P. 1
BATASAN – BATASAN SESEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA LEGAL FEE DARI KLIEN TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG

BATASAN – BATASAN SESEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA LEGAL FEE DARI KLIEN TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG

|Views: 3,366|Likes:
Published by Yakob Budiman

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Yakob Budiman on Nov 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2015

pdf

text

original

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS HUKUM Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor : 06180

/AK-VII-51-045/UKBIHK/XII/2003 BATASAN – BATASAN SESEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA LEGAL FEE DARI KLIEN TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG

DOSEN PEMBIMBING: Djisman Samosir S.H.,M.H.

OLEH : NAMA NPM : Yakob Budiman : 2004200258

ALAMAT : Kiara Condong Timur No.273/126 c TELEPON : +628194727999/ (022) 76009913

BANDUNG 2009 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG MASALAH Advokat merupakan salah satu penegak hukum yang bertugas memberikan

bantuan hukum atau jasa hukum kepada masyarakat atau klien yang menghadapi masalah hukum yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) Undang - Undang No.18 Tahun 2003 Advokat adalah salah satu unsur dari caturwangsa penegak hukum. Unsur-unsur caturwangsa penegak hukum adalah:

1. Hakim 2. Jaksa 3. Polisi 4. Advokat. 1 Pada saat menjalankan tugasnya seorang advokat memiliki hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban seorang advokat adalah menjalankan tugas dan fungsinya sesuai Kode Etik Advokat Indonesia, Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, dan peraturan perUndang – Undangan lainnya yang mengatur tentang advokat. Hubungan antara advokat dan kliennya dipandang dari advokat sebagai officer of the court, terdapat dua konsekuensi yuridis, sebagai berikut : 1. Pengadilan akan memantau bahkan memaksakan agar advokat selalu tunduk pada ketentuan Undang – Undang atau berperilaku yang patut dan pantas terhadap kliennya.
1

http://www.scribd.com/doc/19525070/Etika-Profesi-Advokat

2

2. Karena advokat harus membela kliennya semaksimal mungkin , maka advokat harus hati-hati dan tunduk sepenuhnya kepada aturan hukum yang berlaku.2 Menurut (Munir Fuadi,2005; 34,35) integritas advokat terhadap klien dalam hubungan advokat dengan klien terdapat tiga teori: 1. Teori Pengabdian Paling Lemah Seorang advokat tidak boleh melakukan tindakan tertentu untuk kliennya yang menurut pertimbangannya, tindakan tersebut tidak layak, tidak sesuai dengan hati nurani atau tidak adil. 2. Teori Pengabdian Individual (Individual preference level) Diserahkan pada pertimbangan advokat tersebut apakah dia mau melakukan tindakan tertentu untuk kliennya yang menurut pertimbangannya, tindakan tersebut tidak layak, tidak sesuai dengan ahati nurani, atau tidak adil. Jadi tidak ada akeharusan untuk melakukannya. 3. Teori Pengabdian Total (total commitment) Mengharuskan advokat tersebut untuk melakukan tindakan tertentu untuk

kliennya meskipun menurut pertimbangannya tindakan tersebut tidak layak, tidak sesuai dengan hati nurani, atau tidak adil. Dalam ahal ini ada keharusan bagi advokat tersebut untuk melakukan tindakan seperti itu. Dalam membela kliennya advokat tidak boleh melanggar aturan hukum yang berlaku. Tidak boleh melanggar prinsip moral, serta tidak boleh merugikan kepentingan orang lain.

2

http://www.scribd.com/doc/19525070/Etika-Profesi-Advokat

3

Advokat termasuk profesi yang mulia (nobile officium), karena ia berkewajiban memberikan jasa hukum yang berupa menjadi pendamping, pemberi nasehat hukum, menjadi kuasa hukum untuk dan atas nama kliennya, atau dapat menjadi mediator bagi para pihak yang bersengketa tentang suatu perkara, baik yang berkaitan dengan perkara pidana, perdata, maupun tata usaha negara. Ia juga dapat menjadi fasilitator dalam mencari kebenaran dan menegakan keadilan untuk membela hak asasi manusia serta memberikan pembelaan hukum yang bebas dan mandiri.3 Dalam menjalankan kewajibannya tersebut, seorang advokat memiliki suatu hak salah satu hak advokat adalah legal fee atau honorarium4 dari klien, ini berdasarkan pasal 21 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat yang berbunyi: “(1) Advokat berhak menerima honorarium tasa jasa hukum yang telah diberikan kepada klienya. (2) Besarnya honorarium atas jasa hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. Berdasarkan Kode Etik Profesi Advokat Indonesia bagian II Hubungan dengan Klien: Bagian II Pasal 2 butir 2.8 Advokat harus menentukan honorarium dalam batas-batas yang layak dengan mengingat kemampuan klien. Bagian II Pasal 2 butir 2.9 Advokat tidak dibenarkan dengan sengaja membebani klien dengan biaya-biaya yang tidak perlu.

3

Rahmat rosyadi dan Sri Hartini, Advokat Dalam Perspektif Islam dan Hukum Positif, Ghalia Indonesia, hal 17. 4 Honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh Advokat berdasarkan kesepakatan dengan Klien. (Pasal 1 angka 7 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat)

4

Ada beberapa cara atau metode yang dapat dipakai oleh advokat dalam menentukan legal fee atas jasa hukum yang diberikan kepada klien. Pertimbangan advokat dalam menetapkan legal fee berdasarkan tingkat kerumitan, besarnya tanggung jawab berapa lama pekerjaan tersebut dapat diselesaikan. Tapi kadangkala advokat juga mempertimbangkan legal kondisi dan posisi seorang klien dalam suatu perkara.5 Tidak adanya standard mengenai ketentuan penetapan tariff seorang advokat kesepakatan antara klien dan advokat jugalah yang menentukan. Dalam kedudukannya sebagai sutau profesi yang mulia atau lebih dikenal dengan istilah officium nobile maka advokat, berdasarkan pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat berbunyi; Pasal 22 (1) Advokat wajib memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu. selain menangani perkara dengan menetapkan suatu legal fee atau honorarium, advokat juga memiliki kewajiban dalam memberikan bantuan hukum untuk kaum miskin dan buta huruf. Secara ideal dapat dijelaskan bahwa bantuan hukum merupakan tanggung jawab sosial dari advokat. Oleh sebab itu maka advokat dituntut agar dapat mengalokasikan waktu dan juga sumber daya yang dimilikinya untuk orang miskin yang membutuhkan bantuan hukum secara cuma-cuma atau probono. Pemberian bantuan hukum oleh advokat bukan hanya dipandang sebagai suatu kewajiban an sich namun harus dipandang pula sebagai bagian dari kontribusi dan tanggung jawab sosial (social contribution and social liability) dalam kaitannya dengan peran dan fungsi sosial dari profesi advokat. menjadikan

5

Yudha Pandu, “Klien dan Advokat Dalam Praktek”, Indonesia Legal Center Publishing, hal 92.

5

Adanya Peraturan Pemerintah (PP) No.83 tahun 2008 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum secara CumaCuma yang merupakan pelaksanaan pasal 22 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang mengisyaratn advokat wajib memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu. Profesi advokat seringkali mengalami hambatan dituduh oleh masayarakat dengan cap buruk karena ideologinya yang sejalan dengan siterdakwa yang dibelanya, dianggap menghisap klien secara materi, serta adanya pandangan bahwa seorang advokat acapkali membantu klien dalam melakukan tindak pidana. Sebagai contoh dalam pembelaan masalah tindak pidana pencucian uang terkadang seorang advokat dianggap membantu klien memindahkan hasil tindak pidana melalui pembayaran jasa hukum atau legal fee. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang pada dasarnya mengatur mengenai ruang lingkup tindak pidana pencucian uang itu sendiri dan hubungan tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. Bagi Indonesia, diberlakukannya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003, menjadi landasan yang kokoh bagi pembangunan rezim anti pencucian uang. Undang-undang ini secara tegas menyatakan bahwa pencucian uang merupakan tindak kriminal atau kejahatan. Melihat pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi : “(1) Setiap orang yang menerima atau menguasai: a. penempatan;

6

b. pentransferan; c. pembayaran; d. hibah; e. sumbangan; f. penitipan; atau g. penukaran, Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah)”. Jika mencermati subyek hukum yang dapat terjerat dalam proses penegakan hukum rezim anti pencucian uang, berdasarkan ketentuan pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003, siapa saja yang menerima uang yang patut diduga hasil tindak pidana dapat juga dipidana. Mencermati ketentuan pasal 6 tersebut sebuah pertanyaan muncul, dengan demikian penasehat hukum atau advokat yang menerima honorarium (legal fee) dari terdakwa pidana pencucian uang atau korupsi apakah termasuk sebagai subyek hukum yang dapat dipidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 ini? Dimana advokat tersebut dianggap ikut melakukan tindak pidana pencucian uang, dengan membantu kliennya memindahkan kekayaannya yang diduga merupakan hasil kejahatan seperti yang tercantum dalam Undang - Undang Nomor 25 Tahun 2003. Sebagai bahan pembanding, lawyer di Amerika merasa khawatir ketika mendampingi klien bila tidak ada kepastian akan asal muasal harta kekayaan untuk

7

membayar jasa mereka, berkenaan dengan keabsahan menerima legal fee dari klien yang diduga melakukan tindak pidana pencucian uang, lawyer atau advokat di negeri Paman Sam itu sempat mengalami dilema. Oleh karena itu, otoritas setempat selanjutnya membuat suatu ketentuan mengenai pembayaran jasa hukum bagi para advokat yang menjadi penasehat hukum terdakwa tindak pidana pencucian uang. Menjawab persoalan ini, pengadilan Amerika berupaya menyelesaikannya dengan mengeluarkan semacam putusan sela sebelum proses peradilan, dengan demikian terdapat sebuah pemisahan aset yang harus disisihkan untuk pembayaran lawyer. (Yenti Garnasih, hukum online: 23 Feb 2005). Seperti diketahui, pengaturan honorarium advokat sebagaimana tertuang dalam pasal 21 Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, menyatakan kebolehan adanya legal fee ini tanpa adanya batasan atau tidak adanya standard suatu penetapan legal fee yang diterima advokat atas jasa hukum yang diberikan kepada kliennya yang didakwa atas tindak pidana pencucian uang atau korupsi. Pasal 21 Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat dapat dikatakan menjadi landasan yuridis keabsahan legal fee. Namun bila tidak diatur secara tegas, penasehat hukum yang menerima pembayaran jasa hukum (legal fee) dari terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi dapat pula diancam pidana berdasarkan ketentuan pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasalnya, dalam hubungan profesional antara advokat dengan klien, terdapat suatu hubungan yang sangat dekat. Sehingga, advokat patut menduga harta yang dimiliki kliennya adalah hasil tindak pidana. Namun, adanya ketentuan kode etik

8

kerahasiaan advokat terhadap klien, tidak memungkinkan para advokat melaporkan harta yang dimiliki kliennya atas dugaan tidak pidana. Unsur kejujuran menjadi patokan utama advokat dalam hal penerimaan legal fee dari kliennya yang merupakan terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi. Karena advokat dalam membela kliennya dilarang melakukan tindak pidana untuk dan atas nama kliennya atau disuruh kliennya, ataupun Melakukan penipuan untuk dan atas nama kliennya atau jika disuruh oleh kliennya. Di Indonesia tidak dikenal putusan sela dipengadilan untuk pemisahan harta hasil tindak pidana dan harta yang merupakan hak terdakwa secara legal seperti di Amerika, oleh karena itu kejujuran advokat untuk menolak pembayaran dari hasil tindak pidana merupakan salah satu cara untuk mencegah advokat tersebut terkena pasal 6 UndangUndang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Dengan begitu prinsip pemisahan professional akan berjalan dengan sendirinya yakni; Advokat tidak dapat diidentikkan dengan kliennya dalam membela perkara klien oleh pihak yang berwenang dan /atau masyarakat (Pasal 18 ayat (2) Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat). Dengan memperhatikan uraian diatas, maka pada kesempatan ini penulis bermaksud untuk membahas dan melakukan penelitian menegenai apakah seorang advokat dapat dipidana bila mendapatkan legal fee dari kliennya yang merupakan terdakwa tindak pidana pencucian uang, dengan studi yang berjudul; “BATASAN – BATASAN SESEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA LEGAL FEE DARI KLIEN TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG”

9

1.2

IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah

yang menjadi pokok atau inti dari permasalahan hukum ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1. Apakah advokat dapat dituntut karena menerima legal fee dari terdakwa korupsi tindak pidana pencucian uang? 2. Dalam hal dituntutnya seorang advokat karena tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang atas dasar menerima legal fee dari klienya yang didakwa korupsi atau tindak pidana pencucian uang, apakah advokat harus tetap mempertahankan kode etik rahasia jabatan tentang hal ikhwal yang diberitahukan kepadanya oleh klien berdasarkan kepercayaan dan wajib menjaga rahasia itu meskipun telah berakhirnya hubungan advokat dengan klien?

