You are on page 1of 7

PENGERTIAN KEPEMIMPINAN

Dari akar kata “pimpin” kita mengenal kata “pemimpin” dan “kepemimpinan”.
Dalam Ensiklopedi Umum, halaman 549 kata “kepemimpinan” ditafsirkan
sebagai hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusia
karena adanya kepentingan bersama; hubungan Itu ditandai oleh tingkah
laku yang tertuju dan terbimbing dari manusla yang seorang itu. Manusia
atau orang ini biasanya disebut yang memimpin atau pemimpin, sedangkan
kelompok manusia yang mengikutinya disebut yang dipimpin.

Dalam Webster’s New World Dictionary of the American Language/ kata
leadership adalah the position or guidance of a leader atau “the ability
to lead”, dan kata leader adalah “a person or thing that leades;
directing, commanding, or guiding head, as a group or activity”.

Dalam buku psikologi antara lain dikatakan bahwa “leadership is a relation of
an individual to a group, established in the interests of achieving ,some end”.
Bayangkan bahwa jumlah kelompok itu banyak, begitu juga jumlah tujuan itu
banyak dan cara mencapainya pula. Dalam buku Foundations of Psychology
itu dinyatakan bahwa seorang pem.impin yang sukses tergantung dua
syarat dalam garis besarnya.

Pertama, bahwa pemimpin itu “must share the values, attitudes and
interests of the group. This psychological similarity is necessary for
the identification of the followers with the leaders”.

Syarat kedua, adalah bahwa kualitas pemimpin itu lebih tinggi dari para
pengikutnya, akan tetapi tetap bersifat komunikatif dengan yang
dipimpinnya.

Mengingat masalah kepemimpinan adalah masalah yang sudah tua
umurnya, maka wajarlah kalau terdapat sejumlah tokoh ilmu perigetahuan
yang raendalaminya. Juga di Indonesia hal ini berkembang relatif pesat,
apalagi setelah kita memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945. Sejak itu perhatian kita sebagai bangsa relatif besar dalam
hal ini, balk secara teoritis maupun secara praktis.

Para penulis buku kepemimpinan di Indonesia, antara lain seperti Drs.
Wahyo Sumidjo, Prof. Pamudji, Ir. Suyamto, dan Iain-lain, dalam gar is
besarnya membahas tentang definisi kepemimpinan. Mereka telah mengutip
dan atau menterjemahkan hasil rumusan para tokoh senior asing dalam hal
ini, misalnya seperti:

1) Ralph Mtogdill (1950)
Leadership is a process of ipfluencing the activities of an organized group in
its task of goal setting and goal achievement”.

2) Fred E, Fiedler (1967)
“Leadership is the process of influencing group activities toward goal setting

1
and goal achievement”. *

3) Martin J. Gannon (1982)
“Leadership is the ability of a superior to influence the behavior of
subordinates; one of the behavioral in organization”.
4) Paul Hersey, Kenneth H. Blanchard (1982)
Leadership is the process of influacing the activities of an individual or a
group in efforts toward goal achievement in a given situation”.

5) George R. Terry (1972)
“Leadership is the relationship in which one person, or the leader, influences
others to work together willingly on related tasks to attain that which the
leader desires”.

6)Robert Tennenbaum, Irving R. Weschler dan Fred Massarik (1961). “We
define leadership as interpersonal influence, exercise in situation and
directed through the communication process, toward the attainment of a
specific goal or goals”.

7)Richard N. Osborn, James G. Hunt dan Lawrence R Jauch (1980)
- “Leadership – all ways in which one person exert influence over others”.

8) R.D. Agarwal (1982)
“Leadership is the art of influencing others to direct their will, abilities and
efforts to the achievement of leader’s goals. In the context of organization,
leadership lies in influencing individual and group effort toward the optimum
achievement of organizational objectives”.

9) Harold Korntz & Cirill O’Donnell (1976)
“Leaderships in the art of inducing subordinates to accomplish their
assignment with zeal and confidence”.

