You are on page 1of 115

BIOSTIMULASI DAN BI OAUGMENTATI ON

UNTUK BIOREMEDIASI LIMBAH HIDROKARBON


SERTA ANALISIS KEBERLANJUTAN
HENNY PAGORAY
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
ABSTRACT
Henny Pagoray, Biostimulation and Bioaugmentation of Bioremediation
Hydrocarbon Wastes and the Sustainability Analysis. Supervised by Erliza Noor,
Linawati Hardjito, Zainal Alim M, Bibiana Widiyawati L.
The workshop wastes usually consists the mixture of lubricant oil, diesel oil,
and gasoline which spill and contaminate soil. To overcome this problem it can be
done by implementing bioremediaton. The application of this technology is
expected to be sustainable in term of ecological, economical, and social aspects.
The research objectives were to optimize the degradation of total petroleum
hydrocarbon (TPH) by biostimulation and bioaugmentation, and to analyze
bioremediation sustainability in term of ecological, economical, and social
aspects.
The biostimulation was done by adding compost at concentration of 10 %,
20 %, 30 % of contaminated soil. The bioaugmentation was done by adding a
mixture of bacteria consisted of Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei, and
Pseudomonas aeruginosa. Those techniques were optimized by using Response
Surface Methodology (RSM). Futhermore the bioremediation sustainability was
examined by applying multidimensional scaling method.
The result showed that adding compost and bacteria at concentration of
21.28 % and 11.38 %, respectively gave the highest hydrocarbon degradation that
was 83.43 %. The TPH content after twelve weeks of treatment was 0.83 %, this
value complied the government regulation that shoud be less than 1 %. The
sustainability analysis indicated that the bioremediation was sustanable in term
of ecological, economical and social aspects.
Keywords: biostimulation, bioaugmentation , bioremediation, sustainability
BIOSTIMULASI DAN BI OAUGMENTATI ON
UNTUK BIOREMEDIASI LIMBAH HIDROKARBON
SERTA ANALISIS KEBERLANJUTAN
HENNY PAGORAY
Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
Pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
Judul Disertasi : Biostimulasi dan Bioaugmentation untuk Bioremediasi Limbah
Hidrokarbon serta Analisis Keberlanjutan
Nama : Henny Pagoray
NRP : P062030051
Disetujui :
Komisi Pembimbing
Dr.Ir.Erliza Noor Dr.Ir.Linawati Hardjito, M.Sc.
Ketua Anggota
Dr.Ir. Zainal Alim Masud, DEA. Prof. Dr.Bibiana Widiyati Lay, M.Sc.
Anggota Anggota
Diketahui :
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana
Pengelolaan Sumberdaya Alam Institut Pertanian Bogor
dan Lingkungan
Prof. Dr.Ir. Surjono Hadi Sutjahjo,MS. Prof.Dr.Ir. Khairil A.Notodiputro, MS
Tanggal Ujian : 11 September 2009 Tanggal lulus :
Penguji pada ujian tertutup : Prof. Dr.Ir. Surjono Hadi Sutjahjo,MS.
Dr. M. Yani
Penguji pada ujian terbuka : Dr. Ir. Nono Saribanon, M.Si.
Dr. Ir. Etty Riani, M.Si.
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Biostimulasi dan
Bioaugmentation untuk Bioremediasi Limbah Hidrokarbon serta Analisis
Keberlanjutan adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau yang dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka dibagian akhir disertasi ini.
Bogor, September 2009
Henny Pagoray
NIM P062030051
RINGKASAN
Workshop (bengkel) merupakan salah satu tempat pemeliharaan dan
perbaikan alat-alat transportasi. Kegiatan workshop menghasilkan buangan limbah
berupa minyak pelumas, minyak diesel dan gasolin. Apabila masuk ke
lingkungan, maka berpengaruh terhadap ekosistem. Secara umum tanah yang
terkontaminasi hidrokarbon diolah dengan metode biologi. Pengolahan secara
biologi dengan memanfaatkan mikroba sebagai pengolah limbah (bioremediasi)
mengurangi bahan pencemar yang ada di lingkungan.
Keberhasilan proses biodegradasi banyak ditentukan oleh kinerja mikroba
yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan antara lain suhu, pH, kandungan
air, dan ketersediaan nutrien. Pada dasarnya semua mikroba memerlukan karbon
sebagai sumber energi untuk aktivitasnya. Pada kondisi sumber C telah tersedia
dari hidrokarbon, maka senyawa lain menjadi faktor pembatas yaitu N dan P.
Kadar unsur tersebut banyak menentukan pertumbuhan mikroba. Kompos dapat
digunakan sebagai sumber mikroba dan bulking agent untuk bioremediasi. Untuk
mengevaluasi keberlanjutan proses bioremediasi yang dihasilkan dari aplikasi
teknik bioremediasi, perlu dilakukan analisis keberlanjutan. Penerapan metode
bioremediasi diharapkan sesuai dengan konsep keberlanjutan dilihat dari dimensi
ekologi, ekonomi dan sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Memperoleh kondisi optimal degradasi TPH dengan biostimulasi
kompos dan bioaugmentation menggunakan bakteri Arthrobacter simplex,
Mycobacterium phlei dan Pseudomonas aeruginosa.
2. Melakukan analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dari
hasil identifikasi atribut, ditinjau dari dimensi ekologi, ekonomi dan
sosial.
Penelitian optimasi degradasi total petroleum hidrokarbon dilaksanakan di
laboratorium Teknologi Hasil Perikanan (THP) FPIK IPB, yaitu dengan perlakuan
biostimulasi kompos dan bioaugmentation dengan penambahan bakteri
Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei, Pseudomonas aeruginosa. Tahap
awal dilakukan penelitian pendahuluan yaitu penambahan kompos 10 % w/w; 20
% w/w; 30 % w/w; dan inokulan dalam bentuk cair 5 % v/w; 10 % v/w; 15 %
v/w. Perlakuan yang terbaik dilanjutkan dengan penelitian optimasi menggunakan
metode respons surface methods (RSM), dengan perlakuan 30 % kompos + 15 %
inokulan; 10 % kompos + 15 % inokulan; 30 % kompos + 5 % inokulan; 10 %
kompos + 5 % inokulan; 20 % kompos + 10 % inokulan; 34.14 % kompos + 10 %
inokulan; 5.86 % kompos + 10 % inokulan; 20 % kompos + 17.07 % inokulan; 20
% kompos + 2.93 % inokulan. Kemudian dilakukan analisis keberlanjutan
bioremediasi limbah hidrokarbon. Analisis keberlanjutan dilakukan di lokasi
pengolahan limbah bengkel Kaltim Prima Coal (KPC) Kalimantan Timur.
Tahapan penelitian dilanjutkan dengan penyusunan atribut dimensi ekologi,
ekonomi, sosial budaya, dan dianalisis dengan metode multidimensional scaling.
Hasil analisis faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap bioremediasi
yaitu: kadar air tanah berada pada kisaran 12.52 % - 21.08 %, masih berada pada
kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan mikroba. pH tanah 6.1 7.0 pada batas
yang sesuai, sehingga organisme dapat bekerja dengan baik untuk mendegradasi
TPH. Suhu lingkungan 26C 27C sesuai untuk pertumbuhan mikroba. Rasio
C:N:P (%) yang ada dalam tanah setelah dianalisis yaitu (90:10:0.1) mampu
mendegradasi TPH di bawah baku mutu (1%) yaitu 5.15 % menjadi 0.83 % pada
minggu ke 12. Pada kompos teridentifikasi bakteri Azotobacter sp., Micrococcus
roseus, Pseudomonas aeruginosa, Micrococcus agalis, Mycobacterium sp.,
Nocardia sp., Bacillus cereus, termasuk jenis bakteri yang mampu mendegradasi
hidrokarbon.
Hasil Analisis optimasi degradasi TPH dari bioremediasi yang dilakukan
memberikan respon maksimum. Pengolahan data menggunakan SAS diperoleh
nilai optimum untuk degradasi TPH pada kombinasi perlakuan kompos 21.28 %
dan bakteri 11.38 % yang mampu mendegradasi TPH 83.43 % pada minggu ke 12
di bawah 1 % sesuai KepMen LH Nomor 128 tahun 2003. Hasil bioremediasi
limbah hidrokarbon di lapangan selama 3 bulan, TPH 1.5 % turun 1.0 %
terdegradasi 33.33 %. Hasil ini menjelaskan bahwa biostimulasi kompos dan
bioaugmentation yang dilakukan di laboratorium dapat mempercepat degradasi
TPH, dibandingkan dengan bioremediasi yang dilakukan di lapangan.
Hasil analisis indeks keberlanjutan bioremediasi untuk limbah hidrokarbon
dimensi ekologi 83.87, ekonomi 55.24, dan sosial 76.76, nilai tersebut lebih besar
dari 50 yang artinya termasuk kategori berkelanjutan.
@ Hak Cipta milik IPB, tahun 2009
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk
kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan
laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan
tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas kasih
dan limpahan berkatnya, sehingga penulisan disertasi ini dapat diselesaikan
dengan judul Biostimulasi dan Bioaugmentation untuk Bioremediasi Limbah
Hidrokarbon serta Analisis Keberlanjutan, yang merupakan salah satu syarat
penyelesaian pendidikan program Doktor (S3) pada Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL), Sekolah Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr.Ir. Erliza Noor selaku ketua
komisi pembimbing, Ibu Dr.Ir. Linawati Hardjito, M.Sc., Bapak Dr.Ir. Zainal
Alim Mas'ud, DEA., dan Ibu Prof.Dr. Drh. Bibiana W.Lay, M.Sc. selaku anggota
komisi pembimbing atas segala perhatian dan bimbingannya sejak penyusunan
proposal, penelitian, hingga selesai penyusunan disertasi ini.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Rektor dan Dekan Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor beserta seluruh staf, atas kesempatan yang
diberikan kepada penulis untuk melanjutkan studi hingga selesai penulisan
disertasi ini. Kepada Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Bapak Prof. Dr.Ir. Surjono H. Sutjahyo, MS, atas motivasi dan
dorongan mulai dari awal diterima sebagai mahasiswa hingga penyelesaian
disertasi ini.
Terima kasih kepada Ibu Dr.Ir.Linawati Hardjito, M.Sc. yang telah
membantu peneliti untuk melakukan penelitian di Laboratoriun Bioteknologi
Perairan Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP) Fakultas Perikanan IPB.
Kepada Bapak Prof. Dr.Ir. Surjono H. Sutjahyo, MS. dan Bapak Dr. M. Yani yang
telah memberikan saran dan perbaikan pada ujian tertutup, Ibu Dr. Ir. Nonon
Saribanon M.Si., dan Ibu Dr.Ir. Etty Riani, M.Si., sebagai penguji pada ujian
terbuka.
Terima kasih kepada rekan-rekan S3 PSL angkatan 2003, rekan S2 THP
angkatan 2005 atas kerjasamanya di Laboratorium THP FPIK IPB dan kepada
semua pihak yang tidak dapat disebut, penulis mengucapkan banyak terima kasih
atas segala bantun dan kerjasamanya.
Pada kesempatan ini juga diungkapkan terima kasih kepada Orang tua, July
Pagoray dan Helena Pirade, mertua Wihelmina M.T., atas kasih sayang dan doa
yang tak henti-hentinya di panjatkan kepada yang Maha Kuasa. Ungkapan terima
kasih kepada suami terkasih Dr. Ir. Taufan Purwokusumaning Daru MP., yang
selalu memberikan dukungan dan doa, serta anak-anakku terkasih F.A.Yudhistira
Yogapratama dan Anastasia S.A.Dwiputri, semoga pengorbanan selama kedua
orang tuanya mengikuti pendidikan dapat memberikan buah kebahagian bagi
mereka.
Pada akhirnya penulis harapkan agar karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi
yang membaca dan membutuhkan informasi yang berhubungan dengan disertasi
ini.
Bogor, September 2009
Henny Pagoray
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jeneponto, Sulawesi Selatan pada tanggal 5 Desember
1965 dari pasangan July B. Pagoray dan Helena Pirade. Penulis merupakan anak
pertama dari lima bersaudara. Penulis lulus di sekolah menengah atas (SMA
Negeri 2) Makassar tahun 1984, tahun 1988 menyelesaikan studi di Universitas
Hasanuddin pada Fakultas Perternakan Jurusan Perikanan, tahun 1998
menyelesaikan studi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada program S2
program studi Ilmu Lingkungan. Pada tahun 2003 diterima sebagai mahasiswa
program S3 Pascasarjana Institut Pertanian Bogor pada program studi Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL). Penulis bekerja sebagai staf pengajar
di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman,
Samarinda Kalimantan Timur sejak tahun 1990 sampai sekarang.
xii
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ..... xiv
DAFTAR GAMBAR ........ xv
DAFTAR LAMPIRAN .... xvii
PENDAHULUAN ....... 1
Latar Belakang ....... 1
Kerangka Pemikiran ....... 4
Perumusan Masalah ........... 4
Tujuan Penelitian ..... 5
Hipotesis Penelitian ............. 5
Manfaat Penelitian ....... 6
Novelty (Kebaruan) ......... 6
TINJAUAN PUSTAKA ............... 8
Limbah Hidrokarbon ....... 8
Pengolahan Limbah dengan Bioremediasi ........... 10
Biodegradasi Hidrokarbon ....... 13
Mikroba Pendegradasi Hidrokarbon .. ....... 15
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Biodegradasi ................ 17
Bioremediasi dengan Kompos ............. 19
Bioremediasi Berkelanjutan ................... 21
Rapid Appraissal (RAP) Bioremediasi Limbah Hidrokarbon (BLH)
dengan Metode Multidimensional Scaling (MDS) ................................ 23
Teori Respon Surface Methodology (RSM) ............... 26
METODE PENELITIAN .................... 30
Tempat dan Waktu Penelitian .................. 30
Bahan dan Alat ........... 30
Tahapan Penelitian .................................... 30
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................... 42
Penelitian Pendahuluan .................................................................................. 42
Bioremediasi Skala Laboratorium ............................ .................................... 46
Optimasi degradasi Total Petroleum Hidrokarbon................................. 54
Bioremediasi Limbah Hidrokarbon serta Analisis Keberlanjutan ................ 59
PEMBAHASAN UMUM ........................................................................................ 70
xiii
KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................... 74
Kesimpulan ........................ 74
Saran .................. 74
DAFTAR PUSTAKA .................. 75
LAMPIRAN ........................................................................................................... 82
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Review metode bioremediasi berbagai hidrokarbon ......................................... 14
2. Review penelitian bioremediasi kompos untuk limbah hidrokarbon ............ 20
3. Hasil penelitian menggunakan metode multidimensial scaling .... 25
4. Central composite design (CCD) ...................................................................... 29
5. Kisaran dan taraf peubah uji optimasi bioremediasi .... 36
6. Matriks satuan percobaan pada optimasi proses bioremediasi rancangan
komposit fraksional .. 37
7. Atribut-atribut dan skor keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon ........ 39
8. Hasil analisis TPH, pH, N total dan P total sebelum bioremediasi ..... 42
9. Hasil analisis TPH, pH, N total dan P total setelah bioremediasi ...... 43
10. Atribut setiap dimensi untuk analisis keberlanjutan bioremediasi limbah
hidrokarbon ........................................................................................................ 43
11. Kandungan unsur hara kompos sampah kota .................................................... 44
12. Hasil identifikasi bakteri pada kompos, tanah yang ditambahkan minyak
dan diaklimatisasi selama 1 bulan ..................................................................... 45
13. Total petroleum hidrokarbon (TPH) pada penelitian pendahuluan ................. 45
14. Hasil analisis rasio C:N:P pada bioremediasi limbah hidrokarbon ................... 51
15. Hasil identifikasi bakteri pada kompos dan tanah .............................................. 53
16. Degradasi total petroleum hidrokarbon (TPH) selama 16 minggu ..................... 55
17. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap degradasi TPH
pada minggu XII ................................................................................................. 56
18. Atribut setiap dimensi untuk analisis keberlanjutan bioremediasi kompos untuk
limbah hidrokarbon ............................................................................................ 59
19. Hasil analisis nilai stress dan koefisien determinasi keberlanjutan bioremediasi
untuk limbah hidrokarbon (BLH) ..................................................................... 67
20. Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai BLH dan masing-masing dimensi
pada selang kepercayaan 95 % .. 67
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka berfikir penelitian bioremediasi limbah hidrokarbon dengan
biostimulasi dan bioaugmentation dalam rangka menciptakan lingkungan
yang berkelanjutan .......................................................................................... 7
2. Skema biodegradasi metana dengan mikroba ........... 13
3. Tiga dimensi Response surface................................ 27
4. Tahapan penelitian bioremediasi limbah hidrokarbon dengan biostimulasi
dan bioaugmentation dalam rangka menciptakan lingkungan yang
berkelanjutan ........................................................................................... 32
5. Tahapan analisis Rap-BLH menggunakan MDS dengan modifikasi
Rapfish............................................................................................................. 41
6. Kadar air tanah (%)pada awal dan minggu XII proses bioremediasi limbah
hidrokarbon ..................................................................................................... 47
7. pH tanah pada awal dan minggu XII proses bioremediasi limbah
hidrokarbon ..................................................................................................... 47
8. Suhu lingkungan selama proses bioremediasi limbah hidrokarbon ................ 48
9. C-organik (%) tanah pada awal dan minggu XII proses bioremediasi limbah
hidrokarbon ....................................................................................................... 49
10. N total (%)tanah pada awal dan minggu XII proses bioremediasi limbah
hidrokarbon ..................................................................................................... 50
11. P total (ppm) tanah pada awal dan minggu XII proses bioremediasi limbah
hidrokarbon ...................................................................................................... 50
12. Grafik degradasi TPH (%) selama 16 minggu pengamatan ......... 52
13. Permukaan respon degradasi TPH minggu XII ................... 56
14. Grafik degradasi TPH (%) per empat minggu selama 16 minggu pengamatan 58
15. Hasil analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
ekologi ................... 61
16. Hasil analisis sensitivitas bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
ekologi ............................................................................................................ 62
17. Hasil analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
ekonomi ..................... 64
18. Hasil analisis sensitivitas bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
ekonomi .......................................................................................................... 64
19. Hasil analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
xvi
sosial .................................................................................................................. 65
20. Hasil analisis sensitivitas bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
sosial ................................................................................................................. 66
21. Nilai indeks keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
ekologi, ekonomi dan sosial ................ 66
22. Analisis Monte Carlo nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi .... 68
23. Analisis Monte Carlo nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi .. 69
24. Analisis Monte Carlo nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial . 69
25. Hasil analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dimensi
ekonomi dengan menggunakan data laboratorium .............................................. 72
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Kadar minyak dalam tanah yang di bioremediasi ........ 83
2. Total petroleum hidrokarbon ....................................................................... 84
3. Degradasi total petroleum hidrokarbon TPH (%) selama penelitian .......... 85
4. Data hasil pengukuran pH tanah .................................................................. 86
5. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap degradasi TPH
Pada minggu ke 4 menggunakan software SAS ............................................ 87
6. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap degradasi TPH
Pada minggu ke 8 menggunakan software SAS ............................................ 87
7. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap degradasi TPH
Pada minggu ke 12 menggunakan software SAS ............................................. 88
8.. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap degradasi TPH
Pada minggu ke 14 menggunakan software SAS ............................................ 88
9. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap degradasi TPH
Pada minggu ke 16 menggunakan software SAS .......................................... 89
10. Hasil identifikasi bakteri .............................................................................. 90
11. C-organik, N-total dan P total tanah yang terkontaminasi limbah bengkel.... 97
12. Kadar air tanah .............................................................................................. 98
13. Total Plate Count (TPC) ................................................................................ 99
14. Atribut keberlanjutan bioremediasi untuk limbah hidrokarbon ..................... 100
15. Hasil analisis TPH dengan gas kromatografi .................................................. 101
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan berkelanjutan saat ini menjadi suatu konsep pembangunan
yang telah diterapkan oleh banyak negara di dunia dalam mengelola sumberdaya
alam dari kerusakan lingkungan dan kepunahan. Konsep ini berlaku untuk seluruh
sektor pembangunan termasuk pengelolaan lingkungan agar tidak terjadi
kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh adanya buangan (limbah) dari suatu
kegiatan. Salah satu kegiatan yang akan disorot pada penelitian ini yaitu limbah
bengkel (workshop) berupa campuran hidrokarbon yaitu minyak pelumas, gasolin
dan diesel.
Operasi bengkel sebagai tempat pemeliharaan dan perbaikan alat-alat
transportasi, menghasilkan limbah hidrokarbon berupa ceceran minyak pelumas,
minyak diesel dan gasolin (Tiwary 2001). Limbah bengkel ini apabila terbuang
ke lingkungan menyebabkan pencemaran di tanah.
Secara umum tanah yang terkontaminasi oleh limbah minyak yang
mengandung hidrokarbon, dapat diolah melalui proses fisik, kimia maupun
biologi. Pengolahan secara fisik seperti insinerasi (pembakaran) dan kimia
(penggunaan bahan kimia) umumnya membutuhkan biaya yang besar dan
menimbulkan polutan sekunder, dibandingkan pengolahan secara biologi
(Pedersen & Bourguin 1995; Crawford & Crawford 1996; Fermor et al. 2001).
Pengolahan secara biologi dengan memanfaatkan mikroba pada pencemaran tanah
(bioremediasi) merupakan alternatif pengolahan yang memiliki kelebihan dari
segi lingkungan yaitu efektif, biaya rendah dan proses ramah lingkungan
(Udiharto 1996; Kitts & Kaplan. 2004).
Metode bioremediasi yang dilakukan dengan penambahan nutrien atau
dikenal dengan biostimulasi, digunakan untuk mendegradasi pencemar limbah
minyak mentah (petroleum), dengan penambahan N dan P ((Schinner & Margesin
2001; Obbard & Ran 2003; Head et al. 2004; Kitts & Kaplan 2004). Metode
biostimulasi, bioaugmentation (penambahan mikroba) pada pencemaran minyak
bumi (Komar & Irianto 2000; Wijayaratih 2001; Dickson & Odokuma 2003;
Rosenberg et al. 2003). Proses bioremediasi dilakukan dengan pengomposan dan
biopile (Suortti et al. 2000), pengomposan dengan sampah biologis (Ryckeboer et
2
al. 2003). Pada proses pengolahan secara biologi, hal yang harus diperhatikan
selain karakteristik limbah, juga kondisi-kondisi yang mempengaruhi aktifitas
bakteri (Zulfitri 1994). Hasil penelitian di atas memperlihatkan bahwa bahwa
peran mikroba sangat membantu untuk mempercepat proses biodegradasi
hidrokarbon.
Penelitian dari Bosser & Bartha (1984), menemukan beberapa mikroba
(bakteri) yang hidup di lingkungan minyak bumi, antara lain dari genera
Alcaligenes, Arthrobacter, Acinetobacter, Nocardia, Achromobacter, Bacillus,
Flavobacterium, dan Pseudomonas. Penelitian lain menemukan beberapa isolat
bakteri dari tanah yang terkontaminasi limbah minyak pelumas teridentifikasi
beberapa jenis mikroba yaitu: Bacillus megaterium, Pseudomonas diminuta,
Gluconobacter cerenius, Pasteurella caballi (Suortti et al. 2000).
Keberhasilan proses biodegradasi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor
lingkungan antara lain suhu, pH, kandungan air di tanah, dan ketersediaan nutrien.
Pada dasarnya semua mikroba memerlukan karbon sebagai sumber energi untuk
aktifitasnya. Pada kondisi sumber C telah tersedia dari hidrokarbon, maka
senyawa lain menjadi faktor pembatas yaitu N dan P. Kadar kedua unsur ini turut
menentukan aktifitas pertumbuhan mikroba.
Kompos yang berasal dari sampah kota dapat digunakan sebagai sumber
mikroba dan bulking agen untuk bioremediasi. Kompos juga berperan
memperbaiki sifat kimia tanah seperti pH, kelembaban, struktur tanah dan
berperan sebagai sumber nutrien, dengan demikian memperbaiki lingkungan tanah
terkontaminasi bagi aktifitas mikroba asli maupun introduksi (Farmor et al. 2001).
Beberapa penelitian dengan menggunakan kompos terbukti dapat
memperbaiki tanah terkontaminasi polutan. Penelitian Mahro & Kasner (1996)
menyatakan bahwa penambahan kompos pada tanah yang terkontaminasi limbah
minyak dapat mengurangi kandungan bahan pencemar hidrokarbon dalam tanah.
Pengomposan tanah terkontaminasi khlorofenol dengan penambahan inokulan dan
penambahan nutrien memperlihatkan bahwa 80 % terdegradasi selama 2 bulan
(Laine & Jorgensn 1997). Penambahan 0.25 % urea dan bioaugmentation Bacillus
dapat mengurangi kandungan toluen hingga 97.05 % (Komar & Irianto 2000).
Penambahan pupuk 400 kg
-1
ha
-1
minggu
-1
selama 6 (enam) minggu dapat
3
menurunkan kandungan hidrokarbon di tanah hutan tropik (Dickson & Odokuma
2003).
Hasil penelitian diatas menjelaskan teknik bioremediasi untuk campuran
berbagai hidrokarbon. Pada penelitian ini ditelaah jenis limbah dari bengkel yang
merupakan campuran berbagai jenis hidrokarbon (minyak pelumas, minyak diesel
dan gasolin) dan diolah secara biologi dengan biostimulasi kompos sampah kota
dan bioaugmentation jenis Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan
Pseudomonas aeruginosa.
Penelitian yang dilakukan di laboratorium untuk mengetahui proses
degradasi dari limbah hidrokarbon, sedangkan untuk mengetahui keberlanjutan
dari bioremediasi limbah hidrokarbon dilakukan di lapangan. Penelitian lapangan
perlu dianalisis lebih lanjut dengan analisis keberlanjutan. Atribut yang digunakan
yaitu dari dimensi ekologi, ekonomi dan sosial budaya diolah menggunakan
metode multi variable non-parametrik yang disebut multidimensional scaling
(MDS). Penggunaan metode ini dalam mengevaluasi masalah pencemaran
hidrokarbon dengan bioremediasi belum pernah dilakukan. Penggunaan metode
diantaranya dilakukan pada bidang perikanan (RAPFISH), pertanian (RAP-CLS),
peternakan (RAP-SIBUSAPO), kehutanan (RAP-INSUSFORMA). Metode
multidimensional scaling (MDS) yang digunakan pada penelitian ini disebut
RAP-BLH (Rapid Appraisal Bioremediasi Limbah Hidrokarbon).
Penggunaan kompos untuk bioremediasi antara lain pada limbah
hidrokarbon dapat mendegradasi dan meningkatkan penurunan hidrokarbon.
Kompos sampah kota didapati berbagai mikroba yang mampu mendegradasi
limbah hidrokarbon. Oleh karena itu untuk mempercepat degradasi dari limbah
hidrokarbon dilakukan optimasi biostimulasi kompos dan bioaugmentation dari
jenis bakteri Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan Pseudomonas
aeruginosa. Jenis bakteri ini sudah digunakan sebelumnya untuk mendegradasi
minyak bumi. Untuk meningkatkan keberlanjutan bioremediasi yang dilakukan
dilapangan diharapkan menggunakan metode dengan biostimulasi kompos dan
bioaugmentation.
4
Kerangka Pemikiran
Limbah minyak terdiri dari berbagai komponen hidrokarbon dari kegiatan
bengkel berupa tumpahan, ceceran atau buangan dari minyak bekas pakai, minyak
dari alat transportasi, ceceran minyak pelumas, minyak diesel dan gasolin.
Pembuangan limbah hidrokarbon menyebabkan pencemaran di tanah. Pengolahan
limbah hidrokarbon secara biologi yaitu dengan metode bioremediasi (KepMen
LH Nomor 128 tahun 2003) diantaranya dilakukan dengan biopile, landfarming
dan composting. Metode biopile membutuhkan biaya yang lebih besar jika
dibandingkan dengan metode composting, sedangkan metode landfarming
membutuhkan lahan yang luas dan sulit dikontrol. Penggunaan kompos dianggap
murah dan mudah. Kompos mengandung berbagai mikroorganisme. Pada proses
bioremediasi, kompos berfungsi sebagai sumber inokulan, dan menyediakan
tambahan unsur hara seperti N dan P untuk meningkatkan pertumbuhan mikroba.
Selanjutnya mikroba merombak bahan pencemar hidrokarbon melalui proses
kimia dengan bantuan enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroba tersebut.
Proses degradasi dari limbah hidrokarbon, selain melalui penambahan
kompos sampah kota, juga dapat dilakukan penambahan mikroba dari jenis
Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan Pseudomonas aeruginosa. Jenis
mikroba tersebut umum digunakan sebagai pendegradasi minyak mentah. Pada
penelitian ini dilakukan kajian penggunaan kompos sampah kota dan penambahan
mikroba diatas untuk mendegradasi limbah bengkel. Degradasi limbah
hidrokarbon di dalam tanah ini diupayakan dalam rangka mempertahankan
keberlanjutan sumberdaya alam (tanah).
Perumusan Masalah
Penggunaan mikroba untuk mendegradasi limbah hidrokarbon telah banyak
digunakan. Untuk mempercepat proses degradasi limbah tersebut, maka
biostimulasi kompos merupakan salah satu alternatif yang dapat mempercepat
proses degradasi. Kompos merupakan sumber inokulan dan bulking agent untuk
tanah. Oleh karena itu maka dilakukan penelitian ini untuk mengkaji upaya
pengolahan limbah hidrokarbon dengan mengoptimalkan penggunaan kompos
dan bioaugmentation mikroba. Penanganan yang tepat berdampak positif terhadap
5
lingkungan. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis keberlanjutan untuk menilai
efek penanganan limbah terhadap ekologi, ekonomi dan sosial budaya yang
merupakan lingkungan global.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat dirumuskan permasalahan penelitian ini :
1. Apakah biostimulasi kompos dan bioaugmentation dengan penambahan
bakteri Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan Pseudomonas
aeruginosa dapat mempercepat degradasi bahan pencemar hidrokarbon.
2. Bagaimana keberlanjutan secara ekologi, ekonomi dan sosial, dari proses
bioremediasi untuk limbah hidrokarbon.
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Memperoleh kondisi optimal biodegradasi hidrokarbon dengan biostimulasi
kompos dan bioaugmentation bakteri Arthrobacter simplex, Mycobacterium
phlei dan Pseudomonas aeruginosa.
2. Melakukan analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon ditinjau
dari dimensi ekologi, ekonomi dan sosial.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang akan dibuktikan pada penelitian ini yaitu :
1. Biostimulasi kompos dan bioaugementation dengan penambahan bakteri
Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan Pseudomonas aeruginosa
dapat mempercepat degradasi hidrokarbon.
2. Metode multidimensional scaling (MDS) dapat digunakan untuk menilai
keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon .
6
Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian dapat digunakan untuk menangani tanah terkontaminasi
limbah hidrokarbon yang berasal dari bengkel, dan juga sebagai informasi
bagi pihak berkepentingan dalam hal penanganan limbah dari bengkel.
2. Memberi informasi nilai keberlanjutan secara ekologi, ekonomi, dan sosial
dari bioremediasi limbah hidrokarbon.
3. Memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu, khususnya dalam
pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.
Novelty
Kebaruan penelitian ini adalah: bioremediasi limbah hidrokarbon dari
bengkel dengan mengoptimalkan biostimulasi kompos dan bioaugmentation,
serta analisis secara komprehensif yaitu keberlanjutan bioremediasi limbah
hidrokarbon dengan pendekatan secara kualitatif dan kuantitatif.
7
Kerangka Berpikir
Keterangan :
*)
tidak dilakukan
Workshop (bengkel)
Pencemaran tanah
Bioremediasi
Efektifitas teknologi
Biostimulasi kompos dan
bioaugmentation
Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian biostimulasi dan
bioaugmentation untuk bioremediasi limbah
hidrokarbon serta analisis keberlanjutan
Bioremediasi berkelanjutan
Pengolahan limbah
Limbah (hidrokarbon)
Biologi Fisik dan Kimia*
)
Composting Landfarming
*)
Biopile
*)
8
TINJAUAN PUSTAKA
Limbah Hidrokarbon
Limbah minyak bumi dapat berupa tumpahan, ceceran atau buangan dari
minyak bumi maupun produk-produknya, minyak bekas pakai, dan limbah
minyak yang terkandung dalam limbah alat-alat mesin dari kegiatan industri
maupun rumah tangga (Udiharto 1996). Umumnya minyak bumi maupun
produknya merupakan campuran kompleks senyawa organik yang terdiri atas
senyawa hidrokarbon 50 sampai 95 %, dan sisanya non hidrokarbon misalnya
nitrogen, belerang, oksigen dan logam (Speight 1980). Limbah minyak yang
mengandung hidrokarbon apabila masuk ke lingkungan merupakan bahan
pencemar yang berbahaya.
Limbah yang dihasilkan pada tempat pemeliharaan dan perbaikan alat-alat
transportasi (Workshop) dapat berupa minyak pelumas, minyak diesel dan gasolin.
Hidrokarbon minyak bumi merupakan senyawa organik yang terdiri dari
rangkaian atom karbon dan hidrogen, dengan jumlah tertentu dan digolongkan
menjadi tiga jenis, yaitu hidrokarbon alifatik, hidrokarbon alisiklik, dan
hidrokarbon aromatik (Speight 1980). Fraksi hidrokarbon gasolin (C
5
C
12
),
minyak diesel (C
15
C
18
) dan minyak pelumas (C
16
C
25
) (Wood et al. 1992).
Hidrokarbon alifatik atau disebut juga parafin adalah senyawa yang
mempunyai rantai atom karbon terbuka. Hidrokarbon alifatik terdiri dari alkana,
alkena dan alkuna. Hidrokarbon alisiklik adalah senyawa yang umumnya
berbentuk cincin, bersifat stabil dan tahan terhadap oksidasi. Hidrokarbon alisiklik
terdiri atas sikloalkana, sikloalkena dan sikloalkuna. Hidrokarbon aromatik
merupakan senyawa yang sangat kompleks, termasuk diantaranya senyawa-
senyawa aromatik dengan substitusi mono, di dan poli alkil maupun tanpa
substitusi. Pada minyak bumi senyawa ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan
dengan parafin atau naftalena. Seperti halnya sikloalkana, hidrokarbon aromatik
mempunyai cincin sederhana atau tunggal, sebagai contoh benzen terdiri dari 6
(enam) atom karbon yang berikatan ganda dan tunggal serta cincin ganda seperti
naftalen (Speight 1980). Keberadaan senyawa tersebut dalam limbah akan
menyebabkan degradasi kualitas lingkungan. Pencemaran hidrokarbon
9
berpengaruh terhadap manusia, hewan dan tumbuhan (Schlegel 1994; Connel &
Miller 1995).
Metode pengolahan limbah minyak dapat dilakukan secara fisik, kimia dan
biologi. Secara fisik yaitu dengan sistem pembakaran (insinerator), secara kimia
dengan penambahan bahan kimia, dan biologi dengan memanfaatkan mikroba
yang mendegradasi bahan pencemar. Pada pembakaran mengakibatkan
pencemaran udara oleh karena menghasilkan gas hidrokarbon (HC),
karbonmonoksida (CO) berpengaruh terhadap lingkungan, sedangkan proses
kimia digunakan bahan kimia, juga memberi dampak terhadap lingkungan dan
umumnya membutuhkan biaya besar. Pengolahan limbah secara fisik yaitu
dengan insinerator membutuhkan biaya $250 $800 per cubic yard, 35 -
100 m
-3
tanah (Pedersen 1995; Crawford & Crawford 1996; Udiharto 1996;
Fermor et al. 2001). Untuk itu penanganan secara biologi dengan memanfaatkan
mikroba sebagai pengolah limbah diharapkan merupakan alternatif yang efektif,
biaya rendah ($40 $100 per cubic yard, dan 5 75 m
-3
tanah) dan proses
ramah lingkungan (Udiharto 1996; Fermor et al. 2001; Kitts & Kaplan 2004).
Salah satu metode yang digunakan untuk mengolah limbah workshop pada
tanah menggunakan mikroba disebut bioremediasi. Bioremediasi merupakan
proses penting untuk pemulihan lingkungan tercemar oleh berbagai bahan
pencemar termasuk limbah minyak dari bengkel. Metode ini telah digunakan
untuk mendegradasi limbah minyak pelumas, solar pada sedimen (Schinner &
Margesin 2001; Obbard & Ran 2003).
Lingkungan secara alamiah mengandung beraneka ragam mikroba.
Penanganan limbah dengan bantuan mikroba dapat dilakukan dengan
memanfaatkan mikroba yang berada di lingkungan tercemar. Mikroba diharapkan
dapat menguraikan atau mendegradasi bahan organik kompleks menjadi bahan
lebih sederhana dan aman bagi lingkungan (senyawa hidrokarbon dengan bantuan
mikroba akan berubah menjadi karbondioksida, air dan energi).
10
Pengolahan Limbah dengan Bioremediasi
Bioremediasi menurut Crawford & Crawford (1996) merupakan proses
biodegradasi yang produktif menghilangkan bahan berbahaya (B3) yang ada di
lingkungan dan dapat mengancam kehidupan manusia, dan biasanya terdapat pada
tanah, air dan sedimen. Swannell et al. (1996) mendefinisikan bioremediasi
sebagai usaha untuk mengatasi pencemaran lingkungan dengan melakukan
penambahan-penambahan materi atau hara pada lingkungan yang terkontaminasi
sehingga proses biodegradasi alami dapat ditingkatkan. Menurut Capone & Bauer
(1992), bioremediasi dapat dilakukan dengan menambahkan mikroba non-
indigenous, yang disebut dengan bioaugmentation atau dengan penambahan
nutrien untuk meningkatkan kemampuan mikroba indigenous, yang disebut
dengan biostimulasi. Sedangkan Fauzi & Sai'd (1996) menyatakan bioremediasi
merupakan proses penyehatan (remediasi) secara biologis terhadap komponen
lingkungan, tanah dan air yang telah tercemar oleh senyawa senobiotik (asing di
alam) dan bersifat rekalsitran (sulit didegradasi), sehingga senyawa tersebut
memiliki ketahanan yang tinggi di alam. Pada saat ini teknologi bioremediasi
banyak dimanfaatkan untuk menangani limbah senyawa hidrokarbon seperti oil
sludge, poly aromatic hidrocarbon (PAHs), minyak tanah, gasolin, dan minyak
diesel.
Upaya bioremediasi dengan penambahan nutrien dan mikroba secara umum
sudah banyak dilakukan terutama pada hidrokarbon spesifik. Untuk mempercepat
proses degradasi bahan pencemar hidrokarbon di tanah, penambahan kompos
dapat dilakukan, selain sebagai sumber inokulan juga sumber nutrien dalam tanah.
Penambahan nutrien dan mikroba mempercepat terjadinya degradasi bahan
pencemar hidrokarbon. White et al. (1999) menjelaskan bahwa penambahan
nutrisi menyebabkan perubahan ekologi mikroba yang dapat mempercepat proses
bioremediasi. Lee & Merlin (1999) menyatakan bahwa kelarutan nitrogen dalam
sedimen berpengaruh terhadap proses biodegradasi dan keberhasilan
bioremediasi. Bioremediasi pada tanah yang tercemar oleh bahan diesel di area
parkir rekreasi ski di Pegunungan Alpine yang dilakukan oleh Schinner &
Margesin (2001), dilakukan penambahan senyawa nitrogen, pospor dan kalium
mampu menurunkan kandungan total petroleum hidrokarbon sebesar 48 % selama
11
78 hari. Selanjutnya dikatakan bahwa mikroba mempunyai kemampuan
menurunkan kadar bahan pencemar organik, dan metode ini telah terbukti efisien,
ekonomis, dan ramah lingkungan. Head et al. (2004), melakukan bioremediasi
untuk mendegradasi hidrokarbon di daerah Pantai Mudflat secara biostimulasi
dengan penambahan pupuk yang mengandung senyawa nitrogen dan phospor
menyatakan mampu menurunkan 99.7 % hidrokarbon selama 3 (tiga) bulan.
Kitts & Kaplan (2004) melakukan bioremediasi di ladang minyak Guadalupe
dengan penambahan nutrien yang mengandung phospat dan ammonia, total
petroleum hidrokarbon yang terdegradasi 98 % selama 168 hari. Rosenberg et al.
(2003) menyatakan bahwa bioremediasi petroleum dapat dilakukan dengan
penambahan nutrien (berasal dari kotoran burung) sebagai sumber nitrogen dan
dilakukan penambahan mikroba yang diisolasi dari kompos (kotoran burung)
mampu mendegradasi 48 %. Secara umum, kebutuhan terpenting untuk
pelaksanaan bioremediasi yang dirangkum oleh Wisjnuprapto (1996) adalah:
a. Adanya mikroba yang melaksanakan proses, dan mampu memproduksi
enzim yang dapat mendegradasi bahan kimia beracun (senyawa sasaran).
b. Sumber energi dan akseptor elektron, karena mikroba memperoleh
energi dari reaksi-reaksi redoks yang berlangsung.
c. Kelembaban yang cukup, pH, dan suhu yang sesuai, serta tersedianya
cukup nutrien untuk pertumbuhan sel mikroba.
Keuntungan menggunakan bioremediasi dalam mengeleminasi senyawa
hidrokarbon antara lain:
a) Dapat dilakukan secara ex-situ ataupun in-situ
b) Biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil ($40 $100 per cubic yard, dan
5 75 m
-3
tanah), bila dibandingkan dengan penanganan secara
fisik dan kimia ($250 $800 per cubic yard, pencucian 35 - 100
m
-3
tanah, Pedersen 1995; Crawford & Crawford 1996; Udiharto 1996 &
Fermor et al. 2001).
c) Resiko selama proses dapat dieliminasi (metode ramah lingkungan dan
tidak menimbulkan kerusakan)
Proses bioremediasi juga memiliki kelemahan, yaitu membutuhkan lokasi
area tertentu, perlunya kriteria perlakuan untuk memperoleh proses optimal dan
12
tidak semua bahan pencemar (bahan kimia) dapat diolah secara bioremediasi.
Pengawasan yang intensif selama proses berlangsung juga merupakan kelemahan
proses bioremediasi.
Teknologi bioremediasi dapat dilakukan dengan:
a. Bioaugmentation : penambahan kultur bakteri terhadap medium yang
terkontaminasi). Bakteri merupakan organisme yang umum digunakan
dalam bioaugmentasi untuk merombak bahan pencemar yang terdapat
dalam limbah. Contoh: bioremediasi limbah minyak di Cepu dengan
menggunakan bakteri Bacillus (Komar & Irianto 2000).
b. Biofilter : memisahkan gas organik dengan melewatkan udara melalui
suatu carrier yang dapat berupa kompos atau tanah yang mengandung
mikroba yang mampu mendegradasi bahan pencemar yang dilewatkan.
Contoh : bioremediasi bahan pencemar gasolin BTEX dengan biofilter
kompos (Vandergheynst et al. 2003).
c. Biostimulasi (stimulasi populasi mikroba asli dalam tanah dan/ atau air
tanah, yang dilakukan secara in situ atau ex situ) dengan penambahan
nutrien seperti phospor, nitrogen yang merupakan pemicu pertumbuhan.
Keberadaan sejumlah kecil bahan pencemar juga dapat difungsikan
sebagai pemicu untuk mengaktifkan enzim. Contoh: bioremediasi
minyak mentah di pantai dengan biostimulasi nitrogen dan phospor
(Head et al. 2004).
d. Bioslurry : pengolahan tanah yang mengandung bahan pencemar
hidrokarbon dengan menggunakan konsorsium bakteri pendegradasi
hidrokarbon pada bioreaktor dalam bentuk slurry. Proses ini dilakukan
pada kolam yang berfungsi sebagai bioreaktor.
e. Bioventing : teknik ini mirip dengan biostimulasi, dilakukan dengan
menyemburkan oksigen melalui tanah untuk menstimulasi pertumbuhan
mikroba. Cara ini banyak digunakan pada tanah yang tercemar limbah
minyak bumi.
f. Pengomposan: Teknik ini dilakukan dengan mencampur bahan yang
terkontaminasi dengan kompos yang mengandung mikroba. Contoh :
13
bioremediasi minyak diesel dengan menggunakan kompos sampah
biologis ( Ryckeboer et al. 20003).
g. Landfarming: penggunaan teknik ini untuk mendorong pertumbuhan
mikoba dengan cara tanah tercemar disebarkan pada lahan terbuka.
Contoh teknik ini digunakan untuk membersihkan sejumlah besar
tumpahan minyak dalam tanah (Yani & Fauzi 2005)
Biodegradasi Hidrokarbon
Biodegradasi secara garis besar didefenisikan sebagai pemecahan senyawa
organik oleh mikroba membentuk biomassa dan senyawa yang lebih sederhana
yang akhirnya menjadi air, karbondioksida atau metana (Alexander 1994).
Biodegradasi hidrokarbon didefinisikan sebagai suatu proses yang memanfaatkan
aktifitas mikroba untuk mengubah senyawa hidrokarbon yang kompleks menjadi
senyawa yang lebih sederhana dengan hasil akhir berupa karbondioksida, air, dan
energi. Reaksi sebagai berikut:
mikroorganisme
C
n
H
n
+ O
2
CO
2
+ H
2
O + Energi
Proses degradasi limbah oleh mikroba memerlukan kondisi yang sesuai
untuk pertumbuhan mikroba. Secara umum mikroba memerlukan energi untuk
membentuk sel baru, untuk mikroba pendegradasi hidrokarbon dibutuhkan
oksigen untuk proses degradasi. Selanjutnya dijelaskan bahwa beberapa kasus
pencemaran air tanah dapat disebabkan oleh senyawa organik beracun misalnya
hidrokarbon dalam bentuk total petroleum hidrokarbon. Senyawa organik yang
beracun dapat juga didegradasi secara biologis dengan memanfaatkan enzim
(misalnya enzim metana monooksigenase) yang dihasilkan mikroba seperti
disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Skema biodegradasi metana oleh mikroba
14
Proses biodegradasi hidrokarbon alifatik seperti alkana (metana) dalam
reaksinya membutuhkan oksigen, sehingga reaksi oksidasi dapat berlangsung
lebih cepat. Pada proses, mikroba menghasilkan enzim berfungsi sebagai
katalisator, seperti metana monooksigenase, metanol dehidrogenase, formaldehid
dehidrogenase dan format dehidrogenase. Dalam biodegradasi ini, metana akan
diubah menjadi metanol, formaldehid mejadi asam format dan karbondioksida
(Lehninger 1991).
Biodegradasi minyak merupakan suatu proses yang kompleks dan
tergantung komunitas mikrobanya, kondisi lingkungan dan kandungan minyak
yang akan didegradasi. Dalam proses tersebut akan terjadi penguraian
hidrokarbon oleh mikroba yang telah beradaptasi dengan baik di lingkungan
tersebut. Menurut Citroreksoko (1996) bahwa kemampuan biodegradasi terhadap
beberapa senyawa berbeda-beda. Secara umum bioremediasi limbah hidrokarbon
dilakukan pada skala pilot dan laboratorium dan waktu bioremediasi pada kisaran
3 bulan (90 hari) sampai 168 hari, dan minyak yang terdegradasi 48 % sampai
dengan 99.7 %. Beberapa hasil penelitian bioremediasi hidrokarbon disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Review metode bioremediasi berbagai hidrokarbon.
Hasil No. Bahan Metode Skala
Waktu Degradasi
Referensi
1. Minyak
mentah di
pantai
Biostimulasi
N,P
pilot 3 bulan 99.7 % Head et al.
2004.
2. Minyak
bumi
di hutan
tropis
Biostimulasi
dan
bioaugmenatsi
pilot 9 minggu 86 % Dickson
et al.2003.
3. Oli pada
nutrien
pantai
Penambahan
nutrien N,P,K
Lab. 45 hari 95 %
alifatik
Obbard &
Ran 2003
4. Minyak
disel
(solar)
Biostimulasi
N,P,K
pilot 78 hari 48 % TPH Schinner &
Margesin.
2001
5. Petroleum
(C
10
C
32
)
Biostimulasi
dengan N,P
pilot 168 hari 98 % TPH Kitts &
Kaplan 2004.
6. minyak
pelumas
pada tanah
Bioremediasi
metode biopile,
pengomposan,
nutrien
pilot 150 hari 73 % Suortti et al.
2000
dilanjutkan
15
Tabel 1 lanjutan
7. Minyak
diesel
Pengomposan
dengan sampah
biologis
pilot 12 minggu 85 % Ryckeboer
et al.2003.
8. Gasoline
BTEX
Biofilter
dengan kompos
Lab. 4 bulan 85 % Vandergheyn
et al. 2003.
9. Toluena,
pengeboran
minyak
Cepu
Bioremediasi
penambahan
mikroba
Bacillus dan
pupuk urea
Lab. 4 minggu 97.05 % Komar &
Irianto 2000
10. Naftalen Penggunaan
bakteri
Pseodomonas,
dari Unit
Pengolahan
Minyak
Pertamina
Lab. 28 hari 1362 ppm
728.6 ppm;
813 ppm
837.2 ppm
Wijayaratih
Y 2001.
11. Detoksifika
si tanah
tercemar
lumpur
minyak
Biostimulasi
N,P
Uji toxit
dengan
penanaman
jagung
Pilot 85 hari 97.8%,
jagung
tumbuh
pada
kandungan
< 1.3 %
Lemigas
2002.
http://www.
lemigas
erdm.
go.id/kode/
536.2002
12. Pyrene Bioaugmentasi
(penambahan
mikroba)
Lab. 20 hari 61.5 % Lai et al.
2004
Mikroba Pendegradasi Hidrokarbon
Mikroba pendegradasi hidrokarbon dapat ditemukan pada tanah dan air.
Pada umumnya hidrokarbon akan digunakan sebagai sumber energi pada aktivitas
mikroorganisme. Mikroba indigenus di lingkungan tercemar hidrokarbon mampu
mendegradasi hidrokarbon karena mikroba mampu menghasilkan enzim
pendegradasi hidrokarbon. Enzim tersebut berfungsi sebagai biokatalisator pada
biodegradasi (Bartha & Atlas 1987).
Dari hasil penelitian yang dikemukakan oleh Bosser & Bartha (1984), telah
ditemukan mikroba yang hidup di lingkungan minyak bumi, yaitu antara lain dari
genera Alcaligenes, Arthrobacter, Acinetobacter, Nocardia, Achromobacter,
Bacillus, Flavobacterium, dan Pseudomonas. Oetomo (1997) menemukan jenis
mikroba yang mampu mendegradasi minyak bumi yaitu; Pseudomonas sp.,
Bacillus sp., Nocardia sp., Mycobacterium. Penelitian lain menemukan beberapa
isolat mikroba dari tanah yang terkontaminasi limbah oli teridentifikasi beberapa
16
jenis yaitu: Bacillus megaterium, Pseudomonas diminuta, Gluconobacter
cerenius, Pasteurella caballi (Suortti et al. 2000). (Komar & Irianto 2000)
melakukan bioremediasi dengan penambahan Bacillus sp., mampu mendegradasi
tanah tercemar toluene; Wijayaratih (2001) melakukan bioremediasi dengan
mikroba Pseudomonas sp., mampu mendegradasi senyawa hidrokarbon naftalen;
Hardjito (2003) melakukan degradasi minyak bumi dengan mikroba Arthrobacter
simplex, dan Pseudomonas aeruginosa.
Isolat bakteri Flavobacterium sp. mampu mendegradasi 57 % suplemen
minyak mentah dalam 12 hari percobaan dan bahan yang terdegradasi yaitu
fluorobenzen, diklorinasi hidrokarbon, fenol, biofenil di poliklorinasi. Jenis