1.3

TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Dengan bertolak dari identifikasi masalah yang telah penulis jabarkan, maka dapat

ditarik suatu kesimpulan bahwa tujuan penulisan hukum yang berjudul “BATASAN – BATASAN SESEORANG ADVOKAT UNTUK MENERIMA LEGAL FEE DARI KLIEN TERDAKWA TINDAK PIDANA KORUPSI DAN PENCUCIAN UANG” ini adalah sebagai berikut:

10

1. Untuk mengetahui sejauh mana batasan bagi seorang advokat dalam menerima legal fee dari seorang terdakwa tindak pidana pencucian uang yang merupakan kliennya? 2. Menganalisis dan merumuskan batasan seorang advokat dalam menjaga kerahasian kliennya, dimana advokat tersebut dituntut karena tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang atas dasar menerima legal fee yang diduga hasil tindak pidana dari klienya yang didakwa.

1.4

METODE PENELITIAN Dalam melakukan penyusunan penulisan hukum ini, penulis menggunakan

metode penelitian dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif. Penelusuran berbagai peraturan yang ada kaitannya dengan tindak pidana pencucian uang, peraturan yang berkaitan dengan penentuan subjek hukum pidana, dan peraturan tentang advokat. Kemudian menganalisanya secara yuridis dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder, dengan minitikberatkan penelitian dan pengkajian terhadap data di bidang hukum. Selain pendekatan yuridis normatif atau kepustakaan adalah penelitian yang mencakup penelitian atas asa-asas hukum, sistematika hukum, sinkronisasi hukum vertical dan horizontal, perbandingan hukum serta sejarah hukum.6 Penelitian yuridis normatif penulis lakukan dengan cara meneliti bahan pustakan atau data sekunder. Adapun data tersebut mencakup:7
6

Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, “Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat”, Raja Grafindo, hal 14. 7 hal Soerjono Sukanto dan Sri Mamudji, “Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat”, Raja Grafindo, hal 37.

11

1. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, contohnya peraturan perUndang-Undangan dan Yurisprudensi. Dalam Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan lainnya. 2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa dan memahami bahan hukum primer. Contohnya doktrin, hasil pemikiran akademisi, karya-karya ilmiah para sarjana, jurnal dan tulisan lainnya yang bersifar ilmiah terutama yang berkaitan dengan permasalahan yang penulis bahas dalam peulisan hukum ini. 3. Bahan hukum tersier yaitu bahan-bahan hukum yang membarikan perunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum, ensiklopedi legal thesaurus dan lainlain sebagainya. Dalam penulisan hukum ini, penulis juga menggunakan metode deskriptif analisis. Metode deskriptif adalah metode pemecahan masalah-masalah actual denga jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasi, dijelaskan kemudian dianalisa8.

1.5

SISTEMATIKA PENULISAN 1. BAB I PENDAHULUAN Merupakan Bab Pendahuluan, pada bab ini penulis akan membahas secara umum apa yang menjadi permasalahan dengan cara merumuskan secara umum. Penulis akan memaparkan secara umum dari isi pokok dengan maksud agar seseorang yang membaca akan dapat mengerti apa yang menjadi isi skripsi. Pada

8

Winarno Surakhmad, “Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar dan Metode Teknik”, Tarsito, hal 60.

12

pendahuluan penulis akan mengemukakan dan memberi penjelasan tentang tujuan apa yang ingin penulis capai dengan peulisan skripsi ini, penulis juga mengemukakan metode penulisan yang digunakan. 2. BAB II HAK DAN KEWAJIBAN ADVOKAT DIHUBUNGKAN DENGAN PEMBELAAN KLIEN DALAM SUATU PERKARA PIDANA Di dalam bab ini penulis hendak menjabarakan hak dan kewajiban seseorang advokat dalam memberikan bantuan hukum terhadap kliennya. Penulis juga

hendak menjabarkan hambatan – hambatan yang diterima advokat didalam menjalankan profesinya sesuai dengan hak dan kewajibannya tersebut. 3. BAB III LEGAL FEE SEBAGAI IMBALAN JASA ADVOKAT Di dalam bab ini penulis hendak mengkaji mengenai keabsahan legal fee yang diterima advokat dari terdakwa tindak pidana. Serta penulis hendak menjabarkan pembahasan mengenai advokat yang menerima yang menerima honorarium atas jasa hukum yang ia berikan apakah sama dengan upah, membahas pengertian legal fee, membahas metode menerapkan suatu standard legal fee. 4. BAB IV LANGKAH – LANGKAH UPAYA SINKRONISASI ANTARA UNDANG – UNDANG ADVOKAT NOMOR 18 TENTANG ADVOKAT DAN UNDANG – UNDANG NOMOR NOMOR 25 TAHUN 2003

TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG TINDAKA PIDANA PENCUCIAN UANG Di dalam bab ini penulis hendak menjabarkan langkah atau upaya mensinkronkan antara Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan UndangUndang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor

13

15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang mengenai penerimaan legal fee oleh seorang advokat dari terdakwa tindak pidana pencucian uang. Membahas legal fee atas jasa hukum yang ia berikan terhadap klien yang notabene terdakwa tindak pidana, harus pula diuji dan dikaji menggunakan parameter adanya kesalahan (liability based on mistake) dan kemampuan bertanggungjawab (criminal responsibility). Didasari dengan norma “tidak ada pidana jika tidak ada kesalahan” dalam perspektif ketentuan hukum pidana (penal). 5. BAB V PENUTUP Sebagai akhir dari penulisan skripsi ini penulis mencoba memberi kesimpulan terhadap masalah yang telah dibahas pada bab-bab sebelumnya. Selain itu penulis akan mencoba memberikan saran-saran yang berhubungan dengan permasalahan tersebut.

14

BAB II HAK DAN KEWAJIBAN ADVOKAT DIHUBUNGKAN DENGAN PEMBELAAN KLIEN DALAM SUATU PERKARA PIDANA

2.1

Pengertian Advokat Advokat merupakan suatu bentuk profesi terhormat (officium nobile) . Dalam

menjalankan profesi, seorang advokat harus memiliki kebebasan yang didasarkan kepada kehormatan dan kepribadian Advokat yang berpegang teguh kepada kejujuran, kemandirian, kerahasiaan dan keterbukaan, guna mencegah lahirnya sikap-sikap tidak terpuji dan berperilakuan kurang terhormat. Pasal 1 butir 1 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat mendefinisikan bahwa advokat adalah orang yang berpotensi member jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang – undang ini. Lebih lanjut disebutkan dalam Pasal 3 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, persyaratan yang dimaksud adalah : a. Warga Negara Republik Indonesia b. Bertempat tinggal di Indonesia c. Tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat negara d. Berusia sekurang – kurangnya 25 (dua puluh lima) tahun e. Berijazah sarjana yang berlatar belakang pendidikan tinggi hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) f. Lulus ujian yang diadakan organisasi advokat 15

g. Magang sekurang- kurangnya 2 (dua) tahun terus – menerus pada kantor advokat h. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih i. Berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas yang tinggi. Sedangkan menurut Kode Etik Advokat Advokat adalah orang yang berpraktek memberi jasa hukum, baik didalam maupun diluar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang yang berlaku, baik sebagai Advokat, Pengacara, Penasehat Hukum, Pengacara praktek ataupun sebagai konsultan hukum Dalam hal ini, seorang advokat selain memberikan bantuan hukum di dalam pengadilan, seperti mendampingi, mewakili, membela, atau menjalankan kuasa demi kepentingan klien, juga dapat memberikan bantuan hukum diluar pengadilan, berupa konsultasi hukum, negosiasi maupun dalam hal pembuatan perjanjian kontrak-kontrak dagang serta melakukan tindakan hukum lainnya untuk kepentingan hukum klien baik orang, badan hukum, atau lembaga lain yang menerima jasa hukum dari Advokat. Secara garis besar fungsi dan peranan advokat, sebagai berikut: • • • • Sebagai pengawal konstitusi dan hak asasi manusia; Memeperjuangkan hak asasi manusia; Melaksanakan Kode Etik Advokat; Memegang teguh sumpah advokat dalam rangka menegakkan hukum, keadilan dan kebenaran; • Menjunjung tinggi serta mengutamakan idealisme (nilai 16

keadilan,kebenaran dan moralitas); • Melindungi dan memelihara kemandirian, kebebasan, derajat dan martabat advokat; • Menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan advokat terhadap masyarakat dengan cara belajar terus-menerus (continuous legal education) untuk memperluas wawasan dan ilmu hukum; • Menangani perkara-perkara sesuai dengan kode etik advokat, baik secara nasional maupun secara internasional; • Mencegah penyalahgunaan keahlian dan pengetahuan yang merugikan masyarakat dengan cara mengawasi pelaksanaan etika profesi advokat melalui Dewan Kehormatan Asosiasi advokat; • Memelihara kepribadian advokat karena profesi advokat yang terhormat (officium nobile); • • Menjaga hubungan baik dengan klien maupun dengan teman sejawat; Memelihara persatuan dan kesatuan advokat agar sesuai dengan maksud dan tujuan organisasi advokat; • Member pelayanan hukum (legal services), nasehat hukum (legal advice), konsultan hukum (legal consultation), pendapat hukum (legal opinion), informasi hukum (legal information) dan menyusun kontrak-kontrak (legal drafting); • Membela kepentingan klien (litigasi) dan mewakili klien di muka pengadilan (legal representation); • Memberikan bantuan hukum dengan cuma-cuma kepada masyarakat yang 17

lemah dan tidak mampu (melaksanakan pro bono publico).9

2.1.1

Hak dan Kewajiban Advokat Menurut Undang – Undang Nomor 18

Tahun Tentang Advokat Adanya Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan kode etik advokat merupakan suatu produk hukum yang menentukan suatu hak dan kewajiban seorang advokat dalam menangani suatu perkara. Dimana dengan adanya hak dan kewajiban advokat yang teratur secara jelas dapat menjamin terselenggaranya proses peradilan yang sederhana, murah, cepat dan adil bagi semua pihak. Hak dan kewajiban advokat menurut Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat diatur dalam Pasal 14 sampai dengan 22. Hak dan kewajiban advokat menurut pasal – pasal tersebut adalah sebagai berikut : a. Advokat bebas dan tanpa takut mengeluarkan pendapat atau pernyataan dalam siding pengadilan untuk membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya. b. Advokat dalam membela kliennya tidak boleh diancam oleh siapapun dengan maksud untuk mempengaruhi pembelaannya. Dengan demikian, advokat secara leluasa dapat mencari keadilan bagi kliennya. c. Advokat mempunyai hak kekebalan, yakni tidak dapat dituntut, baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan profesinnya dengan itikad baik untuk kepentingaan pembelaan terhadap klien di pengadilan, lembaga peradilan lainnya, atau dalam dengar pendapat di Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.