Dari definisi-definisi tersebut, tampak bahwa perumusan tentang
kepemimpinan bertitik tolak pada tiga hal.

Pertama, ada yang memberikan penekanan pada kepribadian, kemampuan
dan kesanggupan pemimpin.

Kedua, ada yang memberikan penekanan kegiatan, kedudukan dan perilaku
pemimpin.

Ketiga, Mda yang memberikan penekanan kepada proses interaksi antara
pemimpin, bawahan dalam situasi tertentu.

Leadership dan Headship
Pada umumnya kata leadership diterjemahkan sebagai Kepemimpinan,
tetapi headship sebaiknya diterjemahkan sebagai apa? Leadership dapat
ditafsirkan dalam dua pengertian.

2
Pertama, meliputi pengertian headship dan
kedua, leadership ditafsirkan berbeda dengan headship.

Bass misalnya mendefinisikan leadership dalam arti luas, dalam arti meliputi
banyak cara yang dilakukan oleh leaders dan heads serta berbagai sumber
yang digunakan untuk mengungkapkan kekuasaannya. Akan dapat
puladidef.inisikan secara lebih sempit, seperti misalnya yang dilakukan oleh
C.A Gibb (1969), yang membedakan antara leadership dengan headship
sebagai berikut:
1. Headship diselenggarakan melalui suatu sistem yang diorganisasikan
dan tidak berdasarkan pengakuan spontan para anggotanya.
2. Tujuan kelompok dipilih oleh kepala (head person) sesuai dengan minat
dan tidak ditentukan oleh kelompok itu sendiri secara internal.
3. Dalam headship/ hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali
tindakan bersama dalam mencapai tujuan.
4. Dalam headship, ada jurang sosial yang lebar antara anggota-anggota
kelompok dan kepala (the head), yang mengusahakan agar ada jarak
sosial ini, sebagai suatu alat bantu untuk memaksa kelompoknya.
5. Kewibawaan seorang pemimpin (leader) secara spontan diakui oleh para
anggota kelompok yang bersangkutan dan terutama oleh para
pengikutnya.

Sedangkan kewibawaan seorang kepala (the head) timbul karena adanya
kekuasaan dari luar kelompok yang mendukung seseorang itu terhadap
kelompok yang bersangkutan, yang tidak dapat disebut sebagai para
pengikut sesungguhnya. Mereka menerima dominasi kepalanya (headship)
dalam hal penderitaan suatu hukuman (punishment) daripada upaya
pengikutnya dalam arti menginginkan hadiah (reward).

Kochan, Schmidt dan de Cotties (1975), menurut Bass, setuju dengan
pendapat Gibb karena mereka melihat bahwa para manajer, para pemimpin
pelaksana, para pejabat dan Iain-lain dalam kenyataannya lebih banyak
melakukan berbagai hal, lebih dari sekedar hanya memimpin saja.

Kita tak dapat menafsirkan begitu saja bahwa, misalnya seseorang yang
mengikuti semua tatacara seremonial dalam anggota. Akan tetapi menurut
definisi yang lebih luas, bagi Bass (1960) pimpinan/seorang kepala (head)
adalah merupakan konsekuensi dari kedudukan (status) mereka, jadi
merupakan suatu kekuasaan dari jabatan yang dipegangnya. Tanpa
kedudukan semacam itu, para pemimpin (leader) masih dapat mencapai
tujuan, apabila kekuasaannya itu betul-betul sesuai dengan nilai-nilai yang
dianut oleh kelompok yang dipimpinnya.

Baik kedudukan (status) maupun penghormatan (esteem) tak dapat
ditafsirkan. secara kaku. Dalam setiap kelompok akan berbeda. Itulah
sebabnya kepemimpinan (leadership) pada hakikat dapat dibagikan kepada
para anggotanya dalam derajat tertentu dan dalam situasi yang sama. Istilah
kepala, ketua, direktur, menteri, presiden dan lain-lainnya, pada umumnya
berkaitan dengan pengertian kekepalaan (headship).

