You are on page 1of 17

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Tinjauan Umum Perusahaan
1.1.1 Sejarah Singkat Perusahaan
PT Indonesia Power adalah sebuah perusahaan pembangkitan tenaga listrik
yang didirikan pada 22 Oktober 1982, memiliki 133 unit pembangkit yang tersebar di
lokasi-lokasi strategis di Pulau Jawa dan Bali. Unit-unit itu dikelola dan dioperasikan
oleh delapan Unit Bisnis Pembangkitan (UBP), yaitu UBP Suralaya, UBP Priok, UBP
Saguling, UBP Kamojang, UBP Mrica, UBP Semarang, UBP Perak Grati dan UBP
Bali, serta satu unit Bisnis Jasa Pemeliharaan.


Gambar1.1 PT Indonesia Power UBP Kamojang

2

Unit Bisnis Pembangkitan Kamojang berlokasi di daerah perbukitan sekitar
1500 meter dari permukaan laut dan 42 km ke arah tenggara Kota Bandung, terdiri
dari tiga Unit Bisnis Pembangkit, yaitu unit PLTP Kamojang, Darajat dan unit PLTP
Gunung Salak. Unit bisnis ini mengelola dan mengoperasikan tujuh Pusat Listrik
Tenaga Panas Bumi (PLTP).


Gambar1.2 Lokasi Geografis UBP Kamojang

Panas bumi adalah energi terbarukan yang bersih dan memiliki beberapa
keunggulan, yaitu mudah didapat secara kontinu dalam jumlah besar, ketersediannya
tidak terpengaruh oleh cuaca, serta bebas polusi udara karena tidak menghasilkan gas
berbahaya. Lapangan panas bumi Kamojang diperkirakan memiliki potensi energi
sebesar 300 MWh. Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar
di dunia dengan potensi energi panas bumi sebesar 27 GWh dari keseluruhan 50
GWh potensi panas bumi dunia. Potensi ini perlu dikembangkan untuk memenuhi
3

kebutuhan energi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil
yang semakin menipis.
Sejarah berdirinya UBP Kamojang diawali dengan penemuan gas alam di
Kamojang pada tahun 1918 ketika zaman pemerintahan Belanda. Pada tahun 1926
dilakukan penggalian lima buah sumur. Pada tahun 1971 pemerintah Indonesia
bekerja sama dengan para ahli dari New Zealand mulai mengadakan survei dan studi
kelayakan pemanfaatan sumber energi panas bumi di sekitar Kamojang untuk suatu
PLTP, kemudian pada tahun 1972 Indonesia dan New Zealand mulai mengadakan
eksplorasi di Kamojang. Kerjasama antara Indonesia dan New Zealand dimulai
dengan penandatanganan “Exchange Of Letter” yang dilakukan oleh kedua belah
pihak. Pihak Indonesia menunjuk PERTAMINA dan PLN sebagai pelaksana bidang
penyelidikan ilmiah, pengembangan lapangan panas bumi dan pembangunan fisik
PLTP. Sedangkan pihak New Zealand diwakili oleh menteri luar negeri dan duta
besar pemerintahan New Zealand serta Geothermal Energy New Zealand (GENZL)
sebagai kontraktor. Pada bulan September 1976 dilakukan pengeboran 10 buah sumur
produksi dengan kedalaman antara 1000-1500 meter, kemudian dilanjutkan dengan
pembangunan fisik pada bulan Maret 1978 dan selesai pada bulan Agustus 1978.
Pada 7 Februari 1983, UBP Kamojang diresmikan oleh Presiden Soeharto dan
mulai beroperasi membangkitkan daya listrik sebesar 30 MW (Unit I) untuk
disalurkan ke Garut dan Bandung. Pada bulan Agustus 1984, dilakukan pembangunan
fisik Unit II dan Unit III dengan kapasitas listrik masing-masing sebesar 55 MW.
Pembangunan fisik Unit II dan Unit III selesai pada tahun 1987, Unit II mulai
beroperasi pada bulan Juli 1987 dan Unit III mulai beroperasi pada bulan November
1987. Dengan demikian, saat ini UBP Kamojang memiliki tiga PLTP (Unit I, Unit II
dan Unit III) dengan kapasitas total sebesar 140 MW.
Pembangunan PLTP di UBP Darajat diselesaikan pada tahun 1993, diikuti
dengan pembangunan PLTP di UBP Gunung Salak yang terdiri dari Unit I pada tahun
1994, Unit II pada tahun 1995 dan Unit III pada tahun 1997. Pada awal operasinya
Unit Gunung Salak I, II dan III memiliki kapasitas terpasang masing-masing unit 55
4

