi Jamadagni yang sedang menuntut keadilan karena ternaknya dibunuh
oleh prajurit Harjuna Sasrabahu. Tetapi pengaduan tersebut malahan
membuat Prabu Harjuna Sasrabahu marah dan membunuh Resi Jamadagni.
Tindakan Harjuna Sasrabahu yang ceroboh tersebut menyebabkan Batara
Wisnu tidak lagi mau menitis kepada Harjuna Sasrabahu. Semenjak Batara
Wisnu meninggalkan dirinya, Harjuna Sasrabahu berkurang kesaktiannya.
Maka ketika Rama Parasu datang menuntut kematian Jamadagni orang
tuanya, Prabu Harjuna Sasrabahu kuwalahan menghadapinya. Bahkan
akhirnya Harjuna Sasrabahu mati di tangan Rama Parasu. Bahkan tidak
hanya Prabu Harjuna Sasrabahu, semua ksatria Maespati dibunuh Rama
Parasu, hingga wangsa Harjuna Sasrabahu surud.
herjaka HS

Srikandi dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo,
koleksi Tembi Rumah Budaya. (Foto: Sartono)
Srikandi
Nama lengkapnya adalah Dewi Wara Srikandi. Ia adalah anak ke dua dari
Prabu Durpada Raja Pancalaradya. Srikandi adalah wanita pemberani dan
cekatan. ia sangat pandai memainkan panah. Kepandaiannya berolah
senjata panah tersebut didapatkan dari Arjuna, dalam kisah Srikandi Ajar
Manah.
Ketika dewasa Srikandi dilamar oleh Prabu Jungkung Mardeya raja dari
Paranggubarja tetapi Srikandi menolaknya karena ia lebih mencintai Arjuna.
Arjuna pun jatuh cinta kepada Srikandi muridnya, dan kemudian melamar
Srikandi. Walaupun Srikandi diam-diam telah jatuh cinta kepada Arjuna
gurunya, ketika dilamar Srikandi tidak menerima begitu saja lamaran
Arjuna, melainkan mengajukan dua syarat kepada Arjuna. Syarat yang
pertama Arjuna harus bisa membangun taman Maerakaca. Syarat yang ke
dua, Arjuna harus dapat mencarikan sosk wanita yang dapat mengalahkan
dirinya.
Untuk memenuhi permintaan Srikandi Arjuna mengajukan isterinya yaitu
Dewi Larasati. Dewi Larasati ini sangat mahir memainkan senjata panah
karena sudah dilatih oleh Arjuna. Perhitungan Arjuna tepat, Larasati dapat
mengalahkan Srikandi. Setelah kedua syarat tersebut dipenuhi Dewi Wara
Srikandi bersedia menjadi isteri Arjuna.
Setelah bergabung dengan Pandawa dan resmi menjadi isteri Arjuna
Srikandi menjadi salah satu senopati andalan negara Amarta. Ia mendapat
tugas mengamankan seluruh penghuni kasatrian Madukara, tempat tinggal
keluarga besar Arjuna.
Tetapi sayang, sebagai wanita Srikandi tidak menurunkan anak dari Arjuna.
Dalam perang Baratayuda Srikandi adalah satu-satunya senopati wanita dari
pihak Pandawa. waktu itu ia melawan Senopati Hastinapura yang
saktimandraguna yaitu Resi Bisma. Dalam perang tanding Srikandi berhasil
mengalahkan Resi Bisma.
Herjaka HS

Wayang kulit purwa tokoh Abimanyu koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing
Purworejo (foto: Sartono)
Abimanyu (1)
Abimanyu lahir dari Dewi Sembadara, isteri Arjuna. Diantara anak-anak
Arjuna, Abimanyu anak yang paling disayangi. Tidak hanya disayangi oleh
Arjuna dan Sembadra sebagai orang tuanya, tetapi juga disayangi oleh
kerabat Pandawa. Ia disiapkan menjadi raja, dikarenakan Abimanyu adalah
satu-satunya keturunan Pandawa yang mendapat wahyu raja yaitu wahyu
Cakraningrat.