3
Pengertian kekepalaan mempunyai konotasi adanya kedudukan dalam
hirarkhi organisasi, yang di dalamnya terkandung tugas, wewenang dan
tanggung jawab yang telah ditentukan secara formal. Kekepalaan berkaitan
dengan wewenang sah berdasarkan ketentuan formal, untuk membawahi
dan memberi perintah-perintah kepada kelompok orang-orang “bawahan”
tertentu dan dalam bidang masalah tertentu pula. Seorang kepala unit belum
tentu dapat menjadi leader.

Demikian pula seorang leader belum tentu mempunyai kedudukan sebagai
kepala. Seorang yang tidak mempunyai pengaruh dapat saja menjadi
seorang kepala instansi, dan ia baru menjadi seorang leader kalau ia
mampu mempengaruhi orang lain.

Oleh karena itu, pimpinan yang mengepalai suatu organisasi atau salah satu
unitnya harus menyadari bahwa kedudukan formal saja belum tentu
merubah perilaku anak buahnya sesuai dengan yang diharapkan agar
memudahkan dan melancarkan pencapaian tujuan organisasinya, atau
mampu menciptakan kerjasama yang baik antara bawahannya.

Dari pengertian tentang kepemimpinan tersebut di atas, jelas bahwa
kepemimpinan itu tidak perlu terkait dengan batasan-batasan dan
ketentuan-ketentuan formal. Maka seseorang yang melaksanakan
kekepalaan mungkin belum dapat disebut sebagai orang pemimpin. la
sekaligus dapat disebut sebagai seorang pemimpin, apabila ia juga mampu
mempengaruhi bawahan sehingga mereka dengan penuh pengertian,
kesadaran dan senang hati bersedia mengikuti dan mentaati kehendak atau
perintah-perintahnya.

Dengan kata lain, membicarakan tentang kepemimpinan, kita akan berbicara
tentang pemimpin, tentang yang dipimpin, tentang interaksi keduanya,
tentang tujuan yang hendak dicapai, tentang situasi, tentang sekelompok
orang yang berada dalam, satu organisasi tertentu.

Ini berarti kita perlu mengetahui secara singkat tentang apa organisasi itu.
Organisasi adalah kelompok kerjasama antara orang-orang, yang diadakan
untuk mencapai tujuan bersaiqa. Di samping tujuan syarat terbentuknya
organisasi juga adanya hubungan, kemauan dan kesesuaian para anggota
untuk bekerja sama.

Bentuk organisasi bisa formal dan informal, begitulah antara lain
pengertiannya secara singkat menurut Ensiklopedi Indonesia, jilid 4. Darwin
Cartwright, merumuskan organisasi sebagai “an arrangement of
interdependen parts, each having a special function with respect to the
whole”.

Studi mengenai organisasi manusia ini juga merupakan studi khusus yang
mendalam dan roeluas, seperti tergambar dalam buku Handbook of
Organizations, dengan editor James G. March yang diuraikan setebal 1247

4
halaman. Dalam bab 1, Darwin Cartwright, khusus mengupas tentang
“influence leadership control”. la berbicara tentang orang yang
berpengaruh, tentang teknik mempengaruhi dan tentang orang-orang yang
dipengaruhi.

Studi tentang orang yang berpengaruh ini atau the agent exerting influence
Darwin Cartwright menyimpulkan bahwa: “Most theoriets agree/ however,
that a major base of influence is the possession, or control, of valued
resources, provided these can be used to facilitate or kinder the goal
attainment of an other agent”.