bakteri Azoarcus sp. mampu mendegradasi benzena, toluen, ethylbenzena dan
komponen xylen (Atlas & Bartha 1987). Biodegradasi hidrokarbon aromatik
seperti fenol dan naftalen didominasi oleh bakteri Pseudomonas, Bacillus,
Mycobacterium, Arthrobacter sp.dan Acinetobacter (Alexander 1994). Crawford
& Crawford (1996) mendeteksi jenis mikroba yang mampu mendegradasi
hidrokarbon aromatik yaitu Pseudomonas, Bacillus , Nocardia, Mycobacterium,
Arthrobacter; Acinotobacter; Flavobacteria. Kitts & Kaplan (2004) melakukan
bioremediasi total petroleum hidrokarbon di ladang minyak Guadalupe dan
menemukan jenis bakteri yang dominan terdiri dari Flavobacterium,
Pseudomonas dan Azoarcus sp.
Jenis dan jumlah mikroba berpengaruh terhadap degradasi hidrokarbon.
Menurut Schinner & Margesin (2001) bahwa pada awal penelitian jumlah
mikroba yang ditemukan adalah (6.5 0.4) x 10
7
CFU ml
-1
dan pada akhir
penelitian baik pada tanah yang dipupuk maupun tidak dipupuk jumlah mikroba
adalah (2.7 1.7) x 10
6
dan (1.5 0.5) x 10
6
CFU ml
-1
. Kitts & Kaplan (2004),
jumlah bakteri ditemukan selama 3 (tiga) minggu studi 1.7 x 10
7
sampai dengan
1.3 x 10
8
CFU g
-1
, setelah itu menurun dan pada akhir penelitian (minggu ke 24)
naik lagi menjadi 1.0 x 10
8
CFU g
-1
. Fahruddin (2006) mendegradasi benzene
menggunakan mikroba Pseudomonas dan terdegradasi sebesar 96 % dengan
jumlah mikroba 300 x 10
4
CFU ml
-1
. Dari hasil ini terlihat bahwa jumlah mikroba
yang ditemukan termasuk cukup dan mampu menpercepat degradasi limbah
hidrokarbon.
17
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Biodegradasi
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi biodegradasi hidrokarbon
diantaranya adalah, suhu, pH, kadar air, nutrisi yang tersedia dan komposisi
minyak serta kemampuan mikroba untuk melakukan biodegradasi.
Suhu
Suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan aktifitas dari mikroba.
Kemampuan mikroba dalam biodegradasi minyak bumi ditentukan juga oleh
kondisi suhu lingkungan. Suhu pertumbuhan optimum mikroba dikelompokkan
sebagai psikrofil (0- 30C), mesofil (25-40C ) dan termofil (50C atau lebih )
(Chan & Pelczar 1986). Dalam suatu proses degradasi suhu berpengaruh terhadap
sifat fisik dan kimia komponen-komponen bahan pencemar. Suhu rendah
memperlambat tingkat penguapan hidrokarbon dan beberapa kasus dapat
menimbulkan sifat toksik terhadap mikroba. Mikroba tanah dan air umumnya
bersifat mesofil yaitu suhu 25-40C , dan dari golongan ini kebanyakan digunakan
untuk penanggulangan pencemaran minyak bumi (Udiharto 1996).
Oksigen
Gas-gas utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba ialah oksigen dan
karbondioksida. Mikroba memperlihatkan keragaman yang luas dalam hal respon
terhadap oksigen bebas. Menurut Chan & Pelczar (1986); Wheeler & Volk
(1988), mikroba dapat dibagi menjadi beberapa kelompok umum berdasarkan
kebutuhan oksigen yaitu aerobik (mikroba yang membutuhkan oksigen),
anaerobik (tumbuh tanpa oksigen), anaerobik fakultatif (tumbuh pada keadaan
aerobik dan anaerobik) dan mikroaerofilik (tumbuh terbaik bila ada sedikit
oksigen atmosferik).
pH
pH suatu medium merupakan ukuran keasaman atau kebasaan. pH adalah
ukuran aktifitas kadar ion hidrogen (Wheeler & Volk 1988), pH optimum
pertumbuhan bagi kebanyakan mikroba adalah pada kisaran 6.5 7.5 (Chan &
18
Pelczar 1986). Alexander (1994) menyatakan bahwa untuk degradasi hidrokarbon
kisaran pH terbaik adalah pada 6.0 8.0.
Kadar air
Kadar air sangat penting untuk hidup, tumbuh dan aktivitas metabolik dari
mikroba. Tanpa air mikroba tidak dapat hidup dalam limbah minyak, mikroba
hidup aktif di interfase antara minyak dengan air. Kadar air harus berada pada
kondisi optimum yakni 10 25 %, agar transfer gas untuk proses oksigenase
dapat berjalan dengan baik (Fermiani 2003). Jika kandungan air terlalu tinggi
akan berakibat sulitnya oksigen untuk masuk ke dalam tanah .
Nutrisi
Mikroba dalam hidup dan pertumbuhannya memerlukan nutrisi atau
makanan sebagai sumber energi. Hidrokarbon minyak bumi akan dikonsumsi
oleh mikroba sebagai sumber karbon dan energi (Oetomo1997). Unsur-unsur
karbon beserta nitrogen dan phosfor yang tersedia dalam lingkungan akan
digunakan mikroba untuk pertumbuhan. Pada pencemaran minyak yaitu dengan
konsentrasi hidrokarbon yang tinggi akan terjadi ketidakseimbangan nutrisi.
Unsur karbon yang berlebihan perlu diseimbangkan dengan penambahan unsur
yang lain seperti nitrogen dan phosfor.
Nitrogen merupakan unsur pokok protein dan asam nukleat yang berperan
dalam pertumbuhan, perbanyakan sel dan pembentukan dinding sel. Beberapa
mikroba dapat menggunakan nitrogen dari atmosfer, tetapi kebanyakan
memperoleh nitrogen dalam bentuk terlarut di air. Beberapa senyawa kimia
sumber nitrogen yang banyak digunakan adalah amonium sulfat, amonium
phosfat dan amonium klorida (Nakayama 1982).
Phosfor merupakan komponen utama asam nukleat dan lemak sel membran
yang berperan dalam proses pemindahan energi secara biologi. Kebanyakan
phosfor yang siap diasimilasi adalah berbentuk fosfat yang terdapat pada pupuk.
phosfor selain penting untuk pertumbuhan mikroba, juga untuk pembentukan
asam amino, transpor energi dan pembentukan senyawa dalam reaksi metabolisme
(Baker&Herson 1994). Pemberian sumber phosfor pada biodegradasi hidrokarbon
19
mempunyai hubungan dengan penggunaan sumber nitrogen. Alexander (1994)
menyatakan perbandingan N dan P yang optimum untuk aktivitas mikroorganisme
adalah 5:1. Apabila limbah minyak digunakan sebagai sumber carbon dan energi,
nitrogen dan phosfor diperlukan pada perbandingan 5:1 atau 10:1. Obbard and
Ran (2003), C:N:P ratio 100:10:1 lebih baik jika dibandingkan dengan ratio C:N:P
100:1.1:0.05.
Bioremediasi dengan Kompos
Kompos adalah bahan-bahan organik yang telah mengalami proses
pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri) yang bekerja
di dalamnya (Murbandono 2001). Bahan-bahan organik dapat berasal dari
dedaunan, rumput, jerami, sisa-sisa ranting dan dahan, kotoran hewan, dan lain-
lain.
Bahan organik yang telah mengalami pengomposan mempunyai peranan
penting bagi perbaikan mutu dan sifat tanah yaitu: memperbaiki struktur tanah;
memperbesar kemampuan tanah untuk menampung air; memperbaiki drainase dan
atau tata udara tanah sehingga kandungan air mencukupi dan suhu tanah lebih
stabil; meningkatkan pengaruh positif dari pupuk buatan (sebagai penyeimbang
bila pupuk buatan membawa efek yang negatif); dan mempertinggi daya ikat
tanah terhadap zat hara (Murbandono 2001). Kompos selain berfungsi
memperbaiki mutu dan sifat tanah juga dapat digunakan untuk memperbaiki tanah
yang terkontaminasi dengan berbagai polutan organik (Fermor et al. 2001).
Selanjutnya dijelaskan bahwa penimbunan kompos dengan penambahan nutrisi
dapat meningkatkan aktifitas penguraian oleh mikroflora asli dari tanah yang
terkontaminasi.
Aplikasi bioremediasi menggunakan kompos mempunyai beberapa
keunggulan dan lebih ekonomis dibanding dengan teknik bioremediasi lainnya,
sehingga teknologi bioremediasi kompos lebih disenangi dan diminati (US-EPA
1997;1998). Beberapa keunggulan menggunakan kompos antara lain:
1. Kompos mempunyai keragaman populasi mikroba yang terlibat dalam proses
degradasi yakni sekitar 5 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan
kandungan mikroba dalam tanah yang subur.
20
2. Tingginya aktifitas mikroba dalam proses yakni sekitar 20 40 kali lebih aktif
dalam hal aktifitas dehidrogenasi dibanding dengan aktifitas dalam tanah yang
subur.
3. Kompos tidak mengandung hama dan penyakit serta tidak membahayakan
pertumbuhan atau produk tanaman.
4. Kompos dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit.
5. Kompos tidak mengakibatkan pencemaran dalam tanah, air ataupun udara.
6. Kompos merupakan absorben yang sangat baik untuk senyawa-senyawa
organik maupun anorganik.
Bioremediasi dengan cara pengomposan telah digunakan untuk berbagai
jenis polutan seperti pencemar klorofenol di tanah. Bioremediasi kompos
menurunkan klorofenol hingga 80 % (44 mg kg
-1
turun menjadi 10 mg kg
-1
)
(Laine and Jorgensen 1997). Pada tanah tercemar diazinon, penggunaan kompos
limbah media jamur dapat mendegradasi diazinon hingga 97,5 % (Jumbriah
2006). Secara umum bioremediasi limbah hidrokarbon dengan penambahan
kompos dilakukan pada skala pilot dan laboratorium membutuhkan waktu
bioremediasi antara 3 hingga 5 bulan mampu mendegradasi 25 % sampai dengan
97.5 %. Beberapa penelitian bioremediasi kompos disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2: Review penelitian bioremediasi kompos untuk limbah hidrokarbon
Hasil No. Bahan Metode Skala
Waktu Degradasi
Referensi
1. Minyak
pelumas
pada tanah
Bioremediasi
dengan biopile,
pengomposan,
penambahan
nutrien
Pilot 150 hari 73 % yaitu
2400 mg kg
-1
menjadi 700
mg kg
-1
Suortti
et al. 2000.
2. Minyak
disel
Pengomposan
dengan sampah
biologis
pilot 12 minggu 85 % Ryckeboer
et al.2003.
3. Gasolin
BTEX
Biofilter
dengan kompos
Lab. 4 bulan 85 % Vanderg-
heynst
et al. 2003.
4. Klorofenol Bioremediasi
kompos
Pilot 2 bulan, 80 %
(44 mg kg-
1
menjadi
10 mg kg
-1
)
Laine &
Jorgrnson
1997.
dilanjutkan
21
Tabel 2 lanjutan
5. Diazinon Bioremediasi
kompos limbah
jamur
Lab. 28 hari 97,5% Jumbriah
2006. Tesis
6. Bahan
peledak
TNT
Bioremediasi
pengomposan
Pilot 95 hari 92 %
direduksi
Fermor
et al. 2001.
7. Minyak
bumi
Bioremediasi
dengan
pengomposan,
bioaugmentation
Lab. 80 jam 25 % TPH
tereduksi,
sedangkan
penambahan
mikroba
tereduksi
55 %
Fermor
et al. 2001
8. PAH Bioremediasi
dengan
pengomposan,
bioaugmentation
Pilot 3 bulan 55 % Fermor
et al. 2001
9. Pestisida Bioremediasi
dengan
pengomposan
potongan daun
dan rumput
pilot 50 hari 47 % 2,4 D
mengalami
mineralisasi
Fermor
et al. 2001
10 Pyrene Bioremediasi
kompos
Lab. 20 hari 80 % adanya
kompos dan
tanpa
kompos
< 5 %.
Mahro &
Kasner
1993
Bioremediasi Berkelanjutan
Pada pelaksanaan bioremediasi yaitu penyehatan lingkungan dengan
menggunakan mikroba, merupakan suatu metode yang digunakan untuk
mengurangi adanya bahan pencemar di lingkungan. Lingkungan yang tercemar
oleh suatu bahan pencemar akan berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya
alam.
Konsep pembangunan berkelanjutan pertama kali diperkenalkan oleh the
World Commission on Environment and Development (WCED) pada tahun 1987
dengan judul Our Common Future (Kay & Alder 1999). Dalam laporan
tersebut terkandung definisi pembangunan berkelanjutan yaitu pembangunan yang
dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membatasi peluang generasi mendatang
untuk memenuhi kebutuhannya. Disini mengandung prinsip justice of fairness
yang bermakna manusia dari berbagai generasi yang berbeda mempunyai tugas
22
dan tanggung jawab satu terhadap yang lain seperti layaknya berada di dalam satu
generasi.
Konsep pembangunan berkelanjutan akan ada perpaduan antara dua kata
yang kontradiktif yaitu pembangunan (development) yang menuntut perubahan
dan pemanfaatan sumberdaya alam, dan berkelanjutan (sustainability) yang
berkonotasi tidak boleh mengubah di dalam proses pembangunan berkelanjutan.
Persekutuan antara kedua kepentingan ini pada dasarnya mengembalikan
developmentalis dan environmentalis back to basic yaitu oikos dimana
kepentingan ekonomi dan lingkungan hidup disetarakan (Saragih & Sipayung
2000). Selanjutnya Kay and Alder (1999) mengemukakan adanya tiga tema yang
terkandung dalam definisi pembangunan berkelanjutan yaitu: integritas
lingkungan, efisiensi ekonomi, dan keadilan kesejahteraan (equity). Pendapat ini
sesuai dengan yang dikemukakan oleh Munasinghe (1993) bahwa pembangunan
dikatakan berkelanjutan jika memenuhi tiga dimensi, yaitu: secara ekonomi dapat
efisien serta layak, secara sosial berkeadilan, dan secara ekologis untuk
kelestarian lingkungan (ramah lingkungan). Konsep berkelanjutan secara umum
dapat dikelompokkan ke dalam empat dimensi yaitu ekologi, sosial ekonomi,
sosial politik, hukum dan kelembagaan (Dahuri et al. 1996; Kay & Alder (1999).
Sedangkan Susilo (2003) menyatakan bahwa bukan pengelompokan aspek besar
tersebut yang penting tetapi atribut atau kriteria dari setiap aspek yang penting.
Pembangunan berkelanjutan dari dimensi ekologi memberikan penekanan
pada pentingnya menjamin dan meneruskan kepada generasi mendatang sejumlah
kuantitas modal alam (natural capital) yang dapat menyediakan hasil
berkelanjutan secara ekonomi dan jasa lingkungan termasuk keindahan alam.
Konsep lain yang masih berkaitan dengan hal tersebut adalah konsep pemanfaatan
sumberdaya tidak boleh melebihi jumlah yang dapat diproduksi atau dihasilkan
dalam kurun waktu yang lama.
Untuk menjamin keberlanjutan dari bioremediasi limbah hidrokarbon pada
tanah dalam jangka panjang dan lintas generasi, maka penerapan konsep
pembangunan berkelanjutan perlu dilakukan sebagai tanggung jawab dari generasi
sekarang terhadap hak-hak generasi yang akan datang. Penerapan konsep
pembangunan berkelanjutan menjadi lebih komprehensif untuk menjelaskan
23
pengertian dari suatu kegiatan dikatakan berkelanjutan. Oleh karena itu
bioremediasi limbah hidrokarbon pada tanah dikatakan berkelanjutan jika
memenuhi kriteria lebih besar dari 50 untuk masing-masing dimensi yaitu
ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.
Bioremediasi dikatakan memenuhi dimensi ekologi dalam konsep
pembangunan berkelanjutan jika limbah hasil bioremediasi memenuhi baku mutu,
dan tidak toksik. Atribut yang dapat digunakan untuk mencerminkan
keberlanjutan dimensi ini adalah pemanfaatan limbah hasil bioremediasi,
pemanfaatan lahan sekitarnya, kondisi tanah secara fisik (suhu, kelembaban),
kimia (pH, total petroleum hidrokarbon, nutrien N dan P) dan secara biologi yaitu
jumlah, dan jenis mikroba.
Bioremediasi dikatakan memenuhi dimensi ekonomi dalam konsep
pembangunan berkelanjutan jika bahan pencemar hasil bioremediasi dapat
dimanfaatkan. Dengan demikian atribut yang dapat digunakan untuk
mencerminkan keberlanjutan dimensi ini adalah bahwa dengan hilang atau
berkurangnya limbah tersebut maka tanah hasil bioremediasi dapat memberikan
nilai ekonomi. Lahan bekas bioremediasi akan memberikan nilai ekonomi jika
dibandingkan dengan lahan yang tercemar.
Bioremediasi dikatakan memenuhi dimensi sosial dalam konsep
pembangunan berkelanjutan antara lain adalah pemahaman masyarakat terhadap
lingkungan, kerjasama masyarakat dalam pengolahan limbah, tidak terjadi konflik
sosial. Untuk itu bioremediasi dikatakan berkelanjutan apabila ketiga dimensi
tersebut memenuhi standar yaitu indeks keberlanjutan lebih dari 50, setelah
dianalisis secara multidimensional.
Rapid Appraissal (RAP) Bioremediasi Limbah Hidrokarbon (BLH)
dengan Metode Multidimensional Scaling(MDS)
Rapid Appraissal (RAP) merupakan suatu teknik multi disiplin untuk
mengevaluasi keberlanjutan berdasarkan sejumlah atribut/indikator yang mudah
untuk di skoring (Fauzi & Anna 2005). Rap-BLH merupakan singkatan dari rapid
appraissal bioremediasi limbah hidrokarbon, akan dikembangkan pada penelitian
ini.
24
Rapid appraissal awalnya merupakan teknik yang dikembangkan (di
University of British Columbia Canada) untuk sumberdaya perikanan secara
multidisipliner. Metode ini termasuk sederhana dan fleksibel dengan menampung
kreativitas dalam pendekatannya terhadap suatu masalah. Metode ini memasukkan
pertimbangan-pertimbangan melalui penentuan atribut yang pada akhirnya
menghasilkan skala prioritas (Fauzi & Anna 2005).
Rapid appraissal merupakan teknik penilaian secara cepat terhadap status
kelestarian sumber daya dengan melihat komponen yang terkait (Supangat 2006).
Sejumlah komponen yang terkait dapat dibandingkan dengan melihat atribut dari
setiap dimensi. Atribut dari setiap dimensi yang akan dievalusi dapat dipilih untuk
merefleksikan keberlanjutan, serta dapat diperbaiki atau diganti ketika informasi
terbaru diperoleh (Fauzi & Anna 2005). Ordinasi dari setiap atribut digambarkan
dengan menggunakan Multidimesional Scaling (MDS).
Multidimesional scaling (MDS) pada dasarnya merupakan teknik statistik
yang mencoba melakukan transformasi multidimensi ke dalam dimensi yang lebih
rendah (Fauzi & Anna 2005). Metode ini dapat menangani data non-parametric,
dan juga dikenal sebagai metode ordinasi dalam ruang (dimensi) yang diperkecil
(ordination in reduce space). Ordinasi sendiri merupakan proses yang berupa
plotting titik obyek (posisi) disepanjang sumbu-sumbu yang disusun menurut
hubungan tertentu atau dalam sebuah sistem grafik yang terdiri dari dua atau lebih
sumbu (Legendre 2003). Melalui metode ordinasi, keragaman (dispersion) multi
dimensi dapat diproyeksikan di dalam bidang yang lebih sederhana dan mudah
dipahami.
Menurut Susilo (2003) atribut-atribut pembangunan berkelanjutan dari
setiap dimensi tersebut dapat dianalisis dan digunakan untuk menilai secara cepat
status keberlanjutan pembangunan sektor tertentu dengan menggunakan metode
multi variable non-parametrik yang disebut multidimensional scaling (MDS).
Metode ini belum pernah digunakan untuk menganalisis keberlanjutan
bioremediasi limbah hidrokarbon. Metode ini pernah digunakan untuk
mengevaluasi pembangunan perikanan yang dikenal dengan RAPFISH (The rapid
appraisal of the status of fisheries) (Kavanagh 2001; Fauzi & Anna 2005).
Keberlanjutan usaha tani pola padi sawah-sapi potong terpadu (Rap-CLS)
25
Suwandi 2005, indeks keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil disebut
RAPSMILE (rapid appraisal os small islands development) (Susilo 2003), dan
untuk menghitung indeks keberlanjutan dari pengembangan sistem budidaya sapi
potong disebut Rap-SIBUSAPO (rapid appraisal sistem budiadaya sapi potong)
(Mersyah 2005), Model pengelolaan sumberdaya hutan berkelanjutan di sebut
Rap-Insusforma (rapid appraisal indeks sustainable for forestry management
(Marhayudi 2006), seperti tercantum pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil penelitian yang menggunakan metode multidimensional
Scaling (MDS).
No. Judul Penelitian Hasil Peneliti
1. Evaluasi status
keberlanjutan
sumberdaya perikanan:
aplikasi pendekatan
Rapfish (studi kasus
perairan pesisir DKI
Jakarta)
Keberlanjutan sumberdaya
perikanan yang dikelompokkan
ke dalam 5 dimensi yaitu ekologi,
ekonomi, sosial, teknologi
danetika. Atribut yang sensitif
berpengaruh terhadap status
keberlanjutan masing-masing
dimensi adalah: 1. dimensi
ekonomi:marketable right, sector
employment, dan other income; 2.
Dimensi social: education level,
environmental knowledge, fishing
income; 3. dimensi teknologi;
selective gear, on-board handling
ice dan gear;4. Dimensi etika:
just management, illegal
fishing;5. Dimensi ekologi: range
collapse, change in level, dan size
of fish caught.
Fauzi
& Anna (2005)
2. Keberlanjutan
pembangunan pulau-
pulau kecil: Studi kasus
Kelurahan Pulau
panggang, Pulau Pari,
Kepulauan Seribu, DKI
jakarta
Pembangunan Pulau-Pulau kecil
belum berkelanjutan dilihat dari
lima dimensi yang dikaji
(ekologi, ekonomi, sosial,
teknologi, hukum dan
kelembagaan. Dimensi ekonomi
memiliki nilai keberlanjutan yang
paling rendah.
Susilo (2003)
3. Desain system
budidaya sapi potong
berkelanjutan untuk
mendukung
pelaksanaan otonomi
daerah di Kabupaten
Bengkulu Selatan
Sistem budidaya sapi potong
termasuk kategori cukup
berkelanjutan. Dari lima dimensi
yang dikaji (ekologi,ekonomi,
sosial, teknologi, hukum dan
kelembagaan) didapatkan bahwa
dimensi ekonomi memiliki nilai
keberlanjutan yang tertinggi dan
yang terendah adalah sosial.
Mersyah
(2005)
dilanjutkan
26
Tabel 3 lanjutan
4. Model pengelolaan
sumberdaya hutan
berkelanjutan di wilayah
perbatasan Kalimantan
Barat
Indeks keberlanjutan pengeolaan
sumberdaya hutan termasuk
dalam kategori kurang
berkelanjutan dilihat dari dimensi
ekologi, ekonomi, sosial,
teknologi, hukum, kelembagaan.
Nilai indeks terendah yaitu
dimensi teknologi.
Marhayudi
(2006)
5 Indeks Keberlanjutan
Pengembangan Kawasan
Sentra Produksi Jeruk
dengan Rap-CITRUS
Studi Kasus di Kabupaten
Agam, Sumatera Barat
Indeks keberlanjutan
pengembangan kawasan sentra
produksi jeruk dari dimensi
ekologi dan sosial berkelanjutan,
sedangkan untuk dimensi
ekonomi, teknologi, kelembagaan
tidak berkelanjutan
Iswari (2008)
Fauzi & Anna (2005) menyatakan bahwa prosedur rapid appraisal indeks
keberlanjutan sumberdaya dilakukan melalui lima tahapan yaitu : (1) Analisis
terhadap data sektor yang diteliti melalui studi literatur dan pengamatan
dilapangan;(2) Melakukan skoring dengan mengacu pada literatur dengan
menggunakan Excell; (3) Melakukan analisis MDS dengan software SPSS
(statistical products and solution services) untuk menentukan ordinasi dari nilai
stress melalui ALSCAL (alternating lest squares approach to scaling); (4)
Melakukan rotasi untuk menentukan posisi sumberdaya pada ordinasi bad dan
good dengan excel dan visual basic; (5) Melakukan sensitivity analysis dan Monte
Carlo Analysis untuk memperhitungkan aspek ketidakpastian.
Pendekatan multidimensional telah banyak digunakan untuk analisis
ekologis. Pendekatan ini juga telah dikembangkan untuk analisis lingkungan
dimana salah satu metode yang digunakan adalah metode multidimensional
scaling (Susilo 2003). Secara umum penelitian analisis indeks keberlanjutan
dengan menggunakan metode multidimensional scaling dapat digunakan untuk
mengetahui nilai keberlanjutan dari suatu kegiatan.
Teori Respon Surface Methodologi (RSM)
Response surface methodology (RSM) adalah kumpulan teknik matematika
dan statistik yang digunakan untuk membentuk model dan menganalisis problem
dalam suatu respon yang dipengaruhi oleh beberapa peubah dan bertujuan untuk
mengoptimasi respon ini. Teknik ini digunakan untuk menjawab pertanyaan-
27
pertanyaan: (1) bagaimana pengaruh pemberian input terhadap respon; (2)
keadaan bagaimana dari input yang akan memberikan suatu hasil yang secara
bersamaan memenuhi spesifikasi yang diharapkan; (3) pada nilai input berapa
akan memberikan hasil maksimum untuk respon tertentu. RSM tidak menangani
faktor acak, dan digunakan apabila perlakuan yang diberikan tarafnya kuantitatif
(Lorenzen et al. 1993).
Sebagai contoh seorang insinyur kimia mengharapkan untuk mendapatkan
level dari temperatur (x
1
) dan tekanan (x
2
) yang dapat memaksimumkan hasil (y)
dari suatu proses. Hasil dari proses adalah fungsi dari level temperatur dan
tekanan yang dapat ditulis sebagai : y = f (x
1
,x
2
)+ , dimana adalah galat (error)
yang dapat diobservasi dari respon y. Jika ekspektasi untuk respon dinyatakan
oleh E (y)= f (x
1
,x
2
)= , maka surface (permukaan) dinyatakan oleh = f (x
1
,x
2
)
yang dikenal sebagai response surface, atau dengan perkataan lain response
surface adalah fungsi regresi dalam regresi ganda (Montgomery 1991). Untuk
mengvisualisasikan bentuk dari response surface, maka dapat digambarkan
kountur dari response surface seperti disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Gambar tiga dimensi response surface
28
Response surface methodology (RSM) bentuk hubungan antara respon dan
peubah bebasnya tidak diketahui. Langkah pertama dalam RSM adalah untuk
mendapatkan suatu pendugaan yang cocok untuk fungsi yang sebenarnya antara
respon dan himpunan peubah bebasnya. Untuk pendugaan ini biasanya digunakan
suatu polinomial ordo rendah (low-order polynomial). Jika respon telah
dimodelkan dengan baik oleh fungsi linear dari peubah bebasnya, maka fungsi
yang diduga adalah model ordo pertama dan kedua :
y =
0
+
1
x
1
+
2
x
2
+ ......... +
k
x
k
+ . Persamaan (1).
y=
0
+
1
x
1
+
2
x
2
+ ... +
k
x
k
+ . Persamaan (2).
Hampir semua persoalan RSM menggunakan salah satu dari kedua model
ini. Model polinomial bukan satu-satunya model untuk menduga hubungan fungsi
yang sebenarnya, tetapi untuk wilayah yang relatif kecil maka model polinomial
dapat digunakan dengan baik.
RSM bertujuan menentukan titik operasi optimum. Bila daerah optimum
telah diperoleh maka model yang lebih luas dapat dibentuk, dan analisis dapat
menuju daerah optimum lokal. Pada Gambar 3 terlihat bahwa analisis response
surface dapat dibayangkan seperti mendaki sebuah lembah, dimana pada puncak
lembah terdapat titik respon maksimum. Jika optimum pada titik respon
minimum, maka dapat dibayangkan seperti menurun lembah.
Karakter dari RSM, setelah menemukan titik stationer, menentukan apakah
titik stasioner merupakan titik respon maksimum atau minimum atau titik pelana
(saddle point), dan juga untuk mempelajari respon yang cukup sensitif terhadap
variabel-variabel x
1,
x
2
, ..., x
k
. Cara yang paling mudah untuk menentukan hal
tersebut dengan meneliti contor plot dari model yang telah dibuat. Bila hanya ada