9

Dikutip dari http://agushutabarat.wordpress.com/2009/07/09TINJAUAN-KODE-ETIKADVOKAT-INDONESIA-DAN-UNDANG–UNDANG-NOMOR-18-TAHUN-2003-TENTANGADVOKAT-DALAM-PENETAPAN-TARIFISASI-SERTA-PENDAMPINGAN-HUKUM-YANGDIBERIKAN-OLEH-ADVOKAT/

18

Ini hanya memberikan kekebalan terhadap advokat yang menjalankan profesinya “dengan itikad baik”. Bilamana dibuktikan advokat tersebut menjalankan profesinya tidak dengan itikad baik, advokat tersebut dapat dituntut baik secara maupun pidana. d. Dalam menjalankan profesinya, advokat berhak memperoleh informasi, data, dan dokumen lainnya yang diperlukan untuk pembelaan kepentingan kliennya baik dari instansi pemerintah maupun pihak lain yang berkaitan dengan kepentingan tersebut. Untuk membela klien, advokat diberikan keleluasaan untuk mencari dan memperoleh informasi, data, atau dokumen lain yang diperlukan sesuai dengan ketentuan perundang – undangan yang berlaku. e. Advokat dalam menjalankan profesinya dilarang membeda – bedakan perlakuan terhadap klien berdasarkan jenis kelamin, agama, politik, keturunan, ras, atau latar belakang social dan budaya. Advokat tidak dapat diidentikan dengan kliennya dalam membela perkara kliennya oleh pihak yang berwenang dan atau masyarakat. Kata “ tidak dapat diidentikan” artinya tidak dapat dipersamakan dengan klien yang dibelanya, meskipun klien tersebut telah didakwa melakukan tindak pidana yang berat sekalipun. f. Advokat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui atau diperoleh dari kliennya karena hubungan profesinya. g. Advokat berhak atas kerahasiaan hubungannya dengan klien, termasuk perlindungannya atas berkas dan dokumennya terhadap penyitaan atau

19

pemeriksaan dan perlindungan terhadap penyadapan atas komunikasi elektronik advokat. h. Advokat dilarang memegang jabatan lain yang meminta pengabdian sedemikian rupa sehingga merugikan profesi advokat atau menguranggi kebebasan dan kemerdekaan dalam melakukan profesinya serta dapat mengurangi martabat advokat i. Advokat yang menjadi pejabat dilembaga tinggi negara dibebaskan untuk sementara waktu dari profesinya selaku advokat selama memangku jabatan tersebut. j. Advokat berhak menerima Honorarium / legal fee atas jasa hukum yang telah diberikan kepada kliennya, dimana besarnya honorarium atas jasa hukum tersebut ditetapkan secara wajar dan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. k. Advokat memberikan bantuan hukum secara cuma – cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu.

2.1.2

Hak Advokat Dalam Menerima Honorarium atau Legal Fee Secara moral tidak ada salahnya seseorang mencari penghidupan dengan menyediakan berbagai pelayanan yang nyata – nyata dibutuhkan masyarakat. Akan tetapi biasanya kode etik profesi akan mengambarkan hubungan profesional dengan kliennya yang memiliki dimensi ekonomis dalam pengertian non ekonomis. Dalam profesi advokat, honorarium pula yang menjadi pembeda antara jasa hukum yang diberikan dengan bantuan hukum secara pro bono.10
10

Aria Suyudi, Binziad Kadafi, Bani Pamungkas, Bivitri Susanti, Erni Setyowati, Eryanto Nugroho, Gita Putri Damayana, Hadi Herdiansyah, Heni Sri Nurbayanti, Rival Gulam Ahmad, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi, Penerbit Pusat Studi Hukum &

20

Sumber penghasilan dari profesi advokat adalah honorarium dari klienya, sumber penghasilan ini sejalan dengan pertanggung jawaban kerja profesional yang juga diberikan kepada klien. Kegiatan profesional harus dibedakan dari kegiatan bisinis, terutama pada pencapaian tujuannya. Dalam konteks bisnis, kembali modal/uang kepada pemilik modal adalah tujuan akhir, sedangkan profesi justru menitik beratkan tujuan pada kesdiaan melakukan kegiatan yang bermotif melayani. Cita – cita sebuah profesi pada dasarnya menuntut individu untuk memberikan pelayanan dan memperoleh kompensasinya berupa upaya memajukan kepentingan umum. Perbedaan nilai merupakan titik utama pembeda profesional dengan wirausaha, para profesional tidak meletakan imbalan materi sebagai tujuan utama meskipun tetap menganggapnya perlu, sebaliknya para pengusaha menganggap mencari keuntungan adalah tujuannya.11 Salah satu hak dari advokat adalah menerima honorarium atau legal fee atas bantuan hukum yang ia berikan kepada, sesuai dengan pasal 21 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat yang berbunyi: “(1) Advokat berhak menerima honorarium tasa jasa hukum yang telah diberikan kepada klienya. (2) Besarnya honorarium atas jasa hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. dan sesuai dengan Kode Etik Profesi Advokat Indonesia Bagian II Hubungan dengan Klien:
Kebijakan Indonesia,hal 231. 11 Aria Suyudi, Binziad Kadafi, Bani Pamungkas, Bivitri Susanti, Erni Setyowati, Eryanto Nugroho, Gita Putri Damayana, Hadi Herdiansyah, Heni Sri Nurbayanti, Rival Gulam Ahmad, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi, Penerbit Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia,hal 232 .

21

Bagian II Pasal 2 butir 2.8 Advokat harus menentukan honorarium dalam batas-batas yang layak dengan mengingat kemampuan klien. Bagian II Pasal 2 butir 2.9 Advokat tidak dibenarkan dengan sengaja membebani klien dengan biaya-biaya yang tidak perlu. Perjanjian memberikan bantuan hukum merupakan ranah hukum perdata dengan ukuran yang wajar dan disepakati kedua belah pihak, sesuai dengan Pasal 1320 KUHPerdata. Legalitas legal fee dijamin pula oleh Undang – Undang Nomor 18 tahun 2003 Tentang Advokat. Hak advokat untuk mendapatkan suatu pemabayaran atau honorarium sebagai imbalan atas kewajibannya memberikan bantuan hukum sesuai perjanjian yang kedua belah pihak sepakati. Pada prinsipnya seorang perofesional menurut Luhut Pangaribuan adalah free of charge, akan tetapi hal itu sudah tidak dapat lagi dipertahankan karena adanya pergeseran dalam masyarakat. Advokat sebagai profesional selain dituntut untuk memenuhi tanggung jawab pada masyarakat juga dituntut memenuhi kebutuhan materinya. Masalahnya sekarang, mana yang lebih dikedepankan oleh seorang advokat, pemenuhan kebutuhan material atau melaksanakan fungsinya didalam masyarakat.12

2.2

Hubungan Hak dan Kewajiban Advokat Berdasarkan Kode Etik dan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 dengan Kasus yang Ditangani Oleh Advokat

12

Aria Suyudi, Binziad Kadafi, Bani Pamungkas, Bivitri Susanti, Erni Setyowati, Eryanto Nugroho, Gita Putri Damayana, Hadi Herdiansyah, Heni Sri Nurbayanti, Rival Gulam Ahmad, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi, Penerbit Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia,hal 235.

22

Dalam menangani sebuah kasus seorang advokat terikat dengan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan kode etik advokat Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari pembatasan hal-hal apa saja yang boleh dibela seorang advokat di muka pengadilan. Selain itu juga agar seorang advokat tidak bertidak diluar kewajaran saat membela seorang klien. Dalam organisasi advokat yang diakui oleh undang-undang mengenal sebuah Dewan Kehormatan. Dewan kehormatan inilah yang berperan untuk memberikan sanksi kepada seorang advokat yang melanggar kode etik. Sejauh ini peranan Dewan Kehormatan ini dipandang cukup efektif. Dalam pasal pasal 7 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang advokat. Sering terjadi pandangan di masyarakat terhadap seorang advokat yang membela seorang klien yang di mata masyarakat telah dinyatakan bersalah atas suatu kasus. Tidak jarang masyarakat mencemooh advokat yang menjadi kuasa hukum si terdakwa. Dari sudut Undang - Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat hal ini dapat dimungkinkan. Sebagaimana yang disebutkan dalam pasal Pasal 15 Undang – Undang Nomor 18 tahun 2003 Tentang Advokat. Disebutkan pula dalam pasal 18 ayat 2, bahwa advokat tidak dapat diidentikkan dengan klien yang sedang dibelanya. Pandangan mengenai pembelaan yang dilakukan seorang advokat terhadap klien yang bersalah. Namun dalam hal ini seorang advokat tidak dapat membela seorang klien yang telah nyata-nyata bersalah agar dibebaskan dari semua tuntutan, namun sematamata seorang advokat hanya sebagai penasehat atau pendamping si tersangka di muka pengadilan. Di sini si advokat bertugas untuk mendampingi agar hak-hak yang dimiliki si tersangka tidak dilanggar. Karena walaupun demikian dia tetap manusia dan warga

23

Negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Karena tidak jarang seorang tersangka diperlakukan semena-mena oleh oknumoknum yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal ini si tersangka dapat dapat dikatakan sebagai pencari keadilan, terlepas dari tindak pidana yang dilakukannya. Namun seorang advokat berhak untuk menolak pendampingan hokum kepada seorang klien dengan alasan bertentangan dengan hati nurani si advokat, tetapi tidak diperkenankan karena alasan perbedaan agama, suku, kepercayaan, keturunan dan lain sebagainya, sebagaimana yang disebutkan dalam pasal 3 poin (a) Kode Etik Advokat Indonesia. Pendampingan hukum yang dilakukan oleh seorang advokat sesuai dengan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan Kode Etik Advokat Indonesia, bebas kepada siapapun tanpa membedakan agama, kepercayaan dan lain sebagainya.

2.3

Hubungan Hak dan Kewajiban Advokat Dalam Suatu Perkara Pidana Di dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat maupun

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman, mengatur tentang keberadaan Advokat dalam menangani suatu proses penegakan hukum bagi seorang tersangka. Pasal 1 butir 2 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, tentang Advokat menjelaskan bahwa: “Jasa Hukum adalah Jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien. “ Dalam konteks ini pula, dapat terlihat pada Pasal 37 dan 38 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman yang menjelaskan bahwa, setiap

24

orang yang tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum. Bahkan dalam perkara pidana, seorang tersangka sejak saat dilakukan penangkapan dan/atau penahanan berhak menghubungi dan meminta bantuan hukum. Dari uraian sebagaimana dikemukakan di atas dapat di simpulkan bahwa yang di maksud dengan bantuan hukum adalah pelayanan hukum (Legal Service) yang diberikan oleh penasehat hukum dalam upaya memberikan perlindungan hukum dan pembelaan terhadap hak asasi tersangka/ terdakwa sejak ia ditangkap/ ditahan sampai dengan diperolehnya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Jadi yang dibela dan diberi perlindungan hukum bukan kesalahan tersangka/terdakwa, melainkan hak-hak asasi dari tersangka/terdakwa agar terhindar dari perlakuan dan tindakan tidak terpuji atau tindakan sewenang-wenang dari aparat penegak hukum.