Abimanyu digambarkan sebagai satria yang tampan, sakti, pemberani,
pendiam tetapi mudah marah dan ringan tangan. Jika sedang marah tidak
ada yang berani mendekat, karena sangat berbahaya. Oleh sebab itu ia
dinamakan Abimanyu yang artinya Abi = dekat dan manyu = marah.
Ketika masih remaja ia pernah membela dan melindungi ibunya dari
ancaman Prabu Angkawijaya raja negara Plangkawati yang ingin
memperisteri Dewi Sembadra. Abimanyu berhasil mengalahkan Prabu
Angkawijaya. Sejak saat itu kerajaan Plangkawati dikuasai oleh Abimanyu.
Rakyat Plangkawati menganggap Abimanyu sebagai pengganti Prabu
Angkawijaya. Oleh karenanya mereka menyebut Abimanyu dengan nama
Angkawijaya.
Setelah dewasa Abimanyu menikah dengan Dewi Siti Sundari anak Prabu
Kresna. Namun sayang Siti Sundari mandul sehingga tidak mempunyai
keturunan. Prabu Kresna merasa ikut bersalah atas perkawinan Abimanyu
dan Angkawijaya yang ternyata anaknya tidak dapat mengandung dan
melahirkan benih raja dari Abimanyu. Karena pada mulanya Kresna telah
merekayasa perkawinan antara Abimanyu dengan Siti Sundari agar kelak
anak keturunannya Siti Sundari dapat menjadi raja di tanah Jawa.
Untuk menebus kesalahannya Kresna menganjurkan agar Abimanyu
memperisteri Dewi Utari yang mempunyai wahyu ratu yaitu wahyu Widayat.
Maka kemudian ketika ada sayembara di negara Wirata, Abimanyu
disarankan mengikutinya. Sayembara yang digelar Prabu Matswapati raja
Wirata tersebut adalah barang siapa kuat menggendhong Dewi Utari putri
raja Prabu Matswapati, berhak memperisteri Dewi Utari.
Ribuan peserta mengikuti sayembara tersebut, tetapi tidak ada yang kuat
menggendong Dewi Utari. Hal tersebut dikarenakan Dewi Utari telah
mendapatkan wahyu Widayat, yang adalah wahyu ratu. Satu-satunya orang
yang kuat menggendong wahyu Widayat yang telah manuksma atau
menjadi satu raga dan suksma dengan Dewi Utari adalah wahyu
Cakraningrat yang telah manuksma di dalam diri Abimanyu. Maka
sayembara dimenangkan oleh Abimanyu. Wahyu Widayat bersatu dengan
wahyu Cakraningrat, Utari bersatu dengan Abimanyu dan melahirkan
Parikesit yang kelak menjadi raja Hastina sesudah perang Baratayuda.
herjaka HS
Abimanyu (2)
Abimanyu telah memenangkan sayembara. Dewi Utari yang disayembarakan
berhasil digendong Abimanyu. Paserta sayembara yang terdiri dari para raja
dari seribu negara tidak ada yang kuat menggendong Dewi Utari. Hal
tersebut dikarenakan di dalam pribadi Dewi Utari telah singgah babone ratu
atau induknya raja yang bernama wahyu Widayat. Bagi seorang wanita yang
mendapatkan wahyu Widayat ia akan menurunkan seorang raja. Oleh
karena wahyu Widayat yang bersemayam tersebut, Dewi Utari menjadi
sosok pribadi yang berbobot dan bernilai tinggi. Tidak sembarang orang
mampu mengimbangi bobot nilainya, termasuk raja dari seribu negara.
Kecuali Abimanyu tentunya.