MW, pada 2005 kapasitas unit ditingkatkan (uprated) menjadi masing-masing 60
MW. Beroperasinya PLTP di UBP Darajat dan UBP Gunung Salak semakin
memperbesar kapasitas PLTP UBP Kamojang yang sebelumnya hanya berasal dari
UBP Kamojang dan sampai saat ini UBP Kamojang telah mengoperasikan PLTP
dengan kapasitas total sebesar 375 MW. UBP Kamojang mengelola
danmengoperasikan tujuh Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Berikut ini
adalah daftar ketujuh buah PLTP yang beroperasi di UBP Kamojang.
Tabel 1.1 Daftar Unit PLTP UBP Kamojang
Unit Kapasitas Manufaktur Tahun Awal Operasi
Kamojang 1 30 MW MITSUBISHI 1983
Kamojang 2 55 MW MITSUBISHI 1987
Kamojang 3 55 MW MITSUBITSHI 1987
Darajat 1 55 MW MITSUBISHI/Fuji Electric 1993
Gunung Salak 1 60 MW Ansaldo 1994
Gunung Salak 2 60 MW Ansaldo 1995
Gunung Salak 3 60 MW Ansaldo 1997


1.1.2 Visi dan Misi PT. Indonesia Power
a. Visi
Menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan
lingkungan.
b. Misi
Melakukan usaha dalam bidang pembangkitan tenaga listrik danmengembangkan
usaha-usaha lain yang berkaitan berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat,
guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan jangka panjang.
c. Motto
Trust us for power excellence
5

1.1.3 Struktur Organisasi PLTP Kamojang
Struktur organisasi PLTP Kamojang yang ada pada awalnya bernaung di bawah
PT. PLN Unit Pembangkitan Listrik Jawa-Bali (PT. PLN PJB 1). Kemudian pada
tahun 2000 berubah namanya menjadi PT Indonesia Power UBP Kamojang dengan
tugas-tugas pokok dalam manajemen adalah sebagai berikut :

a. General Manager
General manager mempunyai tugas memimpin dan mengurus unit pembangkitan
sesuai dengan tujuan dan lapangan usahanya, dengan berusaha meningkatkan kerja
unit pembangkitan dan mempunyai tugas sebagai berikut :
1. Mengevaluasi perkembangan unit pembangkitan dan lingkungan yang
mempengaruhinya serta melaksanakan identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman yang dihadapi perusahan PLTP Kamojang.
2. Menyusun rencana strategi PLTP Kamojang untuk mencapai tujuan sesuai
dengan lapangan usahanya, dengan memperhatikan trategi dan kebijaksanaan
perusahaan dan memproses pengesahan Direksi.
3. Mengarahkan dan membina program-program operasi dan pemeliharaan unit
pembangkitan.
4. Menetapkan standar-standar prosedur pelaksanaan meliputi operasi,
pemeliharaan, logistik, anggaran keuangan dan akuntansi dengan memperlihatkan
ketentuan yang lebih tinggi.