Di samping pentingnya sumber tertentu yang dipunyai oleh pemimpin, ia
perlu motivasi untuk menjawab mengapa ia mau dan mampu mempengaruhi
orang-orang lain. Tujuan kelompok itu juga merupakan tujuan pemimpin itu,
tetapi tidak dengan sendirinya, sebaliknya dalam arti tidak semua tujuan
yang akan dicapai pemimpin itu dengan sendirinya adalah juga tujuan
kelompok itu. Ini disebabkan karena kebutuhan, kesempatan, motivasi
tujuan dan harapan pemimpin sebagai pribadi dapat lebih banyak, dan lebih
majemuk dari kelompok yang dipimpinnya pada umumnya.

Mengenai teknik mempengaruhi telah dilakukan berbagai studi, misalnya
Russel (1938), Gilman (1962), Hartanyi (1962). Tentang kelompok yang
dipimpin telah dilakukan berbagai studi pula misalnya oleh: Kahn dan Katz
(1960), Likert (1961), Argyris (1957).

Untuk lebih jelasnya akan dibahas ketiga hal tersebut secara singkat.
Pertama, tentang orang yang berpengaruh dalam organisasi. Banyak teori
yang mengemukakan bahwa dasar sumber daya yang dipunyai seorang
pemimpin itu dapat terdiri atas: “all the resources opportunities, acts, objects,
etc. That he can exploit in order to effect the behavior of another”. Tetapi hal
ini perlu jelas, bahwa tidak semua sumber daya itu dengan sendirinya akan
d.ijadikan sebagai alat kekuasaan. Schulze (1958) menyimpulkan bahwa ”
One should not assume the necessity of any neat, constant, and direct
relationship between power as a potential for determinative action, and
power as determinative action, itself”.

Lippits dan kawan-kawan membedakan .istilah “behavioral contagion”
yaitu tingkah laku meniru secara spontan tanpa ada yang menyuruh
dan istilah “direct influence”, yaitu tingkah laku seseorang yang secara
sadar dan sengaja untuk mempengaruhi kelompok sasarannya agar
mengikuti tingkah lakunya.

Kedua, mengenai teknik mempengaruhi. Russel (1938) dalam menganalisa
kekuasaan dalam masyarakat membedakan tiga cara mempengaruhi orang
lain dengan jalan
(a) secara fisik (by dirrect physical power over his body),
(b) dengan memberi hadiah atau hukuman (by rewards and punishments
employed) dan
(c) dengan mempengaruhi pendapatnya (by influence on opinion).

5
Gilman (1962) menampilkan empat metode, yaitu
(a) paksaan (coercion),
(b) manipulasi manipulation),
(c) otoritas (authority) dan
(d) persuasi (persuasion).

Harsanyi 1962)
lebih tertarik pada pengaruh di bidang ekonomi, melihat empat cara pula
(a) dengan insentif (incentives),
(b) dengan hadiah dan ‘hukuman (rewards and punistmends),
(c) dengan memanipulasi informasi (supply information or misinformation)
dan
(d) dengan menggunakan kekuasaan (authority).

Ketiga, mengenai kelompok yang dipimpin. Kahn dan Katz (1960) dan Likert
(1961) telah menyusun rangkuman dari sejumlah penelitian yang
menyangkut mengenai “the effects of closenees of supervision”. Studi ini
menunjukkan bahwa penyelia (supervisor), ternyata berbeda dalam hal
misalnya seberapa sering mereka mengecek bawahannya/ atau seberapa
sering member.! instruksi, atau seberapa luas kebebasan yang diijinkan
sepanjang menyangkut jumlah kerja dan pilihan metoda. Mak.in umum corak
supervisinya akan makin kurang dekat kelompok yang dipimpin.

Sebenarnya, dalam buku kepustakaan yang menyangkut organisasi
umumnya yang berhubungan dengan pengaruh kepemimpinan dan
pengawasan pada khususnya telah banyak diteliti. Dan hal ini tak mungkin
diungkapkan semuanya di sini. yang penting telah mempelajari sekedarnya
tentang pengertian kepemimpinan, tentang definisinya, tentang studi
mengenai organisasi, tentang studi mengenai orang yang berpengaruh,
tentang teknik mempengaruhi, dan kelompok yang menjadi ’sasaran
pengaruh sekedarnya.