Kemampuan Abimanyu dapat mengimbangi Dewi Utari dan kemudian
menggendongnya dikarenakan ada wahyu Cakraningrat yang bersemayam
di dalam pribadi Abimanyu. Wahyu Cakraningrat adalah wahyu yang dapat
mengantar seseorang menjadi raja atau menurunkan raja. Abimanyu telah
mendapatkan wahyu Cakraningrat karena ia tekun menjalani laku tapa. Oleh
karenanya ia kuat menggendong Dewi Utari.
Memang sudah menjadi kehendak Jawata bahwa Wahyu Cakraningrat
bersatu dengan wahyu Widayat. Maka kemudian Abimanyu dan Dewi Utari
diresmikan menjadi pasangan suami isteri yang diharapkan bakal
menurunkan raja.
Sebelum mereka berjanji setia, Dewi Utari bertanya kepada Abimanyu.
Apakah Kakanda Abimanyu masih sendirian, dan belum pernah menikah?
atas pertanyaan Dewi Utari tersebut seketika Abimanyu terdiam, tidak
segera dapat menjawab. Walaupun Abimanyu telah berhasil menggendong
Dewi Utari, Abimanyu tidak mempunyai keberanian untuk berkata yang
sesungguhnya bahwa Abimanyu telah menikah dengan Dewi Siti Sundari
anak Prab Kresna. Abimanyu takut jika Dewi Utari mengetahui hal tersebut,
ia akan mengurungkan niatnya dan menolak dirinya menjadi suaminya. Atas
pertimbangan itulah maka kemudian Abimanyu dengan tegas mengatakan
dan menyatakan bahwa ia belum pernah menikah.
Dewi Utari sangsi atas pernyataan Abimanyu, karena ia mendengar kabar
bahwa Abimanyu telah pernah menikah. Sumber yang dapat dipercaya
mengatakan dengan jujur bahwa isteri Abimanyu adalah Dewi Siti Sundari.
Abimanyu mengelak dengan gusarnya. Ia berusaha keras untuk
menyembunyikan kejujuran. Sungguh aku berkata dengan jujur bahwa aku
belum pernah mempunyai isteri, selain dirimu, kata Abimanyu. Dewi Utari
belum percaya. Abimanyu semakin gusar dan bingung.
Pada puncak kegusarannya Abimanyu menyatakan sumpah dihadapan Dewi
Utari dan alam semesta. Aku bersumpah, jika aku sudah beristeri kelak aku
akan mati dalam aniaya yang nista. Alam seakan menggelegar mendengar
sumpah Abimanyu. Dewi Utari ketakutan akan sumpah Abimayu. Ia
kemudian mendekap Abimanyu erat-erat. Takut kehilangan Abimanyu. Dewi
Utari menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Abimayu. Oleh
karenanya ia tidak lagi mempermasalahkan apakah Abimanyu sudah
beristeri atau belum. Yang didambakan bahwa mulai sekarang Abimanyu
menjadi miliknya dan menjadi suami satu-satunya, tidak ada isteri lain bagi
Abimanyu selain dirinya.
Pasangan Abimanyu dan Dewi Utari diharapakan oleh para tetua negeri baik
negeri Amarta maupun negeri Wirata bakal menurunkan raja besar yang
akan merajai di sebuah negara yang besar pula.
Herjaka HS
Hari Baru
Pagi itu hutan Kamiyaka sunggu amat cerah. Aneka burung leluasa berkejar-
kejaranan. Burung Urang-urangan, burung kepodang, burung gogik, burung
kutilang, dan burung slindhitan. Kicaunya lepas bebas bersautan
bertumpangan. Hari baru dan hidup baru telah mulai dititi oleh pasangan
yang berbahagia. Mereka bersama alam yang segar dan cerah meluapkan
kegembiraannya atas perkawinan Puntadewa dan Dewi Durpadi. Beberapa
orang yang masih berada di sekitar rumah kayu tempat Kunti dan Pandawa
tinggal, merasakan kegembiraan itu. Mereka sengaja tinggal sampai hari ini
agar mendapat kesempatan yang lebih leluasa untuk mendekat dan bertatap
muka secara langsung dengan pengantin berdua.