b. Engineer (Mesin, Listrik, Kontrol dan Instrumen)
Engineer mempunyai tugas membantu GM dalam penyusunan anggaran keuangan
dan akuntansi, pembinaan, pengembangan, manajemen pengelolaan lingkungan serta
melaksanakan evaluasi diri evaluasi dari realisasi dan pencapaian target kerjanya.
Dengan membuat suatu analisis dan masukan kepada GM. Peranannya : memimpin
dan mengelola bidang masing-masing untuk mencapai target dan sasaran Unit Bisnis.
6

c. Manager Operasi dan Pemeliharaan
Tugas pokok dari manager operasi dan pemeliharaan adalah mengkoordinasikan
pengelolaan operasi dan pemeliharaan Unit Pembangkitan dengan kegiatan utama
antara lain :
1. Penyusunan rencana kegiatan operasional bidang operasi.
2. Penyusunan rencana operasional penggunaan uap.
3. Pengembangan sistem dan prosedur operasi.
4. Pengkoordinasian pelaksanaan operasi.
5. Pengelolaan penjualan energi.
6. Pengendalian kehandalan dan efisiensi pengoperasian.
7. Pembinaan kompetensi bidang operasi pembangkitan.

d. Manager Keuangan dan Akuntansi
Tugas dari manager keuangan dan akuntansi adalah mengkoordinasikan pengelolaan
sumberdaya manusia dan system informasi unit bisnis pembangkitan dengan kegiatan
utama sebagai berikut:
1. Pengembangan organisasi.
2. Perencanaan dan pengadaan pegawai.
3. Pengembangan kompetensi.
4. Administrasi kepegawaian.
5. Pengelolaan implementasi budaya perusahaan.
6. Akuntansi
7. Perpajakan
8. Keuangan
9. Anggaran
10. Keamanan dan Humas



7

e. Manager Unit PLTP Gunung Salak
Tugas pokok manager unit PLTP Gunung Salak adalah mengelola kegiatan
pengoperasian dan pemeliharaan PLTP yang menjadi pengawasannya dengan
kegiatan sebagai barikut :
1. Penyusunan rencana pengoperasian dan pemeliharaan PLTP.
2. Pengendalian pelaksanaan system dan prosedur operasi serta pemeliharaan.
3. Pengawasan kegiatano perasi dan pemeliharaan PLTP sesuai kebutuhan sistem.
4. Pengawasan kegiatan administrasi umum dan keamanan.

1.1.4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Keselamatan merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam setiap
penyelenggaraan kegiatan industri. Sebagai salah satu industri yang bergerak di
bidang penyediaan energi listrik, UBP Kamojang memiliki berbagai kebijakan K3,
kimia dan lingkungan untuk meningkatkan keselamatan dalam melaksanakan
aktivitasnya sehari-hari. Selain itu ada beberapa alasan yang menjadi isu lokal dalam
pengadaan kebijakan K3, kimia dan lingkungan di UBP Kamojang, yaitu kewajiban
untuk menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja,
meningkatnya kesadaran pekerja akan arti pentingnya keselamatan dan kesehatan
kerja, permintaan pelanggan akan penerapan sistem manajemen dan keselamatan
kerja, serta kebutuhan pelanggan akan sistem manajemen terpadu. Saat ini UBP
Kamojang telah menerapkan kebijakan K3 sesuai dengan OHMS OHSAS 18001
(Occupational Health and Safety Management System) “standar ISO 19001 dan
14001”. Atas keberhasilannya dalam menerapkan kebijakan yang telah dibuat, UBP
kamojang mendapat penghargaan zero aaccident.
Kecelakan dalam kerja dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
faktor manajemen, faktor manusia, dan faktor teknis. Kecelakaan merupakan kejadian
tidak diinginkan yang menyebabkan kematian, sakit, cedera, kerusakan atau kerugian
8

lainnya. Sedangkan kejadian yang dapat menimbulkan kecelakaan atau memiliki
potensi yang mengarah kepada suatu kecelakaan disebut insiden. Kerugian yang
dapat ditimbulkan akibat terjadinya kecelakaan dapat dibagi menjadi tiga. Pertama,
kerugian fisik seperti cedera, luka, cacat, kematian dan kehilangan waktu. Kedua,
kerugian proses seperti terganggunya proses produksi dan pengurangan keuntungan.
Ketiga, kerugian yang mengarah pada kerusakan properti seperti kebocoran dan
kerusakan.
Untuk meminimalisasi risiko terjadinya kecelakaan, ada beberapa hal yang
dilakukan oleh pihak UBP Kamojang, antara lain:

1. Eliminasi
Merupakan pengendalian risiko dengan menghilangkan proses atau material yang
mengandung bahaya potensial. Seperti larangan untuk melakukan aktivitas di
dalam plant tanpa menggunakan peralatan keselamatan atau melakukan
pemotretan di dalam plant.
2. Subtitusi
Merupakan pengendalian risiko dengan mengganti alat atau material yang
memiliki bahaya potensial yang relative lebih rendah. Seperti penggantian proses
control dan pengecekan setiap alat secara berkala.
3. Pengendalian rekayasa
Merupakan pengendalian risiko dengan mengubah lingkungan kerja atau proses
untuk melindungi pekerja. Seperti pelindung mesin, interlocks atau alat bantu
mekanis.
4. Pengendalian administrasi
Merupakan pengendalian risiko dengan merubah cara kerja. Seperti pembatasan
akses daerah berbahaya dan pemberlakuan system izin kerja.
5. Alat pelindung diri
Merupakan pengendalian risiko dengan menggunakan alat untuk melindungi
manusia dari sejumlah bahaya potensial. Beberapa alat pelindung diri antara lain:
9

 Safety shoes
 Safety helmet
 Earplug
 Safety glasses
 Masker
 Baju tahan api



Gambar1.3 Baju tahan api

Selain menerapkan berbagai kebijakan, UBP Kamojang juga dilengkapi
dengan sejumlah sistem keamananan. Pada pintu masuk pabrik, setiap kendaraan
yang akan masuk kawasan pabrik diperiksa oleh beberapa orang petugas. Penggunaan
CCTV di beberapa tempat untuk memantau aktivitas sehari-hari yang terjadi
dikawasan pabrik. Penyediaan alat pemadam kebakaran di dekat alat-alat proses
10

seperti separator, demister, dan menara pendingin serta di setiap ruangan.
Pemasangan fire alarm di sejumlah gedung dan penyediaan tempat evakuasi ketika
terjadi kecelakaan. Ada tiga tempat evakuasi yang terdapat di UBP Kamojang,
berikut ini merupakan gambar dari tempat evakuasi yang terdapat di UBP Kamojang.


Gambar 1.4 Tempat Evakuasi PLTP Kamojang
11

1.1.5 Gambaran Umum Cara Kerja PLTP
Sistem operasi pada PLTP Kamojang digambarkan seperti pada skema
berikut.


Gambar1.5 Flow Diagram PLTP Kamojang

Energi primer untuk PLTP Kamojang adalah uap panas bumi yang dipasok
oleh Pertamina, uap dari sumur produksi lapangan panas bumi kamojang dialirkan
melalui beberapa Pipe Line (PL 401, 402, 403, 404)
Uap dari sumur produksi mula-mula dialirkan ke steam receiving header, yang
berfungsi untuk menampung uap panas bumi yang disuplai dari beberapa lapangan
sumur produksi uap,di sistem steam recieving ini terpasang katup pelepas uap (Vent
structure) yang berfungsi untuk menjaga tekanan pasokan uap ke pembangkit apabila
12