2.3.1 Hak Advokat Dalam Suatu Perkara Pidana Advokat berhak menghubungi dan berbicara dengan tersangka pada setiap tingkat pemeriksaan dan setiap waktu untuk kepentingan pembelaan perkaranya (Pasal 70 ayat (1) KUHAP). Pengertian “setiap waktu” dari Pasal 70 ayat (1) harus diartikan waktu jam kerja kantor (Kep. Menkeh No. 14-PW.07.03 Tahun 1983 butir 17). Kuffal, (2004:168) menjelaskan bahwa kalimat untuk pembelaan perkara dalam rumusan Pasal 70 ayat (1) KUHAP harus ditafsirkan untuk kepentingan pembelaan perkara di depan sidang Pengadilan dan bukan untuk membela tersangka/terdakwa di depan penyidik atau penuntut umum. Karena dalam pemeriksaan tersangka pada tingkat penyidikan Penasehat Hukum hanya dapat mengikuti jalannya pemeriksaan secara pasif yaitu dengan cara melihat serta mendengar pemeriksaan (within sight and within

25

hearing), dan dalam hal perkara kejahatan terhadap keamanan negara penasihat hukum hanya dapat hadir dengan cara melihat tanpa mendengar pemeriksaan (Within Sight But Not Within Hearing) (Pasal 70 jo. 115 KUHAP). Jika terdapat bukti bahwa Penasihat Hukum tersebut menyalahgunakan haknya dalam pembicaraan dengan tersangka maka sesuai dengan tingkat pemeriksaan, Penyidik, Penuntut Umum atau Petugas Lembaga Pemasyarakatan memberikan peringatan kepada Penasihat Hukum. Apabila peringatan tersebut tidak diindahkan maka hubungan tersebut diawasi oleh pejabat yang tersebut pada ayat dua (Pasal 70 ayat (2) dan (3) KUHAP). Setelah dilakukan pengawasan ternyata Penasehat Hukum tersebut masih tetap menyalahgunakan haknya, maka hubungannnya dengan tersangka (disaksikan oleh pejabat yang berwenang, dan setelah itu jika Penasihat Hukum masih tetap melanggar ketentuan yang berlaku, maka hubungan selanjutnya dengan tersangka dilarang (Pasal 70 ayat (4) KUHP. Larangan tersebut baru berakhir setelah Penuntut Umum melimpahkan perkara yang bersangkutan ke Pengadilan Negari (Pasal 74 KUHP).

2.3.1.1 Hak Advokat Memperoleh Turunan Berita Acara Pemeriksaan Atas permintaan tersangka atau Penasehat Hukum pejabat yang bersangkutan memberikan turunan (salinan) berita acara pemeriksaan (BAP) untuk kepentingan pembelaannya (Pasal 72 KUHAP). Penjelasan Pasal 72 KUHAP dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “untuk kepentingan pembelaannya” ialah bahwa mereka wajib

26

menyimpan isi berita tersebut untuk kepentingan diri sendiri. Yang dimaksud “turunan” dapat berupa salinan. Kuffal, (2004:169). BAP yang dapat diberikan kepada Penasehat

Hukum/tersangka pada tingkat pemeriksaan penyidikan hanya BAP tersangka. Dalam tingkat penuntutan semua Berkas Perkara termasuk Surat Dakwaan. Dalam tingkat pemeriksaan pengadilan seluruh berkas perkara termasuk Putusan Hakim (Vonnis).

2.3.1.2 Hak Advokat Mengirim dan Menerima Surat dari Tersangka Kuffal, (2004:169). Advokat/Penasehat Hukum berhak mengirim dan menerima surat dari tersangka setiap kali dikehendaki olehnya (Pasal 73 KUHAP). Apabila disalahgunakan, maka pejabat yang berwenang dapat melakukan tindakan sebagaimana diatur dalam Pasal 70 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) KUHAP.

2.3.1.3 Hak Untuk Memperoleh Honorarium (Sebagai Suatu Profesi) Berdasarkan petunjuk dalam Undang - Undang No. 18 tahun 2003 Tentang Advokat, Pasal 21 ayat (1) mengisyaratkan bahwa Advokat berhak menerima honorarium atas jasa yang telah diberikan kepada kliennya. Pada ayat (2) besarnya honorarium atas jasa hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan dua belah pihak. Menurut Yudha Pandu, bahwa : “Jika anda memutuskan untuk menggunakan jasa seorang advokat dalam menyelesaikan suatu perkara, ada hal penting yang harus dibicarakan lebih awal sebelum masuk kepada pokok pembicaraan mengenai hal ihwal perkara itu sendiri, yakni: honorarium atau fee. Hal ini penting, agar segala sesuatunya

27

menjadi pasti dan jelas. Jika tidak demikian, maksud anda datang kepada seorang advokat untuk menyelesaikan perkara, justru akhirnya menimbulkan perkara baru karena tidak pasti dan jelasnya honorarium atau fee yang harus anda bayarkan.”13

2.3.2 Kewajiban Advokat Dalam Perkara Pidana Sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 15,18 dan 19 Undang-Undang nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, bahwa Advokat bebas dalam menjalankan tugas profesinya untuk membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya dan tetap berpegang pada Kode Etik Profesi dan Peraturan Perundang-undangan. Advokat dalam menjalankan tugas profesinya dilarang membedakan perlakuan terhadap klien berdasarkan jenis kelamin, agama, politik, keturunan, ras, atau latar belakang sosial dan budaya. Advokat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui dari kliennya karena hubungan profesinya, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang. Menurut Frans Hendra Winarta, (2000:93), “Tidak banyak orang yang tahu bahwa bantuan hukum adalah bagian dari profesi Advokat. Profesi Advokat dikenal sebagai profesi yang mulia atau officium nobile karena mewajibkan pembelaan kepada semua orang tanpa membedakan latar belakang ras, warna kulit, agama, budaya, sosio-ekonomi, kaya/miskin, keyakinan politik, gender, dan ideologi. Delapan dari sepuluh orang Indonesia kalau ditanya tentang bantuan hukum tidak dapat membedakannya dengan profesi advokat.” Sejalan dengan penjelasan diatas, ada juga uraian tertentu yang ada hubungan dengan kewajiban advokat terhadap pencari keadilan sebagaiman yang di ungkapkan

13

Yudha Pandu, “Klien dan Advokat Dalam Praktek”, Indonesia Legal Center Publishing, hal 89.

28

Lasdin Wlas, (1989:19) yakni : “Advokat berkewajiban melaksanakan tegaknya kebenaran keadilan hukum dan hak-hak asasi manusia, serta menghayati bahwa profesi advokat adalah mempunyai martabat tinggi, mulia dan terhormat, mentaati kode etik advokat, membela dan melindungi klien pencari keadilan. Meningkatkan pembinaan budi pekerti dan budaya sebagai tuntutan pembinaan manusia Indonesia seutuhnya. Melaksanakan tugas pekerjaan profesi dengan segala kejujuran, kesungguhan, kebijaksanaan, keberanian, agar kepentingan dipercayakannya dapat terwujud dengan baik dan penuh rasa tanggung jawab.” Setelah memperhatikan uraian diatas, maka dapat difahami bahwa kewajiban Advokat dalam melaksanakan tugasnya senantiasa dilandasi dengan semangat idealisme dalam memberikan bantuan hukum kepada siapa saja, tanpa ada klasifikasi antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya.

BAB III LEGAL FEE ATAU HONORARIUM SEBAGAI IMBALAN JASA ADVOKAT

3.1

Pengertian Legal Fee atau Honorarium Secara moral tidak ada salahnya seseorang mencari penghidupan dengan

menyediakan berbagai pelayanan yang nyata – nyata dibutuhkan masyarakat. Akan tetapi

29

biasanya kode etik profesi akan menggambarkan hubungan professional dengan kliennya yang memiliki dimensi ekonomis dalam pengertian nonekonomis. Salah satu karakteristik profesi yang umum dikenal adalah kebebasan ekonomis, yang kemudian berkembang menjadi konsep honorarium. Sumber penghasilan seorang professional umumnya didapat dari klien bukan institusi atau sumber lainnya. Sumber penghasilan ini sejalan dengan pertanggungjawaban kerja professional yang juga diberikan kepada klien.14 Berdasarkan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat pasal 1 ayat 7, yang menyebutkan bahwa, “Honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh Advokat berdasarkan kesepakatan dengan Klien”. Menurut kode etik advokat Indonesia pasal 1 point (f) “Honorarium adalah pembayaran kepada advokat sebagai imbalan jasa advokat berdasarkan kesepakatan dan atau perjanjian dengan kliennya”. Berdasarkan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 30 “Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan”. Advokat sebagai professional selain dituntut untuk memenuhi tanggung jawab kepada masyarakat juga dituntut memenuhi kebutuhan materinya. Para advokat harus menentukan pilihan dimana posisi mereka dalam hal honorarium atau legal fee ini.

14

Aria Suyudi, Binziad Kadafi, Bani Pamungkas, Bivitri Susanti, Erni Setyowati, Eryanto Nugroho, Gita Putri Damayana, Hadi Herdiansyah, Heni Sri Nurbayanti, Rival Gulam Ahmad, “Advokat Indonesia Mencari Legitimasi”, Penerbit Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia,hal 251.

30

Dalam sejarah advokat di Inggris umumnya sudah kaya sehingga tidak membutuhkan uang. Mereka hanya membutuhkan kehormatan dan tidak pernah membicarakan fee. Advokat di Inggris tidak sudi menerima upah melainkan dalam bentuk honorarium. Honorarium tersebut diterima dan diatur oleh seorang “clerk”.15 Advokat sering dikatakan sebagai profesi yang terhormat (officum nobile). Padangan tersebut lahir dari fungsi kemasyarakatan yang dijalankan oleh profesi advokat. Orang yang menjalankan fungsi kemasyarakatan tersebut didorong oleh penghormatan atas martabat manusia. Karena landasannya adalah penghormatan atas martabat manusia dan menuntut keahlian serta sikap etis maka pekerjaan advokat dipandang sebagai pekerjaan bermartabat.16 Kegiatan profesional harus dibedakan dari kegiatan bisinis, terutama pada pencapaian tujuannya. Dalam konteks bisnis, kembali modal/uang kepada pemilik modal adalah tujuan akhir, sedangkan profesi justru menitik beratkan tujuan pada kesdiaan melakukan kegiatan yang bermotif melayani. Cita – cita sebuah profesi pada dasarnya menuntut individu untuk memberikan pelayanan dan memperoleh kompensasinya berupa upaya memajukan kepentingan umum.17Menurut Talcott Parsons, hal utama yang membedakan golongan professional dari entrepreneur (wirausaha) adalah perbedaan nilai. Para Profesional tidak meletakan imbalan materi (profit-oriented) sebagai tujuan utama meskipun tetap menganggapnya perlu, sebaliknya para pengusaha menganggap mencari keuntungan adalah tujuannya.18
15

Franz Hendra Winarta, “Advokat Indonesia”, Pustaka Sinar Harapan, hal 67 Aria Suyudi, Binziad Kadafi, Bani Pamungkas, Bivitri Susanti, Erni Setyowati, Eryanto Nugroho, Gita Putri Damayana, Hadi Herdiansyah, Heni Sri Nurbayanti, Rival Gulam Ahmad, “Advokat Indonesia Mencari Legitimasi”, Penerbit Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia,hal 232. 17 Sumaryono, Etika Profesi Hukum, Kanisius, hal 40. 18 “Essays in Socological Theory”, Glencoe:Illionis:The Free Press,1949, sebagaimana dikutip oleh Nusyirwan Hamzah, “Pengaruh Keterlibatan dalam Kegiatan Profesi
16