Ekspresi wajah mereka yang polos dan tulus menggerakkan hati Puntadewa
dan Dewi Durpadi untuk menghampiri orang-orang yang masih berada di
tempat itu. Sapaan Puntadewa dan Dewi Durpadi memberi kelegaan,
kesejukan dan kegembiraan bagi mereka. Seperti yang diharapkan dan
diimpikan, mereka ingin berbicara langsung dengan pewaris Hastinapura
yang selama ini telah dianggap mati terbakar pada peristiwa Bale Sigala-
gala. Pada kesempatan tersebut Kunti, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa
ikut mengucapkan terimakasih atas kedatangan, perhatian dan bantuan
yang telah diberikan demi semaraknya upacara perkawinan antara
Puntadewa dan Dewi Durpadi.
Puntadewa dan Dewi Durpadi merasakan banyak orang mencintai dirinya.
Bahkan alam dan burung-burung pun juga mencintai dirinya. Mereka berdua
berjanji di dalam hati untuk membalas cinta mereka. Jika pun nanti pada
saatnya, kami benar-benar menjadi raja kami akan berusaha mengayomi
mereka, mensejahterakan mereka dan mencintai mereka, juga mencintai
alam beserta ciptaan yang lain. Aku akan menjadi raja yang memayu
hayuning bawana, raja yang mampu membuat dunia menjadi indah baik dan
selamat. Janji Puntadewa di dalam hati.
Mereka merasa puas dapat bertemu dan mengungkapan doa dan
harapannya secara langsung kepada pengantin dan Pandawa. Sebelum
matahari berada tepat di atas kepala, mereka memohon diri untuk kembali
ke rumah masing-masing.
Kabar Kemenangan Bima pada sayembara di Pancalaradya dan dilanjutkan
dengan perkawinan Puntadewa dan Dewi Durpadi telah sampai di tahta
Hastinapura. Destarastra raja Hastina terkejut bukan kepalang ketika
mendengar kabar bahwa Kunti dan Pendawa masih hidup. Ada perasaan
bersalah karena ia telah membiarkan Patih Sengkuni dan Dewi Gendari
mengangkat Duryudana menjadi pangeran pati untuk disiapkan menduduki
tahta, menjadi raja Hastinapura. Pada hal tahta itu titipan dari Pandu adik
Prabu Destarastra.
Sekali lagi, Destarastra merasa ditipu oleh Patih Sengkuni yang telah
meyakinkan pada dirinya belasan tahun lalu bahwa Kunti dan Pandawa mati
terbakar. Tetapi pada kenyataannya mereka masih hidup. Bahkan berhasil
memenangkan sayembara yang juga diikuti oleh anak-anaknya. Itu artinya
bahwa hingga saat ini anak-anaknya masih belum mampu menandingi
kemampuan Pandawa.
“Tidak!!! Tidak boleh Duryudana menduduki tahta. Tahta itu milik anak-
anahk Pandu” Ada gelombang kemarahan yang sengaja dibendung
Destarastra.
Ketika Destarastra sulit mengedalikan amarahnya, Dewi Gendari yang piawai
mendinginkan hati pasangannya segera meluncurkan kata-kata yang
menyejukkan.
“Jangan cemas dan binggung Kakanda Prabu Destarastra. Memang benar
tahta itu milik Pandu ketika itu. Namun sekarang Pandu telah wafat dan
tahta warisan dari Ramanda Abiyasa tersebut kosong. Sehingga dengan
demikian kedudukan Pandawa dan Kurawa adalah sama, yaitu cucu raja
Abiyasa. Diantara para cucu Abiyasa, bukankah Duryudana merupakan cucu
yang tertua? Apalagi secara lahir dan batin ia lebih siap menduduki tahta
dibandingkan dengan Pandawa yang masih belia dan hidup tidak menentu di
hutan. Oleh karenanya Kakanda tidak perlu merasa bersalah, dan
menyalahkan aku serta Patih Sengkuni. Pengangkatan Duryudana sudah
dipikirkan dengan matang.”
