Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Indonesia termasuk ke dalam negara berkembang dengan taraf kesehatan yang juga
masih berkembang. Salah satu indikator perbaikan taraf kesehatan adalah jumah mortalitas yang
seharusnya mengalami penurunan. Salah satu masalah kesehatan yang saat ini sedang gencar
untuk ditanggulangi adalah meningkatnya noncommnicable disease. Noncommunicable disease
adalah penyakit yang terjadi bukan karena infeksi melainkan terjadi karena faktor genetik atau
gaya hidup yang tidak sehat. Penyakit ini dapat berkembang dengan lambat, bertahan dalam
durasi yang lama, bahkan hingga dapat menyebabkan kematian mendadak. Penyakit
noncommunicable disease yang paling banyak menyebabkan kematian adalah penyakit
kardiovaskuler.
Penyakit kardiovaskuler merupakan penggolongan dari penyakit yang diakibatkan oleh
adanya gangguan pada jantung dan pembuluh darah. Penyakit ini menjadi penyebab nomer satu
kematian di dunia pertahunnya. Berdasarkan artikel terbaru World Health Organization tahun
2013 dikatakan perkiraan 17, 3 juta orang meninggal dikarenakan penyakit kardiovaskular pada
tahun 2008, mencapai presentase 30% dari jumlah total kematian di seluruh dunia. Sedangkan
pada negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah seperti Indonesia, lebih dari 80 %
kematian disebabkan oleh peyakit kardiovaskuler. Sebagian besar kematian dikarenakan henti
jantung mendadak. Henti jantung mendadak terjadi karena adanya blockage yang menghambat
darah mengalir dari atau ke jantung dan otak.
Di Indonesia sendiri telah dilakukan studi mortalitas dengan diagnosa kematian
menggunakan klasifikasi berdasarkan International Classification of Disease 10 menunjukkan
hasil data kematian selama tahun 2000 sebanyak 3.322. Dari sejumlah angka kematian di
Indonesia tersebut, penyebab utama kematian terbesar adalah penyakit kardiovaskuler yaitu 222
per 100.000 penduduk (Djaya, Suwandono, Soemantri, 2003).

Gambar 1. Tabel penyakit peyebab kematian di Indonesia. SKRT 2001 dalam (Djaya, Suwandono,
Soemantri, 2003).
Selain dihadapkan pada kematian akibat penyakit, Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan
kematian akibat kecelakaan. Secara nasional, cedera terjadi paling banyak di jalan raya yaitu
42,8 persen selanjutnya di rumah (36,5%), area pertanian (6,9%) dan sekolah (5,4%) (Riskesdas,
2013). Pada tahun 2003 jumlah kecelakaan di jalan raya mencapai 13.399 kejadian dengan
jumlah kematian mencapai 9.865 orang, dengan rata-rata setiap hari terjadi 40 kejadian
kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan 30 orang meninggal dunia (Sayekti Udi Utama dkk,
2008).
Baik henti jantung maupun kecelakaan tersebut membutuhkan penanganan segera untuk
mencegah perburukan keadaan bahkan hingga kematian terjadi. Penanganan segera di sini
menuntut tidak hanya waktu tidakan yang cepat tetapi juga ketrampilan yang tepat oleh penolong
baik masyarakat maupun petugas kesehatan. Sedangkan jika melihat data laporan hasil Riskesdas
2013 yang menjelaskan gambaran keterjangkauan fasilitas kesehatan bagi masyarakat dibagi
dalam dua hal yaitu keterjangkauan jarak dan finansial. Dalam hal ini kita berfokus pada
keterjangkauan jarak atau waktu tempuh yang terbagi menjadi empat kategori yaitu ≤ 15 menit,
16-30 menit, 31-60 menit,dan > 60 menit. Menurut hasil tersebut, presentase tertinggi alat untuk
mencapai fasilitas kesehatan adalah dengan menggunakan sepeda motor yaitu mencapai 44, 9%-
68,7 % dan waktu tempuh tercepat mencapai fasilitas kesehatan adalah 16-30 menit.

Gambar 2. Waktu tempuh menuju fasilitas kesehatan terdekat menurut pengetahuan rumah tangga,
Riskesdas 2013
Sebagian besar stereotype masyarakat Indonesia mengenai sikap penanganan korban
pada keadaan gawat darurat adalah dengan segera membawanya ke fasilitas kesehatan dan
kurang tahu tindakan pertolongan pertama yang tepat terhadap korban khsusnya mengenai
bantuan hidup dasar. Melihat data waktu tempuh tercepat yang mencapai 16-30 menit menuju
fasilitas kesehatan akan sangat meningkatkan risiko kematian korban. Hal ini dikarenakan
kejadian-kejadian henti jantung atau kecelakaan yang menyebabkan penurunan kesadaran
memerlukan penanganan segera kurang dari 10 menit setelah kejadian. Sangat disayangkan
sekali jika sampai terjadi kematian akibat keterlambatan penanganan yang disebabkan
lamanya menunggu petugas kesehatan datang atau mencapai tempat fasilitas kesehatan. Maka
dari itu penting sekali adanya pengetahuan dan ketrampilan pemberian pertolongan pertama
terkait bantuan hidup dasar pada masyarakat agar mereka lebih cepat tanggap terhadap
kejadian-kejadian yang mengancam nyawa. Harapannya agar risiko kematian akibat
keterlambatan penanganan dapat diminimalisir. Salah satu solusi yang efektif adalah dengan
dibentuknya komunitas-komunitas yang kompeten dalam melakukan pemberian bantuan
hidup dasar dalam seluruh lapisan masyarakat di mulai dari rentang usia sekolah hingga
dewasa. Nantinya komunitas-komunitas terlatih inilah yang akan menjadi pioneer yang
menularkan ketrampilannya menggunakan system multi-level-training.



Sign up to vote on this title
UsefulNot useful