31

Dalam penentuan honorarium atau legal fee seseorang advokat menetapkan dengan batasan – batasan yang layak dengan mengingat kemampuan klien. Sebagaimana diamanatkan oleh kode etik advokat Indonesia dalam bab hubungan dengan klien: Bagian II Pasal 2 butir 2.8 Advokat harus menentukan honorarium dalam batas-batas yang layak dengan mengingat kemampuan klien. Bagian II Pasal 2 butir 2.9 Advokat tidak dibenarkan dengan sengaja membebani klien dengan biaya-biaya yang tidak perlu. 3.2 Legal Opinion Merupakan Dasar Perikatan Dalam Hubungan Antara Advokat Dengan Kliennya19 Tidak ada definisi baku dari arti kata “legal opinion”. Banyak definisi yang pada pokoknya mendefinisikan bahwasanya legal opinion merupakan pendapat ahli hukum mengenai suatu kejadian/ peristiwa hukum yang didasarkan pada fakta kronologis kejadian, bukti dan petunjuk peristiwa yang ada. Legal opinion, dalam hubungan antara advokat dengan kliennya, merupakan dasar perikatan. Sebagai dasar perikatan tentunya legal opinion yang disampaikan oleh advokat kepada kliennya harus menguraikan analisa-analisa hukum, berdasarkan bukti yang ada, tentang alternatif penanganan dan tahap-tahap penyelesaian masalah hukum yang dihadapi si klien. Adanya legal opinion, diharapkan klien mendapatkan gambaran seperti apa proses advokasi yang akan dilakukan oleh si advokat tersebut. Memberikan legal opinion merupakan salah satu bagian dari jasa hukum advokat. Hal ini sebagaimana dimaksud pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 18 Tahun 2003
terhadap Profesionalisme: Studi di Kalangan Dokter”, Masyarakat Jurnal Sosiologi 1, hal 16. 19 Dikutip dari : http://www.blogcatalog.com/blog/advokatku/4645816864ce8a62f48a78d0466a75e9

32

tentang Advokat yang menyatakan “Jasa Hukum adalah jasa yang diberikan Advokat berupa memberikan konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien”. Terlebih, legal opinion merupakan dasar perikatan dalam hubungan antara advokat dengan kliennya maka terhitung sejak legal opinion disampaikan kepada si klien maka sejak itu pulalah advokat yang bersangkutan berhak atas honorarium. Implementasinya, adakalanya walaupun skema advokasi telah tersusun dalam legal opinion, tidak serta merta dapat dijalankan. Teknis penanganan perkara dilapangan lebih menentukan dapat tidaknya skema advokasi yang tersusun dalam legal opinion tersebut dijalankan. Ada kalanya, hambatan-hambatan dilapangan tidak dapat dihindarkan. Sepanjang hambatan-hambatan tersebut dibicarakan dan didiskusikan kepada klien dengan baik serta jelas, klien akan paham. Kuncinya adalah komunikasi dan keterbukaan antara advokat dengan kliennya.

3.3

Metode Untuk Menetapkan Honorarium atau Legal Fee Dalam menggunakan jasa seorang advokat dalam menyelesaikan suatu perkara,

ada hal penting yang harus dibicarakan lebih awal sebelum masuk kepada pokok pembicaraan mengenai hal ihwal perkara itu sendiri, yakni: honorarium atau fee. Hal ini penting, agar segala sesuatunya menjadi pasti dan jelas. Jika tidak demikian, maksud untuk menyelesaikan perkara, justru akhirnya menimbulkan perkara baru karena tidak pasti dan jelasnya honorarium atau fee yang harus anda bayarkan Jasa advokat merupakan jasa yang memberikan perlindungan hukum dan pendampingan hukum kepada seorang klien yang dihadapkan kepada sebuah masalah

33

hukum. Pembayaran terhadap jasa advokat itu sendiri dilakukan oleh klien yang menggunakan jasa si advokat tersebut dengan jumlah atau nominal yang telah disepakati, ini sesuai dengan isi UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat pasal 1 ayat 7, yang menyebutkan bahwa, “Honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh Advokat berdasarkan kesepakatan dengan Klien”. Juga yang disebutkan dalam pasal satu poin (f) dalam kode etik advokat Indonesia. Hal ini dimungkinkan kerena tidak adanya standarisasi baku yang mengatur tentang minimal dan maksimal jumlah bayaran jasa advokat. Para advokat biasanya mengenakan tarif yang dianggap pantas oleh kedua belah pihak, atau menggunakan kisaran yang menurut kantor advokat bersangkutan pantas. Tidak ada suatu standar penentuan legal fee di kalangan Advokat/Pengacara. Besar kecilnya honorarium yang akan diterima oleh Advokat/Pengacara sangat tergantung kepada kesepakatan kedua belah pihak, klien dan Advokat/Pengacara yang didasarkan kepada beberapa hal, antara lain: • Profesionalitas si Advokat/Pengacara (semakin terkenal berarti semakin mahal) • Besar kecilnya kasus yang ditangani. • Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perkara tersebut. • Kemampuan financial si klien • Lokasi kasus/perkara yang ditangani (kalau di luar daerah/pulau berarti semakin mahal dengan penambahan biaya akomodasi dan transportasi).20

20

http://agushutabarat.wordpress.com/2009/07/09”TINJAUAN-KODE-ETIK-ADVOKATINDONESIA-DAN-UNDANG–UNDANG-NOMOR-18-TAHUN-2003-TENTANG-ADVOKATDALAM-PENETAPAN-TARIFISASI-SERTA-PENDAMPINGAN-HUKUM-YANG-DIBERIKANOLEH-ADVOKAT/”.

34

Menurut AMS Law Firm (ANNER MANGATUR SIANIPAR, SH, MH & Partners), setidaknya ada beberapa kriteria dan metode pembayaran dalam memanfaatkan jasa Advokat/Pengacara antara lain : • Pembayaran borongan (Contract Fees), dimana Advokat/Pengacara memperoleh bayaran yang sudah ditentukan besarnya hingga perkara tersebut tuntas ditangani, di luar success fee. Jadi, kalah atau menang dalam menangani suatu perkara, si Advokat/Pengacara tetap menerima fee sebesar yang telah diperjanjikan semula, yang tatacara dan termin pembayarannya telah disepakati bersama, dimana pada saat penandatangan Surat Kuasa biasanya sudah dilakukan pembayaran sekitar 30% hingga 50% dari total fee yang harus diterima dan selanjutnya diseuaikan dengan porsi pekerjaan yang sudah dilakukan, yang umunya pembayaran tersebut dilakukan antara 2 (dua) hingga 4 (empat) termin, dimana biasaya sekitar 5% hingga 10% dibayarkan setelah perkara selesai. Jika, sebelumnya telah diperjanjikan, maka si Advokat/Pengacara masih dimungkinkan untuk mendapatkan success fee selain dari fee/ honorariumnya tersebut. Namun, dalam sistem ini biasanya sudah digabung menjadi satu paket ( all in ) dengan success fee-nya • Pembayaran berdasarkan porsi (Contingent Fees) pada sistem ini

Advokat/Pengacara menerima bagian dari hasil yang diperoleh dari klien yang dimenangkan dalam suatu sengketa hukum. Namun, Advokat/ Pengacara disini hanya akan menerima bagian jika ia berhasil memenangkan perkara tersebut (success fee). Jika tidak berhasil, maka dia hanya akan menerima penggantian untuk biaya operasianal yang telah dikeluarkannya. Pembayaran berdasarkan porsi seperti ini tidak dilakukan dalam masalah–masalah bisnis rutin. Sistem seperti ini umumnya

35

dipergunakan dalam hal Advokat/Pengacara bekerja dan mewakili klien untuk kasus sengketa melalui proses litigasi (sengketa yang penyelesaiannya melalui proses di pengadilan/ kepolisian/ kejaksaan), mediasi atau arbitrase seperti dalam suatu peristiwa dimana terjadinya tuntutan (gugatan) atas kerugian akibat kelalaian atau kesalahan pihak lain yang klien alami. • Pembayaran perjam (Hourly Rate), biasanya cara pembayaran seperti ini dilakukan untuk jasa dalam lingkup bisnis kecil. Penting diketahui bahwa setiap aktifitas seorang Advokat/Pengacara dalam mewakili kepentingan klien termasuk dalam jasa telepon untuk konsultasi dan hal-hal lain seperti surat menyurat untuk kepentingan legal advise, mempersiapkan dan menyusun suatu rancangan kontrak juga termasuk dalam perhitungan “Jam“ jasa yang harus dibayarkan. Jika metode ini yang digunakan, maka saat calon Klien mengadakan pembicaraan dengan calon Advokat/Pengacara yang dipilih harus terlebih dahulu ditanyakan berapa tarif per jam si Advokat/Pengacara dan waktu minimum pemakaian jasanya. Kebanyakan Advokat/Pengacara menggunakan waktu minimum untuk pemakaian jasanya adala 15 (lima belas) menit. Dalam suatu contoh, apabila seorang klien menelepon selama tujuh menit maka akan dibebankan biaya atas pemakaian jasa 15 (lima belas ) menit. Di kota-kota besar biasanya tarif per jamnya ditentukan dengan standard US$, yang saat ini di Jakarta rata-rata berkisar antara US$ 250 hingga US$ 600 per jam untuk seorang Advokat/Pengacara senior dan terkenal, dan antara US$ 75 hingga US$ 250 per jam untuk seorang Advokat/Pengacara junior dan menengah. Metode ini kurang cocok untuk perkara litigasi (sengketa yang penyelesaiannya melalui proses di

36

pengadilan/kepolisian/kejaksaan) yang besar dan membutuhkan waktu yang lama untuk penanganannya. • Pembayaran ditetapkan (Fixed Rate) Advokat/Pengacara yang akan menangani suatu tugas atau proyek biasanya menentukan sistem pembayaran tetap (Fixed Rate). Namun sistem ini tidak dipakai pelayanan jasa dalam lingkup litigasi (sengketa yang penyelesaiannya melalui proses di pengadilan/kepolisian/kejaksaan). Sistem ini biasanya diterapkan pada pemanfaatan jasa oleh bisnis skala kecil Contohnya, seorang Advokat/Pengacara menetapkan fixed rate untuk menghasilkan suatu kontrak atau dokumen. • Pembayaran berkala (Retainer) jika seorang Advokat/Pengacara menggunakan sistem pembayaran berkala, maka klien membayar secara bulanan atau bisa juga dirancang untuk pembayaran secara per triwulan, semester atau tahunan sebelum berbagai jasa Advokat/Pengacara diterima klien (pembayaran di depan) dan harus didefinisikan (dirinci) untuk disepakati bersama. Sistem ini sangat menguntungkan bagi klien, terutama jika klien tahu bahwa mereka akan sering menbutuhkan Advokat/Pengacara dalam suatu periode tertentu. Pembayaran model ini biasanya di luar perkara, biasanya untuk jasa konsultasi saja. Metode ini lebih mudaj, effisien dan effektif.21 Pendapat lain mengenai penentuan legal fee di kalangan Advokat/Pengacara: 3 Retainer Fee Hasil jasa konsultasi hukum sesuai kesepakatan kedua belah pihak sebelum dilangsungkan pekerjaan terdiri dari:
21

Dikutip dari hhtp:www.primaonline.com/berita/5_”model_pembayaran_jasa_advokat”.