“Gendari! Tidak hanya soal pengangkatan Duryudana, tetapi engkau dan
Patih Sengkuni telah menipu aku, dengan mengatakan dan meyakinkan
bahwa Kunti dan Pandawa telah mati terbakar. Tetapi pada kenyataannya
mereka masih segar bugar.“ Destarastra berdiri, kata-katanya masih
menunjukan kemarahannya
Dewi Gendari ikut berdiri sembari memapah Destarastra.
“Maaf Kakanda, hidup dan mati ada ditangan Tuhan. Aku dan Patih Sengkuni
pun merasa tertipu ketika mendengar kabar bahwa Kunti dan Pendawa
masih hidup. Ada rasa tidak percaya sebelum membuktikan dan melihat
sendiri keberadaan Pandawa. Oleh karenanya ijinkanlah Patih Sengkuni dan
Kurawa datang di hutan Kamiyaka untuk membuktikan apakah benar bahwa
Kunti dan Pandawa masih selamat”
“Jika benar-benar Kunti dan Pandawa masih selamat apa yang akan kalian
lakukan? bagaimana jika mereka menuntut hak tahta Hastinapura?” desak
Destarastra.
Srikandi mengusap dada Prabu Destarastra dengan jari-jarinya yang lembut.
Kemudian kepala Gendari dibenamkan ke dada Destarastra yang bidang.
“Kakanda Prabu serahkanlah perkara ini kepadaku dan Patih Sengkuni. Aku
berharap agar Pandawa menyetujui pengangkatan Duryudana.”
Destarastra menghirup aroma bunga melati dirambut Gendari yang hitam
lebat. Suara gemerisik rambutnya menggerakkan tangan Destarastra untuk
membelainya. Kemudian bibir mereka berdua pun terdiam. Yang terjadi
adalah dialog antar hati nan riuh.
Segera sesudah itu, Gendari menemui Patih Sengkuni. Rupanya
pembicaraan diantara keduanya sangat rahasia. Terbukti tidak seorang pun
yang diperbolehkan mendekat.
Apa yang mereka rencanakan hanya mereka berdua yang tahu. Yang pasti
tentu tidak demi kebaikan Kunti dan Pandawa
herjaka HS
Kidung Malam 89
Putri Boyongan
Seiring dengan masa perkabungan atas kematian Gandamana, Dewi Durpadi
mulai menata hati dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk
meninggalkan negara Pancalaradya menjalani darma menjadi putri
boyongan. Sebagai hadiah sayembara perang tanding tidak ada pilihan bagi
Durpadi kecuali tunduk dan patuh kepada sang pemenang sayembara. Bima
yang dalam hal ini sebagai pemenang sayembara akan mempersembahkan
kemenangan ini untuk Puntadewa kakaknya. Keikutsertaan Bima dan juga
Arjuna dalam sayembara di Pancalaradya tersebut tidak sekedar untuk
memenangkan sayembara dan memboyong putri. Seperti niat semula yang
disarankan Begawan Abiyasa bahwa hal terutama yang didapat dari
kemenangan ini adalah agar rakyat mengetahui bahwa Pandawa belum
sirna.
Beberapa pekan kemudian Bimasena dengan didampingi oleh Arjuna serta
Begawan Abiyasa dan beberapa cantriknya datang ke Pancalaradya untuk
memboyong Dewi Durpadi ke hutan Kamiyaka. Tidak ada kemewahan
seperti layaknya boyongan putri raja. Yang ada adalah kebersahajaan dan
kesederhanaan yang ditunjukkan oleh Begawan Abiyasa. Namun justru
Prabu Durpada merasa terharu dan sekaligus gembira menyambut
kedatangan Begawan Abiyasa yang dianggap sebagai tamu agung.