dua atau tiga peubah proses (x), maka membentuk dan menginterpretasikan contor
plot relatih mudah.
CCD (central composite design) digunakan untuk model ordo kedua. CCD
adalah rancangan yang sangat efisien untuk model ordo kedua. Ada dua parameter
dalam rancangan harus ditentukan yaitu nilai (1.414) dari percobaan dan nilai
titik pusat n
c
(0). CCD dapat dilihat pada Tabel 4.
29
Tabel 4. Central Composite Design (CCD)
Code Variable Run
X
1
X
2
1 -1 -1
2 -1 1
3 1 -1
4 1 1
5 0 0
6 0 0
7 0 0
8 1.414 0
9 -1.414 0
10 0 1.414
11 0 -1.414
Metode response surface ini telah digunakan untuk menganalisis
bioremediasi tanah tercemar diazinon (Jumbriah 2006), dan penggunaan surfaktan
linear alkilbenzena sulfonat (LAS) dan nisbah C/N pada bioremediasi tanah
tercemar limbah minyak bumi (Dewi 2005). Hasil penelitian Jumbriah (2006),
bakteri yang terdapat dalam kompos mampu mendegradasi diazinon sebesar
97.5%. Bentuk permukaan respon dari pengaruh interaksi ketiga faktor (waktu,
jumlah kompos, dan konsentrasi diazinon) terhadap penurunan diazinon dapat
diketahui bahwa dengan bertambahnya waktu dan jumlah kompos yang lebih
tinggi maka penurunan diazinon juga semakin besar. Interaksi antara waktu
dengan jumlah kompos mencapai titik optimum penurunan konsentrasi diazinon.
Dari perlakuan ini diketahui interaksi ketiga faktor akan mempengaruhi optimum
penurunan konsentrasi diazinon.
Kemudian metode ini juga digunakan oleh Dewi (2005) terhadap analisis
optimasi dan hasil analisis bahwa permukaan respon degradasi TPH optimum
diperoleh dengan penambahan surfaktan 1.57 % dan nisbah C/N sebesar 40:4.109
mol mampu mendegradasi TPH sebesar 82.2 % selama 42 hari. Dari perlakuan ini
diketahui interaksi antara ketiga faktor (waktu, surfaktan dan nisbah C/N) akan
mempengaruhi optimasi penurunan konsentrasi TPH.
30
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Perairan Departemen
Teknologi Hasil Perairan (THP) Fakultas Perikanan IPB dari bulan Januari
Agustus 2007. Penelitian analisis keberlanjutan dari proses bioremediasi
dilakukan di lokasi bioremediasi limbah bengkel KPC Kalimantan Timur pada
bulan Nopember Desember 2007.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu tanah segar, limbah bengkel
(minyak pelumas bekas, minyak diesel bekas dan gasolin), aquades, tripton, NaCl,
yeast extract, agar, pepton, alkohol untuk sterilisasi, kloroform, heksan, gel silika,
kompos dari sampah kota, bakteri.
Alat yang digunakan yaitu: erlenmeyer, gelas ukur, tabung reaksi, cawan
petri, jarum ose (lup inokulasi), vortex, inkubator, ruang aseptik, aluminium foil,
kapas, timbangan analisis, bunsen, kertas label, lampu bunsen, tabung ependorf
steril, korek api, hot plate, oven, shaker, botol, magnetic stirrer, thermometer, pH
indikator (pH 4.0 7.0).
Tahapan Penelitian
Penelitian pendahuluan
Penelitian pendahuluan ditujukan untuk mengetahui kondisi eksisting
pengolahan limbah bengkel (metode bioremediasi). Karakteristik awal dari tanah
yang tercemar limbah bengkel diambil dari data sekunder (laporan hasil uji TPH)
di lokasi pengolahan limbah bengkel Kaltim Prima Coal (KPC). Bioremediasi
yang dilakukan di lapangan yaitu metode landfarming dengan bioaugmentation
(penambahan bakteri Petro petrio), bioremediasi dilakukan selama 3 (tiga) bulan.
Penelitian limbah bengkel pada skala laboratorium dilakukan dengan
menggunakan kompos sampah kota (Galuga, Bogor) dan bioaugmentation.
Bakteri yang digunakan merupakan inokulan dari campuran Arthrobacter simplex,
Mycobacterium phlei dan Pseudomonas aeruginosa koleksi Laboratorium
31
Bioteknologi THP FPIK IPB. Inokulan dikultur dengan menggunakan media
yeast extract 5 g l
-1
, pepton 5 g l
-1
, glukosa 1 g l
-1
, pH media 7. Inokulan
dimasukkan kedalam erlenmeyer yang berisi media, dilakukan secara aseptik,
diinkubasi selama 24 jam. Jumlah inokulan yang digunakan pada penelitian yaitu
5 % v/w, 10 % v/w dan 15 % v/w. Penelitian dilakukan selama 1 (satu) bulan.
Kemudian dilanjutkan dengan optimasi degradasi TPH menggunakan kompos dan
bakteri selama 16 minggu. Pada penelitian dilakukan analisis terhadap tanah.
Parameter yang dianalisis yaitu: suhu, pH, kadar air tanah, C,N,P, bobot minyak,
TPH dan jenis mikroba.
Bioremediasi skala laboratorium
Pada penelitian ini sudah diketahui karakteristik awal dari tanah yang
terkontaminasi oleh minyak pelumas, minyak diesel dan gasolin yang
mengandung hidrokarbon. Kemudian dilakukan bioremediasi terhadap tanah yang
tercemar limbah hidrokarbon. Metode yang digunakan yaitu biostimulasi kompos
dan bioaugmentation. Kompos yang digunakan dianalisis terlebih dahulu jenis
mikroba. Tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Kompos digunakan untuk menstimulasi tanah yang tercemar. Langkah-
langkah penelitian:
1. Tanah segar sebanyak 5 kg dimasukkan ke dalam bak plastik
2. Perlakuan yang diberikan yaitu: minyak 15 % v/w (minyak pelumas 60%+
disel 20% + gasolin 20%) ; kompos 10 %, 20 %, 30 % (w/w) ; dan inokulan
5 % (v/w), 10 %(v/w), 15 % (v/w).
3. Melakukan pengadukan secara manual untuk memberikan kandungan oksigen,
3 kali seminggu, dan penyemprotan air untuk menjaga kelembaban tanah
kali/minggu.
5. Pengambilan sampel tanah untuk menghitung jumlah mikroba (populasi
mikroba) dua minggu sekali. Untuk pengamatan suhu ruang setiap hari , pH
setiap dua minggu , kadar air tanah pada awal dan akhir. Identifikasi mikroba
dilakukan pada awal dan akhir penelitian.
6. Pengambilan sampel tanah untuk analisis bobot minyak yaitu setiap 2 minggu
dan untuk analisis TPH setiap bulan (4 minggu sekali) selama 16 minggu.
32
Tahapan Peneltian 1
Tahapan II
Tahapan III
Gambar 4. Tahapan penelitian biostimulasi dan bioaugmentation untuk
bioremediasi limbah hidrokarbon seta analisis keberlanjutan
Inokulan (%):
5, 10, 15
Kompos (%):
10, 20, 30
Mikroba
koleksi lab
THP
Tanah (5 kg)+ TPH 5.15 % (simulasi
Lab.)
identifikasi
bakteri
Analisis suhu/hari,pH , bobot minyak/2 minggu selama 16
minggu, Analisis TPH/ 4 minggu selama 16 minggu
Analisis suhu/hari,pH, kadar air,
bobot minyak/2 minggu/TPH selama 1 bulan
Identifikasi
bakteri
Optimalisasi + kompos (%): 10; 20; 30 +
inokulan(%): 5; 10; 15
Penurunan TPH Optimal
Analisis MDS Bioremediasi limbah hidrokarbon
yang berkelanjutan
Mulai
Kondisi di
workshop (survey)
Perlakuan
dapat dilihat
pada Tabel 6
Selesai
TPH,pH,N,P, atribut
secara ekologi, ekonomi
dan sosial
33
Metode Analisis
Parameter yang dianalisis yaitu: Suhu, pH, kadar air tanah, C, N, P, bobot
minyak,TPH, jumlah populasi dan jenis mikroba. Selama penelitian parameter
yang diamati: Suhu, pH, bobot minyak dan jumlah populasi mikroba, sedangkan
untuk analisis TPH per empat minggu .
Suhu
Suhu adalah merupakan salah satu faktor ekologis yang sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan dan penyebaran hewan (merupakan faktor pembatas).
Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer raksa.
Pengamatan dilakukan pada setiap hari (mulai dari awal sampai akhir penelitian).
pH
pH tanah dapat diukur dengan menggunakan kertas lakmus (pH indikator).
5 g tanah dimasukkan dalam botol, ditambahkan 5 ml air destilasi, dikocok selama
10 menit dan diamkan selama 5 menit. Kertas lakmus dicelupkan dengan hati-hati
pada cairan bening di atas lumpur tanah. Warna kertas lakmus disesuaikan
dengan daftar warna di kotak lakmus dan dicatat pHnya. pH tanah diukur pada
setiap perlakuan setiap 2 minggu.
Kadar air (kelembaban)
Kadar air total tanah adalah kadar air tanah yang diperoleh dengan jalan
pengeringan tanah kering udara dalam oven pada suhu 105 C sehingga bobotnya
tetap (Dasar-dasar Ilmu Tanah 1996). Contoh tanah ( 10 g) dimasukkan kedalam
botol yang bersih dan kering, kemudian dimasukkaan kedalam oven pada suhu
105 C selama 24 jam.
Unsur Hara
N Total dianalisis dengan metode Kjeldahl, kadar karbon dengan metode
Walkley and Black (Black et al. 1965) dan kadar phosphor dengan metode Bray
and Kurtz (Black et al. 1965).
34
Metode Gravimetri
Penentuan berat minyak dalam tanah.
Tanah sebanyak 5 gram, dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan
dengan 15 ml kloroform (CHCl
3
), kemudian ditutup dan diaduk menggunakan
shaker pada 200 rpm selama 30 menit. Setelah itu disaring dengan kertas saring
ukuran sedang dengan bantuan corong dan ditampung hasil ekstraksinya ke dalam
botol yang sudah diketahui beratnya (y). Hasil ekstraksi disimpan hingga seluruh
kandungan chloroform menguap. Botol ditimbang kembali (x) dan ditetapkan
kandungan minyak melalui perhitungan.
(x y)
Bobot minyak (g/g) = -------------- x 1000
gram contoh
Keterangan :
x = berat botol + minyak (gram)
y = berat botol kosong (gram)
Total petroleum hidrokarbon (TPH) dengan metode gravimetri
Bobot minyak yang sudah diuapkan dengan kloroform, kemudian dilarutkan
kembali dengan heksan dan ditambahkan dengan silica gel untuk menghilangkan
senyawa-senyawa polar dan kemudian disaring dan ditampung dalam wadah
(yang sudah diketahui berat). Pelarut diuapkan kembali dan setelah itu ditimbang
berat (wadah yang berisi hasil ekstrak) yang tidak terdegradasi (TPH).
Presentase total petroleum hidrokarbon dengan menggunakan rumus :
(x y)
TPH (%) = -------------- x 100 %
gram contoh
Keterangan :
x = berat botol + TPH (gram)
y = berat botol kosong (gram)
35
Persentasi degradasi TPH dengan rumus :
Tmbo - Tmbn
% B =
_____________________
x 100 %
Tmbo
Keterangan :
% B = persentase biodegradasi
Tmbn = total TPH akhir
Tmbo = total TPH awal
Identifikasi Bakteri
Untuk mengetahui jenis mikoba yang ada dalam tanah yang terkontaminasi
minyak pelumas, minyak disel, gasolin dan juga pada kompos dilakukan
identifikasi terhadap mikroba dengan metode Bergey's manual of Determinative
Bakteriology (Holt & Krieg 1983). Identifikasi dilakukan di Laboratorium
Bakteriologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Isolat yang telah dimurnikan diidentifikasi dengan menggunakan microbact
24E. Sebelum diidentifikasi perlu dilakukan pemurnian isolat dan pengujian gram
negatif, motilitas, katalase, dan oksidase. Hasil pengamatan dicatat dan
dicocokkan dengan data dasar determinasi yang tersedia beserta microbact 24E.
Mikroba yang telah diidentifikasi tersebut selanjutnya ditumbuhkan pada media
agar (yeast extract, tripton, glukosa, agar) dan disimpan pada suhu < 4
o
C sebagai
kultur.
Ciri morfologi dan ciri mikroskopis yang diamati meliputi bentuk koloni,
warna koloni, bentuk tepian, diameter koloni, bentuk sel dan motilitas, serta
pewarnaan gram. Ciri-ciri fisiologis (biokimia diuji dengan microbact 24E yang
terdiri atas 24 sumur reaksi pengujian biokimia ditambah uji oksidasi, nitrat, dan
motilitas). Biakan yang diamati ciri fisiologisnya ditumbuhkan pada media agar
NA. Sebanyak satu lup biakan disuspensikan ke dalam larutan garam fisiologis
(NaCl 0.9 %). 200 l suspensi kultur diteteskan ke dalam sumur microbact 24E.
Setelah diinkubasi semalam pada suhu 37
o
C, ke dalam setiap sumur ditetesi
reagen mordant iodium sesuai dengan uji yang dilakukan. Reaksi yang terbentuk
dibandingkan dengan standar.
36
Perhitungan Jumlah Bakteri
Populasi bakteri dapat diamati dengan cara memipet 0.1 ml sampel yang
sudah diencerkan (10
-1
- 10
-6
) ke dalam larutan fisiologis (NaCl 0.85%) yang akan
dimasukkan ke dalam media NA (Nutrient agar) dilakukan secara aseptik
(menggunakan clean bench). Untuk mensterilkan clean bench disemprot dengan
alkohol lalu disinari dengan lampu UV selama 15 20 menit. Kemudian ke dalam
cawan petri dimasukkan agar cair (yeast extract, tripton, glukosa dan agar)
sebanyak 15 ml, steril yang telah didinginkan 47 50 C. Setelah agar memadat,
cawan-cawan tersebut diinkubasi di dalam inkubator pada suhu 30 C dan diamati
pada waktu 24 jam, 48 jam dan 96 jam. Data dapat digunakan jika jumlah koloni
antara 30- 300. Bila jumlah koloni lebih dari 300, maka perlu dilakukan
pengenceran, dan dilakukan teknik seperti di atas kembali.
Optimasi menggunakan RSM
Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua faktor yaitu persentase
kompos (X
1
) dan inokulan (X
2
). Untuk menentukan perlakuan yang terbaik
pada proses bioremediasi total petroleum hidrokarbon (TPH), dilakukan optimasi
menggunakan metode permukaan respon (response surface methods). Masing-
masing peubah uji terdiri dari tiga taraf yaitu volume kompos 10 % (w/w), 20 %
(w/w), 30 %(w/w), dan volume inokulan 5 % (v/w), 10 % (v/w), 15 % (v/w)
disajikan pada Tabel 5
Tabel 5. Kisaran dan taraf peubah uji optimasi bioremediasi
Jenis perlakuan Nilai rendah
(-1)
Nilai tengah
(0)
Nilai tinggi
(+1)
Kompos (%) 10 20 30
Inokulan % (v/w) 5 10 15
Pada penelitian ini digunakan central composite design (CCD) menurut
(Montgomery 1991). Untuk menentukan perlakuan seperti disajikan pada Tabel 6
dengan nilai tengah 20 % kompos, dan10 %(v/w) inokulan diulang 3 kali.
37
Tabel 6. Matriks satuan percobaan pada optimasi proses bioremediasi
rancangan komposit fraksional.
Kode Nilai asli Penamaan
No Kompos Inokulan Kompos (%) Inokulan (%)
1 1 1 30 15 A
2 -1 1 10 15 B
3 1 -1 30 5 C
4 -1 -1 10 5 D
5 0 0 20 10 E1
6 0 0 20 10 E2
7 0 0 20 10 E3
8 1.414 0 34,14 10 F
9 -1.414 0 5,86 10 G
10 0 1.414 20 17,07 H
11 0 -1.414 20 2,93 I
Dengan dua peubah uji kompos dan inokulan maka model kuadratiknya
seperti pada persamaan berikut:
Y
i
= b
o
+ b
1
x
1i
+ b
2
x
2i
+ b
11
x
1i
2
+ b
22
x
2i
2
+ b
12
x
1i
+ r
i
Keterangan :
Y = respon dari masing-masing perlakuan
x = (x
1
: volume kompos; x
2
:volume inokulan)
b = koefisien parameter r = galat
Multidimensional Scaling (MDS)
Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu tahapan penentuan atribut
bioremediasi limbah hidrokarbon secara berkelanjutan yaitu mencakup 3 dimensi
(ekologi, ekonomi, sosial-budaya), tahapan penilaian setiap atribut dalam skala
ordinal berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi. Penyusunan indeks dan
status keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dikaji setiap dimensi.
Berdasarkan hasil pengamatan bioremediasi di lapangan maka setiap atribut
diberikan peringkat atau skor yang mencerminkan keberlanjutan dari dimensi
yang bersangkutan. Skor ini menunjukkan nilai yang buruk di satu ujung dan
nilai baik di ujung yang lain. Nilai buruk mencerminkan kondisi yang paling tidak
menguntungkan bagi bioremediasi limbah hidrokarbon yang berkelanjutan.
Sebaliknya nilai baik mencerminkan kondisi yang paling menguntungkan.
diantara dua ekstrem nilai ini terdapat satu atau lebih nilai antara tergantung dari
38
jumlah peringkat pada setiap atribut. Jumlah peringkat pada setiap atribut akan
ditentukan oleh tersedia tidaknya literatur yang dapat digunakan untuk
menentukan jumlah peringkat. Penentuan atribut disajikan pada Tabel 7.
Proses ordinasi Rap-BLH ini menggunakan perangkat lunak modifikasi
rapfish (Kavanagh 2001). Perangkat lunak rapfish ini merupakan pengembangan
MDS yang terdapat pada perangkat lunak SPSS, untuk proses rotasi, kebalikan
posisi (fliping), dan beberapa analisis sensitivitas telah dipadukan menjadi satu
perangkat lunak.
Melalui MDS ini maka posisi titik keberlanjutan dapat divisualisasikan
dalam dua dimensi (sumbu horizontal dan vertikal). Untuk memproyeksikan titik-
titik tersebut pada garis mendatar dilakukan proses rotasi, sedangkan titik ekstrem
buruk diberi nilai skor 0 dan titik ekstrem baik diberi skor nilai 100. Posisi
keberlanjutan yang dikaji akan berada diantara dua titik ekstrem tersebut. Nilai ini
merupakan nilai indeks keberlanjutan bioremediasi untuk limbah hidrokarbon.
Skala indeks keberlanjutan mempunyai selang 0 - 100, Jika yang dikaji
mempunyai nilai indeks lebih dari 50 (> 50) maka sustainable, dan sebaliknya
jika kurang atau sama dengan 50 ( 50) maka belum sustainable. Pada penelitian
yang dilakukan (Fauzi & Anna 2005; Suwandi 2005; Mersyah 2005; Marhayudi
2006) membuat empat kategori status keberlanjutan berdasarkan skala tersebut
yaitu: skala indek 75 - 100 kategori: baik ; skala indek 50 - 75 kategori : cukup;
skala indek 25 - 50 kategori: kurang ; skala indek 0 - 25 kategori: buruk. Iswari
(2008) nilai indeks lebih dari 50 (> 50) maka berkelanjutan, dan sebaliknya jika
kurang atau sama dengan 50 ( 50) maka belum berkelanjutan.
Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas untuk melihat atribut apa yang
paling sensitif memberikan konbtribusi terhadap indeks keberlanjutan
bioremediasi yang dilakukan. Sensitivitas dihitung berdasarkan standar error
perbedaan antara skor dengan atribut dan skor yang diperoleh tanpa atribut.
39
Tabel 7. Atribut-atribut dan skor keberlanjutan bioremediasi limbah
hidrokarbon
Dimensi dan atibut Skor Baik Buruk Keterangan
Ekologi
Pemanfaatan limbah
bengkel (oli)
0; 1;2 2 0 (0) dibuang (1) tidak
dimanfaatkan; (2)
diolah/dimanfaatkan
Tempat pembuangan
limbah
0; 1;2 2 0 (0)dibuang ke tanah ;
(1)ditampung; (2)
ditampung dan diolah
Pengolahan limbah
(bioremediasi)
0; 1; 1 0 (0) tidak ada; (1) ada
Tingkat pemanfaatan
lahan sekitar untuk
pertanian/perkebunan
0; 1; 2 2 0 (0)rendah; (1) sedang; (2)
tinggi
Tingkat pemanfaatan
lahan sekitarnya untuk
pemukiman
0; 1;2 2 0 (0) tinggi (1) sedang (2)
kurang
Tingkat pencemaran
lingkungan sekitarnya
0; 1 2 0 (0) tercemar (1); tidak
tercemar
Suhu tanah 0; 1 1 0 (0) < 25
o
C& > 40
o
C; (1)
25
o
C 40
o
C
pH tanah 0; 1 1 0 (0) < 6.0 & > 8.0 ; (1) 6.0
8.0
Kelembaban tanah 0; 1 1 0 (0) < 25 % & > 80 % ; (1)
25 % - 80 %
Total Petroleum
Hidrokarbon (TPH)
dalam tanah
0; 1 ; 2 2 0 (0) > 10.000 g/g ; (1) =
10.000 g/g= 1% ; (2) <
10.000 g/g
Nutrisi ( N)total tanah
dan Phospor (P) total
tanah
0; 1 1 0 (0) < 5 : 1; > 10: 1; (1) 5:1
10: 1
Jumlah bakteri 0 ; 1 1 0 (0) sedikit ; (1) banyak
Identifikasi mikroba 0; 1 1 0 (0) tidak ada; (1) ada
Dimensi ekonomi
Jumlah tenaga kerja 0; 1 ; 2 2 0 (0) sedikit; (1) sedang ; (2)
banyak
Tingkat pendapatan
tenaga kerja
0; 1; 2 2 0 (0) < UMR; (1) = UMR;
(2) > UMR
Harga limbah (oli
bekas)
0; 1 ; 2 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2)
tinggi
Biaya pengolahan
limbah
0 ; 1 ; 2 2 0 (0) tinggi/mahal; (1)
sedang; (2) rendah/murah
Nilai lahan tercemar 0 ; 1; 2 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2)
tinggi
Nilai lahan sekitarnya 0 ; 1; 2 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2)
tinggi
Kontribusi terhadap
pemerintah setempat
(pajak)
0 ; 1 1 0 (0) tidak ada; (1) ada
dilanjutkan
40
Tabel 7 lanjutan
Dimensi Sosial
Tingkat pendidikan
formal masyarakat
0 ; 1; 2 2 0 (0); dibawah rata-rata
nasional ; (1) sama dengan
rata-rata nasional ; (2)diatas
rata-rata nasional
Pengetahuan
masyarakat mengenai
lingkungan
0 ; 1 1 0 (0) tidak tahu; (1) tahu
Pengetahuan
masyarakat mengenai
limbah
0 ; 1 1 0 (0) tidak tahu; (1) tahu
Peran masyarakat
dalam pengelolaan
lingkungan/ limbah
0 ; 1 1 0 (0) tidak berperan; (1)
berperan
Sosialisasi tentang
pengelolaan
lingkungan /limbah
0 ; 1 1 0 (0) tidak ada; (1) ada
Tingkat penyerapan
tenaga kerja
masyarakat sekitarnya
0 ; 1 ; 2 2 0 (0) rendah; (1) sedang; (2)
tinggi
Jarak pemukiman
dengan
bengkel/pengolahan
limbah
0 ; 1 ; 2 2 0 (0) dekat; (1) sedang; (2)
jauh
Pemanfaatan daerah
sekitarnya oleh
masyarakat
0 ; 1 1 0 (0) tidak dimanfaatkan; (1)
dimanfaatkan
Pengaruh terhadap
daerah sekitarnya
0; 1; 2 2 0 (0) berpengaruh (-); (1)
tidak berpengaruh; (2)
berpengaruh (+)
Untuk mengevaluasi pengaruh galat (error) acak pada proses pendugaan
nilai ordinasi bioremediasi untuk limbah hidrokarbon pada tanah digunakan
analisis Monte Carlo. Menurut Kavanagh (2001); Fauzi dan Anna (2005) analisis
Monte Carlo berguna untuk mempelajari hal-hal:
1. Pengaruh kesalahan pembuatan skor atribut yang disebabkan oleh
pemahaman kondisi lokasi penelitian yang belum sempurna atau kesalahan
pemahaman terhadap atribut atau kesalahan pembuatan atribut.
2. Pengaruh variasi pemberian skor akibat perbedaan opini atau penilaian
oleh peneliti yang berbeda.
3. Stabilitas proses analisis MDS yang berulang-ulang (iterasi).
4. Kesalahan pemasukan data atau adanya data yang hilang (missing data).
5. Tingginya nilai stress (nilai stress dapat diterima jika < 25 %, Kavanagh
2001).
41
Secara lengkap analisis Rap-BLH menggunakan metode MDS dengan
aplikasi rapfish disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Tahapan analisis Rap-BLH menggunakan MDS
dengan modifikasi Rapfish
Kondisi di lingkungan workshop
MDS (ordinasi setiap atribut)
Penilaian (skor) setiap atribut
Penentuan atribut sebagai kriteria penelitian
Analisis Monte Carlo
Analisis Keberlanjutan
Analisis sensitivitas
Mulai
59
Bioremediasi Limbah Hidrokarbon serta Analisis Keberlanjutan
Penilaian terhadap status keberlanjutan bioremediasi untuk limbah
hidrokarbon dianalisis dengan metode multidimensional scaling (MDS) dan
disebut dengan metode Rap-BLH (rapid appraisal bioremediasi limbah
hidrokarbon). Metode ini merupakan pengembangan dari metode Rapfish.
Analisis Rap-BLH akan menghasilkan status keberlanjutan dari bioremediasi
limbah hidrokarbon pada masing-masing dimensi yaitu ekologi, ekonomi dan
sosial.
Nilai indeks keberlanjutan dari bioremediasi limbah hidrokarbon ditentukan
berdasarkan skor untuk masing-masing atribut pada setiap dimensi. Skor masing-
masing atribut dimensi ekologi, ekonomi dan sosial disajikan pada Tabel 18.
Tabel 18. Atribut setiap dimensi untuk analisis keberlanjutan bioremediasi
limbah hidrokarbon
No.
DIMENSI DAN
ATRIBUT
KRITERIA
SKOR SAAT
INI
A. Dimensi Ekologi
1. Pemanfaatan limbah
bengkel (olie)
(0) dibuang, (1) tidak
dimanfaatkan, (2)
diolah/dimanfaatkan
2
2. Tempat pembuangan
limbah
(0) dibuang ke tanah ,(1)
ditampung, (2) ditampung dan
diolah
2
3. Pengolahan limbah
(bioremediasi)
(0) tidak ada, (1) ada 1
4. Tingkat pemanfaatan
lahan sekitarnya untuk
pertanian/perkebunan
(tingkat kesuburan)
(0) rendah , (1) sedang, (2) tinggi 0
5. Tingkat Pemanfaatan
lahan sekitarnya untuk
pemukiman
(0) tinggi (1) sedang, (2) kurang 1
6. Tingkat pencemaran
lingkungan sekitarnya
(0) tercemar , (1) tidak tercemar 1
7. Suhu tanah (0) < 25 C& > 40 C , (1)25 C
40 C
1
8. pH tanah (0), < 6.0 & > 8.0 , (1) 6.0 8.0 1
9. Kelembaban tanah (0), < 25 % & > 80 %, (1) 25 % -
80 %
1
10 Total Petroleum
Hidrokarbon (TPH)
(0) , > 10.000 g/g = 1 %, (1)
10.000 g/g = 1 %, (2) < 10.000
g/g = 1 %
1
11. Nutrisi N total tanah dan
P total tanah (N:P)
(0), < 5 : 1 ; > 10 : 1, (1) 5 : 1
10 : 1
1
dilanjutkan
60
Tabel 18 lanjutan
12. Jumlah bakteri (0) sedikit, (1) banyak 1
13 Identifikasi bakteri (0) tidak ada (1) ada 0
B. Dimensi Ekonomi
1. Jumlah tenaga kerja (0) sedikit; (1) sedang; (2) banyak 2
2. Tingkat pendapatan
tenaga kerja
(0) < UMRl; (1) = UMR; (2) >
UMR
2
3. Harga limbah (olie
bekas)
(0) rendah; (1) sedang; (2), tinggi 1
4. Biaya pengolahan limbah (0) tinggi/mahal; (1) sedang; (2)
rendah/murah
0
5. Nilai lahan tercemar (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi 0
6. Nilai lahan disekitarnya (0) rendah; (1) sedang; (2) tinggi 2
7. Kontribusi terhadap
pemerintah setempat
(pajak)
(0) tidak ada; (1) ada 1
C. Dimensi Sosial Budaya
1. Tingkat pendidikan
formal masyarakat
(0) dibawah rata-rata nasional; (1)
sama dengan rata-rata nasional;
(2) diatas rata-rata nasional
1
2. Pengetahuan masyarakat
mengenai lingkungan
(0) Tidak tahu; (1) tahu 1
3. Pengetahuan masyarakat
mengenai limbah
(0) tidak tahu; (1) tahu 1
4. Peran masyarakat dalam
pengelolaan
lingkungan/limbah
(0) tidak berperan; (1) berperan 0
5. Sosialisasi tentang
pengelolaan
lingkungan/limbah
(0) tidak ada; (1) ada 1
6. Tingkat penyerapan
tenaga kerja masyarakat
sekitarnya
(0) rendah; (1) sedang, (2) tinggi 2
7. Jarak pemukiman dengan
bengkel/pengolahan
limbah
(0) dekat; (1) sedang, (2) jauh 2
8 Pemanfaatan daerah
sekitarnya oleh
masyarakat
(0) tidak dimanfaatkan; (1)
dimanfaatkan
1
9. Pengaruh terhadap
perilaku masyarakat
(0) berpengaruh (-); (1) tidak
berpengaruh ;(2) berpengaruh (+)
2
Hasil analisis indeks keberlanjutan dengan menggunakan metode
multidimensional scaling, nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi
dengan jumlah atribut 11 adalah sebesar 83.87 disajikan pada Gambar 15. Hasil
ini termasuk ke dalam ketegori berkelanjutan. Hasil ini didukung oleh peneliti
sebelumnya bahwa apabila indeks keberlanjutan berada pada kisaran 75 100
termasuk dalam ketegori berkelanjutan (Suwandi 2005; Mersyah 2006;
61
Marhayudi 2006). Nilai indeks dimensi ekologi masih dapat ditingkatkan melalui
identifikasi faktor sensitif yang berpengaruh terhadap keberlanjutan dimensi
ekologi yang merupakan hasil analisis sensitivitas.
83.87
Down
Up
Bad Good
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Sumbu X setelah rotasi: skala keberlanjutan
S
u
m
b
u