terjadi perubahan pasokan dari sumur produksi maupun terjadi perubahan
pembebanan dari pembangkit. Selanjutnya melalui flow meter dialirkan ke separator
yang berfungsi untuk memisahkan partikel padat yang terbawa dari sumur produksi
dan demister untuk memisahkan butiran air dari uap panas bumi Hal ini dilakukan
untuk menghindari terjadinya vibrasi, erosi, dan pembentukan kerak pada sudu dan
nozzle turbine.
Uap yang telah bersih itu dialirkan melalui main steam valve /governor valve
menuju ke turbin. Di dalam turbin, uap tersebut berfungsi untuk memutar double flow
condensing yang dikopel dengan generator, pada kecepatan 3000 rpm. Proses ini
menghasilkan energi listrik dengan arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz, dan tegangan 11,8
kV. Melalui step-up transformer, arus listrik dinaikkan tegangannya hingga 150 kV,
selanjutnya dihubungkan secara paralel dengan sistem penyaluran Jawa-Bali.
Agar turbin bekerja secara efisien, maka exhaust steam yang keluar dari turbin
harus dalam kondisi vakum (0,10 bar), dengan mengkondensasikan uap bekas
memutarkan turbin dalam condenser dengan cara kontak langsung yang dipasang di
bawah turbine. Exhaust steam dari turbin masuk dari sisi atas condenser, kemudian
terkondensasi sebagai akibat penyerapan panas oleh air pendingin yang diinjeksikan
lewat spray-nozzle. Level air kondensat dijaga selalu dalam kondisi normal oleh dua
buah cooling water pump, lalu didinginkan di cooling tower sebelum disirkulasikan
kembali.
Untuk menjaga kevakuman condenser, gas yang tak terkondensasi harus
dikeluarkan secara kontinu oleh sistem ekstraksi gas. Gas-gas ini mengandung: CO2
85-90% wt; H2S 3,5% wt; sisanya adalah N2 dan gas-gas lainnya. Di Kamojang dan
Gunung Salak, sistem ekstraksi gas terdiri dari first-stage dan second-stage
sedangkan di Darajat terdiri dari ejector dan liquid ring vacuum pump.
Sistem pendingin di PLTP merupakan sistem pendingin dengan sirkulasi
tertutup dari air hasil kondensasi uap, dimana kelebihan air kondensat yang terjadi
direinjeksi ke dalam sumur reinjeksi. Prinsip penyerapan energi panas dari air yang
disirkulasikan adalah dengan mengalirkan udara pendingin secara paksa dengan arah
13

aliran tegak lurus/cross flow, menggunakan 5 forced draft fan. Proses ini terjadi di
dalam cooling water.
Sekitar 70% uap yang terkondensasi akan hilang karena penguapan dalam
cooling water, sedangkan sisanya diinjeksikan kembali ke dalam cooling tower.
Reinjeksi dilakukan untuk mengurangi pengaruh pencemaran lingkungan,
mengurangi ground subsidence, menjaga tekanan, serta recharge water bagi reservoir.
Aliran air dari cooling tower disirkulasikan lagi oleh primary pump sebagai media
pendingin secondary di intercooler. Kemudian melalui after condenser dan
intercondenser dimasukkan kembali ke dalam kondensor.

1.2 Latar Belakang
Motor induksi merupakan motor elektrik yang paling banyak dipakai sebagai
alat penggerak dalam industri - industri. Disamping kokoh dan sederhana,
penggunaan motor induksi dapat diandalkan (reliable) dan tinggi daya gunanya.
Daerah kerja motor induksi sangat luas antara 0,2 KW sampai 250 MW.
Kegagalan operasi motor induksi dapat terjadi akibat kegagalan belitan stator
dan belitan rotor. Pada motor induksi tipe sangkar kerusakan sangat jarang terjadi
pada bagian rotor. Kegagalan belitan stator dapat terjadi akibat penuaan, stress
elektrik, stress mekanik, stress termal, dan kontaminasi dari lingkungan. Penuaan
dapat mengakibatkan kerapuhan, penyusutan dan keretakan pada isolasi. Stress
elektrik antara lain korona, slot discharge, petir, surja switching, single-phasing, dan
tegangan tidak seimbang. Single-phasing dan tegangan tidak seimbang dapat
disebabkan adanya gangguan dalam distribusi listrik di dalam pembangkit. Tegangan
tidak seimbang dapat menyebabkan arus urutan negatif, yang dapat menyebabkan
pemanasan berlebih pada belitan stator, pembebanan berlebih dapat menyebabkan
pemanasan berlebih pada belitan stator yang diakibatkan rendahnya tegangan supply
motor. Pembebanan berlebih juga dapat menyebabkan stress mekanik pada winding
14