Bagaimana tidak, Begawan Abiyasa yang adalah raja dan sekaligus pandita,
mumpuni dalam berbagai ilmu, amat arif dan bijaksana berkenan rawuh di
Pancalaradya. Prabu Baratwaja, orang tua angkat Prabu Durpada, pernah
berguru kepada Begawan Abiyasa. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa
akhirnya Prabu Durpada dipertemukan dengan Begawan Abiyasa yang
selama ini hanya mendengar ceritanya melalui Prabu Baratwaja.
Prabu Durpada merasa beruntung dan tersanjung bahwasannya Dewi
Durpadi putrinya dipersunting oleh Pandawa. Dengan demikian artinya
bahwa ia berbesanan dengan almarhum Prabu Pandudewanata, raja
Hastinapura yang telah banyak membantu dirinya. Kejadian ini tidak lepas
dari pengorbanannya seorang Gandamana. Sebagai wujud rasa syukurnya
atas kedatangan Begawan Abiyasa, Prabu Durpada menyediakan beberapa
kereta kencana dan pengawal untuk mengantar Dewi Durpadi ke hutan
Kamiyaka, tempat Pandawa berada. Dengan membawa sisa duka yang
masih singgah di hatinya karena kematian Gandamana, Dewi Durpadi naik
kereta kencana meninggalkan negara Pancalaradya serta kemewahannya
menerobos rimbunnya hutan Kamiyaka.
Di hutan Kamiyaka Dewi Kunthi, Puntadewa, Nakula, Sadewa dan di bantu
beberapa pengikutnya mempersiapkan upacara penyambutan putri
boyongan dengan amat sederhana, mengingat bahwa Kunthi dan Pandawa
masih dalam masa penyamaran dan keprihatinan. Namun walaupun sangat
sederhana, ada ungkapan rasa syukur nan agung dan rasa sukacita yang
menggelora, bahwasanya anugerah besar telah diterimanya. Putri raja yang
cantik jelita telah di karuniakan dan keberadaannya telah dimaklumkan.
Pandawa telah menerima dua anugerah besar, yaitu Dewi Durpadi dan
rakyat Hastinapura. Rakyat yang selama telah dibuat lupa kepada Pandawa,
mendadak ingatannya dibangkitkan kembali bahwa inilah anak-anak
Pandudewanata, pewaris tahta Hastinapura. Mereka tidak mati. Mereka
dalam keadaan sehatwalafiat tidak kekurangan suatu apa pun.
Siang itu saat yang dinantikan tiba. Kunthi, Puntadewa, Nakula dan Sadewa
serta beberapa pengikutnya terkejut. Tak disangka bahwasanya kedatangan
Bima, Arjuna dan Abiyasa serta putri boyongan diantar oleh kereta kencana
lengkap dengan simbol-simbol kebesaran negara Pancalaradya. Tidak hanya
itu bahkan banyak orang yang dengan sukarela mengikuti iring-iringan itu
hingga sampai di tempat Kunthi dan anak-anaknya berada. Mereka dengan
tulus mengucapkan selamat atas keberhasilan Pandawa memenangkan
sayembara dan memboyong putri Pancalaradya. Mereka menganggap bahwa
iring-iringan putri boyongan ini sama halnya dengan iring-iringan calon
pengantin putri yang dibawa kepada calon pengantin pria untuk dinikahkan.
Seperti juga para pengiring pengantin pada umumnya, wajah mereka
memancarkan kebahagiaan. Demikian pula halnya dengan para pengiring
putri boyongan Dewi Durpadi. Mereka pun ingin merasakan kebahagiaan
bersama-sama dengan calon pengantin berdua dan keluarga Pandawa yang
berbahagia. Halaman tengah hutan yang sengaja di buat untuk keperluan
tempat tinggal Kunthi dan anak-anak penuh dengan orang.