37

- Nasehat hukum - Observasi pengumpulan dokumen - Pembuatan draft perjanjian / Kontrak / rakes sipil - Dan lain – lain sepanjang konteks hukum 4 Operation Fee Hasil jasa perkara pada saat dimulainya penenganan dengan penandatanganan surat kuasa sampai perkara selesai. 5 Succes Fee Hasil jasa kepengurusan perkara diputus dengan menang dan sampai berhasil yang sebelumnya telah dituangakan dalam suatu perjanjian.22 Beberapa media juga sempat mencatat tarif jasa konsultan yang dipasang oleh para advokat senior. Adnan Buyung Nasution dan Kartini Moeljadi misalnya memasang tarif kurang lebih empat ratus dollar AS perjam. Todung Mulya Lubis tiga ratus lima puluh dollar AS perjam dan Mantan Menteri Luar Negeri Mochtar Kusumaatmadja, konon memasang tarif konsultasi lebih kurang lima ratus dollar AS.23 Harian Republika dalam salah satu terbitannya juga menyebutkan angka – angka tarif konsultasi para advokat. Makarim dan Taira S mematok tiga ratus dollar AS sampai dengan tujuh ratus dollar AS perjam, sedangkan Henry Yosodiningrat menetapkan tarif minimal dua ratus lima puluh dollar AS perjam. Pola lain yang digunakan adalah sistem paket. Idwan Ganie dan Hanifiah tercatat menggunakan sistem ini. Hanifiah menetapkan dua puluh lima ribu dollar AS sampai dengan tiga puluh ribu dollar AS untuk legal audit

22

Ropaun rambe, “Tehnik Praktek Advokat”, PT. Grasindo Widiasarana Indonesia, hal 62. 23 Dikutip dari : Kompas, Senin 25 Oktober 1999.

38

dan legal opinion perusahaan yang akan go public. Sedangkan untuk restrukturisasi tarifnya mencapai seratus ribu dollar AS perpaket.24 Di Amerika ada istilah yang disebut “retainer” artinya pembayaran uang muka kepada seorang advokat sebagai alat bukti persetujuan bahwa klien telah menunjuknya sebagai advokat.25 Kata retainer juga diartikan untuk menjelaskan behwa seseorang atau suatu perusahaan adalah klien dari seorang advokat. Klien memberikan fee yang secara reguler, seperti perbulan atau per tiga bulan untuk jasa konsultasi yang diperlukannya dalam periode tersebut.26 Di Inggris atau di Australia dikenal dengan “trust money”, tetapi dalam mekanisme berbeda dengan retainer. Trust money adalah uan yang dititipkan kepada advokat dalam suatu special account atau pembukuan yang tersendiri. Penggunaan uang tersebut adalah untuk biaya – biaya yang harus dikeluarkan dalam penyelesaian perkara. Tidak boleh digunakan selain kepentingan perkara klien yang bersangkutan. Secara berkala advokat harus melaporkan pengeluaran atau penggunaan uang dari trust account tersebut. Penyalahgunaan trust account oleh advokat dianggap sebagai pelanggaran profesi (professional miscoundct).27 Ada banyak cara penetapan tarif honorarium advokat atas bantuan hukumnya, sangatlah sulit untuk menetapkan imbalan jasa advokat dalam sebuah bentuk ketentuan tertulis (peraturan perundang – undangan). Beraneka ragamnya mekanisme yang

24 25

Dikutip dari : Republika, 7 Desember 1999. Reader’s Digest (1978) “You and the Law”. New York : The Reader’s Digest Assocation,inc. hal 734. sebagaimana dikutip oleh Yudha Pandu, “Klien dan Advokat Dalam Praktek”, Indonesia Legal Center Publishing, hal 91. 26 Yudha Pandu, “Klien dan Advokat Dalam Praktek”, Indonesia Legal Center Publishing, hal 91. 27 Goulding,T. (Ed.) (1995) The Law Handbook (rev.ed). Australia : Redfern Legal Center Publishing. hal 78. sebagaimana dikutip oleh Yudha Pandu, “Klien dan Advokat Dalam Praktek”, Indonesia Legal Center Publishing, hal 91.

39

digunakan, rentang yang sangat jauh antara biaya advokat yang paling tinggi dengan yang paling rendah, serta resistensi kalangan advokat sendiri merupakan faktor – faktor yang menjadi alasan. Oleh karena itu, batasan – batasan formil yang perlu dipenuhi oleh klien maupun advokat dalam menetapkan imbalan jasa lebih dekedepankan.28

3.4

Legal Fee atau Honorarium Berdasarkan Kitab Undang – Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Berdasarkan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan

Kode Etik Indonesia bahwa jasa Advokat lebih difokuskan pada hukum perjanjian sehingga berada pada azas kebebasan bagi mereka yang membuatnya. Itu tertuang dalam Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat pasal 1 ayat 7 “Honorarium adalah imbalan atas jasa hukum yang diterima oleh Advokat berdasarkan kesepakatan dengan Klien”. pasal 21 ayat (2) Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 yang berbunyi; “Besarnya honorarium atas jasa hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak”. dan menurut Kode Etik Advokat Indonesia pasal 1 point (f) “Honorarium adalah pembayaran kepada advokat sebagai imbalan jasa advokat berdasarkan kesepakatan dan atau perjanjian dengan kliennya”. Berkenaan dengan perbuatan menerima legal fee sebagai bentuk hak yang boleh dilakukan ketika bantuan hukum sudah diberikan dengan ukuran yang wajar dan disepakati kedua belah pihak, hal demikian perjanjian kesepakatan antara advokat dan
28

Aria Suyudi, Binziad Kadafi, Bani Pamungkas, Bivitri Susanti, Erni Setyowati, Eryanto Nugroho, Gita Putri Damayana, Hadi Herdiansyah, Heni Sri Nurbayanti, Rival Gulam Ahmad, “Advokat Indonesia Mencari Legitimasi”, Penerbit Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia,hal 235.

40

klien dibuat. Perjanjian memberikan bantuan hukum merupakan ranah hukum privat atau perdata, yang mengatur permasalahan person antara advokat dengan sang klien. Berdasarkan pasal 1320 KUHPerdata, terdapat 4 syarat suatu perjanjian dinyatakan sah secara hukum, yaitu: 1. Adanya kesepakatan kedua belah pihak. Maksud dari kata sepakat adalah, kedua belah pihak yang membuat perjanjian setuju mengenai hal-hal yang pokok dalam kontrak. 2.Kecakapan untuk melakukan perbuatan hukum. Asas cakap melakukan perbuatan hukum, adalah setiap orang yang sudah dewasa dan sehat pikirannya. Ketentuan sudah dewasa, ada beberapa pendapat, menurut KUHPerdata, dewasa adalah 21 tahun bagi laki-laki,dan 19 th bagi wanita. 3.Adanya Obyek. Sesuatu yang diperjanjikan dalam suatu perjanjian haruslah suatu hal atau barang yang cukup jelas. 4.Adanya kausa yang halal. Pasal 1335 KUHPerdata, suatu perjanjian yang tidak memakai suatu sebab yang halal, atau dibuat dengan suatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai kekuatan hukum. Suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan etika baik (asas pacta sunt servanda). Pada dasarnya advokat adalah penyedia jasa. Sehingga di dalam penanganan perkara hukum terhadap klien, aspek perjanjiannya disini adalah kebebasan berkontrak dengan terlebih dahulu adanya surat kuasa.

41

Dalam hal penetapan isi perjanjian pemberian bantuan hukum mengenai honorarium antara advokat dengan klien diperbolehkan menetapkan tarif yang sesuai menurut kedua belah pihak dan wajar sesuai dengan amanat Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat dan Kode Etik Advokat Indonesia, serta memenuhi seluruh persyaratan pasal 1320 KUHperdata. Hendaknya dalam pengaturan mengenai kontrak, terutama yang berhubungan dengan salah satu profesi dalam hukum mengenai pelayanan jasa hukum, standard dalam ketetapan untuk tarif melaksanakan jasa tersebut dituangkan agar mendapat standard baku dalam penetapan kontrak terhadap klien.29

3.5

Legal Fee atau Honorarium Berdasarkan Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Atas dasar seorang advokat menerima honorarium atau legal fee dari kliennya

atas jasa hukum yang diberikannya, menjadi dapat dikatakan bahwa klien itu seorang majikan dan advokat seorang pegawai. Bila benar honorarium yang diterima dari kliennya merupakan gaji atau upah maka profesi advokat dapat dikatakan hanya seorang pegawai saja dari klien. Bila melihat bunyi Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 30; “Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan

29

Dikutip dari : http://agungnadhi.blogspot.com/2008/12/ aspek-perjanjian-antaraadvokat-dan.html

42

perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan”. Honorarium advokat merupakan hak dari advokat atas dasar pekerjaan yang diberikan yaitu berupa jasa hukum kepada kliennya, menyerupai dengan rumusan upah pada pasal tersebut diatas. Dimana klien sebagai pengusaha atau majikan dan advokat sebagai pekeja atau buruh, dimana dalam hubungan advokat dengan klien ada suatu perjanjian antara mereka. Bisa disamakan bahwa perjanjian itu merupakan perjanjian kerja. Di satu sisi, advokat itu adalah profesi yang mulia (officum nobile) . Di sisi lain, ini adalah profesi untuk mencari uang juga, itu tidak bisa dipungkiri. Advokat ialah bisnis jasa yang mendapatkan penghasilan dari tugasnya yang memberikan jasa hukum. Ini lah yang dimaksudkan dengan kegiatan professional dengan kliennya yang memiliki dimensi ekonomi dalam pengertian nonekonomi. Non ekonominya yakni tugas sosial advokat untuk memberikan jasa hukum secara pro bono atau bantuan hukum cuma – cuma. Meskipun seorang advokat mendapatkan penghasilan dari klien bukan berarti seorang advokat harus sepenuhnya turut pada perintah klien. Inilah yang membedakan advokat dengan pegawai atau buruh biasa. Tidak benar bila seorang klien mengatur seorang advokat apalagi terkait dengan langkah hukum yang akan digunakan dalam melakukan pembelaan terhadap klien. Pekerjaan advokat merupakan suatu profesi yang professional. Dimana membutuhkan keterampialn dibidang hukum serta memnuhi syarat – syarat kaulifikasi seorang advokat.

43

Advokat dalam menerima suatu perkara haruslah teliti, jangan sampai perkara yang tidak relevan atau yang tidak ada dasar hukumnya tetap diterima, hanya karena melihat honorarium yang diiming – imingkan oleh klien. Bila perkara tersebut tidak relevan seorang advokat diwajibkan menolak perkara yang klien ajukan, advokat memliki dasar kuat untuk menolak perkara tersebut. Asalkan bukan menolak karena alasan suku, ras, dan agama. Ini tertuang dalam pasal 3 poin (a) dan (b) Kode Etik Advokat Indonesia; “a. Advokat dapat menolak untuk memberi nasihat dan bantuan hukum kepada setiap orang yang memerlukan jasa dan atau bantuan hukum dengan pertimbangan oleh karena tidak sesuai dengan keahliannya dan bertentangan dengan hati nuraninya, tetapi tidak dapat menolak dengan alasan karena perbedaan agama, kepercayaan, suku, keturunan, jenis kelamin, keyakinan politik dan kedudukan sosialnya. b. Advokat dalam melakukan tugasnya tidak bertujuan semata-mata untuk memperoleh imbalan materi tetapi lebih mengutamakan tegaknya Hukum, Kebenaran dan Keadilan.” Lebih mengutamakan tegaknya hukum, kebenaran, dan keadilan dari pada materi atau kekayaan merupakan poin penting pembeda dari seorang profesi advokat dengan pegawai biasa atau buruh. Dimana advokat tidak bisa seenaknya memerima perkara tanpa melihat kerelevanan perkara tersebut hanya karena suatu materi.

BAB IV LEGAL FEE ATAU HONORARIUM YANG DITERIMA ADVOKAT DARI TERDAKWA TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DAN KORUPSI MENURUT HUKUM PIDANA

44

4.1

Kedudukan Advokat yang Menerima Legal fee Sesuai Ketentuan UndangUndang Nomor 18 Tahun 2003 dari Klien yang Menjadi Tersangka Tindak Pidana Pencucian Uang dan Korupsi dalam Kerangka Subyek Hukum yang Dapat Dipidana Berdasarkan Ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 200330 Mencermati kembali bunyi Pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003

tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dapat diketemukan adanya sebuah pengaturan pemberlakuan undang – undang ini terhadap subyek hukum yang dikenainya. Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang yang berbunyi : “(1) Setiap orang yang menerima atau menguasai: a. penempatan; b. pentransferan; c. pembayaran; d. hibah; e. sumbangan; f. penitipan; atau g. penukaran, Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah)”.