end turn dan masing-masing kumparan. Akibatnya dapat merusak sistem isolasi
motor. Stress mekanik dapat terjadi akibat vibrasi, longgarnya pengikat dan wedges.
Stress termal dapat terjadi akibat hubung singkat pada laminasi atau hilangnya
pendingin. Kontaminasi lingkungan adalah partikel atau debu konduktif, embun dan
partikel magnetik.
Oleh karena itu, penting sekali menerapkan sistem proteksi pada motor induksi,
apalagi motor berkapasitas besar yang digunakan di suatu industri yang berfungsi
sebagai pendukung terhadap kelancaran suatu proses produksi di industri tersebut.
Untuk memenuhi kelancaran proses pembangkitan listrik di PT. Indonesia Power
UBP Kamojang, maka dilakukanlah berbagai cara guna memproteksi motor induksi
yang digunakan sebagai penggerak pompa air pendingin utama, dari beberapa jenis
kemungkinan gangguan yang terjadi.

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan kerja praktek di PT. Indonesia Power UBP
Kamojang adalah:
1. Mengetahui dan memahami prinsip kerja motor induksi 3 fasa yang
digunakan sebagai penggerak MCWP.
2. Mengetahui prosedur pengoperasian MCWP PT. Indonesia Power UBP
Kamojang.
3. Mengetahui sistem proteksi arus lebih untuk motor MCWP.





15

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kerja Praktik ini dilaksanakan di PT. Indonesia Power UBP Kamojang, Jalan
Kompleks Perumahan PLTP Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada
tanggal 17 Juni hingga 17 Juli 2013.

1.5 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari kerja praktik yang dilakukan di PT. Indonesia Power
UBP Kamojang antara lain :
1. Bagaimana prinsip kerja motor induksi 3 fasa yang digunakan sebagai penggerak
pompa MCWP.
2. Bagaimana proses pendinginan air hasil kondensat di cooling tower.
3. Bagaimana prosedur pengoperasian motor MCWP secara rinci yang dilakukan di
Unit Control Desk.
4. Bagaimana cara kerja dan karakteristik dari jenis relay arus lebih yang digunakan
untuk memproteksi motor MCWP dari gangguan arus lebih.

1.6 Batasan Masalah
Laporan ini dibatasi hanya membahas hal-hal sebagai berikut:
1. Objek yang dijadikan sebagai laporan kerja praktik di PLTP Kamojang adalah
motor induksi 3 fasa sebagai penggerak pompa air pendingin utama di PLTP
Kamojang.
2. Sistem proteksi arus lebih yang digunakan untuk memproteksi motor MCWP
dari gangguan arus lebih.

16

1.7 Metode Penulisan
Beberapa metode yang penulis gunakan dalam mendapatkan informasi pada
penyusunan laporan Kerja Praktik ini adalah sebagai berikut.
1. StudiLiteratur
Metode ini dilakukan dengan membaca berbagai buku, jurnal, dan laporan yang
berkaitan dengan tema kerja praktek ini. Sumber referensi tersebut didapatkan dari
perpustakaan dan internet.

2. Wawancara
Metode ini dilakukan melalui wawancara atau diskusi langsung dengan narasumber
dari perusahaan yang memiliki pengetahuan yang berkaitan dengan laporan praktik
ini.

1.8 Sistematika Penulisan
Penulisan laporan kerja praktik ini dibagi ke dalam beberapa bab sebagai berikut:
1.8.1 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang sejarah perusahaan, keselamatan dan kesehatan kerja
(K3), latar belakang, tujuan penulisan, waktu dan tempat pelaksanaan,
rumusan masalah, batasan masalah, metode penulisan dan sistematika
penulisan.
1.8.2 BAB II DASAR TEORI
Bab ini berisi tentang teori motor induksi 3 fasa, bagian-bagian dan teori
medan putar motor induksi.


17

1.8.3 BAB III PENGOPERASIAN DAN SISTEM PROTEKSI ARUS LEBIH PADA
MOTOR MCWP UNIT 2
Bab ini berisi tentang langkah-langkah pengoperasian dan beberapa jenis
relay arus lebih yang digunakan sebagai proteksi MCWP.
1.8.4 BAB IV PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.