Y

s
e
t
e
l
a
h

r
o
t
a
s
i
Gambar 15. Hasil analisis keberlanjutan bioremediasi limbah hidokarbon
dimensi ekologi
Analisis sensitivitas dilakukan untuk melihat atribut yang sensitif terhadap
nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi. Nilai sensitivitas dimensi ekologi
disajikan pada Gambar 16. Gambar 16 menunjukkan bahwa tiga atribut yang
sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yaitu TPH dengan
nilai 4.80; pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pemukiman dengan nilai 5.69 dan
pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pertanian dengan nilai 4.00. Ketiga parameter
tersebut merupakan atribut yang sensitif berpengaruh terhadap indeks
keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon.
TPH merupakan salah satu atribut yang sensitif terhadap keberlanjutan dari
dimensi ekologi. Hasil pengukuran TPH pada pengolahan limbah hidrokarbon di
KPC dengan metode landfarming dan bioaugmentation jenis Petro petrio terjadi
penurunan TPH dari 1.5 % menjadi 1.0 % dengan waktu bioremediasi 3 bulan,
TPH yang terdegradasi 33.33 %. TPH ini termasuk dalam ketegori yang sudah
memenuhi baku mutu yaitu 1 %, tetapi yang diharapkan adalah TPH < 1 % maka
62
akan berkelanjutan (Kep-Men LH No. 128 Tahun 2003). Untuk menghasilkan
TPH kecil dari 1 % dengan waktu cepat disarankan menggunakan metode
bioremediasi dengan biostimulasi kompos dan bioaugmentation.
2.72
0.44
1.08
4.8
2.38
2.82
2.82
2.37
5.69
4
1.22
0.75
0.36
0 1 2 3 4 5 6
Pemanfaatan limbah bengkel (olie)
Tempat pembuangan limbah
Pengelolaan limbah (bioremediasi)
Pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pert anian
Pemanfaatan lahan sekitarnya unt uk pemukiman
Pencemaran lingkungan sekitarnya
Suhu Tanah
pH t anah
Kelembaban t anah
Tot al Pet roleum Hidrokarbon (TPH)
Nutrisi N total tanah dan P t otal tanah (N:P)
jumlah bakt eri
Ident ifikasi bakt eri
A
t
r
i
b
u
t
Nilai RMS (%) Hasil Analisis Sensitivitas
Gambar 16 : Hasil analisis sensitivitas bioremediasi limbah hidrokarbon
dimensi ekologi.
Hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan penambahan
kompos dan bakteri mampu mendegradsi TPH 5.15 % hingga 0.83 % selama 12
minggu dengan penurunan TPH 83.92 %. Penambahan kompos dan bakteri
mempercepat terjadinya degradasi TPH. Kompos digunakan selain memperbaiki
unsur hara dalam tanah, juga menyediakan bakteri yang mampu mendegradasi
minyak (hidrokarbon). Kompos selain memperbaiki mutu dan sifat tanah juga
dapat digunakan untuk memperbaiki tanah terkontaminasi dengan berbagai
polutan organik (Fermor et al. 2001).
Menurut Murbandono (2001), bahan organik yang telah mengalami
pengomposan mempunyai peranan penting bagi perbaikan mutu dan sifat tanah
yaitu: memperbaiki daya ikat tanah; memperbaiki struktur tanah; memperbesar
kemampuan tanah menampung air; memperbaiki drainase dan atau tata udara
tanah sehingga kandungan air mencukupi dan suhu tanah lebih stabil;
mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara.
63
Tanah tercemar limbah minyak apabila dijadikan sebagai lahan pemukiman
termasuk yang sensitif berpengaruh terhadap keberlanjutan dari dimensi ekologi.
Tanah tercemar limbah minyak mengandung hidrokarbon akan mengkontaminasi
air tanah. Apabila terjadi pencemaran minyak pada permukaan, maka minyak
tersebut akan masuk ke dalam tanah. Jarak rembesan minyak yaitu 10 50 m
(Fatimah & Rahmat 2007). Tanah tercemar minyak apabila dijadikan sebagai
lahan pemukiman, akan berpengaruh terhadap kehidupan manusia.
Lahan yang tercemar hidrokarbon juga akan digunakan untuk lahan
pertanian. Lahan tercemar minyak mengandung hidrokarbon dan apabila dijadikan
sebagai lahan pertanian, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa di lokasi kilang minyak Mathura-India
yang tercemar limbah minyak tidak ada vegetasi yang tumbuh (Mishra et al.
2001). Penelitian lain melaporkan bahwa konsentrasi hidrokarbon 1% - 5 % di
dalam tanah umumnya tanaman tumbuh tetapi kurang subur (Bossert & Bartha
1984). Schlegel (1994) menyatakan bahwa tumpahan atau ceceran minyak dapat
menyebabkan flora, fauna mati dan terganggu pertumbuhannya. Oleh karena itu
tanah yang tercemar limbah hidrokarbon perlu dilakukan pemulihan dengan
bioremediasi agar lahan yang digunakan untuk pertanian dapat berkelanjutan.
Gambar 17 menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu
sebesar 55.24. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi termasuk ke dalam
kategori cukup berkelanjutan, berada pada kisaran 50.00 75.00 (Suwandi 2005;
Mersyah 2006; Marhayudi 2006). Nilai indeks dimensi ekonomi masih dapat
ditingkatkan melalui identifikasi faktor sensitif terhadap keberlanjutan yang
merupakan hasil dari analisis sensitivitas.
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas yang disajikan pada Gambar 18, ada
dua atribut dari dimensi ekonomi yang sensitif berpengaruh terhadap nilai indeks
keberlanjutan dimensi ekonomi, yaitu: nilai lahan tercemar dan biaya pengolahan
limbah.
64
55.24
Down
Up
Bad
Good
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Sumbu Xsetelah rotasi: skala keberlanjutan
S
u
m
b
u

Y

s
e
t
e
l
a
h

r
o
t
a
s
i
Gambar 17: Hasil analisis nilai keberlanjutan bioremediasi limbah
hidrokarbon dimensi ekonomi
15.14
0.67
4.91
10.16
6.14
7.6
2.22
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Jumlah tenaga kerja
Tingkat pendapatan tenaga kerja
Harga limbah (oli bekas)
Biaya pengolahan limbah
Nilai lahan tercemar
Nilai lahan sekitarnya
Kontribusi terhadap pemerintah setempat (pajak)
A
t
r
i
b
u
t
Nilai RMS Hasil Analisis Sensitivitas
Gambar 18. Hasil analisis sensitivitas bioremediasi limbah hidrokarbon
dimensi ekonomi.
Nilai lahan di sekitar lokasi pengolahan limbah Rp. 2.000 m
-2
, dengan radius
1 km dari kota Sangatta, sedangkan di Sangatta nilai Rp. 100.000,- m
-2
. Untuk
meningkatkan nilai lahan yang tercemar limbah hidrokarbon, perlu dilakukan
pemulihan yaitu dengan bioremediasi.
Pengolahan limbah dengan bioremediasi juga termasuk yang sensitif
berpengaruh terhadap keberlanjutan dari dimensi ekonomi. Pengolahan dengan
bioremediasi membutuhkan biaya yang besar disebabkan karena perlu penyiapan
65
lahan, alat-alat dan bahan yang digunakan untuk bioremediasi, dan juga waktu
bioremediasi cukup lama.
Penelitian yang dilakukan di lokasi pengolahan limbah KPC menjelaskan
bahwa biaya bioremediasi yang digunakan sebesar Rp. 200.000.000,- untuk
mengolah limbah 147 m
3
, atau sekitar Rp. 1.360.544 m
-3
. Menurut Fermor et al.
(2001) pengolahan dengan bioremediasi membutuhkan biaya 40$ m
-3
, atau
Rp.400.000,- m
-3
.
Nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial budaya sebesar 76.76 disajikan
pada Gambar 19. Nilai indeks termasuk ke dalam ketegori berkelanjutan. Hasil
ini didukung oleh peneliti sebelumnya bahwa apabila indeks keberlanjutan berada
pada kisaran 75 100 termasuk dalam ketegori berkelanjutan (Suwandi 2005;
Mersyah 2006; Marhayudi 2006). Nilai indeks dimensi sosial masih dapat
ditingkatkan melalui identifikasi faktor sensitif terhadap keberlanjutan yang
merupakan hasil dari analisis sensitivitas.
76.76
Down
Up
Bad Good
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Sumbu Xset elah rot asi: skala keberlanjutan
S
u
m
b
u

Y

s
e
t
e
l
a
h

r
o
t
a
s
i
Gambar 19: Hasil analisis nilai keberlanjutan bioremediasi limbah
hidrokarbon dimensi sosial
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas (Gambar 20) terdapat satu atribut
yang sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial, yaitu peran
masyarakat dalam pengelolaan lingkungan (limbah). Hasil analisis sensitivitas
yaitu 9.48. Peran masyarakat dalam pengolalan limbah di lokasi tersebut
dikatakan sensitif karena masyarakat dalam hal ini tidak terlibat langsung pada
pengolahan limbah. Untuk meningkatkan keberlanjutan dari dimensi sosial, maka
masyarakat diharapkan ikut terlibat dalam pengolahan limbah.
66
2.87
3.37
3.72
9.48
4.03
4.42
3.87
3.69
1.89
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tingkat pendidikan formal masyarakat
Pengetahuan masayarakat mengenai lingkungan
Pengetahuan masyarakat mengenai limbah
Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan/limbah
Sosialisasi tentang pengelolaan lingkungan/limbah
Tingkat penyerapan tenaga kerja masyarakat sekitarnya
Jarak pemukiman dengan pengelolaan limbah
Pemanfaatan daerah sekitarnya oleh masyarakat
Pengaruh terhadap daerah sekitarnya (perilaku masyarakat)
A
t
r
i
b
u
t
Nilai RMS (%) Hasil Analisis Sensitivitas
Gambar 20. Hasil analisis sensitivitas bioremediasi limbah hidrokarbon
dimensi sosial.
Nilai indeks keberlanjutan untuk setiap dimensi berbeda-beda disajikan pada
Gambar 21. Dari hasil analisis multidimensional scaling (MDS) pada setiap
dimensi untuk dimensi ekologi dan sosial mempunyai nilai berkelanjutan antara
75 100, sedangkan untuk dimensi ekonomi mempunyai nilai dengan kategori
cukup (50.00 75.00). Dari ketiga dimensi, ekologi dan sosial memiliki nilai
indeks yang lebih baik sedangkan untuk dimensi ekonomi cukup. Menurut Salim
(2004), setiap proses pembangunan mencakup tiga aspek utama yaitu ekologi,
ekonomi dan sosial. Tiga aspek tersebut dalam pembangunan harus berada dalam
sebuah keseimbangan tanpa saling mondominasi
55.24
76.76
83.87
0
20
40
60
80
100
Ekologi
Ekonomi sosial
Gambar 21. Nilai indeks keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon
dimensi ekologi, ekonomi dan sosial.
67
Hasil analisis Rap-BLH dengan metode multi dimensional scaling dapat
digunakan sebagai standar untuk menentukan kelayakan terhadap hasil analisis
indeks keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon. Pada Tabel 19
menunjukkan nilai sress berada pada kisaran 0.12 0.13 atau 12 % - 13 % dan R
2
(koefiseien determinasi) berkisar antara 0.93 0.94 untuk setiap dimensi.
Menurut Kanvanagh (2001), apabila nilai stress yang dihasilkan lebih
kecil dari 25 %, maka hasil analisis indeks keberlanjutan dengan MDS sudah baik
dan iterasi dianggap cukup. Untuk koefisien diterminasi, kualitas hasil analisis
semakin baik jika nilai R
2
mendekati 1 (satu).
Tabel 19. Hasil analisis nilai stress dan koefisien determinasi keberlanjutan
bioremediasi limbah hidrokarbon (BLH)
Nilai statistik Ekologi Ekonomi Sosial
Stress 0.12 0.13 0.13
R
2
0.94 0.93 0.94
Jumlah iterasi 2 3 3
Nilai indeks keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon berdasarkan
analisis Monte Carlo disajikan pada Gambar 22, 23 dan 24. Analisis Monte Carlo
digunakan untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut
pada masing-masing dimensi. Kesalahan dapat disebabkan oleh kesalahan
prosedur atau pemahaman terhadap atribut, variasi pemberian skor karena
perbedaan opini, kesalahan memasukkan data atau data hilang.
Hasil analisis Monte Carlo (Tabel 20) didapatkan hasil yang tidak banyak
berbeda antara hasil analisis MDS dan Monte Carlo. Kecilnya perbedaan ini
mengindikasikan bahwa : 1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif
kecil; 2) variasi pemberian skor akibat pebedaan opini relatif kecil; 3) proses
analisis yang dilakukan stabil; 4) kesalahan pemasukan data dan data hilang dapat
dihindari.
Tabel 20. Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai BLH dan masing-masing
dimensi pada selang kepercayaan 95 %
Status indeks Hasil MDS Hasil Monte Carlo Perbedaan
Ekologi 83.87 80.64 3.23
Ekonomi 55.24 55.43 0.19
Sosial 76.76 72.96 3.79
68
Tabel 20 menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan bioremediasi
limbah hidrokarbon dengan menggunakan metode MDS memiliki tingkat
kepercayaan yang tinggi. Selanjutnya disimpulkan bahwa metode analisis Rap-
BLH (rapid appraisal-bioremediasi limbah hidrokarbon) yang dilakukan dalam
kajian ini dapat dipergunakan sebagai salah satu alat evaluasi untuk menilai secara
cepat (rapid appraisal) keberlanjutan dari sistem bioremediasi.
Rap-BLH Monte Carlo Ordination (Median With Error Bars showing 95 %
confidance of median)
80.64
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Rap-BLH
O
t
h
e
r
D
i
s
t
i
n
g
i
s
h
i
n
g
F
e
a
t
u
r
e
s
Gambar 22. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan nilai indeks
keberlanjutan dimensi ekologi 80.64
69
Rap-BLH Monte Carlo Ordination (Median With Error Bars showing 95 %
confidance of median)
100 0
55.43
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Rap-BLH
O
t
h
e
r

D
i
s
t
i
n
g
i
s
h
i
n
g

F
e
a
t
u
r
e
s
Gambar 23. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan nilai indeks
keberlanjutan dimensi ekonomi sebesar 55.43
Rap-BLH Monte Carlo Ordination (Median With Error Bars showing 95 %
confidance of median)
72.96
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Rap-BLH
O
t
h
e
r