30

http://rustamaji1103.wordpress.com/2007/10/01/hukum-byanget-legal-fee-vsmoney-laundering/ oleh Muhammad Rustamaji

45

Ketentuan Pasal 6 tersebut agaknya menjadi semacam ‘asas legalitas’ terhadap semua pihak yang menerima kucuran uang hasil tindak pidana pencucian uang. Sedangkan pengecualiannya hanya berlaku bagi Penyedia Jasa Keuangan yang melakukan kewajiban pelaporan transaksi keuangan mencurigakan (STR) dan transaksi keuangan tunai (CTR). Namun demikian, apakah penasehat hukum atau advokat yang menerima pembayaran jasa honorarium hukum (legal fee) dari terdakwa kasus pencucian uang secara langsung dapat pula digolongkan sebagai adresat atau subyek hukum yang dapat dipidana berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 ini? 31 Sementara payung hukum yang berbeda justru memberikan pelegalan atas adanya legal fee ini, Ketentuan tersebut dapat dilihat pada Pasal 21 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat yang menyatakan kebolehan adanya legal fee ini tanpa adanya batasan, tidak terkecuali terhadap klien yang merupakan terdakwa tindak pidana pencucian uang. Besarnya Honorarium atas Jasa Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal 21 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak.Dalam Pasal 2 (2.8) Kode Etik Advokat Indonesia, advokat harus menentukan honorarium dalam batas-batas yang layak dengan mengingat kemampuan klien. Ketika terjadi benturan norma sebagai akibat kekosongan hukum yang membatasi keberlakuan legal fee advokat terhadap tindak pidana pencucian uang ini, maka korelasi terhadap siapa adresat atau subyek hukum yang dikenai dalam sebuah peraturan perundangan menjadi fokus yang penting. Dalam hal ini penentuan adresat atau subyek hukum dalam suatu ketentuan perundangan tentunya mempunyai persyaratan yang diatur

31

http://rustamaji1103.wordpress.com/2007/10/01/hukum-byanget-legal-fee-vsmoney-laundering/ oleh Muhammad Rustamaji

46

dalam sistem hukum yang berlaku, tidak terkecuali di Indonesia. Berpijak pada perspektif ketentuan hukum pidana (penal), seseorang dapat dikenai sanksi pidana sebagai subyek hukum atas suatu peraturan perundangan didasari dengan norma tidak tertulis “geen straf zonder schuld; actus nonfacit reum nisi mens sir rea (tidak ada pidana jika tidak ada kesalahan)”. Dasar ini berkait erat dengan kemampuan seseorang bertanggungjawab atas perbuatan yang telah dilakukannya. Oleh sebab itu ketika pembahasan mengenai advokat yang menerima legal fee atas jasa hukum yang ia berikan terhadap klien yang notabene terdakwa tindak pidana pencucian uang, harus pula diuji dan dikaji menggunakan parameter adanya kesalahan (nulla poena sine culpa) dan sifat melawan hukum (nulla poena sine lege).32

4.1.1

Indikator tentang Adanya Kesalahan Mengacu pada pandangan Simon, kesalahan merupakan adanya keadaan fisik

yang tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana dan adanya hubungan antara keadaan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga orang itu dapat dicela karena melakukan perbuatan tersebut.33 Dalam hal ini terdapat beberapa unsur yang dapat melengkapi sebuah perbuatan dikatakan mengandung unsur kesalahan, yaitu; (1)melakukan perbuatan pidana (sifat melawan hukum) (2)di atas umur tertentu untuk menjamin kemampuan bertanggung jawab (3)mempunyai suatu bentuk kesalahan yang berupa kesengajaan (dolus) maupun kealpaan (culpa)
32

http://rustamaji1103.wordpress.com/2007/10/01/hukum-byanget-legal-fee-vsmoney-laundering/ oleh Muhammad Rustamaji 33 Simmons, leerboek v/h Ned, Strafrecht, hal 161dan seterusnya

47

(4) tiadanya alasan pemaaf. Jika beberapa indikator adanya kesalahan ini digunakan dalam pengujian penerimaan pembayaran legal fee oleh advokat atas jasa hukum yang diberikan kepada kliennya yang notabene merupakan tersangka tindak pidana pencucian uang, maka dapat ditunjukkan ketentuan hukum yang meniadakan indikator kesalahan tersebut.34 Dalam menjalankan tugas profesionalnya, advokat sebagai profesi yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menegakkan hukum, dijamin dan dilindungi oleh undang-undang demi terselenggaranya upaya penegakan supremasi hukum. Bahkan kekuasaan kehakiman yang bebas dari segala campur tangan dan pengaruh dari luar, memerlukan profesi advokat yang bebas, mandiri, dan bertanggung jawab, untuk terselenggaranya suatu peradilan yang jujur, adil, dan memiliki kepastian hukum bagi semua pencari keadilan dalam menegakkan hukum, kebenaran, keadilan, dan hak asasi manusia. Mencermati politik hukum diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat ini dapat diketahui bahwa fungsi advokasi yang dilakukan seorang advokat dalam melaksanakan tugas sebagai salah satu dari empat pilar penegak hukum termasuk dalam melaksanakan undang-undang. Dengan demikian ketentuan Pasal 50 KUHP berlaku bagi seorang advokat dalam menjalankan tuganya. Ketentuan ini diperkuat dengan ketentuan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Pasal 50 KUHP: “barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana”
34

http://rustamaji1103.wordpress.com/2007/10/01/hukum-byanget-legal-fee-vsmoney-laundering/ oleh Muhammad Rustamaji

48

Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat : “Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan Klien dalam sidang pengadilan”. Dengan demikian perbuatan memberikan bantuan hukum bagi klien meskipun sang klien merupakan tersangka / terdakwa tindak pidana pencucian uang merupakan alasan pembenar tindakan advokat yang bersangkutan. Keberadaan alasan pembenar ini sebenarnya sudah cukup untuk mengeluarkan profesi advokat dari adresat pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.35 Dalam hal ini diletakkan suatu prinsip, bahwa apa yang telah diharuskan atau diperintahkan oleh undang-undang tidak mungkin untuk diancam hukuman dengan undang-undang yang lain. Yang dimaksud dengan undang-undang dalam hal ini mencakup seluruh ketentuan hukum atau peraturan yang dibuat oleh suatu badan pemerintahan yang diberi kekuasaan untuk membuat undang-undang. Ketika prinsip ini disimpangi maka yang terjadi adalah tumpangtindihnya pengaturan suatu permasalahan hukum yang bermuara pada tidak singkronnya peraturan perundangan dalam sebuah sistem perundang-undangan, baik secara vertikal maupun horisontal. Tabel 1. Singkronisasi Ketiadaan Unsur Kesalahan dalam Tugas Advokasi Profesi Advokat36 UU Nomor 25 Tahun 2003 UU Nomor 18 Tahun 2003 Barang siapa melakukan

Pasal 6 setiap orang yang menerima atau Pasal
35

http://rustamaji1103.wordpress.com/2007/10/01/hukum-byanget-legal-fee-vsmoney-laundering/ oleh Muhammad Rustamaji
36

http://rustamaji1103.wordpress.com/2007/10/01/hukum-byanget-legal-fee-vsmoney-laundering/ oleh Muhammad Rustamaji

49

(1)

menguasai a).penempatan, 50 perbuatan untuk melaksanakan b).pentransferan, c).pembayaran, KUHP ketentuan undang-undang, tidak d).hibah, e).sumbangan, dipidana f).penitipan, g).penukaran, harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling sedikit Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah) Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan Klien dalam sidang pengadilan Advokat tidak dapat diidentikkan dengan Kliennya dalam membela perkara Klien oleh pihak yang berwenang dan/atau masyarakat.

Pasal 6 Ketentuan sebagaimana Pasal (2) dimaksud dalam ayat (1) tidak 16 berlaku bagi Penyedia Jasa Keuangan yang melaksanakan kewajiaban pelaporan transaksi keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Pasal 18 (2)

Pasal Advokat berhak menerima 21 (1) Honorarium atas Jasa Hukum yang telah diberikan kepada Kliennya. Pasal Besarnya Honorarium atas Jasa 21 (2) Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak. Kode Etik Profesi Advokat IndonesiaBagian II Hubungan dengan Klien Bagian II Pasal 2 butir 2.8 Advokat harus menentukan honorarium dalam batas-batas yang layak dengan mengingat kemampuan klien

50

Bagian Advokat tidak dibenarkan dengan II sengaja membebani klien dengan Pasal 2 biaya-biaya yang tidak perlu butir 2.9 Bagian III Hubungan dengan Teman Sejawat Bagian III Pasal 3 butir 3.6 Jika klien hendak berganti advokat, advokat yang baru dipilih tadi dapat menerima perkara itu setelah terlebih dahulu advokat yang lama memberikan keterangan bahwa klien telah memenuhi semua kewajibannya terhadap advokat yang lama termasuk kewajiban keuangan (legal fee)

Melihat kembali bunyi Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang dimana terdapat kalimat “….patutnya diduga harta kekayaan merupakan hasil tindak pidana….” menjadikan posisi advokat dilematis adanya perintah Undang – Undang untuk melakukan pembelaan dan disisi lain adanya ancaman pidana dimana ia harus menduga bahwa harta kliennya merupakan hasil tindak pidana yang notabenenya terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi. Sebagai praktisi hukum advokat memang sudah seharusnya menduga bahwa pembayaran yang diberikan padanya dari kliennya yang seorang terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi merupakan hasil dari tindak pidana, dengan begitu bila advokat menerima pembayaran tersebut advokat itu sudah masuk dalam kriteria subjek hukum pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang untuk dipidana.

51

Bila seorang advokat harus menduga maka ia harus berkesimpulan bahwa harta kliennya merupakan hasil tindak pidana itu dikarenakan kliennya yang merupakan terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi, maka ia harus menolak segala pembayaran dari klien atau menolak perkara tersebut dikarenakan adanya ancaman pidana bagi advokat tersebut. Berdasarkan Pasal 3 huruf (a) Kode Etik Advokat Indonesia yang berbunyi: “Advokat dapat menolak untuk memberi nasihat dan bantuan hukum kepada setiap orang yang memerlukan jasa dan atau bantuan hukum dengan pertimbangan oleh karena tidak sesuai dengan keahliannya dan bertentangan dengan hati nuraninya, tetapi tidak dapat menolak dengan alasan karena perbedaan agama, kepercayaan, suku, keturunan, jenis kelamin, keyakinan politik dan kedudukan sosialnya.” dengan begitu advokat dapat menolaknya, namun bagaimana dengan nasib kliennya tersebut yang memerlukan suatu jasa hukum dari seorang advokat bila semua advokat menolaknya?