Kunthi terharu melihat semuanya itu. tak dapat ditahan air matanya
menetes membasahi kedua pipi yang mulai menampakan keriputnya. Dalam
sekejap tengah hutan Kamiyaka yang semula hening berubah menjadi
meriah. Upacara boyongan dan dilanjutkan dengan upacara perkawinan
yang semula direncanakan bersahaja menjadi berlimpah dan yang semula
kelihatan sederhana berubah mulia. Kedatangan orang-orang pengiring
sukarela yang jumlahnya hampir mencapai ribuan, tidak merepotkan Kunthi.
Mereka membawa bekal makanan sendiri-sendiri. Bahkan ada yang dibawa
khusus untuk calon pengantin.
Dewi Durpadi sebagai putri boyongan memang direncanakan menjadi calon
pengantin putri bagi Puntadewa. Demikian halnya Puntadewa telah
direncanakan sebagai calon pengantin pria bagi Dewi Durpadi. Keduanya
telah direncanakan sejak kedatangan Begawan Abiyasa di hutan Kamiyaka.
Dan sekarang tiba saatnya untuk digenapi. Rakyat mengelu-elukannya
perkawinan itu. Tengah hutan Kamiyaka yang biasanya gemuruh oleh suara
angin saat menerpa pepohonan besar kini bergemuruh oleh suara sorak-
sorai bahagia para pengiring pengantin yang terdiri dari sebagian rakyat
Pancalaradya, rakyat Hastinapura dan sekitarnya.
Puntadewa saudara sulung Pandawa, walaupun telah lama hidup jauh dari
kemewahan kraton, ketika ditampilkan menjadi calon pengantin pria, aura
wajahnya memancarkan praba sebagai mana keturunan raja. Sehingga
dengan demikian menjadi pantaslah bersanding dengan Dewi Durpadi yang
adalah putri sulung Prabu Durpada raja Pancalaradya yang sejak lahir
hingga dewasa tidak pernah meninggalkan kemewahan. Kedua sejoli itu
bagaikan dewa-dewi yang diutus untuk mengusir roh-roh jahat yang singgah
di dalam belantara hutan Kamiyaka. Sehingga yang ada tinggalah roh-roh
yang ikut mendoakan bagi keselamatan dan kelanggengan pengantin
berdua.
Sorak-sorai semakin membahana. kemeriahan suasana semakin menyeruak
dari hati rakyat, manakala mereka diingatkan bahwa sang pengantin
merupakan calon raja Hastinapura.
Horee calon raja!
Horeee!
Hore calon permaisuri!
Horeee!
Dewi Durpadi lupa akan kesedihanya. Ia tenggelam ke dalam lautan
kebahagiaan bersama Puntadewa yang berada disampingnya dan juga
sekaligus berada di hatinya. Ia merasa sangat beruntung duduk di
pelaminan bersanding dengan satria luhur calon raja yang tampan dan
halus. Durpadi berjanji akan mencintai Puntadewa dalam keadaan sehat
atau pun sakit dalam suka atau pun duka, dalam untung atau pun malang.
Demikian halnya dengan Puntadewa, ia berjanji akan mencintai Durpadi
hingga maut memisahkannya
Pada saat sukacitanya menjadi penuh berkelebatlah bayangan Gandamana
di angannya. Dalam hati Dewi Durpadi berucap, terimakasih paman
Gandamana kebahagiaanku ini adalah karena buah dari pengorbananmu.