D
i
s
t
i
n
g
i
s
h
i
n
g

F
e
a
t
u
r
e
s
Gambar 24. Analisis Monte Carlo yang menunjukkan nilai indeks
keberlanjutan dimensi sosial sebesar 72.96
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian Pendahuluan
Penelitian lapangan
Penelitian di lapangan dilakukan untuk menganalisis keberlanjutan dari
bioremediasi limbah hidrokarbon. Analisis keberlanjutan bioremediasi dilakukan
di lokasi yang sedang melakukan bioremediasi limbah bengkel. Lokasi yang
digunakan untuk pengambilan data yaitu PT Kaltim Prima Coal (KPC) merupakan
salah satu perusahaan yang sedang melakukan bioremediasi limbah bengkel.
Survey yang dilakukan di lokasi tersebut memberikan hasil bahwa kandungan
Total Petroleum Hidrokarbon (TPH) berkisar antara 1.2 % - 1.5 % (disajikan pada
Tabel 8).
Tabel 8. Hasil analisis TPH, pH, N total, P total, sebelum bioremediasi
No. sampel TPH (%) pH N total (mg kg
-1
) P total (mg kg
-1
)
1 1.3 6.7 1692,34 2.16
2 1.2 6.4 1665.34 0.794
3 1.2 6.2 1909.22 0.470
4 1.5 6.5 2070.33 0.521
5 1.2 6.2 2246.92 0.366
6 1.2 6.5 1846.80 2.080
Sumber data : Laporan Hasil Uji KPC (2006)
Sesuai dengan peraturan Kepmen-LH No.128 Tahun 2003, apabila TPH
lebih besar dari 1 % maka perlu dilakukan pengelolaan antara lain dengan
bioremediasi. Hasil bioremediasi limbah bengkel yang dilakukan di PT. KPC
selama 3 (tiga) bulan, dapat menguraikan TPH sebesar 16.6 % sampai dengan
33.33 % yaitu dari 1.5 % - 1.2 % menjadi 1.0 % - 0.7 %. Hasil bioremediasi yang
dilakukan di lapangan di sajikan pada Tabel 9. Dari Tabel 9, terlihat bahwa TPH
sudah memenuhi baku mutu yaitu < % sesuai dengan peraturan Kepmen-LH
No.128 Tahun 2003.
43
Tabel 9. Hasil analisis TPH, pH, N total, P total, setelah bioremediasi
No. sample TPH (%) pH N total (mg kg
-1
) P total (mg kg
-1
)
1 1.0 6.6 1620,43 17.76
2 0.8 6.4 1526.03 11.49
3 1.0 6.4 1744.81 13.76
4 1.0 6.3 1570.08 26.72
5 1.0 6.3 1628.67 9.47
6 0.7 6.5 2003.10 10.74
Sumber data : Laporan Hasil Uji KPC (2006)
Analisis keberlanjutan dari metode yang digunakan disusun atribut yang
disesuikan dengan kebutuhan analisis dan dilakukan pemberian skor. Konsep
keberlanjutan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dimensi ekologi, sosial
dan ekonomi (Dahuri et al. 1996; Kay & Alder (1999), sedangkan Susilo (2003)
menyatakan bahwa bukan pengelompokan aspek tersebut yang penting tetapi
atribut atau kriteria dari setiap aspek yang penting. Atribut-atribut keberlanjutan
dari setiap dimensi dapat dianalisis dan digunakan untuk menilai secara cepat
(rapid appraisal) status keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dengan.
menggunakan metode multi variable non-parametrik yang disebut
multidimensional scaling (MDS). Tabel atribut disajikan pada Tabel 10
Tabel 10. Atribut setiap dimensi untuk analisis keberlanjutan bioremediasi
limbah hidrokarbon
No. Dimensi Atribut
1 Ekologi Pemanfaatan limbah bengkel, tempat pembuangan limbah,
pengolahan limbah (bioremediasi), pemanfaatan lahan
sekitarnya untuk pertanian, pemanfaatan lahan untuk
pemukiman, pencemaran lingkungan sekitanya, suhu tanah, pH
tanah, kelembaban tanah, Total petroleum hidrokarbon (TPH),
nutrisi, jumlah bakteri, identifikasi bakteri
2. Ekonomi Jumlah tenaga kerja, pendapatan tenaga kerja, harga limbah olie,
biaya pengolahan limbah, nilaia lahan tercemar, nilai lahan
sekitarnya, kontribusi terhadap pemerintah setempat.
3 Sosial Pendidikan formal masyarakat, pengetahuan masyarakat
mengenai lingkungan, pengetahuan masyarakat mengenai
limbah, peran masyarakat dalam pengelolaan limbah, sosialisasi
tentang pengelolaan lingkungan/limbah, penyerapan tenaga
kerja masyarakat sekitarnya, jarak pemukiman dengan
bengkel/pengolahan limbah, pemanfaatan daerah sekitarnya,
pengaruh terhadap daerah sekitarnya.
44
Penelitian Laboratorium
Penelitian bioremediasi limbah hidrokarbon dari limbah bengkel dilakukan
pada skala laboratorium. Simulasi bioremediasi limbah hidrokarbon dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan limbah minyak dari buangan bengkel berupa
minyak pelumas, solar dan gasolin. Komposisi limbah yang dimasukkan ke dalam
tanah adalah 15 % (v/w), yang terdiri atas minyak pelumas 60 %, solar 20 % dan
gasolin 20 %.
Bioremediasi yang dilakukan di laboratorium menggunakan kompos
sampah kota dan bakteri Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan
Pseudomonas aeruginosa, koleksi laboratorium Bioteknologi THP IPB yang
sudah digunakan sebelumnya untuk mendegradasi limbah minyak. Kompos
sampah kota mempunyai kandungan unsur hara seperti di sajikan pada Tabel 11,
sedangkan jenisi bakteri pada kompos dan tanah yang telah diadaptasikan dengan
limbah hidrokarbon disajikan pada Tabel 12.
Tabel 11. Kandungan unsur hara kompos sampah kota
Sifat kimia Kompos
(1)
Bogor
(Galuga) tahun
2005
Kompos
(1)
Bogor (Galuga)
tahun 2006
Kompos
(2)
Kota Yogya
tahun 2006
Kompos
(3)
Kota Bali
tahun 2006
Nitrogen (%)
Phosfor(%)
Kalium (%)
Kalsium (%)
Magnesium (%)
Karbon (%)
C/N
3.05
2.38
2.69
1.39
0.21
21.51
7.1
0.78
0.38
0.46
0.39
0.40
21.51
28
0.38
0.03
1.58
0.47
0.13
12.36
32.52
1.75
0.29
0.77
0.37
-
22.10
12.67
Sumber :
(1)
IPB (2005, 2006).
(2)
Yuwono (2006)
(3)
Setiyo (2006)
Dari Tabel 11 terlihat bahwa kandungan unsur hara dalam kompos sampah
kota pada setiap lokasi secara umum hampir sama. Secara umum kandungan
unsur hara pada kompos sampah kota cukup tinggi, sehingga dapat digunakan
sebagai sumber nutrien pada tanah yang tercemar oleh limbah hidrokarbon. Hasil
identifikasi bakteri pada kompos Galuga tahun 2006 yang ditambahkan minyak
dan diaklimatisasi selama 1 bulan, dan tanah yang ditambahkan minyak dan
diaklimatisasi selama 1 bulan disajikan pada Tabel 12.
45
Tabel 12. Hasil identifikasi bakteri pada kompos dan tanah yang
ditambahkan minyak dan diaklimatisasi selama 1 bulan
No. Sampel Jenis mikroba
1. Tanah yang ditambahkan
minyak dan
diaklimatisasi selama 1
bulan
Azotobacter sp, Bacillus alvei, Bacillus
macerans, Bacillus laterosporus, Bacillus
larvae, Bacillus megaterium, Pseudomonas
putida, Micrococcus roseus.
2. Kompos yang
ditambahkan minyak dan
diaklimatisasi selama 1
bulan
Azotobacter sp., Micrococcus roseus,
Pseudomonas aeruginosa, Micrococcus
agalis, Mycobacterium sp. Nocardia sp.,
Bacillus cereu.
Hasil analisis yang dilakukan dilaboratorium, TPH dari tanah yang
ditambahkan minyak antara 5.10 % - 5.11 % (Tabel 13). Selanjutnya tanah
ditambahkan dengan kompos 10%, 20%, 30 % (w/w) dan inokulan bakteri 5, 10,
15% (v/w). Bioremediasi dilakukan selama 1 (satu) bulan. Total petroleum
hidrokarbon (TPH) pada awal dan setelah 1 bulan dalam tanah disajikan pada
Tabel 13.
Tabel 13. Total petroleum hidrokarbon (TPH) pada penelitian pendahuluan
Total Petroleum Hidrokarbon (TPH) %
Perlakuan Awal Minggu IV
Kontrol 5.11 4.56
A 5.10 3.95
B 5.10 3.75
C 5.10 3.97
D 5.11 3.83
E 5.11 3.70
F 5.11 3.72
Keterangan :
Kontrol = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah (m.pelumas,m.diesel, gasolin)
A = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah (m.pelumas,m.diesel, gasolin) + kompos 10 %
B = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah(m.pelumas,m.diesel, gasolin) + kompos 20 %
C = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah (m.pelumas,m.diesel, gasolin) + kompos 30 %
D = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah(m.pelumas,m.diesel, gasolin) + inokulan 5 %
E = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah (m.pelumas,m.diesel, gasolin) + inokulan 10 %
F = Tanah 5 kg + minyak 15 % dari berat tanah (m.pelumas,m.diesel, gasolin) + inokulan 15 %
TPH yang dihasilkan dari perlakuan kompos 20 % (w/w) dan inokulan 10
% (v/w), lebih kecil jika dibandingkan dengan perlakuan yang lain, sehingga
digunakan sebagai dasar dalam percobaan optimasi. Hasil ini didukung oleh
peneliti sebelumnya. Komar & Irianto (2000) melaporkan bahwa penambahan
bakteri sebanyak 10 % (v/w) dapat mendegradasi bahan pencemaran berupa
toluena (97.05%), Suortti et al. (2000) melaporkan bahwa penambahan kompos
20 % dapat mendegradasi petroleum (73%) , Wijayaratih (2001)melakukan
46
penelitian dengan penambahan kompos 20 % mampu mendegradasi hidrokarbon
aromatik polisiklik (47%). Hasil penelitian Jumbriah (2006) melaporkan
penambahan kompos limbah media jamur sebesar 26 % dapat mendegradasi
diazinon (97.5%).
Dari hasil penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan bahwa penambahan
kompos dan inokulan terbukti mempercepat degradasi polutan hidrokarbon.
Bioremediasi Skala Laboratorium
Limbah bengkel yang berupa minyak merupakan limbah bahan berbahaya
dan beracun yang memiliki potensi menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan, oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dengan baik ( Kepmen
LH No. 128 tahun 2003). Pengolahan limbah minyak dapat dilakukan dengan cara
bioremediasi yaitu penyehatan lingkungan dengan metode biologi (menggunakan
mikroba untuk mendegradasi bahan pencemar).
Proses bioremediasi dikatakan berhasil bila tanah terkontaminasi akibat
tumpahan atau ceceran limbah minyak mempunyai kadar TPH < 1 %, mengacu
kepada Kepmen LH No. 128 tahun 2003.
Lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap degradasi TPH yaitu: kadar
air tanah, pH, suhu dan nutrisi. Kadar air tanah harus berada pada kondisi
optimum yaitu 10 % 25 % (Fermiani 2003) agar transfer gas untuk proses
oksigenase dapat berjalan dengan baik. Kadar air tanah pada penelitian 12.52 %
21.08 % (Gambar 6). Hasil analisis kadar air tanah masih berada pada kondisi
optimum untuk pertumbuhan bakteri.
Proses biodegradasi senyawa hidrokarbon juga dipengaruhi oleh faktor suhu
dan pH. Pada suhu lebih dari 40 C dan pH < 6 akan menyebabkan aktivitas
mikroorganisme terhambat. Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang biak
dengan baik pada kondisi pH netral. Pada pH netral zat-zat makanan bagi
mikrorganisme mudah larut dalam air yang ada di tanah dan kerja enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme menjadi maksimal dalam mendegradasi
hidrokarbon.
47
0
5
10
15
20
25
A B C D E1 E2 E3 F G H I J
perlakuan
k
a
d
a
r

a
i
r

(
%
)
Awal
Minggu XII
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos 30 %
+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos 20% + inokulan
10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 % + inokulan 10 %;
H.Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% + inokulan 2.93 % ; J. Kontrol.
Gambar 6. Kadar air tanah (%) awal dan minggu XII proses bioremediasi
limbah hidrokarbon.
Pada penelitian ini pH tanah 6.1 7.0, masih pada batas yang sesuai,
sehingga mikroba dapat bekerja dengan baik untuk mendegradasi hidrokarbon.
Hasil analisis pH tanah disajikan pada Gambar 7. Hasil ini masih berada pada
kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan mikroba, yang dapat mempercepat
terjadinya degradasi dari hidrokarbon. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian sebelumnya (Chan & Pelczar 1986), mereka melaporkan bahwa pH
optimum bagi pertumbuhan mikroba adalah pada kisaran 6 .5 7.5. Penelitian
lain yang dilaporkan oleh Alexander (1994) menyatakan bahwa pH optimum
untuk degradasi hidrokarbon yaitu 6.0 8.0.
6.2
6.3
6.4
6.5
6.6
6.7
6.8
6.9
7
7.1
A B C D E1 E2 E3 F G H I J
Perlakuan
p
H
Awal
Minggu XII
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos 30 %
+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos 20% + inokulan
10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 % + inokulan 10 %;
H.Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% + inokulan 2.93 % ; J. Kontrol.
Gambar 7. pH tanah pada awal dan minggu XII proses bioremediasi limbah
hidrokarbon
48
Suhu berpengaruh terhadap kecepatan reaksi oksidasi/kimiawi termasuk
proses enzimatik, kecepatan reaksi kimiawi tersebut menjadi maksimal apabila
temperatur lingkungan tempat mikroorganisme tumbuh berada pada kondisi
optimum. Suhu di lingkungan penelitian (Gambar 8) masih pada batas yang bisa
ditoleransi oleh mikroorganisme yaitu suhu ruang 26 C 27 C. Hasil ini
didukung oleh peneliti sebelumnya (Chan & Pelczar 1986), mereka melaporkan
bahawa suhu 25 40 C termasuk suhu yang optimum untuk pertumbuhan
bakteri.
25.4
25.6
25.8
26
26.2
26.4
26.6
26.8
27
27.2
0 II IV VI VIII X XII XVI
Minggu
S
u
h
u

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
Gambar 8. Suhu lingkungan selama proses bioremediasi limbah hidrokarbon
Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh faktor suhu, pH, kadar air, dan
nutrisi sebagai sumber energi (Baker & Herson 1994). Nutrisi yang dibutuhkan
yaitu karbon, nitrogen dan phosfor. Unsur-unsur karbon, nitrogen dan phosfor
yang tersedia di lingkungan digunakan mikroba untuk pertumbuhan. Nitrogen
merupakan unsur berperan dalam pertumbuhan, perbanyakan sel dan
pembentukan dinding sel. Beberapa mikroba dapat menggunakan nitrogen dari
atmosfer, tetapi kebanyakan memperoleh nitrogen dalam bentuk terlarut di air.
Phosfor merupakan komponen utama asam nukleat dan lemak sel membran yang
berperan dalam proses pemindahan energi. Phosfor selain digunakan untuk
transport energi, juga penting untuk pertumbuhan mikroba, dan pembentukan
asam amino.
49
Apabila unsur tersebut tidak seimbang maka akan berpengaruh terhadap
pertumbuhan mikroba, yang akan berpengaruh terhadap degradasi dari total
petroleum hidrokarbon. Hasil analisis C-organik, N total dan P total pada tanah
yang di bioremediasi disajikan pada Gambar 9, 10, 11. Pada Gambar 9 terlihat
bahwa C organik pada awal penelitian 6.45 % -7.5 % dan pada minggu XII turun
menjadi 4.0 % - 6.8 %, terjadi penurun antara 10 % - 40 %. Unsur kabon ini turun
disebabkan karena terjadinya proses biodegradasi.
0
1
2
3
4
5
6
7
8
A B C D E1 E2 E3 F G H I J
Perlakuan
C

(
%
)
Awal
Minggu XII
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos 30 %
+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos 20% + inokulan
10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 % + inokulan 10 %;
H.Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% + inokulan 2.93 % ; J. Kontrol.
Gambar 9. C-organik (%) tanah pada awal dan minggu XII proses
bioremediasi limbah hidrokarbon.
Pada Gambar 10 terlihat bahwa pada awal penelitian N total(0.22 %-0.28 %)
dan pada minggu XII N total (0.28 % - 0.43 %). Unsur N total naik disebabkan
karena adanya penambahan kompos dan bakteri.
Pada Gambar 11 terlihat bahwa pada awal penelitian P total (7.39 ppm -
14.00 ppm) dan pada minggu XII P total (16.00 ppm 42.00 ppm). Unsur P total
ini naik disebabkan karena adanya penambahan kompos dan bakteri.
50
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
A B C D E1 E2 E3 F G H I J
Perlakuan
N
-
t
o
t
a
l
(
%
)
Awal
Minggu XII
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos 30 %
+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos 20% + inokulan
10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 % + inokulan 10 %;
H.Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% + inokulan 2.93 % ; J. Kontrol.
Gambar 10. N-total (%) tanah pada awal dan minggu XII proses
bioremediasi limbah hidrokarbon.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
A B C D E1 E2 E3 F G H I J
perlakuan
P
-
t
o
t
a
l

(
p
p
m
)
Awal
Minggu XII
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos 30 %
+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos 20% + inokulan
10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 % + inokulan 10 %;
H.Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% + inokulan 2.93 % ; J. Kontrol.
Gambar 11. P total (ppm)tanah pada awal dan minggu XII proses
bioremediasi limbah hidrokarbon.
Menurut Hardjowigeno (1995), bahwa unsur C dalam tanah (3 % - 5 %)
suduh cukup, tetapi untuk kebutuhan mikroba yang mempengaruhi degradasi
TPH adalah rasio C:N:P. Hasil analisis C:N:P disajikan pada Tabel 14.
51
Tabel 14. Hasil analisis rasio C:N:P pada bioremediasi limbah hidrokarbon
Awal Minggu XII
Perlakuan C:N:P C:N:P
A 465:18.6:0.1 132:12.9:0.1
B 656:22.5:0.1 157:13.6:0.1
C 464:17.1:0.1 155:13.8:0.1
D 656:23.6:0.1 148:14:0.1
E1 530:20:0.1 102:10.5:0.1
E2 523:20:0.1 98:10.2:0.1
E3 580:21.7:0.1 98:10:0.1
F 537:21.7:0.1 183:14.4:0.1
G 740:24:0.1 136:10:0.1
H 523:20:0.1 144:13.3:0.1
I 573:23:0.1 138.2:10:0.1
J 1013:29.7:0.1 425:17.5:0.1
Rasio C:N:P yang terdapat dalam tanah berfungsi sebagai pemicu untuk
metabolisme bagi pertumbuhan mikroba baik indigen maupun eksogen, agar tidak
menyebabkan kondisi lingkungan menjadi toksik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan 20 % kompos dan
inokulan 10 % nilai C:N:P ratio lebih kecil jika dibandingkan dengan perlakuan
yang lain yaitu kompos 30 %, 10 % dan inokulan 15 %, 5 %, dan menghasilkan
degradasi yang terbesar jika dibandingkan dengan perlakuan lain. Hasil degradasi
TPH disajikan pada Gambar 12. Besarnya degdarasi TPH memperlihatkan bahwa
ada keseimbangan unsur hara dalam tanah yang digunakan oleh mikroba untuk
hidup dan pertumbuhan, sehingga mikroba dapat mendegradasi bahan pencemar
hidrokarbon. Rasio C:N:P (9.8 : 1: 0.01) ini termasuk dalam kategori yang dapat
mempercepat terjadinya degradasi hidrokarbon. Hasil ini didukung oleh peneliti
sebelumnya (Alexander 1994) yang melaporkan bahwa C:N:P ratio terbaik untuk
mendegradasi limbah minyak adalah 10:1:0.2. Peneliti lain (Dickson and
Odokuma 2003) menyatakan bahwa semakin kecil C:N ratio dan P naik degradasi
limbah minyak lebih besar jika dibandingkan dengan C:N ratio yang besar dan P
rendah. Obbard and Ran (2003), melaporkan bahwa C:N:P ratio 100:10:1 lebih
baik dibandingkan dengan C:N:P ratio 100:1.1:0.05.
52
Degradasi TPH
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 IV VIII XII XIV XVI
Minggu
D
e
g
r
a
d
a
s
i

T
P
H

(
%
)
A
B
C
D
E1
E2
E3
F
G
H
I
J
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos 30 %
+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos 20% + inokulan
10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 % + inokulan 10 %;
H.Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% + inokulan 2.93 % ; J. Kontrol.
Gambar 12. Grafik degradasi TPH ( %) selama 16 minggu pengamatan.
Mikroba
Campuran berbagai jenis mikroba bersifat sinergi untuk mempercepat proses
biodegradasi bahan pencemar (Jutono et al 1975). Mikroba yang digunakan untuk
mendegradasi limbah hidrokarbon pada penelitian ini yaitu mikroba (bakteri) dari
kompos yang terdiri dari Azotobacter sp., Micrococcus roseus, Pseudomonas
aeruginosa, Micrococcus agalis, Mycobacterium sp. Nocardia sp., Bacillus cereu.
Azotobacter sp., Micrococcus roseus, Pseudomonas aeruginosa, Micrococcus agalis,
Mycobacterium sp. Nocardia sp., Bacillus cereu.dan bakteri Pseudomonas
aeruginosa, Arthrobacter simplex dan Mycobacterium phlei (koleksi Lab.THP
IPB). Jenis tersebut telah digunakan oleh peneliti sebelumnya untuk mendegradasi
limbah minyak.
Biodegradasi minyak ditentukan oleh pertumbuhan sel mikroorganisme.
Semakin tinggi kecepatan pertumbuhan sel mikroorganisme, maka kemampuan
biodegradasi makin meningkat (Udiharto 1992). Jumlah bakteri seluruh perlakuan
berkisar 3.1 x 10
5
1.5 x 10
8
CFU ml
-1
. Jumlah ini mampu mendegradasi TPH
antara 55.00 % - 91.15 %. Hasil ini didukung oleh penelitian sebelumnya
(Fahruddin 2006), yang melaporkan bahwa jumlah mikroba 3 x 10
6
CFU ml
-1
53
mampu mendegradasi benzene sebesar 96 %. Kitts & Kaplan (2004) melaporkan
bahwa jumlah bakteri 1.7 x 10
7
- 1.3 x 10
8
CFU ml
-1
mampu mendegradasi TPH
98 % . Schinner & Margesin (2001) melaporkan bahwa pada awal penelitian
jumlah mikroba (6.5 0.4) x 10
7
CFU ml
-1
dan pada akhir penelitian jumlah
mikroba (2.7 1.7) x 10
6
, mampu mendegradasi minyak disel 48 %.
Kompos
Komar & Irianto (2000) menyatakan bahwa status nutrien tanah merupakan
faktor utama yang mempengaruhi aktivitas mikroba. Kompos dapat digunakan
sebagai sumber mikroba dan bulking agent, untuk melakukan bioremediasi.
Kompos juga berperan memperbaiki sifat kimia tanah seperti pH, kelembaban dan
struktur tanah, dan juga dapat digunakan untuk memperbaiki tanah yang
terkontaminasi dengan berbagai polutan organik (Fermor et al. 2001).
Penggunaan kompos untuk beioremediasi limbah hidrokarbon mampu
mendegradasi minyak pelumas 73 % (Suortti et al. 2000); minyak disel 85 %
(Ryckeboer et al. 2003); dan crude oil 88.25 % (Munawar et al. 2007).
Kompos 20 % dan bakteri 10 % yang ditambahkan pada penelitian ini
mampu mendegradasi TPH 91.15 %. Hasil identifikasi bakteri pada kompos yang
ditambahkan minyak dan diaklimatisasi selama 1 bulan, tanah yang ditambahkan
minyak dan diaklimatisasi selama 1 bulan dan tanah hasil bioremediasi selama 3
bulan pada perlakuan kompos 20 % dan inokulan 10 % teridentifikasi 15 jenis
bakteri disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Hasil identifikasi bakteri pada kompos dan tanah
No. Sampel Jenis mikroba
1. Tanah yang ditambahkan
minyak dan diaklimatisasi
selama 1 bulan
Azotobacter sp., Bacillus alvei, Bacillus
macerans, Bacillus laterosporus, Bacillus
larvae, Bacillus megaterium, Pseudomonas
putida, Micrococcus roseus
2. Kompos yang ditambahkan
minyak dan diaklimatisasi
selama 1 bulan
Azotobacter sp., Micrococcus roseus,
Pseudomonas aeruginosa, Micrococcus
agalis, Mycobacterium sp., Nocardia sp.,
Bacillus cereus
3. Tanah hasil bioremediasi
selama 3 bulan pada
perlakuan kompos 20 % dan
inokulan 10 %
Azotobacter sp, Bacillus macerans,
Micrococcus roseus, Pseudomonas
aeruginosa, Micrococcus agalis,
Mycobacterium sp., Bacillus cereus,
Arhobacter sp., Bacillus subtiulus
54
Tabel 15 menunjukkan bahwa bakteri yang teridentifikasi termasuk bakteri
yang mampu mendegradasi hidrokarbon. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian sebelumnya (Bosser & Bartha 1984). Mereka melaporkan bahwa
mikroba yang hidup di lingkungan minyak bumi, yaitu antara lain dari genera
Alcaligene, Arthrobacter, Acenitobacter, Nocardia, Achromobacter, Bacillus,
Flavobacterium dan Pseudomonas. Alexander (1994) melaporkan bahwa
biodegradasi hidrokarbon aromatik seperti fenol dan naftalen didominasi oleh
bakteri Pseudomonas, Bacillus, Mycobacterium, Arthrobacter sp., Acinobacter.
Crawford & Crawford (1996) melaporkan bahwa jenis mikroba yang mampu
mendegradasi hidrokarbon aromatik yaitu Pseudomonas, Bacillus, Nocardia,
Mycobacterium, Arthrobacter, Acinotobacter, Flavobacteria.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Oetomo (1997), ditemukan jenis
mikroba yang mampu mendegradasi minyak bumi yaitu: Pseudomonas sp.,
Bacillus sp., Nocardia sp., Mycobacterium; Suortti et al. (2000) melaporkan
bahwa jenis mikroba Bacillus megaterium, Pseudomonas diminuta,
Gluconobacter cerenius, Pasteurella caballi ditemukan pada tanah yang
terkontaminasi limbah minyak pelumas. Komar & Irianto (2000) melakukan
bioremediasi dengan penambahan Bacillus mampu mendegradasi tanah yang
tercemar toluene. Wijayaratih (2001) melakukan bioremediasi dengan mikroba
Pseudomonas mampu mendegradasi senyawa hidrokarbon (naftalen). Hardjito
(2003) melakukan degradasi minyak bumi dengan mikroba Pseudomonas
aeruginosa, Arthrobacter simplex. Kitts & Kaplan (2004) menemukan jenis
bakteri Flavobacterium, Pseudomonas dan Azoarcus mampu mendegradasi total
petroleum hidrokarbon di ladang minyak Guadalupe.
Optimasi degradasi Total Petroleum Hidrokarbon
Bioremediasi limbah hidrokarbon pada tanah yang terkontaminasi minyak
pelumas, solar dan gasolin mampu mendegradasi TPH dari 5.15 % menjadi 0.46%
selama 16 minggu atau terdegradasi 91.15 % (Tabel 16).
55
Tabel 16. Degradasi total petroleum hidrokarbon TPH (%) selama 16
minggu.
Degradasi Total Petroleum Hidrokarbon (TPH) %
Minggu
Perlakuan IV VIII XII XIV XVI
A 26.85 57.69 80.73 84.62 88.12
B 30.42 55.69 78.80 83.78 86.96
C 26.11 54.16 78.79 83.43 86.57
D 26.11 51.20 76.11 82.66 85.82
E1 30.77 60.53 82.66 89.60 90.76
E2 33.92 60.45 83.16 90.01 90.78
E3 31.49 63.35 83.92 90.40 91.15
F 28.51 52.69 76.97 82.25 85.41
G 26.63 52.06 74.95 81.61 84.20
H 28.70 56.03 78.95 84.21 87.29
I 23.81 47.87 72.99 80.81 83.86
J 11.27 22.85 38.34 46.15 55.00
Hasil analisis memperlihatkan bahwa perlakuan kompos dan bakteri
berpengaruh terhadap degradasi TPH. Hasil penelitian ini didukung oleh
penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa status nutrien tanah merupakan
faktor penentu aktivitas mikroba (Komar & Irianto 2000). Kompos dapat
digunakan sebagai sumber mikroba dan bulking agent untuk bioremediasi, juga
berperan memperbaiki sifat kimia tanah seperti pH, kelembaban dan struktur
tanah dan berperan sebagai sumber nutrien, dengan demikian memperbaiki
lingkungan tanah terkontaminasi (Fermor et al. 2001).
Hasil Analisis optimasi degradasi TPH dengan menggunakan RSM
memberikan respon maksimum. Berdasarkan pengolahan data menggunakan
Software SAS diperoleh persamaan :
Y = 83.15+1.65 X1 + 3.26 X2 -6.05 X1
2
-5.80 X2
2
-0.38 X1X2.
Dari persamaan tersebut diperoleh permukaan respon degradasi TPH seperti
disajikan pada Gambar 13. Sedangkan hasil analisis ragam perlakuan kompos dan
bakteri disajikan pada Tabel 17. Pengolahan data menggunakan SAS diperoleh
nilai optimum untuk degradasi TPH pada kombinasi perlakuan kompos 21.28 %
dan bakteri 11.38 % yang mampu mendegradasi TPH 83.43 %.
56
Hasil analisis statistik pada Tabel 17 menunjukkan bahwa X
1
(kompos) dan
X
2
(bakteri) berpengaruh terhadap degradasi TPH dengan nilai signifikansi
sebesar 93.28 % untuk bakteri dan 70.04 % untuk kompos.
Permukaan respon
Gambar 13. Permukaan respon degradasi TPH minggu XII
Tabel 17. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap
degaradasi TPH pada minggu XII
Faktor Pendugaan pengaruh %Signifikansi
Intersep
83.15
100
X1
1.65
70.04
X2
3.26
93.28
X1
2
-6.04
98.17
X2
2
-5.80
98.27
X1X2
-0.38
14.36
R
2
0.84
Penambahan kompos dan bakteri berpengaruh terhadap degradasi TPH.
Pada minggu XII perlakuan kompos 20 % dan inokulan 10 % mampu
menurunkan TPH dari 5.15 % menjadi 0.83 % yaitu terdegradradasi 83.92 %.
Hasil ini memperlihatkan bahwa biostimulasi kompos dan bioaugmentation jenis
bakteri Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan Pseudomonas aeruginosa
57
mampu menurunkan hidrokarbon (TPH) dibawah 1 % sesuai dengan Kep-MenLH
No. 128 tahun 2003, jika dibandingkan dengan perlakuan kontrol dengan TPH
3.18 % yang terdegradasi 38.34 %.
Kompos yang ditambahkan ke dalam perlakuan berfungsi sebagai sumber
nutrisi bagi pertumbuhan mikroba baik indigen maupun eksogen, namun
penambahan nutrisi ini juga perlu diperhatikan rasio yang tepat untuk
pertumbuhan bakteri agar tidak menjadi patogen terhadap bakteri dalam
mendegradasi senyawa hidrokarbon.
Menurut Hardjowigeno (1995), bahwa unsur C dalam tanah ( 3% - 5 %)
sudah cukup, tetapi untuk kebutuhan mikroba yang berfungsi mendegradasi TPH
adalah rasio C:N:P. Hasil analisis C:N:P ratio terlihat bahwa pada perlakuan
kompos 20 % dan inokulan 10 % nilai C:N:P ratio lebih kecil jika dibandingkan
dengan perlakuan yang lain. Hasil analisis C:N:P memperlihatkan bahwa ada
keseimbangan unsur hara dalam tanah yang digunakan oleh mikroba untuk hidup
dan pertumbuhan, sehingga mikroba dapat mendegradasi bahan pencemar
hidrokarbon. Rasio C:N:P ini termasuk dalam kategori yang dapat mempercepat
terjadinya degradasi hidrokarbon. Sesuai yang dilakukan oleh peneliti
sebelumnya C:N:P dengan ratio 66.7:10: 0.2 ini lebih baik jika dibandingkan
dengan C:N:P ratio 133.3: 10: 0.17 (Dibble & Bartha 1979). Alexander (1994)
menyatakan C:N:P ratio 10:1:0.2 terbaik mendegradasi limbah minyak. Dickson
& Odokuma (2003) menyatakan semakin kecil C:N ratio dan peningkatan P maka
degradasi limbah minyak lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan C:N
ratio dan penurunan P. Obbard & Ran (2003) melaporkan bahwa C:N:P ratio
100:10:1 lebih baik jika dibandingkan dengan C:N:P ratio 100:1.1:0.05.
Hasil analisis menggunakan kromatografi gas (Lampiran 15) menunjukkan
adanya penguraian hidrokarbon yang lebih besar pada perlakuan yang diperkaya
kompos dan bakteri dibandingkan dengan perlakuan kontrol (tanpa penambahan
kompos dan bakteri) yaitu C
28
H
58
menjadi C
11
H
24
sedangkan pada perlakuan
kontrol C
28
H
58
- C
19
H
40
.
Degradasi TPH setiap pengamatan (setiap empat minggu) disajikan pada
Lampiran 3 dan Gambar 14. Presentasi TPH yang terdegradasi setiap pengamatan
terbesar terjadi pada minggu XII yaitu 57.41 % pada perlakuan penambahan
58
kompos 20 % (w/w) dan inokulan 10 % (v/w), dan pada minggu tersebut nilai
TPH 0.87 % di bawah baku mutu Kep-MenLH No. 23 Tahun 2003 yaitu 1 %.
Sedangkan untuk perlakuan kontrol sampai pada minggu XVI masih di atas baku
mutu yaitu 2.32 %.
Pada Gambar 14 TPH yang terdegradasi tertinggi pada minggu XII ini
terlihat bahwa waktu proses bioremediasi berpengaruh terhadap degradasi TPH.
Menurut Schinner & Margesin (2001) degradasi hidrokarbon pada proses
bioremediasi dimulai pada minggu ke 3 dan perubahan yang mencolok itu terjadi
setelah 8 minggu (minggu ke 11). Pada penelitian ini hasil analisis jumlah
mikroba juga memperlihatkan bahwa pada minggu ke 4 - 12 jumlah sel mikroba
7.0 x 10
6
CFU ml
-1
- 1.5 x 10
8
CFU ml
-1
, sedangkan pada perlakuan kontrol
jumlah mikroba 3.5 x 10
4
3.0 x 10
5
CFU ml
-1
. Hasil ini memperlihatkan bahwa
pada perlakuan penambahan kompos jumlah mikroba lebih banyak dibandingkan
pada perlakuan kontrol, sehingga TPH yang terdegradasi juga lebih besar.
% degradasi TPH/pengamatan
0
10
20
30
40
50
60
70
0 IV VIII XII XVI
Minggu
%