4.1.2

Indikator tentang Sifat Melawan Hukum Berkenaan dengan perbuatan menerima legal fee sebagai bentuk hak yang boleh

dilakukan ketika bantuan hukum sudah diberikan dengan ukuran yang wajar dan disepakati kedua belah pihak, sama sekali berbeda dengan melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana diatur dalam pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, sehingga tidak serta merta memenuhi ketentuan sifat melawan hukum melakukan tindak pidana. Hal demikian disebabkan adanya ranah yang berbeda ketika perjanjian kesepakatan antara advokat dan klien

52

dibuat. Disatu sisi perjanjian memberikan bantuan hukum merupakan ranah hukum privat atau perdata, yang mengatur permasalahan person antara advokat dengan sang klien. Jika terdapat sifat melawan hukum dalam perjanjian tersebut maka berlaku baginya pasal 1365 BW (Barangsiapa dengan perbuatan melawan hukum menimbulkan kerugian pada orang lain, harus mengganti kerugian tersebut apabila diminta oleh yang menderita kerugian tadi). Sedangkan tindakan menerima atau menguasai harta kekayaan sebagimana diatur dalam pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang merupakan ranah hukum pidana. Ketentuan pasal 6 ini menunjuk secara jelas bahwa seseorang yang menerima harta kekayaan yang patut diduga merupakan hasil tindak pidana berkedudukan hukum sebagai subyek hukum sebagaimana diatur dalam pasal 55 KUHP namun tingkatannya dipersamakan sebagai pelaku (pleger) tindak pidana pencucian uang, bukan lagi sebagai orang yang menyuruh lakukan (doen plegen), orang yang turut serta melakukan (medepleger) maupun penganjur / orang yang membujuk melakukan (uitlokker) perbuatan pidana pencucian uang, lebih jauh implikasi yang ditimbulkan dari perbedaan kedua ranah hukum ini adalah mengenai perbedaan sifat melawan hukumnya suatu perbuatan. Dengan demikian terdapat dua pandangan mengenai sifat melawan hukum dalam perspektif hukum pidana dan hukum perdata. Dalam kacamata hukum pidana terhadap perbuatan-perbuatan yang bersifat melawan hukum dibagi menjadi dua pandangan yaitu sifat melawan hukum yang formil dan sifat melawan hukum yang materiil. Pandangan yang formal menyatakan apabila suatu perbuatan telah memenuhi larangan undangundang, maka terdapat suatu kekeliruan / kesalahan. Letak melawan hukumnya perbuatan

53

sudah nyata dari sifat melanggarnya ketentuan undang-undang, kecuali jika termasuk dalam pengecualian yang telah ditentukan undang-undang pula. Sebaliknya yang berpendapat sifat melawan hukum secara materiil menyatakan bahwa belum tentu semua perbuatan yang memenuhi larangan undang-undang bersifat melawan hukum. Dalam hal ini undang-undang tidak terbatas pada apa yang tertulis semata, namun termasuk norma-norma dan kenyataan-kenyataan yang berlaku di dalam masyarakat. Berdasarkan kedua perspektif hukum pidana baik secara formil maupun materiil tersebut, dapat dijelaskan mengenai dilarangnya suatu tindak pidana ini tentunya sangat berkait dengan asas legalitas. Asas ini menetukan bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan (nullum delictum nulla poena sine previa lege poenale). Dengan demikian legal fee tentunya tidak dapat dianalogikan sama dengan kegiatan menerima harta kekayaan yang patut diduga merupakan hasil tindak pidana. Terlebih prasyarat adanya pengecualian pengaturan secara formil pada payung hukum perundangan lain juga terpenuhi mengenai legalitas legal fee ini yang dijamin dalam pasal 21 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Sehingga ketentuan pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang tidak menjadi semacam ‘asas legalitas’ terhadap tugas profesional advokat yang menjalankan fungsi advokasi terhadap kliennya yang memberikan legal fee sebagai sebuah hak. Dalam tataran norma dan kenyataan-kenyataan yang berlaku di dalam masyarakatpun kelaziman menerima legal fee sebagai hak yang diperjanjikan secara wajar bukan merupakan sesuatu yang dicela di tengah masyarakat. Dengan demikian profesi advokat beserta legal fee yang diterimanya tidak memenuhi sifat melawan hukum

54

yang formil dan materiil dalam perspektif hukum pidana. Hal ini terlepas dari bermacam pandangan sinis mengenai keterpurukan citra advokat saat ini yang etos kerja profesionalnya digambarkan telah dikalahkan oleh gemerlapnya konsumerisme dan komersialisasi yang secara sengaja atau tidak sengaja menabrak harmonisme administration of justice system. Batasan penerimaan legal fee secara wajar seperti apakah yang menjadi ukuran kewajaran, dalam hal penetapan legal fee yang wajar dengan melihat penerpan tarif yang dilakukan oleh rekan sejawat advokat lainnya. Pada umumnya tarif yang diberlakukan untuk kasus serupa berapa yang dikenankan oleh advokat lainnya yang setingkat nilai sosialnya dalam masyarakat. Dalam penetapan legal fee yang wajar tidak ada suatu standar penentuan di kalangan Advokat. Besar kecilnya legal fee yang akan diterima oleh Advokat sangat tergantung kepada kesepakatan kedua belah pihak dan citra advokat itu sendiri, penentuannya dapat didasarkan kepada beberapa hal, antara lain: • Profesionalitas si Advokat/Pengacara (semakin terkenal berarti semakin mahal) • Besar kecilnya kasus yang ditangani. • Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perkara tersebut. • Kemampuan financial si klien • Lokasi kasus/perkara yang ditangani (kalau di luar daerah/pulau berarti semakin mahal dengan penambahan biaya akomodasi dan transportasi).37

37

http://agushutabarat.wordpress.com/2009/07/09”TINJAUAN-KODE-ETIK-ADVOKATINDONESIA-DAN-UNDANG–UNDANG-NOMOR-18-TAHUN-2003-TENTANG-ADVOKATDALAM-PENETAPAN-TARIFISASI-SERTA-PENDAMPINGAN-HUKUM-YANG-DIBERIKANOLEH-ADVOKAT/”.

55

Menurut AMS Law Firm (ANNER MANGATUR SIANIPAR, SH, MH & Partners),“………Pembayaran perjam (Hourly Rate), biasanya cara pembayaran seperti ini dilakukan untuk jasa dalam lingkup bisnis kecil. Penting diketahui bahwa setiap aktifitas seorang Advokat/Pengacara dalam mewakili kepentingan klien termasuk dalam jasa telepon untuk konsultasi dan hal-hal lain seperti surat menyurat untuk kepentingan legal advise, mempersiapkan dan menyusun suatu rancangan kontrak juga termasuk dalam perhitungan “Jam“ jasa yang harus dibayarkan. Jika metode ini yang digunakan, maka saat calon Klien mengadakan pembicaraan dengan calon Advokat/Pengacara yang dipilih harus terlebih dahulu ditanyakan berapa tarif per jam si Advokat/Pengacara dan waktu minimum pemakaian jasanya. Kebanyakan Advokat/Pengacara menggunakan waktu minimum untuk pemakaian jasanya adala 15 (lima belas) menit. Dalam suatu contoh, apabila seorang klien menelepon selama tujuh menit maka akan dibebankan biaya atas pemakaian jasa 15 (lima belas ) menit. Di kota-kota besar biasanya tarif per jamnya ditentukan dengan standard US$, yang saat ini di Jakarta rata-rata berkisar antara US$ 250 hingga US$ 600 per jam untuk seorang Advokat/Pengacara senior dan terkenal, dan antara US$ 75 hingga US$ 250 per jam untuk seorang Advokat/Pengacara junior dan menengah. Metode ini kurang cocok untuk perkara litigasi (sengketa yang penyelesaiannya melalui proses di pengadilan/kepolisian/kejaksaan) yang besar dan membutuhkan waktu yang lama untuk penanganannya. …………”38

38

Dikutip dari hhtp:www.primaonline.com/berita/5_”model_pembayaran_jasa_advokat”. Menurut AMS Law Firm (ANNER MANGATUR SIANIPAR, SH, MH & Partners)

56

4.2

Dituntutnya Seseorang Advokat karena Tuduhan Melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang Atas Dasar Menerima Legal Fee dari Klienya yang Didakwa Melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang Atau Korupsi

Adanya pasal 6 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang memungkinkan advokat menjadi tersangka tindak pidana dikarenakan menerima pembayaran legal fee yang diterimanya dari kliennya. Dalam hal proses pemeriksaan oleh penyidik terhadap advokat tersebut, akan dimintai keterangan untuk kelengkapan berkas acara. Pada proses pemeriksaan tersebut ada kemungkinan penyidik menanyai hal yang ada kaitannya dengan hal kerahasian kliennya demi melengkapi berkas acara pemeriksaan tersebut, karena dugaan tindak pidana yang diterapkan pada advokat tersebut berawal dari legal fee yang diterimanya dari kliennya yang notabenenya terdakwa tindak pidana pencucian uang atau korupsi atau pun telah menjadi terpidana tindak pidana pencucian uang atau korupsi. Sehingga dianggap advokat tersebut dianggap membantu melakukan tindak pidana pencucian uang melalui proses pembayaran legal fee. Bilamana advokat tersebut mendapatkan pertanyaan mengenai kerahasian kliennya, apakah advokat tersebut harus memberitahukan ssegalanya mengenai rahasia kliennya? Karena salah satu kewajiban advokat adalah menjaga rahasia yang diberikan klien dalam hubungan klien dengan advokat. Kewajiban advokat untuk menjaga rahasia kliennya terdapat pada pasal 19 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, menyatakan:

57

“(1) Advokat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui atau diperoleh dari kliennya karena hub ungan profesinya, kecuali ditentukan lain oleh UU. (2) Advokat berhak atas kerahasiaan hubungannnya dengan klien, termasuk

perlindungan atas berkas dan dokuemnnya terhadap penyitaan atau pemeriksaan dan perlindungan terhadap penyadapan atas komunikasi elektronik advokat.” Menjaga rahasia kliennya , mengandung arti: 1. Advokat tidak boleh membuka rahasia kliennya; 2. Advokat tidak boleh menggunakan rahasia kliennya untuk merugikan kepentingan kliennya tersebut;
3.

Advokat tidak boleh menggunakan rahasia kliennya untuk kepentingan pribadi advokat atau untuk kepentingan pihak ketiga39

Kerahasiaan klien tersebut harus dijaga oleh advokat, karena kerahasian tersebut hak kliennya dan menjaga kerahasian klien tersebut merupakan amanat Undang – Undang serta amanat Kode Etik Profesi Advokat Indonesia. Apabila advokat memberitahukan rahasia klien tersebut maka advokat tersebut dapat dituntut oleh kliennya dan akan dicabut oleh organisasi advokat untuk ijin beracaranya. Sementara disisi lain ada kewajiban advokat memberikan keterangan sebagai tersangka kepada pihak penyidik untuk memeberitahukan rahsia kliennya tersebut demi kepentingan penyidikan. Apabila advokat tersebut menolak memberikan keterangan maka advokat tersebut dianggap menghambat proses penyidikan. Advokat dalam hal ini tidak boleh memberitahukan semua rahasia kliennya itu, karena fakta/data yang didapat dari kliennya tidak boleh digunakan sebagai alat bukti di

39

http://www.scribd.com/doc/19525070/Etika-Profesi-Advokat

58

pengadilan. Menurut Munir Fuadi (2005;48,49), Kerahasiaan hubungan antara advokat dan kliennya adalah sebagai berikut: 1. Hubungan Fiduciaries Yang menerbitkan fiduciary duties termasuk duty of loyality dari advokat terhadap kliennya 2. Hubungan keagenan Dalam hal ini advokat dianggap sebagai agen dari kliennya sehingga dia harus melindungi kepentingan dari prinsipalnya (kliennya) 3. Hubungan Pemberian Kuasa Dalam hal ini Advokat sebagai penerima kuasa tidak bolrh bertindak merugikan kepentingan kuasa 4. Hukum Pembuktian Oleh Advokat fakta/data yang didapat dari kliennya tidak boleh digunakan sebagai alat bukti di pengadilan.40 dengan tidak bisanya fakta atau data yang diterima advokat dalam hubungan klien dengan advokat digunakan sebagai alat bukti dipengadilan, maka advokat tidak boleh memberitahukan rahasia kliennya diproses penyidikan pada penyidik.

40

http://www.scribd.com/doc/19525070/Etika-Profesi-Advokat

59

60

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->