Semoga engkau bahagia di keabadian, seperti kebahagiaannku di hutan
Kamiyaka, sekarang ini.
herjaka HS

Antasena,
wayang kulit purwa corak Kaligesing Purworejo, koleksi Tembi Rumah Budaya (foto:
Sartono)
Antasena
Antasena adalah anak ke tiga Raden Wrekudara atau Raden Bimasena yang
berpasangan dengan Dewi Urang Ayu anak Begawan Mintuna. Ada beberapa
nara sumber yang menyebutkan bahwa Dewi Urang Ayu adalah anak Sang
Hyang Baruna penguasa laut.
Kisah kelahiran Antasena bermula ketika Pandawa yang berjumlah lima
orang dan Kurawa yang berjumlah 100 orang sedang berlomba menggali
sungai dari Kurujenggala, sebelah utara keraton Hastinapura hingga
menyambung ke Sungai Gangga. Begawan Mintuna tergerak hatinya melihat
Pandawa yang hanya 5 orang tak sebanding dengan Kurawa yang berjumlah
100 orang. Oleh karena rasa iba, Begawan Mintuna mengerahkan puluhan
ribu anak buahnya yang berupa belut dan ketam, untuk membantu
Pandawa. Dengan bantuan itu proses penggalian sungai yang di lakukan
Pandawa berjalan lancar dan dengan cepat menyambung ke Sungai Gangga.
Sungai hasil galian Pandawa diberi nama sungai Serayu. Sedangkan
penggalian sungai yang dilakukan oleh para Kurawa tertinggal jauh. Bahkan
Kurawa salah sasaran. Penggalian sungai yang seharusnya disambungkan ke
Sunggai Gangga malahan disambungkan ke Sungai Serayu buatan Pandawa.
Maka Resi Bisma yang menjadi penggagas perlombaan menyatakan
Pandawa sebagai pemenang.
Keberhasilan Pandawa tak lepas dari bantuan Begawan Mintuna. Selanjutnya
Begawan Mintuna berkenan mengambil menantu Bimasena untuk
dijodohkan dengan Dewi Urang Ayu putrinya, dan kemudian melahirkan
anak laki-laki yang diberi nama Antasena.
Sesuai dengan harapan orang tua, nama Antasena mengandung makna: a
berarti tidak, anta berarti batas, dan sena artinya prajurit atau perwira.
Dimaksudkan agar Antasena menjadi seorang perwira perajurit yang
mempunyai kemampuan tak terbatas. Antasena bertempat tinggal di
kasatrian Randu Kumbala. Ketika masih bayi Antasena pernah dijagokan
oleh dewa untuk melawan Prabu Kalarudra dari Kerajaan Giri Kedasar.
Dalam pertempyran tersebut Antasena berhasil mengalahkan Prabu
Kalarudra. Atas jasanya Antasena diberi kerajaan Giri Kedasar dan Begawan
Mintuna diangkat menjadi dewa.
Antasena adalah satria yang agak bengal tetapi jujur dan pembela
kebenaran. Sebagai cucu dewa penguasa laut Antasena memiliki pusaka
sangat sakti berupa sungut yang berada dikepala seperti sungut udang.
Antasena juga dappat hidup di dalam air karena dengan sendirinya
mendapat kesaktian dari kakeknya.
Demi mengasah ketajaman batinnya pada usia dewasa Antasena pernah
melakukan tapa dengan gelar Begawan Curiganata, seperti gelar yang
dipakai oleh Baladewa.
Sebelum perang Baratayuda Antasena dan Wisanggeni saudaranya
menghadap Sang Hyang Wenang untuk menanyakan peran apa yang bakal
mereka jalankan pada perang Baratayuda. Sang Hyang Wenang bersabda
bahwa Antasena dan Wisanggeni saudaranya tidak mendapatkan peran apa-
apa. mereka masing-masing tidak tampil sebagai senapati, karena ia telah
mati sebelum perang terjadi. Kematian Antasena dan Wisanggeni adalah
mati mukswa yaitu dengan jalan memandang mata Sang Hyang Wenang
sehingga tubuhnya mengecil dan kemudian hilang tidak terlihat.
herjaka HS