d
e
g
r
a
d
a
s
i

T
P
H
/
p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
A
B
C
D
E1
E2
E3
F
G
H
I
J
Keterangan : A. Kompos 30% + inokulan 15 % ; B. kompos 10% + inokulan 15 %, C. Kompos
30%+ inokulan5 % ; D. Kompos 10% + inokulan 5 % ,E1, E2, E3 kompos
20% + inokulan 10 %; F. Kompos 33.14 % + inokulan 10 %, G. Kompos 5.86 %
+ inokulan 10 %; H.. Kompos 20 % + inokulan 17.0%; I. Kompos 20% +
inokulan 2.93 % ; J.Kontrol (tanpa kompos dan inokulan)
Gambar 14. Grafik degradasi TPH (%) per empat minggu selama 16 minggu
pengamatan.
Pembahasan Umum
Dari hasil analisis yang dilakukan di lapangan, menunjukkan nilai indeks
keberlanjutan dimensi ekologi sebesar 83.87. Nilai indeks dimensi ekologi berada
pada nilai IKB-BLH kategori berkelanjutan dengan kisaran nilai 75 100
(Suwandi 2005; Mersyah 2006; Marhayudi 2006). Nilai indeks dimensi ekologi
masih dapat ditingkatkan melalui identifikasi faktor sensitif terhadap atribut yang
mempengaruhi sensitivitas.
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas dimensi ekologi, tiga atribut yang
sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi yaitu TPH dengan
nilai 4.80; pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pemukiman dengan nilai 5.69 dan
pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pertanian dengan nilai 4.00. Ketiga parameter
tersebut merupakan atribut yang sensitif berpengaruh terhadap indeks
keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon.
TPH merupakan salah satu atribut yang sensitif terhadap keberlanjutan dari
dimensi ekologi. Hasil pengukuran TPH pada pengelohan limbah hidrokarbon di
KPC dengan metode landfarming dan bioaugmentation jenis Petro petrio terjadi
penurunan TPH dari 1.5 % menjadi 1.0 % dengan waktu bioremediasi 3 bulan,
TPH yang terdegradasi 33.33 %. TPH ini termasuk dalam ketegori yang sudah
memenuhi baku mutu yaitu 1 %, tetapi yang diharapkan adalah TPH < 1 % maka
akan berkelanjutan (Kep-Men LH No. 128 Tahun 2003). Untuk menghasilkan
TPH kecil dari 1 % dengan waktu cepat disarankan menggunakan metode
bioremediasi dengan biostimulasi kompos dan bioaugmentation.
Hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan penambahan
kompos dan bakteri mampu mendegradsi TPH dari 5.15 % hingga 0.83 % terjadi
penurunan 83.92 % dengan waktu remediasi 12 minggu. Biostimulasi kompos dan
bioaugmentation mempercepat terjadinya degradasi hidrokarbon. Kompos yang
digunakan selain memperbaiki unsur hara dalam tanah, juga menyumbangkan
bakteri yang mampu mendegradasi minyak (hidrokarbon). Kompos selain
memperbaiki mutu dan sifat tanah juga dapat digunakan untuk memperbaiki tanah
terkontaminasi berbagai polutan organik (Fermor et al. 2001).
Tanah tercemar limbah minyak apabila dijadikan sebagai lahan pemukiman
termasuk yang sensitif berpengaruh terhadap keberlanjutan dari dimensi ekologi.
71
Tanah tercemar limbah minyak akan mengkontaminasi air tanah. Apabila terjadi
pencemaran minyak pada permukaan, maka minyak tersebut akan masuk ke
dalam tanah. Jarak rembesan minyak yaitu 10 50 m (Fatimah & Rahmat 2007).
Tanah tercemar minyak apabila dijadikan sebagai lahan pemukiman, akan
berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Connel & Miller (1995) melaporkan
bahwa pencemaran yang disebabkan karena adanya hidrokarbon berpengaruh
terhadap hewan dan manusia.
Pemanfaatan lahan untuk pertanian termasuk sensitif berpengaruh terhadap
keberlanjutan dari dimensi ekologi. Lahan tercemar minyak apabila dijadikan
sebagai lahan pertanian, akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa di lokasi kilang minyak Mathura-India
yang tercemar limbah minyak tidak ada vegetasi yang tumbuh (Mishra et al.
2001). Penelitian lain melaporkan bahwa di dalam tanah dengan konsentrasi
hidrokarbon 1% - 5 % umumnya tanaman, dapat tumbuh tetapi kurang subur
(Bossert & Bartha 1984). Schlegel (1994) menyatakan bahwa tumpahan atau
ceceran minyak dapat menyebabkan flora, fauna mati dan terganggu
pertumbuhannya Oleh karena itu tanah yang tercemar limbah hidrokarbon perlu
dilakukan pemulihan dengan bioremediasi agar lahan yang digunakan untuk
pertanian dapat berkelanjutan.
Keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon juga perlu ditinjau dari
dimensi ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan indeks keberlanjutan dimensi
ekonomi sebesar 55.24. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi termasuk ke
dalam kategori cukup berkelanjutan, yaitu berada pada kisaran 50.00 75.00
(Suwandi 2005; Mersyah 2006; Marhayudi 2006). Nilai indeks dimensi ekonomi
masih dapat ditingkatkan melalui identifikasi faktor sensitif terhadap
keberlanjutan yang merupakan hasil dari analisis sensitivitas.
Hasil analisis sensitivitas, atribut yang berpengaruh terhadap keberlanjutan
dari dimensi ekonomi yaitu ; nilai lahan yang tercemar dan biaya pengolahan
limbah. Nilai lahan di sekitar lokasi pengolahan limbah Rp. 2.000 m
-2
, dengan
radius 1 km dari kota Sangatta, sedangkan di Sangatta nilai Rp. 100.000,- m
-2
.
Untuk meningkatkan nilai lahan yang tercemar limbah hidrokarbon, perlu
dilakukan pemulihan yaitu dengan bioremediasi.
72
Pengolahan limbah dengan bioremediasi juga termasuk yang sensitif
berpengaruh terhadap keberlanjutan dari dimensi ekonomi. Pengolahan dengan
bioremediasi membutuhkan biaya yang besar disebabkan karena perlu penyiapan
lahan, alat-alat dan bahan yang digunakan untuk bioremediasi, dan juga waktu
bioremediasi cukup lama.
Penelitian yang dilakukan di lokasi pengolahan limbah KPC menjelaskan
bahwa biaya bioremediasi yang digunakan sebesar Rp. 200.000.000,- untuk
mengolah limbah 147 m
3
, atau sekitar Rp. 1.360.544 m
-3
. Menurut Fermor et al.
(2001) pengolahan dengan bioremediasi membutuhkan biaya 40$ m
-3
, atau
Rp.400.000,- m
-3
.
Penelitian yang dilakukan di laboratorium dengan biostimulasi kompos dan
bioaugmentation dari jenis Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan
Pseudomonas aeruginosa, dapat mempercepat proses bioremediasi. Kalau hal ini
dilakukan maka nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi akan naik menjadi
71.12 (Gambar 25) termasuk ke dalam kategori berkelanjutan.
71.12
Down
Up
Bad
Good
-60
-40
-20
0
20
40
60
0 20 40 60 80 100 120
Sumbu Xsetelah rot asi: skala keberlanjut an
O
t
h
e
r