Seperti telah disinggung di muka, bahwa kepemimpinan yang kita pelajari
dalam hal ini, adalah salah satu bagian ilmu sosial yang dalam garis
besarnya dipelajari secara interdisipliner sebagai cabang ilmu administrasi,
ilmu manajemen dan ilmu pemerintahan, Jadi bukan kepemimpinan di
bidang lain, mengingat hal ini telah berkembang menyangkut berbagai jenis
kepemimpinan.

Kepemimpinan di bidang ilmu administrasi
Dalam kata administrasi, terkandung pengertian tentang segala proses
pelaksanaan tindakan kerjasama “sekelompok manusia untuk mencapai
suatu tujuan yang telah ditentukan”, begitu menurut Ensiklopedi Indonesia
jilid 1, halaman 82. Apabila ini diterapkan pada organisasi yang bernama
negara, maka kita dapat menggunakannya secara lebih khusus, yaitu
administrasi negara. Secara historis, administrasi negara di Indonesia,
dahulu digunakan dengan kata “administratie” dalam bahasa Belanda atau
dalam bahasa Inggris, lazimnya digunakan kata “public administration”.

6
Sudah jelas, artinya secara khusus akan berbeda, karena tujuan negara
Republik Indonesia tidak sama dengan negara lain, akan tetapi secara
akademik, ada bagian-bagian yang bersifat universal. Sebagai contoh dapat
dikatakan, bahwa pada umumnya dalam derajat tertentu tujuan suatu
negara adalah memberikan pelayanan kepada warga negaranya, keluarga
dan mfesyarakat dari negara yang bersangkutan.

Oleh karena itu, apabila kita membicarakan kepemimpinan dalam konteks
administrasi negara, kita akan berbicara tentang organisasi yang disebut
negara, tentang manusianya, yang disebut aparatur negara, dan tentang
tata kerjanya sesuai dengan ketentuan dan prosedur kerja yang berlaku
dalam negara itu, dalam arti yang seharusnya ditaati oleh aparatur dan
warganegaranya.

Jadi membahas kepemimpinan dalam konteks administrasi negara, secara
khusus akan membahas tentang konsep-konsep, pola-pola tindakan,
prestasi yang diharapkan oleh aparatur negara yang bersangkutan.

Robert L. Peabody dan Francis E. Rourke, te.lah menulis tentang penelitian
yang menyangkut public bureaucracies di negara-negara yang makin
majemuk administrasinya. Dalam garis besarnya, studi tentang
kepemimpinan telah makin mendekati. Mereka membedakan antara istilah
leadership dan authority. Leadership lebih komprehensif daripada authority.

Di samping itu leadership perlu dibedakan lagi sebagai kualitas pribadi dan
leadership sebagai fungsi organisasi. Bavelos menjelaskan perbedaan ini
sebagai berikut:
“The first refers to a special co.noination of personal ciiaracteristics;
the second refers to the distcibution throughout an organisation of
decision, making powers”.

Yang pertama, mengacu pada kualitas dan kemampuan pribadi; sedang
yang kedua mengacu pada pola-pola kekuatan dan kekuasaan da lain
ocganisasi yang bersangkutan.

Keduanya penting dan berguna,, akan tetapi k.ifea perlu sadar
membicarakan dalam arti yang mana dan mengetahui dalam kondisi .apa
keduanya perlu dipertimbangkan bersama agar dapat ineitiahami situasi
cirganisasi yang bersangkutan secara khusus.

Banyak ahli ilmu-ilmu sosial yang telah meneliti dan menyusun berbagai
teori mengenai perilaku organisasi, misalnya seperti Bernard (1933), Blan &
Scott (1962), Etzioni (1961) dan lain sebagainya.

Sepanjang menyangkut birokrasi public lingkungan sangat perlu
diperhatikan mengingat pengaruhnya sangat besar dalam pelaksanaannya.

7