D
i
s
t
i
n
g
i
s
h
i
n
g

F
e
a
t
u
r
e
s
Gambar 25. Hasil analisis keberlanjutan bioremediasi limbah dimensi
ekologi dengan menggunakan data laboratorium.
Nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial budaya sebesar 76.76 . Nilai ini
jika dibandingkan dengan nilai indeks keberlanjutan yang bersifat multidimensi
berada di atas nilai IKB-BLH dan termasuk ke dalam kategori berkelanjutan
73
dengan nilai 75 100 (Suwandi 2005; Mersyah 2006; Marhayudi 2006). Nilai
indeks dimensi sosial masih dapat ditingkatkan melalui identifikasi faktor sensitif
terhadap keberlanjutan yang merupakan hasil analisis sensitivitas.
Berdasarjan hasil analisis sensitivitas dimensi sosial, atribut yang
berpengaruh terhadap keberlanjutan dari dimensi sosial yaitu peran masyarakat
dalam pengolalan limbah. Masyarakat diharapkan terlibat dalam proses
pengolahan limbah sehingga keberlanjutan dari dimensi sosial dapat ditingkatkan.
Hasil penelitian yang dilakukan dilaboratorium dapat dijadikan saran untuk
bioremediasi limbah hidrokarbon di lapangan. Bioremediasi dengan biostimulasi
dan bioaugmentation dapat mempercepat proses bioremediasi, sehingga indeks
keberlanjutan dari bioremediasi limbah hidrokarbon dapat ditingkatkan.
Berdasarkan analisis sensitivitas dari dimensi ekologi, ekonomi dan sosial
diusulkan rekomendasi kebijakan pelaksanaan bioremediasi yakni :
1. Dalam melakukan bioremediasi hal yang pertama kali harus dilakukan
adalah melihat karakteristik dari limbah tersebut; dalam hal ini
menentukan konsentrasinya; jika konsentrasi TPH > 1 %, maka limbah
tersebut perlu di bioremediasi.
2. Dalam melakukan bioremediasi harus memperhatikan lahan sekitarnya,
termasuk untuk pemukiman dan pertanian.
3. Dalam melakukan bioremediasi juga harus memperhatikan biaya
pengolahan limbah.
4. Pengelolaan limbah dan pelestarian lingkungan harus ada kerjasama antara
pemerintah, pengusaha dan masyarakat sehingga pengelolaan limbah dan
pelestarian lingkungan dapat dilakukan secara baik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Proses bioremediasi dengan biostimulasi kompos dan bioaugmentation
menggunakan bakteri Arthrobacter simplex, Mycobacterium phlei dan
Pseudomonas aeruginosa dapat mempercepat laju degradasi limbah
hidrokarbon.
2. Optimasi degradasi TPH pada minggu 12 dapat menurunkan TPH dibawah
1 %. Hasil analisis optimasi degradasi TPH dengan metode RSM pada minggu
ke 12 dengan biostimulasi kompos 21 % dan bioaugmentation 11 % mampu
mendegradasi total petroleum hidrokarbon 83 %.
3. Hasil analisis indeks keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon dengan
metode multidimensional scaling, dimensi ekologi dan sosial berkelanjutan
(baik) dan dimensi ekonomi cukup berkelanjutan.
Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang jenis bakteri pada kompos yang
sangat berperan dalam proses degradasi total petroleum hidrokarbon.
2. Untuk mempercepat proses degradasi limbah bengkel disarankan
menggunakan metode bioremediasi dengan biostimulasi kompos dan
bioaugmentation (penambahan bakteri).
3. Analisis keberlajutan bioremediasi limbah hidrokarbon dari 3 dimensi yang
dianalisis ada satu dimensi yang cukup berkelanjutan yaitu dimensi ekonomi.
Untuk meningkatkan keberlanjutan dimensi ekonomi disarankan bioremediasi
dengan biostimulasi kompos dan bioaugmentation akan mempercepat
degradasi TPH sehingga waktu yang digunakan relatif singkat dan dapat
mengurangi biaya bioremediasi.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, M. 1994. Bioremediation and Biodegradation. Second edition.
Academic Press.
Atlas, R.M., Bartha, R. 1987. Microbial Ecology: Fundamental and Application.
Cumming Publishing. California.
Baker, K.H., Herson, D.S. 1994. Bioremediation. Mc. Graw-Hill Inc. New York.
Bapadel 1997. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997
Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Badan Pengendali Dampak
Lingkungan. Jakarta.
Bollag, W.B., Bollag, J.M. 1992. Bioremediation. di dalam Encyclopedia of
Microbiology Volume 1. Lederberg, Joshua. 1992. Academic Press Inc.
New York.
Bossert, I., Bartha, R. 1984. The Fate of Petroleum in Soil Ecosystem.
Petroleum Microbiology. MacMillan Publishing Company, New York.
Bragg, J.R, Prince, R.C., Wilkinson, J.B., Atlas, M. 1993. Bioremediation for
Shoreline Clean Up Following the 1989 Alaska Oil Spill. Office of Research
and Development, United States Environmental Protection Agency,
Washington.
Capone, D.G., Bauer, J.E. 1992. Microbial Processes in Coastal Pollution,
Environmental Microbiology. Willey-Liss Inc. New York.
Chan, S.C.E., Pelczar, J.M. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Pres) Jakarta.
Citroreksoko, 1996. Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan Lingkungan.
Prosiding Pelatihan dan Lokakarya, Cibinong 24 28 Juni 1996. LIPI-
BPPT-HSF.
Connell, D.W., Miller, G.J. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Crawford, L.D., Crawford, L.R. 1996. Bioremediation: Principles and
Application. Cambridge University Press.
Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S.P., Sitepu, M.J. 1996. Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Lautan Secara terpadu. Pradnya Paramita , Jakarta.
76
Dewi, R.S. 2005. Optimasi Penggunaan Surfaktan Linear Alkylbenzena Sulfonat
(LAS) dan Nisbah C/N pada Bioremediasi Tanah Tercemar Limbah Minyak
Bumi. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Dickson, A.A., Odokuma, O.L. 2003. Bioremediation of Crude Oil Polluted
Tropical Rain Forest Soil. J. Environ. Sci., 2 (1), 29 - 40.
Fahruddin. 2006. Peningkatan Kapasitas Bakteri Dalam Biodegradasi Benzena
Melalui Mutagenesis UV. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Fauzi, A., Anna, S. 2005. Evaluasi Status Keberlanjutan Pembangunan Perikanan:
Aplikasi Pendekatan Rapfish (Studi Kasus Perairan Pesisir DKI Jakarta)
dalam Buku Pemodelan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan Untuk
Analisis Kebijakan. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Fauzi, M.A., Sa'id, G.E. 1996. Bioremediasi Dengan Mikroorganisme. Prosiding
Pelatihan dan Lokakarya Peranan Bioremediasi dalam Pengelolaan
Lingkungan. Kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), 24 -28 Juni 1996,
Bogor.
Fatimah, Rahmat, H. 2007. Inventarisasi Kandungan Minyak Dalam Batuan
Daerah Kedungjati, Kabupaten Semarang, Propivinsi Jawa Tengah.
Proseding Pemaparan Hasil Kegiatan Lapangan dan Non Lapangan. Pusat
Sumber Daya Geologi.
Fermiani, F. 2003. Pengolahan Tanah Terkontaminasi Minyak dengan Teknik
Bioremediasi di Lapangan Minas, PT. Caltex Pasific Indonesia. Dalam
Prosiding Seminar Bioremidiasi dan Rehabilitasi Lahan Sekitar
Pertambangan dan Perminyakan. Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan
Lautan,Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Fermor, T.R., Reid, B.J., Semple, K.T. 2001. Impact of Composting Strategi on
the Treatment of Soil Contaminated With Organik Pollution. Rev. Environ.
Poll.112: 269 - 283.
Fisheries. 1999. Rapfish Software for Excel. Fisheries Centre Research Reports.
75 hal.
Hardjito,L.2003.The Treatment of Petroleum Industrial Waste and Bioremediation
of Contaminated Site In Indonesia. Dalam Prosiding Seminar Bioremidiasi
dan Rehabilitasi Lahan Sekitar Pertambangan dan Perminyakan. Pusat
Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan,Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.
77
Head, M.I., Daniel, F., Swannell, J.P.R., Fratepietro, F., Jones, M.D., Milner,
G.M., Rolling, F.W. 2004.Bacterial Community Dynamics and Hydrocarbon
Degradation During a Field-Scale Evaluation of Bioremediation on a
Mudflat Beach Contaminated with Buried Oil. Appl. Environ. Microb. 70:
2603 - 2613.
IPB 2006. Kandungan Unsur Hara Hasil Uji Laboratorium IPB Bogor.
Iswari, D. 2008. Indeks Keberlanjutan Pengembangan Kawasan Sentra Produksi
Jeruk dengan Rap-CITRUS Studi Kasus Di Kabupaten Agam, Sumatera
Barat. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Jumbriah 2006. Bioremediasi Tanah tercemar Diazinon Secara Ex Situ dengan
Menggunakan Kompos Limbah Media Jamur (Spent Mushroom Compost).
Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Kavanagh, P. 2001. Rapid Appraisal of Fisheries (Rapfish) Project. Rapfish
Software Dercription (for Microsof Exel). University of British Columbia.
Fisheries Centre. Vancourver.
Kay, R., Alder, J. 1999. Coastal Planning and Management. Routledge. New
York.
Kementerian Lingkungan Hidup 2003. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
Nomor 128 tentang Tata Cara Dan Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah
Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi Oleh Minyak Bumi Secara
Biologis.
Kitts, L.C.,Kaplan, W.C. 2004. Bacterial Succession in a Petroleum Land
Treatment. Appl.Environ. Microb., 70 (3), 1777-1786.
Komar, S.M., Irianto, A. 2000. Bioremediation In Vitro Tanah Tercemar Toluen
Dengan Penambahan Baccilus Galur Lokal. J. Mikrob. Ind., 5 (2), 43 -47.
Lai, B., Krishnan. S., Bhattacharya, D., Sarma, M.P. 2004. Degradation of
Polycyclic Aromatic Hydrocarbons by a Newsly Discovered Enteric
Bacterium, Leclercia adecarboxylata. Appl. Environ. Microb., 70 (5), 3163-
3166.
Laine, M.M., Jorgensen, K.S. 1997. Effective and Safe Composting of
Chlorophenol Contaminated Soil in Pilot Scale. Environ. Sci. 31 (2), 371
378.
Lee, K., Merlin, F.X. 1999. Bioremediation of Oil on Shoreline Envionments:
Development of Techniques and Guidelines. Pure Appl. Chem. 71: 161-171.
Legendre, L. Legendre P. 1983. Numerical Ecology. Developments in
Environmental Modelling, 3. Elsevier Publishing Company, Amsterdam.
78
Lehninger, L.A. 1991. Dasar Dasar Biokimia. Thenawidjaya, M. [Penerjemah];
Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. Penerbit Erlangga.
Lorenzen, Thomas,J., Anderson, V.L. 1993. Design of Experiments. Marcel
Dekker, Inc. New York.
Mahro, B., Kastner, M. 1996. Microbial Degradation of Polycyclic Aromatic
Hydrocarbon in Soils Affected by the Organic Matrix of Compost.
Appl.Microb. Biotech., 44: 668-675.
Marhayudi, P. 2006. Model Pengelolaan Sumberdaya Hutan Berkelanjutan Di
Wilayah Perbatasan Kalimantan barat. Disertasi. Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor.
Mersyah, R. 2005. Desain Sistem Budidaya Sapi Potong Berkelanjutan Untuk
Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Bengkulu Selatan.
Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Michael, P. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan dan
Laboratorium. Yanti R.Koestoer [Penerjemah]; S.Suharto [Pendamping];
Terjemahan dari: Ecological Methods for Field and Laboratory
Investigations. Penerbit UI Press.
Montgomery, D.C. 1991. Design and Analysis of Experiments. John Willey &
Sons, New York.
Munasinghe, M. 1993. Environmental Economic and Sustainable Development
The International Bank for Reconstruction and Development/THE WORLD
BANK. Washington D.C.20433. U.S.A.
Munawar, Mukhtasor, Surtiningsih, T. 2007. Bioremediasi Tumpahan Minyak
Mentah dengan Metode Biostimulasi Nutrien Organik di Lingkungan Pantai
Surabaya Timur. Berk.Penelitian Hayati. Vol. 13 (91 96).
Murbandono, L. 2001. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nakayama, K. 1982. Amino Acids in Prescott and Dunns Industrial Microbiology.
AVI Publishing Company, Inc Westport Connecticut, London.
Notodarmodjo, S. 2005. Pencemaran Tanah dan Air Tanah. Penerbit ITB
Bandung.
Obbard, P.J., Ran Xu. 2003. Effect of Nutrient Amandments on Indigenous
Hydrocarbon Biodegradation in Oil-Contaminated Beach Sedimen. J.
Environ. Qual., 32:1234 1243.
79
Oetomo, D. 1997. Studi Awal Biodegradasi Minyak Bumi Oleh Mikroorganisme.
Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Pedersen,T.A.,Bourguin AW. 1995. Bioremediation Engineering. Bioremediation
Science and Applications.
Rosenberg, E., Ron, E.Z. 1998. Bioremediation of Petroleum Contamination.
Dalam R.L. Crawford and D.L. Crawford (Eds). Bioremidiation Principles
and Application. Cambridge University Press, Cambridge.
Rosenberg, E., Ron, E.Z., Knezevic, V., Koren, O. 2003. Petroleum Pollution
Bioremediation Using Water-Insoluble Uric Acid as The Nitrogen Source.
Appl. Environ. Microb. 6337-6339.
Ryckeboer,J.,Coosemans,J.,Swings,J.,Mergaert,J.,Gestel,V.K.2003.
Bioremediation of Diesel Oil-Contaminated Soil by Composting wiyh
Biowaste. Environ. Poll., 125: 361 -368.
Saragih, B., Sipayung, T. 2002. Biological Utilization in Developmentalism and
Environmentalism. Paper Presented at the International Seminar on Natural
Rasources Accounting-Environmental Economic Held in Yogyakarta.
Indonesia, April 29.
Schinner, F., Margesin, R. 2001. Bioremediation (Natural Attenuation and
Biostimulation) of Diesel-Oil-Contaminated Soil in an Alpine Clacier Skiing
Area. Appl. Environ. Microb., 67 (7), 3127 3133.
Schlegel, H.G. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada Uviversity Press,
Yogyakarta.
Setiyo R. 2006. Pengaruh Sampah Kota Terhadap Hasil dan Tahana Hara
Lombok. J. Ilmu Tanah dan Lingk.3 (2), 24 -28.
Speight, J.G. 1980. The Chemistry and Technology of Pertoleum. Marcel
Dekker, Inc. New York.
Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Penerbit Universitas
Indonesia (UI Press), Jakarta.
Suortti, M.A., Puustinen, J., Jorgensen, S.K. 2000. Bioremediation of Petroleum
Hydrocarbon-Contaminated Soil by Composting in Biopiles. Environ. Poll.,
107: 245 -254.
Supangat, T.A. 2006. Meteri Pokok Manajemen Sumberdaya Perikanan. Jakarta
Universitas Terbuka. Penerbit Universitas Terbuka.
80
Susilo, S.B. 2003. Keberlanjutan Pembangunan Pulau-Pulau Kecil: Studi Kasus
Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. DKI Jakarta
(Disertasi). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Sutyarso. 1992. Dampak Pencemaran Minyak Terhadap Ekosistem Laut.
Lingkungan dan Pembangunan. Vol. 12 (3), 145 - 157.
Suwandi. 2005. Keberlanjutan Usaha Tani Pola Padi Sawah-Sapi Potong terpadu
di Kabupaten Sragen: Pendekatan RAP-CLS. Disertasi Sekolah Pasca
Sarjana Institup Pertanian Bogor.
Swannell, R.P., Lee K., McDonagh, M. 1996. Field Evaluation of Marine Oil
Spill Bioremediation. National Environmental Technology Centre, Canada.
Tiwary, R.K. 2001. Environmental Impact Of Coal Mining on Water Regime and
Its Management. Water Air and Soil Poll., 132: 185-199.
Udiharto, M. 1996. Bioremidiasi Minyak Bumi. Prosiding Pelatihan dan
Lokakarya Peranan Bioremidiasi dalam Pengelolaan Lingkungan.
Kerjasama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Hanns Seidel Foundation (HSF)
Jerman, 24 -28 Juni 1996, Bogor.
Vandergheynst, S.J., Park S.J., Namkong, W. 2003. Biofiltration of Gasolin vapor
by Compost Media. Environ. Poll., 121: 181-187.
Wheeler, F.M., Volk, A.W. 1988. Mikrobiologi Dasar. Editor Adisoemarto S.
Penerbit Erlangga.
White, C.D., Chang, J.Y., Davis, A.G., Venosa, D.A.,Stephen, R.J., MacNaughton
JS.1999. Microbial Population Changes During Bioremediation of
Experimental Oil Spill. Appl. Environ. Microb., 65 (8), 3566-3574.
Wijayaratih,Y. 2001. Perombakan Senyawa Hidrokarbon Aromatis Polisiklik
(Naftalen) Pada Kadar Tinggi oleh Pseudomonas NY-1. J. Manusia Lingk.
8: 130 -141.
Wisjnuprapto, 1996. Bioremidiasi, Manfaat dan Pengembangannya. Dalam
Prosiding Pelatihan dan Lokakarya Peranan Bioremidiasi dalam Pengelolaan
Lingkungan. LIPI/BPPT/HSF, Cibinong.
Wood, H.J., Kleinfelter, C.D., Keenan, W.C. 1992. Ilmu Kimia Untuk
Universitas. Penerbit Erlangga.
Yani, M. Fauzi, M.A. 2005. Penanggulangan Lahan dan Perairan Terkontaminasi
Senyawa Hidrokarbon dengan Metode Bioremediasi. Seminar Nasional
81
Bioremediasi: Perkembangan Kebijakan Riset dan Penerapan Bioremediasi
di Indonesia. PKSPL-IPB.
Yuwono T. 2006. Kecepatan Dekomposisi dan Kualitas Kompos Sampah
Organik. J. Inovasi Pertanian 4 (2), 116 123.
Zulfitri. 1994. Pemanfaatan Mikroorganisme Sebagai Salah Satu Alternatif
Pengolahan Limbah Industri. Jurnal Pusat Studi Lingkungan Perguruan
Tinggi Seluruh Indonesia. Artikel. 14(4), 234 240.
83
Lampiran 1. Kadar minyak dalam tanah yang di bioremediasi
Minggu / berat minyak (g kg
-1
) Perla-
kuan 0 II IV VI VIII X XII XIV XVI
A 85.49 60.22 53.73 45.95 36.78 28.83 17.93 14.91 13.86
B 84.72 58.07 49.95 47.71 37.77 27.89 16.93 13.97 13.87
C 85.23 61.20 53.89 49.95 39.49 31.84 20.94 16.93 15.87
D 85.32 62.19 56.55 50.64 42.53 32.84 20.92 15.94 14.85
E1 85.35 57.20 49.70 41.87 32.84 23.71 14.90 11.94 9.95
E2 85.12 53.10 46.53 42.91 32.90 26.95 13.85 9.93 8.94
E3 85.15 54.56 47.52 42.93 29.91 21.78 14.84 9.92 8.95
F 85.37 61.45 54.73 50.90 40.92 33.80 21.91 17.95 15.89
G 85.15 62.87 55.89 51.90 41.62 34.79 22.82 18.81 16.93
H 85.49 61.02 53.78 46.90 37.55 28.74 17.80 14.92 13.93
I 84.81 63.62 58.82 52.79 45.91 35.61 23.93 19.84 17.88
J 85.49 75.55 71.78 65.54 63.81 61.32 55.78 48.71 45.73
84
Lampiran 2. Total Petroleum Hidrokarbon
Total Petroleum Hidrokarbon (TPH) %
Minggu Perlakuan
0 IV VIII XII XIV XVI
A 5.16 3.78 2.19 0.99 0.79 0.61
B 5.15 3.59 2.29 1.09 0.84 0.67
C 5.16 3.79 2.37 1.10 0.86 0.69
D 5.15 3.82 2.52 1.23 0.89 0.73
E1 5.15 3.58 2.04 0.89 0.54 0.48
E2 5.15 3.42 2.04 0.87 0.52 0.48
E3 5.15 3.54 1.89 0.83 0.50 0.46
F 5.15 3.69 2.44 1.19 0.92 0.75
G 5.17 3.79 2.48 1.29 0.95 0.82
H 5.16 3.68 2.27 1.09 0.82 0.66
I 5.17 3.94 2.69 1.40 0.99 0.83
J 5.17 4.57 3.99 3.19 2.78 2.32
85
Lampiran 3. Degradasi total petroleum hidrokarbon TPH (%) per empat minggu
selama penelitian
Degradasi TPH (%)/pengamatan
Minggu
Perlakuan
IV VIII XII XVI
A 26.85 42.16 54.45 38.36
B 30.42 36.43 52.08 38.49
C 26.11 37.53 53.71 36.68
D 26.11 33.96 51.03 40.67
E1 30.77 42.99 56.18 46.56
E2 33.92 40.16 57.41 45.23
E3 31.49 46.50 56.14 44.96
F 28.51 33.84 51.31 36.61
G 26.63 34.67 47.74 36.92
H 28.70 38.33 52.13 39.64
I 23.81 31.58 48.20 40.23
J 11.27 13.04 20.08 27.02
86
Lampiran 4. Data hasil pengukuran pH tanah
Minggu/ pH tanah Perla-
kuan 0 II IV VI VIII X XII XIV XVI
A 6.5 6.5 6.5 7.0 6.5 7.0 7.0 7.0 6.5
B 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5
C 6.5 6.5 6.5 6.5 7.0 6.5 6.5 7.0 7.0
D 6.5 6.5 6.5 7.0 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5
E1 6.5 6.5 6.5 7.0 7.0 7.0 7.0 7.0 7.0
E2 6.5 7.0 7.0 6.5 6.5 6.5 6.5 7.0 6.5
E3 6.5 7.0 7.0 7.0 6,5 7.0 7.0 7.0 7.0
F 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 7.0
G 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 7.0 6.5
H 6.5 7.0 7.0 7.0 6.5 6.5 7.0 7.0 7.0
I 6.5 6.5 6.5 7.0 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5
J 6.5 6.1 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5 6.5
87
Lampiran 5. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap
degradasi TPH pada minggu ke 4 menggunakan software SAS
Faktor Pendugaan pengaruh %Signifikansi
Intersep 32.09 100
X1 -0.48 33.70
X2 2.998 96.88
X1
2
-4.58 98.47
X2
2
-5.51 99.42
X1X2 -1.78 73.42
R
2
0.88
Y = 32.09 -0.48 X1 + 2.99 X2 -4.58X1
2
-5.51 X2
2
-1.78 X1X2
Critical Value
Lampiran 6. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap
degradasi TPH pada minggu ke 8 menggunakan software SAS
Faktor Pendugaan pengaruh % Signifikansi
Intersep 61.33 100
X1 1.16 48.62
X2 4.89 97.03
X1
2
-7.95 98.87
X2
2
-8.04 99.13
X1X2 -0.48 15.73
R
2
0.88
Y = 61.33+1.16X1 + 4.89X2 --7.95X1
2
--8.04 X2
2
-0.48 X1X2
Critical Value
88
Lampiran 7. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap
degradasi TPH pada minggu ke 12 menggunakan software SAS
Faktor Pendugaan pengaruh % Signifikansi
Intersep
83.15
100
X1
1.65
70.04
X2
3.26
93.28
X1
2
-6.05
98.17
X2
2
-5.80
98.27
X1X2
-0.38
14.36
R
2
0.84
Y = 83.15 +1.65 X1 + 3.27X2 -6.05X1
2
-5.80X2
2
-0.38 X1X2
Critical Value
Lampiran 8. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap
degradasi TPH pada minggu ke 14 menggunakan software SAS
Faktor Pendugaan pengaruh % Signifikansi
Intersep
89.95
100
X1
0.30
25.56
X2
1.78
91.04
X1
2
-7.63
99.92
X2
2
-6.63
99.88
X1X2
0.03
2.20
R
2
0.94
Y = 89.95 +0.30X1 + 1.78X2 -7.63X1
2
-6.63X2
2
-0.03X1X2
Critical Value
89
Lampiran 9. Hasil analisis ragam pengaruh kompos dan bakteri terhadap
degradasi TPH pada minggu ke 16 menggunakan software SAS
Faktor Effect estimate %Signifikansi (ambil dari 1-nilai px
100%)
Intersep
90.84
100
X1
0.69
52.16
X2
1.89
91.53
X1
2
-5.40
99.55
X2
2
-4.36
99.14
X1X2
0.21
12.67
R
2
0.88
Y = 90.84+0.69X1 + 1.89X2 -5.40X1
2
-4.36X2
2
0.21X1X2
Critical Value
90
Lampiran 10. Hasil identifikasi Bakteri
No. Jenis bakteri Tanah yang
terkontaminasi
minyak (awal)
Kompos yang
terkontaminasi
minyak
Tanah (akhir
penelitian)
1 Azotobacter sp
2. Bacillus alvei
3. Bacillus macerans
4. Bacillus
laterosporus

5. Bacillus larvae
6. Bacillus
megaterium

7. Pseudomonas
putida

8. Micrococcus
roseus

9. Pseudomonas
aeruginosa

10. Micrococcus
agalis

11. Mycobacterium sp
12. Nocardia sp
13. Bacillus cereus
14. Arthobacter sp
15 Bacillus subtilis
97
Lampiran 11. C- organik, N- total dan P- total tanah yang terkontaminasi limbah
bengkel.
Awal Minggu XII
Perlakuan C (%) N (%) P(ppm) C:N:P C (%) N(%) P
(ppm)
C:N:P
A 6.51 0.26 14.00 465:18.6:0.1 4.30 0.42 32.50 132:12.9:0.1
B 7.22 0.28 11.08 656:22.5:0.1 4.40 0.38 28.00 157:13.6:0.1
C 6.50 0.24 14.20 464:17.1:0.1 4.50 0.40 29.00 155:13.8:0.1
D 7.22 0.26 11.00 656:23.6:0.1 4.45 0.42 30.00 148:14:0.1
E1 6.90 0.26 13.00 530:20:0.1 4.08 0.42 40.00 102:10.5:0.1
E2 6.80 0.26 12.90 523:20:0.1 4.10 0.43 42.00 98:10.2:0.1
E3 6.97 0.26 12.05 580:21.7:0.1 4.10 0.42 42.00 98:10:0.1
F 6.45 0.26 12.05 537:21.7:0.1 4.58 0.36 25.00 183:14.4:0.1
G 7.40 0.24 10.05 740:24:0.1 4.65 0.34 24.00 136:10:0.1
H 6.80 0.26 13.20 523:20:0.1 4.32 0.40 30.00 144:13.3:0.1
I 6.90 0.28 12.00 573:23:0.1 4.70 0.34 25.00 138.2:10:0.1
J 7.50 0.22 7.39 1013:29.7:0.1 6.80 0.28 16.00 425:17.5:0.1
98
Lampiran 12. Kadar air tanah
Kadar Air(%)
Perlakuan Awal Akhir (minggu 12)
A 20.02 14.86
B 22.00 14.00
C 18.00 14.02
D 17.63 14.00
E1 18.86 14.32
E2 18.00 14.02
E3 18.00 14.20
F 17.00 15.00
G 16.80 14.55
H 21.08 15.20
I 14.32 13.00
J 13.86 12.20
99
Lampiran 13. Total Plate Count (TPC)
Total Plate Count (TPC) Minggu Perlakuan
0 II IV VI VIII X XII XIV XVI
A
B
C
D
E1
E2
E3
F
G
H
I
J
4.0 x 10
5
4.7 x 10
5
3.5 x 10
5
3.2 x 10
5
4.5 x 10
5
5.0 x 10
5
4.0 x 10
5
3.1 x 10
5
4.2 x 10
5
3.5 x 10
5
3.2 x 10
5
1.5 x 10
4
4.3 x 10
6
4.0 x 10
6
6.5 x 10
6
3.5 x 10
6
6.7 x 10
6
5.6 x 10
6
6.2 x 10
6
2.8 x 10
6
3.6 x 10
6
3.7 x 10
6
3.3 x 10
6
3.2 x 10
4
6.0 x 10
7
6.0 x 10
7
7.2 x 10
7
5.1 x 10
7
1.5 x 10
8
1.5 x 10
8
1.1 x 10
8
4.1 x 10
7
1.0 x 10
8
5.2 x 10
7
4.0 x 10
7
3.5 x 10
4
4.9 x 10
7
5.5 x 10
7
6.4 x 10
7
4.2 x 10
7
8.8 x 10
7
6.0 x 10
7
7.5 x 10
7
3.7 x 10
7
7.2 x 10
7
4.8 x 10
7
3.2 x 10
7
1.5 x 10
5
4.0 x 10
7
4.9 x 10
7
5.5 x 10
7
4.0 x 10
7
5.5 x 10
7
6.5 x 10
7
4.5 x 10
7
3.1 x 10
7
4.0 x 10
7
3.5 x 10
7
3.0 x 10
7
5.5 x 10
5
7.0 x 10
6
7.7 x 10
6
6.7 x 10
6
6.2 x 10
6
8.5 x 10
6
9.0 x 10
6
7.5 x 10
6
3.7 x 10
6
5.5 x 10
6
6.9 x 10
6
4.2 x 10
6
4.5 x 10
5
4.0 x 10
6
4.7 x 10
6
3.7 x 10
6
5.2 x 10
6
6.5 x 10
6
7.0 x 10
6
5.5 x 10
6
3.7 x 10
6
4.1 x 10
6
3.5 x 10
6
3.2 x 10
6
3.0 x 10
5
3.0 x 10
5
4.5 x 10
5
3.5 x 10
5
4.0 x 10
5
3.5 x 10
5
4.5 x 10
5
5.0 x 10
5
4.4 x 10
5
3.6 x 10
5
3.6 x 10
5
4.0 x 10
5
3.5 x 10
5
5.0 x 10
4
5.5 x 10
4
6.5 x 10
4
7.0 x 10
4
6.5 x 10
4
6.0 x 10
4
5.5 x 10
4
5.4 x 10
4
6.4 x 10
4
5.5 x 10
4
5.0 x 10
4
4.5 x 10
4
100
Lampiran 14. Atribut keberlanjutan bioremediasi untuk limbah hidrokarbon
No. Dimensi dan atribut
Dimensi Ekologi
1. Pemanfaatan limbah bengkel (olie)
2. Tempat pebuangan limbah
3. Pengolahan limbah (bioremediasi)
4. Tingkat pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pertanian/perkebunan
5. Tingkat pemanfaatan lahan sekitarnya untuk pemukiman
6. Tingkat pencemaran lingkungan sekitarnya
7. Suhu tanah
8. pH tanah
9. Kelembaban tanah
10. Total Petroleum Hidrokarbon (TPH)
11. Nutrisi N total tanah dan P total Tanah (N:P)
12. Jumlah bakteri
13. Identifikasi bakteri
Dimensi Ekonomi
14. Jumlah tenaga kerja
15. Tingkat pendapatan tenaga kerja
16. Harga limbah (olie bekas)
17. Biaya pengolahan limbah
18. Nilai lahan tercemar
19. Nilai lahan sekitarnya
20. Kontribusi terhadap pemerintah setempat
Dimensi Sosial
21 Tingkat pendidikan formal masyarakat
22. Pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan
23. Pengetahuan masyarakat mengenai limbah
24. Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan/limbah
25. Sosialisasi tentang pengelolaan lingkungan/limbah
26. Tingkat penyerapan tenaga kerja masyarakat sekitarnya
27. Jarak pemukiman dengan bengkel/pengolahan limbah
28. Pemanfaatan daerah sekitarnya oleh masyarakat
29. Pengaruh terhadap daerah sekitarnya (perilaku masyarakat)
101
Metode pengukuran pH tanah
Penentuan pH tanah dengan kertas lakmus
Caranya: Masukkan kira-kira 5 g tanah dalam wadah yang sudah disiapkan (botol),
tambahkan 5 ml air destilasi, kocok selama 10 menit dan kemudian diamkan selama 5
menit. Celupkan dengan hati-hati kertas lakmus pada cairan bening di atas Lumpur
tanah, usahakan agar jangan sampai lakmus terbenam dalam Lumpur atau kotor oleh
Lumpur. Sesuaikan warna lakmus dengan daftar warna di kotak lakmus dan catat pH.
Penentuan N Total
1. 10 gram tanah dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan dengan
aquades.
2. Diambil 10 ml dari larutan tersebut dan dimasukkan dalam labu Kjeldahl 500 ml
dan ditambahkan 10 ml H
2
SO
4
, kemudian ditambahkan 5 gram campuran
Na
2
SO
4
-HgO (20:1) untuk katalisator.
3. Didihkan sampai jernih dan dilanjutkan pendidihan 30 menit, setelah dingin
dinding labu Kjeldahl dicuci dengan aquades dan dididihkan lagi selama 30
menit.
4. Setelah dingin ditambahkan 140 ml aquades, dan ditambahkan 35 ml larutan
NaOH-Na
2
SO
4
dan beberapa butiran zink.
5. Kemudian dilakukan destilasi, destilat ditampung sebanyal 100 ml dalam
Erlenmeyer yang berisi 25 ml larutan jernih asam borat dan beberapa tetes
indikator metil merah atau metal biru. Langkah tersebut juga dilakukan terhadap
blanko.
6. Larutan yang diperoleh dititrasi menggunakan 0,02 N HCL
7. Dihitung total N.
8. Perhitungan jumlah total N.
(ts-tb) x N HCL
Jumlah N total =
____________________
x 14,008 x f mg/ml
Berat tanah (g)
102
Keterangan :
f = factor pengenceran
ts = HCL yang diperlukan untuk titrasi sample
tb = HCL yang diperlukan untuk titrasi blanko
Standarisasi HCL 0,02 N
1. 5 ml natrium boraks 2 %
2. Ditambah 2 tetes indicator BCG-MR
3. Titrasi dengan HCL 0,02 N sampai terjadi perubahan warna
2 x berat natrium boraks
N HCL =
__________________________________________________________
BM natrium boraks x volume HCL untuk titrasi (ml)
Barat natrium boraks 2 % = 2 % g/ml x 5 ml x 1000
Larutan NaOH Na
2
S
2
O
3
500 ml NaOH + 500 ml H
2
O + 125 g NaOH Na
2
S
2
O
3
digojok sampai larut semua.
Larutan indikator metal merah atau metal biru
100 mg metil merah + 30 mg metilin biru dilarutkan 60 ml alcohol 90 %, diencerkan
menjadi 100 ml dengan aquades yang telah dididihkan.
Penentuan P Total
1. 2 gram tanah yang telah dihaluskan dan dimasukkan ke dalam tabung Kjeldahl 100 ml
dan digunakan sebagai blanko.
2. Ditambahkan 6 ml HNO
3
, diaduk perlahan dalam penangas air listrik pada suhu < 80
o
C.
3. Setelah semua gas NO
2
menguap tabung Kjeldahl didinginkan dan ditambahkan 6 ml
HCLO
4
, diaduk dalam penangas air listrik pada suhu 120
o
C.
4. Setelah dingin ditambahkan 1 ml HCl, dipanaskan 30 menit dan kemudian
didinginkan.
5. Setelah dingin leher tabung dibilas dan larutan disaring ke dalam labu ukur 100 ml,
dicuci beberapa kali dengan aquades hingga batas tanda. Larutan digunakan untuk
mendeterminasi HClO
4
larutan sulfur.
103
6. Diambil 1 ml larutan dan dimasukkan ke dalam gelas ukur 20 ml, kemudian
ditambahkan 5 ml 2 N HNO
3
dan diencerkan dengan 15 ml aquades.
7. Ditambahkan 2 ml larutan molibdate vandate dan diencerkan dengan 20 ml aquades.
Kemudian diaduk dan dibiarkan selama 20 menit.
8. Dihitung absorbansi larutan pada panjang gelombang 420 nm dan dibandingkan
dengan blanko pada jumlah reagen yang sama.
9. Diambil 2,5,10,15 ml, 20 ppm larutan P standar ke dalam gelas ukur 20 ml, kemudian
ditambahkan 1 ml larutan blanko dan perlakuan dilanjutkan seperti perlakuan 6,7 dan
8.
10. Buat kurva standar absorbansi dan ditentukan konsentrasi sample.
Perhitungan :
10 A
Total Pospor (% P) =
_______________________
% tanah kering oven
Keterangan : A = ppm P dari perhitungan kurva standar
Larutan Molybdate vandate
Dilarutkan 2,5 g ammonium molybdate (NH
4
)
6
MO
7
O
24
.4H
2
O ke dalam 50 ml aquades.
Dilarutkan 0,125 g ammonium vandate (NH
4
VO
3
) ke dalam 50 ml 1 N HNO
3
. Kemudian
campurkan kedua larutan tersebut.
Larutan Standar
Dilarutkan 0,1098 g KH
2
PO
4
ke dalam 100 ml aquades. Larutan ini mengandung 200
ppm P. Diambil 2 ml larutan dan dimasukkan ke dalam labu ukur 25 ml kemudian
diencerkan dengan aquades hingga tanda.
104
Unsur hara Tahun setelah ditambang
1 tahun 4 tahun 6 tahun
C 0.59 0.91 % 0.08 0.69 % 0.34 1.62 %
N 0.07 0.08 % 0.02 0.06 % 0.05 0.12 %
P 1.09 16.39 ppm 12.02 15.10 ppm 13.12 15.00 ppm
Sumber (Wawan Kustiawan 2001). Jurnal Ilmiah Kehutanan Vol.6 No.2.
Tanah areal bekas tambang , lembab dengan nilai konsistensi sangat gembur pada bagian
atas, kuat/teguh pada lapisan bawah, dan sangat gembur pada lapisan bawah, top soil 0
8 cm.
Taufan (2009) : pH (H
2
O) 5.20 ; C (organic) 1.98 %; N (total) 0.25 % dan P (33.70 %)
Pemberian kompos pada tanah pasir dapat memperbaiki struktur tanah dan kapasitas
tukar kation. Selain itu dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah serta
menurunkan kalsium carbonat yang mengikat asama humat.